PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT. PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA.

Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. Didy Sopandie. Dr. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. MSc NIP 131 414 958 Dr. Siti Madanijah. Pengetahuan Gizi. Ir. Clara M. Kusharto. MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. drh. Ir. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . Dr.

sungguh luar biasa karena atas rahmat. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. Bogor”. Clara M. Siti Madanijah. 5. Dr. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. Ikeu Tanziha. Ir. MKes. Ikeu Ekayanti. Oleh karena itu. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. MSc. Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. Dr. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Tien Herawati SP. Ir. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. drh. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Kusharto. Dr. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. Dr. 4. Ir. Dadang Sukandar. Prof. arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. 6. SP. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. Pengetahuan Gizi. 3. Alhamdulillah. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. . 7. Ir. Pihak Desa Cikarawang. Dr. 2. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. yaitu kepada: 1. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan.

Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). RHEMAND (Nda. 9. Maul. kebersamaan yang indah dan keceriannya. Lola. Adin. DausBek. temen seperjuangan KKP. Bung). Arina. dukungan semangat. Friska. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. MpokIde. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang.8. OMDA CIANJUR. Vina dan Emil. Abah. 40 dan GM 42. Yesa. Henny. 43. 11. Devita. Yuli. Dini. Manto. penghuni AS-SAKINAH. atas bantuan. Any. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. Tiche. Ena. Bogor. Noorma. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. GMSK 39. Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. Ira. Firdaus. BKGers (Semangat yo). Ardi. 13. Kakang Rizki. Nur. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Dhyta. teman-teman relawan Klaten. saran. Teteh Milah. perhatian. Venny. Yulia. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah . Mei. Rizka. tumpangan kamar. 10. dan doa untuk keberhasilan penulis. 12. Ati. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. Rika. Once. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. Sri. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. Mama. Dedew. dorongan semangat. Noni.

2007/2008. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Serta. Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Fakultas Pertanian.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. Siti Romlah. Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . Desa Cikarawang. Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Semarang. Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Selain itu. Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara. Hasan Mulyadi dan Ibu Hj.

................................................................. 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita............................................. 6 Karakteristik Keluarga .... 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)........................... 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita ............................................................................................. 26 Karakteristik Anak Balita.............................................................................................................. 18 KERANGKA PEMIKIRAN.............. 21 Pengolahan dan Analisis Data .............. 29 Karakteristik Keluarga Contoh................. 4 Karakteristik Anak balita ..................... 3 TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................................... 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ....................................... Tempat dan Waktu ....................... 35 Pengetahuan Gizi ..... 45 Pola Asuh ................................. 16 Pola Asuh Makan............................................................................................... 17 Pola Asuh Kesehatan ........................................... 22 Definisi Operasional ......................... Pengetahuan ............................ 22 Disain.................................................... 3 Kegunaan Penelitian ......................................................................... 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).................................................................... 5 Penyakit Diare ................................................ 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................................................................................................................................................. 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian ............................................................................................................................................... 19 METODE PENELITIAN ................. 2 Hipotesis.......................... viii DAFTAR LAMPIRAN................................................................ 47 Pola Asuh Makan.................................................................................................................................................................................................................................................................................... 16 Pola Asuh .................................................................................................... 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data............................ 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita .................................................................. 9 Pengetahuan Gizi ........................................................................................................................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL................ ix PENDAHULUAN ...................................... 1 Latar Belakang .................................. 47 Pola Asuh Kesehatan ........ 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.................................................................................................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR ................................. 1 Tujuan......................................................................................................................................................................................................................................

.......... 61 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan.... 60 Kesimpulan.................... 62 LAMPIRAN ........................ 66 ..... 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita............................................................... 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ..... 60 Saran .............................. 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita ......................................... 58 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita ......................................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ..............................Gizi............................................................................................................. Pengetahuan Gizi........ 55 Kaitan antara PHBS..................................................

................. 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit .................. 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden ..................... 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan ....................... 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir.................... 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang............................................................................................ 21 Cara pengolahan dan analisis data ................. 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga ... 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS .................................. 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan ......................................................................................................... 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi. 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi ....................... 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin................................................................................................ 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya................... umur dan berat badan lahir................. 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan............................................DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data ...................................................................... 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL ... 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin........ 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene .......................................................... penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit.. 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit............................... 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan ................................................... 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat. 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air ................................................................................ 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban. 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit........... 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur.......................................................... 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah.. 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB..................................................................... 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan ................................................................................... 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan.

.................................................................................. 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita ....... 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita.............................................. 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita ....................................................................................... 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita................................................................... 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan........................................... 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita . 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ................ 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ........................................ 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita ..... 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita...... 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS ..................................................................responden .................................................... 58 ................................. 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita ............................ 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita.......................................................................

........... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita .............. 20 ..........DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum ................... Pengetahuan Gizi....... 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS....

............ kemudahan dihubungi dan cara pelayanan ........ .................. 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi ........ 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel ......... 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi............................... 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan....................................................................... 70 .....................DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan..................... jarak dan daya jangka .......

Dari keempat faktor tersebut. Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%. 2002). Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. dan perilaku terhadap upaya kesehatan. Menurut Henrik L. sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. tempat kerja. Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan. sekolah dan tempat umum. Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. kebersihan perorangan. perilaku hidup sehat (40%). gaya hidup. Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare. kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). pelayanan kesehatan (10%). dan keturunan (20%). Selain itu. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya.PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. 2002). serta air dan udara yang bersih.S.

Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. kebersihan anak. (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). dan sosial. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. merawat anak. pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. memberikan makan anak. Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. 2005). Kosek et al. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. . Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. mental. Bogor. Di Indonesia. Dalam hal ini. diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007). Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal.

Hipotesis 1. 2. . Menganalisis kaitan antara PHBS. 5. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. pengetahuan gizi.Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. 3. 7. pengetahuan gizi. pengetahuan gizi. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. 4. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. 3. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. pengetahuan gizi. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. 2. pengetahuan gizi. 6. Mengidentifikasi PHBS. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita.

daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. Akan tetapi. Umur Menurut Hurlock (1982) sikap. Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. 2005). kebiasaan. . Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006). gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982). selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001).TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. keselamatan dan gizi.

Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. salah satunya dengan antropometri. penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. . Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Oleh karena itu. Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002). berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. tinggi badan menurut umur (TB/U). Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan. dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting).Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. Oleh karena itu.

keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih. penyebab diare akut yaitu: . alergi terhadap susu. Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu. Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30.4-36. bahkan dapat berupa air saja. buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. Salmomella (5-18%). Menurut Latifah et al. bakteri. E. protozoa). kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. sehingga akan menular. parasit (jamur. coli (20-30%). Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). Penyebab diare diantaranya yaitu virus. lalat) atau oleh tangan yang kotor. Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih.6%). defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Selain itu. dan Shigella (2-5%). Vibrio cholera (5%). menggunakan sumber air yang tercemar. Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya. Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. cacing. Ditinjau dari sudut patofisologi.Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer.

2.Infeksi virus. . kuman-kuman patogen dan apatogen . besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). Selain itu. Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . makanan yang pedas. Rumah . ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002).1. gangguan syaraf. makanan (misalnya keracunan makanan.Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia. gangguan psikis (ketakutan. Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: . hawa dingin.BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi. Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004). Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. makanan yang terlalu asam). Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT).Malabsorpsi makanan .Kekurangan kalori protein dan mineral . Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga. gugup). alergi dan sebagainya. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi.Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida.

informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). fertilitas. pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. Dengan demikian. Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006). Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan. Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional.yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006).

. penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. Pada tingkat keluarga. kesejahteraan ibu dan anak. Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). rohani. akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. Dengan demikian. manusia sebagai tuan rumah. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). perawatan kesehatan dan pemeriksaan. terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan. Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). diantaranya pendidikan keluarga. kesehatan dan gizi balita. Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga.sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). dan lingkungan hidup (Entjang 1985). Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh.

lingkungan kesehatan (30%). perilaku sehat. . menurut Henrik L. kelompok. cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. makan dengan gizi seimbang. Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. terutama pada aspek budaya perorangan. keluarga dan masyarakat. Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. perilaku kesehatan (40%). 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. 2006). dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. memiliki akses dan menggunakan jamban. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. memiliki akses dan menggunakan air bersih. menghuni rumah sehat. 2005). dan program dan pelayanan kesehatan (10%).Masalah determinan kesehatan. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No.

sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. olahraga dan lain-lain. hepatitis. dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). 3. menyikat gigi. menjaga saluran air agar tidak mampet. menimbang balita setiap bulan. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). pakaian bersih. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. persalinan ditolong tenaga kesehatan. Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. diberikan saat balita (BCG. Usaha pengebalan atau imunisasi. Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). memeriksakan kehamilan. dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran.membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). biologi. dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2. Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. . memanfaatkan sarana kesehatan. preventif (pencegahan penyakit). sosial. Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). MMR. Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik.

jeruk. 4. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). 5. tempe. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). seng. teraso. diantaranya: 1. Rumah Sehat Menurut Latifah et al. dan kenyamanan manusia. kacang panjang. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. daun katuk. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. pepaya. semangka. telur. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. 2. 3. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. buncis. sawi. asbes gelombang. mie. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. keamanan. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. kangkung. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. tahu. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. ubi. sirap dan nipah. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. daun singkong. pisang. dan kayu atau bambu. tegel atau semen. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. ayam. wortel. . kacang-kacangan. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. jagung. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. singkong. daging.

8. 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. tidak berwarna. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . Selain itu. air ledeng. sumur yang terlindungi. Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. b. dan tidak berbau. 7. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi. Menurut Subandriyo et al. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. Air bersih belum tentu dikatakan sehat. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. 2002b). Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. tidak berasa.6. Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. c. dan mata air yang terlindungi. Jika anggota keluarga ada empat orang. Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet).

pabrik kimia). pabrik baja. tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. dari restoran dan dari kolam renang). pabrik kertas. Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). 2002a). Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. pabrik cat. Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman. 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. air buangan dapur. dari pabrik tinta. Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al. juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. 2002c). tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. pijakan kaki. Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). 2002c). lantai yang disemen. kloset (lubang tempat masuk feses). Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. air bekas mencuci pakaian). (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. sumur penampungan feses dan lubang resapan.kakus. Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. .

tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al. petugas kesehatan dan praktek dokter. sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. 2002c). Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. secara ekonomis. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. 2002c). Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal. Sedangkan.

diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). mencegah memburuknya keadaan gizi. mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. terutama bayi. bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga. Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. balita dan ibu hamil. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. bidan dan tenaga medis lainnya. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. . mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. Persalinan oleh dokter. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita.balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter.

Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. keluarga berencana. Dalam hal ini.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan. Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004). Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. anak-anak sering mengalami fase sulit makan. maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. kebersihan anak. Pada usia pra sekolah. dan sosial. memberikan makan anak. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Marotz et al. merawat anak. perumahan. Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. kesehatan anak. Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . imunisasi. mental. stimulasi dini. dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak.

terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Selain itu. hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002). Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui. Oleh karena itu. Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. Ketika anak sedang makan. Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. . orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat.tergolong rawan. kondisi fisik masih lemah. dimengerti. maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan.

Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. lingkungan kesehatan. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. Oleh karena itu. Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Menurut Henrik L. PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. . faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan.KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. rohani. Dari keempat faktor tersebut. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak.

Karakteristik Keluarga .Umur .Berat Badan Lahir Pola Asuh .Pekerjaan Orangtua . .Pola Asuh Makan .Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita . pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS.Umur Orangtua . pengetahuan gizi.Besar Keluarga .Jenis Kelamin .Pendidikan Orangtua .

Kecamatan Darmaga. Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data .METODE PENELITIAN Desain. Desa Cikarawang. Kabupaten Bogor.Umur . status gizi dan kesehatan anak balita. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. umur. Desa Cikarawang. observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner . timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. KMS Kuesioner. pendidikan. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner. Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian.Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga). Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur). karakteristik keluarga (besar keluarga. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang. Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan.Jenis kelamin . Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder.

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

84 % 0. Tambak b. Perkebunan rakyat b. bangunan-bangunan (sekolah. gereja. Sawah tadah hujan d.23 33. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25. perkebunan.925 0 0 0. Perkebunan Negara c. masjid. dan lain sebagainya (Tabel 3). kuburan.88 0. Jalan i.HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225. Sekolah c.0 11. Kuburan/makam h. jalan. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a.073 2 0.86 0.07 3. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a. Pertokoan/perdagangan d.0 0. perkantoran.226 8 0 38. dan lain-lain).18 0. . pertanian sawah.430 0 0 0 0. Kolam c. vihara. dll) g.070 52. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede.19 0. Sawah pasang surut Perkebunan a. yang dipergunakan untuk pemukiman umum.510 225. Pasar e. pura.455 75.0 0. Tempat peribadatan (masjid.35 2.0 0. Sawah pengairan teknis (irigasi) b.0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane.54 0.22 100. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a.10 23. Perkantoran b.03 0.007 0. Terminal f.016 0. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl.260 18. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus.800 4. 84 ha. Sawah pengairan setengah teknis c.32 8.0 0.075 0.0 0.0 16.

Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . dan keluarga sejahtera III (100 KK). Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4. hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. dan Dusun III terdiri dari RW 5. keluarga sejahtera II (300 KK). sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. keluarga sejahtera I (700 KK). Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. Selain itu. Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005. Namun. sisanya berada di Kampung Carang Pulang. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. 6 dan 7. Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT).Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang.

3 28. Proporsi terbesar umur anak balita (39. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.6 96.1 39. umur.6 100.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum.3%) berkisar antara 24-36 bulan.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2.5 kg). cuci dan kakus. Berdasarkan Tabel 5.0 32. Akan tetapi.0 3.1 100.1%) dan berumur ≥37 bulan (28.7 bulan. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin. sisanya berumur ≤23 bulan (32.6%).4 100. dan berat badan lahir.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki.5 ≥2. sebagian besar anak balita (96. umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30. sebanyak 3.0 .1%) berjenis kelamin perempuan.1±0.2±11.5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66.4 kg.9 66.5 kg. mandi.

Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan . sisanya 42. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5.9 1. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi.2 32 57.4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah. Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U. Sisanya sebanyak 5.9 0 0.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6). Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan.9% berstatus gizi normal.4 92. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini.1 43 76. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001).8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23.Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. salah satunya dengan antropometri. penyerapan.8% berstatus gizi lebih. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23.8 24 42.8 100. proporsi terbesar anak balita (57.0 56 100. Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76.0 56 100. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal.0 0 0.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi. dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara.

kesehatan. Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0. ISPA (73. borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare. bisul. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit.masalah penyakit infeksi.05). status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang.4%). sanitasi lingkungan dan lainnya. imunisasi. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi. Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71. stimulasi dini.1%) mengalami sakit dan hanya 8. Oleh karena itu.2%) dan diare (46.4%).1 8. keluarga berencana. . kurap. perumahan. Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu.9 100 Menurut Soendjojo. Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91.9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare.

4 46. diare (30.4 10. Anak balita adalah individu pasif.Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71.7 3.0 0 0.1 7 12.4 73.2 17 30.6 0.7 0. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.0 0 0.0 1 16.0 0 32.4%).1%).0 0.1%). Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang.4%) dan diare 1 kali (32.0 0 100.6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi.0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57.5 1 50.6%).0 0 ≥3 % 30.0 12 23.0 1. .2 3.0 19.8 33.4 11 0.0 0 0.3 0.0 14 35. ISPA 2 kali (30. ISPA (44. Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.4%) dan kulit (5.7 2 100.0 5. Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9). Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).

Responden menyatakan untuk penyakit TBC.0 1. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60. Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan .0 0.0 30.3 1 1.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0.0 0 0. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.2 3 5.8 Selain jenis penyakit di atas.1 44.8 3.0 0. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.3 60.6 14.6 0 0.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12.8 1.0 1.5 1 1.7 100.3±1.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh.8 23.0 0. meso dan makro).8 2 3.0 0 0.7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang.0 0. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5.6 0.8 orang.4 5.0 0.4 0.0 0.4 1. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.

0 n 18 25 13 56 Ibu % 32.6 23.8%) yaitu SD/sederajat.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT.0 .6% ) berumur antara 20-30 tahun.keluarga. sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu.7 tahun. Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27.1 39.6 100. tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991).3 100. terutama ibu. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga. sedangkan ibu (51. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi. Ayah n 18 22 16 56 % 32.7±5. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35. Menurut Hurlock (1993) orang tua muda.8 tahun.3%) maupun ibu (44.0±6.3 28. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3.7%) yaitu SLTA/sederajat.6% saja ayah dan 1. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39.1 44. Selain itu.

6%). menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di .0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51.4 100.9 14.0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga.7 10. fertilitas.8 0. Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.8 100.6 35. Dengan demikian.7 1. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah.0 12.0 0. Sedangkan. sebagian besar ibu (75.9%) dan jasa angkutan (28.8 35.8%) adalah SD/sederajat.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32.6 0.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.0 0.1 28.9 28. Selain itu.7 3.0 100. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional.0 5.0 10.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0.6 100. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya.5 1.7 75.3 33. Oleh karena itu.

8. Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000. Proporsi terbesar responden (55. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi.2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001. lebih dari separuh responden (58.00 dengan rata-rata Rp1 073 393.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan. Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.9.00 100 001.00±Rp106 712.3.00.00.9 100.00±Rp597 650.9 23.00-150 000.00 >150 000.00/kapita/bulan.00 sampai Rp2 620 000.9% berpendapatan <Rp100 000. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). .0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58. Dengan demikian.00 Total n 10 13 33 56 % 17. Sebanyak 23.2 58.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113. Menurut BPS (2005). Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan.00-Rp150 000.luar rumah.00.00.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000.00 dan sebanyak 17.

4 10. 2 kali c.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi.4 44. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a.9 41.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum .9 0. memasak tetapi tidak sampai mendidih c. Lebih dari separuh responden (67. kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1.0 100. Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a.4 37. 2 kali/hari c. 1 kali b.3 58. kamar mandi umum c.5 21.0 55.0 0. 1 kali b.1 0. dua kali (30.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare. kadang-kadang c. 2 kali c. 3 kali Memasak air untuk minum a. Tidak b. Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32.1 30. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a. 1 kali/hari b. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a.7%. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21. sungai b.1%).0 32.5%).Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum.7 67. Oleh karena itu.8 39. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati.4%) dan ≥ tiga kali (37.6 0.0 58. tidak memasak air b. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum.

protein nabati.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi.0 100.0 90. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a. nasi. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. sayur c. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18. nasi. sayur dan buah.00 000.0 Total n 4 50 2 56 % 7.0 100. lauk pauk.0 0.0 3 28 2 33 9.0 0. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi. Hanya 3.1% n 4 50 2 responden % 7.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000. Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin.1 89.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. lauk pauk.1 89.3 3.1 84. sebanyak 6.00 >150 000.00 N % n % n % 1 9 0 10 10.00-150 <100 000.3 3. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001. Keluarga dengan pendapatan terbatas.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang. protein hewani b.8 6.6 100. protein nabati dan sayur Nasi.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005. protein hewani Nasi. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang . besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89. lauk pauk. nasi. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.0 100. lauk pauk. protein nabati dan sayur.0 0 13 0 13 0.1 100.

Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51. tembok Letak kandang ternak a. >10 m dari rumah c. ≥10.5 m2 b. ada.6 96. seluruhnya tanah/lainnya b. 7.8 0 3.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10.6 35. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga. tertutup c.7 3. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit.5 51. <7.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002). marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a.9.4 0 5. dan kayu atau bambu. kayu/ bambu c.0 m2 perkapita.8%) memilik luas hunian ≥10. ada. seng/asbes/kayu c.5. kayu c. tidak ada b.7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96.0 m2 Jenis lantai rumah a.9 m2 c. terbuka Atap rumah a. bambu/lainnya b.6 28. teraso. tegel atau semen.8 69.4 94. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik.7 37. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a.6 0 3. Hasil penelitian .6 96. <10 m dari rumah b.6 60. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al. beton/genteng Dinding rumah a.4 1. BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita. ijuk/daun-daunan/lainnya b.

2002b). dan sebanyak 94. Lebih dari separuh jendela responden (69. Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. asbes gelombang.6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19). Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah. Atap rumah sebagian besar responden (96. Latifah et al. Menurut Latifah et al.menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. seng. (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19).7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara. Menurut Latifah et al. (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . Menurut Latifah et al. Lebih dari separuh responden (60. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Menurut Latifah et al.6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20). Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah.7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19). Lebih lanjut Subandriyo et al. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan.4%) berupa genteng/beton. sirap dan nipah. Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman.

5 53.1 3. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c. sungai b. Tidak punya b.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3. <10 m c. mandi.4 12. ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a.9 . Sebagian besar keluarga responden (80.6 83. kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c. Oleh karena itu.6 17.9 78. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum. Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m. air sungai/air hujan/lainnya b. Kamar mandi umum c.6 12. air ledeng.bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare. Menurut Subandriyo et al. cuci. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi.5 53. ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus. dan kakus a. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat).6 80. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan.6 33. Sungai/pancuran b. sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik. Proporsi terbesar responden (53.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21). Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20).

Lebih dari separuh responden (60.3 0. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya. Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan.9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. lubang sampah terbuka c. akan tetapi sebanyak 12.0 . sampah maupun air limbah. (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing.7 39. sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit. Menurut Latifah et al. Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat. Sehingga.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23). Menurut Latifah et al. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi.7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga. Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22). Selain itu.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare. N 34 22 0 % 60. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67.

Puskesmas dan praktik bidan.0 32.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan.0 n 38 0 18 % 67. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau. Dukun b.9 0. . Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya. Berdasarkan Lampiran 1. Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai. Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a.4%).0 100. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a. pemeliharaan kebersihan dan sebagainya. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu.8%) dan praktik bidan (51. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan. pemeliharaan kesehatan. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar.8%) adalah dekat. sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. Puskesmas (76. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b.

proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan. Berdasarkan Tabel 25. Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96. Selain itu.2%) dan praktik bidan (64. bidan Puskesmas (94. Puskesmas (83. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat. Apalagi di Posyandu. daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan.6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan. Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98.9%). Selain itu. Berdasarkan Lampiran 1. Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas.4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji.3%) adalah mudah. Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu.3%).9%) dan praktik bidan (64. Akan tetapi. Berdasarkan Lampiran 2.2%). Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang.5%).1%).9%).Selain jarak. Satoto (2004) . sebanyak 30. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi. bidan Puskesmas (94. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik.4%). dan praktik bidan (67. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden. bidan Puskesmas (73.6%). selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran. bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis. lebih dari separuh responden (69.0%) adalah baik. pasien sama sekali tidak dipungut biaya. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57. seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik.6%) dan praktik bidan (75.

buah nangka.6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”). Berdasarkan Lampiran 2. roti.1%) dan mudah dijangkau (69. Sehingga. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.4 69. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka. Dukun b.6%). ikan asin. talas. Oleh karena itu.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26). ubi. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh . Berdasarkan hasil wawancara. daging kambing. mie instan. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB). proporsi terbesar responden (44. Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30. durian.6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit. Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah. kangkung dan sebagainya. pisang.

0 100. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a. Tidak b. Akan tetapi.0 0. Tindakan yang didasari oleh .dan sulit.9%.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene. kepemilikan jamban. Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48.6 100. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0. gizi seimbang.9% kategori tinggi. penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69.0 30. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27).0 100. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan.0 100. Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a.4 69. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah.4% kategori sedang. Dukun b. sanitasi air. rumah sehat.0 0. Tidak b.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8.

9 100.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0.0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga.9 100.0 100. zat gizi untuk pertumbuhan (44.0 100. .9 48.1%) dan pemberian ASI eksklusif (41.0 0.6%). Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53.2 58. Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya.0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0.2 42.0 35.0 100.6 24.0 65.0 100.6%).0 50.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0. Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%. jenis pangan sumber Fe (57. jenis pangan karbohidrat (44.pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.2 42.6%).9 48.0 Total n 5 27 24 56 % 8.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik. Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8.1 100.1%). Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0.01).0 50. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.

Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden. susu formula. biskuit.1 26 46. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga. dan sosial.6 Tidak n % 42 75.0 8 14. mental. Dalam hal ini. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25. Akan tetapi. Marotz et al.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan. cara memperkenalkan makan. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan.0 85.4 .3 18 32. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang. bubur bayi dan lainnya.7 67. Hanya 41. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan. cara mempersiapkan makanan. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita.9 53.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan).1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.

Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92.6%).9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92.9 53. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. sebagian besar responden (85. Akibat . Lebih dari separuh responden (67.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.1 46. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002). Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang. Berdasarkan Tabel 30.1 58.4 Tidak n % 4 33 30 2 7. pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam.9 41. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.6 3.4 96. Hal senada diungkapkan oleh Masithah. sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare.

5 85. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari. Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87.3 98. Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85. sehingga sebanyak 89. Akan tetapi. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita. sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan. Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan). Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi.5 14. sebagian besar responden (96. Kurang dari separuh responden (41. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58.7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32).5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita.6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita. Mulai dari tahap persiapan.9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31).1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31). Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87.7 1. sehingga tidak dapat . pengolahan.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.7 10.2 Tidak n % 7 48 6 1 12.3 89. Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi. siang.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi.

lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut.4 73. Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan. sebanyak 73. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi. lalat) dengan makanan.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83. Sehingga. Kalaupun makanan yang diolah bersisa. pilih-pilih serta jarang habis. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia. Oleh karena itu. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama). Akan tetapi.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut.2 16.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32). sebanyak 94.9 5. kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk. Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan.6% responden selalu melakukan kegiatan . agar anak balita mau makan. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya. Sebagian besar responden (98.8 83.1 94.6 26. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya. Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah.

Lebih dari separuh responden (52.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4). Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80. n 0 40 16 56 % 0.0 71. Oleh karena itu.4 28.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang.6% kategori tinggi.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34. anak sering mengalami fase sulit makan. Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. sebanyak 77. Pada usia pra sekolah.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita.4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah. Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Akan tetapi. merayu atau memberikan pujian.6 100. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti).apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21.6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64.0 .

Sebanyak 67. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan.3%) tidak memperbolehkan . Sebanyak 46. Selain itu. Menurut Tjitarsa (1992).8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun. Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Sebanyak 71.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4). Serta sebanyak 51.Sebanyak 77. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya. akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4). Sebagian besar responden (89. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit. Walaupun masih ada responden sebanyak 21. sebanyak 64.9%) keramas menggunakan sampo. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92.4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari.4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39.4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya.3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82.3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53. Lebih dari separuh responden (64. Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain.

anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50.4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik. sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat. sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya. Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0. Akan tetapi.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4). . kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi.6 55. Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55. Menurut Rahayu (2006).6% kategori sedang (Tabel 35).0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita. Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Lebih dari separuh responden (58.4 100.0 44.01).0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4). karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya.

5% dan 25.0 24 44.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan.6 100.6 46.4 53. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66.7 33.0%.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45.6 100.0 Total n 26 32 56 % 53. Namun. salah satunya diare.0 . Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi.0 30 55.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.0 22 100. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil.01) antara umur anak balita dengan diare.3 100. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang.0 16 100. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66.0 Total n 26 32 56 % 46. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah.4 0.5 4 25.4 100.0 54 100. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45.0 12 54.5 12 75.

sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS.5 23.0%).0 35.0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41.8%) dan 20-30 tahun (41.7 1.8 35.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.8 100.0 30.0 28.9 11. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.1 44. SLTA/sederajat (15.2 100.4 2. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat.8%).4%) dan akademi/diploma/PT (2. Pengetahuan Gizi.6 100.0 100.6%).0.6 23.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51.0 15.0 32. Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28. .3 52. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0.8 100.01).0 41.5 0. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga.7 10. Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. 0.8 100.01).8 41.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.0%) memiliki PHBS kategori tinggi.

3 100. Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m.9 33. .6 100.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26. Pengetahuan Gizi. Menurut Subandriyo et al. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73. air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum. Selain itu juga.0 n 19 20 39 Tinggi % 73.0 n 26 30 56 Total % 46.1 66. Kaitan antara PHBS. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m. cuci dan kakus).9%).4 53.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran. kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan.7 100. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari. mandi.Namun. Sehingga. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita.

Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60.0 Total n 24 32 56 % 46.0 24 100. Selain itu. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan.0 27 100. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka.3%). Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare.7 5 100.0 18 66.) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33.0%.6 100. Menurut Latifah et al.3 2 40. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare.7 10 41.3 14 58. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan. Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan . Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. Akan tetapi. Namun. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya.4 53. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60.3%) dan tinggi (58. Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air.Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat.0 9 33. sampah juga mampu mencemari sumber air.

hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Namun.5 24 60. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40.6 100.8 25 100. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan.0 14 45. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40.0 Total n 26 30 56 % 46.0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.5 40 100.6 100. Dengan demikian. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita.0 31 100.Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62.2 13 52. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48.0%). Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.0 10 62.2%).4 53. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci .0 Total n 26 30 56 % 46.0 16 100.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif.0 6 37.0 17 54.4 53.

. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita.tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita. kebersihan kaki pun harus diperhatikan. Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Lingkungan yang tidak bersih. Selain kebersihan tangan anak balita. membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. Selain kebersihan tangan dan kaki. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan.

00.9%). 6. Proporsi terbesar umur anak balita (39. Proporsi terbesar (58.3%) maupun ibu (44.4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2.4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.01). 5. Secara umum responden memiliki PHBS.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun). Lebih dari separuh responden (60. Dengan demikian. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33. Lebih dari separuh anak balita (66.4%). sisanya tinggi dan rendah (42. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik. TB/U) dengan diare (p<0. 3.05).0%) tidak bekerja. Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan . sedangkan ibu (75.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat). Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang.6%). 2. Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0.6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55. Hampir seluruh anak balita (91. Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare.7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39.9% dan 8.1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari.9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000. 4.1%) adalah perempuan.9% 28.5 kg).3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB. Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69. dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.

. personal hygiene. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. pengetahuan gizi ibu. Selain itu. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. membiasakan BAB di kamar mandi. PHBS. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. Sehingga. Cuci. 7. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Sedangkan. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. pengetahuan gizi. aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. dan Kakus (MCK). pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. Selain itu. pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m.signifikan baik dengan PHBS. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik.

gizi. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. Herawati T. 1999. Institut Pertanian Bogor. 1985. Its Role in National Development. Bandung: Penerbit Alumni. 1979. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Health and Safety in Child Care. Martianto D. Jakarta: BPS. 2003. 1985. . Entjang I. Institut Pertanian Bogor. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Gizi Terapan. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. 2004. Diare. [terhubung berkala] www. Statistik Kesehatan. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga.html [3 Oktober 2007]. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. Hardinsyah. Briawan D. Institut Pertanian Bogor. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Zahara DN. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. Bogor: Fakultas pertanian. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Ekonomi Gizi. . 1991. [terhubung berkala]. Jakarta: BPS. 2004. 2006. Statistik Indonesia. Azwar A. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. _____. 2006. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. Statistik Indonesia. 1993. Harianto.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. Aronson SS. As’ad S. 2005. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Penerbit Mutiara.diare. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. Jakarta: BPS. Indikator Kesejahteraan Rakyat. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. . Berg A. Jakarta: BPS. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. 2004. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Jakarta: CV Rajawali. Gunarsa. Firlie D. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Amperansyah. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. 2005. Fakultas Pertanian. 1997. Bogor: Fakultas pertanian. 1992. 2001. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. penerjemah. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. 2002. Jakarta: Citra Aditya Bakti. . Hardinsyah. [terhubung berkala].html [9 November 2007]. 1986. 2002. Universitas Indonesia. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). Terjemahan dari: The Nutrition Factor. 2002. [BPS] Biro Pusat Statistik. . Ilmu Kesehatan Masyarakat. Gunarsa. www. New York: HarperCollins.

Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan.go. Latifah M. Institut Pertanian Bogor.ac. Kabupaten . Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan. M Tjandrasa.www. [terhubung berkala].usu. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan.ac. Pengetahuan. 2006. 2003.pdf [15 November 2007]. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. penerjemah. 2000. Khairunnisak I.ui. www. Bogor: Fakultas Pertanian. _________. Buku 5 Rumah Sehat.pdf. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. . Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi. 2005. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. 2002. Madihah. 2002d. Sumali MA. Fakultas Ekologi Manusia. Zalbawi S. Evi D. Nurahmi. dan Suprapti. MD Djamaludin. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah. . [23 uli 2008]. Psikologi Perkembangan. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. 2005. Wahida S. Herman. M Zarkasih. 2002c.pdf. Manda S. Khomsan A. Oktober 2007]. [3 Hiswani. Jakarta: Erlangga. 1982.farmasi.dinkes-sulsel. Perkembangan Anak Jilid 2. 2000.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104. 2002a. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. 2004. 2004. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. [terhubung berkala]. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi].jurnal. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. Hurlock EB. Institut pertanian Bogor. . Krisnatuti D dan Yenrina R. http://library. 1993. Kecamatan Tamansari. Jakarta: Puspa Swara.id/download/fkm/fkm-hiswani7.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. Ed ke-5. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi]. 2002b. Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat. . Bogor: Fakultas Pertanian. Irianti S. Jakarta: Erlangga. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363.

Institut Pertanian Bogor. Muniasir Z. Institut Pertanian Bogor. Bogor [skripsi]. Fakultas Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta : Rineka Cipta. Metodologi Penelitian Kesehatan. Health. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. [terhubung berkala].mosleh@bdonline. Ed ke-8. Nasution. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. 2006. Imunomodulator. 2003. Environmental Sanitation Promotion: A Social. Jeanettia MR. Jakarta: Puspa Swara. 2007. Institut Pertanian Bogor. [15 November 2007]. Ghosh SK. New York: McGraw-Hill . Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. Life-Span Development. Yogyakarta: Ando Offset. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. Bogor: Fakultas Pertanian. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. 2003. [terhubung berkala]. Bogor: Program Pascasarjana.com. Drajat M. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. ___________ . Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak. Institut Pertanian Bogor. www. Safety. 2007. Jakarta: Ghalia Indonesia.org. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. 2007. .Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi]. www. Notoatmodjo S. 2005. Bogor: Fakultas Pertanian. konsumsi pangan. 1993. Rahmawati D. R. dan status gizi anak usia dini [disertasi]. 2006. Sadeque MU. 2005. Universitas Indonesia. Bukan Suplemen!. Bogor: Fakultas Pertanian. Madanijah S. Institut Pertanian Bogor. Tantangan bernama higinitas. Rahayu S. 1997. Marie ZC. Ilmu Kesehatan Masyarakat.id/dsp_content. Pujiarto P. lingkungan pembelajaran. Santrock JW. 2005. parentsguide. Masithah T. Fakultas Ekologi Manusia.co. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Puspitawati H.koalisi. Soekirman. Desa Sukamantri. Pengantar Ekologi Keluarga. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Institut Pertanian Bogor. Edisi ke-6. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia. 2005. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. Riyadi. Nadesul H. [terhubung berkala]. Makalah Seminar Sehari. and Nutrition for Young Child. United State: Thomson Delmar Learning. 2002. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. 2003. 2001. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. Marotz LR. 2007. Rimbatmaja.

2007. Cianjur. Fakultas Pertanian. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003.htm. [terhubung berkala]. Turner JS. 2005. Diare mendadak dan penanganannya. Jawa Barat [skripsi].jmpk-online. Subandriyo VU. Soekirman.Sari RA. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi. JMPK 8(2). Sukarni. www. Fakultas Pertanian. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. Tjitarsa IB. Institut Pertanian Bogor. 1992. Widyati R. Slamet Y. . Ed ke-4. [3 Oktober 2007]. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar.articles. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. Dewi MDH. Bogor: Pusat Antar Universitas. Solo: Dabara Publiser.net/files/vol-08-02-2005-4. [3 Oktober 2007]. [3 Oktober 2007]. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. Fortworth: Rinehart and Winston. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado.pdf. 2005. 1993. Departemen Pendidikan Nasional.php. Suririnah. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. Institut Pertanian Bogor. dan Yekti HE. Mubasysyir H. Saroso S. 1999. ______. 2004. Institut Pertanian Bogor. Satoto. 1994. 1989. www. [terhubung berkala]. Kecamatan Cugenang. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Sumali MA.diare. 2002. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat.com. Topatimasang. Life-Span Development. www. 1989. Sosial Budaya Gizi.infoibu. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2000. Yuliarsih. 1991. [terhubung berkala]. Helms DB. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. 2004. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. 1997. Bandung: Eja Insani. Tambingon HN. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Diare. Sinaga D. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. Suhardjo. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Pertanian. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. 2007. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan.

LAMPIRAN .

8 57.3 92.6 98.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing.9 26.6 0.8 16.9 10.6 25 44.9 3.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14.4 19.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1.1 7.8 8. 10. 5. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76.1 42. 3. 6.3 62. 11.5 5.9 100 10.8 30 53.5 46.1 12.6 92.4 3.0 100.57 23.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44.1 73.2 64.1 69.1 57.5 53.3 16.7 41. 8. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55. 12.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1.2 83. 2.5 8.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30.6 5. 7.5 57.0 37.9 92.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.7 14.9 85.8 12. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16.6 80.6 75 100 12.8 51.93 37.93 0 12.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21.0 0.2 91.7 76.4 1.4 87.36 8.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69.1 96.4 76. 13.9 64.0 62.9 0.2 48.4 100.6 0 11 1.8 3.6 67. 14.1 35. 9.1 . 4.5 44.5 94.5 94.3 4 24 15 7 4 7 25 7.4 96.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.7 83.4 94.6 96.6 85.5 7.

Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a. 20.No 15.4 64.9 21.6 0. Tidak pernah b.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82.0 77.0 0.3 21. 3. Tidak pernah b.2 19. Kadang-kadang c.3 1.0 14.5 52. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. Ya. 2 kali/minggu c.2 8. Tidak pernah b.4 96.6 91. 4. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a.2 0 7. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.6 96.3 64.0 5.0 100.8 12. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a. Ya. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a. 1 kali/hari b. Kadang-kadang c. . 8. Kadang-kadang c. 2 kali/hari c.3 77.1 17.1 71.1 28.6 28. 9. Ya. 12. 11. Ya. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a. Tidak pernah b. 2-3 kali/hari c.9 77. 1 kali/hari c.4 94. Tidak b.1 2. 16. 1 kali/hari c. 6. Ya.4 3. 1 kali/hari b. Tidak b. Sejak anak berusia > 2 tahun b. 1 kali/minggu b.4 19.8 7. Sejak anak berusia 1-2 tahun c. 5.1 5. 19.0 80. Ya. 17.4 94. Ya.3 14.6 94. Kadang-kadang c.6 43. 18.9 33. 10. 7. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a.3 0.1 92. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a.0 5.

6 58.4 67. 20. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a. 23.4 89. Tidak pernah b. Tidak pernah b.0 10.4 32.1 10. Tidak pernah b.2 21.9 18. Kadang-kadang c. Tidak pernah b.8 16. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a.1 53. 19.7 1. Kadang-kadang c.No 13. 17. Kadang-kadang c. Tidak pernah b.6 71.8 87.5 5. 16.7 7. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10.3 14. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a. 21. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.1 0. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a. Kadang-kadang c.3 0.1 82.0 28. Ya. Tidak pernah b.1 51. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus. Kadang-kadang c.4 19. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a. Kadang-kadang c.4 64.8 30. Tidak pernah b. Kadang-kadang c. Ya.6 57. Tidak b. .1 39. Tidak pernah b. 1-2 kali/bulan c. Kadang-kadang c.0 23. 15.7 42. jamban)? a. Sejak anak berusia > 2 tahun b. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.8 50.4 3.9 26.4 30. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a. Tidak pernah b./WC. 24. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a.6 30.9 46. 22.7 1.3 16.

231 p= 0.961 r= -0.330* p= 0.026 p= 0.261 p= 0.643 r= -0.184 r= 0.988 r= 0.068 p= 0.122 p= 0.586 r= 0.258 r= 0.486** p= 0.100 r= -0.292* Pola asuh makan p= 0.036 p= 0.001 r= 0.013 r -0.531** p= 0.063 p= 0.029 r= 0.334 r= 0.179 p= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.293* p= 0.177 p= 0.905 r= 0.000 r= 0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.264* p= 0.097 p= 0.126 p= 0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .050 r= 0.311 PHBS ibu p= 0.186 r= -0.055 r= 0.004 r= 0.228 r= 0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.476** p= 0.619 r= 0.485 r= -0.131 p= 0.134 r= 0.476 r= 0.108 p= 0.258 p= 0.370 r= -0.191 r= -0.000 r= 0.852 r= 0.061 r= 0.008 r= -0.095 p= 0.413 r= 0.440** Diare anak balita p= 0.791 r= 0.074 p= 0.000 r= 0.369 r= 0.087 r= -0.391 r= 0.350** p= 0.999 r= 0.117 p= 0.052 r= -0.227 r= 0.403 r= 114 p= 0.180 p= 0.286 r= 0.015 p= 0.203 p= 0.428 r= 0.023 p= 0.138 p= 0.095 r= 0.029 r= -0.486 r= 0.275 r= 0.112 p= 0.915 r= -0.134 r= 0.122 p= 0.408 r= 0.252 p= 0.203 p= 0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.164 p= 0.356 r= 0.002 p= 0.310 r= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.059 p= 0.000 p= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.865 r= 0.007 p= 0.016 p= 0.655 r= 0.222 p= 0.576 r= 0.095 p= 0.897 r= -0.148 p= 0.154 p= 0.020 r= -0.145 p= 0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.