IMPLEMENTASI PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Oleh: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (dosen dan guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya. Diimplementasikan dengan benar berarti sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan. Makalah ini membahas bagaimana implementasi penelitian tindakan kelas untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang mencakup diagnosis dan penetapan masalah yang ingin diselesaikan, bentuk dan skenario tindakan, pengembangan instrumen untuk mengukur kebehasilan tindakan, serta prosedur analisis dan interpretasi data penelitian. A. Diagnosis dan Penetapan Masalah Masalah PTK yang merupakan penelitian kolaborasi antara dosen dan guru di sekolah hendaknya berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Oleh karena itu, diagnosis masalah hendaknya tidak dilakukan oleh dosen lalu ”ditawarkan” kepada guru untuk dipecahkan tetapi sebaiknya dilakukan bersama-sama oleh dosen dan guru. Pada kenyataannya dosen dapat mengajak guru untuk berkolaborasi melakukan PTK dan menanyakan masalah-masalah apa yang dihadapi guru yang mungkin dapat diteliti melalui PTK. Guru yang telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama dan kemudian membahas masalah tersebut dengan dosen. Lain halnya dengan guru yang belum berpengalaman dalam PTK. Guru tersebut mungkin belum dapat secara langsung mengemukakan permasalahan yang mungkin dapat diteliti bersama dosen. Dalam hal ini dosen perlu meminta izin kepada guru untuk hadir di kelas dan mengamati guru mengajar. Setelah pembelajaran berakhir dosen dapat terlebih dahulu menanyakan kepada guru masalah apa yang dirasakan guru pada saat pembelajaran sebelum mengusulkan salah satu permasalahan yang dipikirkan dosen. Dosen baru-boleh mengajukan permasalahan bila guru tidak dapat mendeteksi adanya masalah di kelasnya. Di dalam mendiagnosis masalah untuk PTK ini guru dan dosen harus ingat bahwa tidak semua topik penelitian dapat diangkat sebagai topik PTK. Hanya masalah yang dapat “dikembangkan berkelanjutan” dalam kegiatan harian selama satu semester atau satu tahun yang dapat dipilih menjadi topik. “Dikembangkan berkelanjutan” berarti bahwa setiap waktu tertentu, misalnya 2 minggu atau satu bulan, rumusan masalahnya, atau hipotesis tindakannya, atau pelaksanaannya sudah perlu diganti atau dimodifikasi. Dalam kegiatan di kelas, guru dapat mencermati masalah-masalah apa yang dapat dikembangkan berkelanjutan ini dalam empat bidang yaitu yang berkaitan dengan pengelolaan kelas, proses belajarmengajar, pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar, maupun sebagai wahana peningkatan personal dan profesional. PTK yang dikaitkan dengan pengelolaan kelas dapat dilakukan dalam rangka: 1) meningkatkan kegiatan belajar-mengajar, 2) meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar, 3) menerapkan pendekatan belajar-mengajar inovatif, dan 4) mengikutsertakan pihak ketiga dalam proses belajar-mengajar. PTK yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar dapat dilakukan dalam rangka: 1) menerapkan berbagai metode mengajar, 2) mengembangkan kurikulum, 3) meningkatkan peranan siswa dalam belajar, dan 4) memperbaiki metode evaluasi. PTK yang dikaitkan dengan pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar dapat dilakukan dalam rangka pengembangan pemanfaatan 1) model atau peraga, 2) sumbersumber lingkungan, dan 3) peralatan tertentu. PTK sebagai wahana peningkatan personal dan profesional dapat dilakukan dalam rangka 1) meningkatkan hubungan antara siswa, guru, dan orang tua, 2) meningkatkan “konsep diri” siswa dalam belajar, 3) meningkatkan sifat dan kepribadian siswa, serta 4) meningkatkan kompetensi guru secara profesional. Jadi, masalah penelitian yang dipilih hendaknya memenuhi kriteria “dapat diteliti”, dapat “ditindaki”, dan “ditindaklanjuti”. Contoh permasalahan ada di Lampiran 1. Dari sekian banyak kemungkinan masalah, guru bersama dosen perlu mendiagnosis masalah apa atau masalah mana yang perlu diprioritaskan pemecahannya dalam penelitian yang akan dilakukan bersama itu. Penetapan masalah hendaknya dilakukan bersama oleh dosen dan guru setelah menganalisis seluruh pilihan masalah, minat, dan keinginan guru serta dosen (bersama) untuk memecahkan salah satu atau beberapa di antaranya. Penetapan masalah ini ditandai dengan penentuan permasalahan yang akan diteliti dan perumusan fokus masalahnya. Rumusan fokus masalah yang mungkin ditetapkan bersama antara guru dan dosen dapat berupa rumusan sebagai berikut: Bagaimana membelajarkan siswa materi tertentu agar siswa mau dan mampu belajar? Masalah-masalah lain yang mungkin dihadapi guru dapat berupa: • Bagaimana meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar? yang “ideal” itu dapat meningkatkan antusiasme siswa sehingga mereka sepertinya “tidak sabar” menunggununggu datangnya jam pelajaran yang dibina oleh guru tersebut;

Implementasi Penelitian Tindakan Kelas Oleh Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono Tuesday, 25 December 2007

dapat “ditindaki”. Jadi. dan keinginan guru serta dosen (bersama) untuk memecahkan salah satu atau beberapa di antaranya. pengembangan instrumen untuk mengukur kebehasilan tindakan. Penetapan masalah hendaknya dilakukan bersama oleh dosen dan guru setelah menganalisis seluruh pilihan masalah. misalnya 2 minggu atau satu bulan. bentuk dan skenario tindakan. A. proses belajarmengajar. PTK yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar dapat dilakukan dalam rangka: 1) menerapkan berbagai metode mengajar. atau hipotesis tindakannya. Diimplementasikan dengan benar berarti sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan. 2) mengembangkan kurikulum. guru dapat mencermati masalah-masalah apa yang dapat dikembangkan berkelanjutan ini dalam empat bidang yaitu yang berkaitan dengan pengelolaan kelas. guru bersama dosen perlu mendiagnosis masalah apa atau masalah mana yang perlu diprioritaskan pemecahannya dalam penelitian yang akan dilakukan bersama itu. Makalah ini membahas bagaimana implementasi penelitian tindakan kelas untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang mencakup diagnosis dan penetapan masalah yang ingin diselesaikan. Contoh permasalahan ada di Lampiran 1. Oleh karena itu. Dosen baru-boleh mengajukan permasalahan bila guru tidak dapat mendeteksi adanya masalah di kelasnya. guru. Diagnosis dan Penetapan Masalah Masalah PTK yang merupakan penelitian kolaborasi antara dosen dan guru di sekolah hendaknya berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. atau pelaksanaannya sudah perlu diganti atau dimodifikasi. Guru tersebut mungkin belum dapat secara langsung mengemukakan permasalahan yang mungkin dapat diteliti bersama dosen. dan 3) peralatan tertentu. Penetapan masalah ini ditandai dengan penentuan permasalahan yang akan diteliti dan perumusan fokus masalahnya. dan 4) memperbaiki metode evaluasi. Pada kenyataannya dosen dapat mengajak guru untuk berkolaborasi melakukan PTK dan menanyakan masalah-masalah apa yang dihadapi guru yang mungkin dapat diteliti melalui PTK.Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. Guru yang telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama dan kemudian membahas masalah tersebut dengan dosen. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (dosen dan guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya. 3) meningkatkan sifat dan kepribadian siswa. 3) meningkatkan peranan siswa dalam belajar. serta prosedur analisis dan interpretasi data penelitian. PTK yang dikaitkan dengan pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar dapat dilakukan dalam rangka pengembangan pemanfaatan 1) model atau peraga. Hanya masalah yang dapat “dikembangkan berkelanjutan” dalam kegiatan harian selama satu semester atau satu tahun yang dapat dipilih menjadi topik. dan “ditindaklanjuti”. 2) sumber-sumber lingkungan. “Dikembangkan berkelanjutan” berarti bahwa setiap waktu tertentu. rumusan masalahnya. diagnosis masalah hendaknya tidak dilakukan oleh dosen lalu “ditawarkan” kepada guru untuk dipecahkan tetapi sebaiknya dilakukan bersama-sama oleh dosen dan guru. Lain halnya dengan guru yang belum berpengalaman dalam PTK. masalah penelitian yang dipilih hendaknya memenuhi kriteria “dapat diteliti”. 2) meningkatkan “konsep diri” siswa dalam belajar. pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar. serta 4) meningkatkan kompetensi guru secara profesional. Rumusan fokus masalah yang mungkin ditetapkan bersama antara guru dan dosen dapat berupa rumusan sebagai berikut: Bagaimana membelajarkan siswa materi tertentu agar siswa mau dan . PTK yang dikaitkan dengan pengelolaan kelas dapat dilakukan dalam rangka: 1) meningkatkan kegiatan belajar-mengajar. PTK sebagai wahana peningkatan personal dan profesional dapat dilakukan dalam rangka 1) meningkatkan hubungan antara siswa. 3) menerapkan pendekatan belajar-mengajar inovatif. 2) meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar. Dalam hal ini dosen perlu meminta izin kepada guru untuk hadir di kelas dan mengamati guru mengajar. maupun sebagai wahana peningkatan personal dan profesional. dan 4) mengikutsertakan pihak ketiga dalam proses belajar-mengajar. dan orang tua. Di dalam mendiagnosis masalah untuk PTK ini guru dan dosen harus ingat bahwa tidak semua topik penelitian dapat diangkat sebagai topik PTK. Dalam kegiatan di kelas. Setelah pembelajaran berakhir dosen dapat terlebih dahulu menanyakan kepada guru masalah apa yang dirasakan guru pada saat pembelajaran sebelum mengusulkan salah satu permasalahan yang dipikirkan dosen. Dari sekian banyak kemungkinan masalah. minat.

.

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK ) UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI TEHNIK PEMBERIAN TUGAS PEKERJAAN RUMAH BAGI SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR NEGERI 1 SAMUDRA KULON Disusun oleh : NURSIDIK KURNIAWAN. A.Ma.Pd.SD .

.No KEGIATAN 1 2 3 4 MINGGU KE……. 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5 6 7 Perencanaan Proses pembelajaran Evaluasi Pengumpulan Data Analisis Data Penyusunan Hasil Pelaporan Hasil .

Inc. Fotocopy Naskah 2.X. BIAYA PENELITIAN Akibat yang timbul dari penelitian ini menjadi tanggung jawab peneliti. PERSONALIA PENELITI Penelitian ini melibatkan Tim peneliti. Ini akan memastikan anda terus belajar serta memperbaiki diri. lain – lain JUMLAH : Rp : Rp : Rp : Rp : Rp : Rp XI. jilid buku 4. (Gerald McGinnis. adapun biaya tersebut adalah : 1. Rental Komputer 5.) . identitas dari Tim tersebut adalah : 1. Nama NIM Pekerjaan : NURSIDIK KURNIAWAN : 813846371 : Guru Wiyata Bakti SDN 1 Samudra Kulon Tugas dalam penelitian : Pengumpulan dan Analisis Data Mendengar + Membaca = 10 x Berbicara Pergunakanlah waktu anda untuk mendengarkan dan membaca kira-kira sepuluh kali waktu anda berbicara. Kerta folio 1 pack 3. Presiden Direktur Respironics.

22 December 2007 .Langkah-Langkah Penelitian Tindakan Kelas Saturday.

2) strategi belajar. dan oleh karena itu dalam usaha memahami komponen tertentu peneliti perlu memikirkan . Masalahnya dapat berupa kekurangan yang dirasakan dalam pengetahuan. menambah efisiensi aspek tertentu dari administrasi sekolah (Cohen dan Manion. Misalnya dalam bidang pendidikan. Langkahlangkah tersebut adalah sebagai berikut: (1) mengidentifikasi dan merumuskan masalah. sikap. 1989). Data diperlukan untuk memfokuskan masalahnya dengan mengidentifikasi faktor penyebab. 4) penanaman atau perubahan sikap dan nilai. Identifikasi dan Perumusan Masalah Seperti telah disinggung di muka. yang pada gilirannya menghasilkan perubahan pada perilaku Anda dan sejawat serta murid-murid Anda. etos kerja. bidang studi. 1982.Ada beberapa langkah yang hendaknya diikuti dalam melakukan penelitian tindakan (lihat misalnya Cohen dan Manion. kreativitas. Masalahnya hendaknya bersifat tematik seperti telah disebutkan di atas dan dapat diidentifikasi dengan pertolongan tabel dua arah model Aristoteles. Winter. keterampilan. dan 7) administrasi. menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran daripada satu gaya belajar mengajar. siswa. Masalah yang akan diteliti harus dirasakan dan diidentifikasi oleh peneliti sendiri bersama kolaborator meskipun dapat dengan bantuan seorang fasilitator supaya mereka betul-betul terlibat dalam proses penelitiannya. Pada dasarnya. Secara alami. proses pembelajaran. atau meningkatkan kesadaran diri. 5) pengembangan profesional guru misalnya meningkatkan keterampilan mengajar. 1908. PTK Anda lakukan untuk meningkatkan praktik pembelajaran Anda. a. Singkatnya. dalam evaluasi dsb. (2) menganalisis masalah. pengenalan bertahap pada teknik modifikasi perilaku. 1969) yaitu: guru. 1980: 181). misalnya meningkatkan metode dalam penilaian kontinyu/otentik. PTK Anda dilakukan untuk mengubah perilaku Anda sendiri. 1. dan lingkungan. Langkah ini merupakan langkah yang menentukan. (6) mengolah dan menafsirkan data. atau mengubah kerangka kerja. Apabila terjadi perubahan masalah pada waktu dilakukan analisis masalah. mungkin mengganti metode tradisional dengan metode penemuan. sehubungan dengan anggapan bahwa ada empat komponen pokok yang ada di dalamnya (Schab. (3) merumuskan hipotesis tindakan. dalam menentukan hipotesis tindakan. langkah-langkah itu biasanya tidak terjadi dalam alur yang lurus. (4) membuat rencana tindakan dan pemantauannya. Identifikasi masalah Seperti dalam jenis penelitian lain. ada empat sel lajur dan kolom. masalahnya berupa kesenjangan antara kenyataan dan keadaan yang diinginkan. langkah pertama dalam penelitian tindakan adalah mengidentifikasi masalah. mengembangkan metode mengajar yang baru. 6) pengelolaan dan kontrol. Semua komponen tersebut berinteraksi dalam proses belajar-mengajar. dsb. Contoh-contoh bidang garapan PTK: 1) metode mengajar. perilaku sejawat dan murid-murid Anda. Taba dan Noel. menambah kemampuan analisis. mungkin mendorong timbulnya sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan. kelancaran komunikasi. 3) prosedur evaluasi. maka diperlukan identifikasi masalah yang baru. dan (7) melaporkan. (5) melaksanakan tindakan dan mengamatinya.

Implementasi Penelitian Tindakan Kelas Oleh Prof. Dra. Kisyani Laksono Tuesday. Herawati Susilo. dan Dr. 25 December 2007 .D. Ph.. M.Sc.

Dosen baru-boleh mengajukan permasalahan bila guru tidak dapat mendeteksi adanya masalah di kelasnya. guru. “Dikembangkan berkelanjutan” berarti bahwa setiap waktu tertentu. rumusan masalahnya. dan 4) mengikutsertakan pihak ketiga dalam proses belajar-mengajar. Hanya masalah yang dapat “dikembangkan berkelanjutan” dalam kegiatan harian selama satu semester atau satu tahun yang dapat dipilih menjadi topik. dan orang tua. 2) sumber-sumber lingkungan. Contoh permasalahan ada di Lampiran 1. 3) menerapkan pendekatan belajar-mengajar inovatif. guru bersama dosen perlu mendiagnosis masalah apa atau masalah mana yang perlu diprioritaskan pemecahannya dalam penelitian yang akan dilakukan bersama itu. serta prosedur analisis dan interpretasi data penelitian. Penetapan masalah ini ditandai dengan penentuan permasalahan yang akan diteliti dan perumusan fokus masalahnya. Dalam hal ini dosen perlu meminta izin kepada guru untuk hadir di kelas dan mengamati guru mengajar. PTK yang dikaitkan dengan pengelolaan kelas dapat dilakukan dalam rangka: 1) meningkatkan kegiatan belajar-mengajar. Makalah ini membahas bagaimana implementasi penelitian tindakan kelas untuk peningkatan kualitas pembelajaran yang mencakup diagnosis dan penetapan masalah yang ingin diselesaikan.Penelitian Tindakan Kelas (PTK) memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila diimplementasikan dengan baik dan benar. maupun sebagai wahana peningkatan personal dan profesional. guru dapat mencermati masalah-masalah apa yang dapat dikembangkan berkelanjutan ini dalam empat bidang yaitu yang berkaitan dengan pengelolaan kelas. 2) meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar. dan 3) peralatan tertentu. Guru yang telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama dan kemudian membahas masalah tersebut dengan dosen. 2) mengembangkan kurikulum. proses belajarmengajar. dan keinginan guru serta dosen (bersama) untuk memecahkan salah satu atau beberapa di antaranya. masalah penelitian yang dipilih hendaknya memenuhi kriteria “dapat diteliti”. atau hipotesis tindakannya. PTK yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar dapat dilakukan dalam rangka: 1) menerapkan berbagai metode mengajar. Oleh karena itu. Dalam kegiatan di kelas. pengembangan instrumen untuk mengukur kebehasilan tindakan. 3) meningkatkan sifat dan kepribadian siswa. bentuk dan skenario tindakan. Rumusan fokus masalah yang mungkin ditetapkan bersama antara guru dan dosen dapat berupa rumusan sebagai berikut: Bagaimana membelajarkan siswa materi tertentu agar siswa mau dan . A. Setelah pembelajaran berakhir dosen dapat terlebih dahulu menanyakan kepada guru masalah apa yang dirasakan guru pada saat pembelajaran sebelum mengusulkan salah satu permasalahan yang dipikirkan dosen. misalnya 2 minggu atau satu bulan. 2) meningkatkan “konsep diri” siswa dalam belajar. Diagnosis dan Penetapan Masalah Masalah PTK yang merupakan penelitian kolaborasi antara dosen dan guru di sekolah hendaknya berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. diagnosis masalah hendaknya tidak dilakukan oleh dosen lalu “ditawarkan” kepada guru untuk dipecahkan tetapi sebaiknya dilakukan bersama-sama oleh dosen dan guru. minat. Pada kenyataannya dosen dapat mengajak guru untuk berkolaborasi melakukan PTK dan menanyakan masalah-masalah apa yang dihadapi guru yang mungkin dapat diteliti melalui PTK. dan 4) memperbaiki metode evaluasi. Dari sekian banyak kemungkinan masalah. Penetapan masalah hendaknya dilakukan bersama oleh dosen dan guru setelah menganalisis seluruh pilihan masalah. atau pelaksanaannya sudah perlu diganti atau dimodifikasi. serta 4) meningkatkan kompetensi guru secara profesional. Guru tersebut mungkin belum dapat secara langsung mengemukakan permasalahan yang mungkin dapat diteliti bersama dosen. PTK sebagai wahana peningkatan personal dan profesional dapat dilakukan dalam rangka 1) meningkatkan hubungan antara siswa. pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar. PTK yang dikaitkan dengan pengembangan/penggunaan sumber-sumber belajar dapat dilakukan dalam rangka pengembangan pemanfaatan 1) model atau peraga. Lain halnya dengan guru yang belum berpengalaman dalam PTK. Di dalam mendiagnosis masalah untuk PTK ini guru dan dosen harus ingat bahwa tidak semua topik penelitian dapat diangkat sebagai topik PTK. Diimplementasikan dengan baik di sini berarti pihak yang terlibat (dosen dan guru) mencoba dengan sadar mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat keberhasilannya. dapat “ditindaki”. 3) meningkatkan peranan siswa dalam belajar. Diimplementasikan dengan benar berarti sesuai dengan kaidah-kaidah penelitian tindakan. Jadi. dan “ditindaklanjuti”.

(2) mempermasalahkan deskripsi terkait. 2. Tindakan tersebut dilakukan atas dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan. yang mencakup (1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu) wawasan teoretik yang relevan. meminta teman sejawat untuk memeriksanya dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi sejawat). yaitu percakapan dengan dirinya sendiri. Anda perlu memvalidasi pernyataan Anda tentang keberhasilan tindakan Anda lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti (data mentah). gambar. yang dialogis. Jika ada perbedaan. baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoretis. dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (validasi public). pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidaksetujuan dengan pakar lain perlu dijelaskan). riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi. Anda perlu membuat deskripsi otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual. dan riwayat fiksional. dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut. Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. 28 December 2007 Keberhasilan PTK sangat ditentukan oleh banyak faktor yag saling kait mengait. . Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri. Anda perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk: (1) tulisan tentang hasil refleksi-diri. Tindakan yang Anda lakukan hendaknya didasarkan pada pengetahun. Lomax dan Whitehead (2003) menyatakan ada 10 syarat agar PTK berhasil.Friday. Anda dan kolaborator menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggung jawab atas peningkatan yang akan dicapai. Penelitian tindakan melibatkan pengajuan pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya. McNiff. dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama penjelasannya. baik dilakukan sendiri maupun bersama teman (validasi-diri). dan (3) teorisasi. 10. khususnya kejujuran mengakui kelemahan/kekurangan diri. 3. yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya. Kesepuluh. (2) percakapan tertulis. 8. 9. dan (4) bentuk visual seperti diagram. 7. Anda perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik tersebut di atas. Anda mesti mamantau secara sistematik agar Anda mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan. 5. dan grafik. 4. berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. (3) narasi dan cerita. dalam bentuk catatan harian dan dialog. 1. yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu. maupun pengetahuan teknis prosedural. pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali. 6. yaitu sebagai berikut: Anda dan kolaborator serta murid-murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkankualitas pembelajaran dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. perekaman video and audio. yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan). Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang jelasdalam melakukan intervensi tersebut. yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terkadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi.

Faktor-faktor Yang Dapat Menurunkan Motivasi Belajar Siswa Sunday. 25 November 2007 .

Mereka yang mengalami masalah yang tidak tertanggulangi biasanya akan cepat frustasi. Tutor/guru seharusnya dapat memahami apa yang dihadapi peserta didiknya. Orang dewasa yang mempunyai need to know / kebutuhan akan keingintahuan yang tinggi. • Teguran yang tidak dimengerti Orang dewasa tidak hanya manusia yang mempunyai pemikiran dan pengalaman luas ttapi juga prasangka yang besar pula. seseorang tentu tidak akan mendapatkan proses belajar yang baik. Tanpa motivasi. Jika tutor/guru menegur dengan tanpa ia mengerti. mereka tentu sangat bosan dengan materi yang terlampau mudah dan sangat frustasi dengan materi yang terlampau sulit. motivasi belajar dapat pula terpengaruh oleh beberapa sebab. • Kehilangan harga diri Pengaruh dari hilangnya harga diri bagi orang dewasa sangat besar. dan ia berinisiatif untuk tidak menghadiri kelas tersebut. jika seorang peserta didik orang dewasa dihukum dengan cara maju kedepan dan menjewer kupingnya sendiri dan kakinya diangkat satu. terkadang tidak. Contohnya. Terkadang dapat diatasi. Pembelajaran dikatakan baik jika tujuan awal. mungkin untuk selamanya. Bahkan ia dapat seketika keluar kelas tanpa kembali lagi selamanya. Peserta didik orang dewasa yang mengikuti pembelajarannya akan tidak dapat menjawab atau menjawab dengan kurang tepat sehingga mereka merasa kesal atau merasa dipermainkan tutornya. motivasi untuk belajar merupakan salah satu hal yang penting. mempunyai karakteristik yang berbeda dalam hal psikologis mereka. Contoh. Bagi peserta didik orang dewasa. tutor/guru yang kesal dengan peserta didiknya yang terlambat menacung-acungkan jari dengan cepat kepada peserta didik tersebut. Tanpa harga diri. peserta didik orang dewasa itu pun akan merasa bingung dan berprasangka macam-macam yang pada akhirnya menjadi faktor penurun motivasi belajarnya. Peserta didik orang dewasa tersebut tentu bingung dan berfikir apa yang salah dengannya. • Frustasi Kendala dan masalah hidup yang dihadapi oleh orang dewasa merupakan hal yang harus dijalani. . umum dan khusus tercapai. Motivasi merupakan langkah awal terjadinya pembelajaran yang baik. Berhati-hati dengan latar belakang dan tidak menyinggung perasaan orang lain merupakan hal yang harus diperhatikan tutor/guru untuk peserta didik orang dewasa. berikut dijabarkan berbagai sebab/faktor yang dapat menurunkan motivasi belajar peserta didik orang dewasa. Seorang peserta didik dewasa biasanya selalu memperhatikan penampilan fisiknya. Keduanya mempengaruhi motivasi belajar peserta didik ketingkat terendah. Motivasi untuk terus belajar akan menurun sejalan dengan rasa frustasinya. Hal ini menjadi kontra produktif terhadap proses pembelajaran tersebut. nampaknya kesulitan dan dapat saja ia lupa atau sengaja untuk menampilkan soal-soal ujian yang sulit atau belum diajarkanya karena berbagai sebab. Penting bagi tutor/guru untuk menyadari hal ini. • Menguji yang belum dibicarakan/diajarkan Tutor/guru yang tidak memahami peserta didiknya dan mempunyai jam terbang rendah. motivasi belajarnya pun akan menurun. Motivasi belajar tentu berkaitan dengan psikologis peserta didik orang dewasa. Peserta didik seperti ini tentu fokus utamanya menghadapi problem hidupnya yang sedang carut-marut itu. • Materi terlalu sulit/mudah Materi pembelajaran dapat diukur dengan menerapkan pratest dan pengidentifikasian sasaran peserta didik. Tutor/guru harus dapat menyampingkan rasa frustasi peserta didiknya dengan menjadikan proses pembelajaran sebagai sesuatu yang menyenangkan dan refreshing. Contohnya. Terkadang. peserta didik orang dewasa akan berlaku sangat emosional dan pasti menurunkan motivasi belajarnya. • Ketidaknyamanan fisik Fisik merupakan aspek fisiologis/penampakan yang penting untuk meningkatkan motivasi belajar. niscaya ia tidak akan respek lagi terhadap guru/tutornya dan mungkin materi serta keseluruhan proses belajarnya. Jika fisiknya tidak membuat ia nyaman. seorang yang mempunyai badan yang besar akan mengalami penurunan motivasi jika ia diminta untuk belajar lari sprint dilapangan. Terkadang hal ini tidak diperhatikan tutor/guru sehingga materi yang diajarkan terlalu sulit/mudah.Dalam dunia pendidikan.

verbal.Bullying Sebabkan Gangguan Mental pada Anak Oleh Administrator Thursday. atau pun psikologis di sekolah akan mengalami trauma besar dan depresi yang akhirnya bisa menyebabkan gangguan mental di masa mendatang. . 15 November 2007 Anak yang menjadi korban bullying atau tindakan kekerasan fisik.

Selain itu anak-anak seharusnya juga dibekali pengetahuan yang berhubungan dengan interaksi sosial. Studi terbaru mengenai dampak dari bullying dilakukan peneliti di Finland terhadap 2. intimidasi. Contoh bullying yang terjadi pada mahasiswa yakni kematian praja IPDN. Para ahli menilai anak yang memiliki interaksi kurang mulus dengan ayahnya cenderung menjadi pelaku atau korban bullying. bahkan universitas. mudah gugup dan takut. ejekan. Pada usia 8 tahun anak-anak tersebut ditanyai apakah mereka melakukan tindakan bullying pada anak lain ataukah menjadi korban. Di lain pihak. pelecahan. yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok anak terhadap anak lainnya.540 anak laki-laki dan dipublikasikan dalam Journal Pediatircs. Bullying bisa terjadi pada semua tingkatan sekolah. kemampuan komunikasi. Kerjasama Untuk mengatasi dan mencegah masalah bullying diperlukan kerjasama antara guru dan orangtua murid. gosip. Di sekolah sebaiknya guru menyediakan jam khusus untuk berinteraksi dengan anak didik di luar kelas. pemalakan. Secara umum terbukti anak pelaku bullying cenderung memiliki kepribadian antisosial. seperti saling menghormati. fitnah. Sumber: Harian Kompas . idealnya anak memiliki interaksi dan komunikasi yang baik dengan orangtuanya. Informasi tersebut lantas dibandingkan dengan gejala-gejala kelainan mental yang biasanya muncul pada masa kanak-kanak. hingga tak bisa bicara. Dampak langsung dari bullying pada anak antara lain sulit konsentrasi. Cliff Muntu. dari TK sampai SLTA. dan sebagainya. anak yang kerap menjadi korban bullying akan tumbuh menjadi orang yang pencemas. Contoh bullying secara verbal misalnya ejekan gendut atau bodoh. serta kekerasan fisik atau mental secara luas. Di rumah. Orangtua dan guru-guru mereka juga diwawancara untuk mengetahui adanya gejala kelainan mental yang dialami anak-anak mereka. kriminal dan suka sewenang-wenang saat mereka dewasa.Tindakan yang bisa dikategorikan sebagai bullying di antaranya pengucilan. beberapa waktu lalu.

Tidak hanya itu. Perbedaan itu bahkan ada pada anak-anak dari satu keluarga. Contohnya saat mengikuti pelajaran di kelas. Siswa seperti ini lebih suka berkutat di laboratorium mengamati dan mempelajari berbagai hal nyata ketimbang mendengar penjelasan si guru. Dengan memahami hal itu. Psi. entah yang mengalun merdu atau malah ingar-bingar. seperti beda dengan kakak. "Tidak sedikit anak yang cepat ngerti kalau materi pelajarannya disampaikan lewat gambar atau ilustrasi. Nah. Nah. Bukankah masing-masing pelajaran juga disampaikan oleh orang yang berbeda dengan karakter mengajar yang berbeda pula. Anak seperti ini boleh jadi merupakan tipe aktif yang selalu kelebihan energi." Demikian pula dengan anak-anak yang terlihat aktif bergerak ke sana kemari selama di kelas. sebetulnya orang tua sudah memberi kontribusi besar dalam keberhasilan belajar anaknya karena si anak jadi mudah menangkap materi pelajaran. guru yang menerangkan materi pelajaran kesenian sambil sesekali diselingi nyanyian dan tepuk tangan. Sementara sebagian lainnya merasa perlu untuk mengubah materi pelajaran menjadi komik atau corat-coret yang gampang "dibaca". Meski bersekolah di sekolah yang sama dan duduk di kelas yang sama. Ada anak yang harus bersemedi dan tutup pintu kamar rapat-rapat supaya bisa konsentrasi belajar. yaitu agar yang bersangkutan bisa menangkap materi pelajaran dengan sebaik-baiknya dan memberi hasil optimal. Akan tetapi cukup banyak yang mengaku justru terbuka pikirannya bila belajar sambil mendengarkan musik.Sama halnya dengan keunikan tiap individu. Itulah mengapa. ada murid yang begitu tekun menyimak meski si guru menyampaikan materi pelajaran tak ubahnya seperti ceramah selama berjam-jam. adik atau saudara kembar sekalipun.. KONTRIBUSI ORANG TUA Apa pun gaya belajar yang dipilih pada dasarnya memiliki tujuan yang sama. menurut Ike Sugianto. ada 3 tipe gaya belajar yang biasa dijumpai: Visual Learner . gaya belajar setiap anak ternyata tidak pernah sama. lanjut psikolog dari Klinik Anakku Jakarta. Secara keseluruhan. tandasnya. Namun jangan ditanya berapa banyak anak yang merasa bosan dengan pendekatan belajar yang menempatkan murid sebagai pendengar setia. ia justru tengah berusaha menangkap materi pelajaran lewat corat-coretnya tadi. meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di bukunya. sudahkah Anda mengenali gaya belajar anak di rumah? Siapa tahu selama ini kita salah menuduhnya malas belajar. Ada yang terkesan hanya memperhatikan sepintas lalu. ketidakpahaman orang tua dan guru terhadap gaya belajar anak kerap menimbulkan kesalahpahaman. Ike merasa perlu menggarisbawahi agar setiap orang tua turun tangan mengamati gaya belajar masing-masing anak. Bisa jadi. karena guru tidak membuatnya. maka si anaklah yang tergerak menggambari bukunya semata-mata untuk memudahkan dirinya. masing-masing anak ternyata memiliki gaya belajar sendiri. MASUK TIPE YANG MANA? Menurut Ike. Sedangkan temannya yang lain mungkin lebih tertarik mengikuti pelajaran yang disertai berbagai aspek gerak. Ada guru yang tidak senang melihat muridnya asyik bikin coretancoretan selagi di kelas. Padahal. Atau ada juga guru yang langsung menegur anak yang terlihat tak bisa diam saat sedang diajar. perilaku corat-coret saat belajar tak mesti berarti ia enggan belajar. Buktinya. Ia menyukai aktivitas fisik dan mudah bosan pada omongan/penjelasan panjang lebar. ada anak yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika disertai praktek. Contohnya.

tapi dapat juga kita aplikasikan di luar kelas. mereka berteriak minta tolong. Dan cara anak-anak mengekspresikan permintaan tolong itu adalah dengan melakukan hal-hal yang dianggap orang dewasa sebagai kenakalan. Pendapat Thomas Armstrong itu ditujukan buat para guru. Anak yang memiliki kecerdasan interpersonal akan mengobrol dengan teman-temannya. pakar Multiple Intelligences. Kenakalan siswa adalah semacam "seruan pemberontakan" terhadap gaya belajar tertentu yang dipaksakan. Tapi yang sederhana ini dapat kita terapkan di rumah pada anak-anak di rumah. logika. Pada saat jadwal anak tidak diatur secara eksternal oleh orang lain. Tentu saja pengamatan ini sangat sederhana. 21 September 2007 Bagaimana cara mengenali jenis-jenis kecerdasan anak kita apakah mereka memiliki kecerdasan bahasa. spasial. menyatakan ada dua cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mengenali jenis-jenis kecerdasan anak-anak. Indikator pengamatan lain yang sederhana dan dapat digunakan adalah mengamati cara anak-anak menggunakan waktu luang mereka. Mereka bebas memilih kegiatan apa saja yang disukainya. Kalau diamati.Mengenali Jenis-jenis Kecerdasan Anak Oleh Administrator Friday.webgaul. Sedangkan anak yang memiliki kecerdasan kinestetis-jasmani tidak bisa duduk diam dan terus bermain kejar-kejaran bersama temannya. Walaupun kita bukan ahli psikologi.com . kita dapat belajar semakin mengenal anak-anak kita. anak-anak dapat tampil alamiah dan apa adanya. Dengan demikian. kita dapat lebih efektif saat memfasilitasi tumbuh-kembang anak-anak kita. at least. aktivitas mereka menunjukkan bagaimana cara mereka belajar (learning style) dan jenis-jenis kecerdasan yang menonjol pada diri mereka. Oleh karena itu. Karena anak-anak itu menganggap gaya belajar yang diterapkan kepadanya tidak sesuai dengan gaya belajar alamiah mereka. atau yang lain? Thomas Armstrong. Anak yang memiliki kecerdasan spasial akan mencoret-coret. Salah satu cara yang baik untuk mengenali kecerdasan yang paling berkembang dari anak-anak adalah dengan mengamati "kenakalan" mereka di kelas. ternyata kenakalan anak-anak itu berbeda-beda ekspresinya. Sumber: http://forum. Anak yang memiliki kecerdasan linguistik biasanya sering membuat celetukan dan canda kata-kata.

19 September 2007 .Pengajar di SMA 1 Banjaran Wednesday.Menumbuhkan Kepercayaan Diri Siswa Oleh ISMAIL KUSMAYADI..Pd. S.

web. Kondisi ini tentunya bukan hanya disebabkan oleh faktor guru. Sebab. siswa lebih memilih diam daripada membuka dialog dengan guru atau teman-temannya. Begitu pula para guru. Akhirnya. Para siswa datang ke sekolah hanya sebatas memenuhi kewajiban presensi. tetapi di dalam asertivitas juga terkandung berbagai pertimbangan positif mengenai baik buruknya suatu sikap dan perilaku yang akan dimunculkan. proses belajar-mengajar tidak berkembang. di era keterbukaan seperti sekarang ini. Siswa yang memiliki kemampuan asertif pada umumnya akan lebih aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada di kelas. tanpa ada tujuan yang jelas. mempertahankan hak-hak pribadinya. Dengan begitu. Semakin dewasa. para siswa tidak perlu lagi merasa takut mengemukakan pendapat atau mengajukan pertanyaan. sudah selayaknya mereka memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menyampaikan penda-pat dan menghargai apa pun pendapat yang disampaikan siswa. dan mengalami kejenuhan. Pertama. masih banyak siswa yang masih merasa takut. motivasi. Akan tetapi. Bagaimana guru dapat memberikan penilaian atas kemampuan berbicara kalau siswanya tidak mau tampil berbicara atau sekadar membacakan cerita di depan kelas. Asertivitas bukan hanya berarti seseorang dapat bebas berbuat sesuatu seperti yang diinginkannya. Pada situasi dan perasaan seperti itu. hal ini menjadi catatan yang sangat penting. Menumbuhkan kepercayaan diri siswa untuk menampilkan kemampuan dirinya tidaklah mudah. khususnya siswa SMP dan SMA yang sedang mengalami masa remaja. Kemampuan asertif merupakan kemampuan seseorang untuk dapat mengemukakan pendapat. saran. Hal ini membutuhkan dorongan. Siswa yang asertif adalah siswa yang memiliki keberanian mengeks-presikan pikiran dan perasaan yang sesungguhnya. tapi faktor diri siswa sendiri."Mengapa kursi disebut kursi. serta menolak permintaan-permintaan yang tidak beralasan (Rathus. Melihat kondisi seperti itu. kita perlu menanamkan kemampuan asertif dalam diri siswa. salah satu permasalahan yang sampai saat ini masih menjadi faktor penghambat proses pembelajaran di kelas adalah ketidakpercayaan diri siswa dalam menyampaikan pendapat atau bahkan mengajukan pertanyaan. Dengan begitu. kembali menjadi satu arah. Asertivitas ini akan berkembang sejalan dengan usia seseorang. saya akan membahas catatan yang kedua. para siswa tidak akan memperoleh pengalaman belajar apa pun saat pulang dari sekolah. kegiatan pembelajaran akan lebih berkesan dan bermakna. Jika hal itu terjadi. pada kenyataannya. Dalam tulisan ini.a tidak menarik.lazuardi. dan keinginan yang dimilikinya secara langsung. malu atau sungkan mengemukakan keinginan atau pendapatnya secara terbuka. rasa percaya diri siswa harus betul-betul dapat dimunculkan. dan terbuka kepada orang lain. pertanyaan tersebut adalah pertanyaan paling serius yang pernah saya temui berkenaan dengan pelajaran bahasa Indonesia. Sejatinya. Apalagi dalam konteks pembelajaran keterampilan berbahasa. TEMAN-TEMANNYA meng-anggap pertanyaan siswa tadi mungkin terlalu "bodoh" untuk ditanyakan. saya salut dengan keberanian dan kejelian berpikir dia yang kemudian dia ungkapkan de-ngan penuh percaya diri.id . 1982). Pembelajaran yang sedianya dilaksanakan secara interaktif. kemampuan asertif ini akan semakin matang. bagi saya. dan perhatin dari para guru yang mengajarnya. mengapa itu disebut meja. penguasaan sikap dan perilaku asertif pada periode-periode awal perkembangan akan memberikan dampak positif bagi periode-periode selanjutnya. Sumber: http://www. dan yang ini disebut baju? Siapa yang memberi nama itu?" Riuhlah suasana kelas dengan gelak tawa ketika seorang siswa bertanya seperti di atas. berarti kita tetap hanya mengukur kemampuan kognitif. Dengan senang hati mereka mau mengemukakan pendapat. Jika hanya merujuk pada tes tulis. Kedua. Akan tetapi. jujur.

Pd. Akhmad Sudrajat. Thursday.M.Kesulitan Belajar Siswa Dan Bimbingan Belajar Oleh Drs. 13 September 2007 .

sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. konatif maupun afektif . sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya. <!--[endif]-->Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik. sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya. atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley. akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan. namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah. tinju dan sejenisnya. (d) slow learner. tapi nilai . Pada dasarnya. <!--[if !supportLists]-->5. namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. sosiologis. <!--[endif]-->Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. (b) learning disfunction. <!--[if !supportLists]-->1. gangguan alat dria. <!--[if !supportLists]-->2. tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. baik aspek psikomotorik. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan. <!--[if !supportLists]-->2. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar. maupun fisiologis. kognitif. yang mengalami kekacauan belajar. dan dapat bersifat psikologis. Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar. Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140). namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley. antara lain : <!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar.<!--[if !supportLists]-->A. <!--[endif]-->Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar. dan (e) learning diasbilities. <!--[if !supportLists]-->4. potensi dasarnya tidak dirugikan. sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut. <!--[endif]-->Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar. Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. <!--[endif]-->Kesulitan Belajar. (c) underachiever. <!--[endif]-->Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal. <!--[endif]-->Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya. diantaranya : (a) learning disorder. kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental. maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik. Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya. <!--[if !supportLists]-->3. mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.

Identifikasi Kasus Identifikasi Masalah Diagnosis Prognosis Remedial/Referal Datang Sendiri/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Informasi yang Ada/Dicari Evaluasi/Follow Up .

dihadapi siswa. <!--[if !supportLists]-->c. merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. dan (j) waktu senggang. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa. (e) karier dan pekerjaan. permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material. dan (b) faktor eksternal. bakat. <!--[if !supportLists]-->3. dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial <!--[if !supportLists]-->2. (b) diri pribadi. Untuk mengidentifikasi masalah siswa. <!--[endif]-->Diagnosis. proses. W. seperti tes inteligensi. bisa dilihat dari segi input. langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis. <!--[endif]-->Call them approach.<!--[if !vml]--> <!--[endif]--> <!--[if !supportLists]-->1. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja. <!--[endif]-->Maintain good relationship. penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. <!--[endif]-->Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa. (h) hubungan muda-mudi. nilai dan moral. Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa. (d) ekonomi dan keuangan. ataupun out put belajarnya. menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya. (c) behavioral. menciptakan hubungan yang baik. emosi. lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya. dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya. kecerdasan. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa. <!--[if !supportLists]-->4. (c) hubungan sosial. <!--[endif]-->Identifikasi Masalah. <!--[endif]-->Prognosis.H. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus. <!--[if !supportLists]-->b. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa. seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan. <!--[endif]-->Identifikasi kasus. dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya. kepribadian. rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya. dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang <!--[endif]-->Melakukan analisis sosiometris. (b) struktural – fungsional. yakni : <!--[if !supportLists]-->a. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes. faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri. yaitu : (a) faktor internal. tes bakat. <!--[if !supportLists]-->e. karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. <!--[endif]-->Developing a desire for counseling. melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan. misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler. seperti : kondisi jasmani dan kesehatan. (g) agama. Prayitno dkk. <!--[if !supportLists]-->d. . Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar.kasus yang dihadapi. (f) pendidikan dan pelajaran. upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus . dan atau (d) personality. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar. (i) keadaan dan hubungan keluarga. seperti : lingkungan rumah.

Bukan Berarti Tidak Normal Oleh Nancy R.Anak Introvert. Fenn Thursday. 11 January 2007 .

orang yang introvert dicitrakan sebagai orang “yang tidak menyukai orang lain”. Mereka justru malah akan stress dan merasa akan menjadi pecundang. surat) pin) . orang introvert memberikan energi kepada orang lain. Kita dapat membantu mereka untuk ’memenangkan’ dunia berdasarkan nilai-nilai yang berbeda. Ihwal introvert didefinisikan oleh orang-orang yang menganggap dirinya ekstrovert. atau pemalu atau cenderung menarik diri dari lingkungan sosialnya. Membaca seni traveling) piaraan musik belajar team bahasa work asing) Internet koin. Fotografi mereka Bidang sedang memerlukan ruang musik (independent arsitektur. lazimnya anak-anak yang dianggap ’normal’. Ada yang secara filosofis menggugat besaran persentase tersebut. • Menulis (jurnal. Berikut ini beberapa aktivitas atau hobi yang sesuai dengan anak introvert: • Koleksi (perangkos. Lebih-lebih. Secara sepintas. apabila orangtuanya termasuk golongan ekstrovert. Mereka adalah anak-anak yang sangat normal. • • Binatang • Bermain • Sahabat pena (terutama jika • • Olahraga yang tidak • Mendekorasi • Mendengarkan • Bepergian sendirian • Fashion.Guru atau orang tua sering risau dengan anaknya yang mempunyai sifat introvert. jumlah anak/orang yang introvert sebesar 30% dari populasi penduduk. Secara kuantitatif. makin besar peluang kita untuk mampu membantu anak kita mengembangkan citra diri yang positif. Mereka yang dianggap dirinya ekstrovert dan terlihat begitu ceria dalam suatu kelompok sebenarnya ’mengambil energi’ dari teman-temannay yang introvert. tetapi karena mereka menganggap bahwa aktivitas sosial hanya membuat lelah/letih saja. sehingga berusaha mencari informasi bagaimana terapinya. Makin kita bisa memahami keintrovertan sebagai sebuah tipe kepribadian yang normal. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan anak yang introvert. Orang yang tergolong ektrovert akan dianggap bermasalah. Bagaimana seandainya yang mendefinisikan atau yang memacawanakan ”ke-trovert-an” ini adalah orang yang introvert. • • Kerja sosial (volunteer work) kupu-kupu. Jangan paksa mereka untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang memerlukan interaksi sosial yang tinggi. Mereka menghindari interaksi sosial bukan karena mereka antisocial. puisi. Sebenarnya. Mereka menganggap anak itu bermasalah.

.

Ini yang namanya modeling. Sikap asertif itu perlu supaya remaja lebih mengenal diri dan lebih jujur dalam membina hubungan. dan merusak benda milik umum (vandalisme). Efek dari konformitas bergantung pada kelompok teman yang menjadi model. Itu baru namanya asertif! Stres akibat adanya perkembangan yang menyangkut perubahan fisik. dan kepercayaan secara langsung. seperti penyalahgunaan narkoba. remaja juga bakal jadi bandel. Penyesuaian diri dengan kelompok terjadi karena remaja takut dan tidak mau sendirian. Dengan bersikap asertif. Ini yang namanya sikap asertif. dan hubungan dengan orang lain cenderung membuat remaja merasa menghadapi masalah. percaya diri. Gaya dandan. Jujur dan terbuka Bersikap asertif ketika remaja mampu berkata “tidak”. Remaja tidak harus selalu ikut aturan kelompok teman-temannya. Jadi. jujur. dan perilaku yang berlaku dalam kelompok. kalau kelompok teman si remaja memiliki sikap. Penyesuaian dengan hal lain di luar individu namanya konformitas. dan perilaku positif. ataupun perilaku seksual yang tidak sehat. remaja jadi cenderung merasa bermasalah. Nah. asertif adalah kemampuan mengekspresikan hak. pada masa remaja model berasal dari kelompok sebaya. berjudi. dan tidak mengganggu hak orang lain. remaja sering melakukan modeling. pola asuh orangtua. perkelahian pelajar. pendapat. mengekspresikan perasaan positif dan negatif.Asertif? Mungkin ada yang belum pernah mendengar kata ini. atau idola remaja pasti lebih banyak yang sama. terhormat. remaja berusaha sama seperti mereka. Kalau kelompok teman si remaja memiliki sikap. Pencarian jati diri sebagai remaja dipengaruhi hubungan dengan teman atau gang. pendapat. Asertif itu kira-kira cara kita mengekspresikan pikiran atau perasaan kita kepada orang lain. Hal ini membuat remaja menyesuaikan diri dengan kelompok dan menyebabkan si remaja mengikuti sikap. Jika salah satu dari hal yang disebutkan itu ada masalah. Sebaliknya. mau mendengarkan orang lain. maka remaja akan cenderung berperilaku dan berpandangan negatif. Kelompok ini menganggap bahwa aturan kelompok sebaya jauh lebih penting daripada keinginan individu. Berbeda dengan masa anak-anak. Tapi. kebut-kebutan. mereka kadang mengajak remaja untuk bersikap atau berperilaku seperti mereka. Dalam mencari identitas diri secara aktif. ia mampu mengambil keputusan sesuai dengan keinginannya tanpa merasa khawatir akan tekanan yang diberikan teman-temannya. apa orang lain enggak tersinggung? Ya. Akan tetapi. mampu meminta pertolongan. mengembangkan kontrol diri. dan pikiran dengan apa adanya tanpa menyakiti orang lain. enggak secara otomatis kalau si remaja punya teman bandel. mampu mengekspresikan perasaan positif dan negatif secara wajar. Efek negatif konformitas adalah kenakalan remaja (juvenile delinquency). jangan sampai tersinggung dong. maka remaja cenderung akan berperilaku dan berpandangan positif. Modeling yang dimaksud di sini bukan melenggak-lenggok di atas titian peraga atau catwalk. dan mampu mengkomunikasikan tentang hal-hal yang bersifat umum. perasaan. hobi. kalau kita jujur. pikiran . dan komunikasi di dalam keluarga. remaja dapat belajar untuk lebih menghargai diri sendiri dan orang lain. mengembangkan kemampuan untuk . berani untuk secara jujur dan terbuka menyatakan kebutuhan. Sebenarnya. Kalau si remaja punya teman bandel. Ini berarti. Jadi. kalau itu terjadi. perasaan. Efek positif akan membuat remaja mempunyai kemampuan dan keterampilan yang positif juga. ia harus tahu bahwa ia punya pilihan untuk bersikap mandiri dan bebas. hubungan orangtua-anak. masalah ini bersumber dari pencarian aktif remaja untuk mencari identitas diri yang sesuai dengan gambaran idealnya.dan perilaku negatif. di mana anak mencari model dalam keluarga. membolos. pendapat. psikologi. Modeling dan konformitas Ketika bersama teman-teman. mencoret-coret. tapi kecenderungan meniru orang lain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful