UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN MADU TERHADAP PENURUNAN
SKOR NYERI AKIBAT TINDAKAN INVASIF PENGAMBILAN
DARAH INTRA VENA PADA ANAK DI RUANG UGD
RSUD KOTA CIREBON

TESIS

AYU YULIANI SEKRIPTINI
1006833571

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
DEPOK, JANUARI 2013

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN MADU TERHADAP PENURUNAN
SKOR NYERI AKIBAT TINDAKAN INVASIF PENGAMBILAN
DARAH INTRA VENA PADA ANAK DI RUANG UGD
RSUD KOTA CIREBON

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Ilmu Keperawatan

AYU YULIANI SEKRIPTINI
1006833571

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
PEMINATAN KEPERAWATAN ANAK
DEPOK, JANUARI 2013
ii

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

. M. Fakultas Ilmu Keperawatan.MN.) Pembimbing : Nur Agustini. FIK UI. M..HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh : Nama : Ayu Yuliani Sekriptini NPM : 1006833571 Program Studi : Magister Keperawatan Judul Tesis : Pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon.Sc.Si (……………………….) Penguji : Elfi Syahreni. (………………………. Universitas Indonesia... Ayu Yuliani Sekriptini.Kp.. Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan.. S. S. DEWAN PENGUJI Pembimbing : Yeni Rustina. PhD (……………………….Sp.) Penguji : Dessie Wanda...Kep.App.An. 2013 .) Ditetapkan di : Depok Tanggal : Januari 2013 iv Pengaruh pemberian.Kp. M. SKp. (………………………...

Ayu Yuliani Sekriptini..Pengaruh pemberian. 2013 . FIK UI...

selaku dosen pembimbing I yang telah dengan penuh kesabaran.. selaku dosen pembimbing II yang telah menyediakan waktu. M. Dessie Wanda. S. Elfi Syahreni. arahan dan perhatian yang besar dalam penyusunan tesis ini. karena atas berkat dan rahmat-Nya. Oleh karena itu.N.. FIK UI. PhD. 5.Kp. Ayu Yuliani Sekriptini. MN. saya dapat menyelesaikan proposal tesis ini.Sc..Kp. Dewi Irawaty. S.Kep.. Astuti Yuni Nursasi. M.. tenaga.. selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia..An. Saya menyadari bahwa. yang telah memberikan saran guna perbaikan tesis ini... Ners. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Keperawatan Peminatan Keperawatan Anak pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.. 6. selaku penguji IV. Ph. Rekan-rekan perawat di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama proses pengambilan data untuk menyelesaikan tesis ini..A. M.. Pihak RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleh data dan memberikan ijin untuk tempat penelitian. 3.Kp.Si. yang dengan sabar dan tulus memberikan bimbingan.App. Yeni Rustina.Kp.. tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. 2013 .. S.Sp. pikiran dan motivasi serta dukungan yang sangat besar untuk saya dalam penyusunan tesis ini. M. tenaga. S. selaku Ketua Program Studi Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. selaku penguji III.D. M.KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Seluruh Staf pengajar Program Studi Magister Ilmu Keperawatan terutama kekhususan Keperawatan Anak dan seluruh staf akademik yang telah membantu peneliti. dan pikiran untuk penyusunan tesis ini.. sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini. vi Pengaruh pemberian. 8. 9. dari masa perkuliahan sampai penyusunan tesis ini. Nur Agustini. 7. 2. menyediakan waktu.. 4. saya mengucapkan terima kasih kepada : 1.

. Shinta Maharani. Yuliatin dan teman-teman di Keilmuan Keperawatan Anak.. Ghaida Shafa Nabilah. Ayu Yuliani Sekriptini.10. dan keluarga saya yang telah memberikan bantuan dan dukungan do’a bagi peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini.. Januari 2013 Penulis vii Pengaruh pemberian. Suyami. khususnya keperawatan anak di Indonesia. Depok. FIK UI. 2013 . 11. Eni Nuraeni Yunus. yang telah memberikan perhatian dan dukungan yang sangat besar selama penyusunan tesis ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda untuk semua kebaikan yang telah diberikan. Fadhli Dzil Ikram. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi kemajuan keperawaan.

Peneliti menyimpulkan pemberian madu peroral dapat menurunkan skor nyeri pada anak saat pengambilan darah intravena. skor nyeri. terdiri dari kelompok intervensi yang mendapatkan madu peroral (34 responden) dan kelompok kontrol mendapatkan plasebo (34 responden).001). Skor nyeri dievaluasi dengan Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. 2013 . Desain penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Sampel diambil dengan consecutive sampling.. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rata-rata skor nyeri anak pada kelompok madu dan kelompok plasebo (p=0. usia responden 1-6 tahun.ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Ayu Yuliani Sekriptini : Magister Ilmu Keperawatan : Pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon Pengambilan darah intravena dapat menimbulkan nyeri dan traumatik pada anak. pengambilan darah intra vena. Kata kunci: madu. viii Pengaruh pemberian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh madu terhadap skor nyeri anak saat pengambilan darah...

The result of analysis shows there is a significant difference on the average score of pains between the intervened and controlled group (p=0. Samples were taken by consecutive sampling which consists of the intervened group who obtained honey per oral (34 respondents). Ayu Yuliani Sekriptini.001). FIK UI.This research has the aims to identify The influence of giving honey on the score decreasing of pain.. and controlled group obtained plasebo (34 respondents) respondents aged 1-6 years.. Key words: honey. 2013 . the intravena blood taken. The researcher concluded that the giving of honey per oral can decrease the score of pains on child when the intravena blood taken.ABSTRACT Name : Ayu Yuliani Sekriptini Study Programme : University of Indonesia Magister Program in Nursing Science Specialisation Pediatric Nursing Title : The influence of giving honey on the score decreasing of pain as the result of intravena blood taking action on child at the emergency department of RSUD Cirebon City The intravena blood taken can cause pains and be traumatic for child.. The design of this research is quasi experiment. the score of pains ix Pengaruh pemberian.The score of pains are evaluated with Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS).

5. TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………….1.. 38 2..4. LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………… KATA PENGANTAR ……………………………………………………… ABSTRAK …………………………………………………………………. 26 2..1. Pengertian Anak ………………………………………………… 45 2.1. DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………. Manfaat Penelitian ……………………………………………………. Penggunaan Madu Dalam Penanganan Nyeri Pada Anak ………………35 2. 43 2.1. 25 2.1. Kolcaba …………………... Efek Terapeutik Madu …………………………………………. Aplikasi Comfort Theory pada Keperawatan Anak ……………..5. 2013 . 10 2..3.. Pengertian Atraumatic Care …………………………………….3.. 11 2. iii iv vi viii ix x xiii xiv xv xvi 1 1 7 8 8 2..8.. 40 2.. Klasifikasi Nyeri ……………………………………………….1.6..3. Fisiologi Nyeri …………………………………………………. Penatalaksanaan Nyeri pada Anak ……………………………… 20 2. 37 2.. 1.2. Ayu Yuliani Sekriptini.6.6.1.2..4.2.. 35 2..2. Latar Belakang ………………………………………………………… 1. Pengendalian Nyeri di Unit Gawat Darurat ……………………. Kolcaba ………………… 40 2. Penilaian Nyeri ………………………………………………….2.46 2.. Faktor-faktor yang mempengaruhi Nyeri ………………………. Jenis-jenis Madu ………………………………………………. Pengertian Madu ………………………………………………… 35 2.4.1.1. DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… Hal 1..6... 13 2.2. Komposisi Kimia dan Biologi Madu ……………………………. Atraumatic Care ………………………………………………………. Pengertian Nyeri ……………………………………………….. Teori Keperawatan “Comfort” Katherine C. 16 2. ABSTRACT ………………………………………………………………… DAFTAR ISI ………………………………………………………………. FIK UI.5... Konsep Anak …………………………………………………………… 45 2.4.2.2.4.. Perumusan Masalah …………………………………………………… 1.4.7. 10 2. Efek yang ditimbulkan oleh Nyeri ……………………………… 19 2.1. DAFTAR SKEMA …………………………………………………………. Nyeri Pada Anak ……………………………………………………….5..3.2. Konsep Teori “Comfort” Katherine C..2. Prinsip Atraumatic Care ………………………………………… 49 x Pengaruh pemberian...DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS …………………………. 47 2.. Kelompok Anak Berdasarkan Fase Perkembangan …………….1..1.. 39 2. PENDAHULUAN ………………………………………………………..1. Tujuan Penelitian ……………………………………………………… 1..5. 10 2. Pengaruh Madu Terhadap Penurunan Respon Nyeri ………………….1. 47 2. DAFTAR TABEL ………………………………………………………….2.

.2.2.3.1. Waktu Penelitian ………………………………………………………. Analisis Bivariat ……………………………………………………….1. Alat Pengumpula Data ………………………………………………….3.. HASIL PENELITIAN ……………………………………………………. Sampel ……………………………………………………………57 4.1.5.3. 73 5.. 60 4. Interpretasi dan Diskusi hasil…………………………………………… 78 6. Populasi …………………………………………………………. Perbedaan Rata-rata Skor Nyeri pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ……………………………………………… 74 5.2.1.2. Rata-rata skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo ………………………………………………………….1.1.1. 68 4.3. Perbedaan Rata-rata Skor Nyeri antara Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Berdasarkan Karakteristik Anak…………….1. Kerangka Konsep Penelitian …………………………………………… 51 3. HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL ………………………………………………51 3.3.. Prosedur Analisis Data …………………………………………………. Hipotesis Mayor ………………………………………………… 53 3.2. Sampel dan Besar Sampel …………………………………… 56 4. 51 3. Variabel perancu (confounding) ………………………………… 52 3. Variabel terikat (dependent) ……………………………………. Karaktristik Responen ……………………………………………78 6.. Keterbatasan Penelitian ………………………………………………. 56 4.. 88 xi Pengaruh pemberian.2. PEMBAHASAN…………………………………………………………… 78 6. Pengolahan Data ………………………………………………………. 75 6. METODE PENELITIAN ………………………………………………… 56 4.1.3.1.4.1. 69 5..2.7..2. Karakteristik Responden ……………………………………….1. 85 6. 73 5.11. 71 5.2.3.7.. 2013 . Uji Kesetaraan (Homogenity)………………………………………….1.6. Analisis Univariat ……………………………………………………… 71 5. FIK UI.2. Skor Nyeri Kelompok Madu dan Kelompok Plasebo ………….10. 87 6. 56 4. Hipotesis ……………………………………………………………….1.1. Validitas dan Reliabilitas Instrumen …………………………………… 62 4. 58 4. 74 5. KERANGKA KONSEP. Populasi..1.. Implikasi Hasil Penelitian …………………………………………….1.50 3. Kerangka Teori …………………………………………………………. Ayu Yuliani Sekriptini. Prosedur Pengumpul Data ……………………………………………… 64 4...2.2. Desain Penelitian ……………………………………………………….8. Definisi Oprasional …………………………………………………….2.. 70 5. Besar Sampel ……………………………………………………. 61 4.2. Etika Penelitian ………………………………………………………… 60 4.3.. 53 4.9. Variabel bebas (independent) …………………………………… 51 3. 53 3. Tempat Penelitian ……………………………………………………… 59 4.2. 53 3.2. Hipotesis Minor ………………………………………………….. Intervensi yang Dilakukan ………………………………………………64 4.

2013 . KESIMPULAN DAN SARAN 7.2.. Simpulan ……………………………………………………………….. FIK UI... 92 LAMPIRAN xii Pengaruh pemberian. Saran …………………………………………………………………… 90 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….1. Ayu Yuliani Sekriptini.7. 90 7.

DAFTAR TABEL Tabel 2. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan usia anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon………………………………………………………….3.4. Tabel 5. Ayu Yuliani Sekriptini.2.5. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………… Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………………………. Definisi Operasional …………………………………………….6 Tabel 5. Tabel 2..1.......1 Tabel 4.. Tabel 2. Faces. Distribusi responden berdasarkan usia. Tabel 5.. Uji Statistik ………………………………………………………...2...7 Tabel 5.….. Tabel 5. Tabel 2.. Uji homogenitas data responden berdasarkan jenis kelamin. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri pada anak kelompok intervensi dan kelompok kontrol di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon ……………………. Tabel 5. Tabel 5.2. Cry.. dan pengalaman pengambilan darah di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…… Distribusi skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…………………………………….. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…………………………………………………………. dan Consolability ……………….Activity... Tabel 3..3. FIK UI. jenis kelamin.4. Legs.. xiii Pengaruh pemberian.1. kehadiran keluarga... 2013 Hal 27 31 32 36 52 67 68 69 70 71 72 76 76 77 .8 Penilaian Klinis Nyeri ………………………………………. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Kandungan Gizi Madu Perhutani …………………………….. Tabel 5. pengalaman sebelumnya dan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…….usia.

……………………………....….......4..…….…….. Verbal Rating Scale…….. Visual Analogue Scale….. Gambar 2... FIK UI. Numerical Rating Scale………. Gambar 2.………………………………….. Wong Baker Faces Pain Rating Scale………….DAFTAR GAMBAR Gambar 2. Ayu Yuliani Sekriptini..1. xiv Pengaruh pemberian.. 2013 Hal 13 31 31 31 32 .……………………………………… Gambar 2.5.2... Perjalanan Nyeri………….……………………….3.. Gambar 2.…….

Skema 2.. Aplikasi Comfort Theory dalam Keperawatan Anak ………… Aplikasi Comfort Theory dalam Tindakan Pemberian Madu … Kerangka Teori …………………….3. Skema 3. Skema 2. 2013 Hal 43 45 49 51 .2..…………………………. Ayu Yuliani Sekriptini.DAFTAR SKEMA Skema 2. Kerangaka Konsep Penelitian ………..………………………… xv Pengaruh pemberian.1..1. FIK UI.

Lampiran 6.. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 . Lampiran 5. Lampiran 4. Penjelasan tentang Penelitian Lembar Persetujuan Bersedia Menjadi Responden Penelitian Kuesioner Data Demografi Instrumen Skala Nyeri CHEOPS Protokol Pemberian Madu Bagi Perawat Jadual Pelaksanaan Penelitian Daftar Riwayat Hidup xvi Pengaruh pemberian. FIK UI.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.. Lampiran 3. Lampiran 7. Lampiran 2.

. termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. Keadaan anak yang tiba-tiba sakit atau terjadinya cedera mengharuskan anak masuk ke ruang gawat darurat.1. Ayu Yuliani Sekriptini. cerdas ceria. Tujuan Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 (PNBAI) adalah terwujudnya anak Indonesia yang sehat. Salah satu program pemerintah terkait optimalisasi tumbuh kembang anak yaitu Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 (PNBAI). eksploitasi dan kekerasan serta dapat mengalami peningkatan kesejahteraan. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 132 ayat 1 menyebutkan anak yang dilahirkan wajib dibesarkan dan diasuh secara bertanggung jawab sehingga memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal. 23 tahun 2002 menyebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya. Latar Belakang Undang-undang perlindungan anak No. salah satunya hak anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. 2005).. FIK UI. mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah. Proses gawat darurat dipengaruhi oleh beberapa 1 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dimana unit gawat darurat merupakan suatu bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan kepada anak yang diperkirakan mengalami keadaan yang mengancam jiwa dan terjadi secara mendadak dalam suatu lingkungan yang tidak dapat dikendalikan (Zempsky & Schecter. Hal tersebut didukung oleh Undang-undang No..BAB 1 PENDAHULUAN 1. berakhlak mulia dan terlindungi dari diskriminasi. Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat. 2013 . tumbuh dan berkembang. Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya keadaan sakit dan hospitalisasi. Salah satu tugas perawat gawat darurat adalah melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada pasien dan menetapkan area yang tepat untuk pengobatan selanjutnya.

Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.2 faktor diantaranya waktu yang terbatas.. Pengalaman nyeri selalu tidak menyenangkan. 2002. Eichenfield. 2001. Weisman. Penelitian Zempsky dan Cravero. et al. Tindakan pengambilan darah vena merupakan prosedur yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan serta rasa tidak nyaman bagi anak akibat nyeri yang dirasakan saat prosedur tersebut dilaksanakan (Zeltzer & Brown 2007). 2013 . Tindakan invasif yang didapat anak selama di unit gawat darurat dapat menimbulkan trauma berkepanjangan. Hal ini dikarenakan banyaknya pasien di unit gawat darurat yang datang secara mendadak dan keterbatasan petugas. peran tim medis. Beberapa studi nyeri pada anak. Ayu Yuliani Sekriptini. 2008). dan dapat terjadi pada anak dengan keadaan sakit akut maupun yang sedang menjalani prosedur. (2004) menyebutkan pengendalian nyeri dan kecemasan untuk anak yang memasuki unit gawat darurat merupakan hal yang penting dan harus diperhatikan karena dapat menyebabkan trauma pada anak. dan sumber daya yang ada.. Oleh karena itu diperlukan adanya tindakan secara cepat dan tepat untuk mencegah adanya kecacatan ataupun ancaman jiwa pasien di instalasi gawat darurat.. didapatkan bahwa nyeri yang dikeluhkan oleh anak selalu diabaikan sehingga penanganan yang diberikan tidak adekuat (Zeltzer & Brown 2007. Weisan. Bernstein & Schechter. kebutuhan pelayanan definitif di unit lain. informasi yang terbatas. Salah satu tindakan yang cepat dan tepat yang harus segera dilakukan di unit gawat darurat untuk menentukan diagnosis suatu penyakit atau tindakan yang lainnya adalah tindakan invasif pengambilan darah. kondisi pasien yang memerlukan bantuan segera. 2008). FIK UI. salah satunya adalah tindakan pengambilan darah vena (Meliala. Bernstein & Schechter. Tindakan invasif pengambilan darah merupakan tugas dari petugas laboratorium akan tetapi dalam kenyataanya di unit gawat darurat pengambilan darah dilakukan oleh perawat.

Anak dengan kondisi nyeri menunjukkan berbagai komplikasi seperti timbulnya kecemasan. Anak yang mengalami kondisi sakit akan muncul tantangan-tantangan yang harus dihadapinya seperti mengatasi suatu perpisahan. dan sering harus berhubungan dan bergaul dengan anakanak yang sakit serta pengalaman mengikuti terapi yang menyakitkan. emosional. (2006) dan Cohen.. Aspek penilaian Health-Related Quality Of Life (HRQOL) meliputi penilaian fisik. FIK UI.. sehingga dapat mengurangi dampak yang merugikan baik bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarganya (Kleiber. Oleh karena itu penatalaksanaannya seharusnya dilakukan dengan optimal dan rasional. Perawat bertanggung jawab secara komperhensif dalam memberikan asuhan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. penyesuaian dengan banyak orang yang mengurusinya. penyesuaian dengan lingkungan yang asing baginya. Zempsky & Schecter. Hasil penelitian Petersen. Berbagai komplikasi ini dapat menurunkan kualias hidup. (2007). keputusasaan. Hasil penelitian Won. psikososial dan fisiologi jangka panjang. Hagglof dan Bergstrom (2009). Ayu Yuliani Sekriptini. nyeri pada anak dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup. dan tidak nyaman. dan sekolah berfungsi dan kesejahteraan. Metode penurunan nyeri merupakan salah satu prinsip dasar keperawatan anak yaitu prinsip atraumatic care atau pencegahan terhadap trauma. 2002.. rasa tidak aman. sosial. et al. 2005). dimana hasil penelitian menunjukkan dua pertiga dari sampel yang dilaporkan pada anak yang mengalami nyeri berulang mengalami penurunan kulias hidup empat kali di bandingkan pada anak dengan tanpa nyeri. perasaan kehilangan sesuatu yang biasanya dialaminya. menjelaskan bahwa anak yang masuk rumah sakit akan muncul perasaan ketakutan karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya. et al. gangguan prilaku. 2013 . Salah satu mekanisme mengurangi dampak perawatan adalah manajemen nyeri. dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan.3 Tindakan yang menyakitkan merupakan stresor bagi anak pada semua tingkat usia.

. efektif dan tepat waktu (American Academy Of Pediatrics. Prinsip atraumatic care adalah perawatan yang tidak menimbulkan adanya trauma pada anak dan keluarga (Wong & Hockenberry. relaksasi. krim anastesi. distraksi. Intervensi keperawatan untuk mencegah terjadinya trauma karena nyeri pada anak dapat dilakukan berupa intervensi farmakologi ataupun intervensi nonfarmakologi. Sejumlah tehnik farmakologis dan non farmakologis dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri pada anak. American Pain Society. disamping akan memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada orang tua atau pendamping anak yang dilayani (American Academy Of Pediatrics American Pain Society. yaitu suatu gabungan farmakologis. 2011). seperti misalnya pemberian terapi analgesik. membuat nyeri dapat lebih ditoleransi. et al. psikologis dan pengobatan non farmakologis yang bertujuan untuk memberikan intervensi dengan penuh kasih sayang. 2013 . Seorang perawat bertanggung jawab sedapat mungkin untuk menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri pada anak yang dilayaninya. 2003). Ayu Yuliani Sekriptini. 2002). Pemeriksaan dan pengobatan nyeri pada anak adalah komponen penting dalam praktek pelayanan kesehatan anak sehari-hari (Zempsky & Schecter. Czarnecki.. 2003). menurunkan kecemasan dan meningkatkan kefektifan analgesik atau mengurangi dosis yang diperlukan (Czarnecki.. disamping bertujuan untuk mengurangi kecemasan pada anak dan orang tua. guided imagery dan stimulasi kutan dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. Intervensi untuk mengurangi nyeri dapat dilakukan secara multidimensional melalui pendekatan pengobatan interdisipliner. et al. 2011). kognitif. Morton 2008. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2002. juga akan meningkatkan keeratan dan kerjasama antara pasien dengan perawat saat memberikan intervensi sehingga dapat mengurangi beban perawat dalam memberikan pelayanan. Penatalaksanaan nyeri yang adekuat. FIK UI.4 keperawatan anak untuk mesejahterakan anak.

.. dan permen karet manis) dapat mengurangi rasa nyeri pada anak usia satu sampai enamanbelas tahun. (2005) melakukan penelitian meta-analisis tentang pemberian sukrosa saru lahir. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penelitian lain menunjukkan bahwa larutan manis lain seperti glukosa. berupa pemberian anastesi umum. (2011) menyebutkan pemberian rasa manis (sukrosa. Steven et al.. anastesi regional. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan larutan sukrosa sebagai analgesik pada bayi baru lahir saat menjalani prosedur invasif minor dapat menurunkan respon nyeri. Pendekatan dengan menggunakan intervensi nonfarmakologi untuk mengurangi respon nyeri lainnya dilakukan oleh beberapa peneliti dan telah membuktikan bahwa intervensi nonfarmakologi dapat mengurangi nyeri karena tindakan invasif. (2002) dan Crutis et al... glukosa. Pendekatan secara psikologis dapat dilakukan pada usia anak tertentu saja dan membutuhkan waktu khusus pendekatan kepada anak (Sikorova & Hrazdilova. anastesi local infiltrasi.. Penelitian lain yang serupa dilakukan oleh Devaera (2006) berupa pemberian oral larutan glukosa 30 % dapat menurunkan respon nyeri pada bayi baru lahir saat dilakukan prosedur pengambilan darah tumit. Penelitian yang dilakukan oleh Gradin et al. fruktosa. Pendekatan secara nonfarmakologi yang sering dilakukan berupa pendekatan psikologis dengan cara memberikan penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan. (2011) menjelaskan tentang pemberian oral sukrosa 20 % dapat menurunkan respon nyeri pada bayi cukup bulan saat dilakukan pengambilan contoh darah vena. aspartan. Penelitian meta-analis yang dilakukan oleh Harrison. 2000). dan krim anastesi topikal. Pendekatan farmakologi pada anak tidak seluruhnya dapat dilaksanakan karena kekhawatiran akan adanya efek samping yang ditimbulkan dari pemberian obat-obatan tersebut (American Academy Of Pediatrics. Ayu Yuliani Sekriptini. 2011). 2005).. FIK UI. dan sakarin memberikan efek yang serupa (Bauer et al. et al.5 Pendekatan intervensi untuk mengurangi nyeri akut biasanya lebih banyak dilakukan dengan pendekatan farmakologi. 2013 .

Asam amino berfungsi sebagian metabolisme protein tubuh. Larutan manis yang banyak mengandung sukrosa dan glukosa terdapat dalam madu. Karbohidrat madu ikut menambah pasokan sebagian energi yang diperlukan tubuh. serta mengandung flavonoid yaitu pinocrembin (Purabaya. yang dihasilkan oleh lebah dari saripati beragam tanaman. katalase. Kandungan asam amino pada madu cukup beragam. Pemberian rasa manis untuk mengurangi rasa manis seperti pemberian sukrosa sudah pernah dilaksanakan di ruang bedah anak dan ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) di Rumah Sakit Umum Pendidikan Negri Dr. Kandungan gizi utama madu adalah aneka senyawa karbohidrat seperti gula fruktosa (41. dan madu telah mendapatkan tempat yang istimewa dalam sejarah pengobatan tradisional serta mudah diperoleh. Ayu Yuliani Sekriptini. di Hamilton..6 Fenomena pemberian intervensi non farmakologi di beberapa rumah sakit sudah sebagian dilakukan berupa distraksi. baik asam amino esensial maupun non-esensial. madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen penyebab penyakit.5%). Selain berfungsi sebagai antibiotik madu memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka.6%. peroksidase. 2013 . lipase) yang memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh..9%). Madu banyak diteliti oleh beberapa ahli. glukosa (35%). relaksasi. FIK UI. diastase.0%). Cipto Mangunkusumo dengan memberikan sukrosa 30% 2 ml pada anak dan bayi sebelum tindakan invasif. investase.. Selandia Baru membuktikan. 2002). dan dekstrin (1. dan guided imagery. University of Waikoto. Kadar protein dalam madu relatif kecil. Madu merupakan larutan yang memiliki rasa manis. beberapa penelitian memberikan informasi tentang manfaat madu untuk tubuh.. (2011) menyebutkan kandungan flavonoid yang terdapat dalam madu dapat menghambat nyeri yaitu dengan mekanisme kerja menghambat Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hasil penelitian Geonarwo et al. Madu juga mengandung berbagai macam enzim (amylase. sekitar 2. Departement of Biological Sciences. sukrosa (1.

susah tidur. RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawiangun Kota Cirebon belum memiliki format skala nyeri yang digunakan baik untuk dewasa ataupun anak. Intervensi non farmakologi untuk mengurangi nyeri yang dilakukan perawat berupa informasi tentang penjelasan pada anak dan orang tua saat tindakan akan dilakukan. Nyeri menyebabkan anak menderita. 1.. 2013 .2. (Rekam Medik RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawiangun Kota Cirebon. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan pengambilan darah vena pada anak di ruang Unit Gawat Darurat. Pemberian madu belum pernah diberikan terkait dengan penurunan respon nyeri pada anak. Perumusan Masalah Nyeri pada anak menimbulkan dampak negatif terhadap mutu kehidupan (quality of life). perasaan tidak akan tertolong dan putus Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. cemas. gelisah. Ayu Yuliani Sekriptini.7 pembentukan prostaglandin melalui penghambatan enzim cyclooxygenase. Intervensi pengambilan darah pada anak lebih sering dilakukan di unit gawat darurat daripada di ruang perawatan anak. Sampai saat ini penulis belum mendapatkan adanya penelitian yang meneliti tentang keefektifan madu dalam menurunkan respon nyeri pada anak yang dilakukan tindakan pengambilan darah vena. tidak mampu bergerak bebas. Jumlah kasus anak yang masuk ke ruang unit gawat darurat setahun terakhir ini ratarata per-bulan kurang lebih 300 orang anak dengan rata-rata usia 1-17 tahun... 2011). FIK UI. sama seperti obat-obat analgetik antipiretik lain (NSAIDs). Hasil observasi lapangan dan wawancara pada perawat yang dilakukan peneliti di RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon memberikan gambaran bahwa di ruangan perawatan anak ataupun di unit gawat darurat intervensi non farmakologi untuk mengurangi respon nyeri karena tindakan pengambilan darah belum dilakukan.

. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Tujuan Umum Teridentifikasinya pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon. sirup. Karenanya rasa manis pada madu mudah dapat diterima oleh anak-anak. jenis kelamin. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian adalah teridentifikasinya : a. permen.1. Penatalaksanaan mengurangi nyeri pada anak dengan intervensi nonfarmakologis salah satunya adalah dengan memberikan sensasi rasa manis pada anak. maka pertanyaan yang akan diteliti ”Adakah pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon?” 1.3. Ayu Yuliani Sekriptini. Anak-anak pada umumnya menyukai rasa manis seperti gula.2. Salah satu sunber rasa manis selain sukrosa dan glukosa adalah madu. Gambaran karakteristik anak (usia. b. Keadaan ini sangat mengganggu kehidupan normal anak sehari-hari sehingga penatalaksanaan nyeri yang efektif perlu dilakukan. 2013 .3.. Madu merupakan salah satu obat alami yang banyak memiliki khasiat mengobati dan memiliki rasa manis. Rerata skor nyeri anak yang dilakukan pengambilan darah pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Tujun Penelitian 1. dan aneka kue. pendampingan orang tua) saat dilakukan prosedur pengambilan darah di ruang unit gawat darurat. pengalaman nyeri sebelumnya. Rasa manis yang sering diberikan dalam penelitian untuk mengurangi nyeri berupa pemberian sukrosa dan glukosa. Berdasarkan uraian latar belakang diatas. 1.8 asa. FIK UI.3..

4.. Perbedaan rerata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak (usia. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. d.1. Mafaat Penelitian 1.3.4. 1.4. Manfaat Metodologi Penelitian ini dapat menambah jumlah penelitian tentang perawatan pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang Unit Gawat Darurat dan dapat menjadi landasan penelitan selanjutnya. 2013 .4.2. pendampingan orang tua).. Ayu Yuliani Sekriptini. jenis kelamin. 1.. pengalaman nyeri sebelumnya. 1. Manfaat Aplikatif Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada anak saat dilakukan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat sehingga dapat mengurangi terjadinya dampak traumatik dan hospitalisasi. Manfaat Keilmuan Memberi gambaran dan informasi tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang unit gawat darurat. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.9 c. FIK UI.

The Internaional Association for Study of Pain menyebutkan nyeri yaitu perasaan dan pengalaman emosi yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kenyataan atau potensi terjadinya kerusakan jaringan atau gambaran yang berkaitan kerusakan jaringan tersebut (Drendel et al. Nyeri dan kecemasan dapat terjadi akibat suatu prosedur diagnostik atau terapi pada anak (Brusch & Zeltzer. 2010). 2013 .. Smatzler & Bare.1. 2009). FIK UI. Taddio et al. wajah menyeringai. Interpretasi nyeri sifatnya subjektif. 2006.. Soyer et al. sosio-kultur dan tumbuh kembang anak. Nyeri mempunyai komponen sensori. Nyeri Pada Anak 2. 2004).. diinterpretasi dan diekspresikan melalui tingkah laku (menangis.. 2001.1. 2003). komponen diskriminatori. respon-respon yang mengantarkan ataupun reaksi-reaksi yang ditimbulkan oleh stimulus dalam suatu kasus nyeri (Latief.1. Nyeri sangat penting sebagai mekanisme proteksi tubuh yang timbul bilamana jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang nyeri ini.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. Mathew & Dickenson. dimana setiap orang akan mengeluarkan ekspresi yang berbeda dengan yang lainnya jika berhadapan dengan stimulus yang melukai. Nyeri pada anak. Nyeri adalah segala sesuatu yang dikatakan seseorang tentang nyeri tersebut dan terjadi kapan saja seseorang mengatakan bahwa ia merasa nyeri (McCaffery & Pasero 2010). Ayu Yuliani Sekriptini. emosi.. kognitif dan behavior yang saling berhubungan dengan faktor lingkungan. Nyeri pada anak menjadi masalah oleh karena anak memberikan respon nyeri yang berbeda sesuai dengan tingkat usia pada anak (Mathew. 2004. Pengertian Nyeri Nyeri adalah suatu gejala dalam merasakan subyek dan pengalaman emosional serta termasuk suatu komponen sensori. fleksi dan ekstensi alat gerak) dan perubahan fisiologis (perubahan laju 10 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2002..

2010). dimana prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptorreseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin. Menurut Latief (2001) dan Daniela et al.. Keadaan ini Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.1. (2010) ada 4 proses yang mengikuti suatu proses nosisepsi yaitu : a.. sehingga hubungan nyeri dengan kerusakan jaringan tidak sama dan tidak konsisten. modulasi dan persepsi. 2009. dan nyeri itu bersifat subyektif. corpusculum paccini.. 2010).. transmisi. Breivik et al. dimana terjadinya stimuli yang kuat diperifer sampai dirasakannya nyeri di susunan saraf pusat (cortex cerebri) (Uman et al. Suatu stimuli kuat (noxion stimuli) seperti tekanan fisik kimia.2.. dan perubahan kimia darah). Fisiologi Nyeri Perjalanan nyeri termasuk suatu rangkaian proses neurofisiologis kompleks yang disebut sebagai nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses komponen yang nyata yaitu transduksi. Ayu Yuliani Sekriptini. Kerusakan jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya menyebabkan sintesa prostaglandin. laju pernafasan. Rangkaian proses perjalanan yang menyertai antara kerusakan jaringan sampai dirasakan nyeri adalah suatu proses elektofisiologi. Srouji et al. Proses Transduksi Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf. 2.. afektif dan prikomotor. FIK UI. suhu dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf perifer (nerve ending) atau organ-organ tubuh (reseptor meisneri. merkel. Daniela et al. sehingga laporan atau keluhan dari pasien merupakan penilaian yang paling mempunyai arti dalam menegakkan diagnosa nyeri (Petersen et al.11 denyut jantung. dari beberapa definisi tersebut nyeri merupakan kombinasi dari respon sensorik. jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa nyeri merupakan pengalaman yang universal yang berfungsi sebagai tanda penting bahwa tubuh tidak berfungsi atau mengalami kerusakan.. serotonin yang akan menimbulkan sensasi nyeri. 2013 .. golgi mazoni). 2007. 2008..

Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di cortex cerebri dan dirasakan sebagai persepsi nyeri (Uman et al. Selain itu juga serabut-serabut saraf disini mempunyai sinaps interneuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan bermielin. Persepsi Hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dari proses tranduksi. Daniela et al. 2010).. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat subjektif pada setiap orang (Uman et al.12 dikenal sebagai sensitisasi perifer (Breivik et al... Traktus spinoretikularis terutama membawa rangsangan dari organ-organ yang lebih dalam dan viseral serta berhubungan dengan nyeri yang lebih ditekan dan melibatkan emosi.. FIK UI. transmisi dan modulasi yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu proses subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.. d. serotonin. yang diperkirakan terjadi pada thalamus dengan korteks sebagai diskriminasi dari Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh tractus spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. Ayu Yuliani Sekriptini. Kornu posterior sebagai pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk analgesik endogen tersebut. Proses terjadinya interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis merupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak. 2010). 2007.. Daniela et al. Breivik et al. 2008. noradrenalin) dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. 2008.. 2007... c. Analgesik endogen (enkefalin.. Daniela et al. b. 2013 . Proses Modulasi Proses modulasi merupakan perubahan transmisi nyeri yang terjadi pada susunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak). endorphin. 2010). Proses Transmisi Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis.

13

sensorik (Uman et al., 2007; Breivik et al., 2008; Daniela et al., 2010).
Secara skematis, jaras persepsi nyeri seperti terlihat pada gambar 2.1.

Sumber : www.medscape.com

Gambar 2.1. Perjalanan Nyeri
2.1.3. Klasifikasi Nyeri
Respon individu yang berbeda-beda tentang nyeri membuat sulit
mengkategorikan jenis nyeri yang dirasakan dan mengatahui penyebab
nyeri itu sendiri. Nyeri memiliki sifat yang unik pada setiap individual
bahkan jika cedera fisik terjadi respon nyeri pada individu satu tidak sama
pada individual lainnya. Adanya takut, marah, kecemasan, depresi dan
kelelahan akan mempengaruhi bagaimana nyeri itu dirasakan. Salah satu
pendekatan yang dapat dilakukan untuk membedakan

nyeri adalah

berdasarkan durasi (akut, kronik), patofisiologi (nosiseptif, nyeri
neuropatik) dan etiologi (paska pembedahan, kanker) (Ratnapalan et al.,
2010; Daniela et al., 2010).

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

14

Klasifikasi nyeri terdiri dari :
a. Nyeri Akut dan Kronik
Nyeri akut merupakan nyeri yang terjadi secara tiba-tiba yang bisa
disebabkan oleh injuri, penyakit, ataupun pembedahan (McCaffrey, &
Pasero, 2010). Nyeri akut merupakan indikator terjadinya kerusakan
jaringan, yang memberitahukan individu untuk melindungi area yang
terkena dari injuri lebih lanjut. Karakteristik nyeri akut ini terdiri dari:
komunikasi tentang nyeri dideskripsikan, perilaku sangat berhati-hati,
memusatkan diri, fokus perhatian rendah (perubahan persepsi waktu,
menarik diri dari hubungan sosial, gangguan proses pikir), perilaku
distraksi (mengerang, menangis, dan lain-lain), raut wajah kesakitan,
perubahan tonus otot, respon autonom (diaforesis, perubahan tekanan
darah dan nadi, dilatasi pupil, penurunan atau peningkatan frekuensi
pernapasan). Nyeri kronik muncul jika masih dirasakan setelah
pengobatan terhadap injuri tidak ada kerangka waktu yang ditentukan.
Nyeri kronik juga tampak sebagai ketidakmampuan tubuh untuk
mencegah interpretasi sinyal dan gejala nyeri setelah injuri diatasi.
Nyeri ini berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama
dan pasien sering sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan,
karakteristik nyeri ini terdiri dari; individu melaporkan bahwa nyeri
telah ada lebih dari 6 bulan, ketidaknyaman, marah, frustasi, depresi
karena situasi, raut wajah kesakitan, anoreksia, penurunan berat badan,
insomnia, gerakan yang sangat berhati-hati dan spasme otot
(Ratnapalan et al., 2010).
b. Nosiseptif dan Nyeri Neuropatik
Nyeri organik bisa dibagi menjadi nosiseptif dan nyeri neuropatik.
Nyeri nosiseptif adalah nyeri inflamasi yang dihasilkan oleh
rangsangan kimia, mekanik dan suhu yang menyebabkan aktifasi
maupun sensitisasi pada nosiseptor perifer (saraf yang bertanggung
jawab terhadap rangsang nyeri). Nyeri nosiseptif

biasanya

memberikan respon terhadap analgesik opioid atau non opioid. Nyeri
nociceptive merupakan persepsi sensorik terhadap kerusakan atau

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

15

potensial kerusakan pada jaringan akibat trauma atau penyakit. Nyeri
ini terjadi sebagai akibat rangsangan reseptor dan dapat berupa nyeri
akut maupun kronis. Nyeri neuropati yang bisa berupa nyeri akut
maupun kronis, disebabkan oleh cedera atau penyakit yang secara
langsung mempengaruhi sistem saraf. Nyeri sentral juga merupakan
nyeri kronik yang terjadi lebih disebabkan oleh kerusakan saraf. Nyeri
neuropatik merupakan nyeri yang ditimbulkan akibat kerusakan neural
pada saraf perifer maupun pada sistem saraf pusat yang meliputi jalur
saraf aferen sentral dan perifer, biasanya digambarkan dengan rasa
terbakar dan menusuk. Pasien yang mengalami nyeri neuropatik sering
memberi respon yang kurang baik terhadap analgesik opioid (Potter &
Perry 2005; McCaffrey, & Pasero, 2010; Daniela et al., 2010).
c. Nyeri Viseral
Nyeri viseral biasanya menjalar dan mengarah ke daerah permukaan
tubuh jauh dari tempat nyeri namun berasal dari dermatom yang sama
dengan asal nyeri. Nyeri viseral terjadi karena kontraksi ritmis otot
polos. Penyebab nyeri viseral termasuk iskemia, peregangan ligamen,
spasme otot polos, distensi struktur lunak seperti kantung empedu,
saluran empedu, atau ureter. Distensi pada organ lunak menimbulkan
respon nyeri karena terjadinya peregangan jaringan dan dapat
menyebabkan iskemia daerah sekitarnya, adanya kompresi pembuluh
darah pada organ lunak tersebut dan menyebabkan distensi berlebih
dari jaringan yang dapat menimbulkan nyeri (McCaffrey, & Pasero,
2010; Daniela et al., 2010).
d. Nyeri Somatik
Nyeri somatis permukaan atau superfisial adalah akibat stimulasi
nociceptor di dalam kulit atau jaringan subkutan dan mukosa yang
mendasari. Hal ini ditandai dengan adanya sensasi atau rasa berdenyut,
panas atau tertusuk, kemungkinan berkaitan dengan rasa nyeri yang
disebabkan oleh stimulus yang secara normal tidak mengakibatkan
nyeri

dan hiperalgesia. Jenis nyeri ini biasanya konstan dan jelas

lokasinya. Nyeri superfisial biasanya terjadi sebagai respon terhadap

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Usia Usia dalam hal ini merupakan variabel yang penting yang mempengaruhi nyeri terutama pada anak-anak (Potter & Perry. Usia bayi memberikan respon nyeri dengan menangis dan lebih mudah ditenangkan kembali dengan dipeluk oleh orang tuanya. 2005). FIK UI. Usia prasekolah membutuhkan penjelasan yang berulang kali dan diyakinkan bahwa prosedur dan pengalaman yang menyakitkan bukan merupakan hukuman untuk perilaku buruk. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan atau menurunkan persepsi nyeri pasien.. beberapa menyebar ke daerah sekitarnya (McCaffrey. 2011). 2008. Perbedaan tingkat perkembangan yang ditemukan antara kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap nyeri (Daniela et al.. Berlawanan dengan nyeri tumpul yang berkaitan dengan organ dalam. & Pasero. luka gores dan luka bakar superfisial. seringkali terjadi kesalahpahaman arti dan penyebab sakit. Penelitian Kenneth et al. 2. 2013 . 2010). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi reaksi nyeri tersebut antara lain: a. Czarnecki et al.. Anak prasekolah memiliki sedikit pemahaman tentang sebab nyeri yang dirasakan. usia prasekolah memiliki sifat egosentris dalam pemikirannya dan percaya bahwa semua kejadian dan sensasi berasal dari dunia internal mereka. 2010). (2006) menjelaskan bahwa perkembangan usia anak mempengaruhi makna nyeri dan ekspresi yang dimunculkan.4. Ayu Yuliani Sekriptini.16 luka terpotong. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Nyeri merupakan hal yang kompleks.. Respon nyeri pada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. toleransi terhadap nyeri dan mempengaruhi reaksi terhadap nyeri (Le Mone & Burke. banyak faktor yang mempengaruhi pengalaman seseorang terhadap nyeri.. Nyeri somatis dalam diakibatkan oleh jejas pada struktur dinding tubuh (misalnya otot rangka atau skelet). nyeri somatis dapat diketahui di mana lokasi persisnya pada tubuh.1..

FIK UI. pengalaman ekspresi. anak usia sekolah mampu berfikir lebih logis dan wajar. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. sedangkan anak laki-laki diberitahu untuk berani dan tidak menangis (Taylor et al. 2005). Toleransi terhadap nyeri dipengaruhi faktorfaktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada individu tanpa memperhatikan jenis kelamin (Potter & Perry. Usia remaja mampu berpikir abstrak dan memiliki pemahaman tentang hubungan sebab akibat. 2008). Karakteristik jenis kelamin dan hubungannya dengan sifat keterpaparan dan tingkat kerentanan memegang peranan tersendiri. Bagaimana proses sosialisasi remaja mempengaruhi pengalaman nyeri tetap memahami dalam konsep nyeri.. dan kondisi situasional yang mempengaruhi dan bagaimana anak menanggapi nyeri (Mathew. gigi terkatup. Anak-anak belajar bahwa terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan nyeri dimana anak perempuan boleh pulang ke rumah sambil menangis ketika lututnya terluka. Secara bertahap. 2013 . dalam penelian tersebut lebih menjelaskan perbedaan jenis kelamin hanya karena sensitivitas. peran kelompok sangat berpengaruh. dapat di ajak kerja sama dan cenderung berorientasi menjadi sebuah prestasi bagi dirinya. dan dahi berkerut. Jenis Kelamin Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam berespon terhadap nyeri. Anak remaja kadang menyangkal rasa sakit di hadapan keluarga atau teman sebaya.17 anak usia sekolah sering berupa penolakan dengan menggerakan daerah yang menyakitkan. Beberapa penelitian menjelaskan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan tidak terlalu berpengaruh terhadap respon nyeri. b. Anak usia sekolah memberikan respon fisik berupa tangan mengepal. 2003)....

Pengalarnan individu dengan nyeri yang dialami.. kebisingan. (2012). Lingkungan dan Dukungan Orang Terdekat Lingkungan mempengaruhi dan kehadiran nyeri dukungan seseorang. 2012). meneliti pengaruh pengalaman anakanak untuk stimulus nyeri baru pada pengalaman nyeri berikutnya. Pengalaman Nyeri Sebelumnya Pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang tentang nyeri. cenderung mengantisipasi terjadinya nyeri yang lebih hebat (Schmitz et al. pengalaman nyeri minimal 1 tahun yang lalu. Penelitian Noel et al. (2004) dan Loeser et al. orang yang sering mengalami nyeri dalam hidupnya. kemudian dilakukan wawancara pengalaman nyeri yang pernah dialami.. aktivitas yang sama di ruang perawatan intensif. c.18 Penelitian Logan et al. Banyak keluarga orang juga yang dapat merasa lingkungan pelayanan kesehatan yang asing. 2006). makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan oleh nyeri tersebut. (2008) pada usia remaja menjelaskan adanya perbedaan respon nyeri antara anak remaja laki-laki dan perempuan dimana hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa anak perempuan memiliki skor intensitas nyeri tinggi. Umumnya.. dapat menambah nyeri yang dirasakan (Craig et al. Ayu Yuliani Sekriptini. Hasil menunjukkan pengalaman nyeri sebelumnya pada anak-anak berhubungan dengan rasa takut dari waktu ke waktu dan mempengaruhi pengalaman nyeri yang baru... tetapi penelitian tersebut tidak menunjukkan perbedaan jenis kelamin dalam penggunaan obat pereda nyeri sejenis opioid setelah tindakan operasi. dan diobservasi ekspresi wajah yang muncul pada anak yang dilakukan wawancara.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 . FIK UI. d. Penelitian melibatkan 110 anak yang sehat (60 anak laki-laki. 50 perempuan) berusia 8 sampai 12 tahun.. khususnya cahaya. dengan kriteria anak yang mempunyai pengalaman operasi dan pernah dilakukan venipuncture.

Tanda dan gejala fisik Tanda fisiologis dapat menunjukkan nyeri pada pasien yang berupaya untuk tidak mengeluh atau mengakui ketidaknyamanan.23 tahun.1.. dan kelompok kedua hanya didampingi oleh anggota staf rumah sakit. Selama prosedur venipuncture rata-rata nyeri anak pada kelompok 2 diperoleh Wong-Baker skor lebih tinggi 3 kali dari pada kelompok 1. (2011). kelompok pertama kelompok yang didampingi oleh orang tua. dan ftekuensi pernapasan yang meningkat.5. et al. Melakukan penelitian pada 135 anak dengan rentang usia 3-6 tahun akan dilakukan tindakan venipuncture di klinik rawat jalan anak. FIK UI. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini.41 tahun. Efek Yang Ditimbulkan Oleh Nyeri Efek nyeri pada setiap individu hampir sama baik pada dewasa ataupun pada anak-anak. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran orangtua memiliki pengaruh efek yang positif pada toleransi sakit anak. Selama prosedur venipuncture dilakukan pengukuran tanda vital. 2.. Sangat penting untuk mengkaji tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik termasuk mengobservasi keterlibatan saraf otonom. b.05). 2013 . Efek perilaku Pasien yang mengalami nyeri menunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang khas dan berespon secara vokal serta mengalami kerusakan dalam interaksi sosial.19 Penelitian Ozcetin. Hasil penelitian diperoleh usia rata-rata kasus dengan didampingi orang tua mereka adalah usia 4. Penilaian skor nyeri menggunakan Wong-Baker FACES. efek yang ditimbulkan oleh nyeri terdiri dari : a.19 sampai dengan 1. Respon fisiologis nyeri akut meliputi perubahan denyut jantung..36 sampai dengan 1. tekanan darah. Usia rata-rata kasus dengan didampingi petugas rumah sakit adalah 4. Penelitian dilakukan secara acak menjadi dua kelompok. secara statistik signifikan (p<0. frekuensi pernafasan dan denyut jantung. Pasien seringkali meringis.

Penatalaksanaan Nyeri Pada Anak Penataksanaan nyeri sering tidak dilakukan secara adekuat pada anak oleh karena anak diangap tidak dapat merasakan nyeri. imobilisasi.. c. Suatu studi retrospektif menyatakan hanya 28% anak-anak yang masuk ke unit gawat darurat memperoleh intervensi farmakologi untuk mengurangi nyeri yang adekuat sedangkan pada dewasa mencapai 60% (Cohen.. gelisah. Kunci keberhasilan penatalaksanaan nyeri pada anak adalah dengan pemeriksaan nyeri yang baik (Herd et al. Crowley et.. menghindari kontak sosial dan hanya fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri. menggigit bibir. 2000. Pada anak yang mengalami prosedur invasif minor tanpa intervensi penurunkan nyeri memiliki dampak yang panjang dalam respond dan persepsi anak terhadap nyeri. 2010). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2008. 2008). 2013 . Manajemen nyeri seharusnya menjadi prioritas untuk mengatasi masalah tersebut. Pengaruh Pada Aktivitas Sehari-hari Pasien yang mengalami nyeri setiap hari kurang mampu berpartisipasi dalam aktivitas rutin. Movahaedi 2006). cemas dan stres. psikososial dan fisiologi jangka panjang (Wanga et al.al. melakukan gerakan melindungi bagian tubuh sampai dengan menghinndari percakapan. Ellis et al. FIK UI. seperti mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan higiene normal dan dapat menganggu aktivitas sosial... Ayu Yuliani Sekriptini. 2009). mengalami ketegangan otot. 2004.. Nyeri seringkali dikaitkan dengan rasa takut. 2. Gangguan stress pasca trauma dapat timbul setelah pengalaman prosedur yang tidak disertai denan pengendalian nyeri yang tepat (Larsson et al.6. Nyeri yang tidak berkurang dapat menyebabkan konsekwensi pada gangguan prilaku.1. Terdapat variasi yang luas dalam tatalaksana nyeri pada berbagai unit gawat darurat dan pelayanan kesehatan profesional..20 mengernyitkan dahi.

2013 . ketakutan dan kecemasan. Srouji. Beberapa peneliti menyebutkan ada berbagai macam tehnik non farmakologik yang dapat diberikan pada anak unuk mengurangi nyeri seperti misalnya distraksi. Obat-obatan yang disering digunakan misalnya LET (Lidokain. Epinefrin. Pamella & Macintyre. Sebagai tambahan. Lyon & Mackway. 2005).. EMLA (Eutectic Mixture of Local Anesthetics) sebagai salah satu anastesi topical yang paling sering digunakan (Kelly. William & Zempsky. 2000). Amy et al. 2008. Soyer et al. dan Tetrakain). membuat nyeri dapat lebih ditoleransi.. Ayu Yuliani Sekriptini.. meningkatkan rasa nyaman dan meningkatkan istirahat dan tidur (Huether & Leo. Intervensi non farmakologis yang dapat diberikan diantaranya (Zempsky. Terdapat berbagai metode penelitian non farmakologi yang dapat digunakan untuk menurangi rasa nyeri. 2008. memberikan kemampuan mengontrol nyeri. Wanga et al. Gimbler-Berglund. 2002.. guided imagery dan stimulasi memberikan strategi koping yang dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. Gimbler-Berglund et al. sedangkan sendekatan non farmakologik yang paling sering sering digunakan di unit gawat darurat berupa mendatangkan orang tua saat dilakukan intervensi. menurunkan kecemasan dan meningkatkan kefektifan analgesik atau mengurangi dosis yang diperlukan (American Pain Society. 2000. 2009). tehnik-tehnik ini juga dapat menurunkan persepsi ancaman nyeri.21 Tehnik farmakologi yang sering diberikan saat prosedur pengambilan darah pada anak untuk mengurangi nyeri lebih sering menggunakan pendekatan farmakologis berupa anastesi topikal berupa oles maupun anastesi semprot (Arrowsmith & Campbell. 2003. FIK UI. Pendekatan yang ada mempunyai efektivitas dan keamanan yang cukup baik. 2010) : Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. 2008).. relaksasi. 2006. 2000..

telepon.. Sunb. kelopok anak kedua di beri audiovisual dengan menonton film kartun saat penyuntikan. masing-masing anak terbagi dalam 3 kelompok. 2000. Pemberian Informasi Informasi yang diberikan kepada anak dan anggota keluarga sehingga mengerti kondisi sakit. Pengontrolan pernafasan dan relaksasi otot merupakan metode yang paling sering digunakan untuk anak usia pra-sekolah dan usia yang lebih tua. musik. FIK UI. c. Penelitian Wanga. dan Chena (2008). menyebutkan intervensi non farmakologis berupa metoda pengalihan dapat mengurangi nyeri dan stress dalam prosedur invasif pada anak. Penelitian melibatkan 300 anak usia 8-9 tahun dilakukan tindakan penyuntikan akses vena. 2013 . kelompok pertama diberi intervensi non farmakologis yang berbeda. Dengan demikian pasien juga dilibatkan dalam menentukan cara untuk mengontrol nyeri.. Loeser et al. penilaian nyeri menggunakan skala Visual Analogue Scale (VAS) dan Cooperative Behavior Scale of Children in Venepuncture (CBSCV). prosedur yang akan dilakukan serta pengobatan yang akan diberikan. video games. 2008). b.. Ayu Yuliani Sekriptini. televise. Metode yang paling sering digunakan antara lain : pengunaan gelembung sabun. dan kelompok anak ketiga menerima intervensi psikologis.22 a. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Relaksasi Tehnik relaksasi akan memberikan relaksasi otot dan mengurangi kecemasan yang sering menyertai dan meningkatkan nyeri. Pengalihan Metode pengalihan dengan berbagai aktifitas membantu anak dari berbagai usia untuk menghilangkan nyeri. dan permainan (Kelly. Hasil penelitian menunjukkan intervensi non farmakologi dengan mengunakan audiovisiual lebih efektif dibandingkan intervensi psikologis dan dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan keberhasilan penyuntikan ke vena.

Intervensi ini baik untuk anak usia sekolah atau remaja (William et al. menyebutkan sukrosa 25 % dapat memberikan efek analgesik pada bayi baru lahir saat dilakukan prosedur indakan invasif. White dan Hatira (2006). memberikan hasil ada pengaruh yang signifikan intervensi hipnotis dengan EMLA di banding intervensi EMLA saja pada saat pengambilan darah pada anak dengan p < 0. Penelitian eksperiman di ruang NICU rumah sakit Mount Sinai Hospital. mengurangi pengalaman sensoris serta membantu anak untuk mengontrol perasaannya.001. Carbajal et al. dengan responden 46 anak antara usia 6-16 tahun.. Hipnoterapi Hipnoterapi membatu anak untuk membayangkan pengalaman yang menyenangkan yang pernah dialami. Penerian sukrosa 25 % sebanyak 2 ml selama 60 detik dilakukan 2 menit sebelum tindakan invasif dengan 5 menit sebelumnya diukur denyut nadi dan nilai oksimetri bayi. Ontario dengan jumlah responden 240 bayi baru lahir... 2004. dapat juga diberikan sampai usia 3 bulan. Gradin et al. 2002. Zempsky et al. 2009). Ayu Yuliani Sekriptini. Pengaruh ini tampaknya paling kuat saat bayi baru lahir dan nenurun secara bertahap selama 6 bulan pertama kehidupan (Eichenfield et al. Pemberian rasa manis Penelitian menyebutkan pemberian sukrosa atau glukosa untuk mengurangi nyeri sangat baik diberikan pada neonatus. 2013 ... Dilakukan tiga (3) intervensi invasif diataranya penguntikan intra muskuler. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI. 2002.... 2003). Sukrosa atau glukosa dapat menurunkan respon terhadap stimulus yang menimbulkan nyeri seperti saat pengambilan darah dari tumit dan injeksi pada neonatus. Penelitian yang dilakukan oleh Taddio et al. membandingkan intervensi anstesi EMLA dan hinoptis dengan pemberian EMLA saat pengambilan darah pada anak. tusuk tumit dan pengambilan contoh darah. Peranan hipnoterapi adalah mengalihkan perhatian. Penelitian Liossi. (2008).23 d. Toronto.. e.

FIK UI. Penelitian Jatana. Menggunakan metoda random. dan Udani (2002). Penelitian dilakukan di unit perawatan intensif neonatal di Raja Edward Memorial Hospital. Hasil memberikan gambaran ada penurunan yang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penelitian Laxmikant. bayi yang diberi sukrosa dengan tidakan pengambilan darah memiliki skor nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan penyuntikan intramuskuler vit K dan tusuk tumit dengan CI 95% p < 0. 2013 . Penelitian dilakukan pada 125 bayi baru lahir normal yang akan di lakukan tusuk tumik dengan dibagi tiga kelompok perlakukan pemberian glukosa.24 kemudian dilakukan tindakan intervensi dan di lakukan penilaian skala nyeri 30 detik setelah tindakan invasif dengan menggunakan skala nyeri Premature Infant Pain Profile (PPIP). dengan pemberian placebo pada kelompok kontrol.05). Ayu Yuliani Sekriptini. Enam puluh bayi prematur yang sehat usia kehamilan 28-37 minggu dan usia 2-28 hari setelah kelahiran secara acak diberi 2 ml salah satu dari tiga solusi (air steril. 10 % glukosa dan 25 % glukosa ) per-oral 2 menit sebelum venipuncture. Dalal. Hasil penelitian menunjukkan. setelah pengukuran skala nyeri bayi dinilai kembali denyut nadi dan nilai oksimetri.. kelompok kedua diberi glukosa 25 % dan kelompok ke tiga diberi glukosa 50 %. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek analgesik pada pemberian glokosa 25 % dan 50 % (p<0.. kemudian dilakukan rekaman suara tangisan saat penusukkan dan di ukur rata-rata durasi menangis pada masing-masing kelompok. Deshmukh. double-blind. Tentang efek analgesik pada pemberian glukosa pada neonatus. dan Wilson (2003). sebelum penusukkann tumit masing-masing kelompok bayi di lakukan denyut jantung dan saturasi oksigen. melakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan konsentrasi glukosa pada pengukuran nyeri neonatal selama venipuncture.. kelompok pertama diberi glukosa 10 %.29. Larutan glukosa diberikan 2 menit sebelum tindakan penusukkan tumit.

25 signifikan dalam durasi tangisan pertama pada bayi yang diberikan 25 % glukosa dibandingkan dengan kontrol dan diberikan 10 % glukosa. Kamar ini sebaiknya telah menyediakan lingkungan yang bersahabat dan menenangkan.. Dinding yang berwarna bergambar serta kumpulan mainan akan mengurani ketakutan yang ditimbulkan oleh lingkungan yang asing.7. 2004). Penelitian yang dilakukan oleh Ellis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. FIK UI. Perawat di ruang unit gawat darurat mempunyai peranan penting untuk mengurangi kecemasan dan persepsi nyeri pada anak dengan cara mengajarkan tehnik sederhana da mendukung keterlibatan keluarga. Pengendalian nyeri di unit gawat darurat Penelitian menyebutkan hampir 90% pasien yang masuk ke unit gawat darurat mendapatkan intervensi medis berhubungan dengan prosedur jarum suntik (Zempsky et al.. 2004). 2013 . 2004. Penatakalsanaan non farmakologik ini yang disertai oleh adanya dukungan emosional merupakan hal utama untuk memberikan lingkungan yang nyaman bagi anak (Zempsky & Cravero. laju pernapasan atau saturasi oksigen. 2. namun kehadiran mereka mengurangi kecemasan orang tua dan anak (American Academy of Pediaric. Tidak ada efek yang signifikan pada detak jantung. Bursch & Zeltzer. Lingkungan ruangan Menciptakan suatu lingkungan yang tepat merupakan hal yang esensial untuk mengurangi nyeri dan kecamasan pada seorang anak di unit gawat darurat. Dengan kesimpulan bahwa larutan glukosa terkonsentrasi dapat mengurangi rasa sakit dan memiliki efek analgesik serta aman untuk prosedur minor pada neonatus. Meskipun tidak terdapat bukti bahwa kehadiran keluarga dapat ngurangi nyeri. akan memberi manfaat bagi anak. f. 2001. Zempsky & Cravero. Mengijinkan tetapi bukan mengharuskan kehadiran keluarga saat prosedur invasif yang menimbulkan nyeri dilakukan. Brusch & Zeltzer. 2004. idealnya masing-masing anak ditempatkan pada satu kamar pribadi.. 2004).1. Ayu Yuliani Sekriptini.

Nyeri anak diremehkan karena kurangnya alat penilaian yang memadai dan ketidakmampuan untuk menjelaskan berbagai tahap perkembangan anak-anak. FIK UI. depresi pernafasan. Pengambilan darah vena merupakan prosedur pemeriksaan yang sering dikerjakan pada pasien anak di unit gawat darurat dan prosedur ini merupakan sumber nyeri yang paling sering dirasakan bagi anak (Eichenfield et al. 2004).... 2002). infus 13%. 2008). Pengendalian rasa sakit dan kecemasan pada anak. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Ayu Yuliani Sekriptini.. Nyeri sering undermedicated karena kekhawatiran terjadinya oversedation. (2004) selama 23 hari di rumah sakit Kanada memberikan gambaran bahwa terdapat 387 prosedur rumah sakit berhubungan dengan jarum suntik terdiri dari. pemberian terapi atau anastesi lumbal 1% dan penyuntikan insulin 0. Penelitian menyebutkan pengendalian nyeri di emergensi dapat dilakukan dengan farmakologi dan non farmakologi (Zempsky. di mulai dari arena pra-rumah sakit saat pertama kali anak masuk ke gawat darurat. Port-a-cath access 7%. 2013 .26 et al. dan seluruh prosedur tersebut menimbulkan respon nyeri yang bervariasi pada anak (CI 95% p < 0.5%. injeksi intramuscular 5%. masih ada tenaga kesehatan yang beranggapan bahwa anak-anak tidak merasa sakit yang sama dilakukan oleh orang dewasa dan rasa sakit yang tidak memiliki konsekuensi yang tak diinginkan pada anak-anak. tidak terdapatnya penilaian skala nyeri pada anak. Beberapa hambatan secara umum yang terjadi di unit gawat darurat dapat muncul secara intrinsik yaitu tidak memadainya obat-obatan analgesia khususnya pada anak (Soyer et al. pengambilan darah vena 63%.. Frekuensi mengurangi nyeri dengan farmakologis di Amerika Serikat untuk pengambilan darah adalah 40% sedangkan menggunakan non farmakologis hanya mencapai 10% (Acharya et al. 2009). Pengambilan darah sering dilakukan di unit gawat darurat untuk mentukan jenis penyakit yang diderita oleh pasien. Joseph & Cravero.01).. pengambilan darah kapiler 11%.

dan fisiologik (Desparment-Sheridan. 2004). 2..1. dan memberontak.. dituntut intervensi yang lebih cepat.27 kecanduan. 2007).8. skala deskriptif kualitatif taupun kuntitatif. kognitif (self report). dan kecemasan orangtua (Zempsky. Komponen tingkah laku biasanya diukur dengan suatu chek list tingkah laku yang dijumpai sewaktu anak mengalami rasa nyeri. Komponen tingkah laku ini digunakan pada bayi atau anak yang belum biasa berkomunikasi secara verbal. jumlah pasien yang tidak dapat diperkirakan. & Gilbert. Ayu Yuliani Sekriptini. penggunaan anestesi topikal jarang diberikan karena kekhawatiran tentang keterlambatan dalam pengobatan. anak-anak sering masuk dengan gejala yang tidak jelas yang berdampak kesulitan dalam mentukan diagnosa medis (Craig.. kondisi ruang gawat darurat yang sibuk. misalnya menangis. Dowling. Komponen kognitif biasanya diukur dengan cara kuesioner. skala penilaian belum memadai. FIK UI. 2000. Lilley. Dalam ruang gawat darurat. 2003). tidak adanya ruangan khusus (Twycross. 2000). wawancara. tingkah laku (behavioral). menyeringai. Penilaian Nyeri Penilaian nyeri berdasarkan 3 komponen penting yaitu. pemberian intervensi farmakologi biasanya digunakan untuk nyeri dalam. dan ketidakbiasaan dengan penggunaan obat penenang dan analgesik agen pada anak-anak (Breau et al. Beisang. 2000. 2013 . 2006). 2010). 2000). Komponen fisiologis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Intervensi non farmakologis mengalami hambatan kurangnya pengetahuan petugas tentang skala nyeri pada anak. atau kurangnya ketersediaan. selain itu.. Manajemen nyeri yang optimal memerlukan pemahaman yang menyeluruh tentang penilaian nyeri dan manajemen strategis ruangan yang baik (Zempsky.. Unit gawat darurat lebih cenderung menggunakan intervensi farmakologis dari pada non farmakologis (Crowley et al. Faktor-faktor tersebut membuat penilaian petugas kesehatan merasa kesuitan. biaya. yang dibuat untuk mengetahui intensitas nyeri pada anak.

Srouji. sehingga dapat menggukan Visual Analog Scale (VAS) dengan ketentuan yang selalu digunakan pada anak lebih besar dan melibatkan garis 10 cm yang telah ditentukan kedua ujungnya (“tidak sakit” dan “sangat sakit”). 2010). Berbagai skala menggunakan pengukuran gabungan nyeri telah elemen-elemen dikembangkan fisiologis dan dengan perilaku (behavioral). FIK UI. dan kadar endorphin dalam darah (Desparment-Sheridan. kadar oksigen... Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.1 berikut (Zempsky & Schecter. 2002. Anak-anak usia lebih dari 8 tahun umumnya sudah dapat melaporkan sendiri intensitas. Ratnapalan. Oucher Scale dan Faces Scale (Desparment-Sheridan. seperti yang tertera dalam tabel 2. 2003. Zempsky & Schecter. kadar kortisol. 2013 . 2003). Taddio et al.. Ratnapalan.. & Schneeweiss. frekuensi pernafasan. & Schneeweiss. 2003). Ratnapalan.28 diukur dengan cara menilai frekuensi denyut jantung. & Schneeweiss. 2010). Pada bayi hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh karena bayi tidak dapat menyampaikan secara verbal apa yang sedang dirasakannya (Curtis et al. misalnya Color Analogue Scale (CAS). 2010). namun pada dasarnya komponen kognitif anak sendiri yang dapat menentukan tentang apa yang sedang dirasakannya (Bulloch & Tenenbein. Srouji. lokasi dan kualitas nyeri (William. 2010. 2007. Ayu Yuliani Sekriptini. 2003. 2005). Srouji. 2003. Anak usia 3-8 tahun diperiksa dengan alat yang sesuai yang sudah mengalami perkembangan. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa parameter psikologis dan pengamatan orang tua dapat membantu pemeriksaan nyeri pada anak. Zempsky & Schecter. et al..

. di Thailan telah meneliti validitas tiga skala nyeri yang sering digunakan yaitu Visual analog Scale (VAS). 2005)..T. pada 122 anak-anak Thailan usia 4-15 tahun. Wong-Baker Faces Pain Ratting (WBFPS). What’s New in The Management of Pain in Childrens Skala untuk pemeriksaan nyeri pada anak sebagaimana telah disebutkan di atas telah diteliti secara ektensif.L.29 Tabel 2. 2013 .. N. dan Face Pain Scale-Revised (FPS-R). (2005).1. tetapi masih sangat sedikit diteliti untuk menentukan validitas alat-alat tersebut pada nak di Negara berkembang. FIK UI.. Schecter. et al. Penilaian Klinis Nyeri Physiologic  Frekuesi pernafasan  Fekuansi nadi  Tekanan darah  Kadar kortisol      Behavioral Gerakan tubuh Gerakan wajah Menangis Postur tubuh Pola nafas Self Report Usia 3-8 tahun:  Oucher Scale  Faces Scale  FLACC  CFCS  Faces Pain Scale  Poker Chip Toll  Colored analogue Scale Usia lebih dari 9 tahun :  Visual Analogue Sacale  McGil Pain  Pediatric Pain Questionnaire Composite Infant  CRIES  Neonatal Facial action Coding System  NAPI  MAX  NIPS  PPIP  SUN  OPS  DAN Usia 2-7 tahun :  CHEOPS  COMFORT  OSBD  OPS  TPPPS  AUCHER Usia 8 tahun lebih  Adolescent Pediatric Pain Tool  VarniThompson Pediatric Pain Questionnare  The McGill Pain Questionnaire Sumber : Zempsky W. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Ketiga alat tersebut ternyata mempunyai korelasi yang baik pada anak usia diatas 4 tahun dan validitas yang cukup konvergen (Newman et al. Newman. Ayu Yuliani Sekriptini..

(2001). Wong-Baker Faces Pain Rating Scale Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda. 2010). hasil penelitian memnunjukkan dari ke-empat skala tersebut skala CHEOP lebih valid. Petersen et al. Skala ini berguna pada pasien dengan gangguan komunikasi. Consolability (FLACC).. penelitian dilakukan di Thailan dengan 167 anak antara usia 1-5. 2005. Legs.. 2009.30 Penelitian Bulloch dan Tenenbein (2002). Skala penilaian nyeri dan keterangan pasien digunakan untuk menilai derajat nyeri..5 tahun yang akan dilakukan tindakan pembedahan. 2013 . orang tua. Intensitas nyeri harus dinilai sedini mungkin selama pasien dapat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi nyeri yang dirasakan. yang dilakukan di unit gawat darurat menggunkan dua skala nyeri yaitu Color Analog Scale (CAS) dan 7 poin Faces Pain Scale (FPS) pada 60 anak dengan rata-rata usia 3-9 tahun. McCaffrey & Pasero. Perilaku anak-anak di rekam sebelum dan setelah operasi. Ayu Yuliani Sekriptini. Activity.. Penelitian Suraseranivongse. reliabel dan praktis digunakan pada anak dengan prosedural operasi. FIK UI. Objective Pain Scale (OPS). seperti anak-anak. dan Face. dimulai dari senyuman sampai menangis karena kesakitan. pasien yang kebingungan atau pada pasien yang tidak mengerti dengan bahasa lokal setempat. Cry. Ada beberapa skala penilaian nyeri pada pasien sekarang ini (McLean et al. Toddler Preschool Postoperative Pain Scale (TPPPS). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. a. Kedua alat tersebut ternyata mempunyai korelasi yang baik dan validitas yang cukup konvergen untuk di gunakan di unit emergensi. et al.. menguji validitas empat skala nyeri antara Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOP).

sedang. berat dan sangat berat.. ringan. Verbal Rating Scale c. tidak nyeri. Pasien ditanya bagaimana sifat dari nyeri Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Numerical Rating Scale (NRS) Pertama sekali dikemukakan oleh Downie dkk pada tahun 1978. 2013 . Visual Analogue Scale (VAS) Verbal Rating Scale terdiri dari beberapa nomor yang menggambarkan tingkat nyeri pada pasien.. Wong Baker Faces Pain Rating Scale b.2.31 Gambar 2.4. dimana pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan menunjukkan angka 0 – 5 atau 0 – 10. Numerical Rating Scale d. Verbal Rating Scale (VRS) Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan berdasarkan skala lima poin . FIK UI.3. Ayu Yuliani Sekriptini. dimana angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka 5 atau 10 menunjukkan nyeri yang hebat. Gambar 2. Gambar 2..

Setiap kategori (Faces. Legs.5... skala nyeri verbal ini sulit digunakan. Cry. Peneliti memilih nomor dari skor tingkat nyeri tersebut dari apa yang dirasakan pasien.Activity. Cry. Skor tersebut terdiri dari empat poin yaitu : Poin 0 = Tidak ada nyeri atau perasaan tidak enak ketika ditanya Poin 1 = Nyeri yang ringan yang dilaporkan pasien ketika ditanya Poin 2 = Nyeri sedang yang dilaporkan pasien ketika ditanya Poin 3 = Nyeri dihubungkan dengan respon suara. wajah merintih atau menangis Keempat poin ini secara luas digunakan oleh klinisi untuk menentukan tingkat kebenaran dan keandalan. 4 <7 = nyeri sedang dan 7-10 = nyeri berat Gambar 2. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Legs. Ayu Yuliani Sekriptini.32 yang dirasakannya. 2013 . dan Consolability (FLAAC) Skala ini merupakan skala perilaku yang telah dicoba pada anak usia 3-7 tahun.. & Consolability) diberi nilai 0-2 dan dijumlahkan untuk mendapatkan total 0-10. FIK UI. Visual Analogue Scale e. Visual Analog Scale (VAS) dilihat berupa suatu garis lurus yang panjangnya biasaya 10 cm (atau 100 mm). seperti angka 0 (tanpa nyeri) sampai angka 10 (nyeri terberat). tangan atau lengan tangan. dengan penggambaran verbal pada masing-masing ujungnya. Untuk pasien yang memiliki gangguan kognitif.<4 = nyeri ringan. Nilai VAS 0 .Activity. Faces.

Tabel 2. Score Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Legs. Di dalam skala ini terdapat enam kategori dari perilaku nyeri: menangis. normal position. withdrawn. 2 Child is moaning or quietly vocalizing silent cry. sobbing. ekspresi muka. frequent complaints Difficult to console or comfort Reassured by accosional al touching. skor maksimal nyeri adalah 13.org/ painrelief/pcs pain files/app_d_flacc. 2013 . tense Score -2 Freuent to constant quivering chin. Faces. dan kaki. but the cry is gentle or whimpering. tense Squimin. distractible Sumber : National Health and Medical Research massgeneral.. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Skala penilaian CEOPS berupa penilaian yang mencakup perilaku nyeri anak dan keluhan yang rasakan. or legs draw up Arched.3.2. sentuhan. Cry.Activity. 2 Child is crying. sreams or sobs. Skor 4 mengindikasikan awitan nyeri. cleched jaw Moans or whimpers. Skala penilaian CHEOP digunakan untuk anak usia 1-7 tahun. Penilaian skor nyeri diperoleh berdasarkan hasil penilaian keseluruhan.. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. dan Consolability Criteria Face Legs Activity Cry Score -0 No particular expression or smile Normal position or relaxed Lying quietly.33 Tabel 2. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Item Cry Behavioral No cry Moaning Crying Scream Definition 1 Child is not crying. verbal. torso. 3 Cild is in a full-lunged cry. relaxed Score -1 Occasional grimace or frown.. restless. hugging or being talked to. moves easily No cry (awake or asleep) Consolability Content. shiting back and forh. occasional complaint Crying steadily.pdf Kicking. disinterested Uneasy. rigid or jerkig Council http://www2. may be scored complaint or without complaint. f.

P. Child is a vertical or upright position. crouching or kneeling. e. H.L.34 Item Facial Behavioral Composed Grimace 1 2 Smiling 0 Child None Verbal Other complaints 1 1 Torso Touch Legh Pain complaints Both complaints 2 2 Positive 0 Neutral 1 Shifting 2 Tense Shevering 2 2 Upright 2 Restrained Not touching 2 1 Reach 2 Touch 2 Grab 2 Restrained Neutral 2 1 Squirm/kicking 2 Drawn up/tensed 2 Standing Restrained 2 2 Definition Neutral facial expression Score only if definite negative facial expression score only if definite positive facial expression Child not talking Child complains. e. Standing.. J.. Legs tensed and/or pulled up tightyly to body kept there... Ayu Yuliani Sekriptini. but not about pain. Body is shuddering or shaking involuntarily. G. Body (not limbs) is at rest. Body is in motion in shifting or serpentine fashion.J. Child’s legs are being held down.g.. Legh may be in any position but are relaxed. FIK UI. New York. Raven Press. I want my mommy”. Body is arcehed or rigid. “I want to see mommy” of “I am thirsty” Child complains I about pain. Child is reaching for but not touching wound. torso is inactive.. “It hurts. Child is not touching or grabbing at wound. Child is grabbing vigorously at wound.. et al. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Score Sumber : McGrath. CHEOPS: A behavioral scale for rating postoperative pain in children.T. Body s restrained. Child’s arms are restrained.. Definitive uneasy or restless movement in the legh/or striking out with foot or feet. Johnson. Child is gently touching wound or wound area. In Field. 2013 . Goodman. et al (editors) Advances in pian Resesrcn and Therapy. Child complains about pain and about other.g.. 9. include gentle swinning or separate-like movements. Chid makes any positive statement or talks about things without complaint.

02 mg). Sementara untuk kadar glukosa. Scheiner et al. serat kasar (0 g)..2. flavonoid (0. yang dikumpulkan. Akanmu et al.2. 2. Fruktosa atau yang sering disebut Levulosa merupakan gula murni atau alami yang berasal dari saripati buah-buahan. lalu disimpan di dalam sarang hingga matang (Hamad. Jenis gula atau karbohidrat yang terdapat di dalam madu alami yakni fruktosa..20%).31%). abu (0. fruktosa (38. 2011.1 mg). 2010). zat besi ( 0.. 2011. 2011). FIK UI. maltosa (7.7%). Komposisi kimia madu hasil ekstraksi terdiri dari air (17. Suarez et al. dikeringkan.35 2. kalsium (2 mg).10%). thiamin (0.8 mg%). 2011.17%).2. maltosa.5 gram per 100 gram madu alami.. natrium (10 mg). lemak (0 g).00 kal). Madu mengandung monosakarida yang mudah diserap dalam usus tanpa membutuhkan proses pemecahan yaitu fruktosa (38%) dan glukosa (31%). yang memiliki kadar yang tertinggi. Penggunaan Madu Dalam Penanganan Nyeri Pada Anak 2. yaitu sedikitnya bisa mencapai 38.57%)..02 mg) (Alzubier & Okechukwu. posfor (12 mg). dan sukrosanya rendah. (Goenarwo et al. sukrosa (1.20 g).. Pengertian Madu Madu merupakan cairan alami yang umumnya mempunyai rasa manis. lebih dari 181 macam senyawa atau unsur dan zat nutrisi yang ada. diubah dan dikombinasikan dengan zat tertentu dari lebah kemudian ditempatkan.2. Madu merupakan zat pemanis alami yang diproduksi oleh lebah madu dari nektar tanaman atau sekresi bagian lain dari tanaman atau ekskresi dari insekta pengisap tanaman. glukosa (31%). asam organik (0.3.90 g). 2004). dan niacin (0. kadar air (78. 2013 ..20 g). 2002.50%). protein (0. Ayu Yuliani Sekriptini. Komposisi kimiawi utama dalam madu total karbohidrat (78. Cornelia & Chis. Akanmu et al. 2011). Komposisi Kimia dan Biologis Madu Menurut hasil pengkajian dari para ahli.00 g). kalori (295. protein (1. 2004. dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nectar) atau bagian lain dari tanaman (extra floral nectar) atau ekskresi serangga (SNI. terkandung di dalam madu alami.. dan abu (0. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

Goenarwo. Mg. Selain itu didalam madu juga terdapat berbagai jenis enzim. Jenis-jenis madu lain yang terdapat di negara sub tropis menurut Puspitasari (2007) antara lain. Madu mengandung berbagai macam enzim. salah satunya adalah enzim katalase yang mampu memberikan efek pemulihan. dan minyak volatil.. Madu memiliki kandungan antibiotika sebagai antibakteri pada luka dan mengandung dekstrosa. sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri (Almada. dan glikosida. hutan. jambu air. karet.. jambu mente. alfalfa. Kandungan flavonoid diduga menghambat produksi cyclooxygenase. bamboo. P. Beberapa jenis madu di Indonesia antara lain madu kapuk. Ayu Yuliani Sekriptini. flavoid. 2009. Selain itu. investase. 2002). diastase. seperti hidroksi metal furfural. mangga. S. Komponen tambahan yang terkandung didalam madu seperti lisozim. K. lipase) yang memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh. asam fenolik dan flavonoid juga terdapat dalam madu yang berfungsi sebagai antioksidan dan anti radang. aster. 2003). mahoni. rambutan. Cl. Alzubier & Okechukwu.. 2007. kopi. garam Iodium.4. multiflora. durian. FIK UI. lilin. bunga matahari dan madu royal jelly. oksalat) (Purabaya. 2007).. 2000. Jenis-jenis Madu Jenis-jenis madu beraneka ragam tergantung nektar tanamannya. gen pembiakan. kaliandra. Selain itu madu mengandung enzim amilase. antara lain enzim glukosa oksidase dan enzim invertase yang dapat membantu proses pengolahan sukrosa untuk diubah menjadi glukosa dan fruktosa yang kedunya mudah diserap dan dicerna oleh tubuh. serta mengandung flavonoid yaitu pinocrembin (Puspitasari. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. peroksidase. katalase. Madu mengandung beberapa senyawa organik yang telah terindetifikasi antara lain seperti polyphenol. 2011). klengkeng. Na. basswood. Fe.36 Madu juga mengandung berbagai mineral seperti Ca. sitrat. Truchado et al. madu juga mengandung berbagai macam enzim (amylase. apel.2. enzim lipase. dan asam organik (asam malat. sonokeling. 2013 . athel. tartrat. laktat. 2. dan asam formik (Puspitasari.

37

bergamot, blackberry, bluberry, blue curls, bluevine, boneset, buckwheat,
cantaloupe, cape vine, coralvine, cranberry, galiberry, goldenrod, holly,
horsemint, locust, manzanita, marigold, mesquite, mountain laurel,
mustard, palmatto dan pepperbush. Setiap madu mempunyai karakteristik
yang berbeda baik berdasarkan komposisi, rasa maupun penampilan fisik.
Jenis madu dibagi menjadi tiga macam yaitu, a) Madu flora yaitu madu
yang dihasilkan dari nektar bunga, b) Madu ekstra flora yaitu madu yang
dihasilkan dari nektar yang terdapat diluar bunga yaitu berasal dari bagian
tanaman yang lain seperti daun, cabang atau batang tanaman, c) Madu
embun yaitu madu yang dihasilkan dari cairan suksesi serangga yang
kemudian eksudatnya diletakkan pada bagian-bagian tanaman, cairan ini
kemudian dihisap dan dikumpulkan oleh lebah madu (Puspitasari, 2007).
Di Indonesia jenis madu yang dipasarkan sering diberi nama menurut
daerah asalnya, misalnya madu Sumbawa, madu Kalimantan, dan Madu
Sulawesi.
Kualitas madu ditentukan oleh waktu pemanenan madu, kadar air, warna
madu, rasa dan aroma madu. Madu yang memiliki kandungan enzim
diastase sebagai salah satu acuan yang digunakan Sandar Nasional
Indonesia (SNI) untuk menentukan madu tersebut asli atau tidak, karena
enzim diastase hanya dihasilkan dari kelenjar ludah lebah (Hamad, 2004;
Puspitasari, 2007).
Jenis madu yang sering digunakan pada beberapa pengobatan adalah madu
PERUM PERHUTANI ber-Standar Nasional Indonesia (SNI) atau disebut
sebagai madu perhutani. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhidayah,
(2011) tentang pengaruh madu dalam perawan oral care terhadap pasien
anak mukolitis akibat mukolitis pada anak menggunakan madu PERUM
PERHUTANI. Madu yang digunakan adalah jenis madu hutan multiflora
dan telah diuji kualitasnya oleh Pusat Perlebahan Nasional Perhutani
(PPNP). Berikut ini kandungan gizi madu perhutani :

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

38

Tabel 2.4. Kandungan gizi madu perhutani
Parameter
Kalori
Lemak
Asam lemak jenuh
Kolesterol
Total Karbohidrat
Serat makanan
Protein
Kalsium (Ca)
Natrium (Na)
Besi (Fe)
Kalium (K)
Vitamin A
Vitamin C

Satuan
Kal/100 gram
%
%
mg/100 gram
%
%
%
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
UI/100 gran
mg/100 gram

Hasil
320
0
0
<0
79,3
0,73
0,63
9,84
12,8
0,63
102
< 0,5
3,52

Sumber : Pusat Perlebahan Nasional Perum Perhutani 2008

2.2.5. Efek Terapeutik Madu
Madu merupakan bahan makanan yang mengandung nilai gizi tinggi
tinggi mengandung banyak komponen gula sederhana (monosakarida dan
disakarida) dan gula rantai panjang (polisakarida), selain itu madu
mengandung enzim untuk mencerna gula, vitamin, mineral dan lain-lain
(Bognadov et al., 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Alzubier dan Okechukwu (2011)
menyebutkan

madu

memiliki

efek

terapeutik

anti-inflammatory,

antipyretic, dan analgesic. Penelitian dilakukan pada tikus dengan
disuntikkan asam asetat pada peritoneum tikus dengan sebelumnya dikasih
madu per oral, hasil menunjukkan pemberian madu mengurangi ambang
nociception dan mengurangi rangsang

saraf terminal dari serat

nociceptive.
Suarez et al., (2010), menyebutkan madu asli 100% murni mengandung
zat antibiotik yang dapat menyembuhkan penyakit dari berbagai patogen
penyebab penyakit. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi aktivitas
antibakteri pada madu asli 100% murni; pertama, kadar gula madu yang
Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

39

tinggi akan menghalang pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tersebut
tidak dapat hidup dan berkembang. kedua, tingkat kemanisan madu yang
tinggi (pH 3.65) akan mengurangi pertumbuhan dan daya hidupnya
sehingga bakteri tersebut mati,

ketiga, adanya pertumbuhan radikal

hidrogen peroksida yang bersifat membunuh mikroorganisme patogen,
dan keempat adanya senyawa organik yang bersifat antibakteri antara lain
seperti polyphenol, flavonoid, dan glikosida.
2.3. Pengaruh Madu Terhadap Penurunan Respon Nyeri
Madu mengandung berbagai mineral seperti Ca, Na, K, Mg, Fe, Cl, P, S,
garam Iodium, dan asam organik (asam malat, tartrat, sitrat, laktat, oksalat)
(Purabaya, 2002). Selain itu, madu juga mengandung berbagai macam
enzim (amylase, diastase, investase, katalase peroksidase, lipase) yang
memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh, serta
mengandung flavonoid yaitu pinocrembin yang memiliki efek anti nyeri.
Puspitasari

(2007)

dalam

penelitiannya

menyebutkan

madu

dapat

memberikan efek analgesik. Flavonoid dalam madu dapat menghambat
produksi cyclooxygenase, sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan
nyeri.
Geonarwo, Chodidjah, dan Susanto (2011) melakukan eksperimental dengan
pendekatan post test only control group design. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan hewan uji tikus putih jantan galur wistar 25 ekor, dibagi
dalam 5 kelompok secara random, kelompok I (kontrol negatif) diberi
aquadest, kelompok II diberi madu 25%, kelompok III diberi madu 50%,
kelompok IV diberi madu 100% dan kelompok V (kontrol positif) diberi
parasetamol 4,5 mg/kgBB. Setelah 5 menit semua kelompok disuntik
dengan asam asetat 1% (0,1 ml) intra peritoneum, kemudian dihitung jumlah
geliat setiap 5 menit selama 1 jam. Hasil penelitian menunjukkan madu
dengan konsentrasi madu 50% memiliki efek analgetik yang meningkat,
sedangkan madu dengan konsentrasi 25% dan 100% menunjukkan efek
analgetik yang menurun.

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Ease adalah tidak adanya ketidaknyamanan spesifik. Relief yaitu status ketidaknyamanan yang dimiliki menjadi berkurang atau status terpenuhinya kebutuhan kenyaman spesifik. lingkungan dan keperawatan. kebutuhan yang berhubungan dengan ukuran secara patofisiologi. Kolcaba Kolcaba mendefinisikan salah satu intervensi perawatan kesehatan sebagai kebutuhan tentang kenyamanan. dan sosial. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan fisik. lingkungan. Teori Keperawatan “Comfort” Katharine C. Kolcaba mengaitkan ketiga tipe kenyamanan tersebut dengan empat pengalaman kenyaman yaitu fisik. kesehatan. sosial dan kebutuhan lingkungan yang memfasilitasinya seperti alat monitor dan laporan verbal atau non verbal. dan transcendence. menilai kenyaman dengan membuat struktur taksonomi yang bersumber pada tiga tipe kenyamanan yaitu reliefe. peningkatan dari kondisi penuh tekanan dalam situasi perawatan kesehatan.. 2013 .40 2. Kesehatan adalah fungsi optimal dari Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. psikospiritual. ease. Kolcaba 2. 2006). yang tidak dapat ditemui pada penerima pelayanan tradisional.1. Konsep Umum Teori “Comfort” Katharine C.. Sedangkan transcendence yaitu kemampuan untuk bangkit diatas ketidaknyamanan ketika ketidaknyamanan yang ada tidak dapat dihindari atau dihilangkan. dan kebutuhan akan konseling financial dan intervensi (Tomey & Alligood. Teori kenyamanan memandang keperawatan adalah pengkajian yang inten tentang kebutuhan kenyamanan untuk mengatasi kebutuhan tersebut. FIK UI. Manusia atau pasien adalah individu atau keluarga yang membutuhkan perawatan kesehatan.4. Kolcaba (2003). Lingkungan adalah pengaruh eksternal yang dapat dimanipulasi untuk meningkatkan kenyamanan.4. psikospiritual. Empat konsep sentral dalam paradigma keperawatan yaitu manusia atau pasien. Ayu Yuliani Sekriptini.. dan menilai kembali kenyamanan pasien setelah pelaksanaan tindakan kenyamanan kemudian dibandingkan denan keadaan sebelumnya. kebutuhan pendidikan dan dukungan.

41 komunitas. Kolcaba. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Konsep teori kenyamanan adalah kebutuhan kenyaman. jujur. dan trascendece terkait dengan empat pengalaman yaitu fisikal psikospiritual. model keperawatan yang perhatian adan empati. Intervening variabel adalah faktor positif taupun negatif yang sedikit sekali dapat dikontrol oleh perawat atau institusi tetapi berpengaruh langsung kesuksesan rencana intervensi kenyamanan (Kolcaba & DiMarco.. ease. HSBs adalah perilaku pasien atau keluarga yang terlibat secara sadar atau tidak sadar. healt seeking behavior (HSBs) dan intergritas institusional. dan lingkungan yang nyaman bagi pasien. psikospiritual. Integritas institusional adalah kondisi sarana perawatan kesehatan yang menyeluruh. sosiokultural dan lingkungan. lingkungan dan sosiokultural (Kolcaba. Ayu Yuliani Sekriptini. Comfort needs adalah kebutuhan akan rasa nyaman relief. intervening variables. keluarga yang dapat dicapai dengan memperhatikan kebutuhan kenyamanan. Comfort atau kenyamanan adalah pengalaman langsung yang diperkuat dengan kebutuhan relief. pasien. psikospiritual. HSBs dapat ekternal. ease. Comfort care mempunyai 3 komponen yaitu intervensi yang sesuai dan tepat waktu. Seluruh konsep tersebut terkait dengan pasien dan keluarga. 2005. 2003). FIK UI. Comfort measures adalah intervensi yang sengaja dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pasien atau keluarga. berfokus pada kenyaman pasien. sosiokultural. peningkatan kenyaman. intervensi keyamanan (comfort care). Comfort care adalah filosofi perawatan kesehatan yang berdasarkan fisik. 2003). 2013 . internal atau kematian yang damai. dan transcenden dalam konteks pengalaman manusia secara fisik. menggerakkan mereka ke arah kesejahteraan. professional dan beretika..

masyarakat akan mengetahui kontribusi institusi tersebut terhadap program kesehatan pemerintah.. dan 8) bila perawat dengan pelayanan puas terhadap institusi pelayanan. 5) pasien dan perawat sepakat tentang HSBs yang diinginkan. 6) bila kenyamanan tercapai. Aplikasi comfort theory pada keperawatan anak Comfort theory diterapkan dalam beberapa kondisi pasien seperti pasien penderia kanker payudara stadium awal. 2. Institusi menjadi lebih baik terpandang dan berkembang (Kolcaba.6.42 Sumber : Kolcaba 2003 Gambar 2. Berikut ini adalah proposition teori kenyamanan. 3) intervening variables diperhitungkan dalammerancang intervensi. Kerangka konseptual teori kenyamanan Kerangka konsep diatas mejelaskan proposition adalah pernyataan yang menghubungkan antar konsep. 2) perawat menyusun rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan. perawat dan keluarga akan lebih puas dengan pelayanan kesehatan. Sedangkan comfort care akan mengkaitkan semua komponen. FIK UI. 7) bila pasien dan keluarga telah memiliki HSBs yang kuat sebagai hasil dari comfort care. 2013 . khususnya kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh suppor system eksternal. 2003).2.4. 4) intervensi yan efektif dan dilakukan dengan penuh caring yang hasilnya akan langsung terlihat sebagai pengingkatan rasa nyaman. pasien dengan kondisi Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Ayu Yuliani Sekriptini. pasien dan anggota keluarga terikat oleh HSBs yang akan meningkatkan kenyamanan lebih lanjut.. Intervensi ini disebut comfort measures. 1) perawat mengidentifikasi kebutuhan kenyamanan pasien dan anggota keluarga.

. Kolcaba menyatakan teori kenyamanan meliputi tiga alasan logis yang terdiri dari induction. 2 berikut ini : Skema 2. FIK UI. Baris 2 adalah tingkat praktik comfort pada kasus perawatan anak. Ayu Yuliani Sekriptini.1 Aplikasi Comfort Theory pada Keperawatan Anak Sumber: Kolcba & DiMarco (2005) Skema di atas menggambarkan hubungan antara konsep-konsep penting dalam teori comfort.43 inkontinensia urin. 2013 .. pada perawatan peri dan intra operatif. Baris 1 menggambarkan konsep teori secara umum dan merupakan tingkat tertinggi yang bersifat abstrak dan setiap baris berikutnya lebih bersifat konkret. Aplikasi comfort theory dalam penanganan nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah pada anak dapat diuraikan bahwa aspek health care Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. deduction. kondisi individu dengan keterbelakang mental dan keperawatan pada bayi baru lahir (Kolcaba & DiMarco). dan retroduction. Baris 3 adalah cara dimana masing-masing konsep dilaksanakan. lebih jelas dapat dilihat pada kerangka konsep Kolcaba 2.. unit luka bakar.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema 2. sosiokultural. psikospiritual.44 need yaitu anak memiliki kebutuhan rasa nyaman selama prosedur invasif dilakukan. 2013 . Hal tersebut merupakan keluaran yang positif yang membawa manfaat besar baik rumah sakit. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Tahap perkembangan dan kehadiran orang tua merupakan interventing variabel yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk mencapai rasa nyaman pada semua aspek (kenyamanan fisik. Ayu Yuliani Sekriptini.. Aspek nursing intervention yaitu pemberian intervensi non farmakologis berupa pemberian madu yang merupakan bagian intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman. keluarga dan rumah sakit. dan lingkungan).. FIK UI. Pemenuhan rasa nyaman yang adekuat pada semua aspek dengan tingkat relief hingga transcendence akan mendorong pada penentuan intervensi berikutnya. penurunan kebutuhan akan tindakan medis yang lain dan peningkatan kepuasan anak dan keluarga.2 dibawah ini. Dengan demikian pemenuhan rasa nyaman yang optimal pada anak akan disesuaikan dengan karakteristik tumbuh kembang akan membawa manfaat bagi anak.

anak tidak menangis saat tindakan. termasuk anak yang masih dalam kandungan (Undang-undang Perlindungan Anak No. segera diatasi. pengalaman nyeri sebelumnya.2. meninggal dengan tenang Kepuasan keluarga. psikospiritual sosokulturall. 2013 .45 Jalur 1 Health care need + Nursing Interventions + Atraumatic Care + Intervening variables Enhanced Comfort Health seeking behaviour Institusional itnegrity Internal. dan tidak merasa nyeri LOS minimal.5. analgetik kurang.. tidak menimbulkan trauma saat anak masuk RS Prosedur tetap dalam perawatan pengambilan darah dengan memberikan madu sebelum diberikan intervensi invasif Skema 2. keluarga puas dengan pelayanan RS Jalur 2 Kebutuhan rasa nyaman bagi anak dan keluarga + Usia. lingkungan Mencatat usia.5. Aplikasi Comfort Theory dalam Tindakan Pemberian Madu 2. 23 pasal 1 tahun 2003). Pengertian Anak Anak adalah seseorang yang belum berusia delapan belas (18) tahun. jenis kelamin. anak berada pada masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik kebutuhan fisik.1. lingkungan dan dukungan orang terdekat Rasa nyaman fisik. Ayu Yuliani Sekriptini. sosial dan spiritual. FIK UI. Konsep Anak 2. jenis kelamin anak dan kehadiran keluarga Rasa nyeri diukur dengan checklist CHEOPS Jalur 3 Tidak nyeri. tindakan medis berkurang Percaya denga perawat. Dalam keperawatan anak yang dimaksud anak adalah seseorang yang berusia kurang dari delapan belas tahun. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... eksternal. psikologis.

Kelompok anak Berdasarkan Fase Perkembangan Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Perkembangan biologis anak usia prasekolah ditandai dengan kematangan sistem organ dan penyempurnaan perilaku motorik halus dan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Fase prenatal mencakup masa kehamilan sampai anak dilahirkan. Fase infant adalah fase saat bayi berusia 1 bulan sampai 12 bulan. Setelah fase ini anak memasuki fase pra sekolah yaitu saat anak memasuki usia 3-6 tahun.46 2. fase sekolah dan fase remaja. Fase sekolah merupakan fase anak berusia 6 sampai 12 tahun. menangis keras. dan terakhir fase remaja yaitu saat anak memasuki usia 13-18 tahun (Hockenberry & Wilson. 2007). pola koping dan perilaku sosial (Supartini. konsep diri. Ayu Yuliani Sekriptini. Ditinaju dari kemampuan berbahasa anak usia toddler secara umum mengalami kesulitan dalam pengucapan dalam menyampaikan suatu keinginan. Fase toddler merupakan saat anak berusia 1-3 tahun. fase neonatal.. fase toddler. 2004). Ditinjau dari perkembangan sosial belum memiliki toleransi yang lebih baik dalam hal perpisahan dengan orang tua.. 2013 . fase infant. Perkembangan usia prasekolah merupakan kelompok usia antara 3 sampai 5 tahun. kognitif. Perkembangan biologis anak usia toddler mengalami fase toilet training dan perkembangan motorik merupakan proses tumbuh kembang sistem gerak seorang anak setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan sistem interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Fase neonatal merupakan masa saat bayi lahir sampai usia 28 hari.5. respon tubuh terlokalisasi secara sengaja menarik diri dari area yang terstimulis. fase prasekolah. Dalam proses perkembangan anak memiliki ciri fisik. Repon anak toddler terhadap nyeri. mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri (Hokenberry & Wilson. 2007).. Perkembangan usia toddler merupakan kelompok usia antara 1 sampai 3 tahun. Fase perkembangan anak terdiri dari fase prenatal.2. FIK UI. ekspresi wajah menunjukan nyeri.

2013 . 2. mengapa. membutuhakan dukungan emosi seperti pelukan dan memberikan antisipasi secara aktual (Hockenbarry & Wilson. Ditinjuau dari perkembangan sosial anak usia prasekolah.. 2004). misalnya perpisahan yang disebabkan oleh penyakit dan Hospitalisasi (Hokenberry & Wilson. bimbingan dan persetujuan. Perpisahan yang panjang dengan orang tua merupakan hal yang sulit bagi anak usia prasekolah. tingkat perkembangan anak. Pengertian Atraumatic care Atraumatic care adalah suatu tindakan perawatan terapeutik yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan intervensi melalui cara mengeliminasi atau meminimalisasi stress psikologi dan fisik yang dialami oleh anak dan keluarganya dalam sistem pelayanan kesehatan (Supartini.6. Atraumatic care 2. bagaimana Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri. apa. kapan. jaminan. Namun demikian mereka masih membutuhkan pengamanan dari orang tua. mendorong hal yang menyebabkan nyeri. dan faktor situasi lainnya.. menempel dan memegang orang tua. Wong dan Hockenberry (2003) menyebutkan bahwa atraumatic care berhubungan dengan siapa. Terkait dengan respon nyeri yang disebabkan oleh prosedur invasif yang menyakitkan bagi anak tergantung pada usia anak.47 kasar. akan tetapi mereka dapat berespon dengan baik terhadap bila ada perpisahan dan penjelasan yang konkrit. Ayu Yuliani Sekriptini. kelompok usia ini memiliki toleransi yang lebih baik dalam hal perpisahan dengan orang tua dibandingkan usia toddler. Usia toddler masih belum mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang dirasakan karena keterbatasan kosakata dan pengalaman nyeri. 2007). 2007).1. dimana.6.. sedangkan pada usia prasekolah dalam berespon terhadap nyeri diantaranya dengan menanis keras atau berteriak. FIK UI. terutama ketika memasuki usia sekolah. Anak usia ini dapat berhubungan secara mudah dengan orang asing dan toleran terhadap perpisahan dengan orang tua hanya sedikit atau tanpa protes. memukul tangan atau kaki.

Contoh dari peningkatan tindakan atraumatic care menyangkut mengorganisir hubungan orangtua dengan anak selama perawatan.. Karena anak stress dan gelisah serta tidak tenang berada di rumah sakit tanpa orangtua di sampingnya. mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis). & Cravero. Stress psikologi pada orangtua dapat berupa perhatian terhadap nasib anak mereka. 2004. tekanan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 . mencegah atau meminimalkan perpisahan anak dari orangtua. persiapan anak sebelum tindakan atau prosedur yang tidak menyenangkan. Kondisi tersebut menjadi perhatian dan tanggung jawab dari seorang perawat kesehatan profesional. tidak melakukan kekerasan pada anak... Terdapat tiga prinsip kerangka kerja untuk mencapai tujuan tersebut. meningkatkan kontrol diri. Wong dan Hockenberry (2003) menyebutkan tujuan mencapai perawatan atraumatic care adalah jangan menyakiti. American Pain Society (2000) menyebutkan kondisi nyeri terdapat lima tanda vital yang harus diperhatin. misalnya nadi. mengontrol rasa nyeri.. meningkatkan kemampuan orangtua dalam mengontrol perawatan anak. mengijinkan privasi anak.48 dari setiap prosedur tindakan yang ditujukan pada anak bertujuan untuk mencegah atau mengurangi stres psikologi dan fisik. menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga. Ayu Yuliani Sekriptini. Sparks et al. orangtua pun merasa semakin stress. yaitu. alihkan dengan bermain untuk menghindarkan rasa takut. dan tidak adekuatnya pengetahuan dan pemahaman tentang situasi kondisi penyakit (Zempsky. mencegah atau meminimalkan cedera tubuh. dan modifikasi lingkungan fisik. Azis (2005). 2007). ketidak mampuan berkomunikasi secara efektif dengan profesional kesehatan. FIK UI. Terkait dangan hal tersebut nyeri akan berhubungan dengan peningkatan tandatanda vital sehingga prinsip dari tindakan perawatan nyeri adalah memeriksa tanda-tanda vital pasien setiap saat. lamanya tinggal di rumah sakit. mengatakan untuk mencapai perawatan tersebut beberapa prinsip yang dapat dilakukan perawat antara lain.

d. c... Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak. Prinsip yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah mencegah dan meminimalkan perpisahan anak dengan keluarganya. Manchikanti et al. evaluasi perubahan psikologi dan tingkah laku. Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. gunakan skala nyeri. suhu.6. 2013 . relaksasi dan imaginary. Karena nyeri berhubungan dengan sensori dan emosional. 2. Tidak melakukan kekerasan pada anak. Ayu Yuliani Sekriptini.49 darah.2. 2009. cari penyebab nyeri. libatkan orangtua. b. dan ambil tindakan dan evaluasi hasil nyeri (Wong & Hockenberry. maka digunakanlah strategi penilaian kualitatif dan kuantitatif. 2007) : a.. Mencegah atau mengurangi cedera (injuri) dan nyeri (dampak psikologis). 2010). Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. dan pernafasan (Soyer et al. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai tenik misalnya distraksi.. Prinsip Atraumatic care Prinsip utama dari pelayanan yang tidak menimbulkan trauma (atraumatic care) pada anak adalah bahwa tidak ada yang tersakiti. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga Dampak perpisahan dari keluarga akan menyebabkan kecemasan pada anak sehingga menghambat proses penyembuhan dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. 2003). seperti menanyakan anak. Istilah yang digunakan untuk menanyakan nyeri pada anak dengan menggunakan pertanyaan. dan mencegah terjadinya nyeri serta cedera tubuh (Hockenberry & Wilson. Kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak dapat meningkatkan kemandirian anak dan anak akan bersikap waspada dalam segala hal.. meningkatkan kontrol diri anak. FIK UI.

2013 .. Ayu Yuliani Sekriptini. Kerangka Teori Dari uraian diatas maka peneliti mencoba menggambarkan kerangka konsep teori yang dapat mempengaruhi terjadinya nyeri..3.Pengalaman nyeri sebelumnya . Modifikasi lingkungan.50 kehidupan anak. e. Tommey & Alligood (2006) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.Lingkungan dan dukungan orang terdekat Anak sakit Dibawa ke unit Gawat Darurat Tindakan invasif pengambilan darah Nyeri saat prosedur Comfort Theory: .Ease .Jenis kelamin .. Adapaun kerangka teori dalam penelitian ini seperti pada skema 2. 2.3. FIK UI.Transcendence Pengukuran Nyeri CHEOPS Atraumatic Care Pemberian madu per-oral Tidak Nyeri Kebutuhan nyaman anak terpenuhi Dikutip dari: Kolcaba & DiMarco (2005). Kerangka Teori Faktor yang mempengaruhi nyeri: . berikut : Skema 2. Melalui modifikasi lingkungan yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman dilingkungan.7. yang dapat menghambat proses kematangan dan tumbuh kembang anak.Usia .Relief .

Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut : 3. HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan kerangka konsep penelitian. Varibel Bebas (independent) Variabel bebas (independent) adalah variabel yang bila ia berubah akan mengakibatkan perubahan variabel lain (Sastroasmoro & Ismael. 2013 .. Kerangka Konsep Penelitian Kerangka konseptual merupakan kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur ketika penelitian dilakukan. dan definisi operasional. Kerangka konsep penelitian diperlukan sebagai landasan berpikir dalam melaksanakan suatu penelitian yang dikembangkan dari tinjauan teori yang telah dibahas sebelumnya. Kerangka konnsep penelitian ini menjelaskan tentang variabel-variabel yang dapat diukur dalam penelitian ini. FIK UI. 2011). Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini tindakan pemberian 51 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hipotesis penelitian merupakan pernyataan sementara yang akan diuji kebenarannya yang dinyatakan dalam hipotesis alternatif.BAB 3 KERANGKA KONSEP. sebagai suatu petunjuk dalam mengidentifikasi dan menginterpretasi suatu hasil.1..2. sehingga mudah dipahami dan dapat menjadi acuan peneliti.1.1. Varibel Terikat (dependent variabel) Variabel terikat (dependent) adalah variabel yang berubah akibat perubahan variabel bebas (independent) (Sastroasmoro & Ismael. 3. Variabel terikat (dependent) penelitian ini yaitu skor nyeri pada anak. Gambaran mengenai variabel-variabel yang akan diteliti dapat diperoleh melalui kerangka konsep. hipotesis penelitian. 3.1. Ayu Yuliani Sekriptini. Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari variabel yang diteliti untuk memperjelas maksud dari suatu penelitian yang dilakukan. 2011). Kerangka konsep menggambarkan ada tidaknya pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak saat dilakukan tindakan pengambilan darah di ruang unit gawat darurat..

Pengalaman nyeri sebelumnya d. 2013 .. pengalaman nyeri sebelumnya.52 madu pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah dan kelompok kontrol mendapatkan intervensi pemberian placebo (air matang).1.1 berikut ini Skema 3. Kerangka Konsep Penelitian Variabel bebas Variabel terikat Kelompok Intervensi: Mendapatkan intervensi madu Kelompok kontrol: Mendapatkan intervensi placebo (air matang) Skor nyeri Variabel perancu: a. pendampingan orang tua. Usia b. Hubungan antar variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada skema 3.. FIK UI.3. Variabel Perancu (confounding) Variabel perancu (confounding) adalah jenis variabel yang berhubungan dengan variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). Variabel bebas (independent) akan mempengaruhi variabel terikat (dependent). Jenis kelamin c. tetapi bukan merupakan variabel antara (Sastroasmoro & Ismael.1. Beberapa faktor yang termasuk variabel confounding dalam penelitian ini adalah usia. jenis kelamin. Pendampingan orang tua Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. Identifikasi variabel confounding penting agar peneliti tidak salah dalam melakukan pengambilan keputusan.. 3. 2011).

pengalaman nyeri sebelumnya.. b. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 3. Definisi Operasional Variabel Penelitian Bebas Tindakan pemberian madu oral Definisi Operasional Cara ukur Hasil Ukur Skala Tindakan pemberian madu peroral Observasi (chek list) 0 = diberi placebo (air putih) sebelum pengambil -an darah 1 = diberi madu sebelum pengambil -an darah Nominal Madu diberikan 2 menit sebelum intervensi pengambilan darah Jika pengambilan darah tidak berhasil prosedur pemberian madu di ulang seperti semula dengan menunggu 5 menit untuk istirahat terlebih dahulu Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 3.1. pendampingan orang tua).53 3.1. 2013 . Ada perbedaan rerata skor nyeri pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. 2011). FIK UI.2. 3. Ayu Yuliani Sekriptini..2. 3..Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian yang harus diuji validitasnya secara empiris (Sastroasmoro & Ismael. jenis kelamin. Hipotesis Mayor Pemberian madu berpengaruh terhadap penurunan skor nyeri pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah di ruang unit gawat darurat. Ada perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak (usia.Definisi Operasional Tabel.3.2.2. Hipotesis Minor a.

2013 . ekspresi wajah. ekspresi verbal.54 Variabel Penelitian Terikat Skor nyeri Definisi Operasional Madu yang digunakan dalam penelitian ini adalah madu murni kosentrasi 50%.. Skor nyeri berdasarkan penjumlahan skor pada setiap parameter Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. tangisan. Cara ukur Hasil Ukur Skala Obersevasi dengan Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Nilai skala nyeri Berkisar dari 4-13 Interval Jenis madu multiflora yang diproduksi oleh Perum Perhutani Skor nyeri yang dirasakan anak akibat tindakan invasif pengambilan darah Penilaian dilakukan setelah intervensi pengambilan darah dengan melihat hasil rekaman video 4 = skor tidak nyeri Skala nyeri 13= skor CHEOPS terdiri nyeri dari 6 tertinggi parameter.. Ayu Yuliani Sekriptini. dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan diuji oleh Pusat Perlebahan Nasional Perhutani. FIK UI. posis badan.. sentuhan dan posisi kaki.

55 Variabel Penelitian Perancu Usia Definisi Operasional Usia responden dihitung dari tanggal lahir sampai dengan bulan dilakukan penelitian. 2009) Nominal Kuesioner 0 : laki-laki 1 : perempuan Nominal Kuesioner 0 : ada riwayat pengambilan darah sebelumnya 1 : pertama kali 0 : hadir 1 : tidak hadir Nominal Observasi Nominal Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. FIK UI.. Umur dihitung dalam tahun Jenis kelamin Jenis sex : lakilaki dan perempuan Pengalaman Pengalaman anak sebelumnya yang pernah mengalami nyeri dengan jenis yang sama Pendampingan Kehadiran orang orang tua tua saat tindakan invasif dilaksanakan Cara ukur Hasil Ukur Skala Kuesioner 0 : 1-3 tahun (toddlers) 1 : >3-6 tahun (preschool) (Hockenberry & Wilson. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 .

perlakuan kelompok intervensi dan kelompok kontrol disamakan yaitu dilakukan menghitungan denyut nadi lima menit sebelum tindakan dan dua menit kemudian diberikan madu untuk kelompok intervensi dan placebo untuk kelompok kontrol. 2011). Sampel dan Besar Sampel 4.2. kelompok anak yang diberikan madu sebelum tindakan pengambilan darah sebagai kelompok intervensi dan kelompok anak yang diberi intervensi placebo (air putih) sebelum tindakan pengambilan darah sebagai kelompok kontrol. Pada pelaksanaan penelitian. Desain penelitian yang dipilih jenis nonequivalent control group.. 2013 . Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti (Sastroasmoro & Ismael.. after only design (Dharma. FIK UI.1. Penelitian ini melibatkan dua kelompok yaitu. Penelitian quasi eksperiment adalah penelitian yang mengujicoba suatu intervensi pada kelompok subjek dengan kelompok pembanding namun tidak melakukan rendomisasi untuk memasukkan subjek ke dalam kelompok perlakuan atau kontrol (Polit & Beck.2. 4. 2011). pengukuran hanya dilakukan setelah selesai intervensi. After only design karena penelitian ini tidak melakukan pengukuran sebelum intervensi. after only design. 2008).. Populasi dalam penelitian ini adalah responden anak usia 1-6 tahun yang masuk ke ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon.56 BAB 4 METODE PENELITIAN 4. Ayu Yuliani Sekriptini. Pemberian madu dan placebo (air putih) pada kelompok intrevensi ataupun kelompok kontrol dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti (perawat ruangan).Populasi. penilaian nyeri dilakukan saat pengambilan darah. pemilihan kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak diacak. Hasil studi pendahuluan didapatkan rata-rata jumlah kasus anak yang masuk ke ruang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.1. peneliti dan asisten ahli sebelumnya melakukan inter-observer reliability dengan tujuan menghasilkan suatu skor kesepakatan antar observer/penilai dalam pengukuran suatu instrumen. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan berupa quasi eksperiment dengan jenis nonequivalent control group.

Jenis penyakit yang sering terjadi sangat beragam. Anak usia 1-6 tahun. Kriteria inklusi merupakan persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subyek agar dapat diikutsertakan ke dalam penelitian. rata-rata anak masuk ke unit gawat darurat dengan penyakit diare dan panas. Pertimbangan yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan menentukan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Akan dilakukan pengambilan darah intra vena. sedangkan kriteria ekslusi adalah keadaan yang menyebabkan subyek yang telah memenuhi kriteria inklusi tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian (Sastroasmoro & Ismael 2011). b. c.2. Kriteria inklusi pada sampel penelitian ini adalah: a.57 unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawianagun Kota Cirebon dalam setahun terakhir ini rata-rata per-bulan sebanyak 300 orang anak dengan rata-rata usia 1-17 tahun. 2011). Sampel Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan menggunakan nonprobability sampling jenis consecutive sampling. FIK UI. 2013 . Anak mampu berkomunikasi secara verbal dan non verbal. Pada consecutive sampling semua subyek yang dating secara berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro & Ismael. Kondisi anak sangat lemah dan mengalami gangguan kesadaran. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... Kriteria ekslusi pada sampel penelitian ini adalah: a. Ayu Yuliani Sekriptini. Ibu/keluarga tidak kooperatif. d..2. b. 4. Ibu/keluarga bersedia apabila anak menjadi responden penelitian.

1 dengan standar deviasi 0. = 1. Pada kelompok intervensi rata-rata skala nyeri adalah 4.58 4. FIK UI.84) Perhitungan besar sampel minimal diperoleh berdasarkan hasil penilitian yang dilakukan sebelumnya.05 atau 1. 2013 .2. pada penelitian terdahulu peneliti menggunakan penelitian yang dilakukan oleh Lewkowski et al. Rerata standar deviasi kedua kelompok dapat diperoleh dengan mencari varian kedua populasi dengan rumus sebagai ( ) = ( ) = [ ×( − 1) + × ( + − 2 berikut : − 1)] [3. Besar Sampel Perhitungan sampel penelitian ini mengunakan uji hipotesis beda rata-rata dua kelompok independent.3. Pada penelitian tersebut diperoleh rata-rata nyeri kelompok kontrol 8..5 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini.96)  = nilai Z pada kekuatan uji (power) (ditetapkan oleh peneliti sebesar 80% atau 0..7 dengan standar deviasi 3.3.9 × (19 − 1)] 23 + 19 − 2 = 2.9 dan jumlah sampel 19 orang... dengan menggunakan rumus sebagai berikut: = =2 ( ) Keterangan : n = jumlah sampel s = standar deviasi kedua kelompok x1 – x2 = perbedaan klinis yang diinginkan (clinical judgment)  = serajat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti  = 0.4 × ( 23 − 1) + 0. (2003) tentang pemberian permen manis untuk mengurangi nyeri saat prosedur penusukan jarum pada anak usia sekolah.4 dan jumlah sampel adalah 23 orang.

2013 . Ayu Yuliani Sekriptini.96 + 0. maka besar sampel ditambah 10%.. Perhitungan sampel penelitian ini menggunakan derajat kepercayaan 95% dan kekuatan uji 80%.84) 1.. RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon merupakan rumah sakit tipe B Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.59 Berdasarkan penelitian tersebut. untuk menguragi terjadinya bias pada hasil penelitian. Besar sampel kemudian ditambah untuk menganisipasi kemungkinan drop out.3.5 (8. atau kesalahan teknik dalam pemberian madu. dengan rumus sebagai berikut : ′= n 1−f Keterangan : n’ = jumlah sampel f = estimasi drop out = 10 % Maka hasil perhitungan n’ = n1 = n2 = 34 responden Dengan demikian. berdasarkan hasil perhitungan didapatkan jumlah sampel keseluruhan setelah ditambah drop out adalah 68 responden yang terdiri dari 34 responden untuk kelompok intervensi dan 34 responden kelompok kontrol.4 = 30 Hasil perhitungan diperoleh sampel yang diperlukan sebanyak 30 responden. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon.. peneliti membagi jumlah sampel menjadi 15 responden usia 1-3 tahun dan 15 responden usia >3-6 tahun. peneliti memperoleh nilai standar deviasi rata-rata sebesar 1.7 – 4.1) = =2 = = 29. FIK UI. 4. maka besar sampel yang diperoleh adalah : (1.5.

Sebagai responden atau subjek penelitian diberi kebebasan dalam menentukan hak kesediaanya untuk terlibat dalam penelitian ini secara sukarela dengan menandatangani lembar persetujuan yang disediakan dapat dilihat pada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 4. FIK UI. Informasi yang diberikan meliputi manfaat. rencana. Ruangan yang digunakan adalah ruang unit gawat darurat. dan dibutuhkan segera untuk menentukan intervensi selanjutnya. responden diberikan informasi tentang tujuan dan manfaat penelitian. Secara lengkap waktu dan tahapan penelitian dapat dilihat pada lampiran 6.. Pengambilan gambar rekaman vidio dilakukan oleh peneliti. sedangkan tindakan pengambilan darah dilakukan oleh perawat ruangan unit gawat darurat. Proses penelitian dimulai dari pembuatan proposal sampai menyusun laporan penelitian berlangsung selama 4 bulan. Waktu Penelitian Pengumpulan data dilaksanakan selama 20 hari dari tanggal 27 November sampai dengan 24 Desember 2012. 2013 . Etika Penelitian Penelitian dilakukan setelah dinyatakan lolos oleh Komite Etik FIK UI serta mendapatkan persetujuan dari Direktur RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. Setiap responden diberikan kebebasan untuk memberikan persetujuan atau menolak untuk menjadi subjek penelitian dengan cara menandatangani lembar persetujuan atau surat pernyataan kesediaan yang telah disiapkan oleh peneliti. intervensi. Right self determination Sebelum penelitian dilakukan responden dan keluarga yang menjadi responden penelitian diberikan informasi.. dan tujuan penelitian. Penjelasan dilakukan secara resmi tertulis dengan responden dan keluarga. Sebelum pengambilan data.. Beberapa prinsip etika penelitian yang menjadi dasar yaitu : a.5.4. Ayu Yuliani Sekriptini. 4. ruangan ini dipilih karena intervensi pengambilan darah sering dilakukan di unit gawat darurat baik pasien baru atau pasien lama.60 yang menjadi pusat rujukan untuk wilayah kota dan kabupaten Cirebon.

Peneliti berusaha memenuhi kebutuhan responden..1. analisis. Selama pengolahan data.. menciptakan suasana santai sehingga tidak ada respon negatif yang terjadi dari responden. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. Wawancara berfokus pada karakteristik jenis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. selama penelitian kerahasiaan responden dijaga dengan cara saat dilakukan penjelasan dan persetujuan pengambilan data responden hanya didampingi oleh keluarga responden saja. tetapi cukup dengan menggunakan kode responden. Apabila terjadi hal-hal yang memberatkan maka diperbolehkan untuk mengundurkan diri. Alat Pengumpulan Data 4. Right to anonymity and confidentially Data penelitian yang berasal dari responden tidak disertai dengan identitas responden. menerima masukan dan mempertahankan sikap empati. Right to privacy and dignity Peneliti tidak mencatumkan nama responden dalam format kuesioner dan diganti dengan nomor kode dengan tujuan melindungi privasi dan martabat responden.. c. Kelompok kontrol mendapatkan madu yang sama setelah tindakan pengambilan darah selesai.6. Data yang diperoleh hanya diketahui oleh peneliti dan orang tua responden yang bersangkutan.61 lampiran 1. membuat kontrak kerja dan waktu yang jelas. Right to fair treatmen Responden kelompok intervensi mendapatkan madu sebelum tindakan pengambilan darah dan kelompok kontrol penelitian mendapatkan placebo (air putih).6. Right to protection from discomfort and harm Peneliti sebelumnya menjelaskan kepada orang tua dan responden serta menekankan bahwa penelitian ini tidak menimbulkan kerugian. tepat waktu. baik secara psikologis maupun sosial. dan publikasi dari hasil penelitian tidak mencantumkan identitas responden. b. 2013 . d. e. Data Karakteristik Responden Data karakteristik responden diperoleh dari wawancara pada responden atau orang tua responden. 4.

Data Nyeri Nyeri diukur dengan mengunakan kuesioner Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). ekspresi verbal. 2011).. yaitu seberapa tepat alat ukur mengatakan apa yang seharusnya diukur (Sastroasmoro & Ismael. Masing-masing parameter memiliki skor nilai yang berbeda. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) merupakan skala nyeri yang terdiri dari enam parameter pengkajian. 2011). dan riwayat pernah dilakukan pengambilan darah atau tidak dan didampingi oleh keluarga atau tidak.. Penilaian skor nyeri dilihat dari hasil rekaman video saat dilakukan tindakan pengambilan darah.2.... Validitas merupakan suatu kesahihan. Alat instrumen CHEOPS merupakan alat ukur yang dirancang untuk digunakan oleh petugas kesehatan (dokter. 4. 2009). Ayu Yuliani Sekriptini. posisi badan 1-2. posisi badan. yaitu tangisan. ekspresi verbal 0-2. usia anak. 2013 . tangisan memiliki skor 1-3. FIK UI. 2001). Skor nyeri didapatkan berdasarkan penjumlahan skor pada setiap parameter dengan nilai skala nyeri 4 sampai dengan 13. Uji validitas instumen bertujuan untuk mengukur ketepatan suatu instrumen data (Polit & Beck 2012).7. dan posisi kaki. ekspresi wajah. sentuhan 1-2 dan posisi kaki 1-2. Uji konten penelitian ini Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Kualitas data ditentukan oleh skor validitas dan realibilias alat ukur. ahli anastesi dan perawat) dan direkomendasikan oleh berbagai ahli (Suraseranivongse et al.6. Validitas konten mengandung arti bahwa instrumen penelitian menunjukkan kemampuan item pertanyaan dalam istrumen mewakili semua unsur dimensi konsep yang sedang diteliti (Dharma. Validitas isi adalah kemampuan instrumen menggambarkan secara tepat teori dan konsep dari veriabel yang akan diteliti (Burns & Grove. skor 4 untuk tidak nyeri. ekspresi wajah dengan skor 0-2. sentuhan. (1985). skor 5 awaitan nyeri dan skor 13 untuk skala nyeri yang tertinggi. yang dirancang oleh McGrath et al.62 kelamin. Uji validitas instrumen dalam penelitian ini adalah konten dan isi. 4.

63 dilakukan pada 15 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi yang memiliki karakteristik hampir sama dengan responden penelitian dan dilakukan di tempat yang berbeda yaitu di RS Swasta Kota Cirebon. 2011). Reliabilitas adalah skor konsistensi dari suatu pengukuran. Hasil uji validitas konten instrumen CHEOPS diperoleh nilai. taraf signifikan r product moment dengan jumlah responden 15 adalah 0. Relibilitas dipengaruhi oleh random error yang bersumber dari variasi observer. dilakukan dengan Pada penelitan ini peneliti melakukan uji inter-observer reliability menggunakan jenis uji skala numerik. FIK UI. penghitungan reliability yang berarti terdapat diperoleh nilai kesepakatan yang kuat/sempurna diantara numerator secara signifikan. Reliabilitas juga dapat didefinisikan sebagai derajat suatu pengukuran bebas dari random error sehingga menghasilkan suatu pemikiran yang konsisten (Dharma.. Reliability diantara pengambil data juga harus menggunakan pengukuran inter-observer reliability. Pengujian inter-observer reliability untuk data numerik dapat menggunakan uji inter-reliability Pearson’s coefficient correlation for two judge. Reliabilitas menunjukkan apakah pengukuran menghasilkan data yang konsisten jika instrumen digunakan kembali secara berulang.80 maka dianggap terdapat kesepakatan yang kuat/sempurna diantara peneliti dan numerator secara signifikan (Polit & Beck.. variasi subyek dan variasi instrumen. Hasil cronbach’s alfa 0.514 dengan tingkat kepercayaan 95% hasil tersebut menunjukkan bahwa instrumen CHEOPS valid. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Uji interobserver reliability direncakan dilakukan antara peneliti dan 2 orang asisten peneliti (numerator). Peneliti telah melakukan proses back translation pada Instrumen CHEOPS dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia setelah diterjemahkan hasil terjemahan berbahasa Indonesia diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 .894. Jika p value kurang dari alpa () maka koefisien reliabilitas (r) lebih dari 0. 2008).

Pelaksanaan pemberian madu pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada kelompok kontrol diberikan peroral dilakukan oleh asisten teknis peneliti. c. Madu yang diberikan untuk usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml.8. Intervensi yang Dilakukan Responden pada kelompok intervensi emdapatkan madu dengan konsentrasi 50% dan pada kelompok kontrol diberikan air putih (plasebo). Kemudian instrumen tersebut ditelaah oleh pembimbing untuk menjamin bahwa alih bahasa yang dibuat oleh peneliti sudah sesuai dengan instrument dan digunakan pada saat penelitian. Prosedur Pengumpulan Data Sebelum melakukan pengumpulan data. Pemberian madu berdasarkan dosis pemberian obat pada anak-anak (menggunakan rumus Young). b. Setelah penelitian dinyatakan lulus uji etik dari Komite Etik Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia. ada beberapa tahap yang peneliti lalui : 4. Prosedur administrasi Tahap persiapan penelitian. Hal tersebut bertujuan agar instrumen yang digunakan dalam penelitian sesuai dengan instrumen asli yang sebenarnya.9..9. Madu yang diberikan madu PERHUTANI jenis multiflora.64 oleh peneliti di review dengan kualifikasi tiga orang sarjana terdiri dari perawat dan guru bahasa Inggris yang salah satunya mengajar di pendidikan bahasa Inggris di English Study Centre. 4. sehingga menghasilkan konsentrasi madu 50%. peneliti melakukan pengurusan ijin penelitian dan kaji etika penelitian. 2013 .. Peneliti mencampurkan madu dan air aqua dengan perbandingan 1:1.1. Ayu Yuliani Sekriptini. Cara dan dosis: a. Pemberian plasebo jumlah yang diberikan pada anak sama dengan jumlah ml pada madu. Persiapan a. 4. FIK UI.. Hasil telaahan pembimbing instrumen CHEOPS dapat digunakan saat penelitian. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

jumlah madu yang diberikan dan bagaimana cara pemberiannya kepada calon asisten teknis peneliti. dan perawat ruangan yang bertugas di ruangan tempat penelitian.65 selanjutnya surat tersebut disampaikan pada Badan Penelitian Komisi Etik Penelitian dan Direktur RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. peneliti terlebih dahulu melakukan sosialisasi rencana penelitian ke dokter. Ayu Yuliani Sekriptini.. banyaknya madu yang akan diberikan. dan manfaat penelitian. Sosialisasi ini bertujuan untuk menjelaskan tujuan. Setelah perawat pelaksana teknis penelitian dipilih sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Uji inter-observer reliability dilakukan oleh dua atau lebih observer dengan cara melakukan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Peneliti melibatkan delapan orang perawat untuk menjadi pelaksana teknis pengambilan darah saat penelitian dengan latar belakang D III perawatan. kepala ruangan. prosedur pelaksanaan. b. Peneliti melakukan persamaan persepsi instrumen skor nyeri CHOEPS dengan asisten peneliti dengan melakukan pengukuran inter-observer reliability diantara pengambil data. FIK UI. dan dua dengan latar belakang pendidikan magister keperawatan menjadi asisten penelitian untuk menilai skor nyeri pada hasil rekaman video. Sosialisasi dilakukan pada tanggal 14 November 2012 di RSUD Gunung Jati dan tanggal 8 Desember 2012 di RSUD Arjawinagun Kota Cirebon. kemudian peneliti memilih perawat yang dilibatkan sebagai asisten teknis penelitian ini dengan pertimbangan dari Kepala Ruangan Unit Gawat Darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon.. perekaman video dilakukan oleh peneliti sendiri. peneliti mengajarkan kepada perawat pelaksana teknis penelitian cara pengisian data responden. Prosedur Teknis Pada tahap persiapan penelitian. peneliti menjelaskan proses pemberian madu. 2013 .. cara pemberian madu.

2013 .66 pengukuran suatu kejadian secara simultan dan kemudian masingmasing observer mencatat parameter kejadian tersebut sesuai koding pada instrumen secara independen (Polit & Back..9. Penghitungan denyut nadi sebelum dan sesudah Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pada orang tua kelompok kontrol diberikan penjelasan alasan pemberian plasebo (air). serta hak dan kewajiban menjadi responden. 4. prosedur penelitian. Peneliti dan asisten tehknik peneliti memilih responden yang memenuhi kriteria inklusi untuk dijadikan responden. Pengambilan responden kelompok kontrol di RSUD Gunung Jati dan responden kelompok intervensi di RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. FIK UI.2. sehingga semua pengambilan data memilki interpretasi yang sama terhadap parameter yang akan diobservasi. Orang tua kelompok intervensi diberi penjelasan mengenai alasan pemberian. b. dan cara pemberian madu. 2012). yang berarti terdapat kesepakatan yang kuat/sempurna diantara numerator secara signifikan. Pelaksanaan Tahap pelaksanaan penelitian ini melalui tahap-tahap sebagai berikut : a. Pengujian ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan asumsi antar pengambil data. sebelumnya peneliti dan asisten teknis peneliti mengukur dan mencatat tanda vital (denyut nadi) pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol 5 menit sebelum pengambilan darah. selanjutnya meminta kesediaan calon responden untuk berpartisipasi setelah mendapatkan penjelasan tentang maksud. Bagi calon responden yang bersedia diminta menandatangani lembar persetujuan. serta pemberian madu setelah tindakan pengambilan darah. c. d. Peneliti dan asisten teknis peneliti melakukan pengambilan data dengan mengisi lembar kuesioner karateristik responden dengan merujuk pada catatan medis responden. manfaat. kegunaan. Hasil uji Uji inter-observer reliability diperoleh nilai cronbach’s alfa 0.894. Ayu Yuliani Sekriptini. Peneliti memberikan kesempatan calon responden dan keluarga untuk bertanya. tujuan...

FIK UI. Hasil rekaman video di berikan kepada asisten peneliti. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Peneliti dan asisten teknis peneliti memberikan madu peroral 2 menit dengan menggunakan gelas kecil sebelum dilakukan tindakan invasif pengambilan darah. saat setelah penusukan peneliti melakukan perekaman video.67 pengambilan darah hanya untuk mengetahui respon fisiologis nyeri bukan untuk dianalis. kemudian kelompok kontrol diberi madu sesuai dengan takaran yang telah ditentukan. h. jika pengulangan pengambilan darah dilakukan kurang dari 5 menit responden dianggap drop out tidak dijadikan responden penelitian. sebelum dilakukan pengulangan penusukan responden diistirahatkan dulu selama 5 menit kemudian dilakukan pemberian ulang madu pada kelompok intervensi dan plasebo pada kelompok kontrol 2 menit sebelum pengambilan darah dengan terlebih dahulu diukur kembali denyut nadi responden. Peneliti dan asisten teknis peneliti mengucapkan terimakasih pada orang tua dan responden dari kelompok kontrol dan kelompok intervensi atas keterlibatan dalam penelitian ini. 2013 . kemudian direkam ulang kembali. f.. Pada kelompok kontrol melakukan hal yang sama dengan memberikan plasebo (air) peroral dengan menggunakan gelas kecil 2 menit sebelum tindakan invasif pengambilan darah dilakukan dan saat setelah penusukan peneliti penelitian melakukan perekaman dengan menggunakan video dan mengukur kembali denyut nadi kelompok kontrol setelah intervensi pengambilan darah. Jika pengambilan darah tidak berhasil pada responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.. kemudian dilakukan penilaian terhadap skor nyeri. Pada penelitian ini tidak ditemukan responden yang drop out. g.. respon yang muncul pada anak saat penusukan jarum dan kemudian mengukur kembali denyut nadi setelah intervensi pengambilan darah. Ayu Yuliani Sekriptini. i. e.

Editing Editing data dilakukan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sudah lengkap. Pengolahan Data Sebelum menganalisis data yang telah terkumpul. meliputi: kebenaran tentang pengisian dan kelengkapan jawaban lembar pengkajian. Cleaning Merupakan proses akhir dalam pengolahan data. 4.10. Processing Merupakan suatu proses memasukkan data ke dalam komputer untuk selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan program statistik dalam komputer.5. dengan melakukan pemeriksaan kembali data yang sudah di entry data untuk melihat ada tidaknya kesalahan dalam entry data.1. 2013 ..10.10..2. dan kelompok intervensi dengan kode 1.10.4..3. Tabulating Data dikelompokkan menurut katagori yang telah ditentukan dan selanjutnya data ditabulasi dengan menggunakan program statistik dalam computer. dilakukan hal-hal sebagai berikut : 4. 4. Data dimasukkan sesuai nomor responden pada kuesioner dan nomor pada lembar observasi dan jawaban responden diajukan ke dalam komputer dalam bentuk angka sesuai dengan skor jawaban yang telah ditentukan ketika melakukan koding. Coding Memberi kode pada setiap variabel untuk mempermudah peneliti dalam melakukan analisis dan tabulasi data yaitu memberikan kode untuk nama responden. FIK UI. kelompok kontrol dengan kode 0. 4.10. 4.68 4.10. Ayu Yuliani Sekriptini. Peneliti mengoreksi data yang telah diperoleh. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

jenis kelamin. kehadiran keluarga selama prosedur pengambilan darah.11. Pada analisis univariat. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik usia. variabel bebas. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara kedua variabel.11. Uji Statistik Variabel independen Pemberian madu Skala Variabel dependen Skala Uji Statistik Kategorik Skor nyeri Numerik Uji T Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. 2013 .2. tindakan pemberian madu yang diberikan.1. Prosedur Analisis Data Data dianalisis dalam bentuk analisis univariat dan bivariat. median. Uji yang dipergunakan adalah uji beda 2 mean independen (independent sample t test). Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan terhadap karakteristik responden. 4. Pada penelitian ini uji bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. yaitu sebagai berikut : 4. serta skor nyeri responden.11. pengalaman responden dalam prosedur pengambilan darah sebelumnya. Hasil analisis data berupa distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel termasuk mean. dan variabel terikat.. FIK UI. Tabel 4.69 4.2. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk membuktikan hipotesa yang telah dirumuskan yaitu apakah ada perbedaan rata-rata skor nyeri antara pasien anak dengan pemberian madu (kelompok intervensi) dengan yang diberi placebo (air putih) (kelompok kontrol) dan apakah ada selisih perbedaan skor nyeri yang bermakna terhadap kedua kelompok tersebut.. 2007). disajikan dalam distribusi frekuensi dan prosentase atau proporsi. Ayu Yuliani Sekriptini. dan standar deviasi. yaitu uji statistik untuk mengetahui beda mean pada dua kelompok data independen (Hastono.

FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.70 Variabel Skala independen Variabel konfonding Usia Kategorik Jenis kelamin Kategorik Pengalaman Kategorik sebelumnya Pendampingan Kategorik orang tua Variabel dependen Skala Uji Statistik Skor nyeri Skor nyeri Skor nyeri Numerik Numerik Numerik Uji T Uji T Uji T Skor nyeri Numerik Uji T Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 ....

5. Analisis Univariat Hasil analisis univariat menggambarkan karakteristik responden berdasarkan usia. Penelitian ini dilakukan di dua rumah sakit di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon.1. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi yang didasarkan pada hasil analisis univariat dan bivariat. FIK UI. Karakteristik Responden Karakteritik pada reponden penelitian ini meliputi usia.. standar deviasi. kehadiran keluarga.1. median. kehadiran keluarga. uji hipotesis dan penyajian hal-hal lain yang akan diuraikan dalam bab ini.BAB 5 HASIL PENELITIAN Bab ini secara khusus menyajikan dan menjelaskan hasil penelitian dan analisis data. 71 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. nilai terendah dan tertinggi tingkat nyeri kelompok kontrol dan intervensi.. jenis kelamin. berikut ini. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. dapat dilihat pada tabel 5.1. Data deskriptif. jenis kelamin. 5.. dan pengalaman pengambilan darah serta menggambarkan rata-rata. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 27 November – 24 Desember 2012 dengan total sampel 34 responden sebagai kelompok kontrol dan 34 sebagai kelompok intervensi. dan pengalaman pengambilan darah.1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian madu terhadap menurunan skor nyeri pada anak.

9%) dan karakteristik jenis kelamin kelompok kontrol memiliki jumlah yang sama (50%). Dilihat dari karakteristik kehadiran orang tua secara keseluruhan kelompok intervensi (97. Berdasarkan karakteristik jenis kelamin kelompok intervensi sebagian besar memikili jenis kelamin laki-laki (52.72 Tabel 5.5 48. dan pengalaman pengambilan darah di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Usia 1 – 3 tahun >3 – 6 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pengalaman sebelumnya Ada riwayat Pertaman kali Kehadiran orang tua Hadir Tidak hadir Kontrol (n=34) F % Intervensi (n=34) F % 17 17 50 50 17 17 18 16 52. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..1 31 3 91. Ayu Yuliani Sekriptini.9 44.5 Hasil tabel 5.8 33 1 97.1 diatas. menunjukkan bahwa jumlah karakteristik usia toddlers dan prasekolah untuk masing-masing responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol memiliki jumlah yang sama (50%).1 2.2 8.9 Total f % 50 50 34 34 50 50 50 50 35 33 51.9 47.9 64 4 94. kehadiran keluarga.9 47.1%) dan kelompok kontrol (91.9%).1 5. jenis kelamin. 2013 .1 36 32 52.2%) didampingi oleh orang tua selama proses pengambilan darah.1 17 17 17 17 50 50 19 15 55.. Dilihat dari karakteristik pengalaman sebelumnya kelompok intervensi memiliki jumlah yang sama (50%) dan pada kelompok kontrol sebagian besar memiliki riwayat diambil darah sebelumnya (55.1 Distribusi responden berdasarkan usia.. FIK UI.

Uji homogenitas dilakukan dengan uji beda proporsi menggunakan Uji F.8 dengan skor nyeri terendah adalah 5 dan skor tertinggi adalah 13.20-9.1.8 10.2 berikut ini: Tabel 5. Sedangkan rata-rata skor nyeri pada kelompok kontrol adalah 11 dengan skor nyeri terendah 6 dan skor tertinggi 13..33 Hasil analisis tabel 5.33. FIK UI.. 5. pengalaman nyeri sebelumnya dan kehadiran orang tua pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dapat dilihat pada tabel 5.49 dan diyakini rata-rata skor nyeri pada kelompok plasebo berada diantara 9..78 sampai dengan 11. Skor Nyeri Kelompok Madu dan Kelompok Plasebo Skor nyeri responden yang dinilai dengan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHOEPS) ditunjukkan pada tabel 5.49 9.2 diperoleh rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi adalah 8.20 sampai dengan 9. Berikut ini disajikan hasil uji kesetaraan pada variabel jenis kelamin. 2013 .2 Distribusi skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Kelompok Skor Nyeri Madu Plasebo Mean Median n 8.78-11.2. usia.2.3 berikut ini: Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Dari estimasi diyakini bahwa rata-rata skor nyeri kelompok madu berada diantara 8.5 34 34 8 11 MininalMaksimal 5-13 6-13 95% CI 8. Uji Kesetaraan (Homogenity) Uji Homogenitas bertujuan untuk membuktikan bahwa perubahan skor nyeri yang terjadi bukan karena variasi responden tetapi karena pengaruh dari pemberian madu dalam tindakan pengambilan darah. Ayu Yuliani Sekriptini.73 5.

1 17 17 17 17 50 50 17 17 50 50 1.3 Uji homogenitas data responden berdasarkan jenis kelamin.61 50 50 p value 1.2 8. Ayu Yuliani Sekriptini. pengalaman nyeri sebelumnya dan karakteristik kehadiran keluarga pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi memiliki varian sama dengan nilai p value > 0..1.3.88 31 3 91. FIK UI.3. Analisis Bivariat 5.00 17 17 50 50 19 15 55.4 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri pada anak kelompok intervensi dan kelompok kontrol di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Skor Nyeri Kelompok Mean Median Madu Plasebo 8. 2013 . usia...001 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.9 0. pengalaman sebelumnya dan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 No Variabel 1 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Usia 1–3 >3 – 6 Pengalaman sebelumnya Pernah Tidak pernah Kehadiran orang tua Hadir Tidak hadir 2 3 4 Kontrol (n=34) F % Intervensi (n=34) F % 18 16 52. Perbedaan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol Tabel 5.74 Tabel 5.1 0.9 47.2 34 34 MininalMaksimal 5-13 6-13 p value 0.05.8 10.5 8 11 SD n 1.00 Hasil uji homogenitas diperoleh hasil bahwa berdasarkan karakteristik jenis kelamin.1 2. usia.8 33 1 97.9 44.8 2. 5.

8 dan rata-rata skor nyeri kelompok kontrol sebesar 10.2.1 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 11.5. kelompok (p value 0. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak.5 8.7 p value 0.140).1 11.2 ( p value 0. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 9. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Tabel 5. 5.002) sedangkan pada usia prasekolah untuk intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.7. 2013 .4 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan rata-rata skor nyeri pada kelompok kontrol saat prosedur pengambilan darah.001).5.3. (p value 0.5 9. a. Ayu Yuliani Sekriptini. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri usia toddlers antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sedangkan rata-rata skor nyeri pada usia prasekolah tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.5 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada karakterisik anak usia toddlers untuk kelompok intervensi memiliki ratarata skor nyeri sebesar 9. p value 0..001 dengan  < 0.140 Hasil analisis tabel 5..75 Hasil analisis tabel 5. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik usia responden.002* 0.8 dengan standar deviasi 1..5 dengan standar deviasi 2. Hasil menunjukkan rata-rata skor nyeri kelompok intervensi lebih rendah dari pada rata-rata kelompok kontrol.05.5 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan usia anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Usia Toddlers Prasekolah n 17 17 Skor Nyeri Madu Plasebo 9. FIK UI.

5 10.7.002).. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya.2 p value 0.5 10. (p value 0.7 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Pengalaman nyeri Pernah Tidak pernah n 36 32 Skor Nyeri Madu Plasebo 9. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik jenis kelamin responden.6 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Jenis kelamin Laki-laki Perempuan n 35 33 Skor Nyeri Madu Plasebo 9.045) sedangkan pada jenis kelamin perempuan untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.016* 0.045* 0.76 b. 2013 . dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. Tabel 5. c.1 10.6 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada karakterisik jenis kelamin laki-laki untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 9. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri laki-laki dan perempuan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.. FIK UI.1.7 8.002* Hasil analisis tabel 5.7 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada responden yang pernah mengalami nyeri sebelumnya untuk kelompok Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Tabel 5..029* Hasil analisis tabel 5.3 p value 0.3 (p value 0.8 8.1 10.5 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. Ayu Yuliani Sekriptini.

(p value 1.016) sedangkan pada responden yang belum memiliki penalaman nyeri untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8. FIK UI..000) sedangkan orang tua yang tidak hadir untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 7 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 7.8.029).000 Hasil analisis tabel 5.77 intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 9. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri memiliki pengalaman nyeri sebelumnya dan yang tidak memiliki pengalaman antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.000* 1. (p value 0.7.000). Ayu Yuliani Sekriptini. (p value 0.. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua. d.8 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada kehadiran orang tua untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.7 p value 0.5.8 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Kehadiran orang tua n Hadir Tidak hadir 64 4 Skor Nyeri Madu Plasebo 8. 2013 .8. Tabel 5.2 (p value 0..1 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.8 7 7.9 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri pada kelompok yang dihadir orang tua antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sedangkan rata-rata skor nyeri pada kelompok yang tidak dihadiri orang tua tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.9 10. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

1. 6. perbedaan skor nyeri anak saat pengambilan darah intravena. 2013 ... Pembahasan diawali dengan interpretasi dan diskusi hasil penelitian mengenai karakteristik responden yang meliputi jenis kelamin. Usia Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa usia responden pada penelitian ini 1-6 tahun berada pada rentang usia 1-3 (toddler) dan >36 (prasekolah). Pembahasan dan diskusi hasil penelitian selengkapnya akan diperjelas sebagai berikut: 6.. Bagian akhir dari bab ini akan membahas keterbatasan penelitian dan implikasi serta tindak lanjut hasil penelitian yang dapat diterapkan dan diaplikasikan pada praktik keperawatan dalam rangka meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien anak yang mengalami nyeri karena tindakan invasif pengambilan darah. Karakteristik Responden dan Hubungan Karakteristik dengan Skor Nyeri a. pengalaman nyeri sebelumnya dan kehadiran orang tua.78 BAB 6 PEMBAHASAN Bab ini akan menjelaskan tentang pembahasan dan diskusi hasil penelitian ini. peneliti mendapatkan bahwa rata-rata skor nyeri ini menunjukkan ada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. karena mencegah terjadinya keracunan botulismus dari bakteri clostridium botulinum. menyebutkan pemberian madu di atas usia 1 tahun. Ayu Yuliani Sekriptini. Dari Hasil analisis perbedaan rata-rata skor nyeri pada usia anak. Interpretasi dan Diskusi Hasil Penelitian ini bertujuan menidentifikasi gamabran karakteristik responden.1. usia. FIK UI.1. Pemilihan usia responden pemberian madu berdasarkan rekomendasi Badan Madu Nasional (The National Honey Board). perbandingan hasil penelitian dengan hasil penelitian sebelumnya atau dengan teori-teori yang mendukung dan berlawanan dengan temuan penelitian ini. Pada bagian berikutnya akan dibahas hasil uji beda rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah intervensi pada tiap kelompok dan perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan karakteristik anak.

5) dibandingkann skor nyeri usia prasekolah (kelopok intervensi 8. Hasil uji statistik karakteristik usia menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri pada responden usia toddler (p value 0.1 dan kelompok kontrol 11. usia toddler belum mampu mengendalikan respon nyeri dibandingkan kelompok usia usia prasekolah.. Hasil penelitian Mediani. Hal ini didukung oleh penelitian Brusch dan Zelter (2004) bahwasannya respon nyeri pada anak terhadap prosedur tindakan tertentu ditentukan oleh tingkatan usia. Perbedaan tingkat usia dan perkembangan yang ditemukan antara kelompok usia ini dapat mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap nyeri (Daniela et al. sementara pada usia prasekolah tidak ada perbedaan yang signifikan (p value 0. Hasil penelitian kelompok toddler dan anak usia prasekolah menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna. semakin bertambah Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Mardhiyah. Penilaian skor nyeri menggunakan skala nyeri CHEOPS.. Kenneth et al. dan Rakhmawati (2003) menyatakan bahwa terdapat perbedaan respon nyeri yang signifikan baik untuk kelompok toddler dan anak usia prasekolah dilakukan pemasangan infus. Penelitian Young (2005) menjelaskan bahwa anak yang usianya lebih muda merasakan nyeri yang lebih besar dan memilki toleransi nyeri rendah daripada usia yang lebih tua. Usia toddler menunjukkan adanya respon nyeri dengan indikator verbal dan perubahan aktifitas perilaku yang berlebih dibandingkan anak usia pra sekolah. (2006) dalam penelitiannnya menjelaskan bahwa perkembangan usia anak mempengaruhi makna nyeri dan ekspresi yang dimunculkan.. 2010).7).79 perbedaan skor nyeri pada tingkat usia. skor nyeri usia toddler lebih tinggi (kelopok intervensi 9. FIK UI. 2013 .5 dan kelompok kontrol 9. Ayu Yuliani Sekriptini...002).140). Toleransi terhadap nyeri akan terus meningkat sesuai dengan pertambahan usia.

b. jenis kelamin responden seimbang antara laki-laki dan perempuan (50%). (2007) menyebutan bahwa respon nyeri pada anak berubah sejalan dengan pertambahan usia. 2013 . Dari hasil analisis antara jenis kelamin dengan skor nyeri pada saat pengambilan darah.. Dari total sampel secara keseluruhan. diperoleh bahwa reponden jenis kelamin laki-laki.045 dan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Peneliti berasumsi bahwa hal ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan kelompok usia anak yang diteliti..9%). Jenis Kelamin Hasil penelitian menunjukkan menunjukkan bahwa sebagain besar responden pada kelompok kontrol berjenis kelamin laki-laki (52. tetapi berdasarkan hasil uji statistik karakteristik jenis kelamin menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri pada kerakeristik jenis kelamin laki-laki dan perempuan (laki-laki p value 0. FIK UI. lebih banyak daripada perempuan.80 usia anak maka makin bertambah pemahaman tentang nyeri dan usaha untuk pencegahan terhadap nyeri.. Pernyataan tersebut didukung oleh konsep teori Hockenberry dan Wilson. Ayu Yuliani Sekriptini. Pada usia toddler respon nyeri yang dimunculkan lebih ekspresif di bandingkan dengan usai prasekolah dimana usia toddler masih belum mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang dirasakan karena keterbatasan kosakata dan reason motorik yang muncul anak toddler baru mampu mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri pengalaman nyeri dan sedangkan usia prsekolah telah meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri dan anak mampu mendorong hal yang menyebabkan nyeri. peneliti mendapatkan bahwa skor nyeri pada kelompok intervensi laki-laki sedikit lebih tinggi dari pada perempuan sedangkan pada kelompok kontrol skor nyeri antara laki-laki dan perempuan hampir sama. sedangkan pada kelompok intervensi.

FIK UI. pengalaman ekspresi. Penelitian Zuibieta et al.. Penelitian McGrath & Howard (2003) antara anak laki-laki dan perempuan menjelaskan perbedaan tidak terlalu berpengaruh terhadap respon nyeri. ditemukan bahwa opiod endogen laki-laki lebih tinggi dari pada opiod endogen pada perempuan. hasil penelitian menyebutkan tidak ada perbedaan yang signifikan ekspresi nyeri antara laki-laki dan perempuan.81 perempuan p value 0. dalam penelian tersebut lebih menjelaskan perbedaan jenis kelamin hanya karena sensitivitas. (2000) melakukan penelitian tentang perbedaan dalam ekspresi nyeri antara bayi baru lahir laki-laki dan perempuan saat dilakukan penusukan tumit. dan kondisi situasional yang mempengaruhi dan bagaimana anak menanggapi nyeri... dan Lohaus (2012) menjelaskan toleransi nyeri perempuan dan laki-laki sama dan akan berkembang pada usia pubertas. Penelitian ini menghubungkan neurotrasmiter opioid endogen. Terkait dengan hal tersebut. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Peneliti berasumsi bahwa hal ini tidak terjadi pada penelitian ini karena perbedaan usia responden. 2013 . Perbedaan jenis kelamin sangat mempengaruhi nyeri.. hal ini disebabkan adanya perbedaan hormon antara lakilaki dan perempuan. (2002) berpendapat berbeda sebaliknya..002) pada kelompok internesi dan kelompok kontrol. Guinsburg et al. Hal ini didukung oleh pendapat Potter dan Perry (2005) menjelaskan bahwa toleransi terhadap nyeri dipengaruhi faktor-faktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap individu tanpa memperhatikan jenis kelamin. Vierhaus. Ayu Yuliani Sekriptini. hasil penelitian Schmitz. Wanita mengalami perubahan hormon progesteron dan estrogen saat menstruasi yang dapat mempengaruhi opiod endogen pada wanita.

Terkait hasil penelitian Smeltzer dan Bare (2001) mengatakan bahwa pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang tentang nyeri. dimana pengalarnan individu dengan nyeri yang dialami sebelumnya akan menyebabkan perasaan takut pada individu ketika menghadapi peristiwa menyakitkan berikutnya. Penelitian Noel et al.. Usia tersebut merupakan usia sangat rentan terhadap krisis penyakit dan hospitalisasi (Hockenberry & Wilson.029). FIK UI... peneliti mengasumsikan pengalaman sebelumnya berhubungan dengan usia responden dimana usia responden berada pada rentang usia toddler dan prasekolah. Pengalaman Nyeri Sebelumnya Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada kelompok intervensi memiliki pengalaman nyeri sebelumnya (55..9%).82 c.016 dan tidak pernah p value 0. Hal ini menujukkan bahwa hampir sebagian responden memiliki pengalaman nyeri sebelumnya. Dilihat dari uji statisik rata-rata skor nyeri terhadap pengalaman nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. melakukan penelitian pengaruh pengalaman anak-anak untuk stimulus nyeri baru pada pengalaman nyeri berikutnya. Responden dengan anak yang mempunyai pengalaman operasi dan pernah dilakukan venipuncture. 2007). didapatkan bahwa ada perbedaan yang bermakna pada yang tidak pernah mengalami nyeri sebelumnya dan yang pernah mengalami nyeri sebelemnya (pernah p value 0. Dari total sampel keseluruhan. Riwayat sakit atau hospitalisasi sebelumnya dimungkinan dapat menyebabkan adanya pengalaman nyeri sebelumnya pada anak. pengalaman Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. diperoleh bahwa reponden dengan pengalaman sebelumnya lebih banyak dari pada yang baru pertama kali. sedangkan pada kelompok kontrol pengalaman nyeri sebelumnya seimbang antara yang pernah dan yang pertama kali (50%). Ayu Yuliani Sekriptini. (2012). 2013 .

Hal ini didukung konsep teori Potter dan Perry (2005) menyebutkan kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang mengalami nyeri.1%).000) sementara tidak ada perbedaan yang signifikan pada ketidakhadiran orang tua (p value 1. kemudian dilakukan wawancara pengalaman nyeri yang pernah dialami. Kehadiran anggota keluarga mampu memberikan dukungan dan kenyamanan pada anak.000). Penelitian Ozcetin. dan kelompok kontrol (91. Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga untuk memperoleh dukungan. sehingga anak merasa lebih tenang dan nyeri berkurang. bantuan atau perlindungan. Kehadiran Orang Tua Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi (97. d. 2013 .. Ayu Yuliani Sekriptini.. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran orang tua pada saat anak mengalami hospitalisasi memegang peranan penting.83 nyeri minimal 1 tahun yang lalu. Dengan kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri dengan kehadiran orang tua (p value 0. dan diobservasi ekspresi wajah yang muncul pada anak saat dilakukan wawancara. Hasil menunjukkan pengalaman nyeri sebelumnya pada anak-anak berhubungan dengan rasa takut dari waktu ke waktu akan mempengaruhi pengalaman nyeri yang baru. Hasil penelitian nyebutkan rata-rata skor nyeri pada anak yang didampingi oleh orang tua lebih rendah dari pada yang didampingi oleh petugas kesehatan.2%) hampir seluruh responden didampingi oleh orang tua. FIK UI. (2011) menjelaskan kehadiran keluarga sangat mempengaruhi respon nyeri pada anak. et al. Hockenberry dan Wilson (2007) menjelaskan bahwa kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang mengalami nyeri..

sehingga dapat menurunkan kecemasan dan memberi dampak positf terhadap pemenuhan kenyamanan fisik bagi anak (Kolcaba & Dimarco.. karena orangtua merupakan individu yang dikenal. Saat dilakukan tindakan pengambilan darah responden mampu menerima penjelasan yang diberikan dan bersedia didampingi oleh perawat. FIK UI. Penilaian skor nyeri menggunakan Wong-Baker FACES. sosiokultural.84 orangtua memiliki pengaruh efek yang positif pada toleransi nyeri anak. Pemenuhan rasa nyaman yang adekuat pada semua aspek dengan tingkat relief hingga transcendence akan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Dari jumlah seluruh responden ada 4 responden tidak didampingi oleh orang tua dengan rata-rata skor nyeri lebih tingggi (skor nyeri kelompok intervensi 7 dan skor nyeri kelompok kontrol 7.7) dibandingkan responden yang didampingi orang tua (skor nyeri kelompok intervensi 10. Aplikasi comfort theory Kolcaba (2003) menyebutkan bahwa tahap perkembangan dan kehadiran orang tua merupakan interventing variabel yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk mencapai rasa nyaman pada semua aspek (kenyamanan fisik. Ayu Yuliani Sekriptini.9). Hal ini sesuai dengan penerapan prinsip asuhan berpusat pada keluarga dan aplikasi comfort theory pada keperawatan anak. 2005). Hal ini disebabkan karena responden yang tidak dihadiri orang tua pada rentang usia prasekolah (2 orang berusia 5 tahun dan 2 orang berusia 6 tahun). pelibatan orangtua dapat memenuhi kebutuhan rasa nyaman psikososial dan sekaligus kenyamanan lingkungan bagi anak. dan lingkungan). Dalam hal ini sesuai dengan konsep Hockenberry dan Wilson (2007) pada usia prasekolah kemapuan kognitif dan komunikasi anak sudah mulai berkembang dengan baik dan mulai mampu menerima penjelasan dari orang tua atau petugas kesehatan. psikospiritual.. 2013 .8 dan kelompok kontrol 8.. bukan merupakan orang asing bagi anak.

Legs. Finnstrom. kandungan glukosa dan sukrosa dalam madu kemungkinan dapat memberikan efek menyenangkan yang dapat menurunkan nyeri atau disebabkan oleh kandungan enzim flavonoid pada madu. 6. (2004) bahwa pemberian larutan glukosa 30% sebanyak 2 ml dapat mengurangi respon nyeri pada bayi sebelum dilakukan pengambian sampel darah vena.1. (2007) membandingkan pemberian sukrosa 44% 2 ml per oral dibandingkan dengan pemberian empeng (dot) pada bayi usia 0-6 bulan di ruang unit gawat darurat anak pada prosedur venipuncture. Penelitian lain tentang sukrosa yang dilakukan oleh Taddio et al. 2013 .001 (<0. FIK UI. Hasil penelitian skor nyeri pada kelompok glukosa secara signifikan lebih rendah dan durasi Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.2..... Hasil penelitian menyebutkan sukrosa signifikan mengurangi skor nyeri. (2010) menyebutkan bahwa sukrosa dapat meningkatkan kadar -endorfin sehingga dapat menurunkan respon nyeri..05). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu.85 mendorong pada penentuan intervensi berikutnya. Penelitian Curtis el al. and Consolability Pain Scale (FLACC). Penelitian ini menggambarkan terdapat perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi pada saat prosedur pengambilan darah dengan kelompok kontrol. Rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. rasa manis pada madu. Penelitian Gradin. penurunan kebutuhan akan tindakan medis yang lain dan peningkatan kepuasan anak dan keluarga. Penilaian skor nyeri menggunakan Face. dan Schollin (2004) membandingkan efek mengurangi rasa sakit dari glukosa 30% per oral dengan pemberian ASI sesaat sebelum venipuncture pada bayi baru lahir. Hal ini dikarenakan pemberian rasa manis akan meningkatnya -endorfin pada kelenjar hypophyse yang dapat menginhibisi trasmisi nyeri. Activity. waktu menangis dan denyut jantung. Ayu Yuliani Sekriptini. nilai p value 0.. Penelitian tentang glukosa dijelaskan oleh Bauer et al. Cry.

7).. Hal ini dukung dengan penjelasan Almada (2000) bahwa flavonoid dapat mencegah produksi enzim cyklooxygenase (COX).86 menangis pendek dibandingkan dengan kelompok penerima ASI sesaat. Penelitian lain tentang pemberian glukosa 30 % pada bayi dengan tindakan venipuncture di lakukan oleh Gradin.. Holmqvist. menyebutkan bahwa pemberian glukosa 30% sebanyak 3 ml.. serotonin yang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI. Eriksson. Hasil penelitian menyebutkan bahwa glukosa efektif dalam mengurangi gejala yang berhubungan dengan rasa sakit dari venipuncture pada bayi baru lahir dan lebih baik daripada local anestesi krim EMLA. Penelitian tentang madu per oral sebagai analgesik dilakukan Goenarto.6) dibandingkan dengan kelompok EMLA (ratarata 5. flavonoid memiliki dua efek sebagai analgesia dan antiinflamasi. (2009). 2013 . Flavonoid memblok aksi dari enzim COX yang menurunkan produksi mediator prostaglandin. Holstein dan Schollin (2006) menunjukkan bahwa skor nyeri pada kelompok glukosa lebih rendah (rata-rata 4. Penilainan lamanya menangis dalam 3 menit pertama secara signifikan lebih rendah kelompok glukosa (median: 1 detik) daripada kelompok EMLA (median: 18 detik). Penilaian skor nyeri menggunakan Premature Bayi Pain Profile (PIPP). 2 menit sebelum suntikan subkutan dapat penurunan skor nyeri pada bayi. Ayu Yuliani Sekriptini. Enzim cyklooxygenase (COX) adalah suatu enzim yang mengkatalisis sintesis prostaglandin dari asam arakhidonat. Hal ini disebabkan oleh efek analgesik glukosa diduga mampu menginhibisi trasmini nyeri setinggkat spinal dan pemberian glukosa per oral dapat merangsang -endorphin di hipotalamus.. hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan flavonoid pada madu dapat menghilangkan rasa nyeri. prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptor-reseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin. Sedangkan penelitian Carbajal et al. et al (2011) pada tikus putih. Penilaian skor nyeri menggunakan Premature Bayi Pain Profile (PIPP).

Aspek nursing intervention yaitu pemberian intervensi non farmakologis berupa pemberian madu yang merupakan bagian intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman. Ketersediaan madu di masing-masing rumah sakit belum ada. Rasa manis yang dapat merangsang neurotransmiter yang berperan dalam supresi nyeri dan mengeluarkan opiat endogen di kelenjar hipopyse seperti -endorpin. madu dapat menurunkan respon nyeri pada anak.Keterbatasan Penelitian Tempat sampel pada awalnya peneliti akan melakukan penelitian di satu rumah sakit (RSUD Gunung Jati).. Intervensi keperawatan sangat penting dalam mengurangi nyeri pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengabilan darah salah satunya adalah pemberian madu. Keadaan ini dikenal sebagai sensitisasi perifer (Breivik. Analisis peneliti. Daniela et al. tetapi pada minggu ke dua penelitian jumlah responden yang didapatkan belum memenuhi target yang ditentukan. begitu juga dengan serotonin dan GABA (gama amino butiryc acid) yang berfungsi menurunkan sensasi nyeri. 2008. kemungkinan disebabkan komposisi kimia madu mengandung glukosa (31%) dan sukrosa (1. FIK UI.. Aplikasi comfort theory dalam penanganan nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah pada anak dapat diuraikan bahwa aspek health care need yaitu anak memiliki kebutuhan rasa nyaman selama prosedur invasif dilakukan. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. sedangkan kandungan flavonoid pada madu memblok aksi dari enzim cyklooxygenase yang menghambat pelepasan subtansi prostaglandin. sehingga peneliti menambah tempat penelitian (RSUD Arjawinanun). 2013 .. 2010). Efek analgesik glukosa atau sukrosa ini diduga akibat pelepasan beta endorphin (merupakan hormon opiat endogen yang diproduksi sendiri oleh tubuh dan mirip sifatnya dengan morfin) dan mekanisme preabsorpsi dari rasa manis. 6.87 akan menimbulkan sensasi nyeri..31%) dan flavonoid.2.

Pemberian asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat spesialis anak harus ilmiah dan inovatif.88 6.. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu inovasi dalam asuhan keperawatan untuk mengurangi nyeri pada tindakan invasif lainnya.3. tetapi terbukti efektif adalah tindakan pemberian madu per oral. dan kerusakan hepar serta alergi. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penanganan nyeri pada anak dapat dilakukan dengan berbagai intervensi. Perhatian terhadap intervensi mudah yang dapat digunakan dalam mengurangi nyeri masih kurang tersosialisasi dengan baik bagi perawat dan orangtua.Implikasi Hasil Penelitian Pengambilan darah intra vena merupakan salah tindakan invasif yang meyebabkan nyeri pada anak. berbagai penelitian tidak menyarankan penggunaan obat-obatan tersebut dalam jangka waktu yang lama karena berisiko iritasi lambung. Selama ini implementasi mengurangi nyeri pada anak cenderung kurang diperhatikan. Respon nyeri yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan trauma pada anak yang berkepanjangan. FIK UI.. sehingga diharapkan keadaan trauma pada anak dapat diminimalkan dan anak dapat hidup sejahtera dan berkualitas. 2013 . Pencegahan atraumatik care merupakan tanggung jawab perawat spesialis anak bertanggung jawab untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dengan mencegah terjadinya nyeri pada anak. ibuprofen dan lain-lain. Padahal berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa nyeri pada anak akan menyebabkan kualitas hidup anak terganggu.. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu intervensi mengurangi nyeri yang mudah dan murah. Ayu Yuliani Sekriptini. Perawat khususnya perawat spesialis anak bertanggung jawab untuk melakukan inovasi selama pemberian asuhan pada anak. Madu juga merupakan zat yang sangat dikenal oleh keluarga dan mudah didapat. Selama ini digunakan berbagai macam obat analgesik untuk mengurangi nyeri pada anak seperti paracetamol.

..89 Penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lain untuk mendapatkan evidence based yang akan diterapkan dalam layanan keperawatan pada anak. mahasiswa keperawatan dan peneliti keperawatan harus bersama-sama mencari bukti-bukti ilmiah berdasarkan penelitian terkini terkait upaya meminimalisasi efek nyeri dan mengkaji serta menerapkannya dalam layanan keperawatan pada anak untuk meningkatkan kualitas hidup anak. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. Perawat khususnya perawat spesialis anak..

Ada perbedaan yang berbeda pada rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan nilai p value 0. Rata-rata skor nyeri pada kelompok anak yang diberikan madu saat dilakukan pengambilan darah adalah 8. FIK UI.1. Mengembangkan program seminar dan pelatihan terkait tentang terapi nonfarmakologi yang dapat diterapkan pada anak sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya.2.. 2013 .5. b. dan memiliki pengalaman nyeri sebelumnya. Mempertimbangkan hasil penelitian sebagai acuan dalam terapi nonfarmakologi pada anak yang mendapatkan tindakan invasif untuk meminimalkan nyeri.2.. d. didampingi oleh orang tua.1 Pelayanan keperawatan dan institusi rumah sakit a. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh madu untuk mengurangi nyeri pada anak saat diberikan tindakan invasif pengambilan darah di RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon dapat disimpulkan sebagai berikut : a. c. 7.001.BAB 7 SIMPULAN DAN SARAN 7. Ada perbedaan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan karakteristik anak khususnya karakteristik usia dan kehadiran orang tua. b. 90 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.8 dan rata-rata skor nyeri pada kelompok anak yang diberi plasebo saat dilakukan pengambilan darah adalah 10. Ayu Yuliani Sekriptini. sebagian besar berjenis kelamin lakilaki.. yang digunakan sebagai manajemen nyeri. Saran 7. Usia responden ada pada rentang 1-3 tahun (toddler) dan >3-6 tahun (preschool) dengan proporsi sama.

.2. melalui seminar. c. c. Ayu Yuliani Sekriptini.3. terhadap nyeri kronik.. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh madu pada kelompok usia tertentu. b.. Bagi ilmu Keperawatan a. symposium dan konferensi keperawatan. FIK UI.2. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. b. pemasangan infus.2. dalam kurikulum pendidikan sarjana keperawatan dan magister keperawatan. injeksi sub cutan. 7. Penelitian Selanjutnya a. 2013 . tempat penelitian yang berbeda dan istrumen skor nyeri yang berbeda. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh madu terhadap respon nyeri pada anak dengan usia yang sama atau berbeda dengan jumlah sampel yang lebih banyak.91 c. Mensosialisasikan informasi dan pengetahuan tentang tehnik nonfarmakologis yang efektif dalam menejemen nyeri akibat tindakan invasif pada anak. dan lain-lain. Menerapkan tehnik-tehnik nonfarmakologis dalam manajemen nyeri akibat indakan invasif pada anak disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak 7. Memasukkan materi tentang tehnik-tehnik nonfarmakologis dari hasi penelitian yang telah banyak diujicobakan dan dapat diterapkan dalam menejemen nyeri akibat tindakan infavif pada anak. Membangun hubungan dan kerjasama yang baik dengan institusi pelayanan kesehatan untuk mengembangkan peenerapan hasil penelitian terkai tindakan mandiri perawat dalam manajemen nyeri akibat tindakan invasif. Perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengatahui efektivitas madu peroral terhadap prosedur invasif minor lain seperti injeksi intramuscular.

O. Neuropharmacoloical effects of Nigerian honey in mice. & Campbell.. Ibrahim.. Arch dis Child.C.N. 138-142. Brousseau. P. http://:www.com/pain.nlm. Pain assessment and treatment in the managed care environment. (2003). R. http://pediatrics. S. Pain assessment for pediatric patients in the emergency departmet.D. http://pediatrics. Diunduh tanggal 7 Aguatus 2012.. (2000). 82(6).F. American Academy Of Pediatrics. (2011). 2013 .aappublications. Arrowsmith.html Alzubier. (2006). T.. Diunduh tanggal 27 Juli 2012.M..org/cgi-bin/print/pl. Atunwa. Faculty of Pharmacy.bmj.full. Akanmu. and adolescents. American Academy of Pediatrics. Diunduh tanggal 30 Desember 2012.. Olowookere. The assessment and management of acute pain in infants. 61(3).A.naturalnews. (2011).org/content/117/5/1511. Bustani. M. et al. Diunduh tanggal 28 Juli 2012.full. Arch Dis Child Fetal Neonatal. David. & Beattie.DAFTAR PUSTAKA Acharya. Department of Pharmacology.A. (2008). 108-793.nih. 10(2).. NCBI 8(3). (2002). Prevention and management of pain and stress in the neonate. Canadian Pediatric Society. Pediatrics. M..org/cgi-bin/ print/pl.A. 78(6).A. 230245..gov/ pmc/articles Almada.. Diunduh tanggal 20 Oktober 2012. Marc..O. Diunduh tanggal 26 Juli 2012.. Amy. Taub.A. http://www.D. Lamidi. 1511-1517.A.. Pain News. & Gorelick.org/ content/105/2/454.ampainsooc. http://www. A. ampainsooc. A comparation of local anaesthectics for venepucture. Pediatrics. antipyretic and analgesic effect of Yemeni Sidr honey. Ayu Yuliani Sekriptini. J.aappublications. & Okechukwu. C. H. American Pain Society. 17(7). 112-118.A. P.. B.pdf. L. (2000). Natural COX-2 inhibitor the future of pain relief. FIK UI.com/content/82/4/309. American Pain Society.B. World Academy of Science.. 309-310. http://adc. M. Drendel. 105-454.. Engineering and Technology.ncbi.full 92 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. http://:www. _________________. (2000).. children. O. Randomised controlled trial eutectic mixture of local anasthetics cream for venepunture in healthy pretrm infant. N. Adams. 117(5). Pediatrics. P.. Investigation of anti-anflammatory. International Chiropractic Pediatric Association. Pediatric chronic pain: A position statement from the American pain society. Diunduh tanggal 12 Agsutus 2012. A. 47(5). (2000).. C. D. 52-58.

110(3). J. Jenson.beehexagon.C.B. 2013 .. L.M.B. (2005). 29(9). 695-700.A... http://www. Fleet. British Journal of Anaesthesia 101(1). Assessing pain in children with severe neurocognitive impairments. Laurenz.JACN. & Finley. . Borchgrevink. Hals. L. Beisang. Pediatric pain management. 120-128. 677-689... Breau. R.. FIK UI.K. K. 1-6. Diunduh tanggal 14 Agustus 2012.A. Ketteler. Bulloch. Oral glucose before venepuncture relieves neonates of pain. Hellwing.pdf. Romundstad. (2007). G. S. Jakarta : Salemba. M. Acad Emerg Med. T. A Peditric Perspective.. M..E. S. G..net/files /file/fileE/HealthHoney/Nutriti JAC. Jakarta. C.. (2004). Badan Standarisasi Nasional Indonesia. & Tenenbein. (2010).. Jurendic.M.. R.J. 55(4). P. (2004). H. M.. Allen. Diunduh tanggal 28 Juli 2012.org/ content/101/1/17. Buckle.pdf. (2008).full. (2008).M.. Penerbit Universitas Indonesia. A. Madu. & Gallmann. Philadelphia: Saunders.. _________________________ . McGrath.beehexagon. Assessment of clinically significant changes in acute pain in children. H. Camfield. Ilmu Pangan. H & Adiono. (2005)..pdf Brusch. Bognadov.. L. edisi ke-17. Honey as nutrient and function food. (Eds). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2. E. Bauer K.. Pain. L. M. gillettechildrens. American Journal of the College of Nutrition 27(7). Terjemahan: Purnomo. B. Validation of 2 pain scales for use in the pediatric emergency department. but stress is still evidenced by increased ini oxygen consumption. & Wooton. 199-202. Pediatrics.. (2000). (2002). (2002).S.. Rosseland. Diunduh tanggal 8 Agustus 2012.A. Psychometric properties of the non-communicating Children’s Pain Checklist-revised. 16(6).. hlm 66-358. Behman.H.../HealthHoney/HoneyNutrition. S. Sieber. Bogdanov. 17–24. 349-357. & Versmold. P.H. Diunduh tanggal 25 Agustus 2012.netfles/fil/file. http://:ww..K. Neston Nursing Pediatrics. dalam R. Kliegman. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Honey for nutrition and health: a Review.org/…/vol16No5. emergency expenditure and heart rate. Edwards. (2000).93 Aziz A. B. H. R.A. et al. Ayu Yuliani Sekriptini. Breivik. Jakarta.oxfordjournals. & Zeltzer. Assessment of pain.. Badan Standarisasi Nasional Indonesia. http://www. Bee product science Januari 28(2) 145-147. 99(7). P.. http://bja. Pediart Res.

. (2006). S.. Jurnal Medical Aradean. X. Ali. Diunduh tanggal 27 Juli 2012.. Naccrato. 19-23. (2011).. S. 1471-1476.. C.com/1471-2431/7/27/pdf. V.K. http://pediatrics. M. Diunduh tanggal 20 September 2012. http://www.J. & Klassen T. (2010). Doellman. Carbajal.. Elisabeta. Larutan glukosa oral sebagai analgesik pada prosedur pengambilan darah tumit bayi baru lahir: Suatu uji klinik acak tersamar ganda. The practice of nursing resesrch: appraisal. Pediatric Emergency Care. S.N. 126-129. 47(7). S. A randomized controlled trial of sucrose and/or pacifier as analgesia for infants receiving venipuncture in a pediatric emergency department. & Schneider.. P.bmj.jmedar. Diunduh tanggal 25 Juli 2012. Vandermeer... (2010).org/IENR/ENR/ Documents/PedPainManagementENR.ro/nbha/article/viewFile/4780/4516 Craig. and generation of evidence. 8(4).A.. & Chis.org/content/122/ Supplement3/S134. Clin J Pain. Chemical and biochemical caraterization of three disserent types honey from Bihor country.biomedcentral. (2009). & Moretz. A.. Lilley. 232–242. & Reynolds. M.L. V. Pain Management Nursing. Virgil. S. J. 2013 . Randomised analgesic effects of sucrose. Storer.94 Burns. Proehl. Pediatric. Procedural pain management: A position statement with clinical practice recommendations. (2008). M.. M.. N. 27(2). 6th ed. Diunduh tanggal 2 Oktober 2012. glucose. L. J. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. Diunduh tanggal 14 Agustus 2012.full. Turner. F. Heaton.12(4).. Wrona. (2007).M.. Daniela. H. Cohen.K. K. (2006)... Couders. A..pdf Cornelia P. http://www. D. Y.pdf Curtis.. http://www. C.. Behavioral approaches to anxiety and pain management for pediatric venous access. R. N. 25(1). Jou. Emergency nursing resource: Needle-related procedural pain in pediatric patient in the emergency departement. H. (2011). 122-134.A. Czarnecki.com/content/319/7222/1393. http://notulaebotanicae. K. M.. Social barriers to optimal pain management in infants and children. J.M. B. (2009). BMC Pediatrics. Chauvet. Clarisa. BMJ. Darcy. www.aappublications. Oliver-Martin. 77(7). 45(7). 319-1393. 1-17. 313-318.ena.L.D . Missouri: Saunders Elsevier... Crowley... Faculty for Environmental Protection. Physiology of pain – general mechanisms and individual differences.. synthesis..D. Collins. Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.A. & Gilbert. 21(11). Diunduh tanggal 8 Juli 2012.ro Davaera.. & Grove. and pacifiers in term neonates.

D. 109-1093. http://pediatrics. 45(2). B. (2008). & Smith. (2004).. A. 2013 . http://cdn. Pain assessment for pediatric patients in the Emergency Department.B. J. J. 19(9). & Elseviers.nih. Fallon-Friedlander. (2004). Pediatrics. W.com/pdfs/. 130(5).. Pain assessment in children with neurological impairment. E. 63(84).org.. (2011). Metodologi penelitian keperawatan: pedoman melaksanakan san menerapkan hasil penelitian.intechopen. D.. Gimbler-Berglund. 37(2). Selling comfort: A survey of interventions for needle procedures in a Pediatric Hospital. Pediatrics. 5(4). Diunduh tanggal 12 Juli 2012. Zempsky. Oral glucose solution as pain relief in newborn: Result a clinical trial.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Relief of pain and anxiety in pediatric patients in emergency medical systems. & Cohen. A clinical study to evaluate the efficacy of ELA-Max (4% liposomal lidocaine) as compaired with eutectic mixture of local anasthetics cresm for reduction of venipuctue in children. Pediatrics Nursing. (2011). Ann Ist Super Sanita. Non pharmacological techniques for stress reduction during emergency medical care: A review. Sharp. 21-24..pdf Ellis. 134-146. Diunduh tanggal 27 Juli 2012. & Enskar. Gottschalk. Diunduh tanggal 20 Juli 2012. Newhook. H. & Gorelick. (2009).. Birth issue in perinatal Care. (2006). FIK UI.A. Fein. Brousseau. M. Pain Management Nursing. Ayu Yuliani Sekriptini. (2001). R.. Factors influencing pain management in children.A.ncbi. 99-105. 144-152. http://www.gov/pubmed/15116686.... 117(5). Pediatric Nursing. Diunduh tanggal 25 Juli 2012.H. & Susanto.html. L.. Infant botulism. 11(4). 20(10). Funk. Pediatrics.nih. I. 37-38. A. M.95 Dharma. & Anniballi. 13911405. C. Cunningham. Dilen.. (2002). Drendel.. Pediatrics.J.S. F.aafp. (2004). Dowling.. (2010). Eldridge.. 244250. Fenicia. M.nlm. (2012).nlm. 15111518.gov/pubmed/19119745 Goenarwo. www. 190-197. K.. Jakarta: Trans Info Media. K. D.P. K. J.ncbi. 5(4). Cravero. Chodidjah. Ljusegren. Eichenfield. Diunduh tanggal 12 Juli 2012.org/afp/2001/0515/p1979. L.. http://www. Am Fam Phys. Uji efektifitas analgetik madu pada tikus dengan metoda geliat asetat. S. & Kennedy. J... New concepts in acue pain therapy: Prepentive analgesia. B. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung.aappublications.F. A.

Franz. D.S. FIK UI. M. & Schollin.. Pustaka Imam.. J. Jakarta. B. & Huckson. & Shaw.. 978(1). (2006). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Webber. tempetarure regulation.. Green R. http://peditrics. sleep..org/conten/110/6/1053. McCance & S. 4051-4549. Louis: Mosby Elsevier. J. Sweet tasting solution for reduction of needle-related procedural in children aged one to 16 years review.. A. (2002). M. Huether.. In K. Pediatrics. (2009). (2008). M. 17(8). Pain reduction at venipucture in newborn: Oral glucose compared with local anesthetic cream. & Wilson. Diunduh tanggal 20 Agustus 2012. F.T. Wong’s nursing care of infants and children. Gradin. D.w. & Leo. 210-221. http://www. Ayu Yuliani Sekriptini. Pain. 759-760. Emergency Medicine Australasia. Holstien.S... Gradin.N. Hockenberry. Holmqvst. (2009). Pediatrics. Holmqvst...I..html. The Cochrane Library.full.96 Gardner. A. S.K. Diunduh tanggal 8 Agustus 2012. & Bergstrom. Eriksson. (2011). L. h.pediatricsdigest. S. Hagglof. Herd. & Schollin. Pain management practices in paediatric emergency departments in Australia and New Zealand: A clinical and organizational audit by National Health and Medical Research Council’s National Institute of Clinical Studies and Paediatric Research in Emergency Departments International Collaborative. Pathophysiology: The biologic basis for disease in adults and children (4th ed). http://pediatrics. J. Critical care in the Emergency Department: An assessment of the length of stay and invasive procedures performed on critically ill ED.mobi/content/110/6/1053. G. Yamada.L. St. Hamad. (8th ed. Behavioral Problems of Infancy and Preschool Children...htm Harrison. & MacIntyre. http://www.. E. 21(2).). 6(10). Heuether (Eds)..E. R.. Terapi Madu. ISBN. 1053-1057. (2002). G. D. 2013 . 57(9).aappublications. J. B. J.E. J.org/content/full.L. Ohlsson.. MO: Mosby-Year Book. Resuscitation and Emergency Medicine. Y. Gilhotra. Impaired health-related quality of life in children with recurrent pain.. (2007).. S.. pp. tanggal 28 Juli 2012.. 30. Eriksson. St. & Steven.sjtrem. 156-159. Pediatrics... Scandinavian Journal of Trauma. M. D. Diunduh tanggal 7 Agustus 2012. and sensory fuction. J.Louis. 401-410. 124(4). 110-153.aappublication. 43-47. Beyene. 19(8).full.com/content/17/1/47. M. (2009).. (2004). Pain reduction at venipucture in newborn: Oral glucose compared with local anesthetic cream review.

randomized. Pearson Education Company. & Tannous. Lacercrantz. controlled trial.pdf Kelly. B. P. K. Comfort theory and practice: A vision for holistic health care and research.thecomfortline.in/maa/ t03/i2/maat03i2p100.C. (2008). http://www. & Burke.A. Pain . Whiteside. J. Kleiber. G. 109 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.full. edisi III. Medical surgical nursing: Critical thinking in client care. (2002) Topikal anasthetics for intravenous insertion in children: A randomized equivalency study. J. 138-141.. Laxmikant. (2000). Dalal.com/comfort theory. R.nlm. (2008). Logan. (2000). Loeser.97 Jatana. Diunduh tanggal 12 Agustus 2012. Pediatrics.. Pediatrics.L. R.nic.... Diunduh tanggal 24 September 2012. Deshmukh & Udani.A. & Cheryl A.. 17. Gronstal. A. Bag Anastesiologi dan Terapi Intensif FK UI.org/content/101/5/882. (2004). A. Petunjuk praktis anatesiologi.ncbi.. (2006). G. 473–477. G. H.. C..aappublications. 48(3). Venipuncture is more affective and less painfull than heel lancinf for blood tests in neonates. Analgesic effect of oral glucose in neonates. 110-758. & Treede. K. Kenneth. D.. J. 16(5). New York. Latief. Ayu Yuliani Sekriptini. Olsson. Kolcaba & Di Marco. K.. (2003). D. S. and adolescents social barriers to optimal pain management in infants and children. M. Christine M. (2001). D.H. FIK UI. J. (7). NY: Springer Publishing Company. (2002). http://pediatrics. Diunduh tanggal 20 September 2012..A. L. S. B... Analgesic effect of oral glucose in preterm infants during venipuncture: A double-blind. Le Mone. Gilbert. (3rd ed.L. E. 185-187. Jurnal of Tropical Pediatric. children. Comfort theory and its application to pediatric nursing. 232-242. B. Jakarta.C.). MJAFI. & Wilson. 137(3). Larsson.gov/pubmed/12359791 Kolcaba.nih. 101-882.. J Accid Emerg Med. 61(7). Sorenson. Lilley. R. Diunduh 20 Juni 2012... Clinical Journal of Pain. (2005). The Kyoto protocol of IASP basic pain terminology. 2013 . 12(3). Gender differences in postoperative pain and patient controlled analgesia use among adolescent surgical patients. A process approach to improving pain management in the emergency department development and evaluation. D. http://www. 59(2).. Barriers to optimal pain management in infants. Pain . 100-104. Tannfeldt. medind. & Rose. (2003).M..

.com Mathew. & Young. S. K. Diunduh tanggal 13 Agustus 2012.F. Diunduh tanggal 7 Agustus 2012. Edisi ke-2. PostgradMed. A. (2003). Barr... N. Munqlani. 256-260. patofisiologi dan penatalaksanaan. Critical review of the American Pain Society Clinical Practice Guidelines for interventional techniques: Part 1.bmj. R.D. Pain assessment and management in children and adolescent. & Mackway-Jones... Lewkowski.. Respon nyeri infant dan anak yang mengalami hospitalisasi saat pemasangan infuse di RSUD Sumedang.. (2005). Lessard. (2003). Diunduh tanggal 25 Juli 2012. L. (2001).. et al..D. P.. & Hatira. P. 25(3). P.98 (3). Nyeri neuropatik.. Pediatrics. Diunduh tanggal 12 http://www.. Patofisiologi nyeri..A. (2010). MacLean.. The gap between pediatric emergency department procedural pain management treatment available and actual practice. 481–487.. Diunduh tanggal 9 July 2012.. D. 2013 . (2010). h.com/content/79/934/438 Matthews. (2004). (2003). R. http://pmj.J. H.A. D.sciencedirect.. S. 11-19. Diagnostic interventions. 87-93. h 1-2. W. http://pmj..H..com/science/ article/pii. http://pediatrics. (2006).. Pain medicine manual. September 2012. Assessment and management of pain in children review.. & Pasero. 79(2).. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. A.S. Pain patohysiology. dan Rakhmawati.full Mediani. P.N. 13(3). Boyd. 430-438. Pediatric Emergency Care. Mardhiyah. R. & Young S. S. E. 141-174. 45(5). Patfield. A.. Harris.gov/pubmed/15861613.. M.ncbi. Physiology & Behavior.org/content/108/3/793. 13(1). Gupta.L.. Bryce. Dalam: S. NCBI. Kelompok Studi Nyeri. H. Randomized clinical trial of local anesthetic versus a combination of local anesthetic with self-hypnosis in the management of pediatric procedure-related pain.nih.J. & Mathew. FIK UI.L. Manchikanti. White. 2(48).. & Dickenson.R.J. Dalam: K. McCaffrey. PERDOSSI. Ayu Yuliani Sekriptini. Purna. Datta. Loissi. Ward. Sherrard. K. Emergency Nurse.aappublications. http://www. Pain Physician. Suryamiharja. BJM. Assessment and management of pain in infant. J. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran Meliala. (Ed).G. S. Mathew.. The convergent validity of the Manchester pain scale. J. Sadeli. A. R. (2007). Effects of chewing gum on responses to routine painful procedures in children.P. 3-38. (2003).. Obispo. 793-797.. Dolin.nlm.A. (Eds). 307-312.. C. 108(3). 23(2).L. Meliala.bmj. 257–265 Lyon. J. J. A. London: Butterworth Heineman.. L.S.

1563–1572. Diunduh tanggal 5 Januari 2013. (2006). A. A Refernce Guide from National Board. R. Z. Nursing research: Principles and methods. Diunduh tanggal 20 September 2012. Klein. Diunduh tanggal 20 Juni 2012. and adolescents: From policy to practice. O. O'Malley. F. (2012). 247-252. Pediatrics. (2008). I’am to tell you the facts about honey. Chanthavanich. K. N.l. C. Diunduh tanggal 20 Juli 2012. & Beck... A Comparasion of pain scales in Thai children. E.F.. 67(16).. The influence of children’s pain memories on subsequent pain experience. K.. Pediatrics.org/content/ 83/1/118.. PAIN. HK J Paediatr. (2010). (8124).J. & Stewart.F.M. Philadelpia: Lippincott. & Hungler.L. O'Rourke..99 Morton. Philadelpia: Lippincott Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. P. Chambers. 990(70) 269-275. & Bergstrom.I. B.T. http://www. 118-.. Luangxay.apta. Karaaslan. C. D... Limtifikul. Br J Anaesth. (2011). Cipto Mangunkusumo Jakarta. 115(16). http://bja. (2012). Kaya. E.pds.S. Nurhidayah..H. Noel.T.. P.8. 29..oxfordjournals.. McGrath.. http://www.hu/honey/techbroch. Ayu Yuliani Sekriptini. (2011). Polit. effects of parent's presence on pain tolerance in children during venipuncture: A randomised controlled trial. P.. M. FIK UI. Pengaruh pemberian madu dalam tindakan keperawatan oral care terhadap mukositis akibat kemoterapi pada anak di RSUPN Dr.pdf National Honey Board. B. Petersen. 124(4). M.org Ozcetin. T. Pediatrics. & Krug.com. Lolekha. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. K. D. Patient and Family-Centered care of children in the emergency department. 759-767. Chopitayasunondh.. Brown. http://ptjournal. D.. 6th ed. R.pdf Movahaedi.2. Nursing research: generating and assessing evidence for nursing practice. (2008)..J.au/Vol24/Vol24.full. (2009) Impaired health related quality of life in children with recurrent pain. (2004). Suren. S.E. I.pdf Newman. Hagglof. children. Effect of local refrigeration prior to venipuncture on pain related responses in school age children. & Guner. 2013 . (2005). Prevention and control of pain in children..P.. 9th ed. M. S. Polit. 112(19)..ajan. C. S. E.. Arch Dis Child.pointernet. The measurement of pain in infants. Colak. (1999). e511-e521.

Puspitasari. S. (2007). Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep.L. S.T. S. & Hrazdilova. Ratnapalan. Ayu Yuliani Sekriptini... Mengenal dan memanfaatkan khasiat madu alami. 28(9).. Pain in children: assessment and nonpharmacological management. The impact of pediatric trauma score on burden of trauma in emergency room care... N.. & Cesur. Vierhaus. Parental holding and positioning to decrease IV stress in young children: A randomized controlled trial.. (2005). Cohen.. Pain tolerance in children and adolescents: Sex differences and psychosocial influences on pain threshold and endurance. dan praktik. PT. B. & Bright.. Turkmen.. (2002). 22(6). Sastroasmoro. J. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pediatric pain management and sedation. (2001). 218-203. L. O. Setlik.. edisi 4. Scheiner. A. Srouji. P. Pediatrics. Buku ajar keperawatan medikal bedah.. International Journal of Pediatrics. B. A. & Bare. L.R. Schmitz. S. N.. R.. I..A. & Ismael.. Brunner & Suddarth. S. O. (2012)... R..100 Potter..J. 2013 .K. Mason. S. Edisi 4. 10(2). Edisi 8. Pluckhahn. 136(12). 512-515.Pionir Jaya. Pain reduction during pediatric immunizations: evidencebased review and recommendations.Bentang Pustaka.L. Behavioural pharmacology of octopamine. 474(11).. J. & Luhman. Blenau . Behavioral Brain Resesrch. H. K. Hancerliogullari. hal 57. Akman.G. (2010).M. (2010). B. 367-370. Zempsky. & Erber. A. (2011). Deniz. Jakarta: Sagung Seto. The effect of psyhchological intervention on perceived pain in children undergoing venipuncture.G. (2007). O’ney. FIK UI. Jakarta: EGC. tyramine and dopamine in honey bees. J. 51(7). McGrath. Rahasia sehat mmadu. Sikorova. Biomed Pap Med. & Schneeweiss. (2002). & Mace.P. Soyer. Yogyakarta. proses. 838-842. Journal of Pediatric Nursing. P. M.A.. Bandung. (2007). & Perry. C.. Smeltzer. Schechter.. T.. The Turkish Journal of Pediatric.C. Sparks. W.. European Journal of Pain. & Lohaus. 257-263. Dasar-dasar metodelogi penelitian klinis. 545-553. International Journal of Pediatrics.E. 155(20). Ratnapalan. CV. P.S. F.. (2011). hal 182. 2(5). S. S.. J. T.. 156-159. 153-157. McMurtry. (2009). L. Jakarta: EGC. Purabaya.

S. Jakarta: EGC Suraseranivonges. http://www. http://udini.). Contribution of honey in nutrition and human health: a review.springerlink. Philadelphia: Nazareth Hospital.gov/ pubmed/10820579.nichd. McGrath.S. Mediterr Nutr Me-tab.J. 244–253. C. 15-23.nlm.F. 400-408. Prakkammodom. Bortolussi. yersinia enterocolitica. (2006).gov /cochraneneonatal/stevens/ stevens. A. 57(23). Ayu Yuliani Sekriptini... (2010). Romandini.. 843-855. Agricultural and Food Chemistry. Education about pain: A neglected area?. 2013 . (6th ed.. C. V.. LeMone.M. Tulipani.. Yamada.. (2004) Konsep dasar keperawatan anak. G. 105-112. Louis. G. Dubey. A. Inhibition by chesnut honey of N-Acyl-L homoserine lactones and biofilm formation in erwinia carotovora. 87(3). (2009). Fundamental of nursing : The art and science of nursing care.. S.. Nurse Educ Today. Mosby Elsevier. K. L.K. & Alligood.). Agustus 20. Suarez. M... Chambers. P. Diunduh tanggal 28 Juni 2012.S.cmaj. S. S.html. & Lynn. Tomey. http://www. Diunduh tanggal 12 September 2012. NICHD. R. http://www.pdf. S. St. M.T. (2001). 2012. Lillis.nih. (2005).ncbi. (2000). 2.. proquest. T. British Journal...full. & Kisely.nih. Psychological interventions for needle-related procedural pain and distress in children and adolescents. Cross-validation of composite pain scale for preschool children within 24 houe of surgery. & Ohlsson. S. (2008). P. Diunduh tanggal 23 September 2012. Bertoli.. Kraiprasit.A... A.com/content/g1771u466wvr2h26/fulltext.. (2010).. P. Taddio. N. (6th ed. P. S. & Allende. Diunduh tanggal 20 September 2012.S. et al.M.nlm. A. Halperin. Barberan. 182(8). (2007).20(5)..com/view/psychological-interventions-for-pqid: 1968185 001/ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Y... Reducing the pain of childhood vaccination: an evidence-based clinical practice guideline. Uman.nih. E. http://www.A. C. Cochrane Database of Systematic Reviews. J. 11186-11193. & Muntraporn.101 Steven. A Sucrose for analgesia in newborn infant undergoing painful procedures.gov/pubmed/19950997 Twycross.. FIK UI. B. Nursing science and their works. Supartini. Santawat. and aeromonas hydrophila. Truchado. 56(2). R. http://www.. Appleton. Diunduh tanggal 12 Agustus 2012.ca/content/182/18/1989. Taylor. Izquierdo. J. U. J. Pectharatana.ncbi.. 5(2). Chambers.. CMAJ. 4.R. & Battino. A...

M. (2008). What’s new in the management of pain in children. 2013 . Pediatrics in Review. 5100–5107. Ann Emerg Med. 79-584. & Schecter... 2012.. Sunb. & Hockenberry. William. 121-124. 1301-1307. Neil....T.L. & Schechter. A. & Cravero. N. T..pdf. (2004). The Journal of Neuroscience. N. 78-80.L. 377-348.T.J. Zempsky. (2005). Kilbourn. 122. 253–259.102 Wanga. 114-117. & Schechter. impact. & Chena. Zempsky. 2012.. (2007).L. J. Zeltzer.A. (3).Pediatric%20procedural%20pain. Consequences of inadequate analgesia during painful procedures in children. Louis: Mosby. (2003). Zempsky. Yolanda. J. R. 337-340. Wong.com /article. W. W. Journal of Pediatric.R. (5).T. & Zempsky... 24. (2008).. (2006).Bueller. 74. 36(8). Developing the painless emergency department: A systematic approach to change. US Paediatrics. 147-152.. S. Clin Pediatr Emerg Med.D. Optimizing the management of peripheral venous access Pain in children: Evidence. 1(2). (2003).D. St.. L. 56(1). Won.. Jurnal of Korean Academy of Nursing.garani/SedazioneFarmaci/AnnEmergMed2005. http://web... Effect of programmed information on coping behavior and emotions of mother of young children undergoing IV procedures. (2005) Pediatric procedural pain. (2000). M..). (2002) Opioid receptor-mediated antinociceptive responses differ in men and women. K..D. M. http://archpedi. Young. (2008). Zubieta. M.aappublications. Xu. D. Relief of pain and anxiety in pediatric patients in emergency medical systems. (7th ed. J. M. T. Weisman. http://pedsinreview.aspx?articleid=189261. Swiss Med Wkly. L.org/content /24/10/337. M. B.it/utenti/giampaolo. What’s new in the management of pain in children.jamanetwork. Smith. & Brown. L. Pre treating pain associated with venous access procedures. 2012. 57. Z.P. Y. 9.unife.extract William.K. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Agustus 28.. W. 1071.. et al.. 24(8). Nursing care of infants and children. Pediatrics. 10.D.A. FIK UI. Pediatric in Review. J. The efficacy of non-pharmacological methods of pain management in school age children receiving venepuncture in a paediatric department: a randomized controlled trial of audiovisual distraction and routine psychological intervention. Arch Pediatr Adolesc Med. Zempsky.138 (39). Januari 1. Bernstein. D. September 25(5). 22(12). and implementation. Ayu Yuliani Sekriptini. 5.

Nama saya/peneliti adalah Ayu Yuliani Sekriptini. 16424. Ayu Yuliani Sekriptini. Pembimbing saya adalah Yeni Rustina. Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari dua bagian. FIK UI. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari PUSDIKNAKES.. Apabila hasil penelitian ini diplubikasikan. jenis kelamin. Semua kuesioner yang telah terisi hanya diberi nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas anak anda. Arjawinangun Cirebon. Nama anak anda tidak akan dicatat dimanapun. tanda vital. Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan Magister saya di Universitas Indonesia. Peneliti (Saya) akan memberikan lembar persetujuan ini. Saya dapat dihubungi di nomor telepon 0816646216. Bagian pertama berisi tentang demografi seperti usia.Sc. SKp. PhD. M. dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia.App. Saya akan menjaga kerahasiaan anak anda dan keterlibatan anak anda dalam penelitian ini. dan menjelaskan bahwa keterlibatan anada di dalam penelitian ini atas dasar sukarela. Dan apabila orang tua/wali memutuskan berpartisipasi. 2013 . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon.. Indonesia.Lampiran 1 PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di UGD RSUD.. Saya pengajar di POLTEKKES Tasikmalaya. orang tua/wali bebas untuk mengundurkan diri dari penelitian kapanpun. Pengisian kuesioner data demografi dan penilaian skor nyeri dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti. tidak ada satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. Keputusan diwakilkan kepada orang tua/wali anak untuk ikut ataupun tidak dalam penelitian ini. dan saat penambilan darah pasien didampingi atau tidak. Kota Cirebon Anda sebagai orang tua/wali diminta untuk berpartisiasi dalam penelitian. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Gunung Jati RSUD. Bagian kedua berisi penilaian skor nyeri dengan menggunakan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). pengalaman diambil darah sebelumnya. Sekitar 68 anak akan terlibat dalam penelitian ini dari satu rumah sakit yang berada di Cirebon... Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. yang beralamat di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia kampus Depok. Progam Studi Keperawatan Cirebon. pengalaman nyeri sebeumnya. Penelitian ini melibatkan anak yang berusia 1sampai 6 tahun. dari Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. yang masuk ke ruang unit gawat darurat dan akan dilakukan tindakan invasif pengambilan darah.

tidak menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa anda hadapi sehari-hari. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. Namun. saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. sejauh saya ketahui.. jika diperlukan catatan penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya. anda dapat menghubuni saya di nomer telepon 0816646216. Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peranyang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini. Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan keuntungan langsung pada anda.. anda berhak untuk tidak menjawabnya. manun hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak dengan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat. Apabila setelah terlibat penelitian ini anda masih memiliki petanyaan.. ……………………2012 _________________ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Keterlibatan anda dalam penelitian ini. 2013 .Lampiran 2 yang anda jawab dalam penelitian ini.

2013 . dengan ini saya sebagai Bapak/Ibu/Wali dari anak saya mengijinkan/tidak mengijinkan anak saya berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini. dan kemungkinan efek samping yang terjadi dari penelitian yang dilakukan...…………………2012 Yang Membuat Pernyataan. manfaat. 2. Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat dan sesuai dari peneliti. Cirebon. Telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian “Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon”. Ayu Yuliani Sekriptini. 3.. yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ___________________________________________ Umur : ___________________________________________ Bapak/Ibu/Wali Anak : ___________________________________________ Menyatakan bahwa : 1.Lampiran 3 LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Saya. FIK UI. Memahami prosedur penelitian yang akan dilakukan. Dengan pertimbangan di atas. (___________________) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. tujuan.

Lampiran 4

KUESIONER DATA DEMOGRAFI
Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri
Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada
Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon
Kelompok

:

0

Inisial

: _______________________

No. kuesioner

: _______________________

Hari/tanggal

: _______________________

Jenis Kelamin

: Laki-laki / Perempuan

Tanggal lahir

: _____/_______/______

Umur

: _____________Bulan

1

Tanda-tanda vital : Nadi = _____________x/menit

Petujuk : Berilah tanda cek list (√) sesuai jawaban yang diberikan.
1. Apakah pasien pernah mengalami pengambilan darah sebelumnya ?
Pernah
Tidak Pernah
2. Saat pengambilan darah pasien di damping oleh keluarga ?
Ya
Tidak

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Lampiran 5

INSTRUMEN SKALA NYERI
Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS)
Kelompok

: Treatment

Inisial : ________

Kontrol
No. kuesioner : ___

Item
Tangisan

Perilaku
Tidak menangis
Merintih
Menangis
Menjerit/teriak

Ekspresi
wajah

Biasa
Merengut

1
2

Tersenyum

0

Tidak ada
Anak mengeluh

1
1

Keluhan nyeri
Kedua keluhan

2
2

Ungkapan positif

0

Netral
Gelisah
Tegang
Gemetar

1
2
2
2

Tegak lurus
Menahan
Tidak menyentuh
Berusaha menggapai

2
2
1
2

Menyentuh
Merebut
Direstrain
Netral
Menendang2
Ditarik

2
2
2
1
2
2

Berdiri
Direstrain

2
2

Ekspresi
verbal

Posisi
badan

Sentuhan

Posisi
kaki

Point
1
2
2
3

Hari/tanggal : ___________

Definisi/pengertian/interpretasi
Anak tidak menangis
Anak merintih/menangis lirih
Anak menangis tapi tidak keras
Anak menangis dengan kuat, dapat disertai
keluhan/tidak
Ekpresi wajah netral
Terdapat ekspresi wajah menunjukkan
negatif/tidak nyaman
Terdapat ekspresi wajah menunjukkan positif/
nyaman
Anak tidak berbicara
Anak mengeluh tapi tidak berkaitan dengan
nyeri, contoh “mana ibu saya” atau “saya
haus”
Anak mengeluhkan nyeri
Anak mengeuh nyeri yang lain, contoh “saya
sakit saya ingin melihat ibu saya”
Anak memberikan statment positif atau
membicarakan hal2 lain yang bukan berupa
keluhan
Badan dalam posisi rileks/isitrahat
Posis tubuh bergerakgerak (gelisah)
Badan tertekuk/melingkar atau kaku
Badan tampak tidak nyaman atau
memberontak
Badan dalam posisi tegak
Badan direstrain
Anak tidak menyentuh/memegang luka
Anak memberi reaksi tetapi tidak menyentuh
luka
Anak mencoba memegangi luka
Anak menyentuh area yang nyeri
Tangan anak direstrain
Kaki dalam posisi rileks, atau bergerak Gerak
tapi masih rileks
Gerakan2 yang menunjukkan kegelisahan,
menendang
Berdiri, kaki tertekuk dan tegang
Kaki anak direstrain
JUMLAH SKOR

Sumber : McGrath, P.J., Jhonson, G., Goodman, J.T., et al. CHEOPS: A behavioral scale for rating
postoperative pain in children. In Fields, H.L., et al. (editor) Advances in Pain Research and
Therapy, (vol 9). New York, Reven Press.
Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Skor

Lampiran 6

PROTOKOL PEMBERIAN MADU BAGI PERAWAT
1. Persiapan Alat
a. Sendok makan
b. Spuit 5 ml
c. Cairan madu
d. Alas perlak atau handuk pengalas
e. Kertas tissue
f. Air minum (jika tersedia)
2. Prosedur Pelaksanaan
a. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan pada tempat yang telah ditentukan.
b. Lakukan mengukuran tanda vital pada anak.
c. Jelaskan pada anak, orang tua/wali akan di beri madu sebelum
pengambilan darah.
d. Letakkan alas di dada atau dipangkuan anak.
e. Berikan madu per-oral pada anak dengan menggunakan sendok atau spuit
(usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml)
f. Anjurkan anak untuk menghabiskan madu yang diberikan.
g. Beri minum jika anak menginginkan.
h. Lap bersih mulut anak
i. Rapikan peralatan
j. Dokumentasikan tindakan (waktu pelaksanaan, paraf perawat, respon
pasien).

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

FIK UI.. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 3 4 .Lampiran 7 JADUAL PELAKSANAAN PENELITIAN No Kegiatan 1 Penyusunan proposal Ujian proposal Pengumpulan data Analisis dan penafsiran data Ujian hasil penelitian Penulisan dan draf publikasi Siding tesis Penulisan tesis Perbaikan tesis Jilid hard cover Pengumpulan tesis 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 September 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4 Bulan November Minggu 1 2 3 4 Desember 1 2 3 Januari 4 1 2 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..

Perumahan Kedung Jaya Indah Blok C No. 6 Kabupaten Cirebon Institusi : Poltekkes Tasikmalaya. FIK UI.. Program Studi Keperawatan Cirebon Alamat Instansi : Jalan Pemuda no 32 Kota Cirebon 1. Ayu Yuliani Sekriptini.. Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Pendidikan SD Negri Banjar I Kota Banjar SMP Negri I Kota Banjar SMA PGRI Kota Banjar Akademi Keperawatan Depkes Bandung S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jurusan Keperawatan Tahun Lulus 1983 1986 1989 1992 Keperawatan 2003 Jabatan Perawat Pelaksana Tahun 1992-1998 Guru Dosen 1998-2001 2001-Sekarang 2.Lampiran 8 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Ayu Yuliani Sekriptini Tempat Tanggal Lahir : Ciamis. 25 Juli 1971 Agama : Islam Almat Rumah : Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Riwayat Pekerjaan No Tempat Kerja 1 Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2 SPK Depkes Cirebon 3 Politehnik Kesehatan Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 ..

Ayu Yuliani Sekriptini.Pengaruh pemberian. FIK UI. 2013 ....

Ayu Yuliani Sekriptini..Pengaruh pemberian.. FIK UI. 2013 ..

Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI.. 2013 ...Pengaruh pemberian.

. FIK UI..Pengaruh pemberian. 2013 .. Ayu Yuliani Sekriptini.

. 2013 .. Ayu Yuliani Sekriptini.. FIK UI.Pengaruh pemberian.

. Ayu Yuliani Sekriptini.. FIK UI.. 2013 .Pengaruh pemberian.

2013 ..Pengaruh pemberian.. Ayu Yuliani Sekriptini.. FIK UI.

yang beralamat di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia kampus Depok. Peneliti (Saya) akan memberikan lembar persetujuan ini. 16424. Apabila hasil penelitian ini diplubikasikan. Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.Sc.. Pembimbing saya adalah Yeni Rustina. jenis kelamin. tanda vital. M. Progam Studi Keperawatan Cirebon.. orang tua/wali bebas untuk mengundurkan diri dari penelitian kapanpun. pengalaman nyeri sebeumnya. Saya pengajar di POLTEKKES Tasikmalaya. Indonesia. Arjawinangun Cirebon.App. PhD. Bagian kedua berisi penilaian skor nyeri dengan menggunakan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). tidak ada satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Gunung Jati RSUD.Lampiran 1 PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di UGD RSUD. dan menjelaskan bahwa keterlibatan anada di dalam penelitian ini atas dasar sukarela. Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan Magister saya di Universitas Indonesia. Bagian pertama berisi tentang demografi seperti usia. Dan apabila orang tua/wali memutuskan berpartisipasi. dan saat penambilan darah pasien didampingi atau tidak. Saya akan menjaga kerahasiaan anak anda dan keterlibatan anak anda dalam penelitian ini. Nama anak anda tidak akan dicatat dimanapun. yang masuk ke ruang unit gawat darurat dan akan dilakukan tindakan invasif pengambilan darah.. Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari dua bagian. pengalaman diambil darah sebelumnya. Nama saya/peneliti adalah Ayu Yuliani Sekriptini. Saya dapat dihubungi di nomor telepon 0816646216. Sekitar 68 anak akan terlibat dalam penelitian ini dari satu rumah sakit yang berada di Cirebon. Semua kuesioner yang telah terisi hanya diberi nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas anak anda. dari Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. SKp. FIK UI. Kota Cirebon Anda sebagai orang tua/wali diminta untuk berpartisiasi dalam penelitian. 2013 . Penelitian ini mendapat dukungan dana dari PUSDIKNAKES. Pengisian kuesioner data demografi dan penilaian skor nyeri dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti. Keputusan diwakilkan kepada orang tua/wali anak untuk ikut ataupun tidak dalam penelitian ini.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. Penelitian ini melibatkan anak yang berusia 1sampai 6 tahun. Ayu Yuliani Sekriptini..

saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Keterlibatan anda dalam penelitian ini. sejauh saya ketahui. Namun. Ayu Yuliani Sekriptini.Lampiran 2 yang anda jawab dalam penelitian ini. ……………………2012 _________________ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. anda berhak untuk tidak menjawabnya. Apabila setelah terlibat penelitian ini anda masih memiliki petanyaan.. Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peranyang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini. jika diperlukan catatan penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya. Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan keuntungan langsung pada anda.. tidak menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa anda hadapi sehari-hari. FIK UI. manun hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak dengan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat. anda dapat menghubuni saya di nomer telepon 0816646216. 2013 ..

Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian “Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon”.. (___________________) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Memahami prosedur penelitian yang akan dilakukan..Lampiran 3 LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Saya. 2013 . 2. 3..…………………2012 Yang Membuat Pernyataan. manfaat. yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ___________________________________________ Umur : ___________________________________________ Bapak/Ibu/Wali Anak : ___________________________________________ Menyatakan bahwa : 1. dengan ini saya sebagai Bapak/Ibu/Wali dari anak saya mengijinkan/tidak mengijinkan anak saya berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini. Cirebon. Ayu Yuliani Sekriptini. tujuan. Dengan pertimbangan di atas. Telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat dan sesuai dari peneliti. FIK UI. dan kemungkinan efek samping yang terjadi dari penelitian yang dilakukan.

2013 .. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. 1. Apakah pasien pernah mengalami pengambilan darah sebelumnya ? Pernah Tidak Pernah 2. Saat pengambilan darah pasien di damping oleh keluarga ? Ya Tidak Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. kuesioner : _______________________ Hari/tanggal : _______________________ Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan Tanggal lahir : _____/_______/______ Umur : _____________Bulan 1 Tanda-tanda vital : Nadi = _____________x/menit Petujuk : Berilah tanda cek list (√) sesuai jawaban yang diberikan.Lampiran 4 KUESIONER DATA DEMOGRAFI Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon Kelompok : 0 Inisial : _______________________ No...

Jhonson. P. H. dapat disertai keluhan/tidak Ekpresi wajah netral Terdapat ekspresi wajah menunjukkan negatif/tidak nyaman Terdapat ekspresi wajah menunjukkan positif/ nyaman Anak tidak berbicara Anak mengeluh tapi tidak berkaitan dengan nyeri. CHEOPS: A behavioral scale for rating postoperative pain in children.J. J. contoh “mana ibu saya” atau “saya haus” Anak mengeluhkan nyeri Anak mengeuh nyeri yang lain... FIK UI.. Reven Press. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. contoh “saya sakit saya ingin melihat ibu saya” Anak memberikan statment positif atau membicarakan hal2 lain yang bukan berupa keluhan Badan dalam posisi rileks/isitrahat Posis tubuh bergerakgerak (gelisah) Badan tertekuk/melingkar atau kaku Badan tampak tidak nyaman atau memberontak Badan dalam posisi tegak Badan direstrain Anak tidak menyentuh/memegang luka Anak memberi reaksi tetapi tidak menyentuh luka Anak mencoba memegangi luka Anak menyentuh area yang nyeri Tangan anak direstrain Kaki dalam posisi rileks. et al. In Fields. G. New York. atau bergerak Gerak tapi masih rileks Gerakan2 yang menunjukkan kegelisahan. kaki tertekuk dan tegang Kaki anak direstrain JUMLAH SKOR Sumber : McGrath.L. Goodman. (vol 9). (editor) Advances in Pain Research and Therapy. Ayu Yuliani Sekriptini..T.. menendang Berdiri. et al. 2013 Skor .Lampiran 5 INSTRUMEN SKALA NYERI Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Kelompok : Treatment Inisial : ________ Kontrol No.. kuesioner : ___ Item Tangisan Perilaku Tidak menangis Merintih Menangis Menjerit/teriak Ekspresi wajah Biasa Merengut 1 2 Tersenyum 0 Tidak ada Anak mengeluh 1 1 Keluhan nyeri Kedua keluhan 2 2 Ungkapan positif 0 Netral Gelisah Tegang Gemetar 1 2 2 2 Tegak lurus Menahan Tidak menyentuh Berusaha menggapai 2 2 1 2 Menyentuh Merebut Direstrain Netral Menendang2 Ditarik 2 2 2 1 2 2 Berdiri Direstrain 2 2 Ekspresi verbal Posisi badan Sentuhan Posisi kaki Point 1 2 2 3 Hari/tanggal : ___________ Definisi/pengertian/interpretasi Anak tidak menangis Anak merintih/menangis lirih Anak menangis tapi tidak keras Anak menangis dengan kuat.

. Beri minum jika anak menginginkan. Lap bersih mulut anak i. Berikan madu per-oral pada anak dengan menggunakan sendok atau spuit (usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml) f. Spuit 5 ml c. e. Sendok makan b. Kertas tissue f. b. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan pada tempat yang telah ditentukan. paraf perawat. h.. Persiapan Alat a.. orang tua/wali akan di beri madu sebelum pengambilan darah. Ayu Yuliani Sekriptini. respon pasien). Alas perlak atau handuk pengalas e. Anjurkan anak untuk menghabiskan madu yang diberikan. Prosedur Pelaksanaan a. Lakukan mengukuran tanda vital pada anak. Jelaskan pada anak. d. Air minum (jika tersedia) 2. FIK UI. 2013 . Letakkan alas di dada atau dipangkuan anak. Dokumentasikan tindakan (waktu pelaksanaan. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Rapikan peralatan j. c. Cairan madu d. g.Lampiran 6 PROTOKOL PEMBERIAN MADU BAGI PERAWAT 1.

. 2013 3 4 .. Ayu Yuliani Sekriptini.. FIK UI.Lampiran 7 JADUAL PELAKSANAAN PENELITIAN No Kegiatan 1 Penyusunan proposal Ujian proposal Pengumpulan data Analisis dan penafsiran data Ujian hasil penelitian Penulisan dan draf publikasi Siding tesis Penulisan tesis Perbaikan tesis Jilid hard cover Pengumpulan tesis 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 September 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4 Bulan November Minggu 1 2 3 4 Desember 1 2 3 Januari 4 1 2 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

. 25 Juli 1971 Agama : Islam Almat Rumah : Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Pendidikan SD Negri Banjar I Kota Banjar SMP Negri I Kota Banjar SMA PGRI Kota Banjar Akademi Keperawatan Depkes Bandung S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jurusan Keperawatan Tahun Lulus 1983 1986 1989 1992 Keperawatan 2003 Jabatan Perawat Pelaksana Tahun 1992-1998 Guru Dosen 1998-2001 2001-Sekarang 2. FIK UI. 6 Kabupaten Cirebon Institusi : Poltekkes Tasikmalaya. Program Studi Keperawatan Cirebon Alamat Instansi : Jalan Pemuda no 32 Kota Cirebon 1.. Ayu Yuliani Sekriptini. Riwayat Pekerjaan No Tempat Kerja 1 Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2 SPK Depkes Cirebon 3 Politehnik Kesehatan Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Perumahan Kedung Jaya Indah Blok C No.Lampiran 8 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Ayu Yuliani Sekriptini Tempat Tanggal Lahir : Ciamis. 2013 .