Está en la página 1de 18

PROPOSAL SKRIPSI

Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Penerima Beras Untuk


Keluarga Miskin (Raskin) Menggunakan Fuzzy Multiple Attribute
Decision Making(FMADM) Dengan Metode Technique For Order
Preference By Similarity To Ideal Solution (TOPSIS)

Oleh :

AGUNG PRAYITNO
G1A010040

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BENGKULU

2015
1. JUDUL PENELITIAN
Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Penerima Beras Untuk Keluarga Miskin
(Raskin) Menggunakan Fuzzy Multiple Attribute Decision Making(FMADM) Dengan
Metode Technique For Order Preference By Similarity To Ideal Solution (TOPSIS)
2. BIDANG ILMU
Bidang ilmu yang penulis akan teliti adalah bidang Decision Support System dan
Artificial Intelligence
3. Latar Belakang
Program Subsidi Beras bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah (Raskin)
merupakan subsidi pangan yang diperuntukkan bagi rumah tangga miskin dan rentan
sebagai upaya dari pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan
perlindungan sosial pada rumah tangga miskin dan rentan.
Program Raskin bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga
Sasaran (RTS) melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras
dan mencegah penurunan konsumsi energi. Selain berfungsi sebagai mekanisme
perlindungan sosial dan penanggulangan kemiskinan, Program Raskin juga berguna
untuk:
1. mengendalikan inflasi melalui intervensi Pemerintah, dengan menetapkan harga
beras beras bersubsidi sebesar Rp.1.600/kg, dan menjaga stok pangan nasional;
2. stabilisasi harga beras di pasaran;
3. sebagai pasar bagi hasil usaha tani padi; dan
4. membantu pertumbuhan ekonomi daerah.
(tnp2k.go.id)
Penyaluran RASKIN (Beras untuk Rumah Tangga Miskin) sudah dimulai sejak
1998. Krisis moneter tahun 1998 merupakan awal pelaksanaan RASKIN yang bertujuan
untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga terutama rumah tangga miskin. Pada
awalnya disebut program Operasi Pasar Khusus (OPK), kemudian diubah menjadi
RASKIN mulai tahun 2002, RASKIN diperluas fungsinya tidak lagi menjadi program
darurat (social safety net) melainkan sebagai bagian dari program perlindungan sosial
masyarakat. Melalui sebuah kajian ilmiah, penamaan RASKIN menjadi nama program
diharapkan akan menjadi lebih tepat sasaran dan mencapai tujuan RASKIN.Penentuan
kriteria penerima manfaat RASKIN seringkali menjadi persoalan yang rumit. Dinamika

data

kemiskinan

memerlukan

adanya

kebijakan

lokal

melalui

musyawarah

Desa/Kelurahan. Musyawarah ini menjadi kekuatan utama program untuk memberikan


keadilan bagi sesama rumah tangga miskin.
Sampai dengan tahun 2006, data penerima manfaat RASKIN masih menggunakan
data dari BKKBN yaitu data keluarga prasejahtera alasan ekonomi dan keluarga sejahtera
I alasan ekonomi. Belum seluruh KK Miskin dapat dijangkau oleh RASKIN. Hal inilah
yang menjadikan RASKIN sering dianggap tidak tepat sasaran, karena rumah tangga
sasaran berbagi dengan KK Miskin lain yang belum terdaftar sebagai sasaran. Mulai
tahun 2007, digunakan data Rumah Tangga Miskin (RTM) BPS sebagai data dasar dalam
pelaksaaan RASKIN. Dari jumlah RTM yang tercatat sebanyak 19,1 juta RTS, baru dapat
diberikan kepada 15,8 juta RTS pada tahun 2007, dan baru dapat diberikan kepada
seluruh RTM pada tahun 2008. Dengan jumlah RTS 19,1 juta pada tahun2 008, berarti
telah mencakup semua rumah tangga miskin yag tercatat dalam Survei BPS tahun 2005.
Jumlah sasaran ini juga merupakan sasaran tertinggi selama RASKIN disalurkan.
Penggunaan data Rumah Tangga Sasaran (RTS) hasil pendataan Program Perlindungan
Sosial tahun 2008 (PPLS 2008) dari BPS diberlakukan sejak tahun 2008 yang juga
berlaku untuk semua program pengentasan kemiskinan yang dilaksanakan oleh
Pemerintah.
Beberapa kendala dalam pelaksanaan RASKIN selama ini terutama dalam
pencapaian ketepatan indikator maupun ketersediaan anggaran. Sampai dengan saat ini,
jumlah beras yang akan disalurkan baru ditetapkan setelah anggarannya tersedia. Selain
itu ketetapan atas jumlah beras raskin yang disediakan juga tidak selalu dilakukan pada
awal tahun, dan sering dilakukan perubahan di pertengahan tahun karena berbagai faktor.
Hal ini akan menyulitkan dalam perencanaan penyiapan stoknya, perencanaan pendanaan
dan perhitungan biaya-biayanya. Data RTS yang dinamis menjadi suatu kendala
tersendiri di lapangan. Masih ada RTM di luar RTS yang belum dapat menerima
RASKIN karena tidak tercatat sebagai RTS di BPS. Kebijakan lokal dan keikhlasan
sesama RTM dalam berbagi, tidak jarang dipersalahkan sebagai ketidaktepatan sasaran.
(Bulog.co.id)
Sistem Pendukung Keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS) adalah
sebuah sistem yang mampu memberikan kemampuan pemecahan masalah maupun

kemampuan pengkomunikasian untuk masalah dengan kondisi semi terstruktur dan tak
terstruktur. Sistem ini digunakan untuk membantu pengambilan keputusan dalam situasi
semi terstruktur dan situasi yang tidak terstruktur, dimana tak seorangpun tahu secara
pasti bagaimana keputusan seharusnya dibuat (Turban, 2001). SPK bertujuan untuk
menyediakan informasi, membimbing, memberikan prediksi serta mengarahkan kepada
pengguna informasi agar dapat melakukan pengambilan keputusan dengan lebih baik.
Dari penjelasan diatas masih banyak penyaluran raskin yang masih belum tepat
sasaran, oleh karena itu penulis bermaksud mengambil topic penelitian tentang Sistem
Pendukung Keputusan Seleksi Penerima Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin)
Menggunakan Fuzzy Multiple Attribute Decision Making(FMADM) Dengan
Metode Technique For Order Preference By Similarity To Ideal Solution (TOPSIS)
yang diharapkan dapat membantu penyaluran raskin agar lebih baik.
4. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka rumusan masalah dari
penelitian ini adalah:
1. Bagaimana membuat sebuah aplikasi system pendukung keputusan penerimaan
raskin?
2. Apa saja factor-faktor yang harus diperhatikan untuk menentukan kelayakan
penerima raskin?
3. Bagaimana menetukan nilai dana bobot stiap kriteria dalam menentukan kelayakan
penerima raskin?
5. BATASAN MASALAH
1. Sistem pendukung keputusan ini mencakup beberapa kriteria yaitu:
2. Sistem pendukung keputusan ini menggunakan Fuzzy Multiple Attribute Decision
Making(FMADM) Dengan Metode Technique For Order Preference By Similarity
To Ideal Solution (TOPSIS)
3. Sistem pendukung keputusan ini dibuat dengan bahasa PHP berbasis Web
6. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah merancang dan
membangun Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Penerima Beras Untuk Keluarga
Miskin (Raskin) Menggunakan Fuzzy Multiple Attribute Decision Making(FMADM)
Dengan Metode Technique For Order Preference By Similarity To Ideal Solution
(TOPSIS) yang memiliki fungsi utama sebagai berikut :

1.Membangun sebuah Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Penerima Beras


Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Dengan Metode untuk mempermudah
menentukan masyarakat yang berhak menerima Raskin.
2. mendapatkan alternatif keputusan yang dapat dijadikan sebagai acuan yang
valid dalam menentukan kelayakan calon penerima beras miskin.
MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi penulis, dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama di
bangku perkuliahan.
2. Bagi pengguna perangkat lunak, Membantu dalam pengambilan keputusan
dalam kelayakan penerima Raskin.
7. METODE PENELITIAN
8.1 Metode Pengembangan Sistem
Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Penerima Beras Untuk Keluarga Miskin
(Raskin) Menggunakan Fuzzy Multiple Attribute Decision Making(FMADM)
Dengan Metode Technique For Order Preference By Similarity To Ideal Solution
(TOPSIS)dalam Tugas Akhir ini menggunakan model waterfall. Adapun langkahlangkah yang dilakukan dalam pengembangan sistem ini secara garisbesar adalah
sebagai berikut:
1. Pemodelan
Dalam Tugas Akhir ini penulis menggunakan UML dalam memodelkansistem.
2. Implementasi Program (Coding)
Implementasi program dalam Tugas Akhir ini penulis
mengimplementasikan desain ke dalam bentuk bahasa pemrograman. Bahasa
pemprograman yang digunakan adalah bahasa pemprograman......
3 Pengujian (Testing)
Pengujian yang dilakukan pada Tugas Akhir ini dilakukan dengan
melakukan pengujian fungsional dan teknis pada aplikasi yang dibangun, apakah
sesuai dengan tujuan dari Tugas Akhir ini. yakni apakah perangkat lunak yang
dibangun berjalan dengan baik dan benar sehingga dapat membantu pengambil
keputusan dalam kelayakan penerimaan Raskin .
4) Pemeliharaan

Tahap akhir dimana suatu aplikasi yang sudah selesai dapat mengalami
perubahan-perubahan atau penambahan sesuai dengan permintaan pengguna.
8.2 Metode Pengumpulan Data
1) Studi Pustaka
Studi Pustaka dilakukan dengan cara mempelajari teori-teori literatur dan bukubuku yang berhubungan dengan aplikasi yang akan dibangun dalam tugas akhir
ini.
2) Studi Lapangan
Studi lapangan dilakukan dengan cara memperhatikan sistem ujian yang berlaku
di sekolah-sekolah.
3) Studi Analisis
Melakukan analisis terhadap masalah yang dikaji, mendefinisikan batasan-batasan
dalam masalah tersebut, serta mencari solusinya.
9
9.1

TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Sistem
Secara sederhana sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan unsur atau
komponen yang terorganisasi, berinteraksi dan saling tergantung satu sam lain. Ada dua
pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendefinisikan sebuah sistem, yaitu :
1. Tinjauan atas dasar fasilitas ( komponen / elemen)
Sistem yaitu kumpulan komponen yang saling berkaitan dan bekerja sama
untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
2. Tinjauan atas dasar aktivitas ( prosedur )
Sistem yaitu suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang berupa
urutan kegiatan yang saling berhubungan dan bekerjasama untuk mencapai tujuan
tertentu.
Urutan kegiatan digunakan untuk mejelaskan apa (what) yang harus dikerjakan,
siapa (who) yang mengerjakan, kapan (when) dikerjakan dan bagaimana (how)
mengerjakannya. (3w 1h) Suatu sistem memiliki beberapa komponen diantaranya :
pekerjaan, aktivitas dan misi. Sistem dibuat untuk mencapai suatu tujuan (goal) atau atau
sasaran (objektives). Tujuan (goal) : meliputi ruang lingkup yang luas. Sasaran
(objektives) : meliputi ruang lingkup yang sempai, jadi lebih dikenai pada sub-sistemnya.
Jadi perbedaan tujuan dan sasaran terletak pada ruang lingkupnya. Model dasar sebuah

sistem : Masuka, proses, keluaran. Namun sistem dapat dikembangkan hingga


menyertakan media penyimpanan, dan sistem juga dapat bersifat terbuka dan tertutup.
Sistem terbuka artinya sistem tersebut dapat menerima berbagai masukan dari lingkungan
sekitarnya. Sistem terbuka, sebaliknya. Selain sistem, ada juga yang disebut dengan subsistem. Mekanisme pemisahan (pengunsuran ) Pengunsuran sistem dan sub-sistem adalah
tindakan untuk menyederhanakan perancangan sistem. Tujuan adanya pengunsuran
sistem atas sub-sistem yaitu untuk mengurangi kerumitan koordinasi dan komunikasi.
9.1.1

SUB SISTEM
Kalau beli sepeda tanpa roda, tidak akan berfungsi artinya sepeda tidak bisa

dikatakan sebuah sistem karena salah satu sub sistem nya tidak ada Sebuah sistem
mahal karena, sebuah sistem merupakan gabungan dari banyak sub sistem. Misalnya
punya jam analog yang ada komponennya rusak. Jadi, sub sistem adalah bagian dari
sistem. Misalnya :
sistem komputer
Sub sistem : perangkat keras (hardware)
Perangkat lunak (software)
Sub-sub sistem hardware : alat masukan, proses, keluaran.
Sub-sub sistem software :
Pengertian sub sistem menurut beberapa ahli :
a. Menurut Norman L. Enger yaitu serangkaian kegiatan yang dapat ditentukan
identitasnya yang berhubungan dalam suatu sistem.
b. Gordon B. Davis yaitu sistem terbagi atas beberapa faktor atau unsur2 ke dalam
9.1.2

beberapa sub-sistem.
KARAKTER SISTEM
Karakteristik atau Ciri-ciri SISTEM yaitu :
a. Komponen sistem (Componens)
Sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi dan
bekerja sama membentuk satu kesatuan.
b. Batasan sistem (Boundary)
Merupakan daerah yang membatasi antara sistem dengan sistem
lainnya atau sistem dengan lingkungan luarnya. Dengan batasan ini, sistem
dipandang sebagai satu kesatuan.
c. Lingkungan luar sistem (Environtment)

Yaitu bentuk apapun yang berada di luar ruang lingkup yang


mempengaruhi operasi sistem. Lingkungan luar dapat menguntungkan dan
dapat juga merugikan. Jika menguntungkan maka lingkungan luar tersebut
harus dijaga, jika merugikan maka lingkungan luar tersebut harus
dikendalikan, karena lingkungan luar yang merugikan dapat mengganggu
kelangsungan hidup sistem.
d. Penghubung sistem (Interface)
Yaitu sebagai media yang menghubungkan sistem dengan sub sistem.
Penghubung ini mwmungkinkan sumber2 daya mengalir dari suatu sub sistem
ke sub sistem lain. Keluaran sub sistem akan menjadi masukan bagi sub
sistem lainnya.
e. Masukan sistem (Input)
Yaitu energi yang dimasukkan ke dalam sistem, yg dapat berupa
pemeliharaan (maintenance input) dan signal (signal input) Contoh : dalam
unit kompute3r, program adalah maintenance input yang digunakan untuk
mengoperasikan komputer dan data adalah signal input yang alan diolah
menjadi informasi.
f. Keluaran sistem (Output)
Yaitu hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi
keluaran yang berguna. Keluaran ini merupakan masukan bagi bagi sub sistem
yang lain. Contoh : sebuah sistem informasi, yang menjadi keluaran adalah
informasi, yang mana informasi ini dapat digunakan sebagai masukan untuk
hal-hal yang merupakan input bagi subsistem lain.
g. Pengolah sistem (Proses)
Yaitu proses yang mengubah masukan menjadi keluaran. Contoh :
Sistem akuntansi, sistem ini mengolah data transaksi menjadi laporan2 yang
dibutuhkan oleh pihak manajemen.
h. Sasaran sistem (Objektive)
Suatu sistem harus mempunyai tujuan dan sasaran, kalau tidak maka
operasi sistem tidak akan ada gunanya. Suatu sistem dikatakan berhasil jika
9.1.3

sudah mengenai tujuan dan sasaran yang telah direncanakan.


KLASIFIKASI SISTEM

Sistem merupakan suatu bentuk integrasi antara satu komponen dengan


komponen lain karena sistem memiliki sasaran yangn berbeda untuk setiap
kasus yang terjadi di dalam sistem tersebut. Oleh karena itu sistem dapat
diklasifikasikan dari beberapa sudut pandangan :
1. sistem abstrak dan sistem fisik
sistem abstrak yaitu sistem yang berupa pemikiran atau ide-ide
yang tidak tampak secara fisik, Contohnya sistem teologia, yaitu satu
sistem yang berupa pemikiran tentanng hubungan antara manusia dengan
Tuhan; Sistem Fisik yaitu sistem yang ada secara fisik, Contohnya sistem
komputer, sistem produksi, sistem penjualan, sistem administrasi
personalia, dsb.
2. Sistem alamiah dan sistem buatan manusia
Sistem alamiah yaitu sistem yang terjadi melalui proses alam, tidak
dibuat oleh manusia, Contohnya sistem pemutaran bumi, terjadinya siang
malam, pergantian musim. Sistem buatan manusia yaitu sistem yang
melibatkan hubungan manusia dengan mesin, yang disebut denga Human
machine System. Contohnya sistem informasi berbasis komputer, karena
menyangkut penggunaan komputer yang berinteraksi dengan manusia.
3. Sistem deterministik dan sistem probabilistik
Sistem deterministik yaitu sistem yang beroperasi dengan tingkah
laku yang dapat diprediksi. Contohnya sistem pemprograman dalam
komputer, karena berdasarkan program2 komputer yang dijalankan.
Sistem probabilistik yaitu sistem yang kondisi masa depannya tidak dapat
diprediksi karena mengandung unsur probabilitas. Contohnya sistem
pemilu, sistem pemerintahan.
4. Sistem terbuka dan sistem tertutup
Sistem terbuka yaitu sistem yang berhubuingan dan dipengaruhi
oleh lingkungan luarnya, yang menerima masukan dan menghasilkan
keluaran untuk sub sistem lainnya. Contohnya sistem perdagangan. Sistem
tertutup yaitu sistem yang tidak berhubungan dan tidak dipengaruhi oleh
lingkungan luarnya. Sistem ini bekerja secara otomatis tanpa ada campur
tangan dari pihak luar Contohnya sistem robotic, sistem arloji, ATM
sistem.
(Sri Hartati, 2010)

9.2

Sistem Pendukung Keputusan


9.2.1 Pengertian
Definisi awalnya adalah suatu sistem yang ditujukan untuk mendukung manajemen
pengambilan keputusan.
Sistem berbasis model yang terdiri dari prosedur-prosedur dalam pemrosesan data dan
pertimbangannya untuk membantu manajer dalam mengambil keputusan. Agar berhasil mencapai
tujuannya maka sistem tersebut harus:
1. sederhana,
2. robust,
3. mudah untuk dikontrol,
4. mudah beradaptasi,
5. lengkap pada hal-hal penting,
6. mudah berkomunikasi dengannya.
Secara implisit juga berarti bahwa sistem ini harus berbasis komputer dan digunakan sebagai
tambahan dari kemampuan penyelesaian masalah dari seseorang.
Dibandingkan dengan EDP, DSS memiliki perbedaan:

Definisi lain DSS adalah


1. sistem tambahan,
2. mampu untuk mendukung analisis datasecara ad hoc dan pemodelan
keputusan,
3. berorientasi pada perencanaan masa depan, dan
4. digunakan pada interval yang tak teratur atau tak terencanakan.
Ada juga definisi yang menyatakan bahwa DSS adalah sistem berbasis
komputer yang
terdiri 3 komponen interaktif:
1. sistem bahasa mekanisme yang menyediakan komunikasidiantara user
dan pelbagai komponen dalam DSS,
2. knowledge system penyimpanan knowledge domain permasalahan yang
ditanamkan dalam DSS, baik sebagai data ataupun prosedur, dan
3. sistem pemrosesan permasalahan link diantara dua komponen,
mengandung satu atau lebih kemampuan memanipulasi masalah yang
dibutuhkan untuk pengambilan keputusan.
(Irfan Subakti, 2002)
9.2.1
Karakteristik dan Kemampuan DSS.
Di bawah ini adalah karakteristik dan kemampuan ideal dari suatu DSS:

Gambar 9. X Karakteristik dan Kemampuan (sumber : Irfan Subakti,


2002)
1. DSS menyediakan dukungan bagi pengambil keputusan utamanya
pada situasi semi terstruktur dan tak terstruktur dengan
memadukan pertimbangan manusia dan informasi terkomputerisasi.
Pelbagai masalah tak dapat diselesaikan (atau tak dapat
diselesaikan secara memuaskan) oleh sistem terkomputerisasi lain,
seperti EDP atau MIS, tidak juga dengan metode atau tool
kuantitatif standar.
2. Dukungan disediakan untuk pelbagai level manajerial yang
berbeda, mulai dari pimpinan puncak sampai manajer lapangan.
3. Dukungan disediakan bagi individu dan juga bagi group. Pelbagai
masalah organisasional melibatkan pengambilan keputusan dari
orang dalam group. Untuk masalah yang strukturnya lebih sedikit
seringkali hanya membutuhkan keterlibatan beberapa individu dari
departemen dan level organisasi yang berbeda.
4. DSS menyediakan dukungan ke pelbagai keputusan yang berurutan
atau saling berkaitan.
5. DSS mendukung pelbagai fase proses pengambilan keputusan:
intelligence, design, choice dan
6. implementation.
7. DSS mendukung pelbagai proses pengambilan keputusan dan style
yang berbeda-beda; ada kesesuaian diantara DSS dan atribut
pengambil keputusan individu (contohnya vocabulary dan style
keputusan).

8. DSS selalu bisa beradaptasi sepanjang masa. Pengambil keputusan


harus reaktif, mampu mengatasi perubahan kondisi secepatnya dan
beradaptasi untuk membuat DSS selalu bias menangani perubahan
ini. DSS adalah fleksibel, sehingga user dapat menambahkan,
menghapus, mengkombinasikan, mengubah, atau mengatur
kembali elemen-elemen dasar (menyediakan respon cepat pada
situasi yang tak diharapkan). Kemampuan ini memberikan analisis
yang tepat waktu dan cepat setiap saat.
9. DSS mudah untuk digunakan. User harus merasa nyaman dengan
sistem ini. User-friendliness, fleksibelitas, dukungan grafis terbaik,
dan antarmuka bahasa yang sesuai dengan bahasa manusia dapat
meningkatkan efektivitas DSS. Kemudahan penggunaan ini
diiimplikasikan pada mode yang interaktif.
10. DSS mencoba untuk meningkatkan efektivitas dari pengambilan
keputusan (akurasi, jangka waktu, kualitas), lebih daripada efisiensi
yang bisa diperoleh (biaya membuat keputusan, termasuk biaya
penggunaan komputer).
11. Pengambil keputusan memiliki kontrol menyeluruh terhadap
semua
langkah
proses
pengambilan
keputusan
dalam
menyelesaikan masalah. DSS secara khusus ditujukan untuk
mendukung dan tak menggantikan pengambil keputusan.
Pengambil keputusan dapat menindaklanjuti rekomendasi komputer
sembarang waktu dalam proses dengan tambahan pendapat pribadi
atau pun tidak. DSS mengarah pada pembelajaran, yaitu mengarah
pada kebutuhan baru dan penyempurnaan sistem, yang mengarah
pada pembelajaran tambahan, dan begitu selanjutnya dalam proses
pengembangan dan peningkatan DSS secara berkelanjutan.
12. User/pengguna harus mampu menyusun sendiri sistem yang
sederhana. Sistem yang lebih besar dapat dibangun dalam
organisasi user tadi dengan melibatkan sedikit saja bantuan dari
spesialis di bidang Information Systems (IS).
13. DSS biasanya mendayagunakan pelbagai model (standar atau
sesuai keinginan user) dalam menganalisis pelbagai keputusan.
Kemampuan pemodelan ini menjadikan percobaan yang dilakukan
dapat dilakukan pada pelbagai konfigurasi yang berbeda. Pelbagai
percobaan tersebut lebih lanjut akan memberikan pandangan dan
pembelajaran baru.
14. DSS dalam tingkat lanjut dilengkapi dengan komponen
knowledge yang bisa memberikan solusi yang efisien dan efektif
dari pelbagai masalah yang pelik.
Keuntungan DSS:
1. Mampu mendukung pencarian solusi dari masalah yang kompleks.
2. Respon cepat pada situasi yang tak diharapkan dalam kondisi yang
berubah-ubah.
3. Mampu untuk menerapkan pelbagai strategi yang berbeda pada
konfigurasi berbeda secara cepat dan tepat.
4. Pandangan dan pembelajaran baru.

5.
6.
7.
8.
9.

Memfasilitasi komunikasi.
Meningkatkan kontrol manajemen dan kinerja.
Menghemat biaya.
Keputusannya lebih tepat.
Meningkatkan efektivitas manajerial, menjadikan manajer dapat bekerja
lebih singkat dan dengan sedikit usaha.
10. Meningkatkan produktivitas analisis.

(Irfan Subakti, 2002)


9.2.2

Komponen DSS.

1. Data Management. Termasuk database, yang mengandung data yang


relevan untuk pelbagai situasi dan diatur oleh software yang disebut Database
Management Systems (DBMS).
2. Model Management. Melibatkan model finansial, statistikal, management
science, atau pelbagai model kuantitatif lainnya, sehingga dapat memberikan
ke sistem suatu kemampuan analitis, dan manajemen software yang
diperlukan.
3. Communication (dialog subsystem). User dapat berkomunikasi dan
memberikan perintah pada DSS melalui subsistem ini. Ini berarti menyediakan
antarmuka.
4. Knowledge Management. Subsistem optional ini dapat mendukung
subsistem lain atau bertindak sebagai komponen yang berdiri sendiri.

(Irfan Subakti, 2002)

Gambar 9. X Komponen DSS (sumber : Irfan Subakti, 2002)


9.3

Fuzzy Multiple Attribute Decision Making(FMADM)

9.4

Model pengembangan waterfall


Waterfall model mengambil kegiatan proses dasar spesifikasi, pengembangan,
validasi, dan evolusi dan mewakili kegiatan tersebut sebagai fase proses terpisah seperti

spesifikasi persyaratan, perancangan perangkat lunak, implementasi, pengujian dan


sebagainya.( Sommerville, 2003).

Gambar model pengembangan waterfall(Somervile,2003)


Model sekuensial waterfall melingkupi aktivitas-aktivitas sebagai berikut :
1. Requirements analysis and definition: Mengumpulkan kebutuhan secara lengkap
kemudian kemudian dianalisis dan didefinisikan kebutuhan yang harus dipenuhi
oleh program yang akan dibangun. Fase ini harus dikerjakan secara lengkap untuk
bisa menghasilkan desain yang lengkap.
2. System and software design: Desain dikerjakan setelah kebutuhan selesai
dikumpulkan secara lengkap.
3. Implementation and unit testing: desain program diterjemahkan ke dalam kodekode dengan menggunakan bahasa pemrograman yang sudah ditentukan. Program
yang dibangun langsung diuji baik secara unit.
4. Integration and system testing: Penyatuan unit-unit program kemudian diuji
secara keseluruhan (system testing).
5. Operation and maintenance: mengoperasikan program dilingkungannya dan
melakukan pemeliharaan, seperti penyesuaian atau perubahan karena adaptasi
dengan situasi sebenarnya.
9.7 Unified Modeling Language
Unified Modeling Language (UML) adalah sebuah bahasa yang telah menjadi
standar dalam industri untuk visualisasi, merancang dan mendokumentasikan sistem
piranti lunak. UML mendefinisikan notasi dan syntax/semantik.Pemodelan visual adalah
proses penggembangan informasi-informasi secara grafis dengan notasi-notasi baku yang
telah disepakati sebelumnya. Notasi- notasi baku sangat penting demi suatu alasan:

komunikasi. Dengan notasi-notasi pemodelan yang bersifat baku, komunikasi yang baik
akan terjalin dengan mudah antar anggota tim pengembang sistem. (Mujilan, 2013)
UML (Unified Modeling Language) dapat digunakan untuk menjelaskan beberapa
hal yang penting dalam sistem. UML menngunakan diagram untuk memvisulisasi sebuah
sistem atau perangkat lunak kepada penggunanya sehingga dapat dimengerti. Namun
Tidak semua diagram UML harus dipakai, dan tidak semua sistem dijelaskan dengan
UML karena terdapat model penjelasan lain, atau dengan kata lain harus dipilih yang
penting dalam penjelasan sistem sesuai kemampuan perancang dan pemahaman penulis
program.

10 PENELITIAN TERKAIT
Berikut ini adalah beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang terkait
dengan penelitian yang akan dilakukan.
1 Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Penerima Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin)
Pada Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus Menggunakan Metode
Analitycal Hierarchy Process oleh Adi Ermawan Jurusan Teknik Informatika Fakultas
Teknik Universitas Muria Kudus Tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk membuat
sebuah sistem pendukung keputusan (SPK) yang memberikan alternatif dalam memberi
bantuan beras untuk keluarga miskin dengan menggunakan metode AHP, Perancangan
sistem menggunakan ERD, perancangan database menggunakan DFD. Sedangkan untuk
bahasa pemrograman peneliti menggunakan Borland Delphi dengan database Access
sebagai media penyimpanan datanya. Hasil dari penelitian ini adalah menghasilkan suatu
alternatif yang membantu mempertimbangkan seorang warga layak atau tidak untuk
menerima bantuan beras miskin (raskin) dengan mengacu pada kriteria-kriteria yang
2

digunakan.
Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Penerima Beras (Raskin) Untuk Masyarakat
Miskin oleh Zahra Sakti Saputro Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas

Dian Nuswantoro Tahun 2013. Pada hasil rancang bangun sistem pendukung keputusan
seleksi penerima Raskin ini yang berbasis komputer dapat digunakan untuk
menyelesaikan permasalahan pengambilan keputusan dalam menyelesaikan masalah
penerima raskin. Metode SAW (Simple Additive Weighting) sesuai untuk diaplikasikan
dalam menentukan penerima Raskin dengan menentukan nilai bobot dari semua kriteria
calon penerima sehingga pihak balai desa dapat mengambil keputusan menentukan yang
3

berhak menerima Raskin tersebut.


Sistem Pendukung Keputusan Seleksi Penerimaan Beasiswa Departemen Agama Di
Pesantren Darularafah Raya Dengan Metode Topsis oleh Mukhlida Fatmi Program Studi
Ekstensi S1 Ilmu Komputer Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara Tahun 2011. Dalam kajian ini telah dibangun sebuah
sistem pendukung keputusan untuk membantu dalam menentukan peserta
yang akan ikut ujian beasiswa dengan metode TOPSIS. Langkah-langkah
TOPSIS yaitu, membangun sebuah matriks keputusan, membuat matriks
keputusan

ternormalisasi,

membuat

matriks

keputusan

ternormalisasi

terbobot, menentukan solusi ideal positif dan negatif, menghitung separasi,


menghitung kedekatan relatif terhadap solusi ideal positif, merangking
alternatif. Hasil akhir berupa pengurutan data peserta ujian beasiswa yang
akan dijadikan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan.

11 ADWAL WAKTU PELAKSANAAN


Jadwal dan waktu pelaksanaan penilitian adalah sebagai berikut:

Bulan
No

Kegiatan

Studi Kepustakaan

Penerimaan Proposal Skripsi

Pengumpulan dan Analisis Data

Pembuatan Sistem/Program

Pengujian Sistem/Program

Penyelesaian Laporan Akhir

Feb.

Mar.

Apr.

Mei.

Jun.

Jul.

2015

2015

2015

2015

2015

2015

12. Daftar Pustaka


Bulog.2012.Sekilas Raskin.bulog.co.id. Tersedia di : http://www.bulog.co.id/sekilas_raskin.php

Hartati, sri.2010. MODUL ANALISIS SISTEM INFORMASI.Baturaja:AKMI Tersedia di


http://blog.akmi-baturaja.ac.id/hartati/wp-content/uploads/2010/09/Modul-AnSi.pdf
Mujilan, agustinus.2013. ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM.madiun Tersedia di :
http://mujilan.files.wordpress.com/2013/06/mujilan-2013-aps-edisi01.pdf
Soomervile, ian.2011.softwere engineering 9th ed.. Addison-Wesley.Boston Tersedia di
http://www.lexnicolaes.nl/sd.pdf
Subakti, Irfan.2012. Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System).Surabaya:Institut
Teknologi Sepuluh Nopember. Tersedia di
http://directory.umm.ac.id/tik/Buku_Panduan_SPK.pdf
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan(tnp2k).Penggunaan Kps Untukprogram
Raskin.tnp2k.go.id. Tersedia di http://www.tnp2k.go.id/id/program/kartu-perlindungansosial/penggunaan-kps-untuk-program-raskin/