Está en la página 1de 7

Neysa Natalia

141003741010193
ALIRAN-ALIRAN PEMIKIRAN FILSAFAT HUKUM ABAD XX

Pada abad XX terdapat perubahan di bidang sosial-politik serta kebudayaan-ilmu


pengetahuan. Perubahan pada bidang sosial politik ditandai dengan kehidupan hubungan bangsabangsa yang saling terjalin serta yang terjajah bangkit untuk merebut kemerdekaannya sehingga
kolonialisme berakhir. Banyak Negara Asia serta Afrika memperoleh kemerdekaannya. Setelah
Perang Dunia kedua, banyak pihak mengharapkan bersatunya para pemimpin dunia tetapi masih
sangat jauh karena terdapat beberapa blok negara yang terbagi atas negara yang sudah maju
(negara industry kaya), negara komunis (Uni Soviet), serta negara-negara bekas jajahan yang
sedang berkembang.
Pad bidang kebudyaan dan ilmu pengetahuan, kebudayaan barat makin tersebar luas ke
seluruh dunia sehingga menciptakan dunia modern yang ditandai dengan ilmu-ilmu pengetahuan
dan teknik. Sebelum abad XX, faktor kebudayaan merupakan monopoli beberapa bangsa dan
bahkan hanya pada kalangan elit bangsa-bangsa tersebut.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknik cara berpikir manusia terpengaruh oleh
masalah-masalah etika yang muncul. Seperti masalah penggunaan bom atom.
Walau terdapat pesamaan tentang pembentukan sistem hokum yang berlaku, namun pada
abad XX terdapat perbedaan tentang pengertian hokum yang hakiki. Terdapat dua arus besar
pandangan tentang pengertian hukum (K.Bertens, 1981) :
1. Hukum sebaiknya dipandang dalam hubungannya dengan pemerintah negara yaitu
sebagai norma hukum de facto yang beraku. Tolak ukurnya adalah kepentingan umum
dilihat sebagai bagian kebudayaan dan sejarah suatu bangsa. Pandangan ini bersumber
dari aliran sosiologi hukum dan realism hukum.
2. Hukum seharusnya dipandang sebagai bagian kehidupan etis manusia di dunia. Oleh
karena itu di sini diakui adanya hubungan antara hukum positif dengan pribadi manusia,
yang berpegang pada norma-norma keadilan. Prinsip ini diambil dari filsafat
neoskolastik, neokantisme, neohegelianisme, dan filsafat eksistensi.
Filsafat masa kini merupakan bentuk reaksi langsung atau tak langsung atas pemikiran Georg
Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831). Hegel ingin menerangkan alam semesta dan gerakgeriknya berdasarkan suatu prinsip. Menurut Hegel semua yang ada dan semua kejadian
merupakan pelaksanaan-yang-sedang-berjalan dari Yang Mutlak dan bersifat rohani. Namun
celakanya, Yang Mutlak itu tidak mutlak jika masih harus dilaksanakan, sebab jika betul-betul
mutlak, tentunya maha sempurna, dan jika maha sempurna tidak menjadi. Oleh sebab itu
1

pemikiran Hegel langsung ditentang oleh aliran pemikiran materialisme yang mengajarkan
bahwa yang sedang-menjadi itu, yang sering sedang-menjadi-lebih-sempurna bukanlah ide
("Yang Mutlak"), namun adalah materi belaka. Maksudnya, yang sesungguhnya ada adalah
materi (alam benda); materi adalah titik pangkal segala sesuatu dan segala sesuatu yang
mengatasi alam benda harus dikesampingkan. Maka seluruh realitas hanya dapat dibuat jelas
dalam alur pemikiran ini. Itulah faham yang dicetuskan oleh Ludwig Andreas Feuerbach (18041872). Sayangnya, materi itu sendiri tidak bisa menjadi mutlak, karena pastilah ada
yang ada di luar materi yang "mengendalikan" proses dalam materi itu untuk materi bisa
menjadi lebih sempurna dari sebelumnya.
Kesalahan Hegel adalah tidak menerima bahwa Yang Mutlak itu berdiri sendiri dan ada-diatassegalanya, dalam arti tidak dalam satu realitas dengan segala yang sedang-menjadi
tersebut. Dengan mengatakan Yang Mutak itu menjadi, Hegel pada dasarnya meniadakan
kemutlakan. Dalam cara sama, dengan mengatakan bahwa yang mutlak itu materi, maka
materialisme pun jatuh dalam kubangan yang sama. Dari sini dapat difahami munculnya
sejumlah aliran-aliran penting dewasa ini.
Positivisme
Positivisme menyatakan bahwa pemikiran tiap manusia, tiap ilmu dan suku bangsa melalui 3
tahap, yaitu teologis, metafisis dan positif ilmiah. Manusia muda atau suku-suku primitif pada
tahap teologis" dibutuhkan figur dewa-dewa untuk "menerangkan" kenyataan. Meningkat
remaja dan mulai dewasa dipakai prinsip-prinsip abstrak dan metafisis. Pada tahap dewasa dan
matang digunakan metode-metode positif dan ilmiah. Aliran positivisme dianut oleh August
Comte (1798-1857), John Stuart Mill (1806-1873) dan H Spencer (1820-1903), dan
dikembangkan menjadi neo-positivisme oleh kelompok filsuf lingkaran Wina.
Marxisme
Marxisme (diberi nama mengikuti tokoh utama Karl Marx, 1818-1883) mengajarkan bahwa
kenyataan hanya terdiri atas materi belaka, yang berkembang dalam proses dialektis (dalam
ritme tesis-antitesis-sintesis). Marx adalah pengikut setia Feuerbach (sekurangnya pada tahap
awal). Feuerbach berpendapat Tuhan hanyalah proyeksi mausia tentang dirinya sendiri dan
agama hanyalah sarana manusia memproyeksikan cita-cita (belum terwujud!) manusia tentang
dirinya sendiri. Menurut Feuerbach, yang ada bukan Tuhan yang mahaadil, namun yang ada
hanyalah manusia yang ingin menjadi adil. Dari sini dapat difahami mengapa Marx berkata,
bahwa "agama adalah candu bagi rakyat", karena agama hanya membawa manusia masuk dalam
"surga fantasi", suatu pelarian dari kenyataan hidup yang umumnya pahit. Selanjutnya Marx
menegaskan bahwa filsafat hanya memberi interpretasi atas perkembangan masyarakat dan
sejarah. Yang justru dibutuhkan adalah aksi untuk mengarahkan perubahan dan untuk itu harus
dikembangkan hukum-hukum obyektif mengenai perkembangan masyarakat.
Soekarno mengkalim telah mencetuskan marhaenisme sebagai marxisme diterapkan dalam
situasi dan kondisi Indonesia. Kualifikasi "penerapan dalam situasi dan kondisi Indonesia"
(apapun itu) pastilah tidak membuat faham marhaenisme sebagai suatu aliran filsafat dan
pastilah tidak harus sama dengan faham marxisme sebagai diterapkan di dalam lingkungan
masyarakat lain.
2

Ditangan Friedrich Engels (1820-1895), dan lebih-lebih oleh Lenin, Stalin dan Mao Tse
Tung, aliran filsafat Marxisme ini menjadi gerakankomunisme, yaitu suatu ideologi politik
praktis Partai Komunis di negara mana saja untuk merubah dunia. Sangat nyata bahwa dimana
saja Partai Komunis itu menjalankan praktek-praktek yang nyatanya mengingkari hak-hak azasi
manusia, dan karena itu tidak berperikemanusiaan (dan tak ber keTuhanan pula!).
Eksistensialime
Eksistensialime merupakan himpunan aneka pemikiran yang memiliki inti sama, yaitu
keyakinan, bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya (eksistensi) manusia konkrit, dan bukan
pada hakekat (esensi) manusia-pada-umumnya. Manusia-pada-umumnya tidak ada, yang ada
hanya manusia ini, manusia itu. Esensi manusia ditentukan oleh eksistensinya. Tokoh aliran ini J
P Sartre (1905-1980), Kierkegaard (1813-1855), Friederich Nietzche (1844-1900), Karl Jaspers
(1883-1969), Martin Heidegger (1889-1976), Gabriel Marcel (1889-1973).
Eksistensialisme sendiri muncul dari kritik terhadap pemikiran absolutisme Hegelian.
Pandangan Hegel yang begitu idealistik menyebabkan manusia sebagai individu tidak diberikan
tempat di dunia ini.
Menurut Huijbers, pertama-tama manusia dimengerti secara objektif-abstrak, yakni dalam
definisi yang terkenal: animal rationale. Kemudian, manusia dimengerti dalam konsep subjektifabstrak dalam: cogito ergo sum, tekanan terletak dalam kehidupan batin. Dalam filsafat
eksistensi, manusia dimengerti secara subjek-konkret: manusia adalah subjek di dunia.
Salah seorang ahli hukum yang menganut faham eksistensialis adalah Hans Maihofer.
Pandangan tentang eksistensialisnya dipengaruhi oleh filsuf Jerman Martin Heideger.
Martin Heidegger (1905) dengan bukunya Sein Und Zeit (1927). Menurutnya, persoalan
berada hanya dapat dijawab melalui ontologi, artinya jika persoalan ini dihubungkan dengan
manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Metode untuk ini adalah metode fenomenologis.
Jadi yang penting adalah menemukan arti berada itu. Satu-satunya yang berada dalam arti yang
sesungguhnya adalah beradanya manusia. Keberadaan benda-benda terpisah dengan yang lain,
sedang beradanya manusia, mengambil tempat di tengah-tengah dunia sekitarnya.
Keberadaan manusia adalah berada di dalam dunia. Maka ia dapat memberi tempat kepada
benda-benda yang di sekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu dan dengan manusiamanusia lain dapat bergaul dan berkomunikasi dengan semuanya.
Menurut Heidegger, manusia tidak menciptakan dirinya sendiri, ia dilemparkan ke dalam
keberadaan. Tetapi, walau manusia keberadaannya tidak mengadakan sendiri, bahkan merupakan
keberadaan yang terlempar, manusia tetap harus bertanggungjawab atas keberadaannya itu.
Di dalam hidup sehari-hari manusia bereksistensi, tidak yang sebenarnya. Manusia yang
tidak memiliki eksistensi yang sebenarnya itu menghadapi hidup yang semu, hidupnya orang
banyak. Ia tidak menyatukan hidupnya sebagai satu kesatuan. Dengan ketekunan mengikuti kata
hatinya itulah cara bereksistensi yang sebenarnya guna mencapai eksistensi yang sebenarnya.
Jean Paul Sartre, cukup lama ia menjadi pemikir paling populer di Eropa. Eksistensialismenya menjadi suatu gaya hidup. Bersama teman-temannya Sartre menerbitkan majalah Les Temps
Modernes (Jaman Modern) yang menjadi corong bicara filsafat eksistensialistis, dan sekaligus
dari suatu orientasi politik dan kultural.
Dialah yang menyebabkan eksistensialisme menjadi tersebar, bahkan menjadi semacam
mode, sekalipun pendiri eksistensialisme bukan dia, melainkan Soren Aabye Kierkegaard. Ia
3

mengajarkan bahwa yang ada ialah akal individual. Ia telah memperkenalkan istilah eksistensi
yang memegang peranan penting dalam filsafat abad ke-20. Pandangan tentang pentingnya arti
manusia sebagai pribadi inilah yang menjadi intisari filsafat yang dikembangkan oleh Sartre
dalam nama eksistensinya.
Bagi Sartre, segala berada secara ini, segala berada dalam diri (Iefre en soi) adalah
memuakkan (nauseant). Benda-bend yang berada demikian, kalau kita tidak memberikan arti
apa-apa, dalam keadaannya sendiri, nampak memuakkan.
Adapun yang termasuk berada untuk dirinya sendiri (Iefre pour soi) adalah berada yang
dengan sadar akan dirinya, yaitu cara berada manusia. Manusia mempunyai hubungan dengan
keberadaannya, ia bertanggungjawab atas fakta bahwa ia ada.
Eksistensi walaupun kebebasan, namun tergantung juga kepada hal yang lain. Sebab sekali
kita bebas di dalam pemilihan, kita terikat pada pemilihan itu, serta harus berbuat serta memikul
akibat perbuatan itu. Maka tidak ada kebebasan yang mutlak. Kita bebas, tetapi justru itulah
kecemasan kita.
Gabriel Marcel (1889-1973). Bukunya yang bersifat eksistensialis Exsistence et Obyektivite
(1924). Dalam filsafatnya ia menyatakan, bahwa manusia tidak hidup sendirian, tetapi bersamasama dengan orang lain. Tetapi manusia memiliki kebebasan yang bersifat otonom. Ia selalu
dalam situasi yang ditentukan oleh kejasmaniannya. Dari luar ia dapat menguasai jasmaninya,
tetapi dari dalam ia dikuasai oleh jasmaninya.
Manusia bukanlah makhluk yang statis, sebab ia senantiasa menjadi (berproses). Ia selalu
menghadapi obyek yang harus diusahakan seperti yang tampak dalam hubungannya dengan
orang lain.
Perjalanan manusia ternyata akan berakhir pada kematian, pada yang tidak ada. Perjuangan
manusia sebenarnya terjadi di daerah perbatasan antara berada dan tidak berada. Maka
manusia menjadi gelisah, menjadi putus asa dan takut kepada kematian. Tapi sebesarnya
kemenangan kematian hanyalah semu saja, sebab hanya cinta kasih dan kesetiaan itulah yang
memberi harapan guna mengatasi kematian. Di dalam cinta kasih dan kesetiaan ada kepastian,
bahwa ada engkau yang tidak dapat mati. Harapan itulah yang menembus kematian. Adanya
harapan menunjukkan, bahwa kemenangan kematian adalah semu. Ajaran tentang harapan ini
menjadi puncak ajaran Marcel. Harapan ini menunjuk adanya Engkau Yang Tertinggi (Toi
Supreme), yang tidak dapat dijadikan obyek manusia.
Pragmatisme
Pragmatisme tidak menanyakan "apakah itu?", melainkan "apakah gunanya itu?" atau "untuk
apakah itu?". Yang dipersoalkan bukan "benar atau salah", karena ide menjadi benar oleh
tindakan tertentu. Tokoh aliran ini: John Dewey (1859-1914). John Dewey menyatakan bahwa,
manusia itu bergerak dalam kesunguhan yang selalu berubah. Jika Ia sedang menghadapi
kesulitan, maka mulailah ia berpikir untuk mengatasi kesulitan itu. Jadi, berpikir tidaklah lain
daripada alat untuk bertindak. Pengertian itu lahir dari pengalaman. Pandangannya mengenai
filsafat sangat jelas bahwa filsafat memberi pengaruh global bagi tindakan dalam kehidupan
secara riil. Filsafat harus bertitik tolak pada pada pengalaman, penyelidikan, dan mengolah
pengalaman secara aktif dan kritis.
William James dilahirkan di New York pada tahun 1842 M, dan dosen di Harvard University
dalam mata kuliah anatomi, fisiologi, psikologi dan dan filsafat. Karya-karyanya antara lain, The
4

Principles of Psychlogy (1890), The Will to Believe (1897), The Varietes of Riligious Experience
(1902), dan Pragmatism (1907). Ia memandang pemikirannya sendiri sebagai kelanjutan
empirisme Inggris, namun empirismenya bukan merupakan upaya untuk menyusun kenyataan
berdasarkan atas fakta-fakta lepas sebagai hasil pengamatan. James membedakan dua macam
bentuk pengetahuan, pertama: pengetahuan yang langsung diperoleh dengan jalan
pengamatan, kedua: merupakan pengetahuan tidak langsung yang diperoleh dengan malalui
pengertian.
Ada kebenaran yang yang dapat di uji secara epiris, ada kebenaran yang hanya di uji secara
logis, bahkan ada kebenaran yang hanya dapat di uji dengan kekuatan rasa.
Bagi James, pengertian atau putusan itu benar, jika pada praktek dapat dipergunakan.
Putusan yang tak dapat dipergunakan itu keliru. Pengertian atau keputusan itu benar, tidak saja
jika terbukti artinya dalam keadaan jasmani ini, akan tetapi jika bertindak (dapat dipergunakan)
dalam ilmu, seni, dan agama.
Filsafat Hidup
Henri Bergson (1859-1941). Menurut Bergson, hidup merupakan tenaga eksplosif yang
telah ada sejak permulaan dunia. Kemudian terus berkembang dengan penentangan materi.
Bergson meyakini adanya evaluasi yang dipandangnya sebagai suatu perkembangan yang
menciptakan, yang meliputi semua kesadaran, semua hidup, semua kenyataan dimana di dalam
perkembangannya senantiasa menciptakan bentuk-bentuk yang baru dengan menghasilkan
kekayaan baru pula.
Filsafat Bergson disebut sebagai filsafat hidup, karena Bergson mendasarkan filsafatnya pada
kenyataan bahwa yang ada adalah gerak, hidup, berubah terus. Filsafat Bergson merupakan
perlawanan terhadap pandangan pada waktu itu (abad 19 dan permulaan abad 20) yang menaruh
penghargaan yang berlebih-lebihan terhadap pengetahuan rasional.
Bergson, filsafatnya kembali pada pemikiran Metafisis dan anti rasionalis, dan menciptakan
filsafat intuisi. Fungsi intuisi ialah untuk mengenal hakekat pribadi dengan lebih murni dan dapat
mengenali seluruh hakekat kenyataan. Hakekat kenyataan baik dari pribadi maupun dari seluruh
kenyataan oleh intuisi dilihat sebagai kelangsungan murni atau masa murni.
Intuisi yang dimaksudkan Bergson, lain dari perasaan perseorangan atau sentimen. Baginya
filosof bukanlah seorang sentimentalis, bukanlah orang perasaan, melainkan seorang ahli pikir
yang intuitif.
Fenomenologi
Fenomenologi merupakan aliran (tokoh penting: Edmund Husserl, 1859-1938) yang ingin
mendekati realitas tidak melalui argumen-argumen, konsep-konsep, atau teori umum. "Zuruck
zu den sachen selbst" -- kembali kepada benda-benda itu sendiri, merupakan inti dari pendekatan
yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap obyek memiliki
hakekat, dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada gejala-gejala yang
kita terima. Kalau kita "mengambil jarak" dari obyek itu, melepaskan obyek itu dari pengaruh
pandangan-pandangan lain, dan gejala-gejala itu kita cermati, maka obyek itu "berbicara" sendiri
mengenai hakekatnya, dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita.
Fenomenologi adalah suatu filsafat yang menggunakan suatu metode fenomenologi dalam
usahanya memahami suatu kenyataan. Bahwa dalam menghadapi suatu kenyataan kita
5

menjumpai gejala-gejala (fenomena) yang belum tentu bahwa pengertian kita tentang sesuatu itu
betul sama sekali.
Adapun usaha untuk mencapai hakekat segala sesuatu itu dengan jalan reduksi
(penyaringan). Husserl mengemukakan tiga macam reduksi atau penyaringan, yaitu :
1.

Reduksi Fenomenologis
Di dalam reduksi fenomenologis, kita harus melakukan penyaringan terhadap semua
pengalaman-pengalaman kita, dengan maksud agar mendapatkan fenomena yang
semurni-murninya. Telah dikemukakan, bahwa barang-barang yang nampak kepada kita,
yang lebih kita pentingkan ialah apa yang menampakkan diri yang segera kita anggap
sebagai realitas di luar kita. Fenomena atau gejala yang menyodorkan diri sebagai hal
yang nyata ada itu tidak boleh kita terima begitu saja. Keputusan itu harus ditangguhkan
terlebih dahulu atau ditempatkan di antara tanda kurung dahulu. Sesudah itu harus
memandang atau menilik apa yang kita alam di alam kesadaran kita. Kalau tindakan ini
berhasil kita akan menemukan phenomenon atau gejala yang sebenarnya kita dengan
demikian mengenal gejala dalam dirinya sendiri.
2.
Reduksi Eidetis
Yaitu penyaringan atau penempatan dalam tanda kurung segala hal yang bukan eidos
(intisari/hakekat gejala/fenomena). Kita melihat hakekat sesuatu. Inilah pengertian yang
sejati.
3.
Reduksi Transendental
Dalam reduksi transendental yang harus ditempatkan di antara tanda kurung ialah
eksistensi dan segala sesuatu yang tidak ada hubungan timbal balik dengan kesadaran
murni, agar dari obyek itu akhirnya orang sampai kepada apa yang ada pada subyek
sendiri, dengan lain kata, metode fenomenologi itu diterapkan pada subyeknya sendiri
dan kepada perbuatannya, kepada kesadaran yang murni.

Fenomenologi banyak diterapkan dalam epistemologi, psikologi, antropologi, dan studi-studi


keagamaan (misalnya kajian atas kitab suci).
Neo-kantisme dan neo-thomisme
Neo-kantisme dan neo-thomisme merupakan aliran-aliran yang merupakan kelahiran kembali
dari aliran yang lama, oleh dialog dengan aliran lain. Disamping itu masih ada aliran filsafat
analitik yang menyibukkan diri dengan analisis bahasa dan analisis atas konsep-konsep. Dalam
berfilsafat, jangan katakan jika hal itu tidak dapat dikatakan. "Batas-batas bahasaku adalah batasbatas duniaku". Soal-soal filsafat seyogyanya dipecahkan melalui analisis atas bahasa, untuk
mendapatkan atau tidak mendapatkan makna dibalik bahasa yang digunakan. Hanya dalam ilmu
pengetahuan alam pernyataan memiliki makna, karena pernyataan itu bersifat faktual. Tokoh
pencetus: Ludwig Wittgenstein (1889-1952).
Akhirnya sejak 1960 berkembang strukturalisme yang menyelidiki pola-pola dasar yang
tetap yang terdapat dalam bahasa-bahasa, agama-agama, sistem-sistem dan karya-karya
kesusasteraan.
6

DAFTAR PUSTAKA
Huijbers, Theo. 1982. Filsafat Hukum Dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta: Kanisius.
____________. 1995. Filsafat Hukum. Yogyakarta: Kanisius.
Anshori, Abdul Ghofur. 2006. Filsafat Hukum Sejarah, Aliran dan Pemaknaan. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Rasjidi, Lili. 1993. Dasar-Dasar Filsafat Hukum. Bandung: PT.Citra Aditya Bakti.
Sejarah perkembangan filsafat hukum pada abad 20.
http://annisamurtiyanti.blogspot.com/2011/03/sejarah-perkembangan-filsafat-hukum.html
Shidarta, Darji Darmodiharjo. 2006. Pokok-pokok Filsafat Hukum : Apa dan Bagaimana Filsafat
Hukum Indonesia. Jakarta : Gramedia.
Aliran-aliran pemikiran dalam filsafat hukum.
http://catatanseorangmahasiswahukum.blogspot.com/2010/01/aliran-aliran-pemikiran-dalamfilsafat.html
Sejarah Filsafat dan Filsafat Hukum.
http://desousaalvesfreidelino.wordpress.com/2012/10/04/sejarah-filsafat-dan-filsafat-hukum-2/