kuesioner

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA.PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT. DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

Dr. Siti Madanijah. Dr. Clara M. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. drh. Ir. MSc NIP 131 414 958 Dr. Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. Ir. Kusharto. Didy Sopandie. Pengetahuan Gizi.Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Pihak Desa Cikarawang. 6. yaitu kepada: 1. 5. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. Ir. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. MSc. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. Ir. 2. Dr. Kusharto. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. SP. Dadang Sukandar. Bogor”. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Dr. Clara M. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. Dr. MKes. Pengetahuan Gizi. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. Alhamdulillah. Tien Herawati SP. Dr. 3.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. Ir. Dr. . Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. Ir. Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. sungguh luar biasa karena atas rahmat. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. Siti Madanijah. Prof. 4. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. drh. 7. Ikeu Ekayanti. Ikeu Tanziha. Oleh karena itu.

Once. OMDA CIANJUR. RHEMAND (Nda. perhatian. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). Yesa. Rizka. dorongan semangat. Mei.8. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. 40 dan GM 42. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. Maul. Mama. Kakang Rizki. atas bantuan. Yuli. Ati. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Vina dan Emil. Henny. GMSK 39. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. Venny. saran. Bogor. tumpangan kamar. Firdaus. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. Dini. Dedew. Rika. 12. dan doa untuk keberhasilan penulis. Teteh Milah. Dhyta. 43. Ira. teman-teman relawan Klaten. Devita. Abah. DausBek. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah . Tiche. Adin. Yulia. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. Bung). Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Friska. MpokIde. Lola. 13. dukungan semangat. 11. Arina. Sri. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. Nur. Manto. Ardi. Noorma. 10. 9. temen seperjuangan KKP. Ena. Any. kebersamaan yang indah dan keceriannya. BKGers (Semangat yo). Noni. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. penghuni AS-SAKINAH.

Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Siti Romlah. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang. 2007/2008. selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara. Desa Cikarawang. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA).RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Fakultas Pertanian. penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. Serta. Hasan Mulyadi dan Ibu Hj. Semarang. Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Selain itu. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI.

......... 19 METODE PENELITIAN ................... 17 Pola Asuh Kesehatan ........................... 22 Definisi Operasional ...... 29 Karakteristik Keluarga Contoh............................. 47 Pola Asuh Kesehatan ......................... 26 Karakteristik Anak Balita.................................................................... 1 Tujuan.......................................................... 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS................................................................................................. 35 Pengetahuan Gizi .. 3 Kegunaan Penelitian ...................................................................................... 18 KERANGKA PEMIKIRAN...DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL. Tempat dan Waktu ....................................................................................... 16 Pola Asuh Makan.................. 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)................................................................................... 3 TINJAUAN PUSTAKA ...................................................... 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data................................................. 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian ........................................... Pengetahuan ............................. 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh .............................................................................................................................. 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................................................... 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita .............................................................................................................................................................................. 22 Disain..................................................... 6 Karakteristik Keluarga ............................................................................................................ 5 Penyakit Diare ...................................... 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita ......... 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).......................................................................................................................................... 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita..................................................................................................................................................................................................................................... 4 Karakteristik Anak balita ........ vi DAFTAR GAMBAR ..................................................................... 16 Pola Asuh ............ 47 Pola Asuh Makan................................................... 21 Pengolahan dan Analisis Data ................................................................................................ 1 Latar Belakang ..................................................................................... ix PENDAHULUAN ............................................... viii DAFTAR LAMPIRAN......................... 9 Pengetahuan Gizi .................................................................................................................................................................................................................................................................................. 45 Pola Asuh ............................................................................................................. 2 Hipotesis..............................................................

....... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan................................................................................................................................. Pengetahuan Gizi. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ................ 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita........................................................ 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ................................... 66 ...................................................................................... 62 LAMPIRAN ....................... 60 Kesimpulan... 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita .................................... 58 KESIMPULAN DAN SARAN ...................... 61 DAFTAR PUSTAKA ................ 55 Kaitan antara PHBS................................................. 60 Saran ............................. 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita ......Gizi...........................................................

............................. 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin...... 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah........................................................................................................................................................................................................... 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya............................................................ 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan.. umur dan berat badan lahir.......................................................... 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan ........ 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan ............. 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi ...... 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi................................. 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit..................................... 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan...................................... 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan .............................................DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data ............ 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit .......................................................................... 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir.................................. 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene ................................. 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan .......................................... 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air ............ 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB.................. 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur. 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga ............ 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden .............. 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban.......... 21 Cara pengolahan dan analisis data ..................................................................... 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.................................. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit.................................................. 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL .... 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit............. 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang........................ 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat................................................................................. 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS ....

................................... 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita ...... 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita ................................... 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita......................... 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS ............................................................................................. 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita......................... 58 .......................................................... 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita ................................. 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita ...................................................... 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita........ 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita.............. 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ....responden ................................................................................................... 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita ............ 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan...................................................................... 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ...............................................................................

20 ............DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum ....................... Pengetahuan Gizi. 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS...... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita .......................

..................................... 70 .... kemudahan dihubungi dan cara pelayanan ................ .............. 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan........ 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi ................................................DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan................ 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi....................... 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel ................ jarak dan daya jangka ........................

Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare. pelayanan kesehatan (10%). serta air dan udara yang bersih. dan perilaku terhadap upaya kesehatan.PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. Selain itu. Menurut Henrik L. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%).S. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). kebersihan perorangan. sekolah dan tempat umum. gaya hidup. Dari keempat faktor tersebut. AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%. tempat kerja. 2002). 2002). sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. dan keturunan (20%). perilaku hidup sehat (40%). Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan.

Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Di Indonesia. penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007).dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. memberikan makan anak. Kosek et al. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Bogor. 2005). Dalam hal ini. merawat anak. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. kebersihan anak. . (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. dan sosial. mental.

6. pengetahuan gizi. . pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. 2. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya. pengetahuan gizi. pengetahuan gizi. 7. 2. 5. 3. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pengetahuan gizi. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. Menganalisis kaitan antara PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Hipotesis 1. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. pengetahuan gizi. 4. Mengidentifikasi PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita.Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. 3. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS.

daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al.TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. Umur Menurut Hurlock (1982) sikap. Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006). kebiasaan. keselamatan dan gizi. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. Akan tetapi. 2005). sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. . pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001). Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982).

penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara.Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB. Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan. Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). Oleh karena itu. Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. . Oleh karena itu. maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). salah satunya dengan antropometri. dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. tinggi badan menurut umur (TB/U). Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002).

Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30. buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih. Menurut Latifah et al. sehingga akan menular.6%). parasit (jamur. Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya. coli (20-30%). Selain itu. yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari).4-36. dan Shigella (2-5%). Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). bahkan dapat berupa air saja. keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. Vibrio cholera (5%).Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. E. Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih. Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). bakteri. Salmomella (5-18%). apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu. Ditinjau dari sudut patofisologi. Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. cacing. (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer. lalat) atau oleh tangan yang kotor. Penyebab diare diantaranya yaitu virus. Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis. penyebab diare akut yaitu: . protozoa). Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. alergi terhadap susu. menggunakan sumber air yang tercemar.

Malabsorpsi makanan .Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia.Infeksi virus.Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida. gugup). makanan (misalnya keracunan makanan. kuman-kuman patogen dan apatogen . Selain itu. hawa dingin. ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002). Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga. gangguan psikis (ketakutan.BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi. Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: . alergi dan sebagainya. karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004). Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. gangguan syaraf. . Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT). Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). makanan yang terlalu asam). makanan yang pedas. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi. 2. Rumah .Kekurangan kalori protein dan mineral .1.

Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. Dengan demikian. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006). informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional.yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan. fertilitas. serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006). karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan.

akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). manusia sebagai tuan rumah. Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. rohani. kesehatan dan gizi balita. Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan. Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. kesejahteraan ibu dan anak. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002).sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. Dengan demikian. . 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. dan lingkungan hidup (Entjang 1985). penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. perawatan kesehatan dan pemeriksaan. Pada tingkat keluarga. diantaranya pendidikan keluarga.

menurut Henrik L. kelompok. dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. dan program dan pelayanan kesehatan (10%). keluarga dan masyarakat. cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. memiliki akses dan menggunakan air bersih. lingkungan kesehatan (30%). terutama pada aspek budaya perorangan.Masalah determinan kesehatan. Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. 2005). memiliki akses dan menggunakan jamban. Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. . 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. makan dengan gizi seimbang. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. perilaku sehat. Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. perilaku kesehatan (40%). masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. 2006). Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. menghuni rumah sehat.

Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). pakaian bersih. Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). . Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. preventif (pencegahan penyakit). menjaga saluran air agar tidak mampet. dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. hepatitis. olahraga dan lain-lain. sosial. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. MMR. dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2.membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. biologi. Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran. persalinan ditolong tenaga kesehatan. Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. 3. memeriksakan kehamilan. menimbang balita setiap bulan. dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). Usaha pengebalan atau imunisasi. menyikat gigi. menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. memanfaatkan sarana kesehatan. diberikan saat balita (BCG.

semangka. ubi.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. wortel. singkong. keamanan. 2. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. pepaya. buncis. . mie. kangkung. pisang. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. jeruk. sirap dan nipah. dan kenyamanan manusia. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). tegel atau semen. ayam. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). 5. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. jagung. kacang-kacangan. telur. 4. teraso. daun katuk. diantaranya: 1. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. dan kayu atau bambu. sawi. kacang panjang. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. tempe. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. seng. tahu. daun singkong. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. asbes gelombang. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. Rumah Sehat Menurut Latifah et al. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. 3. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. daging. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar.

sumur yang terlindungi. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Air bersih belum tentu dikatakan sehat. Menurut Subandriyo et al. dan mata air yang terlindungi. tidak berwarna. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. 8. Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. air ledeng. 2002b). Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet). tidak berasa. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. c. Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. b. 7. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi. Jika anggota keluarga ada empat orang. Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). dan tidak berbau. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a.6. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. Selain itu. (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan.

tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. pabrik cat. Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al. kloset (lubang tempat masuk feses). juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. pabrik kimia). Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. lantai yang disemen. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. 2002c). pabrik kertas. sumur penampungan feses dan lubang resapan. 2002a). Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. dari pabrik tinta. 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. pijakan kaki. air buangan dapur. Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman.kakus. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. 2002c). dari restoran dan dari kolam renang). kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. pabrik baja. . air bekas mencuci pakaian).

Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. secara ekonomis. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. Sedangkan. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. petugas kesehatan dan praktek dokter. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . 2002c). pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal. 2002c). tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al.

balita dan ibu hamil. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. . diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak. dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. bidan dan tenaga medis lainnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. mencegah memburuknya keadaan gizi. Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. terutama bayi.balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. Persalinan oleh dokter. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita.

kesehatan anak. Pada usia pra sekolah. (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. memberikan makan anak. Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. mental. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. perumahan. keluarga berencana. kebersihan anak. dan sosial. Dalam hal ini. imunisasi. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan. Marotz et al. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. merawat anak.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004). melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. anak-anak sering mengalami fase sulit makan. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. stimulasi dini. Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak.

Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. Oleh karena itu. maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya. Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. dimengerti. Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya.tergolong rawan. Ketika anak sedang makan. kondisi fisik masih lemah. . Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002). artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui. Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. Selain itu.

rohani. Menurut Henrik L. sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan.KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. Dari keempat faktor tersebut. lingkungan kesehatan. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). . Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Oleh karena itu. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan.

Pendidikan Orangtua . pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Pola Asuh Makan . .Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .Besar Keluarga . pengetahuan gizi.Berat Badan Lahir Pola Asuh .Umur .Umur Orangtua .Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS.Pekerjaan Orangtua .Karakteristik Keluarga .Jenis Kelamin .

pendidikan. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh.Jenis kelamin . Desa Cikarawang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan. umur. observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner . karakteristik keluarga (besar keluarga. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang.Umur . Kecamatan Darmaga. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga). KMS Kuesioner. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Kabupaten Bogor. Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian.Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang. Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Desa Cikarawang.METODE PENELITIAN Desain. status gizi dan kesehatan anak balita. timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur).

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

Sawah tadah hujan d. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam. Sawah pengairan setengah teknis c.800 4.007 0. Sekolah c.88 0. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede.0 0.0 0.0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane.0 0. 84 ha. yang dipergunakan untuk pemukiman umum.075 0. jalan.0 0.84 % 0. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam.10 23.073 2 0. Sawah pasang surut Perkebunan a. vihara. Pasar e. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a. Perkantoran b.0 11.016 0. Tambak b. pura. masjid.54 0.0 0. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a.260 18. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus. perkantoran.03 0. dll) g. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a.86 0.925 0 0 0. perkebunan.19 0.18 0. . Pertokoan/perdagangan d. Jalan i. dan lain-lain).22 100.35 2.226 8 0 38.0 16. Kolam c. Sawah pengairan teknis (irigasi) b. gereja.070 52. Perkebunan Negara c. Terminal f.510 225. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25.430 0 0 0 0.HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225. pertanian sawah.32 8.455 75. bangunan-bangunan (sekolah.07 3. dan lain sebagainya (Tabel 3). Kuburan/makam h.23 33. kuburan. Tempat peribadatan (masjid. Perkebunan rakyat b.

RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang.Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. 6 dan 7. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. keluarga sejahtera I (700 KK). keluarga sejahtera II (300 KK). tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT). dan Dusun III terdiri dari RW 5. sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. Namun. Selain itu. Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4. sisanya berada di Kampung Carang Pulang. dan keluarga sejahtera III (100 KK). Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005.

5 ≥2. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup.5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33.4 kg.7 bulan. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.1±0.6%).3 28. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin.6 96.4 100. umur. mandi.6 100.0 32.0 3.1%) dan berumur ≥37 bulan (28. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki.0 .5 kg). dan berat badan lahir.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum. Proporsi terbesar umur anak balita (39. Berdasarkan Tabel 5.9 66.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2.3%) berkisar antara 24-36 bulan. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66. sisanya berumur ≤23 bulan (32.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2.5 kg.1%) berjenis kelamin perempuan. sebagian besar anak balita (96.1 100. umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2.1 39. sebanyak 3. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3. Akan tetapi. cuci dan kakus.2±11.

Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92.8 100. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001). Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan.9% berstatus gizi normal.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5. Sisanya sebanyak 5. Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76.1 43 76.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi.4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1.0 56 100.2 32 57. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal.4 92.8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23.9 1. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal.8% berstatus gizi lebih.0 56 100. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan .0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini. sisanya 42. dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. penyerapan.8 24 42. proporsi terbesar anak balita (57.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23. Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. salah satunya dengan antropometri.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6). Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U.9 0 0. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan.0 0 0. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.

4%).2%) dan diare (46. keluarga berencana. Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0.9 100 Menurut Soendjojo. ISPA (73. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare.9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71. status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang. Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare.05). Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk. sanitasi lingkungan dan lainnya.4%). perumahan. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91. bisul. stimulasi dini. imunisasi. Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit. kesehatan. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi.masalah penyakit infeksi.1%) mengalami sakit dan hanya 8. Oleh karena itu. borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin.1 8. kurap. .

7 2 100.7 3.0 0 0.0 1.6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi. ISPA (44.0 0 100. ISPA 2 kali (30.6%).2 3.2 17 30. Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9). Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.4%) dan kulit (5.4 73.1 7 12. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57.6 0. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.3 0.0 0 0. diare (30.4 11 0. Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35.4 46.8 33.4%).0 0 32.7 0.0 1 16.4 10. Anak balita adalah individu pasif.0 0 ≥3 % 30.0 19.0 12 23.4%) dan diare 1 kali (32. Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang.5 1 50.0 0 0. .0 5.0 0.Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71.1%).0 14 35.1%).

TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0.4 0.6 14.6 0 0.8 Selain jenis penyakit di atas.8 2 3.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.4 5.3 1 1.3 60.0 1.6 0.0 0.0 0.3±1. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro.4 1.0 0 0.7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.1 44.8 23.2 3 5.8 1.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12.5 1 1. Responden menyatakan untuk penyakit TBC.8 orang.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60.0 0.8 3.0 0. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.7 100.0 1. meso dan makro). Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5. Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan .0 0.0 0.0 30.0 0 0.

6% saja ayah dan 1. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33.7 tahun.8%) yaitu SD/sederajat. tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu.6 100.6% ) berumur antara 20-30 tahun.8 tahun.3 100. Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13.1 44. terutama ibu. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga.6 23. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3. sedangkan ibu (51.0±6. Ayah n 18 22 16 56 % 32. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989).3 28. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi.3%) maupun ibu (44.7%) yaitu SLTA/sederajat. sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu.keluarga. Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991). Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Selain itu.0 .0 n 18 25 13 56 Ibu % 32.1 39. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39.7±5. Menurut Hurlock (1993) orang tua muda.

Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17.6 100.8%) adalah SD/sederajat.0 0.0 100.9 28.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga.3 33.9%) dan jasa angkutan (28.0 12.7 75. Oleh karena itu.6 35.0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51.6%). Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.0 0.7 10.0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51.8 35.4 100.7 3. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah.5 1.9 14. sebagian besar ibu (75. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0. Sedangkan. Selain itu.1 28. fertilitas.7 1.0 5. Dengan demikian.0 10.8 100.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32.8 0. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.6 0. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di .0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).

Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan.2 58.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan.3.00±Rp106 712. lebih dari separuh responden (58. .2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001.00 dengan rata-rata Rp1 073 393.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya.9. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113.00. Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.00.9 100. Sebanyak 23. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000.luar rumah. Menurut BPS (2005).00. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi.9 23.00-Rp150 000.00±Rp597 650.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000.0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58.8.00 dan sebanyak 17.00 100 001.00 >150 000. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000.00 Total n 10 13 33 56 % 17.00 sampai Rp2 620 000.9% berpendapatan <Rp100 000.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya.00/kapita/bulan. Dengan demikian.00-150 000.00. Proporsi terbesar responden (55.

5%). 1 kali b. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21.7%. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum.9 41. kadang-kadang c. kamar mandi umum c. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a.6 0. 2 kali c.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi.0 100. kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1.1 30. Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10. tidak memasak air b. sungai b.5 21.3 58.4%) dan ≥ tiga kali (37. 3 kali Memasak air untuk minum a.8 39. memasak tetapi tidak sampai mendidih c. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati.7 67. dua kali (30. 1 kali b. Oleh karena itu. 1 kali/hari b.0 58. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare.1 0. 2 kali/hari c.4 37.0 32. 2 kali c.0 55. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a. Tidak b.4 44.0 0.1%). Lebih dari separuh responden (67. Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32.Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum .9 0.4 10.

sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000. nasi.0 0. Hanya 3.0 0.1 89. protein nabati dan sayur.0 90. lauk pauk.00-150 <100 000. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). sayur c. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.1 100. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang .0 3 28 2 33 9. lauk pauk. lauk pauk.3 3. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.00 >150 000. protein hewani b.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang.1% n 4 50 2 responden % 7. lauk pauk. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. sayur dan buah. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi.00 000.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18.0 Total n 4 50 2 56 % 7. protein hewani Nasi.0 0 13 0 13 0. Keluarga dengan pendapatan terbatas. nasi. Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin.0 100.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005. protein nabati dan sayur Nasi.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a.0 100.3 3.1 84. sebanyak 6.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001.8 6.0 100.00 N % n % n % 1 9 0 10 10. nasi.6 100. protein nabati.1 89.

6 0 3. ada. kayu/ bambu c. tertutup c. ijuk/daun-daunan/lainnya b. tembok Letak kandang ternak a.5.6 60.8 0 3.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002). tidak ada b.4 0 5. <10 m dari rumah b. beton/genteng Dinding rumah a.5 51.8 69.6 35. Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51.7 3. kayu c.6 28. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita.6 96. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit.9 m2 c.7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10. marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a.0 m2 perkapita. seng/asbes/kayu c. tegel atau semen. >10 m dari rumah c. terbuka Atap rumah a.5 m2 b. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al. bambu/lainnya b. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga. <7. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a.9.6 96.0 m2 Jenis lantai rumah a. seluruhnya tanah/lainnya b. ≥10.8%) memilik luas hunian ≥10.4 1.4 94. dan kayu atau bambu.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen. Hasil penelitian .7 37. 7. ada. teraso.

dan sebanyak 94. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok. Lebih dari separuh jendela responden (69. Atap rumah sebagian besar responden (96. (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . Lebih lanjut Subandriyo et al. (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah.6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19). Latifah et al. 2002b).4%) berupa genteng/beton. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar.6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20). seng. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78. Menurut Latifah et al. Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan.7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19). Menurut Latifah et al. Menurut Latifah et al. (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. asbes gelombang. Lebih dari separuh responden (60.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19). Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. Menurut Latifah et al. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia.menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al.7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35. sirap dan nipah. (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara. Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah.

air sungai/air hujan/lainnya b.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3. ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a. Oleh karena itu. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum.bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat). ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a. air ledeng.4 12.6 17.6 12. Menurut Subandriyo et al.6 80.6 33.9 78. mandi.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20). <10 m c. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m.1 3. sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik. Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16. Kamar mandi umum c. Proporsi terbesar responden (53.5 53. Sebagian besar keluarga responden (80. dan kakus a.6 83. kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c. sungai b. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a. cuci. Sungai/pancuran b.5 53.9 .4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21). sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan. Tidak punya b.

9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya. (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat. Menurut Latifah et al.3 0.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22). Lebih dari separuh responden (60. lubang sampah terbuka c.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23). sampah maupun air limbah. Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga.7 39.0 . Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare.7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. Sehingga. Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan. akan tetapi sebanyak 12. N 34 22 0 % 60. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi. mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67. Menurut Latifah et al. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. Selain itu.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83.

0 100.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. .4%). Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai.8%) dan praktik bidan (51. Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0.9 0. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar. Dukun b. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b.8%) adalah dekat. pemeliharaan kesehatan. Berdasarkan Lampiran 1.0 32. pemeliharaan kebersihan dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau.0 n 38 0 18 % 67. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu. Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a. sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya. Puskesmas dan praktik bidan. Puskesmas (76. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a.

sebanyak 30.9%). Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92. bidan Puskesmas (94.3%) adalah mudah.6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan.9%) dan praktik bidan (64. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62. Berdasarkan Lampiran 2.2%). Puskesmas (83. bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis.3%). Berdasarkan Tabel 25. dan praktik bidan (67. Akan tetapi. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan. Selain itu.0%) adalah baik. Berdasarkan Lampiran 1. Satoto (2004) .9%). Berdasarkan hasil wawancara dengan responden. lebih dari separuh responden (69.6%) dan praktik bidan (75. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu. Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi.4%). Selain itu. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi. Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96. Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang. selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran.2%) dan praktik bidan (64. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98.Selain jarak. bidan Puskesmas (73.1%). daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan.5%). pasien sama sekali tidak dipungut biaya. Apalagi di Posyandu. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat. bidan Puskesmas (94. Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas.4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji. seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik.6%). lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57.

daging kambing.6%). Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh . mie instan. Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. proporsi terbesar responden (44. Berdasarkan hasil wawancara. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB).6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji. roti. Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. ikan asin. Oleh karena itu. Dukun b. Sehingga. buah nangka. Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26).4 69. durian.6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. talas. kangkung dan sebagainya.1%) dan mudah dijangkau (69. pisang. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit. sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka. Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya. Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”). Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit. ubi. Berdasarkan Lampiran 2.

6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30.4% kategori sedang. Dukun b.dan sulit.0 30. Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0. Tidak b.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42.0 0. kepemilikan jamban. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8.9%. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB.9% kategori tinggi.0 100. sanitasi air. gizi seimbang. Tidak b. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0. Tindakan yang didasari oleh .0 100. Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a.6 100.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a.0 0. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27). penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69. Akan tetapi.0 100. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah. rumah sehat. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene.4 69.

0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya.9 100. zat gizi untuk pertumbuhan (44.0 100.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0.9 48. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya.0 100.01).6%).0 0.6 24. jenis pangan sumber Fe (57.0 65. .1 100.0 Total n 5 27 24 56 % 8.pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.9 48.2 42. Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8. Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53.6%).0 50.1%). Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan.0 35. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.0 100.2 58.1%) dan pemberian ASI eksklusif (41.0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0.9 100.0 100.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik. Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%.2 42.6%). jenis pangan karbohidrat (44.0 50.

biskuit. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita.0 8 14. Hanya 41. Marotz et al.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan.9 53. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan. susu formula. cara memperkenalkan makan. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita.4 .0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan).6 Tidak n % 42 75. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden.7 67. dan sosial. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan.1 26 46.0 85. cara mempersiapkan makanan. Dalam hal ini. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.3 18 32. bubur bayi dan lainnya. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan.1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25. mental. Akan tetapi.

9 41. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002). Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92.1 46. Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran.4 96. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53. Hal senada diungkapkan oleh Masithah. Berdasarkan Tabel 30.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.1 58. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum. Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit. sebagian besar responden (85.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi. sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare.9 53. Akibat . pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi.6 3. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan.9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita.6%).4 Tidak n % 4 33 30 2 7. Lebih dari separuh responden (67.

3 98.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari. Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31).6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita. Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas. sehingga sebanyak 89. Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87.5 85.7 10. Kurang dari separuh responden (41.5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita.2 Tidak n % 7 48 6 1 12.1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31).5 14. sebagian besar responden (96.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58.7 1. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi.7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32). pengolahan.9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. sehingga tidak dapat . Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi. Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi. siang. Akan tetapi. Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan). sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan. Mulai dari tahap persiapan.3 89.

Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32). lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut. pilih-pilih serta jarang habis.1 94. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi. lalat) dengan makanan. Kalaupun makanan yang diolah bersisa. sebanyak 94. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama).8 83. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita.4 73. sebanyak 73. Sehingga. Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa. agar anak balita mau makan.2 16. Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri. Akan tetapi. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya.9 5.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut. Sebagian besar responden (98. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya. Oleh karena itu. kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin.6% responden selalu melakukan kegiatan .6 26.

Pada usia pra sekolah. Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80. anak sering mengalami fase sulit makan.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti). sebanyak 77.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94.0 .2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21. n 0 40 16 56 % 0. Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang.4 28. Lebih dari separuh responden (52. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71.4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28.0 71.6 100. Akan tetapi.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4). Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34. Oleh karena itu. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah.6% kategori tinggi.6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64. Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu.apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. merayu atau memberikan pujian.

3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82. Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Sebanyak 46.4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain.3%) tidak memperbolehkan . Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4). akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4).9%) keramas menggunakan sampo. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare. Walaupun masih ada responden sebanyak 21. Sebanyak 67.Sebanyak 77.4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39. Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan. Lebih dari separuh responden (64.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari. sebanyak 64. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan. Serta sebanyak 51. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit.3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah. Sebagian besar responden (89. Selain itu. Sebanyak 71.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53.4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari. Menurut Tjitarsa (1992).

0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4). . Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang.0 44. sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4).01). kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi.anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50. Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri. Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik.6 55. Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat. Menurut Rahayu (2006). Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang.4 100. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita.6% kategori sedang (Tabel 35).4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44. sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya. Akan tetapi.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. Lebih dari separuh responden (58. karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.

01) antara umur anak balita dengan diare.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45.0 12 54. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.4 100. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah. Namun.0 Total n 26 32 56 % 46. Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah.0%.0 30 55. salah satunya diare.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66.6 46.5 12 75. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66.5 4 25. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil.3 100.7 33.0 .6 100.0 22 100.0 24 44. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi.0 Total n 26 32 56 % 53.5% dan 25. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100.4 53.0 54 100.4 0.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan.0 16 100.6 100. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45.

Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.7 10. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76.8 100.8 35.0 30. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0. 0.8 100.8 41. Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula.0 32.7 1. Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang.0 28.6 23.0 41.0 35. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.0%) memiliki PHBS kategori tinggi.5 0. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.0 100. Pengetahuan Gizi.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51.0.9 11.0 15.1 44.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.6%).8 100.4%) dan akademi/diploma/PT (2.6 100.5 23.2 100. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS.4 2.0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41.3 52. SLTA/sederajat (15.01).01). Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76. .0%).8%).Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat.8%) dan 20-30 tahun (41.

3 100. Menurut Subandriyo et al. Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita. Selain itu juga.0 n 26 30 56 Total % 46.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26.9 33. Sehingga. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m. mandi. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73. cuci dan kakus). kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Kaitan antara PHBS. hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m.Namun. Pengetahuan Gizi.4 53.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran. Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26.0 n 19 20 39 Tinggi % 73.9%). air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum.7 100.6 100. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden.1 66. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). .

0 27 100. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. sampah juga mampu mencemari sumber air.3%) dan tinggi (58. Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden. Akan tetapi.0 18 66.0 9 33.3%).) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air.0%. Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. Namun. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita.0 24 100. Menurut Latifah et al. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka.4 53. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya.7 10 41. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare.0 Total n 24 32 56 % 46. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60.7 5 100.3 14 58.3 2 40.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan .6 100.Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS.

5 24 60.2 13 52.0 14 45. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita.0 6 37.0 31 100.0 Total n 26 30 56 % 46.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci .0 16 100. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak. hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita.Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62. Dengan demikian.2%).0%). Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita.0 10 62.4 53.4 53.0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif.8 25 100.0 17 54.6 100. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48.5 40 100. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48. Namun.0 Total n 26 30 56 % 46.6 100.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40.

Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. Selain kebersihan tangan dan kaki. Selain kebersihan tangan anak balita. Lingkungan yang tidak bersih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita. membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare. kebersihan kaki pun harus diperhatikan. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. . Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah.tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita.

7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39.4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2.4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi. 2. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB. Lebih dari separuh anak balita (66.4%).01).6%).9% 28.1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Secara umum responden memiliki PHBS. Dengan demikian. 5. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik.9%). TB/U) dengan diare (p<0.9% dan 8.6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55. Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang. sisanya tinggi dan rendah (42. 4. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan . Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69.3%) maupun ibu (44. dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Proporsi terbesar umur anak balita (39.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat).9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000. Hampir seluruh anak balita (91.5 kg).0%) tidak bekerja.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun). sedangkan ibu (75. Lebih dari separuh responden (60. proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33. Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare.1%) adalah perempuan. Proporsi terbesar (58. Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0. 3. 6.05).00.

pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. personal hygiene.signifikan baik dengan PHBS. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya. pengetahuan gizi ibu. Selain itu. Sedangkan. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. . pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. pengetahuan gizi. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. Sehingga. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik. PHBS. dan Kakus (MCK). 7. Selain itu. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan. aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. membiasakan BAB di kamar mandi. Cuci.

1979. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. . Berg A. Ekonomi Gizi. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. 2002. Azwar A. 1999. 1992. Bandung: Penerbit Alumni. [terhubung berkala] www. Amperansyah. Statistik Indonesia. New York: HarperCollins. Jakarta: Citra Aditya Bakti. Jakarta: BPS. . Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Entjang I. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. 2004. 1991. 1986. Gizi Terapan. Terjemahan dari: The Nutrition Factor.gizi. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. Firlie D.html [9 November 2007]. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. Diare. www. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. 2005. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. Jakarta: BPS. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. Universitas Indonesia. [terhubung berkala]. 2005. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. penerjemah. Indikator Kesejahteraan Rakyat. Harianto. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. [BPS] Biro Pusat Statistik. Briawan D. 1985. Zahara DN. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. 2003. Statistik Kesehatan. Hardinsyah. 2006. . 2001. Herawati T. 1997. Jakarta: BPS. . Statistik Indonesia. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Gunarsa. Jakarta: BPS. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. Jakarta: CV Rajawali. Aronson SS.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. 2002. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. 1985. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Hardinsyah. 2006. 2004.diare. 2004. [terhubung berkala]. Bogor: Fakultas pertanian. Health and Safety in Child Care. . 2002. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Ilmu Kesehatan Masyarakat. _____. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. As’ad S. Bogor: Fakultas pertanian. Its Role in National Development. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. 1993. Gunarsa. Institut Pertanian Bogor. Martianto D. Fakultas Pertanian. Jakarta: Penerbit Mutiara.html [3 Oktober 2007].

Psikologi Perkembangan. [terhubung berkala].dinkes-sulsel. Institut Pertanian Bogor.id/download/fkm/fkm-hiswani7. _________. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat. http://library. Jakarta: Erlangga. Latifah M. Krisnatuti D dan Yenrina R. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. 2002d. Manda S. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Herman. 2005. Hurlock EB. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi].ac. Irianti S. 2003. Zalbawi S. Sumali MA. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. Buku 5 Rumah Sehat. Jakarta: Erlangga. 1982. dan Suprapti. 2000.pdf [15 November 2007].ui. Ed ke-5. Institut Pertanian Bogor.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 2002a. Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi. Wahida S. . Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.farmasi.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104.pdf. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Pengetahuan. 2002. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. 1993. 2002b. Madihah. Fakultas Ekologi Manusia. [3 Hiswani. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. Khomsan A. www. 2006. .go. 2005.usu. Evi D.jurnal. .ac. 2002c. M Tjandrasa. Oktober 2007]. Khairunnisak I. 2004. . M Zarkasih. Perkembangan Anak Jilid 2. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363. 2004. [terhubung berkala]. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi]. Kecamatan Tamansari. [23 uli 2008].www. MD Djamaludin. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Nurahmi. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. Kabupaten . penerjemah. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan. Institut pertanian Bogor. Bogor: Fakultas Pertanian. 2000. Bogor: Fakultas Pertanian. Jakarta: Puspa Swara. Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan.pdf.

Notoatmodjo S. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. Nadesul H. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. 2005. 2003. 2005. R. Tantangan bernama higinitas. 2001. [15 November 2007]. Health. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. . Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. 2007. Universitas Indonesia. 2003. Institut Pertanian Bogor. Ghosh SK. Marotz LR. Jakarta: Puspa Swara. Fakultas Pertanian. Jeanettia MR. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia.koalisi. Metodologi Penelitian Kesehatan. 2006. Masithah T. Drajat M. konsumsi pangan. Yogyakarta: Ando Offset. 2005. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak. New York: McGraw-Hill . Edisi ke-6. and Nutrition for Young Child. Riyadi. Puspitawati H. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. Rahmawati D. Bogor: Fakultas Pertanian. 2005. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. Fakultas Ekologi Manusia.id/dsp_content.mosleh@bdonline. 2007. ___________ . Soekirman. Institut Pertanian Bogor. www. Rimbatmaja. Bukan Suplemen!. 2006. 2002. www. Institut Pertanian Bogor. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. parentsguide. Institut Pertanian Bogor. Desa Sukamantri.com. 2003. 2007. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. 1993. Santrock JW. Marie ZC. [terhubung berkala]. Institut Pertanian Bogor. 1997. Environmental Sanitation Promotion: A Social. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. Madanijah S.co.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. Bogor [skripsi]. Makalah Seminar Sehari. dan status gizi anak usia dini [disertasi]. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Sadeque MU. Life-Span Development. Jakarta: Ghalia Indonesia. Rahayu S. Safety. Ed ke-8. Jakarta: Rineka Cipta. Muniasir Z. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Pujiarto P. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. United State: Thomson Delmar Learning. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Imunomodulator. Bogor: Fakultas Pertanian. 2007. Bogor: Program Pascasarjana. Pengantar Ekologi Keluarga. [terhubung berkala].org. [terhubung berkala]. Nasution. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. lingkungan pembelajaran.Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi].

Solo: Dabara Publiser. Fakultas Pertanian. 1993. 2004. . Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. Bogor: Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor. Life-Span Development. JMPK 8(2). ______. Soekirman. Sosial Budaya Gizi. Saroso S. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. 1991. dan Yekti HE. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado. 2002. 2007. Widyati R. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. Institut Pertanian Bogor. Bandung: Eja Insani. www. Dewi MDH. Suririnah. [3 Oktober 2007].htm. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. Topatimasang. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. 2005. Departemen Pendidikan Nasional. Sinaga D. Yuliarsih. Slamet Y. www. Institut Pertanian Bogor. Sumali MA. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Fortworth: Rinehart and Winston. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Cianjur. Jawa Barat [skripsi]. 2000. Ed ke-4. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar. 1992. Diare.jmpk-online. 2004.pdf. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003. Helms DB. Sukarni. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. 1994. Fakultas Pertanian. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Bogor: Institut Pertanian Bogor. 1999. Tjitarsa IB. [terhubung berkala]. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. [terhubung berkala]. 2005. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi. Satoto. Kecamatan Cugenang. Mubasysyir H.diare.infoibu.php. Suhardjo. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tambingon HN.net/files/vol-08-02-2005-4. [terhubung berkala].articles. Turner JS.Sari RA. 2007. [3 Oktober 2007]. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. Institut Pertanian Bogor. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 1989. 1997. www. 1989. Diare mendadak dan penanganannya.com. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. [3 Oktober 2007]. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Fakultas Pertanian. Subandriyo VU.

LAMPIRAN .

4 76.9 92.4 1.9 10.7 14.1 42.5 8.9 100 10. 12.6 5.1 96.57 23.2 48.5 57.3 4 24 15 7 4 7 25 7.0 100. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.0 37.3 92.8 12.2 64.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.7 76.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14.1 7.6 98.6 96.2 91. 11.8 3.2 83.4 87. 7.6 0 11 1.1 57.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30.36 8.8 57.6 85.93 0 12.1 73.6 80. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76.3 62.9 3.8 51. 10.4 19.6 92.4 94.6 67.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.1 69.4 100.4 3.1 35.5 7.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21. 4.0 62.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44.9 26.6 75 100 12.7 83.5 53.6 0.7 41.3 16. 5.8 8.9 85. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16. 3.6 25 44. 14. 8.9 0. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing.5 94. 13. 2.1 .0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33.5 46.8 30 53.0 0.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69.9 64. 6.93 37. 9.5 5.5 44.8 16.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44.5 94.4 96.1 12.

1 71.0 5.3 14.1 17. 11.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1.8 12. Tidak pernah b.6 43.2 0 7. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a. Kadang-kadang c. 20. 18. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a.3 21. Ya. Kadang-kadang c.3 1. 2 kali/minggu c.2 19. Tidak pernah b. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a. 10. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0.6 28.2 8.0 0.1 28.1 2. 8.3 64. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82.4 19. Ya. 6. . Tidak pernah b.0 77. Tidak pernah b. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a. Ya.6 0. 5. 1 kali/hari c.8 7.1 5.4 96. Kadang-kadang c. Kadang-kadang c. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a.1 92. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a. 12. 7. Ya. 16. Kadang-kadang c.4 3. Ya. 2 kali/hari c. Ya. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a. 3.4 94. Kadang-kadang c. 2-3 kali/hari c. Tidak pernah b. 1 kali/hari b.4 64.4 94. 19. 1 kali/hari c. 1 kali/hari b. Ya.9 77. Tidak b.6 94. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a. 9.9 33.3 77. Sejak anak berusia 1-2 tahun c. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a.6 96.5 52.0 5.0 100. Sejak anak berusia > 2 tahun b.6 91.0 80. 1 kali/minggu b.No 15.0 14. Tidak pernah b. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a. 4. Tidak b. 17.9 21.3 0.

9 46.7 42. 22.1 39. Tidak pernah b. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a. 23. Tidak b.1 82. Tidak pernah b.8 30. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a.7 1.0 23. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. 1-2 kali/bulan c. Tidak pernah b.4 89. Kadang-kadang c.7 7. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a. Kadang-kadang c.8 87. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a. 19. Tidak pernah b. 24. Kadang-kadang c.3 0.4 67.4 3. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10. 21. Ya. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. Tidak pernah b. 16.3 14. Kadang-kadang c. 20. Tidak pernah b. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a.9 26.1 51. Sejak anak berusia > 2 tahun b. Tidak pernah b. Tidak pernah b.8 16. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a.0 28.1 10.1 53.4 19./WC. Ya.6 30. Kadang-kadang c.6 57. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a.6 58. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a. 17. 15. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a.4 30.No 13.4 64.6 71.5 5. Tidak pernah b.1 0.9 18. . Sejak anak berusia 1-2 tahun c.3 16. jamban)? a.0 10.2 21. Kadang-kadang c. Kadang-kadang c.8 50.7 1.4 32.

138 p= 0.403 r= 114 p= 0.184 r= 0.334 r= 0.000 r= 0.095 r= 0.428 r= 0.286 r= 0.052 r= -0.068 p= 0.258 r= 0.134 r= 0.643 r= -0.015 p= 0.413 r= 0.095 p= 0.391 r= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.222 p= 0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.000 r= 0.007 p= 0.095 p= 0.330* p= 0.961 r= -0.258 p= 0.486** p= 0.134 r= 0.531** p= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.148 p= 0.311 PHBS ibu p= 0.292* Pola asuh makan p= 0.001 r= 0.408 r= 0.350** p= 0.486 r= 0.485 r= -0.164 p= 0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.122 p= 0.074 p= 0.177 p= 0.586 r= 0.020 r= -0.231 p= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.440** Diare anak balita p= 0.061 r= 0.016 p= 0.036 p= 0.576 r= 0.029 r= -0.203 p= 0.100 r= -0.063 p= 0.145 p= 0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.023 p= 0.370 r= -0.852 r= 0.186 r= -0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .897 r= -0.059 p= 0.154 p= 0.013 r -0.122 p= 0.055 r= 0.002 p= 0.275 r= 0.004 r= 0.655 r= 0.476** p= 0.131 p= 0.228 r= 0.117 p= 0.179 p= 0.008 r= -0.264* p= 0.108 p= 0.227 r= 0.988 r= 0.252 p= 0.097 p= 0.310 r= 0.999 r= 0.000 r= 0.619 r= 0.126 p= 0.203 p= 0.865 r= 0.369 r= 0.905 r= 0.791 r= 0.000 p= 0.261 p= 0.050 r= 0.293* p= 0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.026 p= 0.087 r= -0.112 p= 0.029 r= 0.191 r= -0.356 r= 0.915 r= -0.476 r= 0.180 p= 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful