Está en la página 1de 2

Amplitude Versus Offset

Data Processing
Beberapa line dipilih untuk diukur efek AVO nya. line2 tersebut
sudah terekam antara tahun 1978 sampai 1980 dari lapangan Nilam
dan Badak. data yg terekam sebanyak 96 traces. kualitas data
dapat dikatakan cukup bagus walaupun banyak terdapat noise yang
tinggi. Dalam proses re-processing data seismik tersebut untuk
mengukur perubahan

AVO hampir sama seperti teknik prosesing

pada umumnya, hanya saja perbedaaannya adalah data tersebut


tidak dilakukan CDP stacked.
Flow diagram (figure 15.) tersebut merupakan flow dari
pemrosesan data kecuali trace2 yang telah tersaturasi oleh noise
atau data seismik yang tidak terekam. Pada event tersebut tidak
ada trace-trace seismik yang perlu di edit sehingga dapat dengan
mudah meginterpretasi estimasi amplitudo pada tahap interpretasi
nantinya.
Proses pertama yang dilakukan adalah menghitung koreksi
amplitude pada surface (permukaan) dengan cara yang sama
seperti

perhitungan

residual

statics

(statik

residual).

Koreksi

amplitude tersebut menyeimbangkan antara satu source dengan


source yg lain, dengan kata lain menghilangkan noise-noise yang
ditemukan yang erat hubungannya dengan variasi sumber dan
posisi geophone.
Dari analisis spektral, beberapa filter di aplikasikan pada data
untuk menghapus frekuensi yang dianggap sebagai noise. semua
proses yang dilakukan menggunakan waktu yang sama untuk
mempertahankan amplitudo yang sebenarnya (true amplitude).
Dekonvolusi di aplikasikan untuk mengkompres wavelet yang
terekam dalam durasi waktu yang sempit (minimum). Proses ini juga
bertujuan untuk mempertahankan nilai amplitudo yang sebenarnya
(true amplitude) dimana satu operator
untuk setiap tembakan.

dirancang dan diterapkan

Dari

awal

sudah

dijelaskan

bahwa

datanya

banyak

mengandung noise, sehingga dilakukan filter prediksi error spatial


(spatial error prediction). Hasil yang didapat dari proses tersebut di
gambarkan pada figure 16. dimana noise yang acak teratenuasi dan
menghasilkan suatu respon yang mudah untuk digambarkan dan
memberikan amplitudo yang lebih stabil.
Data tersebut juga sudah di koreksi NMO (normal move out)
dan berbagai macam koreksi lainnya yangg sudah dilakukan di
workstationnya. Kemudian data yang sudah di stack dan di migrasi,
dikaitkan dengan well informationnya (informasi sumur) untuk
memperoleh waktu dan fasenya. Dengan demikian dapat diperoleh
horizonnya dan proses interpretasi dapat dikerjakan.
pada lokasi-lokasi sumur, setiap offset dapat diketahui atau di
"track" yang mana

setiap track, amplitudonya berubah-ubah

dengan offset time slice yang dihasilkan dari perpotongan track


times nya dengan data trace (trace data) nya. Hasil daripada AVO
sendiri memberikan presentasi yang akurat dari adanya perubahan
amplitudo refleksi dengan offset. Efek AVO dapat ditetapkan dari
analisa zona-zona yang ada, korelasi yang kuat dan adanya
keterangan-keterangan dari seismik tersebut.
Tahap paling penting dalam pemrosesan ini adalah kalibrasi
dan koreksi-koreksi. Dan dengan mengasumsikan bahwa efek AVO
tidak

diamati

pada

pasir

yang basah sehingga

memberikan

gambaran yang sama pula dengan yang dhasilkan oleh gas filled
sands.