PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT, PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA

, DI DESA CIKARAWANG BOGOR

IMA MARYANA ULFAH

PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

ABSTRAK
IMA MARYANA ULFAH. Clean and Health Behavior, Nutritional Knowledge, and Caring Pattern, of Which Its Relation with Diarrhoea in Five-Year Babies in Cikarawang Village, Bogor. Supervised by CLARA M. KUSHARTO and SITI MADANIJAH Five-year babies are susceptible group for health and nutritional troubles. Mostly (70-80%), diarrhoea patients are five-year babies and 1-2% from those patients have a risk to experient dehydration. If they are not being help, they possibly will be die. Research general purpose is studied about the clean and health behavior, nutritional knowledge, and caring pattern of which its relation with diarrhoea in five-year babies in Cikarawang village, Bogor. Research design is Cross Sectional Study. Location of research is selected in purposive. Number of example is 56 five-year babies. Data is analysed descriptively and inferensia by Spearmann’s correlation test. Result of research shows that approximately half of examples (46,4%) suffers from diarrhoea. Nutritional status (p<0,05) and age from examples (p<0,01) have negatively and significantly correlation with diarrhoea. Environmental sanitary landfill--distance between water source and septic tank is less 10 m-- and dismissal of garbages are conditions that cause high case of diarrhoea. Mother who did not give exclusive ASI also causes infected diseases as diarrhoea. Self hygiene of five-year babies, accustoms to clean hand before eating and after, accustoms in bathroom, and wear sandals when out of the house must be considered to be not easy to come down with diarrhoea. Key words : diarrhoea, five-year babies, nutritional status, exclusive ASI, environmental sanitary

RINGKASAN
IMA MARYANA ULFAH. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Pengetahuan Gizi, dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang, Bogor. Dibimbing oleh CLARA M. KUSHARTO dan SITI MADANIJAH. Diare merupakan salah satu contoh penyakit infeksi, sehingga akan menular. Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. Anak balita merupakan kelompok penduduk pasif dan rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. Oleh karena itu, diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makannya. Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang, Bogor. Adapun tujuan khususnya yaitu (1) Mengidentifikasi karakteristik anak balita, (2) Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita, (3) Mengidentifikasi karakteristik keluarga, (4) Mengidentifikasi PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, (5) Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita, (6) Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan, dan (7) Menganalisis kaitan antara PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang, Bogor pada bulan Desember 2007 sampai April 2008. Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang, Desa Cikarawang. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder. Data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur), status gizi dan kesehatan anak balita, karakteristik keluarga (besar keluarga, umur, pendidikan, pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga), PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS. Data-data tersebut diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia dengan menggunakan bantuan program komputer Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for window versi 11,5. Keterkaitan antar variabel dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji korelasi Spearman. Sebanyak 46,4% anak balita mengalami diare selama tiga bulan terakhir. Lebih dari separuh anak balita (66,1%) adalah perempuan. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30,2±11,7 bulan. Proporsi terbesar umur anak balita (39,3%) berkisar antara 24-36 bulan, sisanya berumur ≤23 bulan (32,1%) dan berumur ≥37 bulan (28,6%). Terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0,01) antara umur anak balita dengan diare. Sebagian

besar anak balita (96,4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2,5 kg) dan sebanyak 3,6% anak balita memiliki berat badan lahir rendah (<2,5 kg). Hasil analisis tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare. Berdasarkan indeks BB/TB dan BB/U, sebagian besar anak balita memiliki status gizi normal, sedangkan menurut indeks TB/U berstatus gizi kurang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0,05). Sebanyak 91,1% anak balita mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Diare merupakan jenis penyakit ke tiga terbesar (46,4%) yang dialami anak balita selama tiga bulan terakhir setelah panas (71,4%) dan ISPA (73,2%) dengan frekuensi tertinggi yaitu 1-2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Lebih dari separuh responden (60,7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 5,3±1,8 orang. Proporsi terbesar umur baik ayah maupun ibu berturutturut sebanyak 39,3% dan 44,6% berkisar antara 20-30 tahun (dewasa muda). Rata-rata umur ayah yaitu 33,0±6,8 tahun dan rata-rata umur ibu yaitu 27,7±5,7 tahun. Proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35,7%) yaitu SLTA/sederajat dan ibu (51,8%) yaitu SD/sederajat. Proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta dan jasa angkutan (33,9% dan 28,6%) dan sebagian besar ibu (75,0%) tidak bekerja. Proporsi terbesar pendapatan perkapita perbulan keluarga responden (58,9%) adalah >Rp150 000.00. Proporsi terbesar responden (69,6%) memiliki PHBS kategori tinggi dan 30,4% kategori sedang. Proporsi terbesar responden (48,2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang, sisanya tinggi dan rendah (42,9% dan 8,9%). Sebanyak 71,4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan 28,6% kategori tinggi. Lebih dari separuh responden (55,4%) memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi dan 44,6% kategori sedang. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi ibu. Sedangkan umur ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. PHBS, pengetahuan gizi, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang memadai serta Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi kejadian diare anak balita. Selain itu, jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran harus selalu diperhatikan agar tidak terjadi kontaminasi mikroorganisme. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK), membiasakan Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB, menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika ke luar rumah. Serta, pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan, personal hygiene, dan pelayanan kesehatan) dan pentingnya ASI eksklusif.

DI DESA CIKARAWANG BOGOR IMA MARYANA ULFAH Skripsi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 .PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT. PENGETAHUAN GIZI DAN POLA ASUH KAITANNYA DENGAN DIARE ANAK BALITA.

Ir. Siti Madanijah. Pengetahuan Gizi. Dr. drh. MSc NIP 131 414 958 Dr. MS NIP 130 541 472 Diketahui Dekan Fakultas Pertanian Prof. Didy Sopandie. MAgr NIP 131 124 019 Tanggal Lulus: . Bogor Nama NIM : Ima Maryana Ulfah : A54104065 Disetujui Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II Prof. Ir. Kusharto.Judul Skripsi : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Dr. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. Clara M.

Pengetahuan Gizi. MSc. . 5. Prof. Ir. Dr. 2. Bogor”. Seluruh staf pengajar dan komisi pendidikan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Siti Madanijah. 4. Dr. MSi selaku dosen penguji atas arahan dan saran yang diberikan. drh. Clara M. Oleh karena itu. Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesejahteraan Rakyat yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD). Ir. Ikeu Ekayanti.PRAKATA Puji dan syukur kehadirat Allah swt senantiasa penulis panjatkan. Kusharto. MS selaku dosen pemandu seminar dan Katrin Roosita. dan Pola Asuh Kaitannya dengan Diare Anak Balita di Desa Cikarawang. MKes. penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas semua keikhlasan bantuan yang telah diberikan. hidayah dan kehendakNya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Dr. Dr. Ikeu Tanziha. 6. Tien Herawati SP. Alhamdulillah. MSc selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan. arahan dan dukungan semangat yang luar biasa kepada penulis. Pihak Desa Cikarawang. sungguh luar biasa karena atas rahmat. Desa Cikarawang atas bantuannya selama proses pengambilan data penelitian. Proses penulisan skripsi ini tidak luput dari dukungan beberapa pihak. Ir. SP. Dadang Sukandar. 3. Puskesmas Cangkurawok dan ibu-ibu kader Kampung Carang Pulang. yaitu kepada: 1. MS selaku dosen pembimbing skripsi sekaligus dosen pembimbing akademik yang dengan sabar dan penuh pengertian mendengarkan curahan hati serta memberikan bimbingan dan dorongan semangat yang luar biasa kepada penulis. 7. Ir. Dr. MS dan Megawati Simanjuntak SP atas arahan dan saran selama proses pengolahan dan analisis data penelitian.

Sahabat-sahabat terbaik penulis Eka. Venny. Sahabat seperjuangan penulis Angelica Gabriel “My Beloved Friend”. saran. Mama. Yuli. Bapak Mashudi dan Bapak Dian atas dorongan semangatnya. dukungan semangat. Once. Mei. Kakang Rizki. tumpangan kamar. kebersamaan yang indah dan keceriannya. Devita. MpokIde. Manto. Dini. 13. perhatian. Friska. Wisma JASMINE dan FAIRUSH terima kasih atas kebersamaan yang indah. Henny. DausBek. Abah. Any. Rekan-rekan pembahas Edo Rizky Fernando. Agustus 2008 Ima Maryana Ulfah . atas bantuan.8. RHEMAND (Nda. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak. Rizka. Ardi. Adin. Firdaus. 40 dan GM 42. temen seperjuangan KKP. 10. Rika. Teman-teman BUD Cianjur (Dini dan Ade). curahan hati dan keceriaan sampai terselesaikannya skripsi ini. Noorma. teman-teman relawan Klaten. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu. dan doa untuk keberhasilan penulis. 43. 11. Bung). Sri. Nur. Lola. 12. Yesa. dorongan semangat. OMDA CIANJUR. dan Ibnu Akbar atas saran-saran yang telah diberikan untuk kesempurnaan penulisan skripsi. Noni. Tiche. Maul. Dedew. Dede Aab serta keluarga besar di Cianjur atas semua kasih sayang. Dhyta. Bogor. Ari dan Gamasakers 41 atas bantuan. teman-teman pameran PIMNAS XXI di Semarang. Teteh Milah. Ena. Yulia. Vina dan Emil. Arina. BKGers (Semangat yo). Ira. 9. GMSK 39. penghuni AS-SAKINAH. Ati.

Penulis merupakan putri ke dua dari empat bersaudara. Divisi Hubungan Masyarakat dan Publikasi dalam Seminar Nasional “Nuansa Pangan. Tahun 2006-2008 penulis aktif dalam organisasi otonom yaitu Badan Konsultasi Gizi (BKG). Semarang. Fakultas Pertanian. Tahun 2008 penulis memperoleh kesempatan terlibat dalam tim pameran PIMNAS XXI di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Serta. 2007/2008. Desa Cikarawang. Fakultas Ekologi Manusia (FEMA). Bogor” dan berhasil didanai oleh pihak DIKTI. Tahun 2004 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Cibeber. Selain itu. Siti Romlah. Pada tahun yang sama penulis pernah menjadi relawan pada “Posko Penanganan Tumbuh Kembang Anak Korban Gempa di Kabupaten Klaten” yang diadakan oleh Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Cianjur dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Kabupaten Cianjur. Hiperkolesterol dan Hiperglikemia)”. Tahun 2007 penulis mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) bidang pendidikan dengan judul ”Reformasi Pendidikan dan Perubahan Kurikulum serta Aplikasinya terhadap Pembentukan Kualitas Bangsa Indonesia” dan lolos sebagai 10 besar terbaik di IPB. penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti Masa Perkenalan Fakultas dan Departemen FEMA. Penulis memilih Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga (GMSK). Pada tahun yang sama penulis mengikuti PKM bidang ilmiah dengan judul “Kajian Keadaan Lingkungan Kaitannya dengan Kualitas Hidup Sehat Keluarga di Kampung Carang Pulang.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Cianjur pada tanggal 02 Maret 1986 dari ayah H. Gizi dan Keluarga X (NPGK X)”. Divisi Dana Usaha dalam Seminar Konsultasi Gizi yang berjudul “Control Yourself From 3 Hypers (Hipertensi. Tahun 2006 penulis pernah mengikuti Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian dengan judul “Persepsi dan Sikap Mahasiswa Calon Bapak terhadap Pemberian ASI oleh Ibu kepada Bayi” yang berhasil didanai oleh pihak DIKTI. selama masa perkuliahan penulis mendapatkan kesempatan untuk menjadi asisten Mata Kuliah Pendidikan Gizi tahun ajaran . Hasan Mulyadi dan Ibu Hj.

.................................................................................................. 22 Definisi Operasional ............................................................. 26 Karakteristik Anak Balita...................................................... 32 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)................................................................. vi DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................................... 47 Pola Asuh Kesehatan ............................................................................................................................ 18 KERANGKA PEMIKIRAN...................................................................................................................................................................... 16 Pola Asuh ..... Pengetahuan ........................ Tempat dan Waktu ............................................................................................................................................................................................................................................. 54 Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS............................................................. 22 Disain............................................. 3 Kegunaan Penelitian .......................... 17 Pola Asuh Kesehatan ..................................... 21 Jumlah dan Cara Penarikan Contoh ........................................... 21 Jenis dan Cara Pengumpulan Data................................................................................................ 51 Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita................. 24 HASIL DAN PEMBAHASAN ............ 7 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)......... 16 Pola Asuh Makan........ 3 TINJAUAN PUSTAKA .... 28 Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita ........................................................................................................................................................................................................ 45 Pola Asuh ..... 26 Keadaan Umum Daerah Penelitian ..... 35 Pengetahuan Gizi ................................................................ 9 Pengetahuan Gizi .......... 29 Karakteristik Keluarga Contoh.. 2 Hipotesis............................................................................................................................................................................................................................................................................................ 1 Tujuan............................ 19 METODE PENELITIAN ................................... 4 Karakteristik Anak balita ..........................DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL........................... 5 Penyakit Diare ............................................ 47 Pola Asuh Makan................................................................................... 6 Karakteristik Keluarga ................................................................................................................................................................................................................... ix PENDAHULUAN ......... 21 Pengolahan dan Analisis Data ........................................................................................................................ 1 Latar Belakang .................................................................... 4 Status Gizi dan Kesehatan Anak balita ...................... viii DAFTAR LAMPIRAN.................................................

.......................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan................................................ 60 Saran ...............Gizi............... 62 LAMPIRAN ............................................................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita ........................... 57 Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita......................................... Pengetahuan Gizi................................................................................................................................................. 56 Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita ....... 66 ................................................... 61 DAFTAR PUSTAKA ... 55 Kaitan antara PHBS........................................................ 58 Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita .... 58 KESIMPULAN DAN SARAN ....... 60 Kesimpulan............................................................ 56 Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita .....

.......DAFTAR TABEL Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Jenis dan cara pengumpulan data .. 35 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene .......................................................... 21 Cara pengolahan dan analisis data .......................................................................................................................................................... 31 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit............. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit............... 44 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB... umur dan berat badan lahir...... 29 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir.. 45 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi .......................................... 45 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS ......... 26 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin............................. 42 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal membantu persalinan ................................... 32 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga ..................................................... 37 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat...................... 23 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya..... 42 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan ................................... 31 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama sakit ................................................................... 38 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air .............................................................. 30 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit........................... 34 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan............... 27 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.......................................................................................... 40 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah....................................................................... 36 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang....................................... 33 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan.................... 34 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan ........................... 32 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur......... 28 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi...... 41 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL ..................... 37 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan responden ....................... 46 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan .............................................................................................. 40 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban..................

.... 56 40 Kaitan antara pengetahuan gizi responden dengan diare anak balita ..... 53 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita ............ 49 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita.................................responden ....................................................................................................................... 55 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita ....................................................................................... 57 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita ........... 54 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita ...................... 58 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita................................................................................................................. 58 .................. 47 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita.................................................. 48 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita................................................................ 54 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS ............... 51 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan ......................................... 46 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita .......................................... 50 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan..............

.. Pengetahuan Gizi...........DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum ................... Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Kaitannya dengan Diare Anak Balita ...... 20 ...................... 10 2 Kerangka Pemikiran PHBS.....

.. 67 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban benar pengetahuan gizi ............. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan ..... 67 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.......................................................................................... .......................DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaan pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.. jarak dan daya jangka .......................... 67 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan.......... 70 ............ 68 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel .......................

ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan (BPS 2002). Menurut Harianto (2004) angka kesakitan diare mencapai 200-400 tiap 1000 penduduk setiap tahunnya. Badan Amerika Serikat untuk bantuan pembangunan internasional (U. Sebagian besar (70%-80%) penderita diare adalah anak balita dan sebanyak 1%-2% dari penderita akan jatuh ke dalam . sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih pun sangat diperlukan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. AID) telah merangkum hasil dari berbagai penelitian mengenai dampak perbaikan keadaan air bersih dan sanitasi di negara-negara sedang berkembang yang menyatakan bahwa perbaikan kualitas dan kuantitas air bersih dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 37%. kulit dan hepatitis A (Cairncross dan Feachem 1993 diacu dalam Irianti et al. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) derajat kesehatan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya lingkungan (30%). Dari keempat faktor tersebut. Dampak kesehatan lingkungan yang buruk adalah tingginya angka kesakitan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan air (water related diseases) dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan tinja (excreta-related diseases) sepert diare. pelayanan kesehatan (10%). 2002). serta air dan udara yang bersih. gaya hidup. sekolah dan tempat umum. dan keturunan (20%).PENDAHULUAN Latar Belakang Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk menggunakan indikator utama angka kematian bayi dan angka harapan hidup. Serta perbaikan pembuangan tinja dapat menurunkan angka kesakitan diare dengan median 22% (World Bank 1992 diacu dalam Irianti et al. Selain itu.S. Contoh perilaku tergambar dalam kebiasaan sehari-hari seperti pola makan. 2002). Menurut Henrik L. tempat kerja. perilaku hidup sehat (40%). Anonymous (2000) diacu dalam Sari (2004) menyatakan bahwa yang termasuk lingkungan adalah keadaan pemukiman atau perumahan. kebersihan perorangan. dan perilaku terhadap upaya kesehatan. Untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari penolong persalinan bayi. faktor lingkungan dan perilaku hidup sehat sangat mempengaruhi derajat kesehatan.

Mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Di Indonesia. . kebersihan anak. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. Dalam hal ini.dehidrasi dan bila tidak tertolong akan meninggal. dan sosial. diare adalah pembunuh anak balita nomor dua terbesar setelah ISPA (Rimbatmaja 2007). merawat anak. pengetahuan gizi dan pola asuh yang diduga menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebesar 42-47% (Curtis dan Cairncross 2003 diacu dalam Rimbatmaja 2007). Masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai aspek Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007). Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. mental. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. pengetahuan gizi dan pola asuh kaitannya dengan diare anak balita di Desa Cikarawang. 2005). Bogor. Tujuan Tujuan Umum Secara umum tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). secara umum lebih dari dua juta anak meninggal akibat diare setiap tahunnya. Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan (Marotz et al. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. Kosek et al. Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan. memberikan makan anak.

pengetahuan gizi. Informasi-informasi tersebut diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dan bahan masukan untuk menyusun kembali perencanaan dan strategi dalam penentuan kebijakan. 5. . Terdapat kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. 2. supaya lebih memperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk keberlangsungan hidup yang berkualitas. 2. 7. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan kepada instansi terkait khususnya Puskesmas dan Dinas Kesehatan dalam menindak lanjuti perihal yang menyebabkan terjadinya diare pada anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Terdapat kaitan negatif antara PHBS. Menganalisis kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Hipotesis 1. pengetahuan gizi. 6. Terdapat kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS. Mengidentifikasi karakteristik keluarga. Mengidentifikasi karakteristik anak balita. Menganalisis kaitan antara PHBS. Menganalisis kaitan antara karakteristik anak balita dengan diare anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Mengidentifikasi PHBS. Mengidentifikasi status gizi dan kesehatan anak balita. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pengetahuan gizi.Tujuan Khusus Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk : 1. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. pengetahuan gizi. 3. 4. 3. pengetahuan gizi. Serta bagi masyarakat Desa Cikarawang khususnya.

. keselamatan dan gizi. Sedangkan jika anak yang lahir pertama kali adalah anak laki-laki. selama tahun pertama peningkatan berat tubuh lebih besar daripada peningkatan tinggi. Berat Badan Lahir Bayi yang dilahirkan prematur atau dengan berat badan rendah memiliki risiko tinggi terhadap mortalitas dan morbiditas akut dalam jangka panjang (Alberman 1994 diacu dalam Rahayu 2006). Pada tahun kedua tingkat pertumbuhan cepat menurun. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) mempunyai risiko kematian. dan pola perilaku yang dibentuk selama tahun-tahun pertama. Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling ideal untuk mulai memperkenalkan kepada anak tentang perilaku-perilaku dasar yang berhubungan dengan gaya hidup sehat. Orang tua harus dapat meningkatkan kesadaran anak-anak mengenai isu lingkungan yang kompleks serta pengaruhpengaruhnya (Marotz et al. pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi dengan berat badan lahir cukup (Alisyahbana 1983 diacu dalam Firlie 2001). sangat menentukkan seberapa jauh individu-individu berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika mereka bertambah tua. 2005). maka mereka memiliki keistimewaan karena memperoleh pekerjaan rumah tangga yang lebih sedikit dibandingkan yang perempuan serta diberi kesempatan untuk mengabaikannya (Hurlock 1982). Akan tetapi. daya tahan terhadap penyakit lebih rendah. Bayi BBLR mortalitasnya lebih tinggi. gangguan pertumbuhan dan gangguan perkembangan mental dan intelektual yang lebih tinggi dengan berat badan lahir normal (Utomo 1998 diacu dalam Firlie 2001). Umur Menurut Hurlock (1982) sikap.TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Anak Balita Jenis Kelamin Anak perempuan khususnya anak sulung diharapkan membantu pekerjaan rumah tangga dan menjaga adik-adiknya. kebiasaan. Orang tua harus dapat memanfaatkan rasa ingin tahu anak dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajarkan masalah kesehatan.

Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini. Oleh karena itu. salah satunya dengan antropometri. Indeks ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi underweight dan overweight. penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara. Karena massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan keadaan mendadak seperti penurunan nafsu makan dan terserang penyakit infeksi. maka indeks ini merupakan ineks kekurusan (wasting). Dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur. dan biasanya digunakan bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Indeks BB/TB dapat memberikan gambaran proporsi BB relatif terhadap TB. Menurut Riyadi (2001) tinggi badan merupakan ukuran antropometri yang mengambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Status gizi anak dinilai dengan mengunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U). dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).Status Gizi dan Kesehatan Anak Balita Menurut BPS (2002) aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk yaitu status kesehatan yang antara lain diukur melalui angka kesakitan dan status gizi. Menurut Riyadi (2001) berat badan merupakan salah satu ukuran antropometri yang memberi gambaran tentang masa tubuh (otot dan lemak). berat badan merupakan ukuran antropometri yang sangat labil. Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi (BPS 2002). Oleh karena itu. tinggi badan menurut umur (TB/U). Status kesehatan penduduk memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan penduduk dan biasanya dapat dilihat melalui indikator angka kesakitan yaitu persentase penduduk yang mengalami gangguan kesehatan sehingga mampu mengganggu aktivitas sehari-hari. Indeks TB/U mengambarkan status gizi masa lalu (stunting). . Indeks BB/U mampu menggambarkan status gizi pada saat kini. Lebih lanjut Riyadi (2001) menyatakan kenaikan berat badan tiap bulan adalah indikator kesehatan anak yang paling peka. Riyadi (2001) menyatakan status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan bila dibandingkan tinggi badan.

alergi terhadap susu. yang terjadi lebih sering dari biasanya (3 kali atau lebih dalam sehari). Salmomella (5-18%). kurang gizi dan daya tahan tubuh rendah (Saroso 2007). dan Shigella (2-5%). apalagi air yang digunakan tidak dimasak sampai mendidih terlebih dahulu. Penyakit diare dapat menular apabila adanya kontak dengan tinja yang terinfeksi secara langsung seperti pada makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi baik oleh serangga maupun tangan yang tidak bersih. Menurut Latifah et al. cacing. Kuman-kuman tersebut ditularkan secara faecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Diare akut lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil daripada anak yang lebih besar (Suharyono 1988 diacu dalam As’ad 2002).4-36. (2002d) diare adalah suatu kondisi buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer. buang air besar bukan pada tempatnya dan pencemaran makanan oleh serangga (kecoa. parasit (jamur. Penyebab diare diantaranya yaitu virus. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar juga ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007).6%). E. menurut Dinkes (2003) penyakit diare juga dapat ditularkan melalui beberapa cara diantaranya pemakaian botol susu yang tidak bersih. defisiensi zat gizi yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh.Penyakit Diare Penyakit diare merupakan penyakit infeksi. lalat) atau oleh tangan yang kotor. bakteri. Diare kronis adalah diare yang berlangsung lebih dari tiga minggu yang disebabkan oleh makanan tercemar atau penyebab lainnya. Penggunaan air yang sudah tercemar juga dijadikan media pencemaran penyakit diare. Sedangkan diare akut adalah diare yang timbul dengan tiba-tiba dan berlangsung beberapa hari. coli (20-30%). Diare ada dua jenis yaitu diare akut dan diare kronis. sehingga akan menular. bahkan dapat berupa air saja. Vibrio cholera (5%). penyebab diare akut yaitu: . Selain itu. protozoa). keracunan makanan atau minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun bahan kimia. Suharyono (1988) diacu dalam As’ad (2002) penyebab prevalensi yang tinggi dari penyakit diare di negara yang sedang berkembang yaitu kombinasi dari sumber air yang tercemar. menggunakan sumber air yang tercemar. Kuman yang paling sering menjadi penyebab diare akut pada anak yaitu Rotavirus (30. Ditinjau dari sudut patofisologi.

makanan yang pedas.Infeksi virus. ORT dapat dilakukan dengan memberikan cairan (air) melalui mulut selama anak mengalami diare (Santrock 2002). Diare osmotic (Osmotic diarrhea) yang disebabkan oleh: . Keluarga yang memiliki anggota keluarga yang jumlahnya banyak akan berusaha membagi makanan yang terbatas sehingga makanan yang dikonsumsi tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. gugup). gangguan psikis (ketakutan. Besar keluarga akan mempengaruhi kesehatan seseorang atau keluarga. 2. Kematian diare akibat dehidrasi (kehilangan banyak cairan tubuh) dapat dicegah dengan Oral Rehydration Therapy (ORT).Hiperperistaltik usus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia. Rumah . gangguan syaraf. makanan (misalnya keracunan makanan. karena gizi yang buruk menyebabkan penderita tidak merasa lapar dan orang tuanya tidak segera memberi makanan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang (Anonymous 1985 diacu dalam Harianto 2004). alergi dan sebagainya.Malabsorpsi makanan . makanan yang terlalu asam).Defisiensi imun terutama Sig A (Secretory Immunoglobulin A) yang mengakibatkan terjadinya pelipatgandaan bakteri atau flora usus dan jamur terutama Candida. . Kematian lebih mudah terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989).1.BBLR dan bayi baru lahir Bahaya utama diare adalah kematian yang disebabkan karena tubuh banyak kehilangan air dan garam yang terlarut yang disebut dengan dehidrasi. Hal ini disebabkan bahwa besar keluarga akan mempengaruhi konsumsi zat gizi di dalam satu keluarga. kuman-kuman patogen dan apatogen . Selain itu. hawa dingin. Karakteristik Keluarga Besar Keluarga Menurut Suhardjo (1989) jumlah anggota keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi. Diare sekresi (Secretory diarrhea) yang disebabkan oleh: .Kekurangan kalori protein dan mineral .

Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. pendidikan keikutsertaan pendidikan non formal dari orang tua dan anak-anak sangat penting dalam menentukkan status kesehatan. Pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan . Tingkat pendidikan merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan. Dengan demikian. serta hygiene dan dalam kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga (Madanijah 2003).yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Pekerjaan Orangtua Pada masyarakat tradisional. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya Pengetahuan dan terhadap perawatan formal kesehatan. Pendidikan Orangtua Pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam proses tumbuh kembang anak. Umur ibu berkaitan dengan pengalaman ibu mengasuh anaknya dimana ibu yang relatif muda memungkinkan ibu kurang berpengalaman dalam mengasuh anaknya (Hurlock 1993). dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat (Sukarni 1989). biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga (Rahmawati 2006). Umur Orangtua Orangtua muda terutama ibu cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. Menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di luar rumah. fertilitas. karena dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik (Berg 1986). Ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan anak (Rahmawati 2006).

9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. terutama bagi warga kelas ekonomi bawah. perawatan kesehatan dan pemeriksaan. Pada tingkat keluarga. diantaranya pendidikan keluarga. serta pengobatan dan perawatan (Entjang 1985). manusia sebagai tuan rumah. . Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. rohani. Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang yaitu penyebab penyakit. kesehatan dan gizi balita. Pendapatan yang berasal dari perempuan berkorelasi erat dengan semakin membaiknya derajat kesehatan dan status gizi anak. Hal ini akan berdampak negatif terhadap kesehatan anak yang rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi (Hardinsyah 1997). karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002). kesejahteraan ibu dan anak. Perempuan yang bekerja di luar rumah dan mendapatkan penghasilan.sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan (Sukarni 1989). kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. dan lingkungan hidup (Entjang 1985). penurunan daya beli akan menurunkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan serta aksesibilitas pelayanan kesehatan. Pendapatan Orangtua Kondisi ekonomi keluarga adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan keluarga lainnya. akan meningkatkan pengaruhnya dalam alokasi pendapatan keluarga. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). Pendapatan keluarga akan menentukan alokasi pengeluaran pangan dan non pangan sehingga apabila pendapatan keluarga rendah maka akan mengakibatkan penurunan daya beli (Firlie 2001). Dengan demikian. serta kualitas tumbuh kembang anak balita (Gunarsa & Gunarsa 1985). Hal ini tidak terlepas dari naluri keibuan yang dimiliki untuk mendapatkan anak yang selalu sehat (Khomsan 2005). Usaha kesehatan pokok (Basic Health Services) yang diajukan organisasi kesehatan sedunia (WHO) sebagai dasar pelayanan kesehatan kepada masyarakat diantaranya yaitu higiene dan sanitasi lingkungan. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Keluarga dengan pendapatan terbatas besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh.

dan program dan pelayanan kesehatan (10%). Menurut Depkes RI (2006) indikator PHBS antara lain mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. menolong dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan untuk memperoleh derajat kesehatan yang tinggi (Sinaga et al. makan dengan gizi seimbang. perilaku sehat. 2005).Masalah determinan kesehatan. 2006). masyarakat yang sesuai dengan norma-norma kesehatan. menurut Henrik L. cuci tangan dengan sabun dan air setelah buang air besar. Untuk mendukung pencapaian Visi Indonesia sehat 2010 telah ditetapkan Sistem Kesehatan Nasional (SKN) dengan Keputusan Menteri Kesehatan No. Program PHBS adalah tindakan yang dilakukan oleh perorangan. kelompok. perilaku kesehatan (40%). Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bentuk perwujudan paradigma sehat. Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan Visi Nasional Promosi Kesehatan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No. keluarga dan masyarakat. terutama pada aspek budaya perorangan. lingkungan kesehatan (30%). menghuni rumah sehat. 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu subsistem dari SKN adalah Subsistem Pemberdayaan Masyarakat. 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010) (Manda et al. memiliki akses dan menggunakan jamban. dan pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan merata. Kebijakan Indonesia sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat. . Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetik dan kependudukan (20%). Kependudukan/ keturunan Lingkungan kesehatan Derajat kesehatan morbiditas dan mortalitas Program dan pelayanan kesehatan Perilaku kesehatan Gambar 1 Masalah Determinan Kesehatan Henrik L Blum. memiliki akses dan menggunakan air bersih.

hepatitis. memanfaatkan sarana kesehatan. diberikan saat balita (BCG. . dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia. menimbang balita setiap bulan. Usaha higiene sanitasi adalah usaha kesehatan preventif (mencegah supaya tidak sakit). Higiene dan sanitasi lingkungan merupakan pengawasan lingkungan fisik. preventif (pencegahan penyakit). olahraga dan lain-lain. Usaha kesehatan preventif dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : 1. Usaha pengebalan atau imunisasi. Aneka ragam makanan yaitu makan sebanyak 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan (Dinkes DKI Jakarta 2002). memeriksakan kehamilan.membuang sampah dan limbah pada tempat yang semestinya. pakaian bersih. sikap dan praktik keluarga yang mampu mengonsumsi makanan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan. Cara menjaga lingkungan hidup yang sehat yaitu dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dan bebas dari pencemaran. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitik beratkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati & Yuliarsih 2002). Menurut Widyati & Yuliarsih (2002) kesehatan masyarakat dibagi menjadi dua yaitu kesehatan kuratif (penyembuhan penyakit). Usaha kesehatan perorangan (personal hygiene) yaitu mandi minimal 2kali sehari. dimana lingkungan yang berguna ditingkatkan dan diperbanyak sedangkan lingkungan yang merugikan diperbaiki atau dihilangkan (Entjang 1985). menjaga kerja bakti dengan masyarakat setempat untuk membersihkan lingkungan. biologi. 3. MMR. ikut keluarga berencana dan lain sebagainya. sosial. menyikat gigi. Gizi Seimbang Perilaku gizi seimbang yaitu pengetahuan. Higiene dan Sanitasi Higiene adalah suatu pencegahan penyakit yg menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada. persalinan ditolong tenaga kesehatan. menjaga saluran air agar tidak mampet. Usaha kesehatan lingkungan hidup (lingkungan tempat tinggal atau lingkungan kerja). dan folio) untuk mencegah datangnya penyakit 2.

pepaya. dan 3) sayuran dan buah-buahan sebagai sumber zat pengatur seperti bayam. daun katuk. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga udara dapat mengalir lancar. telur. (2002b) rumah adalah tempat manusia berlindung dari panas terik matahari. . Rumah Sehat Menurut Latifah et al. dan kenyamanan manusia. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang angin. sehinga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. asbes gelombang. sawi. kacang panjang. tegel atau semen. hujan dan hal-hal lain yang dapat mengganggu kesehatan. ayam. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. teraso. dan kayu atau bambu. Rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa persyaratan di bawah ini.Kelompok bahan makanan tersebut adalah 1) makanan pokok sebagai sumber zat tenaga seperti beras. daun singkong. tahu. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. daging. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. 2. kacang-kacangan. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik dilakukan untuk keberlangsungan hidup seseorang. 4. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. kangkung. seng. buncis. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik. Perubahan berat badan menggambarkan perubahan konsumsi makanan atau gangguan kesehatan (Dinkes DKI Jakarta 2002). maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya balita. Lantai tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. 5. keamanan. tempe. ubi. wortel. singkong. Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. jagung. mie. pisang. diantaranya: 1. nanas (Dinkes DKI Jakarta 2002). 2) lauk pauk sebagai sumber zat pembangun seperti ikan. semangka. jeruk. sirap dan nipah. 3.

Sanitasi Air Air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. Syarat fisik: syarat air yang dilihat dari fisiknya antara lain jernih. 8. 2002b). 4) memasak air sampai mendidih sebelum diminum. 2) tangan dan tempat penampungan air bersih. air ledeng. sumur yang terlindungi. Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. Menurut Subandriyo et al. tidak berwarna. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi dengan jamban atau WC (Water Closet). Syarat kimiawi: tidak mengandung zat-zat berbahaya seperti zat-zat racun atau zat-zat organik lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan. menurut Widyati & Yuliarsih (2002) air bersih dan sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. dan mata air yang terlindungi. 5) menggunakan alat-alat minum yang bersih (termasuk gayung sebagai alat pengambil air harus bersih). Sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi minimum 10 meter dan dinding sumur 1 meter di atas tanah dan 3 meter dalam tanah serta harus dibuat dari tembok yang tidak tembus air agar perembesan air dari sekitar tidak terjadi. maka paling sedikit harus ada satu kamar mandi.6. dan tidak berbau. tidak berasa. 3) wadah penampung air disertai dengan tutup dan sering dibersihkan. Air bersih belum tentu dikatakan sehat. Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. karena menurut Entjang (1993) untuk memperoleh air minum yang sehat dapat diperoleh melalui 1) sumber air yang bersih. Selain itu. Jika anggota keluarga ada empat orang. Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut WC atau . Selain itu kandang ternak harus memiliki tempat penampungan kotoran. b. Syarat bakteriologis: air yang tidak mengandung penyakit. c. (1997) sumber air minum yang bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. 7. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah.

pabrik kimia). kloset (lubang tempat masuk feses). Sumber air limbah yaitu 1) air limbah yang berasal dari rumah tangga (air dari kamar mandi. lantai yang disemen. Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan. dari pabrik tinta. juga mengandung lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit (Latifah et al. air buangan dapur. 2002c). pijakan kaki. Kotoran-kotoran tersebut tersimpan dalam suatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan (Depkes RI 1995 diacu dalam Amperansyah 1999). pabrik baja. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare. tidak pada tempat yang sering digunakan orang untuk lalu lintas. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. Jangan membiarkan sampah terlalu lama pada tempat pengumpulan sampah dan sebaiknya tidak melebihi 3x24 jam (Widyati & Yuliarsih 2003). pabrik kertas. Tempat yang dijadikan pembuangan sampah harus jauh jaraknya dari pemukiman. dari restoran dan dari kolam renang). 2002a). Bahaya sampah yang tidak ditangani dengan baik mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. dan 3) air limbah yang berasal dari industri atau pabrik (air buangan dari pabrik tahu dan tapioka.kakus. Sampah Sampah adalah segala sesuatu yang tidak terpakai lagi dan harus dibuang. pabrik cat. Menurut Sukarni (1989) sarana pembuangan kotoran harus memenuhi persyaratan yaitu bangunan jamban harus mempunyai rumah kakus. 2002c). 2) air limbah yang berasal dari perusahaan atau pusat perdagangan (air buangan dari hotel. Tinja dari jamban dalam kamar mandi harus disalurkan melalui pipa dan ditampung di tangki septik (Latifah et al. air bekas mencuci pakaian). tidak boleh mengotori sumber air minum seperti mata air atau sungai yang digunakan untuk mandi dan mencuci serta tidak pada tempat yang sering terkena banjir (Latifah et al. sumur penampungan feses dan lubang resapan. . Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Menurut Latifah et al.

sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat miskin. Hal ini menurut Sukarni (1994) disebabkan oleh beberapa hal. maka pelayanan kesehatan tersebut akan mahal. secara ekonomis. Pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan oleh masyarakat belum optimal. Ada dua jenis sistem pembuangan air limbah yaitu menyalurkan air limbah tanpa diolah sebelumnya dan menyalurkan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. lokasi pusat-pusat pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak atau lebih banyak berada di kota-kota besar. Sedangkan. jarak fisik dan sarana perhubungan yang tidak lancar antara pusat pelayanan kesehatan dengan tempat tinggal penduduk. Menurut BPS (2002) fasilitas kesehatan yang paling banyak digunakan oleh penduduk desa untuk berobat adalah Puskesmas. biasanya digunakan untuk membuang air limbah yang berasal dari industri/pabrik dan peternakan atau rumah pemotongan hewan (Latifah et al. Penyaluran air limbah tanpa diolah dapat dilakukan dengan menggunakan tanki septik dan sistem riol. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga dan tingkat pendapatan perkapita keluarga. Pelayanan Kesehatan Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan sangat tergantung oleh keadaan ekonomi. tidak menjadi tempat berkembang biak serangga perantara penyakit (lalat dan nyamuk) dan tidak menimbulkan bau dan merusak pemandangan (Latifah et al. Berdasarkan hasil penelitian Sirajudin (1981) diacu dalam Herman (2005) masyarakat lebih banyak memanfaatkan pelayanan kesehatan tradisional. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. petugas kesehatan dan praktek dokter. oleh karena itu sulit memenuhi tiga syarat tersebut. pembuangan air limbah dengan diolah terlebih dahulu. Pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua yaitu pelayanan kesehatan tradisional dan pelayanan kesehatan modern. pelayanan tidak terjangkau oleh masyarakat banyak dan belum seluruh Puskesmas dipimpin oleh dokter. Untuk memenuhi syarat sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keterjaminan mutu. 2002c). antara lain sistem pelayanan yang ada selama ini belum diterima oleh masyarakat.Syarat-syarat pembuangan air limbah diantaranya tidak mengotori sumber air bersih. Menurut BPS (2005) pada tahun 2005 secara umum persalinan . 2002c).

mengetahui kesehatan ibu hamil dan perkembangan janin. Beberapa alasan yang memperkuat pernyataan tersebut yaitu status imunisasi. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui indera mata dan telinga. pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nutrition Assesment Educational Project di Washington (1999) diacu dalam Madihah (2002) menyatakan bahwa rendahnya perhatian terhadap masalah gizi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pengetahuan atau pemahaman tentang gizi yang baik. Pengetahuan Gizi Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan adalah hasil dari tahu. Persalinan oleh dokter. Kegunaan dari pemantauan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita. terutama bayi. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa balita. Mendidik menyangkut pola ajar (proses sosialisasi). dan mengetahui kesehatan anggota keluarga dewasa dan usia lanjut (Dinkes DKI Jakarta 2002). mencegah ibu melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan terjadinya pendarahan pada saat melahirkan.balita ditolong oleh tenaga medis diantaranya oleh dokter. Cicely William diacu dalam Berg (1986) melaporkan studi di Afrika Barat bahwa gizi kurang tidak terjadi karena kemiskinan harta. bidan dan tenaga medis lainnya. diet dan psikologi anak belum matang atau masih dalam taraf perkembangan yang pesat dan kelangsungan hidup anak balita sangat tergantung pada penduduk dewasa terutama keluarga dan ibunya (Sukarni 1989). Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. akan tetapi disebabkan oleh kemiskinan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan keluarga khususnya anak-anak. balita dan ibu hamil. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan kesehatan yaitu mengikuti perkembangan kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga. mencegah memburuknya keadaan gizi. bidan atau tenaga medis lainnya relatif lebih aman dibandingkan oleh dukun atau tenaga bukan medis lainnya. . Pola Asuh Anak balita merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi.

Pola pengasuhan anak berupa sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain dalam hal kedekatannya dengan anak. Masalah makan pada anak dapat terjadi karena anak meniru pola makan orang tuanya yang makan pada saat menjalani diet untuk menurunkan berat badan (Khomsan 2004). memberikan makan anak. Marotz et al. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. (2005) menyatakan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat. dan sosial. imunisasi. merawat anak. kesehatan anak. kebersihan anak. mental. Dalam hal ini. dapat memberikan suasana yang menyenangkan bagi anak. Pada usia pra sekolah. keluarga berencana. memberi kasih sayang kepada anak dan sebagainya. perumahan. Hikmat & Soemartono 2000 diacu dalam Adnyadewi 2004). orang tua dan guru harus mulai menstimulasi kesadaran kepada anak mengenai isu-isu lingkungan.pengertian dan perasaan serta keterampilan dan pengetahuan. Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya secara fisik. melalui berbagai bentuk interaksi antara ibu dan anak. Pola Asuh Makan Pola asuh makan adalah praktik yang diterapkan ibu khususnya yang berkaitan dengan situasi dan cara makan. sanitasi lingkungan dan lainnya (Soendjojo. anak-anak sering mengalami fase sulit makan. Pola asuh dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. maka ibu dengan mudah memberikan makan kepada anaknya dan dapat merasakan bahwa situasi waktu makan adalah saat-saat yang mambahagiakan (Tambingon 1999). stimulasi dini. Masa seorang anak berada pada usia kurang dari lima tahun termasuk salah satu masa yang tergolong rawan (Hardinsyah & Martianto 1992). Hal terpenting yang perlu diperhatikan pada anak balita yaitu gizi anak. Membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu. Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) pada usia anak di bawah lima tahun merupakan masa yang . Menurut Hurlock (1982) penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai.

Selain itu. Anak seyogiayanya diberi kesempatan untuk memilih makanan sendiri yang disukai dengan pengawasan seperlunya dari orangtua. Oleh karena itu. Ibu berperan secara konsisten bertanggung jawab terhadap pengasuhan dan perawatan fisik anak. Higiene diri sangat penting diketahui dan dipraktikan oleh setiap orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. orang tua jangan terlalu banyak memberi nasehat. maka penjagaan kesehatannya merupakan tanggungjawab individu dewasa di sekitarnya. kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. Perawatan kesehatan anak balita akan mempengaruhi tingkat morbiditasnya. Mengingat bayi dan anak adalah individu pasif.tergolong rawan. perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan. terutama oleh orang tuanya (Depkes RI 1997 diacu dalam Rahayu 2006). Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap kesehatan. Anak balita yang tidak terawat baik fisik maupun makanannya akan mudah terserang penyakit. dan dilaksanakan oleh setiap individu (Suklan 2000 diacu dalam Rahayu 2006). suasana makan haruslah menyenangkan sehingga anak tidak seperti pesakitan di meja makan. Menurut Khomsan (2004) orang tua yang pilih-pilih makanan (picky eaters) dan tidak suka sayur secara tidak langsung akan menyebabkan anak berperilaku makan seperti orang tuanya. artinya sangat tergantung dari diri sendiri yang praktiknya harus diketahui. dimengerti. Higiene diri adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis. Ketika anak sedang makan. Sedangkan ayah berperan dalam hal interaksi sosial dan mengajarkan norma budaya kepada anak baik laki-laki maupun perempuan yang ada di lingkungannya (Santrock 2002). kondisi fisik masih lemah. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. . hal ini terlihat dari banyaknya orang yang terkena penyakit karena tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995 diacu dalam Rahayu 2006). Pola Asuh Kesehatan Menurut Rahayu (2006) pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena ia belum sanggup untuk merawat dirinya sendiri. Pendidikan dan kekuasaan orang tua mampu meningkatkan kemampuan pengasuhan dan perawatan anak dengan lebih baik dalam suatu keluarga (Aronson 1991).

KERANGKA PEMIKIRAN Sehat menurut UU Pokok Kesehatan no. Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi menjadi lebih baik. rohani. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Mengingat anak balita merupakan kelompok individu pasif dan merupakan kelompok penduduk yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan dan gizi. perilaku kesehatan serta pelayanan kesehatan. dan sosial (Widyati & Yuliarsih 2002). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). Masalah kesehatan merupakan masalah yang komplek karena terkait dengan berbagai faktor yang mempengaruhinya. sehingga akan berdampak pada proses pertumbuhan dan perkembangannya. 9/1969 adalah keadaan yang sempurna jasmani. faktor lingkungan dan perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Blum diacu dalam Topatimasang (2005) ada beberapa determinan derajat kesehatan penduduk yaitu genetika dan kependudukan. Menurut Madanijah (2003) pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penentu mortalitas bayi dan anak. Dari keempat faktor tersebut. . PHBS yang disertai dengan pengetahuan gizi yang baik mampu membentuk perilaku yang baik pula. higiene dan kesadarannya terhadap kesehatan anak dan keluarga. lingkungan kesehatan. Menurut Notoatmodjo (1993) pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Anak balita yang tidak terawat baik fisik mapun makannya akan mudah terserang penyakit infeksi contohnya diare. karena tingkat pendidikan ibu berpengaruh terhadap tingkat pemahamannya terhadap perawatan kesehatan. Menurut Henrik L. diperlukan peran serta orang dewasa khususnya ibu dalam hal perawatan baik fisik maupun makan bagi anak balita. Oleh karena itu. Pengetahuan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. Penyakit diare yang diderita oleh anak balita akan mempengaruhi status gizinya.

Pendidikan Orangtua .Jenis Kelamin . pengetahuan gizi.Umur Orangtua .Umur .Besar Keluarga . pola asuh makan dan pola psuh kesehatan kaitannya dengan diare anak balita.Berat Badan Lahir Pola Asuh .Pola Asuh Makan .Pekerjaan Orangtua . .Karakteristik Keluarga .Pola Asuh Kesehatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Ibu Status Gizi Anak Balita Diare Anak Balita Keterangan: = Variabel yang diteliti = Hubungan yang dianalisis Gambar 2 Kerangka pemikiran PHBS.Pendapatan Keluarga Pengetahuan Gizi Ibu Karakteristik Anak Balita .

Pengambilan contoh dilakukan dengan metode acak sederhana yang dilakukan di lima Posyandu yang terdapat di Kampung Carang Pulang. karakteristik keluarga (besar keluarga. Desa Cikarawang. KMS Kuesioner. Desa Cikarawang. Menurut Nasution (2003) jumlah sampel 10% dari total populasi dianggap cukup memadai dalam sebuah penelitian. Tempat dan Waktu Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional study yaitu data diambil pada waktu tertentu secara bersamaan. Jenis dan Cara Pengumpulan Data Jenis data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder.Umur .Berat badan lahir BB/TB BB/U TB/U Pernah/tidak sakit Frekuensi sakit Lama sakit Besar keluarga Umur orang tua Pendidikan orangtua Pekerjaan orangtua Pendapatan keluarga Jenis data Primer.Jenis kelamin . Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi yaitu sebanyak 56 contoh. timbangan injak dan mikrotoa Kuesioner 2 3 Primer Wawancara 4 Primer Wawancara Wawancara. status gizi dan kesehatan anak balita. Kecamatan Darmaga. Berdasarkan Tabel 1 data primer meliputi karakteristik anak balita (jenis kelamin dan umur). pendidikan. Kabupaten Bogor. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2007 sampai bulan April 2008.METODE PENELITIAN Desain. pekerjaan orang tua dan pendapatan keluarga). Lokasi penelitian dipilih secara purposive di Kampung Carang Pulang. Tabel 1 Jenis dan cara pengumpulan data No 1 Variabel Karakteristik anak balita Status gizi anak balita Status kesehatan (diare anak balita) Karaktersitik keluarga PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh Lokasi penelitian Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Data . observasi Pengisian kuesioner Wawancara Monografi Desa Cikarawang Kuesioner 5 6 7 8 Primer Primer Primer Sekunder Kuesioner Kuesioner Kuesioner . umur. Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Contoh adalah anak balita dengan responden dalam penelitian ini adalah ibu contoh yang bersedia untuk diwawancarai. sekunder Primer Cara pengumpulan data Wawancara Wawancara dan antropometri Alat ukur Kuesioner.

Selain itu, data primer juga meliputi PHBS ibu, pengetahuan gizi ibu, pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan responden menggunakan kuesioner terstruktur dan pengamatan langsung. Data sekunder meliputi lokasi penelitian yang diperoleh dari data monografi Desa Cikarawang dan berat badan lahir anak balita dari KMS (Tabel 1). Pengolahan dan Analisis Data Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensia. Program komputer yang digunakan adalah Microsoft Excel dan Statistical Program for Social Science (SPSS) for Window versi 11,5. Status gizi anak balita dikategorikan menjadi gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (zscore -2SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Sedangkan status kesehatan diperoleh dengan menanyakan pernah dan tidaknya sakit, jenis penyakit, frekuensi dan lama sakit selama tiga bulan terakhir (Tabel 2). Total skor PHBS dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu PHBS rendah (24-38), PHBS sedang (39-53) dan PHBS tinggi (54-67). PHBS aspek pelayanan kesehatan meliputi ketersediaan, kunjungan ke pelayanan kesehatan, persepsi jarak, persepsi daya jangkau, akses terhadap sumber informasi, persepsi terhadap kemudahan petugas kesehatan, serta persepsi cara pelayanan petugas kesehatan disajikan dalam bentuk deskriptif (Tabel 2). Pengetahuan gizi dinilai dengan pemberian skor 1 untuk jawaban yang benar dan skor 0 untuk jawaban yang salah. Menurut Khomsan (2000) jawaban pengetahuan gizi diklasifikasikan ke dalam 3 kriteria, yaitu pengetahuan gizi baik (>80%), pengetahuan gizi sedang (60%-80%) dan pengetahuan gizi kurang (<60%) (Tabel 2). Data pola asuh makan diperoleh dengan memodifikasi kuesioner dari penelitian yang telah dilakukan oleh Khairunnisak (2004) yaitu dengan memberikan 16 pertanyaan yang berkaitan dengan riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Data pola asuh kesehatan disajikan dalam bentuk pertanyaan tertutup sebanyak 24 pertanyaan. Total skor dari pertanyaan tersebut dikategorikan

menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72). Tabel 2 Cara pengolahan dan analisis data
No Variabel Sub Variabel a. Jenis kelamin b. Umur (bulan) • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • Kategori ≤23 24-36 ≥37 (Turner & Helms 1991) BBLR (<2,5) Non BBLR (≥2,5) Gizi kurang (z-score <-2SD) Gizi normal (z-score -2SD-+2SD) Gizi lebih (z-score >+2SD) 1 2 ≥3 1-3 4-7 8-14 >14 Remaja (13-19) Dewasa muda (20-30) Dewasa madya (31-50) (Turner & Helms 1991) Kecil (≤4) Besar (>4) Tidak pernah sekolah Tidak tamat SD SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi Buruh tani/kebun Petani pemiliki Pedagang/wiraswasta Pegawai negeri/swasta Jasa angkutan Pembantu Rumah Tangga (PRT) Ibu Rumah Tangga (IRT) Lainnya ≤Rp 100 000.00 Rp 100 001.00-150 000.00 >Rp 150 000.00 Rendah (24-38) Sedang (39-53) Tinggi (54-67) (Subandriyo et al. 1997) Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) (Khomsan 2000) Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) (Slamet 1993) Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (57-72) (Slamet 1993)

1

Karakteristik anak balita

c. Berat badan lahir (kg) 2 Status gizi anak balita BB/TB, BB/U, TB/U a. Pernah/tidak sakit b. Frekuensi sakit (kali/3 bulan)

3

Status kesehatan anak balita (diare)

c. Lama sakit (hari)

a. Umur orangtua (tahun)

b. Besar keluarga (orang)

c. Pendidikan orangtua 4 Karakteristik keluarga

d. Pekerjaan orangtua

e. Pendapatan keluarga

5

PHBS ibu

6

Pengetahuan gizi ibu

a. Pola asuh makan 7 Pola asuh b. Pola asuh kesehatan

Definisi Operasional Contoh adalah anak yang berada pada golongan usia satu sampai dengan lima tahun yang akan diamati status gizi dan status kesehatannya khususnya diare. Status gizi anak balita adalah kondisi kesehatan tubuh anak balita yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diperoleh dengan menggunakan metode antropometri. Indikator status gizi yang digunakan adalah BB/TB, BB/U, dan TB/U. Status gizi dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan perhitungan zskor yaitu gizi kurang (z-score <-2 SD), gizi normal (z-score -2 SD-+2 SD) dan gizi lebih (z-score >+2 SD). Status kesehatan anak balita adalah kondisi kesehatan (riwayat sakit) anak balita dalam tiga bulan terakhir yang meliputi jenis penyakit, frekuensi sakit (berapa kali sakit) dan lama sakit (dalam hari) dengan menggunakan kuesioner. Diare pada anak balita adalah kejadian buang air besar dengan konsistensi yang lembek sampai encer bahkan dapat berupa air saja sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari pada anak balita. Besar keluarga adalah banyaknya orang yang tinggal (hidup) di bawah satu atap yang sama dan makan dari satu dapur yang sama. Pendidikan orang tua adalah lama pendidikan formal (pendidikan terakhir) ayah dan ibu, diklasifikasikan menjadi tidak pernah sekolah, tidak tamat SD, SD/sederajat, SLTP/sederajat, SLTA/sederajat, dan Akademi/Diploma/Perguruan Tinggi (PT). Pekerjaan orang tua adalah jenis pekerjaan yang dimiliki ayah dan ibu yang dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga meliputi buruh tani atau kebun, petani pemilik, pedagang atau wiraswasta, pegawai negri/swasta, jasa angkutan, Pembantu Rumah Tangga (PRT), Ibu Rumah Tangga (IRT). Pendapatan perkapita perbulan adalah jumlah pendapatan yang dinilai dengan uang (rupiah) perbulan yang dibagi dengan besar keluarga dan diklasifikasikan menjadi <Rp100 000.00, Rp100 001.00-150 000.00 dan >Rp150 000.00. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ibu adalah tindakan atau aktivitas ibu tentang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Berdasarkan

rumus interval total skor PHBS diklasifikasikan menjadi rendah (2438), sedang (39-53) dan tinggi (54-67). Pengetahuan gizi ibu adalah pengetahuan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan meliputi definisi dan fungsi zat gizi, sumber pangan dengan kandungan zat gizi tertentu, akibat defisiensi zat gizi, akibat mengonsumsi makanan yang tidak bersih, waktu pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, definisi dan pencegahan diare, serta penanganan saat anak balita mengalami diare. Pengetahuan gizi diklasifikasikan menjadi tiga menurut Khomsan (2000) yaitu baik (>80%), sedang (60%-80%) dan kurang (<60%). Pola asuh makan adalah cara dan kebiasaan ibu dalam memenuhi kebutuhan makan anak balita yang meliputi riwayat menyusui dan penyapihan, cara memperkenalkan makan, cara mempersiapkan makan, cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Total skor yang diperoleh diklasifikasikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (0-6), sedang (7-11) dan tinggi (12-16). Pola asuh kesehatan adalah cara dan kebiasaan ibu memperlakukan anak balita dalam penerapan kebersihan diri dan perilaku kesehatan lingkungan. Total skor dari aspek pola asuh kesehatan yaitu 24-72 yang dikategorikan menjadi tiga berdasarkan rumus interval yaitu rendah (24-39), sedang (40-55), dan tinggi (56-72).

0 0. Sedangkan dari desa ke ibukota kabupaten sejauh 35 km dan dapat dicapai selama dua jam. . Sekolah c. Kuburan/makam h. vihara. Jalan i. bangunan-bangunan (sekolah.260 18. Perkantoran b.075 0.070 52.84 % 0.86 0. Pasar e. sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Ciapus. masjid.925 0 0 0.23 33.03 0. Perkebunan rakyat b.455 75.007 0.016 0.226 8 0 38. gereja. Terminal f.0 11. pura. pertanian sawah.0 0. Tempat peribadatan (masjid. Tambak b.HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian Berdasarkan data dasar profil desa tahun 2007/2008 luas wilayah Desa Cikarawang yaitu 225.88 0. 84 ha. perkantoran. Empang/tebat Total Sumber: Data dasar profil desa 2007/2008 Luas ha 0 25.07 3. Desa Cikarawang merupakan daerah dataran yang berada pada ketinggian 700 m dpl.0 0.0 0. yang dipergunakan untuk pemukiman umum.800 4.430 0 0 0 0.22 100.10 23. kuburan. Kolam c. dan lain sebagainya (Tabel 3). dan lain-lain). dll) g.0 0.19 0. Sawah tadah hujan d.54 0.32 8. sebelah Barat berbatasan dengan Sungai Cisadane-Ciapus dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Situ Gede.35 2. perkebunan. Perkebunan Negara c. Sawah pasang surut Perkebunan a. Pertokoan/perdagangan d.073 2 0. Lain-lain Perikanan Darat/Air Tawar a. Sawah pengairan teknis (irigasi) b. Tabel 3 Luas wilayah Desa Cikarawang berdasarkan penggunaannya Penggunaan Pertanian Sawah a.18 0. Perkebunan swasta Pemukiman Umum Bangunan a. Jarak dari desa ke ibukota kecamatan adalah sejauh 3 km dan dapat ditempuh selama setengah jam.0 Batas wilayah Desa Cikarawang yaitu sebelah Utara berbatasan dengan Sungai Cisadane. jalan. Sawah pengairan setengah teknis c.510 225.0 16.

keluarga sejahtera II (300 KK).Desa Cikarawang terdiri dari tiga Dusun. Dusun I terdiri dari RW 1 dan 2. sampai saat ini Desa Cikarawang telah memiliki fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang diperuntukkan bagi masyarakat secara umum di dua belas tempat. Tabel 4 Jumlah penduduk menurut golongan usia dan jenis kelamin Umur (Tahun) 0-5 6-10 11-15 16-20 21-25 26-30 31-35 36-40 41-45 46-50 51-55 56-60 61-65 66-70 Jumlah Laki-Laki 443 408 392 379 389 398 304 311 261 215 183 158 189 144 4 174 Perempuan 515 366 389 369 374 378 285 288 251 193 160 141 147 145 4 001 Jumlah 958 774 781 748 763 776 589 599 512 408 343 299 336 289 8 175 Sumber : Data dasar profil desa 2007/2008 Penggolongan penduduk berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga dibagi ke dalam empat kelompok yaitu keluarga pra sejahtera (900 KK). 6 dan 7. hanya sepuluh bangunan MCK yang sudah ditembok rapi dan sisanya belum ditembok. fasilitas penyediaan air bersih di Desa Cikarawang sebagian besar berasal dari sumur pribadi atau mata air pribadi. Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Cikarawang paling banyak berada pada golongan usia anak balita. Jumlah penduduk Desa Cikarawang seluruhnya adalah sebanyak 8 175 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 2 000 KK. keluarga sejahtera I (700 KK). Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan aparat desa. sisanya berada di Kampung Carang Pulang. dan keluarga sejahtera III (100 KK). Hal ini dapat dilihat dari masih terdapatnya masyarakat . Dusun II terdiri dari RW 3 dan 4. tujuh Rukun Warga (RW) dan 32 Rukun Tetangga (RT). Kedua belas MCK tersebut dibangun berdasarkan bantuan pemerintah daerah Kabupaten Bogor (PKPS BBMIP) tahun 2005. Selain itu. Namun. dan Dusun III terdiri dari RW 5. Kedua belas bangunan MCK yang dibangun tersebut masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. RW 1 dan 2 berada di Kampung Cangkrang.

umur dan berat badan lahir Karakteristik Anak balita Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Umur (bulan) ≤23 24-36 ≥37 Total Berat Badan Lahir (kg) <2.1%) dan berumur ≥37 bulan (28.1±0. Umur anak balita berkisar antara 10-58 bulan dengan rata-rata 30. Karakteristik Anak Balita Karakteristik anak balita dalam penelitian ini menjelaskan mengenai jenis kelamin.3%) berkisar antara 24-36 bulan. sebanyak 3. Akan tetapi.5 kg. Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh anak balita (66.yang menggunakan air sungai/hujan/sumur dan mata air yang tidak terlindungi sebagai sumber air minum.5 ≥2.6 100. mandi. Hal ini sesuai dengan data yang diperoleh dari Puskesmas Cangkurawok bahwa proporsi anak balita yang berjenis kelamin perempuan di Kampung Carang Pulang lebih banyak dibandingkan laki-laki.0 3. Menurut Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) bayi dengan BBLR memiliki mortalitas lebih tinggi dan daya tahan terhadap penyakit lebih rendah serta pertumbuhan dan perkembangan lebih lamban dibandingkan bayi yang memiliki berat badan lahir cukup.1 39. cuci dan kakus.6% anak balita memiliki Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi dengan berat badan <2.3 28. dan berat badan lahir.4 100.5 kg).1 100. Proporsi terbesar umur anak balita (39.4%) memiliki berat badan lahir cukup (≥2.1%) berjenis kelamin perempuan.5 Total n 19 37 56 18 22 16 56 2 54 56 % 33. umur. sebagian besar anak balita (96.9 66. Tabel 5 Sebaran anak balita berdasarkan jenis kelamin.4 kg.7 bulan.0 .6 96. Berdasarkan Tabel 5. sisanya berumur ≤23 bulan (32.0 32. Berat badan lahir anak balita berkisar antara 2-4 kg dengan rata-rata 3.6%).2±11.

2 32 57. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Status gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menyatakan status gizi masa kini (Riyadi 2001). salah satunya dengan antropometri.8 24 42. penyerapan. Hiswani (2003) menyatakan bahwa masalah kesehatan dan pertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh dua persoalan utama yaitu keadaan gizi yang tidak baik dan . Berdasarkan indeks BB/U sebagian besar anak balita (76.0 Status gizi erat kaitannya dengan penyakit infeksi.0 Indeks Antropometri BB/U TB/U n % n % 13 23.9% berstatus gizi normal.8% berstatus gizi lebih. akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.4% anak balita memiliki status gizi kurang dan 1. sisanya 42.8 100. WHO (1983) diacu dalam Riyadi (2001) interpretasi status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal.0 0 0.0 56 100.9 1.0 56 100. Menurut Riyadi (2001) dalam keadaan normal tinggi badan tumbuh bersamaan dengan pertambahan umur.9 0 0.8%) termasuk ke dalam status gizi normal dan 23.1 43 76. proporsi terbesar anak balita (57.4 92. Tabel 6 Sebaran anak balita berdasarkan status gizi Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih Total n 3 52 1 56 BB/TB % 5. Riyadi (2001) menyatakan bahwa indeks BB/U sebagai indikator status gizi mampu menggambarkan status gizi pada masa kini. Berat badan merupakan satu-satunya ukuran tunggal yang ekonomis dan paling peka untuk digunakan apabila dibandingkan tinggi badan.Status Gizi dan Kesehatan Anak balita Status Gizi Anak balita Berdasarkan perhitungan z-score indeks BB/TB pada Tabel 6 sebagian besar anak balita (92. Pertumbuhan tinggi badan kurang sensitif terhadap defisiensi gizi dalam jangka pendek dibandingkan dengan berat badan.2% berstatus gizi kurang (Tabel 6). Berbeda halnya dengan status gizi anak balita berdasarkan indeks TB/U.9%) memiliki status gizi yang tergolong normal.1%) termasuk ke dalam status gizi rendah. Sisanya sebanyak 5. dan penggunaan zat gizi makanan yang dapat dinilai dengan berbagai cara.

Hikmat & Soemartono (2000) diacu dalam Adnyadewi (2004) untuk meningkatkan status kesehatan anak balita diperlukan suatu perhatian dalam hal gizi.1 8. Menurut BPS (2002) status gizi merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi kualitas fisik penduduk. status gizi yang baik akan mempengaruhi status kesehatan seseorang. Tabel 8 menunjukkan bahwa penyakit yang tidak pernah dialami seluruh anak balita adalah campak. Anak yang mengalami gizi kurang memiliki kesempatan lebih besar menderita penyakit infeksi terutama penyakit diare. . borok dan alergi terhadap beberapa jenis pangan seperti ikan asin.9 100 Menurut Soendjojo. sanitasi lingkungan dan lainnya.masalah penyakit infeksi. Penyakit kulit yang dialami anak balita antara lain panu. imunisasi. Jenis penyakit yang paling banyak dialami anak balita selama tiga bulan terakhir dapat dilihat pada Tabel 8 yaitu panas (71. Tabel 7 Sebaran anak balita berdasarkan status kesehatan tiga bulan terakhir Status Kesehatan Sakit Tidak Sakit Total N 51 5 56 % 91. kurap. keluarga berencana.05). Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa hampir seluruh anak balita (91. bisul.4%). ISPA (73. stimulasi dini. kesehatan.2%) dan diare (46. Anak-anak yang kurang gizi menyebabkan rusaknya sistem imun sehingga mudah terkena penyakit. Oleh karena itu.1%) mengalami sakit dan hanya 8. Aritonang (1996) dan Victoria et al (1999) diacu dalam Briawan & Herawati (2005) menyatakan kurang gizi adalah faktor pra kondisi yang memudahkan anak menderita penyakit infeksi khususnya infeksi saluran pernapasan dan diare.4%).9% anak balita tidak mengalami sakit selama tiga bulan terakhir. Status Kesehatan Anak balita Status kesehatan anak balita merupakan aspek dari kualitas fisik anak balita yang dapat mempengaruhi status gizi. perumahan. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB dan TB/U) dengan diare (p<0.

Penyakit kulit erat kaitannya dengan kebersihan diri seseorang. Sebagian besar anak balita menderita penyakit panas sebanyak 1-2 kali (35%).4 10.4 46. sehingga yang bertanggungjawab dalam hal kebersihan diri adalah orang dewasa khususnya ibu dari anak balita.0 0 0.0 19.1%). Tabel 9 Sebaran anak balita berdasarkan frekuensi sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya Frekuensi Sakit (kali) 1 2 % N % n 35.6 0.7 2 100. tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya. diare (30.4%) dan kulit (5.0 0.1 7 12. ISPA 2 kali (30.4 11 0. Mandi minimal 2 kali sehari dengan menggunakan air bersih dan sabun merupakan salah satu cara agar terhindar dari penyakit kulit. Sedangkan frekuensi untuk jenis penyakit lainnya adalah 1 kali (Tabel 9).6 Frekuensi sakit anak balita selama tiga bulan terakhir cukup bervariasi.0 0 100.4 73.3 0.0 1 16. .8 33.0 0 ≥3 % 30.6%).2 17 30.0 1.0 0 0.4%) dan diare 1 kali (32.5 1 50.4%).2 3.0 5. ISPA (44.7 0.0 0 0.Tabel 8 Sebaran anak balita berdasarkan jenis penyakit Jenis Penyakit Panas ISPA TBC Campak Cacar Diare Kulit Lainnya n 40 41 2 0 3 26 6 2 % 71.0 14 35.7 3. Anak balita adalah individu pasif.0 0 32.1%).0 N 14 13 0 3 18 3 2 Tabel 10 menunjukkan sebagian besar anak balita menderita sakit selama 1-3 hari yaitu panas (57.0 12 23.

7%) merupakan keluarga besar dengan jumlah anggota keluarga >4 orang.8 1.8 Selain jenis penyakit di atas.0 0.8 23.0 0.4 0.3±1.6 0. Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden (60.Tabel 10 Sebaran anak balita berdasarkan lama hari sakit Jenis Penyakit Panas ISPA Campak Cacar Diare Kulit Lainnya 1-3 N 32 25 0 0 17 3 1 % 57.0 0. Tabel 11 Sebaran responden berdasarkan besar keluarga Besar Keluarga Kecil (≤4 orang) Besar (>4 orang) Total n 22 34 56 % 39.0 0.0 30. Responden menyatakan untuk penyakit TBC.0 >14 n 0 0 0 0 0 1 1 % 0.5 1 1.8 3.0 0 0. Keluarga sangat tergantung dengan dan juga mempengaruhi lingkungan di sekitarnya (mikro.0 1. Karakterisitik Keluarga Contoh Besar Keluarga Jumlah anggota keluarga contoh berkisar antara 3-10 orang dengan ratarata 5.2 3 5.6 0 0.8 n 7 13 0 1 8 2 0 Lama Sakit (hari) 4-7 8-14 % n % 12.6 14. meso dan makro).1 44.0 0 0.0 0. kedua anak balita sedang melakukan pengobatan rutin sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh dokter hingga benar-benar kedua anak balita tersebut dinyatakan sembuh. Seorang anak akan memperoleh hubungan antar pribadi pertama kali dalam lingkungan . Lama hari penyakit TBC lebih dari 14 hari.7 100.4 5. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari. frekuensi penyakit TBC tidak diikut sertakan dalam tabel frekuensi sakit (Tabel 9) dikarenakan penyakit tersebut sudah berlangsung cukup lama yaitu selama 32 hari dan saat penelitian dilaksanakan penyakit tersebut masih diderita kedua anak balita.0 1.3 1 1.3 60.8 2 3.0 0.0 Puspitawati (2007) menyatakan keluarga merupakan salah satu lembaga sosial yang tidak dapat berdiri sendiri.4 1. TBC termasuk ke dalam jenis penyakit ISPA yang bersifat kronis.8 orang.

3 100.8% ibu yang berpendidikan akademi/diploma/PT. terutama ibu. Umur Orang Tua Umur ayah berkisar antara 23-50 tahun dengan rata-rata 33. sedangkan ibu (51. Ayah n 18 22 16 56 % 32.0 n 18 25 13 56 Ibu % 32.3%) maupun ibu (44. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa besar keluarga mempunyai andil dalam permasalahan gizi sedangkan menurut Suharini (1998) diacu dalam Madihah (2002) bahwa jumlah anggota keluarga yang besar disertai dengan distribusi makanan yang tidak merata akan menyebabkan anak dalam keluarga menderita kurang gizi.8 tahun.6% ) berumur antara 20-30 tahun.6 23.6 100. Tabel 12 Sebaran orangtua berdasarkan umur Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Pendidikan Orang Tua Berdasarkan Tabel 13.3 28. sehingga umumnya mereka mengasuh dan merawat anak didasarkan pada pengalaman orangtuanya terdahulu. Umur pada kisaran tersebut termasuk dalam kategori dewasa muda (Turner & Helms 1991).7%) yaitu SLTA/sederajat. Selain itu. Secara keseluruhan tingkat pendidikan baik ayah maupun ibu masih rendah karena keduanya masih banyak yang berpendidikan SD/sederajat dan hanya 3.8%) yaitu SD/sederajat. Rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit (Notoatmodjo 1997). Menurut Hurlock (1993) orang tua muda. cenderung kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam mengasuh anak.1 44. Tabel 12 menunjukkan bahwa proporsi terbesar baik ayah (39. proporsi terbesar tingkat pendidikan ayah (35.keluarga. besar keluarga juga akan mempengaruhi luas per penghuni di dalam suatu bangunan rumah yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kesehatan baik anak-anak maupun ibu (Sukarni 1989).0 .1 39.0±6. Sedangkan umur ibu berkisar antara 19-47 tahun dengan rata-rata 27. Jumlah keluarga yang banyak dapat mempengaruhi kondisi gizi dan kesehatan dari anggota keluarga.6% saja ayah dan 1.7±5. tingkat pendidikan ayah lebih tinggi dibandingkan dengan ibu.7 tahun.

informasi tentang masalah kesehatan dapat lebih mudah diterima oleh keluarga atau masyarakat yang memiliki pendidikan tinggi daripada yang berpendidikan rendah.0 0.0 Menurut Rahmawati (2006) pada masyarakat tradisional. dan status gizi keluarga seperti halnya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Selain itu.8 35.8 0. Dengan demikian. Hasil penelitian ini sesuai dengan penjelasan sebelumnya bahwa proporsi terbesar tingkat pendidikan ibu (51.0 n 0 7 1 0 6 42 0 56 Ibu % 0. biasanya ibu tidak bekerja di luar rumah melainkan hanya sebagai ibu rumah tangga.7 10.6%).9%) dan jasa angkutan (28.3 33.8%) adalah SD/sederajat.4 100.7 3.6 35. sebagian besar ibu (75.0 12.6 0.0 100.0 Menurut Sukarni (1989) pendidikan orang tua akan menentukan status kesehatan.Tabel 13 Sebaran orangtua berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Ayah n 18 16 20 2 56 % 32. Oleh karena itu.7 1.0%) tidak bekerja atau berstatus sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT).7 75. Sedangkan. Pekerjaan Orang Tua Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa proporsi terbesar pekerjaan ayah adalah pegawai negeri/swasta (33.0 5. secara tidak langsung tingkat pendidikan ibu akan berpengaruh terhadap jenis pekerjaan yang dimilikinya.5 1.8 100.9 28.9 14.1 28.0 10. menurut Satoto (1990) diacu dalam Rahmawati (2006) menyatakan bahwa seorang ibu yang tidak bekerja di luar rumah akan memiliki waktu yang lebih banyak dalam mengasuh serta merawat anak dibandingkan ibu yang bekerja di .0 0.6 100. Tabel 14 Sebaran orangtua berdasarkan jenis pekerjaan Jenis Pekerjaan Buruh tani/kebun Pedagang/wiraswasta Pegawai negri/swasta Jasa angkutan PRT IRT Lainnya Total Ayah n 10 8 19 16 0 0 3 56 % 17. fertilitas.0 n 29 20 6 1 56 Ibu % 51.

00 100 001. Sukarni (1989) menyatakan bahwa pekerjaan memiliki hubungan dengan pendidikan dan pendapatan serta berperan penting dalam kehidupan sosial ekonomi dan memiliki keterkaitan dengan faktor lain seperti kesehatan.9 23. Kebiasaan menggosok gigi merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari penyakit khususnya sakit gigi.9%) selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar serta melakukan aktivitas mandi dua kali setiap harinya.00 sampai Rp2 620 000.2% responden memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar Rp100 001.9.00±Rp597 650.0 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Higiene Tabel 16 menunjukkan bahwa lebih dari separuh responden (58.8.4%) menggosok gigi dua kali setiap harinya.00.9 100.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan sebesar >Rp150 000. Dengan demikian.2 58.00/kapita/bulan.9% berpendapatan <Rp100 000.luar rumah. Sebanyak 23.00 dengan rata-rata Rp1 073 393.00 Total n 10 13 33 56 % 17. Rata-rata pendapatan perkapita perbulan responden yaitu Rp210 113. Perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare (Suririnah 2007).00-150 000. lebih dari separuh responden (58.00-Rp150 000.00 dan sebanyak 17.00. Pendapatan Keluarga Pendapatan keluarga perbulan berkisar antara Rp300 000. garis kemiskinan untuk Kabupaten Bogor yaitu Rp150 000. Tabel 15 Sebaran responden berdasarkan pendapatan perkapita perbulan Kategori pendapatan (Rp/kap/bln) <100 000. Pada Tabel 15 dapat dilihat bahwa lebih dari separuh responden (58.00 >150 000.9%) memiliki pendapatan perkapita perbulan di atas garis kemiskinan.00.3. Kebiasaan mandi minimal dua kali dalam sehari merupakan salah satu usaha kesehatan seseorang supaya terhindar dari sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya.00±Rp106 712. Menurut BPS (2005). Proporsi terbesar responden (55.00. .

Menurut Suririnah (2007) air yang tidak dimasak sampai mendidih maka akan menjadi media pencemaran untuk penyakit diare.4% dan di kamar mandi umum sebanyak 10.0 55.7 67. memasak sampai mendidih Membersihkan kamar mandi dalam seminggu a. 1 kali b. 2 kali c. ≥ 3 kali/hari Kebiasaan menggosok gigi dalam sehari? a. tidak memasak air b.7%. Oleh karena itu. akan tetapi masih ada responden yang melakukan aktvitas mencuci di sungai yaitu sebanyak 21.9 41. dengan alasan agar terhindar dari penyakit khususnya sakit diare karena kuman dalam air tersebut mati.Tabel 16 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu memasak air sampai mendidih sebelum diminum.4 10. ya Kebiasaan mandi dalam sehari? a. kamar mandi pribadi n 1 22 33 0 33 23 0 31 25 0 0 56 18 17 21 12 6 38 % 1. kadang-kadang c.1 0. 3 kali Memasak air untuk minum a. Lebih dari separuh responden (67.5 21. sungai b. kamar mandi umum c.1 30.5%).0 0. ≥ 3 kali Melakukan aktivitas mencuci a.9 0.1%).0 32. 2 kali c.4 44.9 anak balita dapat dilakukan dengan membiasakan memasak air sampai mendidih sebelum .0 58.4%) dan ≥ tiga kali (37.4 37. 1 kali b.3 58. Frekuensi responden membersihkan kamar mandi dalam satu minggu terlihat pada Tabel 16 yaitu satu kali (32. Tabel 16 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek higiene PHBS aspek Higiene Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah buang air besar a. memasak tetapi tidak sampai mendidih c.6 0.0 100. 1 kali/hari b. salah satu cara untuk menurunkan tingkat kesakitan khususnya diare pada diminum.8 39. dua kali (30.9%) melakukan aktivitas mencuci di kamar mandi pribadi. Tidak b. 2 kali/hari c.

1 84.0 Mengonsumsi makanan yang beragam sangat baik untuk keberlangsungan hidup seseorang atau sekelompok orang.00 atau di atas garis kemiskinan menurut BPS Kabupaten Bogor tahun 2005. sayur dan buah.Gizi Seimbang Berdasarkan Tabel 17 dan Tabel 18 sebagian besar responden (89.3%) menyatakan bahwa menu makan yang biasa disajikan untuk keluarga yaitu makanan pokok.0 100.0 0 13 0 13 0. protein nabati dan sayur Nasi.00 N % n % n % 1 9 0 10 10.3 3.6% responden yang biasa menyediakan menu makan beragam yaitu nasi. sayur c.0 0.1 89.1% n 4 50 2 responden % 7. Pendapatan berhubungan dengan tingkat kesejahteraan keluarga. Hal ini disebabkan oleh fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh.6 yang selalu menyediakan menu makan keluarga secara beragam (nasi.6 100.0 3 28 2 33 9.3 3. lauk pauk. protein nabati dan sayur. Keluarga dengan pendapatan terbatas.1 89.0 0. Kondisi ini menyebabkan keanekaragaman bahan makanan kurang terjamin. Akibat tidak mengonsumsi makanan yang . nasi. besar kemungkinan kurang dapat memenuhi kebutuhan makanannya sejumlah yang diperlukan tubuh. protein hewani Nasi. sayur dan buah Berdasarkan Tabel 18. Tabel 17 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek gizi seimbang PHBS aspek gizi seimbang Menu makan keluarga sehari-hari a. nasi. lauk pauk.0 100.00 >150 000. sayur dan buah) adalah berasal dari keluarga dengan pendapatan perkapita perbulan >Rp150 000. protein nabati. Tabel 18 Hubungan antara menu makan keluarga dengan pendapatan per kapita perbulan responden Menu Makan Keluarga Nasi. nasi. karena dengan keterbatasan uang itu menyebabkan tidak banyaknya pemilihan dalam hal makanan (Madihah 2002).00 000.0 90. Hanya 3. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi.0 100. lauk pauk.0 Total n 4 50 2 56 % 7.00-150 <100 000. protein hewani b.8 6. lauk pauk. sayur dan buah Total Pendapatan Perkapita Perbulan (Rp/Kap/Bln) 100 001. sebanyak 6.1 100.

teraso. >10 m dari rumah c.4 0 5.4 94. ada.8 69. (2002b) bahwa salah satu syarat rumah sehat yaitu lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari keramik.6 60.5 m2 b.beraneka ragam yaitu akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita (Dinkes DKI Jakarta 2002). sehingga Menurut memudahkan Notoatmodjo (1997) rumah yang padat penghuninya akan menyebabkan berkurangnya konsumsi oksigen dan memudahkan penularan penyakit.9 m2 c. Luas hunian yang tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga menyebabkan penularan pertukaran penyakit oksigen diantara kurang anggota optimal keluarga.4 1. tembok Letak kandang ternak a. tidak ada b.4%) adalah berjenis marmer/keramik/ubin/tegel/teraso/semen. terbuka Atap rumah a.7 3.8 0 3.7 37.5 51. ijuk/daun-daunan/lainnya b. kayu/ bambu c. seluruhnya tanah/lainnya b. marmer/keramik/ubin/tegel/ teraso/semen Jendela rumah a.6 35. BPS (2004) menyatakan bahwa salah satu indikator rumah sehat menurut WHO adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 10 m2 perkapita.6 96.9. kayu c.7 Tabel 19 menunjukkan sebagian besar jenis lantai rumah responden (96. dan kayu atau bambu.6 96. tertutup c. Hal ini sesuai dengan pernyataan Latifah et al. Rumah Sehat Tabel 19 memperlihatkan bahwa separuh responden (51. beton/genteng Dinding rumah a. Hasil penelitian . ≥10.0 m2 Jenis lantai rumah a.6 28. seng/asbes/kayu c. bambu/lainnya b. 7.8%) memilik luas hunian ≥10.6 0 3.0 m2 perkapita.5. tidak punya n 6 21 29 0 2 54 1 39 16 0 2 54 0 3 53 20 2 34 % 10. <10 m dari rumah b. tegel atau semen. <7. ada. Tabel 19 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek rumah sehat PHBS aspek rumah sehat Luas hunian a.

Menurut Latifah et al. Menurut Latifah et al.4%) berupa genteng/beton. Ada tidaknya jendela di setiap ruangan yang dapat dibuka dan ditutup berhubungan dengan ventilasi udara. (2002b) air bersih dan sehat merupakan air yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari yang tidak mengandung kotoran dan kuman. seng. (2002b) lantai rumah berupa tanah tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut. Air yang digunakan sehari-hari harus bersih dan memenuhi syarat kesehatan. Latifah et al. (2002b) atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng. (2002b) menyatakan fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar udara di dalam rumah tetap bersih dan segar. Rumah yang sehat memerlukan jendela yang cukup untuk jalan masuknya cahaya ke dalam rumah.6%) berada dalam keadaan tertutup (Tabel 19). (1997) menyatakan bahwa sumber air minum yang . Menurut Latifah et al.7%) tidak memiliki kandang ternak dan sebanyak 35. Lebih lanjut Subandriyo et al. Sumber air minum yang digunakan sebagian besar responden (78. sirap dan nipah. Sanitasi Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi kehidupan manusia.7% responden memiliki kandang ternak dengan jarak antara kandang ternak dengan rumah yaitu <10 m (Tabel 19). Serta dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan dibersihkan dengan mudah. Atap rumah sebagian besar responden (96. Lebih dari separuh responden (60.6% dinding rumah responden berupa tembok (Tabel 19). Hal senada juga diungkapkan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa dinding yang paling baik adalah tembok. sehingga aman untuk dikonsumsi dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan (Latifah et al. asbes gelombang. (2002b) syarat rumah sehat lainnya yaitu kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga kebersihan dan kesehatannya. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kesadaran responden dalam menjaga kenyamanan serta kebersihan rumah masih rendah. Lebih dari separuh jendela responden (69.menunjukkan bahwa tidak ada satu responden pun memiliki jenis lantai rumah berupa tanah.6%) yaitu ledeng/sumur terlindung/mata air terlindung (Tabel 20). Keberadaan kandang ternak di sekitar rumah juga berpengaruh terhadap kesehatan karena memudahkan penyebaran penyakit yang disebabkan oleh kotoran ternak. 2002b). dan sebanyak 94. Menurut Latifah et al.

bersih dan sehat dapat diperoleh dari air pompa. sumur tak terlindungi/mata air tak terlindungi c. sungai b.6 33.6 80.9 n 2 10 44 7 30 19 % 3. ≥10 m Jamban Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan najis manusia yang biasa disebut kakus.6%) dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m (Tabel 20).6 83. Kondisi tersebut menyebabkan sumber air tercemar oleh bakteri yang dapat dijadikan media penularan penyakit diare.6 12. Proporsi terbesar responden (53. Sebagian besar keluarga responden (80.9 .1 3.9 78. Oleh karena itu. ledeng/sumur terlindungi/mata air terlindungi Jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat a. <10 m c. Menurut Subandriyo et al. air sungai/air hujan/lainnya b. Tabel 21 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek kepemilikan jamban PHBS aspek kepemilikan jamban Tempat keluarga biasa buang hajat a. Menurut Depkes RI (1995) diacu dalam Amperansyah (1999) kakus digunakan untuk menyimpan kotoran (hajat). mandi.6 17. Sungai/pancuran b. Kamar mandi pribadi n 9 2 45 7 2 47 % 16.5 53. air ledeng.4%) melakukan aktivitas buang hajat yaitu di tempat kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik (Tabel 21). Tabel 20 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek sanitasi air PHBS aspek sanitasi air Sumber air minum. sumur yang terlindungi dan mata air yang terlindungi. sehingga tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan.4 12. (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan tempat penampungan kotoran minimum 10 m. Tidak punya b. cuci. Kamar mandi umum c. dan kakus a. kakus sendiri/kakus bersama tanpa tangki septik c. sangat disarankan bagi masyarakat memiliki kakus yang dilengkapi dengan tangki septik. kakus sendiri/kakus bersama dengan tangki septik Tempat keluarga mandi a.5 53.

lubang sampah terbuka c.9%) terbiasa membuang air limbah di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air (Tabel 23). Kondisi ini tidak sesuai dengan syarat kesehatan. Sampah Seluruh responden terbiasa membuang sampah bukan pada tempat yang semestinya. (2002c) bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik yaitu dapat menjadi tempat berkembangnya bibit penyakit (seperti cacing. Selain itu. sampah maupun air limbah. Lebih dari separuh responden (60. akan tetapi sebanyak 12.3% responden membuang sampah pada lubang terbuka (Tabel 22). Perilaku tersebut masih jauh dari perilaku hidup bersih dan sehat.Berdasarkan Tabel 21 sebagian besar responden (83. Air sungai/pancuran bukan merupakan sumber air yang bersih dan sehat. sehingga berdampak terhadap status kesehatan keluarga.0 .7%) terbiasa membuang sampah di tempat terbuka/di pekarangan dan tanpa dikumpulkan dan sebanyak 39. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan tempat berkembangbiaknya lalat yang dapat menularkan penyakit diare. Sehingga. (2002c) sampah yang tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan tumbuhnya kuman sebagai penyebab terjadinya diare. kemungkinan air sungai/pancuran tercemar oleh bakteri lebih tinggi dibandingkan dengan air di kamar mandi pribadi yang sumber airnya berasal dari ledeng atau sumur yang terlindungi. Menurut Latifah et al. Menurut Latifah et al. Hal ini disebabkan oleh tidak terlindunginya air tersebut dari kotoran baik tinja. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) sumber air yang tercemar merupakan salah satu media yang dapat menularkan penyakit diare. lubang sampah tertutup/dibuat kompos Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) Lebih dari separuh responden (67. mampu mengundang lalat yang mengakibatkan terjadinya penyakit.9%) melakukan aktivitas mandi di kamar mandi pribadi. Perilaku tersebut belum mencerminkan perilaku hidup bersih dan sehat.5% responden melakukan aktivitas mandi di sungai/pancuran. tempat terbuka di pekarangan dan tanpa dikumpulkan b.7 39. Tabel 22 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek penanganan sampah PHBS aspek penanganan sampah Tempat pembuangan sampah a. N 34 22 0 % 60.3 0. sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

0 32. Menurut Fogel dan Woods (1995) hal 431 diacu dalam Satoto (2004) perempuan yang tidak pernah melakukan pemeriksaan kehamilan tiga kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan berat badan rendah daripada yang memperoleh perawatan kehamilan yang memadai. . pemeliharaan kesehatan.4%). pemeliharaan kebersihan dan sebagainya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa alasan utama responden mengunjungi ketiga fasilitas pelayanan kesehatan tersebut adalah jarak yang dekat dan terjangkau.Tabel 23 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek SPAL PHBS aspek SPAL Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) a. terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta terjamin mutunya. Dukun b. Pemeliharaan kehamilan dimulai dari perencanaan menu yang benar.0 100. Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk menjaga kondisi kesehatan ibu hamil dan janinnya.0 n 38 0 18 % 67. Lebih lanjut Satoto (2004) menyatakan jarak rumah dengan tempat pelayanan kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam memilih tempat pemeriksaan kehamilan.8%) dan praktik bidan (51. sebagian besar responden menyatakan bahwa jarak ke Posyandu (96. Posyandu/Puskesmas/praktik bidan n 0 56 % 0.1 Nadesul (2005) menyatakan bahwa kehamilan merupakan masa yang sangat penting karena pada saat itu mutu seorang anak ditentukan. Berdasarkan Lampiran 1. Puskesmas (76. Tabel 24 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pemeriksaan kehamilan Pelayanan kesehatan Pemeriksaan kehamilan a. ke dalam tangki septik Pelayanan Kesehatan Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa seluruh responden biasa melakukan pemeriksaan kehamilan di Posyandu. Menurut Azwar (1979) pelayanan kesehatan yang baik harus memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yaitu sesuai dengan kebutuhan jasa pemakai pelayanan. di pekarangan/pada lubang terbuka dekat sumber air b.9 0. ke dalam lubang tertutup tanpa tangki septik c. Puskesmas dan praktik bidan.8%) adalah dekat. Kondisi janin yang sehat akan berdampak terhadap tumbuh kembang anak selanjutnya.

5%). Akan tetapi. Puskesmas dan bidan desa sangat murah karena pasien hanya membayar retribusi. bidan Puskesmas (94.9%).3%) adalah mudah.9%). bahkan mereka akan memperoleh vitamin secara gratis. lebih dari separuh responden (69. Hal inilah yang menyebabkan hubungan antara kader Posyandu dan responden dapat terjalin dengan baik. daya jangkau (biaya) juga dijadikan pertimbangan dalam melakukan pemeriksaan kehamilan.Selain jarak. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden.4% responden menyatakan bahwa saat persalinan dibantu oleh dukun paraji. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal antara kader Posyandu dan responden yang berdekatan karena merupakan warga setempat. Berdasarkan Tabel 25. Berdasarkan Lampiran 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden pernah mendapatkan informasi gizi dari kader Posyandu (92. lebih dari separuh responden pernah mendapatkan informasi gizi dari ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut yaitu dokter Puskesmas (57. Tidak berbeda halnya dengan dokter dan bidan Puskesmas serta praktik bidan. sebanyak 30. Apalagi di Posyandu.6%) dan praktik bidan (75. Selain itu. seluruh responden menyatakan bahwa kader Posyandu mudah dihubungi dan cara pelayanannya pun baik.4%). pasien sama sekali tidak dipungut biaya.6%) saat persalinan dibantu oleh bidan baik oleh bidan Puskesmas maupun praktik bidan. Hal ini disebabkan oleh pembagian jadwal tugas dokter yang berbeda antara kedua Puskesmas yang berada di Desa Cikarawang. Selain itu. Satoto (2004) menyatakan bahwa biaya pemeriksaan kehamilan di Posyandu. Berdasarkan Lampiran 1.9%) dan praktik bidan (64.2%) dan praktik bidan (64. Satoto (2004) . bidan Puskesmas (94. Puskesmas (83. dan praktik bidan (67. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa daya jangkau ke Posyandu (98. proporsi terbesar responden menyatakan bahwa ketiga petugas pelayanan kesehatan tersebut juga mudah dihubungi yaitu dokter Puskesmas (62. sehingga rasa kekeluargaan diantara mereka masih cukup tinggi. bidan Puskesmas (73. selain membantu persalinan dukun paraji juga ikut membantu memandikan bayi dan “ngurut” ibu setelah melahirkan sampai usia 40 hari kelahiran.2%). Hampir seluruh responden menyatakan bahwa cara pelayanan dokter Puskesmas (96.6%).0%) adalah baik.1%).3%). Pada umumnya baik bidan Puskesmas maupun praktik bidan lebih mudah dihubungi dibandingkan dengan dokter Puskesmas. Berdasarkan Lampiran 2.

Perawatan tersebut dilakukan sampai 40 hari dengan biaya yang relatif murah. proporsi terbesar responden (44. Tabel 25 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal pertolongan persalinan Pelayanan kesehatan Pertolongan saat persalinan a. makanan-makanan tersebut tidak baik dikonsumsi.4 69. Menurut BPS (2004) penimbangan anak balita merupakan salah satu upaya dari pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk melihat tumbuh kembangnya. Oleh karena itu. Secara umum responden hanya mendapatkan nasihat-nasihat berupa pantangan setelah melahirkan seperti tidak boleh makan yang manis (”bolu”). Sehingga.menyatakan bahwa dukun akan melakukan pemijatan pasca melahirkan untuk mengembalikan stamina tubuh ibu dan bayinya akan memperoleh perawatan sampai tali pusatnya lepas. responden lebih sering mengunjungi Puskesmas untuk berobat ketika sakit dibandingkan rumah sakit. Berdasarkan Lampiran 1 dapat diketahui bahwa lebih dari separuh responden menyatakan bahwa jarak ke tempat dukun paraji dekat (66. pisang.6%) menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi gizi dari dukun paraji. durian. Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa seluruh responden ikut dalam program Keluarga Berencana (KB).6%). Seluruh responden selalu membawa anak balita ke Posyandu untuk dilakukan penimbangan berat badan (Tabel 26). Berdasarkan hasil wawancara. Hal ini disebabkan oleh jarak dan daya jangkau ke rumah sakit jauh .6 Alasan utama responden menggunakan tenaga bukan kesehatan (dukun paraji) saat persalinan yaitu jarak yang dekat dan terjangkau. ubi. Menurut BPS (2006) program KB merupakan salah satu cara untuk menekan laju pertumbuhan penduduk. Berdasarkan Lampiran 2. talas. ikan asin. Puskesmas/praktik bidan n 17 39 % 30. daging kambing. kangkung dan sebagainya. mie instan. Dukun b. roti. buah nangka. sangat dianjurkan untuk seseorang yang sudah menikah atau Wanita Usia Subur (WUS) menerapkan program KB. Tabel 26 menunjukkan bahwa seluruh responden menyatakan selalu berobat ke tenaga medis ketika anggota keluarga sakit. Alasan dukun paraji yang mendasari pantangan tersebut yaitu rahim ibu masih luka.1%) dan mudah dijangkau (69.

dan sulit. Tidak ada satu responden pun yang memiliki kategori PHBS rendah. ini menunjukkan bahwa kesadaran responden dalam berperilaku hidup bersih dan sehat sudah cukup baik (Tabel 27). Pada umumnya responden mengunjungi rumah sakit ketika anggota keluarga mengalami sakit yang cukup parah sehingga membutuhkan pengawasan dan perawatan dokter yang cukup intensif. Notoatmodjo (1993) menyatakan bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya suatu tindakan. Tindakan yang didasari oleh .0 100.4% kategori sedang. rumah sehat.9% kategori tinggi.0 0. gizi seimbang.0 Berdasarkan pemaparan di atas mengenai aspek PHBS yang meliputi higiene.6%) memiliki PHBS termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 30. Puskesmas/praktik bidan/klinik/rumah sakit n 0 56 0 56 0 56 % 0. Akan tetapi. penanganan sampah dan SPAL serta pelayanan kesehatan dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (69.0 100.0 30.6 100. Ya Tempat berobat keluarga ketika sakit a.0 0.9%. Tabel 26 Sebaran responden berdasarkan PHBS aspek pelayanan kesehatan dalam hal program KB. penimbangan anak balita dan berobat ketika sakit Pelayanan kesehatan Program Keluarga Berencana (KB) a. Dukun b. masih ada responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah yaitu sebanyak 8. sanitasi air. Tidak b. Tidak b. Ya Penimbangan anak balita di Posyandu a.0 100.2%) memiliki tingkat pengetahuan gizi yang termasuk dalam kategori sedang dan sebanyak 42.4 69. Tabel 27 Sebaran responden berdasarkan kategori PHBS Kategori PHBS Rendah (24-38) Sedang (39-53) Baik (54-67) Total n 0 17 39 56 % 0.0 Pengetahuan Gizi Tabel 28 menunjukkan bahwa proporsi terbesar responden (48. kepemilikan jamban.

0 Tabel 29 menunjukkan bahwa secara umum responden dengan tingkat pengetahuan gizi rendah memiliki tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) juga.6%). Tabel 28 Sebaran responden berdasarkan tingkat pengetahuan gizi Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah (<60%) Sedang (60%-80%) Tinggi (>80%) Total n 5 27 24 56 % 8.9 100.0 50. Tabel 29 Hubungan antara tingkat pengetahuan gizi dengan pendidikan responden Tingkat Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi Total Tingkat Pendidikan SD/sederajat N 5 17 7 29 % 17.0 Berg (1986) menyatakan bahwa dengan tingkat pendidikan tinggi diharapkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang gizi pun menjadi lebih baik. jenis pangan sumber Fe (57.6%).9 48.0 100. .0 SLTP/sederajat n 0 7 13 20 % 0.1%) dan pemberian ASI eksklusif (41.0 100.0 50.1%). Kelima pertanyaan tersebut adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh (53.2 42.9 100.0 100. zat gizi untuk pertumbuhan (44.0 Total n 5 27 24 56 % 8.0 100.pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.0 0. Uji korelasi Spearman menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan gizi responden (p<0. Berdasarkan Lampiran 3 dapat diketahui bahwa terdapat lima pertanyaan pengetahuan gizi yang dapat dijawab responden kurang dari 60%.0 35.2 58.0 SLTA/sederajat n 0 3 3 6 % 0.01). Hal senada juga diungkapkan oleh Rahmawati (2006) bahwa ibu yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima pesan dan informasi mengenai gizi dan kesehatan.2 42. Hal ini mengindikasikan bahwa kelima pertanyaan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dibandingkan dengan pertanyaan lainnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pula tingkat pengetahuan gizi responden atau sebaliknya.0 Akademi/Dip loma/PT N % 0 0 1 1 0.9 48.6 24.1 100. jenis pangan karbohidrat (44.6%).0 65.

biskuit. Hanya 41.3 18 32. lama pemberian ASI eksklusif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah enam bulan. Ketidakmampuan responden menjawab kelima pertanyaan tersebut dengan benar kemungkinan besar disebabkan oleh rendahnya pendidikan responden. Marotz et al.1 26 46. mental. Pola Asuh Makan Pola asuh makan pada penelitian ini meliputi riwayat menyusui dan penyapihan. Tabel 30 menunjukkan bahwa sebanyak 75. responden sudah memberikan makanan pendamping ASI seperti pisang. cara memberikan makan dan cara mengapresiasi proses makan pada anak balita. Pola asuh yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. (2005) menyatakan bahwa masa anak balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilakuperilaku gaya hidup sehat. dan sosial.Pada umumnya responden mengetahui lama pemberian ASI eksklusif yaitu empat bulan.0 8 14.0 85. Dalam hal ini. susu formula.4 .9 53.1% responden yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Pola Asuh Menurut Soekirman (2000) pola asuh adalah dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan kembang sebaik-baiknya secara fisik.6 Tidak n % 42 75. Pada umumnya setelah anak berusia empat bulan bahkan kurang.0% responden tidak memberikan ASI eksklusif (6 bulan). Ibu memainkan peranan yang sangat penting dalam mendidik anak terutama pada masa anak balita. Karena pendidikan akan mempengaruhi tingkat pemahaman seseorang yang akan berdampak terhadap status kesehatan dan status gizi keluarga. Menurut Sukarni (1989) dan Madanijah (2003) tingkat pendidikan seseorang erat kaitannya dengan tingkat pengetahuan. orang tua harus mulai menstimulasi kesadaran anak mengenai isu-isu lingkungan. bubur bayi dan lainnya. Akan tetapi.7 67. cara mempersiapkan makanan. Tabel 30 Sebaran responden berdasarkan riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Riwayat menyusui dan penyapihan anak balita Anak diberi ASI eksklusif (ASI saja hingga 6 bln) Anak diberi kolostrum? ASI diberikan sesuai permintaan bayi? ASI diberikan sampai anak berusia 2 tahun? Ya n 14 48 38 30 % 25. cara memperkenalkan makan.

7%) memberikan kolostrum kepada anaknya.9%) memberikan ASI sesuai dengan permintaan dan memberikan ASI sampai usia 2 tahun (53.9%) memberikan makanan yang beragam kepada anak balita. Berdasarkan Tabel 30. sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan terhindar dari penyakit kekurangan gizi. Tabel 31 Sebaran responden berdasarkan cara memperkenalkan makan anak balita Cara memperkenalkan makan anak balita Anak dibiasakan mengonsumsi makanan beragam Pertimbangan ibu dalam memperkenalkan makan kepada anak berdasarkan faktor gizi Ibu membiasakan menyediakan kudapan untuk anak setiap hari Ibu memberikan makan kepada anak sebanyak tiga kali sehari Ya n 52 23 26 54 % 92.1 46.4 96.9 41. Tabel 31 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (92. Hal senada diungkapkan oleh Masithah.6%). Soekirman dan Martianto (2005) bahwa ASI dapat melindungi bayi dari infeksi intestinal. Kebiasaan ini sangat baik karena dengan memberikan makanan beragam mampu memperbaiki status gizi anak balita sehingga terhindar dari gizi kurang.6 Menurut Dinkes DKI Jakarta (2002) fungsi dari makanan yang beragam yaitu untuk melengkapi zat-zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. sebagian besar responden (85.1 58.4 Tidak n % 4 33 30 2 7. frekuensi memberikan makanan utama dan memberikan makanan kudapan. pertimbangan dalam hal memberikan makan karena faktor gizi. Sehingga tidak satu pun susu buatan manusia (susu formula) yang dapat menggantikan perlindungan kekebalan tubuh seorang bayi seperti yang diperoleh dari kolostrum. Kolostrum mengandung zat gizi untuk sistem kekebalan tubuh anak dari penyakit. Lebih dari separuh responden (67. Cara memperkenalkan makan untuk anak balita meliputi membiasakan mengonsumsi makanan beragam. sehingga dapat mengurangi risiko terserang diare. bahkan sangat mudah dan murah memberikannya kepada bayi (Dinkes DKI Jakarta 2002).6 3.9 53. Krisnatuti & Yenrina (2000) menyatakan bahwa kolostrum merupakan ASI yang dihasilkan selama beberapa hari pertama setelah kelahiran.Pemberian ASI eksklusif sangat bermanfaat karena ASI merupakan makanan yang paling sempurna untuk bayi. Akibat . Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA.

Mulai dari tahap persiapan. Pada umumnya responden memasak satu sampai dua kali sehari. sebagian besar responden (96.7 1. Menurut Pujiarto (2007) makanan yang dibiarkan lebih dari 2 jam mengakibatkan kuman tumbuh subur dalam makanan tersebut.5%) mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak balita.8 Berbeda halnya dengan kebiasaan memasak responden yaitu sebanyak 85.7% tidak melakukan aktivitas memasak tiga kali sehari (Tabel 32).6% tidak memberikan makanan kudapan setiap harinya kepada anak balita. Tabel 32 Sebaran responden berdasarkan cara mempersiapkan makan anak balita Cara mempersiapkan makanan anak balita Ibu mencuci tangan sebelum mempersiapkan makan untuk anak Ibu memasak makanan dalam sehari dilakukan secara bertahap (pagi. Kuman-kuman tersebut akan membentuk toksin yang tahan panas.3% responden menghangatkan kembali makanan sebelum dikonsumsi.3 98.1%) sudah memperhatikan faktor gizi sebagai pertimbangan dalam memberikan makan kepada anak balita (Tabel 31). Menurut Krisnatuti & Yenrina (2000) ada dua faktor yang harus diperhatikan untuk membentuk kondisi anak sehat yaitu makanan bergizi dan sanitasi (kebersihan). Keadaan ini berdampak pada kebiasaan responden yaitu sebanyak 53. Faktor kebersihan harus selalu dijaga pada setiap tahapan penyediaan makanan bayi. sehingga tidak dapat . sehingga sebanyak 89. Kurang dari separuh responden (41. siang. Sesuai dengan jawaban yang diperoleh dari responden saat wawancara dapat diketahui bahwa sebanyak 58.5 14.5 85. Berdasarkan Tabel 32 sebagian besar responden (87.3 89. maka akan terjadi gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anggota tubuh khususnya anak balita. sore/malam) Ibu terbiasa memanaskan/menghangatkan kembali makanan sesaat sebelum dikonsumsi Ibu selalu menutup makanan sebelum dihidangkan Ya n 49 8 50 55 % 87. pengolahan.7 10.9% responden memberikan makan anak balita sesuai dengan kondisi keuangan keluarga. Akan tetapi.4%) memberikan makan utama untuk anak balita yaitu tiga kali dalam sehari (Tabel 31). sampai penyajian termasuk kebersihan peralatan makanan yang akan digunakan.tidak mengonsumsi makanan yang beraneka ragam.2 Tidak n % 7 48 6 1 12.

Kalaupun makanan yang diolah bersisa.2% responden masih memberikan makan kepada anak balita dengan cara disuapi. lalat) dengan makanan.1 94. Tabel 33 menunjukkan bahwa sebagian besar responden (80.6% responden selalu melakukan kegiatan . Kebiasaan memasak secukupnya sesuai dengan kebutuhan.6 n 11 15 47 3 Tidak % 19. sebanyak 73. Sebagian besar responden (98. pada umumnya responden memberikan makan sambil jalan-jalan atau aktivitas lainnya.4%) sudah mulai membiasakan anak balita untuk makan sendiri. agar anak balita mau makan. Membiasakan menutup makanan sebelum dihidangkan dapat mengurangi kontak fisik serangga (kecoa.6 26.dihancurkan dengan memasak makanan tersebut. sebanyak 94.8 83. kalaupun mau makan itupun dalam jumlah yang sedikit. Sehingga. Akan tetapi.9% responden belum membiasakan anak balita makan di meja makan (makan bersama). pilih-pilih serta jarang habis.4 Tabel 33 menunjukkan sebanyak 83.2 16. merayu) Ya n 45 41 9 53 % 80. maka sebelum dilakukan proses menghangatkan makanan harus terlebih dahulu disimpan dalam lemari pendingin. sehingga makanan tersebut cukup aman untuk dikonsumsi dan mampu mengurangi penyebaran penularan penyakit yang membahayakan manusia. lebih baik dibandingkan dengan menghangatkan kembali makanan tersebut. Hal ini bertujuan untuk melatih kemandirian anak balita. Tabel 33 Sebaran responden berdasarkan cara memberikan dan mengapresiasi makan anak balita Cara memberikan makan anak balita Ibu membiasakan anak makan sendiri dengan asumsi sudah dapat memegang sendok dan memasukkan makanan ke mulut tanpa tumpah Ibu memberikan makan kepada anak dengan cara disuapi Ibu memberikan makan pada anak di meja makan (makan bersama) Cara mengapresiasi proses makan anak balita Ibu selalu berusaha agar anak menghabiskan makanannya (membujuk.9 5. Hal ini bertujuan agar makanan tetap terjaga kebersihannya. Oleh karena itu.4 73.2%) selalu menutup makanannya sebelum disajikan/disantap (Tabel 32). Hal ini dikarenakan anak balita tersebut belum bisa memegang sendok dengan benar sehingga saat memasukkan makanan ke dalam mulut masih tumpah. Responden mengeluh anak balita mulai sulit makan.

9% anak balita selalu menggunakan pasta gigi ketika menggosok gigi. Lebih dari separuh responden (52.6 100. Lebih lanjut Hurlock (1982) menyatakan penurunan nafsu makan anak disebabkan oleh penurunan tingkat pertumbuhan dan sebagian anak sudah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Akan tetapi.1% responden membiasakan anak balita agar menggunakan handuk yang sama dan milik pribadi (tidak gonta-ganti). Menurut Khomsan (2004) membentuk pola makan yang baik untuk seorang anak menuntut kesabaran seorang ibu.6% selalu menggunakan sabun ketika memandikan anak balita.apersepsi supaya anak balita mau makan misalnya dengan cara membujuk. Pada usia pra sekolah. Seluruh responden menyatakan bahwa selalu mengganti pakaian anak balita sehabis mandi dan sebanyak 91.0 .6%) membiasakan anak balita menggosok gigi ≥2 kali/sehari dan sebanyak 64. sebanyak 77. Apabila masalah makan ini berkepanjangan maka dapat mengganggu tumbuh kembang anak karena jumlah dan jenis gizi yang masuk dalam tubuhnya kurang. Oleh karena itu. anak sering mengalami fase sulit makan. Berdasarkan pemaparan di atas dari ke lima aspek pola asuh makan dapat diketahui bahwa sebanyak 71. Tidak ada satu responden pun yang memiliki pola asuh makan kategori rendah. n 0 40 16 56 % 0.0 71. merayu atau memberikan pujian. menurut Hardinsyah & Martianto (1992) perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat diperlukan.2% responden belum membiasakan anak balita menggosok gigi sebelum tidur dan setelah makan dan hanya 21. Tabel 34 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh makan Pola Asuh Makan Rendah (0-6) Sedang (7-11) Tinggi (12-16) Total Pola Asuh Kesehatan Berdasarkan Lampiran 4 dapat diketahui bahwa sebanyak 80.1% responden mulai membiasakan gosok gigi saat berusia ≤1 tahun (Lampiran 4).4% responden memiliki pola asuh makan kategori sedang dan sebanyak 28.4 28.6% kategori tinggi. Hasil penelitian mengenai kategori pola asuh makan dapat dilihat pada Tabel 34.4% responden membiasakan anak balita mandi dua kali dalam sehari dan sebanyak 94.

akan tetapi cukup dengan menggunakan tangan responden yaitu dengan cara “dielus-elus” (Lampiran 4). karena kuku yang panjang dan tidak terawat mampu menularkan penyakit. Sebanyak 46.8% responden sudah membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan saat berusia 1-2 tahun.5% menggunakan air bersih untuk mencuci tangannya. Hal ini sesuai dengan keterangan yang diperoleh saat wawancara bahwa rambut anak balita tipis dan pendek sehingga tidak perlu disisir untuk merapikannya. Lebih dari separuh responden (64. Curtis & Cairncross (2003) diacu dalam Rimbatmaja (2007) mencuci tangan dengan sabun merupakan metode paling sederhana untuk menanggulangi masalah diare. kebiasaan tersebut mampu mencegah terjadinya penyakit diare. Walaupun masih ada responden sebanyak 21. Sebanyak 67.9% anak balita sudah dibiasakan mencuci kaki sebelum pergi tidur oleh responden dan lebih dari separuh anak balita (53.4% responden membiasakan mencuci tangan anak balita sebelum makan dan sebanyak 87. sebanyak 64.3% responden membiasakan menyisir rambut anak balita 2-3 kali/hari. Menurut Notoatmodjo (2003) kotoran manusia (tinja) adalah sumber penyebaran penyakit yang dapat ditularkan melalui tangan manusia. Sebagian besar responden (89.6%) kadang-kadang dibiasakan untuk mencuci kakinya setelah bermain. Serta sebanyak 51.3%) tidak memperbolehkan .Sebanyak 77.4% yang menyisir rambut anak balita hanya 1 kali/hari. Sebanyak 71.3%) selalu menggunakan sabun ketika mencuci tangan anak setelah buang air besar dan sebagian besar responden (82.2% responden membiasakan mencuci rambut anak balita (keramas) sebanyak ≥3 kali/minggu dan sebagian besar anak balita (92.9%) keramas menggunakan sampo.4% responden sudah membiasakan anak balita menggunting kuku ≥3 kali dalam satu bulan dan sebanyak 39. Menurut Tjitarsa (1992).3% anak balita dibiasakan selalu menggunakan alas kaki ketika bermain atau berada di luar rumah.1%) sudah membiasakan anak untuk buang air besar pada tempat semestinya yaitu kamar mandi (Lampiran 4). Praktik mencuci tangan dengan sabun oleh pengasuh anak balita dapat mengurangi risiko anak balita terkena diare sebanyak 42-47% Kebersihan kuku juga sangat penting untuk diperhatikan. Selain itu. Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan dan sesudah buang air besar dengan sabun dan air bersih sangat penting dilakukan karena dapat menghilangkan kuman-kuman yang menempel di tangan.

pola asuh kesehatan yang dilakukan terhadap anak balita perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh karena anak balita belum mampu untuk merawat dirinya sendiri. Tabel 35 Sebaran responden berdasarkan kategori pola asuh kesehatan Pola Asuh Kesehatan Rendah (24-39) Sedang (40-55) Tinggi (56-72) Total n 0 25 31 56 % 0.0 Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang sangat signifikan antara PHBS ibu dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan (P<0. Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan.4%) memiliki pola asuh kesehatan termasuk dalam kategori tinggi dan sebanyak 44. memberikan makan dan menjaga kebersihan anak balita. Akan tetapi. Lingkungan rumah yang bersih akan menciptakan lingkungan nyaman yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang.9%) sudah membiasakan anak balita untuk membuang sampah pada tempatnya (Lampiran 4). kondisi fisik masih lemah dan kepekaan terhadap serangan penyakit juga tinggi. sedangkan pengetahuan gizi ibu tidak berhubungan signifikan dengan kedua pola asuh tersebut. .anak balita bermain tanpa memakai celana dan separuh responden (50. Menurut Entjang (1985) lingkungan hidup merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan seseorang.0%) kadang-kadang memperbolehkan anak balita bermain tanah (Lampiran 4). Pola asuh kesehatan seperti ini cukup baik.4 100.6% kategori sedang (Tabel 35). karena dengan membuang sampah pada tempatnya mampu menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya. Menurut Rahayu (2006). Berdasarkan pemaparan di atas dapat diketahui bahwa proporsi terbesar responden (55. sebagai contoh yaitu mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempat semestinya.01).0 44.6 55. terdapat kecenderungan apabila pengetahuan gizi ibu baik maka kedua pola asuh tersebut pun akan baik. Lebih dari separuh responden (58. Pengetahuan gizi ibu yang baik akan membentuk perilaku yang baik pula seperti dalam hal perilaku bersih dan sehat. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk mulai menanamkan tentang perilaku-perilaku gaya hidup sehat.

0 54 100. Tabel 37 menunjukkan bahwa secara umum anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) mengalami diare selama tiga bulan terakhir.6 46.6 100. Bayi dan balita memiliki sistem imunitas tubuh yang masih lemah.4 100.6 100.4 0.7%) dibandingkan dengan anak balita yang memiliki umur >23 bulan.5 4 25.0 .5% dan 25.0 24 44. Tabel 37 Kaitan antara berat badan lahir anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total N 2 0 2 Berat Badan Lahir BBLR Non BBLR % n % 100.0 30 55. sehingga sangat mudah terserang penyakit infeksi.Kaitan antara Karakteristik Anak Balita dengan Diare Anak Balita Tabel 36 menunjukkan bahwa anak balita dengan umur ≤23 bulan mengalami diare lebih tinggi (66. Muniasir (2007) menyatakan bahwa umur seseorang erat kaitannya dengan sistem imunitas tubuh.0 Uji korelasi Spearman menunjukan terdapat hubungan yang negatif dan sangat signifikan (p<0. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh variasi data penelitian mengenai BBLR yang relatif kecil.0%. Persentase anak balita yang mengalami diare dengan umur 24-36 bulan dan ≥37 bulan berturut-turut yaitu 45.0 16 100.0 Umur (bulan) 24-36 ≥ 37 N % N % 10 45.01) antara umur anak balita dengan diare.0 Total n 26 32 56 % 53.0 12 54. Alisyahbana (1983) diacu dalam Firlie (2001) menyatakan bahwa bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki daya tahan terhadap penyakit juga lebih rendah.5 12 75.0 Total n 26 32 56 % 46.4 53. Namun. hasil analisis korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara berat badan lahir anak balita dengan diare.7 33. salah satunya diare.3 100. Sistem imunitas tubuh berkembang sesuai dengan umur seseorang. Tabel 36 Kaitan antara umur anak balita dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total n 12 6 18 ≤ 23 % 66. Semakin tinggi umur anak balita maka tingkat diare semakin rendah.0 22 100.

Semakin tinggi pendidikan responden maka PHBSnya pun semakin tinggi pula. Responden dengan tingkat pendidikan di atas SLTP/sederajat. sebagian besar memiliki PHBS kategori tinggi yaitu SLTP/sederajat (41.4 2. 0.0 30.8%).0 Tinggi n 16 16 6 1 39 12 16 11 39 % 41.7 10.01). Menurut Notoatmodjo (1993) tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Persentase tersebut lebih besar dibandingkan dengan responden yang berumur 31-50 tahun (28.0 100.4%) dan akademi/diploma/PT (2.0.0%) memiliki PHBS kategori tinggi. SLTA/sederajat (15. Hasil analisis menunjukkan umur responden tidak berhubungan signifikan dengan PHBS. Hasil analisis juga menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan gizi responden (p<0.2 100.8%) dan 20-30 tahun (41.Kaitan antara Karakteristik Keluarga dengan PHBS. Tabel 38 Kaitan antara karakteristik keluarga dengan PHBS PHBS Karakteristik Keluarga Tingkat pendidikan ibu SD/sederajat SLTP/sederajat SLTA/sederajat Akademi/Diploma/PT Total Umur (tahun) 13-19 20-30 31-50 Total Sedang n % 13 4 0 0 17 6 9 2 17 76.8 100. Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan Tabel 38 menunjukkan sebagian besar responden (76.0%).0 32. .8 100.6 23.6 100.8 35. Tingkat pendidikan erat kaitannya dengan tingkat pemahaman atau pengetahuan seseorang terhadap perawatan kesehatan dan kesadarannya terhadap kesehatan anak-anak dan keluarga.1 44.5%) dengan tingkat pendidikan rendah (SD/sederajat) memiliki PHBS kategori sedang.3 52. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan antara tingkat pendidikan dengan PHBS responden (p<0.9 11.6%).8 41.5 23.8 100.0 41.0 Tabel 38 juga menunjukkan responden dengan umur 13-19 tahun (30.0 35.01).0 n 29 20 6 1 56 18 25 13 56 Total % 51.7 1.0 28.5 0. Pengetahuan Gizi.0 15.

Selain itu juga.1%) dibandingkan anak balita dengan PHBS responden kategori sedang (26. Kaitan antara PHBS. mandi. tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur dengan tingkat pengetahuan gizi responden. PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya (Depkes RI 2006). air tetap terjaga kebersihannya dan aman untuk dikonsumsi atau digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (minum. . hasil analisis menunjukkan bahwa umur dan tingkat pendidikan responden tidak memiliki hubungan yang signifikan baik dengan pola asuh makan maupun dengan pola asuh kesehatan.3 100. Tujuannya adalah supaya tidak terjadi interaksi antara mikroorganisme dengan air yang biasa digunakan untuk kebutuhan hidup seharihari. Pengetahuan Gizi.7 100.1 66. Analisis korelasi Spearman menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS responden dengan diare anak balita.9 33. kebiasaan membuang sampah dan SPAL responden yang belum sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat.6 100. Sehingga.0 Aspek PHBS yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran. Hasil penelitian menunjukkan proporsi terbesar responden dalam hal jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran ternak/tinja/air limbah terdekat masih kurang baik karena berjarak <10 m.4 53.0 n 19 20 39 Tinggi % 73. Menurut Subandriyo et al.0 n 26 30 56 Total % 46.Namun. Tabel 39 Kaitan antara PHBS responden dengan diare anak balita PHBS Diare Diare Tidak Diare Total n 7 10 17 Sedang % 26.9%). Pola Asuh Makan dan Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Kaitan antara PHBS dengan Diare Anak Balita Berdasarkan Tabel 39 dapat diketahui bahwa kecenderungan anak balita dengan PHBS responden kategori tinggi mengalami diare lebih besar (73. cuci dan kakus). (1997) sumur yang baik harus memenuhi syarat antara lain jarak sumur dengan kamar mandi (tempat penampungan kotoran) minimum 10 m.

Bahaya yang ditimbulkan air limbah jika tidak ditangani dengan baik antara lain dapat menjadi tempat perkembangan bibit penyakit (seperti cacing. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) penggunaan air yang sudah tercemar tersebut dapat dijadikan media pencemaran penyakit diare. Tidak berbeda halnya dengan SPAL responden.3%). Akan tetapi.0 Total n 24 32 56 % 46.0 18 66.0%.3%) dan tinggi (58. Selain itu.7 10 41.3 14 58. Sampah yang dibiarkan di tempat terbuka dapat dijadikan media berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan penyakit diare.3 2 40.7 5 100. sampah juga mampu mencemari sumber air. hasil uji korelasi Spearman tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita.Berdasarkan yang telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya mengenai aspek PHBS. (2002c) air limbah merupakan air buangan yang kotor dan sangat berbahaya bagi kesehatan.0 27 100. secara umum mereka membuang sampah di pekarangan dan lubang sampah terbuka.6 100.0 9 33. sebagian besar responden membuang air limbah bukan pada tempat semestinya yaitu di pekarangan. Keadaan ini juga mampu mencemari sumber air.0 24 100. Perilaku seperti ini sangat jauh dari indikator perilaku hidup bersih dan sehat. kuman penyakit diare dan penyakit kulit) dan penyakit diare.0 tempat berkembangbiaknya lalat yang bisa menularkan .) dibandingkan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu kategori sedang (33. Pembuangan air limbah harus memenuhi syarat kesehatan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap kehidupan manusia. dapat diketahui bahwa seluruh responden tidak membuang sampah pada tempat yang semestinya.4 53. Kaitan antara Pengetahuan Gizi Ibu dengan Diare Anak Balita Tabel 40 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan anak balita dengan tingkat pengetahuan gizi ibu rendah mengalami diare lebih besar (60. Menurut Latifah et al. Namun. Tabel 40 Kaitan antara pengetahuan gizi ibu dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pengetahuan Gizi Rendah Sedang Tinggi n % n % N % 3 60.

4 53. Pemberian ASI eksklusif erat kaitannya dengan meningkatnya kekebalan tubuh seorang anak. Namun. Kaitan antara Pola Asuh Kesehatan dengan Diare Anak Balita Tabel 42 menunjukkan ada kecenderungan ibu dengan pola asuh kesehatan kategori sedang memiliki persentase anak balita yang mengalami diare lebih besar (48.0 14 45.6 100. Tabel 41 Kaitan antara pola asuh makan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh makan Sedang Tinggi n % n % 16 40.0 16 100.0 17 54.0 Total n 26 30 56 % 46.0 Total n 26 30 56 % 46.0 31 100. Tabel 42 Kaitan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita Diare Diare Tidak Diare Total Pola asuh kesehatan Sedang Tinggi n % n % 12 48.6 100.0 Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita yaitu kebiasaan ibu dalam hal mencuci tangan anak balita sebelum makan. Menurut Soekirman (2000) ASI mengandung zat kekebalan yang mampu melindungi anak dari penyakit infeksi terutama diare dan ISPA. Dengan demikian. Sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anak balita.0 Aspek pola asuh makan yang diduga menjadi penyebab tingginya diare anak balita antara lain mengenai pemberian ASI eksklusif.5 24 60.5%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh makan kategori rendah (40.0 6 37.0%) apabila dibandingkan dengan ibu yang memiliki pola asuh kesehatan kategori tinggi (45.8 25 100.0%).Kaitan antara Pola Asuh Makan dengan Diare Anak Balita Tabel 41 menunjukkan bahwa ibu dengan pola asuh makan kategori tinggi memiliki anak balita yang mengalami diare lebih besar (62.2 13 52. hasil analisis juga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dengan diare anak balita.5 40 100. hasil analisis korelasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara pola asuh kesehatan dengan diare anak balita. Rendahnya kesadaran ibu dalam hal pembiasaan mencuci .4 53.0 10 62.2%).

Menurut Sadeque dan Ghosh (2005) salah satu kebersihan diri yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kesehatan anak balita yaitu dengan membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir separuh ibu menyatakan kadang-kadang membiasakan anak balita mencuci tangan sebelum makan. Lingkungan yang tidak bersih. Bahkan masih ada beberapa ibu yang tidak membiasakan mencuci tangan anak balita. . membiasakan anak balita menggunakan kamar mandi ketika buang air besar merupakan salah satu cara untuk menurunkan tingkat kejadian diare. Hal senada juga diungkapkan oleh Suririnah (2007) bahwa perilaku hidup bersih seperti kebiasaan mencuci tangan sebelum makan ikut mempengaruhi penularan atau penyebaran penyakit diare.tangan anak balita sebelum makan diduga menjadi penyebab tingginya diare pada anak balita. kemudian tidak membiasakan menggunakan sandal ketika keluar rumah dapat menjadi sumber penyebaran kuman dan apabila tidak dihambat penyebarannya maka dapat menimbulkan penyakit seperti diare. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh contoh belum dibiasakan menggunakan alas kaki (sandal) ketika keluar rumah. Selain kebersihan tangan dan kaki. kebersihan kaki pun harus diperhatikan. Menurut Dinkes DKI Jakarta (2003) tangan yang kotor dapat menjadi media penularan penyakit diare. Selain kebersihan tangan anak balita. Hasil penelitian menunjukkan masih ada beberapa ibu yang belum membiasakan anak balita buang air besar di kamar mandi.

dan tidak berhubungan signifikan dengan pola asuh makan dan pola asuh kesehatan. Proporsi terbesar responden memiliki PHBS (69.4%) serta pola asuh makan kategori sedang (71.01). Sedangkan umur ibu tidak berhubungan . akan tetapi mengalami malnutrisi pada masa lalu.1%) adalah perempuan. 6. 4. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan yang baik. Lebih dari separuh anak balita (66.05). Dengan demikian.1%) mengalami sakit selama tiga bulan terakhir dan hampir 50% anak balita mengalami diare dengan frekuensi tertinggi yaitu 2 kali dan lama sakit 1-3 hari. Tingkat pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan PHBS dan pengetahuan gizi. BB/U normal dan TB/U rendah dapat dikategorikan ke dalam status gizi normal. Proporsi terbesar (58. Secara umum responden memiliki PHBS. Hampir seluruh anak balita (91.9% 28. 3. Tingkat pendidikan pegawai ayah lebih tinggi dan (SLTA/sederajat) angkutan dibandingkan dan ibu (SD/sederajat). Proporsi terbesar umur anak balita (39.6%). proporsi terbesar pekerjaan ayah yaitu negeri/swasta jasa (33.6%) berada pada kategori usia muda (20-30 tahun).3%) berkisar antara 24-36 bulan dan 96. Status gizi anak balita dari ketiga indikator gabungan yaitu BB/TB normal.3%) maupun ibu (44.5 kg).9% dan 8. 2.9%).7%) merupakan keluarga besar (>4orang) dan hampir separuh umur baik ayah (39. sisanya tinggi dan rendah (42. TB/U) dengan diare (p<0.4% anak balita memiliki berat badan lahir cukup (≥2. Lebih dari separuh responden (60.4%).9%) pendapatan perkapita perbulan responden adalah >Rp 150 000. sedangkan ibu (75. Hasil analisis menunjukkan umur anak balita berhubungan sangat signifikan dengan diare (p<0. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara status gizi anak balita (BB/TB.KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.0%) tidak bekerja. Sedangkan anak balita dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare. 5.6%) dan pola asuh kesehatan kategori tinggi (55. Hampir 50% ibu memiliki tingkat pengetahuan gizi kategori sedang.00.

7. Selain itu. pendidikan gizi bagi ibu sangat dianjurkan untuk dilakukan khususnya yang berkaitan dengan PHBS (sanitasi lingkungan. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan menganalisis faktor-faktor risiko kejadian diare anak balita dengan menggunakan analisis regresi logistik. pola asuh makan dan pola asuh kesehatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan diare anak balita. Sedangkan. Aspek PHBS yang diduga menyebabkan diare anak balita adalah jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran <10 m. personal hygiene. Saran Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya diare pada anak balita hendaknya menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan. pengetahuan gizi ibu. aspek pola asuh makan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu sebagian besar ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya. mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. Sehingga. dan pelayanan kesehatan) serta pola asuh makan dalam hal pemberian ASI eksklusif dan penyiapan makanan sehari-hari. Selain itu. Kebersihan diri (personal hygiene) ibu dan anak balita sangat penting diperhatikan seperti menggunakan sumber air bersih dan sehat untuk Mandi. diperoleh informasi mengenai faktor dominan yang lebih berpengaruh terhadap kejadian diare anak balita. Aspek pola asuh kesehatan yang diduga menyebabkan diare anak balita yaitu berkenaan dengan kebersihan tangan dan kaki serta kebiasaan Buang Air Besar (BAB) bukan pada tempatnya. Pemerintah harus memprioritaskan penanganan masalah diare dengan membangun fasilitas pembuangan sampah yang memadai dan memenuhi persyaratan. menjaga kebersihan kamar mandi dan selalu menggunakan alas kaki khususnya ketika keluar rumah. PHBS. pola asuh makan maupun pola asuh kesehatan. dan Kakus (MCK). pembuangan sampah dan limbah bukan pada tempatnya. . pengetahuan gizi. membiasakan BAB di kamar mandi. masyarakat setempat hendaknya memperhatikan jarak sumber air dengan tempat penampungan kotoran dan Sistem Pembuangan Air Limbah (SPAL) yang memenuhi kriteria kesehatan.signifikan baik dengan PHBS. Cuci.

Hardinsyah. 2001. 1985. _____. 2004. 1992. 1979.diare.html [3 Oktober 2007]. Makasar: Proyek Peningkatan Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Peranan Gizi dalam Pembangunan Nasional. penerjemah. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Ekonomi Gizi. Harianto. Aronson SS. Bogor: Fakultas pertanian.gizi. Universitas Indonesia. [Dinkes] Dinas Kesehatan DKI Jakarta. [BPS] Biro Pusat Statistik. Jakarta: BPS. 2004. [terhubung berkala]. Laporan akhir penelitian studi kajian wanita. Martianto D. Statistik Kesehatan. 1986. Indikator Kesejahteraan Rakyat. 1999. Statistik Indonesia. Health and Safety in Child Care. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI. New York: HarperCollins. 1997. Jakarta: BPS. Ilmu Kesehatan Masyarakat.DAFTAR PUSTAKA Adnyadewi IGA. 2003. Gizi-Kesehatan Ibu dan Anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kota Bogor [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Statistik Indonesia. Gunarsa. . 2004. Diare. Bogor: PAU Pangan dan Gizi. Terjemahan dari: The Nutrition Factor. Jakarta: Citra Aditya Bakti. Herawati T. . Its Role in National Development. 2002. 2006. Peran anggota rumah tangga di dalam pengasuhan pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia. Diktat Mata Kuliah yang tidak dipublikasikan. Penyuluhan penggunaan oralit untuk menanggulangi diare di masyarakat. Firlie D. Berg A. Institut Pertanian Bogor. www. Briawan D. Gizi Terapan. 2006. 2005. Jakarta: CV Rajawali. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya keluarga. . Institut Pertanian Bogor. Bandung: Penerbit Alumni. 1993. Faktor risiko penyakit diare pada bayi di Provinsi Kalimantan Selatan: analisis data sekunder SDKI tahun 1997 [skripsi]. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. [terhubung berkala]. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bogor: Fakultas pertanian. Faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas anak baduta pada keluarga miskin dan tidak miskin [skripsi]. 1991. 2005. 1985.html [9 November 2007]. Zahara DN. Konseling Keluarga Mandiri Sadar Gizi (KADARZI). . Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Azwar A. Entjang I. [Depkes] Departemen Kesehatan RI. [terhubung berkala] www. Gunarsa. Amperansyah. . Majalah Ilmu Kefarmasian 1(1): 27-33. Hardinsyah. Jakarta: Penerbit Mutiara. Fakultas Pertanian. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Rumah Tangga. Jakarta: BPS. As’ad S. 2002. Institut Pertanian Bogor. Jakarta: BPS.

2002b. dan Suprapti. 2002a. Institut pertanian Bogor. Pedoman pengembangan kabupaten/kota percontohan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat. 2004. Kabupaten . Buku 1 Kebersihan Diri dan Lingkungan. sikap dan perilaku pengguna tanaman obat di desa Sukajadi. 2004. . Bogor: Fakultas Pertanian.farmasi. Buletin Penelitian Kesehatan 27(3 dan 4-1999/2000): 346-363. Psikologi Perkembangan. Herman.pdf [15 November 2007]. MD Djamaludin. 2000.dinkes-sulsel. Peranan Pangan dan Gizi untuk Kualitas Hidup.id/download/fkm/fkm-hiswani7. 1982. [terhubung berkala].pdf. Madihah. [23 uli 2008].ui. Jakarta: Erlangga. Evi D. Buku 8 Pengenalan Sampah dan Air Limbah. Menyiapkan Makanan Pendamping ASI. 2002. [3 Hiswani. Penelitian dalam rangka penerapan sistem pembuangan tinja dan sampah tepat guna Desa Pantai di Kabupaten Rembang dan Kabupaten Lamongan. Pengetahuan. 2005. www. http://library. Institut Pertanian Bogor. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. _________. 2003.usu. 2002c. Kabupaten Bogor dan faktor-faktor yang mempengaruhinya [skripsi].ac. Manda S. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. Jakarta: Puspa Swara. 2006. Fakultas Ekologi Manusia. Irianti S. Khairunnisak I. Buku 10 Mengenal Berbagai Penyakit dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan. Jakarta : PT Grasindo Anggota Ikapi. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Perkembangan Anak Jilid 2.pdf.id/pdf/2004/v01n01/Harianto010104. penerjemah.ac. 2002d. M Zarkasih. Nurahmi.www. Latifah M. Hurlock EB. Kecamatan Tamansari. M Tjandrasa. Wahida S. 1993. Faktor-faktor predisposisi yang berhubungan dengan keluarga mandiri sadar gizi (KADARZI) di Kecamatan Banua Lawas. Krisnatuti D dan Yenrina R. 2000. Buku 5 Rumah Sehat. Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang kejadiaannya sangat erat dengan keadaan sanitasi lingkungan. Ed ke-5. Zalbawi S. Institut Pertanian Bogor. .go. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat. Bogor: Kerjasama Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor. . 2005. Sumali MA. [terhubung berkala]. Khomsan A. Hubungan kualitas pengasuhan dan perilaku hidup sehat dengan status gizi dan kesehatan anak usia 3-5 tahun pada keluarga miskin di Kecamatan Bogor Barat [skripsi]. Jakarta: Erlangga. Bogor: Fakultas Pertanian.jurnal. Oktober 2007]. . Bogor: kerjasama pusat kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dengan Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.

Edisi ke-6. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Puspitawati H. Yogyakarta: Ando Offset. Model pendidikan “G1-PSI-SEHAT” bagi ibu serta dampaknya terhadap perilaku ibu. Environmental Sanitation Promotion: A Social. 2002. Desa Sukamantri. Muniasir Z. Hubungan pola asuh makan dan kesehatan dengan status gizi anak batita di Desa Mulya Harja. Ilmu Kesehatan Masyarakat. www. United State: Thomson Delmar Learning. [terhubung berkala].org. . Marie ZC. Universitas Indonesia. 2005. Masithah T. www. Health. Sadeque MU.koalisi. 2005.mosleh@bdonline. 2007. Bogor: Departemen Gizi Masyarakat dan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. 1997. 1993.php?kat=3&emonth=02&eyear=2007 &pg=hns-23k. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat. 2003. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat. Makanan Sehat untuk Ibu Hamil. Nadesul H. Rahmawati D. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. [terhubung berkala]. Bogor: Fakultas Pertanian. Pola Asuh-Asupan Nutrisi dan Pertumbuhan Anak. 2005. Marotz LR. 2006. New York: McGraw-Hill . parentsguide.com. Nasution. dan status gizi anak usia dini [disertasi]. R. Ed ke-8. [15 November 2007]. Jakarta: Ghalia Indonesia. 2007. 2006. Kemitraan dalam Mengatasi Masalah Gizi di Indonesia. 2003. Bogor: Fakultas Pertanian. Fakultas Pertanian. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Fakultas Ekologi Manusia. 2007. Rahayu S. Media Gizi dan Keluarga 29 (2):29-39.Tabalong Kalimantan Selatan tahun 2002 [skripsi]. 2003. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Ghosh SK. Tantangan bernama higinitas. Imunomodulator. Drajat M. Rimbatmaja. 2001.id/dsp_content.co. Institut Pertanian Bogor. Santrock JW. Pengantar Ekologi Keluarga. Safety. Institutional and Legal Challenge for the Rural Poor. Madanijah S. Life-Span Development. Pola asuh dan status gizi anak balita keluarga penerima dan bukan penerima Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (JPKMM) [skripsi]. Buku Ajar Metode Penilaian Status Gizi Secara Antropometri. and Nutrition for Young Child. Institut Pertanian Bogor. Jeanettia MR. Bogor [skripsi]. Diktat Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Institut Pertanian Bogor. Institut Pertanian Bogor. Jakarta: Rineka Cipta. Bogor: Fakultas Pertanian. Bukan Suplemen!. Notoatmodjo S. ___________ . lingkungan pembelajaran. konsumsi pangan. Bogor: Program Pascasarjana. [terhubung berkala]. Makalah Seminar Sehari. Jakarta : Rineka Cipta. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Puspa Swara. Status gizi dan perkembangan anak usia dini di taman pendidikan karakter sutera alam. Soekirman. 2007. Riyadi. Pujiarto P.

2004. 1989. Dewi MDH.jmpk-online. Institut Pertanian Bogor. www. Bandung: Penerbit ITB dan Universitas Udayana. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan. Subandriyo VU. Cianjur. Institut Pertanian Bogor. Kecamatan Cugenang. Provinsi Sulawesi Utara [tesis]. 2005. Saroso S. 1994. Sehat itu Hak: Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. Kondisi geografis dan sosial ekonomi hubungannya dengan pembangunan kesehatan serta kondisi rumah rehat di Desa Gasol dan Cijedil. Jakarta: Koalisi untuk Indonesia Sehat.articles. Sukarni. Soekirman. Tambingon HN. Fortworth: Rinehart and Winston. Bogor: Jurusan Gizi Masyarakat. Jawa Barat [skripsi]. 1989. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.diare. Pendidikan Kesehatan: Pedoman Pelayanan Kesehatan Dasar. Petunjuk Praktikum Kesehatan Masyarakat. Fakultas Pertanian. 1999. Fakultas Pertanian. Yuliarsih. www. 2005. www. Bandung: Eja Insani. Widyati R.com. Suhardjo. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.pdf. [terhubung berkala]. Institut Pertanian Bogor.htm.net/files/vol-08-02-2005-4. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi. 2004. Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): studi kasus di Kabupaten Bantul 2003. [terhubung berkala].Sari RA. Diare mendadak dan penanganannya. . 1991. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Tjitarsa IB. Turner JS. Departemen Pendidikan Nasional. Bogor: Pusat Antar Universitas. [3 Oktober 2007]. 2007. JMPK 8(2). 1997. Topatimasang. Suririnah. Satoto. Ilmu Gizi dan Aplikasinya untuk Keluarga dan Masyarakat. 1992. Institut Pertanian Bogor. Slamet Y. 1993. dan Yekti HE. 2007. 2000. 2002. Hygiene dan Sanitasi Umum dan Perhotelan. [3 Oktober 2007]. Sosial Budaya Gizi. Life-Span Development. [terhubung berkala]. ______. Solo: Dabara Publiser. Ed ke-4. Sinaga D. Pola pengasuhan ibu anak berdasarkan gender dalam keluarga ibu bekerja dan tidak bekerja serta kaitannya dengan status gizi anak balita di Kota Madya Manado.infoibu. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Fakultas Pertanian.php. Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil dan Bersalin: Antara Harapan Hidup dan Kenyataan Kematian. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. Diare. [3 Oktober 2007]. Mubasysyir H. Sumali MA. Helms DB. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan.

LAMPIRAN .

6 5.9 100 10.57 23.0 n 19 2 13 27 51 56 Jauh % 33.8 8.3 16.8 12.1 35.2 83.4 100.6 25 48 43 32 39 54 49 53 52 48 23 44.6 92.9 26. 9.4 1.5 53.5 44.6 80.3 4 24 15 7 4 7 25 7.7 76.5 5.0 37.6 0 11 1.8 51.1 69.7 83.4 76. 2.1 100 n 39 55 47 36 9 4 Daya Jangkau Mudah % 69.6 Kemudahan Dihubungi Mudah n 8 35 53 38 56 6 28 % 14.5 94.8 Lampiran 3 Sebaran responden berdasarkan jawaban pengetahuan gizi No 1.4 19. 13.6 25 44. 10.9 64.9 3.9 10. 3. 7.7 14.2 64.1 73. 8.8 16.0 0.1 Kurang n 1 2 3 2 0 6 1 % 1. 12.6 75 100 12.6 67. 4.2 91. 11. cepat lelah dan lesu? Garam dapur yang bagaimana yang baik untuk digunakan? Apa yang terjadi pada bayi yang dilahirkan apabila selama masa kehamilan terjadi kekurangan zat besi? Apa akibat yang ditimbulkan bila anak kekurangan makan dalam jangka waktu yang lama? Apa akibat dari makanan dan minuman yang tidak bersih? Bagaimana cara yang baik dalam mempersiapkan botol atau tabung susu bayi? Sampai umur berapa sebaiknya bayi diberi ASI saja? Jawaban Benar n % 43 76.4 87.2 48.8 57.6 n 25 0 0 35 30 45 % 44.3 62.9 Lampiran 2 Sebaran responden berdasarkan persepsi terhadap petugas gizi dan kesehatan dalam hal informasi gizi.1 57.8 30 53.6 98.5 46.1 96.7 41.5 8. Pertanyaan Apakah yang dimaksud dengan zat gizi? Zat-zat gizi apa saja yang dibutuhkan oleh tubuh? Apa zat gizi yang berfungsi untuk pertumbuhan anak? Apakah ibu dapat menyebutkan jenis pangan yang termasuk sumber karbohidrat? Dapatkah ibu menyebutkan kelompok bahan pangan mana yang banyak mengandung zat gizi protein hewani? Apakah ibu dapat menyebutkan susunan menu yang baik? Dapatkah ibu menyebutkan jenis makanan sumber zat besi? Apa nama kondisi ibu jika selama masa kehamilan ibu mengalami pusing.93 37.93 0 12.Lampiran 1 Sebaran responden berdasarkan ketersediaann pelayanan kesehatan dalam hal kunjungan.1 . 6. jarak dan daya jangkau Jenis Pelayanan Kesehatan n Praktek Dukun Paraji Posyandu Puskesmas Praktek Bidan Klinik/Balai Pengobatan Rumah Sakit 31 56 56 21 26 11 Kunjungan Tidak Pernah pernah % 55.6 0.0 62.0 100.4 94.36 8.6 85.5 7.9 0. 14.4 n 37 54 43 29 5 0 Jarak Dekat % 66.1 12.5 94.1 42.93 n 12 54 53 42 56 7 32 Cara Pelayanan Baik % 21.9 85.8 3. 5.6 96.9 92.1 n 17 1 9 20 47 52 Sulit % 30.3 92.4 96.7 50 n 5 21 3 5 0 7 5 Sulit % 8.4 3.1 7. kemudahan dihubungi dan cara pelayanan Petugas Gizi dan Kesehatan Dokter RS Dokter Puskesmas Bidan Puskesmas Bidan Desa/Praktik Bidan Kader posyandu Mantri Dukun Paraji Informasi Gizi Tidak Pernah Pernah n % n % 9 32 41 36 52 6 8 16.5 57.

19. Tidak b.9 33. Tidak pernah b. 17.6 91. 1 kali/hari c. 2 kali/hari c. 4.3 0. 7. Kadang-kadang c.No 15.4 94. Tidak b. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi sebelum tidur? a. Pola Asuh Kesehatan Berapa kali anak dibiasakan mandi setiap hari? a. Kadang-kadang c. Selalu Berapa kali anak dibiasakan keramas setiap minggu? a.3 64.4 Lampiran 4 Sebaran responden berdasarkan pola asuh kesehatan No 1. Pertanyaan Pada usia berapa anak boleh diberikan makanan seperti orang dewasa? Apa yang dimaksud dengan diare? Apa yang ibu lakukan ketika anak mengalami diare? Kemana ibu biasa membawa anak berobat saat mengalami diare? Apa yang ibu berikan saat anak mengalami diare? Apakah kegunaan sabun yang dipakai saat cuci tangan? Jawaban Benar n % 46 40 53 53 54 54 82. 9. 12.6 28.0 100. Tidak pernah b. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. 11. Ya.0 5. 16. ≥ 3 kali/minggu Apakah anak setiap keramas menggunakan sampo? a. 1 kali/minggu b. Sejak anak berusia 1-2 tahun c. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setelah makan? a. 6.6 96.6 0. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap menggosok gigi menggunakan pasta gigi? a.4 94. Ya.3 21. ≥ 2 kali/hari Apakah anak dibiasakan menggunakan handuk bersih yang sama (tidak gonta-ganti) setelah mandi? a. 5.6 43. 1 kali/hari b. 3.0 5.4 3.2 8.0 80.1 71. 18.9 21.0 77.9 77.1 17.3 1. . Tidak pernah b.1 2.4 19. 20. Tidak pernah b.4 64. Ya. Kadang-kadang c. 8.2 0 7.3 14. 1 kali/hari b.8 12.0 0. Ya.8 7. Kadang-kadang c.0 14. Sejak anak berusia > 2 tahun b.1 28. ≥ 2 kali/hari Sejak kapan ibu membiasakan anak menggosok gigi? a. ≥ 3 kali/hari Apakah anak setiap mandi menggunakan sabun mandi? a.3 77. Ya. Ya. Selalu Apakah anak dibiasakan menyisir rambut? a. Selalu Apakah anak dibiasakan menggosok gigi setiap hari? a. Ya.5 52. ≥ 4 kali/hari Apakah anak dibiasakan mengganti pakaian setelah mandi? a. Selalu n 0 45 11 0 3 53 16 10 30 25 19 12 16 3 37 44 5 7 44 11 1 4 8 44 0 4 52 12 36 8 0 0 56 3 2 51 % 0.4 96.2 19.6 94. Kadang-kadang c. 10.1 92. 2 kali/minggu c. 1 kali/hari c. Tidak pernah b.1 5. 2-3 kali/hari c.

3 16. Selalu Apakah ibu meperbolehkan anak bermain tanpa memakai celana? a. Tidak pernah b. Tidak pernah b. 19.4 19. 23.6 30.6 58.7 1.7 1.4 32. 16.4 64. 6 4 46 0 16 40 2 32 22 9 30 17 50 0 6 1 17 38 15 28 13 12 11 33 10. Pola Asuh Kesehatan Apakah anak dibiasakan mencuci tangan sebelum makan? a.5 5. Kadang-kadang c.3 14.0 28. Selalu Apakah anak dibiasakan membuang sampah pada tempatnya? a. 15. .6 57.1 0.No 13.8 50. 24. 1-2 kali/bulan c.4 89. Tidak b. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki sebelum tidur? a.8 30. Kadang-kadang c. Tidak pernah b. Kadang-kadang c.4 30. Selalu Apakah ibu mencegah anak bermain tanah? a. Tidak pernah b.7 7. Sejak anak berusia ≤ 1 tahun Apakah anak setiap mencuci tangan sebelum makan menggunakan air bersih? a. Kadang-kadang c. 22. Kadang-kadang c. Ya. 20. Selalu Sejak kapan ibu membiasakan anak mencuci tangan sebelum makan? a. Selalu Apakah anak dibiasakan buang air besar pada tempat semestinya (kakus. Tidak pernah b.3 0.0 23.7 42.1 39.2 21. Kadang-kadang c.6 71. Kadang-kadang c./WC.1 51. Sejak anak berusia > 2 tahun b. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk menggunting kukunya setiap bulan? a.8 16.9 46. 17. jamban)? a. Selalu n 6 24 26 18 29 9 6 1 49 3 17 36 % 10. Selalu Apakah anak setiap mencuci tangan setelah buang air besar menggunakan sabun dan air bersih? a. Tidak pernah b.9 18. Tidak pernah b.8 87.1 53. Tidak pernah b.0 10. ≥ 3 kali/bulan Apakah anak dibiasakan memakai alas kaki ketika bermain/berada diluar rumah? a.4 67. Kadang-kadang c. Ya.9 26. 21.1 10.4 3.1 82. Tidak pernah b. Kadang-kadang c. Selalu Apakah anak dibiasakan untuk mencuci kaki setelah bermain? a. Sejak anak berusia 1-2 tahun c.

134 r= 0.292* Pola asuh makan p= 0.029 r= 0.095 p= 0.261 p= 0.074 p= 0.164 p= 0.275 r= 0.095 r= 0.203 p= 0.428 r= 0.293* p= 0.334 r= 0.486** p= 0.643 r= -0.586 r= 0.112 p= 0.191 r= -0.131 p= 0.052 r= -0.227 r= 0.258 r= 0.068 p= 0.350** p= 0.138 p= 0.391 r= 0.252 p= 0.026 p= 0.356 r= 0.000 r= 0.852 r= 0.897 r= -0.905 r= 0.020 r= -0.915 r= -0.018 - Keterangan:** Signifikan pada α 1% * Signifikan pada α 5% .013 r -0.122 p= 0.126 p= 0.059 p= 0.655 r= 0.184 r= 0.015 p= 0.330* p= 0.485 r= -0.486 r= 0.403 r= 114 p= 0.087 r= -0.134 r= 0.369 r= 0.Lampiran 5 Hasil analisis uji korelasi Spearman antar variabel Variabel Umur contoh BBLR Status gizi (BB/TB) Status gizi (TB/U) Umur ibu Pendidikan ibu PHBS ibu Pengetahuan gizi ibu Pola asuh makan Pola asuh kesehatan Diare anak balita Umur contoh BBLR p= 0.988 r= 0.000 r= -615** Umur ibu p= 0.097 p= 0.228 r= 0.440** Diare anak balita p= 0.117 p= 0.008 r= -0.999 r= 0.865 r= 0.100 r= -0.311 PHBS ibu p= 0.055 r= 0.222 p= 0.258 p= 0.061 r= 0.476 r= 0.007 p= 0.122 p= 0.413 r= 0.531** p= 0.016 p= 0.180 p= 0.001 r= 0.408 r= 0.113 Status gizi (BB/TB) p= 0.286 r= 0.177 p= 0.000 r= 0.310 r= 0.384** Pengetahuan gizi ibu p= 0.264* p= 0.076 Pendidikan ibu p= 0.619 r= 0.108 p= 0.154 p= 0.000 p= 0.961 r= -0.231 p= 0.000 r= 0.050 r= 0.004 r= 0.576 r= 0.145 p= 0.036 p= 0.476** p= 0.186 r= -0.095 p= 0.226 Status gizi (TB/U) p= 0.148 p= 0.063 p= 0.029 r= -0.164 Pola asuh kesehatan p= 0.179 p= 0.370 r= -0.023 p= 0.002 p= 0.791 r= 0.203 p= 0.