Está en la página 1de 21

ALIRAN FILSAFAT BEHAVIORISME

1.
-

Teori Belajar behavioristik adalah teori belajar yang menekankan pada tingkah laku manusia sebagai akibat
dari interaksi antara stimulus dan respon.
Behavioristik adalah aliran dalam psikologi yang didirikn oleh John B. Watson pada tahun 1913.
Kemudian teori ini berkembang menjadi aliran psijologi belajar yang berpengaruh terhadap
pengembangan teori pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai
individu yang pasif.
Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai
hukuman.
Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa
respon. Stimulus adalah segala hal yang diberikan oleh guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi
atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.
Faktor yang dianggap penting oleh aliran behaviorisme adalah factor penguatan (reinforcement) dan
hukuman (punishment).
Prinsip-prinsip teori behaviorisme :
Objek psikologi adalah tingkah laku
Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada reflek
Mementingkan pembentukan kebiasaan
Tokoh-tokoh penting :
Ivan Pavlov (1849-1936)
Teori kondisioning klasik (classical conditioning)
Yaitu sejenis pembelajaran dimana sebuah organisme belajar untuk menghubungkan atau mengasosiasikan
stimulus dengan respon
Ada 2 jenis stimulus dan 2 jenis respon (tulis jenis dan pengertian)
Faktor yang juga penting dalam teori belajar pengkondisian klasik Pavlov adalah
generalisasi,deskriminasi,dan pelemahan
Generalisasi. melibatkan kecenderungan dari stimulus baru yang serupa dengan stimulus terkondisi
asli untuk menghasilkan respon serupa.
Contoh : seorang peserta didik merasa gugup ketika dikritik atas hasil ujian yang jelek pada mata
pelajaran matematika. Ketika mempersiapkan ujian Fisika, peserta didik tersbut akan merasakan gugup karena
kedua pelajaran sama-sama berupa hitungan. Jadi kegugupan peserta didik tersebut hasil generalisasi dari
melakukan ujian mata pelajaran satu kepada mata pelajaran lain yang mirip.
Deskriminasi. Organisme merespon stimulus tertentu, tetapi tidak terhadap yang lainnya.
Contoh : dalam mengalami ujian dikelas yang berbeda, pesrta didik tidak merasa sama gelisahnya ketika
menghadapi ujian bahasa Indonesia dan sejarah karena keduanya merupakan subjek yang berbeda.
Pelemahan (extincition). proses melelahnya stimulus yang terkondisi dengan cara menghilangkan stimulus
tak terkondisi.
Contoh : kritikan guru yang terus menerus pada hasil ujian yang jelek, membuat peserta didik tidak termotivasi
belajar. Padahal, sebelumnya peserta didik pernah mendapat nilai ujian yang bagus dan sangat termotivasi
belajar.
Dalam bidang pendidikan, teori kondisioning klasik digunakan untuk mengembangkan sikap yang
menguntungkan terhadap pesrta didik untuk termotivasi belajar dan membantu guru untuk melatih
kebiasaan positif pesrta didik.

2.
-

B.F. Skinner (1904-1990)


Terkenal dengan teori pengkondisian operan (operant conditioning) atau juga disebut pengkondisian
instrumental (instrumental conditioning)
yaitu suatu bentuk pembelajaran dimana konsekuensi perilaku menghasilkan berbagai kemungkinan
terjadinya perilaku tersebut. Penggunaan konsekuensi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk
mengubah perilaku itulah yang disebut dengan pengkondisian operan.
Prinsip teori Skinner ini adalah hukum akibat, penguatan atau penghargaan,dan konsekuensi.
Prinsip hukum akibat menjelaskan bahwa perilaku yang diikuti hasil positif akan diperkuat dan
perilaku yang diikuti hasil negatif akan diperlemah.
Penguatan merupakan suatu konsekuensi yang meningkatkan peluang terjadinya suatu perilaku.
Konsekuensi adalah suatu kondisi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan yang terjadi setelah
perilaku dan memengaruhi frekuensi prilaku pada waktu yang akan datang. Konsekuensi yang menyenangkan
disebut tindakan penguatan dan konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut hukuman.
Penguatan ada 2 jenis.
Penguatan positif (positive reninforcement) : didasari prinsip bahwa frekuensi dari suatu respon akan
meningkat karena diikuti oleh suatu stimulus yang mengandung penghargaan. Jadi, perilaku yang
diharapkan akan meningkat karena diikuti oleh stimulus menyenangkan.

Contoh : peserta didik yang selalu rajin belajar sehingga mendapat rangking satu akan diberi hadiah sepeda oleh
orang tuanya. Perilaku yang ingin diulang atau ditingkatkan adalah rajin belajar sehingga menjadi rangking satu
dan penguatan positif/stimulus menyenangkan adalah pemberian sepeda.
Penguatan negatif (negatve reinforcement) didasari prinsip bahwa frekuensi dari suatu respon akan
meningkat karena diikuti dengan suatu stimulus yang tidak menyenangkan yang ingin dihilangkan. Jadi,
perilaku yang diharapkan akan meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang tidak
menyenangkan
Contoh : peserta didik sering bertanya dan guru menghilangkan/tidak mengkritik terhadap pertanyaan yang
tidak berkenan dihati guru sehingga peserta didik akan sering bertanta. Jadi, perilaku yang ingin di ulangi atau
ditingkatkan adlah sering bertanya dan stimulus yang tidak menyenangkan yang ingin dihilangkan adalah
kritikan guru sehingga peserta didik tidak malu dan akan sering bertanya karena guru tidak mengkritik
pertanyaan yang tidak berbobot/melenceng.
Hukuman adalah suatu konsekuensi yang menurunkan peluang terjadinya suatu perilaku. Jadi,
perilaku yang tidak diharapkan akan menurun atau bahkan hilang karena diberikan suatu stimulus yang
tidak menyenangkan.
Contoh : peserta didik yang berperilaku mencontek akan diberikan sanksi, yaitu jawabannya tidak diperiksa dan
nilainya 0 (stimulus yang tidak menyenangkan/hukuman). Perilaku yang ingin dihilangkan adalah perilaku
mencontek dan jawaban tidak diperiksa serta nilai 0 (stimulus yang tidak menyenangkan atau hukuman).
Perbedaan antara penguatan negatif dan hukuman terletak pada perilaku yang ditimbulkan. Pada
penguatan negatif, menghilangkan stimulus yang tidak menyenangkan (kritik) untuk meningkatkan perilaku
yang diharapkan (sering bertanya). Pada hukuman, pemberian stimulus yang tidak menyenangkan nilai 0 untuk
menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan (perilaku mencontek).

JADWAL PEMBERIAN PENGUATAN


Continuos Reinforcement
Penguatan diberikan secara terus menerus setiap pemunculan respon atau perilaku yang diharapkan.
Contoh : setiap anak mau mengerjakan PR (meskipun banyak yang salah), orang tua selalu menghilangkan
kritikan (menghilangkan stimulus tidak menyenangkan/memberikan penguat negatif). Setiap anak mau
membantu memakai sepatu sendiri ketika akan berangkat sekolah, orang tua selalu memuji (memberikan
stimulus yang menyenangkan/penguat positif).
2)
Partial Reinfocement
Penguatan diberikan dengan menggunakan jadwal tertentu.
Jadwal Rasio Tetap (Fixed interval Schedule FI) yaitu pemberian penguatan berdasarkan frekuensi
atau jumlah respon/tingkah laku tertentu secara tetap.
Contoh : Guru TK berkata, Jika kalian sudah selesai mengerjakan 10 soal, kalian mendapat hadiah permen.
Tanpa peduli jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal tersebut. Siswa mampu menyelesaikan
10 soal (jumlah perilaku yang diharapkan) dan mendapat hadiah permen (merupakan satu penguatan).
Dalam pembelajaran, pelaksanaan penguatan ini dapat ditingkatkan jumlah perilakunya secara bertahap,
misalnya meningkat mulai 5 soal dapat dikerjakan mendapat satu penguatan (FR-5), meningkat menjadi 10 soal
mampu dikerjakan satu penguatan (FR-10)
Akhirnya, pesrta didik diharapkan mampu mengerjakan banyak soal dengan satu penguatan atau bahkan tanpa
adanya penguatan.
Jadwal Internal Tetap (Fixed Interval Schedule-FI) yaitu pemberian penguatan berdasarkan jumlah
waktu tertentu secara tetap. Dalam, FI jumlah waktunya yang tetap.
Contoh : ini sangat cocok digunakan seorang ibu untuk melatih anak kecilnya agar mengurangi kebiasaan
makan atau minum susu berlebihan. Ibu berkata pada susternya, Si Badu hanya diberikan susu setiap 1 jam
sekali. Jadi, meskipun Si Bedu menangis, karena belum 1 jam, suster tidak boleh memberikan susu. Minum
susu setiap 1 jam (perilaku yang diharapkan) dan pemberian susu oleh suster (penguatan yang diberikan).
Jumlah waktu bisa ditingkatkan nenjadi setiap 2 jam (FI-2), 3 jam (FI-3) sampai akhirnya menjadi 4 sekali (FI4).
Jadwal Rasio Variabel (Variable Ratio Schedule VR) yaitu pemberian penguatan berdasarkan
perilaku, tetapi jumlah perilakunya tidak tetap. Jadi, penguatan tetap diberikan untuk perilaku yang
diharapkan, tetapi jumlah perilakunya tidak tetap.
Contoh : paling tepat adalah permainan anak-anak dengan cara memasukkan koin ke mesin untuk
mendapatkan hidak tahu pada perilakuadiah. Anak tersebut tidak tahu pada perilaku memasukkan koin yang ke
berapa kali, baru memperoleh hadiah.
Contoh : dalam pembelajaran adalah guru akan memberi nilai tambahan setiap peserta didik (dari 40 peserta
didik di kelas) yang menjawab benar. Peserta didik akan mencoba untuk menjawab belum tentu benar berkallikali- VR ) dan tambahan nilai (penguat VR).
Jadwal Interval Variabel (Variabel Interval Schedule VI) yaitu pemberian penguatan pada suatu
perilaku, tetapi jumlah waktunya tidak tetap yaitu tidak dapat ditentukan kapan waktunya tidak tetap.
Jika dalam VR, jumlah perilakunya tetap. Dalam VI, jumlah waktunya tidak tetap.
Contoh : guru secara acak melakukan pemeriksaan secara keliling di kelas terhadap pekerjaan peserta didik
yang menjawab benar dan guru memneri pujian setiap menemukan jawaban benar peserta didik. Peserta didik
tidak tahu kapan guru menghampiri dan melihat pekerjaannya serta memujinya jika jawabannya benar. Karena
peserta didik tidak tahu kapan gurunyamenghampiri, peserta didik tersebut selalu berusaha mengerjakan dengan
benar setiap saat. Peserta didik mengerjakan benarsetiap saat (perilaku-VI) dan guru yang sempat menghampiri
dan memberi pujian pada waktu yang tidak tetap (penguatan-VI).
1)
-

KEEFEKTIFAN HUKUMAN
Hukuman hendaknya diberikan untuk perilaku yang sesuai. Terkadang hukuman diberikan terlalu berat, terlalu
ringan, bahkan bentuk hukuman yang tidak ada kaitan dengan pperilaku yang ingin dihilangkan.
Contoh : peserta didik yang tidak mengerjakan PR harus keliling lapangan 10 X (hukuman tidak sesuai),
mungkin hukuman yang cocok, peserta didik diberikan PR yang lebih banyak daripada temannya

3.
-

Edward Lee Thorndike (1874-1949)


di kenal dengan istilah koneksionisme (connectionism).
Teori ini memandang bahwa yang menjadi dasar terjadinya belajar adalah adanya asosiasi atau
menghubungkan antara kesan indera (stimulus) dengan dorongan yang muncul untuk bertindak
(respon), yang di sebut dengan connecting.
Dalam teori ini juga di kenal istilah selecting, yaitu stimulur yang beraneka ragam di lingkungan melalui
proses mencoba-coba dan gagal (trial &error).
Menemukan hukum-hukum :
a. Hukum Kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung kesiapan yang kuat unuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku
akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat
b.
Hukum Latihan
Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.
c.
Hukum Akibat
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika
akibatnya tidak memuaskan
4.

Albert Bandura (1925-sekarang)


Bandura menambahkan konsep belajar sosial (social learning). ia mempermasalahkan peranan ganjaran
dan hukuman dalam proses belajar.
Teori belajar Bandura adalah teori blajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri yang menunjukkan
pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain.
Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku timbal balik yang
berkesinambungan antara kognitine perilaku dan pengaruh lingkungan.
Faktor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian, mengingat produksi motorik, motivasi.

filsafat behaviorisme

BAB I
PRINSIP-PRINSIP FILSAFAT BEHAVIORISME
A. Hakikat Manusia Menurut Filsafat Behaviorisme
Menurut kaum behavioristik, merupakan suatu ilusi yang mengatakan bahwa
manusia memiliki suatu keinginan yang bebas. Sekalipun kita mungkin bertindak seakanakan kita bebas, perilaku kita benar-benar ditentukan oleh tekanan-tekanan lingkungan
yang membentuk prilaku kita. Manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian dalam
lingkungan yang akan memberikan pengalaman kepadanya.
B. Hakikat Pengetahuan Menurut Filsafat Behaviorisme
Teori behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap,
dan tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah
perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan
(transfer of knowledge) kepada orang yang belajar.
BAB II
IMPLIKASI PENDIDIKAN MENURUT FILSAFAT BEHAVIORISME
A. Tujuan Pendidikan Menurut Filsafat Behaviorisme
Aliran behaviorisme mengabaikan faktor kehidupan intrapsikis, yang berarti bahwa
pendidikan pun tidak berorientasi kepada tujuan-tujuan yang bersumber dari diri siswa.
Tujuan pendidikan bersifat eksternal, artinya ditentukan dan dirumuskan oleh lingkungan.
Siswa dianggap tidak perlu melakukan pengendalian belajar sendiri.

B. Peranan Siswa Menurut Filsafat Behaviorisme


Teori behavioristik cenderung mengarahkan peserta didik untuk berfikir linier,
konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar
merupakan proses pembentukan, yaitu membawa peserta didik menuju atau mencapai
target

tertentu,

sehingga

menjadikan peserta

didik

tidak bebas

berkreasi

dan

berimajinasi. Peserta didik harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan
ditetapkan lebih dulu secara ketat. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses
belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
C. Peranan Guru Menurut Filsafat Behaviorisme
Menurut pandangan behaviorisme guru harus memperkuat prilaku yang diinginkan
siswa,

perilaku

yang

tidak

diinginkan

tidak

boleh

diperkuat.

Guru

juga

harus

berhubungan dengan perubahan perilaku siswa bukannya berusaha mengubah keadaan


mental mereka. Guru hanyalah perlu mengetahui bahwa semua pembelajaran adalah
a.

pengkondisian dan mengikuti empat langkah berikut:


Mengidentifikasikan perilaku yang diharapkan dalam bentuk yang kongkrit (dapat

b.

diamati dan dapat diukur)


Membangun suatu prosedur untuk mencatat perilaku-perilaku spesifik dan menghitung

frekuensi perilakunya.
c. Untuk masing-masing perilaku, identifikasi suatu pemerkuat (reinforcer) yang tetap.
d. Pastikan bahwa siswa menerima reinforcer sesegera mungkin setelah menunjukan suatu
perilaku yang diharapkan.
D. Kurikulum Menurut Filsafat Behaviorisme
Menurut kaum behaviorisme kurikulum direncanakan dengan menyusun isi
pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan
tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana
sampai yang komplek. Pendidik mengembangkan kurikulum yang terstruktur dengan
menggunakan standar-standar tertentu dalam proses pembelajaran yang harus dicapai
oleh peserta didik.
E. Metode Menurut Filsafat Behaviorisme
Metode pembelajaran behaviorisme menggunakan model dengan hubungan
stimulus-respon, dan memposisikan orang yang belajar atau peserta didik sebagai
individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode
pelatihan atau pembiasaan. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan
penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Stimulus-Respons, yaitu suatu
proses memberikan respons terrtentu kepada stimulus yang datang dari luar. Proses
Stimulus -Respon ini terdiri dari beberapa unsur. Pertama, unsur dorongan (drive). Siswa
merasakan adanya kebutuhan akan sesuatu dan terdorong untuk memenuhi kebutuhan
ini. Kedua, rangsangan (stimulus), kepada siswa diberikan rangsangan yang akan dapat
menyebabkannya

memberikan

respons.

Unsur

ketiga

adalah

respons,

siswa

memberikan suatu reaksi (respons) terhadap stimulus yang diterimanya dengan jalan
melakukan suatu tindakan yang dapat terlihat. Keempat adalah unsur penguatan
(reinforcement), yang perlu diberikan kepada siswa agar ia merasakan adanya
kebutuhan untuk melakukan respons lagi.
BAB III
TANGGAPAN KELOMPOK

A. Kaitan Dengan Kurikulum PAUD


Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah pengembangan teori dan
praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini adalah aliran behavioristik. Aliran ini
menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori ini
hingga sekarang masih mewarnai praktek pembelajaran di Indonesia. Hal ini tampak
dengan jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat yang paling dini, seperti
kelompok bermain, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, bahkan
sampai Perguruan Tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (pembiasaan) disertai
dengan reinforcement atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal
seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan
fasilitas pembelajaran yang tersedia. Gagasan-gagasan seperti yang telah dikemukakan
oleh para pencetus aliran behaviorisme seperti Thorndike tentang perlunya bantuan guru
untuk menciptakan prilaku siswa, perlunya keterampilan-keterampilan yang dilatihkan,
dan disiplin mental menjadi dasar bagi pengembangan aliran behaviorisme di sekolah. Di
samping itu, gagasan Guthrie tentang perlunya reinforcement dalam pembelajaran
sampai saat ini diakui menjadi sebuah hal yang sangat penting dalam kegiatan
pembelajaran. Lebih dari itu gagasan Skinner tentang perlunya pengaturan pembelajaran
oleh guru, respons aktif dari siswa, adanya feedback setelah adanya respons dari
pembelajar dan kebebasan siswa dalam mempelajari materi sesuai dengan ritme
pembelajar menjadi dasar bagi pengembangan kurikulum di Indonesia.
B. Kaitan Dengan Isu Kontemporer
Dalam

kaitannya

dengan

isu

kontemporer,

guru

yang

mengaplikasikan

teori

behaviorisme harus melakukan hal-hal berikut,


1.

Sebelum guru memulai mengajar, maka anak-anak disiapkan mentalnya terlebih


dahulu. Misalnya anak disuruh duduk, reward dan punishment sehingga memberikan

2.

motivasi proses belajar mengajar yang rapi, tenang dan sebagainya.


Guru mengadakan ulangan yang teratur, bahkan dengan ulangan yang ketat atau

3.

sistem drill.
Guru memberikan bimbingan, pemberian hadiah, dan pujian.
Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme
akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan
pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak
banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik
dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari
yang sederhana sampai pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu
ketrampilan tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan
diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya
perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan
teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang
diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat
penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian didasari atas perilaku yang tampak.
Mengenal behaviorisme, sebuah filsafat pendidikan

PENGERTIAN BEHAVIORISME
Sebelum munculnya teori kontemporer pendidikan terdapat berbagai fisolofi yang mempengaruhi dunia
pendidikan baik yang dikategorikan filosofi tradisional maupun modern. Adapun filosofi tradisional tersebut
adalah Idealisme, Realisme, dan Neo-Skolastikisme. Sedangkan yang tergolong dalam filosofi modern adalah
Pragmatisme, dan Eksistensialisme. Filosofi-filosofi ini sangat mempengaruhi arah pendidikan pada setiap
zaman. Dalam perkembangannya dan di dalam pengaruh berbagai arus filosofi, pendidikan itu sendiri terus
bergumul dengan berbagai masalahnya dan menghasilkan berbagai teori pendidikan yang oleh George R. Knight
disebut sebagai teori kontemporer pendidikan. Behaviorisme adalah salah satu di dalamnya.
A. Latar Belakang
Sebelum memahami pengertian dan materi yang terkandung dalam behaviorisme sangatlah penting untuk
memahami lebih dahulu akar dari munculnya behaviorisme. Behaviorisme berakar dari tiga filosofi yang sudah
ada sebelumnya. Filosofi itu adalah:
1. Realisme
Realisme adalah aliran filosofi yang melihat bahwa kenyataan adalah berkenaan dengan benda-benda yang
beroperasi menurut hukum alam. Dengan berakar pada realisme, behaviorisme memfokuskan pada hukumhukum alam. Makhluk hidup dari perspektif kaum behavioris merupakan bagian dari alam dan sebagai
akibatnya beroperasi menurut hukum-hukum alam. Tugas kaum behavioris adalah menyelidiki organisme yang
hidup, termasuk manusia, dalam usaha menemukan hukum-hukum tingkah laku. Setelah hukum-hukum ini
ditemukan mereka akan menetapkan dasar bagi teknologi behavior (tingkah laku). Dalam hal ini manusia
dipersamakan dengan makhluk hidup lain, terutama hewan.
2. Positifisme
Dengan berakar pada filosofi positifis maka pembuktian empiris merupakan pusat dari metodologi behavior.
Dalam buku Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif Bambang Subagyo menyatakan bahwa empirisme
mengacu kepada seseorang yang menjalankan sesuatu semata-mata berdasarkan hasil pengamatan atau
pengalaman. Dari konsep tersebut ilmu pengetahuan mendasarkan pengetahuannya ada pengamatan peristiwaperistiwa tertentu yang dilakukan secara cermat.
3. Materialisme
Materialisme adalah teori bahwa kenyataan dapat dijelaskan dengan hukum-hukum dari masalah.
Dengan berdasar kepada pada tiga filosofi diatas muncullah berbagai tokoh yang melakukan pengamatan
tingkah laku dengan cermat terhadap hewan yang kemudian menghasilkan teori tingkah laku yang bernama
behaviorisme.
B. Pengertian Behaviorisme
Behaviorisme adalah aliran psikologi yang kemudian sangat berpengaruh terhadap bidang pendidikan yang
menekankan pada tingkah laku/perilaku manusia (individu) sebagai makhluk yang reaktif yang memberikan
respon terhadap lingkungan di sekitarnya. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku orang
tersebut.
Behaviorisme muncul awalnya melalui penelitian Psikolog Rusia bernama Ivan Pavlov (1849-1936). Penelitian
yang dilakukan Ivan Pavlov adalah penelitian yang dilakukan terhadap beberapa anjing. Dalam penelitian yang
dilakukan oleh Pavlov, anjing-anjing yang ada di laboratoriumnya mulai mengeluarkan air liur pada saat mereka
diberi makan, bahkan sebelum mereka bisa melihat atau mencium aroma makanannya. Anehnya, mereka
mengeluarkan air liur ketika mereka melihat penjaganya atau pada saat mereka mendengar langkah kaki
penjaganya. Selanjutnya penelitian sederhana ini membimbing Pavlov untuk melakukan serangkaian percobaan
yang cukup terkenal; dia akan membunyikan bel atau suara berdengung yang dua-duanya tidak menyebabkan
anjing berliur dan kemudian dengan Pavlov memberi makan anjing-anjingnya, sebuah stimulus yang
mengarah pada keluarnya liur. Dengan segera Pavlov menemukan bahwa apabila prosedur yang sama diulang
sesering mungkin, bunyi bel dan dengung saja sudah mengakibatkan keluarnya air liur. Penelitian Pavlov ini
kemudian menghasilkan teori stimulus-respon yang bernama classical Condisioning.
John B. Watson (1878-1958), mengikuti petunjuk Pavlov, menegaskan bahwa tingkah laku manusia adalah
persoalan dari refleks-refleks yang dikondisikan. Watson mendalilkan bahwa psikologi sebaiknya menghentikan
studi tentang apa yang manusia pikir dan rasakan, dan mulai mempelajari apa yang dilakukan orang-orang. Bagi
Watson, lingkungan adalah pembentuk tingkah laku utama. Ia berpendapat bahwa lingkungan anak dapat
dikendalikan, kemudian ia dapat mengatur anak ke dalam banyak tipe manusia yang diinginkan.
Tokoh Behavioris yang paling berpengaruh adalah BF. Skinner. Teori tingkah laku Skinner yang terkenal
bernama Operant Conditioning. Teori ini berdasar dari Eksperimen yang dilakukan oleh Skinner. Dalam
Eksperimen tersebut, seekor tikus diletakkan dalam kotak (Skinner Box). Lefrancois (2000.132) mengatakan
untuk eksperimennya, kotak tersebut berisi sebuah pengungkit, sebuah tali, sebuah jaring bermuatan listrik yang
terletak di lantai, dan sebuah baki makanan, semuanya diatur sedemikian rupa sehingga apabila tikus menekan
pengungkit, lampu akan menyala dan sebutir makanan akan masuk ke dalam baki makanan. Pada kondisi seperti
itu, kebanyakan tikus akan dengan segera belajar menginjak pengungkit, lampu akan menyala dan sebutir
makanan akan masuk ke dalam baki makanan. Pada kondisi seperti itu, kebanyakan tikus akan dengan segera
belajar menginjak pengungkit, dan mereka akan melakukan hal serupa selama beberapa waktu meskipun mereka
tidak selalu memperoleh makanan setiap kali mereka menekan pengungkit. Demikian pula tikus tersebut dapat
dengan tiba-tiba diarahkan untuk menolak pengungkit jika pada saat menekannya akan mengaktifkan arus listrik
pada lantai jaring. Tetapi, tikus-tikus tadi juga akan belajar menekan pengungkit untuk memadamkan arus
listrik.
Eksperimen ini menghasilkan teori tingkah laku yang menekankan bahwa tindakan-tindakan seseorang dapat

diarahkan melalui reinforcement/penguatan dan punishment/hukuman.


PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN BEHAVIORISME
Terhadap bidang pendidikan behavorisme memberi pengaruh sangat besar, terutama pada abad pertengahan.
Berikut ini prinsip-prinsip pendidikan behaviorisme:
a. Manusia adalah binatang yang berkembang lebih dari lainnya dan ia belajar dalam cara yang sama yang
dipelajari oleh binatang-binatang lain
Manusia tidak memiliki banyak martabat atau kebebasan yang khusus. Benar bahwa manusia adalah organism
alam yang kompleks, tetapi terutama ia masih merupakan bagian dari kerajaan binatang. Tugas dari behavioris
adalah mempelajari hukum-hukum tingkah laku. Hukum-hukum ini sama bagi semua binatang. Termasuk
manusia.
b. Pendidikan adalah proses pengaturan tingkah laku
Dari perspektif behavioris orang deprogram untuk bertindak dengan cara-cara tertentu melalui lingkungan
mereka. Mereka diberi penghargaan karena tindakan dari beberapa cara dan dihukum karena tindakan dengan
cara lain. Aktivitas-aktivitas yang menerima penghargaan positif tersebut cenderung diulang, sementara
penghargaan negatif cenderung dimatikan. Tugas pendidikan adalah menciptakan lingkungan belajar yang
mengarahkan pada tingkah laku yang diinginkan. Pendidikan di sekolah dan institusi pendidikan lainnya
kemudian dipandang sebagai lembaga pendesainan budaya.
c. Peran guru menciptakan lingkungan belajar yang efektif
Skinner menyatakan bahwa murid-murid itu belajar dalam kehidupan sehari-hari melalui konsekuensi dari
tindakan mereka. Tugas guru itu mengatur lingkungan belajar yang akan menyediakan penguatan untuk
tindakan murid yang diinginkan . Berikut ini contoh lingkungan belajar yang harus dikondisikan guru:
d. Efisiensi, ekonomi, ketelitian, dan obyektifitas adalah pusat perhatian nilai dalam pendidikan
Teknik-teknik tingkah laku dalam behaviorisme telah diaplikasikan untuk praktek-praktek bisnis, seperti
managemen sistem, periklanan, dan promosi penjualan dengan banyak sukses. Hal ini mengarahkan sektor besar
dari komunitas untuk bekerjasama dengan kaum behavioris psikologis untuk menjadikan sekolah-sekolah dan
pendidik-pendidik itu bertanggungjawab (bisa melakukan pengkondisian). Gerakan bertanggungjawab ini
telah berusaha memperbaiki tanggungjawab hasil pendidikan apa yang dipelajari anak pada mereka yang
melaksanakan pengajaran. Hal ini telah menstimulasikan perhatian dalam pengaplikasian teknik, obyektif, dan
pelaksanaan managemen usaha yang berdasarkan pengukuran dalam konteks sekolah.

Filsafat Pendidikan Behaviorisme


07/11/2013 Afid Burhanuddin Leave a comment
Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang meyakini bahwa untuk mengkaji perilaku individu
harus dilakukan terhadap setiap aktivitas individu yang dapat diamati, bukan pada peristiwa hipotetis yang
terjadi dalam diri individu. Oleh karena itu, penganut aliran behaviorisme menolak keras adanya aspek-aspek
kesadaran atau mentalitas dalam individu. Pandangan ini sebetulnya sudah berlangsung lama sejak jaman
Yunani Kuno, ketika psikologi masih dianggap bagian dari kajian filsafat. Namun kelahiran behaviorisme
sebagai aliran psikologi formal diawali oleh J.B. Watson pada tahun 1913 yang menganggap psikologi sebagai
bagian dari ilmu kealaman yang eksperimental dan obyektif, oleh sebab itu psikologi harus menggunakan
metode empiris, seperti : observasi, conditioning, testing, dan verbal reports.
1.

A.

Teori dan Pengertian Behavioristik

Pengertian belajar menurut teori Behavioristik adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya reaksi
antara stimulus dan respon. Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu apabila ia mampu menunjukan perubahan
pada tingkah lakunya, apabila dia belum menunjukkan perubahan tingkah laku maka belum dikatakan bahwa ia
telah melakukan proses belajar. Teori ini sangat mementingkan adanya input yang berupa stimulus dan output
yang berupa respons. Dalam proses pembelajaran input ini bisa berupa alat peraga, gambar-gambar, atau caracara tertentu untuk membantu proses belajar (Budiningsih, 2003). Jadi, Teori belajar Behavioristik adalah teori
belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia..
Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan
lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan
mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah
munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah
laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan.
Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioral dengan
stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku siswa merupakan reaksi
terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.
1.

B.

Tokoh-tokoh Behaviorisme

1.

John Watson (1878-1958)

Setelah memperoleh gelar master dalam bidang bahasa (Latin dan Yunani), matematika, dan filsafat di tahun
1900, ia menempuh pendidikan di University of Chicago. Minat awalnya adalah pada filsafat, sebelum beralih
ke psikologi karena pengaruh AngellDalam karyanya ini Watson menetapkan dasar konsep utama dari aliran
behaviorisme:
1.

Psikologi adalah cabang eksperimental dari natural science. Posisinya setara dengan ilmu kimia dan
fisika sehingga introspeksi tidak punya tempat di dalamnya

2.

Sejauh ini psikologi gagal dalam usahanya membuktikan jati diri sebagai natural science. Salah satu
halangannya adalah keputusan untuk menjadikan bidang kesadaran sebagai obyek psikologi. Oleh
karenanya kesadaran/mind harus dihapus dari ruang lingkup psi.

3.

Obyek studi psikologi yang sebenarnya adalah perilaku nyata.

2. Clark L. Hull (1884-1952)


Hull menamatkan Ph.D dalam bidang psikologi dari University of Wisconsin dan mengajar di sana selama 10
tahun, kemudian mendapat gelar professor dari Yale dan menetap di uni ini hingga masa pensiunnya. Sepanjang
karirnya, Hull mengembangkan ide di berbagai bidang psikologi, terutama psikologi belajar, hipnotis, teknik
sugesti. Metode yang paling sering digunakan adalah eksperimental lab.
Prinsip-prinsip utama teorinya :

Reinforcement adalah faktor penting dalam belajar yang harus ada. Namun fungsi reinforcement bagi
Hull lebih sebagai drive reduction daripada satisfied factor.

Dalam mempelajari hubungan S-R yang diperlu dikaji adalah peranan dari intervening variable (atau
yang juga dikenal sebagai unsure O (organisma). Faktor O adalah kondisi internal dan sesuatu yang
disimpulkan (inferred), efeknya dapat dilihat pada faktor R yang berupa output. Karena pandangan ini
Hull dikritik karena bukan behaviorisme sejati.

Proses belajar baru terjadi setelah keseimbangan biologis terjadi. Di sini tampak pengaruh teori Darwin
yang mementingkan adaptasi biologis organisma.

Hypothetico-deductive theory

Adalah teori belajar yang dikembangkan Hull dengan menggunakan metode deduktif. Hull percaya bahwa
pengembangan ilmu psikologi harus didasarkan pada teori dan tidak semata-mata berdasarkan fenomena
individual (induktif). Teori ini terdiri dari beberapa postulat yang menjelaskan pemikirannya tentang aktivitas
otak, reinforcement, habit, reaksi potensial, dan lain sebagainya (Lundin, 1991, pp.193-195).
Sumbangan utama Hull adalah pada ketajaman teorinya yang detil, ditunjang dengan hasil-hasil eksperimen
yang cermat dan ekstensif. Akibatnya ide Hull banyak dirujuk oleh para ahli behavioristik lainnya dan
dikembangkan.
3. B.F. Skinner
Prinsip-prinsip utama pandangan Skinner:

Descriptive behaviorism, pendekatan eksperimental yang sistematis pada perilaku yang spesifik untuk
mendapatkan hubungan S-R. Pendekatannya induktif. Dalam hal ini pengaruh Watson jelas terlihat

Empty organism, menolak adanya proses internal pada individu.

Menolak menggunakan metode statistical, mendasarkan pengetahuannya pada subyek tunggal atau
subyek yang sedikit namun dengan manipulasi eksperimental yang terkontrol dan sistematis.

Konsep-konsep utama:

1.

Proses operant conditioning:

Memilah perilaku menjadi respondent behavior dan operant behavior. Respondent terjadi pada
kondisioning klasik, dimana reinforcement mendahului UCR/CR. Dalam kondisi sehari-hari yang lebih
sering terjadi adalah operant behavior dimana reinforcement terjadi setelah response.

Positive dan negative reinforcers [kehadirannya PR menguatkan perilaku yang muncul, sedangkan
justru ketidakhadiran NR yang akan menguatkan perilaku].

Extinction: hilangnya perilaku akibat dari dihilangkannya reinforcers

Schedules of reinforcement, berbagai variasi dalam penjadwalan pemberian reinforcement dapat


meningkatkan perilaku namun dalam kadar peningkatan dan intensitas yang berbeda-beda (lih Lundin,
1991 fig. 4.p.213)

Discrimination : organisma dapat diajarkan untuk berespon hanya pada suatu stimulus dan tidak pada
stimulus lainnya.

Secondary reinforcement, adalah stimulus yang sudah melalui proses pemasangan/kondisioning dengan
reinforcer asli sehingga akhirnya bisa mendapatkan efek reinforcement sendiri.

Aversive conditioning, proses kondisioning dengan melibatkan suasana tidak menyenangkan. Hal ini
dilakukan dengan punishment. Reaksi organisme adalah escape atau avoidance.

2. Behavior Modification
Adalah penerapan dari teori Skinner, sering juga disebut sebagai behavior therapy. Merupakan penerapan dari
shaping (pembentukan TL bertahap), penggunaan positive reinforcement secara selektif, dan extinction.
Pendektan ini banyak diterapkan untuk mengatasi gangguan perilaku.
Kritik terhadap Skinner:

Pendekatannya yang lebih bersifat deskriptif dan kurang analitis dianggap kurang valid sebagai sebuah
teori

Validitas dari kesimpulan yang diambilnya yang merupakan generalisasi berlebihan dari satu konteks
perilaku kepada hampir seluruh perilaku umum

Pandangan empty organism mengundang kritik dari pendukung aspek biologis dan psikologi kognitif
yang percaya pada kondisi internal mansuia, entah itu berupa proses biologis atau proses mental

4. Albert Bandura (1925 ..)


Bandura lahir di Canada, memperoleh gelar Ph. D dari University of Iowa dan kemudian mengajar di Stanford
University. Sebagai seorang behaviorist, Bandura menekankan teorinya pada proses belajar tentang respon
lingkungan. Oleh karenanya teorinya disebut teori belajar sosial, atau modeling. Prinsipnya adalah perilaku
merupakan hasil interaksi resiprokal antara pengaruh tingkah laku, koginitif dan lingkungan. Singkatnya,
Bandura menekankan pada proses modeling sebagai sebuah proses belajar.
Teori utama :

Observational learning atau modeling adalah faktor penting dalam proses belajar manusia.

Dalam proses modeling, konsep reinforcement yang dikenal adlaah vicarious reinforcement,
reinforcement yang terjadi pada orang lain dapat memperkuat perilaku individu. Self-reinforcement,
individu dapat memperoleh reinforcement dari dalam dirinya sendiri, tanpa selalu harus ada orang dari
luar yang memberinya reinforcement.

Menekankan pada self-regulatory learning process, seperti self-judgement, self-control, dan lain
sebagainya.

Memperkenalkan konsep penundaan self-reinforcement demi kepuasan yang lebih tinggi di masa depan

1.

C.

Prinsip-Prinsip Belajar Behaviorisme

Teknik Behaviorisme telah digunakan dalam pendidikan untuk waktu yang lama untuk mendorong perilaku
yang diinginkan dan untuk mencegah perilaku yang tidak diinginkan.
1.

Stimulus dan Respons

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya alat peraga, gambar atau charta tertentu
dalam rangka membantu belajarnya. Sedangkan respons adalah reaksi siswa terhadap stimulus yang telah
diberikan oleh guru tersebut, reaksi ini haruslah dapat diamati dan diukur.
1.

Reinforcement (penguatan)

Konsekuensi yang menyenangkan akan memperkuat perilaku disebut penguatan (reinforcement) sedangkan
konsekuensi yang tidak menyenangkan akan memperlemah perilaku disebut dengan hukuman (punishment).
1.

Penguatan positif dan negatif

Pemberian stimulus positif yang diikuti respon disebut penguatan positif. Sedangkan mengganti peristiwa yang
dinilai negatif untuk memperkuat perilaku disebut penguatan negatif
1.

Penguatan primer dan sekunder

Penguat primer adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan fisik. Sedangkan penguatan
sekunder adalah penguatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan non fisik.
1.

Kesegeraan memberi penguatan (immediacy)

Penguatan hendaknya diberikan segera setelah perilaku muncul karena akan menimbulkan perubahan perilaku
yang jauh lebih baik dari pada pemberian penguatan yang diulur-ulur waktunya.
1.

Pembentukan perilaku (Shapping)

Menurut skinner untuk membentuk perilaku seseorang diperlukan langkah-langkah berikut :


1. Mengurai perilaku yang akan dibentuk menjadi tahapan-tahapan yang lebih rinci;
2. menentukan penguatan yang akan digunakan;
3. Penguatan terus diberikan apabila muncul perilaku yang semakin dekat dengan perilaku yang akan dibentuk.
1.

Kepunahan (Extinction)

Kepunahan akan terjadi apabila respon yang telah terbentuk tidak mendapatkan penguatan lagi dalam waktu
tertentu.
1.

D.

Behaviorisme dan PLS

Pengertian dari pendidikan keluarga adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit
sosial terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama dalam
menanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan pribadi,
keluarga dan masyarakat.
Fungsi pendidikan dalam keluarga tak terlepas dari peranan ayah dan ibu yang memiliki beberapa turunan
fungsi yang bersifat kultur (pendidikan budaya) untuk mempartahankan budaya dan adat keluarga, bersifat religi
(pendidikan agama) agar kehidupan dalam keluarga berjalan dengan baik, sejahtera , tentram dan terarah. Selain
itu, bersifat ekonomis (pendidikan ekonomi) sehingga tidak tercipta krisis keuangan keluarga, bersifat sosialisasi

10

(pendidikan sosial) agar menciptakan suasana yang kondusif baik secara internal maupun eksternal, bersifat
protektif (pendidikan proteksi) untuk melindungi wahana keluarga dari pengaruh apapun atau faktor apapun
yang merugikan bagi keluarga dan lainya.
Beberapa hal yang memegang peranan penting keluarga sebagai fungsi pendidikan dalam membentuk
pandangan hidup seseorang meliputi pendidikan berupa pembinaan akidah dan akhlak, keilmuan dan atau
intelektual dan kreativitas yang mereka miliki serta kehidupan pribadi dan sosial.

Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan
studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.
Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi,
dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan
penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah
melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada
proses-proses mental.
Meskipun pandangan Behaviorisme sekilas tampak radikal dan mengubah pemahaman tentang psikologi secara
drastis, Brennan (1991) memandang munculnya Behaviorisme lebih sebagai perubahan evolusioner daripada
revolusioner. Dasar-dasar pemikiran Behaviorisme sudah ditemui berabad-abad sebelumnya.
BEHAVIORISME
BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Dalam kehidupan ini tingkah laku atau behaviorisme adalah hal- hal yang dilakukan dalam kehidupan
sehari-hari. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa memiliki tingkah laku yang berbeda-beda. Oleh
sebab itu penting bagi kami untuk mempelajari dan membahas tingakah laku atau behaviorisme lebih dalam,
karena behaviorisme dapat menjelaskan segala kelakuan manusia secara saksama dan menyediakan program
pendidikan yang efektif.
Dengan uraian yang kami buat, ternyata konsep behaviorisme besar pengaruhnya terhadap masalah
belajar, karena belajar ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan respon.

B.

Rumusan Masalah

1.

Apa pengertian dari Behaviorisme?

2.

Bagaimana sejarah Behaviorisme?

3.

Siapa saja tokoh tokoh pelopor yang terkait dalam perkembangan ilmu psikologi?

4.

Studi kasus teori behaviorisme

C.

Tujuan

1.

Menjelaskan definii behaviorisme

2.

Membahas bagaimana sejarah behaviorisme

3.

Membahas tokoh-tokoh pelopor behaviorisme


BAB II
PEMBAHASAN

A. BEHAVIORISME
Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh
respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik
positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam
menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.

11

Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar
pemahaman dalam semua bidang subjek dan menejemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar
behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.
Teori behaviorisme hanya menganalisa perilaku yang nampak , dapat diukur, dilukiskan, dan
diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia
adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme
tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin
mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang
lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang
memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal
ini, timbulah konsep manusia mesin (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsurunsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan
reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan
peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori
belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau
reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat
jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya. Guru yang menganut pandangan ini
berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil
belajar.
B. TOKOH-TOKOH BEHAVIORISME
Adapun beberapa tokoh-tokoh behavioris yang berkembang dari tahun 1874 sampai saat sekarang ini :
1.

Edward Lee Thorndike (1874-1949)


Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang
disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori connectionism. Eksperimen yang dilakukan adalah
dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila
knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan
Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap
berbagai respon yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Thorndike menemukan beberapa hukum, seperti :

1.

Hukum kesiapan (Law of Readiness)


Jika suatu organisme didukung oleh kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan
tingkah laku akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.

2.

Hukum latihan
Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.

3.

Hukum akibat
Hubungan stimulus dan respon cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah
jika akibanya tidak memuaskan.

a.
b.

2.
JOHN WATSON (1878 - 1958)
John Watson lahir pada tahun 1878 dan meninggal tahun 1958. Minat awalnya adalah pada filsafat, sebelum
beralih ke psikologi karena pengaruh Angell. Akhirnya ia memutuskan menulis disertasi dalam bidang psikologi
eksperimen dan melakukan studi-studi dengan tikus percobaan. Tahun 1903 ia menyelesaikan disertasinya.
Tahun 1908 ia pindah ke John Hopkins University dan menjadi direktur lab psi di sana. Pada tahun 1912 ia
menulis karya utamanya yang dikenal sebagai behaviorists manifesto, yaitu Psychology as the Behaviorists
Views it. Dalam karyanya ini Watson menetapkan dasar konsep utama dari aliran behaviorisme:
Psikologi adalah cabang eksperimental dari natural science.
Posisinya setara dengan ilmu kimia dan fisika sehingga introspeksi tidak punya tempat di dalamnya.
Sejauh ini psikologi gagal dalam usahanya membuktikan jati diri sebagai natural science.

12

c.

Salah satu halangannya adalah keputusan untuk menjadikan bidang kesadaran sebagai obyek psikologi. Oleh
karenanya kesadaran/mind harus dihapus dari ruang lingkup psikologi.
Obyek studi psikologi yang sebenarnya adalah perilaku nyata.
Pandangan utama Watson
1. Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R Psychology). Yang dimaksud dengan stimulus adalah semua
obyek di lingkungan, termasuk juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang dilakukan
sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi, juga termasuk
pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt dan covert, learned dan unlearned
2. Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku. Perilaku manusia adalah hasil
belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting (lihat pandangannya yang sangat ekstrim menggambarkan hal
ini pada Lundin, 1991 p. 173). Dengan demikian pandangan Watson bersifat deterministik, perilaku manusia
ditentukan oleh faktor eksternal, bukan berdasarkan free will.
3. Dalam kerangka mind-body, pandangan Watson sederhana saja. Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi
bukan sesuatu yang dipelajari ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi bukan berarti bahwa
Watson menolak mind secara total. Ia hanya mengakui body sebagai obyek studi ilmiah. Penolakan dari
consciousness, soul atau mind ini adalah ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh aliran
ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. [Pada titik ini sejarah psikologi mencatat pertama kalinya sejak
jaman filsafat Yunani terjadi penolakan total terhadap konsep soul dan mind. Tidak heran bila pandangan ini di
awal mendapat banyak reaksi keras, namun dengan berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi populer.
4. Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif, maka psikologi harus menggunakan metode empiris.
Dalam hal ini metode psikologi adalah observation, conditioning, testing, dan verbal reports.
5. Secara bertahap Watson menolak konsep insting, mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned,
hanya milik anak-anak yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali kecuali simple reflex
seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.
6. Sebaliknya, konsep learning adalah sesuatu yang vital dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh
behaviorisme lainnya. Habits yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua
hukum utama, recency dan frequency. Watson mendukung conditioning respon Pavlov dan menolak law of
effect dari Thorndike. Maka habits adalah proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada
percobaan phobia (subyek Albert). Kelak terbukti bahwa teori belajar dari Watson punya banyak kekurangan
dan pandangannya yang menolak Thorndike salah.

3.

7. Pandangannya tentang memory membawanya pada pertentangan dengan William James. Menurut Watson
apa yang diingat dan dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Dengan kata lain,
sejauhmana sesuatu dijadikan habits. Faktor yang menentukan adalah kebutuhan.
8. Proses thinking and speech terkait erat. Thinking adalah subvocal talking. Artinya proses berpikir didasarkan
pada keterampilan berbicara dan dapat disamakan dengan proses bicara yang tidak terlihat, masih dapat
diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture lainnya.
9. Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum
yang mengaturnya. Jadi psikologi adaljah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini dipegang
terus oleh banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan penolakannya pada mind dan kesadaran,
Watson juga membangkitkan kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi risetriset empiris pada eksperimen terkontrol.
Ivan Petrovich Pavlov(1849-1936)
Pavlov menemukan teori pelaziman klasik dengan memasangkan stimuli yang netral atau stimuli yang
terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu. Setelah
pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan.
Pavlo mengadakan percobaan teori plazima klasik terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri
stimulus bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan tersebut pada manusia
adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap
bunyi-bunyian yang berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut dapat di
ambil kesimpulan ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus
yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar
dikendalikan oleh stimulus dari luar. Contohnya belajar, belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan
yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori

13

ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis
keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.
4.

BURRHUS FREDERIC SKINNER (1904-1990)


Burrhus Frederic Skinner lahir 20 Maret 1904, di kota kecil Pennsylvania Susquehanna. Ayahnya
adalah seorang pengacara, dan ibunya yang kuat dan cerdas sebagai ibu rumah tangga. Ia merefleksikan tahuntahun awal kehidupannya sebagai suatu masa dalam lingkungan yang stabil, di mana belajar sangat dihargai dan
disiplin sangat kuat. Skinner mendapat gelar BA-nya dalam sastra bahasa inggris pada tahun 1926 dari
Presbyterian-founded Humilton College. Setelah wisuda, ia menekuni dunia tulis menulis sebagai profesinya
selama dua tahun. Pada tahun 1928, ia melamar masuk program pasca sarjana psikologi Universitas Harvard. Ia
memperoleh MA pada tahun 1930 dan Ph.D pada tahun 1931. Pada tahun 1945, dia menjadi kepala departemen
psikologi Universitas Indiana. Kemudian 3 tahun kemudian, tahun 1948, dia diundang untuk datang lagi ke
Universitas Harvard. Di Universitas tersebut dia menghabiskan sisa karirnya. Skinner adalah seseorang yang
aktif dalam berbagai kegiatan, seperti melakukan berbagai penelitian, membimbing ratusan calon doktor, dan
menulis berbagai buku. Meski tidak sukses sebagai penulis buku fiksi dan puisi, ia menjadi salah satu penulis
psikologi terbaik. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Walden II. Pada tanggal 18 Agustus 1980, Skinner
meninggal dunia karena penyakit Leukemia
Seperti halnya kelompok penganut psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik
untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The Behavior
of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu
menjadi inspirasi diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah The Experimental
an Analysis of Behavior. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the Experimental Behaviors
yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika (Sahakian,1970).
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model
instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operantconditioning. Di mana seorang
dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan
relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat
mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Operant
conditioning menjamin respon terhadap stimuli.
Skinner membuat eksperimen sebagai berikut :
Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut
skinner box, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan,
penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat dialir listrik. Karena dorongan
lapar tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box,
tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai
peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shapping.
Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur
terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan
stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu
penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau
penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan,
memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang.
Skinner memiliki tiga asumsi dasar dalam membangun teorinya:
1.

Behavior is lawful (perilaku memiliki hukum tertentu)

2.

Behavior can be predicted (perilaku dapat diramalkan)

3.

Behavior can be controlled (perilaku dapat dikontrol)

14

Skinner juga menekankan mengenai functional analysis of behavior yaitu analisis perilaku dalam hal
hubungan sebab akibat, dimana penyebabnya itu sendiri (seperti stimuli, deprivation, dsb) merupakan sesuatu
yang dapat dikontrol. Hal ini dapat mengungkapkan bahwa sebagian besar perilaku dalam kejadian
antesedennya berlangsung atau bertempat pada lingkungan. Kontrol atas events ini membuat kita dapat
mengontrol perilaku.
Tipe Perilaku
Skinner mengajukan dua klasifikasi dasar dari perilaku: operants dan respondents. Operant adalah
sesuatu yang dihasilkan, dalam arti organisme melakukan sesuatu untuk menghilangkan stimulus yang
mendorong langsung. Contohnya, seekor tikus lari keluar dari labirin, atau seseorang yang keluar dari pintu.
Respondent adalah sesuatu yang dimunculkan, dimana organisme menghasilkan sebuah respondent sebagai hasil
langsung dari stimulus spesifik. Contohnya, seekor anjing yang mengeluarkan air liur ketika melihat dan
mencium bau makanan, atau seseorang yang mengedip ketika udara ditiupkan ke matanya.
Variasi dalam Intensitas Perilaku
Adanya intensitas perilaku yang bervariasi disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan (environmental
variable), misalnya pada dua orang yang mengkonsumsi makanan dengan kuantitas berbeda. Hal ini bukan
berarti kedua orang tersebut memiliki dorongan makan berbeda. Untuk menganalisanya perlu dilihat variable
lingkungannya, seperti jangka waktu dari makan ke makan berikutnya.
Peramalan dan Perubahan Perilaku
Menurut Skinner, cara efektif untuk meramal dan merubah perilaku adalah dengan menguatkan (to
reinforce). Untuk itu, perlu diketahui hal-hal berikut:
1. Prinsip-prinsip pengkondisian dan belajar.
2. Penguatan dan pembentukan perilaku
3. Generalisasi dan diskriminasi stimulus
Prinsip belajar Skinners adalah :
- Hasil belajar harus segera diberitahukan pada siswa jika salah dibetulkan jika benar diberi penguat.
- Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran digunakan sebagai sistem
modul.
- Dalam proses pembelajaran lebih dipentingkan aktivitas sendiri, tidak digunakan hukuman. Untuk itu
lingkungan perlu diubah untuk menghindari hukuman.
- Tingkah laku yang diinginkan pendidik diberi hadiah dan sebaiknya hadiah diberikan dengan
digunakannya jadwal variable ratio reinforcer.
- dalam pembelajaran digunakan shapping
C. Ada dua prinsip dasar dari pengkondisian, yaitu pengkondisian klasikal dan pengkondisian
operant/instrumetal.
1. Pengkondisian klasikal (classical conditioning)
Prinsip ini pertama kali diusulkan oleh Ivan Pavlov yang pada dasarnya mengatakan bahwa sebuah
stimulus yang memunculkan sebuah respon dipasangkan dengan stimulus lain yang pada saatnya nanti
menghasilkan respon yang sama. Dengan kata lain, kita dapat menyebut bahwa operasi dan respon kedua
dikondisikan untuk terjadi. Mari kita ambil contoh dengan mengobservasi anjing. Ketika ditampilkan sepotong
daging, anjing mulai mengeluarkan air liur. Sekarang kita coba bunyikan bel sesaat kita tampilkan daging. Pada
awalnya, anjing mengeluarkan air liur hanya saat daging ditampilkan. Namun setelah beberapa kali penampilan,
anjing tersebut akan mengeluarkan air liur saat bel dibunyikan (sebelum daging ditampilkan). Agen penguat di
sini adalah daging yang berfungsi sebagai penguat positif karena penampilan daging meningkatkan kesempatan
respon yang diinginkan untuk muncul.
Lalu apa yang terjadi jika kita menghentikan penampilan daging dan hanya membunyikan bel? Untuk
sesaat, anjing tetap akan mengeluarkan air liur terhadap bel, namun lama kelamaan akan terus berkurang hingga

15

akhirnya berhenti mengeluarkan air liur. Proses tersebut dinamakan extinction (pemusnahan). Hal tersebut
menunjukkan perlunya melanjutkan penguatan, karena tanpa penguatan (paling tidak saat-saat tertentu), perilaku
yang tidak otomatis (bukan refleks) akan menghilang perlahan.
2. Pengkondisian operan/instrumental
Pengkondisian ini pertama kali diselidiki secara sistematis oleh E. L. Thorndike. Teori Skinner
berusaha menegakkan tingkah laku lewat studi mengenai belajar secara operan. Suatu operan adalah
memancarkan, artinya suatu organisme melakukan sesuatu tanpa perlu adanya stimulus yang mendorong. Suatu
reaksi sebagai kontras dari responden, yaitu suatu tingkah laku yang dipelajari dengan teknik pengkondisian
Pavlovian. Operan dapat dipelajari bebas dari kondisi-kondisi perangsang yang membangkitkan. Organisme
selalu dalam proses operating dalam lingkungannya. Artinya organisme tersebut selalu melakukan apa yang
dilakukannya. Selama operating, organisme tersebut akan bertemu dengan stimulus-stimulus, yang disebut
reinforcing stimulus (stimulus penguat).
Stimulus-stimulus tersebut mempunyai pengaruh dalam menguatkan operant tingkah laku yang
muncul sebelum reinforcer. Jadi yang dimaksud dengan operant conditioning adalah sebuah tingkah laku diikuti
dengan sebuah konsekuensi, dan konsekuensi-konsekuensi tersebut dapat merubah kecenderungan organisme
untuk mengulang tingkah laku tersebut di masa datang.
Sebagai contoh, coba bayangkan seekor tikus di dalam kandang, yang disebut Kotak Skinner. Kandang
tersebut mempunyai suatu pedal pada salah satu temboknya yang bila ditekan maka dapat melepaskan makanan
ke dalamnya. Kemudian tikus tersebut berjalan mengelilingi kandang dan tanpa sengaja menekan pedal,
sehingga mengakibatkan munculnya makanan. Kejadian tersebut membuat tikus selalu berusaha menekan pedal
dan mengumpulkan makanan yang muncul di sudut kandang. Eksperimen pada tikus membuktikan bahwa suatu
tingkah laku yang diikuti oleh stimulus penguat akan meningkatkan kemungkinan munculnya kembali tingkah
laku tersebut di masa depan.
D.

PENGUATAN DAN PEMBENTUKAN PERILAKU (SHAPING)


Jika dilakukan dengan seksama, reinforcement (penguatan) dapat membuat kita membentuk perilaku
dari organisme sehingga dapat memunculkan perilaku yang diinginkan (dengan proses belajar operant).Hal
tersebut dapat dilihat dari eksperimen Skinner yang terkenal yaitu melatih merpati untuk mematuk selain
makanan (dalam hal ini adalah disk ringan). Eksperimen ini dumulai ketika seekor merpati lapar diletakkan
dalam Kotak Skinner. Disk dan kotaknya diberi kawat yang memungkinkan respon direkam dan makanan
dikirim ketika merpati mematuk disknya.
Agar merpati mematuk disk untuk pertama kalinya, kita harus membentuk perilaku dengan catatan
mematuk disk merah di dinding bukan merupakan perilaku normal atau repertoar dari merpati pada umumnya.
Karena itu, kita mulai dengan me-reinforce perilaku yang makin lama makin mendekati perilaku mematuk disk.
Pertama-tama kita latih burung makan dari hopper, kemudian kita tampilkan makanan hanya ketika burung
mendekati disk (dan hopper). Setelah itu kita reinforce burung hanya ketika kepalanya berada pada posisi yang
paling dekat dengan disk, lalu hanya ketika paruhnya dalam posisi terdekat dengan disk, dan seterusnya.
Akhirnya, ketika merpati mematuk disk untuk pertama kalinya, kita langsung berikan makanan. Dari sana,
merpati akan terus menerus mematuk dan kita juga terus memberikan makanan. Dalam waktu singkat, perilaku
mematuk akan terjadi dengan cepat.
Hal di atas menunjukkan penjadwalan continuous reinforcement, yaitu penjadwalan dalam hal tiap kali
respon yang benar diberi penguat. Dengan hal tersebut akan didapatkan perilaku yang diinginkan. Jika kita
berhentikan pemberian penguatan (makanan) kapan saja, maka perilaku mematuk akan menurun dan lamakelamaan menghilang. Namun kita juga dapat terus memberi makanan sebagai penguat dengan waktu yang
tidak ditentukan (occasionally). Kita dapat memberi makanan dalam jadwal fixed interval, misalnya tiap 5 detik
sekali. Atau kita juga dapat menggunakan variable interval, dengan memberi makanan dalam interval waktu

16

yang acak dengan rata-rata yang tetap. Jadi kita dapat memberi penguatan pada merpati setelah 3 detik,
kemudian setelah 6 detik, kemudian setelah 4 detik, dan seterusnya, dengan interval rata-rata sekitar 5 detik.
Dalam kondisi fixed maupun variable interval, merpati akan berespon mematuk secara berkelanjutan.
Meskipun sebagian besar patukan tidak diberi penguat, namun secara rata-rata patukan tersebut akan terus
bertahan. Dengan jadwal variableinterval, respon rata-rata patukan stabil. Dengan jadwal fixed interval, patukan
akan menurun perlahan mengikuti penguatan dan akan naik lagi mendekati penguatan yang akan dilakukan.
Ketika kita akan menghilangkan respon yang dikondisikan oleh penguatan interval, respon tersebut akan
menghilang lebih lambat daripada yang dikondisikan oleh penguatan continuous.
Kita dapat mendapatkan respon yang lebih tahan dari pemusnahan (extinction) dengan menggunakan
jadwal penguatan sebagai fungsi dari perilaku organisme itu sendiri. Contohnya, dengan menggunakan fixed
ratio, kita dapat menguatkan perilaku tiap 10 patukan, 20 patukan, atau berapapun angka dari merpati tersebut.
Dengan jadwal variable ratio, jika kita beri penguat rata-rata tiap 5 patukan, maka kita beri penguat pada
patukan ke-3, patukan ke-8, dst.
Resistensi terhadap pemusnahan paling besar di penjadwalan penguatan ratio terjadi pada variable
ratio dan disusul fixed ratio. Penjadwalan interval adalah penjadwalan yang lebih buruk resistensinya terhadap
pemusnahan, dengan catatan resistensi fixed interval lebih buruk daripada variable interval. Resistensi yang
paling buruk terjadi pada penjadwalan berkelanjutan (continous).
Dalam kasus merpati di atas, Skinner menyebut makanan, selain air, sebagai unconditioned atau
primary reinforcer (penguat utama). Namun perilaku manusia pada umumnya juga bergantung pada conditioned
atau secondary reinforces (penguatan sekunder/tambahan) yang dipasangkan dengan penguat utama dan dapat
pada perilaku manusia (contohnya uang).
GENERALISASI DAN DISKRIMINASI
Dua fenomena besar dari sistem Skinner merupakan penemuan penting sebagai alat pembelajaran.
Fenomena yang dimaksud adalah generalization (generalisasi) dan discrimination (diskriminasi). Dengan proses
generalisasi stimulus, organisme akan dapat membuat respon yang sama terhadap satu situasi ketika dia
dihadapkan pada situasi yang lain namun hampir mirip dengan situasi sebelumnya. Dengan proses diskriminasi
stimulus, organisme dapat membedakan mana situasi yang diberi penguat dan yang tidak, sehingga organisme
akan berespon hanya pada situasi tertentu saja.
PERILAKU SOSIAL
Dalam berbicara mengenai perilaku sosial, Skinner tidak membahas mengenai persoality traits atau
karakteristik yang dimiliki seseorang. Bagi Skinner, deskripsi kepribadian direduksi dalam kelompok atau
respon spesifik yang cenderung diasosiasikan dalam situasi tertentu.
Bagi Skinner, respon muncul karena adanya penguatan. Ketika dia mengeluarkan respon tertentu pada
kondisi tertentu, maka ketika ada penguatan atas hal itu, dia akan cenderung mengulangi respon tersebut hingga
akhirnya dia berespon pada situasi yang lebih luas. Penguatan tersebut akan berlangsung stabil dan
menghasilkan perilaku yang menetap.
PERILAKU ABNORMAL
Skinner berpendapat bahwa perilaku abnormal berkembang dengan prinsip yang sama dengan perilaku
normal. Lebih jauh, ia mengatakan bahwa perilaku abnormal dapat diubah menjadi perilaku normal dengan
memanipulasi lingkungan. Salah satu contohnya adalah dalam kasus yang terjadi pada seorang tentara yang
terluka di medan perang. Setelah menjalani perawatan di rumah sakit lalu dikirim kembali ke medan perang, ia
mengalami kelumpuhan pada satu lengannya yang membuatnya ditarik dari tugas. Pemeriksaan secara fisiologis
menunjukkan tidak ada masalah pada dirinya.

17

Skinner mengungkapkan bahwa kondisi terluka telah menjadi negative reinforcer, yaitu sebuah
stimulus yang tidak disukai yang akan berusaha untuk dihindari oleh tentara tersebut. Medan perang yang telah
diasosiasikan dengan luka adalah sebuah conditioned negative reinforcer, sehingga sang tentara akan berusaha
juga untuk menghindarinya. Namun demikian, ketika menolak untuk dikirim berperang, maka dirinya akan
menghadapi penolakan sosial, pengadilan, dan mungkin penjara atau bahkan kematian, yang kesemuanya adalah
konsekuensi aversive. Hasilnya, muncul beberapa perilaku yang menghubungkan kedua conditioned negative
reinforcer tadi. Perilaku tersebut akan menguat dan dipertahankan, karena pada umumnya seorang tentara tidak
dikenakan tanggung jawab ketika dirinya mengalami kelumpuhan sehingga dirinya tidak akan dihukum.
Lalu bagaimana kita menyembuhkan tentara tersebut? Secara teoritis, jika da dikembalkan ke medan
perang (conditioned renforcer) dengan tidak terluka lagi (unconditioned reinforcer), respon terkondisinya
(kelumpuhan) akan hilang. Namun demikian, si tentara tentunya tidak akan mau kembali ke medan perang
secara sukarela. Kita dapat mendorong dia untuk kembali dan berharap bahwa berada dalam situasi aversive
tanpa konsekunsi aversive yang dialami sebelumnya akan menghilangkan respon dia terhadap kelumpuhan.
Prosedur ini disebut dengan flooding, yang dilakukan dengan cara mendorong pasien ke dalam situasi anxietyarousing dan menghadapinya, hingga dirinya sadar bencana yang diharapkan muncul tidak akan terjadi.
METODE PENELITIAN DAN PENEKANAN
Penelitian Skinner menyimpang dari norma penelitian psikologi kontemporer dengan beberapa cara:
Pertama, Skinner terfokus pada event perilaku yang paling sederhana. Kedua, dia bersikeras bahwa kondisi
eksperimen dikontrol dan respon subjek direkam secara otomatis. Dan ketiga, dia membuat studi intensif pada
satu subjek individu daripada meneliti sebuah kelompok. Bagi Skinner, tujuan psikolog adalah untuk
mengontrol perilaku individu. Peneliti yang bekerja dengan sejumlah besar binatang perlu memperhatikan
variabel tak terkontrolnya sepanjang hal ini tersebar secara acak. Namun Skinner percaya bahwa seperti halnya
variabel lain, variabel tak terkontrol juga harus dipelajari. Jika kita ingin mengontrol perilaku, kita juga harus
mngetahui variabel apa sajakah yang tidak terkontrol tersebut agar dapat dikontrol juga.
EFEK OBAT DALAM TINGKAH LAKU
Metodologi Skinner dan Kotak Skinnertelah dibuktikan sebagai alat untuk mempelajari efek perilaku
terhadap berbagai macam agen farmatologi. Satu obat yang telah diselidiki secara ekstensif dengan metode
Skinnerian adalah chlorpromazine, yaitu agent anti-kecemasan yang digunakan dalam penanganan psikosis.
Dari hasil penelitian terhadap tikus didapat bahwa obat ini mengurangi rasa takut (fear), dan kemudian telah
diasumsikan bahwa obat ini juga memiliki efek bila diberikan pada penderita schizophren. Obat ini juga
berfungsi sebagai depresan, yang mereduksi semua bentuk respon, tidak hanya respon pada ketakutan.
INTERVENSI TINGKAH LAKU PADA PASIEN PSIKIATRIK
Pada awal 60-an, Ayllon dan Azrin (1965, 1968) mengembangkan sebuah metode yang disebut dengan
token economy, yaitu sebuah teknik berdasarkan prinsip-prinsip pengkondisian operan. Token ekonomi didesain
bagi pasien penyakit mental agar menghasilkan perilaku yang diinginkan. Conditioned reinforcer dalam bentuk
token diberikan pada pasien yang memunculkan respon yang diinginkan seperti memakai baju sendiri, makan
tanpa bantuan, atau menyelesakan tugas secara baik. Token-token ini nantinya dapat ditukar untuk mendapatkan
primary reinforcer, yaitu sesuatu yang diinginkan dan dinikmati orang lain seperti: baju baru, interaksi sosial,
kosmetik, menonton film, dll.
Token ekonomi telah digunakan dalam berbagai macam situasi, seperti penanganan anak autis, orang
yang mengalami perkembangan tidak normal, bahkan pada orang normal sekalipun. Teknik ini telah dibuktikan
sukses dalam menghasilkan bentuk perilaku yang diinginkan.
EVALUASI

18

Pendekatan Skinner telah diaplikasikan dalam berbagai masalah-masalah praktis, seperti dalam
pendidikan, industri, profesi, dan pelatihan binatang. Asumsi Skinner tentang lawfulness tidak sejalan dalam
psikologi. Namun jadwal penguatan yang dia ajukan merupakan temuan penting bagi teori belajar dan peneliti
kepribadian.
Karena Skinner menolak untuk menyimpulkan mekanisme atau proses yang tidak terobservasi, dia
mengalami kesulitan dalam menggambarkan situasi di luar laboratorium. Para psikolog holistik merasa bahwa
pendekatan Skinner mengabaikan kompleksitas perilaku makhluk hidup. Kritik lain mengatakan bahwa situasi
sederhana yang diteliti Skinner tidak akan terjadi di luar laboratoriumnya. Selain itu, ada kritik yang merasa
keberatan dengan hukum perilaku yang pada akhirnya tidak melihat perbedaan spesies secaraterpisah.
5.

Albert Bandura (1925-sekarang)


Ternyata tidak semua perilaku dapat dijelaskan dengan pelaziman. Bandura menambahkan konsep
belajar sosial (social learning). Ia mempermasalahkan peranan ganjaran dan hukuman dalam proses belajar.
Kaum behaviorisme tradisional menjelaskan bahwa kata-kata yang semula tidak ada maknanya, dipasangkan
dengan lambang atau obyek yang punya makna (pelaziman klasik).
Teori belajar Bandura adalah teori belajar social atau kognitif social serta efikasi diri yang
menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan emosi orang lain. Teori Bandura
menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi tingkah laku timbal balik yang berkesinambungan antara
kognitine perilaku dan pengaruh lingkungan. Factor-faktor yang berproses dalam observasi adalah perhatian,
mengingat, produksi motorik, motivasi.
Behaviorsime memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang
kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik
mereka. Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi mentalistik
BAB III
STUDI KASUS
Dibawah ini ada beberapa contoh kasus atau permasalahan para remaja di sekolah yang pemecahannya
menggunakan pendekatan teori psikologi behavioristik:

1.

Perilaku Bermasalah (problem behavior)


Masalah perilaku yang dialami remaja di sekolah dapat dikatakan masih dalam kategori wajar jika
tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Dampak perilaku bermasalah yang dilakukan remaja akan
menghambat dirinya dalam proses sosialisasinya dengan remaja lain, dengan guru, dan dengan masyarakat.
Perilaku malu dalam dalam mengikuti berbagai aktvitas yang digelar sekolah misalnya, termasuk dalam kategori
perilaku bermasalah yang menyebabkan seorang remaja mengalami kekurangan pengalaman. Jadi problem
behaviour akan merugikan secara tidak langsung pada seorang remaja di sekolah akibat perilakunya
sendiri.

2.

Perilaku menyimpang (behaviour disorder)


Perilaku menyimpang pada remaja merupakan perilaku yang kacau yang menyebabkan seorang remaja
kelihatan gugup (nervous) dan perilakunya tidak terkontrol (uncontrol). Memang diakui bahwa tidak semua
remaja mengalami behaviour disorder. Seorang remaja mengalami hal ini jika ia tidak tenang, unhappiness dan
menyebabkan hilangnya konsentrasi diri. Perilaku menyimpang pada remaja akan mengakibatkan munculnya
tindakan tidak terkontrol yang mengarah pada tindakan kejahatan. Penyebab behaviour disorder lebih banyak
karena

persoalan

psikologis

yang

3.Penyesuaian diri yang salah (behaviour maladjustment)

19

selalu

menghantui

dirinya.

Perilaku yang tidak sesuai yang dilakukan remaja biasanya didorong oleh keinginan mencari jalan
pintas dalam menyelesaikan sesuatu tanpa mendefinisikan secara cermat akibatnya. Perilaku menyontek, bolos,
dan melangar peraturan sekolah merupakan contoh penyesuaian diri yang salah pada remaja di sekolah menegah
(SLTP/SLTA).
4. Perilaku tidak dapat membedakan benar-salah (conduct disorder)
Kecenderungan pada sebagian remaja adalah tidak mampu membedakan antara perilaku benar dan
salah. Wujud dari conduct disorder adalah munculnya cara pikir dan perilaku yang kacau dan sering
menyimpang dari aturan yang berlaku di sekolah. Penyebabnya, karena sejak kecil orangtua tidak bisa
membedakan perilaku yang benar dan salah pada anak. Wajarnya, orang tua harus mampu memberikan
hukuman (punisment) pada anak saat ia memunculkan perilaku yang salah dan memberikan pujian atau hadiah
(reward) saat anak memunculkan perilaku yang baik atau benar. Seorang remaja di sekolah dikategorikan dalam
conduct disorder apabila ia memunculkan perikau anti sosial baik secara verbal maupun secara non verbal
seperti melawan aturan, tidak sopan terhadap guru, dan mempermainkan temannya . Selain itu, conduct
disordser juga dikategorikan pada remaja yang berperilaku oppositional deviant disorder yaitu perilaku oposisi
yang ditunjukkan remaja yang menjurus ke unsur permusuhan yang akan merugikan orang lain.
5. Attention Deficit Hyperactivity disorder
Yaitu anak yang mengalami defisiensi dalam perhatian dan tidak dapat menerima impul-impuls
sehingga gerakan-gerakannya tidak dapat terkontrol dan menjadi hyperactif. Remaja di sekolah yang hyperactif
biasanya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas
yang diberikan kepadanya atau tidak dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya. Jika diajak berbicara,
remaja yang hyperactif tersebut tidak memperhatikan lawan bicaranya.

20

21