P. 1
IKTERUS NEONATORUM

IKTERUS NEONATORUM

|Views: 36|Likes:
Publicado porYesi Fadilah

More info:

Published by: Yesi Fadilah on Jun 04, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.Apakah diagnosa kerja pada kasus ini sudah tepat ?
  • 2.Epidemiologi
  • 3.Etiologi
  • 4.Komplikasi
  • 5.Diagnosis
  • 6. Manajemen Umum
  • 7. Pemantauan
  • 8.Pemeriksaan Laboratorium
  • 9.Penatalaksanaan
  • 10.Terapi Sinar
  • 11.Transfusi Tukar

1

Case Report

BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN IKTERUS NEONATORUM

Oleh : Sigit Aryanto Nyoman Satriyawan Pembimbing dr.Prambudi Rukmono. Sp.A dr.Etty Widyastuti.Sp.A

SMF ILMU KESEHATAN ANAK RSUD Dr. Hi. ABDOEL MOELOEK BANDAR LAMPUNG DESEMBER 2011

2

I. STATUS PASIEN

No RM: 199173 MRS PUKUL I. Anamnesa Alloanamnesa dari ibu dan bapak pasien, 24 Desember 2011 IDENTITAS • • • • Nama penderita Umur Jenis kelamin Nama ayah Umur Pekerjaan Pendidikan • Nama Ibu Umur Pekerjaan Pendidikan • • • • Hubungan dengan orangtua Agama Suku Alamat : By.S : 3 hr : Perempuan : Tn. D : 28 tahun : Buruh : SMP : Ny. M : 27 tahun : Ibu rumah tangga : SMP : Anak kandung : Islam : Jawa : Desa Kunjir Lampung Selatan : 21 Desember 2011 : 20.03 WIB

3

Riwayat Penyakit Keluhan utama : Bayi kecil

Keluhan tambahan : Kuning, Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang ke perinatologi dengan post SC a.i eklampsia. Pasien lahir cukup bulan (usia kehamilan 39-40 minggu). Pada saat lahir keadaan umum pasien tidak langsung menangis begerak pasif, kulit kemerahan dengan A/S : 4/5 dengan berat badan lahir 2300 gr, serta tidak dijumpai kelainan bawaan. Kemudian dilakukan resusitasi di OK dan A/S menjadi 9. Setelah dua hari dirawat di bagian perinatologi RSAM kulit pasien terlihat berwarna kekuningan. Kekuningan tampak di wajah, leher, dan dada sampai ke perut. Selama di rawat di Perinatologi pasien tidak pernah mengalami kejang maupun penurunan kesadaran. Buang air besar tidak tampak seperti dempul. Pasien sempat diberikan minum susu formula 3cc/3 jam. Menurut keterangan ayah pasien, ibu pasien mempunyai golongan darah O dan golongan darah ayah B, sedangkan rhesus tidak diketahui pasien.

Riwayat Kehamilan: Ibu pasien berumur 27 tahun dan hamil yang kedua dengan jarak antara hamil pertama dan hamil kedua ± 2,5 tahun. Selama kehamilan berat badan ibu naik 8 kg. Ibu pasien mempunyai riwayat dengan tekanan darah tinggi selama kehamilan pada trimester ketiga dengan HpHt 17 Maret 2011. Riwayat sakit kuning selama hamil dan kencing manis disangkal oleh ibu pasien. Riwayat mengkonsumsi obat-obatan selama hamil tidak ada dan tidak ada riwayat memelihara kucing.

Riwayat Persalinan:

4

Penderita lahir pada tanggal 21 Desember 2011 pada pukul 19.27 WIB. Dari seorang ibu G2P1A0 hamil aterm dengan eklamsi janin ganda hidup presentasi kepala. Anak lahir post SC a.i eklampsia dengan asfiksia sedang. Pada saat lahir pasien tidak langsung menangis, kulit kemerahan, sianosis (-), retraksi (-), anus (+). BB :2300 gr PB : 48 cm A/S :4/5, lalu dilakukan resusitasi dan A/S menjadi 9. Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat lahir dengan berat badan lahir rendah dan kuning pada anak pertama disangkal ibu. Riwayat darah tinggi dan kencing manis dalam keluarga tidak ada. Riwayat keluarga

Tn.D

Ny .M

B y. S

Riwayat Makanan : Pasien diberikan susu formula 3cc Riwayat Imunisasi : Pasien belum mendapatkan imunisasi. PEMERIKSAAN FISIK Status Present • • • • Keadaan Umum Kesadaran Nadi Frekuensi nafas : Tampak sakit sedang : Compos mentis : 128 x/mnt : 44 x/mnt

kornea jernih. sklera kuning.5 • • Suhu Berat badan : 37.10C : 2. Kelenjar generalisata : (-) : (-) : (-) : (+) Kramer II : (-) : (-) : baik : cukup : (-) Thorak . : bentuk normal. pupil isokor. liang lapang. refleks cahaya(+). simetris : hitam. simetris. septum tidak deviasi : bibir tidak sianosis. serumen (-) : bentuk normal. lidah tidak kotor (-) Bercak-bercak hiperpigmentasi Pucat Sianosis Ikterus Perdarahan Edema umum Turgor Lemak di bawah kulit Pemb.3 kg STATUS GENERALIS Kelainan mukosa kulit/subkutan yang menyeluruh : Kepala Leher Bentuk Trakhea KGB Kulit : simetris : di tengah : Pembesaran (-) : Tampak kuning Bentuk Rambut Kulit Mata Telinga Hidung Mulut : normal. sekret (-). menyeluruh : ikterus (+) : konjungtiva ananemis.

sianosis (-/-). tidak ada kelainan.murmur (-) INSPEKSI taktil = kanan taktil = kiri taktil = kanan taktil = kiri Suara nafas Suara nafas Suara nafas Suara nafas vesikuler Ronkhi (-) Wheezing (-) vesikuler Ronkhi (-) Wheezing (-) vesikuler Ronkhi (-) Wheezing (-) vesikuler Ronkhi (-) Wheezing (-) Abdomen Inspeksi Palpasi Auskultasi : Perut datar. akral dingin (-/-). akral dingin (-/-). ikterus (+/+) Ekstremitas Inferior: Oedem (-/-). simetris dan umbilikus berwarna kehitaman : turgor kulit cukup. sianosis (-/-). : Oedem (-/-).6 - Bentuk Retraksi Columna vertebralis Kulit : normal. simetris : (-) : gibbus (-) : Tamapak Kuning Jantung Paru KIRI Pergerakan pernafasan PALPASI AUSKULTASI simetris Fremitus ANTERIOR KANAN Pergerakan pernafasan simetris Fremitus KIRI Pergerakan pernafasan simetris Fremitus POSTERIOR KANAN Pergerakan pernafasan simetris Fremitus Inspeksi Palpasi Auskultasi : iktus cordis tidak terlihat : iktus cordis teraba sela iga IV garis midclavicula kiri : Bunyi jantung I-II murni. hepar dan lien tidak teraba : bising usus (+) normal Genitalia eksterna Kelamin Superior : Perempuan. ikterus (+/+) .

S=63.3 gr/dl (12-16 gr/dl) : 18.1-0.count IT ratio Kesan Bilirubin total Bilirubin direct Bilirubin indirect CRP Kesan : 15. Bt=0.000/uL (150.000-450.8 mg/dl) :: Hiperbilirubin Laboratorium (24/12/11) .0 mg/dl) : 0. M=5 : 0:63 = 0 : Leukositosis : 13.5 mg/dl (0.2-1.700) :: 227.1 mg/dl (0.600 /uL (4.500-10.7 - Neurologis : Refleks fisiologis (+) normal Refleks patologis (-) Rangsang meningeal (-) PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah (21/12/11) Hb Leukosit LED Trombosit Diff.000) : B=0.4 mg/dl (0-0. E=5. L=27.25 mg/dl) : 13.

C atas indikasi Eklamsi dan gemeli anak I dengan berat badan 2300 gr Lahir dengan A/S : 4/5 setelah diresusitasi 5 menit ketiga menjadi 9 Tampak kuning pada wajah leher. hepatosplenmegali (-) Laboratorium Darah (21/12/11) Hb Leukosit Trombosit Diff. dada. sklera ikterik. : Tak Ada Kelainan : Tak Ada Kelainan : Datar Simetris.000-450. Bt=0. kencing manis.rhesus tidak diketahui. E=5.8 RESUME Anamnesis Seorang bayi perempuan umur 4 hari. Riwayat ibu sakit kuning.000) : B=0. M=5 : 0:63 = 0 . dan perut pada hari kedua setelah lahir BAB normal tidak seperti dempul.1 ºC : 2300 gr : ikterus(+) Kramer II : Konjungtiva ananemis. dan merokok pada saat hamil tidak ada. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum Nadi Respirasi Suhu BB Kulit Mata Mulut Thorak Abdomen : Tampak sakit sedang : 128 x/menit : 44 x/menit : 37.3 gr/dl (12-16 gr/dl) : 18. S=63. L=27.count IT ratio : 15.700) : 227.500-10.000/uL (150.600 /uL (4. post partus S. Golongan darah ibu O dan golongan darah ayah B.

9 Lab (24/12/11) Bilirubin total Bilirubin direct Bilirubin indirect CRP Kesan : 13.5o C dalam inkubator Medikamentosa :  Ceftazidim 115 mg/12 jam  Aminofuschin 10gtt/menit micro  R/ Foto terapi PEMERIKSAAN ANJURAN Bilirubin direk/indirek setiap hari Golongan darah bayi dan rhesus : dubia ad bonam : dubia ad bonam PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad functionam .2-1.25 mg/dl) : 13.c hemolisis PENATALAKSANAAN Umum : o Puasa bila residu (+) o Pertahankan suhu 36.4 mg/dl (0-0.5 mg/dl (0.8 mg/dl) : (-) : Hiperbilirubin DIAGNOSIS KERJA Neonatus Cukup Bulan Kecil Masa Kehamilan dengan Berat Badan Lahir Rendah + Ikterus Neonatorum fisiologis DIAGNOSIS BANDING Neonatus Cukup Bulan Kecil Masa Kehamilan dengan Berat Badan Lahir Rendah + Ikterus Neonatorum e.1 mg/dl (0.0 mg/dl) : 0.1-0.5o-37.

kuat 38x / menit 36. tidak hiperemis Lab : ananemis Tidak ada deviasi Tidak ada serumen.kuat 43x / menit 38.Nadi . reguler. ananemis Tidak ada deviasi Tidak ada serumen.Mata Sklera anikterik. reguler.10C 21-12-11 (+) (-) (+) (-) (+) Tampak sakit sedang Compos Mentis 22-12-11 (-) (+) (+) (-) (+) Tampak sakit sedang Compos Mentis 23-12-11 (-) (+) (+) (+) (+) Tampak sakit sedang Compos Mentis 24-12-11 (-) (+) (+) (+) (+) Tampak sakit sedang Compos Mentis .50C 140x/menit. tidak Pemeriksaan Penunjang hiperemis Lab : Hb = 15. Sklera ikterik.anan emis Tidak ada deviasi Tidak ada serumen.kuat 44x / menit 37.Ikterik .kuat 46x / menit 37.Suhu Pemeriksaan Fisik .Telinga ananemis Tidak ada deviasi Tidak ada serumen.Demam -Residu .10C 145x/menit. tidak hiperemis Lab : Bill total : 13.3 Leukosit= Sklera anikterik.5 mg/dl 147x/menit.90C 128x/menit. tidak hiperemis Lab : Sklera ikterik.Hidung .Menangis Keadaan Umum Kesadaran Vital Sign: . . reguler.10 FOLLOW UP TANGGAL Keluhan: . reguler.BAB .Pernafasan .

1 mg/dl Puasa Ceftazidim 115 mg/12 jam in 22cc/hr Amikasin 18 jam mg/12 : Aminofusch Aminofusch .600 Trombosit= 227.000 DC=0/5/0/6 3/27/5 Terapi CRP= (-) Pasang infus Minum 3 cc Ceftazidim 115mg/12 jam Puasa Ceftazidim 115 mg/dl Aminofusch in 25cc/hr Rawat pusat Loading Nacl 25cc tali Puasa Ceftazidim 115 mg/12 jam in 22cc/hr Amikasin 18 jam mg/12 Bill direk : 0.11 18.4 mg/dl Bill indirek 13.

dengan bayi lahir pada tanggal 21 Desember 2011 dengan usia kehamilan 39-40 minggu yang berarti lahir dengan usia cukup bulan. Apakah diagnosa kerja pada kasus ini sudah tepat ? Diagnosa pada kasus ini sudah tepat. hal ini berdasarkan dari :  Usia kehamilan : HpHt : 17 Maret 2011.12 ANALISA KASUS 1. K ecil masa kehamilan (berdasarkan kurva Lubchenko) KURVA LUBCHENCO .

Ibu yang menggunakan obat terlarang 3. Ibu yang hamil pada umur < 20 th. Klasifikasi berat badan bayi baru lahir :  Bayi berat badan lahir amat sangat rendah. jarak kehamilan kurang dari 1 tahun 2.  Ikterus fisiologis :  Terjadi setelah 24 jam pertama  Terjadi pada hari kedua setelah lahir  Nilai dari bilirubin total 13. Ibu dengan kehamilan anemia berat. darah tinggi. Bayi dengan infeksi selama kehamilan.  Bayi berat badan lahir sangat rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 1500 gram  Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang baru lahir dengan berat badan 1501-2500 gram. infeksi selama kehamilan. yaitu bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 1000 gram.5 mg/dL (pada hari ke empat)  Bilirubin direk tidak lebih dari 2 mg/dL Adapun Kriteria Sepsis atau infeksi Berdasarkan kriteria mayor dan minor : Faktor risiko mayor: o Ketuban pecah >24 jam . dan kehamilan ganda 4.13  BBLR :  Ibu hamil dengan hipertensi (eklamsi)  Ibu dengan kehamilan ganda  Berat Badan Lahir 2300 gr Adapun faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya BBLR : 1.

14 o Ibu demam o Korioamnionitis o Denyut jantung janin menetap >160kali/menit o Ketuban berbau Faktor risiko minor: o Ketuban pecah>12 jam o Ibu demam o Nilai APGAR o BBLSR o Usia gestasi <37minggu o Kehamilan ganda o Keputihan yangtidak diobati o ISK tidakdiobati .

000/µL) IT rasio yaitu rasio neutrofil imatur dengan neutrofil total CRP (N 1.2) SEPTIC WORKUP (septic marker + pemeriksaan kultur darah) Pada pasien ini hanya didapatkan 2 faktor resiko minor yaitu nilai APGAR yang kurang baik 4/5 dan kehamilan ganda.000) : 0/5/0/63/27/5 : (-) Kesan : Berdasarkan Septic marker pada pasien ini tidak ditemukan kelainan. gastointestinal. Berdasarkan data-data yang terdapat pada pasien ini ditemukan 2 kriteria pada faktor resiko minor dan dilakukan septic marker (-) sehingga jelaslah bahwa pada kasus ini bukan merupakan ikterus yang disebabkan oleh sepsis.700) :: 0:63 = 0 : 227.000/uL (150.0 mg/dl atau 10 mg/l) (normal: <0. .000-450. dan gangguan metabolik kemudian didukung dengan hasil laboratorium yaitu : o Hb o Leukosit o LED o IT Ratio o Trombosit o Diff.1o C.15 SEPTIC MARKER • • • • Hitung leukosit (N 5000-30000/µL) Hitung trombosit (N>150.600 /uL (4.500-10. Gejala klinis pada pasien ini yaitu demam pada hari pertama 38. gangguan neurologis. gangguan sirkulasi.3 gr/dl (12-16 gr/dl) : 18. Untuk itu berdasarkan alogaritma sepsis neonatorum dianjurkan untuk pemeriksaan ulang septic marker 12-24 jam. tidak ditemukan tanda-tanda gangguan pernapasan.count o CRP : 15.

Maka dari itu sebaiknya digunakan terlebih dahulu . Secara in vitro Ceftazidime dapat mempengaruhi mikroorganisme dalam range/spektrum yang luas. Ceftazidime aktif terhadap beberapa strain resisten terhadap ampisilin dan sefalosporin lainnya.16 2. Apakah penatalaksanaan terapi pada kasus ini sudah tepat? Penatalaksanaan pada kasus ini menurut kami kurang tepat. termasuk strain yang resisten terhadap gentamicin dan aminoglikosid lainnya. penggunaan antibiotik Ceftazidim yang merupakan golongan sefalosporin generasi ketiga kami rasa tidak tepat dimana yang seharusnya pilihan pertama adalah ampicilin yang dikombinasi dengan golongan aminoglikosida.

plasmid dan kromosomal yang secara klinis dihasilkan oleh kuman gram negatif Penggunaan ceftazidime yang dikombinasikan dengan amikasin kami rasa kurang tepat.17 antibiotic golongan B-lacktam untuk mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat. Pada terapi pemberian tropik feeding sebanyak 3 cc (hari pertama) pada pasien sudah benar namun pasien terdapat residu dan dilakukan puasa pada hari berikutnya sampai residu tidak ada lagi pada usia 2-4 . Ceftazidime merupakan antibiotika sefalosporin semisintetik yang bersifat bakterisidal. dimana penggunaan NaCl pada neonatus untuk mengatasi syok.kg (setiap 12 jam pada minggu pertama kehidupan bayi) atau (setiap 8 jam minggu) ditambah gentamisin satu kali sehari. Aminofusin dalam 50 ml mengandung 2. Dosis yang diberikan juga tidak tepat yang seharusnnya diberikan mulai dari 0. menurut WHO tahun 2003 Ampicilin adalah Antibiotik pilihan pertama di Rumah Sakit (WHO 2003). Pemberian aminofusin pada kasus ini sudah tepat karena pada kasus ini pasien puasa yang membutuhkan energi kalori selama perawatan di samping nutrisi untuk BBLR. sedangkan amikasin adalah antibiotik golongan aminoglikosid yang termasuk spectrum sempit.5 gr asam amino. Loading NaCl juga kurang tepat karena pada pasien ini tidak ditemukan tanda-tanda syok. Selain itu Ceftazidime sangat stabil terhadap sebagian besar beta-laktamase.5 gr/hari dinaikan bertahap sampai 2-3 gr/hari.5 gr/hr atau 10 cc hari pertama. karena ceftazidime adalah antibiotik spectrum luas yang digunakan untuk strain yang resisten terhadap gentamicin dan aminoglikosid. Ampicillin 50 mg. Pemberian aminofusin seharusnya diberikan mulai hari ketiga 0. jadi penggunaan amikasin bersamaan dengan ceftazidime tidak efektif. Mekanisme kerja antibakteri dengan menghambat enzym yang bertanggung jawab terhadap sintesis dinding sel.

18 3.. Apakah kemungkinan penyebab ikterus pada kasus ini? Berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan laboratrium yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun Inkompatibilitas ABO belum terbukti dengan jelas karena belum dilakukannya pemeriksaan golongan darah oleh karena faktor lain. Jadi kemungkinan penyebab ikterus ini dapat disebabkan oleh faktor fisiologis yang dipengaruhi oleh :  Fungsi hepar belum sempurna  Masa hidup eritrosit lebih pendek (90hari) dan terjadi pemecahan eritrosit yang menyebabkan ikterik  Sirkulasi enterohepatik meningkat sehingga reabsorbsi juga meningkat  Defek konjugasi bilirubin  Ekskresi bilirubin menurun oleh karena bayi puasa sehingga urine sedikit . dan perdarahan intraventikular. Pada pasien ini tidak ditemukan tandatanda perdarahan tertutup. etiologi ikterus pada pasien ini bukan karena sepsis melainkan karena faktor fisiologis.

5 mg/dl (0. kondisi yang didapat pada pasien ini yaitu : Bilirubin adalah >72 jam.0 mg/dl) : 0. Berat badan lahir 2300 gr Hasil bilirubin total 13.% mg/dl Sehingga penatalaksanaan pada pasien ini seharusnya adalah TERAPI SINAR (fototerapi) .1-0.25 mg/dl) : 13.1 mg/dl (0.19 4.2-1.4 mg/dl (0-0. Kapan diperlukan foto terapi dan transfusi tukar pada kasus ini ? Pada kasus ini fototerapi dilakukan pada hari ke-5 karena pemeriksaan bilirubin baru dilakukan pada hari ke-4. Hasil laboratorium pada tanggal 24/12/2011 : Bilirubin total Bilirubin direct Bilirubin indirect : 13.8 mg/dl) Berdasarkan pada bagan diatas.

Pada kasus ini dilakukan fototerapi pada hari ke lima kurang tepat karena seharusnya pemeriksaan laboratorium bilirubin dilakukan secepatnya setelah bayi kuning dan langsung dilakukan fototerapi.20 Berdasarkan grafik fototerapi diatas menunjukan bahwa pasien termasuk golongan bayi dengan resiko sedang. .

hasil studi di 7 daerah multicenter diperoleh angka BBLR dengan rentang 2. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah lahir.3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. bayi dan anak serta memberikan dampak jangka panjang terhadap kehidupannya dimasa depan . Angka ini lebih besar dari target BBLR yang ditetapkan pada sasaran program perbaikan gizi menuju Indonesia Sehat 2010 yakni maksimal 7% .5 %. Bayi Berat Lahir Rendah 1.1%-17. morbiditas dan disabilitas neonatus. 2. angka BBLR sekitar 7. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. Angka kejadian di Indonesia sangat bervariasi antara satu daerah dengan daerah lain.2 %. yaitu berkisar antara 9%-30%. Secara nasional berdasarkan analisa lanjut SDKI.21 II. Definisi Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas. Epidemiologi Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3. TINJAUAN PUSTAKA A.

dan lain-lain. Kondisi bayi lahir kecil sangat tergantung pada usia kehamilan saat dilahirkan dan berapa lama terjadinya hambatan pertumbuhan itu dalam kandungan. Pada umumnya bayi kurang bulan disebabkan tidak mampunyai uterus menahan janin. gangguan selama kehamilan. Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Semakin muda umur kehamilan. Etiologi Persalinan kurang bulan/prematur  Bayi lahir pada umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler. (1) Faktor ibu  Penyakit . kehamilan kembar/ganda. lepasnya plasenta lenih cepat dari waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. atau hambatan pertumbuhan yang berasal dari bayinya sendiri. Hal ini dapat disebabkan oleh terganggunya sirkulasi dan efisiensi plasenta. paritas.22 3. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit atau komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang (prematur) Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan  Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan adalah bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan saat dalam kandungan (janin tumbuh lambat atau retardasi pertumbuhan intrauterin) dengan berat lahir < persentil ke 3 grafik pertumbuhan janin (Lubchenco). serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR . Faktor ibu yang lain adalah umur. kurang baiknya keadaan umum ibu atau gizi ibu. Bayi lahir kurang bulan mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidp di luar rahim. fungsi organ tubuh semakin berkurang dan prognosanya semakin kurang baik.

anaemia. sosio-ekonomi dan paparan zat-zat racun 4. (3) Faktor Lingkungan Yang dapat berpengaruh antara lain. infeksi TORCH.23 Seperti malaria. tempat tinggal di daratan tinggi. hidramion. pre-eklamsia berat. dan lain-lain  Komplikasi pada kehamilan. eklamsia. dan kelahiran preterm. Komplikasi Komplikasi langsung yang dapat terjadi pada bayi berat lahir rendah antara lain :  Hipotermia  Hipoglikemia  Gangguan cairan dan elektrolit  Hiperbilirubinemia  Sindroma gawat nafas  Paten duktus arteriosus  Infeksi  Perdarahan intraventrikuler  Apnea of Prematurity  Anemia . (2) Faktor Janin Prematur. kehamilan kembar/ganda (gemeli). kelainan kromosom. radiasi. sipilis. Komplikasi yang tejadi pada kehamilan ibu seperti perdarahan antepartum.  Usia Ibu dan paritas Angka kejadian BBLR tertinggi ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dengan usia muda  Faktor kebiasaan ibu Faktor kebiasaan ibu juga berpengaruh seperti ibu perokok. ibu pecandu alkohol dan ibu pengguna narkotika.

jarak kelahiran sebelumnya • Kenaikan berat badan ibu selama hamil • Aktivitas ibu yang berlebihan • Trauma pada ibu (termasuk post coital trauma) • Penyakit yang diderita selama hamil • Obat-obatan yang diminum selama hamil  Pemeriksaan fisik • Berat badan lahir <2500 g  Untuk BBLR kurang bulan  Tanda prematuritas  Tulang rawan telinga belum terbentuk  Masih terdapat lanugo (rambut halus pada kulit)  Refleks masih lemah  Alat kelamin luar : pada perempuan labium mayus belum menutup labium minus.  Anamnesis • Umur ibu • Riwayat persalinan sebelumnya • Jumlah paritas.24 Masalah jangka panjang yang mungkin timbul pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) antara lain:  Gangguan perkembangan  Gangguan pertumbuhan  Gangguan penglihatan (Retinopati)  Gangguan pendengaran Penyakit paru kronis  Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit  Kenaikan frekuensi kelainan bawaan 5. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Diagnosis Menegakkan diagnosis BBLR adalah dapat diketahui dengan dilakukan anamesis. pada laki-laki belum terjadi .

25 penurunan testis dan kulit testis rata (rugae testis belum terbentuk)  Untuk BBLR Kecil untuk Masa Kehamilan  Tanda janin Tumbuh Lambat  Tidak dijumpai tanda prematuritas seperti tersebut diatas  Kulit keriput  Kuku lebih panjang 6. berikan cairan Kelola sesuai dengan kondisi spesifik atau komplikasinya Pemantauan Kenaikan berat badan dan pemberian minum setelah umur 7 hari  Bayi akan kehilangan berat badan selama 7-10 hari pertama. Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali apabila terjadi kmplikasi. 4. lakukan manajemen umum sebagai berikut : jantung. nafas 5. Bayi dengan berat lahir >1500 g dapat kehilangan berat sampai 10%. denyut Bila bayi mengalami gangguan nafas. jaga bayi tetap hangat (KMC) Jaga jalan nafas tetap bersih dan terbuka Nilai segera kondisi bayi tentang tanda vital : pernafasan. hentikan kejang dengan antikonvulsan Bila bayi dehidrasi. 1. kenaikan berat badan selama tiga bulan seharusnya : b) c) g/hari) 150-200 g seminggu untuk bayi <1500 g (misalnya 20-30 g/hari) 200-250 g seminggu untuk bayi 1500-2500 g (misalnya 30-35 Manajemen Umum Stabilisasi suhu. 2.  Setelah berat lahir tercapai kembali. 3. dikelola dengan gangguan Setiap menemukan BBLR. a) Bila bayi kejang. 7. 7. warna kulit dan aktifitas rehidrasi IV . 6. pasang jalur intravena.

tingkatkan jumlah Apabila kenaikan berat tetap kurang dari batas yang telah jumlah 180 mL/kg/hari pemberian ASI sampai 200 mL/kg/hari disebutkan di atas dalam waktu lebih dari seminggu padahal bayi sudah mendapat ASI 200 mL/kg/hari.26  d) e) f) Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (pada semua kategori berat) dan telah berusia lebih dari 7 hari : Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 mL/kg/hari sampai tercapai Apabila kenaikan berat tidak adekuat. . Pemulangan penderita Suhu bayi stabil Toleransi minum per oral baik. 2. apabila pada satu payudara setiap hari dihisap. diutamakan pemberian ASI Ibu sanggup merawat BBLR di rumah. tangani sebagai Kemungkinan kenaikan berat bdan tidak adekuat. g) h) i) j) k) Tanda kecukupan pemberian ASI Buang air kecil minimal 6 kali dalam 24 jam Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI Peningkatan berat badan setelah 7 hari pertama sebanyak 20 gram Periksa pada saat ibu meneteki. ASI akan menetes dari payudara yang lain. 1. 8. 3.

Proses hemolisis darah. terutama apabila ikterus ditemukan dalam 24 jam pertama kehidupan bayi atau bila kadar bilirubin meningkat > 5 mg/dL (> 86µmol/L) dalam 24 jam. Ikterus ini pada sebagian penderita dapat bersifat fisiologis dan pada sebagian lagi mungkin bersifat patologis yang dapat menimbulkan gangguan yang menetap atau menyebabkan kematian. Dikemukakan bahwa angka kejadian ikterus terdapat pada 60% bayi cukup bulan dan 80% bayi kurang bulan.66% (tahun 2003). tahun 2002). Pendahuluan Ikterus terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. namun pada tahun 1990-an ditemukan 31 kasus kernikterus (data Georgetown University Medical Centre Washington D. RSAB Harapan Kita Jakarta melakukan transfusi tukar 14 kali/bulan (tahun 2002). sehingga kulit (terutama) dan atau sklera bayi (neonatus) tampak . Walaupun pada tahun 1970-an kasus kernikterus sudah tidak ditemukan lagi di Washington. ikterus akan ditemukan dalam minggu pertama kehidupannya. Dalam keadaan tersebut penatalaksanaan ikterus harus dilakukan sebaik-baiknya agar akibat buruk ikterus dapat dihindarkan. setiap bayi dengan ikterus harus mendapatkan perhatian.C. 2. Di Hospital Bersalin Kualalumpur dengan ‘tripple phototherapy’ tidak ada lagi kasus yang memerlukan tindakan transfusi tukar (tahun 2004). infeksi berat. demikian pula di Vrije Universitiet Medisch Centrum Amsterdam dengan ’double phototherapy’ (tahun 2003). ikterus yang berlangsung lebih dari 1 minggu serta bilirubin direk >1 mg/dL juga merupakan keadaan yang menunjukkan kemungkinan adanya ikterus patologis. Ikterus Neonatorum 1.8% (tahun 2002) dan 15.27 B. Definisi Ikterus (‘jaundice’) terjadi apabila terdapat akumulasi bilirubin dalam darah. Pada sebagian besar neonatus. Soetomo Surabaya ikterus patologis 9. Oleh karena itu. Di RSU Dr.

3. karenanya mempunyai sifat lipofilik yang sulit diekskresi dan mudah melalui membran biologik seperti plasenta dan sawar darah otak. tempat terjadinya konjugasi. Zat ini sulit larut dalam air tetapi larut dalam lemak. Biliverdin inilah yang mengalami reduksi dan menjadi bilirubin bebas atau bilirubin IX α (Gbr. ikterus akan tampak apabila serum bilirubin > 2 mg/dL (> 17 µmol/L). Dalam hepar terjadi mekanisme ambilan. Sebagian besar bilirubin tersebut berasal dari degradasi hemoglobin darah dan sebagian lagi dari hem bebas atau proses eritropoesis yang tidak efektif. sehingga bilirubin terikat oleh reseptor membran sel hepar dan masuk ke dalam hepar. Hiperbilirubinemia fisiologis yang memerlukan terapi sinar. Digolongkan sebagai hiperbilirubinemia patologis (‘Non Physiological Jaundice’) apabila kadar serum bilirubin terhadap usia neonatus > 95 0/00 menurut Normogram Bhutani. Pembentukan bilirubin tadi dimulai dengan proses oksidasi yang menghasilkan biliverdin serta beberapa zat lain. Segera setelah ada dalam sel hepar terjadi persenyawaan ligandin (protein Y). Jenis bilirubin ini dapat larut dalam air dan pada kadar tertentu dapat diekskresi melalui ginjal. Metabolisme Bilirubin Bilirubin merupakan produk yang bersifat toksik dan harus dikeluarkan oleh tubuh.28 kekuningan. sedangkan pada neonatus baru tampak apabila serum bilirubin > 5 mg/dL ( >86µmol/L). Bilirubin bebas tersebut kemudian bersenyawa dengan albumin dan dibawa ke hepar. 2). Pada orang dewasa. Hiperbilirubinemia adalah istilah yang dipakai untuk ikterus neonatorum setelah ada hasil laboratorium yang menunjukkan peningkatan kadar serum bilirubin. protein Z dan glutation hepar lain yang membawanya ke retikulum endoplasma hepar. Sebagian besar bilirubin yang terkonjugasi ini . Proses ini timbul berkat adanya enzim glukoronil transferase yang kemudian menghasilkan bentuk bilirubin direk. tetap tergolong non patologis sehingga disebut ‘Excessive Physiological Jaundice’.

Peninggian kadar bilirubin ini terjadi pada hari ke 2 – 3 dan mencapai puncaknya pada hari ke 5 – 7. sehingga pengobatanpun dapat dilaksanakan dini. Proses tersebut antara lain karena tingginya kadar eritrosit neonatus.29 diekskresi melalui duktus hepatikus ke dalam saluran pencernaan dan selanjutnya menjadi urubilinogen dan keluar dengan tinja sebagai sterkobilin. Kadar bilirubinpun biasanya tidak > 10 mg/dL (171 µmol/L) pada bayi kurang bulan dan < 12 mg/dL (205 µmol/L) pada bayi cukup bulan. sebagian di absorpsi kembali oleh mukosa usus dan terbentuklah proses absorpsi entero hepatik. pemeriksaan lengkap harus dilakukan untuk mengetahui penyebabnya. . kemudian akan menurun kembali pada hari ke 10 – 14. bayi dinyatakan menderita bilirubinemia apabila kadar bilirubin total > 12 mg/dL (> 205 µmol/L) pada bayi cukup bulan. Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan dapat menimbulkan kerusakan sel tubuh tertentu. Karena itu bayi ikterus sebaiknya baru dianggap fisiologis apabila telah dibuktikan bukan suatu keadaan patologis. Masalah timbul apabila produksi bilirubin ini terlalu berlebihan atau konjungasi hepar menurun sehingga terjadi kumulasi di dalam darah. Di RS Dr. sedangkan pada bayi kurang bulan bila kadarnya > 10 mg/dL (>171 µmol/L). Hal ini terjadi karena terdapatnya proses fisiologis tertentu pada neonatus. Sebagian besar neonatus mengalami peninggian kadar bilirubin indirek pada hari-hari pertama kehidupan. bahkan terjadinya kematian. Tingginya kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologis tersebut tidak selalu sama pada tiap bayi. maka pada hiperbilirubinemia. Soetomo Surabaya. misalnya kerusakan sel otak yang akan mengakibatkan gejala sisa dikemudian hari. masa hidup eritrosit yang lebih pendek (80-90 hari) dan belum matangnya fungsi hepar. Sehubungan dengan hal tersebut. Dalam usus.

Penyebab yang jarang: 1. Lucey – Driscoll syndrome (ikterus neonatorum familial) 5. Hipotiroidism 6.30 4. Lain-lain B. Sferositosis kongenital 4. hematoma subdural. Hemoglobinopathy 5. Polisitemia / hiperviskositas 9. anoksia). Hematoma sefal. Penyebab yang sering: 1. Inkompatibilitas golongan darah rhesus 5. Defisiensi G6PD (Glucose 6 – Phosphat Dehydrogenase) 2. dehidrasi – asidosis. Hiperbilirubinemia fisiologis 2. Diagnosis . ‘Breast Milk Jaundice’ 4. Prematuritas / BBLR 10. Infeksi 6. Etiologi Hiperbilirubinemia dapat disebabkan oleh berbagai keadaan: A. hipoglikemia 11. Asfiksia (hipoksia. ‘excessive bruising’ 7. IDM (‘Infant of Diabetic Mother’) 8. Inkompatibilitas golongan darah ABO 3. Defisiensi piruvat kinase 3.

Ikterus akan terlihat lebih jelas dengan sinar lampu dan bisa tidak terlihat dengan penerangan yang kurang. Penilaian ikterus akan lebih sulit lagi apabila penderita sedang mendapatkan terapi sinar.  Ikterus yang timbul dalam 24 jam pertama (usia bayi < 24 jam)  Inkompatibilitas golongan darah (dengan ‘Coombs test’ positip)  Usia kehamilan < 38 minggu  Penyakit-penyakit hemolitik (G6PD. Pemeriksaan Fisik Secara klinis ikterus pada neonatus dapat dilihat segera setelah lahir atau beberapa hari kemudian. malnutrisi intra uterin. gawat janin. jenis kelamin laki-laki. ibu DM. ‘end tidal’ CO )  Ikterus / terapi sinar / transfusi tukar pada bayi sebelumnya  Hematoma sefal. infeksi intranatal)  Riwayat persalinan dengan tindakan / komplikasi  Riwayat ikterus / terapi sinar / transfusi tukar pada bayi sebelumnya  Riwayat inkompatibilitas darah  Riwayat keluarga yang menderita anemia. pembesaran hepar dan limpa. terutama pada neonatus yang kulitnya gelap. makrosomia  Polisitemia Anamnesis  Riwayat kehamilan dengan komplikasi (obat-obatan.31 Dari anamnesis. . Amati ikterus pada siang hari dengan lampu sinar yang cukup. ‘bruising’  ASI eksklusif (bila berat badan turun > 12 % BB lahir)  Ras Asia Timur. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium terdapat beberapa faktor risiko terjadinya hiperbilirubinemia berat. usia ibu < 25 tahun  kterus sebelum bayi dipulangkan  Infant Diabetic Mother’.

Tabel 1. Depkes RI. In : Managing Newborn Problems : a guide for doctor. Dalam : Buku Bagan MTBM (Manajemen Terpadu Bayi Muda Sakit). Metode Tepat Guna untuk Paramedis. Tangan dan kaki (Dikutip dari Peter Cooper.Suryono. Perkiraan klinis derajat ikterus Usia Hari 1 Hari 2 Ikterus terlihat pada Setiap ikterus yang terlihat Lengan dan tungkai Klasifikasi Ikterus berat Hari 3 dst. nurses and midwives. 2003 : F-77-F-89) Tabel 2. 2001) Klasifikasi Ikterus patologis Gejala dan tanda klinis . Klasifikasi Ikterus Tanya dan Lihat Mulai kapan ikterus ? Daerah mana yang ikterus ? Bayinya kurang bulan ? Warna tinja ? Tanda / Gejala Ikterus segera setelah lahir Ikterus pada 2 hari pertama Ikterus pada usia > 14 hari Ikterus lutut/ siku/ lebih Bayi kurang bulan Tinja pucat Ikterus usia 3-13 hari Ikterus fisiologis Tanda patologis (-) (Dikutip dari Depkes RI. Jaundice. et al. Indarso F. Waktu timbulnya ikterus mempunyai arti penting pula dalam diagnosis dan penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus mempunyai kaitan erat dengan kemungkinan penyebab ikterus tersebut. Klasifikasi Ikterus Fisiologis dan Ikterus Patologis. A. WHO. Bidan dan Dokter.32 Tekan kulit secara ringan memakai jari tangan untuk memastikan warna kulit dan jaringan subkutan.

c) Trauma lahir o Bruising. muntahmuntah) b) Pucat o Sering berkaitan dengan anemia hemolitik (mis.33 Gejala utamanya adalah kuning di kulit. infeksi kongenital. selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi. perdarahan tertutup lainnya. d) Pletorik (penumpukan darah) o Polisitemia. yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong tali pusat. sepsis atau eritroblastosis g) Mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal) o Sering berkaitan dengan anemia hemolitik. Ketidakcocokan golongan darah ABO. 6. Disamping itu dapat pula disertai dengan gejala-gejala: a) Dehidrasi o Asupan kalori tidak adekuat (misalnya: kurang minum. bayi KMK e) Letargik dan gejala sepsis lainnya f) Petekiae (bintik merah di kulit) o Sering dikaitkan dengan infeksi congenital. sefalhematom (peradarahn kepala). konjungtiva dan mukosa. defisiensi G6PD) atau kehilangan darah ekstravaskular. rhesus. penyakit hati h) Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa) i) Omfalitis (peradangan umbilikus) j) Hipotiroidisme (defisiensi aktivitas tiroid) k) Massa abdominal kanan (sering berkaitan dengan duktus koledokus) l) Feses dempul disertai urin warna coklat o Pikirkan ke arah ikterus obstruktif. Kern ikterus .

paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis). Namun pada bayi yang mengalami ikterus berat. Pemeriksaan tambahan yang sering dilakukan untuk evaluasi menentukan penyebab ikterus antara lain : . tidak mau minum dan hipotoni. dan akhirnya opistotonus. gengguan pendengaran. lakukan terapi sinar sesegera mungkin. Komplikasi Terjadi kern ikterus yaitu keruskan otak akibat perlangketan bilirubin indirek pada otak. gerakan tidak menentu (involuntary movements). tanpa harus mengambil sampel darah. gengguan pendengaran. Terutama pada bayi yang tampak sakit atau bayi-bayi yang tergolong risiko tinggi terserang hiperbilirubinemia berat. 7.  Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi hipertonus dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis. Namun alat ini hanya valid untuk kadar bilirubin total < 15 mg/dL (<257 µmol/L). jangan menunda terapi sinar dengan menunggu hasil pemeriksaan kadar serumbilirubin. paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis 8. dan tidak ‘reliable’ pada kasus ikterus yang sedang mendapat terapi sinar.34 Gejala kernikterus dikelompokkan menjadi :  Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada neonatus adalah letargi. ‘Transcutaneous bilirubin (TcB)’ dapat digunakan untuk menentukan kadar serum bilirubin total. bayi yang selamat biasanya menderita gejala sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis. mata berputar-putar. leher kaku. kejang tonus otot meninggi. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan serumbilirubin (bilirubin total dan direk) harus dilakukan pada neonatus yang mengalami ikterus. Pada kernikterus gejala klinik pada permulaan tidak jelas antara lain : bayi tidak mau menghisap. letargi.

Kadar serum albumin juga perlu diukur untuk menentukan pilihan terapi sinar ataukah tranfusi tukar. Obat ini efektif baik diberikan pada ibu hamil untuk beberapa hari sampai beberapa minggu sebelum melahirkan. Pengendalian kadar bilirubin dapat dilakukan dengan mengusahakan agar konjugasi bilirubin dapat lebih cepat berlangsung. Coloistrin dapat mengurangi bilirubin dengan mengeluarkannya lewat urine sehingga menurunkan siklus enterohepatika Pemberian substrat yang dapat menghambat metabolisme bilirubin (plasma atau albumin). Hal ini dapat dilakukan dengan merangsang terbentuknya glukoronil transferase dengan pemberian obat-obatan (luminal).35 1• Golongan darah dan ‘Coombs test’ 2• Darah lengkap dan hapusan darah 3• Hitung retikulosit. skrining G6PD atau ETCOc 4• Bilirubin direk Pemeriksaan serum bilirubin total harus diulang setiap 4-24 jam tergantung usia bayi dan tingginya kadar bilirubin. Phenobarbital dapat menstimulus hati untuk menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi bilirubin dan mengekskresikannya. 9. merupakan tindakan yang juga dapat mengendalikan kenaikan kadar bilirubin. Dikemukakan pula bahwa obat-obatan (IVIG : Intra Venous Immuno Globulin dan . Penatalaksanaan Tujuan utama dalam penatalaksanaan ikterus neonatorum adalah untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang dapat menbimbulkan kern-ikterus/ensefalopati bilirubin. terapi sinar atau transfusi tukar. serta mengobati penyebab langsung ikterus tadi. Penggunaan Phenobarbital pada post natal masih menjadi pertentangan karena efek sampingnya (letargi). mengurangi sirkulasi enterohepatik (pemberian kolesteramin).

15Z-bilirubin menjadi senyawa berbentuk 4Z.36 Metalloporphyrins) dipakai dengan maksud menghambat hemolisis. Penanganan ikterus berdasarkan kadar serum bilirubin Terapi sinar Usia Hari 1 Hari 2 Hari 3 Hari Transfusi tukar Bayi sehat Faktor Risiko* Bayi sehat Faktor Risiko* mg/dL µmol/L mg/dL µmol/L mg/dL µmol/L mg/dL µmol/L Setiap ikterus yang terlihat 15 260 13 220 15 18 20 260 310 340 13 16 17 220 270 290 25 30 30 425 510 510 15 20 20 260 340 340 4 dst (Dikutip dari American Academy of Pediatrics. Peningkatan bilirubin isomer dalam empedu menyebabkan bertambahnya pengeluaran cairan empedu ke dalam usus. 114 : 294) 10. Banyak teori yang dikemukakan mengenai pengaruh sinar tersebut. Pediatrics 2004 . Terapi Sinar Pengaruh sinar terhadap ikterus telah diperkenalkan oleh Cremer sejak 1958. Subcommittee on Hyperbilirubinemia. Energi sinar mengubah senyawa yang berbentuk 4Z. Soetomo Surabaya terapi sinar dilakukan pada semua penderita dengan kadar bilirubin indirek >12 mg/dL dan pada bayi-bayi dengan proses hemolisis yang ditandai dengan adanya ikterus pada hari pertama kelahiran. 15E-bilirubin yang merupakan bentuk isomernya. Tabel 3. Di RSU Dr. Teori terbaru mengemukakan bahwa terapi sinar menyebabkan terjadinya isomerisasi bilirubin. meningkatkan konjugasi dan ekskresi bilirubin. Bentuk isomer ini mudah larut dalam plasma dan lebih mudah diekskresi oleh hepar ke dalam saluran empedu. . sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin akan lebih cepat meninggalkan usus halus. Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation.

Pada saat penyinaran diusahakan agar bagian tubuh yang terpapar dapat seluas-luasnya. dehidrasi. Efek samping ini biasanya bersifat sementara dan kadang-kadang penyinaran dapat diteruskan sementara keadaan yang menyertainya diperbaiki. Posisi bayi sebaiknya diubah-ubah setiap 6-8 jam agar bagian tubuh yang terkena cahaya dapat menyeluruh. selama penyinaran kadar bilirubin dan hemoglobin bayi di pantau secara berkala dan terapi dihentikan apabila kadar bilirubin <10 mg/dL (<171 µmol/L). Agar bayi mendapatkan energi cahaya yang optimal (380-470 nm) lampu diletakkan pada jarak tertentu dan bagian bawah kotak lampu dipasang pleksiglass biru yang berfungsi untuk menahan sinar ultraviolet yang tidak bermanfaat untuk penyinaran. .37 Pada penderita yang direncanakan transfusi tukar. letargi dan iritabilitas. Kedua mata ditutup namun gonad tidak perlu ditutup lagi. Lamanya penyinaran biasanya tidak melebihi 100 jam. gangguan minum. Penghentian atau peninjauan kembali penyinaran juga dilakukan apabila ditemukan efek samping terapi sinar. Peralatan yang digunakan dalam terapi sinar terdiri dari beberapa buah lampu neon yang diletakkan secara pararel dan dipasang dalam kotak yang berfentilasi. terapi sinar dilakukan pula sebelum dan sesudah transfusi dikerjakan. hipertermia. kelainan kulit. Gunakan kain pada boks bayi atau inkubator dan pasang tirai mengelilingi area sekeliling alat tersebut berada untuk memantulkan kembali sinar sebanyak mungkin ke arah bayi. yaitu dengan membuka pakaian bayi. Gantilah lampu setiap 2000 jam atau setelah penggunaan 3 bulan walau lampu masih menyala. Beberapa efek samping yang perlu diperhatikan antara lain : enteritis.

Kriteria melakukan transfusi tukar selain melihat kadar bilirubin. tetapi efek samping dan komplikasinya yang mungkin timbul perlu di perhatikan dan karenanya tindakan hanya dilakukan bila ada indikasi (lihat tabel 3). Transfusi Tukar Transfusi tukar merupakan tindakan utama yang dapat menurunkan dengan cepat bilirubin indirek dalam tubuh selain itu juga bermanfaat dalam mengganti eritrosit yang telah terhemolisis dan membuang pula antibodi yang menimbulkan hemolisis. Kriteria Transfusi Tukar Berdasarkan Berat Bayi dan Komplikasi Berat Bayi Tidak Komplikasi Rasio (gram) (mg/dL) Bili/Alb Ada Komplikasi Rasio (mg/dL) Bili/Alb . Walaupun transfusi tukar ini sangat bermanfaat.38 11. juga dapat memakai rasio bilirubin terhadap albumin (Tabel 4) Tabel 4.

darah yang dipakai adalah darah golongan O rhesus positip. Suhu rektal ≤ 35 O C 55. Apabila hiperbilirubinemia yang terjadi disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah ABO.2 Konversi mg/dL menjadi mmol/L dengan mengalikan 17. Pada keadaan lain yang tidak berkaitan dengan proses aloimunisasi. Terbukti sepsis atau terbukti meningitis 88. Apabila hal inipun tidak ada. Subcommittee on Hyperbilirubinemia.2 6 6. Macam Transfusi Tukar: .2 8 10 13 15 17 18 4 5. Nilai APGAR < 3 pada menit ke 5 22. Jumlah darah yang dipakai untuk transfusi tukar berkisar antara 140-180 cc/kgBB. maka dapat dimintakan darah O dengan titer anti A atau anti B yang rendah. Management of hyperbilirubinemia in the newborn infant 35 or more weeks of gestation. Gejala neurologis yang memburuk terbukti 77. 114 : 294) Yang dimaksud ada komplikasi apabila : 11.15 selama 1 jam 44.15 Dalam melakukan transfusi tukar perlu pula diperhatikan macam darah yang akan diberikan dan teknik serta penatalaksanaan pemberian. sebaiknya digunakan darah yang bergolongan sama dengan bayi. Pediatrics 2004 .39 < 1250 1250 – 1499 1500 – 1999 2000 – 2499 ≥ 2500 13 15 17 18 20 5. dapat dipakai darah golongan O yang kompatibel dengan serum ibu.5 g/dL 66.1 (Dikutip dari American Academy of Pediatrics. Berat bayi ≤1000 g 12. pH < 7.8 7. PaO2 < 40 torr selama 1 jam 33. Anemia hemolitik 99.2 6 6.8 7. Serum Albumin < 2. Bila keadaan ini tidak memungkinkan.

Sebaiknya transfusi dilakukan di ruangan yang aseptik yang dilengkapi peralatan yang dapat memantau tanda vital bayi disertai dengan alat yang dapat mengatur suhu lingkungan. ‘Double Volume’ artinya dibutuhkan dua kali volume darah. ‘Partial Exchange’ artinya memberikan cairan koloid atau kristaloid pada kasus polisitemia atau darah pada anemia. diharapkan dapat mengganti kurang lebih 90 % dari sirkulasi darah bayi dan 88 % mengganti Hb bayi. ataupun henti jantung. dapat mengganti 65 % Hb bayi. bradikardia. 33. Untuk penatalaksanaan hiperbilirubinemia berat dimana fasilitas sarana dan tenaga tidak memungkinkan dilakukan terapi sinar atau transfusi tukar. ‘Iso Volume’ artinya hanya dibutuhkan sebanyak volume darah bayi. penderita dapat dirujuk ke pusat rujukan neonatal setelah kondisi bayi stabil . Perlu diperhatikan pula kemungkinan terjadinya komplikasi transfusi tukar seperti asidosis. aritmia.40 11. 22. Volume Darah pada Transfusi Tukar Kebutuhan ‘Double Volume’ ‘Single Volume’ Polisitemia Anemia Rumus* BB x volume darah x 2 BB x volume darah BB x volume darah x (Hct sekarang –Hct yang diinginkan) Hct sekarang BB x volume darah x (Hb yang diinginkan – Hb sekarang) (Hb donor – Hb sekarang) BB x volume darah x (PCV yang diinginkan – PCV sekarang) (PCV donor) * Volume darah bayi cukup bulan 85 cc / kg BB * Volume darah bayi kurang bulan 100 cc /kg BB Dalam melaksanakan transfusi tukar tempat dan peralatan yang diperlukan harus dipersiapkan dengan teliti. Tabel 5.

.41 (‘transportable’) dengan memperhatikan syarat-syarat rujukan bayi baru lahir risiko tinggi.

Buku Ajar Neonatologi. dkk. Hiperbilirubinemia pada Neonatus. Ed.42 DAFTAR PUSTAKA Etika Risa. . Ikatan Dokter Anak Indonesia. M. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. FK UNAIR/RSU Dr. Jakarta.I. 2007. Buku Acuan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Dasar (PONED). 2008. 2008. Divisi Neonatologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Sholeh. dkk.’ Tim Paket Pelatihan Klinik PONED. SoetomoSurabaya Kosim.

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->