Está en la página 1de 26

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

1.1.

Definisi Dispepsia berasal dari bahasa Yunani "-" (Dys-), berarti sulit , dan ""

(Pepse), berarti pencernaan.2 Dispepsia adalah gejala, bukan diagnosis. Terminologi ini meliputi rasa tidak nyaman atau nyeri di perut bagian atas, kembung, rasa penuh setelah makan (post prandial fullness), mual dengan atau tanpa muntah, anoreksia, dan bersendawa.2,3.Pasien dengan keluhan rasa panas di dada (heartburn) atau regurritasi asam diklasifikasikan sebagaigastroesophageal reflux disease GERD.3GERD adalah gangguan kronik akibat dari arus balik (retrograde flow) dari isi gastroduodenal ke esofagus atau organ di atasnya, dan mengakibatkan berbagai gejala, dengan atau tanpa kerusakan jaringan. Relaksasi transien sfingter esofageal merupakan mekanisme patologi yang paling banyak ditemukan pada pasein GERD.2 Pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu4 : 1. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya. Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan yang nyata terhadap organ tubuh misalnya tukak (luka) lambung, usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain. 2. Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional, atau dispesia nonulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi (teropong saluran pencernaan).

1.2.

Epidemiologi Dispepsia merupakan penyakit yang umum di dunia ini. Di Amerika Serikat,

prevalensi dari dispepsia ini adalah 25 %, ini tidak termasuk orang-orang dengan gejala GERD yang jelas. Prevalensi ini lebih rendah jika pasien dengan gejala heartburn dan regurgitasi tidak dimasukkan.Insiden ini juga tidak didokumentasikan dengan baik.Di AmerikaSerikat, sekitar 9% dari orang yang tidak memiliki gejala dispepsia pada tahun
1

sebelumnya dilaporkan memiliki gejala baru dan di tindak lanjut, namun mereka dengan riwayat dispepsia atau ulkus peptikum tidak dikeluarkan dan karenanya jumlaah kasus mungkin dibesar-besarkan3. Di Skandinavia, dilaporkan tingkat kejadian selama 3 bulan kurang dari 1%. Bagaimanapun, jumlah subjek yang menderita dispepsiasama besar dengan jumlah subjek yang kehilangan gejala mereka, menjelaskan kenapa prevalensi dispepsia tetapstabil.3 Di Indonesia, dispepsia merupakan keadaan klinis yang sering dijumpai dalam praktek sehari-hari. Diperkirakan 30% kasus pada praktek umum dan 60% pada praktek enterologist merupakan kasus dispepsia ini.1 1.3. Etiologi dan Patofisiologi Dispepsia

Penyebab dispepsia1 : 1. Penyakit / gangguan pada lumen saluran cerna bagian atas : tukak peptik, gastritis, keganasan, gastropati akibat pemakaian NSAID. 2. Penyakit hepato-pankreato-bilier : hepatitis, pankreatitis kronik, kolesistitik kronik. 3. Penyakit sistemik : diabetes melitus, penyakit tiroid, gagal ginjal, penyakit jantung koroner iskemik, kehamilan. 4. Gangguan fungsional : dispepsia fungsional, irritabel bowel syndrome. 5. Obat-obatan : NSAID, teofilin, digitalis, antibiotik. Menurut Marcellus Simadibrata, subdivisi gastroenterologi FKUI, dispepsia terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara faktor agresif dan faktor defensif.5 Yang termasuk faktor agresif adalah5 : Asam lambung Pepsin Infeksi Helicobacter pylori Aktivitas motorik lambung : 25-50 % pasien menunjukkan adanya hipomotilitas antral postprandial atau pengosongan lambung yang lambat. Faktor psikologi : depresi dan anxietas Diet : makanan pedas, panas, kopi, alkohol, dan tembakau (merokok). Obat-obatan : NSAID, obat antinyeri tradisional, steroid, antibiotik (ampisilin, eritromisin), digoksin, teofilin. Penyakit metabolik : diabetes melitus, hipotiroid.
2

1.4.

Hipopotassemia Radikal bebas. Prostaglandin Mucus Mucosal blood flow Surfaktan Bicarbonat Heat shock protein Faktor epitel/ preepitel Manifestasi Klinis

Faktor-faktor defensif5 :

The Rome Foundation membagi klasifikasi klinis praktis, didasarkan atas keluhan/gejala yang dominan, membagi dispepsia menjadi tiga tipe2,6 : 1. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulkus-like dyspepsia), dengan gejala: a. Nyeri epigastrium terlokalisasi b. Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasid c. Nyeri saat lapar d. Nyeri episodik 2. Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspesia), dengan gejala: a. Mudah kenyang b. Perut cepat terasa penuh saat makan c. Mual d. Muntah e. Upper abdominal bloating (bengkak perut bagian atas) f. Rasa tak nyaman bertambah saat makan 3. Dispepsia nonspesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe di atas) .

Sindroma dispepsia dapat bersifat ringan, sedang, dan berat, serta dapat akut atau kronis sesuai dengan perjalanan penyakitnya.Pembagian akut dan kronik berdasarkan atas jangka waktu tiga bulan.Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi).Pada beberapa penderita, makan dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan bisa mengurangi nyerinya. Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, sembelit, diare dan flatulensi (perut kembung). Jika dispepsia menetap selama lebih dari beberapa minggu, atau tidak memberi respon terhadap pengobatan, atau disertai penurunan berat badan atau gejala lain yang tidak biasa, maka penderita harus menjalani pemeriksaan.4

Kriteria diagnosis berdasarkan Roma III2 :

1.5.

Diagnosis
5

1. Anamnesis Evaluasi awal penyakit harus focus pada karakteristik gejala, onset, dan kronisitas. Dokter harus mencoba menginterpretasikan gejala-gejala tersebut untuk mengidentifikasi penyebab seperti GERD, batu empedu, efek samping obat khususnya NSAID, pankreatitis kronik, diabetic gastroparesis, atau obstruksi.Pasien harus ditanyakan mengenai penyakit komorbid, riwayat operasi, riwayat keganasan gastrointestinal dalam keluarga, penggunaan alcohol dan rokok, dan tekanan/stress yang sedang dihadapi ataupun faktor psikologis lainnya2. Merupakan tantangan bagi dokter untuk membedakan pasien dengan gangguan organik, untukdirencanakan pemeriksaan diagnostik selanjutnya, dari pasien dengan dispepsia fungsional, yang dapat diterapi dengan terapi simpomatis empiris. Secara umum, pasien dengan resiko tinggi dikenali melalui alarm symptoms. 2 Alarm Symptoms dan tanda tandanya adalah: a. Unexplained weight loss b. Anorexia c. Iron-deficiency anaemia d. Gastrointestinal bleeding e. Jaundice f. Previous gastric/GI surgery g. Persistent vomiting h. Epigastric/abdominal mass i. Lymphadenopathy j. Suspicious barium meal k. Previous gastric ulcer l. Non-steroidal anti-inflammatory drug use m. Epigastric pain severe enough for hospitalization
6

n. Family history of upper GI malignancy o. History of previous GI malignancy

2. Pemeriksaan fisik5 tidak spesifik kadang-kadang terdapat nyeri tekan di epigastrium teraba massa di abdomen pada karsinoma lambung yang lanjut.

3. Pemeriksaan penunjang4 a. Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja, dan urine. Dari hasil pemeriksaan darah bila ditemukan lekositosis berarti ada tanda-tanda infeksi.Pada pemeriksaan tinja, jika tampak cair berlendir atau banyak mengandung lemak berarti kemungkinan menderita malabsorpsi.Seseorang yang diduga menderita dispepsia tukak, sebaiknya diperiksa asam lambung (Hadi, 2002).Pada karsinoma saluran pencernaan perlu diperiksa petanda tumor, misalnya dugaan karsinoma kolon perlu diperiksa CEA, dugaan karsinoma pankreas perlu diperiksa CA 19-9. b. Barium enema untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita makan. c. Endoskopi bisa digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus kecil dan untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsi dari lapisan lambung. Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi oleh Helicobacter pylori. Endoskopi merupakan pemeriksaan baku emas, selain sebagai diagnostik sekaligus terapeutik. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan endoskopi adalah:
7

CLO (rapid urea test) Patologi anatomi (PA) Kultur mikroorgsanisme (MO) jaringan PCR (polymerase chain reaction), hanya dalam rangka penelitian

d. Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan radiologi yaitu OMD dengan kontras ganda, serologi Helicobacter pylori, dan Urea Breath Test (belum tersedia di Indonesia). Pemeriksaan radiologis dilakukan terhadap saluran makan bagian atas dan sebaiknya dengan kontras ganda. Pada refluks gastroesofageal akan tampak peristaltik di esophagus yang menurun terutama di bagian distal, tampak anti-peristaltik di antrum yang meninggi serta sering menutupnya pilorus, sehingga sedikit barium yang masuk ke intestin. Pada tukak baik di lambung, maupun di duodenum akan terlihat gambar yang disebut niche, yaitu suatu kawah dari tukak yang terisi kontras media. Bentuk niche dari tukak yang jinak umumnya reguler, semisirkuler, dengan dasar licin. Kanker di lambung secara radiologis, akan tampak massa yang ireguler tidak terlihat peristaltik di daerah kanker, bentuk dari lambung berubah. Pankreatitis akuta perlu dibuat foto polos abdomen, yang akan terlihat tanda seperti terpotongnya usus besar (colon cut off sign), atau tampak dilatasi dari intestin terutama di jejunum yang disebut sentinal loops. Beberapa metode digunakan untuk mendeteksi infeksi H. pylori. Pemeriksaan noninvasif antara lain pemeriksaan serologi dan Urea Breath Test.2 Pemeriksaanan antibodi immunoglobulin G (IgG) terhadap H. pylori tidaklah mahal tapi dilaporkan memiliki sensitifitas 85% dan spesifisitas 79%.2 Urea Breath Test ( UBT dapat digunakan untuk diagnosis dan follow up terapi eradikasi karena sensitifitas dan spesifisitasnya > 90%. UBT merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi adanya urease hasil metabolism H.pylori di lambung.Direkomendasikan untuk menunggu minimal 4 minggu atau lebih setelah menyelesaikan terapi eradikasi untuk mengkonfirmasi keberhasilan pengobatan. Untuk meminimalisasi hasil false-negative, PPI sebaiknya dihentikan 1-2 minggu dan antibiotik dan bismuth dihentikan 4 minggu sebelum pemeriksaan.2
8

Infeksi H. pylori juga dapat dideteksi melalui endoskopi biopsi. 2 1.6. Diagnosis Banding2 1. GERD dan Nonerosive Reflux Disease.

dengan melakukan

pemeriksaan rapid urease testing, pemeriksaan histologi atau bahkan kultur terhadap sampel

GERD dan dispepsia seringkali tumpang tindih, dan juga sering timbul bersamaan pada beberapa pasien. Bagaimanapun, GERD harus selalu dipikirkan pada pasien dengan dispepsia. Jika gejala yang dominan adalah gejala-gejala regurgitasi, rasa terbakar di substernal, dan acid taste lebih dominan daripada dispepsia, maka etiologinya akan lebih berat pada GERD. Formal Reflux Testing dengan pemeriksaan pH selama 24 jam pada pasien tanpa pengobatan akan bisa mengklarifikasi apakah telah terjadi refluks. Adanya Nonacid reflux pada nonerosive reflux bisa diinvestigasi dengan menggunakan pemeriksaan pH selama 24 jam dengan esophageal impedance. 2. Peptic Ulcer Disease Ulkus Peptikum sering merupakan satu dari penyakit tersering yang berada di otak kita saat memeriksa pasien dengan dispepsia.Sekitar 15% pasien dengan gejala dispepsia menderita ulkus gaster atau ulkus duodenum. Penyebab lain untuk dipikirkan pada pasien-pasien dengan dispepsia adalah adanya infeksi Helicobacter pylori. 3. Upper Gastrointestinal Malignancy Kurang 2% dari pasien dispepsia yang menderita kanker lambung. Pasien yang tua lebih sering terkena kanker lambung, 98% dari kanker lambung ini terdapat pada pasien yang berusia diatas 50 tahun. Risiko lain dari kanker lambung termasuk infeksi Helicobacter pylori, negara asal pasien dari negara yang endemik kanker lambung ( Eastern Asia, the Andean regions of South america, and Eastern Europe ), konsumsi garam dan nitrat yang berlebihan, penggunaan tembakau dan riwayat keluarga dengan kanker lambung. 4. Chronic Intestinal Ischemia

Chronic Intestinal Ischemia( juga disebut angina intestinal) ditandai dengan nyeri setelah makan yang kronik dengan penurunan berat badan yang berarti dikarenakan tidak adekuatnya aliran darah mesenterika yang dibutuhkan untuk mencerna makanan. Biasanya pasien mempunyai riwayat penggunaan tembakau atau adanya penyakit atherosklerosis yang mendasari.Diagnosis bisa ditegakkan dengan magnetic resonance angiography atau CT angiography. 5. Pancreaticobiliary Disease Nyeri pada pankreatitis kronik bisa terdapat di epigastrik atau terlokalisasi di perut tengah, dengan gejala klasik yaitu nyeri yang menjalar ke punggung tengah.Penurunan berat badan bisa saja terjadi. Insufisiensi endokrin atau eksokrin pankreas ( seperti steatore, diabetes ) bisa saja tidak timbul. Kolelitiasis biasanya dapat dibedakan dari dispepsia, berupa nyeri yang lebih terlokalisasi pada kuadran kanan atas. 6. Motility Disorders Gangguan motilitas pada saluran cerna bagian atas juga sering tumpang tindih dengan dispepsia.Banyak pasien dengan dispepsia fungsional mempunyai gejalagejala gastroparesis, yang termasuk dalam klasifikasi Roma II sebagai dysmotility-like dyspepsia.Klasifikasi ini diperdebatkan secara klinis dan sekarang sudah dikeluarkan dari kriteria Roma III.Walaupun begitu, ternyata masih terdapat gejala kembung, mudah kenyang, dan nausea serta muntah pada pasien dengan dispepsia fungsional. Gangguan motilitas ini bisa disebabkan oleh gastroparesis diabetik, pseudo obstruksi intestinal yang kronik, skleroderma, atau sindrom postvagotomi. 7. Kelainan Sistemik Dispepsia bisa terjadi pada beberapa kelainan sistemik seperti diabetes melitus, penyakit jantung koroner, penyakit tiroid, hiperparatiroid, insufisiensi adrenal. 8. Infeksi Infeksi lambung oleh Helicobacter pylori bisa menyebabkan dispepsia.Di sini termasuk infeksi oleh cytomegalovirus, tuberculosis, atau infeksi oleh jamur. Infeksi oleh parasit bisa disebabkan oleh Giardia lamblia dan Strongyloides stercoralis 1.7. Tatalaksana
10

Berdasarkan Konsensus Nasional Penanggulangan Helicobacter pylori 1996, ditetapkan skema penatalaksanaan dispepsia, yang dibedakan bagi sentra kesehatan dengan tenaga ahli (gastroenterolog atau internis) yang disertai fasilitas endoskopi dengan penatalaksanaan dispepsia di masyarakat.5 Alur Tatalaksana dispepsia di pelayanan kesehatan lini pertama5:

Alur penatalaksanaan dispepsia oleh grastroenterologis/internis dengan fasilitas endoskopi5 :

11

Terapi medikamentosa dispepsia fungsional5: Pasien muda < 45 tahun, tidak ada alarm symptomps ataupun riwayat menggunakan obatobatan NSAID : terapi empiris 2 4 minggu. Terapi empiris berdasarkan gejala : Ulcer like : antasid atau H2RA atau PPI Dismotility like : promotility atau H2RA

12

Non spesifik : antiflatulent antacids, simethicone, antianxietas-antidepresi Peptic ulcer : H2RA atau PPI dengan atau tanpa sitoprotektor Upper GI malignancies : operasi ( konsul bedah ) Pengobatan pilihan terkini untuk pengobatan pasien yang terinfeksi H. pylori adalah

kombinasi PPI ( dosis standar 2x/hr ) dengan amoxicillin ( 1gr 2x/hr ) dan clarithromycin ( 500 mg 2x/hr ) diberikan selama 7 10 hari ( jika diberikan 7 hari dilanjutkan dengan rabeprazole; jika diberikan 10 hari dilanjutkan dengan lansoprazole, pantoprazole, and esomeprazole.2,6 Metronidazole ( 400 mg 2x/hr ) dapat menggantikan amoxicillin pada regimen di atas jika pasien alergi terhadap penicillin. Pilihan terapi lain adalah kombinasi Bismuth, metronidazole, dan tetracycline ( Bismuth subsalicylate [Pepto Bismol] 525 mg + metronidazole 250 mg + tetracycline 500 mg ) dikombinasikan dengan PPI selama 14 hari.6 Selain pengobatan terhadap H. pylori, terapi medikamentosa dapat terdiri dari antisecretory agents, promotility agents, antidepressants and anxiolytics , dan obat-obatan lainnya.2 a) antisecretory agents i. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI) Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan pantoprazol.2 Dosis PPI : omeprazole 1-2 x 20 mg/hr, lansoprazole 1-2 x 30 mg/hr, pantoprazole 1-2 x 40 mg/hr, esomeprazole 1-2 x 20 mg/hr, rabeprazole 1-2 x 10 mg/hr.5 ii. Antagonis reseptor H2 Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan antagonis respetor H2 antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin, dan famotidin.2 Dosis H2RA : cimetidine 3 x 200 mg/hr, ranitidine 2 x 150 mg/hr, famotodine 2 x 20 mg/hr, roxatidine 2 x 150 mg/hr.5
13

omeprazole,

b) Promotility agents Yaitu obat-obat yang meningkatkan peristaltik melalui interaksi terhadap reseptor serotonin, asetilkolin, dopamin, dan motilin.2,7. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance).2 Dosis Prokinetic agents : metoclopramide 2-3 x 5-10 mg/hr, domperidone 2-3 x 1 tab/hr, cisapride 2-3 x 5 mg/hr.5 c) Antidepresan dan anxiolitik Efek antidepresan dan ansiolitik sebagian besar diberikan berdasarkan observasi klinis dan data anekdot.Tricyclic antidepressants(TCAs) dosis rendah seperti amitriptilin atau desipramine, telah digunakan untuk pasien dengan berbagai gangguan fungsional termasuk dispepsia dan Irritable Bowel Syndrome. Biasanya digunakan dosis rendah ( 10 100 mg/hr ) diberikan untuk dispepsia fungsional. Pasien diberitahu tentang kemungkinan efek samping obat seperti mata kering, mulut kering, konstipasi, dan penambahan berat badan. Hal ini terkait dengan efek antikolinergik dari TCAs.2,7 d) Obat-obat lainnya Antasid ( 20-150 ml/hari )

Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian antasid jangan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, unutk mengurangi rasa nyeri. Mg triksilat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2.7,8 Antikolinergik

Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik.Obat yang agak selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan seksresi asama lambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif.7,8 Sitoprotektif

14

Prostoglandin sintetik seperti misoprostol (PGE1) dan enprostil (PGE2).Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan sekresi prostoglandin endogen, yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta membentuk lapisan protektif (site protective), yang bersenyawa dengan protein sekitar lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA).7,8 Dosis Sitoprotektor : Sukralfat 3-4 x 500-1000 mg/hr, cetraxate 2-3 x 1/hr, misoprostole ( Prostaglandin eksogen ) 2 x 1/hr, tephrenone 3 x 50 mg/hr, rebamipide 3 x 100 mg/hr5 Antasid dan Bismuth telah dievaluasi pada beberapa trials dispepsia fungsional dan telah didapatkan tidak lebih baik daripada placebo.Sukralfat telahdipelajari pada beberapa trials terbatas dan juga tidak lebih baik dari plasebo. Sehingga disimpulkan obat-obat tersebut tidak memegang peranan utama pada pengobatan dispepsia fungsional.2 1.8. Pencegahan Modifikasi gaya hidup sangat berperan dalam mencegah terjadinya dispepsia bahkan memperbaiki kondisi lambung secara tidak langsung. Berikut ini adalah modifikasi gaya hidup yang dianjurkan untuk mengelola dan mencegah timbulnya gangguan akibat dispepsia2,9 : 1. Atur pola makan seteratur mungkin. 2. Hindari makanan berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi lambung (coklat, keju, dan lain-lain). 3. Hindari makanan yang menimbulkan gas di lambung (kol, kubis, kentang, melon, semangka, dan lain-lain). 4. Hindari makanan yang terlalu pedas. 5. Hindari minuman dengan kadar caffeine dan alkohol. 6. Hindari obat yang mengiritasi dinding lambung, seperti obat anti-inflammatory, misalnya yang mengandung ibuprofen, aspirin, naproxen, dan ketoprofen.

15

Acetaminophen adalah pilihan yang tepat untuk mengobati nyeri karena tidak mengakibatkan iritasi pada dinding lambung. 7. Kelola stress psikologi se-efisien mungkin. 8. Jika merokok, berhentilah merokok. 9. Jika memiliki gangguan acid reflux, hindari makan sebelum waktu tidur. 10. Hindari faktor-faktor yang membuat pencernaan terganggu, seperti makan terlalu banyak, terutama makanan berat dan berminyak, makan terlalu cepat, atau makan sesaat sebelum olahraga. 11. Pertahankan berat badan sehat 12. Olahraga teratur (kurang lebih 30 menit dalam beberapa hari seminggu) untuk mengurangi stress dan mengontrol berat badan, yang akan mengurangi dispepsia. 13. Ikuti rekomendasi dokter mengenai pengobatan dispepsia. Baik itu antasid, PPI, penghambat histamin-2 reseptor, dan obat motilitas.

16

1. BAB II ILUSTRASI KASUS UNIVERSITAS ANDALAS FAKULTAS KEDOKTERAN KEPANITERAAN KLINIK ROTASI TAHAP II STATUS PASIEN 1. Identitas Pasien a. Nama/Kelamin/Umur/ b. Pekerjaan/pendidikan c. Alamat : Nn. S/ perempuan/ 19 tahun : Mahasiswa/tamat SMA : Jl Alai Timur No. 5A, Padang

2. Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga a. Status Perkawinan b. Jumlah Anak/ Saudara c. : belum menikah : - / 3 orang 2.000.000,-/bulan d. Kondisi Rumah :
17

Status Ekonomi Keluarga: cukup, penghasilan orangtua sekitar Rp

Rumah permanen milik sendiri Lantai rumah dari semen, ventilasi udara dan sirkulasi udara baik, WC dalam rumah Listrik ada Sumber air : PDAM. Halaman rumah luas Sampah dibuang ke TPA Kesan : Higiene dan sanitasi lingkungan cukup

e. Kondisi Lingkungan Keluarga Rumah dihuni oleh 5 orang yang terdiri dari pasien, kedua orangtua, serta 3 orang saudara pasien. Pasien tinggal di lingkungan yang cukup padat penduduk

3. Aspek Psikologis di keluarga Hubungan dengan anggota keluarga Faktor stress dalam keluarga tidak ada

4. Keluhan utama : Nyeri di ulu hati yang semakin menyesak sejak 2 hari ini. 5. Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri di ulu hati sejak 1 minggu yang lalu dan semakin menyesak sejak 2 hari ini. Awalnya nyeri ini muncul setelah pasien memakan makanan yang pedas (cabai). Nyeri dirasakan semakin bertambah jika pasien terlmbat makan dan berkurang setelah makan. Mual (+) sejak 1 minggu yang lalu, muntah (-) Perut terasa kembung sejak 1 minggu yang lalu Riwayat sering makan makanan yang pedas (+) Riwayat mengkonsumsi obat-obatan sakit kepala atau obat penghilang nyeri tidak ada dalam jangka waktu lama tidak ada BAK jumlah dan warna biasa BAB warna dan konsistensi biasa

18

6. Riwayat Penyakit dahulu / Penyakit Keluarga Pasien pernah menderita penyakit seperti ini sejak 5 bulan yang lalu, pasien berobat ke puskesmas. Setelah mengkonsumsi obat dari puskesmas keluhan berkuran, pasien lupa nama obatnya. Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit seperti ini

7. Pemeriksaan Fisik Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Nadi Nafas TD Suhu BB TB BMI Mata Kulit THT Leher Dada Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Kiri Atas : iktus tidak terlihat : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V : : 1 jari medial LMCS RIC V : RIC II
19

: baik : CMC : 90x/ menit : 21x/menit : 110/70 mmHg : 36,80C : 63 kg : 165 cm : 23,14 (normoweight) : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : Pucat tidak ada, sianosis tidak ada, ikterik tidak ada : tidak ada kelainan : tidak ada pembesaran KGB

: simetris kiri dan kanan : fremitus kiri sama dengan kanan : sonor : vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)

Kanan : LSD

Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Punggung Alat kelamin : Tidak diperiksa

: bunyi jantung murni, irama teratur, bising (-) : Perut tidak tampak membuncit : Hati dan lien tidak teraba, nyeri tekan (+) di epigastrium, nyeri lepas (-) : timpani : BU (+) N

: Nyeri tekan dan nyeri ketok CVA tidak ada.

Anggota gerak : Akral hangat, refilling kapiler baik, Rf +/+, Rp -/8. Laboratorium : tidak dilakukan 9. Pemeriksaan anjuran : Pemeriksaan darah rutin Endoskopi

10. Diagnosis Kerja : Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspesia)

11. Diagnosis Banding : GERD

12. Manajemen a. Preventif : Hindari makan makanan yang mengandung gas seperti kol dan nangka Hindari makan makanan yang pedas Makan secara teratur, sedikit-sedikit tapi sering dan tepat waktu Hindari stres, mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan positif

b. Promotif :

20

1. Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit ini akan kambuh jika pasien terlambat makan dan makan makanan yang pedas 2. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga untuk mengingatkan pasien agar mengubah pola makan dengan makan secara teratur, sedikit-sedikit tapi sering dengan makanan yang lunak, tidak mengandung gas, tidak terlalu pedas dan terlalu asam. 3. Menjelaskan komplikasi terburuk dari penyakit ini agar pasien patuh untuk berobat seecara teratur c. Kuratif : Antasida tab 3 x 1 tab Omeprazol tab 2 x 20 mg Domperidon 3 x 10 mg Vitamin B complex 3x1 tab

Medikamentosa :

d. Rehabilitatif : Jika nyerinya makin bertambah dan ada muntah darah segera dibawa ke puskesmas atau ke rumah sakit. Pasien disarankan untuk kontrol lagi ke puskesmas untuk melihat perkembangan penyakit pasien dan perencanaan pemeriksaan selanjutnya. Pasien dianjurkan untuk melakukan endoskopi untuk mengetahui penyebab dari syndrom dispepsia pasien ini apakah karena kelainan organik (seperti gastritis, ulkus gaster, ulkus peptikum, gastopati oains,dan lain-lain) atau tidak ada kelainan organik yang ditemukan dimana ini dikategorikan sebagai dispepsia fungsional

21

RESEP: Dinas Kesehatan Kodya Padang Puskesmas Alai

Dokter Tanggal

: Niviza Putri : 21 November 2012

R/ Antasida tab No X 3 dd tab I a.c __________________________________________ R/ Omeprazol tab 20 mg No X 2 dd tab I a.c __________________________________________ R/ Domperidone tab 20 mg No XV 3 dd tab I a.c R/ Vitamin B compleks tab No XV 3 dd tab I __________________________________________ Pro Umur : Nn. S : 19 tahun
22

Alamat : Jl Alai Timur No. 5A, Padang

BAB III DISKUSI Seorang pasien datang ke Puskesmas Alai dengan keluhan utama nyeri di ulu hati yang semakin menyesak sejak 2 hari ini. Dan di diagnosa dengan Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspesia). Diagnosis di tegakkan dari anamnesa dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesa di dapatkan nyeri di ulu hati sejak 1 minggu yang lalu dan semakin menyesak sejak 2 hari ini. Awalnya nyeri ini muncul setelah pasien memakan makanan yang pedas (cabai). Nyeri dirasakan semakin bertambah jika pasien terlmbat makan dan berkurang setelah makan. Mual (+) sejak 1 minggu yang lalu, muntah (-). Perut terasa kembung sejak 1 minggu yang lalu. Riwayat sering makan makanan yang pedas (+). Riwayat mengkonsumsi obat-obatan sakit kepala atau obat penghilang nyeri tidak ada dalam jangka waktu lama tidak ada. Dari pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan di epigastrium, dan pemeriksaan lainnya normal.
23

Keluhan pasien ini sudah pernah dirasakan oleh pasien 5 bulan yang lalu namun sekarang muncul kembali dengan faktor risiko kebiasaan pasien makan makanan yang pedaspedas dan sering makan terlambat. Untuk diagnosa pasti pada pasien ini diperlukan pemeriksaan gold standar yaitu endoskopi. Diharapkan setelah dilakukan endoskopi bisa diketahui eksklusi penyebab dari syndrom dispepsia pasien ini apakah karena kelainan organik (seperti gastritis, ulkus gaster, ulkus peptikum, gastopati oains,dan lain-lain) atau tidak ada kelainan organik yang ditemukan dimana ini dikategorikan sebagai dispepsia fungsional. Selain endoskopi juga sangat penting juga dilakukan beberapa pemerikasan labaratorium seperti seperti hb, leukosit dan hitung jenis dan trombosit. sedangkan serologi H.pilory ini juga penting dilakukan untuk mengetahui apakah ada keterlibatan H.Pilory sebagai penyebab terjadinya erosi atau ulkus gaster dimana juga merupakan diagnostik banding pada pasien ini. Pada pasien ini diberikan omeprazol dan antasida. Berdasarkan literatur antasida berfungsi menetralkan asam lambung atau penyekat H2 reseptor yang berfungsi mengurangi sekresi asam lambung. Jika kedua golongan obat ini tidak efektif dalam mengurangi gejala/keluhan pada pasien dapat diberikan golongan obat PPI (pompa proton Inhibitor) dimana efeknya dapat mengurangi sekresi asam lambung. Pada pasien ini diberikan kombinasi 2 golongan obat ini diharapkan memberikan hasil yang efektif dan maksimal untuk mengatasi keluhan dispespsia pada pasien ini. Pemberian obat ini harus dilakukan efektif maksimal selama 2 minggu sembari kita melakukan pemeriksaan diagnostik untuk mengetahui penyebab pasti dispepsia sehingga kita dapat memberikan terapi yang tepat untuk pasien ini. Domperidone sebagai antiemetik menurut literature bermanfaat untuk sindrom dyspepsia dengan tipe dismotilitas. Untuk langkah preventif , pasien disarankan untuk menghindari makan makanan yang mengandung gas dan makanan yang pedas-pedas. Makan secara teratur, sedikit-sedikit tapi sering dan tepat waktu. Dan sangat penting disarankan pada pasien untuk menghindari stress dengan cara mengisi waktu dengan kegiatan-kegiatan positif.

24

Daftar Pustaka 1. Djojodiningrat, Dharmika. Dispepsia Fungsional dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Pusat Penerbita Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006. Bab 81 : Hal 354 356. 2. Wang, Victor S. Current Diagnosis and Treatment in Gastroenterology, Hepatology and Endoscopy. Mc Graw Hill eBook. 2009. Chapter 17 : Functional (non ulcer) dyspepsia : Hal 189 199. 3. Talley, Nicholas J. Guidelines for the Management of Dyspepsia dalam : American Journal of Gastroenterology. Blackwell Publishing. 2005. 4. Setiawan, Dias. Dispepsia. Juli 2010, diunduh dari http//sindrom dispepsia. FK Unair

25

5. Simadibrata, Marcellus. Gastrointestinal Disease and Abnormalities in Adult dalam : Lecture Module Gastrointestinal. 2007. 6. Wibawa, I Dewa Nyoman. Penanganan Dispepsia pada Usia Lanjut dalam : Jurnal Penyakit Dalam volume 7 no.3. November 2012. Diunduh dari www. tbmcalcaneus online, 7. The New Zealand Guidelines Group. Management of Dyspepsia and Heartburn dalam : Evidence based Best Practice Guideline. New Zealand : 2004.
8. Ariyanto,

W.L.

Mencegah

Gangguan

Lambung

2012.

Diunduh

dari

www.kiatsehat.com .

26