Está en la página 1de 39

The press may not be succesful much of the time in telling people what to think, but it is stunningly succesful

in telling its readers what to think about. Media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi agenda media kepada agenda publik. Teori Agenda Setting didasari oleh asumsi demikian. Teori ini sendiri dicetuskan oleh Profesor Jurnalisme Maxwell McCombs dan Donald Shaw. Menurut McCombs dan Shaw, we judge as important what the media judge as important. Kita cenderung menilai sesuatu itu penting sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Jika media massa menganggap suatu isu itu penting maka kita juga akan menganggapnya penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri kita, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali. Denis McQuail (2000: 426) mengutip definisi Agenda Setting sebagai process by which the relative attention given to items or issues in news coverage infulences the rank order of public awareness of issues and attribution of significance. As an extension, effects on public policy may occur. Walter Lipmann pernah mengutarakan pernyataan bahwa media berperan sebagai mediator antara the world outside and the pictures in our heads. McCombs dan Shaw juga sependapat dengan Lipmann. Menurut mereka, ada korelasi yang kuat dan signifikan antara apa-apa yang diagendakan oleh media massa dan apa-apa yang menjadi agenda publik. Awalnya teori ini bermula dari penelitian mereka tentang pemilihan presiden di Amerika Serikat tahun 1968. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa ada hubungan sebab-akibat antara isi media dengan persepsi pemilih. McCombs dan Shaw pertama-tama melihat agenda media. Agenda media dapat terlihat dari aspek apa saja yang coba ditonjolkan oleh pemberitaan media terebut. Mereka melihat posisi pemberitaan dan panjangnya berita sebagai faktor yang ditonjolkan oleh redaksi. Untuk surat kabar, headline pada halaman depan, tiga kolom di berita halaman dalam, serta editorial, dilihat sebagai bukti yang cukup kuat bahwa hal tersebut menjadi fokus utama surat kabar tersebut. Dalam majalah, fokus utama terlihat dari bahasan utama majalah tersebut. Sementara dalam berita televisi dapat dilihat dari tayangan spot berita pertama hingga berita ketiga, dan biasanya disertai dengan sesi tanya jawab atau dialog setelah sesi pemberitaan. Sedangkan dalam mengukur agenda publik, McCombs dan Shaw melihat dari isu apa yang didapatkan dari kampanye tersebut. Temuannya adalah, ternyata ada kesamaan antara isu yang dibicarakan atau dianggap penting oleh publik atau pemilih tadi, dengan isu yang ditonjolkan oleh pemberitaan media massa. McCombs dan Shaw percaya bahwa fungsi agenda-setting media massa bertanggung jawab terhadap hampir semua apa-apa yang dianggap penting oleh publik. Karena apa-apa yang dianggap prioritas oleh media menjadi prioritas juga bagi publik atau masyarakat.

Akan tetapi, kritik juga dapat dilontarkan kepada teori ini, bahwa korelasi belum tentu juga kausalitas. Mungkin saja pemberitaan media massa hanyalah sebagai cerminan terhadap apa-apa yang memang sudah dianggap penting oleh masyarakat. Meskipun demikian, kritikan ini dapat dipatahkan dengan asumsi bahwa pekerja media biasanya memang lebih dahulu mengetahui suatu isu dibandingkan dengan masyarakat umum. News doesnt select itself. Berita tidak bisa memilih dirinya sendiri untuk menjadi berita. Artinya ada pihak-pihak tertentu yang menentukan mana yang menjadi berita dan mana yang bukan berita. Siapakah mereka? Mereka ini yang disebut sebagai gatekeepers. Di dalamnya termasuk pemimpin redaksi, redaktur, editor, hingga jurnalis itu sendiri. Dalam dunia komunikasi politik, para calon presiden biasanya memiliki tim media yang disebut dengan istilah spin doctor. Mereka berperan dalam menciptakan isu dan mempublikasikannya melalui media massa. Mereka ini juga termasuk ke dalam gatekeeper tadi. Setelah tahun 1990an, banyak penelitian yang menggunakan teori agenda-setting makin menegaskan kekuatan media massa dalam mempengaruhi benak khalayaknya. Media massa mampu membuat beberapa isu menjadi lebih penting dari yang lainnya. Media mampu mempengaruhi tentang apa saja yang perlu kita pikirkan. Lebih dari itu, kini media massa juga dipercaya mampu mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir. Para ilmuwan menyebutnya sebagaiframing. McCombs dan Shaw kembali menegaskan kembali tentang teori agenda setting, bahwa the media may not only tell us what to think about, they also may tell us how and what to think about it, and perhaps even what to do about it (McCombs, 1997). Daftar Pustaka: Griffin, Emory A., A First Look at Communication Theory, 5th edition, New York: McGraw-Hill, 2003, p.390402 McQuail, Denis, Mass Communication Theory, 4th edition, Thousand Oakes: Sage, 2000

Teori Media dan Muatan Politik 2012 JANUARY 2 tags: berita, informasi, komunikasi politik, Selanjutnya Lane,Sementara Almond, televisi by achmad sulfikar Banyak teori yang mengungkap keterkaitan berita politik di media dengan keinginan melakukan sosialisasi politik yang dilakukan politisi, yang pada giliran selanjutnya akan bertujuan untuk mempengaruhi khalayak.

Kavanach, memberikan batasan bahwa sosialisasi politik di sini adalah batasan untuk menggambarkan proses di mana individu mempelajari dan mengembangkan orientasi politik (Kavanach, 1972). Sementara Almond, mendefinisikan sosialisasi politik dengan menekankan pada pembentukan nilai-nilai politik, sehingga menjadi pedoman untuk berpartisipasi dalam sistem politik. sosialisasi politik merupakan bagian dari proses sosialisasi yang khusus membentuk nilai-nilai politik, yang menunjukkan bagaimana seharusnya masing-masing anggota masyarakat berpartisipasi dalam sistem politiknya (Almond dalam Masoed dan McAndrews, 1986: 76).

Dilihat dari obyek sosialisasi politik, Almond menunjukkan sosialisasi politik merupakan sarana bagi suatu generasi untuk mewariskan patokan-patokan dan keyakinankeyakinan politik pada generasi muda (Almond, dalam Masoed dan McAndrews, 1986). Dari pengertian di atas, terdapat kesamaan, yaitu : Pertama, sosialisasi politik dipahami sebagai suatu proses pewarisan; kedua, pewarisan tersebut berupa nilai-nilai, pengetahuan-pengetahuan, keyakinan dan pandangan politik; ketiga, pewarisan tersebut dari generasi ke generasi yang lebih muda dalam masyarakat. Pada akhirnya nilai-nilai, pengetahuan-pengetahuan, keyakinan-keyakinan dan pandangan politik tersebut akan membentuk sikap dan pola tingkah laku politik tertentu. Lebih lanjut Almond, menunjukkan hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai proses sosialisasi politik ini. Pertama, sosialisasi itu berjalan terus menerus selama hidup seseorang. Kedua, sosialisasi politik berwujud transmisi dan pengajaran yang langsung maupun tidak langsung. Sosialisasi bersifat langsung kalau melibatkan komunikasi informasi, nilai-nilai, atau perasaan-perasaan mengenai politik secara eksplisit. Sedangkan sosialisasi tak langsung terutama sangat kuat berlangsung di masa kanak-kanak (Almond, dalam Masoed dan McAndrews, 1986). Sosialisasi berlangsung melalui beberapa agen sosialisasi antara lain media massa. Sebagai sarana sosialisasi politik, Almond, mengatakan bahwa;

di samping memberikan informasi tentang peristiwa-peristiwa politik, media massa juga menyampaikan secara langsung maupun tidak langsung nilai-nilai utama yang dianut oleh masyarakat. Selain itu media massa juga mampu mengembangkan dialog tentang hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan politik. Senada dengan itu, Chaffee, mengungkapkan bahwa; media massa sebagai suatu sumber informasi politik yang penting bukan merupakan sekedar pelengkap komunikasi interpersonal, tetapi mendukung pertumbuhan politik seseorang. Beberapa kesimpulan dari penelitian yang diadakan tentang pengaruh media massa terhadap tingkat sosialisasi politik kaum muda, Chaffee, mencatat: (1) media massa merupakan sumber-sumber informasi politik yang prinsipil bagi kaum muda; (2) media massa dominan dalam political learning yaitu surat kabar, televisi. Dukungan relatif kedua media ini sesuai dengan usia dan status sosial ekonomi; (3) kaum muda menandai pengaruh media massa yang seimbang pada pendapat politik (Chaffee, dalam Renshon, 1977). Sedangkan menurut Lane, untuk penyebarluasan berita-berita politik, termasuk mengenai pemilihan umum, bertujuan untuk memberikan informasi yang berkaitan dengan pemilihan umum kepada para pembaca/pendengar/pemirsa, agar ikut dalam kegiatan pemilihan umum (Lane, 1959). Media massa memegang peranan sangat strategis sebagai agen sosialisasi politik dalam kaitannya dengan pemilihan umum. Adapun pengaruh agen sosialisasi politik tergantung pada kredibilitas media massa yaitu tingkat kepercayaan khalayak terhadap berita-berita yang disajikan media massa. Demikian juga tentang pandangan khalayak terhadap manfaat dalam berita yang dimuat dalam media itu sendiri. Selanjutnya Lane, mengungkapkan bahwa sehubungan dengan terpaan materi politik melalui media massa, mengklasifikasikan sesuai dengan: (a) intensitas dan kepentingan (interest) seseorang terkena terpaan; (b) kedangkalan atau kedalaman dalam membaca, mendengar atau melihat media; (c) jumlah media yang dimanfaatkan; (d) bagaimana cara memperoleh media tersebut, misalnya untuk surat kabar adalah dengan berlangganan tetap atau membeli eceran (Lane, 1969). Hal-hal di atas menunjukkan bahwa peranan komunikasi politik dalam proses sosialisasi politik di tengah warga masyarakat cukup besar. Dapat juga dikatakan bahwa komunikasi politik pada hakikatnya berfungsi sebagai suatu proses sosialisasi bagi anggota masyarakat yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam berbagai aktifitas politik tersebut.

Agenda Media dalam Komunikasi Massa 2011 DECEMBER 28 by achmad sulfikar Ketika suatu komunitas membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan politik, maka peranan media massa tidak dapat diabaikan. Sebagai media pesan politik, media massa mampu mempengaruhi pembentukan struktur sosial maupun partisipasi masyarakat untuk menciptakan sistem politik yang lebih demokratis. Peranan ini menempatkan media massa sebagai saluran komunikasi politik. Sanders dan Kaid (1978) melalukan review atas beberapa penelitian komunikasi politik dan menyimpulkan bahwa : Aspek politik dari media komunikasi massa cukup penting untuk dipahami karena secara faktual aspekaspek tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari media massa itu sendiri. Media massa sebagai kekuatan keempat diakui memiliki kemampuan untuk mempengaruhi khalayak. Dalam konteks komunikasi politik, penelaahan yang terperinci mengenai potensi yang dimiliki media komunikasi massa (sebagai salah satu cerminan aspek politik yang melekat pada dirinya) perlu dilakukan. Kekuatan media menurut Gurevitch dan Blumler bersumber pada tiga hal yakni struktural, psikologis dan bersifat normatif. Akar struktural kekuatan media massa bagi para politisi, ukuran dan komposisinya tidak akan diperoleh pada jenis media lain, dalam memperoleh jumlah besar khalayak. Secara historis pun, meningkatnya peran media massa dalam politik antara lain terletak pada pelibatan khalayak sampai pada tingkat tertentu, yang umumnya telah berhasil mengatasi hambatan yang sebelumnya dihadapi: misalnya, rendahnya tingkat pendidikan, dan tipisnya minat pada politik. Sedangkan akar pada psikologis dari kekuatan media bersumber pada hubungan kepercayaan (credibility) dan keyakinan yang berhasil diperoleh (dengan tingkat berbeda) oleh orang dari anggota khalayaknya masing-masing. Media massa memiliki instrumen teknologi yang independen, yang produknya dapat menjangkau ke tengah-tengah masyarakat dalam jumlah yang besar. Ada pertentangan di kalangan para ahli mengenai pengaruh mana yang lebih besar antara surat kabar dan televisi pada agenda setting. Beberapa studi menunjukkan bahwa surat kabar ternyata lebih penting dalam agenda setting. Indikasi lain menunjukkan bahwa surat kabar hanya pada tahap awal, selanjutnya televisi yang berperan besar. Sebuah ulasan menyajikan bahwa televisi memiliki pengaruh yang bisa dipertimbangkan, sedangkan di pihak lainnya mengemukakan pandangan bahwa banyak kasus di surat kabar dijadikan sebagai agenda.

Ada beberapa sifat dari masing-masing media tersebut. Pada media massa cetak, pesan umumnya dapat didokumentasikan. Pada televisi, ada beberapa kelebihan yang tidak terdapat pada media cetak. Informasi yang disajikan lewat televisi menjadi lebih hidup dengan adanya visualisasi lewat penayangan gambar-gambar hidup dan bergerak. Yang hampir dapat disamakan adalah bahwa apa yang kita baca di surat kabar maupun yang kita saksikan di televisi, tak lebih merupakan realitas kedua (second hand reality). Ini berarti bahwa apa yang kita dapatkan dari media merupakan hasil pengolahan atas realitas yang sesungguhnya. McLuhan menyebutkan bahwa media merupakan perpanjangan dari alat indera kita. Khususnya dalam surat kabar dapat dipertegas terjadinya proses gatekeeping yang berusaha menyeleksi berita atau informasi yang disajikan kepada khalayak. Sedangkan khalayak memperoleh informasi tersebut sematamata berdasarkan apa yang ada di media tersebut. Dalam konteks ini, media massa mempengaruhi persepsi khalayak. Dalam surat kabar, agenda media berkaitan dengan agenda masyarakat (public agenda). Agenda publik dapat saja diketahui dari pertanyaan tentang apa yang masyarakat pikirkan, apa yang dibicarakan dengan orang lain, dan apa yang mereka anggap sebagai masalah yang menarik perhatian masyarakat (community saliance). Media massa turut berperan dalam proses sosialisasi dari satu generasi ke generasi berikutnya. McQuail juga mengatakan bahwa institusi media menyelenggarakan produksi, reproduksi dan distribusi pengetahuan yakni dalam artian serangkaian simbol mengenai pengalaman kehidupan sosial. Dalam melihat fungsi penyebaran dari media maka akan ditelaah mengenai pengaruh dan dampak dari media massa pada khalayaknya. Besar kecilnya pengaruh dan dampak dari media massa dapat diamati berdasarkan besar kecilnya ketergantungan terhadap media tersebut. Berdasarkan teori ketergantungan media dari DeFleur dan Ball Rokeach, media adalah suatu sub sistem di dalam suatu sistem yang lebih besar yang saling berinteraksi. Jenis hubungan yang terjadi yaitu antara sistem sosial, sistem media, dan khalayak dapat kooperatrif atau kompetitif dan dapat berubah atau tetap). Respons yang timbul pada khalayak akibat adanya stimuli dari sistem media, dapat berupa perubahan pengetahuan, sikap atau tingkah laku. Semula akibat proses komunikasi, dalam hal ini media massa, diduga dapat mempengaruhi khalayak secara langsung. Ini yang sering disebut sebagai hyphodermic needle yang menganggap bahwa setiap pesan yang disebarkan akan secara langsung dan segera mendapat respon dari penerimanya. Hal ini mulai diperkenalkan oleh Lazarsfeld melalui konsepnya two step flow of communication, yakni bahwa penyebaran inovasi tidak secara langsung dari media massa pada individu-individu, tetapi terlebih dulu diterima oleh pemuka pendapat dan disampaikan kepada anggota kelompoknya . Implikasinya adalah bahwa peran media tidak dapat secara langsung mengubah tingkah laku khalayak. Menurut Schramm, media massa hanya dapat menumbuhkan kesadaran dan pengetahuan, sedangkan komunikasi interpersonal dianggap efektif dalam mengubah tingkah laku. Oleh karena terpaan-terpaan

tersebut sangat mempengaruhi pembentukan pengetahuan, sikap dan tingkah laku (knowledge, attitude, dan practice). Sementara Atkin, mencatat bahwa kriteria sosialisasi dikategorikan ke dalam dimensi-dimensi kognitif, afektif dan behavioral. Secara khusus efek kognitif mencakup kesadaran dan pengetahuan yang diperoleh dari isi media berita. Efek afektif mencakup tingkat evaluasi mengenai aktor politik, lembagalembaga, kepentingan dalam masalah publik. Efek behavioral mencakup kegiatan komunikasi antarpersona mengenai materi politik, partisipasi dalam kampanye maupun pemilihan umum. Dari hasil evaluasi beberapa penelitian yang berhubungan dengan efek kognitif, Atkin, menyimpulkan bahwa media massa menghasilkan dampak yang penting pada aspek kognitif. Sedangkan pada efek afektif, media massa secara signifikan mempengaruhi orientasi afektif, walaupun dampaknya tidak sebesar orientasi kognitif. Variabel-variabel yang biasanya banyak dipengaruhi oleh exposure berita adalah interest, sikap terhadap pemimpin, pendapat tentang isu-isu, identifikasi pada partai, yang kesemuanya itu sulit untuk diubah. Seperti apa yang dikemukakan Atkin, informasi dari media massa mempengaruhi perubahan kognisi, hal ini berarti perubahan tingkat pengetahuan akibat frekuensi terpaan informasi media massa. Dalam hubungan ini Rogers dan Shoemaker membagi tipe pengetahuan menjadi 3, yaitu: pengetahuan sadar kenal atau awareness knowledge; pengetahuan teknis atau how to knowledge; dan pengetahuan prinsip atau principle knowledge. Mengacu pada pendapat Rogers dan Shoemaker, maka terpaan informasi dari media massa berhubungan dengan jenis pengetahuan yang dikemukakan. Jenis pengetahuan ini tidak lain merupakan tingkatan pengetahuan yang dimiliki khalayak. Pengetahuan sadar kenal khalayak adalah saat khalayak menyadari adanya informasi politik tetapi belum memiliki pengetahuan yang lebih mendalam; pengetahuan teknis, khalayak memiliki pengetahuan yang lebih mendalam mengenai informasi politik yang diterima dari media massa. Hal ini barangkali diakibatkan frekuensi terpaan media lebih tinggi, dan juga kelengkapan informasi yang disampaikan lebih baik. Sedangkan yang terakhir adalah pengetahuan prinsip, khalayak memiliki pengetahuan tentang informasi politik yang diterima dari media massa paling lengkap. Oleh karena itu kesenjangan tingkat pengetahuan ini terjadi pada khalayak media massa, terdapat kelompok khalayak yang memiliki tingkat pengetahuan tinggi dan juga terdapat kelompok khalayak yang memiliki tingkat pengetahuan rendah. Dalam kaitannya dengan agenda media terutama dalam kapasitasnya membentuk opini publik dapat dikatakan dengan beberapa teori yang relevan yaitu teori Agenda setting. Teori agenda setting memiliki tiga dimensi utama yang dikemukakan oleh Mannhem (Severin dan Tankard, Jr : 1992) 1) Agenda media a) Visibility (visibilitas), jumlah dan tingkat menonjolnya berita.

b) Audience Salience (tingkat menonjol bagi khalayak), relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak. c) Valence (valensi), menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa. 2) Agenda Khalayak a) Familiarty (keakraban), derajat kesadaran khalayak akan topik tertentu. b) Personal salience (penonjolan pribadi), relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi. c) Favorability (kesenangan), pertimbangan senang atau tidak senang akan topik berita. 3) Agenda Kebijakan a) Support (dukungan), kegiatan menyenangkan bagi posisi berita tertentu. b) Likehood of action (kemungkinan kegiatan), kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan. c) Freedom of action (kebebasan bertindak), nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah. Sedangkan Asumsi-asumsi dasar teori Agenda Setting yaitu: - Khalayak tidak hanya mempelajai isu-isu pemberitaan, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting diberikan pada suatu isu atau topik berdasarkan cara media massa memberikan penekanan terhadap isu atau topik tersebut. - Media massa mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. 2. Peran Media 1) Fungsi Informatif, yang dimaksud fungsi informatif adalah kommas menyediakan informasi tentang peristiwa yang terdapat di dalam masyarakat, baik nasional maupun Internasional. Fungsi informasi menyangkut berbagai bidang, semua peristiwa bias menjadi sumber berita; politik, ekonomi, kesehatan, Iptek, dll. 2) Fungsi Mendidik, fungsi kommas yang lain adalah mendidik masyarakat. Komunikasi massa mendidik masyarakat untuk berpikir kritis dan memiliki pengetahuan yang luas. 3) Fungsi Menghibur, acara-acara hiburan seperti film, musik, komedi yang lebih banyak diminati 4) Fungsi Meyakinkan; mengukuhkan sikap, menjadikan kepercayaan, sikap, nilai dan opini seseorang semakin kuat. Mengubah sikap, mengubah sikap seseorang yang netral agar mengikuti kehendak pihakpihak tertentu melalui tayangan-tayangan atau tulisan-tulisan media massa. Menggerakkan, dilihat dari sudut pandang pemasang iklan, fungsi terpenting dari media adalah menggerakkan para konsumen untuk bertindak (membeli). Menawarkan etika atau sistem nilai tertentu; dengan mengungkapkan

secara terbuka adanya penyimpangan tertentu dari suatu norma yang berlaku, media merangsang masyarakat untuk mngubah situasi. 5) Meningkatkan Aktivitas Politik, dengan seringnya seseorang mengkonsumsi media massa baik cetak maupun elektronik maka pengetahuannya akan bertambah, tak terkecuali dalam bidang politik, sehingga dapat meningkatkan kesadaran mereka untuk melakukan aktivitas politik (Mc Quail, 2000). Sumber : jurnal.bl.ac.id/wp-content/uploads/ 2007/04/blcom-03-vol2-no2-april20071.pdf Industri Citra dan Setting Agenda dalam Komunikasi Politik Pola komunikasi politik modern telah berkembang secara dramatis. Perkembangan demi perkembangan telah memperlihatkan bahwa komunikasi politik tidak berhenti di era tahun 80-an, melainkan terus berkembang bersamaan dengan dinamika politik modern. Demikian juga apabila kita mengamati perkembangan politik dan model komunikasi politik di Indonesia. Salah satu teman saya yang juga ingin menjadi pengamat politik yang handal, memberikan komentar mengenai gejala komunikasi politik kontemporer Indonesia. Gungun Heryanto dalam kupasannya menyebutkan: "....Fase pemanasan (warming up) dalam rivalitas politik nasional selama masa kampanye tahun ini, segera akan berganti the real war seiring tibanya tahun 2009. Berbagai manuver, intrik, managemen konflik serta strategi promosi dan pencitraan diri dalam realitas simbolik media baik lini atas (above line media) maupun lini bawah (below line media) akan semakin kompetitif dan memanas. Tahun depan, bangsa Indonesia akan memasuki turbulensi politik, sebagai dampak pertarungan meraih otoritas kekuasaan baik di legislatif maupun pemilihan presiden. Kampanye, menjadi instrumen yang memainkan peran penting dalam memandu kesadaran khalayak pada sosok dan citra diri kandidat. Batas waktu kampanye yang lebih panjang dibanding Pemilu 2004, memberi kesempatan para kandidat baik capres, caleg maupun partai politik untuk secara bebas memasuki relung kesadaran khalayak politik melalui pemasaran politik yang terkonsep. Namun, kampanye juga bisa menjadi alat ampuh manipulasi kesadaran politik, dan mensubordinasikan khalayak dalam situasi tuna kuasa tanpa literasi politik yang memadai. Data-data (Majalah Cakram, 2008) berikut bisa dipakai untuk menggambarkan pernyataan di atas bahwa sekarang kompetisi iklan politik telah menjadi gejala yang nampak secara jelas. Pada pemilu 2004, PDIP paling banyak mengeluarkan dana iklan, yaitu sekitar Rp 39,258 miliar. Selanjutnya, diikuti Partai Golkar (Rp21,725 miliar), Partai Karya Peduli Bangsa (Rp6,858 miliar), Partai Amanat Nasional (Rp6,854 miliar), Partai Demokrat (Rp6,257 miliar). Dalam daftar sepuluh besar parpol terbesar yang mengeluarkan dana iklan di media juga terdiri dari Partai Persatuan Pembangunan, PKS, PKB, Partai Bintang Reformasi dan Partai Persatuan Daerah. Sedangkan di urutan bawah belanja iklan parpol di media tercatat, Partai Buruh Sosial Demokrat (Rp76,06 juta), Partai PNUI (Rp158,48 juta), Partai Pelopor (Rp. 169,995 miliar) dan Partai Merdeka (Rp. 206,92 miliar). Televisi adalah media yang paling banyak menelan dana iklan parpol, yaitu sekitar Rp. 75,434 miliar. Selanjutnya diikuti media cetak (Rp. 35,184 miliar) dan radio (Rp. 2,163 miliar).

Menjelang pemilu 2009, iklan sosok Ketua Umum Gerindra Mayjen (purn) Prabowo Subianto, Ketua Umum Hanura Jenderal (purn) Wiranto, dan yang yang terbaru muncul adalah iklan Partai Demokrat dengan SBY sebagai ikonnya serta PKS dengan tema: Menuju Indonesia Bersih dan Peduli, tak pelak membuat masyarakat dihadapkan pada begitu banyak visi-misi partai yang semuanya memberikan harapan kepada masyarakat. Sampai dengan saat ini, iklan Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir berada pada posisi terdepan. Dalam sehari iklan SB bisa tayang 180 kali. Padahal iklan pada jam-jam utama (prime time) bertarif sekitar Rp 20 juta per slot (30 detik) sekali tayang. Sedangkan biaya iklan berdurasi 60 detik bisa mencapai Rp 7,2 miliar per hari. Sampai dengan saat ini sudah berpuluh kali iklan tersebut ditayangkan. Itu belum termasuk spanduk-spanduk atau billboard yang terdapat di daerah-daerah. Berdasarkan penelitian lembaga survei AC Nielsen Media Research Indonesia, total belanja iklan politik selama Januari hingga Juni 2008 mencapai Rp 769 miliar. Sedangkan, belanja iklan secara umum pada rentang waktu yang sama adalah Rp 19,6 triliun atau naik 24 persen dibanding tahun lalu sebesar Rp 15,8 triliun. Peningkatan belanja iklan itu awalnya disumbangkan oleh dua produk, yakni telekomunikasi (Rp 1,9 triliun) dan otomotif (Rp 850 miliar. Namun, iklan politik turut memberi kontribusi dengan nilai Rp 769 miliar. Media surat kabar atau koran masih menjadi pilihan favorit bagi pemasang iklan sehingga pertumbuhannya masih tertinggi, yakni 38 persen. Disusul majalah (24 persen) dan televisi (17 persen). Sedangkan dari segi pendapatan, televisi masih mendapat perolehan uang tertinggi, mencapai Rp 12 triliun, lalu koran sebesar Rp 6,7 triliun dan majalah hanya sebesar Rp 4 triliun. Tentu saja yang menangguk keuntungan adalah pengelola media massa. Tetapi jangan juga dilupakan perusahaan periklanan dan konsultan politik. Ada beberapa nama yang sering muncul sebagai perusahaan periklanan spesialis iklan politik antara lain Fox Indonesia milik Rizal Mallarangeng yang didirikan 1 Februari 2008, disebut pula Hotline Advertising yang menangani iklan SBY dan Demokrat pada Pemilu tahun 2004 lalu. Dengan deretan data di atas, terlihat bahwa para pelaku dan para manajer kampanye partai politik memperlihatkan kepercayaan kepada media massa. Meski sebenarnya, ada beberapa teori yang memang mengatakan bahwa kampanye di media massa, apapun itu bentuknya berdampak sangat kecil terhadap preferensi pemilih. Dari sebuah penelitian oleh Lazarfeld dan Menzel, ada kesimpulan bahwa orang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan antar pribadinya dalam menentukan keputusan politiknya dari pada dipengaruhi oleh hubungan politiknya daripada dipengaruhi oleh media massa. (2003:120) Seorang tokoh komunikasi politik, Klapper, mengatakan bahwa pemberitaan kampanye atau berita-berita yang terkait dengan pasangan calon sebenarnya tidak akan mengubah pilihan pemilih. Pemberitaan mengenai pasangan calon dan kegiatan kampanye mereka berguna untuk memperteguh keyakinan bukan mengubah pilihan. Klapper mengatakan dalam kampanye politik lewat media massa, orang yang pandangan aslinya diperteguh ternyata jumlahnya 10 kali daripada orang yang pandangannya berubah. Kalaupun terjadi perubahan pandangan, itu merupakan peneguhan tidak langsung dalam arti orang yang

bersangkutan merasa tidak puas dengan pandangan awalnya sebelum pandangannya berubah. (1999:94) Berkaitan dengan pernyataan di atas maka, jika mau jujur, permasalahan media sesungguhnya bukan terletak pada bagaimana mengisi halaman demi halaman, segmen demi segmen dengan informasi yang harus disajikan secara berkelanjutan kepada khalayak. Sebab setiap hari ada begitu banyak isu dan peristiwa yang muncul dalam kehidupan publik. Ruang untuk melaporkan dan mengurai isu maupun peristiwa itu justru yang terbatas. Yang lebih relevan untuk diidentifikasi sebagai masalah media adalah bagaimana memilih, memilah dan mengolah luberan isu dan peristiwa itu (dalam hal ini para pelaku politik atau institusi politik) ? Bagaimana media merumuskan strategi pemberitaan di antara begitu banyak obyek pemberitaan atau lebih khusus adalah objek iklan politik ? Seberapa jauh media akan mengangkat satu persoalan, sementara persoalan-persoalan baru bermunculan? Di sinilah kita perlu berbicara tentang agenda setting. Agenda setting adalah upaya media untuk membuat pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa (Littlejohn, 2008:293294). Ada strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Idealnya, media tak sekedar menjadi sumber informasi bagi publik. Namun juga memerankan fungsi untuk mampu membangun opini publik secara kontinu tentang persoalan tertentu, menggerakkan publik untuk memikirkan satu persoalan secara serius, serta mempengaruhi keputusan para pengambil kebijakan. Di sinilah kita membayangkan fungsi media sebagai institusi sosial yang tidak melihat publik semata-mata sebagai konsumen. Berkembangnya opini publik dalam sebuah tatanan masyarakat tidak terlepas dari peran media massa. Harus disadari media massa sebagai salah satu pilar (estate) negara juga mempunyai agenda untuk menciptakan opini publik (Schutson, 1999). Agenda yang lazim disebut agenda media ini harus dilihat sebagai sebab, mengapa sebuah kasus di-blow up di media massa. Banyak media berpendapat, pemberitaan kepada khalayak itu didasari oleh hak untuk tahu bagi masyarakat. Seiring dengan kebebasan pers yang kini sudah dirasakan media massa Indonesia, kita cuma berharap bahwa media massa dapat berlaku profesional. Artinya, berbagai pemberitaan tersebut harus benarbenar dilandasi agenda media untuk melayani hak untuk tahu masyarakat (Lichtenberg, 1990: 102136) . Mencermati agenda media di Indonesia, kita harus melihat media sebagai kekuatan yang tidak mungkin berpihak pada siapa pun. Hal ini seharusnya membuat media bebas dari nilai (neutral value). Walaupun adalah suatu kenyataan bahwa sistem bebas nilai (neutral value) itu akan selalu bersinggungan dengan permainan politik, bahkan di negara dan masyarakat paling demokratis sekalipun. Pernyataan-pernyataan di atas adalah pernyataan yang melandasi dan menjadi titik tolak refleksi ini. Titik tolak refleksi perspektif komunikasi dan politik adalah wilayah kekuasaan. Permasalahan kekuasaan dan bagaimana kekuasaan itu dimanfaatkan adalah pola yang jamak terjadi dalam politik. Mengutip Gungun Heryanto lagi: Politik kerap kali didefinisikan sebagi who gets what and when. Sebuah upaya untuk mencapai kekuasaan, yang sejatinya memang mengiurkan setiap orang. Tak bisa dimungkiri, Bangsa Indonesia yang sudah bersepakat untuk belajar demokrasi melalui pemilihan langsung baik di tingkat pusat maupun daerah, sedang mengalami gegap gempita dan euporia pesta demokrasi. Bak

permainan baru yang sedang digemari, energi masyarakat, banyak yang tersedot ke dalam rivalitas politik yang kian mengharu biru. Pilkada digelar dimana-mana, riuh rendah dukungan dan penolakan terhadap kandidat terpilih, seolah menjadi penanda paling nyata bahwa wilayah permainan dan rivalitas politik tak lagi tersentral di Jakarta. Melalui Pilkada langsung, hasrat politik sekian banyak orang dapat tersalurkan. Tentu, setelah mereka mampu bertarung dengan kandidat lain di sebuah era industri citra. Pertarungan yang masih didominasi oleh politik citra atau politik yang berporos pada popularitas kandidat di tengah massa pemilih. Realitas politik yang terjadi saat ini, menuntut para politisi perseorangan atau pun partai untuk memiliki akses yang seluas-luasnya terhadap mekanisme industri citra. Yakni, industri berbasis komunikasi dan informasi yang akan memasarkan ide, gagasan, pemikiran dan tindakan politik. Politik dalam perspektif industri citra merupakan upaya mempengaruhi orang lain untuk mengubah atau mempertahanakan suatu kekuasaan tertentu melalui pengemasan citra dan popularitas. Semakin dapat menampilkan citra yang baik, maka peluang untuk berkuasa pun semakin besar. Hampir tak ada satu pun komponen-komponen sistem politik yang dapat meniadakan hubungan saling menguntungkan antara politisi dengan industri citra politik. Komponen seperti sosialisasi politik, rekrutmen politik, artikulasi kepentingan, agregasi kepentingan, pembuatan aturan dan pelaksanaan aturan dibentuk dan dilaksanakan melalui akses terhadap industri citra. Di antara industri citra yang sangat menonjol dewasa ini adalah industri media massa. Kekuatan utama media yang tidak bisa dinafikan di era informasi saat ini yakni kekuatan dalam mengkonstruksi realitas". Ini menandakan bahwa pola politik memang berkaitan dengan pola komunikasi, apalagi yang berkaitan dengan pencitraan politik dengan menggunakan media komunikasi. Studi Agenda Setting Studi efek media dengan pendekatan agenda setting sudah dimulai pada tahun 1960-an, namun popularitas baru muncul setelah publikasi hasil karya McCombs dan Shaw di Chapel Hill pada tahun 1972. Mereka menggabungkan dua metoda sekaligus, yaitu analisa isi (untuk mengetahui agenda media di Chapel Hill) dan survey terhadap 100 responden untuk mengetahui prioritas agenda publiknya (Baran, 2000:299-303). Studi tersebut menemukan bukti bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat (0,975) antara urutan prioritas pentingnya 5 isu yang dilansir oleh media di Chapel Hill bersesuaian dengan urutan prioritas pada responden. Walaupun penelitian tersebut hanya dapat membuktikan pengaruh kognitif media atas audiens, namun studi agenda setting tersebut sudah dapat dipakai sebagai upaya untuk menelaah, mengevaluasi, dan menjelaskan hubungan antara agenda media dan agenda publik. McCombs dan Shaw (dalam Griffin, 2003) meyakini bahwa hipotesa agenda setting tentang fungsi media terbukti- terdapat korelasi yang hampir sempurna antara prioritas agenda media dan prioritas agenda publik. Setelah publikasi karya tersebut, banyak eksplorasi dilakukan dengan menggunakan metode kombinasi analisa isi dan survey. Hasil-hasil penelitian lanjutan adalah beragam. Ada yang memperkuat, akan tetapi tidak sedikit yang memperlemah temuan McCombs dan Shaw. Mengapa demikian? Everett Rogers

(dalam Littlejohn, 2008), berpendapat bahwa kurang diperhatikannya on going process dalam framing dan priming agenda media; maupun on going process dalam agenda public, seringkali menyebabkan kesimpulan yang diperoleh dalam studi agenda setting tidak sesuai dengan realitas yang ada. Dengan begitu, bisa jadi hasil-hasil penelitian yang beragam itu ada yang bersifat semu. Artinya hubungan yang terjadi disebabkan karena pilihan sampelnya kebetulan mendukung/tidak mendukung hipotesis yang dikembangkan, atau mungkin pilihan isu-nya kebetulan berhubungan atau tidak berhubungan dengan kepentingan kelompok responden.

Warna Agenda Setting Berbicara perspektif teori agenda setting sebenarnya merupakan model efek moderat . Perspektif ini menghidupkan kembali model jarum hipodermik, tetapi dengan fokus penelitian yang telah bergeser. Dari efek pada sikap dan pendapat bergeser kepada efek pada kesadaran dan pengetahuan atau dari afektif ke kognitif. Prinsipnya sebenarnya to tell what to think about artinya membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Dengan teknik pemilihan dan penonjolan media memberikan cues tentang mana isu yang lebih penting. Karena itu, model agenda setting mengasumsikan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media kepada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak kepada persoalan itu. Singkatnya apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula oleh masyarakat. Begitu juga sebaliknya apa yang dilupakan media, akan luput juga dari perhatian masyarakat. Iklan politik di media massa (seperti model yang kita bahas sebelumnya) tentunya tidak lepas dari pembicaraan soal efek, karena ini merupakan entry point bahasan agenda setting. Para pengiklan iklan politik yang hendak menggunakan media massa sebagai medium penyampaian pesan politik sudah seharusnya memahami masalah efek ini. Efek terdiri dari efek langsung dan efek lanjutan (subsequent effects). Efek langsung ini berkaitan dengan issues, apakah issue itu ada atau tidak ada dalam agenda khalayak (pengenalan); dari semua issues, mana yang dianggap paling penting menurut khalayak (salience); bagaimana issues itu diranking oleh responden dan apakah rangkingnya itu sesuai dengan rangking media. Efek lanjutan berupa persepsi (pengetahuan tentang peristiwa tertentu) atau tindakan (seperti memilih kontestan pemilu atau melakukan aksi protes). Pada kenyataannya menurut perspektif teori agenda setting, media massa menyaring artikel, berita, iklan atau acara yang disiarkannya. Secara selektif, gatekeepers seperti penyunting, redaksi, produser iklan politik bahkan wartawan sendiri menentukan mana yang pantas diberitakan dan mana yang harus disembunyikan. Yang menarik dicermati, karena pembicara, pemirsa dan pendengar memperoleh kebanyakan informasi melalui media massa, maka agenda media tentu berkaitan dengan agenda masyarakat (public agenda). Agenda masyarakat diketahui dengan menanyakan kepada anggota masyarakat apa yang mereka pikirkan dan bicarakan dengan orang lain, atau apa yang mereka anggap sebagai masalah yang tengah menarik perhatian masyarakat (community salience).

Masyarakat tentunya memiliki hak untuk tahu (right to know) yang akhirnya menjadikan suatu isu atau peristiwa menjadi public sought (permintaan publik) akan informasi tentang isu atau peristiwa tersebut. Media dengan kepentingan teknis, idealisme dan pragmatismenya memilih, mengemas dan akhirnya mendistribusiakan kepada khalayak kalau sesuatu itu penting. Relevan dalam konteks ini, media melakukan pengemasan (framing). Membuat frame berarti menyeleksi beberapa aspek dari pemahaman atas realitas dan membuatnya lebih menonjol. Esensinya dilakukan dengan berbagai cara antaralaian, penempatan (kontekstualisasi), pengulangan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, simplikasi. Merujuk pada pendapat Gamson dan Modigliani (1983), frame merupakan cara bercerita yang menghadirkan konstruksi makna atas peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan obyek suatu wacana. Sebuah upaya persuasif dalam kemasan iklan politik di media massa dari perspektif agenda setting tentunya harus memperhatikan beberapa hal pokok. Pertama, struktur makro, artinya makna umum dari suatu tampilan iklan di media yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema yang dikedepankan. Kedua, super struktur, yang merupakan struktur iklan politik yang berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks atau acara yang dibuat dan diarahkan kepada khalayak tersusun secara utuh. Ketiga, struktur mikro, ini merupakan iklan politik yang dapat diamati melalui bagian kecil dari suatu teks atau acara di media massa. Kalau dalam wujud teks misalnya kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, atau gambar, dan angel pengambilan photo suatu kejadian. Hal-hal yang diamati dalam struktur mikro misalnya meliputi semantik yaitu bagaimana bentuk susunan kalimat yang dipilih. Stilistik, yaitu bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam teks berita, dan retoris yaitu bagaimana dan dengan cara apa penekanan itu dilakukan. Iklan politik dalam media massa tentu saja berbeda dengan propaganda yang dilakukan lewat model rapat akbar partai dan ceramah di lapangan. Iklan politik di media sangat dibatasi dengan waktu yang disediakan. Oleh karena itu kemampuan pengemasan menjadi hal yang sangat pokok. Dari perspektif agenda setting, media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk mengubah sikap, tetapi media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang. Ini berarti media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang anggap penting. Sama berpengaruhnya saat media selalu menampilkan tokoh tertentu, maka orang tersebut cenderung dianggap tokoh politik penting. Seperti dikemukakan diatas, bahwa agenda setting ini merupakan upaya memperbaharui kembali penelitian tentang efek media yang perkasa yang sebelumnya dibangun model jarum hipodermik. Pada model jarum hipodermik yang sering juga disebut bullet theory. Dalam konteks iklan politik di media massa dengan model ini diasumsikan kalau komponen-komponen komunikator, pesan dan media amat perkasa dalam mempengaruhi komunikan. Pesan persuasi dalam iklan politik disuntikan langsung ke dalam jiwa komunikan yang dianggap pasif menerima rangkaian dan rentetan pesan-pesan. Pada umumnya persuasi kalau menggunakan model ini bersifat linier dan satu arah. Sementara kalau menggunakan model Uses and Gratification justru kontras dengan jarum hipodermik. Model ini tertarik pada apa yang dilakukan orang terhadap media. Anggota khalayak diangap secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan. Karena penggunaan media hanyalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan psikologis, efek media dianggap sebagai situasi ketika kebutuhan itu

terpenuhi. Pendirinya antara lain Katz, Blumler dan Gurevitch. Dari perspektif teori ini berarti propaganda lewat media hanya menjadi salah satu alternatif bagi khalayak dalam memenuhi kebutuhannya. Kalau khalayak media tersebut tidak membutuhkannya maka dengan sendirinya propaganda yang dilakukan tidak akan efektif. Agenda setting lahir secara lebih moderat, model ini mengasumsikan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media pada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak kepada persoalan tersebut. Singkatnya apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula masyarakat dan apa yang dilupakan media akan dilupakan juga oleh publik. Dengan demikian iklan politik melalui media massa akan efektif, kalau ada upaya mengemas pesan iklan dalam prioritas isi pesan media. Isi pesan inilah yang menjadi tawaran dalam mempengaruhi cara berpikir khalayak. Perspektif agenda setting yang dipengaruhi oleh media massa itu adalah pengetahuan khalayak. Sesuatu dianggap penting oleh khalayak kalau secara terus menerus ditampilkan dalam media massa. Ini artinya memerlukan suatu framing waktu dan framing isu dalam suatu kurun waktu tertentu, sehingga mempengaruhi konstruk berpikir masyarakat terhadap isu tersebut. Pesan politik baik permintaan dukungan, isu atau kejadian politik yang dikemas menjadi prioritas media, memanipulasi aspek psikologis massa.

Warna Iklan Politik dalam Media Massa Iklan politik semakin banyak menghiasi media massa kita. Perang iklan pun sudah dan sedang terjadi. Umumnya iklan dimaksud diisi oleh partai-partai politik, kandidat bakal calon presiden, dan para calon legislatif. Model dan modusnya pun bervariasi. Tetapi kebanyakan bermuatan sebatas pencitraan diri agar dipilih dan didukung rakyat pada saat pemilu nanti. Hal itu terlihat dari isi iklan. Partai pemerintah dengan gagah menyodorkan keberhasilan pemerintah sebagai wajah dari iklan politiknya. Sementara partai-partai oposisi tampil dengan cemohan atas serangkaian kebijakan pemerintah yang dinilai kurang pro rakyat. Di lain pihak, ada juga model iklan yang juga menampilkan sosok pahlawan yang kadar kepahlawanannya masih diperdebatkan oleh publik. Materi iklan pun menjadi pergunjingan politik. Iklan yang pada dasarnya ditujukan untuk menambahkan rasa simpatik dari masyarakat pemilih, justru menabur sinisme. Memang iklan punya cara pandang dan pendekatan tersendiri. Dan cara pandang itu hanya dimiliki oleh sipembuatnya. Namun jangan lupa ketika iklan sudah ditawarkan ke publik, sejatinya sudah menjadi milik publik. Rakyat pun bebas menyampaikan pujian dan juga kritik kepadanya. Umpan balik berupa kecintaan serta kebencian bisa saja terjadi dalam ranah yang sama. Iklan yang baik terlihat dari apakah pesan yang disampaikan olehnya tersampaikan dengan lugas dan jelas. Dalam kaca mata komunikasi politik, iklan adalah suatu cara untuk menyampaikan gagasan dan pemikiran kepada masyarakat. Maka iklan politik semestinya berisi visi dan program yang ditawarkan kepada masyarakat yang jika dipilih dan dipercaya untuk mengemban amanah dan kekuasaan, akan dijalankan dengan baik. Dari serangkaian iklan politik tersebut, satu hal yang kita catat bahwa muatannya belum memiliki substansi yang jelas, selain memaksakan kehendak. Padahal, iklan

tersebut diharapkan sebagai wahana pendidikan politik dengan menyodorkan serangkai pedoman kebijakan. Bukan sekedar slogan dan pernyataan serampangan semata. Iklan semestinya mencerdaskan dan mengundang rasa simpatik. Iklan tentu saja dibutuhkan sebagai media komunikasi antara partai dengan rakyat. Iklan merupakan bahagian dari kampanye. Namun iklan dimaksud hendaknya ditata dengan bijak, terkait dengan visi dan misi partai berikut kandidatnya. Sebab siapa yang memiliki visi yang jelas, serta dibarengi dengan program-program yang rasional akan mendapat dukungan dari masyarakat. Berdasarkan data dari AC Nielsen yang dirilis Media Indonesia (1/12/2008) tentang pengeluaran partai politik untuk iklan dapat disimpulkan, iklan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan dukungan terhadap partai politik. Sebagai catatan, iklan politik tidak selalu berhasil meningkatkan dukungan terhadap suatu partai. Contohnya, PAN, pada Mei dan Juni, gagal mendongkrak dukungan. Hasil survei LSI, April-Juni 2008 dukungan terhadap PAN hanya naik dari 4,0 persen menjadi 4.5 persen. Yang menarik diperhatikan adalah pengeluaran iklan Gerindra dan PD. Pada Juni lalu, Gerindra mengeluarkan dana iklan di bawah Rp 1 miliar. Namun, sejak Juli hingga Oktober, biaya iklan Gerindra per bulan mencapai Rp 8 miliar. Peningkatan pengeluaran iklan ini ternyata diikuti peningkatan popularitas dan dukungan yang memuaskan. Pada Juni dukungan terhadap Gerindra yang terekam survei LSI hanya pada tingkatan 1,0 persen. Namun, dukungan terhadap Gerindra meningkat menjadi 3,0 persen dan 4,0 persen pada September dan November. Hasil survei Cirus Surveyors Group pada November menunjukkan, dukungan terhadap Gerindra meningkat jika dibandingkan Juni lalu, menjadi sekitar 5,5 persen. Jadi, ada korelasi antara perolehan dukungan Gerindra dan pengeluaran iklan. Begitu juga dengan PD. Dari Mei hingga Juli 2008, pengeluaran iklan PD di bawah Rp 1 miliar per bulan. Namun, mulai Agustus hingga Oktober, pengeluaran iklan secara konsisten meningkat dari Rp 8,29 miliar (Agustus); Rp 10,08 miliar (September); dan Rp 15,15 miliar (Oktober). Peningkatan pengeluaran iklan diikuti peningkatan dukungan terhadap PD. Berdasarkan survei LSI, sejak Pemilu 2004, dukungan terhadap PD mencapai titik terendah pada April dan Juni 2008, yaitu di kisaran 9,0 persen. Namun, dari Juni hingga September 2008, dukungan terhadap PD meningkat menjadi 12 persen. Ini sejalan meningkatnya pengeluaran iklan PD pada Agustus dan September. Dukungan terhadap PD kembali meningkat menjadi sekitar 17 persen (November) dan berkorelasi positif dengan meningkatnya jumlah pengeluaran iklan PD pada bulan Oktober. Data di atas adalah data kuantitatif belanja iklan di media yang berkorelasi dengan dukungan publik. Sementara dalam hal isi maka dapat dipaparkan sebagai berikut: Pada pandangan awam, audiens akan berpendapat bahwa visi calon presiden pada film iklan adalah realitas dasar dari apa yang berada di benak komunikator. Namun, di sisi yang lain fenomena komunikasi seperti ini menyisakan pertanyaan pada aspek pencitraan realitas yang tersimulasi. Sebab, ketika film iklan itu menjadi wacana dari keseharian publik di depan televisi dan ditayangkan berulang-ulang kali, maka ia membantu membentuk simulasi atas realitas substansinya. Penonton tidak pernah merasakan secara langsung apakah memang benar calon presiden tersebut melakukan seperti hal yang ditunjukkan tersebut. Dan ketika penonton tidak mampu menikmati itu sebagai objek langsung, maka film iklan dan televisi membuatnya bisa

dinikmati oleh jutaan penonton pada saat yang bersamaan, sebab ia disimulasikan. Iklan Wiranto yang memakan nasi aking bersama sebuah keluarga miskin misalnya adalah sebuah simulasi realitas bahwa Wiranto peduli dengan rakyat miskin. Film iklan tersebut hanya merepresentasikan sikap Wiranto secara visual (memakan, senyuman dan gerakan tangan), bukan seluruhnya terjadi pada tataran di dunia nyata. Demikian juga iklan Rizal Mallarangeng yang direpresentasikan berada di tengah-tengah rakyat di berbagai daerah di Nusantara adalah upaya simulasi atas realitas yang sebagian darinya belum pernah terjadi. Apa yang terjadi adalah penciptaan realitas atau agenda setting baru, di mana seolah-olah ia hadir sebagai realitas yang benar-benar real. Ada kesan ketergesaan atas eksistensi seseorang di antara orang lain yang hendak membawa perubahan yang benar-benar nyata.

Sebagian besar isi pesan dari tema iklan politik menyangkut aspek-aspek kemiskinan, pengangguran, daya beli rakyat, kebutuhan pokok rakyat luas, keadilan hukum, keamanan, dan kesatuan-persatuan bangsa. Sementara pada sisi program, tema utama iklan juga cenderung bervariasi. Ada yang berjanji untuk mengembangkan rasa cinta pada produk sendiri, membela petani, penyediaan lapangan kerja, harga bahan pokok yang murah. Alasan mengapa isi pesan tertentu disampaikan adalah karena dua hal. Pertama, ekstrim karena kebijakan pemerintah sampai saat kini belum mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat. Tak ada satupun sisi dari keberhasilan pemerintah diungkapkan. Sementara bentuk yang kedua adalah iklan yang menonjolkan keberhasilan kebijakan pemerintah yang menyangkut persentase penurunan jumlah penduduk miskin, jumlah penganggur yang menurun, atau iklan yang bertema anti korupsi dan keberhasilan dalam keamanan. Bagaimana dengan tampilan atau kemasan iklan? Berbeda dengan isi tema dan program yang sifatnya relatif masih umum dan penuh janji, tampilan atau kemasan iklan cukup beragam. Begitu pula frekuensinya. Ada yang menampilkan hampir setiap hari dan ada juga yang seminggu sekalipun tidak. Tetapi waktu tayangan hampir semuanya sama yakni ketika waktu prima dimana hampir semua segmen pemirsa menonton televisi. Terbanyak ditayangkan ketika momen laporan berita dan hiburan. Tampilannya, mulai dari yang penuh warna, eksotis, dan gegap gempita sampai ke yang sangat moderat dan warna yang pucat pasi. Ada yang tidak jelas isi pesannya, monoton, kurang greget, serta jauh dari eksotik apalagi estetika. Yang jelas periklanan politik menjelang pemilu 2009 jauh lebih semarak ketimbang pemilu tahun 2004. Suasana kompetisi untuk merebut pemilih semakin tinggi intensitasnya. Semua penuh dengan janji warna-warni. Program-program ditawarkan untuk membangun bangsa ini. Namun pertanyaannya apakah sudah dipikirkan dan disiapkan strategi dan taktik pencapaiannya? Bagaimana menggalang dana pembangunan untuk itu? Bagaimana strategi kebijakan moneter dan fiskalnya? Bagaimana dalam waktu relatif singkat ini mereka menyiapkan pilihan konsep mengatasi akibat krisis finansial global terhadap perekonomian rakyat? Ternyata tak satu pun partai yang beriklan menawarkannya secara utuh.

TEORI MEDIA DAN MASYARAKAT


Pengantar

July 25, 2009

Beberapa dekade ini media memiliki kekuatan dalam membentuk opini publik. Media bisa membentuk cara pandang masyarakat, dan mampu menciptakan suatu definisi sesuai dengan yang diingkan media. Media telah memberi efek yang kuat kepada pembaca,pendengar dan pemirsa. Tiga aspek pendekatan membuktikan media memiliki kekuatan dan pengaruh dalam masyarakat dan individu. Tiga aspek pendekatan yang diuraikan Katherine Miller: 1. 2. 3. Teori Agenda Setting, Teori Spiral of Silence dan Teori Cultivation. Teori Agenda Setting Munculnya Teori Agenda Setting merupakan respons terhadap beberapa teori yang telah ada sebelumnya. Teori sebelumnya yang merujuk pada paradigma Magic Bullet, paradigma ini dipengaruhi situasi perang dunia II dan masa kejayaan Hitler, sehingga media menjadi corong utama kekuasaan. Magic Bullet menganggap bahwa media mempunyai pengaruh yang besar dan efek langsung pada audience yang menjadi komunikan. Di umpakan dengan seseorang melepaskan tembakan, ketika senjata meletus, maka pelurunya langsung mengenai sasaran. Paradigma Magic Bullet beranggapan bahwa media dapat secara langsung membuat orang yakin akan sebuah realitas ketika realitas itu dipublikasikan media. Seorang teoritis Agenda Setting (Cohen), faktanya media tidak selalu berhasil untuk membuat orang langsung meyakini sebuah realitas. Tapi media mampu membuat orang sadar akan realitas itu. Orang tahu (sadar) akan sebuah realitas, tapi belum tentu percaya (yakin) pada realitas itu secara langsung. Dalam bahasa Cohen, media lebih berhasil mengajak what to think about, (media tidak berhasil untuk meyakinkan orang tentang sesuatu) daripada mengajak what to think ( media berhasil hanya sekedar memikirkan sesuatu). Teori-teori Agenda Setting memberi pengaruh kepada para teoritisi dan peneliti media massa sesudahnya. Namun sebenarnya apa yang dimaksud dengan Teori Agenda Setting? Ada dua cara untuk mengetahui Agenda Setting, yakni dalam pengertian umum dan pengertian khusus. Pertama, dalam pengertian umum Agenda Setting berhubungan dengan tiga agenda yang saling berhubungan dalam teori-teorinya yakni:

agenda media, agenda media adalah seperangkat topik atau isu yang dibahas oleh media (televisi, radio, koran, dan lain-lain). agenda publik, agenda publik adalah seperangkat topik atau isu yang dianggap penting oleh publik.

agenda kebijakan pemerintah, agenda kebijakan merupakan topik atau isu-isu yang diyakini oleh para pembuat keputusan (legeslatif, yudikatif dan eksekutif) sebagai isu yang menonjol. Kedua, Agenda Setting dalam pengertian khusus adalah proses dimana berita media mengarahkan publik dalam menetapkan hal-hal yang bersifat relatif penting untuk melihat beragam isu publik. Agenda Setting mempengaruhi publik bukan dengan mengangkat isu-isu ini penting secara terbuka, namun lebih dengan memberikan ruang dan waktu agar publik menganggap isu-isu itu penting. Masing-masing dari tiga agenda dalam pengertian umum Agenda Setting dalam pengertian umum terdapat tiga agenda merupakan variabel yang terpisah dan dependen, namun saling memiliki hubungan. Penelitian McCombs dan Shaws menggarisbawahi bahwa agenda media dan agenda publik memiliki hubungan yang lebih bersifat resiprokal atau timbal balik, maka kedua agenda media dan publik kemudian akan diikuti oleh variabel agenda kebijakan. Contoh topik terorisme, misalnya, media Amerika menampilkan beragam aktivitas terorisme. Publik menganggapnya sebagai topik yang penting. Media mengakomodir pandangan publik itu dengan menampilkan hal-hal yang berhubungan dengan terorisme secara lebih luas. Karena dua agenda ini berhubungan kuat dan memunculkan efek, maka pemerintah Amerika (agenda kebijakan) mengeluarkan kebijakan luar negerinya (seperti munculnya kebijakan mengenai keamanan dalam negeri dan kebijakan perang terhadap Afganistan dan Irak). Namun dari penjelasan tersebut di atas justru terlihat bahwa agenda media dalam Teori Agenda Setting lebih dominan perannya dibanding agenda publik. Dalam pengertian, agenda media mempengaruhi agenda publik untuk menganggap isu apa yang penting. Media menata (men-setting) sebuah agenda terhadap isu tertentu sehingga isu itu dianggap penting oleh publik yang salah satunya isu tersebut berhubungan dengan kepentingan publik, baik secara langsung atau tidak. Caranya, media dapat menampilkan isu-isu itu secara terus menerus dengan memberikan ruang dan waktu bagi publik untuk mengkonsumsinya, sehingga publik sadar atau tahu akan isu-isu tersebut, kemudian publik menganggapnya penting dan meyakininya. Kritik kemudian muncul terhadap Teori Agenda Setting adalah; Pertama, Agenda Setting lebih tepat dikatakan sebagai sebuah model dibanding sebagai sebuah teori. Agenda Setting dikategorikan ke dalam teori Post-Positivis. Dan meskipun mengatakan bahwa agenda media dan agenda publik mempunyai hubungan yang bersifat timbal balik, pada kenyataannya Agenda Setting mengakui bahwa agenda media merupakan sebab munculnya agenda publik sebagai sebuah keniscayaan. Ada ambiguitas dari Agenda Setting mengenai efek yang dapat dimunculkan oleh media. Namun demikian, Agenda Setting juga dipuji memiliki akurasi dan kemampuan dalam memprediksikan efek media dalam masyarakat. Teori Spiral of Silence

Elizabeth Noelle-Neumann (professor emeritus penelitian komunikasi dari Institute fur Publiziztik Jerman) adalah orang yang memperkenalkan teori spiral keheningan/kesunyian ini. Teori ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1984 melalui tulisannya yang berjudul The Spiral of Silence. Secara ringkas teori ini ingin menjawab pertanyaan, mengapa orang-orang dari kelompok minoritas sering merasa perlu untuk menyembunyikan pendapat dan pandangannya ketika berada dalam kelompok mayoritas? Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa seseorang sering merasa perlu menyembunyikan sesuatu-nya ketika berada dalam kelompok mayoritas. Teori Spiral of Silence, sebuah teori yang menurutnya melingkupi semua teori mengenai opini publik yang berhubungan dengan proses tidak seimbang dari psikologi masyarakat, komunikasi interpersonal dan media massa. Untuk menjelaskan teorinya, Noelle-Neumann berangkat dari asumsi akan adanya ketakutan dari individu-individu akan isolasi dari masyarakat. Ketakutan itu muncul jika individu-individu mempunyai opini yang berbeda bahkan berseberangan dengan opini mayoritas masyarakat. Individu yang opininya berbeda dengan mayoritas masyarakat akan cenderung bungkam (silence) karena takut akan isolasi yang mungkin diterimanya. Kajian Noelle-Neumann ini menitikberatkan peran opini dalam interaksi sosial. Sebagaimana kita ketahui, opini publik sebagai sebuah isu kotroversial akan berkembang pesat manakala dikemukakan lewat media massa. Ini berarti opini publik dibentuk, disusun, dikurangi oleh peran media massa. Jadi ada kaitan erat antara opini dengan media massa. Opini yang berkembang dalam kelompok mayoritas dan kecenderungan seseorang untuk diam (sebagai basis dasar teori spiral kesunyian) karena dia barasal dari kelompok minoritas juga bisa dipengaruhi oleh isu-isu dari media massa. Secara sosiologis, teori Spiral of Silence mengakui bahwa ketakutan individu akan isolasi ini hanya berlaku pada masyarakat kurang terdidik dan miskin, irasional, dan tidak memiliki dedikasi untuk mengemukakan pendapatnya secara bebas dan bertanggung jawab. Bagaimana peran media? Noelle-Neumann dalam hal ini justru menyalahkan media yang dianggapnya banyak menimbulkan ketidakperdulian plural. Menurutnya, media massa mempengaruhi penilaian individu pada opini publik. Gambaran yang ditampilkan media juga mempengaruhi kesadaran individual untuk membentuk opini publik dan kadang-kadang memberi ketidakakuratan dalam iklim publik. Jika ditelaah lebih jauh, teori yang dikemukakan Noelle-Neumann, sebagaimana yang dikritik oleh beberapa pakar, sangat bias dengan teori kritis kelompok kiri dimana individu ditindas oleh semacam tirani mayoritas, yakni masyarakat luas. Dan media, pada suatu waktu, ikut mendukung tirani itu. Teori Cultivation

Berbeda dengan dua teori di atas yang memusatkan perhatian pada efek yang ditimbulkan oleh beragam jenis media, menurut teori kultivasi ini, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi itu belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak Anda tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Ini artinya, melalui kontak Anda dengan televisi Anda belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya. Selain itu teori ini juga berbeda karena memperdiksikan dampak tidak langsung pada cara berpikir masyarakat mengenai isu-isu tertentu. Teori ini menghadirkan gambaran media yang lebih sempit pada televisi dan sekaligus lebih luas dengan berkonsentrasi pada efek konstruk sosial. Sebagai ilustrasi, para pecandu berat televisi (heavy viewers) akan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya. Misalnya, tentang perilaku kekerasan yang terjadi di masyarakat, para pecandu berat televisi ini akan mengatakan sebab utama munculnya kekerasan karena masalah sosial (karena televisi yang dia tonton sering menyuguhkan berita dan kejadian dengan motif sosial sebagai alasan melakukan kekerasan). Padahal bisa jadi sebab utama itu lebih karena faktor cultural shock (keterkejutan budaya) dari tradisonal ke modern. Termasuk misalnya, pecandu berat televisi mengatakan bahwa kemungkinan seseorang menjadi korban kejahatan adalah 1 berbanding 10, padahal dalam kenyataan angkanya adalah 1 berbanding 50. Ia juga mengira bahwa 20 persen dari total penduduk berdiam di Amerika, padahal senyatanya cuma 6 persen. Dengan kata lain, penilaian, persepsi, opini penonton televisi digiring sedemikian rupa agar sesuai dengan apa yang mereka lihat di televisi. Bagi pecandu berat televisi, apa yang terjadi pada televisi itulah yang terjadi pada dunia sesungguhnya. Asumsi awal teori ini adalah anggapan bahwa televisi merupakan media unik yang mampu memberikan efek dasyat kepada penontonnya. Bukan hanya itu, televisi bahkan telah menjadi cara pandang dan gaya hidup yang kehadirannya tidak dapat dibantah oleh ruang dan waktu. Pesan-pesan di televisi membentuk sistem yang koheren, yang merupakan mainstream dari sebuah budaya. Sifat alamiah televisi adalah menghadirkan pandangan dunia yang koheren melalui jenis-jenis program dan waktu. Waktu menjadi kata kunci. Setiap orang dapat menonton program-program secara tidak selektif, dapat memilih program apa saja yang kemungkinan juga ditonton oleh pemirsa lain; perbedaannya adalah pada seberapa banyak waktu yang disediakan oleh masing-masing individu untuk menonton. Sifat alamiah televisi ini berbanding sejajar dengan perannya untuk menumbuhkan ( cultivate) pandangan penonton mengenai realitas dalam jangka panjang. Dan umum diketahui bahwa televisi menghadirkan realitas yang sering berbeda dengan realitas sebenarnya. Dalam penelitian Garbner mengenai konten televisi ditemukan bahwa televisi juga masih mengalami salah intepretasi terhadap persoalan etnis (lebih banyak menghadirkan bangsa kulit putih dibanding kulit hitam

atau etnis lain), jenis kelamin (lebih banyak menampilkan laki-laki daripada perempuan), usia (lebih banyak menampilkan usia sedang) dan kelas (lebih banyak menampilkan masyarakat kelas menengah). Kesemua itu merupakan nilai-nilai yang dibawa televisi. Dan nilai-nilai itu memberi efek yang maksimal pada para penonton, yang bersifat jangka panjang dan kumulatif. Keberpihakan terhadap budaya mainstream dan homogenitas penonton (kesamaan sosial, kultural dan demografis) nyatanya juga menjadi nilai-nilai televisi untuk secara efektif dalam menanamkan globalisasi ke dalam benak masyarakat. Kesimpulan Teori Agenda Setting melakukan penelitian secara luas kepada berbagai macam jenis media, baik cetak maupun elektronik. Teori ini berangkat dari asumsi bahwa media lebih menekankan untuk membangun kesadaran audiens akan sebuah isu atau realitas, bukan membangun keyakinan akan isu atau realitas itu. Teori Spiral of Silence lebih spesifik melakukan penelitian terhadap polling, baru kemudian berangkat kepada media secara umum. Teori ini menyatakan bahwa setiap individu (dengan kriteria tertentu) pada dasarnya takut untuk mengungkapkan opininya jika opininya itu berbeda dengan mayoritas opini masyarakat. Ketakutan itu adalah ketakutan akan diisolasi. Media, dalam pandangan teori ini, justru memiliki peran yang mendukung budaya popular masyarakat atau opini mayoritas. Media bersifat ambigu. Sementara Teori Cultivation secara spesifik melakukan penelitian hanya kepada media televisi. Menurut teori ini, televisi mampu memberikan efek yang luar biasa kepada penontonnya. Televisi bahkan dianggap telah menjadi padangan dan gaya hidup yang kehadirannya selalu mempertimbangakan ruang dan waktu secara cermat. Efek yang dimunculkan televisi kepada individu dan masyarakat bersifat maksimal dalam jangka panjang dan akumulatif. Ketiga teori di atas meski mengklaim menolak peran dan pengaruh yang kuat dari media yang mampu memberi efek langsung pada masyarakat dan individu, namun nyatanya ketiga teori itu mengakui bahwa media mempunyai pengaruh yang kuat dalam memberikan efek langsung kepada audiensnya, terutama Teori Cultivation.

Pergeseran Peran Agenda Setting Komunikasi Massa dan Apa Maknanya

June 16, 2009 Oleh Ismujiarso Beberapa waktu lalu saya mengkritik lewat sebuah postingan di blog pelayanan Chicken Story gerai Pondok Indah Mal yang tidak hanya lambat, tapi juga buruk. Kira-kira sebulan kemudian, karena terpaksa, saya kembali makan di tempat itu lagi, namun sungguh diluar dugaan, mendapati perubahan yang mencengangkan. Pelayanannya tidak hanya sigap, melainkan bahkan sampai ada satu staf khusus yang bertugas mengecek ke setiap bangku pengunjung untuk memastikan semua pesanan telah datang. Teman saya minta tusuk gigi, dan dilayani dengan keramahan yang luar biasa. Saya sebenarnya tidak mau ge-er bahwa perubahan yang drastis itu merupakan akibat dari tulisan saya di blog. Tapi, hati kecil saya sulit untuk memungkiri rasa ge-er itu. Masalahnya, saya tidak bisa membuktikan adanya kaitan antara postingan saya di blog dengan perubahan pelayanan yang terjadi (kecuali, tentu saja, kalau saya bertanya langsung kepada manajernya). Dalam ilmu komunikasi massa, pembicaraan mengenai relasi antara media dengan audiens-nya memang dianggap sebagai bagian yang paling sulit dirumuskan secara teoritis. Dulu ada yang namanya Teori Peluru atau dikenal juga sebagai Teori Jarum Suntik, yang berasumsi bahwa isi media mempengaruhi audiens layaknya peluru yang menembus sasaran tanpa hambatan, atau seperti sesuatu yang disuntikkan ke dalam tubuh. Seiring dengan perkembangan zaman, di mana manusia semakin pintar dan kritis, maka teori itu pun gugur. Nyatanya, audiens media bukanlah sekumpulan orang yang pasif dan menerima begitu saja pesan yang disampaikan oleh saluran-saluran komunikasi. Maka, kemudian lahirlah teori-teori lain, salah satu yang penting dan masih relevan sampai sekarang adalah Teori Agenda Setting. Ide dasarnya: media (komunikasi) massa lebih dari sekedar pemberi informasi dan opini. Oke, media mungkin tidak atau kurang berhasil membuat orang untuk memikirkan sesuatu. Namun, teori ini percaya bahwa media sangat berhasil mendorong audiens-nya untuk menentukan apa yang perlu mereka pikirkan. Dengan kata lain, Agenda Setting menggambarkan betapa powerful-nya (pengaruh) media, terutama dalam kemampuannya menunjukkan kepada kita, ini lho isu-isu yang penting. Dengan demikian, teori ini mengandung asumsi bahwa media tidak semata-mata mengabarkan informasi dan opini, melainkan lebih daripada itu, juga menyeleksi dan menentukan informasi maupun opini tersebut. Artinya, media sebenarnya hanya berkonsentrasi pada isu-isu tertentu yang jumlahnya mungkin sedikit, dan kemudian membuat audiens menerima bahwa memang itulah isu-isu yang lebih penting dibandingkan isu-isu lainnya yang banyak sekali. Teori Agenda Setting berkembang pada dekade 60-an, ketika belum ada internet. Dan, kalau tadi saya bilang masih relevan, maka sekarang, dengan mengingat munculnya teknik-teknik dan media-media baru komunikasi dewasa ini, mungkin bisa dipertanyakan kembali, benarkah masih serelevan itu? Tentu saja, apa yang disebut sebagai pengaruh pers (koran, majalah, radio, televisi) itu masih ada, dan tetap nyata dan boleh dibilang, juga tetap besar. Namun, kini peran itu sudah digerogoti, untuk kemudian dibagi, oleh blog dan situs-situs jaringan sosial di internet. Bahkan, dalam batas dan kasus tertentu, peran itu sudah bergeser. Apa yang penting bagi publik sekarang ini tidak lagi (hanya) ditentukan oleh koran nasional atau stasiun TV besar, melainkan juga oleh postingan di blog, video yang mungkin di-unggah secara iseng di Youtube, konversasi di Facebook atau bahkan mungkin status seseorang (yang cukup berpengaruh) di Twitter. Kasus monster air Pantai Ancol barangkali akan menjadi salah satu contoh klasik untuk pergeseran peran agenda setting (dari) media massa ke social media. Kabar mengenai adanya monster air itu berawal dari sebuah video di Youtube, yang kemudian menjadi obrolan di Forum Kaskus. Detikcom kemudian mengembangkannya, me-running beritanya, bahkan sampai mewawancarai Wapres

Jusuf Kalla segala sehingga menimbulkan efek dramatis yang mencekam seolah-olah ini sesuatu yang sangat gawat, dan oleh karenanya perlu mendapat perhatian semua pihak. Hingga akhirnya koran-koran dan televisi pun menindaklanjuti-nya. Menarik untuk mencermati, bagaimana media online seperti Detikcom, yang di awal kemunculannya diremehkan dan dipandang sebelah mata oleh para budayawan serius (yang mengatakan bahwa berita-beritanya dangkal, tidak akurat, dan kurang bisa dipercaya), dalam perkembangannya justru memainkan peran yang krusial dalam mengarahkan agenda media-media besar, cetak maupun elektronik. Saya sendiri kebetulan adalah bagian dari generasi pertama wartawan (media) online di Indonesia, dan kami sering tertawa-tawa senang menyaksikan rekan-rekan sejawat dari media konvensional dibuat repot oleh berita-berita yang langsung tayang detik itu juga di media kami. Gara-gara berita lu, nih gue jadi disuruh redaktur gue untuk ngembangin isu ini, begitulah kira-kira gambaran kasarnya. Dengan kata lain, suatu isu mendadak menjadi penting ketika dilaporkan oleh Detikcom lebih-lebih jika isu itu diupdate terus-menerus. Efek dari running news ala dotcom semacam itu memang ampuh dalam meningkatkan nilai berita sebuah informasi atau isu tertentu, yang tak jarang membuat para redaktur koran dan TV kalang-kabut. Belakangan, dengan semakin maraknya penggunaan media-media jaringan sosial di internet macam Facebook dan Twitter, berita-berita dari media online (tidak hanya Detikcom), tapi (sekarang juga ada) Kompas.com, Vivanews, Okezone, Inilah.com dan lain-lain) semakin menemukan jalan mulus untuk memainkan kepemimpinan-nya dalam agenda setting komunikasi massa. Para blogger, Facebooker, dan pecandu micro-blogging lewat Twitter dan Plurk sering secara sukarela membawa berita-berita dari media-media online tersebut ke blog dan social media, baik dalam bentuk postingan, informasi link, maupun pernyataan di status. Dan, semua itu kemudian menciptakan konversasi yang panjang dan ramai. Waktu terjadi pembunuhan di Pasific Place beberapa waktu lalu misalnya, seorang teman saya membuat postingan yang selain mengabarkan kembali peristiwa itu, sekaligus juga mengungkapkan kekhawatirannya akan ibukota yang semakin tidak aman. Dan, ternyata, banyak dari pembaca yang berkomentar, baru tahu mengenai berita pembunuhan itu dari postingan tersebut. Ketika sebuah helikopter militer lagi-lagi terjatuh, Pemimpin Redaksi Detikcom Budiono Darsono langsung memasang link berita dari media yang dipimpinnya mengenai peristiwa itu di Facebook-nya. Pada saat yang berbarengan, sejumlah awak redaksi lainnya juga melakukan hal yang sama. Bayangkan, kalau semua awak redaksi sebuah media online memasang setiap link hot news di Facebook dan/atau Twitter masing-masing! Betapa akan sangat besar dampaknya dalam mempengaruhi agenda setting komunikasi massa. Kasus Prita adalah contoh paling segar tentang kedahsyatan konversasi online dalam mempengaruhi agenda setting media massa secara umum. Begitu ramainya postingan di blog dan pembicaraan di Facebook yang mengungkapkan keprihatinan, dukungan maupun simpati atas Prita yang dituntut karena dituduh mencermarkan nama baik Rumah Sakit Omni Tangerang, koran-koran, majalah dan televisi pun kemudian beramai-ramai menjadikannya laporan utama. Ini bisa diartikan bahwa secara tidak langsung blog dan social media telah mampu menjadi kekuatan penekan sebuah peran politis yang penting dan strategis, yang sebelumnya, selama ini, (hanya) dimiliki oleh pers resmi.

MEDIA SEBAGAI SALURAN KOMUNIKASI POLITIK


Posted by rosit under ALL POSTS, Komunikasi, KOMUNIKASI POLITIK,SOSIO-POLITIK Leave a Comment

1 Votes Pendahuluan Media dalam sebuah komunikasi politik mempunyai peranan yang sangat penting karena merupakan sebagai publisitas politik terhadap masyarakat luas. Tentunya dengan tujuan khalayak mengetahui agenda politik setelah itu simpati dan menjatuhkan pilihannya kepada partai tersebut. Siapapun komunikator atau aktivis politik akan berusaha untuk menguasai media. Tak heran, barang siapa yang telah menguasai media, maka dia hampir memenangi pertarungan politik. Semenjak kemajuan teknologi dan informasi yang revolusioner, media cetak maupun elektronik mengantarkan informasi kepada khalayak sangat efektif. Pemanfaatan media untuk mendongkrak popularitas sebenarnya telah mulai marak dan bebas sejak Pemilu 1999 dan semakin menguat di Pemilu 2004 hingga Pemilu 2009. Segala kegiatan yang ada nuansa politik diangkat media bertujuan tak hanya sebagai sarana publisitas namun juga mempengaruhi khalayak untuk memilihnya. Oleh sementara pihak media, media massa sering disebut sebagai the fouth estate dalam kehidupan sosial ekonomi. Hal ini terutama disebabkan oleh peran suatu persepsi tentang peran yang dapat dimainkan oleh media massa dalam kaitannya dengan pengembangan kehidupan sosial ekonomi dan poitik masyarakat. Sebagai suatu alat untuk menyampaikan berita, penilaian atau gambaran umum tentang banyak hal, ia mempunyai kemampuan untuk berperan sebagai institusi yang dapat membentuk opini publik. Antara lain karena itu, media massa juga dapat berkembang menjadi kelompok penekan atas suatu idea atau gagasan, dan bahkan suatu kepentingan atau citra yang ia representasikan untuk diletakkan dalam kontek kehidupan yang lebih empiris. Saluran Komunikasi politik Saluran komunikasi adalah alat serta sarana yang memudahkan penyampaian pesan. Pesan di sini bisa dalam bentuk lambang-lambang pembicaraan seperti kata, gambar, maupun tindakan. Atau bisa pula dengan melakukan kombinasi lambang hingga menghasilkan cerita, foto (still picture atau motion picture), juga pementasan drama. Alat yang dimaksud di sini tidak hanya berbicara sebatas pada media mekanis, teknik, dan sarana untuk saling bertukar lambang, namun manusia pun sesungguhnya bisa dijadikan sebagai saluran komunikasi. Jadi, lebih tepatnya saluran komunikasi itu adalah pengertian bersama tentang siapa dapat berbicara kepada siapa, mengenai apa, dalam

keadaan bagaimana, sejauh mana dapat dipercaya. Komunikator politik, siapapun ia dan apapun jabatannya, menjalani proses komunikasinya dengan mengalirkan pesan dari struktur formal dan non-formal menuju sasaran (komunikan) yang berada dalam berbagai lapisan masyarakat. Sedangkan, politik seperti komunikasi adalah proses dan seperti komunikasi politik melibatkan pembicaraan. Ini bukan pembicaraan dalam arti sempit seperti kata yang diucapkan, melainkan pembicaraan yang lebih inklusif, yang berarti segala cara orang bertukar symbol, kata-kata yang dituliskan dan diucapkan, gambar, gerakan, sikap tubuh, perangai dan pakaian. Ilmuwan politik Mark Roelofs menyatakan dengan cara sederhana, Politik adalah pembicaraan, atau lebih tepat kegiatan politik (berpolitik) adalah berbicara. ia menekankan bahwa politik tidak hanya pembicaraan, juga tidak semua pembicaraan adalah politik. Akan tetapi hakekat pengalaman politik dan bukan kondisi dasarnya, ialah bahwa kegiatan berkomunikasi antara orang-orang.[1] Maka dengan hadirnya media massa sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan terutama mengenai politik akan mempermudahkan kepada setiap komunikator politik dalam menyampaikan dan memperkenalkan siapa dirinya kepada khalayak. Begitu berkuasanya media dalam mempengaruhhi pikiran, peranan, dan perilaku penduduk, sehingga Kevin Philips dalam buku responsibility in mass Communicationmengtakan, bahwa era sekarang lebih merupakan mediacracy, yakni peemerintahan media, daripada demokrasi pemerintahan rakyat.[2] Kekuatan media massa (powerful media) sebagai saluran untuk mempengaruhi khalayak, telah banyak memberikan andil dalam pembentukan opini publik. Kemampuan melipatgandakan pesan-pesan politik di media massa mempunyai dampak terhadap berubahnya perilaku pemilih. Maka dari itu, bagi para elit politik yang ingin bertarung memperebutkan kursi kekuasaan, akan berusaha memanfaatkan media massa untuk tujuan publikasi dan pembentukan citra. Media dalam bentuk apapun adalah saluran komunikasi seorang kandidat kepada khalayak yang dikatakan efektif dan efisien pada masa kampanye modern saat ini. Ada beberapa media yang sangat penting dalam mempublikasikan agenda politik: Media telepon; merupakan alat komunikasi lisan satu-kepada-satu yang memiliki beberapa kegunaan bagi kampanye kontemporer. Media ini kerap digunakan bagi hubungan pribadi jika organisasi kampanye ingin mengumpulkan dana, mengarahkan pemilih untuk datang ke tempat kampanye. Atau terkadang media telepon juga biasa digunakan untuk memperkenalkan kandidat melalui rekaman suara yang dapat diputar berulang kali. Telepon pun hingga saat ini masih digunakan sebagai media survey tentang opini para pemilih; polling telepon, dengan menggunakan sistem pemutaran nomor secara acak disertai kuesioner pendek yang mudah dipahami; prosedur utama survey. Media radio, Menurut McLuhan, terdapat resonansi antara radio dan telinga serta pikiran manusia, resonansi yang menyajikan peluang besar bagi kampanye radio. Di samping itu, radio juga merupakan saluran massa bagi kaum minoritas walaupun dalam perkembangannya kaum mayoritas pun masih belum bisa meninggalkannya. Meskipun

radio tidak menampilkan visual/gambar hidup, namun media satu ini bisa merambah ke lokasi di mana media lain susah bahkan tak bisa menjangkaunya. Media Televisi, Di Amerika, penggunaan televisi sebagai media kampanye sudah sejak dasawarsa 1950-an dan 1960an dimulai. Penekanan dalam kampanyenya pun beragam, mulai dari pembuatan citra; di mana penggunaan media ini untuk memproyeksikan atribut-atribut terpilih dari kandidat. Hingga penekanan berkembang pada tahun 1970-an menjadi pengaturan dan pembahasan pokok masalah kampanye. Teknik untuk membangun citra sang kandidat pun beragam dari melalui publisitas gratis hingga pada beriklan di televisi yang mesti bayar. Sebenarnya sudah ada pengaturan tentang tata cara beriklan di media massa, terutama di televisi. Namun tetap saja banyak terjadi kecurangan di sana-sini, hingga terjadi ketidakadilan dalam peliputan berita kampanye pada Pilpres 2009 yang lalu. Peliputan berita kampanye pasangan kandidat tertentu mendapat durasi yang relatif lebih panjang dibanding pasangan kandidat yang lainnya. Hal ini dikarenakan pemilik stasiun televisi tersebut adalah orang dekat dari pasangan tersebut. Atau bisa juga karena pasangan kandidat tersebut memiliki dana kampanye yang cukup banyak untuk dapat memasang iklan berlebih pada media tersebut.[3] Media Cetak, Meskipun media elektronik ditambah dengan media inovasi sudah semakin maju, tetap saja media cetak belum akan ditinggalkan khalayak massa. Terdapat dua tipe media cetak yang kerap dijadikan sebagai media kampanye, yakni melalui surat langsung dan surat kabar atau majalah. Surat Langsung. Pada tahun 1974, Robin dan Miller memeriksa pengaruh pengiriman surat umum kepada 72.000 orang pada tahun 1974. Mereka menemukan bahwa, surat langsung tidak memiliki cukup pengaruh terhadap tingkat informasi pemilih, pandangan kandidat, tujuan memberikan suara dalam pemilihan, atau pemilihan kandidat. Surat Kabar. Tiga tipe isi surat kabar yang bertindak sebagai sarana bagi komunikasi kampanye, yakni ihwal berita, editorial, dan iklan. Semuanya membantu pembinaan citra dan penyajian masalah. Namun, pembuatan citra adalah yang paling utama. Setelah dilakukan penelitian terhadap ketiga tipe isi surat kabar dalam hal kampanye politik, maka didapatkan sebuah kesimpulan bahwa materi yang disajikan lebih kepada citra sang kandidat ketimbang masalah yang dihadapi. Dalam pemilu 2009, media surat kabar menjadi ruang publisitas politik di antara partaipartai peserta pemilu, mengingat salah satu media yang cukup representatif untuk mensosialisaikan agenda-agenda partainya masing-masing. Di tengah-tengah segitiga persaingan memperebutkan uang pengiklan dan perhatian publik, media telah mengembangkan dalam berbagai peran. Sebagai media informasi, radio dan televisi unggul dalam penyampaian berita yang dilengkapi dengan ulasan penjelas. Kalau media siaran memberi perhatian pada suatu peristiwa lain berkurang. Celah inilah yang kemudian diisi dengan koran. Seringkali koran memberikan banyak hal sehingga kedalamannya pun terbatas. Celah ini lalu diisi oleh majalah. Majalah acapkali meliput suatu yang diberikan oleh media siaran secara lebih panjang dan lebar. Seseorang yang tertarik untuk mengetahui yang lebih banyak tentang suatu yang diberitakan di televisi akan mencarinya di majalah. Jika ia akan lebih mendalaminya, ia akan mencari

buku atau film dokumenter. Hal ini juga menandakan bahwa peran media sebagai penafsir informasi serta pentingnya sebagai penyampai informasi.[4] Maka dari berbagai media di atas mempunyai peran yang saling melengkapi dan itu sangat efektif dalam menyampaikan pesan-pesan politik. Pencitraan Media Untuk pencitraan itu, media massa sering terlibat dengan pemberian julukan (label) kepada para aktor dan atau kekuatan politik. Dalam konteks ini, para komunikator massa dalam rutinitas serupa dengan lembaga stempel yang member persetujuan (pembenaran) dan ketidaksetujuan dalam tindakan-tindakan politik. Bagi suatu kekuatan politik, sikap sebuah media, entah neral partisan adalah menentukan terutama untuk pencitraan opini publik. Sebab, di satu pihak dari ujung komunikasi politik adalah mengenai citra ini, yang banyak bergantung pada cara mengkonstruksi pada kekuatan politik itu. Sedangkan media massa mempunyai kekuatan yang signifikan dalam komunikasi pollitik untuk mempengaruhi khalayak. Walhasil pencitraan yang dilakukan media akan memberikan dampak besar dalam menjangkau khalayak yang banyak.[5] Media massa adalah faktor penting dalam mengkonstruksi publik. Figur politik mempengaruhi media dan media mempengaruhi representasi pemerintahan.[6] Hal itu bisa dilihat dari popularitas Susilo Bambang Yudoyono tak bisa dihindari karena keterlibatan media dalam mengemas citra sehingga menjadi seperti sekarang ini. Dengan frekuensi diangkat dan diperlihatkan ke publik, media bisa menyihir berjuta-juta manusia untuk mengaguminya. Di kasus lain, juga dialami oleh Prabowo Subiyanto dengan partai Gerindra nya, saat menjelang pemilu 2009 lalu, sosok Prabowo selalu tampil di media televisi kita bak seorang tokoh yang akan menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi. Tak lama durasi yang dibutuhkan, Prabowo saat itu menjadi populis yang dikenal hampir seluruh bangsa Indonesia. J. Baudrillard menjelaskan empat fase citra (1981: 17): pertama, representasi dimana citra merupakan cermin suatu realitas; kedua, ideologi di mana citra menyembunyikan dan memberi gambar yang salah akan realitas; ketiga, citra menyembunyikan bahwa tidak ada realitas, lalu citra bermain menjadi penampakannya; keempat, citra tidak ada hubungan sama sekali dengan realitas apapun, ia hanya menjadi yang menyerupai dengan dirinya.[7] Berbagai kepustakaan ilmun komunikasi massa menjelaskan bahwa pesan politik yang disampaikan oleh media massa bukanlah realitas yang sesungguhnya, melainkan adalah realitas media, yaitu realitas buatan atau realitas tangan kedua (second hand reality) yaitu realitas yang dibuat oleh wartawan dan redaktur yang mengolah peristiwa politik menjadi berita politik, melalui proses dan penyaringan seleksi.[8] Para pemberi suara tidak hanya menjadi sadar akan isu, merumuskan citra atribut politik dan gaya pribadi para kandidat, dan membentuk citra tentang partai politik dengan hidup sebagai pertapa yang terasing. Juga perspektif yang dibawa oleh mereka ke dalam kampanye tidak menetapkan lebih dulu persepsi mereka tentang isu, kandidat dan partai. Akan tetapi, dalam waktu di antara

pemilihan dan selama kampanye tertentu mereka diterpa berbagai media politik internasional, organisasi dan massa.[9] Penutup Tak diragukan lagi, media menempati peran yang sangat strategis dalam menyampaikan pesan-pesan politik terhadap khalayak. Karena tak membutuhkan waktu yang panjang untuk sekedar memperkenalkan agendaagendanya bahkan bisa merubah pilihan sebelumnya tentu dengan strategi yang dimiliki media secara terus-menerus mempengaruhi khalayak. Dari berbagai media yang digunakan, tentu ada kelebihan dan kelemahannya, begitu juga mengandung pengaruh positif dan negatif terhadap khalyak. Maka upaya penyaringan dan control terhadap segala berita yang dimuat di media perlu dilakukan agar tidak salah pilih. Melalui media para komunikator maupun aktivis politik mudah menghipnotis khalayak dengan citra yang ditampilkan setiap saat melalui media. Berbagai isu dikemas dengan apik untuk mendapatkan tempat di ruang publik sehingga khalayak yang dijadikan sasaran oleh mereka bisa mengenal dan setelah itu memilihnya.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar, Pencitraan Dalam Politik, Strategi Pemenangan Pemilu Dalam Perspektif Komunikasi Politik( Jakarta, Pustaka Indonesia, 2006) Hamad, Ibnu, Konstruksi Realitas Politik Dalam Media,( Jakarta, Granit, 2004). Haryatmoko, Etika Komunikasi, manipulasi Media Kekerasan dan Pornografi. (Yogyakarta, Kanisius, 2007), Nimmo, Dan, Komunikasi Politik, komunikator, Pesan dan Media (Bandung, PT Rosda Karya, 1999) Uchyana Efendi, Onong, Dinamika Komunikasi (Bandung, PT. Rosda Karya,1986) W Jeffers, Leo, Mass Media Effects( United States of America, Waveland Press, 1997) William L. Rivers-Jay W. Jensen Theodore Peterson, Komunikasi massa, Jakarta, Prenada Media, 2004 Komunikasi politik bisa dilakukan oleh siapa saja, apakah dia sebagai warga negara dengan strata sosial yang rendah ataukan oleh para penjabat publik atau partai yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.Langkah itu semakin efektif bila menggunakan media pers. dalam hal ini pers telah menjadi semacam tempat atau saluran yang cukup prima dalam berpartisiasi pada proses artikulasi atauun agregasi berbagai kepentingan politik. dari keragaman aktor politik tanpak juga peran yang cukup menonjol dari kalangan partai politk termasuk juga berbagai kelompak kepentingan dan kelompok penekan. Selain itu ditemukan pula fenomena yang menarik adanya kecenderungan spesifik beberapa surat kabar nasional dalam mengekspos.berbagi

persoalan politik sesui dengan latar belakang media yang bersangkutan. Penelitian analisis surat kabar ini bisa menampilkan adanya polaritas yang cukup menonjol mengenai penggunaan ruang media untuk komunikasi politik Khususnya yang beasal dari pihak partai politik baik yang berada di lingkup kekuasaan ataupun yang bukan. dari sana juga tampak kecenderungan pemakaian ruang surat kabar prosentasenya cukup kecil berasal dari masyarakat awam. Dilain pihak, keberadaan surat kabar telah menjadi katup pengaman dalam penyampaian aspirasi politik yang disampaikan warga negara. Sehingga paling tidak akan mampu menjadi sebuah mediasi yang cukup potensial. Sumber: http://id.shvoong.com/society-and-news/news-items/1914011-pers-sebagai-media-komunikasipolitik/#ixzz1mNdqNCMQ\

Komunikasi Politik
MATERI PERKULIAHAN KOMUNIKASI POLITIK DESKRIPSI Mata kuliah ini memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang fungsi dan kontribusi faktor-faktor komunikasi dalam proses politik serta hubungan timbal balik antara kepentingan politik dengan proses komunikasi dalam konteks nasional, regional, ataupun internasional. TUJUAN Memahami fungsi dan kontribusi faktor-faktor komunikasi dalam proses politik; Mengkaji permasalahan politik dalam konteks nasional, regional, dan internasional dalam perspektif komunikasi; Memahami pola dan dampak komunikasi politik para aktor politik terhadap publik dan feedback-nya kepada komunikator dalam proses politik. REFERENSI UTAMA Dan Nimmo, Komunikasi Politik, Komunikator, Pesan, Media _________, Komunikasi Politik: Efek & Khalayak MATERI PERKULIAHAN Pengertian Komunikasi dan Politik Pengertian Komunikasi Politik Aktor & Proses Komunikasi Politik Saluran Komunikasi Politik UJIAN TENGAH SEMESTER Komunikasi Politik: Propaganda Komunikasi Politik: Kampanye Komunikasi Politik: Agenda Media Komunikasi Politik: Opini Publik UJIAN AKHIR SEMESTER POKOK BAHASAN Komunikasi Politik (Political Communication) merupakan gabungan dua disiplin ilmu yang berbeda namun terkait sangat erat, yakni Ilmu Komunikasi dan Ilmu Politik. Oleh karena itu, sebelum memasuki pembahasan tentang pengertian dan proses komunikasi politik, dibahas lebih dulu tentang pengertian komunikasi dan politik.

Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat, perilaku baik langsung maupun tidak langsung. Berbagai definisi komunikasi dari para pakar komunikasi dikaji dan didiskusikan, antara lain: Who says what in which channel to whom and with what effects Siapa mengatakan apa melalui saluran mana kepada siapa dan dengan pengaruh apa (Harold Lasswell) dan Saling berbagi informasi, gagasan, atau sikap (Wilbur Schramm). Dibahas pula tentang fungsi, jenis, komponen, dan proses komunikasi secara umum. Unsur-unsur komunikasi yaitu Komunikator/Sender (Pengirim pesan), Encoding (Proses penyusunan ide menjadi simbol/pesan), Message (Pesan), Media/Channel (Saluran), Decoding (Proses pemecahan/penerjemahan simbol-simbol), Komunikan/eceiver (Penerima pesan), dan Feed Back/Effect (Umpan balik, respon, atau pengaruh). Politik adalah kajian tentang kekuasaan (power) atau seni memerintah. Dibahas dan didiskusikan berbagai pendapat tentang definisi politik, antara lain ho gets what, when, and how (Harold Laswell), Authoritative allocation of values alokasi nilai-nilai secara otoritatif/sah/sesuai dengan kewenangan (David Easton), Kekuasaan dan pemegang kekuasaan (G.E.G Catlin), Pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan umum untuk masyarakat seluruhnya (Joyce Mitchell), Seni memerintah; Penggunaan pengaruh, perjuangan kekuasaan, dan persaingan alokasi nilai-nilai dalam masyarakat (Kamus Analisa Politik, Jack Plano dkk.), dan Proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan , khususnya dalam negara; Seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional; Hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara; Kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat; Segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik (Wikipedia). Pengertian Komunikasi Politik Secara sederhana, komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara yang memerintah dan yang diperintah. Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang kongkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung, dan seterusnya. Tak heran jika ada yang menjuluki Komunikasi Politik sebagai neologisme, yakni ilmu yang sebenarnya tak lebih dari istilah belaka. Dalam praktiknya, komuniaksi politik sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dalam aktivitas sehari-hari, tidak satu pun manusia tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik. Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar sosal kenaikan BBM, ini merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Sebab, sikap pemerintah untuk menaikkan BBM sudah melalui proses komunikasi politik dengan mendapat persetujuan DPR. Gabriel Almond (1960): komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam setiap sistem politik. All of the functions performed in the political system, political socialization and recruitment, interest articulation, interest aggregation, rule making, rule application, and rule adjudication,are performed by means of communication. Komunikasi politik merupakan proses penyampaian pesan-pesan yang terjadi pada saat keenam fungsi lainnya itu dijalankan. Hal ini berarti bahwa fungsi komunikasi politik terdapat secara inherent di dalam setiap fungsi sistem politik.

Political communication is a process by which a nations leadership, media, and citizenry exchange and confer meaning upon messages that relate to the conduct of public policy. (Perloff). Political communication is communication (activity) considered political by virtue of its consequences (actual or potential) which regulate human conduct under the condition of conflict (Dan Nimmo). Kegiatan komunikasi yang dianggap komunikasi politik berdasarkan konsekuensinya (aktual maupun potensial) yang mengatur perbuatan manusia dalam kondisi konflik. Cakupan: komunikator (politisi, profesional, aktivis), pesan, persuasi, media, khalayak, dan akibat. Political communication is communicatory activity considered political by virtue of its consequences, actual, and potential, that it has for the funcioning of political systems (Fagen, 1966). Political communication refers to any exchange of symbols or messages that to a significant extent have been shaped by or have consequences for the political system (Meadow, 1980). Komunikasi politik merupakan salah satu fungsi partai politik, yakni menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa -penggabungan kepentingan (interest aggregation) dan perumusan kepentingan (interest articulation) untuk diperjuangkan menjadi public policy. (Miriam Budiardjo). Jack Plano dkk. Kamus Analisa Politik: komunikasi politik adalah penyebaran aksi, makna, atau pesan yang bersangkutan dengan fungsi suatu sistem politik, melibatkan unsur-unsur komunikasi seperti komunikator, pesan, dan lainnya. Kebanyakan komunikasi politik merupakan lapangan wewenang lembaga-lembaga khusus, seperti media massa, badan informasi pemerintah, atau parpol. Namun demikian, komunikasi politik dapat ditemukan dalam setiap lingkungan sosial, mulai dari lingkup dua orang hingga ruang kantor parlemen. Wikipedia: Political communication is a field of communications that is concerned with politics. Communication often influences political decisions and vice versa. The field of political communication concern 2 main areas: (1) Election campaigns Political communications deals with campaigning for elections; (2) Political communications is one of the Government operations. This role is usually fullfiled by the Ministry of Communications and or Information Technology. Referensi: Dan Nimmo. Komunikasi Politik. Rosda, Bandung, 1982; Gabriel Almond. The Politics of the Development Areas, 1960; Gabriel Almond and G Bingham Powell. Comparative Politics: A Developmental Approach, New Delhi, Oxford & IBH Publishing Company, 1976; Mochtar Pabottinggi, Komunikasi Politik dan Transformasi Ilmu Politik dalam Indonesia dan Komunikasi Politik, Maswadi Rauf dan Mappa Nasrun (eds). Jakarta, Gramedia, 1993; Jack Plano dkk. Kamus Analisa Politik, Rajawali Jakarta 1989; Prof. Onong Uchjana Effendy, M.A. Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2003; Prof. Miriam Budiardjo. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia, Jakarta, 1982. HASIL RISET KOMUNIKASI POLITIK. sampleIn Komunikasi Politik on May 3, 2007 at 1:28 pm HASIL RISET KOMUNIKASI POLITIKsample;Fraksi PK Sejahtera DPR-RI- Jakarta Pusat VISI, MISI DAN PROGRAM FRAKSI PK SEJAHTERA DPR-RI- JAKARTA PUSAT A. KERANGKA INTERNAL 1. Dakwah yang diemban oleh PKS adalah dakwah integral (syumuliyatud dakwah) yang menckupi seluruh bidang kehidupan. FPKS sebagai sebagian kecil dari tangan-tangan dakwah PKS harus seluas

mungkin memasuki bidang-bidang kehidupan tersebut. 2. Partai sebagai sebuah sarana dakwah diharapkan mampu mengokohkan jalannya gerakan dakwah menempuh marhalah-marhalahnya ke depan dengan mengusung kader-kader dakwah yang berkualitas dari sisi syakhsiyah dan amaliyahnya. 3. Musyarakah siyasiyah merupakan dasar gerakan dakwah FPKS pada saat ini dengan karakter mustafidah, mutawazinah, dan mustaqimah yang dalam kaitan Pemilu 2004 berada dalam tahaaluf hukumah berdasarkan kontrak politik dengan presiden. B. KERANGKA EKSTERNAL 1. Orientasi kehidupan masyarakat Indonesia, masih banyak yang bersifat pragmatis meskipun sebagian besar mereka adalah kaum muslimin sehingga pendekatan dari sisi keislaman sering dipergunakan dalam menarik pengaruh. Hal ini tampak pada hasil Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden/Wakil Presiden tahun 2004. 2. Kekuatan politik di parlemen menunjukkan tingkat sebaran yang tinggi karena tidak satupun partai yang menang mutlak sehingga diduga kondisi politik parlemen akan sangat dinamis. Meskipun asas partai berbeda-beda tetapi interaksi mereka umumnya didasarkan pada kemaslahatan masing-masing yang mungkin berubah-ubah. 3. Dua kenyataan besar dalam politik Indonesia adalah kekuatan tokoh presiden SBY dengan PD yang tidak besar dan kekokohan partai besar PG yang berhasil dikuasai JK yang menjabat wakil presiden. Kecuali terdapat perubahan radikal di PG, dalam lima tahun ke depan warna politik Indonesia akan dipengaruhi oleh ketokohan SBY dan eksistensi PG. C. VISI Terwujudnya kepercayaan publik akan peran politik partai dakwah melalui optimalisasi peran anggota legislatif FPKS yang dimanifestasikan dalam dukungan dan signifikan untuk pemenangan Pemilu 2009. Misi Strategi Membangun sistem politik yang sehat dan demokratis dalam lingkungan internal parlemen (DPR RI) maupun interaksinya dengan pemerintah dengan mengusung nilai-nilai al-akhlaq alkarimah dan alqudwat al-?ulya. Memperhatikan kaidah-kaidah (pilar-pilar) bagi sistem pengelolaan kekuasaan dalam Islam yakni besarnya rasa tanggungjawab, merangkai kesatuan ummat dan menghargai aspirasi ummat. Membangun dan mengokohkan koalisi-koalisi parlemen dalam mengusung agenda-agenda dakwah yang terkait dengan ishlahul hukumah, ishlahul mujtama dan alhal al-islami dengan pendekatan-pendekatan yang variatif. Setiap kebijakan, program dan langkah yang ditempuh partai senantiasa berorientasi kepada perbaikan (ishlah), baik yang terkait dengan perbaikan individu, keluarga, masyarakat, pemerintahan, dan negara dalam rangka meninggikan kalimat Allah dan mengoperasikan syariah-Nya. Menguatkan mekanisme check and balances DPR terhadap pemerintahan untuk mengamankan nilainilai yang terkandung dalam kontrak politik PKS dengan Presiden RI. Memperhatikan pilar-pilar bagi terwujudnya good governance di antaranya transparansi, akuntabilitas, kemandirian, kesetaraan, artikulatif. 4. Optimalisasi peran anggota legislatif dan FPKS dalam mengamankan dan memperjuangkan agenda dakwah partai di parlemen atau melalui parlemen. Memperhatikan arah kecenderungan umum kondisi sosial, politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pertahanan dan keamanan yang berkembang dalam masyarakat Indonesia dalam rangka menyusun langkah-langkah antisipasi sesuai dengan marhalah dakwah yang ditetapkan pada suatu

masa. Mengoptimalkan program-program kedewanan yang bersifat turun ke bawah seperti kunjungan kerja komisi atau perorangan untuk program dakwah yang bersifat lebih luas dengan bekerjasama dengan struktur partai yang terkait. Memperjuangkan terwujudnya UU yang berorientasi kepada nilai-nilai islami melalui perbaikan materi perundang-undangan dan prioritas pembahasannya. Optimalisasi sumberdaya internal dan eksternal dalam berbagai bidang (media, pakar, lembaga, ormas, dan lainnya) dalam membantu kerja dakwah parlemen. Memperkokoh dukungan struktural, fikrah, metodologi, dan spritualitas dari partai. Meningkatkan profesionalitas anggota legislatif dan soliditas struktur FPKS. Menjadikan parlemen sebagai sarana untuk melahirkan sumberdaya/tokoh manusia yang siap diterjunkan ke dalam lingkungan pemerintahan dan masyarakat luas, baik nasional maupun internasional. Menjalin lebih erat hubungan dakwah internasional melalui pemanfaatan program BKSAP, selain menimba pengetahuan tentang model-model pengelolaan negara dalam berbagai aspeknya. Memberi kesempatan dan/atau penugasan yang sama kepada setiap anggota legislatif untuk tampil dan berperan aktif dalam forum-forum atau kerja sama nasional, regional, maupun internasional Meningkatkan pelayanan dan advokasi bagi masyarakat. Memperjuangkan terwujudnya UU yang berorientasi kepada nilai-nilai islami dan memperjuangkan kemashlahatan umat melalui perbaikan materi perundang-undangan dan prioritas pembahasannya. KEGIATAN FRAKSI 1. Rapat Pleno Fraksi Rapat pleno fraksi adalah rapat yang dihadiri oleh seluruh anggota Fraksi PKS DPR RI bersama dengan staf ahli. Rapat pleno diselenggarakan setiap satu minggu sekali. Di DPR RI jadwal rapat fraksi disediakan satu hari dalam lima hari kerja dimana pada hari lain disediakan untuk rapat komisi, paripurna, badan musyawarah, panitia anggaran dan alat kelengkapan dewan lainnya. Rapat pleno berisikan acara laporan dari setiap anggota faksi yang merupakan unsur setiap komisi tentang perkembangan di komisi masing-masing. Di samping itu rapat pleno juga membicarakan aspirasi yang masuk dari masyarakat dan perkembangan terakhir kondisi nasional dan daerah. 2. Rapat Pimpinan Fraksi Fraksi PKS memiliki 2 pimpinan yaitu pimpinan fraksi untuk MPR RI dan pimpinan fraksi untuk DPR RI. Yang biasanya bekerja setiap hari adalah adalah pimpinan fraksi di DPR RI, sementara pimpinan fraksi MPR RI relatif lebih jarang. Rapat pimpinan berfungsi melakukan koordinasi dan pembicaraan penting lainnya yang menyangkut kepentingan fraksi secara keseluruhan. 3. Press Release Fraksi PKS DPR RI juga mengeluarkan press release untuk menyampaikan sikap resmi fraksi mengenai peristiwa ataupun kebijakan yang penting untuk disikapi. Beberapa press release yang sempat dibuat oleh fraksi PKS DPR RI di antaranya adalah, press release tentang hari anti korupsi sedunia, press release tentang solusi menangani Aceh akibat bencana gempa bumi dan tsunami. 4. Kunjungan Kerja Untuk hal yang dianggap penting dan ingin mengetahui kondisi sebenarnya, fraksi PKS memberikan mandat kepada anggotanya untuk melakukan kunjungan kerja guna mengetahui kondisi riil yang menyangkut permasalahan rakyat. Satu di antaranya adalah kunjungan kerja fraksi PKS DPR RI ke Malaysia guna mendapatkan fakta yang lebih nyata mengenai nasib TKI legal maupun ilegal di sana.

5. Menerima Aspirasi Fraksi PKS DPR RI dalam rangka menyerap aspirasi dari berbagai lapisan masyarakat melakukan audiensi dengan berbagai elemen masyarakat. Bebeberapa audiensi sudah dilakukan dengan berbagai topik, di antaranya adalah: Politik ertahanan Luar Negeri Informasi Pemerintahan & Otoda Aparatur Negara Agraria Hukum & Perundang-undangan HAM Keamanan. Infrastruktur:Pertanian & Pangan Perkebunan dan Kehutanan Kelautan dan Perikanan Perhubungan & Telekomunikasi Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Pembangunan Pedesaan Energi & Sumberdaya Mineral Riset & Teknologi Lingkungan Hidup. Ekonomi:Perdagangan Industri Investasi Koperasi & UKM BUMN Keuangan Perencanaan Pembangunan Nasional .

Media Massa dalam Realitas Politik


Posted by Divisi Multimedia on 08:49 // 0 komentar

Dewasa ini, media massa mempunyai peran strategis dalam kehidupan politik bangsa. Peran media massa dalam menyalurkan informasi tentang peristiwa politik yang terjadi, sering memberikan dampak signifikan bagi perkembangan dinamika politik. Bahkan, seringkali peran media tidak sekedar sebagai penyalur informasi atas peristiwa politik yang sungguh terjadi, lebih dari itu media massa mempunyai potensi untuk membangun pendapat umum ( opini public ) yang bias mendorong terjadinya perubahan atas konstruksi realitas politik.

Sebagai contoh, dalam kasus perseteruan KPK dan Polri, yang sempat membuat berang banyak orang. Melalui kekuatan pemberitaannya, semakin membuktikan bahwa media punya kekuatan untuk mengarahkan opini public dimana KPK dicitrakan seolah sebagai pihak yang terdzalimi sehingga mengundang simpati dari masyarakat luas.

Peristiwa politik memang selalu menarik perhatian media massa sebagai bahan liputan. Hal ini terjadi karena dua factor yang saling terkait. Pertama, dewasa ini politik berada di era mediasi ( politics in the age of mediation ), media massa mempunyai peran signifikan sebagai mediator antara actor politik dan konstituennya, sehingga mustahil

memisahkan kehidupan politik dari media massa.

Dalam konteks ini, sajian informasi media massa mempunyai efek ganda, yaitu dalam hal pemuas kehausan mayarakat akan informasi politik, sekaligus sebagai media sosialisasi actor politik untuk memperoleh dukungan public. Bahkan actor politik seringkali berusaha menarik perhatian media massa untuk meliput aktivitas politiknya. Kedua, peristiwa politik dalam bentuk tingkah laku dan pernyataan politik para actor politik lazimnya mempunyai nilai berita sekalipun peristiwa tersebut hanya rutinitas belaka. Apalagi jika peristiwa tersebut sesuatu yang luar biasa, alhasil liputan politik senantiasa menghiasi berbagai edia massa setiap hari.

Peranan media masa tersebut tentunya tidak dapat dilepaskan dari arti keberadaan media itu sendiri. Marshall McLuhan, seorang sosiolog Kanada mengatakan bahwa media is the extension of men. Pada awalnya, ketika teknologi masih terbatas maka seseorang harus melakukan komunikasi secara langsung. Tetapi, seiring dengan peningkatan teknologi, maka media massa menjadi sarana dalam memberikan informasi, serta melaksanakan komunikasi dan dialog. Secara tidak langsung, dengan makna keberadaan media itu sendiri, maka media menjadi sarana dalam upaya perluasan ide-ide, gagasan-gagasan dan pemikiran terhadap kenyataan sosial (Dedy Jamaludi Malik, 2001: 23).

Dengan peran tersebut, media massa menjadi sebuah agen dalam membentuk citra di masyarakat. Pemberitaan di media massa sangat terkait dengan pembentukan citra, karena pada dasarnya komunikasi itu proses interaksi sosial, yang digunakan untuk menyusun makna yang membentuk citra tersendiri mengenai dunia dan bertukar citra melalui simbol-simbol (Nimmo, 1999). Kesuksesan pencitraan politik SBY yang begitu kental merupakan hasil dari kesuksesannya memanfaatkan media. Dalam konteks tersebut, media memainkan peranan penting untuk konstruksi realitas sosial.

Proses Konstruksi Realitas Politik oleh Media


Proses konstruksi realitas politik pada prinsipnya merupakan setiap upaya menceritakan (konseptualisasi) sebuah peristiwa, keadaan, atau benda tak terkecuali mengenai hal-hal yang berkaitan dengan politik adalah usaha mengkonstruksi realitas. Karena sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media massa adalah menceritakan peristiwaperistiwa, maka kesibukan utama media massa adalah mengkonstruksikan berbagai realitas yang akan di sajikan.

Media menyusun realitas dari berbagai peristiwa yang terjadi hingga menjadi cerita atau wacana yang bermakna. Pembuatan berita di media massa pada dasarnya merupakan penyusunan realitas-realitas hingga membentuk wcana yang bermakna. Dengan demikian seluru isi berita media massa adalah realist yang telah dikonstruksikan (constructed reality) dalam bentuk wacana yang bermakna.

Di era industrialisasi kapitalisme dimana media massa termasuk didalamnya, muncul dilema peran media massa dalam pembentukan konstruksi realitas politik. Di satu sisi, liputan politik memiliki dimensi pembentukan pendapat

umum (opini pubik). Daya jangkau penyebaran informasi yang begitu luas dan massif merupakan kekuatan utama media massa dalam pembentukan opini public.

Hal ini disadari benar oleh para actor politik yang tak jarang memanfaatkan media massa sebagai senjata utama untuk mendapatkan dukungan public atas kepentingannya. Melalui media massa, para actor politik melancarkan propagandanya mempengaruhi sikap khalayak luas mengenai sebuah masalah yang menjadi perhatiannya.

Dalam upaya pembentukan opini public ini, seringkali media massa melakukan tiga strategi sekaligus :

Pertama, menggunakan symbol-simbol politik ( politics language ) Kedua, melaksanakan strategi pengemasan pesan (Framing Strategies) Ketiga, melakukan fungsi agenda media (agenda setting function). Ketiga strategi dalam pembentukan opni public ini seringkali dipengaruhi oleh factor internal pemangku kepentingan media massa tersebut berupa kebijakan redaksional mengenai suatu kepentingan politik tertentu, kepentingan pengelola media, relasi media dengan kekuatan politik tertentu, dan factor eksternal seperti sistem politik yang berlaku, permintaan pasar, dan kekuatakekuatan luar lainnya. Factor inilah yang seringkali menimbulkan kemasan redaksional yang berbeda-beda antara media satu dengan yang lainnya dalam menyampaikan peristiwa politik yang sama.

Di lain sisi, industrialisasi kapitalis telah sampai merambah media massa. Dengan masuknya unsure capital, media massa harus memikirkan pasar demi memperoleh keuntungan baik dari penjualan maupun dari iklan. tak terkecuali dalam menyajikan peristiwa politik, media masa harus memperhatikan kepuasan konsumen sebagai pasar mereka. Padahal public secara umum mempunyai keterikatan secara ideologis dengan kekuatan politik tertentu atas dasar agama, nasionalisme, ataupun sosialisme (kerakyatan).

Demikian pula media massa kita pada tingkat tertentu juga terlibat dengan kehidupan atau bahkan mempunyai keterikatan dengan kekuatan politik tertentu. Hal ini seringkali menyebabkan informasi politik yang disajikan suatu media massa bersifat partisan. Dalam banyak kasus, kelompok-kelompok yang mempunyai kekuasaan atas media massa umumnya sangat berkepentingan dalam pembentukan konstruksi realitas politik ini.

Strategi Media Massa Melakukan Konstruksi Realitas Politik

Dalam proses konstruksi realitas, bahasa merupakan unsur utama. Ia merupakan instrument pokok untuk menceritakan realitas. Bahasa adalah alat konseptualisasi dan alat narasi. Penggunaan bahasa mempunyai arti yang sangat penting dalam menyampaikan berita, menceritakan peristiwa, komunikasi, dan membangun wacana. Begitu pentingnya bahasa, maka tak ada berita, cerita, ataupun komunikasi tanpa bahasa. Selanjutnya penggunaan bahasa tertentu menentukan format narasi dan makna tertentu.

Lebih jauh dari itu, terutama dalam media massa, pilihan bahasa ini tidak lagi sekadar sebagai alat semata untuk menggambarkan realitas, melainkan bias menentukan gambaran (makna citra) mengenai suatu realitas yang muncul di benak khalayak. Penggunaan bahasa tertentu dengan demikian berimplikasi pada bentuk konstruksi realitas dan makna yang dikandungnya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bahasa adalah nyawakehidupan media massa.hanya melalui bahasa para pekerja media bias menghadirkan hasil reportasenya kepada public. Para peneliti berpendapat terdapat tiga tindakan yang biasa dilakukan media , khususnya oleh para komunikator massa, tatkala melakukan konstruksi realitas social yang berujung pada pembentukan citra sebukekuatan politik. Ketiganya adalah pemilihan symbol (fungsi bahasa), pemilihan fakta yang akan disjikan (strategi framing), dan kesediaan member tempat (agenda setting).

Pertama, dalam pilihan kata (symbol) politik. Sekalipun hanya bersifat melaporkan, tapi menjadi sifat dari pembicaraan politik untuk selalu memperhitungkan symbol politik. Dalam komunikasi politik, para komunikator bertukar citra-citra atau makna-makna melalui lambing politik. Mereka saling menginterpretasikan pesan-pesan politik yang diterimanya. Apapun symbol yang akan dipilih akan mempengaruhi makna yang muncul.

Kedua, dalam melakukan pembingkaian (framing) peristiwa politik. Setidaknya oleh alasan teknis keterbatasan kolom (ruang) dan durasi (waktu). Jarang ada media yang mengemas sebuah peristiwa secara utuh. Atas nama kaidah jurnalistik, media massa menyederhanakan peristiwa melalui mekanisme pembungkaian fakta-fakta dalam bentuk berita sehingga layak terbit. Untuk kepentingan pemberitaan tersebut, sering kali media massa hanya menyoroti halhal yang dianggap penting saja. Pembuatan frame itu sendiri didasarkan ataas berbagai kepentingan internal maupun eksternal media, baik teknis, ekonomis, politis,ataupun ideologis.

Ketiga, adalah menyediakan ruang atau waktu untuk peristiwa politik (fungsi agenda setting). Justru hanya jika media massa member ruang pada sebuah peristiwa politik, maka peristiwa politik akan memperoleh perhatian oleh masyarakat. Semakin besar tempat yag diberikan semakin besar pula perhatian yang diberikan khalayak. Pada konteks ini, media mempunyai fungsi agenda setter. Bila satu media menaruh sebuah peristiwa sebagai head-line pasti peristiwa tersebut memperoleh perhatian yang besar dari public. Faktanya, konsumen media jarang memperbincangkan kasus yang tidak dimuat oleh media, yang boleh jadi kasus itu justru sangat penting untuk diketahui masyarakat.

Media dan Demokratisasi

Banyak aspek dari media massa yang membuat dirinya penting dalam kehidupan politik. Memang harus diakui, efektivitas media untuk suatu perubahan politik memerlukan situasi politik yang kondusif, yang popular disebut keterbukaan politik. Tetapi pers yang bebas merupakan salah satu indicator adanya keterbukaan politik itu sendiri, karena pers yang bebas juga merangsng terjadinya kebebasan politik. Pemberitaan-pemberitaan politik yang actual dan kritis dapat member kesadaran pada masyarakat tentang perlunya sistem politik yang lebih demokratis.

sumber : http://sangfanani.blogspot.com/2010/09/media-massa-dan-konstruksi-realitas.html