P. 1
33 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

33 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

|Views: 7.018|Likes:
Publicado porAngga Tanama Putra

More info:

Published by: Angga Tanama Putra on Mar 16, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/13/2014

pdf

text

original

Sections

  • 33 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF & VARIATIF
  • Keterangan :
  • 1. Lesson Study
  • 2. Examples Non Examples
  • 3. Picture and Picture
  • 4. Numbered Heads Together
  • 5. Cooperative Script
  • 6. Pembelajaran Berdasarkan Masalah
  • 7. Explicit Instruction (Pengajaran Langsung)
  • 8. Inside – Outside – Circle (Lingkaran kecil – Lingkaran besar)
  • 9. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
  • 10. Student Facilitator and Explaining
  • 11. Course Review Horay
  • 12. Talking Stick
  • 13. Bertukar Pasangan
  • 14. Snowball Throwing
  • 15. Artikulasi
  • 16. Mind Mapping
  • 17. Student Teams – Achievement Divisions (STAD)
  • 18. Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi dari Number Heads)
  • 19. Scramble
  • 20. Word Square
  • 21. Kartu Arisan
  • 22. Concept Sentence
  • 23. Make – A Match (Mencari Pasangan)
  • 24. Take and Give
  • 25. Tebak Kata
  • 26. Metode Diskusi
  • 27. Metode Jigsaw
  • 28. Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)
  • 29. Metode Inquiry
  • 30. Metode Debat
  • 31. Metode Role Playing
  • 32. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
  • 33. Metode Team Games Tournament (TGT)
  • 1. Model Pembelajaran Klasikal
  • 2. Model Pembelajaran Individual
  • 3. Model Pembelajaran Kooperatif
  • STAD
  • JIGSAW
  • TEAM GAME TOURNAMENT
  • PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
  • Pendekatan Konstruktivis
  • Pendekatan Pemecahan Masalah
  • Pendekatan Open-Ended
  • Model Pembelajaran Kooperatif
  • Model Pembelajaran Generatif
  • Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH
  • MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
  • Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing
  • MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF YANG DIREKOMENDASIKAN DI SMP NASIONAL KPS
  • 1. EXAMPLES NON EXAMPLES
  • 2. PICTURE AND PICTURE
  • 3. NUMBERED HEAD TOGETHERS
  • 4. COOPERATIVE SCRIPT
  • 5. KEPALA BERNOMOR STRUKTUR
  • 6. STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISION (STAD)
  • 7. JIGSAW (MODEL TIM AHLI)
  • 8. PROBLEM BASED INTRODUCTION (PBI)
  • 9. ARTIKULASI
  • 10. MIND MAPPING
  • 11. MAKE A MATCH
  • 12. THINK PAIR AND SHARE
  • 13. DEBATE
  • 14. ROLE PLAYING
  • 15. GROUP INVESTIGATION
  • 16. TALK STIK
  • 17. BERTUKAR PASANGAN
  • 18. SNOWBALL THROWING
  • 19. STUDENT FACILITATOR AND EXPAINING
  • 20. COURSE REVIEW HORAY
  • 21. EXPLISIT INTRUCTION (PEMBELAJARAN LANGSUNG)
  • 22. INSIDE OUTSIDE CIRCLE (LINGKARAN KECIL-LINGKARAN BESAR)
  • 23. COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC)

33 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF & VARIATIF Sebagai berikut : 1. Lesson Study 2. Examples Non Examples 3. Picture and Picture 4.

Numbered Heads Together 5. Cooperative Script 6. Pembelajaran Berdasarkan Masalah 7. Explicit Instruction (Pengajaran Langsung) 8. Inside – Outside – Circle (Lingkaran kecil – Lingkaran besar) 9. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) 10. Student Facilitator and Explaining 11. Course Review Horay 12. Talking Stick 13. Bertukar Pasangan 14. Snowball Throwing 15. Artikulasi 16. Mind Mapping 17. Student Teams – Achievement Divisions (STAD) 18. Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi dari Number Heads) 19. Scramble 20. Word Square 21. Kartu Arisan 22. Concept Sentence 23. Make – A Match (Mencari Pasangan) 24. Take and Give 25. Tebak Kata 26. Metode Diskusi 27. Metode Jigsaw 28. Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) 29. Metode Inquiry 30. Metode Debat 31. Metode Role Playing 32. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) 33. Metode Team Games Tournament (TGT) Keterangan : 1. Lesson Study Lesson Study adalah suatu metode yang dikembankan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah ‘lesson study’ sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida. Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut: 1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:

a. Perencanaan. b. Praktek mengajar. c. Observasi. d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran. 2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasardasar teori yang menunjang. 3. Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana. 4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui. 5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya. 6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2). Adapun kelebihan metode ‘lesson study’ sebagai berikut: 1. Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas. 2. Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah. 2. Examples Non Examples Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contohcontoh. Contoh-contoh dapat dari kasus / gambar yang relevan dengan KD. Langkah-langkah: 1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. 2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP. 3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar. 4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas. 5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya. 6. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. 7. Kesimpulan. Kebaikan: 1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar. 2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar. 3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Kekurangan: 1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar. 2. Memakan waktu yang lama.

3. Picture and Picture Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis. Langkah-langkah: 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 2. Menyajikan materi sebagai pengantar. 3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi. 4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis. 5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut. 6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai. 7. Kesimpulan / rangkuman. Kebaikan: 1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa. 2. Melatih berpikir logis dan sistematis. Kekurangan: 1. Memakan banyak waktu. 2. Banyak siswa yang pasif. 4. Numbered Heads Together Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa. Langkah-langkah: 1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. 2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya. 3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya. 4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka. 5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain. 6. Kesimpulan. Kelebihan: 1. Setiap siswa menjadi siap semua. 2. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. 3. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Kelemahan: 1. Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru. 2. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru. 5. Cooperative Script Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.

Langkah-langkah: 1. Guru membagi siswa untuk berpasangan. 2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan. 3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar. 4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya. 5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas. 6. Kesimpulan guru. 7. Penutup. Kelebihan: 1. Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan. 2. Setiap siswa mendapat peran. 3. Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan. Kekurangan: 1. Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu. 2. Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut). 6. Pembelajaran Berdasarkan Masalah Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Langkah-langkah: 1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. 2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.) 3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah. 4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya. 5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. Kelebihan: 1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik. 2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain. 3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.

Kekurangan: 1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai. 2. Membutuhkan banyak waktu dan dana. 3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini. 7. Explicit Instruction (Pengajaran Langsung) Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. Langkah-langkah: 1. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa. 2. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan. 3. Membimbing pelatihan. 4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik. 5. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan. Kelebihan: 1. Siswa benar-benar dapat menguasai pengetahuannya. 2. Semua siswa aktif / terlibat dalam pembelajaran. Kekurangan: 1. Memerlukan waktu lama sehingga siswa yang tampil tidak begitu lama. 2. Untuk mata pelajaran tertentu. 8. Inside – Outside – Circle (Lingkaran kecil – Lingkaran besar) Siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan, dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Langkah-langkah: 1. Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap keluar. 2. Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama, menghadap keluar. 3. Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan. 4. Kemudian siswa berada di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam sehingga masing-masing siswa mendapat pasangan baru. 5. Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya. Kelebihan: Mendapatkan informasi yang berbeda pada saat bersamaan. Kekurangan: 1. Membutuhkan ruang kelas yang besar. 2. Terlalu lama sehingga tidak konsentrasi dan disalahgunakan untuk bergurau. 3. Rumit untuk dilakukan.

Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen. siswa disuruh membuat kotak 9 / 16 / 25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masingmasing. Siswa bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana / kliping dan ditulis pada lembar kertas. Langkah-langkah: 1. 3. 5. Memberikan siswa tanya jawab. Penutup. Banyak siswa yang kurang aktif. 10. Kelebihan: 1. Dilatih untuk dapat bekerjasama dan menghargai pendapat orang lain. Guru membuat kesimpulan bersama. Untuk menguji pemahaman. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu. Kekurangan: 1. Siswa dapat memberikan tanggapannya secara bebas. 4. Guru mendemonstrasikan / menyajikan materi sesuai tpk. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. 4. 2. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) Pada metode ini siswa dibentuk kelompok untuk memberikan tanggapan terhadap wacana/ kliping. Memberikan kesempatan siswa / peserta untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan / peta konsep maupun yang lainnya. yang paling dulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak horay. 3. 6. Mempresentasikan / membacakan hasil kelompok. Course Review Horay Suatu metode pembelajaran dengan pengujian pemahaman menggunakan kotak yang diisi dengan nomor untuk menuliskan jawabannya. Penutup. Langkah-langkah: 1. 3. Guru mendemonstrasikan / menyajikan materi. Student Facilitator and Explaining Siswa / peserta mempresentasikan ide / pendapat pada rekan peserta lainnya. 5. dapat mengeluarkan ide-ide yang ada di pikirannya sehingga lebih dapat memahami materi tersebut. 6.9. 2. 2. 4. Kelebihan: Siswa diajak untuk dapat menerangkan kepada siswa lain. Kekurangan: Pada saat presentasi hanya siswa yang aktif yang tampil. Guru memberikan wacana / kliping sesuai dengan topik pembelajaran. 5. 2. 2. Langkah-langkah: 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. Guru menyimpulkan ide / pendapat dari siswa. Adanya pendapat yang sama sehingga hanya sebagian saja yang tampil. Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak . 11.

13. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya guru mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya. Langkah-langkah: 1. Melatih kerjasama. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa. 3. setelah itu guru memberi pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. 4. Menguji kesiapan siswa. Kekurangan: Membuat siswa senam jantung. Langkah-langkah: 1. 6. Penutup. Kelebihan: 1. Pembelajarannya menarik mendorong untuk dapat terjun ke dalamnya. kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya/ paketnya. Kelebihan: 1. 7. 12. 2. kalau benar diisi tanda benar (v) dan salah diisi tanda silang (x) 6. 2. Kekurangan: 1. Bertukar Pasangan Siswa berpasangan kemudian bergabung dengan pasangan lain dan bertukar pasangan untuk saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban masing-masing. Melatih membaca dan memahami dengan cepat. 3. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar dan jumlah horay yang diperoleh. Adanya peluang untuk curang. Siswa aktif dan pasif nilainya disamakan. Siswa yang sudah mendapat tanda v vertikal atau horisontal. 7. demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru. 2. Setelah selesai setiap siswa yang berpasangan bergabung dengan satu . Penutup.yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan. siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. Evaluasi. 2. Guru menyiapkan sebuah tongkat. 3. 2. atau diagonal harus segera berteriak horay atau yel-yel lainnya. Guru memberikan kesimpulan. Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru biasa menunjukkan pasangannya atau siswa menunjukkan pasangannya). Agar lebih giat belajar (belajar dahulu). Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya. 8. Talking Stick Metode pembelajaran dengan bantuan tongkat. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari. 5.

Artikulasi Siswa membentuk kelompok berpasangan. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama kurang lebih 5 menit. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan. Pengetahuan tidak luas hanya berkutat pada pengetahuan sekitar siswa. mempertahankan pendapat. 6. kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya. 2. 3. 5. Kelebihan: 1. 15. Semua siswa terlibat. 5. 8. Saling memberikan pengetahuan.pasangan lain. Kekurangan: 1. masing-masing pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka. Langkah-langkah: . Kelebihan: 1. Memerlukan waktu yang lama. Langkah-langkah: 1. 2. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan. 14. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula. Siswa dilatih untuk dapat bekerjasama. Guru tidak dapat mengetahui kemampuan siswa masing-masing. 9. 7. 4. Snowball Throwing Dibentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh. 2. Setelah siswa mendapat satu bola / satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi. 2. Melatih kesiapan siswa. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kerja untuk menuliskan pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok. 4. Tidak efektif. Guru memberikan kesimpulan. Evaluasi. Kekurangan: 1. Penutup. kemudian seorang menceritakan materi yang disampaikan oleh guru dan yang lain sebagai pendengar setelah itu berganti peran. 2.

sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya. Suruhlah seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan kecil. Waktu yang dibutuhkan banyak. Langkah-langkah: 1. Guru mengulangi / menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa.1. 2. Kesimpulan/ penutup. Melatih kesiapan siswa. Kekurangan: 1. Semua siswa terlibat (mendapat peran). 4. Student Teams – Achievement Divisions (STAD) Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti. sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban. Tiap kelompok menginventarisasi/ mencatat alternatif jawaban hasil diskusi. Materi yang didapat sedikit. 6. 3. 5. Melatih daya serap pemahaman dari orang lain. bentuklah kelompok berpasangan dua orang. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru. Tiap kelompok membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. 7. 3. 16. Untuk mata pelajaran tertentu. 2. Langkah-langkah: . Begitu juga kelompok lainnya. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-5 orang. Guru mengemukakan konsep/ permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa . Mind Mapping Suatu metode pembelajaran yang sangat baik digunakan untuk pengetahuan awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban. Suruh siswa secara bergiliran/ diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. Dapat mengemukakan pendapat secara bebas. 6. 4. 3. Kelebihan: 1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai. Kelebihan: 1. Tidak sepenuhnya murid yang belajar. 17. 3. 2. Kekurangan: 1. kemudian berganti peran. 2. 5. Dapat bekerjasama dengan teman lainnya. Hanya siswa yang aktif yang terlibat. 2. 2. Untuk mengetahui daya serap siswa.

Membedakan siswa. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti. 2. guru bisa menyuruh kerjasama antarkelompok. 2. 2. Kelebihan: 1. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Langkah-langkah: 1. Memberi evaluasi. suku. Siswa dibagi dalam kelompok. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor. Dalam kesempatan ini. 2. Penutup. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomornya terhadap tugas yang berangkai. Kesimpulan. 3.). Guru tidak mengetahui kemampuan masing-masing siswa. siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerjasama mereka. Seluruh siswa menjadi lebih siap.1. Guru menyajikan pelajaran. Setiap siswa menjadi siap semua. 6. Laporan hasil kelompok dan tanggapan dari kelompok yang lain. 5. dll. Kelebihan: 1. 2. Kelebihan: . Kekurangan: 1. siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi. Langkah-langkah: 1. 2. 4. 5. Melatih kerjasama dengan baik. Dapat bertukar pikiran dengan siswa yang lain. 18. Waktu yang dibutuhkan banyak. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan. Membagikan lembar kerja dengan jawaban yang diacak susunannya. 3. 3. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu. Scramble Metode pembelajaran dengan membagikan lembar kerja yang diisi siswa. 19. Kepala Bernomor Struktur (Modifikasi dari Number Heads) Siswa dikelompokkan dengan diberi nomor dan setiap nomor mendapat tugas berbeda dan nantinya dapat bergabung dengan kelompok lain yang bernomor sama untuk bekerjasama. 2. jenis kelamin. 4. Jika perlu. Kekurangan: 1. Guru menyajikan materi sesuai topik.

Siswa disuruh menjawab soal kemudian mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban. 2. Nilai tergantung pada individu yang mempengaruhi nilai teman lain. 2. Kertas jawaban bagikan pada siswa masing-masing 1 lembar / kartu soal digulung dan dimasukkan ke dalam gelas. Kelebihan: Pembelajaran yang menarik dihubungkan dengan kehidupan nyata. Kekurangan: 1. . Siswa tinggal menerima bahan mentah. 5. Guru menyampaikan materi sesuai kompetensi. Melatih untuk berdisiplin. 2. kemudian salah satu yang jatuh diberikan agar dijawab oleh siswa yang memegang kartu jawaban. Kelebihan: 1. Concept Sentence Siswa dibentuk kelompok heterogen dan membuat kalimat dengan minimal 4 kata kunci sesuai materi yang disajikan. Kegiatan tersebut mendorong pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. 3. Gelas yang telah berisi gulungan soal dikocok. Apabila jawaban benar maka siswa dipersilakan tepuk tangan atau yel-yel lainnya. 4. 2. Tidak semua terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Guru membagikan lembar kegiatan sesuai contoh. Bentuk kelompok orang secara heterogen. Bisa saja mencontek jawaban teman lain. Kekurangan: 1. 2. 3. 2. 22. Siswa kurang berpikir kritis.1. Memudahkan mencari jawab. 2. Berikan poin setiap jawaban dalam kotak. 20. 21. 4. Mematikan kreatifitas siswa. Setiap jawaban yang benar diberi poin 1 sebagai nilai kelompok sehingga nilai total kelompok merupakan penjumlahan poin dari para anggotanya. Word Square Siswa diberikan lembar kegiatan kemudian menjawab soal dan mengarsir huruf dalam kotak sesuai jawaban. Kartu Arisan Siswa dibentuk kelompok dan setiap jawaban digulung dan dimasukkan ke dalam gelas kemudian siswa yang memegang kartu jawaban menjawab setelah dikocok terlebih dahulu. Mendorong siswa untuk belajar mengerjakan soal tersebut. Kekurangan: 1. Langkah-langkah: 1. Langkah-langkah: 1.

23. Siapkan kelas sebagaimana mestinya. Make – A Match (Mencari Pasangan) Siswa disuruh untuk mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban / soal sebelum batas waktunya. 2. Kelebihan: 1. Hasil diskusi kelompok didiskusikan lagi secara pleno yang dipandu guru. 2. 2. Langkah-langkah: 1. Kelebihan: Melatih untuk ketelitian. Hanya untuk mata pelajaran tertentu. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. 24. . selanjutnya siswa diberi pertanyaan sesuai dengan kartunya. Siswa yang lebih pandai mengajari siswa yang kurang pandai. 3. Langkah-langkah: 1. 7. 5. 2. Setiap siswa mendapat satu buah kartu. Demikian seterusnya. Guru membentuk kelompok yang anggotanya kurang lebih 4 orang secara heterogen. 3. Penutup. kurang konsentrasi. Guru menyajikan materi secukupnya.Langkah-langkah: 1. Tiap kelompok disuruh membuat beberapa kalimat dengan menggunakan minimal 4 kata kunci setiap kalimat. Take and Give Siswa diberi kartu untuk dihapal sebentar kemudian mencari pasangan untuk saling menginformasikan. sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin. 2. Kekurangan: Waktu yang cepat. Kesimpulan. 6. Kekurangan: 1. Untuk yang pasif mengambil jawaban dari temannya. Tiap siswa memikirkan jawaban / soal dari kartu yang dipegang. Kesimpulan. kecermatan dan ketepatan serta kecepatan. 4. 5. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban). Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. Lebih memahami kata kunci dari materi pokok pelajaran. 7. 6. Jelaskan materi sesuai topik menit. 8. Menyajikan beberapa kata kunci sesuai materi/ tpk yang disajikan. 4. Guru menyampaikan tujuan.

6. 8. Jelaskan materi menit. Demikian seterusnya sampai tiap peserta dapat saling memberi dan menerima materi masing-masing. berikan siswa pertanyaan yang sesuai dengan kartunya (kartu orang lain). 26. Kekurangan: Tidak efektif dan terlalu bertele-tele. Suruh siswa berdiri di depan kelas dan berpasangan. 25. Kekurangan: Bila siswa tidak menjawab dengan benar maka tidak semua siswa dapat maju karena waktu terbatas. 7. 4. Kelebihan: Dilatih memahami materi dengan waktu yang cepat. Sementara siswa membawa kartu 10 x 10 cm membacakan kata-kata yang tertulis di dalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud pada kartu 10 x 10cm. Untuk mengevaluasi keberhasilan. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis pada kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Kesimpulan. 2. Jawab yang tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempel di dahi. Strategi ini dapat dimodifikasikan sesuai keadaan. Kelebihan: Sangat menarik sehingga setiap siswa ingin mencobanya. Diskusi sebagai metode pembelajaran lebih cocok dan diperlukan apabila guru .3. Tiap siswa harus mencatat nama pasangannya pada kartu control. Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10 x 10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Metode Diskusi Metode diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau pendapat yang disepakati bersama. Semua siswa disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling menginformasikan materi sesuai kartu masing-masing. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya. 3. 5. Tebak Kata Metode ini menggunakan kartu yaitu kartu ukuran 10 x 10 cm dan diidi ciri-ciri kata lainnya yang mengarah pada jawaban. Langkah-langkah: 1. yang kedua kartu ukuran 5 x 2 cm untuk menulis kata / istilah yang mau ditebak. Untuk memantapkan penguasaan peserta. Seorang siswa lainnya diberi kartu berukuran 5 x 2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan di telinga. 4. 5. tiap siswa diberi masing-masing satu kartu untuk dipelajari (dihapal) kurang lebih 5 menit.

b. e. i. agar dapat mengemukakan jawaban pemecahan problem yang diajukan. mendapatkan balikan dari siswa apakah tujuan telah tercapai d. Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru atau mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas. c.hendak: a. Mengatur agar sifat dan isi pembicaraan tidak menyimpang dari pokok/problem. Kegiatan siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut: a. . membantu siswa belajar menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman-teman f. memberi kesempatan pada siswa untuk mengeluarkan kemampuannya c. Selalu berusaha agar diskusi berlangsung antara siswa dengan siswa. d. e. Guru menetapkan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan atau guru meminta kepada siswa untuk mengemukakan suatu pokok atau problem yang akan didiskusikan. Guru mengatur giliran pembicara agar tidak semua siswa serentak berbicara mengeluarkan pendapat. Mengatur giliran berbicara agar jangan siswa yang berani dan berambisi menonjolkan diri saja yang menggunakan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Menjaga suasana kelas dan mengatur setiap pembicara agar seluruh kelas dapat mendengarkan apa yang sedang dikemukakan. h. Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya. Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan. Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain. memanfaatkan berbagai kemampuan yang ada pada siswa b. f. Mencatat hal-hal yang menurut pendapat guru harus segera dikoreksi yang memungkinkan siswa tidak menyadari pendapat yang salah. Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan. g. f. Adapun kegiatan guru dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut: a. membantu siswa menyadari dan mampu merumuskan berbagai masalah sendiri maupun dari pelajaran sekolah g. membantu siswa belajar berpikir secara kritis e. d. b. g. Guru menjelaskan tujuan diskusi. Bukan lagi menjadi pembicara utama melainkan menjadi pengatur pembicaraan. j. Guru memberikan ceramah dengan diselingi tanya jawab mengenai materi pelajaran yang didiskusikan. c. Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya walau berbeda pendapat. mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut. Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau sekelompok.

f. 27. j. b. Membina suatu perasaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat. menyetujui atau menentang pendapat teman-temannya. c. Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang. lebih rendah. remeh atau lebih bodoh. g. pengetahuan dan pandangan siswa mengenai suatu problem akan bertambah luas. kesimpulan. c. h. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh penjelasan-penjelasan dari berbagai sumber data. Siswa pemalu dan pendiam tidak akan menggunakan kesempatan untuk berbicara. Melatih siswa untuk berdiskusi di bawah asuhan guru. e. Merangsang siswa untuk ikut mengemukakan pendapat sendiri. e. j. Adapun kelebihan metode diskusi sebagai berikut: a. . siap dan kefasihan berbicara saja tetapi juga menuntut kemampuan berbicara secara sistematis dan logis. atau keputusan yang akan atau telah diambil. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati pembaharuan suatu problem bersama-sama. d. dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. i. Tidak bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang. Mendidik siswa untuk belajar mengemukakan pikiran atau pendapat. i. Pembicaraan dalam diskusi mungkin didominasi oleh siswa yang berani dan telah biasa berbicara. Mengembangkan rasa solidaritas/toleransi terhadap pendapat yang bervariasi atau mungkin bertentangan sama sekali. Metode Jigsaw Pada dasarnya. Biasanya tidak semua siswa berani menyatakan pendapat sehingga waktu akan terbuang karena menunggu siswa mengemukakan pendapat. Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi. Sulit untuk menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian diskusi. Dengan mendengarkan semua keterangan yang dikemukakan oleh pembicara. d. Kelemahan metode diskusi sebagai berikut: a. Membina siswa untuk berpikir matang-matang sebelum berbicara. Berdiskusi bukan hanya menuntut pengetahuan. f. Memungkinkan timbulnya rasa permusuhan antarkelompok atau menganggap kelompoknya sendiri lebih pandai dan serba tahu daripada kelompok lain atau menganggap kelompok lain sebagai saingan.h. Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa yang baik dan tepat. b. Tidak semua topik dapat dijadikan metode diskusi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan.

Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. 28. d. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Dengan demikian. Analisis dan sintesis Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh . c. kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Merencanakan kerjasama Para siswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus. Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin. Guru secara terusmenerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan. Seleksi topik Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). b. Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. etnik maupun kemampuan akademik. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Implementasi Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih. baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya.

Metode Debat Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Penyajian hasil akhir Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Pada dasarnya. dan tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif. 30. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok. jujur dan terbuka. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru. siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Kelebihan metode ini mendorong siswa berpikir secara ilmiah.pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas. e. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. peran pencatat (recorder). tidak semua materi pelajaran mengandung masalah. kreatif. . Peran tersebut mungkin bermacammacam menurut tugas. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru. setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. atau keduanya. misalnya. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Metode Inquiry Metode ini menekankan pada penemuan dan pemecahan masalah secara berkelanjutan. menumbuhkan sikap objektif. pengatur materi (material manager). Di dalam kelompoknya. Evaluasi Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. memerlukan perencanaan yang teratur dan matang. Kelemahannya memerlukan waktu yang cukup lama. intuitif dan bekerja atas dasar inisiatif sendiri. pembuat kesimpulan (summarizer). 29. atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif. Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat. f.

melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status. Kelemahan metode problem solving sebagai berikut: a. c. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh. 33. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. khususnya dunia kerja. 2. 32.31. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut: a. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak. b. Kelebihan metode Role Playing: 1. melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran . Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. g. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan. 5. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis d. Metode Role Playing Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan. f. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan. b. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang. 3. Metode Team Games Tournament (TGT) Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat. e. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan. Berpikir dan bertindak kreatif. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda. 4.

tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya. masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Game Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Turnamen Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Model Kooperatif Keterangan : 1. persaingan sehat dan keterlibatan belajar. Penyajian kelas Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas. Model Pembelajaran Klasikal 2. 1. Model Pembelajaran Klasikal Urutan Kegiatan Pembelajaran♣ Guru menjelaskan definisi♣ Membuktikan rumus♣ Memberi contoh♣ . 5. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru. karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab. Ada 5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu: 1. diskusi yang dipimpin guru. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan. “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40. 3. jenis kelamin dan ras atau etnik. Team recognize (penghargaan kelompok) Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I. 2. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. kerjasama. biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Kelompok (team) Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih. Model Pembelajaran Individual 3. 4.

Melaksanakan kegiatan pembelajaran. membagi siswa dalam kelompok berdasarkan skor awal.ν Menentukan skor peningkatan. Kegiatan pembelajaran disesuaikan dengan model kooperatif yang digunakan. atau mengerjakan sesuatu untuk tujuan bersama Kegiatan Pembelajaran ν Kegiatan pra pembelajaran meliputi menyiapkan materi. Adapun pembelajaran individual mempunyai beberapa ciri: Siswa belajar secara tuntas. Model Pembelajaran Kooperatif ν Pembelajaran Kooperatif adalah pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk bekerja dalam suatu tim untuk menyelesaikan masalah.ν Setiap unit yang dipelajari memuat tujuan pembelajaran khusus yang jelas. menentukan skor awal.ν Diskusi grup ahli: Siswa dengan topik ahli yang sama bertemu untuk mendiskusikannya dalam kelompok ahli.ν ν Laporan kelompok: Siswa ahli kembali ke kelompoknya masing-masing untuk menjelaskan topik yang didiskusikannya kepada anggota kelompoknya Tes:Siswa mengerjakan kuis individual yang mencakup semua topik. Skor peningkatan dapat digunakan untuk memberikan penghargaan kelompokν Beberapa Model Pembelajaran : STAD (Student Achievement Division)ν JIGSAWν TGT (Teams-Game-Tournaments)þν Keterangan : STAD Langkah-langkah Pembelajaran Guru menyampaikan materiν Siswa membetuk kelompok untuk menyelesakan masalahν Menyerahkan/mempresentasikan hasil kerja kelompokν Memberi tes/kuisν Memberikan penghargaan kelompokν JIGSAW Langkah-langkah Pembelajaran Siswa membaca topik ahli dan menetapkan anggota ahli untuk topik tertentu.ν Salah satu model pembelajaran individual yang sangat populer adalah modul. menyelesaikan tugas.ν Penghargaan kelompokν TEAM GAME TOURNAMENT . Model Pembelajaran Individual Model pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual.Memberi soal latihan♣ 2. Modul adalah suatu paket pembelajaran yang memuat suatu unit konsep pembelajaran yang dapat dipelajari oleh siswa sendiri.ν Keberhasilan siswa diukur berdasarkan pada sistem yang mutlak.ν Siswa belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing. 3.

ν Guru seharusnya mengetahui pengetahuan awal yang ada pada siswa dan memanfaatkannya untuk menyampaikan materi berikutnya. dan lain-lain dapat dikembangkan secara lebih baik. dan kelompok baru diakui bila dapat melampaui kriteria minimal. Belajar menurut pandangan konstruktivis tidak menekankan untuk memperoleh pengetahuan yang banyak tanpa pemahaman.ν ν Tujuan membangun pemahaman. Mereka berbagi strategi penyelesaian. ν Penghargaan kelompok: skor kelompok dihitung berdasarkan skor anggota kelompok turnamen.ν . Empat Fase Penyelesaian Masalah Menurut Polya memahami masalahν merencanakan penyelesaianν menyelesaikan masalah sesuai rencanaν melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah telah dikerjakanν Ada 3 hal yang perlu dipikirkan yang berkaitan dengan pemecahan masalah Pembelajaran melalui pemecahan masalahν Pembelajaran tentang pemecahan masalahν Pembelajaran untuk pemecahan masalah. komunikasi matematika. Pendekatan Pemecahan Masalah ν Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting dalam proses pembelajaran maupun penyelesaiannya.Langkah-langkah Pembelajaran Mengajar: Guru menyampaikan materiν Belajar kelompok: siswa belajar dengan menggunakan lembar kerja dalam kelompok untuk menguasai materi. Di dalam kelas konstruktifis para siswa diberdayakan oleh pengetahuannya sendiri. masing-masing meja turnamen berisi 3 anggota. pengeneralisasian. berdiskusi.ν ν Turnamen: siswa memainkan pertandingan akademik dalam regu yang berkemampuan homogen. Melalui kegiatan ini aspek-aspekν kemampuan matematika menjadi penting seperti penerapan aturan pada masalah yang tidak rutin. PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA Pendekatan Konstruktivisν Pendekatan Pemecahan Masalah Matematikaν Pendekatan Open-Endedν Pendekatan Realistikν Pendekatan Konstruktivis Prinsip Utama: Pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa. ν Siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. melakukan penyelidikan untuk menyelesaikan setiap masalah. Guru bukan seseorang yang harus selalu diikutiν jawabannya. penemuan pola.

Membawa siswa dari tingkat informal ke tingkat formal.ν Strategi unuk memecahkan msalah Strategi Act It Outν Membuat Gambar atau Diagramν Menemukan Polaν Membuat Tabelν Memperhatikan Semua Kemungkinan Secara Sistematikν Tebak dan Periksaν Strategi Kerja Mundurν Membuat Modelν Menyelesaikan Masalah yang Mirip atau Masalah yang lebih Mudah.ν Sedangkan dalam masalah tidak rutin. Pendidikan Realistik Matematika (RME) Menurut Streefland (1991) terdapat lima prinsip utama dalam belajar mengajar yang berdasar pada pengajaran realistik adalah: Menggunakan masalah-masalah kontektual. untuk sampai pada prosedur yang benar diperlukan pemikiran yang lebih mendalam.ν Menggunakan model-modelν .ν Intertwinning(membuat jalinan) antar topik atau antar pokok bahasan.ν Pendekatan Open-Ended Pembelajaran dengan Open Ended biasanya dimulai dengan memberikan problem terbuka kepada siswa. situasi. dan simbol-simbol.ν Adanya kegiatan interaktif sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika.ν ν Kegiatan pembelajaran harus membawa siswa dalam menjawab permasalahan dengan banyak cara dan mungkin juga banyak jawaban yang benar.Soal yang merupakan “masalah” Soal rutin biasanya mencakup aplikasi suatu prosedur matematika yang sama atau mirip dengan hal yang baru dipelajari. skema.ν Beberapa alat peraga matematika Alat untuk kekekalan Luasν Alat untuk kekekalan panjangν Alat kekekalan volumeν Alat untuk teori kemungkinanν A lat untuk pengukuranν Macam-macam bangun geometriν Alat peraga untuk permainanν Model Pembelajaran Kooperatif PEMBELAJARAN KOOPERATIF YANG BERKESAN Apa dia pembelajaran kooperatif ? .

ciri-ciri umumnya ialah: Ciri. 1991). Dalam kumpulan ini setiap ahli kumpulan mempunyai peranan tertentu dan jelas dalam usaha kumpulan mencapai matlamat yang ditetapkan. Kajian menunjukkan pembelajaran kooperatif boleh meningkatkan pencapaian dan kemahiran kognitif pelajar.Pembelajaran kooperatif telah menjadi salah satu pembaharuan dalam pergerakan refomasi pendidikan. tetapi mengikut Slavin ( 1991) ia akan memberi faedah kepada golongan yang berbeza kebolehan yang belajar dalam satu kumpulan. Apakah kelebihan pembelajaran kooperatif ? Walaupun pembelajaran kooperatif menimbulkan keresahan kepada ibubapa yang khuatirkan kecairan pembelajaran apabila pelajar yang cerdas berada di dalam kumpulan yang kurang cerdas. Secara dasarnya.Pembelajaran koopeatif dilaksanakan secara kumpulan kecil supaya pelajar-pelajar dapat berkerjasama dalam kumpulan untuk mempelajari isi kandungan pelajaran dengan pelbagai kemahiran sosial. Matlamat kumpulan Matlamat kumpulan ialah kejayaan kumpulan dalam mencapai kecemerlangan dalam menguasai sesuatu konsep yang di ajar. Jika dijalankan dengan . tugas perlu diagihkan kepada semua ahli kumpulan untuk menyumbang jawapan atau hasil dapatan. saling memenuhi dan bantu-menbantu. Matlamat ini dicapai melalui usaha bersama semua bersama ahli di dalam kumpulan. Setiap ahli kumpulan akan berinteraksi secara bersemuka dalam kumpulan. Untuk mencapai kejayaan dalam prinsip ini. Interaksi yang serentak berlangsung pada masa yang sama untuk setiap kumpulan melalui perbincangan yang akan menyebabkan lebih ramai individu yang turut serta mengambil bahagian. 3. Selain dari itu. diantaranya ialah : 1. Penyertaan pula bermaksud semua pelajar mempunyai peluang yang sama untuk mengambil bahagian dan menyumbang secara bersama. Prinsip ini dikenali sebagai saling bergantungan secara positif. Kejayaan kumpulan bergantung kepada pembelajaran individu yang ahli sesuatu kumpulan. Setiap ahli mempunyai tanggungjawab ke atas keberkesanan pembelajaran kumpulan.ciri pembelajaran kooperatif Pendekatan Pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa ciri tertentu. Asasya ia menggalakkan pelajar belajar bersama-sama dengan berkesan melalui pembentukan kumpulan yang homogen seperti dalam pendidikan inklutif. Pelajar perlu saling bergantungan positif untuk mencapai objektif gerak kerja. Interaksi sosial ditekankan. Ianya boleh digunakan oleh pelbagai kumpulan umur dan dalam pelbagai mata pelajaran. Setiap ahli kumpulan perlu berhubung rapat. 2. pembelajaran kooperatif melibatkan pelajar bekerjasama dalam mencapai satusatu objektif pembelajaran (Johnson & Johnson. Pembelajaran kooperatif sebenarnya merangkumi banyak jenis bentuk pengajaran dan pembelajaran. Tanggungjawab individu bermakna setiap pelajar mesti melaksanakan tugas masing-masing yang diberikan untuk menyumbang kepada sesuatu projek.

Teguran sesama ahli perlu dilakukan dengan sewajarnya agar dinamik kumpulan tidak hancur dan gerak kerja berjalan lancar. 2. bukan sekadar menghafal sesuatu topik. pelajar perlu betul-betul memahami subtopik itu. Untuk tujuan ini . setiap ahli kumpulan menjadi 'juru' dalam sub-unit sesuatu topik. setiap 'juru' mengajarnya pula kepada ahli kumpulan yang lain.sempurna. Pembelajaran dalam kumpulan kecil dilakukan bagi sesuatu topik.Kaedah Jigsaw II Dalam kaedah ini. Ahli-ahli dalam kumpulan perlu bekerjasama untuk mencapai objektif pembelajaran. . Soal-jawab atau perbincangan yang berlaku semasa proses ini membolehkan 'juru' dan ahli sama-sama memikirkan pembentangan yang diberi. kaedah ini juga memberi peluang kepada pelajar yang kurang cemerlang dan mengajar mereka untukmenjadi 'juru' dan mengajar mereka yang mempunyai prestasi akademik lebih baik daripadanya. Secara tidak langsung. Mengikut Kagan (1994) . Pelajar yang bersuara perlahan perlu meninggikan suara supaya didengari dan difahami oleh ahli kumpulan lain. Kajian juga menunjukkan pembelajaran kognitif boleh memberbaiki kemahiran sosial pelajar. Kaedah perbincangan ini boleh menggunakan kaedah Jigsaw II atau pendekatan lain. Setelah masing-masing memahami bahagian masing-masing.yang meningkatkan daya ingatan dan seterusnya membolehkan mereka menunjukkan pencapaian yang lebih baik. Beberapa bentuk pembelajaran kooperatif 1. setiap pelajar mempunyai tanggungjawab untuk memahiri sesuatu subtopik serta berpeluang berkongsi pengetahuannya dengan ahli kumpulan yang lain. ini meningkatkan pemahaman dan ingatan. mereka perlu mempelajari atau memperbaiki kemahiran sosial mereka.Kaedah STAD STAD merupakan akronim bagi Student Teams Achievement Divisions. pembelajaran kooperatif bagi golongan berbakat telah membawa banyak keberkesanan atau faedah seperti berikut : Membaiki hubungan sosial Meningkatkan pencapaian Meningkatkan kemahiran kepimpinan Meningkatkan kemahiran sosial Meningkatkan tahap kemahiran aras tinggi Meningkatkan kemahiran teknologi Meningkatkan keyakinan diri. Selain dari itu. Ini mengakibatkan pemprosesan pada aras yang lebih tinggi. secara tidak langsung meningkatkan keyakinan diri mereka.

dan bagi pelajar ini. Beberapa strategi meningkatkan keberkesanan pembelajaran kooperatif Pembahagian kumpulan yang membolehkan ahli-ahli dalam kumpulan bekerja dengan berkesan bersama-sama.Faktor yang paling utama di sini ialah bilangan ahli dalam kumpulan. Program yang diberikan mestilah bersesuaian dengan kemahiran yang dipunyai oleh setiap pelajar. Guru perlu menjelaskan kepada pelajar apakah tingkahlaku yang wajar dan tidak wajar semasa pembelajaran kooperatif berlaku. kumpulan yang melebihi skor yang ditetapkan akan diberikan sijil. Ahli kumpulan yang bekerja secara berpasangan akan bertukartukar helaian jawapan kerja yang telah dibuat. Setiap pelajar akan mendapat markah individu. Kumpulan kecil mengandungi tiga atau empat ahli didapati paling efektif. Setiap pelajar mendapat markah individu dan markah kumpulan bergantung kepada markah individu. ahli kumpulan akan saling bekerjasama supaya mendapat markah yang maksimum. Guru juga perlu meberikan asas kemahiran komunikasi misalnya bagaimana menyuarakan pendapat dan bagaimana menghadapi percanggahan pendapat. Ini boleh menyebabkanada ahli kumpulan yang 'lepas tangan' ataupun dipinggirkan oleh orang lain. peningkatan kemajuan yang ditunjukkan oleh setiap pelajar akan dikira dengan mengambil markah terbaru dan ditolak dengan purata markah pelajar itu sendiri. pembentukan kumpulan sebaiknya dilakukan oleh guru bagi mengelakkan pelajar berkumpul sesama 'klik' mereka sahaja. TAI TAI( Team Assisted Individualization) dibentuk menggabungkan antara motivasi dan insentif kepada kumpulan. 3. Ahli kumpulan bertanggungjawab memastikan rakan-rakan dalam kumpulan bersedia untuk menduduki ujian akhir setiap unit. Satu cara ialah melalui pemberian markah. Kumpulan yang terlalu besar kurang efektif kerana pembabitan ahli kumpulan cenderung menjadi tidak sama rata. Di sebabkan markah kumpulan diperolehi berdasarkan peningkatan ahli kumpulan.Selepas itu kuiz bertulis secara individu akan diberikan untuk menguji pemahaman pelajar. Jadikan tanggungjawab pencapaian terletak di kedua-dua tahap individu dan kumpulan. Tugasan perlu distruktur sebegitu rupa supaya ahli kumpulan saling bergantung untuk mencapai objektif yang ditentukan. . Perbezaan markah individu akan dikumpulkan untuk menjadi markah kumpulan. Skor mingguan yang diperolehi oleh kumpulan akan dijumlahkan . Dengan cara itu setiap pelajar mempunyai motivasi untuk melakukan yang terbaik untuk diri sendiri dan juga kumpulan. Berikan garispanduan tingkahlaku dan kemahiran berkomunikasi kepada pelajar. Disamping itu. Pelajar dalam setiap kumpulan mestilah terdiri daripada pelajar yang mempunyai keupayaan yang berbeza-beza. Elakkan memberi tugasan yang boleh diselesaikan tanpa perlu pembabitan setiap ahli kumpulan. pengalaman pembelajaran sepenuhnya tidak dapat dicapai.

Dengan konsep itu. Slavin. Guru perlu mengawasi interaksi yang berlaku semasa pelajar menjalankan aktiviti kumpulan di dalam kelas. ed ). bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. C.Stevann(1991) Cooperative Learing Where Heart Meets Mind.T (1991).. Learrning together and alone : Cooperative. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya. 2008 kurikulum & pembelajaran Tags: CTL. Johnson. BIBLIOGRAFI B.com/gardner02_8/ilmiah1. Research ang Practice. hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. d. R.htm Diposkan oleh Padiya di 21:13 0 komentar Model Pembelajaran Kontekstual PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL Diterbitkan Januari 29. bukan memgetahuinya. Sumber : http://www. Krongthong Khairiree.& Johnson. (1986) Using Student Team Learning ( 3 rd. NJ: Prentice-Hall. R.geocities. R. pembelajaran. Baltimore.Pastikan jenis dan amaun interaksi antara pelajar berpatutan. pembelajaran kontekstual Pengembangan Pembelajaran Kontekstual Oleh : Depdiknas A. Centre For Research On Elementary And Middle Schools. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang Pendekatan kontektual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Rolheiser-Bennett. Latar belakang Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil . Competitive. Englewood Cliff. Perbincangan yang berlaku seharusnya yang berkaitan dengan tugasan . and individualistic learning ( 3rd Ed. (1990) Cooperative Learning : Theory. Perbincangan dan keputusan juga tidak dimonopoli oleh ahli kumpulan tertentu sahaja. Upper Saddle river. Johns Hopkins University. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami.Bennett.). Interaksi juga harus berlaku di antara setiap ahli kumpulan dan tidak meminggirkan mana-mana ahli kumpulan. NJ: Prentice Hall. kurukulum. L. Slavin. Nota Edaran Kursus SMWB-10 (10 Jun-27 Julai 2002.W.

dan bergelut dengan ide-ide.Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah. .Proses belajar dapat mengubah struktur otak. . .Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu 3.Siswa belajar dari mengalami sendiri. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut. menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya.Dalam kelas kontektual. tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang .Strategi belajar itu penting. . tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. bukan dari pemberian orang lain.Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah. 1.Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan. Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Proses belajar .Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit) . Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang. . Pemikiran tentang belajar. Transfer Belajar . dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru. Maksudnya. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru.Anak belajar dari mengalami.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual B. guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Siswa sebagai Pembelajar . . 2. . dan bukan diberi begitu saja oleh guru.

. . memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri. Dari guru akting di depan kelas. . Pentingnya Lingkungan Belajar . dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif. untuk hal-hal yang sulit. 2. strategi belajar amat penting. 4. bertanya (Questioning). Pengertian Pembelajaran Kontekstual 1. C. sosial.Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna. yakni: konstruktivisme (Constructivism). Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya.Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya . .Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.baru.Umpan balik amat penting bagi siswa. yang berasal dari proses penilaian yang benar.Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Akan tetapi. guru mengarahkan. . dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) D. pemodelan (Modeling). siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya. Hakekat Pembelajaran Kontekstual Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. menemukan ( Inquiri). masyarakat belajar (Learning Community).Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui.

berpikir kritis. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis. bidang . Perilaku dibangun atas kesadaran diri. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat. 8. 3. khususnya dari guru. 10. Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri. tidak bersandar pada realitas kehidupan. Perilaku baik berdasarkan motivasi entrinsik. Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa. 3. 5. Siswa secara pasif menerima informasi. Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman. 4. atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok). menggali. 13. 9. Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu. 6. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional Kontekstual 1. 13. 8. Penerapan Pendekatan Kontekstual Di Kelas Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja. Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa.dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat E. F. 12. Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan. 11. Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan. Menyandarkan pada pemahaman makna. 14. 7. Pembelajaran terjadi hanya terjadi di dalam ruangan kelas. 6. 11. dan mengisi latihan (kerja individual). yang bersifat subyektif. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang. Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai rapor. Pemilihan informasi lebih banyak ditentukan oleh guru. Perilaku dibangun atas kebiasaan. konteks dan setting. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan. 4. Tradisional 1. 9. 2. 7. Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut merugikan. Menyandarkan pada hapalan 2. 10. Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan. berdiskusi. 5. 12. mendengar ceramah.

Mencatat apa yang telah dipelajari. karya seni. dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa.Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal.Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan 2.Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry 4. Modeling (Pemodelan) . bekerja dan belajar. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik 2. dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya 1.Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari. 3. Konstruktivisme .Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir. . 4. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran 5. Inquiry . Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara G. . .Kegiatan guru untuk mendorong.Membuat jurnal. Reflection ( Refleksi) . Ciptakan masyarakat belajar. Tujuh Komponen Pembelajaran Kontekstual 1. . Lakukan refleksi di akhir pertemuan 6. . . Secara garis besar.Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar. . diskusi kelompok .Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri.studi apa saja.Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis 3. Questioning (Bertanya) .Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya 6. Learning Community (Masyarakat Belajar) . Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah.Tukar pengalaman.Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. . langkahnya sebagai berikut ini. .Berbagi ide 5.

laporan hasil pratikum. sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Sekali lagi. gambar. Belajar dengan bergairah 5.Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual H. Saling menunjang 3. program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru. yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional). Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar. Kerjasama 2. Siswa kritis guru kreatif 10. program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. artikel.7. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya. Atas dasar itu. Menyusun Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual. Pembelajaran terintegrasi 6. . 2. karangan siswa dan lain-lain I. materi pembelajaran. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual 1. media untuk mencapai tujuan tersebut. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa. humor dan lain-lain 11. . Menyenangkan. yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya.Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa. Siswa aktif 8. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya. saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut. Menggunakan berbagai sumber 7. 1. dan authentic assessmennya. tidak membosankan 4. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa. Kompetensi dasar.Penilaian produk (kinerja). . Sharing dengan teman 9. yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Dalam konteks itu. langkah-langkah pembelajaran. peta-peta. Authentic Assessment (Penilaian Yang Sebenarnya) .

yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran. Metode pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) terkesan sangat kaku. Mangkoesapoetra. yaitu kognitif. Judul: MODEL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO: SEBUAH TINJAUAN KRITISBahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum. dan tindakan. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa 5. Untuk menghadapi kritik masyarakat tersebut di atas. dan psikomotorik siswa. kurang fleksibel. agar dapat diinternalisasikan pada diri siswa serta mengimplementasikan hakekat pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari-belum memenuhi harapan seperti yang diinginkan. Guru PKn mengajar lebih banyak mengejar target yang berorientasi pada nilai ujian akhir. suatu model pembelajaran yang efektif dan efisien sebagai alternatif. Dasar Pemikiran Model Pembelajaran Portofolio dalam PKn Menurut ERIC Digest (2000). Sumber : http://akhmadsudrajat. aktivitas guru lebih dominan daripada siswa.wordpress. sikap. M. yaitu model pembelajaran berbasis portofolio (porfolio based learning).3. dan guru cenderung lebih dominan one way method. Nyatakan authentic assessmentnya. kurang demokratis.Nama & E-mail (Penulis): arief mangkoesapoetra Saya Guru di SMAN 21 BANDUN G Topik: Model Pembelajaran Tanggal: 25 Agustus 2004 I. di samping masih menggunakan model konvensional yang monoton. sehingga mata pelajaran PKn tidak dianggap sebagai mata pelajaran pembinaan warga negara yang menekankan pada kesadaran akan hak dan kewajiban tetapi lebih cenderung menjadi mata pelajaran yang jenuh dan membosankan. yang memenuhi muatan tatanan nilai.com/2008/01/29/pembelajarankontekstual/ Diposkan oleh Padiya di 20:53 0 komentar Model Pembelajaran Portofolio MODEL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO:SEBUAH TINJAUAN KRITIS Oleh :Drs. akibatnya guru seringkali mengabaikan proses pembinaan tatanan nilai.Pd. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu 4. Hal ini berkaitan dengan kritik masyarakat terhadap materi pelajaran PKn yang tidak bermuatan nilai-nilai praktis tetapi hanya bersifat politis atau alat indoktrinasi untuk kepentingan kekuasaan pemerintah. afektif. Latar Belakang Masalah Masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) ialah penggunaan metode atau model pembelajaran dalam menyampaikan materi pelajaran secara tepat. aktif dan kreatif. "Portfolios . yang diharapkan mampu melibatkan siswa dalam keseluruhan proses pembelajaran dan dapat melibatkan seluruh aspek. berpendapat. serta secara fisik dan mental melibatkan semua pihak dalam pembelajaran sehingga siswa memiliki suatu kebebasan berpikir. Arief A. II.

yaitu Relating (belajar dalam kehidupan nyata). sikap. lingkungan budaya. mengaitkan isi pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.. Portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa sebagai hasil belajarnya. dari satu konteks ke konteks lain. Applying (belajar dengan menyajikan pengetahuan untuk kegunaannya). Cooperating (belajar dalam konteks interaksi kelompok). Model CTL disebut juga REACT. juga dapat mengembangkan pemahaman nilai-nilai kemampuan berpartisipasi secara efektif. e. Portofolio. selain sangat bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kemampuan dan pemahaman siswa serta memberikan gambaran mengenai sikap dan minat siswa terhadap pelajaran yang diberikan. juga untuk membina suatu tatanan nilai terutama nilai kepemimpinan pada diri siswa. Kedua model di atas. Experiencing (belajar dalam konteks eksplorasi. 1994 : 20). bangsa. agar siswa dapat mempertanggungjawabkanb ucapan.. selain diupayakan dapat membangkitkan minat belajar siswa secara aktif. art students assamble a portfolio for an art class. lawan dari textbook centered. memiliki tingkat kompetensi dan komitmen sebagai pelaksana yang bermoral. serta diiringi suatu sikap tanggung jawab. penemuan dan penciptaan).". yang mendasari kegiatan serta proses pembelajaran PKn mengacu pada pendekatan sistem : (1) CTL. Melalui model pembelajaran portofolio. Model ini mendorong partisipasi aktif siswa dalam kehidupan politik.are used in various professions together typical. dengan mencoba mengembangkan kompetensi lingkungan yang merupakan kemampuan siswa untuk mempengaruhi lingkungan. serta dapat mengembangkan dan membekali siswa bagaimana belajar ber-PKn-dengan pengetahuan dan keterampilan intelektual yang memadai serta pengalaman praktis agar memiliki kompetensi dan efektifitas dalam berpartisipasi. dan yang akan datang. belajar tidak hanya menggunakan ruang kelas. c. bangsa dan negara. dan politik. sekarang. masyarakat. f. kemudian pada masyarakat. (1) CTL. dan Transfering (belajar dengan menggunakan penerapan dalam konteks baru/konteks lain) (2) 'Model Kegiatan Sosial dan PKn' Model yang dipelopori oleh Fred Newman ini mencoba mengajarkan pada siswa bagaimana mempengaruhi kebijakan umum. ekonomi. d. dan g.. sosial. civic life. dan memberikan dampak pada keputusan-keputusan kebijakan. ekonomi dan sosial dalam masyarakat. yaitu masa yang lalu. membekali siswa dengan pengetahuan yang fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan ke permasalahan lain. dan negara. juga dapat menunjukkan pencapaian atau peningkatan yang diperoleh siswa dari proses pembelajaran (Stiggins. perbuatan pada dirinya sendiri. bisa dilakukan di dalam kehidupan keluarga. 'Contextual Teaching Learning' CTL adalah suatu bentuk pembelajaran yang memiliki karakteristik berikut : a. b. Adapun alasan penggunaan model pembelajaran portofolio. kreatif. keadaan yang mempengaruhi langsung kehidupan siswa dan pembelajarannya. Implementasi model . yang menjadi dasar acuan pendekatan sistem pada model pembelajaran portofolio membina siswa dalam rangka pemerolehan kompetensi lingkungan dan membekali siswa dengan life skill : civic skill. dengan menggunakan waktu/kekinian. pribadi. dan (2) 'Model Kegiatan Sosial dan PKn'. dengan demikian pendekatan tersebut mencoba memperbaiki kehidupan siswa dalam masyarakat atau negara. 'Contextual Teaching Learning'.

sehinga guru masih terikat pada keharusan sebagai pelaksanan kurikulum. Belum diberikannya hak otonomi mengajar. Peluang Model Pembelajaran Portofolio : 1. 2. bila pembelajaran tersebut beserta komponennya memiliki kegunamanfaatan bagi siswa dan kehidupannya. namun dimuat satu sampai 2 topik atau materi pelajaran per semester. a. 5.. Diperlukan tenaga dan biaya yang cukup besar. informasi. dengan kesadaran. III. daya nalar. Belum diberikannya hak otonomi mengajar sebagai pengembang kurikulum praktis di kelas. Peluang. pengetahuan untuk meningkatkan daya nalar dan pengetahuan dengan rekan guru pada MGMP PKn setempat. Belum terbiasanya pembiasaan jalinan kerjasama kelompok tim para siswa. Kelemahan Model Pembelajaran Portofolio : 1. Ancaman Model Pembelajaran Portofolio : 1. serta fungsi perannya sebagai fasilitator. Dan rekonstruktor pembelajaran di dalam kelas. Siswa dapat mengunjungi instansi/lembaga pemerintah yang terkait untuk mencari atau memperoleh informasi yang dibutuhkan. dan ancaman yang terdapat di dalam proses pembelajaran PKn in action. 3. kita pun harus mencermati beberapa kelemahan. keluarga.. bahkan diperlukan waktu di luar jam pembelajaran di sekolah. keunggulan. Kerjasama/kolaborasi antara pihak sekolah dengan pemerintah setempat. dan masyarakat khususnya para birokrat/instansi yang dikunjungi oleh para siswa untuk dimintai keterangannya. b. Kelemahan. Kerjasama/kolaborasi antara Kepala Sekolah dan pihak Dewan Sekolah/Komite Sekolah untuk menangani masalah pendanaan. Kurangnya pengetahuan/daya nalar guru yang bersangkutan. motivator. 6. diharapkan topik materi pembelajaran tidak terlalu banyak. dan kelebihan model portofolio di atas. karena jika ide atau gagasan terlalu banyak dan tidak dapat dipertemukan. Hak otonomi mengajar pada guru dalam mengembangkan kemampuan. sehingga model pembelajaran portofolio dapat dilaksanakan tanpa kekurangan waktu atau menyalahi apa yang telah digariskan dalam kurikulum. dan Ancaman Selain hal-hal positif. dan 6. 2.pembelajaran portofolio akan menjadikan PBM PKn yang sangat menyenangkan bagi siswa. 3. Kurang kesadaran guru dalam mengembangkan kemampuan dan kemauan dalam melaksanakan fungsi perannya. Dalam kurikulum baru. kemauan. Model ini dapat dilakukan satu tahun satu kali. 4. 2. 4. sehingga untuk menuntaskan satu studi kasus atau suatu kebijakan publik diperlukan lebih dari 20 jam pelajaran seperti yang telah ditentukan dalam jadwal. masalah akan sulit dipecahkan. Tukar pendapat. Kurangnya jalinan komunikasi antara pihak sekolah. seperti dipaparkan di bawah ini. Diperlukan waktu yang cukup banyak. mediator. . peluang. 5. sedangkan guru harus dapat menjadi pengembang kurikulum praktis di dalam kelas. c.

Bandung : Proyek Kewarganegaraan. yaitu membelajarkan siswa dapat belajar ber-PKn dalam laboratorium demokrasi. rekonstruktor pembelajaran bagi siswa. guru PKn dapat menggunakan pembelajaran portofolio sebagai salah satu alternatif pemecahan pembelajaran yang inovatif. baik berkenaan dengan aspek kognitif. New York : MacMillan Cottage. Model ini sangat potensial dalam meningkatkan motivasi atau semangat belajar siswa. maupun psikomotorik siswa. civic participation. afektif. meraih gelar Magister Pendidikan program studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dari Program Pascasarjana UPI Bandung dengan judicium "cum laude" (25 Pebruari 2004). prospektif. Classroom Assessment : What Teachers Need to Know. USA : Allyn & Bacon .S. directormotivator. yang wajib dimiliki oleh setiap insan. kreatif. . mediator. (2000). yang secara langsung menjadi wahana pembinaan nilai kepemimpinan pada diri siswa dan secara tidak langsung menjadi wahana implementasi pendidikan budi pekerti bagi siswa. Model Pembelajaran Portofolio Terpadu dan Utuh. dan bernegara sesuai dengan hak dan kewajibannya. "Portfolio Assessment". 4. Arts-ED 3334603.com PUSTAKA ACUAN Center for Indonesian Civic Education. A. Kepala Sekolah. (1999). dengan tujuan agar siswa menjadi A Good Young Citizenship yang berkualitas sebagai warga negara yang cerdas. E-mail : arief_mangkoesapoetra@yahoo. Penulis adalah Guru SMAN 21 Bandung. Stiggins. dalam upaya mengembangkan dan membekali sejumlah keterampilan dan wawasan life skill kewarganegaraan siswa. Penggunaan model pembelajaran portofolio dalam pembelajaran PKn berimplikasi luas terhadap khasanah piranti professional guru sebagai seorang fasilitator. Publishing Company.J. ERIC Digest (2000). Rancangan Perintisan Model Pembelajaran Portofolio di Delapan Propinsi.A Simon & Schuster Company.dapat digunakan untuk mengembangkan berbagai potensi kebermaknaan siswa. Model Pembelajaran Generatif MODEL PEMBELAJARAN GENERATIF (MPG) . SLTP. Kami Bangsa Indonesia. Saya arief mangkoesapoetra setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). Bandung : UT dan CICED. Tidak ada dukungan moril serta bantuan dana dari pihak sekolah. agar siswa dapat hidup bermasyarakat. partisipatif. Winataputra. terutama pembinaan tatanan nilai.3. R. Dewan Sekolah. Orang Tua Siswa. Model pembelajaran portofolio-metode pemecahan masalah. Student-Centered Classroom Assessment. (1995). Popham.J. yaitu : civic life. berbangsa. Djahiri. (1998). Dalam upaya meningkatkan kinerja profesional guru. dan bertanggung jawab. Penutup Pembelajaran PKn merupakan pendidikan nilai di tingkat persekolahan (SD. dan instansi/lembaga pemerintah serta masyarakat setempat IV. W. Bandung : PPKnH UPI dan CICED. yaitu kepemimpinan diri pada siswa. Kurangnya kerjasama antara para guru. U.K. (1991). civic skill. dan SLTA).

serta tekun menerapkan strategi itu sampai suatu tugas terselesaikan demi kepuasan mereka sendiri. dan kemudian secara bertahap mengalihkan tanggung jawab belajar tersebut kepada mahasiswa untuk bekerja atas arahan dari mereka sendiri. 1992). Pengetahuan baru itu akan diuji dengan cara menggunakannya dalam menjawab persoalan atau gejala yang terkait.b. tetapi dapat menyelesaikannya jika dibantu sedikit dari teman sebaya atau orang dewasa. Menganut visi mahasiswa ideal. Dukungan itu sifatnya lebih terstruktur pada tahap awal. Pengertian Pembelajaran GeneratifPembelajaran Generatif (PG) merupakan terjemahan dari Generative Learning (GL). Seseorang bekerja pada zona perkembangan terdekatnya jika mereka terlibat dalam tugas yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. 1997: ) yang menunjukkan pengaruh positif pendekatan-pendekatan konstruktivis yang melandasi pembelajaran generatif terhadap variabel-variabel hasil belajar tradisional. sulit. Seseorang belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam zona tersebut. mahasiswa sebaiknya lansung saja diberikan tugas kompleks. bidang sains (Neale. yaitu daerah perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangannya saat ini. Menekankan bahwa perubahan kognitif hanya bisa terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami inforamasi-informasi baru. maka pengetahuan baru itu akan disimpan dalam memori jangka panjang. yaitu pemberian dukungan tahap demi tahap untuk belajar dan pemecahan masalah.h. Butir-butir penting dari pandangan belajar menurut teori konstruktivis ini menurut Nur (2000:2-15) dan Katu (1995. Top-down berarti mahasiswa langsung mulai dari masalah-masalah kompleks.1. utuh. Sejumlah penelitian (Slavin.c. dan autentik untuk dipecahkan. maka kemungkinan sekali mereka adalah pelajar yang efektif dan memiliki motivasi abadi dalam belajar. yaitu seorang mahasiswa yang dapat memiliki kemampuan pengaturan diri sendiri dalam belajar.e. Lebih menekankan pada pengajaran top-down daripada bottom-up. Seseorang belajar jika dia bekerja dalam zona perkembangan terdekat. Menurut Osborno dan Wittrock dalam Katu (1995. 1992). Menganggap bahwa jika seseorang memiliki strategi belajar yang efektif dan motivasi.2. Landasan Teoritik dan Empirik Pembelajaran GeneratifPembelajaran generatif memiliki landasan teoritik yang berakar pada teori-teori belajar konstruktivis mengenai belajar dan pembelajaran. Jadi. dan realistik kemudian dibantu menyelesaikan tugas kompleks tersebut dengan menerapkan scaffolding.d. Dalam proses pemecahan masalah tersebut. Jika pengetahuan baru itu berhasil menjawab permasalahan yang dihadapi.b:1). Penekanan pada prinsip Scaffolding.g.a: 1-2). Meskipun jika kita menyampaikan informasi kepada mahasiswa. tetapi mereka harus melakukan operasi mental atau kerja otak atas informasi tersebut untuk membuat informasi itu masuk ke dalam pemahaman mereka. diantaranya adalah : a. membaca .f. diantaranya adalah : dalam bidang matematika (Carpenter dan Fennema. dan Johnson. Smith. pembelajaran generatif merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada pengintegrasian secara aktif pengetahuan baru dengan menggunakan pengetahuan yang sudah dimiliki mahasiswa sebelumnya. mahasiswa mempelajari keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan untuk memecahkan masalah kompleks tadi dengan bantuan guru/dosen atau teman sebaya yang lebih mampu. Menganut asumsi sentral bahwa belajar itu ditemukan.

terdiri atas 5 tahap dengan penjelasan sebagai berikut :a. Tahap-1 : PengingatanPada tahap awal ini. Yang perlu dilakukan adalah membuat mereka berani mengemukakan pendapatnya tanpa takut disalahkan. Untuk membuat suasana menjadi kondusif. masuk akal. diharapkan mereka dapat menemukan jawaban atas gejala yang mereka amati. Setelah itu dosen melaksanakan demonstrasi dan meminta mahasiswa untuk mengamati dengan seksama gejala yang muncul. dosen menuliskan topik dan melibatkan mahasiswa dalam diskusi yang bertujuan untuk menggali pemahaman mereka tentang topik yang akan dibahas. Dengan menggunakan cara dialog yang timbal balik dan saling melengkapi. Tahap-3 : Reorganisasi Kerangka Kerja KonsepPada tahap ini dosen membantu mahasiswa dengan mengusulkan alternatif tafsiran menurut fisikawan dan menunjukkan bahwa pandangan yang dia usulkan dapat menjelaskan secara koheren gejala yang mereka amati. Tahap-2 : Tantangan dan KonfrontasiSetelah dosen mengetahui pandangan sebagian mahasiswanya. Dosen diharapkan untuk mencatat dan mengelompokkan dugaan dan penjelasan yang muncul di papan tulis. dan berhasil dalam menjawab berbagai persoalan. Mereka diminta mengemukakan alasan untuk mendukung dugaan mereka. b:5-6). tampilan gambar.d. Secara sadar dosen mempertentangkan pendapat-pendapat yang berbeda itu. dosen diharapkan tidak akan menilai mana pendapat yang “salah” dan mana yang “benar”. membuat pemahaman mereka menjadi eksplisit. Tujuan dari tahap pengingatan ini adalah untuk menarik perhatian mahasiswa terhadap pokok yang sedang dibahas. Sebaiknya pertanyaan yang diajukan dosen adalah pertanyaan terbuka. Tahapan Pembelajaran GeneratifLangkahlangkah atau tahapan pembelajaran generatif menurut Katu (1995. 1987). Proses reorganisasi ini tentu membutuhkan waktu. Dosen perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencerna apa yang mereka amati. Tahap-4 : Aplikasi KonsepPada tahap ini. Mereka juga diajak untuk menanggapi pendapat teman satu kelas mereka yang berbeda dari pendapat sendiri.b. Mereka diminta mengomentari pendapat teman sekelas dan membandingkannya dengan pendapat sendiri. atau grafik yang dapat membantu mahasiswa menemukan alternatif jawaban atas gejala yang diamati. Setelah itu barulah dosen menayakan apakah gejala yang mereka amati itu sesuai atau tidak dengan pikiran mereka. Dalam hal ini dosen menyiapkan perangkat demonstrasi.3. dosen mengajak mereka untuk mengemukakan fenomena atau gejala-gejala yang diperkirakan muncul dari suatu peristiwa yang akan didemonstrasikan kemudian. Diharapkan mereka akan merasakan bahwa pandangan baru dari dosen tersebut mudah dimengerti. dan sadar akan variasi pendapat di antara mereka sendiri.(Duffi dan Rochler. dosen memberikan berbagai persoalan . menulis (Bereiter dan Scardamalia. Mahasiswa diberikan beberapa persoalan sejenis dan menyarankan mereka menjawabnya dengan pandangan alternatif yang diusulkan dosen. akan merasa terganggu dan mengalami konflik kognitif dalam pikirannya. Mereka diajak untuk mengungkapkan pemahaman dan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan topik tersebut.c. Diharapkan mahasiswa mulai mereorganisasi kerangka berpikir mereka dengan melakukan perubahan struktur dan hubungan antar konsep-konsep. Penelitian Knapp (1995) menemukan suatu hubungan positif pendekatan-pendekatan konstruktivis dengan hasil belajar. 1986).

b.4. Maksudnya adalah memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan/keterampilan baru mereka pada situasi dan kondisi yang baru. diantaranya adalah sebagai berikut :a.menuru Sutrisno (1995:3). Sumber : http://anwarholil. Variasi kegiatan ini dapat membantu mahasiswa memperoleh penjelasan yang cukup memuaskan. Untuk lebih memperkuat pemahaman mereka maka dosen dapat memberikan soal-soal terbuka (open-ended questions). yang sekarang ini mulai diangkat sebab ditinjau secara umum pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari menyajikan kepada siswa situasi masalah yang otentik dan bermakna yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri।A. pelatihan menggunakan tampilan jamak (multiple representation) untuk mengaktifkan mahasiswa dalam proses belajar. dosen perlu memperhatikan beberapa hal.blogspot.com/2008/04/pembelajaran-generatifmpg.html Diposkan oleh Padiya di 19:06 0 komentar Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah MODEL PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH Pembelajaran berdasarkan masalah telah dikenal sejak zaman John Dewey. Pembelajaran ini cocok untuk mengembangkan . analogi. Tahap-5 : Menilai KembaliDalam suatu diskusi. Beberapa Petunjuk Pelaksanaan Pembelajaran GeneratifDalam melaksanakan pembeljaran generatif. Menyajikan demonstrasi untuk menantang intuisi mahasiswa. Pelatihan ini dimaksudkan juga untuk lebih menguatkan hubungan antar konsep di dalam kerangka berpikir yang baru mengalami reprganisasi. soal-soal kaya konteks (context-rich problems) dan pertanyaan terbalik (reverse questions) yang dapat dikerjakan secara kelompok. Dengan melihat peristiwa yang berbeda dari dugaan mereka maka di dalam pikiran mereka timbul perasaan kacau (dissonance) yang secara psikologis membangkitkan perasaan tidak tenteram sehingga dapat memotivasi mereka untuk mengurangi perasaan kacau itu dengan mencari alternatif penjelasan. dosen mempersiapkan demonstrasi yang menghasilkan peristiwa yang dapat berbeda dari intuisi mahasiswa.dengan konteks yang berbeda untuk diselesaikan oleh mahasiswa dengan kerangka konsep yang telah mengalami rekonstruksi. kegiatan kelompok menggunakan diagram. dosen mengajak mahasiswanya dalam menilai kembali kerangka kerja konsep yang telah mereka dapatkan. Keberhasilan mereka menerapkan pengetahuan dalam situasi baru akan membuat para mahasiswa makin yakin akan keunggulan kerangka kerja konseptual mereka yang sudah direorganisasi. Setelah dosen mengetahui intuisi yang dimiliki mahasiswa. Mengakomodasi keinginan mahasiswa dalam mencari alternatif penjelasan dengan menyajikan berbagai kemungkinan kegiatan mahasiswa antara lain berupa eksperimen/percobaan.c. Pengertian Pembelajaran Berdasarkan MasalahPembelajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berpikir tingkat tinggi। Pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya. atau simulasi.c.

Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas- .pengetahuan dasar maupun kompleks (Ratumanan. dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu. masalah yang akan diselidiki telah dipilih benarbenar nyata agar dalam pemecahannya. Bukannya mengorganisasikan di sekitar prisip-prinsip atau ketrampilan akademik tertentu. dan merumuskan kesimpulan. menghindari jawaban sederhana. masalah polusi yang dimunculkan dalam pelajaran di teluk Chesapeake mencakup berbagai subyek akademik dan terapan mata pelajaran seperti biologi. pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang dua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Pembelajaran berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya.4। Menghasilkan produk dan memamerkannya. mengumpul dan menganalisa informasi. melakukan eksperimen (jika diperlukan). pembelajaran berdasarkan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri. Karya nyata dan peragaan seperti yang akan dijelaskan kemudian. Mereka mengajukan situasi kehidupan nyata autentik. Krajcik.B. direncanakan oleh siswa untuk mendemonstrasikan kepada teman-temannya yang lain tentang apa yang mereka pelajari dan menyediakan suatu alternatif segar terhadap laporan tradisional atau makalah. & soloway.2। Berfokus pada keterkaitan antar disiplin. 2002 : 123).3। Penyelidikan autentik. 1990). seperti “pembelajaran berdarkan proyek (project-based instruction)”. 1992. dan membuat ramalan.1। Pengajuan pertanyaan atau masalah. & Wasik. Produk tersebut dapat berupa transkrip debat seperti pada pelajaran ”Roots and wings”. bergantung kepada masalah yang sedang dipelajari. Maden. ekonomi. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah. Dolan. Slavin. “belajar otentik (authentic learning)” dan ”pembelajaran bermakna (anchored instruction)”. membuat inferensi. video maupun program komputer. Ciri-ciri khusus Pembelajaran Berdasarkan MasalahMenurut Arends (2001 : 349) berbagai pengembang pengajaran berdasarkan masalah telah memberikan model pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut (Krajcik. Marx.pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. metode penyelidikan yang digunakan. siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran. Blumenfeld. mengembangkan kemandirian dan percaya diri। Model pembelajaran ini juga mengacu pada model pembelajaran yang lain. Produk itu dapat juga berupa laporan. 1994. Cognition & Technology Group at Vanderbilt. mengembangkan hipotesis. model fisik. ” pembelajaran berdasarkan pengalaman (experience-based instruction)”. Sebagai contoh. 1994.5। Kolaborasi. Sudah barang tentu. sosiologi. paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. ilmu-ilmu sosial). Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA. mengembangkan inkuiri dan ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi.Menurut Arends (1997). matematika. pariwisata. dan pemerintahan. 1999.

sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru dan pada bahan ajar.Menurut Sudjana manfaat khusus yang diperoleh dari metode Dewey adalah metode pemecahan masalah। Tugas guru adalah membantu para siswa merumuskan tugas-tugas. Tujuan utama sekolah adalah untuk meningkatkan kecerdasan praktis.(Sumber: Ibrahim. dan keterampilan intelektual. dan model serta membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya।Tahap-5Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. menunjukkan bahwa model pembelajaran terpadu adalah sejalan dengan beberapa aliran pendidikan modern yaitu termasuk dalam aliran pendidikan progresivisme. video.Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai. 2000 : 13. dan bukan menyajikan tugas-tugas pelajaran.sarkan masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemam -puan berpikir. untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahTahap-4Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.डी. serta untuk membuat anak lebih efektif dalam memecahkan berbagai problem yang disajikan dalam konteks pengalaman (experience) pada umumnya .C. dan menjadi pebelajar yang otonom dan mandiri (Ibrahim.Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan prosesproses yang mereka gunakan. (2) proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung. mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah. belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi. memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahanmasalah yang dipilih।Tahap-2Mengorganisasi siswa untuk belajarGuru membantu siswa untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut।Tahap-3Membimbing penye lidi kan individual maupun kelompok.Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan.tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan ketrampilan berfikir. tetapi dari masalah yang ada di sekitarnya. Aliran pendidikan progresivisme memandang pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak (child-centered). melaksanakan eksperimen. Langkah-langkah Pembelajaran Berdasarkan MasalahPengajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa।Sintaks Pembelajaran Berdasarkan MasalahTahap-1Orientasi siswa pada masalahGuru menjelaskan tujuan pembelajaran. MODEL-MODEL PEMBELAJARAN TERPADU Prabowo (2000:3) mengatakan bahwa pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu : (1) berpusat pada siswa (student centered). Objek pelajaran tidak dipelajari dari buku. 2000 : 7). pemecahan masalah. serta (3) pemisahan antar bidang studi tidak terlihat jelas. Dari beberapa ciri pembelajaran terpadu di atas. menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Manfaat Pembelajaran Berdasarkan MasalahPembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi sebanyakbanyaknya kepada siswa। Pembelajaran berda.

Untuk mencapai tujuan tersebut. Kurikulum pendidikan progresif adalah kurikulum yang mengakomodasi pengalaman-pengalaman (atau kegiatan) belajar yang diminati oleh setiap siswa (experience curriculum). mengkonseptualisasi. R (1991 : 61– 65) yaitu sebanyak sepuluh model pembelajaran terpadu.Tujuan pendidikan aliran progresivisme adalah melatih anak agar kelak dapat bekerja. karena model terhubung ini penekanannya terletak pada perlu adanya integrasi inter bidang studi itu sendiri. model jaring labalaba (webbed). dan10) the networked model ( Model Jaringan )Dari kesepuluh model pembelajaran terpadu di atas dipilih tiga model pembelajaran yang dipandang layak dan sesuai untuk dapat dikembangkan dan mudah dilaksanakan di pendidikan dasar (Prabowo. Selain itu. maka model pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah model terhubung (the connected model). Ketiga model pembelajaran terpadu yang dimaksud adalah model terhubung (connected). serta ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan semester berikutnya. tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya.(William F. (3) menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi siswa untuk mengkaji. model keterpaduan (integrated ). (2) siswa dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus. dan bekerja dengan otak dan hati. memperbaiki. Hal ini terkait dengan upaya menghindari terjadinya penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran.Beberapa kelebihan dari model terhubung (connected) adalah sebagai berikut : (1) dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah siswa memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu. mencintai kerja. bekerja secara sistematis. satu keterampilan dengan keterampilan lain.Adapun model-model pembelajaran terpadu sebagaimana yang dikemukakan oleh Fogarty. 1981). model terhubung ini juga mempunyai kekurangan sebagai berikut : (1) masih . Sedangkan metode pendidikan progresif lebih berupa penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya (Mudyaharjo. Kesepuluh model pembelajaran terpadu tersebut adalah :1) the fragmented model ( Model Fragmen )2) the connected model ( Model Terhubung )3) the nested model ( Model Tersarang )4) the sequenced model ( Model Terurut )5) the shared model ( Model Terbagi )6) the webbed model ( Model Jaring Laba-Laba )7) the threaded model ( Model Pasang Benang )8) the integrated model ( Model Integrasi )9) the immersed model ( Model Terbenam ). Pemanfaatan penerapan model terhubung (connected) ini sangat relevan dengan konsep Cahaya (dalam fisika) dan konsep Sistem Indera pada manusia (dalam biologi). serta mengasimilasi ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah. sehingga terjadilah proses internalisasi. pendidikan seharusnya dapat mengembangkan sepenuhnya bakat dan minat setiap anak. Model terhubung ini juga secara nyata menghubungkan satu konsep dengan konsep lain. agar dapat terwujud pemampatan/ pengurangan waktu dalam pembelajaran pada konsep-konsep tersebut (Reduce Instructional Time). 2001).Berdasarkan karakteristik yang dimiliki oleh masing-masing model pembelajaran tersebut. satu topik dengan topik lain. O’neill.Di samping mempunyai kelebihan. sebagai akibat dari mengejar target kurikulum. 2000:7).

menyampaikan konsep-konsep yang hendak dikuasai oleh siswa2. maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan. Evaluasi. dan pembimbing. dan (3) dalam memadukan ide-ide dalam satu bidang studi.3. dan antara siswa dengan siswa.2.1. yaitu usia dan perkembangan mental siswa. menyampaikan alat dan bahan yang akan digunakan / dibutuhkan2. Selain itu. evaluasi produk :. dan hubungan antara pengetahuan awal dan konstruksi konsep IPA yang dimiliki siswa dengan kemampuan siswa untuk mengikuti pembelajaran penemuan.kelihatan terpisahnya antar bidang studi. menentukan tujuan pembelajaran umum1. kegiatan pencatatan data3. Siswa yang lebih dewasa. Tahap Perencanaan :1.4.3. baik secara terbimbing maupun secara bebas.Ada hubungan yang kuat antara kadar dominansi guru dengan kesiapan mental untuk menginternalisasi konsep-konsep. guru perlu lebih banyak menyajikan pengalaman kepada mereka untuk menggali pengetahuan awal dan membimbing mereka untuk membentuk konsep-konsep. menyampaikan keterampilan proses yang dapat dikembangkan2. Tahap Pelaksanaan. kegiatan proses3.Sintaks (pola urutan) dari model pembelajaran terpadu tipe connected (terhubung) menurut Prabowo (2000:11 – 14) sebagai berikut :1. Dilihat dari segi kadar aktivitas interaksi antara guru dan siswa.1.4.(materi prasyarat)2. menyampaikan konsep pendukung yang harus dikuasai siswa. pendorong. evaluasi psikomotor :. dengan membagi kelas kedalam beberapa kelompok3.ketepatan hasil pengamatan. meliputi :3.Pembelajaran dengan penemuan. pengelolaan kelas.3.2.4. (2) tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim. menyampaikan pertanyaan kunci3.kemampuan penguasaan siswa terhadap penggunaan alat ukur.Siswa hanya dapat memahami konsep-konsep sains sesuai dengan kesiapan intelektualnya. dalam pembelajaran penemuan siswa juga belajar pemecahan masalah secara mandiri dan keterampilan-keterampilan berfikir.5. semakin muda siswa yang dihadapi oleh guru. menentukan tujuan pembelajaran khusus2. nara sumber. maka penemuan terbimbing merupakan kombinasi antara pembelajaran langsung dan pembelajaran tidak langsung.2. meliputi :4.1. berupa :. membutuhkan lebih sedikit keterlibatan aktif guru karena mereka lebih banyak berinisiatif untuk bekerja dan guru akan berfungsi sebagai fasilitator. Langkah-langkah yang ditempuh oleh guru :2. evaluasi proses . sehingga isi dari pelajaran tetap saja terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi. karena mereka .2. diskusi secara klasikal4.penguasaan siswa terhadap konsep-konsep / materi sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetapkan.1. Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING Ciri Penemuan terbimbingPembelajaran penemuan terbimbing merupakan salah satu bagian dari pembelajaran penemuan yang banyak melibatkan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip.ketepatan dalam penyusunan alat dan bahanketepatan siswa saat menganalisis data4.

dimana siswa diharapkan membangun pemahaman oleh diri sendiri dari pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pada pengalaman awal dan pemahaman yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar bermakna. 2002).Pembelajaran penemuan terbimbing mempunyai kesamaan dengan pembelajaran berdasarkan masalah dan inquiri yang juga penerapannya berdasarkan teori konstruktivis.” Penemuan terbimbing mamadukan yang terbaik dari apa yang diketahui siswa tentang produk dan proses sains.harus menganalisis dan memanipulasi informasi (Slavin. dan dapat memecahkan masalah. 1993b). belajar secara konstruktivis lebih menekankan belajar berpusat pada siswa sedangkan peranan guru adalah membantu siswa menemukan fakta. maka penemuan terbimbing termasuk salah satu pembelajaran yang sesuai dengan Contextual Teaching and Learning (CTL). memotivasi diri dan lebih mudah untuk mentransfer. 1995b: 107). Dengan kata lain. “Guided discovery incorporates the best of what is known about science processes and product.Beberapa keuntungan Pembelajaran penemuan terbimbing yaitu siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn). memperkecil atau menghindari menghafal dan siswa bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri (Carin. Kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing menekankan pada pengalaman belajar secara langsung melalui kegiatan penyelidikan. Tahapan Pembelajaran Penemuan Terbimbing Pembelajaran penemuan terbimbing dikembangkan berdasarkan pandangan kognitif tentang pembelajaran dan prinsip-prinsip konstruktivis. belajar menghargai diri sendiri. dengan demikian bahwa penemuan terbimbing dengan keterampilan proses ada hubungan yang erat sebab kegiatan penyelidikan. karena mereka benar-benar diberi kesempatan berperan serta di dalam kegiatan sains sesuai dengan perkembangan intelektual mereka dengan bimbingan guru. Penemuan terbimbing yang dilakukan oleh siswa dapat mengarah pada terbentuknya kemampuan untuk melakukan penemuan bebas di kemudian hari (Carin.Namun dalam proses penemuan ini siswa mendapat bantuan atau bimbingan dari guru agar mereka lebih terarah sehingga baik proses pelaksanaan pembelajaran maupun tujuan yang dicapai terlaksana dengan baik. Bimbingan guru yang dimaksud adalah memberikan bantuan agar siswa dapat memahami tujuan kegiatan yang dilakukan dan berupa arahan tentang prosedur kerja yang perlu dilakukan dalam kegiatan pembelajaran (Ratumanan.Pembelajaran penemuan terbimbing membuat siswa melek sains dan teknologi.Menurut Sund (dalam Suryosubroto. . menemukan konsep dan kemudian menerapkan konsep yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. sedangkan kegiatan belajar yang berorientasi pada keterampilan proses menekankan pada pengalaman belajar langsung. 1994). dan penerapan konsep dalam kehidupan sehari-hari. 1996: 193). Hal ini didukung oleh Carin (1993b: 105). Menurut prinsip ini siswa dilatih dan didorong untuk dapat belajar secara mandiri. menemukan konsep harus melalui keterampilan proses. konsep atau prinsip untuk diri mereka sendiri bukan memberikan ceramah atau mengendalikan seluruh kegiatan kelas. keterlibatan siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran.Kegiatan pembelajaran penemuan terbimbing mempunyai persamaan dengan kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan proses.Konstruktivis adalah salah satu pilar dari Contextual Teaching and Learning.

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan. Menyajikan / mempresentasikan hasil kegiatan. Menentukan dengan cermat apakah siswa akan bekerja secara individu atau secara kelompok yang terdiri dari 2.discovery merupakan bagian dari inquiri. Selain itu. menjelaskan logistik yang dibutuhkan. menggolongkan.Selanjutnya.Carin (1993a) memberikan petunjuk dalam merencanakan dan menyiapkan pembelajaran penemuan terbimbing sebagai berikut:1.4. Mengevaluasi kegiatanGuru membantu siswa untuk merefleksi pada penyelidikan dan proses penemuan yang digunakan. dan ada persamaannya dengan pembelajaran berdasarkan masalah.Menurut Ibrahim dan Nur (2000: 23). Memilih metode yang sesuai dengan kegiatan penemuan. kedua model ini menekankan keterlibatan siswa secara aktif. Pembelajaran berdasarkan masalah (PBI) membantu siswa menjadi pebelajar yang mandiri dan otonom melalui bimbingan guru yang secara berulang-ulang mendorong dan mengarahkan siswa untuk mencari penyelesaian terhadap masalah nyata. Menyiapkan alat dan bahan secara lengkap. Discovery adalah proses mental dimana siswa mengasimilasi suatu konsep atau suatu prinsip. dan model yang membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya. Menentukan lembar pengamatan untuk siswa. Menentukan tujuan yang akan dipelajari oleh siswa. atau inquiri merupakan perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam.Pembelajaran penemuan ada persamaannya dengan pembelajaran berdasarkan masalah. Orientasi siswa pada masalahGuru menjelaskan tujuan pembelajaran. Proses mental tersebut misalnya mengamati. Namun pembelajaran penemuan dan PBI berbeda dalam beberapa hal yang penting yaitu. pada penemuan terbimbing sebagian besar didasarkan pada pertanyaan-pertanyaan berdasarkan disiplin. pembelajaran berdasarkan masalah dimulai dengan masalah kehidupan nyata yang bermakna yang memberikan kesempatan kepada siswa dalam memilih dan melakukan penyelidikan yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. dan siswa mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri.6.Berbeda dengan pembelajaran penemuan terbimbing.4. membuat simpulan dan sebagainya. melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.Tahap-tahap pembelajaran1.3. memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang diberikan guru. orientasi induktif lebih ditekankan daripada deduktif. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompokGuru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai.3. 1997).3 atau 4 siswa. video.2. oleh sebab itu dalam penelitian ini menggunakan tahapan dengan mengadaptasi dari tahapan PBI.Sumber: (Ibrahim dan Nur.5. Mengorganisasikan siswa dalam belajarGuru membantu siswa mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas yang berkaitan dengan masalah serta menyediakan alat.5. Mencoba terlebih dahulu kegiatan yang akan dikerjakan oleh siswa untuk mengetahui kesulitan yang mungkin timbul atau kemungkinan untuk modifikasi. pemecahannya memerlukan penyelidikan antara disiplin (Arends.2. untuk mencapai tujuan di atas Carin (1993a) . 2000: 13)Karena pembelajaran penemuan terbimbing merupakan pembelajaran penemuan dan bimbingan guru. dan penyelidikan siswa berlangsung di bawah bimbingan guru terbatas pada lingkungan kelas. karena masalah itu merupakan masalah kehidupan nyata.

Menyajikan materi sebagai pengantar c. setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor b. PICTURE AND PICTURE Langkah . Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi d. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka e.Langkah : a. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran b. Memberikan bantuan agar siswa dapat memahami tujuan kegiatan yang dilakukan. EXAMPLES NON EXAMPLES Langkah-langkah : a. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai g. Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya f.e. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya/mengetahui jawabannya d.d. Mengamati setiap siswa selama mereka melakukan kegiatan. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut f. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. Memberikan waktu yang cukup kepada siswa untuk mengembalikan alat dan bahan yang digunakan. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP c.f. Sebelum kegiatan dilakukan menjelaskan pada siswa tentang cara bekerja yang aman. Memeriksa bahwa semua siswa memahami tujuan kegiatan prosedur yang harus dilakukan. NUMBERED HEAD TOGETHERS Langkah-langkah : a. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/ mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis e. guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai g. Kesimpulan 2. kemudian guru menunjuk nomor yang lain . Siswa dibagi dalam kelompok. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya c. Tanggapan dari teman yang lain. Melakukan diskusi tentang kesimpulan untuk setiap jenis kegiatan. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa.c. Kesimpulan/rangkuman 3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar d.menyarankan hal-hal sebagai berikut:a. MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF YANG DIREKOMENDASIKAN DI SMP NASIONAL KPS 1. hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas e.b.

Sementara pendengar f. Jika perlu.f. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Kesimpulan 4. Siswa nomor dua mengerjakan soal dan siswa nomor tiga melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya c. Guru menyajikan pelajaran c. Penutup 5. Bertukar peran. suku. dll) b. Membentuk kelompok yang anggotanya = 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar d. Dalam kesempatan ini siswa dengan tugas yang sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerja sama mereka d. Guru membagi siswa untuk berpasangan b. Kesimpulan 6. Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap g. Kesimpulan Siswa bersama-sama dengan Guru j. Siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa bernomor sama dari kelompok lain. Penugasan diberikan kepada setiap siswa berdasarkan nomor dan diberikan tugas yang berangkai Misalnya : siswa nomor satu bertugas mencatat soal. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain e. bagian-bagian dari materi yang dipelajari Langkah-langkah : a. guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. KEPALA BERNOMOR STRUKTUR Langkah-langkah : a. . jenis kelamin. Siswa dibagi dalam kelompok. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin. dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor b. Serta lakukan seperti diatas i. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan c. e. semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya. COOPERATIVE SCRIPT Skrip kooperatif : metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan. Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya h. Anggotanya tahu menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti. STUDENT TEAMS ACHIEVMENT DIVISION (STAD) Langkah-langkah : a.

hipotesis. Suruhlan seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan f. Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai b. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya e. jadwal. Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka e. tugas. kemudian berganti peran. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih. Setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh f. Untuk mengetahui daya serap siswa. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda c.d. Penutup 8. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. b. eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.5 anggota tim b. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu e. Penutup 9. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi g. PROBLEM BASED INTRODUCTION (PBI) Langkah-langkah : a. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh siswa. Guru memberi evaluasi h. Memberi evaluasi f. Guru menyajikan materi sebagaimana biasa c. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan d. ARTIKULASI Langkah-langkah : a. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. dll. Siswa dikelompokkan ke dalam kelompok 2 . d. pemecahan masalah. bentuklah kelompok berpasangan dua orang d. Begitu juga kelompok lainnya e. pengumpulan data. Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya .) c. JIGSAW (MODEL TIM AHLI) Langkah-langkah : a. Kesimpulan 7. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai.

Setiap siswa mendapat satu buah kartu c.dengan teman pasangannya. Demikian seterusnya h. Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masingmasing d. Guru memberi kesimpulan . MIND MAPPING Langkah-langkah : a. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya g. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin f. Kesimpulan/penutup 10. Guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum dipahami siswa g. Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa f. Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang d. Siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru c. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai b. tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya e. Guru memimpin pleno kecil diskusi. Kesimpulan/penutup 12. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban) e. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru 11. MAKE A MATCH Langkah-langkah : a. Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru f. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review. THINK PAIR AND SHARE Langkah-langkah : a. Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban c. Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi e. Sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya f. sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban b. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang d.

setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari. Evaluasi k. DEBATE Langkah-langkah : a. Guru memberikan tugas untuk membaca materiyang akan didebatkan oleh kedua kelompok diatas c. Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang d.g. masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas h. guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman 14. Guru menunjuk salah satu anggotanya kelompok pro untuk berbicara saat itu ditanggapi atau dibalas oleh kelompok kontra demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa bisa mengemukakan pendapatnya. kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya/paketnya c. masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan g. demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat . Dari data-data di papan tersebut. Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai e. Sementara siswa menyampaikan gagasannya guru menulis inti/ide-ide dari setiap pembicaraan di papan tulis. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya. Guru membagi 2 kelompok peserta debat yang satu pro dan yg lainnya kontra b. Guru memberikan kesimpulan secara umum j. GROUP INVESTIGATION Langkah-langkah : a. Guru menambahkan konsep/ide yang belum terungkap f. Penutup 13. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya i. Sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi e. Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan b. Setelah selesai dipentaskan. Setelah selesai membaca materi. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa. Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kbm c. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya d. Guru menyiapkan sebuah tongkat b. Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan f. ROLE PLAYING Langkahlangkah : a. d. Penutup 15.

SNOWBALL THROWING Langkah-langkah : a. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari. Evaluasi g. BERTUKAR PASANGAN Langkah-langkah : a. Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan masing-masing pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka e. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian dibagikan kepada pasangan semula f. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ± 15 menit f.bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru e. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya d. Setiap siswa mendapat satu pasangan (guru biasa menunjukkan pasangannya atau siswa menunjukkan pasangannya b. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan b. Evaluasi g. kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya d. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing. TALK STIK Langkah-langkah : a. Setelah selesai setiap pasangan bergabungdengan satu pasangan yang lain d. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa. Guru memberikan kesimpulan f. Penutup 16. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja. setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi c. demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa mendapat bagian untuk menjawab setiap pertanyaan dari guru e. untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok e. Guru memberikan kesimpulan f. Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada . Penutup 17. kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pada pegangannya/paketnya c. Penutup 18. Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan pasangannya c. Guru menyiapkan sebuah tongkat b.

Penutup 19. Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. Evaluasi h. Membimbing pelatihan d. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen b. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi c. Memberikan kesempatan untuk latihan lanjutan 22. Guru menyimpulkan ide/pendapat dari siswa e. kalau benar diisi tanda benar (Ö) dan salan diisi tanda silang (x) f. STUDENT FACILITATOR AND EXPAINING Langkah-langkah : a. Penutup 20. Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa b. Siswa yang sudah mendapat tanda Ö vertikal atau horisontal. Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan c. siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan seler masingmasing siswa e. Guru mendemonstrasikan/menyajikan materi c. Memberikan kesempatan siswa tanya jawab d. atau diagonal harus berteriak horay … atau yel-yel lainnya g. Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh h. COURSE REVIEW HORAY Langkah-langkah : a. INSIDE OUTSIDE CIRCLE (LINGKARAN KECIL-LINGKARAN BESAR) Langkah-langkah : a. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai b. Penutup 21. Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran . Memberikan kesempatan siswa/peserta untuk menjelaskan kepada peserta untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui bagan/peta konsep maupun yang lainnya d. Guru menerangkan semua materi yang disajikan saat itu f. Untuk menguji pemahaman. EXPLISIT INTRUCTION (PEMBELAJARAN LANGSUNG) Pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan proseduran dan pengetahuan deklaratif yang dapat diajarkan Langkah-langkah : a. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik e.siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian g.

Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran c. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok e. COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION (CIRC) Langkah-langkah : a. Penutup . Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas d. Penutup 23. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas d.c. Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok e. Guru membuat kesimpulan bersama f. Guru membuat kesimpulan bersama f. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen b.

f¾ °f –   f°f ¾f° °–f°¾f – f½f f¯ ¯ °€¯f¾ @–f¾–¯ °– f f¾ ¾ f–f¾ f¯f°–  ©f ¾f¯f°¯ ° ¯f°¾ ¾ff°– f f–f°––f f¾ %¾¾f%  ¾ff°– f ff°– f¯ ° ¯f°¾ °  f° ff½fff– –f½ f° –  f¾f°–  f °–f°½ ° ff°° ¾f  9 ¯f° °f°– f©f   9 ° ff°° ¾f¯ ° f¾ff° ½f f n ° °–f°½ ¯f° °f°– f©f¾ f–f     9¾ ¾ f©f  °f f©f f¯ °–ff¯ °f¯ °nff¾ ° ½f ½f ¯f°f f½ °– ff° f  f° f°   –¾f©f –  9fff¾ ½ff ff½ °– ff°f°– ¯¾ ¾f°– –f°¾f¾ f° ¯ °n ¯°f°½ ¯ff¯f°f°–¯ ° ff¯ °f°–¾ ¾f½ ¾ff°  9 °– ff° f f½f ½¾f ½¾ff°¯ °©f €ff €ffff½½¾¾f°– ½¾f   f½¯ °n ¯°f°  f¯½f°f°– f½f  f½f°  .@%¯ ½ff°°¾ ½ f©ff°– ¯ ¯ f°–¯ °–ff°f°ff¯f f°– f©ff° °–f°¾f¾ °f°ff¾¾f f° ¯ ° °–¾¾f¯ ¯ f °–f°f°ff½ °– ff°f°– ¯°f °–f°½ ° f½f°°f ff¯  ½f°¯  f¾ f–ff°––f f–f f°¯f¾fff  °–f°°¾ ½ f¾ ½ ¯ f©ff° ff½f°  ¯f°f f–¾¾f 9¾ ¾½ ¯ f©ff° f°¾°–ff¯f ff¯ ° –ff°¾¾f  ©f f°¯ °–ff¯  f°¯ °f°¾€ ½ °– ff° f–  ¾¾f f –½ ¯ f©ff°  ½ °°–f° f½f ff¾ ff¯ f¾° f –f¾–f ff¯ ¯ f°¾¾f¯ °nf½f©f°°f .f°¾f¯ ¯½°f°–ff°f°–  f ff¯¯ °f½¾f¾ f  ¾f½   f¾ff°¯ ¯ nff°¯f¾ff ¯ ° ¯f°¾ ¾ff°– –°f f– °f  .

f°¾f¯ ¯½°f n ° °–f°° f©f ff¯  f°–  °  f°¾ f°–f°f ¯ ¯½°f n ° °–f°° f©f °–f°n ½ff f f  f – f©f½ °°– °f °–f°¯ f¯ ¯½ f©f¾ ¾ff°– f f° f½  °f ff°–¾ ¾f – f©ff¯f½ °°–  9 f°f°– f¾f%–%¯ ¯ f°¯ °– °–f°f°fff°– f f°f°–¾ f  f  @–f¾–¯ ¯€f¾f¾f–f°€¯f¾ f ¯f°f ¯ ¯  ¾ ¯½ff° ½f f¾¾f °¯ ° ¯f° f°¯ ° f½f° ¯  f¾ °   f°¯ °f ff°¾¾f° ¯ ° f½f°¾f –¯  f¾ °     9 °°–°f°–°–f° f©f   f©f € € ¯f f°–°–f° f©ff°– ½¾f½f f¾¾f f–f°–  ½f° f¾ ¾¾f¯ °°° ¾¾ff°–  ©f f° ff –¯ °–fff°  9 °–f©ff°f¾ ½¾f½f f f–f¯f°fnff¾¾f¯ °––°ff°½ °– ff° f ¯  f f – f©f  ½ °°–f°  f° °–f°f¾°f  D¯½f° ff¯f½ °°– f–¾¾f f°– f¾f f½¾ ¾½ °ff°f°– °f  . °¯ f°¯°f¾ f©f ff¯ ° ©f ¯½½ °°–   . f° –  °–f°   9¾ ¾ f©f f½f¯ °– f¾f 9  ff°¾f ©ff° ¾ ¾ °– °–f°½  ¯ f°–f°–f°¾f¾½ °– ff° f°  f¯½f°¾ ¾f°–    @f°¾€  f©f  ¾f f©f f¯ °–ff¯¾ °   f° f½ ¯ f°f°–f°    f¯½f° f°½ °– ff° ½ f¾ f° ¾f°–  ff¾%¾  ¯¾ % 9 °°– f–¾¾ff°f½f f f©f f° f–f¯f°ff¯ °––°ff°½ °– ff° f°  f¯½f°   ¾f¾ f–f9 ¯ f©f  .

f f9 ¯ f©ff°° ¾f  9 ¯ f©f°° ¾f%.

° f@ fn°–f°  f°°–%f ff°¾ ½ f©ff°–¯ ¯ f° –¯ °–ff°f°ff¯f f°– f©ff°°f °–f°¾f¾ °f°ff¾¾f f°¯ ° °– ¾¾f¯ ¯ f °–f°f°ff½ °– ff°f°– ¯°f °–f°½ ° f½f°°f ff¯   ½f°¯  f¾ f f  °–f°¯  ff°©¯½° °f¯f½ ¯ f©ff° € €  f° °¾¾¯ %.

 ¾°°–% ¯ ° ¯f°%°% ¯f¾fff f©f% f°°–.°¾n¾¯%  f°f%.

½ff°¾f½¾ ¾½ °  f°f°–¾ f° ©f°¯ ¯f¾¾¾f° . °–%  f°½ °ff°¾ °f°f% °n ¾¾ ¾¾¯ °%   9 °– f°9 ¯ f©ff°° ¾f   .¯¯°% ½ ¯ f°%.

¯ ¯ff¯¯f°f¯f ½ f©ff°f°– ½ f©f°f °–f°¯ °–ff°¯f  ¾  °–f° ° ¾  ½f°¯  f¾ f f%° ¾½ f  ¾¾f  f°f%¾ °––f¾¾f¯ ¯ ½ °– ff°$  f¯½f°f°–¾ nff€ ¾  f½f  f½f°% f°¾€ % f¾f ½ ¯f¾fff°$° ¾ ½ ¯f¾fff°$° ¾f°°f    . ½ff°°¾ ½ f©ff°–¯ ¯ f°–¯ °–ff°f°ff¯f f°– f©ff°°f °–f°¾f¾ °f°ff f°¯ ° °–½ f©f¯ ¯ f °–f°f°ff¯f f°– f©ff°°f °–f°½ ° f½f°°f ff¯  ½f°¯  f¾ f–ff°––f f–f f° ¯f¾fff   9  ff°9 ° ff°° ¾f °–f°9 ° ff°@f ¾°f  ° ¾f   . °f° ff°½f f½ ¯ff¯f°¯f°f   9 ¯f°°€¯f¾  f¾ff° f°¾¾f   ¾f  f¾ nfff€ ff¯½¾ ¾½ ¯ f©ff°   9 ¯ f©ff° ff° °–f°  ½f°°ff$¯f¾fff°– ¾¯f¾f°    f¯ °–ff°°€¯f¾ °–f°½ °– ff°f°– f ¯¾¾f   .

° °–¯ °–° –f¾f° f½f  f°–   ¾f¯ °––°ff°f f©f°f°¯ ° ¯f° ¯ °––f   ¾¾  ½ ¾ ff¯ °– ©ff°½  f°½ ¯ nff°¯f¾ff%¯ f ©f ¯½%   9 f  f°–°ff¾ ¾f ff°      f¯½f°  ¯ f°–f°ff¾ f¾f½ ¯ff¯f°   f f f½ f ff ff ½f¾f°  f°– ¾€f¾  €   ¾f f¯ ff°ff°– f °f¾f ff ¾ ¯ –f°   9 f f  f¾ff°¯f¾°°¾   9 ¯ f©ff° ©f    f–f ¯½f ° ¾ f°¾ °–   f¾ f©f ¯ f½ ° f½f°½ °ff°f °   @f ¾°f   . ¯ f°¯½f°°€¯f¾ ½f f¾¾f¾f¯½f¾ff°f ½ f°   . °f° ff°½f ff½ff°  9 ¯f°°€¯f¾  f°f  °f° –   ¾f¾ nff½f¾€¯ ° ¯f°€¯f¾ ¾¾°f f–   9 ¯ f©ff°¾f°–ff ¾f f° ¾  f ¾f° f½f f ff¾  ½f°   .

° °– €¾½f f¾f  f°–% ¾½°%  °   Jf f©f¾¾f¾ f–f° ¾f ½ –°ff°°¯ °– ©ff° –f¾ ¯ ° °–f n f¯f  f°¯ °–¾ff°% ©f°  f%   9 f  f°–°ff¾ f¾ff°     f¯½f°  ¯ f°–f°ff¾ f¾fff°   f f f½ f ff ff½©f°ff°ff½   ¾f f¯ ff°¾ ¾ff°– f °ffff°¯f°   9 f f  f¾ff°¯f¾ °°¾  .

 9 ¯ f©ff° ©f f°f ©f   ff¯f°–f° f¾    9 ° f½f°9 ° ff°° ¾f f¾  9 ¯ f©ff°° ¾f f½f  f½f° ff¯¯f½f¾f©f   f°–¾ f½f¾f©f  f°  f¾f°– f–f¯f°f½° f ff°°f 9 ° ff°9 ¯ f©ff°° ¾f ff¯ f¾n½ ¯ f  nff–f¾ ¾f f°–f°f¾ f–f °   ¯ f°–f°½ ¯f° fff°fff° f©f  ¯f°f °–f°nff  ©f¾ °   f° ¯ °–°¾¾¾ ° ½ °– ff° f°  f¯½f° f°f  f¾f°ff°¾ ©f¯°–° –ff°°°¾ ¯f½   ¯ f°–f°¾€f°–°f¾¾f °–f° f°f   .

¯ f°–°½ ¯ff¯f°¯  f¾ °  f½ °–ff¯f° f  f¾f½f f½ °– ff° ff  9 ¯ f©ff°f¾  ¯f¾¯ °©f ½¾ ¾#¯ °–°¾¾# f°¯ ° ¯f½ °– ff°   ° 9¾ ¾½ ½° ff° f½ °–f¯ff°¯ °©f ½ ¯ff¯f°  ¾f f©f¯ °––°ff°  f¯½f° ½¾   . ¾°°–% f°f%  –ff°–°¯ ° °– ¯ ¯ ¯ °– f°¯ °f ¯f¯½f° ½¾¾f   f–¾¾ff°–¯ ½ff° f–f°½ °°– ff¯½ ¯ f©ff°f°–  f¾¾°    f°°–.½ff°¯f¾fff f©f   f f°¯ ¾ f–fn°½ ¯ f©ff°  ff° € ¾ f½  ¯f°  ff°½ °ff°f°–¾ °f°f °–f°  f–fnff   @©¯½° °9 ¯ f©ff°° ¾f   °¾¾¯  .

°– ©ff°f½ff°––°–°f°f–f¾¾f¯ °– ©ff°°f    € n°% € ¾% .f¾fff f©f%   ¯½f°–f°– f ff¯ –ff° f©f    ©f¾f¯f °–f°f°–f°  f f½f f f©f¾ °   @f½ °–ff¯f°    f–    . °–%9 ¯ f°% 9¾ ¾½ °f¯½f°¾fn°f–ff°–f° ½   ©f f° f©f  .¯¯°%.

°nfff½ff°– f ½ f©f  .ff ½ °f°–f½ff°– ff½ f©f  . ¯ f©°f ff¾ °  ¾¾ ¯½ .

° °f°–f°  f¯ ¯ ¾f°f°   f©f °–f° –ff  9 ¯ f©ff° ° –f¾  .f 9 f° 9 °nf½ff°f¾ f©f   -fff°©f°¯¯½ ¯ f©ff°°f   °nf¯ f°¯ ° °– –ff°   ff¾ °fff½ ¯ff½ –ff°¾¾f  -fff°f °nf¾¾ ¾¾¯ °°f f °–f° fff½f¾¾f f½f f¯f½f¾½f¾°f . °¾° °nf°f9 ¯ f©ff°  f¾¾° ¾f  ff¯½ ¯ f©ff°° ¾f ½–f¯½ ¯ f©ff° ¯ ½ff° °nf°f –ff° f¾ f°– f°nf°–– f°– ¾¾ °fff½ ¯ff½ °f°–f½ff°–ff° ff° ¾f¯f¾¾f°f¾  °–f° °–f°½f°–ff° ½ f©f°f ff¯½–f¯ n ¯° ©f°½ ¯ f©ff° ¯ f°¯ °nf½f©f° ¾  ¯f ½ ¯ f©ff° f°–f f°–f ½ ¯ f©ff°  f°f °nf¾¾ ¾¾¯ °°f  ff¯° ¾ ½–f¯f°– f°nf°–– °f °f °nf°f½ f  °f°–f½ff°– ff°  ©ff°°f ¾f¯f¾¾f°f   nff¯¯ ff f½  ff°¯ ° f¾f€¯ff°ff½–f¯½ ¯ f©ff°° °¾°f °–f°½–f¯½ ¯ f©ff°° ¾f  ff– f°–¯ ¯ ff°°ff°f½f f ½ ° f°f°°f 9–f¯½ ¯ f©ff°° °¾°f ¯ ° f°f°½f f ¾½¾©f°f°– ff° nf½f%© f¾ f°½ f¾°f% ¾ f°–f°½–f¯°½ ¯ f©ff°° ¾f  ¯ ° f°f°½f f¾ °f½ ¯ f©ff°°f  f¾ f¾f ¾ff°½ ff¯½ °¾°f° °nf°f½ f¾f°ff°½ ¯ f©ff°%99%  f¾¾ ° ¾ff ff¾ f–f    -fff° –ff°½ f¯f½ ¯ f©ff°°f f¾ f½ °fff° –ff°¾¾ff°– ¯ ½ff°–f °–f°f°fff° f¯½  °¾ ¯½  °¾ f¾f . °––°ff°  f–f¾¯   ¾ff€  f°– °–f° ¯f°  ¾f¾– f€  ° °– f°°– °–½ ° °–f°f¾ ©f¾¾f ½ f ½ f –f¯ f f  ¯ f°f° f°  f½f° ½f ff°–f f°f°ff½ f½f¾ff¾¾f f½f°f¾ ½f¯ ff°–f°¾¾f f°f° f°   . °–½ °– ff° f°  f¯½f°¾¾f  9 °ff°½ %° ©f%  @–f¾ –f¾f°–  f° f°° ¾f   ff ¾9 ¯ f©ff°° ¾f    ©f¾f¯f  f°–¯ °°©f°–  .   °n¾¾ ¾¾¯ °%9 °ff°f°– °f°f% .

-  -D-@½ .f¾ff . 9     .9. -9@  D@-D-@ ff°°nn° °€¯f¾$9 °  f°D¯¯ -f¯f  ¯f%9 °¾% f €¯f°– ¾f½ fff .f¾fff¯f ff¯½ ¯ f©ff°9 °  f° f–f° –fff°%9°%ff½ °––°ff°¯   ff¯ ½ ¯ f©ff° ff¯¯ °f¯½ff°¯f ½ f©ff°¾ nff ½f f°–¯ ¯ ° ¯ff°ff°f°°f f–f f½f ° °f¾f¾f°½f f ¾¾f¾ f¯ °–¯½ ¯ °f¾f° f f½ °  f°°f ff¯  ½f°¾ f f ¯¯ ¯ °ff½f°¾ ½ f°– °–°f° f° ff° °–f°¯f¾fff f f½¯f ½ f©ff°9°f°– f ¯ff°°f °f½f¾ f½f°f ¾€f½¾ffff° °f¾° ½ °°–f°  f¾ff°½ ¯ °f . ff¯½ ¯ f©ff°   ¯  ½ $$f¯f ¾ f©f  ½ ¾¾ n¯$$$$½ ¯ f©ff° ° ¾f$ ½¾f° 9f f  ¯ °f  .f°– ¾f½ f . 9 ¯ f©ff°9€ ff¯9°. °.  ½ ¯ f©ff° ff¯9¾ ¾ f©f.%  ¾f° ¾f°–ff f°–€ ¾  f°– ¯f¾  f°–n ° °–  ¯°f°° f ¯  9°¯ °–f©f  f°f¯ °– ©ff– f°–  °f¾½f f°f©f°f   ¾f¯½°–¯f¾¯ °––°ff°¯ ° °¾°ff°–¯°° ff¾–  ¯°f° f½f f¾¾f f f°f–¾ °–f¯ °–f ff°½¾ ¾½ ¯ °ff°ff°f°°f ¾f½  f° ° ff° ¾ °––f¯ff½ f©ff°9° f f°––f½¾ f–f¯ff½ f©ff°½ ¯ °ff°f–f ° –fff°–¯ ° f°f°½f f ¾f ff°ff°f f° f© f° f½ n ° °–¯ °©f  ¯ff½ f©ff°f°–© ° f°¯ ¯ ¾f°f° D°¯ °–f f½¯f¾fff ¾   ff¾ ¾f¯ ½ ¯ f©ff°f°– € € f° €¾ °¾ f–ff °f€ f¯  ½ ¯ f©ff°  f¾¾½€%½€ f¾  f°°–% f°– ff½f°¯f¯½¯  ff° ¾¾f ff¯ ¾ f°½¾ ¾½ ¯ f©ff° f° f½f¯  ff°¾ f¾½  f–°€  f€ €  f°½¾¯¾¾f ¾ f¾ nff€¾ f°¯ °f¯  ff°¾ ¯f½f ff¯ ½ ¯ f©ff°¾ °––f¾¾f¯ ¯¾f f¾f° ½  ½ ° f½f f€ f° f€   f¾f9 ¯f° . 9 ¯ f©ff°@f°––f –¾¾   ff ff°–. 9 ¯ f©ff°9€ . °–f©f%9 . -9@  D@-D-@   ¾  € .9.

f¯ ½ ¯ f©ff°½€ ¾ f° ½fff° f½f¯ ¯ f°–f°¯°f f©f¾¾f¾ nfff€  f€ ©–f f½f¯ °– ¯ f°–f°½ ¯ff¯f°°f °f ¯f¯½f° ½f¾½f¾¾ nff € € ¾ f °–¾f¾f½f°––°–©ff  f½°ff¾f°½ °––°ff° ¯ ½ ¯ f©ff°½€ f°–¯ ° f¾f –ff°¾ f½¾ ¾½ ¯ f©ff°9°¯ °–fn .– ¾%%  9€¾f ¾ ° f¾½€ ¾¾°¾–  ½nf f¾ °¾f¾¾f¯  f½€€f°fnf¾¾ 9€ ¯ ½ff°¯½f°f¾ff¾¾f¾ f–ff¾ f©f°f 9€ ¾ f°¾f°–f ¯f°€ff ff¯¯ ¯ f°°€¯f¾¯ °– °f ¯f¯½f° f°½ ¯ff¯f°¾¾f¾ f¯ ¯ f° –f¯ ff°¯ °– °f¾f½ f°¯°f¾¾f f f½½ f©ff°f°–  f° ©–f f½f ¯ °°©f°½ °nf½ff°ff½ °°–ff°f°– ½  ¾¾f f½¾ ¾½ ¯ f©ff°%––°¾   % .

½f f½ ° ff°¾¾ ¯ %%.

@  .

  –ff°¾f f° 9° %%.° f@ fn°– f°°–  f°%% .

@  .

° f@ fn°– f°°– .

@f ff¾f °½ ¯ f©ff°f°–¯ ¯ ff ¾  f  f ff°f°–¯ ¯½ °–ff°–¾°–  ½f°¾¾f f° ½ ¯ f©ff°°f   °–f°¯ °––°ff°f$ °f° f¯f¾ff°–f ¾ ff°–  f° f°–ff° ff°– n ff° f  n °   °–°–f°  ff ¾¾f ½ f   °¯  f°½   f©f ff°f¯ °––°ff°f°– f¾  ¾f ff°  ff¯  ½f°  f–f ¯f¾fff  f°–¾f f°° –ff € ¯ °–ff°¾½ f©ff° °–f° °f°ff f° ¯ ¯f¾¾¾f¯ ¯ f °–f°f°ff½ °– ff° °–f°½ ° f½f°°f ff¯  ½f° ¯  f  f°– ¯ ¯ f¾¾f °–f°½ °– ff°f°–€ ¾  f½f  f½f° f¾f ½ ¯f¾fff° ½ ¯f¾fff°f°  f¾f° ¾ ° ¾f° . .

@ ¾ ©–f .

@ f f°–% f©f ff¯  ½f°°ff% ½  °n°–% f©f ff¯° ¾ ¾½f¾ ½ ° ¯f° f°½ °n½ff°% ½½°–% f©f °–f°¯ °f©f°½ °– ff°°  –°ff°°f% .

 f°– ½ ½  - ¯f°°¯ °n f¯ °–f©ff°½f f¾¾f f–f¯f°f ¯ ¯½ °–f ©ff°¯¯  °–f° ¯f°½ ° ff° ¾ ¯ °n f¯ ¯½  f   ½f°¾¾f ff¯¯f¾fffff° –ff  °–f°¯ °n f¯ °– ¯ f°–f°¯½  °¾ °–°–f°f°–¯ ½ff° ¯f¯½f°¾¾f°¯ ¯½ °–f°–°–f°  f°¯ ¯ f° f¯½f½f f ½¾f°  ½¾f° ©ff° ¯ ¯°–f¯½  °¾ f°¯¯ °¾ f–f ½ f¾f°ff°– ¯f .9°f°–¾f°–f¯ ° °f°–f° f–¾¾f  f½ ¯ f©ff° ¾  ¾ f ¯½° °°f¯ ¯ –°f¯f°€fff° f–¾¾f f°  ½f°°f     ¯ff° 9 f°–  f°°nf¯f°  f°f f½¾€  °––f°  f°  f°¯ ½€ ff¾ f½°f¾¯ °n ¯f f½f  ¯ff° ½ f°–  f°f°nf¯f°f°–  f½f  ff¯½¾ ¾½ ¯ f©ff°9°° fn° ¾ ½  ½f½ff°  ff°   f   ¯ff°.  –ff°¾f f° 9° . °¯ ° °–½f¾½f¾f€¾¾f ff¯  ½f°½  °¯ f°¾¾f ff¯¯f¾fff  f¯  ff¾ f°–¯ °©f  f¾ffnf°½ ° ff° ¾¾ ¯½f f¯ ½ ¯ f©ff°½€¯ ¯ °f¾¾f ff¯f°–f½ ¯  f°¯½  °¾ °–°–f° f°¯ ¯ f¾¾f °–f°€ ¾ nn¾ nn€ ¾ f f½f¯ °– ¯ f°–f° f°¯ ¯ f¾¾f f–f¯f°f f©f  9° °–f°½ °– ff° f°  f¯½f°°  f f°–¯ ¯f f¾ f½ °–ff¯f°½f¾f–f¯ ¯¯½  °¾ f° € €f¾ ff¯ ½f¾½f¾ ©–f°¯ ¯ °f¾fff°f°°f f¯f°f ½ ¯¯½°f°½f f ¾¾f  f–f¾¾f f½f¯ ¯½ f°––°–©ff f° nf½f° ¾f½ ½  ff°½f f °f¾ °    ¯ f°½f f¯f¾fff  f°–¾f  f°° –ff ¯½ ¯ °f¾¯ ½ ¯ f©ff°½€ff° ¯ °©f f°9 . 9 ¯ f©ff°9€   ½ f°ff°–n½ f°f  ff° ½ f°f f©f¯½ ¯ f©ff°  ¾ f ¾ °––f°¯ °°f¾f°¾f¾ f¾¾ff¾f ©ff°½  ½ f°  f©f¯½ f©ff°¾ ½ f°– f  °f° ff¯©f f   f°–°f½ °– ff°$ ff°ff–f°– ¾f°–f°    ¯  f°°ff°¯¯ °–f©f¾ f–f½ °– ¯ f°–¯½f¾  f¾   ½ f° °f–f f° fff°–n½ ¾f   f°–°f©f°f°¯°f¾f°ff½f¾ f  f–f  f°¯f¾fff¾¾°f½ff f$°¾f°¾f°– °©°– ½ff¾¾f° ¯°f  f°–f°°f  f°   ¯  f¾f°f½ ¯ f¾ff°©f°f° ©f¾f¯f ¯½¯½ff¾¾f  °–f° ¾f ff°  .½ f°–% f©f ff¯° ¾° f¾ ¯½%  f°@f°¾€ °–% f©f °–f°¯ °––°ff°½ ° f½f° ff¯° ¾ f$° ¾f°%%% .

 °¾f°–f½ °¾f ff¯ ¯ °°–ff°¯f¾ff¾ ¯f°–f f©f¾¾f  °–f°©f°f–f¾¾f¯ °©f   °–. ° f½f ff°¾ff°¾ff   f°¯¯ °–f©f½f f– ff¯¯ °– ¯ f°–f° ¯f¯½f°  ¯ff°  ff°ff  ¾ f€°–¾½ f°°f¾ f–f€f¾f ¯ f ¯f f° °¾½ ¯ f©ff°  ff¯ f¾   @f½ ° f½f °€¯f¾ ½ °– ff°°¯ °°–ff° ff°ff f°½ °– ff° °–f° f°–½f f.99°¾  ¯½f    ©f¾f¯f$f f¾f°ff ½ff f f°½f f° f$¯  f° ¯ °f°–f°¯f¾ff½ ° f°ff°    ©f¾f¯f$f f¾f°ff½f¾ f °–f°½ ¯ °f¾  ¯½f   ¾f f½f¯ °–°©°–°¾f°¾$ ¯ f–f½ ¯ °ff°– f°¯ °nfff ¯ ¯½  °€¯f¾f°–  f°  n °nf¯f°.. 9 ¯ f©ff°9€   ff¯¯ f  ff½f°½¯f ½ ¯ f©ff° f f f°f °f¯° ¯f ¾f¾f¯½f½ff¯f ½ f©ff°½ ¾ ¯ ¾  ¾ °––f¯ ½ ¯ f©ff°½€ f½f f¾f°ff°f°½f f°–f°fff¯ °fff½ff°– f –f¾f° ff¯ ¯ .f °f©f ff–f–f¾f° f f°f f° f f½f ½  ¯f° ¯f¾ffff°¾ ½ nff°   9 f°–. 9 ¯ f©ff°9€    ¯  f°°ff°¯¯ °–f©f ¾ °–f–¯f¾ f½f f f¾f°¾ f–f ½ f¾f°f°¯ ¾ f°–f°–f¾ f½f¯ °©f ½ °– ¯ f°–¯½f¾  ff¯  f¾   f°– ¾f ff°– ff¯¯ °– ¯ f°–f° ¯f¯½f° f° ¯ff° ff¯¯ f¾f°ff° €°–¾½ f°°f   @ ff f °–f°¯¾ f f°f° f°f f½f¾ f   f°–°f ©f¾f¯ff°ff½ff–  ½ff f  f° f f°–@f¾f  f° °¾f°¾$ ¯ f–f½ ¯ °f¾ f¯f¾fff¾  ¯½f I 9 °½ 9 ¯ f©ff°9°¯ ½ff°½ °  f°°f °–f½ ¾ ff°% @9  f°@% ff¯ ½ff¯ °°–ff°° ©f½€ ¾°f– f¯ ¯ f©ff°¾¾f f½f f©f  9° ff¯f f¯ ¯f¾ –9° f½f¯ °––°ff°½ ¯ f©ff°½€¾ f–f ¾ff¾ff °f€½ ¯ nff°½ ¯ f©ff°f°–°f€ f°–¾ nfff°–¾°–¯ °©f ff°f ½ ¯ °ff°°f ½ ¯¯½°f°½f f ¾¾f f°¾ nff ff°–¾°–¯ °©f ff°f ¯½ ¯ °f¾½ °  f°  ½   f–¾¾f . ½ ¯ f©ff°½€ ¯   ½ ¯ nff°¯f¾ff  f½f –°ff°°¯ °– ¯ f°–f°  f–f½ °¾ ¯f°ff° ¾¾f  f  °ff° °–f°f¾½ –°€ f€ € ¯f½°½¾¯¾¾f  f¯f ½ ¯ °ff°ff°f°°f f ½ ¯¯½°f° ½f f¾¾f .

 °¾½f°– ff¾¾ f–ff–f° –fff°–n  f¾  f€ ½f¾½f€ ½¾½ €  f° f°––°–©ff 9 °––°ff°¯ ½ ¯ f©ff°½€ ff¯½ ¯ f©ff°9° ¯½f¾f¾ f f½f¾f°f½f°½€ ¾¾°f–¾ f–f¾ f°–€f¾f   n ¯f ¯ f  °¾½ ¯ f©ff° f–¾¾f  ff¯½ff¯ °– ¯ f°–f° f° ¯ ¯ f¾ ©¯f  f¯½f° f°ff¾f°€ ¾ f–f° –fff°¾¾f f nn€  nn¾ nn½fn½f° f°–f©  ¯ ¾ f½°¾f° f–f¾¾f f½f ½ ¯f¾fff   f°–¾f  f° ° –ff¾ ¾f °–f°f f° f© f°°f 9 °¾f ff .

- f° °– ¯ f– f..f–¾ 9 °  f°½–f¯¾ 9 °  f°¯ 9 °– ff°¾f f9–f¯9f¾nf¾f©f°fD9 f° °– °–f°© n¯ n¯f % 9 f%  ¯f f €%¯f°– ¾f½ f'f n¯ 9D@.

D- .

° €° ° ¾f°.

n nf° %% f¯ f°–¾f° ° ¾f  f° °– 9   f–f° –fff° ©f   %% . 9 ¯ f©ff°9€@ ½f  f°D  f° °–  99°D9 f°.

.

 .

– ¾%%  9€¾¾ ¾¾¯ ° ¾  9½f¯ J   %% .

f¾¾¯¾¾ ¾¾¯ ° Jf@ fn ¾- ° D °  fn° ¯°  n¾ .

¯½f° ––°¾   %%  ° .

°  .

f¾¾¯¾¾ ¾¾¯ ° -   .fn.f°.

f– 9 ¾°–.

¯½f° J°ff½f D  %% f°nf°–f°9 °¾f°.  9 ¯ f©ff°9€  f½f°9½°¾  f° °– D@ f°.

.

° f°f° ff½  ff°–°€f°f ¾f ©f ©f °¾ ½¾ °¾ ½¾f°– f ½ff¯¾ ¯°f f¯ f¾f½¾ ¾  f¾ ¯ f°–f° ff¯½ff¯ ¯ff¯°€f¯f¾ °€¯f¾ f  ¾ f°– f©f©f f  ©f ff¯°f ½  ¯ f°–f°  f f f f½  ¯ f°–f°¾  ff¾°–f½  ¯ f°–f°°f¾ff °  ¾ f°– f©f°¾ ½½f°– ff½f f°¾ ½ f f ff¯°f ¾   ¾ f°–  ©f½f f°f½  ¯ f°–f°  f°f©f¯  f  f ff¯–f¾f°– f f½f ¯  f¾  ¾ff°¾ °   f½ f½f¯ °  ¾ff°°f©f  f°¾  f ¯f°¾ ff fff°– f¾f n 9 ° f°f°½f f½°¾½nf€€ °– f½ ¯ f° °–f°ff½ ¯ ff½° f©f f°½ ¯ nff°¯f¾ff °–f°¾€f°f  ¾½f fff½ ff  f° ¯ f°¾ nff ff½¯ °–ff°f°––°–©ff  f©f ¾  ½f f ¯ff¾¾f°  ©fff¾fff° f¯  f¾ °  f  ¯ff¾¾f¾ f°ff°¾°–¾f©f  f°–f¾¯½ ¾ ¾  f° f¾ ¯ f°  f°¯ °  ¾ff°–f¾¯½ ¾  ¾  °–f°¯ ° f½f°¾nf€€ °–  ¯ ° f°f°½f f½ °–f©ff°½ ° f½f f ¯ ½ @½ ° f¯ff¾¾ff°–¾°–¯f f¯f¾ff ¯f¾ff¯½ ¾   f° f °° ½ nff° ff¯½¾ ¾½ ¯ nff°¯f¾ff ¾  ¯ff¾¾f¯ ¯½ f©f   f¯½f°   f¯½f° f¾ff°– ½ f°°¯ ¯ nff°¯f¾ff¯½ ¾f  .9. °¾ ° f°Jn ff¯f% % ½ ¯ f©ff° – ° f€¯ ½ff°¾f¯ ½ ¯ f©ff°f°–¯ ° f°f°½f f½ °–° –f¾f°¾ nff f€½ °– ff° f °–f°¯ °––°ff°½ °– ff°f°–¾ f ¯¯ff¾¾f ¾ ¯°f 9 °– ff° fff° © °–f°nff¯ °––°ff°°f ff¯¯ °©ff  ½ ¾ff°ff– ©fff°– f f½ °– ff° f f¾¯ °©ff ½ ¯f¾fff°f°– f f½ ¯ff½ °– ff° fff° ¾¯½f° ff¯¯ ¯©f°–f½f°©f°–  f° f¾f° @  f°¯½9 ¯ f©ff° ° f€9 ¯ f©ff°– ° f€¯ ¯f° f¾f° f°– ff½f f    f©f°¾¾¯ °– °f f©f f°½ ¯ f©ff°    ½ °°– f½f° f°–f° f©f¯ ° °¾¾°¯ °-%  % f°f % f  %  f°ff°ff ff f . --@%. 9 ¯ f©ff° ° f€  .  fff €¯f°– ¾f½ f¾ ©©f ff°f°– ¯ f½f ½f¾f°– f° –°ff°  ¯ ½f– 9 °  f°-  f°¾ff¯ °©f¯° ff ff°°f¾ff¾ff¾ °  f°¾f % ff fn½–%    .9%   9 °– f°9 ¯ f©ff° ° f€9 ¯ f©ff° ° f€%9%¯ ½ff° © ¯ff° f  ° f  f°°–%% .

¾½°©ff¯ °f¯½ff°°€¯f¾ ½f f¯ff¾¾f  f½ ¯  ff¾¯ ff°½ f¾¯ °fff ©ffff¾°€¯f¾ ¾ °¯ ¯ f °€¯f¾¯f¾  ff¯½ ¯ff¯f°¯  f € . °–f°¾¯ff¾¾f f f¾ f°– ¯ff¾¾ff°– f½f¯ ¯ ¯f¯½f°½ °–ff° ¾ °  ff¯ f©f – . °–f°––f½ ff©f¾ ¾ f°–¯ ¯¾f – f©ff°– € € f°¯f¾ ¾ f °¯ ° f½f° ¾f –¾f¯½f¾f–f¾ ¾  ¾ff° ¯ ½f¾f°¯  f¾ °  ¯ff ¯°–°f° ¾ f¯  ff ff½ f©ff°– € € f°¯ ¯¯f¾f f  ff¯ f©f   ©¯f ½ ° f°%f°  %f°–¯ °°©f°½ °–f½¾€½ ° ff° ½ ° ff°°¾¾ f°–¯ f° f¾½ ¯ f©ff°– ° f€ f f½ff  ff f¾ f©ff ¾°f  f°ff°ff ff  ff¯  f°–¯f ¯ff%. °–f° f°f°–$ ¾ °ff ¯f°¾ fff°– ¯f¯½ . °–f°f¾¯¾¾ °f ff f©f  ¯f° .

 f f©f°¯ °–°–f½f°½ ¯ff¯f° f°½ °–ff¯f°¯  f ff¯   ½f°¾ f ff°– ff° °–f°½ ¾  .  f©–f f©f° ¯ °f°––f½½ ° f½f ¯f°¾f f¾¯  ff°–  f f½ ° f½f¾ °  ¾ ° ff½f°°¯ °nff f°¯ °– ¯½f° –ff° f°½ °© f¾f°f°–¯°n ½f½f° ¾  nff¾f f ¾ °¯ ¯½  °f°–f°½ ° f½f ½ ° f½ff°–  f   f ¾ °¯ f¾f°ff° ¯°¾f¾ f°¯ ¯°f¯ff¾¾f°¯ °–f¯f °–f°¾ ¾f¯f – ©fff°–¯°n ¾ °½ ¯ ¯ f° ¾ ¯½ff° ½f f¯  f°¯ °n °ff½f f°–¯  ff¯f ff°¯ f¾f –f°–– f°¯ °–ff¯°€–°€ ff¯½f°°f    f ff ¾ °¯ °fff°f½ff– ©fff°–¯  ff¯f¾ ¾fff f °–f° ½f°¯  f  °–f°¯ °––°ff°nff f–f°–¯ f f f°¾f°–¯  °–f½  ff½f°¯  f f½f¯ ° ¯f°©ff f°ff¾– ©fff°–¯  ff¯f ff¯f° ¾ ° ¯ °f½f°½ f°–f ¯°¾f¾ f¯½f°–f¯ f ff–f€f°– f½f¯ ¯ f°¯ff¾¾f ¯ ° ¯f°f °f€©ff f°ff¾– ©fff°– f¯f n @ff½   –f°¾f¾ f°–f ©f °¾ ½9f fff½° ¾ °¯ ¯ f°¯ff¾¾f °–f°¯ °–¾f°f °f€f€¾f°¯ ° €¾ff° f°¯ °°©f° ff½f° f°–f°f°– f¾f° f½f¯ °© f¾f°¾ nff  ° – ©fff°–¯  ff¯f .  f ¯°f¯ °–¯ °f ½ ° f½f ¯f°¾  f¾ f°¯ ¯ f° °–f°°f °–f°½ ° f½f¾ °  @©f° fff½ ½ °–°–ff°°f ff°¯ °f½ ff°¯ff¾¾f f f½½f°–¾ f°–  ff¾  ¯ ¯ f½ ¯ff¯f°¯  f¯ °©f  ¾½¾  f°¾f fff°ff¾½ ° f½f f°ff¯  f ¾ °  D°¯ ¯ f¾f¾f°f¯ °©f ° ¾€  ¾ ° ff½f° fff°¯ °f¯f°f ½ ° f½ff°–#¾ff# f°¯f°ff°–# °f# f°–½  ff°f ff¯ ¯ f¯  f f°¯ °– ¯ff°½ ° f½f°ff°½ff ¾fff°  f°f½ f°ff°f°– f©f° ¾ °f ff½ f°ff°  f @ff½  @f°f°–f° f°°€°f¾  f ¾ °¯ °– f ½f° f°–f°¾ f–f°¯ff¾¾f°f  ¾ °¯ °–f©f¯  f°¯ °– ¯ff°€ °¯ °fff – ©ff – ©fff°– ½ ff°¯°n f¾f½ ¾ff°–ff°  ¯°¾f¾f° ¯ f°  .ff¾¾f  f° f½f½ ¾ff°¾ © °¾ f°¯ °ff°f° ¯  f¯ °©ff °f °–f°½f° f°–f°f °f€f°– ¾f° ¾ ° ff½f°¯  fff° ¯ f¾ff° ff½f° f°–f° f f ¾ ° ¾ ¯ f ¯ °–  ¯f¾ff  f° f¾ .  f ¯°f¯ °– ¯ff°ff¾f°°¯ ° °– –ff°¯  f .f½ °  f° °° ¯f %   f°–¾f°¾%- f  ¯  f°°¾° % ¯ ¯ fnf%€€ f°n  % ¯ °¾%    f°nf f¯ff  % 9 ° f°°f½½%%¯ ° ¯f°¾f °–f°½¾€½ ° ff° ½ ° ff° °¾¾ °–f°f¾ f©f  @ff½f°9 ¯ f©ff° ° f€f°–f f°–fffff½f° ½ ¯ f©ff°– ° f€¯ °f%   %   ff¾ff½ °–f°½ °© f¾f°¾ f–f  f @ff½  9 °–°–ff°9f fff½ff°  ¾ °¯ °¾f°½ f°¯  ff° ¯ff¾¾f ff¯ ¾¾f°– ©f°°¯ °––f½ ¯ff¯f°¯  f °f°–½f°– ff°  ff¾ .

- -. ° ° ¾%% ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ ½ff° ¾f½ ° ff°½ ¯ f©ff° ¯f°f¾¾f¯ °– ©ff°½ ¯f¾fff°f°– ° °–f° ¯f¾ °¯ °¾°½ °– ff°¯  f¾ °  ¯ °– ¯ f°–f°° f° f¯½f° ½°–f °–– ¯ °– ¯ f°–f° ¯f° f° f°½ nff  .f¾ff9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ ½ff°½ ° ff°f°– € €°½ °–f©ff° ½¾ ¾ ½°–f°–– 9 ¯ f©ff°°¯ ¯ f°¾¾f°¯ ¯½¾ ¾°€¯f¾f°– ¾ f©f  ff¯ °f°f f°¯ °¾°½ °– ff°¯  f¾ °  °f°– °f¾¾f f° ¾ f°f 9 ¯ f©ff°°nn°¯ °– ¯ f°–f°½ °– ff° f¾f¯f½°¯½ ¾ %f¯f°f°  % . °f©f° ¯°¾f¾° ¯ °f°f°–°¾¯ff¾¾f   f ¾ °¯ °– f°¾f°– ¯¯ff¾¾f  ¾ ° ¯ ¯½ ¾f½f° ¯°¾f¾f°–¯ °–f¾f°½ ¾ff°– f½f  f f°¾ ¯ff¾¾f  °–f°¯ f½ ¾ff°–  f f –ff°¯  f¯ff  ff¯½f° ¯  f¯ ½ f¾ff°fnf% ¾¾°f°n %f°–¾ nff½¾–¾¯ ¯ f°–f°½ f¾ff° f  ° f¯¾ °––f f½f¯ ¯f¾¯  f°¯ °–f°–½ f¾ff°fnf °–f°¯ °nf f °f€½ °© f¾f° .f¾ °ff ff¯ ¯   ¾ ¯½ff° ½f f¯ff¾¾f°¯ ° f½f°½ °– ff°$  f¯½f° f¯  f½f f ¾f¾ f°° ¾f°– f  f¾f°¯  f¯ ° f½f°½ °– ff° ff¯¾f¾ f ff°¯ ¯ f½ff¯ff¾¾f¯f°f°ff° °––f° f°–f ©f°¾ ½f¯  f f°–¾ f  –f°¾f¾ 9 ff°° ¯f¾ f°©–f° ¯ °–ff° °–f°f°f °¾ ½  ff¯ f°–f ½f°– f¯ °–ff¯ ½–f°¾f¾ n @ff½  . °f  ¯ fff¯¾f ¾¾  ¾ °¯ °–f©f¯ff¾¾f°f ff¯¯ °f ¯ f f°–f ©f °¾ ½f°– f¯  f f½ff°   f½f9 °©9 f¾f°ff°9 ¯ f©ff°  ° f€ff¯¯ f¾f°ff°½ ¯ ©ff°– ° f€ ¯ °¾°% %  ¾ °½  ¯ ¯½ ff° f½ff  f°ff°ff ff¾ f–f  f . ½ ¯ f©ff° .9. ff¯¯ °©ff   f–f½ ¾ff° ff½f°¯ff¾¾f¯f¯  –f°¾f¾ f°–f ½¯  f °–f°¯ ff°½  ff°¾ f° °–f°f°f°¾ ½ °¾ ½ 9¾ ¾  –f°¾f¾° °¯ ¯ f°f @ff½  ½f¾°¾ ½9f fff½°  ¾ ° ¯ ¯ f°  f–f½ ¾ff° °–f°° ¾f°–  f° ¾  ¾ff° ¯ff¾¾f °–f° f°–f°¾ ½f°– f¯ °–ff¯ °¾¾ . °–f¯ f¾ °–°f°¯ff¾¾f ff¯¯ °nff °f€½ °© f¾f° °–f°¯ °f©f°  f–f ¯°–°f° –ff°¯ff¾¾ff°fff° ½f ¾½ ¯ °$½ n ff°  –ff° ¯½¯ °––°ff° f–f¯ f°f– ff¾¯f¾ ½ ff° ¯ °––°ff°f¯½f°©f¯f%¯½  ½ ¾ °f°%°¯ °–f€f°¯ff¾¾f ff¯ ½¾ ¾ f©f Iff¾ –ff°° f½f¯ ¯ f°¯ff¾¾f¯ ¯½  ½ °© f¾f°f°–n½ ¯ ¯f¾f° n D° ¯ ¯½ f½ ¯ff¯f°¯  f¯ff ¾ ° f½f¯ ¯ f°¾f ¾f  f%½ ° °  ¾°¾% ¾f ¾fff° ¾%n°  n½  ¯¾% f°½ f°ff°   f%  ¾  ¾°¾%f°– f½f  ©ff°¾ nff ¯½  ¯  ½ $$f°f –¾½ n¯$$$½ ¯ f©ff° – ° f€ ¯½– ¯ ½¾f° 9f f  ¯ °f  . 9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f  °f¾ ©ff¯f°°   f°–¾ ff°–°¯f f°–f¾ f  °©f¾ nff¯¯½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff   f¯ °f©f°  ½f f¾¾f¾f¾¯f¾fff°– ° f° ¯f°ff°– f½f¯ ¯ f° ¯ ff°  ½f f¯  f°¯ ff°½ °  f° f°°  9 °– f°9 ¯ f©ff°  f¾ff° .f¾ff . 9 ¯ f©ff°  f¾ff°.

°©–f¯ °–fn½f f¯ ½ ¯ f©ff°f°–f° ¾ ½ #½ ¯ f©ff°  ff°½  %½© n f¾ °¾n°%# #½ ¯ f©ff°  f¾ff°½ °–ff¯f°% ½  °n f¾  °¾n°%# # f©f °%f °n f°°–%# f°#½ ¯ f©ff° ¯f°f%f°n  °¾n°%# .

° ° ¾% %  f–f½ °– ¯ f°–½ °–f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f¯ ¯ f°¯ ½ °–f©ff° ¯ ¯ff ¾¾ f–f %f©n  f©n  ¯ °€  .f¾ff. n¾¾9 ¯ f©ff°  f¾ff°.f ° f°  Jf¾   .f  ¾f   f° .

¾½°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯°–° ½¾f½f f ¯ff½ f©ff°  °%9 ¯f ¯ff ¯ ¯¾¾f% ¯f¾fff°–ff° ¾   f ½ °f °f°fff–f ff¯½ ¯ nff°°f ¾¾f¯ °°©f¯f¾ff f f°f¯ff ½ f©ff°  f–fn° ¯f¾ff½¾f°– ¯°nf° ff¯½ f©ff°  .–°° @ n°–½fIf°   %   9 °–f©f°½ f°ff°ff¯f¾ff  f°°f¯ °––f°¾f¾f° ¾ f½¾½ ½°¾½ff  f¯½f°ff ¯  ° ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ °––f°¾f¾f°½ °–f©ff° ¾ f½ f°ff° f°¯f¾fff°– f f°f¾ nff¾¾f½ °°– f°¾ nff½ f  ¯f°f°¾¾f .  f¯ °–f©f°¾f¾  ½f°°fff ° ¯ °–° f©ff f° ¾ f°f  f°¯ ¯°–°f°f f°f  f–f¯fnf¯¾¾°¾f¾   €¾½f f   ff°f°f ¾½° .

 ¾f½ f  ¯ °nf½  f–f¾  ff ¯ f° f½f°¯ff½ f©ff°¾ ½  –  °¯  ¾¾– ½f¾ff  f°½ ¯ °ff°  9 °  f°f ° 9 ¯ f©ff°  f¾ff° ¯f¾ff¯ °–f¾f°¾¾f¯ ff°½ °  f°f °°¯ °nf½ °  ¾ff°°ff  f f½¯f¾ff°ff .  ff¾¯ °–f°f¾¾ f°¯ ° €°¾f°¯f¾ff ¯ °– ¯ f°–f° ½ ¾¾  f°¯ ¯ ff¯ff° ¯ °–¯½ f°¯ °–f°f¾f°€¯f¾ ¯ ff° ¾½ ¯ ° %©f ½ f°% ¯ ¯ f°€  °¾  f°¯ ¯¾f° ¾¯½f°  f ff°– ° ¯   ½ °  f°f°– –°ff°  –f°°– ½f f¯f¾fff°–¾ f°– ½ f©f  . °–f¾f° ½  f°¯ ¯f¯ f°°f ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff¯ °°¾¾f° ¯ °–f¾f°½   ° ff¯ °ff°fffff €f f°½ f–ff°f°– ¯ °© f¾f°ff¯ f °½ °  ¾ff°¯f¾fff°–¯  f ¯f° 9  ¾  f½f ½ff°¾½ f¾ ½ ½f f½ f©ff°#¾f° °–¾# 9  f½f©–f ½ff½f° ¯ €¾  ¯f½°½–f¯¯½  ff°ff f°½ f–ff°¾ ½  f°–ff° © f¾f° ¯ f°   °nf°ff° ¾¾f°¯ ° ¯°¾f¾f° ½f f ¯f°  ¯f°°ff°–f° °f°–f½ff°–¯  f½ f©f f°¯ ° ff°¾ff °f€¾ –f  f f½f½f°f ¾°fff¯fff  f f¾ 9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff nf° ¾¾ff°–  ©f¾f¯f¾f °–f°f°–f°°f ½f°–¾ °–¾ nff ½f¾f°–f° ff ff¯ ¯½ n   ©f¾f¯f¯ ¯ f°¯f¾°¾ nff  f°©f°  f ff¯–f¾ –f¾¯½ ¾ f°¯ ¯½  f°f½ f°–°  f–° f° f– f°° ¯ °– ¯ f°–f°  f¯½f°¾¾f f° f¯½f° € .

f°€ff9 ¯ f©ff°  f¾ff°. ° ©f°f¯f°€ff¾¾f°– ½   f¯    f ff ¯  ½ ¯ nff°¯f¾ff @–f¾–f ff¯ ¯ f°½ff¾¾f¯ ¯¾f°–f¾ –f¾  f° f°¯ °f©f°–f¾ –f¾½ f©ff°  © ½ f©ff° f ½ f©f f   f½ f ¯f¾fff°–f f ¾ f°f f°–f f°–f9 ¯ f©ff°  f¾ff° .f¾ff9 °–f©ff°  f¾ff°¯f¾ff   ff°–ff¯ff°– ¯f °–f°– . .f¾ff9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f f°nf°–°¯ ¯ f°– ¯ ¯ f°°€¯f¾¾ f°f f°f°f ½f f¾¾f 9 ¯ f©ff°  f ¾ff°¯f¾ff  ¯ f°–f°°¯ ¯ f°¾¾f¯ °– ¯ f°–f° ¯f¯ ½f° ½ ½ ¯ nff° ¯f¾ff  f°  f¯½f°°  f  f©f  f–f½ f°f°– f¾f¯ f½  ff° ¯  f ff¯½ °–ff¯f°°ffff¾¯f¾  f°¯ °©f ½ f©ff°–°¯ f°¯f°  % f¯  % .

 f–¯ °%% n°° n ¯ %. @  °f¯%  f°% °  ¯ %. °––f°¾f¾¾¾f° f©f ¯ ¯ f°¾¾f°¯ ° €°¾f° f°¯ °––f°¾f¾f°–f¾ f©ff°–  °–f° °–f°¯f¾ff ¾  @ff½ . @ %%  ¾f ¯ %. f°–f°%f ¾ ½¯  ½ ¯ f©ff° ½f  ff¾ ½–f¯ ½ ¯ f©ff°f°– ½f° f°–ff f°¾ ¾f ° f½f  ¯ f°–f° f°¯ f f¾f°ff° ½ °  f° f¾f%9f   %  –f ¯ ½ ¯ f©ff° ½f f°– ¯f¾ f ff¯   °–%n°° n % ¯ ©f°– f f f f% % ¯   ½f f°%° –f %  f¾ff°ff ¾f°– ¯  . °–f°f¾¾ f°¯ °– ff¾½¾ ¾½ ¯ nff°¯f¾ff ¯ ¯ f°¾¾f° ¯ ff° € ¾ff ff¾ f f½½ °  f°¯  f f°½¾ ¾ ½¾ ¾f°–¯  f –°ff° %¯   f¯     . -@9D 9f % %¯ °–fff° ff½ ¯ f©ff° ½f ¾ f–f¾f½¾ ¾¯ ¯½°f f½fnf %% ½¾f½f f¾¾f%¾ °n °  % %%½¾ ¾½ ¯ f©ff° ¯ °–f¯ff°½ ¯ f°½ °–ff¯f°f°–¾°– ¾ f%%½ ¯¾ff°f°f  f°–¾  f  f© f¾ f f½fn½ ¯ f©ff° ½f  ff¾ ¯ °°©f° ff¯  ½ ¯ f©ff° ½f f ff¾ ©ff° °–f° f½fff°½ °  f°¯ °f ¯f¾ ff¯ff°½ °  f°½– ¾¾¯ f°½ °  f°½– ¾¾¯ ¯ ¯f° f°–½ °  f° f°–¯ °–f¯ff°½ °  °––fff°½ °  f° ¾ f ½¾f½f ff°f%n n °  %  ¾ f–f f¾ f f½½ f¾f°ff°½ °  f°f°–¯f¾ ½¾f½f f– f°½f f ff° f©f @©f°f¯f¾ ff ff°¯ °°–ff° n  f¾f°½f¾ ¾ f°¯ ¯ f f°f  € € ff¯¯ ¯ nff°  f–f½  ¯f°– ¾f©f° ff¯° ¾½ °–ff¯f° % ½  °n %½f f¯¯°f%Jf¯ #°  % @©f°½ °  f°ff°½– ¾¾¯  f ff¯ ff°ff–f f f½f  ©f   ©f¾ nff¾¾ ¯f¾ ¯ °n°f ©f  f°  ©f °–f°f f°f D°¯ °nf½f©f° ¾  ½ °  f°¾ f¾°f f½f ¯ °– ¯ f°–f°¾ ½ °°f ff f°¯°f¾ f½f°f ¯½ °  f°½– ¾€f ff ¯f°–¯ °–f¯ f¾½ °–ff¯f° ½ °–ff¯f°%ff –ff°% f©ff°– ¯°f  ¾ f½¾¾f% ½  °n nn¯%  f°–f°¯  ½ °  f°½– ¾€  ½f ½ ° ff°°–°–f° f°€f¾f¾f°–¯ ¯°–°f° f°–¾°–°f½¾ ¾ f©f¾ nff f¾½f f¾ f½f°f°¯ °– ¯ f°–f° ff f°¯°f°f%.¯ ¯½  °ff°¾¾f °–f°¾f¾f¾¯f¾ff f° f °–f°½ °f©f° f°f°f¾¾ f¾ ©f¾¾f °f¾9 ¯ f©ff°  f¾ff°.9. @  f–%%  ¯ %. ¯ ¯ °–½ °  f°°  f¯f½° ¯½  ¯ ° °–¾¾f°¯ °–¯½f°°€¯f¾f°–¾ ¾f ¯ f¾f°ff° ¾½ ¯ ° ° ¯ ° f½ff°½ °© f¾f° f°½ ¯ nff°¯f¾ff@ff½ . @ ¾ff°–%% ¾  °n ¯ %. f°–f f f f%%  f  ¯ %. . ° –f¾%% ¯¯ ¾ ¯ % . °– ¯ f°–f° f°¯ °f©f°f¾ ff ¯ ¯ f°¾¾f ff¯¯  °nf°ff° f°¯ °f½f°fff°–¾ ¾f¾ ½  f½f°    f°¯ ¾ f¯ ¯ f°¯  f°  f––f¾ °–f° ¯f°°f @ff½ .  @  °–%% ° ¾ ¯ %. 9f¾f°– °f°–%% ° –f ¯ %.f¾ff@ff½  °f¾¾¾f½f f ¯f¾ff¯ °© f¾f°©f°½ ¯ f©ff° ¯ °© f¾f°–¾f°–  f° ¯ °–f©f° € °¯ °fff ¯°¾f¾ffn f°¯ ¯°nf°¯f¾ff ¯ ¯f¾¾¾f°   f ff¯½ ¯ nff°¯f¾fff°– ½ @ff½ . ff© %  f½° ¯  ¯ ½ ¯ f©ff° ½f ¾ f–f¯f°ff°–  ¯ff° –f %  % f¾ f°f¾ ½¯ ½ ¯ f©ff° ½f   ¾ ½¯ ½ ¯ f©ff° ½f   ¾ f ff % €f–¯ ° ¯ %.

    °–°©–f¾ nff°ff¯ °– °–f°¾f°¾ ½ °–f°°¾ ½f° ¾f½ °–f° ½f° ¾f  f¯½f° °–f°  f¯½f°f° –f¾f°– ff° ff¯¾ff °–f° –f¾f°– ff°½f ff °f ¾ f  f°– ½ f©f½f f¾f¾ ¯ ¾  °–f° ¾ ¯ ¾  °f 9 ¯f°€fff°½ ° f½f°¯   °–%n°° n %°¾f°–f  f° °–f°°¾ ½.¯f¾°– ¯f¾°–¯ ½ ¯ f©ff° ¾  ¯ff¯ ½ ¯ f©ff°f°–ff° –°ff° ff¯½ ° f°°f ff¯   °–% n°° n ¯ % f °f¯   °–° ½ ° f°f°°f  f½f f½ f f°f° –f¾°   f°–¾ ¾ °   f° .

 9 ¯ f©ff°9 ° ¯f°@  ¯ °–  9. -  . -9-.D-@ .fff% ff¯€¾f% f°°¾ ½¾ ¯° f½f f¯f°¾f% ff¯ –% f–f f½f © ½ ¯f¯½ff°$½ °–f°–f°f ff¯½ ¯ f©ff°½f f°¾ ½ °¾ ½  ¾ % n °¾n°f@¯ % f° f °–f°½ff¯ °–° f ©f °f½ °© ©ff° ¯ ff¯½¾ ¾½ ¯ f©ff° ¾ f–ff f f¯ °– ©ff– ¯ f½f   f° f¯   °–%n°° n %f ff¾ f–f  %% f¯½f½¾€ f ¯ °–ff°   ff¯¾f  f°–¾ f ff¾¾f¯ ¯½  –f¯ ff°f°–f¾ ¾ f–f¯f°f¾f  f°–¾ f°– €¾½f f¾ff¾½   ° %%¾¾f f½f ¯ °– ¯ f°–f°°¾ ½ °¾ ½°n¾ nff ¾¯ ° ¾ ¾ °––f ©f f½¾ ¾ ° °f¾f¾ %%¯ °– °–f°   ff¯¾f  f°–¾ ¾f°–f¯ ¯°–°f° f–¾¾f °¯ °–f© ¯ °–°¾ ½f¾f¾ ¯ ¯½  f ¾ f¯ °–f¾¯f¾  ¾ nff ¾ ¯ ° ¾¾ °––f¯ ¯ ff°° ©f °f½¾ ¾f°¾€    ff¯¯ ¯ nff° ¯f¾ff ¾f¯½°–¯ ¯½°f  f° ¯   °–°©–f¯ ¯½°f f°–f° ¾ f–f  %%¯f¾ ff° ½¾f°ff°f  f°–¾  %% f¯ ° °––°  ©f¾ nff¯ ¾ °––f¾ f½ f©ff° f½¾f©f €¾f°½f¯  °f°–f°°¾ ½ °¾ ½¾ f  f°f  f°–¾   f°%% ff¯¯ ¯f f°   ff¯¾f  f°–¾   ¯ff¾ff°¯ °– ¯ f°–f°   °–f°f°f  f°–¾ ¯ °©f  f ff° °f¾ %½ff°% f¯ ½ ¯ f©ff° ½f ½ n°° n %  °–%¯ °9f  %  %¾ f–f   @ff½9  °nf°ff°   ¯ ° °f°©f°½ ¯ f©ff° ¯¯  ¯ ° °f°©f°½ ¯ f©ff°¾¾ f°–f f°–ff°–  ¯½ –   ¯ °f¯½ff°°¾ ½½ ° °–f°–f¾ f¾f¾¾f %¯f ½f¾ff%   ¯ °f¯½ff°°¾ ½ °¾ ½f°– ° f f¾f ¾¾f  ¯ °f¯½ff°  f¯½f° ½¾ ¾f°– f½f  ¯ f°–f°  ¯ °f¯½ff°ff f° ff°f°–ff° –°ff°$  f°  ¯ °f¯½ff°½ f°ff°°n @ff½9 f¾f°ff° ¯ ½   ½ °– ff°  f¾  °–f°¯ ¯ f– f¾ ff¯ f½f ¯½   –ff°½¾ ¾   –ff° ½ °nfff° ff   ¾¾¾ nfff¾f ff¾ ¯ ½    ff¾½¾ ¾  ½f    ½ff°f¾½ °–f¯ff°   ½ff° ff¯½ °¾°f°ff f° ff°   ½ff°¾¾f¾ff ¯ °–f°f¾¾ ff   ff¾½  ½ °–f¾ff°¾¾f f f½°¾ ½ °¾ ½$¯f ¾ ¾f °–f°©f°½ ¯ f©ff°¾¾f°– f  f½f°    ff¾½¾¯  ¯f¯½f° ½ °–f¾ff°¾¾f f f½½ °––°ff°ff   .

9 ° ¯f°  ¯ °–9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ½ff°¾ff¾f f–f° f ½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°f°– f°f¯  ff°¾¾f ff¯ –ff° f©f¯ °–f©f f f¾ –f fff¾° f¾f°ff– f°¾¾f  f°f°ff¾¾f °–f°¾¾f ¯ff ½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ½ff°¯ °f¾f°ff½ ¯ f©ff°f°–¾°– f°½ ¯ f©ff° f .

f°–¾°–  f °–f°f°–ff°fff f ¯°f°¾– °–f° ¾f½f°¯ °f° ¯ °–° °f¾f¾°¾ ½ °¾ ½ f¾f f°½  ¯ f°–f°¯ °f¾¾f  f° °–f°f°ff ½ °– ff°ff f°°¾¾°¾ ½9f°– ¯¾¾f °–f° ¯f¯½f°¾¾f° ¯ °–½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  f¾ nff  ¯ °–¯f½°¾ nff f¾ ¾ff°f f½f¯ ¯ff¯°¾ ½ °¾ ½¾f°¾¾ ¾f °–f° ¾f½f°°  f°f ¾ ¯f°¯ f¾¾f f°– f f½ – –½   f°f¯ °f©f°½ °–ff¯f° ½f f¯  f° ¯ °––f½ °– ff°ff f°¯ ¯ ¯ °–¯  f°¯ ¯ °°¾ ½ °¾ ½ ¾f f°–  f¾f ¯ ¯ f° ¾    ff°f€–f °f¯  f  f°f °¾f€°  ©f f°–ff° €°–¾¾ f–f€f¾f °ff¾¯  ½ ° °–  f° ½ ¯ ¯ °– 9 ¯ f©ff° °–f°½ ° ¯f° ¾¾f  °–° f©f¾ f–f° ¾f¯ f    ff°f€¯  f¾ °  °–f°°¾ ½ °¾ ½ f°½°¾½ ½°¾½  f°  ff¯ ½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°¾¾f©–f f©f½ ¯ nff°¯f¾ff¾ nff¯f°  f°  f¯½f°   f¯½f° € f °f¯  ff¾¯ °–f°f¾¾ f°¯ ¯f°½f¾°€¯f¾%f°  % -f¯° ff¯½¾ ¾½ ° ¯f°°¾¾f¯ ° f½f f°f°ff ¯ °–f° f–f–f ¯  f  ff¾ °––f f½¾ ¾½ f¾f°ff°½ ¯ f©ff°¯f½°©f°f°– nf½f  f¾f°f °–f° f  ¯ °–f°–f°– ¯f¾ f ff¯ ¯ f° f°f°f–f¾¾f f½f¯ ¯ff¯©f° –ff°f°– ff° f° ½ffff° °f°–½¾  ©ff°– ½  ff° ff¯ –ff°½ ¯ f©ff°%f¯f°f° % f½f °°–f° 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–f¾¾f f©f f–f¯f°f f©f% f° f°%  f©f¯ °–f–f ¾ °  ¯ ¯f¾  f° ¯ f°¯ °f°¾€  ¯ ¯½  n ff¯ °–° f¯ °–f€f f°¾¾f f°––°–©ff ff¾½ ¯ f©ff°°f¾ ° %.

f°   % 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ¯ f¾¾f¯  ¾f°¾ f° °–  f° f½f¯ ¯ nff°¯f¾ff f °f¯  f °f °f   ¾ ¯½ff° ½ f°¾ f  ff¯ –ff°¾f°¾¾ ¾f °–f°½  ¯ f°–f°°  f¯  f °–f° ¯ °–f°–  9 ° ¯f°  ¯ °–f°– ff° ¾¾f f½f¯ °–ff½f f  °°f ¯f¯½f° °¯ ff°½ ° ¯f° f¾  ¯ f°f%.

f°  %  –ff°½ ¯ f©ff° ½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ¯½°f½ ¾f¯ff° °–f° –ff°½ ¯ f©ff°f°–  °f¾ ½f f  f¯½f°½¾ ¾  –ff°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ° f°f°½f f ½ °–ff¯f° f©f¾ nfff°–¾°–¯ f –ff°½ °  f° ¯ ° ¯f°°¾ ½ f°  ¯ f°¯ ° f½f°°¾ ½f°– f ½   ff¯  ½f°¾ f f ¾ f°–f°  –ff° f©ff°–  °f¾½f f  f¯½f°½¾ ¾¯ ° f°f°½f f½ °–ff¯f° f©f f°–¾°–    ff°¾¾ff€ ff¯ –ff°½ ¯ f©ff°  f°½ ° f½f°°¾ ½ ff¯   ½f°¾ f f  °–f° ¯f° ff½ ° ¯f°  ¯ °– °–f°  f¯½f°½¾ ¾ f f °–f°f°– f¾ f  –ff°½ °  f° ¯ ° ¯f°°¾ ½f¾¯ f   f¯½f°½¾ ¾ f°  °– .

°½°¾½°¾¾f f f°  °–° f½f f©f¾ nff¯f°   °–f°fff°  f©f¾ nff°¾¾ ¯ ° f°f° f©f ½¾f½f f¾¾f¾ f°–f°½ f°f°–f ff¯ ¯ f°¾¾f¯ ° ¯f°€ff  °¾ ½ff½°¾½° ¯  f¾ °  f°¯ ¯ f°n f¯fff¯ °– ° ff° ¾  –ff° f¾ °¾¾f ff¾ff¾f½f f.f°% % #  ¾n °n½f ¾  ¾€f¾°°f ¾n °n ½n ¾¾ ¾f° ½ n #9 ° ¯f°  ¯ °–¯f¯f f° f°–  f ff½ff°–  f¾¾f °f°–½  f°½¾ ¾¾f°¾  @ff½f°9 ¯ f©ff°9 ° ¯f°@  ¯ °– 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–  ¯ f°–f°  f¾ff°½f° f°–f°–°€ °f°– ½ ¯ f©ff° f°½°¾½ ½°¾½°¾¾ .

° f@ fn°–f°  f°°–  ¯f°f¾¾f ff½f°¯ ¯ f°–°½ ¯ff¯f°  ¾ °  f½ °–ff¯f° ½ °–ff¯f° .

f  f¾ff°½f f½ °–ff¯f°ff f°½ ¯ff¯f°f°–¯ ° ff¯  ¯ f°–f°¯ f ½ °–ff¯f° ½ °–ff¯f° f©f ¯f°f 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ¯½°f  ¾f¯ff° °–f°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff f°°f°–©–f½ ° f½f°°f  f¾ff° °¾¾ ¯ff½ ° ¯f°  ¯ °– ¯f¾¾ff¾f½ ¯ f©ff°f°– ¾ ¾f °–f°.

° f@ fn°–f°  f°°–%.

°––f°¾f¾f°¾¾f ff¯ f©f¯ ¯ f°¾¾f¯ ° € °¾f° f° ¯ °––f°¾f¾f°–f¾ –f¾f°– ff° °–f°¯f¾ff¾ f¯ ° ff°ff   . ¯ ¯ °–½ °  f°°  f¯f½° ¯½¯ ° °–¾¾f° ¯ °–¯½f°°€¯f¾f°–¾ ¾f ¯ f¾f°ff° ¾½ ¯ °°¯ ° f½ff°½ °© f¾f° f°½ ¯ nff°¯f¾ff  . °f©f°$¯ ¯½ ¾ °f¾f°f¾ –ff° ¯ ¯ f°¾¾f ff¯¯  °nf°ff° f°¯ °f½f°fff°–¾ ¾f¾ ½ f½f°    f°¯ f°– ¯ ¯ f°¯  f°  f––f¾ °–f° ¯f°°f  .@% . ° f¯ f°-% %  f¯ °¯ ° f°f°    ff°¾¾f¾ nfff€  °f¾° €   f°f° f½f f €  f°¾¾f ¯ °–°¾¾½ °– ff°¯  f¾ °  9 ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff%9 %¯ ¯ f° ¾¾f¯ °©f ½ f©ff°–¯f°  f°°¯¯ f ¯ °–f°–f°–¾ nff f°– f°–¯ ° °– f°¯ °–fff°¾¾f°¯ °nf½ °  ¾ff° f f½¯f¾ff°ff  -f¯°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f° f°9   f ff¯ f½fff°–½ °°–f ½f f ½ ° ¯f°  ¯ °–¾ f–f° ¾f  f¾ff°½f f½ f°ff° ½ f°ff°  f¾ff° ¾½°  f°½ °  f°¾¾f f°–¾°–  ff ¯ °–f°–  ff¾½f f°–°–f°  f¾  f °–f°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °– ½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff ¯f °–f°¯f¾ff  ½f°°fff°– ¯f°ff°–¯ ¯ f° ¾ ¯½ff° ½f f ¾¾f ff¯¯ ¯ f°¯ ff°½ °  f°f°– ½ f°°¯ ¯ nff°¯f¾ff  ¾   f° f °f¯f¾ff¯ ½ff°¯f¾ff  ½f°°ff ½ ¯ nff°°f ¯ ¯ f°½ °  f°f°ff ¾½°% ° ¾ % @ff½ ff½½ ¯ f©ff°  °f¾ ¾¾f½f f¯f¾ff¯ °© f¾f°©f°½ ¯ f©ff° ¯ °© f¾f°–¾f°–  f°  ¯ ¯f¾¾¾f  f½f fff¾½ ¯ nff°¯f¾fff°–  f°–   . °° % ff¯¾    %  ¾n ¯ ½ff° f–f° f° ff°¯ ½ff°½ f¾f°½¾ ¾ ¾n  f°– –°ff° ¯ ° ff¯ ¾n f ff½¾ ¾¯ °f ¯f°f¾¾f¯ °–f¾¯f¾¾f °¾ ½ff¾f½°¾½ 9¾ ¾¯ °f ¾ ¯¾f°f¯ °–f¯f ¯ °––°–f° ¯ ¯ f ¾¯½f° f°¾ f–f°f 9 ¯ f©ff°½ ° ¯f°f f½ ¾f¯ff°°f °–f°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff . °– ff¾ –ff°¯ ¯ f° ¾¾f°¯  € ¾½f f½ °  f° f°½¾ ¾½ ° ¯f°f°– –°ff° ¯  % f¯ f°-  %f °f½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °–¯ ½ff°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f° f° ¯ °–f°–  f°f f½ ¾f¯ff°°f °–f°½ ¯ f©ff°  f¾ff°¯f¾ff  ¾ f   ff¯½ ° f°°¯ °––°ff°ff½f° °–f°¯ °–f f½f¾ fff½f°9  .

° °f°©f°f°–ff° ½ f©f ¾¾f  . °f½f° ff f° ff°¾ nff °–f½  .f°%f% ¯ ¯ f°½ °© ff¯¯  °nf°ff° f°¯ °f½f°½ ¯ f©ff°½ ° ¯f°  ¯ °– ¾ f–f   . °n f   f –ff° f°–ff°  ©ff° ¾¾f°¯ °– f ¾f°f°–¯°–°¯ ff  ¯°–°f°°¯ €f¾  f°©°f °¯ °nf½f©f° ff¾. ¯¯  f°– ¾ ¾f °–f° –ff°½ ° ¯f°  . ° °f° ¯ f½ °–f¯ff°°¾¾f  . ° °f° °–f°n ¯ff½ff¾¾fff°  ©f¾ nff °  ff¾ nff ¯½f°–   f ff¾¾f  .

¯ f° f°f°f–f¾¾f f½f¯ ¯ff¯©f°  –ff°f°– ff° .f°%f% ¯ °ff°f°f f¾ f–f  f . ¯ ¾f ff¾ ¯f¾¾f¯ ¯ff¯©f° –ff°½¾  f°–f¾ ff° n  ¯ –ff° ff°¯ °© f¾f°½f f¾¾f °f°–nff  ©f .

ff° ¾¾  °f°– ¾¯½f°°¾ f½© °¾ –ff°   .9.9--O. °–f¯f¾ f½¾¾f¾ f¯f¯  f¯ ff° –ff° . f ¾¾ ¯½ f°–¾¾f f¾ ¾¾ ff°f¾f–f¯ f ¾  nff½f f  f¾ @f½ ¯½   ¾ ¯½ff°¯ ¯ fnff°f¾ ¾¾°f € .f f¯ °f$f¾ ¾¾¾¾f –¯f¯ °© f¾f°¯f ¾ ¾f©f°f°–°–° nf½f –  ¾¯½f°   9.--. ¯ f°f f°–n½ ½f f¾¾f°¯ °– ¯ ff°ff f° ff°f°– –°ff° € .9 f°–f f°–f  f ¯ ¯½ ¾f½f°–f¯ f –f¯ f¾ ¾f °–f°©f°½ ¯ f©ff° ¯ ° ¯½ f°–f¯ f ½f½f°ff ff°–f°¯ f9 n ¯ ¯ ½ °© f°¯ ¯  ¾ ¯½ff°½f f¾¾f° ¯ ¯½ ff°$¯ °–f°f¾f–f¯ f . --I@-.9--9   O.f°–f¯f° .

@D-9.

@D f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f . @@ f°–f f°–f  f ¾f  f– ff¯ ¯½ ¾ f½¾¾f ff¯¾ f½ ¯½¯ ° f½f°¯ ¯ ¯ f°–f¾ f°¯f¾°– ¯f¾°– ¯½¯ °– ©ff°°f n  ¯½¯ ° ¾¾f°©ff f°f°– °f f°¯ ¯f¾f°f½f°––f ¯½ f½f ¯ °– ©ff°°f$¯ °– f©ff f°°f ¯ ¯f°––¾ff¾f°¯¾¾f °–f°°¯f°– ½f°––¯ f½f°f¾  ©f¾f¯f¯  f @f°––f½f° f ¯f°f°–f°  ¯ f°–¯ °°©°¯f°–f° €  ¾¯½f°   . °f©f°¯f ¾ f–f½ °–f°f n ¯ °°©f°$¯ ¯½ ff°–f¯ f –f¯ f –ff° ff° °–f°¯f  ¯ °°©$¯ ¯f°––¾¾f¾ nff –f°f°¯ ¯f¾f°–$¯ °–f°–f¯ f –f¯ f ¯ °©f f°f°––¾ ¯ °f°ff°ff¾f°$ f¾f½ ¯f°f°–f¯ f ¾  € fff¾f°$f°–f¯ f ¾ –¯ ¯f¯ °f°f¯f°°¾ ½$¯f ¾ ¾f °–f° ¯½  °¾f°–°–° nf½f –  ¾¯½f°$f°–¯f°   -D.

9@I.

9@ ½½ f€ ¯   f©f ¯f°f¾¾f  ©f ½f¾f°–f° f° –f°f°¾ nff¾f°¯ °–¾ff°  f–f° f–f° f¯f f°– ½ f©ff°–f f°–f  .

¾f°f ¾¾f°¯¾f –f¾¯ °nff¾f ¾f°¯ f¯ °– ©ff°¾f f°¾¾f °¯–f¯ f½f°f¾½  ©ff° f°¾  ¾°f n f½  – ¾f¯ ° ©f¾f¯ff°f ¯½ ¾f ¾ f f ¯½°f f° –f °– ¾f¯f f½f¾¾f °¯¾f¯f f ¯½f° ff¯ ¾ ¯½ff°° ¾¾f °–f°–f¾f°–¾f¯f ¾f¾f°–¯ ¯ f°ff¯ °nnf°f¾ ©f¾f¯f¯  f f½f°f¾ f°f°––f½f° f ¯½f°– f°  ¾¯½f°   @D-@@..f ¯ ¯ f–¾¾f° ½f¾f°–f° ¯ ¯ f–f°fnf°f$¯f f½¾¾f°  fnf f°¯ ¯ f°–f¾f°n  f° ¾¾f¯ ° f½f°¾f½ff°–½ f¯f ½ f°¾ f–f½ ¯ nff f°¾f½ff°– ½ f° ¾ f–f½ ° °–f 9 ¯ nff¯ ¯ fnff°°–f¾f°°f¾  °–f½¯°–°  °–f°¯ ¯f¾f°  ½ ff¯°–f¾f°°f   ¯ °ff½ ° °–f € . ¯ f° ¯ °–°–f$¯ °–f€f  ½ °–f°¯ °– °–f°¯f ¾ ¯°fff °–f° ¯f f°°f   f½ f° ¾ ¯f¾ f–f½ ¯ nff f¯ °©f ½ ° °–f f°¾ f°f  f ff°¾ ½  ff¾   ¾¯½f°¾f ¾f¯f ¾f¯f °–f° © 9 °½   9 -. °¯f$¯ °– ¾$¯ °°©f°  ½f°–f°– °–f½– .@D@D f°–f f°–f  f ¾f  f– ff¯ ¯½ ¾ f½¾¾f ff¯¾ f½ ¯½¯ ° f½f°¯ 9 °–f¾f°  f° ½f f¾ f½¾¾f  f¾ff°°¯ f°  f°–f¾f°– f°–f .

% f°–f f°–f  f ¾f  ¯½f°  ff¯ ¯½ f°––f¯ @f½f°– ff¯¯   f–f°¯f f°–  f . ¯ ° ¯½f°–f°––f°f f°–¾ nff  – °%nf¯½f°¯ °½ ¾f¾  © °¾ f¯° ¾  % ¯ °f©f°½ f©ff° n ¯ ¯ –f¾ ½f f ¯½°  ©ff° f°––f f°––f ¯½  °––f°ff¯ °© f¾f°½f ff°––ff°°f¾f¯½f¾ ¯ff°––f ff¯ ¯½ ¯ °–   ¯ ¯ ¾$½ f°ff° ½f f¾ ¾¾f 9f f¾ff¯ °©ff ¾ f  ¾f°– ¯ ¯ f° .@. ¯  ff¾ €  ¾¯½f°   J%.I.-@I-%@% f°–f f°–f  f .

 -@D.n @f½f°– ff¯¯   f–f°¯f f°– –f¾f° °––f f¯f°–  ff°– f¯ ¯½ f©f f–f°$¾  f f°–¾f¯f  ¯ ff¯ ¯½ f% ¯½f%°¯ ° ¾¾f°¾  f ¯  f   f¾  ¾f ¾¾¾ f–f¯ff½f°––f ¯ f  ¯½f¾f f° –f°f° ¯ °–f©f ¯f°¾f¯¯  f °f°–¾  f f°–¯  ff¾f f°f½f°––ff°°f ¯ ° °–ff° °–f°¾°–– ¾°–– € @f½¯f¯ ¯½ ¾ °f¾f°f¾ ¾¾ – ¯ ¯  ff¾  9 °½   9 .

@-%9 % f°–f f°–f  f ¯ °© f¾f°©f°½ ¯ f©ff° . °f¯½ff°©f°½ ¯ f©ff°f°–°–° nf½f ¯ °f©f°¯f ¾ f–f¯f°f f¾f n D°¯ °– f ff¾ f½¾¾f  °f ¯½ ½f¾f°–f° ff°– f°¾ f°– f½f¾f°–f°¯ °n ff°¯f f°– f  ¯f f– f° ½f¾f°–f°°f¯ ° °–f¾f¯ ¯ ¯ fnfff° nfff° n  ¯ f° –f°½ f°  – ©–f ¯½f°°f ¾¾f¾ nff –f°$ fnf¯ °f¯½ff°f¾ff°nff°f °–f° ¯f° ½f¾f°–f°°f f¯½f¾ f–f°¾¾f¾ f¯ °f¯½ff°f¾ff°nff°f € ¯ °–f°–$¯ °© f¾f° ¯ f¯f f°–¾ f°f ¯ ½ff¯¾¾f –  ¾¯½f°$½ °½   .99- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¯ °– ¯ff°°¾ ½$½ ¯f¾fff°f°–ff° f°––f½ ¾¾f$¾ f°f ½ ¯f¾fff°f°–¯ ¯½°ff °f€©ff f° n . °© f¾f°–¾f°–  f° .-. ¯ ° ¯½f°–f°––f°f f°– @f½ ¯½¯ °–° °f¾f¾$¯ °nfff °f€©ff f°f¾ ¾¾ . ¯f¾¾¾f   f ff¯ff¾½ ¯ nff°¯f¾fff°– ½  ¯ ¯ f°¾¾f¯ ° €°¾f° f°¯ °––f°¾f¾f°–f¾ f©ff°–  °–f° °–f°¯f¾ff ¾ %¯ ° f½f°½ –f¾ ©f f   % n ¯ ° °–¾¾f°¯ °–¯½f°°€¯f¾f°–¾ ¾f  ¾½ ¯ °° ¯ ° f½ff°½ °© f¾f° f°½ ¯ nff°¯f¾ff ½ °–¯½f° ff ½ ¾¾ ½ ¯ nff° ¯f¾ff  ¯ ¯ f°¾¾f ff¯¯  °nf°ff°¯ °f½f°fff°–¾ ¾f¾ ½ f½f° f° ¯ ¯ f°¯  f  f––f¾ °–f° ¯f°°f ¯ ¯ f°¾¾f°¯ ff° € ¾ff ff¾ f f½½ °  f°¯  f f° ½¾ ¾ ½¾ ¾f°–¯  f–°ff° € 9 °½   @D f°–f f°–f  f .

.@. @f½ ¯½%ff fnf ¯½  °%¯ ¯ fnff¾ ¾¾°f f°–¯ °nff  ½f½f° f°¯ °– ¯½f°¾ ¾f f°– € f ff ff ½f½f°¾¾f ¯°f¯ ¯ f ¾¯½f°ff–¯ ¯  f° °–f°¾ ¾f °¾ ½f°– ¾ ff°–   .

 f°–f f°–f  f ¯ °f½f° f½fff°– ¾ f½f°¾ ½ff½ f°–nn°¾ ¾   ¾ f°f¾f f–f°f¾f f° f–f°f°°ff©ff f°  f½¾¾f¯ ° f½f¾f ff n @f½¾¾f¯ ¯f°©ff f°$¾f fff°– ½ –f°–  f½¾¾f¯ °nf½f¾f°–f°f°–¯ ¯½°fff°–nn °–f°f°f%¾f ©ff f°%  f½¾¾ff°– f½f¯ °nnf°f°f¾ ¯ ff¾f  ½° €   f¾f f ff nf–f–ff½¾¾f¯ ° f½fff°–  f f ¾ ¯°f –  ¯f°¾  ¾°f   ¾¯½f°$½ °½   @-9- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°°¯f  f°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¾f ¯°f° € °f°–¯f $½ ¯f¾fff°f°– ¾f¯½ff°– n ¾f ¯°f ½f¾f°–f° °–f° ¯f° ¾ f°f% ¯½f°–% f°¯ °–fff°f¾½ ¯f°¯f¾°– ¯f¾°– ¯ ¯¯½°½ ° n ¾¾ f½ ¯½¯ °– ¯ff°f¾ ¾¾°f  ff f –ff° ¾ ¯ °–fff°½ ¯ nfff°½f f½½ ¯f¾fff° f° ¯ °f¯ f¯f f°– ¯ f°–f½f°½ff¾¾f € ¯ ¯  ¾¯½f° – 9 °½    @ f°–f f°–f  f ¯ ¯ f– ¯½½ ¾ f ff°–¾f½ f°–f°°f °f ¯ ¯ f°–f¾°¯ ¯ fnf¯f f°–ff°  ff°  f ¯½ ff¾ n   f¾  ¾f¯ ¯ fnf¯f  ¯ °°©¾ff¾ff°––f°f ¯½½°  nff¾ff f°––f½ff  ff¾  ¯½°f ¯f°¾  ¾°f¾f¯½f¾ f–f° ¾f¾¾f ¾f ¯ °– ¯ff°½ ° f½f°f   ¯ °ff¾¾f¯ °f¯½ff°–f–f¾f°°f–¯ °¾°$   f¾ f½½ ¯ nfff°  ½f½f°¾ f¯½f¾ ©¯f f°– ff½f°– ½ ° ¯ °f¯ ff°°¾ ½$ f°– ¯ °–f½ € f ff ff ½f½f° ¾  –¯ °–f©f¾¾f¯ ¯ f ¾¯½f°$f°–¯f° .

¯ f°½ °© f¾f° °f°–¯½  °¾f°–°–° nf½f . ¯f°––½ff¾¾ff°–¾ f °©°¯ f°f°¾ °ff°–¾ f ½ ¾f½f° € .  9- f°–ff°–f  f ¯ °¾°$¯ °f½f°¾ °ff°–ff° f¯½f° .f¾°– ¯f¾°–¾¾f    ¯½°f ¯f¾°– ¯f¾°–¾f¯ ¯ ¯½ ff°¯ °–f¯f ¾ °ff°–¾ f°– ½ f–ff° –   f¾  ¾f ½ °f¾f° ¯f¾°– ¯f¾°–¾¾f  f° f¾¾ f–f ¯ f ©f° ¯ ¯ ff¾  .f¾°– ¯f¾°– ¯½¯ °f¯½ff°f¾ ¾¯½f°°f  ¯ ¯ f° ¾¯½f°¾ nff¯¯ © ff¾  9 °½   D9-I@@- f°–f f°–f  f ¯ °f½f°¾ f°–f ¯ °f¯½ff°¯f ½f°–ff° ½ f©f  ¯ f°¯ ¯ f° ¾ ¯½ff°  ½f f¾¾f°¯ ¯ fnf f°¯ ¯½ f©f¯f ½f f½ –f°–f°°f$½f °f n   f¾  ¾f¯ ¯ fnf  f°¯ ¯½ f©f°f¯ ¯½ ¾ff°¾¾f°¯ °½ °f ¯ °–f¯ °–f f°¯ ¯ f° ½f f¾¾f ¾  f–¯ ¯ f°½ f°ff° f°¾¾ff°–¯ ¯ –f°–°–f ¾ f¾¯ °©ff °f  ¯f°¾  ¾°f¾f¯½f ¾ f–f° ¾f¾¾f¯ ° f½f f–f°°¯ °©ff ¾ f½½ f°ff° f– ¯ ¯ f° ¾¯½f° € ff¾ – 9 °½   @@ f°–f f°–f  f ¯ °f½f°¾ f°–f ¯ °f¯½ff°¯f ½f°–ff° ½ f©f  ¯ f°¯ ¯ f° ¾ ¯½ff°  ½f f¾¾f°¯ ¯ fnf f°¯ ¯½ f©f¯f ½f f½ –f°–f°°f$½f °f n   f¾  ¾f¯ ¯ fnf  f°¯ ¯½ f©f°f¯ ¯½ ¾ff°¾¾f°¯ °½ °f ¯ °–f¯ °–f f°¯ ¯ f° ½f f¾¾f ¾  f–¯ ¯ f°½ f°ff° f°¾¾ff°–¯ ¯ –f°–°–f ¾ f¾¯ °©ff °f  ¯f°¾  ¾°f¾f¯½f ¾ f–f° ¾f¾¾f¯ ° f½f f–f°°¯ °©ff ¾ f½½ f°ff° f– ¯ ¯ f° ¾¯½f° € ff¾ – 9 °½  . °°© f½f¾¾f°¯ ¯½ f©f¾ °f ff¾ ¯ ¯ n ¯ ¯ ° ¯½¾¾ff°–f°––f°ff°– .

  @D9-- f°–f f°–f  f  f½¾¾f¯ ° f½f¾f½f¾f°–f°%– f¾f¯ °°©f°½f¾f°–f°°fff ¾¾f¯ °°©f°½f¾f°–f°°f ¯ ¯ f°–f¾ f°¾¾f¯ °– ©ff°–f¾ °–f°½f¾f°–f°°f n   f¾  ¾f¾ f½½f¾f°–f° –f °– °–f°¾f½f¾f°–f°f°–f°  f½f¾f°–f° ¾  f½f¾f°–f°¯f¾°– ¯f¾°–½f¾f°–f°f°– f°¾f°– ¯ °f°ff° f°¯ °–f°©ff f°¯  f @ ¯f° ff°–  f½f f½ ff°½f¾f°–f° ¯ f°  f–f° ½f f½f¾f°–f° ¾ ¯f € 9 °½   -J @J- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯f f°–ff° ¾f©f° ¯ ¯ ° ¯½  ¯½ f°¯ ¯f°––¯f¾°– ¯f¾°– f ¯½° ¯ ¯ f°½ °© f¾f° °f°–¯f  n .f¾°– ¯f¾°– f ¯½ ¯ f  ¯½°f¯f¾°– ¯f¾°–  ¯ f°¯ °© f¾f° ¯f f°– ¾f¯½ff° – ½f f ¯f°°f  ¯ f°¯f¾°– ¯f¾°–¾¾f  f°¾f ¯ f f¾ ©f °¯ °¾f°¾f ½ f°ff°f½f¾f©ff°–¯ °f°–¯f f°–¾ f © f¾f°  f ¯½  ¯ f° f¾ ¾   f¾ ½  f f°  ¯½f f¾f¾¾f ¾¾ff°–f° ¾ f¯f ¯ ° €   f¾¾f f½f¾f f$¾f½ f°ff°  f° ¾ ¯½ff° ½f f¾¾f° ¯ °©ff ½ f°ff°f°– ¾ ff¯ f¾  ° f ¾ ¾ nff –f°f° – ff¾  9 °½   @D-@.

@@-O9-- f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¯ ° ¯°¾f¾f°$¯ °f©f°¯f  n . ¯ f° ¾ ¯½ff°¾¾f$½ ¾ f°¯ °© f¾f° ½f f½ ¾ f°¯ °© f¾f°  ½f f½ ¾ ff°°f f¯ f f–f°$½ f°¾ ½¯f½°f°–f°°f ¯ °¯½f° $½ ° f½f f¾¾f ¯ ° f°–f°¾ ¯f¯f f°– ¾f©f° ¾ff € 9 °½   .

¯ f° ¾ ¯½ff°¾¾ff°f©ff  D°¯ °–©½ ¯ff¯f° ¾¾f ¾¯ ¯ ff$$¾ ¾f °–f° f° f° f½f ¾f°–f¾ ¾f °–f°¾  ¯f¾°–¯f¾°– .DIJ f°–f f°–f  f ¯ °f¯½ff°¯½  °¾f°–°–° nf½f ¯ ° ¯°¾f¾f°$¯ °f©f°¯f  n .

¾¾f ¯ ¯ fnf¾f¾ nfffnf f°¾¾f¯ °¾©ff f°  ff¯ff°–°¯°f ¾ f°– f°f°–¾°–  ¾¾f° ff °f ¾f° f °f%2% f°¾ff° ¾f° f ¾f°–%% € ¾ff°–¾ f¯ ° f½ff° f2 fff¾°f ff f–°ff¾  ff ff   f°°f – -f¾¾f °– f©ff f° °f©¯fff°– ½    9 °½   O9@-@D.

¯ ¯ °–½ ff° . ¯ f° ¾ ¯½ff°°ff°f°©f°   -D@.@-%9. ° ¯°¾f¾f°½ °– ff° f° f¯½f° n . °– n ½ ¯ff¯f° f°¯ ¯ f°¯½f° f . --D-% 9 ¯ f©ff°f°–¾°–¾¾ f°nf°–°¯ °– ¯ f°–f° f©f¾¾f °f°– ½ °– ff°½¾ f° f°½ °– ff° ff€f°– f½f f©ff°f°–f f°–f  f . °f¯½ff°©f° f°¯ ¯½ ¾f½f°¾¾f .

.

%--.

¯ ° ¯½f°–f°––f°ff°–f°–¾ nff  – ° ¯ ¯ f°fnf°f$½°–¾ ¾f °–f°½½ ¯ f©ff° n ¾f  ©f¾f¯f¾f°–¯ ¯ fnff° f°¯ ° ¯f° ½ f°¯ ¯  f°––f½f° f f½fnf°f$½°– f° ¾½f f ¯ f f¾ . ¯½ ¾ °f¾f°$¯ ¯ fnff°f¾ ¯½ ¯ ¯ f ¾¯½f° ¾f¯f € 9 °½   . -- % f°–f f°–f  f .

9@I-@@--.

9@-%..

.

¯½ ¾ °f¾f°$¯ ¯ fnff°f¾ ¯½ ¯ ¯ f  ¾¯½f° ¾f¯f€ 9 °½ . ¯ °  ¯½f°–f°––f°ff°–f°–¾ nff  – ° ¯ ¯ f°fnf°f$½°–¾ ¾f °–f°½ ½ ¯ f©ff° n ¾f  ©f¾f¯f¾f°–¯ ¯ fnff° f°¯ ° ¯f° ½ f°¯ ¯ f°––f½f°  f f½ fnf°f$½°– f° ¾½f f ¯ f f¾ .% f°–f f°–f  f .

You're Reading a Free Preview

Descarga
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->