Está en la página 1de 15

Tugas ISLAM DISIPLIN ILMU

AL-QURAN DAN ARSITEKTUR

OLEH KELOMPOK 9: SARMIATI ISLAMIA (1302100) NUR AULIAH (1302100465) ANNISA RAMLI (1302100)

FAKULTAS ILMU KOMPUTER JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA 2012

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala Rahmat dan Hidayah-Nya yang telah dilimpahkan kepada kami, akhirnya tugas ini dapat terselesaikan dengan baik dan selamat. Pada pembuatan makalah ini, kami mengalami suatu kendala atau halangan. Namun halangan tersebut sudah kami perhitungkan dan pertimbangkan semampu kami. Untuk itu kami semua memohon kepada Dosen matakuliah ini untuk lebih membimbing kami semua. Dan Kami semua menyadari bahwa tugas makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan kami. Untuk itu kami mengharapkan saran dan perbaikan, sehingga makalah ini dapat lebih bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, 26 Desember 2012

Penyusun

Materi tulisan dibawah mencoba untuk memaparkan sebagian kecil dari kesempurnaan ciptaan Allah SWT, melalui sudut pandang ilmu arsitektur. Lebih khusus penulisan ini pada dasarnya bertujuan mencari dan menemukan hikmah serta makna yang terkandung dari ciptaan Allah SWT, untuk diterapkan dalam dunia ilmu arsitektur khususnya untuk konsep serta terapannya pada landasan desain yaitu kekokohan (firmitas), kegunaan (utilitas) dan keindahan (venustas). Landasan yang telah disegmentasi oleh Marcus Pollio Vitruvius dengan trilogi arsitektur (pyramid architecture)

Tujuan arsitektur Di dalam suatu bangunan atau karya rancangan pasti terdapat pengaturan dan pemikiran tentang masalah tata ruang. Hal ini ada, karena di dalam alam pikiran manusia terdapat kebutuhan untuk mengadakan pembedaan, menggolongkan dan memberi nama. Tujuan arsitektur dapat dipersepsikan Mengapa manusia menciptakan lingkungan buatan?. Tujuannya adalah tidak sekedar berfungsi sebagai tempat bernaung terhadap perubahan cuaca semata, tetapi juga dapat memberikan rona bagi kegiatan tertentu, mengingatkan kepada orang tentang kegiatan apakah ini, menyatakan status, kekuasaan atau halhal pribadi, menampilkan dan mendukung keyakinan kosmologis, menyampaikan informasi, membantu menetapkan identitas pribadi atau kelompok, mengkiaskan sistem nilai. Arsitektur juga dapat memisahkan wilayah dan membedakan sesuatu (suci dan duniawi, pria dan wanita, depan belakang, pribadi dan umum, yang dapat dan tak dapat dialami). Dalam pandangan Islam telah digariskan pula adanya perbedaan yang berangkat dari adanya sebuah pengelompokan. Apa yang sudah digariskan dan diajarkan kepada manusia lewat Rasul-Nya,setidaknya mampu kita tarik dalam dunia arsitektur. Sebagai contoh kecil, dapat kita lihat dalam pengaturan dan pemisahan ruang untuk wanita dan pria dalam sebuah masjid. Tidak hanya pemisahan pada bagian untuk sembahyang, namun juga tempat untuk mengambil air wudhu. Hal-hal semacam ini merupakan landasan bagi seorang arsitek yang harus dipahami, bahwa arsitektur Islam berangkat dari pemahaman nilai-nilai moral Islam. Walaupun demikian, eksplorasi tetap diangkat untuk menghasilkan sebuah konsep desain yang harmoni dengan nilainilai Islam. Analogi Konsep Arsitektur (firmitas,utilitas,venustas) dalam Al-Quran Berkaitan dengan arsitektur, terdapat cukup banyak ayat Al-Quran yang menceritakan tentang rumah-rumah binatang, teknologi bangunan dan peradaban bangsa-bangsa terdahulu. Seluruh cerita di dalam Al-Quran ini pada dasarnya tidaklah semata-mata bersifat deskriptif. Dalam bukunya Indahnya Al-Quran Berkisah, Sayyid Quthb memaparkan bahwa kisah-kisah di dalam Al-Quran bukanlah sebuah karya seni yang hanya bertujuan seperti seni kisah bebas lainnya. Sebenarnya, kisah-kisah itu adalah salah satu cara Al-Quran mewujudkan tujuan keagamaan, diantaranya adalah menetapkan wahyu dan risalah, membenarkan kabar gembira dan

ancaman, memberikan nasehat dan peringatan, dan sebagainya. Dengan kata lain, selalu terdapat pelajaran, hikmah dan peringatan di balik setiap perumpamaan dan cerita di dalam Al-Quran. Hal ini dinyatakan di dalam Al-Quran surat Yusuf ayat 111, sebagai berikut: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf [12]:111) Perumpamaan atau seni ilustrasi di dalam Al-Quran, antara lain digunakan untuk memberikan gambaran yang hidup (visualisasi) terhadap makna-makna yang terkandung. Sayyid Quthb memaparkan bahwa sebagian besar sifat, percakapan, tekanan kata, nada kalimat dan irama ungkapan dalam Al-Quran ikut dalam menampakkan suatu gambar yang dapat dinikmati dengan mata, telinga, indra, khayalan, pemikiran dan perasaan. Dengan demikian, setiap orang dapat dengan jelas dan mudah memahami pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Di dalam ayat ini, dideskripsikan kemajuan teknologi bangunan yang telah dicapai di masa lalu. Penggunaan kaca sebagai bahan lantai, sehingga menampilkan kesan seperti air, mencerminkan teknik konstruksi dan karya seni yang sangat mengagumkan, bahkan sampai saat ini. Selain itu, ayat ini juga memberikan pelajaran kepada manusia tentang betapa setiap kekaguman terhadap keindahan dan nilai-nilai estetika arsitektur seharusnya bermuara pada kesadaran dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT sebagai pemilik segala keindahan dan keagungan. Beberapa ayat lain di dalam Al-Quran juga menceritakan betapa majunya peradaban dan teknologi yang telah dicapai oleh bangsa-bangsa yang telah lalu. Al-Quran mendeskripsikan tentang kota Iram yang memiliki tiang-tiang yang tinggi, kaum Tsamud yang memahat tebingtebing yang tinggi untuk dijadikan bangunan, serta Firaun dan arsiteknya Haman yang membuat bangunan yang tinggi. Al-Quran juga memaparkan tentang bagaimana akhir peradaban bangsabangsa itu. Bekas-bekas peninggalan kota-kota itu bahkan masih dapat kita lihat dan temui saat ini. Itu adalah sebahagian dan berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. (QS. Huud [11]:100) Hal ini memberikan sangat banyak pelajaran kepada manusia. Pelajaran pertama yang dapat diambil, adalah bahwa tidak ada kebesaran yang dapat bertahan terhadap kehancuran di dunia ini. Kita dapat melihat peradaban bangsa Mesir, Mesopotamia, Yunani, Romawi, China, India, Inca, Maya, dan sebagainya, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Sehebat apapun peradaban yang dibangun, selalu terdapat siklus yang dilalui, yaitu kelahiran, perkembangan, puncak kemajuan dan masa kemunduran. Hal ini menunjukkan kepada manusia, bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya teramat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat kelak. Penyalahgunaan nikmat Allah SWT untuk bermegah-megahan dan hidup dalam kemewahan mengakibatkan manusia lalai dan menganggap kehidupan di dunia ini abadi. Karenanya, sembari mensyukuri segala karunia di dunia ini, manusia hendaknya tidak

melupakan tujuan utamanya untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat kelak. Pelajaran kedua yang dapat diambil dari kisah-kisah itu, adalah bahwa setinggi apapun kecerdasan dan kepintaran manusia, jika dibarengi dengan kesombongan dan pengingkaran akan nikmat dan perintah Allah SWT akan mengakibatkan kehancuran dan kebinasaan terhadap manusia itu sendiri. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS. Ar-Ruum [30]:9) Peninggalan-peninggalan peradaban bangsa terdahulu di bidang arsitektur sangat banyak tersebar di muka bumi. Situs-situs purbakala ini dilestarikan dengan baik sebagai salah satu sumber ilmu sejarah, budaya, arkeologi, dan sebagainya. Perkembangan penemuan-penemuan di bidang arkeologis dan sejarah ini tentu bukanlah suatu kebetulan semata. Allah SWT telah menjadikan bukti-bukti nyata yang dapat dilihat manusia-manusia yang datang kemudian, agar mereka menjadikan semua itu sebagai bahan pelajaran dan peringatan, seperti termaktub dalam surat AlBaqarah ayat 66 berikut: Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2]:66) Demikianlah beberapa contoh singkat analogi-analogi arsitektur yang terdapat di dalam AlQuran. Selanjutnya, akan dideskripsikan konsep-konsep dasar arsitektur (firmitas, utilitas dan venustas) yang dapat dibaca di dalam Al-Quran, dengan pemaparan yang lebih spesifik dari setiap unsur yang ada. Dari pemaparan ini, diharapkan pembaca dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas, bahwa alam semesta dan setiap makhluk ciptaan Allah SWT ternyata mengandung nilai-nilai kekokohan (firmitas), kegunaan (utilitas) dan keindahan (venustas), dengan tingkat kesempurnaan dan keseimbangan yang sangat tinggi. Lebih jauh, pembahasan ini bertujuan untuk mengantarkan pembaca kepada pemahaman bahwa di dalam setiap ciptaan Allah SWT terdapat banyak sekali hikmah dan makna yang dapat diterapkan dalam dunia keilmuan arsitektur. Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS. Huud [11]:6)

Al-Quran sebagai kitab pedoman utama kehidupan, Sesungguhnya merupakan lautan hikmah dan pelajaran yang tak terkira tepi dan dasarnya. Al-Quran menjadi inspirasi dan dasar bagi penulisan begitu banyak buku sesudahnya. Tidak tercatat dalam sejarah, sebuah kitab pun yang dapat menandingi al-Quran dalam hal ini. Berjuta buku yang telah ditulis berdasarkannya pun tak sanggup menguraikan isi dan kandungan al-Quran secara menyeluruh. Hal ini disebabkan isi dan kandungannya yang begitu luas dan dalam untuk diselami. Karenanya, setiap usaha untuk mengambil pelajaran dan memperoleh hikmah dari sebagian kecil isi dan kandungan al-Quran pun akan sangat berarti bagi perkembangan pengetahuan dan peningkatan kesadaran kita sebagai makhluk Allah swt. Tulisan kali ini pun hanya mencoba untuk memaparkan setetes kecil hikmah dari ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan arsitektur. Seperti kita ketahui, terdapat cukup banyak ayat al Quran yang menceritakan tentang rumah-rumah binatang, teknologi bangunan dan peradaban bangsa-bangsa terdahulu. Pada dasarnya, seluruh cerita di dalam al-Quran ini tidaklah sematamata bersifat deskriptif. Dalam bukunya Indahnya Al-Quran Berkisah, Sayyid Quthb memaparkan bahwa kisah-kisah di dalam al-Quran bukanlah sebuah karya seni yang hanya bertujuan seperti seni sastra pada umumnya. Sebenarnya, kisah-kisah itu adalah salah satu cara al-Quran mewujudkan tujuan keagamaan, di antaranya menetapkan wahyu dan risalah, membenarkan kabar gembira dan ancaman, memberikan nasehat dan peringatan, dan sebagainya. Dengan kata lain, selalu terdapat pelajaran, hikmah dan peringatan di balik setiap perumpamaan dan cerita di dalam al-Quran. Hal ini ditegaskan di dalam al-Quran surat Yusuf ayat 111, sebagai berikut: Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf [12]:111) Perumpamaan atau seni ilustrasi di dalam al-Quran, antara lain digunakan untuk memberikan gambaran yang hidup (visualisasi) terhadap makna-makna yang terkandung. Sayyid Quthb memaparkan bahwa sebagian besar sifat, percakapan, tekanan kata, nada kalimat dan irama ungkapan dalam al-Quran ikut dalam menampakkan suatu gambar yang dapat dinikmati dengan mata, telinga, indra, khayalan, pemikiran dan perasaan. Dengan demikian, setiap orang dapat dengan jelas dan mudah memahami pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Salah satu contoh perumpamaan atau analogi arsitektur terdapat pada surat At-Taubah ayat 109, yang artinya: Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka

Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. atTaubah [9]:109) Dalam ayat di atas, Allah swt. membuat perumpamaan tentang keadaan orang-orang yang zalim dengan orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh. Perumpamaan ini membawa orang yang membacanya untuk membayangkan secara langsung, betapa sia-sia perbuatan mendirikan bangunan di tepi jurang dan betapa perbuatan itu sebenarnya membahayakan dirinya sendiri. Contoh lain dari analogi ini, adalah pemaparan al-Quran di dalam surat An-Naml ayat 44 tentang kekaguman Ratu Saba ketika memasuki istana Nabi Sulaiman. Dikatakan kepadanya: Masuklah ke dalam istana. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca. Berkatalah Balqis: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam. (QS. an-Naml [27]:44) Di dalam ayat ini, dideskripsikan kemajuan teknologi bangunan yang telah dicapai di masa lalu. Penggunaan kaca sebagai bahan lantai, sehingga menampilkan kesan seperti air, mencerminkan teknik konstruksi dan karya seni yang sangat mengagumkan, bahkan sampai saat ini. Dengan demikian, kita lalu dapat menepis anggapan bahwa orang masa kini lebih pintar dari orang di masa lalu. Selain itu, ayat ini juga memberikan pelajaran kepada manusia tentang betapa setiap kekaguman terhadap keindahan dan nilai-nilai estetika arsitektur seharusnya bermuara pada kesadaran dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt. sebagai pemilik segala keindahan dan keagungan. Setiap arsitek muslim harusnya menyadari bahwa segala kemampuannya mengelola keindahan itu tidak lain dikarenakan karunia Allah kepadanya. Karenanya, semangat yang terbangun harusnya terjaga dari keinginan untuk menonjolkan dan menyombongkan diri dengan karya arsitektur yang dihasilkannya. Beberapa ayat lain di dalam al-Quran juga menceritakan betapa majunya peradaban dan teknologi yang telah dicapai oleh bangsa-bangsa yang telah lalu. Al-Quran mendeskripsikan tentang kota Iram yang memiliki tiang-tiang yang tinggi, kaum Tsamud yang memahat tebingtebing yang tinggi untuk dijadikan bangunan, serta Firaun dan arsiteknya Haman yang membuat bangunan yang tinggi. Lebih jauh, al-Quran juga memaparkan tentang bagaimana akhir peradaban bangsa-bangsa itu. Bekas-bekas peninggalan kota-kota itu bahkan masih dapat kita lihat dan temui saat ini.

Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. (QS. Huud [11]:100) Hal ini memberikan sangat banyak pelajaran kepada manusia. Pelajaran pertama yang dapat diambil, adalah bahwa tidak ada kebesaran yang dapat bertahan terhadap kehancuran di dunia ini. Kita dapat melihat peninggalan peradaban bangsa Mesir, Mesopotamia, Yunani, Romawi, China, India, Inca, Maya, dan sebagainya, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Sehebat apapun peradaban yang dibangun, selalu terdapat siklus yang dilalui, yaitu kelahiran, perkembangan, puncak kemajuan dan masa kemunduran. Hal ini menunjukkan kepada manusia, bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya teramat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat kelak. Penyalahgunaan nikmat Allah SWT untuk bermegah-megahan dan hidup dalam kemewahan mengakibatkan manusia lalai dan menganggap kehidupan di dunia ini abadi. Karenanya, sembari mensyukuri segala karunia di dunia ini, manusia hendaknya tidak melupakan tujuan utamanya untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat kelak. Pelajaran kedua yang dapat diambil dari kisah-kisah itu, adalah bahwa setinggi apapun kecerdasan dan kepintaran manusia, jika dibarengi dengan kesombongan dan pengingkaran akan nikmat dan perintah Allah swt., maka akan mengakibatkan kehancuran dan kebinasaan terhadap manusia itu sendiri. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS. ar-Ruum [30]:9) Beberapa ayat lain di dalam al-Quran juga menceritakan betapa majunya peradaban dan teknologi yang telah dicapai oleh bangsa-bangsa yang telah lalu. Al-Quran mendeskripsikan tentang kota Iram yang memiliki tiang-tiang yang tinggi, kaum Tsamud yang memahat tebingtebing yang tinggi untuk dijadikan bangunan, serta Firaun dan arsiteknya Haman yang membuat bangunan yang tinggi. Lebih jauh, al-Quran juga memaparkan tentang bagaimana akhir peradaban bangsa-bangsa itu. Bekas-bekas peninggalan kota-kota itu bahkan masih dapat kita lihat dan temui saat ini. Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. (QS. Huud [11]:100)

Hal ini memberikan sangat banyak pelajaran kepada manusia. Pelajaran pertama yang dapat diambil, adalah bahwa tidak ada kebesaran yang dapat bertahan terhadap kehancuran di dunia ini. Kita dapat melihat peninggalan peradaban bangsa Mesir, Mesopotamia, Yunani, Romawi, China, India, Inca, Maya, dan sebagainya, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Sehebat apapun peradaban yang dibangun, selalu terdapat siklus yang dilalui, yaitu kelahiran, perkembangan, puncak kemajuan dan masa kemunduran. Hal ini menunjukkan kepada manusia, bahwa hidup di dunia ini sesungguhnya teramat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat kelak. Penyalahgunaan nikmat Allah SWT untuk bermegah-megahan dan hidup dalam kemewahan mengakibatkan manusia lalai dan menganggap kehidupan di dunia ini abadi. Karenanya, sembari mensyukuri segala karunia di dunia ini, manusia hendaknya tidak melupakan tujuan utamanya untuk meraih kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal di akhirat kelak. Pelajaran kedua yang dapat diambil dari kisah-kisah itu, adalah bahwa setinggi apapun kecerdasan dan kepintaran manusia, jika dibarengi dengan kesombongan dan pengingkaran akan nikmat dan perintah Allah swt., maka akan mengakibatkan kehancuran dan kebinasaan terhadap manusia itu sendiri. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS. ar-Ruum [30]:9) Arsitektur Islam adalah arsitektur yang berkaitan dengan pengaturan ruang dan desain bangunan. Seluruh arsitektur suci Islam senantiasa diarahkan untuk mencapai tujuan dasarnya yaitu menempatkan manusia di hadapan Tuhan melalui sakralisasi ruang yang dibentuk, diatur dan disesuaikan dengan berbagai teknik arsitektural. Dalam arsitektur Islam, sakralisasi tersebut umumnya dicapai dengan menetapkan polarisasi ruang dengan adanya Kabah, yakni pusat bumi yang dikelilingi oleh jutaan Muslim setiap musim haji dan menjadi kiblat seluruh Muslim ketika melakukan salat setiap hari. Bahkan dipemukiman Islam, sakralisasi arsitektur Islam diperkuat dengan penggunaan bahan-bahan bangunan serta dekorasi yang mampu menggemakan firman Tuhan.[8] Sebagaimana dalam aspek-aspek Islam yang lain, dalam arsitektur pun prinsip Unitas (at-tauhid) sangat penting. Di dalam arsitektur, unitas menyiratkan keterpaduan unsur-unsur arsitektur, kesalingterkaitan fungsi-fungsi dan maksud-maksud ruang dan keserbaadaan hal-hal sakral dalam semua bentuk arsitektur, dengan maksud meninggalkan gagasan yang sekular sebagai kategori yang bertentangan dengan yang sakral.[9]

Arsitektur Islam mengekpresikan beberapa hal: pertama, mengekpresikan Tauhid (unitas), sebagai intisari dari ajaran Islam. Kedua, mengekpresikan sikap pengabdian kepada Allah. Ketiga, mengekpresikan pandangan hidup kaum Muslim. Pengaruh tauhid dalam arsitektur tanpak, misalnya, pada ikonoklasme atau anikonisme, yaitu larangan agama untuk menggambar makhluk bernyawa. Menggambar makhluk bernyawa berarti menyaingi Tuhan, karena yang berhak menciptakan makhluk bernyawa adalah Tuhan. Larangan tersebut merupakan kehati-hatian agar tidak ada yang disembah selain Allah. Larangan ini termanifestasi pada hiasan atau dekorasi dinding bangunan yang bersih dari gambar makhluk bernyawa. Konsekuensinya, dekorasi yang digemari dalam arsitektur Islam adalah kaligrafi sebagai sarana untuk mengungkapkan ayat-ayat Tuhan, bentuk-bentuk geomatris (geometrical patterns), dan bentuk-bentuk arabesque.[10] Dalam dekorasi interior, pengaruh spiritualitas tidak hanya terdapat dalam bangunan-bangunan sakral, tetapi juga bangunan yang bersifat profan. Misalnya dalam sebuah rumah Muslim, dengan keteraturan perabot rumah dan kebersihan lantai yang terus dijaga, maka interior rumah Muslim tradisional, sebagaimana halnya dengan masjid, membangkitkan rasa kesucian melalui keheningan yang meskipun tidak-wujud, namun mengejawantahkan kehadiran Ruh. Udara yang masuk berperan sebagai roda tranmisi ayat Tuhan yang bergema setiap saat dalam lingkungan tempat tinggal Islam. Ketika seseorang memasuki sebuah masjid atau rumah tradisional, keheningan ruang benar-benar mengingatkan kepada Yang Gaib.[11] Dengan demikian, nilai-nilai spiritual ini pararel dengan esensi tasawuf bagi para sufi di mana Tuhan selalu dirasakan hadir di setiap waktu dan tempat. Seni spiritual dan filsafat keindahan yang terkandung dalam karya-karya seni, termasuk seni arsitektur, kebanyakan berakar dari kepercayaan seorang seniman terhadap nilai-nilai religius. Orang yang memiliki kepercayaan keagamaan yang sangat kuat dan kental, kepercayaannya itu akan tercermin dalam semua dimensi kehidupannya. Sebagai contoh, dapat dilihat dari seni arsitektur Masjid Imam di kota Isfahan, yang sangat kaya dengan peninggalan seni Islam. Masjid Imam terletak di Maidam Imam, dibangun pada abad ke-16. kubah masjid yang didominasi hiasan berwarna biru ini merupakan salah satu karya seni Islam terbesar di dunia. Hiasan kaligrafi pada masjid itu dibuat oleh seniman besar iran bernama Ali Reza.[12] Salah satu konsep utama seni yang dianut di Iran adalah konsep metaindividual. Melalui konsep ini, seorang seniman sama sekali tidak ingin menampilkan dirinya dalam karya seni itu, melainkan ingin menyatukan dirinya dengan Sang Pencipta melalui karyanya. Tak heran bila banyak seniman Iran yang mengaku menjalani kehidupan keagamaan yang dalam, dengan tujuan untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Para seniman semacam ini meyakini bahwa semakin banyak mereka menggali hakikat penciptaan, semakin tinggi pula kualitas penciptaan seni mereka.[13]

Pernyataan di atas, kemungkinan bisa jadi indikasi penting dalam menemukan jawaban ketika penulis sulit menemukan adanya sufi yang terkenal sebagai arsitektur. Bagi para sufi yang juga seniman, barangkali menyembunyikan dirinya dalam sebuah karya seni ciptaannnya dapat meningkatkan rasa kedekatannya kepada Tuhan. Bagi mereka, penghargaan dari orang-orang yang mengagumi karya-karyanya bukanlah tujuan, tetapi tujuan akhir yang ingin mereka raih adalah untuk mengabdi kepada Tuhan melalui hasil-hasil karya seni yang mereka hasilkan. Kabah Arsitektur suci Islam yang paling awal adalah Kabah, dengan titik poros langit yang menembus bumi. Monumen primordial yang dibangun oleh Nabi Adam dan kemudian dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim ini, merupakan refleksi duniawi dari monumen surgawi yang juga terpantul dalam hati manusia.[14] Kabah adalah sebuah bangunan batu dengan bentuk menyerupai kubus berukuran 12 m2 dan tinggi 15 m. Ia biasanya ditutupi dengan kiswah hitam. Banyak penyair membandingkan bangunan berselubung hitam ini seorang mempelai wanita yang telah lama dirindukan untuk diraih dan dicium. sebagaimana banyak terdapat dalam puisi Persia.[15] Mitologi membicarakan tentang adanya sebuah batu yang membentuk landasan bagi kosmos; berwarna hijau, berada jauh di bawah tanah dan merupakan landasan poros vertikal sumbu putar seluruh alam raya, yang titik pusatnya di atas bumi adalah Kabah. Batu hitamsebuah meteordi sudut tenggara Kabah di Mekkah itu adalah titik ke mana orang-orang beriman berpaling. Batu ini, sebagaimana di katakan dalam legenda, telah ada sejak dulu. Pada awalnya ia berwarna putih, namun kemudian berubah menjadi hitam akibat sentuhan tangan orang-orang yang berdosa tahun demi tahun.[16] Sementara bagi para sufi, Kabah merupakan orientasi dalam ibadah salatnya. Kabah melambangkan esensi ketuhanan dan batu hitam dilambangkan sebagai esensi spiritual manusia.[17] Namun, batu hitam ini, bukanlah satu-satunya batu yang penting di dunia Muslim. Kubah batu (Qubah al-Sakhrah atau Dome of the Rocks) di Jerussalem juga sangat dikeramatkan, sebab, demikian dikatakan orang, semua Nabi sebelum Nabi Muhammad berdiam di sana, dan Rasulullah bertemu dengan mereka pada awal perjalanannya ke langit untuk mendapat perintah salat. Batu di bawah kubah itu diberkahi oleh jejak kaki nabi Muhammad, dan beberapa tradisi bahkan menyatakan bahwa batu itu mengapung bebas di udara. Pada akhir zaman nanti, Izrafil sang malaikat, akan meniupkan terompet untuk mengumumkan kebangkitan batu itu. Kaitan ruhaniahdi samping kaitan historisantara kedua tempat keramat itu dengan batu-batuan (Mekkah dan Jerussalem) tampak jelas dari gagasan puitis Persia bahwa Kabah tampil sebagai mempelai bagi Kubah batu itu.[18]

Ada anggapan yang kuat dari umat Islam bahwa Kabah adalah pusat dunia. Dunia Islam diibaratkan terbentang seperti sebuah roda raksasa dengan Makkah sebagai pusatnya, dan garisgaris yang ditarik dari semua masjid ke arah Kabah di kota Makkah sebagai jari -jarinya. Kabah adalah axis mundi (poros dunia) dalam kosmologi Islam. Sebagai pusat dunia, Kabah adalah simbol primordial titik persilangan antara poros vertikal spirit dan bidang horizontal eksistensi fenomenal. Selama upacara haji, para haji bertawaf mengelilingi Kabah sebanyak tujuh kali. Gerakan berputar para haji tersebut, akan berbentuk cairan bila dilihat dari atas, menyerupai pusaran air yang besar sekali.[19] Kesederhanaan bentuk Kabah sebagai Baitullah tidak mengurangi nilai-nilai spiritual yang muncul dari bangunan tersebut. Bangunan yang berbentuk persegi empat itu, tetap jadi kerinduan bagi seluruh umat Islam di dunia untuk dapat melihat dan memegangnya. Setiap musim haji, jutaan umat Muslim datang dan berkunjung ke Kabah. Ketika Kabah telah hadir di depan mata, keharuan muncul dan tanpa terasa air mata dapat mengalir membasahi pipi. Kota Mekkah dan Kabah, merupakan tempat di mana Tuhan dirasakan benar-benar dekat sehingga doa-doa umat Muslim begitu dekat dengan pendengaran Tuhan sehingga doa diyakini terkabul dengan segera. Masjid Arsitektur suci Islam par excellence adalah masjid. Masjid adalah bangunan agama yang luar biasa yang tidak hanya dijadikan sebagai pusat peribadatan, tetapi juga digunakan dalam bidang sosial dan kemasyarakatan. Masjid bagi seorang sufi merupakan tempat pembentukan kembali dan ikhtisar dari keselarasan, ketertiban, kedamaian alam semesta yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai rumah peribadatan abadi kaum Muslim. Dengan melakukan salat di dalam sebuah masjid, seorang Muslim berarti kembali ke pusat alam, bukan secara eksternal melainkan melalui hubungan batin yang menghubungkan masjid dengan prinsip-prinsip dan irama-irama alam.[20] Melalui perintah-Nya yang menetapkan bahwa bumi adalah masjid kaum Muslim, arsitektur suci Islam menjadi perluasan alam karya cipta Yang Maha kuasa di dalam lingkungan yang dibangun oleh manusia. Arsitektur Islam membentuk satu kesatuan sekaligus keanekaragaman, keselarasan di mana pun, baik di lingkungan kota maupun di desa. Pola arsitektur masjid pada masa awal-awal Islam masih cukup sederhana namun memiliki kegunaan yang optimal dan fungsional. Bangunan masjid terdiri dari tanah lapang yang diberi dinding sekelilingnya sehingga membentuk halaman dalam seperti Masjid Nabawi ketika pertama kali dibangun. Meskipun bentuknya sederhana namun terdapat suasana keintiman dan suasana demokratis.[21] Pusat-pusat perjuangan umat Islam saat itu adalah Madinah dan Makkah, sedangkan masjid yang pertama kali didirikan Nabi adalah masjid Quba yang memiliki pola arsitektur yang sederhana.

Masjid adalah pusat arsitektur Islam. Pemahaman mengenai masjid menunjukkan bahwa tiada satu pun bentuknya yang pasti, yang biasanya merefleksikan gaya kedaerahan masing-masing. Konsep dasar dari seluruh masjid menunjukkan pada hal yang sama yaitu seluruhnya diatur menghadap ke Kabah. Pada sebagian besar masjid, mihrab dibuat sebagai miniatur yang dihias pada dindingnya seperti hiasan-hiasan yang terdapat di dinding Kabah.[22] Ketika seseorang memasuki masjid, perasaan yang dapat timbul mengibaratkan bahwa seseorang bisa berada dekat dengan Tuhan dan dapat beribadah dengan tenan g dan khusyu. Dr. John S. Badean, Presiden Universitas Amerika di Kairo telah mengungkapkan bahwa Masjid Ibnu Thulun dengan kemegahan dan kesederhanaannya adalah sebuah tempat di mana dia dapat bersembahyang dan beribadah serta merasakan dekatnya diri kepada Tuhan.[23] Mihrab, dalam sebuah masjid, di arahkan menghadap ke kabah, dan itu adalah tempat di mana pemimpin dalam salat (imam) berdiri memimpin para jemaah dalam ibadah salat. Di mihrab, imam membacakan ayat-ayat Tuhan kepada para jemaah. Ayat-ayat suci Tuhan yang berkumandang dari mihrab, adalah simbol dari kehadiran Tuhan. Hal ini menimbulkan motivasi bagi para sufi dalam beribadah. Merupakan keajaiban Islam dalam mentransformasikan ayat-ayat Tuhan sehingga Alquran dihapal dan dijadikan doa oleh setiap Muslim.[24] Bagian dari bangunan masjid lainnya yaitu menara, yang dalam bahasa Arab di sebut almanarah, yang secara literal berarti tempat cahaya. Nama menara itu sendiri dalam bahasa Islam mengidentikkan cahaya Tuhan dengan firmannya. Mengenai bentuk-bentuknya memiliki perbedaaan di berbagai masjid di dunia Islam. Masuknya berbagai unsur-unsur lokal dalam tiaptiap masjid dan menara menjadi hal yang diketahui bersama sebagai bentuk variasi dan kreatifitas seni arsitektur Islam. Menara masjid lama tidak memiliki bentuk yang tetap dan kehadirannya tidak menjadi kesatuan arsitektur dengan bangunan masjid. Kebiasaan untuk azan di Jawa tidak memerlukan menara sebab untuk memberi tahu masyarakat akan waktu salat dibunyikan bedug. Bentuk menara masjid lama bersumber pada tradisi kebudayaan setempat, antara lain dari seni bangunan Hindu dan tradisi seni bangunan Barat. Bentuk menara masjid Kudus misalnya mengingatkan pada bentuk candi zaman Majapahit, sementara menara masjid demak lebih menyerupai bentuk menara mercusuar.[25] Sebagian besar menara masjid di dunia Muslim mengikuti pola-pola masjid di Turki yang dipengaruhi oleh arsitektur Bizantium. Menara-menara yang menjulang tinggi bagaikan jarung di angkasa juga melambangkan syiar Islam yang tiada taranya.[26]

Istana Istana adalah bangunan yang dijadikan tempat tinggal oleh orang-orang kerajaan atau penguasa di suatu daerah. Ia terdiri dari berbagai macam dan bentuk ruangan yang terdapat dalam sebuah kompleks. Contoh istana yang memiliki seni arsitektur tinggi ialah al-Hambra, di Granada, Spanyol yang didirikan abad ke-14 adalah contoh yang paling sempurna dari arsitektur Islam di Barat.[27] Ia merupakan suatu contoh bangunan istana yang kaya dan baik. Bangunan ini tanggap dengan alamnya yang sub tropis dengan lingkungan yang berbukit-bukit batu dan bertanah liat. Tentang Alhambra, Burckhardt dalam karyanya The Art of Islam menul iskan, Di antara contoh arsitektur Islam yang berada di bawah kekuasaan cahaya, Alhambra di Granada menempati urutan pertama. Halaman singa secara khusus membuat contoh batu yang telah diubah menjadi suatu getaran cahaya; gang-gang yang beratap lambriquin, hiasan-hiasan pada stalaktit, kehalusan tiang-tiang yang tampaknya untuk menahan goncangan, kegemerlapan genteng-genteng yang berwarna hijau dan juga pancaran air mancur, semua itu mendukung kesan iniMelalui analogi seseorang dapat mengatakan bahwa ia mengubah batu menjadi cahaya, yang pada akhirnya, juga diubah menjadi kristal-kristal. Stalaktit-stalaktit dari halaman singa di Alhambra ini tidak hanya berfungsi praktis untuk menyangga atap, tetapi juga melambangkan turunnya cahaya ke dunia bentuk material. Semua itu seperti cahaya dari dunia samawi yang menyinari kegelapan duniawi.[28] Gapura/Pintu Gerbang Pintu gerbang atau gapura, dalam arsitektur Islam, mengekspresikan perpindahan dan masuknya seseorang ke tempat yang lain. Perasaan yang timbul ketika memasuki sebuah pintu gerbang, membawa kepada awal dari sebuah perjalanan.[29] Gapura dalam hal ini mengekspresikan sebuah perpindahan dari alam material menuju alam spiritual. Jiwa manusia ketika melewati sebuah pintu gerbang dianalogikan sebagai perpindahan menuju alam ruhaniah, sebuah perjalanan baru yang menuntut kesucian jiwa manusia untuk dapat kembali kepada Tuhan dengan spiritual yang bersih. Contoh pintu gerbang yang memiliki dimensi spiritual adalah pintu gerbang masjid Syaikh Lutfullah di Isfahan, Iran. Sementara jembatan dilambangkan sebagai mediator antara surga dan bumi, sebagai penghubung antara manusia dan kekuatan alam; dan itu menghubungkan dengan fitrah kemanusiaan sebagai wakil Tuhan di bumi, bertanggung jawab untuk memelihara alam, dan sebagai pelayan Tuhan serta melakukan apa yang Tuhan inginkan. Dalam perjalanan spiritual ini, dua konsep harus dapat terjembatani. Jadi, salah satu menjadi penahan keseimbangan dari satu kepemilikan alam, ketika pada saat yang sama, merealisasikan bahwa itu semua adalah kepunyaan Tuhan.[30] Bangunan yang bernilai arsitektur tinggi di dunia Timur adalah Mauseleum. Ia hadir sebagai bangunan yang penting setelah masjid dan istana. Mauseleum seringkali dibangun untuk

menunjukkan kepada masyarakat mengenai kekuatan politik atau keistimewaaan dalam suatu bidang bagi seseorang yang telah wafat.[31] Ia memiliki bentuk yang bermacam-macam, terkadang menyerupai sebuah masjid dan terkadang menyerupai sebuah istana. Mauseleum juga hadir sebagai bangunan yang didirikan untuk memperingati wafatnya seseorang yang berpengaruh di suatu masyarakat.