Está en la página 1de 19

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN

SRIKAYA (Annona squamosa L) TERHADAP


PERTUMBUHAN Salmonella typhi

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh
NUR KHOTIJA
NIM 121710101008

Dosen Pembimbing Utama : Dr. Ir. Jayus


Dosen Pembimbing Anggota : Ir. Sukatiningsih M.S

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
2015

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Penyakit demam tifoid (Typhoid fever) yang biasa disebut tifus merupakan

penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Penyakit ini dapat menyerang anak-anak
hingga orang dewasa. Demam tifoid atau tifus merupakan penyakit infeksi akut
yang disebabkan oleh bakteri gram negatif Salmonella typhi (Darmowandowo,
2006). Penyakit tifus ini dapat menular melalui makanan atau minuman yang
tercemar dan dapat menyebabkan tifus (Candrawati, 2010). Bakteri yang berperan
dalam penyakit tifus adalah Salmonella khususnya turunannya yaitu Salmonella
typhi yang menyerang bagian saluran pencernaan (Algerina, 2008). Menurut data
profil kesehatan Indonesia versi kementerian kesehatan tahun 2013 penyakit tifus
berada diurutan kedelapan dari 10 pola penyebab kematian. Kementerian
kesehatan menyebutkan bahwa tifus menempati urutan ketiga dari 10 pola
penyakit terbanyak. Dari data tersebut menunjukkan bahwa masih banyaknya
orang yang terserang bakteri Salmonella typhi.
Salmonella memiliki jenis tertentu dan demam yang disebabkan oleh jenis
Salmonella typhi cenderung lebih berat dari pada infeksi jenis Salmonella yang
lain (Ashkenazi et al., 2002). Salmonella typhi merupakan bakteri gram negatif
yang bersifat motil, tidak membentuk spora dan tidak berkapsul. Salmonella
memiliki antigen somatik O dan antigen flagella H. Antigen O adalah komponen
lipopolisakarida dinding sel yang stabil terhadap panas (Ashkenazi et al., 2002).
Tersapat beberapa tanaman yang dapat menghambat pertumbuhan Salmonella
typhi didalam tubuh salah satunya adalah daun srikaya.
Srikaya merupakan tumbuhan yang serbaguna, buahnya dapat dikonsumsi
dan merupakan sumber bahan pengobatan serta produk industri (Sobiya Raj et al.,
2009). Selain itu pada daun srikaya juga mengandung senyawa-senyawa yang
bermanfaat jika dikonsumsi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya oleh Maria et al. (2013), terdapat 3 senyawa yang terkandung dalam
daun srikaya yang berfungsi sebagai antibakteri terhadap bakteri Escheria coli
yaitu senyawa flavonoid, terpenoid dan alkoloid. Senyawa Flavonoid telah

dikenalkan sebagai antikarsinogenik, antialergi, menghambat pertumbuhan tumor,


antimikroba dan sering digunakan untuk pengobatan tradisional Menurut Manoi
dan Balittro (2009), kandungan senyawa antibakteri tersebut bekerja menghambat
pertumbuhan bakteri dengan mengganngu fungsi mikroorganisme bakteri.
Daun srikaya belum termanfaatkan secara optimal. Minimya pengetahuan
masyarakat terhadap manfaat daun srikaya membuat daun srikaya terbuang dan
hanya menjadi sampah. Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk menambah
wawasan tentang manfaat dari daun srikaya dan memanfaatkan daun srikaya
sebagai antibakteria khususnya Salmonella typhi.

1.2

Perumusan Masalah
Penyakit tifus merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh

bakteri. Penyakit tifus termasuk urutan kedelapan dari sepuluh penyebab


kematian. Demam tifoid (tifus) ini adalah penyakit yang mewabah setiap
tahunnya. Dengan mawabahnya penyakit tifus disetiap tahunnya maka diperlukan
adanya alternatif pengobatan yang bahan dasarnya alami. Daun srikaya dapat
menghambat pertumbuhan bakteri didalam usus karena mengandung senyawa
fenol. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam daun srikaya yaitu senyawa
flavonoid, alkoloid dan terpenoid yang berperan sebagai antibakteri. Menurut
penelitian yang telah dilakukan ketiga senyawa tersebut dapat menghambat
pertumbuhan Escheria coli. Akan tetapi minimnya pengetahuan masyarakat
tentang kandungan daun srikaya membuat daun srikaya tidak termanfaatkan
secara optimal. Selain itu belum diketahuinya konsentrasi yang tepat untuk
menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi sehingga perlu dilakukan
penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi ekstrak yang tepat dalam
menghambat pertumbuhan Salmonella typhi.

1.3

Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui daya hambat setiap

konsentrasi ekstrak daun srikaya terhadap pertumbuhan salmonella typhi dengan


menggunakan metode agar sumur.

1.4

Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Memberi pengetahuan tentang kandungan daun srikaya dan pemanfaatannya


2. Meningkatkan nilai guna daun srikaya
3. Memberikan alternatif pengobatan terhadap penderita tifus

1.5

Hipotesa
Adapun hipotesa dari penelitian ini adalah ekstrak daun srikaya diduga

mampu menghambat pertumbuhan Salmonella typhi dan semakin tinggi ekstrak


yang ditambahkan maka aktivitas antibakterinya semakin kuat.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Srikaya
Tanaman srikaya (Annona squamosaL.) merupakan tanaman yang tumbuh di

daerah tropis diantaranya Thailand, Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia tanaman


srikaya terdapat di berbagai daerah yang umumnya ditanam di pekarangan,
dibudidayakan dan mempunyai tinggi 2-7 meter (Rukmana,2002). Tanaman srikaya

merupakan tanaman yang dapat tumbuh dengan ketinggian mencapai 1.000 m dpl.
Tanaman rikaya dapat tumbuh pada tanah yang berpasir dengan pH 5,5 7,4.
Menurut Irawati (2001), klasifikasi tanaman srikaya adalah sebagai berikut:
Divisio

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Famili

: Annonaceae

Genus

: Annona

Spesies

: Annona Squamosa L.

Menurut Yuniarti (2008), ciri-ciri morfologi tanaman srikaya yaitu buahnya


berbentuk bola atau kerucut, permukaan benjol-benjol, warnanya hijau, daging
buah berwarna putih, bijinya berwarna hitam mengkilap dan rasanya manis
sedangkan daun srikaya bulat memanjang, ujung dan pangkalnya runcing, tepinya
rata, panjang 6-17 cm dan lebar 2,5-7,5 cm, tangkai daun pendek, tulang daun
menyirip, permukaan bawah agak kasar serta berwarna hijau. Adapun gambar
buah dan daun srikaya dapat dilihat pada gambar 2.1

(a)

(b)

Gambar 2.1 (a) buah srikaya, (b) daun srikaya

Daun srikaya juga mengandung senyawa-senyawa yang bermanfaat.


Kandungan senyawa yang terdapat dalam daun srikaya yaitu aonaine, borneol,
kamfen, kamfora, karfon, -kariopillen, eugenol, farnesol, geraniol, 16hentriakontanon, heksakontanol, higenamine, isokoridin, limonin, linalool,
linalool acetate, menton, metil antranilat, metilsalisilat, -pinene, -pinene, rutin,
stigmasterol, -sitosterol, timol dan n-triakontanol (Kumar dan Patel, 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Wandasari et al. (2007) menunjukkan bahwa daun
srikaya mengandung alkaloid, glikosida sianogen, flavonoid, fenol, saponin, dan
terpenoid. Robinson (1995), mengungkapkan terdapat 3 komposisi kimia pada
daun srikaya yang berfungsi sebagai antibakteria yaitu flavonoid, terpenoid dan
alkaloid. Ketiga zat kimia tersebut bekerja menghambat pertumbuhan bakteri
dengan mengganggu fungsi mikroorganisme bakteri (Manoi dan Balittro, 2009).
Srikaya merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang terbukti
memiliki berbagai khasiat, diantaranya untuk mengobati batuk, demam, rematik,
diare dan disentri. Secara umum, semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan
mulai dari akar, batang, kulit, dan daun. Srikaya mempunyai khasiat sebagai
pembunuh serangga (insektisida), memacu enzim pencernaan, dan abortivum
(Gunawan et al., 2001). Srikaya juga berfungsi sebagai antioksidan yaitu mampu
menghambat reaksi oksidasi (Haryatmi, 2004) serta memiliki aktivitas antibakteri
yang sangat kuat (Padhi, 2011).

2.2

Salmonella typhi
Salmonella

adalah

bakteri

gram

negatif

dan

terdiri

dari

famili

Enterobacteriaceae. Salmonella merupakan bakteri patogen enterik dan penyebab


utama penyakit bawaan dari makanan (foodborne disease) (Klotchko, 2011).
Organisme Salmonella tumbuh secara aerob dan mampu tumbuh secara anaerob
fakultatif.
Genus Salmonella terdiri dari dua spesies (Kauffmann, 1986). Dua spesies
dari genus Salmonella adalah S. enterica dan S. bongori. S. enterica dibagi dalam
enam subspesies yaitu S. Enterica subsp. enterica, S. enterica subsp. salamae, S.
enterica subsp. arizonae, S. enterica subsp. diarizonae, S. enterica subsp.

houtenae dan S. enterica subsp. indica. Penamaan subspesies lain dari S. enterica
dan S. bongori ditentukan dari antigennya. S. ser typhimurium termasuk
subspesies lain dari S. enterica (Kauffmann, 1986). Penamaan Salmonella
berkembang seiring waktu. Beberapa nama dimunculkan berdasarkan penyakit (S.
typhi). Nama lain berdasarkan sindrom dan inangnya yang spesifik pada beberapa
kasus (Kauffman, 1986). Salmonella terdiri dari lebih 2500 serotipe yang dapat
menginfeksi manusia. Namun serotipe yang sering menjadi penyebab utama
infeksi pada manusia adalah sebgai berikut yaitu Salmonella paratyphi A
(serogroup A), Salmonella paratyphi B (serogroup B), Salmonella cholerasius
(serogroup C1) dan Salmonella typhi (serogroup D) (Brooks, 2004).
Salmonella typhi merupakan bakteri yang hanya terdiri dari satu sel
(monoseluler). Salmonella typhi merupakan bakteri garm negatif, tidak berspora,
serta memiliki kapsul. Bakteri ini juga bersifat fakultatif, sering disebut sebagai
facultative intra-cellular parasites. Dinding selnya terdiri atas murein,
lipoprotein, fosfolipid, protein, dan lipopolisakarida (LPS) yang tersusun sebagai
lapisan-lapisan (Dzen et al., 2003). Bakteri ini memiliki ukuran berukuran 2-4 m
x 0.5-0,8 m. Salmonella sp. tumbuh cepat dalam media yang sederhana, dan

mempunyai flagel petritrikh (Jawetz et al., 2005; Bennasar et al., 2000). Gambar
salmonella typhi dapat dilihat pada gambar 2.2.

Gambar 2.2. S.typhi dibawah mikroskop


Sumber : Kunkel (2001)

Salmonella typhi, Salmonella paratyphi A, B, dan C merupakan penyebab


infeksi utama pada manusia, bakteri ini selalu masuk melalui jalan oral, biasanya
dengan cara mengkontaminasi makanan dan minuman. Diantara faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap infeksi Salmonella sp. adalah
keasaman lambung, flora normal dalam usus dan ketahanan usus lokal (Jawetz et al.,
2005). Salmonella typhi merupakan bakteri yang terdapat pada usus manusia.

Bakteri S. typhi masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang
tercemar dan dapat menyebabkan penyakit tifus (Candrawati, 2010). Salmonella
typhi membentuk asam dan gas dari glukosa dan manosa. Organisme ini juga
menghasilkan gas H2S, namun hanya sedikit (Winn, 2006). Bakteri ini tahan
hidup dalam air yang membeku untuk waktu yang lama (Brooks, 2008).

2.3

Antibakteri
Senyawa antibakteri merupakan senyawa yang menghambat pertumbuhan

dan metabolisme suatu mikroorganisme (Lederberg, 1992). Suatu tanaman


memiliki aktivitas antibakteri jika mengandung senyawa yang mempunyai
kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri. Aktivitas antibakteri suatu
senyawa disebabkan oleh adanya gugus OH, C=O, =CH, -NH2 serta halogen
pada rumus strukturnya (Setyaningsih, 2006).
Menurut Madigan et al. (2000), berdasarkan sifat toksisitas selektifnya
senyawa antimikrobia mempunyai 3 macam efek terhadap pertumbuhan mikrobia
yaitu:
a. Bakteriostatik memberikan efek dengan cara menghambat pertumbuhan tetapi
tidak membunuh. Senyawa bakteriostatik seringkali menghambat sintesis
protein atau mengikat ribosom. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan
antimokrobia pada kultur mikrobia yang berada pada fase logaritmik. Setelah
penambahan zat antimikrobia pada fase logaritmik didapatkan jumlah sel total
maupun jumlah sel hidup tetap.
b. Bakteriosidal memberikan efek dengan cara membunuh sel tetapi tidak terjadi
lisis sel atau pemecahan sel. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan
antimikrobia pada kultur mikrobia yang berada pada fase logaritmik. Setelah

penambhan zat antimikrobia pada fase logaritmik didapatka jumlah sel total
tetap sedangkan jumlah sel hidup menurun.
c. Bakteriolitik menyebabkan sel mengalami lisis atau pemecahan sel sehingga
jumlah sel berkurang atau terjadi kekeruha setelah penambahan antimikrobia.
Hal ini ditunjukkan dengan penambahan antimikrobia pada kultur mikrobia
yang berada pada fase logaritmik. Setelah penambahan zat antimikrobia pada
fase logaritmik , jumlah sel total maupun jumlah sel hidup menurun.
Mekanisme penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri oleh senyawa
antibakteri dapat berupa perusakan dinding sel dengan cara menghambat
pembentukannya atau mengubahnya setelah selesai terbentuk, perubahan
permeabilitas membran sitoplasma sehingga mennyebabkan keluarnya bahan
makanan dari dalam sel, perubahan molekul protein dan asam nukleat,
penghambatan kerja enzim, dan penghambatan sintesis asam nukleat dan protein
(Setyaningsih, 2006).

2.4

Metode Uji Antibakteri


Uji aktivitas antibakteri dapat dilakuakn dengan metode difusi dan metode

pengenceran. Disc diffusion atau uji difusi disk dilakukan dengan mengukur
diameter zona bening (clear zone) yang merupakan petunjuk adanya respon
penghambatan pertumbuhan bakteri oleh suatu senyawa antibakteri dalam ekstrak.
Syarat jumlah bakteri untuk uji kepekaan/sensivitas yaitu 105-108 CFU/mL
(Hermawan et al., 2007).
Metode difusi merupakan salah satu metode yang sering digunakan dalam
pengujian antibakteri. Metode difusi dapat dilakukan menggunakan 3 cara yaitu
metode silinder, metode lubang/sumuran dan metode cakram kertas. Metode
lubang/sumuran yaitu dengan cara membuat lubang pada agar padat yang telah
diinokulasi terlebih dahulu dengan bakteri. Lubang atau sumuran yang dibuat
diinjeksikan dengan ekstrak yang akan diuji. Setelah dilakukan inkubasi,
pertumbuhan bakteri diamati untuk melihat ada tidaknya daerah hambatan
disekeliling lubang/sumuran (Kusmayati et al., 2007).

Prinsip metode pengenceran adalah senyawa antibakteri diencerkan hingga


diperoleh beberapa macam konsentrasi, kemudian masing-masing konsentrasi
ditambahkan suspensi bakteri uji dalam media cair. Perlakuan tersebut akan
diinkubasi dan diamati ada atau tidaknya pertumbuhan bakteri, yang ditandai
dengan terjadinya kekeruhan. Larutan uji senyawa antibakteri pada kadar terkecil
yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan bakteri uji, ditetapkan sebagai
Kadar Hambat Minimal (KHM) atau Minimal Inhibitory Concentration (MIC).
Larutan yang ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya dikultur ulang pada
media cair tanpa penambahan bakteri uji ataupun senyawa antibakteri, dan
diinkubasi selama 18-24 jam. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah inkubasi
ditetapkan sebagai Kadar Bunuh Minimal (KBM) atau Minimal Bactericidal
Concentration (MBC) (Pratiwi, 2008).

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1

Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Pangan dan Hasil

Pertanian dan Laboratorium Kimia dan Biokimia Hasil Pertanian Fakultas


Teknologi Pertanian Universitas Jember. Waktu penelitian dari bulan Agustus
2015 hingga selesai.

3.2

Bahan dan Alat Penelitian


Bahan penelitian yang digunakan meliputi daun srikaya yang berasal dari

desa Olean Kabupaten Situbondo, bakteri Salmonella typhi, NaCl, aquadest steril,
Nutrien Agar (NA), etanol, alumunium voil, kertas saring,
Alat penelitian yang digunakan yaitu alat-alat gelas, inkubator, autoklaf,
cawan petri, jarum ose, bunsen, evaporator, pipet, neraca analitik, corong,
blender, dan ayakan 65 mesh.

3.3

Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium (pure

experiment). Penelitian ini terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap pertama preparasi
sampel yang akan digunakan, tahap kedua ekstraksi bahan dan tahap ketiga adalah
uji aktivitas antibakteri terhadap Salmonella typhi.

3.4

Rancangan Percobaan
Penelitian ini adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor dan

enam level. Faktornya adalah hasil ekstrak dari daun srikaya dengan enam level
yaitu konsentrasi ekstrak 0%, 20%, 40%, 60%, 80% dan 100% dan setiap
perlakuan terdiri dari tiga kali ulangan.
Data penelitian yang telah didapatkan akan diolah menggunakan uji
ANNOVA yang jika hasilnya berbeda nyata akan dilanjutkan dengan uji
DUNCAN. Data yang didapat akan disajikan dalam bentuk grafik.

3.5

Pelaksanaan Penelitian

3.5.1 Preparasi Sampel


Daun srikaya yang telah dikumpulkan dibersihkan agar tidak kotor,
selanjutnya dicuci dengan air mengalir hingga bersih, kemudian ditiriskan dan
dikeringkan dengan sinar matahari. Sampel yang telah kering kemudian dilakukan
pengecilan ukuran dengan menggunakan blender hingga terbentuk serbuk. Serbuk
yang telah dihasilkan kemudian dilakukan pengayakan menggunakan ayakan 65
mesh hingga diperoleh serbuk yang halus dan seragam. Hasilnya dimasukkan
kedalam wadah gelas tertutup (Gunawan dan Mulyani, 2004). Diagram alir
penyerbukan daun srikaya dapat dilihat pada gambar 3.1.
Daun srikaya

Pencucian dengan air mengalir

Penirisan

Pengeringan (sinar matahari)


Pengecilan ukuran (blender)

Pengayakan 65 mesh

Serbuk daun srikaya


Gambar 3.1 Diagram alir penyerbukan daun srikaya

3.5.2 Ekstraksi
Ekstrak daun srikaya dibuat dengan cara maserasi. Sebanyak 60 gram
serbuk simplisia daun srikaya dimasukkan kedalam erlenmeyer, kemudian
direndam dengan larutan etanol 96% p.a sebanyak 225 ml, ditutup dengan
alumunium foil dan dibiarkan selama 5 hari sambil sesekali diaduk. Setelah 5 hari

sampel yang telah direndam kemudian disaring menggunakan kertas saring


menghasilkan filtrat 1 dan cake 1. Cake yang dihasilkan kemudian ditambah
dengan larutan etanol 96% p.a sebanyak 75 ml, ditutup dengan aluminium foil dan
dibiarkan selama 2 hari sambil sesekali diaduk. Setelah 2 hari, sampel tersebut
disaring menggunakan kertas saring menghasilkan filtrat 2 dan cake 2. Filtrat 1
dan filtrat 2 dicampur menjadi satu, lalu dievaporasi menggunakan rotary
evaporator, sehingga diperoleh ekstrak pekat daun srikaya. Ekstrak pekat yang
dihasilkan dibiarkan pada suhu ruangan hingga seluruh pelarut etanol menguap.
Ekstrak ditimbang dan disimpan dalam wadah gelas tertutup sebelum digunakan
untuk pengujian (Depkes RI, 1986). Adapun diagram alir proses ekstraksi dapat
dilihat pada gambar 3.2.
serbuk daun srikaya dalam erlenmeyer

+etanol p.a

Pencampuran
Perendaman 5 hari
Penyaringan

Cake

Filtrat

+etanol p.a

Perendaman 2 hari
Penyaringan
Filtrat

Pencampuran
Evaporasi

Ekstrak kental daun srikaya


Gambar 3.2 Diagram alir ekstraksi daun srikaya

Cake

3.5.3 Uji Aktivitas Antibakteri


a. Pembutan Media
Nutrient Agar (NA) sebanyak 0,46 gram dilarutkan dalam 20 ml
aquades (23 g/1000 ml) menggunakan erlenmeyer. Setelah itu
dihomogenkan dengan stirer diatas penangas air sampai mendidih.
Sebanyak 5 ml dituangkan masing-masing pada 3 tabung reaksi steril dan
ditutup dengan aluminium foil. Media tersebut disterilkan dalam outoklaf
pada suhu 1210C selama 15 menit, kemudian dibiarkan pada suhu
ruangan selama 30 menit sampai media memadat pada kemiringan 300.
Media Agar miring digunakan untuk inokulasi bakteri (Lay, 1994).
Skema kerja pembuatan media agar miring dapat silihat pada gambar 3.3
NA

+ aqudest

Pencampuran

Pemasukan 5 ml kedalam 3 tabung rekasi


Pemanasan (1210C, 15 menit)
Pendinginan hingga memadat
Media agar miring
Gambar 3.3 Pembutaan media agar miring

b. Peremajaan bakteri Salmonella typhi pada Media Agar Miring


Kultur murni Salmonella typhi diambil dengan jarum ose steril,
lalu ditanamkan pada media NA miring dengan cara menggores.
Selanjutnya diinkubasi dalam inkubator pada suhu 370C selama 24 jam.
Perlakuan yang sama dilakukan pada setiap jenis bakteri uji (Siregar,
2009). Skema kerja peremajaan bakteri dapat dilihat pada gambar 3.4.

1 ose Kultur murni Salmonella typhi

Pengambilan dengan jarum ose steril


Penanaman pada media NA miring

inkubasi 370C, 24 jam


Gambar 3.4 Diagram alir peremajaan Salmonella typhi

c. Pembuatan Suspensi Bakteri Salmonella typhi


Satu ose kultur murni Salmonella typhi yang telah diremajakan
disuspensikan kedalam 10 ml NA cair, kemudian dihomogenkan dengan
vortex agar tercampur antara suspensi dengan larutan.

d. Uji Aktivitas Antibakteri


Metode yang digunakan dalam pengujian aktivitas antibakteri
adalah metode difusi sumur (Well Diffusion Method). Suspensi bakteri
Salmonella typhi sebanyak 1 mL dimasukkan kedalam cawan petri
steril, lalu ditambahkan dengan 20 ml NA cair kemudian dihomogenkan
menggunakan stirer dan ditunggu hingga media memadat. Media yang
telah padat kemudian dibuat sumuran dengan diameter 4-5 mm dengan
mengggunakan blue tipe steril. Lubang sumuran yang telah dibuat diisi
dengan larutan uji ekstrak etanol daun srikaya dengan berbagai
konsentrasi (0%, 20%, 40%, 60% , 80% dan 100 sebanyak 50 l.
Kemudian cawan petri diinkubasi dalam inkubator pada suhu 370C
selama 1x24 jam. Aktivitas antibakteri diamati dengan melihat area
bening yang terbentuk disekitar sumuran. Digram alir pengujian
aktivitas antibakteri dapat dilihat pafa gambar 3.5.

Suspensi Salmonella typhi (1 ml)

Dimasukkan kedalam cawan petri

+ NA cair

Pencampuran
Pendinginan hingga memadat

+ ekstrak buah
daun srikaya
sumuran

Pembutan lubang sumuran 4-5 mm


Inkubasi (37 0C, 24 jam)

Pengamatan
Gambar 3.5 Diagram alir pengujian aktivitas antibakteri

3.7

Parameter Pengamatan
Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah daya hambat ekstrak

daun srikaya dengan variasi konsentrasi ekstrak terhadap pertumbuhan bakteri


Salmonella typhi dengan menggunakan metode sumur agar.

3.8

Analisis Data
Setelah didapatkan hasil pengamatan kemudian dianalisis menggunakan

sidik ragam yaitu uju ANOVA dan jika didapatkan hasil berbeda nyata dilanjut
dengan uji DUNCAN.

DAFTAR PUSTAKA

Algerina. 2008. Demam Tifoid dan Infeksi Lain dari Bakteri Salmonella.
http://medicastore.com/penyakit/10/demamtifoid.html [diakses tanggal 29
Februari 2015].
Ashkenazi, A., Belli D., Vandenplas, Y. 2002. A Proposition of the Diagnosis and
Treatment of Gastro-esophagael Reflux Disease in Children. A Report from
a Working Group on Gastro-esophagael Reflux Disease. Eur J Pediatr.
152:704-711.
Brooks. 2004. Jawetz Melnick & Adlebergs Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 23.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG: 251-264
Brooks. 2008. Jawetz, Melnick & Adelberg Mikrobiologi Kedokteran. Edisi 23.
Alih Bahasa oleh Edi Nugroho dan Maulany. Jakarta: EGC.
Candrawati. 2010. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Krokot
(Portulaca oleraceae) Terhadap Pertumbuhan Salmonella typhi Secara In
Vitro. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian. Universitas Jember.
Darmowandowo. 2006. Demam Tifoid. Surabaya: FK Unair.
Davis and Stout. 1971. Disk Plate Methods of Microbiological Antibiotic Assay.
Microbiology. 22(4): 659-665.
Departemen Kesehatan RI. 1986. Sediaan Galenik. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI
Dzen, M. S., Roekistiningsih, Santoso, S., dan Winarsih. 2003. Bakteriologi
Medik. Malang: Banyumedia Publishing.
Gunawan D, Sudarsono, Wahyuono S, Donatus IA, Purnomo. 2001. Tumbuhan
Obat 2. Hasil Penelitian, Sifat-sifat dan Penggunaan. Yogyakarta: PPOT
UGM.
Gunawan, D., dan Mulyani, S. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi). Jakarta:
Swadaya
Haryatmi. 2004. Kemampuan Vitamin E Sebagai Antioksidan Terhadap Radikal
Bebas Pada Lanjut Usia. Journal MIPA. Vol 14, No 1:52-60
Hermawan , W. K., Hana dan Wiwiek. 2007. Pengaruh Ekstrak Daun Sirih (Piper
betle L) Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus dan Escherichia
coli dengan Metode Diffusi Disk. Surabaya: Unair.

Irawati. 2001. Tumbuhan langka Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan


Biologi. LIPI. Balai Penelitian Botani. Herbarium Bogoriense. Bogor.
Indonesia.Jawetz. 2005
Kauffman, F. 1986. System Bacteriol. J. Clin Microbial., 27, 313-320. Klotchko,
2011
Kumar, V and Patel, D. J. 2008. Annona squamosa L: Phytochemical Analysis
and Antimicrobial Screening, Journal of Pharmachy research. India:
Gujarat.
Kusmayati dan Agustini, 2007. Uji Aktivitas Senyawa Antibakteri dari Mikroalga
(Porphyridium cruentum). Biodiversitas. 8(1) : 48-53.
Lay, B.W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Edisi 1. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Lederberg. 1992. Encyclepedia of Microbiology. Vol. 3 M.R. New York
Academic Press Inc.
Madigan, M. T., Martinko J. M. 2000. Nutrition Metabolism. Brock Biology of
Microbiology.Prentice-Hall.
Manoi dan Balittro. 2009. Binahong (Anredera Cordofolia) Sebagai Obat. Bogor:
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
Maria, P dan Hapsari, M. 2013. Efektifitas Perasaan Daun Srikaya Terhadap
Daya Hambat Pertumbuhan Escherichia coli. Skripsi. Fakultas Kedokteran
Hewan. Universitas Udayana.
Padhi. 2011. In vitro Evaluation of Antibacterial Potential of Annona squamosa L
and Annona reticulate L from Similipal Biosphere Reserve, Orissa. India:
Journal of Agriculture Technology 20011 Vol 7(1): 133-142.
Pratiwi. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 46-48
Robinson. 1995. Kandungan Organik Tumbuhan Tingkat Tinggi. Bandung:
Penerbit ITB.
Setyaningsih, I. 2006. Senyawa Bioaktif dari Mikroalga dan Aplikasinya pada
Bahan Pangan. Bandung: Penerbit LPPM IPB.
Siregar. 2009. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan Air Rebusan Kulit
Batang Ingul (Toona sinensis M. Roem) Terhadap Beberapa Bakteri.
Medan: Fakultas Farmasi USU.

Sobiya Raj et al. 2009. The hepatoprotective effect of alcoholic extract of Annona
squamosa leves on experimentally induced liver injury in swiss albino mice.
International Journal of Integrative Biology. Vol 5 No 3, 182.
Vandepitte et al. 2005. Prosedur Lboratorium Dasar untuk Bakteriologis Kimia.
Edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Wandasari, F., Ruslan, K. DAN Kusmardiyani, S. 2007. Telaah Fitokimia Daun
Srikaya (Annona squamosa L) yang Berasal dari Dua Lokasi Tumbuh.
Skripsi. Penelitian Obat Bahan Alam. Bandung: Sekolah Farmasi ITB.
Winn, W. 2006. Enterobacteriaceae. Konemans Color Atlas and Textbook of
Diagnostic Microbiology. Lippincott Williams and Wilkins, USA. 212-89.
Yuniarti, T. 2008. Ensiklopedia Tanaman Obat Tradisional. Yogyakarta: Penerbit
Med Press (Anggota IKAPI).