Está en la página 1de 17

AKUNTANSI MANAJEMEN

INFORMASI AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN

1.
2.
3.
4.

Disusun Oleh Kelompok 8 :


Flora Amelia [ 5140111313 ]
Alfian Agung N [ 5140111330 ]
Fahmil Ilham W [ 5140111331 ]
Alifa [ 5140111]

KONSEP INFORMASI AKUNTANSI


PERTANGGUNGJAWABAN
Konsep Informasi Akuntansi Pertanggungjawaban
Informasi akuntansi pertanggung jawaban adalah suatu informasi
tentang aktiva, pendapatan, dan biaya yang menjadi wewenang
dan tanggung jawab unit-unit organisasi yang bertanggung
jawabatas pertanggungjawaban tertentu dalam suatu organisasi.

Informasi akuntansi pertanggungjawaban


terdiri atas :

1.Informasi biaya masa lalu


Biaya yang menjadi tanggung jawab
seseorang yang digunakan dalam proses
perencanaan. Contohnya : budget
2.Informasi biaya masa datang
Biaya sesungguhnya yang menjadi
tanggung jawab seseorang dalam bentuk
laporan. Contohnya : laporan
pertanggungjawaban dan laporan
keuangan.

MANFAAT INFORMASI AKUNTANSI


PERTANGGUNGJAWABAN
Sistem akuntansi pertanggungjawaban dapat dibagi 2
tahap perkembangan:
1. Akuntansi pertanggungjawaban tradisional.
Manfaat :
. Informasi akuntansi pertanggungjawaban sebagai
dasar penyusunan anggaran
. Informasi akuntansi pertanggungjawaban sebagai
penilai kinerja manajer pusat pertanggungjawaban
. Informasi akuntansi pertanggungjawaban sebagai
pemotivasi manajer

Kelemahan-kelemahan sistem
akuntansi tradisional:
1.Mengabaikan biaya yang tidak
memberikan nilai tambah
2.Memberikan perhatian lebih terhadap
biaya tenaga kerja
3.Memfokuskan pada kondisi ekstern
4.Memberikan perhatian lebih terhadap
ukuran keuangan
5.Perhitungan selisih mendorong tingkah
laku negatif

SISTEM AKUNTANSI
PERTANGGUNGJAWABAN TRADISIONAL
Karakteristik
sistem
akuntansi
pertanggungjawaban
tradisional :
Adanya identifikasi pusat pertanggungjawaban.
Standar ditetapkan sebagai tolak ukur kinerja manajer
yang bertangung jawab atas pusat pertanggungjawaban
tertentu.
Kinerja manajer diukur dengan membandingkanrealisasi
dengan anggaran.
Manajer secara individual diberi penghargaan atau
hukumanberdasarkan kebijakan manajemen yang lebih
tinggi.

ASUMSI PERILAKU DALAM SISTIM AKUNTANSI


PERTANGGUNGJAWABAN TRADISIONAL
Sistem
akuntansi
pertanggungjawaban
tradisional
dirancang
berlandaskan atas beberapa asumsi tentang perilaku manusia berikut
ini :
1.
Pengelolaan berdasarkan penyimpangan merupakan pengendalian
operasi secara efektif yang memadai.
2.
Pengelolaan berdasaran tujuan akan menghasilkan anggaran yang
disepakati, biaya standar, sasaran organisasi dan rencana yang dapat
dilaksanakan.
3.
Struktur pertanggungjawaban sesuai dengan struktur hirarkhi
organisasi.
4.
Manajer dan bawahannya bersedia untuk menerima tanggung jawab
yang di bebankan kepada mereka melalui hirarkhi organisasi.
5.
Sistem akuntansi pertanggungjawaban mendorong kerja sama,
bukan kompetesi.

ACTIVITY-BASED RESPONSIBILITY
ACCOUNTING SYSTEM
Activity-based responsibilityadalah suatu sistem
akuntansi yang disusun sedemikian rupa sehingga
pengumpulan dan pelaporan biaya dilakukan
menurut aktivitas penambah dan bukan
penambah nilaiuntuk memungkinkan manajemen
merencanakan pengelolaan aktivitas dan
memantau hasil perbaikan bersinambungan atas
berbagai aktivitas untuk pembuatan produk/
penyerahan jasa
Aktivitas Penambah Nilai
Aktivitas Bukan Penambah Nilai

Dalam perusahaan manufaktur, terdapat 5


golongan aktivitas bukan penambah nilai yaitu :
1. Pembuatan skedul
Pembuatan waktu dan sumber daya untuk menentukan kapan berbagai produk yang
berbeda dimasukkan dan bagaimana berbagai produk tersebut diproduksi.
2. Pemindahan
Aktivitas yang menggunakan waktu dan sumber daya untuk memindahkan bahan baku,
produk dalam proses dan tranfer produk jadi dari satu departemen ke departemen
lainnya.
3. Penantian
Aktivitas yang didalamnya bahan baku dan produk dalam proses menggunakan waktu
dan sumber daya untuk menunggu proses berikutnya.
4. Inspeksi
Aktivitas yang mengkonsumsi waktu dan sumber daya untuk menjamin produk yang
dihasilkan sesuai dengan mutu yang sudah ditetapkan.
5. Penyimpanan
Aktivitas yang menggunakan waktu dan sumber daya selama produk dan bahan baku
disimpan sebagai bahan sediaan.

Penggunaan Informasi Akuntansi


PertanggungJawaban
1.Sistem pelaporan biaya dalam akuntansi
pertanggungjawaban Tradisional
Pelaporan dalam sistem akuntansi
pertanggungjawaban harus menggunakan
klasifikasi dan kode rekening yang sesuai dengan
konsep pertanggungjawaban dalam organisasi
Jenis laporan biaya yang dihasilkan oleh akuntansi
biaya dalam sistem akuntansi pertanggungjawaban
tradisional meliputi:
Laporan Pertanggungjawaban (resposibility cost
report)
Laporan Biaya Produksi (cost of produstion report)

2. Sistem pengelolaan akuntansi


pertanggungjawaban dalam akuntansi
pertanggungjawaban tradisional

biaya yang terjadi dikumpulkan untuk


setiap tingkat manajemen, maka biayabiaya harus digolongkan dan diberi kode
sesuai dengan tingkat manajemen yang
berada dalam struktur organisasi.

Dalam menentukan terkendalikan atau tidaknya


biaya, ada dua metode yang dapat dilakukan, yaitu :

a.Didasarkan pada biaya yang dikeluarkan


Contohnya : departemen listrik dibebani tanggung
jawab atas terjadinya biaya listrik tersebut karena
biaya listrik dikeluarkan oleh departemen listrik
sedangkan bagian departemen produksi dan
departemen lain tidak dibebani.
b.Berdasarkan pada sumber daya yang dikonsumsi
Contoh : departemen listrik menjadi tanggung jawab
penuh manajer listrikatau dapat dialokasikan ke
departemen pemakai sesuai dengan perilaku
manajer yang hendak dituju

Contoh :
Departemen listrik menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan 3
Departemen produksi X, Y, dan Z. Kapasitas Departemen listrik per
tahun adalah 320.000 Kwh dengan jumlah biaya listrik tersebut
sebesar Rp 1.000.000 yang terdiri dari biaya tetap Rp 700.000 dan
biaya variabel Rp 300.000. kebutuhan minimum departemen X, Y,
dan Z masing-masing 80.000 Kwh, 70.000 Kwh, dan 50.000 Kwh.
Jawab:
Data Departemen Listrik
Biaya Tetap Rp 700.000
Biaya Variable Rp 300.000
Total Biaya Produksi Listrik Pertahun Rp 1.000.000
Data Pemakaian Listrik Per Tahun
Kapasitas yang tersedia 320.000 Kwh
Kebutuhan Pokok Departemen
Departemen X 80.000 Kwh
Departemen Y 70.000 Kwh
Departemen Z 50.000 Kwh
200.000 Kwh
Kapasitas yang bebas pakai 120.000 Kwh

METODE PEMBEBANAN TANGGUNG JAWAB BIAYA LISTRIK


Metode 1 (Pembebanan berdasarkan kapasitas pelayanan)
Departemen X = (80.000/200.000) x Rp 1.000.000
=Rp 400.000
Departemen Y = (70.000/200.000) x Rp 1.000.000
=Rp 350.000
Departemen Z = (50.000/200.000) x Rp 1.000.000
=Rp 250.000
Rp1.000.000
Metode 2 (Pembebanan berdasarkan kapasitas pelayanan dan pemakaian)
Departemen X
Biaya Tetap
(80.000/200.000) x Rp 700.000 = Rp 280.000
Biaya Variable
(300.000/120.000)
= Rp 2,5 / Kwh
Departemen Y
Biaya Tetap
(70.000/200.000) x Rp 700.000 = Rp 245.000
Biaya Variable
(300.000/120.000)
= Rp 2,5 / Kwh
Departemen X
Biaya Tetap
(50.000/200.000) x Rp 700.000 = Rp 175.000
Biaya Variable
(300.000/120.000)
= Rp 2,5 / Kwh
Metode 3 (Pembebanan Berdasarkan Pemakaian)
Departemen X (Rp 1.000.000 / 320.000)
= Rp 3,125 / Kwh
Departemen Y (Rp 1.000.000 / 320.000)
= Rp 3,125 / Kwh
Departemen Z (Rp 1.000.000 / 320.000)
= Rp 3,125 / Kwh

Rekayasa Informasi Akuntansi


Pertanggung Jawaban
dalamactivity based
responsibilityaccounting
system
Untuk memungkinkan manajemen melakukan
pengelolaan aktivitas, sistem akuntansi
pertanggungjawaban harus memisahkan biaya
penambah nilai dan biaya bukan penambah nilai.
Pemisah biaya ini diperlukan agar manajemen :
1)Dapat memisahkan perhatian mereka terhadap
pengurangan dan akhirnya penghilangan biaya bukan
penambah nilai
2)Menyadari besarnya pemborosan yang sekarang
sedang terjadi
3)Memantau efektivitas program pengelolaan aktivitas
dengan menyajikan biaya bukan penambah nilai kepada
manajemen dalam bentuk perbandingan anatr periode.

Analisis Nilai Proses

Analisis nilai proses merupakan landasan


akuntansi pertanggungjawaban berdasarkan
aktivitas lebih memfokuskan pada akuntabilitas
aktivitas, bukan pada biaya; dan juga
menekankan maksimalisasi kinerja sistem yang
luas, bukan pada kinerja individual. Analisis nilai
proses membantu mengubah konsep akuntansi
pertanggungjawaban berdasarkan aktivitas dari
dasar konseptual ke dasar operasional.
Analisis nilai proses mengacu pada (1) analisis
penggerak, (2) analisis aktivitas dan (3)
pengukuran kinerja aktivitas

SEKIAN
TERIMA KASIH