33 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF & VARIATIF Sebagai berikut : 1. Lesson Study 2. Examples Non Examples 3. Picture and Picture 4.

Numbered Heads Together 5. Cooperative Script 6. Pembelajaran Berdasarkan Masalah 7. Explicit Instruction (Pengajaran Langsung) 8. Inside – Outside – Circle (Lingkaran kecil – Lingkaran besar) 9. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) 10. Student Facilitator and Explaining 11. Course Review Horay 12. Talking Stick 13. Bertukar Pasangan 14. Snowball Throwing 15. Artikulasi 16. Mind Mapping 17. Student Teams – Achievement Divisions (STAD) 18. Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi dari Number Heads) 19. Scramble 20. Word Square 21. Kartu Arisan 22. Concept Sentence 23. Make – A Match (Mencari Pasangan) 24. Take and Give 25. Tebak Kata 26. Metode Diskusi 27. Metode Jigsaw 28. Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) 29. Metode Inquiry 30. Metode Debat 31. Metode Role Playing 32. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) 33. Metode Team Games Tournament (TGT) Keterangan : 1. Lesson Study Lesson Study adalah suatu metode yang dikembankan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah ‘lesson study’ sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida. Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:

a. Perencanaan. b. Praktek mengajar. c. Observasi. d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran. 2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasardasar teori yang menunjang. 3. Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana. 4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui. 5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya. 6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2). Adapun kelebihan metode ‘lesson study’ sebagai berikut: 1. Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas. 2. Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah. 2. Examples Non Examples Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contohcontoh. Contoh-contoh dapat dari kasus / gambar yang relevan dengan KD. Langkah-langkah: 1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. 2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP. 3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar. 4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. 5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. 6. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. 7. Kesimpulan. Kebaikan: 1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar. 2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar. 3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Kekurangan: 1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar. 2. Memakan waktu yang lama.

3. Picture and Picture Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis. Langkah-langkah: 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Menyajikan materi sebagai pengantar. 3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi. 4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. 5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut. 6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. 7. Kesimpulan / rangkuman. Kebaikan: 1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa. 2. Melatih berpikir logis dan sistematis. Kekurangan: 1. Memakan banyak waktu. 2. Banyak siswa yang pasif. 4. Numbered Heads Together Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa. Langkah-langkah: 1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. 2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. 3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya. 4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka. 5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain. 6. Kesimpulan. Kelebihan: 1. Setiap siswa menjadi siap semua. 2. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. 3. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Kelemahan: 1. Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru. 2. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru. 5. Cooperative Script Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.

Langkah-langkah: 1. Guru membagi siswa untuk berpasangan. 2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan. 3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar. 4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. 5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas. 6. Kesimpulan guru. 7. Penutup. Kelebihan: 1. Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan. 2. Setiap siswa mendapat peran. 3. Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan. Kekurangan: 1. Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu. 2. Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut). 6. Pembelajaran Berdasarkan Masalah Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Langkah-langkah: 1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. 2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.) 3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah. 4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya. 5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. Kelebihan: 1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik. 2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain. 3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.

Kekurangan: 1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai. 2. Membutuhkan banyak waktu dan dana. 3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini. 7. Explicit Instruction (Pengajaran Langsung) Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. Langkah-langkah: 1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. 2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan. 3. Membimbing pelatihan. 4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. 5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan. Kelebihan: 1. Siswa benar-benar dapat menguasai pengetahuannya. 2. Semua siswa aktif / terlibat dalam pembelajaran. Kekurangan: 1. Memerlukan waktu lama sehingga siswa yang tampil tidak begitu lama. 2. Untuk mata pelajaran tertentu. 8. Inside – Outside – Circle (Lingkaran kecil – Lingkaran besar) Siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan, dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Langkah-langkah: 1. Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar. 2. Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama, menghadap keluar. 3. Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan. 4. Kemudian siswa berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam sehingga masing-masing siswa mendapat pasangan baru. 5. Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya. Kelebihan: Mendapatkan informasi yang berbeda pada saat bersamaan. Kekurangan: 1. Membutuhkan ruang kelas yang besar. 2. Terlalu lama sehingga tidak konsentrasi dan disalahgunakan untuk bergurau. 3. Rumit untuk dilakukan.

5. 3. 11. 6. Penutup. Langkah-langkah: 1. 10. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen. 3. Kekurangan: Pada saat presentasi hanya siswa yang aktif yang tampil. Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak . Kelebihan: 1. Memberikan kesempatan siswa / peserta untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan / peta konsep maupun yang lainnya. 4.9. 2. Course Review Horay Suatu metode pembelajaran dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan jawabannya. dapat mengeluarkan ide-ide yang ada di pikirannya sehingga lebih dapat memahami materi tersebut. Mempresentasikan / membacakan hasil kelompok. 6. Dilatih untuk dapat bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain. Langkah-langkah: 1. Langkah-langkah: 1. Student Facilitator and Explaining Siswa / peserta mempresentasikan ide / pendapat pada rekan peserta lainnya. Untuk menguji pemahaman. Guru memberikan wacana / kliping sesuai dengan topik pembelajaran. 3. 2. 2. yang paling dulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay. Kelebihan: Siswa diajak untuk dapat menerangkan kepada siswa lain. Memberikan siswa tanya jawab. Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana / kliping dan ditulis pada lembar kertas. Guru mendemonstrasikan / menyajikan materi sesuai tpk. 4. siswa disuruh membuat kotak 9 / 16 / 25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masingmasing. 5. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Pada metode ini siswa dibentuk kelompok untuk memberikan tanggapan terhadap wacana/ kliping. Kekurangan: 1. Penutup. 4. Guru mendemonstrasikan / menyajikan materi. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu. Banyak siswa yang kurang aktif. Guru menyimpulkan ide / pendapat dari siswa. Siswa dapat memberikan tanggapannya secara bebas. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. Adanya pendapat yang sama sehingga hanya sebagian saja yang tampil. 2. 5. Guru membuat kesimpulan bersama.

Penutup. siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. 7. Evaluasi. Bertukar Pasangan Siswa berpasangan kemudian bergabung dengan pasangan lain dan bertukar pasangan untuk saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban masing-masing. 2. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya. atau diagonal harus segera berteriak horay atau yel-yel lainnya. 2. Melatih membaca dan memahami dengan cepat. Setelah selesai setiap siswa yang berpasangan bergabung dengan satu . kalau benar diisi tanda benar (v) dan salah diisi tanda silang (x) 6. 2. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa. Siswa yang sudah mendapat tanda v vertikal atau horisontal.yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan. Kekurangan: 1. Adanya peluang untuk curang. Agar lebih giat belajar (belajar dahulu). Melatih kerjasama. Penutup. Talking Stick Metode pembelajaran dengan bantuan tongkat. Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru biasa menunjukkan pasangannya atau siswa menunjukkan pasangannya). demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. 4. Siswa aktif dan pasif nilainya disamakan. Menguji kesiapan siswa. 2. Langkah-langkah: 1. Kelebihan: 1. 2. Guru memberikan kesimpulan. 3. 6. setelah itu guru memberi pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. 3. 7. Langkah-langkah: 1. kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya/ paketnya. 3. Kekurangan: Membuat siswa senam jantung. Kelebihan: 1. 8. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar dan jumlah horay yang diperoleh. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya guru mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya. 13. Guru menyiapkan sebuah tongkat. Pembelajarannya menarik mendorong untuk dapat terjun ke dalamnya. 12. 5.

9. 2. 15. Siswa dilatih untuk dapat bekerjasama. Penutup. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. kemudian seorang menceritakan materi yang disampaikan oleh guru dan yang lain sebagai pendengar setelah itu berganti peran.pasangan lain. Setelah siswa mendapat satu bola / satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan. 2. 8. masing-masing pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka. Snowball Throwing Dibentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh. 7. Semua siswa terlibat. 3. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula. Saling memberikan pengetahuan. Guru tidak dapat mengetahui kemampuan siswa masing-masing. 4. Kelebihan: 1. Evaluasi. Langkah-langkah: . Memerlukan waktu yang lama. Langkah-langkah: 1. 14. 2. 5. Kelebihan: 1. 4. 2. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. Kekurangan: 1. Pengetahuan tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar siswa. Guru memberikan kesimpulan. Melatih kesiapan siswa. 2. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing. 5. 6. Tidak efektif. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama kurang lebih 5 menit. mempertahankan pendapat. Kekurangan: 1. Artikulasi Siswa membentuk kelompok berpasangan. kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.

Kelebihan: 1. Student Teams – Achievement Divisions (STAD) Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti. sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya. Tidak sepenuhnya murid yang belajar. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa. Dapat bekerjasama dengan teman lainnya. 3. Untuk mata pelajaran tertentu. 3. Kekurangan: 1. 4. Semua siswa terlibat (mendapat peran). Langkah-langkah: 1. kemudian berganti peran. Suruhlah seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan kecil. Kekurangan: 1. Melatih kesiapan siswa. Kesimpulan/ penutup. Materi yang didapat sedikit. Mind Mapping Suatu metode pembelajaran yang sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban. 17. 16. 2. Langkah-langkah: . Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Tiap kelompok membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru. Guru mengemukakan konsep/ permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa . Begitu juga kelompok lainnya. sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban. 2. 2. Untuk mengetahui daya serap siswa. 6. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-5 orang. Tiap kelompok menginventarisasi/ mencatat alternatif jawaban hasil diskusi. 3. 6. Hanya siswa yang aktif yang terlibat. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru. 7. bentuklah kelompok berpasangan dua orang. 2. Guru mengulangi / menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa. 2. 5. Kelebihan: 1. Waktu yang dibutuhkan banyak. 2.1. 4. 3. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. Dapat mengemukakan pendapat secara bebas. 5. Melatih daya serap pemahaman dari orang lain. Suruh siswa secara bergiliran/ diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya.

5. 3. 2. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan. Siswa dibagi dalam kelompok. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. Jika perlu. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya terhadap tugas yang berangkai. 4. Waktu yang dibutuhkan banyak. Memberi evaluasi. Langkah-langkah: 1. Kekurangan: 1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi. Seluruh siswa menjadi lebih siap. Kelebihan: 1. Guru menyajikan pelajaran. suku. jenis kelamin. 6. Kelebihan: 1. Laporan hasil kelompok dan tanggapan dari kelompok yang lain. Dalam kesempatan ini. dll. Dapat bertukar pikiran dengan siswa yang lain.1. Kesimpulan. Membagikan lembar kerja dengan jawaban yang diacak susunannya. Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi dari Number Heads) Siswa dikelompokkan dengan diberi nomor dan setiap nomor mendapat tugas berbeda dan nantinya dapat bergabung dengan kelompok lain yang bernomor sama untuk bekerjasama. Setiap siswa menjadi siap semua. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Scramble Metode pembelajaran dengan membagikan lembar kerja yang diisi siswa. Langkah-langkah: 1. 2. Guru tidak mengetahui kemampuan masing-masing siswa. Guru menyajikan materi sesuai topik. Kelebihan: . Kekurangan: 1. 2. Membedakan siswa. 2. 18. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. 19. 3. setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.). 5. 2. 2. Penutup. siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerjasama mereka. guru bisa menyuruh kerjasama antarkelompok. Melatih kerjasama dengan baik. 3. 4. 2.

Tidak semua terlibat dalam kegiatan pembelajaran. 20. Mendorong siswa untuk belajar mengerjakan soal tersebut. Melatih untuk berdisiplin. 2. Bisa saja mencontek jawaban teman lain. 21. 2. Mematikan kreatifitas siswa. Apabila jawaban benar maka siswa dipersilakan tepuk tangan atau yel-yel lainnya. 4. 2. Concept Sentence Siswa dibentuk kelompok heterogen dan membuat kalimat dengan minimal 4 kata kunci sesuai materi yang disajikan. Kegiatan tersebut mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Kelebihan: Pembelajaran yang menarik dihubungkan dengan kehidupan nyata. 3. Siswa kurang berpikir kritis. Kartu Arisan Siswa dibentuk kelompok dan setiap jawaban digulung dan dimasukkan ke dalam gelas kemudian siswa yang memegang kartu jawaban menjawab setelah dikocok terlebih dahulu. Langkah-langkah: 1.1. Bentuk kelompok orang secara heterogen. Kelebihan: 1. 2. . Kekurangan: 1. Gelas yang telah berisi gulungan soal dikocok. Kekurangan: 1. 2. 3. 22. 4. Kekurangan: 1. 2. Langkah-langkah: 1. 5. Kertas jawaban bagikan pada siswa masing-masing 1 lembar / kartu soal digulung dan dimasukkan ke dalam gelas. Setiap jawaban yang benar diberi poin 1 sebagai nilai kelompok sehingga nilai total kelompok merupakan penjumlahan poin dari para anggotanya. Nilai tergantung pada individu yang mempengaruhi nilai teman lain. kemudian salah satu yang jatuh diberikan agar dijawab oleh siswa yang memegang kartu jawaban. Guru menyampaikan materi sesuai kompetensi. Siswa tinggal menerima bahan mentah. Berikan poin setiap jawaban dalam kotak. 2. Memudahkan mencari jawab. Siswa disuruh menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban. Guru membagikan lembar kegiatan sesuai contoh. Word Square Siswa diberikan lembar kegiatan kemudian menjawab soal dan mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban.

Take and Give Siswa diberi kartu untuk dihapal sebentar kemudian mencari pasangan untuk saling menginformasikan. sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. 2. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Kesimpulan. Setiap siswa mendapat satu buah kartu. 2. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. 3. Siswa yang lebih pandai mengajari siswa yang kurang pandai. 2. Untuk yang pasif mengambil jawaban dari temannya. kecermatan dan ketepatan serta kecepatan. Langkah-langkah: 1. 4. Guru menyampaikan tujuan. 6. Kelebihan: Melatih untuk ketelitian. Kelebihan: 1. Siapkan kelas sebagaimana mestinya. Penutup. Kekurangan: 1. Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 4 kata kunci setiap kalimat. Hanya untuk mata pelajaran tertentu. 5. Demikian seterusnya. Lebih memahami kata kunci dari materi pokok pelajaran. Jelaskan materi sesuai topik menit. 24. Kesimpulan. Hasil diskusi kelompok didiskusikan lagi secara pleno yang dipandu guru. selanjutnya siswa diberi pertanyaan sesuai dengan kartunya.Langkah-langkah: 1. Menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi/ tpk yang disajikan. 2. Langkah-langkah: 1. Tiap siswa memikirkan jawaban / soal dari kartu yang dipegang. yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. 4. Kekurangan: Waktu yang cepat. 7. 2. 7. Guru membentuk kelompok yang anggotanya kurang lebih 4 orang secara heterogen. 3. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). Make – A Match (Mencari Pasangan) Siswa disuruh untuk mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban / soal sebelum batas waktunya. 5. 8. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Guru menyajikan materi secukupnya. . 6. kurang konsentrasi. 23.

4. Kelebihan: Sangat menarik sehingga setiap siswa ingin mencobanya. Demikian seterusnya sampai tiap peserta dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing. Kekurangan: Tidak efektif dan terlalu bertele-tele. Metode Diskusi Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. Kekurangan: Bila siswa tidak menjawab dengan benar maka tidak semua siswa dapat maju karena waktu terbatas. Sementara siswa membawa kartu 10 x 10 cm membacakan kata-kata yang tertulis di dalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud pada kartu 10 x 10cm. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya. berikan siswa pertanyaan yang sesuai dengan kartunya (kartu orang lain). 4. 6. Kelebihan: Dilatih memahami materi dengan waktu yang cepat. 2. Jawab yang tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempel di dahi. 8. Untuk mengevaluasi keberhasilan. 7. Suruh siswa berdiri di depan kelas dan berpasangan. Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10 x 10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. 25. Semua siswa disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling menginformasikan materi sesuai kartu masing-masing. 3. Seorang siswa lainnya diberi kartu berukuran 5 x 2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan di telinga. tiap siswa diberi masing-masing satu kartu untuk dipelajari (dihapal) kurang lebih 5 menit. Tiap siswa harus mencatat nama pasangannya pada kartu control. Untuk memantapkan penguasaan peserta. 26. Strategi ini dapat dimodifikasikan sesuai keadaan. Tebak Kata Metode ini menggunakan kartu yaitu kartu ukuran 10 x 10 cm dan diidi ciri-ciri kata lainnya yang mengarah pada jawaban. Langkah-langkah: 1. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis pada kartu) maka pasangan itu boleh duduk. 5. Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru . Jelaskan materi menit. Kesimpulan. yang kedua kartu ukuran 5 x 2 cm untuk menulis kata / istilah yang mau ditebak.3. 5.

e. i. membantu siswa belajar berpikir secara kritis e. Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan.hendak: a. membantu siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran sekolah g. Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain. h. Adapun kegiatan guru dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut: a. Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas. Guru menetapkan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan atau guru meminta kepada siswa untuk mengemukakan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan. c. Menjaga suasana kelas dan mengatur setiap pembicara agar seluruh kelas dapat mendengarkan apa yang sedang dikemukakan. b. g. Guru memberikan ceramah dengan diselingi tanya jawab mengenai materi pelajaran yang didiskusikan. Guru mengatur giliran pembicara agar tidak semua siswa serentak berbicara mengeluarkan pendapat. Guru menjelaskan tujuan diskusi. d. d. memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa b. Mengatur giliran berbicara agar jangan siswa yang berani dan berambisi menonjolkan diri saja yang menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Selalu berusaha agar diskusi berlangsung antara siswa dengan siswa. agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan. Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat. j. memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya c. b. f. membantu siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman f. f. Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya. Mengatur agar sifat dan isi pembicaraan tidak menyimpang dari pokok/problem. e. Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut: a. c. mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut. . g. Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan. Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok. Mencatat hal-hal yang menurut pendapat guru harus segera dikoreksi yang memungkinkan siswa tidak menyadari pendapat yang salah. Bukan lagi menjadi pembicara utama melainkan menjadi pengatur pembicaraan. mendapatkan balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai d.

Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi. Memungkinkan timbulnya rasa permusuhan antarkelompok atau menganggap kelompoknya sendiri lebih pandai dan serba tahu daripada kelompok lain atau menganggap kelompok lain sebagai saingan. atau keputusan yang akan atau telah diambil. h. i.h. c. Metode Jigsaw Pada dasarnya. Berdiskusi bukan hanya menuntut pengetahuan. pengetahuan dan pandangan siswa mengenai suatu problem akan bertambah luas. Merangsang siswa untuk ikut mengemukakan pendapat sendiri. siap dan kefasihan berbicara saja tetapi juga menuntut kemampuan berbicara secara sistematis dan logis. Membina suatu perasaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat. c. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. lebih rendah. dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. b. Biasanya tidak semua siswa berani menyatakan pendapat sehingga waktu akan terbuang karena menunggu siswa mengemukakan pendapat. Tidak semua topik dapat dijadikan metode diskusi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan. j. Mendidik siswa untuk belajar mengemukakan pikiran atau pendapat. Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat. Siswa pemalu dan pendiam tidak akan menggunakan kesempatan untuk berbicara. f. e. b. Membina siswa untuk berpikir matang-matang sebelum berbicara. g. Mengembangkan rasa solidaritas/toleransi terhadap pendapat yang bervariasi atau mungkin bertentangan sama sekali. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh penjelasan-penjelasan dari berbagai sumber data. Pembicaraan dalam diskusi mungkin didominasi oleh siswa yang berani dan telah biasa berbicara. Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu. Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang. remeh atau lebih bodoh. Kelemahan metode diskusi sebagai berikut: a. 27. Melatih siswa untuk berdiskusi di bawah asuhan guru. menyetujui atau menentang pendapat teman-temannya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang. d. j. d. . Sulit untuk menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian diskusi. e. i. f. Dengan mendengarkan semua keterangan yang dikemukakan oleh pembicara. kesimpulan. Adapun kelebihan metode diskusi sebagai berikut: a. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati pembaharuan suatu problem bersama-sama.

mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih. Guru secara terusmenerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan. kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. 28. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Merencanakan kerjasama Para siswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus. baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. b. etnik maupun kemampuan akademik. d. Implementasi Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin. Analisis dan sintesis Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh . Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru.Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya. setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan. Dengan demikian. Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Seleksi topik Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. c. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari.

siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. 29. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Pada dasarnya. . Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru. tidak semua materi pelajaran mengandung masalah. Metode Inquiry Metode ini menekankan pada penemuan dan pemecahan masalah secara berkelanjutan. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. pembuat kesimpulan (summarizer). Metode Debat Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. peran pencatat (recorder). setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Evaluasi Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan.pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas. atau keduanya. Kelemahannya memerlukan waktu yang cukup lama. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. pengatur materi (material manager). Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok. atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar. Kelebihan metode ini mendorong siswa berpikir secara ilmiah. 30. misalnya. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif. jujur dan terbuka. menumbuhkan sikap objektif. intuitif dan bekerja atas dasar inisiatif sendiri. dan tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif. Peran tersebut mungkin bermacammacam menurut tugas. memerlukan perencanaan yang teratur dan matang. Di dalam kelompoknya. Penyajian hasil akhir Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. kreatif. f. Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat. e.

b. Metode Team Games Tournament (TGT) Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. 33. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh. g. khususnya dunia kerja. Berpikir dan bertindak kreatif. Metode Role Playing Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. 4. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis d. 5. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan. Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut: a. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran . Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain. e. b. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.31. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan. Kelebihan metode Role Playing: 1. 3. melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. 32. Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama. f. c. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Kelemahan metode problem solving sebagai berikut: a. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak. 2. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.

tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab. karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok. Model Pembelajaran Klasikal 2. Ada 5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu: 1. Turnamen Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. 4. Kelompok (team) Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik. persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I. 3. “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40. biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah. 5. diskusi yang dipimpin guru. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Model Pembelajaran Klasikal Urutan Kegiatan Pembelajaran♣ Guru menjelaskan definisi♣ Membuktikan rumus♣ Memberi contoh♣ . jenis kelamin dan ras atau etnik. Penyajian kelas Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru. Team recognize (penghargaan kelompok) Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang. Model Pembelajaran Individual 3. masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. 1. kerjasama. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game. Model Kooperatif Keterangan : 1. 2. Game Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok.

Modul adalah suatu paket pembelajaran yang memuat suatu unit konsep pembelajaran yang dapat dipelajari oleh siswa sendiri.ν Diskusi grup ahli: Siswa dengan topik ahli yang sama bertemu untuk mendiskusikannya dalam kelompok ahli. 3.Memberi soal latihan♣ 2.ν Salah satu model pembelajaran individual yang sangat populer adalah modul. menentukan skor awal. Kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan model kooperatif yang digunakan.ν Setiap unit yang dipelajari memuat tujuan pembelajaran khusus yang jelas. Melaksanakan kegiatan pembelajaran.ν Siswa belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing. Skor peningkatan dapat digunakan untuk memberikan penghargaan kelompokν Beberapa Model Pembelajaran : STAD (Student Achievement Division)ν JIGSAWν TGT (Teams-Game-Tournaments)þν Keterangan : STAD Langkah-langkah Pembelajaran Guru menyampaikan materiν Siswa membetuk kelompok untuk menyelesakan masalahν Menyerahkan/mempresentasikan hasil kerja kelompokν Memberi tes/kuisν Memberikan penghargaan kelompokν JIGSAW Langkah-langkah Pembelajaran Siswa membaca topik ahli dan menetapkan anggota ahli untuk topik tertentu. menyelesaikan tugas. Adapun pembelajaran individual mempunyai beberapa ciri: Siswa belajar secara tuntas. Model Pembelajaran Individual Model pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual.ν Keberhasilan siswa diukur berdasarkan pada sistem yang mutlak. atau mengerjakan sesuatu untuk tujuan bersama Kegiatan Pembelajaran ν Kegiatan pra pembelajaran meliputi menyiapkan materi.ν ν Laporan kelompok: Siswa ahli kembali ke kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan topik yang didiskusikannya kepada anggota kelompoknya Tes:Siswa mengerjakan kuis individual yang mencakup semua topik.ν Menentukan skor peningkatan.ν Penghargaan kelompokν TEAM GAME TOURNAMENT . membagi siswa dalam kelompok berdasarkan skor awal. Model Pembelajaran Kooperatif ν Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk bekerja dalam suatu tim untuk menyelesaikan masalah.

berdiskusi. masing-masing meja turnamen berisi 3 anggota.ν ν Tujuan membangun pemahaman. ν Siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. komunikasi matematika. ν Penghargaan kelompok: skor kelompok dihitung berdasarkan skor anggota kelompok turnamen.ν ν Turnamen: siswa memainkan pertandingan akademik dalam regu yang berkemampuan homogen.ν . dan kelompok baru diakui bila dapat melampaui kriteria minimal.ν Guru seharusnya mengetahui pengetahuan awal yang ada pada siswa dan memanfaatkannya untuk menyampaikan materi berikutnya. penemuan pola. Guru bukan seseorang yang harus selalu diikutiν jawabannya.Langkah-langkah Pembelajaran Mengajar: Guru menyampaikan materiν Belajar kelompok: siswa belajar dengan menggunakan lembar kerja dalam kelompok untuk menguasai materi. Belajar menurut pandangan konstruktivis tidak menekankan untuk memperoleh pengetahuan yang banyak tanpa pemahaman. pengeneralisasian. Pendekatan Pemecahan Masalah ν Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting dalam proses pembelajaran maupun penyelesaiannya. melakukan penyelidikan untuk menyelesaikan setiap masalah. Di dalam kelas konstruktifis para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya sendiri. dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik. PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA Pendekatan Konstruktivisν Pendekatan Pemecahan Masalah Matematikaν Pendekatan Open-Endedν Pendekatan Realistikν Pendekatan Konstruktivis Prinsip Utama: Pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa. Empat Fase Penyelesaian Masalah Menurut Polya memahami masalahν merencanakan penyelesaianν menyelesaikan masalah sesuai rencanaν melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah telah dikerjakanν Ada 3 hal yang perlu dipikirkan yang berkaitan dengan pemecahan masalah Pembelajaran melalui pemecahan masalahν Pembelajaran tentang pemecahan masalahν Pembelajaran untuk pemecahan masalah. Melalui kegiatan ini aspek-aspekν kemampuan matematika menjadi penting seperti penerapan aturan pada masalah yang tidak rutin. Mereka berbagi strategi penyelesaian.

ν Intertwinning(membuat jalinan) antar topik atau antar pokok bahasan.ν Strategi unuk memecahkan msalah Strategi Act It Outν Membuat Gambar atau Diagramν Menemukan Polaν Membuat Tabelν Memperhatikan Semua Kemungkinan Secara Sistematikν Tebak dan Periksaν Strategi Kerja Mundurν Membuat Modelν Menyelesaikan Masalah yang Mirip atau Masalah yang lebih Mudah. untuk sampai pada prosedur yang benar diperlukan pemikiran yang lebih mendalam. Membawa siswa dari tingkat informal ke tingkat formal.ν Sedangkan dalam masalah tidak rutin.ν Beberapa alat peraga matematika Alat untuk kekekalan Luasν Alat untuk kekekalan panjangν Alat kekekalan volumeν Alat untuk teori kemungkinanν A lat untuk pengukuranν Macam-macam bangun geometriν Alat peraga untuk permainanν Model Pembelajaran Kooperatif PEMBELAJARAN KOOPERATIF YANG BERKESAN Apa dia pembelajaran kooperatif ? .ν Adanya kegiatan interaktif sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika.ν Menggunakan model-modelν . dan simbol-simbol. situasi.Soal yang merupakan “masalah” Soal rutin biasanya mencakup aplikasi suatu prosedur matematika yang sama atau mirip dengan hal yang baru dipelajari.ν Pendekatan Open-Ended Pembelajaran dengan Open Ended biasanya dimulai dengan memberikan problem terbuka kepada siswa.ν ν Kegiatan pembelajaran harus membawa siswa dalam menjawab permasalahan dengan banyak cara dan mungkin juga banyak jawaban yang benar. skema. Pendidikan Realistik Matematika (RME) Menurut Streefland (1991) terdapat lima prinsip utama dalam belajar mengajar yang berdasar pada pengajaran realistik adalah: Menggunakan masalah-masalah kontektual.

Ianya boleh digunakan oleh pelbagai kumpulan umur dan dalam pelbagai mata pelajaran. Tanggungjawab individu bermakna setiap pelajar mesti melaksanakan tugas masing-masing yang diberikan untuk menyumbang kepada sesuatu projek. diantaranya ialah : 1. Asasya ia menggalakkan pelajar belajar bersama-sama dengan berkesan melalui pembentukan kumpulan yang homogen seperti dalam pendidikan inklutif. Penyertaan pula bermaksud semua pelajar mempunyai peluang yang sama untuk mengambil bahagian dan menyumbang secara bersama. ciri-ciri umumnya ialah: Ciri. pembelajaran kooperatif melibatkan pelajar bekerjasama dalam mencapai satusatu objektif pembelajaran (Johnson & Johnson. Setiap ahli kumpulan akan berinteraksi secara bersemuka dalam kumpulan.Pembelajaran kooperatif telah menjadi salah satu pembaharuan dalam pergerakan refomasi pendidikan. Matlamat kumpulan Matlamat kumpulan ialah kejayaan kumpulan dalam mencapai kecemerlangan dalam menguasai sesuatu konsep yang di ajar. Interaksi sosial ditekankan. Apakah kelebihan pembelajaran kooperatif ? Walaupun pembelajaran kooperatif menimbulkan keresahan kepada ibubapa yang khuatirkan kecairan pembelajaran apabila pelajar yang cerdas berada di dalam kumpulan yang kurang cerdas. Untuk mencapai kejayaan dalam prinsip ini. Setiap ahli kumpulan perlu berhubung rapat. 2. 3. tetapi mengikut Slavin ( 1991) ia akan memberi faedah kepada golongan yang berbeza kebolehan yang belajar dalam satu kumpulan. Jika dijalankan dengan . tugas perlu diagihkan kepada semua ahli kumpulan untuk menyumbang jawapan atau hasil dapatan. Kajian menunjukkan pembelajaran kooperatif boleh meningkatkan pencapaian dan kemahiran kognitif pelajar. Interaksi yang serentak berlangsung pada masa yang sama untuk setiap kumpulan melalui perbincangan yang akan menyebabkan lebih ramai individu yang turut serta mengambil bahagian. Matlamat ini dicapai melalui usaha bersama semua bersama ahli di dalam kumpulan. saling memenuhi dan bantu-menbantu. Selain dari itu. Pelajar perlu saling bergantungan positif untuk mencapai objektif gerak kerja. Kejayaan kumpulan bergantung kepada pembelajaran individu yang ahli sesuatu kumpulan. Setiap ahli mempunyai tanggungjawab ke atas keberkesanan pembelajaran kumpulan. 1991).Pembelajaran koopeatif dilaksanakan secara kumpulan kecil supaya pelajar-pelajar dapat berkerjasama dalam kumpulan untuk mempelajari isi kandungan pelajaran dengan pelbagai kemahiran sosial. Prinsip ini dikenali sebagai saling bergantungan secara positif. Secara dasarnya. Dalam kumpulan ini setiap ahli kumpulan mempunyai peranan tertentu dan jelas dalam usaha kumpulan mencapai matlamat yang ditetapkan.ciri pembelajaran kooperatif Pendekatan Pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa ciri tertentu. Pembelajaran kooperatif sebenarnya merangkumi banyak jenis bentuk pengajaran dan pembelajaran.

sempurna. Pembelajaran dalam kumpulan kecil dilakukan bagi sesuatu topik. Kaedah perbincangan ini boleh menggunakan kaedah Jigsaw II atau pendekatan lain. setiap pelajar mempunyai tanggungjawab untuk memahiri sesuatu subtopik serta berpeluang berkongsi pengetahuannya dengan ahli kumpulan yang lain. Ahli-ahli dalam kumpulan perlu bekerjasama untuk mencapai objektif pembelajaran. ini meningkatkan pemahaman dan ingatan. Setelah masing-masing memahami bahagian masing-masing. Beberapa bentuk pembelajaran kooperatif 1. Secara tidak langsung. setiap ahli kumpulan menjadi 'juru' dalam sub-unit sesuatu topik. Soal-jawab atau perbincangan yang berlaku semasa proses ini membolehkan 'juru' dan ahli sama-sama memikirkan pembentangan yang diberi. Teguran sesama ahli perlu dilakukan dengan sewajarnya agar dinamik kumpulan tidak hancur dan gerak kerja berjalan lancar. Selain dari itu.yang meningkatkan daya ingatan dan seterusnya membolehkan mereka menunjukkan pencapaian yang lebih baik. 2. Pelajar yang bersuara perlahan perlu meninggikan suara supaya didengari dan difahami oleh ahli kumpulan lain. Ini mengakibatkan pemprosesan pada aras yang lebih tinggi. kaedah ini juga memberi peluang kepada pelajar yang kurang cemerlang dan mengajar mereka untukmenjadi 'juru' dan mengajar mereka yang mempunyai prestasi akademik lebih baik daripadanya. Mengikut Kagan (1994) . Untuk tujuan ini . bukan sekadar menghafal sesuatu topik. pelajar perlu betul-betul memahami subtopik itu. Kajian juga menunjukkan pembelajaran kognitif boleh memberbaiki kemahiran sosial pelajar.Kaedah Jigsaw II Dalam kaedah ini.Kaedah STAD STAD merupakan akronim bagi Student Teams Achievement Divisions. . mereka perlu mempelajari atau memperbaiki kemahiran sosial mereka. setiap 'juru' mengajarnya pula kepada ahli kumpulan yang lain. pembelajaran kooperatif bagi golongan berbakat telah membawa banyak keberkesanan atau faedah seperti berikut : Membaiki hubungan sosial Meningkatkan pencapaian Meningkatkan kemahiran kepimpinan Meningkatkan kemahiran sosial Meningkatkan tahap kemahiran aras tinggi Meningkatkan kemahiran teknologi Meningkatkan keyakinan diri. secara tidak langsung meningkatkan keyakinan diri mereka.

ahli kumpulan akan saling bekerjasama supaya mendapat markah yang maksimum. kumpulan yang melebihi skor yang ditetapkan akan diberikan sijil. TAI TAI( Team Assisted Individualization) dibentuk menggabungkan antara motivasi dan insentif kepada kumpulan. Jadikan tanggungjawab pencapaian terletak di kedua-dua tahap individu dan kumpulan.Faktor yang paling utama di sini ialah bilangan ahli dalam kumpulan. . Perbezaan markah individu akan dikumpulkan untuk menjadi markah kumpulan. Pelajar dalam setiap kumpulan mestilah terdiri daripada pelajar yang mempunyai keupayaan yang berbeza-beza. Program yang diberikan mestilah bersesuaian dengan kemahiran yang dipunyai oleh setiap pelajar. Satu cara ialah melalui pemberian markah. Guru juga perlu meberikan asas kemahiran komunikasi misalnya bagaimana menyuarakan pendapat dan bagaimana menghadapi percanggahan pendapat. Disamping itu. Di sebabkan markah kumpulan diperolehi berdasarkan peningkatan ahli kumpulan. Ahli kumpulan yang bekerja secara berpasangan akan bertukartukar helaian jawapan kerja yang telah dibuat. Guru perlu menjelaskan kepada pelajar apakah tingkahlaku yang wajar dan tidak wajar semasa pembelajaran kooperatif berlaku. Beberapa strategi meningkatkan keberkesanan pembelajaran kooperatif Pembahagian kumpulan yang membolehkan ahli-ahli dalam kumpulan bekerja dengan berkesan bersama-sama. Berikan garispanduan tingkahlaku dan kemahiran berkomunikasi kepada pelajar. peningkatan kemajuan yang ditunjukkan oleh setiap pelajar akan dikira dengan mengambil markah terbaru dan ditolak dengan purata markah pelajar itu sendiri. Tugasan perlu distruktur sebegitu rupa supaya ahli kumpulan saling bergantung untuk mencapai objektif yang ditentukan. dan bagi pelajar ini. Setiap pelajar mendapat markah individu dan markah kumpulan bergantung kepada markah individu. Elakkan memberi tugasan yang boleh diselesaikan tanpa perlu pembabitan setiap ahli kumpulan. pembentukan kumpulan sebaiknya dilakukan oleh guru bagi mengelakkan pelajar berkumpul sesama 'klik' mereka sahaja. pengalaman pembelajaran sepenuhnya tidak dapat dicapai. Setiap pelajar akan mendapat markah individu. 3. Kumpulan yang terlalu besar kurang efektif kerana pembabitan ahli kumpulan cenderung menjadi tidak sama rata. Ahli kumpulan bertanggungjawab memastikan rakan-rakan dalam kumpulan bersedia untuk menduduki ujian akhir setiap unit.Selepas itu kuiz bertulis secara individu akan diberikan untuk menguji pemahaman pelajar. Dengan cara itu setiap pelajar mempunyai motivasi untuk melakukan yang terbaik untuk diri sendiri dan juga kumpulan. Kumpulan kecil mengandungi tiga atau empat ahli didapati paling efektif. Skor mingguan yang diperolehi oleh kumpulan akan dijumlahkan . Ini boleh menyebabkanada ahli kumpulan yang 'lepas tangan' ataupun dipinggirkan oleh orang lain.

Dengan konsep itu. NJ: Prentice-Hall. pembelajaran. Baltimore.com/gardner02_8/ilmiah1..T (1991).Stevann(1991) Cooperative Learing Where Heart Meets Mind. hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Slavin.htm Diposkan oleh Padiya di 21:13 0 komentar Model Pembelajaran Kontekstual PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL Diterbitkan Januari 29. Competitive. pembelajaran kontekstual Pengembangan Pembelajaran Kontekstual Oleh : Depdiknas A. BIBLIOGRAFI B. 2008 kurikulum & pembelajaran Tags: CTL. Perbincangan yang berlaku seharusnya yang berkaitan dengan tugasan .& Johnson. Johnson. L.W. ed ). R. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. NJ: Prentice Hall.). Slavin. R. Research ang Practice. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil .Pastikan jenis dan amaun interaksi antara pelajar berpatutan. Krongthong Khairiree. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Englewood Cliff. Perbincangan dan keputusan juga tidak dimonopoli oleh ahli kumpulan tertentu sahaja. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya. Interaksi juga harus berlaku di antara setiap ahli kumpulan dan tidak meminggirkan mana-mana ahli kumpulan. and individualistic learning ( 3rd Ed. d. bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Latar belakang Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah.geocities. C. bukan memgetahuinya. Rolheiser-Bennett. (1986) Using Student Team Learning ( 3 rd. kurukulum. Upper Saddle river. (1990) Cooperative Learning : Theory.Bennett. Learrning together and alone : Cooperative. Sumber : http://www. R. Centre For Research On Elementary And Middle Schools. Guru perlu mengawasi interaksi yang berlaku semasa pelajar menjalankan aktiviti kumpulan di dalam kelas. Johns Hopkins University. Nota Edaran Kursus SMWB-10 (10 Jun-27 Julai 2002.

Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru. Maksudnya. 2. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).Siswa belajar dari mengalami sendiri.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual B. tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit) . .Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu 3. . Siswa sebagai Pembelajar . . guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.Dalam kelas kontektual. Proses belajar .Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu. .Anak belajar dari mengalami. .Strategi belajar itu penting. .Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan.Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah. Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah. . dan bergelut dengan ide-ide. dan bukan diberi begitu saja oleh guru. bukan dari pemberian orang lain. menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang . 1. Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru. Pemikiran tentang belajar. tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang. Transfer Belajar .

. memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri.baru. yang berasal dari proses penilaian yang benar. Akan tetapi. . C. dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. .Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna. . pemodelan (Modeling). Pengertian Pembelajaran Kontekstual 1. Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya . sosial. siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya.Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui. . Dari guru akting di depan kelas. yakni: konstruktivisme (Constructivism). 4. strategi belajar amat penting. dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif. masyarakat belajar (Learning Community).Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya. untuk hal-hal yang sulit. guru mengarahkan. dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) D. 2.Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa.Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. Hakekat Pembelajaran Kontekstual Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi. menemukan ( Inquiri). bertanya (Questioning).Umpan balik amat penting bagi siswa. dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. Pentingnya Lingkungan Belajar .

Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas. 13. 12. menggali. 6. berdiskusi. Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu.dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat E. 14. Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan. 4. 11. 8. Tradisional 1. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. bidang . Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. 9. Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman. 13. Menyandarkan pada hapalan 2. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik. mendengar ceramah. dan mengisi latihan (kerja individual). Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan. 6. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang. 12. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa. 10. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan. Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru. 5. berpikir kritis. Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas. Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik. 11. 7. Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan. Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja. Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor. 8. 4. 3. F. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat. 9. atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok). Perilaku dibangun atas kesadaran diri. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional Kontekstual 1. tidak bersandar pada realitas kehidupan. Menyandarkan pada pemahaman makna. 5. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis. 2. Perilaku dibangun atas kebiasaan. 7. Siswa secara pasif menerima informasi. Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan. 3. 10. yang bersifat subyektif. konteks dan setting. khususnya dari guru.

Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual 1.Membuat jurnal.Tukar pengalaman. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran 5. . bekerja dan belajar.Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar. Ciptakan masyarakat belajar. Konstruktivisme . . karya seni. Learning Community (Masyarakat Belajar) . langkahnya sebagai berikut ini. . Secara garis besar.Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir. Modeling (Pemodelan) . Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. .Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis 3.Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya 6.Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. . .Mencatat apa yang telah dipelajari. . dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. 4. 3. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara G.Kegiatan guru untuk mendorong. .Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman.Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik 2. Lakukan refleksi di akhir pertemuan 6. diskusi kelompok .studi apa saja.Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan 2.Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry 4. Questioning (Bertanya) . . Reflection ( Refleksi) .Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Inquiry .Berbagi ide 5. dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya 1.

2. Siswa aktif 8. Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual. program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. . yang membedakannya hanya pada penekanannya. Atas dasar itu. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya.Penilaian produk (kinerja). Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa. laporan hasil pratikum. artikel. peta-peta. 1. langkah-langkah pembelajaran. media untuk mencapai tujuan tersebut. Kompetensi dasar. Saling menunjang 3. . yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi. karangan siswa dan lain-lain I. . Dalam konteks itu. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran. materi pembelajaran.Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional). program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. Kerjasama 2. Pembelajaran terintegrasi 6. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Sharing dengan teman 9. dan authentic assessmennya. Siswa kritis guru kreatif 10. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya) . humor dan lain-lain 11.7. Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar. tidak membosankan 4.Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual H. saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya. Belajar dengan bergairah 5. Sekali lagi. Menyenangkan. Menggunakan berbagai sumber 7. gambar. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual 1. yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya.

sikap. agar dapat diinternalisasikan pada diri siswa serta mengimplementasikan hakekat pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari-belum memenuhi harapan seperti yang diinginkan.Nama & E-mail (Penulis): arief mangkoesapoetra Saya Guru di SMAN 21 BANDUN G Topik: Model Pembelajaran Tanggal: 25 Agustus 2004 I. dan guru cenderung lebih dominan one way method. suatu model pembelajaran yang efektif dan efisien sebagai alternatif. Mangkoesapoetra. Latar Belakang Masalah Masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ialah penggunaan metode atau model pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran secara tepat. yaitu kognitif. M. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa 5. kurang demokratis. di samping masih menggunakan model konvensional yang monoton. afektif. Untuk menghadapi kritik masyarakat tersebut di atas. II. dan tindakan. sehingga mata pelajaran PKn tidak dianggap sebagai mata pelajaran pembinaan warga negara yang menekankan pada kesadaran akan hak dan kewajiban tetapi lebih cenderung menjadi mata pelajaran yang jenuh dan membosankan.wordpress. berpendapat. serta secara fisik dan mental melibatkan semua pihak dalam pembelajaran sehingga siswa memiliki suatu kebebasan berpikir.com/2008/01/29/pembelajarankontekstual/ Diposkan oleh Padiya di 20:53 0 komentar Model Pembelajaran Portofolio MODEL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO:SEBUAH TINJAUAN KRITIS Oleh :Drs. yang diharapkan mampu melibatkan siswa dalam keseluruhan proses pembelajaran dan dapat melibatkan seluruh aspek. Guru PKn mengajar lebih banyak mengejar target yang berorientasi pada nilai ujian akhir. aktif dan kreatif. yang memenuhi muatan tatanan nilai.Pd. dan psikomotorik siswa. akibatnya guru seringkali mengabaikan proses pembinaan tatanan nilai. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu 4. yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran. Dasar Pemikiran Model Pembelajaran Portofolio dalam PKn Menurut ERIC Digest (2000). Sumber : http://akhmadsudrajat. kurang fleksibel. Hal ini berkaitan dengan kritik masyarakat terhadap materi pelajaran PKn yang tidak bermuatan nilai-nilai praktis tetapi hanya bersifat politis atau alat indoktrinasi untuk kepentingan kekuasaan pemerintah. "Portfolios . yaitu model pembelajaran berbasis portofolio (porfolio based learning). Metode pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) terkesan sangat kaku. Nyatakan authentic assessmentnya.3. Judul: MODEL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO: SEBUAH TINJAUAN KRITISBahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum. Arief A. aktivitas guru lebih dominan daripada siswa.

bisa dilakukan di dalam kehidupan keluarga. selain sangat bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kemampuan dan pemahaman siswa serta memberikan gambaran mengenai sikap dan minat siswa terhadap pelajaran yang diberikan. serta diiringi suatu sikap tanggung jawab. mengaitkan isi pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka. Cooperating (belajar dalam konteks interaksi kelompok). Melalui model pembelajaran portofolio. agar siswa dapat mempertanggungjawabkanb ucapan. Portofolio. dan negara. Portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa sebagai hasil belajarnya. c. selain diupayakan dapat membangkitkan minat belajar siswa secara aktif. Adapun alasan penggunaan model pembelajaran portofolio. Implementasi model . yang menjadi dasar acuan pendekatan sistem pada model pembelajaran portofolio membina siswa dalam rangka pemerolehan kompetensi lingkungan dan membekali siswa dengan life skill : civic skill. Applying (belajar dengan menyajikan pengetahuan untuk kegunaannya). bangsa dan negara. sosial. dan memberikan dampak pada keputusan-keputusan kebijakan. sikap. yaitu masa yang lalu. e. dan (2) 'Model Kegiatan Sosial dan PKn'. pribadi. dan g.. lawan dari textbook centered. dengan menggunakan waktu/kekinian. yaitu Relating (belajar dalam kehidupan nyata). serta dapat mengembangkan dan membekali siswa bagaimana belajar ber-PKn-dengan pengetahuan dan keterampilan intelektual yang memadai serta pengalaman praktis agar memiliki kompetensi dan efektifitas dalam berpartisipasi. dari satu konteks ke konteks lain. yang mendasari kegiatan serta proses pembelajaran PKn mengacu pada pendekatan sistem : (1) CTL. (1) CTL. 'Contextual Teaching Learning' CTL adalah suatu bentuk pembelajaran yang memiliki karakteristik berikut : a. bangsa.are used in various professions together typical. f. membekali siswa dengan pengetahuan yang fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan ke permasalahan lain. dan yang akan datang. dan Transfering (belajar dengan menggunakan penerapan dalam konteks baru/konteks lain) (2) 'Model Kegiatan Sosial dan PKn' Model yang dipelopori oleh Fred Newman ini mencoba mengajarkan pada siswa bagaimana mempengaruhi kebijakan umum. ekonomi dan sosial dalam masyarakat. b. sekarang. Model CTL disebut juga REACT. memiliki tingkat kompetensi dan komitmen sebagai pelaksana yang bermoral.. Model ini mendorong partisipasi aktif siswa dalam kehidupan politik. dengan mencoba mengembangkan kompetensi lingkungan yang merupakan kemampuan siswa untuk mempengaruhi lingkungan. d. Kedua model di atas. lingkungan budaya. kreatif. ekonomi. keadaan yang mempengaruhi langsung kehidupan siswa dan pembelajarannya. dan politik. 'Contextual Teaching Learning'. belajar tidak hanya menggunakan ruang kelas. art students assamble a portfolio for an art class. juga dapat menunjukkan pencapaian atau peningkatan yang diperoleh siswa dari proses pembelajaran (Stiggins. juga dapat mengembangkan pemahaman nilai-nilai kemampuan berpartisipasi secara efektif. kemudian pada masyarakat.. penemuan dan penciptaan). masyarakat. 1994 : 20). civic life. juga untuk membina suatu tatanan nilai terutama nilai kepemimpinan pada diri siswa. perbuatan pada dirinya sendiri. Experiencing (belajar dalam konteks eksplorasi. dengan demikian pendekatan tersebut mencoba memperbaiki kehidupan siswa dalam masyarakat atau negara.".

Ancaman Model Pembelajaran Portofolio : 1. dan kelebihan model portofolio di atas. mediator. Kerjasama/kolaborasi antara Kepala Sekolah dan pihak Dewan Sekolah/Komite Sekolah untuk menangani masalah pendanaan. sehingga untuk menuntaskan satu studi kasus atau suatu kebijakan publik diperlukan lebih dari 20 jam pelajaran seperti yang telah ditentukan dalam jadwal. 2. Kelemahan Model Pembelajaran Portofolio : 1. dan Ancaman Selain hal-hal positif. seperti dipaparkan di bawah ini. Peluang. dan ancaman yang terdapat di dalam proses pembelajaran PKn in action. 3. karena jika ide atau gagasan terlalu banyak dan tidak dapat dipertemukan. keluarga. diharapkan topik materi pembelajaran tidak terlalu banyak. sehinga guru masih terikat pada keharusan sebagai pelaksanan kurikulum. Dalam kurikulum baru. Belum diberikannya hak otonomi mengajar sebagai pengembang kurikulum praktis di kelas... namun dimuat satu sampai 2 topik atau materi pelajaran per semester. 2. sehingga model pembelajaran portofolio dapat dilaksanakan tanpa kekurangan waktu atau menyalahi apa yang telah digariskan dalam kurikulum. informasi. Belum diberikannya hak otonomi mengajar. peluang. pengetahuan untuk meningkatkan daya nalar dan pengetahuan dengan rekan guru pada MGMP PKn setempat. serta fungsi perannya sebagai fasilitator. dan 6. b. motivator. 2. Diperlukan tenaga dan biaya yang cukup besar. 3. Kurang kesadaran guru dalam mengembangkan kemampuan dan kemauan dalam melaksanakan fungsi perannya. 5. kemauan. 4. dan masyarakat khususnya para birokrat/instansi yang dikunjungi oleh para siswa untuk dimintai keterangannya. Diperlukan waktu yang cukup banyak. Siswa dapat mengunjungi instansi/lembaga pemerintah yang terkait untuk mencari atau memperoleh informasi yang dibutuhkan. 5. Kelemahan. 6.pembelajaran portofolio akan menjadikan PBM PKn yang sangat menyenangkan bagi siswa. 4. Hak otonomi mengajar pada guru dalam mengembangkan kemampuan. a. dengan kesadaran. Belum terbiasanya pembiasaan jalinan kerjasama kelompok tim para siswa. Kurangnya jalinan komunikasi antara pihak sekolah. bila pembelajaran tersebut beserta komponennya memiliki kegunamanfaatan bagi siswa dan kehidupannya. daya nalar. Tukar pendapat. III. Peluang Model Pembelajaran Portofolio : 1. Kerjasama/kolaborasi antara pihak sekolah dengan pemerintah setempat. masalah akan sulit dipecahkan. c. Model ini dapat dilakukan satu tahun satu kali. keunggulan. sedangkan guru harus dapat menjadi pengembang kurikulum praktis di dalam kelas. Kurangnya pengetahuan/daya nalar guru yang bersangkutan. . bahkan diperlukan waktu di luar jam pembelajaran di sekolah. kita pun harus mencermati beberapa kelemahan. Dan rekonstruktor pembelajaran di dalam kelas.

New York : MacMillan Cottage. dan instansi/lembaga pemerintah serta masyarakat setempat IV.J. baik berkenaan dengan aspek kognitif. (2000). Student-Centered Classroom Assessment. E-mail : arief_mangkoesapoetra@yahoo. yang secara langsung menjadi wahana pembinaan nilai kepemimpinan pada diri siswa dan secara tidak langsung menjadi wahana implementasi pendidikan budi pekerti bagi siswa. U. berbangsa. rekonstruktor pembelajaran bagi siswa. Publishing Company. A. Rancangan Perintisan Model Pembelajaran Portofolio di Delapan Propinsi. guru PKn dapat menggunakan pembelajaran portofolio sebagai salah satu alternatif pemecahan pembelajaran yang inovatif. Winataputra. 4. (1998). Stiggins. afektif. R. USA : Allyn & Bacon . dengan tujuan agar siswa menjadi A Good Young Citizenship yang berkualitas sebagai warga negara yang cerdas. Kepala Sekolah. Dalam upaya meningkatkan kinerja profesional guru. Bandung : UT dan CICED. Kami Bangsa Indonesia. (1995). civic participation. Penutup Pembelajaran PKn merupakan pendidikan nilai di tingkat persekolahan (SD.J. (1991). Model ini sangat potensial dalam meningkatkan motivasi atau semangat belajar siswa. terutama pembinaan tatanan nilai. mediator. Bandung : Proyek Kewarganegaraan. partisipatif. civic skill. dalam upaya mengembangkan dan membekali sejumlah keterampilan dan wawasan life skill kewarganegaraan siswa. dan bertanggung jawab. yaitu membelajarkan siswa dapat belajar ber-PKn dalam laboratorium demokrasi. yang wajib dimiliki oleh setiap insan.A Simon & Schuster Company. Penulis adalah Guru SMAN 21 Bandung. Classroom Assessment : What Teachers Need to Know. W.dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai potensi kebermaknaan siswa. Djahiri. SLTP. Bandung : PPKnH UPI dan CICED. directormotivator. Orang Tua Siswa. Tidak ada dukungan moril serta bantuan dana dari pihak sekolah.com PUSTAKA ACUAN Center for Indonesian Civic Education. kreatif. dan bernegara sesuai dengan hak dan kewajibannya.S. Saya arief mangkoesapoetra setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). (1999). Model Pembelajaran Generatif MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF (MPG) . Arts-ED 3334603. Model pembelajaran portofolio-metode pemecahan masalah. ERIC Digest (2000). maupun psikomotorik siswa. Model Pembelajaran Portofolio Terpadu dan Utuh. yaitu : civic life. Dewan Sekolah. agar siswa dapat hidup bermasyarakat. meraih gelar Magister Pendidikan program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dari Program Pascasarjana UPI Bandung dengan judicium "cum laude" (25 Pebruari 2004). yaitu kepemimpinan diri pada siswa. . Popham. prospektif.K. Penggunaan model pembelajaran portofolio dalam pembelajaran PKn berimplikasi luas terhadap khasanah piranti professional guru sebagai seorang fasilitator. dan SLTA). Kurangnya kerjasama antara para guru.3. "Portfolio Assessment".

Butir-butir penting dari pandangan belajar menurut teori konstruktivis ini menurut Nur (2000:2-15) dan Katu (1995. Menganggap bahwa jika seseorang memiliki strategi belajar yang efektif dan motivasi. Penekanan pada prinsip Scaffolding.e. Seseorang belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona tersebut. tetapi mereka harus melakukan operasi mental atau kerja otak atas informasi tersebut untuk membuat informasi itu masuk ke dalam pemahaman mereka. utuh. Dalam proses pemecahan masalah tersebut. sulit. tetapi dapat menyelesaikannya jika dibantu sedikit dari teman sebaya atau orang dewasa. dan kemudian secara bertahap mengalihkan tanggung jawab belajar tersebut kepada mahasiswa untuk bekerja atas arahan dari mereka sendiri.b. dan autentik untuk dipecahkan. Menganut asumsi sentral bahwa belajar itu ditemukan. 1992). dan realistik kemudian dibantu menyelesaikan tugas kompleks tersebut dengan menerapkan scaffolding.f. Pengertian Pembelajaran GeneratifPembelajaran Generatif (PG) merupakan terjemahan dari Generative Learning (GL).b:1).c. serta tekun menerapkan strategi itu sampai suatu tugas terselesaikan demi kepuasan mereka sendiri. Meskipun jika kita menyampaikan informasi kepada mahasiswa. pembelajaran generatif merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki mahasiswa sebelumnya.g. Menganut visi mahasiswa ideal. Top-down berarti mahasiswa langsung mulai dari masalah-masalah kompleks. 1997: ) yang menunjukkan pengaruh positif pendekatan-pendekatan konstruktivis yang melandasi pembelajaran generatif terhadap variabel-variabel hasil belajar tradisional. Lebih menekankan pada pengajaran top-down daripada bottom-up. bidang sains (Neale. Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi. yaitu seorang mahasiswa yang dapat memiliki kemampuan pengaturan diri sendiri dalam belajar. diantaranya adalah : a. diantaranya adalah : dalam bidang matematika (Carpenter dan Fennema.2. mahasiswa mempelajari keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan masalah kompleks tadi dengan bantuan guru/dosen atau teman sebaya yang lebih mampu. Smith. dan Johnson. mahasiswa sebaiknya lansung saja diberikan tugas kompleks. Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan atau gejala yang terkait. membaca . Dukungan itu sifatnya lebih terstruktur pada tahap awal. maka kemungkinan sekali mereka adalah pelajar yang efektif dan memiliki motivasi abadi dalam belajar. 1992). yaitu pemberian dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah.h. Menurut Osborno dan Wittrock dalam Katu (1995.1. Jadi. Landasan Teoritik dan Empirik Pembelajaran GeneratifPembelajaran generatif memiliki landasan teoritik yang berakar pada teori-teori belajar konstruktivis mengenai belajar dan pembelajaran. Menekankan bahwa perubahan kognitif hanya bisa terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami inforamasi-informasi baru. maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang. Seseorang belajar jika dia bekerja dalam zona perkembangan terdekat.d. yaitu daerah perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini. Seseorang bekerja pada zona perkembangan terdekatnya jika mereka terlibat dalam tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Sejumlah penelitian (Slavin.a: 1-2).

Setelah itu dosen melaksanakan demonstrasi dan meminta mahasiswa untuk mengamati dengan seksama gejala yang muncul. Mereka diminta mengemukakan alasan untuk mendukung dugaan mereka. Dosen perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencerna apa yang mereka amati.3.b. dan sadar akan variasi pendapat di antara mereka sendiri. dosen menuliskan topik dan melibatkan mahasiswa dalam diskusi yang bertujuan untuk menggali pemahaman mereka tentang topik yang akan dibahas. Mereka diajak untuk mengungkapkan pemahaman dan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan topik tersebut.(Duffi dan Rochler. Tahap-4 : Aplikasi KonsepPada tahap ini. terdiri atas 5 tahap dengan penjelasan sebagai berikut :a. dosen memberikan berbagai persoalan . Tujuan dari tahap pengingatan ini adalah untuk menarik perhatian mahasiswa terhadap pokok yang sedang dibahas. Untuk membuat suasana menjadi kondusif. diharapkan mereka dapat menemukan jawaban atas gejala yang mereka amati. 1987). tampilan gambar. menulis (Bereiter dan Scardamalia. Proses reorganisasi ini tentu membutuhkan waktu. Tahap-3 : Reorganisasi Kerangka Kerja KonsepPada tahap ini dosen membantu mahasiswa dengan mengusulkan alternatif tafsiran menurut fisikawan dan menunjukkan bahwa pandangan yang dia usulkan dapat menjelaskan secara koheren gejala yang mereka amati. Yang perlu dilakukan adalah membuat mereka berani mengemukakan pendapatnya tanpa takut disalahkan. atau grafik yang dapat membantu mahasiswa menemukan alternatif jawaban atas gejala yang diamati. Dalam hal ini dosen menyiapkan perangkat demonstrasi. Diharapkan mereka akan merasakan bahwa pandangan baru dari dosen tersebut mudah dimengerti. Tahap-2 : Tantangan dan KonfrontasiSetelah dosen mengetahui pandangan sebagian mahasiswanya.c. Tahapan Pembelajaran GeneratifLangkahlangkah atau tahapan pembelajaran generatif menurut Katu (1995. Mereka juga diajak untuk menanggapi pendapat teman satu kelas mereka yang berbeda dari pendapat sendiri. akan merasa terganggu dan mengalami konflik kognitif dalam pikirannya. dan berhasil dalam menjawab berbagai persoalan. Dengan menggunakan cara dialog yang timbal balik dan saling melengkapi. Sebaiknya pertanyaan yang diajukan dosen adalah pertanyaan terbuka. Diharapkan mahasiswa mulai mereorganisasi kerangka berpikir mereka dengan melakukan perubahan struktur dan hubungan antar konsep-konsep.d. Secara sadar dosen mempertentangkan pendapat-pendapat yang berbeda itu. Setelah itu barulah dosen menayakan apakah gejala yang mereka amati itu sesuai atau tidak dengan pikiran mereka. 1986). dosen diharapkan tidak akan menilai mana pendapat yang “salah” dan mana yang “benar”. Mereka diminta mengomentari pendapat teman sekelas dan membandingkannya dengan pendapat sendiri. Tahap-1 : PengingatanPada tahap awal ini. b:5-6). membuat pemahaman mereka menjadi eksplisit. dosen mengajak mereka untuk mengemukakan fenomena atau gejala-gejala yang diperkirakan muncul dari suatu peristiwa yang akan didemonstrasikan kemudian. Mahasiswa diberikan beberapa persoalan sejenis dan menyarankan mereka menjawabnya dengan pandangan alternatif yang diusulkan dosen. masuk akal. Penelitian Knapp (1995) menemukan suatu hubungan positif pendekatan-pendekatan konstruktivis dengan hasil belajar. Dosen diharapkan untuk mencatat dan mengelompokkan dugaan dan penjelasan yang muncul di papan tulis.

b. kegiatan kelompok menggunakan diagram. Keberhasilan mereka menerapkan pengetahuan dalam situasi baru akan membuat para mahasiswa makin yakin akan keunggulan kerangka kerja konseptual mereka yang sudah direorganisasi. yang sekarang ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri।A. Pelatihan ini dimaksudkan juga untuk lebih menguatkan hubungan antar konsep di dalam kerangka berpikir yang baru mengalami reprganisasi. Setelah dosen mengetahui intuisi yang dimiliki mahasiswa. Untuk lebih memperkuat pemahaman mereka maka dosen dapat memberikan soal-soal terbuka (open-ended questions). diantaranya adalah sebagai berikut :a. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan .4. Beberapa Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran GeneratifDalam melaksanakan pembeljaran generatif.html Diposkan oleh Padiya di 19:06 0 komentar Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH Pembelajaran berdasarkan masalah telah dikenal sejak zaman John Dewey. atau simulasi.com/2008/04/pembelajaran-generatifmpg. Menyajikan demonstrasi untuk menantang intuisi mahasiswa. dosen mengajak mahasiswanya dalam menilai kembali kerangka kerja konsep yang telah mereka dapatkan. Mengakomodasi keinginan mahasiswa dalam mencari alternatif penjelasan dengan menyajikan berbagai kemungkinan kegiatan mahasiswa antara lain berupa eksperimen/percobaan. soal-soal kaya konteks (context-rich problems) dan pertanyaan terbalik (reverse questions) yang dapat dikerjakan secara kelompok. dosen mempersiapkan demonstrasi yang menghasilkan peristiwa yang dapat berbeda dari intuisi mahasiswa.c. analogi. Pengertian Pembelajaran Berdasarkan MasalahPembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi। Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya.c.blogspot. Variasi kegiatan ini dapat membantu mahasiswa memperoleh penjelasan yang cukup memuaskan. Tahap-5 : Menilai KembaliDalam suatu diskusi. Dengan melihat peristiwa yang berbeda dari dugaan mereka maka di dalam pikiran mereka timbul perasaan kacau (dissonance) yang secara psikologis membangkitkan perasaan tidak tenteram sehingga dapat memotivasi mereka untuk mengurangi perasaan kacau itu dengan mencari alternatif penjelasan. Maksudnya adalah memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan/keterampilan baru mereka pada situasi dan kondisi yang baru. Sumber : http://anwarholil.dengan konteks yang berbeda untuk diselesaikan oleh mahasiswa dengan kerangka konsep yang telah mengalami rekonstruksi. dosen perlu memperhatikan beberapa hal.menuru Sutrisno (1995:3). pelatihan menggunakan tampilan jamak (multiple representation) untuk mengaktifkan mahasiswa dalam proses belajar.

Sebagai contoh. Marx. Sudah barang tentu. menghindari jawaban sederhana. pariwisata. mengembangkan hipotesis. masalah yang akan diselidiki telah dipilih benarbenar nyata agar dalam pemecahannya. bergantung kepada masalah yang sedang dipelajari. “belajar otentik (authentic learning)” dan ”pembelajaran bermakna (anchored instruction)”. 1999. & Wasik. Slavin. Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya. Karya nyata dan peragaan seperti yang akan dijelaskan kemudian. metode penyelidikan yang digunakan. ekonomi. 1992. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat seperti pada pelajaran ”Roots and wings”. Cognition & Technology Group at Vanderbilt. video maupun program komputer.3। Penyelidikan autentik.pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan. dan merumuskan kesimpulan. Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA. Maden. 1994. Ciri-ciri khusus Pembelajaran Berdasarkan MasalahMenurut Arends (2001 : 349) berbagai pengembang pengajaran berdasarkan masalah telah memberikan model pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut (Krajcik. Produk itu dapat juga berupa laporan. Bukannya mengorganisasikan di sekitar prisip-prinsip atau ketrampilan akademik tertentu. mengumpul dan menganalisa informasi.4। Menghasilkan produk dan memamerkannya. dan pemerintahan.5। Kolaborasi. mengembangkan kemandirian dan percaya diri। Model pembelajaran ini juga mengacu pada model pembelajaran yang lain. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah. masalah polusi yang dimunculkan dalam pelajaran di teluk Chesapeake mencakup berbagai subyek akademik dan terapan mata pelajaran seperti biologi. melakukan eksperimen (jika diperlukan). siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran. membuat inferensi. pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa.2। Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu. 2002 : 123). ilmu-ilmu sosial).pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. direncanakan oleh siswa untuk mendemonstrasikan kepada teman-temannya yang lain tentang apa yang mereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar terhadap laporan tradisional atau makalah. matematika. 1994. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata autentik. dan membuat ramalan. paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.B. & soloway. model fisik. Dolan.Menurut Arends (1997). pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri. Krajcik. ” pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience-based instruction)”. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas- . 1990). sosiologi. seperti “pembelajaran berdarkan proyek (project-based instruction)”.1। Pengajuan pertanyaan atau masalah. mengembangkan inkuiri dan ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi. Blumenfeld.

dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya।Tahap-5Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim. video. sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru dan pada bahan ajar.Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan prosesproses yang mereka gunakan. mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah.tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan ketrampilan berfikir.(Sumber: Ibrahim. serta (3) pemisahan antar bidang studi tidak terlihat jelas. Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku. dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran. serta untuk membuat anak lebih efektif dalam memecahkan berbagai problem yang disajikan dalam konteks pengalaman (experience) pada umumnya .Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan.Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai.C. belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi. 2000 : 13. dan keterampilan intelektual.Menurut Sudjana manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah। Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas. menjelaskan logistik yang dibutuhkan. memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahanmasalah yang dipilih।Tahap-2Mengorganisasi siswa untuk belajarGuru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut।Tahap-3Membimbing penye lidi kan individual maupun kelompok. untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahTahap-4Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.डी. (2) proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung. menunjukkan bahwa model pembelajaran terpadu adalah sejalan dengan beberapa aliran pendidikan modern yaitu termasuk dalam aliran pendidikan progresivisme. tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya. melaksanakan eksperimen. Manfaat Pembelajaran Berdasarkan MasalahPembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyakbanyaknya kepada siswa। Pembelajaran berda. Dari beberapa ciri pembelajaran terpadu di atas. Langkah-langkah Pembelajaran Berdasarkan MasalahPengajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa।Sintaks Pembelajaran Berdasarkan MasalahTahap-1Orientasi siswa pada masalahGuru menjelaskan tujuan pembelajaran. 2000 : 7). Tujuan utama sekolah adalah untuk meningkatkan kecerdasan praktis. pemecahan masalah.sarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemam -puan berpikir. Aliran pendidikan progresivisme memandang pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered). MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TERPADU Prabowo (2000:3) mengatakan bahwa pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu : (1) berpusat pada siswa (student centered).

(3) menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi siswa untuk mengkaji.(William F. mencintai kerja. mengkonseptualisasi. dan bekerja dengan otak dan hati. 2001). Model terhubung ini juga secara nyata menghubungkan satu konsep dengan konsep lain. model keterpaduan (integrated ).Tujuan pendidikan aliran progresivisme adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja. sehingga terjadilah proses internalisasi. model terhubung ini juga mempunyai kekurangan sebagai berikut : (1) masih . Untuk mencapai tujuan tersebut. agar dapat terwujud pemampatan/ pengurangan waktu dalam pembelajaran pada konsep-konsep tersebut (Reduce Instructional Time). serta ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan semester berikutnya. dan10) the networked model ( Model Jaringan )Dari kesepuluh model pembelajaran terpadu di atas dipilih tiga model pembelajaran yang dipandang layak dan sesuai untuk dapat dikembangkan dan mudah dilaksanakan di pendidikan dasar (Prabowo. Hal ini terkait dengan upaya menghindari terjadinya penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran.Adapun model-model pembelajaran terpadu sebagaimana yang dikemukakan oleh Fogarty.Beberapa kelebihan dari model terhubung (connected) adalah sebagai berikut : (1) dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah siswa memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu. pendidikan seharusnya dapat mengembangkan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak. Kesepuluh model pembelajaran terpadu tersebut adalah :1) the fragmented model ( Model Fragmen )2) the connected model ( Model Terhubung )3) the nested model ( Model Tersarang )4) the sequenced model ( Model Terurut )5) the shared model ( Model Terbagi )6) the webbed model ( Model Jaring Laba-Laba )7) the threaded model ( Model Pasang Benang )8) the integrated model ( Model Integrasi )9) the immersed model ( Model Terbenam ). satu keterampilan dengan keterampilan lain. sebagai akibat dari mengejar target kurikulum. Kurikulum pendidikan progresif adalah kurikulum yang mengakomodasi pengalaman-pengalaman (atau kegiatan) belajar yang diminati oleh setiap siswa (experience curriculum). (2) siswa dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus. R (1991 : 61– 65) yaitu sebanyak sepuluh model pembelajaran terpadu. memperbaiki. maka model pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah model terhubung (the connected model). Selain itu. O’neill. model jaring labalaba (webbed). serta mengasimilasi ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah. 1981).Berdasarkan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing model pembelajaran tersebut. satu topik dengan topik lain. bekerja secara sistematis. 2000:7). Sedangkan metode pendidikan progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya (Mudyaharjo. Ketiga model pembelajaran terpadu yang dimaksud adalah model terhubung (connected). tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya.Di samping mempunyai kelebihan. karena model terhubung ini penekanannya terletak pada perlu adanya integrasi inter bidang studi itu sendiri. Pemanfaatan penerapan model terhubung (connected) ini sangat relevan dengan konsep Cahaya (dalam fisika) dan konsep Sistem Indera pada manusia (dalam biologi).

evaluasi produk :.(materi prasyarat)2. Selain itu.3.5. sehingga isi dari pelajaran tetap saja terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi.1. guru perlu lebih banyak menyajikan pengalaman kepada mereka untuk menggali pengetahuan awal dan membimbing mereka untuk membentuk konsep-konsep. dalam pembelajaran penemuan siswa juga belajar pemecahan masalah secara mandiri dan keterampilan-keterampilan berfikir. menyampaikan konsep-konsep yang hendak dikuasai oleh siswa2.kelihatan terpisahnya antar bidang studi.Siswa hanya dapat memahami konsep-konsep sains sesuai dengan kesiapan intelektualnya. dan pembimbing. Tahap Pelaksanaan. menyampaikan alat dan bahan yang akan digunakan / dibutuhkan2. kegiatan pencatatan data3. (2) tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim. menyampaikan konsep pendukung yang harus dikuasai siswa. menentukan tujuan pembelajaran khusus2.1.4.ketepatan dalam penyusunan alat dan bahanketepatan siswa saat menganalisis data4. siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip.1. menentukan tujuan pembelajaran umum1.kemampuan penguasaan siswa terhadap penggunaan alat ukur. dan hubungan antara pengetahuan awal dan konstruksi konsep IPA yang dimiliki siswa dengan kemampuan siswa untuk mengikuti pembelajaran penemuan.3. diskusi secara klasikal4. Siswa yang lebih dewasa. Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING Ciri Penemuan terbimbingPembelajaran penemuan terbimbing merupakan salah satu bagian dari pembelajaran penemuan yang banyak melibatkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. pendorong. dan (3) dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang studi. Dilihat dari segi kadar aktivitas interaksi antara guru dan siswa. baik secara terbimbing maupun secara bebas.1. evaluasi proses . menyampaikan keterampilan proses yang dapat dikembangkan2. nara sumber.2.2. meliputi :4. menyampaikan pertanyaan kunci3. berupa :. Tahap Perencanaan :1. Evaluasi.Sintaks (pola urutan) dari model pembelajaran terpadu tipe connected (terhubung) menurut Prabowo (2000:11 – 14) sebagai berikut :1. membutuhkan lebih sedikit keterlibatan aktif guru karena mereka lebih banyak berinisiatif untuk bekerja dan guru akan berfungsi sebagai fasilitator. pengelolaan kelas. semakin muda siswa yang dihadapi oleh guru.ketepatan hasil pengamatan.2.4. karena mereka .penguasaan siswa terhadap konsep-konsep / materi sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetapkan.2.3. evaluasi psikomotor :. dan antara siswa dengan siswa. maka penemuan terbimbing merupakan kombinasi antara pembelajaran langsung dan pembelajaran tidak langsung. maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan. yaitu usia dan perkembangan mental siswa.Ada hubungan yang kuat antara kadar dominansi guru dengan kesiapan mental untuk menginternalisasi konsep-konsep. meliputi :3. Langkah-langkah yang ditempuh oleh guru :2. dengan membagi kelas kedalam beberapa kelompok3. kegiatan proses3.Pembelajaran dengan penemuan.4.

Bimbingan guru yang dimaksud adalah memberikan bantuan agar siswa dapat memahami tujuan kegiatan yang dilakukan dan berupa arahan tentang prosedur kerja yang perlu dilakukan dalam kegiatan pembelajaran (Ratumanan. keterlibatan siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran.Beberapa keuntungan Pembelajaran penemuan terbimbing yaitu siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn). Tahapan Pembelajaran Penemuan Terbimbing Pembelajaran penemuan terbimbing dikembangkan berdasarkan pandangan kognitif tentang pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivis. .Konstruktivis adalah salah satu pilar dari Contextual Teaching and Learning. menemukan konsep dan kemudian menerapkan konsep yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini didukung oleh Carin (1993b: 105). “Guided discovery incorporates the best of what is known about science processes and product. Dengan kata lain. konsep atau prinsip untuk diri mereka sendiri bukan memberikan ceramah atau mengendalikan seluruh kegiatan kelas. memperkecil atau menghindari menghafal dan siswa bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri (Carin. maka penemuan terbimbing termasuk salah satu pembelajaran yang sesuai dengan Contextual Teaching and Learning (CTL). 1993b). menemukan konsep harus melalui keterampilan proses. belajar secara konstruktivis lebih menekankan belajar berpusat pada siswa sedangkan peranan guru adalah membantu siswa menemukan fakta. belajar menghargai diri sendiri. memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer. dan dapat memecahkan masalah.” Penemuan terbimbing mamadukan yang terbaik dari apa yang diketahui siswa tentang produk dan proses sains. Menurut prinsip ini siswa dilatih dan didorong untuk dapat belajar secara mandiri. karena mereka benar-benar diberi kesempatan berperan serta di dalam kegiatan sains sesuai dengan perkembangan intelektual mereka dengan bimbingan guru. dimana siswa diharapkan membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pada pengalaman awal dan pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar bermakna. 1994). 1995b: 107).Pembelajaran penemuan terbimbing mempunyai kesamaan dengan pembelajaran berdasarkan masalah dan inquiri yang juga penerapannya berdasarkan teori konstruktivis. dengan demikian bahwa penemuan terbimbing dengan keterampilan proses ada hubungan yang erat sebab kegiatan penyelidikan.Kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing mempunyai persamaan dengan kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan proses.harus menganalisis dan memanipulasi informasi (Slavin.Pembelajaran penemuan terbimbing membuat siswa melek sains dan teknologi.Menurut Sund (dalam Suryosubroto. sedangkan kegiatan belajar yang berorientasi pada keterampilan proses menekankan pada pengalaman belajar langsung. Penemuan terbimbing yang dilakukan oleh siswa dapat mengarah pada terbentuknya kemampuan untuk melakukan penemuan bebas di kemudian hari (Carin. Kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing menekankan pada pengalaman belajar secara langsung melalui kegiatan penyelidikan. 2002).Namun dalam proses penemuan ini siswa mendapat bantuan atau bimbingan dari guru agar mereka lebih terarah sehingga baik proses pelaksanaan pembelajaran maupun tujuan yang dicapai terlaksana dengan baik. 1996: 193). dan penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari.

discovery merupakan bagian dari inquiri.Tahap-tahap pembelajaran1. video. Menentukan dengan cermat apakah siswa akan bekerja secara individu atau secara kelompok yang terdiri dari 2.4. 1997). Proses mental tersebut misalnya mengamati. kedua model ini menekankan keterlibatan siswa secara aktif. Menyiapkan alat dan bahan secara lengkap. Menentukan tujuan yang akan dipelajari oleh siswa. pada penemuan terbimbing sebagian besar didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan berdasarkan disiplin.Sumber: (Ibrahim dan Nur. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. untuk mencapai tujuan di atas Carin (1993a) . Namun pembelajaran penemuan dan PBI berbeda dalam beberapa hal yang penting yaitu.3. Menyajikan / mempresentasikan hasil kegiatan.Selanjutnya. Mengevaluasi kegiatanGuru membantu siswa untuk merefleksi pada penyelidikan dan proses penemuan yang digunakan. pembelajaran berdasarkan masalah dimulai dengan masalah kehidupan nyata yang bermakna yang memberikan kesempatan kepada siswa dalam memilih dan melakukan penyelidikan yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. atau inquiri merupakan perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompokGuru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. 2000: 13)Karena pembelajaran penemuan terbimbing merupakan pembelajaran penemuan dan bimbingan guru. Pembelajaran berdasarkan masalah (PBI) membantu siswa menjadi pebelajar yang mandiri dan otonom melalui bimbingan guru yang secara berulang-ulang mendorong dan mengarahkan siswa untuk mencari penyelesaian terhadap masalah nyata. pemecahannya memerlukan penyelidikan antara disiplin (Arends. Mengorganisasikan siswa dalam belajarGuru membantu siswa mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas yang berkaitan dengan masalah serta menyediakan alat. Orientasi siswa pada masalahGuru menjelaskan tujuan pembelajaran. Mencoba terlebih dahulu kegiatan yang akan dikerjakan oleh siswa untuk mengetahui kesulitan yang mungkin timbul atau kemungkinan untuk modifikasi. melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.3 atau 4 siswa. dan model yang membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. Discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau suatu prinsip.Carin (1993a) memberikan petunjuk dalam merencanakan dan menyiapkan pembelajaran penemuan terbimbing sebagai berikut:1. menggolongkan.4. dan penyelidikan siswa berlangsung di bawah bimbingan guru terbatas pada lingkungan kelas. Menentukan lembar pengamatan untuk siswa. membuat simpulan dan sebagainya. karena masalah itu merupakan masalah kehidupan nyata.3. orientasi induktif lebih ditekankan daripada deduktif.6. menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memilih metode yang sesuai dengan kegiatan penemuan.2. dan ada persamaannya dengan pembelajaran berdasarkan masalah. Selain itu.Pembelajaran penemuan ada persamaannya dengan pembelajaran berdasarkan masalah. oleh sebab itu dalam penelitian ini menggunakan tahapan dengan mengadaptasi dari tahapan PBI.2.Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 23).Berbeda dengan pembelajaran penemuan terbimbing. memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang diberikan guru. dan siswa mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri.5.5.

kemudian guru menunjuk nomor yang lain . MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF YANG DIREKOMENDASIKAN DI SMP NASIONAL KPS 1.e. Tanggapan dari teman yang lain. PICTURE AND PICTURE Langkah . hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas e. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi d.menyarankan hal-hal sebagai berikut:a. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai g.f. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis e. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar d. Memeriksa bahwa semua siswa memahami tujuan kegiatan prosedur yang harus dilakukan.c. Kesimpulan 2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya c. Menyajikan materi sebagai pengantar c. NUMBERED HEAD TOGETHERS Langkah-langkah : a.b. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b.Langkah : a. Kesimpulan/rangkuman 3. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya d. setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor b. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya f. Sebelum kegiatan dilakukan menjelaskan pada siswa tentang cara bekerja yang aman. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran b. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP c. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka e.d. EXAMPLES NON EXAMPLES Langkah-langkah : a. Melakukan diskusi tentang kesimpulan untuk setiap jenis kegiatan. Siswa dibagi dalam kelompok. Memberikan bantuan agar siswa dapat memahami tujuan kegiatan yang dilakukan. Mengamati setiap siswa selama mereka melakukan kegiatan. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut f. Memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mengembalikan alat dan bahan yang digunakan. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa. guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai g.

Guru membagi siswa untuk berpasangan b. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru j. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Sementara pendengar f. Bertukar peran. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar d. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi. STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISION (STAD) Langkah-langkah : a. guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok.f. KEPALA BERNOMOR STRUKTUR Langkah-langkah : a. bagian-bagian dari materi yang dipelajari Langkah-langkah : a. Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap g. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan c. Penutup 5. Siswa dibagi dalam kelompok. setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor b. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya c. Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya h. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomor dan diberikan tugas yang berangkai Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. suku. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti. Jika perlu. . Kesimpulan 4. COOPERATIVE SCRIPT Skrip kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin. dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. jenis kelamin. dll) b. Kesimpulan 6. Guru menyajikan pelajaran c. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka d. Serta lakukan seperti diatas i. e. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain e.

Memberi evaluasi f. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. pengumpulan data. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh f. eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Siswa dikelompokkan ke dalam kelompok 2 . jadwal. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu e. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai b. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya e. Guru memberi evaluasi h. b. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. Penutup 9. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda c. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. ARTIKULASI Langkah-langkah : a.) c. Begitu juga kelompok lainnya e. hipotesis. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil. d. bentuklah kelompok berpasangan dua orang d. dll. Kesimpulan 7. pemecahan masalah.d. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka e. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa c.5 anggota tim b. Untuk mengetahui daya serap siswa. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan d. kemudian berganti peran. Penutup 8. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya . JIGSAW (MODEL TIM AHLI) Langkah-langkah : a. PROBLEM BASED INTRODUCTION (PBI) Langkah-langkah : a. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan f. tugas. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi g.

THINK PAIR AND SHARE Langkah-langkah : a. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru f. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. MIND MAPPING Langkah-langkah : a. Kesimpulan/penutup 10. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya e. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang d. sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban b. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai b. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru c. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya g. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masingmasing d. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya f. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban c. Guru memimpin pleno kecil diskusi. Setiap siswa mendapat satu buah kartu c. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin f. MAKE A MATCH Langkah-langkah : a. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban) e. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang d. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa g. Guru memberi kesimpulan . Kesimpulan/penutup 12. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru 11. Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa f. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi e.dengan teman pasangannya. Demikian seterusnya h.

Guru menyiapkan sebuah tongkat b. setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan g. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan f.g. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya d. d. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap f. Penutup 15. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa. GROUP INVESTIGATION Langkah-langkah : a. demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat . guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman 14. masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas h. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari. kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya/paketnya c. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kbm c. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya. DEBATE Langkah-langkah : a. ROLE PLAYING Langkahlangkah : a. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi e. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya i. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra b. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan b. Setelah selesai dipentaskan. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas c. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya. Evaluasi k. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai e. Dari data-data di papan tersebut. Guru memberikan kesimpulan secara umum j. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang d. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Setelah selesai membaca materi. Penutup 13.

bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru e. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari. Guru menyiapkan sebuah tongkat b. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya d. Evaluasi g. Penutup 16. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula f. kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya/paketnya c. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja. Guru memberikan kesimpulan f. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing. Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru biasa menunjukkan pasangannya atau siswa menunjukkan pasangannya b. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi c. Guru memberikan kesimpulan f. Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada . TALK STIK Langkah-langkah : a. setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan b. Evaluasi g. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan masing-masing pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka e. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya c. untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok e. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 15 menit f. Setelah selesai setiap pasangan bergabungdengan satu pasangan yang lain d. kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya d. BERTUKAR PASANGAN Langkah-langkah : a. Penutup 17. SNOWBALL THROWING Langkah-langkah : a. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa. Penutup 18. demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru e.

Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran . Penutup 21. Evaluasi h. atau diagonal harus berteriak horay … atau yel-yel lainnya g. STUDENT FACILITATOR AND EXPAINING Langkah-langkah : a.siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian g. Membimbing pelatihan d. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi c. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu f. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik e. Penutup 19. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan 22. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh h. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen b. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan c. INSIDE OUTSIDE CIRCLE (LINGKARAN KECIL-LINGKARAN BESAR) Langkah-langkah : a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi c. Memberikan kesempatan siswa/peserta untuk menjelaskan kepada peserta untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan/peta konsep maupun yang lainnya d. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa b. Untuk menguji pemahaman. Penutup 20. EXPLISIT INTRUCTION (PEMBELAJARAN LANGSUNG) Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan proseduran dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan Langkah-langkah : a. Memberikan kesempatan siswa tanya jawab d. Siswa yang sudah mendapat tanda Ö vertikal atau horisontal. Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan. kalau benar diisi tanda benar (Ö) dan salan diisi tanda silang (x) f. siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan seler masingmasing siswa e. Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa e. COURSE REVIEW HORAY Langkah-langkah : a.

Penutup 23. COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) Langkah-langkah : a. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas d. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok e.c. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas d. Penutup . Guru membuat kesimpulan bersama f. Guru membuat kesimpulan bersama f. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok e. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran c. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen b.

f¾ °f –   f°f ¾f° °–f°¾f – f½f f¯ ¯ °€¯f¾ @–f¾–¯ °– f f¾ ¾ f–f¾ f¯f°–  ©f ¾f¯f°¯ ° ¯f°¾ ¾ff°– f f–f°––f f¾ %¾¾f%  ¾ff°– f ff°– f¯ ° ¯f°¾ °  f° ff½fff– –f½ f° –  f¾f°–  f °–f°½ ° ff°° ¾f  9 ¯f° °f°– f©f   9 ° ff°° ¾f¯ ° f¾ff° ½f f n ° °–f°½ ¯f° °f°– f©f¾ f–f     9¾ ¾ f©f  °f f©f f¯ °–ff¯ °f¯ °nff¾ ° ½f ½f ¯f°f f½ °– ff° f  f° f°   –¾f©f –  9fff¾ ½ff ff½ °– ff°f°– ¯¾ ¾f°– –f°¾f¾ f° ¯ °n ¯°f°½ ¯ff¯f°f°–¯ ° ff¯ °f°–¾ ¾f½ ¾ff°  9 °– ff° f f½f ½¾f ½¾ff°¯ °©f €ff €ffff½½¾¾f°– ½¾f   f½¯ °n ¯°f°  f¯½f°f°– f½f  f½f°  .@%¯ ½ff°°¾ ½ f©ff°– ¯ ¯ f°–¯ °–ff°f°ff¯f f°– f©ff° °–f°¾f¾ °f°ff¾¾f f° ¯ ° °–¾¾f¯ ¯ f °–f°f°ff½ °– ff°f°– ¯°f °–f°½ ° f½f°°f ff¯  ½f°¯  f¾ f–ff°––f f–f f°¯f¾fff  °–f°°¾ ½ f¾ ½ ¯ f©ff° ff½f°  ¯f°f f–¾¾f 9¾ ¾½ ¯ f©ff° f°¾°–ff¯f ff¯ ° –ff°¾¾f  ©f f°¯ °–ff¯  f°¯ °f°¾€ ½ °– ff° f–  ¾¾f f –½ ¯ f©ff°  ½ °°–f° f½f ff¾ ff¯ f¾° f –f¾–f ff¯ ¯ f°¾¾f¯ °nf½f©f°°f .f°¾f¯ ¯½°f°–ff°f°–  f ff¯¯ °f½¾f¾ f  ¾f½   f¾ff°¯ ¯ nff°¯f¾ff ¯ ° ¯f°¾ ¾ff°– –°f f– °f  .

f°¾f¯ ¯½°f n ° °–f°° f©f ff¯  f°–  °  f°¾ f°–f°f ¯ ¯½°f n ° °–f°° f©f °–f°n ½ff f f  f – f©f½ °°– °f °–f°¯ f¯ ¯½ f©f¾ ¾ff°– f f° f½  °f ff°–¾ ¾f – f©ff¯f½ °°–  9 f°f°– f¾f%–%¯ ¯ f°¯ °– °–f°f°fff°– f f°f°–¾ f  f  @–f¾–¯ ¯€f¾f¾f–f°€¯f¾ f ¯f°f ¯ ¯  ¾ ¯½ff° ½f f¾¾f °¯ ° ¯f° f°¯ ° f½f° ¯  f¾ °   f°¯ °f ff°¾¾f° ¯ ° f½f°¾f –¯  f¾ °     9 °°–°f°–°–f° f©f   f©f € € ¯f f°–°–f° f©ff°– ½¾f½f f¾¾f f–f°–  ½f° f¾ ¾¾f¯ °°° ¾¾ff°–  ©f f° ff –¯ °–fff°  9 °–f©ff°f¾ ½¾f½f f f–f¯f°fnff¾¾f¯ °––°ff°½ °– ff° f ¯  f f – f©f  ½ °°–f°  f° °–f°f¾°f  D¯½f° ff¯f½ °°– f–¾¾f f°– f¾f f½¾ ¾½ °ff°f°– °f  . °¯ f°¯°f¾ f©f ff¯ ° ©f ¯½½ °°–   . f° –  °–f°   9¾ ¾ f©f f½f¯ °– f¾f 9  ff°¾f ©ff° ¾ ¾ °– °–f°½  ¯ f°–f°–f°¾f¾½ °– ff° f°  f¯½f°¾ ¾f°–    @f°¾€  f©f  ¾f f©f f¯ °–ff¯¾ °   f° f½ ¯ f°f°–f°    f¯½f° f°½ °– ff° ½ f¾ f° ¾f°–  ff¾%¾  ¯¾ % 9 °°– f–¾¾ff°f½f f f©f f° f–f¯f°ff¯ °––°ff°½ °– ff° f°  f¯½f°   ¾f¾ f–f9 ¯ f©f  .

f f9 ¯ f©ff°° ¾f  9 ¯ f©f°° ¾f%.

° f@ fn°–f°  f°°–%f ff°¾ ½ f©ff°–¯ ¯ f° –¯ °–ff°f°ff¯f f°– f©ff°°f °–f°¾f¾ °f°ff¾¾f f°¯ ° °– ¾¾f¯ ¯ f °–f°f°ff½ °– ff°f°– ¯°f °–f°½ ° f½f°°f ff¯   ½f°¯  f¾ f f  °–f°¯  ff°©¯½° °f¯f½ ¯ f©ff° € €  f° °¾¾¯ %.

 ¾°°–% ¯ ° ¯f°%°% ¯f¾fff f©f% f°°–.°¾n¾¯%  f°f%.

 °–%  f°½ °ff°¾ °f°f% °n ¾¾ ¾¾¯ °%   9 °– f°9 ¯ f©ff°° ¾f   . ½ff°¾f½¾ ¾½ °  f°f°–¾ f° ©f°¯ ¯f¾¾¾f° .¯¯°% ½ ¯ f°%.

½ff°°¾ ½ f©ff°–¯ ¯ f°–¯ °–ff°f°ff¯f f°– f©ff°°f °–f°¾f¾ °f°ff f°¯ ° °–½ f©f¯ ¯ f °–f°f°ff¯f f°– f©ff°°f °–f°½ ° f½f°°f ff¯  ½f°¯  f¾ f–ff°––f f–f f° ¯f¾fff   9  ff°9 ° ff°° ¾f °–f°9 ° ff°@f ¾°f  ° ¾f   . °f° ff°½f f½ ¯ff¯f°¯f°f   9 ¯f°°€¯f¾  f¾ff° f°¾¾f   ¾f  f¾ nfff€ ff¯½¾ ¾½ ¯ f©ff°   9 ¯ f©ff° ff° °–f°  ½f°°ff$¯f¾fff°– ¾¯f¾f°    f¯ °–ff°°€¯f¾ °–f°½ °– ff°f°– f ¯¾¾f   .¯ ¯ff¯¯f°f¯f ½ f©ff°f°– ½ f©f°f °–f°¯ °–ff°¯f  ¾  °–f° ° ¾  ½f°¯  f¾ f f%° ¾½ f  ¾¾f  f°f%¾ °––f¾¾f¯ ¯ ½ °– ff°$  f¯½f°f°–¾ nff€ ¾  f½f  f½f°% f°¾€ % f¾f ½ ¯f¾fff°$° ¾ ½ ¯f¾fff°$° ¾f°°f    .

°f° ff°½f ff½ff°  9 ¯f°°€¯f¾  f°f  °f° –   ¾f¾ nff½f¾€¯ ° ¯f°€¯f¾ ¾¾°f f–   9 ¯ f©ff°¾f°–ff ¾f f° ¾  f ¾f° f½f f ff¾  ½f°   . ° °–¯ °–° –f¾f° f½f  f°–   ¾f¯ °––°ff°f f©f°f°¯ ° ¯f° ¯ °––f   ¾¾  ½ ¾ ff¯ °– ©ff°½  f°½ ¯ nff°¯f¾ff%¯ f ©f ¯½%   9 f  f°–°ff¾ ¾f ff°      f¯½f°  ¯ f°–f°ff¾ f¾f½ ¯ff¯f°   f f f½ f ff ff ½f¾f°  f°– ¾€f¾  €   ¾f f¯ ff°ff°– f °f¾f ff ¾ ¯ –f°   9 f f  f¾ff°¯f¾°°¾   9 ¯ f©ff° ©f    f–f ¯½f ° ¾ f°¾ °–   f¾ f©f ¯ f½ ° f½f°½ °ff°f °   @f ¾°f   . ¯ f°¯½f°°€¯f¾ ½f f¾¾f¾f¯½f¾ff°f ½ f°   .

° °– €¾½f f¾f  f°–% ¾½°%  °   Jf f©f¾¾f¾ f–f° ¾f ½ –°ff°°¯ °– ©ff° –f¾ ¯ ° °–f n f¯f  f°¯ °–¾ff°% ©f°  f%   9 f  f°–°ff¾ f¾ff°     f¯½f°  ¯ f°–f°ff¾ f¾fff°   f f f½ f ff ff½©f°ff°ff½   ¾f f¯ ff°¾ ¾ff°– f °ffff°¯f°   9 f f  f¾ff°¯f¾ °°¾  .

 9 ¯ f©ff° ©f f°f ©f   ff¯f°–f° f¾    9 ° f½f°9 ° ff°° ¾f f¾  9 ¯ f©ff°° ¾f f½f  f½f° ff¯¯f½f¾f©f   f°–¾ f½f¾f©f  f°  f¾f°– f–f¯f°f½° f ff°°f 9 ° ff°9 ¯ f©ff°° ¾f ff¯ f¾n½ ¯ f  nff–f¾ ¾f f°–f°f¾ f–f °   ¯ f°–f°½ ¯f° fff°fff° f©f  ¯f°f °–f°nff  ©f¾ °   f° ¯ °–°¾¾¾ ° ½ °– ff° f°  f¯½f° f°f  f¾f°ff°¾ ©f¯°–° –ff°°°¾ ¯f½   ¯ f°–f°¾€f°–°f¾¾f °–f° f°f   .

 ¾°°–% f°f%  –ff°–°¯ ° °– ¯ ¯ ¯ °– f°¯ °f ¯f¯½f° ½¾¾f   f–¾¾ff°–¯ ½ff° f–f°½ °°– ff¯½ ¯ f©ff°f°–  f¾¾°    f°°–. ¯ f°–°½ ¯ff¯f°¯  f¾ °  f½ °–ff¯f° f  f¾f½f f½ °– ff° ff  9 ¯ f©ff°f¾  ¯f¾¯ °©f ½¾ ¾#¯ °–°¾¾# f°¯ ° ¯f½ °– ff°   ° 9¾ ¾½ ½° ff° f½ °–f¯ff°¯ °©f ½ ¯ff¯f°  ¾f f©f¯ °––°ff°  f¯½f° ½¾   .½ff°¯f¾fff f©f   f f°¯ ¾ f–fn°½ ¯ f©ff°  ff° € ¾ f½  ¯f°  ff°½ °ff°f°–¾ °f°f °–f°  f–fnff   @©¯½° °9 ¯ f©ff°° ¾f   °¾¾¯  .

f¾fff f©f%   ¯½f°–f°– f ff¯ –ff° f©f    ©f¾f¯f °–f°f°–f°  f f½f f f©f¾ °   @f½ °–ff¯f°    f–    . °– ©ff°f½ff°––°–°f°f–f¾¾f¯ °– ©ff°°f    € n°% € ¾% .¯¯°%. °–%9 ¯ f°% 9¾ ¾½ °f¯½f°¾fn°f–ff°–f° ½   ©f f° f©f  .

°nfff½ff°– f ½ f©f  . ¯ f©°f ff¾ °  ¾¾ ¯½ .ff ½ °f°–f½ff°– ff½ f©f  .

° °f°–f°  f¯ ¯ ¾f°f°   f©f °–f° –ff  9 ¯ f©ff° ° –f¾  . °¾° °nf°f9 ¯ f©ff°  f¾¾° ¾f  ff¯½ ¯ f©ff°° ¾f ½–f¯½ ¯ f©ff° ¯ ½ff° °nf°f –ff° f¾ f°– f°nf°–– f°– ¾¾ °fff½ ¯ff½ °f°–f½ff°–ff° ff° ¾f¯f¾¾f°f¾  °–f° °–f°½f°–ff° ½ f©f°f ff¯½–f¯ n ¯° ©f°½ ¯ f©ff° ¯ f°¯ °nf½f©f° ¾  ¯f ½ ¯ f©ff° f°–f f°–f ½ ¯ f©ff°  f°f °nf¾¾ ¾¾¯ °°f  ff¯° ¾ ½–f¯f°– f°nf°–– °f °f °nf°f½ f  °f°–f½ff°– ff°  ©ff°°f ¾f¯f¾¾f°f   nff¯¯ ff f½  ff°¯ ° f¾f€¯ff°ff½–f¯½ ¯ f©ff°° °¾°f °–f°½–f¯½ ¯ f©ff°° ¾f  ff– f°–¯ ¯ ff°°ff°f½f f ½ ° f°f°°f 9–f¯½ ¯ f©ff°° °¾°f ¯ ° f°f°½f f ¾½¾©f°f°– ff° nf½f%© f¾ f°½ f¾°f% ¾ f°–f°½–f¯°½ ¯ f©ff°° ¾f  ¯ ° f°f°½f f¾ °f½ ¯ f©ff°°f  f¾ f¾f ¾ff°½ ff¯½ °¾°f° °nf°f½ f¾f°ff°½ ¯ f©ff°%99%  f¾¾ ° ¾ff ff¾ f–f    -fff° –ff°½ f¯f½ ¯ f©ff°°f f¾ f½ °fff° –ff°¾¾ff°– ¯ ½ff°–f °–f°f°fff° f¯½  °¾ ¯½  °¾ f¾f . °––°ff°  f–f¾¯   ¾ff€  f°– °–f° ¯f°  ¾f¾– f€  ° °– f°°– °–½ ° °–f°f¾ ©f¾¾f ½ f ½ f –f¯ f f  ¯ f°f° f°  f½f° ½f ff°–f f°f°ff½ f½f¾ff¾¾f f½f°f¾ ½f¯ ff°–f°¾¾f f°f° f°   .f 9 f° 9 °nf½ff°f¾ f©f   -fff°©f°¯¯½ ¯ f©ff°°f   °nf¯ f°¯ ° °– –ff°   ff¾ °fff½ ¯ff½ –ff°¾¾f  -fff°f °nf¾¾ ¾¾¯ °°f f °–f° fff½f¾¾f f½f f¯f½f¾½f¾°f . °–½ °– ff° f°  f¯½f°¾¾f  9 °ff°½ %° ©f%  @–f¾ –f¾f°–  f° f°° ¾f   ff ¾9 ¯ f©ff°° ¾f    ©f¾f¯f  f°–¯ °°©f°–  .   °n¾¾ ¾¾¯ °%9 °ff°f°– °f°f% .

f°– ¾f½ f .9. ff¯½ ¯ f©ff°   ¯  ½ $$f¯f ¾ f©f  ½ ¾¾ n¯$$$$½ ¯ f©ff° ° ¾f$ ½¾f° 9f f  ¯ °f  .f¾fff¯f ff¯½ ¯ f©ff°9 °  f° f–f° –fff°%9°%ff½ °––°ff°¯   ff¯ ½ ¯ f©ff° ff¯¯ °f¯½ff°¯f ½ f©ff°¾ nff ½f f°–¯ ¯ ° ¯ff°ff°f°°f f–f f½f ° °f¾f¾f°½f f ¾¾f¾ f¯ °–¯½ ¯ °f¾f° f f½ °  f°°f ff¯  ½f°¾ f f ¯¯ ¯ °ff½f°¾ ½ f°– °–°f° f° ff° °–f°¯f¾fff f f½¯f ½ f©ff°9°f°– f ¯ff°°f °f½f¾ f½f°f ¾€f½¾ffff° °f¾° ½ °°–f°  f¾ff°½ ¯ °f .f¾ff . °. 9 ¯ f©ff°9€ ff¯9°. -9@  D@-D-@ ff°°nn° °€¯f¾$9 °  f°D¯¯ -f¯f  ¯f%9 °¾% f €¯f°– ¾f½ fff . 9     .-  -D-@½ .%  ¾f° ¾f°–ff f°–€ ¾  f°– ¯f¾  f°–n ° °–  ¯°f°° f ¯  9°¯ °–f©f  f°f¯ °– ©ff– f°–  °f¾½f f°f©f°f   ¾f¯½°–¯f¾¯ °––°ff°¯ ° °¾°ff°–¯°° ff¾–  ¯°f° f½f f¾¾f f f°f–¾ °–f¯ °–f ff°½¾ ¾½ ¯ °ff°ff°f°°f ¾f½  f° ° ff° ¾ °––f¯ff½ f©ff°9° f f°––f½¾ f–f¯ff½ f©ff°½ ¯ °ff°f–f ° –fff°–¯ ° f°f°½f f ¾f ff°ff°f f° f© f° f½ n ° °–¯ °©f  ¯ff½ f©ff°f°–© ° f°¯ ¯ ¾f°f° D°¯ °–f f½¯f¾fff ¾   ff¾ ¾f¯ ½ ¯ f©ff°f°– € € f° €¾ °¾ f–ff °f€ f¯  ½ ¯ f©ff°  f¾¾½€%½€ f¾  f°°–% f°– ff½f°¯f¯½¯  ff° ¾¾f ff¯ ¾ f°½¾ ¾½ ¯ f©ff° f° f½f¯  ff°¾ f¾½  f–°€  f€ €  f°½¾¯¾¾f ¾ f¾ nff€¾ f°¯ °f¯  ff°¾ ¯f½f ff¯ ½ ¯ f©ff°¾ °––f¾¾f¯ ¯¾f f¾f° ½  ½ ° f½f f€ f° f€   f¾f9 ¯f° .  ½ ¯ f©ff° ff¯9¾ ¾ f©f. °–f©f%9 . -9@  D@-D-@   ¾  € . 9 ¯ f©ff°9€ . 9 ¯ f©ff°@f°––f –¾¾   ff ff°–.9.

– ¾%%  9€¾f ¾ ° f¾½€ ¾¾°¾–  ½nf f¾ °¾f¾¾f¯  f½€€f°fnf¾¾ 9€ ¯ ½ff°¯½f°f¾ff¾¾f¾ f–ff¾ f©f°f 9€ ¾ f°¾f°–f ¯f°€ff ff¯¯ ¯ f°°€¯f¾¯ °– °f ¯f¯½f° f°½ ¯ff¯f°¾¾f¾ f¯ ¯ f° –f¯ ff°¯ °– °f¾f½ f°¯°f¾¾f f f½½ f©ff°f°–  f° ©–f f½f ¯ °°©f°½ °nf½ff°ff½ °°–ff°f°– ½  ¾¾f f½¾ ¾½ ¯ f©ff°%––°¾   % . f¯ ½ ¯ f©ff°½€ ¾ f° ½fff° f½f¯ ¯ f°–f°¯°f f©f¾¾f¾ nfff€  f€ ©–f f½f¯ °– ¯ f°–f°½ ¯ff¯f°°f °f ¯f¯½f° ½f¾½f¾¾ nff € € ¾ f °–¾f¾f½f°––°–©ff  f½°ff¾f°½ °––°ff° ¯ ½ ¯ f©ff°½€ f°–¯ ° f¾f –ff°¾ f½¾ ¾½ ¯ f©ff°9°¯ °–fn .

½f f½ ° ff°¾¾ ¯ %%.

@  .

  –ff°¾f f° 9° %%.° f@ fn°– f°°–  f°%% .

@  .

° f@ fn°– f°°– .

 .@f ff¾f °½ ¯ f©ff°f°–¯ ¯ ff ¾  f  f ff°f°–¯ ¯½ °–ff°–¾°–  ½f°¾¾f f° ½ ¯ f©ff°°f   °–f°¯ °––°ff°f$ °f° f¯f¾ff°–f ¾ ff°–  f° f°–ff° ff°– n ff° f  n °   °–°–f°  ff ¾¾f ½ f   °¯  f°½   f©f ff°f¯ °––°ff°f°– f¾  ¾f ff°  ff¯  ½f°  f–f ¯f¾fff  f°–¾f f°° –ff € ¯ °–ff°¾½ f©ff° °–f° °f°ff f° ¯ ¯f¾¾¾f¯ ¯ f °–f°f°ff½ °– ff° °–f°½ ° f½f°°f ff¯  ½f° ¯  f  f°– ¯ ¯ f¾¾f °–f°½ °– ff°f°–€ ¾  f½f  f½f° f¾f ½ ¯f¾fff° ½ ¯f¾fff°f°  f¾f° ¾ ° ¾f° .

@ ¾ ©–f .

@ f f°–% f©f ff¯  ½f°°ff% ½  °n°–% f©f ff¯° ¾ ¾½f¾ ½ ° ¯f° f°½ °n½ff°% ½½°–% f©f °–f°¯ °f©f°½ °– ff°°  –°ff°°f% .

 f°– ½ ½  - ¯f°°¯ °n f¯ °–f©ff°½f f¾¾f f–f¯f°f ¯ ¯½ °–f ©ff°¯¯  °–f° ¯f°½ ° ff° ¾ ¯ °n f¯ ¯½  f   ½f°¾¾f ff¯¯f¾fffff° –ff  °–f°¯ °n f¯ °– ¯ f°–f°¯½  °¾ °–°–f°f°–¯ ½ff° ¯f¯½f°¾¾f°¯ ¯½ °–f°–°–f°  f°¯ ¯ f° f¯½f½f f ½¾f°  ½¾f° ©ff° ¯ ¯°–f¯½  °¾ f°¯¯ °¾ f–f ½ f¾f°ff°– ¯f . 9 ¯ f©ff°9€   ½ f°ff°–n½ f°f  ff° ½ f°f f©f¯½ ¯ f©ff°  ¾ f ¾ °––f°¯ °°f¾f°¾f¾ f¾¾ff¾f ©ff°½  ½ f°  f©f¯½ f©ff°¾ ½ f°– f  °f° ff¯©f f   f°–°f½ °– ff°$ ff°ff–f°– ¾f°–f°    ¯  f°°ff°¯¯ °–f©f¾ f–f½ °– ¯ f°–¯½f¾  f¾   ½ f° °f–f f° fff°–n½ ¾f   f°–°f©f°f°¯°f¾f°ff½f¾ f  f–f  f°¯f¾fff¾¾°f½ff f$°¾f°¾f°– °©°– ½ff¾¾f° ¯°f  f°–f°°f  f°   ¯  f¾f°f½ ¯ f¾ff°©f°f° ©f¾f¯f ¯½¯½ff¾¾f  °–f° ¾f ff°  .½ f°–% f©f ff¯° ¾° f¾ ¯½%  f°@f°¾€ °–% f©f °–f°¯ °––°ff°½ ° f½f° ff¯° ¾ f$° ¾f°%%% .9°f°–¾f°–f¯ ° °f°–f° f–¾¾f  f½ ¯ f©ff° ¾  ¾ f ¯½° °°f¯ ¯ –°f¯f°€fff° f–¾¾f f°  ½f°°f     ¯ff° 9 f°–  f°°nf¯f°  f°f f½¾€  °––f°  f°  f°¯ ½€ ff¾ f½°f¾¯ °n ¯f f½f  ¯ff° ½ f°–  f°f°nf¯f°f°–  f½f  ff¯½¾ ¾½ ¯ f©ff°9°° fn° ¾ ½  ½f½ff°  ff°   f   ¯ff°. °¯ ° °–½f¾½f¾f€¾¾f ff¯  ½f°½  °¯ f°¾¾f ff¯¯f¾fff  f¯  ff¾ f°–¯ °©f  f¾ffnf°½ ° ff° ¾¾ ¯½f f¯ ½ ¯ f©ff°½€¯ ¯ °f¾¾f ff¯f°–f½ ¯  f°¯½  °¾ °–°–f° f°¯ ¯ f¾¾f °–f°€ ¾ nn¾ nn€ ¾ f f½f¯ °– ¯ f°–f° f°¯ ¯ f¾¾f f–f¯f°f f©f  9° °–f°½ °– ff° f°  f¯½f°°  f f°–¯ ¯f f¾ f½ °–ff¯f°½f¾f–f¯ ¯¯½  °¾ f° € €f¾ ff¯ ½f¾½f¾ ©–f°¯ ¯ °f¾fff°f°°f f¯f°f ½ ¯¯½°f°½f f ¾¾f  f–f¾¾f f½f¯ ¯½ f°––°–©ff f° nf½f° ¾f½ ½  ff°½f f °f¾ °    ¯ f°½f f¯f¾fff  f°–¾f  f°° –ff ¯½ ¯ °f¾¯ ½ ¯ f©ff°½€ff° ¯ °©f f°9 .  –ff°¾f f° 9° .

 °¾f°–f½ °¾f ff¯ ¯ °°–ff°¯f¾ff¾ ¯f°–f f©f¾¾f  °–f°©f°f–f¾¾f¯ °©f   °–.f °f©f ff–f–f¾f° f f°f f° f f½f ½  ¯f° ¯f¾ffff°¾ ½ nff°   9 f°–.99°¾  ¯½f    ©f¾f¯f$f f¾f°ff ½ff f f°½f f° f$¯  f° ¯ °f°–f°¯f¾ff½ ° f°ff°    ©f¾f¯f$f f¾f°ff½f¾ f °–f°½ ¯ °f¾  ¯½f   ¾f f½f¯ °–°©°–°¾f°¾$ ¯ f–f½ ¯ °ff°– f°¯ °nfff ¯ ¯½  °€¯f¾f°–  f°  n °nf¯f°. ° f½f ff°¾ff°¾ff   f°¯¯ °–f©f½f f– ff¯¯ °– ¯ f°–f° ¯f¯½f°  ¯ff°  ff°ff  ¾ f€°–¾½ f°°f¾ f–f€f¾f ¯ f ¯f f° °¾½ ¯ f©ff°  ff¯ f¾   @f½ ° f½f °€¯f¾ ½ °– ff°°¯ °°–ff° ff°ff f°½ °– ff° °–f° f°–½f f. ½ ¯ f©ff°½€ ¯   ½ ¯ nff°¯f¾ff  f½f –°ff°°¯ °– ¯ f°–f°  f–f½ °¾ ¯f°ff° ¾¾f  f  °ff° °–f°f¾½ –°€ f€ € ¯f½°½¾¯¾¾f  f¯f ½ ¯ °ff°ff°f°°f f ½ ¯¯½°f° ½f f¾¾f . 9 ¯ f©ff°9€   ff¯¯ f  ff½f°½¯f ½ ¯ f©ff° f f f°f °f¯° ¯f ¾f¾f¯½f½ff¯f ½ f©ff°½ ¾ ¯ ¾  ¾ °––f¯ ½ ¯ f©ff°½€ f½f f¾f°ff°f°½f f°–f°fff¯ °fff½ff°– f –f¾f° ff¯ ¯ .. 9 ¯ f©ff°9€    ¯  f°°ff°¯¯ °–f©f ¾ °–f–¯f¾ f½f f f¾f°¾ f–f ½ f¾f°f°¯ ¾ f°–f°–f¾ f½f¯ °©f ½ °– ¯ f°–¯½f¾  ff¯  f¾   f°– ¾f ff°– ff¯¯ °– ¯ f°–f° ¯f¯½f° f° ¯ff° ff¯¯ f¾f°ff° €°–¾½ f°°f   @ ff f °–f°¯¾ f f°f° f°f f½f¾ f   f°–°f ©f¾f¯ff°ff½ff–  ½ff f  f° f f°–@f¾f  f° °¾f°¾$ ¯ f–f½ ¯ °f¾ f¯f¾fff¾  ¯½f I 9 °½ 9 ¯ f©ff°9°¯ ½ff°½ °  f°°f °–f½ ¾ ff°% @9  f°@% ff¯ ½ff¯ °°–ff°° ©f½€ ¾°f– f¯ ¯ f©ff°¾¾f f½f f©f  9° ff¯f f¯ ¯f¾ –9° f½f¯ °––°ff°½ ¯ f©ff°½€¾ f–f ¾ff¾ff °f€½ ¯ nff°½ ¯ f©ff°f°–°f€ f°–¾ nfff°–¾°–¯ °©f ff°f ½ ¯ °ff°°f ½ ¯¯½°f°½f f ¾¾f f°¾ nff ff°–¾°–¯ °©f ff°f ¯½ ¯ °f¾½ °  f°  ½   f–¾¾f .

 °¾½f°– ff¾¾ f–ff–f° –fff°–n  f¾  f€ ½f¾½f€ ½¾½ €  f° f°––°–©ff 9 °––°ff°¯ ½ ¯ f©ff°½€ ff¯½ ¯ f©ff°9° ¯½f¾f¾ f f½f¾f°f½f°½€ ¾¾°f–¾ f–f¾ f°–€f¾f   n ¯f ¯ f  °¾½ ¯ f©ff° f–¾¾f  ff¯½ff¯ °– ¯ f°–f° f° ¯ ¯ f¾ ©¯f  f¯½f° f°ff¾f°€ ¾ f–f° –fff°¾¾f f nn€  nn¾ nn½fn½f° f°–f©  ¯ ¾ f½°¾f° f–f¾¾f f½f ½ ¯f¾fff   f°–¾f  f° ° –ff¾ ¾f °–f°f f° f© f°°f 9 °¾f ff .

f–¾ 9 °  f°½–f¯¾ 9 °  f°¯ 9 °– ff°¾f f9–f¯9f¾nf¾f©f°fD9 f° °– °–f°© n¯ n¯f % 9 f%  ¯f f €%¯f°– ¾f½ f'f n¯ 9D@..- f° °– ¯ f– f.

D- .

° €° ° ¾f°.

n nf° %% f¯ f°–¾f° ° ¾f  f° °– 9   f–f° –fff° ©f   %% . 9 ¯ f©ff°9€@ ½f  f°D  f° °–  99°D9 f°.

.

 .

– ¾%%  9€¾¾ ¾¾¯ ° ¾  9½f¯ J   %% .

f¾¾¯¾¾ ¾¾¯ ° Jf@ fn ¾- ° D °  fn° ¯°  n¾ .

¯½f° ––°¾   %%  ° .

°  .

f¾¾¯¾¾ ¾¾¯ ° -   .fn.f°.

f– 9 ¾°–.

  9 ¯ f©ff°9€  f½f°9½°¾  f° °– D@ f°.¯½f° J°ff½f D  %% f°nf°–f°9 °¾f°.

.

° f°f° ff½  ff°–°€f°f ¾f ©f ©f °¾ ½¾ °¾ ½¾f°– f ½ff¯¾ ¯°f f¯ f¾f½¾ ¾  f¾ ¯ f°–f° ff¯½ff¯ ¯ff¯°€f¯f¾ °€¯f¾ f  ¾ f°– f©f©f f  ©f ff¯°f ½  ¯ f°–f°  f f f f½  ¯ f°–f°¾  ff¾°–f½  ¯ f°–f°°f¾ff °  ¾ f°– f©f°¾ ½½f°– ff½f f°¾ ½ f f ff¯°f ¾   ¾ f°–  ©f½f f°f½  ¯ f°–f°  f°f©f¯  f  f ff¯–f¾f°– f f½f ¯  f¾  ¾ff°¾ °   f½ f½f¯ °  ¾ff°°f©f  f°¾  f ¯f°¾ ff fff°– f¾f n 9 ° f°f°½f f½°¾½nf€€ °– f½ ¯ f° °–f°ff½ ¯ ff½° f©f f°½ ¯ nff°¯f¾ff °–f°¾€f°f  ¾½f fff½ ff  f° ¯ f°¾ nff ff½¯ °–ff°f°––°–©ff  f©f ¾  ½f f ¯ff¾¾f°  ©fff¾fff° f¯  f¾ °  f  ¯ff¾¾f¾ f°ff°¾°–¾f©f  f°–f¾¯½ ¾ ¾  f° f¾ ¯ f°  f°¯ °  ¾ff°–f¾¯½ ¾  ¾  °–f°¯ ° f½f°¾nf€€ °–  ¯ ° f°f°½f f½ °–f©ff°½ ° f½f f ¯ ½ @½ ° f¯ff¾¾ff°–¾°–¯f f¯f¾ff ¯f¾ff¯½ ¾   f° f °° ½ nff° ff¯½¾ ¾½ ¯ nff°¯f¾ff ¾  ¯ff¾¾f¯ ¯½ f©f   f¯½f°   f¯½f° f¾ff°– ½ f°°¯ ¯ nff°¯f¾ff¯½ ¾f  .  fff €¯f°– ¾f½ f¾ ©©f ff°f°– ¯ f½f ½f¾f°– f° –°ff°  ¯ ½f– 9 °  f°-  f°¾ff¯ °©f¯° ff ff°°f¾ff¾ff¾ °  f°¾f % ff fn½–%    . 9 ¯ f©ff° ° f€  .9%   9 °– f°9 ¯ f©ff° ° f€9 ¯ f©ff° ° f€%9%¯ ½ff° © ¯ff° f  ° f  f°°–%% . --@%. °¾ ° f°Jn ff¯f% % ½ ¯ f©ff° – ° f€¯ ½ff°¾f¯ ½ ¯ f©ff°f°–¯ ° f°f°½f f½ °–° –f¾f°¾ nff f€½ °– ff° f °–f°¯ °––°ff°½ °– ff°f°–¾ f ¯¯ff¾¾f ¾ ¯°f 9 °– ff° fff° © °–f°nff¯ °––°ff°°f ff¯¯ °©ff  ½ ¾ff°ff– ©fff°– f f½ °– ff° f f¾¯ °©ff ½ ¯f¾fff°f°– f f½ ¯ff½ °– ff° fff° ¾¯½f° ff¯¯ ¯©f°–f½f°©f°–  f° f¾f° @  f°¯½9 ¯ f©ff° ° f€9 ¯ f©ff°– ° f€¯ ¯f° f¾f° f°– ff½f f    f©f°¾¾¯ °– °f f©f f°½ ¯ f©ff°    ½ °°– f½f° f°–f° f©f¯ ° °¾¾°¯ °-%  % f°f % f  %  f°ff°ff ff f .9.

°–f°f¾¯¾¾ °f ff f©f  ¯f° . ¾½°©ff¯ °f¯½ff°°€¯f¾ ½f f¯ff¾¾f  f½ ¯  ff¾¯ ff°½ f¾¯ °fff ©ffff¾°€¯f¾ ¾ °¯ ¯ f °€¯f¾¯f¾  ff¯½ ¯ff¯f°¯  f € . °–f°¾¯ff¾¾f f f¾ f°– ¯ff¾¾ff°– f½f¯ ¯ ¯f¯½f°½ °–ff° ¾ °  ff¯ f©f – . °–f°––f½ ff©f¾ ¾ f°–¯ ¯¾f – f©ff°– € € f°¯f¾ ¾ f °¯ ° f½f° ¾f –¾f¯½f¾f–f¾ ¾  ¾ff° ¯ ½f¾f°¯  f¾ °  ¯ff ¯°–°f° ¾ f¯  ff ff½ f©ff°– € € f°¯ ¯¯f¾f f  ff¯ f©f   ©¯f ½ ° f°%f°  %f°–¯ °°©f°½ °–f½¾€½ ° ff° ½ ° ff°°¾¾ f°–¯ f° f¾½ ¯ f©ff°– ° f€ f f½ff  ff f¾ f©ff ¾°f  f°ff°ff ff  ff¯  f°–¯f ¯ff%. °–f° f°f°–$ ¾ °ff ¯f°¾ fff°– ¯f¯½ .

ff¾¾f  f° f½f½ ¾ff°¾ © °¾ f°¯ °ff°f° ¯  f¯ °©ff °f °–f°½f° f°–f°f °f€f°– ¾f° ¾ ° ff½f°¯  fff° ¯ f¾ff° ff½f° f°–f° f f ¾ ° ¾ ¯ f ¯ °–  ¯f¾ff  f° f¾ .  f f©f°¯ °–°–f½f°½ ¯ff¯f° f°½ °–ff¯f°¯  f ff¯   ½f°¾ f ff°– ff° °–f°½ ¾  .  f ¯°f¯ °–¯ °f ½ ° f½f ¯f°¾  f¾ f°¯ ¯ f° °–f°°f °–f°½ ° f½f¾ °  @©f° fff½ ½ °–°–ff°°f ff°¯ °f½ ff°¯ff¾¾f f f½½f°–¾ f°–  ff¾  ¯ ¯ f½ ¯ff¯f°¯  f¯ °©f  ¾½¾  f°¾f fff°ff¾½ ° f½f f°ff¯  f ¾ °  D°¯ ¯ f¾f¾f°f¯ °©f ° ¾€  ¾ ° ff½f° fff°¯ °f¯f°f ½ ° f½ff°–#¾ff# f°¯f°ff°–# °f# f°–½  ff°f ff¯ ¯ f¯  f f°¯ °– ¯ff°½ ° f½f°ff°½ff ¾fff°  f°f½ f°ff°f°– f©f° ¾ °f ff½ f°ff°  f @ff½  @f°f°–f° f°°€°f¾  f ¾ °¯ °– f ½f° f°–f°¾ f–f°¯ff¾¾f°f  ¾ °¯ °–f©f¯  f°¯ °– ¯ff°€ °¯ °fff – ©ff – ©fff°– ½ ff°¯°n f¾f½ ¾ff°–ff°  ¯°¾f¾f° ¯ f°  .  f©–f f©f° ¯ °f°––f½½ ° f½f ¯f°¾f f¾¯  ff°–  f f½ ° f½f¾ °  ¾ ° ff½f°°¯ °nff f°¯ °– ¯½f° –ff° f°½ °© f¾f°f°–¯°n ½f½f° ¾  nff¾f f ¾ °¯ ¯½  °f°–f°½ ° f½f ½ ° f½ff°–  f   f ¾ °¯ f¾f°ff° ¯°¾f¾ f°¯ ¯°f¯ff¾¾f°¯ °–f¯f °–f°¾ ¾f¯f – ©fff°–¯°n ¾ °½ ¯ ¯ f° ¾ ¯½ff° ½f f¯  f°¯ °n °ff½f f°–¯  ff¯f ff°¯ f¾f –f°–– f°¯ °–ff¯°€–°€ ff¯½f°°f    f ff ¾ °¯ °fff°f½ff– ©fff°–¯  ff¯f¾ ¾fff f °–f° ½f°¯  f  °–f°¯ °––°ff°nff f–f°–¯ f f f°¾f°–¯  °–f½  ff½f°¯  f f½f¯ ° ¯f°©ff f°ff¾– ©fff°–¯  ff¯f ff¯f° ¾ ° ¯ °f½f°½ f°–f ¯°¾f¾ f¯½f°–f¯ f ff–f€f°– f½f¯ ¯ f°¯ff¾¾f ¯ ° ¯f°f °f€©ff f°ff¾– ©fff°– f¯f n @ff½   –f°¾f¾ f°–f ©f °¾ ½9f fff½° ¾ °¯ ¯ f°¯ff¾¾f °–f°¯ °–¾f°f °f€f€¾f°¯ ° €¾ff° f°¯ °°©f° ff½f° f°–f°f°– f¾f° f½f¯ °© f¾f°¾ nff  ° – ©fff°–¯  ff¯f .  f ¯°f¯ °– ¯ff°ff¾f°°¯ ° °– –ff°¯  f .f½ °  f° °° ¯f %   f°–¾f°¾%- f  ¯  f°°¾° % ¯ ¯ fnf%€€ f°n  % ¯ °¾%    f°nf f¯ff  % 9 ° f°°f½½%%¯ ° ¯f°¾f °–f°½¾€½ ° ff° ½ ° ff° °¾¾ °–f°f¾ f©f  @ff½f°9 ¯ f©ff° ° f€f°–f f°–fffff½f° ½ ¯ f©ff°– ° f€¯ °f%   %   ff¾ff½ °–f°½ °© f¾f°¾ f–f  f @ff½  9 °–°–ff°9f fff½ff°  ¾ °¯ °¾f°½ f°¯  ff° ¯ff¾¾f ff¯ ¾¾f°– ©f°°¯ °––f½ ¯ff¯f°¯  f °f°–½f°– ff°  ff¾ .

°f©f° ¯°¾f¾° ¯ °f°f°–°¾¯ff¾¾f   f ¾ °¯ °– f°¾f°– ¯¯ff¾¾f  ¾ ° ¯ ¯½ ¾f½f° ¯°¾f¾f°–¯ °–f¾f°½ ¾ff°– f½f  f f°¾ ¯ff¾¾f  °–f°¯ f½ ¾ff°–  f f –ff°¯  f¯ff  ff¯½f° ¯  f¯ ½ f¾ff°fnf% ¾¾°f°n %f°–¾ nff½¾–¾¯ ¯ f°–f°½ f¾ff° f  ° f¯¾ °––f f½f¯ ¯f¾¯  f°¯ °–f°–½ f¾ff°fnf °–f°¯ °nf f °f€½ °© f¾f° . 9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f  °f¾ ©ff¯f°°   f°–¾ ff°–°¯f f°–f¾ f  °©f¾ nff¯¯½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff   f¯ °f©f°  ½f f¾¾f¾f¾¯f¾fff°– ° f° ¯f°ff°– f½f¯ ¯ f° ¯ ff°  ½f f¯  f°¯ ff°½ °  f° f°°  9 °– f°9 ¯ f©ff°  f¾ff° . °–f¯ f¾ °–°f°¯ff¾¾f ff¯¯ °nff °f€½ °© f¾f° °–f°¯ °f©f°  f–f ¯°–°f° –ff°¯ff¾¾ff°fff° ½f ¾½ ¯ °$½ n ff°  –ff° ¯½¯ °––°ff° f–f¯ f°f– ff¾¯f¾ ½ ff° ¯ °––°ff°f¯½f°©f¯f%¯½  ½ ¾ °f°%°¯ °–f€f°¯ff¾¾f ff¯ ½¾ ¾ f©f Iff¾ –ff°° f½f¯ ¯ f°¯ff¾¾f¯ ¯½  ½ °© f¾f°f°–n½ ¯ ¯f¾f° n D° ¯ ¯½ f½ ¯ff¯f°¯  f¯ff ¾ ° f½f¯ ¯ f°¾f ¾f  f%½ ° °  ¾°¾% ¾f ¾fff° ¾%n°  n½  ¯¾% f°½ f°ff°   f%  ¾  ¾°¾%f°– f½f  ©ff°¾ nff ¯½  ¯  ½ $$f°f –¾½ n¯$$$½ ¯ f©ff° – ° f€ ¯½– ¯ ½¾f° 9f f  ¯ °f  . °f  ¯ fff¯¾f ¾¾  ¾ °¯ °–f©f¯ff¾¾f°f ff¯¯ °f ¯ f f°–f ©f °¾ ½f°– f¯  f f½ff°   f½f9 °©9 f¾f°ff°9 ¯ f©ff°  ° f€ff¯¯ f¾f°ff°½ ¯ ©ff°– ° f€ ¯ °¾°% %  ¾ °½  ¯ ¯½ ff° f½ff  f°ff°ff ff¾ f–f  f . 9 ¯ f©ff°  f¾ff°.f¾ °ff ff¯ ¯   ¾ ¯½ff° ½f f¯ff¾¾f°¯ ° f½f°½ °– ff°$  f¯½f° f¯  f½f f ¾f¾ f°° ¾f°– f  f¾f°¯  f¯ ° f½f°½ °– ff° ff¯¾f¾ f ff°¯ ¯ f½ff¯ff¾¾f¯f°f°ff° °––f° f°–f ©f°¾ ½f¯  f f°–¾ f  –f°¾f¾ 9 ff°° ¯f¾ f°©–f° ¯ °–ff° °–f°f°f °¾ ½  ff¯ f°–f ½f°– f¯ °–ff¯ ½–f°¾f¾ n @ff½  . ½ ¯ f©ff° . - -.f¾ff .9.f¾ff9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ ½ff°½ ° ff°f°– € €°½ °–f©ff° ½¾ ¾ ½°–f°–– 9 ¯ f©ff°°¯ ¯ f°¾¾f°¯ ¯½¾ ¾°€¯f¾f°– ¾ f©f  ff¯ °f°f f°¯ °¾°½ °– ff°¯  f¾ °  °f°– °f¾¾f f° ¾ f°f 9 ¯ f©ff°°nn°¯ °– ¯ f°–f°½ °– ff° f¾f¯f½°¯½ ¾ %f¯f°f°  % . ff¯¯ °©ff   f–f½ ¾ff° ff½f°¯ff¾¾f¯f¯  –f°¾f¾ f°–f ½¯  f °–f°¯ ff°½  ff°¾ f° °–f°f°f°¾ ½ °¾ ½ 9¾ ¾  –f°¾f¾° °¯ ¯ f°f @ff½  ½f¾°¾ ½9f fff½°  ¾ ° ¯ ¯ f°  f–f½ ¾ff° °–f°° ¾f°–  f° ¾  ¾ff° ¯ff¾¾f °–f° f°–f°¾ ½f°– f¯ °–ff¯ °¾¾ . ° ° ¾%% ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ ½ff° ¾f½ ° ff°½ ¯ f©ff° ¯f°f¾¾f¯ °– ©ff°½ ¯f¾fff°f°– ° °–f° ¯f¾ °¯ °¾°½ °– ff°¯  f¾ °  ¯ °– ¯ f°–f°° f° f¯½f° ½°–f °–– ¯ °– ¯ f°–f° ¯f° f° f°½ nff  .

°©–f¯ °–fn½f f¯ ½ ¯ f©ff°f°–f° ¾ ½ #½ ¯ f©ff°  ff°½  %½© n f¾ °¾n°%# #½ ¯ f©ff°  f¾ff°½ °–ff¯f°% ½  °n f¾  °¾n°%# # f©f °%f °n f°°–%# f°#½ ¯ f©ff° ¯f°f%f°n  °¾n°%# .

 n¾¾9 ¯ f©ff°  f¾ff°.f ° f°  Jf¾   .f  ¾f   f° . ° ° ¾% %  f–f½ °– ¯ f°–½ °–f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f¯ ¯ f°¯ ½ °–f©ff° ¯ ¯ff ¾¾ f–f %f©n  f©n  ¯ °€  .f¾ff.

¾½°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯°–° ½¾f½f f ¯ff½ f©ff°  °%9 ¯f ¯ff ¯ ¯¾¾f% ¯f¾fff°–ff° ¾   f ½ °f °f°fff–f ff¯½ ¯ nff°°f ¾¾f¯ °°©f¯f¾ff f f°f¯ff ½ f©ff°  f–fn° ¯f¾ff½¾f°– ¯°nf° ff¯½ f©ff°  .–°° @ n°–½fIf°   %   9 °–f©f°½ f°ff°ff¯f¾ff  f°°f¯ °––f°¾f¾f° ¾ f½¾½ ½°¾½ff  f¯½f°ff ¯  ° ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ °––f°¾f¾f°½ °–f©ff° ¾ f½ f°ff° f°¯f¾fff°– f f°f¾ nff¾¾f½ °°– f°¾ nff½ f  ¯f°f°¾¾f .  f¯ °–f©f°¾f¾  ½f°°fff ° ¯ °–° f©ff f° ¾ f°f  f°¯ ¯°–°f°f f°f  f–f¯fnf¯¾¾°¾f¾   €¾½f f   ff°f°f ¾½° .

 ¾f½ f  ¯ °nf½  f–f¾  ff ¯ f° f½f°¯ff½ f©ff°¾ ½  –  °¯  ¾¾– ½f¾ff  f°½ ¯ °ff°  9 °  f°f ° 9 ¯ f©ff°  f¾ff° ¯f¾ff¯ °–f¾f°¾¾f¯ ff°½ °  f°f °°¯ °nf½ °  ¾ff°°ff  f f½¯f¾ff°ff .  ff¾¯ °–f°f¾¾ f°¯ ° €°¾f°¯f¾ff ¯ °– ¯ f°–f° ½ ¾¾  f°¯ ¯ ff¯ff° ¯ °–¯½ f°¯ °–f°f¾f°€¯f¾ ¯ ff° ¾½ ¯ ° %©f ½ f°% ¯ ¯ f°€  °¾  f°¯ ¯¾f° ¾¯½f°  f ff°– ° ¯   ½ °  f°f°– –°ff°  –f°°– ½f f¯f¾fff°–¾ f°– ½ f©f  . °–f¾f° ½  f°¯ ¯f¯ f°°f ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ °°¾¾f° ¯ °–f¾f°½   ° ff¯ °ff°fffff €f f°½ f–ff°f°– ¯ °© f¾f°ff¯ f °½ °  ¾ff°¯f¾fff°–¯  f ¯f° 9  ¾  f½f ½ff°¾½ f¾ ½ ½f f½ f©ff°#¾f° °–¾# 9  f½f©–f ½ff½f° ¯ €¾  ¯f½°½–f¯¯½  ff°ff f°½ f–ff°¾ ½  f°–ff° © f¾f° ¯ f°   °nf°ff° ¾¾f°¯ ° ¯°¾f¾f° ½f f ¯f°  ¯f°°ff°–f° °f°–f½ff°–¯  f½ f©f f°¯ ° ff°¾ff °f€¾ –f  f f½f½f°f ¾°fff¯fff  f f¾ 9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff nf° ¾¾ff°–  ©f¾f¯f¾f °–f°f°–f°°f ½f°–¾ °–¾ nff ½f¾f°–f° ff ff¯ ¯½ n   ©f¾f¯f¯ ¯ f°¯f¾°¾ nff  f°©f°  f ff¯–f¾ –f¾¯½ ¾ f°¯ ¯½  f°f½ f°–°  f–° f° f– f°° ¯ °– ¯ f°–f°  f¯½f°¾¾f f° f¯½f° € .

. ° ©f°f¯f°€ff¾¾f°– ½   f¯    f ff ¯  ½ ¯ nff°¯f¾ff @–f¾–f ff¯ ¯ f°½ff¾¾f¯ ¯¾f°–f¾ –f¾  f° f°¯ °f©f°–f¾ –f¾½ f©ff°  © ½ f©ff° f ½ f©f f   f½ f ¯f¾fff°–f f ¾ f°f f°–f f°–f9 ¯ f©ff°  f¾ff° .f¾ff9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f f°nf°–°¯ ¯ f°– ¯ ¯ f°°€¯f¾¾ f°f f°f°f ½f f¾¾f 9 ¯ f©ff°  f ¾ff°¯f¾ff  ¯ f°–f°°¯ ¯ f°¾¾f¯ °– ¯ f°–f° ¯f¯ ½f° ½ ½ ¯ nff° ¯f¾ff  f°  f¯½f°°  f  f©f  f–f½ f°f°– f¾f¯ f½  ff° ¯  f ff¯½ °–ff¯f°°ffff¾¯f¾  f°¯ °©f ½ f©ff°–°¯ f°¯f°  % f¯  % .f¾ff9 °–f©ff°  f¾ff°¯f¾ff   ff°–ff¯ff°– ¯f °–f°– .f°€ff9 ¯ f©ff°  f¾ff°.

¯ ¯ °–½ °  f°°  f¯f½° ¯½  ¯ ° °–¾¾f°¯ °–¯½f°°€¯f¾f°–¾ ¾f ¯ f¾f°ff° ¾½ ¯ ° ° ¯ ° f½ff°½ °© f¾f° f°½ ¯ nff°¯f¾ff@ff½ . ff© %  f½° ¯  ¯ ½ ¯ f©ff° ½f ¾ f–f¯f°ff°–  ¯ff° –f %  % f¾ f°f¾ ½¯ ½ ¯ f©ff° ½f   ¾ ½¯ ½ ¯ f©ff° ½f   ¾ f ff % €f–¯ ° ¯ %. @  °f¯%  f°% °  ¯ %. °–f°f¾¾ f°¯ °– ff¾½¾ ¾½ ¯ nff°¯f¾ff ¯ ¯ f°¾¾f° ¯ ff° € ¾ff ff¾ f f½½ °  f°¯  f f°½¾ ¾ ½¾ ¾f°–¯  f –°ff° %¯   f¯     . f°–f°%f ¾ ½¯  ½ ¯ f©ff° ½f  ff¾ ½–f¯ ½ ¯ f©ff°f°– ½f° f°–ff f°¾ ¾f ° f½f  ¯ f°–f° f°¯ f f¾f°ff° ½ °  f° f¾f%9f   %  –f ¯ ½ ¯ f©ff° ½f f°– ¯f¾ f ff¯   °–%n°° n % ¯ ©f°– f f f f% % ¯   ½f f°%° –f %  f¾ff°ff ¾f°– ¯  .9.  @  °–%% ° ¾ ¯ %. ° –f¾%% ¯¯ ¾ ¯ % .¯ ¯½  °ff°¾¾f °–f°¾f¾f¾¯f¾ff f° f °–f°½ °f©f° f°f°f¾¾ f¾ ©f¾¾f °f¾9 ¯ f©ff°  f¾ff°. f°–f f f f%%  f  ¯ %.f¾ff@ff½  °f¾¾¾f½f f ¯f¾ff¯ °© f¾f°©f°½ ¯ f©ff° ¯ °© f¾f°–¾f°–  f° ¯ °–f©f° € °¯ °fff ¯°¾f¾ffn f°¯ ¯°nf°¯f¾ff ¯ ¯f¾¾¾f°   f ff¯½ ¯ nff°¯f¾fff°– ½ @ff½ . @  f–%%  ¯ %. f–¯ °%% n°° n ¯ %. -@9D 9f % %¯ °–fff° ff½ ¯ f©ff° ½f ¾ f–f¾f½¾ ¾¯ ¯½°f f½fnf %% ½¾f½f f¾¾f%¾ °n °  % %%½¾ ¾½ ¯ f©ff° ¯ °–f¯ff°½ ¯ f°½ °–ff¯f°f°–¾°– ¾ f%%½ ¯¾ff°f°f  f°–¾  f  f© f¾ f f½fn½ ¯ f©ff° ½f  ff¾ ¯ °°©f° ff¯  ½ ¯ f©ff° ½f f ff¾ ©ff° °–f° f½fff°½ °  f°¯ °f ¯f¾ ff¯ff°½ °  f°½– ¾¾¯ f°½ °  f°½– ¾¾¯ ¯ ¯f° f°–½ °  f° f°–¯ °–f¯ff°½ °  °––fff°½ °  f° ¾ f ½¾f½f ff°f%n n °  %  ¾ f–f f¾ f f½½ f¾f°ff°½ °  f°f°–¯f¾ ½¾f½f f– f°½f f ff° f©f @©f°f¯f¾ ff ff°¯ °°–ff° n  f¾f°½f¾ ¾ f°¯ ¯ f f°f  € € ff¯¯ ¯ nff°  f–f½  ¯f°– ¾f©f° ff¯° ¾½ °–ff¯f° % ½  °n %½f f¯¯°f%Jf¯ #°  % @©f°½ °  f°ff°½– ¾¾¯  f ff¯ ff°ff–f f f½f  ©f   ©f¾ nff¾¾ ¯f¾ ¯ °n°f ©f  f°  ©f °–f°f f°f D°¯ °nf½f©f° ¾  ½ °  f°¾ f¾°f f½f ¯ °– ¯ f°–f°¾ ½ °°f ff f°¯°f¾ f½f°f ¯½ °  f°½– ¾€f ff ¯f°–¯ °–f¯ f¾½ °–ff¯f° ½ °–ff¯f°%ff –ff°% f©ff°– ¯°f  ¾ f½¾¾f% ½  °n nn¯%  f°–f°¯  ½ °  f°½– ¾€  ½f ½ ° ff°°–°–f° f°€f¾f¾f°–¯ ¯°–°f° f°–¾°–°f½¾ ¾ f©f¾ nff f¾½f f¾ f½f°f°¯ °– ¯ f°–f° ff f°¯°f°f%. @ ¾ff°–%% ¾  °n ¯ %. °– ¯ f°–f° f°¯ °f©f°f¾ ff ¯ ¯ f°¾¾f ff¯¯  °nf°ff° f°¯ °f½f°fff°–¾ ¾f¾ ½  f½f°    f°¯ ¾ f¯ ¯ f°¯  f°  f––f¾ °–f° ¯f°°f @ff½ . 9f¾f°– °f°–%% ° –f ¯ %. @ %%  ¾f ¯ %. °––f°¾f¾¾¾f° f©f ¯ ¯ f°¾¾f°¯ ° €°¾f° f°¯ °––f°¾f¾f°–f¾ f©ff°–  °–f° °–f°¯f¾ff ¾  @ff½ . .

¯f¾°– ¯f¾°–¯ ½ ¯ f©ff° ¾  ¯ff¯ ½ ¯ f©ff°f°–ff° –°ff° ff¯½ ° f°°f ff¯   °–% n°° n ¯ % f °f¯   °–° ½ ° f°f°°f  f½f f½ f f°f° –f¾°   f°–¾ ¾ °   f° .    °–°©–f¾ nff°ff¯ °– °–f°¾f°¾ ½ °–f°°¾ ½f° ¾f½ °–f° ½f° ¾f  f¯½f° °–f°  f¯½f°f° –f¾f°– ff° ff¯¾ff °–f° –f¾f°– ff°½f ff °f ¾ f  f°– ½ f©f½f f¾f¾ ¯ ¾  °–f° ¾ ¯ ¾  °f 9 ¯f°€fff°½ ° f½f°¯   °–%n°° n %°¾f°–f  f° °–f°°¾ ½.

fff% ff¯€¾f% f°°¾ ½¾ ¯° f½f f¯f°¾f% ff¯ –% f–f f½f © ½ ¯f¯½ff°$½ °–f°–f°f ff¯½ ¯ f©ff°½f f°¾ ½ °¾ ½  ¾ % n °¾n°f@¯ % f° f °–f°½ff¯ °–° f ©f °f½ °© ©ff° ¯ ff¯½¾ ¾½ ¯ f©ff° ¾ f–ff f f¯ °– ©ff– ¯ f½f   f° f¯   °–%n°° n %f ff¾ f–f  %% f¯½f½¾€ f ¯ °–ff°   ff¯¾f  f°–¾ f ff¾¾f¯ ¯½  –f¯ ff°f°–f¾ ¾ f–f¯f°f¾f  f°–¾ f°– €¾½f f¾ff¾½   ° %%¾¾f f½f ¯ °– ¯ f°–f°°¾ ½ °¾ ½°n¾ nff ¾¯ ° ¾ ¾ °––f ©f f½¾ ¾ ° °f¾f¾ %%¯ °– °–f°   ff¯¾f  f°–¾ ¾f°–f¯ ¯°–°f° f–¾¾f °¯ °–f© ¯ °–°¾ ½f¾f¾ ¯ ¯½  f ¾ f¯ °–f¾¯f¾  ¾ nff ¾ ¯ ° ¾¾ °––f¯ ¯ ff°° ©f °f½¾ ¾f°¾€    ff¯¯ ¯ nff° ¯f¾ff ¾f¯½°–¯ ¯½°f  f° ¯   °–°©–f¯ ¯½°f f°–f° ¾ f–f  %%¯f¾ ff° ½¾f°ff°f  f°–¾  %% f¯ ° °––°  ©f¾ nff¯ ¾ °––f¾ f½ f©ff° f½¾f©f €¾f°½f¯  °f°–f°°¾ ½ °¾ ½¾ f  f°f  f°–¾   f°%% ff¯¯ ¯f f°   ff¯¾f  f°–¾   ¯ff¾ff°¯ °– ¯ f°–f°   °–f°f°f  f°–¾ ¯ °©f  f ff° °f¾ %½ff°% f¯ ½ ¯ f©ff° ½f ½ n°° n %  °–%¯ °9f  %  %¾ f–f   @ff½9  °nf°ff°   ¯ ° °f°©f°½ ¯ f©ff° ¯¯  ¯ ° °f°©f°½ ¯ f©ff°¾¾ f°–f f°–ff°–  ¯½ –   ¯ °f¯½ff°°¾ ½½ ° °–f°–f¾ f¾f¾¾f %¯f ½f¾ff%   ¯ °f¯½ff°°¾ ½ °¾ ½f°– ° f f¾f ¾¾f  ¯ °f¯½ff°  f¯½f° ½¾ ¾f°– f½f  ¯ f°–f°  ¯ °f¯½ff°ff f° ff°f°–ff° –°ff°$  f°  ¯ °f¯½ff°½ f°ff°°n @ff½9 f¾f°ff° ¯ ½   ½ °– ff°  f¾  °–f°¯ ¯ f– f¾ ff¯ f½f ¯½   –ff°½¾ ¾   –ff° ½ °nfff° ff   ¾¾¾ nfff¾f ff¾ ¯ ½    ff¾½¾ ¾  ½f    ½ff°f¾½ °–f¯ff°   ½ff° ff¯½ °¾°f°ff f° ff°   ½ff°¾¾f¾ff ¯ °–f°f¾¾ ff   ff¾½  ½ °–f¾ff°¾¾f f f½°¾ ½ °¾ ½$¯f ¾ ¾f °–f°©f°½ ¯ f©ff°¾¾f°– f  f½f°    ff¾½¾¯  ¯f¯½f° ½ °–f¾ff°¾¾f f f½½ °––°ff°ff   . -  . -9-.D-@ . 9 ¯ f©ff°9 ° ¯f°@  ¯ °–  9.

9 ° ¯f°  ¯ °–9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ½ff°¾ff¾f f–f° f ½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°f°– f°f¯  ff°¾¾f ff¯ –ff° f©f¯ °–f©f f f¾ –f fff¾° f¾f°ff– f°¾¾f  f°f°ff¾¾f °–f°¾¾f ¯ff ½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ½ff°¯ °f¾f°ff½ ¯ f©ff°f°–¾°– f°½ ¯ f©ff° f .

f°–¾°–  f °–f°f°–ff°fff f ¯°f°¾– °–f° ¾f½f°¯ °f° ¯ °–° °f¾f¾°¾ ½ °¾ ½ f¾f f°½  ¯ f°–f°¯ °f¾¾f  f° °–f°f°ff ½ °– ff°ff f°°¾¾°¾ ½9f°– ¯¾¾f °–f° ¯f¯½f°¾¾f° ¯ °–½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  f¾ nff  ¯ °–¯f½°¾ nff f¾ ¾ff°f f½f¯ ¯ff¯°¾ ½ °¾ ½¾f°¾¾ ¾f °–f° ¾f½f°°  f°f ¾ ¯f°¯ f¾¾f f°– f f½ – –½   f°f¯ °f©f°½ °–ff¯f° ½f f¯  f° ¯ °––f½ °– ff°ff f°¯ ¯ ¯ °–¯  f°¯ ¯ °°¾ ½ °¾ ½ ¾f f°–  f¾f ¯ ¯ f° ¾    ff°f€–f °f¯  f  f°f °¾f€°  ©f f°–ff° €°–¾¾ f–f€f¾f °ff¾¯  ½ ° °–  f° ½ ¯ ¯ °– 9 ¯ f©ff° °–f°½ ° ¯f° ¾¾f  °–° f©f¾ f–f° ¾f¯ f    ff°f€¯  f¾ °  °–f°°¾ ½ °¾ ½ f°½°¾½ ½°¾½  f°  ff¯ ½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°¾¾f©–f f©f½ ¯ nff°¯f¾ff¾ nff¯f°  f°  f¯½f°   f¯½f° € f °f¯  ff¾¯ °–f°f¾¾ f°¯ ¯f°½f¾°€¯f¾%f°  % -f¯° ff¯½¾ ¾½ ° ¯f°°¾¾f¯ ° f½f f°f°ff ¯ °–f° f–f–f ¯  f  ff¾ °––f f½¾ ¾½ f¾f°ff°½ ¯ f©ff°¯f½°©f°f°– nf½f  f¾f°f °–f° f  ¯ °–f°–f°– ¯f¾ f ff¯ ¯ f° f°f°f–f¾¾f f½f¯ ¯ff¯©f° –ff°f°– ff° f° ½ffff° °f°–½¾  ©ff°– ½  ff° ff¯ –ff°½ ¯ f©ff°%f¯f°f° % f½f °°–f° 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–f¾¾f f©f f–f¯f°f f©f% f° f°%  f©f¯ °–f–f ¾ °  ¯ ¯f¾  f° ¯ f°¯ °f°¾€  ¯ ¯½  n ff¯ °–° f¯ °–f€f f°¾¾f f°––°–©ff ff¾½ ¯ f©ff°°f¾ ° %.

f°   % 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ¯ f¾¾f¯  ¾f°¾ f° °–  f° f½f¯ ¯ nff°¯f¾ff f °f¯  f °f °f   ¾ ¯½ff° ½ f°¾ f  ff¯ –ff°¾f°¾¾ ¾f °–f°½  ¯ f°–f°°  f¯  f °–f° ¯ °–f°–  9 ° ¯f°  ¯ °–f°– ff° ¾¾f f½f¯ °–ff½f f  °°f ¯f¯½f° °¯ ff°½ ° ¯f° f¾  ¯ f°f%.

f°  %  –ff°½ ¯ f©ff° ½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ¯½°f½ ¾f¯ff° °–f° –ff°½ ¯ f©ff°f°–  °f¾ ½f f  f¯½f°½¾ ¾  –ff°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ° f°f°½f f ½ °–ff¯f° f©f¾ nfff°–¾°–¯ f –ff°½ °  f° ¯ ° ¯f°°¾ ½ f°  ¯ f°¯ ° f½f°°¾ ½f°– f ½   ff¯  ½f°¾ f f ¾ f°–f°  –ff° f©ff°–  °f¾½f f  f¯½f°½¾ ¾¯ ° f°f°½f f½ °–ff¯f° f©f f°–¾°–    ff°¾¾ff€ ff¯ –ff°½ ¯ f©ff°  f°½ ° f½f°°¾ ½ ff¯   ½f°¾ f f  °–f° ¯f° ff½ ° ¯f°  ¯ °– °–f°  f¯½f°½¾ ¾ f f °–f°f°– f¾ f  –ff°½ °  f° ¯ ° ¯f°°¾ ½f¾¯ f   f¯½f°½¾ ¾ f°  °– .

f°% % #  ¾n °n½f ¾  ¾€f¾°°f ¾n °n ½n ¾¾ ¾f° ½ n #9 ° ¯f°  ¯ °–¯f¯f f° f°–  f ff½ff°–  f¾¾f °f°–½  f°½¾ ¾¾f°¾  @ff½f°9 ¯ f©ff°9 ° ¯f°@  ¯ °– 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–  ¯ f°–f°  f¾ff°½f° f°–f°–°€ °f°– ½ ¯ f©ff° f°½°¾½ ½°¾½°¾¾ . °½°¾½°¾¾f f f°  °–° f½f f©f¾ nff¯f°   °–f°fff°  f©f¾ nff°¾¾ ¯ ° f°f° f©f ½¾f½f f¾¾f¾ f°–f°½ f°f°–f ff¯ ¯ f°¾¾f¯ ° ¯f°€ff  °¾ ½ff½°¾½° ¯  f¾ °  f°¯ ¯ f°n f¯fff¯ °– ° ff° ¾  –ff° f¾ °¾¾f ff¾ff¾f½f f.

° f@ fn°–f°  f°°–  ¯f°f¾¾f ff½f°¯ ¯ f°–°½ ¯ff¯f°  ¾ °  f½ °–ff¯f° ½ °–ff¯f° .

f  f¾ff°½f f½ °–ff¯f°ff f°½ ¯ff¯f°f°–¯ ° ff¯  ¯ f°–f°¯ f ½ °–ff¯f° ½ °–ff¯f° f©f ¯f°f 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ¯½°f  ¾f¯ff° °–f°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f°°f°–©–f½ ° f½f°°f  f¾ff° °¾¾ ¯ff½ ° ¯f°  ¯ °– ¯f¾¾ff¾f½ ¯ f©ff°f°– ¾ ¾f °–f°.

° f@ fn°–f°  f°°–%.

°– ff¾ –ff°¯ ¯ f° ¾¾f°¯  € ¾½f f½ °  f° f°½¾ ¾½ ° ¯f°f°– –°ff° ¯  % f¯ f°-  %f °f½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ½ff°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f° f° ¯ °–f°–  f°f f½ ¾f¯ff°°f °–f°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff  ¾ f   ff¯½ ° f°°¯ °––°ff°ff½f° °–f°¯ °–f f½f¾ fff½f°9  . °––f°¾f¾f°¾¾f ff¯ f©f¯ ¯ f°¾¾f¯ ° € °¾f° f° ¯ °––f°¾f¾f°–f¾ –f¾f°– ff° °–f°¯f¾ff¾ f¯ ° ff°ff   . ° f¯ f°-% %  f¯ °¯ ° f°f°    ff°¾¾f¾ nfff€  °f¾° €   f°f° f½f f €  f°¾¾f ¯ °–°¾¾½ °– ff°¯  f¾ °  9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff%9 %¯ ¯ f° ¾¾f¯ °©f ½ f©ff°–¯f°  f°°¯¯ f ¯ °–f°–f°–¾ nff f°– f°–¯ ° °– f°¯ °–fff°¾¾f°¯ °nf½ °  ¾ff° f f½¯f¾ff°ff  -f¯°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f° f°9   f ff¯ f½fff°–½ °°–f ½f f ½ ° ¯f°  ¯ °–¾ f–f° ¾f  f¾ff°½f f½ f°ff° ½ f°ff°  f¾ff° ¾½°  f°½ °  f°¾¾f f°–¾°–  ff ¯ °–f°–  ff¾½f f°–°–f°  f¾  f °–f°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °– ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff ¯f °–f°¯f¾ff  ½f°°fff°– ¯f°ff°–¯ ¯ f° ¾ ¯½ff° ½f f ¾¾f ff¯¯ ¯ f°¯ ff°½ °  f°f°– ½ f°°¯ ¯ nff°¯f¾ff  ¾   f° f °f¯f¾ff¯ ½ff°¯f¾ff  ½f°°ff ½ ¯ nff°°f ¯ ¯ f°½ °  f°f°ff ¾½°% ° ¾ % @ff½ ff½½ ¯ f©ff°  °f¾ ¾¾f½f f¯f¾ff¯ °© f¾f°©f°½ ¯ f©ff° ¯ °© f¾f°–¾f°–  f°  ¯ ¯f¾¾¾f  f½f fff¾½ ¯ nff°¯f¾fff°–  f°–   . °° % ff¯¾    %  ¾n ¯ ½ff° f–f° f° ff°¯ ½ff°½ f¾f°½¾ ¾ ¾n  f°– –°ff° ¯ ° ff¯ ¾n f ff½¾ ¾¯ °f ¯f°f¾¾f¯ °–f¾¯f¾¾f °¾ ½ff¾f½°¾½ 9¾ ¾¯ °f ¾ ¯¾f°f¯ °–f¯f ¯ °––°–f° ¯ ¯ f ¾¯½f° f°¾ f–f°f 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°f f½ ¾f¯ff°°f °–f°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff . ¯ ¯ °–½ °  f°°  f¯f½° ¯½¯ ° °–¾¾f° ¯ °–¯½f°°€¯f¾f°–¾ ¾f ¯ f¾f°ff° ¾½ ¯ °°¯ ° f½ff°½ °© f¾f° f°½ ¯ nff°¯f¾ff  .@% . °f©f°$¯ ¯½ ¾ °f¾f°f¾ –ff° ¯ ¯ f°¾¾f ff¯¯  °nf°ff° f°¯ °f½f°fff°–¾ ¾f¾ ½ f½f°    f°¯ f°– ¯ ¯ f°¯  f°  f––f¾ °–f° ¯f°°f  .

° °f° °–f°n ¯ff½ff¾¾fff°  ©f¾ nff °  ff¾ nff ¯½f°–   f ff¾¾f  . °f½f° ff f° ff°¾ nff °–f½  . ° °f° ¯ f½ °–f¯ff°°¾¾f  . °n f   f –ff° f°–ff°  ©ff° ¾¾f°¯ °– f ¾f°f°–¯°–°¯ ff  ¯°–°f°°¯ €f¾  f°©°f °¯ °nf½f©f° ff¾.f°%f% ¯ ¯ f°½ °© ff¯¯  °nf°ff° f°¯ °f½f°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °– ¾ f–f   . ° °f°©f°f°–ff° ½ f©f ¾¾f  . ¯¯  f°– ¾ ¾f °–f° –ff°½ ° ¯f°  .

¯ ¾f ff¾ ¯f¾¾f¯ ¯ff¯©f° –ff°½¾  f°–f¾ ff° n  ¯ –ff° ff°¯ °© f¾f°½f f¾¾f °f°–nff  ©f .f°%f% ¯ °ff°f°f f¾ f–f  f . ¯ f° f°f°f–f¾¾f f½f¯ ¯ff¯©f°  –ff°f°– ff° .

9. ¯ f°f f°–n½ ½f f¾¾f°¯ °– ¯ ff°ff f° ff°f°– –°ff° € . °–f¯f¾ f½¾¾f¾ f¯f¯  f¯ ff° –ff° .9 f°–f f°–f  f ¯ ¯½ ¾f½f°–f¯ f –f¯ f¾ ¾f °–f°©f°½ ¯ f©ff° ¯ ° ¯½ f°–f¯ f ½f½f°ff ff°–f°¯ f9 n ¯ ¯ ½ °© f°¯ ¯  ¾ ¯½ff°½f f¾¾f° ¯ ¯½ ff°$¯ °–f°f¾f–f¯ f .9--O.--.f°–f¯f° . f ¾¾ ¯½ f°–¾¾f f¾ ¾¾ ff°f¾f–f¯ f ¾  nff½f f  f¾ @f½ ¯½   ¾ ¯½ff°¯ ¯ fnff°f¾ ¾¾°f € .9--9   O.f f¯ °f$f¾ ¾¾¾¾f –¯f¯ °© f¾f°¯f ¾ ¾f©f°f°–°–° nf½f –  ¾¯½f°   9. --I@-. ff° ¾¾  °f°– ¾¯½f°°¾ f½© °¾ –ff°   .

@D-9.

@@ f°–f f°–f  f ¾f  f– ff¯ ¯½ ¾ f½¾¾f ff¯¾ f½ ¯½¯ ° f½f°¯ ¯ ¯ f°–f¾ f°¯f¾°– ¯f¾°– ¯½¯ °– ©ff°°f n  ¯½¯ ° ¾¾f°©ff f°f°– °f f°¯ ¯f¾f°f½f°––f ¯½ f½f ¯ °– ©ff°°f$¯ °– f©ff f°°f ¯ ¯f°––¾ff¾f°¯¾¾f °–f°°¯f°– ½f°––¯ f½f°f¾  ©f¾f¯f¯  f @f°––f½f° f ¯f°f°–f°  ¯ f°–¯ °°©°¯f°–f° €  ¾¯½f°   .@D f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f . °f©f°¯f ¾ f–f½ °–f°f n ¯ °°©f°$¯ ¯½ ff°–f¯ f –f¯ f –ff° ff° °–f°¯f  ¯ °°©$¯ ¯f°––¾¾f¾ nff –f°f°¯ ¯f¾f°–$¯ °–f°–f¯ f –f¯ f ¯ °©f f°f°––¾ ¯ °f°ff°ff¾f°$ f¾f½ ¯f°f°–f¯ f ¾  € fff¾f°$f°–f¯ f ¾ –¯ ¯f¯ °f°f¯f°°¾ ½$¯f ¾ ¾f °–f° ¯½  °¾f°–°–° nf½f –  ¾¯½f°$f°–¯f°   -D.

9@I.

9@ ½½ f€ ¯   f©f ¯f°f¾¾f  ©f ½f¾f°–f° f° –f°f°¾ nff¾f°¯ °–¾ff°  f–f° f–f° f¯f f°– ½ f©ff°–f f°–f  .

@D@D f°–f f°–f  f ¾f  f– ff¯ ¯½ ¾ f½¾¾f ff¯¾ f½ ¯½¯ ° f½f°¯ 9 °–f¾f°  f° ½f f¾ f½¾¾f  f¾ff°°¯ f°  f°–f¾f°– f°–f .f ¯ ¯ f–¾¾f° ½f¾f°–f° ¯ ¯ f–f°fnf°f$¯f f½¾¾f°  fnf f°¯ ¯ f°–f¾f°n  f° ¾¾f¯ ° f½f°¾f½ff°–½ f¯f ½ f°¾ f–f½ ¯ nff f°¾f½ff°– ½ f° ¾ f–f½ ° °–f 9 ¯ nff¯ ¯ fnff°°–f¾f°°f¾  °–f½¯°–°  °–f°¯ ¯f¾f°  ½ ff¯°–f¾f°°f   ¯ °ff½ ° °–f € . ¯ f° ¯ °–°–f$¯ °–f€f  ½ °–f°¯ °– °–f°¯f ¾ ¯°fff °–f° ¯f f°°f   f½ f° ¾ ¯f¾ f–f½ ¯ nff f¯ °©f ½ ° °–f f°¾ f°f  f ff°¾ ½  ff¾   ¾¯½f°¾f ¾f¯f ¾f¯f °–f° © 9 °½   9 -.. °¯f$¯ °– ¾$¯ °°©f°  ½f°–f°– °–f½– .¾f°f ¾¾f°¯¾f –f¾¯ °nff¾f ¾f°¯ f¯ °– ©ff°¾f f°¾¾f °¯–f¯ f½f°f¾½  ©ff° f°¾  ¾°f n f½  – ¾f¯ ° ©f¾f¯ff°f ¯½ ¾f ¾ f f ¯½°f f° –f °– ¾f¯f f½f¾¾f °¯¾f¯f f ¯½f° ff¯ ¾ ¯½ff°° ¾¾f °–f°–f¾f°–¾f¯f ¾f¾f°–¯ ¯ f°ff¯ °nnf°f¾ ©f¾f¯f¯  f f½f°f¾ f°f°––f½f° f ¯½f°– f°  ¾¯½f°   @D-@@.

-@I-%@% f°–f f°–f  f . ¯ ° ¯½f°–f°––f°f f°–¾ nff  – °%nf¯½f°¯ °½ ¾f¾  © °¾ f¯° ¾  % ¯ °f©f°½ f©ff° n ¯ ¯ –f¾ ½f f ¯½°  ©ff° f°––f f°––f ¯½  °––f°ff¯ °© f¾f°½f ff°––ff°°f¾f¯½f¾ ¯ff°––f ff¯ ¯½ ¯ °–   ¯ ¯ ¾$½ f°ff° ½f f¾ ¾¾f 9f f¾ff¯ °©ff ¾ f  ¾f°– ¯ ¯ f° .% f°–f f°–f  f ¾f  ¯½f°  ff¯ ¯½ f°––f¯ @f½f°– ff¯¯   f–f°¯f f°–  f .I. ¯  ff¾ €  ¾¯½f°   J%.@.

n @f½f°– ff¯¯   f–f°¯f f°– –f¾f° °––f f¯f°–  ff°– f¯ ¯½ f©f f–f°$¾  f f°–¾f¯f  ¯ ff¯ ¯½ f% ¯½f%°¯ ° ¾¾f°¾  f ¯  f   f¾  ¾f ¾¾¾ f–f¯ff½f°––f ¯ f  ¯½f¾f f° –f°f° ¯ °–f©f ¯f°¾f¯¯  f °f°–¾  f f°–¯  ff¾f f°f½f°––ff°°f ¯ ° °–ff° °–f°¾°–– ¾°–– € @f½¯f¯ ¯½ ¾ °f¾f°f¾ ¾¾ – ¯ ¯  ff¾  9 °½   9 . -@D.

-.99- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¯ °– ¯ff°°¾ ½$½ ¯f¾fff°f°–ff° f°––f½ ¾¾f$¾ f°f ½ ¯f¾fff°f°–¯ ¯½°ff °f€©ff f° n . ¯ ° ¯½f°–f°––f°f f°– @f½ ¯½¯ °–° °f¾f¾$¯ °nfff °f€©ff f°f¾ ¾¾ . °© f¾f°–¾f°–  f° . ¯f¾¾¾f   f ff¯ff¾½ ¯ nff°¯f¾fff°– ½  ¯ ¯ f°¾¾f¯ ° €°¾f° f°¯ °––f°¾f¾f°–f¾ f©ff°–  °–f° °–f°¯f¾ff ¾ %¯ ° f½f°½ –f¾ ©f f   % n ¯ ° °–¾¾f°¯ °–¯½f°°€¯f¾f°–¾ ¾f  ¾½ ¯ °° ¯ ° f½ff°½ °© f¾f° f°½ ¯ nff°¯f¾ff ½ °–¯½f° ff ½ ¾¾ ½ ¯ nff° ¯f¾ff  ¯ ¯ f°¾¾f ff¯¯  °nf°ff°¯ °f½f°fff°–¾ ¾f¾ ½ f½f° f° ¯ ¯ f°¯  f  f––f¾ °–f° ¯f°°f ¯ ¯ f°¾¾f°¯ ff° € ¾ff ff¾ f f½½ °  f°¯  f f° ½¾ ¾ ½¾ ¾f°–¯  f–°ff° € 9 °½   @D f°–f f°–f  f . °f¯½ff°©f°½ ¯ f©ff°f°–°–° nf½f ¯ °f©f°¯f ¾ f–f¯f°f f¾f n D°¯ °– f ff¾ f½¾¾f  °f ¯½ ½f¾f°–f° ff°– f°¾ f°– f½f¾f°–f°¯ °n ff°¯f f°– f  ¯f f– f° ½f¾f°–f°°f¯ ° °–f¾f¯ ¯ ¯ fnfff° nfff° n  ¯ f° –f°½ f°  – ©–f ¯½f°°f ¾¾f¾ nff –f°$ fnf¯ °f¯½ff°f¾ff°nff°f °–f° ¯f° ½f¾f°–f°°f f¯½f¾ f–f°¾¾f¾ f¯ °f¯½ff°f¾ff°nff°f € ¯ °–f°–$¯ °© f¾f° ¯ f¯f f°–¾ f°f ¯ ½ff¯¾¾f –  ¾¯½f°$½ °½   .@-%9 % f°–f f°–f  f ¯ °© f¾f°©f°½ ¯ f©ff° .

@. @f½ ¯½%ff fnf ¯½  °%¯ ¯ fnff¾ ¾¾°f f°–¯ °nff  ½f½f° f°¯ °– ¯½f°¾ ¾f f°– € f ff ff ½f½f°¾¾f ¯°f¯ ¯ f ¾¯½f°ff–¯ ¯  f° °–f°¾ ¾f °¾ ½f°– ¾ ff°–   ..

 f°–f f°–f  f ¯ °f½f° f½fff°– ¾ f½f°¾ ½ff½ f°–nn°¾ ¾   ¾ f°f¾f f–f°f¾f f° f–f°f°°ff©ff f°  f½¾¾f¯ ° f½f¾f ff n @f½¾¾f¯ ¯f°©ff f°$¾f fff°– ½ –f°–  f½¾¾f¯ °nf½f¾f°–f°f°–¯ ¯½°fff°–nn °–f°f°f%¾f ©ff f°%  f½¾¾ff°– f½f¯ °nnf°f°f¾ ¯ ff¾f  ½° €   f¾f f ff nf–f–ff½¾¾f¯ ° f½fff°–  f f ¾ ¯°f –  ¯f°¾  ¾°f   ¾¯½f°$½ °½   @-9- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°°¯f  f°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¾f ¯°f° € °f°–¯f $½ ¯f¾fff°f°– ¾f¯½ff°– n ¾f ¯°f ½f¾f°–f° °–f° ¯f° ¾ f°f% ¯½f°–% f°¯ °–fff°f¾½ ¯f°¯f¾°– ¯f¾°– ¯ ¯¯½°½ ° n ¾¾ f½ ¯½¯ °– ¯ff°f¾ ¾¾°f  ff f –ff° ¾ ¯ °–fff°½ ¯ nfff°½f f½½ ¯f¾fff° f° ¯ °f¯ f¯f f°– ¯ f°–f½f°½ff¾¾f € ¯ ¯  ¾¯½f° – 9 °½    @ f°–f f°–f  f ¯ ¯ f– ¯½½ ¾ f ff°–¾f½ f°–f°°f °f ¯ ¯ f°–f¾°¯ ¯ fnf¯f f°–ff°  ff°  f ¯½ ff¾ n   f¾  ¾f¯ ¯ fnf¯f  ¯ °°©¾ff¾ff°––f°f ¯½½°  nff¾ff f°––f½ff  ff¾  ¯½°f ¯f°¾  ¾°f¾f¯½f¾ f–f° ¾f¾¾f ¾f ¯ °– ¯ff°½ ° f½f°f   ¯ °ff¾¾f¯ °f¯½ff°–f–f¾f°°f–¯ °¾°$   f¾ f½½ ¯ nfff°  ½f½f°¾ f¯½f¾ ©¯f f°– ff½f°– ½ ° ¯ °f¯ ff°°¾ ½$ f°– ¯ °–f½ € f ff ff ½f½f° ¾  –¯ °–f©f¾¾f¯ ¯ f ¾¯½f°$f°–¯f° .

f¾°– ¯f¾°– ¯½¯ °f¯½ff°f¾ ¾¯½f°°f  ¯ ¯ f° ¾¯½f°¾ nff¯¯ © ff¾  9 °½   D9-I@@- f°–f f°–f  f ¯ °f½f°¾ f°–f ¯ °f¯½ff°¯f ½f°–ff° ½ f©f  ¯ f°¯ ¯ f° ¾ ¯½ff°  ½f f¾¾f°¯ ¯ fnf f°¯ ¯½ f©f¯f ½f f½ –f°–f°°f$½f °f n   f¾  ¾f¯ ¯ fnf  f°¯ ¯½ f©f°f¯ ¯½ ¾ff°¾¾f°¯ °½ °f ¯ °–f¯ °–f f°¯ ¯ f° ½f f¾¾f ¾  f–¯ ¯ f°½ f°ff° f°¾¾ff°–¯ ¯ –f°–°–f ¾ f¾¯ °©ff °f  ¯f°¾  ¾°f¾f¯½f ¾ f–f° ¾f¾¾f¯ ° f½f f–f°°¯ °©ff ¾ f½½ f°ff° f– ¯ ¯ f° ¾¯½f° € ff¾ – 9 °½   @@ f°–f f°–f  f ¯ °f½f°¾ f°–f ¯ °f¯½ff°¯f ½f°–ff° ½ f©f  ¯ f°¯ ¯ f° ¾ ¯½ff°  ½f f¾¾f°¯ ¯ fnf f°¯ ¯½ f©f¯f ½f f½ –f°–f°°f$½f °f n   f¾  ¾f¯ ¯ fnf  f°¯ ¯½ f©f°f¯ ¯½ ¾ff°¾¾f°¯ °½ °f ¯ °–f¯ °–f f°¯ ¯ f° ½f f¾¾f ¾  f–¯ ¯ f°½ f°ff° f°¾¾ff°–¯ ¯ –f°–°–f ¾ f¾¯ °©ff °f  ¯f°¾  ¾°f¾f¯½f ¾ f–f° ¾f¾¾f¯ ° f½f f–f°°¯ °©ff ¾ f½½ f°ff° f– ¯ ¯ f° ¾¯½f° € ff¾ – 9 °½  .f¾°– ¯f¾°–¾¾f    ¯½°f ¯f¾°– ¯f¾°–¾f¯ ¯ ¯½ ff°¯ °–f¯f ¾ °ff°–¾ f°– ½ f–ff° –   f¾  ¾f ½ °f¾f° ¯f¾°– ¯f¾°–¾¾f  f° f¾¾ f–f ¯ f ©f° ¯ ¯ ff¾  . ¯ f°½ °© f¾f° °f°–¯½  °¾f°–°–° nf½f . °°© f½f¾¾f°¯ ¯½ f©f¾ °f ff¾ ¯ ¯ n ¯ ¯ ° ¯½¾¾ff°–f°––f°ff°– . ¯f°––½ff¾¾ff°–¾ f °©°¯ f°f°¾ °ff°–¾ f ½ ¾f½f° € .  9- f°–ff°–f  f ¯ °¾°$¯ °f½f°¾ °ff°–ff° f¯½f° .

f¾°– ¯f¾°– f ¯½ ¯ f  ¯½°f¯f¾°– ¯f¾°–  ¯ f°¯ °© f¾f° ¯f f°– ¾f¯½ff° – ½f f ¯f°°f  ¯ f°¯f¾°– ¯f¾°–¾¾f  f°¾f ¯ f f¾ ©f °¯ °¾f°¾f ½ f°ff°f½f¾f©ff°–¯ °f°–¯f f°–¾ f © f¾f°  f ¯½  ¯ f° f¾ ¾   f¾ ½  f f°  ¯½f f¾f¾¾f ¾¾ff°–f° ¾ f¯f ¯ ° €   f¾¾f f½f¾f f$¾f½ f°ff°  f° ¾ ¯½ff° ½f f¾¾f° ¯ °©ff ½ f°ff°f°– ¾ ff¯ f¾  ° f ¾ ¾ nff –f°f° – ff¾  9 °½   @D-@.  @D9-- f°–f f°–f  f  f½¾¾f¯ ° f½f¾f½f¾f°–f°%– f¾f¯ °°©f°½f¾f°–f°°fff ¾¾f¯ °°©f°½f¾f°–f°°f ¯ ¯ f°–f¾ f°¾¾f¯ °– ©ff°–f¾ °–f°½f¾f°–f°°f n   f¾  ¾f¾ f½½f¾f°–f° –f °– °–f°¾f½f¾f°–f°f°–f°  f½f¾f°–f° ¾  f½f¾f°–f°¯f¾°– ¯f¾°–½f¾f°–f°f°– f°¾f°– ¯ °f°ff° f°¯ °–f°©ff f°¯  f @ ¯f° ff°–  f½f f½ ff°½f¾f°–f° ¯ f°  f–f° ½f f½f¾f°–f° ¾ ¯f € 9 °½   -J @J- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯f f°–ff° ¾f©f° ¯ ¯ ° ¯½  ¯½ f°¯ ¯f°––¯f¾°– ¯f¾°– f ¯½° ¯ ¯ f°½ °© f¾f° °f°–¯f  n .

@@-O9-- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¯ ° ¯°¾f¾f°$¯ °f©f°¯f  n . ¯ f° ¾ ¯½ff°¾¾f$½ ¾ f°¯ °© f¾f° ½f f½ ¾ f°¯ °© f¾f°  ½f f½ ¾ ff°°f f¯ f f–f°$½ f°¾ ½¯f½°f°–f°°f ¯ °¯½f° $½ ° f½f f¾¾f ¯ ° f°–f°¾ ¯f¯f f°– ¾f©f° ¾ff € 9 °½   .

¯ f° ¾ ¯½ff°¾¾ff°f©ff  D°¯ °–©½ ¯ff¯f° ¾¾f ¾¯ ¯ ff$$¾ ¾f °–f° f° f° f½f ¾f°–f¾ ¾f °–f°¾  ¯f¾°–¯f¾°– .DIJ f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¯ ° ¯°¾f¾f°$¯ °f©f°¯f  n .

¾¾f ¯ ¯ fnf¾f¾ nfffnf f°¾¾f¯ °¾©ff f°  ff¯ff°–°¯°f ¾ f°– f°f°–¾°–  ¾¾f° ff °f ¾f° f °f%2% f°¾ff° ¾f° f ¾f°–%% € ¾ff°–¾ f¯ ° f½ff° f2 fff¾°f ff f–°ff¾  ff ff   f°°f – -f¾¾f °– f©ff f° °f©¯fff°– ½    9 °½   O9@-@D.

--D-% 9 ¯ f©ff°f°–¾°–¾¾ f°nf°–°¯ °– ¯ f°–f° f©f¾¾f °f°– ½ °– ff°½¾ f° f°½ °– ff° ff€f°– f½f f©ff°f°–f f°–f  f . ¯ ¯ °–½ ff° . °– n ½ ¯ff¯f° f°¯ ¯ f°¯½f° f . °f¯½ff°©f° f°¯ ¯½ ¾f½f°¾¾f . ° ¯°¾f¾f°½ °– ff° f° f¯½f° n . ¯ f° ¾ ¯½ff°°ff°f°©f°   -D@.@-%9.

.

%--.

¯½ ¾ °f¾f°$¯ ¯ fnff°f¾ ¯½ ¯ ¯ f ¾¯½f° ¾f¯f € 9 °½   . ¯ ° ¯½f°–f°––f°ff°–f°–¾ nff  – ° ¯ ¯ f°fnf°f$½°–¾ ¾f °–f°½½ ¯ f©ff° n ¾f  ©f¾f¯f¾f°–¯ ¯ fnff° f°¯ ° ¯f° ½ f°¯ ¯  f°––f½f° f f½fnf°f$½°– f° ¾½f f ¯ f f¾ . -- % f°–f f°–f  f .

9@I-@@--.

9@-%..

.

% f°–f f°–f  f . ¯½ ¾ °f¾f°$¯ ¯ fnff°f¾ ¯½ ¯ ¯ f  ¾¯½f° ¾f¯f€ 9 °½ . ¯ °  ¯½f°–f°––f°ff°–f°–¾ nff  – ° ¯ ¯ f°fnf°f$½°–¾ ¾f °–f°½ ½ ¯ f©ff° n ¾f  ©f¾f¯f¾f°–¯ ¯ fnff° f°¯ ° ¯f° ½ f°¯ ¯ f°––f½f°  f f½ fnf°f$½°– f° ¾½f f ¯ f f¾ .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful