Está en la página 1de 10

Perkembangan Limnologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia:

Tantangan dan Harapan

EVALUASI KUALITAS AIR PERMUKAAN DI KAWASAN CAGAR


BIOSFER GIAM SIAK KECIL- BUKIT BATU, KABUPATEN SIAK, RIAU
Agung B. Supangat 1 dan Gevisioner 2
1

Balai Penelitan Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Surakarta


Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Propinsi Riau, Pekanbaru
maz_goenk@yahoo.com

ABSTRAK
Kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (CB-GSK-BB) merupakan salah satu
kawasan konservasi khas di lahan gambut yang memiliki nilai dan fungsi ekologis yang tinggi,
namun kondisinya sudah mulai terganggu. Upaya pengelolaan secara tepat untuk
mempertahankan dan meningkatkan fungsi konservasinya perlu segera dilakukan. Dalam rangka
penyusunan rencana pengelolaan, dibutuhkan data dasar antara lain informasi kualitas
sumberdaya air permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan karakteristik kualitas
air permukaan di kawasan CB-GSK-BB. Sampel air berasal dari sungai yang terdapat pada
wilayah penelitian, dibedakan antara zona inti, zona penyangga dan zona transisi, masing-masing
sebanyak 2 kali ulangan. Sampel air dianalisis di laboratorium untuk mengetahui karakteristik
kualitas airnya, meliputi parameter pH, COD, BOD, DO, kekeruhan dan amonia. Hasil penelitian
memperlihatkan kondisi kualitas air permukaan di dalam maupun sekitar kawasan CB-GSK-BB
termasuk kategori sedang sampai rendah. Pada parameter kekeruhan dan kandungan ammonia,
air sungai di zona inti menunjukkan kondisi yang lebih baik dibandingkan di zona penyangga
maupun transisi. pH air secara keseluruhan tergolong rendah (masam). Persyaratan minimal
kebutuhan oksigen terlarut pada zona inti dan transisi cukup untuk kriteria kelas air II dan pada
zona penyangga untuk kelas air III. Berdasarkan parameter BOD dan COD, seluruh air tidak
memenuhi persyarakat kelas air I sampai IV. Berdasarkan hasil penelitian, disarakan adanya
upaya kegiatan pemulihan pada zona transisi dan penyangga (bagian luar), melalui kegiatan
konservasi maupun budidaya yang lebih memperhatikan dampak pada kualitas air gambut. Pada
zona inti dan penyangga (bagian dalam), perlu dilakukan pemeliharaan terutama pencegahan
pencurian kayu dan kebakaran hutan/lahan gambut.
Kata kunci: Kawasan konservasi, Lahan gambut, Kualitas air permukaan

PENDAHULUAN
Sumberdaya alam hutan rawa gambut merupakan aset potensial untuk dapat
meningkatkan kesejahteraan manusia, sehingga sudah seharusnya apa yang
terkandung di dalamnya diinventarisasi, dikaji dan dikembangkan mengikuti
kaidah keilmuan, kemanfaatan dan kelestariannya (Barchia, 2006). Untuk
mendukung pengelolaan berkelanjutan di kawasan konservasi tersebut, diperlukan
adanya data base yang komprehensif yang diperoleh melalui berbagai kajian dan
penelitian (Maini dan Ullsten, 1993).
Kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu (CB GSK-BB)
memiliki keunikan tersebut, yaitu sebagai ekosistem hutan rawa gambut tropis
yang mengandung keanekaragaman hayati sangat tinggi dan cadangan karbon

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MLI I, Cibinong 3 Desember 2013

382

Perkembangan Limnologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia:


Tantangan dan Harapan

terestrial sangat besar. CB GSK-BB merupakan salah satu kekayaan alam


Propinsi Riau yang telah menjadi perhatian dunia internasional. Sebagai
ekosistem hutan rawa gambut tropis, cagar biosfer ini sangat berperan penting
dalam pengaturan sistem biosfer. Setiap unsur dari subsistem dalam ekosistem
rawa berinteraksi membentuk proses lingkaran kehidupan, termasuk siklus
biogeokimia, rantai makanan, dinamika hidrologi dan kualitas air termasuk
wilayah habitat beragam spesies flora dan fauna (Barchia, 2006).
Sifat khas dan unik dari kawasan CB GSK-BB sebagai kawasan konservasi
menuntut dilakukan pengelolaan secara tepat. Rencana pengelolaan yang tepat
dan strategis diharapkan akan dapat menjamin berkelanjutan bagi fungsi
konservasi kawasan dan meningkatnya manfaat kawasan bagi kesejahteraan
masyarakat. Untuk itu, ketersediaan berbagai informasi dasar mengenai
karakteristik kawasan sangat diperlukan, salah satunya berkaitan dengan aspek
sumber daya air di CB GSK-BB. Beberapa penelitian telah dilakukan di kawasan
CB GSK-BB, antara lain terkait aspek observasi site, sosial ekonomi masyarakat,
biomasa/karbon, biodiversitas (ikan, burung dan mamalia), serta biologi perairan
(Maisal, 2011b; 2011c).
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik kualitas air
permukaan di kawasan CB-GSK-BB. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi
masukan data dasar dalam rangka penyusunan rencana pengelolaan kawasan
konservasi yang lebih baik.

BAHAN DAN METODE


A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Kajian dilaksanakan di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil dan Bukit Batu (CB
GSK-BB), yang terletak di Kabupaten Siak dan Bengkalis, Propinsi Riau.
Penelitian dilaksanakan pada tahun 2011, dengan waktu pengambilan sampel air
permukaan serta cheking lapangan dilakukan pada Bulan September Desember
2011.

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MLI I, Cibinong 3 Desember 2013

383

Perkembangan Limnologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia:


Tantangan dan Harapan

B. Bahan dan Peralatan


Bahan penelitian yang digunakan adalah:
1. Peta kawasan dan penutupan CB GSK-BB dari citra satelit
2. Sampel air permukaan
Peralatan penelitian yang digunakan adalah :
1. Peralatan pengambilan sampel air dan water quality checker
2. Seperangkat peralatan laboratorium untuk analisis sampel air
3. Tally sheet untuk pencatatan diskripsi lapangan
C. Pengumpulan Data
Pengamatan data sumberdaya air permukaan dilakukan baik dengan
pengamatan secara langsung di lapangan maupun dengan pengambilan sampel
kualitas air. Lokasi cek lapangan serta pengambilan sampel air dilakukan pada
setiap zona pada cagar biosfer masing-masing 2 kali ulangan. Pengambilan
sampel kualitas air dilakukan pada tasik/danau dan sungai-sungai/kanal besar
yang berada di masing-masing zona.
D. Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data kualitas air dilakukan terkait dengan analisis laboratorium
terhadap tingkat pencemaran yang terjadi, yaitu meliputi: pH, kekeruhan,
Dissolved Oxygen (DO), Amoniak (NH3-N), Biological Oxygen Demand (BOD),
dan Chemical Oxygen Demand (COD). Analisis data dilakukan secara deskriptif
dengan membandingkan data hasil analisis laboratorium dengan standar baku
mutu kualitas air permukaan sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82
Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air1. Masing-masing zona dibandingkan kondisi kualitas air permukaan yang ada
terkait dengan pengelolaan yang dilakukan, serta dilakukan penggolongan kelas
mutu air berdasarkan kriteria yang ada dalam PP/82 tahun 2001.
1

Kelas mutu air permukaan berdasarkan PP no. 82 tahun 2001: (I) Kelas satu, air yang peruntukannya dapat
digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama
dengan kegunaan tersebut; (II) Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana
rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau
peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut; (III) Kelas tiga, air
yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan air yang sama dengan kegunaan tersebut; dan
(IV) Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi, pertanaman dan atau
peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MLI I, Cibinong 3 Desember 2013

384

Perkembangan Limnologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia:


Tantangan dan Harapan

HASIL DAN PEMBAHASAN


Kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu
Kawasan hutan rawa gambut Giam Siak Kecil-Bukit Batu (GSK-BB)
ditetapkan sebagai kawasan cagar biosfer pada tahun 2009. Usulan penetapan ini
merupakan hasil kerjasama antara LIPI, Departemen Kehutanan (BBKSDA Riau),
Pemerintah Daerah Provinsi Riau, dan sektor swasta (Sinar Mas Forestry).
Kawasan ini telah mendapat sertifikasi dari Program MAB - UNESCO pada
tanggal 26 Mei 2009, dan diresmikan oleh Menteri Kehutanan pada tanggal 1 Juli
2009 di Pekanbaru, Riau.
Secara administrasi, kawasan CB GSK-BB terletak di 2 wilayah
pemerintahan yaitu Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak di Propinsi Riau.
Kawasan CB GSK-BB termasuk kawasan yang memiliki karakteristik hamparan
rawa gambut yang dialiri oleh dua sungai, yaitu Bukit Batu dan Siak Kecil.
Kawasan ini membentang di Provinsi Riau diapit oleh 2 Kabupaten Bengkalis dan
Siak serta bagian barat Kota Dumai. CB GSK-BB meliputi ekosistem hutan rawa
gambut serta ekosistem perairan dan tasik (danau). Keberadaan tasik-tasik yang
berada di sepanjang Sungai Siak Kecil maupun Sungai Bukit Batu, sangat unik
dan merupakan contoh evolusi dari danau/genangan dystrophic yang merupakan
area amblesan.
Total luasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil dan Bukit Batu yaitu 705.270
ha, yang terdiri dari 3 zona (Maisal, 2011a) (Gambar 1.), yaitu:

1. Zona Inti seluas 178.722 ha, meliputi Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak
Kecil (84.967 ha), Suaka Margasatwa Bukit Batu (21.500 ha), dan alokasi
Sinar Mas Forestry (72.255 ha).

2. Zona Penyangga seluas 222.425 ha, meliputi Hutan Tanaman Industri (HTI)
Sinar Mas grup.

3. Zona Transisi seluas 304.123 ha, meliputi pemukiman, dan perkebunan


masyarakat.

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MLI I, Cibinong 3 Desember 2013

385

Perkembangan Limnologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia:


Tantangan dan Harapan

Gambar 1. Kawasan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil - Bukit Batu


Sebagai hutan rawa gambut dengan kedalama sampai 6 m, CB GSK-BB
memiliki beragam fungsi, antara lain sebagai penghasil kayu dan hasil non kayu
seperti madu hutan, resin dan rotan. Selain itu, lahan gambut berfungsi sebagai
pengatur kualitas dan kuantitas air dengan menyerap banyak air hingga 1000%
dari beratnya sendiri. Rawa gambut berperan dalam penyediaan pakan ikan serta
siklus nutrien dalam ekosistem gambut.
Wahyunto et al., (2005) menambahkan bahwa lahan gambut memiliki
fungsi hidrologis karena memiliki daya serap air yang sangat tinggi (bertindak
seperti spons), sehingga dapat menyerap air hujan dan mengurangi bahaya banjir.
Pada musim kemarau, rawa gambut melepaskan air sebagai aliran sungai.
Keberadaan rawa gambut sangat penting bagi daerah hilirnya yang berfungsi
sebagai kawasan tampung hujan. Fungsi hidrologinya tidak hanya berguna bagi
pertanian, tapi juga berkaitan dengan sosial ekonomi seperti transportasi,
kesehatan dan ketersediaan biota pada ekosistemnya.
CB GSK-BB juga merupakan cadangan karbon terestrial sangat besar.
Vegetasi yang tumbuh di lahan gambut dan membentuk ekosistem hutan rawa
gambut akan mengikat karbon dioksida dari atmosfer dan menambah daya simpan
karbon pada ekosistemnya. Tapi jika mengalami gangguan maka lahan gambut
akan berubah menjadi sumber emisi karbon (Wahyunto et al., 2005).

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MLI I, Cibinong 3 Desember 2013

386

Perkembangan Limnologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia:


Tantangan dan Harapan

Sebagai sumber plasma nutfah, CB GSK-BB juga menyimpan kekayaan


keanekaragaman flora fauna yang sangat besar. Hasil kajian LIPI (2001) dalam
Maisal (2011a) menyimpulkan bahwa di kawasan CB GSK-BB terdapat sekitar
126 jenis tumbuhan (52 jenis merupakan tumbuhan langka dan dilindungi), yang
terdiri dari 67 marga dan 34 suku tumbuhan. CB GSK-BB juga memiliki
keanekaragaman fauna, yaitu sekitar 150 jenis burung, 10 jenis mamalia termasuk
yang dilindungai, 8 jenis reptil yang merupakan jenis lokal, seperti buaya sumpit.
Sebagai kawasan wisata, obyek yang paling menarik adalah hamparan
panorama tasik (danau) yang indah dikelilingi oleh tumbuhan air seperti rasau dan
bakung membentuk perakaran yang kompak seperti spot-spot menyerupai pulau
kecil. Keunikan dari ekosistem cagar biosfer Giam Siak adalah banyak ditemukan
sumber mata air yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan volume air
pada area cagar biosfer.
Disamping itu, sebagai fungsi sosial-ekonomi masyarakat, di kawasan CB
GSK-BB terdapat beberapa tasik (danau) seperti Tasik Bungsu, Tasik Kemenyan,
Tasik Terentang dan Rantau Panjang. Tasik-tasik tersebut dimanfatakan oleh
nelayan sungai sebagai sumber pendapatan, dimana hasil tangkapan dalam 1
minggu bisa mencapai 50 kg ketika musim tiba dengan berbagai jenis ikan
berupa: Baung, Kepar (Ballontia hasseltii), Tuakang, Gabus, Soindang, Toman
(Channa spp) dan sang perimadona yaitu ikan Tapa (Wallago attu) karena nilai
jual relatif mahal (Maisal, 2011a).

Karakteristik Sumber Daya Air Permukaan


Hasil analisis beberapa parameter kualitas air disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kondisi kualitas air permukaan di kawasan Cagar Biosfer Giam Siak
Kecil-Bukit Batu
Parameter
pH
BOD
COD
Oksigen Terlarut (DO)
Kekeruhan
Amonia (NH3-N)

Satuan
mg/L
mg/L
mg/L
NTU
Mg/L

Transisi
3,48
43,62
188,3
4,52
5,61
0,734

Hasil / Zona
Penyangga
5,21
54,24
291,7
3,99
6,34
0,906

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MLI I, Cibinong 3 Desember 2013

Inti
3,09
63,08
210,1
4,27
0,75
0,381

387

Perkembangan Limnologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia:


Tantangan dan Harapan

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa kondisi air permukaan di


kawasan cagar biosfer tergolong air yang masam sampai sangat masam, yang
ditunjukkan nilai pH 3,09 5,21. Hal tersebut dipengaruhi oleh lokasi kawasan
yang berada di lahan gambut/tanah organik yang bersifat masam. Hanya pada
zona penyangga yang berbatasan dengan tanah mineral, menunjukkan nilai pH
yang paling tinggi. Berdasarkan kriteria nilai pH, kondisi perairan di semua zona
kawasan cagar biosfer kondisinya tidak masuk ke dalam kelas manapun (I sampai
IV). Hal tersebut mengartikan bahwa air yang mengalir di kawasan cagar biosfer
tidak disarankan untuk berbagai keperluan mulai untuk air baku air minum,
perikanan sampai pertanian secara umum. Pemanfaatan untuk air irigasi pertanian
dapat dilakukan secara terbatas serta untuk usaha perikanan, tetapi harus
dilakukan upaya tambahan untuk menaikkan pH agar sesuai dengan kriteria,
misalnya dengan upaya pengapuran.
Untuk mengetahui keberadaan beban bahan pencemar dalam perairan,
dapat dilihat dari konsentrasi nilai oksigen terlarut dalam air, baik parameter BOD
(biological oxygen demand), COD (chemical oxygen demand) maupun DO
(dissolved oxygen). Oksigen merupakan salah satu faktor pembatas, sehingga bila
ketersediaannya dalam air tidak mencukupi kebutuhan biota, maka segala
aktivitas biota akan terhambat (Kordi dan Tancung, 2005). Nilai BOD
menunjukkan kebutuhan oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di
dalam air oleh mikroorganisme, sedangkan nilai COD menunjukkan kebutuhan
oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan-bahan buangan dalam air.
Nilai BOD dan COD sangat erat kaitannya dengan proses reaksi kimia dan
biologi dalam badan air (Bartram dan Balance, 1996). Semakin besar suatu badan
air memiliki nilai aktual BOD atau COD, semakin besar juga kebutuhan air
terhadap keberadaan oksigen terlarut untuk berbagai rekasi kimia/biologi yang
diperlukan organism air, sehingga kondisi air semakin buruk (berat) bagi
organisme air untuk bertahan hidup.
Berdasarkan kriteria nilai BOD dan COD, terlihat bahwa ketiga zona di
kawasan cagar biosfer tidak termasuk ke dalam kriteria manapun (I sampai IV).
Nilai aktual BOD maupun COD di ketiga zona memperlihatkan nilai yang sangat
besar (melebihi ambang batas), yang berarti bahwa perairan yang ada memiliki

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MLI I, Cibinong 3 Desember 2013

388

Perkembangan Limnologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia:


Tantangan dan Harapan

kebutuhan yang sangat besar terhadap keberadaan oksigen terlarut dalam air agar
organisme air dapat berfungsi dengan baik dalam mengendalikan bahan
pencemar. Oleh karena itu, berdasarkan nilai BOD dan COD, kondisi air
permukaan yang ada tidak disarankan digunakan untuk berbagai keperluan seperti
pada kelas air I sampai IV.
Nilai DO memperlihatkan besarnya nilai konsentrasi yang menunjukkan
jumlah oksigen yang tersedia dalam suatu badan air. Semakin besar nilai DO
semakin bagus kualitas airnya, sebaliknya semakin rendah nilai DO menunjukkan
air semakin tercemar. Arti lain nilai DO adalah menunjukkan sejauh mana badan
air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikro organisme. Selain itu
besarnya nilai DO menunjukkan besarnya kemampuan air untuk membersihkan
pencemar (self purifikasi).
Berdasarkan nilai DO, air permukaan pada zona inti dan transisi masuk
dalam kriteria kelas air II sampai IV, air pada zona penyangga termasuk dalam
criteria kelas air III dan IV, dan tidak ada yang masuk pada kriteria kelas air I.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi syarat minimal oksigen terlarut dalam
air (DO) cukup bagi air untuk di zona inti dan transisi untuk kriteria kelas air II
dan zona penyangga untuk kelas air III.
Berdasarkan nilai parameter kekeruhan maupun amoniak (NH3), hanya air
pada zona inti yang mempunyai kriteria baik dengan nilai kekeruhan < 5 NTU
dan ammonia < 0,5 mg/l, sedangkan pada zona transisi dan penyangga
menunjukkan nilai kekeruhan > 5 NTU serta ammonia > 0,5 mg/l. Hal tersebut
menunjukkan bahwa air permukaan di zona inti termasuk dalam kriteria kelas air I
sampai IV, sedangkan air pada zona transisi dan penyangga termasuk dalam
kriteria kelas air II sampai IV.
Fenomena tersebut tidak terlepas dari fungsi hutan di zona inti yang relatif
masih baik dibandingkan zona lainnya yang telah mengalami gangguan akibat
aktivitas manusia. Hofer (2003) mengatakan salah satu peran hutan adalah
mengendalikan aliran permukaan (sungai) dari air hujan yang jatuh serta
menurunkan kandungan hara dan polutan yang terdapat pada badan air. Pada zona
penyangga dan transisi yang telah mengalami perubahan kondisi tutupan hutan
rawa gambutnya berdampak pada kualitas air yang ada. Tafangenyasha dan

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MLI I, Cibinong 3 Desember 2013

389

Perkembangan Limnologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia:


Tantangan dan Harapan

Dzinomwa (2005) mengatakan bahwa perubahan kondisi kimiawi kualitas air


pada aliran sungai merupakan dampak dari buangan air dari penggunaan lahan
yang ada. Supangat (2008) juga menyimpulkan dari penelitiannya bahwa semakin
kecil luas tutupan hutan dalam DAS berdampak pada penurunan beberapa
parameter kualitas air sungai.
Namun demikian, keberadaan danau atau tasik di kawasan CB GSK-BB
yang masih berfungsi sebagai terminal air dapat diharapkan menjadi buffer untuk
perbaikan kualitas air. Seperti hasil penelitian Supangat dan Paimin (2007) yang
menyimpulkan bahwa keberadaan waduk atau reservoir air di sepanjang aliran
sungai memiliki kemampuan untuk memulihkan atau purifikasi kondisi kualitas
lingkungan air (kualitas air) secara alami atau yang dikenal sebagai natural selfpurification capacity. Kumurur (2002) dalam

hasil penelitiannya juga

menyebutkan bahwa keberadaan Danau Tondano dapat mengurangi pengaruh


masukan bahan pencemar dari inlet danau baik dari limbah pertanian, rumah
tangga dan erosi, sehingga air danau masih layak dikonsumsi oleh masyarakat di
bawahnya di Kota Manado.
KESIMPULAN
Kesimpulan
Kawasan CB GSK-BB merupakan kawasan konservasi yang memiliki nilai
dan fungsi ekologis yang tinggi, namun kondisinya sudah mulai kurang ideal
sehingga perlu upaya pengelolaan secara tepat. Kondisi sumberdaya air
permukaan yang mengalir di dalam maupun sekitar kawasan CB GSK-BB
menunjukkan kualitas yang sedang sampai rendah, sebagai pengaruh dari jenis
tanah organik yang ada. Pada beberapa parameter (DO, kekeruhan, dan ammonia)
kondisi perairan permukaan di zona inti menunjukkan kondisi yang lebih baik
dibandingkan di zona penyangga maupun transisi.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, disarakan adanya upaya kegiatan pemulihan
pada zona transisi dan penyangga (bagian luar), melalui kegiatan konservasi
maupun budidaya yang lebih memperhatikan dampak pada kualitas air gambut.
Pada zona inti dan penyangga (bagian dalam), perlu dilakukan pemeliharaan
terutama pencegahan pencurian kayu dan kebakaran hutan/lahan gambut.

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MLI I, Cibinong 3 Desember 2013

390

Perkembangan Limnologi dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia:


Tantangan dan Harapan

DAFTAR PUSTAKA
Barchia, M. F. 2006. Gambut : Agroekosistem dan Transformasi Karbon. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
Bartram, J. and R. Balance. 1996. Water Quality Monitoring - A Practical Guide
to the Design and Implementation of Freshwater Quality Studies and
Monitoring Programmes, Chapter 2 - WATER QUALITY. Published on
behalf of United Nations Environment Programme and the World Health
Organization. Herts. United Kingdom.
Hofer, T. 2003. Sustainable Use and Management of Freshwater Resources : The
Role of Forest. State of The Worlds Forest. Part II: Selected Current Issues
in The Forest Sector. FAO Forestry Department.
Kordi, M. G. H. K. dan A. B. Tancung. 2005. Pengelolaan Kualitas Air dalam
Budidaya Perairan. Rineka Cipta. Jakarta.
Kumurur, V. A. 2002. Aspek Strategis Pengelolaan Danau Tondano Secara
Terpadu. EKOTON Vol. 2 (1): 73-80, April 2002. Jakarta.
Maisal,
RA.
2011a.
Lahirnya
Cagar
Biosfer
di
Riau.
http://gskbb.blogspot.com/2011/04/lahirnya-cagar-biosfer-di-riau.html
[6
(Diakses 20 September 2011]
---------,
2011b.
Fieldtrip
Kyoto
University
dan
UNRI.
http://gskbb.blogspot.com/2011/04/fieldtrip-kyoto-university-unri.html
(Diakses 20 September 2011]
---------, 2011c. Survey Potensi Perairan dan Identifikasi Ikan.
http://gskbb.blogspot.com/2011/04/survey-potensi-perairan-dan.html.
(Diakses 20 September 2011]
Maini S. J. and O. Ullsten. 1993. Conservation and Sustainable Development of
Forest Globally : Issues and Opportunities. Di dalam Ramakrishna, K and
G.M. Woodwell (Ed.). World Forest for The Future : Their Use and
Conservations. New Haven and London: Yale University Press.
Peratutam Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas
Air dan Pengendalian Pencemaran Air
Supangat, A. B. dan Paimin. 2007. Kajian Peran Waduk Sebagai Pengendali
Kualitas Air Secara Alami. Jurnal Geografi Universitas Geografi Surakarta
21 (2) : 123-134. Surakarta.
Supangat, A. B. 2008. Pengaruh Berbagai Penggunaan Lahan Terhadap Kualitas
Air Sungai Di Kawasan Hutan Pinus Di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Vol. 5 (3). Bogor.
Tafangenyasha, C. dan T. Dzinomwa. 2005. Land-use Impacts on River Water
Quality in Lowveld Sand River Systems in South-East Zimbabwe. Land Use
and Water Resources Research 5 : 3.1-3.10. http://www. luwrr.com. Diakses
15 Maret 2007, jam 10.30.
Wahyunto, Ritung S, Suparto, Subagjo. 2005. Sebaran Gambut dan Kandungan
Karbon di Sumatera dan Kalimantan 2004. Bogor, Indonesia: Wetland
International Indonesia Programme.

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MLI I, Cibinong 3 Desember 2013

391