P. 1
Makalah Gadis Pantai

Makalah Gadis Pantai

|Views: 75|Likes:
Publicado porSamuel Ady Sanjaya

More info:

Published by: Samuel Ady Sanjaya on Oct 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/28/2012

pdf

text

original

BAB 1

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah

Menulis sebuah karya sastra tidak dapat dilepaskan dari latar belakang situasi saat karya itu diciptakan, termasuk pula latar belakang pengarang yang menjadi bagian dari proses terciptanya karya sastra tersebut. Hal tersebut menjelaskan bahwa karya sastra tidak ditulis dalam kekosongan budayanya, akan tetapi karya sastra ditulis berdasarkan konvensi sastra yang ada (Teeuw, 1988). Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial (Damono, 1979:1). Dalam pengertian ini, kehidupan mencakup hubungan masyarakat, baik secara pribadi sebagai individu maupun relasi sebagai masyarakat pada umumnya. Karya sastra merupakan sebuah bentuk cerita rekaan yang sifatnya fiksi. Namun pada kenyataannya, banyak pengarang yang sering menggunakan objek sejarah dalam melakukan proses kreatifnya. Hal tersebut sering disebut dalam genre prosa sebagai sebuah roman. Dalam hal ini, seorang pengarang mencoba untuk mengekspresikan segala sesuatu (perasaan takut, sedih, gembira, benci, dan marah) yang telah dialaminya, dalam arti terjadi secara faktual maupun baru berupa gagasan. Sastrawan hidup di tempat dan zaman tertentu sebagai bagian dari masyarakatnya. Ia tumbuh dalam tradisi pemikiran yang ada dalam masyarakatnya tersebut. Seorang sastrawan dibentuk oleh tradisi dan mungkin juga ikut membentuk tradisi tersebut. Pendidikan, sejarah, lingkungan sosial, dan ideologi akan ikut memberikan sumbangan terhadap karya sastra yang dihasilkannya. Di samping itu, sebagai seorang pribadi, ia juga memiliki pandangan sendiri yang mungkin berbeda dengan yang ada dalam masyarakatnya.

Menulis merupakan upaya merekonstruksi bacaan, begitu pula yang dilakukan oleh seorang pengarang dalam proses kreatifnya selalu menuangkan setiap bacaan yang tertangkap dalam pancaran citra inderawi sebagai kenyataan hulu menjadi kenyataan sastrawi. Novel merupakan jenis karya sastra yang sedikit banyak memberikan gambaran tentang masalah

kemasyarakatan. Novel tidak dapat dipisahkan dari gejolak atau keadaan masyarakat yang melibatkan penulis dan juga pembacanya. Dapat dikatakan secara hampir pasti bahwa perkembangan masyarakat memainkan peranan penting dalam perkembangan novel sebagai hasil sastra maupun barang dagangan (Damono, 1979: 3). Bagi seorang Pramoedya Ananta Toer, menulis bukan sekadar mengetik dan menggerakan imajinasi. Seorang pengarang harus mempunyai keberanian untuk

mengevaluasi dan merevaluasi budaya dan kekuasaan yang mapan. Sastra tidak bertugas memotret, tetapi mengubah kenyataan-kenyataan hulu menjadi kenyataan sastrawi yang membawa pembacanya lebih maju daripada yang mapan. Sastra harus bisa memberikan keberanian, nilai-nilai baru, cara pandang dunia baru, harkat manusia, dan peran individu dalam masyarakatnya. Estetika yang dititikberatkan pada bahasa dan penggunaannya dianggarkan pada orientasi baru peranan individu dalam masyarakat yang dicita-citakan. Novel Gadis Pantai bercerita tentang keadaan sosial pada fase sejarah

perkembangan Indonesia, yang berisi kritikan terhadap kefeodalan Jawa pada zamannya. Seperti istilah yang dikemukakan oleh Pramoedya bahwa novel Gadis Pantai merupakan kritiknya terhadap Jawanisme; “Saya sangat anti-Jawanisme” (Vltchek, Rossie. I, 2006: 72). Paham Jawanisme tersebut sangat kental Seperti yang dikemukakan oleh Andre Vltchek terasa dalam karyanya Gadis Pantai. dan Rosisie Indira dalam sebuah

wawancara dengan Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai merupakan novel yang paling berani mendefinisikan apa itu Jawanisme dengan gaya yang puitis dan lembut. Novel ini menggambarkan kultus kepatuhan dan hierarki (Vltchek, Rossie. I, 2006: 72). Wellek dan Warren (1990: 111) mengemukakan beberapa pendapat mengenai ragam pendekatan terhadap karya sastra. Setidaknya terdapat tiga jenis pendekatan yang berbeda dalam sosiologi sastra. Pertama, Sosiologi pengarang, profesi pengarang, institusi sastra. Permasalahan yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Kedua, adalah isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri, dan yang berkaitan dengan masalah sosial. Ketiga, permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra. Teks naratif atau prosa fiksi menurut Luxemburg (1991:20) adalah campuran peristiwa, pelukisan informasi tentang siapa yang melakukan apa, hal tersebut diperoleh melalui kegiatan membaca sehingga diperoleh gambaran tentang sesuatu secara keseluruhan. Suatu rentetan kejadian yang saling berkaitan secara tekstual. Definisi tersebut semakin menegaskan bahwa karya sastra tidak diciptakan dalam kekosongan budaya. Di dalam penciptaan karya sastra, ada berbagai hal yang secara tidak langsung membentuk karya sastra itu

sendiri. Seperti konteks sosial ketika karya itu dibuat dan pengarang yang merupakan produk dari keadaan sosial. Begitupun dalam sebuah karya sastra selalu memunculkan sebuah ide dan gagasan dari pengarangnya. Sosiologi sastra merupakan telaah sastra yang berpusat pada persoalan hubungan karya sastra dengan pengarang, pengarang dengan pembaca, pembaca dengan karya. Dalam telaah sosiologi sastra ini dikaji sampai seberapa jauh nilai sastra dapat berfungsi sebagai alat penghibur dan pendidik masyarakat (fungsi sosial rakyat). Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat sebagai berikut: 1) Karya sastra ditulis oleh pengarang, dan pengarang adalah anggota masyarakat. 2) Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat. 3) Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan merupakan kompetensi masyarakat yang dengan sendirinya mengandung masalah-masalah

kemasyarakatan.

4) Di dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan juga logika. 5) Karya sastra adalah hakikat intersubjektifitas masyarakat menemukan citra dunianya dalam suatu karya. Oleh karena itu, Sapardi menjelaskan bahwa salah satu gagasan atau konsep sosiologi sastra adalah bahwa sastra merupakan cerminan zamannya, atau merupakan dokumen sosiokultural. Konsep ini dilatarbelakangi oleh pandangan bahwa karya sastra merupakan cermin langsung dari berbagai struktur sosial. Berdasarkan konsep di atas penulis tertarik untuk mengkaji novel Gadis Pantai, karena dalam novel Gadis Pantai tersebut menggambarkan kehidupan sosial budaya pada masa itu. Pengkajian dilakukan dengan mencari tahu unsur intrinsik dan ekstrinsik serta nilai- nilai sosial budaya dalam novel tersebut. Sehingga akan mempermudah dalam memahami novel tersebut.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas.nilai sosial budaya yang ada dalam novel Gadis Pantai Manfaat Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Memperluas wawasan siswa tentang sastra Indonesia Meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa Indonesia . maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Bagaimana unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Gadis Pantai? Apa saja nilai-nilai sosial budaya yang ada dalam novel Gadis Pantai? Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah: Mengetahui unsur intrinsik dan ekstrinsik novel Gadis Pantai Menjelaskan nilai.

diperlakukan oleh Priyayi sebagai pemuas nafsunya. . Alur dapat kita perhatikan dari rangkaian-rangkaian peristiwa yang dibangunnya. tokoh. dan sering pula disebut sebagai pendekatan struktural. 1) Tema Tema merupakan sesuatu yang menjadi dasar cerita atau ide dan tujuan utama cerita. Beberapa aspek tersebut merupakan unsur novel dalam tataran intrinsik. maut. latar.BAB II Pembahasan I. Unsur intrinsik dan ekstrinsik novel a. dan mereka tidak patut dihormati. religius dan sebagainya. 2000:10). tema (Damono. Tema biasanya selalu berkaitan dengan penglaman-pengalaman kehidupan sosial. Bagaimana rakyat kecil yang diwakili oleh Gadis Pantai yang menjadi istri seorang Priyayi. Adapun kritik yang ditujukan pada sistem feodalisme adalah melalui gambaran dalam cerita yang disebutkan bahwa semua yang ada di Gedung Besar adalah rakyat jelata yang harus tunduk dan patuh pada Priyayi. sehingga membentuk suatu rangkaian cerita. Analisis Novel Gadis Pantai 1. dijauhkan dari dunia luar yang menurut Priyayi tersebut sebagai dunia yang kotor dan ia dicampakan dan diusir oleh Priyayi tersebut dengan alasan dia tak sederajat dengannya. 2) Alur Alur merupakan tahapan-tahapan peristiwa yang dihadirkan oleh para pelaku dalam sebuah cerita. Dengan demikian untuk mengetahui bagaimana alur sebuah cerita rekaan. cinta. Tema yang disajikan dalam Roman ini adalah mengenai sosio-kritik dalam sistem masyarakat. kita perlu menyimak rangkaian peristiwa yang terdapat dalam karya yang bersangkutan. ideologi. Berikut akan dijelaskan tentang unsur intrinsik dalam novel Gadis Pantai. Unsur Intrinsik Novel merupakan sistem formal yang anasirnya antara lain alur.

Yang merupakan tokoh ini adalah Bendoro yang arogan. psikologis. Lalu akhir dari bagian cerita tersebut yaitu keadaan yang memprihatinkan yang terjadi pada diri Gadis Pantai akibat dari „keganasan‟ praktik Feodalisme. ia diusir kembali dari gedung besar. 3) Tokoh & Penokohan Sesuai KBBI penokohan dapat diartikan sebagai pencitraan citra tokoh dalam sebuah karya sastra. Tokoh yang terdapat dalam novel Gadis Pantai terdapat tiga tokoh. Adapun pengilasan balik cerita itu hanya sebagai pendukung jalan cerita atau narasi dari novel tersebut. . Karena sesuai dengan apa yang menjadi janji Bendoro. dan sosiologis. yaitu Gadis Pantai yang bertubuh kecil. Pertama yaitu tokoh utama atau tokoh yang mendominasi cerita. Pramoedya Ananta Toer menyajikan cerita dengan bagian awal cerita sebagai pendeskripsian tokoh utama. digambarkan sebagai tokoh yang menghormati. Kedua yaitu tokoh protagonis atau tokoh yang dikagumi sesuai dengan harapan pembaca. Untuk lebih lanjut akan dipaparkan beberapa tokoh di atas sebagai pelaku dalam cerita dengan menelitinya secara tiga dimensional yang meliputi aspek fisiologis. ia tidak akan menjadikan seorang perempuan sebagai pendamping hidupnya kecuali dia sederajat denganya. sampai puncaknya ketika ia dapat menyesuaikan dengan kehidupan Bendoro. kuning langsat yang hidup di Kampung. yang selalu memberikan penjelasan atau memberi bantuan kepada tokoh utama. Selain bendoro juga Mardinah dan komplotannya yang berusaha menghabisi tokoh utama. patuh kepada orang tua dan suaminya. berubah menjadi seorang Priyayi karena menikah dengan Priyayi pembesar kota Rembang. Yang merupakan tokoh protagonis yaitu pembantu tua yang tinggal di gedung besar. Namun setelah ia melahirakan anak. Di bagian tengahnya menghadirkan konflik baik yang terjadi dalam diri Gadis Pantai atau pun konflik dengan tokoh yang lain. Selain itu juga ada emak dan bapaknya. Dari situ kehidupan Gadis Pantai menjadi lebih baik. Ketiga yaitu tokoh antagonis atau tokoh yang tidak disenangi pembaca karena memiliki watak yang tidak sesuai dengan harapan pembaca. Ia juga selalu ingin memberontak terhadap aturan yang ada di gedung rumah Priyayi. Yang menjadi tokoh utama yaitu Gadis Pantai. dan kelakuanya merupakan bagian dari sistem feodalisme.Jenis alur yang digunakan dalam novel Gadis Pantai adalah alur maju. hal itu tertlihat dari rangkaian kejadian dari gadis pantai yang hidup di Kampung nelayan. sombong.

Selanjutnya Gadis Pantai lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menangis dan meratapi nasibnya sebagai seorang priyayi. dengan segala atribut yang ada pada dirinya. Dan akhirnya dengan empu jari ia menuding ke dada orang yang dilawannya bicara” (Toer. Tokoh Gadis Pantai setelah diperistri oleh Bendoro berganti nama menjadi Mas Nganten. 2007:27). Gadis Pantai/ Mas Nganten Tokoh Gadis Pantai digambarkan sebagai sosok wanita yang cantik sehingga memikat hati Bendoro dari Rembang untuk menikahinya. Tokoh Gadis Pantai merupakan tokoh utama dalam novel Gadis Pantai ini. 2007:11). ia mencoba . Gambaran tokoh Gadis Pantai tersebut terdapat pada kutipan di bawah ini: Empat belas tahun umurnya waktu itu. dengan kepala pada lengannya. b. Perubahan nama tersebut terjadi sebagai bagian dari tradisi priyayi. Dari kutipan di atas terlihat bagaimana kebingungan yang dihadapi Gadis Pantai dalam menjalani dunia barunya sebagai seorang priyayi. dipandanginya majikannya yang baru dan terlampau muda itu. ketika status Gadis Pantai yang merupakan golongan orang kebanyakan berubah menjadi priyayi diharuskan mengubah nama. Bendoro digambarkan dalam cerita melalui tokoh Gadis Pantai sebagai penuturnya. istri seorang Bendoro. Seperti terdapat pada kutipan di bawah ini: “Mas Nganten? Siapa itu Mas Nganten?” “Bujang itu tertawa terkekeh ditekan. Tubuh kecil mungil. Bendoro digambarkan sebagai seorang sosok priyayi tulen. Mata agak sipit. Dan jadilah ia bunga kampung nelayan sepenggal pantai keresidenan Jepara Rembang (Toer.a. Seperti kutipan di bawah ini: “Waktu Bendoro terlelap tidur. Kuning langsat. Hidung ala kadarnya. Bendoro Tokoh Bendoro merupakan bagian dari tokoh utama dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer ini. dibelainya dagunya yang licin seperti ikan lele.

2007:33). Emak Emak merupakan orang tua dari tokoh Gadis Pantai. nrimo. Begitu langsat. tak perlu terlentang di terik matari. Emak sebagai seorang ibu digambarkan sebagai tokoh yang sabar. Orang mulia. 2007:83). dialah yang bawa pulang ikan terbesar. 2007:39). Dia pahlawan. Bapak Bapak merupakan orangtua dari Gadis Pantai. ia bangkit berjalan tanpa jiwa menuju pintu…” (Toer. pikirnya. Betapa lunak kulitnya dan selalu tersapu selapis ringan lemak muda! Ingin ia rasai dengan tangannya betapa lunak kulitnya. c. lembut.mengamati wajahnya. pola kehormatan terletak pada keberanian seseorang dalam mengarungi lautan. “. Bapak sangat dihormati dikampung karena keberaniannya ketika melaut. Gambaran yang jelas terhadap tokoh Bendoro merupakan upaya pengarangnya untuk menegaskan perbedaan antara priyayi dengan orang kebanyakan. pikirnya. seperti ia mengemasi si adik kecil dulu. “Ia sudah hafal suara itu: lunak. ditambah setelah Gadis Pantai menjadi seorang priyayi.. Bagi warga kampung nelayan. dan selalu menenangkan hati Gadis Pantai. Kutipan cerita di atas menggambarkan dengan jelas fisik dari tokoh Bendoro. Gambaran di atas menggambarkan betapa terhormatnya tokoh Bapak di kampung nelayan. Dan seperti ditarik oleh benangbenang gaib. sopan.Nelayan yang paling terhormat. . gambaran sosok seorang priyayi pada umumnya.” (Toer. d.” (Toer.. orang dikampung semakin menghormati Bapak. bukan pada status yang disandangnya. Bapak dalam novel ini digambarkan sebagai seorang pelaut dengan tubuh yang kuat dan tegap.

Sebagai seorang ibu. Gambaran tersebut dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini: “Sst. Mak. Dengan predikatnya sebagai seorang bujang bagi Gadis Pantai. Sahaya ini orang kecil. . “Aku tak suka di sini. kalau pun jatuh-ya sakit memang. Mas Nganten. Dari kutipan di atas terlihat bagaimana gambaran Emak yang selalu membimbing dan menenangkan Gadis Pantai.” “Segalanya harus dipelajari. Tidak lagi di gubuk…” (Toer. Mbok dalam novel ini bertugas untuk membimbing Gadis Pantai memasuki kehidupan seorang priyayi. Dia ditakdirkan untuk sekian kali berdiri setiap hari. Nak. Mbok Tokoh Mbok merupakan salah satu tokoh utama dalam novel Gadis Pantai. 2007:44). Jangan nangis.Tokoh Emak digambarkan sebagaimana wanita Jawa pada umumnya. Tokoh Mbok digambarkan oleh Pramoedya sebagai tipe orang kebanyakan.” (Toer. Tambah tinggi. Nak. “Mas Nganten jangan pikirkan sahaya. 2007:44). Gambaran tokoh Mbok terlihat dalam cerita melalui cara dan pemikirannya dalam membimbing Gadis Pantai. setiap hari boleh jatuh seribu kali. orang lata. e. tapi ia selalu berdiri lagi. 2007:12). tambah mematikan jatuhnya. Lama-kelamaan kau akan suka. Mulai hari ini kau tinggal di gedung besar. orang kebanyakan.” (Toer. Bagi orang atasan ingat-ingatlah itu. orang rendah. Dari kutipan di atas terlihat pola pemikiran Mbok dalam membentuk Gadis Pantai menuju kehidupan priyayi yang sesungguhnya. tambah tinggi tempatnya tambah sakit jatuhnya. Emak dengan kesabarannya menguatkan hati Gadis Pantai dalam menjalani kehidupan barunya sebagai priyayi muda dan istri Bendoro. Orang rendahan ini.tapi tak seberapa. Mbok memberikan pelajaran-pelajaran kehidupan kepada Gadis Pantai sebagai priyayi yang masih muda.

“Mas Nganten. 2007:150). sedang dagunya yang begitu tumpul seakan merupakan bagian dari dasar mukanya yang bulat. dan mulutnya begitu kecil.f. Ia awasi wajah wanita muda itu. Mas Nganten. Ditatapnya wanita muda itu. . juga terlalu muda. Bodohlah pria bila tak perhatikan dia. seakan sebuah bawang merah menempel pada sebuah cobek. Sepasang alisnya hitam tebal.” “Belum ada laki?” “Janda Mas Nganten. hampir-hampir bersambung.” “Itu bukan nama orang desa. Mas Nganten. Waktu ia melirik dilihatnya Mardinah tertidur senang bersandarkan keranjang tembakau. Mas Nganten? Sahaya Cuma jalankan perintah. Air mukanya begitu jernih dan ceria. Seperti terdapat pada kutipan di bawah ini: “Gadis Pantai terdiam. Di Semarang.” “Apa hubungannya Bendoro Puteri Demak dengan aku?” “Mana saya tahu.” Gadis Pantai tertegun. nama sahaya Mardinah. Sosok Mardinah sendiri digambarkan oleh Gadis Pantai sebagai perempuan cantik. “Dimana pernah kerja?” “Di Kabupaten Demak. Mardinah bertugas untuk menemani Gadis Pantai dalam menjalankan kehidupan di rumah Bendoro. Wajah yang seindah itu . Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan dialog di bawah ini: “Apa harus kupanggil kau?” Gadis Pantai bertanya.” “Engkau terlalu cantik buat pelayanku. Mardinah Mardinah merupakan kemenakan dari Bendoro yang bertugas untuk membantu Gadis Pantai.”(Toer. Mas Nganten. Mukanya bulat.” (Toer. Setelah Mbok di usir oleh Bendoro.” “Sahaya lahir di kota. Lebih tinggi dari dirinya. gerak-geriknya cepat tanpa ragu-ragu. Mas Nganten. Mardinah ditugaskan oleh putri dari Demak untuk mengabdi kepada Bendoro. 2007:44). dan juga untuk mengawasi Gadis Pantai dalam menjalankan kehidupan di rumah Bendoro.” “Mengapa keluar dan kerja disini?” “Sahaya diperintahkan Bendoro Puteri Demak bekerja disini.” “Berapa umurmu?” “Empat belas.

” “Apa itu kehormatan?” tak berjawab. apa kehormatan itu?”tak terjawab. Hanya jawaban. .” “Sahaya. g. “Pertanyaan dibuat untuk dijawab. mereka pertanyaanku? Jawabanmu mau kudengar. Karim.” “Kau tak tahu apa arti kehormatan?” tak berjawab. Agus-agus kecil diceritakan dalam novel Gadis Pantai sebagai para priyayi muda.” Suaranya menurun jadi lembut kembali. Setiap orang yang duduk di lantai semakin dalam tunduknya. “Abdullah. menggambarkan pola tingkah laku priyayi muda yang angkuh. Menurut Gadis Pantai.Kutipan dialog di atas merupakan awal pertemuan Mardinah dengan Gadis Pantai. Said. “Berapa tahun kau sudah tinggal di sini? Tujuh? Kau tak mau menjawab dengan kasar sedang lemparkan pandang ke arah mereka. Abdullah.” “Semua mereka yang duduk di lantai mengangkat pandang. dan dalam menjalankan kehidupannya sangat kuat menjalankan prinsip-prinsip kepriyayian. sombong. Agus-Agus Kecil Agus-agus kecil merupakan kumpulan remaja yang masih kemenakan dari Bendoro. “Tapi kau tahu artinya maling?” “Sahaya. Kau takkan rugi apa-apa. “Jadi sampai di mana kau belajar mengaji? Benar-benar kau tak tahu maknanya?” tak berjawab. yang merupakan ciri dari seorang priyayi pada umumnya. Tokoh Agus-Agus kecil yang terdiri atas Abdullah. pamanda. “Ya. “Siapa tidak mengerti?” Bendoro bertanya dengan suara mengancam. Tapi segera mereka melihat Bendoro menunduk kembali. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah ini: “Panggil semua agus kemari. dari pertemuan tersebut muncul kecurigaan Gadis Pantai terhadap Mardinah. semua mengerti. Tapi apa kehormatan itu?” Diam sejenak tak seorang berani bergerak. Tokoh Agus-agus kecil muncul dalam novel Gadis Pantai ini ketika terjadi kasus pencurian yang menimpa tokoh Gadis Pantai. itu penting buat dipahami. Mardinah secara fisik tidak pantas untuk menjadi bujang bagi Gadis Pantai. pamanda.

pamanda.” “Kau duduk di kelas berapa?” “Enam. pamanda. sahaya tiada hafal. “Kau dengar aku Karim? Berdiri?” “Ampun. sifat. pamanda. Pamanda. namun di lain pihak mereka pun sangat menjaga kehormatannya dari segala hal yang dapat meruntuhkan segala derajat kepriyayiannya tersebut. Kemunculan Si Dul bermula ketika tokoh Gadis Pantai pulang mengunjungi kampung nelayan. Pamanda. 2007: 116-118).” “Kau. pamanda sahaya bukan maling. kau berdiri di hadapanku. ia tetap duduk menggelesot di lantai. Keberadaannya ada dalam cerita sebagai seorang pendongeng yang merupakan bagian dari warga kampung Nelayan. dan perilaku para Agusagus kecil yang merupakan para priyayi muda dengan segala kepatuhan yang ditunjukannya terhadap Bendoro. Kutipan dialog di atas menunjukan dengan tegas sikap.” “Apakah guru ngajimu sama dengan Abdullah?” “Sama.” panggil Bendoro pada pemuda yang lain. “Apa sebabnya uang itu kau ambil?” Tiada jawaban (Toer. h. Haji Masduhak.” “Sini. Si Dul Si Dul merupakan tokoh tambahan dalam novel Gadis Pantai ini. “Said. Kutipan di atas semakin menggambarkan keambiguan dari sifat seorang priyayi. disatu sisi mereka memegang teguh kehormatan dan kearifan sikap. Dan sahaya tahu sahaya bukan maling. Pamanda.” “Karim!” panggil Bendoro tegas-tegas. apa kata gurumu tentang kemunafikan?” “Ampun. “Sahaya. pamanda.” “Berapa umurmu?” “Sembilan belas.” Pemuda Karim beringsut-ingsut dari duduknya sampai di hadapan Bendoro. Karim. pamanda. .” “Sama dengan Karim?” “Sama. tidak.” Dan Karim tetap tidak berdiri. maka kau bukan maling?” “Tidak ada bukti dapat dikemukakan sahaya seorang maling.” “Apa penjelasannya.“Jadi kau tidak punya kehormatan?” “Sahaya.” “Kau malingnya!” “Tidak. pamanda. Sahaya tahu makna maling.

jadi bangsawan. i. Tapi Gadis Pantai tetap mengawasinya. Kedatangan Gadis Pantai sebagai seorang Bendoro. 2007: 116118). “Bapaaak!” Gadis Pantai memekik sekuat-kuatnya. wajahnya mendadak kecut. Si Dul pendongeng dengan rebana di tangan sedang asyik mendongeng ketika orangorang pada sibuk melayani Gadis Pantai. Gadis Pantai mengawasi Mak Pin. “Siapa dia?” Gadis Pantai menuding Mak Pin. kemudian pada Mak Pin. Kita kenal dia. Ia menyanyikan cerita waktu tuan besar Guntur alias Daendels membangun jalan raya menerjang selatan daerah mereka (Toer. mengundang para pembajak untuk menyerang kampung nelayan. Gadis Pantai mengulurkan tangan ke belakang dan Bapak menangkapnya. Pandang liar ketakutan pada mata Gadis Pantai.” “Bukan! Dia lelaki!” suara Gadis Pantai melengking sekuat-kuatnya. Mak Pin Tokoh Mak Pin merupakan tokoh tambahan dalam cerita novel Gadis Pantai ini. berdiri. Pramoedya mencoba menggambarkan cita rasa ke-Indonesia-an dalam novelnya tersebut. jadi Bendoro. dan tanpa menengok ke belakang pada Bapak. Gadis Pantai turun dari bale. Seperti yang digambarkan dalam kutipan di atas. “Mak Pin. seorang gadis dari kampung mereka telah jadi orang kota. Suasana tiba-tiba berubah. “Lelaki?” semua . Gelak tawa di dapur terhenti.Setiap orang merasa bangga. Bapak menghampiri anaknya. mengawasi Mak Pin sambil melangkah mundur. Tradisi bertutur atau mendongeng merupakan budaya khas dalam masyarakat Indonesia.mundur. yang dengan tangannya memberi isyarat agar ia rebah lagi. Kedatangannya di kampung nelayan merupakan bagian dari upaya perampokan yang akan dilakukan para pembajak kepada Gadis Pantai. Semua mata melihat Gadis Pantai. Tiba-tiba Gadis Pantai merasa takut. Salah satunya dengan penggambaran tradisi lisan tersebut yang digambarkan pada tokoh si Dul. Ketegangan merayapi setiap pojok rumah. Beberapa orang lelaki masuk ke dalam. Gambaran tokoh Mak Pin dapat dilihat pada kutipan di bawah ini. Mak Pin muncul dalam cerita sebagai seorang bajak laut yang menyamar menjadi seorang perempuan.

kelambunnya menganga berkait pada jangkar-jangkar gading. Latar Tempat Latar rumah Bendoro tampak pada bagian awal novel ini ketika rombongan pengantar Gadis Pantai sampai di kediaman Bendoro.orang berseru. Selanjutnya adalah latar kamar tempat Gadis Pantai meluangkan hari-harinya sebagai . 2007:17). Kedatangan Gadis Pantai yang merupakan seorang priyayi ke kampung nelayan. Dengan demikian. 4) Latar/ Setting Latar /setting dalam sebuah karya sastra adalah keterangan mengenai waktu. Nampak di dalamnya sebuah ranjang besi berpentol kuningan mengkilat. kemudian masuk ke dalam ruangan yang panjang. Mereka ditinggalkan diruangan panjang itu. Penokohan yang digambarkan Pramoedya Ananta Toer yaitu melalui deskripsi dan dialog antara tokoh yang satu dengan yang lain. Dalam novel Gadis Pantai menghadirkan dua latar: Pertama adalah latar fisik. merupakan latar pada lokasi tertentu atau waktu tertentu secara jelas. yaitu Gadis Pantai. Salah satunya dengan penyamaran yang dilakukan oleh Mak Pin dalam mengintai mangsanya. Beberapa kursi berdiri di dalamnya dan sebuah sofa yang merapat ke dinding. Dalam cerita rombongan tersebut dipersilahkan menunggu di sebuah kamar. heran. Di penghujung ruangan terdapat kamar dengan pintu yang terbuka lebar. dari pemaparan tokoh-tokoh cerita dalam novel Gadis Pantai di atas. Gadis Pantai lupa pada tangisnya. Berikut kutipan ceritanya. mengundang para pembajak untuk merampok kampung yang disinggahi oleh Gadis Pantai. Mereka melaluinya. dan sosiologis dari berbagai tokoh dapat memperjelas keberadaan tokoh-tokoh tersebut sebagai bagian dalam sebuah struktur cerita. Tak ada seorang pun bicara. dan suasana terjadinya kejadian. psikologis. beserta analisis yang meliputi aspek fisiologis. Mak Pin yang tiba-tiba saja dalam kepungan semua orang mencoba bicara dengan matanya (Toer. 2007: 186-187). Kedatangan rombongan tersebut untuk menyerahkan Gadis Pantai yang telah dinikahi oleh Bendoro. Kutipan cerita di atas merupakan gambaran keberadaan tokoh Mak Pin dalam novel Gadis Pantai. a. apalagi meninggalkan kamar (Toer. ruang. Saking panjangnya ruangan itu sehingga nampak seakan sempit. Mereka tak berani bergerak.

Gadis Pantai dibimbing oleh bujangnya untuk melakukan ibadah mengikuti Bendoro. dalam malam tanpa suara manusia.” bujang itu berbisik. . Tapi angin dari laut dengan ganasnya menggaruki genteng. “Air suci sebelum sembahyang. Latar kamar juga merupakan tempat pertemuan untuk pertama kalinya dengan Bendoro.” Bujang itu tak membetulkannya lagi. persegi panjang. sedang laut yang makin lama makin mendesak ke kota. Mas Nganten. Tak ada bau udang kering.” (Toer. “Inilah kamar tidur Mas Nganten. Tak ada babon tongkol tergantung di atas pengasapan. “Kalwat?” “Iya Khalwat. “Ini khalwat. tergantung rendah pada tali kawat. yang merupakan tempat untuk bersembahyang Bendoro. Seperti terdapat pada kutipan di bawah ini. Tak ada yang bergantungan di dinding terkecuali kaligrafi-kaligrafi Arab yang tak mengeluarkan bau. Bujang itu kemudian mengajarnya ambil air wudhu. selembar di dekat pintu mereka masuk (Toer.” (Toer. Ruang itu luas. Selanjutnya adalah latar khalwat. sangat luas. 2007:26). Dalam kamar tersebut Gadis Pantai merasakan kedekatannya dengan Bendoro yang telah dianggap sebagai suaminya sendiri. terdengar merangsang masuk ke dalam hati. 2007:102). kecuali dua lembar permadani—selembar disana. Di kamar tersebut Gadis Pantai ditemani oleh seorang bujang sebagai orang yang sehari-hari membantu Gadis Pantai dalam menghadapi dunia barunya sebagai priyayi muda.istri dari Bendoro. Tak ada perabot pun disana.” Untuk pertama kali dalam hidupnya Gadis Pantai bersuci diri dengan air wudhu dan dengan sendirinya bersiap untuk bersembahyang. disini pula untuk pertama kalinya Gadis Pantai melakukan ibadah.” kata bujang dengan senyum bangga sambil berjongkok di permadani yang menghampar antara tempat tidur dan meja hias. Di ruangan ini tak ada lesung. Lampu listrik teram-temaram menyala di dua tempat. Mereka masuk. “Sunyi-senyap sejenak di dalam kamar. Jangan salah sebut—khalwat.

setelah itu membatik. “Ia dengarkan deburan ombak sepanjang pantai yang semakin mendekati darat. Sebagaimana diceritakan dalam novel ini. Setelah pertemuannya dengan Bendoro di kamar. 2007:40). dan ombak tampak semakin besar. Rombongan pun berangkat dengan dokar menuju kampung nelayan. matanya tajam mengikuti segala gerak gerik pelayannya.” (Toer. Latar selanjutnya adalah dapur. Kebun merupakan latar selanjutnya. Setiap pagi Gadis Pantai memeriksa dapur untuk mengawasi santapan yang akan dihidangkan untuk Bendoro. khalwat. Dan kebun belakang itu jauh lebih besar dari seluruh kampung nelayan tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. 2007:127-128). kedekatan tersebut terjalin dengan keakraban yang Bendoro berikan untuk Gadis Pantai. Bocah-bocah pada berkicau mengenalkan keanehan pantai waktu Gadis Pantai lebih jauh lagi berjalan. berbaris tanpa komando.” (Toer. dan dapur. ampas manusia yang berbaris sepanjang pantai. Ia cicipi semua untuk menentukan baik tidaknya makanan dihidangkan. Gadis Pantai memohon ijin kepada Bendoro untuk menjenguk orang tuanya di kampung Nelayan.2007:34-35). dan beribadah bersama di Khalwat. Seluruhnya terpagari dinding tembok tinggi (Toer. Mereka sedang menghirup udara pagi di kebun belakang. “Saban pagi Gadis Pantai turun dari kamarnya. memasuki dapur dan mengawasi santapan yang akan dihidangkan pada suaminya. kemudian ia tutup meja. 2007:150). Kemudian Bendoro mengijinkan Gadis Pantai untuk pulang dengan ditemani oleh Mardinah. yang nampak dan tercium masih yang dulu juga. setelah dua tahun mengabdi kepada Bendoro. di tempat ini Bendoro dan gadis pantai sering berbincang-bincang. Latar tempat yang terakhir adalah perkampungan nelayan. Seperti terdapat pada kutipan cerita di bawah ini. . Dalam seminggu ini bila ia masuk ke dapur. Untuk pertama kalinya Gadis Pantai merasakan kedekatannya dengan Bendoro. Matari makin condong ke barat. Sesuai dengan kutipan di bawah ini. rutinitas Gadis Pantai tidak jauh dari kamar.

Pohonpohon kelapa itu kulihat tak bertambah.“Lihatlah. hidup mereka hanya bergantung pada laut. Berbeda dengan kehidupan golongan Priyayi yang sangat berlebihan.” kemudian membalik badan menuding ke kampung. dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Latar Sosial Kedua adalah latar sosial. latar. Hal itu di tunjukan melalui deskripsi. dewa sejagat kalah bengisnya matilah dia berani tolak perintahnya bupati mantra semua Priyayi apalagi orang kecil yang ditakdirkan jadi kuli . 6) Amanat Amanat merupakan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang dari sebuah karya sastra. Atap-atap rumbainya tak ada yang baru.” ia menuding pada laut. „oh. tindakan. yaitu dengan kondisi masyarakat kampung nelayan yang bodoh (tidak bisa baca tulis). 5) Sudut Pandang Sudut pandang adalah cara dan pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh. Dalam penceritaanya Pram menggunakan sudut pandang orang ketiga (diaan) maha tahu. Ada yang mati sepeninggalanku?” b. Penceritaan latar sosial hanya menggambarkan di mana yang tergambar. “Dia pun tak berubah. merupakan latar pada hal-hal yang berhubungan pada perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya sastra. “dia tak berubah. oh. Dalam roman ini secara eksplisit pengarang memberikan sebuah pesan mengenai kebudayaan Jawa hasil dari peninggalan jajahan Belanda yang telah menyengsarakan rakyat pribumi dan mereka membodohinya.

yaitu kebudayaan abangan. Kaum abangan adalah penganut kejawen yang sangat percaya akan eksistensi makhluk halus yang mempengaruhi kehidupan manusia. santri. menandakan ketidakberdayaan rakyat. Dari segi sosial budaya sebagai cerminan masyarakat. Masyarakat Jawa terbagi menjadi tiga-tipe yang mencerminkan organisasi moral kebudayaan. dan magis. seperti dalam praktek-praktek pengobatan. santet. sebab banyak ciri-ciri masyarakat yang ditampilakan dalam karya sastra itu (Sapardi. Dari novel Gadis Pantai. yaitu tentang sistem sosial dalam budaya masyarakat Jawa pada masa novel ini ditulis. dan priyayi. serta orang Belanda yaitu Gubernur Jenderal Daendels.dia sandang pedang tipis di pinggang kiri tapi titahnya wah-wah lebih dahsyat lagi laksana geledek sambar perahu dan tali-temali sehela nafas sedepa jalan harus jadi menggigil semua dengar namanya guntur semua pada takluk gunung kali dan rawa pantai dan jalan berjajar panjang membujur kepala kawula jadi titian orang yang kuasa […. Selain itu juga bila melihat dari deskripsi puisi yang dilantunkan tokoh si Dul. 2002:5). sastra dilihat sejauh mana sastra dianggap mencerminkan keadaan masyarakat pada waktu ia ditulis. yang badan dan jiwanya telah dikuasai oleh elit kekotaan Jawa wakil setempat raja-raja tradisional di Jawa Tengah.] waktu jalan panjang sempurna jadi kereta-kereta indah jalan tiap hari bawa tuan-tuan nyonya-nyonya dan putra-putri tuan besar gubernur jenderal dan para abdi (170-171). didaptkan unsur sosial budaya yang melatarbelakangi penciptaannya. .

” ”Kalau Bapak tahu bagaimana mereka hidup di sana. puasa. Setidak-tidaknya mereka tidak berlumuran kotor setiap hari. 2006) Priyayi memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan orang kebanyakan. Mereka hidup berkecukupan. Bapak suka jadi priyayi?” ”Itulah yang dicitakan setiap orang. Hanya orang kebanyakan yang kerja. yang kebangsawanannya dimiliki secara turun-temurun. adalah komunitas yang menjalankan kaidah-kaidah agama Islam secara lebih murni. tambah tak perlu ia kerja. siapa yang beri makan di sana? semua pada hidup susah. bekerja berat tapi makan pun hampir tidak. dan pada cuplikan dialog: ”Bagi orang sudah tua seperti sahaya ini. hal. berasal dari orang kebanyakan. Kemudian pada cuplikan dialog: ”Tambah mulia seseorang.” ”Lantas Mbok.. salah kita.” ”Setidak-tidaknya mereka tak mengadu untung setiap hari. dan haji termasuk pengelolaan organisasi sosial dan politik Islam. meskipun ada sebagian kecil dari golongan petani.” (Gadis Pantai. hlm. 2007:181) Dan tugas bagi orang yang kedudukannya lebih rendah adalah mengabdi kepada para priyayi tersebut. Kelompok ini biasanya dihubungkan dengan elemen pedagang.Tipe kedua dari masyarakat Jawa yaitu santri. orang kebanyakan seperti sahaya inilah.” (Gadis Pantai. 54). 2007: 68). Mereka ini tidak menekankan kepada elemen animistik dan sinkretinisme Jawa yang dianut kaum abangan dan tidak juga menekankan kepada elemen Islam sebagaimana yang dipraktekkan kaum santri. lantas?” . Mas Nganten.” (Toer. tetapi lebih menitikberatkan kepada elemen-elemen Hinduisme yang secara luas dihubungkan dengan unsur-unsur birokratis. seperti dalam cuplikan dialog: ”Apa salahku?” ”Salah Mas Nganten seperti sahaya. dengan melaksanakan secara cermat dan teratur asas-asas peribadatan Islam seperti shalat. Sedangkan golongan priyayi adalah mereka yang berasal dari aristokrat.. Dan cuplikan dialog: ”Kalau ada nasib.(Haryanto. seperti yang terlihat dari cuplikan dialog: “Ya. 55).” (Toer.

” (Toer. Seperti dalam cuplikan dialog: ”Kau milikku. para priyayi harus dihormati dan diperlakukan seolah raja oleh para kelas yang lebih rendah. harus dan mesti kau kerjakan.2007: 27). Aku yang menentukan apa yang kau boleh dan btidak boleh. ia berhak mengatur kehidupan mereka. Diamlah kau sekarang.2007:155).” (Toer. Seseorang yang kebangsawanannya lebih tinggi dari Bendoro telah perintahkan sahaya kemari.” ”Jadi apa yang mesti aku perbuat?” ”Ah. . Oleh karena itu. Malam semakin larut. tentu tidak ada orang atasan. Siapa saja boleh Bendoro ambil.. Mbok..2007: 99) Para priyayi menganggap. Dan pada cuplikan dialog ”Tidak mungkin orang kampung memerintah anak priyayi. jika seorang priyayi menikah dengan gadis dari tingkat kelas yang lebih rendah. Priyayi itu masih dianggap perjaka jika belum menikah dengan wanita dari kalangan yang sederajat dengannya. beberapa kali sudah sahaya katakan. Mas Nganten.”Kita sudah ditakdirkan oleh orang yang kita puji dan yang kita sembah buat jadi pasangan orang rendahan. Itu kata hina bagi penyebut di hadapan dan untuk Mas Nganten.2007:136) Karena kedudukannya yang dianggap lebih tinggi itu.2007:132) Kemudian pada cuplikan dialog: ”Perjaka? jadi aku ini apanya?” ”Apa mesti sahaya katakan? Bendoro masih perjaka sebelum beristrikan wanita berbangsa.” (Toer.2007: 127) Bahkan karena kedudukanya itu. maka gadis itu belum dianggap sebagai istri sahnya.” ( Toer. Seperti terlihat dari cuplikan dialog: ”Jadi Mas Nganten tahu siapa sahaya. Sudah waktunya Bendoro kawin benar-benar dengan seorang gadis yang benar-benar bangsawan juga. Di Demak sudah menunggu. Tidak mungkin. Mengabdi. aku ini orang apa? rendahan? atasan?” ”Rendahan Mas Nganten. hal ini tercermin dalam cuplikan dialog: ”Pada aku ini. orang dengan kelas lebih rendah dari dirinya adalah miliknya sepenuhnya. Sujud.” (Toer. Kalau tidak ada orang-orang rendahan. tapi menumpang di tempat atasan.” (Toer. sekalipun sampai empat.” ”Aku ini. maafkan sahaya. Tidak bisa. takluk sampai tanah pada Bendoro. Mas Nganten tak boleh sebut diri sahaya.

sedangkan ibunya berasal dari keluarga ningrat. karena pengaruh pemikiran sang ayah. Pimpinan Literary & Features Agency Duta (1951-54). Redaktur bagian penerbitan “The Voive of Free Indonesia” (1954). Hoakiau di Indonesia (1959). Kranji Bekasi Jatuh (1947). akan tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Bumi dan Manusia.Mereka yang dilumpuhkan. Unsur ekstrinsik berupa: a) Tentang Pramoedya Pramoedya lahir pada 6 Februari 1925. ibunya tidak pernah melakukan pekerjaan rumahnya sendirian. dan Arok Dedes. Panggil Aku Kartini Saja (1962). Korupsi (1954). Bukan Pasar Malam. Dosen Fakultas Sastra Universitas Res Publica. Jejak Langkah. Rumah Kaca (1987). Tempo Doeloe (1982). Anggota Dewan Ketua Komite Perdamaian Indonesia (1959). Namun. Jakarta. Arus Balik. Gulat di Jakarta (1953). Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Uni Sovyet (1958).  Pendidikan : SD Blora. Bumi Manusia. Percikan Revolusi (1950) . Ketua Delegasi Indonesia dalam Komperensi Pengarang Asia Afrika di Tashkent. . Anggota Pimpinan Pusat Lekra (1958). Keluarga Gerilya. Di Tepi Kali Bekasi. Gadis Pantai. Ayah Pram adalah seorang guru nasionalis kiri. Letnan Dua dalam Resimen 6 Divisi Siliwangi (1946). Anak Semua Bangsa. Unsur Ekstrinsik Unsur Ekstrinsik merupakan unsur-unsur yang berada di luar karya sastra. Dia yang Menyerah (1951). Dalam suasana yang feodal. Edisi Inggris Anak Semua Bangsa (1980). karena selalu dilayani pembantu. Sekolah Stenografi (1944-45). Calon arang (1957). Dosen Akademi Jurnalistik Dr. Jejak Langkah. Redaktur Balai Pustaka (1950-51). ibu Pram akhirnya berubah dan mau mengerjakan semuanya sendirian. dan Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945). Taman Dewasa/ Taman Siswa (1942-43). Radio Volkschool Surabaya (1940-41). Abdul Rivai. Sang Pemula (1985). Midah si Manis Bergigi Emas. Redaktur Lentera (1962-65).  Karier : Juru ketik Kantor Berita Jepang Domei (1942-45).  Karya Novel : Perburuan (1950).b. Jakarta.

tahanan kota. tabah. tahanan negara. Satimah adalah wanita yang periang. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara—sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: 3 tahun dalam penjara kolonial. yang berani dan tabah. tak kenal putus asa. yang tetap memperjuangkan kemanusiaanan keadilan. bersekolah ataupun pergaulannya. sampai 1999 dan wajib lapor ke Kodim jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih satu tahun. Di mana ia bekerja.b) Kehidupan Pengarang & Latar Belakang Pengarang Kehidupan pengarang merupakan suatu yang mempengaruhi jenis kepengarangan para sastrawan. Jawa Tengah. Satimah adalah wanita yang dijadikan selir oleh kakeknya. pulau Nusakambangan Juli 1969-16 aguatus 1969. Indonesia. nenek Satimah merupakan prototype Gadis Pantai. Dalam kepengaranganya Pram banyak menceritakan tentang wanita yang hampir menjadi manusia teladan. pada tahun 1925. Pramoedya Ananta Toer merupakan Sastrawan yang lahir di Blora. 1 tahun dalam penjara Orde Lama. Dalam novel Gadis Pantai. Ia dari keluarga miskin. Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora. Saat Pram ada konflik dengan ayahnya ibunya-lah yang paling menyayanginya dan ia lah yang memperjuangkan kehidupan keluarganya walaupun dalam keadaan sakit. rajin. Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G 30 S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah. Pram terinspirasi oleh seorang wanita yang tak lain adalah neneknya dari ibu. Magelang/Banyumanik November-Desember 1979) tanpa proses pengadilan. Meskipun Pram tidak tahu banyak tentang neneknya namun dari situ. ideologi dan lain-lain menyangkut Pramoedya Ananta Tioer dilihat. Pada tanggal 21 Desember 1979. Satimah dienyahkan dari gedung tuannya. diperlakukan sebagai individu atau sebuah bagian dari sistem. Dalam hal ini stastus sosial. Pramoeya diperlakukan sebagai bagian dari sebuah sistem yaitu menyangkut keterlibatannya dalam LEKRA. ia bernama Satimah. Penghulu Rembang. dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969. Menurut sejarah Ayah Pram menikah dengan Ibunya pada saat berumur 15 tahun. Tetapi setelah melahirkan anaknya (Ibu Pram). Maka tak heran apabila ia sangat sayang pada ibunya. pulau Buru Aguatus 1969-12 November 1979. Beberapa karyanya lahir dari . Dalam kasus ini. meskipun miskin dia tetap menyayangi cucu-cucunya dengan selalu memberikan hadiah kecil. dan seorang pekerja sejati.

Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Ia antara lain pernah menulis makalah dalam kesempatan memberikan prasaran untuk sebuah seminar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tanggal 26 Januari 1963. dengan judul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (ekakurniawan.wordpress. menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Jejak Langkah dan Rumah Kaca). Hakikat realisme sosialis ini bisa dikatakan menempatkan seni sebagai wahana penyadaran bagi masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagi manusia yang terasing (teralienasi menurut istilah Marxis) dan mampu menyadari dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan. Berkalikali karyanya dibakar. Seniman ditempatkan tidak terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Pramoedya mengusung perlawanan terhadap feodalisme Jawa. ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra (diambil dari buku Gadis Pantai Juni 2002). Hal ini dinyatakan dalam bentuk kehidupan si gadis pantai yang berasal dari kelas remdah dan kemudian dinikahi oleh pembesar. sebab Pramoedya sendiri kerap mengungkapkan antusiasmenya terhadap aliran tersebut. Pengaruh realisme sosialis jelas bukan sesuatu yang mengada-ada.tempat purba ini. di antaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia. Pramoedya telah menghasilkan belasan buku. sampai kini. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan.com) Napas realisme sosialis sangat terasa dalam novel Gadis Pantai. Pengalaman dipenjara dan pengalaman perampasan hak dan kebebasan menjadikan karyakaryanya banyak memperjuangkan tentang nasib perjuangan rakyat kecil. baginya. Penyadaran-penyadaran akan nasib kaum teralienasi itu . Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Pramoedya pernah menjadi anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) yang merupakan underbouw Partai Komunis Indonesia (PKI) karena itulah karya-karya Pramoedya banyak mengusung aliran realisme-sosialis yang merupakan nafas para Marxis ketika berkarya. Aliran realisme merupakan teori seni yang mendasarkan antara kontemplasi diaklektik antara seniman dan lingkungan sosialnya. Dalam novelnya ini. seperti juga dalam novel Gadis Pantai. baik kumpulan cerpen maupun novel. Anak Semua Bangsa. Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan internasional. Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun dari menulis.

Mengiris dan meremas di dalam otaknya. Kampung nelayan ini telah kehilangan perlindungn yang meyakinkan baginya. bekerja berat tapi makan pun hampir tidak. Ada yang pernah mengangkat dan menggendongnya sewaktu habis jatuh dari pohon jambu. ada yang sering dibantunya menunggu dapur. agar tidak terdapat lagi masyarakat berkelaskelas. hal. Ada yang mendongenginya. “Ya.disampaikan Pramoedya dalam bentuk narasi-narasi yang menceritakan ketertekanan gadis pantai menjalani hidupnya di bawah bayang-bayang suaminya yang berasal dari kelas lebih tinggi dari dirinya. orang kebanyakan seperti sahaya inilah. Kesenjangan sosial tersebut ternyata berdampak buruk pada psikologi tokoh dan status sosialnya di masyarakat. Ia masih kenal benar siapa-siapa yang menjemputnya—tetangga-tetangganya. 165) Sesuai dengan tujuan aliran realisme sosialis. Dan ada bocah-bocah kecil yang digendongnya dulu. Pramoedya seolah menegaskan bahwa feodalisme Jawa selayaknya dihapuskan karena menciptakan kesenjangan sosial dan memperburuk kehidupan masyarakat. Dalam sebuah dialog dinyatakan. ketabahanya dalam melawan segala apa yang dianggap tidak adil. Ada yang dulu menjewernya. Sedang di belakang terus mengikuti mata-mata Bendoro yang tak dapat dikebaskan dari bayang-bayangnya. semu. Bendoro! Bendoro Putri! Bendoro! Bendoro Putri! Dan berpasang-pasang mata yang menunduk hormat bila tertatap olehnya seakan menyindirnya: semu. Namun Ia tidak seperti orang jawa kebanyakan yang menyerah dengan keadaan. Antara sebentar ia dengar kata Bendoro Putri! Bendoro! Bendoro! Bendoro Putri! kata itu mendengung memburu. Novel ini di samping mencerminkan kenyatan sosial pada masa itu di Jawa juga menyuarakan perlawanan terhadap kelas tinggi dalam masyarakat Jawa—dalam novel ini diwakili oleh tokoh Bendoro. semua semu! (Gadis Pantai. dan bumi di bawah kakinya terasa goyah. novel ini memperjuangkan kelas proletar—yang diwakili oleh tokoh gadis pantai. pengalamanya tentang masalah-masalah sosial dalam masyarakat jawa pengertianya tentang pendidikan sebagai sarana untuk membangun bangsa . 54). seperti dalam cuplikan dialog: Bapak? mengapa bapak segan menatap aku? anaknya sendiri. Pram memiliki kesadaran nasional yang kuat. c) Keadaan Masyarakat Pram merupakan gambaran dari masyarakat Jawa kebanyakan yang tertindas oleh Kolonial Belanda.” (Gadis Pantai. hal.

Bujang perempuan adalah pelayan Gadis Pantai ketika ia masih mengawali kehidupannya sebagai Mas Nganten. Ambisinya yang ingin membinasakan Gadis Pantai adalah hanya semata-mata karena ia dijanjikan untuk dijadikan istri kelima bagi Bendoro Demak jika ia berhasil menyingkirkan Gadis Pantai dan menikahkan putri Bendoro Demak dengan Bendoro (Priyayi yang menikahi Gadis Pantai). tentu saja karena ia baru berusia 14 tahun kala itu. Sedangkan Mas Ayu adalah seorang perempuan berderajat yang akan dinikahi oleh Bendoro. Mardinah dan Mas Ayu (Bendoro wanita yang akan dinikahi Bendoro). Dan pada saat itu pula praktikpraktik kolonialisme belanda. Hal ini dikarenakan mereka mengharapkan adanya penerus . Mardinah mampu membaca dan menulis. sedangkan Gadis Pantai hanya mampu membaca Al Quran saja. Kontras sekali dengan Mardinah. Bujang wanita. dan lebih terhormat.dan manusia yang bebas dan merdeka. Seorang tokoh antagonis di dalam roman ini. Mardinah begitu meremehkan Gadis Pantai. Emak adalah ibu dari Gadis Pantai yang mengharapkan anaknya mendapat penghidupan dan derajat yang lebih baik. Hal yang sangat mencolok dalam novel ini adalah terpisahnya ibu dan anak secara paksa. Karena ia menganggap ia lebih berderajat karena ia lahir di kota sedangkan Gadis Pantai lahir di perkampungan nelayan yang miskin. dan diceraikannya seorang Mas Nganten setelah ia melahirkan anak bagi Bendoro. ia sangat muda dan karena ia mampu membaca ia jauh lebih cerdas dari pada Gadis Pantai. salah satunya feodalisme. Dalam masyarakat feodal nampak sekali perbedaan antara anak perempuan dan laki-laki. sebelum ia dinikahi Bendoro. Ia lahir di kota Semarang. penduduk kampung nelayan yang miskin. Melalui karyanya Roman „Gadis Pantai‟ Pram berusaha untuk „menusuk‟ praktik feodalisme Jawa yang tidak mengenal adab dan jiwa kemanusiaan. Berapa besarnya keinginan rakyat feodal untuk mendapatkan anak laki-laki. Ia berasal dari kalangan rakyat bawah. Emak. yaitu Gadis Pantai. Karena merasa lebih pintar. Gadis Pantai adalah gadis belia yang sangat lugu. Ia hidup di mana pada saat itu penjajah belada tengah berkuasa di nusantara ini terutama di daerah jawa tengah. Ia tibatiba dihadirkan oleh narator sebagai seorang janda. ia pun buta akan ilmu pengetahuan dan tata karma. yang pernah menjadi Mas Nganten. Mardinah pun tahu benar bagaimana seharusnya menjadi Mas Ngaten yang baik dan benar. d) Relasi Gender Dalam Roman ini setidaknya ada empat tokoh perempuan yang ada di dalamnya. Sedangkan Bendoro adalah Priyayi yang terhormat yang memiliki pengetahuan agama yang luas.

Bendoro. Dalam masyarakat ini anak perempuan hanya dianggap sebagai pengganggu saja dan tidak dapat dibanggakan. bersama kedua orang tua dan saudara-saudaranya. di kampung nelayan yang kumuh dan miskin. Apa lagi jika perempuan itu berasal dari rakyat rendahan. Aku dengar perempuan bayimu. Kebahagiaan baginya adalah masa-masa ketika ia masih hidup di pesisir pantai. di peluknya bayinya dan diciuminya rambutnya…” (Pramoedya. pakaian yang bagus dan perhiasan yang indah. Gadis Pantai. sebagai Gadis Pantai dari golongan bawah. anaknya terenggut paksa dari pelukkannya.bagi mereka. Bendoro.” Bendoro membalikkan badan. Semua terenggut ketika ia menjadi istri seorang Bendoro. Perempuan dianggap sebagai tempat pelepasan birahi dan melahirkan anak saja. namun sesingkat waktu ia dicampakkan begitu saja. Gadis Pantai memiringkan badan. dan ia pun belum banyak tahu tentang kehidupan dan bahkan pengetahuan tentang etika dan tata krama rakyat feodal. Seperti kutipan berikut. keluar kamar sambil menutup pintu kembali. 2007: 253). bercengkrama dan tertawa lepas bersama teman-temannya di antara bulir-bulir pasir hangat yang menjadi alas kakinya dan deburan ombak sebagai dendangan yang selalu mengiringi langkahnya. dan setelah ia melahirkan seorang anak yang ternyata perempuan.” “Jadi cuma perempuan?” “Seribu ampun. benar?” “Sahaya. Seperti halnya apa yang dialami Gadis Pantai dalam roman ini. yang walaupun dalam kehidupan Priyayi ia mendapatkan cukup makan. “Jadi sudah lahir dia. Betapa murkanya Sang Bendoro dan selang beberapa bulan setelah melahirkan. . seorang gadis dari kalangan rakyat rendahan. Dalam usia yang sangat belia ia menjadi Mas Nganten. Selain itu pula. ia belum mengenal cinta dan dicintai. bermain. Gadis Pantai pun diceraikannya. Ia pun kembali menapaki hidupnya semula. bagi seorang perempuan yang menjadi Mas Nganten akan diceraikan begitu saja oleh Bendoro setelah ia memberikan seorang anak kepada Bendoronya. Setelah masuk tahun ketiga dari pernikahannya.

tokoh. Praktik-praktik Feodalisme Belanda masih terasa hingga kini. Gambaran tradisi priyayi Jawa dalam novel ini tergambar dengan jelas dalam setiap tuturan teks. Gambaran tradisi tersebut juga merupakan gambaran bentuk kasar mentalitas para priyayi yang tidak terkendali dan tanpa beban susila maupun agama. Kemudian penjajahan belanda mengakibatkan adanya sistem feodalisme yang menjalar ke darah daging para Priyayi Jawa. menjunjung tinggi kehormatan. dalam usia yang masih begitu belia telah kehilangan segalanya. namun dari pangkat dan golongan mana dia berasal.BAB III PENUTUP I. Priyayi dan para Petinggi Belanda. gambaran tradisi priyayi Jawa tersebut merupakan kritikan terhadap bentuk feodalisme Jawa yang tergambar dalam setiap bentuk tradisi yang dilakukan oleh para priyayi pada zamannya. Kehadiran priyayi merupakan bagian dari kebudayaan Jawa (feodalisme Jawa). Gambaran tradisi yang dimunculkan dalam cerita novel Gadis Pantai ini secara garis besar merupakan gambaran umum tentang pola tingkah laku priyayi Jawa pada zamannya. Kisah sekuel Gadis Pantai terhenti di sini. Betapa seorang manusia tak dihargai dari hatinya. masih membekas tentang kerja paksa ”Rodi”. Hal tersebut tidak terlepas dari penyajian struktur cerita (alur. kebobrokan mental. ajaran-ajaran wayang. perkawinan. konsep priyayi yang . Lewat sekuel pertama ini. serta tidak adanya pemerataan ekonomi. Priyayi merupakan wujud aktivitas dalam sebuah kebudayaan. kebodohan. Karena begitu malu kembali ke kampungnya. tema. Jika dilihat dari segi sejarah mentalitas. khususnya dalam konteks ini adalah kebudayaan Jawa. Akan tetapi. Pram meunjukkan kontradiksi negatif praktik feodalisme di tanah Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan. ke Blora. Gadis Pantai dengan perasaan remuk memilih berputar arah ke Selatan. dan menembang merupakan bagian dari tradisi priyayi Jawa yang direpresentasikan dalam novel ini. Keadaan ini adalah sebuah sistem sosial masyarakat yang mengakibatkan ketidakadilan. Juga perbudakan seks yang dilakukan oleh raja-raja Jawa. Perubahan nama. yang telah menginjak-injak harga diri rakyat kecil. Layak dijadikan perenungan. Hal tersebut merupakan gambaran hedonisme para priyayi pada zamannya. latar) yang saling membangun dalam satu kesatuan isi cerita. Simpulan Gadis Pantai.

dan teratur. demikian dikatakan pada halaman penghabisan. sebab langkah pertama ke arah pembebasan dari penindasan dan penghinaan telah diambil dari Gadis Pantai: ia mulai sadar tentang kenyataan sosial di tempat hidupnya. Gadis Pantai memusatkan matanya ke depan. mengabdi. Ia tidak dapat kembali ke masa lampau. Dengan adanya roman ini kita berharap di masa sekarang tidak ada lagi praktikpraktik Feodalisme. Priyayi dalam novel Gadis Pantai ini merupakan sekelompok orang (Jawa) yang mempunyai kehormatan dan dihormati dalam sebuah sistem sosial. Pram melalui Roman „Gadis Pantai‟ berhasil menguak kebengisan sistem feodalisme Jawa. Dengan teknik kepengaranganya Roman ini berhasil menjadi Roman sosio-kritis. Yang memperjuangkan rakyat kecil dan terutama wanita-wanita Jawa yang dijadikan selir para Priyayi. seperti pengendalian.direpresentasikan dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya ini mengacu kepada konsep sentral priyayi yang alus dan kasar. tersebut sebagai sebuah ambiguitas dari . Priyayi dalam novel ini menunjukkan sosok priyayi yang agung. Buku ini juga tidak negatif. ia harus maju: ”Tanpa menengok ke belakang lagi. walau tetap yang dimunculkan dalam novel ini adalah sisi kelam (kasar) dari sosok priyayi keberadaannya. Priyayi dalam novel ini juga cenderung berurusan dengan masalah penataan dunia spiritual.

Jika dilihat dari segi sejarah mentalitas. Priyayi dalam novel ini juga cenderung berurusan dengan masalah penataan dunia spiritual. menjunjung tinggi kehormatan. ajaran-ajaran wayang. latar) yang saling membangun dalam satu kesatuan isi cerita. konsep priyayi yang direpresentasikan dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya ini mengacu kepada konsep sentral priyayi yang alus dan kasar.ksmpulan Kedua. perkawinan. dan menembang merupakan bagian dari tradisi priyayi Jawa yang direpresentasikan dalam novel ini. Alur selalu berhubungan dengan sebuah peristiwa dan kejadian. Priyayi merupakan wujud aktivitas dalam sebuah kebudayaan. gambaran tradisi priyayi Jawa tersebut merupakan kritikan terhadap bentuk feodalisme Jawa yang tergambar dalam setiap bentuk tradisi yang dilakukan oleh para priyayi pada zamannya. Hal tersebut merupakan gambaran hedonisme para priyayi pada zamannya. Gambaran tradisi priyayi Jawa dalam novel ini tergambar dengan jelas dalam setiap tuturan teks. mengabdi. Gambaran tradisi tersebut juga merupakan gambaran bentuk kasar mentalitas para priyayi yang tidak terkendali dan tanpa beban susila maupun agama. Akan tetapi. seperti pengendalian 1 Alur Alur merupakan rangkaian peristiwa dalam sebuah wacana sastra yang satu dengan yang lainnya memiliki hubungan kausalitas. tokoh. walau tetap yang dimunculkan dalam novel ini adalah sisi kelam (kasar) dari sosok priyayi tersebut sebagai sebuah ambiguitas dari keberadaannya. Hal tersebut tidak terlepas dari penyajian struktur cerita (alur. Perubahan nama. khususnya dalam konteks ini adalah kebudayaan Jawa. Priyayi dalam novel Gadis Pantai ini merupakan sekelompok orang (Jawa) yang mempunyai kehormatan dan dihormati dalam sebuah sistem sosial. kehadiran priyayi merupakan bagian dari kebudayaan Jawa (feodalisme Jawa). gambaran tradisi yang dimunculkan dalam cerita novel Gadis Pantai ini secara garis besar merupakan gambaran umum tentang pola tingkah laku priyayi Jawa pada zamannya. Ketiga. tema. dan teratur. Peristiwa tersebut merupakan tindakan tokoh yang berakibat pada . Priyayi dalam novel ini menunjukkan sosok priyayi yang agung.

1. 13 Dari penjelasan di atas. Alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian.2 Tokoh Tokoh merupakan orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kausalitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (Abrams dalam Nurgiyantoro 2002:165). Tokoh dalam sebuah cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa atau penyampai pesan. yakni teknik penundaan (suspending). dapat disimpulkan bahwa alur merupakan rangkaian peristiwa dan kejadian yang saling berhubungan dengan adanya sebuah deretan hubungan kausalitas (sebab-akibat).kehidupan tokoh dalam cerita. peristiwa dan kejadian dalam sebuah cerita cenderung menggunakan tiga teknik utama. tetapi setiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat. psikologis. teknik pembayangan (foresshadowing).3. amanat. moral. Tokoh dalam sebagai pelaku cerita meliputi tiga aspek yang meliputi aspek fisiologis. 2002:113). Menurut Sudjiman (1990:79) tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berlakuan dalam berbagai peristiwa di dalam sebuah cerita. Berdasarkan pengerutannya. atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain (Nurgiyantoro. dan teknik pembalikan (flashingback). dan sosiologis. Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh merupakan orang yang secara imajinatif ditampilkan sebagai pelaku cerita dan berperan sebagai orang yang menggerakkan alur dalam sebuah cerita. 2. .

3 BAB 5 . 1990:48). 4. ruang. dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan (Abrams dalam Nurgiyantoro. latar dapat diimajinasikan secara faktual oleh pembaca. dan suasana terjadinya lakuan dalam sebuah karya sastra (Sudjiman. hubungan waktu. Latar disebut juga sebagai landasan tumpu yang menyaran kepada pengertian tempat.3 Latar Latar adalah segala keterangan mengenai waktu.3. Menurut Stanton. 2002:216).2.1.1.

khalwat. Mardinah. penulis telah menemukan 127 fungsi utama dalam novel Gadis Pantai ini. Simpulan ini akan menjawab masalah yang telah dikemukakan sebelumnya. Mak Pin. Agus-agus kecil. dan perkampungan nelayan. pengarang tidak hadir dalam teks dan hanya mengarahkan dan menggerakkan para tokoh sebagai orang ketiga. Gadis Pantai. dan pragmatik.1. analisis penceritaan meliputi aspek kehadiran pencerita dan tipe penceritaan. semantik. Latar tempat dalam novel ini meliputi keraton sebagai rumah Bendoro. Aspek sintaksis mengemukakan tentang analisis alur. maka pada bab lima ini akan dipaparkan simpulan dari analisis yang telah dilakukan. Melalui analisis alur dengan menggunakan fungsi utama. dan malam. Aspek semantik meliputi analisis tokoh dan latar. karena ketiganya merupakan penggerak cerita dalam novel Gadis Pantai ini. Tipe penceritaan dalam novel ini banyak . dapur. Dalam novel Gadis Pantai ini. terdapat juga tokoh Bapak. dan si Dul sebagai tokoh-tokoh tambahan. sore. Selain itu. Emak. Peran pengarang dalam novel ini yaitu sebagai pencerita ekstren. Simpulan Berdasarkan uraian pada bab empat. Bendoro. mengenai struktur novel Gadis Pantai telah dilakukan analisis yang meliputi aspek sintaksis. kebun. dan Mbok merupakan tiga tokoh utama. Pertama. Analisis struktur pada aspek pragmatik dilakukan untuk mengetahui sudut pandang pengarang dalam sebuah karyanya. Analisis latar meliputi latar tempat dan latar waktu. Pada analisis tokoh telah ditemukan sembilan tokoh yang ada dalam novel ini. latar waktu meliputi waktu pagi. kamar. siang.SIMPULAN DAN SARAN 5. Sementara itu.

karena dalam novel ini banyak menceritakan pemikiran-pemikiran para tokoh (Mbok dan Gadis Pantai).menggunakan tipe penceritaan dengan jenis wicara alihan. .

 50789. 3 80..2-:9.2 34.3 909.3 0.90780-:9 207:5.7  !7.3 0./7..3 202-.280-:. 90703/../857. 5. 57./../..3 908  .2-..  !7.820 .3 :8:83. .3 9.2809..3 907..0 3 .  0.825:.5./8!.7/.9:7  .:8 /.90780-:9 207:5. 0472. ../..3/03.9 /.2-. .3 8484 57. /.2./.3 /:3.  !07:-.3 .3 /705708039.3.3 .3/./.3 /.079.3907..2.78080.7. /.3 /.9.354.3  .2 34.7  . 90780-:9 80-./. /.3 8004254 47..2-.7  /.9..3 . 0-:/.  .9/.57.7. .202 :-:3.8/.2 34.9:08.2 439083. 203:3:3 93 0472.. 104/.... /.8 /.7.33.. 2039.8.7 0-:/.0 .  805079 50303/.3 .:5:3 .3..3 ..3 405.3 2. . .:.33..3 . .2-.: 05.2.3 -.3 0/:.3  507..  09. .207:5..3 -039:..35.3 8. .3 97..2.7.3 :2:29039..7 207:5.3 207:5. 80-:.3 3.2-.7 8484 57.: -07:-:3..5 9:9:7.8 /.3 907.38. !7.0 3  .3.3 7.57.820...  944  .8.3 97./890780-:9:.3 8:8.30/438205. 2..8 /. 207:5.8  :7 80..2 80-:./.0-:/.2 809. .5-039:97.3.0 3 907.3./8!./.33.3 93/.2 . .3 8.3 .5  . 90705.7..7 2039. 88 0..2.897. 503.../8.9.93.3 944 .33.7.. 8579:.3 2025:3.9..9..39.03/07:3 -07:7:8. .2-. .9: /03. 57.3 9/.2 34....3 /.079.:8. 8.397.0 .3 /2:3.2./8. .7 97..3 .0 ..5.7....7.. .3::/..3 97.: 57.7 0-07. 90780-:9 9/.34..:. 3 207:5.8 4380557.3/705708039..3  !0789.7./8 57.3 ..-.7.  !7.0 3 :.7.. .079.234.: 909. /.3 /.:7  902..3 20302-.3        :7  :7 207:5.90780-:9207:5. 3 203.:.. -0-.3 57. ..7.8.9.3 -07.3 897:9:7 .5 ...9 5..3 79./.. .3 /2:3.7 /03.9.. /.7..3 80-:.9.:3  203.3 /03.2 80-:. 207:5./8 !.2-. 88902 848.39.3 /472. /.8. 43805 80397.3-..8.3 /.7.3.39.3 50789.2-.3 /..7./..-/  /..0 3 203:3:.9:.3 .9.3/. . ..78 -08.8 5.2-.28.2 34.8.3 /./8 57.3:3/./. !7..2 34../.7 503.33.5-039:104/. .240/.3.

9.5.:7207:5..91 /9.3 903 503:3/.33. 203025. 205:99./../9.3 907.3 /.3-.3 0..187.305.03/07:3././.3202..0/:5.25.50.280-:.8247.3 909. %44/.9 5488 897.3.3/9..:7/.380-.9  247.:.3 8.:../:70. ./.9:.850..3   944.340 502-.079.7./.: 2030-.079.502-. 2.2 80-:.50.380.28 /..47. /0709.347..7.3803.079..3.5809.903:9.280-.380-./..2 80-:.30.079.2 -07-.3 /.-..3.39079039:805079.3 1. .25../43  /.. . .3 .37.3 20307.: -07.2.3 /085708.3. /....7.3..079..39.91.079.: .7..5...9: /80-.380.8.. / /. .03/07:3203:3.90880-.9:.3  ..  50789.3203.  :7...9..30. 80-:.3 8. .280-:.3 /.3 .. /:-:3.3/. 508. 50789.3/.5.- .28:.3.25./.7.9..9  50789.2..3-.    ./..3 .3 .3.3-07507.5.3 50307:9. 80-./..3 47.3..3 -7.2 :7.9.3 .3....-.83-.3 147088.079.3 -07:-:3.-..3.3-078:7:9.2.9/825:.3 8:8503/3 903 502-.8/.3848448  .  .:8..3944/.8 /./.: 503.-.: 808:.       .39474   03:7:9$:/2..:.3 /. 50789.3/.:8.079...3 :-:3..- .7503.25.3205:9.2 93/. ./.9/825:...2:.7.-.33/8. 502-.30.9.8..9.39474     07/.9          %44  %44207:5.3 :7.85018448 58448 /.3 .3 /03.350789..8 80-.  %44 /../3..3/.9..3.3/. .50. .3 47.9.75030.944207:5.3 903 502-.39:.3 .3/.250789.

7.380.3/. 50789.0907. .3 /. 80-.80.3943 .9./3.9  :-:3.                        .320303..7.9:  /.503079. 9025..9: 7:.3 9025.9.39474     03:7:9$9.9. ..50789.3 ..3 9:25: ..5. 8.9/2.897.:./.3. .7 /80-:9 :..1..9 907.9:.7..3.38:.907.9.7/./.7  .2 80-:..3 848.3 203. $:/2.3/..3 -7.3 /.8..40502-.8.7.3 3:3.3.2:7./3.079.3     .8.28/.     .3 05.

3. $!&$#       $25:.39.  20303. 90.2..:.9. 089703 503.7.. 9:  .3..25:3./7.234.3  07/.7... :8 .3.8..0.9...: 8:/:9 5./.3.3 /.3 /.39: 907/./.7 9025.88 897:9:7 5.7.88503.079.5.3/. ./.3 .3 507.3./8!.5.3  !07.  !079.3  3. 503. ..3/. 09.3 203:3.38: 80-./7 /.03 -.3 /5.079.. /02:. .7 .88  802.3 5.703. 897:9:7 34. 03/474  .234.88 ..2 34./8!. -.9.9.2.39.3.3 825:.2  3.- 2.9 /.7.7.3/.2.850 0..207:5.3.35.3 .39.3.3 802-.2 908 /.3  850802. 944 944 9.././8 !.380-0:23.  8.3 .2...7 205:9 .39205:9.39/.3  8470 /.-2. 3  $0..7. /..2.3./.:.390.3.  ..94480-.8894490. -.944.850 57.3 9039..3 57.3 :39: 20309.3503.9: 80-.32.  503:8 90../902:.3.9  2.0 .079.       .3 20307.7 !.7 .2.9 /. /.9.3 503.9. .5.7 .3944 .234.88944/. /..9:  .0 3 .850839.280-:. 7:2.8.390../.9  /.:80..2.3  $02039.!3 /.79025. 2...2-...079.079.88.0 .3.3 .03 03/474 .3-4207:5.: .3 .3 950 503.. 944 :9.. %50503.3 :7. 3.5:7  0-:3  /./.9: 5.9:. 20302:.88.9 /.88 .:.943 80-.0 3 205:9 07.2 34.7.39.2 34.3 50307.39.3 503.3 205:9 .0..3 1:38 :9.39..:7 /03.31:38:9.309./8!. 5... 203.3/.7.- 025.88 20302:. /..3 $25:.9  850 839.39  /.7..3 30.9: 205:9 .47..2 34.3 205:9 . /./8 !.079.:7  0.33.7/3.3203. .3. .7.88 .

.35..7. /.35027.079.203.3  .3.3 5027.39.3 038 ..944 -4/../8!..079.703.7.0 3 -. .2 34.3..3 /03.3 950 503. 203:3.    .

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->