Está en la página 1de 2

Writer and Political Activist

Copyright © 2009 All Rights Reserved


contact@fadlizon.com

Kebangkitan Religius Dalam Gerakan Mahasiswa Pasca 1980-an

Fadli Zon
Tesis utama gerakan mahasiswa angkatan 1980-an, seperti dikatakan Denny JA, adalah
meng-hadirkan kelompok studi yang lebih berorientasi intelektual. Meskipun kelompok studi
ini bukan gerakan politik berbasis aksi massa karena menekankan pada penyadaran sosial
politik namun dalam situasi politik krisis ia niscaya dapat melibatkan diri ke dalam pergulatan
politik. Dengan kata lain kelompok studi menunggu momen krisis atau momen-momen
tertentu yang datangnya bukan dari faktor proses sinambung gerakan mahasiswa, sehingga
kelompok studi tidak tertarik menciptakan momentum atau keadaan-keadaan tertentu yang
dapat mengak-selerasikan perubahan. Kelompok studi menjadi kelompok yang tergantung dan
mempunyai ketergantungan yang tinggi pada keadaan.
Dalam kondisi yang demikian kelompok studi lalu kehabisan energi dan ditimpa
kebosanan-kebosanan tanpa dapat melakukan perubahan apapun baik terhadap penyadaran
politik mahasiswa, kemacetan sistim, maupun kebijakan kebijakan peme-rintah. Katakanlah
kelompok studi sebagai suatu "warming up" untuk menjaga kondisi gerakan mahasiswa, yang
"terputus" sejak diberlakukannya depolitisasi dan reduksi besar-besaran kekuatan politik
mahasiswa lewat NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus). Namun dalam»pemanasan itu
kelompok studi telah merasa kelelahan dan lenyap satu persatu dari peredaran. Ini terjadi
karena peminat kelompok studi yang kecil itu pun tidak menyiapkan kaderisasi. Kelompok
studi dipolitisir sedemikian rupa untuk kepentingan-kepentingan individual dan tidak untuk
kepentlngan kelompok atau gerakan mahasiswa yang katanya bertanggung jawan secara
moral kepada rakyat. Karena begitu sedikitnya peran yang dapat dipakai dalam jalur birokrasi
dan ketidakpastian yang selalu menghantui, gerakan mahasiswa dalam kelompok studi tidak
lain menyediakan fasilitas anggota-anggotanya untuk menjadi aktor.
Sebagai anti tesis dari kelompok studi hadirlah demokrasi jalanan, sebuah kelompok
yang masih percaya bahwa perubahan yang diinginkan dapat dicapai dengan demonstrasi-
demonstrasi di jalan. Mereka meman-faatkan isu-isu yang bersifat populis terutama kasus-
kasus tanah, penggusuran, isu pencemaran lingkungan dan berbagai isu yang sifatnya
temporal.
Antara dua arus gerakan mahasiswa, kelompok studi dan demokrasi jalanan ini
seringkali terjadi konflik dan perbedaan persepsi yang radikal. Kelompok studi melihat
demokrasi jalanan sebagai gerakan yang kurang politis, tidak strategis, asal jalan dan lemah
dalam teori maupun ideologis. Sementara demokrasi jalanan menge-cam kelompok studi
sebagai gerakan "ngomong doang", terjebak dalam onanisme kata-kata tanpa mampu
merubah apa pun.
Sebagai sintesis dari dua arus kecenderungan gerakan mahasiswa di atas maka yang
Writer and Political Activist
Copyright © 2009 All Rights Reserved
contact@fadlizon.com
representatif adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menggabungkan dimensi
refleksi dan aksi. Masalahnya bagaimana ketiga arus kecenderungan pilihan mahasiswa itu
berinteraksi dengan situasi politik makro dalam desain besar sebuah sistem.
Nampaknya telah terjadi pencepatan ke arah stagnan dari beberapa kelompok pilihan
mahasiswa di atas. Hal ini bisa dilihat dengan kecenderungan lain dalam bentuk arus balik
menuju "revival of faith" dimana pengkajian-pengkajian keagamaan mulai mekar bahkan
bertambah subur. Kelompok mahasiswa religius ini merupakan perkembangan dari kelompok-
kelompok kecil pengajian mahasiswa yang membentuk network berdasarkan semangat
purifikasi agama dan pentrapan doktrin ajaran agama dalam realitas. Mereka ini termasuk
kelompok yang melakukan refleksi dan aksi namun lebih bersifat aksi ke dalam, dengan
pendekatan-pendekatan individual sebagai proses pencerahan dan melawan sekularisasi.
Mereka tidak memberi label apa pun terhadap kelompok tersebut namun bergerak secara
meyakinkan di jantung-jantung tiap fakultas di banyak kampus, seperti Universitas Indonesia,
Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan seterusnya.
Fenomena religius di sebagian mahasiswa pada kurun terakhir hingga saat ini memang
menarik karena jarang diangkat dalam pembahasan-pembahasan oleh mahasiswa sendiri.
Kelompok mahasiswa religius berbeda dengan kelompok studi maupun demokrasi jalanan,
mereka tidak secara eksplisit menyatakan sikapnya terhadap perkembangan s os ial p o l it ik di
Indonesia sebaliknya bersikap diam dan mungkin itulah "silence revolt". Jumlah aktivis ini jauh
lebih banyak dibanding kelompok studi, demokrasi jalanan atau dari jumlah aktivis mahasiswa
di LSM. Ada dua alasan utama mengapa mereka bersikap diam, yaitu:
Pertama, kelompok mahasiswa religius mempunyai konsep bahwa proses yang paling
penting adalah pendidikan diri yang terus-menerus.