Está en la página 1de 141

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN MADU TERHADAP PENURUNAN
SKOR NYERI AKIBAT TINDAKAN INVASIF PENGAMBILAN
DARAH INTRA VENA PADA ANAK DI RUANG UGD
RSUD KOTA CIREBON

TESIS

AYU YULIANI SEKRIPTINI
1006833571

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
DEPOK, JANUARI 2013

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN MADU TERHADAP PENURUNAN
SKOR NYERI AKIBAT TINDAKAN INVASIF PENGAMBILAN
DARAH INTRA VENA PADA ANAK DI RUANG UGD
RSUD KOTA CIREBON

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Ilmu Keperawatan

AYU YULIANI SEKRIPTINI
1006833571

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
PEMINATAN KEPERAWATAN ANAK
DEPOK, JANUARI 2013
ii

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

M. S.) Penguji : Dessie Wanda.Kp. Fakultas Ilmu Keperawatan. M.HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh : Nama : Ayu Yuliani Sekriptini NPM : 1006833571 Program Studi : Magister Keperawatan Judul Tesis : Pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon.Kp. 2013 .App.. (………………………. Ayu Yuliani Sekriptini..Sp. S.MN. Universitas Indonesia. DEWAN PENGUJI Pembimbing : Yeni Rustina. M..An..Kep. SKp...) Penguji : Elfi Syahreni.Si (……………………….Sc. (………………………... PhD (……………………….. Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan.) Ditetapkan di : Depok Tanggal : Januari 2013 iv Pengaruh pemberian. FIK UI..) Pembimbing : Nur Agustini.

Pengaruh pemberian.. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 ... FIK UI.

3. tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. S. 8. selaku penguji IV. Ners.. tenaga... karena atas berkat dan rahmat-Nya. saya dapat menyelesaikan proposal tesis ini. sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini. selaku dosen pembimbing I yang telah dengan penuh kesabaran. selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.. dari masa perkuliahan sampai penyusunan tesis ini. M.Sp. Ayu Yuliani Sekriptini. Elfi Syahreni..Kp. Dewi Irawaty. FIK UI.D. 9.. yang dengan sabar dan tulus memberikan bimbingan. arahan dan perhatian yang besar dalam penyusunan tesis ini. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Keperawatan Peminatan Keperawatan Anak pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. 2. Ph. M. 4. yang telah memberikan saran guna perbaikan tesis ini.. Saya menyadari bahwa. vi Pengaruh pemberian.App. 7.. Rekan-rekan perawat di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama proses pengambilan data untuk menyelesaikan tesis ini. S. 5. S. 2013 . M.KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nur Agustini. Dessie Wanda.A.Si.Kep. Seluruh Staf pengajar Program Studi Magister Ilmu Keperawatan terutama kekhususan Keperawatan Anak dan seluruh staf akademik yang telah membantu peneliti.An.. tenaga. 6. selaku Ketua Program Studi Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. selaku dosen pembimbing II yang telah menyediakan waktu.. M. saya mengucapkan terima kasih kepada : 1.. Yeni Rustina.Sc. S.Kp.. pikiran dan motivasi serta dukungan yang sangat besar untuk saya dalam penyusunan tesis ini. PhD. Oleh karena itu.N. menyediakan waktu. selaku penguji III.. dan pikiran untuk penyusunan tesis ini.. MN..Kp. M..Kp. Pihak RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleh data dan memberikan ijin untuk tempat penelitian. Astuti Yuni Nursasi.

Shinta Maharani. 11. FIK UI.. khususnya keperawatan anak di Indonesia. Ghaida Shafa Nabilah. Januari 2013 Penulis vii Pengaruh pemberian. dan keluarga saya yang telah memberikan bantuan dan dukungan do’a bagi peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini. Fadhli Dzil Ikram. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi kemajuan keperawaan. Suyami. 2013 . Eni Nuraeni Yunus.. yang telah memberikan perhatian dan dukungan yang sangat besar selama penyusunan tesis ini. Ayu Yuliani Sekriptini. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda untuk semua kebaikan yang telah diberikan. Yuliatin dan teman-teman di Keilmuan Keperawatan Anak.10.. Depok.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh madu terhadap skor nyeri anak saat pengambilan darah. viii Pengaruh pemberian. Desain penelitian ini adalah kuasi eksperimen. Kata kunci: madu. Peneliti menyimpulkan pemberian madu peroral dapat menurunkan skor nyeri pada anak saat pengambilan darah intravena. 2013 . terdiri dari kelompok intervensi yang mendapatkan madu peroral (34 responden) dan kelompok kontrol mendapatkan plasebo (34 responden). usia responden 1-6 tahun.001). Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rata-rata skor nyeri anak pada kelompok madu dan kelompok plasebo (p=0.ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Ayu Yuliani Sekriptini : Magister Ilmu Keperawatan : Pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon Pengambilan darah intravena dapat menimbulkan nyeri dan traumatik pada anak.. Sampel diambil dengan consecutive sampling. skor nyeri. pengambilan darah intra vena. Skor nyeri dievaluasi dengan Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS).. FIK UI.. Ayu Yuliani Sekriptini.

.ABSTRACT Name : Ayu Yuliani Sekriptini Study Programme : University of Indonesia Magister Program in Nursing Science Specialisation Pediatric Nursing Title : The influence of giving honey on the score decreasing of pain as the result of intravena blood taking action on child at the emergency department of RSUD Cirebon City The intravena blood taken can cause pains and be traumatic for child. The design of this research is quasi experiment. 2013 .The score of pains are evaluated with Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS).This research has the aims to identify The influence of giving honey on the score decreasing of pain. and controlled group obtained plasebo (34 respondents) respondents aged 1-6 years.001). the intravena blood taken. Ayu Yuliani Sekriptini.. Samples were taken by consecutive sampling which consists of the intervened group who obtained honey per oral (34 respondents).. The result of analysis shows there is a significant difference on the average score of pains between the intervened and controlled group (p=0. The researcher concluded that the giving of honey per oral can decrease the score of pains on child when the intravena blood taken. the score of pains ix Pengaruh pemberian. FIK UI. Key words: honey.

. Pengendalian Nyeri di Unit Gawat Darurat …………………….. Manfaat Penelitian …………………………………………………….4.. 47 2. Pengertian Madu ………………………………………………… 35 2.2.5.4. Komposisi Kimia dan Biologi Madu …………………………….. Konsep Anak …………………………………………………………… 45 2. 25 2.1..3. Penatalaksanaan Nyeri pada Anak ……………………………… 20 2. Teori Keperawatan “Comfort” Katherine C.4. Atraumatic Care ……………………………………………………….1.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi Nyeri ………………………. Kolcaba …………………. 13 2. Klasifikasi Nyeri ……………………………………………….1.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS …………………………....1.2.2. 26 2. 10 2. Fisiologi Nyeri …………………………………………………. Aplikasi Comfort Theory pada Keperawatan Anak …………….4. Nyeri Pada Anak ……………………………………………………….. ABSTRACT ………………………………………………………………… DAFTAR ISI ……………………………………………………………….7. Efek Terapeutik Madu …………………………………………...2.2.5...2. 38 2.2. Prinsip Atraumatic Care ………………………………………… 49 x Pengaruh pemberian. DAFTAR SKEMA ………………………………………………………….1. Pengertian Atraumatic Care ……………………………………...1.5.6...1..4.1...1. DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………. 40 2. 37 2. Penggunaan Madu Dalam Penanganan Nyeri Pada Anak ………………35 2.5. PENDAHULUAN ………………………………………………………. 16 2. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………...1. Efek yang ditimbulkan oleh Nyeri ……………………………… 19 2....... Kelompok Anak Berdasarkan Fase Perkembangan …………….5.3.6.1. iii iv vi viii ix x xiii xiv xv xvi 1 1 7 8 8 2.2.46 2.1. Pengertian Nyeri ………………………………………………. 2013 .2.8.4. Konsep Teori “Comfort” Katherine C.. DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… Hal 1. Pengertian Anak ………………………………………………… 45 2. Perumusan Masalah …………………………………………………… 1. Pengaruh Madu Terhadap Penurunan Respon Nyeri ………………….2. 10 2. Penilaian Nyeri ………………………………………………….3. FIK UI... 43 2. 39 2. LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………… KATA PENGANTAR ……………………………………………………… ABSTRAK ………………………………………………………………….. Ayu Yuliani Sekriptini. 10 2.6. 11 2. Tujuan Penelitian ……………………………………………………… 1. 35 2.6.3. Kolcaba ………………… 40 2.. Latar Belakang ………………………………………………………… 1.. 47 2. 1. DAFTAR TABEL …………………………………………………………. Jenis-jenis Madu ……………………………………………….1.2.

68 4.2. Uji Kesetaraan (Homogenity)………………………………………….1. 2013 . METODE PENELITIAN ………………………………………………… 56 4.50 3.2.7.1. Kerangka Konsep Penelitian …………………………………………… 51 3. 53 4.. 88 xi Pengaruh pemberian. PEMBAHASAN…………………………………………………………… 78 6.2. HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL ………………………………………………51 3. 85 6.3. 56 4.10. Prosedur Analisis Data …………………………………………………. HASIL PENELITIAN ……………………………………………………. Analisis Bivariat ………………………………………………………. Perbedaan Rata-rata Skor Nyeri antara Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Berdasarkan Karakteristik Anak……………. FIK UI.. 60 4.1. Variabel terikat (dependent) ……………………………………. Sampel dan Besar Sampel …………………………………… 56 4.. Hipotesis Mayor ………………………………………………… 53 3.2.2. Kerangka Teori …………………………………………………………. 53 3. Hipotesis ………………………………………………………………. 73 5. Pengolahan Data ……………………………………………………….1.2. KERANGKA KONSEP.1.1. Prosedur Pengumpul Data ……………………………………………… 64 4..3. Validitas dan Reliabilitas Instrumen …………………………………… 62 4.11. Intervensi yang Dilakukan ………………………………………………64 4. Skor Nyeri Kelompok Madu dan Kelompok Plasebo …………. Alat Pengumpula Data ………………………………………………….2.6.... Implikasi Hasil Penelitian …………………………………………….2.2. 53 3. Karaktristik Responen ……………………………………………78 6.2. Etika Penelitian ………………………………………………………… 60 4.2.. Desain Penelitian ……………………………………………………….3..1. Analisis Univariat ……………………………………………………… 71 5. 61 4. 51 3.1.2.3. Populasi ………………………………………………………….3. Variabel bebas (independent) …………………………………… 51 3. Variabel perancu (confounding) ………………………………… 52 3. Definisi Oprasional …………………………………………………….. 71 5. Populasi.1.4. Keterbatasan Penelitian ……………………………………………….3. 75 6.5. Rata-rata skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo ………………………………………………………….9.1.. 74 5.. 58 4.1. 87 6. 73 5.3.1.. Tempat Penelitian ……………………………………………………… 59 4. Interpretasi dan Diskusi hasil…………………………………………… 78 6.2. Waktu Penelitian ……………………………………………………….1. Sampel ……………………………………………………………57 4. Besar Sampel …………………………………………………….7. 70 5.. 69 5..1.1. Ayu Yuliani Sekriptini. 56 4.1. Karakteristik Responden ……………………………………….8. Hipotesis Minor ………………………………………………….3..2. Perbedaan Rata-rata Skor Nyeri pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ……………………………………………… 74 5.2.2.1.

92 LAMPIRAN xii Pengaruh pemberian.. Ayu Yuliani Sekriptini. Saran …………………………………………………………………… 90 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………..7. FIK UI.. 2013 .2. KESIMPULAN DAN SARAN 7. 90 7. Simpulan ………………………………………………………………..1.

3... Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Kandungan Gizi Madu Perhutani …………………………….4.5.1 Tabel 4. Uji homogenitas data responden berdasarkan jenis kelamin. Faces. Tabel 5. FIK UI.. Tabel 5... pengalaman sebelumnya dan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…….... Tabel 5. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…………………………………………………………. 2013 Hal 27 31 32 36 52 67 68 69 70 71 72 76 76 77 .1. dan pengalaman pengambilan darah di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…… Distribusi skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………. Tabel 2... Tabel 5... jenis kelamin.4..2. Tabel 3.6 Tabel 5. xiii Pengaruh pemberian..DAFTAR TABEL Tabel 2.3. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………… Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………………………. Tabel 2... Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri pada anak kelompok intervensi dan kelompok kontrol di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon …………………….. dan Consolability ………………. Uji Statistik ……………………………………………………….8 Penilaian Klinis Nyeri ………………………………………. Distribusi responden berdasarkan usia. Tabel 5... Cry. Legs.….. Ayu Yuliani Sekriptini.1.2..7 Tabel 5.2. kehadiran keluarga... Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan usia anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…………………………………………………………. Tabel 5..Activity.usia. Tabel 2. Definisi Operasional …………………………………………….

……………………………………… Gambar 2.…………………………………. xiv Pengaruh pemberian...…….. Gambar 2. Perjalanan Nyeri…………..………………………. FIK UI....1. Wong Baker Faces Pain Rating Scale…………... Verbal Rating Scale…….2. 2013 Hal 13 31 31 31 32 . Numerical Rating Scale………... Gambar 2.....…….DAFTAR GAMBAR Gambar 2.…….. Ayu Yuliani Sekriptini. Gambar 2..……………………………..5.3.4.….... Visual Analogue Scale….

Aplikasi Comfort Theory dalam Keperawatan Anak ………… Aplikasi Comfort Theory dalam Tindakan Pemberian Madu … Kerangka Teori …………………….………………………… xv Pengaruh pemberian.2.1... Skema 3. Ayu Yuliani Sekriptini. Skema 2. 2013 Hal 43 45 49 51 ..…………………………. Skema 2.DAFTAR SKEMA Skema 2. FIK UI.3. Kerangaka Konsep Penelitian ………..1.

2013 .. Penjelasan tentang Penelitian Lembar Persetujuan Bersedia Menjadi Responden Penelitian Kuesioner Data Demografi Instrumen Skala Nyeri CHEOPS Protokol Pemberian Madu Bagi Perawat Jadual Pelaksanaan Penelitian Daftar Riwayat Hidup xvi Pengaruh pemberian. Lampiran 7. Lampiran 3. Lampiran 6.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Lampiran 2... Lampiran 4. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. Lampiran 5.

Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya keadaan sakit dan hospitalisasi. Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat.. salah satunya hak anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Keadaan anak yang tiba-tiba sakit atau terjadinya cedera mengharuskan anak masuk ke ruang gawat darurat. FIK UI. Salah satu tugas perawat gawat darurat adalah melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada pasien dan menetapkan area yang tepat untuk pengobatan selanjutnya. berakhlak mulia dan terlindungi dari diskriminasi. 2013 . Hal tersebut didukung oleh Undang-undang No. dimana unit gawat darurat merupakan suatu bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan kepada anak yang diperkirakan mengalami keadaan yang mengancam jiwa dan terjadi secara mendadak dalam suatu lingkungan yang tidak dapat dikendalikan (Zempsky & Schecter. 23 tahun 2002 menyebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya. tumbuh dan berkembang. Latar Belakang Undang-undang perlindungan anak No. termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. Proses gawat darurat dipengaruhi oleh beberapa 1 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 132 ayat 1 menyebutkan anak yang dilahirkan wajib dibesarkan dan diasuh secara bertanggung jawab sehingga memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal. Tujuan Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 (PNBAI) adalah terwujudnya anak Indonesia yang sehat.BAB 1 PENDAHULUAN 1. Ayu Yuliani Sekriptini.. eksploitasi dan kekerasan serta dapat mengalami peningkatan kesejahteraan.. mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah. Salah satu program pemerintah terkait optimalisasi tumbuh kembang anak yaitu Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 (PNBAI). cerdas ceria.1. 2005).

Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pengalaman nyeri selalu tidak menyenangkan. 2001.2 faktor diantaranya waktu yang terbatas. 2008). dan sumber daya yang ada. Oleh karena itu diperlukan adanya tindakan secara cepat dan tepat untuk mencegah adanya kecacatan ataupun ancaman jiwa pasien di instalasi gawat darurat. Weisan. 2002. Bernstein & Schechter. Penelitian Zempsky dan Cravero. Tindakan pengambilan darah vena merupakan prosedur yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan serta rasa tidak nyaman bagi anak akibat nyeri yang dirasakan saat prosedur tersebut dilaksanakan (Zeltzer & Brown 2007). (2004) menyebutkan pengendalian nyeri dan kecemasan untuk anak yang memasuki unit gawat darurat merupakan hal yang penting dan harus diperhatikan karena dapat menyebabkan trauma pada anak. Eichenfield. Salah satu tindakan yang cepat dan tepat yang harus segera dilakukan di unit gawat darurat untuk menentukan diagnosis suatu penyakit atau tindakan yang lainnya adalah tindakan invasif pengambilan darah... Weisman. salah satunya adalah tindakan pengambilan darah vena (Meliala. Hal ini dikarenakan banyaknya pasien di unit gawat darurat yang datang secara mendadak dan keterbatasan petugas. peran tim medis. 2013 . FIK UI. Tindakan invasif pengambilan darah merupakan tugas dari petugas laboratorium akan tetapi dalam kenyataanya di unit gawat darurat pengambilan darah dilakukan oleh perawat. Tindakan invasif yang didapat anak selama di unit gawat darurat dapat menimbulkan trauma berkepanjangan. kondisi pasien yang memerlukan bantuan segera. 2008). kebutuhan pelayanan definitif di unit lain. didapatkan bahwa nyeri yang dikeluhkan oleh anak selalu diabaikan sehingga penanganan yang diberikan tidak adekuat (Zeltzer & Brown 2007.. informasi yang terbatas. Beberapa studi nyeri pada anak. Bernstein & Schechter. dan dapat terjadi pada anak dengan keadaan sakit akut maupun yang sedang menjalani prosedur. et al. Ayu Yuliani Sekriptini.

FIK UI. Anak yang mengalami kondisi sakit akan muncul tantangan-tantangan yang harus dihadapinya seperti mengatasi suatu perpisahan.3 Tindakan yang menyakitkan merupakan stresor bagi anak pada semua tingkat usia. Salah satu mekanisme mengurangi dampak perawatan adalah manajemen nyeri. 2013 . et al. emosional. Ayu Yuliani Sekriptini. dan sering harus berhubungan dan bergaul dengan anakanak yang sakit serta pengalaman mengikuti terapi yang menyakitkan. dimana hasil penelitian menunjukkan dua pertiga dari sampel yang dilaporkan pada anak yang mengalami nyeri berulang mengalami penurunan kulias hidup empat kali di bandingkan pada anak dengan tanpa nyeri. Perawat bertanggung jawab secara komperhensif dalam memberikan asuhan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. rasa tidak aman. (2006) dan Cohen. menjelaskan bahwa anak yang masuk rumah sakit akan muncul perasaan ketakutan karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya. 2005).. et al. Anak dengan kondisi nyeri menunjukkan berbagai komplikasi seperti timbulnya kecemasan. perasaan kehilangan sesuatu yang biasanya dialaminya.. Hasil penelitian Won. Hasil penelitian Petersen. psikososial dan fisiologi jangka panjang. dan sekolah berfungsi dan kesejahteraan. 2002. Oleh karena itu penatalaksanaannya seharusnya dilakukan dengan optimal dan rasional. (2007).. sosial. Aspek penilaian Health-Related Quality Of Life (HRQOL) meliputi penilaian fisik. gangguan prilaku. dan tidak nyaman. dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan. keputusasaan. nyeri pada anak dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup. penyesuaian dengan banyak orang yang mengurusinya. Metode penurunan nyeri merupakan salah satu prinsip dasar keperawatan anak yaitu prinsip atraumatic care atau pencegahan terhadap trauma. Zempsky & Schecter. Berbagai komplikasi ini dapat menurunkan kualias hidup. Hagglof dan Bergstrom (2009). sehingga dapat mengurangi dampak yang merugikan baik bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarganya (Kleiber. penyesuaian dengan lingkungan yang asing baginya.

Pemeriksaan dan pengobatan nyeri pada anak adalah komponen penting dalam praktek pelayanan kesehatan anak sehari-hari (Zempsky & Schecter. Intervensi keperawatan untuk mencegah terjadinya trauma karena nyeri pada anak dapat dilakukan berupa intervensi farmakologi ataupun intervensi nonfarmakologi. Penatalaksanaan nyeri yang adekuat. Sejumlah tehnik farmakologis dan non farmakologis dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri pada anak. 2011).. membuat nyeri dapat lebih ditoleransi. 2013 . Intervensi untuk mengurangi nyeri dapat dilakukan secara multidimensional melalui pendekatan pengobatan interdisipliner. menurunkan kecemasan dan meningkatkan kefektifan analgesik atau mengurangi dosis yang diperlukan (Czarnecki.4 keperawatan anak untuk mesejahterakan anak. 2002. kognitif. juga akan meningkatkan keeratan dan kerjasama antara pasien dengan perawat saat memberikan intervensi sehingga dapat mengurangi beban perawat dalam memberikan pelayanan. relaksasi. et al. Morton 2008. FIK UI. krim anastesi. 2011). 2002). Czarnecki. guided imagery dan stimulasi kutan dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. psikologis dan pengobatan non farmakologis yang bertujuan untuk memberikan intervensi dengan penuh kasih sayang.. Prinsip atraumatic care adalah perawatan yang tidak menimbulkan adanya trauma pada anak dan keluarga (Wong & Hockenberry. seperti misalnya pemberian terapi analgesik. American Pain Society. Ayu Yuliani Sekriptini.. disamping bertujuan untuk mengurangi kecemasan pada anak dan orang tua. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2003). et al. 2003). yaitu suatu gabungan farmakologis. distraksi. efektif dan tepat waktu (American Academy Of Pediatrics. disamping akan memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada orang tua atau pendamping anak yang dilayani (American Academy Of Pediatrics American Pain Society. Seorang perawat bertanggung jawab sedapat mungkin untuk menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri pada anak yang dilayaninya.

(2002) dan Crutis et al. (2011) menyebutkan pemberian rasa manis (sukrosa. Pendekatan secara nonfarmakologi yang sering dilakukan berupa pendekatan psikologis dengan cara memberikan penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan.5 Pendekatan intervensi untuk mengurangi nyeri akut biasanya lebih banyak dilakukan dengan pendekatan farmakologi.. anastesi regional.... dan permen karet manis) dapat mengurangi rasa nyeri pada anak usia satu sampai enamanbelas tahun. Penelitian lain yang serupa dilakukan oleh Devaera (2006) berupa pemberian oral larutan glukosa 30 % dapat menurunkan respon nyeri pada bayi baru lahir saat dilakukan prosedur pengambilan darah tumit. Penelitian lain menunjukkan bahwa larutan manis lain seperti glukosa. Penelitian yang dilakukan oleh Gradin et al. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. 2000). Steven et al. (2011) menjelaskan tentang pemberian oral sukrosa 20 % dapat menurunkan respon nyeri pada bayi cukup bulan saat dilakukan pengambilan contoh darah vena. aspartan. Pendekatan dengan menggunakan intervensi nonfarmakologi untuk mengurangi respon nyeri lainnya dilakukan oleh beberapa peneliti dan telah membuktikan bahwa intervensi nonfarmakologi dapat mengurangi nyeri karena tindakan invasif. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan larutan sukrosa sebagai analgesik pada bayi baru lahir saat menjalani prosedur invasif minor dapat menurunkan respon nyeri. dan sakarin memberikan efek yang serupa (Bauer et al. Pendekatan farmakologi pada anak tidak seluruhnya dapat dilaksanakan karena kekhawatiran akan adanya efek samping yang ditimbulkan dari pemberian obat-obatan tersebut (American Academy Of Pediatrics.. anastesi local infiltrasi. fruktosa. 2011). dan krim anastesi topikal. Pendekatan secara psikologis dapat dilakukan pada usia anak tertentu saja dan membutuhkan waktu khusus pendekatan kepada anak (Sikorova & Hrazdilova. et al. berupa pemberian anastesi umum.. (2005) melakukan penelitian meta-analisis tentang pemberian sukrosa saru lahir. 2013 . 2005). Penelitian meta-analis yang dilakukan oleh Harrison.. glukosa. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

Larutan manis yang banyak mengandung sukrosa dan glukosa terdapat dalam madu. Karbohidrat madu ikut menambah pasokan sebagian energi yang diperlukan tubuh. madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen penyebab penyakit. dan guided imagery. sukrosa (1..6%. serta mengandung flavonoid yaitu pinocrembin (Purabaya. Departement of Biological Sciences. Cipto Mangunkusumo dengan memberikan sukrosa 30% 2 ml pada anak dan bayi sebelum tindakan invasif.0%). glukosa (35%). Hasil penelitian Geonarwo et al. relaksasi. sekitar 2.. investase. beberapa penelitian memberikan informasi tentang manfaat madu untuk tubuh. Madu juga mengandung berbagai macam enzim (amylase.. dan madu telah mendapatkan tempat yang istimewa dalam sejarah pengobatan tradisional serta mudah diperoleh. yang dihasilkan oleh lebah dari saripati beragam tanaman. baik asam amino esensial maupun non-esensial. Madu merupakan larutan yang memiliki rasa manis..5%). peroksidase. katalase. FIK UI. University of Waikoto. di Hamilton. dan dekstrin (1. Asam amino berfungsi sebagian metabolisme protein tubuh. Kadar protein dalam madu relatif kecil. Kandungan asam amino pada madu cukup beragam. Selain berfungsi sebagai antibiotik madu memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka. Pemberian rasa manis untuk mengurangi rasa manis seperti pemberian sukrosa sudah pernah dilaksanakan di ruang bedah anak dan ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) di Rumah Sakit Umum Pendidikan Negri Dr. 2013 . diastase. Kandungan gizi utama madu adalah aneka senyawa karbohidrat seperti gula fruktosa (41. Selandia Baru membuktikan. Ayu Yuliani Sekriptini.9%). 2002). Madu banyak diteliti oleh beberapa ahli. lipase) yang memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh.6 Fenomena pemberian intervensi non farmakologi di beberapa rumah sakit sudah sebagian dilakukan berupa distraksi. (2011) menyebutkan kandungan flavonoid yang terdapat dalam madu dapat menghambat nyeri yaitu dengan mekanisme kerja menghambat Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

Ayu Yuliani Sekriptini. Hasil observasi lapangan dan wawancara pada perawat yang dilakukan peneliti di RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon memberikan gambaran bahwa di ruangan perawatan anak ataupun di unit gawat darurat intervensi non farmakologi untuk mengurangi respon nyeri karena tindakan pengambilan darah belum dilakukan. FIK UI. RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawiangun Kota Cirebon belum memiliki format skala nyeri yang digunakan baik untuk dewasa ataupun anak. (Rekam Medik RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawiangun Kota Cirebon. tidak mampu bergerak bebas. 2013 . Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan pengambilan darah vena pada anak di ruang Unit Gawat Darurat. Pemberian madu belum pernah diberikan terkait dengan penurunan respon nyeri pada anak. susah tidur..7 pembentukan prostaglandin melalui penghambatan enzim cyclooxygenase. sama seperti obat-obat analgetik antipiretik lain (NSAIDs). Intervensi pengambilan darah pada anak lebih sering dilakukan di unit gawat darurat daripada di ruang perawatan anak. 1. Nyeri menyebabkan anak menderita.. Jumlah kasus anak yang masuk ke ruang unit gawat darurat setahun terakhir ini ratarata per-bulan kurang lebih 300 orang anak dengan rata-rata usia 1-17 tahun. Perumusan Masalah Nyeri pada anak menimbulkan dampak negatif terhadap mutu kehidupan (quality of life). gelisah. cemas. Intervensi non farmakologi untuk mengurangi nyeri yang dilakukan perawat berupa informasi tentang penjelasan pada anak dan orang tua saat tindakan akan dilakukan. Sampai saat ini penulis belum mendapatkan adanya penelitian yang meneliti tentang keefektifan madu dalam menurunkan respon nyeri pada anak yang dilakukan tindakan pengambilan darah vena.. perasaan tidak akan tertolong dan putus Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2011).2.

sirup. Ayu Yuliani Sekriptini. dan aneka kue. pengalaman nyeri sebelumnya. pendampingan orang tua) saat dilakukan prosedur pengambilan darah di ruang unit gawat darurat. b. Tujun Penelitian 1. Keadaan ini sangat mengganggu kehidupan normal anak sehari-hari sehingga penatalaksanaan nyeri yang efektif perlu dilakukan. Tujuan Umum Teridentifikasinya pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon. 2013 . Anak-anak pada umumnya menyukai rasa manis seperti gula..8 asa. 1. Karenanya rasa manis pada madu mudah dapat diterima oleh anak-anak.2. Berdasarkan uraian latar belakang diatas. jenis kelamin.3.1. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Gambaran karakteristik anak (usia. FIK UI. Madu merupakan salah satu obat alami yang banyak memiliki khasiat mengobati dan memiliki rasa manis. Salah satu sunber rasa manis selain sukrosa dan glukosa adalah madu. Rerata skor nyeri anak yang dilakukan pengambilan darah pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.. permen.. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian adalah teridentifikasinya : a. Penatalaksanaan mengurangi nyeri pada anak dengan intervensi nonfarmakologis salah satunya adalah dengan memberikan sensasi rasa manis pada anak.3.3. maka pertanyaan yang akan diteliti ”Adakah pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon?” 1. Rasa manis yang sering diberikan dalam penelitian untuk mengurangi nyeri berupa pemberian sukrosa dan glukosa.

9 c.1.2. Ayu Yuliani Sekriptini.3. Manfaat Keilmuan Memberi gambaran dan informasi tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang unit gawat darurat. Mafaat Penelitian 1. pendampingan orang tua).4.4. Manfaat Aplikatif Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada anak saat dilakukan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat sehingga dapat mengurangi terjadinya dampak traumatik dan hospitalisasi. 1. jenis kelamin. Perbedaan rerata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak (usia. d. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.4. FIK UI..4. 1. Manfaat Metodologi Penelitian ini dapat menambah jumlah penelitian tentang perawatan pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang Unit Gawat Darurat dan dapat menjadi landasan penelitan selanjutnya. 1. 2013 . pengalaman nyeri sebelumnya.

FIK UI. Nyeri Pada Anak 2. Interpretasi nyeri sifatnya subjektif... Nyeri dan kecemasan dapat terjadi akibat suatu prosedur diagnostik atau terapi pada anak (Brusch & Zeltzer.1. Soyer et al. 2010). Mathew & Dickenson. fleksi dan ekstensi alat gerak) dan perubahan fisiologis (perubahan laju 10 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Nyeri pada anak menjadi masalah oleh karena anak memberikan respon nyeri yang berbeda sesuai dengan tingkat usia pada anak (Mathew. 2009). Pengertian Nyeri Nyeri adalah suatu gejala dalam merasakan subyek dan pengalaman emosional serta termasuk suatu komponen sensori. komponen diskriminatori. Nyeri pada anak. dimana setiap orang akan mengeluarkan ekspresi yang berbeda dengan yang lainnya jika berhadapan dengan stimulus yang melukai. 2001. 2003). 2004.. 2006.. 2004). Taddio et al. Smatzler & Bare. diinterpretasi dan diekspresikan melalui tingkah laku (menangis.. kognitif dan behavior yang saling berhubungan dengan faktor lingkungan.1. wajah menyeringai.1. Nyeri sangat penting sebagai mekanisme proteksi tubuh yang timbul bilamana jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang nyeri ini.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. respon-respon yang mengantarkan ataupun reaksi-reaksi yang ditimbulkan oleh stimulus dalam suatu kasus nyeri (Latief. emosi. 2002. Nyeri mempunyai komponen sensori. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. Nyeri adalah segala sesuatu yang dikatakan seseorang tentang nyeri tersebut dan terjadi kapan saja seseorang mengatakan bahwa ia merasa nyeri (McCaffery & Pasero 2010).. The Internaional Association for Study of Pain menyebutkan nyeri yaitu perasaan dan pengalaman emosi yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kenyataan atau potensi terjadinya kerusakan jaringan atau gambaran yang berkaitan kerusakan jaringan tersebut (Drendel et al. sosio-kultur dan tumbuh kembang anak.

.. corpusculum paccini. sehingga hubungan nyeri dengan kerusakan jaringan tidak sama dan tidak konsisten. merkel. dan nyeri itu bersifat subyektif. modulasi dan persepsi.. sehingga laporan atau keluhan dari pasien merupakan penilaian yang paling mempunyai arti dalam menegakkan diagnosa nyeri (Petersen et al. transmisi. Breivik et al. dimana terjadinya stimuli yang kuat diperifer sampai dirasakannya nyeri di susunan saraf pusat (cortex cerebri) (Uman et al. (2010) ada 4 proses yang mengikuti suatu proses nosisepsi yaitu : a. Suatu stimuli kuat (noxion stimuli) seperti tekanan fisik kimia. 2010).11 denyut jantung. Rangkaian proses perjalanan yang menyertai antara kerusakan jaringan sampai dirasakan nyeri adalah suatu proses elektofisiologi. 2010).1. Proses Transduksi Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf. Daniela et al. 2013 ... 2. Ayu Yuliani Sekriptini. dari beberapa definisi tersebut nyeri merupakan kombinasi dari respon sensorik. suhu dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf perifer (nerve ending) atau organ-organ tubuh (reseptor meisneri. Keadaan ini Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2007.. dimana prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptorreseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin.2. afektif dan prikomotor. Kerusakan jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya menyebabkan sintesa prostaglandin. 2009. Srouji et al. dan perubahan kimia darah).. laju pernafasan.. Menurut Latief (2001) dan Daniela et al. serotonin yang akan menimbulkan sensasi nyeri. jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa nyeri merupakan pengalaman yang universal yang berfungsi sebagai tanda penting bahwa tubuh tidak berfungsi atau mengalami kerusakan. FIK UI.. Fisiologi Nyeri Perjalanan nyeri termasuk suatu rangkaian proses neurofisiologis kompleks yang disebut sebagai nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses komponen yang nyata yaitu transduksi. golgi mazoni). 2008.

FIK UI. endorphin. Proses terjadinya interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis merupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak. serotonin. Ayu Yuliani Sekriptini.. transmisi dan modulasi yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu proses subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri. noradrenalin) dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis. 2008. 2007. Daniela et al. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat subjektif pada setiap orang (Uman et al. 2013 . Persepsi Hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dari proses tranduksi.. Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di cortex cerebri dan dirasakan sebagai persepsi nyeri (Uman et al. dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh tractus spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. Daniela et al. Traktus spinoretikularis terutama membawa rangsangan dari organ-organ yang lebih dalam dan viseral serta berhubungan dengan nyeri yang lebih ditekan dan melibatkan emosi. yang diperkirakan terjadi pada thalamus dengan korteks sebagai diskriminasi dari Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2007. Kornu posterior sebagai pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk analgesik endogen tersebut. c..... Breivik et al. 2010)... Selain itu juga serabut-serabut saraf disini mempunyai sinaps interneuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan bermielin. b.12 dikenal sebagai sensitisasi perifer (Breivik et al. Proses Modulasi Proses modulasi merupakan perubahan transmisi nyeri yang terjadi pada susunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak). 2010). d. Proses Transmisi Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis.. 2008.. Analgesik endogen (enkefalin. 2010). Daniela et al.

13

sensorik (Uman et al., 2007; Breivik et al., 2008; Daniela et al., 2010).
Secara skematis, jaras persepsi nyeri seperti terlihat pada gambar 2.1.

Sumber : www.medscape.com

Gambar 2.1. Perjalanan Nyeri
2.1.3. Klasifikasi Nyeri
Respon individu yang berbeda-beda tentang nyeri membuat sulit
mengkategorikan jenis nyeri yang dirasakan dan mengatahui penyebab
nyeri itu sendiri. Nyeri memiliki sifat yang unik pada setiap individual
bahkan jika cedera fisik terjadi respon nyeri pada individu satu tidak sama
pada individual lainnya. Adanya takut, marah, kecemasan, depresi dan
kelelahan akan mempengaruhi bagaimana nyeri itu dirasakan. Salah satu
pendekatan yang dapat dilakukan untuk membedakan

nyeri adalah

berdasarkan durasi (akut, kronik), patofisiologi (nosiseptif, nyeri
neuropatik) dan etiologi (paska pembedahan, kanker) (Ratnapalan et al.,
2010; Daniela et al., 2010).

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

14

Klasifikasi nyeri terdiri dari :
a. Nyeri Akut dan Kronik
Nyeri akut merupakan nyeri yang terjadi secara tiba-tiba yang bisa
disebabkan oleh injuri, penyakit, ataupun pembedahan (McCaffrey, &
Pasero, 2010). Nyeri akut merupakan indikator terjadinya kerusakan
jaringan, yang memberitahukan individu untuk melindungi area yang
terkena dari injuri lebih lanjut. Karakteristik nyeri akut ini terdiri dari:
komunikasi tentang nyeri dideskripsikan, perilaku sangat berhati-hati,
memusatkan diri, fokus perhatian rendah (perubahan persepsi waktu,
menarik diri dari hubungan sosial, gangguan proses pikir), perilaku
distraksi (mengerang, menangis, dan lain-lain), raut wajah kesakitan,
perubahan tonus otot, respon autonom (diaforesis, perubahan tekanan
darah dan nadi, dilatasi pupil, penurunan atau peningkatan frekuensi
pernapasan). Nyeri kronik muncul jika masih dirasakan setelah
pengobatan terhadap injuri tidak ada kerangka waktu yang ditentukan.
Nyeri kronik juga tampak sebagai ketidakmampuan tubuh untuk
mencegah interpretasi sinyal dan gejala nyeri setelah injuri diatasi.
Nyeri ini berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama
dan pasien sering sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan,
karakteristik nyeri ini terdiri dari; individu melaporkan bahwa nyeri
telah ada lebih dari 6 bulan, ketidaknyaman, marah, frustasi, depresi
karena situasi, raut wajah kesakitan, anoreksia, penurunan berat badan,
insomnia, gerakan yang sangat berhati-hati dan spasme otot
(Ratnapalan et al., 2010).
b. Nosiseptif dan Nyeri Neuropatik
Nyeri organik bisa dibagi menjadi nosiseptif dan nyeri neuropatik.
Nyeri nosiseptif adalah nyeri inflamasi yang dihasilkan oleh
rangsangan kimia, mekanik dan suhu yang menyebabkan aktifasi
maupun sensitisasi pada nosiseptor perifer (saraf yang bertanggung
jawab terhadap rangsang nyeri). Nyeri nosiseptif

biasanya

memberikan respon terhadap analgesik opioid atau non opioid. Nyeri
nociceptive merupakan persepsi sensorik terhadap kerusakan atau

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

15

potensial kerusakan pada jaringan akibat trauma atau penyakit. Nyeri
ini terjadi sebagai akibat rangsangan reseptor dan dapat berupa nyeri
akut maupun kronis. Nyeri neuropati yang bisa berupa nyeri akut
maupun kronis, disebabkan oleh cedera atau penyakit yang secara
langsung mempengaruhi sistem saraf. Nyeri sentral juga merupakan
nyeri kronik yang terjadi lebih disebabkan oleh kerusakan saraf. Nyeri
neuropatik merupakan nyeri yang ditimbulkan akibat kerusakan neural
pada saraf perifer maupun pada sistem saraf pusat yang meliputi jalur
saraf aferen sentral dan perifer, biasanya digambarkan dengan rasa
terbakar dan menusuk. Pasien yang mengalami nyeri neuropatik sering
memberi respon yang kurang baik terhadap analgesik opioid (Potter &
Perry 2005; McCaffrey, & Pasero, 2010; Daniela et al., 2010).
c. Nyeri Viseral
Nyeri viseral biasanya menjalar dan mengarah ke daerah permukaan
tubuh jauh dari tempat nyeri namun berasal dari dermatom yang sama
dengan asal nyeri. Nyeri viseral terjadi karena kontraksi ritmis otot
polos. Penyebab nyeri viseral termasuk iskemia, peregangan ligamen,
spasme otot polos, distensi struktur lunak seperti kantung empedu,
saluran empedu, atau ureter. Distensi pada organ lunak menimbulkan
respon nyeri karena terjadinya peregangan jaringan dan dapat
menyebabkan iskemia daerah sekitarnya, adanya kompresi pembuluh
darah pada organ lunak tersebut dan menyebabkan distensi berlebih
dari jaringan yang dapat menimbulkan nyeri (McCaffrey, & Pasero,
2010; Daniela et al., 2010).
d. Nyeri Somatik
Nyeri somatis permukaan atau superfisial adalah akibat stimulasi
nociceptor di dalam kulit atau jaringan subkutan dan mukosa yang
mendasari. Hal ini ditandai dengan adanya sensasi atau rasa berdenyut,
panas atau tertusuk, kemungkinan berkaitan dengan rasa nyeri yang
disebabkan oleh stimulus yang secara normal tidak mengakibatkan
nyeri

dan hiperalgesia. Jenis nyeri ini biasanya konstan dan jelas

lokasinya. Nyeri superfisial biasanya terjadi sebagai respon terhadap

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

.. Perbedaan tingkat perkembangan yang ditemukan antara kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap nyeri (Daniela et al. Usia bayi memberikan respon nyeri dengan menangis dan lebih mudah ditenangkan kembali dengan dipeluk oleh orang tuanya. toleransi terhadap nyeri dan mempengaruhi reaksi terhadap nyeri (Le Mone & Burke. Usia prasekolah membutuhkan penjelasan yang berulang kali dan diyakinkan bahwa prosedur dan pengalaman yang menyakitkan bukan merupakan hukuman untuk perilaku buruk. beberapa menyebar ke daerah sekitarnya (McCaffrey.1. Usia Usia dalam hal ini merupakan variabel yang penting yang mempengaruhi nyeri terutama pada anak-anak (Potter & Perry. usia prasekolah memiliki sifat egosentris dalam pemikirannya dan percaya bahwa semua kejadian dan sensasi berasal dari dunia internal mereka. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi reaksi nyeri tersebut antara lain: a.4. 2010). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Nyeri merupakan hal yang kompleks. Nyeri somatis dalam diakibatkan oleh jejas pada struktur dinding tubuh (misalnya otot rangka atau skelet). 2011).16 luka terpotong. nyeri somatis dapat diketahui di mana lokasi persisnya pada tubuh. Anak prasekolah memiliki sedikit pemahaman tentang sebab nyeri yang dirasakan.... Ayu Yuliani Sekriptini. banyak faktor yang mempengaruhi pengalaman seseorang terhadap nyeri. 2005). 2013 . Czarnecki et al. (2006) menjelaskan bahwa perkembangan usia anak mempengaruhi makna nyeri dan ekspresi yang dimunculkan. 2. 2008. FIK UI. Respon nyeri pada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. & Pasero. seringkali terjadi kesalahpahaman arti dan penyebab sakit. Penelitian Kenneth et al. Berlawanan dengan nyeri tumpul yang berkaitan dengan organ dalam. 2010). luka gores dan luka bakar superfisial.. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan atau menurunkan persepsi nyeri pasien.

b. dan dahi berkerut. Ayu Yuliani Sekriptini. Toleransi terhadap nyeri dipengaruhi faktorfaktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada individu tanpa memperhatikan jenis kelamin (Potter & Perry.17 anak usia sekolah sering berupa penolakan dengan menggerakan daerah yang menyakitkan. gigi terkatup. Anak remaja kadang menyangkal rasa sakit di hadapan keluarga atau teman sebaya. Beberapa penelitian menjelaskan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan tidak terlalu berpengaruh terhadap respon nyeri. peran kelompok sangat berpengaruh. FIK UI. 2003). Bagaimana proses sosialisasi remaja mempengaruhi pengalaman nyeri tetap memahami dalam konsep nyeri. Jenis Kelamin Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam berespon terhadap nyeri. dalam penelian tersebut lebih menjelaskan perbedaan jenis kelamin hanya karena sensitivitas. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Anak-anak belajar bahwa terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan nyeri dimana anak perempuan boleh pulang ke rumah sambil menangis ketika lututnya terluka.. Usia remaja mampu berpikir abstrak dan memiliki pemahaman tentang hubungan sebab akibat. Secara bertahap. Anak usia sekolah memberikan respon fisik berupa tangan mengepal. dan kondisi situasional yang mempengaruhi dan bagaimana anak menanggapi nyeri (Mathew. pengalaman ekspresi.. Karakteristik jenis kelamin dan hubungannya dengan sifat keterpaparan dan tingkat kerentanan memegang peranan tersendiri. sedangkan anak laki-laki diberitahu untuk berani dan tidak menangis (Taylor et al.. anak usia sekolah mampu berfikir lebih logis dan wajar. 2005). 2008). dapat di ajak kerja sama dan cenderung berorientasi menjadi sebuah prestasi bagi dirinya. 2013 .

khususnya cahaya. pengalaman nyeri minimal 1 tahun yang lalu. dengan kriteria anak yang mempunyai pengalaman operasi dan pernah dilakukan venipuncture. Pengalaman Nyeri Sebelumnya Pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang tentang nyeri. FIK UI. kemudian dilakukan wawancara pengalaman nyeri yang pernah dialami. cenderung mengantisipasi terjadinya nyeri yang lebih hebat (Schmitz et al. 2013 . Banyak keluarga orang juga yang dapat merasa lingkungan pelayanan kesehatan yang asing. orang yang sering mengalami nyeri dalam hidupnya. Hasil menunjukkan pengalaman nyeri sebelumnya pada anak-anak berhubungan dengan rasa takut dari waktu ke waktu dan mempengaruhi pengalaman nyeri yang baru. 50 perempuan) berusia 8 sampai 12 tahun.... 2006)... Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penelitian melibatkan 110 anak yang sehat (60 anak laki-laki. d. dapat menambah nyeri yang dirasakan (Craig et al. dan diobservasi ekspresi wajah yang muncul pada anak yang dilakukan wawancara. 2012).. Pengalarnan individu dengan nyeri yang dialami. Lingkungan dan Dukungan Orang Terdekat Lingkungan mempengaruhi dan kehadiran nyeri dukungan seseorang. (2004) dan Loeser et al. aktivitas yang sama di ruang perawatan intensif. Penelitian Noel et al.. Ayu Yuliani Sekriptini. Umumnya. (2012). (2008) pada usia remaja menjelaskan adanya perbedaan respon nyeri antara anak remaja laki-laki dan perempuan dimana hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa anak perempuan memiliki skor intensitas nyeri tinggi. tetapi penelitian tersebut tidak menunjukkan perbedaan jenis kelamin dalam penggunaan obat pereda nyeri sejenis opioid setelah tindakan operasi. meneliti pengaruh pengalaman anakanak untuk stimulus nyeri baru pada pengalaman nyeri berikutnya. kebisingan. c. makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan oleh nyeri tersebut.18 Penelitian Logan et al.

2013 . tekanan darah. kelompok pertama kelompok yang didampingi oleh orang tua. Usia rata-rata kasus dengan didampingi petugas rumah sakit adalah 4. Melakukan penelitian pada 135 anak dengan rentang usia 3-6 tahun akan dilakukan tindakan venipuncture di klinik rawat jalan anak. Penelitian dilakukan secara acak menjadi dua kelompok. frekuensi pernafasan dan denyut jantung. FIK UI. Selama prosedur venipuncture dilakukan pengukuran tanda vital..1. Efek perilaku Pasien yang mengalami nyeri menunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang khas dan berespon secara vokal serta mengalami kerusakan dalam interaksi sosial.36 sampai dengan 1. Selama prosedur venipuncture rata-rata nyeri anak pada kelompok 2 diperoleh Wong-Baker skor lebih tinggi 3 kali dari pada kelompok 1. dan kelompok kedua hanya didampingi oleh anggota staf rumah sakit. 2. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Respon fisiologis nyeri akut meliputi perubahan denyut jantung.. b.19 sampai dengan 1. (2011).41 tahun. Sangat penting untuk mengkaji tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik termasuk mengobservasi keterlibatan saraf otonom. Efek Yang Ditimbulkan Oleh Nyeri Efek nyeri pada setiap individu hampir sama baik pada dewasa ataupun pada anak-anak.23 tahun.19 Penelitian Ozcetin. et al. Penilaian skor nyeri menggunakan Wong-Baker FACES. secara statistik signifikan (p<0.5.. efek yang ditimbulkan oleh nyeri terdiri dari : a. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran orangtua memiliki pengaruh efek yang positif pada toleransi sakit anak. Hasil penelitian diperoleh usia rata-rata kasus dengan didampingi orang tua mereka adalah usia 4. Pasien seringkali meringis. Tanda dan gejala fisik Tanda fisiologis dapat menunjukkan nyeri pada pasien yang berupaya untuk tidak mengeluh atau mengakui ketidaknyamanan.05). Ayu Yuliani Sekriptini. dan ftekuensi pernapasan yang meningkat.

imobilisasi. 2010)..20 mengernyitkan dahi. Suatu studi retrospektif menyatakan hanya 28% anak-anak yang masuk ke unit gawat darurat memperoleh intervensi farmakologi untuk mengurangi nyeri yang adekuat sedangkan pada dewasa mencapai 60% (Cohen. 2000. 2013 . Movahaedi 2006). menggigit bibir. 2.. Manajemen nyeri seharusnya menjadi prioritas untuk mengatasi masalah tersebut. gelisah. FIK UI. Crowley et. Ayu Yuliani Sekriptini. melakukan gerakan melindungi bagian tubuh sampai dengan menghinndari percakapan. 2009).al. cemas dan stres. Ellis et al.. mengalami ketegangan otot. Kunci keberhasilan penatalaksanaan nyeri pada anak adalah dengan pemeriksaan nyeri yang baik (Herd et al. Gangguan stress pasca trauma dapat timbul setelah pengalaman prosedur yang tidak disertai denan pengendalian nyeri yang tepat (Larsson et al. 2008. Terdapat variasi yang luas dalam tatalaksana nyeri pada berbagai unit gawat darurat dan pelayanan kesehatan profesional. 2008)...1. 2004. c. Penatalaksanaan Nyeri Pada Anak Penataksanaan nyeri sering tidak dilakukan secara adekuat pada anak oleh karena anak diangap tidak dapat merasakan nyeri. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Nyeri seringkali dikaitkan dengan rasa takut. Pengaruh Pada Aktivitas Sehari-hari Pasien yang mengalami nyeri setiap hari kurang mampu berpartisipasi dalam aktivitas rutin. menghindari kontak sosial dan hanya fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri..6. Pada anak yang mengalami prosedur invasif minor tanpa intervensi penurunkan nyeri memiliki dampak yang panjang dalam respond dan persepsi anak terhadap nyeri. seperti mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan higiene normal dan dapat menganggu aktivitas sosial. psikososial dan fisiologi jangka panjang (Wanga et al. Nyeri yang tidak berkurang dapat menyebabkan konsekwensi pada gangguan prilaku.

Terdapat berbagai metode penelitian non farmakologi yang dapat digunakan untuk menurangi rasa nyeri. 2000). 2013 . tehnik-tehnik ini juga dapat menurunkan persepsi ancaman nyeri. Lyon & Mackway. Amy et al... Beberapa peneliti menyebutkan ada berbagai macam tehnik non farmakologik yang dapat diberikan pada anak unuk mengurangi nyeri seperti misalnya distraksi. 2005).. 2009). EMLA (Eutectic Mixture of Local Anesthetics) sebagai salah satu anastesi topical yang paling sering digunakan (Kelly. 2010) : Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2008). Pendekatan yang ada mempunyai efektivitas dan keamanan yang cukup baik. FIK UI. Pamella & Macintyre. Sebagai tambahan. William & Zempsky. 2003. memberikan kemampuan mengontrol nyeri. membuat nyeri dapat lebih ditoleransi. ketakutan dan kecemasan. relaksasi. meningkatkan rasa nyaman dan meningkatkan istirahat dan tidur (Huether & Leo. dan Tetrakain). Obat-obatan yang disering digunakan misalnya LET (Lidokain. Ayu Yuliani Sekriptini. 2000.. 2008. sedangkan sendekatan non farmakologik yang paling sering sering digunakan di unit gawat darurat berupa mendatangkan orang tua saat dilakukan intervensi. Intervensi non farmakologis yang dapat diberikan diantaranya (Zempsky. 2002.. menurunkan kecemasan dan meningkatkan kefektifan analgesik atau mengurangi dosis yang diperlukan (American Pain Society. 2006. Soyer et al. Gimbler-Berglund. Epinefrin. Gimbler-Berglund et al. Wanga et al.. 2000. guided imagery dan stimulasi memberikan strategi koping yang dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. Srouji.. 2008.21 Tehnik farmakologi yang sering diberikan saat prosedur pengambilan darah pada anak untuk mengurangi nyeri lebih sering menggunakan pendekatan farmakologis berupa anastesi topikal berupa oles maupun anastesi semprot (Arrowsmith & Campbell.

dan permainan (Kelly. kelompok pertama diberi intervensi non farmakologis yang berbeda. telepon. Hasil penelitian menunjukkan intervensi non farmakologi dengan mengunakan audiovisiual lebih efektif dibandingkan intervensi psikologis dan dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan keberhasilan penyuntikan ke vena. 2000. Pengalihan Metode pengalihan dengan berbagai aktifitas membantu anak dari berbagai usia untuk menghilangkan nyeri. musik. televise. masing-masing anak terbagi dalam 3 kelompok. c. dan Chena (2008). Sunb.. b. prosedur yang akan dilakukan serta pengobatan yang akan diberikan. Loeser et al.. kelopok anak kedua di beri audiovisual dengan menonton film kartun saat penyuntikan. video games. Penelitian melibatkan 300 anak usia 8-9 tahun dilakukan tindakan penyuntikan akses vena. Pengontrolan pernafasan dan relaksasi otot merupakan metode yang paling sering digunakan untuk anak usia pra-sekolah dan usia yang lebih tua. penilaian nyeri menggunakan skala Visual Analogue Scale (VAS) dan Cooperative Behavior Scale of Children in Venepuncture (CBSCV). 2013 . dan kelompok anak ketiga menerima intervensi psikologis. Ayu Yuliani Sekriptini.22 a.. 2008). FIK UI. Pemberian Informasi Informasi yang diberikan kepada anak dan anggota keluarga sehingga mengerti kondisi sakit. menyebutkan intervensi non farmakologis berupa metoda pengalihan dapat mengurangi nyeri dan stress dalam prosedur invasif pada anak. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Metode yang paling sering digunakan antara lain : pengunaan gelembung sabun. Dengan demikian pasien juga dilibatkan dalam menentukan cara untuk mengontrol nyeri.. Relaksasi Tehnik relaksasi akan memberikan relaksasi otot dan mengurangi kecemasan yang sering menyertai dan meningkatkan nyeri. Penelitian Wanga.

Penelitian Liossi. 2002. menyebutkan sukrosa 25 % dapat memberikan efek analgesik pada bayi baru lahir saat dilakukan prosedur indakan invasif. FIK UI. Penerian sukrosa 25 % sebanyak 2 ml selama 60 detik dilakukan 2 menit sebelum tindakan invasif dengan 5 menit sebelumnya diukur denyut nadi dan nilai oksimetri bayi. Gradin et al. membandingkan intervensi anstesi EMLA dan hinoptis dengan pemberian EMLA saat pengambilan darah pada anak. mengurangi pengalaman sensoris serta membantu anak untuk mengontrol perasaannya. 2013 .23 d. Penelitian yang dilakukan oleh Taddio et al..001. Toronto. (2008). Pemberian rasa manis Penelitian menyebutkan pemberian sukrosa atau glukosa untuk mengurangi nyeri sangat baik diberikan pada neonatus... Ontario dengan jumlah responden 240 bayi baru lahir.... Zempsky et al. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Sukrosa atau glukosa dapat menurunkan respon terhadap stimulus yang menimbulkan nyeri seperti saat pengambilan darah dari tumit dan injeksi pada neonatus. Dilakukan tiga (3) intervensi invasif diataranya penguntikan intra muskuler. Pengaruh ini tampaknya paling kuat saat bayi baru lahir dan nenurun secara bertahap selama 6 bulan pertama kehidupan (Eichenfield et al. 2002. Intervensi ini baik untuk anak usia sekolah atau remaja (William et al. dengan responden 46 anak antara usia 6-16 tahun. memberikan hasil ada pengaruh yang signifikan intervensi hipnotis dengan EMLA di banding intervensi EMLA saja pada saat pengambilan darah pada anak dengan p < 0. tusuk tumit dan pengambilan contoh darah. dapat juga diberikan sampai usia 3 bulan. Ayu Yuliani Sekriptini.. Penelitian eksperiman di ruang NICU rumah sakit Mount Sinai Hospital. 2003). Carbajal et al.. 2009). White dan Hatira (2006). 2004.. Peranan hipnoterapi adalah mengalihkan perhatian. e. Hipnoterapi Hipnoterapi membatu anak untuk membayangkan pengalaman yang menyenangkan yang pernah dialami.

melakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan konsentrasi glukosa pada pengukuran nyeri neonatal selama venipuncture.. Penelitian dilakukan di unit perawatan intensif neonatal di Raja Edward Memorial Hospital. 2013 . Tentang efek analgesik pada pemberian glukosa pada neonatus. bayi yang diberi sukrosa dengan tidakan pengambilan darah memiliki skor nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan penyuntikan intramuskuler vit K dan tusuk tumit dengan CI 95% p < 0. kelompok kedua diberi glukosa 25 % dan kelompok ke tiga diberi glukosa 50 %.05). Penelitian Laxmikant. sebelum penusukkann tumit masing-masing kelompok bayi di lakukan denyut jantung dan saturasi oksigen. kelompok pertama diberi glukosa 10 %. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek analgesik pada pemberian glokosa 25 % dan 50 % (p<0. Enam puluh bayi prematur yang sehat usia kehamilan 28-37 minggu dan usia 2-28 hari setelah kelahiran secara acak diberi 2 ml salah satu dari tiga solusi (air steril. dan Wilson (2003). kemudian dilakukan rekaman suara tangisan saat penusukkan dan di ukur rata-rata durasi menangis pada masing-masing kelompok. Larutan glukosa diberikan 2 menit sebelum tindakan penusukkan tumit. double-blind. Deshmukh.. Hasil memberikan gambaran ada penurunan yang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hasil penelitian menunjukkan.29. Penelitian dilakukan pada 125 bayi baru lahir normal yang akan di lakukan tusuk tumik dengan dibagi tiga kelompok perlakukan pemberian glukosa.24 kemudian dilakukan tindakan intervensi dan di lakukan penilaian skala nyeri 30 detik setelah tindakan invasif dengan menggunakan skala nyeri Premature Infant Pain Profile (PPIP). setelah pengukuran skala nyeri bayi dinilai kembali denyut nadi dan nilai oksimetri. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. Penelitian Jatana. Menggunakan metoda random. Dalal. dan Udani (2002). 10 % glukosa dan 25 % glukosa ) per-oral 2 menit sebelum venipuncture. dengan pemberian placebo pada kelompok kontrol..

2004. 2004).. 2013 . laju pernapasan atau saturasi oksigen. 2004. Bursch & Zeltzer. f. 2001. Penatakalsanaan non farmakologik ini yang disertai oleh adanya dukungan emosional merupakan hal utama untuk memberikan lingkungan yang nyaman bagi anak (Zempsky & Cravero. Ayu Yuliani Sekriptini. Lingkungan ruangan Menciptakan suatu lingkungan yang tepat merupakan hal yang esensial untuk mengurangi nyeri dan kecamasan pada seorang anak di unit gawat darurat. Kamar ini sebaiknya telah menyediakan lingkungan yang bersahabat dan menenangkan. idealnya masing-masing anak ditempatkan pada satu kamar pribadi. Dengan kesimpulan bahwa larutan glukosa terkonsentrasi dapat mengurangi rasa sakit dan memiliki efek analgesik serta aman untuk prosedur minor pada neonatus. 2004). Perawat di ruang unit gawat darurat mempunyai peranan penting untuk mengurangi kecemasan dan persepsi nyeri pada anak dengan cara mengajarkan tehnik sederhana da mendukung keterlibatan keluarga. Brusch & Zeltzer.. namun kehadiran mereka mengurangi kecemasan orang tua dan anak (American Academy of Pediaric.. FIK UI.7. 2.1. 2004). Dinding yang berwarna bergambar serta kumpulan mainan akan mengurani ketakutan yang ditimbulkan oleh lingkungan yang asing.25 signifikan dalam durasi tangisan pertama pada bayi yang diberikan 25 % glukosa dibandingkan dengan kontrol dan diberikan 10 % glukosa.. Pengendalian nyeri di unit gawat darurat Penelitian menyebutkan hampir 90% pasien yang masuk ke unit gawat darurat mendapatkan intervensi medis berhubungan dengan prosedur jarum suntik (Zempsky et al. Mengijinkan tetapi bukan mengharuskan kehadiran keluarga saat prosedur invasif yang menimbulkan nyeri dilakukan. Penelitian yang dilakukan oleh Ellis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Zempsky & Cravero. Tidak ada efek yang signifikan pada detak jantung. Meskipun tidak terdapat bukti bahwa kehadiran keluarga dapat ngurangi nyeri. akan memberi manfaat bagi anak.

Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penelitian menyebutkan pengendalian nyeri di emergensi dapat dilakukan dengan farmakologi dan non farmakologi (Zempsky.. Nyeri anak diremehkan karena kurangnya alat penilaian yang memadai dan ketidakmampuan untuk menjelaskan berbagai tahap perkembangan anak-anak.. FIK UI. 2009). pengambilan darah kapiler 11%.. Nyeri sering undermedicated karena kekhawatiran terjadinya oversedation.5%. injeksi intramuscular 5%. depresi pernafasan. (2004) selama 23 hari di rumah sakit Kanada memberikan gambaran bahwa terdapat 387 prosedur rumah sakit berhubungan dengan jarum suntik terdiri dari. 2002). 2008). Frekuensi mengurangi nyeri dengan farmakologis di Amerika Serikat untuk pengambilan darah adalah 40% sedangkan menggunakan non farmakologis hanya mencapai 10% (Acharya et al. masih ada tenaga kesehatan yang beranggapan bahwa anak-anak tidak merasa sakit yang sama dilakukan oleh orang dewasa dan rasa sakit yang tidak memiliki konsekuensi yang tak diinginkan pada anak-anak. 2004). Ayu Yuliani Sekriptini. tidak terdapatnya penilaian skala nyeri pada anak.. Pengambilan darah vena merupakan prosedur pemeriksaan yang sering dikerjakan pada pasien anak di unit gawat darurat dan prosedur ini merupakan sumber nyeri yang paling sering dirasakan bagi anak (Eichenfield et al. 2013 . Beberapa hambatan secara umum yang terjadi di unit gawat darurat dapat muncul secara intrinsik yaitu tidak memadainya obat-obatan analgesia khususnya pada anak (Soyer et al... Joseph & Cravero. dan seluruh prosedur tersebut menimbulkan respon nyeri yang bervariasi pada anak (CI 95% p < 0. infus 13%. Port-a-cath access 7%. pemberian terapi atau anastesi lumbal 1% dan penyuntikan insulin 0. di mulai dari arena pra-rumah sakit saat pertama kali anak masuk ke gawat darurat. Pengendalian rasa sakit dan kecemasan pada anak.01).26 et al. Pengambilan darah sering dilakukan di unit gawat darurat untuk mentukan jenis penyakit yang diderita oleh pasien. pengambilan darah vena 63%..

. Intervensi non farmakologis mengalami hambatan kurangnya pengetahuan petugas tentang skala nyeri pada anak. 2. dan memberontak.27 kecanduan. Komponen fisiologis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.8.. Komponen kognitif biasanya diukur dengan cara kuesioner. 2000. & Gilbert. Faktor-faktor tersebut membuat penilaian petugas kesehatan merasa kesuitan. FIK UI.. Komponen tingkah laku biasanya diukur dengan suatu chek list tingkah laku yang dijumpai sewaktu anak mengalami rasa nyeri. 2003). tingkah laku (behavioral). Penilaian Nyeri Penilaian nyeri berdasarkan 3 komponen penting yaitu. 2013 .. atau kurangnya ketersediaan. Dalam ruang gawat darurat. pemberian intervensi farmakologi biasanya digunakan untuk nyeri dalam. tidak adanya ruangan khusus (Twycross. menyeringai. yang dibuat untuk mengetahui intensitas nyeri pada anak. Beisang. kognitif (self report). dan fisiologik (Desparment-Sheridan. skala penilaian belum memadai. 2010). 2000). jumlah pasien yang tidak dapat diperkirakan. dan kecemasan orangtua (Zempsky. dan ketidakbiasaan dengan penggunaan obat penenang dan analgesik agen pada anak-anak (Breau et al. misalnya menangis. anak-anak sering masuk dengan gejala yang tidak jelas yang berdampak kesulitan dalam mentukan diagnosa medis (Craig. biaya. Manajemen nyeri yang optimal memerlukan pemahaman yang menyeluruh tentang penilaian nyeri dan manajemen strategis ruangan yang baik (Zempsky. Ayu Yuliani Sekriptini. Lilley. 2000). skala deskriptif kualitatif taupun kuntitatif. 2007).. kondisi ruang gawat darurat yang sibuk. 2000. Komponen tingkah laku ini digunakan pada bayi atau anak yang belum biasa berkomunikasi secara verbal. Dowling. penggunaan anestesi topikal jarang diberikan karena kekhawatiran tentang keterlambatan dalam pengobatan. selain itu. wawancara.1. 2006). Unit gawat darurat lebih cenderung menggunakan intervensi farmakologis dari pada non farmakologis (Crowley et al. 2004). dituntut intervensi yang lebih cepat.

2010. lokasi dan kualitas nyeri (William. sehingga dapat menggukan Visual Analog Scale (VAS) dengan ketentuan yang selalu digunakan pada anak lebih besar dan melibatkan garis 10 cm yang telah ditentukan kedua ujungnya (“tidak sakit” dan “sangat sakit”). 2002. & Schneeweiss. kadar kortisol. 2013 . 2010). Zempsky & Schecter.. frekuensi pernafasan. Oucher Scale dan Faces Scale (Desparment-Sheridan. 2003.. 2003). 2010). Srouji. 2010). & Schneeweiss. Pada bayi hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh karena bayi tidak dapat menyampaikan secara verbal apa yang sedang dirasakannya (Curtis et al. Ayu Yuliani Sekriptini. 2007. misalnya Color Analogue Scale (CAS).. Anak-anak usia lebih dari 8 tahun umumnya sudah dapat melaporkan sendiri intensitas. Taddio et al. et al. 2003. Ratnapalan. Anak usia 3-8 tahun diperiksa dengan alat yang sesuai yang sudah mengalami perkembangan. seperti yang tertera dalam tabel 2. Ratnapalan. Zempsky & Schecter. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2003. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa parameter psikologis dan pengamatan orang tua dapat membantu pemeriksaan nyeri pada anak. Srouji.28 diukur dengan cara menilai frekuensi denyut jantung. Berbagai skala menggunakan pengukuran gabungan nyeri telah elemen-elemen dikembangkan fisiologis dan dengan perilaku (behavioral). namun pada dasarnya komponen kognitif anak sendiri yang dapat menentukan tentang apa yang sedang dirasakannya (Bulloch & Tenenbein. & Schneeweiss.. Srouji. 2005). FIK UI.. kadar oksigen. dan kadar endorphin dalam darah (Desparment-Sheridan. Ratnapalan.1 berikut (Zempsky & Schecter. 2003).

N. Penilaian Klinis Nyeri Physiologic  Frekuesi pernafasan  Fekuansi nadi  Tekanan darah  Kadar kortisol      Behavioral Gerakan tubuh Gerakan wajah Menangis Postur tubuh Pola nafas Self Report Usia 3-8 tahun:  Oucher Scale  Faces Scale  FLACC  CFCS  Faces Pain Scale  Poker Chip Toll  Colored analogue Scale Usia lebih dari 9 tahun :  Visual Analogue Sacale  McGil Pain  Pediatric Pain Questionnaire Composite Infant  CRIES  Neonatal Facial action Coding System  NAPI  MAX  NIPS  PPIP  SUN  OPS  DAN Usia 2-7 tahun :  CHEOPS  COMFORT  OSBD  OPS  TPPPS  AUCHER Usia 8 tahun lebih  Adolescent Pediatric Pain Tool  VarniThompson Pediatric Pain Questionnare  The McGill Pain Questionnaire Sumber : Zempsky W. Wong-Baker Faces Pain Ratting (WBFPS). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Newman. Ketiga alat tersebut ternyata mempunyai korelasi yang baik pada anak usia diatas 4 tahun dan validitas yang cukup konvergen (Newman et al.. dan Face Pain Scale-Revised (FPS-R). et al. pada 122 anak-anak Thailan usia 4-15 tahun. tetapi masih sangat sedikit diteliti untuk menentukan validitas alat-alat tersebut pada nak di Negara berkembang.L. (2005). FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. di Thailan telah meneliti validitas tiga skala nyeri yang sering digunakan yaitu Visual analog Scale (VAS)....T. Schecter. 2005).. What’s New in The Management of Pain in Childrens Skala untuk pemeriksaan nyeri pada anak sebagaimana telah disebutkan di atas telah diteliti secara ektensif.1.29 Tabel 2.. 2013 .

et al.. 2005. Skala penilaian nyeri dan keterangan pasien digunakan untuk menilai derajat nyeri. dan Face. Legs.. Ada beberapa skala penilaian nyeri pada pasien sekarang ini (McLean et al. Perilaku anak-anak di rekam sebelum dan setelah operasi. Cry.5 tahun yang akan dilakukan tindakan pembedahan. FIK UI. Activity. 2009. Objective Pain Scale (OPS). Toddler Preschool Postoperative Pain Scale (TPPPS). (2001). Intensitas nyeri harus dinilai sedini mungkin selama pasien dapat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi nyeri yang dirasakan. Wong-Baker Faces Pain Rating Scale Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda. Kedua alat tersebut ternyata mempunyai korelasi yang baik dan validitas yang cukup konvergen untuk di gunakan di unit emergensi.. pasien yang kebingungan atau pada pasien yang tidak mengerti dengan bahasa lokal setempat. dimulai dari senyuman sampai menangis karena kesakitan. 2010). seperti anak-anak. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 .30 Penelitian Bulloch dan Tenenbein (2002). Consolability (FLACC). a. menguji validitas empat skala nyeri antara Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOP). Penelitian Suraseranivongse. penelitian dilakukan di Thailan dengan 167 anak antara usia 1-5.. reliabel dan praktis digunakan pada anak dengan prosedural operasi. McCaffrey & Pasero. hasil penelitian memnunjukkan dari ke-empat skala tersebut skala CHEOP lebih valid. Ayu Yuliani Sekriptini. yang dilakukan di unit gawat darurat menggunkan dua skala nyeri yaitu Color Analog Scale (CAS) dan 7 poin Faces Pain Scale (FPS) pada 60 anak dengan rata-rata usia 3-9 tahun. Skala ini berguna pada pasien dengan gangguan komunikasi. Petersen et al. orang tua..

Gambar 2. Verbal Rating Scale (VRS) Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan berdasarkan skala lima poin .. Visual Analogue Scale (VAS) Verbal Rating Scale terdiri dari beberapa nomor yang menggambarkan tingkat nyeri pada pasien. Pasien ditanya bagaimana sifat dari nyeri Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. berat dan sangat berat..3.31 Gambar 2.2. Wong Baker Faces Pain Rating Scale b. Numerical Rating Scale (NRS) Pertama sekali dikemukakan oleh Downie dkk pada tahun 1978. ringan. Gambar 2. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. dimana angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka 5 atau 10 menunjukkan nyeri yang hebat. FIK UI.. dimana pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan menunjukkan angka 0 – 5 atau 0 – 10. Verbal Rating Scale c. tidak nyeri.4. Numerical Rating Scale d. sedang.

. Skor tersebut terdiri dari empat poin yaitu : Poin 0 = Tidak ada nyeri atau perasaan tidak enak ketika ditanya Poin 1 = Nyeri yang ringan yang dilaporkan pasien ketika ditanya Poin 2 = Nyeri sedang yang dilaporkan pasien ketika ditanya Poin 3 = Nyeri dihubungkan dengan respon suara. & Consolability) diberi nilai 0-2 dan dijumlahkan untuk mendapatkan total 0-10. dan Consolability (FLAAC) Skala ini merupakan skala perilaku yang telah dicoba pada anak usia 3-7 tahun. Peneliti memilih nomor dari skor tingkat nyeri tersebut dari apa yang dirasakan pasien.32 yang dirasakannya..Activity. dengan penggambaran verbal pada masing-masing ujungnya. Setiap kategori (Faces. Visual Analog Scale (VAS) dilihat berupa suatu garis lurus yang panjangnya biasaya 10 cm (atau 100 mm). Untuk pasien yang memiliki gangguan kognitif. Ayu Yuliani Sekriptini. Legs. Cry.Activity.5. Visual Analogue Scale e.. Legs. seperti angka 0 (tanpa nyeri) sampai angka 10 (nyeri terberat). FIK UI. 4 <7 = nyeri sedang dan 7-10 = nyeri berat Gambar 2. Faces. wajah merintih atau menangis Keempat poin ini secara luas digunakan oleh klinisi untuk menentukan tingkat kebenaran dan keandalan. Cry. 2013 . Nilai VAS 0 . Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.<4 = nyeri ringan. skala nyeri verbal ini sulit digunakan. tangan atau lengan tangan.

cleched jaw Moans or whimpers. Di dalam skala ini terdapat enam kategori dari perilaku nyeri: menangis. tense Squimin.. Penilaian skor nyeri diperoleh berdasarkan hasil penilaian keseluruhan.org/ painrelief/pcs pain files/app_d_flacc. but the cry is gentle or whimpering.pdf Kicking. tense Score -2 Freuent to constant quivering chin. disinterested Uneasy. Score Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. restless.. Cry.. ekspresi muka. relaxed Score -1 Occasional grimace or frown. 3 Cild is in a full-lunged cry. 2 Child is moaning or quietly vocalizing silent cry. occasional complaint Crying steadily. 2013 . sobbing. sreams or sobs. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Item Cry Behavioral No cry Moaning Crying Scream Definition 1 Child is not crying. torso. sentuhan. dan kaki.33 Tabel 2. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Skala penilaian CEOPS berupa penilaian yang mencakup perilaku nyeri anak dan keluhan yang rasakan. f. dan Consolability Criteria Face Legs Activity Cry Score -0 No particular expression or smile Normal position or relaxed Lying quietly. may be scored complaint or without complaint. or legs draw up Arched. hugging or being talked to. withdrawn. rigid or jerkig Council http://www2. frequent complaints Difficult to console or comfort Reassured by accosional al touching. Legs. verbal.Activity. distractible Sumber : National Health and Medical Research massgeneral.2. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. Tabel 2. Faces. skor maksimal nyeri adalah 13. Skala penilaian CHEOP digunakan untuk anak usia 1-7 tahun.3. shiting back and forh. 2 Child is crying. moves easily No cry (awake or asleep) Consolability Content. Skor 4 mengindikasikan awitan nyeri. normal position.

Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Chid makes any positive statement or talks about things without complaint. et al. I want my mommy”. In Field. New York. Score Sumber : McGrath.34 Item Facial Behavioral Composed Grimace 1 2 Smiling 0 Child None Verbal Other complaints 1 1 Torso Touch Legh Pain complaints Both complaints 2 2 Positive 0 Neutral 1 Shifting 2 Tense Shevering 2 2 Upright 2 Restrained Not touching 2 1 Reach 2 Touch 2 Grab 2 Restrained Neutral 2 1 Squirm/kicking 2 Drawn up/tensed 2 Standing Restrained 2 2 Definition Neutral facial expression Score only if definite negative facial expression score only if definite positive facial expression Child not talking Child complains.g. FIK UI. et al (editors) Advances in pian Resesrcn and Therapy. Raven Press. “I want to see mommy” of “I am thirsty” Child complains I about pain.. Body is shuddering or shaking involuntarily. “It hurts.. CHEOPS: A behavioral scale for rating postoperative pain in children. Legs tensed and/or pulled up tightyly to body kept there.. 9. e. Child complains about pain and about other. Child is grabbing vigorously at wound. Child’s legs are being held down.. Body is arcehed or rigid. include gentle swinning or separate-like movements. e. torso is inactive. Standing. J. Child is gently touching wound or wound area.T. Child is not touching or grabbing at wound. Legh may be in any position but are relaxed. Body is in motion in shifting or serpentine fashion. Body s restrained..g. crouching or kneeling. Johnson. Child’s arms are restrained. Child is reaching for but not touching wound. P..J. Goodman. Child is a vertical or upright position.. G.. Definitive uneasy or restless movement in the legh/or striking out with foot or feet. 2013 .. Ayu Yuliani Sekriptini. but not about pain. Body (not limbs) is at rest. H.L.

maltosa.. yang dikumpulkan. natrium (10 mg). Akanmu et al.35 2. dan abu (0. sukrosa (1.2. dan sukrosanya rendah. Komposisi kimiawi utama dalam madu total karbohidrat (78..1 mg). Komposisi Kimia dan Biologis Madu Menurut hasil pengkajian dari para ahli. 2013 . FIK UI. Madu mengandung monosakarida yang mudah diserap dalam usus tanpa membutuhkan proses pemecahan yaitu fruktosa (38%) dan glukosa (31%). posfor (12 mg). lemak (0 g). kadar air (78.2. terkandung di dalam madu alami.17%). dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nectar) atau bagian lain dari tanaman (extra floral nectar) atau ekskresi serangga (SNI. 2011). maltosa (7. 2002. 2011).. yang memiliki kadar yang tertinggi. diubah dan dikombinasikan dengan zat tertentu dari lebah kemudian ditempatkan. zat besi ( 0. Fruktosa atau yang sering disebut Levulosa merupakan gula murni atau alami yang berasal dari saripati buah-buahan.3.31%).2. 2011. Cornelia & Chis. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Komposisi kimia madu hasil ekstraksi terdiri dari air (17. Jenis gula atau karbohidrat yang terdapat di dalam madu alami yakni fruktosa. Suarez et al. lalu disimpan di dalam sarang hingga matang (Hamad. glukosa (31%). 2. asam organik (0. kalori (295. serat kasar (0 g). protein (1. Ayu Yuliani Sekriptini.00 g). 2011..00 kal).20%).90 g).. Sementara untuk kadar glukosa. Madu merupakan zat pemanis alami yang diproduksi oleh lebah madu dari nektar tanaman atau sekresi bagian lain dari tanaman atau ekskresi dari insekta pengisap tanaman.02 mg) (Alzubier & Okechukwu. fruktosa (38.8 mg%). thiamin (0. abu (0. kalsium (2 mg). 2011..10%)..5 gram per 100 gram madu alami.50%).20 g). dikeringkan.. Akanmu et al. 2004. lebih dari 181 macam senyawa atau unsur dan zat nutrisi yang ada. flavonoid (0. dan niacin (0. Pengertian Madu Madu merupakan cairan alami yang umumnya mempunyai rasa manis. 2010). (Goenarwo et al.2. Scheiner et al.57%).02 mg).20 g). 2004).7%). protein (0. yaitu sedikitnya bisa mencapai 38. Penggunaan Madu Dalam Penanganan Nyeri Pada Anak 2.

Alzubier & Okechukwu. jambu air. Selain itu. bamboo. Mg. seperti hidroksi metal furfural. garam Iodium.. jambu mente. 2. Na. flavoid. rambutan. 2007.4. investase. Fe. mahoni. K. 2007). sitrat. Madu mengandung beberapa senyawa organik yang telah terindetifikasi antara lain seperti polyphenol. athel. durian.2. Ayu Yuliani Sekriptini. aster. 2002). gen pembiakan. enzim lipase. diastase. S. alfalfa. Jenis-jenis Madu Jenis-jenis madu beraneka ragam tergantung nektar tanamannya.. Selain itu didalam madu juga terdapat berbagai jenis enzim. lipase) yang memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh.. P. klengkeng. Madu memiliki kandungan antibiotika sebagai antibakteri pada luka dan mengandung dekstrosa. asam fenolik dan flavonoid juga terdapat dalam madu yang berfungsi sebagai antioksidan dan anti radang. dan asam organik (asam malat. sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri (Almada. laktat. Goenarwo. salah satunya adalah enzim katalase yang mampu memberikan efek pemulihan. karet. dan asam formik (Puspitasari. mangga. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Komponen tambahan yang terkandung didalam madu seperti lisozim. dan glikosida. serta mengandung flavonoid yaitu pinocrembin (Puspitasari. hutan. 2013 . Selain itu madu mengandung enzim amilase. Truchado et al. tartrat. 2003). oksalat) (Purabaya. katalase. kaliandra. Kandungan flavonoid diduga menghambat produksi cyclooxygenase. dan minyak volatil. Cl. apel. multiflora. Jenis-jenis madu lain yang terdapat di negara sub tropis menurut Puspitasari (2007) antara lain. basswood.. madu juga mengandung berbagai macam enzim (amylase. 2011). sonokeling. FIK UI. Madu mengandung berbagai macam enzim. 2009. bunga matahari dan madu royal jelly. lilin. Beberapa jenis madu di Indonesia antara lain madu kapuk. peroksidase. kopi.36 Madu juga mengandung berbagai mineral seperti Ca. antara lain enzim glukosa oksidase dan enzim invertase yang dapat membantu proses pengolahan sukrosa untuk diubah menjadi glukosa dan fruktosa yang kedunya mudah diserap dan dicerna oleh tubuh. 2000.

37

bergamot, blackberry, bluberry, blue curls, bluevine, boneset, buckwheat,
cantaloupe, cape vine, coralvine, cranberry, galiberry, goldenrod, holly,
horsemint, locust, manzanita, marigold, mesquite, mountain laurel,
mustard, palmatto dan pepperbush. Setiap madu mempunyai karakteristik
yang berbeda baik berdasarkan komposisi, rasa maupun penampilan fisik.
Jenis madu dibagi menjadi tiga macam yaitu, a) Madu flora yaitu madu
yang dihasilkan dari nektar bunga, b) Madu ekstra flora yaitu madu yang
dihasilkan dari nektar yang terdapat diluar bunga yaitu berasal dari bagian
tanaman yang lain seperti daun, cabang atau batang tanaman, c) Madu
embun yaitu madu yang dihasilkan dari cairan suksesi serangga yang
kemudian eksudatnya diletakkan pada bagian-bagian tanaman, cairan ini
kemudian dihisap dan dikumpulkan oleh lebah madu (Puspitasari, 2007).
Di Indonesia jenis madu yang dipasarkan sering diberi nama menurut
daerah asalnya, misalnya madu Sumbawa, madu Kalimantan, dan Madu
Sulawesi.
Kualitas madu ditentukan oleh waktu pemanenan madu, kadar air, warna
madu, rasa dan aroma madu. Madu yang memiliki kandungan enzim
diastase sebagai salah satu acuan yang digunakan Sandar Nasional
Indonesia (SNI) untuk menentukan madu tersebut asli atau tidak, karena
enzim diastase hanya dihasilkan dari kelenjar ludah lebah (Hamad, 2004;
Puspitasari, 2007).
Jenis madu yang sering digunakan pada beberapa pengobatan adalah madu
PERUM PERHUTANI ber-Standar Nasional Indonesia (SNI) atau disebut
sebagai madu perhutani. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhidayah,
(2011) tentang pengaruh madu dalam perawan oral care terhadap pasien
anak mukolitis akibat mukolitis pada anak menggunakan madu PERUM
PERHUTANI. Madu yang digunakan adalah jenis madu hutan multiflora
dan telah diuji kualitasnya oleh Pusat Perlebahan Nasional Perhutani
(PPNP). Berikut ini kandungan gizi madu perhutani :

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

38

Tabel 2.4. Kandungan gizi madu perhutani
Parameter
Kalori
Lemak
Asam lemak jenuh
Kolesterol
Total Karbohidrat
Serat makanan
Protein
Kalsium (Ca)
Natrium (Na)
Besi (Fe)
Kalium (K)
Vitamin A
Vitamin C

Satuan
Kal/100 gram
%
%
mg/100 gram
%
%
%
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
UI/100 gran
mg/100 gram

Hasil
320
0
0
<0
79,3
0,73
0,63
9,84
12,8
0,63
102
< 0,5
3,52

Sumber : Pusat Perlebahan Nasional Perum Perhutani 2008

2.2.5. Efek Terapeutik Madu
Madu merupakan bahan makanan yang mengandung nilai gizi tinggi
tinggi mengandung banyak komponen gula sederhana (monosakarida dan
disakarida) dan gula rantai panjang (polisakarida), selain itu madu
mengandung enzim untuk mencerna gula, vitamin, mineral dan lain-lain
(Bognadov et al., 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Alzubier dan Okechukwu (2011)
menyebutkan

madu

memiliki

efek

terapeutik

anti-inflammatory,

antipyretic, dan analgesic. Penelitian dilakukan pada tikus dengan
disuntikkan asam asetat pada peritoneum tikus dengan sebelumnya dikasih
madu per oral, hasil menunjukkan pemberian madu mengurangi ambang
nociception dan mengurangi rangsang

saraf terminal dari serat

nociceptive.
Suarez et al., (2010), menyebutkan madu asli 100% murni mengandung
zat antibiotik yang dapat menyembuhkan penyakit dari berbagai patogen
penyebab penyakit. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi aktivitas
antibakteri pada madu asli 100% murni; pertama, kadar gula madu yang
Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

39

tinggi akan menghalang pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tersebut
tidak dapat hidup dan berkembang. kedua, tingkat kemanisan madu yang
tinggi (pH 3.65) akan mengurangi pertumbuhan dan daya hidupnya
sehingga bakteri tersebut mati,

ketiga, adanya pertumbuhan radikal

hidrogen peroksida yang bersifat membunuh mikroorganisme patogen,
dan keempat adanya senyawa organik yang bersifat antibakteri antara lain
seperti polyphenol, flavonoid, dan glikosida.
2.3. Pengaruh Madu Terhadap Penurunan Respon Nyeri
Madu mengandung berbagai mineral seperti Ca, Na, K, Mg, Fe, Cl, P, S,
garam Iodium, dan asam organik (asam malat, tartrat, sitrat, laktat, oksalat)
(Purabaya, 2002). Selain itu, madu juga mengandung berbagai macam
enzim (amylase, diastase, investase, katalase peroksidase, lipase) yang
memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh, serta
mengandung flavonoid yaitu pinocrembin yang memiliki efek anti nyeri.
Puspitasari

(2007)

dalam

penelitiannya

menyebutkan

madu

dapat

memberikan efek analgesik. Flavonoid dalam madu dapat menghambat
produksi cyclooxygenase, sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan
nyeri.
Geonarwo, Chodidjah, dan Susanto (2011) melakukan eksperimental dengan
pendekatan post test only control group design. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan hewan uji tikus putih jantan galur wistar 25 ekor, dibagi
dalam 5 kelompok secara random, kelompok I (kontrol negatif) diberi
aquadest, kelompok II diberi madu 25%, kelompok III diberi madu 50%,
kelompok IV diberi madu 100% dan kelompok V (kontrol positif) diberi
parasetamol 4,5 mg/kgBB. Setelah 5 menit semua kelompok disuntik
dengan asam asetat 1% (0,1 ml) intra peritoneum, kemudian dihitung jumlah
geliat setiap 5 menit selama 1 jam. Hasil penelitian menunjukkan madu
dengan konsentrasi madu 50% memiliki efek analgetik yang meningkat,
sedangkan madu dengan konsentrasi 25% dan 100% menunjukkan efek
analgetik yang menurun.

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

1. dan menilai kembali kenyamanan pasien setelah pelaksanaan tindakan kenyamanan kemudian dibandingkan denan keadaan sebelumnya. yang tidak dapat ditemui pada penerima pelayanan tradisional. kesehatan. dan sosial. Kesehatan adalah fungsi optimal dari Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 . Empat konsep sentral dalam paradigma keperawatan yaitu manusia atau pasien.4. psikospiritual. Lingkungan adalah pengaruh eksternal yang dapat dimanipulasi untuk meningkatkan kenyamanan.. dan kebutuhan akan konseling financial dan intervensi (Tomey & Alligood. Ease adalah tidak adanya ketidaknyamanan spesifik. Relief yaitu status ketidaknyamanan yang dimiliki menjadi berkurang atau status terpenuhinya kebutuhan kenyaman spesifik. psikospiritual. Teori kenyamanan memandang keperawatan adalah pengkajian yang inten tentang kebutuhan kenyamanan untuk mengatasi kebutuhan tersebut. lingkungan. Teori Keperawatan “Comfort” Katharine C... Kebutuhan ini meliputi kebutuhan fisik. kebutuhan yang berhubungan dengan ukuran secara patofisiologi. sosial dan kebutuhan lingkungan yang memfasilitasinya seperti alat monitor dan laporan verbal atau non verbal. dan transcendence. 2006). ease. kebutuhan pendidikan dan dukungan. Sedangkan transcendence yaitu kemampuan untuk bangkit diatas ketidaknyamanan ketika ketidaknyamanan yang ada tidak dapat dihindari atau dihilangkan.40 2. Kolcaba mengaitkan ketiga tipe kenyamanan tersebut dengan empat pengalaman kenyaman yaitu fisik. Kolcaba 2. Manusia atau pasien adalah individu atau keluarga yang membutuhkan perawatan kesehatan. Konsep Umum Teori “Comfort” Katharine C. FIK UI. Kolcaba Kolcaba mendefinisikan salah satu intervensi perawatan kesehatan sebagai kebutuhan tentang kenyamanan.4. menilai kenyaman dengan membuat struktur taksonomi yang bersumber pada tiga tipe kenyamanan yaitu reliefe. peningkatan dari kondisi penuh tekanan dalam situasi perawatan kesehatan. Kolcaba (2003). lingkungan dan keperawatan. Ayu Yuliani Sekriptini.

Kolcaba. psikospiritual. Comfort needs adalah kebutuhan akan rasa nyaman relief. 2003). pasien. Konsep teori kenyamanan adalah kebutuhan kenyaman. berfokus pada kenyaman pasien. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dan trascendece terkait dengan empat pengalaman yaitu fisikal psikospiritual. Ayu Yuliani Sekriptini.41 komunitas. ease.. dan lingkungan yang nyaman bagi pasien. keluarga yang dapat dicapai dengan memperhatikan kebutuhan kenyamanan.. Intervening variabel adalah faktor positif taupun negatif yang sedikit sekali dapat dikontrol oleh perawat atau institusi tetapi berpengaruh langsung kesuksesan rencana intervensi kenyamanan (Kolcaba & DiMarco. lingkungan dan sosiokultural (Kolcaba. 2003). psikospiritual. 2005. dan transcenden dalam konteks pengalaman manusia secara fisik. Comfort atau kenyamanan adalah pengalaman langsung yang diperkuat dengan kebutuhan relief.. sosiokultural. Comfort care adalah filosofi perawatan kesehatan yang berdasarkan fisik. intervensi keyamanan (comfort care). ease. FIK UI. professional dan beretika. peningkatan kenyaman. Comfort care mempunyai 3 komponen yaitu intervensi yang sesuai dan tepat waktu. intervening variables. jujur. 2013 . menggerakkan mereka ke arah kesejahteraan. HSBs dapat ekternal. Integritas institusional adalah kondisi sarana perawatan kesehatan yang menyeluruh. healt seeking behavior (HSBs) dan intergritas institusional. Seluruh konsep tersebut terkait dengan pasien dan keluarga. model keperawatan yang perhatian adan empati. internal atau kematian yang damai. sosiokultural dan lingkungan. Comfort measures adalah intervensi yang sengaja dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pasien atau keluarga. HSBs adalah perilaku pasien atau keluarga yang terlibat secara sadar atau tidak sadar.

42 Sumber : Kolcaba 2003 Gambar 2. 1) perawat mengidentifikasi kebutuhan kenyamanan pasien dan anggota keluarga. 2003). 2.. 4) intervensi yan efektif dan dilakukan dengan penuh caring yang hasilnya akan langsung terlihat sebagai pengingkatan rasa nyaman.. masyarakat akan mengetahui kontribusi institusi tersebut terhadap program kesehatan pemerintah. Sedangkan comfort care akan mengkaitkan semua komponen. Aplikasi comfort theory pada keperawatan anak Comfort theory diterapkan dalam beberapa kondisi pasien seperti pasien penderia kanker payudara stadium awal. 3) intervening variables diperhitungkan dalammerancang intervensi.. pasien dan anggota keluarga terikat oleh HSBs yang akan meningkatkan kenyamanan lebih lanjut. Intervensi ini disebut comfort measures.4. pasien dengan kondisi Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.6. khususnya kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh suppor system eksternal. dan 8) bila perawat dengan pelayanan puas terhadap institusi pelayanan. Berikut ini adalah proposition teori kenyamanan. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini.2. 5) pasien dan perawat sepakat tentang HSBs yang diinginkan. perawat dan keluarga akan lebih puas dengan pelayanan kesehatan. Kerangka konseptual teori kenyamanan Kerangka konsep diatas mejelaskan proposition adalah pernyataan yang menghubungkan antar konsep. FIK UI. 7) bila pasien dan keluarga telah memiliki HSBs yang kuat sebagai hasil dari comfort care. Institusi menjadi lebih baik terpandang dan berkembang (Kolcaba. 6) bila kenyamanan tercapai. 2) perawat menyusun rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan.

. Baris 3 adalah cara dimana masing-masing konsep dilaksanakan. Kolcaba menyatakan teori kenyamanan meliputi tiga alasan logis yang terdiri dari induction..1 Aplikasi Comfort Theory pada Keperawatan Anak Sumber: Kolcba & DiMarco (2005) Skema di atas menggambarkan hubungan antara konsep-konsep penting dalam teori comfort. dan retroduction.. kondisi individu dengan keterbelakang mental dan keperawatan pada bayi baru lahir (Kolcaba & DiMarco). 2013 . Aplikasi comfort theory dalam penanganan nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah pada anak dapat diuraikan bahwa aspek health care Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. 2 berikut ini : Skema 2.43 inkontinensia urin. Baris 2 adalah tingkat praktik comfort pada kasus perawatan anak. FIK UI. unit luka bakar. Baris 1 menggambarkan konsep teori secara umum dan merupakan tingkat tertinggi yang bersifat abstrak dan setiap baris berikutnya lebih bersifat konkret. deduction. pada perawatan peri dan intra operatif. lebih jelas dapat dilihat pada kerangka konsep Kolcaba 2.

2013 .44 need yaitu anak memiliki kebutuhan rasa nyaman selama prosedur invasif dilakukan. Ayu Yuliani Sekriptini. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema 2.. FIK UI. Aspek nursing intervention yaitu pemberian intervensi non farmakologis berupa pemberian madu yang merupakan bagian intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman. penurunan kebutuhan akan tindakan medis yang lain dan peningkatan kepuasan anak dan keluarga.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hal tersebut merupakan keluaran yang positif yang membawa manfaat besar baik rumah sakit. Pemenuhan rasa nyaman yang adekuat pada semua aspek dengan tingkat relief hingga transcendence akan mendorong pada penentuan intervensi berikutnya. keluarga dan rumah sakit. psikospiritual.. Tahap perkembangan dan kehadiran orang tua merupakan interventing variabel yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk mencapai rasa nyaman pada semua aspek (kenyamanan fisik. Dengan demikian pemenuhan rasa nyaman yang optimal pada anak akan disesuaikan dengan karakteristik tumbuh kembang akan membawa manfaat bagi anak.2 dibawah ini. dan lingkungan). sosiokultural.

tindakan medis berkurang Percaya denga perawat. Ayu Yuliani Sekriptini. jenis kelamin anak dan kehadiran keluarga Rasa nyeri diukur dengan checklist CHEOPS Jalur 3 Tidak nyeri. psikologis. psikospiritual sosokulturall. pengalaman nyeri sebelumnya. jenis kelamin. anak tidak menangis saat tindakan.1. Aplikasi Comfort Theory dalam Tindakan Pemberian Madu 2. sosial dan spiritual. tidak menimbulkan trauma saat anak masuk RS Prosedur tetap dalam perawatan pengambilan darah dengan memberikan madu sebelum diberikan intervensi invasif Skema 2.45 Jalur 1 Health care need + Nursing Interventions + Atraumatic Care + Intervening variables Enhanced Comfort Health seeking behaviour Institusional itnegrity Internal. dan tidak merasa nyeri LOS minimal. keluarga puas dengan pelayanan RS Jalur 2 Kebutuhan rasa nyaman bagi anak dan keluarga + Usia... meninggal dengan tenang Kepuasan keluarga. lingkungan Mencatat usia.2.. anak berada pada masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik kebutuhan fisik. Konsep Anak 2. eksternal. 2013 . lingkungan dan dukungan orang terdekat Rasa nyaman fisik. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.5. segera diatasi.5. termasuk anak yang masih dalam kandungan (Undang-undang Perlindungan Anak No. 23 pasal 1 tahun 2003). FIK UI. analgetik kurang. Pengertian Anak Anak adalah seseorang yang belum berusia delapan belas (18) tahun. Dalam keperawatan anak yang dimaksud anak adalah seseorang yang berusia kurang dari delapan belas tahun.

FIK UI. Perkembangan biologis anak usia prasekolah ditandai dengan kematangan sistem organ dan penyempurnaan perilaku motorik halus dan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. fase infant.. Fase neonatal merupakan masa saat bayi lahir sampai usia 28 hari. menangis keras. 2004). Fase prenatal mencakup masa kehamilan sampai anak dilahirkan. Dalam proses perkembangan anak memiliki ciri fisik. 2007). Fase sekolah merupakan fase anak berusia 6 sampai 12 tahun. fase prasekolah. Repon anak toddler terhadap nyeri. Ditinjau dari perkembangan sosial belum memiliki toleransi yang lebih baik dalam hal perpisahan dengan orang tua.46 2. fase neonatal. Fase infant adalah fase saat bayi berusia 1 bulan sampai 12 bulan.. Setelah fase ini anak memasuki fase pra sekolah yaitu saat anak memasuki usia 3-6 tahun. Perkembangan biologis anak usia toddler mengalami fase toilet training dan perkembangan motorik merupakan proses tumbuh kembang sistem gerak seorang anak setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan sistem interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri (Hokenberry & Wilson. 2007).5. fase toddler.. kognitif. Fase toddler merupakan saat anak berusia 1-3 tahun. Perkembangan usia toddler merupakan kelompok usia antara 1 sampai 3 tahun. Ayu Yuliani Sekriptini. Perkembangan usia prasekolah merupakan kelompok usia antara 3 sampai 5 tahun. Fase perkembangan anak terdiri dari fase prenatal. konsep diri. Kelompok anak Berdasarkan Fase Perkembangan Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. dan terakhir fase remaja yaitu saat anak memasuki usia 13-18 tahun (Hockenberry & Wilson. Ditinaju dari kemampuan berbahasa anak usia toddler secara umum mengalami kesulitan dalam pengucapan dalam menyampaikan suatu keinginan. 2013 . ekspresi wajah menunjukan nyeri. fase sekolah dan fase remaja. pola koping dan perilaku sosial (Supartini. respon tubuh terlokalisasi secara sengaja menarik diri dari area yang terstimulis.2.

mendorong hal yang menyebabkan nyeri. dimana. membutuhakan dukungan emosi seperti pelukan dan memberikan antisipasi secara aktual (Hockenbarry & Wilson. kelompok usia ini memiliki toleransi yang lebih baik dalam hal perpisahan dengan orang tua dibandingkan usia toddler. 2007). akan tetapi mereka dapat berespon dengan baik terhadap bila ada perpisahan dan penjelasan yang konkrit. memukul tangan atau kaki. 2.6. FIK UI. 2013 . Namun demikian mereka masih membutuhkan pengamanan dari orang tua. misalnya perpisahan yang disebabkan oleh penyakit dan Hospitalisasi (Hokenberry & Wilson. Terkait dengan respon nyeri yang disebabkan oleh prosedur invasif yang menyakitkan bagi anak tergantung pada usia anak. meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri. jaminan. Ditinjuau dari perkembangan sosial anak usia prasekolah.. apa. menempel dan memegang orang tua. Ayu Yuliani Sekriptini. mengapa.. 2007).. terutama ketika memasuki usia sekolah. sedangkan pada usia prasekolah dalam berespon terhadap nyeri diantaranya dengan menanis keras atau berteriak.6. 2004). Wong dan Hockenberry (2003) menyebutkan bahwa atraumatic care berhubungan dengan siapa.47 kasar. Atraumatic care 2. tingkat perkembangan anak. kapan. Usia toddler masih belum mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang dirasakan karena keterbatasan kosakata dan pengalaman nyeri.1. Anak usia ini dapat berhubungan secara mudah dengan orang asing dan toleran terhadap perpisahan dengan orang tua hanya sedikit atau tanpa protes. dan faktor situasi lainnya. bagaimana Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pengertian Atraumatic care Atraumatic care adalah suatu tindakan perawatan terapeutik yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan intervensi melalui cara mengeliminasi atau meminimalisasi stress psikologi dan fisik yang dialami oleh anak dan keluarganya dalam sistem pelayanan kesehatan (Supartini. bimbingan dan persetujuan. Perpisahan yang panjang dengan orang tua merupakan hal yang sulit bagi anak usia prasekolah.

Karena anak stress dan gelisah serta tidak tenang berada di rumah sakit tanpa orangtua di sampingnya. 2007). mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis).. Kondisi tersebut menjadi perhatian dan tanggung jawab dari seorang perawat kesehatan profesional. & Cravero.48 dari setiap prosedur tindakan yang ditujukan pada anak bertujuan untuk mencegah atau mengurangi stres psikologi dan fisik. Contoh dari peningkatan tindakan atraumatic care menyangkut mengorganisir hubungan orangtua dengan anak selama perawatan. mengijinkan privasi anak. dan modifikasi lingkungan fisik. dan tidak adekuatnya pengetahuan dan pemahaman tentang situasi kondisi penyakit (Zempsky.. Wong dan Hockenberry (2003) menyebutkan tujuan mencapai perawatan atraumatic care adalah jangan menyakiti. ketidak mampuan berkomunikasi secara efektif dengan profesional kesehatan. tekanan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2004. Azis (2005).. yaitu. lamanya tinggal di rumah sakit. persiapan anak sebelum tindakan atau prosedur yang tidak menyenangkan. Stress psikologi pada orangtua dapat berupa perhatian terhadap nasib anak mereka. mencegah atau meminimalkan cedera tubuh. Terkait dangan hal tersebut nyeri akan berhubungan dengan peningkatan tandatanda vital sehingga prinsip dari tindakan perawatan nyeri adalah memeriksa tanda-tanda vital pasien setiap saat. tidak melakukan kekerasan pada anak. FIK UI. mencegah atau meminimalkan perpisahan anak dari orangtua. meningkatkan kemampuan orangtua dalam mengontrol perawatan anak. American Pain Society (2000) menyebutkan kondisi nyeri terdapat lima tanda vital yang harus diperhatin. alihkan dengan bermain untuk menghindarkan rasa takut. Terdapat tiga prinsip kerangka kerja untuk mencapai tujuan tersebut. menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga. misalnya nadi. Ayu Yuliani Sekriptini.. mengontrol rasa nyeri. 2013 . Sparks et al. mengatakan untuk mencapai perawatan tersebut beberapa prinsip yang dapat dilakukan perawat antara lain. orangtua pun merasa semakin stress. meningkatkan kontrol diri.

2003). 2009. Mencegah atau mengurangi cedera (injuri) dan nyeri (dampak psikologis). dan mencegah terjadinya nyeri serta cedera tubuh (Hockenberry & Wilson. libatkan orangtua.. Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak. suhu. Prinsip yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah mencegah dan meminimalkan perpisahan anak dengan keluarganya. Tidak melakukan kekerasan pada anak. Manchikanti et al. evaluasi perubahan psikologi dan tingkah laku. meningkatkan kontrol diri anak. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga Dampak perpisahan dari keluarga akan menyebabkan kecemasan pada anak sehingga menghambat proses penyembuhan dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. 2013 ..49 darah. cari penyebab nyeri. d. b.. Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.6. gunakan skala nyeri.. dan ambil tindakan dan evaluasi hasil nyeri (Wong & Hockenberry.. 2007) : a. 2. Istilah yang digunakan untuk menanyakan nyeri pada anak dengan menggunakan pertanyaan.2. maka digunakanlah strategi penilaian kualitatif dan kuantitatif. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai tenik misalnya distraksi. dan pernafasan (Soyer et al. Prinsip Atraumatic care Prinsip utama dari pelayanan yang tidak menimbulkan trauma (atraumatic care) pada anak adalah bahwa tidak ada yang tersakiti. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. seperti menanyakan anak. c. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. Kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak dapat meningkatkan kemandirian anak dan anak akan bersikap waspada dalam segala hal. Karena nyeri berhubungan dengan sensori dan emosional. relaksasi dan imaginary. 2010).

Transcendence Pengukuran Nyeri CHEOPS Atraumatic Care Pemberian madu per-oral Tidak Nyeri Kebutuhan nyaman anak terpenuhi Dikutip dari: Kolcaba & DiMarco (2005). berikut : Skema 2. Adapaun kerangka teori dalam penelitian ini seperti pada skema 2.7.. FIK UI.Ease .Usia .. Kerangka Teori Dari uraian diatas maka peneliti mencoba menggambarkan kerangka konsep teori yang dapat mempengaruhi terjadinya nyeri.Jenis kelamin .Lingkungan dan dukungan orang terdekat Anak sakit Dibawa ke unit Gawat Darurat Tindakan invasif pengambilan darah Nyeri saat prosedur Comfort Theory: . Modifikasi lingkungan. e.50 kehidupan anak. Melalui modifikasi lingkungan yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman dilingkungan. 2013 .3. yang dapat menghambat proses kematangan dan tumbuh kembang anak..3. Ayu Yuliani Sekriptini. Kerangka Teori Faktor yang mempengaruhi nyeri: .Pengalaman nyeri sebelumnya . 2. Tommey & Alligood (2006) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.Relief .

2013 . dan definisi operasional.1. hipotesis penelitian. Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini tindakan pemberian 51 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Varibel Bebas (independent) Variabel bebas (independent) adalah variabel yang bila ia berubah akan mengakibatkan perubahan variabel lain (Sastroasmoro & Ismael. sehingga mudah dipahami dan dapat menjadi acuan peneliti. Varibel Terikat (dependent variabel) Variabel terikat (dependent) adalah variabel yang berubah akibat perubahan variabel bebas (independent) (Sastroasmoro & Ismael. 2011). Variabel terikat (dependent) penelitian ini yaitu skor nyeri pada anak.. 3..1. 3. FIK UI. sebagai suatu petunjuk dalam mengidentifikasi dan menginterpretasi suatu hasil. Gambaran mengenai variabel-variabel yang akan diteliti dapat diperoleh melalui kerangka konsep. 2011).1. Kerangka Konsep Penelitian Kerangka konseptual merupakan kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur ketika penelitian dilakukan.. HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan kerangka konsep penelitian.BAB 3 KERANGKA KONSEP. Kerangka konsep penelitian diperlukan sebagai landasan berpikir dalam melaksanakan suatu penelitian yang dikembangkan dari tinjauan teori yang telah dibahas sebelumnya. Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut : 3. Ayu Yuliani Sekriptini. Hipotesis penelitian merupakan pernyataan sementara yang akan diuji kebenarannya yang dinyatakan dalam hipotesis alternatif.1. Kerangka konnsep penelitian ini menjelaskan tentang variabel-variabel yang dapat diukur dalam penelitian ini. Kerangka konsep menggambarkan ada tidaknya pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak saat dilakukan tindakan pengambilan darah di ruang unit gawat darurat.2. Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari variabel yang diteliti untuk memperjelas maksud dari suatu penelitian yang dilakukan.

3.. tetapi bukan merupakan variabel antara (Sastroasmoro & Ismael. Jenis kelamin c.1. Beberapa faktor yang termasuk variabel confounding dalam penelitian ini adalah usia. 2011).. Pengalaman nyeri sebelumnya d.1 berikut ini Skema 3. Kerangka Konsep Penelitian Variabel bebas Variabel terikat Kelompok Intervensi: Mendapatkan intervensi madu Kelompok kontrol: Mendapatkan intervensi placebo (air matang) Skor nyeri Variabel perancu: a.1. Hubungan antar variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada skema 3. 2013 .3. pendampingan orang tua. jenis kelamin. Variabel bebas (independent) akan mempengaruhi variabel terikat (dependent).52 madu pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah dan kelompok kontrol mendapatkan intervensi pemberian placebo (air matang).. Pendampingan orang tua Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Identifikasi variabel confounding penting agar peneliti tidak salah dalam melakukan pengambilan keputusan. FIK UI. Variabel Perancu (confounding) Variabel perancu (confounding) adalah jenis variabel yang berhubungan dengan variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). pengalaman nyeri sebelumnya. Ayu Yuliani Sekriptini. Usia b.

2. 3. pengalaman nyeri sebelumnya. jenis kelamin. Hipotesis Mayor Pemberian madu berpengaruh terhadap penurunan skor nyeri pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah di ruang unit gawat darurat. 2013 .. 2011).Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian yang harus diuji validitasnya secara empiris (Sastroasmoro & Ismael. Ayu Yuliani Sekriptini.2. Ada perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak (usia.. FIK UI. Ada perbedaan rerata skor nyeri pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol.2. 3.53 3. Hipotesis Minor a.2.1. 3.Definisi Operasional Tabel. b..1. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 3. Definisi Operasional Variabel Penelitian Bebas Tindakan pemberian madu oral Definisi Operasional Cara ukur Hasil Ukur Skala Tindakan pemberian madu peroral Observasi (chek list) 0 = diberi placebo (air putih) sebelum pengambil -an darah 1 = diberi madu sebelum pengambil -an darah Nominal Madu diberikan 2 menit sebelum intervensi pengambilan darah Jika pengambilan darah tidak berhasil prosedur pemberian madu di ulang seperti semula dengan menunggu 5 menit untuk istirahat terlebih dahulu Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.3. pendampingan orang tua).

ekspresi verbal.54 Variabel Penelitian Terikat Skor nyeri Definisi Operasional Madu yang digunakan dalam penelitian ini adalah madu murni kosentrasi 50%. Ayu Yuliani Sekriptini. posis badan.. Cara ukur Hasil Ukur Skala Obersevasi dengan Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Nilai skala nyeri Berkisar dari 4-13 Interval Jenis madu multiflora yang diproduksi oleh Perum Perhutani Skor nyeri yang dirasakan anak akibat tindakan invasif pengambilan darah Penilaian dilakukan setelah intervensi pengambilan darah dengan melihat hasil rekaman video 4 = skor tidak nyeri Skala nyeri 13= skor CHEOPS terdiri nyeri dari 6 tertinggi parameter. Skor nyeri berdasarkan penjumlahan skor pada setiap parameter Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. tangisan.. 2013 . FIK UI. sentuhan dan posisi kaki. dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan diuji oleh Pusat Perlebahan Nasional Perhutani. ekspresi wajah..

..55 Variabel Penelitian Perancu Usia Definisi Operasional Usia responden dihitung dari tanggal lahir sampai dengan bulan dilakukan penelitian. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2009) Nominal Kuesioner 0 : laki-laki 1 : perempuan Nominal Kuesioner 0 : ada riwayat pengambilan darah sebelumnya 1 : pertama kali 0 : hadir 1 : tidak hadir Nominal Observasi Nominal Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Umur dihitung dalam tahun Jenis kelamin Jenis sex : lakilaki dan perempuan Pengalaman Pengalaman anak sebelumnya yang pernah mengalami nyeri dengan jenis yang sama Pendampingan Kehadiran orang orang tua tua saat tindakan invasif dilaksanakan Cara ukur Hasil Ukur Skala Kuesioner 0 : 1-3 tahun (toddlers) 1 : >3-6 tahun (preschool) (Hockenberry & Wilson. FIK UI. 2013 .

56 BAB 4 METODE PENELITIAN 4. 4. Pada pelaksanaan penelitian. 2008). Penelitian quasi eksperiment adalah penelitian yang mengujicoba suatu intervensi pada kelompok subjek dengan kelompok pembanding namun tidak melakukan rendomisasi untuk memasukkan subjek ke dalam kelompok perlakuan atau kontrol (Polit & Beck. FIK UI.2.1. Sampel dan Besar Sampel 4. 2013 .2. Desain penelitian yang dipilih jenis nonequivalent control group. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan berupa quasi eksperiment dengan jenis nonequivalent control group. peneliti dan asisten ahli sebelumnya melakukan inter-observer reliability dengan tujuan menghasilkan suatu skor kesepakatan antar observer/penilai dalam pengukuran suatu instrumen. Penelitian ini melibatkan dua kelompok yaitu. pemilihan kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak diacak..1. pengukuran hanya dilakukan setelah selesai intervensi. kelompok anak yang diberikan madu sebelum tindakan pengambilan darah sebagai kelompok intervensi dan kelompok anak yang diberi intervensi placebo (air putih) sebelum tindakan pengambilan darah sebagai kelompok kontrol. penilaian nyeri dilakukan saat pengambilan darah. Pemberian madu dan placebo (air putih) pada kelompok intrevensi ataupun kelompok kontrol dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti (perawat ruangan). After only design karena penelitian ini tidak melakukan pengukuran sebelum intervensi. perlakuan kelompok intervensi dan kelompok kontrol disamakan yaitu dilakukan menghitungan denyut nadi lima menit sebelum tindakan dan dua menit kemudian diberikan madu untuk kelompok intervensi dan placebo untuk kelompok kontrol. 2011). Ayu Yuliani Sekriptini. after only design (Dharma. Hasil studi pendahuluan didapatkan rata-rata jumlah kasus anak yang masuk ke ruang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti (Sastroasmoro & Ismael. after only design.. 2011)..Populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah responden anak usia 1-6 tahun yang masuk ke ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon.

Kriteria inklusi pada sampel penelitian ini adalah: a. Pada consecutive sampling semua subyek yang dating secara berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro & Ismael.2. Akan dilakukan pengambilan darah intra vena. Kriteria ekslusi pada sampel penelitian ini adalah: a. Ibu/keluarga tidak kooperatif. FIK UI.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2011). Ayu Yuliani Sekriptini.. Jenis penyakit yang sering terjadi sangat beragam. 2013 . sedangkan kriteria ekslusi adalah keadaan yang menyebabkan subyek yang telah memenuhi kriteria inklusi tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian (Sastroasmoro & Ismael 2011). c. 4. b. Kriteria inklusi merupakan persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subyek agar dapat diikutsertakan ke dalam penelitian. Ibu/keluarga bersedia apabila anak menjadi responden penelitian. Pertimbangan yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan menentukan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Kondisi anak sangat lemah dan mengalami gangguan kesadaran.2. Anak usia 1-6 tahun. Sampel Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan menggunakan nonprobability sampling jenis consecutive sampling. Anak mampu berkomunikasi secara verbal dan non verbal. d.. b.57 unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawianagun Kota Cirebon dalam setahun terakhir ini rata-rata per-bulan sebanyak 300 orang anak dengan rata-rata usia 1-17 tahun. rata-rata anak masuk ke unit gawat darurat dengan penyakit diare dan panas.

1 dengan standar deviasi 0.96)  = nilai Z pada kekuatan uji (power) (ditetapkan oleh peneliti sebesar 80% atau 0.4 dan jumlah sampel adalah 23 orang. Rerata standar deviasi kedua kelompok dapat diperoleh dengan mencari varian kedua populasi dengan rumus sebagai ( ) = ( ) = [ ×( − 1) + × ( + − 2 berikut : − 1)] [3..3.2.05 atau 1. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: = =2 ( ) Keterangan : n = jumlah sampel s = standar deviasi kedua kelompok x1 – x2 = perbedaan klinis yang diinginkan (clinical judgment)  = serajat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti  = 0. Ayu Yuliani Sekriptini. Besar Sampel Perhitungan sampel penelitian ini mengunakan uji hipotesis beda rata-rata dua kelompok independent....4 × ( 23 − 1) + 0.58 4.9 × (19 − 1)] 23 + 19 − 2 = 2. Pada kelompok intervensi rata-rata skala nyeri adalah 4.7 dengan standar deviasi 3.5 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.3. Pada penelitian tersebut diperoleh rata-rata nyeri kelompok kontrol 8. (2003) tentang pemberian permen manis untuk mengurangi nyeri saat prosedur penusukan jarum pada anak usia sekolah. 2013 .84) Perhitungan besar sampel minimal diperoleh berdasarkan hasil penilitian yang dilakukan sebelumnya. pada penelitian terdahulu peneliti menggunakan penelitian yang dilakukan oleh Lewkowski et al.9 dan jumlah sampel 19 orang. FIK UI. = 1.

FIK UI. peneliti membagi jumlah sampel menjadi 15 responden usia 1-3 tahun dan 15 responden usia >3-6 tahun.3. atau kesalahan teknik dalam pemberian madu. peneliti memperoleh nilai standar deviasi rata-rata sebesar 1. Perhitungan sampel penelitian ini menggunakan derajat kepercayaan 95% dan kekuatan uji 80%.. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon.1) = =2 = = 29.84) 1.7 – 4.4 = 30 Hasil perhitungan diperoleh sampel yang diperlukan sebanyak 30 responden. dengan rumus sebagai berikut : ′= n 1−f Keterangan : n’ = jumlah sampel f = estimasi drop out = 10 % Maka hasil perhitungan n’ = n1 = n2 = 34 responden Dengan demikian.5 (8. Ayu Yuliani Sekriptini..5. RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon merupakan rumah sakit tipe B Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. berdasarkan hasil perhitungan didapatkan jumlah sampel keseluruhan setelah ditambah drop out adalah 68 responden yang terdiri dari 34 responden untuk kelompok intervensi dan 34 responden kelompok kontrol.96 + 0. untuk menguragi terjadinya bias pada hasil penelitian.. Besar sampel kemudian ditambah untuk menganisipasi kemungkinan drop out. maka besar sampel ditambah 10%. 4. maka besar sampel yang diperoleh adalah : (1. 2013 .59 Berdasarkan penelitian tersebut.

rencana. Ayu Yuliani Sekriptini. Informasi yang diberikan meliputi manfaat. dan tujuan penelitian... 4. Waktu Penelitian Pengumpulan data dilaksanakan selama 20 hari dari tanggal 27 November sampai dengan 24 Desember 2012..4. Penjelasan dilakukan secara resmi tertulis dengan responden dan keluarga. FIK UI. 2013 . Sebagai responden atau subjek penelitian diberi kebebasan dalam menentukan hak kesediaanya untuk terlibat dalam penelitian ini secara sukarela dengan menandatangani lembar persetujuan yang disediakan dapat dilihat pada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.5. Beberapa prinsip etika penelitian yang menjadi dasar yaitu : a. Proses penelitian dimulai dari pembuatan proposal sampai menyusun laporan penelitian berlangsung selama 4 bulan. responden diberikan informasi tentang tujuan dan manfaat penelitian. Etika Penelitian Penelitian dilakukan setelah dinyatakan lolos oleh Komite Etik FIK UI serta mendapatkan persetujuan dari Direktur RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon.60 yang menjadi pusat rujukan untuk wilayah kota dan kabupaten Cirebon. Setiap responden diberikan kebebasan untuk memberikan persetujuan atau menolak untuk menjadi subjek penelitian dengan cara menandatangani lembar persetujuan atau surat pernyataan kesediaan yang telah disiapkan oleh peneliti. Sebelum pengambilan data. dan dibutuhkan segera untuk menentukan intervensi selanjutnya. Ruangan yang digunakan adalah ruang unit gawat darurat. Secara lengkap waktu dan tahapan penelitian dapat dilihat pada lampiran 6. ruangan ini dipilih karena intervensi pengambilan darah sering dilakukan di unit gawat darurat baik pasien baru atau pasien lama. intervensi. 4. Right self determination Sebelum penelitian dilakukan responden dan keluarga yang menjadi responden penelitian diberikan informasi. Pengambilan gambar rekaman vidio dilakukan oleh peneliti. sedangkan tindakan pengambilan darah dilakukan oleh perawat ruangan unit gawat darurat.

. Data yang diperoleh hanya diketahui oleh peneliti dan orang tua responden yang bersangkutan.6. Data Karakteristik Responden Data karakteristik responden diperoleh dari wawancara pada responden atau orang tua responden. Right to anonymity and confidentially Data penelitian yang berasal dari responden tidak disertai dengan identitas responden. 4. Right to fair treatmen Responden kelompok intervensi mendapatkan madu sebelum tindakan pengambilan darah dan kelompok kontrol penelitian mendapatkan placebo (air putih). dan publikasi dari hasil penelitian tidak mencantumkan identitas responden. FIK UI. analisis. Peneliti berusaha memenuhi kebutuhan responden.. Right to privacy and dignity Peneliti tidak mencatumkan nama responden dalam format kuesioner dan diganti dengan nomor kode dengan tujuan melindungi privasi dan martabat responden. Wawancara berfokus pada karakteristik jenis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Selama pengolahan data. d. selama penelitian kerahasiaan responden dijaga dengan cara saat dilakukan penjelasan dan persetujuan pengambilan data responden hanya didampingi oleh keluarga responden saja. Kelompok kontrol mendapatkan madu yang sama setelah tindakan pengambilan darah selesai. menerima masukan dan mempertahankan sikap empati. b. Apabila terjadi hal-hal yang memberatkan maka diperbolehkan untuk mengundurkan diri. baik secara psikologis maupun sosial. tepat waktu.6. c.1. tetapi cukup dengan menggunakan kode responden. Right to protection from discomfort and harm Peneliti sebelumnya menjelaskan kepada orang tua dan responden serta menekankan bahwa penelitian ini tidak menimbulkan kerugian. e. Alat Pengumpulan Data 4. membuat kontrak kerja dan waktu yang jelas..61 lampiran 1. menciptakan suasana santai sehingga tidak ada respon negatif yang terjadi dari responden. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 .

4. ekspresi verbal. Masing-masing parameter memiliki skor nilai yang berbeda. Skor nyeri didapatkan berdasarkan penjumlahan skor pada setiap parameter dengan nilai skala nyeri 4 sampai dengan 13. 2011). FIK UI. 2013 . 4. Alat instrumen CHEOPS merupakan alat ukur yang dirancang untuk digunakan oleh petugas kesehatan (dokter. skor 4 untuk tidak nyeri.62 kelamin. ekspresi wajah dengan skor 0-2. Validitas isi adalah kemampuan instrumen menggambarkan secara tepat teori dan konsep dari veriabel yang akan diteliti (Burns & Grove. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) merupakan skala nyeri yang terdiri dari enam parameter pengkajian... Uji validitas instumen bertujuan untuk mengukur ketepatan suatu instrumen data (Polit & Beck 2012). Validitas merupakan suatu kesahihan. yang dirancang oleh McGrath et al. Data Nyeri Nyeri diukur dengan mengunakan kuesioner Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS).. Uji validitas instrumen dalam penelitian ini adalah konten dan isi. Validitas konten mengandung arti bahwa instrumen penelitian menunjukkan kemampuan item pertanyaan dalam istrumen mewakili semua unsur dimensi konsep yang sedang diteliti (Dharma. usia anak. Ayu Yuliani Sekriptini. ekspresi verbal 0-2. tangisan memiliki skor 1-3. ekspresi wajah. yaitu seberapa tepat alat ukur mengatakan apa yang seharusnya diukur (Sastroasmoro & Ismael. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Kualitas data ditentukan oleh skor validitas dan realibilias alat ukur. ahli anastesi dan perawat) dan direkomendasikan oleh berbagai ahli (Suraseranivongse et al.7. posisi badan 1-2. skor 5 awaitan nyeri dan skor 13 untuk skala nyeri yang tertinggi.2.. dan posisi kaki. posisi badan. Penilaian skor nyeri dilihat dari hasil rekaman video saat dilakukan tindakan pengambilan darah.. Uji konten penelitian ini Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2009). sentuhan 1-2 dan posisi kaki 1-2. dan riwayat pernah dilakukan pengambilan darah atau tidak dan didampingi oleh keluarga atau tidak. sentuhan.6. 2001). (1985). yaitu tangisan. 2011).

Pengujian inter-observer reliability untuk data numerik dapat menggunakan uji inter-reliability Pearson’s coefficient correlation for two judge.63 dilakukan pada 15 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi yang memiliki karakteristik hampir sama dengan responden penelitian dan dilakukan di tempat yang berbeda yaitu di RS Swasta Kota Cirebon. Uji interobserver reliability direncakan dilakukan antara peneliti dan 2 orang asisten peneliti (numerator)..514 dengan tingkat kepercayaan 95% hasil tersebut menunjukkan bahwa instrumen CHEOPS valid. Hasil uji validitas konten instrumen CHEOPS diperoleh nilai. dilakukan dengan Pada penelitan ini peneliti melakukan uji inter-observer reliability menggunakan jenis uji skala numerik. 2008). Reliabilitas adalah skor konsistensi dari suatu pengukuran. 2013 . Hasil cronbach’s alfa 0. Reliabilitas juga dapat didefinisikan sebagai derajat suatu pengukuran bebas dari random error sehingga menghasilkan suatu pemikiran yang konsisten (Dharma. Relibilitas dipengaruhi oleh random error yang bersumber dari variasi observer..80 maka dianggap terdapat kesepakatan yang kuat/sempurna diantara peneliti dan numerator secara signifikan (Polit & Beck. FIK UI.. Reliability diantara pengambil data juga harus menggunakan pengukuran inter-observer reliability. Ayu Yuliani Sekriptini. Jika p value kurang dari alpa () maka koefisien reliabilitas (r) lebih dari 0. taraf signifikan r product moment dengan jumlah responden 15 adalah 0. variasi subyek dan variasi instrumen.894. 2011). Reliabilitas menunjukkan apakah pengukuran menghasilkan data yang konsisten jika instrumen digunakan kembali secara berulang. Peneliti telah melakukan proses back translation pada Instrumen CHEOPS dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia setelah diterjemahkan hasil terjemahan berbahasa Indonesia diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. penghitungan reliability yang berarti terdapat diperoleh nilai kesepakatan yang kuat/sempurna diantara numerator secara signifikan.

4.9. Peneliti mencampurkan madu dan air aqua dengan perbandingan 1:1. Pemberian madu berdasarkan dosis pemberian obat pada anak-anak (menggunakan rumus Young)..1.. Setelah penelitian dinyatakan lulus uji etik dari Komite Etik Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia. Prosedur Pengumpulan Data Sebelum melakukan pengumpulan data. Hasil telaahan pembimbing instrumen CHEOPS dapat digunakan saat penelitian. peneliti melakukan pengurusan ijin penelitian dan kaji etika penelitian. Madu yang diberikan untuk usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml. ada beberapa tahap yang peneliti lalui : 4.9.. c. Pemberian plasebo jumlah yang diberikan pada anak sama dengan jumlah ml pada madu. Kemudian instrumen tersebut ditelaah oleh pembimbing untuk menjamin bahwa alih bahasa yang dibuat oleh peneliti sudah sesuai dengan instrument dan digunakan pada saat penelitian. 4. Pelaksanaan pemberian madu pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada kelompok kontrol diberikan peroral dilakukan oleh asisten teknis peneliti.64 oleh peneliti di review dengan kualifikasi tiga orang sarjana terdiri dari perawat dan guru bahasa Inggris yang salah satunya mengajar di pendidikan bahasa Inggris di English Study Centre. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. sehingga menghasilkan konsentrasi madu 50%. Madu yang diberikan madu PERHUTANI jenis multiflora. Persiapan a. Hal tersebut bertujuan agar instrumen yang digunakan dalam penelitian sesuai dengan instrumen asli yang sebenarnya.8. b. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Cara dan dosis: a. Prosedur administrasi Tahap persiapan penelitian. Intervensi yang Dilakukan Responden pada kelompok intervensi emdapatkan madu dengan konsentrasi 50% dan pada kelompok kontrol diberikan air putih (plasebo). FIK UI.

Prosedur Teknis Pada tahap persiapan penelitian. b.. dan dua dengan latar belakang pendidikan magister keperawatan menjadi asisten penelitian untuk menilai skor nyeri pada hasil rekaman video.. dan perawat ruangan yang bertugas di ruangan tempat penelitian. banyaknya madu yang akan diberikan. jumlah madu yang diberikan dan bagaimana cara pemberiannya kepada calon asisten teknis peneliti. kepala ruangan. 2013 . dan manfaat penelitian.. kemudian peneliti memilih perawat yang dilibatkan sebagai asisten teknis penelitian ini dengan pertimbangan dari Kepala Ruangan Unit Gawat Darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. peneliti mengajarkan kepada perawat pelaksana teknis penelitian cara pengisian data responden. prosedur pelaksanaan. peneliti terlebih dahulu melakukan sosialisasi rencana penelitian ke dokter. Peneliti melibatkan delapan orang perawat untuk menjadi pelaksana teknis pengambilan darah saat penelitian dengan latar belakang D III perawatan. cara pemberian madu. Sosialisasi dilakukan pada tanggal 14 November 2012 di RSUD Gunung Jati dan tanggal 8 Desember 2012 di RSUD Arjawinagun Kota Cirebon. FIK UI.65 selanjutnya surat tersebut disampaikan pada Badan Penelitian Komisi Etik Penelitian dan Direktur RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. Ayu Yuliani Sekriptini. perekaman video dilakukan oleh peneliti sendiri. Sosialisasi ini bertujuan untuk menjelaskan tujuan. Setelah perawat pelaksana teknis penelitian dipilih sesuai dengan kriteria yang ditentukan. peneliti menjelaskan proses pemberian madu. Uji inter-observer reliability dilakukan oleh dua atau lebih observer dengan cara melakukan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Peneliti melakukan persamaan persepsi instrumen skor nyeri CHOEPS dengan asisten peneliti dengan melakukan pengukuran inter-observer reliability diantara pengambil data.

. d. yang berarti terdapat kesepakatan yang kuat/sempurna diantara numerator secara signifikan. Pengambilan responden kelompok kontrol di RSUD Gunung Jati dan responden kelompok intervensi di RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. Pengujian ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan asumsi antar pengambil data. 2012).9. serta hak dan kewajiban menjadi responden. Hasil uji Uji inter-observer reliability diperoleh nilai cronbach’s alfa 0.. selanjutnya meminta kesediaan calon responden untuk berpartisipasi setelah mendapatkan penjelasan tentang maksud.894. Orang tua kelompok intervensi diberi penjelasan mengenai alasan pemberian.. serta pemberian madu setelah tindakan pengambilan darah. Penghitungan denyut nadi sebelum dan sesudah Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pada orang tua kelompok kontrol diberikan penjelasan alasan pemberian plasebo (air). tujuan. 4. c. b.2. sehingga semua pengambilan data memilki interpretasi yang sama terhadap parameter yang akan diobservasi. prosedur penelitian. kegunaan. Peneliti dan asisten tehknik peneliti memilih responden yang memenuhi kriteria inklusi untuk dijadikan responden. Bagi calon responden yang bersedia diminta menandatangani lembar persetujuan. Peneliti dan asisten teknis peneliti melakukan pengambilan data dengan mengisi lembar kuesioner karateristik responden dengan merujuk pada catatan medis responden. dan cara pemberian madu. sebelumnya peneliti dan asisten teknis peneliti mengukur dan mencatat tanda vital (denyut nadi) pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol 5 menit sebelum pengambilan darah. Ayu Yuliani Sekriptini.66 pengukuran suatu kejadian secara simultan dan kemudian masingmasing observer mencatat parameter kejadian tersebut sesuai koding pada instrumen secara independen (Polit & Back. Pelaksanaan Tahap pelaksanaan penelitian ini melalui tahap-tahap sebagai berikut : a. FIK UI. manfaat. 2013 . Peneliti memberikan kesempatan calon responden dan keluarga untuk bertanya.

Ayu Yuliani Sekriptini. Jika pengambilan darah tidak berhasil pada responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Pada kelompok kontrol melakukan hal yang sama dengan memberikan plasebo (air) peroral dengan menggunakan gelas kecil 2 menit sebelum tindakan invasif pengambilan darah dilakukan dan saat setelah penusukan peneliti penelitian melakukan perekaman dengan menggunakan video dan mengukur kembali denyut nadi kelompok kontrol setelah intervensi pengambilan darah.. FIK UI.. i. Peneliti dan asisten teknis peneliti memberikan madu peroral 2 menit dengan menggunakan gelas kecil sebelum dilakukan tindakan invasif pengambilan darah.. e. kemudian dilakukan penilaian terhadap skor nyeri. Pada penelitian ini tidak ditemukan responden yang drop out. Hasil rekaman video di berikan kepada asisten peneliti. sebelum dilakukan pengulangan penusukan responden diistirahatkan dulu selama 5 menit kemudian dilakukan pemberian ulang madu pada kelompok intervensi dan plasebo pada kelompok kontrol 2 menit sebelum pengambilan darah dengan terlebih dahulu diukur kembali denyut nadi responden. kemudian direkam ulang kembali. saat setelah penusukan peneliti melakukan perekaman video. jika pengulangan pengambilan darah dilakukan kurang dari 5 menit responden dianggap drop out tidak dijadikan responden penelitian. h. Peneliti dan asisten teknis peneliti mengucapkan terimakasih pada orang tua dan responden dari kelompok kontrol dan kelompok intervensi atas keterlibatan dalam penelitian ini. respon yang muncul pada anak saat penusukan jarum dan kemudian mengukur kembali denyut nadi setelah intervensi pengambilan darah.67 pengambilan darah hanya untuk mengetahui respon fisiologis nyeri bukan untuk dianalis. kemudian kelompok kontrol diberi madu sesuai dengan takaran yang telah ditentukan. f. g. 2013 . Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

.68 4.2.5. dilakukan hal-hal sebagai berikut : 4. FIK UI.10.4.10. Tabulating Data dikelompokkan menurut katagori yang telah ditentukan dan selanjutnya data ditabulasi dengan menggunakan program statistik dalam computer. 4. 4. meliputi: kebenaran tentang pengisian dan kelengkapan jawaban lembar pengkajian. kelompok kontrol dengan kode 0.10. Coding Memberi kode pada setiap variabel untuk mempermudah peneliti dalam melakukan analisis dan tabulasi data yaitu memberikan kode untuk nama responden.10.10. Cleaning Merupakan proses akhir dalam pengolahan data. 4. Data dimasukkan sesuai nomor responden pada kuesioner dan nomor pada lembar observasi dan jawaban responden diajukan ke dalam komputer dalam bentuk angka sesuai dengan skor jawaban yang telah ditentukan ketika melakukan koding. Processing Merupakan suatu proses memasukkan data ke dalam komputer untuk selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan program statistik dalam komputer.3. Peneliti mengoreksi data yang telah diperoleh. Ayu Yuliani Sekriptini. dengan melakukan pemeriksaan kembali data yang sudah di entry data untuk melihat ada tidaknya kesalahan dalam entry data. Editing Editing data dilakukan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sudah lengkap. 4. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pengolahan Data Sebelum menganalisis data yang telah terkumpul.10.1.. 2013 .. dan kelompok intervensi dengan kode 1.

Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik usia.1. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk membuktikan hipotesa yang telah dirumuskan yaitu apakah ada perbedaan rata-rata skor nyeri antara pasien anak dengan pemberian madu (kelompok intervensi) dengan yang diberi placebo (air putih) (kelompok kontrol) dan apakah ada selisih perbedaan skor nyeri yang bermakna terhadap kedua kelompok tersebut. variabel bebas. dan variabel terikat. serta skor nyeri responden. 2013 . dan standar deviasi. Prosedur Analisis Data Data dianalisis dalam bentuk analisis univariat dan bivariat.2..11.69 4.11. disajikan dalam distribusi frekuensi dan prosentase atau proporsi. tindakan pemberian madu yang diberikan.11. Pada analisis univariat. Uji yang dipergunakan adalah uji beda 2 mean independen (independent sample t test). median. Pada penelitian ini uji bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.. 4. FIK UI. Uji Statistik Variabel independen Pemberian madu Skala Variabel dependen Skala Uji Statistik Kategorik Skor nyeri Numerik Uji T Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hasil analisis data berupa distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel termasuk mean. pengalaman responden dalam prosedur pengambilan darah sebelumnya. 2007). yaitu sebagai berikut : 4.. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara kedua variabel. yaitu uji statistik untuk mengetahui beda mean pada dua kelompok data independen (Hastono. Tabel 4. kehadiran keluarga selama prosedur pengambilan darah. Ayu Yuliani Sekriptini. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan terhadap karakteristik responden. jenis kelamin.2.

2013 .70 Variabel Skala independen Variabel konfonding Usia Kategorik Jenis kelamin Kategorik Pengalaman Kategorik sebelumnya Pendampingan Kategorik orang tua Variabel dependen Skala Uji Statistik Skor nyeri Skor nyeri Skor nyeri Numerik Numerik Numerik Uji T Uji T Uji T Skor nyeri Numerik Uji T Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Ayu Yuliani Sekriptini.. FIK UI..

1. jenis kelamin. kehadiran keluarga. FIK UI.1.1. uji hipotesis dan penyajian hal-hal lain yang akan diuraikan dalam bab ini.BAB 5 HASIL PENELITIAN Bab ini secara khusus menyajikan dan menjelaskan hasil penelitian dan analisis data. 5. Karakteristik Responden Karakteritik pada reponden penelitian ini meliputi usia. kehadiran keluarga. 2013 .. standar deviasi. median.. berikut ini..1. dan pengalaman pengambilan darah. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi yang didasarkan pada hasil analisis univariat dan bivariat. jenis kelamin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian madu terhadap menurunan skor nyeri pada anak. Penelitian ini dilakukan di dua rumah sakit di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. nilai terendah dan tertinggi tingkat nyeri kelompok kontrol dan intervensi. Data deskriptif. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 27 November – 24 Desember 2012 dengan total sampel 34 responden sebagai kelompok kontrol dan 34 sebagai kelompok intervensi. 5. 71 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dan pengalaman pengambilan darah serta menggambarkan rata-rata. Ayu Yuliani Sekriptini. Analisis Univariat Hasil analisis univariat menggambarkan karakteristik responden berdasarkan usia. dapat dilihat pada tabel 5.

. kehadiran keluarga.72 Tabel 5. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. menunjukkan bahwa jumlah karakteristik usia toddlers dan prasekolah untuk masing-masing responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol memiliki jumlah yang sama (50%). FIK UI.1 36 32 52.1 diatas.9 44.9 64 4 94.9 47.9 47. 2013 .8 33 1 97.1%) dan kelompok kontrol (91.2 8.5 48.9%). dan pengalaman pengambilan darah di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Usia 1 – 3 tahun >3 – 6 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pengalaman sebelumnya Ada riwayat Pertaman kali Kehadiran orang tua Hadir Tidak hadir Kontrol (n=34) F % Intervensi (n=34) F % 17 17 50 50 17 17 18 16 52.. jenis kelamin.1 31 3 91.1 Distribusi responden berdasarkan usia.9%) dan karakteristik jenis kelamin kelompok kontrol memiliki jumlah yang sama (50%).2%) didampingi oleh orang tua selama proses pengambilan darah.5 Hasil tabel 5. Berdasarkan karakteristik jenis kelamin kelompok intervensi sebagian besar memikili jenis kelamin laki-laki (52.1 5. Dilihat dari karakteristik pengalaman sebelumnya kelompok intervensi memiliki jumlah yang sama (50%) dan pada kelompok kontrol sebagian besar memiliki riwayat diambil darah sebelumnya (55..1 17 17 17 17 50 50 19 15 55.9 Total f % 50 50 34 34 50 50 50 50 35 33 51. Dilihat dari karakteristik kehadiran orang tua secara keseluruhan kelompok intervensi (97. Ayu Yuliani Sekriptini.1 2.

. Sedangkan rata-rata skor nyeri pada kelompok kontrol adalah 11 dengan skor nyeri terendah 6 dan skor tertinggi 13. pengalaman nyeri sebelumnya dan kehadiran orang tua pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dapat dilihat pada tabel 5.2 berikut ini: Tabel 5.20 sampai dengan 9. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI.2. Berikut ini disajikan hasil uji kesetaraan pada variabel jenis kelamin.78 sampai dengan 11. 2013 .5 34 34 8 11 MininalMaksimal 5-13 6-13 95% CI 8.33 Hasil analisis tabel 5. Uji homogenitas dilakukan dengan uji beda proporsi menggunakan Uji F.3 berikut ini: Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.1.8 10..49 dan diyakini rata-rata skor nyeri pada kelompok plasebo berada diantara 9. usia.49 9.2 diperoleh rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi adalah 8. Uji Kesetaraan (Homogenity) Uji Homogenitas bertujuan untuk membuktikan bahwa perubahan skor nyeri yang terjadi bukan karena variasi responden tetapi karena pengaruh dari pemberian madu dalam tindakan pengambilan darah. Skor Nyeri Kelompok Madu dan Kelompok Plasebo Skor nyeri responden yang dinilai dengan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHOEPS) ditunjukkan pada tabel 5. Dari estimasi diyakini bahwa rata-rata skor nyeri kelompok madu berada diantara 8.20-9. 5.8 dengan skor nyeri terendah adalah 5 dan skor tertinggi adalah 13.33.2.73 5.78-11..2 Distribusi skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Kelompok Skor Nyeri Madu Plasebo Mean Median n 8.

2013 .1.9 0.001 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Analisis Bivariat 5.2 34 34 MininalMaksimal 5-13 6-13 p value 0.88 31 3 91.8 33 1 97...00 17 17 50 50 19 15 55.8 10.74 Tabel 5.9 47. 5.05. pengalaman nyeri sebelumnya dan karakteristik kehadiran keluarga pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi memiliki varian sama dengan nilai p value > 0. pengalaman sebelumnya dan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 No Variabel 1 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Usia 1–3 >3 – 6 Pengalaman sebelumnya Pernah Tidak pernah Kehadiran orang tua Hadir Tidak hadir 2 3 4 Kontrol (n=34) F % Intervensi (n=34) F % 18 16 52.1 2.3 Uji homogenitas data responden berdasarkan jenis kelamin.5 8 11 SD n 1.1 0.3. Perbedaan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol Tabel 5..4 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri pada anak kelompok intervensi dan kelompok kontrol di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Skor Nyeri Kelompok Mean Median Madu Plasebo 8. usia.3.00 Hasil uji homogenitas diperoleh hasil bahwa berdasarkan karakteristik jenis kelamin. Ayu Yuliani Sekriptini.9 44.8 2. FIK UI. usia.2 8.1 17 17 17 17 50 50 17 17 50 50 1.61 50 50 p value 1.

.001). Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri usia toddlers antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sedangkan rata-rata skor nyeri pada usia prasekolah tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.5 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan usia anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Usia Toddlers Prasekolah n 17 17 Skor Nyeri Madu Plasebo 9.75 Hasil analisis tabel 5. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik usia responden. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan rata-rata skor nyeri pada kelompok kontrol saat prosedur pengambilan darah.8 dengan standar deviasi 1.002* 0. a. 5.5 9.002) sedangkan pada usia prasekolah untuk intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 9.8 dan rata-rata skor nyeri kelompok kontrol sebesar 10.2 ( p value 0.. (p value 0.1 11.5 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada karakterisik anak usia toddlers untuk kelompok intervensi memiliki ratarata skor nyeri sebesar 9. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Tabel 5.7.140 Hasil analisis tabel 5.1 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 11.5 8.05.5. kelompok (p value 0.001 dengan  < 0.2. Hasil menunjukkan rata-rata skor nyeri kelompok intervensi lebih rendah dari pada rata-rata kelompok kontrol. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak..4 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.7 p value 0.140).5.3. p value 0.5 dengan standar deviasi 2. 2013 .

7 8.3 (p value 0.76 b. (p value 0.045) sedangkan pada jenis kelamin perempuan untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8..045* 0. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik jenis kelamin responden.1.002)..2 p value 0.002* Hasil analisis tabel 5. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri laki-laki dan perempuan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.5 10. FIK UI.016* 0.7. c.5 10.5 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. Tabel 5. Tabel 5. Ayu Yuliani Sekriptini.8 8.7 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada responden yang pernah mengalami nyeri sebelumnya untuk kelompok Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.7 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Pengalaman nyeri Pernah Tidak pernah n 36 32 Skor Nyeri Madu Plasebo 9. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya.1 10.029* Hasil analisis tabel 5.. 2013 .3 p value 0.1 10.6 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada karakterisik jenis kelamin laki-laki untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 9.6 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Jenis kelamin Laki-laki Perempuan n 35 33 Skor Nyeri Madu Plasebo 9.

.7.000) sedangkan orang tua yang tidak hadir untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 7 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 7.8. d.2 (p value 0.016) sedangkan pada responden yang belum memiliki penalaman nyeri untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.1 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. (p value 1. (p value 0.8.9 10. 2013 .77 intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 9.000 Hasil analisis tabel 5..029).8 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada kehadiran orang tua untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.000* 1.9 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua.7 p value 0. FIK UI. Tabel 5.. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri memiliki pengalaman nyeri sebelumnya dan yang tidak memiliki pengalaman antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri pada kelompok yang dihadir orang tua antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sedangkan rata-rata skor nyeri pada kelompok yang tidak dihadiri orang tua tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Ayu Yuliani Sekriptini.000).5. (p value 0.8 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Kehadiran orang tua n Hadir Tidak hadir 64 4 Skor Nyeri Madu Plasebo 8.8 7 7. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.

Pemilihan usia responden pemberian madu berdasarkan rekomendasi Badan Madu Nasional (The National Honey Board). Pembahasan dan diskusi hasil penelitian selengkapnya akan diperjelas sebagai berikut: 6. 6. peneliti mendapatkan bahwa rata-rata skor nyeri ini menunjukkan ada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. Usia Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa usia responden pada penelitian ini 1-6 tahun berada pada rentang usia 1-3 (toddler) dan >36 (prasekolah).1. karena mencegah terjadinya keracunan botulismus dari bakteri clostridium botulinum.. Pembahasan diawali dengan interpretasi dan diskusi hasil penelitian mengenai karakteristik responden yang meliputi jenis kelamin..1. perbedaan skor nyeri anak saat pengambilan darah intravena. pengalaman nyeri sebelumnya dan kehadiran orang tua. Dari Hasil analisis perbedaan rata-rata skor nyeri pada usia anak.78 BAB 6 PEMBAHASAN Bab ini akan menjelaskan tentang pembahasan dan diskusi hasil penelitian ini. Bagian akhir dari bab ini akan membahas keterbatasan penelitian dan implikasi serta tindak lanjut hasil penelitian yang dapat diterapkan dan diaplikasikan pada praktik keperawatan dalam rangka meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien anak yang mengalami nyeri karena tindakan invasif pengambilan darah. Interpretasi dan Diskusi Hasil Penelitian ini bertujuan menidentifikasi gamabran karakteristik responden. perbandingan hasil penelitian dengan hasil penelitian sebelumnya atau dengan teori-teori yang mendukung dan berlawanan dengan temuan penelitian ini. FIK UI.1. usia. menyebutkan pemberian madu di atas usia 1 tahun. 2013 . Karakteristik Responden dan Hubungan Karakteristik dengan Skor Nyeri a.. Pada bagian berikutnya akan dibahas hasil uji beda rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah intervensi pada tiap kelompok dan perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan karakteristik anak.

1 dan kelompok kontrol 11. 2013 . Toleransi terhadap nyeri akan terus meningkat sesuai dengan pertambahan usia. semakin bertambah Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Perbedaan tingkat usia dan perkembangan yang ditemukan antara kelompok usia ini dapat mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap nyeri (Daniela et al.. Kenneth et al. (2006) dalam penelitiannnya menjelaskan bahwa perkembangan usia anak mempengaruhi makna nyeri dan ekspresi yang dimunculkan. usia toddler belum mampu mengendalikan respon nyeri dibandingkan kelompok usia usia prasekolah.. Hal ini didukung oleh penelitian Brusch dan Zelter (2004) bahwasannya respon nyeri pada anak terhadap prosedur tindakan tertentu ditentukan oleh tingkatan usia. Usia toddler menunjukkan adanya respon nyeri dengan indikator verbal dan perubahan aktifitas perilaku yang berlebih dibandingkan anak usia pra sekolah. dan Rakhmawati (2003) menyatakan bahwa terdapat perbedaan respon nyeri yang signifikan baik untuk kelompok toddler dan anak usia prasekolah dilakukan pemasangan infus.. sementara pada usia prasekolah tidak ada perbedaan yang signifikan (p value 0.7). Hasil penelitian Mediani.5) dibandingkann skor nyeri usia prasekolah (kelopok intervensi 8. Mardhiyah.79 perbedaan skor nyeri pada tingkat usia. 2010). Ayu Yuliani Sekriptini. Hasil uji statistik karakteristik usia menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri pada responden usia toddler (p value 0. FIK UI.002).5 dan kelompok kontrol 9. skor nyeri usia toddler lebih tinggi (kelopok intervensi 9. Penelitian Young (2005) menjelaskan bahwa anak yang usianya lebih muda merasakan nyeri yang lebih besar dan memilki toleransi nyeri rendah daripada usia yang lebih tua...140). Hasil penelitian kelompok toddler dan anak usia prasekolah menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna. Penilaian skor nyeri menggunakan skala nyeri CHEOPS.

Jenis Kelamin Hasil penelitian menunjukkan menunjukkan bahwa sebagain besar responden pada kelompok kontrol berjenis kelamin laki-laki (52. diperoleh bahwa reponden jenis kelamin laki-laki.. Dari total sampel secara keseluruhan.. Dari hasil analisis antara jenis kelamin dengan skor nyeri pada saat pengambilan darah.. lebih banyak daripada perempuan. FIK UI. b. Peneliti berasumsi bahwa hal ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan kelompok usia anak yang diteliti. tetapi berdasarkan hasil uji statistik karakteristik jenis kelamin menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri pada kerakeristik jenis kelamin laki-laki dan perempuan (laki-laki p value 0. sedangkan pada kelompok intervensi.80 usia anak maka makin bertambah pemahaman tentang nyeri dan usaha untuk pencegahan terhadap nyeri.045 dan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pada usia toddler respon nyeri yang dimunculkan lebih ekspresif di bandingkan dengan usai prasekolah dimana usia toddler masih belum mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang dirasakan karena keterbatasan kosakata dan reason motorik yang muncul anak toddler baru mampu mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri pengalaman nyeri dan sedangkan usia prsekolah telah meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri dan anak mampu mendorong hal yang menyebabkan nyeri. Ayu Yuliani Sekriptini. Pernyataan tersebut didukung oleh konsep teori Hockenberry dan Wilson. 2013 . jenis kelamin responden seimbang antara laki-laki dan perempuan (50%). peneliti mendapatkan bahwa skor nyeri pada kelompok intervensi laki-laki sedikit lebih tinggi dari pada perempuan sedangkan pada kelompok kontrol skor nyeri antara laki-laki dan perempuan hampir sama. (2007) menyebutan bahwa respon nyeri pada anak berubah sejalan dengan pertambahan usia.9%).

hal ini disebabkan adanya perbedaan hormon antara lakilaki dan perempuan. Penelitian McGrath & Howard (2003) antara anak laki-laki dan perempuan menjelaskan perbedaan tidak terlalu berpengaruh terhadap respon nyeri.81 perempuan p value 0. Vierhaus. (2000) melakukan penelitian tentang perbedaan dalam ekspresi nyeri antara bayi baru lahir laki-laki dan perempuan saat dilakukan penusukan tumit. ditemukan bahwa opiod endogen laki-laki lebih tinggi dari pada opiod endogen pada perempuan. hasil penelitian Schmitz. pengalaman ekspresi. Perbedaan jenis kelamin sangat mempengaruhi nyeri. Peneliti berasumsi bahwa hal ini tidak terjadi pada penelitian ini karena perbedaan usia responden. Guinsburg et al.. Penelitian Zuibieta et al. FIK UI. (2002) berpendapat berbeda sebaliknya. Hal ini didukung oleh pendapat Potter dan Perry (2005) menjelaskan bahwa toleransi terhadap nyeri dipengaruhi faktor-faktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap individu tanpa memperhatikan jenis kelamin. dan Lohaus (2012) menjelaskan toleransi nyeri perempuan dan laki-laki sama dan akan berkembang pada usia pubertas. hasil penelitian menyebutkan tidak ada perbedaan yang signifikan ekspresi nyeri antara laki-laki dan perempuan.002) pada kelompok internesi dan kelompok kontrol. Wanita mengalami perubahan hormon progesteron dan estrogen saat menstruasi yang dapat mempengaruhi opiod endogen pada wanita.. Terkait dengan hal tersebut. dan kondisi situasional yang mempengaruhi dan bagaimana anak menanggapi nyeri. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penelitian ini menghubungkan neurotrasmiter opioid endogen... 2013 .. Ayu Yuliani Sekriptini. dalam penelian tersebut lebih menjelaskan perbedaan jenis kelamin hanya karena sensitivitas.

. diperoleh bahwa reponden dengan pengalaman sebelumnya lebih banyak dari pada yang baru pertama kali. Penelitian Noel et al. Usia tersebut merupakan usia sangat rentan terhadap krisis penyakit dan hospitalisasi (Hockenberry & Wilson. (2012). 2007). Ayu Yuliani Sekriptini. Riwayat sakit atau hospitalisasi sebelumnya dimungkinan dapat menyebabkan adanya pengalaman nyeri sebelumnya pada anak.. Responden dengan anak yang mempunyai pengalaman operasi dan pernah dilakukan venipuncture.029).82 c. pengalaman Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.9%). Hal ini menujukkan bahwa hampir sebagian responden memiliki pengalaman nyeri sebelumnya. Dilihat dari uji statisik rata-rata skor nyeri terhadap pengalaman nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.. Terkait hasil penelitian Smeltzer dan Bare (2001) mengatakan bahwa pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang tentang nyeri. melakukan penelitian pengaruh pengalaman anak-anak untuk stimulus nyeri baru pada pengalaman nyeri berikutnya.016 dan tidak pernah p value 0. FIK UI. sedangkan pada kelompok kontrol pengalaman nyeri sebelumnya seimbang antara yang pernah dan yang pertama kali (50%). Dari total sampel keseluruhan. dimana pengalarnan individu dengan nyeri yang dialami sebelumnya akan menyebabkan perasaan takut pada individu ketika menghadapi peristiwa menyakitkan berikutnya. didapatkan bahwa ada perbedaan yang bermakna pada yang tidak pernah mengalami nyeri sebelumnya dan yang pernah mengalami nyeri sebelemnya (pernah p value 0.. Pengalaman Nyeri Sebelumnya Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada kelompok intervensi memiliki pengalaman nyeri sebelumnya (55. 2013 . peneliti mengasumsikan pengalaman sebelumnya berhubungan dengan usia responden dimana usia responden berada pada rentang usia toddler dan prasekolah.

Ayu Yuliani Sekriptini. Hockenberry dan Wilson (2007) menjelaskan bahwa kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang mengalami nyeri. Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga untuk memperoleh dukungan. dan diobservasi ekspresi wajah yang muncul pada anak saat dilakukan wawancara. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri dengan kehadiran orang tua (p value 0. Kehadiran Orang Tua Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi (97. Kehadiran anggota keluarga mampu memberikan dukungan dan kenyamanan pada anak. 2013 . bantuan atau perlindungan.2%) hampir seluruh responden didampingi oleh orang tua. Hasil penelitian nyebutkan rata-rata skor nyeri pada anak yang didampingi oleh orang tua lebih rendah dari pada yang didampingi oleh petugas kesehatan. (2011) menjelaskan kehadiran keluarga sangat mempengaruhi respon nyeri pada anak. kemudian dilakukan wawancara pengalaman nyeri yang pernah dialami. Penelitian Ozcetin. d..83 nyeri minimal 1 tahun yang lalu..1%). FIK UI.000). Hal ini didukung konsep teori Potter dan Perry (2005) menyebutkan kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang mengalami nyeri. dan kelompok kontrol (91. Dengan kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hasil menunjukkan pengalaman nyeri sebelumnya pada anak-anak berhubungan dengan rasa takut dari waktu ke waktu akan mempengaruhi pengalaman nyeri yang baru. sehingga anak merasa lebih tenang dan nyeri berkurang.000) sementara tidak ada perbedaan yang signifikan pada ketidakhadiran orang tua (p value 1. et al. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran orang tua pada saat anak mengalami hospitalisasi memegang peranan penting..

Dari jumlah seluruh responden ada 4 responden tidak didampingi oleh orang tua dengan rata-rata skor nyeri lebih tingggi (skor nyeri kelompok intervensi 7 dan skor nyeri kelompok kontrol 7. Ayu Yuliani Sekriptini. Penilaian skor nyeri menggunakan Wong-Baker FACES. 2013 . sosiokultural.. dan lingkungan). pelibatan orangtua dapat memenuhi kebutuhan rasa nyaman psikososial dan sekaligus kenyamanan lingkungan bagi anak. Saat dilakukan tindakan pengambilan darah responden mampu menerima penjelasan yang diberikan dan bersedia didampingi oleh perawat. Dalam hal ini sesuai dengan konsep Hockenberry dan Wilson (2007) pada usia prasekolah kemapuan kognitif dan komunikasi anak sudah mulai berkembang dengan baik dan mulai mampu menerima penjelasan dari orang tua atau petugas kesehatan.. bukan merupakan orang asing bagi anak. karena orangtua merupakan individu yang dikenal.8 dan kelompok kontrol 8.. FIK UI. Pemenuhan rasa nyaman yang adekuat pada semua aspek dengan tingkat relief hingga transcendence akan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2005). Hal ini disebabkan karena responden yang tidak dihadiri orang tua pada rentang usia prasekolah (2 orang berusia 5 tahun dan 2 orang berusia 6 tahun).7) dibandingkan responden yang didampingi orang tua (skor nyeri kelompok intervensi 10. Hal ini sesuai dengan penerapan prinsip asuhan berpusat pada keluarga dan aplikasi comfort theory pada keperawatan anak.9). psikospiritual. sehingga dapat menurunkan kecemasan dan memberi dampak positf terhadap pemenuhan kenyamanan fisik bagi anak (Kolcaba & Dimarco. Aplikasi comfort theory Kolcaba (2003) menyebutkan bahwa tahap perkembangan dan kehadiran orang tua merupakan interventing variabel yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk mencapai rasa nyaman pada semua aspek (kenyamanan fisik.84 orangtua memiliki pengaruh efek yang positif pada toleransi nyeri anak.

2013 . nilai p value 0. FIK UI. Penelitian Gradin.1..85 mendorong pada penentuan intervensi berikutnya.. (2004) bahwa pemberian larutan glukosa 30% sebanyak 2 ml dapat mengurangi respon nyeri pada bayi sebelum dilakukan pengambian sampel darah vena.001 (<0. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu. Rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Ayu Yuliani Sekriptini. penurunan kebutuhan akan tindakan medis yang lain dan peningkatan kepuasan anak dan keluarga. Legs. Penelitian ini menggambarkan terdapat perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi pada saat prosedur pengambilan darah dengan kelompok kontrol.2. Finnstrom. Penelitian lain tentang sukrosa yang dilakukan oleh Taddio et al. Activity. rasa manis pada madu. Hasil penelitian skor nyeri pada kelompok glukosa secara signifikan lebih rendah dan durasi Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. (2010) menyebutkan bahwa sukrosa dapat meningkatkan kadar -endorfin sehingga dapat menurunkan respon nyeri. Hasil penelitian menyebutkan sukrosa signifikan mengurangi skor nyeri. and Consolability Pain Scale (FLACC). 6. kandungan glukosa dan sukrosa dalam madu kemungkinan dapat memberikan efek menyenangkan yang dapat menurunkan nyeri atau disebabkan oleh kandungan enzim flavonoid pada madu.. Penilaian skor nyeri menggunakan Face. waktu menangis dan denyut jantung.. (2007) membandingkan pemberian sukrosa 44% 2 ml per oral dibandingkan dengan pemberian empeng (dot) pada bayi usia 0-6 bulan di ruang unit gawat darurat anak pada prosedur venipuncture. Hal ini dikarenakan pemberian rasa manis akan meningkatnya -endorfin pada kelenjar hypophyse yang dapat menginhibisi trasmisi nyeri.05). Penelitian Curtis el al. Cry. Penelitian tentang glukosa dijelaskan oleh Bauer et al. dan Schollin (2004) membandingkan efek mengurangi rasa sakit dari glukosa 30% per oral dengan pemberian ASI sesaat sebelum venipuncture pada bayi baru lahir...

et al (2011) pada tikus putih. FIK UI. 2 menit sebelum suntikan subkutan dapat penurunan skor nyeri pada bayi. Sedangkan penelitian Carbajal et al.. Penelitian lain tentang pemberian glukosa 30 % pada bayi dengan tindakan venipuncture di lakukan oleh Gradin. Penilaian skor nyeri menggunakan Premature Bayi Pain Profile (PIPP).. menyebutkan bahwa pemberian glukosa 30% sebanyak 3 ml.7). Penilaian skor nyeri menggunakan Premature Bayi Pain Profile (PIPP). Hasil penelitian menyebutkan bahwa glukosa efektif dalam mengurangi gejala yang berhubungan dengan rasa sakit dari venipuncture pada bayi baru lahir dan lebih baik daripada local anestesi krim EMLA. Flavonoid memblok aksi dari enzim COX yang menurunkan produksi mediator prostaglandin. Penilainan lamanya menangis dalam 3 menit pertama secara signifikan lebih rendah kelompok glukosa (median: 1 detik) daripada kelompok EMLA (median: 18 detik).6) dibandingkan dengan kelompok EMLA (ratarata 5.86 menangis pendek dibandingkan dengan kelompok penerima ASI sesaat. Holmqvist. (2009). Hal ini disebabkan oleh efek analgesik glukosa diduga mampu menginhibisi trasmini nyeri setinggkat spinal dan pemberian glukosa per oral dapat merangsang -endorphin di hipotalamus. flavonoid memiliki dua efek sebagai analgesia dan antiinflamasi. 2013 . prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptor-reseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin. Ayu Yuliani Sekriptini. Eriksson.. serotonin yang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hal ini dukung dengan penjelasan Almada (2000) bahwa flavonoid dapat mencegah produksi enzim cyklooxygenase (COX).. Enzim cyklooxygenase (COX) adalah suatu enzim yang mengkatalisis sintesis prostaglandin dari asam arakhidonat. Holstein dan Schollin (2006) menunjukkan bahwa skor nyeri pada kelompok glukosa lebih rendah (rata-rata 4. Penelitian tentang madu per oral sebagai analgesik dilakukan Goenarto. hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan flavonoid pada madu dapat menghilangkan rasa nyeri.

Ketersediaan madu di masing-masing rumah sakit belum ada. 6. begitu juga dengan serotonin dan GABA (gama amino butiryc acid) yang berfungsi menurunkan sensasi nyeri. Intervensi keperawatan sangat penting dalam mengurangi nyeri pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengabilan darah salah satunya adalah pemberian madu. sedangkan kandungan flavonoid pada madu memblok aksi dari enzim cyklooxygenase yang menghambat pelepasan subtansi prostaglandin. Keadaan ini dikenal sebagai sensitisasi perifer (Breivik. sehingga peneliti menambah tempat penelitian (RSUD Arjawinanun). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... kemungkinan disebabkan komposisi kimia madu mengandung glukosa (31%) dan sukrosa (1. Aplikasi comfort theory dalam penanganan nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah pada anak dapat diuraikan bahwa aspek health care need yaitu anak memiliki kebutuhan rasa nyaman selama prosedur invasif dilakukan. tetapi pada minggu ke dua penelitian jumlah responden yang didapatkan belum memenuhi target yang ditentukan. Aspek nursing intervention yaitu pemberian intervensi non farmakologis berupa pemberian madu yang merupakan bagian intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman. 2013 .. Analisis peneliti. Rasa manis yang dapat merangsang neurotransmiter yang berperan dalam supresi nyeri dan mengeluarkan opiat endogen di kelenjar hipopyse seperti -endorpin.31%) dan flavonoid. 2008. 2010).87 akan menimbulkan sensasi nyeri. madu dapat menurunkan respon nyeri pada anak.2. Ayu Yuliani Sekriptini.. Daniela et al. Efek analgesik glukosa atau sukrosa ini diduga akibat pelepasan beta endorphin (merupakan hormon opiat endogen yang diproduksi sendiri oleh tubuh dan mirip sifatnya dengan morfin) dan mekanisme preabsorpsi dari rasa manis.Keterbatasan Penelitian Tempat sampel pada awalnya peneliti akan melakukan penelitian di satu rumah sakit (RSUD Gunung Jati). FIK UI.

Selama ini implementasi mengurangi nyeri pada anak cenderung kurang diperhatikan. Ayu Yuliani Sekriptini. Pemberian asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat spesialis anak harus ilmiah dan inovatif. Madu juga merupakan zat yang sangat dikenal oleh keluarga dan mudah didapat. FIK UI.. Perhatian terhadap intervensi mudah yang dapat digunakan dalam mengurangi nyeri masih kurang tersosialisasi dengan baik bagi perawat dan orangtua. 2013 . Pencegahan atraumatik care merupakan tanggung jawab perawat spesialis anak bertanggung jawab untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dengan mencegah terjadinya nyeri pada anak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu intervensi mengurangi nyeri yang mudah dan murah.Implikasi Hasil Penelitian Pengambilan darah intra vena merupakan salah tindakan invasif yang meyebabkan nyeri pada anak. Padahal berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa nyeri pada anak akan menyebabkan kualitas hidup anak terganggu. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.3. sehingga diharapkan keadaan trauma pada anak dapat diminimalkan dan anak dapat hidup sejahtera dan berkualitas. dan kerusakan hepar serta alergi. tetapi terbukti efektif adalah tindakan pemberian madu per oral... berbagai penelitian tidak menyarankan penggunaan obat-obatan tersebut dalam jangka waktu yang lama karena berisiko iritasi lambung. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu inovasi dalam asuhan keperawatan untuk mengurangi nyeri pada tindakan invasif lainnya. ibuprofen dan lain-lain.88 6. Perawat khususnya perawat spesialis anak bertanggung jawab untuk melakukan inovasi selama pemberian asuhan pada anak. Respon nyeri yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan trauma pada anak yang berkepanjangan. Selama ini digunakan berbagai macam obat analgesik untuk mengurangi nyeri pada anak seperti paracetamol. Penanganan nyeri pada anak dapat dilakukan dengan berbagai intervensi.

.89 Penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lain untuk mendapatkan evidence based yang akan diterapkan dalam layanan keperawatan pada anak. Ayu Yuliani Sekriptini. mahasiswa keperawatan dan peneliti keperawatan harus bersama-sama mencari bukti-bukti ilmiah berdasarkan penelitian terkini terkait upaya meminimalisasi efek nyeri dan mengkaji serta menerapkannya dalam layanan keperawatan pada anak untuk meningkatkan kualitas hidup anak.. 2013 .. Perawat khususnya perawat spesialis anak. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI.

dan memiliki pengalaman nyeri sebelumnya.. 90 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ada perbedaan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan karakteristik anak khususnya karakteristik usia dan kehadiran orang tua. Rata-rata skor nyeri pada kelompok anak yang diberikan madu saat dilakukan pengambilan darah adalah 8. Usia responden ada pada rentang 1-3 tahun (toddler) dan >3-6 tahun (preschool) dengan proporsi sama. Ayu Yuliani Sekriptini. sebagian besar berjenis kelamin lakilaki.BAB 7 SIMPULAN DAN SARAN 7. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh madu untuk mengurangi nyeri pada anak saat diberikan tindakan invasif pengambilan darah di RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon dapat disimpulkan sebagai berikut : a.5.1 Pelayanan keperawatan dan institusi rumah sakit a.8 dan rata-rata skor nyeri pada kelompok anak yang diberi plasebo saat dilakukan pengambilan darah adalah 10. FIK UI. Saran 7..2. d. b. 7. 2013 . didampingi oleh orang tua. b. Mempertimbangkan hasil penelitian sebagai acuan dalam terapi nonfarmakologi pada anak yang mendapatkan tindakan invasif untuk meminimalkan nyeri. yang digunakan sebagai manajemen nyeri.2. Mengembangkan program seminar dan pelatihan terkait tentang terapi nonfarmakologi yang dapat diterapkan pada anak sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya.1. Ada perbedaan yang berbeda pada rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan nilai p value 0.001.. c.

dan lain-lain. Ayu Yuliani Sekriptini. terhadap nyeri kronik. Membangun hubungan dan kerjasama yang baik dengan institusi pelayanan kesehatan untuk mengembangkan peenerapan hasil penelitian terkai tindakan mandiri perawat dalam manajemen nyeri akibat tindakan invasif. Penelitian Selanjutnya a. Memasukkan materi tentang tehnik-tehnik nonfarmakologis dari hasi penelitian yang telah banyak diujicobakan dan dapat diterapkan dalam menejemen nyeri akibat tindakan infavif pada anak.. c. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 . Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh madu pada kelompok usia tertentu.2.2. Menerapkan tehnik-tehnik nonfarmakologis dalam manajemen nyeri akibat indakan invasif pada anak disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak 7. b.2. injeksi sub cutan. c. FIK UI. tempat penelitian yang berbeda dan istrumen skor nyeri yang berbeda. b. dalam kurikulum pendidikan sarjana keperawatan dan magister keperawatan. 7. Mensosialisasikan informasi dan pengetahuan tentang tehnik nonfarmakologis yang efektif dalam menejemen nyeri akibat tindakan invasif pada anak.3.. symposium dan konferensi keperawatan. melalui seminar. Bagi ilmu Keperawatan a. Perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengatahui efektivitas madu peroral terhadap prosedur invasif minor lain seperti injeksi intramuscular.91 c. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh madu terhadap respon nyeri pada anak dengan usia yang sama atau berbeda dengan jumlah sampel yang lebih banyak.. pemasangan infus.

American Pain Society. _________________. M..M. & Gorelick.. http://www.org/content/117/5/1511. L. Investigation of anti-anflammatory.. (2000). Pediatrics. Brousseau. P. American Academy of Pediatrics. (2002). (2000).C. Adams. 230245. Arrowsmith.O. Diunduh tanggal 28 Juli 2012.B.com/content/82/4/309. et al. J.. Bustani.nlm. Canadian Pediatric Society. http://pediatrics. D. Amy. 78(6). C. (2008). Department of Pharmacology. 105-454. M. Natural COX-2 inhibitor the future of pain relief. Pain News. The assessment and management of acute pain in infants. P. T. Engineering and Technology.. Arch Dis Child Fetal Neonatal.F. H. Pediatrics. & Campbell.full.. Arch dis Child. 52-58. (2011).DAFTAR PUSTAKA Acharya. Pain assessment and treatment in the managed care environment. http://www. Marc. 108-793.full.A.org/cgi-bin/print/pl. S.html Alzubier. 138-142. and adolescents. http://adc.. Neuropharmacoloical effects of Nigerian honey in mice.A. American Pain Society. Prevention and management of pain and stress in the neonate. 47(5). 61(3). & Okechukwu.naturalnews.full 92 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. http://pediatrics.. (2011). Ibrahim. World Academy of Science. Diunduh tanggal 30 Desember 2012.aappublications.D. Akanmu.ncbi. ampainsooc. Atunwa. Lamidi. Drendel. Pediatric chronic pain: A position statement from the American pain society. (2003). Diunduh tanggal 12 Agsutus 2012. 309-310.gov/ pmc/articles Almada.. http://:www. Diunduh tanggal 26 Juli 2012.. (2000). Randomised controlled trial eutectic mixture of local anasthetics cream for venepunture in healthy pretrm infant. children. B.org/cgi-bin/ print/pl. A comparation of local anaesthectics for venepucture.. M.O. A. Taub. Faculty of Pharmacy. Diunduh tanggal 27 Juli 2012.D.N.. (2006)..A.org/ content/105/2/454. A.ampainsooc. International Chiropractic Pediatric Association.. 1511-1517. 2013 . Pain assessment for pediatric patients in the emergency departmet. Pediatrics. R. N. 112-118.pdf.A. David.com/pain. (2000). 82(6).A. Diunduh tanggal 7 Aguatus 2012. antipyretic and analgesic effect of Yemeni Sidr honey.. 17(7).bmj. NCBI 8(3). C. American Academy Of Pediatrics..nih. & Beattie. Ayu Yuliani Sekriptini.aappublications. O. Diunduh tanggal 20 Oktober 2012. Olowookere. P..A. 10(2). FIK UI. 117(5).A. http://:www...

E. Borchgrevink.A. & Gallmann. ... http://:ww. Diunduh tanggal 28 Juli 2012. Behman.beehexagon.. (2002). 2013 .. R...netfles/fil/file. Jenson. Ilmu Pangan. Neston Nursing Pediatrics. 695-700.full. & Wooton. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2. http://www.. Fleet. Edwards. (2004). 99(7). H. Honey for nutrition and health: a Review. (2005). Oral glucose before venepuncture relieves neonates of pain. emergency expenditure and heart rate.M. (Eds). but stress is still evidenced by increased ini oxygen consumption. L. L. Buckle. J.. (2005). Bogdanov. Diunduh tanggal 8 Agustus 2012. Jakarta. H. Assessment of pain. FIK UI. 110(3). H & Adiono. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. & Finley. P.. Bulloch. (2008). Pediatrics.B. hlm 66-358.. Hals. Pediart Res.A... (2004). P. Jakarta : Salemba. Bauer K..K. 349-357.pdf. Pain. H. M.net/files /file/fileE/HealthHoney/Nutriti JAC. 55(4). (2010). (2007). 29(9). B.. Rosseland. Assessment of clinically significant changes in acute pain in children.pdf.beehexagon. Acad Emerg Med. Sieber.pdf Brusch.. P. & Versmold. Kliegman. (2008). & Tenenbein.oxfordjournals. M.M.C. Breivik. Philadelphia: Saunders.. dalam R. 120-128. Allen. (2000). 1-6. Diunduh tanggal 25 Agustus 2012. Camfield. 199-202.H. _________________________ . Bee product science Januari 28(2) 145-147. 677-689.. (2000). C. S.. K.. S. Madu. Diunduh tanggal 14 Agustus 2012.. R.. & Zeltzer. A.J. (2002). Validation of 2 pain scales for use in the pediatric emergency department.H.. R. McGrath. Ayu Yuliani Sekriptini. Penerbit Universitas Indonesia. M. Breau. L.. B. M. Badan Standarisasi Nasional Indonesia. et al. edisi ke-17.. S. Pediatric pain management. L.org/…/vol16No5. G. Ketteler.M.S. T. G. Bognadov. Honey as nutrient and function food. Assessing pain in children with severe neurocognitive impairments.JACN. Jakarta. Beisang.K.93 Aziz A. gillettechildrens.B. Terjemahan: Purnomo. 16(6). American Journal of the College of Nutrition 27(7). Psychometric properties of the non-communicating Children’s Pain Checklist-revised. A Peditric Perspective. http://bja./HealthHoney/HoneyNutrition. 17–24. Hellwing.A. Romundstad. Laurenz. Badan Standarisasi Nasional Indonesia. http://www.org/ content/101/1/17..A..E. Jurendic. British Journal of Anaesthesia 101(1).

Diunduh tanggal 8 Juli 2012.org/content/122/ Supplement3/S134. Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..ro Davaera.. & Chis. Clin J Pain.. 8(4). L. Pain Management Nursing. Larutan glukosa oral sebagai analgesik pada prosedur pengambilan darah tumit bayi baru lahir: Suatu uji klinik acak tersamar ganda. 45(7).12(4). M. S. Clarisa. 1471-1476.. Naccrato. Behavioral approaches to anxiety and pain management for pediatric venous access.M. (2006). H.biomedcentral. glucose.D. C.ena. 47(7). Pediatric Emergency Care.com/1471-2431/7/27/pdf. (2009). X.full. Czarnecki. Physiology of pain – general mechanisms and individual differences. (2006). 77(7). Collins. Carbajal. S. 27(2). S.. http://notulaebotanicae. Darcy.jmedar. Randomised analgesic effects of sucrose. S..M. Ayu Yuliani Sekriptini..bmj. (2008).. M. Daniela. 313-318.A. & Grove.K... F. Diunduh tanggal 25 Juli 2012..A. A. A randomized controlled trial of sucrose and/or pacifier as analgesia for infants receiving venipuncture in a pediatric emergency department. http://pediatrics.A. & Klassen T.N.pdf Cornelia P. Virgil.ro/nbha/article/viewFile/4780/4516 Craig.. Wrona. Diunduh tanggal 20 September 2012. Missouri: Saunders Elsevier.L. Ali. (2009).. http://www. N. Lilley. M. (2010). Crowley. J. 122-134.. M. 25(1). 6th ed. Oliver-Martin. Couders.org/IENR/ENR/ Documents/PedPainManagementENR.. Cohen. Chemical and biochemical caraterization of three disserent types honey from Bihor country. S. K.. N. (2010). 21(11).. The practice of nursing resesrch: appraisal. K. 319-1393.. BMC Pediatrics... Chauvet. M.pdf Curtis. J. V. Y. B. 19-23.. Jou. and generation of evidence. Turner. D.. Faculty for Environmental Protection. Jurnal Medical Aradean. Proehl. BMJ. 2013 .. http://www. Diunduh tanggal 14 Agustus 2012. Procedural pain management: A position statement with clinical practice recommendations. Vandermeer. Social barriers to optimal pain management in infants and children. & Gilbert. 126-129. 1-17. C.D . V..aappublications.. Pediatric. Diunduh tanggal 2 Oktober 2012. (2011). Emergency nursing resource: Needle-related procedural pain in pediatric patient in the emergency departement. R.. Elisabeta.L. and pacifiers in term neonates.. www.94 Burns. (2007). 232–242. FIK UI. Diunduh tanggal 27 Juli 2012. Doellman. Heaton. P.J. & Moretz. synthesis.K. J. H. & Reynolds. http://www. Storer.. A.com/content/319/7222/1393. & Schneider. (2011).

(2006). Diunduh tanggal 12 Juli 2012. R. & Smith. K. B. 21-24. Cunningham. & Cohen. Oral glucose solution as pain relief in newborn: Result a clinical trial. & Elseviers. Non pharmacological techniques for stress reduction during emergency medical care: A review. 5(4). F.F. 144-152. Fein. (2008). Pediatric Nursing.. Ljusegren. Pain Management Nursing.aafp. I. Uji efektifitas analgetik madu pada tikus dengan metoda geliat asetat.. (2010).J. Zempsky. Chodidjah. Eldridge. http://www. S.com/pdfs/..A. D.intechopen.nlm.gov/pubmed/15116686. Sharp.org. Diunduh tanggal 20 Juli 2012. L. (2004). Diunduh tanggal 12 Juli 2012. Ann Ist Super Sanita. 11(4). Fenicia.. Gottschalk. J. Birth issue in perinatal Care. Diunduh tanggal 25 Juli 2012. Jakarta: Trans Info Media. 19(9). Pediatrics Nursing. J. E. A. www. FIK UI. M. W.S..B. Pain assessment in children with neurological impairment. Relief of pain and anxiety in pediatric patients in emergency medical systems.nlm.95 Dharma.aappublications. (2002).. 109-1093. 190-197.. A. 2013 . 13911405.. http://www. D. Dilen. A. Am Fam Phys. (2001)...gov/pubmed/19119745 Goenarwo. J. A clinical study to evaluate the efficacy of ELA-Max (4% liposomal lidocaine) as compaired with eutectic mixture of local anasthetics cresm for reduction of venipuctue in children. Eichenfield. J.html. H.nih... 37(2). K. New concepts in acue pain therapy: Prepentive analgesia. Cravero. (2012). http://cdn. Pediatrics.nih. 63(84). Brousseau. 244250. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung. 45(2). B. Newhook. C. & Susanto. M. Pediatrics. Funk. (2009). 5(4). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Selling comfort: A survey of interventions for needle procedures in a Pediatric Hospital. Pediatrics.. 134-146. Drendel.. & Anniballi. D. & Gorelick. 37-38.. 15111518.P.. (2011).. (2004).H.org/afp/2001/0515/p1979. Pain assessment for pediatric patients in the Emergency Department.. Pediatrics. Dowling. Factors influencing pain management in children. L. K. M. Diunduh tanggal 27 Juli 2012. 117(5).. (2011). & Kennedy.. 20(10). (2004). & Enskar.ncbi. http://pediatrics. Metodologi penelitian keperawatan: pedoman melaksanakan san menerapkan hasil penelitian. Gimbler-Berglund. Infant botulism.ncbi. Ayu Yuliani Sekriptini. 99-105.A. Fallon-Friedlander. 130(5).pdf Ellis.

h. Webber. Pathophysiology: The biologic basis for disease in adults and children (4th ed).. Holstien. McCance & S. 2013 . M. S.S. S. 57(9).. Louis: Mosby Elsevier. M. Hamad.org/content/full. M. Behavioral Problems of Infancy and Preschool Children. (8th ed.. Gradin. S. J. & Wilson. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 30. & MacIntyre. Terapi Madu. (2002).html. Holmqvst. E. B. (2002). The Cochrane Library. (2008). 110-153. 4051-4549. FIK UI. Resuscitation and Emergency Medicine.. Y.. (2009). 17(8).. Diunduh tanggal 8 Agustus 2012. G.E. G. http://pediatrics.. Pain reduction at venipucture in newborn: Oral glucose compared with local anesthetic cream review. http://www.. Diunduh tanggal 7 Agustus 2012.E.96 Gardner. A. & Schollin. & Leo. D. Impaired health-related quality of life in children with recurrent pain. Heuether (Eds). tanggal 28 Juli 2012. and sensory fuction. Pain. 210-221. 401-410. J.w. (2011).htm Harrison.com/content/17/1/47. Green R.sjtrem.. pp. M.aappublication. Ohlsson. J. Pediatrics. & Schollin. & Shaw. http://peditrics.. & Huckson.aappublications. tempetarure regulation. & Steven. J. St. M. 43-47. Sweet tasting solution for reduction of needle-related procedural in children aged one to 16 years review. Pustaka Imam.T. D. Eriksson.pediatricsdigest. 156-159.. Emergency Medicine Australasia. A.N. J.mobi/content/110/6/1053. Huether.. sleep.. 978(1).).. Diunduh tanggal 20 Agustus 2012. B. D. (2009).. Pain management practices in paediatric emergency departments in Australia and New Zealand: A clinical and organizational audit by National Health and Medical Research Council’s National Institute of Clinical Studies and Paediatric Research in Emergency Departments International Collaborative. Scandinavian Journal of Trauma. MO: Mosby-Year Book. Franz. (2007). 759-760.full.. In K. Critical care in the Emergency Department: An assessment of the length of stay and invasive procedures performed on critically ill ED. 21(2).I. 6(10). Beyene. & Bergstrom... St. Ayu Yuliani Sekriptini.org/conten/110/6/1053. (2009). Jakarta.. 124(4).. F. Yamada. Holmqvst. (2006). ISBN.. Pediatrics. Gilhotra. Herd. L. Hagglof. J. Wong’s nursing care of infants and children.full. (2004). Pediatrics.. J. 19(8)..K.Louis. Eriksson.S. Gradin..L. http://www. 1053-1057. R. D.. Hockenberry. Pain reduction at venipucture in newborn: Oral glucose compared with local anesthetic cream.L.

Whiteside. Gronstal. Gilbert.. & Cheryl A. Petunjuk praktis anatesiologi.. P. G. D. Analgesic effect of oral glucose in neonates. NY: Springer Publishing Company. FIK UI. Barriers to optimal pain management in infants. 137(3). Loeser. 100-104. The Kyoto protocol of IASP basic pain terminology.gov/pubmed/12359791 Kolcaba. (2000).C. http://www. A.org/content/101/5/882.. 101-882. 185-187. Pearson Education Company. D. Kleiber. (2008). 138-141. controlled trial.H. K. J Accid Emerg Med. G. Bag Anastesiologi dan Terapi Intensif FK UI.. D. R. B. Lilley. Pain . Lacercrantz. 59(2). Jakarta. Le Mone. 17.ncbi.. http://pediatrics. Pain . 12(3).. K. K. (2003)..A. Diunduh tanggal 24 September 2012. New York. (3rd ed... Deshmukh & Udani. Tannfeldt. R. randomized. Kolcaba & Di Marco. J.. R. 16(5). (2002). J. (7). Clinical Journal of Pain. H. 61(7). edisi III.C. E.pdf Kelly. & Burke.aappublications. M. 473–477.. & Rose.nlm. & Wilson. Diunduh 20 Juni 2012. Sorenson. Christine M. (2008). and adolescents social barriers to optimal pain management in infants and children. MJAFI. (2006). 109 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Diunduh tanggal 12 Agustus 2012. http://www. (2003).L. Kenneth. Latief. Gender differences in postoperative pain and patient controlled analgesia use among adolescent surgical patients.97 Jatana. 48(3). Laxmikant.. Diunduh tanggal 20 September 2012. & Treede. Dalal. D. Jurnal of Tropical Pediatric. Medical surgical nursing: Critical thinking in client care. (2001).com/comfort theory.in/maa/ t03/i2/maat03i2p100. J. (2004). A. Comfort theory and practice: A vision for holistic health care and research. Larsson.M. Pediatrics. Ayu Yuliani Sekriptini. children..thecomfortline. Analgesic effect of oral glucose in preterm infants during venipuncture: A double-blind. Logan. 2013 . J. Olsson..A. Pediatrics.full.. Venipuncture is more affective and less painfull than heel lancinf for blood tests in neonates.. Comfort theory and its application to pediatric nursing. G. L. (2000). (2005). 232-242. 110-758. S. S. B... C.L.nih. A process approach to improving pain management in the emergency department development and evaluation. medind. B.nic..). (2002) Topikal anasthetics for intravenous insertion in children: A randomized equivalency study.A. & Tannous.

Diunduh tanggal 12 http://www. Dalam: K. P. R.. A.. L. A..J.D. Mardhiyah.nlm.R. (2001). 793-797. (2007).. http://pediatrics. Meliala. Pain medicine manual. Diunduh tanggal 13 Agustus 2012.J. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Assessment and management of pain in children review. Patofisiologi nyeri. Purna. Diagnostic interventions. Gupta. McCaffrey.98 (3). R. Nyeri neuropatik. BJM.. 256-260.. 3-38. Munqlani. Diunduh tanggal 7 Agustus 2012.. Edisi ke-2.N. (Eds). & Young.. Harris. Datta. Pain assessment and management in children and adolescent. S.H. Bryce.. FIK UI.S. 13(3).. Ward. Assessment and management of pain in infant. D. A. (2006). P. J.. Boyd. (2010). 430-438. K.. Sadeli. PERDOSSI. A. The convergent validity of the Manchester pain scale. (2003).P. 141-174. H.com/science/ article/pii.F. D. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran Meliala. dan Rakhmawati.L. Obispo. 79(2). Diunduh tanggal 9 July 2012.. September 2012.com Mathew.A. Ayu Yuliani Sekriptini. A. White. J. S.aappublications. H. MacLean. Pain Physician. Emergency Nurse. 481–487.bmj. R. & Pasero. & Mathew. P.nih.ncbi.. PostgradMed.. M.S.L. Dolin. The gap between pediatric emergency department procedural pain management treatment available and actual practice. P. (2005). N. h 1-2. (Ed). (2010). Loissi. & Hatira. 11-19. Suryamiharja. http://pmj. (2003). J. 45(5).. 25(3). Lewkowski. (2003).A. Respon nyeri infant dan anak yang mengalami hospitalisasi saat pemasangan infuse di RSUD Sumedang. K. Effects of chewing gum on responses to routine painful procedures in children. E.A... Lessard.D. NCBI. Sherrard. Physiology & Behavior. h. patofisiologi dan penatalaksanaan. L. 2(48).. Randomized clinical trial of local anesthetic versus a combination of local anesthetic with self-hypnosis in the management of pediatric procedure-related pain. et al. Critical review of the American Pain Society Clinical Practice Guidelines for interventional techniques: Part 1. http://www.bmj. S. & Mackway-Jones.gov/pubmed/15861613.com/content/79/934/438 Matthews.. (2003)... 23(2).G. R..L. Pediatric Emergency Care. Kelompok Studi Nyeri. & Young S.. (2004)... 2013 . Manchikanti...sciencedirect. Dalam: S. C. 307-312. Patfield. W. Mathew. & Dickenson. Pain patohysiology.. 13(1). London: Butterworth Heineman... J. 87-93. Pediatrics. 108(3). 257–265 Lyon.J. http://pmj. Barr.full Mediani.org/content/108/3/793. Diunduh tanggal 25 Juli 2012. S.

118-. (8124)..S. PAIN.I.. Chambers..apta. Brown. & Stewart. R. P. http://www. 6th ed. (2004)... http://www. C. (2012). Karaaslan. M. E.com. & Beck. 759-767. O.. Nursing research: Principles and methods. e511-e521.pdf Movahaedi.J. Limtifikul. M. O'Malley. C. R.hu/honey/techbroch. A Refernce Guide from National Board.org Ozcetin.99 Morton. Diunduh tanggal 20 Juni 2012.oxfordjournals..pds..J. Z. S.E. B.. Diunduh tanggal 5 Januari 2013.H. 1563–1572. Petersen.l. S. A.F. & Hungler. 29. Philadelpia: Lippincott Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. (2011). Pediatrics. K.. C. Klein. children. O'Rourke. Hagglof. The measurement of pain in infants. D. (2008).M.. & Guner. FIK UI. McGrath. E.org/content/ 83/1/118. Patient and Family-Centered care of children in the emergency department. Arch Dis Child. effects of parent's presence on pain tolerance in children during venipuncture: A randomised controlled trial..T.8... 247-252. http://ptjournal. (2006). (2005). (2012). I’am to tell you the facts about honey.. Cipto Mangunkusumo Jakarta.T.pointernet.P. & Krug.. N. Kaya. & Bergstrom.ajan.au/Vol24/Vol24. Polit. (1999). E. (2011). Diunduh tanggal 20 Juli 2012.pdf Newman. 124(4). Polit. 112(19). (2009) Impaired health related quality of life in children with recurrent pain. B. (2008). D. D.pdf National Honey Board.. Nurhidayah..full. 115(16).. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. and adolescents: From policy to practice. Diunduh tanggal 20 September 2012. 67(16). Noel..L. Chopitayasunondh. Colak. 990(70) 269-275. 2013 . (2010). K..2. A Comparasion of pain scales in Thai children. Nursing research: generating and assessing evidence for nursing practice. M. 9th ed. P. Prevention and control of pain in children. Philadelpia: Lippincott.. P. Pediatrics. Pengaruh pemberian madu dalam tindakan keperawatan oral care terhadap mukositis akibat kemoterapi pada anak di RSUPN Dr. HK J Paediatr. Chanthavanich. Lolekha. Luangxay. Ayu Yuliani Sekriptini. F. Pediatrics.. K.F. T. Suren. The influence of children’s pain memories on subsequent pain experience. http://bja. Br J Anaesth. Effect of local refrigeration prior to venipuncture on pain related responses in school age children. I. S.

136(12). 474(11). O’ney. A. Ratnapalan. PT.J.. 838-842. (2001). J. L. Soyer. S. S. Ratnapalan.. Edisi 8.T. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Behavioral Brain Resesrch. 2013 . Turkmen. & Hrazdilova.. Pediatric pain management and sedation. Brunner & Suddarth.R..S. 545-553. (2005). N. O.L. S. Journal of Pediatric Nursing. & Bright. International Journal of Pediatrics. Hancerliogullari. P..P. H.. Rahasia sehat mmadu. A. Jakarta: EGC. edisi 4. & Ismael. Blenau . tyramine and dopamine in honey bees. 2(5). T. Schmitz. S. B.K.. Parental holding and positioning to decrease IV stress in young children: A randomized controlled trial. The Turkish Journal of Pediatric.. R. McGrath.. Akman. The impact of pediatric trauma score on burden of trauma in emergency room care. (2002). proses.. Setlik. Srouji. Sastroasmoro. 28(9). 153-157. F.L..C. P. hal 182. S. (2007).100 Potter. J. 51(7). Puspitasari. 22(6). (2010). J. & Lohaus.. Jakarta: EGC. & Schneeweiss. Jakarta: Sagung Seto. Ayu Yuliani Sekriptini. Purabaya. Bandung. & Perry. Sikorova. Pain tolerance in children and adolescents: Sex differences and psychosocial influences on pain threshold and endurance. 10(2). European Journal of Pain.. 155(20). International Journal of Pediatrics. FIK UI. CV. S.G. & Mace. Deniz. Buku ajar keperawatan medikal bedah. J. C. L. Behavioural pharmacology of octopamine. W.G. 156-159.. Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep. Schechter. S... Yogyakarta. I.. Pluckhahn.Bentang Pustaka.. T.A. 512-515. (2009). & Erber. Zempsky.M. Cohen. B. McMurtry. (2012).. 367-370. 218-203. (2002). The effect of psyhchological intervention on perceived pain in children undergoing venipuncture.. K. (2010). L.. Mengenal dan memanfaatkan khasiat madu alami.. Dasar-dasar metodelogi penelitian klinis. Pediatrics. N. Smeltzer. Vierhaus.. Sparks.A.. 257-263.E. & Luhman. & Cesur. & Bare. Mason. Biomed Pap Med. hal 57..Pionir Jaya. (2007). Scheiner.. A. O.. (2011). S. R. M. P. Pain reduction during pediatric immunizations: evidencebased review and recommendations... Pain in children: assessment and nonpharmacological management. (2007). (2011). dan praktik. Edisi 4. B.

57(23). 843-855. B. (2001).. & Ohlsson. (2010). Philadelphia: Nazareth Hospital. M. C. Mediterr Nutr Me-tab. 105-112. (2004) Konsep dasar keperawatan anak.nlm. Chambers. British Journal.ca/content/182/18/1989. (2000).gov/pubmed/19950997 Twycross. Appleton. (2007).nih. & Allende. 2..20(5). A Sucrose for analgesia in newborn infant undergoing painful procedures.F.. (2006). and aeromonas hydrophila. & Alligood. A.full. 15-23. Izquierdo. Agricultural and Food Chemistry.html..101 Steven.. 2012. http://www. 5(2)..A. G. Chambers..S. & Lynn. Tomey. Reducing the pain of childhood vaccination: an evidence-based clinical practice guideline. S. Cochrane Database of Systematic Reviews.R. Diunduh tanggal 28 Juni 2012. P. S. et al. (2009). 4.nih. yersinia enterocolitica.S. Psychological interventions for needle-related procedural pain and distress in children and adolescents. Fundamental of nursing : The art and science of nursing care. M. J. Diunduh tanggal 12 September 2012. C.. 244–253.. Halperin. L. S. Diunduh tanggal 12 Agustus 2012.J. Bortolussi. A. Contribution of honey in nutrition and human health: a review.com/content/g1771u466wvr2h26/fulltext. Suarez.. S..S. P. (6th ed. LeMone.. N. Taylor.. http://udini. Y. Lillis. http://www.. McGrath. (2010). V. Supartini. (2008). Louis. (2005). Inhibition by chesnut honey of N-Acyl-L homoserine lactones and biofilm formation in erwinia carotovora. U.. J. S. & Kisely. A. 182(8). & Battino... Diunduh tanggal 23 September 2012.gov /cochraneneonatal/stevens/ stevens. Yamada. Pectharatana.springerlink. (6th ed. Nurse Educ Today.nichd. Taddio. Prakkammodom. R. FIK UI. Education about pain: A neglected area?.pdf. Dubey.T. A. Cross-validation of composite pain scale for preschool children within 24 houe of surgery. Agustus 20.gov/ pubmed/10820579. 56(2). proquest. NICHD. Mosby Elsevier. K. J.. C.. Barberan...). Nursing science and their works. http://www.ncbi. Ayu Yuliani Sekriptini. P. St. S... A. Diunduh tanggal 20 September 2012. 400-408. CMAJ.. Tulipani. Bertoli. S. E. 11186-11193.).M.M. T.nlm. Kraiprasit. G..A. Uman. R.cmaj. Santawat. P.nih..ncbi. 2013 . http://www. Truchado. Jakarta: EGC Suraseranivonges. Romandini.com/view/psychological-interventions-for-pqid: 1968185 001/ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... http://www..K. & Muntraporn. 87(3).

T. 1(2). Journal of Pediatric. 147-152.D.). J.unife. B. Z.jamanetwork. Won. Zempsky. September 25(5). Weisman.D. 337-340.. Clin Pediatr Emerg Med. Smith. 1071. Consequences of inadequate analgesia during painful procedures in children. Januari 1. 79-584. (2008). http://archpedi..102 Wanga. Wong. & Cravero. (2007). (2006).it/utenti/giampaolo.A. Yolanda. J. Zubieta.. & Schechter. 22(12).R. Pediatrics. N. (2000). 78-80. M. & Schecter. Agustus 28. 122. (2003). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. Optimizing the management of peripheral venous access Pain in children: Evidence. 114-117. (2002) Opioid receptor-mediated antinociceptive responses differ in men and women.. (2004). 2012. 377-348. Zempsky. & Chena.. K.. Bernstein.. Kilbourn. 56(1).A. What’s new in the management of pain in children. 5. 2012. Arch Pediatr Adolesc Med. W. William. Zempsky. http://pedsinreview. Pediatrics in Review. Young. Relief of pain and anxiety in pediatric patients in emergency medical systems. US Paediatrics.. Effect of programmed information on coping behavior and emotions of mother of young children undergoing IV procedures. R. W.K. M. M. Jurnal of Korean Academy of Nursing. L. impact.T. http://web.T. Neil.com /article. Xu. (2005). (3). W. M.org/content /24/10/337. (2008). Nursing care of infants and children. St.L.. D. D. 5100–5107.D.. 9. 253–259.Pediatric%20procedural%20pain.pdf. 121-124. Pre treating pain associated with venous access procedures. N.. (2008). 24.. (5). Zempsky.Bueller. Pediatric in Review. (2005) Pediatric procedural pain. 74. Louis: Mosby. and implementation. 1301-1307. & Schechter... & Hockenberry. M. & Brown. 2013 . 36(8). Y.garani/SedazioneFarmaci/AnnEmergMed2005. What’s new in the management of pain in children. Sunb.. (2003).. The Journal of Neuroscience..T.L. M..aappublications. L. J. T. J. et al.extract William. The efficacy of non-pharmacological methods of pain management in school age children receiving venepuncture in a paediatric department: a randomized controlled trial of audiovisual distraction and routine psychological intervention. Ann Emerg Med. L.aspx?articleid=189261.138 (39). 2012. (7th ed. FIK UI.L.. Zeltzer. A. & Zempsky.P.. 24(8). 10. 57. S..J.D. Swiss Med Wkly. Developing the painless emergency department: A systematic approach to change.

Ayu Yuliani Sekriptini. SKp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. Kota Cirebon Anda sebagai orang tua/wali diminta untuk berpartisiasi dalam penelitian... Sekitar 68 anak akan terlibat dalam penelitian ini dari satu rumah sakit yang berada di Cirebon. Pembimbing saya adalah Yeni Rustina. pengalaman diambil darah sebelumnya. Apabila hasil penelitian ini diplubikasikan. FIK UI... PhD. Peneliti (Saya) akan memberikan lembar persetujuan ini. yang masuk ke ruang unit gawat darurat dan akan dilakukan tindakan invasif pengambilan darah. Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pengisian kuesioner data demografi dan penilaian skor nyeri dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti. dari Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. Nama anak anda tidak akan dicatat dimanapun. Semua kuesioner yang telah terisi hanya diberi nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas anak anda. 2013 ..App. pengalaman nyeri sebeumnya.Sc. 16424. M. tanda vital. Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari dua bagian. Arjawinangun Cirebon. Bagian pertama berisi tentang demografi seperti usia. orang tua/wali bebas untuk mengundurkan diri dari penelitian kapanpun. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari PUSDIKNAKES. Saya akan menjaga kerahasiaan anak anda dan keterlibatan anak anda dalam penelitian ini. Saya pengajar di POLTEKKES Tasikmalaya. tidak ada satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. jenis kelamin. dan menjelaskan bahwa keterlibatan anada di dalam penelitian ini atas dasar sukarela. Progam Studi Keperawatan Cirebon. yang beralamat di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia kampus Depok. Keputusan diwakilkan kepada orang tua/wali anak untuk ikut ataupun tidak dalam penelitian ini. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Gunung Jati RSUD. Bagian kedua berisi penilaian skor nyeri dengan menggunakan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS).Lampiran 1 PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di UGD RSUD. dan saat penambilan darah pasien didampingi atau tidak. Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan Magister saya di Universitas Indonesia. dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. Indonesia. Penelitian ini melibatkan anak yang berusia 1sampai 6 tahun. Dan apabila orang tua/wali memutuskan berpartisipasi. Nama saya/peneliti adalah Ayu Yuliani Sekriptini. Saya dapat dihubungi di nomor telepon 0816646216.

Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peranyang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini.Lampiran 2 yang anda jawab dalam penelitian ini. manun hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak dengan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat. saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Namun. Apabila setelah terlibat penelitian ini anda masih memiliki petanyaan. 2013 . tidak menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa anda hadapi sehari-hari.. Keterlibatan anda dalam penelitian ini. FIK UI.. anda dapat menghubuni saya di nomer telepon 0816646216.. sejauh saya ketahui. jika diperlukan catatan penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya. Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan keuntungan langsung pada anda. ……………………2012 _________________ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. anda berhak untuk tidak menjawabnya. Ayu Yuliani Sekriptini.

3. (___________________) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Dengan pertimbangan di atas. 2013 . dan kemungkinan efek samping yang terjadi dari penelitian yang dilakukan.Lampiran 3 LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Saya.. tujuan..…………………2012 Yang Membuat Pernyataan. Memahami prosedur penelitian yang akan dilakukan. yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ___________________________________________ Umur : ___________________________________________ Bapak/Ibu/Wali Anak : ___________________________________________ Menyatakan bahwa : 1. Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya. 2. FIK UI. dengan ini saya sebagai Bapak/Ibu/Wali dari anak saya mengijinkan/tidak mengijinkan anak saya berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini.. manfaat. Ayu Yuliani Sekriptini. Telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian “Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon”. Telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat dan sesuai dari peneliti. Cirebon.

Lampiran 4

KUESIONER DATA DEMOGRAFI
Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri
Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada
Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon
Kelompok

:

0

Inisial

: _______________________

No. kuesioner

: _______________________

Hari/tanggal

: _______________________

Jenis Kelamin

: Laki-laki / Perempuan

Tanggal lahir

: _____/_______/______

Umur

: _____________Bulan

1

Tanda-tanda vital : Nadi = _____________x/menit

Petujuk : Berilah tanda cek list (√) sesuai jawaban yang diberikan.
1. Apakah pasien pernah mengalami pengambilan darah sebelumnya ?
Pernah
Tidak Pernah
2. Saat pengambilan darah pasien di damping oleh keluarga ?
Ya
Tidak

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Lampiran 5

INSTRUMEN SKALA NYERI
Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS)
Kelompok

: Treatment

Inisial : ________

Kontrol
No. kuesioner : ___

Item
Tangisan

Perilaku
Tidak menangis
Merintih
Menangis
Menjerit/teriak

Ekspresi
wajah

Biasa
Merengut

1
2

Tersenyum

0

Tidak ada
Anak mengeluh

1
1

Keluhan nyeri
Kedua keluhan

2
2

Ungkapan positif

0

Netral
Gelisah
Tegang
Gemetar

1
2
2
2

Tegak lurus
Menahan
Tidak menyentuh
Berusaha menggapai

2
2
1
2

Menyentuh
Merebut
Direstrain
Netral
Menendang2
Ditarik

2
2
2
1
2
2

Berdiri
Direstrain

2
2

Ekspresi
verbal

Posisi
badan

Sentuhan

Posisi
kaki

Point
1
2
2
3

Hari/tanggal : ___________

Definisi/pengertian/interpretasi
Anak tidak menangis
Anak merintih/menangis lirih
Anak menangis tapi tidak keras
Anak menangis dengan kuat, dapat disertai
keluhan/tidak
Ekpresi wajah netral
Terdapat ekspresi wajah menunjukkan
negatif/tidak nyaman
Terdapat ekspresi wajah menunjukkan positif/
nyaman
Anak tidak berbicara
Anak mengeluh tapi tidak berkaitan dengan
nyeri, contoh “mana ibu saya” atau “saya
haus”
Anak mengeluhkan nyeri
Anak mengeuh nyeri yang lain, contoh “saya
sakit saya ingin melihat ibu saya”
Anak memberikan statment positif atau
membicarakan hal2 lain yang bukan berupa
keluhan
Badan dalam posisi rileks/isitrahat
Posis tubuh bergerakgerak (gelisah)
Badan tertekuk/melingkar atau kaku
Badan tampak tidak nyaman atau
memberontak
Badan dalam posisi tegak
Badan direstrain
Anak tidak menyentuh/memegang luka
Anak memberi reaksi tetapi tidak menyentuh
luka
Anak mencoba memegangi luka
Anak menyentuh area yang nyeri
Tangan anak direstrain
Kaki dalam posisi rileks, atau bergerak Gerak
tapi masih rileks
Gerakan2 yang menunjukkan kegelisahan,
menendang
Berdiri, kaki tertekuk dan tegang
Kaki anak direstrain
JUMLAH SKOR

Sumber : McGrath, P.J., Jhonson, G., Goodman, J.T., et al. CHEOPS: A behavioral scale for rating
postoperative pain in children. In Fields, H.L., et al. (editor) Advances in Pain Research and
Therapy, (vol 9). New York, Reven Press.
Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Skor

Lampiran 6

PROTOKOL PEMBERIAN MADU BAGI PERAWAT
1. Persiapan Alat
a. Sendok makan
b. Spuit 5 ml
c. Cairan madu
d. Alas perlak atau handuk pengalas
e. Kertas tissue
f. Air minum (jika tersedia)
2. Prosedur Pelaksanaan
a. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan pada tempat yang telah ditentukan.
b. Lakukan mengukuran tanda vital pada anak.
c. Jelaskan pada anak, orang tua/wali akan di beri madu sebelum
pengambilan darah.
d. Letakkan alas di dada atau dipangkuan anak.
e. Berikan madu per-oral pada anak dengan menggunakan sendok atau spuit
(usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml)
f. Anjurkan anak untuk menghabiskan madu yang diberikan.
g. Beri minum jika anak menginginkan.
h. Lap bersih mulut anak
i. Rapikan peralatan
j. Dokumentasikan tindakan (waktu pelaksanaan, paraf perawat, respon
pasien).

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

2013 3 4 . Ayu Yuliani Sekriptini..Lampiran 7 JADUAL PELAKSANAAN PENELITIAN No Kegiatan 1 Penyusunan proposal Ujian proposal Pengumpulan data Analisis dan penafsiran data Ujian hasil penelitian Penulisan dan draf publikasi Siding tesis Penulisan tesis Perbaikan tesis Jilid hard cover Pengumpulan tesis 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 September 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4 Bulan November Minggu 1 2 3 4 Desember 1 2 3 Januari 4 1 2 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI...

Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Pendidikan SD Negri Banjar I Kota Banjar SMP Negri I Kota Banjar SMA PGRI Kota Banjar Akademi Keperawatan Depkes Bandung S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jurusan Keperawatan Tahun Lulus 1983 1986 1989 1992 Keperawatan 2003 Jabatan Perawat Pelaksana Tahun 1992-1998 Guru Dosen 1998-2001 2001-Sekarang 2.Lampiran 8 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Ayu Yuliani Sekriptini Tempat Tanggal Lahir : Ciamis.. 25 Juli 1971 Agama : Islam Almat Rumah : Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. 2013 .. Perumahan Kedung Jaya Indah Blok C No. Riwayat Pekerjaan No Tempat Kerja 1 Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2 SPK Depkes Cirebon 3 Politehnik Kesehatan Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. 6 Kabupaten Cirebon Institusi : Poltekkes Tasikmalaya. Program Studi Keperawatan Cirebon Alamat Instansi : Jalan Pemuda no 32 Kota Cirebon 1.

. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.Pengaruh pemberian... 2013 .

. FIK UI.. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 .Pengaruh pemberian.

.Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI... 2013 .

.Pengaruh pemberian.. FIK UI. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini..

2013 . FIK UI.. Ayu Yuliani Sekriptini...Pengaruh pemberian.

2013 . FIK UI..Pengaruh pemberian... Ayu Yuliani Sekriptini.

Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini... 2013 . FIK UI..

. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon.Sc. M. Ayu Yuliani Sekriptini. Dan apabila orang tua/wali memutuskan berpartisipasi. Penelitian ini melibatkan anak yang berusia 1sampai 6 tahun. 2013 .App. Saya akan menjaga kerahasiaan anak anda dan keterlibatan anak anda dalam penelitian ini. PhD. Progam Studi Keperawatan Cirebon. dari Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. pengalaman nyeri sebeumnya. Semua kuesioner yang telah terisi hanya diberi nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas anak anda. Bagian kedua berisi penilaian skor nyeri dengan menggunakan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). Pengisian kuesioner data demografi dan penilaian skor nyeri dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti. Keputusan diwakilkan kepada orang tua/wali anak untuk ikut ataupun tidak dalam penelitian ini. Saya dapat dihubungi di nomor telepon 0816646216. pengalaman diambil darah sebelumnya. Nama anak anda tidak akan dicatat dimanapun. Bagian pertama berisi tentang demografi seperti usia. tidak ada satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. yang masuk ke ruang unit gawat darurat dan akan dilakukan tindakan invasif pengambilan darah.Lampiran 1 PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di UGD RSUD. Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Indonesia. Apabila hasil penelitian ini diplubikasikan. FIK UI. Pembimbing saya adalah Yeni Rustina. Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan Magister saya di Universitas Indonesia. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari PUSDIKNAKES. tanda vital. SKp. dan menjelaskan bahwa keterlibatan anada di dalam penelitian ini atas dasar sukarela. dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. jenis kelamin. Kota Cirebon Anda sebagai orang tua/wali diminta untuk berpartisiasi dalam penelitian. 16424. dan saat penambilan darah pasien didampingi atau tidak. Nama saya/peneliti adalah Ayu Yuliani Sekriptini. Peneliti (Saya) akan memberikan lembar persetujuan ini. Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari dua bagian. Arjawinangun Cirebon.... orang tua/wali bebas untuk mengundurkan diri dari penelitian kapanpun. Saya pengajar di POLTEKKES Tasikmalaya. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Gunung Jati RSUD. yang beralamat di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia kampus Depok. Sekitar 68 anak akan terlibat dalam penelitian ini dari satu rumah sakit yang berada di Cirebon.

anda dapat menghubuni saya di nomer telepon 0816646216. jika diperlukan catatan penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya.Lampiran 2 yang anda jawab dalam penelitian ini.. anda berhak untuk tidak menjawabnya. Keterlibatan anda dalam penelitian ini. Ayu Yuliani Sekriptini. tidak menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa anda hadapi sehari-hari. Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan keuntungan langsung pada anda. saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. 2013 . Apabila setelah terlibat penelitian ini anda masih memiliki petanyaan.. manun hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak dengan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat. sejauh saya ketahui. FIK UI. ……………………2012 _________________ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peranyang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini. Namun..

.…………………2012 Yang Membuat Pernyataan. (___________________) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat dan sesuai dari peneliti. 2. Telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian “Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon”. Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Cirebon. tujuan. dan kemungkinan efek samping yang terjadi dari penelitian yang dilakukan. Dengan pertimbangan di atas. FIK UI. Memahami prosedur penelitian yang akan dilakukan. Ayu Yuliani Sekriptini.Lampiran 3 LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Saya. manfaat.. 3. yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ___________________________________________ Umur : ___________________________________________ Bapak/Ibu/Wali Anak : ___________________________________________ Menyatakan bahwa : 1.. 2013 . dengan ini saya sebagai Bapak/Ibu/Wali dari anak saya mengijinkan/tidak mengijinkan anak saya berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini.

2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. kuesioner : _______________________ Hari/tanggal : _______________________ Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan Tanggal lahir : _____/_______/______ Umur : _____________Bulan 1 Tanda-tanda vital : Nadi = _____________x/menit Petujuk : Berilah tanda cek list (√) sesuai jawaban yang diberikan.. FIK UI. Saat pengambilan darah pasien di damping oleh keluarga ? Ya Tidak Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. 1..Lampiran 4 KUESIONER DATA DEMOGRAFI Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon Kelompok : 0 Inisial : _______________________ No. Apakah pasien pernah mengalami pengambilan darah sebelumnya ? Pernah Tidak Pernah 2.

Lampiran 5 INSTRUMEN SKALA NYERI Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Kelompok : Treatment Inisial : ________ Kontrol No. Goodman.J. (vol 9). Jhonson.. kuesioner : ___ Item Tangisan Perilaku Tidak menangis Merintih Menangis Menjerit/teriak Ekspresi wajah Biasa Merengut 1 2 Tersenyum 0 Tidak ada Anak mengeluh 1 1 Keluhan nyeri Kedua keluhan 2 2 Ungkapan positif 0 Netral Gelisah Tegang Gemetar 1 2 2 2 Tegak lurus Menahan Tidak menyentuh Berusaha menggapai 2 2 1 2 Menyentuh Merebut Direstrain Netral Menendang2 Ditarik 2 2 2 1 2 2 Berdiri Direstrain 2 2 Ekspresi verbal Posisi badan Sentuhan Posisi kaki Point 1 2 2 3 Hari/tanggal : ___________ Definisi/pengertian/interpretasi Anak tidak menangis Anak merintih/menangis lirih Anak menangis tapi tidak keras Anak menangis dengan kuat. contoh “mana ibu saya” atau “saya haus” Anak mengeluhkan nyeri Anak mengeuh nyeri yang lain. et al. New York.. FIK UI. et al. Ayu Yuliani Sekriptini. CHEOPS: A behavioral scale for rating postoperative pain in children. Reven Press.. P. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. J.T. kaki tertekuk dan tegang Kaki anak direstrain JUMLAH SKOR Sumber : McGrath. 2013 Skor .. G.L. contoh “saya sakit saya ingin melihat ibu saya” Anak memberikan statment positif atau membicarakan hal2 lain yang bukan berupa keluhan Badan dalam posisi rileks/isitrahat Posis tubuh bergerakgerak (gelisah) Badan tertekuk/melingkar atau kaku Badan tampak tidak nyaman atau memberontak Badan dalam posisi tegak Badan direstrain Anak tidak menyentuh/memegang luka Anak memberi reaksi tetapi tidak menyentuh luka Anak mencoba memegangi luka Anak menyentuh area yang nyeri Tangan anak direstrain Kaki dalam posisi rileks. (editor) Advances in Pain Research and Therapy. In Fields... H.. menendang Berdiri. atau bergerak Gerak tapi masih rileks Gerakan2 yang menunjukkan kegelisahan. dapat disertai keluhan/tidak Ekpresi wajah netral Terdapat ekspresi wajah menunjukkan negatif/tidak nyaman Terdapat ekspresi wajah menunjukkan positif/ nyaman Anak tidak berbicara Anak mengeluh tapi tidak berkaitan dengan nyeri.

Siapkan alat-alat yang dibutuhkan pada tempat yang telah ditentukan. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Lap bersih mulut anak i. Spuit 5 ml c. g. Jelaskan pada anak. d.. b. Persiapan Alat a. respon pasien). FIK UI. h. 2013 . paraf perawat. Letakkan alas di dada atau dipangkuan anak. Ayu Yuliani Sekriptini..Lampiran 6 PROTOKOL PEMBERIAN MADU BAGI PERAWAT 1. c. Lakukan mengukuran tanda vital pada anak. Berikan madu per-oral pada anak dengan menggunakan sendok atau spuit (usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml) f. Rapikan peralatan j. Anjurkan anak untuk menghabiskan madu yang diberikan. orang tua/wali akan di beri madu sebelum pengambilan darah. Cairan madu d. Alas perlak atau handuk pengalas e. e. Dokumentasikan tindakan (waktu pelaksanaan.. Kertas tissue f. Air minum (jika tersedia) 2. Prosedur Pelaksanaan a. Sendok makan b. Beri minum jika anak menginginkan.

FIK UI.. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 3 4 ..Lampiran 7 JADUAL PELAKSANAAN PENELITIAN No Kegiatan 1 Penyusunan proposal Ujian proposal Pengumpulan data Analisis dan penafsiran data Ujian hasil penelitian Penulisan dan draf publikasi Siding tesis Penulisan tesis Perbaikan tesis Jilid hard cover Pengumpulan tesis 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 September 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4 Bulan November Minggu 1 2 3 4 Desember 1 2 3 Januari 4 1 2 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

25 Juli 1971 Agama : Islam Almat Rumah : Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Program Studi Keperawatan Cirebon Alamat Instansi : Jalan Pemuda no 32 Kota Cirebon 1. Ayu Yuliani Sekriptini.. Riwayat Pekerjaan No Tempat Kerja 1 Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2 SPK Depkes Cirebon 3 Politehnik Kesehatan Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Perumahan Kedung Jaya Indah Blok C No. 2013 .. 6 Kabupaten Cirebon Institusi : Poltekkes Tasikmalaya.Lampiran 8 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Ayu Yuliani Sekriptini Tempat Tanggal Lahir : Ciamis. FIK UI. Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Pendidikan SD Negri Banjar I Kota Banjar SMP Negri I Kota Banjar SMA PGRI Kota Banjar Akademi Keperawatan Depkes Bandung S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jurusan Keperawatan Tahun Lulus 1983 1986 1989 1992 Keperawatan 2003 Jabatan Perawat Pelaksana Tahun 1992-1998 Guru Dosen 1998-2001 2001-Sekarang 2.