Está en la página 1de 76

kanJAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh

memastikan implemetnasi Kurikulum 2013 di tahun ajaran 2014/2015 jalan


terus. Dia menegaskan bahwa banyaknya masalah yang dihadapi saat ini, masih
bisa ditangani dengan baik.

Nuh lantas memetakan dua masalah krusial yang dihadapi selama persiapan
implementasi kurikulum baru itu. Sejatinya kurikulum baru itu diterapkan mulai
14 Juli lalu. Tetapi Kemendikbud mengeluarkan kebijakan bahwa awal tahun
ajaran
baru
efektif
pada
4
Agustus
nanti.
"Masalah utama yang sekarang menyita perhatian publik adalah belum
tuntasnya pelatihan guru," ujarnya kemarin.
Nuh mengatakan memang benar ada sekitar 40 ribu guru belum dilatih. Tapi dia
meminta masyarakat juga memperhatikan, bahwa sudah ada 1,2 juta guru yang
sudah
dilatih
Kemendikbud.
Nuh menuturkan tidak salah jika ada pihak yang menyebut masih ada ribuan
guru belum dilatih. "Tetapi sekali lagi jangan dilupakan, sudah ada 1,2 juta guru
sudah dilatih," paparnya.
Dengan jumlah guru yang sudah dilatih mencapai 1,2 juta orang itu, dia optimis
implementasi kurikulum baru mulai 4 Agustus nanti berjalan lancar.
Dia mengatakan Kemendikbud tetap berkewajiban menuntaskan pelatihan guru
sesuai dengan jumlah sasaran yang ditetapkan. Skenario awal, Kemendikbud
menetapkan guru target sasaran pelatihan kurikulum sebanyak 1,3 juta guru.
Dimana 100 ribu guru diantaranya, diharpakan dilatih sendiri oleh pemerintah
kabupaten atau kota.
Nuh juga merespon jajaran Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia
(PGRI) yang terus mengkritik implementasi kurikulum baru.
"Seharusnya PGRI itu berterima kasih kepada Kemendikbud," paparnya. Sebab
Kemendikbud sudah membantu peran PGRI untuk meningkatkan kualitas guru
melalui pelatihan.
Masalah krusial berikutnya adalah urusan pengadaan dan pendistribusian buku.
Nuh mengakui bahwa buku-buku kurikulum baru belum terdistribusi ke sejumlah
daerah. Tetapi dia mengatakan Kemendikbud sudah menentukan langkah
antisipasinya.
Menteri asal Surabaya itu mengatakan, Kemendikbud sudah menyebar CD berisi
softcopy buku-buku kurikulum baru dalam format pdf. Jika terjadi kasus

keterlambatan buku , Nuh mengatakan sekolah dipersilahkan menggandakan


sebagian halaman.
Pendistribusian buku kurikulum baru menjelang lebaran ini juga terancam
ketentuan Kementerian Perhubungan. Seperti diketahui, beberapa hari
menjelang lebaran, truk-truk dilarang berkeliaran di jalan raya. Namun Nuh
mengatakan, ia sudah berkoodinasi dengan Kementerian Perhubungan dan Polri
untuk meminta dispensasi.
"Alhamdulillah truk yang memuat buku kurikulum baru diperbolehkan melintas
selama mudik atau lebaran nanti," jelasnya.
Nuh berharap masyarakat membandingkan implementasi Kurikulum 2013 saat
ini dengan penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) beberapa
tahun lalu. Saat penerapan KTSP, pemerintah tidak melakukan pelatihan guru.
Selain itu juga tidak ada penyediaan buku pelajaran murah seperti di Kurikulum
2013.
Sementara itu suara pesimis terhadap implementasi kuriulum di daerah-daerah
masih bermunculan. Diantaranya disampaikan oleh Kepala SMKN 1 Cibinong,
Jawa Barat Zainal Abidin.
Dia menuturkan persiapan guru setelah mengikuti pelatihan ke jam
pembelajaran efektif terlalu mepet. "Padahal banyak dokumen-dokumen
adminsitrasi yang harus dibuat guru dan diseragamkan," ujarnya.
Seperti dokumen rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP) serta panduan
kegiatan belajar siswa lainnya. Zainal mengatakan, memang muncul kesan dari
Kemendikbud yang memaksanakan implementasi kurikulum baru harus jalan
menyeluruh tahun ini. (wan)

Kurikulum 2013 Jalan Terus Meski Sarat Masalah


http://www.jpnn.com/read/2014/07/19/247081/Kurikulum-2013-Jalan-Terus-MeskiSarat-Masalah-

Penerapan Kurikulum 2013 Selalu Menuai Masalah


Rabu, 6 Agustus 2014 20:59 WIB
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Penerapan kurikulum 2013 yang mulai diterapkan
tahun ini, tidak henti-hentinya bermasalah. Selain proses pendistribusian buku

yang belum selesai, para guru juga mengeluhkan penerapan kurikulum baru
tersebut.
Menurut Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumsel, Syarwani
Ahmad menuturkan, para guru tentu mengalami proses penyesuaian dalam
melaksanakan perubahan kurikulum baru saat ini. Meski tidak mengalami
perubahan yang cukup banyak, kurikulum yang baru menuntut para guru untuk
lebih aktif dalam belajar. Pada kurikulum yang baru ini,guru diminta untuk bisa
mengarah kepada penerapan mata sajian pelajaran dengan secara langsung
dengan lingkungan didiknya.
Sementara itu proses pelatihan yang dilakukan atas kurikulum yang baru ini,
sangat singkat dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Waktu belajar sudah harus
dilaksanakan, sementara gurunya belum siap. Proses pelatihan dilakukan secara
singkat dan tidak mendasar. Akibatnya guru kebingungan. Karena itu, guru
dibidik harus aktif, ungkapnya saat dibincangi Sripo, Rabu (6/8).
Pakar pendidikan Sumsel ini juga menyayangkan, penerapan sistem kurikulum
baru tahun ini tidak disertai dengan kematangan, baik dari pemerintah pusat,
pemerintah daerah dan pihak sekolah. Misalnya di Sumsel ini, kondisi setiap
sekolah pasti berbeda. Baik itu di perkotaan dan pedesaan, sehingga dibutuhkan
perlakukan atas pendistribusian buku dan pelatihan guru yang juga berbeda
perlakuan.
Proses tersentral ini, membuat menjadi tidak efektif untuk mewujudkan
pendidikan yang mudah diakses oleh masyarakat umum. Buku saja dicetak
terpusat, padahal di Palembang juga banyak percetakkan yang sama
bagusnya,ungkapnya.
Bahkan, lanjutnya, pemerintah daerah juga bisa mendesak pemerintah pusat
untuk meminta proses percetakan dan pendistribusian buku secara mandiri.
Karena, jika masih mengandalkan proses pendistribusian buku yang
tersentralkan, maka permasalahan keterlambatan, dan kekurangan buku akan
kerap dialami oleh sekolah di daerah.
Bayangkan,sekolah-sekolah yang jauh di Sumsel. Saat buku terlambat, guru
harus mengajarkan dengan file software. Apakah seluruh sekolah,saat ini
memiliki hal tersebut. Karena itu, Pemda Sumsel bisa meminta agar buku
didistribusikan mandiri,kata dia.
Rektor Universitas PGRI Palembang ini menambahkan, permasalahan penerapan
kurikulum baru yang masih bermasalah merupakan cerminan dari kondisi
pendidikan di Indonesia yang mengalami kemunduruan. Berdasarkan data PGRI
Pusat, kualitas pendidikan di Indonesia secara internasional menduduki urutan ke
40. Hal ini, menunjukkan belum ada sinkronisasi program hingga memudahkan
guru dan pelajar untuk mengeyam pendidikan di Indonesia,termasuk Sumsel.
Jika terpusat seperti ini terus, artinya pendidikan kita tidak maju-maju.
Pendidikan inikan butuh terobosan, bukan kemunduran, tandas dia.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan Widodo, mengatakan penerapan


kurikulum baru untuk di Sumsel, tentu masih mengalami kendala. Banyak
sekolah yang belum mendapatkan buku kurikulum baru, namun dinas pendidikan
sudah mempersiapkan softcopy materi kurikulum yang dapat digandakan dan
dipergunakan sementara waktu sebelum buku yang dipesan tiba di Sekolah.
Namun memang tidak semua sekolah di Sumsel memiliki sarana dan prasarana
yang sama saat mengaplikasikan buku dalam bentuk software (unduhan).
Coba terus diantisipasi, materinya bisa dicopi, tapi tidak semua sekolah bisa
menggunakan buku unduhan. Kita berharap, buku-buku yang dipesan segera
tiba dan pihak sekolah tidak diperkenankan memungut biaya penggandaan buku
dari masyarakat yakni orang tua siswa. Kondisi ini juga yang mengharuskan guru
aktif mengembangkan implementasi dengan kondisi yang dihadapi, terangnya.

Teacher, Motivator, Trainer, Writer, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara


Seminar, dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta selengkapnya

TERVERIFIKASI

GURU PALING NGEBLOG 2012


Jadikan Teman | Kirim Pesan
0inShare
Sejumlah Masalah Dalam Kurikulum 2013
REP | 08 April 2013 | 11:30

Dibaca: 8192

Komentar: 3

Begitu banyaknya orang yang bertanya tentang kurikulum baru dan ketidak
sempurnaanya untuk diterapkan di bulan Juli 2013, membuat saya harus
menuliskan informasinya secara lengkap dan apa adanya. Berikut ini saya
sampaikan pemaparan para pembicara seminar nasional Kesiapan Guru dalam

Menghadapi Kurikulum Baru dan Problematika yang Dihadapinya yang


diketikkan secara cepat oleh mbak Dhita Putisari (Direktur Program IGI Pusat).
Kegiatan seminar nasional ini sendiri dilaksanakan di perpustakaan UNJ
Rawamangun Jakarta Timur, Minggu, 7 April 2013.
Cerita liputannya ada di http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/08/kurikulum2013-benar-benar-ditelanjangi-di-kampus-unj-oleh-praktisi-pendidikan549231.html
Sejumlah Masalah dalam Kurikulum 2013
Hartini Nara, M.Si.
Inti pendidikan adalah guru. Guru adalah pemain inti. Masalah kurikulum, tidak
meniscayakan bahwa kurikulum tidak harus berubah sama sekali, tidak.
Kurikulum harus menjawab tantangan zaman. Iya. Tapi bukan berarti hari ini
dikonsep, hari ini harus jalan. 2012 uji publik hanya dari PPT. Buku belum siap,
kesiapan guru di lapangan belum siap.
Permasalahan mendasar Kurikulum 2013
1.

Tidak melalui riset dan evaluasi yang mendalam

2.

Menitikberatkan siswa

3.

Ketidaksiapan guru karena terkesan mendadak

4.

Tematik lebih cocok di kelas dasar

5.

Tidak memperhatikan konteks sosiologis keIndonesiaan

Untuk mencoba menerapkan model pembelajaran yang sederhana saja,


prosesnya panjang, dicoba di kelas kecil dulu, Kurikulum 2013 menyederhanakan
persoalan. Evaluasi juga tidak terdengar dengung yang resmi. TIMSS, PISA nilai
kita rendah. Kalau hasil dari pendidikan saat TIMSS, PISA rendah apa kita tidak
melihat pelaksanaannya di lapangan. Kurikulum kita seperti apa dan budaya
belajar di kita belum bisa menandingi budaya belajar, membaca, kesungguhsungguhan dalam mencari ilmu pengetahuan. Kalau acuannya jepang seperti di
PPT. Amerika, korea selatan menambah jam pelajaran. Korea sudah tumbuh
sejak kecil membacanya, Jam pelajaran ditambah sampai 36 jam di SD.
Perubahan belajar bukan membuat pembelajaran yang lebih menyenangkan.
Perpustakaan sekolah buku yang sudah lawas. Bagaimana mau punya budaya
baca, sedangkan sumber bacaannya masih terbatas. Struktur kurikulum, jumlah
jam yang teralu banyak bukan pemecahan masalah. Bosan dengan sekolah,
Harus belajar terus. Kesukaan terhadap belajar akan menurun. Kalau
menghadapi guru yang frustasi, harus mengajarkan banyak hal sekaligus.
.
Jimmy ph. Paat

Sekolah Tanpa Batas & Koalisi Pendidikan


Selamat siang teman-teman. Saya mungkin memulai paparan saya dengan
pernyataan saya menolak Kurikulum 2013. Sejak akhir 2012 ketika perancangan
kurikulum ini dilemparkan oleh Kemendikbud, perdebatan selalu muncul, formal,
informal, tulisan kritis di Kompas, Media Indonesia, dan media elektronik muncul.
Tentu saja banyak yang menulis dan dianggapi juga oleh kementerian oleh Pak
Mohammad Nuh menanggapi Abduzein, Pak .,bu Elin,Acep, pak.. dari setiya
wacana. Tanggapan saya kutip dikatakan baiknya memahami dulu kompetensi
dalam kurikulum sebelum mengkritik. Dia menunjukkan bahwa penkritik tidak
paham kurikulum 2013. Bambang Kaswanti, linguist terkenal dari Indonesia kalau
dianggap oleh menteri tidak paham, maaf saya harus katakan menteri kita lebay.
Ketika saya diundang panitia untuk membahas ini jangan-jangan saya dianggap
yang tidak paham. Terserah, tidak apa-apa. Untuk menghindari kelihatan tidak
paham saya hanya akan membahas dari naskah akademiknya saja yang
diperoleh Bu Retno dari Fraksi Golkar.
199 halaman terdiri dari dua kata penghantar Chaitril anwar,
Dari jadi daftar pustaka 17 buku yang menggunakan kata kurikulum (kurang
setengah). Dari 187 buku hanya 4 buku saja yang tahun 2000-an. Saya
melakukan ini seakan memeriksa skripsi mahasisw. Selebihnya tahun 90-an dan
80-an. Saya tidak punya bukunya, hanya menerka dari judul. Mana buku yang
pakai teori kurikulum. Ada tener, dan itu memang dibaca oleh semua orang yang
belajar pendidikan, Schubert juga semua orang baca. Tidak ada yang aneh. Saya
lohat di bab ini di bagian filosofi ada penjelasan tentang 4 filosofi ada tidak buku
yang langsung ebrjudul itu. Dengan kata lain teori itu digunakan dari buku lain,
tapi bukan dari buku dengan tema itu. Itu gabaran dari raut wajahnya.
Tulang dan daging naskah akademik. Saya mengulang apa yang dilaukan tanggal
5 Pak Doni Koesoema. Saya sepakat dengan dia bahwa landasan filosofis
kurikulum 2013 terdiri dari eksperentialisme,. dan perenalisme. Oleh Pak Doni,
ini filsafat eklektisme, jelas di halaman 47 - 48 disebutkan mengacu kepada
(Ramon) mereka menggunakan kurikulum baru bersifat eklectic. Itu banyak
kelemahannya. Banci, atau gado-gado yang sebenarnya banyak kurangnya.
Kenaa hanya filsafat ini yang diambil. Mengapa tidak ada rekonseptualis. Ini
gado-gado yang biasanya pakai tahu, ini tidak pakai tahu. Saya suka bayem
tidak ada bayemnya. Gado-gado yang kurang tapi dikasih mahal 2, 49 triliun.
Kalau pedagang, tidak punya etika. Itu bukan pedaagang lagi, penjahat. Dari sisi
itu menjadi pertanyaan. Saya melihat di bagain filsafat ini, pad apoin satu di
halaman 344 mereka menyebutkan perlunya kurikulum berakar pada budaya
lokal dan memanggil nama ki hadjar dewantara, Kenapa tidak yang lain. Filsafat
ki hadjar dewantara yang paling pentiing adalah pendidikan yang
memerdekakan, dan itu tidak diambil oleh pembuat naskah kurikulum
mengambil
naskah
akdemik
ini.
Munghkin
sangat
radikl.
Pemilihan landasan filosofis ini bukan masalah ilmiah atau tidak, ini masalah
selera. Kenapa tidak pakai pendidikan yang memerdekakan. Pendidikan yang
melarang adanya perintah, paksaan, itu sama sekali tidak dipakai.

Saya mau melihat sedikit karena saya guru bahasa prancis saya mau melihat
yang agak praktis, misalnya kompetens dasar. Terus terang, Bu retno juga
pernah menulis di facebook kesulitan unuk menurunkan kompetensi dasar ke
yang lebih nyata di dalam kelas. Apa alasannya menyebutkan kompetensi dasar
bahasa dan sastra prancis. Apa iya? Saya menghitung dari kelas 1 - 3 ada
hanya 1 semester. Mana mungkin belajar sastra. Saya bandingkan dengan
brnegara
alain.
Saya kembali ke kompetensi dasar. Menampilkan, mencerminkan, menerapkan.
Saya bukan guru yang terlalu baik, tapi lumayan 30 tahun mengajar bahasa
prancis. Saya tidak mengerti menamilkan prilaku jujur, bertanggung jawb, apa
yang harus diajarkan. Ini guru bahasa asing atau tidak:?
Saya melompat ke 41 dan 42, mengolah informasi lisan berbentuk paparan.
Lebay banget, berlebihan kalau say mengajar kata kerjanya memperkenalkan
diri.
Tidak
kompetensi
tapi
objective.
Keterampilan,
komunikatif.
Memperkenalkan
diri
dan
memperkenalkan
atau
menyebutkan/
menginformasikan sesuatu. Ini berlebihan dan pasti membingungkan para guru.
Itu
juga
beralaskan
pemerintah
membuatkannya.
Bambang Akswanti di Kompas, mengatakan mengajar bahasa Indonesia kembali
ke masa lampau. Dia menggunakan metafor yang bagus. Yaitu kalau gunung es
di laut, di ujungnya. Mengajar bahasa Indonesia dengan menjelaskan. Kalau
mengajar bahasa harusnya gunung yang tidak terlihat. Memahami ujaran. Siswa
nanti diajarkan dan diterangkan karakteristik bunyi. Itu layaknya saya mengajar
fenotik dan phionomologi, itu tidak ada gunanya kalau diajarkan di sekolah.
Mengajarkan bahasa bukan untuk menggunakan bahasa.
contoh di Inggris. Di inggris jugua sedang membuat kurikulum baru, mereka
sudah mensosialisasikan itu di internet tahun 2011 dan saya yang orang asing
bisa membaca itu . beda kan? Sederhana saja.
Murid seharusnya diajarkan mendengar, sesederhana itu. Lihat lengkapnya di
makalah beliau di sini.
Mati lampu, kegiatan seminar dihentikan sementara.
Ihsan
:
menarik sekali apa yang ditanggapi bu hartini dan Pak jimmy. Saya akan
memberikan kesempatan kepada Bu Dian untuk menuntaskan 10 menit yang
tersisa. Tadi dikatakan ini kurikulum akademik tapi tidak berdasarkan riset. Kita
ingin tahu kenapa KTSP dikatakan gagal, penyebabnya apa? Kalau tidak
terungkap
nanti
akan
terulang
sama.
Dian
:
Maaf, saya bukan guru kalau saya bicara tidak bisa kencang. Saya sengaja
menyisakan 10 menit untuk seperti ini ada beberapa hal yang ingin saya
tanggapi. Ini kita dialog dan di pemerintah juga tidak bisa keras kepala. Untuk
memperbaiki pelaksanaan kenapa tidak. Kita harus mendengar masukan apalagi
bapak ibu merupakan pelaksana di lapangan. Ada prinsip yang memang tidak
sampai, jangan sampai gelombang penolakan menjadi kencang karena
pemahaman. Kita ingin kita punya warna yang sama.

Di kurikulum 2013 tidak semua tematik. SMP, SMA, tidak tematik tapi
pendekatannya bahwa anak-anak itu bagaimana bsa mendengar, menelaah.
Memang pendekatan dalam proses pembelajaran bagaimana kita bsia
melakukan pendekatan saintific approach. Bagaimana ditingkatkan kreativitas
anak-anak nanti. Berdasarkan penelitian dari buku kurikulum tadi krieativitas
anak didapatkan 23 5 dari pelaksanaan pendidikan selain intelegensia.
Bagaimana meningkatkan kreatifitas anak berdasarkan saintific approach. Materi
SD berat di 2013 memang melalui proses evaluasi. Kita evaluasi dari buku yang
ada. Di SD sudah ditanyakan tentang struktur pemerintahan. Kita tidak mentahmentah mengambil dari PISA dan TIMSS.
Pertanyaan
dari
Ibu
guru
SMPN
30
Jakarta:
Saya guru di SMP negeri 30 Jakarta. Kurikulum 2013 masih sangat samar, karena
itu saya memaksakan diri ke sini. Ada penjelasan tapi masih perlu saya
pertanyakan. Guru SMP untuk kurikulum 2013 adalah 20 % se-Indonesia di bulan
Juli. Sebagian kecil sekolah sudah akan melaksanakan kurikulum baru. Sekolah
saya jadi barometer di Jakarta. Wakil kepala sekolah saja tidak tahu. 2013
dilaksanakan tapi Juli baru disosialisasikan jadi rasanya saya baru mulai paham
kenapa teman-teman menolok. Barangkali kita perlu waktu untuk lebih
bijaksana. Suami saya tim pengembang kurikulum. Kok guru TIK hilang. Ada
alternatif satu ada alternatif 2 belum jelas yang mana. Boleh tidak dalam RPP,
katanya mau disiapkan kemendikbud. Boleh tidak guru mengembangkan atau
mengubah sesuai kondisi sekolah?
Pertanyaan Pak Hotben :
Saya hotben situmorang mahasiswa di UNJ. Saya tanya bu hartini yang
menyatakan persoalan 36 jam bukan hal yang aneh. Justru semakin sulit
menempatkan anak ditambah jam padahal jumlah pelajaran semakin sedikit.
Karena jumlah pelajaran sedikit alokasi guru untuk berinovasi lebih realistis apa
yang disampaikan diknas. Ibu dari teknologi pendidikan. Bukankah teknologi
pendidikan yang memilkirkan ini. Agar bisa mendalam perlu alokasi waktu yang
banyak?
Pertanyaan
Bapak
guru
dari
sukabumi
:
Beberapa hari yang lalu di Media waktu belajar di Indonesia banyak. Korea dan
Amerika libur 3 bulan, dibandingkan indonesiaa masa belajarnya cukup banyak
malah kelamaan, tapi ketika baca yang diuji publik kok malah jadi kurang waktu
belajar indonesia sehingga harus ditambah?
Pertanyaan Rismayanti Mahasiswa PGSD 2010 UNJ
Saya sebagai calon guru belum pernah terjun langsung di sekolah. Insya allah
tahun 2014 dan akan terjun langsung mengajar tidak adil kalau pelatihan hanya
unuk guru dan bukan calon guru.
Jawaba ibu Dian dari Kemdikbud :
Saya ingin menanggapi, pelatihan tidak hanya di bulan Juli. Kita akan melakukan
di bulan Mei dan Juli.

Pernyataan M. Ihsan Sekjen IGI :


3 minggu lalu bedah kurikulum di surabaya. Saya membuka dengan
pertanyaan.Apakah harus dterapkan 2013? Jawabannya harus sekarang kalau
tidak, tidak sempat 2014, kita sibuk politik. Faktanya kami membuat ini harus
diterapkan 2013.
Yang saya ngeri kegagalan di KTSP ketika guru tidak dipersiapkan terulang lagi di
2013. Kalau menambah jam pelajaran karena materi TIMSS dan PISA tidak
jamnya. Kegagalan matematika karena kita terlalu banyak menggunakan
simbol. Dikatakan di indonesia singapore 112 jam per tahun, malaysia 120 per
tahun. Indonesia lebih tinggi. Kalau jam dtambah ngajarnya masih
membosankan. Masalahnya apa dulu? Politik atau akademis? Kalau akademis
kita berdebat di sini..
Ini persoalan politik atau akademik? Tadi ada kenapa kurikulum harus berubah?
Filosofinya jelas. Saya juga tidak setuju kalau dikaitkan politik. Tuntutan zaman.
Tidak 100 % guru akan melaksanakan kurikulum 2013. Karena kita ingin melihat
dulu.
Sesi 2
Itje Chodidah, Retno Listyarti, Laudi M. Nuh (0811280371963, 081594966,
@aludeimat )
Moderator
:
Assalamualaikum. Ada hukum namanya kasualitas (sebab akibat). Ketika kita
memberi sedikit akan mendapat sedikit. Ketika kita memberi banyak akan
mendapat banyak. Bagaimana kabarnya hari ini. Allah masih memberi
kenikmatan untuk menuntut suatu ilmu. Untuk menyiapkan diri kita terhadap
perubahan kurikulum 2013. Di ses kedua ini saya sangat berterima kasih kepada
panitia yang sudah memberi saya kesempatan untuk memoderatori orang hebat.
Pakar dalam kurikulum dan dunia pendidikan. Saya pengamat pendidikan yang
masih
baru.
Laude :
Staf ahli komisi X DPR RI.
Itje Chodidjah (tep, fb, twitter )
Itje :saya di kelas lebih dari 3 dekade. Saya sudah di kelas dari usia balita sampai
mengajr di paska sarjana. Hidup saya hanya rumah, dapur, tempat cucian dan
kelas. Kelasnya bisa di mana saja. Saya akan mulai dengan puisi. Kit perlu
mengucapkan terima kasih kepada Bu Dian. Selama ini sosialisasi kurikulum
selalu dibawakan oleh menteri, wamen, dan eselon dua dan setelah pemaparan
boleh langsung pulang. Ibu dian ebrsedia tinggal dan acara ini disponsori oleh
BEM.
Selama keluarnya kebijakan tentang puisi sepember okober novermber
Kami dengar ia akan hadir

Ia akan membawa banyak martir


Yang siap akan memborardir
Segala macam kendala yang akan hadir

Tujuan mengkritis secar analits bukan karena ingin ebrseberangan dengan


pemerintah karena ingi di ujung usia saya memberikan dampak pendidikan.
Kenapa saya katakan dmeikian. Apa dunianya punya pengalaman pendidikan
begitu lamanya ketika di ujung usia saya tidak berguna. Di mana kebenaran
perlunya perubahan kurikulum ini? Semua orang telah membahas yang filosofis.
Saya akan melihat kelas di mana ada guru siswa, dan bahan ajar dan ngapain
kita mengajar. Apa gunanya menghabiskan waktu di dalam kelas ketika kita
hanya mengikuti halaman 1 sampai terakhir. Apa dampaknya kepada anak-anak?
Minggu ini, Selasa rabu dan Kamis saya minta anak saya HRD untuk merekam
wawanccara dia dengan lulusan SMA dan SMk yang hanya akan bekerja sebagai
pramuniaga tapi bekerja di tempat yang punya ketangkasan akrena perusahaan
tersebut franchasing, 100 anak mengukuti rekruitment terpilih 6. Dari 100 hanya
6 orang. Setelah 6 orang masih dipilih karena yang punya kemauan melayani
orang dalam bahasa inggris dapat dua. Dua dari 100 da ketika saya diceritakan
dengar rekamannya tidak tahan air mata saya. Ketika kit menyebutkan diri kita
pendidik kita adalah profesi tertinggi di bumi. Tanpa diakui atau tidak kita
berkata Tuhan ini aku di sini untuk membantumu. Bertugas memperbaiki kuatas
manusia dari akhlaknya, benar tapi tidak cukup itu saja. Karena butuh
kemampuan dunia untuk melaksanakan akhlak karimah tadi. Ketika kurikulum
2013 diperkenalkan dengan memborbardir kita semua tanpa dokumen yang bisa
diakses siapapun, sangat miris, mengeccilkan hati saya tapi menguatkan
semangat saya sehingga masyarakat tahu apa yang terjadi sekaang.
Modern, demokrasi, sistem kita feodal, begitu sampai struktur yang terjadi
loyalitas buta. Contihnya untuk tidak menyetujui kurikulu tadi. Forum ini lebih
kayak daripada 100 orang diberi diberi preentasi power pont. Saya tahu d i
ruangan ini orang yang benar-benar ingin mengabdikan diri untuk pendidikan
bukan hanya imej agar kelihatan bagus.
KI memang selayaknya ditujukan guru. Mengacu pad akejujruan spo[pan santun,
attitude dan tidak ada pelajarannya seperti ibu hartini tadi. Santun gurunya
ngapain> guru adalah ujung tombak. I am for you because I am you. Saya juga
pendidik maka saya tidak patut menyalah-nyalahkan. Bagaimana bekerja sama
memperbaiki ini semua. Bu Itje jangan nyalahin guru kalau masyarakat rusak.
Salahin orang tua. Sebab itu ortu mebayar sekolah pemerintahd dituntut,
pendidikan adakah
Tiap kurikulum ada konsep. Kalau mau ambil filsafat eklektik guru besar mana
yang menyetui . sudah ada yang mendeskripsikan dalam penelitian bahw filsafat
eklektif bisa digunakan dalam

Apa iya abad 2001 kurikulumnya. Kompetensi guru menunjukkan kualitas yang
relatif harus ditingkatkan. Daro 100 ketemu 2 artinya anak-anak belum
memperoleh hak pendidikannya secara baik untuk memenuhi kehidupan dalam
masyarakat. Bagaimana hanya untuk nilai rapor dan UN. Nanti kan peninaiannya
hanya UN. Hanya dibayar soal PG. Itu tidak adil tapi banyak yang menutup mata
bagaimana mengukur standar nasional. Ukur standar nasional kepsek dan
pengawas baru anak-anak. Kur diulu standar tupoksi kepala sekolah dan
pengawas, sudahkah mereka tahu apa yang dikerjakan. Kenapa anak-anak yang
dikejar-kejar. Kita bertujuan jangan sampai anak-anak jadi budak abad 21.
Karena abad 21 memang licin sekali. Negara yang lebih siap akan punya tempat
untuk menampung orang sekadar teknis. Jangan sampai kurikulum jadi obrolan
seperti ini untuk anak-anak. I think we are being educated for failure. Kita belajar
matematika kalau kalkulator rusak. Belajar membaca kalau TV rusak. Mengeja
kalau-kalau spelling checker di komputer tidak jalan lagi. Jangan hanya belajar
sampai bayas itu saja. 4 hal yang jadi perlu.
4 hal yang perlu jadi pemikiran guru dan pemangku kepentingan :
menyiapkan anak didik untuk kreatif, inovatif, dan
Kompetisi ada yang kalah. Saya lebih suka berpartisipasi. Jangan dalam
pendidikan menggunakan kompetisi.
Kalau memang sudah tabrak-tabrak, kudu pokoknya jalan.
Kesadaran aan pentingnya memahami secara tuntas konsep yang mendasari
dikembangkannya kurikulum 2013, serta berbagai kekurangannya. Mari berhenti
menjadi loyalitas buta yang nantinya anak kit buta.
Pemahaman tentang aspek yang akan berpotensi menimbulkan keraguan,
kebingungan atau bahkan kesalatan dalam proses belajar.
Pencarian alternatif-alternatif agar anak didik tidak terkena dampak dari
kebingungan, keragguan, atau bahkan kesalahpahaman guru dan pemangku
kepentingan lainnya.
Pemahaman akan kebutuhan anak didik untuk hidup di abad 21 yang menuntut
penjelasan-penjelasan yang sementara beredar telah dicakup dalam dokumen
Selama ini hampir semua guru yang saya temui ketika masuk kelas lebih
mengutamakan membawa buku tekst dan bukan membawa kurikulum, silabus,
atau bahkan RPP
RPP adalah alat untuk akreditasi.
Padahal seharusnya proses pembelajaran bertumpu pada tujuan pembelajaran
secata umum.
Banyak yang sudah kita tabrak dalam aturan mengajar. Ke kelas bawa teks book
bukan mendidik. Kalaau mengajar 7 80 90 menit yang saya capai apa. Di seluruh
dunia. Itu materi ajar adalah alat. The magic with kurikulum 2013 is pemerintah

langsung menterjemahkan dalam 1 jenis materi. 1 for alla all 4 one. Bagaimana
kalau buku diterbitkan dengan satu jenis. As if sekoalh swasta modern di jakarta
dan sekolah satu atap di kaur bengkulu sama.

Anda juga sama dnegan saya punya pengalaman di kelas. Punya mnurani
mendidik yangs ama. Apakah materi ajar yang dibuat oleh pengemabng yang
belum tentu memahami konteks sekolah di berbagai daerah.a da yang papan
tulisnya bolong, pakai smart board, yang papan tulis sudah terhubung dengan
internet, ada yang bangkunya bertiga dan empat dan sendiri-sendir. Bagaimana
pengembang membayangkan kelas itu sehingga berani. Kenapa bukan guru
yang dimampukan melakukan proses kolaboratif,
RENDAHNA MUTU GURU INDONESIA
Bagaomana mungkin yang mendampingi kepala sekolah dna pengawas yang
nilainya lebih rendah dari irta. Apakah kurikulum merupakan sumber
permasalahan sampai harus terus diganti. Kita ganti 4 kali dari 2010
Menunjukkan bahwa kualitas pendidikan terus menurun. Kurikulum bukan
jawaban. Penyakitnya di mana? Kita salah obat. Benahi dulu guru dan LPTK di
Indonesia. Keberatan FSGI di awal, prosesnya sudah berkeberatan, tidak
didahului kajian yang medalam, guru tidak siap mengimplementasikan. 6 % guru
SD tidak pernah mendapat pelatihan menjelang pensiun. 1980 4 x ganti presiden
baru pelatihan satu kali. Guru haya dijadikan operator bukan creator Guru akan
terPHK ratusan ribu. Kata pak wamen 27 maret, mereka menempatkan diri.
Yangg menolak tidak tahu apa-apa. Kami juga menganggap bapak tidak tahu
apa-apa tentang kami pikrikan. Tidak berani. Sudah habis perdebatan, kurikulum
2013 dianggap halal. PHK kalauPNS tinggal ganti pelajaran saja.
Dokumen buruk tap harganya selangit. Guru indonesia rendah bukan salah
guru tapi sistem. Kalau seidikit 1 0 orang yang salah guruny tapi kalau semua
dipengaruhi sistem.

Pengawas kepala skeolah yang tidak suka mengajar. Kayak begitu mau
mendampingi kita? Ketika kurikulum diterapkan dampaknya banyak guru yang
menganggur. Kebijakan menghapus matapelaajaran di beberapa jenjang, guru
kehilangan pekerjaan.
TIK rata-rata setiap sekolah guru TIK 2 belm swasta ini masih negeri bagaimana
dnegan 33 provinsi. Nant milih mata pelajaran lain yang dia minati.
Ekonomi diganti kewirausahaan kacau. Mata pelajaran yang dikurangi jamnya
bahasa inggis 180 menit menjadi 90 menit. Guru yang lain ke mana?
Peningkatan kualitas, guru kreatif tapi semuanya dibuatin. Kalau gurunya gak
bisa bikin silabus yah diajarkan .
Laude :

Salam cinta untuk bapak ibu seua. Sungguh luar biasa saya diberi kesempatan
untuk bapak ibu semua. Dan profesor kita yang menjadi pendidik 30 tahun. Saya
juga 30 tahun tapi sebagai siswa. Jadi, mungkin ini kesempatan kita sudah
mendengarkan paparan. Yan terakhir cukup melengkapi atau mentup.
Sedikit saya dikenalkan sebagai seorang tenaga staf ahli di komisi X untuk
anggota DR RI. Pada prinsipnya saya adalah guru karena belum yakin apa yang
saya jalankan selama ini pendidika atau guru.
slide sudah dikirim ke panitia tapi tidak bisa dibuka. Saya akan menyampaikan
hal pokok. Kalau melihat dari dinamika yang terjadi, sejak awal disampaikan oleh
pemerintah abhwa kemendikbud menganggap kurikulum ada beberap hal pokok
menjadi acuan. Dari berbagai survei lembaga intwrnasional. Kalau dinilai dari
math science sangat terbelakang. Pemerintah mengembangkan kurikulum untuk
menyesuaikan dengan kondisi terkini. Ternyata kenginan baik pemerintah
memang tidak cukup sebatas pemaparan ataupun sosialisasi kalau didengarkan
kita bisa pulang steelah mendengarkan tapi kondisi kita yang menghadapi itu di
apangan akan sangat berat. Satu hal untuk kita, seharusnya ada dan tidaknya
kurikulum berubah atau tiak, pendidik harus tetap berubah. Memperbaiki
kompetensi dan wawasan keilmuan. Kurikulum bukan momok yangv
menakutkan. Apakah kurikulum berubah juga kita berhenti mengajar? Kita tetap
akan mengajar. Sejak awal say diceritakan oleg guru saya ada patron dalam
pendidikan.s eharusnya endidikan mampu menghasilkan anak didik yang
berkualitas. Cara meminum kopi seharusnya sesuai SOP kopi dulu makan, gula,
air baru minum.
Ada manualnya. Kalau mau minum kopi harus meyeduh dulu. Manual handbook
tidka jamian seseorang bisa melaksanakan itu sesuai apa yang diharapkan.
Tujuan pendidikan untuk seluruh stakeholder pendidikan.
Sampai di sini dulu liputannya, nanti kita akan uploadkan videonya ke youtube.
Kalau ingin file pemaparan para nara sumber bisa kirimkan email
kewijayalabs@gmail.com. Nanti akan saya kirimkan ke email anda. Beberapa file
sudah saya upload juga di blog saya di http://wijayalabs.com.
http://edukasi.kompasiana.com/2013/04/08/sejumlah-masalah-dalam-kurikulum2013-549347.html
Problematika Implementasi Kurikulum 2013
Rabu, 10 Juli 2013 | 11:27 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Tulisan di bawah ini merupakan hasil refleksi dari lapangan
setelah bertemu dengan banyak guru dalam rangka sosialisasi Kurikulum 2013.
Sosialisasi itu sendiri bukan dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, melainkan oleh yayasan sekolah swasta atau kampus perguruan
tinggi. Mereka penasaran ingin mengetahuigrand design (desain induk)
Kurikulum 2013, yang selama ini diwacanakan melalui media massa saja.
Ternyata para guru, kepala sekolah, pengurus yayasan, dosen, maupun

mahasiswa banyak yang belum mengetahui desain induk Kurikulum 2013. Ini
artinya masalah sosialisasi itu sendiri minim.

Perubahan kurikulum, di mana pun, sebetulnya hampir sama, selalu


membutuhkan penyesuaian pola pikir para pemangku kepentingan (stake
holder). Demikian pula yang terjadi pada Kurikulum 2013 ini, ia hanya mungkin
sukses bila ada perubahan paradigma atau lebih tepatnya mindsetpara guru
dalam proses pembelajaran. Hal itu mengingat substansi perubahan dari
Kurikulum 2006 (KTSP) ke Kurikulum 2013 ini adalah perubahan proses
pembelajaran, dari pola pembelajaran ala bank, yaitu guru menulis di papan tulis
dan murid mencatat di buku serta guru menerangkan--sedangkan murid
mendengarkan--menjadi proses pembelajaran yang lebih mengedepankan murid
untuk melakukan pengamatan, bertanya, mengeksplorasi, mencoba, dan
mengekspresikannya. Proses pembelajaran yang mendorong siswa untuk aktif
tersebut hanya mungkin terwujud bila mindset guru telah berubah. Mereka tidak
lagi memiliki mindset bahwa mengajar harus di dalam kelas dan menghadap ke
papan tulis. Mengajar bisa dilakukan di perpustakaan, kebun, tanah lapang, atau
juga di sungai. Media pembelajaran pun tidak harus buku, alat peraga, atau
komputer. Tanam-tanaman dan pohon di kebun, sungai, dan sejenisnya juga
dapat menjadi media pembelajaran.

Mengubah mindset guru seperti itu tidak mudah, karena sudah berpuluh tahun
guru mengajar dengan model ala bank. Tidak mudah bila tiba-tiba guru harus
berubah menjadi seorang fasilitator dan motivator. Mengubahmindset guru itulah
pekerjaan rumah tersendiri bagi Kemendikbud dalam mengimplementasikan
Kurikulum 2013. Kegagalan mengubah mindset guru akan menjadi sumber
kegagalan
implementasi
Kurikulum
2013.
Persoalannya
adalah
perubahan mindset guru tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, melainkan
butuh waktu bertahun-tahun, padahal Kurikulum 2013 itu harus dilaksanakan
dalam waktu secepatnya. Komprominya adalah persoalan teknis dilatihkan
dalam waktu satu minggu, tapi perubahanmindset harus dilakukan terusmenerus dengan cara mendorong guru untuk terus belajar.

Problem di lapangan

Implementasi Kurikulum 2013 akan menemui sejumlah masalah di lapangan.


Selain persoalan paradigmatik, seperti mengubah mindset guru tersebut, ada
problem teknis yang berkaitan dengan perubahan struktur kurikulum yang
menyebabkan adanya pelajaran yang hilang maupun bertambahnya jam.
Semuanya itu berimplikasi pada nasib guru.

Pertama, penghapusan mata pelajaran TIK (teknologi informasi dan komputer) di


SMP berimplikasi besar terhadap eksistensi para pengampu bidang TIK yang
latar belakang pendidikannya TIK. Mereka akan disalurkan ke mana? Pengajar TIK
dengan latar belakang IPA, matematika, atau lainnya dapat dengan mudah
disalurkan ke mata pelajaran lain sesuai dengan kompetensinya. Tapi tidak
mudah bagi pengajar bidang TIK yang sudah tersertifikasi. Mungkin mereka
dapat disalurkan untuk mengajar prakarya yang berbasiskan teknologi. Tapi
masalahnya adalah apakah regulasi yang menyangkut sertifikasi mendukung
kebijakan tersebut. Bila tidak, guru pula yang akan menjadi korban. Perebutan
jam mengajar tetap akan terjadi untuk tetap dapat mempertahankan sertifikasi.

Kedua, penjurusan/peminatan di SMA yang dimulai begitu murid masuk di kelas I


menimbulkan persoalan manajerial baru ihwal persyaratan pemilihan
jurusan/minat. Terutama bila para murid baru memilih jurusan/peminatan di
kelompok tertentu, misalnya kelompok matematika dan IPA saja. Para kepala
sekolah/guru di SMA harus cermat sekali dalam menampung minat para calon
murid agar tidak sering terjadi perpindahan jurusan/minat. Hal itu mengingat
murid boleh pindah minat. Tapi seringnya pindah minat murid akan menyulitkan
pengelolaan sekolah.

Masalah pilihan jurusan/minat itu sebaiknya disosialisasi di kelas III SMP agar,
ketika lulus SMP, murid sudah memiliki gambaran mengenai jurusan/minat yang
akan diambil saat masuk SMA. Penulis menggunakan istilah penjurusan di sini,
karena ternyata apa yang disebut peminatan itu sama dengan penjurusan,
hanya ditambah dengan boleh mengambil bidang studi disiplin lain. Misalnya,
kelompok matematika dan IPA boleh mengambil antropologi. Atau, kelompok IPS
boleh mengambil biologi. Tapi setiap murid wajib mengambil semua mata

pelajaran di kelompok peminatan. Ketika perdebatan awal gagasan peminatan


ini muncul, tidaklah demikian. Pada waktu itu, diharapkan murid betul-betul
mengambil materi yang diminati dan sesuai dengan orientasi belajarnya di
perguruan tinggi nantinya.

Ketiga, soal penambahan jam pelajaran di semua jenjang pendidikan juga


inkonsisten antara latar belakang penambahan dan penerjemahannya dalam
struktur kurikulum. Latar belakangnya adalah karena adanya perubahan
pendekatan proses pembelajaran, tapi dalam struktur kurikulum terjadi
penambahan jumlah jam mata pelajaran. Sebagai contoh, pendidikan agama di
SD kelas I-III dari dua menjadi empat jam seminggu, yang diikuti dengan
perumusan kompetensi dasar (KD) yang seimbang dengan jumlah jamnya,
sehingga yang terjadi tetap mengejar materi, bukan proses pembelajarannya
yang dibenahi. Semestinya yang diubah adalah lamanya tatap muka untuk
setiap mata pelajaran, misalnya tatap muka di SD kelas I-III saat ini per jam mata
pelajaran itu selama 35 menit, bisa ditambah menjadi 45 menit. Di SMP-SMTA,
dari 45 menit per jam pelajaran dapat ditambah menjadi 60 menit per jam
pelajaran, sehingga proses pembelajarannya lebih leluasa.

Problem lain yang dimunculkan dari penambahan jam pelajaran per minggu itu
adalah makin menghilangkan otonomi sekolah, karena waktu yang tersedia
untuk mengembangkan kurikulum sendiri makin sempit. Bagi sekolah-sekolah
swasta, kurikulum baru jelas menimbulkan beban baru bagi yayasan, karena
harus memfasilitasi peningkatan kualitas guru lewat pelatihan, pengadaan
perpustakaan yang lengkap, dan pendidikan tambahan agar guru dapat
mengimplementasikan kurikulum baru tersebut secara baik, dengan biaya
ditanggung sendiri oleh pihak yayasan, yang ujungnya dipikul oleh para orang
tua murid.

DARMANINGTYAS, TAMANSISWA JAKARTA


http://www.tempo.co/read/kolom/2013/07/10/762/Problematika-ImplementasiKurikulum-2013
Kurikulum 2013, Keluhan dan Solusinya
Oleh : Eka Sulistyawati (13709251025)

A.

Tuntutan dan Permasalahan yang Terjadi dalam Kurikulum 2013

Baru-baru ini dengan diterapkannya Kurikulum 2013 timbul beberapa pro dan
kontra. Hal ini diakibatkan kebijakan yang pemerintah buat tidak sesuai dengan
harapan dan kondisi nyata yang ada di lapangan. Para guru yang ditunjuk
sebagai pelaksana kurikulum merasa bingung dengan diterapkannya kurikulum
2013 ini. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan kurikulum sebelumnya
yakni kurikulum KTSP dalam pembelajarannya, karena mereka belum begitu
paham dengan kurikulum 2013 yang sebenarnya, padahal beberapa dari mereka
telah dilatih dalam persiapan pelaksanaan Kurikulum 2013. Salah satu
perbedaan antara kurikulum 2013 dengan kurikulum sebelumnya adalah adanya
buku siswa dan buku guru yang telah disediakan oleh pemerintah pusat sebagai
buku wajib sumber belajar di sekolah. Sesuai dengan pendekatan yang
digunakan dalam kurikulum 2013, yakni pendekatan scientific. Pendekatan ini
lebih menekankan pada pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Pendekatan ini
dilaksanakan dengan melibatkan tiga model pembelajaran diantaranya
adalah problem based learning, project based learning, dan discovery learning.
Ketiga model ini akan menunjang how to do yang dielu-elukan dalam kurikulum
2013. Dalam pelaksanaannya pendekatan scientific ini menekankan lima aspek
penting, yaitu mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan komunikasi.
1.

Mengamati

Pada kurikulum 2013 metode ceramah tidak dilupakan, hanya dikurangi


takarannya. Siswa dituntut aktif dalam segala masalah. Proses mengamati dalam
pelajaran Fisika, Biologi, Kimia merupakan suatu proses belajar yang sering
digunakan. Namun bagi mata pelajaran lain, guru dituntut harus paham materi
sebelum menghadirkan siswa ke dunia nyata dengan mengamati sendiri semua
fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan materi pelajarannya.
2.

Menanya

Agar siswa merasa bertanya-tanya (rasa ingin tahu), seorang guru harus
menyediakan pembelajaran yang menimbulkan masalah. Artinya guru harus
mampu menyediakan kegiatan pembelajaran yang menarik yang dapat
menimbulkan rasa ngin tahu siswa.
3.

Mencoba

Dalam pelaksanaan kurikulum 2013, siswa dituntut untuk mencoba sendiri, dan
terlibat langsung dalam masalah yang dihadirkan guru. Dalam pembelajaran
matematika misalnya, siswa diminta mencoba sendiri mencari data untuk
disajikan dalam bentuk diagram, ataupun grafik. Data itu dapat diperoleh melalui
pengukuran langsung, melalui wawancara, dan melalui pengamatan.
4.

Menalar

Siswa dituntut untuk dapat memahami dengan benar pokok materi yang
diajarkan guru. Siswa akan mudah menalar suatu materi ajar apabila pelajaran
yang diajarkan tidak memberatkan mereka.
5.

Komunikasi

Dalam proses mengkomunikasian semua permasalahan, siswa diminta


mempresentasikan hasil kerja mereka. Kelima aspek dalam pelaksanaan
kurikulum 2013 sangat berkaitan satu sama lain. Pada dasarnya, kelima aspek ini
sudah pernah dilakukan oleh sebagian guru. namun pendalamannya dilakukan
kembali di kurikulum 2013 untuk menyegarkan semangat pendidikan Indonesia.
Peran guru sangat penting untuk meningkatkan dan menyesuaikan daya serap
peserta didik dengan ketersediaan kegiatan pada buku siswa dan buku guru.
oleh karena itu guru perlu mencermati buku guru maupun buku siswa yang
disediakan pemerintah ini. Hal ini diperlukan mengingat buku yang disediakan
pemerintah ditujukan untuk keperluan skala nasional. Padahal masing-masing
sekolah memiliki karakteristik siswa masing-masing. Dengan demikian, guru
diharapkan mampu mencermati dan menganalisis buku guru ataupun guru
siswa, agar kekeliruan dan ketidaktepatan buku yang disesuaikan dengan
karakteristik siswa masing-masing sekolah telah diketahui lebih awal.
Dalam pelaksanaannya, dengan diterapkannya kurikulum 2013 ini banyak
ditemui beberapa keluhan guru. Beberapa keluhan guru dapat diketahui melalui
sumber informasi yang dihimpun dalam penjelasan sebagai berikut :
1.
Kesulitan Guru dalam memahami Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi
Dasar (KD).
Kesulitan yang paling banyak dikeluhkan oleh para guru adalah mengenai
pemahaman tentang Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Sekjen
Federasi Serikat Guru Indonesia, Retno Liyarti mengatakan, Mereka masih
bingung bagaimana cara mengajarkannya dan penilaiannya.
Sumber
: http://www.tempo.co/read/news/2013/07/22/079498407/Para-GuruMasih-Bingung-Kurikulum-2013
2.
Guru Merasa Kurang Dilatih untuk Melaksanakan Kurikulum 2013 dalam
Kegiatan Pembelajarannya
Para guru Sekolah Menengah Atas (SMA) merasa kebingungan karena semula
hanya tiga mata pelajaran saja yang menggunakan kurikulum 2013 yaitu
matematika, bahasa Indonesia, dan sejarah namun tiba-tiba kurikulum 2013
diterapkan untuk semua mata pelajaran padahal guru-guru lain selain
matematika, bahasa Indonesia, dan Sejarah belum dilatih bagaimana
menerapkan kurikulum 2013 pada mata pelajaran yang diampunya.
Sumber
: http://www.tempo.co/read/news/2013/07/22/079498407/Para-GuruMasih-Bingung-Kurikulum-2013

3.
Belum Adanya Silabus Final Mengakibatkan Kesulitan dalam Pembuatan
RPP
Selain itu, dokumen silabus final belum diterima oleh para guru, padahal dalam
pembuatan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dasarnya adalah silabus.
Sumber
: http://www.tempo.co/read/news/2013/07/22/079498407/Para-GuruMasih-Bingung-Kurikulum-2013
4.

Keluhan Tentang Keterurutan Materi Pelajaran

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa


Yogyakarta, Baskara Aji mengakui banyak masukan kritis dari guru mengenaik isi
materi buku ajar kurikulum baru. Kata Aji keluhan umum para guru di DIY ialah
mengharapkan ada perbaikan dalam susunan urutan pengajaran materi yang
ada di buku ajar. Banyak yang menilai susunan urutan pengajaran materi tiap
minggunya yang tercantum di buku ajar perlu diperbaiki. Keluhan ini paling
banyak muncul dari para guru SMA dan SMK. Hal ini akan diatasi oleh Disdikpora
DIY dengan mengumpulkan semua perwakilan sekolah yang ditunjuk
melaksanakan kurikulum 2013 untuk mengevaluasi tahap awal peneraan pola
pembelajaran baru dalam sebulan terakhir. Pertemuan ini penting sebab
sebagian sekolah merasa mampu menerapkan kurikulum baru dengan baik,
namun yang lain kesulitan. Sehingga dengan adanya forum ini akan terjalin tukar
menukar pengalaman tentang pelaksanaan kurikulum 2013 di masing-masing
sekolah.
Sumber
: http://www.tempo.co/read/news/2013/07/28/079500368/Guru-MintaBuku-Ajar-Kurikulum-2013-Diperbaiki

B.
Solusi Penyelesaian
Kurikulum 2013.

Masalah

yang

Timbul

dengan

Diterapkannya

Pada kenyataannya, karena adanya perbedaan kemampuan dan pengetahuan


guru, belum semua guru mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran yang
dapat memfasilitasi siswa untuk mengamati fenomena yang terjadi yang
berhubungan dengan materi pelajarannya. Hal inilah salah satunya yang menjadi
hambatan dalam pelaksanaan kurikulum 2013. Oleh karena itu, sangat perlu
bagi masing-masing sekolah mengadakan kegiatan :
1.
lesson study ataupun workshop yang membahasa cara
kegiatan pembelajaran yang dimaksudkan dalam kurikulum 2013.

mengajarkan

Menurut Sudrajat (2008) lesson study merupakan satu upaya meningkatkan


proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dan
berkelanjutan oleh sekelompok guru. dengan berkolaborasi guru mampu
mengembangkan bagaimana siswa belajar dan bagaimana membelajarkan
siswa. Selain itu melaluilesson study guru dapat memperoleh pengetahuan dari
guru lainnya atau narasumber. Hal ini diperoleh melalui adanya umpan balik dari

anggota lesson study. Sehingga kemampuan guru semakin hari semakin


bertambah baik dengan melakukan contoh kemudian dikritisi ataupun dari
memperhatikan contoh kemudian mengkritisi.
2.

Pertemuan antar sekolah yang sudah menerapkan kurikulum 2013

Pertemuan ini mengumpulkan semua perwakilan sekolah yang ditunjuk


melaksanakan kurikulum 2013 untuk mengevaluasi tahap awal peneraan pola
pembelajaran baru dalam sebulan terakhir. Pertemuan ini penting sebab
sebagian sekolah merasa mampu menerapkan kurikulum baru dengan baik,
namun yang lain kesulitan. Sehingga dengan adanya forum ini akan terjalin tukar
menukar pengalaman tentang pelaksanaan kurikulum 2013 di masing-masing
sekolah.
Daftar Pustaka
Sudrajat,
Akhmad.
2008. Tentang
Lesson
Study.
Diakses
melaluihttp://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/22/lesson-study-untukmeningkatkan-pembelajaran/
http://eka-sulistyawati.blogspot.sg/2013/11/kurikulum-2013-keluhan-dansolusinya.html
Problematika Kurikulum 2013
Oleh :
Lailatul Hidayah
Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
IAIN Walisongo Semarang

Kurikulum 2013 memang merupakan instrumen peningkatan mutu pendidikan.


Namun, kurikulum bukanlah satu-satunya alat untuk meningkatkan mutu dari
pendidikan tersebut. Peran kepala sekolah dan guru menjadi pendukung utama,
agar kurikulum 2013 dapat secara signifikan meningkatkan mutu pendidikan
dasar dan menengah. Mutu pendidikan Indonesia hingga kini belum memenuhi
standar mutu yang jelas dan mantap berdasarkan outputnya. Karena selalu
berubah-ubah, tidak tetap.
Kurikulum yang memiliki peran sentral dalam dunia pendidikan telah mengalami
perubahan sejak tahun 1947, dan perubahan tersebut terhitung sebanyak
sembilan kali, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994,
2004, dan 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari
terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, serta ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab,
kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara

dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan zaman yang terjadi di


masyarakat.
Misalnya, setiap ada pergantian menteri selalu berujung pada pergantian
kurikulum juga. Padahal, kualitas dari pendidikan yang ada di Indonesia begitu
rendah jika dibandingkan dengan negara-negara yang lain. Kurikulum yang lama
belum terserap sudah berganti lagi. Padahal itu merupakan pemborosan biaya
pendidikan. Yang seharusnya dapat digunakan untuk membiayai bidang-bidang
lain dalam sektor pendidikan, seperti kesejahteraan guru.
Sejak adanya pemberitaan yang menyebutkan bahwa kurikulum 2013 akan
segera diterapkan, maka muncullah berbagai pendapat. Ada yang pro, dan ada
pula yang kontra. Semua orang memiliki pemikiran yang berbeda-beda
mengenai polemik yang gencar dibicarakan banyak orang. Pemerintah dalam hal
ini Kemdikbud akan mengimplementasikan Kurikulum 2013 secara bertahap
mulai tahun pembelajaran baru bulan Juli 2013.
Kurikulum 2013 merupakan kelanjutan dan pengembangan dari Kurikulum
Berbasis Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 yang mencakup
kompetensi
sikap,
pengetahuan,
dan
keterampilan
secara
terpadu.
Pengembangan kurikulum pada kurikulum 2013 dilakukan karena adanya
tuntutan perubahan dalam berbagai aspek kehidupan dan melaksanakan
amanah Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional serta Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia,
Mohammad Nuh, seperti dikutip kompas.com (11/3/2013), menjelaskan, bahwa
penyusunan kurikulum 2013 tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Karena sudah
dikaji dan menempuh sejumlah tahapan persiapan yang matang sejak tahun
2011. Dan siap untuk diterapkan. Dengan beberapa bulan yang tersisa, dapat
dimanfaatkan untuk persiapan guru dan buku pelajaran. Jika dibandingkan
dengan kurikulum KTSP, kurikulum 2013 juga memiliki keunggulan antara lain:
Pertama, sesuai dengan kurikulum KTSP mata pelajaran harus ditentukan terlebih
dahulu untuk menetapkan standar kompetensi lulusan, tetapi pada kurikulum
2013 pola pikir tersebut dibalik. Kedua, kurikulum baru 2013memiliki pendekatan
yang lebih utuh dengan berbasis pada kreativitas peserta didik. Dalam kurikulum
2013 ditekankan pada penguatan karakter. Ketiga, pada kurikulum baru didisain
berkesinambungan antara kompetensi yang ada di SD, SMP hingga SMA.
Mohammad Nuh, sangat yakin bahwa kurikulum 2013 siap untuk ditetapkan,
namun gelombang aksi penolakan terus berlanjut di mana-mana. Beberapa
pihak yang menolak pemberlakuan kurikulum 2013 antara lain: Indonesia
Corruption Watch (ICW), Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Forum
Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ), Aliansi Revolusi Pendidikan. Berbagai alasan
yang dikemukakan pihak-pihak yang menolak kurikulum 2013 antara lain:

Pertama, bila kurikulum 2013 diterapkan, maka ratusan ribu guru akan di-PHK.
(Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti). Kedua ada
beberapa alasan petisi menoolak kurikulum 2013 (Koordinator Monitoring
Kebijakan Publik ICW, Febri Hendri). Alasannya : proses perumusan kebijakan
perubahan kurikulum tidak terencana dan terburu-buru, mekanisme perubahan
kurikulum tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP), pemerintah
tidak melakukan evaluasi terlebih dahulu, cenderung mematikan kreatifitas guru,
anggaran kurikulum 2013 mencapai angka fantastis, yaitu Rp 2,49
triliun, pemerintah belum mengeluarkan dokumen kurikulum 2013 yang resmi.
Mengenai kurikulum 2013 jumlah mata pelajaran akan dikurangi dengan maksud
mengurangi beban belajar peseta didik. Namun, muatannya pasti akan berlipat
ganda. Karena mengikuti alur pemikiran dari kompetensi inti dan jumlah jam
pelajaran perminggu yang akan ditambah. Dampak yang terjadi, beban belajar
peserta didik akan semakin berlipat ganda. Itu malah semakin memberatkan
peserta didik.
Disini, penulis pesimis, bahkan tidak yakin akan adanya perubahan kurikulum
2013 yang akan membawa pengaruh positif dalam dunia pendidikan di
Indonesia.Memang benar, perlu adanya perubahan kurikulum demi menjawab
tantangan zaman. Namun, bukan perubahan yang tak terarah, dan minim
perencanaan (planning). Artinya, perubahan kurikulum haruslah rasional. Tidak
bisa kebijakan pendidikan hanya dirumuskan dalam satu malam.
Kebijakan pendidikan saat ini akan menentukan wajah generasi Indonesia di
masa depan. Dengan kebijakan yang tidak dirumuskan secara mendalam,
terencana, terstruktur dan matang, maka mustahil generasi emas akan terwujud.
Selain itu juga harus ada kesiapan dari guru. Karena guru merupakan faktor
utama dalam proses pendidikan.
Diposkan oleh lailatulhidayah di 22.00
http://hidaylaela.blogspot.sg/2013/07/artikel-pendidikan.html

TENTANG KURIKULUM 2013


Bab 1
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Kurangannya Sumber Daya Manusia pada era kemerdekaan indonesia pada
tahun 1945 itu disebabkan karena adanya penyimpangan dari penjajah terhadap
bangsa indonesia agar tidak bersekolah. Masa-masa itulah yang ingin dicapai
bangsa indonesia untuk bertekat mencerdaskan kehidupan bangsa. Para petinggi

negri ini menyadari bahwa harus mengawali dengan cara memperbaiki sumber
daya manusia.
Ilmu pengetahuan dan teknologi akan selalu berkembang dengan menyesuaikan
perkembangan jaman. Dengan tuntutan pekerjaan yang semakin beragam dalam
peningkatan ekonomi suatu perusahaan. Perkembangan segala aspek kehidupan
manusia yang semakin berkembang dan mengandalkan suatu teknologi
menuntut sumber daya manusia dapat menangani masalah tersebut.
Oleh karena itu pendidikan di indonesia harus selalu mengikuti perkembangan
jaman. Maka di susunlah kurikulum sebagai pedoman atau panutan untuk
mengendalikan pendidikan di indonesia untuk selalu berkembang dan setara
antara daerah satu dengan daerah yang lain. Hal itu di lakukan agar sumber
daya manusia yang berkualitas baik akan merata di seluruh daerah indonesia.
Peningkatan ilmu pengetahuan dan Teknologi yang paling baru harus
tersampaikan pada peserta didik agar nantinya para peserta didik tersebut dapat
bersaing dengan sumber daya manusia negara lain dalam membangun negara
ini.

B.

Rumusan Masalah

Apa yang dimaksud dengan kurikulum?

Apa Fungsi dari kurikulum?

Bagaimana perkembangan kurikulum di Indonesia?

Problem apa saja yang terjadi saat kurikulum diterapkan?

C.

Tujuan

Menjelaskan dan mendeskripsikan pengertian dari kurikulum

Menjelaskan dan mendeskripsikan fungsi dari kurikulum

Menjelaskan sejarah perkembangan kurikulum yang terjadi di indonesia

Menjelaskan problem apa saja yang terjadi saat kurikulum diterapkan

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Kurikulum

Menurut HILDA TABA Kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran, yang


di susun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses
pembelajaran serta perkembangan individu. Sedangkan Menurut Murray Print
Kurikulum didefinisikan sebagai semua ruang pembelajaran terencana yang
diberikan kepada siswa oleh lembaga pendidikan dan pengalaman yang
dinikmati oleh siswa saat kurikulum itu diterapkan.
Jadi dapat di simpulkan bahwa Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan
program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara
pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta
pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Dengan program itu, para
siswa melakukan berbagai kegiatan belajar sehingga terjadi perubahan dan
perkembangan tingkah laku siswa, sesuai dengan tujuan pendidikan dan
pembelajran. Dengan kata lain, sekolah menyediakan lingkungan bagi siswa
yang memberikan kesempatan untuk belajar. Penyusunan perangkat mata
pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang
pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan
lapangan kerja.

Lama waktu dalam satu kurikulum, biasanya disesuaikan dengan maksud dan
tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksankan. Kurikulum ini diterapkan dengan
maksud untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang
dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.

B.

Fungsi Kurikulum

Kurikulum dalam pendidikan memiliki beberapa fungsi sebagai berikut:


1)
Fungsi kurikulum dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tidak lain
merupakan alat untuk mencapalai tujuan pendidikan. Dalam hal ini, alat untuk
menempa manusia yang diharapkan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Maka :
Kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
Kurikulum merupakan program yang harus dilaksanakan oleh guru dan murid
dalam proses belajar mengajar, guna mencapai tujuan.
Kurikulum merupakan pedoman guru dan siswa agar terlaksana proses
belajar mengajar dengan baik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
2)

Fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan adalah sebagai berikut:

Sebagai alat mencapai tujuan pendidikan yang di inginkan.

Sebagai pedoman mengatur segala kegiatan sehari-hari di sekolah tersebut,


yang meliputi:

Jenis program pendidikan yang harus dilaksanakan.

Cara menyelenggaran setiap jenis program pendidikan.

Orang yang bertanggung jawab dan melaksanakan program pendidikan.

3)

Fungsi kurikulum bagi Guru

Tidak hanya berfungsi sebagai pelakana kurikulum sesuai dengan kurikulum


yang berlaku, tetapi juga sebagai pengembangan kurikulum dalam rangka
pelaksanaan kurikulum tersebut.
4)

Fungsi kurikulum bagi kepala sekolah

Kurikulum merupakan barometer atau alat pengukur keberhasilan program


pendidikan di sekolah yang di pimpinnya. Kepala sekolah dituntut untuk
menguasai an mengontrol, apakah kegiatan proses pendidikan yang
dilaksanakan itu berpijak pada kurikulum yang berlaku.
5)

Fungsi kurikulum bagi pengawas

Dapat dijadikan sebagai pedoman, patokan atau ukuran dan menetapkan


bagaimana yang memerlukan penyempurnaan atau perbaikan dalam usaha
pelaksanaan kurikulum dan peningkatan mutu pendidikan.
6)

Fungsi kurukulum bagi Masyarakat

Melalaui kurikulum sekolah yang bersangkutan, masyarakat bisa mengetahui


apakah pengetahuan, sikap, dan nilai serta keterampilan yang dibutuhkannnya
relevan atau tidak dengan kurukulum sekolah.
7)

Fungsi kurikulum bagi pemakai

Lulusan instansi atau perusahaan yang mempergunakan tenaga kerja yang baik
dalam arti kuantitas dan kualitas agar dapat meningkatkan produktivitas.

C.

Sejarah Kurikulum di Indonesia

sejarah kurikulum pendidikan di indonesia kerap berubah setiap ada pergantian


Menteri Pendidikan, sehingga mutu pendidikan di indonesia hingga kini belum
memenuhi standar mutu yang jelas dan mantap. Dalam perjalanan sejarah sejak
tahun 1945, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 dan 2006. Perubahan
tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik,
sosial budaya, ekonomi, dan IPTEK dalam masyarakat berbangsa dan bernegara.
Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan
secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di
masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang

sama, yaitu Pancasila dan Undang-Undang 1945, perbedaannya pada penekanan


pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Perubahan kurikulum didunia pendidikan indonesia beserta tujuan yang ingin
dicapai dapat diuraikan sebagai berikut:

1.

Kurikulum 1947

Kurikulum pertama di masa kemerdekaan namanya rencana pelajaran 1947.


Ketika itu penyebutan lebih populer menggunakan Leer Plan (Rencana pelajaran)
ketimbang istilah Curriculum dalam bahasa inggris. Rencana pelajaran 1947
bersifat politis, yang tidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan
kurikulum belanda, yang orientasi pendidikan dan pengajarannya di tujukan
untuk kepentingan kolonialis belanda. Rencana pelajaran 1947 ini lebih
mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan masyarakat
daripada pendidikan pikiran. Materi pelajaran duhubungkan dengan kejadian
sehari-hari, perhatiaan terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. Pada masa
itu juga di bentuk kelas Masyarakat yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun
yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan,
seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan. Tujuannya, agar anak yang tak
mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.

2.

Kurikulum 1952

Pada tahun 1952 ini di beri nama Rentjana Pelajaran terurai 1952. Kurikulum ini
sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol
dan sekaligus ciri dari kurukulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus
memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya dan moral
(pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang
studi : moral, kecerdasan, emosional, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah.
Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional
praktis.

3.

Kurikulum 1964

Kali ini beri nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964
yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai
keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada
jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana
yang meliputi pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata
pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi : moral, kecerdasan,
emosional, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih
menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

4.

Kurikulum 1968

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari kurikulum 1964, yaitu


dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari pancawardhana
menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.
Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada
pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan
pendidikan, kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan di tekankan pada upaya
untuk membentuk manusia pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani,
mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan
keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi
kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.

5.

Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, aagar pendidikan lebih efisien dan
efektif. yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manajemen,
yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu. Metode, materi,
dan tujuan pengajaran di rinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem
Intruksional (PPSI). Zaman ini di kenal istilah satuan pelajaran, yaitu rencana
pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk
umum, tujuan instruksional khusu (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran,
kegiatan belajar mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru
dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan
pembelajaran.
Pada kurikulum kegiatan ini juga menekankan pada pentingnya pelajaran
matematika sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

6.

Kurikulum 1984 (kurikulum CBSA)

Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan


pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering
disebut kurikulum 1975 yang disempurnakan. Posisi siswa ditempatkan
sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan,
mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif
(CBSA) atau Student Aktive Learning (SAL).
Kurikulum 1984 ini berorientasi kepada tujtuan interaksional. Didasari oleh
pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu
belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif.
Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang petama
harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.

7.

Kurikulum 1994

Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan


dilaksanakan sesuai UU no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan
mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Tujuan pengajaran lebih
menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal
dan pemecahan maslah.

8.

Kurikulum 2004 (KBK)

Kurikulum ini lebih dikenal dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).


Pendidikan
berbasis
kopetensi
menitikberatkan
pada
pengembangan
kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan
standar performance yang telah ditetapkan. Hal ini dapat diartikan bahwa
pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan
perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu
dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman
pembelajaran. Kurikulum ini berorientasi pada hasil dan dampak dari proses
pendidikan serta keberagaman individu dalam menguasai semua kopetensi.

9.

Kurikulum 2006 (KTSP)

Kurikulum 2006 ini dikenal dengan sebutan kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP). Awal 2006 uji coba KBK dihentikan, muncullah KTSP. Tinjauan dari segi isi
dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis
evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan kurikulum 2004. Perbedaan yang
paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan
pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi sekolah berada. Hal ini
dapat disebabkan kerangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL),
standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk
setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Depertemen Pendidikan Nasional.
Jadi pengembangan perangkat pembelajaran, seperti silabus dan sistem
penilaian merupakan kewenangan satuan pendidikan (sekolah) dibawah
koordinasi dan sepervisi pemerintah Kabupatena/kota.

D.

Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas


dalam rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tapi belum
terselesaikan karena desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Selain itu penataan kurikulum pada
kurikulum 2013 dilakukan sebagai amanah dari UU No.20 tahun 2003 tentang

pendidikan nasional dan peraturan presiden N0. 5 tahun 2010 tentang rencana
pembangunan jangka menengah nasional.
Kurikulum 2013 dikembangkan untuk meningkatkan capaian pendidikan dengan
dua strategi utama, yaitu peningkatan efektifitas pembelajaran pada satuan
pendidikan dan penambahan waktu pembelajaran di sekolah. Efektifitas
pembelajaran dicapai melalui tiga tahap, yaitu:
1.
Efektifitas interaksi, akan tercipta dengan adanya harmonisasi iklim
akademi
dan
budaya
sekolah.
Efektifitas
interaksi
dapat
terjaga
apabila kesinambungan
manajemen
dan
kepemimpinan
pada
satuan
pendidikan.
2.
Efektifitas pemahaman, menjadi bagian penting dalam pencapaian
efektifitas pembelajaran. Efektifitas tersebut dapat dicapai apabila pembelajaran
yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi, asosiasi,
bertanya, menyimpulkan dan mengkomunikasikan.
3.
Efektivitas penyerapan, dapat tercipta manakala adanya kesinambungan
pembelajaran horizonta dan vertikal.
Penerapan kurikulum 2013 diimplementasikan adanya penambahan jam
pelajaran, hal tersebut sebagai akibat dari adanya perubahan proses
pembelajaran yang semula dari siswa diberi tahu menjadi siswa yang mencari
tahu. Selain itu, akan merubah pula proses penialaiayang semula berbasis
output menjadi berbasis proses dan output.
Orientasi kurikulum 2013 adalah terjadinya peningkatan dan keseimbangan
antara kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Hal itu sejalan dengan
amanat UU no.20 tahun 2003 sebagai mana tersurat dalam penjelasan pasal 35:
kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar yang telah
disepakati. Hal ini sejalan pula dengan pengembangan kurikulum berbasis
kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencangkup
kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.
E.

Faktor Adanya Pengembangan Kurikulum

Tiga faktor yang menjadi alasan pengembangan kurikulum 2013:


1)
Tantangan masa depan diantaranya meliputi arus globalisasi, masalah
lingkungan hidup, kemajuan teknologi informasi, kovergensi ilmu dan teknologi,
dan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan.
2)
Kompetensi masa depan yang diantaranya meliputi kemampuan
berkomunikasi,
kemampuan
berfikir
jernih
dan
kritis,
kemampuan
mempertimbangkan segi moral, kemampuan menjadi kewarganegaraan yang
efektif, dan kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap
pandangan yang berbeda.

3)
Fenomena sosial yang mengemuka, seperti perkelahian pelajar, narkoba,
korupsi, plagiarisme, kecurangan dalam berbagai jenis ujian, dan gejolak sosial
(social unrest).
4)
Persepsi publik yang menilai pendidikan selama ini terlalu menitik beratkan
pada aspek kognitif, beban siswa yang terlalu berat, dan kurang bermuatan
karakter.

F.

Pokok-Pokok Perubahan Dalam Kurikulum 2013

Terdapat beberapa perubahan mendasar dari kurikulum 2006 ke kurikulum


2013 yaitu:
a)

Penataan pola pikir.

b)

Pendalaman dan perluasan materi.

c)

Penguatan proses

d)

Penyesuaian beban

Sedangkan elemen yang berubah antara lain:


a)

Standar kompetensi Lulusan

b)

Standar isi

c)

Standar proses

d)

Standar penilaian

Kurikulum 2013 lebih menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam


pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah
tersebut meliputi, mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk
jejaring. Secara konseptual kurikulum 2013 jelas ada perubahan signifikan.
Perubahan itu tentunya di maksudkan untuk menjadikan pendidikan menjadi
lebih baik.

G.

Prinsip Penyusunan RPP Kurikulum 2013

Prinsip-prinsip penusunan RPP sebagai berikut:


1.
Memperhatikan perbedaan individu peserta didik RPP disusun dengan
memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual,
minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar,
kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan
lingkungan peserta didik.

2.
Mendorong partisipasi aktif peserta didik proses pembelajaran dirancang
dengan berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat,
kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian dan semangat belajar.
3.
Mengembangkan budaya membaca dan menulis proses pembelajaran
dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam
bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
4.
Memberikan umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan
program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi
5.
Keterkaitan dan keterpaduan RPP disusun dengan memperhatikan
keterkaitan dan keterpaduan SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar
dalam
satu
kebutuhan
pengalaman
belajar.
RPP
disusun
dengan
mengakomodasikan pembelajaran tematik,keterpaduan lintas mata pelajaran,
lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
6.
Penerapan teknologi informasi dan komunikasi RPP disusun dengan
mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara
terintegrasi, sistematis dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

H.

Perbedaan Kurikulum 2013 dengan KTSP

Kurikulum 2013 sudah di implementasikan pada tahun pelajaran 2013/2014 pada


sekolah-sekolah tertentu (terbatas). Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi
pada tanggal 15 juli 2013. Perbedaan kurikulum 2013 dengan KTSP, sebagai
berikut:

No

Kurikulum 2013

KTSP

SKL (Standar Kompetensi Lulusan) ditentukan terlebih


dahulu, melalui permendikbud No.54 Tahun 2013.
Setelah itu baru ditentukan Standar isi, yang berbentuk
kerangka dasar kurikulum, yang dituangkan dalam
permendikbud No. 67, 68, 69, dan 70 tahun 2013.

Standar isi diten


terlebih dahulu m
permendiknas No.
tahun 2006. Sete
ditentukan SKL m
permendiknas No
Tahun 2006.

Aspek kompetensi lulusan ada keseimbangan soft skill


dan hard skill yang meliputi aspek kompetensi sikap,

Lebih
pada

1.

2.

menek

3.

keterampilan, dan pengetahuan.

pengetahuan

Dijenjang SD tematik terpadu untuk kelas I-IV

Di jenjang SD te
terpadu untuk kel

Jumlah jam pelajaran perminggu lebih banyak dan


jumlah mata pelajaran lebih sedikit dibanding KTSP

Jumlah jam pel


lebih sedikit dan j
mata pelajaraan
banyak
diba
dengan kurikulum

5.

Proses pembelajaran setiap tema di jenjang SD dan


semua mata pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK di
lakukan dengan pendekatan ilmiah (saintific approach),
yaitu standar proses dalam pembelajaran terdiri dari
mengamati,
menanya,
mengolah,
menyajikan,
menyimpulkan, dan mencipta.

Standar proses
pembelajaran
dari
Eksp
Elaborasi,
Konfirmasi.

6.

TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) bukan sebagai


mata pelajaran, melainkan sebagai media pembelajaran

TIK
sebagai
pelajaran

7.

Standar penilaian menggunakan penilaian otentik, yaitu


mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan berdasarkan proses dan hasil

Penilaian lebih do
pada
pengetahuan

8.

Pramuka menjadi ekstra kulikuler wajib

Pramuka bukan
kulikuler wajib

9.

Permintaan (penjurusan) mulai kelas X untuk jenjang


SMA/MA

Penjurusan mulai
IX

10.

BK lebih menekankan pengembangan potens siswa

BK
lebih
menyelesaikan m
siswa

4.

Itulah beberapa perbedaan kurikulum 2013 dan KTSP. Walaupun keliatannya


terdapat perbedaan yang sangat jauh antara kurikulum 2013 dengan KTSP,
namun sebenarnya terdapat kesamaan ESENSI kurikulum 2013 dengan KTSP.
Misalnya pendekatan ilmiah (saintific approach) yang pada hakikatnya adalah
pembelajaran berpusatnya pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan
menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan
pendekatan keterampilan proses (PKP). Masalah pendekatan sebenarnya bukan
bukan masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di kelas.
Bisa jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan dikurikulum 2013 akan bernasip
sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila seorang guru
tidak paham dan tidak bisa menerapkan dalam pembelajaran di kelas.

A.

Problematika Kurikulum 2013

Berbagai wacana berkembang di masyarakat terkait kurikulum 2013 sangat


marak, tentunya berdasarkan pada sudut pandang mereka. Banyak persepsi
yang perlu dihargai sebagai bagian dari proses pematangan kurikulum yang
sedang disusun. Kurikulum ini merupakan terobosan baru dari kurikulum
sebelumnya yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Alasan
perubahan kurikulum KTSP menjadi kurikulum 2013 banyak berbagai alasan.
Menteri pendidikan dan kebudayaan, Moh Nuh menemukan pasalnya, hasil studi
lembaga survei pendidikan internasional, TIMSS dan PIRLS 2011 tidak
menunjukkan perkembangan yang signifikan terhadap kemampuan siswa di
indonesia. Selain itu evaluasi kurikulum pendidikan saat ini terlalu membebani
siswa. Dari evaluassi nanti di harapkan bisa ditemukan formulasi sesuai standar
kompetensi. Katanya (Dikutip dari : edukasi.kompas.com).

Dengan adanya hal tersebut yang menyebabkan kementrian pendidikan dan


kebudayaan semakin memantapkan langkah untuk mengganti KTSP dengan
kurikulum baru pada tahun 2013. Kurikulum 2013 ini rencananya diterapkan
mulai tahun ajaran 2013/2014 pada berbagai jenjang. Mulai dari tingkat SD, SMP,
SMA, dan SMK. Untuk jenjang solah dasar sederajat, akan diamputasi 2 mata
pelajaran yakni mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS), jadi nantinya untuk SD sederajat hanya ada mata
pelajaran atau bidang studi, yakni:
i.
ii.

Pendidikan agama
Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan atau

PKN
iii.

Bahasa indonesia

iv.

Matematika

v.
vi.

Seni budaya
Pendidikan jasmani dan kesehatan.

Pengurangan mata pelajaran untuk tingkat atau jenjang SD sederajat ini


dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan agar peserta didik atau para siswa
tidak terlalu terjejali oleh banyaknya mata pelajaran yang mereka dapatkan di
bangku sekolah. Di harapkan dengan pengurangan ini, kecerdasan para siswa
akan terasah tanpa disertai beban dengan banyaknya mata pelajaran yang
mereka terima di sekolah.

Saat ini yang ramai diperbincangkan di media massa terkait perubahan


kurikulum adalah masalah pengurangan mata pelajaran dan penambahan jam
belajar, secara mendasar, ada empat elemen perubahan dalam kurikulum 2013,
yakni standar kompetensi lulusan, standar isi (kompetensi inti dan kompetensi
dasar), standar proses, dan standar penilaian. Penyempurnaan standar
kompetensi lulusan memperhatikan pengembangan nilai, pengetahuan, dan
keterampilan. Secra terpadu dengan fokus pada pencapaian kompetensi.

Dalam bahasan kurikulum yang akan dicanangkan tersebut masih menuai


banyak perdebatan. Dikalangan praktisi pendidikan masih menimbulkan pro dan
kontra. Pihak yang mendukung kurikulum baru menyatakan bahwa kurikulum
2013 nantinya akan memadatkan pelajaran sehingga tidak membebani siswa.
Selain itu kurikulum ini akan memfokuskan pada tantangan masa depan bangsa,
dan tidak memberatkan guru dalam penyusunan KTSP. Sedangkan pihak yang
kontra
menyatakan
bahwa,
kurikulum
justru
kurang
fokus
karena
menggabungkan mata pelajaran IPA dengan bahasa indonesia di SD. Padahal
kedua mata pelajaran memiliki substansi pokok yang berbeda. Akan tetapi
hampir semua orang setuju atas alasan di balik perubahan kurikulum. Hal ini
dipertegas lagi bahwa kementrian pendidikan dan kebudayaan berupaya kembali
pada tujuan mulia pendidikan; tak hanya mencecoki siswa dengan pengetahuan,
tapi juga membentuk karakter mereka.

Dari pihak kontra memberikan argumen kembali bahwa, memang nantinya mata
pelajaran yang akan diajarkan tersebut dibuat lebih simpel. Akan tetapi tingkat
pemahaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa akan semakin berkurang
akibat berpaduan mata pelajaran tersebut.

BAB III
KESIMPULAN

Menurut HILDA TABA Kurikulum adalah sebuah rancangan pembelajaran, yang


di susun dengan mempertimbangkan berbagai hal mengenai proses
pembelajaran serta perkembangan individu. Sedangkan Kurikulum 2013
merupakan kurikulum berbasis kompetensi yang pernah digagas dalam rintisan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tapi belum terselesaikan karena
desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) 2006.
Dan Kurikulum 2013 lebih menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam
pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah
tersebut meliputi, mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk

jejaring. Secara konseptual kurikulum 2013 jelas ada perubahan signifikan.


Perubahan itu tentunya di maksudkan untuk menjadikan pendidikan menjadi
lebih baik dan usaha unutk selalu memperbaruhi tata cara pelaksanaan
pendidikan din indonesia agar merata disetiap daerahnya.

DAFTAR PUSTAKA
Linomeng87.wordpress.com/pengertian-kurikulum-menurut-para-ahli/
http://id.m.wikipedia.org/wiki/kurikulum
http:/www.m-edukasi.web.id/2013/05/perkembangan-kurikulum-diindonesia.html?m=1
http://taqwimislamy.com/index.php/en/57-kurikulum/297-sejarah-perkembangankurikulum-di-indonesia
http://fatkoer.wordpress.com/2013/07/28/perbedaan-kurikulum-2013-dan-ktsp/
http://aswan67.blogspot.com/2013/04/problematika-kurikulum-2013tinjauan.html?m=1
http://atcontent.com/publication/878784857071999mb..text/-/Menyongsongkurikulum-2013
m.kompasiana.com/post/edukasi/2013/09/13/pokok-pokok-perubahan-padakurikulum-2013/
www.unja.ac.id/fkip/index.php/kurikulum-2013/133-prinsip-penyusunan-rpp

Diposkan oleh dewi anggraini puspita di 08.05

http://palembang.tribunnews.com/2014/08/06/penerapan-kurikulum-2013-selalumenuai-masalah
KESIAPAN GURU MENYONGSONG KURIKULUM 2013
H. Sholeh Hidayat
Pengajar FKIP/Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Sejak wacana pengembangan kurikulum 2013 digulirkan, muncul tanggapan pro


dan kontra dari berbagai kalangan pakar dan praktisi pendidikan serta
masyarakat lainnya. Wacana pro dan kontra menunjukkan bahwa para
pemangku kepentingan memiliki kepedulian dan begitu pentingnya
pembangunan sistem pendidikan di negeri ini dalam menyiapkan generasi emas
memasuki perkembangan global yang semakin kompetitif dan berorientasi pada
keunggulan. Semakin banyak kritik dan saran terhadap kurikulum 2013 ini
diharapkan lebih mematangkan kurikulum yang sedang dikembangkan.
Kurikulum mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangantantangan di masa depan melalui pengetahuan, keterampilan, sikap dan
keahlian untuk beradapati serta bisa bertahan hidup dalam lingkungan yang
senantiasa berubah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh dalam
berbagai kesempatan menegaskan peurbahan dan pengembangan kurikulum
2013 merupakan persoalan yang penting dan genting. Alasan perubahan
kurikulum, kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman.
Karena zaman berubah, maka kurikulum harus lebih berbasis pada penguatan
penalaran, bukan lagi hafalan semata. Perubahan ini diputuskan dengan
merujuk hasil survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Salah
satunya adalah survei "Trends in International Math and Science" oleh Global
Institute pada tahun 2007. Menurut survei ini, hanya 5 persen siswa Indonesia
yang mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang memerlukan penalaran.
Sebagai perbandingan, siswa Korea yang sanggup mengerjakannya mencapai 71
persen. Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal
berkategori rendah yang hanya memerlukan hafalan. Sementara itu, siswa Korea
yang bisa mengerjakan soal semacam itu hanya 10 persen. Indikator lain datang
dari Programme for International Student Assessment(PISA) yang di tahun 2009
menempatkan Indonesia di peringkat 10 besar paling buncit dari 65 negara
peserta PISA. Kriteria penilaian mencakup kemampuan kognitif dan keahlian
siswa membaca, matematika, dan sains. Dan hampir semua siswa Indonesia
ternyata cuma menguasai pelajaran sampai level 3 saja. Sementara banyak
siswa negara maju maupun berkembang lainnya, menguasai pelajaran sampai
level 4, 5, bahkan 6. Kesimpulan dari dua survei itu adalah: prestasi siswa
Indonesia terkebelakang. Periubahan kurikulum meliputi empat elemen yaitu :
pertama; standar kompetensi kelulusan, kedua standar isi, ketiga, standar
proses dan keempat, standar penilaian.

Pengembangan kurikulum 2013 menitikberatkan pada penyederhanaan,


pendekatan tematik-integratif dilatarbelakangi oleh masih terdapat beberapa
permasalahan pada Kurikulum 2006 (KTSP) antara lain ; (1) konten kurikulum
yang masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran
dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat
perkembangan usia anak; (2) belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai
dengan tuntutan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; (3) kompetensi belum
menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan pengetahuan;
beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan
(misalnya
pendidikan
karakter,
metodologi
pembelajaran
aktif,
keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di
dalam kurikulum; (4) belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang
terjadi pada tingkat lokal, nasional, maupun global; (5) standar proses
pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci sehingga
membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada
pembelajaran yang berpusat pada guru; (6) standar penilaian belum
mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil) dan belum
secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan (7) dengan KTSP
memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan multi
tafsir (Draft Kurikulum 2013).
Pemerintah dalam hal ini Kemdikbud akan mengimplementasikan Kurikulum
2013 secara bertahap mulai tahun pembelajaran baru bulan Juli 2013. Kurikulum
2013 merupakan kelanjutan dan pengembangan dari Kurikulum Berbasis
Kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi
sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Pengembangan Kurikulum
pada Kurikulum 2013 dilakukan seiring dengan tuntutan perubahan dalam
berbagai aspek kehidupan dan melaksanakan amanah Undang-undang nomor 20
tahun 2003 tentang SIstem Pendidikan Nasional serta Peraturan Presiden Nomor
5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.
Mencermati draft bahan sosialisasi Kurikulum 2013, pengembangan kurikulum
2013 untuk meningkatkan capaian pendidikan dilakukan dengan dua strategi
utama yaitu peningkatan efektivitas pembelajaran pada satuan pendidikan dan
penambahan waktu pembelajaran di sekolah. Efektivitas pembelajaran dicapai
melalui tiga tahapan yaitu efektivitas interaksi, efektivitas pemahaman, dan
efektivitas penyerapan. (1) Efektivitas Interaksi akan terwujud dengan adanya
harmonisasi iklim atau atmosfir akademik dan budaya sekolah . Iklim atau
atmosfir akademik dan budaya sekolah sangat kental dipengaruhi oleh
manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah beserta jajarannya. Efektivitas
Interaksi dapat terjaga apabila kesinambungan manajemen dan kepemimpinan
pada satuan pendidikan. Tantangan saat ini adalah sering dijumpai pergantian
manajemen dan kepemimpinan sekolah secara cepat sebagai efek adanya
otonomi pendidikan yang sangat dipengaruhi oleh politik daerah. (2) Efektivitas
pemahaman
menjadi
bagian
penting
dalam
pencapaian
efektivitas
pembelajaran. Efektivitas pembelajaran dapat tercapai apabila pembelajaran
yang mengedepankan pengalaman personal siswa melalui observasi (menyimak,
mengamati, membaca, mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan dan

mengomunikasikan. Oleh karena itu penilaian berdasarkan proses dan hasil


pekerjaan serta kemampuan menilai sendiri. (3) Efektivitas penyerapan dapat
tercipta ketika adanya kesinambungan pembelajaran secara horisontal dan
vertikal. Kesinambungan pembelajaran secara horizontal bermakna adanya
kesinambungan mata pelajaran dari kelas I sampai dengan kelas VI pada tingkat
satuan pendidikan SD, kelas VII sampai dengan IX pada tingkat satuan
pendidikan SMP dan kelas X sampai dengan kelas XII tingkat SMA/SMK.
Selanjutnya
kesinambungan
pembelajaran
vertikal
bermakna
adanya
kesinambungan antara mata pelajaran pada tingkat saatuan pendidikan SD,
SMP, sampai dengan satuan pendidikan SMA/SMK. Sinergitas dari ketiga
efektivitas pembelajaran tersebut akan menghasilkan sebuah transfomasi nilai
yang bersifat universal, nasional dengan tetap menghayati kearifan lokal yang
berkembang dalam masyarakat Indonesia yang berkarakter mulia.
Penambahan Jam Pelajaran
Salah satu ciri kurikulum 2013 yaitu adanya penambahan jam pelajaran.
Penambahan jam pelajaran sebagai konsekuensi dari adanya perubahan proses
pembelajaran yang semula dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu.
Selain itu, akan merubah pula proses penilaian yang semula dari berbasis output
menjadi berbasis proses dan output. Penambahan jam pelajaran dalam
kurikulum 2013, karena kecenderungan akhir-akhir ini banyak negara menambah
jam pelajaran seperti KIPP dan MELT di AS dan Korea Selatan. Jika dibandingan
dengan negara-negara lain jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat.
Walaupun pembelajaran di Finlandia relatif singkat, tetapi didukung dengan
pembelajaran tutorial.
Pada saat ini dalam pengembangan kurikulum 2013 telah melewati tahap ketiga
yaitu uji publik dan sosialisasi untuk memperoleh masukan dari berbagai
stakeholders guna penyempurnaan draft kurikulum 2013. Uji publik draft
kurikulum 2013 dari bulan November hingga Desember 2012 dan desain
kurikulum 2013 sudah final. Pada bulan Januari-februari atau awal Maret ini
tengah dilakukan penyusunan buku pelajaran dengan pendekatan tematik
integratif kelas I sampai dengan kelas V Sekolah Dasar dan pendekatan
berbasis mata pelajaran untuk SMP dan SMA/SMK. Selanjutnya dalam rangka
persiapan penerapan kurikulum baru pada pertengahan Juli 2013 yang akan
datang, pelatihan guru inti dan instruktur nasional akan segera dilakukan pada
bulan Mei mendatang bertepatan dengan libur tahun ajaran. Setelah pelatihan
guru inti, pemerintah akan melanjutkan dengan pelatihan massal yang menyasar
pada 712.947 guru. Guru inti yang akan dijadikan sebagai pelatih guru massal
ditargetkan
berjumlah
46.213
guru.
Guru inti dipilih dari prestasi guru dan skor UKG yang sudah dilakukan, Pelatihan
untuk guru inti dan guru massal yang terdiri atas guru kelas dan guru mata
pelajaran dilakukan masing-masing 52 jam pertemuan atau setara dengan lima
hari. Selanjutnya, saat kurikulum diterapkan satu guru akan didampingi
setidaknya dua guru inti di dalam kelas.
Kurikulum 2013 sebagai Inovasi

Pengembangan kurikulum merupakan salah satu bentuk inovasi pendidikan.


Terhadap suatu inovasi apapun tidak serta merta sasaran penerima inovasi
dalam hal ini pendidik dan tenaga kependidikan begitu saja menerima atau
mengadopsi inovasi tersebut merupakan suatu hal yang wajar. Dalam teori
inovasi, kefektivan inovasi akan terwujud jika memenuhi karakteristik Inovasi.
Rogers (1983) mengemukakan lima karakteristik inovasi meliputi: 1) keunggulan
relatif (relative advantage), kompatibilitas (compatibility), 3) kerumitan
(complexity), 4) kemampuan diuji cobakan (trialability) dan 5) kemampuan
diamati (observability).
Keunggulan relatif adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap lebih
baik/unggul dari yang pernah ada sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari
beberapa segi, seperti segi ekonomi, prestise sosial, kenyamanan, kepuasan dan
lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin
cepat inovasi tersebut dapat diadopsi. Kompatibilitas adalah derajat dimana
inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman
masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide
baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, maka inovasi itu
tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang
sesuai (compatible). Kerumitan adalah derajat dimana inovasi dianggap sebagai
suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada
yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada
pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh
pengadopsi, maka semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.
Kemampuan untuk diujicobakan adalah derajat dimana suatu inovasi dapat diujicoba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat di ujicobakan dalam seting
sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan
cepat diadopsi, suatu inovasi sebaiknya harus mampu menunjukan
(mendemonstrasikan) keunggulannya. Kemampuan untuk diamati adalah
derajat dimana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Semakin mudah
seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang
atau sekelompok orang tersebut mengadopsi. Jadi dapat disimpulkan bahwa
semakin besar keunggulan relatif; kesesuaian (compatibility); kemampuan untuk
diuji cobakan dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya,
maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.
Kesiapan Guru
Dalam mengimplementasikan kurikulum, yang jauh lebih penting adalah guru
sebagai ujung tombak bahkan bisa menjadi ujung tombok serta garda terdepan
dalam pelaksanakan kurikulum. Oleh karena itu betapa pentingnya kesiapan
guru dalam mengimplementasikan kurikulum itu selain kompetensi, komitmen
dan tanggung jawabnya serta kesejahteraannya yang harus terjaga. Kompetensi
guru bukan saja menguasai apa yang harus dibelajarkan (content) tapi
bagaimana membelajarkan siswa yang menantang, menyenangkan, memotivasi,
menginspirasi dan memberi ruang kepada siswa untuk melakukan keterampilan
proses yaitu mengobservasi, bertanya, mencari tahu, merefleksi sebagaimana

dinyatakan filosof Betrand Russel More important than the curriculum is the
question of the methods of teaching and the spirit in which the teaching is
given. Kurikulum penting, tetapi yang tak kalah pentingnya juga adalah
bagaimana strategi membelajarkan dan spiritnya. Dengan strategi pembelajaran
yang tepat dalam mengimplementasikan kurikulum disertai dengan spirit
pendidikan yang selalu menggelora pada setiap guru atau pendidik dan peserta
didik, maka proses pendidikan itu sendiri tidak terlepas dari rohnya. Sebuah
kata bijak mengatakan bahwa At-Thariqatu Afdalu Minal Mad (Metodologi tidak
kalah pentingnya dibanding substansi). Betapapun baiknya kurikulum yang telah
dikembangkan, buku pelajaran dan media pembelajaran disediakan serta
dilaksanakan Diklat baik Kepala Sekolah, Pengawas, Guru Inti, Guru Pelatih
maupun Diklat guru secara massal pada akhirnya berpulang kepada ada
tidaknya kemauan untuk berubah (willingness to change) dari para pemangku
kepentingan utama pendidikan tersebut. Semoga siap untuk berubah.
http://www.untirta.ac.id/berita-501-artikel--kesiapan-guru-menyonsongkurikulum-2013.html
Makalah Kurikulum 2013
Rabu, 05 Maret 2014

PRODI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN-AMPEL SURABAYA

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Pendidikan nasional kita masih menghadapi berbagai macam persoalan.


Persoalan itu memang tidak akan pernah selesai, karena substansi yang
ditransformasikan selama proses pendidikan dan pembelajaran selalu berada di
bawah tekanan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemajuan
masyarakat. Salah satu persoalan pendidikan kita yang masih menonjol saat ini
adalah adanya kurikulum yang silih berganti dan terlalu membebani anak tanpa
ada arah pengembangan yang betul-betul diimplementasikan sesuai dengan
perubahan yang diinginkan pada kurikulum tersebut.
Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan kurikulum selalu mengarah pada
perbaikan sistem pendidikan. Perubahan tersebut dilakukan karena dianggap
belum sesuai dengan harapan yang diinginkan sehingga perlu adanya revitalisasi

kurikulum. Usaha tersebut mesti dilakukan demi menciptakan generasi masa


depan berkarakter, yang memahami jati diri bangsanya dan menciptakan anak
yang unggul, mampu bersaing di dunia internasional.
Kurikulum sifatnya dinamis karena selalu berubah-ubah sesuai dengan
perkembangan dan tantangan zaman. Semakin maju peradaban suatu bangsa,
maka semakin berat pula tantangan yang dihadapinya. Persaingan ilmu
pengetahuan semakin gencar dilakukan oleh dunia internasional, sehingga
Indonesia juga dituntut untuk dapat bersaing secara global demi mengangkat
martabat bangsa. Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan yang akan
menimpa dunia pendidikan kita, ketegasan kurikulum dan implementasinya
sangat dibutuhkan untuk membenahi kinerja pendidikan yang jauh tertinggal
dengan negara-negara maju di dunia.
Penyelenggaraan pendidikan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undangundang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharapkan
dapat mewujudkan proses berkembangnya kualitas pribadi peserta didik sebagai
generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini akan menjadi faktor
determinan bagi tumbuh kembangnya bangsa dan negara Indonesia sepanjang
jaman.
Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah
satu unsur yang memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan
proses berkembangnya kualitas potensi peserta didik. Jadi tidak dapat disangkal
lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada kompetensi
sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengarahkan peserta didik menjadi:
(1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman
yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
man-diri; dan (3) warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi merupakan
salah satu strategi pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang
diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
B.

Rumusan Masalah

1.

Apa pentingnya mengenal Pelaksanaan Kurikulum 2013 ?

2.

Bagaimana sistem Evaluasi dalam Kurikulum 2013 ?

3.

Apa saja karakteristik Kurikulum 2013 ?

4.

Bagaimana proses pembelajaran Kurikulum 2013 ?

5.

Apa saja prinsip Pengembangan Kurikulum 2013 ?

Bagaimana implikasi Kurikulum 2013 bagi Guru SD/MI ?


Apa saja tahap Persiapan Pelaksanaan kurikulum 2013 ?

Bagaimana kerangka Kerja Kurikulum 2013 ?


9.

Apa kelebihan dan kelemahan kurikulum 2013 ?

Apa saja konsep Dasar Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 ?


11. Apa aja metode Pembelajaran dalam Kurikulum 2013 ?
12. Apa saja model Pembelajaran dalam Kurikulum ?
13. Apa perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP ?

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Mengenal Pelaksanaan Kurikulum 2013

Hal mendasar dari kurikulum 2013, menurut Mulyoto adalah masalah


pendekatan pembelajarannya. Selama ini, pendekatan yang digunakan adalah
materi. Jadi materi di berikan pada anak didik sebanyak-banyaknya sehingga
mereka menguasai materi itu secara maksimal. Bahkan demi penguasaan materi
itu, drilling sudah diberikan sejak awal, jauh sebelum siswa menghadapi ujian
nasional. Dalam pembelajaran seperti ini, tujuan pembelajaran tujuan
pembelajaran yang dicapai lebih kepada aspek kgnitif dengan menafikan aspek
psikomotrik dan afektif.
Ketiga aspek tersebut sebenarnya sudahmendapat penekanan pada
kurikulum kita selama ini. Pada saat pemberlakuan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) 2003, aspek kognitif, psikomotorik dan afektif (yang dikenal
dengan taksonomi Bloom tentang tujuan pendidikan), telah juga menjadi
kompetensi integral yang harus dicapai. Lalu pada saat pemberlakuan Kurikulum

2006, melalui pendidikan karakter, aspek afektif yang seolah dilupakan para
praktisi pendidikan, digaungkan.
Tapi dalam dataran praksis, hanya aspek kognitif yang dikejar. Penyebabnya
adalah kurikulum tidak dikawal dengan kebijakan yang sinergis, tetapi malah
dijegal dengan kebijakan ujian nasional.
Soal-soal ujian nasional hanya menguji pencapaian aspek kognitif.
Pencapaian aspek psikomotorik dan afektif tidak bisa diukur dengan
menggunakan tes ini. Padahal tes ini adalah penentu kelulusan. Maka
pembelajaran yang terjadi adalah pembelajaran yang berbasis materi tanpa
memedulikan penanaman keterampilan dan sikap.
Pada kenyataannya, sejak awal siswa-siswa telah dibiasakan menghadapi
soal-soal model ujian nasional. Pembelajaran mengacu pada kompetensi dasar
yang yang nanti akan diujikan dalam ujian nasional. Bahkan ada pula guru yang
menggunakan soal-soal ujian nasional yang telah diujikan pada tahun
sebelumnya sebagai acuan dalam pembelajaran. Menjelang menghadapi ujian
nasional, guru memberikan pembelajaran ujian nasional pada siswanya. Apapun
yang tidak ada kaitannya dengan ujian nasional ditiadakan.

Berdasarkaan pengalaman selama ini, hal tersebut harus didukung dengan


kebijakan yang konsisten, yaitu sistem avaluasi yang mengukur pencapaian
kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif secara berimbang. Tidak bisa
dipungkiri bahwa ujian nasional harus dihapuskan, sehingga penentu kelulusan
nantinya adalah transkrip nilai yang diperoleh dari nilai rapor tiap semester.
Karena nilai-nilai rapor sebagai hasil evaluasi pembelajaran mengandung ketiga
aspek secara menyeluruh, maka pembelajaran juga akan diberikan seccara
benyeluruh dalam ketiga aspek itu.
Dengan dihapusnya ujian nasional, wewenang mengadakan evaluasi
kembali kepada guru sehingga lengkaplah kewenangan guru; menyusun rencana
pembelajaran, melaksanakn kegiatan pembelajaran dan melaksanakan kegiatan
evaluasi. Hal ini sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. [1]
B.

Sistem Evaluasi dalam Kurikulum 2013

Kesalahan fatal dalam implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan


Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) selama ini menurut saya adalah
kemunculan kebijakan yang sejatinya tidak konsisten dengan kurikulumkurikulum tersebut. Kebijaksanaan yang dimaksud adalah pelaksanaan ujian
nasional dengan standar kelulusannya. Dimana siswa dikatakan berhasil jika ia
telah mampu menembus jarring ujian nasional. Sebuah sekolah dikatakan
bermutu apabila kelulusan siswnya 100% dan banyak siswanya yang
mendapatkan nilai 10. Bahkan untuk tujuan itu, kecurangan sistematis selalu
terjadi. Penanaman nilai moral seolah tak diperhatikan.

Oleh karena itu, jika nantinya Kurikulun 2013 diterapkan dan ditujukan agar
guru memperoleh ruang yang lebih leluasa untuk mengembangkan potensi siswa
secara seimbang dalam tiga aspek, yaitu aspek kognitif, psikomotorik dan afektif.
Kurikulum ini harus dikawal dengan kebijakan yang sinergis. Dan akhirnya siswa
dapat belajar dengan semangat, antusias, tidak bosan dan mampu menyerap
nilai-nilai moral yang terkandung secara tersitat dalam setiap materi.[2]

C.

Karakteristik Kurikulum 2013

Dalam kurikulum 2013 memiliki karakteristik diantaranya:


a)
Isi atau konten kurikulum yaitu kompetensi dinyatakan dalam bentuk
Kompetensi Inti (KI) satuan pendidikan dan kelas, dirinci lebih lanjut dalam
Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran.
b)
Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai
kompetensi dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (kognitif dan
psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah,
kelas dan mata pelajaran.
c)
Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta
didik untuk suatu tema untuk SD/MI, dan untuk mata pelajaran di kelas tertentu
untuk SMP/MTS, SMA/MA, SMK/MAK.
d)
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dijenjang pendidikan menengah
diutamakan pada ranah sikap sedangkan pada jenjang pendidikan menengah
berimbang antara sikap dan kemampuan intelektual (kemampuan kognitif
tinggi).
e)
Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris (organizing elements)
Kompetensi Dasar yaitu semua KD dan proses pembelajaran dikembangkan
untuk mencapai kompetensi dalam Kompetensi Inti.
f)
Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif
saling memperkuat (reinforced) dan memperkaya (enriched) antar mata
pelajaran dan jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertikal) diikat oleh
kompetensi inti.
g)
Silabus dikembangkan sebagai rancangan belajar untuk satu tema (SD).
Dalam silabus tercantum seluruh KD untuk tema atau mata pelajaran di kelas
tersebut.
h)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dikembangkan dari setiap KD yang
untuk mata pelajaran dan kelas tersebut.
D.

Proses Pembelajaran Kurikulum 2013

Proses pembelajaran Kurikulum 2013 terdiri atas pembelajaran intra-kurikuler


dan pembelajaran ekstra-kurikuler.

1. Pembelajaran intra kurikuler adalah proses pembelajaran yang berkenaan


dengan mata pelajaran dalam struktur kurikulum dan dilakukan di kelas, sekolah,
dan masyarakat.
Pembelajaran didasarkan pada prinsip berikut :
a. Proses pembelajaran intra-kurikuler Proses pembelajaran di SD/MI
berdasarkan tema sedangkan di SMP/MTS, SMA/MA, dan SMK/MAK berdasarkan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dikembangkan guru.
b. Proses pembelajaran didasarkan atas prinsip pembelajaran siswa aktif untuk
menguasai Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti pada tingkat yang
memuaskan (excepted).

2.

Pembelajaran ekstra-kurikuler

Pembelajaran ekstra-kurikuler adalah kegiatan yang dilakukan untuk aktivitas


yang dirancang sebagai kegiatan di luar kegiatan pembelajaran terjadwal secara
rutin setiap minggu. Kegiatan ekstra-kurikuler terdiri atas kegiatan wajib dan
pilihan. Pramuka adalah kegiatan ekstra-kurikuler wajib.
Kegiatan ekstra-kurikuler adalah bagian yang tak
kurikulum.Kegiatan ekstra-kurikulum berfungsi untuk:

terpisahkan

dalam

a. Mengembangkan minat peserta didik terhadap kegiatan tertentu yang tidak


dapat dilaksanakan melalui pembelajaran kelas biasa,
b. Mengembangkan kemampuan yang terutama berfokus pada kepemimpinan,
hubungan sosial dan kemanusiaan, serta berbagai ketrampilan hidup.
Kegiatan ekstra-kurikuler dilakukan di lingkungan:
a.

Sekolah

b.

Masyarakat

c.

Alam

Kegiatan ekstra-kurikuler wajib dinilai yang hasilnya digunakan sebagai unsur


pendukung kegiatan intra-kurikuler.
E.

Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013

Pengembangan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:


1.
Kurikulum bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran
karena mata pelajaran hanya merupakan sumber materi pembelajaran untuk
mencapai kompetensi. Atas dasar prinsip tersebut maka kurikulum sebagai
rencana adalah rancangan untuk konten pendidikan yang harus dimiliki oleh
seluruh peserta didik setelah menyelesaikan pendidikannya di satu satuan atau
jenjang pendidikan, kurikulum sebagai proses adalah totalitas pengalaman

belajar peserta didik di satu satuan atau jenjang pendidikan untuk menguasai
konten pendidikan yang dirancang dalam rencana, dan hasil belajar adalah
perilaku peserta didik secara keseluruhan dalam menerapkan perolehannya di
masyarakat.
2.
Kurikulum didasarkan pada standar kompetensi lulusan yang ditetapkan
untuk satu satuan pendidikan, jenjang pendidikan, dan program pendidikan.
Sesuai dengan kebijakan Pemerintah mengenai Wajib Belajar 12 Tahun maka
Standar Kompetensi Lulusan yang menjadi dasar pengembangan kurikulum
adalah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik setelah mengikuti proses
pendidikan selama 12 tahun. Selain itu sesuai dengan fungsi dan tujuan jenjang
pendidikan dasar dan pendidikan menengah serta fungsi dan tujuan dari masingmasing satuan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan maka pengembangan
kurikulum didasarkan pula atas Standar Kompetensi Lulusan pendidikan dasar
dan pendidikan menengah serta Standar Kompetensi satuan pendidikan.
3.
Kurikulum didasarkan pada model kurikulum berbasis kompetensi. Model
kurikulum berbasis kompetensi ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa
sikap, pengetahuan, ketrampilan berpikir, ketrampilan psikomotorik yang
dikemas dalam berbagai mata pelajaran. Kompetensi yang termasuk
pengetahuan dikemas secara khusus dalam satu mata pelajaran. Kompetensi
yang termasuk sikap dan ketrampilan dikemas dalam setiap mata pelajaran dan
bersifat lintas mata pelajaran, diorganisasikan dengan memperhatikan prinsip
penguatan (organisasi horizontal) dan keberlanjutan (organisasi vertikal)
sehingga memenuhi prinsip akumulasi dalam pembelajaran.
F.

Implikasi Kurikulum 2013 bagi Guru SD/MI

Dalam implementasi pembelajaran khususnya bagi guru kelas 1 sampai 3 di


sekolah dasar mempunyai implikasi antara lain :
Implikasi bagi guru
Kurikulum 2018 memerlukan guru PPKN yang kreatif baik dalam menyiapkan
kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari
berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih
bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh mengigat harus mengintegrasikan
pelajaran IPA dan IPS dalam pembelajarannya.

Implikasi bagi siswa

Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam


pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan,
kelompok kecil ataupun klasikal.

Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi


secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian
sederhana, dan pemecahan masalah

Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media

Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik


secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan
menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh karena
itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar.

Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik


yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran
(by design), maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat
dimanfaatkan (by utilization).

Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media


pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam memahami
konsep-konsep yang abstrak.

Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat


menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata
pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus
yang memuat bahan ajar yang terintegrasi
Implikasi terhadap Pengaturan ruangan
Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu melakukan pengaturan
ruang agar suasana belajar menyenangkan.Pengaturan ruang tersebut meliputi:

Ruang perlu ditata disesuaikan dengan topik yang sedang dilaksanakan.

Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan


keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung

Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar/karpet

Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas


maupun di luar kelas

Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta


didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar

Alat, sarana dan sumber belajar hendaknya dikelola sehingga


memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali.

e.

Implikasi terhadap Pemilihan metode

Sesuai dengan karakteristik pembelajaran terintegrasi , maka dalam


pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan
menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab,
demonstrasi, bercakap-cakap.
G.

Tahap Persiapan Pelaksanaan

Dalam pelaksanaan pembelajaran integrasi PPKN , perlu dilakukan beberapa hal


yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan
kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus dan
penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.

1.

Tahap Perencanaan
Pemetaan Kompetensi Inti

Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara


menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan
indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih.
Kegiatan yang dilakukan adalah:
a.

Penjabaran Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar ke dalam indikator

Melakukan kegiatan penjabaran Kompetensi Inti dan kompetensi dasar dari


setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam mengembangkan indikator
perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik


Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran

Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau dapat


diamati.
b.

Menentukan tema

1) Cara penentuan tema


Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni:
Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan
tema yang sesuai.
Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan,
untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerjasama dengan peserta didik
sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
2) Prinsip Penentuan tema
Dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip yaitu:

Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa:

Dari yang termudah menuju yang sulit

Dari yang sederhana menuju yang kompleks

Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.


Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri
siswa

Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa,


termasuk minat, kebutuhan, dan kemampuannya
3) Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan Indikator
Lakukan identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi, Kompetensi
Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema sehingga semua standar
kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis.
2.

Menetapkan Jaringan Tema

Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan indikator


dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan terlihat kaitan
antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap mata pelajaran.
Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan alokasi waktu setiap
tema.
3.

Penyusunan Silabus

Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya


dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari standar
kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar, alat/sumber, dan
penilaian.
4.

Penyusunan Rencana Pembelajaran

Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun rencana


pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan realisasi dari
pengalaman
belajar
siswa
yang
telah
ditetapkan
dalam
silabus
pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:
a. Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan, kelas,
semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang dialokasikan).
b.

Kompetensi dasar dan indikator yang akan dilaksanakan.

c. Materi pokok beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam rangka
mencapai kompetensi dasar dan indikator.
d. Strategi pembelajaran (kegiatan pembelajaran secara konkret yang harus
dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber
belajar untuk menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang
dalam kegiatan pembukaan, inti dan penutup).
e. Alat dan media yang digunakan untuk memperlancar pencapaian
kompetensi dasar, serta sumber bahan yang digunakan dalam kegiatan
pembelajaran tematik sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai.

f.
Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan digunakan
untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta tindak lanjut hasil
penilaian).

1.

Tahap Pelaksanaaan
Tahapan kegiatan

Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan menggunakan


tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan
inti, dan kegiatan penutup. Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan
pembukaan kurang lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam
pelajaran (3 x 35 menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit)
a.

Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan

Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran


untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses
pembelajaran dengan baik.
Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini
dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak tentang tema yang akan
disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita,
kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi
b.

Kegiatan Inti

Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk


pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan
pembelajaran dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi/metode yang
bervariasi dan dapat dilakukan secara klasikal, kelompok kecil, ataupun
perorangan.
c.

Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut

Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh


kegiatan
akhir/penutup
yang
dapat
dilakukan
adalah
menyimpulkan/mengungkapkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan,
mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim, pesan-pesan moral,
musik/apresiasi musik.
H.

Kerangka Kerja Kurikulum 2013

Proses pengembangan kurikulum digambarkan dalam diagram Kerangka Kerja


berikut:

1.
Pengembangan Kurikulum 2013 diawali dengan analisis kebutuhan
masyarakat Indonesia. Analisis kebutuhan tersebut merupakan analisis
kesenjangan mengenai kemampuan yang perlu dimiliki warganegara bagi
kehidupan berbangsa dan bernegara pada dekade ketiga dan keempat abad ke21. Adanya tantangan seperti keterikatan Indonesia dalam perjanjian
internasional seperti APEC, WTO, ASEAN Community, CAFTA. Hasil dari analisis
ini menunjukkan bahwa penguasaan soft skills perlu mendapatkan prioritas
dalam pengembangkan kemampuan warganegara untuk kehidupan masa depan.
2.
Analisis Tujuan Pendidikan Nasional sebagai arah pengembangan
kurikulum. Setiap upaya pengembangan kurikulum haruslah didesain untuk
pencapaian tujuan pendidikan nasional. Kurikulum sebagai jiwa pendidikan (the
heart of education)harus selalu dirancang untuk mencapai kualitas peserta didik
dan bangsa yang dirumuskan dalam tujuan pendidikan. Kajian dari tujuan
pendidikan
nasional
memberi
arah
yang
juga
mengacu
kepada
pengembangan soft skills yang berimbang dengan penguasaan hard skills.
3.
Analisis kesiapan peserta didik dilakukan terutama dari kajian psikologi
anak dan psikologi perkembangan, tahap-tahap perkembangan kemampuan
intelektual peserta didik serta keterkaitan tingkat kemampuan intelektual
peserta didik dengan jenjang kemampuan kompetensi yang perlu mereka kuasai.
Analisis ini diperlukan agar kompetensi yang dikembangkan dalam Kurikulum
2013 bersesuaian untuk menerapkan prinsip belajar. Prinsip belajar mengatakan
bahwa proses pembelajaran dimulai dari kemampuan apa yang sudah dimiliki
untuk mencapai kemampuan di atasnya dapat diterapkan dalam pengembangan
kurikulum.
4.
Berdasarkan
analisis
tersebut
maka
ditetapkan
bahwa
perlu
pengembangan Standar Kompetensi Lulusan baru yang menggantikan Standar
Kompetensi Lulusan yang sudah ada. Standar Kompetensi Lulusan Baru di
arahkan untuk lebih memberikan keseimbangan antara aspek sikap dengan

pengetahuan dan ketrampilan. Walau pun Standar Kompetensi Lulusan bukan


kurikulum tetapi berdasarkan pendekatan pendidikan yang berstandar standar
sebagaimana yang dinyatakan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional maka pengembangan Standar Kompetensi
Lulusan merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan. Sesuai dengan pendekatan
berdasarkan standar maka kurikulum harus dikembangkan berdasarkan Standar
Kompetensi Lulusan.
5.
Analisis berikutnya adalah kajian terhadap desain kurikulum 2006 yang
menjadi dasar dari KTSP dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22
tahun 2005 tentang Standar Isi. Dalam Standar Isi terdapat Kerangka dasar
Kurikulum dan struktur kurikulum. Analisis terhadap dokumen kurikulum tersebut
menunjukkan bahwa desain kurikulum dikembangkan atas dasar pengertian
bahwa kurikulum adalah daftar sejumlah mata pelajaran. Oleh karena itu satu
mata pelajaran berdiri sendiri dan tidak berinteraksi dengan mata pelajaran
lainnya. Melalui pengembangan kurikulum yang demikian maka ada masalah
yang cukup prinsipiil yaitu konten kurikulum yang dikategorikan sebagai konten
berkembang(developmental content) tidak mendapatkan kesempatan untuk
dikembangkan secara baik. Konten kurikulum berkembang seperti nilai, sikap
dan ketrampilan (intelektual dan psikomotorik) memerlukan desain kurikulum
yang menempatkan satu mata pelajaran dalam jaringan keterkaitan horizontal
dan vertikal dengan mata pelajaran lain. Dari hasil analisis tersebut maka
dikembangkan desain baru yang memberikan jaminan keutuhan kurikulum
melalui keterkaitan vertikal dan horizontal konten.
6.
Berdasarkan rumusan Standar Kompetensi Lulusan yang baru maka
dikembangkanlah Kerangka dasar Kurikulum yang antara lain mencakup
Kerangka Filosofis, Yuridis, dan Konseptual. Landasan filosofis yang
dikembangkan adalah bersifat eklektik yang mampu memberikan dasar bagi
pengembangan individu peserta didik secara utuh yaitu baik dari aspek
intelektual, moral, sosial, akademik, dan kemampuan yang diperlukan untuk
mengembangkan kehidupan individu peserta didik, sebagai anggota masyarakat
dan bangsa yang produktif, dan memiliki kemampuan berkontribusi dalam
meningkatkan kehidupan pribadi, masyarakat, bangsa, dan ummat manusia.
Kerangka yuridis kurikulum adalah berbagai ketetapan hukum yang mendasari
setiap upaya pendidikan di Indonesia. Kerangka konseptual berkenaan dengan
model kurikulum berbasis kompetensi yang dinyatakan dalam ketetapan pada
Undang-undang Sisdiknas. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum ditetapkan
antara lain termasuk penyederhanaan konten kurikulum, keseimbangan
kepentingan nasiional dan daerah, posisi peserta didik sebgai subjek dalam
belajar, pembelajaran aktif yang didasarkan pada model pembelajaran sains,
dan penetapan Kompetensi Inti sebagai unsur pengikat (organizing element) bagi
KD mata pelajaran.
7.
Kegiatan pengembangan berikutnya adalah penetapan struktur kurikulum.
Struktur kurikulum menggambarkan kerangka kurkulum terdiri atas sejumlah
mata pelajaran, pengelompokkannya, posisi mata pelajaran, beban belajar mata
pelajaran per minggu dan jumlah beban belajar keseluruhan per minggu.

Berdasarkan prinsip penyederhanaan kurikulum maka jumlah mata pelajaran


dikurangi tetapi jam belajar baik untuk setiap mata pelajaran mau pun untuk
keseluruhan ditambah. Penambahan jam belajar adalah untuk memberikan
waktu yang cukup bagi peserta didik mengembangkan kompetensi ketrampilan
dan sikap melalui proses pembelajaran yang berorientasi pada sains.
8.
Berdasarkan struktur kurikulum yang telah ditetapkan, selanjutnya
dirumuskan Kompetensi Inti setiap kelas yang menjadi pengikat dari berbagai
Kompetensi Dasar. Adanya Kompetensi Inti lebih menjamin terjadinya integrasi
Kompetensi Dasar antarmata pelajaran dan antarkelas. Proses pengembangan
Kompetensi Dasar melibatkan pengembang kurikulum yang terdiri dari guru,
dosen, dan para pakar pendidikan.
9.
Berdasarkan Kompetensi Dasar yang telah direviu dan dinyatakan
memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan maka dikembangkan silabus.
Pengembangan silabus dimaksudkan agar ada patokan minimal mengenai
kualitas hasil belajar untuk seluruh Indonesia. Dalam silabus ditetapkan sebagai
patokan minimal adalah indikator yang dikembangkan dari Kompetensi Dasar
dan kemudian diramu dalam Materi Pokok, proses pembelajaran yang
dikembangkan dari kegiatan observasi, menanya, mengasosiasi, dan
mengomunikasi. Keempat kemampuan ini dikembangkan selama dua belas
tahun sehingga kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis dan
kemampuan belajar peserta didik dapat menjadi kebiasaan-kebiasaan yang
memberikan kebiasaan belajar sepanjang hayat. Silabus tidak membatasi
kreativitas dan imaginasi guru dalam mengembangkan proses pembelajaran
karena silabus akan dikembangkan lebih lanjut oleh guru menjadi RPP yang
kemudian diterjemahkan dalam proses pembelajaran.
10. Berdasarkan KD dan silabus dikembangkan buku teks peserta didik dan buku
panduan guru. Buku teks peserta didik berisikan konten yang dikembangkan dari
KD sedangkan buku panduan guru terdiri atas komponen konten yang terdapat
dalam buku teks peserta didik dan komponen petunjuk pembelajaran dan
penilaian. Adanya buku teks peerta didik dan guru adalah patokan yang
memberikan jaminan kualitas hasil belajar minimal yang harus dimiliki peserta
didk.

I.
1.

Kelebihan dan Kelemahan kurikulum 2013[3]


Kelebihan Kurikulum 2013

a) Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan yang bersifat alamiah


(kontekstual) karena berfokus dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk
mengembangkan berbagai kompetensi sesuai dengan kompetensinya masingmasing. Dalam hal ini peserta didik merupakan subjek belajar dan proses belajar
berlangsung secara alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan
kompetensi tertentu, bukan transfer pengetahuan.

b) Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi boleh jadi


mendasari
pengembangan
kemampuan-kemampuan
lain.
Penguasaan
pengetahuan dan keahlian tertentu dalam suatu pekerjaan, kemampuan
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, serta pengembangan aspekaspek kepribadian dapat dilakukan secara optimal berdasarkan standar
kompetensi tertentu.
c) Ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang dalam
pengembangannya lebih cepat menggunakan pendekatan kompetensi, terutama
yang berkaitan dengan keterampilan.
d) Lebih menekankan pada pendidikan karakter. Selain kreatif dan inovatif,
pendidikan karakter juga penting yang nantinya terintegrasi menjadi satu.
Misalnya, pendidikan budi pekerti luhur dan karakter harus diintegrasikan
kesemua program studi.
e) Asumsi dari kurikulum 2013 adalah tidak ada perbedaan antara anak desa
atau kota. Seringkali anak di desa cenderung tidak diberi kesempatan untuk
memaksimalkan potensi mereka.
f) Kesiapan terletak pada guru. Guru juga harus terus dipacu kemampuannya
melalui pelatihan-pelatihan dan pendidikan calon guru untuk meningkatkan
kecakapan profesionalisme secara terus menerus.
2.

Kelemahan Kurikulum 2013

a) Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang
sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam
proses pengembangan kurikulum 2013.
b) Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil
dalam kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian
nasional (UN) masih diberlakukan.
c) Pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia untuk jenjang pendidikan dasar tidak tepat, karena rumpun ilmu
pelajaran-pelajaran tersebut berbeda.

J.

Konsep Dasar Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Menurut Sudjana , pembelajaran merupakan setiap upaya yang dilakukan


dengan sengaja oleh pendidik yang dapat menyebabkan peserta didik
melakukan kegiatan belajar. Menurut Gulo pembelajaran adalah untuk
menciptakan sistem lingkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar. Menurut
Nasution, pembelajaran sebagai suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur
lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik, sehingga
terjadi proses belajar. Yang dimaksud lingkungan disini adalah ruang belajar,

guru, alat peraga, perpustakaan, laboratorium dan sebagainya yang relefan


dengan kegiatan belajar siswa.[4]
Biggs membagi konsep pembelajaran dalam tiga pengertian, yaitu:
1.

Pengertian kuantitatif

Penularan pengetahuan dari guru kepada siswa. Guru dituntut untuk menguasai
ilmu yang disampaikan kepada siswa, sehingga memberikan hasil optimal.
2.

Pengertian institusional

Penataan segala kemampuan mengajar sehingga berjalan efisien. Guru harus


selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar.
3.

Pengertian kualitatif

Upaya guru untuk memudahkan belajar siswa. Peran guru tidak hanya
menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga melibatkan siswa dalam aktivitas
belajar yang efektif dan efisien. Kesimpulannya pembelajran merupakan suatu
upaya yang dilakukan dengan sengaja oleh pendidik untuk menyampaikan ilmu
pengetahuan, mengorganisasi dan menciptakan sitem lingkunagn dengan
berbagai metode sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar secara
efektif dan efisien serta dengan hasil yang optimal.[5]

K.

Metode Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan dalam proses pembelajaran


sehingga diperoleh hasil yang optimal. Adapun berbagai metode pembelajaran
yang dapat digunakan pendidik dalam kegiatan pembelajaran, antara lain:
1.

Metode ceramah

Penyampaian materi dari guru kepada siswa melalui bahasa lisan baik verbal
maupun nonverbal.
2.

Metode latihan

Penyampaian materi melalui upaya penanaman kebiasaan-kebiasaan tertentu


sehingga diharapkan siswa dapat menyerap materi secara optimal.
3.

Metode tanya jawab

Penyajian materi pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang harus dijwab oleh
anak didik. Bertujuan memotivasi anak mengajukan pertanyaan selama proses
pembelajaran atau guru mengajukan pertanyaan dan anak didik menjawab.
4.

Metode karya wisata

Metode penyampaian materi dengan cara membawa langsung anak didik ke


objek diluar kelas atau di lingkungan kehidupan nyata agar siswa dapat
mengamati atau mengalami secara langsung.
5.

Metode demonstrasi

Metode pembelajaran dengan cara memperlihatkan suatu proses atau suatu


benda yang berkaitan dengan bahan pembelajaran.
6.

Metode sosiodrama

Metode pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk


melakukan kegiatan memainkan peran tertentu yang terdapat dalam kehidupan
sosial.
7.

Metode bermain peran

Pembelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan anak didik


dengan cara anak didik memerankan suatu tokoh, baik tokoh hidup maupun
mati. Metode ini mengembangkan penghayatan, tanggungjawab, dan terampil
dalam memaknai materi yang dipelajari.
8.

Metode diskusi

Metode pembelajaran melalui pemberian masalah kepada siswa dan siswa


diminta untuk memecahkan masalah secara kelompok.
9.

Metode pemberian tugas dan resitasi

Merupakan metode pembelajaran melalui pemberian tugas kepada siswa.


Resitasi merupakan metode pembelajaran berupa tugas pada siswa untuk
melaporkan pelaksanaan tugas yang telah diberikan guru.
10.

Metode eksperimen

Pemberian kepada siswa untuk pencobaan.

11.

Metode proyek

Membahas materi pembelajaran ditinjau dari sudut pandang lain.[6]


Adapun prinsip dalam pemilihan dalam metode pembelajaran adalah disesuaikan
dengan tujuan, tidak terikat pada suatu alternatif, penggunaannya bersifat
kombinasi. Faktor yang menentukan dipilihnya suatu metode dalam
pembelajaran antara lain:
1.

Tujuan pembelajaran

2.

Tingkat kematangan anak didik

3.

Situasi dan kondisi yang ada dalam proses pembelajaran[7]

L.

Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Model pembelajaran adalah suatu pola yang digunakan sabagai pedoman dalam
merencanakan pembelajaran dikelas atau pembelajran dalam tutorial dan untuk
menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya bukubuku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain.[8]
Model pembelajaran memiliki empat ciri khusu yang tidak dimiliki oleh strategi,
metode atau prosedur. Ciri-ciri tersebut adalah :
1.

Rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta tau pengembangnya.

2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tuuan


pembelajran yang akan dicapai).
3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat
dilaksanakan dengan berhasil.
4. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat
tercapai.
Suatu model pembelajaran dikatakan baik jika memenuhi kruteria sebagi
berikut :
1.

Sahih (valid). Aspek validitas dikaitkan dengan dua hal :

a.
Apakah model yang dikembangkan didasarkan pada rasional teoritik yang
kuat ?
b.

Apakah terdapat konsistensi internal ?

2.

Praktis. Aspek kepraktisannya dapat dipenuhi jika :

a.
Para ahli dan praktisi menyatakan bahwa apa yang dikembangkan dapat
terapkan.
b.
Kenyataan menunjukkan bahwa apa yang dikembangkan tersebut dapat
diterapkan.
3.
a.

Efektif. Parameter :
Ahli dan praktisi menyatakan bahwa model tersebut efektif.

b.
Secara operasional, model tersebut memberikan hasil sesuai dengan
harapan.
Arends menyeleksi enam model pengajaran yang sering dan praktis digunakan
guru dalam mengajar, yaitu presensi, pengajaran langsung, pengajaran konsep,
pembelajaran kooperatif, pengajaran berdasarkan masalah dan diskusi kelas.
Dalam mengajarkan suatu pokok bahasan (materi) tertentu harus dipilih model
pembelajaran yang paling sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.[9]

M. Perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP


Kurikulum 2013 sudah diimplementasikan pada tahun pelajaran 2013/2014 pada
sekolah-sekolah tertentu (terbatas). Kurikulum 2013 diluncurkan secara resmi
pada tanggal 15 Juli 2013. Sesuatu yang baru tentu mempunyai perbedaan
dengan yang lama. Begitu pula kurikulum 2013 mempunyai perbedaan dengan
KTSP.[10]
Berikut ini Persamaan dan Perbedaan Kurikulum KTSP dengan Kurikulum 2013 di
Tingkat SMA/MA:
1.

Perbedaan

No

Kurikulum 2013

SKL (Standar Kompetensi Lulusan) Standar


Isi
ditentukan
terlebih
ditentukan terlebih dahulu, melalui dahulu melaui Permendiknas No 22
Permendikbud No 54 Tahun 2013. Tahun 2006. Setelah itu ditentukan
Setelah itu baru ditentukan Standar SKL (Standar Kompetensi Lulusan)
Isi, yang bebentuk Kerangka Dasar melalui Permendiknas No 23 Tahun
Kurikulum, yang dituangkan dalam 2006
Permendikbud No 67, 68, 69, dan 70
Tahun 2013

Aspek kompetensi lulusan ada Lebih menekankan


keseimbangan soft skills dan hard pengetahuan
skills
yang
meliputi
aspek
kompetensi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan

di jenjang SD Tematik Terpadu untuk di jenjang SD Tematik Terpadu untuk


kelas I-VI
kelas I-III

Jumlah jam pelajaran per minggu Jumlah jam pelajaran lebih sedikit
lebih banyak dan jumlah mata dan jumlah mata pelajaran lebih
pelajaran lebih sedikit dibanding banyak dibanding Kurikulum 2013
KTSP

Proses pembelajaran setiap tema di Standar proses dalam pembelajaran


jenjang SD dan semua mata terdiri dari Eksplorasi, Elaborasi, dan
pelajaran di jenjang SMP/SMA/SMK Konfirmasi
dilakukan dengan pendekatan ilmiah
(saintific approach), yaitu standar
proses dalam pembelajaran terdiri
dari
Mengamati,
Menanya,
Mengolah,
Menyajikan,
Menyimpulkan, dan Mencipta.

TIK

(Teknologi

KTSP

Informasi

pada

dan TIK sebagai mata pelajaran.

aspek

Komunikasi) bukan sebagai mata


pelajaran, melainkan sebagai media
pembelajaran
7

Standar penilaian menggunakan Penilaiannya lebih


penilaian otentik, yaitu mengukur aspek pengetahuan
semua
kompetensi
sikap,
keterampilan,
dan
pengetahuan
berdasarkan proses dan hasil.

dominan

Pramuka menjadi ekstrakuler wajib

Pemintan (Penjurusan) mulai kelas X Penjurusan mulai kelas XI


untuk jenjang SMA/MA

10

BK
lebih
menekankan BK
lebih
pada
mengembangkan potensi siswa
masalah siswa

pada

Pramuka bukan ekstrakurikuler wajib

menyelesaikan

Itulah beberpa perbedaan Kurikulum 2013 dan KTSP. Walaupun kelihatannya


terdapat perbedaan yang sangat jauh antara Kurikulum 2013 dan KTSP, namun
sebenarnya terdapat kesamaan ESENSI Kurikulum 2013 dan KTSP. Misal
pendekatan ilmiah (Saintific Approach) yang pada hakekatnya adalah
pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa mencari pengetahuan bukan
menerima pengetahuan. Pendekatan ini mempunyai esensi yang sama dengan
Pendekatan Keterampilan Proses (PKP). Masalah pendekatan sebenarnya bukan
masalah kurikulum, tetapi masalah implementasi yang tidak jalan di kelas. Bisa
jadi pendekatan ilmiah yang diperkenalkan di Kurikulum 2013 akan bernasib
sama dengan pendekatan-pendekatan kurikulum terdahulu bila guru tidak
paham dan tidak bisa menerapkannya dalam pembelajaran di kelas.
2. Persamaan
a) Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum 2013 sama-sama menampilkan teks
sebagai butir-butir KD.
b) Untuk struktur kurikulumnya baik pada KTSP atau pada 2013 sama-sama
dibuat atau dirancang oleh pemerintah tepatnya oleh Depdiknas.
c)

Beberapa mata pelajaran masih ada yang sama seperti KTSP.

d) Terdapat kesamaan esensi kurikulum, misalnya pada pendekatan ilmiah yang


pada hakekatnya berpusat pada siswa. Dimana siswa yang mencari pengetahuan
bukan menerima pengetahuan.

[1] Mulyoto, Strategi


Pembelajaran
di
2013, (Jakarta: Prestasi Pustaka Raya, 2013). Hal 114-115

Era

Kurikulm

[2] Ibid. Hal 121


[3]E. Mulyasa, Pengembangan dan Impelemtasi Kurikulum 2013. (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya) hal.164
[4] Sofan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013.
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2013) hal.28
[5]Ibid
[6] Sofan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013.
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2013) hal.29-30
[7] Ibid. Hal 30
[8] Ibid. Hal 34
[9] Sofan Amri, Pengembangan dan Model Pembelajaran dalam Kurikulum 2013.
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2013) hal.35
[10] http://fatkoer.wordpress.com/2013/07/28/perbedaan-kurikulum-2013-danktsp/
http://bulekh.blogspot.sg/2014/03/makalah-kurikulum-2013.html
makalh tanggapan mahasiswa terhadap kurikulum 2013

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmaanirrohiim, pertama-tama Puji Serta Syukur penulis panjatkan


kapada Allah SWT., karena atas Rahmat dan Ridlo-Nya juga nikmat iman, nikmat
sehat, nikmat umur, dan nikmat ukhuwah penulis dapat menyelesaikan makalah
tentang tanggapan mahasiswa terhadap kurikulum 2013. Penulisan makalah ini
dimaksudkan sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam upaya
memnuhi salah satu tugas pada mata kuliah yang diampu oleh bapak Asep Erna
Gunawan, SPd I.
Adapun isi makalah ini berisi tentang pernyataan pernyataan publik terhadap
rencana pemerintah yang akan segera meluncurkan kurikulum 2013. Banyak

yang setuju dengan penyelenggaraan kurikulum 2013. Namun tidak sedikit juga
yang merasa tidak siap dengan kurikulum 2013. Dikarenakan masa sosialisai
yang singkat juga dengan tidak meratanya tenaga profesioanal guru di setiap
wilayah.
Menilai hal tersebut maka saya selaku penyusun mengutip beberapa kutipan
yang saya tuangkan dalam makalah ini, untuk memeperkuat isi dari pada
makalah ini. Diantara kutipan kutipan tersebut secara garis besar banyak yang
tidak setuju dengan adanya kurikulum 2013, yang dianggap terlalu idealis.
Terlalu banyak rumpun pelajaran yang berbeda dijadikan menjadi satu rumpun.
Seperti sains dan sosial di masukan kedalam bahasa indonesia.
Maka dari itu penulis sengaja memilih judul pro kontra kurikulum 2013 ini agar
menjadi pertimbangan, bagi para pembaca juga bagi penulis. Haruskah
kurikulum 2013 dilanjutkan atau tidak.
Demikian yang penulis dapat sampaikan, penulis sadar masih terlalu banyak
kesalahan dan kekurangan penulis dalam menyusun makalah ini. Maka dari
penulis meminta maaf yang sebesar besarnya.
Majalaya, Maret 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR

DAFTAR
ISI
..

ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar
Belakang

1.2 Rumusan
Masalah..

Masalah

1
1

1.3 Tujuan
Penulisan

1.4 Metode
Penulisan

1.5 Sistematika
Penulisan.

BAB II
PEMBAHASAN
.

1.
Kurikulum

Pengertian

Etimologi.

1.1.
Secara

1.2. Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli..

2. Dari Ktsp Menjadi Kurikulum 2013

3. Hubungan Kurikulum 2013 Dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi


(2004)

4.
Plus
Minus
2013.

Kurikulum

5. Pro Kontra Terhadap Kurikulum 2013

6. Rancangan Kurikulum 2013 Menuai Protes.

1
0

7.
Mahasiswa.

1
2

Tanggapan

BAB III
PENUTUP
..

1
3

1.
KESIMPULAN
.

1
3

2.
SARAN
..

1
3

3.
DAFTAR
PUSTAKA

BAB 1
PENDAULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kurikulum 2013, yang rencananya diterapkan mulai tahun ajaran
2013/2014, masih menimbulkan Pro Dan Kontra di kalangan praktisi
pendidikan. Pihak yang mendukung kurikulum baru menyatakan,
Kurikulum 2013 memadatkan pelajaran sehingga tidak membebani
siswa, lebih fokus pada tantangan masa depan bangsa, dan tidak
memberatkan guru dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan
pendidikan.
Pihak yang kontra menyatakan, Kurikulum 2013 justru kurang fokus
karena menggabungkan mata pelajaran IPA dengan Bahasa Indonesia di
sekolah dasar. Ini terlalu ideal karena tidak mempertimbangkan
kemampuan guru serta tidak dilakukan uji coba dulu di sejumlah
sekolah sebelum diterapkan.
Pelaksanaan penyusunan kurikulum 2013 adalah bagian dari
melanjutkan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang
telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu, sebagaimana amanat
UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada penjelasan
pasal 35, di mana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
Strategi pengembangan pendidikan dapat dilakukan pada upaya
meningkatkan capaian pendidikan melalui pembelajaran siswa aktif
berbasis kompetensi; efektivitas pembelajaran melalui kurikulum, dan
peningkatan kompetensi dan profesionalitas guru; serta lama tinggal di
sekolah dalam arti penambahan jam pelajaran.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian tersebut diatas
rumusan masalah sebagai berikut:

dapat disimpulkan

beberapa

1
5

1.2.1 Sudahkah kurikulum 2013 diuji cobakan?


1.2.2 Bagaimana tingkat efektivitas kurikulum 2013?
1.2.3 Bagaimana opini public terhadap kurikulum 2013?
1.2.4 Apakah kurikulum 2013 lebih baik dari kurikulum sebelumnya?
1.2.5 Apakah perubahan kurikulum membawa dampak positive bagi
siswa?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat disimpulkan beberapa
uraian dari tujuan penulisan makalah ini, diantaranya:
1.3.1 Untuk mengetahui kebenaran uji coba kurikulum 2013
1.3.2 Untuk mengetahui tingkat efektivitas kurikulum 2013
1.3.3 Untuk mengtahui opini public terhadap kurikulum 2013
1.3.4 Untuk mengtahui kebaikan dan kelebihan kurikulum 2013 dari
kurikulum sebelumnya
1.3.5 Untuk mengetahui dampak positive dari perubahan kurikum bagi
siswa
1.4 Metode Penulisan
1.4.1 metode penulisan yang digunakan penulis dalam penyusunan
makalah ini adalah literature/ kepustakaan
1.4.2 makalah ini menggunakan studi kepustakaan yang bersumber dari
berbagai media buku maupun media cetak/elektronik yang sesuai
dengan materi yang akan dibahas.
1.5 Sistematika Penulisan
Makalah ini disusun dengan sistematika penulisan yang meliputi : Bab 1
pendahuluan menyajikan latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan Bab II
pembahasan menyajikan pengertian kurikulum, sekilas tentang
kurikulum 2013, pro kontra kurikulum 2013, tanggapan public dan
mahasiswa terhadap kurikulum 2013. Bab III Penutup berisi kesimpulan,
saran,daftar pustaka

BAB II
PEMBAHASAN

1.

PENGERTIAN KURIKULUM

1.1. Secara Etimologi


Secara Etimologis, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu carier
yang artinya pelari dan curare yang berarti tempat berpacu. Jadi, istilah
kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Romawi Kuno di
Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh
oleh pelari dari garis start sampai garis finish.
Dalam
bahasa
Arab,
kata
kurikulum
biasa
diungkapkan
dengan manhaj yang berartijalan yang dilalui oleh manusia pada
berbagai bidang kehidupan. Sedangkan kurikulum pendidikan (manhaj
al-dirasah) dalam qamus Tarbiyah adalah seperangkat perencanaan
dan media yang dijadikan acuan oleh lembaga pendidikan
dalam mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan.[1][1]
1.2. Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli
Setelah kami memaparkan pengertian kurikulum secara etimologi. Maka
kami menerangkan secara terminologi atau biasa disebut dengan
pengertian secara istilah.Pengertian Kurikulum menurut para ahli inilah
pengertian kurikulum secara Terminologi. Sebenarnya sangat banyak
sekali para ahli pendidikan yang mendifinisikan tetntang kurikulum.
Namun kami hanya memaparkan beberapa saja, diantaranya adalah
sebagai berikut :
Kurikulum adalah Rancangan Pengajaran atau sejumlah mata pelajaran
yang disusun secara sistematis untuk menyelesaikan suatu program
untuk memperoleh ijazah. (Crow and Crow)[2][2]
Kurikulum adalah kelompok pengajaran yang sistematik atau urutan
subjek yang dipersyaratkan untuk lulus atau sertifikasi dalam pelajaran
mayor, misalnya
kurikulum pelajaran sosial, kurikulum pendidikan fisika (Carter V. Good
dalam Oliva, 191:6)
Kurikulum adalah seluruh pengalaman siswa di bawah bimbingan guru (
Hollis L. Caswell and Doak S. Campbell dalam Oliva, 1991:6)
Kurikulum adalah sebagai sebuah perencanaan untuk memperbaiki
seperangkat pembelajaran untuk seseorang agar menjadi terdidik (J.
Galen Saylor, William M. Alexander, and arthur J. Lewis dalam Oliva
1991:6)
2.

DARI KTSP MENJADI KURIKULUM 2013

Kurikulum 2013 adalah sistem kurikulum terbaru yang dicanangkan oleh


pemerintah, yang akan diberlakukan mulai tahun ajaran baru tahun
2013-2014. Rencana perubahan tersebut masih membingungkan

banyak kalangan dan masih menjadi perdebatan bagi para ahli


penyusun kurikulum baru tersebut. Dikarenakan Kurikulum 2013
megabungkan setiap mata pelajaran ke dalam rumpun-rumpun artinya
jumlah mata pelajaran kini dipadatkan. Sehingga siswa hanya belajar
empat rumpun pelajaran namun jam pelajaran bertambah dari 26 jam
menjadi 30 jam per minggu. Misalnya pelajaran IPA dan IPS yang seolah
"hilang" sebagai mata pelajaran.
Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, kedua
mata pelajaran itu tidak dihilangkan, tetapi menjadi obyek
pembelajaran dalam tematik integratif. Artinya, kedua bidang itu tidak
menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi bergabung ke dalam mata
pelajaran Bahasa Indonesia.
Penggabungan IPA dan IPS ke balam Bahasa Indonesia. Bagi banyak
pihak, langkah penggabungan ini justru membingungkan. Mengapa
bukan sebaliknya, materi Bahasa Indonesia masuk ke mata pelajaran
IPA dan IPS atau semua mata pelajaran. Bahasa Indonesia justru akan
lebih fleksibel untuk diintegrasikan ke dalam tema apa pun. Bisa jadi
karena alasan nasionalisme dan tidak mungkin Bahasa Indonesia
digabungkan ke mata pelajaran lain karena akan bertentangan dengan
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam aturan perundangundangan itu disebutkan bahwa Bahasa Indonesia harus berdiri sebagai
mata pelajaran tersendiri dalam kurikulum. Lain halnya dengan mata
pelajaran bahasa daerah seperti pelajaran Bahasa Sunda, bahasa Bali,
atau Bahasa Jawa justru dihilangkan. Pada kurikulum 2013 bahasa
daerah "dihilangkan" dan bergabung dengan pelajaran lain, berarti
tidak berdiri sendiri seperti bahasa Indonesia.

3. HUBUNGAN ANTARA KURIKULUM


BERBASIS KOMPETENSI (2004)

2013

DENGAN

KURIKULUM

Pelaksanaan penyusunan kurikulum 2013 adalah bagian dari


melanjutkan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang
telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu, sebagaimana amanat
UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada penjelasan
pasal 35, di mana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
Paparan ini merupakan bagian dari uji publik Kurikulum 2013, yang
diharapkan dapat menjaring pendapat dan masukan dari masyarakat.

4.

PLUS MINUS KURIKULUM 2013

Perubahan kurikulum yang akan diberlakukan pada 2013 mendatang


memiliki tujuan untuk meningkatkan rasa ingin tahu siswa dan
mendorong siswa untuk aktif. Pada kurikulum baru, siswa tidak hanya
menjadi
obyek
namun
bisa
menjadi
subyek
dengan
ikut
mengembangkan wawasan pembelajaran yang ada, standar penilaian
pada kurikulum baru tentu berbeda dengan kurikulum sebelumnya.
Mengingat tujuannya untuk mendorong siswa aktif dalam tiap materi
pembelajaran, maka salah satu komponen nilai siswa adalah jika si anak
banyak bertanya. Selain keaktifan bertanya, komponen lain yang akan
masuk dalam standar penilaian adalah proses dan hasil observasi siswa
terhadap suatu masalah yang diajukan guru. Kemudian, kemampuan
siswa menalar suatu masalah juga menjadi komponen penilaian
sehingga anak terus diajak untuk berpikir logis. Yang terakhir adalah
kemampuan anak berkomunikasi melalui presentasi mengenai
pelajaran yang dibahas. Namun kurikulum baru yang nantinya akan
menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ini dinilai
pro-kontra. Kurikulum ini menurut pakar pendidikan hanya sesuai untuk
anak-anak yang berasal dari golongan menengah ke atas. Padahal,
maksud dari penerapan kurikulum baru ini antara lain agar metode
yang muncul di sekolah internasional juga dapat dirasakan seluruh
sekolah di Indonesia. Mengapa demikian? Karena kurikulum baru nanti
akan sulit dikembangkan pada sekolah di seluruh Indonesia. Untuk
sekolah yang didominasi oleh siswa dari golongan menengah ke atas,
kurikulum ini masih dapat berjalan, tapi tidak sebaliknya.
Metode pembelajaran pada kurikulum yang mengandalkan observasi ini
sebenarnya sudah diterapkan di sekolah internasional yang ada di
Indonesia. Tidak hanya sekolah internasional, sekolah-sekolah yang
dikelola oleh perorangan atau yayasan juga sudah menggunakan
metode ini dan memang hasilnya lebih baik. Tapi kenyataannya di
Indonesia kebanyakan adalah sekolah biasa bukan seperti sekolah
internasional yang memiliki fasilitas yang lengkap. Selain itu gurugurunya, kesejahteraannya masih bermasalah, kualitasnya juga
beragam. Didaerah ibukota seperti Jakarta mungkin masih bisa untuk
menerapkan kurikulum ini, namun bagaimana dengan sekolah yang
berada di daerah pelosok? Anak-anak berangkat sekolah saja susah,
fasilitasnya seadanya, dan jumlah gurunya yang kurang memadai.
Ternyata hal dampak dari penggantian kurikulum ini tidak hanya
dirasakan oleh pakar pendidikan namun guru-guru dipelosok daerah di
Indonesia juga merasakan dampaknya ini. Menurut para guru untuk
kurikulum 2013 justru mengurangi konsentrasi pembelajaran karena
menggabungkan mata pelajaran IPA dengan Bahasa Indonesia di
sekolah dasar. Ini terlalu ideal karena tidak mempertimbangkan
kemampuan guru serta tidak dilakukan uji coba dulu di sejumlah

sekolah sebelum diterapkan. Selain itu guru-guru juga membutuhkan


adaptasi yang lama untuk beradaptasi dengan perubahan kurikulum
yang mendadak ini.
Sebenarnya KTSP untuk kurikulum 2013 sudah sesuai dan dapat
diterima karena masing-masing sekolah mengetahui kondisi lapangan
sehingga metode pembelajarannya dapat dicari yang sesuai. Jika
memang tidak mencapai target yang diharapkan selama enam tahun
ini, maka seharusnya pemerintah tidak harus mengganti kurikulumnya
namun dibenahi dan dievaluasi dari tahun-tahun yang lalu.
Hal lain dari kurikulum 2013 nantinya adalah pada kurikulum baru nanti,
guru tak lagi dibebani dengan kewajiban untuk membuat silabus untuk
pengajaran terhadap anak didiknya seperti yang terjadi pada saat KTSP.
Kemudian masalah yang cukup signifikan dan berdampak pada anak
didik pada tahun sebelumnya adalah banyak bermunculannya Lembar
Kerja Siswa (LKS) dengan konten tak sesuai. Hal ini disebabkan
kemampuan guru dalam membuat soal latihan untuk murid kadang
terbatas sehingga penggunaan LKS dijadikan pilihan.
Untuk jam pelajaran dan pembelajaran dalam kurikulum 2013 nanti,
untuk SD yang semula 10 mata pelajaran akan menjadi enam mata
pelajarann yakni Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama,
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan, serta Kesenian. Di lain pihak, materi IPA dan IPS
menjadi tematik di pelajaran-pelajaran lainnya. Untuk Siswa SMP dari
32 jam menjadi 38 jam pelajaran per minggu. Mengacu kurikulum baru,
jumlah mata pelajaran SMP yang semula 12 nanti menjadi 10 mata
pelajaran. Mata ajar muatan lokal dan pengembangan diri akan melebur
ke dalam mata pelajaran seni budaya dan prakarya.
Sedangkan mata pelajaran yang lain tetap, yakni Pendidikan Agama,
Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA,
IPS, Bahasa Inggris, Seni Budaya (muatan lokal), Pendidikan Jasmani
dan Kesehatan.

5.

PRO KONTRA PUBLIC TERHADAP KURIKULUM 2013

Kurikulum 2013, yang rencananya diterapkan mulai tahun ajaran


2013/2014, masih menimbulkan pro dan kontra di kalangan praktisi
pendidikan. Pihak yang mendukung kurikulum baru menyatakan,
Kurikulum 2013 memadatkan pelajaran sehingga tidak membebani
siswa, lebih fokus pada tantangan masa depan bangsa, dan tidak
memberatkan guru dalam penyusunan kurikulum tingkat satuan
pendidikan.
Pihak yang kontra menyatakan, Kurikulum 2013 justru kurang fokus
karena menggabungkan mata pelajaran IPA dengan Bahasa Indonesia di

sekolah dasar. Ini terlalu ideal karena tidak mempertimbangkan


kemampuan guru serta tidak dilakukan uji coba dulu di sejumlah
sekolah sebelum diterapkan. Masa sosialisasinya juga terlalu pendek,
kata David Bambang, guru SD Negeri 03 Santas, Entikong, Kabupaten
Sanggau, Kalimantan Barat, Kamis (20/12).
Menurut David, bagi sekolah di perkotaan, perubahan kurikulum
kemungkinan tidak menjadi masalah. Namun, bagi kami, guru yang
bertugas di perbatasan, perubahan kurikulum membutuhkan waktu
adaptasi yang cukup lama, katanya.
Di Kendari, Sulawesi Tenggara, Umar (40), guru SMP 1 Kendari, dan
Wartini, guru SMKN 3 Kendari, meminta agar rancangan Kurikulum 2013
segera disosialisasikan kepada para guru. Supaya persiapan kami
menjadi lebih matang. Sebab, sampai saat ini kami belum tahu sama
sekali soal arah Kurikulum 2013, kata Wartini.
Di Makassar, Kepala SD Islam Terpadu Rama, Hasnah Makkasau, dan
guru SD Frater Makassar, Agustina Indrawati, juga meminta agar
Kurikulum 2013 segera disosialisasikan saat uji publik sekarang ini.
Guru-guru baru saja mempersiapkan kurikulum lama yang harus
diperkaya dengan pendidikan karakter. Tiba-tiba kurikulumnya berubah.
Kami belum tahu, kurikulum baru seperti apa? Padahal, tahun ajaran
baru sudah di depan mata, kata Hasnah.
Di Jember, Jawa Timur, Ketua Forum Komunikasi Guru Gunadi E Utomo
juga meminta agar sosialisasi segera dilakukan. Terutama soal
penggabungan IPA ke dalam Bahasa Indonesia. Penggabungan ini masih
sulit dimengerti guru, kata Gunadi.
Di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, meski sosialisasi belum dilakukan,
sekolah mulai bersiap mengantisipasi Kurikulum 2013. Kami akan
menerapkan pola pengajaran berbasis teknologi informasi dan
komunikasi yang diintegrasikan ke semua mata pelajaran, kata Kepala
SMP Muhammadiyah Gresik Kota Baru Ichwan Arif.
Di Denpasar, Bali, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga
Provinsi Bali AA Ngurah Gde Sujaya mempertanyakan anggaran untuk
sosialisasi Kurikulum 2013.Jika daerah yang harus menanggung biaya
sosialisasi dan pelatihan guru, kami belum memasukkannya ke dalam
APBD 2013, ujarnya.
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia Provinsi Bali Gede Wenten
Aryasuda mengusulkan agar bahasa daerah dipertahankan sebagai
mata pelajaran yang berdiri sendiri, bukan sekadar muatan
lokal. Bahasa daerah merupakan benteng keberagaman dan kekayaan
budaya Indonesia, ujarnya. Di Bali, bahasa daerah selama ini menjadi
muatan lokal di SD, SMP, dan SMA berdasarkan Peraturan Daerah
Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 1992 tentang Bahasa, Aksara, dan Sastra

Bali.
Di Kabupaten Purbalingga dan Kebumen, Jawa Tengah, kehadiran
kurikulum baru justru meresahkan guru pengajar bahasa daerah.
Mereka khawatir penghapusan atau pengurangan bahasa daerah akan
menyebabkan mereka tak bisa memenuhi kewajiban 28 jam mengajar
per minggu sehingga tunjangan sertifikasi yang mereka terima akan
dihapuskan. Padahal, dari 90 guru bahasa daerah di Purbalingga,
sekitar 50 persen sudah lolos sertifikasi, kata Prasetyo (42), guru
Bahasa Jawa SMP Negeri 1 Bukateja, Kabupaten Purbalingga.
Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Bahasa Jawa SMP Se-Kabupaten
Kebumen Eko Wahyudi mengatakan, penghapusan pelajaran Bahasa
Jawa bisa menyebabkan siswa merasa asing dengan kultur dan karakter
masyarakatnya.(AHA/EKI/WIE/DMU/ACI/KOR/
SIR/IRE/ENG/COK/RIZ/
CHE/ADH/GRE)

6. RANCANGAN KURIKULUM 2013 YANG TENGAH DIUJIPUBLIKKAN


MENUAI PROTES DARI BERBAGAI KALANGAN DI BALI
Rancangan Kurikulum 2013 disebutkan bahwa bahasa Daerah
diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Seni Budaya, Prakarya,
Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Pengintegrasian tersebut
mendorong guru bahasa daerah melakukan aksi demonstrasi di kantor
DPRD Bali beberapa waktu lalu. Komisi IV DPRD Bali bahkan telah
menyuarakan aspirasi ke Jakarta, bahwa Bali menolak pengintegrasian
mata pelajaran Bahasa Bali dalam kurikulum 2013 tersebut.
Selasa (15/1) lalu, anggota Komisi IV DPRD Bali bersama perwakilan
Disdikpora, kembali menyuarakan aspirasi ke Jakarta dengan membawa
rekomendasi sesuai hasil Seminar Evaluasi Rencana Perubahan
Kurikulum 2013. Rekomendasi tersebut berisi mengenai Penggabungan
Bahasa Daerah ke dalam Seni Budaya pada Kurikulum 2013 yang
diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Bali, Fakultas Sastra
Universitas Udayana, pada Rabu (9/1) lalu.
Ketua Jurusan Sastra Bali, Fakultas Sastra Universitas Udayana, I Gede
Nala Antara mengungkapkan, pihaknya menolak bahasa daerah yang
diintegrasikan ke mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya. Terlebih
lagi, alasan penolakan itu dilandasi oleh adanya kontradiksi antara
tujuan dan realita kurikulum 2013. Dasar dari kurikulum 2013 adalah
menjunjung dan meningkatkan nilai-nilai luhur bangsa. Sementara
bahasa daerah adalah sumber dari nilai-nilai luhur bangsa. Bagaimana
bisa menjunjung nilai luhur bangsa apabila bahasa daerah
diintegrasikan ke dalam mata pelajaran seni budaya dan prakarya?
ungkap Nala Antara saat ditemui Selasa (8/1) lalu di ruangan jurusan
Sastra Bali.

Bertolak belakang dengan pernyataan Nala Antara, Wirawan, seniman


Gases Bali sekaligus Dosen Seni di IKIP PGRI Denpasar menyatakan
bahwa secara pribadi dirinya setuju dengan wacana pengintegrasian
Bahasa Daerah dalam kurikulum 2013. Menurut saya, itu sami
mawon (sama saja). Bahasa Bali merupakan pelestarian budaya yang
berbasis tradisi/lokal genius. Kalau bahasa Bali dialihkan ke dalam Seni
Budaya dan Prakarya, seni budaya juga berbasis lokal genius. Ada
bahasa Bali dan kesenian di dalamnya. Toh juga diajarkan tatanan dan
susunan tradisi budaya kita yang ada di Bali. Jadinya sama saja, hanya
bahasa pengungkapannya yang berbeda, jelas Wirawan ketika ditemui
di Sanggar Gases Bali, Sesetan, Selasa (8/1) lalu.
I Wayan Sudarsana mahasiswa semester 5 Jurusan Sastra Bali
Universitas Udayana ikut angkat bicara. Tentunya akan mempengaruhi
banyak hal seperti guru, fakultas pendidikan di perguruan tinggi, dan
tentunya dampak yang paling parah adalah Bahasa Bali itu sendiri.
Kalaupun Bahasa Bali diintegrasikan ke seni budaya dan prakarya,
diharapkan agar mendapat porsi yang lebih besar karena selain belajar
bahasa, tradisi juga dipelajari, jelas Sudarsana. Dea & Sasmita

7.

TANGGAPAN MAHASISWA

Tanggapan kami selaku mahasiswa, kurikulum 2013 masih perlu ditinjau


ulang dikarenakan sosialisasinya masih dapat dibilang sangat nihil
dilakukan oleh pemerintah. Juga banyak sekali opini public yang kontra
terhadap kurikulum 2013 ini.
Negeri kita yang tercinta ini sangat luas dan dengan jumlah penduduk
yang sangat banyak. Oleh karena itu rasanya tidak adil kalau hanya
melakukan sosialisasi di daerah perkotaan semata. Bagaimana dengan
daerah pesisir pantai, pedalaman kampung, dan masih banyak lagi
daerah terpencil yang tidak terjangkau yang secara harpiah belum
tentu siap dengan perubahan kurikulum yang demikian itu.

BAB III
PENUTUP

1.

KESIMPULAN

Dengan banyaknya opini yang merasa keberatan dengan perubahan


kurikulum KTSPmenjadi KURIKULUM 2013 yang dinilai sangat cepat.
Lebih baik pemerintah menunda kurikulum ini untuk tahun depan. Agar
sosialisasi dan uji coba dapat dilakukan dengan penuh kematangan dan
dengan penuh pertimbangan.
Indonesia bukanlah sebuah Negara yang sebesar taplak meja. Dengan
keadaan geografis Indonesia dan letak antar pulau yang lumayan jauh,
jika menunda kurikulum 2013 untuk tahun depan sepeertinya akan
lebih bijak. Banyak daerah di pesisir pantai dan di pelosok pelosok yang
tenaga pengajarnya masih kurang. Rasanya pemerintah lebih bijak
untuk memikirkan bagaimana agar daerah pesisir dan pedalaman
tersebut dapat mencicipi pendidikan yang layak. Baik dari segi sarana
dan prasarana, tenaga pengajar, dan yang lainnya. Masih banyak
saudarakita yang berada di daerah daerah tersebut harus berjalan kaki
puluhan kilometer hanya untuk menuju ke sekolahnya. Mengapa
pemerintah tidak memikirkan hal tersebut? Mengapa hanya
mempermasalahkan kurikulum yang selalu berubah secara berkala?
Bagaimana dengan nasib saudara kita?

2.

SARAN

kurikulum 2013 masih perlu ditinjau ulang dikarenakan sosialisasinya


masih dapat dibilang sangat nihil dilakukan oleh pemerintah. Juga
banyak sekali opini public yang kontra terhadap kurikulum 2013 ini.
Negeri kita yang tercinta ini sangat luas dan dengan jumlah penduduk

yang sangat banyak. Oleh karena itu rasanya tidak adil kalau hanya
melakukan sosialisasi di daerah perkotaan semata. Bagaimana dengan
daerah pesisir pantai, pedalaman kampung, dan masih banyak lagi
daerah terpencil yang tidak terjangkau yang secara harpiah belum
tentu siap dengan perubahan kurikulum yang demikian itu.

DAFTAR PUSTAKA

Pro kontra kurikulum 2013


From
:http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/berita/pro-dankontra-pada-kurikulum-2013.html
Bukan Masanya Lagi Wawancara
From
:http://www.srie.org/2013/02/mendikbud-bukan-masanya-lagiwacana-pro.html
Kurikulum Sd-Smp-Smu-Smk
From
:http://blog-wandi.blogspot.com/2012/11/kurikulum-sd-smpsmu-smk-2013.html
Pro Kontra Kurikulum 2013
From
:http://panduanmu.blogspot.com/2012/12/pro-kontrakurikulum-2013.html
Topik Pilihan List/ Kurikulum 2013
From

:http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/2236/Kurikulum.2013

Diposkan oleh iwa sulisda di 00.36


http://ptustadselalurido.blogspot.sg/2013/03/normal-0-false-false-false-en-us-xnone.html
WARTA KOTA, PALMERAH - Kurikulum 2013 ternyata tak hanya membebani para
peserta didik tetapi juga guru-guru. Para guru ini, mengeluhkan proses penilaian
atau evaluasi siswa yang tak cukup diberi angka 7, 8, atau 9. Tetapi harus dinilai
deskriptif.
"Penilaiannya nggak cukup angka seperti pada kurikulum lalu, tetapi di sini juga
harus dilihat aspek, misalnya sikap, itu kita harus menuliskan secara deskriptif,
harus dijabarkan lengkap," kata Maryati, salah satu guru di SDN Palmerah 03
ketika ditemui Wartakotalive.com, Jumat (19/9/2014) pagi.
Menurutnya, penilaian deskriptif tak masalah jika jumlah siswanya hanya sediikit,
tetapi jika jumlah siswanya lebih dari 30 anak, maka hal tersebut memakan
waktu. Belum lagi, tambahnya, dalam kurikulum 2013 ini guru dinilai harus lebih
kreatif dalam menyajikan bahan ajar.
"Ya namanya masih baru sih ya jadi butuh penyesuaian, tapi jujur saja, kami
kualahan jika harus mengerjakan semua-semuanya, belum lagi di buku materi
banyak yang tak lengkap, kami harus cari dari bahan lainnya," tuturnya.
Meski begitu, tak ada cara lain selain tetap mengerjakannya.
Hal tersebut tak hanya dialami oleh Maryati. Sari, pengajar di salah satu SD
negeri di Ragunan, Jakarta Selatan pun mengatakan hal serupa ketika ditemui
beberapa waktu lalu.
Saat itu, buku kurikulum 2013 di sekolahnya belum datang sehingga ia harus
mengkopi materi dari bahan soft copy yang telah ia peroleh saat pelatihan guru.
Kala itu, perempuan berkerudung ini juga sempat mengatakan bahwa di guruguru masih perlu belajar mengenai sistem penilaian dalam kurikulum baru ini.
"Masih meraba-raba, jadi yang sekarang ini untuk menilai sikap tidak lagi dengan
angka atau huruf, kalaupun angka atau huruf harus dijelaskan, dijabarkan
panjang lebar mengapa si anak layak mendapatkan nilai itu," katanya.
Selain itu, guru yang sudah berstatus PNS itu juga mengatakan bahwa antara
satu anak dengan anak lainnya tak bisa dinilai dengan perkiraan tetapi harus
dilihat kemampuan apa yang menyebabkan anak bisa mendapatkan nilai
tersebut.
"Ya lebih kerja keras gurunya, belum lagi menyiapkan bahan ajar, kami dituntut
untuk lebih kreatif," katanya.

Sementara, kepala sekolah SDN Petamburan 04, Edi Kusyanto, menyatakan


bahwa memang guru-guru di sekolah tempatnya mengajar mengeluhkan proses
penilaian yang berbeda dari penilaian dalam kurikulum sebelumnya.
"Memang itu menjadi salah satu kendala, karena mungkin masih baru, tapi dari
pihak saya terus memberikan arahan tentang cara penilaian supaya guru-guru
lebih terbiasa," katanya.
Persoalan penilaian deskriptif tersebut tak hanya dikeluhkan oleh guru-guru
tetapi dirasakan juga oleh Retno Listyarti, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia
(FSGI). Ditemui beberapa waktu di kantor LBH Jakarta, Retno membenarkan
bahwa proses penilaian memang dikeluhkan guru-guru.
Selain sebagai kepala sekolah, Retno juga pengajar di SMA 13 Tanjung Priok
Jakarta Utara ini mengatakan, "sekarang bayangkan saja, jika harus mengajar 24
jam seminggu, artinya untuk satu pelajaran saya harus mengajar di 12 kelas,
bayangkan jika harus menilai secara deskriptif dimana satu anak dengan lainnya
berbeda karakter, kan penilaiannya tidak sama. Berapa banyak saya harus
membuat deskrispi dan menghabiskan waktu diluar jam mendidik."
Retno juga mengatakan guru-guru di sekolahnya akhirnya mengatasi penilaian
yang memakan waktu tersebut dengan cara mengkopi paste penilaian anakanak yang dididiknya.
Menurutnya, hal ini tak efektif karena membebani guru. (Agustin Setyo Wardani)
Terkait#Kurikulum 2013
http://wartakota.tribunnews.com/2014/09/19/guru-keluhkan-penilaian-dikurikulum-2013
19 sept 23 51