Está en la página 1de 141

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN MADU TERHADAP PENURUNAN
SKOR NYERI AKIBAT TINDAKAN INVASIF PENGAMBILAN
DARAH INTRA VENA PADA ANAK DI RUANG UGD
RSUD KOTA CIREBON

TESIS

AYU YULIANI SEKRIPTINI
1006833571

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
DEPOK, JANUARI 2013

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN MADU TERHADAP PENURUNAN
SKOR NYERI AKIBAT TINDAKAN INVASIF PENGAMBILAN
DARAH INTRA VENA PADA ANAK DI RUANG UGD
RSUD KOTA CIREBON

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Ilmu Keperawatan

AYU YULIANI SEKRIPTINI
1006833571

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
PEMINATAN KEPERAWATAN ANAK
DEPOK, JANUARI 2013
ii

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

M.) Pembimbing : Nur Agustini. Ayu Yuliani Sekriptini.App. SKp.Sc.... Universitas Indonesia. S... PhD (……………………….. (……………………….Kep.Kp. M.Sp.MN. 2013 .An. Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan.) Penguji : Dessie Wanda.) Ditetapkan di : Depok Tanggal : Januari 2013 iv Pengaruh pemberian..) Penguji : Elfi Syahreni.Kp. M.Si (……………………….HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh : Nama : Ayu Yuliani Sekriptini NPM : 1006833571 Program Studi : Magister Keperawatan Judul Tesis : Pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon... Fakultas Ilmu Keperawatan. S. DEWAN PENGUJI Pembimbing : Yeni Rustina. (………………………. FIK UI..

Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 . FIK UI..Pengaruh pemberian..

Kp. menyediakan waktu. selaku penguji III. selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Nur Agustini.. 2013 . 9..A. Dessie Wanda. tenaga. FIK UI. pikiran dan motivasi serta dukungan yang sangat besar untuk saya dalam penyusunan tesis ini. S. Seluruh Staf pengajar Program Studi Magister Ilmu Keperawatan terutama kekhususan Keperawatan Anak dan seluruh staf akademik yang telah membantu peneliti.. 3. MN.Sc. Saya menyadari bahwa. M.. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Keperawatan Peminatan Keperawatan Anak pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.. saya dapat menyelesaikan proposal tesis ini.. 7. M.Kp. karena atas berkat dan rahmat-Nya. selaku dosen pembimbing I yang telah dengan penuh kesabaran. sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini. selaku Ketua Program Studi Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. arahan dan perhatian yang besar dalam penyusunan tesis ini. selaku penguji IV. M.. vi Pengaruh pemberian. Rekan-rekan perawat di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama proses pengambilan data untuk menyelesaikan tesis ini. tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. S.D. 8.Kp.. 2. Dewi Irawaty. Ners. dan pikiran untuk penyusunan tesis ini. S.Kp.. selaku dosen pembimbing II yang telah menyediakan waktu. Astuti Yuni Nursasi.. M. S. M.App.. Yeni Rustina.. tenaga.Si. 4. PhD.KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. yang dengan sabar dan tulus memberikan bimbingan.. saya mengucapkan terima kasih kepada : 1.Sp.N. 5.. Elfi Syahreni. yang telah memberikan saran guna perbaikan tesis ini.. dari masa perkuliahan sampai penyusunan tesis ini. Pihak RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleh data dan memberikan ijin untuk tempat penelitian.An. 6. Ph.Kep. Oleh karena itu. Ayu Yuliani Sekriptini..

Eni Nuraeni Yunus. 11.. Fadhli Dzil Ikram.. Ayu Yuliani Sekriptini. Ghaida Shafa Nabilah. dan keluarga saya yang telah memberikan bantuan dan dukungan do’a bagi peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. FIK UI. Januari 2013 Penulis vii Pengaruh pemberian.10. Yuliatin dan teman-teman di Keilmuan Keperawatan Anak. Shinta Maharani. 2013 . khususnya keperawatan anak di Indonesia.. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda untuk semua kebaikan yang telah diberikan. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi kemajuan keperawaan. Suyami. Depok. yang telah memberikan perhatian dan dukungan yang sangat besar selama penyusunan tesis ini.

usia responden 1-6 tahun. Kata kunci: madu. Sampel diambil dengan consecutive sampling. pengambilan darah intra vena. Peneliti menyimpulkan pemberian madu peroral dapat menurunkan skor nyeri pada anak saat pengambilan darah intravena. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh madu terhadap skor nyeri anak saat pengambilan darah. Desain penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rata-rata skor nyeri anak pada kelompok madu dan kelompok plasebo (p=0. 2013 . viii Pengaruh pemberian... terdiri dari kelompok intervensi yang mendapatkan madu peroral (34 responden) dan kelompok kontrol mendapatkan plasebo (34 responden). Ayu Yuliani Sekriptini.ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Ayu Yuliani Sekriptini : Magister Ilmu Keperawatan : Pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon Pengambilan darah intravena dapat menimbulkan nyeri dan traumatik pada anak. FIK UI. Skor nyeri dievaluasi dengan Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). skor nyeri..001).

001). Samples were taken by consecutive sampling which consists of the intervened group who obtained honey per oral (34 respondents). The result of analysis shows there is a significant difference on the average score of pains between the intervened and controlled group (p=0.This research has the aims to identify The influence of giving honey on the score decreasing of pain. The researcher concluded that the giving of honey per oral can decrease the score of pains on child when the intravena blood taken. Ayu Yuliani Sekriptini.The score of pains are evaluated with Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). 2013 . the intravena blood taken. The design of this research is quasi experiment.ABSTRACT Name : Ayu Yuliani Sekriptini Study Programme : University of Indonesia Magister Program in Nursing Science Specialisation Pediatric Nursing Title : The influence of giving honey on the score decreasing of pain as the result of intravena blood taking action on child at the emergency department of RSUD Cirebon City The intravena blood taken can cause pains and be traumatic for child.. Key words: honey.. FIK UI. the score of pains ix Pengaruh pemberian. and controlled group obtained plasebo (34 respondents) respondents aged 1-6 years..

Kelompok Anak Berdasarkan Fase Perkembangan …………….1. ABSTRACT ………………………………………………………………… DAFTAR ISI ………………………………………………………………. Kolcaba …………………..3.2. DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… Hal 1. Pengertian Anak ………………………………………………… 45 2.1..46 2. Kolcaba ………………… 40 2. Manfaat Penelitian …………………………………………………….5. Komposisi Kimia dan Biologi Madu ……………………………. Atraumatic Care ……………………………………………………….5.1.. 35 2.. Penilaian Nyeri …………………………………………………...1... 10 2. Konsep Anak …………………………………………………………… 45 2.5.4.1. 38 2. Jenis-jenis Madu ………………………………………………. 10 2.2.. 47 2. Penatalaksanaan Nyeri pada Anak ……………………………… 20 2..1. Teori Keperawatan “Comfort” Katherine C..2.2.2. LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………… KATA PENGANTAR ……………………………………………………… ABSTRAK ………………………………………………………………….. Pengendalian Nyeri di Unit Gawat Darurat …………………….. DAFTAR SKEMA …………………………………………………………. PENDAHULUAN ………………………………………………………. Pengertian Madu ………………………………………………… 35 2. 39 2.3.4. Latar Belakang ………………………………………………………… 1.2..2. 43 2.8..4. Penggunaan Madu Dalam Penanganan Nyeri Pada Anak ………………35 2. TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………….2.1. 26 2. Aplikasi Comfort Theory pada Keperawatan Anak ……………. 40 2.4. Klasifikasi Nyeri ………………………………………………..6.7..1..1. Efek Terapeutik Madu ………………………………………….3. 10 2. Perumusan Masalah …………………………………………………… 1... Tujuan Penelitian ……………………………………………………… 1.3. 13 2..1.1..1. Efek yang ditimbulkan oleh Nyeri ……………………………… 19 2. Pengaruh Madu Terhadap Penurunan Respon Nyeri …………………. DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………….. DAFTAR TABEL …………………………………………………………..6.4. Nyeri Pada Anak ………………………………………………………. Ayu Yuliani Sekriptini. Fisiologi Nyeri …………………………………………………. 1..2. Pengertian Nyeri ……………………………………………….5. Prinsip Atraumatic Care ………………………………………… 49 x Pengaruh pemberian.. Faktor-faktor yang mempengaruhi Nyeri ………………………... Konsep Teori “Comfort” Katherine C.. iii iv vi viii ix x xiii xiv xv xvi 1 1 7 8 8 2.6.. 47 2.5. 37 2..2. Pengertian Atraumatic Care …………………………………….1.6.1. 25 2.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ………………………….4.2. 11 2.. 16 2... FIK UI. 2013 .

1.9.3.7. Pengolahan Data ……………………………………………………….2. Kerangka Teori …………………………………………………………. Uji Kesetaraan (Homogenity)………………………………………….3.3. 51 3. 85 6. Etika Penelitian ………………………………………………………… 60 4.1..2. Prosedur Pengumpul Data ……………………………………………… 64 4.2.1. 88 xi Pengaruh pemberian.. Interpretasi dan Diskusi hasil…………………………………………… 78 6. 71 5.. Definisi Oprasional …………………………………………………….2. 53 4. 73 5.2.4. Ayu Yuliani Sekriptini. 87 6.1.1.2. Variabel bebas (independent) …………………………………… 51 3. Besar Sampel …………………………………………………….1.50 3..2... Karaktristik Responen ……………………………………………78 6.. Hipotesis Mayor ………………………………………………… 53 3. HASIL PENELITIAN ……………………………………………………... 74 5.1.1. HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL ………………………………………………51 3. 53 3. Hipotesis Minor …………………………………………………. Skor Nyeri Kelompok Madu dan Kelompok Plasebo ………….1.3.1. 61 4. 53 3.. 56 4.3. 69 5. Hipotesis ……………………………………………………………….2. Populasi ………………………………………………………….2.7. Analisis Univariat ……………………………………………………… 71 5. FIK UI.3.. Analisis Bivariat ……………………………………………………….3. Kerangka Konsep Penelitian …………………………………………… 51 3. 2013 .2.. Desain Penelitian ……………………………………………………….1. Intervensi yang Dilakukan ………………………………………………64 4. 70 5.2.10.2.. 60 4.2.1.1.1. 68 4. Perbedaan Rata-rata Skor Nyeri antara Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Berdasarkan Karakteristik Anak…………….. KERANGKA KONSEP.8. Tempat Penelitian ……………………………………………………… 59 4. Sampel dan Besar Sampel …………………………………… 56 4.1.5.6. Sampel ……………………………………………………………57 4. Perbedaan Rata-rata Skor Nyeri pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ……………………………………………… 74 5. Alat Pengumpula Data ………………………………………………….1. Prosedur Analisis Data …………………………………………………..3..2. Karakteristik Responden ………………………………………. Variabel perancu (confounding) ………………………………… 52 3. Implikasi Hasil Penelitian …………………………………………….2. PEMBAHASAN…………………………………………………………… 78 6. Waktu Penelitian ………………………………………………………. 56 4. Validitas dan Reliabilitas Instrumen …………………………………… 62 4. Rata-rata skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo ………………………………………………………….11. Variabel terikat (dependent) ……………………………………. Keterbatasan Penelitian ………………………………………………. 58 4. METODE PENELITIAN ………………………………………………… 56 4.1. 75 6. 73 5. Populasi.2.

. 92 LAMPIRAN xii Pengaruh pemberian.. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini..2.1. FIK UI.. KESIMPULAN DAN SARAN 7. 90 7.7. Simpulan ………………………………………………………………. Saran …………………………………………………………………… 90 DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………….

. Definisi Operasional ……………………………………………. Cry..5. pengalaman sebelumnya dan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…….6 Tabel 5.3...1. Tabel 2. FIK UI.... Tabel 5. Legs.7 Tabel 5.. Tabel 5.1 Tabel 4.8 Penilaian Klinis Nyeri ………………………………………... Tabel 5. Ayu Yuliani Sekriptini. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan usia anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon………………………………………………………….. Distribusi responden berdasarkan usia..3.Activity. Tabel 3.2..DAFTAR TABEL Tabel 2.. dan pengalaman pengambilan darah di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…… Distribusi skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………....2.1. Tabel 5. Faces. Tabel 5. 2013 Hal 27 31 32 36 52 67 68 69 70 71 72 76 76 77 .4.. Tabel 2.. kehadiran keluarga. xiii Pengaruh pemberian.4. Tabel 2.2. Uji Statistik ………………………………………………………. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Kandungan Gizi Madu Perhutani ……………………………..…. Tabel 5.... Uji homogenitas data responden berdasarkan jenis kelamin.. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………… Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………………………. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…………………………………………………………. jenis kelamin. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri pada anak kelompok intervensi dan kelompok kontrol di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon ……………………. dan Consolability ……………….usia.

FIK UI.DAFTAR GAMBAR Gambar 2.……………………………………… Gambar 2.. Gambar 2.5.1.. Wong Baker Faces Pain Rating Scale…………..2.... Perjalanan Nyeri………….. xiv Pengaruh pemberian....….. Gambar 2...………………………. Gambar 2..…………………………………. Verbal Rating Scale…….....4.……………………………..3. Numerical Rating Scale……….……. Visual Analogue Scale…. 2013 Hal 13 31 31 31 32 . Ayu Yuliani Sekriptini.……...…….

2013 Hal 43 45 49 51 .………………………… xv Pengaruh pemberian. FIK UI.………………………….1.. Skema 3. Skema 2. Ayu Yuliani Sekriptini.3. Aplikasi Comfort Theory dalam Keperawatan Anak ………… Aplikasi Comfort Theory dalam Tindakan Pemberian Madu … Kerangka Teori ……………………. Kerangaka Konsep Penelitian ………. Skema 2.2..1.DAFTAR SKEMA Skema 2...

.. Lampiran 2. Lampiran 7. Lampiran 5. Penjelasan tentang Penelitian Lembar Persetujuan Bersedia Menjadi Responden Penelitian Kuesioner Data Demografi Instrumen Skala Nyeri CHEOPS Protokol Pemberian Madu Bagi Perawat Jadual Pelaksanaan Penelitian Daftar Riwayat Hidup xvi Pengaruh pemberian. Lampiran 4. 2013 . Lampiran 6.. Ayu Yuliani Sekriptini.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. FIK UI. Lampiran 3.

Keadaan anak yang tiba-tiba sakit atau terjadinya cedera mengharuskan anak masuk ke ruang gawat darurat. cerdas ceria. Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya keadaan sakit dan hospitalisasi. tumbuh dan berkembang. Proses gawat darurat dipengaruhi oleh beberapa 1 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. berakhlak mulia dan terlindungi dari diskriminasi. salah satunya hak anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.. Salah satu program pemerintah terkait optimalisasi tumbuh kembang anak yaitu Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 (PNBAI). Tujuan Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 (PNBAI) adalah terwujudnya anak Indonesia yang sehat. mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah.1. Salah satu tugas perawat gawat darurat adalah melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada pasien dan menetapkan area yang tepat untuk pengobatan selanjutnya. Ayu Yuliani Sekriptini. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 132 ayat 1 menyebutkan anak yang dilahirkan wajib dibesarkan dan diasuh secara bertanggung jawab sehingga memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal. termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia.BAB 1 PENDAHULUAN 1.. FIK UI. 23 tahun 2002 menyebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya. eksploitasi dan kekerasan serta dapat mengalami peningkatan kesejahteraan. Hal tersebut didukung oleh Undang-undang No. 2005). 2013 .. Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat. Latar Belakang Undang-undang perlindungan anak No. dimana unit gawat darurat merupakan suatu bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan kepada anak yang diperkirakan mengalami keadaan yang mengancam jiwa dan terjadi secara mendadak dalam suatu lingkungan yang tidak dapat dikendalikan (Zempsky & Schecter.

salah satunya adalah tindakan pengambilan darah vena (Meliala. et al. Beberapa studi nyeri pada anak. Oleh karena itu diperlukan adanya tindakan secara cepat dan tepat untuk mencegah adanya kecacatan ataupun ancaman jiwa pasien di instalasi gawat darurat.. Tindakan invasif pengambilan darah merupakan tugas dari petugas laboratorium akan tetapi dalam kenyataanya di unit gawat darurat pengambilan darah dilakukan oleh perawat. dan sumber daya yang ada. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Eichenfield. Ayu Yuliani Sekriptini.. didapatkan bahwa nyeri yang dikeluhkan oleh anak selalu diabaikan sehingga penanganan yang diberikan tidak adekuat (Zeltzer & Brown 2007. Hal ini dikarenakan banyaknya pasien di unit gawat darurat yang datang secara mendadak dan keterbatasan petugas. Pengalaman nyeri selalu tidak menyenangkan. 2008). Bernstein & Schechter. 2002. informasi yang terbatas. 2001. (2004) menyebutkan pengendalian nyeri dan kecemasan untuk anak yang memasuki unit gawat darurat merupakan hal yang penting dan harus diperhatikan karena dapat menyebabkan trauma pada anak. FIK UI. 2008). dan dapat terjadi pada anak dengan keadaan sakit akut maupun yang sedang menjalani prosedur. Tindakan pengambilan darah vena merupakan prosedur yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan serta rasa tidak nyaman bagi anak akibat nyeri yang dirasakan saat prosedur tersebut dilaksanakan (Zeltzer & Brown 2007). kondisi pasien yang memerlukan bantuan segera. Weisan. kebutuhan pelayanan definitif di unit lain. peran tim medis. 2013 . Tindakan invasif yang didapat anak selama di unit gawat darurat dapat menimbulkan trauma berkepanjangan. Penelitian Zempsky dan Cravero. Salah satu tindakan yang cepat dan tepat yang harus segera dilakukan di unit gawat darurat untuk menentukan diagnosis suatu penyakit atau tindakan yang lainnya adalah tindakan invasif pengambilan darah..2 faktor diantaranya waktu yang terbatas. Bernstein & Schechter. Weisman.

sehingga dapat mengurangi dampak yang merugikan baik bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarganya (Kleiber. dan sekolah berfungsi dan kesejahteraan. Berbagai komplikasi ini dapat menurunkan kualias hidup. menjelaskan bahwa anak yang masuk rumah sakit akan muncul perasaan ketakutan karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya. et al. dan sering harus berhubungan dan bergaul dengan anakanak yang sakit serta pengalaman mengikuti terapi yang menyakitkan. Hasil penelitian Petersen. perasaan kehilangan sesuatu yang biasanya dialaminya. Ayu Yuliani Sekriptini. 2002. Anak yang mengalami kondisi sakit akan muncul tantangan-tantangan yang harus dihadapinya seperti mengatasi suatu perpisahan.3 Tindakan yang menyakitkan merupakan stresor bagi anak pada semua tingkat usia. Anak dengan kondisi nyeri menunjukkan berbagai komplikasi seperti timbulnya kecemasan. Hagglof dan Bergstrom (2009).. Hasil penelitian Won. (2006) dan Cohen. FIK UI. et al. Aspek penilaian Health-Related Quality Of Life (HRQOL) meliputi penilaian fisik. nyeri pada anak dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup. 2005). dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan. penyesuaian dengan banyak orang yang mengurusinya. gangguan prilaku. (2007). penyesuaian dengan lingkungan yang asing baginya. Oleh karena itu penatalaksanaannya seharusnya dilakukan dengan optimal dan rasional. dan tidak nyaman. Metode penurunan nyeri merupakan salah satu prinsip dasar keperawatan anak yaitu prinsip atraumatic care atau pencegahan terhadap trauma. emosional. 2013 . Zempsky & Schecter. Perawat bertanggung jawab secara komperhensif dalam memberikan asuhan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. sosial. rasa tidak aman.. keputusasaan.. dimana hasil penelitian menunjukkan dua pertiga dari sampel yang dilaporkan pada anak yang mengalami nyeri berulang mengalami penurunan kulias hidup empat kali di bandingkan pada anak dengan tanpa nyeri. psikososial dan fisiologi jangka panjang. Salah satu mekanisme mengurangi dampak perawatan adalah manajemen nyeri.

Pemeriksaan dan pengobatan nyeri pada anak adalah komponen penting dalam praktek pelayanan kesehatan anak sehari-hari (Zempsky & Schecter. efektif dan tepat waktu (American Academy Of Pediatrics. 2002). disamping akan memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada orang tua atau pendamping anak yang dilayani (American Academy Of Pediatrics American Pain Society. Sejumlah tehnik farmakologis dan non farmakologis dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri pada anak. menurunkan kecemasan dan meningkatkan kefektifan analgesik atau mengurangi dosis yang diperlukan (Czarnecki. 2002. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. et al. guided imagery dan stimulasi kutan dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. 2011). Ayu Yuliani Sekriptini. American Pain Society. 2003).. kognitif. yaitu suatu gabungan farmakologis.. relaksasi. disamping bertujuan untuk mengurangi kecemasan pada anak dan orang tua. Seorang perawat bertanggung jawab sedapat mungkin untuk menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri pada anak yang dilayaninya. FIK UI. krim anastesi.. Penatalaksanaan nyeri yang adekuat. psikologis dan pengobatan non farmakologis yang bertujuan untuk memberikan intervensi dengan penuh kasih sayang. Czarnecki. et al. distraksi. seperti misalnya pemberian terapi analgesik. Morton 2008. Prinsip atraumatic care adalah perawatan yang tidak menimbulkan adanya trauma pada anak dan keluarga (Wong & Hockenberry. Intervensi keperawatan untuk mencegah terjadinya trauma karena nyeri pada anak dapat dilakukan berupa intervensi farmakologi ataupun intervensi nonfarmakologi.4 keperawatan anak untuk mesejahterakan anak. 2013 . 2011). juga akan meningkatkan keeratan dan kerjasama antara pasien dengan perawat saat memberikan intervensi sehingga dapat mengurangi beban perawat dalam memberikan pelayanan. membuat nyeri dapat lebih ditoleransi. 2003). Intervensi untuk mengurangi nyeri dapat dilakukan secara multidimensional melalui pendekatan pengobatan interdisipliner.

(2005) melakukan penelitian meta-analisis tentang pemberian sukrosa saru lahir.. dan krim anastesi topikal. (2011) menyebutkan pemberian rasa manis (sukrosa. Ayu Yuliani Sekriptini. et al. (2011) menjelaskan tentang pemberian oral sukrosa 20 % dapat menurunkan respon nyeri pada bayi cukup bulan saat dilakukan pengambilan contoh darah vena. berupa pemberian anastesi umum. 2013 . fruktosa... FIK UI. 2000). Steven et al. anastesi local infiltrasi. 2011). Pendekatan secara nonfarmakologi yang sering dilakukan berupa pendekatan psikologis dengan cara memberikan penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan..... dan sakarin memberikan efek yang serupa (Bauer et al. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan larutan sukrosa sebagai analgesik pada bayi baru lahir saat menjalani prosedur invasif minor dapat menurunkan respon nyeri. glukosa. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penelitian lain yang serupa dilakukan oleh Devaera (2006) berupa pemberian oral larutan glukosa 30 % dapat menurunkan respon nyeri pada bayi baru lahir saat dilakukan prosedur pengambilan darah tumit. (2002) dan Crutis et al. Penelitian meta-analis yang dilakukan oleh Harrison. Pendekatan secara psikologis dapat dilakukan pada usia anak tertentu saja dan membutuhkan waktu khusus pendekatan kepada anak (Sikorova & Hrazdilova. dan permen karet manis) dapat mengurangi rasa nyeri pada anak usia satu sampai enamanbelas tahun. 2005). aspartan. anastesi regional. Pendekatan dengan menggunakan intervensi nonfarmakologi untuk mengurangi respon nyeri lainnya dilakukan oleh beberapa peneliti dan telah membuktikan bahwa intervensi nonfarmakologi dapat mengurangi nyeri karena tindakan invasif.5 Pendekatan intervensi untuk mengurangi nyeri akut biasanya lebih banyak dilakukan dengan pendekatan farmakologi. Penelitian lain menunjukkan bahwa larutan manis lain seperti glukosa. Penelitian yang dilakukan oleh Gradin et al. Pendekatan farmakologi pada anak tidak seluruhnya dapat dilaksanakan karena kekhawatiran akan adanya efek samping yang ditimbulkan dari pemberian obat-obatan tersebut (American Academy Of Pediatrics.

Departement of Biological Sciences. madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen penyebab penyakit. Selain berfungsi sebagai antibiotik madu memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka. Hasil penelitian Geonarwo et al. glukosa (35%).6 Fenomena pemberian intervensi non farmakologi di beberapa rumah sakit sudah sebagian dilakukan berupa distraksi. Asam amino berfungsi sebagian metabolisme protein tubuh. sukrosa (1.9%).. investase. 2002).. yang dihasilkan oleh lebah dari saripati beragam tanaman. FIK UI. relaksasi. (2011) menyebutkan kandungan flavonoid yang terdapat dalam madu dapat menghambat nyeri yaitu dengan mekanisme kerja menghambat Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.5%).. Kandungan asam amino pada madu cukup beragam. dan madu telah mendapatkan tempat yang istimewa dalam sejarah pengobatan tradisional serta mudah diperoleh. katalase. Pemberian rasa manis untuk mengurangi rasa manis seperti pemberian sukrosa sudah pernah dilaksanakan di ruang bedah anak dan ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) di Rumah Sakit Umum Pendidikan Negri Dr. baik asam amino esensial maupun non-esensial. Madu banyak diteliti oleh beberapa ahli. Ayu Yuliani Sekriptini. Kadar protein dalam madu relatif kecil. serta mengandung flavonoid yaitu pinocrembin (Purabaya. Larutan manis yang banyak mengandung sukrosa dan glukosa terdapat dalam madu. beberapa penelitian memberikan informasi tentang manfaat madu untuk tubuh.6%. Kandungan gizi utama madu adalah aneka senyawa karbohidrat seperti gula fruktosa (41. dan guided imagery. sekitar 2. lipase) yang memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh. dan dekstrin (1. Madu merupakan larutan yang memiliki rasa manis. peroksidase. 2013 .0%).. di Hamilton. Cipto Mangunkusumo dengan memberikan sukrosa 30% 2 ml pada anak dan bayi sebelum tindakan invasif. Madu juga mengandung berbagai macam enzim (amylase. University of Waikoto. Selandia Baru membuktikan. Karbohidrat madu ikut menambah pasokan sebagian energi yang diperlukan tubuh. diastase.

Ayu Yuliani Sekriptini.. gelisah. Nyeri menyebabkan anak menderita. Jumlah kasus anak yang masuk ke ruang unit gawat darurat setahun terakhir ini ratarata per-bulan kurang lebih 300 orang anak dengan rata-rata usia 1-17 tahun. (Rekam Medik RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawiangun Kota Cirebon.. FIK UI. 2013 .7 pembentukan prostaglandin melalui penghambatan enzim cyclooxygenase. RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawiangun Kota Cirebon belum memiliki format skala nyeri yang digunakan baik untuk dewasa ataupun anak. tidak mampu bergerak bebas. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan pengambilan darah vena pada anak di ruang Unit Gawat Darurat. susah tidur. Pemberian madu belum pernah diberikan terkait dengan penurunan respon nyeri pada anak. Hasil observasi lapangan dan wawancara pada perawat yang dilakukan peneliti di RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon memberikan gambaran bahwa di ruangan perawatan anak ataupun di unit gawat darurat intervensi non farmakologi untuk mengurangi respon nyeri karena tindakan pengambilan darah belum dilakukan. 1.2. cemas. Perumusan Masalah Nyeri pada anak menimbulkan dampak negatif terhadap mutu kehidupan (quality of life). Intervensi pengambilan darah pada anak lebih sering dilakukan di unit gawat darurat daripada di ruang perawatan anak. Intervensi non farmakologi untuk mengurangi nyeri yang dilakukan perawat berupa informasi tentang penjelasan pada anak dan orang tua saat tindakan akan dilakukan. 2011). perasaan tidak akan tertolong dan putus Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Sampai saat ini penulis belum mendapatkan adanya penelitian yang meneliti tentang keefektifan madu dalam menurunkan respon nyeri pada anak yang dilakukan tindakan pengambilan darah vena. sama seperti obat-obat analgetik antipiretik lain (NSAIDs)..

. b.3. Rasa manis yang sering diberikan dalam penelitian untuk mengurangi nyeri berupa pemberian sukrosa dan glukosa. Anak-anak pada umumnya menyukai rasa manis seperti gula. Keadaan ini sangat mengganggu kehidupan normal anak sehari-hari sehingga penatalaksanaan nyeri yang efektif perlu dilakukan. Gambaran karakteristik anak (usia. Ayu Yuliani Sekriptini. 1. Tujuan Umum Teridentifikasinya pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon. Berdasarkan uraian latar belakang diatas. Penatalaksanaan mengurangi nyeri pada anak dengan intervensi nonfarmakologis salah satunya adalah dengan memberikan sensasi rasa manis pada anak. jenis kelamin. Salah satu sunber rasa manis selain sukrosa dan glukosa adalah madu.. pengalaman nyeri sebelumnya.8 asa. dan aneka kue.. Tujun Penelitian 1. Karenanya rasa manis pada madu mudah dapat diterima oleh anak-anak. maka pertanyaan yang akan diteliti ”Adakah pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon?” 1. sirup.3. permen. FIK UI. Madu merupakan salah satu obat alami yang banyak memiliki khasiat mengobati dan memiliki rasa manis. 2013 . pendampingan orang tua) saat dilakukan prosedur pengambilan darah di ruang unit gawat darurat.3.1.2. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian adalah teridentifikasinya : a. Rerata skor nyeri anak yang dilakukan pengambilan darah pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

4.2. FIK UI. Mafaat Penelitian 1..3. Manfaat Keilmuan Memberi gambaran dan informasi tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang unit gawat darurat.9 c.4. 2013 . jenis kelamin. Perbedaan rerata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak (usia. Ayu Yuliani Sekriptini. 1. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.4. 1. Manfaat Aplikatif Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada anak saat dilakukan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat sehingga dapat mengurangi terjadinya dampak traumatik dan hospitalisasi. 1.1. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. d..4. pendampingan orang tua).. Manfaat Metodologi Penelitian ini dapat menambah jumlah penelitian tentang perawatan pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang Unit Gawat Darurat dan dapat menjadi landasan penelitan selanjutnya. pengalaman nyeri sebelumnya.

Pengertian Nyeri Nyeri adalah suatu gejala dalam merasakan subyek dan pengalaman emosional serta termasuk suatu komponen sensori. Mathew & Dickenson. 2002.. Nyeri pada anak. 2003).. 2004). wajah menyeringai. Nyeri adalah segala sesuatu yang dikatakan seseorang tentang nyeri tersebut dan terjadi kapan saja seseorang mengatakan bahwa ia merasa nyeri (McCaffery & Pasero 2010). Taddio et al. Soyer et al.1. komponen diskriminatori. Interpretasi nyeri sifatnya subjektif. dimana setiap orang akan mengeluarkan ekspresi yang berbeda dengan yang lainnya jika berhadapan dengan stimulus yang melukai. kognitif dan behavior yang saling berhubungan dengan faktor lingkungan. 2001. 2009). respon-respon yang mengantarkan ataupun reaksi-reaksi yang ditimbulkan oleh stimulus dalam suatu kasus nyeri (Latief.1.. FIK UI. Nyeri dan kecemasan dapat terjadi akibat suatu prosedur diagnostik atau terapi pada anak (Brusch & Zeltzer. fleksi dan ekstensi alat gerak) dan perubahan fisiologis (perubahan laju 10 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Smatzler & Bare.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. Nyeri sangat penting sebagai mekanisme proteksi tubuh yang timbul bilamana jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang nyeri ini..1. Nyeri pada anak menjadi masalah oleh karena anak memberikan respon nyeri yang berbeda sesuai dengan tingkat usia pada anak (Mathew. Nyeri mempunyai komponen sensori.. 2006. Ayu Yuliani Sekriptini. 2010). 2004. Nyeri Pada Anak 2. diinterpretasi dan diekspresikan melalui tingkah laku (menangis. 2013 . The Internaional Association for Study of Pain menyebutkan nyeri yaitu perasaan dan pengalaman emosi yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kenyataan atau potensi terjadinya kerusakan jaringan atau gambaran yang berkaitan kerusakan jaringan tersebut (Drendel et al.. sosio-kultur dan tumbuh kembang anak. emosi.

. dan perubahan kimia darah).. dan nyeri itu bersifat subyektif. FIK UI.. Kerusakan jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya menyebabkan sintesa prostaglandin. suhu dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf perifer (nerve ending) atau organ-organ tubuh (reseptor meisneri. dimana prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptorreseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin. 2013 . jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa nyeri merupakan pengalaman yang universal yang berfungsi sebagai tanda penting bahwa tubuh tidak berfungsi atau mengalami kerusakan. 2007. Suatu stimuli kuat (noxion stimuli) seperti tekanan fisik kimia. 2.1. sehingga laporan atau keluhan dari pasien merupakan penilaian yang paling mempunyai arti dalam menegakkan diagnosa nyeri (Petersen et al. modulasi dan persepsi. transmisi. merkel.. serotonin yang akan menimbulkan sensasi nyeri.. 2008. dari beberapa definisi tersebut nyeri merupakan kombinasi dari respon sensorik. 2009. dimana terjadinya stimuli yang kuat diperifer sampai dirasakannya nyeri di susunan saraf pusat (cortex cerebri) (Uman et al. Daniela et al. Keadaan ini Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.2. Breivik et al.. corpusculum paccini.11 denyut jantung. sehingga hubungan nyeri dengan kerusakan jaringan tidak sama dan tidak konsisten. 2010).. Fisiologi Nyeri Perjalanan nyeri termasuk suatu rangkaian proses neurofisiologis kompleks yang disebut sebagai nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses komponen yang nyata yaitu transduksi. laju pernafasan... Ayu Yuliani Sekriptini. 2010). afektif dan prikomotor. Rangkaian proses perjalanan yang menyertai antara kerusakan jaringan sampai dirasakan nyeri adalah suatu proses elektofisiologi. Menurut Latief (2001) dan Daniela et al. Srouji et al. (2010) ada 4 proses yang mengikuti suatu proses nosisepsi yaitu : a. golgi mazoni). Proses Transduksi Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf.

2007. dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh tractus spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. Proses Modulasi Proses modulasi merupakan perubahan transmisi nyeri yang terjadi pada susunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak). Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di cortex cerebri dan dirasakan sebagai persepsi nyeri (Uman et al.. Analgesik endogen (enkefalin. Proses terjadinya interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis merupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak. c.. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat subjektif pada setiap orang (Uman et al. Traktus spinoretikularis terutama membawa rangsangan dari organ-organ yang lebih dalam dan viseral serta berhubungan dengan nyeri yang lebih ditekan dan melibatkan emosi. FIK UI.. Proses Transmisi Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis.. Selain itu juga serabut-serabut saraf disini mempunyai sinaps interneuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan bermielin. yang diperkirakan terjadi pada thalamus dengan korteks sebagai diskriminasi dari Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. b. noradrenalin) dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Daniela et al.. 2008.. Daniela et al. serotonin. 2010). 2010). Kornu posterior sebagai pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk analgesik endogen tersebut.. Daniela et al. 2008. Ayu Yuliani Sekriptini. transmisi dan modulasi yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu proses subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.. d. 2007.. 2013 . Breivik et al. endorphin. Persepsi Hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dari proses tranduksi. 2010).12 dikenal sebagai sensitisasi perifer (Breivik et al.

13

sensorik (Uman et al., 2007; Breivik et al., 2008; Daniela et al., 2010).
Secara skematis, jaras persepsi nyeri seperti terlihat pada gambar 2.1.

Sumber : www.medscape.com

Gambar 2.1. Perjalanan Nyeri
2.1.3. Klasifikasi Nyeri
Respon individu yang berbeda-beda tentang nyeri membuat sulit
mengkategorikan jenis nyeri yang dirasakan dan mengatahui penyebab
nyeri itu sendiri. Nyeri memiliki sifat yang unik pada setiap individual
bahkan jika cedera fisik terjadi respon nyeri pada individu satu tidak sama
pada individual lainnya. Adanya takut, marah, kecemasan, depresi dan
kelelahan akan mempengaruhi bagaimana nyeri itu dirasakan. Salah satu
pendekatan yang dapat dilakukan untuk membedakan

nyeri adalah

berdasarkan durasi (akut, kronik), patofisiologi (nosiseptif, nyeri
neuropatik) dan etiologi (paska pembedahan, kanker) (Ratnapalan et al.,
2010; Daniela et al., 2010).

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

14

Klasifikasi nyeri terdiri dari :
a. Nyeri Akut dan Kronik
Nyeri akut merupakan nyeri yang terjadi secara tiba-tiba yang bisa
disebabkan oleh injuri, penyakit, ataupun pembedahan (McCaffrey, &
Pasero, 2010). Nyeri akut merupakan indikator terjadinya kerusakan
jaringan, yang memberitahukan individu untuk melindungi area yang
terkena dari injuri lebih lanjut. Karakteristik nyeri akut ini terdiri dari:
komunikasi tentang nyeri dideskripsikan, perilaku sangat berhati-hati,
memusatkan diri, fokus perhatian rendah (perubahan persepsi waktu,
menarik diri dari hubungan sosial, gangguan proses pikir), perilaku
distraksi (mengerang, menangis, dan lain-lain), raut wajah kesakitan,
perubahan tonus otot, respon autonom (diaforesis, perubahan tekanan
darah dan nadi, dilatasi pupil, penurunan atau peningkatan frekuensi
pernapasan). Nyeri kronik muncul jika masih dirasakan setelah
pengobatan terhadap injuri tidak ada kerangka waktu yang ditentukan.
Nyeri kronik juga tampak sebagai ketidakmampuan tubuh untuk
mencegah interpretasi sinyal dan gejala nyeri setelah injuri diatasi.
Nyeri ini berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama
dan pasien sering sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan,
karakteristik nyeri ini terdiri dari; individu melaporkan bahwa nyeri
telah ada lebih dari 6 bulan, ketidaknyaman, marah, frustasi, depresi
karena situasi, raut wajah kesakitan, anoreksia, penurunan berat badan,
insomnia, gerakan yang sangat berhati-hati dan spasme otot
(Ratnapalan et al., 2010).
b. Nosiseptif dan Nyeri Neuropatik
Nyeri organik bisa dibagi menjadi nosiseptif dan nyeri neuropatik.
Nyeri nosiseptif adalah nyeri inflamasi yang dihasilkan oleh
rangsangan kimia, mekanik dan suhu yang menyebabkan aktifasi
maupun sensitisasi pada nosiseptor perifer (saraf yang bertanggung
jawab terhadap rangsang nyeri). Nyeri nosiseptif

biasanya

memberikan respon terhadap analgesik opioid atau non opioid. Nyeri
nociceptive merupakan persepsi sensorik terhadap kerusakan atau

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

15

potensial kerusakan pada jaringan akibat trauma atau penyakit. Nyeri
ini terjadi sebagai akibat rangsangan reseptor dan dapat berupa nyeri
akut maupun kronis. Nyeri neuropati yang bisa berupa nyeri akut
maupun kronis, disebabkan oleh cedera atau penyakit yang secara
langsung mempengaruhi sistem saraf. Nyeri sentral juga merupakan
nyeri kronik yang terjadi lebih disebabkan oleh kerusakan saraf. Nyeri
neuropatik merupakan nyeri yang ditimbulkan akibat kerusakan neural
pada saraf perifer maupun pada sistem saraf pusat yang meliputi jalur
saraf aferen sentral dan perifer, biasanya digambarkan dengan rasa
terbakar dan menusuk. Pasien yang mengalami nyeri neuropatik sering
memberi respon yang kurang baik terhadap analgesik opioid (Potter &
Perry 2005; McCaffrey, & Pasero, 2010; Daniela et al., 2010).
c. Nyeri Viseral
Nyeri viseral biasanya menjalar dan mengarah ke daerah permukaan
tubuh jauh dari tempat nyeri namun berasal dari dermatom yang sama
dengan asal nyeri. Nyeri viseral terjadi karena kontraksi ritmis otot
polos. Penyebab nyeri viseral termasuk iskemia, peregangan ligamen,
spasme otot polos, distensi struktur lunak seperti kantung empedu,
saluran empedu, atau ureter. Distensi pada organ lunak menimbulkan
respon nyeri karena terjadinya peregangan jaringan dan dapat
menyebabkan iskemia daerah sekitarnya, adanya kompresi pembuluh
darah pada organ lunak tersebut dan menyebabkan distensi berlebih
dari jaringan yang dapat menimbulkan nyeri (McCaffrey, & Pasero,
2010; Daniela et al., 2010).
d. Nyeri Somatik
Nyeri somatis permukaan atau superfisial adalah akibat stimulasi
nociceptor di dalam kulit atau jaringan subkutan dan mukosa yang
mendasari. Hal ini ditandai dengan adanya sensasi atau rasa berdenyut,
panas atau tertusuk, kemungkinan berkaitan dengan rasa nyeri yang
disebabkan oleh stimulus yang secara normal tidak mengakibatkan
nyeri

dan hiperalgesia. Jenis nyeri ini biasanya konstan dan jelas

lokasinya. Nyeri superfisial biasanya terjadi sebagai respon terhadap

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

16 luka terpotong.. Respon nyeri pada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2008. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan atau menurunkan persepsi nyeri pasien. Nyeri somatis dalam diakibatkan oleh jejas pada struktur dinding tubuh (misalnya otot rangka atau skelet). Berlawanan dengan nyeri tumpul yang berkaitan dengan organ dalam. 2. 2005). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi reaksi nyeri tersebut antara lain: a. Ayu Yuliani Sekriptini.. Penelitian Kenneth et al. Perbedaan tingkat perkembangan yang ditemukan antara kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap nyeri (Daniela et al. luka gores dan luka bakar superfisial... & Pasero. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Nyeri merupakan hal yang kompleks. beberapa menyebar ke daerah sekitarnya (McCaffrey. banyak faktor yang mempengaruhi pengalaman seseorang terhadap nyeri. 2010).4. Usia Usia dalam hal ini merupakan variabel yang penting yang mempengaruhi nyeri terutama pada anak-anak (Potter & Perry. FIK UI.. toleransi terhadap nyeri dan mempengaruhi reaksi terhadap nyeri (Le Mone & Burke. Czarnecki et al.1. 2013 . (2006) menjelaskan bahwa perkembangan usia anak mempengaruhi makna nyeri dan ekspresi yang dimunculkan. seringkali terjadi kesalahpahaman arti dan penyebab sakit. nyeri somatis dapat diketahui di mana lokasi persisnya pada tubuh. 2010). Usia bayi memberikan respon nyeri dengan menangis dan lebih mudah ditenangkan kembali dengan dipeluk oleh orang tuanya.. Usia prasekolah membutuhkan penjelasan yang berulang kali dan diyakinkan bahwa prosedur dan pengalaman yang menyakitkan bukan merupakan hukuman untuk perilaku buruk. usia prasekolah memiliki sifat egosentris dalam pemikirannya dan percaya bahwa semua kejadian dan sensasi berasal dari dunia internal mereka. 2011). Anak prasekolah memiliki sedikit pemahaman tentang sebab nyeri yang dirasakan.

2005). Ayu Yuliani Sekriptini. dapat di ajak kerja sama dan cenderung berorientasi menjadi sebuah prestasi bagi dirinya. b. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. anak usia sekolah mampu berfikir lebih logis dan wajar. 2008). 2003). Secara bertahap.17 anak usia sekolah sering berupa penolakan dengan menggerakan daerah yang menyakitkan. Beberapa penelitian menjelaskan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan tidak terlalu berpengaruh terhadap respon nyeri. sedangkan anak laki-laki diberitahu untuk berani dan tidak menangis (Taylor et al. Karakteristik jenis kelamin dan hubungannya dengan sifat keterpaparan dan tingkat kerentanan memegang peranan tersendiri. Anak-anak belajar bahwa terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan nyeri dimana anak perempuan boleh pulang ke rumah sambil menangis ketika lututnya terluka. FIK UI. gigi terkatup. peran kelompok sangat berpengaruh. pengalaman ekspresi. 2013 . Anak usia sekolah memberikan respon fisik berupa tangan mengepal. Toleransi terhadap nyeri dipengaruhi faktorfaktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada individu tanpa memperhatikan jenis kelamin (Potter & Perry. Anak remaja kadang menyangkal rasa sakit di hadapan keluarga atau teman sebaya. dan kondisi situasional yang mempengaruhi dan bagaimana anak menanggapi nyeri (Mathew... dan dahi berkerut. dalam penelian tersebut lebih menjelaskan perbedaan jenis kelamin hanya karena sensitivitas. Bagaimana proses sosialisasi remaja mempengaruhi pengalaman nyeri tetap memahami dalam konsep nyeri. Jenis Kelamin Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam berespon terhadap nyeri. Usia remaja mampu berpikir abstrak dan memiliki pemahaman tentang hubungan sebab akibat...

Banyak keluarga orang juga yang dapat merasa lingkungan pelayanan kesehatan yang asing. Penelitian melibatkan 110 anak yang sehat (60 anak laki-laki. orang yang sering mengalami nyeri dalam hidupnya. Pengalaman Nyeri Sebelumnya Pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang tentang nyeri. tetapi penelitian tersebut tidak menunjukkan perbedaan jenis kelamin dalam penggunaan obat pereda nyeri sejenis opioid setelah tindakan operasi. Hasil menunjukkan pengalaman nyeri sebelumnya pada anak-anak berhubungan dengan rasa takut dari waktu ke waktu dan mempengaruhi pengalaman nyeri yang baru. 2013 . c. Umumnya. dan diobservasi ekspresi wajah yang muncul pada anak yang dilakukan wawancara. 2006). dapat menambah nyeri yang dirasakan (Craig et al. dengan kriteria anak yang mempunyai pengalaman operasi dan pernah dilakukan venipuncture. 50 perempuan) berusia 8 sampai 12 tahun. meneliti pengaruh pengalaman anakanak untuk stimulus nyeri baru pada pengalaman nyeri berikutnya. Ayu Yuliani Sekriptini. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. (2012). aktivitas yang sama di ruang perawatan intensif.18 Penelitian Logan et al. cenderung mengantisipasi terjadinya nyeri yang lebih hebat (Schmitz et al. kemudian dilakukan wawancara pengalaman nyeri yang pernah dialami. kebisingan. 2012). Pengalarnan individu dengan nyeri yang dialami.. khususnya cahaya.. pengalaman nyeri minimal 1 tahun yang lalu.... d.. (2004) dan Loeser et al. Lingkungan dan Dukungan Orang Terdekat Lingkungan mempengaruhi dan kehadiran nyeri dukungan seseorang. FIK UI. Penelitian Noel et al.. (2008) pada usia remaja menjelaskan adanya perbedaan respon nyeri antara anak remaja laki-laki dan perempuan dimana hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa anak perempuan memiliki skor intensitas nyeri tinggi. makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan oleh nyeri tersebut.

Penelitian dilakukan secara acak menjadi dua kelompok..1. Melakukan penelitian pada 135 anak dengan rentang usia 3-6 tahun akan dilakukan tindakan venipuncture di klinik rawat jalan anak. tekanan darah. efek yang ditimbulkan oleh nyeri terdiri dari : a.19 sampai dengan 1. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran orangtua memiliki pengaruh efek yang positif pada toleransi sakit anak.19 Penelitian Ozcetin. Efek Yang Ditimbulkan Oleh Nyeri Efek nyeri pada setiap individu hampir sama baik pada dewasa ataupun pada anak-anak. dan kelompok kedua hanya didampingi oleh anggota staf rumah sakit.23 tahun. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. secara statistik signifikan (p<0. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 .5.41 tahun. (2011). Sangat penting untuk mengkaji tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik termasuk mengobservasi keterlibatan saraf otonom. dan ftekuensi pernapasan yang meningkat. et al. Selama prosedur venipuncture dilakukan pengukuran tanda vital. Respon fisiologis nyeri akut meliputi perubahan denyut jantung. Pasien seringkali meringis. Hasil penelitian diperoleh usia rata-rata kasus dengan didampingi orang tua mereka adalah usia 4.. FIK UI. frekuensi pernafasan dan denyut jantung. Efek perilaku Pasien yang mengalami nyeri menunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang khas dan berespon secara vokal serta mengalami kerusakan dalam interaksi sosial. Tanda dan gejala fisik Tanda fisiologis dapat menunjukkan nyeri pada pasien yang berupaya untuk tidak mengeluh atau mengakui ketidaknyamanan.05). 2. kelompok pertama kelompok yang didampingi oleh orang tua. b. Usia rata-rata kasus dengan didampingi petugas rumah sakit adalah 4. Penilaian skor nyeri menggunakan Wong-Baker FACES. Selama prosedur venipuncture rata-rata nyeri anak pada kelompok 2 diperoleh Wong-Baker skor lebih tinggi 3 kali dari pada kelompok 1.36 sampai dengan 1.

. 2013 . Nyeri seringkali dikaitkan dengan rasa takut. cemas dan stres. Pada anak yang mengalami prosedur invasif minor tanpa intervensi penurunkan nyeri memiliki dampak yang panjang dalam respond dan persepsi anak terhadap nyeri. Ellis et al..al.. Manajemen nyeri seharusnya menjadi prioritas untuk mengatasi masalah tersebut. menghindari kontak sosial dan hanya fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri.20 mengernyitkan dahi. Ayu Yuliani Sekriptini.. Suatu studi retrospektif menyatakan hanya 28% anak-anak yang masuk ke unit gawat darurat memperoleh intervensi farmakologi untuk mengurangi nyeri yang adekuat sedangkan pada dewasa mencapai 60% (Cohen. menggigit bibir. Penatalaksanaan Nyeri Pada Anak Penataksanaan nyeri sering tidak dilakukan secara adekuat pada anak oleh karena anak diangap tidak dapat merasakan nyeri. Pengaruh Pada Aktivitas Sehari-hari Pasien yang mengalami nyeri setiap hari kurang mampu berpartisipasi dalam aktivitas rutin. 2008).. imobilisasi. c.6. Gangguan stress pasca trauma dapat timbul setelah pengalaman prosedur yang tidak disertai denan pengendalian nyeri yang tepat (Larsson et al. Crowley et. Movahaedi 2006). 2.. psikososial dan fisiologi jangka panjang (Wanga et al. Nyeri yang tidak berkurang dapat menyebabkan konsekwensi pada gangguan prilaku. 2004.. 2000. 2009). FIK UI. seperti mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan higiene normal dan dapat menganggu aktivitas sosial. Terdapat variasi yang luas dalam tatalaksana nyeri pada berbagai unit gawat darurat dan pelayanan kesehatan profesional.1. Kunci keberhasilan penatalaksanaan nyeri pada anak adalah dengan pemeriksaan nyeri yang baik (Herd et al. mengalami ketegangan otot. 2010). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. melakukan gerakan melindungi bagian tubuh sampai dengan menghinndari percakapan. 2008. gelisah.

memberikan kemampuan mengontrol nyeri. menurunkan kecemasan dan meningkatkan kefektifan analgesik atau mengurangi dosis yang diperlukan (American Pain Society.. Intervensi non farmakologis yang dapat diberikan diantaranya (Zempsky.. Srouji.. Beberapa peneliti menyebutkan ada berbagai macam tehnik non farmakologik yang dapat diberikan pada anak unuk mengurangi nyeri seperti misalnya distraksi. Gimbler-Berglund et al. 2000. EMLA (Eutectic Mixture of Local Anesthetics) sebagai salah satu anastesi topical yang paling sering digunakan (Kelly. 2008. 2000). tehnik-tehnik ini juga dapat menurunkan persepsi ancaman nyeri. ketakutan dan kecemasan. Obat-obatan yang disering digunakan misalnya LET (Lidokain.. Ayu Yuliani Sekriptini. relaksasi. 2010) : Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2008. Soyer et al. meningkatkan rasa nyaman dan meningkatkan istirahat dan tidur (Huether & Leo.. 2006. guided imagery dan stimulasi memberikan strategi koping yang dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. 2005). Lyon & Mackway. dan Tetrakain). 2000. Wanga et al. Epinefrin. FIK UI.21 Tehnik farmakologi yang sering diberikan saat prosedur pengambilan darah pada anak untuk mengurangi nyeri lebih sering menggunakan pendekatan farmakologis berupa anastesi topikal berupa oles maupun anastesi semprot (Arrowsmith & Campbell. membuat nyeri dapat lebih ditoleransi. Terdapat berbagai metode penelitian non farmakologi yang dapat digunakan untuk menurangi rasa nyeri. sedangkan sendekatan non farmakologik yang paling sering sering digunakan di unit gawat darurat berupa mendatangkan orang tua saat dilakukan intervensi. Pendekatan yang ada mempunyai efektivitas dan keamanan yang cukup baik. 2008). Gimbler-Berglund.. Sebagai tambahan. 2009).. 2003. William & Zempsky. Amy et al. Pamella & Macintyre. 2013 . 2002.

Pengalihan Metode pengalihan dengan berbagai aktifitas membantu anak dari berbagai usia untuk menghilangkan nyeri. b. masing-masing anak terbagi dalam 3 kelompok. Loeser et al.. kelopok anak kedua di beri audiovisual dengan menonton film kartun saat penyuntikan. musik. FIK UI. prosedur yang akan dilakukan serta pengobatan yang akan diberikan. Pemberian Informasi Informasi yang diberikan kepada anak dan anggota keluarga sehingga mengerti kondisi sakit. Hasil penelitian menunjukkan intervensi non farmakologi dengan mengunakan audiovisiual lebih efektif dibandingkan intervensi psikologis dan dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan keberhasilan penyuntikan ke vena. Penelitian Wanga. 2000. menyebutkan intervensi non farmakologis berupa metoda pengalihan dapat mengurangi nyeri dan stress dalam prosedur invasif pada anak.22 a. video games. dan kelompok anak ketiga menerima intervensi psikologis. telepon. Ayu Yuliani Sekriptini. Sunb. dan permainan (Kelly. Penelitian melibatkan 300 anak usia 8-9 tahun dilakukan tindakan penyuntikan akses vena. dan Chena (2008). kelompok pertama diberi intervensi non farmakologis yang berbeda.. televise. Relaksasi Tehnik relaksasi akan memberikan relaksasi otot dan mengurangi kecemasan yang sering menyertai dan meningkatkan nyeri. Pengontrolan pernafasan dan relaksasi otot merupakan metode yang paling sering digunakan untuk anak usia pra-sekolah dan usia yang lebih tua. 2008). Metode yang paling sering digunakan antara lain : pengunaan gelembung sabun. Dengan demikian pasien juga dilibatkan dalam menentukan cara untuk mengontrol nyeri. c. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. 2013 .. penilaian nyeri menggunakan skala Visual Analogue Scale (VAS) dan Cooperative Behavior Scale of Children in Venepuncture (CBSCV).

mengurangi pengalaman sensoris serta membantu anak untuk mengontrol perasaannya. Carbajal et al. Intervensi ini baik untuk anak usia sekolah atau remaja (William et al. Dilakukan tiga (3) intervensi invasif diataranya penguntikan intra muskuler.23 d. dengan responden 46 anak antara usia 6-16 tahun.. Ontario dengan jumlah responden 240 bayi baru lahir. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Peranan hipnoterapi adalah mengalihkan perhatian. Hipnoterapi Hipnoterapi membatu anak untuk membayangkan pengalaman yang menyenangkan yang pernah dialami... 2003).. Pengaruh ini tampaknya paling kuat saat bayi baru lahir dan nenurun secara bertahap selama 6 bulan pertama kehidupan (Eichenfield et al. 2013 . Penelitian yang dilakukan oleh Taddio et al. 2002. 2004. e. Zempsky et al. 2009). Gradin et al.. White dan Hatira (2006). Penelitian eksperiman di ruang NICU rumah sakit Mount Sinai Hospital. dapat juga diberikan sampai usia 3 bulan. Penerian sukrosa 25 % sebanyak 2 ml selama 60 detik dilakukan 2 menit sebelum tindakan invasif dengan 5 menit sebelumnya diukur denyut nadi dan nilai oksimetri bayi. Pemberian rasa manis Penelitian menyebutkan pemberian sukrosa atau glukosa untuk mengurangi nyeri sangat baik diberikan pada neonatus.. membandingkan intervensi anstesi EMLA dan hinoptis dengan pemberian EMLA saat pengambilan darah pada anak. memberikan hasil ada pengaruh yang signifikan intervensi hipnotis dengan EMLA di banding intervensi EMLA saja pada saat pengambilan darah pada anak dengan p < 0.001. menyebutkan sukrosa 25 % dapat memberikan efek analgesik pada bayi baru lahir saat dilakukan prosedur indakan invasif. FIK UI. tusuk tumit dan pengambilan contoh darah. Ayu Yuliani Sekriptini. Toronto. Penelitian Liossi.. Sukrosa atau glukosa dapat menurunkan respon terhadap stimulus yang menimbulkan nyeri seperti saat pengambilan darah dari tumit dan injeksi pada neonatus. 2002.. (2008).

FIK UI. kemudian dilakukan rekaman suara tangisan saat penusukkan dan di ukur rata-rata durasi menangis pada masing-masing kelompok..29. Penelitian Laxmikant. dan Wilson (2003). Larutan glukosa diberikan 2 menit sebelum tindakan penusukkan tumit. Enam puluh bayi prematur yang sehat usia kehamilan 28-37 minggu dan usia 2-28 hari setelah kelahiran secara acak diberi 2 ml salah satu dari tiga solusi (air steril. Dalal.. Hasil memberikan gambaran ada penurunan yang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 10 % glukosa dan 25 % glukosa ) per-oral 2 menit sebelum venipuncture. kelompok pertama diberi glukosa 10 %. Menggunakan metoda random.. Hasil penelitian menunjukkan. Penelitian Jatana. 2013 . Hasil penelitian menunjukkan adanya efek analgesik pada pemberian glokosa 25 % dan 50 % (p<0. setelah pengukuran skala nyeri bayi dinilai kembali denyut nadi dan nilai oksimetri. dengan pemberian placebo pada kelompok kontrol. Penelitian dilakukan di unit perawatan intensif neonatal di Raja Edward Memorial Hospital. Tentang efek analgesik pada pemberian glukosa pada neonatus. dan Udani (2002). Penelitian dilakukan pada 125 bayi baru lahir normal yang akan di lakukan tusuk tumik dengan dibagi tiga kelompok perlakukan pemberian glukosa. kelompok kedua diberi glukosa 25 % dan kelompok ke tiga diberi glukosa 50 %.05). melakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan konsentrasi glukosa pada pengukuran nyeri neonatal selama venipuncture. Deshmukh. Ayu Yuliani Sekriptini. sebelum penusukkann tumit masing-masing kelompok bayi di lakukan denyut jantung dan saturasi oksigen. double-blind.24 kemudian dilakukan tindakan intervensi dan di lakukan penilaian skala nyeri 30 detik setelah tindakan invasif dengan menggunakan skala nyeri Premature Infant Pain Profile (PPIP). bayi yang diberi sukrosa dengan tidakan pengambilan darah memiliki skor nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan penyuntikan intramuskuler vit K dan tusuk tumit dengan CI 95% p < 0.

.. Zempsky & Cravero. 2004). Penatakalsanaan non farmakologik ini yang disertai oleh adanya dukungan emosional merupakan hal utama untuk memberikan lingkungan yang nyaman bagi anak (Zempsky & Cravero. Penelitian yang dilakukan oleh Ellis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. laju pernapasan atau saturasi oksigen. Dinding yang berwarna bergambar serta kumpulan mainan akan mengurani ketakutan yang ditimbulkan oleh lingkungan yang asing. Bursch & Zeltzer. Lingkungan ruangan Menciptakan suatu lingkungan yang tepat merupakan hal yang esensial untuk mengurangi nyeri dan kecamasan pada seorang anak di unit gawat darurat.. f. 2013 .25 signifikan dalam durasi tangisan pertama pada bayi yang diberikan 25 % glukosa dibandingkan dengan kontrol dan diberikan 10 % glukosa. 2004. 2004). Dengan kesimpulan bahwa larutan glukosa terkonsentrasi dapat mengurangi rasa sakit dan memiliki efek analgesik serta aman untuk prosedur minor pada neonatus.1. namun kehadiran mereka mengurangi kecemasan orang tua dan anak (American Academy of Pediaric. Perawat di ruang unit gawat darurat mempunyai peranan penting untuk mengurangi kecemasan dan persepsi nyeri pada anak dengan cara mengajarkan tehnik sederhana da mendukung keterlibatan keluarga. FIK UI.7. akan memberi manfaat bagi anak.. 2004. Kamar ini sebaiknya telah menyediakan lingkungan yang bersahabat dan menenangkan. Mengijinkan tetapi bukan mengharuskan kehadiran keluarga saat prosedur invasif yang menimbulkan nyeri dilakukan. Pengendalian nyeri di unit gawat darurat Penelitian menyebutkan hampir 90% pasien yang masuk ke unit gawat darurat mendapatkan intervensi medis berhubungan dengan prosedur jarum suntik (Zempsky et al. idealnya masing-masing anak ditempatkan pada satu kamar pribadi. Ayu Yuliani Sekriptini. 2004). 2. Brusch & Zeltzer. Meskipun tidak terdapat bukti bahwa kehadiran keluarga dapat ngurangi nyeri. 2001. Tidak ada efek yang signifikan pada detak jantung.

tidak terdapatnya penilaian skala nyeri pada anak. Joseph & Cravero. masih ada tenaga kesehatan yang beranggapan bahwa anak-anak tidak merasa sakit yang sama dilakukan oleh orang dewasa dan rasa sakit yang tidak memiliki konsekuensi yang tak diinginkan pada anak-anak.5%. Nyeri anak diremehkan karena kurangnya alat penilaian yang memadai dan ketidakmampuan untuk menjelaskan berbagai tahap perkembangan anak-anak. Port-a-cath access 7%. Penelitian menyebutkan pengendalian nyeri di emergensi dapat dilakukan dengan farmakologi dan non farmakologi (Zempsky. di mulai dari arena pra-rumah sakit saat pertama kali anak masuk ke gawat darurat. Pengambilan darah sering dilakukan di unit gawat darurat untuk mentukan jenis penyakit yang diderita oleh pasien. Beberapa hambatan secara umum yang terjadi di unit gawat darurat dapat muncul secara intrinsik yaitu tidak memadainya obat-obatan analgesia khususnya pada anak (Soyer et al. Pengendalian rasa sakit dan kecemasan pada anak.... Frekuensi mengurangi nyeri dengan farmakologis di Amerika Serikat untuk pengambilan darah adalah 40% sedangkan menggunakan non farmakologis hanya mencapai 10% (Acharya et al. Nyeri sering undermedicated karena kekhawatiran terjadinya oversedation. FIK UI.. 2004). depresi pernafasan.. Pengambilan darah vena merupakan prosedur pemeriksaan yang sering dikerjakan pada pasien anak di unit gawat darurat dan prosedur ini merupakan sumber nyeri yang paling sering dirasakan bagi anak (Eichenfield et al.. 2009).26 et al. 2008). 2002). (2004) selama 23 hari di rumah sakit Kanada memberikan gambaran bahwa terdapat 387 prosedur rumah sakit berhubungan dengan jarum suntik terdiri dari. injeksi intramuscular 5%. pemberian terapi atau anastesi lumbal 1% dan penyuntikan insulin 0. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. infus 13%. pengambilan darah vena 63%. pengambilan darah kapiler 11%.. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. dan seluruh prosedur tersebut menimbulkan respon nyeri yang bervariasi pada anak (CI 95% p < 0.01).

. Dalam ruang gawat darurat. Manajemen nyeri yang optimal memerlukan pemahaman yang menyeluruh tentang penilaian nyeri dan manajemen strategis ruangan yang baik (Zempsky. dan fisiologik (Desparment-Sheridan. skala deskriptif kualitatif taupun kuntitatif. Faktor-faktor tersebut membuat penilaian petugas kesehatan merasa kesuitan. wawancara. Unit gawat darurat lebih cenderung menggunakan intervensi farmakologis dari pada non farmakologis (Crowley et al.27 kecanduan. 2000. yang dibuat untuk mengetahui intensitas nyeri pada anak. 2000). dituntut intervensi yang lebih cepat. kondisi ruang gawat darurat yang sibuk. 2006).. FIK UI. Komponen kognitif biasanya diukur dengan cara kuesioner. 2013 .1. selain itu... biaya. Komponen fisiologis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Komponen tingkah laku ini digunakan pada bayi atau anak yang belum biasa berkomunikasi secara verbal. 2. Ayu Yuliani Sekriptini. 2004). 2000). dan memberontak. dan kecemasan orangtua (Zempsky. tidak adanya ruangan khusus (Twycross. 2010). penggunaan anestesi topikal jarang diberikan karena kekhawatiran tentang keterlambatan dalam pengobatan. Lilley. menyeringai. anak-anak sering masuk dengan gejala yang tidak jelas yang berdampak kesulitan dalam mentukan diagnosa medis (Craig. 2007). 2003). pemberian intervensi farmakologi biasanya digunakan untuk nyeri dalam. 2000. Beisang. & Gilbert. atau kurangnya ketersediaan.8. jumlah pasien yang tidak dapat diperkirakan. skala penilaian belum memadai. kognitif (self report). Dowling. dan ketidakbiasaan dengan penggunaan obat penenang dan analgesik agen pada anak-anak (Breau et al. Intervensi non farmakologis mengalami hambatan kurangnya pengetahuan petugas tentang skala nyeri pada anak. Komponen tingkah laku biasanya diukur dengan suatu chek list tingkah laku yang dijumpai sewaktu anak mengalami rasa nyeri. tingkah laku (behavioral).. misalnya menangis. Penilaian Nyeri Penilaian nyeri berdasarkan 3 komponen penting yaitu.

et al. kadar oksigen. frekuensi pernafasan. 2003. Anak usia 3-8 tahun diperiksa dengan alat yang sesuai yang sudah mengalami perkembangan. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. dan kadar endorphin dalam darah (Desparment-Sheridan. Oucher Scale dan Faces Scale (Desparment-Sheridan. & Schneeweiss. 2002. kadar kortisol. 2005). Anak-anak usia lebih dari 8 tahun umumnya sudah dapat melaporkan sendiri intensitas. Srouji. Taddio et al. misalnya Color Analogue Scale (CAS)..28 diukur dengan cara menilai frekuensi denyut jantung. & Schneeweiss. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa parameter psikologis dan pengamatan orang tua dapat membantu pemeriksaan nyeri pada anak. namun pada dasarnya komponen kognitif anak sendiri yang dapat menentukan tentang apa yang sedang dirasakannya (Bulloch & Tenenbein.. 2003. Ratnapalan. Srouji. FIK UI. lokasi dan kualitas nyeri (William. sehingga dapat menggukan Visual Analog Scale (VAS) dengan ketentuan yang selalu digunakan pada anak lebih besar dan melibatkan garis 10 cm yang telah ditentukan kedua ujungnya (“tidak sakit” dan “sangat sakit”). Berbagai skala menggunakan pengukuran gabungan nyeri telah elemen-elemen dikembangkan fisiologis dan dengan perilaku (behavioral). Srouji. 2003. 2003). Pada bayi hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh karena bayi tidak dapat menyampaikan secara verbal apa yang sedang dirasakannya (Curtis et al.1 berikut (Zempsky & Schecter. seperti yang tertera dalam tabel 2. 2013 . Zempsky & Schecter. 2003). 2010. 2010). & Schneeweiss.. 2010). Zempsky & Schecter. 2007. Ratnapalan.. Ratnapalan. 2010)..

(2005). dan Face Pain Scale-Revised (FPS-R)..1.L.29 Tabel 2.. Ketiga alat tersebut ternyata mempunyai korelasi yang baik pada anak usia diatas 4 tahun dan validitas yang cukup konvergen (Newman et al. pada 122 anak-anak Thailan usia 4-15 tahun. Newman. N. Wong-Baker Faces Pain Ratting (WBFPS). Schecter. di Thailan telah meneliti validitas tiga skala nyeri yang sering digunakan yaitu Visual analog Scale (VAS). What’s New in The Management of Pain in Childrens Skala untuk pemeriksaan nyeri pada anak sebagaimana telah disebutkan di atas telah diteliti secara ektensif. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. Penilaian Klinis Nyeri Physiologic  Frekuesi pernafasan  Fekuansi nadi  Tekanan darah  Kadar kortisol      Behavioral Gerakan tubuh Gerakan wajah Menangis Postur tubuh Pola nafas Self Report Usia 3-8 tahun:  Oucher Scale  Faces Scale  FLACC  CFCS  Faces Pain Scale  Poker Chip Toll  Colored analogue Scale Usia lebih dari 9 tahun :  Visual Analogue Sacale  McGil Pain  Pediatric Pain Questionnaire Composite Infant  CRIES  Neonatal Facial action Coding System  NAPI  MAX  NIPS  PPIP  SUN  OPS  DAN Usia 2-7 tahun :  CHEOPS  COMFORT  OSBD  OPS  TPPPS  AUCHER Usia 8 tahun lebih  Adolescent Pediatric Pain Tool  VarniThompson Pediatric Pain Questionnare  The McGill Pain Questionnaire Sumber : Zempsky W.. 2005).. et al.T. tetapi masih sangat sedikit diteliti untuk menentukan validitas alat-alat tersebut pada nak di Negara berkembang.. 2013 ..

5 tahun yang akan dilakukan tindakan pembedahan. Perilaku anak-anak di rekam sebelum dan setelah operasi. menguji validitas empat skala nyeri antara Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOP). pasien yang kebingungan atau pada pasien yang tidak mengerti dengan bahasa lokal setempat. yang dilakukan di unit gawat darurat menggunkan dua skala nyeri yaitu Color Analog Scale (CAS) dan 7 poin Faces Pain Scale (FPS) pada 60 anak dengan rata-rata usia 3-9 tahun. 2009. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. (2001). Intensitas nyeri harus dinilai sedini mungkin selama pasien dapat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi nyeri yang dirasakan.. dan Face. reliabel dan praktis digunakan pada anak dengan prosedural operasi. 2010).. Activity. Ayu Yuliani Sekriptini. Legs. 2005. dimulai dari senyuman sampai menangis karena kesakitan.. penelitian dilakukan di Thailan dengan 167 anak antara usia 1-5. a. orang tua. Ada beberapa skala penilaian nyeri pada pasien sekarang ini (McLean et al. Kedua alat tersebut ternyata mempunyai korelasi yang baik dan validitas yang cukup konvergen untuk di gunakan di unit emergensi.30 Penelitian Bulloch dan Tenenbein (2002). Cry. hasil penelitian memnunjukkan dari ke-empat skala tersebut skala CHEOP lebih valid. McCaffrey & Pasero. Skala penilaian nyeri dan keterangan pasien digunakan untuk menilai derajat nyeri. 2013 . Consolability (FLACC). Penelitian Suraseranivongse. seperti anak-anak. Wong-Baker Faces Pain Rating Scale Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda. Skala ini berguna pada pasien dengan gangguan komunikasi. Petersen et al.. Toddler Preschool Postoperative Pain Scale (TPPPS). FIK UI. Objective Pain Scale (OPS). et al.

31 Gambar 2. dimana pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan menunjukkan angka 0 – 5 atau 0 – 10. Gambar 2. berat dan sangat berat. Pasien ditanya bagaimana sifat dari nyeri Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Numerical Rating Scale d.. FIK UI.. tidak nyeri.4. Visual Analogue Scale (VAS) Verbal Rating Scale terdiri dari beberapa nomor yang menggambarkan tingkat nyeri pada pasien. 2013 . Wong Baker Faces Pain Rating Scale b. ringan.2. dimana angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka 5 atau 10 menunjukkan nyeri yang hebat.3. Verbal Rating Scale (VRS) Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan berdasarkan skala lima poin . sedang. Numerical Rating Scale (NRS) Pertama sekali dikemukakan oleh Downie dkk pada tahun 1978. Verbal Rating Scale c.. Gambar 2. Ayu Yuliani Sekriptini.

2013 .5. Setiap kategori (Faces. & Consolability) diberi nilai 0-2 dan dijumlahkan untuk mendapatkan total 0-10. Skor tersebut terdiri dari empat poin yaitu : Poin 0 = Tidak ada nyeri atau perasaan tidak enak ketika ditanya Poin 1 = Nyeri yang ringan yang dilaporkan pasien ketika ditanya Poin 2 = Nyeri sedang yang dilaporkan pasien ketika ditanya Poin 3 = Nyeri dihubungkan dengan respon suara. Cry. seperti angka 0 (tanpa nyeri) sampai angka 10 (nyeri terberat). skala nyeri verbal ini sulit digunakan. 4 <7 = nyeri sedang dan 7-10 = nyeri berat Gambar 2. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI. tangan atau lengan tangan.. dan Consolability (FLAAC) Skala ini merupakan skala perilaku yang telah dicoba pada anak usia 3-7 tahun. Legs.. Visual Analogue Scale e. Nilai VAS 0 .Activity. Untuk pasien yang memiliki gangguan kognitif. Cry. Faces. dengan penggambaran verbal pada masing-masing ujungnya. wajah merintih atau menangis Keempat poin ini secara luas digunakan oleh klinisi untuk menentukan tingkat kebenaran dan keandalan. Ayu Yuliani Sekriptini. Peneliti memilih nomor dari skor tingkat nyeri tersebut dari apa yang dirasakan pasien.32 yang dirasakannya.<4 = nyeri ringan. Legs.Activity.. Visual Analog Scale (VAS) dilihat berupa suatu garis lurus yang panjangnya biasaya 10 cm (atau 100 mm).

sobbing. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Item Cry Behavioral No cry Moaning Crying Scream Definition 1 Child is not crying. but the cry is gentle or whimpering. 2013 . occasional complaint Crying steadily. moves easily No cry (awake or asleep) Consolability Content. dan Consolability Criteria Face Legs Activity Cry Score -0 No particular expression or smile Normal position or relaxed Lying quietly. may be scored complaint or without complaint.. disinterested Uneasy. shiting back and forh. rigid or jerkig Council http://www2. frequent complaints Difficult to console or comfort Reassured by accosional al touching. Faces. Di dalam skala ini terdapat enam kategori dari perilaku nyeri: menangis.33 Tabel 2. f. normal position. verbal. sreams or sobs.3. 2 Child is crying. Score Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. withdrawn. torso.. or legs draw up Arched. cleched jaw Moans or whimpers. Ayu Yuliani Sekriptini.org/ painrelief/pcs pain files/app_d_flacc. distractible Sumber : National Health and Medical Research massgeneral. ekspresi muka. relaxed Score -1 Occasional grimace or frown. restless. Penilaian skor nyeri diperoleh berdasarkan hasil penilaian keseluruhan.pdf Kicking. 2 Child is moaning or quietly vocalizing silent cry. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Skala penilaian CEOPS berupa penilaian yang mencakup perilaku nyeri anak dan keluhan yang rasakan. Skor 4 mengindikasikan awitan nyeri. Skala penilaian CHEOP digunakan untuk anak usia 1-7 tahun.2. sentuhan. tense Squimin. 3 Cild is in a full-lunged cry. skor maksimal nyeri adalah 13. dan kaki. Legs. Tabel 2. Cry.Activity. hugging or being talked to. FIK UI. tense Score -2 Freuent to constant quivering chin.

. Child is not touching or grabbing at wound. J. Legs tensed and/or pulled up tightyly to body kept there. New York. Body is shuddering or shaking involuntarily.g. Child’s arms are restrained. include gentle swinning or separate-like movements. “I want to see mommy” of “I am thirsty” Child complains I about pain.J. Child’s legs are being held down. “It hurts.L.. e.. Body (not limbs) is at rest... H. Child is gently touching wound or wound area. 2013 . G.T.34 Item Facial Behavioral Composed Grimace 1 2 Smiling 0 Child None Verbal Other complaints 1 1 Torso Touch Legh Pain complaints Both complaints 2 2 Positive 0 Neutral 1 Shifting 2 Tense Shevering 2 2 Upright 2 Restrained Not touching 2 1 Reach 2 Touch 2 Grab 2 Restrained Neutral 2 1 Squirm/kicking 2 Drawn up/tensed 2 Standing Restrained 2 2 Definition Neutral facial expression Score only if definite negative facial expression score only if definite positive facial expression Child not talking Child complains. et al... torso is inactive.. e. Legh may be in any position but are relaxed. CHEOPS: A behavioral scale for rating postoperative pain in children. 9. Johnson.. In Field. Child is a vertical or upright position. et al (editors) Advances in pian Resesrcn and Therapy.g. Goodman. P. I want my mommy”. Chid makes any positive statement or talks about things without complaint. FIK UI. crouching or kneeling. Ayu Yuliani Sekriptini. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Body is arcehed or rigid. Standing. but not about pain. Body is in motion in shifting or serpentine fashion. Score Sumber : McGrath. Body s restrained. Child is reaching for but not touching wound. Child is grabbing vigorously at wound. Child complains about pain and about other. Definitive uneasy or restless movement in the legh/or striking out with foot or feet. Raven Press.

Scheiner et al.31%). Madu merupakan zat pemanis alami yang diproduksi oleh lebah madu dari nektar tanaman atau sekresi bagian lain dari tanaman atau ekskresi dari insekta pengisap tanaman. dan niacin (0. yang dikumpulkan. Akanmu et al.. kalori (295.50%). fruktosa (38.20 g). 2004). posfor (12 mg). 2. FIK UI. abu (0. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.2. sukrosa (1. 2013 . Komposisi Kimia dan Biologis Madu Menurut hasil pengkajian dari para ahli. Komposisi kimia madu hasil ekstraksi terdiri dari air (17.20 g).. 2011).. Sementara untuk kadar glukosa.. Penggunaan Madu Dalam Penanganan Nyeri Pada Anak 2. zat besi ( 0.. (Goenarwo et al. Komposisi kimiawi utama dalam madu total karbohidrat (78.00 kal).35 2. 2011). dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nectar) atau bagian lain dari tanaman (extra floral nectar) atau ekskresi serangga (SNI. Jenis gula atau karbohidrat yang terdapat di dalam madu alami yakni fruktosa.7%). kalsium (2 mg). yang memiliki kadar yang tertinggi. Pengertian Madu Madu merupakan cairan alami yang umumnya mempunyai rasa manis. lebih dari 181 macam senyawa atau unsur dan zat nutrisi yang ada. 2011. dan sukrosanya rendah. protein (0.5 gram per 100 gram madu alami. 2011.02 mg) (Alzubier & Okechukwu. Akanmu et al.. 2010). kadar air (78. lemak (0 g). protein (1.10%).20%).2. yaitu sedikitnya bisa mencapai 38. asam organik (0.2.2.90 g).17%).8 mg%). dikeringkan. serat kasar (0 g). maltosa. lalu disimpan di dalam sarang hingga matang (Hamad.3. flavonoid (0. natrium (10 mg). diubah dan dikombinasikan dengan zat tertentu dari lebah kemudian ditempatkan. 2002. glukosa (31%).1 mg).02 mg). Ayu Yuliani Sekriptini. 2011. thiamin (0. maltosa (7.. 2004. Madu mengandung monosakarida yang mudah diserap dalam usus tanpa membutuhkan proses pemecahan yaitu fruktosa (38%) dan glukosa (31%). dan abu (0.. Fruktosa atau yang sering disebut Levulosa merupakan gula murni atau alami yang berasal dari saripati buah-buahan.57%). Cornelia & Chis. terkandung di dalam madu alami.00 g). Suarez et al.

sonokeling. hutan. mangga. Beberapa jenis madu di Indonesia antara lain madu kapuk. lipase) yang memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh.. Madu mengandung beberapa senyawa organik yang telah terindetifikasi antara lain seperti polyphenol. rambutan. Fe. apel. 2000. 2002). sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri (Almada. mahoni. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Truchado et al. dan minyak volatil. jambu mente.. Selain itu didalam madu juga terdapat berbagai jenis enzim. lilin. bamboo. kaliandra. Goenarwo. gen pembiakan. 2007. dan asam formik (Puspitasari. 2011). Komponen tambahan yang terkandung didalam madu seperti lisozim.. oksalat) (Purabaya. durian. Ayu Yuliani Sekriptini. seperti hidroksi metal furfural. dan asam organik (asam malat. garam Iodium. flavoid. bunga matahari dan madu royal jelly. 2. aster. asam fenolik dan flavonoid juga terdapat dalam madu yang berfungsi sebagai antioksidan dan anti radang. 2007). antara lain enzim glukosa oksidase dan enzim invertase yang dapat membantu proses pengolahan sukrosa untuk diubah menjadi glukosa dan fruktosa yang kedunya mudah diserap dan dicerna oleh tubuh. alfalfa. serta mengandung flavonoid yaitu pinocrembin (Puspitasari.2. FIK UI. Kandungan flavonoid diduga menghambat produksi cyclooxygenase. katalase.. K. Selain itu madu mengandung enzim amilase. investase. peroksidase. madu juga mengandung berbagai macam enzim (amylase. kopi. basswood. Madu memiliki kandungan antibiotika sebagai antibakteri pada luka dan mengandung dekstrosa.4. Alzubier & Okechukwu. diastase. 2003). 2013 . Na. enzim lipase. Mg. Selain itu. salah satunya adalah enzim katalase yang mampu memberikan efek pemulihan. S.36 Madu juga mengandung berbagai mineral seperti Ca. Jenis-jenis Madu Jenis-jenis madu beraneka ragam tergantung nektar tanamannya. dan glikosida. klengkeng. tartrat. jambu air. multiflora. Madu mengandung berbagai macam enzim. sitrat. 2009. athel. karet. laktat. Cl. P. Jenis-jenis madu lain yang terdapat di negara sub tropis menurut Puspitasari (2007) antara lain.

37

bergamot, blackberry, bluberry, blue curls, bluevine, boneset, buckwheat,
cantaloupe, cape vine, coralvine, cranberry, galiberry, goldenrod, holly,
horsemint, locust, manzanita, marigold, mesquite, mountain laurel,
mustard, palmatto dan pepperbush. Setiap madu mempunyai karakteristik
yang berbeda baik berdasarkan komposisi, rasa maupun penampilan fisik.
Jenis madu dibagi menjadi tiga macam yaitu, a) Madu flora yaitu madu
yang dihasilkan dari nektar bunga, b) Madu ekstra flora yaitu madu yang
dihasilkan dari nektar yang terdapat diluar bunga yaitu berasal dari bagian
tanaman yang lain seperti daun, cabang atau batang tanaman, c) Madu
embun yaitu madu yang dihasilkan dari cairan suksesi serangga yang
kemudian eksudatnya diletakkan pada bagian-bagian tanaman, cairan ini
kemudian dihisap dan dikumpulkan oleh lebah madu (Puspitasari, 2007).
Di Indonesia jenis madu yang dipasarkan sering diberi nama menurut
daerah asalnya, misalnya madu Sumbawa, madu Kalimantan, dan Madu
Sulawesi.
Kualitas madu ditentukan oleh waktu pemanenan madu, kadar air, warna
madu, rasa dan aroma madu. Madu yang memiliki kandungan enzim
diastase sebagai salah satu acuan yang digunakan Sandar Nasional
Indonesia (SNI) untuk menentukan madu tersebut asli atau tidak, karena
enzim diastase hanya dihasilkan dari kelenjar ludah lebah (Hamad, 2004;
Puspitasari, 2007).
Jenis madu yang sering digunakan pada beberapa pengobatan adalah madu
PERUM PERHUTANI ber-Standar Nasional Indonesia (SNI) atau disebut
sebagai madu perhutani. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhidayah,
(2011) tentang pengaruh madu dalam perawan oral care terhadap pasien
anak mukolitis akibat mukolitis pada anak menggunakan madu PERUM
PERHUTANI. Madu yang digunakan adalah jenis madu hutan multiflora
dan telah diuji kualitasnya oleh Pusat Perlebahan Nasional Perhutani
(PPNP). Berikut ini kandungan gizi madu perhutani :

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

38

Tabel 2.4. Kandungan gizi madu perhutani
Parameter
Kalori
Lemak
Asam lemak jenuh
Kolesterol
Total Karbohidrat
Serat makanan
Protein
Kalsium (Ca)
Natrium (Na)
Besi (Fe)
Kalium (K)
Vitamin A
Vitamin C

Satuan
Kal/100 gram
%
%
mg/100 gram
%
%
%
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
UI/100 gran
mg/100 gram

Hasil
320
0
0
<0
79,3
0,73
0,63
9,84
12,8
0,63
102
< 0,5
3,52

Sumber : Pusat Perlebahan Nasional Perum Perhutani 2008

2.2.5. Efek Terapeutik Madu
Madu merupakan bahan makanan yang mengandung nilai gizi tinggi
tinggi mengandung banyak komponen gula sederhana (monosakarida dan
disakarida) dan gula rantai panjang (polisakarida), selain itu madu
mengandung enzim untuk mencerna gula, vitamin, mineral dan lain-lain
(Bognadov et al., 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Alzubier dan Okechukwu (2011)
menyebutkan

madu

memiliki

efek

terapeutik

anti-inflammatory,

antipyretic, dan analgesic. Penelitian dilakukan pada tikus dengan
disuntikkan asam asetat pada peritoneum tikus dengan sebelumnya dikasih
madu per oral, hasil menunjukkan pemberian madu mengurangi ambang
nociception dan mengurangi rangsang

saraf terminal dari serat

nociceptive.
Suarez et al., (2010), menyebutkan madu asli 100% murni mengandung
zat antibiotik yang dapat menyembuhkan penyakit dari berbagai patogen
penyebab penyakit. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi aktivitas
antibakteri pada madu asli 100% murni; pertama, kadar gula madu yang
Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

39

tinggi akan menghalang pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tersebut
tidak dapat hidup dan berkembang. kedua, tingkat kemanisan madu yang
tinggi (pH 3.65) akan mengurangi pertumbuhan dan daya hidupnya
sehingga bakteri tersebut mati,

ketiga, adanya pertumbuhan radikal

hidrogen peroksida yang bersifat membunuh mikroorganisme patogen,
dan keempat adanya senyawa organik yang bersifat antibakteri antara lain
seperti polyphenol, flavonoid, dan glikosida.
2.3. Pengaruh Madu Terhadap Penurunan Respon Nyeri
Madu mengandung berbagai mineral seperti Ca, Na, K, Mg, Fe, Cl, P, S,
garam Iodium, dan asam organik (asam malat, tartrat, sitrat, laktat, oksalat)
(Purabaya, 2002). Selain itu, madu juga mengandung berbagai macam
enzim (amylase, diastase, investase, katalase peroksidase, lipase) yang
memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh, serta
mengandung flavonoid yaitu pinocrembin yang memiliki efek anti nyeri.
Puspitasari

(2007)

dalam

penelitiannya

menyebutkan

madu

dapat

memberikan efek analgesik. Flavonoid dalam madu dapat menghambat
produksi cyclooxygenase, sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan
nyeri.
Geonarwo, Chodidjah, dan Susanto (2011) melakukan eksperimental dengan
pendekatan post test only control group design. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan hewan uji tikus putih jantan galur wistar 25 ekor, dibagi
dalam 5 kelompok secara random, kelompok I (kontrol negatif) diberi
aquadest, kelompok II diberi madu 25%, kelompok III diberi madu 50%,
kelompok IV diberi madu 100% dan kelompok V (kontrol positif) diberi
parasetamol 4,5 mg/kgBB. Setelah 5 menit semua kelompok disuntik
dengan asam asetat 1% (0,1 ml) intra peritoneum, kemudian dihitung jumlah
geliat setiap 5 menit selama 1 jam. Hasil penelitian menunjukkan madu
dengan konsentrasi madu 50% memiliki efek analgetik yang meningkat,
sedangkan madu dengan konsentrasi 25% dan 100% menunjukkan efek
analgetik yang menurun.

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Kolcaba (2003). 2013 .. Kolcaba mengaitkan ketiga tipe kenyamanan tersebut dengan empat pengalaman kenyaman yaitu fisik.. kesehatan. Teori Keperawatan “Comfort” Katharine C. sosial dan kebutuhan lingkungan yang memfasilitasinya seperti alat monitor dan laporan verbal atau non verbal. menilai kenyaman dengan membuat struktur taksonomi yang bersumber pada tiga tipe kenyamanan yaitu reliefe.4. Kolcaba Kolcaba mendefinisikan salah satu intervensi perawatan kesehatan sebagai kebutuhan tentang kenyamanan. Konsep Umum Teori “Comfort” Katharine C. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan fisik. peningkatan dari kondisi penuh tekanan dalam situasi perawatan kesehatan. Lingkungan adalah pengaruh eksternal yang dapat dimanipulasi untuk meningkatkan kenyamanan.4. dan menilai kembali kenyamanan pasien setelah pelaksanaan tindakan kenyamanan kemudian dibandingkan denan keadaan sebelumnya. Kolcaba 2. Ease adalah tidak adanya ketidaknyamanan spesifik. dan transcendence.40 2. psikospiritual. Ayu Yuliani Sekriptini. kebutuhan pendidikan dan dukungan. lingkungan. Kesehatan adalah fungsi optimal dari Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dan kebutuhan akan konseling financial dan intervensi (Tomey & Alligood.1. dan sosial. Manusia atau pasien adalah individu atau keluarga yang membutuhkan perawatan kesehatan. Empat konsep sentral dalam paradigma keperawatan yaitu manusia atau pasien.. kebutuhan yang berhubungan dengan ukuran secara patofisiologi. Sedangkan transcendence yaitu kemampuan untuk bangkit diatas ketidaknyamanan ketika ketidaknyamanan yang ada tidak dapat dihindari atau dihilangkan. lingkungan dan keperawatan. Relief yaitu status ketidaknyamanan yang dimiliki menjadi berkurang atau status terpenuhinya kebutuhan kenyaman spesifik. FIK UI. ease. Teori kenyamanan memandang keperawatan adalah pengkajian yang inten tentang kebutuhan kenyamanan untuk mengatasi kebutuhan tersebut. psikospiritual. 2006). yang tidak dapat ditemui pada penerima pelayanan tradisional.

psikospiritual. Seluruh konsep tersebut terkait dengan pasien dan keluarga.. professional dan beretika. intervensi keyamanan (comfort care). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. model keperawatan yang perhatian adan empati. Comfort care adalah filosofi perawatan kesehatan yang berdasarkan fisik. 2003). 2013 . HSBs adalah perilaku pasien atau keluarga yang terlibat secara sadar atau tidak sadar. pasien. HSBs dapat ekternal. psikospiritual. 2003). Ayu Yuliani Sekriptini. internal atau kematian yang damai. FIK UI.. dan transcenden dalam konteks pengalaman manusia secara fisik. sosiokultural. Comfort atau kenyamanan adalah pengalaman langsung yang diperkuat dengan kebutuhan relief. jujur. dan lingkungan yang nyaman bagi pasien. lingkungan dan sosiokultural (Kolcaba. Kolcaba. healt seeking behavior (HSBs) dan intergritas institusional. Intervening variabel adalah faktor positif taupun negatif yang sedikit sekali dapat dikontrol oleh perawat atau institusi tetapi berpengaruh langsung kesuksesan rencana intervensi kenyamanan (Kolcaba & DiMarco. 2005. Comfort care mempunyai 3 komponen yaitu intervensi yang sesuai dan tepat waktu. keluarga yang dapat dicapai dengan memperhatikan kebutuhan kenyamanan. berfokus pada kenyaman pasien.. ease. Konsep teori kenyamanan adalah kebutuhan kenyaman. Comfort measures adalah intervensi yang sengaja dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pasien atau keluarga. menggerakkan mereka ke arah kesejahteraan. Comfort needs adalah kebutuhan akan rasa nyaman relief. Integritas institusional adalah kondisi sarana perawatan kesehatan yang menyeluruh. dan trascendece terkait dengan empat pengalaman yaitu fisikal psikospiritual. intervening variables. peningkatan kenyaman. ease.41 komunitas. sosiokultural dan lingkungan.

pasien dan anggota keluarga terikat oleh HSBs yang akan meningkatkan kenyamanan lebih lanjut. 2003). 2013 .42 Sumber : Kolcaba 2003 Gambar 2. 3) intervening variables diperhitungkan dalammerancang intervensi. 7) bila pasien dan keluarga telah memiliki HSBs yang kuat sebagai hasil dari comfort care.4. 5) pasien dan perawat sepakat tentang HSBs yang diinginkan. Ayu Yuliani Sekriptini. Aplikasi comfort theory pada keperawatan anak Comfort theory diterapkan dalam beberapa kondisi pasien seperti pasien penderia kanker payudara stadium awal.2.. FIK UI. 6) bila kenyamanan tercapai. dan 8) bila perawat dengan pelayanan puas terhadap institusi pelayanan.6. 2) perawat menyusun rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan. 4) intervensi yan efektif dan dilakukan dengan penuh caring yang hasilnya akan langsung terlihat sebagai pengingkatan rasa nyaman. khususnya kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh suppor system eksternal. 1) perawat mengidentifikasi kebutuhan kenyamanan pasien dan anggota keluarga. Kerangka konseptual teori kenyamanan Kerangka konsep diatas mejelaskan proposition adalah pernyataan yang menghubungkan antar konsep. Intervensi ini disebut comfort measures. 2. Sedangkan comfort care akan mengkaitkan semua komponen. masyarakat akan mengetahui kontribusi institusi tersebut terhadap program kesehatan pemerintah.. perawat dan keluarga akan lebih puas dengan pelayanan kesehatan. Institusi menjadi lebih baik terpandang dan berkembang (Kolcaba. Berikut ini adalah proposition teori kenyamanan. pasien dengan kondisi Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..

1 Aplikasi Comfort Theory pada Keperawatan Anak Sumber: Kolcba & DiMarco (2005) Skema di atas menggambarkan hubungan antara konsep-konsep penting dalam teori comfort. 2013 . Baris 2 adalah tingkat praktik comfort pada kasus perawatan anak. Aplikasi comfort theory dalam penanganan nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah pada anak dapat diuraikan bahwa aspek health care Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. unit luka bakar. Baris 3 adalah cara dimana masing-masing konsep dilaksanakan. FIK UI. pada perawatan peri dan intra operatif. Kolcaba menyatakan teori kenyamanan meliputi tiga alasan logis yang terdiri dari induction. Baris 1 menggambarkan konsep teori secara umum dan merupakan tingkat tertinggi yang bersifat abstrak dan setiap baris berikutnya lebih bersifat konkret. lebih jelas dapat dilihat pada kerangka konsep Kolcaba 2.. 2 berikut ini : Skema 2. deduction.. Ayu Yuliani Sekriptini.43 inkontinensia urin. dan retroduction. kondisi individu dengan keterbelakang mental dan keperawatan pada bayi baru lahir (Kolcaba & DiMarco)..

. keluarga dan rumah sakit. Tahap perkembangan dan kehadiran orang tua merupakan interventing variabel yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk mencapai rasa nyaman pada semua aspek (kenyamanan fisik. Dengan demikian pemenuhan rasa nyaman yang optimal pada anak akan disesuaikan dengan karakteristik tumbuh kembang akan membawa manfaat bagi anak. Hal tersebut merupakan keluaran yang positif yang membawa manfaat besar baik rumah sakit. psikospiritual. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema 2. Ayu Yuliani Sekriptini.44 need yaitu anak memiliki kebutuhan rasa nyaman selama prosedur invasif dilakukan. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. sosiokultural. penurunan kebutuhan akan tindakan medis yang lain dan peningkatan kepuasan anak dan keluarga. Pemenuhan rasa nyaman yang adekuat pada semua aspek dengan tingkat relief hingga transcendence akan mendorong pada penentuan intervensi berikutnya.. dan lingkungan). 2013 . Aspek nursing intervention yaitu pemberian intervensi non farmakologis berupa pemberian madu yang merupakan bagian intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman.2 dibawah ini. FIK UI.

termasuk anak yang masih dalam kandungan (Undang-undang Perlindungan Anak No. keluarga puas dengan pelayanan RS Jalur 2 Kebutuhan rasa nyaman bagi anak dan keluarga + Usia. 23 pasal 1 tahun 2003). jenis kelamin anak dan kehadiran keluarga Rasa nyeri diukur dengan checklist CHEOPS Jalur 3 Tidak nyeri. tidak menimbulkan trauma saat anak masuk RS Prosedur tetap dalam perawatan pengambilan darah dengan memberikan madu sebelum diberikan intervensi invasif Skema 2.1. dan tidak merasa nyeri LOS minimal. eksternal. 2013 .5. pengalaman nyeri sebelumnya. segera diatasi. jenis kelamin.5. lingkungan dan dukungan orang terdekat Rasa nyaman fisik.. Konsep Anak 2. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. tindakan medis berkurang Percaya denga perawat..2. psikospiritual sosokulturall. FIK UI. Pengertian Anak Anak adalah seseorang yang belum berusia delapan belas (18) tahun. Aplikasi Comfort Theory dalam Tindakan Pemberian Madu 2. Ayu Yuliani Sekriptini. sosial dan spiritual.45 Jalur 1 Health care need + Nursing Interventions + Atraumatic Care + Intervening variables Enhanced Comfort Health seeking behaviour Institusional itnegrity Internal. lingkungan Mencatat usia. anak berada pada masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik kebutuhan fisik. anak tidak menangis saat tindakan. psikologis. analgetik kurang. meninggal dengan tenang Kepuasan keluarga. Dalam keperawatan anak yang dimaksud anak adalah seseorang yang berusia kurang dari delapan belas tahun.

Fase perkembangan anak terdiri dari fase prenatal. Dalam proses perkembangan anak memiliki ciri fisik. fase prasekolah. Fase toddler merupakan saat anak berusia 1-3 tahun. Ayu Yuliani Sekriptini. Perkembangan biologis anak usia toddler mengalami fase toilet training dan perkembangan motorik merupakan proses tumbuh kembang sistem gerak seorang anak setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan sistem interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. ekspresi wajah menunjukan nyeri. mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri (Hokenberry & Wilson. respon tubuh terlokalisasi secara sengaja menarik diri dari area yang terstimulis. Perkembangan biologis anak usia prasekolah ditandai dengan kematangan sistem organ dan penyempurnaan perilaku motorik halus dan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. fase toddler.. 2004). menangis keras. FIK UI.. dan terakhir fase remaja yaitu saat anak memasuki usia 13-18 tahun (Hockenberry & Wilson. pola koping dan perilaku sosial (Supartini.5. fase infant. 2007). Fase neonatal merupakan masa saat bayi lahir sampai usia 28 hari. fase neonatal. Fase infant adalah fase saat bayi berusia 1 bulan sampai 12 bulan. Perkembangan usia toddler merupakan kelompok usia antara 1 sampai 3 tahun.46 2. fase sekolah dan fase remaja. 2007). Perkembangan usia prasekolah merupakan kelompok usia antara 3 sampai 5 tahun. Ditinaju dari kemampuan berbahasa anak usia toddler secara umum mengalami kesulitan dalam pengucapan dalam menyampaikan suatu keinginan. Kelompok anak Berdasarkan Fase Perkembangan Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. Fase prenatal mencakup masa kehamilan sampai anak dilahirkan. Setelah fase ini anak memasuki fase pra sekolah yaitu saat anak memasuki usia 3-6 tahun.. 2013 . kognitif.2. konsep diri. Fase sekolah merupakan fase anak berusia 6 sampai 12 tahun. Repon anak toddler terhadap nyeri. Ditinjau dari perkembangan sosial belum memiliki toleransi yang lebih baik dalam hal perpisahan dengan orang tua.

Pengertian Atraumatic care Atraumatic care adalah suatu tindakan perawatan terapeutik yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan intervensi melalui cara mengeliminasi atau meminimalisasi stress psikologi dan fisik yang dialami oleh anak dan keluarganya dalam sistem pelayanan kesehatan (Supartini. Wong dan Hockenberry (2003) menyebutkan bahwa atraumatic care berhubungan dengan siapa. memukul tangan atau kaki. meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri.47 kasar. bimbingan dan persetujuan. kelompok usia ini memiliki toleransi yang lebih baik dalam hal perpisahan dengan orang tua dibandingkan usia toddler. Namun demikian mereka masih membutuhkan pengamanan dari orang tua. Perpisahan yang panjang dengan orang tua merupakan hal yang sulit bagi anak usia prasekolah. 2013 . kapan. Ayu Yuliani Sekriptini.6. Ditinjuau dari perkembangan sosial anak usia prasekolah. FIK UI. dan faktor situasi lainnya. menempel dan memegang orang tua. 2. Usia toddler masih belum mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang dirasakan karena keterbatasan kosakata dan pengalaman nyeri. membutuhakan dukungan emosi seperti pelukan dan memberikan antisipasi secara aktual (Hockenbarry & Wilson. sedangkan pada usia prasekolah dalam berespon terhadap nyeri diantaranya dengan menanis keras atau berteriak.6. 2007). bagaimana Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Anak usia ini dapat berhubungan secara mudah dengan orang asing dan toleran terhadap perpisahan dengan orang tua hanya sedikit atau tanpa protes. Atraumatic care 2. mendorong hal yang menyebabkan nyeri.1. Terkait dengan respon nyeri yang disebabkan oleh prosedur invasif yang menyakitkan bagi anak tergantung pada usia anak. akan tetapi mereka dapat berespon dengan baik terhadap bila ada perpisahan dan penjelasan yang konkrit. terutama ketika memasuki usia sekolah.. tingkat perkembangan anak. jaminan.. mengapa. 2004). 2007).. dimana. misalnya perpisahan yang disebabkan oleh penyakit dan Hospitalisasi (Hokenberry & Wilson. apa.

tidak melakukan kekerasan pada anak. meningkatkan kemampuan orangtua dalam mengontrol perawatan anak. alihkan dengan bermain untuk menghindarkan rasa takut. persiapan anak sebelum tindakan atau prosedur yang tidak menyenangkan. menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga. ketidak mampuan berkomunikasi secara efektif dengan profesional kesehatan. yaitu. mencegah atau meminimalkan perpisahan anak dari orangtua. Terkait dangan hal tersebut nyeri akan berhubungan dengan peningkatan tandatanda vital sehingga prinsip dari tindakan perawatan nyeri adalah memeriksa tanda-tanda vital pasien setiap saat. American Pain Society (2000) menyebutkan kondisi nyeri terdapat lima tanda vital yang harus diperhatin. Terdapat tiga prinsip kerangka kerja untuk mencapai tujuan tersebut. lamanya tinggal di rumah sakit. misalnya nadi. dan modifikasi lingkungan fisik. orangtua pun merasa semakin stress.48 dari setiap prosedur tindakan yang ditujukan pada anak bertujuan untuk mencegah atau mengurangi stres psikologi dan fisik. Ayu Yuliani Sekriptini. Contoh dari peningkatan tindakan atraumatic care menyangkut mengorganisir hubungan orangtua dengan anak selama perawatan. mengijinkan privasi anak.. tekanan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Wong dan Hockenberry (2003) menyebutkan tujuan mencapai perawatan atraumatic care adalah jangan menyakiti. Karena anak stress dan gelisah serta tidak tenang berada di rumah sakit tanpa orangtua di sampingnya. Sparks et al.. Stress psikologi pada orangtua dapat berupa perhatian terhadap nasib anak mereka. dan tidak adekuatnya pengetahuan dan pemahaman tentang situasi kondisi penyakit (Zempsky. mencegah atau meminimalkan cedera tubuh. mengontrol rasa nyeri. 2007). FIK UI.. meningkatkan kontrol diri.. Azis (2005). Kondisi tersebut menjadi perhatian dan tanggung jawab dari seorang perawat kesehatan profesional. 2013 . 2004. mengatakan untuk mencapai perawatan tersebut beberapa prinsip yang dapat dilakukan perawat antara lain. mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis). & Cravero.

2009. libatkan orangtua. gunakan skala nyeri. 2007) : a.6. meningkatkan kontrol diri anak. Istilah yang digunakan untuk menanyakan nyeri pada anak dengan menggunakan pertanyaan.. dan ambil tindakan dan evaluasi hasil nyeri (Wong & Hockenberry. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga Dampak perpisahan dari keluarga akan menyebabkan kecemasan pada anak sehingga menghambat proses penyembuhan dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Manchikanti et al.. Tidak melakukan kekerasan pada anak. Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai tenik misalnya distraksi. d. dan mencegah terjadinya nyeri serta cedera tubuh (Hockenberry & Wilson.. 2013 . evaluasi perubahan psikologi dan tingkah laku. Prinsip yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah mencegah dan meminimalkan perpisahan anak dengan keluarganya.. b. FIK UI. cari penyebab nyeri. Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. suhu.49 darah. Ayu Yuliani Sekriptini. Kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak dapat meningkatkan kemandirian anak dan anak akan bersikap waspada dalam segala hal. 2010). seperti menanyakan anak. Prinsip Atraumatic care Prinsip utama dari pelayanan yang tidak menimbulkan trauma (atraumatic care) pada anak adalah bahwa tidak ada yang tersakiti. Mencegah atau mengurangi cedera (injuri) dan nyeri (dampak psikologis). Karena nyeri berhubungan dengan sensori dan emosional. dan pernafasan (Soyer et al. relaksasi dan imaginary. c. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.2. maka digunakanlah strategi penilaian kualitatif dan kuantitatif.. 2. 2003).

Tommey & Alligood (2006) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2.. Kerangka Teori Dari uraian diatas maka peneliti mencoba menggambarkan kerangka konsep teori yang dapat mempengaruhi terjadinya nyeri. yang dapat menghambat proses kematangan dan tumbuh kembang anak. FIK UI. e.Pengalaman nyeri sebelumnya . Melalui modifikasi lingkungan yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman dilingkungan.Usia . Modifikasi lingkungan. Kerangka Teori Faktor yang mempengaruhi nyeri: .7.Relief . Ayu Yuliani Sekriptini.3.50 kehidupan anak.3.Jenis kelamin . 2013 .Transcendence Pengukuran Nyeri CHEOPS Atraumatic Care Pemberian madu per-oral Tidak Nyeri Kebutuhan nyaman anak terpenuhi Dikutip dari: Kolcaba & DiMarco (2005). berikut : Skema 2..Lingkungan dan dukungan orang terdekat Anak sakit Dibawa ke unit Gawat Darurat Tindakan invasif pengambilan darah Nyeri saat prosedur Comfort Theory: .Ease . Adapaun kerangka teori dalam penelitian ini seperti pada skema 2..

dan definisi operasional.. 3. Gambaran mengenai variabel-variabel yang akan diteliti dapat diperoleh melalui kerangka konsep. sebagai suatu petunjuk dalam mengidentifikasi dan menginterpretasi suatu hasil.BAB 3 KERANGKA KONSEP.. Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut : 3. hipotesis penelitian.1. 3. Variabel terikat (dependent) penelitian ini yaitu skor nyeri pada anak.2. Varibel Bebas (independent) Variabel bebas (independent) adalah variabel yang bila ia berubah akan mengakibatkan perubahan variabel lain (Sastroasmoro & Ismael. sehingga mudah dipahami dan dapat menjadi acuan peneliti. Hipotesis penelitian merupakan pernyataan sementara yang akan diuji kebenarannya yang dinyatakan dalam hipotesis alternatif. Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini tindakan pemberian 51 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Kerangka konsep menggambarkan ada tidaknya pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak saat dilakukan tindakan pengambilan darah di ruang unit gawat darurat. Kerangka Konsep Penelitian Kerangka konseptual merupakan kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur ketika penelitian dilakukan.. 2011). Varibel Terikat (dependent variabel) Variabel terikat (dependent) adalah variabel yang berubah akibat perubahan variabel bebas (independent) (Sastroasmoro & Ismael. Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari variabel yang diteliti untuk memperjelas maksud dari suatu penelitian yang dilakukan. Kerangka konnsep penelitian ini menjelaskan tentang variabel-variabel yang dapat diukur dalam penelitian ini.1. Kerangka konsep penelitian diperlukan sebagai landasan berpikir dalam melaksanakan suatu penelitian yang dikembangkan dari tinjauan teori yang telah dibahas sebelumnya.1. FIK UI. 2011). HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan kerangka konsep penelitian. 2013 .1. Ayu Yuliani Sekriptini.

Variabel Perancu (confounding) Variabel perancu (confounding) adalah jenis variabel yang berhubungan dengan variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). Beberapa faktor yang termasuk variabel confounding dalam penelitian ini adalah usia. Pengalaman nyeri sebelumnya d..3. Jenis kelamin c. 3. jenis kelamin. FIK UI. tetapi bukan merupakan variabel antara (Sastroasmoro & Ismael. Identifikasi variabel confounding penting agar peneliti tidak salah dalam melakukan pengambilan keputusan. 2011). Kerangka Konsep Penelitian Variabel bebas Variabel terikat Kelompok Intervensi: Mendapatkan intervensi madu Kelompok kontrol: Mendapatkan intervensi placebo (air matang) Skor nyeri Variabel perancu: a. Hubungan antar variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada skema 3. Ayu Yuliani Sekriptini.1.. Pendampingan orang tua Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..52 madu pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah dan kelompok kontrol mendapatkan intervensi pemberian placebo (air matang). Variabel bebas (independent) akan mempengaruhi variabel terikat (dependent). 2013 . pendampingan orang tua.1. Usia b. pengalaman nyeri sebelumnya.1 berikut ini Skema 3.

3. 2011).2. FIK UI. Hipotesis Mayor Pemberian madu berpengaruh terhadap penurunan skor nyeri pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah di ruang unit gawat darurat.2.2.2. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 . Hipotesis Minor a. Ada perbedaan rerata skor nyeri pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. pendampingan orang tua). Ada perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak (usia.Definisi Operasional Tabel..1. Definisi Operasional Variabel Penelitian Bebas Tindakan pemberian madu oral Definisi Operasional Cara ukur Hasil Ukur Skala Tindakan pemberian madu peroral Observasi (chek list) 0 = diberi placebo (air putih) sebelum pengambil -an darah 1 = diberi madu sebelum pengambil -an darah Nominal Madu diberikan 2 menit sebelum intervensi pengambilan darah Jika pengambilan darah tidak berhasil prosedur pemberian madu di ulang seperti semula dengan menunggu 5 menit untuk istirahat terlebih dahulu Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 3.1. 3.53 3.3..Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian yang harus diuji validitasnya secara empiris (Sastroasmoro & Ismael.. b. 3. jenis kelamin. pengalaman nyeri sebelumnya.

tangisan. posis badan. sentuhan dan posisi kaki. Skor nyeri berdasarkan penjumlahan skor pada setiap parameter Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. ekspresi verbal...54 Variabel Penelitian Terikat Skor nyeri Definisi Operasional Madu yang digunakan dalam penelitian ini adalah madu murni kosentrasi 50%. dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan diuji oleh Pusat Perlebahan Nasional Perhutani. Cara ukur Hasil Ukur Skala Obersevasi dengan Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Nilai skala nyeri Berkisar dari 4-13 Interval Jenis madu multiflora yang diproduksi oleh Perum Perhutani Skor nyeri yang dirasakan anak akibat tindakan invasif pengambilan darah Penilaian dilakukan setelah intervensi pengambilan darah dengan melihat hasil rekaman video 4 = skor tidak nyeri Skala nyeri 13= skor CHEOPS terdiri nyeri dari 6 tertinggi parameter.. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. ekspresi wajah. FIK UI.

Umur dihitung dalam tahun Jenis kelamin Jenis sex : lakilaki dan perempuan Pengalaman Pengalaman anak sebelumnya yang pernah mengalami nyeri dengan jenis yang sama Pendampingan Kehadiran orang orang tua tua saat tindakan invasif dilaksanakan Cara ukur Hasil Ukur Skala Kuesioner 0 : 1-3 tahun (toddlers) 1 : >3-6 tahun (preschool) (Hockenberry & Wilson. FIK UI. 2013 .55 Variabel Penelitian Perancu Usia Definisi Operasional Usia responden dihitung dari tanggal lahir sampai dengan bulan dilakukan penelitian. 2009) Nominal Kuesioner 0 : laki-laki 1 : perempuan Nominal Kuesioner 0 : ada riwayat pengambilan darah sebelumnya 1 : pertama kali 0 : hadir 1 : tidak hadir Nominal Observasi Nominal Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini....

Sampel dan Besar Sampel 4. Desain penelitian yang dipilih jenis nonequivalent control group.. kelompok anak yang diberikan madu sebelum tindakan pengambilan darah sebagai kelompok intervensi dan kelompok anak yang diberi intervensi placebo (air putih) sebelum tindakan pengambilan darah sebagai kelompok kontrol. penilaian nyeri dilakukan saat pengambilan darah.2. Penelitian ini melibatkan dua kelompok yaitu. Pemberian madu dan placebo (air putih) pada kelompok intrevensi ataupun kelompok kontrol dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti (perawat ruangan).. Ayu Yuliani Sekriptini.1. Penelitian quasi eksperiment adalah penelitian yang mengujicoba suatu intervensi pada kelompok subjek dengan kelompok pembanding namun tidak melakukan rendomisasi untuk memasukkan subjek ke dalam kelompok perlakuan atau kontrol (Polit & Beck.1. perlakuan kelompok intervensi dan kelompok kontrol disamakan yaitu dilakukan menghitungan denyut nadi lima menit sebelum tindakan dan dua menit kemudian diberikan madu untuk kelompok intervensi dan placebo untuk kelompok kontrol. pengukuran hanya dilakukan setelah selesai intervensi. after only design (Dharma. after only design. After only design karena penelitian ini tidak melakukan pengukuran sebelum intervensi. Hasil studi pendahuluan didapatkan rata-rata jumlah kasus anak yang masuk ke ruang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti (Sastroasmoro & Ismael. 2011). 2011). Pada pelaksanaan penelitian.. Populasi dalam penelitian ini adalah responden anak usia 1-6 tahun yang masuk ke ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. 2013 . 4. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan berupa quasi eksperiment dengan jenis nonequivalent control group. peneliti dan asisten ahli sebelumnya melakukan inter-observer reliability dengan tujuan menghasilkan suatu skor kesepakatan antar observer/penilai dalam pengukuran suatu instrumen. pemilihan kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak diacak.56 BAB 4 METODE PENELITIAN 4. FIK UI. 2008).Populasi.2.

rata-rata anak masuk ke unit gawat darurat dengan penyakit diare dan panas. sedangkan kriteria ekslusi adalah keadaan yang menyebabkan subyek yang telah memenuhi kriteria inklusi tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian (Sastroasmoro & Ismael 2011). b. Ayu Yuliani Sekriptini. c. 4.. 2013 . Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ibu/keluarga bersedia apabila anak menjadi responden penelitian. b. 2011). Kondisi anak sangat lemah dan mengalami gangguan kesadaran. Pada consecutive sampling semua subyek yang dating secara berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro & Ismael. Anak usia 1-6 tahun.57 unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawianagun Kota Cirebon dalam setahun terakhir ini rata-rata per-bulan sebanyak 300 orang anak dengan rata-rata usia 1-17 tahun. Pertimbangan yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan menentukan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kriteria inklusi pada sampel penelitian ini adalah: a. Akan dilakukan pengambilan darah intra vena. Sampel Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan menggunakan nonprobability sampling jenis consecutive sampling. d..2. FIK UI. Anak mampu berkomunikasi secara verbal dan non verbal. Ibu/keluarga tidak kooperatif. Jenis penyakit yang sering terjadi sangat beragam. Kriteria inklusi merupakan persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subyek agar dapat diikutsertakan ke dalam penelitian.2. Kriteria ekslusi pada sampel penelitian ini adalah: a..

.. (2003) tentang pemberian permen manis untuk mengurangi nyeri saat prosedur penusukan jarum pada anak usia sekolah. 2013 . Besar Sampel Perhitungan sampel penelitian ini mengunakan uji hipotesis beda rata-rata dua kelompok independent.. = 1. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: = =2 ( ) Keterangan : n = jumlah sampel s = standar deviasi kedua kelompok x1 – x2 = perbedaan klinis yang diinginkan (clinical judgment)  = serajat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti  = 0.3.5 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.4 × ( 23 − 1) + 0. Pada penelitian tersebut diperoleh rata-rata nyeri kelompok kontrol 8. pada penelitian terdahulu peneliti menggunakan penelitian yang dilakukan oleh Lewkowski et al.2.3.84) Perhitungan besar sampel minimal diperoleh berdasarkan hasil penilitian yang dilakukan sebelumnya. Ayu Yuliani Sekriptini. Rerata standar deviasi kedua kelompok dapat diperoleh dengan mencari varian kedua populasi dengan rumus sebagai ( ) = ( ) = [ ×( − 1) + × ( + − 2 berikut : − 1)] [3.05 atau 1.96)  = nilai Z pada kekuatan uji (power) (ditetapkan oleh peneliti sebesar 80% atau 0.9 dan jumlah sampel 19 orang.1 dengan standar deviasi 0.58 4. FIK UI..7 dengan standar deviasi 3. Pada kelompok intervensi rata-rata skala nyeri adalah 4.4 dan jumlah sampel adalah 23 orang.9 × (19 − 1)] 23 + 19 − 2 = 2.

Ayu Yuliani Sekriptini. RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon merupakan rumah sakit tipe B Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. maka besar sampel yang diperoleh adalah : (1.1) = =2 = = 29. peneliti memperoleh nilai standar deviasi rata-rata sebesar 1. atau kesalahan teknik dalam pemberian madu..3.5.5 (8.7 – 4. maka besar sampel ditambah 10%. FIK UI. berdasarkan hasil perhitungan didapatkan jumlah sampel keseluruhan setelah ditambah drop out adalah 68 responden yang terdiri dari 34 responden untuk kelompok intervensi dan 34 responden kelompok kontrol. peneliti membagi jumlah sampel menjadi 15 responden usia 1-3 tahun dan 15 responden usia >3-6 tahun.59 Berdasarkan penelitian tersebut.84) 1.. 4. untuk menguragi terjadinya bias pada hasil penelitian. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. 2013 ..4 = 30 Hasil perhitungan diperoleh sampel yang diperlukan sebanyak 30 responden.96 + 0. Besar sampel kemudian ditambah untuk menganisipasi kemungkinan drop out. Perhitungan sampel penelitian ini menggunakan derajat kepercayaan 95% dan kekuatan uji 80%. dengan rumus sebagai berikut : ′= n 1−f Keterangan : n’ = jumlah sampel f = estimasi drop out = 10 % Maka hasil perhitungan n’ = n1 = n2 = 34 responden Dengan demikian.

Ruangan yang digunakan adalah ruang unit gawat darurat. Right self determination Sebelum penelitian dilakukan responden dan keluarga yang menjadi responden penelitian diberikan informasi. Informasi yang diberikan meliputi manfaat. intervensi. ruangan ini dipilih karena intervensi pengambilan darah sering dilakukan di unit gawat darurat baik pasien baru atau pasien lama. 4. dan tujuan penelitian. Penjelasan dilakukan secara resmi tertulis dengan responden dan keluarga. Etika Penelitian Penelitian dilakukan setelah dinyatakan lolos oleh Komite Etik FIK UI serta mendapatkan persetujuan dari Direktur RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. Proses penelitian dimulai dari pembuatan proposal sampai menyusun laporan penelitian berlangsung selama 4 bulan. Waktu Penelitian Pengumpulan data dilaksanakan selama 20 hari dari tanggal 27 November sampai dengan 24 Desember 2012.4. dan dibutuhkan segera untuk menentukan intervensi selanjutnya. Setiap responden diberikan kebebasan untuk memberikan persetujuan atau menolak untuk menjadi subjek penelitian dengan cara menandatangani lembar persetujuan atau surat pernyataan kesediaan yang telah disiapkan oleh peneliti.. FIK UI.5... sedangkan tindakan pengambilan darah dilakukan oleh perawat ruangan unit gawat darurat. Sebagai responden atau subjek penelitian diberi kebebasan dalam menentukan hak kesediaanya untuk terlibat dalam penelitian ini secara sukarela dengan menandatangani lembar persetujuan yang disediakan dapat dilihat pada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Sebelum pengambilan data. Secara lengkap waktu dan tahapan penelitian dapat dilihat pada lampiran 6. Pengambilan gambar rekaman vidio dilakukan oleh peneliti. 2013 .60 yang menjadi pusat rujukan untuk wilayah kota dan kabupaten Cirebon. responden diberikan informasi tentang tujuan dan manfaat penelitian. rencana. Ayu Yuliani Sekriptini. Beberapa prinsip etika penelitian yang menjadi dasar yaitu : a. 4.

. Selama pengolahan data. c. Right to anonymity and confidentially Data penelitian yang berasal dari responden tidak disertai dengan identitas responden. Kelompok kontrol mendapatkan madu yang sama setelah tindakan pengambilan darah selesai. menciptakan suasana santai sehingga tidak ada respon negatif yang terjadi dari responden. b. Data Karakteristik Responden Data karakteristik responden diperoleh dari wawancara pada responden atau orang tua responden. Right to privacy and dignity Peneliti tidak mencatumkan nama responden dalam format kuesioner dan diganti dengan nomor kode dengan tujuan melindungi privasi dan martabat responden. Peneliti berusaha memenuhi kebutuhan responden.. menerima masukan dan mempertahankan sikap empati.61 lampiran 1. selama penelitian kerahasiaan responden dijaga dengan cara saat dilakukan penjelasan dan persetujuan pengambilan data responden hanya didampingi oleh keluarga responden saja. Right to fair treatmen Responden kelompok intervensi mendapatkan madu sebelum tindakan pengambilan darah dan kelompok kontrol penelitian mendapatkan placebo (air putih). dan publikasi dari hasil penelitian tidak mencantumkan identitas responden. membuat kontrak kerja dan waktu yang jelas. d. e.6. baik secara psikologis maupun sosial. Data yang diperoleh hanya diketahui oleh peneliti dan orang tua responden yang bersangkutan. tepat waktu. Ayu Yuliani Sekriptini. Right to protection from discomfort and harm Peneliti sebelumnya menjelaskan kepada orang tua dan responden serta menekankan bahwa penelitian ini tidak menimbulkan kerugian. 4. analisis. Apabila terjadi hal-hal yang memberatkan maka diperbolehkan untuk mengundurkan diri. 2013 .6. Alat Pengumpulan Data 4. FIK UI. tetapi cukup dengan menggunakan kode responden..1. Wawancara berfokus pada karakteristik jenis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

dan posisi kaki. Alat instrumen CHEOPS merupakan alat ukur yang dirancang untuk digunakan oleh petugas kesehatan (dokter. Validitas isi adalah kemampuan instrumen menggambarkan secara tepat teori dan konsep dari veriabel yang akan diteliti (Burns & Grove. skor 4 untuk tidak nyeri. yaitu tangisan... Uji validitas instumen bertujuan untuk mengukur ketepatan suatu instrumen data (Polit & Beck 2012). Validitas konten mengandung arti bahwa instrumen penelitian menunjukkan kemampuan item pertanyaan dalam istrumen mewakili semua unsur dimensi konsep yang sedang diteliti (Dharma. 2001).2. ekspresi wajah dengan skor 0-2. usia anak..7. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) merupakan skala nyeri yang terdiri dari enam parameter pengkajian.62 kelamin. posisi badan 1-2. dan riwayat pernah dilakukan pengambilan darah atau tidak dan didampingi oleh keluarga atau tidak. ekspresi verbal 0-2. tangisan memiliki skor 1-3. Data Nyeri Nyeri diukur dengan mengunakan kuesioner Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS).6. posisi badan. sentuhan 1-2 dan posisi kaki 1-2. Validitas merupakan suatu kesahihan.. yang dirancang oleh McGrath et al. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Kualitas data ditentukan oleh skor validitas dan realibilias alat ukur. 2013 . ahli anastesi dan perawat) dan direkomendasikan oleh berbagai ahli (Suraseranivongse et al. 4. 2011). 2009). ekspresi verbal. Uji validitas instrumen dalam penelitian ini adalah konten dan isi.. 2011). FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. Uji konten penelitian ini Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. ekspresi wajah. yaitu seberapa tepat alat ukur mengatakan apa yang seharusnya diukur (Sastroasmoro & Ismael. 4. (1985). skor 5 awaitan nyeri dan skor 13 untuk skala nyeri yang tertinggi. sentuhan. Masing-masing parameter memiliki skor nilai yang berbeda. Penilaian skor nyeri dilihat dari hasil rekaman video saat dilakukan tindakan pengambilan darah. Skor nyeri didapatkan berdasarkan penjumlahan skor pada setiap parameter dengan nilai skala nyeri 4 sampai dengan 13.

80 maka dianggap terdapat kesepakatan yang kuat/sempurna diantara peneliti dan numerator secara signifikan (Polit & Beck. Reliabilitas adalah skor konsistensi dari suatu pengukuran. Pengujian inter-observer reliability untuk data numerik dapat menggunakan uji inter-reliability Pearson’s coefficient correlation for two judge. 2013 . Reliability diantara pengambil data juga harus menggunakan pengukuran inter-observer reliability. Reliabilitas menunjukkan apakah pengukuran menghasilkan data yang konsisten jika instrumen digunakan kembali secara berulang. penghitungan reliability yang berarti terdapat diperoleh nilai kesepakatan yang kuat/sempurna diantara numerator secara signifikan. variasi subyek dan variasi instrumen. Relibilitas dipengaruhi oleh random error yang bersumber dari variasi observer.894. Uji interobserver reliability direncakan dilakukan antara peneliti dan 2 orang asisten peneliti (numerator). Hasil uji validitas konten instrumen CHEOPS diperoleh nilai. 2008).. 2011). Reliabilitas juga dapat didefinisikan sebagai derajat suatu pengukuran bebas dari random error sehingga menghasilkan suatu pemikiran yang konsisten (Dharma.514 dengan tingkat kepercayaan 95% hasil tersebut menunjukkan bahwa instrumen CHEOPS valid. Peneliti telah melakukan proses back translation pada Instrumen CHEOPS dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia setelah diterjemahkan hasil terjemahan berbahasa Indonesia diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.63 dilakukan pada 15 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi yang memiliki karakteristik hampir sama dengan responden penelitian dan dilakukan di tempat yang berbeda yaitu di RS Swasta Kota Cirebon.. Ayu Yuliani Sekriptini.. Jika p value kurang dari alpa () maka koefisien reliabilitas (r) lebih dari 0. taraf signifikan r product moment dengan jumlah responden 15 adalah 0. FIK UI. Hasil cronbach’s alfa 0. dilakukan dengan Pada penelitan ini peneliti melakukan uji inter-observer reliability menggunakan jenis uji skala numerik.

Pelaksanaan pemberian madu pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada kelompok kontrol diberikan peroral dilakukan oleh asisten teknis peneliti. Madu yang diberikan madu PERHUTANI jenis multiflora. 2013 . ada beberapa tahap yang peneliti lalui : 4.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.8.9.. 4. Pemberian plasebo jumlah yang diberikan pada anak sama dengan jumlah ml pada madu.. Pemberian madu berdasarkan dosis pemberian obat pada anak-anak (menggunakan rumus Young). 4. Intervensi yang Dilakukan Responden pada kelompok intervensi emdapatkan madu dengan konsentrasi 50% dan pada kelompok kontrol diberikan air putih (plasebo). Cara dan dosis: a.9. Madu yang diberikan untuk usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml. Ayu Yuliani Sekriptini.64 oleh peneliti di review dengan kualifikasi tiga orang sarjana terdiri dari perawat dan guru bahasa Inggris yang salah satunya mengajar di pendidikan bahasa Inggris di English Study Centre. sehingga menghasilkan konsentrasi madu 50%. peneliti melakukan pengurusan ijin penelitian dan kaji etika penelitian. Peneliti mencampurkan madu dan air aqua dengan perbandingan 1:1. Prosedur Pengumpulan Data Sebelum melakukan pengumpulan data. Prosedur administrasi Tahap persiapan penelitian. Kemudian instrumen tersebut ditelaah oleh pembimbing untuk menjamin bahwa alih bahasa yang dibuat oleh peneliti sudah sesuai dengan instrument dan digunakan pada saat penelitian. Hasil telaahan pembimbing instrumen CHEOPS dapat digunakan saat penelitian. Hal tersebut bertujuan agar instrumen yang digunakan dalam penelitian sesuai dengan instrumen asli yang sebenarnya. c. Setelah penelitian dinyatakan lulus uji etik dari Komite Etik Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia.1. FIK UI. Persiapan a. b.

prosedur pelaksanaan. perekaman video dilakukan oleh peneliti sendiri. peneliti mengajarkan kepada perawat pelaksana teknis penelitian cara pengisian data responden. banyaknya madu yang akan diberikan. dan perawat ruangan yang bertugas di ruangan tempat penelitian. Peneliti melakukan persamaan persepsi instrumen skor nyeri CHOEPS dengan asisten peneliti dengan melakukan pengukuran inter-observer reliability diantara pengambil data.65 selanjutnya surat tersebut disampaikan pada Badan Penelitian Komisi Etik Penelitian dan Direktur RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. 2013 . Setelah perawat pelaksana teknis penelitian dipilih sesuai dengan kriteria yang ditentukan. FIK UI. kepala ruangan.. peneliti menjelaskan proses pemberian madu. dan manfaat penelitian. b. Ayu Yuliani Sekriptini. cara pemberian madu.. peneliti terlebih dahulu melakukan sosialisasi rencana penelitian ke dokter. jumlah madu yang diberikan dan bagaimana cara pemberiannya kepada calon asisten teknis peneliti. dan dua dengan latar belakang pendidikan magister keperawatan menjadi asisten penelitian untuk menilai skor nyeri pada hasil rekaman video. Sosialisasi dilakukan pada tanggal 14 November 2012 di RSUD Gunung Jati dan tanggal 8 Desember 2012 di RSUD Arjawinagun Kota Cirebon. Peneliti melibatkan delapan orang perawat untuk menjadi pelaksana teknis pengambilan darah saat penelitian dengan latar belakang D III perawatan. Prosedur Teknis Pada tahap persiapan penelitian. Sosialisasi ini bertujuan untuk menjelaskan tujuan. kemudian peneliti memilih perawat yang dilibatkan sebagai asisten teknis penelitian ini dengan pertimbangan dari Kepala Ruangan Unit Gawat Darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. Uji inter-observer reliability dilakukan oleh dua atau lebih observer dengan cara melakukan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..

selanjutnya meminta kesediaan calon responden untuk berpartisipasi setelah mendapatkan penjelasan tentang maksud.. tujuan. Pelaksanaan Tahap pelaksanaan penelitian ini melalui tahap-tahap sebagai berikut : a. b. Orang tua kelompok intervensi diberi penjelasan mengenai alasan pemberian. prosedur penelitian. serta hak dan kewajiban menjadi responden. serta pemberian madu setelah tindakan pengambilan darah. yang berarti terdapat kesepakatan yang kuat/sempurna diantara numerator secara signifikan. Pengujian ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan asumsi antar pengambil data.66 pengukuran suatu kejadian secara simultan dan kemudian masingmasing observer mencatat parameter kejadian tersebut sesuai koding pada instrumen secara independen (Polit & Back. Peneliti memberikan kesempatan calon responden dan keluarga untuk bertanya. dan cara pemberian madu. kegunaan. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. Bagi calon responden yang bersedia diminta menandatangani lembar persetujuan. FIK UI.. Pengambilan responden kelompok kontrol di RSUD Gunung Jati dan responden kelompok intervensi di RSUD Arjawinangun Kota Cirebon.9. d. 4. manfaat.2. Peneliti dan asisten teknis peneliti melakukan pengambilan data dengan mengisi lembar kuesioner karateristik responden dengan merujuk pada catatan medis responden. Peneliti dan asisten tehknik peneliti memilih responden yang memenuhi kriteria inklusi untuk dijadikan responden.894. 2012). sehingga semua pengambilan data memilki interpretasi yang sama terhadap parameter yang akan diobservasi. c. Hasil uji Uji inter-observer reliability diperoleh nilai cronbach’s alfa 0. Penghitungan denyut nadi sebelum dan sesudah Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. sebelumnya peneliti dan asisten teknis peneliti mengukur dan mencatat tanda vital (denyut nadi) pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol 5 menit sebelum pengambilan darah. Pada orang tua kelompok kontrol diberikan penjelasan alasan pemberian plasebo (air)..

respon yang muncul pada anak saat penusukan jarum dan kemudian mengukur kembali denyut nadi setelah intervensi pengambilan darah. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. jika pengulangan pengambilan darah dilakukan kurang dari 5 menit responden dianggap drop out tidak dijadikan responden penelitian. Pada penelitian ini tidak ditemukan responden yang drop out. Hasil rekaman video di berikan kepada asisten peneliti. Pada kelompok kontrol melakukan hal yang sama dengan memberikan plasebo (air) peroral dengan menggunakan gelas kecil 2 menit sebelum tindakan invasif pengambilan darah dilakukan dan saat setelah penusukan peneliti penelitian melakukan perekaman dengan menggunakan video dan mengukur kembali denyut nadi kelompok kontrol setelah intervensi pengambilan darah. sebelum dilakukan pengulangan penusukan responden diistirahatkan dulu selama 5 menit kemudian dilakukan pemberian ulang madu pada kelompok intervensi dan plasebo pada kelompok kontrol 2 menit sebelum pengambilan darah dengan terlebih dahulu diukur kembali denyut nadi responden.. i.67 pengambilan darah hanya untuk mengetahui respon fisiologis nyeri bukan untuk dianalis. h. saat setelah penusukan peneliti melakukan perekaman video. g.. e. kemudian kelompok kontrol diberi madu sesuai dengan takaran yang telah ditentukan. f. Ayu Yuliani Sekriptini. kemudian direkam ulang kembali. kemudian dilakukan penilaian terhadap skor nyeri. FIK UI. 2013 . Jika pengambilan darah tidak berhasil pada responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Peneliti dan asisten teknis peneliti memberikan madu peroral 2 menit dengan menggunakan gelas kecil sebelum dilakukan tindakan invasif pengambilan darah. Peneliti dan asisten teknis peneliti mengucapkan terimakasih pada orang tua dan responden dari kelompok kontrol dan kelompok intervensi atas keterlibatan dalam penelitian ini..

dilakukan hal-hal sebagai berikut : 4. Cleaning Merupakan proses akhir dalam pengolahan data. Pengolahan Data Sebelum menganalisis data yang telah terkumpul.10..10.4. dengan melakukan pemeriksaan kembali data yang sudah di entry data untuk melihat ada tidaknya kesalahan dalam entry data. Peneliti mengoreksi data yang telah diperoleh.10. 2013 . Data dimasukkan sesuai nomor responden pada kuesioner dan nomor pada lembar observasi dan jawaban responden diajukan ke dalam komputer dalam bentuk angka sesuai dengan skor jawaban yang telah ditentukan ketika melakukan koding.10.. Tabulating Data dikelompokkan menurut katagori yang telah ditentukan dan selanjutnya data ditabulasi dengan menggunakan program statistik dalam computer.10. 4. Editing Editing data dilakukan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sudah lengkap. Coding Memberi kode pada setiap variabel untuk mempermudah peneliti dalam melakukan analisis dan tabulasi data yaitu memberikan kode untuk nama responden. 4.. 4. Processing Merupakan suatu proses memasukkan data ke dalam komputer untuk selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan program statistik dalam komputer. meliputi: kebenaran tentang pengisian dan kelengkapan jawaban lembar pengkajian. dan kelompok intervensi dengan kode 1. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. kelompok kontrol dengan kode 0.2. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.1.68 4. 4.10.3.5.

1. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan terhadap karakteristik responden.2. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 . Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk membuktikan hipotesa yang telah dirumuskan yaitu apakah ada perbedaan rata-rata skor nyeri antara pasien anak dengan pemberian madu (kelompok intervensi) dengan yang diberi placebo (air putih) (kelompok kontrol) dan apakah ada selisih perbedaan skor nyeri yang bermakna terhadap kedua kelompok tersebut. 2007). Uji Statistik Variabel independen Pemberian madu Skala Variabel dependen Skala Uji Statistik Kategorik Skor nyeri Numerik Uji T Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. variabel bebas.11. Pada analisis univariat.2. Uji yang dipergunakan adalah uji beda 2 mean independen (independent sample t test).. pengalaman responden dalam prosedur pengambilan darah sebelumnya. FIK UI. yaitu sebagai berikut : 4. Prosedur Analisis Data Data dianalisis dalam bentuk analisis univariat dan bivariat.69 4. jenis kelamin. median. yaitu uji statistik untuk mengetahui beda mean pada dua kelompok data independen (Hastono.11. kehadiran keluarga selama prosedur pengambilan darah. Pada penelitian ini uji bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. disajikan dalam distribusi frekuensi dan prosentase atau proporsi. dan variabel terikat. tindakan pemberian madu yang diberikan...11. Tabel 4. dan standar deviasi. serta skor nyeri responden. Hasil analisis data berupa distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel termasuk mean. 4. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara kedua variabel. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik usia.

. 2013 ... FIK UI.70 Variabel Skala independen Variabel konfonding Usia Kategorik Jenis kelamin Kategorik Pengalaman Kategorik sebelumnya Pendampingan Kategorik orang tua Variabel dependen Skala Uji Statistik Skor nyeri Skor nyeri Skor nyeri Numerik Numerik Numerik Uji T Uji T Uji T Skor nyeri Numerik Uji T Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini.

dan pengalaman pengambilan darah serta menggambarkan rata-rata... dapat dilihat pada tabel 5. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 27 November – 24 Desember 2012 dengan total sampel 34 responden sebagai kelompok kontrol dan 34 sebagai kelompok intervensi. standar deviasi.1. FIK UI. median. 5. kehadiran keluarga. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi yang didasarkan pada hasil analisis univariat dan bivariat. jenis kelamin. kehadiran keluarga. Ayu Yuliani Sekriptini. 71 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 5. Karakteristik Responden Karakteritik pada reponden penelitian ini meliputi usia. Penelitian ini dilakukan di dua rumah sakit di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. Analisis Univariat Hasil analisis univariat menggambarkan karakteristik responden berdasarkan usia. berikut ini. uji hipotesis dan penyajian hal-hal lain yang akan diuraikan dalam bab ini.1. 2013 . Data deskriptif.. jenis kelamin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian madu terhadap menurunan skor nyeri pada anak. nilai terendah dan tertinggi tingkat nyeri kelompok kontrol dan intervensi.BAB 5 HASIL PENELITIAN Bab ini secara khusus menyajikan dan menjelaskan hasil penelitian dan analisis data. dan pengalaman pengambilan darah.1.1.

9 Total f % 50 50 34 34 50 50 50 50 35 33 51.9 44..72 Tabel 5. kehadiran keluarga. dan pengalaman pengambilan darah di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Usia 1 – 3 tahun >3 – 6 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pengalaman sebelumnya Ada riwayat Pertaman kali Kehadiran orang tua Hadir Tidak hadir Kontrol (n=34) F % Intervensi (n=34) F % 17 17 50 50 17 17 18 16 52. Dilihat dari karakteristik kehadiran orang tua secara keseluruhan kelompok intervensi (97. menunjukkan bahwa jumlah karakteristik usia toddlers dan prasekolah untuk masing-masing responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol memiliki jumlah yang sama (50%).2%) didampingi oleh orang tua selama proses pengambilan darah. Berdasarkan karakteristik jenis kelamin kelompok intervensi sebagian besar memikili jenis kelamin laki-laki (52.2 8.5 Hasil tabel 5.1 17 17 17 17 50 50 19 15 55.1 5..9 64 4 94.9 47.8 33 1 97..1 Distribusi responden berdasarkan usia. Dilihat dari karakteristik pengalaman sebelumnya kelompok intervensi memiliki jumlah yang sama (50%) dan pada kelompok kontrol sebagian besar memiliki riwayat diambil darah sebelumnya (55. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.1%) dan kelompok kontrol (91. 2013 . jenis kelamin.1 diatas.9%) dan karakteristik jenis kelamin kelompok kontrol memiliki jumlah yang sama (50%).9 47.5 48.1 36 32 52.1 31 3 91. Ayu Yuliani Sekriptini.1 2.9%). FIK UI.

FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.49 9.1.33 Hasil analisis tabel 5.2.78-11. Uji Kesetaraan (Homogenity) Uji Homogenitas bertujuan untuk membuktikan bahwa perubahan skor nyeri yang terjadi bukan karena variasi responden tetapi karena pengaruh dari pemberian madu dalam tindakan pengambilan darah.2 diperoleh rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi adalah 8.5 34 34 8 11 MininalMaksimal 5-13 6-13 95% CI 8. usia.33. Uji homogenitas dilakukan dengan uji beda proporsi menggunakan Uji F.20 sampai dengan 9.73 5. 2013 . pengalaman nyeri sebelumnya dan kehadiran orang tua pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dapat dilihat pada tabel 5. Dari estimasi diyakini bahwa rata-rata skor nyeri kelompok madu berada diantara 8. Berikut ini disajikan hasil uji kesetaraan pada variabel jenis kelamin..8 dengan skor nyeri terendah adalah 5 dan skor tertinggi adalah 13.3 berikut ini: Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..2 Distribusi skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Kelompok Skor Nyeri Madu Plasebo Mean Median n 8.2. Skor Nyeri Kelompok Madu dan Kelompok Plasebo Skor nyeri responden yang dinilai dengan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHOEPS) ditunjukkan pada tabel 5. Sedangkan rata-rata skor nyeri pada kelompok kontrol adalah 11 dengan skor nyeri terendah 6 dan skor tertinggi 13.2 berikut ini: Tabel 5.78 sampai dengan 11.8 10..49 dan diyakini rata-rata skor nyeri pada kelompok plasebo berada diantara 9.20-9. 5.

5.00 17 17 50 50 19 15 55. FIK UI.9 44.1 17 17 17 17 50 50 17 17 50 50 1. usia.1 2.5 8 11 SD n 1.9 0..3 Uji homogenitas data responden berdasarkan jenis kelamin. pengalaman sebelumnya dan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 No Variabel 1 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Usia 1–3 >3 – 6 Pengalaman sebelumnya Pernah Tidak pernah Kehadiran orang tua Hadir Tidak hadir 2 3 4 Kontrol (n=34) F % Intervensi (n=34) F % 18 16 52.2 34 34 MininalMaksimal 5-13 6-13 p value 0.1 0. Perbedaan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol Tabel 5.3..2 8.001 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 .61 50 50 p value 1. pengalaman nyeri sebelumnya dan karakteristik kehadiran keluarga pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi memiliki varian sama dengan nilai p value > 0.3.8 10.9 47..1.74 Tabel 5.4 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri pada anak kelompok intervensi dan kelompok kontrol di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Skor Nyeri Kelompok Mean Median Madu Plasebo 8.88 31 3 91.00 Hasil uji homogenitas diperoleh hasil bahwa berdasarkan karakteristik jenis kelamin. Ayu Yuliani Sekriptini.8 33 1 97. usia.8 2. Analisis Bivariat 5.05.

.5.002* 0.05.001 dengan  < 0. Tabel 5.2 ( p value 0.8 dengan standar deviasi 1.3. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 9. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..140).002) sedangkan pada usia prasekolah untuk intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.1 11. 2013 .5 9.7.001).8 dan rata-rata skor nyeri kelompok kontrol sebesar 10.4 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8. FIK UI.5 8. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan rata-rata skor nyeri pada kelompok kontrol saat prosedur pengambilan darah. a.75 Hasil analisis tabel 5. (p value 0.5.140 Hasil analisis tabel 5. kelompok (p value 0. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik usia responden. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak.5 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada karakterisik anak usia toddlers untuk kelompok intervensi memiliki ratarata skor nyeri sebesar 9. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri usia toddlers antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sedangkan rata-rata skor nyeri pada usia prasekolah tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. 5.5 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan usia anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Usia Toddlers Prasekolah n 17 17 Skor Nyeri Madu Plasebo 9. p value 0.5 dengan standar deviasi 2.2.1 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 11. Hasil menunjukkan rata-rata skor nyeri kelompok intervensi lebih rendah dari pada rata-rata kelompok kontrol. Ayu Yuliani Sekriptini.7 p value 0..

FIK UI. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. Tabel 5.2 p value 0. (p value 0.8 8..1.016* 0. c. 2013 .002).7 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada responden yang pernah mengalami nyeri sebelumnya untuk kelompok Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya.045* 0.002* Hasil analisis tabel 5. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri laki-laki dan perempuan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.76 b. Ayu Yuliani Sekriptini.7 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Pengalaman nyeri Pernah Tidak pernah n 36 32 Skor Nyeri Madu Plasebo 9.3 (p value 0.5 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10... Tabel 5.7.5 10.6 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada karakterisik jenis kelamin laki-laki untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 9. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik jenis kelamin responden.045) sedangkan pada jenis kelamin perempuan untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.1 10.3 p value 0.5 10.7 8.6 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Jenis kelamin Laki-laki Perempuan n 35 33 Skor Nyeri Madu Plasebo 9.029* Hasil analisis tabel 5.1 10.

9 10. 2013 .9 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. (p value 0.029). Ayu Yuliani Sekriptini.. FIK UI.8.8 7 7.2 (p value 0. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri memiliki pengalaman nyeri sebelumnya dan yang tidak memiliki pengalaman antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. (p value 1.000) sedangkan orang tua yang tidak hadir untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 7 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 7.7 p value 0.8. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.000).000 Hasil analisis tabel 5. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua. Tabel 5. d.8 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Kehadiran orang tua n Hadir Tidak hadir 64 4 Skor Nyeri Madu Plasebo 8. (p value 0.5..7.8 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada kehadiran orang tua untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.000* 1.. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri pada kelompok yang dihadir orang tua antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sedangkan rata-rata skor nyeri pada kelompok yang tidak dihadiri orang tua tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.1 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.77 intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 9.016) sedangkan pada responden yang belum memiliki penalaman nyeri untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.

Ayu Yuliani Sekriptini. Karakteristik Responden dan Hubungan Karakteristik dengan Skor Nyeri a. Pemilihan usia responden pemberian madu berdasarkan rekomendasi Badan Madu Nasional (The National Honey Board). perbandingan hasil penelitian dengan hasil penelitian sebelumnya atau dengan teori-teori yang mendukung dan berlawanan dengan temuan penelitian ini.. FIK UI.78 BAB 6 PEMBAHASAN Bab ini akan menjelaskan tentang pembahasan dan diskusi hasil penelitian ini. Pada bagian berikutnya akan dibahas hasil uji beda rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah intervensi pada tiap kelompok dan perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan karakteristik anak. usia. 2013 . pengalaman nyeri sebelumnya dan kehadiran orang tua.1. Usia Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa usia responden pada penelitian ini 1-6 tahun berada pada rentang usia 1-3 (toddler) dan >36 (prasekolah).1. Pembahasan dan diskusi hasil penelitian selengkapnya akan diperjelas sebagai berikut: 6.. peneliti mendapatkan bahwa rata-rata skor nyeri ini menunjukkan ada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. karena mencegah terjadinya keracunan botulismus dari bakteri clostridium botulinum. 6. Interpretasi dan Diskusi Hasil Penelitian ini bertujuan menidentifikasi gamabran karakteristik responden. menyebutkan pemberian madu di atas usia 1 tahun. Dari Hasil analisis perbedaan rata-rata skor nyeri pada usia anak.1. Bagian akhir dari bab ini akan membahas keterbatasan penelitian dan implikasi serta tindak lanjut hasil penelitian yang dapat diterapkan dan diaplikasikan pada praktik keperawatan dalam rangka meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien anak yang mengalami nyeri karena tindakan invasif pengambilan darah. Pembahasan diawali dengan interpretasi dan diskusi hasil penelitian mengenai karakteristik responden yang meliputi jenis kelamin.. perbedaan skor nyeri anak saat pengambilan darah intravena.

7)..1 dan kelompok kontrol 11.5 dan kelompok kontrol 9.140). Usia toddler menunjukkan adanya respon nyeri dengan indikator verbal dan perubahan aktifitas perilaku yang berlebih dibandingkan anak usia pra sekolah. Toleransi terhadap nyeri akan terus meningkat sesuai dengan pertambahan usia. sementara pada usia prasekolah tidak ada perbedaan yang signifikan (p value 0. semakin bertambah Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..002). skor nyeri usia toddler lebih tinggi (kelopok intervensi 9. (2006) dalam penelitiannnya menjelaskan bahwa perkembangan usia anak mempengaruhi makna nyeri dan ekspresi yang dimunculkan. Hasil penelitian kelompok toddler dan anak usia prasekolah menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna.. dan Rakhmawati (2003) menyatakan bahwa terdapat perbedaan respon nyeri yang signifikan baik untuk kelompok toddler dan anak usia prasekolah dilakukan pemasangan infus. FIK UI. Penilaian skor nyeri menggunakan skala nyeri CHEOPS. 2010). Hasil penelitian Mediani.79 perbedaan skor nyeri pada tingkat usia. Hasil uji statistik karakteristik usia menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri pada responden usia toddler (p value 0.. Hal ini didukung oleh penelitian Brusch dan Zelter (2004) bahwasannya respon nyeri pada anak terhadap prosedur tindakan tertentu ditentukan oleh tingkatan usia..5) dibandingkann skor nyeri usia prasekolah (kelopok intervensi 8. Kenneth et al. Ayu Yuliani Sekriptini. Penelitian Young (2005) menjelaskan bahwa anak yang usianya lebih muda merasakan nyeri yang lebih besar dan memilki toleransi nyeri rendah daripada usia yang lebih tua. usia toddler belum mampu mengendalikan respon nyeri dibandingkan kelompok usia usia prasekolah. Mardhiyah. Perbedaan tingkat usia dan perkembangan yang ditemukan antara kelompok usia ini dapat mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap nyeri (Daniela et al. 2013 .

Pernyataan tersebut didukung oleh konsep teori Hockenberry dan Wilson. Pada usia toddler respon nyeri yang dimunculkan lebih ekspresif di bandingkan dengan usai prasekolah dimana usia toddler masih belum mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang dirasakan karena keterbatasan kosakata dan reason motorik yang muncul anak toddler baru mampu mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri pengalaman nyeri dan sedangkan usia prsekolah telah meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri dan anak mampu mendorong hal yang menyebabkan nyeri. lebih banyak daripada perempuan.. Dari total sampel secara keseluruhan. tetapi berdasarkan hasil uji statistik karakteristik jenis kelamin menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri pada kerakeristik jenis kelamin laki-laki dan perempuan (laki-laki p value 0. sedangkan pada kelompok intervensi..045 dan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. jenis kelamin responden seimbang antara laki-laki dan perempuan (50%). Ayu Yuliani Sekriptini. Peneliti berasumsi bahwa hal ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan kelompok usia anak yang diteliti.. b. 2013 . Jenis Kelamin Hasil penelitian menunjukkan menunjukkan bahwa sebagain besar responden pada kelompok kontrol berjenis kelamin laki-laki (52. (2007) menyebutan bahwa respon nyeri pada anak berubah sejalan dengan pertambahan usia.80 usia anak maka makin bertambah pemahaman tentang nyeri dan usaha untuk pencegahan terhadap nyeri.9%). FIK UI. peneliti mendapatkan bahwa skor nyeri pada kelompok intervensi laki-laki sedikit lebih tinggi dari pada perempuan sedangkan pada kelompok kontrol skor nyeri antara laki-laki dan perempuan hampir sama. diperoleh bahwa reponden jenis kelamin laki-laki. Dari hasil analisis antara jenis kelamin dengan skor nyeri pada saat pengambilan darah.

Vierhaus. dan Lohaus (2012) menjelaskan toleransi nyeri perempuan dan laki-laki sama dan akan berkembang pada usia pubertas. ditemukan bahwa opiod endogen laki-laki lebih tinggi dari pada opiod endogen pada perempuan. Terkait dengan hal tersebut. 2013 . Penelitian McGrath & Howard (2003) antara anak laki-laki dan perempuan menjelaskan perbedaan tidak terlalu berpengaruh terhadap respon nyeri. pengalaman ekspresi. hal ini disebabkan adanya perbedaan hormon antara lakilaki dan perempuan. Guinsburg et al. FIK UI. hasil penelitian Schmitz.002) pada kelompok internesi dan kelompok kontrol.. Hal ini didukung oleh pendapat Potter dan Perry (2005) menjelaskan bahwa toleransi terhadap nyeri dipengaruhi faktor-faktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap individu tanpa memperhatikan jenis kelamin. Peneliti berasumsi bahwa hal ini tidak terjadi pada penelitian ini karena perbedaan usia responden. Ayu Yuliani Sekriptini. (2000) melakukan penelitian tentang perbedaan dalam ekspresi nyeri antara bayi baru lahir laki-laki dan perempuan saat dilakukan penusukan tumit. dan kondisi situasional yang mempengaruhi dan bagaimana anak menanggapi nyeri. dalam penelian tersebut lebih menjelaskan perbedaan jenis kelamin hanya karena sensitivitas.81 perempuan p value 0.. Wanita mengalami perubahan hormon progesteron dan estrogen saat menstruasi yang dapat mempengaruhi opiod endogen pada wanita. Penelitian Zuibieta et al.. hasil penelitian menyebutkan tidak ada perbedaan yang signifikan ekspresi nyeri antara laki-laki dan perempuan.. Perbedaan jenis kelamin sangat mempengaruhi nyeri.. (2002) berpendapat berbeda sebaliknya. Penelitian ini menghubungkan neurotrasmiter opioid endogen. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

Hal ini menujukkan bahwa hampir sebagian responden memiliki pengalaman nyeri sebelumnya. melakukan penelitian pengaruh pengalaman anak-anak untuk stimulus nyeri baru pada pengalaman nyeri berikutnya.. didapatkan bahwa ada perbedaan yang bermakna pada yang tidak pernah mengalami nyeri sebelumnya dan yang pernah mengalami nyeri sebelemnya (pernah p value 0. Terkait hasil penelitian Smeltzer dan Bare (2001) mengatakan bahwa pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang tentang nyeri.016 dan tidak pernah p value 0. Riwayat sakit atau hospitalisasi sebelumnya dimungkinan dapat menyebabkan adanya pengalaman nyeri sebelumnya pada anak.029). FIK UI. diperoleh bahwa reponden dengan pengalaman sebelumnya lebih banyak dari pada yang baru pertama kali.. sedangkan pada kelompok kontrol pengalaman nyeri sebelumnya seimbang antara yang pernah dan yang pertama kali (50%). 2013 . dimana pengalarnan individu dengan nyeri yang dialami sebelumnya akan menyebabkan perasaan takut pada individu ketika menghadapi peristiwa menyakitkan berikutnya. Pengalaman Nyeri Sebelumnya Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada kelompok intervensi memiliki pengalaman nyeri sebelumnya (55. Usia tersebut merupakan usia sangat rentan terhadap krisis penyakit dan hospitalisasi (Hockenberry & Wilson. peneliti mengasumsikan pengalaman sebelumnya berhubungan dengan usia responden dimana usia responden berada pada rentang usia toddler dan prasekolah. Dari total sampel keseluruhan.9%). (2012).82 c. Dilihat dari uji statisik rata-rata skor nyeri terhadap pengalaman nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.. 2007). Ayu Yuliani Sekriptini. pengalaman Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Responden dengan anak yang mempunyai pengalaman operasi dan pernah dilakukan venipuncture. Penelitian Noel et al.

2%) hampir seluruh responden didampingi oleh orang tua.000). 2013 . (2011) menjelaskan kehadiran keluarga sangat mempengaruhi respon nyeri pada anak. Hasil menunjukkan pengalaman nyeri sebelumnya pada anak-anak berhubungan dengan rasa takut dari waktu ke waktu akan mempengaruhi pengalaman nyeri yang baru. kemudian dilakukan wawancara pengalaman nyeri yang pernah dialami. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran orang tua pada saat anak mengalami hospitalisasi memegang peranan penting. Penelitian Ozcetin. sehingga anak merasa lebih tenang dan nyeri berkurang. bantuan atau perlindungan. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri dengan kehadiran orang tua (p value 0.83 nyeri minimal 1 tahun yang lalu.1%). et al. Dengan kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hasil penelitian nyebutkan rata-rata skor nyeri pada anak yang didampingi oleh orang tua lebih rendah dari pada yang didampingi oleh petugas kesehatan. Hal ini didukung konsep teori Potter dan Perry (2005) menyebutkan kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang mengalami nyeri.. dan kelompok kontrol (91. Hockenberry dan Wilson (2007) menjelaskan bahwa kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang mengalami nyeri. FIK UI. Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga untuk memperoleh dukungan. dan diobservasi ekspresi wajah yang muncul pada anak saat dilakukan wawancara. d.. Ayu Yuliani Sekriptini.000) sementara tidak ada perbedaan yang signifikan pada ketidakhadiran orang tua (p value 1.. Kehadiran anggota keluarga mampu memberikan dukungan dan kenyamanan pada anak. Kehadiran Orang Tua Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi (97.

Pemenuhan rasa nyaman yang adekuat pada semua aspek dengan tingkat relief hingga transcendence akan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. sehingga dapat menurunkan kecemasan dan memberi dampak positf terhadap pemenuhan kenyamanan fisik bagi anak (Kolcaba & Dimarco... karena orangtua merupakan individu yang dikenal. Hal ini sesuai dengan penerapan prinsip asuhan berpusat pada keluarga dan aplikasi comfort theory pada keperawatan anak. dan lingkungan). Dalam hal ini sesuai dengan konsep Hockenberry dan Wilson (2007) pada usia prasekolah kemapuan kognitif dan komunikasi anak sudah mulai berkembang dengan baik dan mulai mampu menerima penjelasan dari orang tua atau petugas kesehatan. psikospiritual. sosiokultural. Penilaian skor nyeri menggunakan Wong-Baker FACES. Hal ini disebabkan karena responden yang tidak dihadiri orang tua pada rentang usia prasekolah (2 orang berusia 5 tahun dan 2 orang berusia 6 tahun). 2005). 2013 . Saat dilakukan tindakan pengambilan darah responden mampu menerima penjelasan yang diberikan dan bersedia didampingi oleh perawat. Aplikasi comfort theory Kolcaba (2003) menyebutkan bahwa tahap perkembangan dan kehadiran orang tua merupakan interventing variabel yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk mencapai rasa nyaman pada semua aspek (kenyamanan fisik. Dari jumlah seluruh responden ada 4 responden tidak didampingi oleh orang tua dengan rata-rata skor nyeri lebih tingggi (skor nyeri kelompok intervensi 7 dan skor nyeri kelompok kontrol 7..84 orangtua memiliki pengaruh efek yang positif pada toleransi nyeri anak.7) dibandingkan responden yang didampingi orang tua (skor nyeri kelompok intervensi 10.8 dan kelompok kontrol 8.9). FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. pelibatan orangtua dapat memenuhi kebutuhan rasa nyaman psikososial dan sekaligus kenyamanan lingkungan bagi anak. bukan merupakan orang asing bagi anak.

2013 . (2010) menyebutkan bahwa sukrosa dapat meningkatkan kadar -endorfin sehingga dapat menurunkan respon nyeri. FIK UI..1. rasa manis pada madu. Cry.. dan Schollin (2004) membandingkan efek mengurangi rasa sakit dari glukosa 30% per oral dengan pemberian ASI sesaat sebelum venipuncture pada bayi baru lahir. (2004) bahwa pemberian larutan glukosa 30% sebanyak 2 ml dapat mengurangi respon nyeri pada bayi sebelum dilakukan pengambian sampel darah vena. penurunan kebutuhan akan tindakan medis yang lain dan peningkatan kepuasan anak dan keluarga. Penelitian tentang glukosa dijelaskan oleh Bauer et al. Penilaian skor nyeri menggunakan Face. nilai p value 0.. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu. waktu menangis dan denyut jantung. kandungan glukosa dan sukrosa dalam madu kemungkinan dapat memberikan efek menyenangkan yang dapat menurunkan nyeri atau disebabkan oleh kandungan enzim flavonoid pada madu.. Activity. Rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil penelitian skor nyeri pada kelompok glukosa secara signifikan lebih rendah dan durasi Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.85 mendorong pada penentuan intervensi berikutnya. Hasil penelitian menyebutkan sukrosa signifikan mengurangi skor nyeri. (2007) membandingkan pemberian sukrosa 44% 2 ml per oral dibandingkan dengan pemberian empeng (dot) pada bayi usia 0-6 bulan di ruang unit gawat darurat anak pada prosedur venipuncture. Finnstrom. Hal ini dikarenakan pemberian rasa manis akan meningkatnya -endorfin pada kelenjar hypophyse yang dapat menginhibisi trasmisi nyeri. Ayu Yuliani Sekriptini. Penelitian Curtis el al. and Consolability Pain Scale (FLACC). 6.001 (<0..2. Legs. Penelitian ini menggambarkan terdapat perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi pada saat prosedur pengambilan darah dengan kelompok kontrol..05). Penelitian lain tentang sukrosa yang dilakukan oleh Taddio et al. Penelitian Gradin.

Holstein dan Schollin (2006) menunjukkan bahwa skor nyeri pada kelompok glukosa lebih rendah (rata-rata 4. serotonin yang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. Penelitian lain tentang pemberian glukosa 30 % pada bayi dengan tindakan venipuncture di lakukan oleh Gradin. Hasil penelitian menyebutkan bahwa glukosa efektif dalam mengurangi gejala yang berhubungan dengan rasa sakit dari venipuncture pada bayi baru lahir dan lebih baik daripada local anestesi krim EMLA.7). flavonoid memiliki dua efek sebagai analgesia dan antiinflamasi. Penilaian skor nyeri menggunakan Premature Bayi Pain Profile (PIPP). menyebutkan bahwa pemberian glukosa 30% sebanyak 3 ml. Hal ini dukung dengan penjelasan Almada (2000) bahwa flavonoid dapat mencegah produksi enzim cyklooxygenase (COX).6) dibandingkan dengan kelompok EMLA (ratarata 5. Flavonoid memblok aksi dari enzim COX yang menurunkan produksi mediator prostaglandin. Penilaian skor nyeri menggunakan Premature Bayi Pain Profile (PIPP). Sedangkan penelitian Carbajal et al. Enzim cyklooxygenase (COX) adalah suatu enzim yang mengkatalisis sintesis prostaglandin dari asam arakhidonat. 2013 ... et al (2011) pada tikus putih. Eriksson. (2009).86 menangis pendek dibandingkan dengan kelompok penerima ASI sesaat. prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptor-reseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin. Holmqvist. Penilainan lamanya menangis dalam 3 menit pertama secara signifikan lebih rendah kelompok glukosa (median: 1 detik) daripada kelompok EMLA (median: 18 detik). 2 menit sebelum suntikan subkutan dapat penurunan skor nyeri pada bayi.. Penelitian tentang madu per oral sebagai analgesik dilakukan Goenarto. Hal ini disebabkan oleh efek analgesik glukosa diduga mampu menginhibisi trasmini nyeri setinggkat spinal dan pemberian glukosa per oral dapat merangsang -endorphin di hipotalamus. hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan flavonoid pada madu dapat menghilangkan rasa nyeri..

Daniela et al. sedangkan kandungan flavonoid pada madu memblok aksi dari enzim cyklooxygenase yang menghambat pelepasan subtansi prostaglandin. begitu juga dengan serotonin dan GABA (gama amino butiryc acid) yang berfungsi menurunkan sensasi nyeri. Ketersediaan madu di masing-masing rumah sakit belum ada.87 akan menimbulkan sensasi nyeri. Efek analgesik glukosa atau sukrosa ini diduga akibat pelepasan beta endorphin (merupakan hormon opiat endogen yang diproduksi sendiri oleh tubuh dan mirip sifatnya dengan morfin) dan mekanisme preabsorpsi dari rasa manis.31%) dan flavonoid. 6. Rasa manis yang dapat merangsang neurotransmiter yang berperan dalam supresi nyeri dan mengeluarkan opiat endogen di kelenjar hipopyse seperti -endorpin.2. kemungkinan disebabkan komposisi kimia madu mengandung glukosa (31%) dan sukrosa (1. Keadaan ini dikenal sebagai sensitisasi perifer (Breivik... Aplikasi comfort theory dalam penanganan nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah pada anak dapat diuraikan bahwa aspek health care need yaitu anak memiliki kebutuhan rasa nyaman selama prosedur invasif dilakukan. Analisis peneliti. sehingga peneliti menambah tempat penelitian (RSUD Arjawinanun). Ayu Yuliani Sekriptini. madu dapat menurunkan respon nyeri pada anak. FIK UI. Aspek nursing intervention yaitu pemberian intervensi non farmakologis berupa pemberian madu yang merupakan bagian intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.Keterbatasan Penelitian Tempat sampel pada awalnya peneliti akan melakukan penelitian di satu rumah sakit (RSUD Gunung Jati). 2013 .. Intervensi keperawatan sangat penting dalam mengurangi nyeri pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengabilan darah salah satunya adalah pemberian madu. 2008. tetapi pada minggu ke dua penelitian jumlah responden yang didapatkan belum memenuhi target yang ditentukan.. 2010).

3.Implikasi Hasil Penelitian Pengambilan darah intra vena merupakan salah tindakan invasif yang meyebabkan nyeri pada anak...88 6. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu intervensi mengurangi nyeri yang mudah dan murah. Pemberian asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat spesialis anak harus ilmiah dan inovatif. Pencegahan atraumatik care merupakan tanggung jawab perawat spesialis anak bertanggung jawab untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dengan mencegah terjadinya nyeri pada anak. Selama ini implementasi mengurangi nyeri pada anak cenderung kurang diperhatikan. tetapi terbukti efektif adalah tindakan pemberian madu per oral. FIK UI. dan kerusakan hepar serta alergi. ibuprofen dan lain-lain. berbagai penelitian tidak menyarankan penggunaan obat-obatan tersebut dalam jangka waktu yang lama karena berisiko iritasi lambung. 2013 . Madu juga merupakan zat yang sangat dikenal oleh keluarga dan mudah didapat. Perhatian terhadap intervensi mudah yang dapat digunakan dalam mengurangi nyeri masih kurang tersosialisasi dengan baik bagi perawat dan orangtua. Selama ini digunakan berbagai macam obat analgesik untuk mengurangi nyeri pada anak seperti paracetamol. Ayu Yuliani Sekriptini. Padahal berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa nyeri pada anak akan menyebabkan kualitas hidup anak terganggu. Respon nyeri yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan trauma pada anak yang berkepanjangan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu inovasi dalam asuhan keperawatan untuk mengurangi nyeri pada tindakan invasif lainnya.. sehingga diharapkan keadaan trauma pada anak dapat diminimalkan dan anak dapat hidup sejahtera dan berkualitas. Perawat khususnya perawat spesialis anak bertanggung jawab untuk melakukan inovasi selama pemberian asuhan pada anak. Penanganan nyeri pada anak dapat dilakukan dengan berbagai intervensi.

89 Penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lain untuk mendapatkan evidence based yang akan diterapkan dalam layanan keperawatan pada anak. Perawat khususnya perawat spesialis anak. mahasiswa keperawatan dan peneliti keperawatan harus bersama-sama mencari bukti-bukti ilmiah berdasarkan penelitian terkini terkait upaya meminimalisasi efek nyeri dan mengkaji serta menerapkannya dalam layanan keperawatan pada anak untuk meningkatkan kualitas hidup anak. 2013 . Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... FIK UI.. Ayu Yuliani Sekriptini.

BAB 7 SIMPULAN DAN SARAN 7.1 Pelayanan keperawatan dan institusi rumah sakit a.1. didampingi oleh orang tua.2. FIK UI. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh madu untuk mengurangi nyeri pada anak saat diberikan tindakan invasif pengambilan darah di RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Ayu Yuliani Sekriptini. Ada perbedaan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan karakteristik anak khususnya karakteristik usia dan kehadiran orang tua. d. Usia responden ada pada rentang 1-3 tahun (toddler) dan >3-6 tahun (preschool) dengan proporsi sama. Ada perbedaan yang berbeda pada rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan nilai p value 0.8 dan rata-rata skor nyeri pada kelompok anak yang diberi plasebo saat dilakukan pengambilan darah adalah 10.. Mengembangkan program seminar dan pelatihan terkait tentang terapi nonfarmakologi yang dapat diterapkan pada anak sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya. yang digunakan sebagai manajemen nyeri. c. 2013 . 90 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. b.5.2. Mempertimbangkan hasil penelitian sebagai acuan dalam terapi nonfarmakologi pada anak yang mendapatkan tindakan invasif untuk meminimalkan nyeri. Saran 7. b... 7. Rata-rata skor nyeri pada kelompok anak yang diberikan madu saat dilakukan pengambilan darah adalah 8.001. dan memiliki pengalaman nyeri sebelumnya. sebagian besar berjenis kelamin lakilaki.

terhadap nyeri kronik. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh madu pada kelompok usia tertentu.2.. c.2. Menerapkan tehnik-tehnik nonfarmakologis dalam manajemen nyeri akibat indakan invasif pada anak disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak 7. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh madu terhadap respon nyeri pada anak dengan usia yang sama atau berbeda dengan jumlah sampel yang lebih banyak. Memasukkan materi tentang tehnik-tehnik nonfarmakologis dari hasi penelitian yang telah banyak diujicobakan dan dapat diterapkan dalam menejemen nyeri akibat tindakan infavif pada anak. 7. Membangun hubungan dan kerjasama yang baik dengan institusi pelayanan kesehatan untuk mengembangkan peenerapan hasil penelitian terkai tindakan mandiri perawat dalam manajemen nyeri akibat tindakan invasif.91 c. pemasangan infus.. melalui seminar. dalam kurikulum pendidikan sarjana keperawatan dan magister keperawatan. Mensosialisasikan informasi dan pengetahuan tentang tehnik nonfarmakologis yang efektif dalam menejemen nyeri akibat tindakan invasif pada anak. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. injeksi sub cutan.. Bagi ilmu Keperawatan a. dan lain-lain. tempat penelitian yang berbeda dan istrumen skor nyeri yang berbeda. Ayu Yuliani Sekriptini.3. b. Perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengatahui efektivitas madu peroral terhadap prosedur invasif minor lain seperti injeksi intramuscular. c.2. symposium dan konferensi keperawatan. b. 2013 . Penelitian Selanjutnya a. FIK UI.

230245. A. et al.DAFTAR PUSTAKA Acharya. 117(5)..org/ content/105/2/454.F. B. Marc.. & Gorelick. World Academy of Science. 108-793. http://:www.D.A. 61(3). T. Atunwa.M.. http://pediatrics. 105-454.nih. Pediatrics. Taub.A. 2013 . (2000). Arch Dis Child Fetal Neonatal. Pediatrics. (2008). C. O. Prevention and management of pain and stress in the neonate.. D. Pain assessment for pediatric patients in the emergency departmet. 138-142.. ampainsooc. 1511-1517. NCBI 8(3). 17(7). L. (2002). H.C. Lamidi. (2011).. Akanmu. Pediatrics. & Campbell. P. M. (2006).naturalnews. N. 52-58.N. Diunduh tanggal 12 Agsutus 2012. Faculty of Pharmacy. Pediatric chronic pain: A position statement from the American pain society. http://www. FIK UI. P. The assessment and management of acute pain in infants. and adolescents. antipyretic and analgesic effect of Yemeni Sidr honey. Olowookere.org/content/117/5/1511. Bustani. Neuropharmacoloical effects of Nigerian honey in mice. Diunduh tanggal 20 Oktober 2012.. & Okechukwu. American Pain Society. A comparation of local anaesthectics for venepucture. Pain News. Drendel. Arrowsmith. http://pediatrics.B. A. J. American Pain Society... 309-310. 47(5).full.full. Diunduh tanggal 26 Juli 2012. Diunduh tanggal 27 Juli 2012. Arch dis Child. _________________. 112-118.A.com/content/82/4/309. David. Adams. (2003). C.com/pain. Diunduh tanggal 28 Juli 2012.O.A..html Alzubier.gov/ pmc/articles Almada. http://adc. International Chiropractic Pediatric Association. Amy. Brousseau.aappublications. Canadian Pediatric Society. (2011).aappublications.nlm.full 92 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Natural COX-2 inhibitor the future of pain relief.. http://www....ncbi.bmj.A. Ayu Yuliani Sekriptini. (2000)... Department of Pharmacology. American Academy Of Pediatrics. & Beattie. http://:www... Engineering and Technology. Diunduh tanggal 7 Aguatus 2012. Investigation of anti-anflammatory. (2000). 10(2). Randomised controlled trial eutectic mixture of local anasthetics cream for venepunture in healthy pretrm infant.org/cgi-bin/ print/pl..A.A. children.pdf. S.O. American Academy of Pediatrics. 78(6).ampainsooc. 82(6). P. (2000).D. Ibrahim. M. Pain assessment and treatment in the managed care environment. R. M. Diunduh tanggal 30 Desember 2012.org/cgi-bin/print/pl.

M. Assessing pain in children with severe neurocognitive impairments. hlm 66-358. Ilmu Pangan.B.net/files /file/fileE/HealthHoney/Nutriti JAC. http://www. gillettechildrens.beehexagon. R. H. _________________________ . 120-128. Jenson. American Journal of the College of Nutrition 27(7). R. http://bja.93 Aziz A. (2008). 1-6.K..M. 199-202. S.. 17–24. Buckle.. Diunduh tanggal 28 Juli 2012. & Finley. T. http://:ww. Bogdanov... A Peditric Perspective. edisi ke-17. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2.. Bulloch. 55(4). British Journal of Anaesthesia 101(1). Diunduh tanggal 14 Agustus 2012. Jakarta. M. S. M. Allen. L.. (Eds). Madu.C.. G.. Badan Standarisasi Nasional Indonesia.K.pdf Brusch. B. (2004). 16(6). Philadelphia: Saunders. (2000). Diunduh tanggal 25 Agustus 2012.. Rosseland.S. Ayu Yuliani Sekriptini. Pediatric pain management.. M.pdf.M. J. Assessment of pain. (2002). & Wooton. Pediatrics. B. FIK UI. R. Penerbit Universitas Indonesia. & Gallmann.. McGrath. Bee product science Januari 28(2) 145-147. C. Honey for nutrition and health: a Review.. Neston Nursing Pediatrics. 695-700. Pediart Res. http://www. Ketteler... Sieber. K. A. S.. Breau. G.oxfordjournals. .A. Psychometric properties of the non-communicating Children’s Pain Checklist-revised. (2004). E. Fleet..org/…/vol16No5.beehexagon. & Tenenbein. Edwards. Diunduh tanggal 8 Agustus 2012. (2008). L.. (2002)..B. H & Adiono. Jakarta. Romundstad. Terjemahan: Purnomo. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. (2007).H. 99(7). (2005). Badan Standarisasi Nasional Indonesia. Beisang. Behman. Bognadov. dalam R. 677-689... et al.H.A. Validation of 2 pain scales for use in the pediatric emergency department.pdf. H.org/ content/101/1/17.JACN. L. emergency expenditure and heart rate. Borchgrevink. & Zeltzer. Acad Emerg Med.. Laurenz. & Versmold. Breivik. Jurendic.A. L. P.. Kliegman.E. Pain.J. (2000). (2010).M. 29(9). but stress is still evidenced by increased ini oxygen consumption. Honey as nutrient and function food. Jakarta : Salemba.netfles/fil/file. Camfield.full. Oral glucose before venepuncture relieves neonates of pain. 349-357.. P.. P. 2013 . Bauer K.. Assessment of clinically significant changes in acute pain in children. 110(3). Hellwing. H.A. (2005)./HealthHoney/HoneyNutrition.. Hals.

K. 126-129.. Diunduh tanggal 27 Juli 2012. M. Elisabeta. Larutan glukosa oral sebagai analgesik pada prosedur pengambilan darah tumit bayi baru lahir: Suatu uji klinik acak tersamar ganda. (2010). 319-1393. synthesis.. (2006).. S. Cohen.L.. M. 27(2).. S. http://notulaebotanicae. Y. Heaton. 1-17. BMJ.. (2009).. Procedural pain management: A position statement with clinical practice recommendations. Clarisa. & Grove.. 2013 . (2011).L. J. 21(11).94 Burns. www. & Moretz. and generation of evidence.. Social barriers to optimal pain management in infants and children. A. Naccrato. S. J. Chemical and biochemical caraterization of three disserent types honey from Bihor country. Storer. 1471-1476.ro/nbha/article/viewFile/4780/4516 Craig. (2008). 47(7). & Gilbert.com/1471-2431/7/27/pdf.N. (2006). 25(1). P.org/content/122/ Supplement3/S134. Ayu Yuliani Sekriptini.. M. http://www. Pain Management Nursing.org/IENR/ENR/ Documents/PedPainManagementENR. Diunduh tanggal 25 Juli 2012. 6th ed. Pediatric Emergency Care... K. N. Diunduh tanggal 2 Oktober 2012. J..J. (2007). H. 313-318. Czarnecki. (2011). Pediatric.. F. Diunduh tanggal 14 Agustus 2012. Virgil. Ali. C. K. X.jmedar. M. http://www. D. A randomized controlled trial of sucrose and/or pacifier as analgesia for infants receiving venipuncture in a pediatric emergency department. 19-23.A.K. L. 8(4). Randomised analgesic effects of sucrose.M. glucose. Darcy.. Couders. M.bmj.M. http://pediatrics. Oliver-Martin. Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.D.com/content/319/7222/1393. Crowley.A.. Chauvet..12(4).ro Davaera. FIK UI. Behavioral approaches to anxiety and pain management for pediatric venous access.pdf Curtis. The practice of nursing resesrch: appraisal. BMC Pediatrics. H.. Emergency nursing resource: Needle-related procedural pain in pediatric patient in the emergency departement..aappublications. Diunduh tanggal 8 Juli 2012. R. Faculty for Environmental Protection. (2010).ena. 232–242. Wrona. 122-134. A. Lilley. N. Turner.D . & Schneider. V. Vandermeer. http://www. Daniela. & Reynolds. Collins. S. Carbajal. Jurnal Medical Aradean. Missouri: Saunders Elsevier. Jou. & Klassen T.. Doellman.... B.pdf Cornelia P.full.. Diunduh tanggal 20 September 2012. Proehl.A.. V. and pacifiers in term neonates. 45(7). C.. S. & Chis.. 77(7). Physiology of pain – general mechanisms and individual differences. (2009)..biomedcentral. Clin J Pain.

Factors influencing pain management in children. Funk. Pediatrics Nursing. Pain assessment for pediatric patients in the Emergency Department.A..S... http://www. Pain Management Nursing. 99-105.. (2001). M. Ayu Yuliani Sekriptini. (2008).org. D.. 13911405. (2010). & Elseviers. Drendel. J. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung. I.nih. & Gorelick. 190-197. Non pharmacological techniques for stress reduction during emergency medical care: A review. Oral glucose solution as pain relief in newborn: Result a clinical trial.P.. 15111518. Brousseau.gov/pubmed/19119745 Goenarwo. K. 63(84).. C. L. 130(5). 109-1093. (2004).B. 117(5). Selling comfort: A survey of interventions for needle procedures in a Pediatric Hospital. Eichenfield. (2012). B. Relief of pain and anxiety in pediatric patients in emergency medical systems. & Anniballi. E. Newhook. 21-24.com/pdfs/. 37-38.. Birth issue in perinatal Care. http://pediatrics.html. 5(4). 244250. 19(9). A clinical study to evaluate the efficacy of ELA-Max (4% liposomal lidocaine) as compaired with eutectic mixture of local anasthetics cresm for reduction of venipuctue in children... Jakarta: Trans Info Media.. Diunduh tanggal 20 Juli 2012. W. www. Pediatrics.org/afp/2001/0515/p1979. Ann Ist Super Sanita. A. Pediatrics. & Susanto. (2011).. Chodidjah. 45(2). Dilen. A.ncbi.gov/pubmed/15116686. J.F. Am Fam Phys. Eldridge. 144-152. (2004).. http://www. D. Ljusegren.. K. Diunduh tanggal 27 Juli 2012.nih. 134-146. 37(2).nlm. A. Sharp. http://cdn. Cunningham. Cravero. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Infant botulism. Pediatrics. H.nlm. Uji efektifitas analgetik madu pada tikus dengan metoda geliat asetat. F. 11(4). Diunduh tanggal 25 Juli 2012.95 Dharma. 2013 . (2002). Gimbler-Berglund. L. Gottschalk.pdf Ellis.. M.H.J. Zempsky. Dowling. (2004). Fein. & Smith. Diunduh tanggal 12 Juli 2012. J.aafp. Pediatrics. Pediatric Nursing.. S. & Cohen. D. (2011). J. Diunduh tanggal 12 Juli 2012. 5(4).. Fallon-Friedlander. Pain assessment in children with neurological impairment. M. K. Metodologi penelitian keperawatan: pedoman melaksanakan san menerapkan hasil penelitian. 20(10).aappublications.A. & Enskar.intechopen... (2009). B. & Kennedy. New concepts in acue pain therapy: Prepentive analgesia. Fenicia.ncbi. FIK UI. R. (2006).

. Heuether (Eds). Yamada. Impaired health-related quality of life in children with recurrent pain. Y. (2009). MO: Mosby-Year Book. (2004). 124(4). Diunduh tanggal 7 Agustus 2012. Huether. sleep.mobi/content/110/6/1053. Eriksson. http://peditrics. B. 1053-1057. 401-410.html.. & Schollin.org/conten/110/6/1053. Sweet tasting solution for reduction of needle-related procedural in children aged one to 16 years review. (2008). & Huckson.. http://pediatrics. L.sjtrem. (2009). Pediatrics. Pathophysiology: The biologic basis for disease in adults and children (4th ed). Wong’s nursing care of infants and children.. 30. 21(2). M. F. Diunduh tanggal 20 Agustus 2012.. (2007). J.. S. D. tanggal 28 Juli 2012. Scandinavian Journal of Trauma. D. (2002).. R.N.Louis.full. S. h. Jakarta. & MacIntyre. E. pp.S. Diunduh tanggal 8 Agustus 2012.. B. Pain reduction at venipucture in newborn: Oral glucose compared with local anesthetic cream. 19(8). tempetarure regulation.. The Cochrane Library.aappublications. 57(9). ISBN. J..aappublication. A..com/content/17/1/47. 17(8). http://www. and sensory fuction. Beyene. St. Terapi Madu.S.. & Wilson. Holmqvst. (2009). M. Pediatrics. D. & Bergstrom.. 978(1).E..full.. A. J. http://www. M. In K..L.org/content/full. FIK UI. Gradin. 110-153. McCance & S. Herd.96 Gardner. Hamad. Resuscitation and Emergency Medicine..I. Pustaka Imam. (2002). M. Eriksson. 2013 . J. Critical care in the Emergency Department: An assessment of the length of stay and invasive procedures performed on critically ill ED.). Pediatrics. & Steven. 759-760. Pain. (2011). J.K. Louis: Mosby Elsevier. Ohlsson. Hagglof. G.L.htm Harrison. St.E. Hockenberry.T.. Holstien. D. S. Gilhotra. Behavioral Problems of Infancy and Preschool Children.pediatricsdigest. (2006). Ayu Yuliani Sekriptini. J. 43-47. G. & Shaw. Gradin. Webber. Emergency Medicine Australasia. 210-221. Holmqvst. 156-159.. 4051-4549..w. J. Pain reduction at venipucture in newborn: Oral glucose compared with local anesthetic cream review.. & Leo. (8th ed.. Green R.. & Schollin. Franz. 6(10). Pain management practices in paediatric emergency departments in Australia and New Zealand: A clinical and organizational audit by National Health and Medical Research Council’s National Institute of Clinical Studies and Paediatric Research in Emergency Departments International Collaborative. M.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..

A. http://www.. S. 232-242. Comfort theory and its application to pediatric nursing. G.nih. children. 2013 ... (2004). 109 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Gender differences in postoperative pain and patient controlled analgesia use among adolescent surgical patients. Pediatrics. K. (2003). 59(2). edisi III. Pain .. medind..com/comfort theory. Deshmukh & Udani.M. (2003). 17.).. 138-141. Pain . Bag Anastesiologi dan Terapi Intensif FK UI. (2002) Topikal anasthetics for intravenous insertion in children: A randomized equivalency study. (7). G. E. Ayu Yuliani Sekriptini. 61(7).. Christine M. 101-882. J.pdf Kelly. Tannfeldt. (2008). Diunduh tanggal 12 Agustus 2012. A process approach to improving pain management in the emergency department development and evaluation. D. R. Gilbert. Olsson.gov/pubmed/12359791 Kolcaba.nlm. & Tannous. Logan. Medical surgical nursing: Critical thinking in client care. Kenneth. Diunduh tanggal 20 September 2012. Analgesic effect of oral glucose in neonates. Diunduh 20 Juni 2012. Analgesic effect of oral glucose in preterm infants during venipuncture: A double-blind. 473–477. J. randomized. controlled trial.full. B. (2008). D. Lilley.thecomfortline. 137(3). D. J Accid Emerg Med. and adolescents social barriers to optimal pain management in infants and children. NY: Springer Publishing Company. Jakarta. Venipuncture is more affective and less painfull than heel lancinf for blood tests in neonates. & Cheryl A. Whiteside.L... Petunjuk praktis anatesiologi.org/content/101/5/882.. 48(3).A.ncbi. Loeser. http://pediatrics. P. D.. Le Mone. Diunduh tanggal 24 September 2012.aappublications. & Treede.. Larsson. J. The Kyoto protocol of IASP basic pain terminology. A. K.L. Lacercrantz.H. Gronstal. Comfort theory and practice: A vision for holistic health care and research. 16(5)..C. Dalal. M. (2006). 185-187.. R. B. 100-104. Clinical Journal of Pain.. Jurnal of Tropical Pediatric. B.. Latief.97 Jatana. H. (2000). FIK UI. http://www. (2002). (2005).nic. K. L. Kolcaba & Di Marco. Pearson Education Company. Pediatrics. & Rose. G. Laxmikant.C. New York. (3rd ed. & Burke. C. Sorenson. 12(3). A. Kleiber. (2000).. J. Barriers to optimal pain management in infants. (2001). R.in/maa/ t03/i2/maat03i2p100. & Wilson. S.A.. 110-758. MJAFI..

. Diunduh tanggal 25 Juli 2012. Patfield.D. K. Harris. 23(2). (2001).. Diunduh tanggal 7 Agustus 2012. Lewkowski.bmj. Physiology & Behavior.S.full Mediani. PostgradMed. Loissi. Edisi ke-2. R..A. Diunduh tanggal 12 http://www. 2(48). BJM.. Respon nyeri infant dan anak yang mengalami hospitalisasi saat pemasangan infuse di RSUD Sumedang. September 2012. White.J. 79(2). J. Obispo. Suryamiharja. 430-438. S. R. & Hatira. Kelompok Studi Nyeri. 256-260. (2003). & Dickenson. Assessment and management of pain in infant. S. Lessard.J.R. (Ed). C.aappublications. P. Ayu Yuliani Sekriptini. R.L. Boyd. http://pediatrics. Manchikanti... Effects of chewing gum on responses to routine painful procedures in children. dan Rakhmawati.nlm.. Munqlani. K. patofisiologi dan penatalaksanaan.. 793-797. h. P. (2010). Patofisiologi nyeri. (Eds).ncbi. Assessment and management of pain in children review..org/content/108/3/793. Pain medicine manual. Diunduh tanggal 13 Agustus 2012. et al. L... Diagnostic interventions. A. Sherrard. Dalam: K.. R. Randomized clinical trial of local anesthetic versus a combination of local anesthetic with self-hypnosis in the management of pediatric procedure-related pain.P. Pain Physician.F.gov/pubmed/15861613. A. D...N. Nyeri neuropatik. Pediatric Emergency Care. 108(3).98 (3).. (2006). Barr.com/science/ article/pii.. & Young. J. A.. (2007).. Mathew. L. 2013 . D. 11-19.. P.L. PERDOSSI. Pain assessment and management in children and adolescent. Bryce. (2010). Meliala. (2003). 257–265 Lyon.J. & Young S.com Mathew. Diunduh tanggal 9 July 2012. W. S. H. (2004). Pediatrics. Emergency Nurse. NCBI. P.A. Datta. http://pmj. M. http://pmj. 13(1). McCaffrey. S. 3-38..sciencedirect. & Mathew. http://www. 87-93.. Pain patohysiology. Mardhiyah. Dalam: S. (2003). 13(3). FIK UI.. MacLean... h 1-2..L. The convergent validity of the Manchester pain scale.H. 307-312. E.nih..A. N.G.bmj. & Mackway-Jones. Sadeli. 45(5). 25(3). (2003). A. Purna.. 141-174... Critical review of the American Pain Society Clinical Practice Guidelines for interventional techniques: Part 1. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ward.D. (2005).. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran Meliala. & Pasero. H.. J. The gap between pediatric emergency department procedural pain management treatment available and actual practice.S. J. London: Butterworth Heineman. 481–487. Gupta.com/content/79/934/438 Matthews. Dolin. A.

115(16). C. 2013 . Z. Prevention and control of pain in children. E.. Pediatrics. P..l. R. Colak.. R. Kaya.. The influence of children’s pain memories on subsequent pain experience. (2006). http://www. Ayu Yuliani Sekriptini. http://bja. Luangxay. (2004). (2008). & Krug. & Hungler. D..pds. I’am to tell you the facts about honey.. Pengaruh pemberian madu dalam tindakan keperawatan oral care terhadap mukositis akibat kemoterapi pada anak di RSUPN Dr. Hagglof. McGrath. 759-767. Nurhidayah. 118-. 1563–1572.. Philadelpia: Lippincott Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. e511-e521. (2012).8.. (1999). O.apta.org Ozcetin.au/Vol24/Vol24. B. Nursing research: generating and assessing evidence for nursing practice. http://www. Diunduh tanggal 20 Juli 2012.. Arch Dis Child.. Chopitayasunondh. P. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. & Beck. S. Patient and Family-Centered care of children in the emergency department.full. M. N.H. S. Limtifikul.99 Morton..2.org/content/ 83/1/118.I. Pediatrics.. M. (2005). 29. The measurement of pain in infants. & Stewart. K. A Comparasion of pain scales in Thai children..S. F. and adolescents: From policy to practice. (2008).pointernet. & Bergstrom. K. Brown.F. D. 6th ed. children. Klein. Nursing research: Principles and methods.E. & Guner. K.. http://ptjournal. Karaaslan. Pediatrics.M. (2011)..T.com. 124(4). (2009) Impaired health related quality of life in children with recurrent pain. Noel. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Suren.. O'Rourke. effects of parent's presence on pain tolerance in children during venipuncture: A randomised controlled trial. O'Malley. Petersen..P. A Refernce Guide from National Board...pdf National Honey Board. Diunduh tanggal 5 Januari 2013. 990(70) 269-275. P.L. Br J Anaesth. Philadelpia: Lippincott. (2010). M. (2012). PAIN. T. C.ajan. E. (2011).F. B.pdf Movahaedi. A.T. Polit.pdf Newman... 67(16). 9th ed. I. D. Lolekha.. 112(19). 247-252. (8124). Effect of local refrigeration prior to venipuncture on pain related responses in school age children. Diunduh tanggal 20 Juni 2012.. S. Diunduh tanggal 20 September 2012. HK J Paediatr. FIK UI. Polit.hu/honey/techbroch. Chambers. Chanthavanich.J. E. C.oxfordjournals.J.

P. Jakarta: EGC. Soyer. R. S. 838-842. (2002).C. B. Zempsky.. Pain in children: assessment and nonpharmacological management. Journal of Pediatric Nursing. Mengenal dan memanfaatkan khasiat madu alami. B.. Edisi 8.. S. 545-553.. T. Buku ajar keperawatan medikal bedah. & Schneeweiss. L.. hal 182. 10(2). hal 57. T. Behavioral Brain Resesrch. O. & Erber.. & Ismael. tyramine and dopamine in honey bees.G. S. (2012). 22(6). Puspitasari... (2002). Pain tolerance in children and adolescents: Sex differences and psychosocial influences on pain threshold and endurance. W.T. 153-157. Biomed Pap Med. S. (2010). & Bare.. Blenau .. Turkmen. Scheiner. (2009). K. Jakarta: Sagung Seto.. 474(11). B. Rahasia sehat mmadu. (2007). R. S. Akman. 2(5).L.E. Schechter. Dasar-dasar metodelogi penelitian klinis.. N. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. (2007).. & Cesur. O. & Hrazdilova.R. & Mace. 2013 . (2005).. proses.Pionir Jaya. & Bright. Srouji. Vierhaus. S.A.G. S.J. L. McGrath. 156-159. FIK UI. 218-203.. P. edisi 4. PT.. S.S. Deniz. Sastroasmoro. 136(12). International Journal of Pediatrics. & Lohaus. C. (2001).. 28(9). The impact of pediatric trauma score on burden of trauma in emergency room care.. Setlik... (2010). (2011). O’ney.. Ratnapalan. (2011). & Luhman.A.. European Journal of Pain. Purabaya. Ratnapalan.P. 51(7). P. I. 257-263. Brunner & Suddarth. & Perry. Smeltzer. dan praktik.Bentang Pustaka. 367-370. Ayu Yuliani Sekriptini. M. Cohen. Hancerliogullari. CV. Edisi 4.100 Potter.. Mason. A.. International Journal of Pediatrics. J. 512-515. Behavioural pharmacology of octopamine. Sikorova. Jakarta: EGC... Bandung. L. (2007). H. 155(20). J. Schmitz. Sparks.. A.K.. Parental holding and positioning to decrease IV stress in young children: A randomized controlled trial. McMurtry. J. J. Pediatrics. Pain reduction during pediatric immunizations: evidencebased review and recommendations. The effect of psyhchological intervention on perceived pain in children undergoing venipuncture. A. Pediatric pain management and sedation.M.L. F.. The Turkish Journal of Pediatric. Pluckhahn. Yogyakarta. Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep. N.

Taylor.nih. Cochrane Database of Systematic Reviews. A.. A. Chambers. http://udini. Inhibition by chesnut honey of N-Acyl-L homoserine lactones and biofilm formation in erwinia carotovora.html. CMAJ. LeMone. Psychological interventions for needle-related procedural pain and distress in children and adolescents.. 244–253.S. yersinia enterocolitica. S. 2.pdf. Appleton. R. proquest. 2012. Diunduh tanggal 12 Agustus 2012. Diunduh tanggal 12 September 2012. J.ncbi..cmaj.). S.S..nichd. & Lynn. Ayu Yuliani Sekriptini. 4. 56(2)... (2006). Tomey. V. S. J.gov/pubmed/19950997 Twycross. S. http://www.. M. & Allende. Cross-validation of composite pain scale for preschool children within 24 houe of surgery. C. C. Jakarta: EGC Suraseranivonges. M. (2010).. P.F.gov/ pubmed/10820579. E. British Journal. http://www.M.20(5).A. http://www. Halperin.nih. Contribution of honey in nutrition and human health: a review. J.com/content/g1771u466wvr2h26/fulltext. 87(3). Suarez. Nursing science and their works. 15-23. T. Diunduh tanggal 20 September 2012... Chambers.. 843-855.. Philadelphia: Nazareth Hospital.full. 5(2). Diunduh tanggal 23 September 2012.. Prakkammodom.. Supartini.101 Steven. Diunduh tanggal 28 Juni 2012. (2009).. A Sucrose for analgesia in newborn infant undergoing painful procedures. Yamada. Lillis. P. (6th ed.. Louis. 182(8). FIK UI. (2010). (2004) Konsep dasar keperawatan anak. Fundamental of nursing : The art and science of nursing care. K. C.. Y.S.A. Izquierdo. N.nlm.nih. NICHD. P..). A. Bortolussi. 2013 . Taddio. (6th ed. Nurse Educ Today.ca/content/182/18/1989..com/view/psychological-interventions-for-pqid: 1968185 001/ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.springerlink. & Kisely. & Muntraporn. and aeromonas hydrophila. A. Agustus 20.K..M.. & Ohlsson. McGrath. Romandini.. (2008). (2005). S. L. & Battino.J. P. G. A.nlm. Dubey. (2000). Pectharatana. G. 11186-11193.. (2001).R. Education about pain: A neglected area?. S. Bertoli.. Agricultural and Food Chemistry. Barberan. Uman. & Alligood. 400-408. et al. 105-112. Mediterr Nutr Me-tab..T.ncbi. Truchado. Mosby Elsevier.. S. 57(23).. Santawat.. R. Reducing the pain of childhood vaccination: an evidence-based clinical practice guideline. B. St.. http://www. Kraiprasit. (2007). http://www. U. Tulipani.gov /cochraneneonatal/stevens/ stevens.

St.L. 36(8). Pediatric in Review.. (2005).com /article. and implementation. September 25(5).. N. William. Kilbourn.A.. (2007).Bueller.. Clin Pediatr Emerg Med..D. Optimizing the management of peripheral venous access Pain in children: Evidence. J. 22(12). & Brown.. Swiss Med Wkly. (5).. (2002) Opioid receptor-mediated antinociceptive responses differ in men and women. 2012. (2004). http://archpedi.D.D.T.138 (39). J. R.K. Won.. Arch Pediatr Adolesc Med. Effect of programmed information on coping behavior and emotions of mother of young children undergoing IV procedures. K. FIK UI. 57. Ayu Yuliani Sekriptini.unife. Agustus 28.jamanetwork..aappublications. 9.. (2006). 337-340. Relief of pain and anxiety in pediatric patients in emergency medical systems.L. L. 2012. W.. 56(1). (3).aspx?articleid=189261. Zempsky. 1301-1307. (2008). (2003).Pediatric%20procedural%20pain. L. & Schechter. US Paediatrics. M. Developing the painless emergency department: A systematic approach to change. Zempsky. B. 10. Zempsky..pdf. & Hockenberry. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. 122. 147-152. (2008). (2005) Pediatric procedural pain. 1071. http://pedsinreview.. Zeltzer. Januari 1. (2003). J.P. T.T. Bernstein.R. 74. W. The efficacy of non-pharmacological methods of pain management in school age children receiving venepuncture in a paediatric department: a randomized controlled trial of audiovisual distraction and routine psychological intervention. Young. & Chena. (2008).extract William. 253–259.. Neil. http://web. Z. 2013 . Xu. & Cravero. M. What’s new in the management of pain in children. Journal of Pediatric.. Ann Emerg Med. Y. 121-124. et al. Weisman. M. 1(2). Sunb. Louis: Mosby. M. Consequences of inadequate analgesia during painful procedures in children. (2000)..D.. Pediatrics. N. 78-80. & Schechter. T. Wong. Pediatrics in Review. 5100–5107. L. J.. Pre treating pain associated with venous access procedures. A.. M. 2012. W.A. D.102 Wanga.. (7th ed.org/content /24/10/337. Jurnal of Korean Academy of Nursing.L. 79-584. 24. S. What’s new in the management of pain in children. D.T.garani/SedazioneFarmaci/AnnEmergMed2005. 24(8). The Journal of Neuroscience.it/utenti/giampaolo.J. Zubieta.). & Zempsky. 377-348. Yolanda. & Schecter. Zempsky. 5. Smith. M. impact. Nursing care of infants and children. 114-117.

Pengisian kuesioner data demografi dan penilaian skor nyeri dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti. PhD. dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia.. dan menjelaskan bahwa keterlibatan anada di dalam penelitian ini atas dasar sukarela.. Sekitar 68 anak akan terlibat dalam penelitian ini dari satu rumah sakit yang berada di Cirebon. Progam Studi Keperawatan Cirebon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. pengalaman diambil darah sebelumnya. Penelitian ini melibatkan anak yang berusia 1sampai 6 tahun. Pembimbing saya adalah Yeni Rustina. Bagian pertama berisi tentang demografi seperti usia. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Gunung Jati RSUD. Saya akan menjaga kerahasiaan anak anda dan keterlibatan anak anda dalam penelitian ini.Sc. Nama saya/peneliti adalah Ayu Yuliani Sekriptini. Apabila hasil penelitian ini diplubikasikan.App. 16424. orang tua/wali bebas untuk mengundurkan diri dari penelitian kapanpun. Keputusan diwakilkan kepada orang tua/wali anak untuk ikut ataupun tidak dalam penelitian ini. pengalaman nyeri sebeumnya.. FIK UI. dari Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. yang beralamat di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia kampus Depok. Semua kuesioner yang telah terisi hanya diberi nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas anak anda. Saya pengajar di POLTEKKES Tasikmalaya.. M. dan saat penambilan darah pasien didampingi atau tidak. yang masuk ke ruang unit gawat darurat dan akan dilakukan tindakan invasif pengambilan darah. Dan apabila orang tua/wali memutuskan berpartisipasi. Arjawinangun Cirebon. Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari dua bagian. Nama anak anda tidak akan dicatat dimanapun. SKp. jenis kelamin. Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan Magister saya di Universitas Indonesia. Indonesia. Peneliti (Saya) akan memberikan lembar persetujuan ini. tidak ada satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari PUSDIKNAKES. Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Saya dapat dihubungi di nomor telepon 0816646216. Kota Cirebon Anda sebagai orang tua/wali diminta untuk berpartisiasi dalam penelitian. tanda vital. Ayu Yuliani Sekriptini.Lampiran 1 PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di UGD RSUD. 2013 . Bagian kedua berisi penilaian skor nyeri dengan menggunakan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS)..

Ayu Yuliani Sekriptini.Lampiran 2 yang anda jawab dalam penelitian ini. jika diperlukan catatan penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya. anda berhak untuk tidak menjawabnya. Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peranyang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini. manun hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak dengan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat.. anda dapat menghubuni saya di nomer telepon 0816646216. Apabila setelah terlibat penelitian ini anda masih memiliki petanyaan. Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan keuntungan langsung pada anda. FIK UI. saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.. Namun. Keterlibatan anda dalam penelitian ini. 2013 . tidak menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa anda hadapi sehari-hari. sejauh saya ketahui. ……………………2012 _________________ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..

. (___________________) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat dan sesuai dari peneliti.. yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ___________________________________________ Umur : ___________________________________________ Bapak/Ibu/Wali Anak : ___________________________________________ Menyatakan bahwa : 1.…………………2012 Yang Membuat Pernyataan. Memahami prosedur penelitian yang akan dilakukan.. Dengan pertimbangan di atas. manfaat. Telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian “Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon”. dan kemungkinan efek samping yang terjadi dari penelitian yang dilakukan. Ayu Yuliani Sekriptini.Lampiran 3 LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Saya. Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya. 2013 . 2. FIK UI. tujuan. 3. dengan ini saya sebagai Bapak/Ibu/Wali dari anak saya mengijinkan/tidak mengijinkan anak saya berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini. Cirebon.

Lampiran 4

KUESIONER DATA DEMOGRAFI
Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri
Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada
Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon
Kelompok

:

0

Inisial

: _______________________

No. kuesioner

: _______________________

Hari/tanggal

: _______________________

Jenis Kelamin

: Laki-laki / Perempuan

Tanggal lahir

: _____/_______/______

Umur

: _____________Bulan

1

Tanda-tanda vital : Nadi = _____________x/menit

Petujuk : Berilah tanda cek list (√) sesuai jawaban yang diberikan.
1. Apakah pasien pernah mengalami pengambilan darah sebelumnya ?
Pernah
Tidak Pernah
2. Saat pengambilan darah pasien di damping oleh keluarga ?
Ya
Tidak

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Lampiran 5

INSTRUMEN SKALA NYERI
Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS)
Kelompok

: Treatment

Inisial : ________

Kontrol
No. kuesioner : ___

Item
Tangisan

Perilaku
Tidak menangis
Merintih
Menangis
Menjerit/teriak

Ekspresi
wajah

Biasa
Merengut

1
2

Tersenyum

0

Tidak ada
Anak mengeluh

1
1

Keluhan nyeri
Kedua keluhan

2
2

Ungkapan positif

0

Netral
Gelisah
Tegang
Gemetar

1
2
2
2

Tegak lurus
Menahan
Tidak menyentuh
Berusaha menggapai

2
2
1
2

Menyentuh
Merebut
Direstrain
Netral
Menendang2
Ditarik

2
2
2
1
2
2

Berdiri
Direstrain

2
2

Ekspresi
verbal

Posisi
badan

Sentuhan

Posisi
kaki

Point
1
2
2
3

Hari/tanggal : ___________

Definisi/pengertian/interpretasi
Anak tidak menangis
Anak merintih/menangis lirih
Anak menangis tapi tidak keras
Anak menangis dengan kuat, dapat disertai
keluhan/tidak
Ekpresi wajah netral
Terdapat ekspresi wajah menunjukkan
negatif/tidak nyaman
Terdapat ekspresi wajah menunjukkan positif/
nyaman
Anak tidak berbicara
Anak mengeluh tapi tidak berkaitan dengan
nyeri, contoh “mana ibu saya” atau “saya
haus”
Anak mengeluhkan nyeri
Anak mengeuh nyeri yang lain, contoh “saya
sakit saya ingin melihat ibu saya”
Anak memberikan statment positif atau
membicarakan hal2 lain yang bukan berupa
keluhan
Badan dalam posisi rileks/isitrahat
Posis tubuh bergerakgerak (gelisah)
Badan tertekuk/melingkar atau kaku
Badan tampak tidak nyaman atau
memberontak
Badan dalam posisi tegak
Badan direstrain
Anak tidak menyentuh/memegang luka
Anak memberi reaksi tetapi tidak menyentuh
luka
Anak mencoba memegangi luka
Anak menyentuh area yang nyeri
Tangan anak direstrain
Kaki dalam posisi rileks, atau bergerak Gerak
tapi masih rileks
Gerakan2 yang menunjukkan kegelisahan,
menendang
Berdiri, kaki tertekuk dan tegang
Kaki anak direstrain
JUMLAH SKOR

Sumber : McGrath, P.J., Jhonson, G., Goodman, J.T., et al. CHEOPS: A behavioral scale for rating
postoperative pain in children. In Fields, H.L., et al. (editor) Advances in Pain Research and
Therapy, (vol 9). New York, Reven Press.
Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Skor

Lampiran 6

PROTOKOL PEMBERIAN MADU BAGI PERAWAT
1. Persiapan Alat
a. Sendok makan
b. Spuit 5 ml
c. Cairan madu
d. Alas perlak atau handuk pengalas
e. Kertas tissue
f. Air minum (jika tersedia)
2. Prosedur Pelaksanaan
a. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan pada tempat yang telah ditentukan.
b. Lakukan mengukuran tanda vital pada anak.
c. Jelaskan pada anak, orang tua/wali akan di beri madu sebelum
pengambilan darah.
d. Letakkan alas di dada atau dipangkuan anak.
e. Berikan madu per-oral pada anak dengan menggunakan sendok atau spuit
(usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml)
f. Anjurkan anak untuk menghabiskan madu yang diberikan.
g. Beri minum jika anak menginginkan.
h. Lap bersih mulut anak
i. Rapikan peralatan
j. Dokumentasikan tindakan (waktu pelaksanaan, paraf perawat, respon
pasien).

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Lampiran 7 JADUAL PELAKSANAAN PENELITIAN No Kegiatan 1 Penyusunan proposal Ujian proposal Pengumpulan data Analisis dan penafsiran data Ujian hasil penelitian Penulisan dan draf publikasi Siding tesis Penulisan tesis Perbaikan tesis Jilid hard cover Pengumpulan tesis 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 September 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4 Bulan November Minggu 1 2 3 4 Desember 1 2 3 Januari 4 1 2 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini... 2013 3 4 ..

.. 25 Juli 1971 Agama : Islam Almat Rumah : Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Perumahan Kedung Jaya Indah Blok C No. 6 Kabupaten Cirebon Institusi : Poltekkes Tasikmalaya. Riwayat Pekerjaan No Tempat Kerja 1 Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2 SPK Depkes Cirebon 3 Politehnik Kesehatan Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. Program Studi Keperawatan Cirebon Alamat Instansi : Jalan Pemuda no 32 Kota Cirebon 1.Lampiran 8 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Ayu Yuliani Sekriptini Tempat Tanggal Lahir : Ciamis. Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Pendidikan SD Negri Banjar I Kota Banjar SMP Negri I Kota Banjar SMA PGRI Kota Banjar Akademi Keperawatan Depkes Bandung S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jurusan Keperawatan Tahun Lulus 1983 1986 1989 1992 Keperawatan 2003 Jabatan Perawat Pelaksana Tahun 1992-1998 Guru Dosen 1998-2001 2001-Sekarang 2. FIK UI..

FIK UI..Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 ..

Pengaruh pemberian. 2013 . FIK UI.... Ayu Yuliani Sekriptini.

2013 .. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.Pengaruh pemberian...

2013 . Ayu Yuliani Sekriptini..Pengaruh pemberian... FIK UI.

Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 .Pengaruh pemberian... FIK UI.

2013 ... FIK UI.Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini..

Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI.. 2013 ..Pengaruh pemberian..

pengalaman diambil darah sebelumnya.Sc. dan saat penambilan darah pasien didampingi atau tidak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon.Lampiran 1 PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di UGD RSUD. Kota Cirebon Anda sebagai orang tua/wali diminta untuk berpartisiasi dalam penelitian. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Gunung Jati RSUD. Nama anak anda tidak akan dicatat dimanapun. tanda vital. 2013 . orang tua/wali bebas untuk mengundurkan diri dari penelitian kapanpun.. Semua kuesioner yang telah terisi hanya diberi nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas anak anda. Keputusan diwakilkan kepada orang tua/wali anak untuk ikut ataupun tidak dalam penelitian ini. dari Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. tidak ada satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. PhD. Apabila hasil penelitian ini diplubikasikan. pengalaman nyeri sebeumnya. jenis kelamin. Pengisian kuesioner data demografi dan penilaian skor nyeri dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari PUSDIKNAKES. Ayu Yuliani Sekriptini. Pembimbing saya adalah Yeni Rustina.. SKp.. Progam Studi Keperawatan Cirebon. Saya pengajar di POLTEKKES Tasikmalaya. dan menjelaskan bahwa keterlibatan anada di dalam penelitian ini atas dasar sukarela. FIK UI.. Indonesia. Saya dapat dihubungi di nomor telepon 0816646216. Sekitar 68 anak akan terlibat dalam penelitian ini dari satu rumah sakit yang berada di Cirebon. Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Peneliti (Saya) akan memberikan lembar persetujuan ini. yang masuk ke ruang unit gawat darurat dan akan dilakukan tindakan invasif pengambilan darah. Bagian kedua berisi penilaian skor nyeri dengan menggunakan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). 16424. yang beralamat di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia kampus Depok. Nama saya/peneliti adalah Ayu Yuliani Sekriptini.. Penelitian ini melibatkan anak yang berusia 1sampai 6 tahun. Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari dua bagian.App. Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan Magister saya di Universitas Indonesia. Arjawinangun Cirebon. Dan apabila orang tua/wali memutuskan berpartisipasi. Bagian pertama berisi tentang demografi seperti usia. Saya akan menjaga kerahasiaan anak anda dan keterlibatan anak anda dalam penelitian ini. M.

Lampiran 2 yang anda jawab dalam penelitian ini. manun hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak dengan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat. Keterlibatan anda dalam penelitian ini. anda berhak untuk tidak menjawabnya. 2013 . Apabila setelah terlibat penelitian ini anda masih memiliki petanyaan. Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peranyang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini... ……………………2012 _________________ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. tidak menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa anda hadapi sehari-hari. saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan keuntungan langsung pada anda.. sejauh saya ketahui. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. Namun. jika diperlukan catatan penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya. anda dapat menghubuni saya di nomer telepon 0816646216.

Lampiran 3 LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Saya.. Memahami prosedur penelitian yang akan dilakukan. (___________________) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. dan kemungkinan efek samping yang terjadi dari penelitian yang dilakukan. 3. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. Dengan pertimbangan di atas. Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya.. 2. dengan ini saya sebagai Bapak/Ibu/Wali dari anak saya mengijinkan/tidak mengijinkan anak saya berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini. manfaat. yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ___________________________________________ Umur : ___________________________________________ Bapak/Ibu/Wali Anak : ___________________________________________ Menyatakan bahwa : 1. Telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian “Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon”. FIK UI. tujuan.…………………2012 Yang Membuat Pernyataan. Telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat dan sesuai dari peneliti. Cirebon.

Apakah pasien pernah mengalami pengambilan darah sebelumnya ? Pernah Tidak Pernah 2. Saat pengambilan darah pasien di damping oleh keluarga ? Ya Tidak Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. kuesioner : _______________________ Hari/tanggal : _______________________ Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan Tanggal lahir : _____/_______/______ Umur : _____________Bulan 1 Tanda-tanda vital : Nadi = _____________x/menit Petujuk : Berilah tanda cek list (√) sesuai jawaban yang diberikan.. 1. Ayu Yuliani Sekriptini.Lampiran 4 KUESIONER DATA DEMOGRAFI Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon Kelompok : 0 Inisial : _______________________ No. FIK UI... 2013 .

et al. dapat disertai keluhan/tidak Ekpresi wajah netral Terdapat ekspresi wajah menunjukkan negatif/tidak nyaman Terdapat ekspresi wajah menunjukkan positif/ nyaman Anak tidak berbicara Anak mengeluh tapi tidak berkaitan dengan nyeri... menendang Berdiri. kuesioner : ___ Item Tangisan Perilaku Tidak menangis Merintih Menangis Menjerit/teriak Ekspresi wajah Biasa Merengut 1 2 Tersenyum 0 Tidak ada Anak mengeluh 1 1 Keluhan nyeri Kedua keluhan 2 2 Ungkapan positif 0 Netral Gelisah Tegang Gemetar 1 2 2 2 Tegak lurus Menahan Tidak menyentuh Berusaha menggapai 2 2 1 2 Menyentuh Merebut Direstrain Netral Menendang2 Ditarik 2 2 2 1 2 2 Berdiri Direstrain 2 2 Ekspresi verbal Posisi badan Sentuhan Posisi kaki Point 1 2 2 3 Hari/tanggal : ___________ Definisi/pengertian/interpretasi Anak tidak menangis Anak merintih/menangis lirih Anak menangis tapi tidak keras Anak menangis dengan kuat. (vol 9).T. contoh “saya sakit saya ingin melihat ibu saya” Anak memberikan statment positif atau membicarakan hal2 lain yang bukan berupa keluhan Badan dalam posisi rileks/isitrahat Posis tubuh bergerakgerak (gelisah) Badan tertekuk/melingkar atau kaku Badan tampak tidak nyaman atau memberontak Badan dalam posisi tegak Badan direstrain Anak tidak menyentuh/memegang luka Anak memberi reaksi tetapi tidak menyentuh luka Anak mencoba memegangi luka Anak menyentuh area yang nyeri Tangan anak direstrain Kaki dalam posisi rileks. Ayu Yuliani Sekriptini. kaki tertekuk dan tegang Kaki anak direstrain JUMLAH SKOR Sumber : McGrath.L.J. 2013 Skor . H... atau bergerak Gerak tapi masih rileks Gerakan2 yang menunjukkan kegelisahan. FIK UI. G. P. (editor) Advances in Pain Research and Therapy. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Reven Press. J. Goodman.. et al.. Jhonson. contoh “mana ibu saya” atau “saya haus” Anak mengeluhkan nyeri Anak mengeuh nyeri yang lain. CHEOPS: A behavioral scale for rating postoperative pain in children. In Fields.Lampiran 5 INSTRUMEN SKALA NYERI Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Kelompok : Treatment Inisial : ________ Kontrol No. New York..

Spuit 5 ml c. Alas perlak atau handuk pengalas e. Letakkan alas di dada atau dipangkuan anak. Berikan madu per-oral pada anak dengan menggunakan sendok atau spuit (usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml) f. Rapikan peralatan j. Lap bersih mulut anak i.. Dokumentasikan tindakan (waktu pelaksanaan. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan pada tempat yang telah ditentukan. Ayu Yuliani Sekriptini. g. e. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 . d. Prosedur Pelaksanaan a. Sendok makan b.. Cairan madu d. Lakukan mengukuran tanda vital pada anak. respon pasien). c. Air minum (jika tersedia) 2.Lampiran 6 PROTOKOL PEMBERIAN MADU BAGI PERAWAT 1. FIK UI. orang tua/wali akan di beri madu sebelum pengambilan darah.. Anjurkan anak untuk menghabiskan madu yang diberikan. Jelaskan pada anak. Persiapan Alat a. h. Kertas tissue f. b. Beri minum jika anak menginginkan. paraf perawat.

Lampiran 7 JADUAL PELAKSANAAN PENELITIAN No Kegiatan 1 Penyusunan proposal Ujian proposal Pengumpulan data Analisis dan penafsiran data Ujian hasil penelitian Penulisan dan draf publikasi Siding tesis Penulisan tesis Perbaikan tesis Jilid hard cover Pengumpulan tesis 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 September 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4 Bulan November Minggu 1 2 3 4 Desember 1 2 3 Januari 4 1 2 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... 2013 3 4 . Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI..

. 6 Kabupaten Cirebon Institusi : Poltekkes Tasikmalaya. Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Pendidikan SD Negri Banjar I Kota Banjar SMP Negri I Kota Banjar SMA PGRI Kota Banjar Akademi Keperawatan Depkes Bandung S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jurusan Keperawatan Tahun Lulus 1983 1986 1989 1992 Keperawatan 2003 Jabatan Perawat Pelaksana Tahun 1992-1998 Guru Dosen 1998-2001 2001-Sekarang 2. Perumahan Kedung Jaya Indah Blok C No.. FIK UI.. Program Studi Keperawatan Cirebon Alamat Instansi : Jalan Pemuda no 32 Kota Cirebon 1. Riwayat Pekerjaan No Tempat Kerja 1 Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2 SPK Depkes Cirebon 3 Politehnik Kesehatan Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 25 Juli 1971 Agama : Islam Almat Rumah : Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 .Lampiran 8 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Ayu Yuliani Sekriptini Tempat Tanggal Lahir : Ciamis.