Está en la página 1de 5

AL-QURAN DAN KAJIAN FILOLOGI

Oleh, Nasaruddin Umar*

Kajian filologi seringkali digunakan untuk mempertanyakan orisinalitas


sebuah teks, tidak terkecuali Al-Quran, seperti yang dilangsir di Newsweek edisi 28
Juli 2003. Di antara ciri khas kajian filologi ialah mempertanyakan dari mana
datangnya teks, bagaimana teks diperoleh, apakah difirmankan, disabdakan, atau
diceritakan orang lain, bagaimana autentitas teks itu sendiri, sarana dan prasarana apa
yang digunakan dalam penulisan teks, teks aslinya dari bahasa dan dialek apa, apa
dan bagaimana hubungan antara penutur dan penulis teks, apakah sang penutur
sezaman (muasharah) dan atau berjumpa (liqa) dengan penulisnya. Kalau teks itu
ditranskrip, siapa yang mentranskrip, apakah pribadi atau tim, inisiatif siapa dan
untuk kepentingan apa, serta sponsornya siapa; kalau teks itu terjemahan, siapa dan
untuk apa penerjemahan itu, terjemahan dari bahasa asli atau dari bahasa lain, jarak
waktu penerjemah dengan teks-teks terjemahan berapa lama.
Setiap transkrip atau terjemahan selalu riskan terhadap reduksi, distorsi, dan
modifikasi. Setiap bahasa mempunyai dialek dan latar belakang budaya sendiri.
Belum lagi, menurut ahli linguistik, setiap satu abad vocab-vocab mengalami
pergeseran makna.
Dengan pendekatan filologi seperti di atas, sulit membayangkan adanya kata
sepakat untuk keutuhan dan orisinalitas sebuah teks, apalagi kalau teks itu sudah lebih
satu millennium sebagaimana halnya Al-Quran.
Yang pertama kali harus dilakukan dalam menentukan orisinalitas sebuah teks
ialah persepsi yang sama tentang makna kata orisinal itu sendiri. Apaka orisinalitas
mesti harus berarti keaslian dan kesesuaian antara lafaz yang dituturkan dengan teks
yang menyimbolkan tutran tersebut, kemudian dipertahankan dari zaman ke zaman
tanpa mengalami perobahan sedikitpun terhadap teks itu. Atau, orisinalitas juga
termasuk keaslian lafaz dan makna sebuah tuturan yang dipertahankan dari zaman ke
zaman melalui media hafalan atau media tulisan.

Mempertanyakan orisinalitas Al-Quran dengan pendekatan filologi, ada dua


kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, orisinalitas Al-Quran ditemukan ada
masalah, dengan mengungkapkan data dan fakta yang memang tidak seragam dalam
penulisan Al-Quran sejak awal. Kedua, pendekatan filologi mempunyai keterbatasan
di dalam dirinya sendiri karena hanya mengandalkan pada analisa teks, dan teks
dalam konotasi tulisan terkait dengan sarana dan prasarana tulisan.
Tidak seragamnya manuskrip para sahabat penulis Al-Quran, bukan masalah
yang serius, karena tradisi bangsa Arab ketika itu masih lebih mengandalkan validitas
hafalan ketimbang tulisan. Sarana tulis-menulis ketika itu masih menggunakan
tulang-belulang binatang dan pelepah korma yang riskan untuk patah dan rusak,
sementara tinta yang digunakan riskan untuk luntur. Manuskrip sebuah Al-Quran
yang disimpan di rumah Hafsah, isteri Nabi, membutuhkan ruang sebesar gudang,
bandingkan dengan sekarang Al-Quran dapat disimpan di dalam USB sekecil anak
jari tangan.
Para sahabat malah merasa malu jika ketahuan mempunyai catatan, karena
takut dianggap sebagai pelupa. Manuskrip Al-Quran yang ditulis para sahabat di
masa awal memang berbeda satau sama lain. Tergantung asal-usul dan dialek seorang
sahabat. Sahabat yang sering absen dalam majlis Nabi mempunyai catatan tidak
selengkap dengan sahabat yang aktif. Namun ini tidak masalah, karena mereka semua
mengandalkan hafalannya yang selalu diuji dalam bentuk tadarrusan bersama
(khataman) menurut susunan baku seperti sekarang. Orang Arab ketika itu terkenal
dengan kultur hafalannya yang sangat kuat. Syair-sair klasik yang begitu panjang
disimpan dalam bentuk hafalan secara turun temurun. Ayat-ayat Al-Quran atau surah
yang sangat masyhur sebagian sahabat tidak lagi mencatatnya, termasuk misalnya
manuskrip Ibnu Masud yang dikenal penulis wahyu, tidak mencantumkan tiga surah
terakhir (S.Al-Ikhlash, S. Al-Falaq, dan S. Al-Nas), karena begitu populernya suarahsurah ini. Atas dasar ini pula yang digunakan oleh Goldziher menolak ketiga surah
tersebut sebagai bagian dari Al-Quran.
Perdebatan mengenai konsep orisinalitas Al-Quran sesungguhnya juga belum
selesai di kalangan para ulama. Apakah orisinalitas itu diukur ketika Al-Quran masih
berstatus kalam al-dzati, yang masih merupakan the ideas of God, yang masih

terbebas dari atribut dan symbol kebahasaan, atau diukur ketika Al-Quran sudah
berstatus kalam al-lafdhi, yang sudah diwahyukan ke langit bumi, ditujukan kepada
Nabi Muhammad melalui perantaraan Jibril. Semua kitab suci untuk manusia, maka
sangat manusiawi kalau Taurat menggunakan bahasa Ibrani yang ditujukan kepada
Nabi Musa yang berbahasa Ibrani, Injil menggunakan bahasa Suryani karena
ditujukan kepada Nabi Isa yang berbahasa Suryani, dan Al-Quran menggunakan
bahasa Arab yang ditujukan kepada Nabi Muhammad yang berbahasa Arab. AlQuran akan terkesan tidak manusiawi kalau menggunakan bahasa Aramaik,
sementara adresnya komunitas Arab.
Transformasi kalam al-dzati ke dalam bentuk kalam al-lafdhi secara maknawi
tidak ada masalah menurut para ulama. Akan tetapi dalam bentuk kalam al-lafdhi,
masih ada perbedaan di kalangan ulama. Ini terbukti dengan adanya konsep tujuh
model bacaan (qiraah sabah) dan konsep tujuh model huruf (sabah ahruf) yang
dapat dilihat dalam kitab-kitab Ulumul Quran.
Terdapat sejumlah ayat dimungkinkan ditulis dan dibaca lebih dari satu
macam. Khusus jenis bacaan yang berbeda dimungkinkan penggunaannya
berdasarkan beberapa riwayat hadis sahih dan dibenarkan sendiri di dalam al-Qur'an:
Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an (S. al-Muzzammil/73:20).
Sebelum standardisasi penulisan (rasm) dalam arti pembakuan tanda-tanda
huruf (nuqt) dan tanda-tanda baca (syakl), beberapa versi qiraat masih popular. Nanti
setelah fase kodifikasi dan penyebaran naskah Al-Qur'an pada masa 'Usman variasi
itu berangsur-angsur tidak populer lagi, yang populer hanya apa yang tertera dalam
mushhaf imam seperti yang tersebar dalam masyarakat Islam saat ini. Menurut AlThabari, berbeda dengan sebelumnya, mushhaf yang merupakan hasil unifikasi dan
kodifikasi ini hanya memuat satu huruf dari tujuh huruf.
Pemberian tanda baca (syakl) pertama kali diadakan pada masa pemerintahan
Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680M.), terutama ketika Ziyad ibn Samiyyah yang
menjabat Gubernur Ba?rah,[1] menyaksikan kekeliruan bacaan dalam S. AlTaubah/9:3, yang bisa melahirkan makna yang menyesatkan.
Di antara contoh perbedaan qiraat dan rasm tersebut ialah kata ya-tha-ha-ra-

nun, dalam S.al-Baqarah/2:222, bisa dibaca yaththahharna berarti perempuan yang


telah menjalani masa haid disyarakan mandi wajib yang sempurna (al-thahara alkamilah), dengan membersihkan sekujur anggota badan, dan bisa juga dibaca
yathhurna, berarti membersihkan sekitar tempat keluarnya darah haidl, tanpa harus
mandi. Contoh lain, kata wa-qaf-ra-nun S.al-Ahdzab/33:33dapat dibaca waqarna
berarti menetaplah (menetaplah di dalam rumah kalian [perempuan]) dan bisa juga
dibaca waqirna berarti bersenang-senanglah (bersenang-senanglah di dalam rumah
kalian [perempuan]).
Mengenai bahasa asli Al-Quran bukan bahasa Arab tetapi something like
Aramaic, mungkin bisa dijelaskan bahwa memang bahasa Arab ketika Al-Quran
diturunkan tidak sehomogen dan sejelas dengan persepsi kita sekarang tentang bahasa
Arab. Bahkan bangsa dan wilayah Arab ketika itu belum jelas, apakah mengacu
kepada geografis, culture, atau bahsa. Bahasa Arab sebagai bahasa formal bangsa
Arab sebagaimana yang dikenal sekarang, masih ditenggelamkan oleh begitu banyak
dan dominannya dialek suku-suku dan kabila di satu sisi, dan di sisi lain masih
kuatnya pengaruh apa yang diistilahkan oleh Chaim Rabin dalam Ancient WestArabian dengan proto-Semitic stage di Arab bagian utara dan selatan barat daya.
Mungkin Al-Quran yang melembagakan bahasa Arab sebagai bahasa yang lebih
homogen, sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Yusuf/12:2. Chaim Rabin juga
menghubungkan ke-ummy-an nabi dengan bahasa Arab, bukan bahasa lokal kabilah
seperti Quraisy, dll. Bahasa Arab itu sendiri masuk ke dalam rumpun bahasa Semit
(Semitic-language), seperti halnya bahasa Hebrew dan Aramaek. Banyaknya kosa
kata Hebrew dan Aramaek di dalam Al-Quran tidak mesti berarti Al-Quran adalah
sintesa dari Taurat dan Injil, tetapi kosa kata itu sebelumnya sudah menjadi bagian
dari bahsa Arab. Sama dengan bahasa Melayu dan Indonesia, yang kosa katanya
banyak berasal dari bahsa Arab. Bahkan menurut Al-Sayuthi, bahasa Al-Quran juga
diperkaya dengan berbagai dialek dan lahjah bahasa Arab, Yunani, Persia, dan Afrika.
Atas dasar ini juga bisa dijelaskan pernyataan bahwa 150 tahun setelah Nabi
Muhammad wafat baru bahasa Arab menjadi bahasa tulisan (a written language),
artinya bahasa Arab sebagai bahasa yang menggunakan struktur formal. Namun, ini
tidak berarti bahasa Al-Quran sebelumnya tidak menggunakan bahasa Arab. Struktur

dan tata bahasa Arab yang baku seperti sekarang ini memang disusun dalam kurun
waktu tersebut di atas.
Pernyataan semacam yang dimuat dalam Newsweek sebaiknya tidak
memancing umat Islam untuk melakukan respon emosional, karena propaganda
dalam bentuk pseudo-intelektual ternyata tidak mampu membendung daya tarik orang
terhadap Al-Quran.
Nasaruddin Umar, Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Jakarta yang sedang mengikuti
visiting scholar Di Georgetown University, Washington DC.
http://brotherfaiz.blogspot.com/2003/08/al-quran-dan-kajian-filologi-oleh.