BAB II Tinjauan Pustaka

2.1 Konsep Pengorganisasian Masyarakat Menurut McKenzie (2005), pengorganisasian masyarakat adalah sebuah proses dimana masyarakat dibantu untuk mengidentifikasi masalah umum atau tujuan, memobilisasi sumber daya, serta mengembangkan dan menerapkan strategi untuk mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan bersama. Dalam pengorganisasian masyarakat, terdapat konsep dasar yang dapat digunakan untuk membantu memahami pemilihan model pengorganisasian masyarakat serta aplikasinya dalam masyarakat. Menurut Swanson (1997), konsep dasar dalam pengorganisasian masyarakat diantaranya adalah sistem social, perubahan social, dan partisipasi masyarakat. A. Teori Sistem Sosial Beberapa ahli sosial melihat masyarakat itu sebagai sebuah sistem yang utuh, mempunyai batasan, organisasi, keterbukaan, dan mempunyai feedback. Masing-masing sistem mempunyai hubungan di antara sub sistemnya, termasuk di dalamnya adalah agregat dan sektor. Perubahan dalam sebuah subsistem akan mempengaruhi subsistem yang lain dan sistem secara keseluruhan. Masyarakat merupakan bagian dari sebuah sistem terbesar bernama suprasistem yang dipengaruhi oleh sistem masyarakat serta subsistem agregat dan sektor. Hal ini senada dengan pendapat Anderson (2011), bahwa perubahan dalam suprasistem akan mempengaruhi sistem masyarakat dan subsistem agregat dan sektor. B. Perubahan Sosial Teori perubahan social ini diambil dari pendapat Bapak Manajemen Perubahan yaitu Kurt Lewin. Hal ini senada dengan tujuan asuhan keperawatan yang menginginkan terjadinya perubahan perilaku klien guna mempertahankan dan meningkatkan status kesehatannya. Menurut Kurt Lewin (1951) dalam Rhenald Kasali (2005), perubahan terjadi karena munculnya tekanantekanan terhadap organisasi, individu, atau kelompok. Kurt Lewin menyimpulkan bahwa kekuatan tekanan (driving forces) akan berhadapan dengan keengganan (resistances) untuk berubah. Masih menurut Kurt Lewin, perubahan dapat terjadi dengan memperkuat driving forces atau melemahkan resistance to change. Kurt Lewin merumuskan langkah langkah yang dapat diambil untuk mengelola perubahan, yaitu: a. Unfreezing, yaitu suatu proses penyadaran tentang perlunya atau adanya kebutuhan untuk berubah. b. Changing, merupakan langkah berupa tindakan, baik memperkuat driving forces maupun memperlemah resistance. c. Refreezing, yaitu membawa kembali organisasi kepada keseimbangan yang baru (a new dynamic equilibrium).

C. Partisipasi masyarakat Partisipasi masyarakat merupakan sebuah proses yang melibatkan masyarakat dalam suatu kelompok untuk membuat keputusan yang akan berdampak dalam hidup mereka (McKanzie, 2005). Sedangkan menurut Mapanga dan Mapanga (2004) dalam Effendi (2009), partisipasi masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejahteraan. Menurut Hitchcock, Scubert, dan Thomas (1999) dalam Effendi (2009), fokus kegiatan promosi kesehatan adalah konsep pemberdayaan dan kemitraan. Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi transformative kepada masyarakat, antara lain dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru. Sedangkan kemitraan memiliki definisi sebegai hubungan atau kerjasama antara dua pihak atau lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan, dan saling menguntungkan atau member manfaat (Depkes RI, 2005 dalam Effendi, 2009). Tujuan dari partisipasi masyarakat ini adalah (1) agar individu dan kelompok-kelompok masyarakat dapat berperan serta aktif dalam setiap tahapan proses keperawatan, dan (2) terjadi perubahan perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) serta timbulnya kemandirian masyarakat yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan, prlindungan, dan pemulihan status kesehatannya di masa yang akan datang (Nies dan McEwan, 2001; Green dan Kreuter, 1991 dalam Effendi, 2009). D. Konsep Pengorganisasian Masyarakat Rothman Pengorganisasian masyarakat merupakan suatu proses di mana masyarakat dapat mengidentifikasikan kebutuhan-kebutuhannya dan menentukan prioritas dari kebutuhankebutuhan tersebut, dan mengembangkan keyakinan untuk berusaha memenuhi kebutuhankebutuhan sesuai dengan skala prioritas berdasarkan sumber-sumber yang ada di masyarakat sendiri maupun yang berasal dari luar, dengan usaha secara gotong royong (S. Notoadmojo, 1997 dalam Efendi & Makhfudli, 2009). Konsep Rothman sering dipakai dalam praktik pengorganisasian masyarakat. Berikut uraian konsep pengorganisasian masyarakat Rothman berdasarkan literatur yang diperoleh. Rothman (1972 dalam Nies & McEwen, 2010) menggabungkan definisi dan pendekatan terhadap praktik organisasi masyarakat yang bermacam-macam menjadi tiga model: perencanaan sosial (social planning), aksi sosial (social action), dan pengembangan masyarakat lokal (locality development). E. Perencanaan sosial (social planning) Dalam model perencanaan sosial, keputusan masyarakat diambil berdasarkan pengumpulan fakta dan pembuatan keputusan rasional. Model ini lebih menekankan pada tujuan yang berorientasi pada penyelesaian tugas (task goal) dengan mengumpulkan data-data dan fakta-fakta untuk memudahkan di dalam penentuan teknik logis yang dapat dilakukan oleh para

expert dalam menganalisis permasalahan yang ada. Misalnya, antara pembuat kebijakan dan analis dalam perubahan sosial. Sebagai pekerja institusi mereka menyusun fakta dan mengembangkan rencana untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Hess, 1999). Komunitas cenderung berperan sebagai konsumen yang kurang mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam setiap proses pemecahan masalah. Tujuan utama perencanaan sosial yaitu solusi masalah yang cepat dengan cara pendekatan langsung untuk perubahan sosial. Peran perawat kesehatan masyarakat dalam perencanaan sosial yaitu sebagai fasilitator, pengumpul fakta, analis ahli, dan pelaksana program. F. Aksi sosial (social action) Dalam model aksi sosial, perubahan masyarakat dicapai dengan pemisahan masyarakat dengan isu tersendiri lalu dilakukan konfrontasi dengan kelompok yang berpandangan lain. Fokus utama dari aksi sosial yaitu memindahkan kekuatan kepada level agregat (Alinsky, 1971 dalam Nies & McEwen, 2010). Berbeda dengan pola perencanaan sosial, pola aksi sosial cenderung menekankan pada task goal dan process. Pola aksi sosial memperlihatkan peranan aktivis yang begitu besar dalam mendobrak sistem yang ada, namun peran dan posisi komunitas cenderung kurang terlihat. Peran perawat kesehatan masyarakat dalam aksi sosial yaitu aktivis komunitas, agitator, dan negosiator. G. Pengembangan masyarakat lokal (locality development) Pengembangan masyarakat lokal sering disebut sebagai pengembangan komunitas (community development). Pengembangan masyarakat lokal merupakan model yang menekankan kepada keterlibatan masyarakat, pengarahan diri (self-direction), dan menolong diri (self-help) dalam menentukan dan memecahkan masalah (Rothman, 1972 dalam Nies & McEwen, 2010). Kontribusi dan partisipasi aktif semua pihak terlihat dari adanya peran aktif masyarakat. Peran perawat kesehatan masyarakat di sini sebagai pemberdaya, fasilitator proses, dan guru dalam kemampuan memecahkan masalah. Perawat dan anggota masyarakat bekerja bersama-sama dan seluruh komunitas diberdayakan dengan kemampuan, pengetahuan, dan kepercayaan diri untuk mencegah penyebab utama penyakit, ketidaknyamanan, dan ketidakberdayaan. Secara garis besar, konsep di atas terangkum dalam tabel berikut: Nurses’ Roles in Three Community Organization Models Model Major Concepts Nurses’ Roles Fact gatherer Data collection Expert analyst Social planning Rational decision making Program implementer Facilitator Polarization Community activist Social action Confrontation-conflict Agitator

Negotiator Community development (Nies & McEwen, 2010) H. Model-model untuk Pengorganisasian Masyarakat Model pengembangan kesehatan masyarakat merupakan paradigma yang menunjukkan hubungan antara konsep kunci, tujuan, dan proses yang harus diatasi dalam praktek pengorganisasian masyarakat berfokus pada promosi kesehatan (Hickman, 1995 dalam Swanson & Nies, 1997). Konsep inti dari model ini yaitu kemitraan, kesehatan, sikap-nilai, partisipasi, kapasitas, dan kepemimpinan. Hubungan mutual antara masyarakat dan profesional kesehatan, yang diwakili oleh lingkaran luar, mencerminkan pemahaman bahwa keahlian gabungan dari keduanya diperlukan untuk mengembangkan strategi promosi kesehatan yang ilmiah dan situasional yang relevan. (Swanson & Nies, 1997) Knowledge, Beliefs, Values Action Partnership Community involvement Self-direction Self-help Enabler Teacher-educator

Gambar 1. Community health development model (Swanson & Nies, 1997) Atribut dari masyarakat yang sehat diwakili oleh segitiga, termasuk partisipasi, kapasitas, dan kepemimpinan. Partisipasi mengacu pada keterlibatan aktif dari semua subsistem masyarakat, termasuk individu, keluarga, agregat, sektor, dan lembaga-lembaga, dalam perencanaan komprehensif dan promosi kesehatan. Kapasitas berarti bahwa anggota masyarakat secara kolektif diberdayakan dengan pengetahuan, keterampilan, dan teknik yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya pada promosi kesehatan masyarakat. Kepemimpinan menunjukkan perkembangan dasar yang luas kepemimpinan yang diperlukan untuk fungsi masyarakat yang sehat. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang bervariasi dari usia, latar

belakang etnis, ras, jenis kelamin, dan kemampuan yang bisa mengatur dan mempertahankan kinerja tugas dan memobilisasi keterlibatan masyarakat luas dalam tugas (Garkovich, 1989 dalam Swanson & Nies, 1997). Garis yang menghubungkan titik-titik dari segitiga merepresentasikan sikap dan nilai-nilai konduktif untuk promosi kesehatan. (Swanson & Nies, 1997). Titik fokus dari model ini adalah masyarakat secara keseluruhan. Panah menunjuk ke dalam untuk “Masyarakat Sehat” merupakan interaksi semua unsur model untuk mencapai tujuan saling berbagi kesehatan masyarakat. Dalam pembangunan kesehatan masyarakat, kesehatan masyarakat istilah yang digunakan untuk menunjukkan prestasi baik dari tingkat kualitatif ditunjukkan kesejahteraan dan kepemilikan seperangkat atribut penting untuk pencapaian tujuan tersebut. (Swanson & Nies, 1997). Tujuan dari penggunaan model pengembangan kesehatan masyarakat adalah (1) agar individu dan kelompok-kelompok di masyarakat dapat berperan serta aktif dalam setiap tahapan proses keperawatan, dan (2) terjadi perubahan perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) serta timbulnya kemandirian masyarakat yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan, perlindungan, dan pemulihan status kesehatannya di masa mendatang. (Nies dan McEwan, 2001; Green dan Kreuter, 1991 dalam Efendi & Makhfudli, 2009). Model selanjutnya ialah primary health care atau pelayanan kesehatan primer. Pelayanan kesehatan primer mengacu pada penyediaan pelayanan kesehatan esensial berbasis masyarakat yang dapat diakses oleh semua anggota masyarakat (WHO, 1978 dalam Swanson & Nies, 1997). PHC didasarkan pada metode ilmiah dan teknologi yang praktis, terjangkau, dan dapat diterima secara sosial dan budaya. Pelayanan kesehatan masyarakat didasarkan pada kebutuhan masyarakat yang berlaku serta sosial, karakteristik politik, ekonomi, budaya, dan agama. Dalam konteks pelayanan kesehatan primer, dasar pelayanan kesehatan masyarakat harus dapat diakses secara universal untuk individu dan agregat di masyarakat melalui partisipasi penuh (WHO, 1978 dalam Swanson & Nies, 1997). Model ketiga ialah public health models and frameworks atau model dan kerangka kerja kesehatan masyarakat. Model kesehatan masyarakat seperti pendekatan yang direncanakan untuk kesehatan masyarakat (PATCH), standar model, protokol penilaian untuk keunggulan dalam kesehatan masyarakat (APEXPH), dan model kota sehat mengupayakan untuk memberikan solusi jangka panjang terhadap penduduk di seluruh masalah kesehatan dengan mengorganisir anggota masyarakat dalam kemitraan multidisiplin yang mengatasi masalah kesehatan setempat dan prekursor mereka. (Swanson & Nies, 1997) Model PATCH dipromosikan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Di dalam PATCH, mengidentifikasi anggota masyarakat, memprioritaskan, dan bertindak pada kebutuhan kesehatan agregat mereka melalui proses organisasi masyarakat dan pengambilan keputusan local (Kreuter, 1992 dalam Swanson & Nies, 1997). Penekanan ditempatkan pada membangun solusi jangka panjang untuk masalah kesehatan dengan mengatasi prekursor sosial, ekonomi, lingkungan, dan politik dalam kemitraan kolaboratif antara kesehatan dan sektor lain dari masyarakat. (Swanson & Nies, 1997).

1991 dalam Swanson & Nies. perawat dan profesional kesehatan lainnya mengembangkan koalisi masyarakat untuk menetapkan tujuan spesifik kesehatan setempat untuk mengurangi morbiditas dan untuk menentukan layanan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut (American Health Association. dimana sebagian kecil memilki akses dan asset untuk bisa memperbaiki keadaan. 1997). Tentu saja pengorganisasian tidak selalu bermakna . 1991 dalam Swanson & Nies.. 1994. Bahwa perubahan tidak pernah datang sendiri melainkan membutuhkan perjuangan untuk dapat mendapatkannya. c. I.Dua model – model standar dan APEXPH – menggunakan strategi pengorganisasian masyarakat untuk melibatkan masyarakat lokal dalam merencanakan cara-cara yang layak untuk memenuhi tujuan kesehatan nasional. model standar. 1988 dalam Swanson & Nies. Di dalam model yangpertama. Proses pengorganisasian masyarakat digunakan untuk menempatkan kesehatan pada agenda politik masyarakat dan membangun konstituen untuk kebijakan publik yang sehat (Flynn et al. Yang kedua. sehingga diperlukan wadah yang sedemikian rupa dapat dijadikan wahana untuk perlindungan dan peningkatan kapasitas “bargaining”. dimana usaha memperkuat (daya tekan) juga memerlukan perjuangan. Kebutuhan akan pengorganisasian Masyarakat Melakukan pengorganisasian masyarakat dengan maksud memperkuat (memberdayakan) masyarakat sehingga mampu mandiri dalam mengenali persoalan-persoalan yang ada khusunya kesehatan pada komunitas dan dapat mengembangkan jalan keluar (upaya mengatasi masalah yang ada) berangkat dari beberapa asumsi berikut: a. Menurut Sarwono (1980) Pengorganisasian masyarakat penting dilakukan karena: a) Kenyataan bahwa masyarakat pada kebanyakan berposisi dan berada dalam kondisi lemah. 1997). menekankan pada membangun kemitraan kerja antara departemen kesehatan dan masyarakat yang mereka layani dalam pendekatan kolaboratif untuk mengatasi tujuan kesehatan setempat dan prioritasnya (National Association of Community Health Officers. Bahwa masyarakat punya kepentingan terhadap perubahan (komunitas harus berperan aktif dalam menciptakan kondisi yang lebih baik bagi seluruh masyarakat). APEXPH. Hancock. 1997). Association of State and Territorial Health Officials. Bahwa setiap usaha perubahan (sosial) pada dasarnya membutuhkan daya tekan tertentu. b) Kenyataan masih adanya ketimpangan dan keterbelakangan. Model ini menggunakan penelitian tindakan untuk memberdayakan masyarakat dalam mengambil tindakan untuk kesehatan. 1997). Kenyataan ini menjadikan perubahan pada posisi sebagai jalan yang paling mungkin untuk memperbaiki keadaan. (Swanson & Nies. Model kota sehat merupakan model internasional yang dikembangkan di bawah naungan WHO. Kedua model tersebut dikembangkan bersama oleh organisasi-organisasi nasional seperti American Public Health Association. sementara sebagian besar yang lain tidak. b. dan National Association of Community Health Officers.

organisasi pelayanan sosial. a. memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat. penduduk kota. dan lain-lain. T. dan mengelola dana atau sarana masyakat untuk upaya kesehatan. organisasi politik. tujuan utama dari pengorganisasian masyarakat adalah meningkatnya jumlah dan mutu kegiatan masyarakat di bidang kesehatan yan secara operasional dapat dijabarkan sebagai berikut: a. dan yang lainnya. b. Meningkatkan kemampuan pemimpin (tokoh masyarakat) dalam merintis dan menggerakkan upaya kesehatan di masyarakat b. pemimpin bisnis. e. J. Warren mengidentifikasi 3 kelompok besar strategi organisasi masyarakat dalam mencapai perubahan sosial yaitu. M. Dasar kerjanya adalah mengorganisasi tim dan mengumpulkan informasi untuk mengerti masyarakat dan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut. T. organisasi nonprofit. K. strategi kolaborasi (collaborative . d. d. R & McClam. Tujuan pengorganisasian masyarakat Menurut Woodside. g. c. f. Prinsip Pengorganisasian Masyarakat Berikut adalah prinsip-prinsip pengorganisasian masyarakat yang dijabarkan Woodside. R & McClam.persiapan melakukan “perlawanan” terhadap tekanan dari pihak-pihak tertentu. Strategi Pengorganisasian Masyarakat Pada tahun 1969. Dasar kerjanya adalah mengembangkan rencana tindakan. tetapi juga dapat bermakna sebagai upaya bersama dalam menghadapi masalah-masalah bersama seperti bagaimana meningkatkan produksi. Organisasi dipersilahkan untuk membentuk jaringan dari perhatian. dan lain-lain. termasuk politikus. L. Jaringan ini termasuk sekolah. Individu dan organisasi mengidentifikasi sebuah tujuan umum. M. menghimpun. Individu yang memiliki pikiran yang sama dan organisasi mengkonsolidasikan diri untuk memiliki suara yang lebih efektif di masyarakat. (2009). Meningkatkan kemampuan organisasi masyaakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan c. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menggali. (2009). institusi finansial. Semua anggota individu dari masyarakat dipersilahkan untuk berpartisipasi dalam memberikan usaha. Gabungan upaya dari berbagai pendapat memiliki kekuatan untuk memfasilitasi perubahan. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan secara mandiri.

menilai dan menangani masalah kesehatan yang ada atau menyediakan pelayanan keperawatan berbasis komunitas. strategi kampanye (campaign strategies) dan strategi pertentangan (contest strategies). Strategi kampanye dapat dihubungkan dengan perencanaan sosial (social planning) terhadap organisasi komunitas.sama mendiskusikan. perawat komunitas . Strategi kolaborasi digunakan pada situasi dimana terdapat suatu persetujuan terhadap suatu permasalahan yang harus diatasi di masyarakat tersebut. Strategi kolaborasi erat kaitannya dengan model pengembangan komunitas (community development) Rothman. Kelompok menggunakan strategi kolaborasi ketika mereka mampu untuk bersamasama bergerak dan mengambil langkah. Organisasi dibantu oleh perawat merumuskan permasalahan yang dihadapi dan bersama-sama bekerja dalam mencari solusinya. Strategi kampanye cocok digunakan pada saat situasi dimana terdapat perbedaan pendapat tentang isu. Dalam menentukan kebutuhan kesehatan komunitas tersebut. Perawat komunitas mencari dan mengumpulkan data dari anggota organisasi melalui survei. melatih masyarakat di komunitas tersebut untuk dapat mencegah. memprioritaskan dan membuat keputusan mengenai kebutuhan kesehatan komunitas tersebut. keluarga dan agregat. perawat kesehatan komunitas akan mengajari tentang perawatan diri kepada individu. Strategi kampanye digunakan untuk mengajak atau meyakinkan suatu pihak melalui perundingan. Sebagai seseorang yang ahli dalam bidang kesehatan komunitas. dan wawancara yang nantinya hasil yang terkumpul tersebut akan dibawa kembali kepada organisasi masyarakat tersebut untuk bersama. Dalam strategi kampanye ini. Ketika mengimplementasikan rencana tersebut. Tiga strategi tersebut berkaitan dengan model Rothman dalam pengorganisasian masyarakat. masyarakat dan perawat bersama-sama mengkaji apa saja yang mereka butuhkan serta sumber daya apa yang mereka miliki. perawat komunitas membantu mengembangkan pembuatan keputusan komunitas dengan memfasilitasi dan mengajari cara menyelesaikan masalah dan mengajari beberapa keahlian dan pengetahuan yang dibutuhkan.strategies). perawat komunitas menggunakan metode epidemiologi untuk memperoleh data dan mengidentifikasi masalah utama yang sedang terjadi dalam komunitas dan resiko kelompok. Pada fase perencanaan. anggota organisasi dapat diikutsertakan untuk menilai sejauh mana program berjalan dan apakah berjalan dengan baik sehingga memudahkan perencanaan dan pelaksanaan yang berikutnya. Pada fase evaluasi terhadap intervensi keperawatan kesehatan komunitas. Strategi pertentangan menggunakan taktik konfrontasi untuk menekan atau mendesak pembuat kebijakan atau keputusan untuk membuat kebijakan atau mengambil langkah sesuai dengan tuntutan kelompok yang mendesak. pertemuan dengan anggota organisasi. Bagian utama dari proses implementasi ini adalah menyebarkan program ini kepada komunitas. Pada strategi kolaborasi ini perawat komunitas sebagai agen perubahan dapat menjadi pemberdaya atau sebagai fasilitator kepada organisasi masyarakat. Di sisi lain perawat komunitas dapat mengajarkan organisasi masyarakat tersebut untuk melakukan pengkajian mandiri untuk mengkaji permasalahan yang ada. Setelah pengkajian selesai. Dalam strategi kampanye ini perawat komunitas sebagai agen perubahan berperan menjadi pengajak dan saksi ahli. memvalidasi. perawat komunitas merekomendasikan solusi dan rencananya yang termasuk kedalam intervensi keperawatan kepada organisasi komunitas tersebut.

Pada strategi ini. Dalam strategi ini. Strategi pertentangan dapat dihubungkan dengan pendekatan aksi sosial (social action). yaitu data primer dan data sekunder. Dalam hal ini. Pendekatan Pada Pengorganisasian Masyarakat Langkah pendekatan yang dapat dilakukan pelaksana terhadap masalah yang akan diangkat dalam suatu komunitas adalah sebagai berikut (McKenzie. Menggabungkan kedua jenis data yang telah ditemukan membantu pelaksana kesehatan melihat lebih jelas mengenai kebutuhan kesehatan komunitas yang ada pada daerah tersebut. b. Menentukan tujuan dan ruang lingkup dari kebutuhan Tahap pertama dalam melakukan pendekatan itu sendiri adalah mengetahui tujuan dan ruang lingkup. et al. pertentangan dibuktikan dengan kegiatan berupa aksi sosial. Prioritas sangat penting karena berkaitan dengan komunitas yang menjadi klien serta keadaan pelaksana sendiri seperti sumber daya.persatu. Analisis data Hasil akhir dari tahap analisi data ini adalah memprioritaskan masalah yang ada. Pertentangan digunakan pada saat adanya pihak kuat yang menentang solusi yang diajukan atau adanya struktur kekuasaan yang menghambat penyelesaian masalah. M. Selanjutnya data sekunder merupakan data yang sebenarnya telah ada untuk tujuan lain seperti data mengenai insuransi kesehatan dan lain-lain. Pertanyaan yang biasa menjadi contoh diantaranya. apa tujuan dilaksanakannya penilaian kebutuhan? Sumber daya apa saja yang tersedia berkaitan dengan masalah kebutuhan masyarakat? Ketika salah satu dari pertanyaan di atas telah terjawab. tidak memakai kekerasan. c. Pentingnya kebutuhan . pembagian kuesioner pada komunitas yang membahas mengenai masalah kebiasaan yang dikaitkan dengan kesehatan. Selama menentukan prioritas ini. 2005): a. dana dan lain-lain.dapat menggunakan berbagai media seperti surat. perawat komunitas membantu klien untuk berhadapan langsung dengan sistem dan memaksa terjadinya perubahan. presentasi publik. pelaksana seharusnya mempertimbangkan: 1. Cara lain yang tenaga kesehatan komunitas sekarang lakukan yaitu dengan cara mobilisasi politik dan legislasi. data dibagi menjadi dua. dan ketidakpatuhan masyarakat. Data primer merupakan data yang dikumpulkan khusus untuk masalah yang sedang ditangani. Peranan yang dominan bagi perawat komunitas dalam situasi seperti ini adalah sebagai advokator. Contohnya. maka pengumpulan data dapat segera dilakukan. persuasi satu. Mengumpulkan data Proses selanjutnya adalah mengenai pengumpulan data yang nantinya dapat membantu pelaksana dalam mengidentifikasi kebutuhan utama dari komunitas tersebut. Tujuan dan ruang lingkup tersebut dapat ditentukan dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan yang nantinya akan menjadi pemicu timbulnya masalah yang diinginkan. bantuan dukungan dari kelompok dan berbagai teknik persuasif lainnya agar program kesehatan dapat berjalan dan diketahui banyak orang.

faktor pendukung dan pendorong yang memberikan dampak terhadap faktor resiko.2. mempunyai akses untuk rekreasi (faktor pendukung) dan lingkungan sekitar yang menerapkan nilai kesehatan berupa latihan (pendorong). Selanjutnya menurut Nasrul Effensi dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. menyusun perencanaan penaggulangan masalah. mulai dari mengidentifikasi masalah. c. e. lembaga swadaya atau badan tertentu yang merasakan adanya masalah kesehatan dan kebutuhan dari masyarakat akan pelayanan kesehatan. Misalnya program pos pelayanan terpadu yang melaksanakan 5-7 upaya kesehatan yang dijalankan sekaligus seperti KIA. mengajukan suatu program atau proposal kepada instansi yang berwenang untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut. Specific content objective approach Adalah pendekatan baik perseorangan (promoter kesehatan desa). imunisasi. Seberapa mungkin kebutuhan tersebut diubah 3. f. Dan yang dipentingkan . pelaksana harus mengidentifikasi dan memprioritaskan faktor resiko yang berhubungan dengan masalah kesehatan. Identifikasi fokus program Setelah identifikasi dan menentukan prioritas. Validasi kebutuhan prioritas Tahap terakhir dari langkah ini adalah double-check untuk memastikan masalah yang telah ditetapkan memang merupakan prioritas utama kesehatan yang terjadi pada suatu masyarakat. b. pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi. komunitas tersebut mungkin tidak punya kemampuan untuk memulai program latihan (faktor predisposisi). Misalnya program penanggulangan sampah. Sumber daya yang adekuat dalam penanganan masalah d. General content objective approach Adalah pendekatan yang mengkoordinasikan berbagai upaya dalam bidang kesehatan dalam suatu wadah tertentu. KB. Mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dengan masalah kesehatan Pada tahap ini. penyediaan air bersih dan penyediaan obat-obat esensial. Seperti pada contoh penyakit jantung. Dalam hal ini. masyarakat sendirilah yang akan mengembangkan kemampuannya sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. Contohnya apabila masalah kesehatan yang lazim terjadi pada suatu komunitas adalah penyakit jantung. gizi. analisa. maka pelaksana harus menganalisis kebiasaan dan lingkungan yang berkaitan dengan kesehatan jantung pada masyarakat tersebut. penanggulangan diare. pendekatan dalam pengorganisasian masyarakat antara lain: a. pelaksana perlu mengidentifikasi faktor predisposisi. Process objective approach Adalah pendekatan yang lebih menekankan pada proses yang dilaksanakan oleh masyarakat sebagai pengambil prakarsa.

(Efendi. Setelah masalah yang akan diangkat telah ditentukan. b. Stimulus internal. Ketersediaan teknologi. Stimulus dari dalam komunitas dapat terjadi jika masyarakat sadar akan masalah kesehatan di wilayahnya secara otomatis akan menyadarkan komunitas akan pentingnya dialog untuk memecahkan masalah tersebut. F & Makhfudli. 2009) a. Directive approach dalam perencanaan dan penyelesaian masalah Proses perubahan lama Anggota mempunyai rasa kepemilikan Komitmen terhadap perubahan akan bertahan lama Anggota tidak mempunyai rasa kepemilikan Komitmen terhadap perubahan akan bertahan lama Proses perubahan dilakukan dengan paksaan Proses perubahan cepat - - N. Katalis dapat mengarahkan pada dialog yang efektif dalam komunitas. Seorang perawat komunitas dituntut untuk berperan sebagai agen perubahan (change agent) di dalam komunitas. Inovasi. Perkembangan teknologi terkini khususnya teknologi kesehatan seyogyanya selalu diikuti oleh perawat komunitas. Adapun jenis pendekatan kepada masyarakat adalah (Hersey. Enam jenis katalis diantaranya sebagai berikut. Perawat komunitas juga dituntut untuk selalu berpikir kreatif dan menciptakan pembaruan-pembaruan dalam memecahkan masalah-masalah kesehatan yang ada di komunitas d. katalis dapat diartikan sebagai seseorang atau sesuatu yang mendorong adanya perubahan. Perawat komunitas harus menyadarkan masyarakat akan masalah-masalah kesehatan yang memerlukan perubahan sosoial c. Hal ini akan memudahkan pekerjaan . Kebijakan yang dibuat oleh pemerintah seharusnya dapat menstimulus komunitas untuk bertindak. Agen perubahan. memfasilitasi tindakan kolektif. Participaroty approach pro dilibatkan Komunitas b. Kebijakan.dalam pendekatan ini adalah partisipasi masyarakat atau peran serta masyarakat dalam pengembangan kegiatan. seperti gerakan masal pemberantasan demam berdarag dengan kewajiban melakukan 3M di rumah masing-masing. maka tahapan berikutnya adalah pendekatan secara lebih dalam kepada masyarakat yang tentunya merupakan bagian inti dari masalah tersebut. dan memecahkan masalah yang umum terjadi. e. Hambatan/Katalis dalam pengorganisasian Masyarakat Dalam hal ini.1982): a.

seperti sejauh mana kemampuan komunitas untuk menyelesaikan masalah yang ada. f. pendidikan kesehatan. Maka dari itu prinsip dalam kemitraan adalah persamaan atau equality. dan saling menguntungkan atau memberikan manfaat. baik dari segi pengetahuan dan sumber daya dan fasilitas yang tersedia di dalamnya. perawat menerapkan beberapa jenis strategi intervensi. Helvie. Perawat komunitas diharapkan mampu menentukan startegi intervensi yang tepat untuk komunitas sesuai dengan kebutuhan dan kondisi komunitas itu sendiri. pemberdayaan (empowerment). dan saling menguntungkan atau mutual benefit. Schubert. Tidak menutup kemungkinan bahwa dalam satu intervensi. ketidakmampuan masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan internal dan eksternal. A. & Thomas 1999. kemitraan merupakan salah satu strategi intervensi keperawatan komunitas yang dilakukan dalam upaya promotif dan preventif pada komunitas. Sebagai contoh. Untuk menerapkan asuhan keperawatan komunitas yang tepat. memiliki prinsip “bekerja sama” dengan masyarakat bukan “bekerja untuk” masyarakat.2 Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas Keperawatan komunitas merupakan bentuk pelayanan/asuhan langsung yang berfokus kepada kebutuhan dasar komunitas. Prinsip. Menurut DepKes RI 2005. Terdapat 4 jenis strategi intervensi keperawatan komunitas. adanya metode koontrasepso nonhormonal akan menstimulasi komunitas untuk mempertimbangkan ulang penggunaan kontrasepsi hormonal yang lebih berisiko. Perawat pada saat melakukan upaya pengembangan kesehatan masyarakat dapat melakukan hubungan kemitraan dengan . keterbukaan. Strategi intervensi keperawatan komunitas diharapkan dapat memberikan arahan dan turut membantu keberhasilan intervensi keperawatan komunitas di masyarakat. Pengertian. yaitu kemitraan (partnership). berdasarkan kesetaraan. Pemilihan jenis strategi intervensi keperawatan didasarkan pada kondisi komunitas. dan proses kelompok (Hitchcock. Membina hubungan dan bekerja sama dengan elemen lain dalam masyarakat menjadi salah satu upaya yang dapat menjadi keberhasilan program pengembangan kesehatan masyarakat. kemitraan memiliki definisi hubungan atau kerja sama antara dua pihak atau lebih. dan Tujuan Kemitraan sebagai Strategi Intervensi dalam Komunitas Tidak hanya dalam bidang ekonomi dan politik saja kemitraan dipelajari. Media massa berfungsi untuk menguvah opini publik yang dirancang untuk mengubah perilaku individual atau kelompok agar dapat mengadopsi hal-hal baru yang disampaikan oleh perawat komunitas. keterbukaan atau transparency. 1998). 2.perawat komunitas ketika bersinggungan dengan masyarakat. Media massa. Perawat harus mengkaji sebanyak-banyaknya mengenai kondisi dan keadaan komunitas. yang berkaitan dengan kebiasaan atau pola perilaku masyarakat yang tidak sehat. maka perawat perlu mengetahui beberapa jenis strategi intervensi keperawatn komunitas.

Strategi intervensi ini dapat dilakukan antara perawat kesehatan masyarakat dengan elemen masyarakat maupun unsur lain yang saling memiliki tanggung jawab. menjabarkan visi. Sedangkan tujuan khususnya adalah meningkatkan saling pengertian.Terlibat dalam pengembangan tim multi-sektor dan membangun koalisi . kita perlu membantu masyarakat dengan cara-cara yang sesuai dengan persepsi mereka tentang masalah kesehatan. Kepemimpinan (manageralism). Dalam menjalin kemitraan diperlukan komitmen masyarakat dan keikutsertaannya karena ketika dua hal tersebut tidak berjalan dengan baik. dan unsur organisasi profesi lain (Effendi & Makhfudli. Hubungan kemitraan dilakukan dengan tujuan untuk dapat meningkatkan dan mengoptimalisasikan kemampuan masyarakat (community as resource). 2004). Padahal. meningkatkan saling percaya. Partisipasi masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesejahteraan. Program kemitraan sering gagal jika ada konflik antara penyedia perawatan kesehatan dan sistem kepercayaan masyarakat. 2009): . misi.Mengukur hasil keperawatan. meningkatkan daya. unsur LSM atau organisasi masyarakat.Meningkatkan lingkungan kerja yang sehat . Kegiatan yang dilakukan pada model kepemimpinan yaitu (Efendi dkk. Selain itu. Model kemitraan ada lima: 1. dan kekuatan. dan meningkatkan rasa saling menghargai. aksi. hubungan kemitraan menciptakan individu dan kelompok-kelompok masyarakat yang berperan aktif dalam setiap proses keperawatan sehingga terjadi perubahan perilaku dan timbul kemandirian. program. meningkatkan rasa kedekatan. rencana. unsur swasta atau dunia usaha. Ketika mengimplementasikan program. bukan bekerja untuk masyarakat. efektivitas.beberapa unsur. serta layanan kesehatan komunitas kepada tenaga profesional lain atau komunitas . membina hubungan dan bekerja sama dengan elemen lain dalam masyarakat memiliki pengaruh yang signifikan pada keberhasilan program pengembangan kesehatan masyarakat. Tujuan umum dilakukan kemitraan adalah meningkatkan percepatan. kemampuan. dan efisiensi upaya kesehatan dan upaya pembangunan pada umumnya. Perawat bekerja sama dengan masyarakat untuk memilih dan menentukan jenis intervensi yang akan dilakukan. Kemitraan dalam komunitas merupakan proses yang menggunakan kemampuan anggota komunitas sebagai partisipan aktif dalam memecahkan masalah. seperti unsur pemerintah. Saat ini masih belum banyak perawat yang menggunakan strategi intervensi ini untuk membangun jaringan kemitraan di masyarakat. 2009). maka kemitraan tidak akan berjalan sesuai tujuan. meningkatkan saling memerlukan. Oleh karena itu perlu dikembangkan lebih lanjut kemitraan sebagai salah satu strategi intervensi yang dapat dilakukan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Proses ini berfokus pada penguatan kompetensi komunitas melalui keterlibatan secara aktif dalam proses perencanaan pengembangan masyarakat dan ikut melaksanakannya (Porsche. membuka peluang untuk saling membantu.

Pendidikan kesehatan merupakan kombinasi pengalaman-pengalaman belajar yang dibangun untuk memfasilitisasi terciptanya perilaku yang mengoptimalkan kesehatan (Green and Kreuter. kelompok. peneliti dan pelaksana pelayanan kesehatan keperawatan (Depkes. Peran perawat sebagai pendidik salah satunya adalah memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat. terdapat lima tingkat dalam kemitraan yaitu full collaboration. contoh model kewirausahaan yang didirikan perawat yaitu rumah perawatan.Advokasi kesempatan yang berkelanjutan serta pembelajaran seumur hidup untuk diri sendiri dan yang lain .Persiapan situasi gawat darurat dan mendelegasikan tugas 2. partnership. Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas: Pendidikan Kesehatan Perawat memiliki berbagai macam peran. Membangun gerakan (movement building). coalition.Mengajari kelompok. bekerja sama dengan perusahaan farmasi. Upaya pendidikan kesehatan . Kewirausahaan (entrepreneuralism). Koutoukidis.Mengembangkan budaya dimana sistem dimonitor dan dievaluasi . 5. dll (Wilson dkk. 1991 dalam Funnel. Gambarannya seperti berikut: Full Collaboration • Written aggreement • Shared vision • Consensus decision • Formal work assignment - Network • Loose association • No significant demands Alliance • Semi formal • Some new resources • Coordination of task Partnership • Formal contract • New resources • Shared risk and reward Coalition • Formal aggreement • All member involved in • New resources • Joint budget B. Perawat berperan sebagai pengusaha yang melakukan inovasi. Radikalisme berorientasi pada negara (state oriented radicalism) 4. bisnis konsultasi. pengelola layanan kesehatan. 2012). and Lawrence. dan lainnya dalam komunitas .Melayani peran kepemimpinan dalam lingkungan kerja populasi. Pendidikan kesehatan dapat dilakukan secara individu. dan network. diantaranya adalah pendidik.Meningkatkan keahlian kesehatan komunitas dan keperawatan .Menunjukan kreativitas dan fleksibilitas melalui waktu yang selalu berubah . 2009). dan komunitas . maupun komunitas. Pluralisme baru (new pluralism) 3. alliance. Menurut Heideneim (2002). pemangku kepentingan. 1998). Perawat yang akan memberikan edukasi kesehatan harus mengetahui dan memahami faktorfaktor yang berkontribusi pada kesehatan dan kesakitan seseorang.Mengkoordinasi program dan pelayanan lintas area di antara tim multi sektor lain .

Proses edukasi/ pendidikan kesehatan terdiri dari lima kegiatan menurut Stanhope and Lancaster (1996) yaitu. yaitu evaluasi edukator. dan sumber yang lain e) Menganalisa data yang didapat untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar klien dari segi kognitif. perawat mempertimbangkan kelumpuhan. pengetahuan klien. Contohnya. dan paling ringkas. Tahap implementasi adalah tahap yang dinamis dama poroses edukasi kesehatan. Selanjutnya. 3. yaitu: individu akan mudah mengadopsi perilaku sehat apabila mendapatkan dukungan sosial dari lingkungannya terutama dukungan keluarga. dan banyaknya masa klien. Intervensi keperawatan melalui pendidikan kesehatan untuk menurunkan risiko dan komplikasinya dapat dibagi menjadi tiga kelompok. umur. misalnya waktu yang terbatas. Disinilah peran perawat sebagai pendidik untuk memberikan pendidikan kesehatan yang tepat sasaran dan memiliki dampak positif bagi . Tahap ini mempunyai 3 area. Implementasi (Mengimplementasikan rencana pembelajaran). Langkah-langkah untuk melakukan pengkajian yaitu: a) Identifikasi apa yang ingin klien ketahui dengan mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi kebutuhan belajar klien dan kemampuan mereka untuk belajar b) Memastikan bagaimana cara yang tepat digunakan untuk klien belajar c) Melihat keinginan klien d) Mengumpulkan data secara sistematis dari klien.. Goal adalah tujuan yang diharapkan untuk jangka panjang sementara obyektifitas merupakan kriteria yang perlu dilakukan agar tujuan jangka panjang dapat tercapai. dan afektif f) Mendorong klien untuk berpartisipasi selama proses g) Membantu klien untuk menentukan prioritas akan kebutuhan belajarnya 2. yaitu: (1) pencegahan primer. (2) pencegahan sekunder. Diagnosa (Menetapkan goal dan obyektifitas pendidikan kesehatan). Pengkajian (Identifikasi kebutuhan edukasi/ pendidikan). intervensi di tingkat komunitas dapat mengubah struktur sosial yang kondusif terhadap program promosi kesehatan. dan evaluasi produk. 1996). sebaiknya memilih metode yang paling sederhana. evaluasi proses. klien tunanetra akan lebih baik apabila diberikan edukasi kesehatan melalui bahasa verbal. Planning (Menyeleksi metode pembelajaran yang sesuai). Metode yang dipilih harus disesuaikan dengan kekuatan yang dimiliki dan kebutuhan klien. 4. tingkat pendidikan. 1. jelas. and Kok. psikomotor. perawat harus dapat fleksibel ketika dalam prosesnya terdapat hambatan dan tantangan dari luar. terkadang pendidikan kesehatan yang diberikan tidak tepat sasaran sehingga hasil yang diharapkan masih jauh dari ekspektasi. Perawat kesehatan komunitas mempelajari dan mengkaji pendidikan kesehatan apa yang dibutuhkan oleh kliennya. keluarga.di tingkat komunitas penting dilakukan dengan beberapa alasan. Evaluasi (Evaluasi proses edukasi). dan (3) pencegahan tersier. Pendidikan kesehatan di masyarakat masih tergolong minim hingga saat ini. unsur-unsur di dalam komunitas dapat membentuk sinergi dalam upaya promosi kesehatan (Meillier. 5. Bahkan. Oleh karena itu. Lund.

Meningkatkan dan memelihara kesehatan klien melalui penyuluhan atau pendidikan kesehatan c. TV. kelompok. diantaranya: a) Kumpulan pengalaman dan hasil didik yang digunakan untuk mempengaruhi pengetahuan. Oleh karena itu. Pendidikan kesehatan dapat dilakukan secara individu. teman. Kegiatan pendidikan kesehatan harus dipersiapkan secara matang oleh perawat agar tujua nyang ingin dicapai dapat terwujud. untuk mencapai pendidikan kesehatan yang baik. sikap. mempromosikan perawatan kesehatan. psikologi. keluarga. yaitu: individu akan mudah mengadopsi perilaku sehat apabila mendapatkan dukungan sosial dari lingkungan. dan masyarakat (Joint Committee on Terminology in Health Education of United States. dan masyarakat dalam mencapai tujuan perubahan perilaku untuk hidup bersih dan sehat yang merupakan visi dari promosi kesehatan. mengetahui sumber daya yang tersedia. dan lainnya Sementara itu menurut Swanson dan Nies (1997) dalam Nursalam dan Efendi (2009) perawat dengan peran pendidiknya itu berarti seorang perawat harus dapat mengenali dimensi dari pilihan-pilihan kesehatan. Upaya pendidikan kesehatan di tingkat komunitas penting dilakukan dengan beberapa alasan. Membantu klien untuk memilih sumber informasi kesehatan dari buku-buku. perawat diharapkan dapat mendukung individu. kelompok. dan memfasilitasi perilaku sehat. perawat perlu memahami pengertian. Koran. latihan. Beberapa prinsip yang menjadi salah satu dasar dalam memberikan pendidikan keperawatan. Melaksanakan penyuluhan atau pendidikan kesehatan untuk pemulihan kesehatan klien d. Mengajarkan kepada klien informasi tentang tahapan perkembangan f. keluarga. dan kebiasaan klien. penyakit. keluarga. Berdasarkan peran tersebut.kesehatan masyarakat. fungsi yang dilakukan menurut Efendi dan Makhfudli (2009) adalah sebagai berikut: a. kelompok. dan sosial yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan individu dalam mengambil keputusan secara sadar dan yang memengaruhi kesejahteraan diri. Mengkaji kebutuhan klien untuk menentukan kegiatan apa yang akan dilakukan dalam penyuluhan atau pendidikan kesehatan b. b) Klien menjadi subyek yang menentukan perubahan perilaku. dan masyarakat dapat tercapai dengan baik. seperti nutrisi. . tujuan dan prinsip dari pendidikan kesehatan. Sebagai pendidik atau penyuluh kesehatan. dan pengelola penyakit e. Pendidikan kesehatan harus dilakukan secara terencana dan perawat yang memberikan pendidikan kesehatan juga harus memiliki pemahaman yang mendalam agar tujuan untuk mengubah perilaku individu. maupun komunitas. Menyusun program penyuluhan atau pendidikan kesehatan baik untuk topic sehat ataupun sakit. Perawat sebagai seorang edukator atau pendidik dituntut untu dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan baru Pendidikan kesehatan merupakan proses yang mencakup dimensi dan kegiatankegiatan intelektual. 1973).

Peran perawat sebagai pendidik dapat diaplikasikan pada pendidikan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat. pendidik kesehatan bertanggung jawab mengarahkan cara-cara hidup sehat menjadi kebiasaan hidup masyarakat sehari-hari 2. karang taruna. Tujuan dari proses kelompok adalah agar intervensi keperawatan komunitas berjalan lebih efektif karena strategi ini melibatkan langsung peran aktif dari anggota-anggota komunitas. Menolong individu agar mampu secara mandiri atau berkelompok mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup sehat. bahaya pemakaian rokok. kekerasan. sadar. misi. yaitu anak-anak dan orang tua. 1954): 1. seksual. Oleh sebab itu. kondisi sakit. dan tujuan komunitas yang hendak dicapai di kemudian hari. C. Beberapa contoh kelompok yang terbentuk di dalam komunitas adalah seperti posyandu. dan berperan aktif di dalam kelompok. Kegiatan kelompok-kelompok ini juga harus disesuaikan dengan visi. keamanan personal dan rekreasi. Menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di masyarakat. Pendidikan kesehatan harus dilakukan dengan persiapan yang baik dan berdasarkan prinsip-prinsip yang ada. Adakalanya. Prinsip dari proses kelompok adalah anggota-anggota yang tahu. obat terlarang. posbindu. dan juga setiap aktvitas-akivitas kelompok harus berpegangan pada tujuan komunitas yang ingin dicapai. Anggota-anggota kelompok yang telah berpartisipasi aktif dalam kelompok mempunyai kecenderungan mempunyai kesamaan dengan anggota . tetapi tidak menggunakan sarana kesehatan yang ada dengan semestinya Pendidikan kesehatan dapat digunakan pada seluruh kalangan umur. pemanfaatan sarana pelayanan yang ada dilakukan secara berlebihan atau justru sebaliknya .c) Perubahan perilaku oleh klien menjadi indikator keberhasilan pendidikan kesehatan. baik secara individu maupun secara kelompok. Tujuan pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu atau masyarakat di bidang kesehatan (WHO. lingkungan dan pengaruh sosial. Dengan terlibatnya anggota-anggota komunitas. Mendorong pengembangan dan penggunaan secara tepat sarana pelayanan kesehatan yang ada. Pembentukan kelompok-kelompok di dalam komunitas harus didasarkan pada inisiatif dan kebutuhan tiap masing-masing komunitas. agar tujuan yang sudah ditetapkan dapat tercapai dan memberikan hasil yang maksimal. dan lain-lain. diharapkan mempermudah perubahan-perubahan yang dibutuhkan komunitas untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh komunitas tersebut. 3. Pendidikan kesehatan yang diberikan pada kalangan anak-anak dapat membantu meminimalisasi jumlah obesitas pada orang dewasa kelak. kesehatan mental. Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas: Pemberdayaan Masyarakat Proses kelompok merupakan salah satu strategi intervensi keperawatan yang dilakukan bersama-sama dengan masyarakat melalui pembentukan sebuah kelompok atau kelompok swabantu (self-help group). Beberapa subjek ilmu yang terdapat pada pendidikan kesehatan diantaranya adalah nutirsi.

dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru. pemberdayaan masyarakat diartikan sebagai sebuah proses interaksi sosial yang mana individu dan kelompok bertindak untuk memperoleh penguasaan atas kehidupan mereka dalam konteks perubahan lingkungan sosial dan politik mereka. Hal ini diharapkan dapat memaksimalkan pencegahan penyakit. dan mengevaluasi usulan dan keputusan. Proses kelompok merupakan strategi intervensi yang tepat diberikan kepada masyarakat di lingkungan tempat tinggal. mengetahui struktur kelompok. Sedangkan menurut Wallersten & Bernstein (1994) dalam Lundy & Janes (2009). Sebagai fasilitator. memfasilitasi komunikasi. sikap. kekuatan ide baru. dan tindakan) serta timbulnya kemandirian masyarakat yang dibutuhkan dalam upaya peningkatan. peran perawat harus meliputi memantau tahap perkembangan kelompok. antara lain: 1. Perawat harus mampu menjembatani dengan baik terhadap pemenuhan kebutuhan komunitas sehingga faktor risiko dalam ketidakpemenuhan kebutuhan dapat diatasi. misalnya pembentukan Posbindu dan Karang Taruna. Terjadi perubahan perilaku (pengetahuan. mendapatkan dan menerima informasi. D. membantu menyusun tujuan kelompok. perlindungan. Adapun tujuan pemberdayaan masyarakat menurut Nies (2001) dalam Efendi (2009). pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah proses interaksi sosial dengan melibatkan masyarakat untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri dan lingkungan serta bertujuan membangun kemandirian masyarakat. Strategi Intervensi Keperawatan Komunitas: Proses Kelompok Pemberdayaan masyarakat menurut Depkes RI (2005) dalam Efendi (2009) dimaknai sebagai proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk intraksi transformatif kepada masyarakat. promosi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan komunitas. pemberdayaan. . Setiap orang dapat mengenal dan mencegah masalah/penyakit tertentu setelah belajar dari pengalaman sebelumnya dan jika masyarakat sadar bahwa penanganan masalah yang bersifat individual tidak akan mampu mencegah maka mereka telah melakukan pendekatan dengan proses berkelompok. dan pemulihan status kesehatannya di masa mendatang.lain sehingga memudahkan untuk menularkan sikap yang sadar kesehatan kepada masyarakat di sekitarnya. Membantu komunitas dalam menghadapi kendala untuk meningkatkan derajat kesehatannya. partisipasi masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesehatan dan kesejateraan. Agar individu dan kelompok-kelompok di masyarakat dapat berperan secara aktif dalam setiap tahapan proses keperawatan 2. perawat menjadi narasumber kelompok dalam mengetahui masalah dan apa yang harus dilakukan kelompok untuk mengatasi masalah tersebut. Jadi. antara lain adanya dukungan. Peran perawat di dalam proses kelompok sebagai agen perubahan adalah fasilitator kelompok dan pemimpin kelompok. Sebagai pemimpin. Dalam keperawatan komunitas. membantu mengintegrasikan kemungkinan alternatif.

Namun. Discharge planning yang efektif juga menjamin perawatan yang berkelanjutan di saat keadaan yang penuh dengan stress.Prinsip utama pemberdayaan masyarakat pada keperawatan komunitas. Perencanaan ini melibatkan banyak individu yang membuat pengkajian . kolaborasi dengan klien dan keluarga. 1996). antara lain (Efendi. dokter menulis discharge order. 2009). karena salah satu dimensi inti kerentanan adalah persepsi ketidakberdayaan yang dapat menyebabkan keputusasaan (Stanhope. perawat memiliki andil besar karena perawat memiliki waktu 24 jam bersama klien. rencana dan kemudian mengkomunikasikan informasi kritis kepada organisasi atau individu yang akan bertanggung jawab untuk kebutuhan pelayanan kesehatan klien setelah pemulangan. 2. 2004) dalam (Efendi. ahli gizi dan apoteker juga memiliki andil dalam pemutusan kepulangan klien. adanya . Masyarakat yang sudah memiliki rasa pemberdayaan diri lebih mungkin membuat membuat keputusan sendiri tentang perawatan kesehatan mereka dan memperbaiki status kesehatan mereka. harus ada keterlibatan antar tenaga kesehatan lain. Tujuan utama discharge planning adalah untuk membantu klien dan keluarga untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Proses keperawatan komunitas Peran perawat komunitas disini memberikan dorongan atau pemberdayaan kepada masyarakat agar muncul partisipasi aktif masyarakat (Yoo dkk.2009 ) Dalam kegiatan discharge planning. Discharge Planning Discharge planning memastikan pelayanan yang berkelanjutan dengan suatu proses yang sistematis dari koordinasi berbagai aspek perawatan pada saat klien dipulangkan (discharge) dari fasilitas atau program. perawat harus membantu kelompok yang rentan agar mencapai rasa pemberdayaan pribadi yang lebih besar. Selain iru. Lingkaran pengkajian masyarakat pada puncak model yang menekankan anggota masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan kesehatan 2. Selain itu. Secara umum klien menunggu untuk menulis pesanan medis sampai setelah memeriksa klein. 2009): 1.3 Konsep Continuty of Care A. 1996). Perawat komunitas melakukan pemberdayaan masyarakat dengan membantu mereka mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai hidup yang sehat dan menjadi konsumen kesehatan dengan perawatan yang efektif (Stanhope. tenaga kesehatan lain seperti dokter. menyediakan resep tertulis untuk klien dan indikasi kapan dan dimana sebuah tindak lanjut sewhrusnya dilakukan. Dalam timby. Proses pada saat ini berlangsung adalah dinamis. (Hunt. 2009 dokter menentukan kapan klien diperbolehkan untuk pulang. berpusat pada klien dan interaktif. Walaupun dalam hal ini. Sebelum meninggalkan unit keperawatan.

Merencanakan koordinasi asuhan keperawatan yang berkesinambungan . terutama pasien yang memerlukan perawatan kesehatan dirumah. Dalam mencapai kesinambungan pelayanan kesehatan (continuity of care). Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa tercapainya kesinambungan pelayanan tidak serta merta berhenti sampai pada pemberian asuhan keperawatan di rumah sakit tetapi harus terus berlanjut sampai dengan pelayanan di komunitas (puskesmas) maupun pelayanan di rumah. tidak hanya untuk klien individu tetapi juga untuk komunitas.Resiko dirawat ulang diidentifikasi b. dan kemudian pulang kembali.Hambatan kesinambungan pelayanan diidentifikasi . Kegiatan Keperawatan dan Tipe Continuity of Care Pencapaian kesinambungan pelayanan kesehatan (continuity of care) merupakan bagian penting yang turut berperan dalam pemberian asuhan keperawatan.Cara mengakses fasilitas asuhan ditata dengan baik .Klien/pasien dan keluarga diorientasikan dengan lingkungan . B.Cara mengakses fasilitas kesehatan dijelaskan .Keberadaan dan pemanfaatan sumner-sumber yang ada dikelola . seperti yang dijelaskan oleh Handayani dkk. maka kegiatan keperawatan yang dapat memfasilitasi tercapainya kesinambungan tersebut. Melaksanakan asuhan keperawatan yang berkesinambungan .Peran perawat terkait dengan kebutuhan kesehatan dijelaskan .Peralatan bantuan dasar disiapkan d. 2009) : a. yaitu (BNSP.Kompleksitas kesinambungan asuhan di konsultasikan .Discharge planning dievaluasi .Informasi pemeriksaan klien/pasien dilengkapi .Lingkungan fisik dan fasilitas asuhan keperawatan ditata dengan baik .Pemeriksaan komprehensif terakhir dilakukan c.discharge planning juga membantu mengurangi baliknya pasien pasca rumah sakit.Kebutuhan kultural dan spritual klien/pasien dan keluarga dipahami . kesinambungan pelayanan kesehatan (continuity of care) adalah penjelasan mengenai perencanaan kesehatan secara berkelanjutan yang menjembatani antara penyedia pelayanan kesehatan dan perangkat pelayanan kesehatan. konseling kesehatan atau penyuluhan dan pelayanan komunitas akan kembali ke ruang kedaruratan dalam 24-28 jam. Mengevaluasi kesinambungan asuhan keperawatan .Kebijakan dan prosedur penerimaan klien/pasien baru dalam berbagai fasilitas kesehatan yang dipahami . 2008 pasien yang tidak mendapat pelayanan sebelum pemulangan. Mengidentifikasi ketergantungan dan status emosional klien/pasien dan keluarga .Tindak lanjut perbaikan dan kesinambungannya dilakukan .Frekuensi kontak dengan klien/pasien tidur . Menurut Hunt (2009).

Informasi yang diberikan oleh penyedia pelayanan kesehatan dapat berupa informasi tertulis. penyedia pelayanan kesehatan menyediakan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan klien/pasien. Dalam pencapaian pemberian informasi tersebut.Data dan informasi dicatat dalam catatan keperawatan . Komunikasi merupakan kunci utama perawat . Mendokumentasikan kegiatan keperawatan .Peralatan bantuan dasar disiapkan .Information Transfer. dan keputusan rujukan merupakan bagian dari kesinambungan informasi.Lingkungan fisik dan fasilitas asuhan keperawatan ditata dengan baik .Kegiatan dan rencana tindak lanjut didokumentasikan .Frekuensi kontak dengan klien/pasien diatur .. elektronik. Pemindahan dokumen informasi klien/pasien dari satu pelayanan ke pelayanan yang lain menjadi syarat tercapainya koordinasi pelayanan.Data-data informasi penting dikomunikasikan pada anggota tim pemberi asuhan keperawatan Sebagia tambahan. . ada tiga tipe kesinambungan pelayanaan (continuity of care ) menurut Reid (2002).Discharge planning dievaluasi e. Kesinambungan informasi (informational continuity) Ketersediaan dan penggunaan informasi sebagai prioritas utama seperti waktu berkunjung. Informasi yang diberikan tersebut merupakan hal yang menghubungkan antara satu penyedia layanan kesehatan ke penyedia layanan kesehatan lainnya. hasil laboratorium. yaitu: Gambar 1 Kesinambungan Pelayanan Tipe a. atau didasarkan pada memori dan dokumentasi kesehatan penyedia pelayanan.

b. 2. . perawat dituntut untuk memiliki sifat terbuka dan keterampilan melakukan pengkajian sehingga kebutuhan klien akan pelayanan kesehatan dapat diakomodasi dengan baik sesuai data yang diperoleh saat pengkajian. Peran perawat terkait continuity of care antara lain (Hunt. tipe pelayanan keperawatan akut di rumah sakit ke keperawatan homecare atau penyedia kesehatan lain seperti puskesmas. dan mekanisme dukungan memberikan dampak pada rencana asuhan pada klien/pasien pada pelayanan kesehatan selanjutnya. nilai. serta hubungan dari perawatan inap rumah sakit ke perawatan berbasis rumah. Sebagai contoh yaitu hubungan dari perawatan akut ke perawatan biasa. . perawat diharapkan mampu mengidentifikasi klien yang memiliki masalah kesehatan namun belum mendapatkan perawatan atau menyadarkan klien akan masalah kesehatan yang dihadapinya sehingga klien bersedia memeriksakan kesehatannya. Pada perawatan primer. Peran Perawat dalam Continuity of Care Peran perawat sebagai tenaga profesional sangat penting dalam menyukseskan tujuan cointinuity of care.Accumulated Knowledge. Case manager . Transisi dari satu tempat ke tempat pelayanan kesehatan lain menunjukkan peran program discharge planning dalam keberlanjutan pelayanan kesehatan.dalam pencapaian informasi kepada klien/pasien sampai dengan penyedia pelayanan kesehatan lainnya. Penulisan dokumentasi perawatan berfokus pada asuhan keperawatan dan detail masalah keperawatan. pengetahuan. misal rencana asuhan keperawatan selama di rumah sakit atau diagnosis medikasi. Sebagai penemu kasus. Dalam hal ini. Kesinambungan manajemen (management continuity) Perancanaan manajemen terkadang hanya menyampaikan satu bagian dari suatu penyakit. Sebagai pihak yang juga memiliki waktu kontak paling banyak dengan klien. kesinambungan manajemen secara khusus menjelaskan berbagai pelayanan kesehatan lanjutan kepada klien/pasien. 2009): 1. Penemu kasus (case finder) Perawat sebagai front liner dalam pelayanan kesehatan komunitas merupakan pihak pertama yang dituntut untuk dapat menemukan masalah kesehatan kliennya.Hubungan keperawatan yang berkelanjutan antara klien/pasien dengan penyedia pelayanan kesehatan membantu menjembatani hubungan yang terputus-putus. Kesinambungan relasi (relational continuity) Kesinambungan relasi mendukung kontak antara klien/pasien dengan penyedia pelayanan kesehatan yang mendasari perawatan lebih lanjut. klien/pasien yang difasilitasi tentang layanan kesehatan berkesinambungan (continuity of care) mampu memberikan pilihan untuk keperawatan selanjutnya di pelayanan kesehatan lain. Perawat dalam hal ini perlu mempertimbangkan tentang responsibilitas transisi klien/pasien antara tempat pelayanan. Dalam hal ini. C. c. kemampuan.

4. Selanjutnya. Case manager dituntut untuk dapat mengidentifikasi kebutuhan pelayanan kesehatan klien serta memastikan tersedianya akses pelayanan yang dibutuhkan. Kolaborator Salah satu peran perawat yang dinilai sangat penting dalam continuity of care adalah sebagai kolaborator untuk menjalin kemitraan dengan tenaga kesehatan lainnya. Selain itu. Koordinator Koordinator bertindak sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam mengkoordinir pemindahan (transfer) serta rujukan (referral) bagi klien yang diindikasikan berdasarkan data-data dan keluhan. Pemberi asuhan (Care giver) Peran ini merupakan peran utama perawat terhadap kliennya.3. . kebutuhan akan intervensi dan sarana yang tersedia. Manajemen kasus yang baik akan memberikan hasil akhir yang baik pula sehingga kepekaan dan kompetensi perawat sebagai case manager disinyalir sangat penting. Untuk intervensi yang hanya memerlukan sarana atau peralatan sederhana dapat langsung dilakukan di komunitas. Untuk itu. Sebagai konsultan. perawat diharuskan memiliki kemampuan untuk mendapatkan kepercayaan klien sehingga informasi yang diperlukan mudah didapatkan. Asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawat di komunitas dapat berupa intervensi langsung maupun intervensi tidak langsung yang disesuaikan dengan kasus klien. peran perawat sebagai kolaborator yang sering terbaikan adalah kolaborasi dengan klien. advokat juga harus memastikan hak klien tidak dilanggar. Konsultan Perawat dituntut untuk mampu menggali informasi dari klien yang nantinya akan digunakan sebagai data-data dalam pengkajian. 6. Klien berkedudukan sebagai mitra yang memiliki hak untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan terkait masalah kesehatan serta pelayanan yang diperlukan. perlu diingat bahwa kolaborasi dengan klien harus terlebih dahulu dijalin sebelum melakukan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain karena kedudukan klien dianggap sejajar dengan tenaga kesehatan. 5. 7. sedangkan untuk intervensi yang bersifat kompleks terkadang mengharuskan perawat untuk merujuk klien ke pelayanan kesehatan yang lebih memadai demi memperoleh pelayanan yang optimal. Upaya tindak lanjut dari penemuan kasus klien adalah melakukan manajemen kasus berupa kegiatan controling dan processing terkait berbagai hal yang diperlukan dalam penanganan masalah. Namun. terutama dalam hal penyampaian inform consent dan pengambilan keputusan. Advokat Peran perawat sebagai advokat adalah mendampingi klien selama intervensi dilaksanakan serta memastikan klien memperoleh pelayanan yang memuaskan dan sesuai dengan yang dibutuhkan. perawat harus mampu mengidentifikasi penyelesaian masalah yang paling tepat bagi klien dengan tetap mengikutsertakan klien dalam mengambil keputusan.

Kunjungan rutin perawat komunitas 6.D. Layanan utama yang ditawarkan belum tentu langsung berkaitan dengan kesehatan dan mungkin lebih sulit untuk mengidentifikasinya dibandingkan dengan layanan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan perawatan kesehatan. 2001). Untuk memfasilitasi continuity of care. Layanan pemeriksaan kesehatan melalui telepon rumah sakit lokal. . bentuk layanan pendukung tidak selalu jelas bagi klien atau keluarga. Namun memperoleh informasi mengenai layanan pendukung yang tersedia di komunitas merupakan bagian yang penting dari continuity of care. puskesmas. Penyedia layanan kesehatan mencakup semua pengaturan perawatan kesehatan. Komunitas yang memiliki banyak sumber daya dapat membantu mendukung klien dan keluarga melewati masa pemulihan atau dapat membantu keluarga dalam melakukan promosi kesehatan. 5) Membuat rujukan ke layanan yang dipilih klien. 3) Menggali sumber daya yang tersedia. 2) Tetapkan tujuan rujukan. 2009): 1. atau menjaga kesehatan (MDH. perawat harus menyadari berbagai jenis individu dan organisasi yang tersedia sebagai sumber daya masyarakat ketika hendak merujuk klien dalam berbagai setting. mempromosikan. Pembantu yang dibayar per jam. atau kerabat terdekat. Langkah dalam proses merujuk adalah (MDH. 2. 2009). 4. 6) Memberikan informasi yang dibutuhkan pada lembaga rujukan. kelompok keagamaan. Sementara itu. Pengurangan tarif transportasi khusus lansia. 4)Meminta klien membuat keputusan mengenai rujukan. adalah layanan yang membantu orang menghindari masalah atau memecahkan masalah yang mengganggu perawatan diri dan kesejahteraan. departemen kesehatan. Sumber daya masyarakat dapat dicirikan baik sebagai penyedia layanan kesehatan atau penyedia perawatan pendukung (Hunt. Bantuan medis pada korban bencana. dan 7) Mendukung klien dan keluarga dalam mengupayakan rujukan. Masyarakat dengan sedikit sumber daya akan tidak efisien dalam mendukung warga yang membutuhkan bantuan perawatan kesehatan. Bulan Sabit merah. 2001): 1) Menetapkan kebutuhan akan rujukan. anak-anak dan pelajar. Aksi Cepat Tanggap dan lain-lain. Rujukan harus mempertimbangkan sumber daya klien serta sumber daya masyarakat. Penyedia layanan pendukung meliputi layanan psikologis. dan dokter praktek swasta. Proses Referal dan Sumber Daya Komunitas dalam Konsep Continuity of Care Rujukan dan tindak lanjut adalah proses dimana perawat di semua pengaturan membantu individu dan keluarga dalam mengidentifikasi dan mengakses sumber daya masyarakat untuk mencegah penyakit. 5. atau layanan dukungan. Berbagai bentuk sumber daya komunitas yang dapat dimanfaatkan (Hunt. lembaga pelayanan masyarakat. dan kelompok-kelompok swadaya. Relawan Organisasi: Palang Merah. Penyedia perawatan suportif. 3.

. Pembagian tempat tinggal dengan orang lain sebagai imbalan atas bantuan yang diberikan dalam melakukan pekerjaan rumah tangga sederhana. 8.7. Bantuan kesehatan bagi mahasiswa seperti Pusat Kesehatan Mahasiswa.

. atau asuransi kesehatan lainnya sesuai anjuran dokter.9. Adanya jasa perawat yang disediakan melalui instansi pemerintah.

Home care nursing melalui penyedia layanan swasta yang terdaftar atau pelayanan resmi dari pemerintah.10. .

Penitipan lansia yang menyediakan fasilitas interaksi sosial. . perawat komunitas di mana klien berada atau tim khusus yang menangani perawatan dirumah. korban stroke. Peran Perawat Komunitas dalam Home Care Home health nursing atau perawatan kesehatan di rumah merupakan salah satu jenis dari perawatan jangka panjang (long term care) yang dapat diberikan oleh tenaga profesional maupun non-profesional yang telah mendapatkan pelatihan (Efendi. kelompok diskusi. Adanya posbindu atau program pendidikan masyarakat lain.11. kelas. 14. 17. gereja. Bantuan hukum atau layanan rujukan lain seperti pengacara yang ditawarkan oleh daerah atau negara. 2009). Pensiunan Tentara. 24. 13. 21. perawat psikiatri. Organisasi keagamaan yang mengkoordinir masyarakat. hiburan dan olahraga. atau organisasi lainnya. Perawatan di rumah biasanya dilaksanakan oleh perawat dari rumah sakit semula. dan lokasi lainnya. perawat gerontologi. Pertukaran jasa dengan tetangga dan teman-teman (misalnya. 22. penitipan bayi ditukar dengan bantuan pekerjaan rumah tangga) 18. 23. dan lainnya. Layanan antar makanan oleh organisasi keagamaan seminggu sekali. Surat kuasa yang diberikan kepada teman atau saudara untuk menangani masalah keuangan. Penyewaan pembantu rumah tangga melalui lembaga di pusat lansia. 15. Bantuan keuangan dari Palang Merah. Bantuan keringanan biaya sewa dengan melakukan jasa tertentu. 16. dengan penyesuaian biaya atau jadwal. E. perawat maternitas. Pelayanan kesehatan di rumah merupakan perpaduan perawatan kesehatan masyarakat dan ketrampilan teknis yang terpilih dari perawat spesialis yang terdiri dari perawat komunitas. dan perawat medikal bedah ( ANA. dan dukungan umum. Pemeriksaan account bersama dengan teman atau saudara untuk memfasilitasi pembayaran tagihan. sekolah. Hotline untuk informasi dan bantuan melalui dalam buku telepon. pusat-pusat senior. 2009). Adanya kelompok dukungan untuk janda. 1992 dalam Efendi. 20. kelompok-kelompok keagamaan. 19. 12. sekolah. Makanan saji di posbindu.

2006). 1. pengisapan lendir atau mukus. Selain itu. 2. Pendidik: Mengajarkan keluarga tentang sehat sakit dan bertindak sebagai penyedia informasi kesehatan. Penemu Kasus dan Melakukan Rujukan: Melibatkan diri dalam menemukan kasus di keluarga dan melakukan rujukan secara cepat. perawatan luka dekubitus. Manajer Kasus: Mengelola dan mengkolaborasikan dengan anggota keluarga dan penyedia pelayanan kesehatan atau pelayanan sosial yang lain untuk meningkatkan pencapaian pelayanan (Rice. 5. Perawatan langsung Merupakan perawatan yang diberikan melalui interaksi langsung (direct care) antara perawat dengan klien meliputi pengkajian fisik hingga intervensi keperawatan yang dilakukan untuk klien. Komunikasi antara perawat dengan klien sangat terbatas. terdapat dua peran perawat pada perawatan kesehatan di rumah. pemasangan atau penggantian selang lambung (NGT) dan kateter. 8. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan pada pelayanan perawatan di rumah antara lain: pengukuran TTV. Perawatan tidak langsung.Pelayanan keperawatan yang diberikan meliputi pelayanan primer. Konselor: Membantu pasien dan keluarga dalam menyelesaikan masalah dan mengembangkan koping yang konstruktif. 7. Perawatan tidak langsung ini lebih mengarah pada kegiatan konsultasi dan konseling. 3. Peneliti: Mengidentifikasi masalah praktik dan mencari jawaban melalui pendekatan ilmiah. Secara umum. 6. 2006). perawat juga dapat berperan sebagai: 1. Penata lingkungan rumah: Melakukan modifikasi lingkungan bersama pasien dan keluarga dan tim kesehatan lain untuk menunjang lingkungan sehat. sehingga sangat penting bagi perawatmengajarkan klien untuk menjaga kesehatanny di rumah (Rice. Perawatan ini dilakukan saat klien tidak melakukan interaksi langsung ( indirect care) dengan perawat. pengambilan preparat untuk pemeriksaan laboratorium 2. ibu melahirkan dan klien dengan penyakit . Pembela (Advocate): Melakukan pembelaan terhadap pasien melalui dukungan peraturan (Rice. yaitu perawatan langsung dan perawatan tak langsung (Efendi. 2006) 4. 2009). Pelaksana /Pemberi Asuhan: Memberikan pelayanan langsung dan melakukan supervisi pelayanan yang diberikan oleh anggota keluarga atau pelaku rawat (care giver). 9. Perawatan dirumah merupakan kelanjutan dari Continuity Care Perawat home care bekerja dengan berbagai macam klien seperti lansia. dan tersier yang berfokus pada asuhan keperawata klien melalui kerjasama dengan keluarga klien dan petugas kesehatan lainnya. Kolaborator : Mengkoordinir pelayanan yang diterima oleh keluarga dan mengkolaborasikan dengan keluarga dalam merencanakan pelayanan. sekunder.

mereka mungkin menghindari menggunakan layanan tersebut. berkualitas. karena klien dapat cepat untuk merasakan prasangka dan penilaian terhadap perawatan kesehatan apa yang diberikan kepada mereka. Faktor Sosial Faktor sosial yang dapat mempengaruhi continuity of care adalah motivasi klien dan kurangnya pengetahuin klien tentang informasi kesehatan yang akan diberikan. dan kompeten dapat mempengaruhi apakah klien dan keluarga akan menggunakan sumber daya yang tersedia. atau case manager yang diberikan untuk posisi dengan tanggung jawab peran yang sama. Perilaku atau sikap para pekerja perawatan kesehatan dan prasangka yang baik. Discharge planning dan manajemen kasus adalah peran utama untuk perawat berkaitan dengan continuity of care di perawatan berbasis komunitas. Apapun faktor yang mempengaruhi keterlibatan keluarga. Namun. hal ini tidaklah sesuai dengan masalah yang bervariasi dari perawat continuity-of-care. perawat harus mengembangkan keahlian keperawatan dalam mengantisipasi kebutuhan klien dan keluarga mereka terkait dengan kelangsungan dan campur tangan yang sesuai. Motivasi klien. Fokus utama dari perawatan dirumah adalah memandirikan klien dan keluarga serta meningkatkan status kesehatan klien. hal ini berkaitan dengan tugas perawat dalam menyadari prioritas klien. Dengan cara seperti itu akan timbul rasa percaya diri klien terhadap perawat untuk memotivasi klien mendapatkan keperawatan berkelanjutan yang telah diprogramkan untuknya. baik itu stress dalam keluarga. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Continuty of Care Nursing skills dan Health workers’s attitudes Untuk meningkatkan kesinambungan dalam continuity of care. Dengan memahami alasan untuk rujukan ke organisasi luar atau instansi pelayanan kesehatan serta memahami konsekuensi dari tidak mengikuti pelayanan tersebut makan hal itu akan meningkatkan kemungkinan kepatuhan klien Faktor Keluarga Keterlibatan keluarga yang baik dan mendukung dapat meningkatkan continuity of care. fungsi keluarga. Perawat harus terlebih dahulu membantu memenuhi kebutuhan dasar klien dan melihatnya sebagai prioritas sebelum akhirnya maju ke dalam keperawatan selanjutnya (continuity of care). Keluarga merupakan salah satu subjek utama yang terlibat dalam pengambilan keputusan tentang perawatan setelah discharge dan menerima perawatan diri yang relevan informasi yang penting bagi klien dan keluarga ketika mereka berpindah dari satu pengaturan yang lain. Ketika klien tidak memahami perlunya layanan. F. bagaimana prosesnya dan dampaknya terhadap klien.terminal. Dalam hal kurangnya pengetahuan klien akan pelayanan yang diberikan perawat harus menginformasikan pelayanan kesehatan apa yang akan didapatkan. perawat discharge-planning. atau .

sikap yang negatif akan menghasilkan respon yang juga negatif dari klien. perawat memainkan peran penting dalam membantu klien dan keluarga dalam proses pemecahan masalah terkait continuity of care yang akan dilakukan. Klien akan mendengarkan instruksi atau menerima rujukan ke penyedia pelayanan kesehatankomunitas jika perawat mampu mempraktekkan teknik komunikasi budaya yang sensitif. dan (jika ada) donatur untuk menunjang penyampaian pelayanan kesehatan. Sistem pelayanan kesehatan yang kurang terorganisir dengan baikpun bisa menjadi hambatan dalam pelayanan berkelanjutan. Klien mungkin tidak akan mengikuti keseluruhan intruksi yang didapatnya jika ada tekanan atau kesulitan yang dirasa. klien dengan cepat akan merasakan sikap. terarah. Pada umumnya. Ketika seseorang sakit. atau penggunaan komunikasi nonverbal. orientasi seksual. penyedia layanan kesehatan mengharapkan kepatuhan klien dan kerja sama klien dengan tenaga kesehatan namun hambatan komunikasi dapat terjadi ketika ada perbedaan budaya yang cukup signifikan untuk melarang komunikasi atau menciptakan kesalahpahaman karena faktor-faktor seperti usia klien. Ketika klien diminta untuk membuat keputusan mengenai kebutuhannya yang . Faktor-faktor tersebut antara lain sikap pemberi pelayanan kesehatan. komunikasi. prasangka dan dugaan terhadap dirinya. keluarga.sumber daya keuangan keluarga. Hambatan ini bisa datang dari berbagai faktor. pemberi pelayanan kesehatan. Faktor Komunikasi Komunikasi yang baik dan terarah yang diberikan oleh perawat dapat meningkatkan penyerapan informasi pemulihan kesehtan klien menjadi lebih baik. G. Sikap dan prasangka pemberi pelayanan kesehatan berpengaruh pada respon klien dan keluarganya. seperti harga diri. sering kali dia hanya memperhatikan pemenuhan kebutuhan dasarnya dan tidak memperhatikan hal-hal lain yang juga kebutuhannya. Karena biasanya informasi tidak diterima dengan baik oleh klien sering dikaitkan dengan masalah bahasa dan keterbatasan pendengaran. Faktor Sosial Ada beberapa hal yang termasuk dalam faktor sosial yang dapat menghambat pelayanan kesehatan berkelanjutan. dan kurangnya pengetahuan. Perawat harus waspada terhadap berbagai hambatan yang bisa memberi pengaruh buruk pada kelanjutan pelayanan. dan mudah dimengerti oleh klien. dan budaya. seperti faktor sosial. motivasi klien. Hambatan pada Pelayanan Continuity of Care Pelayanan kesehatan berkelanjutan atau Continuity of care dideskripsikan sebagai koordinasi akifitas yang melibatkan klien. Sikap dan prasangka pemberi pelayanan kesehatan terhadap klien akan membuat klien enggan mengikuti instruksi dengan baik dan maksimal.

fungsi keluarga. Hambatan Transkultural Hambatan yang paling sering terjadi dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan berkelanjutan adalah hambatan budaya yang ada di antara pemberi pelayanan kesehatan dan klien. hormat. Peningkatan usia berakibata pada keterbatasan pendengaran. atau penggunaan komunikasi nonverbal. Ketika klien tidak memahami kebutuhannya terhadap suatu pelayanan. . kemungkinan dia akan menghindari penggunaan pelayanan tersebut. atau masalah finansial. dan efek yang diberikannya. Hambatan Keluarga Merupakan hal yang sangat penting bagi klien dan keluarganya untuk dilibatkan pada pembuatan keputusan mengenai perawatan setelah pemulangan dari Rumah Sakit dan menerima informasi perawatan mandiri yang relevan karena mereka mengalami perubahan berupa pindah dari suatu setting ke setting yang lain. klien dari budaya yang berbeda mungkin terlalu banyak bertanya. dan kooperatif. hal ini mungkin sulit bagi perawat untuk menerima budaya yang lain dari klien dan keluarga. Pemahaman terhadap pentingnya suatu pelayanan kesehatan dan konsekuensi yang akan didapat jika tidak mendapatkannya akan meningkatkan rasa keinginan dan semangat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan mengikuti instruksi yang diberikan. Apapun faktor yang mempengaruhi keterlibatan keluarga. seperti stres keluarga. Hal ini mungkin dapat membantu perawat untuk menyadari keterlibatan keluarga dapat meningkatkan atau mengganggu pelayanan berkelanjutan. penglihatan. Sehingga klien memiliki motivasi yang tinggi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan dapat bersikap kooperatif.lain. Secara umum. orientasi seksual. pemberi pelayanan kesehatan mengharapakn klien yang patuh. perawat memiliki peran penting untuk membantu klien dan keluarga dalam proses penyelesaian masalah. yang dapat mengganggu komunikasi dan penyimpanan informasi. Hambatan Komunikasi Komunikasi yang buruk mengenai informasi penyembuhan seringkali berkaitan dengan masalah bahasa dan pendengaran yang terbatas. dan ingatan. menolak dan tidak mendengarkan instruksi yang diberikan jika perawat tidak menggunakan teknik komunikasi yang memperhatikan budaya klien. Pada opini peraawat. motivasinya mungkin akan berkurang karena energinya telah habis untuk fokus pada pemenuhan kebutuhan dasarnya. Prioritas klien dapat menjelaskan mengapa pelayanan kesehatan yang bersifat preventif mungkin tidak menjadi prioritas ketika klien memiliki kesulitan memnuhi kebutuhan sandang dan pangan keluarga. selain itu hambatan komunikasi juga terjadi ketika tercipta kesalaahpahaman karena berbagai faktor seperti usia klien. Hambatan komunikasi biasanya muncul ketika klien dan pemberi pelayanan kesehatan mengguanakan bahasa yang berbeda. Perawat harus memperhatikan prioritas klien sebelum melakukan intervensi lebih lanjut. Klien mungkin tersinggung.

sistem pada setting pelayanan kesehatan menciptakan hambatan untuk mensukseskan pelayanan berkelanjutan. dengan usaha secara gotong-royong (S. dan tidak semua orang memiliki asuransi kesehatan. 2. dan mengembangkan keyakinan untuk berusaha memenuhi kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan skala prioritas berdasarkan sumber-sumber yang ada di masyarakat sendiri maupun yang berasal dari luar. Tim pelayanan kesehatan primer mungkin secara tidak sengaja mengganggu pelayanan berkelanjutan. Penyelesaian masalah harus ada untuk mengatasi masalah ini. kurangnya waktu untuk memenuhi kebutuhan pelayanan berkelanjutan juga merupakan hambatan dalam pelayanan berkelanjutan. Hambatan tersebuut seringkali tidak dapat dikontrol oleh tim primer.4 Kegiatan yang Mendasari Pengorganisasian Masyarakat Masyarakat di lingkungan komunitas memerlukan sebuah asuhan keperawatan dari tenaga kesehatan. Pertama. 2009). jumlah staf yang tidak memadai mungkin menyebabkan penangguhan atau keterlambatan. Notoatmodjo. Ketiga. Hambatan Sistem Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan membutuhkan dana yang tidak sedikit. seorang perawat perlu melakukan pengorganisasian masyarakat.Di dalam melakukan asuhan keperawatan di komunitas. Pada situasi di mana jumlah klinik atau home visit sangat terbatas. . Fokus umum pengorganisasian masyarakat adalah pada perubahan sistem. Kadang. banyak orang yang tidak mencari atau mendapatkan pelayanan kesehatan karena tidak mampu membayarnya. perawat harus disiapkan untuk bersikap sebagai advokat klien. hasil laboratorium mungkin tidak siap tepat waaktu. Pemberi pelayanan kesehatan di luar tim primer juga bisa membuat hambatan. Sistem reimnursement seringkali terhalang oleh sistem birokrasi dan regulasi dokumen yang mebingungkan. termasuk perawat.Pengorganisasian yang dimaksud yakni membantu komunitas untuk mengidentifikasi masalah yang umum serta tujuan dan untuk mengembangkan dan implementasi strategi untuk meraih tujuan kesehatan di komunitas. Pengorganisasian masyarakat adalah suatu proses di mana masyarakat dapat mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhannya dan menentukan prioritas dari kebutuhan-kebutuhan tersebut. Pemberi layanan kesehatan mungkin bersikap apatis terhadap perencanaan dan pelayanan berkelanjutan ketika pelayanan hanya ada ketika ada sumber dana. atau tidak tersedianya alat transportasi. Saat ini juga sulit untuk menemukan pelayanan di komunitas yang akan memenuhi kebutuhan klien dalam sumber finansial. 1997 dalam Effendi. peraturan. jika komunikasi di antara staf buruk maka dapat menimbulkan hambatan. atau memiliki persepsi berbeda terhadap perannya pada discharge planning. Konsekuensinya.menunjukkan sikap perlawanan. Kedua. Sebagai contoh.

atau hukum yang pada akhirnya akan mengubah legalitas dan penerimaan sosial terhadap perilaku (Bensley. Hal pertama yang mendasari kegiatan dalam pembentukan komunitas dalam masyarakat adalah menemukan suatu masalah sehingga bisa ada unsur persamaan.Sehingga masalah-masalah yang dirumuskan benar-benar masalah yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat.Hal ini dapat dilakukan melalui survei kesehatan masyarakat dalam ruang lingkup terbatas. polisi atau warga yang memperhatikan. Proses yang berlangsung tidak semudah membalik telapak tangan. dkk. assessing the community. Anggota komunitas yang mungkin menemukan bahwa kekerasan adalah masalah bisa termasuk guru. Tapi. maintaining the outcomes in the community. yaitu recognizing the issue. Salah satu kegiatan dan pertama kali mendasari pembentukan organisasi dalam masyarakat adalah menemukan masalah. A. determining the priorities and setting goals.norma sosial.Di dalam kasus dimana seseorang yang menemukan masalah komunitas bukan merupakan anggota komunitas tersebut. Individu dari luar komunitas yang mungkin memprakarsai suatu organisasi bisa termasuk hakim yang memimpin kasus yang melibatkan kekerasan. 2009).Jika organisasi komunitas diinisiasi oleh individu-individu dari luar maka masalah itu disebut untuk dibentuk dari top down atau outside in (McKenzie dkk. gaining entry into the community. 2005). looping back. banyak tahap yang akan dilalui dalam pembentukan komunitas.Oleh karena itu keterlibatan masyarakat mulai saat ini sangat diperlukan sehingga mereka menyadari sepenuhnya masalah. evaluating the outcomes of the plan action. 2005). atau grup politik aktif yang menentang kekerasan kapanpun terjadi. citizen initiatid. organizing the people. jika yang diprakarsai merupakan anggota komunitas. Tahap Penemuan Isu atau Pengenalan Masalah dalam Kegiatan yang Mendasari Pengorganisasian Masyarakat Proses pembentukan suatu komunitas dalam masyarakat dimulai ketika individu menemukan masalah yang sering terjadi dan sedang berlangsung dalam komunitas dan memutuskan untuk melakukan sesuatu untuk masalah tersebut. Pengorganisasian masyarakat membutuhkan langkah-langkah konkrit dari awal hingga akhirnya masyarakat tersebut benar-benar terorganisasi. arriving at a solution and selecting intervention strategies. implementing the plan.Setiap penemuan masalah tersebut bisa dilakukan tindakan utntuk menyelesaikannya bersama . atau organized from bottom up (McKenzie. maka pergerakannya berhubungan dengan menjadi grass-root. pekerja sosial pemerintah yang menangani kasus kekerasan keluarga. Menurut McKenzie dkk (2005) dalam bukunya An Introduction too Community Health dijelaskan 10 langkah dalam pengorganisasian dan pembangunan masyarakat. penanganan yang baik musti dilakukan ketika menemukan masalah tersebut dalam komunitas. Yang pertama kali menemukan masalah dalam komunitas dan memutuskan untuk melakukan tindakan bisa jadi anggota dalam komunitas atau individu dari luar komunitas tersebut.

Yang menyebabkan kekerasan dan mengapa. Yang mendukung dan yang menentang gagasan menangani masalah. Sebelum mendekati tokoh-tokoh penting ini.Dengan demikian. apakah orang dalam atau dari luar komunitas tersebut. et al. dan sumber daya. Kenzie (2005) dalam bukunya menuliskan bahwa langkah gaining entry di dalam proses pengorganisasian komunitas dapat diperlukan ataupun tidak diperlukan. Jika masalah pokok ditemukan oleh orang dari luar komunitas. B. bergantung kepada siapa yang menemukan masalah pokok di komunitas. tetapi kesalahan oleh penyelenggara pada langkah ini bisa merusak kemungkinan berhasilnya pengorganisiran masyarakat (Kenzie. Gaining entry kedalam sebuah komunitas mungkin tampak seperti hal yang relatif mudah. Seperti contoh didalam kasus kekerasan. 3. Ini dapat menjadi tahapan yang paling penting dalam seluruh proses. Hal Ini merupakan langkah penting dalam proses organisasi masyarakat karena kegagalan untuk mempelajari masyarakat di awal dapat menyebabkan penundaan dalam penyelenggaraan. perawat harus mempelajari masyarakat dengan baik.Kenzie (2005) dalam bukunya menyebutkan individu ini dengan sebutan gatekeepers.Dan seseorang yang bukan anggota komunitas tidak bisa menceritakan dan berbagi masalahnya dan harus menyelesaikan sendiri dengan komunitasnya masing-masing. Langkah awal dalam proses gaining entry ke dalam sebuah komunitas ini yakni bernegosiasi untuk masuk ke dalam komunitas dengan individu yang memiliki wewenang. Perawat dalam hal ini harus mendekati tokoh-tokoh yang merupakan seorang gatekeepers. dan 4. Untuk menemukan sorang gatekeepers seorang perawat dapat bertanya kepada penduduk yang telah lama berada di dalam komunitas tersebut. Individu yang memiliki wewenang disini dapat berupa wewenang formal maupun informal. menunjukkan bahwa perawat harus melewati 'gerbang' ini untuk sampai ke prioritas populasi di komunitas. 2. tahapan ini menjadi tahapan yang penting di dalam proses pengorganisasian. dan apakah masalah tertentu yang mereka ingin pecahkan pernah dilakukan sebelumnya di komunitas tersebut (Kenzie.dengan anggota organisasi dalam komunitas. . Gatekeeper dapat merupakan perwakilan dari sekolah ataupun gereja yang memiliki kontak langsung dengan prioritas masyarakat yang berada di komunitas.: 2005). Bagaimana masalah telah ditangani di masa lalu. et al. Gaining Entry into The Community Proses gaining entry kedalam sebuah komunitas merupakan sebuah proses yang dilaksanakan setelah mengenali masalah pokok yang terdapat di sebuah komunitas.“Power brokers” ini tahu komunitas mereka. jenis politik apa yang harus digunakan untuk memecahkan masalah.al. Yang dapat memberikan wawasan yang lebih luas didalam masalah.: 2005). membuang waktu.et.: 2005). bagaimana mereka berfungsi. Mereka perlu tahu di mana kekuasaan terletak. perawat perlu mengetahui: 1. dan bagaimana menyelesaikan tugas-tugas di dalamnya (Kenzie.

gatekeeper mungkin akan mencakup kepolisian.: 2005). 1996).Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan masyarakat yaitu: (McKenzie dkk. dan layanan kelompok. Ketika pendekatan ini digunakan.Respon yang merasa dirugikan dan didiskriminasi oleh perawat dari masyarakat dapat menghalangi perawat untuk melakukan pengkajian mengenai aspek-aspek kehidupan di masayarakat tersebut. et al. Sesuai dengan contoh kekerasan. perawat dapat diuntungkan dengan memasuki masyarakat melalui organisasi yang dihormati atau lembaga yang sudah tetap di masyarakat (Kenzie. pejabat terpilih. Pengorganisasian Masyarakat (Organizing People) Pengorganisasian masyarakat adalah suatu proses ketika suatu komunitas tertentu mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhannya serta mengembangkan keyakinannya untuk berusaha memenuhi kebutuhan itu termasuk menentukan prioritas dari kebutuhan tersebut yang disesuaikan dengan sumber daya yang tersedia dan dengan usaha gotong royong (Sasongko. pemimpin-pemimpin formal dan juga informal di masyarakat menjadi kelompok inti yang menentukan keberhasilan pemecahan masalah di komunitas.Setelah perawat memiliki pemahaman yang baik mengenai kondisi masyarakat. 2005).Walaupun pembentukan kelompok inti penting. C. balai desa. 2005) . Musyawarah Masyarakat Desa. Lembaga tersebut dapat berupa masjid. Pengorganisasian masyarakat bertujuan agar masyarakat mampu mandiri dalam menyelesaikan masalah yang ada di komunitas. mereka disebut juga sebagai “executive participant” (McKenzie dkk. dan Rembuk Desa. atau di tempat ibadah (McKenzie dkk. Perawat harus menjelaskan kepada masyarakat mengenai kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dan peran serta masyarakat didalamnya. anggota dewan sekolah. gereja. (MMD). 2005). Jika tokoh yang membentuk organisasi tersebut yakin bahwa ada masalah dan perlu diselesaikan. Oleh karena itu perawat komunitas perlu mengadakan pertemuan atau pengenalan kegiatan yang akan dilakukan di daerah tersebut.Dalam hal ini. tetapi tidak akan mampu bekerja sendiri tanpa masyarakat. untuk itu beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka menyadarkan masyarakat. anggota dari sistem peradilan. dan mungkin beberapa dari mereka yang melakukan kekerasan. tenaga pelayanan sosial. Agar masyarakat dapat menyadari masalah dan kebutuhan mereka akan pelayanan kesehatan. perawat siap untuk mendekati gatekeeper. Kelompok inti inilah yang nantinya akan merekrut masyarakat yang mendapat efek dari masalah tersebut untuk bersama-sama menemukan solusi yang dirasa tepat. Pencerdasan ini dapat dilakukan dengan mengadakan pertemuan atau di tempat-tempat pelayanan masyarakat seperti sekolah. dapat mempermudah cara untuk proses gaining entry ke dalam komunitas dan mencapai langkah-langkah yang tersisa dalam proses.Orang-orang yang memiliki perhatian besar dan yakin bahwa masalah yang ada dapat diselesaikan. diperlukan suatu mekanisme yang terencana dan terorganisasi dengan baik. yaitu Lokakarya Mini Kesehatan.

2. dan masyarakat sebagai kumpulan/kelompok manusia (dimensi populasi). mengidentifikasi dan menerapkan solusi. golongan.Menurut Klien Interactional . dan perwujudan perubahan komunitas (Bensley. pemberian layanan. Pengkajian memiliki tiga dimensi. Fungsi khusus koalisi mencakup perencanaan. 2009). Memberikan reward kepada volunteer yang terlibat. multitujuan.Hal penting dalam suatu asosiasi dan pengorganisasian masyarakat adalah koalisi. Dalam proses menentukan masalah yang ada di masyarakat perkotaan. Volunteer hanya dalam waktu singkat. Ketika kelompok inti digabung dengan volunteer maka akan membentuk sebuah kelompok yang disebut asosiasi atau task force. pengolahan data. advokasi. dan jangka panjang (Bensley. 4. Analisis dari data pengkajian komunitas dimulai pada identifikasi masalah yang ditujukan. promosi pengurangan risiko. masyarakat sebagai tempat (dimensi tempat).Koalisi dicirikan sebagai aliansi formal. promosi kesadaran publik. penyelenggaraan pendidikan profesional. atau pihak tertentu dalam masyarakat yang setuju untuk bekerjasama guna mencapai suatu tujuan bersama. Dalam tahap pengkajian ini terdapat 5 kegiatan.Akan tetapi. koalisi berfokus pada pengurangan atau pencegahan masalah masyarakat dengan menganalisis masalah. terlebih dahulu mengkaji dan menganalisis berbagai aspek yang dapat dijadikan data penunjang dalam menentukan masalah. keluarga.Sebagai kelompok yang berorientasi pada tindakan. Melalui pengkajian. yakni komunitas sebagai sistem sosial (dimensi sistem). D. 3. yaitu: pengumpulan data. Setiap proses keperawatan idealnya diawali dengan pengkajian. 5. Mengenal orang-orang yang berpengaruh terhadap masalah dan mencoba untuk menyelesaikannya.Besar keanggotaannya beragam. Koalisi masyarakat didefinisikan sebagai sekelompok individu yang mewakili berbagai organisasi.Berbagai masalah dari masalah fisik. Pengkajian Komunitas dan Pengorganisasian Masyarakat Masalah kesehatan perkotaan menjadi fokus penting dalam asuhan keperawatan komunitas. Menempatkan relawan sesuai kemampuan dan keahlian mereka. pembinaan kemitraan. budaya. psikososial. serta menciptakan perubahan sosial. perumusan atau penentuan masalah kesehatan masyarakat dan prioritas masalah (Mubarak. bahkan komunitas. hingga spiritual dapat menjadi salah satu sumber masalah di tingkat individu. analisis data. perawat akan mampu mengidentifikasi respons komunitas yang aktual atau potensial yang memerlukan suatu tindakan. Mengadakan pelatihan untuk para volunteer agar mereka nyaman dalam melaksanakan kegiatan. Sehingga akan dapat diberikan intervensi yang sesuai yang salah satunya melalui proses pengorganisasian masyarakat untuk menjawab masalah yang ada. 2005). 2009).1. jejaring kerja. tetapi suatu koalisi masyarakat selalu melibatkan baik organisasi profesional maupun organisasi dasar (grassroot). seringkali sumber yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah yang telah diidentifikasi tidak tersedia.

8. Dari tempat pelayanan tersebut aspek yang didata meliputi pelayanannya (waktu. Banyak teori yang membahas pengkajian komunitas. serta jumlah kelompok khusus pada tiap kategori yang bekerja (jumlah dan presentasenya). bagaimana masyarakat berkomunikasi satu sama lain. perlu juga melihat aspek penduduk dan lingkungannya yang di dalamnya terdapat informasi terkait karakter penduduk (demografi). serta keamanan transportasi (milik pribadi/umum) 6. pelayanan kesehatan khusus. jenis kelamin.pengkajian harus melihat aspek masyarakat sebagai sistem sosial yang di dalamnya memuat tentang pola komunikasi. kualitas udara. pendapatan kelas bawah. yang perlu dikaji meliputi protection service. dan batas wilayah. Apakah penggunaan bahasa formal dan informal di setiap tingkatan usia. Lingkungan fisik pada komunitas sebagaimana mengkaji fisik pada individu. dan sistem nilai/norma/kepercayaan serta agama. Hal yang dikaji di sini meliputi rumah sakit. tempat. serta kecukupan dan keterjangkauan oleh pemakai dan pemberian pelayanan. Ekonomi. bahasa). Keamanan transportasi. rumah perawatan. 4. dan rata-rata pendapatan perorangan. sumber daya (tenaga. presentase yang bekerja. Selain melihat aspek masyarakat. praktik swasta. sosial. 5. statistik. jumlah populasi secara umum (umur > 18 th). jenis sekolah. ongkos. biologi. Politik dan pemerintah. Pendidikan. counseling support services. demografi (umur. serta lingkungan psikis yang meliputi nilai-nilai. Pelayanan kesehatan dan social. 3. faktor lingkungan. Komunikasi. . gaya hidup. Community core (data inti) meliputi historis dari komunitas. 2000). dan fasilitas pendidikan (SD. air bersih. angka kematian. ras. agama. aspek yang dikaji dalam hal ini misalnya jenjang pemerintahan dan kebijakan DepKes 7. Aspek yang dikaji antara lain: 1. pengambilan keputusan. jumlah pengunjung perhari/ minggu/bulan. Karakteristik pekerjaan masyarakat juga perlu dikaji terkait aspek ekonomi dengan melihat status ketergantungan. perawatan di rumah. pelayanan khusus (social worker). kaji sejarah perkembangan komunitas. puskesmas. 2. status perkawinan). namun praktisi perawat umumnya memakai sistem pengkajian Community as Partner atau yang bisa disebut Community assessment wheel (community as client model) yang di dalamnya memuat delapan komponen ditambah dengan data inti dari masyarakat itu sendiri (community core) yakni Anderson and McFarlane’s Model (Anderson. dana& perencanaan). karakteristik pemakai (penyebaran geografi. sarana transportasi). keluarga mendapat bantuan sosial. dan kepercayaan. angka kesakitan). type keluarga. presentase yang menganggur. vital statistik (angka kelahiran. mengkaji status pendidikan (lama sekolah.Framework. SMP dll) baik di dalam maupun di luar komunitas. mengkaji karakteristik pendapatan keluarga dengan melihat bagaimana ratarata pendapatan keluarga. Pengkajian lingkungan dilakukan dengan metode winshield survey atau survey dengan mengelilingi wilayah komunitas. hubungan dengan sistem lain. rencana kerja). keluarga dengan kepala keluarga wanita.

No A B C D E F G H I J K L Kriteria Risiko terjadinya masalah Risiko keparahan masalah Risiko potensial untuk pendidikan kesehatan Minat masyarakat Kemungkinan diatasi Kesesuaian program pemerintah Ketersediaan tempat Ketersediaan waktu Ketersediaan dana Adanya fasilitas kesehatan Tersedianya sumber daya masyarakat Kesesuaian dengan peran perawat Rentang Nilai 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 1-5 4 = Tinggi 5 = Sangat tinggi Kriteria bobot: 1 = Sangat rendah 2 = Rendah 3 = Cukup . Hal inilah yang dinamakan dengan penentuan prioritas. Selain menggunakan kebutuhan komunitas. E.9. menyangkut tempat-tempat rekreasi dan hiburan di komunitas. Perawat komunitas kemudian menyusun perencanaan untuk menentukan diagnosis yang akan diambil tindakan pertama kali.Salah satu sistem yang bisa digunakan adalah hirarki kebutuhan komunitas seperti yang dicantumkan dalam bagan 1. Rekreasi. Menentukan Prioritas dan Menetapkan Tujuan dalam Pengorganisasian Masyarakat Prioritas merupakan pencapaian tertinggi dari hasil kesepakatan masyarakat yang telah terorganisir sehingga pada akhirnya kepemilikan dari masalah tersebut dapat dipegang. penentuan prioritas dapat dilakukan dengan penghitungan/ skoring komunitas (Damazoo dan Hanson dalam buku Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan yang diadaptasi dari Stanhope dan Lancaster. 2004).

Solusi dan Strategi Intervensi Pengorganisasian Masyarakat Untuk dapat mengenal masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh. dapat dilakukan survey kesehatan masyarakat dalam ruang lingkup terbatas. Tujuan akanmenjadi dasar seseorang untuk bekerja. sehingga perlu disusun skala prioritas penanggulangan masalah bersama-sama masyarakat formal dan informal. untuk dapat memberikan solusi masalah yang ada di masyarakat. keterlibatan masyarakat sangat diperlukan. Jika perawat dituntut untuk terjun ke dalam komunitas. secara sadar mereka ikut berpartisispasi dalam kegiatan penanggualangan masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi. sebagian besar masyarakat mungkin enggan untuk memberikan waktu dan energi mereka untuk terlibat langsung di dalamnya. penyamaan prinsip untuk menetapkan prioritas dan menentukan tujuan sangat diperlukan. yaitu masyarakat harus mengetahui efek jangka pendek dan jangka panjang dari masalah serta biaya sumber daya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. Masalah yang ditemukan pada tahap ini tentunya tidak hanya satu masalah. musyawarah masyarakat desa atau rembuk desa. Tahap berikutnya. Tanpa rasa memiliki. Dengan kata lain. Di sebuah komunitas yang masalahnya adalah kekerasan dan tawuran.Penentuan kriteria hasil harus ditujukan untuk komunitas. Ketika suatu masalah telah diberikan prioritas. F.Tujuan tahap ini adalah menyadarkan masyarakat agar mereka menyadari masalah kesehatan dan keperawatan yang mereka hadapi. sehingga masalahmasalah yang dirumuskan benar-benar masalah yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat.Oleh karena itu. maka sebaiknya menggunakan preventif edukasi. Istilah yang sering digunakan dalam keperawatan komunitas untuk menyadarkan masyarakat adalah lokakarya mini kesehatan.Di bawah ini ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh perawat professional dalam pengorganisasian masyarakat serta contoh aplikasi penerapannya langsung di dalam komunitas. dapat dicapai. rasional. . Setiap orang yang terlibat dalam sebuah proses penyelesaian masalah sebaiknya merasakan bahwa mereka memiliki masalah tersebut dan ingin sekali mencari solusinya. Kriteria hasil harus menunjukkan apa yang akan dilakukan komunitas serta kapan dan sejauh mana tindakan akan bisa dilaksanakan. dan ada batas waktu. dapat diukur. sehingga mereka menyadari sepenuhnya masalah yang mereka hadapi dan mereka sadar bagaimana cara mengatasi masalah tersebut.Langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan atau kriteria hasil. Masyarakat harus memilih dari berbagai strategi untuk menyelesaikan masalah dengan cara kompromi. Langkah selanjutnya yaitu penerimaan masyarakat terhadap masalahnya. mungkin saja tujuannya adalah berkurangnya jumlah aksi kriminal di sana. perbaikan yang diharapkan akan berubah dari suatu komunitas. Oleh karena itu. dan masyarakat diharapkan tahu cara memenuhi kebutuhan upaya pelayanan kesehatan dan keperawatan sesuai denngan potensi dan sumber daya yang ada pada mereka. Kriteria hasil harus spesifik. identifikasi tujuan diperlukan karena nantinya tujuan ini akan menjadi petunjuk dalam penyelesaian masalah.

aksi sosial. kerja kelompok). pembelajaran laboratorium. pelayanan masyarakat. dan mengatur pola makan. Strategi teknik kesehatan (IPTEK). b) Kegiatan mengadvokasi kesehatan. contoh penerapan melalui adanya penemuanpenemuan dibidang kesehatan seperti sabuk pengaman dan kantung udara di mobil. d) Insentif dan disinsentif. 6. diskusi. Strategi lain. termasuk juga bahan audiovisual. kegiatan sosial. contoh penerapan melalui kebijakan-kebijakan hukum. iklan. e) Kegiatan intervensi sosial. dan jaringan sosial. 2. Proses pengimplementasian strategi dilakukan setelah proses penetapan strategi intervensi. Strategi edukasi kesehatan. mengelola stress. Strategi komunikasi dalam kesehatan. dan lain-lain.1. Di dalam proses implementasi juga terdapat kegiatan seperti identifikasi serta pengumpulan sumber daya yang diperlukan serta pembuatan timeline yang tepat untukn implementasi. Kegiatan yang Mendasari Pengorganisasian Masyarakat: Implementasi Rencana dan Evaluasi Tahapan terakhir dalam kegiatan yang mendasari pengorganisasian masyarakat adalah implementasi rencana serta evaluasi yang akan diikuti dengan mempertahankan hasil ataupun looping back. seperti kegiatan yang bekerja untuk mengubah norma-norma dan tradisi. Strategi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan masyarakat seperti penggunaan penilaian resiko kesehatan (Health Risk Appraisals –HRAs). tanda-tanda kesehatan seperti tanda-tanda dilarang merokok. seperti kegiatan mendidik atau menginformasikan orang dengan menggunakan teknologi yang baru. Empat tahapan terakhir tersebut merupakan bagian dari pendekatan umum dalam pengorganisasian serta pembangunan komunitas. mulai berolahraga. dan bahan materi seperti buku-buku. peraturan formal maupun peraturan informal. c) Kegiatan budaya organisasi masyarakat. mediamassa. seperti mobilisasi massa. poster. G. f) Kegiatan penyampaian teknologi. contoh penerapannya melalui metode pengajaran (pengajaran di kelas. koran. Kebijakan kesehatan. flyers. majalah. seperti kelompok pendukung. seperti kegiatan untuk mendorong atau mencegah komunitas untuk berperilaku dengan cara tertentu. dll. Proses evaluasi akan melibatkan kegiatan untuk membandingkan hasil dari proses . contoh penerapannya melalui papan billboard. 3. bulletin. seperti memodifikasi perilaku untuk tidak merokok. Pengimplementasian tersebut berupa pelaksanaan aktivitas dari strategi yang yang telah ditetapkan sebelumnya. 4. 5. seperti: a) Kegiatan modifikasi perilaku. Selanjutnya hasil dari pengimplementasian strategi akan melalui tahapan evaluasi. skrining masalah kesehatan serta pelayanan imunisasi pada masyarakat.

2. Lebih banyak dilakukan oleh asisten perawat rumah atau asisten keperawatan di bawah arahan pemberi asuhan keperawatan yang profesional f. . Jika diperlukan. melakukan kunjungan pribadi yang teratur ke pasien dan keluarga. psikososial.5 Bentuk Kegiatan Pengorganisasian Masyarakat dalam Pelayanan Keperawatan Komunitas A. melibatkan perawatan fisik langsung c. Hospice care Hospice care adalah pendekatan khusus untuk merawat individu yang mengalami sakit terminal yang menekankan pada perawatan paliatif (mengurangi nyeri dan gejala-gejala yang menganggu kenyamanan). Dalam proses evaluasi akan dilihat apakah pengimplementasian strategi sudah baik atau masih butuh perbaikan. Proses implementasi dan evaluasi harus dilalui dan perlu dilihat apakah terdapat kebutuhan akanlooping back dengan peninjauan yang serius. 2007). Proses mempertahankan hasil ini biasanya menjadi sulit karena pada tahapan ini butuh keseriusan dalam mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang untuk pemecahan masalah pada pengorganisasian masyarakat. Sebuah program dimana sukarelawan memainkan peranan penting. Bersifat mendukung keluarga dan pasien d. Namun apabila pada evaluasi strategi intervensi dianggap sudah baik maka hasil yang baik dapat dipertahankan dengan tetap dievaluasi secara berkelanjutan. Penekanannya adalah merawat pasien dirumah bersama keluarga dan teman-teman pasien (Marelli. Perawat hospice diarahkan pada kebutuhan fisik. dan spiritual pasien. di fasilitas perawatan lain dan di rumah e. Looping back dilakukan untuk mengubah atau merestrukturisasi rencana kerja dalam pengorganisasian masyarakat. Apabila dari evaluasi didapatkan hasil yang sudah baik maka akan dilanjutkan dengan proses maintaining atau mempertahankan hasil dari waktu ke waktu. Dilakukan konseling kehilangan untuk membantu orang-orang yang masih hidup agar menerima kematian orang yang dicintainya g. Hospice care menurut Hegner (2003) adalah: a. Perawatan yang diberikan pada orang-orang penderita penyakit terminal yang harapan hidupnya enam bulan atau kurang b. sama seperti pada keluarga dan/atau pemberi perawatan. Proses evaluasi dapat diikuti dengan proses looping back apabila pada proses evaluasi diketahui bahwa hasil yang didapatkan belum memuaskan. Diberikan di fasilitas khusus hospice. Hospice care dalam keperawatan merupakan spesialisasi dari keperawatan komunitas (Blackie. yang berlawanan dengan perawatan kuratif. 1998 dalam Marelli).implementasi dengan tujuan yang ditetapkan pada strategi intervensi.

dan sosial untuk pasien dan keluarga 3. Kemampuan untuk mengkoordinasikan perluasan dan perpanjangan komponen dari pelayanan rumah sakit . spiritual. Berikut perbedaan secara umum antara hospice care dengan home health care (Zerwekh. ada empat kategori yang mendeskripsikan perawat hospice. masalah psikologis. pasien hospice secara sadar membuat pilihan tentang jenis perawatan di akhir hidupnya. Kapasitas untuk mengelola fisik. dan profesional lain seperti pekerja sosial dan pemuka agama jika dibutuhkan dan diinginkan. sosial. Tim tersebut biasanya terdiri dari dokter. dan spiritual pasien terminal dan keluarga mereka 2. asisten keperawatan. yaitu: 1. Menurut Dobratz (1990) dalam Forman. Hospice care telah mengembangkan filosofi yang menyatakan bahwa kematian adalah sebuah proses alami yang tidak boleh dipercepat atau ditunda dan bahwa orang tersebut harus tetap dalam keadaan nyaman. Dalam keperawatan hospice. 2003): 1. 2003). perawat profesional. Mengadakan konseling hukum dan finansial untuk pasien dan keluarga. Pengendalian nyeri sehingga individu dapat tetap berpartisipasi aktif dalam hidup sampai ia meninggal 2. Mengkoordinasikan layanan dukungan psikologis.Hospice care diberikan oleh tim yang bekerja sama dengan penderita penyakit terminal dan keluarganya. 2002 dalam Allender): Tujuan hospice care adalah (Hegner. (Hegner.

(3) Perencanaan sehat Pokja ke-4 merupakan bentuk penjabaran pengorganisasian masyakat dengan fokus kerja kesehatan. dan mengkomunikasikan keterampilan / pengetahuan 4. Definisi Perencanaan. merawat. Salah satu pokja yang membahas masalah kesehatan yaitu pokja ke-4. Sepuluh garis-garis besar gerakan PKK dikenal dengan nama 10 tugas pokok PKK. Pokja Ke-4 Sepuluh Tugas Pokok PKK Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) merupakan suatu gerakan nasional dalam pembangunan masyarakat yang tumbuh dari masyarakat dimana pengelolaannya dari. mengelola.3. Tujuan Tujuan dari dilaksanakannya tugas dari POKJA ke-4 ini meliputi: . dan untuk masyarakat. 2. pembinaan. pemberdayaan. (2) Sandang. (2) Gotong royong  POKJA II : (1) Pendidikan dan keterampilan. (2) Kelestarian lingkungan. pelaksana. dan perencanaan sehat. pelaksanaan. Melakukan semua aktivitas dengan hormat dan menghargai B. Memberi perawatan yang sama dengan yang akan diberikan jika diagnosa terminal belum diputuskan 6. Kemampuan untuk menyeimbangkan kebutuhan perawatan diri perawat dengan kompleksitas dan intesities dari pertemuan berulang dengan kematian Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh perawata dalam melakukan asuhan keperawatan hospice yaitu: 1. Siap sedia untuk mendengarkan. dan pengendali gerakan PKK. menginstruksikan. habiskan waktu bersama klien sebanyak mungkin dan sebanyak yang diinginkannya 4. 1. (2) Pengembangan kehidupan berkoperasi  POKJA III : (1) Pangan. oleh. kelestarian. PKK berfungsi sebagai perencana. Menganjurkan klien atau keluarga melakukan sendiri perawatan diri sebanyak mungkin 3. Mengenal keluarga dan mendukungnya 5. Melaporkan nyeri dengan segera dan memberi perhatian ketat untuk tindakan yang memberi rasa nyaman 2. dan pemfasilitasan sepuluh program pokok PKK dilakukan oleh empat kelompok kerja (POKJA) secara inofatif dan koordinatif terbagi menjadi:  POKJA I : (1) Penghayatan dan pengamalan pancasila. Akuisisi konseling. (3) Perumahan dan tata laksana rumah tangga  POKJA IV : (1) Kesehatan. Sepuluh tugas pokok ini terbagi menjadi empat kelompok kerja (pokja).

bahagia. Kesehatan 1) Memantapkan Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) dalam upaya menurunkan prefalensi anak balita kurang gizi. ibu menyusui (BUSUI). Mineral. 2) Penyediaan Makanan Tambahan bagi Anak Sekolah (PMT-AS). nifas. Meningkatkan budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) d. Karbohidrat. i. Upaya penambahan kalori (Protein. melahirkan. Kegiatan Berikut adalah kegiatan fokus kerja pada pokja ke-4 dalam 10 tugas pokok PKK: a. balita. Mengembangkan dan membina pelaksanaan kegiatan POSYANDU e.  Lomba pelaksana terbaik PHBS setahun sekali 4) Usaha Kesehatan Sekolah . ibu meninggal. Menjamin kelestarian lingkungan hidup c. Mewujudkan keluarga kecil. Malaria dan penyakit menular lainnya b. h.  Kualitas gizi pada BUMIL yang Kekurangan Energi Kronis (KEK) dengan mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA)  Penanggulangan gangguan Akibat Kekurangan Garam Yodium (GAKY)  Suplementasi zat gizi  Pemberian ASI eksklusif selama 6 (enam) bulan  Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI)  Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi Balita. Vitamin. Tanam dan pelihara pohon dalam rangka mewujudkan kelestarian lingkungan. cerdas dan tangguh. sejahtera dengan melaksanakan program KB agar tercapai generasi yang sehat. Memonitor pelaksanaan Sistem Informasi Posyandu (SIP) f. Lemak. Meningkatkan pencapaian tujuan pembangunan millennium antara lain:  Menghapus tingkat kemiskinan dan kelaparan (indikator antara lain: menurunkan prefalensi anak balita yang kurang gizi)  Menurunkan angka kematian anak  Meningkatkan kesehatan Ibu Hamil  Memerangi penyebaran HIV/AIDS. kebersihan pribadi. Meningkatkan pengetahuan tentang budaya hidup hemat. 3) Menjadikan PHBS sebagai kebiasaan hidup sehari-hari  Membudayakan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Lansia di Posyandu. Air) di sekolah. Melaksanakan pencatatan Ibu hamil.  Menggunting dan memelihara kebersihan kuku. membudayakan kebiasaan menabung dan melaksanakan tatalaksana keuangan keluarga dalam rangka mendukung perencanaan sehat. kelahiran dan kematian bayi dan balita g.a.  Gizi seimbang kepada ibu hamil (BUMIL). 3.

kebersihan dan kesehatan. Endemis. Posyandu adalah pusat pelayanan terpadu dari. Kanker. TB. Gondok. dalam rangka terwujudnya kota bersih dan sehat (Health Cities). 2) Pencegahan banjir dengan tidak menebang pohon sembarangan.  Mengenal bahaya penyakit dan dampak kurang bersihnya lingkungan. 8) Meningkatkan tanam dan pelihara pohon dalam upaya kelestarian lingkungan hidup.  Orientasi peningkatan kepemimpinan PKK dalam upaya mewujudkan Indonesia Sehat.5) Membudayakan Lima Imunisasi Dasar Lengkap (LIL) dan rutin untuk menurunkan angka kematian anak dan ibu.  Lima Imunisasi Dasar Lengkap dan Imunisasi Rutin  Pencatatan kelahiran dan kematian di kelompok-kelompok Dasawisma. Osteoporosis. Stroke.  Pemanfaatan hasil tanaman TOGA  Peningkatan penyuluhan pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.  Ambulans Desa. Anemia ibu Hamil. 12) Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan keluarga dalam :  Mengenal tanda-tanda kegemukan (obesitas) dan kekurangan gizi.  Mensosialisasikan kesadaran donor darah di Desa dan Kelurahan. Angka Kematian Bayi (AKB). 3) Program sejuta pohon sebagai paru-paru kota dan pencegahan polusi udara. Angka Kematian Balita (AKBAL) melalui antara lain :  Gerakan Sayang Ibu (GSI) dengan Program Perencanaan Persalian. Penanggulangan dan Pencegahan Kekurangan Gizi.  Mengenal tanda-tanda bahaya kehamilan. pada pemukiman yang padat. 7) Meningkatkan penyuluhan pencegahan penyakit menular dan tidak menular. penyakit DBD. . 11) Optimalisasi Posyandu. 6) Meningkatkan kesadaran Pasangan Usia Subur (PUS) tentang manfaat pemakaian alat kontrasepsi. Malaria. Penyakit Degeneratif seperti Jantung dan Diabetes. Imunisasi dan Keluarga Berencana. mengurangi dampak global warming (pemanasan global).  Mengenal tanda-tanda bahaya NARKOBA dan upaya pencegahannya. Pencegahan dan Komplikasi (P4K). Pencegahan Diare. Penyakit Infeksi dan lain-lain. melahirkan dan nifas. oleh dan untuk masyarakat dengan lima kegiatan utama: Kesehatan Ibu dan Anak. Kelestarian Lingkungan Hidup 1) Pengembangan kualitas lingkungan dan pemukiman. b.  Mengenal tanda-tanda bahaya kehamilan secara dini. 9) Mendorong swadaya masyarakat dalam upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). 10) Pemahaman tertib administrasi dalam rangka meningkatkan dan mewujudkan tertib administrasi kependudukan di keluarga.

6) Mengatur keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran keuangan keluarga. Peran perawat dalam pokja ke-4 sepuluh tugas pokok PKK berkaitan dengan peran perawat di puskesmas karena seluruh program kesehatan komunitas di Indonesia berada di bawah naungan puskesmas. Sumber Pendanaan Sumber pendaan keberlangsungan kegiatan POKJA 4 dalam PKK yaitu dari BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). Perencanaan Sehat Meningkatkan kegiatan dalam program perencanaan sehat antara lain: 1) Meningkatkan penyuluhan tentang pentingnya pemahaman dan kesertaan dalam program keluarga berencana menuju keluarga berkualitas. dan masyarakat. APBD. leader. BOK merupakan bantuan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah untuk percepatan pencapaian MDGs bidang kesehatan tahun 2015. baik laki – laki maupun perempuan. advocate. manager. peran perawat puskesmas yaitu sebagai pemberi pelayanan kesehatan melalui pemberian asuhan keperawatan. Pengelolaan dana disesuaikan dengan setiap program yang dilaksanakan. Dua peran perawat komunitas terkait promosi kesehatan dalam pelaksanaan pokja ke-4 sepuluh tugas pokok PKK yaitu sebagai pendidik atau penyuluh kesehatan serta pelaksana konseling kepada individu. 2001. Posyandu dan UKBM lainnya dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif. parpol. dan model peran (role model). lembaga. Pertanggungjawaban keuangan di pertanggungjawabkan oleh Bendahara di setiap tingkat dengan mempedomani sesuai petunjuk dan peraturan. 4) Peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) dalam upaya peningkatan ketahanan keluarga untuk mewujudkan keluarga berkualitas. penemu kasus. golongan. Tim yang Terlibat Tim penggerak PKK adalah warga masyarakat. researcher. bersifat sukarela. 6. Fungsi yang dilakukan perawat sebagai pendidik atau penyuluh kesehatan diantaranya yaitu: . atau instansi. Menurut Efendi.---. 5) Memasyarakatkan biopori (lubang resapan) untuk mencegah genangan dan resapan air c. collaborator. melalui peningkatan kinerja Puskesmas dan jaringannya serta Poskesdes/Polindes.4) Pemanfaatan jamban dan air bersih dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat. tidak mewakili organisasi. perorangan. penghubung dan koordinatif. 5. kelompok. 5) Meningkatkan penyuluhan kesehatan reproduksi bagi remaja dan calon pengantin. educator. 2) Meningkatkan kemampuan perencanaan kehidupan keluarga sehari-hari dengan berorientasi pada masa depan dengan cara membiasakan menabung. keluarga. pendidik atau penyuluh kesehatan. pelaksana konseling keperawatan. dan dana hibah. 3) Kegiatan Kesatuan Gerak PKK KB-KES dalam upaya meningkatkan cakupan hasil pelayanan KB-KES. Peran Perawat Komunitas Menurut Allender & Spradley. peran perawat komunitas secara umum yaitu clinican. 4.

Sedangkan. RW Siaga Sebagai Bentuk Kegiatan Pengorganisasian Masyarakat Dalam Pelayanan Keperawatan Komunitas Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran. koran. TV. dan apa yang ingin diketahui dari klien Meningkatkan dan memelihara kesehatan klien melalui penyuluhan dan pendidikan kesehatan Melaksanakan penyuluhan atau pendidikan kesehtan untuk pemulihan kesehatan klien antara lain tentang pengobatan. dan menjaga kepercayaan yang diberikan klien Membantu klien untuk mengidentfikasi masalah serta faktor-faktor yang mempengaruhi Memberikan petunjuk kepada klien untuk mencari pendekatan pemecahan masalah dan memilih cara pemecahan masalah yang tepat Membantu klien menentukan pemecahan masalah yang dilakukan C. maka Departemen Kesehatan RI mencanangkan suatu program yaitu Program “Desa Siaga” atau jika di perkotaan lebih dikenal sebagai “RW Siaga”. yaitu : a. informasi apa yang diperlukan klien. Upaya untuk mencapai tujuan tersebut. serta gejala dan tanda-tanda bahaya Menyusun program penyuluhan atau pendidikan kesehatan baik untuk topik sehat ataupun sakit seperti nutrisi. perawatan. peduli. Dari hasil pengkajian diharapkan dapat diketahui tingkat pengetahuan klien. dan pengelola penyakit Mengajar kepada klien informasi tentang tahapan perkembangan Membantu klien untuk memilih sumber informasi kesehatan dari buku-buku.- - - Mengkaji kebutuhan klien untuk menentukan kegiatan yang akan dilakukan dalam penyluhan atau pendidikan kesehatan. dan tanggap terhadap masalah-masalah kesehatan (bencana dan kegawatdaruratan kesehatan) di desanya.2006). kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan. memberikan dukungan. tujuan khususnya. mendengarkan secara objetif. memberikan asuhan keperawatan. bencana dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri (Depkes RI. Adapun tujuan umum diselenggarakannya RW Siaga ini adalah agar terwujudnya desa dengan masyarakat yang sehat. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan. (Efendi. dan lainnya Fungsi yang dilakukan oleh perawatn terkait peran perawat sebagai pelaksana konseling keperawtan yaitu: Memberikan informasi. 2009). penyakit. teman. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan dan menerapkan perilaku hidup sehat. latihan. higiene. . b.

Pihak-pihak yang diharapkan memberikan dukungan kebijakan. Meningkatnya dukungan peran aktif para pemangku kepentingan dalam mewujudkan kesehatan masyarakat desa. dana. dan lainya). Dalam rangka menyediakan/mendekatkan pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat desa. untuk mempermudah strategi intervensi. Sebuah desa telah menjadi Desa Siaga apabila desa tersebut telah memiliki sekurangkurangnya sebuah Pos Kesehatan (Poskesdes). Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) Merupakan wahana pemberdayaan masyarakat. yaitu : 1. untuk dan bersama masyarakat. dan pemangku kepentingan lainya. para pejabat terkait. serta petugas kesehatan. b. 2. seperti tokoh masyarakat.000 desa di seluruh Indonesia pada akhir tahun 2008 dan diharapkan tidak terjebak pada kegiatan seremoni saja. dibentuk dalam upaya mendekatkan dan memudahkan masyarakat untuk memperoleh pelayanan professional Kesehatan Ibu Anak (KIA) dan Keluarga Berencana (KB) yang dikelola bidan desa dan kader. 3. yang dibentuk atas dasar kebutuhan masyarakat dikelola dari. Meningkatnya kemandiriaan masyarakat desa dalam pembiayaan kesehataan. Pencanangan program nasional RW Siaga yang ditargetkan bisa mencakup 70. yaitu : 1. wabah penyakit. swasta. Pos Kesehatan desa (Poskesdes).c. d. Oleh karena itu. Seperti kepala desa. peraturan perundangan. Semua individu dan keluarga termasuk ibu hamil di desa. dan lain lain. Meningkatnya kesehatan lingkungan desa. lintas sector dan lembaga terkait. e. tenaga. camat. sarana. setelah dilakukan survey terhadap keefektifan dari pelaksanaan RW Siaga ini belum menyentuh angka 50%. tokoh perempuan dan pemuda. g. oleh. sasaran pengembangan desa siaga dibedakan menjadi tiga jenis. Meningkatnya keluarga yang sadar gizi dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat. tokoh agama. Akan tetapi. Meningkatnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap resiko dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana. . berguna memberikan kemudahan kepada masyarakat terutama dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk menunjang percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). kader desa. serta peduli dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya. Ada 8 (delapan) indikator yang menjadi kriteria RW Siaga. UKBM dapat berupa : a. Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) Sarana kesehatan yang dibentuk di desa yang tidak memiliki akses ke Puskesmas/Pustu. dengan bimbingan petugas Puskesmas. Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). 2. yang di harapkan mampu melaksanakan hidup sehat. f. para donator.

3. dana yang secara khusus digali atau dikumpulkan oleh masyarakat yang digunakan untuk membiayai upaya. uang kesehatan. Juminten. c. 5. Pengembangan RW Siaga dilaksanakan dengan membantu atau memfasilitasi masyarakat untuk menjalani proses pembelajaran melalui siklus pemecahan masalah yang terorganisasi. Kader Gizi) Pemantauan yang dilakukan oleh masyarakat terhadap masalah-masalah pada ibu hamil dan masyarakat di desa. b. PHBS Sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan. Mendiagnosis masalah dan merumuskan alternative-alternatif pemecahan masalah. . pemanfaatan dana yang sudah ada di masyarakat untuk membiayai upaya kesehatan seperti Askes. terdapat dua bentuk sumber pendanaan dari masyarakat yang dapat digali untuk digunakan dalam peningkatan upaya kesehatan. Pemantauan dilakukan dengan pengumpulan data. Dana Masyarakat yang Bersifat Aktif. Gakin. Pengembangan Keluarga sadar Gizi (Kadarzi) Pengembangan keluarga berperilaku gizi seimbang serta mampu mengenali dan mengatasi masalah gizi anggota keluarganya. Memantau. yaitu dengan menempuh tahap-tahap sebagai berikut : a. Surveilans pada ibu hamil dan berbasis masyarakat (Jumantik. Asuransi Jiwa dll 6. yaitu : a. seperti jimpitan. Mengidentifikasi masalah. mengevaluasi dan membina kelestarian upaya-upaya yang telah dilakukan. Dana Masyarakat yang Bersifat Pasif. bebas dari pencemaran. Kesiapsiagaan dan Penanggulan Kegawatdaruratan dan Bencana Upaya yang dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya kegawatdaruratan sehari-hari dan bencana pada masyarakat melalui langkah-langkah yang tepat guna. Jamsostek. penyebabnya dan sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi masalah. serta d. saran dan prasarananya antara lain fisik bangunan. merencanakan dan melaksanakannya. JPKM (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat) Secara umum. Menetapkan alternative pemecahan masalah yang layak. b. Standar tenaga yang diperlukan agar terlaksananya RW Siaga ini adalah terdapat minimal 1 (satu) orang bisan dan 2 (dua) orang kader dari masyarakat. 7. pengolahan dan interpretasi data secara sistematis dan terus-menerus. 4. sehingga menjamin warga/masyarakat. Selain itu. 8. Lingkungan Sehat Pengembangan lingkungan sehat di desa diarahkan kepada terciptanya lingkungan yang tertata dengan baik. perlengkapan dan perlatan serta alat komunikasi ke masyarakat dan ke puskesmas.

org). perkawinan.000 kelahiran pada 2002 (unicef. Data dari komisi nasional perlindungan anak mencatat. berkembang.org). Pasal 4 “Setiap anak berhak untuk dapat hidup. menerima. yang menetap dalam rumah tangga. kecelakaan merupakan bahaya yang mungkin dapat terjadi pada anak yang dapat berimplikasi pada kematian anak. orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebagaimana dimaksud pada huruf a karena hubungan darah. Data tersebut berdasarkan laporan yang masuk ke lembaga tersebut. (b). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28B Ayat (2) “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. tumbuh. Pada 1991 angka itu turun menjadi 97 kematian dari 1. angka kematian balita mencapai 210 kematian per 1. namun hasil tersebut berbanding terbalik dengan jumlah kekerasan pada anak yang terus meningkat. 3. yang tersebar di 30 provinsi (gugustugastrafficking. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi” Pasal 10 “Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya. Untuk menanggulangi hal tersebut. tumbuh.447. mencari. Jumlah itu melonjak drastis jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai 13. Selama lebih dari tiga dasa warsa. persusuan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. pada 2007 jumlah pelanggaran hak anak yang terpantau sebanyak 40. suami. Dasar hukum pengembangan kebijakan DRA mengacu pada peraturan perundangundangan yang relevan dengan perlindungan anak. pengasuhan.000 kelahiran. isteri. Pasal 24 “Negara dan pemerintah menjamin anak untuk mempergunakan haknya dalam menyampaikan pendapat sesuai dengan usia dan tingkat kecerdasan anak”.000 kelahiran pada 1960 menjadi 35 dari 1. orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut. dan perwalian. dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. pelecehan seksual.398. Pasal 10 “Setiap anak berhak menyatakan dan didengar pendapatnya. pemerintah mencanangkan program khusus yaitu desa ramah anak (DRA) dan kota layak anak (KLA). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. . dan anak. 2.921 kasus.000 kelahiran. dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan”. indonesia berhasil mengurangi angka kematian balita secara signifikan.625 kasus. Pasal 2 ayat (1) “Lingkup rumah tangga dalam Undang-Undang ini meliputi: (a). dan memberikan informasi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya demi pengembangan dirinya sesuai dengan nilai-nilai kesusilaan dan kepatutan”. penculikan. dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. mencari.D. Desa Layak Anak dan Desa Ramah Anak Kekerasan terhadap anak. dan/atau (c). Pada 1960. menerima. antara lain diatur dalam: 1. Angka kematian bayi juga turun dari 128 tiap 1.

mendengarkan pendapat anak. Selanjutnya berbagai pertemuan dilaksanakan untuk mendorong dan mendukung upaya pemenuhan hak anak tersebut. lingkungan hidup yang hijau dan ketersediaan perangkat hukum yang mendukungnya. Perwujudan kota layak anak (child friendly cities) merupakan salah satu agenda internasional yang semakin penting untuk dilaksanakan. Ramah adalah kondisi non fisik suatu wilayah yang didalamnya terdapat nilai budaya. sarana transportasi. mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga. masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan. melindungi anak dari tindak kekerasan. masyarakat dan dunia usaha dalam rangka: memenuhi hak anak. Surat keputusan bupati/walikota tentang implementasi kebijakan kabupaten/kota layak anak. Jadi dapat disimpulkan bahwa kota layak anak atau KLA adalah wilayah yang memiliki sarana dan prasarana yang layak dan aman untuk anak-anak. trotoar.org). mendengar pendapat anak. memilih dan menggunakan kata-kata bijak untuk anak. A World Fit For Children tahun 2002 Konvensi PBB tentang Hak Anak yang ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan Resolusi No. . sedangkan desa ramah anak adalah wilayah yang orang didalamnya dapat menghargai hak anak dan memperlakukan anak-anak sebagai mana mestinya. KLA adalah kabupaten/kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumberdaya pemerintah. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. eksploitasi dan pelecehan. Agenda Habitat tahun 1992 dan. Kelayakan tersebut dapat berupa infrastruktur seperi jalanan raya. termasuk anak yang masih dalam kandungan (kotalayakanak. kebiasaan memuji anak. Desa ramah Anak (DRA) adalah pembangunan desa dan kelurahan yang menyatukan komitmen dan sumberdaya pemerintah desa/kelurahan. rekreasi dan bermain. menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga”. tidak mengandung unsur yang membahayakan anak. Konvensi PBB tentang Hak Anak Tahun 1989. memberi salam. Desa/kelurahan ramah anak (PERMEN No. yang direncanakan secara sadar. menyeluruh dan berkelanjutan. mengucapkan terima kasih. program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak anak. memberi contoh hal-hal yang baik dan positif. c. senang dan gembira seperti dalam bertegur sapa. 11 Tahun 2011). 44/25 tanggal 20 November 1989. 4. Layak adalah kondisi fisik suatu wilayah yang di dalamnya terdapat sarana dan prasarana yang dikekola sedemikian rupa sehingga memenuhi persyaratan minimal untuk kepentingan tumbuh kembang anak secara sehat dan wajar.Pasal 4 “Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga bertujuan antara lain : (a). etika. Keramahan tersebut dapat berupa tata cara orang dewasa dalam menghadapi dan memperlakukan anak sehingga anak merasa nyaman. Layak dan ramah bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. (b) melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga. sikap dan perilaku masyarakat yang secara sadar dipraktikkan atau digunakan dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga memenuhi hak anak. sabar dan tidak memaksakan kehendak. jembatan. Layak identik dengan perangkat keras (hardware) sedangkan ramah identik dengan perangkat lunak (software).

kumuh. . maka kelayakan tersebut juga tidak bermakna bagi anak. tua dan akan runtuh maka sikap yang ramah tadi menjadi tidak bermakna. Contohnya dalam satu keluarga yang ramah anak bila mereka tinggal di rumah yang tidak layak. dilengkapi dengan sarana permainan anak yang edukatif tetapi bila perlakuan orang dewasa terhadap anak-anak di rumah tersebut tidak ramah pada anak.Software hanya bisa bekerja bila didukung hardware yang memadai dan sebaliknya hardware tidak member manfaat bila tidak didukung software. Sebaliknya keluarga yang memiliki rumah yang sangat layak memenuhi standard sanitasi.

E.T.I.. Public health nursing interventions II. (2009). K. Minnesota: Wolters Kluwer Lippincott Williams & Wilkins Lundy. Keperawatan kesehatan komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika Porche. Australia: Elsevier Australia Hitchcock.Metode Pendidikan Kesehatan Masyarakat Edisi 2.(2009). McKendry. Home Care Nursing Practice: Concept and Aplication. D. J. and Lawrence.Allender.M. Pinger. Philadephia: Lippincot Anderson.F. (1999).W. Koutoukidis. (2010). J. Bensley. Minneapolis: Author Mubarak. Kotecki. Community health nursing: concept and practice. Jakarta: Salemba Medika Notoatmodjo. An introduction to community health 5th Ed. St.. S. United Kingdom: Sage Production Reid. Jakarta: Salemba Medika Ervin. (2005). Canadian Helath Services Research Foundation Rice. & Thomas. McFarlane J.Community As Partner: Theory and Practice in Nursing. (2005). Jeannie. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. Ilmu Keperawatan Komunitas:Pengantar dan Teori.. (2009).S & Jane. Roberta. (2000).B. 2nd Edition. Tabbner’s Nursing Care: Theory and Practice 5th edition. (2006). (2004). (2009).T. Introduction to community-based nursing. J. Community as Partner: Theory and Practice in Nursing. (2009). 4th ed. S. 2002. Advance Community Health Nursing Practice. P. S. Robert. Philadelphia: Lippincott William&Wilkins Anderson. St.E. (2002). Public and Community Health Nursing Practice: A Population-Based Approach. Washington: Delmar Publisher Hunt. Defusing the confusion: concepts measures of continuity of healthcare. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Sixth Edition. E.R.A and Spradly. London: Jones and Bartlett Publisher International McKenzie. Paul. F.R. (2011). Jakarta: Rineka Cipta Nursalam dan Efendi. E. Community Health Nursing: Caring for the Public’s Health. W. (2007). E.A. N. (2001). E. J. J. Section of Public Health Nursing. Louis: Mosby Year Book Funnel. Community Heath Nursing: Caring In Action..Jakarta: EGC.. (2009). Rachael. Robert J & Fisher. Haggerty. B. J. Pendidikan dalam Keperawatan.. USA: Mosby Elsevier . Efendi... Makhfudli. Robyn. Canada: Jones and Barlett Publishers Minnesota Department of Health. Schubert.

(diakses 26 Maret 2013 pukul 22.aafp. dan Lancaster. (1996). Jakarta: Salemba Medika. D.. Community Health Nursing: Process And Practice For Promoting Health. Anne.php?option=com_content&view=frontpage&ltemid . Lancaster. Chayatin. Ilmu Keperawatan Komunitas: Pengantar dan Teori. M. dan Nies. Nurul. Community and Public Health Nursing. St. Philadelpia : Lippincot Williams & Wilkins.. (2009). and Individuals. (2000).B Saunders The American Academy of Family Physicans. St Louis: Mosby Year Book Stanhope. (2012). J.html. Community Health Nursing: Promoting The Health Aggregates.M.html.. B.St. Watkins. www.Stanhope. D. 2nd Ed. Fundamental Nursing Skills and Concepts.id/website_bnsp/index. Wilson.Louis Mosby Swanson.. M & Lancaster. J. J. (2010). Wahit. (2004).K. M. N. Whitaker. http://nursingworld.35) Timby. (2003).go.Louis: Mosby Year Book Stanhope. Whitford. bnsp.A. Community Health Nursing: Promoting Health of Aggregates.org/MainMenuCategories/ANAMarketplace/ANAPeriodicals/OJIN/T ableofContents/Vol-17-2012/No2-May-2012/Rising-to-the-Challenge-of-Reform. Iqbal Mubarak. et al.. Community Health Nursing: Frameworks for Practice 2nd ed. (2009). 4th Edition. Continuity of Care http://www. 17.M. Philadelphia: W.org/ online/en/home/policy/policies/c/continuityofcaredefinition. China: Bailliere Tindall. Rising to The Challenge of Health Care Reform with Entrepreneurial and Intrapreneurial Nursing Initiatives Vol. Families. J.. (1997).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful