Está en la página 1de 28

BAB I

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang

Pengguna bahan additive pada makanan masih sering dilakukan oleh penjual
makanan baik berupa jajanan sekolah, jajanan pasar atau pedagang makanan
di pasar. Tujuan penggunaan bahan additive sendiri berbeda-beda baik sebagai
penguat rasa, pewarna makanan yang lebih cerah, serta mengawetkan
makanan. Pedagang Jajanan Sekolah (PJAS) merupakan produsen yang paling
banyak menggunakan bahan additive. Penggunaan tidak terbatas pada
makanan ringan. Makanan utama dan minuman pun juga menggunakan bahan
additive. Bahan additive yang paling banyak digunakan sendiri adalah
formalin, borax, rhodamin B, methanyl Yellow, dan benzoat. Pada kelompok
makanan utama didapat 9,74% dari total keseluruhan sampel mengandung
boraks (Badan POM 2009)

Boraks sendiri merupakan bahan additive yang penggunaannya terbatas pada


pembersih ruangan, antimikroba ruangan dan lain lain. Uji toksikologi sendiri
sudah dilakukan untuk melihat efek samping dari boraks. Nekrosis liver, acute

kidney injury, gangguan neurologis, genotoxicity, nephrotoxicitydan gangguan


fungsi testis (United State Environmental Protection Agency 2004).
Abnormalitas hepar baik secara makroskopis dan mikroskopis merupakan
salah satu dampak dari pemakaian boraks(Maysara dan Yuliani 2011).

Tomat merupakan suatu jenis sayuran yang cukup sering dikonsumsi oleh
masyarakat. Terlihat terjadi peningkatan konsumsi dan produksi tomat dari
tahun 2012 hingga 2013. Tomat sendiri merupakan buah yang tumbuh subur di
daerah dataran rendah (Sari R, 2013). Penggunaan tomat banyak digunakan
sebagai bahan dasar sayur serta bahan olahan lainnya di masyarakat.

Tomat merupakan sayuran yang mengandung banyak senyawa kima yang


dapat digunakan sebagai antioksidan contohnya Lycopen. Penggunaan tomat
sendiri tidak hanya terbatas sebagai sayur. Jus, infusa dan dekokta serta
perasannya pun pernah diteliti.

Ektsrak buah tomat sendiri sudah terbukti dapat menurunkan kerusakan hepar
yang diinduksi oleh diet tinggi lemak (Melendez-martinez et al. 2013). Selain
itu pemberian jus tomat juga menunjukan kadar profil lipid pada lansia pada
penelitian sebelumnya (Nur, 2013). Hal tersebut diakibatkan dari kandungan
likopen dalam ekstrak tomat memiliki efek peeningksatan penyembuhan di
Hepar (Maysara dan Yuliani 2011). Studi preklinis menunjukan bahwa tomat
memiliki efek hepatoprotektif terhadap kerusakan hati pada tikus wister albino
(Weremfo dan Asamoah 2011). Oleh sebab itu penulis ingin membuktikan

apakah ada efek pemberian jus tomat terhadap gambaran histopatologis hepar
tikus wistar jantan yang diinduksi oleh boraks.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1

Apakah ada pengaruh pemberian ekstrak tomat terhadap gambaran

1.2.2

histopatologis tikus wistar yang diinduksi oleh boraks?


Berapakah dosis efektif ekstrak tomat yang diperlukan untuk
memperbaiki gambaran histopatologis dan makroskopis hepar tikus

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemberian ekstrak tomat
terhadap gambaran histopatologis tikus wistar yang diinduksi oleh
1.3.2

borkas?
Untuk mengetahui berapa dosis efektif yang diperlukan ekstrak tomat
untuk memperbaiki gambaran histopatologis hepar tikus yang
diinduksi oleh borkas.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1

Manfaat Teoritis
Untuk pengembangan ilmu pengetahuan biomedik, biokimia, dan
farmakologi mengenai pengaruh pemberian ekstrak tomat terhadap
gambaran mikroskopis hepart pada tikus jantan Rattus norvegicus yang

1.4.2

diinduksi oleh pengawet borax.


Manfaat Praktis
1.4.2.1 Bagi Peneliti
Sebagai wujud pengaplikasian ilmu yang telah didapat selama
masa pembelajaran di perguraun tinggi sehingga dapat
mengembangkan wawasan keilmuan peneliti.
1.4.2.2 Bagi Peneliti Lain

Sebagai referensi bagi peneliti lain mengenai pemberian jus


tomat sebagai hepatoprotektor.
1.4.2.3 Bagi Masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang manfaat
tomat sebagai hepatoprotektir.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tomat
2.1.1 Klasifikasi Tanaman
Kingdom

: Plantae

Subkingdom

: Trachebionta

Divisio

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Subkelas

: Asteridae

Ordo

: Solanales

Famili

: Solanaceae

Genus

: Solanum

Specie s

: Solanum lycopersum

Tomat (Solonum lycopersicum L) merupakan salah satu tanaman sayuran


yang dapat tumbuh di seluruh dunia. Luas tanaman tomat di China lebih
dari 5.000.000 ha denganproduksi mendekati 129.000.000 ton atau lebih
dari luas Menurut laporan luas tanaman tomat di Egypt bersama
Indialebih dari 1/5 dari luas tanaman tomat di dunia. Negara lain yang
menghasilkan tomat adalah Turki dan Nigeria. Luas areal tanaman tomat
di Asia dan Afrika kira-kira 79 % dari luas areal tomat di dunia dan
menghasilkan 65 persen kebutuhan tomat di dunia (Chen et al. 2010)

Tabel 1 Kandungan Buah Tomat


nutrien

jumlah

Kebutuhan per

Kepadatan nutrisi

hari (%)
Vitamin C
Vitamin A
Vitamin K
molybdenum
Kalium
Mangan
Serat
Kromium
Vitamin B1

34,38 mg
1121,40 IU
14,22 mcg
9,00 mcg
399,6 mg
0,19 mg
1,98 g
9,00 mcg
0,11 mg

57,3
22,4
18,8
12,0
11,4
9,5
7,9
7,5
7,3

27,3
10,7
8,5
5,7
5,4
4,5
3,8
3,6
3,5

0,14 mg

7,0

3,3

(pyridoxine)
Folat
Tembaga
Vitamin B3 (niacin)
Vitamin B2

27,00 mcg
0,13 mg
1,13 mg
0,09 mg

6,8
6,5
5,6
5,3

3,2
3,1
2,7
2,5

(riboflavin)
Magnesium
Besi
Vitamin B5 (as.

19,80 mg
0,81 mg
0,44 mg

5,0
4,5
4,4

2,4
2,1
2,1

pantotenat)
Phosphor
Vitamin E
Tryptophan
Protein

43,20 mg
0,68 mg
0,01 g
1,53 g

4,3
3,4
3,1
3,1

2,1
1,6
1,5
1,5

(thiamine)
Vitamin B6

sumber : (EMaulida dan Zulkarnaen 2010)


2.1.2 Kandungan Bioactive Tomat

Konsumsi reguler dari buah tomat dan produksinya berasosiasi


dengan penurunan kadar CNCD (Chronic Non Comunicable
Disease) dan beberapa jenis tipe kanker dan reaksi inflamasi. Hal
itu diakibatkan karena kandungan fitokimia pada tomat bereaksi
dengan jalur metabolisme dan reaksi oksidatif (Raiola et al. 2014).
2.1.2.1 Karetonoid
Karetonoid adalah pigmen lipid solubel yang mengandung
gugus tentrapen. Termasuk

provitamin A

karetonoid

seperti as -carotene -cryptoxanthin, dan non-provitamin


A carotenoids, seperti lutein dan likopen. Senyawa tersebut
berkontribusi dalam sistem

fotosintesis di tanaman dan

memproteksi dari photo damage. Lebih dari 600 karetonoid


telah teridentifikasi di alam, dimana 40 terdapat dalam
makanan yang dikonsumsi oleh manusia (Basu dan Imrhan
2007)

Diet suplemen karetonoid dapat bertindakn sebagai agen


hipocholestelo

sedang,

akibat

efek

inhibitor

pada

macrophage 3-hydroxy-3-methyl glutaryl coenzyme A


(HMGCoA) reductase, yang meperlambat kerja enzim
tersebut. Karetonoid menyebabkan banyak perubahan pada
protein yang berperan dalam proliferasi sel dan jalur sinyal.
Sebagai contoh lycopen berasosiasi dengan mereduksi
Cyclin D1 protein yang berperan sebagai onkogen. Likopen

dapat meningkatkan ekspresi dari beberapa protein relateddifferentiation, seperti CD 14 (Cluster of Differentiation),
oxygen burst oxidase dan reseptor kemotaktik (Raiola et al.
2014).

Tomat mengandung 840 g per gram likopen, sekitar 80%


dari total intake karetonoid. Likopen adalah poliunsaturasi
molekul yang mengandung 13 ikatan ganda yang terdiri
atas konfigurasi yang terdiri atas ikatan cis dan trans.
Dalam keadaan natural likopen ditemukan dalam bentuk
trans, ketika dalam treatment suhu, cahaya, asam, oksigen
dan digestif dapat mengubah ikatan trans menjadi bentuk
cis yang bersifat lebih aktif. Likopen meruopakan fitokimia
utama didalam buah tomat yang bertindak sebagai
antioksidan kuat. Likopen bertindak sebagai scavenger dari
radikal bebas (ROS). Nitrogen dan oksigen reaktif dapat
memproduksi ROS (Reactive Oxygen Species) dan RNS
(Reactive Nitrogen Species) yang dikenal sebagai oksidan.
Mereka dapat berasal dari proses insitu atau sumber
eksternal.

Akumulasi dari radikal bebas menyebabkan

suatu keadaan yang dikenal sebagai stress oksidatif. Produk


yang terbentuk dari proses ini bersifat toksik. Satu diantara
efek

yang

ditimbulkan

dari

stress

oksidati

adalah

peroksidase lipid yang nantinya akan meningkatkan jumlah

radikal yang meningkatkan ekspresi gen dari pro dan anti


inflamasi sitokin dan produk lanjutannnya. Likopen
berperan dengan cara menghambat proses aktivasi tersebut.
Sitokin antiinflamasi seperti IL-10 (Interleukin) diproduksi
untuk mengontrol proses

inflamasi, dimana sitokin

proinflam measi seperti including tumor necrosis factoralpha (TNF-), IL-6, and IL-8 meningkat respon inflamasi.
Likopen

menstimulasi

bagian

antiinflamasi

dan

menghambat proinflmasi di macrophage dan adiposit (Basu


dan Imrhan 2007).
2.1.2.2. Lutein
Lutein merupakan karetnoid kuning yang disintesis di
dalam kloroplast dan kromoplast dan ditemukan tinggi pada
daun. Jumlah rata rata lutein yang ditemukan dalam buah
tomat bekisar sebesar 32 g/100 gFW.

2.2 Hepar
2.2.1 Anatomi Hepar
Hepar merupakan organ internal terbesar dan kelenjar terberat di
dalam tubuh manusia. Beratnya mencapai 1,4kg pada orang
dewasa. Hepar terlingkupi oleh peritoneum viseral yang terdiri atas
jaringan ikat yang berada tepat dibawah peritoneum. Hepar terdiri
atas dua lobus utama. Lobus dextra lebih besar dibandingkan
dengan lobus sinistra. Lobus dextra dan sinistra dipisahkan oleh

ligamentum falciform, suatu lipatan mesenterika dari peritoneum


parietal diafragma dan dinding anterior abdominal hingga
peritoneum viseral hepar (Tortora dan Nielsen, 2012).

2.2.2 Histologi Hepar


Hepar berperan dalam berbagai macam fungsi, banyak diantara
organ hepar tidak bersifat glandular. Parenkim hepar sendiri
dikenal sebagai hepatosit. Hepatosit mennyalurkan sekresi
eksokrinnya melalui bile melalui duktus biliaris. Dan menyalurkan
sekresi endokrin melalui suplai vaskular. Setiap sel hepar dibatasi
oleh vascular spaceyang dikenal sebagai sinusoid. Sinusoid
dibatasi oleh endotel dan sel kuffer, heptosit tidak kontak langsung
dengan aliran darah (Gartner dan Hiatt, 2009)

2.2.3 Fisiologi Hati


Hepatosit secara kontinous mensekresikan 800-1000 mL bile setiap
harinya. Garan empedu yang mana merupakan garam sodium dan
garam potasium memiliki peranan dalam (1) emulsifikasi,
menghancurkan atau memecah globulus blobulus lipid menjadi
droplet suspensi yang berukuran sekitar 1 m dalam diameter dan
(2) absorbsi dari lipid yang sudah terdigestif.

Selain berperan dalam sekresi bilirubin, hati berperan dalam


berbagai macam fungsi diantaranya adalah (1) metabolisme

karbohidrat (2) metabolisme lipid (3) metabolisme protein (4)


memproses hormon dan obat (5) ekskresi bilirubin (6) sintesis
garam empedu (6) penyimpanan (7) fagositosis (8) aktivasi vitamin
D (Tortora dan Nielsen, 2012).

2.3 Boraks
2.3.1 Definisi Boraks
Borax (Na2B4O2(H2O)10) mineeral toksik rendah yang dikenal
dengan asam boric dan garam sodium dari boron atau disodium
tetraborate decahydrate banyak digunakan dalam industri termasuk
pembuatan gelas, fiberglass, enamel porselain, dan metal alloys.
Komponen ini juga digunakan sebagai penghambat api dalam
insulasi selulosa, bahan laudri, pupuk, herbicidesdan insektisida.
Struktur sasar borakx terdiri atas rantai yang saling terikat antara
BO2(OH) triangles and BO3(OH) tetrahedrons terhadap sodium
dan H20 oktahedron.

Tabel 3
Nama

Keterangan

CAS Registry Number


Formula Molekular
Berat Molekular
Konten Boron
Bentuk Fisik

1303.96-4
Na2B4O3.10H20
381,43
11,34
Putih atau tidak bewarna, kristal bergranul,

Gravitasi spesifik
Titik leleh (bentuk padat)
Kelarutan air

atau bubuk
1,73
>62C
742

2.3.2 Toksikinetik
Boraks yang diadministrasikan via oral akan berinteraksi
dengan HCl di lambung dan berubah menjadi asam boric.
Asam boric yang terbentuk akibat reaksi dengan HCl akan
terdisosiasi menjadi boron. Boron diabsobsi dengan baik
pada traktus gastrointestinal. Boron terdistribusi secara
cukup seragam di kompartemen selain darah seperti
jaringan

lainnya

(liver,

ginjal,

usus

besar,

otak,

hipotalamus, testis, epididimis, seminal vesicle, adrenal dan


prostat.

Akumulasi

ditemukan

20

boron
dari

dalam

jaringan

konsentrasi

plasma.

adiposa
Studi

farmakokinetik dari boron sendiri yang telah dilakukan dan


menunjukan bahwa volume distribusi dari boron adalah of
142.0 30.2 mL/100 g berat badan. Distribusi boron yang
relative seragam dan terekskresi secara cepat. Sequestrasi
didalam tubuh bersifat sangat minimal.

Boron merupakan elemen yang suspek esensial didalam


tubuh

manusia.

Kekurangan

boron

sendiri

sudah

menunjukan terjadi perubahan pada macromolecul dan


metabolisme seluler pada subtansi yang mempengaruhi
kehidupan manusia seperti kalsium dan magnesium. Borate
anorganic terdapat dalam bentuk asam boric didalam tubuh.
Asam boric merupakan satu satunya komponen born yang
teridentifikasi dalam urin dan ditemukan dalam keadaan
konsumsi harian. Metabolisme mungkin tidak dapat
dilakukan dikarenakan jumlah besar energi (523 kJ/Mol)
yang dibutuhkan untuk mendegradasi ikatan boron dengan
oxygen. Oleh sebab itu boric acid dapat berinteraksi dengan
berbagai macam

biomolecule. Boron memiliki afinitas

yang tinggi terhadap hydroxyl, amino dan kelompok thyol.


Kompleks yang terbentuk bergantung denga konsentrasi
dan

bersifat reversible(United State Environmental

Protection Agency 2004).

Eliminasi dan eksresi dari boron telah dievaluasi pada


manusia maupun tikus dan menunjukan bahwa 90% dosis
yang diadministrasikan via oral terekskresi dalam waktu
yang dekat dan tidak berubah. Pada manusia jalur eliminasi

utama dari boron adalah urin (United State Environmental


Protection Agency 2004).
2.3.3 Mekanisme Toksisitas
Toksisitas pada xenobiotic contohnya adalah boron
bergantung dari beberapa faktor seperti : dosis, struktur
kimia, interaiksi dengan komponen lain dan intergritas dari
jaringan target. Komponen hasil selama proses metabolisme
dari xenobiotic dapat bersifat inactive atau secara kebalikan
memiliki efek toksisitas. Komponen ini bekerja dalam liver
dan organ lain. Kebanyakan xenobiotic berinteraksi dengan
berbagai enzim yang berperan dalam detoksifikasi dan
menkonversi xenobiotic menjadi spesies yang lebih soluble
dan lebih muda diekskresikan.

Xenobiotic menginduksi oksidarive stress dapat merusak


sel sel dengan berbagai mekanisme, termasuk kerusakan
oksidatif langsung ke DNA, lpid dan protein, deplesi ATP,
dan NAD, turunnya faktor GSH dan ion transisional. Studi
klinis telah dilakukan dan menunjukan bahwa boron
memiliki peran dalam mempengaruhi fungsi, stabilitas, dan
struktur sel. Selain itu boron juga berperan dalam jalur
metabolisme dengan bergerak dengan reaksi enzim. Lipid
peroksidase

meningktkan produksi toksik dan reaktif

aldehid metabolit.

2.4. HEWAN PERCOBAAN


2.4.1 Sistematika Hewan Percobaan
Filum

: Chordata

Sub filum

: Vertebrata

Kelas

: Mamalia

Sub kelas

: Plasentalia

Bangsa

: Rodentia

Suku

: Muridae

Marga

: Ratus

Jenis

: Rattus norvegicus

Galur

: Sprague Dawley

2.4.2 Karakteristik utama tikus.


Tikus relatif resisten terhadap infeksi dan sangat cerdas.
Tikus putih pada umumnya tenang dan mudah ditangani.
Tikus tidak begitu bersifat fotofobik seperti halnya mencit,
dan kecenderungan untuk berkumpul dengan sesamanya
tidak begitu besar. Aktifitasnya tidak terganggu oleh adanya
manusia di sekitarnya. Suhu tubuh normal 37,5 C, laju
respirasi normal 210 tiap menit. Bila diperlakukan kasar
tikus menjadi galak dan sering menyerang si pemegang
(Harmita dan Maksum, 2005).

2.5 Kerangka Teori

Sel Normal

Boraks
Stress Oksidatif

Pemberian Ekstrak
Tomat (Fitokimia
Bioaktif ; likopen,
lutein, flavonoid dll)

ROS dan RNS meninglat

Peningkatan Lipid Peroxidase di


Hepar

Integritas dinding sel menurun

Jejas Sel Hepar

Inflamasi
(Bustos-Obregon et al. 2000)

2.7 Kerangka Konsep

Variabel
Independen

Variabel Dependen

Ekstrak Buah
Tomat

Gambaran makroskopis dan


mikroskopis hepar yang
diinduksi borax

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan Post Test
Only Control Group Design. Pengambilan data dilakukan hanya pada saat
akhir penelitian setelah dilakukannya perlakuan dengan membandingkan
hasil pada kelompok yang diberi perlakuan dengan kelompok yang tidak
diberi perlakuan.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian akan dilaksanakan pada laboratorium Patologi Anatomi
Fakultas Kedokteran Unila selama 2 bulan. Dengan adaptasi mencit
selama 7 hari dan lama pemberian ekstrak sebanyak 28 hari.

3.3. Populasi dan Sampel


Populasi adalah tikus (Rattus norvegicus) galur Sprague dawley berusia 3
bulan minggu dengan berat badan sebesar 150-200 mg. Hewan ini dipilih
karena memiliki sistem metabolisme yang mirip dengan manusia, dapat
ditemukan dan ditangani dengan mudah, serta diharapkan pengambilan
data dapat lebih akurat dibandingkan menggunakan mencit sebagai hewan
coba. Sampel adalah organ hati tikus populasi yang telah diinduksi dengan
boraks dengan dosis dan kurun.
3.3.1 Kriteria Inklusi

a.
b.
c.
d.
e.

Tikus putih jantan galur Sprague dawley


Sehat (gerak aktif, rambut tidak kusam, rontok atau botak)
Tidak memiliki kelaian anatomis
Memiliki berat sebesar 150-200 mg
Berusia sebesar 3 bulan

3.3.2 Kriteria Ekslusi


a. Tikus sakit sebelum perlakuan
b. Tikus mati sebelum mendapat perlakuan
3.3.3 Kriteria Drop Out
a. Tikus mati setelah diberikan perlakuan
b. Tikus tampak sakit (geraka tidak aktif, tidak mau makan,
penampakan rambut kusam, rontok dan botak)

3.3.4 Besar sampel


Pada uji eksperimental rancangan acak lengkap, besar sampel
penelitian yang digunakan ditentukan dengan menggunakan rumus
Frederer :
(t)(n-1) 15
dengan (t) adalah jumlah kelompok perlakuan, dan (n) adalah
jumlah ulangan pada masing-masing kelompok.

(t)(n-1) 15
(5)(n-1) 15
5n - 5 15
5n 20
n4
n4
Dari perhitungan di atas, dibutuhkan jumlah sampel minimal
sebanyak 4 ekor tikus untuk tiap kelompok.
Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor tikus putih betina galur
Sprague Dawley yang terbagi dalam 5 kelompok (masing-masing
kelompok terdiri dari 5 ekor).

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional


3.4.1 Variabel Penelitian
a. Variabel bebas : Ekstrak Buah Tomat
b. Variabel terikat : Gambaran makroskopis dan mikroskopis hepar
tikus wistar yang diinduksi boraks
3.4.2 Definisi Operasional

Untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan penelitian dan penelitian


tidak menjadi terlalu luas maka dibuat definisi operasional pada
tabel 2 sebagai berikut

Tabel 2. Definisi Operasional


Variabel
Dosis ekstrak
buah tomat

Definisi
Ada 4 kelompok dengan perlakuan yang berbeda, yaitu ;
1.

Kelompok kontrol (K) kontrol negatif = pemberian

2.

aquades 1 ml setiap hari selama 21 hari


Kelompok A kontrol positif adalah pemberian 43,4

3.

mg boraks setiap hari selama 21 hari


Kelompok B (perlakuan) pemberian 43,4 mg boraks
setiap hari + ekstrak buah tomat 120 mg

Skala
Numerik

4.

Kelompok C (perlakuan) pemberian 43,4 mg boraks

5.

setiap hari + ekstrak buah tomat 240


Kelompok D (perlakuan) pemberian 43,4 mg boraks

Gambaran

setiap hari + ekstrak buah tomat 360


Gambaran mikroskopis hepar diperoleh dengan cara membuat

histopatologis

preparat

hepar

Eosin(HE), kemudian diamati gambaran mikroskopisnya di

hepar

mengunakan

pengecatan

Numerik

Hematoksilin

daerah sekitar vena sentralis dengan mikroskop cahaya dengan


pembesaran 400x pada 4 lapang pandang dengan masing
masing 25 sel. Gambaran mikroskopis hepar tikus wistar
dinilai dengan menghitung tingkat kerusakan tingkat heptosit
berdasarkan skor derajat perubahan struktur histopatologis sel
hepar menurut Manja Roenigk, dengan kriteria penilaian
sebagai berikut
1.
2.
3.
4.

Nilai 1 : normal
Nilai 2 : degenerasi hidropik
Nilai 3 ; degenerasi albumin
Nilai 4 : nekrosis

3,5 Alat dan Bahan Penelitian


3.5.1 Alat
Peralatan yang digunakan meliputi alat pemberi perlakuan, alat otopsi,
alat pemeriksaan makroskopis, dan alat pemeriksaan mikroskopis.
Alat pemberi perlakuan meliputi kandang, spuit 0,5 cc dan sonde. Alat
otopsi meliputi gunting, scaple, pinset dan wadah penyimpan organ.
Alat pemeriksaan mikroskopis meliputi kamera digital, timbangan dan
kaca pembesar. Alat pemeriksaan mikroskopis meliputi mikroskop dan
objek glass.

3.5.2 Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penilitian kali ini meliputi ekstrak buah
tomat, aquades, larutan boraks 300 mg, larutan buffer formalin 10%,
Paraffin, Albumin, Hematoksilin Eosin, Asam asetat, Larutan Xylol,
Alkohol bertingkat.

3.6 Prosedur Penelitian


3.6.1 Aklimatisasi dan Pemeliharaan Hewan Coba
Aklimatisasi hewan coba tikus putih (Rattus norvegicus) galur Sprague
Dawley yang berusia 6-7 minggu dengan berat antara 100-200 gr selama
1minggu untuk adaptasi di tempat pemeliharaan dalam menyeragamkan
cara hidup dan makanannya sebelum dilakukan percobaan. Tikus
ditempatkan dalam kandang plastik dengan tutup terbuat dari kawat ram
dan dialasi sekam, makanan tikus berupa pelet. Pemberian makanan dan
minuman diberikan ad libitum. Lingkungan kandang dibuat agar tidak
lembab, suhu kandang dijaga sekitar 250C, dan ada pertukaran gelap dan
terang setiap 12 jam. Masing-masing kelompok tikus diletakkan dalam
kandang tersendiri dan dijaga sedemikian rupa sehingga tidak saling
berinteraksi. Kesehatan tikus dipantau setiap hari. Berat badan tikus
ditimbang setiap minggu sampai tikus diterminasi.
3.6.2 Ekstraksi Buah Tomat dalam Etanol 70%
Pembuatan ekstrak tomat menggunakan bahan tomat, tomat yang didapat
tidak terdapat kriteria khusus hanya melingkupi tidak keriput, bewarna
merah segar, tidak mengandung parasit, berukuran sedang.

Ekstraksi buah tomat dilakukan dengan metode maserasi dengan variasi


komposisi pelarut. Sebanyak 1 kg buah tomat ditimbang, dihaluskan
dengan blender, kemudian dimasukkan kedalam gelas beaker 500 mL dan
ditambah dengan 150 mL methanol. Campuran diaduk selama 5 menit.
Selanjutnya, campuran disaring, endapan dengan kuantitas yang sama
dimasukkan ke dalam empat erlenmeyer 1000 mL bertutup yang dilapisi
dengan kertas karbon pada bagian luar. Tambahkan campuran pelarut nheksana, aseton, dan metanol dengan perbandingan berturut-turut 2:1:1;
1:2:1; dan 1:1:1 ,serta PE-aseton (3:1) (volume pelarut adalah 5 kali
volume sampel basah), kemudian di shaker dengan kecepatan 150 rpm
selama 30 menit. Campuran dipindahkan ke dalam corong pisah, ditambah
10 mL aquades, dikocok kembali kemudian didiamkan selama 15 menit
(sampai terbentuk dua fase). Lapisan atas (non polar) diambil dan
diuapkan menggunakan rotavapor. Ekstrak pekat hasil rotavapor
dimasukkan ke dalam botol kaca dan diukur volumenya. (Arifulloh, 2013)
3.6.3 Induksi Jejas Hepar
Mula-mula tikus ditimbang untuk mengetahui volume larutan boraks yang
akan diberikan. Bahan yang akan digunakan adalah serbuk boraks yang
dosisnya akan dikonversi dari dosis toksik boron menjadi dosis toksik
boraks.Sebelumnya dosis dalam borax dihitung dengan cara mengalikan
ratsio dari formula bobot boron dengan bobot molekular boax. (4 x
10.81/381.3 = 0.1134) (United State Environmental Protection Agency
2004).

Studi toksikologi menujukan bahwa LOAEL terdapat pada 525 ppm boron
(26.3 mg B/kg-day) boron untuk sistemik toksisitas. 525 ppm boron setara
dengan 26,25 mg/Kg BB. 26,25 mg/Kg BB setara dengan 231, 48 mg/Kg
BB borax(United State Environmental Protection Agency 2004). Dengan
dosis 232 mg/kgBB yang dilarut dengan air sebanyak 3ml dan diberikan
selama 28 hari. Berat tikus rata-rata yang digunakan adalah 200gr,
sehingga perhitungan dosis yang diberikan pada tikus adalah:

232 mg
d
=
1000 gr 200 gr

d=

232 mg
x 200 gr
1000 gr

d=43,4 mg

3.6.4 Induksi Ekstrak Tomat


Takaran buah tomat yang biasa dikonsumsi adalah 100 gr. Presentase
tomat kering ke ekstrak buah tomat bekisar 38 %. Faktor konversi
manusia dengan berat badan 70 kg pada tikus putih dengan berat
sebesar 200 gr adalah 0,018. Berat badan rata-rata orang indonesia
adalah 50 kg. Jadi dosis ekstrak buah tomat untuk tikus putih adalah
sebagai berikut (Yunus 2010)

100 gr

70
1000 mg 0,018
50
200 gr

2520 mgBB
=1260 mg
200
1260 mg 38 =480 mg ekstrak /100 gr BB tikus

Dosis 1 = 25 % 480 mg ekstrak = 120 mg/100gr BB tikus


Dosis 2 = 50 % 480 mg ekstrak = 240 mg/100 gr BB tikus
Dosis 3 = 75 % 480 mg ekstrak = 360 mg/100 gr BB tiku

Daftar Pustaka
United State Environmental Protection Agency., 2004. Toxicological Review of
Boron and Compounds. Toxicology Review of Boron and Compounds,
(7440), p.144.
Arifulloh, 2013. Ekstraksi Likopen dari Buah Tomat ( Lycopersicum esculentum
Mill.) dengan Berbagai Komposisi Pelarut. Universitas Jember.
Badan POM, 2009. Food watch,
Basu, a & Imrhan, V., 2007. Tomatoes versus lycopene in oxidative stress and
carcinogenesis: conclusions from clinical trials. European journal of clinical
nutrition, 61, pp.295303.
Bustos-Obregon, E., Belmar, R.H. & Catriao-Galvez, R., 2000. Histopathological
Effects of Boron on Mouse Liver.
Chen, K. et al., 2010. Teknik produksi tomat ramah lingkungan R. Srinivasan, ed.,
Bandung: Creative Condition.
EMaulida, D. & Zulkarnaen, N., 2010. Ekstraksi Antioksidan (Likopen) Dari
Buah Tomat Dengan Menggunakan Solven Campuran, n-Heksana, Aseton
dan Etanol. University Of Diponegoro.
Gartner, L.P. & Hiatt, J.L., 2009. Color Atlas of Histololgy 5th ed. C. Taylor, ed.,
Baltimore: Lippincott Williams dan Wilkins.

Maysara, R. dan Yuliani, S., 2011. effects of lycopene on sd ( sprague dawley ) rat
parasetamol-induced by determination of aminotransferase ( sgpt ) activity in
blood. Jurnal Ilmiah Kefarmasian, 1, pp.2333.
Melendez-martinez, A.J. et al., 2013. Effect of tomato extract supplementation
against high-fat diet-induced hepatic lesions. Original Article, 2(4), pp.198
208.
Nur, D.M., 2013. Pengaruh Pemberian Jus Tomat Berkulit dan Tanpa Kulit
( Lycopersicum commune ) terhadap Penurunan Kadar Kolesterol LDL pada
Lanjut Usia Hiperkolesterolemi.
Raiola, A. et al., 2014. Enhancing the health-promoting effects of tomato fruit for
biofortified food. Mediators of Inflammation, 2014.
Tortora, G.J. dan Nielsen, M.T., 2012. Principles of Human Anatomy 12th ed. B.
Roesch, ed., United States: John Wiley and Sons. Inc.
Weremfo, a dan Asamoah, K. a, 2011. Preliminary Study on Hepatoprotective
Activity of Tomato ( Solanum lycopersicum L .) Pulp Against Hepatic
Damage in Rats. Advanced in Biological Research, 5(5), pp.248250.
Yunus, N.B., 2010. Uji Efek Anti Inflamasi Ekstrak Buah Tomat (Solanum
lycopersicum L.) Pada Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus). Universitas
Sebelas Maret.