Está en la página 1de 4

Writer and Political Activist

Copyright © 2009 All Rights Reserved


contact@fadlizon.com
PEMBANGUNAN, NEGARA DAN BANGSA

Oleh: Fadli Zon

Sejak Repelita I Orde Baru menemukan pola pembangunan yang lebih terarah dan
terencana. Bahwa hakekat pembangunan adalah "pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya" dan landasa pembangunan adalah Pancasila dan UUD 1945. Dengan melihat pola-
pola dan model pembangunan tidaklah salah kalu pembangunan di Indonesia di Indonesia
lebih dekat pada model Weberian, yaitu pembangunan bergerak dari struktur teknik yang
mempengaruhi struktur budaya lalu tercipta struktur sosial. Dalam model ini diperlukan suatu
kondisi bagi in-ovasi dan pelembagaan inovasi ter-sebut. Sementara kondisi akan sangat
mendukung bila terjadi stabilitas nasional, proses interaksi yang dinamis di kalangan
masyarakat, desentralisasi, recruitment elit yang adil dan adanya kelompok elit yang kuat.
Sebelum mengkaji lagi apakah kondisi tumbuhnya inovasi itu sudah terlengkapi atau belum,
dapatlah kita mengatakan bahwa syaratpertama, stabilitas nasional, relatif telah ter-penuhi.
stabilitas diciptakan Orde Baru tentunya dengan tidak meninggalkan peran militer. Militer
masuk ke dalam tatanan kekuatan masyarakat melalui senjata Dwifungsi ABRI yang sekaligus
merupakan justifikasi awal dari retorian revolucionary.

Sementara itu dalam prosesnya birokrasi yang semula, dibangun secara sengaja lambat
laun semakin menjadi sistem yang kuat bahkan dalam perkembangannya sekarang, birokrasi
menurut istilah Kun-towijaya, melahirkan "anak haram kebudayaan". Birokrasi kini bukan
mengabdi pada kepentingan rakyat lagi tapi rakyat yang harus tunduk pada kepentingan
birokrasi. Hal ini memungkinkan semakin tercecernyji aspirasi rakyat. Birokrasi semakin
menjadi kekuasaan dan kebudayaan kaum elit. Pembangunan dan perubahan sosial yang di
Barat tidak lepas dari komersialisasi dan in-dustrilisasi maka di Indonesia menjadi
komersialisasi yang diikuti birokrasi. Hal ini terjadi karena pembangunan bersifat sentralistik
dan semua program-prgram pembangunan terarah dari pusat.

Pembangunan dilakukan secara sadar melalui proses top down bahkan seringkali
sebagai instruksi bukan berdasarkan atas kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Hasilnya,
terjadilah kesenjangan sosial di kalangan masyarakat. Elit politik, pengusaha pribumi yang
dekat dengan sember kekuasaan dan kalangan pengusaha non pribumi adalah kelompok yang
diuntungkan oleh birokrasi secara umum. Akibat birokrasi pula, terjadi dikotomi dalam
pembangunan Jawa dan luar Jawa dan dikotomi pembangunan Indonesia Barat dan Indonesia
Timur seta pembangunan desa dan kota. Dikotomi di atas ada yang masih berupa jarak
(distance) tapi ada juga yang sudah ,emjadi jurang (gap). Dikotomi yan ada mungkin
nevitable, namun menunjukkan bahwa negaramakin kuat sedangkan rakyat menjadi obyek
bagi negara. Bukan rakyat lagi yang menentukan negara tapi negara yang menentukan rakyat.
Writer and Political Activist
Copyright © 2009 All Rights Reserved
contact@fadlizon.com
Rakyat harus patuh pada negara. Rakyat harus mengabdi pada kepentingan pembangunan
dan bukan pembangunan yang mengabdi pada kepentingan rakyat. Ada ironi dalam ritual
pembangunan yang mungkin agak romantis untuk dikemukakan seperti simbol-simbol
kemjuan yang berbayang penggusuran, pembangunan, ketidakadilan dan secara umum
pemiskinan struktural dan pemiskinan kultural.

Struktural violence
Struktural violence atau kekerasan struktural yang terjadi telah menimbulkan stagnasi.
Suasana kekerasan struktural yang oleh kaum gerakan Perdamaian akhir-akhir ini dimasukkan
ke dalam agenda peacelessness, ketidakdamaian, mengakibatkan terjadinya proses alamiah
dalam pengkotak-kotakan budaya masyarakat. Pada perkembangannya kekerasan struk- rural
juga mengidentifikasikan perbedaan perlakuan pada rakyat dalam kegiatan kehidupan sehari-
hari.

Fenomena terakhir yang cukup menarik untuk menganalisa korelasi kekerasan struktural
dengan kebijakan elit adalah kasus mogoknya para buruh. Sekarang ini berdasarkan sebuah
data, rasio gaji manajer dan buruh bisa mencapai 50:l, padahal di Malaysia rata-rata hanya
sekitar 15:1, di Eropa 10:1. Keadaan seperti ini membuat buruh sukar untuk mogok, dan jika
mogok sekalipun pada akhirnya dapat selesai dengan kompromi. Jika tidak kompromi maka
yang terjadi bisa saja PHK besar-besaran, karena pada dasarnya banyak tenaga-tenaga lain
yang dapat menggantikan buruh yang mogok.

Di samping pembangunan yang tidak lepas dari ketidakmerataan dan intervensi negara yang
besar pada kehidupan ekonomi, faktor lain yang juga tak bisa dipisahkan adalah kekuatan
modal asing. Suatu ironi memang ketika negara semakin otoriter dalam prakteknya ke dalam,
maka justru negara bergantung pada kekuatan modal asing. Ketergantun-
gan ini menyebabkan negara baru akan "tunduk" pada kebijakan-kebijakan dari negara
pemberi modal (hutang). Menurut World Development Report tahun 1989, pada tahun 1987
Indonesia berada di urutan keempat dalam besarnya jumlah hutang negara
berkembangsetelah Brazil, Meksiko dan Argen tina. Jumlah itu mencapai US$52,581 juta. Figur
hutang 1991, hutang Indonesia telah mencapai US$ 78 juta, yaitu US$55 juta hutang negara
dan us$23 hutang swasta.

Dalam orientasi pertumbuhan ekonomi, hutang luar negeri sebenarnya memberi persyaratan
politik tertentu. Apakah hutang itu memberi kekuatan bagi negara peminjam untuk
"mengintimidasi" negara? jawabnya belum tentu. IGGI mungkin mempunyai kepentlngan
sendiri-sendiri terhadap Indonesia, seperti Belanda yang mengaitkan peminjaman dengan hak-
hak azasi manusia. Oleh Orde Baru campur tangan Belanda terhadap hak-hak azasi manusia di
Indonesia dianggapp merongrong kedaulatan dan ini menjadi alasan untuk memutuskan
Writer and Political Activist
Copyright © 2009 All Rights Reserved
contact@fadlizon.com
bantuan dari IGGI menyusul bubarnya IGGI serta pen-ghentian bantuan-bantuan bentuk lain
dari Belanda termasuk yang ber-sifat non government to no gevern-ment seperti LSM.
Banyak kalangan yang langsung menyimpulkan mengenai pembubaran IGGI ini sebagai
indepensi negara dari negara lain, bangkitanya nasionalisme, patriotisme dan menjaga harga
diri bangsa. Banyak orang, pula merasa kesusu berkesimpulan setelah pemerintah meminta
dibentuknya Forum Konsultatif di bawah pimpinan Bank dunia sekaligus jaminan PMA 100%.
Ini artinya bukan independensi namun hanya pergeseran peminjam hutang, dan adalah jargon
verbal belaka kalau mengatakan bahwa tindakan pembubaran itu sebagai cermin nasionalisme
atau patriotisme yang menjaga harga diri bangsa.

Sudah banyak rakyat yang sadar bahwa saat ini negara membutuhkan pemerintahan yang
demokratis yang dapat memberi sarana bagi rakyat untuk tampil ke arena pergulatan
kehidupan bernegara secara fair, sementara itu di luar Indonesia, negara-negara makin melaju
menempatkan kepentlngan inter-nasional di atas kepentlngan nasional. Indonesia makin
terintegrasi dalam ekonomi intemasional yang ketat persaingannya. Tumbuhnya pasar-pasar
regional seperti NAFTA dan Pasar Tunggal Eropa memberi dampak yang tidak kecil bagi iklim
ekonomi dalam negeri. Rakyat Indonesia secara tidak langsung adalah bagian dari pasar in-
ternasioanal mengingat adanya kebijakan Orde Baru agar produk Indonesia ber orientasi
ekspor demi mebayar hutang luar negeri.

Sejak berakhirnya containment policy atau lebih tegas hancurnya dominasi komunisme di
beberapa negara seperti Uni Soviet maka peta pasar pun berubah. Market system adalah
pilihan global untuk masa sekarang, dan berbeda dengan kon-disi ketika Newly Industrial
Country (NIC) muncul, sekarang ekonomi intemasional dicirikan oleh protek-sionisme melalaui
be masuk atau kuota, pendirian blok perdagangan regional, dan penyerapan produk negara
berkembang oleh negara in-dustri. Untuk yang terakhir ini diperlukan syarat efisiensi dan efek-
tivitas pengelolaan ekonomi nasional. Situsi semacam itu menun-tut demokratisasi di berbagai
bidang kehidupan. Dengan demokratisasi maka dapat tercipta sustu kontro'l terhadap
pemerintah oleh legislatif yang dampaknya dapat meminimasi penghamburan dana
pembangunan untuk kepentingan individu atau kelompok yang menmanfaatkan kelonggaran
kontrol sekarang ini. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan cepat dikhawatirkan negara kita
akan semakin jauh tertinggal dalam pentas intemasional dan rakyat hanya akan diwariskan
bukan oleh kekayaan alam yang melimpah ruah tetapi hutang yang bertumpuk-tumpuk yang
tentunya akan membebani generasi berikutnya, generasi muda saat ini.

Memang akhirnya permasalahan kembali pada struktural dan kultural. Sebagian orang menilai
bahwa yang perlu dibenahi adalah mental masyarakat yang masih kurang kreatif, tapi di sisi
lain bagaimana rakyat akan kreatif jika tidak ada sarana untuk menyalurkannya. Bangsa kita
semakin menjadi bangsa kelas dua dan rendah diri ketika ber-hadapan dengan bangsa-bangsa
Writer and Political Activist
Copyright © 2009 All Rights Reserved
contact@fadlizon.com
lain, inferioritas mental tumbuh kembali seperti jaman kolonialisme, sedangkan negara yang
demikian kuat, belum mau memberi sedikit keleluasaan bagi rakyat untuk menlkmati
kompetisi yang fair, lepas dari budaya nepotisme. Rakyat ingin dihargai berdasarkan prinsip
pres-tasi bukan hubungan famili, dan ber- dasarkan prinsip itu pula rakyat men-ginginkan
kelompok elit dapat direk-rut sehingga elit kita tangguh dalam menyuarakan kepentlngan
rakyat. Antara mana yang lebih dahulu, kultural atau struktural bagi proses demokratisasi di
Indonesia sekarang ini, memang seperti mencari mana yang lebih dulu antara telur dengan
ayam. Argumentasi ilmiah bisa saja memilih salah satu, tetapi bisa juga yang lain. Struktur
dengan praktek yang demokratis akan melahirkan kebudayaan yang mencerahkan rakyat
untuk membunuh inferioritas mental, tetapi bagaimana hendak menciptakan struktur yang
demokratis jika para elit birokrat yang men-guasai negara dan pemerintahan tidak memiliki
budaya yang demokratis. Lepas dari retorika ilmiah itu yang jelas demokrasi harus hadir
segera dalam formalisme maupun esensialisme agar rakyat Indonesia merasa diajak atau
terajak dalam proses pembangunan yang ada sekarang. Adapun upacara-upacara ritual
pembangunan lewat slogan-slogan yang bombastis seperti "Kebangkitan Nasional II", "Menuju
Lepas Landas" dan sebagainya itu sudah usang untuk show off kepada rakyat.

Di masa pembangunan ini perlu refleksi ke arah hakekat kemer-dekaan bangsa, agar bangsa
bisa benar-benar dapat mengecap nik-matnya kemerdekaan. Kemer-dekaan tidak begitu saja
dibagi-bagi tetapi harus terbagi rata dan ber-sama-sama dirasakan oleh semua rakyat bukan
hanya oleh segelintir orang yang berada di dekat kekuasaan atau penguasa. Hal ini tidak lain
untuk menghindari nihilisme dan anarkisme sebagai pimcak dari pembauran pengertian antara
kemedekaan dan kekuasaan. sebagai puncakdari kesadaran ketika negara sudah lama
merdeka tetapi ternyata bangsa masih terjajah.

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sastra Rusia.