Está en la página 1de 46

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jumlah penderita Diabetes mellitus di dunia dari tahun ke
tahun mengalami peningkatan, hal ini berkaitan dengan jumlah
populasi yang meningkat, life expectancy bertambah, urbanisasi
yang merubah pola hidup tradisional ke pola hidup modern,
prevalensi

obesitas

meningkat

dan

kegiatan

fisik

kurang.

Diabetes mellitus perlu diamati karena sifat penyakit yang kronik


progresif, jumlah penderita semakin meningkat dan banyak
dampak negatif yang ditimbulkan (Wild, 2004).
Diabetes mellitus adalah kelompok kelainan heterogen
yang ditandai olehkenaikan kadar glukosa dalam darah (Smeltzer
& Bare, 2001). Menurut American Diabetes Association (2004)
diabetes

mellitus

adalah

penyakit

metabolik

yangditandai

dengan hiperglikemia yang diakibatkan kelainan sekresi insulin,


kerjainsulin atau keduanya.Diabetes melitus memiliki beberapa
tipe yaitu diabetesmellitus tergantung insulin (diabetes tipe I),
diabetes mellitus tidak tergantunginsulin (diabetes tipe II),
diabetes mellitus gestasional dan diabetes mellitus tipelain.
Angka kejadian diabetes tipe I 5% hingga 10% dari seluruh
penderitadiabetes mellitus, sedangkan diabetes tipe II mencapai
90%

hingga

95%

dariseluruh

penderita

diabetes

mellitus

(Smeltzer & Bare, 2001).


Laporan data statistik

World Health Organization (WHO)

tentang prevalensi diabetes untuk semua kelompok umur di


seluruh dunia diperkirakan2,8% pada tahun 2000 dan 4,4% pada
tahun 2030. Jumlah penderita diabetesdiperkirakan meningkat

dari 171 juta pada tahun 2000 menjadi 366 juta jiwatahun 2030
(Wild et al, 2004). Menurut World Health Organization WHO
(2007) Indonesia masuk ke dalam sepuluh negara dengan jumlah
kasus diabetes mellitus terbanyak di dunia.Indonesia berada
pada peringkat keempat pada tahun 2000 dengan jumlah kasus
sebesar 8,4 juta orang dan terus akan mengalami peningkatan
menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2030.
Saat ini berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, angka
kejadian Diabetes Melitus di Indonesia
yaitu

dari

1,1

persen

(2007)

mengalamipeningkatan
menjadi

2,1

persen

(2013).Prevalensi DM di Indonesia berdasarkan jawaban pernah


didiagnosis dokter sebesar 1,5persen dan angka prevalensi pada
perempuan cenderung lebih tinggi daripada laki-laki. Angka
tersebut terjadi pada kelompok usia> 15 tahun dan terus
meningkat seiring dengan pertambahan usia (Riskesdas, 2013).
DM jika tidak ditangani dengan baik akan mengakibatkan
timbulnya komplikasi pada berbagai organ tubuh seperti mata,
jantung, ginjal, pembuluh darah kaki, syaraf dan lain-lain.
Penderita

DM

dibandingkan

dengan

penderita

non

DM

mempunyai kecenderungan 25 kali terjadi buta, 2 kali terjadi


penyakit jantung koroner, 7 kali terjadi gagal ginjal kronik, dan 5
kali menderita ulkus diabetika. Komplikasi menahun DM di
Indonesia terdiri atas neuropati 60%, penyakit jantung koroner
20,5%, ulkus diabetika 15%, retinopati 10%, dan nefropati 7,1%.
1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Membina masyarakat dalam mendeteksi dini faktor resiko DM
b. Tujuan Khusus
1. Melaksanakan program pospendes CERDIK

2. Melakukan pemberdayaan kepada masyarakat dengan


pelatihan kader untuk mencegah resiko DM
3. Melakukan

pelatihan

penyuluhan

kepada

kader
keluarga

dengan
untuk

memberikan
merawat

dan

memantau penderita DM

1.3 Manfaat
a. Untuk Mahasiswa
Untuk

mengaplikasikan

kompetensi

keilmuan

analisis

manajemen layanan kesehatan.


b. Untuk Masyarakat
1. Menciptakan derajat kesehatan masyarakat
2. Membantu masyarakat untuk melakukan deteksi dini DM
c. Untuk Pemerintah
Membantu

pemerintah

untuk

melakukan

pencatatan, dan pelaporan kasus diabetes mellitus.

deteksi,

BAB 2. PENGKAJIAN
2.1 Gambaran Umum dan Perilaku Penduduk
2.1.1 Keadaan Penduduk
Menurut Permendagri No.66 Tahun 2011jumlah penduduk Jember
2.451.081 jiwa dengan luas wilayah 3.092,34 km2 yang terdiri dari 31 kecamatan,
22 kelurahan, dan 245 desa. Keberadaan Kabupaten Jember secara geografis
memiliki posisi yang sangat strategis dengan berbagai potensi sumber daya alam
yang potensial,sehingga banyak menyimpan peristiwa-peristiwa sejarah yang
menarik untuk digali dan dikaji. Tentang nama Jember sendiri dan kapan wilayah
ini diakui keberadaannya, hingga saat ini memang masih belum diperoleh
kepastian fakta sejarahnya.
Mayoritas penduduk Kabupaten Jember terdiri atas Suku Jawa dan
Madura serta banyak yang beragama Islam. Selain itu, di Kabupaten Jember
terdapat Warga Tionghoa dan Suku Osing. Rata-rata penduduk Jember adalah
masyarakat pendatang, Suku Madura dominan di Jember bertempat tinggal di
daerah utara dan Suku Jawa bertemapat tinggal di daerah selatan dan pesisir
pantai. Bahasa Jawa dan Madura banyak digunakan diberbagai tempat, sehingga
umum bagi masyarakat di Jember menguasai dua bahasa daerah tersebut dan juga
saling pengaruh tersebut memunculkan beberapa ungkapan khas jember.
Percampuran kedua kebudayaan Jawa dan Madura di Kabupaten Jember
melahirkan satu kebudayaan baru yang bernama Pendalungan. Masyarakat
Pendalungan di Jember mempunyai karakteristik yang unik sebagai hasil dari
penetrasi kedua budaya tersebut. Kesenian Can Macanan Kaduk merupakan suatu
hasil budaya masyarakat Pendalungan yang masih bertahan sampai sekarang di
kabupaten Jember.
2.1.2

Keadaan Ekonomi
Tumbuh dan berkembangnya suatu kota akan banyak dipengaruhi oleh

faktor-faktor internal dan eksternal, yang salah satunya adalah faktor

perekonomian. Kegiatan ekonomi ini secara langsung maupun tidak langsung


dapat memperlihatkan cepat dan lambatnya proses perkembangan kota. Selain itu
dapat juga memperlihatkan kecenderungan perkembangan ekonomi kota. Bagi
kota-kota kecamatan di Indonesia, kehidupan ekonomi kotanya masih lebih
banyak ditunjang oleh kegiatan pertanian. Kondisi ini juga terjadi pada kota
Jember dimana sektor pertanian baik pertanian tanaman pangan maupun
holtikultura. Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian kota
Jember masih dipengaruhi oleh kegiatan pertanian.
Dengan sebagian besar penduduk masih bekerja sebagai petani,
perekonomian Jember masih banyak ditunjang dari sektor pertanian. Di Jember
terdapat banyak area perkebunan, sebagian besar peninggalan Belanda.
Perkebunan yang ada dikelola oleh Perusahaan nasional PTP Nusantara, Tarutama
Nusantara (TTN), dan Perusahaan daerah yaitu PDP (Perusahaan Daerah
Perkebunan). Jember terkenal sebagai salah satu daerah penghasil tembakau
utama di Indonesia. Tembakau Jember adalah tembakau yang digunakan sebagai
lapisan luar/kulit cerutu. Di pasaran dunia tembakau Jember sangat dikenal di
Brehmen, Jerman, dan Belanda.
2.1.3

Keadaan pendidikan
Fasilitas pendidikan di Kota Jember meliputi TK, SD, SLTP, SLTA, dan

PT/Akademi. Fasilitas-fasilitas pendidikan ini telah tersebar secara merata di


wilayah Kota Jember. Dan jumlah fasilitas ini semakin mengecil sejalan dengan
semakin tingginya tingkat pendidikan. Kota Jember memiliki perguruan tinggi
negeri Universitas Jember - UNEJ, STAIN Jember,Politeknik Negeri Jember, dan
Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang (POLTEKKES) Prodi Kebidanan Jember
yang dibawahi langsung oleh Kementrian Kesehatan dan Dikti. Selain itu,
terdapat beberapa perguruan tinggi swasta yaitu, Universitas Muhammadiyah
Jember, Universitas Islam Jember, Universitas Moch. Seroedji, STIE Kosgoro,
IKIP PGRI Jember, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Mandala Jember,
Sekolah Tinggi Agama Islam Alfalah Assuniyah (Staifas) Kencong, STDI Imam
Syafi'i, Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qodiri (STAIQod) Gebang, Akademi

Kebidanan (Akbid) Dr. Soebandi - Gebang, dan masih banyak perguruan tinggi
lainnya. PPKIA (Pusat Pendidikan Komputer Indonesia Amerika) salah satu
lembaga pendidikan luar sekolah, ada juga PIKMI (Pusat Pendidikan Program
Satu Tahun) yang berbasis komputer antara lain: Magistra Utama.
2.1.4

Keadaan Kesehatan Lingkungan


Kabupaten Jember merupakan salah satu daerah yang pertumbuhan

penduduknya cukup pesat di Jawa Timur dan menempati peringkat ketiga


padatahun 2009 dengan jumlah penduduk mencapai 2.179.829 jiwa. Tingkat
pertumbuhan penduduk yang cukup pesat ini tidak diimbangi oleh pembangunan
infrastruktur yang mendukung kualitas kesehatan masyarakat serta pengelolaan
lingkungan seperti air bersih, sanitasi, drainase dan persampahan (Badan
Perencanaan Pembangunan Kabupaten Jember, 2009). Padahal prasarana
dansarana yang layak sangatlah penting untuk menunjang kesehatan masyarakat
dan meningkatkan kualitas lingkungan Persentase rumah tangga di Kabupaten
Jemberdengan fasilitas untuk buang air besar milik sendiri sebanyak 41,60
persen;bersama 11,15 persen; umum 0,65 persen; dan yang tidak mempunyai
fasilitasuntuk buang air besar sebanyak 46,61 persen (Badan Pusat Statistik,
2008).

Arahan

pengembangan

prasarana

dasar

di

Kabupaten

Jember

adalahpengembangan sistem setempat secara komunal untuk limbah rumah


tangga, perbaikan dan peningkatan jumlah sarana sanitasi dan program
penyuluhan mengenai sanitasi (Dhokhikah, 2007).
Iklim di Kota Jember adalah iklim tropis. Angka temperatur berkisar
antara 23C - 31C, dengan musim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai bulan
Agustus dan musim hujan terjadi pada bulan September sampai bulan Januari.
Sedangkan curah hujan cukup banyak, yakni berkisar antara 1.969 mm sampai
3.394 mm. Kondisi hidrologi di Kota Jember sangat dipengaruhi oleh air
permukaan tanah dangkal, sumber-sumber mata air dan aliran-aliran sungai yang
melintasinya. Sungai yang melintasi Kota Jember adalah Sungai Bedadung.
Dominasi penggunaan lahan diwilayah Kota Jember adalah kegiatan
pertanian yakni seluas 5.099,283 Ha atau 51,47% dari total luas wilayah kota.
Kemudian berturutturut adalah tanah tegalan seluas 1.477,9 Ha atau 14,92%,

perumahan seluas 2.679,655 Ha atau 27,05%, kolam ikan seluas 1,0 Ha atau
0,01% dan penggunaan tanah lain-lainnya seluas 416,415 Ha atau 4,20%.
Pengelolaan sumber air bersih di Kota Jember dilakukan oleh PDAM Kab.
Jember dengan jumlah pegawai 98 orang. Sumber yang digunakan adalah sungai,
mata air,sumur dalam dan sumber air permukaan dengan kapasitas 239 lt/dt
dengan kondisibaik. Debit sumber air baku mengalami penurunan karena
penebangan pohon-pohondi daerah resapan air. Perhitungan jumlah pelanggan
PDAM diperoleh dari jumlah asumsi tiap unit sambungan rumah melayani 5
orang, yaitu 96.875. Jumlah ini tidak sesuai dengan data prosentase cakupan
pelayanan PDAM sebesar 10,35%. Hal ini bisa terjadi karena kemungkinan satu
unit sambungan rumah tangga yang sebenarnya melayani kurang dari 5 jiwa.
Sampah di kota Jember dikelola oleh DKP Kabupaten Jember, dan
kemudian diolah di TPA Kertosari dengan sistem controlled landfill. Dengan
asumsi timbulan sampah untuk kota sedang sebesar 3 liter/orang/hari, maka
diasumsikan jumlah sampah yang perlu dikelola di kota Jember adalah sebesar
733,02 m3/hari.
Sistem drainase di Kota Jember dikelola oleh Sub. Dinas Cipta Karya
Kab.Jember. Dalam pembuangan air limbah rumah tangga sistem saluran drainase
di Kota Jember sudah memenuhi kebutuhan pelayanan kota. Keadaan sistem
drainase yang ada menunjukkan sistem saluran yang baik terutama di lingkungan
pemukiman.Disepanjang jalan arteri sekunder dari saluran pembuangan air
langsung ke sungai. Sistem pembuangan yang ada terdiri atas: (1) Saluran air
terbuka dari batu kali; (2) Saluran air tertutup; dan (3) Sungai/jaringan irigasi
Meskipun belum keseluruhan kawasan mempunyai sistem saluran yang baik,
namun kondisi pengaliran dari air saluran cukup baik sehingga tidak ada
penyumbatan ataupun hambatan yang berarti.
Pengelolaan air limbah/air buangan di kota Jember dilakukan secara onsite, yaitu secara individual pada masing-masing rumah tangga dan komunal
dengan memanfaatkan fasilitas umum seperti jamban umum, MCK dengan tangki
septik dan cubluk serta saluran lainnya seperti sungai dan kolam. Perkiraan

produksi limbah di Kota Jember adalah 48.868 lt/org/hr. Jumlah truk tinja di Kota
Jember adalah 2 buah dengan keadaan yang baik.
2.1.5

Keadaan Perilaku Masyarakat


Hasil penelitian epidemiologis tahun 1993 di Jakarta (daerah urban)

membuktikan adanya peningkatan prevalensi DM dari 1,7% pada tahun 1982


menjadi 5,7% pada tahun 1993, kemudian pada tahun 2001 di Depok, daerah sub
urban di Selatan Jakarta menjadi 12,8%. Demikian pula prevalensi DM di Ujung
Pandang (daerah urban), meningkat dai 1,5% pada tahun 1981 menjadi 3,5% pada
tahun 1998 dan terakhir pada tahun 2005 menjadi 12,5%.Di daerah rural di Jawa
Barat angka itu hanya 1,1%. Di suatu daerah terpencil di Tanah Toraja didapatkan
prevalensi DM hanya 0,8%. Di sini jelas ada perbedaan antara urban dengan rural,
menunjukkan bahwa haya hidup mempengaruhi kejadian diabetes. Di Jawa Timur
angka itu tidak berbeda yaitu 1,43% di daerah urban dan 1,47% di daerah rural.
Hal ini mungkin disebabkan tingginya prevalensi Diabetes Melitus Terkait
Malnutrisi (DMTM) yang sekarang dikategorikan sebagai diabetes tipe pankreas
di Jawa Timur sebesar 21,2% dari seluruh diabetes di daerah rural.Melihat
tendensi kenaikan prevalensi diabetes secara global yang tadi dibicarakan
terutama disebabkan oleh karena peningkatan kemakmuran suatu populasi, maka
dengan demikian dapat dimengerti bila suatu saat atau lebih tepat lagi dalam
kurun waktu 1 atau 2 dekade yang akan datang kekerapan DM tipe 2 di Indonesia
akan meningkat dengan drastis. Peningkatan ini disebabkan karena faktor
keturunan, faktor kegemukan, perubahan gaya hidup, pola makan tidak sehat,
kurang berolahraga.
Perkembangan

perekonomian

kota

Jember

yang

semakin

pesat

mengakibatkan masarakat Jember mengadopsi gaya hidup perkotaan dari dunia


barat. Semakin jarang masyarakat yang melakukan aktivitas fisik maka gula yang
dikonsumsi juga akan semakin lama terpakai, akibatnya prevalensi peningkatan
kadar gula dalam darah juga akan semakin tinggi. Tuntutan kerja yang tinggi
mengakibatkan masyarakat jember kurang memperhatikan pola makannya. Pola
makanan berlemak dan karbohidrat yang berlebihan akan meningkatkan resiko
terkena diabetes. pola makan yang kurang diperhatikan dan kurangnya aktifitas

fisik seperti olah raga dapat mengakibatkan Obesitas. Semakin besar kelebihan
berat badan maka prevalensi terganggunya kerja insulin akan semakin besar,
karena kelebihan lemak dapat menyebabkan gangguan pada kerja hormon
insulin.Selain itu, Stress merupakan salah satu faktor pemicu meningkatnya resiko
diabetes (www.tropicanaslim.com).
2.2 Situasi Keadaan Kesehatan
2.2.1 Mortalitas
Menurut International Diabetes Federation (IDF) Angka kematian
diabetes dilaporkan mencapai 5,1 juta pertahun (www.life.viva.co.id). Hasil Riset
Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab
kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan
menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki
ranking ke-6 yaitu 5,8%.
2.2.2

Morbiditas
Jumlah penderita diabetes di seluruh dunia telah menyentuh angka yang

mengkhawatirkan. Menurut International Diabetes Federation (IDF) jumlah


kasus diabetes naik dari 371 juta pada tahun 2012 menjadi 382 juta pada tahun
2013. Seperti dilansir kantor berita Reuters, sebagian besar kasus yang terjadi
adalah diabetes tipe 2. Untuk diketahui tipe ini erat kaitannya dengan obesitas dan
kurangnya olahraga. Epidemic tersebut semakin menyebar karena banyak
masyarakat yang mengadopsi gaya hidup perkotaan dari dunia barat. IDF bahkan
memprediksi jumlah kasus diabetes melonjak 55%, menjadi 592 juta pada tahun
2035 (www.life.viva.co.id).
Indonesia saat ini menempati posisi 7 dengan jumlah penderita DM
sebanyak 8,5 juta orang. Di posisi teratas, ada cina dengan 98,4 juta jiwa, India
dengan 65 juta jiwa, dan Amerika dengan 24,4 juta jiwa (www.tempoo.com).
Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Litbang Depkes yang hasilnya baru saja
dikeluarkan bulan Desember 2008 menunjukkan bahwa prevalensi nasional untuk
TGT 10,25% dan diabetes 5,7% (1,5% terdiri dari pasien diabetes yang sudah

10

terdiagnosis sebelumnya, sedangkan sisanya 4,2% baru ketahuan diabetes saat


penelitian).
Jember adalah salah satu kabupaten di provinsi jawa timur dengan jumlah
pasien diabetes militus cukup tinggi. Pada tahun 2010 tercatat 8.557 pasien
dengan rincian 2.745 pasien diabetes mellitus tipe 1 dan 5.812 pasien dengan
diabetes tipe 2 (Dinkes Jember, 2011). Pada tahun 2011 jumlah pasien diabestes
mellitus di kabupaten jember mengalami kenaikan sebesar 3.030 dibandingkan
tahun 2010, tercatat 11.587 pasien dengan rincian 4.204 pasien diabetes mellitus
tipe 1 dan 7.383 pasien diabetes tipe 2. Urutan tiga angka tertinggi jumlah pasien
diabetes militus adalah wilah kerja puskesmas rambipuji sejumlah 1.185,
puskesmas puger 1.116 dan puskesmas jenggawah sejumlah 726 (Dinkes Jember,
2012)
Kecamatan rambipuji menduduki urutan pertama prevalensi penyakit
diabetes mellitus di kabupaten jember. Jumlah pasien diabetes mellitus di wilaah
kerja puskesmas rambipuji tahun 2010 sebanyak 1.048 dengan rincian 12 pasien
diabetes tipe 1 dan 1.036 pasien DM tipe 2 ( Dinkes jember, 2011). Pada tahun
2011 jumlah pasien diabetes mellitus mengalami kenaikan sebanak 137 dibanding
tahun 2010, tercatat 1.185 dengan rincian 27 pasien dm tipe 1 dan 1158 dm tipe 2
(DINKES JEMBER, 2012).
2.2.3

Dampak kesehatan akibat penyakit


DM dapat mempengaruhi perubahan fisik dan psikologis penderitanya.

Jika angka kejadian diabetes ini terus meningkat dan tidak dilakukan pencegahan
maka dampaknya akan menurunkan kualitas kesehatan masyarakat kabupaten
Jember. Masalah yang bisa timbul dari Diabetes Millitus diantaranya: ulkus
diabetic, Retinopati, Neuropati, Gagal jantung, dan seterusnya.
Retinopati adalah salah satu komplikasi mikrovaskular DM yang
merupakan

penyebab

utama

kebutaan

pada

orang

dewasa.

Penelitian

epidemiologis di Amerika, Australia, Eropa, dan Asia melaporkan bahwa jumlah


penderita retinopati DM akan meningkat dari 100,8 juta pada tahun 2010 menjadi
154,9 juta pada tahun 2030 dengan 30% di antaranya terancam mengalami
kebutaan. The DiabCare Asia 2008 Study melibatkan 1.785 penderita DM pada 18

11

pusat kesehatan primer dan sekunder di Indonesia dan melaporkan bahwa 42%
penderita DM mengalami komplikasi retinopati, dan 6,4% di antaranya
merupakan retinopati DM proliferative (Sitompul, 2011).
2.3 Situasi upaya kesehatan
2.3.1 Pelayanan Kesehatan Dasar
Pada tahun 2010 Kabupaten Jember memiliki 49 puskesmas, 17
Puskesmas perawatan dan 32 jumlah puskesmas non perawatan serta polindes
sebanyak 112. Tahun 2011, cakupan pasien rawat jalan di puskesmas sekitar 20,2
persen dari jumlah penduduk, yakni 474.246 orang. Jumlah ini lebih kecil
dibandingkan tahun 2010, di mana cakupan pasien rawat jalan mencapai 63,43
persen dari jumlah penduduk, yakni 1,519 juta orang. Tidak hanya itu pelayanan
rawat inap di puskesmas juga mengalami penurunan Tahun 2010, cakupan
pelayanan rawat inap sekitar 4 persen dari jumlah warga Jember atau sekitar
95.843 orang. Tahun 2011 terjadi penurunan tinggal 1,6 persen, atau sekitar
39.323 orang (beritajatim.com, 2012).
2.3.2

Pelayanan Kesehatan Rujukan


Jumlah rumah sakit di Jawa Timur cenderung meningkat, pada tahun 2011

mencapai angka 324 buah yang terdiri dari rumah sakit swasta, pemerintah, rumah
sakit TNI/POLRI, rumah sakit BUMN dan rumah sakit yang dimilki oleh
kementerian kesehatan RI (Dinkes Jatim, 2012). Kabupaten Jember memiliki 2
RS rujukan yaitu RSUD dr. Soebandi dan RS PARU Jember. RSUD dr. Soebandi
merupakan rumah sakit tempat rujukan dari rumah sakit atau puskesmas di
wilayah eks Karesidenan Besuki. Dengan adanya 2 RS rujukan tersebut secara
tidak langsung Kabupaten Jember mempunyai peranan penting dalam
memberikan pelayanan kesehatan untuk seluruh wilayah eks Karisedenan Besuki.
Namun dalam melayani rujukan RSUD dr. Soebandi juga mengalami kenadala
yaitu kendala pembiayaan operasi, banyaknya pasien dari luar daerah Jember yang
menggunakan

SKM (surat keterangan miskin), padahal SKM diperuntukkan

hanya untuk masyarakat wilayah Jember. Namun selama ini

tidak ada

12

kerjasamanya pihak RS dengan pemerintah diluar daerah Jember sehingga dalam


memberikan layanan kurang maksimal (Tempo, 2007).
2.3.3

Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat


Berdasarkan hasil analisis situasi kondisi jaminan kesehatan masyarakat di

provinsi Jawa Timur pada tahun 2011 didapatkan hasil bahwa masih banyak
masyarakat Jawa Timur yang belum memiliki jaminan kesehatan. Masyarakat di
provinsi Jawa Timur yang belum memilki jaminan kesehatan sebesar 82,4% dari
seluruh penduduk Jawa Timur sedangkan yang mempunyai jaminan kesehatan
seperti jamsostek hanya sebesar 0.3%. Rendahnya kepesertaan jaminan kesehatan
tersebut dapat disebabkan karena kurangnya sosialisasi pada masyarakat sehingga
mereka kurang memahami keuntungan menggunakan jaminan kesehatan (Dinkes
Jatim, 2012).
Pelayanan jaminan kesehatan di Kabupaten Jember diberikan kepada
penduduk yang kurang mampu untuk menekan angka kesakitan atau kematian
akibat berbagai penyakit yang mungkin terjadi termasuk penyakit Diabetes
Millitus. Sudah banyak penduduk miskin Kabupaten Jember yang menggunakan
jaminan pelayanan kesehatan masyarakat ini di berbagai tempat pelayanan
kesehatan di Jember.
2.3.4

Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit


Ruang lingkup pengendalian penyakit diabetes melitus dan penyakit

metabolik yang ditangani oleh Subdirektorat Pengendalian Diabetes Melitus dan


Penyakit Metabolik adalah : diabetes melitus, obesitas, gangguan kelenjar tiroid,
dislipidemia, gangguan metabolisme kalsium, gangguan sekresi korteks adrenal,
dan gangguan kelenjar hipotalamus (Kemenkes RI, 2012)..
Diabetes melitus disebabkan oleh pola makan/nutrisi, kebiasaan tidak
sehat, kurang aktifitas fisik, dan stress. Tujuan program pengendalian diabetes
melitus dan penyakit metabolik adalah terselenggaranya peningkatan kemandirian
masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan faktor risiko penyakit tidak
menular dengan melibatkan pengelola program pusat, daerah, UPT, lintas
program, lintas sektor, organisasi profesi, LSM dan masyarakat (Kemenkes RI,
2012).

13

Menurut Kemenkes RI tahun 2012, kegiatan pengendalian diabetes


melitus dan penyakit metabolik yang telah dilaksanakan terdiri dari pokok-pokok
kegiatan yaitu :
a. Penyusunan pedoman
Sampai dengan tahun 2010 telah disusun 7 pedoman dengan revisi
sebanyak 3 kali.Sosialisasi dan advokasi sampai dengan tahun 2010 juga telah
dilakukan di 33 provinsi.
b. Peningkatan kapasitas SDM.
Upaya ini telah dilakukan melalui TOT deteksi dini dan tatalaksana
diabetes melitus dan penyakit metabolik di 16 provinsi. Selain itu juga
dilaksanakan pelatihan terhadap 180 dokter spesialis penyakit dalam dan 180
dokter umum di 6 kota, yaitu Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar
dan Makassar.
c. Menjalin kemitraan
Upaya lain terkait pencegahan dan penanggulangan faktor risiko adalah
menjalin kemitraan dengan lintas program/lintas sektor melalui pembentukan
jejaring 157 kelompok kerja diabetes melitus, pengembangan partisipasi
masyarakat dalam pengendalian diabetes dan penyakit metabolik di 10 provinsi,
serta pengembangan Forum Diabetes Melitus di Indonesia. Pada tahun 2010 di
bentuk Project Partnership Agreement (PPA) antara Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia melalui Ditjen PPPL dengan World Diabetes Foundation
(WDF) yaitu lembaga swasta dunia yang berdedikasi dalam pencegahan dan
pengobatan diabetes melitus di negara berkembang. Tujuan dari kerja sama ini
adalah melakukan intervensi pada masyarakat dalam rangka pencegahan dan
pengendalian diabetes melitus beserta faktor risikonya.
2.4 Situasi sumber daya kesehatan
2.4.1 Sarana Kesehatan
Untuk melayani kesehatan masyarakat di Kota Jember telah dipenuhi oleh
RSU,RS khusus, RS bersalin, Puskesmas, Puskesmas pembantu, Posyandu, dan
Puskesmas keliling. Pada tahun 1990 jumlah dan jenis fasilitas kesehatan di

14

daerah Kaliwates RS Bersalin sebanyak 2, Puskesmas sebanyak 3, Puskesmas


pembantu sebanyak 4, Posyandu sebanyak 121, dan puskesmas keliling sebanyak
5. Di daerah Sumbersari puskesmas sebanyak 2, puskesmas pembantu sebanyak 2,
posyandu sebanyak 102, dan puskesmas keliling sebanyak 1. Di daerah Patrang
terdapat RSU sebanyak 3, RS khusus sebanyak 1, puskesmas sebanyak 1,
puskesmas pembantu sebayak 4, posyandu sebanyak 111, dan puskesmas keliling
sebanyak 1. Pada tahun 2007, jumlah polindes sebanyak 116, jumlah posyandu
masih belum terdata, jumlah puskesmas sebanyak 49, dan jumlah pustu sebanyak
126. Pada tahun 2008, jumlah polindes sebanyak 110, jumlah posyandu sebanyak
2.819, jumlah puskesmas sebanyak 49, dan jumlah pustu sebanyak 120.
Sedangkan pada tahun 2011, jumlah polindes belum terdata, jumlah posyandu
sebanyak 2.819, jumlah puskesmas sebanyak 1, dan jumlah pustu tidak terdata.
Sedangkan sarana rumah sakit yang tersedia berupa RS dr. Soebandi, RS Balung,
RS Paru, RS Kalisat, RS Bina Sehat, RS Citra Husada, dan RS Jember Klinik.
2.4.2

Tenaga Kesehatan
Jumlah tenaga kesehatan di wilayah Jawa Timur pada tahun 2011

sebanyak 68.086 orang dengan jumlah terbanyak adalah perawat dengan jumlah
28.198 orang atau sebesar 41%, tenaga bidan sebanyak 14.987 orang atau 22%,
tenaga medis sebanyak 11.026 orang atau 16 %, kefarmasian sebanyak 6.15
orang, kesmas sebanyak 1.251 orang dan sanitasi sebanyak 1.239 orang (Dinkes
Jatim, 2012). Pada tahun 2011 tenaga kesehatan di kabupaten Jember adalah
tenaga medis 59 orang, perawat dan bidan 16 orang, tenaga farmasi 2 orang,
tenaga gizi 6 orang, tenaga teknisi medis 72 orang, tenaga sanitasi 17 orang,
tenaga kesehatan masyarakat 8 orang, dan dokter gigi 44 orang.
2.4.3

Pembiayaan Kesehatan
Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan dan seharusnya

memperoleh anggaran yang cukup untuk pelayanan kepada masyarakat terutama


dalam rangka promosi dan prevensi untuk mencapai derajat kesehtan yang
optimal. Oleh karena itu pemerintah pusat meluncurkan program Bantuan
Operasinal Kesehatan (BOK). Pada tahun 2012 provinsi Jawa Timur mendapatkan
BOK sebesar Rp. 83.029.625.000,- dimana masing-masing kabupaten mempunyai

15

alokasi yang berbeda-beda. Anggaran tersebut digunakan untuk 7 upaya kesehatan


promotif preventif meliputi KIA-KB, imunisasi, perbaikan gizi masyarakat,
promosi kesehatan, kesehatan dan pengendalian penyakit dan upaya kesehatan
lain yang sesuai dengan resiko dan masalah utama kesehatan di wilayah setempat
(Dinkes, 2012).Dana yang diperoleh oleh masing-masing puskesmas untuk
mengendalikan penyakit yang sesuai dengan kondisi wilayahnya khususnya
penyakit Diabetes Mellitus diharapkan dapat digunakan seoptimal mungkin agar
derajat kesehatan masyarakatnya semakin baik.
2.5 Perbandingan Indonesia dengan negara anggota ASEAN dan SEARO
2.5.1 Kependudukan
Berdasarkan hasil proyeksi BPS provinsi, jumlah penduduk Jawa Timur
tahun 2010 sebesar 38.026.550 jiwa. Daerah dengan penduduk terbanyak adalah
kota Surabaya (2.912.197 jiwa), Kabupaten Malang (2.485.665 jiwa), dan Jember
(2.395.319 jiwa), sedangkan jumlah penduduk paling sedikit di Kota Mojokerto
(120.271 jiwa) dan Kota Blitar (130.429 jiwa). Kepadatan penduduk Jawa Timur
tahun 2010 sebesar 806 jiwa/km. Kepadatan penduduk di kota umumnya lebih
tinggi dibandingkan dengan kabupaten dan Surabaya dengan kepadatan penduduk
tertinggi 8.203 jiwa/km. Berdasarkan komposisi penduduk, kelompok umur
produktif usia 15-64 tahun masih menominasi presentase dengan jumlah
terbanyak di kelompok usia 25-29 tahun 8.8% sedangkan kelompok bayi
merupakan yang terkecil.
Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2008
tercacat sebesar 228.523.342 jiwa terdiri dari 114.399.238 laki-laki dan
114.124.104 perempuan. Secara nasional, dengan luas wilayah Indonesia
1.910.931,32 km2 maka tingkat kepadatan penduduk adalah sebesar 120 jiwa/km2.
Tingkat kepadatan yang tinggi masih didominasi oleh provinsi-provnsi di Pulau
Jawa. Provinsi yang memiliki kepadatan tertinggi adalah DKI Jakarta, yaitu
sebesar 13.774 jiwa/km2.
Menurut World Populations Data Sheet 2008, pada pertengahan tahun
2008, Indonesia adalah negara dengan penduduk terbanyak di antara negara-

16

negara anggota ASEAN lainnya dengan jumlah 239,9 juta jiwa. Dengan wilayah
negara terluas, Indonesia selalu menempati peringkat satu negara dengan jumlah
penduduk tertinggi di ASEAN. Jika di kawasan ASEAN, Indonesia menempati
peringkat pertama dengan jumlah penduduk terbesar, di kawasan SEARO
Indonesia menempati peringkat kedua setelah India. Kepadatan penduduk di
Indonesia sebesar 126 jiwa/km2. Bila dilihat dari tahun 2006-2008 kepadatan
penduduk per km2 terus meningkat. Indonesia di kawasan ASEAN berada pada
peringkat ke lima terpadat. Sedangkan di kawasan SEARO, Indonesia menempati
peringkat k delapan terpadat di antara 11 negara.
2.5.2

Derajat Kesehatan
Menurut International Diabetes Federation (IDF) Angka kematian

Diabetes Mellitus dilaporkan mencapai 5,1 juta pertahun (www.life.viva.co.id).


Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, diperoleh bahwa
proporsi penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di
daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu 14,7%. Dan daerah pedesaan,
DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%.
Jumlah penderita diabetes di seluruh dunia telah menyentuh angka yang
mengkhawatirkan. Menurut International Diabetes Federation (IDF) jumlah
kasus diabetes naik dari 371 juta pada tahun 2012 menjadi 382 juta pada tahun
2013. Seperti dilansir kantor berita Reuters, sebagian besar kasus yang terjadi
adalah diabetes tipe 2. Untuk diketahui tipe ini erat kaitannya dengan obesitas dan
kurangnya olahraga. Epidemic tersebut semakin menyebar karena banyak
masyarakat yang mengadopsi gaya hidup perkotaan dari dunia barat. IDF bahkan
memprediksi jumlah kasus diabetes melonjak 55%, menjadi 592 juta pada tahun
2035 (www.life.viva.co.id).
Indonesia saat ini menempati posisi 7 dengan jumlah penderita DM
sebanyak 8,5 juta orang. Di posisi teratas, ada cina dengan 98,4 juta jiwa, India
dengan 65 juta jiwa, dan Amerika dengan 24,4 juta jiwa (www.tempoo.com).
Penelitian terakhir yang dilakukan oleh Litbang Depkes yang hasilnya baru saja
dikeluarkan bulan Desember 2008 menunjukkan bahwa prevalensi nasional untuk
TGT 10,25% dan diabetes 5,7% (1,5% terdiri dari pasien diabetes yang sudah

17

terdiagnosis sebelumnya, sedangkan sisanya 4,2% baru ketahuan diabetes saat


penelitian).
Diabetes Mellitus (DM) adalah salah satu penyebab utama kematian
yangdisebabkan oleh karena pola makan/nutrisi, perilaku tidak sehat, kurang
aktifitas fisik dan stres. Menurut laporan Riskesdas 2007, DM menyumbang 4,2%
kematian padakelompok umur 15-44 tahun di daerah perkotaan dan merupakan
penyebab kematiantertinggi ke-6. Selain pada kelompok tersebut, DM juga
merupakan penyebab kematian tertinggi ke-2 pada kelompok umur 45-54 tahun di
perkotaan (14,7%) dan tertinggi ke-6 di daerah perdesaan (5,8%).
Menurut riset yang sama, prevalensi DM di Indonesia pada tahun 2007
sebesar0,7% berdasarkan diagnosis dan sebesar 1,1% berdasarkan diagnosis atau
gejala.Berikut ini disajikan prevalensi diabetes mellitus berdasarkan doagnosis
atau gejalamenurut provinsi tahun 2007.
Menurut data morbiditas pada pasien rawat inap RS di seluruh Indonesia
padatahun 2009, jumlah penderita DM tertinggi terdapat pada kelompok umur 4564 tahun,diikuti kelompok umur 65 tahun ke atas dan kelompok umur 25-44
tahun. Sedangkandata mortalitas DM di RS menggambarkan 74,3% merupakan
pasien DM yang tidakbergantung pada insulin dan 25,7% selebihnya merupakan
pasien DM yang bergantungpada insulin.
Di sisi lain, hasil penelitian menunjukkan insiden dekubitus di Indonesia
sebesar 33.3 % (Suriadi, 2006) angka ini sangat tinggi bila dibandingkan dengan
insidens dekubitus di ASEAN yang hanya berkisar 2.1-31.3 % (Sugama et al.,
1992; Seongsook et al., 2004; Kwong et al., 2005).Namun angka insiden dan
prevalensi dekubitus masih simpang siur. Hal ini disebabkan perbedaan
metodelogi, sample,clinical setting, dan variable lainnya.
Malaysia merupakan salah satu Negara anggota dari ASEAN dan SEARO
yang memiliki malasah terkait dengan diabetes mellitus.Menurut TV3 pada tahun
2006 apabila hanya 8.6 % orang dewasa di Malaysia menghidap diabetes, kajian
terbaharu pada 2011 menunjukkan 15.2 % orang dewasa menghidap
diabetes.Sejak 11 tahun lalu, Penyakit diabetes sentiasa meningkat dengan kadar
sebanyak 6.3% pada 1986, 8.3% pada 1996, 14.9% pada 2006 dan tahun lalu pula

18

sehingga 20.8 % berdasarkan jumlah penduduk. Pada tahun 2012 kira-kira 2.6 juta
penduduk Malaysia menghidap diabetes.
2.5.3

Upaya Kesehatan
Upaya kesehatan yang telah dilaksanakan di Indonesia menurut Kemenkes

RI tahun 2012, kegiatan pengendalian diabetes melitus dan penyakit metabolik


yang telah dilaksanakan terdiri dari pokok-pokok kegiatan yaitu :
a. Penyusunan pedoman
Sampai dengan tahun 2010 telah disusun 7 pedoman dengan revisi
sebanyak 3 kali.Sosialisasi dan advokasi sampai dengan tahun 2010 juga telah
dilakukan di 33 provinsi.
b. Peningkatan kapasitas SDM.
Upaya ini telah dilakukan melalui TOT deteksi dini dan tatalaksana
diabetes melitus dan penyakit metabolik di 16 provinsi. Selain itu juga
dilaksanakan pelatihan terhadap 180 dokter spesialis penyakit dalam dan 180
dokter umum di 6 kota, yaitu Medan, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar
dan Makassar.
c. Menjalin kemitraan
Upaya lain terkait pencegahan dan penanggulangan faktor risiko adalah
menjalin kemitraan dengan lintas program/lintas sektor melalui pembentukan
jejaring 157 kelompok kerja diabetes melitus, pengembangan partisipasi
masyarakat dalam pengendalian diabetes dan penyakit metabolik di 10 provinsi,
serta pengembangan Forum Diabetes Melitus di Indonesia. Pada tahun 2010 di
bentuk Project Partnership Agreement (PPA) antara Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia melalui Ditjen PPPL dengan World Diabetes Foundation
(WDF) yaitu lembaga swasta dunia yang berdedikasi dalam pencegahan dan
pengobatan diabetes melitus di negara berkembang. Tujuan dari kerja sama ini
adalah melakukan intervensi pada masyarakat dalam rangka pencegahan dan
pengendalian diabetes melitus beserta faktor risikonya.

19

2.6 Analsis Situasi


2.6.1 Perencanaan
Menurut DEPKES (2008), untuk mencapai tujuan dari pengendalian DM
perlu diterapkan kebijakan teknis sebagai berikut:
a. Menetapkan standar, norma, pedoman, kriteria kesehatan dan prosedur kerja
dengan mengacu pada pedoman dan peraturan yang berlaku
b. Menyelenggarakan
pengendalian
DM
melalui
pencegahan

dan

penanggulangan factor risiko, penemuan dan tatalaksana kasus secara tepat,


surveilans epidemiologi dan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) DM
c. Mengembangkan dan meningkatkan surveilans epidemiologi di sarana
pelayanan kesehatan sebagai bahan informasi dan perencanaan progam
pengendalian DM
d. Meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dan masyarakat serta
mengupayakan ketersediaan sarana dan prasarana dalam pengendalian DM
e. Meningkatkan jejaring lintas progam, lintas sektor, dan stake holder terkait
baik di pusat maupun provinsi, dan kabupaten/kota
f. Menumbuhkembangkan potensi masyarakat kearah kemandirian melalui
pendekatan kelembagaan di tingkat desa/kelurahan
g. Meningkatkat peran pemerintah provinsi, kabupaten/kota dan masyarakat
dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi upaya pengendalian DM
Menurut DEPKES (2008), untuk mencapai keberhasilan program secara
efektif dan efisien, perlu dikembangkan strategi pelaksaan kegiatan, yaitu:
a. Pengendalian DM berdasarkan fakta (evidence-based) dan skala prioritas
b. Melaksanakan sosialisasi dan advokasi pada pemerintah, pihak legislative dan
stake holder serta pemerintah daerah
c. Melakukan pembinaan dan monitoring serta evaluasi progam pengendalian
DM
d. Intensifikasi upaya pencegahan dan penanggulangan factor risiko, survailans
epidemiologi, penemuan dan tatalaksana kasus KIE DM
e. Peningkatan kemitraan melalui jejaring kerja baik nasional, regional maupun
internasional

20

f. Manfaat ilmu pengetahuan dan teknologi serta hasil-hasil penelitian atau


kajian yang mendukung dalam upaya peningkatan progam pengendalian DM
g. Pemberdayaan masyarakat melalui pembentukan kelompok masyarakat di
desa/kelurahan seperti posyandu, poslansia, dll
h. Meningkatkan

peran

dan

fungsi

sesuai

kewenangan

daerah

serta

memanfaatkan sumberdaya pusat melalui system penganggaran (dana


dekonsentrasi dan perbantu)
Tabel 1. Pengedalian Diabetes Mellitus secara Terintegrasi dan Komprehensif
berdasarkan Upaya Pencegahan
Upaya
Pencegahan
sasaran
Kegiatan

primer

Skunder

Skunder

Tersier

Populasi

Populasi resiko

Kasus DM

Kasus

sehat
Komplikasi
- Penggerakka - Penggerakkan - Penggerakka - Pelayanan

pokok

n peran

peran serta

n peran

spesialistik

pengendalian

serta

masyarakat

serta

dan sub

Diabetes

masyarakat

dalam

masyarakat

spesialistik

dalam

deteksi dini

dalam

efisien dan

PHBS

factor risiko

deteksi dan

edektif pasien

DM

tindak

dengan

lanjut dini

komplikasi

kasus DM

DM di rumah

Penyakit
metabolik

- Peningkatan - Peningkatan

sakit
- Penatalaksan - Perawatan kaki

PHBS

PHBS di

aan kasus

(peningkata

setiap

DM secara

n aktivitas,

tatanan

rasional

tida
merokok
diet kalori
seimbang)

kehidupan
- Tindak lanjut
dini kasus
factor risiko

oleh dokter
umum di
Yankes

diabetes
- Perawtan DM di
rumah (Home
Care)

21

di setiap

berbasis

tahapan

UKBM

kehidupan
- Monitoring/d
eteksi dini
dan tindak
lanjut
factor DM
berbasis

- Penatalaksanaa - Pelayanan

- KIE DM

n kasus

spesialistik

melalui

factor risiko

efisien dan

kunjungan

DM secara

efek pasien

rumah (Home

rasional oleh

DM di

Visit)

dokter umum

rumah sakit

UKBM
- KIE factor

di yankes
- Mencegah
- KIE pasien
- Monitoring/det
kecacatan
risiko DM
dan
eksi dini
akibat DM
di setiap
keluarga
kasus DM
tahapan
pasien DM
berbasis
kehidupan
UKBM dan

Tujuan/Manf - Mencegah
aat

Yankes
- Mencegah

- Mencegah

- Mencegah

timbulnya

terjadinya

adanya

kematian

factor

DM

komplikasi

akibat DM

risiko DM
- Mawas diri
- Mawas diri
terhadap
terhadap
terjadinya
factor
DM
risiko DM
Koordinator/ - Direktoral
- Direktoral

DM
- Mawas diri
terhadap
komplikasi
DM
- Direktorat

- Direktoral
jendral
pelayanan
Medik
- Direktorat

Penanggung

jendral

jendral

jendral

jendral

jawab

pengendalia

pengendalian

pelayanan

pelayanan

n penyakit

penyakit dan

medik

medik

dan

penyehatan

penyehatan

lingkungan

lingkungan
Jejaring kerja Penanggung jawab adalah pengelola program pengendalian DM di

22

setiap administrasi pemerintahan khususnya sektor kesehatan.


Kemitraan: lintas progam terkait, lintas sektor terkait, organisasi
profesi seperti Perkeni, pedi, perguruan tinggi, kelompok
masyarakat aktif, organisasi masyarakat, masyarakat swasta.
2.6.2 Pengorganisasian
a. Pusat
1) Membuat perumusan dan kebijakan umum teknis
2) Menyusun norma, standar, prosedur, modul, dan pedoman
3) Menyusun rencana progam DM sesuai prioritas kegiatan
4) Menyusun materi penyuluhan KIE melalui berbagai metode dan media
baik media cetak maupun elektronik
5) Mengadakan dan mendistribusikan bahan/alat deteksi dini/diagnostic
dalam rangka deteksi dini DM
6) Menyelenggarakan TOT (Training of Trainer) kepada pemegang/
pengelola progam DM
7) Melakukan sosialisasi dan advokasi baik kepada lintas progam, lintas
sektor dan pemegang kebijakan baik dipusatdan daerah
8) Membentuk dan memfasilitasi jejaring kinerja dalam pengendalian DM di
pusat, provinsi, dan Kabupaten/kota
9) Memfasilitasi provinsi dan kabupaten/kota dalam melaksanakan kegiatan
peningkatan kemandirian masyarakat dalam pengendalian DM
10) Melakukan bimbingan teknis progam pengendalian DM
11) Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanakan kebijakan DM
12) Menyusun laporan tahunan di bidang pengendalian DM

b. Dinas Kesehatan Provinsi


1) Melaksanakan kebijakan, peraturan dan perundang-undangan dibidang
pengendalian DM
2) Mensosialisasikan pedoman umum dan teknis, modul, standar, dan
prosedur di bidang DM

23

3) Melaksanakan deteksi dini DM di kabupaten/kota dalam rangka evidence


based / pengumpulan data
4) Melaksanakan surveilans epidemiologi DM
5) Menyelenggarakan

TOT

(Training

of

Trainer)

kepada

pemegang/pengelola progam DMkabpaten/kota


6) Melaksanakan penyuluhan DM mlalui berbagai metode dan media
penyuluhan di kabupaten/kota
7) Melakukan sosialisasi dan advokasi progam pengendalian DM kepad
pemerintah daerah, DPRD, lintas progam, lintas sektor, dan swasta
8) Memfasilitasi pertemuan baik lintas progam maupun lintas sektor
9) Membangun dan menerapkan kemitraan dan jejaring kerja DM secara
berkesinambungan
10) Memfasilitasi kemandirian masyarakat dalam pengendalian DM
11) Melaksanakan bimbingan dan pembinaan teknis di kabupaten/kota
12) Melaksanakan monitoring dan evaluasi di kabupaten/kota
13) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan serta mengirim ke pusat
c. Dinas kesehatan Kabupaten/kota
1) Melaksanakan kebijakan, peraturan dan perundang-undangan dibidang
pengendalian DM
2) Mensosialisasikan

pedoman

umum

dan

teknis,

modul,

standar

operasional, dan prosedur di bidang DM


3) Melaksanakan deteksi dini DM di Puskesmas dan masyarakat dalam
rangka evidence based / pengumpulan data
4) Melaksanakan surveilans epidemiologi DM
5) Melaksanakan KIE melalui berbagai metode dan media penyuluhan
kepada puskesmas, masyarakat/kader
6) Menyelenggarakan pelatihan penemuan dini dan tatalaksana DM bagi
petugas puskesmas dan kader
7) Melakukan sosialisasi dan advokasi progam pengendalian PTM kepada
pemerintah kabupaten/kota dan DPRD, lintas progam, lintas sektor,
swasta, dan masyarakat.

24

8) Melaksanakan pertemuan lintas progam maupun lintas sektor


9) Membangun dan mematapkan jejaring kerja secara berkesinambungan
10) Membangun dan memfasilitasi kegiatan pemberdayaan dan peningkatan
partisipasi masyarakat dalam upaya pengendalian DM yang sesuai
dengan kondisi daerah (local area specific)
11) Melaksanakan bimbingan dan pembinaan teknis di Puskesmas
12) Melaksanakan monitoring dan evaluasi progam di Puskesmas
13) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan serta mengirimkan ke Provinsi
d. Rumah Sakit
1) Melaksanakan deteksi dini terhadap faktor risiko DM
2) Melaksanakan penemuan dan tatalaksana kasus penyakit DM secara aktif
di RS
3) Menagani rujukan pasien DM secara berjenjang
4) Menyelenggarakan pelatihan pengendalian DM
5) Melakukan surveilans epidemiologi DM
6) Melaksanakan KIE melalui berbagai metode dan media penyuluhan di
lingkungan RS
7) Memfasilitasi pembentukan, pembinaan, dan pemantapan jejaring kerja
antara profesi dan LSM bidang DM secara berkesinambungan
8) Melaksanakan

pencatatan

dan

pelaporan

serta

mengirim

ke

Kabupaten/Kota, Provinsi dan pusat


e. Puskesmas
1) Melaksanakan deteksi dini terhadap faktor risiko DM di masyarakat
2) Melaksanakan penemuan dan tatalaksana kasus penyakit DM di
puskesmas
3) melaksanakan rujukan pasien DM ke RS
4) Melaksanakan surveilans epidemiologi DM
5) Menyelenggarakan penyuluhan/KIE pengendalian DM kepada agama,
tokoh masyarakat tokoh pemuda dan sektor swasta maupun masyarakat
melalui berbagai metode dan media penyuluhan

25

6) Memfasilitasi pembentukan, pembinaan, dan pemantapan jejaring kerja /


kelompok

kerja

di

masyarakat

dalam

bidang

DM

secara

berkesinambungan
7) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan di bidang DM serta mengirim ke
Kabupaten/Kota
2.6.3

Pengarahan
Menurut DEPKES (2008), pengarahan pengendalian DM meliputi

perencanaan dan pelaksanaan, sebagai berikut:


a. Perencanaan
1) Estimasi kebutuhan masyarakat dan advokasi/kebijakan
Estimasi kebutuhan masyarakat dimaksudkan untuk mengetahui
besaran masalah DM serta factor risikonya sebagai bahan dasar dalam
advokasi kepada pembuat kebijakan.Estimasi ini dapat dilaksanakan melalui
pemanfaatan hasil survey yang telah ada seperti survey kesehatan rumah
tangga (SKRT), survey ekonomi nasional (SUSENAS), survey kesehatan
daerah (SURKESDA), riset kesehatan dasar (RISKESDA), dan survey DM
yang berbasis masyarakat. Data/informasi dan surveilans DM dan prevalensi
factor risikonya dipergunakn sebagai bahan dasar perencanaan dan evaluasi
kegiatan pengendalian DM serta dalam rangka advokasi untuk mendapatkan
dukungan

baik

dukungan

kebijakan

maupun

dukungan

pendanaan.

Sedangkan data/informasi tentang case fatality rate (CFR) DM akan lebih


efektif untuk penilaian kinerja dan fasilitas sarana pelayanan kesehatan.
2) Koordinasi integrasi kebijakan dan strategi pengendalian DM
Pengendalian DM difokuskan risikonya secara menyeluruh dan
terintegrasi.Oleh karena itu, sangat diperlukan kordiansi kebijakan kepada
seluruh lintas progam dan lintas sektor terkait bersama-sama dengan swasta
dan masyarakat. Untuk keberhasilan pengendalian DM sebaiknya merajuk
kepada kebijakan-kebijakan yang sudah ada, sehingga dalam pelaksanaan
kegiatan dapat terintegrasi, komprehensif daerah melalui sektor terkait,
komitmen DPRD, dan unsur lain (misalnya asuransi kesehatan). Komitmen
tersebut berupa kebijakan pengendalian DM dan pembiayaannya, sumber

26

daya dan sarana yang memadai untuk pencegahan, diagnostic dan pengobatan
DM, serta dukungan kebijakan berupa peraturan daerah (PERDA) dalam
penyelenggaraan pelayanan kesehatan pada penyandang DM. upaya tersebut
dapat dilakukan dengan mengintegrasikan kebijakan pusat dengan kebutuhan
pemerintah daerah (PEMDA) melalui pengembangan jejaring DM berupa
forum komunikas, koordinasi, advokasi kepada seluruh stake holder dalam
rangka pengendalian DM.
3) Identifikasi kebijakan dan strategi untuk pelaksanaan kegiatan
Pelaksanaan

kegiatan

pengendalian

DM

perlu

memperhatikan

kebijakan pusat dan daerah agar kegiatan yang dilaksanakan dapat


sinkron/sesuai kebutuhan dan berkelajutan.
2.6.4

Pelaksanaan
Pelaksanaan pengendalian DM dilakukan melalui 2 tahapan baik di pusat,

di daerah, maupun individu. Ketiga tahapan tersebut adalah:


a. Tahap pelaksanaan inti (core)
Yaitu kegiatan pengendalian tepat guna sesuai dengan sumber daya ang
sudah dimiliki dengan kondisi daerah selempat dan segera dapat dilaksanakan
b. Tahap implementasi yang diinginkan (desirable)
Yaitu intervensi yang sesuai standar tatlaksana dan berdasarkan fakta
(evidence-based) untuk jangka waktu panjang.
2.6.5

Pengawasan
Menurut DEPKES (2008), pengawasan progam pengendalian DM

meliputi monitoring dan evaluasi untuk menjamin strategi pengendalian DM


dapat dilaksanakan, dipantau dan dievaluasi secara efisien dan efektif.

a. Monitoring
Monitoring adalah penilaian secara terus menerus terhadapfungsi kegiatan
baik dalam jadwal pelaksanaan maupun input dan sasaran kegiatan. Monitoring

27

merupakan bagian penting yang integral dalam managemen sehari-hari (Casey &
Kmar, 1987)
Menurut

Depkes

(2008),

monitoring

dilakukan

dengan

metode

pengumpilan data dan analisis informasi secara teratur dan dilakukan secara
internal untuk menilai apakah semua masukan sudah diakomodir dan
dipergunakan, bagaimana keiatan sudah dilaksanakan dan apakah keluaran sudah
sesuai dengan rencana kegiatan secara khusus, monitoring lebih mengutamakan
pada efisiensi. Sumber data yang penting dalam monitoring adalah laporan
verifikasi

kegiatan

keluaran

dan

output

internal

berupa

laporan

bulanan/triwulan/tahunan, catatan kerja atau laporan perjalanan, catatan pelatihan


dan notulen rapat. Monitoring dilakukan dengan 2 cara yaitu:
1) Monitoring dengan melakukan kunjungan lapangan (field visit)
2) Monitoring dengan mendapatkan laporan kemajuan yang diperoleh dari
laporan masing-masing pengelola proga. Biasanya berbentuk prosentase
target dan realisasi kemajuan kegiatan.
b. Evaluasi
Menurut Depkes RI (2008), evaluasi adalah penilaian secara berkala
terhadap relevansi, penampilan, efisiensi dan dampak kegiatan tentang waktu,
tempat, dan sasaran. Evaluasi kegiatan disebut juga kaji ulang atau penilaian yang
menyeluruh terhadap keluaran output dan kontribusinya pada tujuan kegiatan.
Evaluasi dapat dilakukan secara internal maupun eksternal untuk membantu
pembuatan keputusan mempelajari dan menerapkan hasil evaluasi tersebut. Secara
khusus, evaluasi lebih mengutamakan pada efektifitas, dampak dan sustainabilitas.
Evaluasi dapat dilakukan pada tahap antara lain:
1) Perencanaan (Ex-ante Evaluation)
2) Kegiatan sedang berjalan (On-going Evaluation)
3) Kegiatan sudah selesai (Terminal Evaluation)
4) Kegiatan sudah berfungsi (Ex-post Evaluation)
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) kebijakan kegiatan/progam
DM perlu didasarkan pada kejujuran, motivasi dan keinginan yang kuat dari para

28

pelaku kegiatan, baik dari pusat, provinsi maupun kabupaten/kota (DEPKES,


2008).
Menurut DEPKES (2008), prinsip-prinsip dalam pelaksanaan monitoring
dan evaluasi sebagai berikut:
1) Obyektif dan professional
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara professional
berdasarkan analisis data yang lengkap dan akurat agar menghasilkan
penilaian secara obyektif dan masukan yang tepat terhadap pelaksanaan
kebijakan pengendalian DM
2) Transparan
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara terbuka dan
dilaporkan secara luas melalui berbagai media yang ada agar masyarakat
dapat mengakses dengan mudah tentang informasi dan hasil kegiatan
monitoring dan evaluasi pengendalian DM
3) Partisipatif
Pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan dengan
melibatkan secara aktif dan nteraktif para pelaku progam DM
4) Akuntabel
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus dapat dipertanggungjawabkan
secara internal maupun eksernal
5) Tepat waktu
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus dilakukan sesuai dengan waktu
yang dijadwalkan.
6) Berkesinambungan
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkesinambungan
agar dapat dimanfaatkan sebagai umpan balik bagi penyempurnaan
kebijakan.

7) Berbasis indicator kerja

29

Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan berdasarkan kriteria atau


indicator kinerja, baik indicator masukan, proses, luaran, manfaat maupun
dampak.
Meurut DEPKES (2008), monitoring dan evaluasi pengendalian DM
dilakukan sebagai berikut:
1) Pelaksana monev adalah direktorat pengendalian PTM dibantu oleh Dinas
Kesehatn Provinsi
2) Sasaran monev meliputi UPT, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan
Kabupaten/kota, dan Puskesmas.
3) Monitoring dilakukan setiap satu tahun sekali dan evaluasi output/outcome
dilakukan 3 tahun sekali.
4) Hasil monev ini digunakan sebagai bahan penilaian kegiatan yang lalu dan
sebagai bahan untuk menyusun perencanaan pengendalian DM pada tahun
berikutnya.
5) Hasil monitoring dan evaluasi pengendalian DM disosialisasikan kepada
lintas progam, lintas sektor terkait masayarakat untuk mengambil langkahlangkah upaya tindak lanjut.
Seluruh

mekanisme

kerja

di

setiap

jejaring

administrasi

dapat

dilaksanakan melalui jejaring kerja lintas progam dengan direktorat SEPIM


KESMA, Badan Litbangkes, Ditjen Yanmed, Pusat Promkes, Setjen Depkes,
Ditjen Yanfar dan Alkes, Ditjen Bina Kesmas dan Rumah Sakit Pemerintah, RS
TNI dan RS POLRI serta RS Swasta (DEPKES, 2008).
Jejaring kerja lintas sektor terkait pelaksanaan dengan departemen dalam
negeri, departemen pertanian, departemen pendidikan Nasional, Kementrian
Negara Pemuda dan Olahraga, Badan POM, Perguruan Tinggi, Organisasi Profesi
(PERKENI, PEDI) dan masyarakat (PERSADIA) bentuk jejaring kerja dapat
berupa seminar, kajian/penelitian dan pengembangan, sumber daya manusia(diklat
dan studi banding di dalam dan diluar negeri) dan juga berupa forum komunikasi
koordinasi dan aksi bersama dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan
evaluasi serta pengembangan kegiatan pengendalian DM (DEPKES, 2008).

30

Menurut DEPKES (2008), pengukuran indikator diukur dengan batasan


wilayah kabupaten/kota dan untu mengetahui keberhasilan pelaksanaan progam
pengendalian Diabetes Mellitus, diperlukan beberapa indikator yang dapat dilihat
pada table dibawah ini:
Tabel 2. Kegiatan monitoringdan evaluasi
(input, output, dan outcome)
output
proses
a. Proporsi faktor a.Sosialisasi

input
Kegiatan
a. Pedoman umum 1. Pencegahan dan

risiko DM dan

pedoman umum

pengendalian

pengendalian

PM di

pengendalian

DM

faktor risiko DM

puskesmas

DM

b. Jumlah

b.Sosialisasi

b. Pedoman teknis

provinsi,

Pedoman teknis

metode

kabupaten/kota

metode

pencegahan dan

yang telah

pencegahan dan

penaggulangan

tersosialisasi

penaggulangan

faktor risiko

faktor risiko DM

DM

c. Jumlah

c.TOT pencegahan

c. Modul TOT

provinsi,

dan

pencegahan dan

kabupaten/kota,

penanggulangan

penanggulangan

dan puskesmas

faktor risiko DM

faktor risiko

yang telah
melaksanakan
pengendalian
faktor risiko
DM
d. Jumlah
kebijakan
provinsi,
kabupaten/kota,
dan puskesmas

DM

31

yang telah
melaksanakan
pengendalian
faktor risiko
DM
e. Jumlah progam
dan sektor laim
yang
berpartisipasi
aktif dalam
jejaring kerja
pengendalian
faktor risiko
DM
a.Proporsi kasus

a.Sosialisasi

a. Pedoman teknis 2. Penemuan dan

DM dan PM di

pedoman teknis

penemuan dan

puskesmas

penemuan dan

tatlaksana

tatlaksana

penderita DM

penderita DM
b. Prevalensi DM b.TOT penemuan

c.Jumlah provinsi,
kabupaten/kota,

b. Modul TOT
penemuan dan

dan tatlaksana

tatlaksana

penderita DM

penderita DM

c.Lelang
terbuka/tender

c. Pengadaan dan
pendistribusian

yang telah

bahan/alat

tersosialisasi

deteksi

d. Jumlah provinsi,

dini/diagnostic

kabupaten/kota,

penderita DM

dan puskesmas

ke daerah

yang telah
melaksanakan

tatlaksana

32

kegiatan
penemuan dan
tatalaksana
kasus DM
e.Jumlah kebijakan
provinsi,
kabupaten/kota,
yang
mendukung
kegiatan
penemuan dan
tatalaksana
kasus DM
f. Jumlah progam
sektor lain yang
berpartisipasi
aktif dalam
jejaring kerja
penemuan dan
tatlaksana kasus
DM
g. Diterbitkannya
kebijakan
tentang jumlah
hari pemberian
obat (minimal
10 hari
pemakaian)
hipoglikemik
oral (OHO) di
unit Yankes

33

a. Tersedianya data
faktor risikoDM

a.Pelatikan KIE
Bsgi Tenaga

a. Modul TOT
KIE

Kesehatan Dan

kasus DM

b.Kegiatan
Advokasi

b. Pengadaan dan
pendistribusian
bahan atau KIE
melalui media
cetak berupa
poster, lembar
balik, leaflet ke
daerah

c. Jumlah provinsi,

c.Diterbitkan

kabupaten/kota

Kebijakan

yang telah

Kesehatan Yang

tersosialisasi

Berhubungan
Dengan Jenis
Dan Jumlah
Obat Maupun
Kualitas Jenis
Pelayanan Yang
Dapat Dicakup
Oleh PT Askes

Epidemiologi
DM

Kader
b. Tersedianya data

3. Surveilans

34

BAB 3. MASALAH PROGRAM MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN


3.1 Analisis Masalah Fish Bone

PLANNING

ORGANIZING
Kurang terhubungnya
dengan program
kesehatan atau promosi

Belum optimalnya program


pencegahan DM yang dilaksanakan
Masalah Manajemen:
1. Pelaporan penemuan kasus atau
surveilans belum optimal
dilaksanakan
2. Kurang optimalnya dukungan
kemitraan berbasis pemberdayaan
masyarakat
3. Pelaksanaan program pengendalian
DM belum optimal
4. Keberhasilan program pengendalian
DM masih rendah
5. Belum optimalnya kader kesehatan
masyarakat sebagai upaya preventif
dan promotif dalam pengendalian
DM
6. Sistem manajemen program
pengendalian DM masih belum
optimal

Kurangnya pengetahuan masyarakat


tentang pencegahanDM
Kurangnya kesadaran
masyarakat untuk
melaksanakan program atau
memeriksakan diri ke
Kecenderungan pemerintah lebih
mementingkan penyakit menular

Pelaksanaan program belum


berbasis pemberdayaan
masyarakat
TOGA dan TOMA belum
dilibatkan secara optimal
Kader kesehatan yang ada kurang
berperan aktif dalam pelaksanaan
program

Tidak adanya program pengendalian


DM melalui dukungan keluarga
Kurangnya dukungan peralatan dan
kegiatan deteksi dini faktor resiko
DM karena keterbatasan dana
Kurangnya pencegahan faktor resiko
berbasis masyarakat dalam
pengendalian DM
CONTROLLING

Kurang melakukan penemuan


kasus atau survailence
epidemiologi DM secara aktif

Masih lemahnya sistem


informasi dalam pengendalian
DM

ACTUATING

35

3.2 Daftar Masalah Manajemen Pelayanan Kesehatan


1. Kurang optimalnya dukungan kemitraan berbasis pemberdayaan masyarakat
di Desa R berhubungan dengan kurang aktifnya peran serta kader dalam
pelaksanaan program sebagai upaya preventif dan promotif dalam
pengendalian DM; belum optimalnya peran atau keterlibatan TOGA dan
TOMA.
2. Belum optimalnya

pelayanan kesehatan masyarakat di Desa R dalam

menangani DM berhubungan dengan kurangnya dukungan peralatan dan


kegiatan deteksi dini faktor resiko DM akibat dana yang terbatas.
3. Belum optimalnya dukungan keluarga pada anggota keluarga yang sakit
berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit dan diet
makanan.

36

BAB 4. PERENCANAAN
No

Diagnosa

Tujuan

Kurang optimalnya

TUM: Aktifnya

dukungan kemitraan

kader, TOGA dan

masyarakat

hubungan

kehadiran

berbasis

TOMA dalam

melalui

saling

membantu terlaksananya

pemberdayaan

program

pelatihan kader

percaya

program

masyarakat di Desa R

pengendalian

TOGA

dengan

berhubungan dengan

DM

TOMA

kurang aktifnya peran

Rencana Kegiatan

Aktivitas

1. Pemberdayaan

1.1 Bina

dan

Evaluasi
1.1.1

Indikator
Evaluator
Masyarakat menerima
dengan

masyarakat
1.2 Komunikasi,
1.2.1 terlaksananya

Mahasiswa

serta kader dalam

TUK: 1.

informmasi

pengarahan Toga dan

pelaksanaan program

Terbentuknya

dan edukasi

Toma

sebagai upaya

pos pengendalian

kepada

pengendalian DM

preventif dan promotif

diabetes

TOGA 1.2.2
dan terbentuknya komunitas

dalam pengendalian

CERDIK yang

TOMA

DM; belum

difasilitasi oleh

tentang

optimalnya peran atau

kader

pengendalia

Mahasiswa

keterlibatan TOGA

2. terbentuknya

n DM.

Masyarakat

dan TOMA.

komunitas

tentang

Masyarakat
TOGA
TOMA

kontrol DM

1.3 memberikan
1.3.1 terlaksananya pelatihan

Kader

37

kontrol DM yang

pelatihan kepada

difasilitasi oleh

kader tentang
pengendalian DM
1.3.2 terbentuknya program
program
pos pengendalian
pengendalian
diabetes CERDIK
DM
1.3.3 terselenggaranya pos

TOGA dan
TOMA

kader tentang program

pengendalian DM
2.

Belum optimalnya

TUM:

Menjalin kerjasama 1.1 melakukan

pelayanan kesehatan

tercapainya

antara

masyarakat di Desa R

target MDGs

program dan lintas

dalam menangani DM

2015 dalam

sektor serta pihak

berhubungan dengan

penanganan DM

swasta

(praktek

kurangnya dukungan

TUK:

peralatan dan kegiatan

Terselenggaranya perawat, dan LSM)

deteksi dini faktor

program

resiko DM akibat dana pengendalian


yang terbatas.

DM di
Puskesmas

dokter,

lintas

bidan,

skreening
kasus
1.2 Promosi

setiap sebulan 2 kali


1.1 penemuan kasus DM
di masyarakat 100%
1.2 Kelompok kasus
maupun kelompok

program

resiko dapat

pengendalia

terakomodir

n DM
1.3 Pelayanan
rujukan DM

kebutuhannya.

Mahasiswa
Masyarakat
Pihak
Swasta
Puskesmas

38

BAB 5. IMPLEMENTASI
5.1 Pilot Project
a. Judul program : Pospendes Cerdik (Pos Pengendalian Diabetes dengan Cek
kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat
dan seimbang, Istirahat Cukup, Kelola Stres)
b. Deskripsi komunitas
Masyarakat di Desa R merupakan masyarakat yang kurang peduli terhadap
kesehatan.Hal ini dapat terlihat dengan adanya masyarakat yang menderita
diabetes mellitus. Penyakit tersebut bisa muncul karena masyarakat kurang peduli
terhadap kesehatan, pola hidup yang buruk, dan kaena penurunan fungsi organ
seiring dengan bertambahnya usia. Pola hidup yang ada pada masyarakat Desa R
yaitu suka merokok, jarang berolahraga, makanan yang tidak sehat, dan jarang
memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan. Masyarakat Desa R juga kurang
memahami tentang pencegahan DM dan menjaga pola hidup yang sehat agar
terhindar dari Diabetes Melitus. Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya
posbindu Cerdik untuk pembinaan pada masyarakat desa R agar dapat
mengendalikan faktor resiko penyakit DM secara mandiri.
c. Diagnosis manajemen pelayanan kesehatan komunitas
Kurang

optimalnya

dukungan

kemitraan

berbasis

pemberdayaan

masyarakat di Desa R berhubungan dengan kurang aktifnya peran serta kader


dalam pelaksanaan program sebagai upaya preventif dan promotif dalam
pengendalian DM; belum optimalnya peran atau keterlibatan TOGA dan TOMA.
d. Deskripsi populasi target
Masyarakat di Desa R kurang peduli dan tidak mengetahui tentang
perilaku hidup bersih dan sehat.Masyarakat cenderung melakukan kegiatan yang
kurang mendukung terhadap kesehatan sehingga bisa muncul masalah diabetes
mellitus.
e. Model program perencanaan

39

Mahasiswa

Masyarakat
Kader

Puskesmas
Rumah Sakit

Pospendes
Cerdik

TOMA/TOGA
KELOMPOK
RESIKO/KASUS
KELUARGA

f. Deskripsi program
Pelaksanaan program ini pertama akan dilakukan oleh mahasiswayang
akan bekerjasama dengan masyarakat membentuk kader dan TOMA/TOGA.
TOMA/TOGA berperan dalam mengontrol kelompok kasus dan resiko, kader
berperan dalam menjalankan pospendes cerdik. Apabila ada keadaan yang gawat
maka dirujuk ke pelayanan kesehatan dasar yaitu puskesmas dan kemudian ke
rumah sakit. Puskesmas berfungsi untuk membantu dan mengontrol proses
pelaksanaan posbindes dan juga sebagai fasilitator bagi TOMA/TOGA dan kader
dalam

menjalankan program

pengendalian DM. Pos Pengendalian Diabetes

CERDIK adalah kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor resiko DM utama
melalui perilaku CERDIK yang sudah dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan
yaitu, Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin melakukan
aktivitas atau berolahraga, Diet dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup,
Kelola stres dengan baik serta menindaklanjuti secara dini faktor resiko yang
ditemukan melalui konseling kesehatan dan segera merujuk ke fasilitas pelayanan
kesehatan dasar. Tujuannya adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam
pencegahan dan penemuan dini faktor resiko DM. Pos Pengendalian Diabetes
CERDIK ini juga memberikan edukasi kepada keluarga dengan anggota keluarga
yang sakit. Sasaran kegiatan adalah masyarakat sehat, yang beresiko, dan yang
mengalami DM. Bentuk kegiatan Pospendes CERDIK meliputi:
1) Penggalian info faktor resiko dengan wawancara
2) Kegiatan pengukuran BB, TB, IMT, lingkar perut, dan tekanan darah
3) Kegiatan pemeriksaan gula darah setiap bulan

40

4)
5)
6)
7)

Kegiatan penyuluhan dan konseling


Kegiatan aktivitas fisik atau olahraga bersama setiap minggu
Kegiatan rujukan ke pelayanan kesehatan dasar
Edukasi kepada keluarga dengan anggota keluarga DM
Pospendes CERDIK dilaksanakan setiap bulandua kali dengan tempat

pelaksanaan adalah lokasi yang mudah dijangkau seperti rumah warga, balai desa,
dan lain-lain.Unsur-unsur pelaksana adalah kader, TOGA/TOMA, petugas
puskesmas.
g. Tujuan program
Tujuan dari Pospendes CERDIK ini adalah untuk mendeteksi dini faktor
resiko penyakit DM di masyarakat dengan melakukan pembinaan, komunikasi
informasi dan edukasi (KIE) pada kelompok kasus, kelompok beresiko dan juga
keluarga.
Tujuan dari pemberian edukasi kepada keluarga adalah
sebagai berikut:
1) Meningkatkan fungsi keluarga
2) Memperbaiki ketidakadekuatan interaksi dan komunikasi
interpersonal yang terlibat dari perbaikan pada klien yang
teridentifikasi.
3) Mengenali dan menyatakan pola yang sering tersembunyi
dalam

mempertahankan

keseimbangan

di

dalam

keluarga. Membantu keluarga mengenali bahwa pada


kenyataannya gejala klien yangdiidentifikasi memiliki
fungsi

penting

keluarga.
4) Meningkatkan

dalam
persepsi

mempertahankan
dan

pemenuhan

homeostasis
kebutuhan

anggota keluarga lain oleh anggota keluarga.


5) Mengubah satu bagian sistem sehingga sistem tersebut
berfungsi dengan cara yang lebih sehat, dengan demikian
sisa sistem ikut berubah.
6) Memahami bagaimana dinamika keluarga mepengaruhi
psikopatologi klien, memobilisasi kekuatan dan sumber
fungsional

keluarga,

merestrukturisasi

gaya

perilaku

41

keluarga yang maladaptive, serta menguatkan perilaku


penyelesaian masalah keluarga.
h. Kriteria evaluasi program
1) Terdapatnya pengelolaan atau pembagian kerja dan penanggung jawab
program
2) Terdapatnya kemampuan dan kemauan masyarakat dalam upaya
pencegahan dini faktor resiko DM.
3) Tersedianya pelayanan DM melalui pospendes CERDIK.
4) Insidensi DM menurun dalam rentang waktu satu tahun.
i. Aktivitas intervensi program
Aktivitas yang dilakukan yaitu dengan pemberdayaan masyarakata atau
membina masyarakat dalam mengendalikan faktor resiko DM yang dilakukan
oleh kader kesehatan melalui komunikasi, informasi dan edukasi.
j. Sumber-sumber dan keterbatasan
Keterbatasan dalam program ini adalah SDM, karena dalam melakukan
pencegahan dini diperlukan tenaga yang cukup dan kerjasama dari masyarakat.
k. Budget
Anggaran dana yang dibutuhkan dalam pelaksanaan Pospendes CERDIK
di dapat dari swadaya masyarakat. Rincian dana yaitu:
No
1.
2.
3.
4.
5.

Kebutuhan
Konsumsi
Spanduk
Alat-alat
Lain-lain
Total

Anggaran
Rp 600.000
Rp 70.000
Rp 500.000
Rp 400.000
Rp 1.570.000

42

5.2 Tingkat Kegiatan Implemntasi di Komunitas


No
1.

Level
Downstream

Target
Individu, keluarga

Intervensi
Pendidikan kesehatan
Konseling

2.

Midstream

Komunitas

Pembinaan
Penyuluhan
Konseling

3.

Upstream

Pemerintah

Kerjasama dengan
Puskesmas dan Rumah
Sakit terkait rencana tindak
lanjut.

43

BAB 6. EVALUASI
6.1 Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif dari program ini adalah untuk mendeteksi dini faktor
resiko penyakit DM di masyarakat dengan melakukan komunikasi, informasi dan
edukasi pada kelompok kasus dan kelompok beresiko, sehingga masyarakat Desa
Rmempunyai kemampuan untuk melakukan

pengendalian penyakit Diabetes

Melitus sehingga angka kejadiannya semakin berkurang atau bahkan hilang.


Evaluasi ini dilakukan dengan melihat insidensi DM setelah dilakukannya
program.
6.2 Evaluasi Proses
Implementasi dari program ini adalah pembinaan pada masyarakat untuk
mengendalikan faktor resiko terjadinya DM. Pembinaan ini dilakukan oleh kader
dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) dalam pospendes
CERDIK sekaligus pembinaan pada kelompok kasus dan resiko serta keluarga
yang anggota keluarganya menderita Diabetes Melitus.
6.3 Evaluasi Sumatif
Program ini bisa memotivasi masyarakat untuk berperilaku hidup sehat
dan bersih untuk menghindari faktor resiko DM. Diharapkan masyarakat
kooperatif dalam pembinaan ini, agar bisa mengurangi insidensi DM di wilayah
tersebut.

44

BAB 7. PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Diabetes mellitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sifatnya
kronis

dan

membutuhkan

perawatannya

yang

lama

untuk

proses

penyembuhannya. Angka kejadian DM di Indonesia sangat tinggi terbukti, dengan


Indonesia menduduki peringkat ke empat Negara penderita DM tertinggi di
dunia.Prevalensi DM di Indonesia meningkat setiap tahunnya. Untuk mengatasi
hal tersebut maka pemerintah melakukan program pengendalian DM yang
berbasis pemberdayaan masyarakat dan bekerja sama dengan pihak swasta untuk
melaksanakan programnya.
7.2 Saran
Perlu adanya koordinasi antara masyarakat dan pemerintah dalam
menerapkan program ini.Pemerintah juga harus memberi perhatian terhadap
penyakit DM meskipun tidak menyebabkan penularan.Hal ini dilakukan agar
tercapai Masyarakat yang sehat.

45

DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2008. Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS) 2007. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Dinkes Jember. 2011. Laporan kunjungan (LBI) DM kabupaten jember tahun
2010. Jember: dinas kesehatan kabupaten jember
Dinkes Jember. 2012. Laporan kunjungan (LBI) DM kabupaten jember tahun
2011. Jember: dinas kesehatan kabupaten jember
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. 2012. Profil Kesehatan Provinsi Jawa
Timur Tahun 2011. http://dinkes.jatimprov.go.id/userfile/dokumen /
1111111111_1111111111_Profil_Kesehatan_Provinsi_Jawa_Timur_Tahu
n_2011.pdf [25 Februari 2013]
Depkes RI. 2008. Pengendalian Diabetes dan Penyakit Metabolik. Jakarta: Bakti
Husada
Depkes RI. 2013. Hasil Riskesdas 2013. http://depkes.go.id/downloads/
riskesdas2013 /Hasil%20Riskesdas%202013.pdf [16 Maret 2013].
Kemenkes RI. 2012. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Jakarta: Bakti
Husada
http://www.tv3.com.my/beritatv3/berita_terkini/Jumlah_Penghidap_Diabetes_Di_
Malaysia_Membimbangkan.html (diakses tanggal 17 maret 2014)
Sitompul, Ratna. 2011. Artikel Pengembangan Pendidikan Berkelanjutan:
Retinopati Diabetik. Jakarta: IDI
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. EGC : Jakarta.
Wild, S., 2004. Global Prevalence of Diabetes-Estimates for the year 2000 and
Projection for 2030. Diabetes Care, Number 5, Volume 27, Page: 10471053.
_______. 2013. Setiap enam detik satu orang meninggal akibat diabetes.
www.life.viva.co.id
/news/read/458459-setiap-enam-detik-satu-orangmeninggal-akibat-diabetes (Diakses tanggal 17 maret 2014)

46

_______. 2013. Indonesia Masuk 10 Besar Negara dengan Pengidap Diabetes.


http://www.tempoo.com/read/news/2013/11/14/060529766/IndonesiaMasuk-10-Besar-Negara-dengan-Pengidap-Diabetes (Diakses tanggal 17
maret 2014)
_______.
2013.
berkenalan-dengan-si-manis-diabetes.
http://www.
Tropicanaslim
.com/berkenalan-dengan-si-manis-diabetes
(Diakses
tanggal 17 maret 2014).