Está en la página 1de 17

RKL (Rencana Kelola Lingkungan)

RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan atau Rencana Kelola


Lingkungan) adalah sebuah dokumen yang disusun untuk memuat
arahan dan pedoman untuk mencegah, menanggulangi atau
mengendalikan dampak negatif dan upaya meningkatkan dampak
positif (Sontang Manik, 2003).

RKL adalah rencana penanganan dampak yang bertujuan untuk


memperbesar dampak positif dan memperkecil dampak negatif
karena mencakup pertimbangan lingkungan. Dalam prosesnya RKL
juga mencakup pemantauan lingkungan (Otto Soemarwoto, 2003).

RKL dalam aspek kesehatan masyarakat adalah suatu susunan


pedoman yang mengemukakan arahan-arahan konkrit untuk
mencegah, meminimalisasi dampak negatif dan memaksimalisasi
manfaat yang diperoleh dari aspek kesehatan meliputi infrastruktur
dan pelayanan, penyediaan daerah penyangga dan sarana umum,
pengelolaan sampah atau hasil buangan, pengendalian dampak
kumulatif akibat dampak perubahan lingkungan, pengelolaan tata
ruang kota, penciptaan lingkungan baru yang berkelanjutan,
pengendalian kecelakaan dan pemajanan emisi transportasi (Kep14/MenLH/3/1994).

RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan)

RPL adalah sebuah dokumen yang disusun mengacu pada dokumen andal
dan RKL untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan pengelolaan lingkungan
yang dilakukan pemrakarsa, pemantauan lingkungan yang terkena dampak
dan pemantauan terhadap sumber dampak (Sontang Manik, 2003).

RPL adalah rencana suatu proses pengukuran, pencatatan, analisis dan


pelaporan informasi yang didokumentasikan dan bersifat
berkesinambungan. RPL ini disusun didasarkan atas hasil andal dan
dokumen RKL (Otto Soemarwoto, 2003).

RPL dalam kesehatan masyarakat adalah Sebuah dokumen yang berisikan


arahan-arahan konkrit dalam melakukan pemantauan dampak kesehatan
masyarakat secara tepat dan efisien. Arahan pemantauan adalah pada
kandungan bahan berbahaya dalam emisi pada kegiatan yang
direncanakan, memantau bahan-bahan berbahaya pada titik-titik media
lingkungan, memantau titik-titik kontak antara media lingkungan dengan
manusia, memantau cara kontak antara media lingkungan dengan manusia
(Kep-14/MenLH/3/1994).

Tujuan RKL dan RPL


Rencana Kelola Lingkungan

Rencana Pemantauan Lingkungan

Menyusun dan melaksanakan alternatif


pengembangan dampak positif dari
rencana usaha atau kegiatan

Memantau parameter atau komponen


lingkungan yang akan terkena dampak
penting

Menyusun dan melaksanakan alternatif


pencegahan dan penanggulangan
dampak negatif

Menguji kemampuan alternatif


penanganan dampak yang dilakukan
Menciptakan sistem peringatan dini, jika
terjadi perubahan lingkungan yang tidak
terduga
Menciptakan mekanisme koordinasi
antara pihak-pihak yang terkait

Kegunaan RKL dan RPL

Rencana Kelola Lingkungan

Rencana Pemantauan Lingkungan

Bagi pemrakarsa sebagai pedoman


dalam pelaksanaan pengelolaan LH

Untuk mengetahui efektivitas sistem


pengelolaan lingkungan yang telah
dilakukan pemrakarsa

Bagi instansi terkait adalah untuk


mengetahui tingkat kepedulian
pemrakarsa dalam penanganan
lingkungan sesuai peraturan perundangundangan yang ada

Untuk mengetahui kondisi lingkungan


pada setiap periode tertentu yang dapat
dijadikan dasar dalam menentukan
tindakan pengelolaan lebih lanjut.

Bagi masyarakat adalah untuk


mengetahui upaya yang dilakukan
pemrakarsa dalam pengelolaan dan
penanggulangan dampak yang mungkin
timbul

Sebagai bahan umpan balik dalam


penyempurnaan pengelolaan lingkungan
yang telah dilaksanakan

Diagram Alir Andal, RKL dan RPL


Rona Lingkungan

Skoping

TOR Andal

Laporan andal

Pengumpulan data
Evaluasi dampak

Analisa Data
Estimasi dampak

Andal
RKL

RPL

Usulan Proyek

Proyek dibangun dan berjalan

Implementasi pengelolaan
lingkungan

Implementasi pemantauan
lingkungan

Dampak lingkungan
Keadaan kualitas
lingkungan

Hasil pemantauan kualitas


lingkungan

Proses RKL
Constraint

Evaluasi Dampak

Identifikasi Aktivitas Proyek


Yang menimbulkan dampak
Negatif pada komponen LH

Akibat dari
dampak negatif

Tindakan penanggulangan
Atau rencana kelola untuk
Meminimalisir dampak -

Lokasi

Waktu

Estimasi hasil
Pengelolaan yang
diharapkan

Kuantitas

Perubahan aktivitas

Strategi manajemen

Rekomendasi yang dihasilkan untuk


Pemrakarsa atau pengusul proyek

Strategi Pengelolaan LH
Eko-efisien
Pembuatan IPAL
Manajemen Daur Ulang

Rekomendasi
RKL

Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Reklamasi Tailing
Restorasi Ekosistem-Green Belt
Green Product
Community-Ecology Empowerment

Penggunaan Daur Ulang Dalam Pengembangan


Aquakultur di Waduk Saguling dan Cirata

Kotoran
Tumbuhan

Ternak
Ulat hongkong
Kompos

Larva
Kelinci dan
marmot

Kotoran
Cacing tanah

Daging
Telur
Kulit
Biogas
Kulit

Kerajinan kulit
Ikan

ikan

Katak
Daging
Bekicot

IPAL

IPAL

Clean Product Atau Produk Bersih:

Produk bersih ini mencakup kriteria penerapan teknologi ekoefisien


dan penggunaan atau pemanfaatan tehnik daur ulang, tetapi clean
product penerapannya lebih jauh lagi terutama kriterianya dalam
bersihnya produk yang dihasilkan tersebut terhadap dampak
kerusakan lingkungan.

Banyak produk-produk yang dihasilkan berasal dari eksploitasi SDA


yang melanggar aspek perlindungan alam, menghasilkan limbah
buangan yang mencemari lingkungan dan tercemar oleh limbah
atau produk buangan yang berbahaya seperti pestisida dan zat
hormon tumbuh.

Produk-produk tersebut bukan sebagai produk bersih. Produk


bersih disebut pula sebagai green product atau produk ramah
lingkungan.

Penerapan Ekolabeling dalam produk atau menyertakan ISO 9001


atau saat ini ISO 14000, merupakan tolok ukur dan lisensi bahwa
usaha yang dilakukan sudah menghasilkan produk bersih.

Proses RPL
Rekomendasi
Untuk RPL

RKL

Penentuan Parameter yang dipantau


Manajemen pemantauan

Rencana pemantauan aktivitas proyek


Terutama yang menimbulkan dampak
Negatif proyek dan aktivitas aktivitas
Dalam RKL terhadap lingkungan

Pengumpulan data
Penilaian terhadap RKL
Analisa data

Rekomendasi yang
diharapkan
Pemrakarsa

Masyarakat

Hasil analisa data


Dan dokumen RPL
Pemerintah dalam hal ini Bapedal

TIPE Pemantauan
Inspeksi
Pemantauan Perijinan
Pemantauan kualitas ambien lingkungan
Pemantauan percobaan lingkungan
Tipe Pemantauan

Pemantauan evaluasi program


Pemantauan evaluasi proyek
Pemantauan perjanjian atau kontak dalam
Bidang sosial ekonomi
Pemantauan pengelolaan dampak dari proyek
Pemantauan dampak kumulatif

Bagan Alir Amdal


Usulan Proyek
Pembangunan

Rencana proyek
ditolak
Diterima tanpa
perlu ANDAL

PIL
Diterima dan perlu
ANDAL
TOR
ANDAL

UKL dan
UPL

Estimasi Dampak
Evaluasi Dampak
Laporan Amdal

Proyek dilaksanakan tanpa


atau dengan modifikasi

RKL dan RPL

Hasil Evaluasi
Proyek berjalan
dengan
perubahan
Proyek dapat
dibangun

Proyek tidak
dapat dibangun
Proyek boleh
berjalan tanpa
perubahan

Law Enforcement Mechanism


Implementation of
RKL, UKL, ISO, etc.
Law Enforcement

Carrot mechanism

Stick Mechanism
Sangsi Pidana

Sangsi Perdata

Putusan Pengadilan

Command &
Control

Licenses
Standards
Guidelines
Zoning
(Moratorium)
Monitoring
Inspection
Prosecution
Adm. sanction

Economic
Instrument

Public
pressures

Effluent charge
User charge
Product charge
Additive charge
Tax
differentiation

Boycotts
Campaign

Market
creation

Enforcement
incentives

Non compliance fee


Performance
bond/refund

Emission trading
Market intervention
Liability insurance

Rehabilitation
project

Penyimpangan yang dilakukan oleh pemilik proyek atau pemrakarsa dalam


pelaksanaan RKL atau UKL (hasil evaluasi dari RPL atau UPL), dapat mengakibatkan
pemilik proyek tersebut dapat dikenai sangsi. Sangsi tersebut dapat berupa Putusan
Pengadilan dari suatu tuntutan pidana atau perdata yang dilayangkan kepada publik
termasuk Tim Amdal ataupun Auditor atau Sangsi dari Publik melalui Ketetapan
Pemerintah ataupun Badan yang dilegitimasi oleh pemerintah atau badan yang
dilegitimasi dunia, pendekatan ekonomi (melalui (implementasi charge system),
intervensi pasar dan insentif lingkungan) dan tekanan publik melalui boikot produk
dan kampanye.

Pendekatan ekonomi merupakan upaya sangsi ringan kepada pemrakarsa dengan


maksud bahwa pemrakarsa memiliki tanggung jawab kepada masyarakat (Public
Responsibility) dan kepada lingkungan. Mekanisme yang dijalankan adalah berupa
denda, ganti rugi kepada publik, pajak tinggi terhadap lingkungan, pemrakarsa dalam
menyediakan asuransi untuk publik yang dikenai dampak dan dukungan finansial
atau dana lingkungan untuk organisasi lingkungan yang digunakan untuk pemulihan
lingkungan (environmental restoration) bisa dalam bentuk program rehabilitasi.

Sangsi berat terhadap pemrakarsa apabila penyimpangan terhadap RKL atau UPL
ataupun terjadi kasus berat terhadap lingkungan yang tidak direspon oleh
pemrakarsa, maka dapat diupayakan penggunaan lisensi produk atau standar produk
atau penghentian penggunaan bahan baku produk contohnya penerapan moratorium
sampai pada sangsi administasi proyek. Upaya lainnya adalah boikot produk secara
global dan kampanye negatif (Negative Campaign) kepada produk-produk yang
dikeluarkan oleh pemrakarsa.

Proses Sanksi Hukuman dan Pemantauan Publik


UU/Kepres/perpu/perda
Konsultan
Pemerintah
Tim Amdal/Auditor

Sanksi

Bapedal/BPLHD

Class action

NGO
Lokakarya
Pertemuan informal
Online media
Diseminasi dokumen

Masyarakat
Universitas
Independen commision
Pemrakarsa
Akuntan publik
Proses peradilan

DPR/DPRD