P. 1
Otonomi dan Pembangunan Daerah

Otonomi dan Pembangunan Daerah

|Views: 28|Likes:
Publicado porDikta
Otonomi daerah, Undang Undang Otonomi Daerah, Alokasi Dana Pemerintah Daerah, sampai dengan Dampak dari Otonomi daerah terhadap Investasi dan Perekonomian.
Otonomi daerah, Undang Undang Otonomi Daerah, Alokasi Dana Pemerintah Daerah, sampai dengan Dampak dari Otonomi daerah terhadap Investasi dan Perekonomian.

More info:

Published by: Dikta on Nov 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2014

pdf

text

original

Makalah Perekonomian Indonesia

~Otonomi dan Pembangunan Daerah di Indonesia¨

Di Susun Oleh

I S W A N D R I Y A N T O
1 0 8 0 8 1 0 0 0 0 4 0

Manajemen Semester 7
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
UIN Syarif Hidayatullah 1akarta
2011

ATA PENGANTAR


Assalamu'alikum Wr. Wb.

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, tauIik, dan hidayahnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah mengenai Otonomi dan Pembangunan Daerah ini. Tak
lupa shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan pada nabi besar junjungan kita, Nabi
Muhammad SAW.


Penulis mencoba untuk menulis dan mempelajari lebih dalam seperti apa itu otonomi
daerah, tujuan dari otonomi daerah, alokasi dana untuk pemerintah daerah, peraturan perundang
undangan otonomi daerah, sampai dengan dampak dari otonomi daerah terhadap investasi dan
perekonomian daerah tersebut. Makalah ini ditujukan untuk memenuhi kewajiban tugas dari
mata kuliah Perekonomian Indonesia.


Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan mengingat keterbatasan dan
kekurangan yang ada pada makalah ini. Semoga bermanIaat.


Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
Penulis,

Jakarta, 12 November 2011

aftar Isi


Kata Pengantar........................................................................................ II

1. Otonomi Daerah.................................................................................. 1
2. Tujuan Otonomi Daerah..................................................................... 4
3. Undang Undang Otonomi Daerah...................................................... 6
A. UU 32 Tahun 2004, Mengenai Pemerintahan Daerah..................... 6
B. Bab II, Pembentukan Daerah dan Kawasan Khusus......................... 7
C. Bab III, Mengenai Hak dan Kewafiban Daerah................................ 8
D. UU pelaksanaan Otonomi Daerah.................................................... 9
4. Sumber Sumber Keuangan Daerah.................................................... 10
5. Dana Alokasi Umum.......................................................................... 12
6. Dana Bagi Hasil.................................................................................. 13
7. Konsep Dasar Perbedaan Pajak dan Retribusi Daerah....................... 16
A. Pafak.................................................................................................. 16
- Unsur Pafak......................................................................................... 17
- Fungsi Pafak........................................................................................ 17
- Jenis Jenis Pafak Daerah..................................................................... 18
B. Retribusi............................................................................................. 19
C. Perbedaan Pafak dan Retribusi Daerah............................................ 21
8. Arah Otonomi Daerah........................................................................ 22
9. Dampak Otonomi Daerah Untuk Investasi......................................... 23

Daftar Pustaka......................................................................................... 26


1. Otonomi Daerah

Istilah otonomi berasal dari bahasa Yunani autos yang berarti sendiri dan namos yang
berarti Undang-undang atau aturan. Dengan demikian otonomi dapat diartikan sebagai
kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri (Bayu Suryaninrat; 1985).
Otonomi daerah dapat diartikan sebagai hak, wewenang, dan kewajiban yang diberikan kepada
daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut aspirasi masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna
penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan terhadap masyarakat dan pelaksanaan
pembangunan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Sedangkan yang dimaksud dengan daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum
yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan
aspirasi masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah selain berlandaskan pada acuan hukum, juga
sebagai implementasi tuntutan globalisasi yang harus diberdayakan dengan cara memberikan
daerah kewenangan yang lebih luas, lebih nyata dan bertanggung jawab, terutama dalam
mengatur, memanIaatkan dan menggali sumber-sumber potensi yang ada di daerahnya masing-
masing.

Beberapa pendapat ahli yang dikutip Abdulrahman (1997) mengemukakan bahwa :
1. Sugeng Istianto, mengartikan otonomi daerah sebagai hak dan wewenang untuk mengatur dan
mengurus rumah tangga daerah.
2. Ateng SyariIuddin, mengemukakan bahwa otonomi mempunyai makna kebebasan atau
kemandirian tetapi bukan kemerdekaan. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu terwujud
pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan.
3. SyariI Saleh, berpendapat bahwa otonomi daerah adalah hak mengatur dan memerintah daerah
sendiri. Hak mana diperoleh dari pemerintah pusat.

Pendapat lain dikemukakan oleh Benyamin Hoesein (1993) bahwa otonomi daerah
adalah pemerintahan oleh dan untuk rakyat di bagian wilayah nasional suatu Negara secara
inIormal berada di luar pemerintah pusat. Sedangkan Philip Mahwood (1983) mengemukakan
bahwa otonomi daerah adalah suatu pemerintah daerah yang mempunyai kewenangan sendiri
yang keberadaannya terpisah dengan otoritas yang diserahkan oleh pemerintah guna
mengalokasikan sumber sumber material yang substansial tentang Iungsi-Iungsi yang berbeda.

Dengan otonomi daerah tersebut, menurut Mariun (1979) bahwa dengan kebebasan yang
dimiliki pemerintah daerah memungkinkan untuk membuat inisiatiI sendiri, mengelola dan
mengoptimalkan sumber daya daerah. Adanya kebebasan untuk berinisiatiI merupakan suatu
dasar pemberian otonomi daerah, karena dasar pemberian otonomi daerah adalah dapat berbuat
sesuai dengan kebutuhan setempat.

Kebebasan yang terbatas atau kemandirian tersebut adalah wujud kesempatan pemberian
yang harus dipertanggungjawabkan. Dengan demikian, hak dan kewajiban serta kebebasan bagi
daerah untuk menyelenggarakan urusan-urusannya sepanjang sanggup untuk melakukannya dan
penekanannya lebih bersiIat otonomi yang luas. Pendapat tentang otonomi di atas, juga sejalan
dengan yang dikemukakan Vincent Lemius (1986) bahwa otonomi daerah merupakan kebebasan
untuk mengambil keputusan politik maupun administrasi, dengan tetap menghormati peraturan
perundang-undangan. Meskipun dalam otonomi daerah ada kebebasan untuk menentukan apa
yang menjadi kebutuhan daerah, tetapi dalam kebutuhan daerah senantiasa disesuaikan dengan
kepentingan nasional, ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tingg

Terlepas dari itu pendapat beberapa ahli yang telah dikemukakan di atas, dalam Undang-
undang Nomor 32 tahun 2004 dinyatakan bahwa otonomi daerah adalah kewenangan daerah
untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Beranjak dari rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa otonomi daerah pada prinsipnya
mempunyai tiga aspek, yaitu :
1. Aspek Hak dan Kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

2. Aspek kewajiban untuk tetap mengikuti peraturan dan ketentuan dari pemerintahan di atasnya,
serta tetap berada dalam satu kerangka pemerintahan nasional.
3. Aspek kemandirian dalam pengelolaan keuangan baik dari biaya sebagai perlimpahan
kewenangan dan pelaksanaan kewajiban, juga terutama kemampuan menggali sumber
pembiayaan sendiri.

Yang dimaksud dengan hak dalam pengertian otonomi adalah adanya kebebasan
pemerintah daerah untuk mengatur rumah tangga, seperti dalam bidang kebijaksanaan,
pembiyaan serta perangkat pelaksanaannnya. Sedangkan kewajban harus mendorong
pelaksanaan pemerintah dan pembangunan nasional. Selanjutnya wewenang adalah adanya
kekuasaan pemerintah daerah untuk berinisiatiI sendiri, menetapkan kebijaksanaan sendiri,
perencanaan sendiri serta mengelola keuangan sendiri.

Dengan demikian, bila dikaji lebih jauh isi dan jiwa undang-undang Nomor 23 Tahun
2004, maka otonomi daerah mempunyai arti bahwa daerah harus mampu :
1. BerinisiatiI sendiri yaitu harus mampu menyusun dan melaksanakan kebijaksanaan sendiri.
2. Membuat peraturan sendiri (PERDA) beserta peraturan pelaksanaannya.
3. Menggali sumber-sumber keuangan sendiri.
4. Memiliki alat pelaksana baik personil maupun sarana dan prasarananya.

Otonomi daerah di Indonesia adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. terdapat dua nilai dasar yang
dikembangkan dalam UUD 1945 berkenaan dengan pelaksanaan desentralisasi dan otonomi
daerah di Indonesia, yaitu :
1. Nilai Unitaris, yang diwujudkan dalam pandangan bahwa Indonesia tidak mempunyai
kesatuan pemerintahan lain di dalamnya yang bersiIat negara (Eenheidstaat), yang berarti
kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia tidak akan terbagi
di antara kesatuan kesatuan pemerintahan.

2. Nilai dasar Desentralisasi Teritorial, dari isi dan jiwa pasal 18 Undang-undang Dasar 1945
beserta penjelasannya sebagaimana tersebut di atas maka jelaslah bahwa Pemerintah diwajibkan
untuk melaksanakan politik desentralisasi dan dekonsentrasi di bidang ketatanegaraan.

Dikaitkan dengan dua nilai dasar tersebut di atas, penyelenggaraan desentralisasi di
Indonesia berpusat pada pembentukan daerah-daerah otonom dan penyerahan/pelimpahan
sebagian kekuasaan dan kewenangan pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur
dan mengurus sebagian sebagian kekuasaan dan kewenangan tersebut. Adapun titik berat
pelaksanaan otonomi daerah adalah pada Daerah Tingkat II (Dati II) dengan beberapa dasar
pertimbangan :
1. Dimensi Politik, Dati II dipandang kurang mempunyai Ianatisme kedaerahan sehingga
risiko gerakan separatisme dan peluang berkembangnya aspirasi Iederalis relatiI minim;
2. Dimensi AdministratiI, penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat
relatiI dapat lebih eIektiI;
3. Dati II adalah daerah "ujung tombak" pelaksanaan pembangunan sehingga Dati II-lah
yang lebih tahu kebutuhan dan potensi rakyat di daerahnya.

Atas dasar itulah, prinsip otonomi yang dianut adalah:
1. Nyata, otonomi secara nyata diperlukan sesuai dengan situasi dan kondisi obyektiI di
daerah;
2. Bertanggung jawab, pemberian otonomi diselaraskan/diupayakan untuk memperlancar
pembangunan di seluruh pelosok tanah air; dan
3. Dinamis, pelaksanaan otonomi selalu menjadi sarana dan dorongan untuk lebih baik dan
maju

2. Tujuan Otonomi Daerah dalam Rangka Pembangunan Nasional

Otonomi daerah dalam Undang Undang Nomor 22 tahun 1999, adalah otonomi luas yaitu
adanya kewenangan daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup semua
bidang pemerintahan kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan,

peradilan, moneter dan Iiskal, agama serta kewenangan-kewenangan bidang lainnya yang
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Di samping itu, keleluasaan otonomi maupun
kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya, mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi.

Dalam penjelesan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, dikatakan bahwa yang
dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan daerah untuk menyelenggarakan
kewenangan pemerintah di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh,
hidup dan berkembang di daerah. Sedangkan yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung
jawab adalah berupa perwujudan pertanggung jawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan
kewenangan kepada daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh daerah
dalam mencapai tujuan pemberian otonomi berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan
masyarakat yang semakin baik, serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara pusat dan daerah
serta antar daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Atas dasar pemikiran di atas¸ maka tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah
untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan
guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Sejalan dengan pendapat di atas,
Abdurrahman (1987) mengemukakan bahwa tujuan pemberian otonomi daerah adalah :
1. Mengemukakan kesadaran bernegara/berpemerintah yang mendalam kepada rakyat diseluruh
tanah air Indonesia.
2. Melancarkan penyerahan dana dan daya masyarakat di daerah terutama dalam bidang
perekonomian.

Dari penjabaran mengenai tujuan otonomi daerah tersebut, maka dapat dideIinisikan
prinsip-prinsip pemberian otonomi daerah dalam Undang Undang Nomor 22 tahun 1999 sebagai
berikut :
1. Penyelenggaraan otonomi daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi,
keadilan, pemerataan serta potensi dan keanekaragaman daerah yang terbatas.
2. Pelaksanaan otonomi daerah didasarkan pada otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab.

3. Pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan utuh diletakkan pada daerah Kabupaten dan daerah
kota, sedang otonomi daerah provinsi merupakan otonomi yang terbatas.
4. Pelaksanaan otonomi daerah harus sesuai dengan kontibusi negara sehingga tetap terjalin
hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah.
5. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan kemandirian daerah otonom, dan
karenanya dalam daerah Kabupaten/daerah kota tidak ada lagi wilayah administrasi.
6. Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan Iungsi badan legislatiI
daerah, baik Iungsi legislatiI, Iungsi pengawas maupun Iungsi anggaran atas penyelenggaraan
pemerintah daerah.
7. Pelaksanaan azas dekonsentrasi diletakkan pada daerah provinsi dalam kedudukannya sebagai
wilayah administrasi untuk melaksanakan kewenangan sebagai wakil daerah.
8. Pelaksanaan azas tugas pembantuan dimungkinkan, tidak hanya dari pemerintah kepada
daerah, tetapi juga dari pemerintah dan daerah kepada desa yang disertai dengan pembiayaan,
sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaan dan
mempertanggung jawabkan kepada yang menugaskannya

. Undang Undang Otonomi Daerah

A. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004,
Mengenai Pemerintahan Daerah.

(2) Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah
dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya
dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
(5) Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
(6) Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang
mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan

dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat
dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pasal 2
(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi
itu dibagi atas kabupaten dan kota yang masing-masing mempunyai pemerintahan daerah.
(2) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengatur dan mengurus sendiri
urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.
(3) Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan otonomi
seluasluasnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah, dengan tujuan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah.

B. Bab II, Pembentukan Daerah dan Kawasan Khusus,
Bagian Kesatu Pembentukan Daerah.

Pasal 4
(1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan dengan
undangundang. (2) Undang-undang pembentukan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
antara lain mencakup nama, cakupan wilayah, batas, ibukota, kewenangan menyelenggarakan
urusan pemerintahan, penunjukan penjabat kepala daerah, pengisian keanggotaan DPRD,
pengalihan kepegawaian, pendanaan, peralatan, dan dokumen, serta perangkat daerah.
(3) Pembentukan daerah dapat berupa penggabungan beberapa daerah atau bagian daerah yang
bersandingan atau pemekaran dari satu daerah menjadi dua daerah atau lebih.
(4) Pemekaran dari satu daerah menjadi 2 (dua) daerah atau lebih sebagaimana dimaksud pada
ayat.
(3) dapat dilakukan setelah mencapai batas minimal usia penyelenggaraan pemerintahan.

Pasal 5
(1) Pembentukan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus memenuhi syarat
administratiI, teknis, dan Iisik kewilayahan.

(2) Syarat administratiI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk provinsi meliputi adanya
persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang akan menjadi cakupan wilayah
provinsi, persetujuan DPRD provinsi induk dan Gubernur, serta rekomendasi Menteri Dalam
Negeri.
(3) Syarat administratiI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk kabupaten/kota meliputi
adanya .
persetujuan DPRD kabupaten/kota dan Bupati/Walikota yang bersangkutan, persetujuan DPRD
provinsi dan Gubernur serta rekomendasi Menteri Dalam Negeri.
(4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Iaktor yang menjadi dasar
pembentukan daerah yang mencakup Iaktor kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya,
sosial politik, kependudukan, luas daerah, pertahanan, keamanan, dan Iaktor lain yang
memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah.
(5) Syarat Iisik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi paling sedikit 5 (lima)
kabupaten/kota untuk pembentukan provinsi dan paling sedikit 5 (lima) kecamatan untuk
pembentukan kabupaten, dan 4 (empat) kecamatan untuk pembentukan kota, lokasi calon
ibukota, sarana, dan prasarana pemerintahan.

C. Bab III, Mengenai Hak dan Kewafiban Daerah.

Pasal 21
Dalam menyelenggarakan otonomi, daerah mempunyai hak.
1. mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya;
2. memilih pimpinan daerah;
3. mengelola aparatur daerah;
4. mengelola kekayaan daerah;
5. memungut pajak daerah dan retribusi daerah;
6. mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang
berada di daerah;
7. mendapatkan sumber-sumber pendapatan lain yang sah; dan
8. mendapatkan hak lainnya yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Pasal 22
Dalam menyelenggarakan otonomi, daerah mempunyai kewajiban.
1. melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional, serta keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
3. mengembangkan kehidupan demokrasi.
4. mewujudkan keadilan dan pemerataan.
5. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan.
6. menyediakan Iasilitas pelayanan kesehatan.
7. menyediakan Iasilitas sosial dan Iasilitas umum yang layak.
8. mengembangkan sistem jaminan sosial.
9. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah.
10. mengembangkan sumber daya produktiI di daerah.
11. melestarikan lingkungan hidup.
12. mengelola administrasi kependudukan.
13. melestarikan nilai sosial budaya.
14. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya.
15. kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

D. Aturan perundang-undangan yang berhubungan dengan pelaksanaan Otonomi Daerah

1. Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
2. Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat
dan Daerah
3. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
4. Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat
dan Pemerintahan Daerah
5. Perpu No. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah
6. Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

7. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab I, Pasal 1, huruI c
8. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab I, Pasal 1, huruI b
9. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab I, Pasal 1, huruI I
10. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab I, Pasal 1, huruI d
11. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab III, Bagian Kelima,
ParagraI 1, Pasal 15(1) dan Pasal 16(1)
12. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab III, Bagian Kelima,
ParagraI 1, Pasal 17
13. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab III, Bagian Kelima,
Paragrap 2, Pasal 22 dan Pasal 23
14. UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, Bab III, Bagian Ketujuh,
15. UUD 1945 pasal 18 ayat 2 tentang Pembagian Daerah yang terdiri atas daerah-daerah
provinsi, kabupaten, dan kotamadya.

4. Sumber Sumber euangan Daerah

Penyelenggaraan Iungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal apabila
penyelenggaraan urusan pemerintahan diikuti dengan pemberian sumber-sumber penerimaan
yang cukup kepada daerah, dengan mengacu kepada Undang-Undang yang mengatur
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, dimana besarnya
disesuaikan dan diselaraskan dengan pembagian kewenangan antara Pemerintah dan Daerah.
Semua sumber keuangan yang melekat pada setiap urusan pemerintah yang diserahkan kepada
daerah menjadi sumber keuangan daerah.

Daerah diberikan hak untuk mendapatkan sumber keuangan yang antara lain berupa :
kepastian tersedianya pendanaan dari Pemerintah sesuai dengan urusan pemerintah yang
diserahkan; kewenangan memungut dan mendayagunakan pajak dan retribusi daerah dan hak
untuk mendapatkan bagi hasil dari sumber-sumber daya nasional yang berada di daerah dan dana
perimbangan lainnya; hak untuk mengelola kekayaan Daerah dan mendapatkan sumber-sumber
pendapatan lain yang sah serta sumber-sumber pembiayaan.

Di dalam Undang-Undang yang mengatur Keuangan Negara, terdapat penegasan di
bidang pengelolaan keuangan, yaitu bahwa kekuasaan pengelolaan keuangan negara adalah
sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan; dan kekuasaan pengelolaan keuangan negara dari
presiden sebagian diserahkan kepada gubernur/bupati/walikota selaku kepala pemerintah daerah
untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan
daerah yang dipisahkan.

Ketentuan tersebut berimplikasi pada pengaturan pengelolaan keuangan daerah, yaitu
bahwa Kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) adalah pemegang kekuasaan pengelolaan
keuangan daerah dan bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan daerah sebagai bagian dari
kekuasaan pemerintahan daerah. Dalam melaksanakan kekuasaannya, kepala daerah
melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaan keuangan daerah kepada para pejabat perangkat
daerah. Dengan demikian pengaturan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan daerah
melekat dan menjadi satu dengan pengaturan pemerintahan daerah, yaitu dalam Undang-Undang
mengenai Pemerintahan Daerah.
Sumber pendapatan daerah terdiri atas :
1. Pendapatan asli daerah ( PAD), yang meliputi hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan hasil lain lain PAD yang sah.
2. Dana perimbangan yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi
Khusus.
3. Pendapatan dari sumber lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman yang berasal dari penerusan pinjaman
hutang luar negeri dari Menteri Keuangan atas nama Pemerintah pusat setelah memperoleh
pertimbangan Menteri Dalam Negeri. Pemerintah daerah dapat melakukan penyertaan modal
pada suatu Badan Usaha Milik Pemerintah dan/atau milik swasta. Pemerintah daerah dapat
memiliki BUMD yang pembentukan, penggabungan, pelepasan kepemilikan, dan/atau
pembubarannya ditetapkan dengan Perda yang berpedoman pada peraturan perundangundangan.

Anggaran pendapatan dan belanja daerah ( APBD) adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan daerah yang ditetapkan dengan peraturan daerah. APBD merupakan dasar

pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran terhitung mulai 1 Januari
sampai dengan tanggal 31 Desember. Kepala daerah mengajukan rancangan Perda tentang
APBD disertai penjelasan dan dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD untuk
memperoleh persetujuan bersama.

Rancangan Perda provinsi tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan
Peraturan Gubernur tentang penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Gubernur paling lambat
3 (tiga) hari disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. Rancangan Perda
kabupaten/kota tentang APBD yang telah disetujui bersama dan rancangan Peraturan Bupati/
Walikota tentang Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Bupati/Walikota paling lama 3
(tiga) hari disampaikan kepada Gubernur untuk dievaluasi.

Semua penerimaan dan pengeluaran pemerintahan daerah dianggarkan dalam APBD dan
dilakukan melalui rekening kas daerah yang dikelola oleh Bendahara Umum Daerah.
Penyusunan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pengawasan dan pertanggungjawaban
keuangan daerah diatur lebih lanjut dengan Perda yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah.

. Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum (DAU) adalah sejumlah dana yang dialokasikan kepada setiap
Daerah Otonom (provinsi/kabupaten/kota) di Indonesia setiap tahunnya sebagai dana
pembangunan. DAU merupakan salah satu komponen belanja pada APBN, dan menjadi salah
satu komponen pendapatan pada APBD. Tujuan DAU adalah sebagai pemerataan kemampuan
keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan Daerah Otonom dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi.
Dana Alokasi Umum terdiri dari:
1. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Provinsi
2. Dana Alokasi Umum untuk Daerah Kabupaten/Kota

Jumlah Dana Alokasi Umum setiap tahun ditentukan berdasarkan Keputusan Presiden.
Setiap provinsi/kabupaten/kota menerima DAU dengan besaran yang tidak sama, dan ini diatur

secara mendetail dalam Peraturan Pemerintah. Besaran DAU dihitung menggunakan
rumus/Iormulasi statistik yang kompleks, antara lain dengan variabel jumlah penduduk dan luas
wilayah yang ada di setiap masing-masing wilayah/daerah.

Alokasi DAU dilaksanakan seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah sejak adanya
Undang-undang No. 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah
sebagaimana telah diubah dengan Undang - undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan Antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah

. Dana Bagi Hasil

Dana Bagi hasil merupakan salah satu dari dana perimbangan yang menjadi sumber
pendapatan daerah. Dana perimbangan sendiri merupakan dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi. Sumber Dana Perimbangan yang lain adalah Dana Alokasi Umum
(DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan kepada daerah dengan memperhatikan potensi daerah penghasil berdasarkan angka
persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
Dana Bagi Hasil terdiri dari DBH Pajak dan DBH Sumber Daya Alam (SDA).

asar Hukum
1. UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Daerah Provinsi.
2. UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
3. UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Daerah Khusus.
4. PP No. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.
5. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.

1enis 1enis Penerimaan ana Bagi Hasil
1. Kehutanan, berasal dari:

a. Iuran Izin Usaha PemanIaatan Hutan (IIUPH).
b. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH).
c. Dana Reboisasi.

2. Pertambangan Umum, berasal dari:
a. Iuran Tetap (andrent).
b. Iuran Eksplorasi dan Eksploitasi (royalty).

3. Perikanan, berasal dari:
a. Pungutan Pengusahaan Perikanan.
b. Pungutan Hasil Perikanan.

4. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi, berasal dari:
a. Penerimaan Negara dari pertambangan minyak bumi dalam bentuk dana bagi hasil
dialokasikan kepada pemerintah daerah sebesar 15,5° setelah dikurangi komponen pajak dan
pungutan lainnya serta bagian Pemerintah Pusat sebesar 84,5°.
b. Penerimaan Negara dari pertambangan gas bumi dalam bentuk dana bagi hasil dialokasikan
kepada pemerintah daerah sebesar 30,5° setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan
lainnya serta bagian pemerintah Pusat sebesar 69,5°.

5. Pertambangan Panas Bumi, berasal dari:
a. Setoran Bagian Pemerintah
b. Iuran Tetap dan Iuran Produksi

Dana bagi Hasil dialokasikan berdasarkan angka prosentase tertentu. Dana Bagi Hasil
bersumber dari pajak dan sumber daya alam. Untuk pajak, sumber DBH adalah PBB dan
BPHTB (sekarang menjadi kewenangan pemerintah daerah untuk memungutnya) serta pajak
penghasilan pasal 25 dan pasal 29 WP orang pribadi dalam negeri dan PPh pasal 21.

Sedangkan sumber DBH dari sumber daya alam berasal dari Kehutanan, Pertambangan,
Perikanan, Pertambangan Minyak Bumi, Pertambangan Gas Bumi dan Pertambangan Panas

Bumi. Dana Bagi Hasil untuk minyak dan gas berbeda dalam prosentase. Untuk minyak bumi,
pemerintah pusat mendapatkan 85° sedangkan 15° nya dibagi ke daerah penghasil. Untuk gas
bumi, pemerintah pusat mendapatkan 70° sedangkan 30° nya dibagi ke daerah penghasil.
Prosentase tersebut sama dengan prosentase bagi hasil yang diatur dalam Kontrak Bagi Hasil
Production Sharing Contract/ PSC).

Secara umum, Dana Bagi Hasil Minyak Bumi memiliki prosentase dua kali lipat dari gas
bumi. Sehingga jika daerah penghasil termasuk wilayah provinsi ( 4-12 mil), maka dari 30°
share daerah, 10° merupakan bagian pemerintah provinsi sedangkan 20° sisanya menjadi hak
seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut (dibagi rata). Namun Pemerintah Pusat menambah
0,5° dari bagian bagi hasilnya kepada daerah untuk dana pendidikan. Sehingga share
pemerintah berkurang 0.5° sedangkan daerah bertambah 0.5°. Prosentase tersebut merupakan
prosentase yang akan dikalikan dengan bagian yang menjadi hak pemerintah sesuai dengan
Kontrak Bagi Hasil Production Sharing Contract.

Jika daerah penghasil termasuk wilayah kabupaten/kota (·4 mil), maka dari 30° share
daerah, pemerintah provinsi mendapatkan 6°, kabupaten/kota penghasil mendapatkan 12° dan
kabupaten/kota lainnya mendapatkan 12° (dibagi rata). Untuk wilayah yang termasuk
pemerintah pusat, maka 100° dari hasil tersebut masuk ke pemerintah pusat. Berikut adalah
tabel yang menggambarkan skema Dana Bagi Hasil Untuk Minyak dan Gas Bumi

7. onsep Dasar Perbedaan Pajak dan Retribusi Daerah

A. Pajak

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang sehingga
dapat dipaksakan dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut penguasa
berdasarkan norma norma hukum untuk menutup biaya produksi barang-barang dan jasa kolektiI
untuk mencapai kesejahteraan umum. Lembaga Pemerintah yang mengelola perpajakan negara
di Indonesia adalah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang merupakan salah satu direktorat
jenderal yang ada di bawah naungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Pajak dari perspektiI ekonomi dipahami sebagai beralihnya sumber daya dari sektor
privat kepada sektor publik. Pemahaman ini memberikan gambaran bahwa adanya pajak
menyebabkan dua situasi menjadi berubah. Pertama, berkurangnya kemampuan individu dalam
menguasai sumber daya untuk kepentingan penguasaan barang dan jasa. Kedua, bertambahnya
kemampuan keuangan negara dalam penyediaan barang dan jasa publik yang merupakan
kebutuhan masyarakat.

Sementara pemahaman pajak dari perspektiI hukum menurut Soemitro merupakan suatu
perikatan yang timbul karena adanya undang-undang yang menyebabkan timbulnya kewajiban
warga negara untuk menyetorkan sejumlah penghasilan tertentu kepada negara, negara
mempunyai kekuatan untuk memaksa dan uang pajak tersebut harus dipergunakan untuk
penyelenggaraan pemerintahan. pajak yang dipungut harus berdsarkan undang-undang sehingga
menjamin adanya kepastian hukum.

Pajak menurut Pasal 1 angka 1 UU No 6 Tahun 1983 sebagaimana telah disempurnakan
terakhir dengan UU No.28 Tahun 2007 tentang Ketentuan umum dan tata cara perpajakan adalah
kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersiIat
memaksa berdasarkan Undang Undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan
digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat

. Unsur Pajak
Dari berbagai deIinisi yang diberikan terhadap pajak baik pengertian secara ekonomis
(pajak sebagai pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah) atau pengertian
secara yuridis (pajak adalah iuran yang dapat dipaksakan) dapat ditarik kesimpulan tentang
unsur-unsur yang terdapat pada pengertian pajak antara lain sebagai berikut:
1. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang. Asas ini sesuai dengan perubahan ketiga
UUD 1945 pasal 23A yang menyatakan "pafak dan pungutan lain yang bersifat memaksa
untuk keperluan negara diatur dalam undang-undang."
2. Tidak mendapatkan jasa timbal balik (konraprestasi perseorangan) yang dapat
ditunjukkan secara langsung. Misalnya, orang yang taat membayar pajak kendaraantor
akan melalui jalan yang sama kualitasnya dengan orang yang tidak membayar pajak
kendaraan bermotor.
3. Pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah dalam
rangka menjalankan Iungsi pemerintahan, baik rutin maupun pembangunan.
4. Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pajak dapat dipaksakan apabila wajib pajak tidak
memenuhi kewajiban perpajakan dan dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan perundag-
undangan.
5. Selain Iungsi budgeter (anggaran) yaitu Iungsi mengisi Kas Negara/Anggaran Negara
yang diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan, pajak juga
berIungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan negara dalam
lapangan ekonomi dan sosial (Iungsi mengatur / regulatiI)

. Fungsi Pajak
Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di
dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk
membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan. Berdasarkan hal diatas
maka pajak mempunyai beberapa Iungsi, yaitu :
1. Fungsi anggaran (budgetair)
Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berIungsi untuk membiayai pengeluaran-
pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan melaksanakan
pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat diperoleh dari penerimaan pajak.

Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan rutin seperti belanja pegawai, belanja barang,
pemeliharaan, dan lain sebagainya. Untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari
tabungan pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan
pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan pembiayaan
pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama diharapkan dari sektor pajak.

2. Fungsi mengatur (regulerend)
Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak. Dengan
Iungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Contohnya dalam
rangka menggiring penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai
macam Iasilitas keringanan pajak. Dalam rangka melindungi produksi dalam negeri, pemerintah
menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar negeri.

3. Fungsi stabilitas
Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang
berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inIlasi dapat dikendalikan, Hal ini bisa dilakukan
antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan
pajak yang eIektiI dan eIisien.

4. Fungsi redistribusi pendapatan
Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua
kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan sehingga dapat membuka
kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

. 1enis 1enis Pajak aerah
Sesuai UU 28/2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, berikut jenis2 Pajak Daerah:
1. Pajak Provinsi terdiri dari:
a. Pajak Kendaraan Bermotor;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

d. Pajak Air Permukaan; dan
e. Pajak Rokok.
2. Jenis Pajak Kabupaten/Kota terdiri atas:
a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan Jalan;
I. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan;
g. Pajak Parkir;
h. Pajak Air Tanah;
i. Pajak Sarang Burung Walet;
j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan; dan
k. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

B. Retribusi

Menurut UU 34/2000, retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa
atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh pemerintah daerah
untuk kepentingan orang pribadi atau badan. DeIisini tersebut menunjukkan adanya imbal balik
langsung antara pemberi dan penerima jasa. Retribusi bisa juga diartikan sebagai pungutan
daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan
dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

Retribusi daerah diatur dalam Peraturan Pemerintah No 66 Tahun 2001 dimana yang
dimaksud dengan retribusi daerah atau retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas
jasa atau pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh Pemerintah
Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan. Sedangkan retribusi jasa umum adalah
pelayanan yang disediakan atau diberikan Pemerintah Daerah untuk tujuan kepentingan dan
kemanIaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau badan. Jenis-jenis

retribusi umum seperti yang diatur dalam PP No 66/2001 antara lain :
1. retribusi pelayanan kesehatan
2. retribusi pelayanan persampahan atau kesehatan
3. retribusi penggantian biaya cetak kartu tanda penduduk dan akte catatan sipil
4. retribusi pelayanan pemakaman dan pengabuan mayat
5. retribusi parkir di tepi jalan umum
6. retribusi pelayanan pasar
7. retribusi pengujian kendaraan bermotor
8. retribusi penggantian biaya cetak peta
9. retribusi pengujian kapal perikanan.

Retribusi jasa usaha adalah pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan
menganut prinsip komersial. Jenis-jenis retribusi jasa usaha yang diatur dalam PP No 66/2001
antara lain :
1. retribusi pemakaian kekayaan daerah
2. retribusi pasar grosir dan atau pertokoan
3. retribusi tempat pelelangan
4. retribusi terminal
5. retribusi tempat khusus parkir
6. retribusi tempat penginapan atau pesanggarahan atau vila
7. retribusi penyedotan kakus
8. retribusi pelayanan pelabuhan kapal
9. retribusi tempat rekreasi dan olah raga
10.retribusi penyebrangan di atas air
11.retribusi pengolahan limbah cair
12.retribusi penjualan produksi usaha daerah.

Sedangkan Retribusi Perizinan Tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah
dalam rangka pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksud untuk pembinaan,
pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanIaatan ruang, penggunaan sumber
daya alam, barang, prasarana, sarana atau Iasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum

dan menjaga kelestarian lingkungan. Jenis-jenis retribusi perizinan tertentu yang diatur dalam PP
No 66/2001 antara lain :
1. Retribusi izin mendirikan bangunan
2. Retribusi izin tempat penjualan minuman beralkohol
3. Retribusi izin gangguan
4. Retribusi izin trayek.

Semua Peraturan Daerah yang ditujukan kepada Menteri Dalam Negeri untuk
mendapatkan pengesahan berdasarkan ketentuan PP No 20/1997 tentang retribusi daerah
sebagaimana telah diubah dengan PP No 45/1998, sepanjang tidak bertentangan dengan PP ini
dapat dilaksanakan tanpa memerlukan pengesahan. Apabila yang bertentangan dengan PP ini
diadakan penyesuaian dalam jangka waktu paling lama 1 tahun.

Berkaitan dengan diimplementasikannya UU No 22/1999 tentang Otonomi Daerah
menyebabkan banyak Pemerintahan Daerah menggiatkan berbagai pungutan daerah dalam
bentuk pajak atau retribusi atau sumbangan pembangunan sebagai Pendapatan Asli Daerah
(PAD). Krisis ekonomi menyebabkan semakin berkurangnya dukungan Iinansial Pemerintah
Pusat kepada Daerah.

Dalam prakteknya di lapangan terutama yang berkaitan dengan usaha peternakan ayam,
banyak dikenakan pungutan-pungutan yang bisa dianggap liar dan tumpang tindih dengan
peraturan / pungutan yang sudah berjalan. Misalnya Perda tentang Retribusi Usaha Peternakan
Komersial yang tumpang tindih dengan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB), dan Retribusi pemanIaatan lahan sebagai aktiIitas usaha.

C. Perbedaan Pajak dan Retribusi Daerah

Dari deIinisi diatas dapat kita ambil kesimpulan mengenai perbedaan antara pajak dan
retribusi sebagai berikut.
1. Pajak tidak memperoleh imbal balik secara langsung, sedangkan retribusi memperoleh imbal
balik secara langsung.

contohnya adalah sebagai berikut:
bila kita membayar Pajak Penghasilan (PPh) kita secara tidak langsung kita telah membantu
pembangunan di negara kita, sedangkan bila kita membayar retribusi sampah maka secara
langsung sampah kita akan diangkut oleh dinas kebersihan.

2. Pajak dapat dipaksakan, sedangkan retribusi tidak.
contohnya adalah sebagai berikut:
bila kita memiliki kendaraan bermotor maka setiap tahunnya kita wajib membayar Pajak
Kendaraan Bermotor (PKB). bila kita tidak membayar, maka kendaraan kita bisa disita oleh
pihak yang berwajib.

8. Arah Otonomi Daerah

Pada era otonomi daerah saat sekarang, pemerintah daerah harus dapat belajar dari
pengalaman Arah kebijakan pembangunan yang selama ini dijalankan. Kebijakan ini harus
didukung dengan adanya langkah langkah yang tepat dan konkrit. langkah-langkah yang perlu
ditetapkan guna mewujudkan arah kebijakan otonomi daerah adalah sebagai berikut.
1. Pemberian peluang atau akses yang lebih besar kepada aset produksi, yang paling mendasar
adalah akses pada dana. serta memperkuat posisi transaksi dan kemitraan usaha ekonomi rakyat.
2. Meningkatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan dalam rangka kualitas sumber daya
manusia, disertai dengan upaya peningkatan gizi.
3. Kebijakan pengembangan industri harus mengarah pada penguatan industri rakyat yang terkait
dengan industri besar. Industri rakyat yang berkembang menjadi industri industri kecil dan
menengah yang kuat harus menjadi tulang punggung industri nasional.
4. Kebijakan ketenagakerjaan yang mendorong tumbuhnya tenaga kerja mandiri sebagai cikal
bakal wirausaha baru yang nantinya berkembang menjadi wirausaha kecil dan menengah yang
kuat dan saling menunjang.

Selain itu, untuk mendukung pembangunan daerah di era otonomi daerah perlu diadakan
perubahan struktural dari ekonomi tradisional yang subsistem menuju ekonomi modern yang
berorientasi pada pasar. Untuk mendukung perubahan struktural dari ekonomi tradisional yang

subsistem menuju ekonomi modern diperlukan pengalokasian sumber daya, penguatan
kelembagaan, penguatan teknologi dan pembangunan sumber daya manusia. Sejalan dengan
upaya untuk memantapkan kemandirian Pemerintah Daerah yang dinamis dan bertanggung
jawab, serta mewujudkan pemberdayaan dan otonomi daerah dalam lingkup yang lebih nyata,
maka diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan eIisiensi, eIektivitas, dan proIesionalisme
sumber daya manusia dan lembaga-lembaga publik di daerah dalam mengelola sumber daya
daerah. Upaya-upaya untuk meningkatkan pengelolaan sumber daya daerah harus dilaksanakan
secara komprehensiI dan terintegrasi mulai dari aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
sehingga otonomi yang diberikan kepada daerah akan mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.

Dari aspek perencanaan, Daerah sangat membutuhkan aparat daerah (baik eksekutiI
maupun legislatiI) yang berkualitas tinggi, bervisi strategik dan mampu berpikir strategik, serta
memiliki moral yang baik sehingga dapat mengelola pembangunan daerah dengan baik.
Partisipasi aktiI dari semua elemen yang ada di daerah sangat dibutuhkan agar perencanaan
pembangunan daerah benar-benar mencerminkan kebutuhan daerah dan berkaitan langsung
dengan permasalahan yang dihadapi daerah.

Dari aspek pelaksanaan, Pemerintah Daerah dituntut mampu menciptakan sistem
manajemen yang mampu mendukung operasionalisasi pembangunan daerah. Salah satu aspek
dari pemerintahan daerah yang harus diatur secara hati-hati adalah masalah pengelolaan
keuangan daerah dan anggaran daerah. Anggaran Daerah atau Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) merupakan instrumen kebijakan yang utama bagi Pemerintah Daerah.

. Dampak Otonomi Daerah Untuk Investasi

Investasi daerah adalah investasi yang dilakukan oleh komponen pemerintah, masyarakat,
dan swasta. Investasi oleh pemerintah dapat berupa investasi Iisik dan non Iisik. Investasi Iisik
yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah antara lain berupa pembangunan inIrastruktur yang
bertujuan menyediakan sarana dan prasarana bagi peningkatan pertumbuhan perekonomian serta
peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Sedangkan investasi non Iisik adalah pengembangan

kapasitas Sumber Daya Manusia di daerah berupa penyediaan layanan kesehatan masyarakat,
penyediaan kesempatan pendidikan bagi anak usia sekolah, serta jaminan sosial lainnya.

Secara umum, Jawa dan Madura masih menjadi pilihan utama investasi baik dalam
maupun luar negeri. Hal ini antara lain terlihat dari masih besarnya porsi investasi di kedua pulau
ini. Namun demikian, terjadi perkembangan yang cukup signiIikan pada wilayah lain, terutama
Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku, nilai investasinya mengalami peningkatan drastis.

Otonomi daerah banyak diyakini merupakan jalan terbaik dalam rangka mendorong
pembangunan daerah. Karena melalui otonomi daerahlah, kemandirian dalam menjalankan
pembangunan sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan daerah diharapkan dapat dilakukan dengan
lebih eIektiI dan eIisien. Dalam kerangka pembangunan, salah satu sumber penting bagi
tercapainya pembangunan yang berkualitas adalah investasi. investasi dapat dilihat dari
pengaruh investasi bagi pertumbuhan agregat yaitu dengan mendorong tingkat output dan
kesempatan kerja; dan eIeknya terhadap pembentukan kapital yang dalam jangka panjang akan
meningkatkan potensi output dan menjaga pertumbuhan.

Dalam era Otonomi Daerah, Pemerintah Daerah diperbolehkan untuk meningkatkan PAD
dengan cara menarik sebanyak banyaknya modal investor masuk ke daerah. Dengan banyaknya
modal yang berputar di daerah, maka secara langsung maupun tidak langsung tentu akan
berpengaruh terhadap peningkatan perekonomian di daerah. Jika hal ini telah disadari, ada
kemungkinan muncul persaingan dalam menarik investasi antar Provinsi bahkan juga juga antar
Kabupaten atau Kota. Pada kondisi tersebut hanya daerah yang dapat menciptakan iklim
investasi lebih baik, terutama dibidang pelayanan, yang akan menjadi pilihan utama investor.

Imbas dari diberikannya Otonomi Daerah oleh pemerintah pusat adalah kewenangan
Pemerintah Daerah menerbitkan Peraturan Daerah (PERDA). Namun pada kenyataannya,
terbitnya Peraturan Daerah bukannya peningkatan PAD yang diperoleh melainkan sepi nya
minat investor untuk datang ke daerah. Fenomena tersebut disebabkan karena peraturan daerah
umumnya cenderung bersiIat membebani, yaitu berupa pungutan pungutan tambahan yang
diberlakukan terhadap investor. Investor bidang pertambangan pada akhirnya malah menjadi

kurang berminat untuk menanamkan modalnya di daerah, karena selain sudah menanggung
beban resiko usaha yang sangat besar, masih ditambah lagi dengan berbagai jenis pengeluaran
tambahan yang harus diserahkan ke Pemerintah Daerah.

Pemerintah Daerah seharusnya bisa lebih jeli dalam menangkap peluang otonomi daerah
dikaitkan dengan kesempatan untuk mengundang investor agar berinvestasi di daerahnya.
Pemerintah daerah harus mampu memahami kondisi daerahnya yang dapat dijadikan sebagai
daya tarik investasi dari luar. Pemerintah daerah harus memberikan iklim yang sejuk bagi
investasi asing, misalnya dengan adanya kondisi keamanan yang terjamin, birokrasi yang tidak
berbelit belit, dan kepastian hukum. Ketidakmampuan pemerintah dalam menganalisa kondisi
daerahnya berdampak pada kurangnya arus investasi yang masuk.

Kecenderungan orientasi Pemerintah Daerah untuk memperoleh keuntungan jangka
pendek dan sikap yang melihat investor sebagai sumber penghasilan daerah, menyulitkan
berkembangnya iklim investasi di daerah. Banyak daerah berusaha untuk meningkatkan
pungutan secara berlebihan. Kebijakan tersebut sangat berpengaruh terhadap minat investasi
terutama pada bidang pertambangan yang memiliki rasio resiko tinggi.

Banyak langkah yang dapat dilakukan daerah untuk menciptakan iklim investasi yang
mendukung, misalnya dengan membentuk peta investasi daerah dan proIil proIil proyek yang
bersiIat investasi. Selain itu daerah juga dapat menyediakan insentiI berupa penghapusan dan
pengurangan pungutan, sekaligus memberikan pelayanan satu atap bagi perizinan yang menjadi
kewenangan daerah. Daerah harus mempercepat pembangunan dan penyediaan inIrastruktur
untuk menunjang kegiatan investasi. Selain itu daerah juga harus mengembangkan sumber daya
manusia, baik aparat pemerintah maupun pelaku bisnis di daerah.





aftar Pustaka

- Bochari, M.Sanggupri, 'Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak
Kemerdekaan Hingga Orde Baru¨, makalah Kongres Nasional Sejarah Tahun 1996, Jakarta.
- Culla, Adi Suryadi, 'Otonomi Daerah dalam Tinjauan Politik¨, dalam Usahawan No. 04 Th.
XXIX, April 2000.
- Kartodirdjo, Suyatno, 'Antara Sejarah Lokal dan Otonomi Daerah¨, FIS UNNES, 22
November 2000.
- Kristiadi, J.B, ' Masalah Sekitar Peningkatan Pendapatan Daerah¨, dalam Prisma No. 12, 1985
Thn. XIV.
- Susmanto, 'Masa Depan Integrasi Indonesia¨, dalam Suara Karya, 13 Agustus 2001.
- Mecca, Anthony dan ReIa Riana, Format Baru Otonomi Daerah, dalam Teropong, Suplemen
Pikiran Rakyat, Senin 3 Januari 2005.
- Kuncoro (2004), Otonomi dan Pembangunan Daerah; ReIormasi, Perencanaan, Strategi dan
Peluang, Jakarta: Penerbit Erlangga.
- Adiningsih, Sri. Regional Economy. General Business Environment, MM UGM, 2008.
- Siswadi, Edi. Membangun Iklim Investasi di Daerah. Galamedia, 2008.

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->