Está en la página 1de 4

Al fiqh al iqtishadi li amiril mukminin umar ibn al khaththab. Jaribah al haritsi. Terj. Asmuni Sholihan.

Khalifa: jakarta timur, cet. Ketiga maret 2010.


KAIDAH PRODUKSI....hal 63-134. Kaidah produksi dalam fikih ekonomi umar antara lain: a. Kaidah syariah b. Prinsip Akhlak c. Kualitas d. Memperhatikan skala prioritas produksi.

A. KAIDAH SYARIAH Kaidah syariah ini mencakup tiga sisi, yaitu: akidah, ilmu, dan amal. a. Akidah Produsen muslim berkeyakinan bahwa hasil usahanya, keuntungan yang diraihnya, dan rizki yang didapatkannya adalah semata-mata karena pertolongan Allah dan takdir-Nya. Umar Radhiallahu anhu berkata, tidak seorang pun melainkan dia memiliki jejak yang diinjaknya, rizki yang dimakannya, ajal yang menjemputnya, dan maut yang merenggutnya. Hingga walapun seseorang melarikan diri dari rezekinya, niscaya ia akan diikutinya hingga didapatkannya, sebagaimana kematian akan menemukan orang yang lari darinya. Maka, bertakwalah kepada Allah, dan perbaguslah dalam mencari rizki.

Beliau radhiallahu anhu menulis surat kepada Abu Musa dengan mengatakan, bersikaplah qonaah dengan rizki kami dari dunia; karena sesungguhnya Yang Maha Pengasih melebihkan sebagian hamb-hambaNya atas sebagian yang lain dalam rezki sebagi ujian bagi masing-masing. Dia menguji orang yang diberi-Nya keluasan rezki, bagaimana dia bersyukur kepada-Nya. Dimana mensyukuri rezki kepada Allah adalah de ngan menggunakannya untuk kebenaran yang ditetapkan oleh Allah.

b. Ilmu Umar radhiallahu anhu melarang keras aktifitas perekonomian jika tidak mengetahui hukum syariahnya, dengan mengatakan, tidak boleh berjualan di pasar kamu melainkan orang yang benar-benar memahami agama. Yakni orang yang tidak mengerti hukum. Sebab orang yang tidak mengerti hukum, meskipun ia tidak dicekal untuk mengembangkan hartanya dan mengaturnya, tetapi harta tidak boleh diserahkan kepadanya karena ketidaktahuannya tentang jual-beli yang salah dan yang benar, apa yang halal dan apa yang haram darinya. Sesungguhnya ketidaktahuan tentang hukum-hukum syariah untuk aktifitas perekonomian akan menjatuhkan seseorang ke dalam hal-hal yang haram. Dan bila seorang muslim jatuh ke dalam yang haram, akan menghilangkan keberkahan aktifitasnya dan mencampakkannya ke dalam murka Allah, sehingga dia rugi di dunia dan akhirat.

c. Amal Sisi ini merupakan hasil aplikasi dari sisi akidah dan ilmu yang dampaknya nampak dalam kualitas produksi yang dihasilkan oleh seorang muslim dan dilemparkannya ke pasar.

Sampai kepada Umar bahwa seseorang kaya karena menjual khamr, maka beliau berkata, Pecahkanlah seluruh bejananya-dalam riwayat yang lain dengan redaksi-segala sesuatu yang dapat kamu lakukannya, lepaskan seluruh ternaknya, dan janganlah seseorang mewarisi sesuatu pun darinya. Agar seorang muslim benar-benar jauh dari hal-hal yang syubhat dan haram dalam bidang produksi dan bidang-bidang yang lainnya, maka umar menyerukan pendirian pembatas bagi seorang muslim antara yang halal dan yang haram, terlebih jatuh kepada yang syubhat. Dalam hal ini beliau berkata, sesungguhnya kami meninggalkan 90% sesuatu yang halal karena takut pada yang haram. Dan beliau mengatakan, sesungguhnya yang terakhir turun dari Al Quran adalah ayat riba, dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meninggal dan tidak menjelaskannya; maka tinggalkanlah riba dan keraguan.

B. Prinsip Akhlak Seorang produsen muslim tidak boleh menganggap cukup hanya karena produksinya halal, tapi dia harus mencermati bahwa sarana dan cara produksinya mubah. Sesungguhnya umar sangat memperhatikan korelasi antara kegiatan ekonomi dan akhlak yang mulia. Bahkan menjadikannya sebagai bukti kebenaran agama pelakunya. Di kaidah akhlak yang penting adalah, larangan melakukan perbuatan apa pun yang mendatangkan mudharat kepada orang lain. Nafi bin Harits ats-Tsaqafi berkata kepada umar, wahai Amiril Mukiminin, berikanlah kepadaku sepuluh petak tanah untuk tanahku di bashrah, karena aku beternak kuda dan aku jadikannya sebagai kendaraan perang. Maka Umar menulis surat kepada Abu Musa, Sesungguhnya Nafi bin Harits ats-

Tsaqafi meminta kepadaku 10 petak tanah untuk kudanya. Maka lihatlah sepuluh petak tanah yang tidak merugikan seorang muslim dan seorang muslim dan muahad (kafir dzimmi), tidak memutuskan sumber air atau jalan, dan tidak menjadi milik seseorang. Lalu putuskanlah sepuluh petak untuknya. Maka mereka memperhatikan, dan ternyata sebagian petak tanah tersebut merugikan, maka tidak diberikan kepadanya.

C. Kualitas Dalam ekonomi Islam, kualitas produksi tidak hanya berkaitan dengan tujuan materi semat-mata

D. Memperhatikan skala prioritas produksi.