Está en la página 1de 1

Writer and Political Activist

Copyright © 2008 All Rights Reserved


contact@fadlizon.com

Golput Tak Ada Gunanya

Aksi Utama 5 Mei 1997


Fadli Zon [mahasiswa UI]:

Dari pemilu ke pemilu fenomena golput selalu muncul, bahkan cenderung meningkat.
Mayori-tas yang bersikap golput adalah kaum muda dan mahasiswa. Mengapa demikian?
Di bawah ini beberapa pandangan Fadli Zon, tokoh mahasiswa dari UI yang juga
Direktur Eksekutif Center for People Policy and Development Studys, tentang golput yang
disampaikan kepada Kusma Supriatna dari AKSI. Berikut petikannya :

Komentar Anda tentang golput?


Sebelumnya saya mesti bertanya, apakah
keberadaan golput berpengaruh secara signifikan
terhadap justifikasi pemilu? Kalau saya melihatnya, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif selama
diselenggarakannya pemilu, fenomena golput tidak
menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap
justifikasi pemilu.
Apalagi kalau dilihat secara kuantitatif, fenomena
golput pada masyarakat Indonesia sangat kecil,
yakni tidak melebihi sepuluh persen. Kalau kita
bandingkan dengan fenomena golput di Amerika Serikat
yang mencapai 50 persen lebih, sangat jauh. Di Amerika
sendiri, meskipun kuantitas golputnya besar, tidak
berpengaruh terhadap justifikasi pemilu itu sendiri.
Pemilu tetap berjalan, dan memperoleh justifikasi
masyarakatnya. Dan, hasil pemilu itu sendiri sah
keberadaannya.
Karena itu saya menganjurkan kepada para pemilih yang bersikap golput untuk
menghentikan sikapnya tersebut karena golput tidak ada gunanya.

Tidak ada gunanya?


Ya, seberapa pun besarnya keberadaan golput, jelas tidak akan mempengaruhi jumlah
kursi di DPR. Malahan dengan semakin banyaknya golput, akan lebih menguntungkan
pemerintah, dalam hal ini Golkar. Karena, perolehan kursi DPR dihitung berdasarkan perolehan
suara masing-masing OPP dan jumlah keseluruhannya tetap. Maka, karena itu lebih baik
memilih.

Bagaimana Anda melihat kesadaran politik masyarakat Indonesia?


Kesadaran politik masyarakat kita belum mencapai tahap kesadaran politik partisipatif,
melainkan dalam proses dari kesadaran politik parokial menuju kesadaran politik partisipatif.
Dengan kecilnya angka golput itu sendiri menunjukkan fenomena kesadaran politik parokial
masyarakat. Dan, yang sangat jelas dapat dilihat dengan kesadaran politik parokial tersebut,
masyarakat Indonesia mudah digiring, artinya dimobilisasi pemerintah dalam menyalurkan
aspirasi politiknya.

Prediksi Anda tentang kuantitas golput pada Pemilu 1997?


Besar kemungkinan jumlah golput pada pemilu kali ini meningkat. Mengapa? Karena,
pertama adalah meningkatnya kesadaran politik masyarakat, meskipun belum mencapai tahap
kesadaran politik partisipatif. Kedua, masyarakat melihat bahwa parpol tidak bisa diharapkan
lagi, terutama dalam mengimbangi kekuatan Golkar. Apalagi dengan munculnya kemelut di
tubuh PDI yang berkepanjangan.

Artikel FadliZon.com