Está en la página 1de 3

Ayat2 tentang kebahagiaan

9:87. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tidak pergi


berperang, dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak
mengetahui (kebahagiaan beriman dan berjihad).

13:29. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka


kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.

Cari Kebahagiaan di dunia dengan tidak melupakan kebahagian


yang kekal di Akhirat

28:77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah


kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.

Dan Balasan surprisenya……

11:108. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di


dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi,
kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia
yang tiada putus-putusnya.

Arti bahagia
arti bahagia yang sebenarnya sesuai petunjuk Allah di dalam Al Quran. Firman Allah:
"Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang." Al Ra'du 28.
Rasulullah S.A.W. juga telah bersabda:
"Sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada seketul daging. Bila ia baik, baik pulalah seluruh tubuh,
tetapi bila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ingatlah ia adalah hati. "(Riwayat Bukhari
Muslim)
Rasulullah S.A.W bersabda lagi:
"Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda tetapi kekayaan itu sebenarnya adalah kaya
hati"
Kaya hati berarti hati yang tenang, lapang dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki - bersyukur
dengan apa yang ada, sabar dengan apa yang tidak.
Puncak kebahagiaan adalah ketika hati seseorang mampu mendorong pemiliknya melakukan kebaikan
dan menghindari kejahatan dan larangan yang ditentukan oleh Islam dengan mudah dan secara "auto
pilot".

Islam menyatakan bahwa “Kesejahteraan’ dan “kebahagiaan” itu bukan merujuk kepada sifat badani
dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali
insan yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka.

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’rifatullah
-> ilmu mengenal Allah”, telah mengenal Allah SWT. c/: org miskin akan senang berkenalan dengan
orang kaya, maka orang akan sangat bahagia bila dapat mengenal Allah.
Cara mencapai ma’rifatullah: mengenal ayat ayat-Nya lewat Al-Quran

Sabda Rosulullah SAW “Kesempurnaan kebahagiaan bermuara pada


kesempurnaan akal. Bertambah sempurna dan murni akal itu, bertambah
tinggilah derajat yang kita capai”. Al Quran juga menegaskan bahwa
orang yang berbahagia adalah orang yang nilai kebaikannya lebih berat
dari kejelekannya, walaupun cuma sedikit. Bagaimana menurut anda?

Metode MENCARI BAHAGIA MENURUT AL QURAN DAN As Sunah: (agak gak jelas tp)
1. Beriman dan beramal saleh.
"Siapa yang beramal saleh baik laki-laki atau perempuan dalam keadaan ia beriman, maka Kami akan
memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang
lebih baik dari apa yang mereka amalkan." (An-Nahl: 97)
Ibnu 'Abbas ra meriwayatkan bahwa sekelompok ulama menafsirkan bahwa kehidupan yang baik
(dalam ayat ini) adalah rezeki yang halal dan baik (halalan tayyiban). Sayidina Ali pula
mentafsirkannya dengan sifat qana'ah (merasa cukup). Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu 'Abbas,
meriwayatkan bahwa kehidupan yang baik itu adalah kebahagiaan.
2. Banyak mengingat Allah.
Dengan berzikir kita akan mendapat kelapangan dan ketenangan sekaligus bebas dari rasa gelisah dan
gundah gulana. Firman Allah:
"Ketahuilah dengan mengingat (berzikir) kepada Allah akan tenang hati itu." (Ar-Ra'd: 28)
3. Bersandar kepada Allah.
Dengan cara ini seorang hamba akan memiliki kekuatan jiwa dan tidak mudah putus asa dan
kecewa. Allah berfirman:
"Siapa yang bertawakal kepada Allah maka Allah akan mencukupinya." (Ath-Thalaq: 3)
4. Selalu mencari peluang berbuat baik.
Berbuat baik kepada makhluk dalam bentuk ucapan maupun perbuatan dengan ikhlas dan
mengharapkan pahala dari Allah akan memberi ketenangan hati.
Firman-Nya:
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka kecuali bisikan-bisikan dari orang yang
menyuruh (manusia) untuk bersedekah atau berbuat kebaikan dan ketaatan atau memperbaiki
hubungan di antara manusia. Barang siapa melakukan hal itu karena mengharapkan keridaan Allah,
niscaya kelak Kami akan berikan padanya pahala yang besar. "(An-Nisa: 114)
5. Tidak panjang angan-angan pada masa depan dan tidak meratapi masa lalu.
Fikir tetapi jangan khawatir. Jangan banyak berangan-angan terhadap masa depan yang belum pasti. Ini
akan menimbulkan rasa gelisah oleh kesulitan yang belum tentu datang. Juga tidak terus meratapi
kegagalan dan kepahitan masa lalu karena apa yang telah berlalu tidak mungkin dapat
dikembalikan. Rasulullah SAW bersabda: "Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat
bagi mu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Bila menimpa mu sesuatu (dari hal
yang tidak disukai) janganlah kamu berkata: "Seandainya aku melakukan ini niscaya akan begini dan
begitu," akan tetapi katakanlah: "Allah telah menetapkan dan apa yang Dia inginkan Dia akan
lakukan," karena sesungguhnya kalimat 'seandainya 'itu membuka amalan setan. "(HR. Muslim)
6. Melihat "kelebihan" bukan kekurangan diri.
Lihatlah orang yang di bawah dari segi kehidupan dunia, misalnya dalam kurniaan rezeki karena
dengan begitu kita tidak akan meremehkan nikmat Allah yang diberikan Allah kepada kita.Rasulullah
SAW bersabda:
"Lihatlah orang yang di bawah kamu dan jangan melihat orang yang di atas kamu karena dengan
(melihat ke bawah) lebih cepat untuk kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya
kepada kamu." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
7. Jangan mengharapkan ucapan terima kasih manusia.
Ketika melakukan sesuatu kebaikan, jangan mengharapkan ucapan terima kasih atau balasan
manusia. Berharaplah hanya kepada Allah. Kata bijak, jangan mengharapkan ucapan terima kasih
karena umumnya manusia tidak pandai berterima kasih.Malah ada di antara Hukama berkata, "jika kita
mengharapkan ucapan terima kasih dari manusia niscaya kita akan menjadi orang yang sakit
jiwa!". Firman Allah:
"Kami memberi makan kepada kalian hanyalah karena mengharap wajah Allah, kami tidak
menginginkan dari kalian balasan dan tidak pula ucapan terima kasih." (Al Insan: 9)