Está en la página 1de 3

Allahu akbar.. Allahu akbar.. wa lillahil-hamd..

Hadirin yang dimuliakan Allah SWT..


Untuk kesekian kalinya kita mengalami, memperhatikan, menyaksikan salah satu dari sekian
jumlah kekuasaan Allah SWT. Allah SWT memperlihatkan aayatun min ayaatii (ayat-ayat
kekuasaan-Nya) yang hanya sebagian kecil dari sejumlah banyak tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Hahikatnya merupakan peringatan kepada manusia yang maha kecil, yang hakikatnya manusia
tidak ada apa-apanya. Apabila makhluk-makhluk yang di langit secara fisik begitu hebat, begitu
besar serta taat dan tunduk kepada hukum alam, taat dan tunduk kepada sunnatullah, sehingga
pada suatu saat terjadilah kejadian yang disebut khusuf (gerhana). Maka hahikatnya, seperti
itulah pada suatu saat tidak mustahil manusia pun akan mengalami kegelapan, akan mengalami
khusuf, seperti gelapnya matahari, gelapnya bulan, seperti gelapnya bumi. Namun biarlah
matahari dan bulan termasuk bumi yang mengalami khusuf, asalkan jangan hati-hati manusia
yang mengalami gerhana, yang mengalami kegelapan. Kenapa demikian? Dapat kita bayangkan,
apabila hati-hati manusia sudah gelap, apalah kiranya yang terjadi pada satu lingkungan yang di
diami oleh manusia? Oleh karenanya, pada satu kesempatan Jibril secara pribadi berdialog
dengan Rasulullah SAW, yang tentu pada hakikatnya hal ini adalah merupakan peringatan
kepada diri kita masing-masing.
Jibril berkata : Yaa muhammad, isy maa syita (Wahai Muhammad, silahkan engkau hidup
sekehendakmu, hidup bebas tanpa batas, hidup tanpa aturan dan ketentuan), tetapi ingatlah
hakikatnya tidak ada manusia yang abadi, tidak ada manusia yang hidup kekal, fainnaka
mayyitun (sungguh engkau akan mengalami proses kematian). Maka oleh karenanya
sebagaimana yang kita maklumi, bahwa beda antara manusia dengan hewan secara mutlak,
sehingga ada orang yang mengungkapkan, apabila hewan secara mutlak mengalami kematian
bakal bilatungan (akan belatungan), tetapi manusia kalau mengalami kematian bakal
nyanghareup balitungan (akan menghadapi hisab/perhitungan). Dalam arti, ingat bahwa manusia
diwujudkan tidak abatsan (sia-sia), ada maksud dan tujuan tertentu.

Suatu saat, hasil dari pada perjalanan hidup yang relatif sebentar, justru inilah yang sebentar itu
yang akan menentukan kelanggengan hidup di sana, kelanggengan hidup di yaumil akhir, apakah
kenikmatan yang langgeng atau kebalikannya, kesengsaraan yang langgeng?
Jibril berkata kemabali : Wa ahbib maa syita (silahkan kau cintai siapa dan apa saja), tetapi
ingat fainnaka mufaariquhu (sungguh akan berpisah). Mau mencintai istri, suatu saat
mufaariquhu, mencintai suami, suatu saat mufaariquhu, mencintai anak, suatu saat mufaariquhu,
akan berpisah antara yang mencintai dengan yang dicintai.
Makanya wajar apabila Rasulullah SAW pernah menyatakan, apabila manusia mengalami almautu, maka yatbaul-mayyita tsalaatsatun, ada tiga perkara yang akan mengikuti mayyit
dengan kematiannya itu. Yang pertama ahluhu (keluarganya) wa maaluhu (hartanya) wa
amaluhu (dan amalnya), yarjiu minhu-tsnaani (namun yang dua tidak turut ikut, yang dua akan
kembali lagi). Yang mana yang tidak mau ikut itu? Maalhu wa ahluhu (harta dan keluarganya),
yang tetap setia adalah amaluhu (amalnya), yatbauhu amaluhu. Yang menjadi masalah, amal
yang mana, apakah yang termasuk pernyataan faman yamal mitsqaala dzarratin khairan yarahu
atau faman yamal mitsqaala dzarratin syarran yarahu?
Dalam kesempatan khutbah khusuf, Rasulullah SAW secara khusus meminta perhatian kepada
kaum perempuan, sehingga beliau secara khusus menyatakan : Yaa masyaran-nisaa (wahai
kaum perempuan), ittaqinnal-laah (hendaklah kalian benar-benar bertaqwa kepada Allah), fainni
uriitukunna (karena sungguh diperlihatkan kalian kepadaku), aktsara ahlin-naar (paling banyak
pengisi neraka). Waktu itu ada sahabat yang merasa heran : Ya Rasulullah kenapa mereka itu
termasuk yang paling banyak masuk neraka?, Ayakfurna? (apakah mereka itu kufur?), Rasul
menjawab : Benar. Para sahabat bertanya kembali, ayakfurna billahi? (apakah mereka kufur
kepada Allah?), Rasul menjawab : Bukan, yakfurnal-asyiira wa yakfurnal-ihsaan (mereka
mengkufuri suaminya dan mengkufuri perbuatan baik). Sahabat bertanya kembali : Ya
Rasulullah, bagaiman mereka mengkufuri kepada suami, bagaimana gerangan mereka
mengkufuri kepada perbuatan baik? Rasul dengan tegas menyatakan, idzaa ahsanta (apabila
kamu berbuat baik), ilaa ihdahunna ad-dahra (selama masa yang lama, masa yang panjang
kepada salah seorang di antara mereka), tsumma ra-at syaian (kemudian dia melihat sesuatu dari

dirimu yang tidak berkenan di hatinya, yang tidak sejalan dengan kemauannya), tiba-tiba timbul
suatu pernyataan, maa ra-aitu minka khairan qaththu (aku tidak pernah melihat kebaikan
sedikitpun dari dirimu). Inilah yang dimaksud yakfurnal-asyiira wa yakfurnal-ihsaan.
Hadirin yang dimuliakan Allah SWT..
Maka tentu hal itu bukan ditujukan kepada kaum perempuan, tetapi tentu termasuk kepada kita
kaum laki-laki. Hanya konotasinya adalah jangan sekali-kali menghapus kebaikan orang, namun
demikianlah kenyataannya dalam kehidupan di suatu lingkungan, sewaktu-waktu timbul
ungkapan-ungkapan yang seperti itu. Maka wajar apabila Rasulullah SAW mengingatkan
segerakan, wa atbiis-sayyiatal-hasanata (ikutkan perbuatan yang buruk itu dengan perbuatan
yang baik), tanhuuhaa (agar perbuatan yang baik itu bisa menutupi perbuatan-perbuatan yang
tidak baik).
Hadirin yang dimuliakan Allah SWT..
Maka mudah-mudahan peristiwa gerhana yang kesekian kali yang kita alami pada saat ini akan
menjadikan penggugah bagi diri kita masing-masing. Semoga Allah memberikan limpahan
maghfirah dan rahmat-Nya kepada diri kita masing-masing.