Está en la página 1de 15

ARTRITIS REUMATOID (Radang Sendi)

(Tugas Imunologi)

DISUSUN OLEH: NURLISA PURNAMAWATI (NIM:1004017039) KONVERSI 2010

UNIVERSITAS PROF. DR HAMKA MUHAMMADIYAH JURUSAN FARMASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Imunitas merupakan sistem mekanisme pada organisme yang

melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas untuk melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus serta menghancurkan zat-zat asing sehingga sel dan jaringan yang sehat dapat berfungsi seperti biasa. Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh seharusnya melindungi tubuh tetapi bila sistem imun mengalami gangguan, justru akan menyerang dan menghancurkan jaringan tubuh yang sehat. Gangguan ini disebut penyakit autoimun. Salah satu penyakit autoimun adalah Artritis Reumatoid (AR). Artritis Reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit yang tersebar luas serta melibatkan semua kelompok ras dan etnik di dunia. Penyakit ini merupakan penyakit autoimun, dimana pelapis sendi mengalami

peradangan sebagai bagian dari aktivitas sistem imun tubuh. Sebagian besar penderita menunjukkan gejala penyakit kronik yang hilang timbul, yang jika tidak diobati akan menyebabkan terjadinya kerusakan persendian dan deformitas sendi progresif yang menyebabkan disabilitas bahkan kematian dini. Tercatat lebih dari 10 % dari populasi penduduk dunia terkena penyakit Artritis Reumatoid (AR). Di Indonesia, kasus artritis reumatoid pada usia di atas 18 tahun diperkirakan 0,1 sampai 0,3 persen dari jumlah penduduk. Sedangkan pada anak dan remaja di bawah 18 tahun sekitar 1 banding 100.000 orang, ungkap Presiden Rheumatology Association of ASEAN di Jakarta (Isbagio, 2006). Menurut sensus penduduk pada tahun 1980, di Indonesia terdapat 16,3 juta orang (11%) yang berusia 50 tahun ke atas. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah penderita artritis reumatoid meningkat menjadi 9,99%

dari seluruh penduduk Indonesia (22.277.700 jiwa) dengan umur harapan hidup 65-70 tahun (Sensus, 2008). Dengan semakin banyaknya masyarakat yang mengidap penyakit ini maka diperlukan suatu kepedulian dari tenaga kesehatan seperti tenaga farmasi untuk berperan serta dalam pemberian informasi yang benar untuk penyakit tersebut. Melihat masalah diatas, maka penulis tertarik mengambil judul makalah tentang Artritis Reumatoid (RA).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Imunitas Imunologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kekebalan tubuh. Imunitas adalah perlindungan dari penyakit, khususnya penyakit infeksi. Sel-sel dan molekul-molekul yang terlibat di dalam perlindungan membentuk sistem imun. Sedangkan respon untuk menyambut agen asing disebut respon imun. Jadi, agen asing atau antigen adalah substansi yang dapat menyebabkan terjadinya respon imun, misalnya virus. Tidak semua respon imun melindungi dari penyakit. Beberapa agen asing seperti dapat menyebabkan penyakit sebagai konsekuensi akibat menginduksi respon imun. Ada beberapa pengelompokan mengenai sistem imun, yang terpenting adalah pengenalan self dan non-self. Pengelompokan lainnya adalah: imunitas umum dan spesifik, imunitas alamiah dan adaptif = bawaan dan didapat, imunitas seluler dan humoral, imunitas aktif dan pasif, serta imunitas primer dan sekunder. Bagian-bagian dari sistem imun adalah spesifik antigen (mereka mengenal dan beraksi melawan antigen khusus), sistemik (tidak terbatas pada lokasi infeksi awal, tetapi bekerja di seluruh tubuh) dan memiliki memori (mengenal dan meningkatkan serangan terhadap antigen yang sama pada waktu yang akan datang. Pengenalan self dan non self dicapai dengan setiap sel menunjukkan suatu penanda berdasarkan pada major histocompatibility

complex (MHC). Beberapa sel yang tidak menunjukkan penanda ini diperlakukan sebagai non self dan diserang. Kasus dimana terjadi gangguan pada toleransi diri sendiri, yaitu keadaan nonresposif yang normal terhadap antien diri sendiri dinamakan penyakit autoimun, misalnya Hashimoto tiroiditis (gangguan kelenjar tiroid), pernicious anemia (penurunan sel darah merah yang terjadi ketika tubuh tidak dapat dengan baik menyerap vitamin B12 dari saluran pencernaan), artritis reumatoid (radang sendi), systemic lupus erythematosus (SLE atau gangguan autoimun kronis, yang mempengaruhi kulit, sendi, ginjal dan organ lainnya), sjorgen sindrom (kelainan autoimun dimana kelenjar yang memproduksi air mata, myasthenia gravis (gangguan neuromuskuler yang melibatkan otot dan saraf) 2.2 Definisi Artritis Reumatoid (AR) Artritis Reumatoid

(AR) adalah penyakit sendi kronis dan

sistemis yang termasuk kelompok gangguan

auto-nimun. Bercirikan
Gambar 1. Sendi Normal dan Sendi Artritis Reumatoid (AR)

perubahan-perubahan beradang kronis dari

sendi dan membrannya (synovium) dan kemudian dekstruksi tulang rawan dengan perubahan anatomi. Peradangan sinovium dapat menyerang dan merusak tulang dan kartilago. Sel penyebab radang melepaskan enzim yang dapat mencerna tulang dan kartilago. Sehingga dapat terjadi kehilangan bentuk dan kelurusan pada sendi, yang menghasilkan rasa sakit dan pengurangan kemampuan

bergerak. Yang khusus dihinggapi adalah persendian tangan dan kaki, lutut, bahu, dan tengkuk.

2.3 Epidemiologi Artritis Reumatoid (AR) Artritis Reumatoid merupakan suatu penyakit yang telah lama dikenal dan tersebar luas di seluruh dunia serta melibatkan semua ras dan kelompok etnik. Prevalensi Artritis Reumatoid adalah sekitar 1 persen populasi (berkisar antara 0,3 sampai 2,1 persen). Artritis Reumatoid (AR) lebih sering dijumpai pada wanita, dengan perbandingan wanita dan pria sebesar 3:1. Perbandingan ini mencapai 5:1 pada wanita dalam usia subur. 2.4 Etiologi Artritis Reumatoid (AR) Penyebab Artritis Reumatoid (AR) masih belum diketahui. Faktor genetik dan beberapa faktor lingkungan, umur telah lama diduga berperan dalam timbulnya penyakit ini. Hal ini terbukti dari terdapatnya hubungan antara produk kompleks histokompatibilitas utama kelas II, khususnya HLA-DR4 dengan AR seropositif. Pengemban HLA-DR4 memiliki resiko relatif 4:1. Selain itu faktor auto imun dan metabolik juga diduga berpengaruh pada munculnya penyakit ini. 2.5 Gejala Artritis Reumatoid (AR) Gejala-gejala umum pada arthritis reumatoid adalah pada sendi terjadi pembengkakan, warna kemerahan, terasa hangat, bila ditekan terasa lunak dan disertai rasa sakit atau nyeri. Nyeri ini paling hebat waktu bangun pagi dan umumnya berkurang setelah melakukan aktivitas. Nyeri di waktu malam dapat menyulitkan tidur. Sendi-sendi menjadi kaku waktu pagi (morning stiffness), sukar digerakkan, dan kurang bertenaga, khususnya setelah bangun selama 1-2 jam lebih. Gejala lainnya adalah perasaan lelah dan malaise umum. Pada lebih kuang 20%dari pasien terdapat benjolan kecil (nodule), terutama di jeriji serta pergelangan tangan dan kaki.

Gambar 2. Gejala dan daerah yang dihinggapi Arthritis Reumatoid (AR)

Peradangan pada kelenjar mata dan mulut, yang dikenal sebagai syndrome Sjogren. Sindrom ini ditandai oleh mata yang kering akibat kerusakan kelenjar lakrimalis dan salivarius yang dimediasi oleh system imun. Sekitar 40% kasus terjsdi secara tersendiri (bentuk primer atau sindrom sika) dan 60% lainnya terdapat pada penyakit auto-imun lainnya, seperti arthritis rheumatoid. 90% sindrom sjogren adalah wanita berusia 35-45 tahun. 2.6 Patofisiologi Artritis Reumatoid (AR) Dari penelitian mutakhir diketahui bahwa patogenesis AR terjadi akibat rantai peristiwa imunologis sebagai berikut : Suatu antigen penyebab AR yang berada pada membran sinovial, akan diproses oleh antigen presenting cells (APC) yang terdiri dari berbagai jenis sel seperti sel sinoviosit A, sel dendritik atau makrofag yang semuanya mengekspresi determinan HLA-DR pada membran selnya. Antigen yang telah diproses akan dikenali dan diikat oleh sel CD 4+ bersama dengan determinan HLA-DR yang terdapat pada permukaan membran APC tersebut membentuk suatu kompleks trimolekular. Kompleks trimolekular ini dengan bantuan interleukin-1 (IL-1) yang

dibebaskan oleh monosit atau makrofag selanjutnya akan menyebabkan terjadinya aktivasi sel CD4+.

Gambar 3.. Patofisiologi Artritis Reumatoid (RA)

Pada tahap selanjutnya kompleks antigen trimolekular tersebut akan mengekspresi reseptor interleukin-2 (IL-2) Pada permukaan CD4+. IL-2 yang diekskresi oleh sel CD4+ akan mengikatkan diri pada reseptor spesifik pada permukaannya sendiri dan akan menyebabkan terjadinya mitosis dan proliferasi sel tersebut. Proliferasi sel CD4+ ini akan berlangsung terus selama antigen tetap berada dalam lingkunan tersebut. Selain IL-2, CD4+ yang telah teraktivasi juga mensekresi berbagai limfokin lain seperti gamma-interferon, tumor necrosis factor b (TNF-b), interleukin3 (IL-3), interleukin-4 (IL-4), granulocyte-macrophage colony stimulating factor (GM-CSF) serta beberapa mediator lain yang bekerja merangsang makrofag untuk meningkatkan aktivitas fagositosisnya dan merangsang proliferasi dan aktivasi sel B untuk memproduksi antibodi. Produksi antibodi oleh sel B ini dibantu oleh IL-1, IL-2, dan IL-4. Setelah berikatan dengan antigen yang sesuai, antibodi yang dihasilkan akan membentuk kompleks imun yang akan berdifusi secara

bebas ke dalam ruang sendi. Pengendapan kompleks imun akan mengaktivasi sistem komplemen yang akan membebaskan komponenkomplemen C5a. Komponen-komplemen C5a merupakan faktor kemotaktik yang selain meningkatkan permeabilitas vaskular juga dapat menarik lebih banyak sel polimorfonuklear (PMN) dan monosit ke arah lokasi tersebut. Pemeriksaan histopatologis membran sinovial menunjukkan bahwa lesi yang paling dini dijumpai pada AR adalah peningkatan permeabilitas mikrovaskular membran sinovial, infiltrasi sel PMN dan pengendapan fibrin pada membran sinovial. Fagositosis kompleks imun oleh sel radang akan disertai oleh pembentukan dan pembebasan radikal oksigen bebas, leukotrien, prostaglandin dan protease neutral (collagenase dan stromelysin) yang akan menyebabkan erosi rawan sendi dan tulang. Radikal oksigen bebas dapat menyebabkan terjadinya depolimerisasi hialuronat sehingga

mengakibatkan terjadinya penurunan viskositas cairan sendi. Selain itu radikal oksigen bebas juga merusak kolagen dan proteoglikan rawan sendi. Prostaglandin E2 (PGE2) memiliki efek vasodilator yang kuat dan dapat merangsang terjadinya resorpsi tulang osteoklastik dengan bantuan IL-1 dan TNF-b. Rantai peristiwa imunologis ini sebenarnya akan terhenti bila antigen penyebab dapat dihilangkan dari lingkungan tersebut. Akan tetapi pada AR, antigen atau komponen antigen umumnya akan menetap pada struktur persendian, sehingga proses destruksi sendi akan berlangsung terus.Tidak terhentinya destruksi persendian pada AR kemungkinan juga disebabkan oleh terdapatnya faktor reumatoid. Faktor reumatoid adalah suatu auto antibodi terhadap epitop fraksi Fc IgG yang dijumpai pada 7090 % pasien AR. Faktor reumatoid akan berikatan dengan komplemen atau mengalami agregasi sendiri, sehingga proses peradangan akan

berlanjut terus. Pengendapan kompleks imun juga menyebabkan terjadinya degranulasi mast cell yang menyebabkan terjadinya

pembebasan histamin dan berbagai enzim proteolitik serta aktivasi jalur asam arakidonat. Masuknya sel radang ke dalam membran sinovial akibat

pengendapan kompleks imun menyebabkan terbentuknya pannus yang merupakan elemen yang paling destruktif dalam patogenesis AR. Pannus merupakan jaringan granulasi yang terdiri dari sel fibroblas yang berproliferasi, mikrovaskular dan berbagai jenis sel radang. Secara histopatologis pada daerah perbatasan rawan sendi dan pannus terdapatnya sel mononukleus, umumnya banyak dijumpai kerusakan jaringan kolagen dan proteoglikan. 2.7 Diagnosis Artritis Reumatoid (AR) Diagnosis diterapkan berdasarkan gejala (simptom), riwayat penyakit, serta pemeriksaan fisik. Penunjang diagnosis yang diperlukan antara lain sinar-x yang pada umunya selama 6 bulan pertama belum menunjukkan kelainan sendi. Selain itu, di dalam darah dapat ditentukan adanya faktor rema (IgM), kenaikan laju endap eritrosit dan turunnya kadar hemoglobin (anemia), LED meningkat, leukosit normal atau meningkat sedikit, trombosit meningkat. Lebih khas lagi adalah tes endapan mucine dalam cairan synovial (diantara sendi) serta pemeriksaan mikroskopis dari nodule dan jaringan synovial, yang memperlihatkan kelainan-kelainan tertentu.

BAB III PEMBAHASAN

Sampai saat ini belum ditemukan suatu cara oencegahan dan pengobatan Atritis Reumatoid (AR) yang memuaskan. Pengobatan Atritis Reumatoid (AR) ini bertujuan untuk 1. Menghilangkan gejala peradangan/inflamasi yang aktif baik lokal maupun sistemik. 2. Mencegah terjadinya kerusakan pada jaringan. 3. Mencegah terjadinya deformitas atau kelainan bentuk sendi dan menjaga fungsi persendian agar tetap dalam keadaan baik. 4. Mengembalikan kelainan fungsi organ dan persendian yang mengalami AR agar sedapat mungkin menjadi normal kembali.

3.1 Terapi Artritis Reumatoid (AR) Dengan Obat-Obatan Terapi dengan obat bergantung pada tingkat kerusakan sendi yang terjadi akibat AR. Beberapa kombinasi pengobatan dapat mengurangi rasa sakit, mengurangi peradangan/ inflamasi dan menurunkan resiko terjadinya kerusakan sendi. Obat-obatan yang digunakan antara lain; 1. Analgetik antiradang atau NSAIDs (Non-Steroidal Anti-inflammatory Drugs) antara lain, aspirin, ibuprofen, ketoprofen dan diklofenac juga obat selektif baru nabumeton dan meloxicam yang sangat berguna untuk menghalau gejala peradangan. Oat ini lebih efektif daripada analgetika perifer (parasetamol, asetosal atau kombinasinya). Tetapi golongan NSAIDs ini tidak memiliki khasiat yang dapat melindungi tulang rawan (kartilago) dan tulang sendi akibat proses kerusakan dari AR. Penggunaan jangka panjang dianjurkan dengan penambahan suatu penghambat asam lambung (omeprazol, lansaprazol,

pantoprazol) guna mencegah terjadinya tukak lambung. 2. Obat-obat supresif long-acting atau disebut DMARD (deseasemodifying antirheumatic drug) memiliki khasiat antiradang kuat. Obat

ini juga berdaya anti-erosif, artinya dapat menghentikan atau memperlambat proses kerusakan tulang rawan.Penggunaan obat ini dimulai fase amat dini, dengan maksud menekan progress penyakit sebelum sendi-sendi dirusak secara structural dan irreversible. Penelitian menunjukkan efeknya baik setelah beberapa tahun. 3. Glukokortikoid yang disebut juga kortikosteroid adalah golongan obatobatan antiinflamasi steroid. Hormon steroid yang dihasilkan oleh tubuh mempunyai efek terhadap peradangan, oleh karena itu glukokortikoid seringkali digunakan oleh dokter karna sangat efektif untuk anti

peradangan namun sering kali mengakibatkan efeksamping dan terapi sukar dihentikan, maka digunakan bila penyakit menjadi parah

(exacerbatio). 3. 2 Terapi Artristis Reumatoid (AR) Dengan Bedah (Operasi) Terapi AR dengan tindakan operasi dilakukan bila gangguan serta rasa sakit yang dialami penderita tidak dapat ditanggulangi dengan obatobatan. Bila ruang sendi mengecil atau kartilago sudah terkikis sehingga gejala yang diderita sangat mengganggu dan penderita tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara normal lagi, maka tindakan operasi perlu dipertimbangkan. Tindakan operasi bertujuan untuk memperbaiki fungsi dan bentuk sendi yang cacat dan untuk menghilangkan sinovium yang rusak sehingga sinovium baru dapat terbentuk, transfer tendon (otot) bisa memperbaiki fungsi bila telah putus. Dengan prosedur operasi dapat dilakukan pemindahan distribusi berat beban ke bagian sendi yang masih baik, kartilago yang tersisa dapat dipertahankan kemudian diisi kembali, sendi yang cacat dapat disatukan atau diikat ke dalam tulang tunggal tanpa sambungan, rekonstruksi jaringan lunak untuk menstabilkan sendi dapat mengurangi rasa sakit dan menjaga gerakan. Teknologi tersebut dapat mengganti sendi AR yang rusak dengan komponen baru yang terbuat dari plastik atau logam. Terapi operasi ini dikenal sebagai sinovektomi terbuka dan radikal, sehingga mempunyai resiko antara lain; pendarahan, penggunaan

anastesi, infeksi pada sendi artifisial, bekuan darah, dan sendi artifisial yang tidak cocok. Pemulihan pasca tindakan operasi membutuhkan waktu hingga 2 minggu rawat inap di rumah sakit. Rehabilitasi sendi pasca tindakan operasi memerlukan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan.

3.3. Terapi Dengan Radiosinovektomi Radiosinovektomi dengan bermacam-macam sediaan radiofarmaka telah digunakan untuk mengurangi rasa sakit serta pembengkakan pada rheumatoid arthritis dan penyakit persendian lainnya yang diperkenalkan oleh Fellinger dan Schmidt sejak tahun 1952. Teknik terapi dengan radiosinovektomi dilakukan dengan cara penyuntikan sediaan radiofarmaka pemancar sinar ke daerah sinovial. Radiasi sinar tersebut akan menghancurkan atau merusak membran yang meradang. Bila jaringan yang meradang telah hilang, jaringan baru yang sehat dan normal akan terbentuk. Keuntungan radiasi menggunakan sinar adalah daya tembusnya di dalam jaringan hanya beberapa milimeter saja, sehingga tingkat kerusakan jaringan yang sehat disekitarnya dapat ditekan seminimal mungkin.

BAB IV KESIMPULAN

1. Penyakit autoimun adalah terjadinya gangguan pada toleransi terhadap diri sendiri, yaitu keadaan non responsif yang normal terhadap antigen diri sendiri. 2. Artritis Reumatoid (AR) adalah penyakit sendi kronis dan sistemis yang termasuk kelompok gangguan auto-imun. Bercirikan

perubahan-perubahan beradang kronis dari sendi dan membrannya (synovium) dan kemudian dekstruksi tulang rawan dengan perubahan anatomi. 3. Pengobatan Artritis Reumatoid antara lain : terapi dengan pengobatan (NSAIDs, DMARDs, dan kortikosteroid), terapi dengan pembedahan (operasi) dan terapi dengan radiosinokvetomi.

DAFTAR PUSTAKA Cotran dan Robbins. 2009. Buku Saku Dasar Patologi Penyakit. Edisi 7. Jakarta. Daud, Rizasyah. Reumatoid. 2000. Diagnosis Cermin dan Penatalaksanaan Dunia Artritis

Kedokteran.

http://www.kalbe.co.id/files/cdk078-penyakit-sendi.pdf Direktorat Bina Farmasi Komunitas Dan Klinik Dirjen Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan. 2006. Pharmaceutical Care Untuk Pasien Penyakit Arthritis Rematik. Jakarta. Tjay, T.H dan Kirana. 2007. Obat-Obat Penting. Edisi Keenam. Elex Media Komputindo. Jakarta. Randall King, MD. 2003. Rheumatoid Arthritis,http://www.emedicine.com Wahyuni, Sri dan Darlina. Radiosinovektomi Sebagai Alternatif Pengobatan Radang Sendi Tanpa Operasi. Buletin ALARA, Volume 5 Nomor 2&3. April. 2004. http://jurnal.pdii.lipi.go.id http://www.medicienet.com/rhematoid-arthritis/page1.htm