jurnal keperawatan

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN MADU TERHADAP PENURUNAN
SKOR NYERI AKIBAT TINDAKAN INVASIF PENGAMBILAN
DARAH INTRA VENA PADA ANAK DI RUANG UGD
RSUD KOTA CIREBON

TESIS

AYU YULIANI SEKRIPTINI
1006833571

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
DEPOK, JANUARI 2013

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN MADU TERHADAP PENURUNAN
SKOR NYERI AKIBAT TINDAKAN INVASIF PENGAMBILAN
DARAH INTRA VENA PADA ANAK DI RUANG UGD
RSUD KOTA CIREBON

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Ilmu Keperawatan

AYU YULIANI SEKRIPTINI
1006833571

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
PEMINATAN KEPERAWATAN ANAK
DEPOK, JANUARI 2013
ii

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

.Kp.HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh : Nama : Ayu Yuliani Sekriptini NPM : 1006833571 Program Studi : Magister Keperawatan Judul Tesis : Pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon.Sc. SKp. (………………………. Universitas Indonesia. 2013 .Si (……………………….. S. M. M. Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan. PhD (……………………….) Ditetapkan di : Depok Tanggal : Januari 2013 iv Pengaruh pemberian. DEWAN PENGUJI Pembimbing : Yeni Rustina.App.An..MN.) Penguji : Elfi Syahreni.. M.Kp..) Penguji : Dessie Wanda. FIK UI..Sp... (……………………….Kep. Ayu Yuliani Sekriptini.) Pembimbing : Nur Agustini. Fakultas Ilmu Keperawatan.. S..

Pengaruh pemberian... FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 .

. arahan dan perhatian yang besar dalam penyusunan tesis ini. Elfi Syahreni. Oleh karena itu. 4.App.. yang telah memberikan saran guna perbaikan tesis ini.. S. 5. M. selaku Ketua Program Studi Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. 8. 7.Sp. karena atas berkat dan rahmat-Nya.N. saya mengucapkan terima kasih kepada : 1.. menyediakan waktu. selaku penguji IV. Dewi Irawaty.KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.. selaku dosen pembimbing I yang telah dengan penuh kesabaran.Kep. pikiran dan motivasi serta dukungan yang sangat besar untuk saya dalam penyusunan tesis ini. tenaga. Nur Agustini..Kp.. Yeni Rustina. PhD. selaku dosen pembimbing II yang telah menyediakan waktu. 6. Ph. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Keperawatan Peminatan Keperawatan Anak pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.. tenaga. tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Ayu Yuliani Sekriptini.D. Saya menyadari bahwa.. dan pikiran untuk penyusunan tesis ini. 9.... 2013 . S. Ners. dari masa perkuliahan sampai penyusunan tesis ini. FIK UI.Si. M. 3..An. M. saya dapat menyelesaikan proposal tesis ini. Astuti Yuni Nursasi. selaku penguji III. selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Pihak RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleh data dan memberikan ijin untuk tempat penelitian. Rekan-rekan perawat di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama proses pengambilan data untuk menyelesaikan tesis ini.Kp. vi Pengaruh pemberian. M. S. 2. S. Dessie Wanda. MN. yang dengan sabar dan tulus memberikan bimbingan. sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini..Sc. Seluruh Staf pengajar Program Studi Magister Ilmu Keperawatan terutama kekhususan Keperawatan Anak dan seluruh staf akademik yang telah membantu peneliti...Kp. M.A.Kp.

Fadhli Dzil Ikram. Ayu Yuliani Sekriptini. 11. Shinta Maharani.. Yuliatin dan teman-teman di Keilmuan Keperawatan Anak. Depok. Ghaida Shafa Nabilah. FIK UI. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi kemajuan keperawaan..10. Januari 2013 Penulis vii Pengaruh pemberian.. Suyami. khususnya keperawatan anak di Indonesia. yang telah memberikan perhatian dan dukungan yang sangat besar selama penyusunan tesis ini. dan keluarga saya yang telah memberikan bantuan dan dukungan do’a bagi peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda untuk semua kebaikan yang telah diberikan. 2013 . Eni Nuraeni Yunus.

. pengambilan darah intra vena. Sampel diambil dengan consecutive sampling. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rata-rata skor nyeri anak pada kelompok madu dan kelompok plasebo (p=0.ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Ayu Yuliani Sekriptini : Magister Ilmu Keperawatan : Pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon Pengambilan darah intravena dapat menimbulkan nyeri dan traumatik pada anak. terdiri dari kelompok intervensi yang mendapatkan madu peroral (34 responden) dan kelompok kontrol mendapatkan plasebo (34 responden). viii Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 .. skor nyeri. FIK UI. Desain penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Kata kunci: madu.001).. usia responden 1-6 tahun. Skor nyeri dievaluasi dengan Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). Peneliti menyimpulkan pemberian madu peroral dapat menurunkan skor nyeri pada anak saat pengambilan darah intravena. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh madu terhadap skor nyeri anak saat pengambilan darah.

Samples were taken by consecutive sampling which consists of the intervened group who obtained honey per oral (34 respondents)..001). The result of analysis shows there is a significant difference on the average score of pains between the intervened and controlled group (p=0. the intravena blood taken. Ayu Yuliani Sekriptini. The design of this research is quasi experiment. and controlled group obtained plasebo (34 respondents) respondents aged 1-6 years.ABSTRACT Name : Ayu Yuliani Sekriptini Study Programme : University of Indonesia Magister Program in Nursing Science Specialisation Pediatric Nursing Title : The influence of giving honey on the score decreasing of pain as the result of intravena blood taking action on child at the emergency department of RSUD Cirebon City The intravena blood taken can cause pains and be traumatic for child. the score of pains ix Pengaruh pemberian. The researcher concluded that the giving of honey per oral can decrease the score of pains on child when the intravena blood taken. FIK UI. Key words: honey.This research has the aims to identify The influence of giving honey on the score decreasing of pain.. 2013 ..The score of pains are evaluated with Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS).

. 10 2.. 1.1. DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………….. Nyeri Pada Anak ……………………………………………………….. iii iv vi viii ix x xiii xiv xv xvi 1 1 7 8 8 2.1.. Pengertian Anak ………………………………………………… 45 2. 26 2..2. 10 2.4.3.. Pengertian Nyeri ………………………………………………. Konsep Anak …………………………………………………………… 45 2.6. Pengaruh Madu Terhadap Penurunan Respon Nyeri ………………….1.. Faktor-faktor yang mempengaruhi Nyeri ………………………. 13 2.. 40 2. Latar Belakang ………………………………………………………… 1.. Penilaian Nyeri ………………………………………………….6. 16 2. Kolcaba ………………… 40 2.4.. Kelompok Anak Berdasarkan Fase Perkembangan …………….2. Pengertian Madu ………………………………………………… 35 2. Ayu Yuliani Sekriptini..2.. PENDAHULUAN ……………………………………………………….. 47 2..2. Komposisi Kimia dan Biologi Madu …………………………….5.1.1.. 37 2.8. 43 2. Pengendalian Nyeri di Unit Gawat Darurat …………………….2. Klasifikasi Nyeri ………………………………………………. 2013 .4.2. Penggunaan Madu Dalam Penanganan Nyeri Pada Anak ………………35 2.1.2.3....1..5. Konsep Teori “Comfort” Katherine C. Kolcaba ………………….4. Atraumatic Care ……………………………………………………….46 2.2. 47 2. Fisiologi Nyeri ………………………………………………….1.3.1. ABSTRACT ………………………………………………………………… DAFTAR ISI ……………………………………………………………….. Manfaat Penelitian ……………………………………………………. FIK UI. 39 2.1.7.4. Efek Terapeutik Madu …………………………………………... Efek yang ditimbulkan oleh Nyeri ……………………………… 19 2. Perumusan Masalah …………………………………………………… 1. 38 2. Tujuan Penelitian ……………………………………………………… 1.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS …………………………. LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………… KATA PENGANTAR ……………………………………………………… ABSTRAK ………………………………………………………………….2.. Prinsip Atraumatic Care ………………………………………… 49 x Pengaruh pemberian. Aplikasi Comfort Theory pada Keperawatan Anak …………….6..2. 10 2.. DAFTAR SKEMA …………………………………………………………. TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………….6. DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… Hal 1...5.5.. 25 2. 11 2. Pengertian Atraumatic Care …………………………………….1..1...5. Teori Keperawatan “Comfort” Katherine C.3. DAFTAR TABEL …………………………………………………………. Penatalaksanaan Nyeri pada Anak ……………………………… 20 2.1.4.. 35 2..1. Jenis-jenis Madu ……………………………………………….2.

Implikasi Hasil Penelitian ……………………………………………. Ayu Yuliani Sekriptini.3.. Variabel bebas (independent) …………………………………… 51 3. 73 5. Desain Penelitian ………………………………………………………. Hipotesis Mayor ………………………………………………… 53 3. Rata-rata skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo …………………………………………………………. Sampel ……………………………………………………………57 4.2.1. 68 4.2.4. FIK UI.1. Kerangka Teori …………………………………………………………. Tempat Penelitian ……………………………………………………… 59 4....1. Uji Kesetaraan (Homogenity)…………………………………………..3. KERANGKA KONSEP.6. Perbedaan Rata-rata Skor Nyeri pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ……………………………………………… 74 5.8. METODE PENELITIAN ………………………………………………… 56 4. Keterbatasan Penelitian ……………………………………………….. 87 6. Skor Nyeri Kelompok Madu dan Kelompok Plasebo …………. Kerangka Konsep Penelitian …………………………………………… 51 3. 73 5.. 74 5.7. Variabel perancu (confounding) ………………………………… 52 3.2.3. PEMBAHASAN…………………………………………………………… 78 6. Waktu Penelitian ……………………………………………………….1.2.1. Karaktristik Responen ……………………………………………78 6.3.3.1. 75 6.2. HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL ………………………………………………51 3. 71 5.1.1..2.1.2.2.. 2013 . Interpretasi dan Diskusi hasil…………………………………………… 78 6. Validitas dan Reliabilitas Instrumen …………………………………… 62 4. 69 5.11. 56 4. Besar Sampel …………………………………………………….2. Populasi …………………………………………………………. 53 4.7. HASIL PENELITIAN …………………………………………………….. 58 4. Variabel terikat (dependent) ……………………………………. 51 3.. Hipotesis Minor …………………………………………………. Populasi. 53 3.1. Etika Penelitian ………………………………………………………… 60 4.1.. Perbedaan Rata-rata Skor Nyeri antara Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Berdasarkan Karakteristik Anak……………...3.2.2.2.1.1. Prosedur Analisis Data …………………………………………………. 85 6.1. 53 3. 60 4.50 3. Karakteristik Responden ………………………………………. Hipotesis ……………………………………………………………….3.2.2.10.3. Prosedur Pengumpul Data ……………………………………………… 64 4. 70 5. 56 4.1.5. 88 xi Pengaruh pemberian.. Definisi Oprasional ……………………………………………………. Alat Pengumpula Data …………………………………………………. Analisis Univariat ……………………………………………………… 71 5.2. Analisis Bivariat ……………………………………………………….1..2.9. Sampel dan Besar Sampel …………………………………… 56 4. Pengolahan Data ……………………………………………………….1. 61 4. Intervensi yang Dilakukan ………………………………………………64 4.

.. 2013 ..1. Simpulan ………………………………………………………………. Saran …………………………………………………………………… 90 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. KESIMPULAN DAN SARAN 7. 90 7. 92 LAMPIRAN xii Pengaruh pemberian.. FIK UI.7. Ayu Yuliani Sekriptini.2.

2013 Hal 27 31 32 36 52 67 68 69 70 71 72 76 76 77 . Tabel 2.4..6 Tabel 5... Tabel 3. Tabel 5.5.. Distribusi responden berdasarkan usia. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri pada anak kelompok intervensi dan kelompok kontrol di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon ……………………. Definisi Operasional …………………………………………….4. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Kandungan Gizi Madu Perhutani ……………………………. Uji homogenitas data responden berdasarkan jenis kelamin..Activity..8 Penilaian Klinis Nyeri ……………………………………….. Tabel 5.7 Tabel 5..3.3. Tabel 5.1. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon………………………………………………………….1 Tabel 4. kehadiran keluarga. dan pengalaman pengambilan darah di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…… Distribusi skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…………………………………….…. Tabel 2. Tabel 5.. pengalaman sebelumnya dan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……. Ayu Yuliani Sekriptini.. FIK UI. Tabel 5. Faces.2.. Tabel 5. jenis kelamin.2.1...usia.DAFTAR TABEL Tabel 2. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………… Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………………………. Cry. Legs.. xiii Pengaruh pemberian.2..... dan Consolability ………………... Tabel 2. Uji Statistik ………………………………………………………. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan usia anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon………………………………………………………….....

…………………………………..……………………………... Wong Baker Faces Pain Rating Scale………….…. xiv Pengaruh pemberian..…….……………………………………… Gambar 2.. Gambar 2. Numerical Rating Scale……….2... Ayu Yuliani Sekriptini.………………………. Visual Analogue Scale…. FIK UI.. 2013 Hal 13 31 31 31 32 ........ Gambar 2. Perjalanan Nyeri…………. Gambar 2....DAFTAR GAMBAR Gambar 2.…….…….3.4.. Verbal Rating Scale……..1.5..

Ayu Yuliani Sekriptini.. Skema 2.………………………… xv Pengaruh pemberian... Aplikasi Comfort Theory dalam Keperawatan Anak ………… Aplikasi Comfort Theory dalam Tindakan Pemberian Madu … Kerangka Teori ……………………..3. Skema 3.1.1. Kerangaka Konsep Penelitian ……….2. 2013 Hal 43 45 49 51 . Skema 2. FIK UI.………………………….DAFTAR SKEMA Skema 2.

Penjelasan tentang Penelitian Lembar Persetujuan Bersedia Menjadi Responden Penelitian Kuesioner Data Demografi Instrumen Skala Nyeri CHEOPS Protokol Pemberian Madu Bagi Perawat Jadual Pelaksanaan Penelitian Daftar Riwayat Hidup xvi Pengaruh pemberian. Lampiran 4. Ayu Yuliani Sekriptini.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lampiran 6. Lampiran 7. FIK UI... Lampiran 3. 2013 .. Lampiran 2. Lampiran 5.

tumbuh dan berkembang. Latar Belakang Undang-undang perlindungan anak No..1. Hal tersebut didukung oleh Undang-undang No. cerdas ceria. eksploitasi dan kekerasan serta dapat mengalami peningkatan kesejahteraan. 23 tahun 2002 menyebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya. Tujuan Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 (PNBAI) adalah terwujudnya anak Indonesia yang sehat. dimana unit gawat darurat merupakan suatu bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan kepada anak yang diperkirakan mengalami keadaan yang mengancam jiwa dan terjadi secara mendadak dalam suatu lingkungan yang tidak dapat dikendalikan (Zempsky & Schecter. Salah satu tugas perawat gawat darurat adalah melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada pasien dan menetapkan area yang tepat untuk pengobatan selanjutnya. Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat.. 2013 . salah satunya hak anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Ayu Yuliani Sekriptini.. termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. 2005). Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya keadaan sakit dan hospitalisasi. Proses gawat darurat dipengaruhi oleh beberapa 1 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.BAB 1 PENDAHULUAN 1. Keadaan anak yang tiba-tiba sakit atau terjadinya cedera mengharuskan anak masuk ke ruang gawat darurat. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 132 ayat 1 menyebutkan anak yang dilahirkan wajib dibesarkan dan diasuh secara bertanggung jawab sehingga memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal. Salah satu program pemerintah terkait optimalisasi tumbuh kembang anak yaitu Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 (PNBAI). mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah. berakhlak mulia dan terlindungi dari diskriminasi. FIK UI.

peran tim medis. Beberapa studi nyeri pada anak.2 faktor diantaranya waktu yang terbatas. Oleh karena itu diperlukan adanya tindakan secara cepat dan tepat untuk mencegah adanya kecacatan ataupun ancaman jiwa pasien di instalasi gawat darurat.. salah satunya adalah tindakan pengambilan darah vena (Meliala. (2004) menyebutkan pengendalian nyeri dan kecemasan untuk anak yang memasuki unit gawat darurat merupakan hal yang penting dan harus diperhatikan karena dapat menyebabkan trauma pada anak. dan sumber daya yang ada. Bernstein & Schechter.. dan dapat terjadi pada anak dengan keadaan sakit akut maupun yang sedang menjalani prosedur. Tindakan pengambilan darah vena merupakan prosedur yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan serta rasa tidak nyaman bagi anak akibat nyeri yang dirasakan saat prosedur tersebut dilaksanakan (Zeltzer & Brown 2007). Pengalaman nyeri selalu tidak menyenangkan. et al. Weisan. Weisman. informasi yang terbatas. Bernstein & Schechter. 2008). kondisi pasien yang memerlukan bantuan segera. 2001. Tindakan invasif pengambilan darah merupakan tugas dari petugas laboratorium akan tetapi dalam kenyataanya di unit gawat darurat pengambilan darah dilakukan oleh perawat. 2008). 2002. 2013 . FIK UI. kebutuhan pelayanan definitif di unit lain. Tindakan invasif yang didapat anak selama di unit gawat darurat dapat menimbulkan trauma berkepanjangan. Salah satu tindakan yang cepat dan tepat yang harus segera dilakukan di unit gawat darurat untuk menentukan diagnosis suatu penyakit atau tindakan yang lainnya adalah tindakan invasif pengambilan darah. Eichenfield. Ayu Yuliani Sekriptini. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penelitian Zempsky dan Cravero.. Hal ini dikarenakan banyaknya pasien di unit gawat darurat yang datang secara mendadak dan keterbatasan petugas. didapatkan bahwa nyeri yang dikeluhkan oleh anak selalu diabaikan sehingga penanganan yang diberikan tidak adekuat (Zeltzer & Brown 2007.

Hasil penelitian Won. Anak dengan kondisi nyeri menunjukkan berbagai komplikasi seperti timbulnya kecemasan. Anak yang mengalami kondisi sakit akan muncul tantangan-tantangan yang harus dihadapinya seperti mengatasi suatu perpisahan. dan sering harus berhubungan dan bergaul dengan anakanak yang sakit serta pengalaman mengikuti terapi yang menyakitkan.. gangguan prilaku. Perawat bertanggung jawab secara komperhensif dalam memberikan asuhan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Berbagai komplikasi ini dapat menurunkan kualias hidup. rasa tidak aman. dan tidak nyaman. sehingga dapat mengurangi dampak yang merugikan baik bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarganya (Kleiber. Hasil penelitian Petersen. perasaan kehilangan sesuatu yang biasanya dialaminya. 2002. Hagglof dan Bergstrom (2009). emosional. 2005). (2007). FIK UI. Zempsky & Schecter. dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan. Ayu Yuliani Sekriptini. et al. nyeri pada anak dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup. penyesuaian dengan lingkungan yang asing baginya. Metode penurunan nyeri merupakan salah satu prinsip dasar keperawatan anak yaitu prinsip atraumatic care atau pencegahan terhadap trauma. Salah satu mekanisme mengurangi dampak perawatan adalah manajemen nyeri. Aspek penilaian Health-Related Quality Of Life (HRQOL) meliputi penilaian fisik. Oleh karena itu penatalaksanaannya seharusnya dilakukan dengan optimal dan rasional. keputusasaan.3 Tindakan yang menyakitkan merupakan stresor bagi anak pada semua tingkat usia. menjelaskan bahwa anak yang masuk rumah sakit akan muncul perasaan ketakutan karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya. (2006) dan Cohen. psikososial dan fisiologi jangka panjang. sosial. penyesuaian dengan banyak orang yang mengurusinya. et al. 2013 . dan sekolah berfungsi dan kesejahteraan. dimana hasil penelitian menunjukkan dua pertiga dari sampel yang dilaporkan pada anak yang mengalami nyeri berulang mengalami penurunan kulias hidup empat kali di bandingkan pada anak dengan tanpa nyeri...

2013 . American Pain Society. 2011). kognitif. relaksasi. efektif dan tepat waktu (American Academy Of Pediatrics. disamping bertujuan untuk mengurangi kecemasan pada anak dan orang tua. seperti misalnya pemberian terapi analgesik. Czarnecki. Intervensi keperawatan untuk mencegah terjadinya trauma karena nyeri pada anak dapat dilakukan berupa intervensi farmakologi ataupun intervensi nonfarmakologi. 2011). et al. yaitu suatu gabungan farmakologis. guided imagery dan stimulasi kutan dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. 2003). Ayu Yuliani Sekriptini. Morton 2008. 2002). psikologis dan pengobatan non farmakologis yang bertujuan untuk memberikan intervensi dengan penuh kasih sayang.. membuat nyeri dapat lebih ditoleransi.. distraksi. Seorang perawat bertanggung jawab sedapat mungkin untuk menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri pada anak yang dilayaninya. menurunkan kecemasan dan meningkatkan kefektifan analgesik atau mengurangi dosis yang diperlukan (Czarnecki. juga akan meningkatkan keeratan dan kerjasama antara pasien dengan perawat saat memberikan intervensi sehingga dapat mengurangi beban perawat dalam memberikan pelayanan. 2002.. Sejumlah tehnik farmakologis dan non farmakologis dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri pada anak. 2003). Penatalaksanaan nyeri yang adekuat. Pemeriksaan dan pengobatan nyeri pada anak adalah komponen penting dalam praktek pelayanan kesehatan anak sehari-hari (Zempsky & Schecter. Prinsip atraumatic care adalah perawatan yang tidak menimbulkan adanya trauma pada anak dan keluarga (Wong & Hockenberry. disamping akan memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada orang tua atau pendamping anak yang dilayani (American Academy Of Pediatrics American Pain Society. Intervensi untuk mengurangi nyeri dapat dilakukan secara multidimensional melalui pendekatan pengobatan interdisipliner.4 keperawatan anak untuk mesejahterakan anak. FIK UI. et al. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. krim anastesi.

Penelitian lain yang serupa dilakukan oleh Devaera (2006) berupa pemberian oral larutan glukosa 30 % dapat menurunkan respon nyeri pada bayi baru lahir saat dilakukan prosedur pengambilan darah tumit. Penelitian meta-analis yang dilakukan oleh Harrison. aspartan. fruktosa..5 Pendekatan intervensi untuk mengurangi nyeri akut biasanya lebih banyak dilakukan dengan pendekatan farmakologi. Pendekatan secara nonfarmakologi yang sering dilakukan berupa pendekatan psikologis dengan cara memberikan penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan. dan krim anastesi topikal.. 2005). anastesi regional. et al.. 2013 . glukosa. (2005) melakukan penelitian meta-analisis tentang pemberian sukrosa saru lahir. Penelitian yang dilakukan oleh Gradin et al. Penelitian lain menunjukkan bahwa larutan manis lain seperti glukosa. Steven et al. berupa pemberian anastesi umum. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan larutan sukrosa sebagai analgesik pada bayi baru lahir saat menjalani prosedur invasif minor dapat menurunkan respon nyeri. (2011) menjelaskan tentang pemberian oral sukrosa 20 % dapat menurunkan respon nyeri pada bayi cukup bulan saat dilakukan pengambilan contoh darah vena. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. FIK UI. Pendekatan secara psikologis dapat dilakukan pada usia anak tertentu saja dan membutuhkan waktu khusus pendekatan kepada anak (Sikorova & Hrazdilova. dan sakarin memberikan efek yang serupa (Bauer et al. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2011). dan permen karet manis) dapat mengurangi rasa nyeri pada anak usia satu sampai enamanbelas tahun. Pendekatan dengan menggunakan intervensi nonfarmakologi untuk mengurangi respon nyeri lainnya dilakukan oleh beberapa peneliti dan telah membuktikan bahwa intervensi nonfarmakologi dapat mengurangi nyeri karena tindakan invasif. (2011) menyebutkan pemberian rasa manis (sukrosa. anastesi local infiltrasi. 2000).. Pendekatan farmakologi pada anak tidak seluruhnya dapat dilaksanakan karena kekhawatiran akan adanya efek samping yang ditimbulkan dari pemberian obat-obatan tersebut (American Academy Of Pediatrics. (2002) dan Crutis et al..

diastase. Madu juga mengandung berbagai macam enzim (amylase. dan madu telah mendapatkan tempat yang istimewa dalam sejarah pengobatan tradisional serta mudah diperoleh. investase. sukrosa (1. sekitar 2.6 Fenomena pemberian intervensi non farmakologi di beberapa rumah sakit sudah sebagian dilakukan berupa distraksi. Kandungan gizi utama madu adalah aneka senyawa karbohidrat seperti gula fruktosa (41.. Selandia Baru membuktikan. University of Waikoto. relaksasi. di Hamilton. dan guided imagery. Departement of Biological Sciences.9%). serta mengandung flavonoid yaitu pinocrembin (Purabaya. Madu merupakan larutan yang memiliki rasa manis. Karbohidrat madu ikut menambah pasokan sebagian energi yang diperlukan tubuh. 2013 .5%). Cipto Mangunkusumo dengan memberikan sukrosa 30% 2 ml pada anak dan bayi sebelum tindakan invasif. beberapa penelitian memberikan informasi tentang manfaat madu untuk tubuh. Kadar protein dalam madu relatif kecil. glukosa (35%). dan dekstrin (1.6%. yang dihasilkan oleh lebah dari saripati beragam tanaman. peroksidase. Asam amino berfungsi sebagian metabolisme protein tubuh. Larutan manis yang banyak mengandung sukrosa dan glukosa terdapat dalam madu. Ayu Yuliani Sekriptini. katalase. Hasil penelitian Geonarwo et al. (2011) menyebutkan kandungan flavonoid yang terdapat dalam madu dapat menghambat nyeri yaitu dengan mekanisme kerja menghambat Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Selain berfungsi sebagai antibiotik madu memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka. madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen penyebab penyakit. Madu banyak diteliti oleh beberapa ahli.. Pemberian rasa manis untuk mengurangi rasa manis seperti pemberian sukrosa sudah pernah dilaksanakan di ruang bedah anak dan ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) di Rumah Sakit Umum Pendidikan Negri Dr. 2002). Kandungan asam amino pada madu cukup beragam. baik asam amino esensial maupun non-esensial.. lipase) yang memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh. FIK UI.0%).

Intervensi pengambilan darah pada anak lebih sering dilakukan di unit gawat darurat daripada di ruang perawatan anak. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan pengambilan darah vena pada anak di ruang Unit Gawat Darurat.7 pembentukan prostaglandin melalui penghambatan enzim cyclooxygenase. cemas.2.. sama seperti obat-obat analgetik antipiretik lain (NSAIDs). susah tidur. 1.. RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawiangun Kota Cirebon belum memiliki format skala nyeri yang digunakan baik untuk dewasa ataupun anak. tidak mampu bergerak bebas. Perumusan Masalah Nyeri pada anak menimbulkan dampak negatif terhadap mutu kehidupan (quality of life). perasaan tidak akan tertolong dan putus Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. gelisah. 2011). Intervensi non farmakologi untuk mengurangi nyeri yang dilakukan perawat berupa informasi tentang penjelasan pada anak dan orang tua saat tindakan akan dilakukan. Sampai saat ini penulis belum mendapatkan adanya penelitian yang meneliti tentang keefektifan madu dalam menurunkan respon nyeri pada anak yang dilakukan tindakan pengambilan darah vena.. Jumlah kasus anak yang masuk ke ruang unit gawat darurat setahun terakhir ini ratarata per-bulan kurang lebih 300 orang anak dengan rata-rata usia 1-17 tahun. (Rekam Medik RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawiangun Kota Cirebon. Nyeri menyebabkan anak menderita. Hasil observasi lapangan dan wawancara pada perawat yang dilakukan peneliti di RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon memberikan gambaran bahwa di ruangan perawatan anak ataupun di unit gawat darurat intervensi non farmakologi untuk mengurangi respon nyeri karena tindakan pengambilan darah belum dilakukan. 2013 . FIK UI. Pemberian madu belum pernah diberikan terkait dengan penurunan respon nyeri pada anak. Ayu Yuliani Sekriptini.

1. sirup.. 2013 .. Anak-anak pada umumnya menyukai rasa manis seperti gula. Keadaan ini sangat mengganggu kehidupan normal anak sehari-hari sehingga penatalaksanaan nyeri yang efektif perlu dilakukan. Berdasarkan uraian latar belakang diatas.3.2. FIK UI.8 asa. Ayu Yuliani Sekriptini. maka pertanyaan yang akan diteliti ”Adakah pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon?” 1. b. Rerata skor nyeri anak yang dilakukan pengambilan darah pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.3. pengalaman nyeri sebelumnya. jenis kelamin. pendampingan orang tua) saat dilakukan prosedur pengambilan darah di ruang unit gawat darurat.3. Gambaran karakteristik anak (usia. Rasa manis yang sering diberikan dalam penelitian untuk mengurangi nyeri berupa pemberian sukrosa dan glukosa. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian adalah teridentifikasinya : a. Madu merupakan salah satu obat alami yang banyak memiliki khasiat mengobati dan memiliki rasa manis. Salah satu sunber rasa manis selain sukrosa dan glukosa adalah madu. Penatalaksanaan mengurangi nyeri pada anak dengan intervensi nonfarmakologis salah satunya adalah dengan memberikan sensasi rasa manis pada anak. permen. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Tujun Penelitian 1. Karenanya rasa manis pada madu mudah dapat diterima oleh anak-anak..1. Tujuan Umum Teridentifikasinya pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon. dan aneka kue.

4.4.4. jenis kelamin. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 . Mafaat Penelitian 1.4. 1. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. pengalaman nyeri sebelumnya.. pendampingan orang tua). Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. FIK UI. 1. Manfaat Keilmuan Memberi gambaran dan informasi tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang unit gawat darurat.. 1. Perbedaan rerata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak (usia. d.9 c..3. Manfaat Metodologi Penelitian ini dapat menambah jumlah penelitian tentang perawatan pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang Unit Gawat Darurat dan dapat menjadi landasan penelitan selanjutnya.2. Manfaat Aplikatif Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada anak saat dilakukan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat sehingga dapat mengurangi terjadinya dampak traumatik dan hospitalisasi.1.

Smatzler & Bare. Nyeri adalah segala sesuatu yang dikatakan seseorang tentang nyeri tersebut dan terjadi kapan saja seseorang mengatakan bahwa ia merasa nyeri (McCaffery & Pasero 2010). Nyeri sangat penting sebagai mekanisme proteksi tubuh yang timbul bilamana jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang nyeri ini. dimana setiap orang akan mengeluarkan ekspresi yang berbeda dengan yang lainnya jika berhadapan dengan stimulus yang melukai. respon-respon yang mengantarkan ataupun reaksi-reaksi yang ditimbulkan oleh stimulus dalam suatu kasus nyeri (Latief.. Nyeri pada anak menjadi masalah oleh karena anak memberikan respon nyeri yang berbeda sesuai dengan tingkat usia pada anak (Mathew. Ayu Yuliani Sekriptini. 2004. sosio-kultur dan tumbuh kembang anak. Interpretasi nyeri sifatnya subjektif. Mathew & Dickenson. 2003). 2002. FIK UI. 2004). Pengertian Nyeri Nyeri adalah suatu gejala dalam merasakan subyek dan pengalaman emosional serta termasuk suatu komponen sensori. fleksi dan ekstensi alat gerak) dan perubahan fisiologis (perubahan laju 10 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. The Internaional Association for Study of Pain menyebutkan nyeri yaitu perasaan dan pengalaman emosi yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kenyataan atau potensi terjadinya kerusakan jaringan atau gambaran yang berkaitan kerusakan jaringan tersebut (Drendel et al. wajah menyeringai.. Nyeri dan kecemasan dapat terjadi akibat suatu prosedur diagnostik atau terapi pada anak (Brusch & Zeltzer.1. Taddio et al. Nyeri pada anak. komponen diskriminatori.. 2010). 2001.. diinterpretasi dan diekspresikan melalui tingkah laku (menangis.1. 2009). Soyer et al. 2006.1. emosi.. kognitif dan behavior yang saling berhubungan dengan faktor lingkungan.. Nyeri Pada Anak 2. 2013 . Nyeri mempunyai komponen sensori.

.. Keadaan ini Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. corpusculum paccini. dimana prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptorreseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin.1. Menurut Latief (2001) dan Daniela et al. sehingga hubungan nyeri dengan kerusakan jaringan tidak sama dan tidak konsisten. (2010) ada 4 proses yang mengikuti suatu proses nosisepsi yaitu : a.. 2007.2. golgi mazoni). Suatu stimuli kuat (noxion stimuli) seperti tekanan fisik kimia.11 denyut jantung.. laju pernafasan. Srouji et al. Fisiologi Nyeri Perjalanan nyeri termasuk suatu rangkaian proses neurofisiologis kompleks yang disebut sebagai nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses komponen yang nyata yaitu transduksi.. Proses Transduksi Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf. 2. Ayu Yuliani Sekriptini. sehingga laporan atau keluhan dari pasien merupakan penilaian yang paling mempunyai arti dalam menegakkan diagnosa nyeri (Petersen et al... dari beberapa definisi tersebut nyeri merupakan kombinasi dari respon sensorik.. merkel. FIK UI. 2009. 2013 .. Kerusakan jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya menyebabkan sintesa prostaglandin. serotonin yang akan menimbulkan sensasi nyeri. dan nyeri itu bersifat subyektif. dan perubahan kimia darah). Daniela et al. jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa nyeri merupakan pengalaman yang universal yang berfungsi sebagai tanda penting bahwa tubuh tidak berfungsi atau mengalami kerusakan. suhu dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf perifer (nerve ending) atau organ-organ tubuh (reseptor meisneri. afektif dan prikomotor. dimana terjadinya stimuli yang kuat diperifer sampai dirasakannya nyeri di susunan saraf pusat (cortex cerebri) (Uman et al. Breivik et al. 2010). 2008. Rangkaian proses perjalanan yang menyertai antara kerusakan jaringan sampai dirasakan nyeri adalah suatu proses elektofisiologi. modulasi dan persepsi. 2010). transmisi.

c. Ayu Yuliani Sekriptini. Proses Transmisi Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis. yang diperkirakan terjadi pada thalamus dengan korteks sebagai diskriminasi dari Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Daniela et al. Daniela et al. Breivik et al. Daniela et al. d.12 dikenal sebagai sensitisasi perifer (Breivik et al. 2010). Analgesik endogen (enkefalin. noradrenalin) dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. Selain itu juga serabut-serabut saraf disini mempunyai sinaps interneuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan bermielin. b. Traktus spinoretikularis terutama membawa rangsangan dari organ-organ yang lebih dalam dan viseral serta berhubungan dengan nyeri yang lebih ditekan dan melibatkan emosi. 2007. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat subjektif pada setiap orang (Uman et al. dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh tractus spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. 2010). endorphin. 2008. 2010)...... 2008.. serotonin.. 2013 .. Proses terjadinya interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis merupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak. FIK UI. Kornu posterior sebagai pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk analgesik endogen tersebut. Persepsi Hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dari proses tranduksi. Proses Modulasi Proses modulasi merupakan perubahan transmisi nyeri yang terjadi pada susunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak). 2007. transmisi dan modulasi yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu proses subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.. Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di cortex cerebri dan dirasakan sebagai persepsi nyeri (Uman et al.

13

sensorik (Uman et al., 2007; Breivik et al., 2008; Daniela et al., 2010).
Secara skematis, jaras persepsi nyeri seperti terlihat pada gambar 2.1.

Sumber : www.medscape.com

Gambar 2.1. Perjalanan Nyeri
2.1.3. Klasifikasi Nyeri
Respon individu yang berbeda-beda tentang nyeri membuat sulit
mengkategorikan jenis nyeri yang dirasakan dan mengatahui penyebab
nyeri itu sendiri. Nyeri memiliki sifat yang unik pada setiap individual
bahkan jika cedera fisik terjadi respon nyeri pada individu satu tidak sama
pada individual lainnya. Adanya takut, marah, kecemasan, depresi dan
kelelahan akan mempengaruhi bagaimana nyeri itu dirasakan. Salah satu
pendekatan yang dapat dilakukan untuk membedakan

nyeri adalah

berdasarkan durasi (akut, kronik), patofisiologi (nosiseptif, nyeri
neuropatik) dan etiologi (paska pembedahan, kanker) (Ratnapalan et al.,
2010; Daniela et al., 2010).

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

14

Klasifikasi nyeri terdiri dari :
a. Nyeri Akut dan Kronik
Nyeri akut merupakan nyeri yang terjadi secara tiba-tiba yang bisa
disebabkan oleh injuri, penyakit, ataupun pembedahan (McCaffrey, &
Pasero, 2010). Nyeri akut merupakan indikator terjadinya kerusakan
jaringan, yang memberitahukan individu untuk melindungi area yang
terkena dari injuri lebih lanjut. Karakteristik nyeri akut ini terdiri dari:
komunikasi tentang nyeri dideskripsikan, perilaku sangat berhati-hati,
memusatkan diri, fokus perhatian rendah (perubahan persepsi waktu,
menarik diri dari hubungan sosial, gangguan proses pikir), perilaku
distraksi (mengerang, menangis, dan lain-lain), raut wajah kesakitan,
perubahan tonus otot, respon autonom (diaforesis, perubahan tekanan
darah dan nadi, dilatasi pupil, penurunan atau peningkatan frekuensi
pernapasan). Nyeri kronik muncul jika masih dirasakan setelah
pengobatan terhadap injuri tidak ada kerangka waktu yang ditentukan.
Nyeri kronik juga tampak sebagai ketidakmampuan tubuh untuk
mencegah interpretasi sinyal dan gejala nyeri setelah injuri diatasi.
Nyeri ini berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama
dan pasien sering sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan,
karakteristik nyeri ini terdiri dari; individu melaporkan bahwa nyeri
telah ada lebih dari 6 bulan, ketidaknyaman, marah, frustasi, depresi
karena situasi, raut wajah kesakitan, anoreksia, penurunan berat badan,
insomnia, gerakan yang sangat berhati-hati dan spasme otot
(Ratnapalan et al., 2010).
b. Nosiseptif dan Nyeri Neuropatik
Nyeri organik bisa dibagi menjadi nosiseptif dan nyeri neuropatik.
Nyeri nosiseptif adalah nyeri inflamasi yang dihasilkan oleh
rangsangan kimia, mekanik dan suhu yang menyebabkan aktifasi
maupun sensitisasi pada nosiseptor perifer (saraf yang bertanggung
jawab terhadap rangsang nyeri). Nyeri nosiseptif

biasanya

memberikan respon terhadap analgesik opioid atau non opioid. Nyeri
nociceptive merupakan persepsi sensorik terhadap kerusakan atau

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

15

potensial kerusakan pada jaringan akibat trauma atau penyakit. Nyeri
ini terjadi sebagai akibat rangsangan reseptor dan dapat berupa nyeri
akut maupun kronis. Nyeri neuropati yang bisa berupa nyeri akut
maupun kronis, disebabkan oleh cedera atau penyakit yang secara
langsung mempengaruhi sistem saraf. Nyeri sentral juga merupakan
nyeri kronik yang terjadi lebih disebabkan oleh kerusakan saraf. Nyeri
neuropatik merupakan nyeri yang ditimbulkan akibat kerusakan neural
pada saraf perifer maupun pada sistem saraf pusat yang meliputi jalur
saraf aferen sentral dan perifer, biasanya digambarkan dengan rasa
terbakar dan menusuk. Pasien yang mengalami nyeri neuropatik sering
memberi respon yang kurang baik terhadap analgesik opioid (Potter &
Perry 2005; McCaffrey, & Pasero, 2010; Daniela et al., 2010).
c. Nyeri Viseral
Nyeri viseral biasanya menjalar dan mengarah ke daerah permukaan
tubuh jauh dari tempat nyeri namun berasal dari dermatom yang sama
dengan asal nyeri. Nyeri viseral terjadi karena kontraksi ritmis otot
polos. Penyebab nyeri viseral termasuk iskemia, peregangan ligamen,
spasme otot polos, distensi struktur lunak seperti kantung empedu,
saluran empedu, atau ureter. Distensi pada organ lunak menimbulkan
respon nyeri karena terjadinya peregangan jaringan dan dapat
menyebabkan iskemia daerah sekitarnya, adanya kompresi pembuluh
darah pada organ lunak tersebut dan menyebabkan distensi berlebih
dari jaringan yang dapat menimbulkan nyeri (McCaffrey, & Pasero,
2010; Daniela et al., 2010).
d. Nyeri Somatik
Nyeri somatis permukaan atau superfisial adalah akibat stimulasi
nociceptor di dalam kulit atau jaringan subkutan dan mukosa yang
mendasari. Hal ini ditandai dengan adanya sensasi atau rasa berdenyut,
panas atau tertusuk, kemungkinan berkaitan dengan rasa nyeri yang
disebabkan oleh stimulus yang secara normal tidak mengakibatkan
nyeri

dan hiperalgesia. Jenis nyeri ini biasanya konstan dan jelas

lokasinya. Nyeri superfisial biasanya terjadi sebagai respon terhadap

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

FIK UI. 2011). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Nyeri merupakan hal yang kompleks. 2010). & Pasero.16 luka terpotong. 2. 2010). Respon nyeri pada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. luka gores dan luka bakar superfisial. seringkali terjadi kesalahpahaman arti dan penyebab sakit. (2006) menjelaskan bahwa perkembangan usia anak mempengaruhi makna nyeri dan ekspresi yang dimunculkan. 2005). Usia prasekolah membutuhkan penjelasan yang berulang kali dan diyakinkan bahwa prosedur dan pengalaman yang menyakitkan bukan merupakan hukuman untuk perilaku buruk. banyak faktor yang mempengaruhi pengalaman seseorang terhadap nyeri. Perbedaan tingkat perkembangan yang ditemukan antara kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap nyeri (Daniela et al. Czarnecki et al..1. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan atau menurunkan persepsi nyeri pasien.4.. Nyeri somatis dalam diakibatkan oleh jejas pada struktur dinding tubuh (misalnya otot rangka atau skelet). usia prasekolah memiliki sifat egosentris dalam pemikirannya dan percaya bahwa semua kejadian dan sensasi berasal dari dunia internal mereka. toleransi terhadap nyeri dan mempengaruhi reaksi terhadap nyeri (Le Mone & Burke... Usia bayi memberikan respon nyeri dengan menangis dan lebih mudah ditenangkan kembali dengan dipeluk oleh orang tuanya. Usia Usia dalam hal ini merupakan variabel yang penting yang mempengaruhi nyeri terutama pada anak-anak (Potter & Perry. 2008. Anak prasekolah memiliki sedikit pemahaman tentang sebab nyeri yang dirasakan. nyeri somatis dapat diketahui di mana lokasi persisnya pada tubuh. Ayu Yuliani Sekriptini. beberapa menyebar ke daerah sekitarnya (McCaffrey. Penelitian Kenneth et al. Berlawanan dengan nyeri tumpul yang berkaitan dengan organ dalam.. 2013 .. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi reaksi nyeri tersebut antara lain: a.

pengalaman ekspresi. anak usia sekolah mampu berfikir lebih logis dan wajar. Jenis Kelamin Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam berespon terhadap nyeri.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. peran kelompok sangat berpengaruh. Usia remaja mampu berpikir abstrak dan memiliki pemahaman tentang hubungan sebab akibat.. Anak-anak belajar bahwa terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan nyeri dimana anak perempuan boleh pulang ke rumah sambil menangis ketika lututnya terluka. gigi terkatup. dalam penelian tersebut lebih menjelaskan perbedaan jenis kelamin hanya karena sensitivitas. Toleransi terhadap nyeri dipengaruhi faktorfaktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada individu tanpa memperhatikan jenis kelamin (Potter & Perry. dan kondisi situasional yang mempengaruhi dan bagaimana anak menanggapi nyeri (Mathew. 2013 . 2008). Beberapa penelitian menjelaskan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan tidak terlalu berpengaruh terhadap respon nyeri. dan dahi berkerut.17 anak usia sekolah sering berupa penolakan dengan menggerakan daerah yang menyakitkan. dapat di ajak kerja sama dan cenderung berorientasi menjadi sebuah prestasi bagi dirinya. Anak remaja kadang menyangkal rasa sakit di hadapan keluarga atau teman sebaya. sedangkan anak laki-laki diberitahu untuk berani dan tidak menangis (Taylor et al. FIK UI. 2003). 2005).. Karakteristik jenis kelamin dan hubungannya dengan sifat keterpaparan dan tingkat kerentanan memegang peranan tersendiri.. b. Ayu Yuliani Sekriptini. Secara bertahap. Bagaimana proses sosialisasi remaja mempengaruhi pengalaman nyeri tetap memahami dalam konsep nyeri. Anak usia sekolah memberikan respon fisik berupa tangan mengepal.

. Penelitian melibatkan 110 anak yang sehat (60 anak laki-laki. 50 perempuan) berusia 8 sampai 12 tahun. makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan oleh nyeri tersebut. aktivitas yang sama di ruang perawatan intensif. FIK UI. dengan kriteria anak yang mempunyai pengalaman operasi dan pernah dilakukan venipuncture.. 2006).. cenderung mengantisipasi terjadinya nyeri yang lebih hebat (Schmitz et al. Umumnya. kemudian dilakukan wawancara pengalaman nyeri yang pernah dialami.18 Penelitian Logan et al. dapat menambah nyeri yang dirasakan (Craig et al. khususnya cahaya. 2013 . kebisingan. Hasil menunjukkan pengalaman nyeri sebelumnya pada anak-anak berhubungan dengan rasa takut dari waktu ke waktu dan mempengaruhi pengalaman nyeri yang baru. meneliti pengaruh pengalaman anakanak untuk stimulus nyeri baru pada pengalaman nyeri berikutnya. tetapi penelitian tersebut tidak menunjukkan perbedaan jenis kelamin dalam penggunaan obat pereda nyeri sejenis opioid setelah tindakan operasi. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Banyak keluarga orang juga yang dapat merasa lingkungan pelayanan kesehatan yang asing. (2008) pada usia remaja menjelaskan adanya perbedaan respon nyeri antara anak remaja laki-laki dan perempuan dimana hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa anak perempuan memiliki skor intensitas nyeri tinggi.. Pengalarnan individu dengan nyeri yang dialami. (2012). Penelitian Noel et al. Ayu Yuliani Sekriptini. c. pengalaman nyeri minimal 1 tahun yang lalu.. (2004) dan Loeser et al. d. Pengalaman Nyeri Sebelumnya Pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang tentang nyeri. orang yang sering mengalami nyeri dalam hidupnya. Lingkungan dan Dukungan Orang Terdekat Lingkungan mempengaruhi dan kehadiran nyeri dukungan seseorang.. dan diobservasi ekspresi wajah yang muncul pada anak yang dilakukan wawancara. 2012).

Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. (2011). kelompok pertama kelompok yang didampingi oleh orang tua. 2.41 tahun. Efek Yang Ditimbulkan Oleh Nyeri Efek nyeri pada setiap individu hampir sama baik pada dewasa ataupun pada anak-anak.05). secara statistik signifikan (p<0. Pasien seringkali meringis. efek yang ditimbulkan oleh nyeri terdiri dari : a. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran orangtua memiliki pengaruh efek yang positif pada toleransi sakit anak. Selama prosedur venipuncture dilakukan pengukuran tanda vital.1. Sangat penting untuk mengkaji tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik termasuk mengobservasi keterlibatan saraf otonom. Respon fisiologis nyeri akut meliputi perubahan denyut jantung. et al. Hasil penelitian diperoleh usia rata-rata kasus dengan didampingi orang tua mereka adalah usia 4.19 sampai dengan 1. Efek perilaku Pasien yang mengalami nyeri menunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang khas dan berespon secara vokal serta mengalami kerusakan dalam interaksi sosial. Ayu Yuliani Sekriptini. Melakukan penelitian pada 135 anak dengan rentang usia 3-6 tahun akan dilakukan tindakan venipuncture di klinik rawat jalan anak. b. Selama prosedur venipuncture rata-rata nyeri anak pada kelompok 2 diperoleh Wong-Baker skor lebih tinggi 3 kali dari pada kelompok 1. frekuensi pernafasan dan denyut jantung. 2013 .23 tahun. dan kelompok kedua hanya didampingi oleh anggota staf rumah sakit. FIK UI.36 sampai dengan 1. dan ftekuensi pernapasan yang meningkat..19 Penelitian Ozcetin. Penilaian skor nyeri menggunakan Wong-Baker FACES. Tanda dan gejala fisik Tanda fisiologis dapat menunjukkan nyeri pada pasien yang berupaya untuk tidak mengeluh atau mengakui ketidaknyamanan. Penelitian dilakukan secara acak menjadi dua kelompok.5. Usia rata-rata kasus dengan didampingi petugas rumah sakit adalah 4. tekanan darah...

Suatu studi retrospektif menyatakan hanya 28% anak-anak yang masuk ke unit gawat darurat memperoleh intervensi farmakologi untuk mengurangi nyeri yang adekuat sedangkan pada dewasa mencapai 60% (Cohen. 2. Kunci keberhasilan penatalaksanaan nyeri pada anak adalah dengan pemeriksaan nyeri yang baik (Herd et al.. Nyeri seringkali dikaitkan dengan rasa takut. Gangguan stress pasca trauma dapat timbul setelah pengalaman prosedur yang tidak disertai denan pengendalian nyeri yang tepat (Larsson et al.. melakukan gerakan melindungi bagian tubuh sampai dengan menghinndari percakapan. Movahaedi 2006). cemas dan stres. Terdapat variasi yang luas dalam tatalaksana nyeri pada berbagai unit gawat darurat dan pelayanan kesehatan profesional. Manajemen nyeri seharusnya menjadi prioritas untuk mengatasi masalah tersebut. Crowley et.6. menggigit bibir.. Ayu Yuliani Sekriptini...1. c. imobilisasi.al. 2000. Pengaruh Pada Aktivitas Sehari-hari Pasien yang mengalami nyeri setiap hari kurang mampu berpartisipasi dalam aktivitas rutin.20 mengernyitkan dahi. Pada anak yang mengalami prosedur invasif minor tanpa intervensi penurunkan nyeri memiliki dampak yang panjang dalam respond dan persepsi anak terhadap nyeri. Nyeri yang tidak berkurang dapat menyebabkan konsekwensi pada gangguan prilaku. 2008). seperti mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan higiene normal dan dapat menganggu aktivitas sosial.. 2004. psikososial dan fisiologi jangka panjang (Wanga et al. 2008. Ellis et al. gelisah.. menghindari kontak sosial dan hanya fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri. FIK UI. mengalami ketegangan otot. 2013 . 2009). 2010). Penatalaksanaan Nyeri Pada Anak Penataksanaan nyeri sering tidak dilakukan secara adekuat pada anak oleh karena anak diangap tidak dapat merasakan nyeri. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

Sebagai tambahan. 2009). Gimbler-Berglund. 2003. sedangkan sendekatan non farmakologik yang paling sering sering digunakan di unit gawat darurat berupa mendatangkan orang tua saat dilakukan intervensi. 2002. FIK UI. 2013 . 2008.. Ayu Yuliani Sekriptini. 2008). Terdapat berbagai metode penelitian non farmakologi yang dapat digunakan untuk menurangi rasa nyeri. guided imagery dan stimulasi memberikan strategi koping yang dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. Srouji. Gimbler-Berglund et al. Wanga et al. Soyer et al. Lyon & Mackway. 2000). Beberapa peneliti menyebutkan ada berbagai macam tehnik non farmakologik yang dapat diberikan pada anak unuk mengurangi nyeri seperti misalnya distraksi. 2005). dan Tetrakain).. tehnik-tehnik ini juga dapat menurunkan persepsi ancaman nyeri..... Obat-obatan yang disering digunakan misalnya LET (Lidokain.21 Tehnik farmakologi yang sering diberikan saat prosedur pengambilan darah pada anak untuk mengurangi nyeri lebih sering menggunakan pendekatan farmakologis berupa anastesi topikal berupa oles maupun anastesi semprot (Arrowsmith & Campbell. William & Zempsky. meningkatkan rasa nyaman dan meningkatkan istirahat dan tidur (Huether & Leo. membuat nyeri dapat lebih ditoleransi. 2008. Pendekatan yang ada mempunyai efektivitas dan keamanan yang cukup baik. ketakutan dan kecemasan.. Amy et al. 2006. Epinefrin. menurunkan kecemasan dan meningkatkan kefektifan analgesik atau mengurangi dosis yang diperlukan (American Pain Society. memberikan kemampuan mengontrol nyeri. 2000. Intervensi non farmakologis yang dapat diberikan diantaranya (Zempsky. relaksasi. 2000. EMLA (Eutectic Mixture of Local Anesthetics) sebagai salah satu anastesi topical yang paling sering digunakan (Kelly. Pamella & Macintyre. 2010) : Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

masing-masing anak terbagi dalam 3 kelompok. c. prosedur yang akan dilakukan serta pengobatan yang akan diberikan. Metode yang paling sering digunakan antara lain : pengunaan gelembung sabun. Relaksasi Tehnik relaksasi akan memberikan relaksasi otot dan mengurangi kecemasan yang sering menyertai dan meningkatkan nyeri. Pengontrolan pernafasan dan relaksasi otot merupakan metode yang paling sering digunakan untuk anak usia pra-sekolah dan usia yang lebih tua. video games. penilaian nyeri menggunakan skala Visual Analogue Scale (VAS) dan Cooperative Behavior Scale of Children in Venepuncture (CBSCV). dan kelompok anak ketiga menerima intervensi psikologis. Dengan demikian pasien juga dilibatkan dalam menentukan cara untuk mengontrol nyeri. Sunb. b.. Ayu Yuliani Sekriptini. Penelitian Wanga. 2013 .. Pemberian Informasi Informasi yang diberikan kepada anak dan anggota keluarga sehingga mengerti kondisi sakit.. Pengalihan Metode pengalihan dengan berbagai aktifitas membantu anak dari berbagai usia untuk menghilangkan nyeri. dan Chena (2008). Penelitian melibatkan 300 anak usia 8-9 tahun dilakukan tindakan penyuntikan akses vena. dan permainan (Kelly. 2000. menyebutkan intervensi non farmakologis berupa metoda pengalihan dapat mengurangi nyeri dan stress dalam prosedur invasif pada anak. Loeser et al. musik. kelompok pertama diberi intervensi non farmakologis yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan intervensi non farmakologi dengan mengunakan audiovisiual lebih efektif dibandingkan intervensi psikologis dan dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan keberhasilan penyuntikan ke vena. kelopok anak kedua di beri audiovisual dengan menonton film kartun saat penyuntikan. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. televise. 2008).22 a. telepon. FIK UI.

Toronto. memberikan hasil ada pengaruh yang signifikan intervensi hipnotis dengan EMLA di banding intervensi EMLA saja pada saat pengambilan darah pada anak dengan p < 0. FIK UI. Intervensi ini baik untuk anak usia sekolah atau remaja (William et al.. Dilakukan tiga (3) intervensi invasif diataranya penguntikan intra muskuler. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Penelitian eksperiman di ruang NICU rumah sakit Mount Sinai Hospital. mengurangi pengalaman sensoris serta membantu anak untuk mengontrol perasaannya. White dan Hatira (2006). 2003). Hipnoterapi Hipnoterapi membatu anak untuk membayangkan pengalaman yang menyenangkan yang pernah dialami. membandingkan intervensi anstesi EMLA dan hinoptis dengan pemberian EMLA saat pengambilan darah pada anak.001. dengan responden 46 anak antara usia 6-16 tahun... menyebutkan sukrosa 25 % dapat memberikan efek analgesik pada bayi baru lahir saat dilakukan prosedur indakan invasif. 2002. dapat juga diberikan sampai usia 3 bulan. 2004. 2002. Ayu Yuliani Sekriptini.. Gradin et al. Ontario dengan jumlah responden 240 bayi baru lahir. Pemberian rasa manis Penelitian menyebutkan pemberian sukrosa atau glukosa untuk mengurangi nyeri sangat baik diberikan pada neonatus.. 2013 .. (2008). Sukrosa atau glukosa dapat menurunkan respon terhadap stimulus yang menimbulkan nyeri seperti saat pengambilan darah dari tumit dan injeksi pada neonatus. e.. 2009). Penelitian yang dilakukan oleh Taddio et al.. Penerian sukrosa 25 % sebanyak 2 ml selama 60 detik dilakukan 2 menit sebelum tindakan invasif dengan 5 menit sebelumnya diukur denyut nadi dan nilai oksimetri bayi. Pengaruh ini tampaknya paling kuat saat bayi baru lahir dan nenurun secara bertahap selama 6 bulan pertama kehidupan (Eichenfield et al. Penelitian Liossi.23 d. tusuk tumit dan pengambilan contoh darah. Peranan hipnoterapi adalah mengalihkan perhatian. Zempsky et al. Carbajal et al.

sebelum penusukkann tumit masing-masing kelompok bayi di lakukan denyut jantung dan saturasi oksigen.. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. Menggunakan metoda random. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek analgesik pada pemberian glokosa 25 % dan 50 % (p<0. setelah pengukuran skala nyeri bayi dinilai kembali denyut nadi dan nilai oksimetri. double-blind. bayi yang diberi sukrosa dengan tidakan pengambilan darah memiliki skor nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan penyuntikan intramuskuler vit K dan tusuk tumit dengan CI 95% p < 0. dengan pemberian placebo pada kelompok kontrol. Larutan glukosa diberikan 2 menit sebelum tindakan penusukkan tumit. melakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan konsentrasi glukosa pada pengukuran nyeri neonatal selama venipuncture. kelompok pertama diberi glukosa 10 %.24 kemudian dilakukan tindakan intervensi dan di lakukan penilaian skala nyeri 30 detik setelah tindakan invasif dengan menggunakan skala nyeri Premature Infant Pain Profile (PPIP). Penelitian Jatana. Penelitian dilakukan pada 125 bayi baru lahir normal yang akan di lakukan tusuk tumik dengan dibagi tiga kelompok perlakukan pemberian glukosa. 10 % glukosa dan 25 % glukosa ) per-oral 2 menit sebelum venipuncture. kelompok kedua diberi glukosa 25 % dan kelompok ke tiga diberi glukosa 50 %. Deshmukh.. Hasil memberikan gambaran ada penurunan yang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.05). Enam puluh bayi prematur yang sehat usia kehamilan 28-37 minggu dan usia 2-28 hari setelah kelahiran secara acak diberi 2 ml salah satu dari tiga solusi (air steril. Hasil penelitian menunjukkan. Dalal. Penelitian Laxmikant.. Tentang efek analgesik pada pemberian glukosa pada neonatus. FIK UI. dan Udani (2002).29. kemudian dilakukan rekaman suara tangisan saat penusukkan dan di ukur rata-rata durasi menangis pada masing-masing kelompok. Penelitian dilakukan di unit perawatan intensif neonatal di Raja Edward Memorial Hospital. dan Wilson (2003).

. 2004). 2.. Lingkungan ruangan Menciptakan suatu lingkungan yang tepat merupakan hal yang esensial untuk mengurangi nyeri dan kecamasan pada seorang anak di unit gawat darurat.. FIK UI. 2013 . Mengijinkan tetapi bukan mengharuskan kehadiran keluarga saat prosedur invasif yang menimbulkan nyeri dilakukan.25 signifikan dalam durasi tangisan pertama pada bayi yang diberikan 25 % glukosa dibandingkan dengan kontrol dan diberikan 10 % glukosa. Ayu Yuliani Sekriptini. namun kehadiran mereka mengurangi kecemasan orang tua dan anak (American Academy of Pediaric. 2001. Bursch & Zeltzer. Brusch & Zeltzer. Kamar ini sebaiknya telah menyediakan lingkungan yang bersahabat dan menenangkan. 2004. idealnya masing-masing anak ditempatkan pada satu kamar pribadi. akan memberi manfaat bagi anak. laju pernapasan atau saturasi oksigen.7.. Pengendalian nyeri di unit gawat darurat Penelitian menyebutkan hampir 90% pasien yang masuk ke unit gawat darurat mendapatkan intervensi medis berhubungan dengan prosedur jarum suntik (Zempsky et al.1. Meskipun tidak terdapat bukti bahwa kehadiran keluarga dapat ngurangi nyeri. Perawat di ruang unit gawat darurat mempunyai peranan penting untuk mengurangi kecemasan dan persepsi nyeri pada anak dengan cara mengajarkan tehnik sederhana da mendukung keterlibatan keluarga. Penatakalsanaan non farmakologik ini yang disertai oleh adanya dukungan emosional merupakan hal utama untuk memberikan lingkungan yang nyaman bagi anak (Zempsky & Cravero. 2004). 2004. Zempsky & Cravero. f. 2004). Dinding yang berwarna bergambar serta kumpulan mainan akan mengurani ketakutan yang ditimbulkan oleh lingkungan yang asing. Penelitian yang dilakukan oleh Ellis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Dengan kesimpulan bahwa larutan glukosa terkonsentrasi dapat mengurangi rasa sakit dan memiliki efek analgesik serta aman untuk prosedur minor pada neonatus. Tidak ada efek yang signifikan pada detak jantung.

26 et al. Port-a-cath access 7%.. Pengambilan darah sering dilakukan di unit gawat darurat untuk mentukan jenis penyakit yang diderita oleh pasien. Frekuensi mengurangi nyeri dengan farmakologis di Amerika Serikat untuk pengambilan darah adalah 40% sedangkan menggunakan non farmakologis hanya mencapai 10% (Acharya et al. Pengambilan darah vena merupakan prosedur pemeriksaan yang sering dikerjakan pada pasien anak di unit gawat darurat dan prosedur ini merupakan sumber nyeri yang paling sering dirasakan bagi anak (Eichenfield et al. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Joseph & Cravero. di mulai dari arena pra-rumah sakit saat pertama kali anak masuk ke gawat darurat. infus 13%. 2009)..5%. Beberapa hambatan secara umum yang terjadi di unit gawat darurat dapat muncul secara intrinsik yaitu tidak memadainya obat-obatan analgesia khususnya pada anak (Soyer et al.. 2013 . tidak terdapatnya penilaian skala nyeri pada anak. Penelitian menyebutkan pengendalian nyeri di emergensi dapat dilakukan dengan farmakologi dan non farmakologi (Zempsky. 2002). dan seluruh prosedur tersebut menimbulkan respon nyeri yang bervariasi pada anak (CI 95% p < 0. depresi pernafasan. (2004) selama 23 hari di rumah sakit Kanada memberikan gambaran bahwa terdapat 387 prosedur rumah sakit berhubungan dengan jarum suntik terdiri dari. FIK UI. Nyeri anak diremehkan karena kurangnya alat penilaian yang memadai dan ketidakmampuan untuk menjelaskan berbagai tahap perkembangan anak-anak. pemberian terapi atau anastesi lumbal 1% dan penyuntikan insulin 0. pengambilan darah kapiler 11%. Ayu Yuliani Sekriptini.01). Pengendalian rasa sakit dan kecemasan pada anak. 2004). 2008). pengambilan darah vena 63%. masih ada tenaga kesehatan yang beranggapan bahwa anak-anak tidak merasa sakit yang sama dilakukan oleh orang dewasa dan rasa sakit yang tidak memiliki konsekuensi yang tak diinginkan pada anak-anak. Nyeri sering undermedicated karena kekhawatiran terjadinya oversedation.... injeksi intramuscular 5%..

2010). dituntut intervensi yang lebih cepat. jumlah pasien yang tidak dapat diperkirakan. Komponen kognitif biasanya diukur dengan cara kuesioner. dan fisiologik (Desparment-Sheridan. Unit gawat darurat lebih cenderung menggunakan intervensi farmakologis dari pada non farmakologis (Crowley et al.. Faktor-faktor tersebut membuat penilaian petugas kesehatan merasa kesuitan. tingkah laku (behavioral). tidak adanya ruangan khusus (Twycross. Penilaian Nyeri Penilaian nyeri berdasarkan 3 komponen penting yaitu. misalnya menangis. Lilley. skala deskriptif kualitatif taupun kuntitatif. 2013 . 2007). skala penilaian belum memadai.27 kecanduan. kondisi ruang gawat darurat yang sibuk. Dowling. 2004). 2000.1. kognitif (self report). Ayu Yuliani Sekriptini. biaya.. menyeringai. dan ketidakbiasaan dengan penggunaan obat penenang dan analgesik agen pada anak-anak (Breau et al. 2003). anak-anak sering masuk dengan gejala yang tidak jelas yang berdampak kesulitan dalam mentukan diagnosa medis (Craig. pemberian intervensi farmakologi biasanya digunakan untuk nyeri dalam. Komponen fisiologis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... Komponen tingkah laku ini digunakan pada bayi atau anak yang belum biasa berkomunikasi secara verbal. & Gilbert. wawancara. 2006). Dalam ruang gawat darurat. dan memberontak. 2000.. 2.8. 2000). dan kecemasan orangtua (Zempsky. Komponen tingkah laku biasanya diukur dengan suatu chek list tingkah laku yang dijumpai sewaktu anak mengalami rasa nyeri. Manajemen nyeri yang optimal memerlukan pemahaman yang menyeluruh tentang penilaian nyeri dan manajemen strategis ruangan yang baik (Zempsky. atau kurangnya ketersediaan. 2000). selain itu. FIK UI. penggunaan anestesi topikal jarang diberikan karena kekhawatiran tentang keterlambatan dalam pengobatan. yang dibuat untuk mengetahui intensitas nyeri pada anak. Intervensi non farmakologis mengalami hambatan kurangnya pengetahuan petugas tentang skala nyeri pada anak. Beisang.

& Schneeweiss. dan kadar endorphin dalam darah (Desparment-Sheridan. Berbagai skala menggunakan pengukuran gabungan nyeri telah elemen-elemen dikembangkan fisiologis dan dengan perilaku (behavioral).1 berikut (Zempsky & Schecter. Srouji. 2010). Zempsky & Schecter.28 diukur dengan cara menilai frekuensi denyut jantung. kadar kortisol. namun pada dasarnya komponen kognitif anak sendiri yang dapat menentukan tentang apa yang sedang dirasakannya (Bulloch & Tenenbein. 2010). sehingga dapat menggukan Visual Analog Scale (VAS) dengan ketentuan yang selalu digunakan pada anak lebih besar dan melibatkan garis 10 cm yang telah ditentukan kedua ujungnya (“tidak sakit” dan “sangat sakit”). Taddio et al.. 2013 . & Schneeweiss.. 2007. Ratnapalan. frekuensi pernafasan. Anak-anak usia lebih dari 8 tahun umumnya sudah dapat melaporkan sendiri intensitas. Anak usia 3-8 tahun diperiksa dengan alat yang sesuai yang sudah mengalami perkembangan. Pada bayi hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh karena bayi tidak dapat menyampaikan secara verbal apa yang sedang dirasakannya (Curtis et al. seperti yang tertera dalam tabel 2. 2003. Srouji. & Schneeweiss. Ratnapalan. kadar oksigen. 2005).. Zempsky & Schecter. et al. 2002.. Ayu Yuliani Sekriptini. 2010). 2003). lokasi dan kualitas nyeri (William. 2003). misalnya Color Analogue Scale (CAS). 2003. Oucher Scale dan Faces Scale (Desparment-Sheridan. Ratnapalan. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa parameter psikologis dan pengamatan orang tua dapat membantu pemeriksaan nyeri pada anak. 2010. Srouji.. FIK UI. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2003.

pada 122 anak-anak Thailan usia 4-15 tahun. Penilaian Klinis Nyeri Physiologic  Frekuesi pernafasan  Fekuansi nadi  Tekanan darah  Kadar kortisol      Behavioral Gerakan tubuh Gerakan wajah Menangis Postur tubuh Pola nafas Self Report Usia 3-8 tahun:  Oucher Scale  Faces Scale  FLACC  CFCS  Faces Pain Scale  Poker Chip Toll  Colored analogue Scale Usia lebih dari 9 tahun :  Visual Analogue Sacale  McGil Pain  Pediatric Pain Questionnaire Composite Infant  CRIES  Neonatal Facial action Coding System  NAPI  MAX  NIPS  PPIP  SUN  OPS  DAN Usia 2-7 tahun :  CHEOPS  COMFORT  OSBD  OPS  TPPPS  AUCHER Usia 8 tahun lebih  Adolescent Pediatric Pain Tool  VarniThompson Pediatric Pain Questionnare  The McGill Pain Questionnaire Sumber : Zempsky W.T.. N. 2013 .. (2005). Ketiga alat tersebut ternyata mempunyai korelasi yang baik pada anak usia diatas 4 tahun dan validitas yang cukup konvergen (Newman et al.. et al. 2005). What’s New in The Management of Pain in Childrens Skala untuk pemeriksaan nyeri pada anak sebagaimana telah disebutkan di atas telah diteliti secara ektensif.. tetapi masih sangat sedikit diteliti untuk menentukan validitas alat-alat tersebut pada nak di Negara berkembang. di Thailan telah meneliti validitas tiga skala nyeri yang sering digunakan yaitu Visual analog Scale (VAS). Schecter.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. Wong-Baker Faces Pain Ratting (WBFPS).1.L. Newman. dan Face Pain Scale-Revised (FPS-R). FIK UI..29 Tabel 2.

menguji validitas empat skala nyeri antara Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOP). Ada beberapa skala penilaian nyeri pada pasien sekarang ini (McLean et al. Petersen et al. 2013 . Cry. 2005. Toddler Preschool Postoperative Pain Scale (TPPPS). pasien yang kebingungan atau pada pasien yang tidak mengerti dengan bahasa lokal setempat. Activity. dimulai dari senyuman sampai menangis karena kesakitan.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.30 Penelitian Bulloch dan Tenenbein (2002). et al. penelitian dilakukan di Thailan dengan 167 anak antara usia 1-5. Ayu Yuliani Sekriptini. Consolability (FLACC).. orang tua. Objective Pain Scale (OPS). Intensitas nyeri harus dinilai sedini mungkin selama pasien dapat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi nyeri yang dirasakan. Legs. 2009. yang dilakukan di unit gawat darurat menggunkan dua skala nyeri yaitu Color Analog Scale (CAS) dan 7 poin Faces Pain Scale (FPS) pada 60 anak dengan rata-rata usia 3-9 tahun. Penelitian Suraseranivongse. McCaffrey & Pasero. Perilaku anak-anak di rekam sebelum dan setelah operasi. Skala ini berguna pada pasien dengan gangguan komunikasi. FIK UI. a. seperti anak-anak. reliabel dan praktis digunakan pada anak dengan prosedural operasi.. Kedua alat tersebut ternyata mempunyai korelasi yang baik dan validitas yang cukup konvergen untuk di gunakan di unit emergensi. Wong-Baker Faces Pain Rating Scale Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda.. Skala penilaian nyeri dan keterangan pasien digunakan untuk menilai derajat nyeri. 2010).. (2001). dan Face. hasil penelitian memnunjukkan dari ke-empat skala tersebut skala CHEOP lebih valid.5 tahun yang akan dilakukan tindakan pembedahan.

31 Gambar 2.3.4. ringan. Gambar 2. Verbal Rating Scale c.. FIK UI. 2013 . Visual Analogue Scale (VAS) Verbal Rating Scale terdiri dari beberapa nomor yang menggambarkan tingkat nyeri pada pasien. Ayu Yuliani Sekriptini. dimana angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka 5 atau 10 menunjukkan nyeri yang hebat. berat dan sangat berat. sedang. Numerical Rating Scale (NRS) Pertama sekali dikemukakan oleh Downie dkk pada tahun 1978. Numerical Rating Scale d. Gambar 2.. Verbal Rating Scale (VRS) Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan berdasarkan skala lima poin . Pasien ditanya bagaimana sifat dari nyeri Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Wong Baker Faces Pain Rating Scale b..2. tidak nyeri. dimana pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan menunjukkan angka 0 – 5 atau 0 – 10.

Skor tersebut terdiri dari empat poin yaitu : Poin 0 = Tidak ada nyeri atau perasaan tidak enak ketika ditanya Poin 1 = Nyeri yang ringan yang dilaporkan pasien ketika ditanya Poin 2 = Nyeri sedang yang dilaporkan pasien ketika ditanya Poin 3 = Nyeri dihubungkan dengan respon suara. 2013 . & Consolability) diberi nilai 0-2 dan dijumlahkan untuk mendapatkan total 0-10.. Cry.. FIK UI. Untuk pasien yang memiliki gangguan kognitif. wajah merintih atau menangis Keempat poin ini secara luas digunakan oleh klinisi untuk menentukan tingkat kebenaran dan keandalan. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. seperti angka 0 (tanpa nyeri) sampai angka 10 (nyeri terberat).32 yang dirasakannya. dan Consolability (FLAAC) Skala ini merupakan skala perilaku yang telah dicoba pada anak usia 3-7 tahun. Visual Analogue Scale e.5. Visual Analog Scale (VAS) dilihat berupa suatu garis lurus yang panjangnya biasaya 10 cm (atau 100 mm). Legs.Activity. Cry.<4 = nyeri ringan. dengan penggambaran verbal pada masing-masing ujungnya.. tangan atau lengan tangan. Peneliti memilih nomor dari skor tingkat nyeri tersebut dari apa yang dirasakan pasien. Ayu Yuliani Sekriptini.Activity. Faces. skala nyeri verbal ini sulit digunakan. Setiap kategori (Faces. 4 <7 = nyeri sedang dan 7-10 = nyeri berat Gambar 2. Nilai VAS 0 . Legs.

frequent complaints Difficult to console or comfort Reassured by accosional al touching. relaxed Score -1 Occasional grimace or frown. 2 Child is crying.. tense Score -2 Freuent to constant quivering chin. 2013 . shiting back and forh. or legs draw up Arched. restless. sentuhan.. Ayu Yuliani Sekriptini.Activity.org/ painrelief/pcs pain files/app_d_flacc. FIK UI. withdrawn. occasional complaint Crying steadily. distractible Sumber : National Health and Medical Research massgeneral. Tabel 2. torso. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Skala penilaian CEOPS berupa penilaian yang mencakup perilaku nyeri anak dan keluhan yang rasakan. Skala penilaian CHEOP digunakan untuk anak usia 1-7 tahun. Penilaian skor nyeri diperoleh berdasarkan hasil penilaian keseluruhan. sobbing. hugging or being talked to. ekspresi muka. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Item Cry Behavioral No cry Moaning Crying Scream Definition 1 Child is not crying. moves easily No cry (awake or asleep) Consolability Content. rigid or jerkig Council http://www2. 3 Cild is in a full-lunged cry. sreams or sobs.2. verbal. Skor 4 mengindikasikan awitan nyeri. dan kaki.3.. dan Consolability Criteria Face Legs Activity Cry Score -0 No particular expression or smile Normal position or relaxed Lying quietly. cleched jaw Moans or whimpers. normal position. Score Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. f. Cry. but the cry is gentle or whimpering. disinterested Uneasy. skor maksimal nyeri adalah 13.pdf Kicking. may be scored complaint or without complaint. 2 Child is moaning or quietly vocalizing silent cry. tense Squimin. Faces. Di dalam skala ini terdapat enam kategori dari perilaku nyeri: menangis. Legs.33 Tabel 2.

Body is in motion in shifting or serpentine fashion.. Body s restrained.. Johnson. J. Body (not limbs) is at rest. I want my mommy”. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. In Field. Legh may be in any position but are relaxed. Child’s arms are restrained. 9. Body is arcehed or rigid. Ayu Yuliani Sekriptini. e. Legs tensed and/or pulled up tightyly to body kept there.. Child’s legs are being held down. “It hurts. “I want to see mommy” of “I am thirsty” Child complains I about pain.. CHEOPS: A behavioral scale for rating postoperative pain in children. Raven Press. H. torso is inactive. G. Child is a vertical or upright position. Goodman. Standing.. Score Sumber : McGrath. FIK UI. Definitive uneasy or restless movement in the legh/or striking out with foot or feet. Child is not touching or grabbing at wound. P. include gentle swinning or separate-like movements.g.J. crouching or kneeling. Body is shuddering or shaking involuntarily.g.T. Child is gently touching wound or wound area. Child complains about pain and about other... Child is grabbing vigorously at wound. e..L.. but not about pain.34 Item Facial Behavioral Composed Grimace 1 2 Smiling 0 Child None Verbal Other complaints 1 1 Torso Touch Legh Pain complaints Both complaints 2 2 Positive 0 Neutral 1 Shifting 2 Tense Shevering 2 2 Upright 2 Restrained Not touching 2 1 Reach 2 Touch 2 Grab 2 Restrained Neutral 2 1 Squirm/kicking 2 Drawn up/tensed 2 Standing Restrained 2 2 Definition Neutral facial expression Score only if definite negative facial expression score only if definite positive facial expression Child not talking Child complains. 2013 . et al (editors) Advances in pian Resesrcn and Therapy. et al. New York. Chid makes any positive statement or talks about things without complaint. Child is reaching for but not touching wound.

Pengertian Madu Madu merupakan cairan alami yang umumnya mempunyai rasa manis. Madu mengandung monosakarida yang mudah diserap dalam usus tanpa membutuhkan proses pemecahan yaitu fruktosa (38%) dan glukosa (31%).1 mg). abu (0. dan niacin (0. sukrosa (1. protein (0.. natrium (10 mg).20 g).20%).00 g). zat besi ( 0. terkandung di dalam madu alami.5 gram per 100 gram madu alami. fruktosa (38. Komposisi kimiawi utama dalam madu total karbohidrat (78.. 2004. diubah dan dikombinasikan dengan zat tertentu dari lebah kemudian ditempatkan. protein (1. Akanmu et al.2.00 kal). dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nectar) atau bagian lain dari tanaman (extra floral nectar) atau ekskresi serangga (SNI. Ayu Yuliani Sekriptini.02 mg) (Alzubier & Okechukwu. dan abu (0.2.. dikeringkan.. Komposisi kimia madu hasil ekstraksi terdiri dari air (17. Fruktosa atau yang sering disebut Levulosa merupakan gula murni atau alami yang berasal dari saripati buah-buahan. kalsium (2 mg). glukosa (31%). 2011.90 g).10%). FIK UI. flavonoid (0. Madu merupakan zat pemanis alami yang diproduksi oleh lebah madu dari nektar tanaman atau sekresi bagian lain dari tanaman atau ekskresi dari insekta pengisap tanaman.50%).57%). yang dikumpulkan. yaitu sedikitnya bisa mencapai 38. kadar air (78. 2.3. lemak (0 g). 2011). dan sukrosanya rendah. 2010). 2011). (Goenarwo et al. thiamin (0. Jenis gula atau karbohidrat yang terdapat di dalam madu alami yakni fruktosa. serat kasar (0 g).31%).8 mg%).. lebih dari 181 macam senyawa atau unsur dan zat nutrisi yang ada. 2011. posfor (12 mg). 2013 . 2004)...35 2.20 g). kalori (295. lalu disimpan di dalam sarang hingga matang (Hamad. Komposisi Kimia dan Biologis Madu Menurut hasil pengkajian dari para ahli. 2002. maltosa (7. Penggunaan Madu Dalam Penanganan Nyeri Pada Anak 2. Suarez et al. Sementara untuk kadar glukosa.7%).. yang memiliki kadar yang tertinggi.2.17%). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. asam organik (0. Scheiner et al. Akanmu et al. 2011. Cornelia & Chis. maltosa.02 mg).2.

2.2. kaliandra.36 Madu juga mengandung berbagai mineral seperti Ca. dan minyak volatil. sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri (Almada. durian. salah satunya adalah enzim katalase yang mampu memberikan efek pemulihan. multiflora. gen pembiakan. Madu mengandung beberapa senyawa organik yang telah terindetifikasi antara lain seperti polyphenol. Beberapa jenis madu di Indonesia antara lain madu kapuk. sitrat. Na. sonokeling. Selain itu madu mengandung enzim amilase. antara lain enzim glukosa oksidase dan enzim invertase yang dapat membantu proses pengolahan sukrosa untuk diubah menjadi glukosa dan fruktosa yang kedunya mudah diserap dan dicerna oleh tubuh. S. basswood. Kandungan flavonoid diduga menghambat produksi cyclooxygenase. seperti hidroksi metal furfural. mahoni. enzim lipase. Madu memiliki kandungan antibiotika sebagai antibakteri pada luka dan mengandung dekstrosa. hutan. asam fenolik dan flavonoid juga terdapat dalam madu yang berfungsi sebagai antioksidan dan anti radang. dan asam organik (asam malat. Goenarwo.. Truchado et al. garam Iodium. Selain itu didalam madu juga terdapat berbagai jenis enzim. dan glikosida. Ayu Yuliani Sekriptini. oksalat) (Purabaya. Jenis-jenis Madu Jenis-jenis madu beraneka ragam tergantung nektar tanamannya. tartrat. P. serta mengandung flavonoid yaitu pinocrembin (Puspitasari. kopi. Fe. lilin. jambu air. Madu mengandung berbagai macam enzim.. Selain itu. bunga matahari dan madu royal jelly. rambutan. athel. Jenis-jenis madu lain yang terdapat di negara sub tropis menurut Puspitasari (2007) antara lain. 2007. katalase. 2003). bamboo. 2009. apel. Komponen tambahan yang terkandung didalam madu seperti lisozim. mangga. K. aster. 2013 . investase. 2002). 2000. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. jambu mente. peroksidase. alfalfa. Mg. 2007).4. dan asam formik (Puspitasari. karet. 2011). klengkeng. lipase) yang memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh.. Alzubier & Okechukwu. diastase. madu juga mengandung berbagai macam enzim (amylase. FIK UI. Cl. laktat. flavoid.

37

bergamot, blackberry, bluberry, blue curls, bluevine, boneset, buckwheat,
cantaloupe, cape vine, coralvine, cranberry, galiberry, goldenrod, holly,
horsemint, locust, manzanita, marigold, mesquite, mountain laurel,
mustard, palmatto dan pepperbush. Setiap madu mempunyai karakteristik
yang berbeda baik berdasarkan komposisi, rasa maupun penampilan fisik.
Jenis madu dibagi menjadi tiga macam yaitu, a) Madu flora yaitu madu
yang dihasilkan dari nektar bunga, b) Madu ekstra flora yaitu madu yang
dihasilkan dari nektar yang terdapat diluar bunga yaitu berasal dari bagian
tanaman yang lain seperti daun, cabang atau batang tanaman, c) Madu
embun yaitu madu yang dihasilkan dari cairan suksesi serangga yang
kemudian eksudatnya diletakkan pada bagian-bagian tanaman, cairan ini
kemudian dihisap dan dikumpulkan oleh lebah madu (Puspitasari, 2007).
Di Indonesia jenis madu yang dipasarkan sering diberi nama menurut
daerah asalnya, misalnya madu Sumbawa, madu Kalimantan, dan Madu
Sulawesi.
Kualitas madu ditentukan oleh waktu pemanenan madu, kadar air, warna
madu, rasa dan aroma madu. Madu yang memiliki kandungan enzim
diastase sebagai salah satu acuan yang digunakan Sandar Nasional
Indonesia (SNI) untuk menentukan madu tersebut asli atau tidak, karena
enzim diastase hanya dihasilkan dari kelenjar ludah lebah (Hamad, 2004;
Puspitasari, 2007).
Jenis madu yang sering digunakan pada beberapa pengobatan adalah madu
PERUM PERHUTANI ber-Standar Nasional Indonesia (SNI) atau disebut
sebagai madu perhutani. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhidayah,
(2011) tentang pengaruh madu dalam perawan oral care terhadap pasien
anak mukolitis akibat mukolitis pada anak menggunakan madu PERUM
PERHUTANI. Madu yang digunakan adalah jenis madu hutan multiflora
dan telah diuji kualitasnya oleh Pusat Perlebahan Nasional Perhutani
(PPNP). Berikut ini kandungan gizi madu perhutani :

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

38

Tabel 2.4. Kandungan gizi madu perhutani
Parameter
Kalori
Lemak
Asam lemak jenuh
Kolesterol
Total Karbohidrat
Serat makanan
Protein
Kalsium (Ca)
Natrium (Na)
Besi (Fe)
Kalium (K)
Vitamin A
Vitamin C

Satuan
Kal/100 gram
%
%
mg/100 gram
%
%
%
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
UI/100 gran
mg/100 gram

Hasil
320
0
0
<0
79,3
0,73
0,63
9,84
12,8
0,63
102
< 0,5
3,52

Sumber : Pusat Perlebahan Nasional Perum Perhutani 2008

2.2.5. Efek Terapeutik Madu
Madu merupakan bahan makanan yang mengandung nilai gizi tinggi
tinggi mengandung banyak komponen gula sederhana (monosakarida dan
disakarida) dan gula rantai panjang (polisakarida), selain itu madu
mengandung enzim untuk mencerna gula, vitamin, mineral dan lain-lain
(Bognadov et al., 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Alzubier dan Okechukwu (2011)
menyebutkan

madu

memiliki

efek

terapeutik

anti-inflammatory,

antipyretic, dan analgesic. Penelitian dilakukan pada tikus dengan
disuntikkan asam asetat pada peritoneum tikus dengan sebelumnya dikasih
madu per oral, hasil menunjukkan pemberian madu mengurangi ambang
nociception dan mengurangi rangsang

saraf terminal dari serat

nociceptive.
Suarez et al., (2010), menyebutkan madu asli 100% murni mengandung
zat antibiotik yang dapat menyembuhkan penyakit dari berbagai patogen
penyebab penyakit. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi aktivitas
antibakteri pada madu asli 100% murni; pertama, kadar gula madu yang
Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

39

tinggi akan menghalang pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tersebut
tidak dapat hidup dan berkembang. kedua, tingkat kemanisan madu yang
tinggi (pH 3.65) akan mengurangi pertumbuhan dan daya hidupnya
sehingga bakteri tersebut mati,

ketiga, adanya pertumbuhan radikal

hidrogen peroksida yang bersifat membunuh mikroorganisme patogen,
dan keempat adanya senyawa organik yang bersifat antibakteri antara lain
seperti polyphenol, flavonoid, dan glikosida.
2.3. Pengaruh Madu Terhadap Penurunan Respon Nyeri
Madu mengandung berbagai mineral seperti Ca, Na, K, Mg, Fe, Cl, P, S,
garam Iodium, dan asam organik (asam malat, tartrat, sitrat, laktat, oksalat)
(Purabaya, 2002). Selain itu, madu juga mengandung berbagai macam
enzim (amylase, diastase, investase, katalase peroksidase, lipase) yang
memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh, serta
mengandung flavonoid yaitu pinocrembin yang memiliki efek anti nyeri.
Puspitasari

(2007)

dalam

penelitiannya

menyebutkan

madu

dapat

memberikan efek analgesik. Flavonoid dalam madu dapat menghambat
produksi cyclooxygenase, sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan
nyeri.
Geonarwo, Chodidjah, dan Susanto (2011) melakukan eksperimental dengan
pendekatan post test only control group design. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan hewan uji tikus putih jantan galur wistar 25 ekor, dibagi
dalam 5 kelompok secara random, kelompok I (kontrol negatif) diberi
aquadest, kelompok II diberi madu 25%, kelompok III diberi madu 50%,
kelompok IV diberi madu 100% dan kelompok V (kontrol positif) diberi
parasetamol 4,5 mg/kgBB. Setelah 5 menit semua kelompok disuntik
dengan asam asetat 1% (0,1 ml) intra peritoneum, kemudian dihitung jumlah
geliat setiap 5 menit selama 1 jam. Hasil penelitian menunjukkan madu
dengan konsentrasi madu 50% memiliki efek analgetik yang meningkat,
sedangkan madu dengan konsentrasi 25% dan 100% menunjukkan efek
analgetik yang menurun.

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

4. dan kebutuhan akan konseling financial dan intervensi (Tomey & Alligood. dan menilai kembali kenyamanan pasien setelah pelaksanaan tindakan kenyamanan kemudian dibandingkan denan keadaan sebelumnya. Manusia atau pasien adalah individu atau keluarga yang membutuhkan perawatan kesehatan. kebutuhan pendidikan dan dukungan.40 2. Sedangkan transcendence yaitu kemampuan untuk bangkit diatas ketidaknyamanan ketika ketidaknyamanan yang ada tidak dapat dihindari atau dihilangkan. Ease adalah tidak adanya ketidaknyamanan spesifik. yang tidak dapat ditemui pada penerima pelayanan tradisional.. menilai kenyaman dengan membuat struktur taksonomi yang bersumber pada tiga tipe kenyamanan yaitu reliefe. Kolcaba 2. kebutuhan yang berhubungan dengan ukuran secara patofisiologi. Relief yaitu status ketidaknyamanan yang dimiliki menjadi berkurang atau status terpenuhinya kebutuhan kenyaman spesifik. psikospiritual. dan sosial. sosial dan kebutuhan lingkungan yang memfasilitasinya seperti alat monitor dan laporan verbal atau non verbal. Kolcaba Kolcaba mendefinisikan salah satu intervensi perawatan kesehatan sebagai kebutuhan tentang kenyamanan. Kolcaba mengaitkan ketiga tipe kenyamanan tersebut dengan empat pengalaman kenyaman yaitu fisik. Teori Keperawatan “Comfort” Katharine C. Lingkungan adalah pengaruh eksternal yang dapat dimanipulasi untuk meningkatkan kenyamanan. psikospiritual... ease. lingkungan dan keperawatan. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan fisik.1. 2006).4. FIK UI. Kolcaba (2003). peningkatan dari kondisi penuh tekanan dalam situasi perawatan kesehatan. Konsep Umum Teori “Comfort” Katharine C. Kesehatan adalah fungsi optimal dari Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Teori kenyamanan memandang keperawatan adalah pengkajian yang inten tentang kebutuhan kenyamanan untuk mengatasi kebutuhan tersebut. kesehatan. Empat konsep sentral dalam paradigma keperawatan yaitu manusia atau pasien. dan transcendence. lingkungan. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 .

Ayu Yuliani Sekriptini. Comfort care mempunyai 3 komponen yaitu intervensi yang sesuai dan tepat waktu. 2003). HSBs dapat ekternal. Integritas institusional adalah kondisi sarana perawatan kesehatan yang menyeluruh. dan trascendece terkait dengan empat pengalaman yaitu fisikal psikospiritual. 2005. peningkatan kenyaman. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. lingkungan dan sosiokultural (Kolcaba.41 komunitas. intervening variables. menggerakkan mereka ke arah kesejahteraan. Comfort measures adalah intervensi yang sengaja dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pasien atau keluarga. Seluruh konsep tersebut terkait dengan pasien dan keluarga. 2003). pasien. dan lingkungan yang nyaman bagi pasien. Comfort care adalah filosofi perawatan kesehatan yang berdasarkan fisik. 2013 . Kolcaba.. healt seeking behavior (HSBs) dan intergritas institusional. Intervening variabel adalah faktor positif taupun negatif yang sedikit sekali dapat dikontrol oleh perawat atau institusi tetapi berpengaruh langsung kesuksesan rencana intervensi kenyamanan (Kolcaba & DiMarco. sosiokultural. berfokus pada kenyaman pasien. ease. psikospiritual. intervensi keyamanan (comfort care). HSBs adalah perilaku pasien atau keluarga yang terlibat secara sadar atau tidak sadar. psikospiritual. model keperawatan yang perhatian adan empati. Comfort atau kenyamanan adalah pengalaman langsung yang diperkuat dengan kebutuhan relief. Konsep teori kenyamanan adalah kebutuhan kenyaman. ease. professional dan beretika. internal atau kematian yang damai. FIK UI.. keluarga yang dapat dicapai dengan memperhatikan kebutuhan kenyamanan. jujur. sosiokultural dan lingkungan.. dan transcenden dalam konteks pengalaman manusia secara fisik. Comfort needs adalah kebutuhan akan rasa nyaman relief.

. 1) perawat mengidentifikasi kebutuhan kenyamanan pasien dan anggota keluarga. 2) perawat menyusun rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan. khususnya kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh suppor system eksternal. Aplikasi comfort theory pada keperawatan anak Comfort theory diterapkan dalam beberapa kondisi pasien seperti pasien penderia kanker payudara stadium awal. 5) pasien dan perawat sepakat tentang HSBs yang diinginkan.2. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. pasien dan anggota keluarga terikat oleh HSBs yang akan meningkatkan kenyamanan lebih lanjut.. 2003). Sedangkan comfort care akan mengkaitkan semua komponen. Intervensi ini disebut comfort measures. dan 8) bila perawat dengan pelayanan puas terhadap institusi pelayanan. 3) intervening variables diperhitungkan dalammerancang intervensi.4. pasien dengan kondisi Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Kerangka konseptual teori kenyamanan Kerangka konsep diatas mejelaskan proposition adalah pernyataan yang menghubungkan antar konsep. perawat dan keluarga akan lebih puas dengan pelayanan kesehatan. 7) bila pasien dan keluarga telah memiliki HSBs yang kuat sebagai hasil dari comfort care. Berikut ini adalah proposition teori kenyamanan. masyarakat akan mengetahui kontribusi institusi tersebut terhadap program kesehatan pemerintah.6. 6) bila kenyamanan tercapai. FIK UI. 2..42 Sumber : Kolcaba 2003 Gambar 2. Institusi menjadi lebih baik terpandang dan berkembang (Kolcaba. 4) intervensi yan efektif dan dilakukan dengan penuh caring yang hasilnya akan langsung terlihat sebagai pengingkatan rasa nyaman.

. dan retroduction. 2 berikut ini : Skema 2. lebih jelas dapat dilihat pada kerangka konsep Kolcaba 2. Baris 3 adalah cara dimana masing-masing konsep dilaksanakan. Kolcaba menyatakan teori kenyamanan meliputi tiga alasan logis yang terdiri dari induction.1 Aplikasi Comfort Theory pada Keperawatan Anak Sumber: Kolcba & DiMarco (2005) Skema di atas menggambarkan hubungan antara konsep-konsep penting dalam teori comfort.. Baris 2 adalah tingkat praktik comfort pada kasus perawatan anak. kondisi individu dengan keterbelakang mental dan keperawatan pada bayi baru lahir (Kolcaba & DiMarco). FIK UI.43 inkontinensia urin. 2013 . pada perawatan peri dan intra operatif. Baris 1 menggambarkan konsep teori secara umum dan merupakan tingkat tertinggi yang bersifat abstrak dan setiap baris berikutnya lebih bersifat konkret. deduction. unit luka bakar. Ayu Yuliani Sekriptini.. Aplikasi comfort theory dalam penanganan nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah pada anak dapat diuraikan bahwa aspek health care Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

Ayu Yuliani Sekriptini. Dengan demikian pemenuhan rasa nyaman yang optimal pada anak akan disesuaikan dengan karakteristik tumbuh kembang akan membawa manfaat bagi anak. penurunan kebutuhan akan tindakan medis yang lain dan peningkatan kepuasan anak dan keluarga.2 dibawah ini. FIK UI.. sosiokultural. 2013 .. keluarga dan rumah sakit.. Tahap perkembangan dan kehadiran orang tua merupakan interventing variabel yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk mencapai rasa nyaman pada semua aspek (kenyamanan fisik. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema 2. Pemenuhan rasa nyaman yang adekuat pada semua aspek dengan tingkat relief hingga transcendence akan mendorong pada penentuan intervensi berikutnya. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dan lingkungan).44 need yaitu anak memiliki kebutuhan rasa nyaman selama prosedur invasif dilakukan. Aspek nursing intervention yaitu pemberian intervensi non farmakologis berupa pemberian madu yang merupakan bagian intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman. Hal tersebut merupakan keluaran yang positif yang membawa manfaat besar baik rumah sakit. psikospiritual.

lingkungan Mencatat usia.5. termasuk anak yang masih dalam kandungan (Undang-undang Perlindungan Anak No. Pengertian Anak Anak adalah seseorang yang belum berusia delapan belas (18) tahun. anak tidak menangis saat tindakan. jenis kelamin. meninggal dengan tenang Kepuasan keluarga. Konsep Anak 2. anak berada pada masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik kebutuhan fisik. Aplikasi Comfort Theory dalam Tindakan Pemberian Madu 2.2. eksternal.5. analgetik kurang. sosial dan spiritual. FIK UI. tindakan medis berkurang Percaya denga perawat. psikospiritual sosokulturall. 23 pasal 1 tahun 2003). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. psikologis. lingkungan dan dukungan orang terdekat Rasa nyaman fisik. keluarga puas dengan pelayanan RS Jalur 2 Kebutuhan rasa nyaman bagi anak dan keluarga + Usia..45 Jalur 1 Health care need + Nursing Interventions + Atraumatic Care + Intervening variables Enhanced Comfort Health seeking behaviour Institusional itnegrity Internal.. tidak menimbulkan trauma saat anak masuk RS Prosedur tetap dalam perawatan pengambilan darah dengan memberikan madu sebelum diberikan intervensi invasif Skema 2.1. Dalam keperawatan anak yang dimaksud anak adalah seseorang yang berusia kurang dari delapan belas tahun.. dan tidak merasa nyeri LOS minimal. 2013 . pengalaman nyeri sebelumnya. jenis kelamin anak dan kehadiran keluarga Rasa nyeri diukur dengan checklist CHEOPS Jalur 3 Tidak nyeri. Ayu Yuliani Sekriptini. segera diatasi.

kognitif. fase sekolah dan fase remaja. 2007).. mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri (Hokenberry & Wilson. FIK UI. konsep diri. Fase infant adalah fase saat bayi berusia 1 bulan sampai 12 bulan. Setelah fase ini anak memasuki fase pra sekolah yaitu saat anak memasuki usia 3-6 tahun. Fase neonatal merupakan masa saat bayi lahir sampai usia 28 hari.. menangis keras. ekspresi wajah menunjukan nyeri. Ayu Yuliani Sekriptini. Fase toddler merupakan saat anak berusia 1-3 tahun. Ditinjau dari perkembangan sosial belum memiliki toleransi yang lebih baik dalam hal perpisahan dengan orang tua. 2004). fase infant. 2007).46 2. Perkembangan usia prasekolah merupakan kelompok usia antara 3 sampai 5 tahun. Perkembangan biologis anak usia prasekolah ditandai dengan kematangan sistem organ dan penyempurnaan perilaku motorik halus dan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Kelompok anak Berdasarkan Fase Perkembangan Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. fase prasekolah.5. 2013 . Perkembangan biologis anak usia toddler mengalami fase toilet training dan perkembangan motorik merupakan proses tumbuh kembang sistem gerak seorang anak setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan sistem interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Ditinaju dari kemampuan berbahasa anak usia toddler secara umum mengalami kesulitan dalam pengucapan dalam menyampaikan suatu keinginan. Repon anak toddler terhadap nyeri. fase neonatal. fase toddler. pola koping dan perilaku sosial (Supartini.. Fase sekolah merupakan fase anak berusia 6 sampai 12 tahun.2. dan terakhir fase remaja yaitu saat anak memasuki usia 13-18 tahun (Hockenberry & Wilson. respon tubuh terlokalisasi secara sengaja menarik diri dari area yang terstimulis. Dalam proses perkembangan anak memiliki ciri fisik. Fase perkembangan anak terdiri dari fase prenatal. Perkembangan usia toddler merupakan kelompok usia antara 1 sampai 3 tahun. Fase prenatal mencakup masa kehamilan sampai anak dilahirkan.

Perpisahan yang panjang dengan orang tua merupakan hal yang sulit bagi anak usia prasekolah. meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri. kapan. Terkait dengan respon nyeri yang disebabkan oleh prosedur invasif yang menyakitkan bagi anak tergantung pada usia anak. Wong dan Hockenberry (2003) menyebutkan bahwa atraumatic care berhubungan dengan siapa. bagaimana Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. akan tetapi mereka dapat berespon dengan baik terhadap bila ada perpisahan dan penjelasan yang konkrit. FIK UI. kelompok usia ini memiliki toleransi yang lebih baik dalam hal perpisahan dengan orang tua dibandingkan usia toddler. Ayu Yuliani Sekriptini. dimana. membutuhakan dukungan emosi seperti pelukan dan memberikan antisipasi secara aktual (Hockenbarry & Wilson. misalnya perpisahan yang disebabkan oleh penyakit dan Hospitalisasi (Hokenberry & Wilson. 2013 . jaminan. bimbingan dan persetujuan.6. Anak usia ini dapat berhubungan secara mudah dengan orang asing dan toleran terhadap perpisahan dengan orang tua hanya sedikit atau tanpa protes. 2007). terutama ketika memasuki usia sekolah. Namun demikian mereka masih membutuhkan pengamanan dari orang tua. mengapa. Usia toddler masih belum mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang dirasakan karena keterbatasan kosakata dan pengalaman nyeri. mendorong hal yang menyebabkan nyeri. dan faktor situasi lainnya..6. menempel dan memegang orang tua.. apa.47 kasar. 2007). Pengertian Atraumatic care Atraumatic care adalah suatu tindakan perawatan terapeutik yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan intervensi melalui cara mengeliminasi atau meminimalisasi stress psikologi dan fisik yang dialami oleh anak dan keluarganya dalam sistem pelayanan kesehatan (Supartini. 2. tingkat perkembangan anak.1. 2004). Atraumatic care 2. Ditinjuau dari perkembangan sosial anak usia prasekolah. memukul tangan atau kaki.. sedangkan pada usia prasekolah dalam berespon terhadap nyeri diantaranya dengan menanis keras atau berteriak.

misalnya nadi.. tekanan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. mengijinkan privasi anak. alihkan dengan bermain untuk menghindarkan rasa takut. mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis). orangtua pun merasa semakin stress. Stress psikologi pada orangtua dapat berupa perhatian terhadap nasib anak mereka. tidak melakukan kekerasan pada anak. meningkatkan kontrol diri. Ayu Yuliani Sekriptini.. Sparks et al. Terdapat tiga prinsip kerangka kerja untuk mencapai tujuan tersebut. lamanya tinggal di rumah sakit. mencegah atau meminimalkan perpisahan anak dari orangtua.. FIK UI. menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga. & Cravero. Kondisi tersebut menjadi perhatian dan tanggung jawab dari seorang perawat kesehatan profesional. Contoh dari peningkatan tindakan atraumatic care menyangkut mengorganisir hubungan orangtua dengan anak selama perawatan. meningkatkan kemampuan orangtua dalam mengontrol perawatan anak. yaitu. mengontrol rasa nyeri. Wong dan Hockenberry (2003) menyebutkan tujuan mencapai perawatan atraumatic care adalah jangan menyakiti. dan modifikasi lingkungan fisik. dan tidak adekuatnya pengetahuan dan pemahaman tentang situasi kondisi penyakit (Zempsky. mencegah atau meminimalkan cedera tubuh. 2004. ketidak mampuan berkomunikasi secara efektif dengan profesional kesehatan. American Pain Society (2000) menyebutkan kondisi nyeri terdapat lima tanda vital yang harus diperhatin. mengatakan untuk mencapai perawatan tersebut beberapa prinsip yang dapat dilakukan perawat antara lain. Karena anak stress dan gelisah serta tidak tenang berada di rumah sakit tanpa orangtua di sampingnya. Terkait dangan hal tersebut nyeri akan berhubungan dengan peningkatan tandatanda vital sehingga prinsip dari tindakan perawatan nyeri adalah memeriksa tanda-tanda vital pasien setiap saat.48 dari setiap prosedur tindakan yang ditujukan pada anak bertujuan untuk mencegah atau mengurangi stres psikologi dan fisik. persiapan anak sebelum tindakan atau prosedur yang tidak menyenangkan. Azis (2005). 2007). 2013 .

Mencegah atau mengurangi cedera (injuri) dan nyeri (dampak psikologis). Istilah yang digunakan untuk menanyakan nyeri pada anak dengan menggunakan pertanyaan.. maka digunakanlah strategi penilaian kualitatif dan kuantitatif. Ayu Yuliani Sekriptini.. gunakan skala nyeri. 2013 . cari penyebab nyeri. Prinsip yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah mencegah dan meminimalkan perpisahan anak dengan keluarganya. b. dan ambil tindakan dan evaluasi hasil nyeri (Wong & Hockenberry. suhu. 2010). Kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak dapat meningkatkan kemandirian anak dan anak akan bersikap waspada dalam segala hal. dan pernafasan (Soyer et al. Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak. seperti menanyakan anak. 2009. FIK UI.49 darah.2. relaksasi dan imaginary. d. meningkatkan kontrol diri anak. Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2. dan mencegah terjadinya nyeri serta cedera tubuh (Hockenberry & Wilson. libatkan orangtua. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai tenik misalnya distraksi. Tidak melakukan kekerasan pada anak.6.. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga Dampak perpisahan dari keluarga akan menyebabkan kecemasan pada anak sehingga menghambat proses penyembuhan dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. evaluasi perubahan psikologi dan tingkah laku. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena nyeri berhubungan dengan sensori dan emosional. c. Manchikanti et al. 2003). Prinsip Atraumatic care Prinsip utama dari pelayanan yang tidak menimbulkan trauma (atraumatic care) pada anak adalah bahwa tidak ada yang tersakiti. 2007) : a...

Relief .50 kehidupan anak.7.Jenis kelamin . FIK UI. Kerangka Teori Dari uraian diatas maka peneliti mencoba menggambarkan kerangka konsep teori yang dapat mempengaruhi terjadinya nyeri. e. 2013 . Modifikasi lingkungan.Pengalaman nyeri sebelumnya . Tommey & Alligood (2006) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... yang dapat menghambat proses kematangan dan tumbuh kembang anak.Ease .Lingkungan dan dukungan orang terdekat Anak sakit Dibawa ke unit Gawat Darurat Tindakan invasif pengambilan darah Nyeri saat prosedur Comfort Theory: .Usia .Transcendence Pengukuran Nyeri CHEOPS Atraumatic Care Pemberian madu per-oral Tidak Nyeri Kebutuhan nyaman anak terpenuhi Dikutip dari: Kolcaba & DiMarco (2005). berikut : Skema 2.3. Kerangka Teori Faktor yang mempengaruhi nyeri: . Ayu Yuliani Sekriptini.3.. Adapaun kerangka teori dalam penelitian ini seperti pada skema 2. Melalui modifikasi lingkungan yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman dilingkungan. 2.

. 2011). Variabel terikat (dependent) penelitian ini yaitu skor nyeri pada anak. Kerangka konnsep penelitian ini menjelaskan tentang variabel-variabel yang dapat diukur dalam penelitian ini. 3. Gambaran mengenai variabel-variabel yang akan diteliti dapat diperoleh melalui kerangka konsep. 3. Kerangka konsep penelitian diperlukan sebagai landasan berpikir dalam melaksanakan suatu penelitian yang dikembangkan dari tinjauan teori yang telah dibahas sebelumnya. HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan kerangka konsep penelitian.1. Kerangka Konsep Penelitian Kerangka konseptual merupakan kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur ketika penelitian dilakukan. Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini tindakan pemberian 51 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. hipotesis penelitian. Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari variabel yang diteliti untuk memperjelas maksud dari suatu penelitian yang dilakukan.1. Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut : 3. 2011). Varibel Terikat (dependent variabel) Variabel terikat (dependent) adalah variabel yang berubah akibat perubahan variabel bebas (independent) (Sastroasmoro & Ismael. FIK UI. dan definisi operasional. sehingga mudah dipahami dan dapat menjadi acuan peneliti..1.. Ayu Yuliani Sekriptini. Varibel Bebas (independent) Variabel bebas (independent) adalah variabel yang bila ia berubah akan mengakibatkan perubahan variabel lain (Sastroasmoro & Ismael. 2013 .BAB 3 KERANGKA KONSEP.2.1. Kerangka konsep menggambarkan ada tidaknya pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak saat dilakukan tindakan pengambilan darah di ruang unit gawat darurat. Hipotesis penelitian merupakan pernyataan sementara yang akan diuji kebenarannya yang dinyatakan dalam hipotesis alternatif. sebagai suatu petunjuk dalam mengidentifikasi dan menginterpretasi suatu hasil.

3. tetapi bukan merupakan variabel antara (Sastroasmoro & Ismael. Pendampingan orang tua Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.52 madu pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah dan kelompok kontrol mendapatkan intervensi pemberian placebo (air matang). Ayu Yuliani Sekriptini..1. 2011). Pengalaman nyeri sebelumnya d. Kerangka Konsep Penelitian Variabel bebas Variabel terikat Kelompok Intervensi: Mendapatkan intervensi madu Kelompok kontrol: Mendapatkan intervensi placebo (air matang) Skor nyeri Variabel perancu: a. pendampingan orang tua.. Hubungan antar variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada skema 3. FIK UI. 2013 . Variabel Perancu (confounding) Variabel perancu (confounding) adalah jenis variabel yang berhubungan dengan variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). jenis kelamin. Beberapa faktor yang termasuk variabel confounding dalam penelitian ini adalah usia..3. Variabel bebas (independent) akan mempengaruhi variabel terikat (dependent).1 berikut ini Skema 3. Usia b.1. Jenis kelamin c. pengalaman nyeri sebelumnya. Identifikasi variabel confounding penting agar peneliti tidak salah dalam melakukan pengambilan keputusan.

2.53 3.1. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 3. FIK UI. pendampingan orang tua). 3. Ayu Yuliani Sekriptini. 3.2.1. Definisi Operasional Variabel Penelitian Bebas Tindakan pemberian madu oral Definisi Operasional Cara ukur Hasil Ukur Skala Tindakan pemberian madu peroral Observasi (chek list) 0 = diberi placebo (air putih) sebelum pengambil -an darah 1 = diberi madu sebelum pengambil -an darah Nominal Madu diberikan 2 menit sebelum intervensi pengambilan darah Jika pengambilan darah tidak berhasil prosedur pemberian madu di ulang seperti semula dengan menunggu 5 menit untuk istirahat terlebih dahulu Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.2.. 2011).Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian yang harus diuji validitasnya secara empiris (Sastroasmoro & Ismael. 2013 . b. 3. pengalaman nyeri sebelumnya.Definisi Operasional Tabel. Hipotesis Minor a.. Ada perbedaan rerata skor nyeri pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. Ada perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak (usia..3.2. Hipotesis Mayor Pemberian madu berpengaruh terhadap penurunan skor nyeri pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah di ruang unit gawat darurat. jenis kelamin.

tangisan. Skor nyeri berdasarkan penjumlahan skor pada setiap parameter Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Cara ukur Hasil Ukur Skala Obersevasi dengan Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Nilai skala nyeri Berkisar dari 4-13 Interval Jenis madu multiflora yang diproduksi oleh Perum Perhutani Skor nyeri yang dirasakan anak akibat tindakan invasif pengambilan darah Penilaian dilakukan setelah intervensi pengambilan darah dengan melihat hasil rekaman video 4 = skor tidak nyeri Skala nyeri 13= skor CHEOPS terdiri nyeri dari 6 tertinggi parameter.. sentuhan dan posisi kaki.54 Variabel Penelitian Terikat Skor nyeri Definisi Operasional Madu yang digunakan dalam penelitian ini adalah madu murni kosentrasi 50%.. dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan diuji oleh Pusat Perlebahan Nasional Perhutani. FIK UI.. ekspresi verbal. 2013 . posis badan. Ayu Yuliani Sekriptini. ekspresi wajah.

2013 .. 2009) Nominal Kuesioner 0 : laki-laki 1 : perempuan Nominal Kuesioner 0 : ada riwayat pengambilan darah sebelumnya 1 : pertama kali 0 : hadir 1 : tidak hadir Nominal Observasi Nominal Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. Umur dihitung dalam tahun Jenis kelamin Jenis sex : lakilaki dan perempuan Pengalaman Pengalaman anak sebelumnya yang pernah mengalami nyeri dengan jenis yang sama Pendampingan Kehadiran orang orang tua tua saat tindakan invasif dilaksanakan Cara ukur Hasil Ukur Skala Kuesioner 0 : 1-3 tahun (toddlers) 1 : >3-6 tahun (preschool) (Hockenberry & Wilson.55 Variabel Penelitian Perancu Usia Definisi Operasional Usia responden dihitung dari tanggal lahir sampai dengan bulan dilakukan penelitian.. FIK UI..

perlakuan kelompok intervensi dan kelompok kontrol disamakan yaitu dilakukan menghitungan denyut nadi lima menit sebelum tindakan dan dua menit kemudian diberikan madu untuk kelompok intervensi dan placebo untuk kelompok kontrol. Pemberian madu dan placebo (air putih) pada kelompok intrevensi ataupun kelompok kontrol dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti (perawat ruangan). Ayu Yuliani Sekriptini. Penelitian quasi eksperiment adalah penelitian yang mengujicoba suatu intervensi pada kelompok subjek dengan kelompok pembanding namun tidak melakukan rendomisasi untuk memasukkan subjek ke dalam kelompok perlakuan atau kontrol (Polit & Beck. 4. 2011).2. Penelitian ini melibatkan dua kelompok yaitu. Pada pelaksanaan penelitian. pemilihan kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak diacak.1. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan berupa quasi eksperiment dengan jenis nonequivalent control group. after only design.1. Hasil studi pendahuluan didapatkan rata-rata jumlah kasus anak yang masuk ke ruang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti (Sastroasmoro & Ismael.. after only design (Dharma. Sampel dan Besar Sampel 4.. kelompok anak yang diberikan madu sebelum tindakan pengambilan darah sebagai kelompok intervensi dan kelompok anak yang diberi intervensi placebo (air putih) sebelum tindakan pengambilan darah sebagai kelompok kontrol. 2013 . 2008). penilaian nyeri dilakukan saat pengambilan darah. Populasi dalam penelitian ini adalah responden anak usia 1-6 tahun yang masuk ke ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon.. pengukuran hanya dilakukan setelah selesai intervensi. peneliti dan asisten ahli sebelumnya melakukan inter-observer reliability dengan tujuan menghasilkan suatu skor kesepakatan antar observer/penilai dalam pengukuran suatu instrumen.2.56 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.Populasi. FIK UI. 2011). Desain penelitian yang dipilih jenis nonequivalent control group. After only design karena penelitian ini tidak melakukan pengukuran sebelum intervensi.

. Pada consecutive sampling semua subyek yang dating secara berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro & Ismael.57 unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawianagun Kota Cirebon dalam setahun terakhir ini rata-rata per-bulan sebanyak 300 orang anak dengan rata-rata usia 1-17 tahun. Sampel Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan menggunakan nonprobability sampling jenis consecutive sampling.2. 4. Anak usia 1-6 tahun. Kriteria inklusi pada sampel penelitian ini adalah: a. 2013 . b. Ayu Yuliani Sekriptini. Kriteria inklusi merupakan persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subyek agar dapat diikutsertakan ke dalam penelitian. Anak mampu berkomunikasi secara verbal dan non verbal. sedangkan kriteria ekslusi adalah keadaan yang menyebabkan subyek yang telah memenuhi kriteria inklusi tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian (Sastroasmoro & Ismael 2011).. FIK UI. rata-rata anak masuk ke unit gawat darurat dengan penyakit diare dan panas. Pertimbangan yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan menentukan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Jenis penyakit yang sering terjadi sangat beragam. 2011). Ibu/keluarga tidak kooperatif. Ibu/keluarga bersedia apabila anak menjadi responden penelitian. d. b.2. Akan dilakukan pengambilan darah intra vena. Kriteria ekslusi pada sampel penelitian ini adalah: a.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. c. Kondisi anak sangat lemah dan mengalami gangguan kesadaran.

Besar Sampel Perhitungan sampel penelitian ini mengunakan uji hipotesis beda rata-rata dua kelompok independent. = 1.58 4. 2013 .2. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI.5 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.7 dengan standar deviasi 3..3.3.. Pada penelitian tersebut diperoleh rata-rata nyeri kelompok kontrol 8.. Pada kelompok intervensi rata-rata skala nyeri adalah 4. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: = =2 ( ) Keterangan : n = jumlah sampel s = standar deviasi kedua kelompok x1 – x2 = perbedaan klinis yang diinginkan (clinical judgment)  = serajat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti  = 0.05 atau 1. Rerata standar deviasi kedua kelompok dapat diperoleh dengan mencari varian kedua populasi dengan rumus sebagai ( ) = ( ) = [ ×( − 1) + × ( + − 2 berikut : − 1)] [3. (2003) tentang pemberian permen manis untuk mengurangi nyeri saat prosedur penusukan jarum pada anak usia sekolah..96)  = nilai Z pada kekuatan uji (power) (ditetapkan oleh peneliti sebesar 80% atau 0.4 dan jumlah sampel adalah 23 orang.9 × (19 − 1)] 23 + 19 − 2 = 2.4 × ( 23 − 1) + 0.9 dan jumlah sampel 19 orang.1 dengan standar deviasi 0. pada penelitian terdahulu peneliti menggunakan penelitian yang dilakukan oleh Lewkowski et al.84) Perhitungan besar sampel minimal diperoleh berdasarkan hasil penilitian yang dilakukan sebelumnya.

4. peneliti memperoleh nilai standar deviasi rata-rata sebesar 1.5 (8.3.. maka besar sampel ditambah 10%. 2013 . Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. Ayu Yuliani Sekriptini. Besar sampel kemudian ditambah untuk menganisipasi kemungkinan drop out.7 – 4. peneliti membagi jumlah sampel menjadi 15 responden usia 1-3 tahun dan 15 responden usia >3-6 tahun. FIK UI. berdasarkan hasil perhitungan didapatkan jumlah sampel keseluruhan setelah ditambah drop out adalah 68 responden yang terdiri dari 34 responden untuk kelompok intervensi dan 34 responden kelompok kontrol.59 Berdasarkan penelitian tersebut. dengan rumus sebagai berikut : ′= n 1−f Keterangan : n’ = jumlah sampel f = estimasi drop out = 10 % Maka hasil perhitungan n’ = n1 = n2 = 34 responden Dengan demikian..84) 1. Perhitungan sampel penelitian ini menggunakan derajat kepercayaan 95% dan kekuatan uji 80%. maka besar sampel yang diperoleh adalah : (1. atau kesalahan teknik dalam pemberian madu.5.1) = =2 = = 29. untuk menguragi terjadinya bias pada hasil penelitian. RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon merupakan rumah sakit tipe B Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..4 = 30 Hasil perhitungan diperoleh sampel yang diperlukan sebanyak 30 responden.96 + 0.

Waktu Penelitian Pengumpulan data dilaksanakan selama 20 hari dari tanggal 27 November sampai dengan 24 Desember 2012. intervensi. Etika Penelitian Penelitian dilakukan setelah dinyatakan lolos oleh Komite Etik FIK UI serta mendapatkan persetujuan dari Direktur RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. 4. 4.. Pengambilan gambar rekaman vidio dilakukan oleh peneliti. rencana. Right self determination Sebelum penelitian dilakukan responden dan keluarga yang menjadi responden penelitian diberikan informasi. Sebelum pengambilan data. sedangkan tindakan pengambilan darah dilakukan oleh perawat ruangan unit gawat darurat. Informasi yang diberikan meliputi manfaat.5. dan tujuan penelitian. responden diberikan informasi tentang tujuan dan manfaat penelitian.. Sebagai responden atau subjek penelitian diberi kebebasan dalam menentukan hak kesediaanya untuk terlibat dalam penelitian ini secara sukarela dengan menandatangani lembar persetujuan yang disediakan dapat dilihat pada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ruangan yang digunakan adalah ruang unit gawat darurat. dan dibutuhkan segera untuk menentukan intervensi selanjutnya. 2013 .4. Beberapa prinsip etika penelitian yang menjadi dasar yaitu : a. Proses penelitian dimulai dari pembuatan proposal sampai menyusun laporan penelitian berlangsung selama 4 bulan.60 yang menjadi pusat rujukan untuk wilayah kota dan kabupaten Cirebon. Setiap responden diberikan kebebasan untuk memberikan persetujuan atau menolak untuk menjadi subjek penelitian dengan cara menandatangani lembar persetujuan atau surat pernyataan kesediaan yang telah disiapkan oleh peneliti. Ayu Yuliani Sekriptini.. Secara lengkap waktu dan tahapan penelitian dapat dilihat pada lampiran 6. Penjelasan dilakukan secara resmi tertulis dengan responden dan keluarga. FIK UI. ruangan ini dipilih karena intervensi pengambilan darah sering dilakukan di unit gawat darurat baik pasien baru atau pasien lama.

. Right to protection from discomfort and harm Peneliti sebelumnya menjelaskan kepada orang tua dan responden serta menekankan bahwa penelitian ini tidak menimbulkan kerugian. Peneliti berusaha memenuhi kebutuhan responden. menerima masukan dan mempertahankan sikap empati. c. 2013 . b.. Selama pengolahan data. Kelompok kontrol mendapatkan madu yang sama setelah tindakan pengambilan darah selesai.6. Right to fair treatmen Responden kelompok intervensi mendapatkan madu sebelum tindakan pengambilan darah dan kelompok kontrol penelitian mendapatkan placebo (air putih). tetapi cukup dengan menggunakan kode responden. Apabila terjadi hal-hal yang memberatkan maka diperbolehkan untuk mengundurkan diri. Right to anonymity and confidentially Data penelitian yang berasal dari responden tidak disertai dengan identitas responden. membuat kontrak kerja dan waktu yang jelas. analisis. FIK UI. baik secara psikologis maupun sosial. Wawancara berfokus pada karakteristik jenis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dan publikasi dari hasil penelitian tidak mencantumkan identitas responden. e. 4.. Data yang diperoleh hanya diketahui oleh peneliti dan orang tua responden yang bersangkutan. Ayu Yuliani Sekriptini.6. menciptakan suasana santai sehingga tidak ada respon negatif yang terjadi dari responden. Data Karakteristik Responden Data karakteristik responden diperoleh dari wawancara pada responden atau orang tua responden. tepat waktu.61 lampiran 1. selama penelitian kerahasiaan responden dijaga dengan cara saat dilakukan penjelasan dan persetujuan pengambilan data responden hanya didampingi oleh keluarga responden saja. Alat Pengumpulan Data 4.1. Right to privacy and dignity Peneliti tidak mencatumkan nama responden dalam format kuesioner dan diganti dengan nomor kode dengan tujuan melindungi privasi dan martabat responden. d.

. ekspresi wajah dengan skor 0-2. Validitas konten mengandung arti bahwa instrumen penelitian menunjukkan kemampuan item pertanyaan dalam istrumen mewakili semua unsur dimensi konsep yang sedang diteliti (Dharma. Skor nyeri didapatkan berdasarkan penjumlahan skor pada setiap parameter dengan nilai skala nyeri 4 sampai dengan 13. Masing-masing parameter memiliki skor nilai yang berbeda. 2011). Ayu Yuliani Sekriptini. 2009). 2013 . posisi badan 1-2. 2011). Uji konten penelitian ini Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. yang dirancang oleh McGrath et al. dan riwayat pernah dilakukan pengambilan darah atau tidak dan didampingi oleh keluarga atau tidak. ekspresi wajah. ahli anastesi dan perawat) dan direkomendasikan oleh berbagai ahli (Suraseranivongse et al. (1985).. Uji validitas instrumen dalam penelitian ini adalah konten dan isi. tangisan memiliki skor 1-3.. Validitas merupakan suatu kesahihan.7. Validitas isi adalah kemampuan instrumen menggambarkan secara tepat teori dan konsep dari veriabel yang akan diteliti (Burns & Grove. Penilaian skor nyeri dilihat dari hasil rekaman video saat dilakukan tindakan pengambilan darah. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Kualitas data ditentukan oleh skor validitas dan realibilias alat ukur. yaitu seberapa tepat alat ukur mengatakan apa yang seharusnya diukur (Sastroasmoro & Ismael.. usia anak. sentuhan. skor 5 awaitan nyeri dan skor 13 untuk skala nyeri yang tertinggi. skor 4 untuk tidak nyeri. 2001). Alat instrumen CHEOPS merupakan alat ukur yang dirancang untuk digunakan oleh petugas kesehatan (dokter. Uji validitas instumen bertujuan untuk mengukur ketepatan suatu instrumen data (Polit & Beck 2012). ekspresi verbal. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) merupakan skala nyeri yang terdiri dari enam parameter pengkajian..62 kelamin. posisi badan. 4. FIK UI. Data Nyeri Nyeri diukur dengan mengunakan kuesioner Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS).6. yaitu tangisan. dan posisi kaki.2. ekspresi verbal 0-2. 4. sentuhan 1-2 dan posisi kaki 1-2.

Reliability diantara pengambil data juga harus menggunakan pengukuran inter-observer reliability. dilakukan dengan Pada penelitan ini peneliti melakukan uji inter-observer reliability menggunakan jenis uji skala numerik. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI... Reliabilitas adalah skor konsistensi dari suatu pengukuran.80 maka dianggap terdapat kesepakatan yang kuat/sempurna diantara peneliti dan numerator secara signifikan (Polit & Beck. Uji interobserver reliability direncakan dilakukan antara peneliti dan 2 orang asisten peneliti (numerator). Pengujian inter-observer reliability untuk data numerik dapat menggunakan uji inter-reliability Pearson’s coefficient correlation for two judge.514 dengan tingkat kepercayaan 95% hasil tersebut menunjukkan bahwa instrumen CHEOPS valid. Relibilitas dipengaruhi oleh random error yang bersumber dari variasi observer. 2011). variasi subyek dan variasi instrumen. Hasil cronbach’s alfa 0.894.. Hasil uji validitas konten instrumen CHEOPS diperoleh nilai. 2008). taraf signifikan r product moment dengan jumlah responden 15 adalah 0. Reliabilitas juga dapat didefinisikan sebagai derajat suatu pengukuran bebas dari random error sehingga menghasilkan suatu pemikiran yang konsisten (Dharma. 2013 .63 dilakukan pada 15 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi yang memiliki karakteristik hampir sama dengan responden penelitian dan dilakukan di tempat yang berbeda yaitu di RS Swasta Kota Cirebon. Peneliti telah melakukan proses back translation pada Instrumen CHEOPS dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia setelah diterjemahkan hasil terjemahan berbahasa Indonesia diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris. penghitungan reliability yang berarti terdapat diperoleh nilai kesepakatan yang kuat/sempurna diantara numerator secara signifikan. Reliabilitas menunjukkan apakah pengukuran menghasilkan data yang konsisten jika instrumen digunakan kembali secara berulang. Jika p value kurang dari alpa () maka koefisien reliabilitas (r) lebih dari 0. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

1.8. 2013 . ada beberapa tahap yang peneliti lalui : 4. b. 4. Persiapan a.. Hasil telaahan pembimbing instrumen CHEOPS dapat digunakan saat penelitian. c. Hal tersebut bertujuan agar instrumen yang digunakan dalam penelitian sesuai dengan instrumen asli yang sebenarnya. FIK UI. Setelah penelitian dinyatakan lulus uji etik dari Komite Etik Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia. Madu yang diberikan untuk usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml. Kemudian instrumen tersebut ditelaah oleh pembimbing untuk menjamin bahwa alih bahasa yang dibuat oleh peneliti sudah sesuai dengan instrument dan digunakan pada saat penelitian. Cara dan dosis: a. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Intervensi yang Dilakukan Responden pada kelompok intervensi emdapatkan madu dengan konsentrasi 50% dan pada kelompok kontrol diberikan air putih (plasebo). peneliti melakukan pengurusan ijin penelitian dan kaji etika penelitian. Prosedur administrasi Tahap persiapan penelitian.9. Peneliti mencampurkan madu dan air aqua dengan perbandingan 1:1. sehingga menghasilkan konsentrasi madu 50%. Pelaksanaan pemberian madu pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada kelompok kontrol diberikan peroral dilakukan oleh asisten teknis peneliti.64 oleh peneliti di review dengan kualifikasi tiga orang sarjana terdiri dari perawat dan guru bahasa Inggris yang salah satunya mengajar di pendidikan bahasa Inggris di English Study Centre. 4. Madu yang diberikan madu PERHUTANI jenis multiflora. Pemberian madu berdasarkan dosis pemberian obat pada anak-anak (menggunakan rumus Young). Pemberian plasebo jumlah yang diberikan pada anak sama dengan jumlah ml pada madu.. Prosedur Pengumpulan Data Sebelum melakukan pengumpulan data. Ayu Yuliani Sekriptini.9..

jumlah madu yang diberikan dan bagaimana cara pemberiannya kepada calon asisten teknis peneliti. cara pemberian madu. b. Prosedur Teknis Pada tahap persiapan penelitian. Uji inter-observer reliability dilakukan oleh dua atau lebih observer dengan cara melakukan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. perekaman video dilakukan oleh peneliti sendiri. prosedur pelaksanaan. peneliti mengajarkan kepada perawat pelaksana teknis penelitian cara pengisian data responden.. peneliti menjelaskan proses pemberian madu. dan perawat ruangan yang bertugas di ruangan tempat penelitian. Sosialisasi dilakukan pada tanggal 14 November 2012 di RSUD Gunung Jati dan tanggal 8 Desember 2012 di RSUD Arjawinagun Kota Cirebon.. 2013 .65 selanjutnya surat tersebut disampaikan pada Badan Penelitian Komisi Etik Penelitian dan Direktur RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. kemudian peneliti memilih perawat yang dilibatkan sebagai asisten teknis penelitian ini dengan pertimbangan dari Kepala Ruangan Unit Gawat Darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. banyaknya madu yang akan diberikan. Ayu Yuliani Sekriptini. dan manfaat penelitian. Setelah perawat pelaksana teknis penelitian dipilih sesuai dengan kriteria yang ditentukan. peneliti terlebih dahulu melakukan sosialisasi rencana penelitian ke dokter.. dan dua dengan latar belakang pendidikan magister keperawatan menjadi asisten penelitian untuk menilai skor nyeri pada hasil rekaman video. FIK UI. kepala ruangan. Peneliti melibatkan delapan orang perawat untuk menjadi pelaksana teknis pengambilan darah saat penelitian dengan latar belakang D III perawatan. Sosialisasi ini bertujuan untuk menjelaskan tujuan. Peneliti melakukan persamaan persepsi instrumen skor nyeri CHOEPS dengan asisten peneliti dengan melakukan pengukuran inter-observer reliability diantara pengambil data.

manfaat. Peneliti memberikan kesempatan calon responden dan keluarga untuk bertanya. Orang tua kelompok intervensi diberi penjelasan mengenai alasan pemberian. Pada orang tua kelompok kontrol diberikan penjelasan alasan pemberian plasebo (air). c.9. dan cara pemberian madu. Peneliti dan asisten teknis peneliti melakukan pengambilan data dengan mengisi lembar kuesioner karateristik responden dengan merujuk pada catatan medis responden. serta hak dan kewajiban menjadi responden. selanjutnya meminta kesediaan calon responden untuk berpartisipasi setelah mendapatkan penjelasan tentang maksud. Peneliti dan asisten tehknik peneliti memilih responden yang memenuhi kriteria inklusi untuk dijadikan responden. prosedur penelitian. b. serta pemberian madu setelah tindakan pengambilan darah. Pengambilan responden kelompok kontrol di RSUD Gunung Jati dan responden kelompok intervensi di RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. Ayu Yuliani Sekriptini. kegunaan. 2013 . 2012)..894. FIK UI.66 pengukuran suatu kejadian secara simultan dan kemudian masingmasing observer mencatat parameter kejadian tersebut sesuai koding pada instrumen secara independen (Polit & Back. tujuan. sebelumnya peneliti dan asisten teknis peneliti mengukur dan mencatat tanda vital (denyut nadi) pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol 5 menit sebelum pengambilan darah.. Pengujian ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan asumsi antar pengambil data. Penghitungan denyut nadi sebelum dan sesudah Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. sehingga semua pengambilan data memilki interpretasi yang sama terhadap parameter yang akan diobservasi.2. Hasil uji Uji inter-observer reliability diperoleh nilai cronbach’s alfa 0. d. Pelaksanaan Tahap pelaksanaan penelitian ini melalui tahap-tahap sebagai berikut : a. 4. yang berarti terdapat kesepakatan yang kuat/sempurna diantara numerator secara signifikan. Bagi calon responden yang bersedia diminta menandatangani lembar persetujuan..

sebelum dilakukan pengulangan penusukan responden diistirahatkan dulu selama 5 menit kemudian dilakukan pemberian ulang madu pada kelompok intervensi dan plasebo pada kelompok kontrol 2 menit sebelum pengambilan darah dengan terlebih dahulu diukur kembali denyut nadi responden. Hasil rekaman video di berikan kepada asisten peneliti. Jika pengambilan darah tidak berhasil pada responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. kemudian direkam ulang kembali.67 pengambilan darah hanya untuk mengetahui respon fisiologis nyeri bukan untuk dianalis. saat setelah penusukan peneliti melakukan perekaman video. Ayu Yuliani Sekriptini. h. Peneliti dan asisten teknis peneliti memberikan madu peroral 2 menit dengan menggunakan gelas kecil sebelum dilakukan tindakan invasif pengambilan darah. Pada penelitian ini tidak ditemukan responden yang drop out.. kemudian dilakukan penilaian terhadap skor nyeri. FIK UI. jika pengulangan pengambilan darah dilakukan kurang dari 5 menit responden dianggap drop out tidak dijadikan responden penelitian.. Peneliti dan asisten teknis peneliti mengucapkan terimakasih pada orang tua dan responden dari kelompok kontrol dan kelompok intervensi atas keterlibatan dalam penelitian ini. kemudian kelompok kontrol diberi madu sesuai dengan takaran yang telah ditentukan. Pada kelompok kontrol melakukan hal yang sama dengan memberikan plasebo (air) peroral dengan menggunakan gelas kecil 2 menit sebelum tindakan invasif pengambilan darah dilakukan dan saat setelah penusukan peneliti penelitian melakukan perekaman dengan menggunakan video dan mengukur kembali denyut nadi kelompok kontrol setelah intervensi pengambilan darah. respon yang muncul pada anak saat penusukan jarum dan kemudian mengukur kembali denyut nadi setelah intervensi pengambilan darah. f. g. 2013 . e. i.

10.4.10. 2013 .10.5.1. FIK UI.. Editing Editing data dilakukan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sudah lengkap. Coding Memberi kode pada setiap variabel untuk mempermudah peneliti dalam melakukan analisis dan tabulasi data yaitu memberikan kode untuk nama responden. Ayu Yuliani Sekriptini. 4. kelompok kontrol dengan kode 0.. dan kelompok intervensi dengan kode 1. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 4. meliputi: kebenaran tentang pengisian dan kelengkapan jawaban lembar pengkajian. Tabulating Data dikelompokkan menurut katagori yang telah ditentukan dan selanjutnya data ditabulasi dengan menggunakan program statistik dalam computer. 4. Pengolahan Data Sebelum menganalisis data yang telah terkumpul. Peneliti mengoreksi data yang telah diperoleh.10. Cleaning Merupakan proses akhir dalam pengolahan data. Processing Merupakan suatu proses memasukkan data ke dalam komputer untuk selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan program statistik dalam komputer.10.68 4.3.. 4. Data dimasukkan sesuai nomor responden pada kuesioner dan nomor pada lembar observasi dan jawaban responden diajukan ke dalam komputer dalam bentuk angka sesuai dengan skor jawaban yang telah ditentukan ketika melakukan koding.10. dilakukan hal-hal sebagai berikut : 4.2. dengan melakukan pemeriksaan kembali data yang sudah di entry data untuk melihat ada tidaknya kesalahan dalam entry data.

Ayu Yuliani Sekriptini. jenis kelamin.69 4.. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara kedua variabel.11.11.1.. Uji yang dipergunakan adalah uji beda 2 mean independen (independent sample t test). Prosedur Analisis Data Data dianalisis dalam bentuk analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik usia. FIK UI. Pada penelitian ini uji bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. pengalaman responden dalam prosedur pengambilan darah sebelumnya. Hasil analisis data berupa distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel termasuk mean. serta skor nyeri responden.2. Tabel 4.. Pada analisis univariat. 2007). disajikan dalam distribusi frekuensi dan prosentase atau proporsi. 4.2. dan variabel terikat. median. dan standar deviasi. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan terhadap karakteristik responden. Uji Statistik Variabel independen Pemberian madu Skala Variabel dependen Skala Uji Statistik Kategorik Skor nyeri Numerik Uji T Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. yaitu uji statistik untuk mengetahui beda mean pada dua kelompok data independen (Hastono.11. yaitu sebagai berikut : 4. tindakan pemberian madu yang diberikan. variabel bebas. 2013 . Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk membuktikan hipotesa yang telah dirumuskan yaitu apakah ada perbedaan rata-rata skor nyeri antara pasien anak dengan pemberian madu (kelompok intervensi) dengan yang diberi placebo (air putih) (kelompok kontrol) dan apakah ada selisih perbedaan skor nyeri yang bermakna terhadap kedua kelompok tersebut. kehadiran keluarga selama prosedur pengambilan darah.

.70 Variabel Skala independen Variabel konfonding Usia Kategorik Jenis kelamin Kategorik Pengalaman Kategorik sebelumnya Pendampingan Kategorik orang tua Variabel dependen Skala Uji Statistik Skor nyeri Skor nyeri Skor nyeri Numerik Numerik Numerik Uji T Uji T Uji T Skor nyeri Numerik Uji T Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. 2013 ...

. uji hipotesis dan penyajian hal-hal lain yang akan diuraikan dalam bab ini. 2013 . 5.BAB 5 HASIL PENELITIAN Bab ini secara khusus menyajikan dan menjelaskan hasil penelitian dan analisis data.1. Data deskriptif. median. Karakteristik Responden Karakteritik pada reponden penelitian ini meliputi usia. 5. FIK UI. berikut ini. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi yang didasarkan pada hasil analisis univariat dan bivariat. jenis kelamin. jenis kelamin. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 27 November – 24 Desember 2012 dengan total sampel 34 responden sebagai kelompok kontrol dan 34 sebagai kelompok intervensi.. dan pengalaman pengambilan darah serta menggambarkan rata-rata. 71 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dan pengalaman pengambilan darah. dapat dilihat pada tabel 5. nilai terendah dan tertinggi tingkat nyeri kelompok kontrol dan intervensi.1. kehadiran keluarga. Analisis Univariat Hasil analisis univariat menggambarkan karakteristik responden berdasarkan usia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian madu terhadap menurunan skor nyeri pada anak.1. kehadiran keluarga.1. Penelitian ini dilakukan di dua rumah sakit di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. Ayu Yuliani Sekriptini. standar deviasi..

dan pengalaman pengambilan darah di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Usia 1 – 3 tahun >3 – 6 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pengalaman sebelumnya Ada riwayat Pertaman kali Kehadiran orang tua Hadir Tidak hadir Kontrol (n=34) F % Intervensi (n=34) F % 17 17 50 50 17 17 18 16 52. FIK UI.9 47. jenis kelamin.9%) dan karakteristik jenis kelamin kelompok kontrol memiliki jumlah yang sama (50%).2 8.. Dilihat dari karakteristik kehadiran orang tua secara keseluruhan kelompok intervensi (97.1 2.9 44.9%).5 48.8 33 1 97. Ayu Yuliani Sekriptini.1 36 32 52. Berdasarkan karakteristik jenis kelamin kelompok intervensi sebagian besar memikili jenis kelamin laki-laki (52.1%) dan kelompok kontrol (91.9 64 4 94.9 Total f % 50 50 34 34 50 50 50 50 35 33 51.1 diatas.2%) didampingi oleh orang tua selama proses pengambilan darah. 2013 .72 Tabel 5.1 Distribusi responden berdasarkan usia.5 Hasil tabel 5.. menunjukkan bahwa jumlah karakteristik usia toddlers dan prasekolah untuk masing-masing responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol memiliki jumlah yang sama (50%).1 17 17 17 17 50 50 19 15 55.9 47. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Dilihat dari karakteristik pengalaman sebelumnya kelompok intervensi memiliki jumlah yang sama (50%) dan pada kelompok kontrol sebagian besar memiliki riwayat diambil darah sebelumnya (55..1 31 3 91.1 5. kehadiran keluarga.

20-9. FIK UI.2 Distribusi skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Kelompok Skor Nyeri Madu Plasebo Mean Median n 8. Uji homogenitas dilakukan dengan uji beda proporsi menggunakan Uji F.49 dan diyakini rata-rata skor nyeri pada kelompok plasebo berada diantara 9.5 34 34 8 11 MininalMaksimal 5-13 6-13 95% CI 8. 5.78 sampai dengan 11. Dari estimasi diyakini bahwa rata-rata skor nyeri kelompok madu berada diantara 8.8 10. Ayu Yuliani Sekriptini.. Uji Kesetaraan (Homogenity) Uji Homogenitas bertujuan untuk membuktikan bahwa perubahan skor nyeri yang terjadi bukan karena variasi responden tetapi karena pengaruh dari pemberian madu dalam tindakan pengambilan darah.3 berikut ini: Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.8 dengan skor nyeri terendah adalah 5 dan skor tertinggi adalah 13. Berikut ini disajikan hasil uji kesetaraan pada variabel jenis kelamin.33. Skor Nyeri Kelompok Madu dan Kelompok Plasebo Skor nyeri responden yang dinilai dengan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHOEPS) ditunjukkan pada tabel 5.73 5. Sedangkan rata-rata skor nyeri pada kelompok kontrol adalah 11 dengan skor nyeri terendah 6 dan skor tertinggi 13.2.20 sampai dengan 9. 2013 .49 9.78-11.2 diperoleh rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi adalah 8. usia.2 berikut ini: Tabel 5..2.33 Hasil analisis tabel 5. pengalaman nyeri sebelumnya dan kehadiran orang tua pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dapat dilihat pada tabel 5..1.

9 44.00 17 17 50 50 19 15 55.1 0.9 0.5 8 11 SD n 1.1 17 17 17 17 50 50 17 17 50 50 1.. usia.8 33 1 97. Analisis Bivariat 5.1 2. 5.9 47.74 Tabel 5.88 31 3 91.8 2.3. 2013 . usia.2 34 34 MininalMaksimal 5-13 6-13 p value 0. Perbedaan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol Tabel 5.61 50 50 p value 1.2 8. FIK UI.00 Hasil uji homogenitas diperoleh hasil bahwa berdasarkan karakteristik jenis kelamin. pengalaman sebelumnya dan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 No Variabel 1 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Usia 1–3 >3 – 6 Pengalaman sebelumnya Pernah Tidak pernah Kehadiran orang tua Hadir Tidak hadir 2 3 4 Kontrol (n=34) F % Intervensi (n=34) F % 18 16 52.05.. pengalaman nyeri sebelumnya dan karakteristik kehadiran keluarga pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi memiliki varian sama dengan nilai p value > 0.001 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.1.3.4 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri pada anak kelompok intervensi dan kelompok kontrol di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Skor Nyeri Kelompok Mean Median Madu Plasebo 8..8 10. Ayu Yuliani Sekriptini.3 Uji homogenitas data responden berdasarkan jenis kelamin.

001). Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri usia toddlers antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sedangkan rata-rata skor nyeri pada usia prasekolah tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.75 Hasil analisis tabel 5.5 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan usia anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Usia Toddlers Prasekolah n 17 17 Skor Nyeri Madu Plasebo 9.05.4 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8. Tabel 5. (p value 0.. Hasil menunjukkan rata-rata skor nyeri kelompok intervensi lebih rendah dari pada rata-rata kelompok kontrol.5.5 9. Ayu Yuliani Sekriptini.7 p value 0.2 ( p value 0.5. 2013 .1 11.. 5.7.140 Hasil analisis tabel 5.001 dengan  < 0.5 8.5 dengan standar deviasi 2. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan rata-rata skor nyeri pada kelompok kontrol saat prosedur pengambilan darah.2. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak.140).8 dengan standar deviasi 1. FIK UI.002* 0. kelompok (p value 0.1 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 11. a.002) sedangkan pada usia prasekolah untuk intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik usia responden.. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 9.8 dan rata-rata skor nyeri kelompok kontrol sebesar 10. p value 0. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.5 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada karakterisik anak usia toddlers untuk kelompok intervensi memiliki ratarata skor nyeri sebesar 9.3.

8 8.7 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada responden yang pernah mengalami nyeri sebelumnya untuk kelompok Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.7. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.5 10.7 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Pengalaman nyeri Pernah Tidak pernah n 36 32 Skor Nyeri Madu Plasebo 9.045) sedangkan pada jenis kelamin perempuan untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8. (p value 0.3 p value 0. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.029* Hasil analisis tabel 5..002). Tabel 5..1. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya.5 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.7 8.6 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Jenis kelamin Laki-laki Perempuan n 35 33 Skor Nyeri Madu Plasebo 9.002* Hasil analisis tabel 5.2 p value 0. Tabel 5. c.76 b..3 (p value 0. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik jenis kelamin responden. 2013 .6 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada karakterisik jenis kelamin laki-laki untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 9.045* 0.5 10.1 10.016* 0. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri laki-laki dan perempuan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.1 10.

8 7 7.9 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.000 Hasil analisis tabel 5.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. d.7. (p value 1.000) sedangkan orang tua yang tidak hadir untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 7 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 7.8 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Kehadiran orang tua n Hadir Tidak hadir 64 4 Skor Nyeri Madu Plasebo 8.2 (p value 0.9 10. 2013 . dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. (p value 0. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri memiliki pengalaman nyeri sebelumnya dan yang tidak memiliki pengalaman antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.7 p value 0.77 intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 9..000). Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri pada kelompok yang dihadir orang tua antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sedangkan rata-rata skor nyeri pada kelompok yang tidak dihadiri orang tua tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.1 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.8..016) sedangkan pada responden yang belum memiliki penalaman nyeri untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.8 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada kehadiran orang tua untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8. Ayu Yuliani Sekriptini.029).8.5.000* 1. Tabel 5. (p value 0. FIK UI. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua.

Pembahasan diawali dengan interpretasi dan diskusi hasil penelitian mengenai karakteristik responden yang meliputi jenis kelamin. pengalaman nyeri sebelumnya dan kehadiran orang tua.. menyebutkan pemberian madu di atas usia 1 tahun.78 BAB 6 PEMBAHASAN Bab ini akan menjelaskan tentang pembahasan dan diskusi hasil penelitian ini.. FIK UI. 6. perbandingan hasil penelitian dengan hasil penelitian sebelumnya atau dengan teori-teori yang mendukung dan berlawanan dengan temuan penelitian ini. Ayu Yuliani Sekriptini. Dari Hasil analisis perbedaan rata-rata skor nyeri pada usia anak. Interpretasi dan Diskusi Hasil Penelitian ini bertujuan menidentifikasi gamabran karakteristik responden. Pemilihan usia responden pemberian madu berdasarkan rekomendasi Badan Madu Nasional (The National Honey Board). usia. karena mencegah terjadinya keracunan botulismus dari bakteri clostridium botulinum. Pada bagian berikutnya akan dibahas hasil uji beda rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah intervensi pada tiap kelompok dan perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan karakteristik anak. 2013 . Pembahasan dan diskusi hasil penelitian selengkapnya akan diperjelas sebagai berikut: 6. peneliti mendapatkan bahwa rata-rata skor nyeri ini menunjukkan ada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Karakteristik Responden dan Hubungan Karakteristik dengan Skor Nyeri a. Bagian akhir dari bab ini akan membahas keterbatasan penelitian dan implikasi serta tindak lanjut hasil penelitian yang dapat diterapkan dan diaplikasikan pada praktik keperawatan dalam rangka meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien anak yang mengalami nyeri karena tindakan invasif pengambilan darah. Usia Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa usia responden pada penelitian ini 1-6 tahun berada pada rentang usia 1-3 (toddler) dan >36 (prasekolah).1.1. perbedaan skor nyeri anak saat pengambilan darah intravena.1..

.5 dan kelompok kontrol 9. Penelitian Young (2005) menjelaskan bahwa anak yang usianya lebih muda merasakan nyeri yang lebih besar dan memilki toleransi nyeri rendah daripada usia yang lebih tua.140). FIK UI. 2010). sementara pada usia prasekolah tidak ada perbedaan yang signifikan (p value 0. Hal ini didukung oleh penelitian Brusch dan Zelter (2004) bahwasannya respon nyeri pada anak terhadap prosedur tindakan tertentu ditentukan oleh tingkatan usia.5) dibandingkann skor nyeri usia prasekolah (kelopok intervensi 8. Toleransi terhadap nyeri akan terus meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Kenneth et al. Hasil uji statistik karakteristik usia menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri pada responden usia toddler (p value 0. Penilaian skor nyeri menggunakan skala nyeri CHEOPS. Usia toddler menunjukkan adanya respon nyeri dengan indikator verbal dan perubahan aktifitas perilaku yang berlebih dibandingkan anak usia pra sekolah. dan Rakhmawati (2003) menyatakan bahwa terdapat perbedaan respon nyeri yang signifikan baik untuk kelompok toddler dan anak usia prasekolah dilakukan pemasangan infus. Ayu Yuliani Sekriptini.. Hasil penelitian kelompok toddler dan anak usia prasekolah menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna. Perbedaan tingkat usia dan perkembangan yang ditemukan antara kelompok usia ini dapat mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap nyeri (Daniela et al. (2006) dalam penelitiannnya menjelaskan bahwa perkembangan usia anak mempengaruhi makna nyeri dan ekspresi yang dimunculkan..79 perbedaan skor nyeri pada tingkat usia.002). semakin bertambah Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Hasil penelitian Mediani.1 dan kelompok kontrol 11. usia toddler belum mampu mengendalikan respon nyeri dibandingkan kelompok usia usia prasekolah. 2013 . Mardhiyah.7).. skor nyeri usia toddler lebih tinggi (kelopok intervensi 9.

jenis kelamin responden seimbang antara laki-laki dan perempuan (50%). Pada usia toddler respon nyeri yang dimunculkan lebih ekspresif di bandingkan dengan usai prasekolah dimana usia toddler masih belum mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang dirasakan karena keterbatasan kosakata dan reason motorik yang muncul anak toddler baru mampu mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri pengalaman nyeri dan sedangkan usia prsekolah telah meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri dan anak mampu mendorong hal yang menyebabkan nyeri.. sedangkan pada kelompok intervensi.80 usia anak maka makin bertambah pemahaman tentang nyeri dan usaha untuk pencegahan terhadap nyeri. Pernyataan tersebut didukung oleh konsep teori Hockenberry dan Wilson. Dari hasil analisis antara jenis kelamin dengan skor nyeri pada saat pengambilan darah. lebih banyak daripada perempuan. (2007) menyebutan bahwa respon nyeri pada anak berubah sejalan dengan pertambahan usia. Peneliti berasumsi bahwa hal ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan kelompok usia anak yang diteliti. 2013 . FIK UI. tetapi berdasarkan hasil uji statistik karakteristik jenis kelamin menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri pada kerakeristik jenis kelamin laki-laki dan perempuan (laki-laki p value 0. peneliti mendapatkan bahwa skor nyeri pada kelompok intervensi laki-laki sedikit lebih tinggi dari pada perempuan sedangkan pada kelompok kontrol skor nyeri antara laki-laki dan perempuan hampir sama.045 dan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Dari total sampel secara keseluruhan... diperoleh bahwa reponden jenis kelamin laki-laki. Ayu Yuliani Sekriptini. Jenis Kelamin Hasil penelitian menunjukkan menunjukkan bahwa sebagain besar responden pada kelompok kontrol berjenis kelamin laki-laki (52.9%). b.

Penelitian McGrath & Howard (2003) antara anak laki-laki dan perempuan menjelaskan perbedaan tidak terlalu berpengaruh terhadap respon nyeri. 2013 . Penelitian ini menghubungkan neurotrasmiter opioid endogen.. (2002) berpendapat berbeda sebaliknya. Terkait dengan hal tersebut. Guinsburg et al.. dan kondisi situasional yang mempengaruhi dan bagaimana anak menanggapi nyeri. hasil penelitian menyebutkan tidak ada perbedaan yang signifikan ekspresi nyeri antara laki-laki dan perempuan.81 perempuan p value 0. pengalaman ekspresi.. Ayu Yuliani Sekriptini. Wanita mengalami perubahan hormon progesteron dan estrogen saat menstruasi yang dapat mempengaruhi opiod endogen pada wanita. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI. ditemukan bahwa opiod endogen laki-laki lebih tinggi dari pada opiod endogen pada perempuan. Peneliti berasumsi bahwa hal ini tidak terjadi pada penelitian ini karena perbedaan usia responden. dalam penelian tersebut lebih menjelaskan perbedaan jenis kelamin hanya karena sensitivitas. Hal ini didukung oleh pendapat Potter dan Perry (2005) menjelaskan bahwa toleransi terhadap nyeri dipengaruhi faktor-faktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap individu tanpa memperhatikan jenis kelamin.. dan Lohaus (2012) menjelaskan toleransi nyeri perempuan dan laki-laki sama dan akan berkembang pada usia pubertas. Vierhaus. (2000) melakukan penelitian tentang perbedaan dalam ekspresi nyeri antara bayi baru lahir laki-laki dan perempuan saat dilakukan penusukan tumit. hasil penelitian Schmitz. hal ini disebabkan adanya perbedaan hormon antara lakilaki dan perempuan.002) pada kelompok internesi dan kelompok kontrol. Penelitian Zuibieta et al. Perbedaan jenis kelamin sangat mempengaruhi nyeri..

.016 dan tidak pernah p value 0. didapatkan bahwa ada perbedaan yang bermakna pada yang tidak pernah mengalami nyeri sebelumnya dan yang pernah mengalami nyeri sebelemnya (pernah p value 0. Pengalaman Nyeri Sebelumnya Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada kelompok intervensi memiliki pengalaman nyeri sebelumnya (55. peneliti mengasumsikan pengalaman sebelumnya berhubungan dengan usia responden dimana usia responden berada pada rentang usia toddler dan prasekolah. Ayu Yuliani Sekriptini. Usia tersebut merupakan usia sangat rentan terhadap krisis penyakit dan hospitalisasi (Hockenberry & Wilson. Hal ini menujukkan bahwa hampir sebagian responden memiliki pengalaman nyeri sebelumnya. Dilihat dari uji statisik rata-rata skor nyeri terhadap pengalaman nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.029). Terkait hasil penelitian Smeltzer dan Bare (2001) mengatakan bahwa pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang tentang nyeri.82 c.. 2013 . diperoleh bahwa reponden dengan pengalaman sebelumnya lebih banyak dari pada yang baru pertama kali. Penelitian Noel et al. pengalaman Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Dari total sampel keseluruhan. (2012). Responden dengan anak yang mempunyai pengalaman operasi dan pernah dilakukan venipuncture. melakukan penelitian pengaruh pengalaman anak-anak untuk stimulus nyeri baru pada pengalaman nyeri berikutnya. sedangkan pada kelompok kontrol pengalaman nyeri sebelumnya seimbang antara yang pernah dan yang pertama kali (50%).9%).. dimana pengalarnan individu dengan nyeri yang dialami sebelumnya akan menyebabkan perasaan takut pada individu ketika menghadapi peristiwa menyakitkan berikutnya.. Riwayat sakit atau hospitalisasi sebelumnya dimungkinan dapat menyebabkan adanya pengalaman nyeri sebelumnya pada anak. 2007). FIK UI.

83 nyeri minimal 1 tahun yang lalu. FIK UI. Hasil menunjukkan pengalaman nyeri sebelumnya pada anak-anak berhubungan dengan rasa takut dari waktu ke waktu akan mempengaruhi pengalaman nyeri yang baru. kemudian dilakukan wawancara pengalaman nyeri yang pernah dialami. Kehadiran anggota keluarga mampu memberikan dukungan dan kenyamanan pada anak. Hasil penelitian nyebutkan rata-rata skor nyeri pada anak yang didampingi oleh orang tua lebih rendah dari pada yang didampingi oleh petugas kesehatan. dan kelompok kontrol (91. Dengan kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. et al. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri dengan kehadiran orang tua (p value 0. sehingga anak merasa lebih tenang dan nyeri berkurang..000) sementara tidak ada perbedaan yang signifikan pada ketidakhadiran orang tua (p value 1. bantuan atau perlindungan. Hal ini didukung konsep teori Potter dan Perry (2005) menyebutkan kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang mengalami nyeri. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran orang tua pada saat anak mengalami hospitalisasi memegang peranan penting. (2011) menjelaskan kehadiran keluarga sangat mempengaruhi respon nyeri pada anak. Kehadiran Orang Tua Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi (97. d. dan diobservasi ekspresi wajah yang muncul pada anak saat dilakukan wawancara..2%) hampir seluruh responden didampingi oleh orang tua. Hockenberry dan Wilson (2007) menjelaskan bahwa kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang mengalami nyeri.1%). Ayu Yuliani Sekriptini.000). Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga untuk memperoleh dukungan. 2013 . Penelitian Ozcetin..

sosiokultural. pelibatan orangtua dapat memenuhi kebutuhan rasa nyaman psikososial dan sekaligus kenyamanan lingkungan bagi anak. 2013 . bukan merupakan orang asing bagi anak. Hal ini sesuai dengan penerapan prinsip asuhan berpusat pada keluarga dan aplikasi comfort theory pada keperawatan anak.84 orangtua memiliki pengaruh efek yang positif pada toleransi nyeri anak.8 dan kelompok kontrol 8. Saat dilakukan tindakan pengambilan darah responden mampu menerima penjelasan yang diberikan dan bersedia didampingi oleh perawat. Dalam hal ini sesuai dengan konsep Hockenberry dan Wilson (2007) pada usia prasekolah kemapuan kognitif dan komunikasi anak sudah mulai berkembang dengan baik dan mulai mampu menerima penjelasan dari orang tua atau petugas kesehatan. sehingga dapat menurunkan kecemasan dan memberi dampak positf terhadap pemenuhan kenyamanan fisik bagi anak (Kolcaba & Dimarco. dan lingkungan). 2005). Penilaian skor nyeri menggunakan Wong-Baker FACES. Aplikasi comfort theory Kolcaba (2003) menyebutkan bahwa tahap perkembangan dan kehadiran orang tua merupakan interventing variabel yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk mencapai rasa nyaman pada semua aspek (kenyamanan fisik. Ayu Yuliani Sekriptini. Hal ini disebabkan karena responden yang tidak dihadiri orang tua pada rentang usia prasekolah (2 orang berusia 5 tahun dan 2 orang berusia 6 tahun). karena orangtua merupakan individu yang dikenal. psikospiritual.. Dari jumlah seluruh responden ada 4 responden tidak didampingi oleh orang tua dengan rata-rata skor nyeri lebih tingggi (skor nyeri kelompok intervensi 7 dan skor nyeri kelompok kontrol 7...9). FIK UI.7) dibandingkan responden yang didampingi orang tua (skor nyeri kelompok intervensi 10. Pemenuhan rasa nyaman yang adekuat pada semua aspek dengan tingkat relief hingga transcendence akan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

waktu menangis dan denyut jantung. Penelitian Gradin.. Penelitian lain tentang sukrosa yang dilakukan oleh Taddio et al. (2007) membandingkan pemberian sukrosa 44% 2 ml per oral dibandingkan dengan pemberian empeng (dot) pada bayi usia 0-6 bulan di ruang unit gawat darurat anak pada prosedur venipuncture. 2013 . and Consolability Pain Scale (FLACC). Penelitian Curtis el al. FIK UI. Penelitian tentang glukosa dijelaskan oleh Bauer et al. dan Schollin (2004) membandingkan efek mengurangi rasa sakit dari glukosa 30% per oral dengan pemberian ASI sesaat sebelum venipuncture pada bayi baru lahir. Finnstrom. Hasil penelitian skor nyeri pada kelompok glukosa secara signifikan lebih rendah dan durasi Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 6.2... (2004) bahwa pemberian larutan glukosa 30% sebanyak 2 ml dapat mengurangi respon nyeri pada bayi sebelum dilakukan pengambian sampel darah vena.85 mendorong pada penentuan intervensi berikutnya. Activity. Legs. Hasil penelitian menyebutkan sukrosa signifikan mengurangi skor nyeri. Cry. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu. penurunan kebutuhan akan tindakan medis yang lain dan peningkatan kepuasan anak dan keluarga... Hal ini dikarenakan pemberian rasa manis akan meningkatnya -endorfin pada kelenjar hypophyse yang dapat menginhibisi trasmisi nyeri. Penilaian skor nyeri menggunakan Face. Rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Penelitian ini menggambarkan terdapat perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi pada saat prosedur pengambilan darah dengan kelompok kontrol. kandungan glukosa dan sukrosa dalam madu kemungkinan dapat memberikan efek menyenangkan yang dapat menurunkan nyeri atau disebabkan oleh kandungan enzim flavonoid pada madu. Ayu Yuliani Sekriptini. (2010) menyebutkan bahwa sukrosa dapat meningkatkan kadar -endorfin sehingga dapat menurunkan respon nyeri.05). rasa manis pada madu. nilai p value 0..001 (<0.1.

Penilaian skor nyeri menggunakan Premature Bayi Pain Profile (PIPP). menyebutkan bahwa pemberian glukosa 30% sebanyak 3 ml.. Enzim cyklooxygenase (COX) adalah suatu enzim yang mengkatalisis sintesis prostaglandin dari asam arakhidonat. 2 menit sebelum suntikan subkutan dapat penurunan skor nyeri pada bayi. FIK UI. Penelitian lain tentang pemberian glukosa 30 % pada bayi dengan tindakan venipuncture di lakukan oleh Gradin.. Flavonoid memblok aksi dari enzim COX yang menurunkan produksi mediator prostaglandin. Hal ini disebabkan oleh efek analgesik glukosa diduga mampu menginhibisi trasmini nyeri setinggkat spinal dan pemberian glukosa per oral dapat merangsang -endorphin di hipotalamus. Penelitian tentang madu per oral sebagai analgesik dilakukan Goenarto. Eriksson. hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan flavonoid pada madu dapat menghilangkan rasa nyeri. (2009). Penilainan lamanya menangis dalam 3 menit pertama secara signifikan lebih rendah kelompok glukosa (median: 1 detik) daripada kelompok EMLA (median: 18 detik). prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptor-reseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin..7). Sedangkan penelitian Carbajal et al. serotonin yang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penilaian skor nyeri menggunakan Premature Bayi Pain Profile (PIPP). Holstein dan Schollin (2006) menunjukkan bahwa skor nyeri pada kelompok glukosa lebih rendah (rata-rata 4. 2013 .. Ayu Yuliani Sekriptini. Holmqvist. Hal ini dukung dengan penjelasan Almada (2000) bahwa flavonoid dapat mencegah produksi enzim cyklooxygenase (COX). et al (2011) pada tikus putih.86 menangis pendek dibandingkan dengan kelompok penerima ASI sesaat. flavonoid memiliki dua efek sebagai analgesia dan antiinflamasi.6) dibandingkan dengan kelompok EMLA (ratarata 5. Hasil penelitian menyebutkan bahwa glukosa efektif dalam mengurangi gejala yang berhubungan dengan rasa sakit dari venipuncture pada bayi baru lahir dan lebih baik daripada local anestesi krim EMLA.

tetapi pada minggu ke dua penelitian jumlah responden yang didapatkan belum memenuhi target yang ditentukan. 2013 ... Daniela et al. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 6. Aplikasi comfort theory dalam penanganan nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah pada anak dapat diuraikan bahwa aspek health care need yaitu anak memiliki kebutuhan rasa nyaman selama prosedur invasif dilakukan. Aspek nursing intervention yaitu pemberian intervensi non farmakologis berupa pemberian madu yang merupakan bagian intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman.. begitu juga dengan serotonin dan GABA (gama amino butiryc acid) yang berfungsi menurunkan sensasi nyeri. Ketersediaan madu di masing-masing rumah sakit belum ada. Ayu Yuliani Sekriptini. Keadaan ini dikenal sebagai sensitisasi perifer (Breivik. 2008. FIK UI. 2010).. Analisis peneliti.2. Rasa manis yang dapat merangsang neurotransmiter yang berperan dalam supresi nyeri dan mengeluarkan opiat endogen di kelenjar hipopyse seperti -endorpin. sehingga peneliti menambah tempat penelitian (RSUD Arjawinanun). kemungkinan disebabkan komposisi kimia madu mengandung glukosa (31%) dan sukrosa (1. Efek analgesik glukosa atau sukrosa ini diduga akibat pelepasan beta endorphin (merupakan hormon opiat endogen yang diproduksi sendiri oleh tubuh dan mirip sifatnya dengan morfin) dan mekanisme preabsorpsi dari rasa manis.Keterbatasan Penelitian Tempat sampel pada awalnya peneliti akan melakukan penelitian di satu rumah sakit (RSUD Gunung Jati). madu dapat menurunkan respon nyeri pada anak.31%) dan flavonoid.87 akan menimbulkan sensasi nyeri. Intervensi keperawatan sangat penting dalam mengurangi nyeri pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengabilan darah salah satunya adalah pemberian madu. sedangkan kandungan flavonoid pada madu memblok aksi dari enzim cyklooxygenase yang menghambat pelepasan subtansi prostaglandin.

Perhatian terhadap intervensi mudah yang dapat digunakan dalam mengurangi nyeri masih kurang tersosialisasi dengan baik bagi perawat dan orangtua. Respon nyeri yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan trauma pada anak yang berkepanjangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu intervensi mengurangi nyeri yang mudah dan murah. FIK UI. Selama ini implementasi mengurangi nyeri pada anak cenderung kurang diperhatikan..Implikasi Hasil Penelitian Pengambilan darah intra vena merupakan salah tindakan invasif yang meyebabkan nyeri pada anak. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu inovasi dalam asuhan keperawatan untuk mengurangi nyeri pada tindakan invasif lainnya. Penanganan nyeri pada anak dapat dilakukan dengan berbagai intervensi.. berbagai penelitian tidak menyarankan penggunaan obat-obatan tersebut dalam jangka waktu yang lama karena berisiko iritasi lambung. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Padahal berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa nyeri pada anak akan menyebabkan kualitas hidup anak terganggu. Madu juga merupakan zat yang sangat dikenal oleh keluarga dan mudah didapat. Pemberian asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat spesialis anak harus ilmiah dan inovatif.88 6.. dan kerusakan hepar serta alergi.3. ibuprofen dan lain-lain. tetapi terbukti efektif adalah tindakan pemberian madu per oral. sehingga diharapkan keadaan trauma pada anak dapat diminimalkan dan anak dapat hidup sejahtera dan berkualitas. 2013 . Perawat khususnya perawat spesialis anak bertanggung jawab untuk melakukan inovasi selama pemberian asuhan pada anak. Pencegahan atraumatik care merupakan tanggung jawab perawat spesialis anak bertanggung jawab untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dengan mencegah terjadinya nyeri pada anak. Ayu Yuliani Sekriptini. Selama ini digunakan berbagai macam obat analgesik untuk mengurangi nyeri pada anak seperti paracetamol.

. Ayu Yuliani Sekriptini.. mahasiswa keperawatan dan peneliti keperawatan harus bersama-sama mencari bukti-bukti ilmiah berdasarkan penelitian terkini terkait upaya meminimalisasi efek nyeri dan mengkaji serta menerapkannya dalam layanan keperawatan pada anak untuk meningkatkan kualitas hidup anak.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI.89 Penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lain untuk mendapatkan evidence based yang akan diterapkan dalam layanan keperawatan pada anak. Perawat khususnya perawat spesialis anak. 2013 .

b. Ada perbedaan yang berbeda pada rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan nilai p value 0..BAB 7 SIMPULAN DAN SARAN 7.1. Rata-rata skor nyeri pada kelompok anak yang diberikan madu saat dilakukan pengambilan darah adalah 8. sebagian besar berjenis kelamin lakilaki. didampingi oleh orang tua.2. Ada perbedaan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan karakteristik anak khususnya karakteristik usia dan kehadiran orang tua.001.1 Pelayanan keperawatan dan institusi rumah sakit a. 2013 . Saran 7. 7. 90 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. b. dan memiliki pengalaman nyeri sebelumnya.5.. Usia responden ada pada rentang 1-3 tahun (toddler) dan >3-6 tahun (preschool) dengan proporsi sama.8 dan rata-rata skor nyeri pada kelompok anak yang diberi plasebo saat dilakukan pengambilan darah adalah 10. FIK UI. Mengembangkan program seminar dan pelatihan terkait tentang terapi nonfarmakologi yang dapat diterapkan pada anak sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya. d. Mempertimbangkan hasil penelitian sebagai acuan dalam terapi nonfarmakologi pada anak yang mendapatkan tindakan invasif untuk meminimalkan nyeri. c. Ayu Yuliani Sekriptini. yang digunakan sebagai manajemen nyeri. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh madu untuk mengurangi nyeri pada anak saat diberikan tindakan invasif pengambilan darah di RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon dapat disimpulkan sebagai berikut : a.2..

2. c. Memasukkan materi tentang tehnik-tehnik nonfarmakologis dari hasi penelitian yang telah banyak diujicobakan dan dapat diterapkan dalam menejemen nyeri akibat tindakan infavif pada anak.91 c. terhadap nyeri kronik. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.2.. pemasangan infus. melalui seminar. Membangun hubungan dan kerjasama yang baik dengan institusi pelayanan kesehatan untuk mengembangkan peenerapan hasil penelitian terkai tindakan mandiri perawat dalam manajemen nyeri akibat tindakan invasif. b. Mensosialisasikan informasi dan pengetahuan tentang tehnik nonfarmakologis yang efektif dalam menejemen nyeri akibat tindakan invasif pada anak. b. 7. dan lain-lain.2. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh madu pada kelompok usia tertentu. Perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengatahui efektivitas madu peroral terhadap prosedur invasif minor lain seperti injeksi intramuscular. Penelitian Selanjutnya a. 2013 .. Menerapkan tehnik-tehnik nonfarmakologis dalam manajemen nyeri akibat indakan invasif pada anak disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak 7. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh madu terhadap respon nyeri pada anak dengan usia yang sama atau berbeda dengan jumlah sampel yang lebih banyak. Bagi ilmu Keperawatan a.3.. tempat penelitian yang berbeda dan istrumen skor nyeri yang berbeda. dalam kurikulum pendidikan sarjana keperawatan dan magister keperawatan. c. FIK UI. injeksi sub cutan. symposium dan konferensi keperawatan. Ayu Yuliani Sekriptini.

_________________. & Gorelick. http://pediatrics. Taub. American Pain Society. Prevention and management of pain and stress in the neonate.F.. (2003). L. C. 52-58.. (2000). 117(5). Pain assessment and treatment in the managed care environment.com/pain. American Pain Society.A. ampainsooc. Brousseau.D.B. P. (2000). Amy. Lamidi.org/cgi-bin/ print/pl. Diunduh tanggal 26 Juli 2012. http://adc.nih. 138-142. Faculty of Pharmacy. A. & Campbell. FIK UI.. P. Diunduh tanggal 7 Aguatus 2012. J. Canadian Pediatric Society.full. Diunduh tanggal 20 Oktober 2012.. (2002). A comparation of local anaesthectics for venepucture. M. O. Marc. Arrowsmith. Arch dis Child...O.pdf. (2011). D.C.. B. Arch Dis Child Fetal Neonatal. and adolescents.nlm. David.gov/ pmc/articles Almada. 112-118. C.O. Akanmu.aappublications. Neuropharmacoloical effects of Nigerian honey in mice. P. http://:www. American Academy of Pediatrics. & Okechukwu.DAFTAR PUSTAKA Acharya. NCBI 8(3).. S.N.A. & Beattie. N.org/content/117/5/1511. Pain News.bmj.D. 1511-1517. 108-793.com/content/82/4/309. children.full 92 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. (2000).. Natural COX-2 inhibitor the future of pain relief. 309-310. Bustani. 17(7). (2011). Pain assessment for pediatric patients in the emergency departmet. Diunduh tanggal 27 Juli 2012..ncbi.. Adams.A...A. Pediatrics.A. 230245.. M. World Academy of Science. International Chiropractic Pediatric Association.naturalnews. Pediatrics. Diunduh tanggal 30 Desember 2012..full. Drendel. Ibrahim. Pediatric chronic pain: A position statement from the American pain society. http://www. http://:www. 61(3). Investigation of anti-anflammatory. (2000).org/ content/105/2/454.. 47(5).org/cgi-bin/print/pl. Department of Pharmacology. http://www. 82(6). Olowookere.A. 2013 . R. American Academy Of Pediatrics.html Alzubier. (2006). 10(2). Randomised controlled trial eutectic mixture of local anasthetics cream for venepunture in healthy pretrm infant. T. H.A.ampainsooc. M. The assessment and management of acute pain in infants.. Ayu Yuliani Sekriptini. (2008). Engineering and Technology. Diunduh tanggal 28 Juli 2012. et al.aappublications. 78(6). Pediatrics. Atunwa. http://pediatrics. Diunduh tanggal 12 Agsutus 2012.M. 105-454.. A. antipyretic and analgesic effect of Yemeni Sidr honey.

55(4). Ayu Yuliani Sekriptini. http://bja.netfles/fil/file. but stress is still evidenced by increased ini oxygen consumption.. Psychometric properties of the non-communicating Children’s Pain Checklist-revised. . Diunduh tanggal 8 Agustus 2012. G. Jurendic. 17–24. H. M. M.. http://:ww.full. Assessment of clinically significant changes in acute pain in children. C... Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2.E. P. Diunduh tanggal 28 Juli 2012..B... Philadelphia: Saunders. http://www. (2005). Laurenz. J. (2007). Diunduh tanggal 25 Agustus 2012.93 Aziz A. Terjemahan: Purnomo.K. Diunduh tanggal 14 Agustus 2012. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. _________________________ . American Journal of the College of Nutrition 27(7). & Wooton.pdf. K. L.JACN... Oral glucose before venepuncture relieves neonates of pain..org/…/vol16No5. 99(7). Breivik. Ketteler. Camfield. G. 199-202. Jakarta : Salemba.A. Honey as nutrient and function food. Rosseland. 1-6. Hellwing.. Borchgrevink. Bognadov. P. Acad Emerg Med. M. Honey for nutrition and health: a Review. H. L. H. & Zeltzer. & Tenenbein. hlm 66-358.net/files /file/fileE/HealthHoney/Nutriti JAC. (2002).B. et al.. Penerbit Universitas Indonesia. H & Adiono. Hals. Allen. Pediatric pain management. & Gallmann. Bogdanov. (2002). Pediart Res. Ilmu Pangan. gillettechildrens. (2000). Buckle. 120-128.M. http://www.... (2010). Jakarta. 677-689. R.M. McGrath.. L. (2004).beehexagon. Kliegman. R..oxfordjournals. Validation of 2 pain scales for use in the pediatric emergency department.. B.H. Badan Standarisasi Nasional Indonesia. Behman. Breau.beehexagon.A. Assessing pain in children with severe neurocognitive impairments. dalam R. A. Beisang. emergency expenditure and heart rate. P.J. (Eds). 349-357. M. Bee product science Januari 28(2) 145-147.pdf Brusch.. 16(6). Jenson. L. 29(9).M. Badan Standarisasi Nasional Indonesia..C. Bulloch. E. T. (2005). FIK UI.org/ content/101/1/17. A Peditric Perspective..A. Assessment of pain. S. Bauer K. (2008). (2008). 695-700.. edisi ke-17. Pain. Pediatrics. British Journal of Anaesthesia 101(1). Romundstad..K. B./HealthHoney/HoneyNutrition.S. Neston Nursing Pediatrics. 110(3). Madu...H.. Jakarta. & Versmold. 2013 .pdf. Edwards. S. Sieber.. & Finley. R.A. (2004). S. Fleet. (2000).

.M..D.pdf Curtis. Jurnal Medical Aradean. B.org/IENR/ENR/ Documents/PedPainManagementENR. 122-134..A.. Behavioral approaches to anxiety and pain management for pediatric venous access. H. (2006). Couders. Chemical and biochemical caraterization of three disserent types honey from Bihor country. 8(4).. 19-23.N.com/content/319/7222/1393.. (2007). X. http://pediatrics. (2011). (2010). 21(11). & Gilbert.ro Davaera. M. Chauvet. K. P.ro/nbha/article/viewFile/4780/4516 Craig. (2011). & Schneider. Clin J Pain. Pediatric Emergency Care... J.D . Clarisa. Lilley.. & Grove. Virgil. H. Diunduh tanggal 25 Juli 2012. A randomized controlled trial of sucrose and/or pacifier as analgesia for infants receiving venipuncture in a pediatric emergency department.. BMJ. 77(7). 232–242. J.K. Emergency nursing resource: Needle-related procedural pain in pediatric patient in the emergency departement. (2008).biomedcentral.94 Burns.ena... Doellman. 126-129. D. FIK UI. http://notulaebotanicae.org/content/122/ Supplement3/S134. Vandermeer. C. 1471-1476. 2013 ... J.. Crowley. Social barriers to optimal pain management in infants and children. Elisabeta. http://www.. N.pdf Cornelia P. Diunduh tanggal 20 September 2012. Procedural pain management: A position statement with clinical practice recommendations. 25(1). Faculty for Environmental Protection. Missouri: Saunders Elsevier. Diunduh tanggal 14 Agustus 2012... BMC Pediatrics. Daniela.. Pain Management Nursing. & Reynolds. 6th ed... & Chis. A.full.K.. S. K. Jou. Collins. S. M. V..J.com/1471-2431/7/27/pdf.aappublications. 47(7)..M. 27(2). Czarnecki. http://www. Pediatric. (2010).. S. Diunduh tanggal 27 Juli 2012. and generation of evidence. 319-1393. M. Physiology of pain – general mechanisms and individual differences. Heaton. (2009). M. Naccrato.L. Cohen.. & Moretz. V. Darcy. S. R. N. Oliver-Martin. http://www. L.A. Carbajal. S. Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 45(7). Diunduh tanggal 2 Oktober 2012. (2009). Proehl. Ali. (2006). Diunduh tanggal 8 Juli 2012.. M. F. Randomised analgesic effects of sucrose.A. A. 313-318. 1-17.jmedar. Larutan glukosa oral sebagai analgesik pada prosedur pengambilan darah tumit bayi baru lahir: Suatu uji klinik acak tersamar ganda. C. & Klassen T. Ayu Yuliani Sekriptini. Storer. synthesis. Turner. www. Wrona.bmj. and pacifiers in term neonates. Y. The practice of nursing resesrch: appraisal.. glucose.L.12(4).

K. Selling comfort: A survey of interventions for needle procedures in a Pediatric Hospital. A. M. 15111518. Pain assessment in children with neurological impairment. W. 37-38.. D.H. Diunduh tanggal 12 Juli 2012. Drendel. Sharp..gov/pubmed/15116686.B. (2011).. http://www. M. (2004). (2002). Fenicia. (2004).org/afp/2001/0515/p1979. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung...A. D. Zempsky. J. & Cohen. K. B. Pediatric Nursing.nlm. Diunduh tanggal 12 Juli 2012..html. 144-152. A clinical study to evaluate the efficacy of ELA-Max (4% liposomal lidocaine) as compaired with eutectic mixture of local anasthetics cresm for reduction of venipuctue in children. (2010).. R. (2008). Pediatrics. 5(4).nih. C. 20(10). 63(84). New concepts in acue pain therapy: Prepentive analgesia. 37(2).org.. Diunduh tanggal 27 Juli 2012. Non pharmacological techniques for stress reduction during emergency medical care: A review. Infant botulism. D. Pediatrics. A. E. www.pdf Ellis.. Gimbler-Berglund. J. (2004). Oral glucose solution as pain relief in newborn: Result a clinical trial. 21-24. Relief of pain and anxiety in pediatric patients in emergency medical systems. Metodologi penelitian keperawatan: pedoman melaksanakan san menerapkan hasil penelitian. 244250. Eichenfield. (2001). Dowling. 13911405.. & Gorelick.ncbi. (2011).com/pdfs/. Pediatrics. Pediatrics. Diunduh tanggal 20 Juli 2012. 11(4). B. 134-146. Am Fam Phys.. & Kennedy.P. 99-105.gov/pubmed/19119745 Goenarwo. FIK UI. 117(5). Fallon-Friedlander. K..nlm.aappublications. Birth issue in perinatal Care. Dilen. 19(9).. Pain assessment for pediatric patients in the Emergency Department.95 Dharma. http://pediatrics. Uji efektifitas analgetik madu pada tikus dengan metoda geliat asetat.intechopen. Ann Ist Super Sanita. 109-1093. I. & Anniballi. H. L. 45(2).ncbi.. 5(4)... http://cdn. 2013 . Brousseau. M. Funk. & Elseviers. & Enskar.S. F. A. Cunningham. Chodidjah. & Smith. 190-197. & Susanto. J. (2009). Jakarta: Trans Info Media. Ljusegren.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pediatrics Nursing.. Newhook.. 130(5). Cravero. http://www. Ayu Yuliani Sekriptini.J. Eldridge. (2012). Gottschalk.F. S. L.aafp. Diunduh tanggal 25 Juli 2012.A. Pain Management Nursing.nih. (2006).. Fein. Factors influencing pain management in children. J.

S. http://www. Webber. 124(4). Eriksson. Pediatrics.. MO: Mosby-Year Book. M. Eriksson. Diunduh tanggal 8 Agustus 2012. & MacIntyre. M. Terapi Madu. (2007). tempetarure regulation.. F. (2004). and sensory fuction. Gradin.aappublication. Pediatrics.. M. B. & Steven. Pain management practices in paediatric emergency departments in Australia and New Zealand: A clinical and organizational audit by National Health and Medical Research Council’s National Institute of Clinical Studies and Paediatric Research in Emergency Departments International Collaborative. & Leo. R. & Shaw.K.org/conten/110/6/1053. 4051-4549. Resuscitation and Emergency Medicine. 17(8). Huether. Holmqvst. Diunduh tanggal 20 Agustus 2012.. Pain. J. (2002).. Gradin. In K.html.aappublications. & Huckson... 1053-1057.. Scandinavian Journal of Trauma. McCance & S.S.. Ohlsson.E. http://www.. 110-153. J. Green R. Holmqvst. M. (2011). http://pediatrics.. D. J. S. Herd. sleep. B. D. 401-410. St. Diunduh tanggal 7 Agustus 2012. h.full. Franz.T. E.L. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. 759-760.com/content/17/1/47. Beyene. & Bergstrom... 2013 . J..full..w. Pathophysiology: The biologic basis for disease in adults and children (4th ed). (2006). 21(2). (2009). Hockenberry.. Heuether (Eds). 6(10). tanggal 28 Juli 2012.I. Critical care in the Emergency Department: An assessment of the length of stay and invasive procedures performed on critically ill ED. & Schollin. Y..htm Harrison. 978(1). (2009). Hagglof. Pustaka Imam.. G. J. St..org/content/full. M.S. 156-159. (8th ed..pediatricsdigest. (2008). Holstien.. Yamada. 210-221..). (2002).sjtrem. D. J. Behavioral Problems of Infancy and Preschool Children. G.Louis. Gilhotra. (2009). ISBN. 19(8). 30. Wong’s nursing care of infants and children. 43-47. Impaired health-related quality of life in children with recurrent pain.N. J. & Schollin. Emergency Medicine Australasia. D.. pp. Louis: Mosby Elsevier.mobi/content/110/6/1053. Pain reduction at venipucture in newborn: Oral glucose compared with local anesthetic cream. http://peditrics. Hamad. 57(9)..L.E. S. Pediatrics. L. A. Pain reduction at venipucture in newborn: Oral glucose compared with local anesthetic cream review.96 Gardner. The Cochrane Library. Jakarta. Sweet tasting solution for reduction of needle-related procedural in children aged one to 16 years review. FIK UI. A. & Wilson. Ayu Yuliani Sekriptini.

12(3). controlled trial.. D. G. children. Ayu Yuliani Sekriptini. randomized. (2004). S. The Kyoto protocol of IASP basic pain terminology. R. D.nic.com/comfort theory..ncbi. 17. Gender differences in postoperative pain and patient controlled analgesia use among adolescent surgical patients.aappublications.97 Jatana. 101-882. Pediatrics. Le Mone. & Tannous. 61(7). (2008). NY: Springer Publishing Company. Gilbert. 2013 . (2003). 185-187.pdf Kelly.M. J. J..H.in/maa/ t03/i2/maat03i2p100. Dalal. Sorenson. & Wilson. Latief. D. B. MJAFI. & Rose. Comfort theory and practice: A vision for holistic health care and research. http://www. Kleiber.full.. (2003). Clinical Journal of Pain.... Medical surgical nursing: Critical thinking in client care. Pediatrics.. B.A. (2005). H. (2000). (2000). 100-104. Diunduh tanggal 12 Agustus 2012.. Laxmikant. (2006). G. Jakarta. E. Analgesic effect of oral glucose in neonates. FIK UI..C. 232-242.C. Venipuncture is more affective and less painfull than heel lancinf for blood tests in neonates. & Cheryl A. Logan.A. Whiteside.. B. (2002) Topikal anasthetics for intravenous insertion in children: A randomized equivalency study. Larsson. medind. and adolescents social barriers to optimal pain management in infants and children. Bag Anastesiologi dan Terapi Intensif FK UI. New York. Tannfeldt. R. (3rd ed. 16(5).A. D. 137(3).L. L. A process approach to improving pain management in the emergency department development and evaluation. http://www. Deshmukh & Udani. 473–477. & Burke. Christine M. G. Jurnal of Tropical Pediatric. Pearson Education Company.. Pain . Olsson.. (2008). Petunjuk praktis anatesiologi. 59(2). http://pediatrics. Comfort theory and its application to pediatric nursing. K. Barriers to optimal pain management in infants.. J. M. 110-758.. Kenneth. 109 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.nlm. J. (2001). Diunduh 20 Juni 2012. K.nih. P. Analgesic effect of oral glucose in preterm infants during venipuncture: A double-blind. (7). J Accid Emerg Med.). R. Pain . Diunduh tanggal 24 September 2012. S.. Diunduh tanggal 20 September 2012. Kolcaba & Di Marco. 48(3).L. Gronstal..org/content/101/5/882..thecomfortline. C.. (2002). Lacercrantz. edisi III. K. A. & Treede. A. 138-141. Loeser. Lilley.gov/pubmed/12359791 Kolcaba.

G.. A. http://www. 2013 .. 3-38.org/content/108/3/793.A. Lessard. Gupta. Mardhiyah.. D.. J. A. R.com Mathew... Mathew. 307-312. K. 11-19. (2006). 141-174.. Randomized clinical trial of local anesthetic versus a combination of local anesthetic with self-hypnosis in the management of pediatric procedure-related pain..N.L...98 (3). R. Diunduh tanggal 12 http://www. S.R. Diunduh tanggal 7 Agustus 2012. PostgradMed..L. (2003). Dolin. PERDOSSI. (Ed). W. 481–487. h 1-2. Edisi ke-2. E. Boyd. Munqlani. McCaffrey. 793-797.. (Eds). Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran Meliala. Pain patohysiology.bmj....H.. Obispo. & Hatira. Suryamiharja. (2003).J.. FIK UI. 430-438.. Physiology & Behavior.. Critical review of the American Pain Society Clinical Practice Guidelines for interventional techniques: Part 1. Loissi. Sadeli. Patfield.ncbi. Pain assessment and management in children and adolescent. Pain Physician. H. 256-260. September 2012. Assessment and management of pain in children review. H.F. Pediatric Emergency Care. The gap between pediatric emergency department procedural pain management treatment available and actual practice. Pediatrics. (2004). Diunduh tanggal 13 Agustus 2012.D.. (2003). BJM.bmj. London: Butterworth Heineman.gov/pubmed/15861613. Effects of chewing gum on responses to routine painful procedures in children. K. D. MacLean. Assessment and management of pain in infant. (2007). J. 108(3).. (2003). et al. P. (2010).. S. 45(5). http://pediatrics. http://pmj.com/content/79/934/438 Matthews. (2001). 13(1). http://pmj. Dalam: K..A. 13(3). M. & Pasero. h. P. Dalam: S.. Pain medicine manual. A.D. Lewkowski. Meliala. (2005). White. J. Diunduh tanggal 9 July 2012. 2(48).S. Diagnostic interventions. 25(3). 87-93..P.full Mediani. Purna.. & Dickenson. R. Barr.J.nih. Bryce. & Mathew. P.S. Sherrard. Respon nyeri infant dan anak yang mengalami hospitalisasi saat pemasangan infuse di RSUD Sumedang. Nyeri neuropatik.nlm. Ward. 23(2).aappublications. Ayu Yuliani Sekriptini. Emergency Nurse... Manchikanti. Datta..A.sciencedirect. S. A. P. & Young S. Diunduh tanggal 25 Juli 2012. 257–265 Lyon. N. & Mackway-Jones. 79(2). L. J. A.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Harris. dan Rakhmawati. The convergent validity of the Manchester pain scale. R. Kelompok Studi Nyeri.J. L.L. NCBI.com/science/ article/pii. (2010). C. & Young. patofisiologi dan penatalaksanaan. S. Patofisiologi nyeri..

com. A Refernce Guide from National Board. Lolekha. 1563–1572. O'Malley.T. 9th ed. Chambers. T. Kaya.. McGrath.8.. PAIN.T. O.. Polit. & Guner.P. K... Nurhidayah.. The measurement of pain in infants. (2011). Chopitayasunondh. 29. http://www.99 Morton.org Ozcetin. F. Klein. M.full. K. S. Pediatrics.. Petersen. Suren.apta. N. P.F. Br J Anaesth. Limtifikul. (2005).ajan. Pediatrics. Chanthavanich. Nursing research: Principles and methods. D. The influence of children’s pain memories on subsequent pain experience. Luangxay. Diunduh tanggal 20 Juni 2012. & Bergstrom. 124(4).hu/honey/techbroch. P. 6th ed. 67(16). http://www. Diunduh tanggal 5 Januari 2013. B. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. FIK UI.L. 990(70) 269-275.. http://ptjournal. & Hungler.F. A Comparasion of pain scales in Thai children. 118-..pdf Newman.J. Arch Dis Child.org/content/ 83/1/118. Hagglof.pdf National Honey Board. and adolescents: From policy to practice. (1999).I. B. C. Z. I’am to tell you the facts about honey. 115(16). Philadelpia: Lippincott Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. D.H. R. M..pds. (2006). E. P. effects of parent's presence on pain tolerance in children during venipuncture: A randomised controlled trial.au/Vol24/Vol24.. (2012). K. & Krug. http://bja. Polit.M. (2009) Impaired health related quality of life in children with recurrent pain. & Stewart. Diunduh tanggal 20 September 2012. A..oxfordjournals. (2008). (2011). Effect of local refrigeration prior to venipuncture on pain related responses in school age children. children.S.. E.. D. Diunduh tanggal 20 Juli 2012. 759-767.. I.. Nursing research: generating and assessing evidence for nursing practice.pointernet. Ayu Yuliani Sekriptini. (2010). C. (8124). (2012).E. & Beck. (2008).J...pdf Movahaedi. Prevention and control of pain in children. C. R. E. Pengaruh pemberian madu dalam tindakan keperawatan oral care terhadap mukositis akibat kemoterapi pada anak di RSUPN Dr. M. S. O'Rourke..2.. Pediatrics. Patient and Family-Centered care of children in the emergency department. HK J Paediatr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Noel... Colak. Karaaslan.l. 2013 . Brown.. S. e511-e521. 112(19). Philadelpia: Lippincott. 247-252. (2004).

edisi 4.. & Ismael. 2013 . W..M. 512-515. Deniz. Sparks. & Schneeweiss.. Zempsky.E. (2005). S. A. Buku ajar keperawatan medikal bedah. Pluckhahn. L. (2001). The Turkish Journal of Pediatric. & Lohaus.L. The effect of psyhchological intervention on perceived pain in children undergoing venipuncture. Pediatrics. McMurtry. Setlik. N. International Journal of Pediatrics. S.C. hal 182. J. B. Vierhaus. M.S. H.. J. proses.. Ratnapalan.L. A. Akman. Ayu Yuliani Sekriptini. I. O. J. (2012). The impact of pediatric trauma score on burden of trauma in emergency room care. Edisi 4.. (2007). Mengenal dan memanfaatkan khasiat madu alami. Blenau . dan praktik. & Mace. P. S. International Journal of Pediatrics. Smeltzer. 156-159.Bentang Pustaka. 51(7).P. O. A. K. Soyer...A. (2007).. Journal of Pediatric Nursing. & Cesur. 218-203. & Bright. Ratnapalan. Jakarta: Sagung Seto. 474(11). & Bare.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. & Luhman. 155(20).. S. Purabaya. T. Jakarta: EGC.G. S. L. Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep. Edisi 8. Puspitasari. tyramine and dopamine in honey bees. 10(2).. Jakarta: EGC. O’ney. Srouji. CV. Sikorova.. J. L. Pain tolerance in children and adolescents: Sex differences and psychosocial influences on pain threshold and endurance. (2007). (2011). R. 838-842. Sastroasmoro.. & Erber.. Rahasia sehat mmadu. 136(12).. (2009).. Pain reduction during pediatric immunizations: evidencebased review and recommendations. N. S. Schmitz. FIK UI. C. (2002). Pain in children: assessment and nonpharmacological management.. McGrath. European Journal of Pain. 153-157. PT..A. & Hrazdilova. 2(5).. Brunner & Suddarth..100 Potter. T. Yogyakarta. Cohen. Biomed Pap Med. P. B. 367-370. 22(6). Hancerliogullari... Scheiner. 28(9).J... 257-263.T.R. Pediatric pain management and sedation. (2002). F.G. Behavioral Brain Resesrch. S. & Perry. R. Bandung. Parental holding and positioning to decrease IV stress in young children: A randomized controlled trial.. S.. B. Mason.Pionir Jaya. Schechter. (2010). (2011). Behavioural pharmacology of octopamine.. Turkmen. P. hal 57. Dasar-dasar metodelogi penelitian klinis. 545-553.K. (2010)..

K. Appleton.full. Dubey. 2012. S. & Lynn.nih.nlm. J. V. Izquierdo. Diunduh tanggal 12 Agustus 2012. McGrath.J. C. 11186-11193. St... 56(2). Tomey. Diunduh tanggal 20 September 2012. Mosby Elsevier. & Battino.. 4. Chambers. 87(3). CMAJ. Y. et al. Tulipani. S. S. G. S. http://www. T. http://www. A.. L. P. G.S. Prakkammodom. A. 15-23. LeMone. S.nlm.com/content/g1771u466wvr2h26/fulltext. Supartini. Suarez..S. (2010).gov/ pubmed/10820579. Truchado. Bertoli.gov/pubmed/19950997 Twycross. & Muntraporn. Mediterr Nutr Me-tab. P. Bortolussi. Cochrane Database of Systematic Reviews.. A.. Halperin.101 Steven. (6th ed. S. proquest.. 57(23). yersinia enterocolitica... S. Lillis. Inhibition by chesnut honey of N-Acyl-L homoserine lactones and biofilm formation in erwinia carotovora. Uman.pdf.. Diunduh tanggal 23 September 2012. A. 843-855.nih.M. Contribution of honey in nutrition and human health: a review. and aeromonas hydrophila.gov /cochraneneonatal/stevens/ stevens. 105-112. (2007). Romandini.ncbi. P. Barberan. (2010). J.. Yamada..).. Education about pain: A neglected area?. http://udini.. Philadelphia: Nazareth Hospital. & Ohlsson. Fundamental of nursing : The art and science of nursing care. (6th ed. R. & Allende. (2001). (2009).A. 2. A Sucrose for analgesia in newborn infant undergoing painful procedures.K.nih..com/view/psychological-interventions-for-pqid: 1968185 001/ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Agricultural and Food Chemistry. Diunduh tanggal 28 Juni 2012. 244–253. Pectharatana. http://www..nichd.html.). C... (2008).ca/content/182/18/1989.. A.20(5).. NICHD.A. E. Taylor. Nursing science and their works. U. British Journal. M.springerlink. 5(2). & Alligood.. http://www. P. N. R. Taddio. Louis. Ayu Yuliani Sekriptini. 182(8).. Nurse Educ Today.S. (2004) Konsep dasar keperawatan anak.F.. C. http://www.cmaj. B.R. M.T. & Kisely. Santawat. Kraiprasit.. 400-408. (2000).. Psychological interventions for needle-related procedural pain and distress in children and adolescents.ncbi. (2005). FIK UI. Cross-validation of composite pain scale for preschool children within 24 houe of surgery.M. (2006). Reducing the pain of childhood vaccination: an evidence-based clinical practice guideline. Diunduh tanggal 12 September 2012.. 2013 . Jakarta: EGC Suraseranivonges.. Agustus 20.. Chambers. J.

(5). (2006).T. 24(8).102 Wanga.. T. William.T. 78-80.jamanetwork. K. D. Z.. & Brown. 2012.P.. 56(1). 1071. M... Pediatrics in Review..org/content /24/10/337. 147-152....D. A. & Cravero. Developing the painless emergency department: A systematic approach to change. W. R. Neil. Louis: Mosby. (2000). (2005). (2003). Consequences of inadequate analgesia during painful procedures in children.com /article.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Weisman.. Pediatric in Review. & Chena.Pediatric%20procedural%20pain. Agustus 28.pdf. & Zempsky. J. St. L. 377-348.L. 5100–5107. Wong. (7th ed. Sunb. Xu.. M. The Journal of Neuroscience. Young. FIK UI. & Hockenberry. S. Optimizing the management of peripheral venous access Pain in children: Evidence. Yolanda.. Ayu Yuliani Sekriptini.. Zempsky.L. http://web.garani/SedazioneFarmaci/AnnEmergMed2005. B. 122.138 (39). Jurnal of Korean Academy of Nursing. Zempsky. (2008). J. et al. 1301-1307. M.. Zempsky.K. M. L. 74. Swiss Med Wkly. (2003). J. 2012.unife. 1(2).. Zempsky. http://pedsinreview. What’s new in the management of pain in children. 9. (2008). 2013 .aappublications. 57. 10. 22(12). D. Nursing care of infants and children. 253–259.D. (2002) Opioid receptor-mediated antinociceptive responses differ in men and women. & Schechter. J. (2007). & Schechter. N. 337-340. http://archpedi. L. Clin Pediatr Emerg Med. N. & Schecter... W. (2008). T.L.D.. What’s new in the management of pain in children. 121-124. 36(8). Kilbourn. (2004). Won. Pre treating pain associated with venous access procedures. Zeltzer. Ann Emerg Med. 114-117. and implementation. 79-584.T..aspx?articleid=189261. September 25(5). W. Relief of pain and anxiety in pediatric patients in emergency medical systems.).A. Zubieta. impact. M.J. (2005) Pediatric procedural pain. US Paediatrics. Arch Pediatr Adolesc Med. Journal of Pediatric.A.D. Januari 1.it/utenti/giampaolo. 2012. Y. Smith. Bernstein. Pediatrics. The efficacy of non-pharmacological methods of pain management in school age children receiving venepuncture in a paediatric department: a randomized controlled trial of audiovisual distraction and routine psychological intervention. 5. (3). 24.Bueller.extract William. Effect of programmed information on coping behavior and emotions of mother of young children undergoing IV procedures.. M.R.

Dan apabila orang tua/wali memutuskan berpartisipasi. pengalaman nyeri sebeumnya. pengalaman diambil darah sebelumnya.. Indonesia. Peneliti (Saya) akan memberikan lembar persetujuan ini.Lampiran 1 PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di UGD RSUD. PhD. Semua kuesioner yang telah terisi hanya diberi nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas anak anda. dan saat penambilan darah pasien didampingi atau tidak. Bagian kedua berisi penilaian skor nyeri dengan menggunakan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. Penelitian ini melibatkan anak yang berusia 1sampai 6 tahun.. Keputusan diwakilkan kepada orang tua/wali anak untuk ikut ataupun tidak dalam penelitian ini.Sc. Pengisian kuesioner data demografi dan penilaian skor nyeri dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti. Arjawinangun Cirebon. Saya pengajar di POLTEKKES Tasikmalaya. SKp. tidak ada satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Gunung Jati RSUD.App. Saya akan menjaga kerahasiaan anak anda dan keterlibatan anak anda dalam penelitian ini. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari PUSDIKNAKES. 2013 . Sekitar 68 anak akan terlibat dalam penelitian ini dari satu rumah sakit yang berada di Cirebon. Bagian pertama berisi tentang demografi seperti usia. yang masuk ke ruang unit gawat darurat dan akan dilakukan tindakan invasif pengambilan darah.. tanda vital. dan menjelaskan bahwa keterlibatan anada di dalam penelitian ini atas dasar sukarela. M. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan Magister saya di Universitas Indonesia. Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari dua bagian. Ayu Yuliani Sekriptini. Kota Cirebon Anda sebagai orang tua/wali diminta untuk berpartisiasi dalam penelitian. 16424. jenis kelamin. FIK UI. orang tua/wali bebas untuk mengundurkan diri dari penelitian kapanpun. Apabila hasil penelitian ini diplubikasikan. Nama saya/peneliti adalah Ayu Yuliani Sekriptini. Progam Studi Keperawatan Cirebon.. yang beralamat di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia kampus Depok. Nama anak anda tidak akan dicatat dimanapun.. Saya dapat dihubungi di nomor telepon 0816646216. dari Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. Pembimbing saya adalah Yeni Rustina.

Keterlibatan anda dalam penelitian ini. Ayu Yuliani Sekriptini..Lampiran 2 yang anda jawab dalam penelitian ini. saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. tidak menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa anda hadapi sehari-hari. jika diperlukan catatan penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya. Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peranyang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini.. sejauh saya ketahui. ……………………2012 _________________ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Apabila setelah terlibat penelitian ini anda masih memiliki petanyaan. Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan keuntungan langsung pada anda. FIK UI. anda berhak untuk tidak menjawabnya.. 2013 . anda dapat menghubuni saya di nomer telepon 0816646216. Namun. manun hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak dengan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat.

Memahami prosedur penelitian yang akan dilakukan. dan kemungkinan efek samping yang terjadi dari penelitian yang dilakukan.. Ayu Yuliani Sekriptini. Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya.. (___________________) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. dengan ini saya sebagai Bapak/Ibu/Wali dari anak saya mengijinkan/tidak mengijinkan anak saya berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini.…………………2012 Yang Membuat Pernyataan.Lampiran 3 LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Saya. Telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat dan sesuai dari peneliti. 2. Telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian “Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon”. manfaat. 2013 . Cirebon. Dengan pertimbangan di atas. 3. tujuan. FIK UI. yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ___________________________________________ Umur : ___________________________________________ Bapak/Ibu/Wali Anak : ___________________________________________ Menyatakan bahwa : 1.

Lampiran 4

KUESIONER DATA DEMOGRAFI
Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri
Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada
Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon
Kelompok

:

0

Inisial

: _______________________

No. kuesioner

: _______________________

Hari/tanggal

: _______________________

Jenis Kelamin

: Laki-laki / Perempuan

Tanggal lahir

: _____/_______/______

Umur

: _____________Bulan

1

Tanda-tanda vital : Nadi = _____________x/menit

Petujuk : Berilah tanda cek list (√) sesuai jawaban yang diberikan.
1. Apakah pasien pernah mengalami pengambilan darah sebelumnya ?
Pernah
Tidak Pernah
2. Saat pengambilan darah pasien di damping oleh keluarga ?
Ya
Tidak

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Lampiran 5

INSTRUMEN SKALA NYERI
Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS)
Kelompok

: Treatment

Inisial : ________

Kontrol
No. kuesioner : ___

Item
Tangisan

Perilaku
Tidak menangis
Merintih
Menangis
Menjerit/teriak

Ekspresi
wajah

Biasa
Merengut

1
2

Tersenyum

0

Tidak ada
Anak mengeluh

1
1

Keluhan nyeri
Kedua keluhan

2
2

Ungkapan positif

0

Netral
Gelisah
Tegang
Gemetar

1
2
2
2

Tegak lurus
Menahan
Tidak menyentuh
Berusaha menggapai

2
2
1
2

Menyentuh
Merebut
Direstrain
Netral
Menendang2
Ditarik

2
2
2
1
2
2

Berdiri
Direstrain

2
2

Ekspresi
verbal

Posisi
badan

Sentuhan

Posisi
kaki

Point
1
2
2
3

Hari/tanggal : ___________

Definisi/pengertian/interpretasi
Anak tidak menangis
Anak merintih/menangis lirih
Anak menangis tapi tidak keras
Anak menangis dengan kuat, dapat disertai
keluhan/tidak
Ekpresi wajah netral
Terdapat ekspresi wajah menunjukkan
negatif/tidak nyaman
Terdapat ekspresi wajah menunjukkan positif/
nyaman
Anak tidak berbicara
Anak mengeluh tapi tidak berkaitan dengan
nyeri, contoh “mana ibu saya” atau “saya
haus”
Anak mengeluhkan nyeri
Anak mengeuh nyeri yang lain, contoh “saya
sakit saya ingin melihat ibu saya”
Anak memberikan statment positif atau
membicarakan hal2 lain yang bukan berupa
keluhan
Badan dalam posisi rileks/isitrahat
Posis tubuh bergerakgerak (gelisah)
Badan tertekuk/melingkar atau kaku
Badan tampak tidak nyaman atau
memberontak
Badan dalam posisi tegak
Badan direstrain
Anak tidak menyentuh/memegang luka
Anak memberi reaksi tetapi tidak menyentuh
luka
Anak mencoba memegangi luka
Anak menyentuh area yang nyeri
Tangan anak direstrain
Kaki dalam posisi rileks, atau bergerak Gerak
tapi masih rileks
Gerakan2 yang menunjukkan kegelisahan,
menendang
Berdiri, kaki tertekuk dan tegang
Kaki anak direstrain
JUMLAH SKOR

Sumber : McGrath, P.J., Jhonson, G., Goodman, J.T., et al. CHEOPS: A behavioral scale for rating
postoperative pain in children. In Fields, H.L., et al. (editor) Advances in Pain Research and
Therapy, (vol 9). New York, Reven Press.
Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Skor

Lampiran 6

PROTOKOL PEMBERIAN MADU BAGI PERAWAT
1. Persiapan Alat
a. Sendok makan
b. Spuit 5 ml
c. Cairan madu
d. Alas perlak atau handuk pengalas
e. Kertas tissue
f. Air minum (jika tersedia)
2. Prosedur Pelaksanaan
a. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan pada tempat yang telah ditentukan.
b. Lakukan mengukuran tanda vital pada anak.
c. Jelaskan pada anak, orang tua/wali akan di beri madu sebelum
pengambilan darah.
d. Letakkan alas di dada atau dipangkuan anak.
e. Berikan madu per-oral pada anak dengan menggunakan sendok atau spuit
(usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml)
f. Anjurkan anak untuk menghabiskan madu yang diberikan.
g. Beri minum jika anak menginginkan.
h. Lap bersih mulut anak
i. Rapikan peralatan
j. Dokumentasikan tindakan (waktu pelaksanaan, paraf perawat, respon
pasien).

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

FIK UI... 2013 3 4 .. Ayu Yuliani Sekriptini.Lampiran 7 JADUAL PELAKSANAAN PENELITIAN No Kegiatan 1 Penyusunan proposal Ujian proposal Pengumpulan data Analisis dan penafsiran data Ujian hasil penelitian Penulisan dan draf publikasi Siding tesis Penulisan tesis Perbaikan tesis Jilid hard cover Pengumpulan tesis 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 September 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4 Bulan November Minggu 1 2 3 4 Desember 1 2 3 Januari 4 1 2 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Pendidikan SD Negri Banjar I Kota Banjar SMP Negri I Kota Banjar SMA PGRI Kota Banjar Akademi Keperawatan Depkes Bandung S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jurusan Keperawatan Tahun Lulus 1983 1986 1989 1992 Keperawatan 2003 Jabatan Perawat Pelaksana Tahun 1992-1998 Guru Dosen 1998-2001 2001-Sekarang 2. Ayu Yuliani Sekriptini. 25 Juli 1971 Agama : Islam Almat Rumah : Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Riwayat Pekerjaan No Tempat Kerja 1 Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2 SPK Depkes Cirebon 3 Politehnik Kesehatan Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..Lampiran 8 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Ayu Yuliani Sekriptini Tempat Tanggal Lahir : Ciamis.. FIK UI.. 6 Kabupaten Cirebon Institusi : Poltekkes Tasikmalaya. 2013 . Perumahan Kedung Jaya Indah Blok C No. Program Studi Keperawatan Cirebon Alamat Instansi : Jalan Pemuda no 32 Kota Cirebon 1.

.Pengaruh pemberian. FIK UI. 2013 .. Ayu Yuliani Sekriptini..

.Pengaruh pemberian. FIK UI... Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 .

.Pengaruh pemberian.. 2013 .. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.

Pengaruh pemberian. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini.... FIK UI.

2013 ..Pengaruh pemberian.. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI..

Ayu Yuliani Sekriptini.Pengaruh pemberian... 2013 . FIK UI..

Pengaruh pemberian. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini.. FIK UI...

Pengisian kuesioner data demografi dan penilaian skor nyeri dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti.App. Dan apabila orang tua/wali memutuskan berpartisipasi. dari Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. Bagian pertama berisi tentang demografi seperti usia. Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penelitian ini melibatkan anak yang berusia 1sampai 6 tahun. 16424. Peneliti (Saya) akan memberikan lembar persetujuan ini. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari PUSDIKNAKES. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Gunung Jati RSUD. tanda vital. Kota Cirebon Anda sebagai orang tua/wali diminta untuk berpartisiasi dalam penelitian. tidak ada satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. Ayu Yuliani Sekriptini. orang tua/wali bebas untuk mengundurkan diri dari penelitian kapanpun. Pembimbing saya adalah Yeni Rustina. Saya dapat dihubungi di nomor telepon 0816646216.. jenis kelamin. M. Indonesia. dan menjelaskan bahwa keterlibatan anada di dalam penelitian ini atas dasar sukarela. Progam Studi Keperawatan Cirebon. Nama anak anda tidak akan dicatat dimanapun. SKp.. pengalaman diambil darah sebelumnya. yang masuk ke ruang unit gawat darurat dan akan dilakukan tindakan invasif pengambilan darah.. Bagian kedua berisi penilaian skor nyeri dengan menggunakan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). 2013 . dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia.Sc. dan saat penambilan darah pasien didampingi atau tidak. Saya akan menjaga kerahasiaan anak anda dan keterlibatan anak anda dalam penelitian ini. Apabila hasil penelitian ini diplubikasikan.Lampiran 1 PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di UGD RSUD.. yang beralamat di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia kampus Depok. PhD.. Arjawinangun Cirebon. Sekitar 68 anak akan terlibat dalam penelitian ini dari satu rumah sakit yang berada di Cirebon. Keputusan diwakilkan kepada orang tua/wali anak untuk ikut ataupun tidak dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. pengalaman nyeri sebeumnya. Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari dua bagian. Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan Magister saya di Universitas Indonesia. Saya pengajar di POLTEKKES Tasikmalaya. Nama saya/peneliti adalah Ayu Yuliani Sekriptini. Semua kuesioner yang telah terisi hanya diberi nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas anak anda. FIK UI.

Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peranyang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini. 2013 . tidak menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa anda hadapi sehari-hari. Keterlibatan anda dalam penelitian ini. jika diperlukan catatan penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya. Namun. FIK UI.. Ayu Yuliani Sekriptini. Apabila setelah terlibat penelitian ini anda masih memiliki petanyaan. anda berhak untuk tidak menjawabnya. saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini..Lampiran 2 yang anda jawab dalam penelitian ini. sejauh saya ketahui. anda dapat menghubuni saya di nomer telepon 0816646216. ……………………2012 _________________ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. manun hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak dengan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat.. Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan keuntungan langsung pada anda.

Telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat dan sesuai dari peneliti.. yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ___________________________________________ Umur : ___________________________________________ Bapak/Ibu/Wali Anak : ___________________________________________ Menyatakan bahwa : 1. 2. Memahami prosedur penelitian yang akan dilakukan. Ayu Yuliani Sekriptini. Telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian “Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon”.…………………2012 Yang Membuat Pernyataan. FIK UI. Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya. 3. dengan ini saya sebagai Bapak/Ibu/Wali dari anak saya mengijinkan/tidak mengijinkan anak saya berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini.Lampiran 3 LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Saya. dan kemungkinan efek samping yang terjadi dari penelitian yang dilakukan. Cirebon.. 2013 . (___________________) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Dengan pertimbangan di atas. tujuan.. manfaat.

kuesioner : _______________________ Hari/tanggal : _______________________ Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan Tanggal lahir : _____/_______/______ Umur : _____________Bulan 1 Tanda-tanda vital : Nadi = _____________x/menit Petujuk : Berilah tanda cek list (√) sesuai jawaban yang diberikan. 2013 . Apakah pasien pernah mengalami pengambilan darah sebelumnya ? Pernah Tidak Pernah 2. FIK UI. 1.Lampiran 4 KUESIONER DATA DEMOGRAFI Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon Kelompok : 0 Inisial : _______________________ No.. Saat pengambilan darah pasien di damping oleh keluarga ? Ya Tidak Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini...

J.. CHEOPS: A behavioral scale for rating postoperative pain in children. atau bergerak Gerak tapi masih rileks Gerakan2 yang menunjukkan kegelisahan.. kuesioner : ___ Item Tangisan Perilaku Tidak menangis Merintih Menangis Menjerit/teriak Ekspresi wajah Biasa Merengut 1 2 Tersenyum 0 Tidak ada Anak mengeluh 1 1 Keluhan nyeri Kedua keluhan 2 2 Ungkapan positif 0 Netral Gelisah Tegang Gemetar 1 2 2 2 Tegak lurus Menahan Tidak menyentuh Berusaha menggapai 2 2 1 2 Menyentuh Merebut Direstrain Netral Menendang2 Ditarik 2 2 2 1 2 2 Berdiri Direstrain 2 2 Ekspresi verbal Posisi badan Sentuhan Posisi kaki Point 1 2 2 3 Hari/tanggal : ___________ Definisi/pengertian/interpretasi Anak tidak menangis Anak merintih/menangis lirih Anak menangis tapi tidak keras Anak menangis dengan kuat.T. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Goodman. P. FIK UI. dapat disertai keluhan/tidak Ekpresi wajah netral Terdapat ekspresi wajah menunjukkan negatif/tidak nyaman Terdapat ekspresi wajah menunjukkan positif/ nyaman Anak tidak berbicara Anak mengeluh tapi tidak berkaitan dengan nyeri.. Reven Press. In Fields. (vol 9). G. et al..Lampiran 5 INSTRUMEN SKALA NYERI Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Kelompok : Treatment Inisial : ________ Kontrol No. Jhonson. menendang Berdiri..J. kaki tertekuk dan tegang Kaki anak direstrain JUMLAH SKOR Sumber : McGrath..L. New York. contoh “saya sakit saya ingin melihat ibu saya” Anak memberikan statment positif atau membicarakan hal2 lain yang bukan berupa keluhan Badan dalam posisi rileks/isitrahat Posis tubuh bergerakgerak (gelisah) Badan tertekuk/melingkar atau kaku Badan tampak tidak nyaman atau memberontak Badan dalam posisi tegak Badan direstrain Anak tidak menyentuh/memegang luka Anak memberi reaksi tetapi tidak menyentuh luka Anak mencoba memegangi luka Anak menyentuh area yang nyeri Tangan anak direstrain Kaki dalam posisi rileks.. et al. Ayu Yuliani Sekriptini. (editor) Advances in Pain Research and Therapy. contoh “mana ibu saya” atau “saya haus” Anak mengeluhkan nyeri Anak mengeuh nyeri yang lain. 2013 Skor . H.

Rapikan peralatan j. Ayu Yuliani Sekriptini. Air minum (jika tersedia) 2. h. e. Berikan madu per-oral pada anak dengan menggunakan sendok atau spuit (usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml) f.Lampiran 6 PROTOKOL PEMBERIAN MADU BAGI PERAWAT 1. Dokumentasikan tindakan (waktu pelaksanaan. orang tua/wali akan di beri madu sebelum pengambilan darah. Persiapan Alat a. 2013 . Lap bersih mulut anak i. Kertas tissue f. Cairan madu d. Anjurkan anak untuk menghabiskan madu yang diberikan. Alas perlak atau handuk pengalas e. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan pada tempat yang telah ditentukan.. g. Jelaskan pada anak. Prosedur Pelaksanaan a. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Letakkan alas di dada atau dipangkuan anak.. c. d. Spuit 5 ml c. paraf perawat. b.. Beri minum jika anak menginginkan. FIK UI. Sendok makan b. Lakukan mengukuran tanda vital pada anak. respon pasien).

Ayu Yuliani Sekriptini.Lampiran 7 JADUAL PELAKSANAAN PENELITIAN No Kegiatan 1 Penyusunan proposal Ujian proposal Pengumpulan data Analisis dan penafsiran data Ujian hasil penelitian Penulisan dan draf publikasi Siding tesis Penulisan tesis Perbaikan tesis Jilid hard cover Pengumpulan tesis 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 September 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4 Bulan November Minggu 1 2 3 4 Desember 1 2 3 Januari 4 1 2 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. 2013 3 4 . FIK UI...

25 Juli 1971 Agama : Islam Almat Rumah : Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. 6 Kabupaten Cirebon Institusi : Poltekkes Tasikmalaya. Riwayat Pekerjaan No Tempat Kerja 1 Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2 SPK Depkes Cirebon 3 Politehnik Kesehatan Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... Program Studi Keperawatan Cirebon Alamat Instansi : Jalan Pemuda no 32 Kota Cirebon 1. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini.. FIK UI. Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Pendidikan SD Negri Banjar I Kota Banjar SMP Negri I Kota Banjar SMA PGRI Kota Banjar Akademi Keperawatan Depkes Bandung S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jurusan Keperawatan Tahun Lulus 1983 1986 1989 1992 Keperawatan 2003 Jabatan Perawat Pelaksana Tahun 1992-1998 Guru Dosen 1998-2001 2001-Sekarang 2. Perumahan Kedung Jaya Indah Blok C No.Lampiran 8 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Ayu Yuliani Sekriptini Tempat Tanggal Lahir : Ciamis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful