Está en la página 1de 56

PANDUAN PRAKTIKUM MT3203 LABORATORIUM TEKNIK MATERIAL 3

TIM PENYUSUN Dr. Ir. Aditianto Ramelan Dr. Ir. Hermawan Judawisastra Firmansyah Sasmita, S.T., M.T.

Dr. Ir. Hermawan Judawisastra Firmansyah Sasmita, S.T., M.T. LABORATORIUM METALURGI DAN TEKNIK MATERIAL PROGRAM STUDI

LABORATORIUM METALURGI DAN TEKNIK MATERIAL PROGRAM STUDI TEKNIK MATERIAL FAKULTAS TEKNIK MESIN DAN DIRGANTARA

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2015

PANDUAN PRAKTIKUM MT3203 LABORATORIUM TEKNIK MATERIAL 3

LATAR BELAKANG

Berbeda dengan Praktikum Laboratorium Teknik Material 1 dan 2 yang berfokus pada Pengujian Sifat Mekanik, Metalurgi, dan Proses Produksi, maka pada praktikum Laboratorium Teknik Material 3 ini difokuskan pada Material Keramik, “Polimer”, dan Komposit dilihat dari aspek proses produksi dan sifat mekaniknya serta beberapa teknik karakterisasi material termasuk Pengujian Tidak Merusak.

LUARAN (OUTCOMES)

1. Mahasiswa memahami dengan baik proses pembuatan dan sifat mekanik dari keramik, polimer, dan komposit

2. Mahasiswa memahami dan memiliki kemampuan untuk mengukur besaran-besaran sifat material dan mengkarakterisasinya dengan metoda yang ada serta dapat menganalisisnya

MODUL PRAKTIKUM

Modul A

Proses Pembuatan dan Karakterisasi Komposit

Halaman 8

Modul B

Teori Laminat Klasik

Halaman 13

Modul C

Konduktivitas dan Difusivitas Termal Refraktori

Halaman 24

Modul D

Karakterisasi Material:

Halaman 32

X-Ray Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscopy (SEM) & Energy Dispersive X-Ray Spectroscopy (EDS)

Modul E

Modulus Young dan Porositas Keramik

Halaman 45

Modul F

Uji Tak Rusak Material:

Halaman 51

Ultrasonic Thickness dan Ultrasonic Coating Thickness Test

PROSEDUR PRAKTIKUM

Agar proses praktikum berjalan dengan baik dan benar, maka prosedur praktikum harus ditaati oleh praktikan maupun asisten. Prosedur tersebut adalah sebagai berikut:

Praktikan sudah mempersiapkan tugas pendahuluan yang dibuat di rumah.

Praktikan datang 15 (lima belas) menit sebelum praktikum dimulai, kemudian mencari tahu asisten praktikum untuk modul yang bersangkutan.

Asisten mempersiapkan alat tulis, log book praktikum dan berkoordinasi dengan teknisi untuk persiapan alat dan perlengkapan praktikum.

Praktikum dimulai dengan tes awal dengan alokasi waktu maksimum 30 (tiga puluh) menit.

Diskusi awal antara asisten dan praktikan mengenai tes awal dan teori dasar dalam praktikum modul yang bersangkutan. Alokasi waktu maksimum 1 (satu) jam untuk praktikum yang terdapat pengujiaan secara langsung.

Praktikum dimulai dan selama proses tersebut asisten harus menjelaskan prosedur yang baik dan benar tentang modul praktikum yang bersangkutan.

Setelah praktikum selesai, diskusi dapat dilanjutkan kembali dengan alokasi waktu maksimum 1 (satu) jam. Pada diskusi akhir ini dijelaskan juga tugas setelah praktikum serta penjelasan proses pengolahan data dari hasil praktikum yang telah dilakukan.

Presentasi laporan praktikum dengan batas waktu maksimum 1 (satu) minggu sejak praktikum dilaksanakan.

Praktikan mengisi lembar feedback praktikum.

Asisten membuat penilaian terhadap aktivitas praktikum, kemudian diserahkan kepada Koordinator Praktikum yang bersangkutan.

FORMAT TUGAS PENDAHULUAN DAN LAPORAN

Tugas Pendahuluan terdiri dari :

Cover

Pertanyaan dan Jawaban dari Tugas Pendahuluan

Format Cover :

Tugas Pendahuluan Praktikum Laboratorium Teknik Material 3 Modul A Xxx Xxxxx

Laporan Akhir Praktikum Laboratorium Teknik Material 3 Modul A Xxx Xxxxx

oleh :

oleh:

Nama

:

Nama

:

NIM

:

NIM

:

Kelompok

:

Kelompok

:

Anggota (NIM)

:

Anggota (NIM)

:

Tanggal Praktikum :

Tanggal Praktikum

:

Nama Asisten (NIM) :

Tanggal Penyerahan Laporan :

Nama Asisten (NIM)

:

Gambar Ganesha

Gambar Ganesha

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material Program Studi Teknik Material Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material Program Studi Teknik Material Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung

2015

2015

Laporan Praktikum terdiri dari :

a. COVER

b. BAB I : Pendahuluan (latar belakang dan tujuan praktikum)

c. BAB II : Dasar Teori

d. BAB III : Data Percobaan (data dan pengolahan data)

e. BAB IV : Analisis Data (analisis dan interpretasi data percobaan)

f. BAB V : Kesimpulan dan Saran

g. DAFTAR PUSTAKA

h. LAMPIRAN (tugas setelah praktikum, rangkuman praktikum dan data lain yang dibutuhkan)

Format cover laporan praktikum seperti tugas pendahuluan, tinggal mengganti Judul serta menambahkan tanggal penyerahan praktikum.

ATURAN PRAKTIKUM

Peraturan praktikum yang harus ditaati oleh Praktikan Laboratorium Teknik Material 3 adalah sebagai berikut:

1. Mengerjakan tugas pendahuluan yang terdapat pada modul.

2. Membawa peralatan sesuai dengan modul, dibawa sebelum praktikum.

3. Memakai jas laboratorium, sepatu tertutup (sepatu-sandal & sandal tidak diizinkan), pakaian kemeja, dan berambut rapi (khusus berambut panjang: tidak boleh terurai dan harus diikat dengan rapi).

4. Datang 15 menit sebelum praktikum dimulai.

5. Tidak makan, menggunakan dan mengaktifkan handphone, merokok, tidur dan meninggalkan praktikum tanpa seizin asisten.

6. Tidak merusak dan menghilangkan peralatandan perlengkapan praktikum.

7. Membawa modul, buku catatan, dan kartu tanda praktikum.

8. Membuat surat ijin yang sah apabila tidak dapat mengikuti praktikum.

9. Menjaga sopan santun dan etika selama praktikum.

10. Menjaga kebersihan, keselamatan, dan ketertiban selama praktikum.

SANKSI PRAKTIKAN

Kehadiran

1. Tidak hadir lebih dari 1 kali (K, NA = 0)

2. Tidak memberikan informasi kehadiran 15 menit setelah praktikum dimulai (K,

NAP=0)

3. Tidak memberi surat izin yang sah untuk ketidakhadiran 3 hari setelah praktikum (K, NAP = 0)

Keterlambatan

Keterlambatan 0 sampai 15 menit (K, A-15, dan wajib melapor pada asisten yang bersangkutan dan koordinator praktikum)

Keterlambatan diatas 15 menit (K, NAP= 0)

Terlambat mengumpulkan Tugas Pendahuluan (K,NAP=0, tidak diperbolehkan mengikuti praktikum modul yang bersangkutan)

Kelengkapan Praktikum

Tidak membawa kartu praktikum (K, dipersilahkan pulang namun dapat mengikuti modul yang bersangkutan pada shift lain)

Tidak membawa modul, memakai jas laboratorium, memakai pakaian kemeja dan atau berkerah, dan memakai sepatu tertutup(K, NAP-30, dan praktikan dipersilahkan pulang untuk melengkapi dengan resiko keterlambatan)

Tidak melengkapi kartu praktikum (K, NAP-30, dan praktikan dipersilahkan pulang untuk melengkapi dengan resiko keterlambatan)

Untuk nilai tes awal < 30 praktikan dipersilahkan pulang dan nilai praktikum yang diperhitungkan hanya nilai tugas pendahuluan

Untuk nilai tes awal < 50 praktikan diberikan tugas tambahan oleh asisten yang bersangkutan sehingga nilai tes awal maksimal menjadi 50

Merokok pada saat praktikum (NAP=0)

Keaktifan

1. Makan atau tidur (K dan A-50)

2. Menggunakan handphone (K dan A-50)

3. Meninggalkan praktikum (K dan A-50)

Merusak dan menghilangkan peralatan dan perlengkapan praktikum (K, melapor pada asisten, koordinator praktikum, koordinator asisten, dan teknisi)

Sanksi yang bersifat kondisional dan insidental akan ditetapkan oleh asisten yang bersangkutan pada saat praktikum

Praktikan yang tercatat 5 kali atau lebih pada buku kasus, dinyatakan tidak lulus praktikum pada semester yang bersangkutan

Apabila kartu praktikum hilang maka praktikan akan dikenakan denda sebesar Rp

100.000,00

Keterangan:

K

: Tercatat dalam buku kasus

A-X

: Nilai aktivitas dikurangi X poin

NAP

: Nilai Aktivitas Praktikum

NAP-X

: NAP (Nilai Aktivitas Praktikum) dikurangi X poin

NA

: Nilai Akhir Praktikum

NA-X

: NA (Nilai Akhir Praktikum) dikurangi X poin

ATURAN PENILAIAN

Nilai Total Praktikum (NTP) didasarkan pada 2 aspek penilaian yaitu:

1. Nilai Aktivitas Praktikum Nilai Aktivitas Praktikum dapat diformulasikan dengan :

NAP

NMA

NMB

NMC

NMD

NME

NMF

 

6

NMA s/d NMF adalah nilai per Modul A sampai Modul F. Penilaian dari masing- masing modul adalah :

NM NilaiModul

(

)

(10

xTP

)

(10

xTesAwal

)

(30

xAktivitas

Pr

aktikum

)

(30

xLaporan

)

(20

xpresentasi )

100

2. Nilai Ujian Praktikum (NUP) Nilai diambil dari ujian tertulis Praktikum Laboratorium Teknik Material 3. Penilaian berupa angka 0 s/d 100.

Kemudian untuk menghitung Nilai Total Praktikum (NTP) diformulasikan dengan :

NTP

60xNAP 40xNUP

100

Nilai Total Praktikum (NTP) akan dikonversi menjadi nilai untuk Mata Kuliah MT-3203, dengan kriteria penilaian sebagai berikut:

NTP ≥ 90

: A

80

≤ NTP < 90

: AB

70≤ NTP < 80

: B

60

≤ NTP < 70

: BC

50 NTP < 60

: C

NTP < 50

: E

MODUL A PROSES PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI KOMPOSIT

1. Tujuan Praktikum

a. Mempelajari proses pembuatan komposit, khususnya dengan Teknik Wet Hand Lay Up dan Compression Molding.

b. Mempelajari teknik-teknik karakterisasi komposit, khususnya karakterisasi sifat mekanik dengan uji tarik dan pengujian fraksi volume.

c. Mempelajari pengaruh metode manufaktur dan pengaruh fraksi volume material penyusun terhadap sifat mekanik komposit.

2. Latar Belakang dan Dasar Teori

Material komposit merupakan gabungan secara makroskopis dari dua jenis material atau lebih. Komponen pembentuk material komposit berupa penguat (reinforcement) dan matriks sebagai pengikat. Polymer Matrix Composite (PMC) adalah komposit yang paling dominan digunakan. Keunggulan dari PMC terletak pada sifat mekanik spesifik yang tinggi dan kemudahan proses produksinya. Selain itu, material komposit memiliki sifat tailorability yang berarti orientasi penguat dapat diatur sesuai dengan arah pembebanan sehingga didapatkan konstruksi yang optimum dan efisien. Ada beberapa teknik proses pembuatan material komposit. Teknik wet hand lay up merupakan teknik pembuatan yang tradisional yang relatif sederhana dan mudah dilakukan. Teknik ini dilakukan manual dengan tangan untuk lay up serat penguat yang diimpregnasi oleh cairan resin termoset. Aplikasinya cukup banyak ditemui pada kebutuhan sehari-hari, misalnya tangki penyimpan air, bath up, perahu, dan lain-lain. Metode lain yang bisa digunakan untuk membuat komposit adalah compression molding dimana preform serat diletakkan ke dalam suatu cetakan, kemudian resin di tuangkan secara merata ke lapisan serat dan selanjutnya diberikan tekanan. Teknik ini dapat diterapkan baik pada matriks termoset maupun termoplastik. Pada material komposit yang telah jadi, perlu dilakukan karakterisasi baik itu dilakukan untuk tujuan perancangan ataupun kontrol kualitas. Karakterisasi suatu material komposit mencakup karakterisasi sifat fisik, mekanik, atau termal, dan sifat lain. Sifat yang paling penting dari suatu komposit struktural adalah sifat mekanik, seperti kekuatan tarik, modulus elastisitas dan elongasi. Pengujian-pengujian yang akan dilakukan memerlukan universal testing machine, yang mampu memberikan deformasi pada spesimen dengan beban dan kecepatan tarik yangterkontrol. Cara untuk memperoleh dimensi spesimen adalah dengan mencetak komponen dengan sesuai dengan ukuran standar. Namun seringkali spesimen dibuat dari laminat yang besar yang kemudian dipotong melalui proses pemesinan. Secara umum, sifat mekanik dari komposit dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya jenis dan fraksi volume material penyusun, metode manufaktur, sifat interface dan kualitas impregnasi.

Uji Tarik Pada prinsipnya uji tarik dilakukan dengan menarik spesimen dan memonitor respon yang terjadi. Pelaksanaan uji tarik komposit dilakukan dengan membuat spesimen uji tarik seperti Gambar 2.1.

dengan membuat spesimen uji tarik seperti Gambar 2.1. Gambar 2.1 Spesimen uji tarik Specimen width =

Gambar 2.1 Spesimen uji tarik Specimen width = 25 mm

Spesimen uji tarik ini akan dipegang oleh grip pada mesin uji tarik. Untuk mendapatkan hasil yang valid, sekurang-kurangnya diperlukan tiga buah spesimen. Dari uji tarik akan didapat kurva Gaya vs Pertambahan Panjang untuk selanjutnya diolah dalam memperoleh sifat tariksebagai berikut:

1. Kekuatan Tarik

2. Modulus Elastisitas

3. Regangan Maksimum

Uji Fraksi Volume Uji fraksi volume material penyusun dilakukan dengan beberapa tahap sbb.:

1. Mengukur massa serat penguat

2. Mengukur massa komposit

3. Menghitung massa jenis dan volume komposit

4. Hitung fraksi volume material penyusun dan void

Perhitungan fraksi volume dilakukan dengan menggunakan data berat jenis serat gelas sebesar 2,58 g/cm 3 dan berat jenis poliester sebesar 1,25 g/cm 3 .

3.

Percobaan

a. 3.1. Pembuatan Komposit

Bahan :

1.

serat gelas woven

2.

resin unsaturated polyester

3.

katalis

Alat

:

1.

papan tripleks

2.

plastik mika tebal (dibawa oleh setiap kelompok)

3.

gunting (dibawa oleh setiap kelompok)

4.

masker dan sarung tangan ( dibawa oleh setiap praktikkan)

5.

karton

6.

gelas ukur dan pengaduk

7.

mesin kompresi

8.

cetakan

Prosedur

:

Wet Hand Lay Up

1. Preform serat gelas dipotong sebesar 30 cm x 15 cm sebanyak 4 lembar.

2. Resin dicampur dengan katalis (katalis 0,75% vol) lalu aduk rata.Buat 50 % berat.

3. Pada papan tripleks (sebagai landasan), diletakkan kertas mika.

4. Serat gelas diletakkan di atas mika lalu dikuaskan resin (+katalis) dengan menggunakan roller untuk mengimpregnasi serat.

5. Lapisi serat lainnya ditambahkan secara bertahap seperti langkah 4.

6. Lapisi bagian atas dengan menggunakan mika.

7. Komposit dibiarkan sampai mengeras (fully cured).

Compression Molding

a. Preform serat gelas dipotong sebesar 30 cm x 15 cm sebanyak 4 lembar.

b. Resin dicampur dengan katalis (katalis 0,75% vol) lalu aduk rata. Buat 50 % berat.

c. Pada papan tripleks (sebagai landasan), diletakkan kertas mika.

d. Serat gelas diletakkan di atas mika lalu dikuaskan resin (+katalis).

e. Lapisi bagian atas dengan menggunakan mika.

f. Tekan serat gelas dengan menggunakan alat kompresi pada tekanan 25 bar selama 5-10 menit, 50 bar selama 5-10 menit, 75 bar selama 5-10 menit.

g. Komposit dibiarkan sampai mengeras (fully cured).

b.

3.2. Uji Tarik Komposit

Bahan

:

2 spesimen komposit arah serat (0 0 ) yang telah dipotong sesuai standar spesimen uji tarik

Alat

:

a.

Mesin uji tarik

b.

Jangka sorong

Prosedur :

1. Ukur dimensi dari spesimen uji tarik (panjang spesimen, panjang gage length,

lebar, dan tebal spesimen)

2. Letakkan spesimen pada grip mesin uji tarik

3. Set kecepatan penarikan pada mesin uji tarik sebesar 2 mm/menit.

4. Catat beban dan pertambahan panjang spesimen selama pengujian berlangsung

5. Konversi menjadi kurva Tegangan dan Regangan.

6. Hitung sifat mekanik.

Uji Fraksi Volume Bahan:

1. Spesimen uji tarik setelah uji tarik

2. Preform serat gelas

Alat:

1. Timbangan Digital ketelitian 1/10.000 g

2. Penggaris

3.

Alat potong komposit

Prosedur

Sebelum pembuatan komposit, hitung Areal density (Ap) dan jumlah lembaran preform (N) serat gelas yang digunakan

Ambil komposit serat gelas yang telah diuji tarik. Potong spesimen dari spesimen uji tarik pada bagian yang tidak mengalami kegagalan dengan ukuran sekitar 2,5cm x 2,5 cm. Hitung luas area komposit (Ak).

Ukur massa kering komposit (Mk).

Ukur massa komposit ketika terendam air (Ms).

massa jenis dan volume komposit (Vkomposit).

Hitung

Vkomposit = (Mk - Ms) / ρair ρkomposit = Mk /Vkomposit

fraksi volume serat:

Hitung

Vf = (Ap x Ak x N /ρserat gelas ) / Vkomposit

fraksi volume matriks:

Hitung

Vm = ((Mk - (Ap x Ak x N)) / ρ poliester ) / Vkomposit

fraksi volume void:

Hitung

4. Data dan Pengolahan

a. Uji Tarik Komposit

void: Hitung 4. Data dan Pengolahan a. Uji Tarik Komposit V v o i d =

V void = 1 Vf Vm

E

l

l

l o

l o

l o

σ

: Engineering Stress ( N/mm 2 )

F

: Beban yang diberikan ( Newton )

A

: luas Penampang ( mm 2 )

E

: Strain ( tidak bersatuan ), dinyatakan dalam persentase

l

: Perubahan Panjang ( mm )

l

: Panjang setelah pembebanan (mm )

lo

: Panjang awal spesimen ( mm )

Jenis mesin

Kecepatan Tarik (mm/menit) :

:

Jumlah

Spesimen

:

Load Cell

:

   

Metode Manufaktur

 

No. Spesimen

1

2

3

4

5

6

Panjang uji (gauge length; mm)

           

Lebar (mm)

           

Tebal (mm)

           

Kekuatan Tarik (Newton)

           
Modulus Elastisitas Regangan Maksimum
Modulus Elastisitas
Regangan Maksimum

Uji Fraksi Volume

Areal density (gr / cm 2 )

:

   

Metode Manufaktur

 

No. Spesimen

1

2

3

4

5

6

Massa Kering (gram)

           

Massa Terendam (gram)

           

Volume Komposit (cm 3 )

           

Fraksi Volume Serat

           

Fraksi Volume Matriks

           

Fraksi Volume Void

           

5. Tugas Pendahuluan

1. Jelaskan perbedaan proses manufaktur pada komposit dengan matrix termoset dan termoplastik!

2. Jelaskan proses pembuatan komposit matrix termoset dengan metode: wet hand lay up, compression molding, dan Vacuum Assisted Resin Infusion (VARI)!

3. Jelaskan perbedaan spesimen uji tarik antara material baja dan FRP.

4. Jelaskan cara memperoleh fraksi volume material penyusun komposit.

6. Tugas Setelah Praktikum

1. Berdasarkan literatur, jelaskan perbedaan sifat fisik dan mekanik komposit matrix

termoset yang diperoleh dari metode berikut: wet hand lay up, compression molding,

dan VARI! 2. Jelaskan faktor-faktor yang menentukan sifat mekanik komposit.

7. Pustaka dan Bahan Bacaan Sebelum Praktikum

1. ASTM D 3039 00.

2. ASTM D 0792 00.

3. Astrom, B. T., “Manufacturing of Polymer Composites”, 1 st ed., Chapman and Hall, London, 1997.

MODUL B TEORI LAMINAT KLASIK

1. Tujuan Praktikum

1. Memahami pengaruh dari pemilihan material komposit serta pengaruh cara penyusunannya (stacking sequence) terhadap kekakuan, distribusi tegangan,

dan perilaku kegagalan yang terjadi pada komposit laminat.

2. Dapat menggunakan program GENLAM dan mampu menginterpretasikan hasilnya dengan benar.

2. Latar Belakang Material komposit merupakan gabungan dua atau lebih material dimana sifat-sifat dari material pembentuknya masih terlihat secara makro. Komposit matriks polimer (PMC), dengan material pembentuk serat dan matriks, merupakan material komposit yang banyak dipakai. Serat yang banyak dipakai adalah serat karbon dan gelas, sedangkan untuk matriks adalah jenis termoset. Selain memiliki kekakuan dan kekuatan spesifik yang tinggi, material komposit memiliki sifat tailorability yang dapat dimanfaatkan untuk membuat sifat yang mendekati isotrop hingga yang sangat tidak isotrop sesuai dengan beban yang akan bekerja pada suatu konstruksi. Dengan cara ini akan diperoleh konstruksi yang efisien. Pengetahuan tentang mikromekanik dan makromekanik sangat berperan dalam mengarahkan material komposit agar persyaratan konstruksi yang diinginkan tercapai. Classical Laminate Theory (CLT) atau Teori Laminat Klasik merupakan suatu metode untuk menganalisa material komposit berupa laminat secara makromekanik.

3. Dasar Teori

Komposit yang menjadi fokus dari percobaan kali ini adalah komposit yang terbentuk dari tumpukan lamina yang dinamakan laminat. Lamina merupakan satu lapis pelat datar/ lengkung dari unidirectional fiber atau woven fabrics dalam matriks. Laminat merupakan pelat yang terdiri dari tumpukan lamina yang orientasinya dapat ditentukan.

dari tumpukan lamina yang orientasinya dapat ditentukan. Gambar 1 Lamina (kiri) dan Laminat (kanan) Rev. 2
dari tumpukan lamina yang orientasinya dapat ditentukan. Gambar 1 Lamina (kiri) dan Laminat (kanan) Rev. 2

Gambar 1 Lamina (kiri) dan Laminat (kanan)

GENLAM merupakan perangkat lunak yang berguna untuk memodelkan laminat jika diberikan pembebanan baik itu pembebanan mekanik (tarik, tekan, puntir) maupun pembebanan hygrotermal (kelembaban udara, temperatur). Laminat yang akan dimodelkan dapat ditentukan parameter-parameternya seperti jenis material dari lamina, jumlah tumpukan lamina, maupun orientasi dari susunan lamina tersebut. Sehingga dapat diketahui apakah suatu laminat yang akan dibuat mengalami kegagalan atau tidak.

Pembebanan dan momen yang terjadi pada laminat dapat ditunjukkan dengan:

N

i

M

i

A

B

ij

ij

B   

D

  

0

j

j

ij

ij

 

N adalah beban-beban yang bekerja pada bidang (in-plane loads) di arah 1, 2 atau

6.

M adalah momen akibat bending atau puntir (bending or torsional moments)

0

adalah regangan pada bidang (in-plane deformations)

k

adalah kelengkungan (curvatures)

A

adalah matriks kekakuan bidang (in-plane stiffness matrix) yang

menghubungkan beban dan regangan yang bekerja pada bidang.

D adalah matriks kekakuan bending (flexural stiffness matrix) yang

menghubungkan momen dengan kelengkungan.

B adalah matriks kekakuan kopel (coupling stiffness matrix)

Penyusunan lamina dapat digolongkan menjadi empat jenis :

Laminat simetris: merupakan laminat yang memiliki susunan orientasi simetris terhadap midplanenya. Misalnya , laminat yang terdiri dari 6 lamina dapat disebut simetris jika susunan laminanya : a-b-c-c-b-a Pada laminat simetris, nilai matriks kekakuan kopel akan bernilai 0, hal ini

ditunjukkan dengan persamaan =

1

2

=1

[]( 2 1 ) .

2

Laminat asimetris : merupakan laminat yang memiliki susunan orientasi tidak simetris dan tidak teratur terhadap midplanenya. Misalnya, laminat yang terdiri dari 6 lamina dapat disebut laminat asimetris jika susunan laminanya : a-b-c-a-b-c

Laminat antisimetris : merupakan laminat yang memiliki susunan orientasi berkebalikan terhadap midplanenya. Misalnya, laminat yang terdiri dari 2 lamina dikatakan laminat antisimetris jika susunan laminanya : a (-a)

Laminat cross-ply : merupakan laminat yang memiliki susunan orientasi berselang- seling antara laminanya. Misalnya, laminat yang terdiri dari 4 lamina disebut laminat cross-ply jika susunan laminanya : 0,90,0,90 untuk asimetris , atau 0,90,90,0 untuk simetris.

Konstanta teknik adalah suatu konstanta yang menunjukan sifat mekanik material atau dalam hal ini adalah sifat mekanik laminat. Konstanta teknik yang ditunjukkan oleh GENLAM adalah tegangan tarik arah x (E1) , tegangan tarik arah y (E2), tegangan geser (E6) , momen puntir, serta koefesien muai termal.

Pada GENLAM, nilai-nilai ini didapat setelah mengalkulasi laminat yang telah dirancang. Pembebanan yang dapat dimodelkan oleh GENLAM adalah pembebanan mekanik seperti beban tarik, tekan, dan puntir. Serta pembebanan higrotermal. Pembebanan higrotermal merupakan pembebanan yang diakibatkan kelembaban udara dan perbedaan temperatur lingkungan dan temperatur curing lamina, kekuatan lamina dapat dipengaruhi oleh hal-hal tersebut, sehingga kegagalan mungkin terjadi meskipun tidak ada pembebanan mekanik.

4. Praktikum dan Tugas

Latihan 1. Sifat-sifat Elastis Bandingkan konstanta-konstanta teknik material dari pelat dengan tebal 1 mm yang terbuat dari:

a. AS-3501 (02,902)s dengan AS-3501 (0,90)2s

b. Scotch-ply UD dengan Scotch-ply (0,90)2

Tunjukkan perbedaan-perbedaan konstanta teknik (in-plane constants & flexural constants) diantara material tersebut! Mengapa terjadi perbedaan-perbedaan tersebut?

Latihan 2. Pembebanan dan Tegangan

1.

Lihat dan perhatikan tegangan yang terjadi pada berbagai material di bawah ini

tanpa pembebanan pada temperatur ruang (25 o C).

1.

Scotch-ply UD

2.

Scotch ply (0,±45,90, 0,±45,90)

3.

IM6 epoxy (0,±45,90, 0,±45,90)

Bandingkan tegangan dan regangan yang terjadi (global dan pada setiap lapisan) pada setiap jenis material. Analisis distribusi tegangan dan regangannya.)

2.

Ulangi latihan dengan material Scotch-Ply UD untuk 4 kasus kondisi pembebanan mekanik sebagai berikut :

a. Pembebanan tarik biaksial masing-masing sebesar 10 N/mm 2 (1 MN/m 2 )

b. Pembebanan geser sebesar 10 N/mm 2

c. Momen bending M1 sebesar 10 N.m

d. Momen torsi sebesar 5 N.m

3.

Bandingan dan analisis grafik tegangan dan regangan 3 material pada soal nomor 1

jika diberi beban tarik biaxial 10 N/mm 2

Latihan 3. Kegagalan pada laminat

Untuk mempermudah penggambaran, GENLAM tidak memperlihatkan nilai R tetapi

1/R.

1. Berikan pembebanan biaksial sebesar 50 N/mm, tarik-tarik, tarik-tekan, tekan-tarik

dan tekan-tekan (4 modus pembebanan) untuk laminat berikut ini :

a. B-N5505 UD

b. B-N5505 (+ 45)s

c. IM6-epoxy (+ 30, + 60)s

Pertama-tama lihat tegangan yang terjadi dan perkirakan lapisan mana yang akan mengalami kegagalan pertama kali. Periksa rasio tegangan untuk material yang utuh (intact material) dan bandingkan. Tentukan faktor keamanan untuk kegagalan terakhir dari masing-masing laminat.

2. Pergunakan sebuah cross-ply Kevlar-Epoxy laminat pada temperatur kamar (25 0 C). Perhatikan faktor R nya. Jelaskan! (perhatikan tegangan pada lapisan)

Material

CFRP

CFRP

CFRTP

BFRP

CFRP

KFRP

GFRP

CFRP

core

Fibre

T300

AS

AS4

Boron B4

IM6

Kevlar 49

E-glass

T300

None

Matrix

Epoxy

Epoxy 3501

PEEK

Epoxy

Epoxy

Epoxy

Epoxy

Epoxy F934

Foam

N5208

N5505

Engineering Constants

 

Ex. GPa

181

138

134

204

203

76

38.6

148

1

E-10

Ey,GPa

10.3

8.96

8.9

18.5

11.2

5.5

8.27

9.65

1

E-10

Vxy

0.28

0.3

0.28

0.23

0.32

0.34

0.26

0.3

0

E.s, GPa

7.17

7.1

5.1

5.59

8.4

2.3

4.14

4.55

1

E-11

Other ply data

 

Vf

0.7,

0.66

0.66

0.5

0.66

0.6

0.45

0.6

0

ρ (kg/m 3 )

1600

1600

1600

2000

1600

1460

1800

1500

0

ho, mm

0.125

0.125

0.125

0.125

0.125

0.125

0.125

0.1

5

Mmax (%)

0.5

0.5

0

0.5

0.5

0.5

0.5

0.5

0

Tcure (°C)

122

122

310*

122

200

62

122

i22

— •

DF

0.15

0.15

0.07

0.2

0.04

0.02

0.04

0.15

0

Strength, MPa

 

X

1500

1447

2130

1260

3500

1400

1062

1314

1

X’

1500

1447

1100

2500

1540

235

610

1220

1

Y

40

52

80

61

56

12

31

43

1

Y

246

206

200

202

150

53

118

168

1

S

68

93

160

67

98

34

72

48

1

Fxy *

-0.5

-0.5

-0.5

-0.5

-0.5

-0.5

-0.5

-0.5

-0.5

Hygrothermal expansion coefficients

 

αx(10 -6o C)

0.02

-0.3

-0.3

6.1

-0.3

-4

8.6

-0.3

0

Αy(10 -6o C)

22.5

28.1

28.1

30.3

28.1

79

22.1

28.1

0

βx

0

0

0

0

0

0

0

0

0

βy

0.6

0.6

0

0.6

0.6

0.6

0.6

0.6

0

5.

Tugas sebelum praktikum

1. Apakah yang dimaksud dengan lapisan (ply atau lamina)? Apa perbedaannya dengan laminat (laminates)?

2. Apakah yang dimaksud dengan laminat simetri, laminat tidak simetri dan laminat cross ply?

3. Apakah yang dimaksud dengan sistem koordinat lapisan (ply coordinate system) dan sistem koordinat laminat (laminate coordinate system)? Bagaimana cara mengubah dari satu sistem koordinat ke sistem koordinat lainnya? Jelaskan secara singkat!

4. Gambarkan skema perhitungan dalam Teori Laminat Klasik dimulai dari sifat-sifat material, cara memperoleh konstanta teknik, pemberian beban sampai pada tegangan dan regangan yang terjadi pada setiap lapisan. Jelaskan dengan ringkas!

5. Jelaskan dengan ringkas perbedaan pembebanan mekanik dan pembebanan higrotermal!

6. Apakah yang dimaksud dengan First Ply Failure dan Last Ply Failure? Jelaskan!

6. Tugas Setelah Praktikum

1. Buat dua buah komposit T300 epoxy yang memiliki susunan laminat berbeda tetapi

mempunyai konstanta teknik bidang (in-plane engineering constants) yang sama? Dapatkah Anda membuat suatu laminat dengan konstanta teknik bending (flexural engineering constants) yang sama?

2. Sebuah laminat (02, + 45, 90)s AS-3501 diberi tiga jenis pembebanan yang berbeda. Distribusi tegangan, untuk setiap kondisi pembebanan tersebut, kemudian dihitung dan diperlihatkan dalam tiga gambar di bawah ini. Tentukan dari ketiga gambar tersebut jenis kondisi pembebanan yang telah diberikan!

dalam tiga gambar di bawah ini. Tentukan dari ketiga gambar tersebut jenis kondisi pembebanan yang telah
20
20

3.

Untuk laminat (02, + 45, 90) AS 3501 didapatkan data tegangan sebagai berikut:

Load Case No.1 PLY STRESSES IN MPa

Ply No

Sigma-1

Sigma-2

Sigma-6

Sigma-x

Sigma-y

Sigma-s

10Top

515.41

-41.24

127.67

515.41

-41.24

127.67

10Bot

412.98

-34.21

102.14

412.98

-34.21

102.14

9Top

412.98

-34.21

102.14

412.98

-34.21

102.14

9Bot

310.55

-27.18

76.60

310.55

-27.18

76.60

8Top

358.99

284.61

366.49

688.30

-44.69

-37.19

8Bot

239.32

189.99

246.54

461.19

-31.89

-24.67

7Top

-227.49

-276.82

255.64

-51780

13.49

24.67

1Bot

-113.76

-138.04

129.51

-255.40

3.61

12.14

6Top

-2.34

-127.00

25.53

-127.00

-2.34

-25.53

6Bot

-6.45

10.72

0.00

10.72

-6.45

-0.00

5Top

-6.45

10.72

0.00

10.72

-6.45

-0.00

5Bot

-10.55

148.44

-25.53

148.44

-10.55

25.53

4Top

113.69

139.53

-142.77

269.38

-16.16

-12.92

4Bot

227.42

278.31

-278.91

531.77

-26.04

-25.44

3Top

-239.39

-188.50

-233.28

-447.22

19.33

25.44

3Bot

-359.06

-233.12

-353.23

-674.32

32.14

37.97

2Top

-304.03

14.98

-76.60

-304.03

14.98

-76.60

2Bot

-406.46

22.00

-102.14

-406.46

22.00

-102.14

1Top

-406.46

22.00

-102.14

-406.46

22.00

-102.14

1Bot

-508.89

29.03

-127.67

-508.89

29.03

-127.67

LOAD CASE No. 3 PLY STRESSES IN MPa.

Ply No

sigma-1

sigma-2

sigma-6

sigma-x

sigma-y

sigma-s

10Top

38.93

-19.17

52.19

38.93

-19.17

52.19

10Bot

38.93

-19. 17

52.19

38.93

-19.1.7

52.19

9Top

38.93

-19.17

52.19

38.93

-19.17

52.19

9Bot

38.93

-19.17

52.19

38.93

-19.17

52.19

8Top

203.61

178. 51

227.83

-118.89

-36.73

-1255

8Bot

203.61

178.51

227.83

418.89

-36.78

-12.55

7Top

-273.45

-298.55

295.59

-581.59

9.60

12.55

7Bot

-273.45

-290.55

295.59

-581.59

9.60

12.55

6Bop

-8.02

-201.63

52.19

-201.63

-8.02

52.19

5Tot

-8.02

-201.63

52.19

-201.63

-8.02

52.19

5Bot

-8.02

-201.63

52.19

-201.63

-8.02

-52.19

4Top

-273.45

-298.55

295.59

-581.59

9.60

12.55

4Bot

-273.45

-298.55

295.59

-581.59

9.60

12.55

3Top

203.61

178.51

227.84

418.89

-36.78

-12.55

3Bot

203.61

178.51

227.84

418.89

-36.78

-12.55

2Top

38.93

-19.17

52.19

38.93

-19.17

52.19

2Bot

38.93

-19.17

52.19

38.93

-19.17

52.19

1Top

38.93

-19.17

52.19

38.93

-19.17

52.19

1Bot

38.93

-19.17

52.19

38.93

-19.17

52.19

Load Case No 1

Ply

Angle

Mat.

h*1000

R-int/t

R-int/b

R-deg/t

R-deg/b

10

0.0

2

0.125

0.8

1

1.62

2.03

9

0.0

2

0.125

1

1.33

2.03

2.7 • . j

8

45.0

2

0.125

1.63

2.45

1.78

2.66

7

-45.0

2

0.125

1.53

3.07

1.06

2.13

6

90.0

2

0.125

3.23

1.61e+007

3.3

4.31e+007

5

90.0

2

0.125

1.61e+007

3.75

4.31e+007

4 .34

4

-45.0

2

0.125

4.57

2.28

3.13

1.57

3

45.0

2

0.125

1.43

0.953

1.39

0.925 |

2

0.0

2

0.125

1.01

0.754

1.53

1.14

1

0.0

2

0.125

0.754

0.603

1.14

0.915

 

Load Case No 3

 
 

Ply

Angle

Mat.-

h*1000

R-int/t

R-int/b

R-deg/t

R-deg/b

 

10

0.0

2

0.125

2.07

2.07

5.65

5.65

9

0.0

2

0.125

2.07

2.07

5.65

5.

65

8

45.0

2

0.125

2.83

2.83

3.12

3.12

 

7

-45.0

2

0.125

1.7

1.7

1.43

1.43

6

5

90.0

90.0

2

2

0.125

0.125

1.85

1.85

1.85

1.85

3.34

3.34

3.34

3.34

4

-45.0

2

1.7

1.7

1 .43

1.43

3

45.0

2

0.125

2.83

2.83

3.12

3.12

2

0.0

2

0.125

2.07

2.07

5.65

5.

65

1

0.0

2

0.125

2.07

2.07

5.65

5.65

 

Berapakah FPF untuk masing-masing kondisi pembebanan, lapisan mana yang gagal pertama kali dan komponen tegangan mana yang bertanggung jawab atas terjadinya kegagalan? Berapa kekuatan ultimate dari laminat untuk masing-masing kondisi pembebanan dan lapisan yang mana yang bertanggung jawab atas terjadinya kegagalan terakhir dari laminat?

7. Pustaka dan Bahan Bacaan Sebelum Praktikum

1. Tsai, S.W., Hahn, H.T., Introduction to Composite Material, Westport,

Technomic Publishing Co., Inc., 1980.

2. Eupoco, Module 4, Composite Science and Technology.

3. Tsai, S.W., Composite Design.

Agar praktikan dapat lebih memahami praktikum, praktikan disarankan mempelajari juga materi mata kuliah Material Komposit bagian Makromekanik & Teori Laminat Klasik.

MODUL C KONDUKTIVITAS DAN DIFUSIVITAS TERMAL REFRAKTORI

1. Tujuan Praktikum

a. Memahami konduktivitas dan difusivitas termal kaitannya dengan sifat isolasi termal refraktori.

b. Menentukan nilai koefisien konduktivitas, difusivitas termal, dan kapasitas panas spesifik dari refraktori Alumino-Silicate.

2. Dasar Teori

Refraktori didefinisikan sebagai material konstruksi yang mampu mempertahankan bentuk dan kekuatannya pada temperatur sangat tinggi dibawah beberapa kondisi seperti tegangan mekanik (mechanical stress) dan serangan kimia (chemical attack) dari gas-gas panas,

cairan atau leburan dan semi leburan dari gelas, logam atau slag [1].

Adapun jenis-jenis refraktori antara lain:

Berdasarkan komposisi kimia:

1. Asam (contoh: Silika, Firebrick, Alumino-Silicate).

2. Netral (contoh: Chromite, Silikon Karbida, Karbon, dan Alumina).

3. Basa (contoh: Magnesite, Forsterite Magnesit-Chromite, dan Dolomite).

4. Spesial (contoh: Zirconia, Spinel, dan Boron Nitride)

Berdasarkan bentuk:

1. Bricks Contoh: Fireclay, Sillimanite (Alumino-Silicate), Magnesite, Dolomite, Magnesite- Chromite, Silika, Periclase.

2. Monolith Contoh: Castable refractories, Plastic refractories, Ramming refractories, Patching

refractories, Coating refractories, Refractoy mortars, Insulating castables

Material refraktori banyak digunakan dan dibutuhkan di industri yang menggunakan Furnace, Kiln atau dapur peleburan, seperti industri gelas, kaca, steel, aluminium dan pembakaran seperti industri keramik, sebagai bahan penyekat antara produk yang bersuhu tinggi dengan udara luar, atau sebagai wadah tempat produk mengalami proses peleburan.

Material refraktori sangat terkait dengan sifat termalnya, antara lain:

a) Konduktivitas: kemampuan material untuk menghantarkan panas melalui kontak langsung dengan atom-atom atau molekul penyusunnya, dari daerah temperatur tinggi ke daerah temperatur rendah (satuan SI: Wm -1 K -1 ) [2&3].

b) Difusivitas: perbandingan konduktivitas termal terhadap kapasitas panas volumetrik (satuan SI: m 2 s -1 ) [4].

c) Kapasitas panas: kapasitas panas per satuan massa per derajat K atau kapasitas panas per mol per derajat K (satuan SI: J kg -1 K -1 ). Kapasitas panas dapat juga dinyatakan sebagai kemampuan dari suatu material untuk menyimpan/ menahan panas dari lingkungan luar. Merepresentasikan sejumlah energi yang diperlukan untuk menghasilkan peningkatan temperatur.

d) Ekspasi termal: Perubahan dimensi pada suatu material yang diakibatkan oleh adanya perubahan panas. Perubahan dimensi dapat terjadi karena dengan adanya perubahan

panas, maka atom-atom akan bervibrasi makin cepat yang berakibat pada berubahnya jarak antar atom.

Faktor-faktor yang mempengaruhi konduktivitas termal pada refraktori diantaranya, yaitu komposisi kimia, porositas, temperatur, tekanan, tegangan, atau regangan, dan aliran panas

[5&6].

Persamaan yang menghubungkan antara konduktivitas termal (k) dengan panas (q) yang mengalir pada suatu material didasarkan pada hukum konduksi panas Fourier. Untuk konduksi panas pada pelat di arah x (dimensi 1), persamaan Fourier-nya [7] ialah:

q

 kA

x

x

  

dT

dx

  

(2.1)

dimana qx= laju konduksi panas pada arah x (Watt), A = normal luas terhadap arah aliran

panas (m 2 ),

Sedangkan bentuk persamaan umum untuk konduksi panas [7] adalah seperti berikut ini:

T

x

= gradien temperatur (K/m), dan k = konduktivitas termal material.

k

 T

222

x

2

 

y T

2

 

2

z

T

q

C

p

( m )

T

t

(2.2)

dimana

q

ρ

C

p(m)

= laju generasi panas (heat generation) (Watt)

= massa jenis material (kg/m 3 )

= kapasitas panas material pada tekanan konstan (J/kg.K)

Model Percobaan Proses perambatan panas pada praktikum ini menggunakan model silinder dan hanya melihat konduksi panas pada arah radial dari sumber panas, sehingga persamaan (2.1) menjadi:

q

r



kA

r

 T

 r

(2.3)

δr R r
δr
R
r
kA r  T     r  (2.3) δr R r l Gambar

l

Gambar 1 Model silinder percobaan

Perhatikan laju konduksi panas pada silinder konsentris berjari-jari R dan panjang l dengan sumber panas di dalamnya berjari-jari r dan ketebalan radial δr. Laju konduksi panas ketika melewati permukaan dalam silinder adalah

q

r



k 2 rl

 

 

T

r

dan laju konduksi panas ketika meninggalkan permukaan luar silinder adalah

q

q

r

r





r

r





k

k

2

2

l

l

r



r

r

T

r

 

 

 

T

r

  r   

r

T

 

r

r

Persamaan neraca panas total dari silinder adalah Laju Akumulasi = (Laju Masuk – Laju Keluar) + Laju Generasi Panas………(2.4) dimana selisih antara laju masuk dan laju keluar merupakan laju penyimpanan panas dari material. Perlu diingat bahwa laju akumulasi dan generasi panas berkaitan dengan volume material sehingga persamaan neraca panas total dibuat per satuan volume material [7]. Asumsi yang digunakan dalam percobaan ialah tidak ada generasi panas dan berubah terhadap waktu (unsteady state) sehingga persamaan (2.4) menjadi

dimana

d

dt

A

r

r

2

 

rl

2

 

rl

k

C

p(m)



C

p

(

r

C

p

r

C

p

m

)

( m

( m

 

T

q

r

q

r



r

q A

r

r

T

T

 

T

 



k

2

rl

  

k

2

l

)

)

t

T

t

T

k

2

l

k

r

1

r

r

T

r

r

T

t

C

p

(

m

)

r

r

r

r

 

T

k

2

T

 

1

T

 

 

 
   
 

t

C

p

(

m

)

r

2

 

r

r

r

r

r

r

T

r

r




(2.5)

0

, merupakan difusivitas termal dari material. Persamaan (2.5) harus

dipenuhi di seluruh waktu selama aliran panas terjadi dan dipecahkan berdasarkan kondisi masukan panas yang dianggap konstan. Temperatur T di setiap titik merupakan fungsi dari r, t, dan α. Untuk menyederhanakan fungsi tersebut dibuat hubungan tanpa

2

r

dimensi, yakni t . Anggap

T f

 

A

r

2

t

 

f

(

u

)

dengan

A sebagai konstanta sehingga

T

u

f

(

u

)

, dan

2

T

u

2

f

(

u

)

. Persamaan (2.5) dapat ditulis kembali menjadi

0 

T

 

k

 

2

T

1

k

 

T

 

t

C

p

(

m

)

r

2

 

r

C

p

(

m

)

r

 :

0 

1

T

2

T

1

T

 

t

r

2

r

r

0

1

f

(

u

)

A

r

2

t

2

f

(

u

)

4

2

A r

2

t

2

f

(

u

)

2

A

1

f

(

u

)

2 Ar

 

t

r

t

 :

0

0

r

2

t

f

(

r

2

t

u

4

)

f

4

f

(

u

)

(

u

)

4

Ar

2

t

4

Ar

2

t

f

f

(

u

(

)

u

)

A

t

 : 4

0

r

2



t

1

f

(

u

)

Ar

2

t

f