Está en la página 1de 11

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis

Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang

KOORDINASI RELE ARUS LEBIH DAN RELE GANGGUAN TANAH MENGGUNAKAN


PROGRAM BERBASIS ELECTRIC TRANSIENT AND ANALYSIS PROGRAM (ETAP) PADA GARDU
INDUK BUNGARANDI PT. PLN (PERSERO) UPT PALEMBANG
Oleh
Yogi Sanzarian
Jurusan Teknik Elektro Program Study Teknik Listrik Politeknik Negeri Sriwijaya
Jl. Srijaya Negara Bukit Besar Palembang
Telp. (0711) 35341 / 082307400094, Fax. (0711) 355918
E-Mail : sanzarianyogi@yahoo.com

Abstrak
Dalam sistem kelistrikkan selalu digunakan sistem pengaman untuk mengantisipasi keadaan yang tidak
diinginkan apabila terjadi gangguan pada sistem. Sistem pengaman ini diperlukan untuk memisahkan bagian
yang mengalami gangguan dengan yang tidak mengalami gangguan sehingga sistem dapat beroperasi normal.
Rele arus lebih dan rele gangguan tanah bekerja dengan memonitor besaran arus yang terdapat pada pengantar,
apabila besaran arus tersebut melebihi batas penyetelan rele maka rele akan bekerja dengan memerintahkan
Circuit Breaker (CB) untuk memutuskan penyaluran listrik. Salah satu penyebab terjadinya kenaikan arus listrik
adalah gangguan hubung singkat yang membuat arus yang mengalir pada penghantar melebihi nilai maksimum
dari penghantar atau peralatan-peralatan listrik lainya. Untuk itu penulis membahas bagaimana cara penyetelan
arus dan waktu pada rele arus lebih dan rele gangguan tanah dan juga akan membuat simulasi koordinasi rele
arus lebih dan rele gangguan tanah pada program ETAP 12.6.0, program ini berfungsi untuk merancang suatu
sistem kelistrikkan yang nilai dari setiap komponen yang digunakan harus dimasukkan terlebih dahulu sesuai
dengan hasil perhitungan,hasil perhitungan yang diperoleh untuk setting arus dan waktu Incoming Penyulang
I = 433 A, tms = 0,2 SI, Io = 86,6 A, tmso = 0,17 SI. Penyulang Tembesu I = 300 A, tms = 0,074 SI, I o = 30 A,
tmso = 0,155 SI. Penyulang Cendana I = 300 A, tms = 0,055 SI, I o = 30 A, tmso = 0,146 SI. Kemudian
disimulasikan apakah nilai penyetelan yang telah dimasukkan pada komponen sesuai dengan prosedur
koordinasi rele tersebut.
Kata kunci : Rele proteksi, rele Arus Lebih, rele Gangguan tanah, penyetelan arus dan waktu rele , simulasi
pada program ETAP 12.6.0
Abstrac
In electrical system there are always a protection system to anticipate unexpected circumstances when
fault is occured in a system. This protection systems are necessary to separate a trouble part with a normal
part to make sure that the system can operate as normally.Over current relay and ground fault relay are works
by monitoring the amount of current that is contained in the conductor, when the amount of current is exceeds
the adjusment of relay, and then relay will work to instructs Circuit Breaker to break distribution system. One of
the trouble that cause an increases in electric current is short circuit fault that makes a current which flow on a
conductor is exceeds maximum value of the conductor or electrical equipments. So that, the author is discuss
how to setting of current and timing adjustment in over current relay and ground fault relay and also to make a
simulation of coordination over current relay and ground fault relay on ETAP 12.6.0 program. This program is
purpose to design an electrical system which the value of the components are have to inserted in accordance
with the results of the calculation, the calculation results are obtained for setting the current and timing of
Incoming Feeder I = 433 A, tms = 0,2 SI, I o = 86,6 A, tmso = 0,17 SI. Tembesu Feeder I = 300 A, tms = 0,074
SI, Io = 30 A, tmso = 0,155 SI. Cendana Feeder I = 300 A, tms = 0,055 SI, I o = 30 A, tmso = 0,146 SI. and then
simulated, is the setting values that has been inserted on the components is suitable with a procedure in that
relay coordination.
Keywords : Over current relay, ground fault relay, setting of current and timing relay, simulation on software
ETAP 12.6.0
.

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang

1.

PENDAHULUAN

Dalam operasi pelayanan penyediaan energi


listrik khususnya di GI Bungaran, sistem tenaga
listrik dapat mengalami berbagai macam gangguan,
misal gangguan dari hubung singkat yang akan
mengakibatkan terhentinya penyaluran energi
listrik ke konsumen. Akibat lain dari gangguan
tersebut adalah dapat merusak peralatan-peralatan
dalam sistem tenaga listrik dan dapat juga meluas
ke sistem yang lain. Untuk itu dalam hal mencegah
terjadinya kerusakan dalam jaringan, maka
dipasang suatu pengman yang berupa sistem
proteksi. Sistem proteksi sendiri terdiri dari
beberapa peralatan yang saling berhubungan dan
saling bekerjasama dalam hal pengamanan pada
jaringan listrik.
Tugas dasar sistem proteksi adalah untuk
memonitor komponen pada sistem yang mengalami
gangguan dan dimungkinkan hanya untuk
memutuskan komponen ini agar pendistribusian
energi listrik tetap terjaga. Untuk itu sistem
proteksi harus bekerja secara cepat dan selektif
dalam mengamankan peralatan-peralatan listrik
yang sedang mengalami gangguan-gangguan arus
lebih dan arus hubung singkat fasa ke fasa maupun
hubung singkat fasa ke tanah dengan pemasangan
rele arus lebih (Over Current Relay) dan rele
gangguan tanah (Ground Fault Relay) pada
masing-masing penyulang di GI Bungaran.
Dalam laporan ini penulis akan membuat
simulasi koordinasi rele arus lebih (Over Current
Relay) dan rele gangguan tanah (Gound Fault
Relay) di GI Bungaran dengan menggunakan
program simulator. Adapun simulator tersebut
adalah software ETAP 12.6.0, software ini
berfungsi untuk merancang suatu jaringan yang
nilai-nilai setting harus dimasukkan terlebih dahulu
sesuai dengan keadaan sebenarnya kemudian
disimulasikan apakah masukan nilai setting yang
sudah dimasukkan itu sesuai dengan prosedur.
Untuk masuk ke tahap simulasi penulis terlebih
dahulu menganalisa penyetelan nilai arus dan
waktu terhadap rele tersebut dimasing-masing
penyulang melalui hasil perhitungan manual,
kemudian data dari hasil perhitungan manual
tersebut akan dimasukkan ke input data OCR dan
GFR pada simulator. Dari hasil simulasi akan dapat
dilihat seberapa efektif program ETAP 12.6.0
untuk melihat koordinasi kerja rele arus lebih dan
rele gangguan tanah bila terjadi gangguan pada GI
Bungaran.
1.1. Pembagian Daerah Proteksi
Suatu sistem tenaga listrik dibagi ke dalam
seksi-seksi yang dibatasi oleh PMT. Tiap seksi
memiliki rele pengaman dan memiliki daerah

pengamanan (Zone of Protection). Bila terjadi


gangguan, maka rele akan bekerja mendeteksi
gangguan dan PMT akan trip. Gambar 1.1 berikut
ini menunjukkan konsep dasar pembagian daerah
proteksi.

Gambar 1.1 Pembagian daerah Proteksi pada


sistem tenaga
Pada gambar 1.1 dapat dilihat bahwa daerah
proteksi pada sistem tenaga listrik dibuat bertingkat
dimulai dari Pembangkit, Gardu Induk, Saluran
Distribusi Primer hingga ke beban. Garis putus
putus menunjukkan pembagian sistem tenaga listrik
ke dalam beberapa daerah proteksi. Masing-masing
daerah memiliki satu atau beberapa komponen
sistem daya disamping dua unit pemutus rangkaian.
Setiap pemutus dimasukkan ke dalam dua daerah
proteksi berdekatan. Batas setiap daerah
menunjukkan bagian sistem yang bertanggung
jawab untuk memisahkan gangguan yang terjadi
pada daerah tersebut dengan sistem lainnya. Aspek
penting lain yang harus diperhatikan dalam
pembagian daerah proteksi adalah bahwa daerah
yang saling berdekatan harus saling tumpang tindih
(overlap), hal ini dimaksudkan agar tidak ada
sistem yang dibiarkan tanpa perlindungan.
Pembagian daerah ini bertujuan agar daerah yang
tidak mengalami gangguan dapat tetap beroperasi
dengan baik sehingga dapat mengurangi daerah
terjadinya pemadaman.
1.2. Arus Hubung Singkat
Dalam perhitungan arus hubung singkat harus
terlebih dahulu mengetahui nilai impedansi total
pada sistem / jaringan tersebut. Beberapa tahapan
yang harus dilakukan untuk menentukan impedansi
gangguan antara lain :
1.

Menghitung impedansi sumber


Perhitungan Impedansi sumber urutan nol
dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :
Z1 =

22
......................................................(1)

Jika nilai impedansi sumber sudah diketahui


dalam satuan ohm ( ), maka impedansi
sumber dalam satuan per unit dapat dihitung
dengan menentukan base sumber terlebih
dahulu. Atau dapat dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :

2 =
2.

22
12

1 ..........................................(2)

Menghitung impedansi pada transformator


tenaga di gardu induk

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang

Nilai impedansi pada transformator dapat


dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut :

Z1T = Z2T = j

%......(3)

3.
-

t (s)

Menghitung reaktansi pada transformator


tenaga di gardu induk
Perhitungan reaktansi trafo urutan positif dan
negatif, dihitung dengan menggunakan rumus:
X1T = X2T

b
c
I (A)

2
.............................................(4)

Gambar 1.2 Karakteristik Rele Inverse Time

X1T = Impedansi trafo % x ZT


1.3. Impedansi Penyulang ( feeder )
Impedansi penyulang tergantung pada luas
penampang kabel yang digunakan, panjang saluran,
dan bahan yang digunakan ( lihat pada lampiran
untuk nilai impedansi dengan jenis penghantar
yang berbeda ).

1.5. Perhitungan Arus Hubung Singkat 1 fasa,


2 fasa dan 3 fasa
Perhitungan arus hubung singkat 3 fasa
dan 2 fasa digunakan untuk keperluan penyetelan
rele arus lebih. Rumus yang digunakan dalam
perhitungan arus gangguan hubung singkat 3 fasa
dan 2 fasa pada jaringan tegangan menengah secara
umum adalah sebagai berikut :

Impedansi urutan positif dan negatif pada


penyulang dalam study hubung singkat mempunyai
nilai yang sama besar Z1L = Z2L.

1.

1 =

2.

2 =

3.

3 =

Secara umum impedansi penyulang dapat


dihitung menggunakan rumus :
ZL = panjang saluran (L) x Z per km..........(5)
Perhitungan impedansi penyulang urutan
positif
dan
negatif
dapat
dihitung
menggunakan rumus :
Z1L = Z2L = lokasi (%) x L x Z1 per Km......(6)
Perhitungan impedansi penyulang urutan nol
dapat dihitung menggunakan rumus :
Z0L = Z2L = lokasi (%) x L x Z0 per Km......(7)

Jika nilai impedansi sumber, impedansi


transformator, dan impedansi penyulang telah
didapat, maka setiap nilai impedansi urutan
dijumlahkan untuk mendapatkan impedansi
ekivalen urutan.
Z1eq = Z2eq = Z1S + Z1T + Z1L.........................(8)
Sedangkan untuk impedansi ekivalen urutan
nol perlu dipertimbangkan besarnya tahanan
pentanahan ( Rn ), sehingga didapat :
Z0eq = Z0S + Z0T +3Rn+ Z0L ..........................(9)
1.4. Rele Arus Lebih dan Rele Gangguan
Tanah
Rele dengan karakteristik waktu terbalik
adalah jika jangka waktu mulainya rele pick up
sampai selesainya kerja rele diperpanjang dengan
besar rele yang besarnya berbanding terbalik
dengan arus yang menggerakkannya.
Jenis karakteristik inverse rele dengan waktu
terbalik dapat dibedakan menjadi :
a. Berbanding terbalik (Inverse)
b. Sangat berbanding terbalik (Very Inverse)
c. Sangat berbanding terbalik sekali (Extremely
Inverse)

Dimana :
If1fasa
If2fasa
If3fasa
E
Z1eq Z2eq
Z0eq

3
......................(10)
1 + 2 + 0

................................(11)
1 + 2
3
........................................(12)
1

= Besar arus gangguan 1 fasa ( Ampere )


= Besar arus gangguan 2 fasa ( Ampere )
= Besar arus gangguan 3 fasa ( Ampere )
= Besar tegangan ( Volt )
= Impedansi ekivalen urutan Positif dan
Negatif ( ohm )
= Impedansi ekivalen urutan Nol ( ohm )

1.6. Perhitungan tms OCR


a. Perhitungan tms Rele Arus Lebih (OCR)
Sisi Incoming Feeder
Untuk setting OCR sisi incoming diambil arus
gangguan hubung singkat 2 fasa dan 3 fasa. Dan
persamaan Iset Perimer sebagai berkut :
Iset(primer) = 1 x In Trafo
Iset(sekunder) = Iset(primer) x 1/rasio CT
Setting waktu relay standard Invers dihitung
dengan menggunakan rumus kurva waktu Vs arus,
yang dalam hal ini akan digunakan standard Britis
maka :

=
=

0,02

0,14

0,14
0,02

b.

1}

......................................(13)

..................................................(14)

Perhitungan tms Rele Arus Lebih (OCR)


Sisi Penyulang
Untuk setting OCR sisi Penyulang diambil
arus gangguan hubung singkat 2 fasa dan 3 fasa.
Dan persamaan Iset Perimer sebagai berkut :

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang

Iset(primer) = 1 x In CT
Iset(sekunder) = Iset(primer) x 1/rasio CT
Setting waktu relay standard Invers dihitung
dengan menggunakan rumus kurva waktu Vs arus,
yang dalam hal ini akan digunakan standard Britis
maka :

=
=

0,02

0,14

0,14
0,02

......................................(15)

..................................................(16)

0,02

0,14

0,14

..................................................(18)
Gambar 1.4

Perhitungan tms Rele Gangguan Tanah


(GFR) Sisi Penyulang
Untuk setting OCR sisi Penyulang diambil
arus gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah. Dan
persamaan Iset Perimer sebagai berkut :
Iset(primer) = 10% x In NGR
Iset(sekunder) = Iset(primer) x 1/rasio CT
Setting waktu relay standard Invers dihitung
dengan menggunakan rumus kurva waktu Vs arus,
yang dalam hal ini akan digunakan standard Britis
maka :

0,02

0,14

0,14
0,02

Kemudian Klik File > New Project, maka


akan muncul :

......................................(17)

Gambar 1.3 Tampilan awal program ETAP 12.6.0

1}

b.

Pilih Program ETAP 12.6.0 yang terdapat pada


tampilan Desktop

0,02

dilakukan

1}

1.7. Perhitungan tms GFR


a. Perhitungan tms Rele Gangguan Tanah
(GFR) Sisi Incoming Feeder
Untuk setting GFR sisi incoming diambil arus
gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah. Dan
persamaan Iset Perimer sebagai berkut :
Iset(primer) = 20% x In Trafo
Iset(sekunder) = Iset(primer) x 1/rasio CT
Setting waktu relay standard Invers dihitung
dengan menggunakan rumus kurva waktu Vs arus,
yang dalam hal ini akan digunakan standard Britis
maka :

1.8. Memulai Program ETAP 12.6.0


Untuk memulai ETAP dapat
dengan cara berikut :

Tampilan perintah untuk memulai


program ETAP 12.6.0

Isi Nama project, lalu klik OK. maka


selanjutnya akan tampil seperti gambar dibawah ini
:

1}

......................................(19)
Gambar 1.5

..................................................(20)

Tampilan menu
ETAP 12.6.0

utama

program

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang

Gambar dibawah ini merupakan screen


shoot dari Single Line Diagram :

perhitungan yang dilakukan secara bertahap dan


dijabarkan sebagai berikut :
Tahap 1

Gambar 1.6 Contoh program ETAP 12.6.0 yang


telah dirancang
1.9. Kesederhanaan Dalam Data Entry
ETAP melacak data yang rinci untuk masingmasing peralatan listrik. Editor data dapat
mempercepat proses entri data dengan meminta
data minimum untuk studi tertentu. Untuk
mencapai ini, telah terstrukur editor property
dengan cara yang paling logis untuk memasukkan
data untuk berbagai jenis analisa atau disain.

: Menghitung
impedansi
sumber,
impedansi transformator menghitung
reaktansi transformator, menghitung
impedansi
penyulang,
impedansi
ekivalen
dengan
menggunakan
persamaan 2.10, 2.11, 2.12, 2.13, 2.14,
2.15, 2.16, 2.17 dan 2.18.
Tahap 2 : Menghitung arus gangguan hubung
singkat 3 fasa, 2 fasa dan 1 fasa ke
tanah dengan menggunakan persamaan
2.1, 2.2, 2.5.
Tahap 3 : Menghitung arus setting dan waktu
setting pada incoming 20 kV,
penyulang tembesu dan penyulang
cendana
dengan
menggunakan
persamaan tabel kaidah setting OCR
dan GFR tabel 2.1 dan 2.2.
Tahap 4 : Menghitung waktu kerja rele arus lebih
dan rele gangguan tanah terhadap
gangguan hubung singkat 3 fasa, 2 fasa
dan 1 fasa ke tanah dengan
menggunakan persamaan 2.4.
Tahap 5 : Membuat pembahasan dari hasil
perhitungan yang telah dilakukan.
Adapun jalannya dilakukan menurut diagram alir
dibawah ini :
MULAI

Membuat single line diagram


Trafo 15 MVA GI Bungaran pada
program ETAP.

Gambar 1.7 Memasukkan data pada program


ETAP 12.6.0
2.

Input :
Data sumber daya (Grid), data
transformator, dan data beban

METODELOGI PENELITIAN

2.1 Metode Pengambilan Data


Metode pengambilan data dilaku kan dengan
observasi langsung ke PT. PLN (Persero).
Terhadap data yang diperoleh dilakuakn
pengolahan, perhitungan untuk mendapatkan nilai
impedansi saluran dan arus hubung singkat 1 phasa
ke tanah, 2 fasa dan 3 fasa, untuk keperluan
koordinasi rele proteksinya tidak hanya pada titik
gangguan tetapi juga pada konstribusi arus dari
sumber yang mengalir ke titik gangguan. Data-data
yang didapat berdasarkan peralatan-peralatan yang
berada pada wilayah kerja Gardu Induk Bungaran
dan penyulang.
2.2 Prosedur Perhitungan
Untuk mendapatkan hasil perhitungan arus
setting dan waktu setting rele arus lebih, rele
gangguan tanah dan besarnya arus gangguan
hubung singkat yang diinginkan, maka penulis
membagi menjadi beberapa tahap prosedur

Melakukan perhitungan manual


setting rele arus lebih dan rele
gangguan tanah

Setting rele
dihasilkan ?

Tidak

Ya

Input :
Data setting rele dari perhitungan
manual, dan Data setting rele
dari PT.PLN (Persero)

Run
Program

Tidak

Ya

Koordinasi rele arus lebih dan rele


gangguan tanah dari perhitungan
manual dan data dari PT. PLN
(Persero)

SELESAI

Gambar 2.1 Diagram Alir (flow chart)

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang

3.

PEMBAHASAN
Dalam mengkoordinasikan kerja rele proteksi
pada transformator III 15 MVA GI Bungaran
dengan karakteristik waktu kerja OCR dan GFR
diperlukan perhitungan arus hubung singkat serta
koordinasi rele, maka diperlukan data-data dari
sumber, trafo tegangan dan data penyulang, sebagai
berikut :
3.1 Perhitungan
a. Data Sumber
Trafo III 15 MVA GI Bungaran dengan data
sebagai berikut :
Tegangan
= 20 000 Volt
MVAsc 3fasa
= 425,42 MVA
MVAsc 1fasa
= 141,976 MVA
b. Data Trafo III 15 MVA GI Bungaran :
Merk
= UNINDO
Kapasitas
= 15 MVA
Tegangan
= 150 / 20 kV
Inominal 20 kV
= 433,5 A
Impedansi Trafo
= 9,61 %
NGR (20 kV)
= 40
Ratio CT
= 600 / 5 A
KERAMASAN 2

BUS 70 KV

630 A

Tabel 3.1 Data Sumber


Sumber
MVA Hubung Singkat

3 fasa
1 fasa
Tegangan
Impedansi

Tabel 3.2 Data Transformator


Trafo Tenaga
Kapasitas
15
Tegangan
20
Ratio CT 20kv
600 / 5
Impedansi Z1
0 + j 0,0961
Impedansi Z0
120 + j 0,961
NGR 20 kV
40
In 20 kV
433,5
Tabel 3.3 Data Penyulang Tembesu
Nama
Tembesu
Arus Beban
51
Maks
Jenis
AAAC
Penghantar
Panjang
9,535
Penampang
150
(SPLN 64 : 1985)
Impedansi :
Z1
Z2
Z0

GCB SF6 MG
1250 A/20 kA
OCR & GFR

150300/5A

Jenis
Penghantar
Panjang
Penampang
Impedansi :

10 kA

Trafo Daya
UNINDO 15 MVA
3 70/20 kV-ONAN
YNyn0-lmp.9,61%

20
3

0.1
3

NGR 40 Ohm
300A

OCR & GFR


R

BUS 20 KV

300/5 A

VCB
630 A/25 kA
300/5 A

OCR & GFR


R

Fuse

STARLITE
100 KVA
20/0.4 kV
Tembesu

Gambar 3.1

0,052
240

Cendana

Single Line Trafo III 15 MVA Gardu


Induk Bungaran

Z1
Z2
Z0

Jenis

MVA
kV
A
ohm
ohm
ohm
A

Km
mm2
Ohm
ohm
ohm

Km
mm2

(SPLN 64 : 1985)

Tabel 3.4 Data Penyulang Cendana


Nama
Cendana
Arus Beban
230
Maks
Jenis
AAAC
Penghantar
Panjang
18,117
Penampang
150
(SPLN 64 : 1985)
Impedansi :

PS. GI

MVA
MVA
kV
Ohm

SKTM

0,125 + j 0,097
0,125 + j 0,097
0,275 + j 0,282
2,0665 + 6,655
2,0665 + 6,655
123,477 + j41,045
Ratio CT
300 / 5
*pada 100% panjang penyulang

VCB
1250 A/25 kA

VCB
630 A/25 kA

0.2162 + j 0.3305
0.2162 + j 0.3305
0.3631 + j 1.6180

Z1
Z2
Z0
Z1eq
Z2eq
Z0eq

0.1
kV
3

300-1200/5 A

425,42
141,976
20
0 + j0,94

0.2162 + j 0.3305
0.2162 + j 0.3305
0.3631 + j 1.6180

SKTM

Ohm
Ohm
Ohm
Ohm
Ohm
Ohm
A

Km
mm2
Ohm
ohm
ohm

Penghantar
Panjang
Penampang
Impedansi :

3,282
240

Km
mm2

(SPLN 64 : 1985)

Z1
Z2
Z0
Z1eq
Z2eq
Z0eq

0,125 + j 0,097
0,125 + j 0,097
0,275 + j 0,282
4,33 + 9,81
4,33 + 9,81
127,5 + j55,835
Ratio CT
300 / 5
*pada 100% panjang penyulang

Ohm
Ohm
Ohm
Ohm
Ohm
Ohm
A

Arus Gangguan Hubung Singkat (A)

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang
Grafik Arus Gangguan Penyulang
Cendana

2500
2000
1500
500
0
25% 50% 75% 100%

Gambar 3.3

c.

Arus Hubung Singkat 2 fasa


Arus Hubung Singkat 1 fasa
Lokasi
Tembesu
Gangguan
Cendana
25 %
2314,8
1926,2
50 %
1930,5
1428,92
75 %
1648,26
1129,91
100 %
1435
932,836
Arus Hubung Singkat 3 fasa
Arus Hubung Singkat 1 fasa
Lokasi
Gangguan
Tembesu
Cendana
25 %
2676,2
2226,87
50 %
2231,85
1651,97
75 %
1905,55
1306,33
100 %
1659
1078,45

Arus Gangguan Hubung Singkat (A)

Grafik Arus Gangguan Penyulang


Tembesu

3000
2500
2000
1500
1000
500
0

Arus
Gangguan
1 fasa

Arus
Gangguan
3 fasa

Grafik Arus Hubung


Penyulang Cendana

Tabel 3.6 Setting OCR dan GFR


a. Penyulang Tembesu
Penyulang Tembesu
Inverse
I>
300
A
Io>
30
tms
0,095
SI
tms
0,16
t>
0,297
dt
to>
0,497
b.

c.

singkat

A
SI
dt

Penyulang Tembesu
Penyulang Cendana
Inverse
I>
300
A
Io>
30
tms
0,087
SI
tms
0,158
t>
0,297
dt
to>
0,498

A
SI
dt

Incoming Feeder
Penyulang Tembesu
Inverse
I>
433
A
Io>
86,6
tms
0,2
SI
tms
0,17
t>
0,58
dt
to>
1

A
SI
dt

3.2 Simulasi Pada Program ETAP 12.6.0


3.3.1 Pengoperasian simulasi dalam keadaan
normal atau tidak ada gangguan
1. Simulasi dengan menggunakan data OCR
dan GFR dari PT. PLN

Arus
Gangguan
2 fasa

25% 50% 75% 100%


Panjang Saluran

Gambar 3.2

Arus
Gangguan
2 fasa

1000

Panjang Saluran

Tabel 3.5 Arus Hubung Singkat


a. Arus Hubung Singkat 1 fasa
Arus Hubung Singkat 1 fasa
Lokasi
Gangguan
Tembesu
Cendana
25 %
270,95
263,33
50 %
263,68
248,92
75 %
256,92
235,16
100 %
249,26
222,27
b.

Arus
Gangguan
1 fasa

Grafik Arus Hubung


Penyulang Tembesu

Arus
Gangguan
3 fasa

singkat
Gambar 3.4 Pengoperasian simulasi dalam keadaan
normal atau tidak ada gangguan
menggunakan data OCR dari PT. PLN

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang

Gambar 3.5 Pengoperasian


simulasi
dalam
keadaan normal atau tidak ada
gangguan menggunakan data GFR
dari PT. PLN
2.

Simulasi dengan menggunakan data OCR


dan GFR dari perhitungan manual

Gambar 3.6 pengoperasian


simulasi
dalam
keadaan normal atau tidak ada
gangguan menggunakan data OCR
dari perhitungan manual

Gambar 3.7 pengoperasian


simulasi
dalam
keadaan normal atau tidak ada
gangguan menggunakan data GFR
dari perhitungan manual
Tabel 3.7 Hasil pengoperasian simulasi saat tidak
terjadi gangguan menggunakan setting
rele OCR dari PT. PLN
Arus
Tegangan
Lokasi
OCR
(A)
(kV)
Incoming
Tidak
279,7
19,895
Penyulang
Bekerja
Penyulang
Tidak
50,8
19,895
Tembesu
Bekerja
Penyulang
Tidak
228,9
19,895
Cendana
Bekerja

Tabel 3.8 Hasil pengoperasian simulasi saat tidak


terjadi gangguan menggunakan setting
rele GFR dari PT. PLN
Arus
Tegangan
Lokasi
GFR
(A)
(kV)
Incoming
Tidak
279,7
11,486
Penyulang
Bekerja
Penyulang
Tidak
50,8
11,486
Tembesu
Bekerja
Penyulang
Tidak
228,9
11,486
Cendana
Bekerja
Tabel 3.9 Hasil pengoperasian simulasi saat tidak
terjadi gangguan menggunakan setting
rele OCR dari Perhitungan Manual
Arus
Tegangan
Lokasi
OCR
(A)
(kV)
Incoming
Tidak
279,7
19,895
Penyulang
Bekerja
Penyulang
Tidak
50,8
19,895
Tembesu
Bekerja
Penyulang
Tidak
228,9
19,895
Cendana
Bekerja
Tabel 3.10 Hasil pengoperasian simulasi saat tidak
terjadi gangguan menggunakan setting
rele GFR dari Perhitungan Manual
Arus
Tegangan
Lokasi
GFR
(A)
(kV)
Incoming
Tidak
279,7
11,486
Penyulang
Bekerja
Penyulang
Tidak
50,8
11,486
Tembesu
Bekerja
Penyulang
Tidak
228,9
11,486
Cendana
Bekerja
3.3.2 Pengoperasian simulasi dalam keadaan
abnormal atau terjadi gangguan
1. Memilih Start Mode Study Case (pilih Mode
fault type 3 fasa)

Gambar 3.8 Memilih jenis gangguan


simulasi di ETAP

untuk

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang

2.

Simulasi dengan menggunakan data OCR


dari PT. PLN

5.

Simulasi dengan menggunakan data GFR


dari PT. PLN

Gambar 3.9 pengoperasian


simulasi
dalam
keadaan abnormal atau terjadi
gangguan menggunakan data dari
PT. PLN

Gambar 3.12

3.

6.

Simulasi dengan menggunakan data OCR


dari perhitungan manual

Gambar 3.10

4.

pengoperasian simulasi dalam


keadaan abnormal atau terjadi
gangguan menggunakan data dari
perhitungan manual

Memilih Start Mode Study Case (pilih Mode


fault type 1 fasa)

Gambar 3.11

Memilih jenis gangguan untuk


simulasi di ETAP

pengoperasian simulasi dalam


keadaan abnormal atau terjadi
gangguan menggunakan data dari
PT. PLN

Simulasi dengan menggunakan data GFR


dari perhitungan manual

Gambar 3.13

pengoperasian simulasi dalam


keadaan abnormal atau terjadi
gangguan menggunakan data dari
perhitungan manual

Tabel 3.11 Hasil pengoperasian simulasi saat


terjadi
gangguan
menggunakan
setting rele OCR dari PT. PLN
Arus
Tegangan
Lokasi
OCR
(A)
(kV)
Incoming
3300
0
Bekerja
Penyulang
Penyulang
3300
0
Bekerja
Tembesu
Penyulang
Tidak
228,9
0
Cendana
Bekerja
Tabel 3.12

Hasil pengoperasian simulasi saat


terjadi gangguan
menggunakan
setting rele GFR dari PT. PLN
Arus
Tegangan
Lokasi
GFR
(A)
(kV)
Incoming
287
19,42
Bekerja
Penyulang
Penyulang
287
19,42
Bekerja
Tembesu
Penyulang
Tidak
228,9
19,42
Cendana
Bekerja

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang

Tabel 3.13

Hasil pengoperasian simulasi saat


terjadi
gangguan
menggunakan
setting rele OCR dari Perhitungan
Manual
Arus
Tegangan
Lokasi
OCR
(A)
(kV)
Incoming
3300
0
Bekerja
Penyulang
Penyulang
3300
0
Bekerja
Tembesu
Penyulang
Tidak
228,9
0
Cendana
Bekerja

Tabel 3.14

Hasil pengoperasian simulasi saat


terjadi
gangguan
menggunakan
setting rele GFR dari Perhitungan
Arus
Tegangan
Lokasi
GFR
(A)
(kV)
Incoming
287
19,42
Bekerja
Penyulang
Penyulang
287
19,42
Bekerja
Tembesu
Penyulang
Tidak
228,9
19,42
Cendana
Bekerja

Gambar 3.14 Grafik kerja rele arus lebih pada


simulasi ETAP

Gambar 4.20 Grafik kerja rele gangguan tanah


pada simulasi ETAP
Berdasarkan hasil dari perhitungan setting
arus dan waktu Rele dengan cara manual dan data
yang di ambil dari PLN. Pada perhitungan manual
untuk rele OCR didapat setting arus nya sebesar
433 A (incoming feeder) dan 300 A (untuk masing-

masing penyulang), pada setting tms = 0,2 SI


(untuk hubung singkat 3 fasa), tms = 0,193 SI
(untuk hubung singkat 2 fasa) dan untuk rele GFR
didapat setting arus nya sebesar 86,6 A (incoming
feeder) dan 30 A (untuk masing-masing penyulang)
setting tms = 0,17 SI. Sedangkan dari data yang
diambik di PLN untuk rele OCR didapat setting
arus nya sebesar 432 A (incoming feeder) dan 300
A (untuk masing-masing penyulang), pada setting
tms = 0,2 SI dan untuk rele GFR didapat setting
arus nya sebesar 120 A (incoming feeder) dan 30 A
(untuk masing-masing penyulang) setting tms = 0,2
SI.
Terdapat sedikit perbedaan antara hasil
perhitungan manual dan data dari PLN, hal ini
dikarenakan perubahan pada suhu penghantar yang
mengakibatkan impedansi urutan positif, negatif
dan urutan nol berubah nilainya, dan juga dapat
merubah besar arus hubung singkat yang terjadi
pada penyulang maupun pada incoming feeder
karena untuk mencari besar arus hubung singkat
harus menggunakan impedansi ekivalen penyulang
maupun transformator. Arus hubung singkat sangat
penting dalam menentukan setting arus dan waktu
rele OCR dan GFR.
Berdasarkan hasil pengoperasian simulasi
koordinasi rele arus lebih dan rele gangguan tanah
di GI Bungaran dalam keadaan normal, besar arus
pada masing-masing penyulang tidak melebihi
batas arus maksimum dan tidak melebihi batas
setting rele, baik itu setting rele dari PLN maupun
setting rele dari hasil perhitungan manual. Dan
dapat dilihat juga semua CB pada saat rangkaian
dioperasikan tidak terjadi pemutusan / pelepasan
beban. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa rele
arus lebih dan rele gangguan tanah pada saat tidak
terjadi gangguan atau dalam keadaan normal, rele
arus lebih dan rele gangguan tanah tidak bekerja.
Berdasarkan hasil pengoperasian simulasi
koordinasi rele arus lebih dan rele gangguan tanah
di GI Bungaran dalam keadaan abnormal / terjadi
gangguan tepatnya pada penyulang Tembesu, besar
arus yang mengalir pada penyulang Tembesu yaitu
sebesat 3,3 kA (3300 A) untuk OCR dan 287 A
untuk GFR. Dapat di lihat bahwa arus tersebut
melebihi batas arus setting rele arus lebih dan rele
gangguan tanah dari setting rele PLN dan juga
setting rele dari hasil perhitungan manual.
Sehingga mengakibatkan rele arus lebih dan rele
gangguan tanah bekerja / trip.
Rele arus lebih dan rele gangguan tanah
yang bekerja pada saat terjadi gangguan di
penyulang Tembesu yaitu terlihat pada CB Py.
Tembesu yang mengalami pemutusan / trip,
kemudian disusul oleh CB Incoming mengalami
pemutusan / trip. Hal itu menunjukkan bahwa
Relay 2 (Rele Py. Tembesu) adalah rele yang
pertama kali bekerja memerintahkan CB Py.
Tembesu untuk memutuskan jaringan / trip dengan

Koordinasi Rele Arus Lebih Dan Rele Gangguan Tanah Menggunakan Program Berbasis Electrik Transient And Analysis Program (ETAP)
Pada Gardu Induk Bungaran Di PT. PLN (Persero) UPT Palembang

ditandai adanya tanda silang di CB Py. Tembesu


pada program ETAP. Kemudian disusul Relay 1
(Rele Incoming) bekerja dan memerintahkan CB
Incoming untuk memutuskan jaringan / trip yang
juga ditandai dengan tanda silang pada CB
Incoming yang dapat dilihat pada program ETAP.
KESIMPULAN
Berdasarakan hasil simulasi koordinasi rele
arus lebih dan dan rele gangguan tanah yang telah
dilakukan pada penyulang Tembesu, dapat
disimpulkan bahwa :
1. Penyetelan arus dan waktu kerja rele arus
lebih (OCR) bergantung dengan besar arus
nominal trafo dan arus hubung singkat yang
terjadi pada jaringan. Maka dari itu hal
pertama yang harus dilakukan dalam
penyetelan rele arus lebih ialah mencari
seberapa besar gangguan 3 fasa dan 2 fasa
yang akan terjadi pada jaringan bila suatu
waktu akan terjadi gangguan pada jaringan
tersebut.
2. Penyetelan arus dan waktu rele gangguan
tanah (GFR) bergantung dengan besar arus
nominal trafo dan NGR serta besar arus
hubung singkat yang terjadi pada jaringan.
Maka dari itu hal pertama yang harus
dilakukan dalam penyetelan rele gangguan
tanah ialah mencari seberapa besar gangguan
1 fasa ke tanah yang akan terjadi pada
jaringan bila suatu waktu akan terjadi
gangguan pada jaringan tersebut.
3. Koordinasi rele arus lebih dan rele gangguan
tanah pada GI Bungaran, baik menggunakan
data setting arus dan waktu rele dari PLN
maupun data setting arus dan waktu rele dari
perhitungan manual, didapatkan hasil kerja
rele yang sama-sama selektif, karena rele
yang pertama bekerja pada saat terjadi
gangguan di penyulang Tembesu adalah rele
yang paling dekat dengan titik gangguan.
4. Penggunaan program ETAP untuk melihat
koordinasi kerja rele dapat terlihat dengan
baik dan dengan menggunakan program
ETAP kita dapat mengetahui apakah rele yang
telah di setting bekerja dengan baik atau tidak
bekerja sama sekali.

yang lengkap agar dapat melihat koordinasi rele


pada saat terjadi gangguan di lokasi gangguan yang
berbeda-beda.
6.

DAFTAR PUSTAKA

[1]

Alawiy, Muhammad Taqiyyuddin. 2006.


Proteksi Sistem Tenaga Listrik. Malang.
Fakultas Teknik Elektro Universitas
Islam. Diakses Maret 2015.
Ayubi.2009.(http://elektroayubi.blogspot.com
/2009/02/perhitungan-impedansi-danreaktansi.html). Diakses Maret 2015.
http://etappowerstation.wordpress.com/.
Diakses Maret 2015.
http://Jendeladenngabei.blogspot.com/2013/1
1/belajar-software-etap-proteksisetting.
html|?m=1. Diakses Maret 2015
Plizar.2011.(http://electricallearning19.blogsp
ot.com/2011/03/pengertian-dan-setting relay-gangguan.html). Diakses Maret
2015.
Sarimun, Wahyudi. 2011 Buku Saku
Pelayanan Teknik Edisi Kedua. Depok :
Garamod.
Samaulah, Hazairin. 2004. Dasar-dasar
Sistem Proteksi Tenaga Listrik.
Palembang. Unsri.
Sitompul, Carlos R. 2013. Modul Praktum
Sistem Proteksi. Politeknik Negeri
Sriwijaya.
Susanto, Budi. 2009. (https://budi5an.
Wordpress .com/2009/07/07/rele-arusleb ih-over-current-relay-ocr/. Diakses
Maret 2015.
PT. PLN (Persero).2011. Buku Petunjuk
Proteksi dan Transformator.
PT. PLN (Persero).2012. Diktat Setting Relay.

4.

5.

SARAN
Menggunakan program ETAP sangatlah
membantu dalam simulasi di bidang kelistrikan
dalam hal ini koordinasi rele OCR dan GFR, tetapi
untuk mendapatkan nilai yang akurat dalam
melakukan penginputan data pada rele, haruslah
memiliki manual book dari type rele itu sendiri dan
buku pedoman penyetelan rele khususnya dari buku
diklat yang sudah memenuhi standard PLN.
Dalam pembuatan simulasi pada program
ETAP, sebaiknya membuat single line diagram

{2}

[3]

[4]

[5]

{6}

[7]

[8]

[9]

[11]

[12]