Está en la página 1de 11

ANALISIS KEBIJAKAN STRATEGIS DALAM RANGKA PERCEPATAN DIVERSIFIKASI PANGAN (Strategic Policy Analysis in Order To Food Diversification Achievement )

Dr. Ir. Yayuk Farida Baliwati, MS1

ABSTRAK

PENDAHULUAN Latar Belakang Ketahanan pangan merupakan unsur terpenting dari ketahanan ekonomi maupun keamanan nasional. Dengan

serta 4) pencegahan dan penanggulangan masalah pangan. Ketahanan pangan nasional diawali dengan upaya untuk mewujudkan

ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Oleh karena itu, analisis konsumsi pangan masyarakat mewujudkan rumahtangga. merupakan ketahanan Konsumsi pilar untuk pangan pangan

demikian pemantapan ketahanan pangan merupakan salah satu fokus dari

pembangunan nasional.

Dalam rangka

mencapai kondisi tersebut ada empat komponen pokok yang harus dicapai yaitu 1) ketersediaan pangan (produksi dan impor); 2) cadangan pangan; 3)

merupakan salah satu faktor penting penentu kualitas hidup manusia, selain kesehatan. Tumbuh kembang manusia, produktivitas kerja serta kecerdasan 1

penganekaragaman

konsumsi

pangan;

dipengaruhi oleh jenis dan tingkat asupan zat gizi yang diperoleh dari makanan. Berbagai dokumen kebijakan telah

propinsi tersebut berturut-turut adalah 1 126 jiwa/km2, 1 049 jiwa/km2, 757 jiwa/km2. Pertumbuhan penduduk yang tinggi dapat menyebabkan masalah ganda dalam pembangunan ketahanan pangan. Pertama, dengan peningkatan jumlah penduduk maka harus diimbangi dengan peningkatan ketersediaan pangan, dimana

mengindikasikan bahwa: 1) pembangunan ketahanan dengan memanfaatkan menekan pihak/negara pangan haruslah dilakukan mungkin lokal dan pada berbasis

semaksimal sumberdaya ketergantungan lain, harus

kemandirian dan memberikan dampak yang positif terhadap kesejahteraan petani dan pelaku agribisnis lainnya dalam

membutuhkan lahan pertanian yang lebih atau tetap sama luasnya. Kedua,

pertumbuhan penduduk yang terlalu tinggi menyebabkan permintaan alih fungsi lahan untuk keperluan papan (perumahan) juga semakin meningkat yang berarti terjadinya konversi lahan pertanian. Masing-masing dampak dari pertumbuhan penduduk

negeri; 2) program diversifikasi pangan yang indikator pola (dengan pencapaiannya konsumsi parameter adalah pangan Pola

keragaman masyarakat

Pangan Harapan) sangatlah penting untuk diwujudkan guna meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, namun tetap dalam koridor kemandirian. Fungsi ekologis konsumsi pangan suatu masyarakat seperti tersebut diatas merupakan pertimbangan yang mendasari terbitnya kebijakan pemerintah yaitu

tersebut ternyata tidak mampu mendukung satu sama lain. Konversi konsekuensi logis lahan dari merupakan peningkatan

aktivitas dan jumlah penduduk serta proses pembangunan lainnya. Konversi lahan pada dasarnya merupakan hal yang wajar terjadi, namun pada kenyataannya

Peraturan Presiden No 22 Tahun 2009 tentang Percepatan Penganekaragaman

konversi lahan menjadi masalah karena terjadi di atas lahan pertanian yang masih

Konsumsi Pangan. Propinsi Daerah Jawa Barat (Jabar), (DIY),

produktif. Konversi lahan pertanian ke non pertanian terutama di Jawa merupakan permasalahan yang memprihatinkan.

Istimewa

Yogyakarta

maupun Jawa Timur (Jatim), merupakan beberapa propinsi di Indonesia dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Tahun 2005 kepadatan penduduk di tiga

Selama periode 1979-1999, konversi lahan sawah di Indonesia mencapai 1.627.514 ha atau 81.376 ha/tahun. Khusus untuk 2

konversi lahan

sawah,

1.002.005

ha

sumberdaya

lokal

setempat

untuk

(61,57%) atau 50.100 ha/tahun terjadi di Jawa, sedangkan di luar Jawa mencapai sekitar 625.459 ha (38,43%) atau 31.273 ha/tahun. Pada kenyataannya, lahan pertanian seharusnya dapat memberikan manfaat baik dari segi ekonomi, sosial maupun lingkungan. Konversi lahan sawah

memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. Evaluasi serta Jatim 2. Estimasi 3. Analisis kebutuhan pangan untuk situasi keanekaragaman

pangan di ketiga Propinsi Jabar, DIY

mencapai Pola Pangan Harapan (PPH) potensi percepatan

merupakan salah satu penyebab rendahnya peningkatan produksi padi sejak

penganekaragaman pangan masyarakat di Propinsi Jabar, DIY serta Jatim

pertengahan tahun 1990-an. Berkurangnya produksi pangan karena konversi lahan bersifat permanen. Hal ini berimplikasi terhadap perhitungan mengenai dampak negatif konversi lahan sawah terhadap produksi pangan. Selain kerugian

METODE Jenis dan Cara Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang meliputi: 1) data konsumsi pangan SUSENAS tahun 2002, 2005 dan 2008; 2) data produksi aneka pangan; 3) jumlah penduduk dan

langsung, kerugian yang sifatnya tidak langsung adalah turunnya produktifitas lahan sawah di sekitarnya sebagai akibat degradasi hilangnya ekologi lahan sawah dan

kepadatan tahun 2002, 2005, dan 2008; 4) program penganekaragaman di tingkat propinsi. Dengan demikian, dalam kajian ini yang dimaksud masyarakat adalah penduduk dengan pertimbangan bahwa masyarakat merupakan aras analisis

multifungsi lahan pertanian

(sawah) tersebut. Kenyataan di atas, menggambarkan bahwa ancaman terhadap pemenuhan

pangan hasil pertanian, khususnya pangan pokok tidak dapat dipungkiri. Oleh karena itu, perlu adanya pemenuhan kebutuhan pangan dengan mempertimbangkan

sosiologis secara makro, yaitu penduduk di suatu wilayah administratif. Data konsumsi pangan yang akan dianalisis adalah data konsumsi propinsi Jabar, DIY, Jatim. Pemilihan ketiga propinsi tersebut karena perbedaan 3

sumberdaya pangan lokal. Hal inilah yang mendorong perlunya upaya diversifikasi konsumsi pangan sesuai dengan

keanekaragaman konsumsi pangan. Jabar

memiliki kecenderungan dominan akan beras dan kemandirian pangannya tinggi, sedangkan Jatim cenderung memiliki pola pangan pokok yang beragam serta tingkat kemandirian pangan yang tinggi. Pengolahan dan Analisis Data Pengolahan data konsumsi pangan akan diolah dengan menggunakan software Program Aplikasi Perencanaan Pangan dan Gizi yang dikembangkan oleh Heryatno, Baliwati pada tahun 2004/2005. Analisis secara kuantitas, dilakukan

Penentuan penganekaragaman

potensi

percepatan pangan

konsumsi

dilakukan dengan menghitung selisih skor PPH tahun yang bersangkutan dengan sasaran skor PPH yang harus tercapai

berdasarkan hasil proyeksi tahun dasar rencana pembangunan. Dalam hal ini,

hasil SUSENAS tahun 2002 digunakan sebagai tahun dasar perencanaan perbaikan konsumsi pangan masyarakat. Jika selisihnya bernilai positif

maka masyarakat memiliki potensi yang besar untuk melakukan konsumsi percepatan pangan.

dengan menggunakan Tingkat Konsumsi Energi (TKE) yang menggambarkan energi terhadap

penganekaragaman

persentase

konsumsi

Artinya, skor PPH 100 dapat dicapai pada tahun 2015. Sebaliknya, jika selisihnya menunjukkan nilai negatif maka

Angka Kecukupan Energi, dengan kriteria menurut Departemen Kesehatan tahun 1996 (PPKP BKP 2005), sebagai berikut : a. TKE < 70% b. TKE 70-79% c. TKE 80-90% : defisit berat : defisit tingkat sedang : defisit tingkat ringan

penganekaragaman konsumsi pangan akan berjalan lambat, yaitu baru dicapai pada tahun 2020.

d. TKE 90-119% : normal (tahan pangan) e. TKE 120% Analisis : kelebihan/diatas AKE kualitas. Kualitas

HASIL DAN PEMBAHASAN Situasi Konsumsi Ketiga Propinsi Konsumsi energi ketiga propinsi dibandingkan untuk mengetahui

secara

konsumsi pangan diukur dari komposisi keranekaragaman pangan dengan

perkembangan konsumsi pangan. Tabel 1 menyajikan data konsumsi energi dan protein aktual penduduk di Provinsi Jawa Barat selama kurun waktu 2002-2008.

menggunakan pendekatan Pola Pangan Harapan (PPH), yang ditunjukkan oleh skor PPH 100. Semakin tinggi skor PPH, maka kualitas konsumsi pangan semakin baik. Jika skor konsumsi pangan mencapai 100, maka wilayah tersebut dikatakan tahan pangan.

Tabel 1. Situasi Konsumsi Tahun 2002-2008


Konsumsi Energi Per Provinsi Jawa Barat Konsumsi (kkal/Kap/Hari) AKE (kkal/Kap/Hari) %AKE DIY Konsumsi (kkal/Kap/Hari) AKE (kkal/Kap/Hari) %AKE Jawa Timur Konsumsi (kkal/Kap/Hari) AKE (kkal/Kap/Hari) %AKE Konsumsi Energi 2002 2005 2008 2 032 2 200 92 3 1 903 2 200 86.5 1841 2 200 83.7 2 062 2 000 103.1 1 818 2 000 80.6 1 876 2 000 77.3 2 086 2 000 104.3 1 766 2 000 76.7 1 956 2 000 80.4 Laju (%)

Tabel 2. Perkembangan Konsumsi Pangan Dirinci Per Kelompok Pangan


Kelompok Pangan Jumlah Konsumsi Laju Energi (kkal/kap/hr) 2002 2005 2008 (%) 1 367 55 128 207 24 74 75 75 29 2 032 1 094 69 115 177 87 103 141 96 25 1,903 1082 79 101 190 59 98 111 81 42 1841 1 370 52 155 211 23 75 72 72 31 2 062 1,050 63 147 157 71 88 124 92 26 1,818 1176 65 89 178 61 91 96 80 41 1877 1 418 53 159 196 18 65 62 82 33 2 086 1,088 40 135 139 58 67 115 94 30 1,766 1206 58 121 194 50 87 100 99 41 1956 1.9 -1.9 11.7 -2.4 -13.6 -5.4 -8.9 5.1 6.9 1.3 -0.2 -22.6 9.8 -11.4 -18.4 -19.2 -9.7 -1.0 9.7 -3.7 5.6 -14.2 12.0 1.3 -7.3 -5.8 -4.7 11.3 -1.2 3.1

0.01

(0.04)

0.03

Berdasarkan

Tabel

dapat

diketahui bahwa tingkat kecukupan energi pada tahun 2002 sebesar 2 200

kkal/kap/hari (WNPG 1998), dan mulai tahun 2005 disepakati menjadi 2 000 kkal/kap/hari (WNPG 2004). Menurut kriteria Depkes tahun 1996, hanya

konsumsi energi Propinsi Jabar tahun 2002-2008 telah mampu memenuhi

kebutuhan energi secara kuantitas (tahan pangan), sedangkan untuk Propinsi DIY dan Jatim masih tergolong defisit ringan maupun sedang (TKE 70-90%). Dalam perkembangan situasi

Jabar Padi-padian Umbi-umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-lain Total DIY Padi-padian Umbi-umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-lain Total Jatim Padi-padian Umbi-umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-lain Total

Berdasarkan

Tabel

dapat

konsumsi pangan, Propinsi Jabar kuantitas konsumsi energinya semakin meningkat dari tahun 2002-2008 sebesar 0.01%. Sebaliknya, kuantitas konsumsi energi propinsi DIY semakin menurun sebesar 0.04%. Propinsi Jatim secara kuantitas konsumsi energinya fluktuatif (turun-naik), dengan laju 0.03%. Konsumsi penduduk aktual tersebut merupakan akumulasi dari konsumsi energi 9 kelompok pangan.

diketahui bahwa setiap propinsi masih didominasi oleh kelompok padi-padian. Kelompok padi-padian berdasarkan tingkat kecukupan energi seharusnya diturunkan, tetapi setiap tahunnya malah cenderung meningkat. Hal ini menunjukkan

ketergantungan penduduk pada pangan kelompok padi-padian ternyata masih

sangat tinggi. Peningkatan total konsumsi energi tidak selalu diikuti dengan 5

peningkatan

konsumsi

energi

tiap

berdasarkan Pola Pangan Harapan (PPH). Oleh karena itu, skor pola konsumsi

kelompok pangan. Propinsi penurunan Jabar mengalami energi untuk

pangan mencerminkan mutu gizi konsumsi pangan dan tingkat keranekaragaman

konsumsi

kelompok pangan hewani (11.7%) serta buah/biji berminyak (13.6%). Konsumsi energi di propinsi DIY mengalami

konsumsi pangan (Hardinsyah et al. 2001).


Tabel 2. Skor PPH Per Propinsi Tahun 20022008
Kelompok Pangan Jabar Padi-padian Umbi-umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-lain Total DIY Padi-padian Umbi-umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-lain Total Jatim Padi-padian Umbi-umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-lain Total Ideal 25.0 2.5 24.0 5.0 1.0 10.0 2.5 30.0 0.0 100.0 25.0 2.5 24.0 5.0 1.0 10.0 2.5 30.0 0.0 100.0 25.0 2.5 24.0 5.0 1.0 10.0 2.5 30.0 0.0 100.0 Skor PPH 2002 2005 25.0 1.2 11.7 4.7 0.5 6.7 1.7 17.0 0.0 68.5 24.8 1.6 10.5 4.0 1.0 9.3 2.5 21.8 0.0 75.5 24.6 1.8 9.1 4.3 1.0 8.9 2.5 18.4 0.0 70.6 25.0 1.3 15.5 5.0 0.6 7.5 1.8 18.0 0.0 74.8 25.0 1.6 14.7 3.9 1.0 8.8 2.5 23.1 0.0 80.6 25.0 1.6 8.9 4.4 1.0 9.1 2.4 20.0 0.0 72.4 2008 25.0 1.3 15.9 4.9 0.4 6.5 1.5 20.5 0.0 76.1 25.0 1.4 12.1 4.8 1.0 8.7 2.5 24.8 0.0 80.4 25.0 1.0 13.5 3.5 1.0 6.7 2.5 23.5 0.0 76.7 Laju (%) 0.0 4.2 17.5 2.2 -6.7 -0.7 -5.4 9.9 0.0 5.5 0.4 -6.3 11.2 10.3 0.0 -3.3 0.0 6.7 0.0 3.3 0.8 -24.3 24.7 -9.1 0.0 -12.1 0.1 13.1 0.0 4.2

penurunan yang lebih signifikan untuk kelompok pangan umbi-umbian (22.6%), minyak dan lemak (11.4%), buah/biji berminyak (18.4%), serta kacang-

kacangan (19.2%). Penurunan konsumsi energi di Propinsi Jatim terjadi pada kelompok pangan umbi-umbian (14.2%), sebaliknya meningkat untuk kelompok pangan hewani (12.0%) serta sayur dan buah (11.3%). Penurunan konsumsi energi seringkali menurun pada kelompok pangan yang seharusnya ditingkatkan dan

sebaliknya. Analisis situasi konsumsi pangan penduduk di suatu wilayah dalam rangka mengkaji pencapaian sasaran

pembangunan ketahanan pangan tidak hanya cukup ditunjukkan oleh adanya peningkatan kuantitas konsumsi, tetapi juga perlu analisis lebih lanjut terhadap aspek kualitas konsumsi, khususnya dinilai dari aspek komposisi atau

Secara

umum,

ketiga

propinsi

tersebut mengalami peningkatan kualitas konsumsi namun tidak untuk tiap

keranekaragaman dan mutu gizi konsumsi pangan. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah analisis kualitas

kelompok pangan. Kelompok pangan yang mengalami peningkatan adalah kelompok pangan hewani serta sayur dan buah. Umbi-umbian juga belum mampu 6

konsumsi (skor mutu konsumsi pangan)

memenuhi

kebutuhan

ideal,

bahkan

pangan tahun 2015 dan diperkirakan baru dapat dicapai pada tahun 2020. Evaluasi Konsumsi Pangan Penduduk Provinsi Jabar, DIY, dan Jatim Tahun 2005-2008 Evaluasi konsumsi pangan

cenderung menurun di Propinsi DIY, dan Jatim. Kelompok minyak dan lemak menurun di DIY, tetapi meningkat di Jatim. Buah/biji berminyak stabil tetapi perlu ditingkatkan untuk Jatim dan DIY, sedangkan di Jabar konsumsinya menurun. Standar Kebijakan Umum

penduduk ketiga propinsi ini berada dalam 3 tahun data modul konsumsi pangan. Oleh karena itu, tahun 2002 dan 2005 dapat digunakan untuk monitoring maupun evaluasi pencapaian pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan penduduk. Evaluasi pemenuhan kebutuhan

Ketahanan Pangan (KUKP) periode 20062009 menetapkan bahwa skor PPH

minimal suatu wilayah adalah 80 agar berpotensi untuk percepatan

penganekaragaman pangan. Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa hanya propinsi DIY yang telah mencapai skor 80 pada tahun 2008. Tetapi dilihat dari peningkatan skor PPH, DIY cenderung menurun perkembangan kualitas konsumsi energinya dibandingkan dengan kedua propinsi lainnya yaitu 0.2 poin. Sebaliknya, Propinsi Jabar mampu meningkatkan sebesar 2 poin dari tahun 2005 ke 2008, s edangkan propinsi Jatim sebesar 4 poin. Hal tersebut

konsumsi pangan tahun 2005 dengan tahun 2002 sebagai tahun dasar penetapan

sasaran menunjukkan bahwa konsumsi pangan aktual tahun 2005 telah mampu memenuhi target pada Propinsi Jabar dan Jatim. Propinsi DIY masih harus

meningkatkan pangan

pemenuhan

konsumsi 100

penduduknya

sebesar

kkal/kap/hari. Tahun 2008 dapat dievaluasi dengan tahun dasar penetapan sasaran 2002 dan 2005. Pada ketiga propinsi, konsumsi mendekati pangan target penduduknya sasaran lebih

menunjukkan bahwa DIY berpotensi untuk percepatan diversifikasi konsumsi pangan karena skornya mencapai 80, tetapi dilihat dari peningkatan poin skor PPH cenderung sulit. Oleh karena itu, dilihat dari

pemenuhan

kebutuhan pangan penduduk tahun 2005. Secara kuantitas, konsumsi energi aktual penduduk telah mampu melebihi sasaran baik yang ditetapkan tahun 2002 maupun 2005. Secara lengkap ditunjukkan pada Tabel 3. 7

perkembangan skor PPH ketiga propinsi tersebut dirasakan masih belum berpotensi untuk percepatan diversifikasi konsumsi

Tabel 3.1 Konsumsi Aktual Tahun 2002, 2005, 2008 dibandingkan dengan Sasaran Tahun 2002 dan 2005
Kelompok Pangan 2002 kkal % 2005 kkal % 2002* kkal % 1 306 66 147 206 30 78 79 82 34 2 027 1075 78 136 181 83 102 134 100 30 1 920 1068 86 124 192 59 98 109 87 45 1868 65.3 3.3 7.4 10.3 1.5 3.9 3.9 4.1 1.7 101 53.8 3.9 6.8 9.0 4.1 5.1 6.7 5.0 1.5 96.0 53.4 4.3 6.2 9.6 2.9 4.9 5.4 4.4 2.2 93.4 2008 kkal % 1 418 53 159 196 18 66 62 82 33 2 086 1 088 40 135 139 58 67 115 94 30 1 766 1 206 58 121 194 50 87 100 99 41 1 956 70.9 2.6 8 9.8 0.9 3.3 3.1 4.1 1.6 104 54.4 2.0 6.8 7.0 2.9 3.4 5.8 4.7 1.5 88.3 60.3 2.9 6.1 9.7 2.5 4.3 5.0 5.0 2.1 97.8 2002* kkal % 1 244 77 166 204 36 82 83 90 39 2 021 1 060 86 157 185 78 102 127 104 36 1 936 1 054.6 92 147 193 59 99 107 94 48 1 894 62.2 3.8 8.3 10.2 1.8 4.1 4.2 4.5 2.0 101 53.0 4.3 7.8 9.2 3.9 5.1 6.4 5.2 1.8 96.8 52.7 4.6 7.4 9.7 3.0 4.9 5.4 4.7 2.4 94.7 2005** kkal % 1 296 66 172 209 31 80 78 82 37 2 049 1 040 74 166 165 69 90 119 98 33 1 854 1 141 76 119 182 61 93 97 88 45 1 901 64.8 3.3 8.6 10.4 1.5 4 3.9 4.1 1.8 102.5 52.0 3.7 8.3 8.3 3.4 4.5 5.9 4.9 1.7 92.7 57.0 3.8 5.9 9.1 3.0 4.6 4.8 4.4 2.2 95.1

Jabar Padi-padian 1 367 62.1 1 370 68.5 Umbi-umbian 55 2.5 52 2.6 Pangan Hewani 128 5.8 155 7.8 Minyak dan Lemak 207 9.4 211 10.5 Buah/Biji Berminyak 24 1.1 23 1.2 Kacang-kacangan 74 3.3 75 3.8 Gula 75 3.4 72 3.6 Sayur dan Buah 75 3.4 72 3.6 Lain-lain 29 1.3 31 1.6 Total 2 032 92 2 062 103 DIY Padi-padian 1094 49.6 1 050 52.5 Umbi-umbian 69 3.1 63 3.1 Pangan Hewani 115 5.2 147 7.4 Minyak dan Lemak 177 8.0 157 7.8 Buah/Biji Berminyak 87 4.0 71 3.6 Kacang-kacangan 103 4.7 88 4.4 Gula 141 6.4 124 6.2 Sayur dan Buah 96 4.4 92 4.6 Lain-lain 25 1.1 26 1.3 Total 1 907 86.5 1 818 90.9 Jatim Padi-padian 1082 49.2 1 176 58.8 Umbi-umbian 79 3.6 65 3.2 Pangan Hewani 101 4.6 89 4.4 Minyak dan Lemak 190 8.6 178 8.9 Buah/Biji Berminyak 59 2.7 61 3.1 Kacang-kacangan 98 4.5 91 4.6 Gula 111 5.0 96 4.8 Sayur dan Buah 81 3.7 80 4.0 Lain-lain 42 1.9 41 2.1 Total 1 841 83.7 1 877 93.8 Keterangan: * Tahun dasar penetapan sasaran

Tabel 4 menunjukkan evaluasi konsumsi pangan penduduk dari segi kualitas. Walaupun skor PPH ketiga

mencapai 74.8. Ketika kualitas konsumsi tahun 2008 berdasarkan perkiraan tahun 2002 dan 2005 berturut-turut adalah 81.8 dan 79.8 ternyata hanya mencapai 76.1. Kondisi tersebut juga terjadi di kedua propinsi lainnya yaitu DIY dan Jatim. Skor PPH propinsi DIY tahun 2005 yang diperkirakan menjadi 83.5 berdasarkan sasaran tahun 2002 ternyata hanya

propinsi tersebut selalu meningkat dari tahun ke tahun namun peningkatannya belum mampu memenuhi sasaran yang telah ditetapkan pada tahun 2002 maupun 2005. Di propinsi Jawa Barat, kualitas konsumsi tahun 2005 berdasarkan target tahun 2002 menjadi 77.2 ternyata hanya

mencapai 80.6, sedangkan tahun 2008

yang diperkirakan menjadi 86.8 (sasaran 2002), atau 84.5 (sasaran 2005) ternyata baru mencapai 80.4. Kualitas konsumsi energi propinsi Jatim pada tahun 2005 adalah 72.4, sedangkan sasaran yang ditetapkan pada tahun 2002 adalah 79.4. Begitu pula dengan kualitas konsumsi energi tahun 2008 sebesar 76.7 meleset dari target yang telah ditetapkan pada tahun 2002 (83.5) serta tahun 2005 (77.9). Tabel 4. Skor PPH Tahun 2005, 2008 dibandingkan dengan Sasaran Tahun 2002 dan 2005
Kelompok Pangan Jabar Padi-padian Umbi-umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-lain Total DIY Padi-padian Umbi-umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-lain Total Jatim Padi-padian Umbi-umbian Pangan Hewani Minyak dan Lemak Buah/Biji Berminyak Kacang-kacangan Gula Sayur dan Buah Lain-lain Total 2005 25.0 1.3 15.5 5.0 0.6 7.5 1.8 18.0 0.0 74.8 25.0 1.6 14.7 3.9 1.0 8.8 2.5 23.1 0.0 80.6 25.0 1.6 8.9 4.4 1.0 9.1 2.4 20.0 0.0 72.4 Skor PPH 2002* 2008 2002* 25.0 1.6 14.7 5.0 0.7 7.8 2.0 20.5 0.0 77.2 25.0 1.9 13.6 4.5 1.0 10.0 2.5 25.0 0.0 83.5 25.0 2.1 12.4 4.8 1.0 9.8 2.5 21.8 0.0 79.4 25.0 1.3 15.9 4.9 0.4 6.5 1.5 20.5 0.0 76.1 25.0 1.4 12.1 4.8 1.0 8.7 2.5 24.8 0.0 80.4 25.0 1.0 13.5 3.5 1.0 6.7 2.5 23.5 0.0 76.7 25.0 1.7 16.6 5.0 0.7 8.2 2.1 22.4 0.0 81.8 25.0 2.0 15.7 4.6 1.0 10.0 2.5 26.0 0.0 86.8 25.0 2.1 14.7 4.8 1.0 9.9 2.5 23.5 0.0 83.5 2005* 25.0 1.5 17.2 5.0 0.7 8.0 1.9 20.4 0.0 79.8 25.0 1.8 16.6 4.1 1.0 9.0 2.5 24.5 0.0 84.5 25.0 1.8 11.9 4.6 1.0 9.3 2.4 22.0 0.0 77.9

Hal tersebut menunjukkan bahwa potensi percepatan penganekaragaman konsumsi pangan membutuhkan dorongan yang kuat dari pihak eksternal yaitu pemerintah melalui kebijakan/program yang sistemik.

Sasaran Kebutuhan Pangan Provinsi Jabar, DIY, dan Jatim Pola Pangan Harapan (PPH)

merupakan salah satu indikator ketahanan pangan yang dapat digunakan sebagai pendekatan dalam perencanaan pangan. Berdasarkan penganekaragaman evaluasi konsumsi kinerja pangan

sebelumnya maka perencanaan pangan dengan pendekatan PPH di ketiga propinsi menggunakan data konsumsi yang terdapat dalam SUSENAS tahun 2008. Dengan cara proyeksi secara linear diperoleh sasaran pencapaian skor PPH tiap tahun seperti pada Tabel 5. Dalam

upaya pencapaian diversifikasi pangan pada tahun 2020, masing-masing propinsi harus meningkatkan skor PPH tiap

tahunnya. Propinsi Jabar dan DIY harus meningkatkan poin/tahun, skor PPH sebesar 2

sedangkan

propinsi

Jatim

sebesar 1.6 poin/tahun. Sasaran skor PPH tersebut dapat diterjemahkan ke dalam satuan ton/tahun secara lengkap disajikan pada Tabel 6.

Keterangan: * Tahun dasar penetapan sasaran

Tabel 5. Sasaran Skor PPH Tahun 2010, 2014, serta 2020 Berdasarkan Sasaran Tahun 2008
Kelompok Jabar DIY Pangan 2008* 2010 2014 2020 2008* 2010 2014 Padi-padian 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 25.0 Umbi-umbian 1.3 1.5 1.9 2.5 1.0 1.2 1.7 Pangan Hewani 15.9 17.3 20.0 24.0 13.5 15.3 18.8 Minyak dan Lemak 4.9 4.9 5.0 5.0 3.5 3.7 4.2 Buah/Biji Berminyak 0.4 0.5 0.7 1.0 1.0 1.0 1.0 Kacang-kacangan 6.5 7.1 8.3 10.0 6.7 7.3 8.4 Gula 1.5 1.7 2.0 2.5 2.5 2.5 2.5 Sayur dan Buah 20.5 22.1 25.2 30.0 23.5 24.5 26.7 Lain-lain 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 Total 76.1 80.1 88.1 100.0 76.7 80.6 88.3 Keterangan: * Tahun 2008 sebagai tahun dasar penetapan sasaran 2020 25.0 2.5 24.0 5.0 1.0 10.0 2.5 30.0 0.0 100.0 2008* 25.0 1.4 12.1 4.8 1.0 8.7 2.5 24.8 0.0 80.4 Jatim 2010 2014 25.0 25.0 1.6 2.0 14.1 18.1 4.9 4.9 1.0 1.0 8.9 9.3 2.5 2.5 25.7 27.4 0.0 0.0 83.7 90.2 2020 25.0 2.5 24.0 5.0 1.0 10.0 2.5 30.0 0.0 100.0

Tabel 6. Kebutuhan Pangan Penduduk Propinsi Jabar, DIY, serta Jatim Tahun 2010, 2014 serta 2020 berdasarkan Sasaran Tahun 2008
Kelompok Jabar DIY Pangan 2010 2014 2020 2010 2014 Beras 4 582 599 4 610 394 4 599 135 302 995 311 318 Jagung 27 198 27 363 27 297 1 478 1 519 Terigu 599 128 602 762 601 290 39 640 40 729 Ubi Kayu 590 122 815 382 1 217 474 48 964 69 062 Ubi Jalar 104 564 144 477 215 724 3 953 5 576 Ikan 700 015 927 290 1 331 567 25 457 37 161 Dg. Ruminansia 66 734 88 401 126 942 7 122 10 396 Dg. Unggas 188 012 249 054 357 636 16 540 24 144 Telur 344 675 456 581 655 639 26 868 39 222 Susu 102 184 135 361 194 375 9 409 13 735 Sayur 2 122 948 2 381 572 2 823 708 198 452 201 237 Buah 1 163 462 1 305 199 1 547 508 99 012 100 402 Keterangan: * Tahun 2008 sebagai tahun dasar penetapan sasaran 2020 324 232 1 582 42 418 101 339 8 182 55 964 15 656 36 360 59 067 20 684 205 403 102 480 2010 3 397 104 122 779 390 660 635 281 71 913 616 026 58 668 98 523 231 188 77 157 2 184 251 959 417 Jatim 2014 3 403 365 123 005 391 380 796 684 90 184 817 339 77 841 130 720 306 739 102 372 2 222 012 976 003 2020 3 408 279 123 183 391 945 1055 072 119 433 1 139 887 108 559 182 306 427 788 142 771 2 279 381 1 001 202

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Rata-rata tingkat konsumsi energi di propinsi Jabar berada dalam kategori normal, sedangkan untuk DIY dan Jatim masih mengalami defisit tingkat sedang dan ringan. Meskipun demikian, secara kualitas masih cukup jauh untuk mencapai ideal yaitu 100. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan konsumsi pangan yang terlihat dari dominasi kelompok padipadian, serta masih kurangnya konsumsi pangan hewani, serta sayur dan buah. Kinerja penganekaragaman konsumsi pangan pada tahun 2005 maupun 2008 ternyata belum mampu memenuhi sasaran yang telah ditetapkan pada Tahun 2002 dan 2005. Selain itu, skor PPH untuk propinsi Jabar mencapai 80, maupun sedangkan Jatim untuk belum DIY

walaupun sudah tercapai skor 80 pada tahun 2008 namun cenderung lambat peningkatannya. Hal ini mengindikasikan bahwa ketiga propinsi tersebut belum berpotensi untuk percepatan diversfifikasi pangan pada tahun 2015. 10

Saran Untuk mencapai kualitas konsumsi pangan yang sesuai dengan PPH, perlu adanya kebijakan untuk menekan dan menurunkan konsumsi kelompok padipadian khususnya beras, yaitu dengan

penetapan

program

penganekaragaman

konsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal.

11