Está en la página 1de 85

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT. PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA. DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .

Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. MSc NIP 131 414 958 Dr. Kusharto. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. Ir. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . Didy Sopandie. Clara M. Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. Dr. drh. Siti Madanijah. Ir. Pengetahuan Gizi. Dr. MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof.

Ikeu Tanziha. Dr. Kusharto. Ikeu Ekayanti. Oleh karena itu. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Ir. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian. 4. Dr. yaitu kepada: 1. Siti Madanijah. Dr. Tien Herawati SP. sungguh luar biasa karena atas rahmat. Dr. . Dadang Sukandar. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. Prof. 5. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. Ir. SP. Bogor”. 6. 7. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. Pihak Desa Cikarawang. Ir. drh. Ir. 2. 3.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. Pengetahuan Gizi. Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. Dr. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. Alhamdulillah. MKes. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. Clara M. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. MSc. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita.

Adin. Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. temen seperjuangan KKP. Lola. Ira. Ardi. OMDA CIANJUR. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah .8. Bung). Yulia. Kakang Rizki. Dedew. perhatian. curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. 10. Mei. dukungan semangat. kebersamaan yang indah dan keceriannya. Maul. 40 dan GM 42. atas bantuan. 43. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. tumpangan kamar. Mama. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. Firdaus. Dini. Ena. 9. saran. Rizka. Nur. dorongan semangat. Abah. penghuni AS-SAKINAH. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. Venny. Bogor. Rika. RHEMAND (Nda. teman-teman relawan Klaten. Vina dan Emil. MpokIde. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. Friska. BKGers (Semangat yo). Yuli. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. Sri. Noni. Dhyta. Devita. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. Tiche. 12. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Any. GMSK 39. Ati. 13. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). Yesa. DausBek. Manto. Once. Arina. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. dan doa untuk keberhasilan penulis. Henny. Teteh Milah. 11. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. Noorma.

Siti Romlah. Hasan Mulyadi dan Ibu Hj. Desa Cikarawang. Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Selain itu. Semarang. Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang. penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. 2007/2008. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara. Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK).RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Fakultas Pertanian. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Serta.

...................... 19 METODE PENELITIAN ............................................................................................................................................ 26 Karakteristik Anak Balita.................. 45 Pola Asuh ... 5 Penyakit Diare ...................... 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)......................... 6 Karakteristik Keluarga .......... 17 Pola Asuh Kesehatan .................................................................................................... 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita.......................................................................................................................................................... 3 TINJAUAN PUSTAKA . 4 Karakteristik Anak balita ............. 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ................................................................................ 1 Latar Belakang ......................... 22 Definisi Operasional ............................................................ ix PENDAHULUAN ............................................................................. 3 Kegunaan Penelitian ................................................................................................................................................................................. 47 Pola Asuh Kesehatan ............................... 22 Disain............................................................................................................................................................................................ 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ......................... 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita ....... 16 Pola Asuh ..................................................................... 47 Pola Asuh Makan..................... 29 Karakteristik Keluarga Contoh................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. 1 Tujuan.................................................................................................................... 2 Hipotesis................................... 9 Pengetahuan Gizi ............................................................................................................................................................................ 21 Pengolahan dan Analisis Data ........................................................................ Tempat dan Waktu .......................................... 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS............................................................................... vi DAFTAR GAMBAR ................................................................. 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).......................................................... 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian ...................................................................................................... 18 KERANGKA PEMIKIRAN........................................................................................... 35 Pengetahuan Gizi . 16 Pola Asuh Makan........................................ 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita ............DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL........ viii DAFTAR LAMPIRAN...... 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data................................................................................................... Pengetahuan ........................................

..... 66 ................................... 61 DAFTAR PUSTAKA ................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan........................... 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ........................... 62 LAMPIRAN .............................. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ................................................ Pengetahuan Gizi.....................................................................................................................Gizi................. 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita............................................. 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita ................................................................... 60 Kesimpulan........................ 60 Saran ........................ 55 Kaitan antara PHBS.......................................................... 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita .............. 58 KESIMPULAN DAN SARAN ................

.................... 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene ........................................................................................................................................................ 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur...................................... 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi.............................. 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga ... 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi ............................................................. 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban........... 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan ................. 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit ............................ 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan . 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden .............. 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS ........................... 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah............................................................................................................................................... 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit........................................................ 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir......... 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air ................................. 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan................................... 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya... umur dan berat badan lahir.............................................. 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL ..... 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat........................................................................DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data ............................. 21 Cara pengolahan dan analisis data ............................................. 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin.................. 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang........................... 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan.. 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB........... 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin..................... 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan .......................... penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit....................................................................... 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit................ 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan .........

.................................................. 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ........ 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita .................. 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita .... 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita ............................................................................................................................................................. 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan.....responden ... 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS .................................................... 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ........................................................ 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita .............................................. 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita.................................... 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita...... 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita....................................................... 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita ................................................................................................. 58 ................................................... 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita......

......... 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS.........DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum ...... Pengetahuan Gizi........... 20 ....... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita .......................

........................ jarak dan daya jangka .......... kemudahan dihubungi dan cara pelayanan ........................................ 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi........... 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel .................. ......... 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi ... 70 ..............................DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan...... 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan.......................................................

Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. 2002). AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%. Dari keempat faktor tersebut. sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan. perilaku hidup sehat (40%). pelayanan kesehatan (10%). dan keturunan (20%).S. Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . gaya hidup. sekolah dan tempat umum. Menurut Henrik L. Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare. Selain itu.PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. kebersihan perorangan. kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). serta air dan udara yang bersih. Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. tempat kerja. 2002). ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). dan perilaku terhadap upaya kesehatan. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya.

pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. Bogor. Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). merawat anak. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. dan sosial. (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). kebersihan anak. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. Di Indonesia. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). memberikan makan anak. Dalam hal ini. diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007). Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. . pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita.dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. mental. 2005). Kosek et al.

Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. 3. Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. 6. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan.Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. 2. Menganalisis kaitan antara PHBS. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. pengetahuan gizi. pengetahuan gizi. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. 5. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. pengetahuan gizi. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. 2. pengetahuan gizi. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya. pengetahuan gizi. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. Hipotesis 1. 4. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. 7. 3. Mengidentifikasi PHBS. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. .

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. 2005). daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. keselamatan dan gizi. Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. kebiasaan. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. . sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. Akan tetapi. pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001). Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan. maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982). Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006). Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. Umur Menurut Hurlock (1982) sikap.

Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002). Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. salah satunya dengan antropometri. Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. Oleh karena itu. Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). . maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan. Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. tinggi badan menurut umur (TB/U). Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB.Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Oleh karena itu. Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari.

Menurut Latifah et al. Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002). protozoa). Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007). Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer.Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis. menggunakan sumber air yang tercemar. Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih. Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. sehingga akan menular. menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih. buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh. Salmomella (5-18%). bakteri. dan Shigella (2-5%). coli (20-30%). Vibrio cholera (5%). lalat) atau oleh tangan yang kotor. bahkan dapat berupa air saja. Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30. penyebab diare akut yaitu: . Ditinjau dari sudut patofisologi. yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). E.6%). cacing. kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). parasit (jamur. keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. Selain itu. Penyebab diare diantaranya yaitu virus. alergi terhadap susu.4-36. Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya. apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu.

.BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi.Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida. Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . makanan yang pedas. gugup).Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia. Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: . Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. gangguan syaraf. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). alergi dan sebagainya.1. Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT). ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002). Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004). Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. 2.Infeksi virus.Malabsorpsi makanan . Selain itu. kuman-kuman patogen dan apatogen .Kekurangan kalori protein dan mineral . gangguan psikis (ketakutan. makanan yang terlalu asam). makanan (misalnya keracunan makanan. hawa dingin. Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga. Rumah . Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi.

informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . fertilitas. serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003). karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. Dengan demikian. Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan. Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional. Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006). Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006).yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997).

manusia sebagai tuan rumah. rohani. kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan.sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. . 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. kesejahteraan ibu dan anak. Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. perawatan kesehatan dan pemeriksaan. terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). kesehatan dan gizi balita. Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. diantaranya pendidikan keluarga. serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). dan lingkungan hidup (Entjang 1985). Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. Dengan demikian. Pada tingkat keluarga.

1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. keluarga dan masyarakat. dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. menghuni rumah sehat. perilaku sehat. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. makan dengan gizi seimbang.Masalah determinan kesehatan. Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). . memiliki akses dan menggunakan jamban. terutama pada aspek budaya perorangan. 2006). dan program dan pelayanan kesehatan (10%). Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. 2005). menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. kelompok. menurut Henrik L. Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. perilaku kesehatan (40%). memiliki akses dan menggunakan air bersih. lingkungan kesehatan (30%).

dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2. biologi. Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia.membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. persalinan ditolong tenaga kesehatan. Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. menyikat gigi. Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. sosial. olahraga dan lain-lain. menimbang balita setiap bulan. Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran. Usaha pengebalan atau imunisasi. sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. diberikan saat balita (BCG. pakaian bersih. hepatitis. menjaga saluran air agar tidak mampet. ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. memeriksakan kehamilan. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). memanfaatkan sarana kesehatan. Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). 3. . MMR. preventif (pencegahan penyakit). Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik.

ayam. sirap dan nipah. wortel. telur. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. pepaya. keamanan. pisang. mie. 2. kacang-kacangan. teraso. ubi. tahu. semangka. kangkung. daging. daun katuk. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. buncis.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. jagung. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). dan kenyamanan manusia. . Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. jeruk. tempe. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. dan kayu atau bambu. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. daun singkong. 5. seng. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. 3. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. singkong. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. 4. tegel atau semen. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. kacang panjang. asbes gelombang. 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. sawi. diantaranya: 1. Rumah Sehat Menurut Latifah et al.

c. dan tidak berbau. Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi. 8. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet). Air bersih belum tentu dikatakan sehat. tidak berwarna. dan mata air yang terlindungi. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. sumur yang terlindungi. Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. 2002b). Selain itu. Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. b. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan. tidak berasa.6. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. Menurut Subandriyo et al. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Jika anggota keluarga ada empat orang. air ledeng. 7. Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga.

2002c).kakus. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). lantai yang disemen. kloset (lubang tempat masuk feses). Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman. pabrik kertas. Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. . Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al. Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. 2002a). sumur penampungan feses dan lubang resapan. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. dari restoran dan dari kolam renang). tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. pijakan kaki. 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. pabrik kimia). pabrik baja. pabrik cat. tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. air bekas mencuci pakaian). dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. dari pabrik tinta. air buangan dapur. 2002c).

Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. Sedangkan. 2002c). maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol. tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al. Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk. antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat. petugas kesehatan dan praktek dokter.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. 2002c). sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. secara ekonomis.

Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita. mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. mencegah memburuknya keadaan gizi. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. . bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan. akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. Persalinan oleh dokter. Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi).balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. balita dan ibu hamil. bidan dan tenaga medis lainnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. terutama bayi.

Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . stimulasi dini. maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. anak-anak sering mengalami fase sulit makan. Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004). kesehatan anak.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. imunisasi. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. dan sosial. mental. melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. perumahan. Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. merawat anak. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Marotz et al. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. kebersihan anak. Dalam hal ini. Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. Pada usia pra sekolah. Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan. (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. keluarga berencana. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). memberikan makan anak.

Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. . Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002). Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). kondisi fisik masih lemah. suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. Ketika anak sedang makan. Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif. Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui. Oleh karena itu. hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). dimengerti.tergolong rawan. dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). Selain itu. Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991). Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya.

perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Dari keempat faktor tersebut. Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. rohani. Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002).KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. lingkungan kesehatan. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. . Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. Menurut Henrik L. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu.

Besar Keluarga . .Umur .Berat Badan Lahir Pola Asuh .Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS.Pendidikan Orangtua .Jenis Kelamin .Pola Asuh Makan . pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Pekerjaan Orangtua .Umur Orangtua . pengetahuan gizi.Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .Karakteristik Keluarga .

Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner . Kabupaten Bogor. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner. Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur). Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan. KMS Kuesioner. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang.Jenis kelamin . karakteristik keluarga (besar keluarga. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga). umur. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008. Desa Cikarawang. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian. Kecamatan Darmaga.Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer.Umur . Desa Cikarawang. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. status gizi dan kesehatan anak balita. pendidikan.METODE PENELITIAN Desain.

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

54 0. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a. Kolam c. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a.0 0.HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225.86 0. Jalan i.073 2 0. .0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam.430 0 0 0 0. Sawah pengairan setengah teknis c. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25. bangunan-bangunan (sekolah. perkantoran.075 0.84 % 0.07 3.016 0.22 100. 84 ha. kuburan. dll) g.070 52. Terminal f. Sawah pasang surut Perkebunan a.0 16.88 0. vihara. Pasar e. dan lain sebagainya (Tabel 3).23 33.226 8 0 38.32 8. Sawah tadah hujan d.0 0.19 0. Perkebunan rakyat b.18 0. yang dipergunakan untuk pemukiman umum. jalan. masjid. pura. Pertokoan/perdagangan d.10 23. dan lain-lain).800 4.260 18. Perkebunan Negara c.35 2. gereja.0 0.510 225. Perkantoran b. Tempat peribadatan (masjid. Sawah pengairan teknis (irigasi) b. Tambak b.03 0. perkebunan. Kuburan/makam h.0 11.455 75.0 0. Sekolah c. pertanian sawah. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a.0 0.007 0.925 0 0 0. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus.

sisanya berada di Kampung Carang Pulang. hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. keluarga sejahtera I (700 KK).Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . dan Dusun III terdiri dari RW 5. dan keluarga sejahtera III (100 KK). Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. 6 dan 7. keluarga sejahtera II (300 KK). Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. Namun. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Selain itu. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang. tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT). sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005.

6 96. Akan tetapi. Berdasarkan Tabel 5.6%).3%) berkisar antara 24-36 bulan.9 66.5 ≥2.1 100.1%) berjenis kelamin perempuan.5 kg).5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30.2±11. dan berat badan lahir.0 3. sebagian besar anak balita (96. umur. Proporsi terbesar umur anak balita (39. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup.3 28.5 kg.1±0. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki.0 .1%) dan berumur ≥37 bulan (28. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66. mandi.1 39. umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3. cuci dan kakus.0 32.7 bulan.6 100.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2.4 100.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum.4 kg. sisanya berumur ≤23 bulan (32. sebanyak 3.

0 56 100.2 32 57.4 92.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah. sisanya 42.9 0 0. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5. Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan. proporsi terbesar anak balita (57.1 43 76.Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6). dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. salah satunya dengan antropometri.8% berstatus gizi lebih. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.8 100.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal.9 1. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001). Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. penyerapan. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan .8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23.0 0 0. Sisanya sebanyak 5. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini. Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan. Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U.8 24 42.4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23.9% berstatus gizi normal.0 56 100.

Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71. borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin. sanitasi lingkungan dan lainnya.4%). Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi.masalah penyakit infeksi.4%). kesehatan. stimulasi dini. kurap.9 100 Menurut Soendjojo. Oleh karena itu. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk. status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang. perumahan. .1 8.1%) mengalami sakit dan hanya 8. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit.05). Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare. Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91. imunisasi. ISPA (73. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare.9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. bisul. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak. Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi.2%) dan diare (46. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0. keluarga berencana.

Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9). ISPA (44.7 0. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).0 19.0 0.2 3.Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71. .0 1.0 0 0.0 0 100.0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57. Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang. Anak balita adalah individu pasif.4 11 0.4%) dan diare 1 kali (32.0 5.0 0 0. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya.2 17 30.6%).4 73.8 33.4%).1%).7 2 100.0 0 ≥3 % 30.7 3.5 1 50.0 0 0.4%) dan kulit (5. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.3 0.4 10. diare (30.0 12 23. ISPA 2 kali (30.0 0 32.0 1 16.6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi.4 46.1%). Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit. Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35.1 7 12.0 14 35.6 0.

Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.0 30.1 44.3±1.2 3 5. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro.4 5.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57.0 0. Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan . Responden menyatakan untuk penyakit TBC.3 60.3 1 1. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5.6 14.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12. meso dan makro). Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60.0 0.8 3.7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang.6 0.0 0. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita.0 0 0.0 0.0 0.0 0 0.0 1. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.8 1.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri.8 orang.8 2 3. Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.4 0.0 0.4 1.5 1 1.6 0 0. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0.8 23.7 100.0 1.8 Selain jenis penyakit di atas.

terutama ibu. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39.0 . Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Menurut Hurlock (1993) orang tua muda.7±5.8%) yaitu SD/sederajat.6 23.6% saja ayah dan 1.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT.3 100.0 n 18 25 13 56 Ibu % 32.8 tahun. Selain itu. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3.1 44. sedangkan ibu (51.0±6.3 28.6% ) berumur antara 20-30 tahun.7 tahun. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35. Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13. Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991). sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33. Ayah n 18 22 16 56 % 32.1 39. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989). tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi.3%) maupun ibu (44.7%) yaitu SLTA/sederajat.keluarga.6 100.

7 10.0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51.0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan. sebagian besar ibu (75.0 10.6%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51. Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah.8%) adalah SD/sederajat.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT). secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya.8 35.5 1.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32.6 35. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga.0 0.7 75.8 100.7 1. Selain itu. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di .7 3.0 5.6 100.0 0.0 12.0 100.8 0. Dengan demikian.9 28.6 0.1 28.3 33. fertilitas. Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.9%) dan jasa angkutan (28.4 100. Oleh karena itu. Sedangkan.9 14.

00±Rp106 712.9% berpendapatan <Rp100 000. Menurut BPS (2005). Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan. Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.9 100.8. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000.00 Total n 10 13 33 56 % 17. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000.00 100 001. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000. Dengan demikian.9 23. Proporsi terbesar responden (55. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58.00.00-150 000.00 dengan rata-rata Rp1 073 393.00 dan sebanyak 17.00.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya.2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001. Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000.00/kapita/bulan. .00. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi.luar rumah.00.3.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007).00-Rp150 000. Sebanyak 23.00 sampai Rp2 620 000.9.00 >150 000.0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58.2 58.00±Rp597 650.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan. lebih dari separuh responden (58.

7%. sungai b.7 67. 2 kali c.1 0.0 32.9 0. 3 kali Memasak air untuk minum a.3 58. Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare. Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32.0 0.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi. 1 kali b.Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum. 1 kali b.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10. dua kali (30.6 0.4 37. Tidak b. memasak tetapi tidak sampai mendidih c. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum.0 58.9 41.4 10. kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1.0 55. kamar mandi umum c. Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a. 2 kali/hari c.4 44. tidak memasak air b. 2 kali c. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a. Lebih dari separuh responden (67.4%) dan ≥ tiga kali (37.5%). Oleh karena itu. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a.0 100. kadang-kadang c. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum .8 39. 1 kali/hari b. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati.1%).1 30.5 21.

3 3.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi.3 3.8 6.00 000. protein nabati dan sayur. lauk pauk.0 100.0 0.0 3 28 2 33 9. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang .6 100.0 0.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89.00 >150 000. lauk pauk.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005. nasi. nasi.0 100. lauk pauk.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang. sayur c. sebanyak 6. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001. protein hewani Nasi.00-150 <100 000.0 0 13 0 13 0. Hanya 3. Keluarga dengan pendapatan terbatas.1 89. protein nabati dan sayur Nasi. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000.0 90. sayur dan buah.0 100. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga.1 84. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi.0 Total n 4 50 2 56 % 7.1% n 4 50 2 responden % 7.00 N % n % n % 1 9 0 10 10. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. protein nabati.1 100.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok.1 89. nasi. lauk pauk. protein hewani b. Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin.

8%) memilik luas hunian ≥10.8 0 3. Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51. ijuk/daun-daunan/lainnya b. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a.5 m2 b.0 m2 Jenis lantai rumah a. kayu/ bambu c.4 94.4 1. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10. tertutup c.0 m2 perkapita. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. tegel atau semen.6 96.9 m2 c.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002).5 51. terbuka Atap rumah a.7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96.9. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga.6 0 3.5. kayu c. ada. ≥10.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen. seluruhnya tanah/lainnya b. marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a. bambu/lainnya b. tembok Letak kandang ternak a. <10 m dari rumah b. ada.4 0 5. teraso. BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita.8 69. <7. sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit. tidak ada b. >10 m dari rumah c.6 35. dan kayu atau bambu.6 28. beton/genteng Dinding rumah a.7 3. seng/asbes/kayu c.6 96.7 37. Hasil penelitian . 7.6 60.

Lebih dari separuh responden (60. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara.7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35. Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Lebih lanjut Subandriyo et al. Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. seng.7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19). (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Menurut Latifah et al. (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar.6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19). 2002b).4%) berupa genteng/beton. dan sebanyak 94.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19). Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. Menurut Latifah et al. (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78. Lebih dari separuh jendela responden (69. Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah. (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah. Atap rumah sebagian besar responden (96. Menurut Latifah et al. sirap dan nipah. Menurut Latifah et al. Latifah et al.6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20).menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah. asbes gelombang.

ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20). Menurut Subandriyo et al. Oleh karena itu. dan kakus a. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a.5 53.1 3.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21). sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi.bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. cuci.9 .6 17.6 12.4 12.6 80. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat). mandi.6 83. Proporsi terbesar responden (53. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c.5 53. Tidak punya b. ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan. air ledeng. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare. Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16. air sungai/air hujan/lainnya b.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3. <10 m c. sungai b. Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum. Kamar mandi umum c. Sebagian besar keluarga responden (80.9 78. Sungai/pancuran b. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m.6 33. kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c.

Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat.3 0. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. N 34 22 0 % 60.7 39. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. Lebih dari separuh responden (60. Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23). tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22). akan tetapi sebanyak 12. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi. (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing. sampah maupun air limbah. lubang sampah terbuka c. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare. Sehingga. sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Menurut Latifah et al. Selain itu.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83.7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit.0 . Menurut Latifah et al.9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya.

0 100.0 n 38 0 18 % 67. Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0. Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu.0 32. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. Dukun b. sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. . Berdasarkan Lampiran 1.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar. Puskesmas dan praktik bidan. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya.4%). pemeliharaan kesehatan. Puskesmas (76.9 0. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya.8%) dan praktik bidan (51. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c. pemeliharaan kebersihan dan sebagainya.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a.8%) adalah dekat. Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan.

daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan. Apalagi di Posyandu. sebanyak 30. Berdasarkan Lampiran 2. Berdasarkan Lampiran 1.6%). bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis.Selain jarak. Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96.5%). Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas.2%). Berdasarkan hasil wawancara dengan responden. bidan Puskesmas (73. Selain itu. Selain itu. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat.9%). Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu. lebih dari separuh responden (69. Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92. Satoto (2004) . seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik. Akan tetapi. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98.0%) adalah baik.9%) dan praktik bidan (64. Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang. bidan Puskesmas (94.3%).3%) adalah mudah. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62.4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji. Puskesmas (83.2%) dan praktik bidan (64. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57. selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran. bidan Puskesmas (94. pasien sama sekali tidak dipungut biaya. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan.4%).9%).6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan. dan praktik bidan (67.1%).6%) dan praktik bidan (75. Berdasarkan Tabel 25.

Sehingga. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. ikan asin. Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”). talas.4 69.6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji. kangkung dan sebagainya. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. durian. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB). sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. ubi. proporsi terbesar responden (44. roti. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh . daging kambing. mie instan. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. Berdasarkan Lampiran 2.6%). Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30. Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26). Berdasarkan hasil wawancara. Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit. Oleh karena itu. Dukun b. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi. Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit. pisang.6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. buah nangka.1%) dan mudah dijangkau (69.

penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42.0 0.4 69.4% kategori sedang. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8.0 100.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48.0 100. Tidak b.0 30. Dukun b. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27). Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0. kepemilikan jamban. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0.0 100. penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69. gizi seimbang. rumah sehat. Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif. Tindakan yang didasari oleh . Tidak b. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah.6 100.9%. Akan tetapi. Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene.dan sulit. sanitasi air.0 0. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB.9% kategori tinggi.

6 24.0 100. zat gizi untuk pertumbuhan (44.0 65.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0.0 50.1%).9 48.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik.01).0 100.2 42. jenis pangan sumber Fe (57. Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53.0 Total n 5 27 24 56 % 8.2 58.0 35.6%).1%) dan pemberian ASI eksklusif (41. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0. Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%.0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0.6%).pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga.0 50.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya.9 48.0 100.9 100.2 42. Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8.1 100. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya.0 0. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17. jenis pangan karbohidrat (44. .0 100.9 100.6%). Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan.

3 18 32. cara memperkenalkan makan. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang. biskuit. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan.1 26 46. mental. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan.6 Tidak n % 42 75. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan). cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga.7 67. dan sosial. Marotz et al. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden. cara mempersiapkan makanan. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik. Dalam hal ini. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan. Hanya 41. bubur bayi dan lainnya.4 .0 8 14.9 53.1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang. Akan tetapi.0 85. susu formula. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan.

sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.7%) memberikan kolostrum kepada anaknya. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam.9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita. Berdasarkan Tabel 30. Hal senada diungkapkan oleh Masithah. pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi.6 3.4 96.1 46.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002). Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang.4 Tidak n % 4 33 30 2 7.6%). Akibat . Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit. Lebih dari separuh responden (67.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53. sebagian besar responden (85.1 58. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92.9 41.9 53. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum.

Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan).7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32).9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga.5 85.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31).5 14.2 Tidak n % 7 48 6 1 12. Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87.7 10. sehingga tidak dapat . Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas.6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita. sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan. pengolahan. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi. siang. sebagian besar responden (96. sehingga sebanyak 89.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari.5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita.1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31). Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53. Akan tetapi. Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85.7 1. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita. Mulai dari tahap persiapan.3 89.3 98. Kurang dari separuh responden (41. Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58.

Kalaupun makanan yang diolah bersisa. Sehingga. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin. Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan. kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19. Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah.2 16.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut. Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa. Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan. agar anak balita mau makan.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya.8 83.4 73. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80. pilih-pilih serta jarang habis.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama).9 5. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk.6 26. Sebagian besar responden (98. lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut.6% responden selalu melakukan kegiatan . Akan tetapi. sebanyak 73. Oleh karena itu. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia.1 94. lalat) dengan makanan.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32). sebanyak 94.

menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan.6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti). Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91.6% kategori tinggi. anak sering mengalami fase sulit makan.apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang.6 100.9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi. n 0 40 16 56 % 0. Lebih dari separuh responden (52.0 71. Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah.4 28.4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28. sebanyak 77. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34. merayu atau memberikan pujian.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21. Akan tetapi.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4). Pada usia pra sekolah. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita.0 . Oleh karena itu. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu.

2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92. Lebih dari separuh responden (64.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain.4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87.Sebanyak 77. Selain itu.3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82. Sebanyak 67.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4). Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan.4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan.3%) tidak memperbolehkan . sebanyak 64. Sebanyak 46. Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun. Menurut Tjitarsa (1992). Sebanyak 71. Walaupun masih ada responden sebanyak 21.4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39. Serta sebanyak 51. akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4).9%) keramas menggunakan sampo.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53. karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit.3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah. Sebagian besar responden (89. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare. Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia.

karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya. Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik.6 55. pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri. sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang. Akan tetapi.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4).6% kategori sedang (Tabel 35). terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik. Lebih dari separuh responden (58. .0 44. kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.01). Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat.4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44. Menurut Rahayu (2006).0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4). Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya. Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55.4 100.anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50. Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat.

0 54 100.0 16 100.6 46. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang.4 53.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan. Namun.5 4 25.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah.7 33. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil.4 100. salah satunya diare.0%. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.0 30 55.0 .0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66.4 0.3 100.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45.6 100.5% dan 25.5 12 75.0 12 54.6 100. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare.0 22 100.0 Total n 26 32 56 % 46. Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah.01) antara umur anak balita dengan diare.0 Total n 26 32 56 % 53.0 24 44.

6 100.8 100.0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.8 100. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS.0 15.8%). Pengetahuan Gizi. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.8%) dan 20-30 tahun (41.7 10.0%).8 41.0 100.0%) memiliki PHBS kategori tinggi. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76.5 0.0 28.8 35.2 100.0 32. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat.1 44.0 35.4 2. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga.6%).0 30. SLTA/sederajat (15. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang.4%) dan akademi/diploma/PT (2. .01).7 1. Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28.5 23.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS.6 23.0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.0 41.9 11.8 100.01).3 52. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76.0. 0.

9 33. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari.4 53. mandi.Namun. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m.6 100.0 n 26 30 56 Total % 46. kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat. air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum.7 100. Kaitan antara PHBS.0 n 19 20 39 Tinggi % 73. . hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). Selain itu juga.3 100. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m. Menurut Subandriyo et al. cuci dan kakus).1 66.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran. Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita. Pengetahuan Gizi.9%). Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73. Sehingga.

hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita.3%). Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. Namun. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya.0 18 66. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60. Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka.3%) dan tinggi (58. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia.6 100. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat. Menurut Latifah et al.0 27 100.0 Total n 24 32 56 % 46.0 24 100. Akan tetapi.7 5 100.0 9 33.4 53. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare.3 2 40.0%. Selain itu. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60.3 14 58.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan .Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS. Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden.) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan. sampah juga mampu mencemari sumber air.7 10 41. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing.

4 53. Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.0 16 100.0%). hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita.0 31 100.8 25 100.4 53. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif.0 10 62.2 13 52.6 100.0 17 54.0 Total n 26 30 56 % 46. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak.5 40 100.5 24 60. Dengan demikian.0 Total n 26 30 56 % 46. hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40.2%). Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci . Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40.Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62.0 14 45. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48.0 6 37.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan.0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.6 100. Namun.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan. Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare. Lingkungan yang tidak bersih. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare.tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. Selain kebersihan tangan dan kaki. Selain kebersihan tangan anak balita. . kebersihan kaki pun harus diperhatikan. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita. membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi.

9% dan 8. 4. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB. Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare. Secara umum responden memiliki PHBS.00.5 kg).6%). BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu. Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat). TB/U) dengan diare (p<0.4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2. sisanya tinggi dan rendah (42. 5. 2. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik. Proporsi terbesar (58.9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000.7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal.1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari. proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33.3%) maupun ibu (44.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Hampir seluruh anak balita (91.6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55. Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi.9% 28. Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang. 6. 3. dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Sedangkan umur ibu tidak berhubungan . Proporsi terbesar umur anak balita (39. Lebih dari separuh anak balita (66.1%) adalah perempuan.4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71.4%). sedangkan ibu (75.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun).01).3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96.05).9%). Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69.0%) tidak bekerja. Dengan demikian. Lebih dari separuh responden (60.

diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. Selain itu. pengetahuan gizi. Sedangkan. personal hygiene.signifikan baik dengan PHBS. pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. . aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. Selain itu. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. PHBS. pengetahuan gizi ibu. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. Sehingga. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan. membiasakan BAB di kamar mandi. dan Kakus (MCK). Cuci. 7.

Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung: Penerbit Alumni. Aronson SS. _____. Herawati T.html [9 November 2007]. 2005. Jakarta: Citra Aditya Bakti.gizi. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. 2006. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. Firlie D. 1997. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. Bogor: Fakultas pertanian. . [BPS] Biro Pusat Statistik. Berg A. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. www. Statistik Indonesia. 1985. 2001. 1992. Jakarta: BPS. Fakultas Pertanian. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor.diare. Hardinsyah. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. Statistik Indonesia. 1985. 2002. 1979.html [3 Oktober 2007]. 1986. Gunarsa. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). 2004. Ekonomi Gizi. Its Role in National Development. [terhubung berkala] www. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. Jakarta: BPS. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. penerjemah. Harianto. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. . Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2006. Bogor: Fakultas pertanian. Jakarta: BPS. Gizi Terapan. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Zahara DN. Hardinsyah. . 1991. 2004. Gunarsa. 2003. Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Azwar A. 1999. [terhubung berkala]. Institut Pertanian Bogor. 2005. Jakarta: Penerbit Mutiara. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. Entjang I. 2004. 1993. Martianto D. Statistik Kesehatan. Amperansyah. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. 2002. 2002. . As’ad S. Health and Safety in Child Care. Jakarta: BPS. Briawan D. [terhubung berkala]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. . Diare. Universitas Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. Indikator Kesejahteraan Rakyat. New York: HarperCollins. Terjemahan dari: The Nutrition Factor. Jakarta: CV Rajawali. Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33.

2006. Madihah. Khairunnisak I. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. 2000. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. 2003. Nurahmi. Bogor: Fakultas Pertanian.pdf. Fakultas Ekologi Manusia.ac. dan Suprapti. 1982. Psikologi Perkembangan. . Krisnatuti D dan Yenrina R. 2002b. Pengetahuan. Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup. Khomsan A. 2005. 2004. 2004. Sumali MA.pdf.id/download/fkm/fkm-hiswani7.jurnal. Ed ke-5. Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Zalbawi S. M Tjandrasa. http://library. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363. Latifah M.dinkes-sulsel. Oktober 2007].www.go. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. www.usu. M Zarkasih. 2002c. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Bogor: Fakultas Pertanian. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. Jakarta: Erlangga. Kabupaten . MD Djamaludin.farmasi. 2002d. . [3 Hiswani. [23 uli 2008]. . [terhubung berkala]. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah.ac. 2002a. Institut pertanian Bogor. Hurlock EB. 1993. . _________.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104. Perkembangan Anak Jilid 2. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. [terhubung berkala]. Kecamatan Tamansari. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi]. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Wahida S. Jakarta: Erlangga. Herman. Buku 5 Rumah Sehat. 2002.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. 2000. penerjemah. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.pdf [15 November 2007]. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan. Institut Pertanian Bogor. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi].ui. Jakarta: Puspa Swara. Evi D. Irianti S. Manda S. 2005. Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi.

Institut Pertanian Bogor. Muniasir Z. Pengantar Ekologi Keluarga. Notoatmodjo S. Imunomodulator. Makalah Seminar Sehari. 2005. 2003. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. New York: McGraw-Hill . Bogor: Fakultas Pertanian. Puspitawati H.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k.Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi]. www. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Environmental Sanitation Promotion: A Social. Institut Pertanian Bogor. 2007. 1993. Bogor: Fakultas Pertanian. Jakarta: Rineka Cipta. Life-Span Development.koalisi. Bukan Suplemen!. Marie ZC. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. Ghosh SK. and Nutrition for Young Child. Fakultas Ekologi Manusia. Rimbatmaja. Bogor: Program Pascasarjana. 2007. lingkungan pembelajaran. 2007. Bogor: Fakultas Pertanian. Yogyakarta: Ando Offset. 2005. Bogor [skripsi]. [15 November 2007]. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. 2003. [terhubung berkala]. Health. Jeanettia MR.co. Jakarta : Rineka Cipta. Institut Pertanian Bogor. 2005. parentsguide. Metodologi Penelitian Kesehatan. Sadeque MU. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia.org. Nadesul H. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. Jakarta: Ghalia Indonesia. Rahmawati D. [terhubung berkala]. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. Marotz LR. Institut Pertanian Bogor. Tantangan bernama higinitas. United State: Thomson Delmar Learning. 2002. 2006. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. Universitas Indonesia. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2005. Institut Pertanian Bogor. 2006. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. Edisi ke-6. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya.mosleh@bdonline. R. Rahayu S. Madanijah S. Ed ke-8. Nasution. www. Pujiarto P. Soekirman. Ilmu Kesehatan Masyarakat.id/dsp_content. . Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. dan status gizi anak usia dini [disertasi]. 1997. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. Desa Sukamantri. 2007. [terhubung berkala]. Safety. konsumsi pangan. Jakarta: Puspa Swara. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Fakultas Pertanian. Masithah T. 2001. 2003. Santrock JW. Drajat M. ___________ . Institut Pertanian Bogor. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39.com. Riyadi.

2007. www. 1989. Sinaga D. Yuliarsih. 1999. 1993. JMPK 8(2). Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. Sosial Budaya Gizi. Ed ke-4. Diare. Tambingon HN. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. 1991. Life-Span Development. Suririnah. Bogor: Institut Pertanian Bogor. [3 Oktober 2007]. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi.net/files/vol-08-02-2005-4.diare. Widyati R. [terhubung berkala]. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Solo: Dabara Publiser. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar. Satoto.infoibu. [3 Oktober 2007].php. . 1989. Bandung: Eja Insani. Cianjur. www.articles. [3 Oktober 2007]. Dewi MDH. Mubasysyir H. Fakultas Pertanian. Turner JS. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. Fakultas Pertanian. Slamet Y.pdf. Subandriyo VU. 2005. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. ______. Institut Pertanian Bogor.jmpk-online. 1992.com. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Fakultas Pertanian. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Fortworth: Rinehart and Winston. Institut Pertanian Bogor. www. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Institut Pertanian Bogor. 2004. [terhubung berkala]. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. dan Yekti HE. Institut Pertanian Bogor. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. 2004. Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Pusat Antar Universitas. 2002. 1997. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. 1994.Sari RA. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. Soekirman. Departemen Pendidikan Nasional. Suhardjo. [terhubung berkala]. Saroso S.htm. 2007. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Topatimasang. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. 2005. Sumali MA. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. Helms DB. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003. Tjitarsa IB. Sukarni. 2000. Diare mendadak dan penanganannya. Kecamatan Cugenang.

LAMPIRAN .

0 0.1 96.6 92.4 100.5 94. 4. 7. 10. 11.4 3.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30. 6.5 7. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16. 5.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14.7 83.4 94. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing.4 76.8 8.4 1.8 12.8 30 53.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33.93 0 12.9 26.6 5.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44.2 91.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44. 8.9 92.1 12.6 85.3 16.5 46.1 73.9 10.5 94.5 5.1 .6 80.8 51. 13.8 16.7 76. 12.1 42.8 3.5 44.1 69.9 64.4 87.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1. 14.5 57.6 25 44.0 37.9 100 10.93 37.9 3.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1.6 67.0 62. 2.1 7. 9.36 8.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21.6 0 11 1.2 64.57 23.3 92.4 19.1 35.1 57.3 62.5 8. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.7 41.6 96.3 4 24 15 7 4 7 25 7.0 100. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69.9 85.2 83. 3.6 0.8 57.9 0.2 48.6 98.5 53.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.7 14.4 96.6 75 100 12.

0 80. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a. 7.8 7. . Ya. Ya.5 52. 11. Kadang-kadang c. 19.6 94. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a. Ya. Tidak pernah b. 8. 1 kali/minggu b.4 94.4 64. 2 kali/hari c. Tidak pernah b. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0.2 8. 6. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a. Ya.1 17. Ya. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a.3 0. 2 kali/minggu c. 9.3 1. Tidak pernah b. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a.4 94. 1 kali/hari c.0 100.0 5.3 14. Tidak b. Tidak b.0 0.0 14.6 28. 1 kali/hari b. 4.3 77. 20.1 92. 16. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a.1 2.9 77. Ya.6 0. 17.8 12. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a. 1 kali/hari b. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a.6 96. Tidak pernah b. 3. Kadang-kadang c. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.9 33.No 15. Sejak anak berusia > 2 tahun b.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1.2 0 7.6 91.1 28. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a. Kadang-kadang c.2 19.4 19. 5. Ya.6 43. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a. 10. Kadang-kadang c. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82.9 21. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a.0 5. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.3 21.4 96.3 64. Tidak pernah b.1 71.1 5. 12. 1 kali/hari c. 2-3 kali/hari c.0 77. 18.4 3.

Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus.9 26.1 53.7 1. 21.8 87.6 71. 1-2 kali/bulan c.2 21. 24. 20./WC. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a. Kadang-kadang c.4 64.6 30.7 1.8 16.No 13.4 19. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. Kadang-kadang c. Ya.1 10.0 28.4 89.4 3. jamban)? a. 15. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a.4 32.9 18. Kadang-kadang c.0 23.7 42.3 14.1 39. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a.0 10. 17.9 46.1 51. Tidak b. Tidak pernah b. Sejak anak berusia 1-2 tahun c. 19. Tidak pernah b. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a. Kadang-kadang c.3 0. Tidak pernah b. 23. Kadang-kadang c. Ya. Kadang-kadang c.8 30.4 67.4 30.6 58. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a. Kadang-kadang c.1 0. Tidak pernah b. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a.7 7. Sejak anak berusia > 2 tahun b. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a. Kadang-kadang c. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10.8 50. Tidak pernah b. Tidak pernah b. .5 5.6 57. 16.1 82. Tidak pernah b. Kadang-kadang c. 22.3 16. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a. Tidak pernah b. Tidak pernah b. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10.

476** p= 0.095 r= 0.074 p= 0.000 r= 0.286 r= 0.061 r= 0.087 r= -0.252 p= 0.020 r= -0.100 r= -0.050 r= 0.164 p= 0.961 r= -0.586 r= 0.004 r= 0.897 r= -0.068 p= 0.852 r= 0.428 r= 0.001 r= 0.112 p= 0.791 r= 0.015 p= 0.036 p= 0.026 p= 0.000 p= 0.476 r= 0.029 r= 0.000 r= 0.203 p= 0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.865 r= 0.126 p= 0.486 r= 0.356 r= 0.275 r= 0.134 r= 0.222 p= 0.059 p= 0.148 p= 0.915 r= -0.184 r= 0.228 r= 0.186 r= -0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.131 p= 0.122 p= 0.108 p= 0.330* p= 0.008 r= -0.486** p= 0.370 r= -0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.293* p= 0.905 r= 0.203 p= 0.264* p= 0.138 p= 0.007 p= 0.002 p= 0.999 r= 0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.334 r= 0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .619 r= 0.145 p= 0.258 p= 0.154 p= 0.122 p= 0.485 r= -0.097 p= 0.403 r= 114 p= 0.408 r= 0.023 p= 0.013 r -0.029 r= -0.988 r= 0.310 r= 0.440** Diare anak balita p= 0.117 p= 0.177 p= 0.413 r= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.391 r= 0.052 r= -0.292* Pola asuh makan p= 0.576 r= 0.227 r= 0.095 p= 0.063 p= 0.055 r= 0.311 PHBS ibu p= 0.655 r= 0.369 r= 0.231 p= 0.191 r= -0.261 p= 0.350** p= 0.134 r= 0.095 p= 0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.643 r= -0.016 p= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.000 r= 0.258 r= 0.531** p= 0.180 p= 0.179 p= 0.