Está en la página 1de 10

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI SEKTORAL JAWA TIMUR UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Lucky Rachmawati S.E., M.Si. (Jurusan Pendidikan Ekonomi) Hendry Cahyono, SE.,ME (Jurusan Pendidikan Ekonomi) Riza Yonisa Kurniawan, S.Pd., M.Pd (Jurusan Pendidikan Ekonomi) Staf Pengajar Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya

Abstract Condition of the investment climate East Java is still not too conducive. Investment regions of East Java can be categorized as inefficient but still good. There are three sectors that are inefficient, an efficient five sectors and one sector that does not absorb investment. Confidence the world of business to East Java 's investment climate, need immediate repairs held. One way to increase investor interest is in understanding the business opportunities in East Java through the calculation of regions and sectoral ICOR in East Java. Kata kunci

1. Pendahuluan Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan nilai dari barang-barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu ekonomi. Secara konvensional diukur sebagai persentase dalam peningkatan produk domestik bruto yang riil, atau GDP. Pertumbuhan pada umumnya dihitung dalam terminologi yang riil, yaitu terminologi yang disesuaikan dengan inflasi. Dalam ekonomi, pertumbuhan ekonomi atau teori pertumbuhan ekonomi secara khas mengacu pada pertumbuhan potensial output, yaitu, produksi pada kondisi penggunaan tenaga kerja secara penuh yang disebabkan oleh pertumbuhan permintaan agregat atau output yang diamati (wikipedia, 2011). Jawa Timur merupakan salah satu propinsi yang menjadi pusat aktivitas kegiatanekonomi kawasan timur pulau Jawa. PDRB Jawa Timur atas dasar harga konstan selama kurun waktu lima tahun terakhir masing-masing sebesar: Rp. 271.249 miliar pada tahun 2006; Rp. 287.814 miliar pada tahun 2007; Rp. 304.923 miliar pada tahun 2008; Rp. 320.211 miliar pada tahun 2009; dan Rp. 342.254 miliar pada tahun 2010. Berdasarkan angka-angka PDRB tersebut, PDRB Jawa Timur tiap tahun terus mengalami peningkatan, sejalan dengan proses membaiknya kondisi ekonomi. Nilai PDRB yang dihasilkan masih mengandung pengaruh perubahan harga, sehingga angka ini belum bisa digunakan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ditunjukkan table 1.

55

Lucky R, Hendry C dan Riza, Analisis Kebutuhan Investasi Sektoral Jawa Timur

Tabel 1 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Tahun 2005 2009 No. Keterangan 2006 2007 2008 2009 1. PDRB ADHK 2000 (Miliar Rupiah) 271.249 287.814 304.923 320.211 2. Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,80 6,11 5,94 5,01 Sumber: Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Propinsi Jawa Timur tahun 2011

2010 342.254 6,88

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur, dapat dihitung melalui PDRB atas dasar harga konstan 2000, karena pertumbuhan ekonomi ini benar-benar diakibatkan dari perubahan jumlah nilai produk barang dan jasa yang sudah bebas dari pengaruh harga (pertumbuhan riil). PDRB atas dasar harga konstan 2000 pada tabel 1 , menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Timur selama periode 2005-2009 berturut-turut sebesar: 5,80% pada tahun 2006; 6,11% pada tahun 2007; 5,94% pada tahun 2008; 5,01% pada tahun 2009; serta 6,88% pada tahun 2010. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur terbesar pada tahun 2010 yaitu sebesar 6,88%, yang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 31%. Pertumbuhan ekonomi dari tahun 2008 hingga 2009 mengalami penurunan sebesar 0,93%. Salah satu cara untuk meningkatkan PDRB adalah dengan meningkatkan investasi. Untuk meningkatkan investasi dibutuhkan perencanaan investasi yang tepat. Angka realisasi penanaman modal mengindikasikan tingginya aktivitas investasi di Jawa Timur. Realisasi investasi yang berasal dari modal asing maupun modal dalam negeri menunjukkan angka yang variatif, ditunjukkan pada Tabel 2. Kondisi Investasi di Jawa Timur untuk 5 periode secara berturut-turut untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebagai berikut: pada tahun 2005 mengalami kenaikan masing-masing sebesar 32,91% (Rp. 5,39 trilyun) dan 50,68% (539,10 juta US $); pada tahun 2006 masing-masing sebesar 3.006,69% (Rp. 167,45 trilyun) dan 172,22% (1.467,55 US $); pada tahun 2007 nilai investasi turun 87,04% untuk PMDN sedangkan PMA sekitar 41,99%; pada tahun 2008 investor dalam negeri semakin menurunkan nilai investasinya menjadi Rp. 19,93 trilyun atau turun 8,14% dibanding tahun sebelumnya, sedangkan penanaman modal asing nilai investasi terjadi sebaliknya yaitu naik sekitar 214% (2.676,88 juta US $); serta pada tahun 2009 mengalami penurunan yang cukup berarti baik PMDN maupun PMA masing-masing sebesar 52,31% dan 47,14%. Tabel 2 Perkembangan Nilai Investasi Berskala Nasional PMDN/PMA Tahun 2005-2009 Pmdn (000 000 Rp) Pma (000 Us $) Tahun Abs % Abs % 2005 5.389.950 32,91 539.098 50,68 2006 167.449.038 3.006,69 1.467.546 172,22 2007 21.700.120 (87,04) 851.292 (41,99) 2008 19.933.800 (8,14) 2.676.883 214,45 2009 9.506.602 (52,31) 1.415.047 (47,14) Sumber: Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Propinsi Jawa Timur tahun 2011 Rendahnya angka realisasi penanaman modal dalam negeri maupun modal asing menggambarkan pelemahan aktivitas investasi di Jawa Timur. Setelah mencatat angka yang cukup tinggi di tahun sebelumnya, terutama pada tahun 2006 hingga mengalami kenaikan sebesar 3.006,69 % dari tahun sebelumnya, realisasi investasi di Jawa Timur mulai menurun pada tahun 2007 sampai dengan 2009. 56

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

Dalam upaya peningkatan PDRB di Propinsi Jawa Timur dengan kondisi investasi yang semakin menurun, perlu dilakukan perhitungan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) daerah dan sektoral sebagai indikator kebutuhan investasi pada tiap sektor ekonomi. Perhitungan tersebut bertujuan agar kebutuhan terhadap investasi persektor dapat diketahui dengan tepat, sehingga perencanaan investasi pun dapat dilakukan dengan cermat.

2. Rumusan Masalah Berdasarkan pemikiran yang telah diuraikan, dirumuskan lima permasalahan sebagai berikut: (1) bagaimana kondisi investasi per sektor di Jawa Timur dari tahun 2006 hingga 2010; (2) berapa besar kebutuhan investasi daerah dalam pembangunan ekonomi Propinsi Jawa Timur dari tahun 2006 hingga 2010; (3) berapa besar kebutuhan investasi pada tiap sektor ekonomi Propinsi Jawa Timur dari tahun 2006 hingga 2010; (4) pada sektor manakah yang efisien di propinsi Jawa Timur dari tahun 2006 hingga 2010; serta (5) bagaimana kebijakan investasi sektoral di Propinsi Jawa Timur? 3. Landasan Teori 3.1 Teori Pertumbuhan Harrod-Domar Kita dapat menggambarkan kebutuhan untuk menaikkan tingkat investasi, jika kita menggunakan persamaan Roy Harrod mengenai perhitungan pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan investasi dan Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yang ditunjukkan pada persamaan:

i ICOR

keterangan: G = tingkat pertumbuhan ekonomi i = investasi sebagai persentase dari pendapatan ICOR = Incremental Capital Output Ratio (Rasio Modal Output Marjinal), suatu kebalikan dari rasio peningkatan output terhadap investasi. Jika Y adalah pendapatan, K adalah persediaan modal, dan I adalah investasi, maka G = ( Y/Y), i = (I/Y), dan ICOR=( K/ Y), penambahan modal dibagi dengan penambahan pendapatan sama dengan (I/ Y), dimana menurut definisi bahwa K I. Maka persamaan tersebut akan identik dengan:

57

Lucky R, Hendry C dan Riza, Analisis Kebutuhan Investasi Sektoral Jawa Timur

Y Y

I Y K Y I Y

Y K . Y Y K Y K I Y I

3.2 Kerangka Pemikiran Latar belakang: PDRB dan investasi Propinsi Jawa Timur yang semakin menurun menimbulkan penurunan pertumbuhan ekonomi Masalah Utama: Berapa besar kebutuhan investasi daerah pada tiap sektor ekonomi Propinsi Jawa Timur dari tahun 2006 hingga 2010 dan sektor manakah yang efisien untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Alat Analisis: Perhitungan ICOR daerah dan ICOR sektoral Hasil dan Pembahasan Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Pembangunan ekonomi bertujuan meningkatkan tingkat hidup penduduk. Salah satu ukuran peningkatan kesejahteraan penduduk adalah pertumbuhan ekonomi melalui pendekatan Produk Domestik Regional Bruto(PDRB). Salah satu cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi adalah dengan meningkatkan investasi. Dengan demikian, perlu diketahui ICOR daerah dan sektoral agar kebutuhan terhadap investasi daerah dan sektoral di Jawa Timur dapat diketahui dengan tepat, sehingga perencanaan investasi pun dapat dilakukan dengan cermat. ICOR akan membandingkan antara jumlah investasi tiap tahun dengan jumlah perubahan PDRB setiap tahun. Hasil perhitungan ICOR tiap sektor ekonomi akan memberikan gambaran berapa kebutuhan riil investasi 58

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

pada tiap sektor ekonomi di daerah tersebut. Sehingga dapat dirumuskan rencana investasi daerah dan sektoral di Propinsi Jawa Timur.

4.

Metode Penelitian Lokasi penelitian adalah Propinsi Jawa Timur, pertimbangannya adalah pertumbuhan ekonomi dan investasi di Propinsi Jawa Timur mulai mengalami penurunan, sehingga perlu dikaji kebutuhan investasi per sektor sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Variabel-variabel yang digunakan, untuk menghitung ICOR sebagai ukuran kebutuhan investasi di Propinsi Jawa Timur, yaitu: PDRB, pertumbuhan ekonomi, dan investasi. Mengingat ICOR harus dihitung dalam selang waktu yang relatif lama, maka berikut adalah formulasi ICOR yang dihitung dari tahun m hingga n,

keterangan m = tahun mulai perhitungan ICOR n = tahun akhir perhitungan ICOR PDRBm = Angka PDRB pada awal perhitungan ICOR PDRBn = Angka PDRB pada tahun terakhir perhitungan ICOR Perhitungan dalam waktu yang relatif panjang dimaksudkan bahwa investasi pada tahun ini tidak otomatis diikuti oleh penambahan output pada tahun ini juga, melainkan baru akan muncul pada satu atau dua tahun yang akan datang. Selain itu masa yang dibutuhkan dari waktu penambahan kapital sampai dengan menghasilkan output akan berbeda-beda dari sektor yang satu dengan sektor lainnya. Metode analisis data sebagai berikut: Rata-rata koefisien ICOR di negara berkembang memiliki rentang antara 2 sampai 7, semakin mendekati angka 2 maka ICOR semakin baik dan sebaliknya semakin menjauhi angka 2 maka ICOR semakin buruk, namun selama belum mencapai angka lebih dari 7 maka ICOR masih baik. Secara terperinci, dijelaskan sebagai berikut: a) Semakin mendekati angka 2 sektor tersebut dikategorikan sebagai sektor yang efisien, artinya sedikit saja penambahan modal akan banyak meningkatkan output dari sektor tersebut. Dengan peningkatan output artinya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. b) Semakin menjauhi angka 2 sektor tersebut dikategorikan sebagai sektor yang tidak efisien tetapi masih dianggap baik, artinya untuk meningkatkan output dari sektor tersebut dibutuhkan penanaman modal yang besar. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan melakukan studi pustaka karena data yang digunakan adalah data sekunder. Data-data sekunder tentang nilai investasi dan nilai PDRB Propinsi Jawa Timur dari tahun 2005 sampai tahun 2010, diperoleh dari berbagai publikasi: Biro Pusat Statistik, publikasi Bank Indonesia, dan data Pemerintah Propinsi Jawa Timur.

59

Lucky R, Hendry C dan Riza, Analisis Kebutuhan Investasi Sektoral Jawa Timur

5. Hasil Penelitian dan Pembahasan 5.1 Kondisi Investasi di Jawa Timur Kondisi iklim investasi di Indonesia pada umumnya dan Jawa Timur pada khususnya masih belum terlalu kondusif. Berdasarkan data investasi yang ditanamkan untuk sektor-sektor di Jawa Timur baik penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing dari tahun 2006-2010 menunjukkan angka investasi yang tidak stabil, hal tersebut ditunjukkan pada Tabel 3. World Bank (2004 dalam Mudrajad: 2009), menyebutkan bahwa para investor masih khawatir untuk melakukan bisnis di Indonesia, hal ini disebabkan karena ketidakstabilan ekonomi makro, ketidakpastian kebijakan, korupsi, perijinan usaha, dan regulasi pasar tenaga kerja ditunjukkan table 3.
Tabel 3. Investasi di Jawa Timur Pada Tahun 2006-2009 Berdasarkan Sektor No. 1 2 3 4 5 Sektor Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bersih Kontruksi Perdagangan, Hotel & Restauran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa Total 2006 63,190,696,000 11,580,000,000 170,708,278,576,000 0 9,334,114,272,000 0 1,781,850,000,000 218,747,033,400,000 386,916,000,000 0 2007 2008 82,831,370,000 2,132,133,500,000 23,614,478,280,000 530,306,543,000 2,793,933,279,000 2009 496,607,250,000 0 21,786,681,850,000 80,555,400,000 4,561,456,350,000

6 7

473,025,580,000 0

35,637,000,000 0

14,915,433,433,000 14,590,500,000

12,399,547,300,000 0

8 9

0 339,373,628,000 9,357,256,752,000

0 0 180,929,562,752,000

0 1,990,267,536,000 220,951,436,400,000

0 1,933,215,950,000 46,073,974,441,000

Sumber: data sekunder diolah, 2011 Otonomi daerah yang diberlakukan Indonesia sejak tahun 2004, menarik peran serta masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif dalam menentukan kebijakan pembangunan. Konsep partisipatif yang diajukan oleh kebijakan otonomi daerah menempatkan masyarakat untuk memiliki peranan dalam kepemerintahan (governance), akan tetapi pada penerapannya ternyata masyarakat hanya diposisikan sebagai konsumer (agent) bukan sebagai pelaku atau prinsipil. Penyimpangan pelaksanaan otonomi daerah ini adalah adanya penyalahgunaan wewenang. Dalam dunia investasi dan bisnis misalnya, terjadi praktik-praktik pungutan liar untuk melancarkan perijinan pendirian usaha. Tentu saja, hal tersebut akan membuat para investor enggan untuk berinvestasi karena sulitnya untuk memproses ijin usaha, dan lagi dengan adanya praktik-praktik pungutan liar, biaya yang dikeluarkan untuk pendirian usaha semakin besar. Kepercayaan dunia bisnis terhadap iklim investasi Indonesia pada umumnya dan Jawa Timur pada khususnya perlu segera diadakan perbaikan. Salah satu cara untuk meningkatkan minat investor adalah dengan pemahaman peluang bisnis di Jawa Timur. Melalui perhitungan ICOR daerah dan ICOR sektoral di Jawa Timur, maka investor dapat mengetahui kebutuhan investasi Jawa Timur dan peluang investasi apa yang akan dilakukan di Jawa Timur.

60

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

5.2 Kebutuhan Investasi Daerah dan Sektoral Jawa Timur Berdasarkan perhitungan, diperoleh nilai ICOR daerah Jawa timur untuk periode tahun 2006-2010 sebesar 7,02, artinya agar PDRB naik sebesar satu miliar dibutuhkan investasi senilai 7,02 miliar. Angka ICOR tersebut menunjukkan bahwa investasi daerah Jawa Timur tidak efisien tetapi masih baik. Perhitungan ICOR daerah dan ICOR per sektoral Jawa Timur periode tahun 2006-2010 ditunjukkan pada tabel 4. Tabel 4. Nilai ICOR Per Sektoral Di Jawa Timur Dari Tahun 2006-2010. No. Sektor ICOR 1 Pertanian 0.1475 2 Pertambangan & Penggalian 1.7285 3 Industri Pengolahan 31.1847 4 Listrik, Gas & Air Bersih 36.4373 5 Kontruksi 8.5222 6 Perdagangan, Hotel & Restauran 1.2195 7 Pengangkutan & Komunikasi 0.0015 8 Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 0.0000 9 Jasa-jasa 0.6050 ICOR daerah Jawa Timur 7,02 Sumber: data sekunder diolah, 2011 Perhitungan ICOR sektoral di Jawa Timur pada tahun 2006-2010 dapat dilihat pada Tabel 4. Perhitungan angka ICOR pada penelitian ini bukan dari investasi dan output tahun per tahun, melainkan dihitung dalam selang waktu yang relatif panjang, yakni selama 5 tahun dari tahun 2006 hingga tahun 2010. Perhitungan dalam waktu yang relatif panjang dimaksudkan bahwa investasi pada tahun ini tidak otomatis diikuti oleh penambahan output pada tahun ini juga, melainkan baru akan muncul pada satu atau dua tahun yang akan datang. Selain itu masa yang dibutuhkan dari waktu penambahan kapital sampai dengan menghasilkan output akan berbeda-beda dari sektor yang satu dengan sektor lainnya. Sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas & air bersih menunjukkan bahwa kegiatan produksinya paling tidak efisien, dengan angka ICOR sebesar 31.1847 dan 36.4373. Angka ICOR tersebut berarti agar produksi industri pengolahan naik satu miliar, dibutuhkan investasi senilai 31,1847 miliar dan untuk menaikkan produksi sektor listrik, gas & air bersih sebesar satu miliar dibutuhkan investasi senilai 36,4373 miliar. Ketidakefisienan tersebut berarti, bahwa dibutuhkan investasi yang besar untuk meningkatkan produksi kedua sektor tersebut, Kedua sektor tersebut, kontribusinya tidak terlalu besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sektor kontruksi merupakan sektor yang tidak efisien ketiga dengan angka ICOR sebesar 8.5222, yang berarti agar produksi sektor kontruksi naik satu miliar dibutuhkan investasi senilai 8.5222 miliar. Ketiga sektor, yakni: sektor industri pengolahan; sektor listrik, gas dan air bersih; serta sektor kontruksi, menjadi tidak efisien bisa jadi karena sektor-sektor tersebut merupakan sektor yang padat kapital. Sektor industri pengolahan, merupakan sektor yang menarik investasi paling besar dibanding sektor sektor yang lain. Pada tahun 2007, investasi yang ditanamkan pada sektor industri pengolahan mencapai Rp.218.747.033.400.000. Setelah mencapai nilai investasi yang sangat besar pada tahun

61

Lucky R, Hendry C dan Riza, Analisis Kebutuhan Investasi Sektoral Jawa Timur

2007, kemudian nilai investasi di sektor pengolahan menurun pada tahun-tahun berikutnya Sektor Pertambangan & Penggalian memiliki angka ICOR sebesar 1.7285, yang berarti agar produksi sektor Pertambangan & Penggalian naik sebesar satu miliar dibutuhkan investasi senilai 1.7285 miliar. Sektor Perdagangan, Hotel & Restauran memiliki angka ICOR sebesar 1.2195, yang berarti agar produksi sektor Pertambangan & Penggalian naik sebesar satu miliar dibutuhkan investasi senilai 1.2195 miliar. Sektor Jasa-jasa memiliki angka ICOR sebesar 0.6050, yang berarti agar produksi sektor Jasa-jasa naik sebesar satu miliar dibutuhkan investasi senilai 0.6050 miliar. Sektor Pertanian memiliki angka ICOR sebesar 0.1475, yang berarti agar produksi sektor Pertanian naik sebesar satu miliar dibutuhkan investasi senilai 0.1475 miliar. Sektor Pengangkutan & Komunikasi memiliki angka ICOR sebesar 0.0015, yang berarti agar produksi sektor Pengangkutan & Komunikasi naik sebesar satu miliar dibutuhkan investasi senilai 0.0015 miliar. Sektor Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan memiliki angka ICOR sebesar 0, nilai ICOR tersebut dihasilkan karena pada periode tahun 2006 hingga tahun 2010 tidak ada investasi yang ditanamkan pada sektor ini. Kelima sektor, yakni: sektor pertanian; sektor pertambangan dan penggalian; sektor perdagangan, hotel dan restauran; sektor pengangkutan dan komunikasi; serta sektor jasa-jasa, menjadi efisien bisa jadi karena sektor-sektor tersebut merupakan sektor yang padat karya.. 5.3 Kebijakan Investasi Sektoral di Propinsi Jawa Timur Berdasarkan perhitungan ICOR, para investor dapat memilih sektor mana yang berpeluang untuk investasi. Sektor-sektor yang efisien dapat dipilih sebagai alternatif sektor untuk investasi, karena sektor-sektor tersebut dengan sedikit saja nilai investasi akan dapat meningkatkan produksi pada sektor tersebut. Peluang di sektor-sektor tersebut masih terbuka luas. Pada sektor pertanian misalnya, selama ini masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jawa Timur pada khususnya masih banyak yang menggunakan alat-alat sederhana/tradisional untuk memproduksi padi, padahal permintaan akan beras masih banyak. Permintaan beras yang banyak, sedangkan penawaran akan beras yang sedikit, memaksa pemerintah untuk mengimpor beras dari luar negeri, misalnya Thailand. Investor dapat tertarik untuk berinvestasi di sektor pertanian, karena peluang usaha ini terbuka lebar. Hal tersebut karena permintaan akan beras tidak dapat terpenuhi hanya dari penawaran dari dalam negeri. Untuk meningkatkan produksi pertanian, tidak hanya memerlukan input produksi tanah dan tenaga kerja saja, akan tetapi input teknologi juga dapat dikembangkan untuk meningkatkan produksi. Peran investor adalah untuk berinvestasi pada input teknologi, sehingga produksi padi meningkat. Input teknologi disini tidak berarti bahwa peralihan padat karya ke padat modal, tetapi perpaduan antara padat karya dan padat modal yang bersinergi membentuk pertumbuhan ekonomi yang tinggi demi kesejahteraan bersama. Negara Jepang misalnya, sektor pertaniannya maju walaupun mereka tidak memiliki lahan yang luas, akan tetapi masyarakat Jepang kreatif menciptakan ide-ide teknologi pertanian untuk meningkatkan produksinya. Keadaan yang sama juga berlaku pada sektor-sektor efisien yang lainnya, baik sektor pertambangan dan penggalian; sektor perdagangan, hotel dan restauran; sektor pengangkutan dan komunikasi; serta sektor jasa-jasa. Peluang investor untuk sektorsektor tersebut masih terbuka lebar, karena potensi yang dimiliki Jawa Timur masih terbuka lebar. Perpaduan antara padat karya (labor intensif) dan padat modal (kapital 62

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

intensif), akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan hasil produksi yang semakin meningkat. Potensi Jawa Timur yang besar dan belum dapat digali secara optimal, membutuhkan investasi untuk pengembangan Jawa Timur ke depan. Peran serta masyarakat di era otonomi daerah sangat dibutuhkan, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Konsep partisipatif seharusnya dapat dijalankan, dengan memberi peranan masyarakat dalam kepemerintahan (governance) dan perumusan rencana pembangunan daerah. Kemudahan proses ijin usaha diperlukan untuk menarik para investor menanamkan investasinya di Jawa Timur.

6.

Kesimpulan Kondisi iklim investasi di Indonesia pada umumnya dan Jawa Timur pada khususnya masih belum terlalu kondusif. Investasi daerah Jawa Timur dapat dikategorikan tidak efisien tetapi masih baik. Terdapat tiga sektor yang tidak efisien, yakni: sektor industri pengolahan; sektor listrik, gas dan air bersih; serta sektor kontruksi, sedangkan lima sektor yang efisien, yakni: sektor pertanian; sektor pertambangan dan penggalian; sektor perdagangan, hotel dan restauran; sektor pengangkutan dan komunikasi; serta sektor jasa-jasa. Selain delapan sektor tersebut, terdapat satu sektor yang tidak menyerap investasi yakni sektor Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan. Kepercayaan dunia bisnis terhadap iklim investasi Indonesia pada umumnya dan Jawa Timur pada khususnya perlu segera diadakan perbaikan. Salah satu cara untuk meningkatkan minat investor adalah dengan pemahaman peluang bisnis di Jawa Timur. Melalui perhitungan ICOR daerah dan ICOR sektoral di Jawa Timur, maka investor dapat mengetahui kebutuhan investasi Jawa Timur dan peluang investasi apa yang akan dilakukan di Jawa Timur. Saran yang disampaikan dari hasil penelitian ini : peran serta masyarakat di era otonomi daerah sangat dibutuhkan, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. Konsep partisipatif seharusnya dapat dijalankan, dengan memberi peranan masyarakat dalam kepemerintahan (governance) dan perumusan rencana pembangunan daerah. Kemudahan proses ijin usaha diperlukan untuk menarik para investor menanamkan investasinya di Jawa Timur.

Daftar Referensi Terpilih

Badan Pusat Statistik. 2010. Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Propinsi Jawa Timur tahun 2011, pemerintah Propinsi Jawa Timur. Kuncoro, Mudrajad. 2009. Ekonomi Indonesia. Jakarta: Erlangga Wikipedia, 2011. Pengertian Pembangunan Ekonomi, (http://id.wikipedia.org/wiki/Pertumbuhan_ekonomi). melalui

63

Lucky R, Hendry C dan Riza, Analisis Kebutuhan Investasi Sektoral Jawa Timur

64