Está en la página 1de 13

Hukum Asuransi

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam dunia bisnis resiko yang dihadapi dapat berupa kerugian akibat
kebakaran, kerusakan, kehilangan, atau resiko lainnya. Setiap resiko yang
dihadapi harus ditanggunglangi sehingga tidak menimbulkan kerugian yang
lebih besar lagi. Untuk mengurangi resiko yang tidak kita inginkan di masa yang
akan datang seperti resiko kehilangan, resiko kebakaran, resiko macetnya
pinjaman kredit bank atau resiko lainnya, maka diperlukan perusahaan yang
mau menanggung resiko tersebut. Adalah perusahaan asuransi yang mau dan
sanggup menanggung resiko tersebut. Hal ini disebabkan perusahaan asuransi
merupakan perusahaan yang melakukan usaha pertanggungan terhadap resiko
yang akan dihadapi. Asuransi merupakan suatu perjanjian ganti rugi sehingga
asuransi melibatkan sekurang-kurangnya pihak yang menderita kerugian dan
pihak yang berjanji untuk memberikan ganti rugi.
Untuk saat ini perkembangan asuransi di Indonesia belum begitu baik, hal ini
disebabkan oleh berbagai faktor, baik berasal dari perusahaan asuransinya,
maupun dari konsumennya dalam hal ini masyarakat Indonesia. Kendala dari
pihak asuransi adalah seringkali proses klaim membutuhkan waktu yang cukup
lama dan tidak memudahkan konsumen, baik pada klaim asuransi jiwa maupun
asuransi kerugian. Saat ini ada sebagian perusahaan asuransi cenderung
mengulur-ulur waktu ketiga akan membayar klaim. Oleh sebab itu faktor
permodalan lebih menjadi perhatian perusahaan asuransi tersebut. Sedangkan
dari

pihak

konsumen,

yang

menjadi

kendala

adalah

masih

minimnya

pengetahuan masyarakat terhadap asuransi, juga disebabkan masih rendahnya


income per kapita masyarakat. Bagi mereka yang akan bergabung atau menjadi
nasabah perusahaan asuransi perlu mengetahui apa kriteria, pedoman layak
dipertimbangkan ketika akan memilih suatu asuransi.
disebabkan

oleh

konsumen/masyarakat

adalah

Kenadala lain yang

kadang

kala

nasabah

mempersulit dirinya sendiri, antara lain dengan tidak jujur dalam mengisi
formulir aplikasi (SPAJ) yang mana ketidak jujuran tersebut akan merugikan
1

Hukum Asuransi
dirinya sendiri. Kriteria yang di atas sangat penting. Sebab bila salah pilih,
nasabah bisa rugi.
Konsekuensi nasabah membeli polis harus dengan cara tanggung jawab.
Dengan cara berasuransi maka orang yang menghadapi resiko atas jiwanya
bermaksud untuk mengalihkan resikonya itu atau setidak-tidaknya membagi
resikonya itu kepada pihak lain yang bersedia menerima peralihan atau
pembagian resiko tersebut. Peralihan resiko itu tidak terjadi dengan begitu saja,
tanpa kewajiban apa-apa pada pihak yang memperalihkan. Hal itu harus
diperjanjikan terlebih dahulu.
Untuk itu diperlukannya suatu aturan yang mengatur mengenai hukum
asuransi di Indonesia, agar dalam pelaksanaannya bisa berjalan dalam koridor
yang tepat, dan tidak ada pihak yang dirugikan, baik penanggung maupun
tertanggung. Di Indonesia, dasar hukum mengenai asuransi di atur dalam :
1. Pasal 246 sampai dengan Pasal 308 Kitab Undang-undang Hukum Dagang.
2. Pasal 1774 Kitab Undang-undang Hukum Perdata.
3. Peraturan perundang-undangan di luar Kitab Undang-undang Hukum
Dagang dan Kitab
Undang-undang Hukum Perdata antara lain :
1. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992, tentang Usaha Perasuransian.
2. Undang-undang
Nomor
3
Tahun
1964,
tentang
Dana
Pertanggungan Wajib
Kecelakaan Penumpang.

Hukum Asuransi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Asuransi


Wirjono Prodjodikoro (1986) mengatakan bahwa :

Asuransi atau dalam

bahasa Belanda Verzekering berarti pertanggungan. dalam

suatu asuransi

terlibat dua pihak, yaitu yang satu sanggup menanggung atau menjamin, bahwa
pihak yang lain akan mendapatkan penggantian suatu kerugiaan, yang mungkin
akan ia derita sebagai akibat dari suatu peristiwa yang semula belum tentu akan
terjadi atau semula belum dapat ditentukan akan saat terjadinya. Suatu kontra
prestasi dari pertanggungan ini, pihak yang ditanggung itu, diwajibkan
membayar sejumlah uang kepada pihak yang menanggung. Apabila kemudian
ternyata peristiwa yang dimaksud itu tidak terjadi.
Sementara itu Muhammad Muslehuddin (1999) memberikan pengertian
asuransi sebagai
berikut: istilah asuransi menurut pengertian
untuk

meringankan

beban

individu

railnya,

adalah iuran bersama

kalau-kalau

beban

tersebut

menghancurkannya. Konsep asuransi yang paling sederhana dan umum adalah


suatu persediaan yang disiapkan oleh sekelompok orang yang bisa ditimpa
kerugian, kerugian tersebut menimpa salah seorang di antara mereka, maka
beban kerugian tersebut akan disebarkan ke seluruh kelompok.
Meskipun dalam definisi tersebut di atas, seolah-olah hanya terdapat satu
pihak saja yaitu penanggung yang terikat, tetapi jika diselami maksud
sebenarnya dari perumusan itu, maka pihak tertanggung juga terikat untuk
melakukan sesuatu terhadap pihak lain. Dari pengertian asuransi yang terdapat
dalam Pasal 246 KUHD itu, Wirjono Prodjodikoro menyimpulkan bahwa ada 3
unsur dalam asuransi yaitu :

Hukum Asuransi
Unsur ke 1 : Pihak terjamin (verzekerde), berjanji membayar uang premi kepada
penjamin (verzekeraar), sekaligus atau berangsur-angsur.
Unsur ke 2

: Pihak penjamin (verzekeraar) berjanji akan membayar sejumlah

uang kepada pihak terjamin (verzekerde) sekaligus atau berangsur-angsur


apabila terlaksana unsur ke 3.
Unsur ke 3 : Suatu peristiwa yang semula belum jelas akan terjadi.
Pada UU.No.2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian diberikan suatu
defenisi yang lebih lengkap, sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 angka 1
yaitu :
Asuransi atau pertanggung adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih,
dengan nama pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan
menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung,
karena kerugian, kerusakan atau tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga
yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang
tidak pasti atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atau
meninggalkan atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.
Seperti dengan perjanjian-perjanjian pada umumnya, maka transaksi yang
terjadi antara penanggung dengan tertanggung harus memenuhi syarat tersebut
(Pasal 1320 KUH Perdata). Dan apabila ini telah terjadi maka kedua belah pihak
mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban.
Kalau Pasal 1321 KUH Perdata menentukan bahwa tiada kata sepakat yang
sah apabila kesepakatan itu diberikan karena kekhilafan atau diperolehnya
dengan paksaan atau penipuan. Maka khusus bagi perjajian asuransi syaratsyarat tersebut masih dirasakan kurang, sehingga oleh Pasal 251 KUHD masih
dipertegas lagi dengan mengatakan : bahwa tertanggung harus memberikan
keterangan

yang

benar

dan

jujur,

dan

apabila

ada

hal-hal

yang

disembunyikannya menyebabkan perjajian batal. Ketentuan ini berlaku untuk


semua perjajian asuransi dengan tujuan untuk melindungi pihak penanggung.
Ada dua hal yang diberikan dari ketentuan itu yaitu :

Hukum Asuransi
1. Tertanggung hendaknya jangan memberikan keterangan yang keliru atau
tidak benar kepada penanggung.
2. Tertanggung hendaknya jangan/tidak memberitahu hal-hal yang mempunyai
sifat sedemikian rupa, sehingga perjajian itu tidak akan ditutup atau tidak
mungkin diadakan dengan syarat-syarat yang sama, mengetahui keadaan
sebenarnya walaupun ada itikad baik dari tertanggung dan apabila hal ini
terjadi maka perjajian asuransi yang dibuat akan batal.

Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa, perjajian asuransi merupakan


perjajian timbal balik yaitu perjanjian dimana kedua belah pihak sama-sama
melakukan prestasi dari pihak yang satu kepada pihak yang lain. Pihak pertama
sebagai pihak yang ditanggung, mengalihkan beban atau resikonya kepada
pihak kedua yaitu penaggung.
Dari rumusan Pasal 1 Undang-undang No. 2 Tahun 1992 tentang Usaha
Perasuransian menunjukkan bahwa pada dasarnya asuransi atau pertanggung
merupakan suatu upaya dalam rangka menanggunlangi adanya resiko, yaitu
kemungkinan kehilangan atau kerugian atau kemungkinan penyimpangan
harapan
harapan

yang tidak menguntungkan karena kemungkinan penyimpangan


merupakan

suatu

kehilangan.

Antara

asuransi

dengan

resiko

mempunyai keterkaitan yang sangat erat, karena asuransi itu sendiri justru
menanggunlangi adanya resiko, dan tanpa adanya resiko, asuransi atau
pertanggungan tidak diperlukan kehadirannya.

2.2

Azas-azas Dalam Hukum Asuransi

Dalam hukum asuransi terdapat tiga asas pokok yaitu asas indemnitas, asas
kepentingan dan asas itikad baik.
1. Asas indemnitas
Kata indemnitas berasal dari bahasa latin yang berarti ganti kerugiaan. Inti
asas indemnitas adalah seimbang antara kerugian yang betul-betul diderita
tertanggung dengan jumlah ganti kerugiaannya (Poerwosutjipto,2000). Dalam
hukum asuransi, asas indemnitas tersirat dalam Pasal 246 KUHD yang
5

Hukum Asuransi
memberi batasan tentang asuransi atau pertanggungan yaitu sebagai
perjanjian yang bermaksud memberikan penggantian untuk suatu kerugian,
kerusakan atau kehilangan yang mungkin diderita oleh tertanggung sebagai
akibat terjadinya suatu bahaya yang pada saat ditutupnya perjanjian tidak
dapat dipastikan apakah akan terjadi atau tidak (Gunanto,1984).

Asas ini

hanya berlaku terhadap asuransi kerugian saja, tidak berlaku terhadap


asuransi sejumlah uang. Ada 3 macam kerugian yang timbul karena
kehilangan atau kerusakan harta benda dalam asuransi kerugian yaitu :
a. Kerugian atas barang itu sendiri.
b. Kerugian pendapatan dan pemakaian, karena hancurnya barang itu
sampai barang itu dapat diganti
c. Kerugian yang menyangkut tanggung jawab terhadap orang lain.
2. Asas Kepentingan
Asas kepentingan dalam hukum asuransi diatur dalam Pasal 250 dan 268
KUHD.
Pasal 250 KUHD menyebutkan : Apabila seseorang yang telah mengadakan
suatu pertanggungan untuk diri sendiri, atau apabila seseorang yang
untuknya telah diadakan suatu pertanggungan, pada saat diadakannya
pertanggungan itu tidak mempunyai suatu kepentingan terhadap barang yang
dipertanggungkan itu, maka si penanggung tidaklah diwajibkan memberi ganti
rugi
Selanjutnya dalam Pasal 268 KUHD disebutkan, suatu pertanggungan dapat
mengenai segala kepentingan yang dapat dinilai dengan uang, dapat diancam
oleh suatu bahaya, dan tidak dikecualikan oleh undang-undang
3. Asas Itikad Baik
Asas itikad baik diatur dalam Pasal 251 KUHD yang berbunyi sebagai berikut :
Setiap keterangan yang keliru atau tidak benar, ataupun setiap tidak
memberitahukan hal-hal yang diketahui oleh si tertanggung, betapapun itikad
baik

ada

padanya,

yang

demikian

sifatnya

sehingga

seandainya

si

tertanggung telah mengetahui keadaan yang sebenarnya, perjanjian itu tidak


akan ditutup dengan syarat-syarat

yang sama, mengakibatkan batalnya

pertanggungan. Yang dimaksud dengan itikad baik adalah kemauan baik dari
setiap

pihak

untuk

melakukan

perbuatan

hukum

agar

akibat

dari

kehendak/perbuatan hukum itu dapat tercapai dengan baik.


Syarat-syarat umum sahnya perjanjian asuransi pada umumnya diatur oleh Pasal
1320 jo Pasal
1338 KUHPdt, Syarat tersebut dalam Pasal 1320 KUHPdt adalah sebagai berikut :
6

Hukum Asuransi
1. Sepakat mereka yang mengikatkan diri.
Dalam perjanjian setidaknya ada dua orang yang saling berhadap-hadapan
dan mempunyai kehendak yang saling mengisi. Kedua belah pihak yaitu
penanggung dantertanggung dalam mengadakan perjanjian harus setuju
atau sepakat terhadap hal-hal pokok dalam perjanjian yang diadakan.
Sehubungan dengan syarat kesepakatan ini KUHPdt dalam Pasal 1321
menentukan bahwa, tiada sepakat yang sepakat yang sah apabila sepakat itu
diberikan karena kekhilafan atau diperoleh dengan paksaan atau penipuan.
Kesepakatan yang hendak dicapai tersebut harus bebas dari unsur-unsur
paksaan, penipuan dan kekhilafan.
2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan.
Para pihak dalam membuat suatu perjanjian harus cakap menurut hukum.
Orang dikatakan cakap melakukan perbuatan hukum adalah orang yang
sudah dewasa dan sehat pikirannya. Pasal 1329 KUHPdt mengatakan bahwa
setiap orang adalah berwenang untuk membuat perikatan jika oleh Undangundang tidak dinyatakan tidak cakap. Para pihakdianggap cakap apabila
telah mencapai umur 21 tahun atau telah menikah, sehat jasmani dan rohani
serta tidak berada di bawah pengampunan.
3. Suatu hal tertentu.
Suatu perjanjian harus mengenai hal-hal tertentu, artinya ada objek yang
jelas yang diperjanjikan, dalam hal ini adalah jiwa seseorang. Dengan
demikian timbullah hak dan kewajiban kedua belah pihak yaitu penanggung
dan pemegang polis yang dikaitkan dengan hidup atau meninggalnya
seseorang yang jiwanya dipertanggungkan (tertanggung). Suatu hal tertentu
adalah objek dari perjanjian. Perjanjian yang tidak mengandung suatu hal
tertentu dapat dikatakan bahwa, perjanjian yang demikian tidak dapat
dilaksanakan karena tidak jelas apa yang dijanjikan oleh masing-masing
pihak.
4. Suatu sebab yang halal.
Sebab adalah sesuatu yang menyebabkan orang membuat perjanjian, namun
yang dimaksud sebab dalam Pasal 1320 KUHPdt bukan yang mendorong
orang untuk membuat perjanjian melainkan sebab dalam arti isi perjajian itu
sendiri yang menggambarkan tujuan yang ingin dicapai oleh pihak-pihak
yang mengadakan perjanjian.

Hukum Asuransi
2.3

Jenis-Jenis Asuransi

Jenis-jenis usaha asuransi yang berkembang di Indonesia dewasa ini dilihat


dari berbagai segi menurut UU No. 2 Tahun 1992 sebagai berikut :
1. Usaha Asuransi terdiri atas :
a. Asuransi Kerugian (non life insurance)
Dalam Undang Undang
Nomor 2 Tahun 1992 tentang asuransi,
menjelaskan bahwa asuransi kerugian menjalankan usahanya dengan
memberikan jasa untuk menanggulangi suatu resiko atas kerugian,
kehilangan manfaat dan tanggung jawab hukum kepada pihak ketga dari
suatu peristiwa yang tidak pasti. Asuransi yang termasuk dalam asuransi
kerugian adalah :
a. Asuransi Kebakaran

yang

meliputi

kebakaran,

peledakan,

petir,

kecelakaan kapal terbang dan lainnya.


b. Asuransi Pengangkutan meliputi :
1. Marine Hul Policy
2. Marine Cargo Policy
3. Freight
c. Asuransi Aneka, yaitu asuransi yang tidak termasuk ke dalam asuransi
kebakaran

dan pengangkutan seperti asuransi kendaraan bermotor,

kecelakaan diri, pencurian dan lainnya.


b. Asuransi Jiwa (life Insurance)
Asuransi Jiwa merupakan perusahaan asuransi yang dikaitkan dengan
penaggulangan

jiwa

atau

meninggalnya

dipertanggungkan. Jenis-jenis asuransi jiwa adalah :


1. Asuransi Berjangka ( term insurance)
2. Asuransi Tabungan (endowment insurance)
3. Asuransi seumur hidup (whole insurance)
4. Anuitas ( Annuity contract insurance)
c. Reasuransi (insurance)
Merupakan perusahaan yang memberikan jasa

seseorang

yang

asuransi

dalam

pertanggungan ulang terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan


asuransi kerugian. Jenis asuransi ini sering disebut asuransi dari asuransi,
dan asuransi ini digolongkan ke dalam :
1. Bentuk treaty
2. Bentuk facultative
3. Kombinasi dari keduanya
2. Usaha Penunjang usaha asuransi terdiri atas :
a. Penilaian kerugian asuransi yaitu usaha yang membrikan jasa penilaian
terhadap kerugian pada objek asuransi yang dipertanggungjawabkan.
8

Hukum Asuransi
b. Pialang asuransi, yaitu usaha yang membrkan jasa keperantaraan dalam
penutupan asuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi asuransi
dengan bertindak untuk kepentingan tertanggung.
c. Pialang reasuransi, yaitu usaha yang memberikan jasa keperantaraan
dalam penempatan reasuransi dan penanganan penyelesaian ganti rugi
reasuransi dengan bertindak untuk kepentingan perusahaan asuransi.
d. Konsultan akutri yaitu usaha yang memberikan jasa konsultan aktuaria
e. Agen asuransi yaitu usaha yang memberikan jasa keperantaraan dalam
rangka pemasaran jasa asuransi untuk dan atas nama penanggung.
Klasifikasi perusahaan asuransi berdasarkan cabang perusahaanya yang dikutip
dari Salim (2007:3) :
1. Asuransi Umum (kerugian) mengenai hak milik dan kebakaran
2. Asuransi varian ( marine insurance) mengenai asuransi laut, kecelakaan,
asuransi mobil, dan pencurian
3. Asuransi Jiwa ( life insurance) mengenai kematian, sakit dan cacat.

2.4

Prinsip-Prinsip Asuransi

Prinsip-prinsip asuransi merupakan dasar atau landasan setiap masalah yang


timbul dalam kontrak asuransi. Menurut Soemitra (2010: 262), terdapat lima
prinsip asuransi sebagai berikut :
1. Kepentingan yang dapat diasuransikan (insurable risk)
Kepentingan yang dapat diasuransikan adalah hubungan
peserta/

tertanggung

dengan

objek

pertanggungan/

kepentingan
pihak

yang

dipertanggungkan. Jika tertanggung mengalami kerugian atau musibah pada


objek/ pihak yang dipertanggungkan maka tertanggung tidak mempunyai
kepentingan, maka tertanggung tidak berhak memperoleh santunan (ganti
rugi).
2. Itikad Baik (utmost good faith)
Para pihak yang melakukan kontrak asuransi, baik penanggung maupun
tertanggung harus beritikad baik yang diwujudkan dengan kejujuran dan
mengemukakan keterburukan. Dimana penanggung harus memberikan
semua informasi mengenai pertanggungan dan tertanggung memberikan
informasi mengenai objek pertanggungan baik diminta maupun tidak. Jika
9

Hukum Asuransi
prinsip utmost good faith dilanggar terutama oleh tertanggung, maka
pertanggungan menjadi batal.
3. Penggantian kerugian (indemnity)
Prinsip ini merupakan mekanisme ganti rugi/santunan bila terjadi musibah
yang dijamin, yaitu penanggung akan mengembalikan poisis keuangan
tertanggung dalam keadaan semula seperti saat sebelum terjadi peristiwa
musibah. Penggantian kerugian dapat dilakukan dengan pembayaran tunai,
penggantian, perbaikan, atau pembangunan kembali.
4. Sebab aktif (proximate cause)
Proximate cause adalah suatu sebab aktif, efisien yang mengakibatkan
terjadinya suatu peristiwa secara barantai tanpa intervensi suatu kekuatan
lain, diawali dan bekerja dengan aktif dari suatu sumber baru dan
independen.
5. Pengalihan Hak (subrogasi)
Pengalihan hak adalah bilamana penanggung telah memberikan santunan
ganti rugi kepada tertanggung, padahal dalam peristiwa yang mengakibatkan
kerugian tersebut tertanggung tidak bersalah, maka hak menuntut kepada
pihak yang bertanggung jawab/ yang bersalah (pihak ketiga) beralih ke pihak
penanggung.
2.5

Unsur-Unsur Asuransi
Menurut Sri Rejeki (1991), pihak dalam asuransi yang mengadakan

perjanjian pada pokoknya terdiri dari:


a. Pihak penanggung, ialah pihak terhadap siapa diperalihkan resiko
yang seharusnya dipikul sendiri oleh tertanggung karena menderita
kerugian
Kemudian

sebagai

akibat

penanggung

dari

suatu peristiwa

sendiri

mempunyai

yang

tidak

hak

sebagai berikut

(Mashudi, 1998, Hlm. 8-9. ) :


1. menerima premi
2. menerima mededelingsplicht/memberitahukan

dari

tertentu.

tertanggung.

(pasal 251 KUHD)


3. hak-hak lain sebagai imbalan dari kewajiban tertanggung
sedangkan kewajiban dari penanggung adalah :
1. memberikan polis pada tertanggung
2. mengganti kerugian dalam schadeyarzekering/asuransi ganti rugi
dan memberi sejumlah uang yang telah dipersepakatkan dalam
sommen-verzekering/asuransi sejumlah uang;
10

Hukum Asuransi
3. melaksanakan premi restorno (pasal 281 KUHD) pada tertanggung
yang beritikad baik, berhubung penanggung untuk seluruhnya atau
sebagian tidak menanggung resiko lagi, dan asuransinya gugur atau
batal seluruhnya.
b. Pihak tertanggung

adalah

pihak

lawan

dari

penanggung

yang

mengadakan perjanjian pertanggungan itu biasanya tertanggung ini juga


adalah orang yang berkepentingan (Emmy 1980, Hlm. 29-30 )
Kemudian tertanggung sendiri mempunyai hak sebagai berikut:
1. menerima polis
2. mendapat ganti kerugian bila terjadi peristiwa
3. hak-hak lainnya sebagai imbalan dari kewajiban penanggung
sedangkan kewajiban dari tertanggung adalah :
1. membayar preminya
2. memberitahukan keadaan-keadaan

sebenarnya

mengenai

barang

yang dipertanggungkan (Pasal 251 KUHD)


3. mencegah agar kerugian dapat dibatasi (pasal 283 KUHD)
4. kewajiban khusus yang mungkin disebut dalam polis (H. Mashudi,
1998, Hlm. 8-9)
Berdasarkan Pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang maka dalam
asuransi terkandung empat unsur yaitu:
a. Pihak tertanggung (insured) yang berjanji untuk membayar uang premi
kepada pihak penanggung, sekaligus atau secara berangsur-angsur.
b. Pihak penanggung (insurer) yang berjanji akan membayar sejumlah
uang

(santunan)

kepada

pihak

tertanggung,

sekaligus

atau

secara

berangsur-angsur apabila terjadi sesuatu yang mengandung unsur tidak


tentu.
c. Suatu peristiwa (accident) yang tak tertentu (tidak diketahui sebelumnya).
d. Kepentingan (interest) yang mungkin akan mengalami kerugian karena
peristiwa yang tidak tentu (Elisa Kartika Sari, 2005).

11

Hukum Asuransi
BAB III
KESIMPULAN
Asuransi merupakan upaya yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi
kemungkinan timbul kerugian akibat terjadi peristiwa yang tidak pasti dan tidak
diinginkan. Melalui perjanjian asuransi resiko kemungkinan terjadi peristiwa yang
menimbulkan kerugian yang mengancam kepentingan tertanggung itu dialihkan
kepada perusahaan asuransi kerugian penanggung.
Sebagai imbalannya, tertanggung bersedia membayar sejumlah premi yang
telah disepakati. Dengan demikian, tertanggung yang berkepentingan merasa
aman dari ancaman kerugian, sebab jika kerugian itu betul-betul terjadi
penanggunglah yang akan menggantinya.
Tertanggung sebagai pihak mempunyai kepentingan tertentu dalam kegiatan
usaha atau hubungan dengan pihak lain dalam masyarakat. Kepentingan yang
dimaksud adalah tanggung jawab akibat perbuatannya terhadap pihak ketiga,
misalnya perbuatan yang merugikan orang lain atau perbuatan tidak mampu
membayar hutang kepada pihak kreditur.

12

Hukum Asuransi

DAFTAR PUSTAKA
Elisa Kartika Sari, 2005, Hukum Dalam Ekonomi, Jakarta: , Gramedia Widiasarana
Indonesia
Emmy Pangaribuan Simanjuntak, 1980, Hukum Pertanggungan,
Dagang Fakultas Hukum UGM Yogyakarta

Seri Hukum

Gunanto, 2003, Asuransi Kebakaran di Indonesia, Jakarta : , Loos Wacana Ilmu


Mashudi, 1998, Hukum Asuransi, Bandung : Mandar Maju
Muslehuddin, Muhammad, 1999, Menggugat Asuransi Modern, Jakarta : Lentera
Sri Rejeki, 1991, Hukum Asuransi dan Perusahaan Asuransi, Semarang : Sinar
Grafika
Salim, Abbas, Asuransi dan Manajemen Resiko, Jakarta : Grasindo
Soemitra, Andri, 2010, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Jakarta : Kencana
Prenada Media Grup
Wirjono Prodjodikoro, 1986, Hukum Asuransi di Indonesia, Jakarta : Intermasa
Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992, tentang Usaha Perasuransian.
Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) Pasal 246 sampai dengan Pasal
308
Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHP) Pasal 1774

13