Está en la página 1de 21

PERKEMBANGAN PUISI DAN PROSA PADA MASA JAHILIYAH

Yaser Koto, 1106062670

Makalah Tugas Akhir Mata Kuliah Pengantar Kesusastraan Arab

Program Studi Arab Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

DAFTAR ISI
Pendahuluan.. 3 BAB I Puisi Definisi Puisi..... 4 Unsur-unsur Puisi...4 Struktur Fisik Puisi. 5 Jenis-jenis Puisi... 6 Puisi Klasik..............................7 Puisi Lama................................8 Puisi Baru. 8

BAB II Puisi di zaman Jahiliyah

Puisi pada zaman Jahiliyah9 Tema-tema Puisi zaman Jahiliyah....10 Macam Macam Bahar....11 Penyair arab paling terkenal di zaman jahiliyah.12 - zuhair bin abi sulma.12 - umrul qais14

- nabighah adz-zinyamyany.17

BAB III PENUTUP

PENDAHULUAN

Makalah ini membahas tentang perkembangan puisi pada masa Jahiliyah. Masa Jahiliyah memiliki batasan 150 tahun sebelum kedatangan Islam. Para pengkaji sastra memasuki fase pada 150 tahun sebelum kenabian, yaitu suatu masa dimana bahasan Arab mengalami kematangan dan puisi jahili lahir menggunakan bahasa periode itu.

Menurut pandangan bangsa Arab puisi adalah sebagai puncak keindahan dalam sastra. Sebab puisi itu adalah suatu bentuk gubahan yang dihasilkan dari kehalusan perasaan dan keindahan daya khayal. Dalam Bab II makalah ini di bagian isi akan dijelaskan lebih terperinci tentang teori Sastra Arab pada masa Jahiliyah.

A. Definisi Puisi Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan poet dan poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi. Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya. Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, katakata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi. Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur. Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi katakatanya berturu-turut secara teratur). Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam. B. Unsur- Unsur Puisi Unsur-unsur puisi meliputi (1) tema, (2) nada,
4

(3) rasa, (4) amanat, (5) diksi, (6) imaji, (7) bahasa figuratif, (8) kata konkret, (9) ritme dan rima. Unsur-unsur puisi ini, menurut pendapat Richards dan Waluyo dapat dipilah menjadi dua struktur, yaitu: (1) struktur batin puisi (tema, nada, rasa, dan amanat) dan (2) struktur fisik puisi (diksi, imajeri, bahasa figuratif, kata konkret, ritme, dan rima). C. Struktur Fisik Puisi (1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi katakata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. (2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka katakatanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik) (3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair (4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret
5

salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret rawarawa dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll. (5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. (6) Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam D. Struktur Batin Puisi (1) Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. (2) Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar (3) Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll. (4) Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya. E. Jenis-jenis Puisi (1) Puisi Dramatik : Puisi yang memiliki persyaratan dramatik yang menekankan tikaian emosional atau situasi yang
6

tegang, umumnya secara objektif menggambarkan perilaku seseorang, baik lewat lakuan, dialog, maupun monolog. (2) Puisi Lirik : Puisi yang memiliki persyaratan melodius dan kadang dibawakan, sang penyair sendiri , dan diringi music sebagai sebuah karya. (3) Puisi balada : Puisi yang memiliki persyaratan cerita tentang sebuah perjalan hidup sang penulis. (4) Puisi Epik : Puisi yang biasanya selalu dikaitkan dengan kisah-kisah klasik peperangan dan kepahlawanan yang menakjubkan dan sarat dengan pesan moral. F. Puisi Klasik Jenis-Jenis puisi klasik adalah: a. Pantun Puisi Melayu klasik yang paling tua dan popular ialah pantun. Pantun dikatakan popular kerana mempunyai bentuk struktural yang ringkas dan bersahaja. Jumlah barisnya juga pelbagai: ada pantun dua kerat, pantun empat kerat, enam kerat, lapan kerat, dan ada juga yang sepuluh kerat. Seterusnya, terdapat juga sejenis pantun yang rangkapnya berkait antara satu sama lain, dan dikenali sebagai pantun berkait. Namun pantun yang paling digemari merupakan pantun empat kerat. Dari sudut penggubahan, pantun dapat dicipta dengan mengikuti syarat-syarat di bawah ini: * setiap baris terdiri daripada 8 hingga 12 suku kata. * rima akhirnya (untuk pantun empat kerat) ialah a b a b. * ada pembayang dan juga maksud. Walaupun mudah membina baris-baris yang terdiri daripada 4 atau 5 perkataan (atau 8 hingga 12 suku kata), tetapi bukan semua yang terbina mempunyai nilai keindahan. Hal ini kerana pantun yang bermutu memiliki ciri-ciri semantik atau permaknaan yang menarik. Kerap kali unsur-unsur alam menjadi penghias pantun-pantun romantik. Manakala pantun-pantun yang bertema keagamaan, nasihat, lelucon dan sebagainya, didapati imej-imejnya disesuaikan dengan tema. b. Syair Syair merupakan sejenis puisi klasik yang kelihatan menyerupai bentuk pantun kerana suku kata untuk baris-barisnya menyerupai bentuk pantun. Akan tetapi, syair memiliki syarat-syarat lain yang berbeza daripada pantun. Syarat-syaratnya ialah:* setiap baris terdiri daripada 8 hingga 12 suku kata. * rima akhirnya ialah a a a a.

Syair tidak mempunyai pembayang. Rangkap syair terbina daripada maksud-maksud. Maksud atau isi syair biasanya merupakan cerita, atau berunsurkan nasihat. c. Gurindam Gurindam tidak mempunyai definisi dan konsep yang mantap. Gurindam berasal daripada bahasa Tamil yang bermaksud umpama.Terdapat beberapa khilaf atau pandangan yang berbeza antara para pengkaji. Ada pengkaji menyatakan bahawa gurindam tidak terikat dengan peraturan yang khusus. Terdapat pula pengkaji yang menyatakan bahawa rangkap gurindam terdiri daripada dua baris. Tetapi secara keseluruhannya, gurindam banyak mengemukakan nasihat, pandangan, atau gambaran sesuatu keadaan. d. Seloka Seloka dipercayai berasal daripada bahasa Sanskrit yang membawa maksud seperti juga gurindam iaitu umpama. Oleh sebab maknanya bersamaan dengan gurindam, maka sifat seloka juga tidak jauh berbeza daripada sifat gurindam dari sudut maksud atau isinya. Seloka memuatkan sindiran atau kiasan yang tajam. Bentuknya tidak terikat apada peraturan tertentu, namun ada juga yang berbentuk seperti syair G. Puisi Lama G.1. Ciri-ciri puisi lama: 1. Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya. 2. Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan. 3. Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima. G.2 Jenis-Jenis Puisi Lama 1. Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib. 2. Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris awal sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut isinya terdiri dari pantun anak, muda-mudi, agama/nasihat, teka-teki, jenaka. 3. Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek. 4. Seloka adalah pantun berkait. 5. Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat. 6. Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-aa, berisi nasihat atau cerita. 7. Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris. H. Puisi Baru Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama, baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Menurut isinya, puisi baru dibedakan atas:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Balada adalah puisi berisi kisah/cerita. Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup. Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan. Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik

Sejarah puisi zaman Jahiliyah (411-611)


Zaman Jahiliyah merupakan zaman sebelum diutusnya nabi Muhammad SAW. Zaman ini merupakan zaman yang sangat kacau. Orang-orang menyekutukan Allah dan terjadi kebobrokan moral yang sangat besar. Kebobrokan yang terjadi adalah bayi perempuan yang baru lahir dikubur hidup-hidup, perzinaan semakin merajalela, berhaji tanpa menggunakan pakaian sedikitpun, orang-orang mengagungkan para penyairdan mereka dijadikan sebagai pemimpin.

Pada zaman Jahiliyah antara suku-suku atau kabilah saling bermusuhan. Hal ini dijelaskan dalam alQur an surat al-Imron ayat 103 yang artinya adalah Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Hal inilah yang menggambarkan zaman Jahiliyah. Pada zaman ini penyair dijadikan sebagai pemimpin sebuah suku atau kabilah. Hal ini dikarenakan penyair Arab penyair Arab menjadi juru bicara untuk membuat sukunya menjadi damai dan sejahtera. Penyair Arab juga dianggap mempunyai pengetahuan supernatural, sehingga dapat berdialog dengan jin dan setan, sehingga dapat membebaskan sukunya dari gangguan kedua makhluk halus tersebut. Pada zaman ini ada sebuah pasar yang terletak di kota al-Athdia (berada di antara kota Mekah dan Thaif) yang bernama pasar Ukaz. Pasar in dijadikan sebagai tempat untuk berlomba puisi antara penyairpenyair terkanal. Penyair-penyair tersebut dijadikan sebagai tempat untuk berlomba npuisi. Puisi yang menang dalam lomba tersebut akan ditempel di dinding Ka bah. Puisi-puisi yang digantung disebut dengan al-Mualla qat. Puisi yang digantung di dinding Ka bah tersebut berbentuk seperti kalung, karenanya disebut dengan asSumut. Ada juga yang disebut dengan al-Mudzahhabat yang berarti puisi tersebut ditulis dengan emas. Ada juga yang menyebut dengan al-Qasha id al-Masyhuraat karena puisi yang digantung di dinding Ka bah merupakan puisi yang terkenal. Ada juga yang menyebutnya dengan as-Sab u at-Tiwal karena 9

orang-orang berpendapat bahwa puisi yang digantung ada tujuh buah. Puisi tersebut juga disebut alQasha id al-Tis u dikarenakan puisi yang digantung ada sembilan buah. Beberapa pendapat juga menyebutkan bahwa puisi yang digantung di dinding Ka bah terdiri dari sepuluh puisi, karena itu disebut denganal-Qasha idal- Asyru.Puisi Jahiliyah merupakan orisinalitas ekspresif. Hal ini berarti dalam puisi Arab Jahiliyah merupakan hasil karya berupa pemikiran penyair untuk mengekspresikan dirinya atau keadaan disekelilingnya. Mereka menambahkan ke dalam bahasa Arab karakter psikologis dan rasionalis mereka. Puisi pada zaman ini ada yang berpendapat bahwa irama / polanya berasal ketika mereka melakukan perjalanan panjang. Dalam perjalanan tersebut mereka membuat puisi yang iramanya berasal dari hentakan kaki unta. Hal ini yang membuat puisi Arab Jahiliyyah memiliki pola yang teratur. Pola tersebut disebut ilmu al- aruudh. Dalam ilmu al- aruudh kita dapat menegtahui pola dari puisi Arab Jahiliyah tersebut. Teori ini sudah menjadi aturan baku dan menjadi tolak ukur penentuan pola-pola puisi arab klasik. Hampir semua penyair menggunakan teori ini untuk membuat puisi mereka. Dan hal inlah yang membuat puisi Arab Jahiliyyah menjadi indah dan sangat berkesan.

Tema tema puisi pada Zaman jahiliyah


I. Al-Hamasat Al-Hamasat adalah tema puisi yang mengagung-agungkan kepahlawanan seseorang. Puisi tersebut mengagungkan keberanian, kejantanan, kehebatan, keperkasaan seseorang dalam melakukan sesuatu. Contoh kepahlawanan tersebut seprti menunggang kuda, menghancurkan musuh-musuh dalam peperangan, melindungi seorang perempuan dan lai sebagainya. II. Al-Fakhr Al-Fakhr adalah tema puisi yang membangga-banggakan kelebihan yang dimiliki oleh penyair atau sukunya. Kelebihan yang dimiliki oleh suku atau penyair tersebut dia tonjolkan dalam puisi / syair yang dia ciptakan. Contoh dari al-Fakhr adalah sifat berani, mulia, penolong dan sifat-sifat lain yang berhubungan dengan kebaikan. III. Al-Madah Al-Madah merupakan sebuah tema puisi Arab zaman Jahiliyah yang berisi puji-pujian kepada seseorang mengenai sifat-sifat baik yang dimiliki olehnya, akhlaknya yang mulia, tabiatnya yang terpuji, kemuliaan serta keberaniannya yang sukda menolong orang yang dalam kesulitan. 10

Tema al-Madah ini merupakan puisi yang paling banyak digunakan. Hal ini dikarenakan tema ini digunakan untuk mencari uang. Para penyair Arab menggunakan puisi ini untuk memuji para raja agar mendapatkan hadiah ataupun uang. IV. Ar-Ritsa Tema puisi ar-Ritsa ini mengungkapkan rasa putus asa, kesedihan, dan kepedihan seseorang. Penyair mengungkapkan kesedihannya melalui puisi atau syair yang dibuatnya tersebut. Kesedihan tersebut bisanya terjadi karena ditinggal oleh kekasihnya, keluarganya, temantemannya, ataupun orang terdekatnya. Penyair menggambarkan kesedihan yang mendalam melalui puisi yang diciptakannya. Akan tetapi terkadang penyair membuat puisinya yang membuat kiat berpikir tentang kehidupan ataupun kematian.. V. Al-Hija Al-Hija adalah tema puisi Arab Jahiliyah yang berisikan tentang kebencian, kemarahan, atau ketidaksukaan penyair terhadap seseorang atau suku lain. Penyair melampiaskan kebencian terhadap orang lain dengan membuat puisi sebagai ekspresi kekesalan dirinya terhadapa orang lain. VI. Al-Wasfu al-Wasfu yaitu suatu tema puisi Jahiliyah yang mendeskripsikan tentang keadaan alam yang ada di sekitar penyair. Jika seorang penyair sedang dalam perjalanan jauh dengan menggunakan unta, maka yang akan diceritakannya tentang unta, padang pasir dan panas matahari di waktu siang hari. Jika penyair sedang berada di Mekah, maka yang akan di gambarkan adalah Ka bah, Pasar Ukaz, penyair terkenal. VII. Al-Ghazal Al-Ghazal adalah suatu puisi Arab Jahiliyah yang bertemakan tentang wanita. Pada puisi ini yang digambarkan pada seorang wanita adalah wajah, rambut, mata, tubuh, dan bagian lain yang merupaan suatu keindahan dari wanita tersebut. VIII. Al-I tidzar Al-I tidzar adalah suatu puisi Arab Jahiliyah yang berisikan tentang permohonan maaf kepada seseorang agar kesalahannya diampuni. Penyair mengungkapkan penyesalan atasa ungkapan yang tidak berkenan yang pernah dikatakan sebelumnya. Tema ini dianggap paling susah dibandingkan dengan tema yang lainnya, karena kalau kata-katanya tidak bagus dan baik, belum tentu permintaan maafnya diterima.

11

macam-macam bahar
Bahar/Wazan Bahar/Wazan adalah tafilah Arudh yang diulang-ulang dengan tujuan membentuk syiir. Wazan disebut juga bahar, dinamakan demikian karena keberadaannya ibarat lautan yang apabila diambil segala sesuatunya, maka sesuatu itu tidak akan ada habis-habisnya. Menurut ahli Arudh, wazan syiir Arab Multazim terbagi menjadi 16 macam, yaitu: 1. Bahar Thawiil ( 2. Bahar Madiid ( 3. Bahar Basiith ( 4. Bahar Wafir ( 5. Bahar Kamil ( 6. Bahar Hazaj ( 7. Bahar Rajaz ( 8. Bahar Ramal ( 9. Bahar Sarii ( 10. Bahar Munssarih ( 11. Bahar Khafif ( 12. Bahar Mudhara ( 13. Bahar Muqtadhab ( 14. Bahar Mujtast ( 15. Bahar Mutaqarab ( 16. Bahar Mutadarak ( ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) ) )

Pernyair arab paling terkenal di masa jahiliyah


ZUHAIR BIN ABI SULMA
MENGENAL ZUHAIR BIN ABI SULMA

Zuhair bin Abi Sulma berasal dari bani Ghathafan dan dibesarkan dari keluarga penyair. Sejak kecil penyair ini belajar syair Dari pamannya sendiri yang bernama Basyamah bin Shadir dan Aus bin Hujur. Karena itu penyair ini telah tekenal sejak masa kecil. Selain bakatnya sudah muncul dari muda. Penyair ini disenangi oleh segenap kaumnya karena kepribadiaan dan budi pekertinya yang tinggi. Beliau sangat terkenal dengan kesopanan kata-kata syairnya, imajinasi dan pemikirannya banyak menggunakan kata-kata hikmat dan pemikiran yang matang dan banyak orang yang menjadikan syairnya sebagai contoh hikmat dan pemikiran kebijaksanaan. Sehingga tidak aneh jika pendapatnya selalu diterima oleh kaumnya.

Tidak hanya oleh kaumnya pendapatnya bisa di terima bahkan para kabilah-kabilah Arab lainnya dan pemukapemukanya seperti Haram bin sinan dan Harist bin Auf. Zuhair meminta kepada dua pemuka kabilah tadi untuk memberikan 3000 unta kepada pemuka kabilah itu sebagai persyaratan perdamaian karena kedua suku kabilah itu

12

sudah lama berperang hampir 40th dan kedua suku itu sangat mengidam-ngidamkan perdamain itu. Penyair itu turut andil dalam perdamain itu dan kedua pemuka kabilah tadi menyanggupinya karena kelihaian zuhair dalam memainkan lantunan Syairnya yang memuji kedua pemuka kabilah tersebut.

MENGENAL KARYANYA SYAIRNYA Tidak ada pertentangan dari pengamat, kritikus puisi bahkan para ahli sastrapun sepakat bahwa dalam hal menempatkan Zuhair sebagai salah seorang dari tiga tokoh terkemuka penyair arab jahili yang mengungguli para penyair selain mereka yakni Umrul Qais dan Nagibah. Untuk lebih mengenal sosok penyair ini mari kita lihat petikan bait syairnya yang banyak mengandung kata hikmat yang dapat dijadikan petuntuk bagi kehidupan.

# # # # # # # # #

Artinya : Aku telah jemu dengan beban hidup, dan barang siapa yang berumur sampai delapan puluh tahun, pasti ia akan jemu dengan beban hidupnya, aku dapat mengetahui segala yang terjadi pada hari ini dan kemarin tetapi aku tetap tak tahu akan hari esok, aku melihat maut itu datang tanpa permisi terlebih dahulu barang siapa yang didatangi pasti mati dan siapa yang luput diakan lanjut usia, barang siapa yang selalu menjaga kehormatannya maka di akan terhormat dan siapa yang tidak menghindari cercaan orang di akan tercela, barang siapa yang menempati janji akan tercela barang siapa yang terpimpin hatinya maka ia akan selalu berbuat baik, barang siapa yang takut mati pasti dia akan bertemu juga dengan maut walaupun ia naik ke langit dengan tangga (melarikan diri), barang siapa orang yang menolong tidak berhak ditolong maka dia akan menerima resikonya dan akan menjadikan penyesalan baginya.

Petikan-petikan bait Syair diatas kebanyakan mengandung kata-kata hikmat dan dengan imajinasi juga pemikiran yang mendalam sehingga penyair ini dianggap sebagai orang pertama yang dalam menciptakan kata hikmat dalam syair arab dan kelak akan diikuti oleh penyair lainnya seperti: Salih bin Abdul Kudus, Abu Thahilah, Abu Tamam, Mutanabby dan Abul Ala Maary Kalau kita perhatikan lebih dalam puisi diatas, hampir serupa dari Amsal (pribahasa) dan kata hikmah. Merupakan suatu hal yang menarik memadukan prosa dan syair pada masa itu, melihat banyak sekali penyair jahili yang

13

kurang mendalaminya beliau merupakan penyair pertama yang membuka pintu masuknya kata-kata hikmah dan amsal kedalam puisi arab. Syairnya singkat mudah dipahami namun isinya padat dan madahnya bagus menjauhi kebohongan, selalu memuji keadaan sebenarnya, ia bersyair selalu memuji orang dengan benar sebenar benarnya maksudnya kebenaran sifat yang dimiliki orang itu memang sudah teruji, terlebih syair diatas ini bertemakan dan menceritakan kehidupan seseorang harus hidup terhormat, menepati janji, suka menolong itu merupakan karakteristik orang arab yang hidup pada zamannya itu yang telah diihatnya dan dituangkan dalam syairnya oleh beliau. Dari pemilihan kata/diksinya sangat baik sekali. Kata-katanya sopan sedikit sekali yang menggunakan kata-kata buruk. Oleh karena itu puisinya sangat bersih dan sedikit sekali ada cercaan didalamnya. Jauh dari takid /komplikas kata dan maknanya.

UMRUL QAIS
MENGENAL UMRUL QAIS

Umrul Qais adalah penyair arab jahili yang hidup pada 150 tahun sebelum hijrah. Jululukannya Al-Malik Ad Dhalil (raja dari segala raja penyair), penyair ini berasal dari suku Kindah yang pernah berkuasa penuh di Yaman. karena itu penyair ini dikenal dengan penyair Yaman (Hadramaut). Umrul qais seorang anak raja Yaman bernama Hujur AlKindy, Ibunya Fatimah binti Rabiaah. Segi penyair ini sangat berpengaruh dalam kepribadian penyair ini, ia dibesarkan di Nejed dengan kehidupan dunia yang melimpah dan dalam lingkungan keluarga yang suka berfoyafoya. Kebiasaan buruknya penyair ini sering mabuk-mabukan, bermain cinta dan melupakan kewajibannya sebagai putra mahkota yang seharusnya mawas diri dan melatih diri memimpin masyarakat karena peringainya buruk ayahnya sering memarahinya dan akhirnya ia dibuang, diusir oleh ayahnya dari Istana.

Selama dalam pembuangan penyair ini mengembara kesegala penjuru jazirah Arab dan kelak pengembaraan inilah yang membawa pengaruh kuat dalam syairnya, karena dari pengalaman pengembaraan seluas itulah ia mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru baginya. Umrul Qais bergabung bersama orang-orang Badui, orang Badui ini sangat senang bergabung dengan Umrul Qais karena ia banyak harta dan pendukungnya. Ketika Umrul Qais sedang asyik berfoya foya, tiba-tiba datang kabar kematian ayahnya terbunuh ditangan Kabilah bani Asaf yang sedang memberontak kepada kekuasaan ayahnya. Kematian ayahnya itu menuntut Umrul Qais untuk kembali ke Nejed agar dapat membalas kematian orang tuanya. Panggilan itu tidak disambut baik oleh Umrul Qais, bahkan dengan sambil bermalas-malasan ia berkata: dulu semasa kecilku aku dibuang, kini setelah dewasa aku debebani oleh darahnya, biarkan saja urusn itu, sekarang adalah waktunya untuk mabuk-mabukan dan besok untuk menuntut darahnya. Namun tak lama kemudian penyair in berangkat menuju ke Nejed untuk menuntut balas kematiaan orang tuanya. Untuk melaksankan niatnya itu Umrul Qais terpaksa meminta bantuaan ke kabilah-kabilah Arab yang berada disekitarnya. Sehingga pertempuran ini berkecanuk lama dan akhirnya ia terdesak, melarikan diri menuju kekerajaan Romawi Timur (Bizantium) di Turki. Di tengah perjalanan penyair itu terbunuh oleh musuhnya dan

14

dimakam kan di kota Angkara Turki.

MENGENAL KARYA SYAIRNYA.

Sebagian besar ahli sastra Arab berpendapat bahwa puisi Umrul Qais dapat digolongkan pada kelas tertingi dari golongan penyair jahiliyah lainnya. Karena penyair ini banyak menyandarkan pada kekuatan daya khayalnya dan pengalamannya dalam mengembara, bahasanya sangat tinggi sekali dan isinya sangat padat. Umrul Qais dianggap orang pertama yang menciptakan cara menarik perhatian dengan jalan Istifokus Sohby yakni Cara mengajak orang untuk berhenti pada puing reruntuhan bekas rumah kekasihnya (tempat yang berhubungan dengan kisah cinta) sekedar mengenang masa indah yang telah berlalu akan cintanya.

Memang cara ini sangat menarik sekali, bila digunakan dalam syair Tasbib/ghazal yaitu Suatu bentuk atau jenis syair yang didalamnya banyak menyebutkan wanita dan kecantikannya, syair ini juga menyebutkan tentang kekasih, memuji atau merayu sang kekasih, juga membahas tempat tinggalnya dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kisah percintaan. Cara seperti ini sangat disenangi orang Arab (penyair Arab) dalam membuka setiap kasidahnya untuk perhatian orang. Umrul Qais juga dianggap sebagai penyair pertama dengan mensifati kecantikan seorang wanita dengan mengupamakannya dengan seekor kijang yang panjang lehernya, karena wanita yang panjang lehernya menandakan sebagai seorang wanita cantik dan rupawan. Orang yang mempelajari puisi karya Umrul Qais dengan mendalam maka dia akan mengerti bahwa keindahan syairnya terletak pada caranya yang halus dalam syair ghazalnya. Ditambah dengan istirah/kata kiasan dan perumpamaan. Sehingga banyak orang beranggapan bahwa dialah yang menciptakan perumpamaan dalam syair Arab. Hanya saja kadang-kadang syairnya tidak luput dari perumpamaan yang cabul/porno terutama ketika membicarakan kaum wanita, tetapi perumpamaan ini tidak mengurangi nilai syairnya karena kadar kecabulannya tidak terlalu berlebihan. Disamping itu perumpamaan kecabulannya tersebut merupakan kebiasaan bagi setiap penyair Arab dalam mengekspresikan sesuatu secara singkat, jelas, dan padat.

Ada satu contoh dari syairnya yang menunjukan kelihaian penyair ini dalam menggambarkan suatu kejadian atau peristiwa dengan gayanya yang khas sehingga bayangan yang ada seperti benar-benar terjadi. Untuk itu penulis akan mengutip syairnya Umrul Qais yang mengisahkan kepada kita tentang sesuatu kesusahan atau kegelisahan yang dialaminya pada suatu malam hari sebagai berikut: # # # #

Artinya: Malam bagaikan gelombang samudra menyelimutkan tirainya padaku, dengan kesedihan untuk membencanaiku, aku berkata padanya kala ia menggeliat merentang tulang punggungnya dan siap melompat

15

menerkam mangsanya, wahai malam panjang kenapa engkau tidak segera beranjak pergi yang digantikan pagi yang tiada pagi seindah kamu, Oh malam yang gemintangnya, bagaikan terjerat ikatan yang kuat.

Sebenarnya penyair ini akan mengutarakan betapa malang nasibnya. Dimana keresahan hatinya akan bertambah susah bila malam hari tiba. Karena pada saat itu dia merasakan seolah-olah malam sangat itu panjang sekali. Sehingga ia mengharapkan waktu pagi hari segera tiba, agar keresahannya akan berkurang, namun keresahan itu tidak jua berkurang walaupun pagi hari telah tiba. Contoh diatas merupakan bukti nyata akan kepandaian penyair ini dalam menggambarkan sesuatu keadaan. Sehingga keadaan atau peristiwa itu seakan-akan benar tejadi adanya. Contoh diatas memberikan gambaran kepada kita, bagaimanakah penyair itu memberikan gambaran yang sangat besar akan keresahan melandanya dan dialaminya pada waktu itu, sehingga baik pada waktu malam hari maupun pagi hari keresahan itu tetap saja mengikutinya seperti seseorang yang selalu diikuti bayangannya ketika hendak menggerakan kakinya dalam sinaran bulan purnama di malam hari yang segelap lautan.

Rahasia keindahan syair ini adalah penyair tidak menjelaskan atau menceritakan keresahan yang dialaminya secara langsung. Bahkan ia memberikan perumpamaan terlebih dahulu dan suatu permisalan yang dekat dengan pengertian aslinya, kemudian penyair ini mengajak sang malam hari tuk untuk berbicara dan bercakap-cakap layaknya seorang manusia diajak bicara.

Syair ini adalah syair yang abadi, tak lekang dimakan zaman karena imajinasi yang sangat kuat/daya khayalnya yang tinggit, dan maknanya dalam, isi pada syair ini kondisonal/situasional yakni ketika seseorang dilanda keresahan, kegelisahan, banyak masalah yang diderita, dan lainya, ketika membaca dan mendalami juga menghayati kandungan syair ini ia akan menemukan sesuatu kesamaan rasa, kesamaan konflik atau penokohannya. Karena seperti yang disebutkan penulis diatas, penyair ini tidak menceritakan dengan pasti apa konflik yang terjadi keresahan/masalah-masalah yang terjadi.

Keindahan syairnya terletak pada caranya pemilihan kata atau diksinya yang halus dalam syair ghazalnya.walaupun hidup dalam keadaan geografis alam yang keras tetapi tak mempengaruhi kata-katanya yang halus dan lembut dalam syairnya itu. Ditambah dengan istirah/kata kiasan dan perumpamaan. Sehingga banyak orang beranggapan bahwa dialah yang menciptakan perumpamaan dalam syair Arab Walapun terkadang syairnya mengandung sifat kebadwian dalam ungkapan kering dan kasar, dengan makna-makna yang seram. Tetapi imajinasinya sangat kuat sekali, kadang terlihat dalam membayangkan suatu yang keemasan yang menampilkanya indah sekali, maknanya memukau dan menusuk lerung hati yang paling dalam, tasbib/nasibnya (pelukisannya) lembut selembut kain sutra, wasfnya (pelukisan, narasi) akrab seakrab orang arab yang menjamu tamunya, mudah diserap dan dipahami karena penciptaanya seindah indahnya menggunakan imajinasi yang kuat. mungkian ada beberapa faktor mengapa tulisan, syairnya Umrul Qais bisa seperti itu yakni karena keadaan geografis wilayah yang ganas, pergaulannya dengan suku badui yang cendrung kasar tapi mungkin positifnya ia bisa mempunyai daya imajinasi yang kuat dan bebas mungkin karena bergaul dengan mereka yang notabene orang dan pikirannya bebas, terus yang terakhir keadaan psikologis dan sikis penyair ini pada masa usia masih beliau sudah mengalami guncangan yang cukup dahsyat, ia diusir dari surga dunianya yaitu istana ayahnya karena peringainya yang buruk.

16

Perlu diketahui latarbelakang penciptaan syair diatas menceritakan pengalaman dan kehidupan pribadi sang penyair itu sendiri. Pengalaman disini adalah pengalaman yang menyakitkan dan mengiris hatinya seperti kandas cintanya dengan sang kekasih Unaizah, keluarganya dibunuh dan kerajaan ayahnya runtuh oleh musuh, kalah dalam perang menuntut balas dendam kepada Bani Asaf, terus karena penyakit yang ia derita dan akhirnya sampai sang maut menjemput di kota Angkara Turki Bizantium waktu ingin meminta bantuan pada raja kekaisaran Romawi Timur (Bizantium).

Meskipun Umrul Qais dijuluki raja dari segala raja penyair tapi perlu diketahui orang Arab yang pertama kali menciptakan syair Arab ialah Muhalhil bin Rabiah Atthaghribi. ia dianggap menjadi orang pertama yang menciptakan syair arab, karena dari sebagian banyak syair bahasa arab yang ditemukan ialah hanya sampai zaman Muhalhil saja. Dari sekian banyak karya syair Muhalhil yang dapat diselamatkan hanyalah tiga puluh bait saja. Setelah zaman in barulah muncul penyair-penyair yang dipelopori oleh Umrul Qais dkk. Tak terbantahkan lagi pengaruh Umrul Qais dalam syair bahasa arab sangat kental, kendati Muhalhil atau orang arab sebelum Muhalhil sebagai pencetus tetapi sebagai penyair yang memberikan sumbangsih yang sangat besar, pengaruhnya abadi, dan banyak ditiru oleh generasi penyair masa jahiliah dan mungkin sampai sekarang generasi modern atau generasi selanjutnya yang akan mendatang.

NABIGAH ADZ-ZIBYANYANY
MENGENAL NABIGAH ADZ-ZIBYANYANY

Nama aslinya penyair ini adalah Abu Umamah Ziyad Bin Muawiyah. Ia dipangil Nabigah karena sejak muda pandai bersyair kata Nabigah sendiri berarti pandai bersyair, ia merupakan salah satu tokoh terkemuka para penyair arab jahili dan dewan hakim mereka dipasar ukaz. Ia penyair terbaik dalam menampilkan diksi/pemilihan kata, jelas dalam mengemukakan makna, dan lembut dalam permohonan maaf. Saya menemukan pendapat yang kontradiktif dalam kesejarahan gelar/penjulukan Nabigoh itu sendiri, pertama dalm bukunya Sejarah Kesustraan Arab, Ali AlMudhar, Yunus dan H Bey, Arifin dari Surabaya dan . Sastra Arab dan Lintas Budaya H. Wargadinata, Wildana dan Fitriani, dengan bukunya dosen saya sendiri Sastra Arab Jahili (Pra Islam), Terjemahan; Al-Adab Al-Arabiyah AlJahiliyah miliknya pak Bahrum benyamin. Pada buku yang terbitan Surabaya dan UIN Malang itu mengamini pendapat saya yang pertama tadi yakni Nabigah sejak muda pintar bersyair dan mempunyai arti pandai bersyair sedangkan dalm bukunya UIN Jogya Nabigah berarti muncul atau terkemuka, karena pemunculannya sendiri tibatiba dikala beliau sudah tua, setelah masa muda tidak pernah bersyair. Saya tidak terlalu mempermasalahkan masalah tersebut, karena saya masih tidak punya data yang valid untuk membahasnya tetapi pendapat ketiga buku ini mempunyai kesamaan penasiran kata Nabigah itu sendiri yakni ia adalah seorang yang pandai bersyair dan terkemuka dalam masyarakat setempat. karena selalu mendekatkan dirinya pada pembesar negeri.

Hampir seluruh umur hidupnya ia habiskan dikalangan keluarga raja Hira dan memuji mereka serta lama mendapingi Numan bin Al-Mundzir. Sehingga ia dijadikan kawan dan dimanjakan dengan kemewahan yang ada. Pernah diriwayatkan penyair ini dikalangan raja Hirah selalu memakai bejana dari emas dan perak. Hal ini tak lain untuk menujukan betapa pentingnya kedudukan beliau disisi raja Hira.

17

MENGENAL KARYA SYAIRNYA Sebagian besar ahli sastra arab mendudukan syair karya nabigoh pada dereta ketiga setelah Umrul Qais dan Zuhair bin Abi Sulma. Hanya saja penilaian itu sangat relatif sekali, karena pendirian seseorang berbeda tentunya. Namun demikian karya syairnya sangat tinggi nilainya, karena pribadi penyair ini sangat berbakat dalam bersyair. Maka tidak heran jika penyair ini diangkat sebagai dewan juri dalam setiap perlombaan membaca puisi. Yang berdeklamasi setiap tahun di pasar Ukaz. Para pengamat puisi arab jahili menempatkan Nabigah Adz-Zibyanyany Sebagai salah satu tokoh penyair arab jahiliah yang pertama. Bahkan sebagian dari mereka menjadikan puisinya menjadi titik puncak yang dicapai oleh syair arab jahili dari segi keindahan dan keharmonisan komposisinya. Dan banyak dari kalangan periwayat puisi yang memasukannya kedalam jajaran penyair muallaqot yang syairnya ditulis dengat tinta emas dan digantungkan dikabah. Puisinya teristimewa dengan keindahan kata, kejelasan makna, keindahan susunan dan sedikit kamuflase, sehingga orang yang suka kelembutan dari kalangan penyair seperti Jarir mengatakan bahwa ia adalah penyair arab jahili yang paling piawai. Ketergiurannya untuk mecari penghidupan dengan syair, justru membuka pemikiran baru dalam jenis puisi madhnya (pujian) serta melakukan perluasan dan perdalaman dalam puisi itu, sehingga ia mampu memuji dengan sesuatu yang kontradiktif; #

Artinya: sesungguhnya engkau adalah matahari, sedangkan para raja yang lain dalah bintang-bintang, bila kau terbit tak ada sayu bintangpun yang berani menampakan diri. Latar belakang syair ini pada suatu hari Nabighah hendak memuji raja Numan bin Munzir seorang yang paling disukai olehnya. Waktu itu ia melihat matahari yang sedang tebit dan terang. Oleh karena itu, raja Numan itu diumpamakan dalam Syairnya sebagai matahari yang terbit, jikalau matahari itu sedang terbit maka sinarnya itu akan mengalahkan senar bintang dimalam hari yang diibaratkan dengan raja-raja lain singkatnya ketika kekuasaan raja Numan datang maka kekuasaan raja-raja lain akan menghilang seperti bintang dimalam hari yang lenyap karena munculnya raja Numan sebagai matahari terbit yang terbit/berkuasa disiang hari. Dalam syair diatas di berimajinasi, mengkhayalkan dan perumpamaan sesuatu yang paling tinggi di alam sekitarnya. Maka yang dilihat hanyalah matahari. Karena penyair itu memisalkan raja itu bagaikan matahari yang terbit dari ufuk timur, bila matahari itu sedang terbit maka ribuan bintang yang menghiasi langit tidak akan tampak sinarnya lagi. Jadi penyair ini seolah olah berkata bahwa raja yang dipujinya itu adalah raja yang paling mulia dan lebih agung dari semua raja yang lain akan sirna seperti malam yang sirna oleh datangnya matahari yang menjadi siang.

Indah sekali syair bait diatas kendati kata simpel tetapi makna luas, ketika hendak menggambarkan kekuasaan

18

sang raja, penyair ini tidak lagi memberikan sesuatu permisalan saja. Bahkan dia menyebutkan bahwa diri raja pujaannya itu adalah matahari itu sendiri yang terbit diufuk timur sehingga segala sinar yang dating dari segala bintang dapat sirna. Letak keindahan syair ini ialah penyair ini tidak menyebutkan sang raja seperti matahri bahkan ia sendiri adalah matahari itu sendiri.

Dari segi diksi/pemilihan kata dan struktur bahasanya sederhana dan indah, mudah dipahami oleh semua orang juga harmonis lebih akrab dengan pembaca atau penikmat syair, kata-katanya lembut sehingga wajar saja ia dekat pembesar negeri, menjadi dewan juri perlombaan syair di pasar Ukaz tiap tahun dan disukai banyak orang.

Keistimewaan penyair ini adalah puisinya lebih indah dan kata-katanya lebih mantap, bahasanya sangat sederhana sehingga dapat mudah dimengerti semua orang. Para penyairpun tidak jarang meniru cara Nagibah maupun katakatanya dalam bersyair.

19

PENUTUP

Demikian sekedar ringkasan yang telah dipelajari di mata kuliah pengantar kesusastraan arab. Mohon maaf kiranya jika ada kesalahan pada penulisan di dalam makalah ini.

 

20

21