Está en la página 1de 32

Dipersembahkan oleh:

Asosiasi Guru Sejarah Indonesia


(AGSI) didirikan di Jakarta pada
tahun 2007 atas prakarsa dan
didanai oleh Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik

Redaksi:
Penasehat:
dan Tenaga Kependidikan (PMPTK). Pemikiran
yang mendasari berdirinya AGSI adalah
keinginan pemerintah khususnya Departemen
Pendidikan Nasional ketika itu, yang meng-
Prof. Dr. S. Hamid Hasan, Prof. Susanto Zuhdi harapkan adanya wadah komunikasi
bagi para guru mata pelajaran di seluruh
Pemimpin Redaksi:
Indonesia untuk dapat mengembangkan
Suparman
profesionalismenya.
Tim Redaksi:
Ratna Hapsari, Nani Asri Setyani, Warsono, Bekerjasama dengan:
Ade Munajat, Taat Ujianto, Grace Leksana

Sumbang Saran&Tulisan INSTITUT SEJARAH SOSIAL


Jurnal AGSI adalah terbitan yang dikelola oleh para INDONESIA (ISSI) adalah sebuah
guru sejarah dan ditujukan bagi pengembangan lembaga studi yang didirikan oleh
pendidikan sejarah. Untuk itu, redaksi mengundang sejumlah sejarawan dan aktivis
para guru sejarah di seluruh Indonesia untuk turut kemanusiaan di Jakarta pada 2003.
mengisi jurnal ini secara sukarela. Para guru sejarah ISSI bertujuan untuk memajukan perspektif
dapat mengirimkan tulisan-tulisannya tentang: historis di Indonesia, terutama dalam penggunaan
metode sejarah lisan dalam penelitian sejarah.
1. Inovasi pendidikan sejarah: artikel ini berupa Untuk menunjang hal tersebut, ISSI memiliki
profil guru yang menekankan pada
perpustakaan yang berisi arsip-arsip suara yang
pengalamannya menggunakan bahan ajar,
media, sumber sejarah, dan metode belajar berasal dari riset sejarah lisan para penelitinya,
yang inovatif dan kreatif. Tulisan pengalaman 4.200 judul buku, makalah dan majalah yang
ini kami anggap penting, karena dapat sebagian besar di antaranya berasal dari koleksi
dicontoh oleh guru-guru di sekolah lain dan pribadi sejumlah individu.
mendorong pengajaran yang tidak hanya Tiga program besar ISSI adalah riset dan publikasi,
mengacu pada buku teks. dokumentasi dan pendidikan (bekerjasama
2. Liputan tentang seminar, workshop atau dengan AGSI).
kegiatan lainnya yang diikuti oleh para guru
dan dapat membantu mengembangkan Alamat: Jl. Batu Kramat no. 19,
praktek pendidikan sejarah di sekolah. RT 11/ 05, Jakarta Timur 13520.
3. Sejarah lokal: kisah sejarah di daerah para
guru. e-mail: issi@sejarahsosial.org
4. Karikatur sejarah website: www.sejarahsosial.org
5. Resensi buku-buku sejarah (di luar buku teks)
yang dapat digunakan oleh para guru sebagai
sumber acuan dalam mengajar. Didukung oleh:

Artikel-artikel tersebut ditulis dengan font Times New


Roman 12, spasi 1,5 dan maksimal 8 halaman A4.
Pengiriman artikel dapat dilakukan melalui email ke:
jurnalagsi@gmail.com atau pos ke Institut Sejarah
Sosial Indonesia, Jl. Batu Kramat no. 19, RT 11/ 05,
Jakarta Timur 13520.
Alamat-alamat ini juga dapat digunakan untuk
meminta penjelasan atau panduan lebih lanjut dalam
penulisan artikel-artikel di atas. Kami tunggu
partisipasi Bapak/ Ibu sekalian!
Disain, tata letak, dan juru cetak:
Salam, Pokjajambubatu
Redaksi

2 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


Nomor ISSN: 2087 2690
BULETIN
Jurnal Pendidikan Sejarah
Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) 'edisi perdana':
Mengkaji Ulang Peranan Pendidikan Sejarah

Daftar isi:
4 Pengantar Redaksi
Mengkaji Ulang Pendidikan Sejarah SMA

Sajian Utama:
6 Pendidikan Sejarah: Kemana dan Bagaimana? (Prof. Dr. S. Hamid Hasan)
11 Peran Guru Dalam Penentuan Kebijakan Pendidikan dan Inovasi
Pembelajaran (Suparman)

15 Perjalanan Pelajaran Sejarah: Dari Otoritarianisme Menuju Demokrasi


(Grace Leksana)

RubrikKegiatan AGSI:
19 Selayang Pandang Tentang Asosiasi Guru Sejarah Indonesia
(Ratna Hapsari)

Profil dan Inovasi:


22 Ade Munajat, Sosok Guru Yang Aktif, Kreatif, dan Inovatif
(Ade Munajat)

Rubrik Liputan:
26 Seminar Pembelajaran Sejarah Melalui Media Museum Sebagai Upaya
Membangun Karakter Bangsa (Suparman)

Resensi Buku:
29 Antara Kita, Nyai, dan Pergundikan di Hindia Belanda
(Taat Ujianto, S.Pd.)

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 3


Mengkaji Ulang
Pembaca budiman di seluruh Indonesia, setelah melalui jalan
panjang dan berkat kerjasama dengan Institut Sejarah Sosial
Indonesia (ISSI) dan Hivos, akhirnya Jurnal Pendidikan Sejarah-
Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (JPS-AGSI) dapat terbit untuk
pertama kali. JPS-AGSI ini hadir dan diharapkan menjadi media
komunikasi antar anggota AGSI serta seluruh guru sejarah tingkat
SLTA di Indonesia. Bagi AGSI sendiri, media ini juga dimaksudkan
untuk menyebarluaskan hasil program kerja AGSI selama tahun
2010 yang berupa rangkaian kegiatan Seminar dan Workshop
tentang Pemetaan Materi Esensial Mata Pelajaran Sejarah serta
penyusunan bahan ajar mata pelajaran sejarah SLTA, dalam
upaya mengembangkan dunia pendidikan khususnya
bidang sejarah.

JPS-AGSI edisi perdana mengangkat tema


“Mengkaji Ulang Pendidikan Sejarah SMA”. Melalui
tema ini, JPS-AGSI ingin mengingatkan masyarakat
dan para pendidik sejarah tentang pentingnya
pendidikan sejarah bagi suatu bangsa. Prof.
DR. Said Hamid Hasan dalam tulisannya yang
berjudul “Pendidikan Sejarah, kemana dan
bagaimana?” mengupas secara jelas tentang
pentingnya, kemana dan bagaimana pendidikan
sejarah semestinya diselenggarakan. Dilihat
dari sisi proses tumbuh kembang anak maka
penyelenggaraan pendidikan sejarah tingkat SMA
mempunyai beberapa tujuan utama yaitu sebagai
upaya pengembangan nilai-nilai yang menopang
karakter bangsa serta pengembangan kemampuan
berpikir, ketrampilan melakukan penelitian sejarah,
kemampuan menganalisis isu kontemporer serta
pengambilan keputusan (tentu sesuai dengan jenjang
pendidikan siswa).

Selanjutnya, JPS-AGSI akan mengupas sejarah lahirnya


kebijakan pendidikan sejak awal kemerdekaan
hingga saat ini. Grace Leksana dalam tulisannya
“Sejarah Pelajaran Sejarah” mencoba menguak
awal pentingnya pendidikan sejarah dalam sistem
pendidikan nasional. Dalam penjelasan umum UU
no. 12 tahun 1954 yang mengatur tentang Dasar-

4 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


Pendidikan Sejarah SMA
dasar Pendidikan dan Pengadjaran di Sekolah menyebutkan bahwa pendidikan dan pengajaran
akan mempengaruhi “di kemudian hari sifat-sifat rakyat umumnya, dan pemimpin-pemimpin
yang akan timbul dari rakyat khususnya”. Tawaran yang diberikan UU ini adalah pendidikan yang
bersifat nasional dan demokratis, artinya berdasarkan kebudayaan kita sendiri. Dari konsep inilah
kemudian muncul pernyataan tentang pelajaran sejarah: “Dalam pendidikan yang demikian
pengajaran sejarah akan menjadi pengajaran yang penting sekali”.

Dengan diberlakukannya UU ini, maka pemerintah Indonesia saat itu telah menyadari dan
meletakkan pelajaran sejarah sebagai ujung tombak pembentukan karakter kebangsaan.
Sayangnya, setelah 56 tahun penyelenggaraan pendidikan sejarah dianggap penting untuk
mendidik karakter bangsa dalam sistem pendidikan nasional kita, ternyata peranannya masih
jauh dari yang diharapkan. Para generasi tua mengeluh tentang anak-anak masa kini yang tidak
peduli dengan sejarah bangsa, para generasi muda juga mengeluh tentang pelajaran sejarah yang
membosankan dan tidak ada esensinya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi dalam kurun waktu 56
tahun tersebut? Apa yang membuat harapan dan kenyataan terpisah begitu jauh?

Sementara itu, di tengah jauhnya harapan dan kenyataan dalam pendidikan sejarah, Suparman
dalam tulisannya “Peran Guru Dalam Penentuan Kebijakan Pendidikan dan Inovasi Pembelajaran”
mencoba menawarkan dan mengajak pada para pendidik sejarah untuk segera keluar dari
belenggu. Lagi pula, walaupun terdapat banyak persoalan dalam pendidikan sejarah, sebetulnya
masih ada sejumlah pendidik sejarah yang cukup berani melakukan inovasi pembelajaran. Salah
satunya di Sukabumi, ada Ade Munajat. Ia melakukan kegiatan pembelajaran yang berbeda dari
biasanya. Ade Munajat menjadikan pengalaman anak dan pemahaman anak terhadap buku yang
dibacanya menjadi sangat penting dalam kegiatan belajar sejarah. Dengan melakukan eksplorasi
pembelajaran sejarah inovatif menjadi pokok yang dipikirkan dan bagian yang dipraktikkan,
inspirasi pembelajaran inovatif dapat lahir karena belajar dari pengalaman, diskusi, atau hasil
pemahaman atas membaca buku.

Dalam edisi perdana ini JPS-AGSI dibidani oleh gabungan semangat kaum tua, setengah tua dan
kaum muda. Ibu Ratna Hapsari (Ketua Umum AGSI) yang sudah sangat senior sebagai pendidik
sejarah, saya sendiri yang harus mengaku sudah setengah tua bergelut dengan pendidikan
sejarah, dan generasi muda dari ISSI, yaitu Grace Leksana dan Taat Ujianto yang ikut memeriahkan
media perdana ini melalui rubrik tinjauan buku “Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda”.
Kami mencoba menampilkan yang terbaik tetapi kami juga sangat berharap kritik dan saran
dari pembaca budiman dan para pendidik sejarah agar JPS-AGSI ini menjadi permulaan untuk
membangun komunikasi antar pendidik sejarah dan masyarakat sehingga pendidikan sejarah kita
ke depan menjadi lebih baik.

Salam Jasmerah!
Drs. Suparman

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 5


Pendidikan Sejarah:
Kemana dan
Bagaimana?1
S. Hamid Hasan2
1 Disajikan pada seminar Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI), Jakarta,
6 Maret 2010 dan atas seizin Penulis, menjadi sajian utama Jurnal Pendidikan Sejarah
AGSI setelah dipadatkan/editing oleh Ade Munajat
2 Adalah guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung

Pendahuluan dengan tantangan zaman yang dihadapi masyarakat


bangsa ini pada kurun waktu tertentu dan keunggulan
Dalam setiap upaya pendidikan ada dua kepentingan
anggota masyarakat dalam menjawab tantangan
yang selalu menjadi perhatian yaitu kepentingan
zaman yang dihadapi. Keunggulan yang dimiliki anggota
masyarakat/bangsa dan kepentingan peserta didik.
masyarakat bangsa pada suatu kurun waktu mungkin
Keduanya saling terkait dan kepentingan yang satu tidak
dalam bentuk pengetahuan tentang alam dan sesamanya,
boleh mengalahkan kepentingan yang lain. Salah satu
teknologi yang dimiliki, dan sikap dalam menghadapi alam
kepentingan masyarakat/bangsa yang harus diperhatikan
dan menggunakan teknologi menentukan perkembangan
pendidikan adalah jati diri bangsa. Jati diri bangsa
kehidupan masyarakat pada waktu itu. Peserta didik dapat
terbentuk dari karakter bangsa sedangkan karakter
mempelajari pengetahuan, teknologi, sikap, dan cara-cara
bangsa terbentuk dari berbagai kebajikan (virtue) yang
yang digunakan masyarakat bangsa pada waktu dulu
dikembangkan oleh bangsa tersebut dalam waktu yang
untuk dijadikan inspirasi dan aspirasi dalam menghadapi
panjang. Kebajikan itu terdiri atas nilai-nilai yang disepakati
tantangan masa kini dan masa mendatang.
anggota bangsa sebagai dasar untuk berkomunikasi,
bekerjasama, berkarya membangun kehidupan Pendidikan Sejarah merupakan media pendidikan
kebangsaan dan kehidupan global. Dalam kehidupan yang paling ampuh untuk memperkenalkan kepada
kebangsaan, nilai-nilai dari kebajikan itu membentuk peserta didik tentang bangsanya di masa lampau. Melalui
karakter masyarakat/komunitas anggota bangsa dan pelajaran sejarah peserta didik dapat melakukan kajian
seterusnya menjadi jatidiri bangsa. Ketika anggota mengenai apa dan bila, mengapa, bagaimana, serta akibat
bangsa atau pun bangsa itu bergaul dalam masyarakat apa yang timbul dari jawaban masyarakat bangsa di masa
internasional maka prilaku anggota dan bangsa tersebut lampau tersebut terhadap tantangan yang mereka hadapi
diwarnai oleh jatidiri tadi. Orang Indonesia memiliki jatidiri serta dampaknya bagi kehidupan pada masa sesudah
bangsa yang berbeda dari bangsa Malaysia walau pun peristiwa itu dan masa kini. Tindakan apa yang dilakukan
kedua bangsa itu terbentuk oleh anggota bangsanya yang para pelaku sejarah yang tidak mampu mencapai tujuan
sebagian besar suku bangsa Melayu dan berbahasa yang sehingga dapat dianggap sebagai suatu kesalahan atau
berkembang dari bahasa Melayu. Perkembangan bangsa bahkan kegagalan, perbuatan apa yang mereka lakukan
itu dalam perjalanan waktu yang panjang telah membuat yang mampu mencapai tujuan sehingga dianggap sebagai
perbedaan-perbedaan tersebut. suatu keberhasilan dan memberikan dampak positif bagi
kehidupan kebangsaan sesudahnya mau pun masa kini.
Peserta didik sebagai calon anggota produktif
masyarakat bangsanya akan hidup dan berkarya dalam Selain untuk mengembangkan karakter bangsa,
masyarakat dan bangsa dengan jati diri Indonesia. Dia pendidikan sejarah adalah wahana pendidikan untuk
adalah anggota bangsa dengan jatidiri yang sudah mengembangkan disiplin ilmu sejarah. Dalam upaya
terbentuk dan sangat mungkin menjadi penyumbang ini maka peserta didik diajak untuk berpikir dalam
yang berpengaruh dalam mengembangkan jatidiri bangsa tatanan berpikir historis dan kemampuan kesejarahan
itu di masa kemudian. Nilai-nilai tersebut berakar pada dalam mengumpulkan data, melakukan seleksi untuk
budaya masyarakat bangsa sejak masa awal kehadiran menemukan fakta sejarah, merekonstruksi fakta yang
masyarakat di wilayah yang menjadi wilayah bangsa ditemukan menjadi suatu peristiwa sejarah. Dalam upaya
Indonesia masa kini hidup. Budaya itu berkembang sesuai ini pendidikan sejarah diposisikan sebagai pendidikan
6 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010
keilmuan dan pengembangan kemampuan intelektual keterkaitan fakta serta penafsiran untuk membangun
menjadi tujuan yang utama dibandingkan dengan upaya suatu cerita sejarah, berkomunikasi, mengevaluasi cerita
pertema yang dikemukakan di atas di mana tujuan sejarah), kemampuan afektif (jujur, kerja keras, kreatif,
pengembangan ranah afektif lebih utama. Oleh karena itu menghargai kepahlawanan, mencintai bangsa dan tanah
pemahaman berbagai peristiwa sejarah menurut kaedah air, mau belajar dari peristiwa sejarah, senang membaca,
ilmu sejarah adalah penting. Kualitas berpikir seperti rasa ingin tahu, disiplin), dan kemampuan psikomotorik
kronologis, pemahaman fakta sejarah, kemampuan (teliti).
analisis dan penafsiran sejarah, kemampuan penelitian
Aspek kompetensi yang dikemukakan di atas adalah
sejarah, kemampuan menganalisis isu kontemporer, dan
kompetensi yang berkenaan dengan proses, nilai, dan
pengambilan keputusan (historical issues-analysis and
sikap. Aspek kompetensi ini tidak bisa diajarkan tapi
decision making) (NCHS, 1996: 6-7) menjadi tujuan penting
dikembangkan. Jika diajarkan maka semua kemampuan
dalam pendidikan sejarah.
(kognitif, afektif, dan psikomotor) tersebut menjadi
Tujuan pendidikan sejarah yang pertama sangat pengetahuan. Ini yang terjadi pada pelajaran sejarah di
diperlukan bagi seluruh warganegara. Pendidikan dalam sekolah-sekolah karena aspek kompetensi kemampuan
program WAJAR 9 Tahun adalah pendidikan untuk diperlakukan sebagai materi yang diajarkan dan menjadi
seluruh anak bangsa dan oleh karena itu pengembangan sesuatu yang dihafalkan. Aspek kompetensi kemampuan
nilai-nilai yang menopang karakter bangsa bersamaan haruslah dikembangkan melalui proses pembelajaran
dengan kemampuan berpikir kritis-analitis, kebiasaan ketika peserta didik membahas berbagai pokok bahasan
membaca dan kemampuan belajar (learning skills) menjadi yaitu peristiwa sejarah. Tentu saja harus diakui bahwa
tujuan utama pendidikan sejarah. Pengenalan dan pada langkah awal kemampuan tersebut dimulai
pemahaman sejarah masyarakat sekitarnya beserta tokoh sebagai pengetahuan dan diajarkan tetapi kemudian
sejarah daerah dilanjutkan dengan sejarah nasional, dikembangkan melalui proses pembelajaran. Melalui
penghargaan terhadap jasa pahlawan, keinginan untuk kajian peristiwa sejarah peserta didik mengembangkan
mencontoh tindakan kepahlawanan adalah penting untuk pada dirinya berbagai kemampuan (kognitif, afektif, dan
membangun memory kolektif sebagai bangsa pada diri psikomotor) tadi melalui proses pembelajaran.
peserta didik.
Pada dasarnya, materi kompeteni yang bersifat
Tujuan pendidikan sejarah yang kedua yaitu kemampuan memerlukan waktu panjang untuk menjadi
pengembangan kemampuan berpikir, ketrampilan milik peserta didik. Pada tahap-tahap awal penguasaan
melakukan penelitian sejarah, kemampuan menganalisis kemampuan itu akan menyita sebagian besar waktu yang
isu kontemporer erta pengambilan keputusan (tentu tersedia tetapi apabila peserta didik sudah menguasai
sesuai dengan jenjang pendidikan siswa) adalah tujuan kemampuan tersebut mereka mampu menggunakannya
utama bagi pendidikan sejarah di SMA. Tentu harus untuk belajar lebih cepat materi peristiwa sejarah.
dikemukakan bahwa kualitas lain seperti mencintai
kepahlawanan serta tindakan kepahlawanan, kebiasaan Pengembangan Silabus Pendidikan Sejarah
membaca, dan kemampuan belajar tetap menjadi tujuan
Dalam kebijakan kurikulum kini, dimana setiap
pendidikan sejarah sebagai pendidikan disiplin ilmu di
satuan pendidikan harus mengembangkan KTSP, tugas
SMA. Oleh karena itu berbagai kemampuan dalam berpikir
guru sejarah yang tak kalah beratnya dibandingkan
dan penelitian sejarah diberikan pada semester awal
mengembangkan KTSP adalah mengembangkan silabus.
sebagai kemampuan awal. Kemampuan ini yang kemudian
Dalam mengembangkan silabus, guru sejarah harus
dikembangkan pada semester-semester berikutnya
berpikir dalam jangka waktu tiga tahun. Oleh karena
ketika siswa membahas berbagai peritiwa sejarah
itu jika di suatu satuan pendidikan guru sejarah terdiri
yang dicantumkan dalam kurikulum. Hal ini disesuaikan
atas guru kelas satu, dua, dan tiga maka ketiganya harus
dengan kedudukan SMA sebagai satuan pendidikan yang
bekerjasama dalam mengembangkan silabus.
mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan studi ke
perguruan tinggi. Kerjasama itu terkait dengan karakteristik materi
kemampuan kompetensi. Materi ini tidak mungkin dimiliki
Pendidikan Berbasis Kompetensi untuk Kurikulum Sejarah
peserta didik dalam satu atau dua semester. Pengembangan
Kurikulum yang berlaku sekarang ini adalah kurikulum materi kemampuan ini bersifat “developmental” dan
berbasis kompetensi. Berbagai akhli mengartikan oleh karenanya berkesinambungan antara satu semester
kompetensi meliputi berbagai aspek kemampuan yang dengan semester berikutnya. Komplekitas kemampuan
harus dimiliki seseorang. Becker (1977) dan Gordon yang harus dikuasai peserta didik, kemampuan awal
(1988) mengemukakan bahwa kompetensi meliputi peserta didik (entry behaviour), dan fasilitas pendidikan
”pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai, sikap, yang dimiliki peserta didik serta satuan pendidikan menjadi
dan minat”. Jadi secara mendasar pengertian kompetensi dasar bagi guru sejarah untuk menentukan waktu yang
haruslah menggambarkan kemampuan untu melakukan diperlukan untuk menguasai satu kemampuan. P a d a
sesuatu. Artinya, kompetensi yang dikembangkan dalam dasarnya, apabila kemampuan kompetensi sudah dikuasai
mata pelajaran sejarah haruslah kompetesi yang berkenaan ketika membahas pokok bahasan di kelas awal (kelas X)
dengan kemampuan kognitif (berpikir kronologis, maka pokok bahasan berikutnya dan pembelajaran di
pemahaman peristiwa sejarah, menerapkan ketrampilan kelas XI dan XII merupakan pemantapan lebih lanjut.
heuristik dan kritik serta mengumpulkan data/fakta Oleh karena itu dalam silabus dapat dicantumkan matriks
dari sumber sejarah, menganalisis hubungan kausalita yang menggambarkan keterkaitan antara pokok bahasan
dan penafsiran sejarah, mensintesis berbagai fakta dan dengan kemampuan yang dikembangkan, sebagai berikut:
Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 7
Tabel 1: Keterkaitan Antara Materi Kemampuan
dengan Materi Pokok Bahasan

SEMESTER DAN POKOK BAHASAN


KEMAMPUAN SEM 1 SEM 2 SEM 3 SEM 4 SEM 5 SEM 6
PB1 PB2 PB1 PB2 PB1 PB2 PB1 PB2 PB1 PB2 PB1 PB2

Berpikir kronologis
Pemahaman peristiwa sejarah
Ketrampilan sejarah
Kausalitas
Penafsiran
Cerita sejarah
Berkomunikasi
Evaluasi cerita
Jujur
Kerja keras
Kreatif
Kepahlawanan
Cinta bangsa & tanah air
Belajar dari sejarah
Senang membaca
Rasa ingin tahu
Disiplin
Teliti

Keterangan Tabel: arah dimana guru menjadi sumber informasi. Buku teks
SEM = Semester digunakan baru sebagai pengganti guru sebagai sumber
PB = Pokok Bahasan 1, 2, 3 dan seterusnya informasi. Sumber informasi lain yang memerlukan
Tabel di atas menggambarkan bahwa setiap materi kemampuan belajar mencari sumber, menentukan
kemampuan dikembangkan melalui proses belajar yang informasi yang relevan, dan mengumpulkannya belum
dilakukan peserta didik ketika mereka melakukan kajian menjadi suatu kenyataan umum di kelas sejarah. Guru
terhadap setiap pokok bahasan. Organisasi konten mata pelajaran sejarah masih harus bekerja keras untuk
demikian bersifat mendasar dan merupakan organisasi merealisasikan kegiatan pencarian informasi ini. Pada saat
yang sesuai dengan karakter konten kemampuan. sekarang dengan kurikulum sejarah berbasis kompetensi
maka kegiatan mencari informasi yang dilakukan peserta
Realisasi Silabus dalam Proses Pembelajaran Sejarah didik harus mendapat tempat yang lebih dari apa yang
terjadi pada saat sekarang. Metode pemberian tugas
Setiap proses pembelajaran yang berkenaan dengan masih merupakan metoda yang menonjol dalam kegiatan
kompetensi terdiri atas kegiatan belajar sebagai berikut: ini dan hal ini akan berlanjut sampai peserta didik memiliki
1. Pencarian informasi; kemandirian dan inisiatif dalam kegiatan pencarian
2. Pemahaman informasi; informasi. Artinya, proses awal suatu pembelajaran
3. Penggunaan informasi; dimulai dari mengembangkan kemampuan belajar
4. Pemanfaatan informasi. mencari informasi dari sumber seperti buku teks sampai
Keempat kegiatan pembelajaran ini perlu kepada sumber sejarah yang lebih asli dan autentik.
digalakkan karena pada saat sekarang kebanyakan Kegiatan pemahaman informasi berkenaan
proses pembelajaran sejarah yang terjadi berfokus pada dengan upaya memahami isi yang terkandung dari
pemahaman informasi. Kegiatan pencarian informasi, suatu informasi. Sumber informasi yang tertulis atau
kegiatan penggunaan, dan pemanfaatan informasi terekam dengan teknologi elektronik memang memiliki
merupakan kegiatan pembelajaran yang sangat langka berbagai keunggulan dibandingkan dengan sumber
terjadi di kelas-kelas pembelajaran IPS/sejarah. informasi lisan. Diantara keunggulannya adalah sumber
Kegiatan pencarian informasi yang sering terjadi di tersebut dapat dibaca ulang. Kegiatan belajar dalam
kelas pada saat sekarang kebanyakan hanya bersifat satu implementasi kurikulum sejarah berbasis kompetensi

8 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


harus menggunakan berbagai metode dan teknik agar Asesmen Hasil Belajar Sejarah
peserta didik dapat memahami isi informasi dengan baik
Hasil belajar peserta didik kurikulum sejarah adalah
dan pada tingkat pemahaman yang tinggi. Kemampuan
kompetensi. Kompetensi tersebut dapat berbentuk
pemahaman adalah kemampuan yang harus terlatih pada
pengetahuan, sikap, ketrampilan, minat, dan kebiasaan
diri siswa setiap saat mereka membaca, mengamati, atau
(habit). Dalam asesmen hasil belajar kurikulum sejarah,
kegiatan belajar lainnya. Pemahaman terhadap suatu teks
guru harus mendapatkan informasi yang akurat tentang
mulai dari yang sederhana sampai kepada yang kompleks.
tingkat pencapaian peserta didik, melakukan perbaikan
Memahami informasi bukan menghafal dan dapat dimulai
jika belum memenuhi persyaratan minimal, dan memiliki
dari memahami data, fakta, istilah, definisi, konsep,
informasi yang akurat mengenai materi yang sulit dikuasai
penafsiran, kausalita, makna, pelajaran sejarah, teori
peserta didik. Perubahan orientasi dan pelaksanaan
bahkan keseluruhan cerita sejarah.
asesmen ini mutlak dilakukan dalam implementasi
Peserta didik yang belajar sejarah harus dapat kurikulum sejarah berbasis kompetensi.
mengidentifikasi berbagai jenis informasi yang diperoleh
dari suatu sumber: fakta, konsep, generalisasi, teori,
prosedur, proses, nilai, ketrampilan psikomotorik dan
sebagainya.
Kegiatan penggunaan informasi adalah kegiatan
menerapkan apa yang sudah dipahami dalam suatu konteks
baru di kelas dan di sekolah. Kegiatan ini menghendaki
peserta didik mampu menggunakan informasi yang
telah diperolehnya. Dalam kegiatan ini peserta didik
haruslah mendapatkan sesuatu yang berkenaan
dengan apa yang telah dipelajarinya tetapi bukan suatu
pengulangan. Peserta didik harus menggunakan konsep
yang telah dipelajari untuk mempelajari sesuatu yang
baru tadi, menggunakan prosedur dan proses yang sudah
dipahaminya untuk mempelajari atau menyelesaikan
masalah baru yang dihadapinya, dan menggunakan nilai
yang sudah dipahaminya untuk menyelesaikan masalah
baru yang sekarang ada di depan matanya. Dalam konteks
ini maka pembelajaran sejarah tidak dapat dilepaskan dari
berbagai keadaan dan masalah yang terjadi di masyarakat.
Kemampuan yang diperoleh dari pelajaran sejarah
harus dapat digunakan dalam kehidupan peserta didik
sehari-hari di luar lingkungan sekolah. Belajar adalah
untuk kehidupan dan belajar sejarah adalah belajar
tentang kehidupan masyarakat di masa lalu. Kemampuan
berpikir kritis, kausalita, nilai, dan ketrampilan yang
mereka pelajari di kelas sejarah haruslah dapat mereka
gunakan setelah keluar dari kelas tersebut. Nilai dan
sikap menghargai kepahlawanan menjadi nilai dan sikap
yang mereka tunjukkan ketika bergaul dengan anggota
masyarakat.
Kegiatan pemanfaatan informasi merupakan
kegiatan yang tertinggi dan ini menjadi suatu kegiatan
yang akan mengembangkan jati dirinya. Jika dalam
penggunaan informasi peserta didik masih banyak
mendapat bimbingan guru maka pada kegiatan pada Hasil asesmen yang dilakukan guru harus menjadi
tahap ini peserta didik akan melakukan pemanfaatan masukan baik bagi guru mau pun bagi peserta didik. Suatu
informasi berdasarkan inisiatif dan kreativitas mereka. posisi dasar yang penting bagi guru adalah lebih baik
peserta didik belajar sedikit tapi memiliki kemampuan
Keempat kegiatan di atas bersifat saling terkait dan
dan memahami pokok bahasan yang sudah mereka kaji
berkelanjutan. Guru dapat merencanakan kedalaman
dibandingkan dengan banyak pokok bahasan yang dikaji
kajian satu pokok bahasan berbeda dari kedalaman kajian
tetapi sedikit atau hanya sebagian kecil saja kemampuan
pokok bahasan lain untuk mengembangkan kemampuan
yang dikuasai dan pemahaman peristiwa sejarah hanya
yang tercantum dalam tabel 1. Konsekuensi dari kedalaman
terbatas pada pengetahuan faktual. Posisi dasar asesmen
materi pokok bahasan ialah waktu yang dialokasikan
hasil belajar sejarah ini akan memberikan kesempatan
untuk suatu pokok bahasan yang dikaji lebih dalam lebih
kepada peserta didik untuk memperbaiki kekurangannya
lama dibandingkan yang kurang dalam. Mungkin saja guru
serta bagi guru untuk membantu peserta didik.
sejarah menetapkan bahwa dua pokok bahasan dikaji
dalam satu jam pertemuan sedangkan pokok bahasan lain
memerlukan waktu dua jam pertemuan kelas.
Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 9
DAFTAR BACAAN
Burke, J. (Ed.)(1995). Competency Based Education and Training. Levstik,L.S. (2000). Articulating the Silences: Teachers’ and
London: The Falmer Press. Adolescents’ Conceptions of Historical Significance, dalam Knowing
Conley, D. (1999). Statewide Strategies for Implementing Teaching and Learning History: National and International Perspectives,
Competency-based Admissions Standards. Denver: State Higher Knowing Teaching and Learning History: National and International
Education Executive Officers. Perspectives, ed. Stearns,P.N., P. Seixas, dan S. Wineburg.
Cinterfor (2001). Competency-based Curriculum Design. Loon,J.van (1998). Holistic or Discrete? A Competency Based
Available at http://www.ilo.org, tanggal 24 Januari 2002. Assessment Issue in the Certificate of General Education for Adults
Deb, S. (2003). Textbook Troubles. Available at http://www. Reading and Writing Stream. Available at http://education.curtin.edu.
countercurrents.org au, tanggal 9 Mei 2002.
Education Guardian (2007). A New History of Iraq. Available at Nebraska State Board of Education (1998). Nebraska Social
http://education.guardian.co.uk/ Studies/History Standards. Grade K-12. Available at http://www.nde.
Elam, S. (1971). Performance Based teacher Education. Monograph. state.ne.us/SS/SocSStnd, tanggal 25 Mei 2001.
Washington, D.C: American Educational Research Association. Oliva, P.F. (1997). Developing the Curriculum, 4th ed., New York:
Ferguson,F. (2000). Outcomes-Based Curriculum Development. Longman
Available at http://www.c2t2.ca, tanggal 24 Januari 2002. Ohio State Department of Education (2001). Academic Content
Garvey, B. dan Krug, M. (1977). Models of History teaching in the Standards Development. Available at http://www.ode.state.oh.us/
Secondary School. Oxford: Oxford University Press academic_content_standards, tanggal 20 Februari 2002.
Giese, J.R. (1996). Studying and Teaching History, dalam Teaching Panikkar, K.N. (2007). History Textbooks in India: Narratives of
the Social Sciences and History in Secondary Schools: A Methods Book. Religious Nationalism
Long Grove, Illinois: Waveland Press, Inc. Patton, M.A. dan T. Shanka (1997). Developing an Outcome-
Hasan, S.H. (1977). An Analysis of the Use of Inquiry Approach based Quality Standard based on Graduate Achievement and Perception.
in Teaching Sosial Studies in Indonesia. Sydney: Macquarie University, Available at http://www.cbs.curtin.edu.au/mkt/research, tanggal 10
Unpublished Master Thesis Maret 2000.
Hasan,S.H. (2003). Strategi Pembelajaran Sejarah Pada Quillen,D.M. (2001). Challenges and Pitfalls of Developing and
Era Otonomi Daerah Sebagai Implementasi Kurikulum Berbasis Applying a Competency-based Curriculum. Family Medicine, Oktober
Kompetensi. Makalah 2001.
Hasan, S.H. (2007). Kurikulum Pendidikan Sejarah Berbasis RMIT (2002). Competency Based Curriculum. Available at http://
Kompetensi. Makalah disajikan pada Seminar Pendidikan Sejarah di www.rmit.edu.au, tanggal 9 Mei 2002.
UPI. Bandung Suparno, A. S. (1995). Pengajaran Sejarah sebagai Sarana
Indiana University Medical Sciences Program (?). Implementation Memperkuat Jati Diri dan Integrasi Bangsa: Sudut Pandangan Ilmu
of the Competency Based Curriculum in Bloomington. Available at Pendidikan, dalam Pengajaran Sejarah, Kumpulan Makalah Simposium.
http://medsci.indiana.edu, tanggal 9 Mei 2002. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional
Jakubowski,C. (2002). Teaching World History: Problems and Wineburg, S. (2000). Making Histrotical Sense, dalam Knowing
Promises Faced by Young Teachers. World History Bulletin. XVIII, 2. Teaching and Learning History: National and International Perspectives
Koblin, D. (1996). Beyond the Textbook: teaching history using (Eds. Stearns,P.N., Seixas, P. dan Wineburg, S.). New York: New York
documents and primary sources. Portsmouth, NH: Heinemann. University Press
Kumar, K. (2002). Shared Heritage but Different History Wineburg, S. (2001). Historical Thinking and Other Unnatural Acts:
textbooks. Available at http://www.tribuneindia.com Charting the Future of Teaching the Past. Philadelphia: Temple University
Kupper,H.A.E. dan Arnold A.W. van Wulfften Palthe (?), Press
Competency-based curriculum development, Experiences in Agri Chain
Management in the Netherlands and in China.

10 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


Peran Guru
Dalam Penentuan Kebijakan Pendidikan dan
Inovasi Pembelajaran
Oleh : Suparman
(Sekretaris Jenderal Asosiasi Guru Sejarah Indonesia/AGSI)
Disamping peran keluarga, peran startegis guru posisi guru yang cukup strategis di tingkat satuan
meletakan dasar-dasar yang kuat bagi masa depan bangsa pendidikan. Dewan Guru/Dewan Pendidik menjadi sangat
tidak dapat diragukan lagi. Etika berpolitik, nasionalisme, strategis ketika memiliki posisi penentu dari sejumlah
patriotisme, humanisme, sains-teknologi kemanusiaan kebijakan pendidikan bersama dengan komite sekolah.
dan estetika anak/peserta didik mulai dipertaruhkan masa Mulai dari penentuan kalender akademik sampai memberi
depannya ketika terjadi interaksi guru-murid baik dalam persetujuan RAPBS dan menilai pertanggungjawaban
kegiatan pembelajaran di kelas maupun di luar kelas. kepala sekolah. (catatan: masa sebelumnya peluang ini
Kegagalan membangun dasar-dasar yang kuat dalam belum ada, dan bahkan di tingkat implementasi sampai
interaksi tersebut memberi peluang bagi kegagalan masa saat ini peran guru sangat terbatas).
depan bangsa. Inilah ideal peran strategis guru. Bagaimana Dalam konteks yang lebih luas lagi UU Guru Pasal 14
realitasnya? ayat (1) menyebutkan bahwa: “Dalam melaksanakan tugas
Yuridis : keprofesionalan guru BERHAK memiliki kesempatan untuk
Dilihat dari sisi profesinya saat ini guru diatur oleh berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan”.
UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, UU Nomor 14 Secara lebih lengkap peran guru untuk ikut dalam
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, PP SNP, dan PP Guru. penentuan kebijakan pendidikan termuat didalam PP
Secara mikro, Pasal 17 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru. Pasal 45 PP Guru
Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan bahwa:
(PPSNP) menyebutkan bahwa : “Kurikulum tingkat (1) Guru memiliki kesempatan untuk berperan dalam
satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/ penentuan kebijakan pendidikan di tingkat:
MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat a. satuan pendidikan;
dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi b. kabupaten atau kota;
daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masyarakat c. provinsi; dan
setempat, dan peserta didik”. Kurikulum Tingkat Satuan d. nasional.
Pendidikan (KTSP) sebenarnya dapat dijadikan pintu (2) Kesempatan untuk berperan dalam penentuan
masuk bagi setiap guru bersama satuan pendidikannya kebijakan di tingkat satuan pendidikan sebagaimana
untuk melakukan berbagai inovasi pembelajaran dimaksud pada ayat (1) huruf a meliputi:
disesuaikan dengan karakteristik subyek belajar di a. penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan
satuan pendidikannya. Ditambah dengan otonomi yang dan silabusnya;
semestinya dimiliki oleh guru sebagai pekerja profesi maka b. penetapan kalender pendidikan di tingkat satuan
sebenarnya berbagai terobosan untuk melahirkan inovasi pendidikan;
pembelajaran termasuk pembelajaran bervisi satu menjadi c. penyusunan rencana strategis;
terbuka cukup lebar. d. penyampaian pendapat menerima atau menolak
Dalam konteks yang luas di tingkat satuan pendidikan laporan pertanggungjawaban anggaran dan
peran guru secara yuridis cukup memberi peluang. PPSNP pendapatan belanja sekolah;
Pasal 52 ayat (2) Menyebutkan bahwa : ”Rapat Dewan e. penyusunan anggaran tahunan satuan
Pendidik memutuskan Pedoman kerja Satuan Pendidikan pendidikan;
seperti: kurikulum sekolah, kalender pendidikan, f. perumusan kriteria penerimaan peserta didik
pembagian tugas pendidik, peraturan akademik dan kode baru;
etik hubungan antar guru dan dengan masyarakat”. g. perumusan kriteria kelulusan peserta didik dari
satuan pendidikan sesuai dengan ketentuan
Pasal 53 ayat 3 PPSNP menyebutkan bahwa : ”Rencana
peraturan perundang- undangan; dan
kerja satuan pendidikan; kalender pendidikan, jadwal
h. penentuan buku teks pelajaran sesuai dengan
kurikulum, mata pelajaran yang ditawarkan, buku teks,
ketentuan peraturan perundang-undangan.
jadwal penggunaan sarana, pengadaan bahan habis pakai,
(3) Kesempatan untuk berperan dalam penentuan
program peningkatan pendidik/tenaga kependidikan,
kebijakan pendidikan di tingkat kabupaten atau
jadwal rapat dewan pendidik, termasuk RAPBS harus
kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
disetujui rapat dewan pendidik setelah memperhatikan
meliputi saran atau pertimbangan tertulis ataupun
pertimbangan dari Komite Sekolah/Madrasah”
lisan dalam:
PPSNP Pasal 54 ayat (4) menyebutkan bahwa : a. penyusunan peraturan perundang-undangan di
”Pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang bidang pendidikan;
pendidikan dasar dan menengah dipertanggungjawabkan b. penyusunan rencana strategis bidang pendidikan;
oleh kepala satuan pendidikan kepada rapat dewan dan
pendidik dan komite sekolah”. c. kebijakan operasional pendidikan daerah
Ketiga pasal PPSNP ini secara tegas menempatkan kabupaten atau kota.
Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 11
(4) Kesempatan untuk berperan dalam penentuan membangun suasana pembelajaran yang demokratis dan
kebijakan pendidikan di tingkat propinsi sebagaimana terbuka. Anak-anak didik dijadikan ”bawahan-bawahan”
dimaksud pada ayat (1) huruf c meliputi saran atau baru yang harus tunduk dan patuh pada guru sesuai
pertimbangan tertulis ataupun lisan dalam: dengan juklak dan juknis atau atas nama kurikulum (dikutip
a. penyusunan peraturan perundang-undangan di dari artikel sendiri ”Jangan Takut Menjadi Guru”, Kompas,
bidang pendidikan; 27 Maret 2006);
b. penyusunan rencana strategis bidang 2. Inkonsistensi peraturan perundang-undangan:
pendidikan; dan
Pengembangan profesionalisme guru melalui aturan
c. kebijakan operasional pendidikan daerah propinsi.
KTSP ternyata masih menyisakan adanya campur tangan
(5) Kesempatan untuk berperan dalam penentuan
Pemerintah/ Pemda sehingga pengembangan otonomi
kebijakan pendidikan di tingkat nasional sebagaimana
guru dan satuan pendidikan menjadi tidak maksimal.
dimaksud pada ayat (1) huruf d meliputi saran atau
Usaha pengembangan akhirnya terganjal dengan aturan
pertimbangan tertulis ataupun lisan dalam:
yang mengharuskan guru dan satuan pendidikan terikat
a. penyusunan peraturan perundang-undangan di
sesuai dengan petunjuk dan malahan proses pembelajaran
bidang pendidikan;
yang dikembangkan secara otonom menjadi terabaikan.
b. penyusunan rencana strategis bidang pendidikan;
dan Jika pasal 17 ayat (1) PPSNP guru bersama satuan
c. kebijakan operasional pendidikan tingkat pendidikan diberi kebebasan mengembangkan kurikulum
nasional. sesuai dengan potensi yang ada di setiap satuan
(6) Saran atau pertimbangan tertulis ataupun lisan pendidikan maka ternyata dalam pengembangannya
sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (4), masih harus diawasi oleh pemerintah/pemerintah
dan ayat (5) disampaikan baik secara individual, daerah. Pasal 17 Ayat (2) PPSNP menyebutkan bahwa :
kelompok, atau melalui Organisasi Profesi Guru, ”Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan
undangan. pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar
kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah
supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab
Kendala :
di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan
1. Masih kuatnya budaya birokrasi (birokratisasi) departemen yang menangani urusan pemerintahan di
profesionalisme guru: bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK”.
Birokratisasi profesi guru di jaman Orde Baru Pasal 16 ayat (1) PPSNP menyebutkan bahwa :” (1)
telah menghasilkan mayoritas guru bermental pegawai. Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan
Orientasi jabatan sangat kental melekat dalam diri para jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman
guru. Jabatan guru utama sebagaimana layaknya guru pada panduan yang disusun oleh BSNP”.
besar di perguruan tinggi tidak lagi dilihat sebagai tujuan Dalam UU Sisdiknas pasal 58 ayat (1) disebtkan
puncak karir yang harus diraih seorang guru melainkan bahwa : “Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh
lebih pada jabatan kepala sekolah atau jabatan-jabatan pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan
birokrasi lainnya di dinas-dinas pendidikan maupun di hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan”.
departemen pendidikan. Semangat profesionalismenya Ini menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi secara proses
luntur seiring terjadinya disorientasi jabatan ini. sampai dengan penentuan kelulusan peserta didik
Birokratisasi juga menciptakan hubungan kerja sepenuhnya dilakukan oleh pendidik, tetapi kenyataannya
“atasan-bawahan” yang lambat laun menghilangkan didalam pasal 64 dan 66 PPSNP pasal ini ditafsirkan lain
kesejatian profesi guru yang seharusnya merdeka untuk sehingga evaluasi hasil belajar dapat dilakukan oleh
menentukan berbagai aktivitas profesinya tanpa harus satuan pendidikan dan oleh pemerintah. Pasal inilah
terbelenggu oleh juklak dan juknis (petunjuk pelaksana yang kemudian dijadikan dasar oleh pemerintah untuk
dan petunjuk teknis) yang selama ini menjadi bagian dari tetap menyelenggarakan Ujian Nasional. Kebijakan
budaya para birokrat. Guru menjadi tidak kreatif, kaku, UN inilah yang melahirkan kontroversial dalam dunia
hanya berfungsi sebagai operator atau tukang dan takut pendidikan karena sejumlah pakar, pendidik, pengamat
melakukan berbagai pembaruan. dan masyarakat dinilai tidak sesuai dengan prinsip-prinsip
Rasa takut itu pada akhirnya semakin memperkokoh pedagogis, pemborosan uang negara, dan tidak adil buat
kekuasaan birokrasi dengan menjadikan guru sebagai peserta didik (saat ini gugatan UN sedang diproses MA
bagian dari pegawai-pegawai bawahan yang harus tunduk terkait dengan putusan PN Jakpus diperkuat oleh PT DKI
patuh pada perintah “atasan”. Guru yang berani mengritik yang secara subsidair memenangkan gugatan masyarakat,
apalagi memprotes tindakan “atasan” yang tidak benar dan akhirnya pemerintah melakukan kasasi).
dengan mudah diperlakukan sewenang-wenang seperti Kebijakan UN ini akhirnya diperkuat juga dengan UU
diintimidasi, dimutasi, diturunkan pangkatnya atau bahkan Guru dan Dosen yang memberikan hak kepada guru untuk
dipecat dari pekerjaannya. Kasus mutasi Waldonah sekedar ikut dalam penentuan kelulusan peserta didik
di Temanggung, kasus mutasi 10 orang guru di Kota (Pasal 14 ayat (1) f );
Tangerang, kasus pemecatan Nurlela dan mutasi Isneti di 3. Kurangnya pemahaman guru terhadap peraturan
Jakarta, dan beberapa kasus penindasan terhadap guru perundang-undangan:
di berbagai daerah menunjukkan begitu kuatnya proses Dalam setiap pertemuan akademis, seperti seminar
birokratisasi profesi guru sampai saat ini. dan diskusi ketika ditanyakan siapa saja guru yang pernah
Proses yang sama terjadi pula sampai ke dalam kelas. membaca UU Guru, kebanyakan mereka belum membaca.
Dalam proses pembelajaran masih banyak guru yang tidak Bahkan banyak guru yang belum pernah mengetahui
12 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010
ada UU Guru. Banyak guru swasta yang belum pernah Kreativitas guru pada dasarnya sudah memiliki
mengetahui bahwa hubungan kerja antara dirinya sebagai ruang secara yuridis, saat ini tinggal bagaimana guru mau
pekerja profesi dengan satuan pendidikannya selama menyikapi dengan sungguh-sungguh untuk membangun
ini semestinya dipayungi oleh UU Ketenagakerjaan dan kreativitasnya sekaligus terus berjuang meluruskan
jika terjadi persoalan hubungan kerja, jika perundingan inkonsistensi kebijakan negara/pemerintah yang masih
tidak tercapai maka penyelesaiannya harus dilakukan di belum sepenuhnya memberikan otonomi kepada guru.
Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Saat ini ada UU BHP
Historia Magistera Vitae
dan PP Guru yang juga ikut mengatur guru yang belum
Semua guru sejarah pasti tahu makna ungkapan latin
diketahui oleh banyak guru. Banyak guru yang belum
ini. Artinya ”sejarah adalah guru kehidupan”. Ungkapan
mengetahui adanya hak kebebasan berserikat sebagai cara
ini bermakna bahwa jika ingin membangun kehidupan
bernegosiasi dan hak untuk memperoleh perlindungan.
yang lebih baik di masa yang akan datang maka setiap
Perlindungan Guru : orang pada masa hidupnya (masa kini) harus belajar
Undang- Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang dari masa lalu. Hal-hal yang tidak baik di masa lalu harus
Guru dan Dosen Pasal 7 ayat (1) menyebutkan bahwa ditinggalkan atau diperbaiki, dan hal-hal yang sudah baik
salah satu prinsip profesionalitas guru adalah ”Memiliki harus disempurnakan supaya menjadi lebih baik lagi. Bung
jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan Karno sendiri seringkali menyampaikan ungkapannya
tugas keprofesionalan”, dan pasal 14 ayat (1) poin c yang terkenal sampai saat ini ”Jangan sekali-sekali
menyebutkan pula bahwa : “Dalam melaksanakan tugas melupakan sejarah”, sering disingkat menjadi Jasmerah.
keprofesionalan guru berhak memperoleh perlindungan Lalu bagaimana kedua ungkapan ini dapat dimaknai oleh
dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan guru sejarah?
intelektual”. Guru sejarah tidak boleh menutup mata bahwa
selama ini mata pelajaran sejarah digugat oleh masyarakat.
Belajar sejarah menjenuhkan! Dari 35 murid didalam kelas
sudah cukup bersyukur ada 5 sampai 10 orang murid yang
antusias mengikuti ”pembelajaran” sang guru sampai bel
pelajaran berakhir. Meskipun antusiasme mereka belum
tentu didasari oleh peminatan yang cukup tinggi terhadap
pelajaran sejarah. Di antaranya mungkin disebabkan
karena toleransi saja kepada gurunya. Sementara sebagian
besar anak asik dengan pikirannya sendiri, sebagian
lagi terlihat tertidur lelap. Alasan yang menyebabkan
timbulnya rasa jenuh terhadap pelajaran sejarah cukup
beragam; membosankan, ceritanya kering, hanya hafalan
tanggal-tanggal dan hafalan sejumlah peristiwa, gurunya
tidak menarik, pelajaran yang tidak bermanfaat untuk
masa depan, selalu mengulang hal-hal yang sama mulai
dari bangku sekolah dasar sampai perguruan tinggi,
membuat kantuk yang berkepanjangan, materi pelajaran
yang padat, dan sederet alasan lainnya.
Jika gugatan masyarakat disampaikan langsung
kepada guru-guru sejarah dalam sebuah diskusi atau
dialog, umumnya guru mempunyai banyak alasan untuk
menjawab soal buruknya pembelajaran sejarah dan
rendahnya minat anak terhadap pelajaran sejarah, mulai
dari alasan yang paling rasional sampai alasan yang paling
apologis. Mulai dari buruknya kurikulum yang padat materi,
hanya berorientasi kognitif, politis, miskin metodologi,
input yang tidak bermutu, jam tatap muka yang sangat
sedikit, tidak ada pengembangan profesionalitas guru
sampai pada urusan rendahnya kesejahteraan guru. Ketika
guru-guru sejarah menyadari bahwa semua hal itu harus
diperbaiki, umumnya disadari bahwa selain faktor internal
guru yang mesti terus menerus diperbaiki, ada satu faktor
eksternal yang menjadi penghambat untuk terjadinya
perubahan. Faktor eksternal tersebut adalah kebijakan
makro yang tidak sinkron dengan tujuan pembelajaran
sejarah.
Kebijakan makro menyebabkan pembelajaran sejarah
semakin jauh dari tujuan afektif pembentukkan karakter
kebangsaan pada murid, menyebabkan waktu tatap
muka yang sedikit sehingga interaksi antara guru-murid
tidak efektif, kebijakan ujian nasional yang menyebabkan
pelajaran sejarah lebih mengutamakan hasil akhir daripada
proses, dan kebijakan pemerintah atau pemerintah daerah

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 13


yang menyulitkan guru mengajak muridnya melakukan
studi lapangan agar dapat berinteraksi dengan fakta-fakta
sejarah di lapangan. Apakah faktor eksternal ini dapat
berubah?
Tentu tidak akan ada perubahan jika guru-guru
sejarah hanya sebatas mengeluh di dalam ruang-ruang
diskusi. Harus ada gerakan nyata yang dilakukan oleh
guru-guru sejarah untuk melakukan perubahan terhadap
faktor-faktor penghambat internal maupun eksternal.
Caranya?
1. Guru-guru sejarah harus membangun
kepercayaan dirinya bahwa mereka memiliki potensi untuk
berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan, mulai
dari tingkat satuan pendidikan sampai di tingkat nasional.
Ruang untuk peran tersebut secara yuridis sudah ada.
Harus terus membangun kapasitas diri dan keberanian
untuk ikut dalam penentuan kebijakan pendidikan.
2. Membangun organisasi profesi yang kuat dan
independen. Kebebasan untuk berserikat sudah dijamin
oleh konstitusi, termasuk UU Guru. Dengan organisasi
profesi, guru semakin memperkuat dirinya untuk
menyetarakan relasi kekuasaan yang selama ini terbangun
tidak seimbang yang menyebabkan guru selalu diposisikan
sebagai bawahan-bawahan administratif dari birokrasi
atau kekuasaan. Organisasi profesi guru tidak hanya
berperan untuk mengembangkan profesionalisme guru
semata tetapi berbarengan dengan itu dapat melakukan
sejumlah advokasi terhadap kebijakan pendidikan yang
tidak menguntungkan guru secara pedagogis dan yuridis;
3. Profesionalisme guru harus dimaknai sebagai
cara bagi guru sejarah untuk terus menerus mengasah
sikap kritisnya terhadap diri dan lingkungannya serta
kritis terhadap sejumlah kebijakan yang bertentangan
dengan aspek-aspek pedagogis yang ujung-ujungnya akan
merugikan kepentingan terbaik anak. Profesionalisme
juga harus dimaknai untuk terus menerus melakukan
perubahan seiring dengan dinamika kehidupan
masyarakat, tentu dengan tanpa mengurangi sikap
kebangsaan kita yang multikultur;
4. Memilih menjadi guru adalah sebuah
keberanian, apalagi memilih menjadi guru sejarah.
Tetapi guru sejarah yang berarti adalah guru sejarah
yang berani melakukan perubahan. Jika guru sejarah
mengajarkan tentang nilai-nilai keberanian kepada
murid-muridnya maka akan menjadi sangat konsisten
jika keberanian itu dimulai dari guru sejarah itu sendiri.
Jasmerah! Jadilah guru-guru sejarah pemberani,
guru-guru sejarah yang membuat sejarah!

14 Jurnal Pendidikan Sejarah AGSI // OKTOBER 2010


Perjalanan Pelajaran Sejarah:
Dari Otoritarianisme Menuju Demokrasi
Oleh: Grace Leksana
(Institut Sejarah Sosial Indonesia/ ISSI)

Pasca proklamasi 1945, banyak ‘pekerjaan rumah’ dibayangkan 56 tahun silam. Sementara para generasi
bagi sebuah bangsa yang baru merdeka. Memang tidak tua mengeluh tentang anak-anak masa kini yang tidak
mudah untuk merumuskan visi besar yang akan melandasi peduli dengan sejarah bangsa, para generasi muda juga
perkembangan bangsa, sekaligus memikirkan kebutuhan mengeluh tentang pelajaran sejarah yang membosankan
mendesak rakyat Indonesia yang harus dipenuhi saat dan tidak ada esensinya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi
itu juga. Pendidikan nasional merupakan salah satu dalam kurun waktu 56 tahun tersebut? Apa yang membuat
‘pekerjaan rumah’ yang mengalami masa-masa sulit pasca harapan dan kenyataan terpisah begitu jauh? Melalui
kemerdekaan. Situasi politik yang belum stabil, agresi analisis terhadap serangkaian kebijakan nasional (Undang-
militer dan perang menyebabkan proses perumusan undang, kurikulum, rencana pembangunan), artikel ini
kebijakan pendidikan nasional tersendat. Baru pada mencoba melacak kembali perjalanan pelajaran sejarah
1950, S. Mangoensarkoro selaku Menteri Pendidikan, Indonesia dari masa ke masa.
Pengadjaran dan Kebudajaan mengesahkan Undang-
Merumuskan Pijakan Dasar
undang no. 4 tahun 1950 tentang Dasar-dasar Pendidikan
dan Pengadjaran di Sekolah. UU ini diberlakukan lagi Perumusan konsep pendidikan nasional mulai
pada 1954, melalui Undang-undang no. 12 tahun 1954. dilaksanakan pada masa pendudukan Jepang, melalui Sub
UU ini terdiri dari 17 bab yang mengatur tujuan, dasar Panitia Pendidikan dan Pengajaran yang dipimpin oleh Ki
dan jenis pendidikan dan pengajaran; bahasa; pendidikan Hadjar Dewantara dan berada di bawah Panitia Persiapan
jasmani; kewajiban belajar; penyelenggaraan dan Kemerdekaan. Sub panitia ini hanya berhasil merumuskan
pendirian sekolah-sekolah; sekolah partikelir; guru; murid; rencana pengajaran saja, sehingga pasca proklamasi,
pengajaran agama di sekolah negeri; pendidikan campuran belum ada konsep pendidikan nasional yang utuh. Ini
dan terpisah; uang sekolah dan alat pelajaran; liburan merupakan pekerjaan yang sulit bagi sebuah Negara yang
sekolah; serta pengawasan dan pemeliharaan pendidikan baru merdeka. Satu-satunya pijakan adalah pemikiran
dan pengajaran. bahwa sistem pendidikan nasional yang baru teramat
penting untuk menciptakan masyarakat yang mampu
Bagi saya, hal yang menarik dari UU no. 12 tahun 1954 mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Sistem pendidikan
justru terletak pada bagian penjelasan umum. Di dalamnya yang lama, yang pada dasarnya bersifat kolonialistik dan
dikatakan bahwa UU ini penting sekali karena pendidikan feodalistik dipandang tidak akan dapat mengembangkan
dan pengajaran akan mempengaruhi “di kemudian hari pada diri generasi muda sifat-sifat pribadi serta watak
sifat-sifat rakyat umumnya, dan pemimpin-pemimpin bangsa yang dibutuhkan oleh suatu Negara dan bangsa
yang akan timbul dari rakyat khususnya”. Juga ditekankan merdeka (Buchori, 2007:53). Serangkaian usaha terus
bahwa dasar-dasar pendidikan harus berlainan dengan dilakukan untuk mencapai suatu rumusan pendidikan
jaman Belanda, karena pendidikan pada jaman tersebut nasional. Misalnya, pada 1946, Menteri Pendidikan,
”tidak berakar pada masyarakat Indonesia”. Tawaran yang Pengajaran dan Kebudayaan (PPK) membentuk ‘Panitia
diberikan UU ini adalah pendidikan yang bersifat nasional Penyelidik Pendidikan Pengajaran’ yang bertugas meninjau
dan demokratis, artinya berdasarkan kebudayaan kita kembali dasar-dasar, isi, susunan dan seluruh usaha
sendiri. Dari konsep inilah kemudian muncul pernyataan pendidikan dan pengajaran. Kemudian dilanjutkan dengan
tentang pelajaran sejarah: Pertemuan Badan Himpunan Pendidikan di Surakarta
“Dalam pendidikan yang demikian pengajaran sejarah akan pada 4-7 April 1947, dan Kongres Pendidikan Antar-
menjadi pengajaran yang penting sekali. Bermacam-macam Indonesia di Yogyakarta pada Oktober 1949. Pembicaraan
peristiwa yang terjadi dalam sejarah kita harus ditinjau dalam kedua pertemuan besar ini difokuskan pada
kembali, dengan mempelajari sumber-sumber kita sendiri konsep-konsep makro pendidikan nasional, di antaranya:
[penekanan dari penulis], sehingga dapat disusun kitab- landasan ideologis dan cultural pembaharuan pendidikan,
kitab sejarah Indonesia yang bersifat lain daripada jika dilihat pemerataan kesempatan, serta pendidikan khusus
dengan kaca mata bangsa asing. Peristiwa-peristiwa yang (pendidikan teknik, kewanitaan, TNI, asing). Usaha lainnya
dapat dibanggakan dan menunjukkan kejayaan bangsa kita adalah pembentukan ‘Panitia Pembentukan Rencana UU
harus ditegaskan dengan sejelasnya, sehingga menimbulkan Pendidikan dan Pengajaran’ pada 1948 oleh Menteri PPK.
rasa kepercayaan atas diri sendiri pemuda-pemuda kita.” Dalam instruksinya, ditegaskan agar panitia menggunakan
Dengan diberlakukannya UU ini, maka pemerintah bahan-bahan yang pernah dibahas dalam kongres-kongres
Indonesia saat itu telah menyadari dan meletakkan pendidikan nasional sebelumnya (Sjamsudin, Sastradinata
pelajaran sejarah sebagai ujung tombak pembentukan & Hasan, 1993: 46). Karena situasi politik saat itu, UU
karakter kebangsaan. tersebut baru bisa diselesaikan pada 1950.
Sudah 56 tahun berlalu sejak UU tersebut disahkan, Rencana Pelajaran yang pertama disusun pada 1947
dan saat ini kita berada di bawah regulasi UU Sistem dan kemudian diperbaharui menjadi Rencana Pelajaran
Pendidikan Nasional yang berbeda. Namun tampaknya Terurai pada 1952 (Jasin, 1987: 80). Rencana Pelajaran ini
pelajaran sejarah belum memainkan peran seperti yang seharusnya menjadi pedoman bagi guru yang digunakan

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 15


secara luas, tapi kenyataannya tidaklah demikian. Bagi dan Pendidikan SMA Gaya Baru kental dengan nuansa
Hersri Setiawan, seorang guru sejarah Taman Guru Taman revolusioner. Disebut ‘Gaya Baru’ karena berisi bukan
Siswa, SMA Piri II dan SMA Kulonprogo pada 1956/57, buku hanya rentetan bab-bab dari berbagai mata pelajaran yang
teks-lah yang menjadi pedomannya1. Ketertarikannya pada harus diajarkan, tapi segi-segi kependidikan yang tersimpul
pelajaran sejarah berkembang pesat karena guru SMA-nya dalam tiap mata pelajaran mendapat sorotan yang tajam
yang membawa materi-materi sejarah dengan bercerita, pula (Dep. PD dan K, 1964: 10). Berbeda dari pengaturan
namun mampu menampilkan esensi dari materi tersebut. sebelumnya, Rencana Pelajaran dan Pendidikan Gaya Baru
Hersri sendiri juga menggunakan metode yang sama ini membagi struktur SMA menjadi empat jenis untuk kelas
ketika ia mengajar siswanya. Misalnya saja, ketika akan II dan III (Budaya, Sosial, Ilmu Pasti, dan Ilmu Pengetahuan
membawakan materi tentang perlawanan Sultan Agung Alam), dan hanya satu jenis untuk kelas I. Akibatnya,
terhadap Belanda, ia tertarik dengan pernyataan bahwa pelajaran sejarah juga dibedakan menjadi 4 jenis: Sejarah
kegagalan perlawanan Sultan Agung disebabkan karena Indonesia (dasar, untuk kelas I, II dan III), Sejarah (khusus
gudang-gudang perbekalannya di sepanjang Brebes ke untuk kelas I), Sejarah Kebudayaan (untuk kelas Budaya)
arah Barat dibakar oleh ’pengacau’. Dengan mencari dan sejarah Dunia (khusus kelas Sosial). Pada bagian
informasi lain dari buku The Indonesian Society in Transition Sejarah Indonesia, disebutkan dengan jelas bahwa semua
oleh Wertheim, buku bahasa Belanda Kotagede oleh van pendidikan dan pengajaran berkewajiban untuk membantu
Mook yang bercerita tentang kelahiran Kotagede, buku terlaksananya tujuan revolusi Indonesia, terutama mata
tentang kebangkitan ekonomi di pedalaman Jawa pada pelajaran Sejarah yang dianggap dapat memberikan
abad 16 yang ditulis oleh van Leur, dan buku dongeng pra- sumbangan yang besar (Dep. PD dan K, 1964: 34-35).
sejarah Prono Citro Roro Mendut terbitan Balai Pustaka, Selanjutnya juga dijelaskan pelajaran sejarah Indonesia
Hersri membuat interpretasi yang berbeda. Menurutnya, yang harus bersifat proklamasi-sentris dan ber-eskatologi
Sultan Agung berjaya dengan cara menindas rakyatnya. masyarakat sosialis Indonesia, untuk mewujudkan tujuan
Misalnya saja, dalam cerita Roro Mendut, Mendut harus tersebut. Artinya, seluruh tinjauan dan seleksi fakta-fakta
membayar pajak yang semakin tinggi setiap hari ketika sejarah diarahkan untuk menegaskan pencapaian dan
ia berjualan rokok. Berdasarkan literatur yang dibacanya, usaha mempertahankan kemerdekaan serta gerak arah
Hersri menyimpulkan bahwa di Mataram, khususnya bangsa yang menuju pada pembentukan masyarakat adil
Kotagede sedang tumbuh golongan ketiga di masyarakat, dan makmur atau masyarkat Sosialis Indonesia berdasarkan
selain golongan pendeta dan aristokrat, yaitu kaum Pancasila3. Materi tentang Sosialisme dimasukkan pada
pedagang. Jadi pembakaran gudang-gudang perbekalan bagian Sejarah Indonesia dan Sejarah khusus untuk kelas I
Sultan Agung merupakan sebuah aksi menentang Caturwulan I. Sedangkan Sejarah Dunia untuk kelas Sosial
pemerintahannya yang dilakukan oleh kelas baru yang menitikberatkan pada sejarah India, Tiongkok dan Jepang,
sedang tumbuh. serta sejarah Perekonomian Dunia yang juga membahas
Sosialisme dan Komunisme.
Buku teks tetap dipakai oleh Hersri ketika mengajar,
mengingat siswa-siswinya mungkin akan mengikuti ujian Konsep ini juga tercermin dalam pembagian periode/
negara. Namun ia meminta pada murid-muridnya agar periodisasi sejarah. Misalnya saja, masa 1600-1908 disebut
selalu mencari cerita di balik peristiwa sejarah, jika mereka sebagai masa penindasan kolonial dan penghisapan, atau
menangkap hal-hal yang aneh dalam peristiwa tersebut. jaman Amanat Penderitaan Rakyat akibat penghisapan
Ia mendorong muridnya agar menggunakan sumber- dan penindasan imperialisme, kolonialisme, kapitalisme
sumber lisan atau sastra, karena dari sumber tersebut kita dan feodalisme. Periode sesudahnya disebut sebagai
bisa mendapatkan sisi lain dari sebuah peristiwa. Melihat masa menuju ke sosialisme Indonesia yang terbagi lagi
dinamika dan sisi-sisi lain menurutnya adalah hal penting, menjadi lima jaman4. Pertama, Jaman Perintis (1908-1927),
karena sejarah yang menjadi pakem selalu dirumuskan karena partai-partai dan perkumpulan-perkumpulan mulai
oleh orang-orang yang berkuasa. Sayangnya, eksplorasi merintis cita-cita Indonesia Merdeka dan merasakan
yang demikian tidak menjadi hal umum yang dilakukan perlunya memajukan pendidikan, kebudayaan, ekonomi
oleh semua guru di masa itu. dan persatuan. Jaman ini berakhir dengan pemberontakan
PKI 1926-1927. Kedua, Jaman Penegas (1927-1938), dimana
Melanjutkan Cita-cita Revolusi
cita-cita akan Indonesia yang merdeka dan bentuk negara
Pada 1964, Urusan Pendidikan SMA Jawatan republik semakin menguat, juga semakin ditegaskan oleh
Pendidikan Umum Departemen Pendidikan dan PNI pada 1927. Ketiga, Jaman Pencoba (1938-1942), dimana
Kebudayaan menerbitkan Rencana Pelajaran dan partai-partai berusaha bekerja sama untuk memperoleh
Pendidikan SMA Gaya Baru. Panduan ini muncul di masa status bagi Indonesia. Petisi-petisi dalam Volksraad
Demokrasi Terpimpin, ketika pemerintahan Sukarno dilahirkan pada jaman ini. Keempat, Jaman Pendobrak
cenderung bersikap otoriter. Seluruh kekuasaannya pada (1942-1945), yang merupakan jaman pendudukan Jepang.
waktu itu digunakan untuk ‘meneruskan cita-cita revolusi’, Namun pada masa ini ikatan tradisionil yang berdasarkan
yaitu mewujudkan sosialisme Indonesia, dunia baru tanpa kepentingan kaum imperialis dan feodalis didobrak. Bangsa
eksploitasi (Pidato Sukarno ‘Tahun Vivere Pericoloso, Indonesia mulai menduduki jabatan-jabatan penting,
1964) dan berdiri di atas kaki sendiri (Pidato Sukarno, dan gerakan ilegal serta legal berusaha menyongsong
1965) 2. Dengan demikian, seluruh kebijakan pemerintah kemerdekaan. Terakhir, Jaman Pelaksana (1945- hingga
didorong menuju pelaksanaan misi besar tersebut, saat Rencana Pelajaran dan Pendidikan ini digunakan)
termasuk pendidikan. 3 Lihat Rentjana Peladjaran dan Pendidikan SMA Gaja Baru. 1964. Jakarta:
Urusan Pendidikan SMA Djawatan Pendidikan Umum Dep. P. D dan K.
Maka tidaklah mengherankan jika Rencana Pelajaran 4 Penjelasan tentang isi dari kelima jaman tersebut tercantum dalam
Rencana Pelajaran dan Pendidikan untuk SMP yang dikeluarkan oleh instansi yang
1 Wawancara dengan Hersri Setiawan, 6 Juli 2010. sama dalam tahun yang sama. Dalam Rencana Pelajaran dan Pendidikan untuk SMA,
2 Menurut Vickers (2005: 151), berdiri di atas kaki sendiri berarti mencari para guru Sejarah Indonesia SMA diminta untuk mempelajari Rencana Pelajaran
alternatif bantuan dari Uni Soviet dan Cina, sementara menolak campur tangan Sejarah Indonesia untuk SMP, guna memahami periodisasi tersebut dan melihat
Negara-negara kapitalis Amerika dan Inggris. kesinambungan isi pelajaran Sejarah Indonesia SMP dan SMA.

16 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


yang dibagi lagi menjadi periode physical revolution (1945- Pada 1968, Direktorat Pendidikan Umum, Kedjuruan dan
1950), periode survival (1950-1955), dan periode social and Kursus-kursus Dinas SMA mengeluarkan Rencana Pendidikan
economic revolution (1955 dan seterusnya). Periodisasi ini dan Pelajaran SMA yang baru sebagai pengganti Rencana
mencerminkan nuansa pelajaran sejarah yang menekankan Pelajaran dan Pendidikan SMA Gaya Baru tahun 1964.
anti kolonialisme dan menumbuhkan kebanggaan pada Ada beberapa perubahan mendasar di kurikulum 1968 ini.
perjuangan bangsa. Pertama, pemadatan jenis kelas sebanyak 4 kelompok di
kurikulum 1964 menjadi hanya 2 kelompok di kurikulum
Inilah yang menjadi panduan para guru sejarah
1968, yaitu kelompok sastra-sosial-budaya dan ilmu pasti-
hingga masa pemerintahan Sukarno berakhir. Pasca
ilmu pengetahuan alam. Kedua, dengan fokus pendidikan
peristiwa 1965, kekuatan secara bertahap berpindah ke
sebagai pencipta tenaga kerja untuk pembangunan, maka
tangan Suharto dan dengan demikian, ideologi negara pun
titik berat pengembangan pendidikan adalah vocational
berubah: dari sosialisme Indonesia menuju kapitalisme
education. Hal ini sebenarnya menjadi ranah sekolah-
masif.
sekolah kejuruan. Namun bukan berarti SMA tidak
Melayani Pembangunan berkontribusi pada pembangunan, karena menurut Kepala
Dinas SMA A.W.J Tupanno, “Dengan adanya mata pelajaran
Berbeda dengan masa pemerintahan Sukarno, Prakarya itu kita memberikan di SMA vocational training”
Suharto menyambut baik kedatangan modal-modal (Dinas SMA, 1969: 3). Tampaknya prakarya di SMA lebih
asing dan lembaga internasional yang mengatur diidentikkan dengan pembangunan industri kerajinan
perekonomian dunia seperti IMF dan World Bank dengan daripada media ekspresi seni. Ketiga, mata pelajaran
argumen meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Rencana SMA dikelompokkan menjadi tiga kategori: kelompok
Pembangunan Jangka Panjang untuk periode 25 tahun pembinaan jiwa Pancasila, pembinaan pengetahuan
disusun agar mencapai stabilitas ekonomi dan politik. dasar, dan pembinaan kecakapan khusus. Sejarah masuk
Rencana jangka panjang tersebut terdiri dari Rencana dalam kategori pengetahuan dasar, namun tidak diajarkan
Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I hingga V. Repelita di kelas Ilmu Pasti/ Pengetahuan Alam. Keempat, adalah
I dimulai pada 1969/70 dan secara tegas menyatakan penambahan bagian metodik/ didaktik pendidikan selain
bahwa sistem ekonomi di masa lampau telah gagal rumusan materi pelajaran pada kurikulum 1968. Bagian
karena ‘diabdikan kepada politik dan mengabaikan metode tersebut tidak ada di kurikulum 1964, yang hanya
prinsip ekonomi yang rasional’ (Buku Pertama Rencana memberikan daftar materi-materi yang perlu disampaikan
Pembangunan Lima Tahun 1969/70-1973/74, 1968:11-13). pada siswa. Metodik/didaktik ini dianggap perlu untuk
Oleh karena itu, pemerintahan Orde Baru menyatakan mencapai keseimbangan penguasaan pengetahuan,
dirinya akan melakukan “pendobrakan salah urus dalam mental/ moral dan aplikasi pengetahuan siswa. Singkatnya,
segala bidang terutama dalam bidang ekonomi jang di­ metodik/ didaktik harus menekankan nilai-nilai Pancasila,
wariskan oleh Orde Lama”. Untuk mencapai tujuan ini, korelasi antar mata pelajaran, experience-centred,
maka garis kebijakan yang dipilih adalah menciptakan ‘iklim menggunakan problem solving, serta hubungannya
de-kontrol dan de-birokratisasi’ yang dianggap mampu dengan masyarakat sekitar, tanah air dan dunia.
mendorong daya kreasi masyarakat secara optimal. Dalam
arti sebenarnya, ‘de-kontrol dan de-birokratisasi’ diwujudkan Periodisasi dalam kurikulum sejarah 1964 tidak
untuk mendukung pasar bebas dan keikutsertaan Indonesia digunakan lagi dalam kurikulum 1968. Periodisasi di masa
dalam sistem perekonomian neoliberal. sejarah menjadi sangat sederhana: perjuangan rakyat
Indonesia di berbagai daerah (tidak lagi menitikberatkan
Akibatnya, cetak biru pendidikan nasional juga diarahkan pada penderitaan rakyat akibat kolonialisme, imperialisme
untuk mendukung konsep makro pembangunan di atas. Bab dan kapitalisme), perjuangan menuju pada kemerdekaan
10 Repelita I tentang Pendidikan dan Tenaga Kerja menyatakan (perbandingan karakteristik perjuangan sebelum dan
secara jelas bahwa salah satu tujuan pembangunan di sektor sesudah 1908, serta masa pendudukan Jepang) dan
pendidikan adalah menghasilkan tenaga kerja terdidik masa perjuangan memajukan kehidupan yang bebas,
untuk pembangunan. Oleh karena itu, “program pendidikan adil dan makmur berdasarkan Pancasila (perjuangan
secara horizontal akan lebih diarahkan kepada kebutuhan mempertahankan kemerdekaan 1945-1949, 1949 hingga
pendidikan dan latihan untuk sektor-sektor pembangunan kembali pada UUD 1945, 1959 hingga sekarang). Materi-
yang diprioritaskan, seperti pertanian, industri yang materi tentang sosialisme dihilangkan, baik dalam sejarah
mendukung pertanian, industri ringan dan kerajinan rakyat, Indonesia maupun dunia. Selain mendukung proyek
pertambangan, prasarana serta pariwisata” (Buku Kedua pembangunan Suharto, kurikulum 1968 ini disusun untuk
Rencana Pembangunan Lima Tahun 1969/70-1973/74, menghilangkan unsur-unsur Manipol-Usdek peninggalan
1968). Pemahaman bahwa institusi pendidikan adalah medium Orde Lama.
untuk mencetak tenaga kerja bagi pembangunan mewarnai
kelima Repelita. Hanya pada Repelita III (1979/80-1984/85) Kurikulum berikutnya muncul pada 1975, yang
disinggung pendekatan kebudayaan dalam pendidikan. menurut Jasin (1987: 82) merupakan kurikulum transisi
Namun pemahaman tentang pendekatan kebudayaan tidak ‘sambil mengusahakan kurikulum yang lebih relevan
jelas, dan tetap jatuh hanya sebagai pelaksana pembangunan: melalui eksperimen dan uji coba’. Menurut kurikulum ini,
“Pembangunan nasional pada hakekatnya adalah usaha yang ada tiga jenis kelas, yaitu IPA, IPS dan Bahasa. Hal penting
sistematis dan terarah untuk memperlancar terjadinya proses dalam kurikulum ini adalah orientasinya pada tujuan.
transformasi tersebut, dimana pendidikan yang merupakan Konsekuensi teknisnya adalah identifikasi tujuan terlebih
bagian kebudayaan yang sedang berkembang secara fungsional dahulu sebelum menentukan jam dan bahan pelajaran.
harus menunjang pelaksanaan pembangunan” (Buku Kedua Perumusan tujuan tersebut berlangsung pada tingkatan
Rencana Pembangunan Lima Tahun 1979/80-1984/85, umum/ tujuan institusionil hingga tujuan instruksionil
1978). Selanjutnya konsep pendidikan pada Repelita IV dan khusus yang akan memberikan arah pada pemilihan
V tidak berubah. bahan dan kegiatan belajar untuk tiap satuan pelajaran

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 17


yang terkecil. Maka untuk setiap mata pelajaran, terdiri tidak menjadi bahan pelajaran sejarah di masa ini, karena
dari tujuan kurikuler (tujuan yang harus dicapai setelah pembangunan pada masa pemerintahan Suharto justru
mengikuti program pengajaran selama masa pendidikan mendorong ekspansi kapital besar-besaran. Dengan
di SMP/ SMA), tujuan instruksionil umum (tujuan yang demikian, pelajaran sejarah dalam dua pemerintahan ini
hendak dicapai dalam setiap satuan pelajaran baik cenderung menonjolkan satu hal dan menegasikan hal
semester atau tahunan), pokok bahasan, sub-pokok lainnya. Bagaimana sejarah diajarkan di sekolah menjadi
bahasan dan bahan pengajaran. Kurikulum sejarah keputusan penguasa sepenuhnya.
sendiri tidak banyak berubah dari kurikulum 1968, hanya
Ketika Suharto turun dari kepemimpinannya, rakyat
menjadi lebih detil karena tujuan hingga bahan pengajaran
Indonesia berharap pada perwujudan nilai-nilai demokrasi.
tercantum di dalam kurikulum 1975. Pelajaran sejarah
Keran-keran politik yang selama ini tertutup mulai dibuka:
juga tetap tidak diajarkan di jurusan IPA. Pada tahun
kebebasan pers, pembentukan partai-partai politik,
yang sama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
pemilu yang (katanya) lebih demokratis, penegakan HAM,
juga menerbitkan Sejarah Nasional Indonesia jilid I
termasuk pembaharuan dalam pendidikan. Terlepas dari
yang disunting oleh Sartono Kartodirjo, Marwati Juned
berbagai kelemahan Kurikulum Berbasis Kompetensi
Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto. Buku ini terbit
(2003) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (2006),
hingga 6 jilid dan menjadi acuan bagi penulisan buku-buku
kurikulum di masa reformasi ini memberikan otonomi yang
teks sejarah. Beragam kritik dilontarkan terhadap buku ini,
lebih besar pada para guru. Hanya kompetensi dasar yang
terutama karena membuat ilmu sejarah menjadi sangat
diatur dalam kurikulum ini, dan tidak ada uraian tentang
sentralistik, tidak dinamis dan mematikan interpretasi-
pokok bahasan maupun bahan pengajaran seperti yang
interpretasi baru. Pelajaran sejarah pun menjadi demikian,
tercantum dalam kurikulum-kurikulum sebelumnya. Bisa
dengan adanya buku ini dan kurikulum yang mengatur
jadi ini menjadi kesempatan bagi masyarakat Indonesia
hingga penggunaan bahan ajar. Kondisi ini berlangsung
(khususnya para guru) untuk menghentikan penyusunan
cukup lama, meskipun pada 1994 Departemen Pendidikan
dan pengajaran sejarah menurut kehendak penguasa.
dan Kebudayaan mengeluarkan kurikulum baru dan
Ketika ruang itu telah diberikan pada kita, bagaimana kita
pada 1999 mengeluarkan penyempurnaan/ penyesuaian
akan mengisinya?
kurikulum 1994 yang hanya menyederhanakan pokok
bahasan tapi tidak mengubah hal-hal lainnya.
Menuju Demokratisasi Pendidikan
Bagaimana sejarah diajarkan di sekolah tidak lepas
dari politik pendidikan dalam dua masa pemerintahan
pasca kemerdekaan. Sejarah diakui sebagai pelajaran
yang berperan penting dalam membentuk karakter
bangsa, baik untuk mewujudkan masyarakat sosialis
maupun menciptakan tenaga kerja yang siap pakai
dalam proyek pembangunan. Pada masa Orde Lama,
siswa dipaparkan pada kesengsaraan rakyat akibat
imperialisme dan kolonialisme serta sosialisme sebagai
jalan keluar menuju kesejahteraan. Sebaliknya, pada masa
Orde Baru, sosialisme tidak disinggung dalam pelajaran
sejarah. Kalau pun dibahas, ia hanya menjadi contoh
kegagalan pemerintahan Orde Lama dan menguatkan
ideologi pembangunan Orde Baru. Ekspansi kapital di
jaman kolonial yang berujung pada penindasan juga

Daftar Pustaka

Buchori, Mochtar. Evolusi Pendidikan di Indonesia: Dari Kweekschool Rentjana Pembangunan Lima Tahun III (1979/80 – 1983/84): Buku I dan II.
Sampai ke IKIP 1852-1998. 2007. Yogyakarta: Insist Press. 1979. Jakarta: Bappenas.
Jasin, Anwar. Pembaharuan Kurikulum Sekolah Dasar Sejak Proklamasi Rentjana Pembangunan Lima Tahun IV (1984/85 – 1988/89): Buku I dan II.
Kemerdekaan. 1987. Jakarta: Balai Pustaka 1984. Jakarta: Bappenas.
Kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) 1975 – Buku I: Ketentuan- Rentjana Pembangunan Lima Tahun V (1989/90 – 1993/94): Buku I dan II.
ketentuan Pokok. 1979. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1989. Jakarta: Bappenas.
Kurikulum Sekolah Menengah Atas (SMA) 1975 – Buku IIC: Ilmu Rentjana Pendidikan dan Peladjaran SMA. 1969. Jakarta: Direktorat
Pengetahuan Sosial. 1979. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Pendidikan Umum, Kedjuruan dan Kursus-kursus Dinas SMA.
Kebudayaan.
Rentjana Peladjaran dan Pendidikan SMA Gaja Baru. 1964. Jakarta: Urusan
Rentjana Pembangunan Lima Tahun I (1969/70 – 1973/74): Buku I dan II. Pendidikan SMA Djawatan Pendidikan Umum Dep. P. D dan K.
1968. Jakarta: Bappenas.
Sjamsuddin, Helius; Sastradinata, Kosoh & Hasan, Said Hamid. Sejarah
Penyempurnaan/ Penyesuaian Kurikulum 1994 (Suplemen GBPP) SMU/ Pendidikan di Indonesia Zaman Kemerdekaan (1945-1966). 1993. Jakarta:
MA. 1999. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
Rentjana Pembangunan Lima Tahun II (1974/75 – 1978/79): Buku I dan II. Vickers, Adrian. A History of Modern Indonesia. 2005. New York: Cambridge
1974. Jakarta: Bappenas. University Press.

18 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


Selayang Pandang
Tentang Asosiasi Guru
Sejarah Indonesia
Oleh : Ratna Hapsari
Ketua Umum Asosiasi Guru Sejarah Indonesia

Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) didirikan Tema di atas mengajak para guru sejarah untuk
di Jakarta pada tahun 2007 atas prakarsa dan didanai melakukan introspeksi terhadap apa yang selama ini telah
oleh Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga mereka lakukan dalam proses pembelajaran sejarah?
Kependidikan (PMPTK). Pemikiran yang mendasari Mengapa siswa jarang yang menyukai pelajaran sejarah?
berdirinya AGSI adalah keinginan pemerintah khususnya Apakah kreativitas guru sejarah telah mati karena sikap
Departemen Pendidikan Nasional ketika itu, yang apriori yang ditunjukkan siswa di kelas ketika pelajaran
mengharapkan adanya wadah komunikasi bagi para ini berlangsung? Memang banyak persoalan yang terkait
guru mata pelajaran di seluruh Indonesia untuk dapat dengan pelajaran sejarah di sekolah, yang perlu dirembug
mengembangkan profesionalismenya. bersama dalam sebuah wadah yang dinamis dan sebaiknya
secara berkesinambungan.
Asosiasi mempunyai posisi yang strategis di dalam
menghimpun guru dari mata pelajaran sejenis dalam Pendirian Asosiasi Guru didukung oleh undang-
sebuah kegiatan yang positif, yaitu untuk dapat saling undang no 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen,
berbagi pengalaman, menimba ilmu dari guru yang lain, mengamanatkan bahwa guru dalam menjalankan
menyebarkan informasi dan kreativitas yang semuanya tugasnya berhak memiliki kebebasan untuk berserikat
akan memperkaya khasanah proses pembelajaran yang dalam organisasi profesi yang bersifat independen.
dilaksanakan guru di sekolah masing-masing. Inisiatif Organisasi profesi tersebut adalah perkumpulan yang
Dirjen PMPTK ini tentu saja memberikan angin segar berbadan hukum yang didirikan dan diurus oleh guru untuk
bagi masyarakat guru sejarah, terutama yang berdomisili mengembangkan profesionalitas guru. Undang-undang
di Jakarta, yang diberi tugas untuk menyelenggarakan ini juga mengamanatkan kewajiban guru untuk memiliki
pembentukan Asosiasi Guru Sejarah ini. Melalui sebuah kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikat pendidik,
kongres yang berhasil menghimpun perwakilan guru adanya hak-hak dan kewajiban guru, serta hak guru untuk
sejarah dari 23 provinsi ketika itu, terbentuklah Asosiasi memperoleh penghargaaan dan perlindungan.
Guru Sejarah Indonesia, dengan mengangkat tema Sejalan dengan berlakunya Undang-Undang Guru
“ Implementasi KTSP dalam Pembelajaran Sejarah di dan Dosen maka guru Sejarah sebagai bagian dari profesi
Sekolah “ pendidik mempunyai peran penting dalam membangun
Mengapa tema ini yang dipilih oleh panitia karakter bangsa, membangun kecerdasan, kesadaran akan
penyelenggara ketika itu tentulah bukan tanpa alasan. keberagaman dalam semangat ke-Indonesiaan, dan tetap
Sudah bukan merupakan rahasia lagi jika pelajaran sejarah membangun persatuan dan kesatuan bangsa, mempunyai
bukan merupakan pelajaran yang disukai siswa. Arah kepentingan untuk membangun kapasitas organisasi
pendidikan di Indonesia yang selama ini lebih berkesan profesinya sesuai dengan perubahan dan perkembangan
science oriented merupakan persoalan tersendiri bagi yang ada dengan tetap mengasah sikap kritis dan tetap
eksistensi pembelajaran sejarah di sekolah. Seakan-akan membangun tradisi yang mendorong demokratisasi
pelajaran yang dalam karekteristik pembelajarannya pendidikan, menjunjung Hak Asasi Manusia, membangun
sarat dengan pendidikan afektif ini terpinggirkan secara profesionalisme dan melakukan perubahan.
sistematis dalam kedudukannya yang juga sebagai ilmu Dalam tindak lanjutnya AGSI telah berhasil
pengetahuan. Dalam tujuan pembelajarannya telah diberi melaksanakan Kongresnya yang ke dua di Bandung, pada
rambu-rambu sebagai pelajaran yang memiliki kemampuan tahun 2008 dengan mengangkat tema “Pembelajaran
untuk menanamkan nasionalisme, menumbuhkan jiwa Sejarah Berbasis Multikulturalisme“ yang dihadiri oleh
patriotisme, menumbuhkan dorongan untuk bela negara, perwakilan guru sejarah dari 26 provinsi. Dan menghadirkan
dan banyak pendidikan afektif lainnya hanya menjadi sejumlah pembicara yang terdiri dari para guru besar
slogan-slogan yang seakan tanpa makna. Ditambah yang kompeten di bidangnya Masalah kesadaran
dalam proses pembelajarannya guru sering terjebak multikultur bangsa ini mulai mengkhawatirkan, konflik
pada pemaparan fakta sejarah yang kering tanpa makna, etnis, dominasi golongan mayoritas terhadap minoritas,
semakin membuat pelajaran sejarah seolah hanya sebagai tersisihnya masyarakat adat karena kebijakan yang sarat
pelengkap di dalam struktur kurikulum. dengan kepentingan kelompok tertentu, berkembangnya

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 19


gagasan-gagasan fundamentalis yang seolah ingin memperkaya pengetahuan kesejarahannya meskipun saat
mengikis habis keberagaman telah menjadi isu-isu yang ini masih terbatas bagi guru sejarah yang ada di wilayah
terus berkembang dalam kehidupan masyarakat kita. Banten dan Jabodetabek. Guru sejarah yang berada di
Sehingga melalui pelajaran sejarah sebagai pendidikan luar wilayah tersebut dapat menjangkau informasi melalui
afektif perlu disisipkan pentingnya siswa memahami www.sejarahsosial.org. Kerjasama dengan Jaringan
keberagaman sebagai kekayaan bangsa yang harus dijaga Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) telah menambah
kelestariannya, bahwa dalam proses menjadi Indonesia wawasan guru tentang pentingnya pendidikan HAM
pun, bangsa ini telah dibangun dengan fondasi akulturasi, dalam pelajaran sejarah melalui kegiatan Workshop bagi
asimilasi dan amalgamasi dari berbagai bangsa yang telah guru sejarah di provinsi Jawa Tengah dan DIY Jogyakarta,
singgah di Indonesia sejak abad pertama masehi. dan provinsi Jawa Timur dengan menghadirkan guru besar
Meskipun ada kendala pada pendanaan kegiatan AGSI filsafat dan sejarawan bergelar doktor dari Universitas
tetap berjalan, dengan membangun kerjasama dengan Gajah Mada dan Universitas Negeri Malang.. Kerjasama
lembaga-lembaga independen yang memiliki visi dan misi dengan Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) telah
yang sama dalam membangun jiwa dan raga generasi memberikan tambahan wawasan guru terhadap sejumlah
muda bangsa. Masih banyak persoalan bangsa yang tidak isu-isu yang bersifat kontroversial seperti penerapan
kunjung terselesaikan, seperti pelanggaran terhadap Undang-Undang Pornografi, Meluruskan Wacana Hak
Hak Asasi Manusia yang semuanya telah menjadi catatan Paten Kebudayaan Tradisional, Pancasila Dalam Pusaran
sebagai fakta sejarah yang kelam bagi negeri ini, sementara Globalisasi dan Fundamentalisme, dan pelaksanaan diskusi
penyampaian fakta sejarah tidak dapat dilakukan dengan interaktif untuk siswa dengan Tema Mengenang Gus Dur
bebas, karena paparan sejarah memang tidak dapat lepas Bapak Pluralisme Indonesia.
dari kepentingan pemerintah. Penyampaian fakta sejarah Belum banyak memang yang dilakukan AGSI
tidak cukup hanya dipaparkan melalui fakta, tetapi juga sebagai wadah pengembangan bagi profesi guru, tetapi
melalui penafsiran, dan penafsiran sering tidak dapat lepas keberadaan AGSI memperoleh sambutan hangat dari
dari kepentingan mereka yang melakukan penafsiran itu. banyak pihak baik dari kalangan guru sejarah sendiri,
Ada usaha dememorialisasi terhadap fakta sejarah dan ini maupun dari berbagai komponen masyarakat yang peduli
tugas guru sejarah untuk tetap menyajikan kebenaran dan terhadap pembangunan watak generasi muda agar lebih
bukan pembenaran, dan secara terus menerus berusaha banyak berbuat bagi bangsanya, dengan belajar lebih
menemukan cara untuk membangun ingatan kolektif banyak dari sejarah, karena sejarah adalah guru kehidupan
tanpa harus memelihara dendam sejarah. “Historia Magistra Vitae”
Kerjasama AGSI dengan Institut Sejarah Sosial Workshop kerjasama JSKK dan AGSI “Pengembangan
Indonesia (ISSI) telah memperkaya kemampuan guru Bahan Ajar Sejarah Berbasis HAM”, Malang, 8-9
Agustus 2009
sejarah dalam memilih materi-materi esensial dalam
pelajaran sejarah, dan mempersiapkan bahan ajar yang
menarik dan interaktif, baik melalui kegiatan workshop,
ataupun seminar sehari dengan mengundang sejumlah
pembicara yang memiliki kompetensi dalam bidangnya.
Perpustakaan ISSI terbuka bagi guru sejarah yang ingin

Workshop kerjasama JSKK dan AGSI


“Membangun Kesadaran Sejarah
Untuk Kebenaran dan Keadilan”,
Jakarta, 29-30 Mei 2009

Ulang Tahun Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap


Perempuan, November 2009

20 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


Seminar Sehari “Membangun Paradigma Baru
Pendidikan Sejarah di SMA”, Galeri Nasional
Jakarta, 6 Maret 2010

Workshop Kerjasama AGSI dan ISSI


“Pemetaan Materi-materi Esensial
Mata Pelajaran Sejarah SMA” di Depok,
28-30 Mei 2010

Teuku Ramli Zakaria dari BSNP dan Dr.


Umasih dari UNJ berbicara di Seminar
Sehari “Membangun Paradigma Baru Pen-
didikan Sejarah di SMA”, dengan Modera-
tor Drs. Suparman dari AGSI

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 21


Ade Munajat,
Sosok Guru Yang Aktif,
Kreatif, dan Inovatif
Identitas dalam Ruang Kelas. Kemudian menjadi Juara Pertama
Adalah Ade Munajat, lahir di Sukabumi, 17 Juni 1966. Nasional dalam rangka kegiatan Lomba Mengarang Kes-
Ia menyelesaikan pendidikan S-1 di Jurusan Pendidikan ejarahan pada Lawatan Sejarah Nasional ke VI dari tanggal
Sejarah IKIP Bandung (Sekarang Universitas Pendidikan 10-14 Juli 2008 yang diselenggarakan di Propinsi Bali oleh
Indonesia) pada tahun 1991. Pada tahun 2006, lulus dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bali-NTB-
Program Pascasarjana Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengeta- NTT Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
huan Budaya, Universitas Indonesia. Sejumlah buku pelajaran sejarah yang ditulisnya tel-
ah diterbitkan oleh penerbit nasional terkemuka. Bahkan,
Aktivitas beberapa jilid buku yang pernah ia tulis dibeli copy-
Ade Munajat telah menjadi guru sejarah sejak tahun right-nya oleh Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan
1993. Selain mengajar, ia aktif dalam berbagai organisasi Nasional dan dijadikan Buku Sekolah Elektronik.
seperti: Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Ia juga pernah menjadi pemakalah pada kegiatan
Sejarah Kabupaten Sukabumi (1994-2000), Sekretaris lokal dan nasional. Tulisan lepasnya pernah diterbitkan
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah dalam Koran Republika. Tulisan bersambung pernah
Propinsi Jawa Barat (1998-2001), Koordinator Penelitian dimuat secara berseri dalam 7 terbitan berkala pada
dan Pengembangan (Litbang) Ikatan Alumni Jurusan Majalah berbahasa Sunda, Sunda Midang. Selain itu, ia
Pendidikan Sejarah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengeta- juga aktif mengikuti berbagai kegiatan ilmiah di daerahnya
huan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia maupun ditingkat nasional.
(UPI) Bandung Komisariat Jawa Barat (2005-Sekarang), Tempat Bekerja
Sekretaris Divisi Pengembangan Pendidikan/ Pengajaran Sekarang, Ade Munajat mengajar di SMA Negeri 1
Ilmu-Ilmu Sosial Himpunan sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Cibadak Sukabumi, Jawa Barat. SMA Cibadak berdiri sejak
Sosial (HISPISI). (Indonesia Association for Social Sciens tahun 1969 dan merupakan SMA tertua yang kemudian
Educationist (IASSE)) Jawa Barat. 2002-Sekarang, Seksi merintis dan membina sejumlah sekolah negeri yang bela-
Hubungan Luar Negeri pada Kelompok Studi Mahasiswa kangan berdiri di Kabupaten Sukabumi. SMA itu sekarang
Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Univer- dijadikan pioneering sekolah bertaraf internasional. Siswa
sitas Indonesia (2005-Sekarang), Anggota Redaksi Jurnal yang bersekolah di SMA Negeri 1 Cibadak ialah siswa yang
Ilmu Sejarah:BANDAR yang diterbitkan oleh Kelompok berasal dari berbagai SMP di Kabupaten Sukabumi dan
Studi Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan daerah lainnya yang terseleksi dengan ketat.
Budaya Universitas Indonesia (2005-Sekarang), Wakil Dengan statusnya sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf
Sekretaris Jenderal Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Internasional (RSBI), SMA Negeri 1 Cibadak memiliki ke-
(2007-2011), dan Pengurus Daerah Federasi Guru Inde- unggulan berupa manajemen sekolah yang sudah berser-
penden Indonesia Jawa Barat (2007-2012). tifikat ISO, aplikasi teknologi canggih dalam pembelaja-
ran, kurikulum yang compatible dengan sekolah di negara
Prestasi maju, dan guru-guru serta tenaga kependidikan lainnya
Selama mejadi guru sejarah, lelaki yang sangat aktif yang professional.
ini pernah menjadi Pemenang III Lomba Karya Tulis (LKT)
Peningkatan Imtaq (Integrasi Imtaq-IPTEK) bagi Guru SD/ Cara Mengajar
SMP/SMA/SMK/SLB Tingkat Nasional Tahun 2007 yang dis- Eksplorasi pembelajaran sejarah inovatif menjadi
elenggarakan oleh Direktur Jenderal Manajemen Pendidi- pokok yang dipikirkan dan bagian yang dipraktikkan oleh
kan Dasar dan Menengah. Makalah Berjudul: Pentingnya Ade Munajat. Inspirasi pembelajaran inovatif ia dapatkan
Memahami Konsep Sejarah Menurut Al-Qur’an Sebagai karena belajar dari pengalaman, diskusi, atau hasil pema-
Muatan IMTAQ Pada Mata Pelajaran Sejarah Pokok Bahasan haman atas membaca buku.
Masyarakat Prasejarah dan Skenario Implementasinya di

22 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


Yang lahir dari pengalaman ialah:

Metode yang digunakan Divariasikan dengan

Metode Ceramah Tanya jawab


Mengulang pertanyaan dan mengulang jawaban
Menemukan dan menyampaikan informasi tertentu dari
buku sumber, kamus, ensiklopedi, gambar tertentu
Media power point, film, gambar tertentu, dan narasi
tertentu.
Diskusi untuk menemukan jawaban tertentu
Membuat, membaca peta konsep

Yang lahir dari diskusi ialah:

1. Proyek Aku Ingin Tahu


Metode yang digunakan “Pr
oyek Aku Ingin Tahu”
Langkah:
1. Siswa diberi informasi me
ngenai SK dan KD yang
akan dipelajari selama satu
2. Siswa secara variatif dib semester;
eri keb
mana yang akan dipelajarinya ebasan memilih SK dan KD
3. Setelah siswa memilih SK terlebih dahulu;
dan KD tertentu sesuai
pilihannya, kemudian kepada
nya diminta untuk menjawab
per tanyaan sebagai berikut
:
a. Apa yang ingin aku tahu?
(dari SK dan KD yang dipilih
b. Bagaimana caranya aga nya)
r aku tahu?
c. Apa yang aku tahu?
d. Apa manfaatnya penget
ahuan itu bagi diriku?
e. Kapan aku akan menye
lesa
f. Berapa aku akan memb ikan proyekku?
eri nilai pada proyek yang
aku kerjakan ini?

2. Paspor Pencapaian Kompetensi


PASPOR PENCAPAIAN KOMPETENSI
Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia
Nama Siswa :_______________________________
Kelas/Program/Semester :_______________________________

Nilai yang dicapai Penilaian dilakukan oleh


Tidak Tanggal
No. Kompetensi Dasar Standar Kompetensi Indikator Lulus Diri Teman
Lulus Pencapaian Guru
≥79 Sendiri Sebaya
≤79

Cibadak,_______________________2010
Siswa, Guru Mata Pelajaran Sejarah

_______________________________ Drs. Ade Munajat, M.Hum

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 23


Pembelajaran Sejarah Lokal Selanjutnya, Kabupaten Sukabumi sebagai pangung seja-
Kabupaten Sukabumi terkenal sebagai panggung rah, juga memilki catatan yang berkesinambungan hingga
sejarah. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa perjalanan sejarah memasuki periode pengaruh Islam.
wilayah Kabupaten Sukabumi telah dihuni manusia sejak Masjid dan pesantren serta tokoh kiai dan guru ngaji
masa prasejarah. Peneliti D. Erdbrink menemukan alat-alat yang tersebar di seantero wilayah Kabupaten Sukabumi
palaeolitik bercorak kapak perimbas di Jampang Kulon. menggambarkan betapa kuatnya pengaruh ajaran Islam
Para peneliti setelahnya berhasil menginventarisir aneka melekat di masyarakatnya.
ragam bentuk budaya batu yang lebih muda yang tersebar Pengaruh Islam dalam masyarakat di Sukabumi da-
pada wilayah Pelabuhanratu, Cicurug, dan Sukaraja. pat dilihat pula pada beberapa hukum adat yang dipraktik-
Di wilayah Pelabuhanratu, tepatnya di kawasan Ke- kan mereka. Hukum waris, perkawinan, pemuliaan waktu
camatan Cisolok, telah diinventarisir peninggalan praseja- atau tanggal tertentu seperti antara lain bulan Maulud
rah berupa Menhir yang terletak Kampung/Desa Tugugede dan Rewah, upacara memeringati orang yang telah men-
dan di Kampung/Desa Cimaja Girang, kemudian pening- inggal. Dalam Kesenian pengaruh Islam tampak dalam
galan prasejarah berupa Patung Polinesia di Kampung/ antara lain, debus, doblang, genjingan, rudat, terbang
Desa Ciarca, serta peninggalan sejarah berupa Punden muludan atau terbang barjanzi.
Berundak di Kampung/ Desa Pangguyangan. Selanjutnya Dalam masa kolonial, Kabupaten Sukabumi memeg-
di Kampung Sukarame, Desa Sirnarasa terdapat kompleks ang posisi penting sebagai wilayah perluasan terdekat
perkampungan adat dengan tata letak dan arsitektur khas dari pusat pemerintahan kolonial yang berkedudukan di
serta dengan tatanan nilai budaya yang masih murni dan Batavia atau Jakarta sekarang. Karenanya, banyak pening-
utuh. Di wilayah Cicurug diinventarisir temuan prasejarah galan sejarah berupa bangunan kolonial.
berupa Batu Dakon di Kampung/Desa Salakdatar, kemu- Selanjutnya dari masa pergerakan nasional, Sukabu-
dian Batu Bergores dan Menhir dengan ukuran: tinggi 120 mi merupakan tempat pembuangan para tokoh pergera-
cm; lebar 160 cm; garis tengah 176 cm dan Menhir dengan kan nasional. Pun demikian, dari masa pendudukkan
bentuk yang lebih kecil ditemukan masing-masing di Desa/ Jepang dan masa periode perang kemerdekaan.
Kampung Kuta dan Cileueur. Peninggalan prasejarah Sukabumi panggung sejarah yang secara umum
berupa Menhir juga diinventarisir di Kampung/Desa Para- dapat dipertimbangkan sebagai bahan bagi pertimbangan
kansalak Kecamatan Parakansalak. Di wilayah Sukaraja, penggunaan sejarah lokal dalam rangka pembelajaran
di Kampung Tugu dan Pasirhalang diinventarisir juga pen- sejarah.
ingggalan dari masa prasejarah berupa Menhir. Sebagian besar dari aneka peninggalan sejarah terse-
Yang paling monumental ialah temuan arkeologis di but telah didokumentasikan dalam aneka bentuk foto,
Cibadak. Di sana ditemukan prasasti di atas empat batu VCD, dan buku. Mengingat hal tersebut, pembelajaran
mengenai pembuatan sebuah perdikan untuk pemujaan sejarah lokal menjadi bagian pada mata pelajaran yang
Sang Hyang Tapak. Perdikan itu didirikan oleh Raja Sunda diajarkan di dalam kelas.
(Prahiyan Sunda) Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisynu-
murtti Samarawijaya Sakalabhuwanamandaleswaranin- Respon Murid terhadap Pelajaran Sejarah
dita Haro Gowarhana Wikramotunggadewa. Prasasti itu Ade Munajat meyakini bahwa pembelajaran sejarah
berangka tahun 1030 tertulis dalam bahasa dan huruf yang variatif, menantang, sekaligus menyenangkan bukan
Jawa Kuno. merupakan satu-satunya faktor yang dapat menumbuh-
Dengan memerhatikan peninggalan sejarah seperti kan respon antusias siswa dalam belajar sejarah. Fak-
tersebut, jelaslah, masyarakat di Kabupaten Sukabumi tor lain yang sangat signifikan adalah kepribadian guru.
memiliki akar sejarah yang jauh hingga masa prasejarah. Kepribadian guru yang luwes, familiar, mau mendengar,

24 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


dekat dengan siswa, penuh perhatian, kasih sayang, nakan media pembalajaran yang sangkil dan mangkus,
ikhlas, luas cakrawala pengetahuan yang melekat dengan- selalu mau tahu dan terus belajar mengenai hal yang baru
nya keterampilan pembelajaran yang variatif, menantang, yang relevan dengan ilmu yang dibelajarkan mengurangi
sekaligus menyenangkan merupakan faktor yang kuat kesulitan-kesulitan dalam mengajarkan pelajaran sejarah.
yang menstimulan siswa belajar sejarah bahkan kemudian Dalam hubungan itu guru adalah murid yang tidak pernah
mengidola menjadi guru sejarah. berhenti belajar.

Kesulitan dalam Mengajarkan Sejarah
Kesulitan yang sering dijumpai adalah masalah
ketersedian bahan pembelajaran, kepiawaian menggu-

Siswa-siswi SMAN 1 Cibadak, Sukabumi

Kegiatan belajar mengajar di SMAN 1 Cibadak, Sukabumi

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 25


Pembelajaran
Sejarah Melalui Media
Museum Sebagai Upaya
Membangun Karakter
Bangsa
Oleh: Drs. Suparman
Pendidik Sejarah (IKIP Jakarta 1986),
Sekjend AGSI

“Pembelajaran Sejarah Melalui Media Museum


Sebagai Upaya Membangun Karakter bangsa“, itulah tema
seminar yang diangkat oleh Komunitas Historia Indonesia
(KHI) pada tanggal 21 Juli 2010 yang diselenggarakan
bersama dengan manajemen Museum Bank Indonesia (MBI)
dalam rangka memperingati satu tahun diresmikannya MBI
oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono setahun yang
lalu. Saya hadir setelah mendaftar melalui email seperti
yang diminta oleh KHI melalui publikasinya di jejaring
sosial Facebook. Dalam publikasi tersebut tercantum tema
“Menggugat Pembelajaran Sejarah“, dengan menghadirkan
pakar kurikulum pendidikan sejarah Prof. Dr. Said Hamid
Hasan (Guru Besari UPI, sekaligus penasehat Asosiasi Guru
sejarah Indonesia/AGSI) dan Dr. Hermana (Pusat Kurikulum
Depdiknas). Pembicara lain adalah ketua KHI sendiri
Asep Khambali dan praktisi pendidikan dari Labschool,
Shobirinnur Rasyid. Acara bertempat di Auditorium MBI,
dan menurut publikasi akan dimulai pukul 07.00 pada hari
Rabu, 21 Juli 2010.

Seminar mulai jam 7 pagi? Inilah salah satu yang


mengundang ketertarikan saya untuk ikut seminar ini. Ada
apa gerangan seminar dimulai jam 7 pagi? Saya mengira
mungkin panitia mencoba komitmen dengan tema
membangun karakter bangsa dan bermaksud mengajak
peserta untuk berpihak pada pendapat “lebih pagi akan
lebih baik” atau mungkin juga panitia sudah mengantisipasi
bahwa biasanya kita akan datang telat 1 sampai 2 jam untuk
memenuhi sebuah undangan, dengan kata lain panitia
berkompromi pada karakter orang Indonesia yang suka
‘ngaret’ alias telat waktu.

Sebagai seorang pendidik saya mencoba untuk tidak


terlambat. Tujuh menit sebelum jam 7 pagi saya sudah tiba
di MBI. Masih sepi. Bersyukur sudah ada beberapa anak
muda ditambah satu orangtua dengan puterinya berada di
depan meja registrasi. Saya hitung ada sekitar 7 orang. Ada

26 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


satu orang panitia yang terlihat agak resah, sepertinya 1. Penyajian materi pembelajaran harus dibuat semenarik
menunggu kawannya yang tidak kunjung datang mungkin. Contohnya ia selalu menekankan bahwa
membawa lembar registrasi peserta padahal waktu dalam setiap pembelajaran/berkomunikasi dengan
sudah di atas jam 7. Awalnya saya mengira jangan-jangan anak-anak sekolah/remaja tidak membolehkan anak-
cuma dia satu-satunya panitia yang datang lebih awal anak tersebut memegang buku tulis untuk mencatat
dan panitia yang lain seperti biasanya pasti telat. Tetapi apa yang disampaikan. Mengapa? Supaya anak-anak
saya berlega hati ketika mencoba ‘nyelonong’ masuk ke konsentrasi dan fokus pada materi yang sedang digali
auditorium MBI ternyata saya melihat sosok anak muda bersama dan tidak hilang konsentrasinya karena
yang wajahnya sudah sering terlihat di jejaring Facebook, berbagi waktu untuk menulis semua catatan. Dengan
media cetak dan televisi, dialah Asep Khambali, Ketua berdialog lepas diharapkan anak-anak langsung dapat
KHI. Dalam hati saya bergumam ”Cukup berkomitmen, merekam hal-hal penting yang didiskusikan bersama;
sudah berada di tempat sebelum tamu undangan 2. Pendidik semestinya pandai berperan sebagai orang
datang“. yang mampu menghidupkan suasana kehidupan masa
lalu dengan menceritakan sejumlah kisah/persitiwa dan
Ternyata alasan mengantisipasi orang datang tokoh-tokoh utama dalam peritiwa tersebut. Dengan
‘ngaret‘ menjadi alasan utama undangan seminar demikian anak-anak akan tertarik pada peristiwa-
menyebutkan jam 7 pagi. Buktinya setelah ruangan pristiwa yang disampaikan penuh dengan penghayatan
cukup padat pun dan jam sudah menunjukkan pukul 9 oleh sang pendidik;
acara belum dimulai. Alasannya masih menunggu satu
3. Penampilan pendidik juga menjadi faktor penting yang
pembicara yang belum datang. Setelah cukup bergeser
dapat menjadikan anak-anak semakin tertarik dengan
jauh dari waktu yang ditentukan- karena lebih dulu diawali
cerita-cerita yang disampaikan karena senangnya
dengan acara coffee morning yang tempatnya cukup jauh
melihat penampilan si pendidik yang enak dipandang
untuk menjangkaunya , maka acara pun dimulai.
mata;
Sesi pertama menampilkan pembicara Ketua KHI Asep
4. Mengajak anak-anak mengenal lebih dekat lagi dengan
Khambali, Pakar kurikulum sejarah dan penasehat
bukti-bukti sejarah yang menjadi topik pembahasannya
Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Bapak Prof. Dr.
di kelas. Anak-anak sangat perlu untuk diajak ke
Hamid Hasan dan seorang siswi SMA Negeri di Jakarta.
tempat-tempat bersejarah yang dibahas dalam
pelajaran-pelajaran sejarah di kelas;
Asep Khambali memulai paparannya dengan
5. Menilai anak bukan atas kemauan guru/kita tetapi
memperkenalkan sejumlah kegiatan yang dilakukan
atas kekuatan motivasi anak untuk melakukan atau
KHI dalam rangka membangun kecintaan masyarakat
menghasilkan sesuatu.
Indonesia khususnya anak-anak muda dan remaja
agar mereka mencintai sejarah bangsanya sendiri
melalui kegiatan jalan-jalan mengelilingi kota tua yang Ia juga mengungkapkan fakta bahwa umumnya
didalamnya terdapat sejumlah bangunan-bangunan tua pelajaran sejarah di sekolah belum mampu memberi
yang telah dijadikan museum dan lingkungan kota tua motivasi kepada anak untuk menyukai sejarah dan
yang meninggalkan jejak-jejak sejarah masa lampau. Dari bahkan menjadi pelajaran yang membosankan. Banyak
kegiatan KHI selama ini ia menyimpulkan bahwa melalui faktor penyebabnya, salah satunya adalah faktor pendidik
kecintaan anak-anak terhadap museum maka sebenarnya yang belum begitu menarik dalam menyampaikan
kita dapat menanamkan dan membangun karakter pelajaran tersebut. Dalam kesempatan tersebut tampil
bangsa dengan menyodorkan sejumlah peristiwa yang seorang siswi SMA di Jakarta yang bercerita tentang
patut diteladani atau menjadi contoh ketidak pantasan bagaimana ia sebenarnya menyukai hal-hal yang berbau
yang pernah dilakukan oleh manusia dan tentu tidak sejarah tetapi menjadi merasa bosan ketika ia belajar di
boleh ditiru. Ia mengingatkan betapa pentingnya belajar kelas karena sang guru selalu menyampaikan fakta-fakta
sejarah bagi generasi muda. Bahkan ia menyampaikan peristiwa yang mesti dihafalkannya . Agar kesukaannya
suatu pendapat yang sudah sering dipublikasi bahwa pada sejarah tetap bisa disalurkan tanpa harus merasa
untuk mengahancurkan suatu bangsa dengan mudah bosan di sekolah maka ia mengikuti kegiatan-kegiatan
dapat dilakukan dengan cara menghilangkan memori diluar sekolah seperti mengikuti kegiatan KHI. Ia juga
kolektif, terutama memori kolektif generasi mudanya. Ia menyampaikan bahwa kecintaannya pada sejarah bukan
mencontohkan saat ini saja masyarakat sudah melupakan karena motivasi yang tumbuh di sekolah tetapi karena Ibu
600 bahasa daerah yang ada di masyarakat kita padahal dan neneknya memiliki kesukaan yang sama.
bahasa daerah yang kita miliki mencapai 800 bahasa
daerah. Oleh karena itu menjadi sangat penting bagi Pada sesi paparan berikutnya Prof. Dr. Hamid Hasan
generasi muda untuk memiliki memori kolektif yang kuat menyampaikan beberapa hal :
terhadap sejarah bangsanya sendiri. Untuk membuat
para remaja/anak muda/pelajar tertarik pada museum dan 1. Kekeliruan dalam pembelajaran sejarah di sekolah
sejarah, Asep Khambali menawarkan beberapa cara: salah satu faktor penyebabnya memang guru. Tetapi
kita tidak bisa begitu saja menyalahkan guru karena
kondisi kerja guru seperti itu juga dipengaruhi faktor-

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 27


faktor lain seperti kebijakan makro yang tidak memberi dalam satu semester hanya mempelajari satu pokok
ruang kreativitas kepada guru. Dengan kebijakan pembahasan saja tetapi fokus dan pada akhirnya
pendidikan yang lebih mengutamakan aspek kognitif (akhir semester) anak dapat menghasilkan sesuatu
semata maka mau tidak mau guru pun ‘terjebak’ (menghasilkan sejarah);
dalam arus kebijakan tersebut. Usaha untuk berkreasi 5. Terkait dengan pembelajaran nilai, maka patut
menjadi sempit ruangnya karena waktunya habis dibahas/didiskusikan mengapa Soekarno yang
untuk menyelesaikan sejumlah tugas-tugas yang memiliki kesarjanaan sebagai insinyur lebih memilih
menyebabkan guru tidak kreatif. Sudah semestinya berjuang daripada kerja sebagai seorang enginering
kita tidak hanya menyalahkan guru tetapi justru yang tentunya akan sangat prospektif pada masa
membantu para guru supaya berdaya untuk melakukan itu untuk kehidupannya? Mengapa pula Moh. Hatta
perubahan-perubahan. Kita memang perlu membantu yang berasal dari keluarga berada dan memiliki
guru untuk merubah paradigmanya sendiri tetapi juga kesarjanaan di bidang ekonomi lebih memilih menjadi
harus membantu guru-guru untuk merubah sistemnya; pejuang daripada menjadi seorang ekonom yang
2. Beban kerja guru juga sangat mempengaruhi tinggi- menjanjikan hidupnya? Bagaimana pula dengan Cipto
rendahnya kreatifitas/kualitas guru. Di Indonesia beban Mangunkusumo yang lebih memilih posisi sebagai
kerja guru sangat berat. Umumnya 85 % guru menjalani pejuang daripada memilih karir kedokterannya yang
beban kerjanya. Sementara di Inggris paling tinggi 65 % menjanjikan. Diskusi tentang pilihan-pilihan hidup para
dan Singapura cuma 35 % saja. Itu artinya guru-guru di pejuang tentu sangat menarik untuk membangun nilai
Inggris mempunyai waktu 35 persen untuk keperluan kejuangan dan pemihakan kepada kemanusiaan pada
istirahat, rekreasi dan kegiatan diluar beban kerja, di anak didik.
Singapura guru-guru lebih banyak lagi waktunya untuk 6. Belajar sejarah adalah belajar tentang kehidupan,
istirahat, rekreasi dan keperluan-keperluan lain diluar sangat penting. Oleh karena itu bagaimana merubah
kerja yaitu 65 %. Di Indonesia guru punya waktu untuk kebijakan/sistem sekarang yang tidak mendukung
istirahat, rekreasi dan keperluan diluar kerja hanya 15% ! makna pembelajaran sejarah? Perlu ada revolusi
3. Terkait dengan pendapat yang menyebutkan bahwa pendidikan!
sejarah menjadi tidak menarik karena tidak dijadikan
pelajaran utama yang di UN kan dalam skala nasional Seminar diakhiri dengan jelajah sejarah mengelilingi
maka Prof Hamid berpendapat bahwa memang situs Museum Bank Indonesia. Gratis!
sebaiknya pelajaran sejarah tidak di-UN-kan. Mengapa? Bravo untuk KHI !
Karena jika di -UN-kan pelajaran sejarah justru akan
menumpulkan kreativitas anak didik. Contoh, saat ini
tidak di-UN-kan saja pelajaran sejarah terjebak pada
kepentingan mengejar target kelulusan melalui Ujian
Sekolah, bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika
pelajaran sejarah di UN-kan. UN menurut Prof Hamid
justru merupakan musibah dalan kebijakan kita karena
telah menumpulkan kreativitas anak-anak didik;
4. Ada baiknya dipikirkan bahwa pendidikan sejarah
tidak mengajar banyak hal kepada anak didik tetapi

KHI: Seminar “Pembelajaran Sejarah Melalui Media


Museum Sebagai Upaya Membangun Karakter
bangsa”, Jakarta, 21 Juli 2010

KHI-5: Salah satu koleksi Museum Bank Indonesia

28 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


Antara Kita, Nyai,
dan Pergundikan di
Hindia Belanda

Judul Asli : De Njai: Concubinaat in Nederlands-Indie


Judul Terjemahan : Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda
Penulis : Reggie Baay
Penerbit : Komunitas Bambu
Tahun Terbit : 2010
Kota : Jakarta

Banyak laki-laki muda datang ke Nederlandsh Indie dengan harapan dapat membina masa
depan yang lebih baik. Mereka semua bujangan yang masuk dinas tentara, pemerintahan, atau
onderneming. Namun, selama beberapa tahun mereka tidak boleh membawa istri. Maka, banyak
di antara mereka itu berkumpul kebo dengan seorang nyai. Hubungan seperti ini seringkali tidak
tahan lama karena alasan berbeda-beda. Kadang anak laki-laki keturunan mereka dikirim ke
Belanda untuk belajar, kadang ditinggalkan saja oleh ayahnya dan ibu sendiri kurang mampu.
Banyak anak dari hubungan seperti ini tak bersekolah, kurang mengenal agama, tidak mempunyai
keahlian. Karena alasan serupa kaum putri sukar mendapat suami yang baik (Di Sini Matahariku
Terbit, 150 Tahun Perhimpunan Vincentius Jakarta, 2005, hal 21).

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 29


Saya adalah salah satu guru sejarah di sekolah Saint Dalam buku tersebut diungkapkan, berdasarkan
Joseph (SD, SMP, SMK). Sekolah ini bernaung di bawah penelitian H. Van Kol yang telah melakukan perjalanan di
payung Yayasan Perhimpunan Vincentius Jakarta (PVJ). Nusantara, pada tahun 1902, penduduk Eropa di Jawa dan
Sejak awal berdiri, sekolah Sint Joseph mayoritas terdiri Madura mencapai 75.833 orang dan 51.379 di antaranya
dari anak-anak Panti Asuhan Vincentius Putra dan Putri merupakan Indo-Eropa. Lebih jauh lagi, 17.000 orang
yang juga bernaung di bawah Yayasan PVJ. Lembaga ini dari seluruh Indo-Eropa hidup dalam kemiskinan dan
telah didirikan sekitar tahun 1856 sebagai upaya mengatasi kesengsaraan (hal 177). Dengan mengandaikan masing-
keprihatinan Gereja atas banyaknya anak-anak Indo- masing orang mempunyai dua orang keturunan selama
Belanda di Batavia yang tidak mendapatkan kehidupan dua generasi maka ada sekitar 204.000 orang yang kini
yang sepantasnya. mempunyai hubungan darah dengan para Nyai. Hal itu
tidak mengada-ada, sebab di Belanda saja pada tahun
Latar belakang PVJ sebagai wadah untuk 2008, diperkirakan terdapat 800.000 orang yang memiliki
menampung anak Indo di abad IX, sangat menarik akar ”nenek moyang” dari Hindia Belanda atau Indonesia
bagi saya sehingga setiap kali membahas materi era (hal xvi).
pendudukan bangsa Eropa di Indonesia, pasti tak lupa
membahas tema tentang Nyai dan Pergundikan dengan Fakta keberadaan Nyai dan keturunan Nyai masih
mengkaitkan sejarah PVJ. Nampaknya pembahasan tema banyak terpendam dalam rimba sejarah mengingat
khusus ini mendapat sambutan baik dari anak-anak yang begitu banyak hal yang menimbulkan dilematis baik bagi
begitu antusias dengan sejarah tempat mereka tinggal. pemerintah Hindia Belanda kala itu, pihak lelaki Eropa yang
Hanya saja, tak gampang untuk mendapatkan informasi melakukan pergundikan, wanita pribumi yang menjadi
yang memadahi agar dapat menggambarkan bagaimana nyai, maupun keturunannya. Reggie Baay menceritakan
kehidupan pernyaian dan pergundikan di era itu. Sumber bagaimana ia tidak pernah diberikan penjelasan oleh
informasi yang saya pergunakan lebih banyak dari sastra ayahnya, yang seorang Indo, tentang keberadaan
misalnya Nyai Dasima dan tetralogi karya Pramudya neneknya. Setelah ayahnya meninggal, ia baru tahu
Ananta Toer. bahwa neneknya bernama Moenah, seorang
perempuan berasal dari Solo, Jawa Tengah,
yang lahir sekitar tahun 1900. Keberadaan
Moenah tak diketahui rimbanya sejak ia
menyepakati akta penyerahan
anak kandungnya
kepada Louis Henri
Adriaan Baay (kakek
Reggie Baay).
Tak lama
setelah itu, ia

diperintahkan
pergi (sebutan
waktu itu
”dikirim kembali
ke kampung”) guna
memberi tempat
ua t tah un 19 09 kepada perempuan
ganya. Foto dib
i) bersama keluar Eropa yang akan menjadi
Srie (kedua dari kir
istri resmi. Kenyataan
seperti itu menjadi
pengalaman traumatis
bagi ibu maupun anak,
terbukti dari sikap ayah
Reggie Baay yang mencoba
menutup rapat-rapat sejarah ibunya.
Beruntung sekali ketika terbit buku Nyai & Kenyataannya, ia sebenarnya mempunyai salinan akta
Pergundikan di Hindia Belanda karya Reggie Baay. Buku yang coba ia ”sembunyikan” dan baru diketahui anaknya
ini seolah menjadi solusi dari kekurangan itu. Bahkan, setelah ia meninggal (hal xvi-xvii).
Reggie Baay sesungguhnya tidak hanya berjasa bagi saya
tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Besar kemungkinan, Dalam buku Baay, secara garis besar praktek
masih banyak generasi Indonesia saat ini yang sebenarnya pergundikan banyak terjadi di dalam dunia sipil, tangsi
mempunyai pertalian darah dengan sejarah Nyai dan (tentara Hindia Belanda), dan perkebunan-perkebunan
Pergundikan. terutama di Deli Sumatera. Semua praktek pergundikan

30 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010


tersebut, menempatkan para nyai dan anak-anak yang Tjoe Tanah bersama para putrinya Foto dibuat tahun 1919
dihasilkan sebagai korban dari praktek pergundikan
kolonial Belanda.

Bagi para Nyai, menjadi gundik pria Eropa


merupakan salah satu pilihan tidak gampang.
Kebanyakan mereka berasal dari keluarga miskin dan
terbelakang. Tetapi ada juga yang berasal dari keluarga
mapan dan dijodohkan kepada lelaki Belanda karena
orang tuanya haus jabatan. Anak perempuan mereka,
dalam beberapa kasus justru ”dijual” orang tuanya yang
tak mampu atau motif agar naik jabatan. Di satu sisi,
dengan bekerja sebagai pengurus rumah tangga
dan ”teman tidur” majikan Eropa, ia bisa mendapat
kebutuhan hidup dan terhindar dari kelaparan. Di sisi
lain, di mata masyarakat, menjadi Nyai dipandang
sebagai perempuan rendah seperti pelacur
yang hidup bersama kafir. Ia juga bisa saja
sewaktu-waktu diusir untuk memberi
tempat pada perempuan Eropa yang
akan menggantikannya menjadi istri resmi
majikan. Anak-anak dari hasil pernyaian,
sebagian diakui oleh sang ayah, tetapi
malang bila anak-anak itu tak diakui dan

. Foto dibuat tahun 1897


Minah dan Thomas dan kedua anak tertua mereka

harus
ikut sang Nyai setelah
diusir. Tidak banyak anak
Indo yang kemudian berhasil. Satu di antaranya
yang mampu bangkit dari perlakuan diskriminasi adalah
E.F.E. Douwes Dekker yang menjadi tokoh penting di
era Kebangkitan Nasional melalui Indische Partij yang ia
dirikan (hal 189). Namun banyak anak indo yang masuk
lubang kemiskinan seiring pengusiran sang Nyai. Saat
kembali di kampung, Nyai dan anak tersebut tersisih dari
masyarakat. Secara fisik keturunan Eropa, tetapi hidup
bersama pribumi, bahkan tanpa peninggalan nama Eropa
sebagai tanda untuk mengetahui siapa ayahnya. Anak-
anak inilah yang besar kemungkinan banyak ditampung
oleh Panti Asuhan Vincentius di abad IX. Sama halnya
seperti diceritakan dalam buku ini tentang Van der Steur,
seorang penyebar agama Kristen di daerah Magelang
Jawa Tengah. Karena prihatin dengan begitu banyaknya
anak-anak hasil pergundikan para tentara Hindia Belanda
(tangsi), ia mendirikan panti asuhan ”Pa” van der Steur
untuk menampung dan mendidik mereka (hlm. 117-118).

Terhadap praktek pergundikan, sebenarnya


Pemerintah Hindia Belanda banyak mendapat kecaman
dari berbagai kalangan. Hanya saja, motif ekonomi
penjajahan nampaknya selalu lebih diutamakan. Di tengah
keterbatasan perempuan Eropa di Hindia Belanda, Nyai
adalah solusi untuk memenuhi kebutuhan biologis laki-
laki Belanda yang jauh dari negerinya. Walaupun praktek
tersebut dianggap dapat mengurangi kehormatan bangsa
Eropa sebagai ras yang unggul, namun tetap dipandang
lebih menguntungkan. Sebab, dengan pergundikan,
laki-laki Eropa yang bekerja sebagai tentara, pekerja
perkebunan, maupun pemerintahan dimudahkan dari

Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010 31


pekerjaan rumah tangga dan dorongan seksual sehingga dapat
maksimal menjadi mesin kolonial. Hanya saja, yang selalu menjadi
korban justru para Nyai dan anak-anak yang dilahirkannya. Mereka
tetap diperlakukan tidak sama dengan bangsa Eropa melalui praktek-
praktek diskriminasi. Ras pribumi dan campuran tetap dipandang lebih
rendah dari ras Eropa.

Sampai sekarang, sebenarnya pertalian darah antara nyai, anak-


anak hasil pergundikan, dan kita yang hidup sebagai generasi masa
kini, belum diungkap secara gamblang. Bisa saja, di antara kita juga ada
keturunan mereka. Dan, Reggie Baay telah mempelopori bagaimana
itu bisa diungkap. Mungkin apa yang dilakukan Baay, dapat juga
merangsang sejumlah selebritis yang merasa bangga karena dirinya
seorang Indo yang secara fisik cantik, ganteng, berbeda dengan fisik
pribumi. Maka ia patut pula bertanya siapa nenek moyangnya. Jika
benar, kebanggan yang tak layak itu berdiri di atas derita dan kepedihan
sang Nyai.

Jakarta, 13 Agustus 2010

Penulis

Taat Ujianto, SPd

Djoemiha bersama keluarganya. Foto


diambil sekitar tahun 1918

32 Jurnal Pendidikan Sejarah-AGSI // OKTOBER 2010