Está en la página 1de 5

ANDIL TEKNOLOGI TERHADAP GLOBAL WARMING

Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi Syarat Perekrutan


Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ( IMM )

Disusun oleh :

Nama : Eko Ribut Santoso


Kelas : 1E / Tek. Informatika
No. HP : +62 85259411240

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH ( UNMUH )


JEMBER
2009
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena
peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca
(greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti
karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi
matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan
temperatur global – termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,50 - 40 Celcius pada
akhir abad 21.

B. PERMASALAHAN
Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan
bio-geofisik (seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir,
peningkatan hujan dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu,
migrasi fauna dan hama penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi
masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan kota pantai, (b)
gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti jaringan jalan, pelabuhan dan
bandara (c) gangguan terhadap permukiman penduduk, (d) pengurangan produktivitas
lahan pertanian, (e) peningkatan resiko kanker dan wabah penyakit, dsb).

C. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari makalah ini adalah menggambarkan secara ringkas tentang Global
Warming, menunjukkan dampak dan pengaruh Global Warming bagi kehidupan manusia
dan mencoba untuk menggugah pembaca lebih sadar kemudian merenungkan apa yang
akan terjadi jika kita tidak merubah gaya hidup menjadi lebih bertanggung jawab.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. GLOBAL WARMING
Pemanasan Global ternyata telah memaksa semua bidang industri untuk berpikir
keras untuk mengusahakan penanganannya, tanpa terkecuali bidang teknologi. Hal ini
dikarenakan oleh parahnya dampak kerusakan yang ditimbulkannya bagi ekosistem dan
kelangsungan kehidupan manusia secara luas.

Menurut penelitian Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC), sebuah


lembaga internasional beranggotakan lebih dari 100 negara yang diprakarsai PBB, pada
tahun 2005 telah terjadi peningkatan suhu di dunia sekitar 0,6 hingga 0,7 derajat,
sedangkan di Asia lebih tinggi lagi, yaitu 10 derajat. Hal ini berdampak pada melelehnya
Gletser (Gunung Es) di Himalaya dan Kutub Selatan serta berkurangnya ketersediaan air
di daerah-daerah tropis sebanyak 20% hingga 30%.

Melelehnya Gletser di Himalaya dan Kutub Selatan sendiri berdampak secara


langsung pada peningkatan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Jika hal ini terus
menerus dibiarkan maka pada tahun 2012 air laut akan mengalami kenaikan lagi sekitar 7
meter. Dengan begitu otomatis ekosistem dan kehidupan di daerah pesisir dan kepulauan
akan terancam punah. Sedangkan perubahan secara umum yang dirasakan dunia saat ini
adalah semakin panjangnya musim panas dan semakin pendeknya musim hujan. Hal ini
tentu saja sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup dunia secara luas.

B. ANDIL TEKNOLOGI TERHADAP GLOBAL WARMING


Berangkat dari keprihatinan inilah berbagai bidang industri kini mau tidak mau
harus memikirkan langkah penanganan pemanasan global ini. Dimulai dari pengurangan
emisi gas buang dari sektor industri dan transportasi yang selama ini dituding sebagai
salah satu kontributor utama pemanasan global, hingga penciptaan teknologi yang ramah
lingkungan untuk berbagai produk mulai dari alat transportasi hingga berbagai
perlengkapan elektronik dan komputer yang ramah lingkungan pun mulai dibuat.

Bidang industri Teknologi Informasi walaupun tidak terkait secara langsung


dengan pemanasan global seperti halnya bidang pertanian dan lingkungan hidup, namun
harus mampu menghadirkan teknologi yang mendukung penanggulangan global warming

3
atau pemanasan global ini. Hal ini disebabkan karena pada berbagai bidang usaha yang
ada di dunia saat ini, teknologi informasi telah menjadi tulang punggung bergeraknya
industri yang ada. Mulai dari mesin-mesin di pabrik yang mempergunakan
mikrokomputer hingga proses komputasi di perkantoran yang juga mempergunakan
komputer. Secara tidak langsung hal-hal tersebut di atas telah menunjukkan bahwa
bidang IT telah banyak menyedot penggunaan energi dunia secara luas.Hal inilah yang
mengharuskan bidang teknologi informasi untuk berpikir keras menciptakan teknologi
yang ramah lingkungan.

Teknologi ramah lingkungan sebenarnya tidak semata diukur dari tingkat emisi
gas buang yang dihasilkan, namun juga banyaknya konsumsi energi yang dibutuhkan
dalam suatu proses industri, karena energi ini umumnya juga didapatkan dari alam baik
dalam bentuk energy mineral maupun non mineral. Salah satu langkah yang diambil oleh
sebuah vendor komputer terkemuka di dunia IBM saat ini adalah konsep pembuatan
datacenter “hijau” atau ramah lingkungan. Hal ini dipicu oleh data yang menyebutkan
bahwa 1,5% dari penggunaan energi listrik di Amerika dipergunakan untuk operasional
datacenter, yang menurut laporan tahun 2005 saja telah menghabiskan listrik sebesar 45
milyar KWh, hanya untuk Amerika saja. Hal ini berimplikasi langsung terhadap
persediaan listrik dan distribusinya, disamping tentu saja emisi gas yang ditimbulkan.
Sebagai akibatnya, setiap dolar dari server baru akan mengeluarkan biaya sebesar USD
0,52 untuk power dan pendinginan. Angka ini diprediksikan meningkat hingga 37% pada
empat tahun mendatang menjadi USD 0,7. Selain IBM, vendor CISCO pun tengah
berpikir keras untuk mengupayakan teknologi yang dapat mengurangi dampak global
warming ini. Menurut Pudja Unggul Kartiman, Director Cross Industry PT Cisco
Systems Indonesia, apa pun penerapan teknologi yang ada, misalnya di real estate,
gabungan energi yang dimiliki akan mengarah pada solusi seperti unified communication.
Solusi ini menggabungkan pemanfaatan traffic suara dan mobility sehingga bisa
terkoneksi. Dengan demikian, jika semuanya berbasis IP (Internet Protocol), maka
masing-masing tidak harus punya infrastruktur sendiri-sendiri karena sudah konvergen.
Lebih lanjut Pudja menyatakan, penghematan bahkan bisa ditekan hingga 30%. Hal ini
salah satunya karena 4% dari biaya bisa dihemat jika semuanya dikonvergensikan
menjadi satu.

4
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari uraian dalam makalah ini, dapat disimpulkan bahwa global warming adalah peningkatan
suhu rata-rata secara menyeluruh,baik di atmosfer, di laut dan di daratan bumi.

Penyebab utama pemanasan global adalah meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca.

Dampak yang ditimbulkan akibat terjadinya pemanasan global sangat beragam, yaitu dampak
terhadap cuaca, terhadap tinggi permukaan air laut, terhadap pertanian, hewan dan tumbuhan,
serta terhadap kesehatan manusia.

Andil teknologi terhadap penanggulangan global warming dapat berupa penciptaan teknologi
ramah lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

____, Pemanasan Global harus Diantisipasi, Rubrik Lingkungan Harian Media Indonesia,
Edisi Rabu, 16 Oktober 2002.

http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global

http://www.sampepuas.com/blog/global-warming-ancaman

http://www.beritanet.com/Teknologi/Berita-IT/andil-it-pemanasan-global-1.html

http://www.beritanet.com/Teknologi/Berita-IT/andil-it-pemanasan-global-2.html

http://lasonearth.wordpress.com/artikel/selamatkan-bumi-kita/