Está en la página 1de 11

ARTIKEL EVALUASI PROGRAM

Evaluasi Program Keluarga Berencana di UPTD Puskesmas Rengasdengklok,


Karawang Periode Januari-Desember 2012
1

Hadiyanto

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Departemen Ilmu Kesehatan Komunitas Universitas Kristen Krida Wacana

Abstrak
Cakupan peserta KB Aktif terhadap Pasangan Usia Subur (PUS) di Puskesmas Kecamatan
Rengasdengklok periode Januari-Desember 2012 masih kurang dari tolok ukur 70%, yakni sebesar
47,28%. Oleh karena belum diketahuinya penyebab masalah-masalah yang terdapat di dalam program
Keluarga Berencana di UPTD Puskesmas Rengasdengklok yang dimulai pada periode JanuariDesember 2012, maka diperlukan evaluasi untuk masalah yang dihadapi dan menentukan solusi
pemecahan masalah tersebut.
Metode yang digunakan untuk evaluasi program ini adalah pendekatan sistem. Sasarannya yaitu PUS
di UPTD Puskesmas Kecamatan Rengasdengklok periode Januari-Desember 2012 sejumlah 15.018.
Data didapatkan dari data sekunder yaitu wawancara dengan petugas Puskesmas dan Petugas
Lapangan Keluarga Berencana, Data Demografi UPTD Puskesmas Rengasdengklok tahun 2012,
Laporan Tahunan UPTD Puskesmas Rengasdengklok tahun 2012, Laporan Bulanan PLKB evaluasi
peserta KB baru dan KB aktif di Kecamatan Rengasdengklok periode Januari-Desember 2012,
Laporan Bulanan program KB UPTD Puskesmas Rengasdengklok, Kabupaten Karawang periode
Januari-Desember 2012.
Cakupan konseling peserta KB 8,44%, cakupan pelayanan kontrasepsi yang terdiri dari cakupan
peserta KB aktif 47,28%, cakupan peserta KB aktif berdasarkan metode kontrasepsi pil 17,81%,
suntik 74,40%, implant 2,63%, IUD 1,08%, kondom 0,79%, MOW 1,92%, MOP 1,33%. Dari data
tersebut, yang menjadi prioritas masalah, adalah cakupan konseling 8,44% dan cakupan peserta KB
aktif 47,28%. Penyebab masalah tersebut adalah kurangnya minat
klien atau peserta KB aktif untuk konseling, tidak adanya ruangan khusus konseling KB di
Puskesmas, tidak adanya laporan tertulis lengkap mengenai pelaksanaan kegiatan ini, masih adanya
kekhawatiran dari penduduk mengenai efek samping yang diakibatkan dengan jenis KB
Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil pencapaian program KB di Puskesmas
Rengasdengklok belum mencapai target yang telah ditentukan dimana prioritas masalahnya ialah
cakupan konseling KB dan cakupan peserta KB aktif.
Kata kunci

: Rengasdengklok, keluarga berencana, puskesmas

Halaman | 1

ARTIKEL EVALUASI PROGRAM


Pendahuluan
Program keluarga berencana (KB) di
Indonesia di bawah koordinasi Badan
Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
pernah dinyatakan berhasil oleh bangsabangsa di dunia dalam mengendalikan
tingkat
kelahiran.
Kegiatan-kegiatan
komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
KB yang intensif dan pelibatan semua
unsur pemerintah, masyarakat dan swasta
pada periode tahun 1970-1990an telah
berhasil membuat diterimanya Norma
Keluarga Kecil, Bahagia dan Sejahtera
(NKKBS) di kalangan penduduk. Pada
periode 1970-2004, angka kelahiran total
atau Total Fertility Rate (TFR) wanita
Indonesia berhasil diturunkan dari 5,6 per
wanita menjadi 2,6 per wanita. Indonesia
juga dapat menekan jumlah penduduk
sebanyak 79 juta jiwa selama dari tahun
1970 hingga 2000.1 Hasil proyeksi
menunjukkan bahwa jumlah penduduk
Indonesia selama dua puluh lima tahun
mendatang terus meningkat yaitu dari
205,1 juta pada tahun 2000 menjadi 273,2
juta pada tahun 2025.2
Dalam satu dekade terakhir,
Program Pelayanan Keluarga Berencana
(KB) di Indonesia mengalami suatu
keadaan stagnan yang ditandai dengan
tidak meningkatnya beberapa indikator
pelayanan KB. Dampaknya, Total Fertility
Rate (TFR) Indonesia tidak menunjukkan
adanya tren yang menurun, tetapi menetap
pada angka 2,6 per wanita dalam kurun
waktu 4 tahun yaitu dari tahun 2003
hingga 2007.3
Pertama, angka kesertaan ber-KB
(Contraseptive Prevalence Rate=CPR)
pada kurun waktu 1997-2002 mencapai
60,3% (SDKI 2002) hanya naik menjadi
61,4% pada kurun waktu 2002-2007
(SDKI 2007), angka ini masih belum
mencapai sasaran BKKBN 2012-2014

yaitu sebesar 65%.2. Kedua, persentase


kelompok unmet need justru meningkat
dari 8,6% pada tahun 2002 menjadi 9,1%
pada tahun 2007. Kedua indikator tersebut
diharapkan akan memberikan kontribusi
dalam upaya peningkatan kesejahteraan
ibu.3 Oleh karena itu peningkatan
pelayanan KB tidak semata-mata untuk
pengendalian penduduk namun akan
berkontribusi
dalam
meningkatkan
kesehatan ibu dan bayi. Hal ini
berhubungan dengan tujuan kelima MDGs
2015 adalah peningkatan kesejahteraan ibu
dimana indikator utamanya adalah
persalinan oleh tenaga kesehatan yang
dihubungkan dengan Angka Kematian Ibu
(AKI). Semakin tinggi cakupan persalinan
oleh tenaga kesehatan, maka akan semakin
rendah angka kematian ibu.3
Data BKKBN didapatkan Angka
Kematian Ibu (AKI) menurun dari
390/100.000 kelahiran hidup (SDKI 1991)
menjadi sebesar 228/100.000 kelahiran
hidup (SDKI 2007)4 sementara target
pencapaian
MDGs
2015
adalah
3
102/100.000 kelahiran hidup, dan Angka
Kematian Bayi (AKB) sebesar 34/1.000
kelahiran hidup.4
Hasil Laporan Pendahuluan Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) tahun 2007 menunjukkan adanya
peningkatan dalam angka prevalensi
kontrasepsi dari 50% pada tahun 1991
menjadi 62% pada tahun 2012.4 Data
BKKBN tahun 2007 menunjukkan jumlah
peserta KB baru di Indonesia sebanyak 7,5
juta akseptor.1,5 Dilihat dari jenis metode
kontrasepsi yang banyak dipilih/paling
popular adalah suntik 31,8%; disusul pil
13,2%; dan alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR) sekitar 4,9%. Cara lain yang
meningkat peminatnya adalah metode
operasi wanita (MOW atau sterilisasi)
sekitar 3,0% dan pengguna susuk KB
Halaman | 2

ARTIKEL EVALUASI PROGRAM


(2,8%). Akan tetapi tingkat penggunaan
kontrasepsi pria masih sangat rendah
(sterilisasi pria 0,2% dan kondom 1,3%).5
Proporsi tingkat putus pemakaian
kontrasepsi (discontinuitation rate) masih
cukup tinggi sebesar 26%, angka
kehamilan yang tidak diinginkan (KTD)
masih sekitar 7%.5 Hal ini menunjukkan
bahwa masih banyak terjadi kehamilan
yang perlu dihindari dan masih banyaknya
pasangan yang belum memiliki kesadaran
yang mantap untuk ber-KB. Hal lain yang
masih memprihatinkan adalah masih
tingginya angka ibu hamil dengan kondisi
4 Terlalu yaitu sebesar 62,7%. Hal ini
lah yang akan menjadi prioritas program
KB agar kedepan dapat menurunkan angka
ibu hamil dengan kondisi 4 Terlalu.
Karena apabila tidak bias ditekan maka
akan
berkontribusi
besar
dalam
5
meningkatnya Angka Kematian Ibu.
Cakupan peserta KB Aktif terhadap
Pasangan Usia Subur di UPTD Puskesmas
Rengasdengklok periode Januari 2012
sampai dengan Desember 2012 masih
kurang dari tolok ukur 70%, yakni sebesar
47,28%. Oleh karena belum diketahuinya
penyebab masalah-masalah yang terdapat
di dalam sistem kinerja program Keluarga
Berencana
di
UPTD
Puskesmas
Rengasdengklok yang dimulai pada
periode Januari 2012 sampai dengan
Desember 2012, oleh karena itu diperlukan
evaluasi untuk mengetahui masalah yang
dihadapi
dan
menentukan
solusi
pemecahan masalah tersebut
Materi dan Metode Evaluasi Program
Materi yang dievaluasi dalam
program ini terdiri dari laporan hasil
kegiatan bulanan Puskesmas mengenai
program
KB
di
Puskesmas
Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat,

periode Januari 2012 sampai dengan


Desember 2012, yang berisi kegiatan
konseling,
pelayanan
kontrasepsi,
pembinaan dengan Komunikasi Informasi
Edukasi (KIE), pengayoman medis,
penanganan efek samping dan komplikasi
yang
ringan,
pelayanan
rujukan,
pencatatan dan pelaporan.
Metode yang digunakan untuk
evaluasi program ini adalah pendekatan
sistem. Sasarannya yaitu PUS di UPTD
Puskesmas Kecamatan Rengasdengklok
periode Januari-Desember 2012 sejumlah
15.018. Data didapatkan dari data
sekunder yaitu wawancara dengan petugas
Puskesmas dan Petugas Lapangan
Keluarga Berencana, Data Demografi
UPTD Puskesmas Rengasdengklok tahun
2012, Laporan Tahunan UPTD Puskesmas
Rengasdengklok tahun 2012, Laporan
Bulanan PLKB evaluasi peserta KB baru
dan
KB
aktif
di
Kecamatan
Rengasdengklok
periode
JanuariDesember 2012, Laporan Bulanan
program kegiatan KB UPTD Puskesmas
Rengasdengklok, Kabupaten Karawang
periode Januari-Desember 2012.

Tolok Ukur
Tolok ukur terdiri dari tolok ukur
dari variabel masukan, proses, keluaran,
lingkungan, umpan balik, dan dampak.
Digunakan sebagai pembanding yang
harus dicapai dalam program KB.

Sumber Data
Sumber data yang digunakan ialah
data sekunder yang terdiri dari wawancara
dengan petugas Puskesmas dan Petugas
Halaman | 3

ARTIKEL EVALUASI PROGRAM


Lapangan Keluarga Berencana, Data
Demografi
UPTD
Puskesmas
Rengasdengklok tahun 2012, Laporan
Tahunan
UPTD
Puskesmas
Rengasdengklok tahun 2012, Laporan
Bulanan PLKB evaluasi peserta KB baru
dan
KB
aktif
di
Kecamatan
Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat
periode Januari 2012 sampai Desember
2012, Laporan Bulanan program kegiatan
KB UPTD Puskesmas Rengasdengklok,
Kabupaten Karawang periode Januari
2012 sampai Desember 2012.
Masukan
a. Tenaga (Man)
- Dokter umum : 2 orang
- Bidan : 11 orang
- PLKB : 1 orang/desa
- Pasangan Usia Subur sejumlah :
15.018
b. Dana (Money)
- APBD
: Ada
- Swadaya Masyarakat
: Ada
c. Sarana (Material, Machine)

Sarana Medis
- Stetoskop
: 2 buah
- Tensimeter
: 2 buah
- Sarung tangan steril : 100
pasang
- Timbangan berat badan : 1
buah
- Meja ginekologi : 1 buah
- IUD Kit
: 2 set

Sarana Kontrasepsi/bulan
- IUD
Cu
T380
A

: 40 buah
Vial Suntikan + Disposable
Syringe : 400 buah
Cyclogestone : 100 vial
Depogestone : 200 vial
Implant : 25 set
Pil Kontrasepsi : 1500 strip

Alat
kontrasepsi
lain
(kondom) : 50 lusin
Sarana Obat-obatan/bulan
- Cairan antiseptik betadine : 1
botol
- Tablet analgetik : 300 tablet
- Kapas alkohol dan kasa
steril : 3 toples
- Vitamin B6 : 1000 tablet

Sarana Non medis


- Toples alkohol : 6 buah
- Indo duk : 22 buah
- Kasa steril : 40 dus
- Waskom pencuci alat : 3
buah
- Tempat sampah : 2 buah
- Perlak karet : 2 buah
- Handuk kecil : 4 buah
d. Metode (Method)

Konseling
- Dilakukannya
konseling
terhadap klien yang terlihat
di poli KB.
- Tidak
adanya
ruangan
khusus untuk konseling KB

Pelayanan kotrasepsi
- Pil : Pemakaian secara teratur
seperti petunjuk yang tertulis
pada kartu. Pil pertama
diminum pada hari kelima
setelah
permulaan
haid,
kemudian
berturut-turut
setiap hari satu pil secara
teratur.
- Suntikan
Cyclogeston
: 1x / bulan,
dosis 0,5cc, IM di deltoid
Depogeston
: 1x / 3
bulan, dosis 3cc, IM di
gluteus
- Implant :Pemasangan sesuai
prosedur legeartis
Lokasi di lengan kiri atas
bagian voler, kira-kira 10 cm
dari lipat siku
Halaman | 4

ARTIKEL EVALUASI PROGRAM


-

Kondom
:
Pemasangan
sesuai dengan prosedur
- IUD / AKDR :
Pemasangan sesuai dengan
prosedur legeartis
- MOW/MOP
: dirujuk ke
Rumah Sakit Umum Daerah
Karawang
Pembinaan peserta KB
- Dilakukan pada peserta KB
agar tetap menggunakan KB
Penanganan efek samping dan
komplikasi
- Dilakukan pada setiap kasus
dengan efek samping atau
komplikasi
ringan
yang
diakibatkan oleh pemakaian
kontrasepsi
Pelayanan rujukan KB
- Dilakukan pada setiap kasus
efek samping dan komplikasi
berat yang diakibatkan oleh
pemakaian kontrasepsi, yang
tidak dapat ditangani di
Puskesmas
Pencatatan dan pelaporan
- Dilakukan dengan Sistem
Pencatatan dan Pelaporan
Puskesmas (SP2TP) LB 3
dan dilaporkan setiap satu
bulan sekali ke Dinas
Kesehatan Karawang
e. Waktu (Minute)
Dilakukan di poli KB setiap hari
Senin-Jumat pukul 08.00-12.00.
f. Sasaran (Market)
Pasangan Usia Subur sejumlah :
15.018
g. Informasi (Information)
- Terdapatnya pamflet tentang
KB di lingkungan puskesmas
dan poli KB.
- Menurut wawancara dengan
bidan
desa
terdapat
penyuluhan mengenai KB di

dalam
maupun
di
luar
puskesmas,
namun
tidak
ditemukan
laporan
penyuluhan.
Proses
a. Perencanaan (Planning)
Terdapat penentuan sasaran peserta
KB sejumlah 15.018 berdasarkan laporan
perencanaan tahun 2012. Terdapat secara
tertulis mengenai perencanaan kegiatan
konseling,
pelayanan
kontrasepsi,
pembinaan dengan Komunikasi Informasi
Edukasi (KIE), pengayoman medis,
penanganan efek samping dan komplikasi
yang
ringan,
pelayanan
rujukan,
pencatatan dan pelaporan.
b. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian
tertulis
dan
pembagian tugas dalam melaksanankan
program Keluarga Berencana di UPTD
Puskesmas Rengasdengklok, Karawang
tidak ditemukan.
c. Pelaksanaan (Actuating)
Terdapat secara tertulis mengenai
perencanaan
kegiatan
konseling,
pelayanan kontrasepsi, pembinaan dengan
Komunikasi Informasi Edukasi (KIE),
penanganan efek samping dan komplikasi
yang
ringan,
pelayanan
rujukan,
pencatatan dan pelaporan yang dilakukan
pada hari kerja. Tidak terdapat secara
lengkap
data
tertulis
mengenai
pengayoman medis.
d. Pengawasan (Controlling)
Pencatatan dan pelaporan bulanan
tidak lengkap, triwulan tidak ada. Rapat
evaluasi bulanan dilakukan pada akhir
bulan oleh para bidan dengan kepala
puskesmas. Terdapat rapat 3 bulanan
dengan Dinas Kesehatan Karawang,
namun tidak ditemukan bukti tertulis
berupa surat undangan ataupun hasil rapat.
Halaman | 5

ARTIKEL EVALUASI PROGRAM

Keluaran
Dari evaluasi program yang dilakukan pada periode Januari-Desember 2012 di UPTD
Puskesmas Rengasdengklok Karawang didapatkan data keluaran dengan hasil sebagai
berikut.
a. Cakupan konseling peserta KB
: 8,44%
b. Cakupan pelayanan kontrasepsi
- Cakupan peserta KB aktif
: 47,28%
- Cakupan peserta KB aktif berdasarkan metode kontrasepsi
Pil
: 17,81%
Suntik
: 74,40%
Implan
: 2,63%
IUD
: 1,08%
Kondom
: 0,79%
MOW
: 1,92%
MOP
: 1,33%
c. Cakupan pembinaan
d. Cakupan penanganan efek samping dan komplikasi
e. Cakupan pelayanan rujukan KB (tidak ada kasus)

: 100%
: 0,18%

Lingkungan
a) Fisik :
- Lokasi
: Mudah dijangkau oleh akseptor KB
- Transportasi
: Tersedia sarana transportasi, seperti angkutan umum
b) Fasilitas kesehatan lain:
No. Sarana & Prasarana
Jumlah
1
Rumah Sakit
1
2
Rumah Bersalin
1
3
Poliklinik (Klinik 24 Jam)
2
4
Praktek Bidan
14
5
Dokter Praktek
12
6
Posyandu
57
c) Non Fisik
- Pendidikan
- Sosial Ekonomi
- Agama
penghambat)

: Mayoritas berpendidikan rendah sebesar 46,79 %


: Mayoritas berdagang sebesar 72,43%
: Mayoritas Islam sebesar 99,99% (tidak menjadi faktor

Umpan Balik
Halaman | 6

ARTIKEL EVALUASI PROGRAM


-

Pencatatan dan pelaporan tentang


kegiatan program KB yang
digunakan sebagai masukan dalam
program KB tidak lengkap
Ada hasil rapat kerja yang
membahas laporan kegiatan setiap
bulannya untuk mengevaluasi
program yang telah dijalankan

Dampak
a) Langsung
- Menurunkan CBR (Crude Birth
Rate) Belum dapat dinilai
- Meningkatkan jumlah peserta KB
baru Belum dapat dinilai
- Meningkatkan jumlah peserta KB
aktif Belum dapat dinilai
b) Tidak Langsung
- Pengendalian Laju Pertumbuhan
Penduduk Belum dapat dinilai
- Pengendalian TFR (Total Fertility
Rate) Belum dapat dinilai
- Meningkatkan kesejahteraan ibu
dan anak Belum dapat dinilai
Perumusan Masalah
Masalah-masalah yang ditemukan
dalam evaluasi
Program Keluarga
Berencana di Puskesmas Rengasdengklok
periode Januari-Desember 2012.
Masalah-masalah yang ditemukan
dalam evaluasi
Program Keluarga
Berencana (KB) di UPTD Puskesmas
Rengasdengklok periode Januari 2012
sampai dengan Desember 2012, sebagai
berikut:
Masalah menurut keluaran (masalah
sebenarnya)
A. Cakupan konseling 8,44% dari target
100% (masalah sebesar 91,56%)
B. Cakupan peserta KB aktif 47,28% dari
target 70% (masalah sebesar 22,72%)
C. Cakupan peserta KB IUD 1,08% dari
target 13% (masalah sebesar 11,92%)

D. Cakupan peserta KB Implant 2,63%


dari target 10% (masalah sebesar
7,37%)
E. Cakupan peserta KB MOW 1,92%
dari target 9% (masalah sebesar
7,08%)
Masalah menurut unsur lain (penyebab
lain) :

Dari Masukan:
- Tidak adanya laporan mengenai
diadakannya penyuluhan tentang
KB
- Kurangnya
sarana
alat
disposable syringe (masalah
sebesar 33,3%)
- Kurangnya
sarana
alat
kontrasepsi IUD - T380
(masalah sebesar 48,05%)
- Kurangnya
sarana
alat
kontrasepsi Implant (masalah
sebesar 57,81%)
Dari Proses:
- Laporan bulanan ada tetapi tidak
lengkap
- Tidak ada laporan triwulan
Dari Umpan balik:
- Pencatatan
dan
pelaporan
tentang kegiatan program KB
yang
digunakan
sebagai
masukan dalam program KB
tidak lengkap
Dari Lingkungan:
- Sebagian besar penduduk di
wilayah kerja UPTD Puskesmas
Rengasdengklok berpendidikan
rendah.

Prioritas dan Penyelesaian Masalah


Masalah I
Cakupan konseling 8,44% dari target
100% (masalah sebesar 91,56%)
Halaman | 7

ARTIKEL EVALUASI PROGRAM


Penyebab :
- Kurangnya minat dari klien atau
peserta KB itu sendiri untuk
mengkonsultasikan dirinya selama
tidak terjadi masalah dalam
penggunaan metode kontrasepsi
yang digunakan.
- Tidak adanya laporan tertulis
secara
lengkap
mengenai
pelaksanaan tugas ini
- Tidak adanya ruangan khusus
konseling KB di Puskesmas
- Tidak adanya struktur organisasi
dan pembagian tugas secara tertulis
dalam pelaksanaan program KB.
Penyelesaian :
- Adanya peran aktif yang dari
petugas KB di puskesmas untuk
menanyakan keluhan ataupun
adakah peserta KB yang ingin
berkonsultasi,
karena
dalam
pelaksanaannya para petugas hanya
menjalankan tugas memberikan
atau
melanjutkan
metode
kontrasepsi yang diminta peserta
KB aktif sebagaimana metode yang
biasa digunakan.
- Adanya peran yang lebih aktif lagi
untuk bidan desa agar bisa
melakukan konseling walaupun
tidak
dilakukan
di
dalam
Puskesmas yang kemudian dicatat
dan dilaporkan sebagai bukti
tertulis, sehingga dapat di follow
up
mengenai
perkembangan
konseling
tersebut.
Seperti
contoh : mengunjungi secara aktif
ke rumah klien sehingga lebih
privat.
- Disediakannya ruangan khusus
atau menggunakan ruangan lain
untuk konseling agar klien merasa
nyaman dan privat untuk dapat
dijelaskan secara rinci mengenai

program Keluarga Berencana.


Dengan
dilaksanakannya
konseling ini, diharapkan dari
cakupan peserta aktif yang
berjumlah 47,28% dapat mencapai
tolok ukur yang sebesar 70%.
Konseling KB adalah tindakan
yang dapat membantu klien untuk
keluar dari berbagai pilihan
masalah KB dan kesehatan
reproduksi.
- Membentuk struktur organisasi
dan pembagian tugas yang dicatat
secara tertulis sehingga para
petugas
mengetahui
masingmasing tugasnya.
Masalah 2
Cakupan peserta KB aktif 47,28% dari
target 70% (masalah sebesar 22,72%)
Penyebab :
- Masih adanya kekhawatiran dari
penduduk mengenai efek samping
yang diakibatkan dengan jenis KB
Penyelesaian :
- Dilakukannya
kegiatan
memberikan informasi-informasi
mengenai program pelaksanaan
KB kepada masyarakat yang dapat
berupa
kegiatan
konseling,
penyuluhan, penyebaran pamflet
mengenai KB.
Kesimpulan
Dari
hasil
tersebut
dapat
disimpulkan bahwa hasil pencapaian
program KB di UPTD Puskesmas
Rengasdengklok
dimana
cakupan
konseling peserta KB 8,44%, cakupan
pelayanan kontrasepsi yang terdiri dari
cakupan peserta KB aktif 47,28%, cakupan
peserta KB aktif berdasarkan metode
kontrasepsi pil 17,81%, suntik 74,40%,
implant 2,63%, IUD 1,08%, kondom
0,79%, MOW 1,92%, MOP 1,33%.
Halaman | 8

ARTIKEL EVALUASI PROGRAM


Dari data tersebut, yang menjadi prioritas
masalah, adalah
1. Cakupan konseling 8,44% dari target
100% (masalah sebesar 91,56%)
2. Cakupan peserta KB aktif 47,28% dari
target 70% (masalah sebesar 22,72%)
Hal-hal yang dapat menyebabkan masalah
di atas, adalah
- Kurangnya minat dari klien atau
peserta KB itu sendiri untuk
mengkonsultasikan dirinya selama
tidak terjadi masalah dalam
penggunaan metode kontrasepsi
yang digunakan.
- Tidak adanya laporan tertulis
secara
lengkap
mengenai
pelaksanaan tugas ini
- Tidak adanya ruangan khusus
konseling KB di Puskesmas
- Tidak adanya struktur organisasi
dan pembagian tugas secara tertulis
dalam pelaksanaan program KB.
- Masih adanya kekhawatiran dari
penduduk mengenai efek samping
yang diakibatkan dengan jenis KB
Saran
- Melakukan
pembinaan
dan
penyuluhan di posyandu dalam
rangka meningkatkan peran serta
masyarakat untuk berartisipasi
menjadi kader posyandu disamping
melatih kader yang sudah ada.
- Disediakannya ruangan khusus
atau menggunakan ruangan lain
untuk konseling agar klien merasa
nyaman dan privat untuk dapat
dijelaskan secara rinci mengenai
program Keluarga Berencana.
Dengan dilaksanakannya konseling
ini, diharapkan dari cakupan
peserta aktif yang berjumlah
47,28% dapat mencapai tolok ukur
yang sebesar 70%. Konseling KB
adalah tindakan yang dapat

membantu klien untuk keluar dari


berbagai pilihan masalah KB dan
kesehatan reproduksi.
Adanya peran yang lebih aktif lagi
untuk bidan desa agar bisa
melakukan konseling walaupun
tidak
dilakukan
di
dalam
Puskesmas yang kemudian dicatat
dan dilaporkan sebagai bukti
tertulis, sehingga dapat di follow
up
mengenai
perkembangan
konseling tersebut. Seperti contoh :
mengunjungi secara aktif ke rumah
klien sehingga lebih privat.
Membentuk struktur organisasi dan
pembagian tugas yang dicatat
secara tertulis sehingga para
petugas mengetahui masing-masing
tugasnya.
Dilakukannya
kegiatan
memberikan informasi-informasi
mengenai program pelaksanaan KB
kepada masyarakat yang dapat
berupa
kegiatan
konseling,
penyuluhan, penyebaran pamflet
mengenai KB.
Kepala Puskesmas hendaknya lebih
meningkatkan pengawasan terhadap
kegiatan program yang dilakukan,
baik

dalam

pencatatan

dan

pelaporan maupun rapat evaluasi


bulanan.
Apabila saran ini dilaksanakan, maka
diharapkan masalah tersebut tidak akan
terulang kembali pada pelaksanaan
program Keluarga Berencana (KB) di
UPTD Puskesmas Rengasdengklok pada
periode mendatang.
Daftar Pustaka
1. BKKBN. Analisa lanjut SDKI 2007:
Pengetahuan, sikap dan perilaku berKB pasangan usia subur muda di
Halaman | 9

ARTIKEL EVALUASI PROGRAM


Indonesia; 2009. Diunduh dari
http://www.bkkbn.go.id/litbang/pusna/
Hasil%20Penelitian/Analisis
%20Lanjut/Tahun
%202009/Pengetahuan.%20Sikap,
%20%20dan%20Perilaku%20ber
%20%20%20KB%20%20Pasangan
%20Usia%20Subur%20Muda%20di
%20Indonesia.pdf, 2 Mei 2013
2. Statistik Indonesia. Jumlah dan laju
pertumbuhan
penduduk.
2013.
Diunduh dari http://www.datastatistikindonesia.com/portal/index.php?
option=com_content&task=view&id=
919, 15 Mei 2013.
3. Direktorat Bina Kesehatan Ibu.
Pedoman
Pelayanan
Keluarga
Berencana di Fasilitas Kesehatan.

Jakarta:Kementerian
RI;2012.h.1-4.

Kesehatan

4. Departemen Kesehatan Republik


Indonesia. Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia: Pelaksanaan
Program
Keluarga
Berencana
Nasional [article online]. 2007.
Diunduh dari http://www.datastatistikindonesia.com/sdki/, 4 Mei 2013.
5. Badan
Koordinasi
Keluarga
Berencana Nasional: Peningkatan
Ketahanan
Keluarga
Dalam
Mewujudkan
Keluarga
Kecil
Berkualitas [doc online]. 2010.
Diunduh
dari:
www.bkkbn.go.id/Webs/index.php/inf
oprogram/download/350, 4 Mei 2013.
6. Susanto, D.H. Pedoman Evaluasi
Program. Jakarta:Fakultas Kedokteran
UKRIDA;2011.

Halaman | 10