Está en la página 1de 16

olBAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Rumusan Masalah

1.1.1 Latar belakang Kebutuhan manusia takkan pernah habis. Dilatarbelakangi oleh hal tersebut itulah karena itulah masing-masing pihak dalam hal ini negara-negara pantai mengusahakan untuk mendapatkan hak pasti dari laut di sekitarnya. Konsepsi economic zone yang dilampirkan oleh negara-negara amerika latin Konfrensi Hukum Laut I pada tahun 1958 lah yang mengawali pembentukan dari apa yang sekarang kita sebut sebagai Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Biarpun negara-negara landlocked kurang mendapat manfaat dari hal ini, akan tetapi hal ini tetap dikukuhkan sebagai hukum internasional oleh PBB melalui perjanjian UNCLOS yang mulai diratifikasi sejak tahun 1982. Sebab itu, ZEE telah menjadi aset penting bagi negara-negara pantai. Kebebasan mengeksplorasi daerah laut tersebut baik secara pangan maupun perbumian telah member penghasilan yang sangat besar. Oleh karena itulah seringkali ZEE banyak diperdebatkan banyak pihak, dan banyak pula yang berusaha mencari keuntungan dengan mencuri hak ZEE negara lain. Di sisi lain, Indonesia adalah negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia. Persentase dari garis pantai Indonesia mencapai 14% dari total garis pantai dunia. Dari segi ekonomi hal ini sangat menguntungkan, mengingat menurut perjanjian hukum laut PBB atau lebih sering disebut sebagai UNCLOS, batas zona ekonomi eksklusif (ZEE) dihitung sepanjang 200 mil laut dari garis pantai. Hal ini menyebabkan Indonesia mendapatkan tambahan luas laut sebesar 2.7 juta km2. Hal ini membuat Indonesia memiliki total 5.8 juta km2 luas laut yang dapat dieksplorasi dan dimanfaatkan bagi kesejahteraan dan

kemakmuran rakyat Indonesia. Bayangkan apabila semua SDA yang dimiliki daerah tersebut (ikan, minyak, gas, dsb) digunakan sebagaimana mestinya oleh pemerintah, sudah barang tentu GDP Indonesia akan meningkat tajam. Akan tetapi, apakah pemafaatan yang dilakukan oleh pemerintah sudah maksimal? Hal ini tetap menjadi tanda tanya hingga saat ini, mengingat begitu luasnya daerah kedaulatan yang harus dijaga dan komponen-komponen hukum serta elemen penegaknya yang kurang tegas dalam melakukan tugasnya. Begitu banyak kasus pencurian ikan terjadi di Indonesia, dan pemerintah terkesan kurang mampu berbuat apa-apa. Ditambah lagi hak eksplorasi migas yang banyak diesarhkan kepada pihak asing sehingga rakyat kita sendiri kurang merasakan secara utuh apa kemakmuran yang seharusnya dapat mereka raih.

1.1.2 Rumusan Masalah 1. Hukum dan undang-undang yang mengatur pemanfaatan ZEE di Indonesia 2. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka pemanfaatan ZEE di Indonesia 3. Rintangan-rintangan dalam pemanfaatan ZEE di Indonesia

1.2

Ruang Lingkup Kajian

Ruang lingkup yang akan dikaji dalam makalah ini adalah :


1. Pengaplikasian UNCLOS di Indonesia

2. Hukum dan undang undang kelautan Indonesia 3. Potensi ZEE di Indonesia

4. Pemanfaatan ZEE Indonesia 5. Hambatan dalam pemanfaatan ZEE di Indonesia

1.3

Tujuan Penulisan

1. Mencari solusi dalam maksimalisasi pemanfaatan ZEE di Indonesia 2. Mengetahui permasalahan-permasalahan utama dalam pengelolaan ZEE di Indonesia

1.4

Sistematika Penulisan

Pada makalah ini terdapat 3 bab. Bab pertama akan memberi pendahuluan mengenai permasalah ZEE di Indonesia. Bab kedua adalah mengenai pengaplikasian UNCLOS di Indonesia dan masalah-masalah yang menyertai pengaplikasian UNCLOS tersebut. Bab ketiga berisikan solusisolusi yang memungkinkan dalam mengatasi masalah-masalah yang dibahas pada bab 2, dan diakhiri oleh kesimpulan dan sara di bab 4.

BAB II PEMANFAATAN ZEE BESERTA PERMASALAHANNYA

2.1 Definisi UNCLOS

UNCLOS, atau lebih sering disebut Konvensi Hukum Laut Internasional adalah perjanjian internasional yang dihasilkan melalui konfrensi hukum laut PBB yang dilaksanakan pada tahun 1973 hingga 1982. Secara umum, UNCLOS mendefinisikan hak dan tanggung jawab tiap-tiap negara yang memiliki garis pantai terhadap penggunaan laut dunia, baik memanfaatkan laut tersebut secara baik, menjaga keragaman hayatinya, menjaga kebersihan ekosistem lau tersebut, dan menjaga kedaulatannya di laut tersebut. UNCLOS terbentuk secara utuh pada tahun 1982 mulai dilaksanakan pada tahun 1994 setelah Guyana menjadi penanda tangan ke60 dari perjanjian tersebut.

UNCLOS dibentuk dengan maksud memberikan kontrol yang lebih baik terhadap batas-batas territorial negara. Pada awalnya, laut territorial suatu negara hanya sebatas 3 mil laut, yang diambil dari jarak yang dicapai meriam pada jaman dahulu. Kemudian pada tahun 1970, Ekuador mengklaim bahwa batas laut yang mereka miliki sebesar 200 mil laut dan banyak menangkapi nelayan-nelayan asing di daerah tersebut. Melihat hal ini akan berdampak lebih luas kepada perselisihan antar negara menyagkut batas, diadakanlah UNCLOS sehingga terdapat kepastian yang adil. Kemudian UNCLOS itu sendiri banyak menjadi dasar-dasar hukum laut yang banyak digunakan negara-negara pada saat ini.

2.2 Pengaplikasian ZEE di Indonesia

Salah satu poin penting dari perjanjian UNCLOS yang akan dibahas lebih lanjut adalah zona ekonomi eksklusif atau ZEE. Dengan diterimanya konsepsi zona ekonomi eksklusif, maka terdapat dua rezim hukum di perairan di atas landas kontinen 200 mil, yaitu perairan zona ekonomi

eksklusif 200 mil dari garis pangkal laut teritorial dan perairan di atas landas kontinen diluar 200 mil sebagai laut lepas. Dapat disimpulkan bahwa perairan di atas landas kontinen 200 mil yang berhimpit dengan zona ekonomi eksklusif adalah perairan zona ekonomi eksklusif. Di perairan ini negara pantai mempunyai hak berdaulat untuk tujuan eksplorasi dan eksploitasi terhadap kekayaan alamnya di perairannya, dasar laut dan tanah di bawahnya yang meliputi kekayaan hayati dan non hayati dan juga mineral. Sedangkan perairannya tetap merupakan laut lepas yang dapat dilalui oleh kapal-kapal dari semua negara. Di perairan di atas landas kontinen di luar 200 mil sesuai dengan statusnya sebagai laut lepas, maka pengaturannya tunduk pada rejim hukum laut lepas yang dapat dinikmati oleh semua negara-negara baik terhadap pelayarannya maupun sumbersumber kekayaan alam hayati maupun non hayati termasuk sumber mineral di perairan tersebut. Bila negara pantai mempunyai kedaulatan penuh atas laut wilayahnya dan sumber-sumber kekayaan alam yang terkandung didalamnya, terhadap zona ekonomi eksklusif, hanya diberikan hak-hak berdaulat kepada negara pantai untuk keperluan eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumber kekayaan alam, baik hayati maupun non-hayati, dari perairan di atas dasar laut dan dari dasar laut dan tanah dibawahnya dan berkenaan dengan kegiatan lain untuk keperluan eksplorasi dan eksploitasi ekonomi di zona tersebut, seperti produksi energi dari air, arus dan angin (Pasal 56, UNCLOS 1982). Pasal 4 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia menyatakan bahwa di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Republik Indonesia mempunyai dan melaksanakan : a. Hak berdaulat untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pengelolaan dan konservasi sumber daya alam hayati dan non hayati dari dasar laut dan tanah di bawahnya serta air di atasnyadan kegiatan-kegiatan lainnya untuk eksplorasi dan eksploitasi ekonomis zona tersebut, seperti pembangkitan tenaga dari air, arus dan angin.

b. Yurisdiksi, yang berhubungan dengan : 1. pembuatan dan penggunaan pulau-pulau buatan, instalasi-instalasi dan bangunan-bangunan lainnya 2. penelitian ilmiah mengenai kelautan 3. perlindungan dan pelestarian lingkungan laut. c. Hak-hak lain dan kewajiban-kewajiban lainnya berdasarkan Konvensi Hukum Laut yang berlaku. Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, kebebasan pelayaran dan penerbangan internasional serta kebebasan pemasangan kabel dan pipa bawah laut diakui sesuai dengan prinsip-prinsip hukum laut internasional yang berlaku.(Pasal 4 ayat 3 UU No. 5 Tahun 1983). Adapun beberapa peraturan perundang-undangan yang memuat tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia adalah Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 1984 tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam Hayati Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor 60/Men/2001 Tentang Penataan Penggunaan Kapal Perikanan Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep.60/MEN/2001 Tentang Penataan Penggunaan Kapal Perikanan Di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Undang-Undang Nomor 31 tahun 2004 tentang Perikanan yang menyatakan bahwa wilayah perikanan Indonesia termasuk dalam zona ekonomi eksklusif indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 2002 tentang Hak dan Kewajiban Kapal Asing Dalam Melaksanakan Lintas Damai Melalui Perairan Indonesia yang menyatakan tentang hak dan kewajiban kapal asing untuk melaksanakan Hak Lintas Damai di wilayah zona ekonomi eksklusif Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 113/PMK.04/2007 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Hasil Laut Yang Ditangkap Dengan Sarana Penangkap Yang Telah Mendapat Izin dinyatakan bahwa impor hasil laut yang ditangkap dan diambil dengan sarana penangkap dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia diberikan

pembebasan bea masuk, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 05/MEN/2008 tentang Usaha Perikanan Tangkap, Peraturan Presiden RI Nomor 109 tahun Minyak 2006 di tentang Laut Penanggulangan menyatakan Keadaan bahwa Darurat prosedur perjanjian Tumpahan wilayah yang

penanggulangan keadaan darurat tumpahan minyak di laut termasuk di zona ekonomi eksklusif Indonesia. Sedangkan internasional tentang Zona Ekonomi Eksklusif antar negara berdasarkan UNCLOS 1982 belum begitu banyak, Indonesia baru menetapkan Perjanjian ZEE hanya dengan Australia melalui Perjanjian Antar Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Australia tentang Penetapan Batas Zona Ekonomi Eksklusif dan Batas-Batas Dasar Laut Tertentu yang ditandatangani di Perth pada tanggal 14 Maret 1997. 2.3 Permasalahan dalam pengaplikasian ZEE di Indonesia

Makin banyak yang dimiliki, berarti makin banyak yang harus dijaga. Hal ini juga berlaku di Indonesia. Indonesia menempati urutan ke-6 dalam besar zona territorial laut, akan tetapi SDM yang dimiliki untuk menjaga sebegitu besarnya laut kita sangat minim, baik peralatan, jumlah, maupun mental dari para personel itu sendiri. Untuk lebih memudahkan, permasalahan dari pengaplikasian ZEE di Indonesia dibagi menjadi 4 bagian utama, yaitu penangkapan ikan illegal, permasalahan perbatasan ZEE dengan negara tetangga, hak eksplorasi migas lepas pantai, dan polusi ekosistem laut Indonesia.
2.3.1 Penangkapan ikan illegal di Indonesia

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak sekali kapal-kapal nelayan asing yang mencoba untuk mencuri kekayaan laut Indonesia setiap harinya. Hal ini telah merugikan negara lebih dari Rp 30 triliun tiap tahunnya. Secara mengejutkan, ternyata Indonesia telah menjadi negara penyumbang kegiatan illegal fishing terbesar di dunia, dengan persentase 124,88 % disusul Jepang dengan 20,81%.

Hal yang lebih miris terjadi dimana letak fishing ground SBT yang terletak di pantai selatan Jawa, Bali, dan NTB hanya sebatas ditinjau oleh Indonesia, bukan dikelola. Ketiadaan Indonesia dalam mengawasi illegal fishing tidak lepas dari minimnya peralatan yang dimiliki untuk mengawasi. Untuk mengawasi daerah sebesar 5,8 juta km2, Indonesia hanya memiliki 70 kapal patrol dan itu pun hanya setengahnya yang bisa berfungsi. Menurut pemerintah, mereka hanya mampu mencegah 15% dari total illegal fishing yang dilakukan kapal asing. Selain itu, permasalahan juga terjadi dari banyaknya kapal-kapal asing yang berpura-pura menjadi kapal yang berasal dari Indonesia dengan memasang bendera Indonesia. Hal ini mengakibatkan pemerintah tidak hanya kehilangan sumber daya pangan, tetapi juga menderita kerugian akibat subsidi solar yang diterima kapal asing tersebut. 2.3.2 Permasalahan tetangga Barangkali pemasalahan dari perbatasan Indonesia yang paling hangat terakhir ini adalah permasalahan blok ambalat. Kasus ini adalah contoh paling mudah dalam mendeskripsikan perebutan hak ZEE pada suatu negara. Blok Ambalat adalah blok laut luas mencakup perbatasan 15.235 darat kilometer persegi yang terletak di Laut Sulawesi atau Selat Makassar dan berada di dekat perpanjangan antara Sabah,Malaysia, blok laut ini dan Kalimantan didasarkan atas Timur, Indonesia. Penamaan perbatasan ZEE dengan negara-negara

kepentingan eksplorasi kekayaan laut dan bawah laut, khususnya dalam bidang pertambanganminyak. Blok laut ini tidak semuanya kaya akan minyak mentah, akan tetapi perebutan akan blok ini tentu saja akan menyulut pertikaian baru karena kasus ini berkaitan dengan kedaulatan negara. Sebenarnya blok ambalat memang sejak tahun 1969 sudah diperebutkan oleh kedua belah pihak, dan sudah dibuat perjanjian yang dinamakan Persetujuan Tapal batas Laut

Indonesia dan Malaysia yang salah satu isinya memasukkan ambalat ke daerah Indonesia. Akan tetapi permasalahan kembali dipicu setelah Malaysia secara sepihak memberikan hak eksplorasi blok ambalat kepada shell, yang dimana seharusnya diberikan oleh negara yang berhak, dalam hal ini Indonesia. Kurangnya pengawasan dan lemahnya angkatan laut Indonesia merupakan salah satu pemicu dari kasus ini.
2.3.3 Hak eksplorasi migas lepas pantai di Indonesia

Hak eksplorasi migas di Indonesia 90% persennya dimiliki oleh asing. Meskipun kita mendapatkan hak sebesar 80% untuk perminyakan dan 70% untuk gas, akan tetapi sudah seharusnya kita mendapatkan hak sepenuhnya atas segala SDA di ZEE untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Memang kita tidak memiliki sumber daya untuk mengelola yang memadai, akan tetapi seharusnya kita dapat lebih memanfaatkan sumber daya kita dengan meningkatkan kemampuan produksi kita.

2.3.4 Polusi ekosistem kelautan Polusi ekosistem kelautan di Indonesia adalah salah satu yang paling tinggi di dunia. Meskipun sudah terkandung di dalam UNCLOS bahwa di dalam zona ZEE tersebut kita juga bertanggung jawab atas kesehatan ekosistem dari zona ZEE itu sendiri. Kerusakan terumbu karang di Indonesia termasuk yang paling parah, padahal kita mengetahui bahwa terumbu karang merupakan elemen vital dalam menjaga varietas makhluk laut di Indonesia. Polusi-polusi ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan laut, peralatan yang kurang memadai untuk menghadapi situasi pencemaran skala besar seprti minyak tumpah, banyaknya penggunaan pukat harimau dan bom ikan yang mengakibatkan over-

fishing,

serta

adanya

oknum-oknum

yang

dengan

sengaja

mengirimkan polusi pabrik yang dihasilkannya dan dibuang ke lepas pantai secara diam-diam.

BAB III SOLUSI PERMASALAHAN ZEE DI INDONESIA

Banyaknya permasalahan ZEE di Indonesia bukan berarti masalah-masalah tersebut tidak dapat diselesaikan. Sebenarnya, sumber masalah utama dari permasalahan-permasalahan tersebut adalah kurangnya kekuatan dari pemerintah dalam menjaga kedaulatan di daerah ZEE tersebut. Penangkapan ikan illegal terjadi tentu dikarenakan sangat kurangnya jumlah kapal patroli yang seharusnya menjaga agar kapal-kapal asing tersebut tidak dapat masuk ke dalam ZEE. Kurangnya pengawsan ini juga berdampak pada permasalahan

perbatasan. Perbatasan yang kurang dijaga dapat mengakibatkan banyak pihak yang dapat saja mengklaim daerah tersebut diam diam karena kita tidak memberikan perhatian serius terhadap perbatasan tersebut. Contoh paling mudah adalah pulau sipadan ligitan yang diambil alih oleh Malaysia dikarenakan kita tidak pernah membangun apapun untuk menandakan pulaupulau rawan tersebut. Untuk masalah hak eksplorasi, permasalahan ini tidak akan selesai hingga kita melepas ketergantungan kita terhadap perusahaan asing dalam mengelola kekayaan alam kita. Kurangnya kemampuan produksi juga disebabkan kurangnya keinginan pemerintah untuk meningkatkan kemampuan tersebut. Pemerintah lebih suka menerima hasil uang dari SDA tersebut, ketimbang melakukan eksplorasi mandiri terhadapnya. Terakhir, untuk polusi ekosistem kelautan, hal ini memang dibutuhkan kesadaran masyarakat seutuhnya bahwa tindakan-tindakan yang lebih menuju ke keuntungan besar sementara seperti pukat harimau dan bom ikan hanya akan menumbuhkan permasalah besar selanjutnya seperti berkurangnya jumlah ikan tangkapan karena ikut terpancingnya anak-anak ikan, jumlah ikan hias yang berkurang varietasnya, terumbu karang yang rusak, serta secara tidak langsung rusaknya kualitas panganan laut dikarenakan lingkup hidup dari panganan tersebut yang terkontaminasi.

BAB IV ANALISIS

Indonesia memiliki banyak sekali permasalahan ZEE. Hal ini ditimbulkan dari besarnya daerah territorial yang harus dijaga

dan sedikitnya SDM yang dimiliki. Dalam masalah illegal fishing, permasalahan utama yang harus segera diselesaikan adalah banyaknya kapal asing yang dapat mudahnya keluar masuk ZEE Indonesia kerjasama terhadap dengan memperbanyak fishing patroli serta melakukan Dengan anti-illegal ZEE, dengan kta negara juga lain.

memperbanyak kapal patroli dan juga menambah pengawasan secara langsung meningkatkan kemampuan kita menegakkan kedaulatan di daerah perbatasan. Kejadian seperti blok Ambalat takkan terjadi apabila kita memiliki armada angkatan laut yang kuat karena negara lain pun akan segan untuk mencoba melanggar perbatasan. Hal lain yang harus difokuskan juga mengenai hak milik kelola dan eksplorasi di daerah ZEE. Daerah Indonesia yang memiliki banyak blok minyak seharusnya dapat di maksimalisasi oleh pemerintah sehingga masyarakat dapat lebih banyak mendapatkan manfaat dari apa yang dimiliki negaranya. Selain mendapat haknya, masyarakat juga harus menjaga ekosistem lautnya, karena apabila ekosistem itu sendiri rusak, kualitas dan kuantitas dari hasil laut itu sendiri akan berkurang dan kita sendiri yang meraskan kerugian tersebut.

BAB V

KESIMPULAN

Indonesia sebagai negara dengan luas ZEE terbesar ke-6 di dunia seharusnya dapat memaksimalkan penghasilan mereka dengan memaksimalkan semua SDA yang dimilikinya. Apabila Indonesia dapat secara sadar meningkatkan semua sektor pemanfaatan ZEE, sudah barang tentu kita akan meningkatkan pendapatan negara dan kemudian mensejahterakan masyarakat Indonesia. Banyak memang permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan ZEE yang dimiliki Indonesia, akan tetapi hal tersebut bukan berarti tidak dapat diselesaikan. Indonesia harus lebih tegas dan berani dalam mengelola ZEE yang dimilikinya sehingga para pelanggar hukum kelautan Indonesia akan mendapat efek jera.

DAFTAR PUSTAKA

Djunarsyah, Eka. Aspek Teknik Hukum Laut.2010. Bandung:Penerbit ITB


http://en.wikipedia.org/wiki/UNCLOS http://en.wikipedia.org/wiki/EEZ

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Peta ZEE dunia

Gambar 2. Peta ZEE Indonesia