Está en la página 1de 2

Writer and Political Activist

Copyright © 2009 All Rights Reserved


contact@fadlizon.com
Pengertian Antarbudaya dan Perdamaian

Oleh Fadli Zon


Pengertian antarbudaya dan perdamaian tidak bisa dipisahkan. Di satu sisi mungkin kita
melihat bahwa pengertian antarbudaya merupakan sebuah jalan dan perdamaian a da la h
t uj ua nnya . Namun di sisi lain terlihat bahwa perdamaian sesungguhnya merupakan proses
sinambung, sehingga perdamaian dalam idealnya terasa sulit sekali diterjemahkan dalam
kehidupan nyata. Usaha maksimal ke arah perdamaian adalah me-minimasi segala bentuk
kekerasan, baik kekerasan sosial, kekerasan budaya, kekerasan struktural maupun kekerasan
teknik.
Usaha meminimasi berbagai bentuk kekerasan ini, dalam kaitannya dengan hubungan
antarbangsa, memerlukan suatu pemahaman rasional dan pemahaman empiris. Pemahaman
tertinggi tingkatnya, seperti kata Confusius, adalah pemahaman karena dilakukan atau
empiris. "Saya dengar maka saya lupa; saya lihat maka saya ingat, dan saya lakukan maka
saya paham." Untuk itu learning by doing memang diakui sangat efektif.
Di sinilah arti penting program pertukaran pelajar sebagai wahana pembinaan perdamaian.
Peserta langsung terlibat dalam pergesekan kebudayaan dan diharuskan berdiri pada tempat
proporsional dalam arus budaya yang dialami dan digelutinya. Pergesekan dan pergeseran
budaya dalam ritme waktu tertentu akan memperkaya individu baik bagi wawasan yang telah
ada maupun bagi wawasan barunya. Dari perpaduan kedua wawasan inilah tercipta suatu
pengertian lebih baik terhadap satu budaya yang pada perkembang-annya menjadi
international understanding. Dalam kondisi ini seorang peserta pertukaran pelajar
mendapatkan nilai tambah sebagai perangkat menyikapi masa depan, perangkat menyikapi
perubahan dan perkembangan sosial dan teknologi. Maka sebenarnya posisi peserta.
pertukaran pelajar adalah fasilitator, terutama dalam menumbuh-kembangkan dan
menularkan pengertian antarbudaya.
la ibarat titik pusat sebuah lingkaran dalam struktur masyarakat. la hadir sebagai
"pelayan" (pemimpin) yang berada di tengah masyarakat dan melayani masyarakat, bukan
dilayani oleh masyarakat. Inilah semangat suci para pengemudi ambulance sukarela yang
kemudian melahirkan program AFS Intercultural Learning. Mereka percaya pada proses
sebagaimana percaya pada perdamaian yang harus diperjuangkan dari masa ke masa,
generasi ke generasi. Formalisme dan essensialisme perdamaian ditentukan oleh masyarakat
sendiri pada waktunya sendiri -sendiri.
Kepercayaan ini tidak lain sebagai suatu reaksi balik dari peristiwa-peristiwa sosial dan
budaya yang dalam puncak kekerasannya berupa peperangan. Perang Dunia I dan II telah
mengakibatkan tewasnya jutaan manusia . Dan sejak Perang Dunia II, telah pula terjadi lebih
dari 120 peperangan yang menewaskan puluhan juta manusia. Seperti juga peperangan
terakhir, Perang Teluk, korban setiap peperangan adalah rakyat kecil terutama anak-anak
Writer and Political Activist
Copyright © 2009 All Rights Reserved
contact@fadlizon.com
dan wanita. Mereka tumbal ambisi kekuasaan para pemimpinnya sendiri; pemimpin bukannya
mengabdi pada kepentingan masyarakat tapi kepentingan masyarakatlahyang harus
mengabdi pada kepentingan pemimpin. Karenanya semakin dibutuhkan pemimpin-pemimpin
yang sanggup menjadi fasilitator di samping berorientasi international sehingga mampu
mengambil keputusan-keputusan bijaksana berkenaan dengan masalah-masalah antar-
bangsa.
Sementara itu, dari data lain ditemukan bahwa 90% peperangan yang terjadi setelah
Perang Dunia II ternyata berlangsung di negara dunia ketiga. Dari 277 kali peperangan, hanya
18 kali peperangan terjadi di negara dunia pertama. Selebihnya terjadi di negara-negara
berkembang. Salah satu penyebabnya adalah situasi kompetitif di negara berkembang
sehingga menimbulkan kegen-tingan-kegentingan mempercepat kelahiran budaya
kekerasan.-Komoditas sadisme memberi peranan yang tidak sedikit dalam
membentuk perilaku deviatif mengarah pada bentuk kekerasan dimana masyarakat sendiri
secara mental belum optimal dipersiapkan.
Dengan demikian sebenarnya program dalam rangka menuju ke pengertian antarbudaya
lebih banyak diperlukan di negara-negara berkembang tinimbang negara-negara maju.
Bagi negara berkembang kehadiran peserta pertukaran pelajar lebih terasakan
manfaatnya sebagai fasilitator masyarakat dimana salah satu fungsinya sebagai komunikator
antarbudaya. Selain itu juga memberikan "coding" atau kode-kode pada budaya asing yang
masuk sebagai suatu proses yang tidak bisa dielakkan dari rangka globalisasi. Namun tidak
berarti dengan demikian program ini tidak penting di negara maju.
Di negara maju, pentingnya program bukanlah antamegara-maju tetapi pertukaran antara
negara maju dan berkembang. Pengiriman peserta pertukaran pelajar dari negara maju ke
negara berkembang akan memberi dimensi baru bagi perspektif peserta. Keterikatan dan
kekayaan batin, empati sosial, toleransi, solidaritas sosial adalah beberapa nilai tambah yang
dapat memperkecil kesenjangan sosial antara negara maju dan negara berkembang.
Orientasi international dan mendunia merupakan syarat mutlak proses pengertian
antarbudaya. la penting sebagai simpul-simpul yang membentuk network dimana perdamaian
tidak dapat diciptakan sendiri-sendiri. Perdamaian merupakan kerja dan hasil kerja kolektif
segala lapisan masyarakat dari semua komunitasyang dilakukan secara sadar dan sistematis.
Maka usaha ke arah perdamaian yang berproses melalui pengertian antarbudaya seharusnya
sistemik pula. Perdamaian tidak lahir begitu saja tapi hadir sebagai suatu rekayasa, suatu
"piecemeal social engineering."

(Fadli Zon, returnee AFS USA'90, wartawan dan kolumnis)