Está en la página 1de 25

1

Aliran Filsafat Pendidikan Modern


1. Aliran Progresivisme
Adapun tokoh-tokoh aliran progresivisme ini, antara lain, adalah William James, John
Dewey, Hans Vaihinger, Ferdinant Schiller, dan Georges Santayana.
Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progesivisme
dalam sebuah realita kehidupan, agar manusia bisasurvive menghadapi semua tantangan
hidup. Dinamakaninstrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan
intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan dan untuk
mengembangkan kepribadiaan manusia.Dinamakaneksperimentalisme, karena aliran ini
menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Dan
dinamakan environmentalisme, Karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu
memengaruhi pembinaan kepribadiaan (Muhammad Noor Syam, 1987: 228-229)
Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak
didik. Anak didik diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna
mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh
rintangan yang dibuat oleh orang lain (Ali, 1990: 146). Oleh karena itu, filsafat progesivisme
tidak menyetujui pendidikan yang otoriter.
John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi (Suwarno,
1992: 62-63). Maksudnya sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat mengambil kejadiankejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu, dinding pemisah antara
sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup di sekolah
saja.
Dengan demikian, sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya
berintegrasi dengan lingkungan sekitar.Karena sekolah adalah bagian dari masyarakat.Dan
untuk itu, sekolah harus dapat mengupyakan pelestarian karakteristik atau kekhasan
lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Untuk dapat melestarikan
usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat memberikan wawasan
kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau kekhususan daerah itu. Untuk
itulah, fisafat progesivisme menghendaki sis pendidikan dengan bentuk belajar sekolah
sambil berbuat atau learning by doing (Zuhairini, 1991: 24).
Dengan kata lain akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik.
Perlu diketahui pula bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan pengetahuan
(transfer of knowledge), melainkan juga berfungsi sebagai pemindahan nilai-nilai (transfer of
value), sehingga anak menjadi terampildan berintelektual baik secara fisik maupun
psikis.Untuk itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan.
2. Aliran Esensialisme
Esensiliasme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang
memiliki kejelasan dan tahan lama, yang meberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang
mempunyai tata yang jelas (Zuhairini, 1991: 21).
Para esensialis memandang, bawa ilmu pengetahuan mulai dari upaya manusia dalam
memandang realitas melalui bantuan melalui alat panca indra .atas pengunaan pada dasar

indranya, manusia kemudian akan dapat memahami dan mengerti apa yang ia lihat sehingga
melahirkan ide dengan cara membuat realisisai antara fakta dan realitas antara lain adalah
melalui kesadaran jiwa dam memandang fakta tersebut . oleh karena itu adalah sesuatu hal
mustahil ilmu pengetahuan tumbuh dan berkembang jika semata mata berdasarkan hal hal
yang bersifat indrawi saja tanpa mengikut sertakan fungsi akal manusia.
Aliran ini berpendapat , bahwa segala sumber pengetahuan manusia terletak pada
keteraturan lingkungan hidupnya. Kelompok esesialisme memandang bahwa pendidikan
yang didasari pada nilai nilai yang fleksibel dapat menjadikan pendidikan memiliki arah dan
orentasi yang jelas. Oleh Karena itu agar pendidikan memiliki tujuan yag jelas dan kukuh
diperlukan nilai-nilai yang kukuh yang akan mendatangkan stabilan .untuk itu perlu dipilhi
nilai-nilai data yang jelas dan teruji oleh waktu.
Esensialime memberikan penekanan upaya kependidikan dalam penguji ulang materi
materi kurikulum, memberikan pembedaan esensial dan non esesnsial dalam berbagai
program sekolah dan memberikan kembali pengukuhan otoritas pendidik dalam suatu kelas
disekolah. Esensialis percaya bahwa pelaksanaan pendidikan memerlukan modifikasi
penyempurnaan sesuai dengan kondisi manusia yang bersifat dinamis dan selalu
berkembang , namun mengingat pengembangan manusia kan selalu berada dibawah asas
ketetapan tanda kurang, akan pendidikan harus dibina atas dasar nilai-nilai yang kukuh dan
tahan lama agar memberikan kejelasan dan kestabilan arah bangunanya.

3. Aliran Perenialisme
Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses
mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh
baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang (Muhammad
Noor Syam, 1986: 154).Dari pendapat ini diketahui bahwa perenialisme merupakan hasil
pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi sseorang untukk bersikap tegas dan
lurus.Karena itulah, perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah arsah
tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat, khususnya filsafat pendidikan.
Menurut perenialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena
dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi, dengan berpikir
maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip
pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan.
Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan
memahami factor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan
penyelesaian masalahnya.
Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang
menjadi landasan pengembangan disiplin mental.Karya-karya ini merupakan buah pikiran
besar pada masa lampau.Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat
menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu
pengetahuan alam, dan lain-lainnya, yang telah banyak memberikan sumbangan
kepadaperkembangan zaman dulu.

Tugas utama pendidiakn adalah mempersiapkan anak didik kea rah kematangan.Matang
dalam arti hiodup akalnya.Jadi, akl inilah yang perlu mendapat tuntunan kea rah kematangan
tersebut.Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Dengan
pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis, dan berhitung, anak didik
memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Sekolah, sebagai tempat utama dalam pendidikan, mempesiapkan anak didik ke arah
kematangan akal dengan memberikan pengetahuan.Sedangkan tugas utama guru adalah
memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Dengan kata lain,
keberhasilan anak dalam nidang akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang
yang telah mendidik dan mengajarkan.

4. Aliran Rekonstruksionisme
Kata Rekonstruksionisme bersal dari bahasa Inggris reconstruct, yang berarti
menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, rekonstruksionisme merupakan suatu
aliran yang berusaha merombak tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern.Aliran
rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu berawal dari
krisis kebudayaan modern. Menurut Muhammad Noor Syam (1985: 340), kedua aliran
tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempumyai
kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan
tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual
yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan
norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam
pengawasan umat manusia.
Di samping itu, aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa
merupakan suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan
dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak
hanya teori, tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan
kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa
membedakan warna kulit,, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat
bersangkutan.
5. Aliran Progretivisme
Progresivisme secara bahasa artinya aliran yang menginginkan kemajuan-kemajuan
secara cepat .Dalam konteks filsafat pendidikan progresivisme merupakan suatu aliran yang
menekankan bahwa pendidikan bukanlah sekedar upaya pemberian sekumpulan pengetahuan
kepada subjek didik tetapi hendaklah berisi keberagaman aktivitas yang mengarah pada
pelatihan kemampuan berpikir secara menyeluruh,sehingga mereka dapat berpikir secara
sistematis melalui cara-cara ilmiah seperti penyediaan ragam data empiris dan informasi
teoritis, memberikan analisis,pertimbangan,dan pembuatan kesimpulan menuju pemilihan
alternatif yang paling memungkinkan untuk pemecahan masalah yang dihadapi.

Progretivisme beranggapan bahwa kemajuan yang dicapai oleh manusia karena


kemampuan manusia dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan berdasarkan tata
logis dan sistematisasi berpikir ilmiah oleh karena itu tugas pendidikan adalah melatih
kemampuan kemampuan subjek didiknya dalam memecahkan berbagai masalah kehidupan
yang mengarah pada pengembangan ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupannya
dalam masyarakat .Aliran ini memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu ilmu yang
bermanfaat karena pengetahuan adalah sarana bagi kemajuan manusia.
Progretivisme berpendapat bahwa akal manusia bersifat aktif dan selalu ingin mencari
tahu dan meneliti,sehingga ia tidak mudah menerima suatu pandangan atau pendapat sebelum
ia benar-benar membuktikan kebenarannya secara empiris.
Asas pokok aliran ini adalah bahwa manusia selalu tetap survive terhadap semua
tantangan kehidupannya yang secara praktis akan senantiasa mengalami kemajuan. Dengan
asas ini, pendidikan bertujuan untuk membawa pengalamn empiris kepada anak didik
sehingga terbentuk pribadi yang selalu belajar dan berbuat.Pendidik progresif selalu melatih
anak didiknya untuk memecahkan problem- problem yang ada dalam kehidupan.Inti proses
pendidikan pada aliran ini terdapat pada anak didik dalam konsepnya adalah manusia yang
memiliki potensi rasio dan intelektual yang akan berkembang melalui pengkondisian
pendidikan.Anak didik adalah manusia yang aktif, kreatif dan dinamis dalam menghadapi
berbagai problem dalam lingkungannya.

Aksiologi dalam Pandangan Aliran-aliran Filsafat

Aksiologi dalam pandangan aliran filsafat dipengaruhi oleh cara pandang dan pemikiran filsafat
yang dianut oleh masing-masing aliran filsafat, yakni :
1. Pandangan Aksiologi Progresivisme
Tokoh yang berpengaruh dalam aliran ini adalah William James (1842-1910), Hans Vahinger,
Ferdinant Sciller, Georger Santayana, dan Jhon Dewey.[17]Menurut progressivisme, nilai timbul
karena manusia mempunyai bahasa. dengan demikian, adanya pergaulan dalam masyarakat
dapat menimbulkan nilai-nilai. Bahasa adalah sarana ekspresi yang berasal dari dorongan,
kehendak, perasaan, dan kecerdasan dan individu-individu. Dalam hubungan ini kecerdasan
merupakan faktor utama yang mempunyai kedudukan sentral. Kecerdasan adalah faktor yang
dapat mempertahankan adanya hubungan antara manusia dan lingkungannya, baik yang
terwujud sebagai lingkungan fisik maupun kebudayaan atau manusia.
2. Pandangan Aksiologi Essensialisme
Tokoh yang berpengaruh dalam aliran ini adalah Desiderius Erasmus, John Amos Comenius
(1592- 1670), John Locke (1632-1704), John Hendrick Pestalalozzi (1746-1827), John Frederich
Frobel (1782-1852), Johann Fiedirich Herbanrth (1776-1841),dan William T. Horris (1835-1909).
[18] Bagi aliran ini, nilai-nilai berasal dari pandangan-pandangan idealisme dan realisme karena
aliran essensialisme terbina dari dua pandangan tersebut.
a. Teori nilai menurut idealisme
Idealisme berpandangan bahwa hukum-hukum etika adalah hukum kosmos karena itu seseorang
dikatakan baik, jika banyak berinteraksi dalam pelaksanaan hukum-hukum itu. Menurut
idealisme, sikap, tingkah laku, dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas
baik dan buruk. Orang yang berpakaian serba formal seperti dalam upacara atau peristiwa lain
yang membutuhkan suasana tenang haruslah bersikap formal dan teratur. Untuk itu, ekspresi
perasaan yang mencerminkan adanya serba kesungguhan dan kesenangan terhadap pakaian
resmi yang dikenakan dapat menunjukkan keindahan pakaian dan suasana kesungguhan
tersebut.
b. Teori nilai menurut realisme
Menurut realisme, sumber semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan
hidupnya. Realisme memandang bahwa baik dan buruknya keadaan manusia tergantung pada
keturunan dan lingkungannya. Perbuatan seseorang adalah hasil perpaduan antara pembawapembawa fisiologis dan pengaruh-pengaruh lingkungannya. George Santayana memadukan
pandangan idealisme dan realisme dalam suatu sintesa dengan menyatakan bahwa nilai itu
tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian, dan pengalaman
seseorang turut menentukan adanya kualitas tertentu. Walaupun idealisme menjunjung tinggi
asas otoriter atau nilai-nilai, namun tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif menentukan
nilai-nilai itu atas dirinya sendiri.[19]
3. Pandangan Aksiologi Perenialisme
Tokoh utama aliran ini diantaranya Aristoteles (394 SM) St. Thomas Aquinas. Perenialisme
memandang bahwa keadaan sekarang adalah sebagai zaman yang mempunyai kebudayaan yang
terganggu oleh kekacauan, kebingungan dan kesimpangsiuran. Berhubung dengan itu dinilai

sebagai zaman yang membutuhkan usaha untuk mengamankan lapangan moral, intelektual dan
lingkungan sosial dan kultural yang lain.[20] Sedangkan menyangkut nilai aliran ini
memandangnya berdasarkan asas-asas supernatular, yakni menerima universal yang abadi.
Dengan asas seperti itu, tidak hanya ontologi, dan epistemolagi yang didasarkan pada teologi dan
supernatural, tetapi juga aksiologi. Tingkah laku manusia dipengaruhi oleh potensi kebaikan dan
keburukan yang ada pada dirinya. Masalah nilai merupakan hal yang utama dalam perenialisme,
karena ia berdasarkan pada asas supernatural yaitu menerima universal yang abadi, khususnya
tingkah laku manusia. Jadi hakikat manusia terletak pada jiwanya. Oleh karena itulah hakikat
manusia itu juga menentukan hakikat perbuatan-perbuatannya.
4.

Pandangan Aksiologi Rekonslruksionisme

Aliran rekonstruksionalisme adalah aliran yang berusaha merombak kebudayaan modern.


Sejalan dengan pandangan perenialisme yang memandang bahwa keadaan sekarang merupakan
zaman kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan,dan kesimpangsiuran. Aliran
rekonstruksionalisme dalam memecahkan masalah, mengembalikan kebudayaan yang serasi
dalam kehidupan manusia yang memerlukan kerja sama.
Telah dikemukakan pada bagian pendahuluan bahwa ilmu bebas nilai, dan hal tersebut
menyebabkan banyak penilaian terhadap ilmu pengetahuan. Dalam pemamaham seperti maka
keberadaan aksiologi memberi sumbangan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri. Berkaitan
dengan itulah, sumbangan aksiologi sebagaimana dalam berbagai aliran filsafat terhadap ilmu
pengetahuan dapat dikemukakan sebagai berikut[21] :
1. Aliran filsafat progressivisme telah memberikan sumbangan yang besar terhadap ilmu karena
telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan, dan kebebasan kepada anak didik. Oleh karena itu,
filsafat ini tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. Setiap pebelajar mempunyai akal dan
kecerdasan sebagai potensi yang dimilikinya yang berbeda dengan makhluk-makhluk lain.
Potensi tersebut bersifat kreatif dan dinamis untuk memecahkan problema-problema yang
dihadapinya. Oleh karena itu sekolah harus mengupayakan pelestarian karakteristik lingkungan
sekolah atau daerah tempat sekolah itu berada dengan prinsip learning by doing (sekolah sambil
berbuat). Tegasnya, sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of knowledge (pemindahan
pengetahuan), melainkan juga sebagai transfer of value (pendidikan nilai-nilai) sehingga anak
menjadi terampil dan berintelektual.
2. Aliran essensialisme berpandangan bahwa ilmu pengetahuan harus berpijak pada nilai-nilai
budaya yang telah ada sejak awal peradaban manusia. Kebudayaan yang diwariskan kepada kita
telah teruji oleh seluruh zaman, kondisi, dan sejarah. Kesalahan kebudayaan modern sekarang
menurut aliran ini ialah cenderung menyimpang dari nilai-nilai yang diwariskan itu.
Esessialisme memandang bahwa seorang pebelajar memulai proses pencarian ilmu pengetahuan
dengan memahami dirinya sendiri, kemudian bergerak keluar untuk memahami dunia objektif.
Dari mikrokosmos menuju makrokosmos.
3. Aliran perenialisme berpandangan bahwa ilmu pengetahuan sangat dipengaruhi oleh
pandangan tokoh-tokoh seperti Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Menurut Plato manusia
secara kodrati memiliki tiga potensi yaitu nafsu, kemauan, dan pikiran. Karena itu ilmu
pengetahuan hendaknya berorientasi pada potensi itu dan kepada masyarakat, agar kebutuhan
yang ada pada setiap lapisan masyarakat dapat terpenuhi. Sedangkan Aristoteles lebih
menekankan pada dunia kenyataan. Tujuan perolehan ilmu adalah kebahagian untuk mencapai
tujuan itu, maka aspek jasmani, emosi dan intelektual harus dikembangkan secara seimbang.

4. Aliran rekonstruksionisme ingin merombak kebudayaan lama dan membangun kebudayaan


baru melalui lembaga dan proses ilmu pengetahuan melalui pendidikan. Perubahan ini dapat
terwujud bila melalui usaha kerja sama semua umat manusia atau bangsa-bangsa. Masa depan
umat manusia adalah suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis,
bukan dunia yang dikuasai oleh suatu golongan. Cita-cita demokrasi yang sebenarnya bukan
hanya dalam teori melainkan harus menjadi kenyataan, dan terlaksana dalam praktik. Hanya
dengan demikian dapat pula diwujudkan satu dunia yang dengan potensi-potensi teknologi
mampu meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, kemakmuran, keamanan, dan jaminan hukum
bagi masyarakat, tanpa membedakan warna kulit, nasionalitas, kepercayaan, dan agama.
Dengan demikian implikasi dan nilai-nilai (aksiologi) di ilmu pengetahuan harus diintegrasikan
secara utuh dalam kehidupan secara praktis dan tidak dapat dipisahkan dengan nilai-nilai yang
meliputi kecerdasan, nilai-nilai ilmiah, nilai moral, dan nilai agama. Hal ini tersimpul di dalam
tujuan perolehan ilmu pengetahuan yakni membawa kepribadian secara sempurna. Pengertian
sempurna disini ditentukan oleh masing-masing pribadi, masyarakat, bangsa sesuai situasi dan
kondisi.
Jalaluddin dan Abdullah Idi, op. cit., h. 70-71. [12]Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat
Pendidikan (Jakarta: Baya Madya Pratama. 1997), h. 69.
[18]Djuberansyah Indar, Filsafat Pendidikan (Surabaya: Karya Abdi Tama, 1994), h. 136.
[19]Jalaluddin dan Abdullah Idi, op. cit., h. 87.
[20]Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan Pengantar Mengenai Sistem dan Metode. Yogyakarta:
Andi Offset, 1990), h. 15
[21]Uraian-uraian ini dissdur dari Louis O. Kattsof, op. cit., h. 326-343. Abdullah Idi, op. cit., h.
96-98. SahabuddinFilsafat Pendidikan suatu Pengantar kedalam Pemikiran, Pemahaman, dan
Pengamalan Pendidikan Bersendikan Filsafat (Ujung Pandang: Program Pascasarjana IKIP,
1997), h. 191-196.

2 Aliran-aliran Filsafat Pendidikan Modern


A. Aliran progressivisme

1.
2.
3.
4.

Progressivisme dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa


kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan, dan untuk
mengembangkan kepribadian manusia. Dinamakan eksperimentalisme Karena aliran tersebut
menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen, untuk menguji suatu teori. Progressivisme
dinamakan karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan
kepribadian (Noor Syam, 1987: 228-229).
Tokoh-tokoh Progressivisme antara lain :
Wiliam James
John Dewey
Hans Vaihinger
Ferdinant Schiller dan George Santayana
1.

Pandangan Ontologi

Ontologi progresivisme mengandung pengertian dan kualitas evolusionistis yang kuat.


Pengalaman diartikan sebagai ciri dinamika hidup, dan hidup adalah perjuangan, tindakan
dan perbuatan. Manusia akan tetap hidup berkembang, jika ia mampu mengatasi perjuangan,
perubahan dan berani bertindak. Jelaslah, bahwa selain kemajuan atau progres, lingkungan
dan pengalaman mendapatkan perhatian yang cukup dari progresivisme. Sehubungan dengan
ini, menurut progresivisme, ide-ide, teori-teori atau cita-cita tidaklah cukup diakui sebagai
hal-hal yang ada, tetapi yang ada ini haruslah dicari artinya bagi suatu kemajuan atau
maksud-maksud yang lainnya. di samping itu manusia harus dapat memfungsikan jiwanya
untuk membina hidup yang mempunyai banyak persoalan dan yang silih berganti.
2.

Pandangan Epistemologi

Progresivisme
mengadakan
pembedaan
anatara
pengetahuan
dan
kebenaran.Pengetahuan adalah informasi, fakta, hukum prinsif, proses, kebiasaan yang
terakumulasi dalam pribadi sebagai hasil proses interaksi dan pengalaman. Pengetahuan
harus sesuaikan dan dimodifikasi dengan realita baru di dalam lingkungan. Sedangkan
kebenaran adalah kemampuan suatu ide dalam memecahkan masalah.
3.

Pandangan Aksiologi

Nilai timbul karena manusia mempunyai bahasa, sehingga memungkinkan adanya


relevansi seperti yang ada dalam masyarakat pergaulan. Bahasa adalah sarana ekspresi yang
berasal dari dorongan, kehendak, perasaan, kecerdasan dari individu-individu (Barnadib,
1987: 31. 12). Nilai itu benar atau salah, baik atau buruk dapat dikatakan ada apabila
menunjukkan kecocokan dengan hasil pengujian yang dialami manusia dalam pergaulan.
4.

Progressivisme dalam Pendidikan

Progressivisme merupakan aliran filsafat yang terlahir di Amerika Serikat abad ke-20.
John S. Brubacher, mengatakan bahwa filsfat progressivisme bermuara pada aliran filsafat
pragmatisme yang dikenalkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (18591952), yang menitik beratkan pada segi manfaat bagi hidup praktis.
Filsafat progressivisme sama dengan pragmatism karena dipengaruhi oleh ide-ide
dasar filsafat pragmatisma di mana telah memberikan konsep dasar dengan asas yang utama
yaitu manusia dalam hidupnya untuk tetap survive (mempertahankan hidupnya) terhadap
semua tantangan, harus pragmatis memandang sesuatu dari segi manfaatnya.
Filsafat progressivisme tidak mengakui kemutlakan kehidupan, menolak absolutisme
dan otoriterisme dalam segala bentuknya, nilai-nilai yang dianut bersifat dinamis dan selalu
mengalami perubahan, sebagaimana dikembangkan oleh Imanuel Kant, salah seorang
penyumbang pemikir pragmatisme-progressivisme yang meletakkan dasar dengan

penghormatan yang bebas atas martabat manusia dan martabat pribadi (Zuhairini, 1991: 21).
Dengan demkian filsafat progressivisme menjunjung tinggi hak asasi individu dan
menjunjung tinggi akan nilai demokratis. Sehingga progressivisme dianggap sebagai The
Liberal Road of Culture (kebebasan mutlak untuk menuju kearah kebudayaan) maksudnya
nilai-nilai yang dianut bersifat fleksibel terhadap perubahan, toleran dan terbuka (open
minded).
Filsafat progressivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progress (maju)
bertindak secara konstruktif, novatif dan reformatif, aktif serta dinamis. Filsafat
progressivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah manusia, kekuatan yang
diwarisi manusia sejak lahir (mans natural powers). Di sini tersirat bahwa intelegensi
merupakan kemampuan problem solving dalam segala situasi baru atau yang mengandung
masalah.
Aliran filsafat progressivisme menempatkan manusia sebagai makhluk biologis yang
utuh dan menghormati harkat dan martabat manusia sebagai pelaku (subjek) di dalam
hidupnya.
Aliran filsafat progressivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia
pendidikan pada abad ke-20 ini di mana telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan
kebebasan kepada anak didik. Filsafat progressivisme tidak menyetujui pendidikan yang
otoriter. Sebab pendidikan otoriter akan mematikan tunas-tunas para pelajar untuk hidup
sebagai pribadi-pribadi yang gembira menghadapi pelajaran. Dan sekaligus mematikan daya
kreasi baik secara fisik maupun psikis anak didik.
Filsafat progressivisme memandang tentang kebudayaan bahwa budaya sebagai hasil
budi manusia, dikenal sepanjang sejarah sebagai milik manusia yang tidak beku, melainkan
selalu berkembang dan berubah. Maka pendidikan sebagai usaha manusia yang merupakan
refleksi dari kebudayaan itu haruslah sejiwa dengan kebudayaan itu (Barnadib, 1992: 24).
Pendidikan sebagai alat untuk memproses dan merekonstruksi kebudayaan baru
haruslah dapat menciptakan situasi yang edukatif yang pada akhirnya akan dapat memberikan
warna dan corak dari output (keluaran) yang dihasilkan sehingga keluaran yang dihasilkan
(anak didik) adalah manusia-manusia yang berkualitas unggul, berkompetitif, inisiatif,
adaptip dan kreatif sanggupmenjawab tantangan zamannya.
Untuk itu sangat diperlukan kurikulum yang berpusat pada pengalaman atau
kurikulum eksperimental, yaitu kurikulum yang berpusat pada pengalaman, di mana apa yang
telah diperoleh anak didik selama di sekolah akan dapat diterapkan dalam kehidupan
nyatanya. Dengan metode pendidikan Belajar Sambil Berbuat (Learning by doing) dan
pemecahan masalah (Problem Solving) dengan langkah-langkah menghadapi prolem,
mengajukan hipotesa (Suwarto, 1992: 123).
Dengan berpijak dari pandangan di atas maka sangat jelas sekali bahwa filsafat
progressivisme bermaksud menjadikan anak didik yang memiliki kualitas dan terus maju
sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru.
a. Asas Belajar
Pandangan mengenai belajar, filsafat progressivisme mempunyai konsep bahwa anak
didik mempunyai akal dan kecerdasaan sebagai potensi yang merupakan suatu kelebihan
dibandingkan dengan mahluk lain. Kelebihan ini merupakan bekal untuk menghadapi dan
memecahkan problema-problemanya.
Pendidikan sebagai wahana yang paling efektif dalam melaksanakan proses
pendidikan tentulah berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik sebagai manusia yang
berkembang. John Dewey memandang bahwa pendidikan sebagai proses dan sosialisasi

1.
2.
3.
4.
5.

b.

(Suwarno, 1992: 62-63). Maka dari itu dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu
dihapuskan, sebab belajar yang baik tidak cukup disekolah saja.
Jadi sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi pendidikannya berinteraksi dengan
lingkungan sekitar. Untuk itulah filsafat progressivisme menghendaki isi pendidikan dengan
bentuk belajar sekolah sambil berbuat atau learning by doing(Zuhairini, 1991: 24)
Perlu diketahui bahwa sekolah bukan hanya berfungsi sebagai transfer of
knowledge (pemindahan pengetahuan) akan tetapi sekolah juga berfungsi sebagai transfer of
value atau pemindahan nilai-nilai, sehingga anak menjadi terampil dan berintelektual baik
secara fisik maupun psikis. John Locke (1632 1704) mengemukakan, bahwa sekolah
hendaknya ditujukan untuk kepentingan pendidikan anak. Sekolah dan pengajaran hendaknya
disesuaikan dengan kepentingan anak (Suparlan 1984: 48). Kemudian Jean Jacques Rosseau
(1712-1778), mengatakan anak harus di didik sesuai dengan alamnya, jangan dipandang dari
sudut orang dewasa. Anak bukan miniatur orang dewasa, tetapi anak adalah anak dengan
dengan dunianya sendiri, yaitu berlainan sekali dengan alam orang dewasa (Ahmadi, 1992:
34-35).
Disamping itu, anak didik harus diberi kemerdekaan dan kebebasan untuk bersikap dan
berbuat sesuai dengan cara dan kemampuannya masing-masing dalam upaya meningkatkan
kecerdasan dan daya kreasi anak.
John Dewey ingin mengubah hambatan dalam demokrasi pendidikan dengan jalan:
Memberi kesempatan murid untuk belajar perorangan.
Memberi kesempatan murid untuk belajar melalui prngalaman.
Memberi motivasi, dan bukan perintah. Ini berarti akan memberikan tujuan yang dapat
menjelaskan kea rah kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan pokok anak didik.
Mengikutsertakan murid di dalam setiap aspek kegiatan belajar yang merupakan kebutuhan
pokok anak.
Menyadarkan murid bahwa hidup itu dinamis.
Imam Barnadib dalam Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode, mengemukakan:
progresivisme menghendaki pendidikan yang progersif. Tujuan pendidikan hendaklah
diartikan sebagai rekonstruksi pengalaman yang terus menerus.
Dari uraian di atas, dapatlah diambil suatu konklusi asas progressivisme dalam belajar
bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil, tetapi manusia seutuhnya
yang mempunyai potensi untuk berkembang, setiap anak didik berbeda kemampuannya,
individu atau anak didik adalah insan yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya
motivasi untuk memenuhi kebutuhannya.
Pandangan Kurikulum Progessivisme
Menurut Iskandar Wiryokusumo dan Usman Mulyadi, sekolah yang baik itu adalah
sekolah yang dapat member jaminan para siswanya selama belajar, maksudnya yaitu sekolah
harus mampu membantu dan menolong siswanya untuk tumbuh dan berkembang serta
member keleluasaan tempat untuk para siswanya dalam mengembangkan bakat dan minatnya
melalui bimbingan guru dan tanggung jawab kepala sekolah. Kurikulum dikatakan baik
apabila bersifat fleksibel dan eksperimental (pengalaman) dan memiliki keuntungankeuntungan diperiksa setiap saat (Iskandar & Usman, 1988: 68).
Pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan anggapan bahwa sekolah dipercaya oleh
masyarakat untuk membantu perkembangan pribadi anak. Jadi kurikulum itu bisa diubah dan
dibentuk sesuai dengan zamannya. Karena itu kurikulum harus dapat mewadahi aspirasi
anak, orang tua serta masyarakat. Maka kurikulum yang edukatif dan eksperimental dapat

memenuhi tuntutan itu. Sifat kurikulumnya adalah kurukulum yang dapat direvisi dan
jenisnya yang memadai, yaitu yang bersifat eksperimental atau tipeCore Curriculum.
Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental didasarkan
atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi didalam lingkungan yang komplek.Dengan
adanya mata pelajaran yang terintergrasi dalam unit, diharapkan anak dapat berkembang
secara fisik maupun dan dapat menjangkau aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (18591951) dan dikembangkan oleh W.H Kilpatrick. John Dewey telah mengemukakan dan
memerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan, melakukan pembaharuan
atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional dimana adanya verrbalisme pendidikan.
Pengajaran program unit akan meniadakan batas-batas antara pelajaran yang satu
dengan pelajaran yang lain dan akan lebih menumpuk semangat demokrasi pendidikan
(Suparlan, 1988: 143).
W.H Kilpatrick dalam Arifien (1987:93) mengatakan, suatu kurikulum yang dianggap
baik didasarkan atas tiga prinsip:
1. Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang.
2. Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam duatu kehidupan yang bulat
dan menyeluruh.
3. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai uji coba atas keberhasilan sekolah
sehingga anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk aktif
memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan, dan dalam hal ini apa saja yang ingin
berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melaui pertimbangan
yang matang.
c. Pandangan Progressivisme Tentang Budaya
Filsafat progressivisme menganggap bahwa pendidikan telah mampu merubah dan
membina manusia untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kultural dan
tantangan zaman ,sekaligus menolong manusia menghadapi transisi antara zaman tradisional
untuk memasuki zaman modern (progresif).
Dengan sifatnya yang kreatif dan dinamis manusia terus berevolusi meningkatkan
kualitas hidup yang terus maju.Dengan sifatnya yang iddle curiousity (rasa keingintahuan
yang terus berkembang) makin lama daya rasa,cipta dan karsanya telah dapat mengubah alam
menjadi sesuatu yang berguna.
Filsafat progressivisme yang memiliki konsep manusia memiliki kemampuankemampuan yang dapat memecahkan problematika hidupnya,telah mempengaruhi
pendidikan,di mana dengan pembaharuan-pembaharuan pendidikan telah dapat
mempengaruhi manusia untuk maju (progress).
B. Aliran Essensialisme

Essensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang


telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Essensialisme muncul pada zaman Renaisance
dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progressivisme. Perbedaannya yang utama ialah
dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas,di mana serta
terbuka untuk perubahan,toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu.
Idealisme dan realisme adalaah aliran filsafat yang membentuk corak
essensialisme.Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsepkonsep pikir yang disebut essensialisme,karena itu timbul pada zaman itu,essensialisme
adalah konsep meletakkan sebagai ciri alam pikir modern. Realisme modern,yang menjadi
salah satu eksponen essensialisme,titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan dunia

fisik,sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain,pandangan-pandangannya


bersifat spiritual.
Idealisme modern mempunyai pandangan bahwa realita adalah sama dengan substansi
gagasan-gagasan (ide-ide).Dibalik dunia fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu
Tuhan,yang merupakan pencipta adanya kosmos.Manusia sebagai makhluk yang berpikir
berada dalam lingkungan kekuasaan Tuhan.
Menurut pandangan ini bahwa idealisme modern merupakan suatu ide-ide atau
gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk yang berpikir,dan semua ide yang dihasilkan diuji
dengan sumber yang ada pada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu yang ada dibumi dan
dilangit,setrta segala isinya.
1.

Pandangan Ontologi Essensialisme

Sifat yang menonjol dari ontologi essensialisme adalah suatu konsep bahwa dunia ini
dikuasai oleh tata yang tiada cela,yang mengatur isinya dengan tiada cela pula.
Tujuan umum aliran essensialisme adalah membentuk pribadi bahagia di dunia dan
akhirat.Maka dalam sejarah perkembangannya,kurikulum essensialisme menerapkan berbagai
pola idealisme,realisme dan sebagainya.
Ciri menganai penafsiran idealisme tentang sistem dunia tersimpul dalam pengertianpengertian makrokosmos dan mikrokosmos.Makrokosmos merujuk kepada keseluruhan alam
semesta dalam arti susunan dan kesatuan kosmis.Mikrokosmos menunjuk kepada fakta
tunggal pada tingkat manusia.
2.

1.

2.
a.
b.

c.
3.
a.
b.

Pandangan Epistemologi Essensialisme

Teori kepribadian manusia sebagai refleksi Tuhan adalah jalan untuk mengerti
epistemologi essensialisme.
Kontraversi Jasmaniah Rohaniah
Perbedaan idealisme realisme adalah karena yang pertama menganggap bahwa rohani
adalah kunci kesadaran tentang realita.Bagi sebagian penganut realisme,pikiran itu adalah
jasmaniah sifatnya yang tunduk kepada hukum-hukum phisis.
Konsekuensinya kedua unsur rohani dan jasmani adalah realita kepribadian
manusia.Untuk mengerti manusia,baik filosofis maupun ilmiah haruslah melalui hal tersebut
dan pendekatan rangkap yang sesuai dalam pelaksanaan pendidikan.
Pendekatan (Approach) Idealisme pada Pengtahuan
Kita hanya mengerti rohani kita sendiri,tetapi pengertian ini memberi kesadaran untuk
mengerti realita yang lain.Sebab kesadaran kita,rasio manusia adalah bagian dari pada rasio
Tuhan yang maha sempurna.
Menurut T.H Green,approach personalisme itu hanya melalui introspeksi.Padahal manusia
tidak mungkin mengetahui sesuatu hanya dengan kesadaran jiwa tanpa adanya
pengamatan.Karena itu setiap pengalaman mental pasti melalui refleksi antara macam-macam
pengamalan.
Dalam filsafat religious yang modern,ada teori mengatakan bahwa apa yang dimengerti
tentang sesuatu adalah karena resonansi pengertian Tuhan.
Pendekatan (Approach) Realisme pada Pengetahuan
Terdapat beberapa pendekatan realisme pada pengetahuan,yakni :
Menurut Teori Asosiasionisme
Teori ilmu jiwa asosiasi dipengaruhi oleh filsafat empirisme John Locke.Pikiran atau ide-ide
serta isi jiwa adalah asosiasi unsur-unsur penginderaan dan Pengamatan.
Menurut Teori Behaviorisme
Aliran ini berkwsimpulan bahwa perwujudan kehidupan mental tercermin pada tingkah
laku,sebab manusia sebagai suatu organisme adalah totalitas mekanisme biologis.Menurut

a.

4.
a.
b.

Behaviorisme,masalah pengetahuan (yang dapat ditanggap manusia) tidak dapat dipisahkan


dari proses penanaman kondisi.
Menurut Teori Koneksionisme
Teori ini menyatakan semua makhluk,termasuk manusia terbentuk (tingkah lakunya) oleh
pola-pola connections between (hubungan-hubungan antara) stimulus dan respon.Di samping
koneksionisme dapat meletakkan pandangan yang lebih meningkat dari assosianisme dan
behaviorisme juga menunjukkan bahwa dalam hal belajar perasaan yang dimiliki oleh
manusia mempunyai peranan terhadap berhasil tidaknya belajar yang dilakukan.
Tipe Epistimologi Realisme
Terdapat beberapa tipe epistemologi realisme.Di Amerika ada dua tipe yang utama, yaitu:
Neoralisme
Secara psikologi neoralisme lebih erat dengan behaviorisme.Baginya pengetahuan
diterima,ditanggap langsung oleh pikiran dunia realita.
Cretical Realisme
Aliran ini menyatakan bahwa media antara intelek dengan realita adalah seberkas
penginderaan dan pengamatan.
3.

Pandangan Aksiologi Essensialisme

Pandangan ontology dan epitemologi sangat mempengaruhi aksiologi. Bagi aliran ini,
nilai-nilai berasal, tergatung pada pandangan-pandangan idealism dan realism sebab
essensialisme terbina oleh kedua syarat tersebut.
1. Teori Nilai Menurut Idealisme
Penganut idealisme berpegang bahwa hokum-hukum etika adalah hokum kosmos,
karena itu seseorang dikataka baik jika banyak interaktif berada di dalam dan melaksanakan
hukum-hukum itu. Menurut idealism bahwa sikap, tingkah laku dan ekspresi perasaan juga
mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk.
George Santayana memadukan antara aliran idealism dan aliran realism dalam suatu
sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal,
karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang turut menentukan adanya kualitas
tertentu. Walaupun idealism menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai, namun juga tetap
mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri.
2. Teori Nilai Menurut Realisme
Prinsip sederhana realisme tentang etika ialah melalui asas ontology bahwa sumber
semua pengetahuan manusia terletak pada keteraturan lingkungan hidupnya. Dapat dikatakan
bahwa mengenai masalah baik-buruk khususnya dan keadaan manusa pada umumnya,
realisme bersandarkan atas keturunan dan lingkungan.
4.

Pandangan Essensialisme Mengenai Belajar

Pandangan Immanuel Kant, bahwa segala pengetahuan yang dicapai manusia melalui
indera memerlukan unsure apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.
Dengan mengambil landasan piker tersebut, belajar dapat di definisikan sebagai jiwa
yang berkembang pada sendirinya sebagai substansi spiritual .
Seorang filosuf dan ahli sosiologi yang bernama Roose L. Finney menerangkan
tentang hakikat sosial dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah rohani yang pasif,
yang berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja yang telah tertentu yang
diatur oleh alam. Dengan demikian pandangan-pandangan realisme mencerminkan adanya
dua jenis determinasi mutlak dan determinasi terbatas.

5.

1.
2.
3.
4.

Pandangan Essensialisme Mengenai Kurikulum

Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal


pada landasan idiil dan orgaisasi yang kuat. Bersumber atas pandangan ini kegiatan-kegiatan
pendidikan dilakukan. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditunjukan kepada
yang serba baik. Atas ketentuan ini kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang,
asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen yang telah ditentukan.
Kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian :
Universum
Sivilisasi
Kebudayaan
Kepribadian
Robert Ulieh berpendapat bahwa meskipun apda hakikatnya kurikulum disusun secara
fleksibel karena perlu mendasarkan atas pribadi anak,fleksibilitas tidak tepat diterapkan pada
pemahaman mengenai agama dan alam semesta. Untuk ini perlu diadakan perencanaan
dengan keseksamaan dan kepastian.
Realisme mengumpamakan kurikulum sebagai balok-balok yang disusun dengan
teratur satu sama lain yaitu disusun dari paling sederhana sampai kepada yang paling
kompleks. Susunan ini dapat diutarakan ibarat sebagai susunan dari alam, yang sederhana
merupakan fundamen atau dasar dari susunanya yang paling kompleks. Jadi bila kurikulum
disusun atas dasar pikiran yang demikian akan bersifat harmonis.
C. Aliran Perennialisme

Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang


kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan
krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada
kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya.
Dikatan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali pada masa
lampau,karena kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme
karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan
sekarang.Perenialisme merupaka aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan,
dimana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberika kemungkinan bagi seseorag
untuk bersikap yang tegas dan lurus.
Filsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya philosophia perenis. Pendiri utama
dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles, kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. Thomas
Aquinas. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno
dan abad pertengahan perlu dijadika dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman
sekarang.
Jadi sikap untuk kembali kemasa lampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di
mana pendidika yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan
keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang.
1.

Pandangan Ontologi Perennialisme

Ontopologi perennialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda


individual, esensi, aksiden, dan substansi. Perennialisma membedakan suatu realita dalam
aspek-aspek perwujudannya. Benda individual disini adalah benda sebagaimana Nampak

dihadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indera. Esesnsi dari suatu kualitas yang
menjadikan atau menyebabkan benda itu lebih intrinsik dari pada halnya. Adapun aksiden
adalah keadaan-keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan yang sifatnya kurang penting
dibandingkan dengan esensial. Sedangkan substansi adalah kesatuan dari tiap-tiap individu.
Segala yang ada di ala mini sperti halnya manusia, batu bangunan dasar, hewan, tumbuhtumbuhan dan sebagainya merupakan hal yang logis dalam karakternya.
I.R Poedjawijatna mengatakan bahwa esensi dari pada kenyataan itu adalah menuju
kea rah aktualitas, sehingga makin lama makin jauh dari potensialitasnya. Jadi, dengan
demikian bahwa segala yang ada di ala mini terdiri dari materi dan bentuk atau badan dan
jiwa yang disebut dengan substansi, bila dihubungkan dengan manusia maka manusia itu
adalah potensialita yang di dalam hidupnya tidak jarang dikuasai oleh sifat eksistensi
keduniaan, tidak jarang pula dimilikinya akal, perasaan dan kemauannya semua ini dapat
diatasi.

2.

Pandangan Epistemologis perennialisme

Perenialisme berpendapat bahwa segala sesuatu yang dapat diketahui dan


merupakan kenyataan adalah apa yang terlindung pada kepercayaan. Kebenaran adalah
sesuatu yang menunjukkan kesesuaian antara piker dengan benda-benda. Pengetahuan
merupakan hal yang sangat penting karena ia merupakan pengolahan akal pikiran yang
konsekuen.
Menurut perenialisme filsafat yang tertinggi adalah ilmu metafisika.
Sebabscience sebagai ilmu pengetahuan menggunakan metode induktif yang bersifat analisa
empiris kebenarannya terbatas, relative atau kebenaran probability. Ilmu pengetahuan
merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah
seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Menurut perenialisme
penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang
untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Dengan demikian ia telah mampu
mengembangkan suatu paham.
Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mapu mengenal dan
mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Dengan
mengetahui tulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal, yang sesuai dengan
bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni :
1. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh
orang-orang besar.
2. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karya-karya tokoh tersebut untuk diri
sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.
Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik kea rah kemasakan.
Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik kea rah
kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. Keberhasialn anak dalam
akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan
mengajarkan.
Robert Hutehkins mengatakan bahwa manusia itu pada hakikatnya sama, maka
perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang, ini disebut pendidikan
umum (general education). Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin
perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu, diharapkan tiap individu itu terbentuk atas dasar
landasan kejiwaan yang sama.

3.

Pandangan Aksiologi Perennialisme

Perenialisme memandang masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural, yakni


menerima universal yang abadi. Masalah nilai itu merupakan hal yang utama dalam
perenialisme, karena ia berdasarkan pada azas-azas supernatural yaitu menerima universal
yang abadi, khususnya tingkah laku manusia.
Dalam bidang pendidikan perennialisme sangat dipengaruhi oleh tokoh-tokohnya,
sperti Plato, aristoteles dan Thomas Aquinas. Menurut Plato, manusia secara kodrat memiliki
btiga potensi yaitu nafsu, kemauan dan pikiran. Dengan de4mikian jelaslah bahwa
perenialisme itu menghendaki agar pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang
mempunyai nafsu, kemauan dan pikiran sebagaimana yang dimiliki secara kodrat. Ide-ide
Plato ini kemudian dikembangkan oleh aristoteles dengan lebih mendekatkan kepada dunia
kenyataan. Bagi Aristoteles tujuan pendidikan adalah kebahagiaan. Untuk mencapai
pendidikan itu, maka aspek jasmani, emosi dan intelek harus dikembangkan secara seimbang.
Dapatlah disimpulkan bahwa tujuan dari pada pendidikan yang hendak dicapai oleh
para ahli tersebut di atas adalah untuk mewujudkan agar anak didik dapat hidup bahagia demi
kebaikan hidupnya sendiri. Jadi dengan akalnya dikembangkan maka dapat mempertinggi
kemampuan akal pikirannya. Dari prinsip-prinsip pendidikan perenialisme tersebut naka
perkembangannya telah mempengaruhi system pendidikan modern, sperti pembagian
kurikulum untuk sekolah dasar, menengah, perguruan tinggi dan pendidikan orang dewasa.
D. Aliran Rekonstruksionisme

Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggris rekonstruct yang berarti menyusun


kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran
yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan
yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme sepaham dengan aliran perennialisme.
Walaupun demikian prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama
dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perennialisme. Keduanya mempunyai misi dan cara
yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang
serasi dalam kehidupan. Aliaran perennialisme memilih cara tersendiri, yakni dengan kembali
ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture yang mereka anggap
paling ideal. Sementara itu aliran rekonstruksionisme menempuh dengan jalan berupaya
membina suatu konsensus yang paling luas dan menganai tujuan pokok dan tertinggi dalam
kehidupan manusia (Depag RI, 1984: 31)
Untuk mencapai tujuan tersebut, rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan
antar sesama manusia atau orang, yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam
suatu tatanan dan seluruh lingkunganya. Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa
tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya
pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia
melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang besar pula demi generasi sekarang
dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia yang baru dalam pengawasan umat
manusia.
Aliaran ini juga memiliki persipsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu
dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai
oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sungguh bukan hanya teori tetapi mesti
menjadi kenyataan, sehinnga dapat diujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi,
maupun meningkatkan khualitas keshatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan
masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama(kepercayaan),
dan masyarakat bersangkutan.

1.

Pandangan Ontologi

Dengan ontologi, dapat diterangakan tentang bagaimana hakikat dari segala sesuatu.
Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa relita itu bersifat unuversal yang mana relita
itu ada dimana dan sama disetiap tempat. Untuk mengerti suatu realita beranjak dari suatu
yang konkrit sebagimana yang kita lihat dihadapan kita dan ditangkap oleh panca indra
manusia dan realita yang kita ketahui tidak terlepas dari suatu sistem, selain substansi yang
dipunyai dan tiap-tiap benda tersebut, dan dapat dipilih melalui akal pikiran.
Pada prinsipnya aliaran rekonstruksionisme memandang alam metefisika merujuk
dualisme, aliaran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam hakikat
sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan hakikat rohani. Kedua macam hakikat itu
memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri dan hubungan keduanya menciptakan suatu
kehidupan dalam alam. Dibalik gerak realita sesungguhnya terdapat kualitas sebagi
pendorong dan merupakan penyebab utama atas kuasa prima. Kuasa prima, dalam konteks ini
ialah tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. Tuhan adalah aktualisasi murni yang
sama sekali sunyi dan substansi.
2.

Pandangan Epistemologi

Kajian Epistemologi aliran ini lebih merujuk pada pendapat aliran pragmatisme dan
perennialisme. Berpijak dari pola pemikiran bahwa untuk memahami realita alam nyata
memerlukan suatu asas tahu dalam arti bahwa tidak mungkin memahami realita terlebih
dahulu melalui penemuan suatu pintu gerbang ilmu pengetahuan. Karena baik indera
maupun rasio sama-sama berfungsi membentuk pengetahuan, dan akal dibawa oleh panca
indera menjadi pengetahuan dalam yang sesungguhnya.
Aliran ini juga berpendapat bahwa dasar suatu kebenaran dapat dibuktikan dengan
bukti yang ada pada diri sendiri, realita dan eksestensinya. Kajian tentang kebenaran itu
diperlukan suatu pemikiran, metode yang diperlukan guna menuntun agar sampai kepada
pemikiran yang hakiki. Pandangan ilmu dan filasafat tetap diakui urgensinya, dikarenakan
analisa emperis dan analisa antologis dapat dianggap komentil, tetapi filsafat tetap dapat
berdiri sendiri dan ditentukan oleh hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung
pada ilmu pengetahuan. Namun demikian, meskipun filsafat ilmu berkembang ke arah yang
lebih sempurna, tetap disetujui bahwa kedudukan filsafat lebih tinggi dibandingkan ilmu
pengetahuan.
3.

Pandangan Akiologis

Dalam proses interaksi sesama manusia, diperlukan nilai-nilai. Begitu juga halnya
dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan alam semesta tidak mungkin melakukan
sikap netral, akan tetapi manusia sadar ataupun tidak sadar telah melakukan proses penilaian.
Barnadib (1992:69) mengungkapkan bahwa aliran rekontruksionisme memandang
masalah nilai berdasarkan azas-azas supernatural yakni menerima nilai natural universal,
yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Hakikat manusia adalah emanasi (pancaran)
yang pontesial yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan atas dasar inilah tinjauan tentang
kebenaran dan keburukan dapat diketahuinya. Kemudian manusia sebagai subjek telah
memiliki potensi-potensi kebaikan dan keburukan sesuai dengan khodratnya. Kebaikan itu
akan tetap tinggi nilainya bila tidak dikuasai oleh hawa nafsu belaka, karena itu akal
mempunyai peranan untuk memberi penentuan.
Neo-Thomisme memandang bahwa etika, estetika dan politik sebagai cabang dari
filsafat praktis, dalam pengertian tetap berhubungan dan berdasarkan pada prinsip-prinsip
dari praktik-praktik dalam tindakan-tindakan moral, kreasi estetika dan organisasi politik.
Aristoteles memandang bahwa kebajikan dibedakan menjadi dua macam, yakni kebajikan

intelektual dan kebajikan moral, kebajikan moral merupakan suatu kebajikan bersdasarkan
pembiasaan dan merupakan dasar dari kebijakan intelektual.
DAFTAR PUSTAKA
M. Noor Syam. 1987. Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila.
Surabaya: Usaha Nasional.
Sadulloh, Uyoh. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabet
Djumransyah, H. M. 2004. Pengantar Filsafat Pendidikan. Malang: Bayu Media Publishing

Aksiologi pendidikan juga berkaitan dengan aliran-aliran pendidikan yang terus


berkembang. Diantara aliran-aliran pendidikan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Positivisme
Positivime dibangun oleh August Comte (1798-1857 M) yang titik tolak ajarannya
adalah tanggapannya atas perkembangan pengetahuan manusia, baik perseorangan maupun
umat manusia secara keseluruhan, melalui tiga zaman ini merupakan hokum yang tetap.
Ketiga zaman tersebut adalah zaman teologis, zaman metafisis, dan zaman ilmiah atau
positif.
Menurut positivism, pendidikan bertujuan agar masyarakat menyadari bahwa
kebenaran harus ditandai oleh sesuatu yang empiris, realities, dan indriawi. Jika pendidikan
hanya mengandalkan idealisme, hal tersebut sama dengan menghasilkan hayalan belaka.
Paradigma positivisme sangat digandrungi di dunia Barat. Oleh karena itu, menurut
paradigma Barat,kebenartan merupakan hal yang bersifat empiris, indriawi, dan konsistensi.
Kebenaran tidak akan ditemukan dalam agama atau berbagai pendekatan teologis karena
masa teologis merupakan masa kebodohan yang akan membuat masyarakat selamanya
terbelakang. Oleh sebab itu, dalam pandangan barat, pendidikan yang diberikan kepada
masyarakat harus merupakan pendidikan yang berujung pada penemuan kebenaran
positivistic dan bermanfaat bagi manusia. Manusia adalah dewa bagi manusia itu sendiri
2. Renaisans
Istilah renaisan berasal dari bahasa Perancis, berarti kebangkitan kembali. Para
sejarawan menggunakan istilah tersebut untuk menunjukan berbagai periode kebangkitan
intelektual, khususnya di Eropa. Orang yang pertama menggunakan istilah tersebut adalah
Jules Michelet, sejarawan perancis terkenal menurutnya, renaisan periode penemuan manusia
dan dunia bukan sekedar sebagai kebangkitan kembali yang merupakan permulaan
kebangkitan modern. Apabila dikaitkan dengan keadaan, renaisan adalah masa antara zaman
pertengahan dan zaman modern yang dapat dipandang sebagai masa peralihan. M,asa ini
ditandai dengan terjadinya sejumlah kekacauan dalam bidang pemikiran. Pada satu pihak,
terdapat astrologi kepercayaan yang bersangkutan dengan dunia hitam,perang agama,dan
sebagainya,dan pada pihak lain, muncul ilmu pengetahuan alam modern serta mulai
berpengaruhnya sesuatu perasaan hidup baru. Saat itu, munculah usaha-usaha penelitian
empiris yang lebih giat yang pada akhirnya memunculkan sains bentuk baru.
Ciri utama renaisan adalah humanisme, individualisme, terlepas dari agama (tidak
ingin diatur oleh agama), emprisme, dan rasionalisme. Hasil yang diperoleh dari watak
tersebut adalah berkembangnya pengetahuan rasional. Filsafat berkembang bukan pada
zaman renaisan, melainkan pada zaman sesudahnya ( zaman modern). Sains berkembang

karena semangat dan hasil empirisme.agama (Kristen) semakin ditinggalkan karena semangat
humanism ini kelihatan dengan jelas pada zaman modern, rupanya setiap gerakan pemikiran
mempunyai kecenderungan menghasilkan positive, tetapi sekaligus yang negative.
3. Humanisme
Menurut Ali Syariati, berkaitan dengan eksistensi manusia, bagian dari aliran filsafat
yang menyatakan bahwa tujuan poko dari segala sesuatu adalah demi kesempurnaan manusia.
Aliran ini memandang bahwa manusia adalah makhluk mulia yang semua kebutuhan poko
diperuntukan untuk memperbaiki sepesiesnya,
Ada 4 aliran yang mengklaim sebagai bagian dari humanism, yaitu: (1) liberalism
Barat; (2) markisme; (3) eksistensialisme, dan (4) agama. Liberalisme Barat menyatakan diri
sebagai pewaris asli filsafat dan peradaban humanism dalam sejarah, dan itu dipandangnya
sebakgai aliran pemikiran peradaban yang dimulai dari Yunani Kuno dan mencapai puncak
kematangan kesempurnaan relatifnya pada Eropa Moderen.
Humanisme Yunani berusaha untuk mencapai jati didri manusia dengan seluruh
kebenciannya kepada Tuhan dan pengingkaranya atas kekuasaan-nya, serta memutuskan tali
perhambaan manusia dengan lang\it, ketika ia menjadikan manusia sebagai penentu benar
atau tidak nya suatu perbuatan, dan menentukan bahwa segala potensi keindahan terletak
pada tubuh manusia. Humanisme Yunani hanya memerhatikan unsur-unsur yang
mengagungkan keindahan kekuasaan atau kenikmatan bagi manusia.
Dalam humanisme, manusia adalah sebagai berikut.
1. Makhluk asli, artinya mempunyai substansi yang mandiri diantara makhluk-mahkluk yang
mempunya wujud fisik dan yang gaib, dan mempunyai esensi genera yang mulia (essence
generique)
2. Makhluk yang memiliki kehendak bebas, dan ini merupakan kekuatan paling besar yang luar
biasa dan tidak bias ditafsirkan-suatu irada dengan pengertian bahwa manusia sebagai sebab
awal yang mandiri.
3. Makhluk yang sadar (berfikir) merupakan karakterristik menonjolnya, yaitu sadar dalam
pengertian bahwa manusia memahami realitas alam luar dengan kekuatan berpikir-nya
yang menajubkan dan merupakan suatu mukjizat .
4. Manusia tidak pernah menjadi seuatu yang lain, kecuali seonggok daging yang tidak berarti,
dan sekedar viru kecil sudah cukup untuk mematikanya.

5. Makhluk yang sadar akan dirinya sendiri. Artinya, dia adalah makhluk hidup satu-satunya
yang memiliki pengetahuan budaya dan nisbat dengan dirinya.
6. Manusia kreatif. Kreatifitas yang menyatu denga perbuatannya ini, menyebabkan manusia
mampu memjadikan dirinya sebagai makhluk sempurna di depan alam dan di hadapan Tuhan.
7. Makhluk yang mempunyai cita-cita dan merindukan sesuatu yang ideal,dalam arti dia tidak
akan menyerah dan menerima apa yang ada, tetapi selalu berusaha mengubahnya menjadi
apa yang semestinya.
8. Mahkluk moral dan bernilai. Nilai-nilai adalah ungkapan tentang hubungan manusia dengan
salah satu fenomena, cara ,kerja, atau kondisi,yang didalamnya terdapat motif yang lebih
luhur dari pada keuntunngan (utilite).
Humanisme telah membawa dunia pendidikan Barat pada tujuan utamanya, yaitu
memanusiakan. Manusia adalah tujuan sentral dalam pendidikan. Materialism, eteisme,
liberalism, dan naturalism sebagai bagian yang sama-sama menegaskan bahwa
pendidkan,ilmu pengetahuan, dan teknologi dikembangkan hanyalah untuk memberikan
kemulyaan pada jatin diri manusia.
4. Naturalisme
Kata nature atau alam yang dipakai dalam filsafat, bukan hanya terbatas pada alam
lautan,gunung,dan kehidupan liar, melainkan tercakup di dalamnya astronomi yang
mencakup bagian-bagian yang luas dari ruang dan waktu,dari fisika dan kimia seta
analaisisnya yang bersifat atom dan subatom.
Tujuan pendidikan Barat yang berpegang pada naturalisme menegaskan bahwa
manusia adalah bagian dari alam, bukan segala-galanya. Oleh sebab itu pendidika harus
ditujukan pada kepentingan alam, termsuk kepentingan manusia, tetapi manusia harus
berusaha agar dunia pendidikan yang dikembangkan ditujukan untuk melestarikan alam.
5. Materialisme
Istilah materialism didefinisikan dengan beberapa cara.Pertama,materialism adalah
teori yang mengatakan bahwa atom materi yang berada sendiri dan bergerak merupakan
unsur-unsur yang membentuk alam, akar, dan kesadaran (consciousness),termasuk segala
proses fisikalnya merupakan mode materi tersebu yang dapat disederhanakan menjadi
unsure-unsur fisik. Kedua,doktrimn alam semesta dapat ditafsirkan seluruhnya dengan sains

fisik. Kedua definisi tersebut mempunyai implikasi yang sama, walaupun menyajikan bentuk
materialism yang lebih tradisional. Doktrin tersebut dijelaskan sebagai energism yang
mengembalikan segala sesuatu pada bentuk energy, atau sebagai bentuk dari positivisme
yang member tekanan untuk sains dan mengingkari hal-hal seperti ultimate nature of reality.
a) materialisme mekanik
Dalam arti sempit, materialism adalah teori yang mengatakan bahwa semua bentuk
dapat diterangkan menurut hokum yang mengatu materi dan gerak. Materialism berpendapat,
semua kejadian dan kondisi adalah akibat yang lazim dari atau bentuk-bentuk yang lebih
tinggi. Alam hanya merupakan bentuk yang lebih kompleks dari pada bentuk in-organik atau
bentuk yang lebih rendah. Bentuk yang lebih tinggi tidak mengandung materi atau energy
baru. Prinsip sains fisik berfungsi menerangkan segala yang terjadi atau yang ada. Semua
oproses alam, baik inorganik atau organic telah dipastikan dan dapat diramalkan,jika segala
fakta tentang kondisi sebelumnya dapat diketahui.
Dasar-dasar materialism dibentuk oleh sains matematika dan fisika.prinsip-prinsip
penjelasan tersebut, kemudian dipakai oleh ilmu-ilmu biologi, psikologi, dan imu masyarat.
Pandangan materialisme mekanik tentang tujuan pendidikan adalah terwujudnya
manusia yang memahami fenomena alam secara mekanik dengan cara mengembangkan
pemahaman matematik terhadap semua gejala alam. Anak didik dibina dan dikembangkan
untuk memahami paradigma ilmu pengetahuan yang diperoleh hanya diyakini sebagai gejala
dari materi alam ini.
Tujuan pendidikan Barat yang berpenggang pada paham materialisme adalah sebagai
berikut.
1. Pendidikan adalah alat untuk mewujudkan manusia yang memahami sifat jasmaninya yang
merupakan materi semata.
2. Manusia seperti alam lainnya, hanyalah badan yang akan memudar sehingga tujuan
pendidikan Barat hanyalah untuk menfungsikan jasmani manusia sehingga bermanfaat bagi
kehidupannya.
3. Kehidupanmanusia tidak ada kaitannya dengan alam lain, seperti adanya roh dan alam
akhirat. Oleh karena itu, tujuan pendidikan Barat dengan paham materialisme tidak berkaitan
dengan agama atau keyakinan tertentu dengan eksistensinya tidak ada karena bukan materi
b) Materialism historis

Dialektikal hegel digunakan untuk memahami gejala masyarakat. Pengertian


materialisme historis disini adalah dalam Hegel, roh yang terjun dalam materi atau alam
yang merupakan antithesis. Roh dan alam didamaikan dalamn sintesis, seni, agama, dan
filsafat. Dalam proses dilektik, dibicarakan tentang alinasi, yaitu jika roh terjun dalam materi
yang merupakan Negara asing. Roh beradadiluar dirinya sendiri. Akan tetapi menurut
Marx tidaklah demikian. Manusia bukan roh yang terjun dalam materi. Manusia
bergantung pada alam, tetapi ia mempunyai sifat aktif terhadap alam.
Pandangan ini mengisyaratkan bahwa tujuan pendidikan dasar yang berpaham pada
materialism historis, adalah menciptakan manusia yang memiliki kemampuan membangun
sejarah kehidupannya dengan cara menghidupkan martabat kemanusiaan melalui karya-karya
nyata dan berguna bagi manusia. Pendidikan bagi materialism historis adalah alat untuk
mengabadikan jasa-jasa manusia sebagai makhluk yang bersejarah, meskipun manusia tidak
lebih dari alam yang akan musnah
Pendidikan harus dituukan dan diutamakan untuk kaum tertindas. Mereka harus
dibebaskan dari berbagai perilaku yang diskriminatif. Hak-hak rakyat atau manusia harus
diambil dari kekuasaan kaum borjuis dan kapitalis, bahkan Negara pun tidak berhak
menguasai hak-hak rakyat. Demikian pula dengan pendidikan, untuk kepentingan manusia
agar Negara dan kekuasaan tidak di salah gunakan untuk menghancurkan kepentingan
manusia. Manusia yang dimaksudkan adalah komunisme.
Materialism mekanik mengharuskan pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan
manusia yang dapat berkerja dan meninggikan harkat dan martyabatnya. Pekerjaan yang
paling mulia bagi manusia adalah pekerjaan yang mandiri dan terbebas dari belenggu kaum
kapitalis borjuis.
6. Pragmatisme
Paragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala
sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar perantara akibat-akibatnya yang bermanfaat
secara praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis, semuanya bias diterima
sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat praktis yang bermanfaat.
Dengan demikian, patokan paragmatisme adalah manfaat bagi hidup praktis.
Tujuan pendidikan Barat pragmatism adalah sebagai berikut.
1. Pendidikan adalah bentuk pengembangan kecerdasan manusia yang bermanfaat bagi manusia
maka manfaat menjadi tujuan pendidikan.

2. Manfaat dan kegunaan pendidikan dapat bersifat teoritis atau praktik yang mempermudah
kehidupan manusia.
3. Kenikmatan, kemakmuran, dan kemuliaan yang diperoleh melalui pendidikan menjadi pusat
tujuan pendidikan Barat sehingga paragmatisme dapat melahirkan hedonism, liberalisme, dan
ateisme.
i)

Perspektif aksiologi penyelenggaraan pendidikan


Dalam bidang aksiologi, masalah etika yang mempelajari tentang kebaikan
ditinjau dari kesusilaan, sangat prinsip dalam pendidikan. Hal ini terjadi karena kebaikan
budi pekerti manusia menjadi sasaran utama pendidikan dan karenanya selalu
dipertimbangkan dalam perumusan tujuan pendidikan. Menurut Drost (2005), pendidikan
bukan hanya soal kemajuan otak ataupun pengetahuan kognitif. Pendidikan juga
bertujuan juga mengembangkan pribadi anak didik agar menjadi manusia yang utuh
dengan segala nilai dan seginya. Oleh karena itu, pendidikan juga dapat mengajari nilainilai kehidupan manusia yang dianggap perlu seperti nilai sosialitas, nilai demokrasi,
nilai kesamaan, persaudaraan dan lain sebagainya.
Di samping itu pendidikan sebagai fenomena kehidupan sosial, kultural dan
keagamaan tidak dapat lepas dari sistem nilai. Dalam masalah etika dan estetika yang
mempelajari tentang hakekat keindahan, juga menjadi sasaran pendidikan, karena
keindahan merupakan kebutuhan manusia dan melekat pada setiap makhluk. Di
samping itu pendidikan tidak dapat lepas dari sistem nilai keindahan tersebut. Dalam
mendidik ada unsur seni, terlihat dalam pengungkapan bahasa, tutur kata dan prilaku
yang baik dan indah (Huda, 2008).
Unsur seni mendidik ini dibangun atas asumsi bahwa dalam diri manusia ada
aspek-aspek lahiriah, psikologis dan rohaniah. Hal ini mengisyaratkan bahwa manusia
dalam fenomena pendidikan adalah paduan antara manusia sebagai fakta dan manusia
sebagai nilai. Tiap manusia memiliki nilai tertentu sehingga situasi pendidikan memiliki
bobot nilai individual, sosial dan bobot moral.
Javons menyatakan bahwa seni mengajarkan kepada kita berbuat, dan sebuah
ilmu mengajarkan kepada kita mengetahui. Horne menyatakan bahwa pendidikan
adalah berbuat, oleh karena itu pendidikan adalah sebuah seni. Bahwasanya hakekat
tubuh yang terdiri atas jasmani, rohani dan akal harus mendapatkan pendidikan yang
proporsional. Proses mendidik ketiga unsur tersebut berkenaan dengan metode terbaik
yang harus dilakukan dengan cara terbaik. Metode pendidikan tidak hanya didasarkan
pada psikologi, tetapi juga sifat fisik, mental dan sosial dari bahan ajar dan anak yang
dididik. Oleh karena itu, dibutuhkan jiwa seni dalam mendidik sehingga anak yang
dididik dapat terbentuk jiwa seninya dalam menghadapi kehidupan mereka di masa
depan (Mudyahardjo, 2008).
Itu sebabnya pendidikan dalam prakteknya adalah fakta empiris yang syarat nilai
dan interaksi manusia dalam pendidikan tidak hanya timbal balik dalam arti komunikasi

dua arah melainkan harus lebih tinggi mencapai tingkat manusiawi. Untuk mencapai
tingkat manusiawi itulah pada intinya pendidikan bergerak menjadi agen pembebasan
dari kebodohan untuk mewujudkan nilai peradaban manusiawi (Huda, 2008).
ii) Hubungan antara aksiologi dengan pendidikan

Aksiologi mempelajari mengenai manfaat apa yang diperoleh dari ilmu


pengetahuan,menyelidiki hakikat nilai,serta berisi mengenai etika dan estetika.Penerapan
aksiologi dalam pendidikan misalnya saja adalah dengan adanya mata pelajaran ilmu sosial
dan kewarganegaraan yang mengajarkan bagaimanakah etika atau sikap yang baik itu,selain
itu adalah mata pelajaran kesenian yang mengajarkan mengenai estetika atau keindahan dari
sebuah karya manusia.
Dasar Aksiologis Pendidikan adalah Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu
sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaikbaiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab.