UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN MADU TERHADAP PENURUNAN
SKOR NYERI AKIBAT TINDAKAN INVASIF PENGAMBILAN
DARAH INTRA VENA PADA ANAK DI RUANG UGD
RSUD KOTA CIREBON

TESIS

AYU YULIANI SEKRIPTINI
1006833571

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
DEPOK, JANUARI 2013

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH PEMBERIAN MADU TERHADAP PENURUNAN
SKOR NYERI AKIBAT TINDAKAN INVASIF PENGAMBILAN
DARAH INTRA VENA PADA ANAK DI RUANG UGD
RSUD KOTA CIREBON

TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Ilmu Keperawatan

AYU YULIANI SEKRIPTINI
1006833571

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN
PEMINATAN KEPERAWATAN ANAK
DEPOK, JANUARI 2013
ii

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Kp.MN..) Ditetapkan di : Depok Tanggal : Januari 2013 iv Pengaruh pemberian... FIK UI.HALAMAN PENGESAHAN Tesis ini diajukan oleh : Nama : Ayu Yuliani Sekriptini NPM : 1006833571 Program Studi : Magister Keperawatan Judul Tesis : Pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon. SKp.Si (………………………. PhD (……………………….. (………………………. Ayu Yuliani Sekriptini.. DEWAN PENGUJI Pembimbing : Yeni Rustina.Kep.Sp. S. Universitas Indonesia.) Penguji : Dessie Wanda.Sc.An. (………………………. M. M. Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Magister Keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan.Kp..) Penguji : Elfi Syahreni.) Pembimbing : Nur Agustini. 2013 .App.... M.. S. Fakultas Ilmu Keperawatan.

Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 ... FIK UI.Pengaruh pemberian.

.App. karena atas berkat dan rahmat-Nya. selaku Ketua Program Studi Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. 7. selaku dosen pembimbing II yang telah menyediakan waktu. selaku penguji IV. tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. 5. Seluruh Staf pengajar Program Studi Magister Ilmu Keperawatan terutama kekhususan Keperawatan Anak dan seluruh staf akademik yang telah membantu peneliti. selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. selaku penguji III. tenaga. sangatlah sulit bagi saya untuk menyelesaikan tesis ini.An.. 8.Kp. M.Kp. Penulisan tesis ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Magister Keperawatan Peminatan Keperawatan Anak pada Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.. yang telah memberikan saran guna perbaikan tesis ini. selaku dosen pembimbing I yang telah dengan penuh kesabaran.. MN. Ners.Kp. Ayu Yuliani Sekriptini. tenaga. S.KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. S. Astuti Yuni Nursasi.. Ph. FIK UI. Dewi Irawaty. saya mengucapkan terima kasih kepada : 1. M.. dan pikiran untuk penyusunan tesis ini.Kp. Yeni Rustina. M. S. 2.Si. menyediakan waktu. M.Kep.N. 9. 2013 .. S.A. yang dengan sabar dan tulus memberikan bimbingan. 3.. M. Rekan-rekan perawat di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama proses pengambilan data untuk menyelesaikan tesis ini. Dessie Wanda. Saya menyadari bahwa. arahan dan perhatian yang besar dalam penyusunan tesis ini..D. Nur Agustini. saya dapat menyelesaikan proposal tesis ini. Pihak RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon yang telah banyak membantu dalam usaha memperoleh data dan memberikan ijin untuk tempat penelitian.. 4. PhD. 6. dari masa perkuliahan sampai penyusunan tesis ini. vi Pengaruh pemberian... Oleh karena itu... pikiran dan motivasi serta dukungan yang sangat besar untuk saya dalam penyusunan tesis ini..Sp.Sc.. Elfi Syahreni.

Ayu Yuliani Sekriptini. Semoga tesis ini membawa manfaat bagi kemajuan keperawaan.. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda untuk semua kebaikan yang telah diberikan. Suyami. khususnya keperawatan anak di Indonesia. Ghaida Shafa Nabilah.. Depok. Yuliatin dan teman-teman di Keilmuan Keperawatan Anak. yang telah memberikan perhatian dan dukungan yang sangat besar selama penyusunan tesis ini.10. 11. FIK UI. Shinta Maharani. Fadhli Dzil Ikram. dan keluarga saya yang telah memberikan bantuan dan dukungan do’a bagi peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini.. 2013 . Eni Nuraeni Yunus. Januari 2013 Penulis vii Pengaruh pemberian.

. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna rata-rata skor nyeri anak pada kelompok madu dan kelompok plasebo (p=0. Sampel diambil dengan consecutive sampling. Kata kunci: madu. skor nyeri. Skor nyeri dievaluasi dengan Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). Peneliti menyimpulkan pemberian madu peroral dapat menurunkan skor nyeri pada anak saat pengambilan darah intravena. terdiri dari kelompok intervensi yang mendapatkan madu peroral (34 responden) dan kelompok kontrol mendapatkan plasebo (34 responden). viii Pengaruh pemberian. pengambilan darah intra vena. Desain penelitian ini adalah kuasi eksperimen. usia responden 1-6 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh madu terhadap skor nyeri anak saat pengambilan darah. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini.001). FIK UI.ABSTRAK Nama Program Studi Judul : Ayu Yuliani Sekriptini : Magister Ilmu Keperawatan : Pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon Pengambilan darah intravena dapat menimbulkan nyeri dan traumatik pada anak...

The score of pains are evaluated with Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS)..ABSTRACT Name : Ayu Yuliani Sekriptini Study Programme : University of Indonesia Magister Program in Nursing Science Specialisation Pediatric Nursing Title : The influence of giving honey on the score decreasing of pain as the result of intravena blood taking action on child at the emergency department of RSUD Cirebon City The intravena blood taken can cause pains and be traumatic for child. Samples were taken by consecutive sampling which consists of the intervened group who obtained honey per oral (34 respondents). Key words: honey.. 2013 . FIK UI. the score of pains ix Pengaruh pemberian. and controlled group obtained plasebo (34 respondents) respondents aged 1-6 years.This research has the aims to identify The influence of giving honey on the score decreasing of pain. The design of this research is quasi experiment. The result of analysis shows there is a significant difference on the average score of pains between the intervened and controlled group (p=0.001). Ayu Yuliani Sekriptini. The researcher concluded that the giving of honey per oral can decrease the score of pains on child when the intravena blood taken. the intravena blood taken..

Nyeri Pada Anak ………………………………………………………. ABSTRACT ………………………………………………………………… DAFTAR ISI ………………………………………………………………. Jenis-jenis Madu ………………………………………………. Pengertian Anak ………………………………………………… 45 2.2. Perumusan Masalah …………………………………………………… 1...1. Ayu Yuliani Sekriptini. LEMBAR PENGESAHAN ………………………………………………… KATA PENGANTAR ……………………………………………………… ABSTRAK ………………………………………………………………….4. Pengertian Nyeri ………………………………………………..5.. iii iv vi viii ix x xiii xiv xv xvi 1 1 7 8 8 2. DAFTAR TABEL …………………………………………………………. Efek yang ditimbulkan oleh Nyeri ……………………………… 19 2.6. DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… Hal 1. 11 2. 10 2.3...1.4. Aplikasi Comfort Theory pada Keperawatan Anak ……………. 47 2.3. Kolcaba ………………… 40 2.46 2. Penggunaan Madu Dalam Penanganan Nyeri Pada Anak ………………35 2. 13 2.4...2.. Pengaruh Madu Terhadap Penurunan Respon Nyeri …………………. PENDAHULUAN ………………………………………………………. Konsep Teori “Comfort” Katherine C...1.1.3.4. Fisiologi Nyeri ………………………………………………….2.8.. Pengendalian Nyeri di Unit Gawat Darurat ……………………. Atraumatic Care ………………………………………………………. Konsep Anak …………………………………………………………… 45 2. 1... 26 2.6..2.. DAFTAR SKEMA ………………………………………………………….2... 39 2.5. FIK UI.2..... 37 2.5.1. Tujuan Penelitian ……………………………………………………… 1. 2013 . 35 2...2..7.. Klasifikasi Nyeri ………………………………………………..1. TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………….1.1. 10 2.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS …………………………. Manfaat Penelitian …………………………………………………….6.. 25 2. 47 2.3.. 16 2. 38 2. Pengertian Atraumatic Care ……………………………………. Pengertian Madu ………………………………………………… 35 2.2. Penatalaksanaan Nyeri pada Anak ……………………………… 20 2.1.1.1.1.6. Penilaian Nyeri …………………………………………………. Komposisi Kimia dan Biologi Madu …………………………….2.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi Nyeri ………………………...2..4. DAFTAR GAMBAR ………………………………………………………. 40 2.1.4. Latar Belakang ………………………………………………………… 1.5. 10 2. Kelompok Anak Berdasarkan Fase Perkembangan ……………..1. Teori Keperawatan “Comfort” Katherine C.2. Prinsip Atraumatic Care ………………………………………… 49 x Pengaruh pemberian. 43 2. Efek Terapeutik Madu ………………………………………….. Kolcaba ………………….

2.3. 53 4.10.5. Hipotesis ……………………………………………………………….. 60 4. Skor Nyeri Kelompok Madu dan Kelompok Plasebo ………….1.2.2.. 51 3.1.. Intervensi yang Dilakukan ………………………………………………64 4.2. Perbedaan Rata-rata Skor Nyeri antara Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Berdasarkan Karakteristik Anak…………….11.1.8. 70 5. Tempat Penelitian ……………………………………………………… 59 4..2. Kerangka Konsep Penelitian …………………………………………… 51 3. 85 6.2. Desain Penelitian ………………………………………………………. Kerangka Teori ………………………………………………………….. Prosedur Analisis Data ………………………………………………….1.2. HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL ………………………………………………51 3.1. 75 6.. 71 5..2. Waktu Penelitian ……………………………………………………….6. Definisi Oprasional …………………………………………………….3. 58 4. Analisis Univariat ……………………………………………………… 71 5.1. 56 4.. 53 3. Karaktristik Responen ……………………………………………78 6. HASIL PENELITIAN …………………………………………………….1. Keterbatasan Penelitian ………………………………………………..2. Pengolahan Data ………………………………………………………. Ayu Yuliani Sekriptini. Sampel ……………………………………………………………57 4. Karakteristik Responden ………………………………………. 87 6.1. 73 5. Uji Kesetaraan (Homogenity)…………………………………………. 73 5.. 56 4. Prosedur Pengumpul Data ……………………………………………… 64 4.2. 88 xi Pengaruh pemberian. 69 5.50 3. Variabel terikat (dependent) ……………………………………... Variabel bebas (independent) …………………………………… 51 3. Sampel dan Besar Sampel …………………………………… 56 4.1.3. PEMBAHASAN…………………………………………………………… 78 6.2. Analisis Bivariat ……………………………………………………….1. 2013 . 74 5. Alat Pengumpula Data ………………………………………………….2.2. Hipotesis Minor …………………………………………………. KERANGKA KONSEP. Validitas dan Reliabilitas Instrumen …………………………………… 62 4.1.3. 68 4.4. METODE PENELITIAN ………………………………………………… 56 4. Populasi. Variabel perancu (confounding) ………………………………… 52 3. Etika Penelitian ………………………………………………………… 60 4.. Rata-rata skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo …………………………………………………………. Interpretasi dan Diskusi hasil…………………………………………… 78 6... Perbedaan Rata-rata Skor Nyeri pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol ……………………………………………… 74 5.1. FIK UI. 61 4.9. Populasi …………………………………………………………. Besar Sampel …………………………………………………….7.3.1.3. Hipotesis Mayor ………………………………………………… 53 3.7.3.2.1.2.. Implikasi Hasil Penelitian …………………………………………….3.1.2.1.1. 53 3.

. Ayu Yuliani Sekriptini. KESIMPULAN DAN SARAN 7..1. Simpulan ………………………………………………………………..7. FIK UI. Saran …………………………………………………………………… 90 DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. 92 LAMPIRAN xii Pengaruh pemberian. 2013 .. 90 7.2.

4... Tabel 5.2. Faces.1 Tabel 4. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………… Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……………………………………………………. Tabel 5... 2013 Hal 27 31 32 36 52 67 68 69 70 71 72 76 76 77 . Tabel 2..3. Tabel 5.DAFTAR TABEL Tabel 2. Tabel 5.. Tabel 5. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri pada anak kelompok intervensi dan kelompok kontrol di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon ……………………..... jenis kelamin.1..…. Tabel 5.1.. kehadiran keluarga. Cry... FIK UI. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan usia anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon………………………………………………………….2. Tabel 2.usia.Activity..3. dan pengalaman pengambilan darah di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…… Distribusi skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…………………………………….7 Tabel 5. Tabel 2.4..5. xiii Pengaruh pemberian. Uji Statistik ………………………………………………………. Tabel 3. Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon…………………………………………………………..2... Ayu Yuliani Sekriptini. Distribusi responden berdasarkan usia... dan Consolability ………………. Legs.6 Tabel 5.8 Penilaian Klinis Nyeri ………………………………………... Definisi Operasional ……………………………………………. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Kandungan Gizi Madu Perhutani ……………………………. pengalaman sebelumnya dan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon……. Uji homogenitas data responden berdasarkan jenis kelamin..

……………………….. Ayu Yuliani Sekriptini...…………………………………. Perjalanan Nyeri………….DAFTAR GAMBAR Gambar 2.4.5. Wong Baker Faces Pain Rating Scale………….. Verbal Rating Scale…….. xiv Pengaruh pemberian.. Gambar 2.. Numerical Rating Scale……….1..2...……………………………………… Gambar 2..…….……………………………..3... FIK UI...…….……... Gambar 2. Visual Analogue Scale…. Gambar 2.. 2013 Hal 13 31 31 31 32 .…...

DAFTAR SKEMA Skema 2.. 2013 Hal 43 45 49 51 .2. Kerangaka Konsep Penelitian ………... Aplikasi Comfort Theory dalam Keperawatan Anak ………… Aplikasi Comfort Theory dalam Tindakan Pemberian Madu … Kerangka Teori …………………….. Skema 2.1.3. Skema 3. Skema 2. FIK UI.………………………… xv Pengaruh pemberian.1. Ayu Yuliani Sekriptini.………………………….

Lampiran 2. Ayu Yuliani Sekriptini. Lampiran 6. Penjelasan tentang Penelitian Lembar Persetujuan Bersedia Menjadi Responden Penelitian Kuesioner Data Demografi Instrumen Skala Nyeri CHEOPS Protokol Pemberian Madu Bagi Perawat Jadual Pelaksanaan Penelitian Daftar Riwayat Hidup xvi Pengaruh pemberian.DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. 2013 . FIK UI.... Lampiran 5. Lampiran 4. Lampiran 7. Lampiran 3.

Salah satu tugas perawat gawat darurat adalah melakukan intervensi yang cepat dan tepat kepada pasien dan menetapkan area yang tepat untuk pengobatan selanjutnya. cerdas ceria. Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya keadaan sakit dan hospitalisasi.. salah satunya hak anak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.. Hal tersebut didukung oleh Undang-undang No. termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali ke rumah. tumbuh dan berkembang.. eksploitasi dan kekerasan serta dapat mengalami peningkatan kesejahteraan. Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat.BAB 1 PENDAHULUAN 1. berakhlak mulia dan terlindungi dari diskriminasi. 2013 . Keadaan anak yang tiba-tiba sakit atau terjadinya cedera mengharuskan anak masuk ke ruang gawat darurat. 2005). 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 132 ayat 1 menyebutkan anak yang dilahirkan wajib dibesarkan dan diasuh secara bertanggung jawab sehingga memungkinkan anak tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal. Latar Belakang Undang-undang perlindungan anak No. dimana unit gawat darurat merupakan suatu bentuk pelayanan keperawatan yang diberikan kepada anak yang diperkirakan mengalami keadaan yang mengancam jiwa dan terjadi secara mendadak dalam suatu lingkungan yang tidak dapat dikendalikan (Zempsky & Schecter. Ayu Yuliani Sekriptini. Salah satu program pemerintah terkait optimalisasi tumbuh kembang anak yaitu Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 (PNBAI). 23 tahun 2002 menyebutkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya. Proses gawat darurat dipengaruhi oleh beberapa 1 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI. Tujuan Program Nasional Bagi Anak Indonesia 2015 (PNBAI) adalah terwujudnya anak Indonesia yang sehat.1.

Eichenfield. Pengalaman nyeri selalu tidak menyenangkan.. peran tim medis. Bernstein & Schechter. FIK UI. dan dapat terjadi pada anak dengan keadaan sakit akut maupun yang sedang menjalani prosedur. Bernstein & Schechter. 2001. (2004) menyebutkan pengendalian nyeri dan kecemasan untuk anak yang memasuki unit gawat darurat merupakan hal yang penting dan harus diperhatikan karena dapat menyebabkan trauma pada anak. Penelitian Zempsky dan Cravero. kebutuhan pelayanan definitif di unit lain. Oleh karena itu diperlukan adanya tindakan secara cepat dan tepat untuk mencegah adanya kecacatan ataupun ancaman jiwa pasien di instalasi gawat darurat.. Tindakan invasif pengambilan darah merupakan tugas dari petugas laboratorium akan tetapi dalam kenyataanya di unit gawat darurat pengambilan darah dilakukan oleh perawat. Ayu Yuliani Sekriptini. 2008). et al. 2013 . Weisman. Tindakan pengambilan darah vena merupakan prosedur yang menimbulkan kecemasan dan ketakutan serta rasa tidak nyaman bagi anak akibat nyeri yang dirasakan saat prosedur tersebut dilaksanakan (Zeltzer & Brown 2007). Salah satu tindakan yang cepat dan tepat yang harus segera dilakukan di unit gawat darurat untuk menentukan diagnosis suatu penyakit atau tindakan yang lainnya adalah tindakan invasif pengambilan darah. kondisi pasien yang memerlukan bantuan segera. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hal ini dikarenakan banyaknya pasien di unit gawat darurat yang datang secara mendadak dan keterbatasan petugas. 2002. informasi yang terbatas..2 faktor diantaranya waktu yang terbatas. didapatkan bahwa nyeri yang dikeluhkan oleh anak selalu diabaikan sehingga penanganan yang diberikan tidak adekuat (Zeltzer & Brown 2007. Tindakan invasif yang didapat anak selama di unit gawat darurat dapat menimbulkan trauma berkepanjangan. 2008). salah satunya adalah tindakan pengambilan darah vena (Meliala. dan sumber daya yang ada. Weisan. Beberapa studi nyeri pada anak.

gangguan prilaku. dan sering harus berhubungan dan bergaul dengan anakanak yang sakit serta pengalaman mengikuti terapi yang menyakitkan. sosial. dimana hasil penelitian menunjukkan dua pertiga dari sampel yang dilaporkan pada anak yang mengalami nyeri berulang mengalami penurunan kulias hidup empat kali di bandingkan pada anak dengan tanpa nyeri. Zempsky & Schecter. Berbagai komplikasi ini dapat menurunkan kualias hidup. et al. Salah satu mekanisme mengurangi dampak perawatan adalah manajemen nyeri. dan tidak nyaman. Aspek penilaian Health-Related Quality Of Life (HRQOL) meliputi penilaian fisik. Hasil penelitian Won. penyesuaian dengan banyak orang yang mengurusinya. perasaan kehilangan sesuatu yang biasanya dialaminya. keputusasaan. menjelaskan bahwa anak yang masuk rumah sakit akan muncul perasaan ketakutan karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum pernah dialami sebelumnya... Anak yang mengalami kondisi sakit akan muncul tantangan-tantangan yang harus dihadapinya seperti mengatasi suatu perpisahan. (2006) dan Cohen. Hasil penelitian Petersen. Oleh karena itu penatalaksanaannya seharusnya dilakukan dengan optimal dan rasional. Metode penurunan nyeri merupakan salah satu prinsip dasar keperawatan anak yaitu prinsip atraumatic care atau pencegahan terhadap trauma. (2007). dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan. emosional. 2002. psikososial dan fisiologi jangka panjang.. 2005). penyesuaian dengan lingkungan yang asing baginya. rasa tidak aman. Ayu Yuliani Sekriptini. Anak dengan kondisi nyeri menunjukkan berbagai komplikasi seperti timbulnya kecemasan. et al. sehingga dapat mengurangi dampak yang merugikan baik bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarganya (Kleiber. Hagglof dan Bergstrom (2009). FIK UI. 2013 . dan sekolah berfungsi dan kesejahteraan. nyeri pada anak dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup. Perawat bertanggung jawab secara komperhensif dalam memberikan asuhan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.3 Tindakan yang menyakitkan merupakan stresor bagi anak pada semua tingkat usia.

kognitif. yaitu suatu gabungan farmakologis. juga akan meningkatkan keeratan dan kerjasama antara pasien dengan perawat saat memberikan intervensi sehingga dapat mengurangi beban perawat dalam memberikan pelayanan.4 keperawatan anak untuk mesejahterakan anak. et al. 2002). membuat nyeri dapat lebih ditoleransi. disamping akan memberikan kenyamanan dan ketenangan kepada orang tua atau pendamping anak yang dilayani (American Academy Of Pediatrics American Pain Society. Seorang perawat bertanggung jawab sedapat mungkin untuk menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri pada anak yang dilayaninya. distraksi. 2013 . menurunkan kecemasan dan meningkatkan kefektifan analgesik atau mengurangi dosis yang diperlukan (Czarnecki. Intervensi untuk mengurangi nyeri dapat dilakukan secara multidimensional melalui pendekatan pengobatan interdisipliner. Czarnecki. 2002. Intervensi keperawatan untuk mencegah terjadinya trauma karena nyeri pada anak dapat dilakukan berupa intervensi farmakologi ataupun intervensi nonfarmakologi. efektif dan tepat waktu (American Academy Of Pediatrics.. Penatalaksanaan nyeri yang adekuat. American Pain Society. relaksasi. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2003). Ayu Yuliani Sekriptini. 2011). 2011). Sejumlah tehnik farmakologis dan non farmakologis dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri pada anak. seperti misalnya pemberian terapi analgesik. Pemeriksaan dan pengobatan nyeri pada anak adalah komponen penting dalam praktek pelayanan kesehatan anak sehari-hari (Zempsky & Schecter. krim anastesi. et al. FIK UI. guided imagery dan stimulasi kutan dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. disamping bertujuan untuk mengurangi kecemasan pada anak dan orang tua. 2003). psikologis dan pengobatan non farmakologis yang bertujuan untuk memberikan intervensi dengan penuh kasih sayang.. Morton 2008. Prinsip atraumatic care adalah perawatan yang tidak menimbulkan adanya trauma pada anak dan keluarga (Wong & Hockenberry..

(2005) melakukan penelitian meta-analisis tentang pemberian sukrosa saru lahir. (2011) menjelaskan tentang pemberian oral sukrosa 20 % dapat menurunkan respon nyeri pada bayi cukup bulan saat dilakukan pengambilan contoh darah vena. Penelitian lain menunjukkan bahwa larutan manis lain seperti glukosa. Pendekatan dengan menggunakan intervensi nonfarmakologi untuk mengurangi respon nyeri lainnya dilakukan oleh beberapa peneliti dan telah membuktikan bahwa intervensi nonfarmakologi dapat mengurangi nyeri karena tindakan invasif. FIK UI... (2011) menyebutkan pemberian rasa manis (sukrosa. Penelitian meta-analis yang dilakukan oleh Harrison. Pendekatan secara psikologis dapat dilakukan pada usia anak tertentu saja dan membutuhkan waktu khusus pendekatan kepada anak (Sikorova & Hrazdilova. dan permen karet manis) dapat mengurangi rasa nyeri pada anak usia satu sampai enamanbelas tahun. Pendekatan secara nonfarmakologi yang sering dilakukan berupa pendekatan psikologis dengan cara memberikan penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan. fruktosa. anastesi regional. dan sakarin memberikan efek yang serupa (Bauer et al. berupa pemberian anastesi umum. (2002) dan Crutis et al. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan larutan sukrosa sebagai analgesik pada bayi baru lahir saat menjalani prosedur invasif minor dapat menurunkan respon nyeri. glukosa. Steven et al.5 Pendekatan intervensi untuk mengurangi nyeri akut biasanya lebih banyak dilakukan dengan pendekatan farmakologi. 2013 . anastesi local infiltrasi.. Penelitian yang dilakukan oleh Gradin et al... et al. 2005). Pendekatan farmakologi pada anak tidak seluruhnya dapat dilaksanakan karena kekhawatiran akan adanya efek samping yang ditimbulkan dari pemberian obat-obatan tersebut (American Academy Of Pediatrics. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2000). Penelitian lain yang serupa dilakukan oleh Devaera (2006) berupa pemberian oral larutan glukosa 30 % dapat menurunkan respon nyeri pada bayi baru lahir saat dilakukan prosedur pengambilan darah tumit. dan krim anastesi topikal. 2011). Ayu Yuliani Sekriptini... aspartan.

glukosa (35%).. University of Waikoto.. di Hamilton. relaksasi. Kadar protein dalam madu relatif kecil. madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen penyebab penyakit. Hasil penelitian Geonarwo et al. Selain berfungsi sebagai antibiotik madu memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka. katalase. FIK UI. Kandungan asam amino pada madu cukup beragam... sukrosa (1. lipase) yang memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh. Departement of Biological Sciences. Pemberian rasa manis untuk mengurangi rasa manis seperti pemberian sukrosa sudah pernah dilaksanakan di ruang bedah anak dan ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) di Rumah Sakit Umum Pendidikan Negri Dr. yang dihasilkan oleh lebah dari saripati beragam tanaman. investase.0%). peroksidase. Kandungan gizi utama madu adalah aneka senyawa karbohidrat seperti gula fruktosa (41. 2013 . dan guided imagery. beberapa penelitian memberikan informasi tentang manfaat madu untuk tubuh. Cipto Mangunkusumo dengan memberikan sukrosa 30% 2 ml pada anak dan bayi sebelum tindakan invasif. (2011) menyebutkan kandungan flavonoid yang terdapat dalam madu dapat menghambat nyeri yaitu dengan mekanisme kerja menghambat Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. sekitar 2. dan madu telah mendapatkan tempat yang istimewa dalam sejarah pengobatan tradisional serta mudah diperoleh. 2002). Selandia Baru membuktikan. Madu merupakan larutan yang memiliki rasa manis. Ayu Yuliani Sekriptini. diastase. Madu juga mengandung berbagai macam enzim (amylase. Asam amino berfungsi sebagian metabolisme protein tubuh.5%). Madu banyak diteliti oleh beberapa ahli.6 Fenomena pemberian intervensi non farmakologi di beberapa rumah sakit sudah sebagian dilakukan berupa distraksi. Karbohidrat madu ikut menambah pasokan sebagian energi yang diperlukan tubuh.9%). baik asam amino esensial maupun non-esensial. serta mengandung flavonoid yaitu pinocrembin (Purabaya.6%. dan dekstrin (1. Larutan manis yang banyak mengandung sukrosa dan glukosa terdapat dalam madu.

Pemberian madu belum pernah diberikan terkait dengan penurunan respon nyeri pada anak. Ayu Yuliani Sekriptini. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan pengambilan darah vena pada anak di ruang Unit Gawat Darurat. Jumlah kasus anak yang masuk ke ruang unit gawat darurat setahun terakhir ini ratarata per-bulan kurang lebih 300 orang anak dengan rata-rata usia 1-17 tahun. (Rekam Medik RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawiangun Kota Cirebon. 1. 2013 .. tidak mampu bergerak bebas. Nyeri menyebabkan anak menderita. sama seperti obat-obat analgetik antipiretik lain (NSAIDs). Perumusan Masalah Nyeri pada anak menimbulkan dampak negatif terhadap mutu kehidupan (quality of life). Intervensi non farmakologi untuk mengurangi nyeri yang dilakukan perawat berupa informasi tentang penjelasan pada anak dan orang tua saat tindakan akan dilakukan. 2011). Hasil observasi lapangan dan wawancara pada perawat yang dilakukan peneliti di RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon memberikan gambaran bahwa di ruangan perawatan anak ataupun di unit gawat darurat intervensi non farmakologi untuk mengurangi respon nyeri karena tindakan pengambilan darah belum dilakukan. gelisah. FIK UI. susah tidur. Sampai saat ini penulis belum mendapatkan adanya penelitian yang meneliti tentang keefektifan madu dalam menurunkan respon nyeri pada anak yang dilakukan tindakan pengambilan darah vena.7 pembentukan prostaglandin melalui penghambatan enzim cyclooxygenase. RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawiangun Kota Cirebon belum memiliki format skala nyeri yang digunakan baik untuk dewasa ataupun anak.. Intervensi pengambilan darah pada anak lebih sering dilakukan di unit gawat darurat daripada di ruang perawatan anak. perasaan tidak akan tertolong dan putus Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.2.. cemas.

Karenanya rasa manis pada madu mudah dapat diterima oleh anak-anak. Tujuan Umum Teridentifikasinya pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon.1. pengalaman nyeri sebelumnya.3. Madu merupakan salah satu obat alami yang banyak memiliki khasiat mengobati dan memiliki rasa manis.3. Tujun Penelitian 1. Penatalaksanaan mengurangi nyeri pada anak dengan intervensi nonfarmakologis salah satunya adalah dengan memberikan sensasi rasa manis pada anak. b. Rerata skor nyeri anak yang dilakukan pengambilan darah pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Berdasarkan uraian latar belakang diatas. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian adalah teridentifikasinya : a. Keadaan ini sangat mengganggu kehidupan normal anak sehari-hari sehingga penatalaksanaan nyeri yang efektif perlu dilakukan. dan aneka kue.. 2013 . permen. jenis kelamin. FIK UI. Gambaran karakteristik anak (usia. Salah satu sunber rasa manis selain sukrosa dan glukosa adalah madu.. sirup. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Anak-anak pada umumnya menyukai rasa manis seperti gula. 1.2.8 asa. Rasa manis yang sering diberikan dalam penelitian untuk mengurangi nyeri berupa pemberian sukrosa dan glukosa.3. pendampingan orang tua) saat dilakukan prosedur pengambilan darah di ruang unit gawat darurat. Ayu Yuliani Sekriptini.. maka pertanyaan yang akan diteliti ”Adakah pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intravena pada anak di ruang UGD RSUD Kota Cirebon?” 1.

d.. pendampingan orang tua).9 c. Manfaat Keilmuan Memberi gambaran dan informasi tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang unit gawat darurat.. 1. 1.3.4. Mafaat Penelitian 1. 2013 . Perbedaan rerata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak (usia. pengalaman nyeri sebelumnya. 1. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.4. Ayu Yuliani Sekriptini.2. jenis kelamin.1.. Manfaat Aplikatif Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada anak saat dilakukan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat sehingga dapat mengurangi terjadinya dampak traumatik dan hospitalisasi.4. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. FIK UI.4. Manfaat Metodologi Penelitian ini dapat menambah jumlah penelitian tentang perawatan pengaruh pemberian madu terhadap penurunan respon nyeri akibat tindakan tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang Unit Gawat Darurat dan dapat menjadi landasan penelitan selanjutnya.

1.. Nyeri pada anak. 2010). The Internaional Association for Study of Pain menyebutkan nyeri yaitu perasaan dan pengalaman emosi yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan kenyataan atau potensi terjadinya kerusakan jaringan atau gambaran yang berkaitan kerusakan jaringan tersebut (Drendel et al.. Interpretasi nyeri sifatnya subjektif. fleksi dan ekstensi alat gerak) dan perubahan fisiologis (perubahan laju 10 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Nyeri pada anak menjadi masalah oleh karena anak memberikan respon nyeri yang berbeda sesuai dengan tingkat usia pada anak (Mathew. wajah menyeringai. 2006. Ayu Yuliani Sekriptini. Nyeri Pada Anak 2. Nyeri mempunyai komponen sensori. Nyeri adalah segala sesuatu yang dikatakan seseorang tentang nyeri tersebut dan terjadi kapan saja seseorang mengatakan bahwa ia merasa nyeri (McCaffery & Pasero 2010). kognitif dan behavior yang saling berhubungan dengan faktor lingkungan. Mathew & Dickenson.. 2004). 2004. 2001.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. diinterpretasi dan diekspresikan melalui tingkah laku (menangis. 2002. komponen diskriminatori. Nyeri dan kecemasan dapat terjadi akibat suatu prosedur diagnostik atau terapi pada anak (Brusch & Zeltzer. Nyeri sangat penting sebagai mekanisme proteksi tubuh yang timbul bilamana jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang nyeri ini. Pengertian Nyeri Nyeri adalah suatu gejala dalam merasakan subyek dan pengalaman emosional serta termasuk suatu komponen sensori. FIK UI. sosio-kultur dan tumbuh kembang anak. Soyer et al. respon-respon yang mengantarkan ataupun reaksi-reaksi yang ditimbulkan oleh stimulus dalam suatu kasus nyeri (Latief. 2013 ..1.. emosi.1. 2003). Taddio et al.. 2009). Smatzler & Bare. dimana setiap orang akan mengeluarkan ekspresi yang berbeda dengan yang lainnya jika berhadapan dengan stimulus yang melukai.

2009.1. laju pernafasan. corpusculum paccini. 2010). afektif dan prikomotor. (2010) ada 4 proses yang mengikuti suatu proses nosisepsi yaitu : a.. suhu dirubah menjadi suatu aktifitas listrik yang akan diterima ujung-ujung saraf perifer (nerve ending) atau organ-organ tubuh (reseptor meisneri. 2008. dimana prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptorreseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin. Suatu stimuli kuat (noxion stimuli) seperti tekanan fisik kimia. sehingga hubungan nyeri dengan kerusakan jaringan tidak sama dan tidak konsisten. FIK UI. serotonin yang akan menimbulkan sensasi nyeri. modulasi dan persepsi. transmisi. 2. Ayu Yuliani Sekriptini.2. golgi mazoni). merkel. Daniela et al.. Menurut Latief (2001) dan Daniela et al. Srouji et al. dari beberapa definisi tersebut nyeri merupakan kombinasi dari respon sensorik. Rangkaian proses perjalanan yang menyertai antara kerusakan jaringan sampai dirasakan nyeri adalah suatu proses elektofisiologi... 2013 . Fisiologi Nyeri Perjalanan nyeri termasuk suatu rangkaian proses neurofisiologis kompleks yang disebut sebagai nosiseptif (nociception) yang merefleksikan empat proses komponen yang nyata yaitu transduksi.. jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa nyeri merupakan pengalaman yang universal yang berfungsi sebagai tanda penting bahwa tubuh tidak berfungsi atau mengalami kerusakan. sehingga laporan atau keluhan dari pasien merupakan penilaian yang paling mempunyai arti dalam menegakkan diagnosa nyeri (Petersen et al. Proses Transduksi Proses dimana stimulus noksius diubah ke impuls elektrikal pada ujung saraf. 2010). 2007. dan perubahan kimia darah). Kerusakan jaringan karena trauma baik trauma pembedahan atau trauma lainnya menyebabkan sintesa prostaglandin. dan nyeri itu bersifat subyektif.. dimana terjadinya stimuli yang kuat diperifer sampai dirasakannya nyeri di susunan saraf pusat (cortex cerebri) (Uman et al. Breivik et al.11 denyut jantung. Keadaan ini Universitas Indonesia Pengaruh pemberian....

2007. Traktus spinoretikularis terutama membawa rangsangan dari organ-organ yang lebih dalam dan viseral serta berhubungan dengan nyeri yang lebih ditekan dan melibatkan emosi.. Inilah yang menyebabkan persepsi nyeri sangat subjektif pada setiap orang (Uman et al.. Persepsi Hasil akhir dari proses interaksi yang kompleks dari proses tranduksi...12 dikenal sebagai sensitisasi perifer (Breivik et al. 2007.. Breivik et al. Analgesik endogen (enkefalin. Daniela et al. 2013 . d. Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di cortex cerebri dan dirasakan sebagai persepsi nyeri (Uman et al. 2008. Daniela et al.. c. FIK UI. 2008. serotonin. Proses Modulasi Proses modulasi merupakan perubahan transmisi nyeri yang terjadi pada susunan saraf pusat (medulla spinalis dan otak). noradrenalin) dapat menekan impuls nyeri pada kornu posterior medulla spinalis.. Proses terjadinya interaksi antara sistem analgesik endogen yang dihasilkan oleh tubuh kita dengan input nyeri yang masuk ke kornu posterior medulla spinalis merupakan proses ascenden yang dikontrol oleh otak. 2010). yang diperkirakan terjadi pada thalamus dengan korteks sebagai diskriminasi dari Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. dimana impuls tersebut mengalami modulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh tractus spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis.. endorphin. 2010). Kornu posterior sebagai pintu dapat terbuka dan tertutup untuk menyalurkan impuls nyeri untuk analgesik endogen tersebut.. Proses Transmisi Proses penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui serabut A-delta dan serabut C dari perifer ke medulla spinalis.. Daniela et al. 2010). Selain itu juga serabut-serabut saraf disini mempunyai sinaps interneuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan bermielin. b. transmisi dan modulasi yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu proses subjektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri.

13

sensorik (Uman et al., 2007; Breivik et al., 2008; Daniela et al., 2010).
Secara skematis, jaras persepsi nyeri seperti terlihat pada gambar 2.1.

Sumber : www.medscape.com

Gambar 2.1. Perjalanan Nyeri
2.1.3. Klasifikasi Nyeri
Respon individu yang berbeda-beda tentang nyeri membuat sulit
mengkategorikan jenis nyeri yang dirasakan dan mengatahui penyebab
nyeri itu sendiri. Nyeri memiliki sifat yang unik pada setiap individual
bahkan jika cedera fisik terjadi respon nyeri pada individu satu tidak sama
pada individual lainnya. Adanya takut, marah, kecemasan, depresi dan
kelelahan akan mempengaruhi bagaimana nyeri itu dirasakan. Salah satu
pendekatan yang dapat dilakukan untuk membedakan

nyeri adalah

berdasarkan durasi (akut, kronik), patofisiologi (nosiseptif, nyeri
neuropatik) dan etiologi (paska pembedahan, kanker) (Ratnapalan et al.,
2010; Daniela et al., 2010).

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

14

Klasifikasi nyeri terdiri dari :
a. Nyeri Akut dan Kronik
Nyeri akut merupakan nyeri yang terjadi secara tiba-tiba yang bisa
disebabkan oleh injuri, penyakit, ataupun pembedahan (McCaffrey, &
Pasero, 2010). Nyeri akut merupakan indikator terjadinya kerusakan
jaringan, yang memberitahukan individu untuk melindungi area yang
terkena dari injuri lebih lanjut. Karakteristik nyeri akut ini terdiri dari:
komunikasi tentang nyeri dideskripsikan, perilaku sangat berhati-hati,
memusatkan diri, fokus perhatian rendah (perubahan persepsi waktu,
menarik diri dari hubungan sosial, gangguan proses pikir), perilaku
distraksi (mengerang, menangis, dan lain-lain), raut wajah kesakitan,
perubahan tonus otot, respon autonom (diaforesis, perubahan tekanan
darah dan nadi, dilatasi pupil, penurunan atau peningkatan frekuensi
pernapasan). Nyeri kronik muncul jika masih dirasakan setelah
pengobatan terhadap injuri tidak ada kerangka waktu yang ditentukan.
Nyeri kronik juga tampak sebagai ketidakmampuan tubuh untuk
mencegah interpretasi sinyal dan gejala nyeri setelah injuri diatasi.
Nyeri ini berkembang lebih lambat dan terjadi dalam waktu lebih lama
dan pasien sering sulit mengingat sejak kapan nyeri mulai dirasakan,
karakteristik nyeri ini terdiri dari; individu melaporkan bahwa nyeri
telah ada lebih dari 6 bulan, ketidaknyaman, marah, frustasi, depresi
karena situasi, raut wajah kesakitan, anoreksia, penurunan berat badan,
insomnia, gerakan yang sangat berhati-hati dan spasme otot
(Ratnapalan et al., 2010).
b. Nosiseptif dan Nyeri Neuropatik
Nyeri organik bisa dibagi menjadi nosiseptif dan nyeri neuropatik.
Nyeri nosiseptif adalah nyeri inflamasi yang dihasilkan oleh
rangsangan kimia, mekanik dan suhu yang menyebabkan aktifasi
maupun sensitisasi pada nosiseptor perifer (saraf yang bertanggung
jawab terhadap rangsang nyeri). Nyeri nosiseptif

biasanya

memberikan respon terhadap analgesik opioid atau non opioid. Nyeri
nociceptive merupakan persepsi sensorik terhadap kerusakan atau

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

15

potensial kerusakan pada jaringan akibat trauma atau penyakit. Nyeri
ini terjadi sebagai akibat rangsangan reseptor dan dapat berupa nyeri
akut maupun kronis. Nyeri neuropati yang bisa berupa nyeri akut
maupun kronis, disebabkan oleh cedera atau penyakit yang secara
langsung mempengaruhi sistem saraf. Nyeri sentral juga merupakan
nyeri kronik yang terjadi lebih disebabkan oleh kerusakan saraf. Nyeri
neuropatik merupakan nyeri yang ditimbulkan akibat kerusakan neural
pada saraf perifer maupun pada sistem saraf pusat yang meliputi jalur
saraf aferen sentral dan perifer, biasanya digambarkan dengan rasa
terbakar dan menusuk. Pasien yang mengalami nyeri neuropatik sering
memberi respon yang kurang baik terhadap analgesik opioid (Potter &
Perry 2005; McCaffrey, & Pasero, 2010; Daniela et al., 2010).
c. Nyeri Viseral
Nyeri viseral biasanya menjalar dan mengarah ke daerah permukaan
tubuh jauh dari tempat nyeri namun berasal dari dermatom yang sama
dengan asal nyeri. Nyeri viseral terjadi karena kontraksi ritmis otot
polos. Penyebab nyeri viseral termasuk iskemia, peregangan ligamen,
spasme otot polos, distensi struktur lunak seperti kantung empedu,
saluran empedu, atau ureter. Distensi pada organ lunak menimbulkan
respon nyeri karena terjadinya peregangan jaringan dan dapat
menyebabkan iskemia daerah sekitarnya, adanya kompresi pembuluh
darah pada organ lunak tersebut dan menyebabkan distensi berlebih
dari jaringan yang dapat menimbulkan nyeri (McCaffrey, & Pasero,
2010; Daniela et al., 2010).
d. Nyeri Somatik
Nyeri somatis permukaan atau superfisial adalah akibat stimulasi
nociceptor di dalam kulit atau jaringan subkutan dan mukosa yang
mendasari. Hal ini ditandai dengan adanya sensasi atau rasa berdenyut,
panas atau tertusuk, kemungkinan berkaitan dengan rasa nyeri yang
disebabkan oleh stimulus yang secara normal tidak mengakibatkan
nyeri

dan hiperalgesia. Jenis nyeri ini biasanya konstan dan jelas

lokasinya. Nyeri superfisial biasanya terjadi sebagai respon terhadap

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

.1.4. Penelitian Kenneth et al. 2010). luka gores dan luka bakar superfisial. (2006) menjelaskan bahwa perkembangan usia anak mempengaruhi makna nyeri dan ekspresi yang dimunculkan. Faktor-faktor ini dapat meningkatkan atau menurunkan persepsi nyeri pasien. seringkali terjadi kesalahpahaman arti dan penyebab sakit. Usia Usia dalam hal ini merupakan variabel yang penting yang mempengaruhi nyeri terutama pada anak-anak (Potter & Perry. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Nyeri merupakan hal yang kompleks. 2011). toleransi terhadap nyeri dan mempengaruhi reaksi terhadap nyeri (Le Mone & Burke. & Pasero.. Perbedaan tingkat perkembangan yang ditemukan antara kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap nyeri (Daniela et al. Czarnecki et al. Berlawanan dengan nyeri tumpul yang berkaitan dengan organ dalam.. 2. Respon nyeri pada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Usia prasekolah membutuhkan penjelasan yang berulang kali dan diyakinkan bahwa prosedur dan pengalaman yang menyakitkan bukan merupakan hukuman untuk perilaku buruk. banyak faktor yang mempengaruhi pengalaman seseorang terhadap nyeri.. 2013 . Anak prasekolah memiliki sedikit pemahaman tentang sebab nyeri yang dirasakan. 2005). Nyeri somatis dalam diakibatkan oleh jejas pada struktur dinding tubuh (misalnya otot rangka atau skelet). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi reaksi nyeri tersebut antara lain: a. 2010). nyeri somatis dapat diketahui di mana lokasi persisnya pada tubuh. beberapa menyebar ke daerah sekitarnya (McCaffrey. FIK UI. 2008. Ayu Yuliani Sekriptini. Usia bayi memberikan respon nyeri dengan menangis dan lebih mudah ditenangkan kembali dengan dipeluk oleh orang tuanya... usia prasekolah memiliki sifat egosentris dalam pemikirannya dan percaya bahwa semua kejadian dan sensasi berasal dari dunia internal mereka.16 luka terpotong.

sedangkan anak laki-laki diberitahu untuk berani dan tidak menangis (Taylor et al. peran kelompok sangat berpengaruh.. Usia remaja mampu berpikir abstrak dan memiliki pemahaman tentang hubungan sebab akibat. 2013 . pengalaman ekspresi. dan dahi berkerut. gigi terkatup. 2003). FIK UI. anak usia sekolah mampu berfikir lebih logis dan wajar.. Anak usia sekolah memberikan respon fisik berupa tangan mengepal.. Anak remaja kadang menyangkal rasa sakit di hadapan keluarga atau teman sebaya. Ayu Yuliani Sekriptini.17 anak usia sekolah sering berupa penolakan dengan menggerakan daerah yang menyakitkan. Karakteristik jenis kelamin dan hubungannya dengan sifat keterpaparan dan tingkat kerentanan memegang peranan tersendiri. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2008). 2005). Secara bertahap. dapat di ajak kerja sama dan cenderung berorientasi menjadi sebuah prestasi bagi dirinya.. b. Beberapa penelitian menjelaskan perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan tidak terlalu berpengaruh terhadap respon nyeri. Anak-anak belajar bahwa terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam mengekspresikan nyeri dimana anak perempuan boleh pulang ke rumah sambil menangis ketika lututnya terluka. Jenis Kelamin Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam berespon terhadap nyeri. Toleransi terhadap nyeri dipengaruhi faktorfaktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada individu tanpa memperhatikan jenis kelamin (Potter & Perry. dan kondisi situasional yang mempengaruhi dan bagaimana anak menanggapi nyeri (Mathew. dalam penelian tersebut lebih menjelaskan perbedaan jenis kelamin hanya karena sensitivitas. Bagaimana proses sosialisasi remaja mempengaruhi pengalaman nyeri tetap memahami dalam konsep nyeri.

. (2004) dan Loeser et al. orang yang sering mengalami nyeri dalam hidupnya. 2012). Umumnya.. makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan oleh nyeri tersebut. Hasil menunjukkan pengalaman nyeri sebelumnya pada anak-anak berhubungan dengan rasa takut dari waktu ke waktu dan mempengaruhi pengalaman nyeri yang baru. d. dan diobservasi ekspresi wajah yang muncul pada anak yang dilakukan wawancara. Ayu Yuliani Sekriptini. pengalaman nyeri minimal 1 tahun yang lalu. Pengalarnan individu dengan nyeri yang dialami... Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penelitian Noel et al. (2008) pada usia remaja menjelaskan adanya perbedaan respon nyeri antara anak remaja laki-laki dan perempuan dimana hasil penelitian tersebut menyebutkan bahwa anak perempuan memiliki skor intensitas nyeri tinggi. 2006).18 Penelitian Logan et al. kebisingan. dengan kriteria anak yang mempunyai pengalaman operasi dan pernah dilakukan venipuncture.. Banyak keluarga orang juga yang dapat merasa lingkungan pelayanan kesehatan yang asing. Lingkungan dan Dukungan Orang Terdekat Lingkungan mempengaruhi dan kehadiran nyeri dukungan seseorang. dapat menambah nyeri yang dirasakan (Craig et al.. aktivitas yang sama di ruang perawatan intensif. cenderung mengantisipasi terjadinya nyeri yang lebih hebat (Schmitz et al. tetapi penelitian tersebut tidak menunjukkan perbedaan jenis kelamin dalam penggunaan obat pereda nyeri sejenis opioid setelah tindakan operasi. Pengalaman Nyeri Sebelumnya Pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang tentang nyeri. (2012). c. kemudian dilakukan wawancara pengalaman nyeri yang pernah dialami.. meneliti pengaruh pengalaman anakanak untuk stimulus nyeri baru pada pengalaman nyeri berikutnya. 50 perempuan) berusia 8 sampai 12 tahun. khususnya cahaya. Penelitian melibatkan 110 anak yang sehat (60 anak laki-laki. 2013 . FIK UI.

FIK UI.36 sampai dengan 1. 2013 . Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. secara statistik signifikan (p<0. Usia rata-rata kasus dengan didampingi petugas rumah sakit adalah 4. Efek perilaku Pasien yang mengalami nyeri menunjukkan ekspresi wajah dan gerakan tubuh yang khas dan berespon secara vokal serta mengalami kerusakan dalam interaksi sosial.5. Penelitian dilakukan secara acak menjadi dua kelompok.. Efek Yang Ditimbulkan Oleh Nyeri Efek nyeri pada setiap individu hampir sama baik pada dewasa ataupun pada anak-anak. Hasil penelitian diperoleh usia rata-rata kasus dengan didampingi orang tua mereka adalah usia 4. (2011). Sangat penting untuk mengkaji tanda-tanda vital dan pemeriksaan fisik termasuk mengobservasi keterlibatan saraf otonom. Penilaian skor nyeri menggunakan Wong-Baker FACES. et al.1. Respon fisiologis nyeri akut meliputi perubahan denyut jantung. b.05). dan ftekuensi pernapasan yang meningkat. Tanda dan gejala fisik Tanda fisiologis dapat menunjukkan nyeri pada pasien yang berupaya untuk tidak mengeluh atau mengakui ketidaknyamanan. Selama prosedur venipuncture dilakukan pengukuran tanda vital... dan kelompok kedua hanya didampingi oleh anggota staf rumah sakit. frekuensi pernafasan dan denyut jantung.23 tahun. Selama prosedur venipuncture rata-rata nyeri anak pada kelompok 2 diperoleh Wong-Baker skor lebih tinggi 3 kali dari pada kelompok 1. Melakukan penelitian pada 135 anak dengan rentang usia 3-6 tahun akan dilakukan tindakan venipuncture di klinik rawat jalan anak. Ayu Yuliani Sekriptini.41 tahun. 2.19 sampai dengan 1. kelompok pertama kelompok yang didampingi oleh orang tua. efek yang ditimbulkan oleh nyeri terdiri dari : a. tekanan darah. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran orangtua memiliki pengaruh efek yang positif pada toleransi sakit anak.19 Penelitian Ozcetin. Pasien seringkali meringis.

2000. 2009). Manajemen nyeri seharusnya menjadi prioritas untuk mengatasi masalah tersebut. Kunci keberhasilan penatalaksanaan nyeri pada anak adalah dengan pemeriksaan nyeri yang baik (Herd et al. Terdapat variasi yang luas dalam tatalaksana nyeri pada berbagai unit gawat darurat dan pelayanan kesehatan profesional.. Ayu Yuliani Sekriptini.. Ellis et al. cemas dan stres. Penatalaksanaan Nyeri Pada Anak Penataksanaan nyeri sering tidak dilakukan secara adekuat pada anak oleh karena anak diangap tidak dapat merasakan nyeri.. 2013 . Nyeri yang tidak berkurang dapat menyebabkan konsekwensi pada gangguan prilaku. Crowley et.1. Pada anak yang mengalami prosedur invasif minor tanpa intervensi penurunkan nyeri memiliki dampak yang panjang dalam respond dan persepsi anak terhadap nyeri.6. menghindari kontak sosial dan hanya fokus pada aktivitas menghilangkan nyeri. imobilisasi. Pengaruh Pada Aktivitas Sehari-hari Pasien yang mengalami nyeri setiap hari kurang mampu berpartisipasi dalam aktivitas rutin. 2008). 2008. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... c. gelisah. FIK UI. seperti mengalami kesulitan dalam melakukan tindakan higiene normal dan dapat menganggu aktivitas sosial. Suatu studi retrospektif menyatakan hanya 28% anak-anak yang masuk ke unit gawat darurat memperoleh intervensi farmakologi untuk mengurangi nyeri yang adekuat sedangkan pada dewasa mencapai 60% (Cohen. 2..20 mengernyitkan dahi. 2010). mengalami ketegangan otot.al. Gangguan stress pasca trauma dapat timbul setelah pengalaman prosedur yang tidak disertai denan pengendalian nyeri yang tepat (Larsson et al. Nyeri seringkali dikaitkan dengan rasa takut. Movahaedi 2006). 2004. psikososial dan fisiologi jangka panjang (Wanga et al. melakukan gerakan melindungi bagian tubuh sampai dengan menghinndari percakapan.. menggigit bibir.

2009). Ayu Yuliani Sekriptini.. 2000. Obat-obatan yang disering digunakan misalnya LET (Lidokain. FIK UI. 2002. 2010) : Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.21 Tehnik farmakologi yang sering diberikan saat prosedur pengambilan darah pada anak untuk mengurangi nyeri lebih sering menggunakan pendekatan farmakologis berupa anastesi topikal berupa oles maupun anastesi semprot (Arrowsmith & Campbell. Lyon & Mackway. William & Zempsky. EMLA (Eutectic Mixture of Local Anesthetics) sebagai salah satu anastesi topical yang paling sering digunakan (Kelly.. Wanga et al. dan Tetrakain). ketakutan dan kecemasan. tehnik-tehnik ini juga dapat menurunkan persepsi ancaman nyeri. Epinefrin. 2008).. Gimbler-Berglund et al. Srouji. Terdapat berbagai metode penelitian non farmakologi yang dapat digunakan untuk menurangi rasa nyeri. 2008. 2000. 2005). 2003. Beberapa peneliti menyebutkan ada berbagai macam tehnik non farmakologik yang dapat diberikan pada anak unuk mengurangi nyeri seperti misalnya distraksi. Intervensi non farmakologis yang dapat diberikan diantaranya (Zempsky. relaksasi. Soyer et al. 2006.. menurunkan kecemasan dan meningkatkan kefektifan analgesik atau mengurangi dosis yang diperlukan (American Pain Society... membuat nyeri dapat lebih ditoleransi. Gimbler-Berglund. Amy et al. 2008. guided imagery dan stimulasi memberikan strategi koping yang dapat membantu mengurangi persepsi nyeri. 2013 . 2000). sedangkan sendekatan non farmakologik yang paling sering sering digunakan di unit gawat darurat berupa mendatangkan orang tua saat dilakukan intervensi. Sebagai tambahan. memberikan kemampuan mengontrol nyeri. meningkatkan rasa nyaman dan meningkatkan istirahat dan tidur (Huether & Leo.. Pamella & Macintyre. Pendekatan yang ada mempunyai efektivitas dan keamanan yang cukup baik.

Pemberian Informasi Informasi yang diberikan kepada anak dan anggota keluarga sehingga mengerti kondisi sakit. Penelitian Wanga. c. Metode yang paling sering digunakan antara lain : pengunaan gelembung sabun. b.. menyebutkan intervensi non farmakologis berupa metoda pengalihan dapat mengurangi nyeri dan stress dalam prosedur invasif pada anak. Ayu Yuliani Sekriptini. Dengan demikian pasien juga dilibatkan dalam menentukan cara untuk mengontrol nyeri. dan kelompok anak ketiga menerima intervensi psikologis. video games. masing-masing anak terbagi dalam 3 kelompok. penilaian nyeri menggunakan skala Visual Analogue Scale (VAS) dan Cooperative Behavior Scale of Children in Venepuncture (CBSCV). dan Chena (2008). Pengalihan Metode pengalihan dengan berbagai aktifitas membantu anak dari berbagai usia untuk menghilangkan nyeri. Penelitian melibatkan 300 anak usia 8-9 tahun dilakukan tindakan penyuntikan akses vena.. Pengontrolan pernafasan dan relaksasi otot merupakan metode yang paling sering digunakan untuk anak usia pra-sekolah dan usia yang lebih tua. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. telepon. 2008). Relaksasi Tehnik relaksasi akan memberikan relaksasi otot dan mengurangi kecemasan yang sering menyertai dan meningkatkan nyeri. prosedur yang akan dilakukan serta pengobatan yang akan diberikan. dan permainan (Kelly. Hasil penelitian menunjukkan intervensi non farmakologi dengan mengunakan audiovisiual lebih efektif dibandingkan intervensi psikologis dan dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan keberhasilan penyuntikan ke vena. kelopok anak kedua di beri audiovisual dengan menonton film kartun saat penyuntikan. 2000.. Sunb. Loeser et al.. FIK UI.22 a. televise. kelompok pertama diberi intervensi non farmakologis yang berbeda. 2013 . musik.

e.. memberikan hasil ada pengaruh yang signifikan intervensi hipnotis dengan EMLA di banding intervensi EMLA saja pada saat pengambilan darah pada anak dengan p < 0. 2002. Gradin et al. FIK UI. Penerian sukrosa 25 % sebanyak 2 ml selama 60 detik dilakukan 2 menit sebelum tindakan invasif dengan 5 menit sebelumnya diukur denyut nadi dan nilai oksimetri bayi. (2008). Penelitian Liossi. Intervensi ini baik untuk anak usia sekolah atau remaja (William et al... Toronto. Carbajal et al. mengurangi pengalaman sensoris serta membantu anak untuk mengontrol perasaannya. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ontario dengan jumlah responden 240 bayi baru lahir.. Penelitian eksperiman di ruang NICU rumah sakit Mount Sinai Hospital.23 d. 2009). 2002... Hipnoterapi Hipnoterapi membatu anak untuk membayangkan pengalaman yang menyenangkan yang pernah dialami. 2013 . dengan responden 46 anak antara usia 6-16 tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Taddio et al. 2003). 2004. membandingkan intervensi anstesi EMLA dan hinoptis dengan pemberian EMLA saat pengambilan darah pada anak. Peranan hipnoterapi adalah mengalihkan perhatian.001. Pemberian rasa manis Penelitian menyebutkan pemberian sukrosa atau glukosa untuk mengurangi nyeri sangat baik diberikan pada neonatus. tusuk tumit dan pengambilan contoh darah. menyebutkan sukrosa 25 % dapat memberikan efek analgesik pada bayi baru lahir saat dilakukan prosedur indakan invasif... Ayu Yuliani Sekriptini. Sukrosa atau glukosa dapat menurunkan respon terhadap stimulus yang menimbulkan nyeri seperti saat pengambilan darah dari tumit dan injeksi pada neonatus.. White dan Hatira (2006). dapat juga diberikan sampai usia 3 bulan. Zempsky et al. Dilakukan tiga (3) intervensi invasif diataranya penguntikan intra muskuler. Pengaruh ini tampaknya paling kuat saat bayi baru lahir dan nenurun secara bertahap selama 6 bulan pertama kehidupan (Eichenfield et al.

Penelitian Jatana.24 kemudian dilakukan tindakan intervensi dan di lakukan penilaian skala nyeri 30 detik setelah tindakan invasif dengan menggunakan skala nyeri Premature Infant Pain Profile (PPIP). kelompok pertama diberi glukosa 10 %. Tentang efek analgesik pada pemberian glukosa pada neonatus. dengan pemberian placebo pada kelompok kontrol. bayi yang diberi sukrosa dengan tidakan pengambilan darah memiliki skor nyeri yang lebih rendah dibandingkan dengan penyuntikan intramuskuler vit K dan tusuk tumit dengan CI 95% p < 0. Penelitian dilakukan pada 125 bayi baru lahir normal yang akan di lakukan tusuk tumik dengan dibagi tiga kelompok perlakukan pemberian glukosa.29. Ayu Yuliani Sekriptini. Enam puluh bayi prematur yang sehat usia kehamilan 28-37 minggu dan usia 2-28 hari setelah kelahiran secara acak diberi 2 ml salah satu dari tiga solusi (air steril. double-blind. Deshmukh. setelah pengukuran skala nyeri bayi dinilai kembali denyut nadi dan nilai oksimetri.. Hasil memberikan gambaran ada penurunan yang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 10 % glukosa dan 25 % glukosa ) per-oral 2 menit sebelum venipuncture. melakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh perbedaan konsentrasi glukosa pada pengukuran nyeri neonatal selama venipuncture. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek analgesik pada pemberian glokosa 25 % dan 50 % (p<0.. Penelitian Laxmikant. dan Udani (2002).05). Hasil penelitian menunjukkan. FIK UI. 2013 . Dalal. Penelitian dilakukan di unit perawatan intensif neonatal di Raja Edward Memorial Hospital. sebelum penusukkann tumit masing-masing kelompok bayi di lakukan denyut jantung dan saturasi oksigen.. kemudian dilakukan rekaman suara tangisan saat penusukkan dan di ukur rata-rata durasi menangis pada masing-masing kelompok. kelompok kedua diberi glukosa 25 % dan kelompok ke tiga diberi glukosa 50 %. dan Wilson (2003). Larutan glukosa diberikan 2 menit sebelum tindakan penusukkan tumit. Menggunakan metoda random.

akan memberi manfaat bagi anak. 2001. Dinding yang berwarna bergambar serta kumpulan mainan akan mengurani ketakutan yang ditimbulkan oleh lingkungan yang asing. Dengan kesimpulan bahwa larutan glukosa terkonsentrasi dapat mengurangi rasa sakit dan memiliki efek analgesik serta aman untuk prosedur minor pada neonatus. laju pernapasan atau saturasi oksigen. 2004... Lingkungan ruangan Menciptakan suatu lingkungan yang tepat merupakan hal yang esensial untuk mengurangi nyeri dan kecamasan pada seorang anak di unit gawat darurat. 2013 .. Ayu Yuliani Sekriptini. Kamar ini sebaiknya telah menyediakan lingkungan yang bersahabat dan menenangkan. 2004. Zempsky & Cravero. Perawat di ruang unit gawat darurat mempunyai peranan penting untuk mengurangi kecemasan dan persepsi nyeri pada anak dengan cara mengajarkan tehnik sederhana da mendukung keterlibatan keluarga. 2004). 2. idealnya masing-masing anak ditempatkan pada satu kamar pribadi. 2004).1. Tidak ada efek yang signifikan pada detak jantung. 2004).7.25 signifikan dalam durasi tangisan pertama pada bayi yang diberikan 25 % glukosa dibandingkan dengan kontrol dan diberikan 10 % glukosa. Mengijinkan tetapi bukan mengharuskan kehadiran keluarga saat prosedur invasif yang menimbulkan nyeri dilakukan. Bursch & Zeltzer. namun kehadiran mereka mengurangi kecemasan orang tua dan anak (American Academy of Pediaric.. Penelitian yang dilakukan oleh Ellis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI. f. Brusch & Zeltzer. Penatakalsanaan non farmakologik ini yang disertai oleh adanya dukungan emosional merupakan hal utama untuk memberikan lingkungan yang nyaman bagi anak (Zempsky & Cravero. Meskipun tidak terdapat bukti bahwa kehadiran keluarga dapat ngurangi nyeri. Pengendalian nyeri di unit gawat darurat Penelitian menyebutkan hampir 90% pasien yang masuk ke unit gawat darurat mendapatkan intervensi medis berhubungan dengan prosedur jarum suntik (Zempsky et al.

2002). injeksi intramuscular 5%. infus 13%. pemberian terapi atau anastesi lumbal 1% dan penyuntikan insulin 0. Pengambilan darah sering dilakukan di unit gawat darurat untuk mentukan jenis penyakit yang diderita oleh pasien.. pengambilan darah kapiler 11%. pengambilan darah vena 63%. Joseph & Cravero. Frekuensi mengurangi nyeri dengan farmakologis di Amerika Serikat untuk pengambilan darah adalah 40% sedangkan menggunakan non farmakologis hanya mencapai 10% (Acharya et al. Port-a-cath access 7%. dan seluruh prosedur tersebut menimbulkan respon nyeri yang bervariasi pada anak (CI 95% p < 0.. masih ada tenaga kesehatan yang beranggapan bahwa anak-anak tidak merasa sakit yang sama dilakukan oleh orang dewasa dan rasa sakit yang tidak memiliki konsekuensi yang tak diinginkan pada anak-anak.. 2009).01). Nyeri anak diremehkan karena kurangnya alat penilaian yang memadai dan ketidakmampuan untuk menjelaskan berbagai tahap perkembangan anak-anak.. Penelitian menyebutkan pengendalian nyeri di emergensi dapat dilakukan dengan farmakologi dan non farmakologi (Zempsky.26 et al. di mulai dari arena pra-rumah sakit saat pertama kali anak masuk ke gawat darurat. 2008). Nyeri sering undermedicated karena kekhawatiran terjadinya oversedation. 2004).5%.. Beberapa hambatan secara umum yang terjadi di unit gawat darurat dapat muncul secara intrinsik yaitu tidak memadainya obat-obatan analgesia khususnya pada anak (Soyer et al. Pengendalian rasa sakit dan kecemasan pada anak.. tidak terdapatnya penilaian skala nyeri pada anak. Ayu Yuliani Sekriptini. depresi pernafasan. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pengambilan darah vena merupakan prosedur pemeriksaan yang sering dikerjakan pada pasien anak di unit gawat darurat dan prosedur ini merupakan sumber nyeri yang paling sering dirasakan bagi anak (Eichenfield et al. (2004) selama 23 hari di rumah sakit Kanada memberikan gambaran bahwa terdapat 387 prosedur rumah sakit berhubungan dengan jarum suntik terdiri dari. 2013 . FIK UI..

& Gilbert. 2010). Manajemen nyeri yang optimal memerlukan pemahaman yang menyeluruh tentang penilaian nyeri dan manajemen strategis ruangan yang baik (Zempsky. Ayu Yuliani Sekriptini. jumlah pasien yang tidak dapat diperkirakan..27 kecanduan. kognitif (self report). Dowling. Lilley.. Unit gawat darurat lebih cenderung menggunakan intervensi farmakologis dari pada non farmakologis (Crowley et al. Komponen kognitif biasanya diukur dengan cara kuesioner.1.. 2007). 2013 . penggunaan anestesi topikal jarang diberikan karena kekhawatiran tentang keterlambatan dalam pengobatan. 2004). 2000.. dituntut intervensi yang lebih cepat. 2. FIK UI. dan ketidakbiasaan dengan penggunaan obat penenang dan analgesik agen pada anak-anak (Breau et al. 2000). Dalam ruang gawat darurat. anak-anak sering masuk dengan gejala yang tidak jelas yang berdampak kesulitan dalam mentukan diagnosa medis (Craig. 2006). 2000. skala penilaian belum memadai. kondisi ruang gawat darurat yang sibuk. dan memberontak. selain itu. tidak adanya ruangan khusus (Twycross. dan kecemasan orangtua (Zempsky. skala deskriptif kualitatif taupun kuntitatif. 2000). misalnya menangis. Komponen tingkah laku biasanya diukur dengan suatu chek list tingkah laku yang dijumpai sewaktu anak mengalami rasa nyeri. pemberian intervensi farmakologi biasanya digunakan untuk nyeri dalam. Intervensi non farmakologis mengalami hambatan kurangnya pengetahuan petugas tentang skala nyeri pada anak. Beisang. 2003). menyeringai. biaya. atau kurangnya ketersediaan. wawancara. dan fisiologik (Desparment-Sheridan. Faktor-faktor tersebut membuat penilaian petugas kesehatan merasa kesuitan.. tingkah laku (behavioral).8. yang dibuat untuk mengetahui intensitas nyeri pada anak. Komponen fisiologis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Komponen tingkah laku ini digunakan pada bayi atau anak yang belum biasa berkomunikasi secara verbal. Penilaian Nyeri Penilaian nyeri berdasarkan 3 komponen penting yaitu.

Zempsky & Schecter.. kadar kortisol. sehingga dapat menggukan Visual Analog Scale (VAS) dengan ketentuan yang selalu digunakan pada anak lebih besar dan melibatkan garis 10 cm yang telah ditentukan kedua ujungnya (“tidak sakit” dan “sangat sakit”). 2013 . 2010.. Zempsky & Schecter. & Schneeweiss. 2003. Ratnapalan. Berbagai skala menggunakan pengukuran gabungan nyeri telah elemen-elemen dikembangkan fisiologis dan dengan perilaku (behavioral). & Schneeweiss. 2003). Srouji. misalnya Color Analogue Scale (CAS). Pada bayi hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh karena bayi tidak dapat menyampaikan secara verbal apa yang sedang dirasakannya (Curtis et al. Anak usia 3-8 tahun diperiksa dengan alat yang sesuai yang sudah mengalami perkembangan. kadar oksigen. Taddio et al. & Schneeweiss. Oucher Scale dan Faces Scale (Desparment-Sheridan. namun pada dasarnya komponen kognitif anak sendiri yang dapat menentukan tentang apa yang sedang dirasakannya (Bulloch & Tenenbein.1 berikut (Zempsky & Schecter. 2007. 2003. 2003. lokasi dan kualitas nyeri (William.. Ratnapalan. Anak-anak usia lebih dari 8 tahun umumnya sudah dapat melaporkan sendiri intensitas. 2010). 2005). Srouji. Srouji. frekuensi pernafasan.. Ratnapalan. 2003). dan kadar endorphin dalam darah (Desparment-Sheridan. 2010).28 diukur dengan cara menilai frekuensi denyut jantung. 2002. 2010). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. et al. FIK UI.. Ayu Yuliani Sekriptini. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa parameter psikologis dan pengamatan orang tua dapat membantu pemeriksaan nyeri pada anak. seperti yang tertera dalam tabel 2.

FIK UI. What’s New in The Management of Pain in Childrens Skala untuk pemeriksaan nyeri pada anak sebagaimana telah disebutkan di atas telah diteliti secara ektensif. Newman... et al....1. pada 122 anak-anak Thailan usia 4-15 tahun. tetapi masih sangat sedikit diteliti untuk menentukan validitas alat-alat tersebut pada nak di Negara berkembang. Ayu Yuliani Sekriptini.L. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penilaian Klinis Nyeri Physiologic  Frekuesi pernafasan  Fekuansi nadi  Tekanan darah  Kadar kortisol      Behavioral Gerakan tubuh Gerakan wajah Menangis Postur tubuh Pola nafas Self Report Usia 3-8 tahun:  Oucher Scale  Faces Scale  FLACC  CFCS  Faces Pain Scale  Poker Chip Toll  Colored analogue Scale Usia lebih dari 9 tahun :  Visual Analogue Sacale  McGil Pain  Pediatric Pain Questionnaire Composite Infant  CRIES  Neonatal Facial action Coding System  NAPI  MAX  NIPS  PPIP  SUN  OPS  DAN Usia 2-7 tahun :  CHEOPS  COMFORT  OSBD  OPS  TPPPS  AUCHER Usia 8 tahun lebih  Adolescent Pediatric Pain Tool  VarniThompson Pediatric Pain Questionnare  The McGill Pain Questionnaire Sumber : Zempsky W. Ketiga alat tersebut ternyata mempunyai korelasi yang baik pada anak usia diatas 4 tahun dan validitas yang cukup konvergen (Newman et al.29 Tabel 2. dan Face Pain Scale-Revised (FPS-R). N.. (2005). Wong-Baker Faces Pain Ratting (WBFPS). di Thailan telah meneliti validitas tiga skala nyeri yang sering digunakan yaitu Visual analog Scale (VAS). 2013 . Schecter. 2005).T.

2005. dimulai dari senyuman sampai menangis karena kesakitan. Legs. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Toddler Preschool Postoperative Pain Scale (TPPPS). Ayu Yuliani Sekriptini. menguji validitas empat skala nyeri antara Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOP).. Petersen et al.. FIK UI. 2013 . seperti anak-anak. Activity. penelitian dilakukan di Thailan dengan 167 anak antara usia 1-5. Intensitas nyeri harus dinilai sedini mungkin selama pasien dapat berkomunikasi dan menunjukkan ekspresi nyeri yang dirasakan. Wong-Baker Faces Pain Rating Scale Skala dengan enam gambar wajah dengan ekspresi yang berbeda. et al. Consolability (FLACC). Kedua alat tersebut ternyata mempunyai korelasi yang baik dan validitas yang cukup konvergen untuk di gunakan di unit emergensi. Skala ini berguna pada pasien dengan gangguan komunikasi. hasil penelitian memnunjukkan dari ke-empat skala tersebut skala CHEOP lebih valid. 2010). yang dilakukan di unit gawat darurat menggunkan dua skala nyeri yaitu Color Analog Scale (CAS) dan 7 poin Faces Pain Scale (FPS) pada 60 anak dengan rata-rata usia 3-9 tahun. pasien yang kebingungan atau pada pasien yang tidak mengerti dengan bahasa lokal setempat. a.. Perilaku anak-anak di rekam sebelum dan setelah operasi. Skala penilaian nyeri dan keterangan pasien digunakan untuk menilai derajat nyeri. Penelitian Suraseranivongse. McCaffrey & Pasero. reliabel dan praktis digunakan pada anak dengan prosedural operasi. Ada beberapa skala penilaian nyeri pada pasien sekarang ini (McLean et al. orang tua.. Cry..5 tahun yang akan dilakukan tindakan pembedahan. dan Face. (2001). Objective Pain Scale (OPS). 2009.30 Penelitian Bulloch dan Tenenbein (2002).

Verbal Rating Scale (VRS) Pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan berdasarkan skala lima poin . Gambar 2. berat dan sangat berat. sedang. Visual Analogue Scale (VAS) Verbal Rating Scale terdiri dari beberapa nomor yang menggambarkan tingkat nyeri pada pasien. Numerical Rating Scale (NRS) Pertama sekali dikemukakan oleh Downie dkk pada tahun 1978.4.. Ayu Yuliani Sekriptini. Pasien ditanya bagaimana sifat dari nyeri Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dimana angka 0 menunjukkan tidak ada nyeri dan angka 5 atau 10 menunjukkan nyeri yang hebat. tidak nyeri... Gambar 2.3. ringan. FIK UI. Verbal Rating Scale c. Numerical Rating Scale d.31 Gambar 2. Wong Baker Faces Pain Rating Scale b. 2013 .2. dimana pasien ditanyakan tentang derajat nyeri yang dirasakan dengan menunjukkan angka 0 – 5 atau 0 – 10.

Visual Analogue Scale e. skala nyeri verbal ini sulit digunakan. 2013 .Activity.Activity... Setiap kategori (Faces. Legs. wajah merintih atau menangis Keempat poin ini secara luas digunakan oleh klinisi untuk menentukan tingkat kebenaran dan keandalan. dengan penggambaran verbal pada masing-masing ujungnya. tangan atau lengan tangan. FIK UI. seperti angka 0 (tanpa nyeri) sampai angka 10 (nyeri terberat). Visual Analog Scale (VAS) dilihat berupa suatu garis lurus yang panjangnya biasaya 10 cm (atau 100 mm). Untuk pasien yang memiliki gangguan kognitif. Peneliti memilih nomor dari skor tingkat nyeri tersebut dari apa yang dirasakan pasien. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Cry. & Consolability) diberi nilai 0-2 dan dijumlahkan untuk mendapatkan total 0-10. dan Consolability (FLAAC) Skala ini merupakan skala perilaku yang telah dicoba pada anak usia 3-7 tahun. Cry. Nilai VAS 0 . Skor tersebut terdiri dari empat poin yaitu : Poin 0 = Tidak ada nyeri atau perasaan tidak enak ketika ditanya Poin 1 = Nyeri yang ringan yang dilaporkan pasien ketika ditanya Poin 2 = Nyeri sedang yang dilaporkan pasien ketika ditanya Poin 3 = Nyeri dihubungkan dengan respon suara.5. Legs.. Faces.32 yang dirasakannya. Ayu Yuliani Sekriptini.<4 = nyeri ringan. 4 <7 = nyeri sedang dan 7-10 = nyeri berat Gambar 2.

relaxed Score -1 Occasional grimace or frown. Skala penilaian CHEOP digunakan untuk anak usia 1-7 tahun. restless. sreams or sobs. frequent complaints Difficult to console or comfort Reassured by accosional al touching. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Item Cry Behavioral No cry Moaning Crying Scream Definition 1 Child is not crying.. tense Score -2 Freuent to constant quivering chin. Cry. sobbing. rigid or jerkig Council http://www2.pdf Kicking.org/ painrelief/pcs pain files/app_d_flacc. moves easily No cry (awake or asleep) Consolability Content. ekspresi muka. tense Squimin. normal position. dan kaki. dan Consolability Criteria Face Legs Activity Cry Score -0 No particular expression or smile Normal position or relaxed Lying quietly. distractible Sumber : National Health and Medical Research massgeneral. may be scored complaint or without complaint. skor maksimal nyeri adalah 13. Tabel 2. 3 Cild is in a full-lunged cry. verbal. occasional complaint Crying steadily. 2013 . Faces.3. torso. withdrawn.. f.Activity. shiting back and forh. sentuhan.33 Tabel 2.2. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Skala penilaian CEOPS berupa penilaian yang mencakup perilaku nyeri anak dan keluhan yang rasakan. Penilaian skor nyeri diperoleh berdasarkan hasil penilaian keseluruhan. Score Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. disinterested Uneasy. Legs. Ayu Yuliani Sekriptini. hugging or being talked to. Skor 4 mengindikasikan awitan nyeri.. FIK UI. but the cry is gentle or whimpering. 2 Child is moaning or quietly vocalizing silent cry. 2 Child is crying. Di dalam skala ini terdapat enam kategori dari perilaku nyeri: menangis. or legs draw up Arched. cleched jaw Moans or whimpers.

“It hurts.. Body s restrained. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Child is a vertical or upright position.34 Item Facial Behavioral Composed Grimace 1 2 Smiling 0 Child None Verbal Other complaints 1 1 Torso Touch Legh Pain complaints Both complaints 2 2 Positive 0 Neutral 1 Shifting 2 Tense Shevering 2 2 Upright 2 Restrained Not touching 2 1 Reach 2 Touch 2 Grab 2 Restrained Neutral 2 1 Squirm/kicking 2 Drawn up/tensed 2 Standing Restrained 2 2 Definition Neutral facial expression Score only if definite negative facial expression score only if definite positive facial expression Child not talking Child complains.. Child is reaching for but not touching wound.. 9. Body (not limbs) is at rest. e. P. Legs tensed and/or pulled up tightyly to body kept there. Child complains about pain and about other.J. In Field.. Goodman. Body is arcehed or rigid. Ayu Yuliani Sekriptini. J. Child’s arms are restrained. Raven Press.. Johnson. Child’s legs are being held down. CHEOPS: A behavioral scale for rating postoperative pain in children.. Child is gently touching wound or wound area. H. I want my mommy”.L. Body is shuddering or shaking involuntarily. torso is inactive..g. Child is grabbing vigorously at wound. Definitive uneasy or restless movement in the legh/or striking out with foot or feet.. et al (editors) Advances in pian Resesrcn and Therapy. Score Sumber : McGrath. G.T. 2013 . Standing. FIK UI. include gentle swinning or separate-like movements. Legh may be in any position but are relaxed. e. Body is in motion in shifting or serpentine fashion. “I want to see mommy” of “I am thirsty” Child complains I about pain. Child is not touching or grabbing at wound. Chid makes any positive statement or talks about things without complaint.. crouching or kneeling. but not about pain.g. New York. et al.

thiamin (0.20%). fruktosa (38.1 mg).. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. lemak (0 g).2.02 mg). 2011.. Komposisi kimiawi utama dalam madu total karbohidrat (78. yang dikumpulkan. 2011. Akanmu et al. sukrosa (1. 2010). Komposisi kimia madu hasil ekstraksi terdiri dari air (17. Sementara untuk kadar glukosa. natrium (10 mg). maltosa (7.90 g). kadar air (78. dikeringkan. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. lebih dari 181 macam senyawa atau unsur dan zat nutrisi yang ada. abu (0. Akanmu et al.35 2.3. 2011).5 gram per 100 gram madu alami. 2. Cornelia & Chis. Fruktosa atau yang sering disebut Levulosa merupakan gula murni atau alami yang berasal dari saripati buah-buahan.20 g). posfor (12 mg).00 g). zat besi ( 0. yang memiliki kadar yang tertinggi. maltosa.57%). flavonoid (0.20 g). 2011. 2013 . glukosa (31%). asam organik (0. 2004). dihasilkan oleh lebah madu dari sari bunga tanaman (floral nectar) atau bagian lain dari tanaman (extra floral nectar) atau ekskresi serangga (SNI. Madu mengandung monosakarida yang mudah diserap dalam usus tanpa membutuhkan proses pemecahan yaitu fruktosa (38%) dan glukosa (31%)..31%).17%).8 mg%)..2. Penggunaan Madu Dalam Penanganan Nyeri Pada Anak 2.. 2004. Jenis gula atau karbohidrat yang terdapat di dalam madu alami yakni fruktosa. protein (1.50%). kalori (295. kalsium (2 mg). Pengertian Madu Madu merupakan cairan alami yang umumnya mempunyai rasa manis..2..2.10%). Suarez et al. Madu merupakan zat pemanis alami yang diproduksi oleh lebah madu dari nektar tanaman atau sekresi bagian lain dari tanaman atau ekskresi dari insekta pengisap tanaman. diubah dan dikombinasikan dengan zat tertentu dari lebah kemudian ditempatkan. 2002. dan abu (0. protein (0. Scheiner et al. dan sukrosanya rendah. terkandung di dalam madu alami. serat kasar (0 g). Komposisi Kimia dan Biologis Madu Menurut hasil pengkajian dari para ahli..00 kal). (Goenarwo et al. dan niacin (0.7%). 2011). lalu disimpan di dalam sarang hingga matang (Hamad. yaitu sedikitnya bisa mencapai 38.02 mg) (Alzubier & Okechukwu.

. bamboo. Jenis-jenis madu lain yang terdapat di negara sub tropis menurut Puspitasari (2007) antara lain. serta mengandung flavonoid yaitu pinocrembin (Puspitasari. Komponen tambahan yang terkandung didalam madu seperti lisozim. klengkeng.4. Goenarwo. lipase) yang memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh. mangga. 2013 . Madu mengandung berbagai macam enzim. multiflora. Selain itu.2. flavoid. katalase.. K. diastase. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dan glikosida. asam fenolik dan flavonoid juga terdapat dalam madu yang berfungsi sebagai antioksidan dan anti radang. peroksidase. tartrat. 2002). jambu air. sitrat. Kandungan flavonoid diduga menghambat produksi cyclooxygenase. rambutan. Jenis-jenis Madu Jenis-jenis madu beraneka ragam tergantung nektar tanamannya. Na. 2003). hutan. durian. kaliandra. investase. Selain itu madu mengandung enzim amilase.36 Madu juga mengandung berbagai mineral seperti Ca. Truchado et al. kopi. seperti hidroksi metal furfural. 2007. garam Iodium. dan asam formik (Puspitasari. enzim lipase. P. 2. aster.. madu juga mengandung berbagai macam enzim (amylase. 2009. alfalfa. Selain itu didalam madu juga terdapat berbagai jenis enzim. bunga matahari dan madu royal jelly. lilin. 2007). gen pembiakan. dan asam organik (asam malat. 2011). Fe. antara lain enzim glukosa oksidase dan enzim invertase yang dapat membantu proses pengolahan sukrosa untuk diubah menjadi glukosa dan fruktosa yang kedunya mudah diserap dan dicerna oleh tubuh. karet. Alzubier & Okechukwu. sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri (Almada. basswood. Ayu Yuliani Sekriptini. Madu memiliki kandungan antibiotika sebagai antibakteri pada luka dan mengandung dekstrosa. S. Madu mengandung beberapa senyawa organik yang telah terindetifikasi antara lain seperti polyphenol. Beberapa jenis madu di Indonesia antara lain madu kapuk. FIK UI. 2000. laktat. apel.. salah satunya adalah enzim katalase yang mampu memberikan efek pemulihan. Mg. jambu mente. sonokeling. Cl. oksalat) (Purabaya. dan minyak volatil. athel. mahoni.

37

bergamot, blackberry, bluberry, blue curls, bluevine, boneset, buckwheat,
cantaloupe, cape vine, coralvine, cranberry, galiberry, goldenrod, holly,
horsemint, locust, manzanita, marigold, mesquite, mountain laurel,
mustard, palmatto dan pepperbush. Setiap madu mempunyai karakteristik
yang berbeda baik berdasarkan komposisi, rasa maupun penampilan fisik.
Jenis madu dibagi menjadi tiga macam yaitu, a) Madu flora yaitu madu
yang dihasilkan dari nektar bunga, b) Madu ekstra flora yaitu madu yang
dihasilkan dari nektar yang terdapat diluar bunga yaitu berasal dari bagian
tanaman yang lain seperti daun, cabang atau batang tanaman, c) Madu
embun yaitu madu yang dihasilkan dari cairan suksesi serangga yang
kemudian eksudatnya diletakkan pada bagian-bagian tanaman, cairan ini
kemudian dihisap dan dikumpulkan oleh lebah madu (Puspitasari, 2007).
Di Indonesia jenis madu yang dipasarkan sering diberi nama menurut
daerah asalnya, misalnya madu Sumbawa, madu Kalimantan, dan Madu
Sulawesi.
Kualitas madu ditentukan oleh waktu pemanenan madu, kadar air, warna
madu, rasa dan aroma madu. Madu yang memiliki kandungan enzim
diastase sebagai salah satu acuan yang digunakan Sandar Nasional
Indonesia (SNI) untuk menentukan madu tersebut asli atau tidak, karena
enzim diastase hanya dihasilkan dari kelenjar ludah lebah (Hamad, 2004;
Puspitasari, 2007).
Jenis madu yang sering digunakan pada beberapa pengobatan adalah madu
PERUM PERHUTANI ber-Standar Nasional Indonesia (SNI) atau disebut
sebagai madu perhutani. Penelitian yang dilakukan oleh Nurhidayah,
(2011) tentang pengaruh madu dalam perawan oral care terhadap pasien
anak mukolitis akibat mukolitis pada anak menggunakan madu PERUM
PERHUTANI. Madu yang digunakan adalah jenis madu hutan multiflora
dan telah diuji kualitasnya oleh Pusat Perlebahan Nasional Perhutani
(PPNP). Berikut ini kandungan gizi madu perhutani :

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

38

Tabel 2.4. Kandungan gizi madu perhutani
Parameter
Kalori
Lemak
Asam lemak jenuh
Kolesterol
Total Karbohidrat
Serat makanan
Protein
Kalsium (Ca)
Natrium (Na)
Besi (Fe)
Kalium (K)
Vitamin A
Vitamin C

Satuan
Kal/100 gram
%
%
mg/100 gram
%
%
%
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
mg/100 gram
UI/100 gran
mg/100 gram

Hasil
320
0
0
<0
79,3
0,73
0,63
9,84
12,8
0,63
102
< 0,5
3,52

Sumber : Pusat Perlebahan Nasional Perum Perhutani 2008

2.2.5. Efek Terapeutik Madu
Madu merupakan bahan makanan yang mengandung nilai gizi tinggi
tinggi mengandung banyak komponen gula sederhana (monosakarida dan
disakarida) dan gula rantai panjang (polisakarida), selain itu madu
mengandung enzim untuk mencerna gula, vitamin, mineral dan lain-lain
(Bognadov et al., 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Alzubier dan Okechukwu (2011)
menyebutkan

madu

memiliki

efek

terapeutik

anti-inflammatory,

antipyretic, dan analgesic. Penelitian dilakukan pada tikus dengan
disuntikkan asam asetat pada peritoneum tikus dengan sebelumnya dikasih
madu per oral, hasil menunjukkan pemberian madu mengurangi ambang
nociception dan mengurangi rangsang

saraf terminal dari serat

nociceptive.
Suarez et al., (2010), menyebutkan madu asli 100% murni mengandung
zat antibiotik yang dapat menyembuhkan penyakit dari berbagai patogen
penyebab penyakit. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi aktivitas
antibakteri pada madu asli 100% murni; pertama, kadar gula madu yang
Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

39

tinggi akan menghalang pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tersebut
tidak dapat hidup dan berkembang. kedua, tingkat kemanisan madu yang
tinggi (pH 3.65) akan mengurangi pertumbuhan dan daya hidupnya
sehingga bakteri tersebut mati,

ketiga, adanya pertumbuhan radikal

hidrogen peroksida yang bersifat membunuh mikroorganisme patogen,
dan keempat adanya senyawa organik yang bersifat antibakteri antara lain
seperti polyphenol, flavonoid, dan glikosida.
2.3. Pengaruh Madu Terhadap Penurunan Respon Nyeri
Madu mengandung berbagai mineral seperti Ca, Na, K, Mg, Fe, Cl, P, S,
garam Iodium, dan asam organik (asam malat, tartrat, sitrat, laktat, oksalat)
(Purabaya, 2002). Selain itu, madu juga mengandung berbagai macam
enzim (amylase, diastase, investase, katalase peroksidase, lipase) yang
memperlancar reaksi kimia berbagai metabolisme di dalam tubuh, serta
mengandung flavonoid yaitu pinocrembin yang memiliki efek anti nyeri.
Puspitasari

(2007)

dalam

penelitiannya

menyebutkan

madu

dapat

memberikan efek analgesik. Flavonoid dalam madu dapat menghambat
produksi cyclooxygenase, sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan
nyeri.
Geonarwo, Chodidjah, dan Susanto (2011) melakukan eksperimental dengan
pendekatan post test only control group design. Penelitian dilakukan dengan
menggunakan hewan uji tikus putih jantan galur wistar 25 ekor, dibagi
dalam 5 kelompok secara random, kelompok I (kontrol negatif) diberi
aquadest, kelompok II diberi madu 25%, kelompok III diberi madu 50%,
kelompok IV diberi madu 100% dan kelompok V (kontrol positif) diberi
parasetamol 4,5 mg/kgBB. Setelah 5 menit semua kelompok disuntik
dengan asam asetat 1% (0,1 ml) intra peritoneum, kemudian dihitung jumlah
geliat setiap 5 menit selama 1 jam. Hasil penelitian menunjukkan madu
dengan konsentrasi madu 50% memiliki efek analgetik yang meningkat,
sedangkan madu dengan konsentrasi 25% dan 100% menunjukkan efek
analgetik yang menurun.

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Teori Keperawatan “Comfort” Katharine C. Kolcaba mengaitkan ketiga tipe kenyamanan tersebut dengan empat pengalaman kenyaman yaitu fisik. Kolcaba Kolcaba mendefinisikan salah satu intervensi perawatan kesehatan sebagai kebutuhan tentang kenyamanan. dan transcendence. Relief yaitu status ketidaknyamanan yang dimiliki menjadi berkurang atau status terpenuhinya kebutuhan kenyaman spesifik. Konsep Umum Teori “Comfort” Katharine C. Sedangkan transcendence yaitu kemampuan untuk bangkit diatas ketidaknyamanan ketika ketidaknyamanan yang ada tidak dapat dihindari atau dihilangkan. Teori kenyamanan memandang keperawatan adalah pengkajian yang inten tentang kebutuhan kenyamanan untuk mengatasi kebutuhan tersebut. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan fisik.. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 . Empat konsep sentral dalam paradigma keperawatan yaitu manusia atau pasien. sosial dan kebutuhan lingkungan yang memfasilitasinya seperti alat monitor dan laporan verbal atau non verbal. dan menilai kembali kenyamanan pasien setelah pelaksanaan tindakan kenyamanan kemudian dibandingkan denan keadaan sebelumnya. yang tidak dapat ditemui pada penerima pelayanan tradisional. psikospiritual.. kesehatan. Kolcaba (2003)..40 2. kebutuhan pendidikan dan dukungan. 2006).4. FIK UI.4. peningkatan dari kondisi penuh tekanan dalam situasi perawatan kesehatan.1. Kolcaba 2. dan kebutuhan akan konseling financial dan intervensi (Tomey & Alligood. Kesehatan adalah fungsi optimal dari Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Lingkungan adalah pengaruh eksternal yang dapat dimanipulasi untuk meningkatkan kenyamanan. kebutuhan yang berhubungan dengan ukuran secara patofisiologi. Ease adalah tidak adanya ketidaknyamanan spesifik. Manusia atau pasien adalah individu atau keluarga yang membutuhkan perawatan kesehatan. lingkungan. psikospiritual. ease. dan sosial. lingkungan dan keperawatan. menilai kenyaman dengan membuat struktur taksonomi yang bersumber pada tiga tipe kenyamanan yaitu reliefe.

41 komunitas. Comfort care mempunyai 3 komponen yaitu intervensi yang sesuai dan tepat waktu. model keperawatan yang perhatian adan empati. dan lingkungan yang nyaman bagi pasien. internal atau kematian yang damai. sosiokultural dan lingkungan. Seluruh konsep tersebut terkait dengan pasien dan keluarga. Integritas institusional adalah kondisi sarana perawatan kesehatan yang menyeluruh. pasien. dan trascendece terkait dengan empat pengalaman yaitu fisikal psikospiritual. Comfort measures adalah intervensi yang sengaja dirancang untuk meningkatkan kenyamanan pasien atau keluarga. 2003). ease.. professional dan beretika. FIK UI. Comfort atau kenyamanan adalah pengalaman langsung yang diperkuat dengan kebutuhan relief. Comfort care adalah filosofi perawatan kesehatan yang berdasarkan fisik. Konsep teori kenyamanan adalah kebutuhan kenyaman. Kolcaba. psikospiritual. Comfort needs adalah kebutuhan akan rasa nyaman relief. lingkungan dan sosiokultural (Kolcaba. Ayu Yuliani Sekriptini. jujur. berfokus pada kenyaman pasien. healt seeking behavior (HSBs) dan intergritas institusional. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. menggerakkan mereka ke arah kesejahteraan. Intervening variabel adalah faktor positif taupun negatif yang sedikit sekali dapat dikontrol oleh perawat atau institusi tetapi berpengaruh langsung kesuksesan rencana intervensi kenyamanan (Kolcaba & DiMarco. intervening variables. intervensi keyamanan (comfort care). HSBs dapat ekternal. ease. keluarga yang dapat dicapai dengan memperhatikan kebutuhan kenyamanan. 2005. 2013 . dan transcenden dalam konteks pengalaman manusia secara fisik. 2003).. HSBs adalah perilaku pasien atau keluarga yang terlibat secara sadar atau tidak sadar. psikospiritual. sosiokultural. peningkatan kenyaman.

2003). Institusi menjadi lebih baik terpandang dan berkembang (Kolcaba.. 2. 7) bila pasien dan keluarga telah memiliki HSBs yang kuat sebagai hasil dari comfort care. Sedangkan comfort care akan mengkaitkan semua komponen.2. khususnya kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh suppor system eksternal. FIK UI. Aplikasi comfort theory pada keperawatan anak Comfort theory diterapkan dalam beberapa kondisi pasien seperti pasien penderia kanker payudara stadium awal.4. Intervensi ini disebut comfort measures. 4) intervensi yan efektif dan dilakukan dengan penuh caring yang hasilnya akan langsung terlihat sebagai pengingkatan rasa nyaman. Ayu Yuliani Sekriptini. 5) pasien dan perawat sepakat tentang HSBs yang diinginkan.6.42 Sumber : Kolcaba 2003 Gambar 2. dan 8) bila perawat dengan pelayanan puas terhadap institusi pelayanan. 3) intervening variables diperhitungkan dalammerancang intervensi. 2013 . masyarakat akan mengetahui kontribusi institusi tersebut terhadap program kesehatan pemerintah. 6) bila kenyamanan tercapai. perawat dan keluarga akan lebih puas dengan pelayanan kesehatan.. Kerangka konseptual teori kenyamanan Kerangka konsep diatas mejelaskan proposition adalah pernyataan yang menghubungkan antar konsep. 1) perawat mengidentifikasi kebutuhan kenyamanan pasien dan anggota keluarga. Berikut ini adalah proposition teori kenyamanan. 2) perawat menyusun rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan. pasien dan anggota keluarga terikat oleh HSBs yang akan meningkatkan kenyamanan lebih lanjut.. pasien dengan kondisi Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

2013 . Kolcaba menyatakan teori kenyamanan meliputi tiga alasan logis yang terdiri dari induction.. Baris 2 adalah tingkat praktik comfort pada kasus perawatan anak. Baris 1 menggambarkan konsep teori secara umum dan merupakan tingkat tertinggi yang bersifat abstrak dan setiap baris berikutnya lebih bersifat konkret. Aplikasi comfort theory dalam penanganan nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah pada anak dapat diuraikan bahwa aspek health care Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. lebih jelas dapat dilihat pada kerangka konsep Kolcaba 2. dan retroduction. 2 berikut ini : Skema 2. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini. Baris 3 adalah cara dimana masing-masing konsep dilaksanakan. pada perawatan peri dan intra operatif..1 Aplikasi Comfort Theory pada Keperawatan Anak Sumber: Kolcba & DiMarco (2005) Skema di atas menggambarkan hubungan antara konsep-konsep penting dalam teori comfort.43 inkontinensia urin. unit luka bakar. deduction. kondisi individu dengan keterbelakang mental dan keperawatan pada bayi baru lahir (Kolcaba & DiMarco)..

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada skema 2. sosiokultural. keluarga dan rumah sakit.44 need yaitu anak memiliki kebutuhan rasa nyaman selama prosedur invasif dilakukan. psikospiritual. Aspek nursing intervention yaitu pemberian intervensi non farmakologis berupa pemberian madu yang merupakan bagian intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman. FIK UI.. Ayu Yuliani Sekriptini. Dengan demikian pemenuhan rasa nyaman yang optimal pada anak akan disesuaikan dengan karakteristik tumbuh kembang akan membawa manfaat bagi anak. penurunan kebutuhan akan tindakan medis yang lain dan peningkatan kepuasan anak dan keluarga. Hal tersebut merupakan keluaran yang positif yang membawa manfaat besar baik rumah sakit. Tahap perkembangan dan kehadiran orang tua merupakan interventing variabel yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk mencapai rasa nyaman pada semua aspek (kenyamanan fisik.2 dibawah ini. dan lingkungan)... 2013 . Pemenuhan rasa nyaman yang adekuat pada semua aspek dengan tingkat relief hingga transcendence akan mendorong pada penentuan intervensi berikutnya. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

psikologis.1. jenis kelamin anak dan kehadiran keluarga Rasa nyeri diukur dengan checklist CHEOPS Jalur 3 Tidak nyeri. sosial dan spiritual. anak tidak menangis saat tindakan.45 Jalur 1 Health care need + Nursing Interventions + Atraumatic Care + Intervening variables Enhanced Comfort Health seeking behaviour Institusional itnegrity Internal. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pengertian Anak Anak adalah seseorang yang belum berusia delapan belas (18) tahun. lingkungan dan dukungan orang terdekat Rasa nyaman fisik. eksternal. lingkungan Mencatat usia. tindakan medis berkurang Percaya denga perawat. anak berada pada masa tumbuh kembang dengan kebutuhan khusus baik kebutuhan fisik. pengalaman nyeri sebelumnya.. tidak menimbulkan trauma saat anak masuk RS Prosedur tetap dalam perawatan pengambilan darah dengan memberikan madu sebelum diberikan intervensi invasif Skema 2. FIK UI. Aplikasi Comfort Theory dalam Tindakan Pemberian Madu 2.5..2. dan tidak merasa nyeri LOS minimal. Konsep Anak 2. 23 pasal 1 tahun 2003). 2013 .5. analgetik kurang. jenis kelamin. termasuk anak yang masih dalam kandungan (Undang-undang Perlindungan Anak No. psikospiritual sosokulturall.. Ayu Yuliani Sekriptini. meninggal dengan tenang Kepuasan keluarga. segera diatasi. keluarga puas dengan pelayanan RS Jalur 2 Kebutuhan rasa nyaman bagi anak dan keluarga + Usia. Dalam keperawatan anak yang dimaksud anak adalah seseorang yang berusia kurang dari delapan belas tahun.

fase prasekolah.. ekspresi wajah menunjukan nyeri. Perkembangan biologis anak usia toddler mengalami fase toilet training dan perkembangan motorik merupakan proses tumbuh kembang sistem gerak seorang anak setiap gerakan yang dilakukan anak merupakan sistem interaksi yang kompleks dari berbagai bagian dan sistem dalam tubuh yang dikontrol oleh otak. Repon anak toddler terhadap nyeri. Fase infant adalah fase saat bayi berusia 1 bulan sampai 12 bulan. 2007). FIK UI. Perkembangan biologis anak usia prasekolah ditandai dengan kematangan sistem organ dan penyempurnaan perilaku motorik halus dan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. Fase toddler merupakan saat anak berusia 1-3 tahun. Perkembangan usia prasekolah merupakan kelompok usia antara 3 sampai 5 tahun. respon tubuh terlokalisasi secara sengaja menarik diri dari area yang terstimulis. 2004).2. Setelah fase ini anak memasuki fase pra sekolah yaitu saat anak memasuki usia 3-6 tahun. pola koping dan perilaku sosial (Supartini. Perkembangan usia toddler merupakan kelompok usia antara 1 sampai 3 tahun.5. fase sekolah dan fase remaja.. fase neonatal. Dalam proses perkembangan anak memiliki ciri fisik. Fase sekolah merupakan fase anak berusia 6 sampai 12 tahun. Fase perkembangan anak terdiri dari fase prenatal. konsep diri. menangis keras. Ditinjau dari perkembangan sosial belum memiliki toleransi yang lebih baik dalam hal perpisahan dengan orang tua. Ditinaju dari kemampuan berbahasa anak usia toddler secara umum mengalami kesulitan dalam pengucapan dalam menyampaikan suatu keinginan. fase infant. fase toddler. mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri (Hokenberry & Wilson.46 2. Kelompok anak Berdasarkan Fase Perkembangan Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat. 2013 . Fase prenatal mencakup masa kehamilan sampai anak dilahirkan.. kognitif. dan terakhir fase remaja yaitu saat anak memasuki usia 13-18 tahun (Hockenberry & Wilson. Fase neonatal merupakan masa saat bayi lahir sampai usia 28 hari. 2007).

47 kasar. Namun demikian mereka masih membutuhkan pengamanan dari orang tua. membutuhakan dukungan emosi seperti pelukan dan memberikan antisipasi secara aktual (Hockenbarry & Wilson. Terkait dengan respon nyeri yang disebabkan oleh prosedur invasif yang menyakitkan bagi anak tergantung pada usia anak. Atraumatic care 2. dimana. 2007). mengapa. 2. memukul tangan atau kaki. 2004). kelompok usia ini memiliki toleransi yang lebih baik dalam hal perpisahan dengan orang tua dibandingkan usia toddler. FIK UI. misalnya perpisahan yang disebabkan oleh penyakit dan Hospitalisasi (Hokenberry & Wilson. menempel dan memegang orang tua. Wong dan Hockenberry (2003) menyebutkan bahwa atraumatic care berhubungan dengan siapa. apa.1. Pengertian Atraumatic care Atraumatic care adalah suatu tindakan perawatan terapeutik yang dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan intervensi melalui cara mengeliminasi atau meminimalisasi stress psikologi dan fisik yang dialami oleh anak dan keluarganya dalam sistem pelayanan kesehatan (Supartini. Perpisahan yang panjang dengan orang tua merupakan hal yang sulit bagi anak usia prasekolah. kapan. 2007). bagaimana Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri. Anak usia ini dapat berhubungan secara mudah dengan orang asing dan toleran terhadap perpisahan dengan orang tua hanya sedikit atau tanpa protes. tingkat perkembangan anak. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 .6.6. bimbingan dan persetujuan.. Ditinjuau dari perkembangan sosial anak usia prasekolah. terutama ketika memasuki usia sekolah. mendorong hal yang menyebabkan nyeri. akan tetapi mereka dapat berespon dengan baik terhadap bila ada perpisahan dan penjelasan yang konkrit. Usia toddler masih belum mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang dirasakan karena keterbatasan kosakata dan pengalaman nyeri. jaminan.. sedangkan pada usia prasekolah dalam berespon terhadap nyeri diantaranya dengan menanis keras atau berteriak. dan faktor situasi lainnya..

mengijinkan privasi anak. orangtua pun merasa semakin stress. alihkan dengan bermain untuk menghindarkan rasa takut. Sparks et al. ketidak mampuan berkomunikasi secara efektif dengan profesional kesehatan. menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga.48 dari setiap prosedur tindakan yang ditujukan pada anak bertujuan untuk mencegah atau mengurangi stres psikologi dan fisik. Ayu Yuliani Sekriptini. lamanya tinggal di rumah sakit. Stress psikologi pada orangtua dapat berupa perhatian terhadap nasib anak mereka. meningkatkan kemampuan orangtua dalam mengontrol perawatan anak. 2004. dan tidak adekuatnya pengetahuan dan pemahaman tentang situasi kondisi penyakit (Zempsky. American Pain Society (2000) menyebutkan kondisi nyeri terdapat lima tanda vital yang harus diperhatin.. mencegah atau meminimalkan cedera tubuh. FIK UI. Azis (2005). persiapan anak sebelum tindakan atau prosedur yang tidak menyenangkan. tekanan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Terkait dangan hal tersebut nyeri akan berhubungan dengan peningkatan tandatanda vital sehingga prinsip dari tindakan perawatan nyeri adalah memeriksa tanda-tanda vital pasien setiap saat. dan modifikasi lingkungan fisik. misalnya nadi. & Cravero.. Karena anak stress dan gelisah serta tidak tenang berada di rumah sakit tanpa orangtua di sampingnya. Contoh dari peningkatan tindakan atraumatic care menyangkut mengorganisir hubungan orangtua dengan anak selama perawatan. 2013 .. mengontrol rasa nyeri. Wong dan Hockenberry (2003) menyebutkan tujuan mencapai perawatan atraumatic care adalah jangan menyakiti. Kondisi tersebut menjadi perhatian dan tanggung jawab dari seorang perawat kesehatan profesional. mengatakan untuk mencapai perawatan tersebut beberapa prinsip yang dapat dilakukan perawat antara lain.. tidak melakukan kekerasan pada anak. mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis). 2007). mencegah atau meminimalkan perpisahan anak dari orangtua. meningkatkan kontrol diri. Terdapat tiga prinsip kerangka kerja untuk mencapai tujuan tersebut. yaitu.

Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 . maka digunakanlah strategi penilaian kualitatif dan kuantitatif. 2009.2. Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak. suhu. 2010). Manchikanti et al. evaluasi perubahan psikologi dan tingkah laku.49 darah. cari penyebab nyeri. b. gunakan skala nyeri. meningkatkan kontrol diri anak. c. Kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak dapat meningkatkan kemandirian anak dan anak akan bersikap waspada dalam segala hal. Prinsip yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah mencegah dan meminimalkan perpisahan anak dengan keluarganya. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga Dampak perpisahan dari keluarga akan menyebabkan kecemasan pada anak sehingga menghambat proses penyembuhan dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. d. dan ambil tindakan dan evaluasi hasil nyeri (Wong & Hockenberry. dan pernafasan (Soyer et al. libatkan orangtua.. Karena nyeri berhubungan dengan sensori dan emosional.. 2007) : a. seperti menanyakan anak. dan mencegah terjadinya nyeri serta cedera tubuh (Hockenberry & Wilson. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. 2. 2003).. relaksasi dan imaginary. Istilah yang digunakan untuk menanyakan nyeri pada anak dengan menggunakan pertanyaan. Prinsip Atraumatic care Prinsip utama dari pelayanan yang tidak menimbulkan trauma (atraumatic care) pada anak adalah bahwa tidak ada yang tersakiti. Proses pengurangan rasa nyeri sering tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai tenik misalnya distraksi. Mencegah atau mengurangi cedera (injuri) dan nyeri (dampak psikologis).. Tidak melakukan kekerasan pada anak. FIK UI.6.

Ayu Yuliani Sekriptini.Lingkungan dan dukungan orang terdekat Anak sakit Dibawa ke unit Gawat Darurat Tindakan invasif pengambilan darah Nyeri saat prosedur Comfort Theory: .3. yang dapat menghambat proses kematangan dan tumbuh kembang anak. 2013 .. berikut : Skema 2.. Tommey & Alligood (2006) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Kerangka Teori Faktor yang mempengaruhi nyeri: .Ease . Modifikasi lingkungan.3.Pengalaman nyeri sebelumnya .7.Usia .Transcendence Pengukuran Nyeri CHEOPS Atraumatic Care Pemberian madu per-oral Tidak Nyeri Kebutuhan nyaman anak terpenuhi Dikutip dari: Kolcaba & DiMarco (2005).Jenis kelamin . FIK UI. 2. Melalui modifikasi lingkungan yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman dilingkungan. Adapaun kerangka teori dalam penelitian ini seperti pada skema 2. e.50 kehidupan anak..Relief . Kerangka Teori Dari uraian diatas maka peneliti mencoba menggambarkan kerangka konsep teori yang dapat mempengaruhi terjadinya nyeri.

FIK UI. 3.1. Kerangka konsep menggambarkan ada tidaknya pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak saat dilakukan tindakan pengambilan darah di ruang unit gawat darurat. dan definisi operasional.. Hipotesis penelitian merupakan pernyataan sementara yang akan diuji kebenarannya yang dinyatakan dalam hipotesis alternatif. Varibel Terikat (dependent variabel) Variabel terikat (dependent) adalah variabel yang berubah akibat perubahan variabel bebas (independent) (Sastroasmoro & Ismael. 2013 . Varibel Bebas (independent) Variabel bebas (independent) adalah variabel yang bila ia berubah akan mengakibatkan perubahan variabel lain (Sastroasmoro & Ismael.1.1. hipotesis penelitian. HIPOTESIS DAN DEFINISI OPERASIONAL PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan kerangka konsep penelitian. Variabel terikat (dependent) penelitian ini yaitu skor nyeri pada anak.BAB 3 KERANGKA KONSEP. Variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut : 3.1.2. Gambaran mengenai variabel-variabel yang akan diteliti dapat diperoleh melalui kerangka konsep. Variabel bebas (independent) dalam penelitian ini tindakan pemberian 51 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 3. 2011).. Ayu Yuliani Sekriptini. sehingga mudah dipahami dan dapat menjadi acuan peneliti. Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari variabel yang diteliti untuk memperjelas maksud dari suatu penelitian yang dilakukan. sebagai suatu petunjuk dalam mengidentifikasi dan menginterpretasi suatu hasil. 2011). Kerangka konnsep penelitian ini menjelaskan tentang variabel-variabel yang dapat diukur dalam penelitian ini. Kerangka konsep penelitian diperlukan sebagai landasan berpikir dalam melaksanakan suatu penelitian yang dikembangkan dari tinjauan teori yang telah dibahas sebelumnya. Kerangka Konsep Penelitian Kerangka konseptual merupakan kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur ketika penelitian dilakukan..

Variabel bebas (independent) akan mempengaruhi variabel terikat (dependent)..52 madu pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah dan kelompok kontrol mendapatkan intervensi pemberian placebo (air matang). Beberapa faktor yang termasuk variabel confounding dalam penelitian ini adalah usia.. Ayu Yuliani Sekriptini.3.1 berikut ini Skema 3. Pendampingan orang tua Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. pengalaman nyeri sebelumnya. 2013 . FIK UI. tetapi bukan merupakan variabel antara (Sastroasmoro & Ismael. pendampingan orang tua. Variabel Perancu (confounding) Variabel perancu (confounding) adalah jenis variabel yang berhubungan dengan variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent). Kerangka Konsep Penelitian Variabel bebas Variabel terikat Kelompok Intervensi: Mendapatkan intervensi madu Kelompok kontrol: Mendapatkan intervensi placebo (air matang) Skor nyeri Variabel perancu: a.1. Jenis kelamin c. Hubungan antar variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada skema 3. jenis kelamin. 3. Pengalaman nyeri sebelumnya d..1. Identifikasi variabel confounding penting agar peneliti tidak salah dalam melakukan pengambilan keputusan. 2011). Usia b.

2013 . Ada perbedaan rerata skor nyeri pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol...Hipotesis Hipotesis adalah pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan penelitian yang harus diuji validitasnya secara empiris (Sastroasmoro & Ismael. 3.2. pengalaman nyeri sebelumnya.Definisi Operasional Tabel. Definisi Operasional Variabel Penelitian Bebas Tindakan pemberian madu oral Definisi Operasional Cara ukur Hasil Ukur Skala Tindakan pemberian madu peroral Observasi (chek list) 0 = diberi placebo (air putih) sebelum pengambil -an darah 1 = diberi madu sebelum pengambil -an darah Nominal Madu diberikan 2 menit sebelum intervensi pengambilan darah Jika pengambilan darah tidak berhasil prosedur pemberian madu di ulang seperti semula dengan menunggu 5 menit untuk istirahat terlebih dahulu Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. b. pendampingan orang tua).2. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.2. Hipotesis Minor a. 3.1.. 3. Ada perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak (usia. 2011).53 3. Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 3.1.3. jenis kelamin.2. Hipotesis Mayor Pemberian madu berpengaruh terhadap penurunan skor nyeri pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengambilan darah di ruang unit gawat darurat.

.. sentuhan dan posisi kaki. ekspresi verbal. FIK UI. tangisan. Ayu Yuliani Sekriptini. dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan diuji oleh Pusat Perlebahan Nasional Perhutani. ekspresi wajah. Cara ukur Hasil Ukur Skala Obersevasi dengan Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Nilai skala nyeri Berkisar dari 4-13 Interval Jenis madu multiflora yang diproduksi oleh Perum Perhutani Skor nyeri yang dirasakan anak akibat tindakan invasif pengambilan darah Penilaian dilakukan setelah intervensi pengambilan darah dengan melihat hasil rekaman video 4 = skor tidak nyeri Skala nyeri 13= skor CHEOPS terdiri nyeri dari 6 tertinggi parameter..54 Variabel Penelitian Terikat Skor nyeri Definisi Operasional Madu yang digunakan dalam penelitian ini adalah madu murni kosentrasi 50%. Skor nyeri berdasarkan penjumlahan skor pada setiap parameter Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. posis badan. 2013 .

. Umur dihitung dalam tahun Jenis kelamin Jenis sex : lakilaki dan perempuan Pengalaman Pengalaman anak sebelumnya yang pernah mengalami nyeri dengan jenis yang sama Pendampingan Kehadiran orang orang tua tua saat tindakan invasif dilaksanakan Cara ukur Hasil Ukur Skala Kuesioner 0 : 1-3 tahun (toddlers) 1 : >3-6 tahun (preschool) (Hockenberry & Wilson... 2013 .55 Variabel Penelitian Perancu Usia Definisi Operasional Usia responden dihitung dari tanggal lahir sampai dengan bulan dilakukan penelitian. 2009) Nominal Kuesioner 0 : laki-laki 1 : perempuan Nominal Kuesioner 0 : ada riwayat pengambilan darah sebelumnya 1 : pertama kali 0 : hadir 1 : tidak hadir Nominal Observasi Nominal Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.

2011). 2011)..56 BAB 4 METODE PENELITIAN 4. Ayu Yuliani Sekriptini. Desain penelitian yang dipilih jenis nonequivalent control group.2.Populasi. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti (Sastroasmoro & Ismael. FIK UI. Penelitian ini melibatkan dua kelompok yaitu. peneliti dan asisten ahli sebelumnya melakukan inter-observer reliability dengan tujuan menghasilkan suatu skor kesepakatan antar observer/penilai dalam pengukuran suatu instrumen. after only design. penilaian nyeri dilakukan saat pengambilan darah. Pada pelaksanaan penelitian. After only design karena penelitian ini tidak melakukan pengukuran sebelum intervensi. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan berupa quasi eksperiment dengan jenis nonequivalent control group.. Sampel dan Besar Sampel 4. Populasi dalam penelitian ini adalah responden anak usia 1-6 tahun yang masuk ke ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. pengukuran hanya dilakukan setelah selesai intervensi. kelompok anak yang diberikan madu sebelum tindakan pengambilan darah sebagai kelompok intervensi dan kelompok anak yang diberi intervensi placebo (air putih) sebelum tindakan pengambilan darah sebagai kelompok kontrol. Hasil studi pendahuluan didapatkan rata-rata jumlah kasus anak yang masuk ke ruang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. perlakuan kelompok intervensi dan kelompok kontrol disamakan yaitu dilakukan menghitungan denyut nadi lima menit sebelum tindakan dan dua menit kemudian diberikan madu untuk kelompok intervensi dan placebo untuk kelompok kontrol.. Penelitian quasi eksperiment adalah penelitian yang mengujicoba suatu intervensi pada kelompok subjek dengan kelompok pembanding namun tidak melakukan rendomisasi untuk memasukkan subjek ke dalam kelompok perlakuan atau kontrol (Polit & Beck. pemilihan kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak diacak. 2013 .2. 2008).1.1. Pemberian madu dan placebo (air putih) pada kelompok intrevensi ataupun kelompok kontrol dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti (perawat ruangan). after only design (Dharma. 4.

2.. FIK UI. Pertimbangan yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan menentukan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Anak mampu berkomunikasi secara verbal dan non verbal. 2013 . Kriteria inklusi pada sampel penelitian ini adalah: a. Kriteria ekslusi pada sampel penelitian ini adalah: a. Ibu/keluarga tidak kooperatif.2. sedangkan kriteria ekslusi adalah keadaan yang menyebabkan subyek yang telah memenuhi kriteria inklusi tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian (Sastroasmoro & Ismael 2011). b. Kondisi anak sangat lemah dan mengalami gangguan kesadaran. 2011). Pada consecutive sampling semua subyek yang dating secara berurutan dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah subyek yang diperlukan terpenuhi (Sastroasmoro & Ismael. 4. Sampel Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan menggunakan nonprobability sampling jenis consecutive sampling. Jenis penyakit yang sering terjadi sangat beragam.. Ibu/keluarga bersedia apabila anak menjadi responden penelitian.57 unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawianagun Kota Cirebon dalam setahun terakhir ini rata-rata per-bulan sebanyak 300 orang anak dengan rata-rata usia 1-17 tahun. c. b. rata-rata anak masuk ke unit gawat darurat dengan penyakit diare dan panas. d. Anak usia 1-6 tahun. Akan dilakukan pengambilan darah intra vena. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Ayu Yuliani Sekriptini. Kriteria inklusi merupakan persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh subyek agar dapat diikutsertakan ke dalam penelitian.

9 dan jumlah sampel 19 orang.84) Perhitungan besar sampel minimal diperoleh berdasarkan hasil penilitian yang dilakukan sebelumnya.. Pada penelitian tersebut diperoleh rata-rata nyeri kelompok kontrol 8.. = 1.9 × (19 − 1)] 23 + 19 − 2 = 2. Besar Sampel Perhitungan sampel penelitian ini mengunakan uji hipotesis beda rata-rata dua kelompok independent. Ayu Yuliani Sekriptini. Pada kelompok intervensi rata-rata skala nyeri adalah 4. (2003) tentang pemberian permen manis untuk mengurangi nyeri saat prosedur penusukan jarum pada anak usia sekolah..96)  = nilai Z pada kekuatan uji (power) (ditetapkan oleh peneliti sebesar 80% atau 0.4 × ( 23 − 1) + 0.4 dan jumlah sampel adalah 23 orang. FIK UI. 2013 . pada penelitian terdahulu peneliti menggunakan penelitian yang dilakukan oleh Lewkowski et al.5 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.3.3.1 dengan standar deviasi 0.05 atau 1.2.7 dengan standar deviasi 3..58 4. dengan menggunakan rumus sebagai berikut: = =2 ( ) Keterangan : n = jumlah sampel s = standar deviasi kedua kelompok x1 – x2 = perbedaan klinis yang diinginkan (clinical judgment)  = serajat kemaknaan (ditetapkan oleh peneliti  = 0. Rerata standar deviasi kedua kelompok dapat diperoleh dengan mencari varian kedua populasi dengan rumus sebagai ( ) = ( ) = [ ×( − 1) + × ( + − 2 berikut : − 1)] [3.

berdasarkan hasil perhitungan didapatkan jumlah sampel keseluruhan setelah ditambah drop out adalah 68 responden yang terdiri dari 34 responden untuk kelompok intervensi dan 34 responden kelompok kontrol. 2013 .5. Perhitungan sampel penelitian ini menggunakan derajat kepercayaan 95% dan kekuatan uji 80%. untuk menguragi terjadinya bias pada hasil penelitian. atau kesalahan teknik dalam pemberian madu. maka besar sampel ditambah 10%.96 + 0. peneliti membagi jumlah sampel menjadi 15 responden usia 1-3 tahun dan 15 responden usia >3-6 tahun.59 Berdasarkan penelitian tersebut.4 = 30 Hasil perhitungan diperoleh sampel yang diperlukan sebanyak 30 responden. 4. RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon merupakan rumah sakit tipe B Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dengan rumus sebagai berikut : ′= n 1−f Keterangan : n’ = jumlah sampel f = estimasi drop out = 10 % Maka hasil perhitungan n’ = n1 = n2 = 34 responden Dengan demikian. Ayu Yuliani Sekriptini.5 (8.84) 1. maka besar sampel yang diperoleh adalah : (1. FIK UI.3. peneliti memperoleh nilai standar deviasi rata-rata sebesar 1..7 – 4.. Besar sampel kemudian ditambah untuk menganisipasi kemungkinan drop out.. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon.1) = =2 = = 29.

60 yang menjadi pusat rujukan untuk wilayah kota dan kabupaten Cirebon. responden diberikan informasi tentang tujuan dan manfaat penelitian. Secara lengkap waktu dan tahapan penelitian dapat dilihat pada lampiran 6. Etika Penelitian Penelitian dilakukan setelah dinyatakan lolos oleh Komite Etik FIK UI serta mendapatkan persetujuan dari Direktur RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. Proses penelitian dimulai dari pembuatan proposal sampai menyusun laporan penelitian berlangsung selama 4 bulan.. intervensi. 2013 . Beberapa prinsip etika penelitian yang menjadi dasar yaitu : a. Sebagai responden atau subjek penelitian diberi kebebasan dalam menentukan hak kesediaanya untuk terlibat dalam penelitian ini secara sukarela dengan menandatangani lembar persetujuan yang disediakan dapat dilihat pada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. FIK UI. 4. dan tujuan penelitian. rencana.5. sedangkan tindakan pengambilan darah dilakukan oleh perawat ruangan unit gawat darurat. Setiap responden diberikan kebebasan untuk memberikan persetujuan atau menolak untuk menjadi subjek penelitian dengan cara menandatangani lembar persetujuan atau surat pernyataan kesediaan yang telah disiapkan oleh peneliti. dan dibutuhkan segera untuk menentukan intervensi selanjutnya. Pengambilan gambar rekaman vidio dilakukan oleh peneliti. ruangan ini dipilih karena intervensi pengambilan darah sering dilakukan di unit gawat darurat baik pasien baru atau pasien lama. Ruangan yang digunakan adalah ruang unit gawat darurat..4. Sebelum pengambilan data. Right self determination Sebelum penelitian dilakukan responden dan keluarga yang menjadi responden penelitian diberikan informasi. Ayu Yuliani Sekriptini. 4. Penjelasan dilakukan secara resmi tertulis dengan responden dan keluarga. Waktu Penelitian Pengumpulan data dilaksanakan selama 20 hari dari tanggal 27 November sampai dengan 24 Desember 2012.. Informasi yang diberikan meliputi manfaat.

baik secara psikologis maupun sosial. tetapi cukup dengan menggunakan kode responden. e. analisis. FIK UI. Right to protection from discomfort and harm Peneliti sebelumnya menjelaskan kepada orang tua dan responden serta menekankan bahwa penelitian ini tidak menimbulkan kerugian. dan publikasi dari hasil penelitian tidak mencantumkan identitas responden. b. 4. Apabila terjadi hal-hal yang memberatkan maka diperbolehkan untuk mengundurkan diri. Alat Pengumpulan Data 4. Peneliti berusaha memenuhi kebutuhan responden. Right to fair treatmen Responden kelompok intervensi mendapatkan madu sebelum tindakan pengambilan darah dan kelompok kontrol penelitian mendapatkan placebo (air putih).. d. Right to privacy and dignity Peneliti tidak mencatumkan nama responden dalam format kuesioner dan diganti dengan nomor kode dengan tujuan melindungi privasi dan martabat responden..6. selama penelitian kerahasiaan responden dijaga dengan cara saat dilakukan penjelasan dan persetujuan pengambilan data responden hanya didampingi oleh keluarga responden saja.61 lampiran 1. Right to anonymity and confidentially Data penelitian yang berasal dari responden tidak disertai dengan identitas responden. c.6. Wawancara berfokus pada karakteristik jenis Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. membuat kontrak kerja dan waktu yang jelas. menciptakan suasana santai sehingga tidak ada respon negatif yang terjadi dari responden. Data Karakteristik Responden Data karakteristik responden diperoleh dari wawancara pada responden atau orang tua responden. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini.. menerima masukan dan mempertahankan sikap empati.1. tepat waktu. Selama pengolahan data. Data yang diperoleh hanya diketahui oleh peneliti dan orang tua responden yang bersangkutan. Kelompok kontrol mendapatkan madu yang sama setelah tindakan pengambilan darah selesai.

. ekspresi verbal 0-2. Data Nyeri Nyeri diukur dengan mengunakan kuesioner Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS).. 2009). skor 5 awaitan nyeri dan skor 13 untuk skala nyeri yang tertinggi. 2011).. yaitu tangisan. 2001). posisi badan 1-2. tangisan memiliki skor 1-3. Uji validitas instrumen dalam penelitian ini adalah konten dan isi. Uji validitas instumen bertujuan untuk mengukur ketepatan suatu instrumen data (Polit & Beck 2012).62 kelamin. Ayu Yuliani Sekriptini. ahli anastesi dan perawat) dan direkomendasikan oleh berbagai ahli (Suraseranivongse et al. ekspresi wajah dengan skor 0-2. skor 4 untuk tidak nyeri. ekspresi wajah. sentuhan 1-2 dan posisi kaki 1-2.7. dan riwayat pernah dilakukan pengambilan darah atau tidak dan didampingi oleh keluarga atau tidak. dan posisi kaki. sentuhan. Skor nyeri didapatkan berdasarkan penjumlahan skor pada setiap parameter dengan nilai skala nyeri 4 sampai dengan 13. FIK UI. yaitu seberapa tepat alat ukur mengatakan apa yang seharusnya diukur (Sastroasmoro & Ismael. yang dirancang oleh McGrath et al. 2011). Validitas merupakan suatu kesahihan. Validitas konten mengandung arti bahwa instrumen penelitian menunjukkan kemampuan item pertanyaan dalam istrumen mewakili semua unsur dimensi konsep yang sedang diteliti (Dharma. Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) merupakan skala nyeri yang terdiri dari enam parameter pengkajian.. Validitas dan Reliabilitas Instrumen Kualitas data ditentukan oleh skor validitas dan realibilias alat ukur. Masing-masing parameter memiliki skor nilai yang berbeda. 2013 .. Penilaian skor nyeri dilihat dari hasil rekaman video saat dilakukan tindakan pengambilan darah.2. Alat instrumen CHEOPS merupakan alat ukur yang dirancang untuk digunakan oleh petugas kesehatan (dokter.6. 4. 4. (1985). posisi badan. Uji konten penelitian ini Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Validitas isi adalah kemampuan instrumen menggambarkan secara tepat teori dan konsep dari veriabel yang akan diteliti (Burns & Grove. ekspresi verbal. usia anak.

Reliabilitas menunjukkan apakah pengukuran menghasilkan data yang konsisten jika instrumen digunakan kembali secara berulang. Peneliti telah melakukan proses back translation pada Instrumen CHEOPS dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia setelah diterjemahkan hasil terjemahan berbahasa Indonesia diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris..63 dilakukan pada 15 responden yang sesuai dengan kriteria inklusi yang memiliki karakteristik hampir sama dengan responden penelitian dan dilakukan di tempat yang berbeda yaitu di RS Swasta Kota Cirebon. Hasil uji validitas konten instrumen CHEOPS diperoleh nilai. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian..514 dengan tingkat kepercayaan 95% hasil tersebut menunjukkan bahwa instrumen CHEOPS valid. FIK UI. penghitungan reliability yang berarti terdapat diperoleh nilai kesepakatan yang kuat/sempurna diantara numerator secara signifikan.894. 2008). Reliability diantara pengambil data juga harus menggunakan pengukuran inter-observer reliability. Jika p value kurang dari alpa () maka koefisien reliabilitas (r) lebih dari 0. variasi subyek dan variasi instrumen.80 maka dianggap terdapat kesepakatan yang kuat/sempurna diantara peneliti dan numerator secara signifikan (Polit & Beck. Uji interobserver reliability direncakan dilakukan antara peneliti dan 2 orang asisten peneliti (numerator). dilakukan dengan Pada penelitan ini peneliti melakukan uji inter-observer reliability menggunakan jenis uji skala numerik. 2013 . Hasil cronbach’s alfa 0. Reliabilitas adalah skor konsistensi dari suatu pengukuran.. Ayu Yuliani Sekriptini. 2011). Relibilitas dipengaruhi oleh random error yang bersumber dari variasi observer. taraf signifikan r product moment dengan jumlah responden 15 adalah 0. Pengujian inter-observer reliability untuk data numerik dapat menggunakan uji inter-reliability Pearson’s coefficient correlation for two judge. Reliabilitas juga dapat didefinisikan sebagai derajat suatu pengukuran bebas dari random error sehingga menghasilkan suatu pemikiran yang konsisten (Dharma.

Hasil telaahan pembimbing instrumen CHEOPS dapat digunakan saat penelitian.9. Persiapan a...64 oleh peneliti di review dengan kualifikasi tiga orang sarjana terdiri dari perawat dan guru bahasa Inggris yang salah satunya mengajar di pendidikan bahasa Inggris di English Study Centre. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Setelah penelitian dinyatakan lulus uji etik dari Komite Etik Fakultas Keperawatan Universitas Indonesia.1. Madu yang diberikan madu PERHUTANI jenis multiflora. ada beberapa tahap yang peneliti lalui : 4. Ayu Yuliani Sekriptini. Pemberian madu berdasarkan dosis pemberian obat pada anak-anak (menggunakan rumus Young). 4.9. Intervensi yang Dilakukan Responden pada kelompok intervensi emdapatkan madu dengan konsentrasi 50% dan pada kelompok kontrol diberikan air putih (plasebo). Prosedur administrasi Tahap persiapan penelitian.. FIK UI. Pelaksanaan pemberian madu pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol pada kelompok kontrol diberikan peroral dilakukan oleh asisten teknis peneliti. b. Madu yang diberikan untuk usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml. peneliti melakukan pengurusan ijin penelitian dan kaji etika penelitian. sehingga menghasilkan konsentrasi madu 50%. Pemberian plasebo jumlah yang diberikan pada anak sama dengan jumlah ml pada madu. 2013 . 4. Cara dan dosis: a. c. Peneliti mencampurkan madu dan air aqua dengan perbandingan 1:1. Prosedur Pengumpulan Data Sebelum melakukan pengumpulan data. Hal tersebut bertujuan agar instrumen yang digunakan dalam penelitian sesuai dengan instrumen asli yang sebenarnya.8. Kemudian instrumen tersebut ditelaah oleh pembimbing untuk menjamin bahwa alih bahasa yang dibuat oleh peneliti sudah sesuai dengan instrument dan digunakan pada saat penelitian.

Sosialisasi ini bertujuan untuk menjelaskan tujuan. cara pemberian madu. prosedur pelaksanaan. 2013 ... perekaman video dilakukan oleh peneliti sendiri. peneliti mengajarkan kepada perawat pelaksana teknis penelitian cara pengisian data responden. dan manfaat penelitian. Ayu Yuliani Sekriptini.65 selanjutnya surat tersebut disampaikan pada Badan Penelitian Komisi Etik Penelitian dan Direktur RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. Prosedur Teknis Pada tahap persiapan penelitian. kemudian peneliti memilih perawat yang dilibatkan sebagai asisten teknis penelitian ini dengan pertimbangan dari Kepala Ruangan Unit Gawat Darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. peneliti terlebih dahulu melakukan sosialisasi rencana penelitian ke dokter. Peneliti melibatkan delapan orang perawat untuk menjadi pelaksana teknis pengambilan darah saat penelitian dengan latar belakang D III perawatan. peneliti menjelaskan proses pemberian madu. FIK UI. dan dua dengan latar belakang pendidikan magister keperawatan menjadi asisten penelitian untuk menilai skor nyeri pada hasil rekaman video. Peneliti melakukan persamaan persepsi instrumen skor nyeri CHOEPS dengan asisten peneliti dengan melakukan pengukuran inter-observer reliability diantara pengambil data. b. kepala ruangan. dan perawat ruangan yang bertugas di ruangan tempat penelitian. Sosialisasi dilakukan pada tanggal 14 November 2012 di RSUD Gunung Jati dan tanggal 8 Desember 2012 di RSUD Arjawinagun Kota Cirebon. banyaknya madu yang akan diberikan. Setelah perawat pelaksana teknis penelitian dipilih sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Uji inter-observer reliability dilakukan oleh dua atau lebih observer dengan cara melakukan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. jumlah madu yang diberikan dan bagaimana cara pemberiannya kepada calon asisten teknis peneliti.

4. sehingga semua pengambilan data memilki interpretasi yang sama terhadap parameter yang akan diobservasi.2. kegunaan. Hasil uji Uji inter-observer reliability diperoleh nilai cronbach’s alfa 0. 2012). Pelaksanaan Tahap pelaksanaan penelitian ini melalui tahap-tahap sebagai berikut : a. prosedur penelitian.. Penghitungan denyut nadi sebelum dan sesudah Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Orang tua kelompok intervensi diberi penjelasan mengenai alasan pemberian. Bagi calon responden yang bersedia diminta menandatangani lembar persetujuan. Pada orang tua kelompok kontrol diberikan penjelasan alasan pemberian plasebo (air). Peneliti memberikan kesempatan calon responden dan keluarga untuk bertanya. tujuan. d. Pengambilan responden kelompok kontrol di RSUD Gunung Jati dan responden kelompok intervensi di RSUD Arjawinangun Kota Cirebon. 2013 . dan cara pemberian madu. serta hak dan kewajiban menjadi responden. sebelumnya peneliti dan asisten teknis peneliti mengukur dan mencatat tanda vital (denyut nadi) pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol 5 menit sebelum pengambilan darah.66 pengukuran suatu kejadian secara simultan dan kemudian masingmasing observer mencatat parameter kejadian tersebut sesuai koding pada instrumen secara independen (Polit & Back. Ayu Yuliani Sekriptini. yang berarti terdapat kesepakatan yang kuat/sempurna diantara numerator secara signifikan. c.9. manfaat. Pengujian ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan asumsi antar pengambil data. selanjutnya meminta kesediaan calon responden untuk berpartisipasi setelah mendapatkan penjelasan tentang maksud.894... b. serta pemberian madu setelah tindakan pengambilan darah. FIK UI. Peneliti dan asisten teknis peneliti melakukan pengambilan data dengan mengisi lembar kuesioner karateristik responden dengan merujuk pada catatan medis responden. Peneliti dan asisten tehknik peneliti memilih responden yang memenuhi kriteria inklusi untuk dijadikan responden.

Pada kelompok kontrol melakukan hal yang sama dengan memberikan plasebo (air) peroral dengan menggunakan gelas kecil 2 menit sebelum tindakan invasif pengambilan darah dilakukan dan saat setelah penusukan peneliti penelitian melakukan perekaman dengan menggunakan video dan mengukur kembali denyut nadi kelompok kontrol setelah intervensi pengambilan darah. kemudian direkam ulang kembali.. Peneliti dan asisten teknis peneliti memberikan madu peroral 2 menit dengan menggunakan gelas kecil sebelum dilakukan tindakan invasif pengambilan darah. f. saat setelah penusukan peneliti melakukan perekaman video. kemudian kelompok kontrol diberi madu sesuai dengan takaran yang telah ditentukan. Jika pengambilan darah tidak berhasil pada responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.. i. Peneliti dan asisten teknis peneliti mengucapkan terimakasih pada orang tua dan responden dari kelompok kontrol dan kelompok intervensi atas keterlibatan dalam penelitian ini. sebelum dilakukan pengulangan penusukan responden diistirahatkan dulu selama 5 menit kemudian dilakukan pemberian ulang madu pada kelompok intervensi dan plasebo pada kelompok kontrol 2 menit sebelum pengambilan darah dengan terlebih dahulu diukur kembali denyut nadi responden.67 pengambilan darah hanya untuk mengetahui respon fisiologis nyeri bukan untuk dianalis. 2013 .. g. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. e. respon yang muncul pada anak saat penusukan jarum dan kemudian mengukur kembali denyut nadi setelah intervensi pengambilan darah. Pada penelitian ini tidak ditemukan responden yang drop out. jika pengulangan pengambilan darah dilakukan kurang dari 5 menit responden dianggap drop out tidak dijadikan responden penelitian. kemudian dilakukan penilaian terhadap skor nyeri. h. FIK UI. Hasil rekaman video di berikan kepada asisten peneliti. Ayu Yuliani Sekriptini.

Pengolahan Data Sebelum menganalisis data yang telah terkumpul.. 4. dilakukan hal-hal sebagai berikut : 4.4.5. meliputi: kebenaran tentang pengisian dan kelengkapan jawaban lembar pengkajian.2.3.10. FIK UI. Coding Memberi kode pada setiap variabel untuk mempermudah peneliti dalam melakukan analisis dan tabulasi data yaitu memberikan kode untuk nama responden. 4.10. Processing Merupakan suatu proses memasukkan data ke dalam komputer untuk selanjutnya dilakukan analisis data dengan menggunakan program statistik dalam komputer. Tabulating Data dikelompokkan menurut katagori yang telah ditentukan dan selanjutnya data ditabulasi dengan menggunakan program statistik dalam computer. dan kelompok intervensi dengan kode 1.. kelompok kontrol dengan kode 0.1. Peneliti mengoreksi data yang telah diperoleh.10.10. 2013 . 4.68 4. Ayu Yuliani Sekriptini.. Editing Editing data dilakukan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh sudah lengkap. dengan melakukan pemeriksaan kembali data yang sudah di entry data untuk melihat ada tidaknya kesalahan dalam entry data. 4.10. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Data dimasukkan sesuai nomor responden pada kuesioner dan nomor pada lembar observasi dan jawaban responden diajukan ke dalam komputer dalam bentuk angka sesuai dengan skor jawaban yang telah ditentukan ketika melakukan koding.10. Cleaning Merupakan proses akhir dalam pengolahan data.

11..11. dan variabel terikat. Pada penelitian ini uji bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.2.69 4. Analisis univariat digunakan untuk menggambarkan karakteristik usia. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui perbedaan antara kedua variabel. Hasil analisis data berupa distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel termasuk mean. yaitu uji statistik untuk mengetahui beda mean pada dua kelompok data independen (Hastono.. 2007). 4. yaitu sebagai berikut : 4. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk membuktikan hipotesa yang telah dirumuskan yaitu apakah ada perbedaan rata-rata skor nyeri antara pasien anak dengan pemberian madu (kelompok intervensi) dengan yang diberi placebo (air putih) (kelompok kontrol) dan apakah ada selisih perbedaan skor nyeri yang bermakna terhadap kedua kelompok tersebut. FIK UI. serta skor nyeri responden. Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan terhadap karakteristik responden. variabel bebas.11. Uji yang dipergunakan adalah uji beda 2 mean independen (independent sample t test).. median. Ayu Yuliani Sekriptini. kehadiran keluarga selama prosedur pengambilan darah. Tabel 4.1. dan standar deviasi. pengalaman responden dalam prosedur pengambilan darah sebelumnya. jenis kelamin. tindakan pemberian madu yang diberikan. 2013 . Pada analisis univariat. Prosedur Analisis Data Data dianalisis dalam bentuk analisis univariat dan bivariat. Uji Statistik Variabel independen Pemberian madu Skala Variabel dependen Skala Uji Statistik Kategorik Skor nyeri Numerik Uji T Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. disajikan dalam distribusi frekuensi dan prosentase atau proporsi.2.

. FIK UI.. 2013 .70 Variabel Skala independen Variabel konfonding Usia Kategorik Jenis kelamin Kategorik Pengalaman Kategorik sebelumnya Pendampingan Kategorik orang tua Variabel dependen Skala Uji Statistik Skor nyeri Skor nyeri Skor nyeri Numerik Numerik Numerik Uji T Uji T Uji T Skor nyeri Numerik Uji T Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini..

Penelitian ini dilakukan di dua rumah sakit di ruang unit gawat darurat RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi yang didasarkan pada hasil analisis univariat dan bivariat. uji hipotesis dan penyajian hal-hal lain yang akan diuraikan dalam bab ini.BAB 5 HASIL PENELITIAN Bab ini secara khusus menyajikan dan menjelaskan hasil penelitian dan analisis data.. standar deviasi. Karakteristik Responden Karakteritik pada reponden penelitian ini meliputi usia. dan pengalaman pengambilan darah serta menggambarkan rata-rata. berikut ini. kehadiran keluarga. jenis kelamin. nilai terendah dan tertinggi tingkat nyeri kelompok kontrol dan intervensi.1. median. Analisis Univariat Hasil analisis univariat menggambarkan karakteristik responden berdasarkan usia. FIK UI. 5. Ayu Yuliani Sekriptini. dapat dilihat pada tabel 5. 71 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dan pengalaman pengambilan darah.1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian madu terhadap menurunan skor nyeri pada anak. 2013 . Data deskriptif. kehadiran keluarga.1. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 27 November – 24 Desember 2012 dengan total sampel 34 responden sebagai kelompok kontrol dan 34 sebagai kelompok intervensi.1. 5... jenis kelamin.

Dilihat dari karakteristik pengalaman sebelumnya kelompok intervensi memiliki jumlah yang sama (50%) dan pada kelompok kontrol sebagian besar memiliki riwayat diambil darah sebelumnya (55.. 2013 .8 33 1 97.72 Tabel 5.1 31 3 91. jenis kelamin.1 diatas. Berdasarkan karakteristik jenis kelamin kelompok intervensi sebagian besar memikili jenis kelamin laki-laki (52.9 44.1 Distribusi responden berdasarkan usia.9 47. kehadiran keluarga.5 48.1 17 17 17 17 50 50 19 15 55.1 5.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. menunjukkan bahwa jumlah karakteristik usia toddlers dan prasekolah untuk masing-masing responden pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol memiliki jumlah yang sama (50%).1 36 32 52.9 Total f % 50 50 34 34 50 50 50 50 35 33 51.1 2. Dilihat dari karakteristik kehadiran orang tua secara keseluruhan kelompok intervensi (97.9 47.9%) dan karakteristik jenis kelamin kelompok kontrol memiliki jumlah yang sama (50%).5 Hasil tabel 5..2 8.1%) dan kelompok kontrol (91. FIK UI. dan pengalaman pengambilan darah di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Usia 1 – 3 tahun >3 – 6 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Pengalaman sebelumnya Ada riwayat Pertaman kali Kehadiran orang tua Hadir Tidak hadir Kontrol (n=34) F % Intervensi (n=34) F % 17 17 50 50 17 17 18 16 52.2%) didampingi oleh orang tua selama proses pengambilan darah.9%).9 64 4 94.

33. Berikut ini disajikan hasil uji kesetaraan pada variabel jenis kelamin.8 dengan skor nyeri terendah adalah 5 dan skor tertinggi adalah 13.2 berikut ini: Tabel 5. Uji homogenitas dilakukan dengan uji beda proporsi menggunakan Uji F.2. pengalaman nyeri sebelumnya dan kehadiran orang tua pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi dapat dilihat pada tabel 5. Skor Nyeri Kelompok Madu dan Kelompok Plasebo Skor nyeri responden yang dinilai dengan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHOEPS) ditunjukkan pada tabel 5. usia.20-9. Ayu Yuliani Sekriptini.1.78 sampai dengan 11.49 9.78-11..5 34 34 8 11 MininalMaksimal 5-13 6-13 95% CI 8. 2013 . FIK UI.2 diperoleh rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi adalah 8..49 dan diyakini rata-rata skor nyeri pada kelompok plasebo berada diantara 9. Dari estimasi diyakini bahwa rata-rata skor nyeri kelompok madu berada diantara 8.8 10. 5.73 5.20 sampai dengan 9.3 berikut ini: Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.. Sedangkan rata-rata skor nyeri pada kelompok kontrol adalah 11 dengan skor nyeri terendah 6 dan skor tertinggi 13.2 Distribusi skor nyeri pada kelompok madu dan kelompok plasebo di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Kelompok Skor Nyeri Madu Plasebo Mean Median n 8.2. Uji Kesetaraan (Homogenity) Uji Homogenitas bertujuan untuk membuktikan bahwa perubahan skor nyeri yang terjadi bukan karena variasi responden tetapi karena pengaruh dari pemberian madu dalam tindakan pengambilan darah.33 Hasil analisis tabel 5.

1 0. Ayu Yuliani Sekriptini. usia.8 2.001 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.3. pengalaman sebelumnya dan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 No Variabel 1 Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Usia 1–3 >3 – 6 Pengalaman sebelumnya Pernah Tidak pernah Kehadiran orang tua Hadir Tidak hadir 2 3 4 Kontrol (n=34) F % Intervensi (n=34) F % 18 16 52..3 Uji homogenitas data responden berdasarkan jenis kelamin..4 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri pada anak kelompok intervensi dan kelompok kontrol di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Skor Nyeri Kelompok Mean Median Madu Plasebo 8.9 0.1 2.9 44.. Analisis Bivariat 5.88 31 3 91. pengalaman nyeri sebelumnya dan karakteristik kehadiran keluarga pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi memiliki varian sama dengan nilai p value > 0. usia.8 10.2 8.1.00 17 17 50 50 19 15 55.3. Perbedaan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol Tabel 5.00 Hasil uji homogenitas diperoleh hasil bahwa berdasarkan karakteristik jenis kelamin.74 Tabel 5. FIK UI.9 47. 5.8 33 1 97. 2013 .2 34 34 MininalMaksimal 5-13 6-13 p value 0.1 17 17 17 17 50 50 17 17 50 50 1.61 50 50 p value 1.5 8 11 SD n 1.05.

5 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan usia anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Usia Toddlers Prasekolah n 17 17 Skor Nyeri Madu Plasebo 9. a.5.05.75 Hasil analisis tabel 5.5. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 9.8 dengan standar deviasi 1. p value 0. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik usia responden.8 dan rata-rata skor nyeri kelompok kontrol sebesar 10. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik anak. kelompok (p value 0. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 .3. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan rata-rata skor nyeri pada kelompok kontrol saat prosedur pengambilan darah.001 dengan  < 0.140).001).7 p value 0.4 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.2 ( p value 0.002* 0. (p value 0. Hasil menunjukkan rata-rata skor nyeri kelompok intervensi lebih rendah dari pada rata-rata kelompok kontrol. Ayu Yuliani Sekriptini..5 8.002) sedangkan pada usia prasekolah untuk intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.1 11. 5.5 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada karakterisik anak usia toddlers untuk kelompok intervensi memiliki ratarata skor nyeri sebesar 9..5 dengan standar deviasi 2. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri usia toddlers antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sedangkan rata-rata skor nyeri pada usia prasekolah tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.7. Tabel 5.5 9.140 Hasil analisis tabel 5.2.1 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 11. FIK UI..

FIK UI.016* 0.76 b.002).7 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Pengalaman nyeri Pernah Tidak pernah n 36 32 Skor Nyeri Madu Plasebo 9.029* Hasil analisis tabel 5. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. c.5 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. Tabel 5. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan karakteristik jenis kelamin responden. Ayu Yuliani Sekriptini. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri laki-laki dan perempuan antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.7. Tabel 5.045* 0. (p value 0.8 8. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan pengalaman nyeri sebelumnya..3 (p value 0.5 10.7 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada responden yang pernah mengalami nyeri sebelumnya untuk kelompok Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.1 10.045) sedangkan pada jenis kelamin perempuan untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8..2 p value 0. 2013 .6 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan jenis kelamin di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Jenis kelamin Laki-laki Perempuan n 35 33 Skor Nyeri Madu Plasebo 9.3 p value 0.6 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada karakterisik jenis kelamin laki-laki untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 9.7 8.5 10..002* Hasil analisis tabel 5.1.1 10.

016) sedangkan pada responden yang belum memiliki penalaman nyeri untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8.7 p value 0. (p value 1.8..000).77 intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 9.1 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.8 menunjukkan bahwa rata-rata skor nyeri pada kehadiran orang tua untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 8. 2013 .9 10.5.8.8 Distribusi perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Kota Cirebon November-Desember 2012 Variabel Kehadiran orang tua n Hadir Tidak hadir 64 4 Skor Nyeri Madu Plasebo 8.000* 1. (p value 0.7. d.9 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10.000 Hasil analisis tabel 5. dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 10. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri pada kelompok yang dihadir orang tua antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sedangkan rata-rata skor nyeri pada kelompok yang tidak dihadiri orang tua tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hasil uji statistik disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata skor nyeri memiliki pengalaman nyeri sebelumnya dan yang tidak memiliki pengalaman antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi.. Perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol berdasarkan kehadiran orang tua. FIK UI.2 (p value 0. (p value 0.029).8 7 7.000) sedangkan orang tua yang tidak hadir untuk kelompok intervensi memiliki rata-rata skor nyeri sebesar 7 dan kelompok kontrol memiliki rata-rata skor nyeri 7. Ayu Yuliani Sekriptini. Tabel 5.

perbedaan skor nyeri anak saat pengambilan darah intravena. pengalaman nyeri sebelumnya dan kehadiran orang tua. karena mencegah terjadinya keracunan botulismus dari bakteri clostridium botulinum. 2013 . Pada bagian berikutnya akan dibahas hasil uji beda rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah intervensi pada tiap kelompok dan perbedaan rerata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan karakteristik anak. usia. 6. Dari Hasil analisis perbedaan rata-rata skor nyeri pada usia anak.. peneliti mendapatkan bahwa rata-rata skor nyeri ini menunjukkan ada Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Karakteristik Responden dan Hubungan Karakteristik dengan Skor Nyeri a.1. Pemilihan usia responden pemberian madu berdasarkan rekomendasi Badan Madu Nasional (The National Honey Board). Interpretasi dan Diskusi Hasil Penelitian ini bertujuan menidentifikasi gamabran karakteristik responden. Pembahasan diawali dengan interpretasi dan diskusi hasil penelitian mengenai karakteristik responden yang meliputi jenis kelamin.78 BAB 6 PEMBAHASAN Bab ini akan menjelaskan tentang pembahasan dan diskusi hasil penelitian ini.. perbandingan hasil penelitian dengan hasil penelitian sebelumnya atau dengan teori-teori yang mendukung dan berlawanan dengan temuan penelitian ini. Ayu Yuliani Sekriptini.1.. menyebutkan pemberian madu di atas usia 1 tahun.1. FIK UI. Bagian akhir dari bab ini akan membahas keterbatasan penelitian dan implikasi serta tindak lanjut hasil penelitian yang dapat diterapkan dan diaplikasikan pada praktik keperawatan dalam rangka meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien anak yang mengalami nyeri karena tindakan invasif pengambilan darah. Pembahasan dan diskusi hasil penelitian selengkapnya akan diperjelas sebagai berikut: 6. Usia Dari hasil penelitian ini diperoleh bahwa usia responden pada penelitian ini 1-6 tahun berada pada rentang usia 1-3 (toddler) dan >36 (prasekolah).

2010).. (2006) dalam penelitiannnya menjelaskan bahwa perkembangan usia anak mempengaruhi makna nyeri dan ekspresi yang dimunculkan. dan Rakhmawati (2003) menyatakan bahwa terdapat perbedaan respon nyeri yang signifikan baik untuk kelompok toddler dan anak usia prasekolah dilakukan pemasangan infus.5 dan kelompok kontrol 9. skor nyeri usia toddler lebih tinggi (kelopok intervensi 9. Penelitian Young (2005) menjelaskan bahwa anak yang usianya lebih muda merasakan nyeri yang lebih besar dan memilki toleransi nyeri rendah daripada usia yang lebih tua. Mardhiyah. Usia toddler menunjukkan adanya respon nyeri dengan indikator verbal dan perubahan aktifitas perilaku yang berlebih dibandingkan anak usia pra sekolah. Hasil penelitian Mediani. 2013 .. Kenneth et al. Perbedaan tingkat usia dan perkembangan yang ditemukan antara kelompok usia ini dapat mempengaruhi bagaimana anak bereaksi terhadap nyeri (Daniela et al. usia toddler belum mampu mengendalikan respon nyeri dibandingkan kelompok usia usia prasekolah.140).7).002).5) dibandingkann skor nyeri usia prasekolah (kelopok intervensi 8.1 dan kelompok kontrol 11. Toleransi terhadap nyeri akan terus meningkat sesuai dengan pertambahan usia. semakin bertambah Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Hasil uji statistik karakteristik usia menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri pada responden usia toddler (p value 0. Hal ini didukung oleh penelitian Brusch dan Zelter (2004) bahwasannya respon nyeri pada anak terhadap prosedur tindakan tertentu ditentukan oleh tingkatan usia. Hasil penelitian kelompok toddler dan anak usia prasekolah menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna. Ayu Yuliani Sekriptini. Penilaian skor nyeri menggunakan skala nyeri CHEOPS..79 perbedaan skor nyeri pada tingkat usia. sementara pada usia prasekolah tidak ada perbedaan yang signifikan (p value 0... FIK UI.

. tetapi berdasarkan hasil uji statistik karakteristik jenis kelamin menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri pada kerakeristik jenis kelamin laki-laki dan perempuan (laki-laki p value 0. 2013 .. FIK UI. Jenis Kelamin Hasil penelitian menunjukkan menunjukkan bahwa sebagain besar responden pada kelompok kontrol berjenis kelamin laki-laki (52. sedangkan pada kelompok intervensi. Dari total sampel secara keseluruhan.80 usia anak maka makin bertambah pemahaman tentang nyeri dan usaha untuk pencegahan terhadap nyeri. b. Ayu Yuliani Sekriptini. Dari hasil analisis antara jenis kelamin dengan skor nyeri pada saat pengambilan darah. Pada usia toddler respon nyeri yang dimunculkan lebih ekspresif di bandingkan dengan usai prasekolah dimana usia toddler masih belum mampu menggambarkan dengan spesifik nyeri yang dirasakan karena keterbatasan kosakata dan reason motorik yang muncul anak toddler baru mampu mendorong stimulus menjauh setelah terjadi nyeri pengalaman nyeri dan sedangkan usia prsekolah telah meminta untuk mengakhiri tindakan yang menyebabkan nyeri dan anak mampu mendorong hal yang menyebabkan nyeri. jenis kelamin responden seimbang antara laki-laki dan perempuan (50%).. Peneliti berasumsi bahwa hal ini mungkin dipengaruhi oleh perbedaan kelompok usia anak yang diteliti. (2007) menyebutan bahwa respon nyeri pada anak berubah sejalan dengan pertambahan usia.045 dan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. lebih banyak daripada perempuan.9%). Pernyataan tersebut didukung oleh konsep teori Hockenberry dan Wilson. diperoleh bahwa reponden jenis kelamin laki-laki. peneliti mendapatkan bahwa skor nyeri pada kelompok intervensi laki-laki sedikit lebih tinggi dari pada perempuan sedangkan pada kelompok kontrol skor nyeri antara laki-laki dan perempuan hampir sama.

002) pada kelompok internesi dan kelompok kontrol. Ayu Yuliani Sekriptini. Penelitian ini menghubungkan neurotrasmiter opioid endogen. 2013 . Guinsburg et al. (2002) berpendapat berbeda sebaliknya.. hasil penelitian menyebutkan tidak ada perbedaan yang signifikan ekspresi nyeri antara laki-laki dan perempuan.. FIK UI. pengalaman ekspresi. Hal ini didukung oleh pendapat Potter dan Perry (2005) menjelaskan bahwa toleransi terhadap nyeri dipengaruhi faktor-faktor biokimia dan merupakan hal yang unik pada setiap individu tanpa memperhatikan jenis kelamin. dalam penelian tersebut lebih menjelaskan perbedaan jenis kelamin hanya karena sensitivitas. Penelitian Zuibieta et al. Perbedaan jenis kelamin sangat mempengaruhi nyeri. Wanita mengalami perubahan hormon progesteron dan estrogen saat menstruasi yang dapat mempengaruhi opiod endogen pada wanita. (2000) melakukan penelitian tentang perbedaan dalam ekspresi nyeri antara bayi baru lahir laki-laki dan perempuan saat dilakukan penusukan tumit. dan kondisi situasional yang mempengaruhi dan bagaimana anak menanggapi nyeri. Penelitian McGrath & Howard (2003) antara anak laki-laki dan perempuan menjelaskan perbedaan tidak terlalu berpengaruh terhadap respon nyeri.. ditemukan bahwa opiod endogen laki-laki lebih tinggi dari pada opiod endogen pada perempuan. hal ini disebabkan adanya perbedaan hormon antara lakilaki dan perempuan. Vierhaus... Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Terkait dengan hal tersebut. dan Lohaus (2012) menjelaskan toleransi nyeri perempuan dan laki-laki sama dan akan berkembang pada usia pubertas.81 perempuan p value 0. Peneliti berasumsi bahwa hal ini tidak terjadi pada penelitian ini karena perbedaan usia responden. hasil penelitian Schmitz.

. 2013 . 2007). Hal ini menujukkan bahwa hampir sebagian responden memiliki pengalaman nyeri sebelumnya.9%).029). peneliti mengasumsikan pengalaman sebelumnya berhubungan dengan usia responden dimana usia responden berada pada rentang usia toddler dan prasekolah. Penelitian Noel et al. dimana pengalarnan individu dengan nyeri yang dialami sebelumnya akan menyebabkan perasaan takut pada individu ketika menghadapi peristiwa menyakitkan berikutnya.82 c. didapatkan bahwa ada perbedaan yang bermakna pada yang tidak pernah mengalami nyeri sebelumnya dan yang pernah mengalami nyeri sebelemnya (pernah p value 0. pengalaman Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.016 dan tidak pernah p value 0. diperoleh bahwa reponden dengan pengalaman sebelumnya lebih banyak dari pada yang baru pertama kali. FIK UI. Terkait hasil penelitian Smeltzer dan Bare (2001) mengatakan bahwa pengalaman sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang tentang nyeri. Usia tersebut merupakan usia sangat rentan terhadap krisis penyakit dan hospitalisasi (Hockenberry & Wilson. melakukan penelitian pengaruh pengalaman anak-anak untuk stimulus nyeri baru pada pengalaman nyeri berikutnya. Responden dengan anak yang mempunyai pengalaman operasi dan pernah dilakukan venipuncture. Dilihat dari uji statisik rata-rata skor nyeri terhadap pengalaman nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.. (2012).. sedangkan pada kelompok kontrol pengalaman nyeri sebelumnya seimbang antara yang pernah dan yang pertama kali (50%). Pengalaman Nyeri Sebelumnya Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden pada kelompok intervensi memiliki pengalaman nyeri sebelumnya (55.. Dari total sampel keseluruhan. Riwayat sakit atau hospitalisasi sebelumnya dimungkinan dapat menyebabkan adanya pengalaman nyeri sebelumnya pada anak. Ayu Yuliani Sekriptini.

. Hasil menunjukkan pengalaman nyeri sebelumnya pada anak-anak berhubungan dengan rasa takut dari waktu ke waktu akan mempengaruhi pengalaman nyeri yang baru. Penelitian Ozcetin. bantuan atau perlindungan. Hasil penelitian nyebutkan rata-rata skor nyeri pada anak yang didampingi oleh orang tua lebih rendah dari pada yang didampingi oleh petugas kesehatan. Hal ini didukung konsep teori Potter dan Perry (2005) menyebutkan kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang mengalami nyeri. Kehadiran anggota keluarga mampu memberikan dukungan dan kenyamanan pada anak.. sehingga anak merasa lebih tenang dan nyeri berkurang. d. (2011) menjelaskan kehadiran keluarga sangat mempengaruhi respon nyeri pada anak. Hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan signifikan rata-rata skor nyeri dengan kehadiran orang tua (p value 0. Hal ini menunjukkan bahwa kehadiran orang tua pada saat anak mengalami hospitalisasi memegang peranan penting. et al. FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.000).. Dengan kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kehadiran Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada anggota keluarga untuk memperoleh dukungan. Hockenberry dan Wilson (2007) menjelaskan bahwa kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang mengalami nyeri.1%). Kehadiran Orang Tua Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok intervensi (97. dan diobservasi ekspresi wajah yang muncul pada anak saat dilakukan wawancara.83 nyeri minimal 1 tahun yang lalu. kemudian dilakukan wawancara pengalaman nyeri yang pernah dialami.000) sementara tidak ada perbedaan yang signifikan pada ketidakhadiran orang tua (p value 1. 2013 . dan kelompok kontrol (91.2%) hampir seluruh responden didampingi oleh orang tua.

. Saat dilakukan tindakan pengambilan darah responden mampu menerima penjelasan yang diberikan dan bersedia didampingi oleh perawat. Hal ini sesuai dengan penerapan prinsip asuhan berpusat pada keluarga dan aplikasi comfort theory pada keperawatan anak. pelibatan orangtua dapat memenuhi kebutuhan rasa nyaman psikososial dan sekaligus kenyamanan lingkungan bagi anak. Hal ini disebabkan karena responden yang tidak dihadiri orang tua pada rentang usia prasekolah (2 orang berusia 5 tahun dan 2 orang berusia 6 tahun). Penilaian skor nyeri menggunakan Wong-Baker FACES.. bukan merupakan orang asing bagi anak. 2005). Ayu Yuliani Sekriptini. Pemenuhan rasa nyaman yang adekuat pada semua aspek dengan tingkat relief hingga transcendence akan Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 . Dari jumlah seluruh responden ada 4 responden tidak didampingi oleh orang tua dengan rata-rata skor nyeri lebih tingggi (skor nyeri kelompok intervensi 7 dan skor nyeri kelompok kontrol 7.7) dibandingkan responden yang didampingi orang tua (skor nyeri kelompok intervensi 10. karena orangtua merupakan individu yang dikenal.. psikospiritual. dan lingkungan). FIK UI. Aplikasi comfort theory Kolcaba (2003) menyebutkan bahwa tahap perkembangan dan kehadiran orang tua merupakan interventing variabel yang perlu diperhatikan dalam upaya untuk mencapai rasa nyaman pada semua aspek (kenyamanan fisik. sehingga dapat menurunkan kecemasan dan memberi dampak positf terhadap pemenuhan kenyamanan fisik bagi anak (Kolcaba & Dimarco. sosiokultural.84 orangtua memiliki pengaruh efek yang positif pada toleransi nyeri anak. Dalam hal ini sesuai dengan konsep Hockenberry dan Wilson (2007) pada usia prasekolah kemapuan kognitif dan komunikasi anak sudah mulai berkembang dengan baik dan mulai mampu menerima penjelasan dari orang tua atau petugas kesehatan.8 dan kelompok kontrol 8.9).

001 (<0.85 mendorong pada penentuan intervensi berikutnya. kandungan glukosa dan sukrosa dalam madu kemungkinan dapat memberikan efek menyenangkan yang dapat menurunkan nyeri atau disebabkan oleh kandungan enzim flavonoid pada madu.05). Rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Penelitian Gradin. nilai p value 0. 2013 . Hasil penelitian menyebutkan sukrosa signifikan mengurangi skor nyeri. waktu menangis dan denyut jantung..1. Penelitian tentang glukosa dijelaskan oleh Bauer et al. 6. penurunan kebutuhan akan tindakan medis yang lain dan peningkatan kepuasan anak dan keluarga.. Penelitian Curtis el al.. Hal ini dikarenakan pemberian rasa manis akan meningkatnya -endorfin pada kelenjar hypophyse yang dapat menginhibisi trasmisi nyeri. Cry. Legs.2. FIK UI.. Hasil penelitian skor nyeri pada kelompok glukosa secara signifikan lebih rendah dan durasi Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Penilaian skor nyeri menggunakan Face. and Consolability Pain Scale (FLACC). Finnstrom. dan Schollin (2004) membandingkan efek mengurangi rasa sakit dari glukosa 30% per oral dengan pemberian ASI sesaat sebelum venipuncture pada bayi baru lahir.. Penelitian ini menggambarkan terdapat perbedaan rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi pada saat prosedur pengambilan darah dengan kelompok kontrol. Penelitian lain tentang sukrosa yang dilakukan oleh Taddio et al. (2007) membandingkan pemberian sukrosa 44% 2 ml per oral dibandingkan dengan pemberian empeng (dot) pada bayi usia 0-6 bulan di ruang unit gawat darurat anak pada prosedur venipuncture. Activity. rasa manis pada madu. (2004) bahwa pemberian larutan glukosa 30% sebanyak 2 ml dapat mengurangi respon nyeri pada bayi sebelum dilakukan pengambian sampel darah vena. Ayu Yuliani Sekriptini. (2010) menyebutkan bahwa sukrosa dapat meningkatkan kadar -endorfin sehingga dapat menurunkan respon nyeri. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor yaitu..

Penelitian lain tentang pemberian glukosa 30 % pada bayi dengan tindakan venipuncture di lakukan oleh Gradin. Holstein dan Schollin (2006) menunjukkan bahwa skor nyeri pada kelompok glukosa lebih rendah (rata-rata 4. prostaglandin inilah yang akan menyebabkan sensitisasi dari reseptor-reseptor nosiseptif dan dikeluarkannya zat-zat mediator nyeri seperti histamin. Penilaian skor nyeri menggunakan Premature Bayi Pain Profile (PIPP). et al (2011) pada tikus putih. menyebutkan bahwa pemberian glukosa 30% sebanyak 3 ml. hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan flavonoid pada madu dapat menghilangkan rasa nyeri. serotonin yang Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.86 menangis pendek dibandingkan dengan kelompok penerima ASI sesaat. Hal ini dukung dengan penjelasan Almada (2000) bahwa flavonoid dapat mencegah produksi enzim cyklooxygenase (COX). flavonoid memiliki dua efek sebagai analgesia dan antiinflamasi. Hal ini disebabkan oleh efek analgesik glukosa diduga mampu menginhibisi trasmini nyeri setinggkat spinal dan pemberian glukosa per oral dapat merangsang -endorphin di hipotalamus. (2009). Eriksson. FIK UI. 2013 .. Flavonoid memblok aksi dari enzim COX yang menurunkan produksi mediator prostaglandin. Penilaian skor nyeri menggunakan Premature Bayi Pain Profile (PIPP). Ayu Yuliani Sekriptini. Penilainan lamanya menangis dalam 3 menit pertama secara signifikan lebih rendah kelompok glukosa (median: 1 detik) daripada kelompok EMLA (median: 18 detik).. Enzim cyklooxygenase (COX) adalah suatu enzim yang mengkatalisis sintesis prostaglandin dari asam arakhidonat.. Sedangkan penelitian Carbajal et al. Hasil penelitian menyebutkan bahwa glukosa efektif dalam mengurangi gejala yang berhubungan dengan rasa sakit dari venipuncture pada bayi baru lahir dan lebih baik daripada local anestesi krim EMLA. 2 menit sebelum suntikan subkutan dapat penurunan skor nyeri pada bayi. Holmqvist.6) dibandingkan dengan kelompok EMLA (ratarata 5. Penelitian tentang madu per oral sebagai analgesik dilakukan Goenarto.7)..

2. Analisis peneliti..31%) dan flavonoid.87 akan menimbulkan sensasi nyeri. 6. Intervensi keperawatan sangat penting dalam mengurangi nyeri pada anak yang dilakukan tindakan invasif pengabilan darah salah satunya adalah pemberian madu. tetapi pada minggu ke dua penelitian jumlah responden yang didapatkan belum memenuhi target yang ditentukan. madu dapat menurunkan respon nyeri pada anak. Aspek nursing intervention yaitu pemberian intervensi non farmakologis berupa pemberian madu yang merupakan bagian intervensi keperawatan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Rasa manis yang dapat merangsang neurotransmiter yang berperan dalam supresi nyeri dan mengeluarkan opiat endogen di kelenjar hipopyse seperti -endorpin. Ketersediaan madu di masing-masing rumah sakit belum ada. Keadaan ini dikenal sebagai sensitisasi perifer (Breivik. Efek analgesik glukosa atau sukrosa ini diduga akibat pelepasan beta endorphin (merupakan hormon opiat endogen yang diproduksi sendiri oleh tubuh dan mirip sifatnya dengan morfin) dan mekanisme preabsorpsi dari rasa manis. 2013 .. begitu juga dengan serotonin dan GABA (gama amino butiryc acid) yang berfungsi menurunkan sensasi nyeri. Aplikasi comfort theory dalam penanganan nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah pada anak dapat diuraikan bahwa aspek health care need yaitu anak memiliki kebutuhan rasa nyaman selama prosedur invasif dilakukan.Keterbatasan Penelitian Tempat sampel pada awalnya peneliti akan melakukan penelitian di satu rumah sakit (RSUD Gunung Jati). FIK UI. kemungkinan disebabkan komposisi kimia madu mengandung glukosa (31%) dan sukrosa (1.. sehingga peneliti menambah tempat penelitian (RSUD Arjawinanun). Ayu Yuliani Sekriptini. Daniela et al. 2010).. sedangkan kandungan flavonoid pada madu memblok aksi dari enzim cyklooxygenase yang menghambat pelepasan subtansi prostaglandin. 2008.

Penanganan nyeri pada anak dapat dilakukan dengan berbagai intervensi. Padahal berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa nyeri pada anak akan menyebabkan kualitas hidup anak terganggu.Implikasi Hasil Penelitian Pengambilan darah intra vena merupakan salah tindakan invasif yang meyebabkan nyeri pada anak.88 6. Ayu Yuliani Sekriptini. tetapi terbukti efektif adalah tindakan pemberian madu per oral. Selama ini implementasi mengurangi nyeri pada anak cenderung kurang diperhatikan. Perhatian terhadap intervensi mudah yang dapat digunakan dalam mengurangi nyeri masih kurang tersosialisasi dengan baik bagi perawat dan orangtua. FIK UI. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dan kerusakan hepar serta alergi. 2013 . ibuprofen dan lain-lain. berbagai penelitian tidak menyarankan penggunaan obat-obatan tersebut dalam jangka waktu yang lama karena berisiko iritasi lambung. sehingga diharapkan keadaan trauma pada anak dapat diminimalkan dan anak dapat hidup sejahtera dan berkualitas. Selama ini digunakan berbagai macam obat analgesik untuk mengurangi nyeri pada anak seperti paracetamol. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu inovasi dalam asuhan keperawatan untuk mengurangi nyeri pada tindakan invasif lainnya.3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salah satu intervensi mengurangi nyeri yang mudah dan murah. Pemberian asuhan keperawatan yang dilakukan oleh perawat spesialis anak harus ilmiah dan inovatif.. Pencegahan atraumatik care merupakan tanggung jawab perawat spesialis anak bertanggung jawab untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dengan mencegah terjadinya nyeri pada anak.. Madu juga merupakan zat yang sangat dikenal oleh keluarga dan mudah didapat.. Respon nyeri yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan trauma pada anak yang berkepanjangan. Perawat khususnya perawat spesialis anak bertanggung jawab untuk melakukan inovasi selama pemberian asuhan pada anak.

FIK UI. Ayu Yuliani Sekriptini.. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.89 Penelitian ini perlu ditindaklanjuti dengan penelitian lain untuk mendapatkan evidence based yang akan diterapkan dalam layanan keperawatan pada anak.. 2013 .. mahasiswa keperawatan dan peneliti keperawatan harus bersama-sama mencari bukti-bukti ilmiah berdasarkan penelitian terkini terkait upaya meminimalisasi efek nyeri dan mengkaji serta menerapkannya dalam layanan keperawatan pada anak untuk meningkatkan kualitas hidup anak. Perawat khususnya perawat spesialis anak.

d. didampingi oleh orang tua. sebagian besar berjenis kelamin lakilaki.8 dan rata-rata skor nyeri pada kelompok anak yang diberi plasebo saat dilakukan pengambilan darah adalah 10. 90 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.1. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI. b.. Ada perbedaan yang berbeda pada rata-rata skor nyeri antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan nilai p value 0. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh madu untuk mengurangi nyeri pada anak saat diberikan tindakan invasif pengambilan darah di RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon dapat disimpulkan sebagai berikut : a. dan memiliki pengalaman nyeri sebelumnya. yang digunakan sebagai manajemen nyeri. 2013 .1 Pelayanan keperawatan dan institusi rumah sakit a. Ada perbedaan rata-rata skor nyeri pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan karakteristik anak khususnya karakteristik usia dan kehadiran orang tua.BAB 7 SIMPULAN DAN SARAN 7.. 7. b.5.2. Saran 7. Rata-rata skor nyeri pada kelompok anak yang diberikan madu saat dilakukan pengambilan darah adalah 8.. Mengembangkan program seminar dan pelatihan terkait tentang terapi nonfarmakologi yang dapat diterapkan pada anak sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya. Usia responden ada pada rentang 1-3 tahun (toddler) dan >3-6 tahun (preschool) dengan proporsi sama. c.2.001. Mempertimbangkan hasil penelitian sebagai acuan dalam terapi nonfarmakologi pada anak yang mendapatkan tindakan invasif untuk meminimalkan nyeri.

symposium dan konferensi keperawatan. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh madu terhadap respon nyeri pada anak dengan usia yang sama atau berbeda dengan jumlah sampel yang lebih banyak. pemasangan infus. melalui seminar. b. Mensosialisasikan informasi dan pengetahuan tentang tehnik nonfarmakologis yang efektif dalam menejemen nyeri akibat tindakan invasif pada anak. c.. dan lain-lain.. b. Penelitian Selanjutnya a. injeksi sub cutan. tempat penelitian yang berbeda dan istrumen skor nyeri yang berbeda.. FIK UI. dalam kurikulum pendidikan sarjana keperawatan dan magister keperawatan.2.3. Menerapkan tehnik-tehnik nonfarmakologis dalam manajemen nyeri akibat indakan invasif pada anak disesuaikan dengan tahap tumbuh kembang anak 7.91 c. Perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengatahui efektivitas madu peroral terhadap prosedur invasif minor lain seperti injeksi intramuscular. 7. Bagi ilmu Keperawatan a. Memasukkan materi tentang tehnik-tehnik nonfarmakologis dari hasi penelitian yang telah banyak diujicobakan dan dapat diterapkan dalam menejemen nyeri akibat tindakan infavif pada anak.2. c. Perlu penelitian lebih lanjut tentang pengaruh madu pada kelompok usia tertentu. 2013 . terhadap nyeri kronik. Membangun hubungan dan kerjasama yang baik dengan institusi pelayanan kesehatan untuk mengembangkan peenerapan hasil penelitian terkai tindakan mandiri perawat dalam manajemen nyeri akibat tindakan invasif.2. Ayu Yuliani Sekriptini. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.

International Chiropractic Pediatric Association. Randomised controlled trial eutectic mixture of local anasthetics cream for venepunture in healthy pretrm infant. American Academy of Pediatrics. 117(5). http://adc. 82(6). _________________. antipyretic and analgesic effect of Yemeni Sidr honey.pdf. Adams. M.N. Pain News. S. & Gorelick.. 230245.F.. M.C. 47(5). Lamidi. H. (2000). Natural COX-2 inhibitor the future of pain relief. http://www.. World Academy of Science. Diunduh tanggal 7 Aguatus 2012. P. Diunduh tanggal 20 Oktober 2012. Pain assessment and treatment in the managed care environment.D.full. P.nih. Olowookere.A. 105-454. Diunduh tanggal 26 Juli 2012.ncbi.O.bmj.A.. 61(3).com/content/82/4/309. R. T. A. Canadian Pediatric Society. 52-58. & Campbell. (2003). Ayu Yuliani Sekriptini. http://pediatrics. Arch dis Child. (2000). D.. 112-118.. David. http://pediatrics. 1511-1517.D.A. http://www.. children. Arrowsmith. Neuropharmacoloical effects of Nigerian honey in mice. Pediatrics..DAFTAR PUSTAKA Acharya. Pediatrics.B. Pediatrics. Diunduh tanggal 27 Juli 2012. et al. Marc. FIK UI.full. Department of Pharmacology.. Diunduh tanggal 12 Agsutus 2012. Investigation of anti-anflammatory.A.. & Okechukwu.nlm..A. C. The assessment and management of acute pain in infants. Taub. L.gov/ pmc/articles Almada.org/cgi-bin/ print/pl. Pediatric chronic pain: A position statement from the American pain society. (2000).full 92 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. J. American Academy Of Pediatrics.. Drendel. Brousseau. Engineering and Technology.. Atunwa. & Beattie.naturalnews. and adolescents. (2011). (2000). 309-310.aappublications. (2011). NCBI 8(3).html Alzubier. 138-142. Faculty of Pharmacy.. Arch Dis Child Fetal Neonatal. A.O. M. Diunduh tanggal 30 Desember 2012.M. Bustani.A. C. Amy. http://:www.ampainsooc. A comparation of local anaesthectics for venepucture. P. Prevention and management of pain and stress in the neonate. 17(7). Pain assessment for pediatric patients in the emergency departmet. http://:www. 10(2). Akanmu. 108-793.org/content/117/5/1511. O.A..com/pain. Diunduh tanggal 28 Juli 2012.org/ content/105/2/454. 78(6). N. 2013 .. B. Ibrahim. American Pain Society. (2006).aappublications. (2008). (2002).org/cgi-bin/print/pl.. American Pain Society. ampainsooc...

Edwards. T. 55(4).. Diunduh tanggal 28 Juli 2012. R. Honey for nutrition and health: a Review.. H. but stress is still evidenced by increased ini oxygen consumption. E. Badan Standarisasi Nasional Indonesia. Buckle. Sieber. L. (2000). (Eds). 199-202. A Peditric Perspective. 349-357.. R. Penerbit Universitas Indonesia..A. _________________________ . Philadelphia: Saunders. Terjemahan: Purnomo.pdf. (2002).. 29(9). G.beehexagon. Honey as nutrient and function food. gillettechildrens. M. hlm 66-358..K. 695-700. American Journal of the College of Nutrition 27(7). 2013 . (2005). (2007). Camfield. (2002). et al. & Gallmann.K. C. (2008). (2010). http://:ww.JACN. & Finley.B. Hals. Ilmu Pangan. Breivik.pdf./HealthHoney/HoneyNutrition.pdf Brusch. Hellwing.. P. 16(6). 17–24.org/ content/101/1/17. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2. Behman. Bauer K.E... British Journal of Anaesthesia 101(1). Kliegman.. Jurendic.A.A.. Pediatric pain management. Pediart Res. Laurenz.. Jakarta : Salemba. H. (2004).beehexagon. Diunduh tanggal 14 Agustus 2012. Breau. (2005). A. emergency expenditure and heart rate. B. Assessment of clinically significant changes in acute pain in children.M. 677-689. M. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... McGrath. L. S..H. & Versmold. (2008).S. (2000).A. Psychometric properties of the non-communicating Children’s Pain Checklist-revised. 99(7).C.full.. Romundstad.netfles/fil/file. edisi ke-17.H.org/…/vol16No5. Jenson.93 Aziz A. Validation of 2 pain scales for use in the pediatric emergency department. G. 120-128.J. http://www. S. & Wooton. Pediatrics. B. Fleet. L. Bulloch. Allen.. Pain. Assessing pain in children with severe neurocognitive impairments. & Zeltzer.. FIK UI.M. & Tenenbein. H & Adiono.oxfordjournals. Jakarta. Badan Standarisasi Nasional Indonesia.. R. Bee product science Januari 28(2) 145-147. 1-6.. http://bja..net/files /file/fileE/HealthHoney/Nutriti JAC.. M. Ketteler. 110(3). Bognadov.M. P. Beisang.. Diunduh tanggal 25 Agustus 2012. J. Jakarta. dalam R. Neston Nursing Pediatrics. http://www. Diunduh tanggal 8 Agustus 2012.B. Ayu Yuliani Sekriptini. P.. Madu.. Assessment of pain. Acad Emerg Med. H. K. Rosseland. L. . Oral glucose before venepuncture relieves neonates of pain. S. (2004).. Borchgrevink.. Bogdanov. M.

A randomized controlled trial of sucrose and/or pacifier as analgesia for infants receiving venipuncture in a pediatric emergency department. S.J. and generation of evidence. Y. Cohen.L. http://pediatrics. N.. S.. Jou. (2011). Diunduh tanggal 25 Juli 2012..pdf Curtis. Behavioral approaches to anxiety and pain management for pediatric venous access.. P. Randomised analgesic effects of sucrose. Ayu Yuliani Sekriptini. Ali. H. Storer. (2006). L. Clin J Pain.. (2011). & Klassen T. A. 47(7). 2013 .jmedar. Wrona. (2007). & Schneider. Lilley. A.D . Carbajal. Turner. 313-318. Virgil.. http://www.com/1471-2431/7/27/pdf.org/content/122/ Supplement3/S134. www. C.. 25(1). 27(2). and pacifiers in term neonates. & Reynolds. X.. 122-134... V... 1471-1476.. (2010). Pediatric Emergency Care.. 19-23.pdf Cornelia P.. Proehl. Emergency nursing resource: Needle-related procedural pain in pediatric patient in the emergency departement. Darcy. Naccrato. Larutan glukosa oral sebagai analgesik pada prosedur pengambilan darah tumit bayi baru lahir: Suatu uji klinik acak tersamar ganda. M. K.org/IENR/ENR/ Documents/PedPainManagementENR. R. M.A. J. & Chis...A.. Pediatric. Czarnecki.A. D. Couders. M. 45(7).D.94 Burns. glucose.. 319-1393. N.K. (2008).. (2009). H.. (2010). 232–242. Missouri: Saunders Elsevier. J. S.. BMC Pediatrics. Social barriers to optimal pain management in infants and children.12(4). Faculty for Environmental Protection. BMJ. Pain Management Nursing. 6th ed.N. Diunduh tanggal 8 Juli 2012. Chauvet. http://www. 8(4). Diunduh tanggal 20 September 2012. S..M. V. Oliver-Martin. & Grove. Procedural pain management: A position statement with clinical practice recommendations. Crowley.full. Vandermeer. Collins. M. Diunduh tanggal 2 Oktober 2012.bmj. http://notulaebotanicae. FIK UI. 1-17.L.M. (2006). & Gilbert.ena. F. Doellman. http://www. Clarisa. 126-129. synthesis.K. Physiology of pain – general mechanisms and individual differences.. J. Heaton. Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. C. Jurnal Medical Aradean. Daniela.. K. Diunduh tanggal 27 Juli 2012. Chemical and biochemical caraterization of three disserent types honey from Bihor country. S. The practice of nursing resesrch: appraisal.biomedcentral. (2009).ro Davaera. & Moretz. Elisabeta. M.. 21(11). Diunduh tanggal 14 Agustus 2012.com/content/319/7222/1393.. 77(7).. B.aappublications.ro/nbha/article/viewFile/4780/4516 Craig.

J. Dowling. & Smith. Diunduh tanggal 20 Juli 2012. Pain assessment for pediatric patients in the Emergency Department.gov/pubmed/15116686. E. Eichenfield. (2011). Dilen. B. 37(2). (2004). Pediatrics. S. Ljusegren. 190-197. D.gov/pubmed/19119745 Goenarwo. Fallon-Friedlander.. 11(4).ncbi. http://www.intechopen.. 5(4). Sharp. 19(9).. 37-38. 2013 .nlm. Diunduh tanggal 12 Juli 2012. Ann Ist Super Sanita. Relief of pain and anxiety in pediatric patients in emergency medical systems. 20(10). M. Birth issue in perinatal Care. Cravero.J. H. Uji efektifitas analgetik madu pada tikus dengan metoda geliat asetat. & Anniballi. http://cdn. www. A. R. Fein.B.nlm.F. 244250.nih. (2004).. B.95 Dharma.com/pdfs/. J.. & Gorelick. L. D. Pain assessment in children with neurological impairment.S. 109-1093. W.. A clinical study to evaluate the efficacy of ELA-Max (4% liposomal lidocaine) as compaired with eutectic mixture of local anasthetics cresm for reduction of venipuctue in children. Oral glucose solution as pain relief in newborn: Result a clinical trial. http://pediatrics. K.pdf Ellis. Jakarta: Trans Info Media. Diunduh tanggal 12 Juli 2012.. & Elseviers. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.html. Gimbler-Berglund. M. Pain Management Nursing. Chodidjah. & Susanto. (2002). (2006). 134-146. Metodologi penelitian keperawatan: pedoman melaksanakan san menerapkan hasil penelitian. I.. Pediatrics Nursing. M. Cunningham. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung. New concepts in acue pain therapy: Prepentive analgesia.org/afp/2001/0515/p1979.aappublications.ncbi. Ayu Yuliani Sekriptini.. (2012).. Zempsky. Newhook. A.nih. Eldridge. Pediatric Nursing..org. Brousseau. & Enskar. K. L. Am Fam Phys. 63(84). Pediatrics. & Cohen.P. Selling comfort: A survey of interventions for needle procedures in a Pediatric Hospital. A. Pediatrics.. Non pharmacological techniques for stress reduction during emergency medical care: A review. Diunduh tanggal 25 Juli 2012.. Fenicia. C. Factors influencing pain management in children. D.. 99-105. (2010). FIK UI.A.. Gottschalk. K. (2011).. F. 21-24.. Pediatrics. J. Infant botulism.A. 5(4). (2004). (2008). Funk.. 144-152. 117(5). Diunduh tanggal 27 Juli 2012. (2001). & Kennedy. http://www..H. 130(5). J.. (2009).aafp. 45(2). Drendel. 15111518. 13911405.

Holmqvst. M. 1053-1057. J. Gradin.. & Leo. 110-153.96 Gardner. Emergency Medicine Australasia. J. B. pp.aappublication. 978(1).. J. FIK UI.. Jakarta. D. 210-221. Green R. 30. Pathophysiology: The biologic basis for disease in adults and children (4th ed). (2008). 21(2)..mobi/content/110/6/1053. Impaired health-related quality of life in children with recurrent pain. 2013 . S. J. McCance & S. F. B. Eriksson.org/content/full. (8th ed. S. 57(9)... Pediatrics.. Behavioral Problems of Infancy and Preschool Children. D.full..sjtrem. h. R..T.w. tanggal 28 Juli 2012.. (2002). 6(10). Pain reduction at venipucture in newborn: Oral glucose compared with local anesthetic cream.. Ayu Yuliani Sekriptini.full. M. G.. 19(8). A. 4051-4549. Hamad.org/conten/110/6/1053. 43-47. ISBN.. and sensory fuction. tempetarure regulation. (2009). & Shaw. Diunduh tanggal 7 Agustus 2012.htm Harrison.S.. Gilhotra.. (2009). Holmqvst. 156-159. (2011). Franz. Diunduh tanggal 20 Agustus 2012.L. 124(4). & Schollin.E. Hagglof. Pediatrics. & Huckson. & Steven. MO: Mosby-Year Book. Huether. A. D. M. Pustaka Imam. 759-760. J. Pain. J. Pain reduction at venipucture in newborn: Oral glucose compared with local anesthetic cream review. & Bergstrom. (2006).K. Diunduh tanggal 8 Agustus 2012. S. & Wilson. The Cochrane Library. (2004).. J. L. Y. & Schollin. St. 17(8).. & MacIntyre. Terapi Madu.S. Holstien. In K.. http://www.). St. G.Louis.I. Gradin. Scandinavian Journal of Trauma. http://peditrics. Beyene.. Webber. D. Herd. (2002). Heuether (Eds). Hockenberry.com/content/17/1/47. Critical care in the Emergency Department: An assessment of the length of stay and invasive procedures performed on critically ill ED.. 401-410.. Resuscitation and Emergency Medicine. Eriksson.L.pediatricsdigest. Louis: Mosby Elsevier. http://www. Wong’s nursing care of infants and children. Pain management practices in paediatric emergency departments in Australia and New Zealand: A clinical and organizational audit by National Health and Medical Research Council’s National Institute of Clinical Studies and Paediatric Research in Emergency Departments International Collaborative.. sleep. Ohlsson.. M. (2007). M. E. Yamada. Sweet tasting solution for reduction of needle-related procedural in children aged one to 16 years review. Pediatrics. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.N. (2009)..aappublications.E.html. http://pediatrics..

.. K. Comfort theory and its application to pediatric nursing. E. Gilbert. J. J Accid Emerg Med.ncbi. G.nih.gov/pubmed/12359791 Kolcaba.A. S.). edisi III. (2001). & Wilson.in/maa/ t03/i2/maat03i2p100. Lacercrantz.A. K. 100-104. and adolescents social barriers to optimal pain management in infants and children. M. New York.thecomfortline. & Cheryl A. Ayu Yuliani Sekriptini. J. Medical surgical nursing: Critical thinking in client care.full.. Diunduh tanggal 12 Agustus 2012. children. Deshmukh & Udani. 48(3). R.C. Bag Anastesiologi dan Terapi Intensif FK UI. 2013 . 110-758. Kleiber. (2000).. (3rd ed. J. FIK UI. 17. The Kyoto protocol of IASP basic pain terminology. Christine M. G. Le Mone. Diunduh tanggal 20 September 2012. (2000). Pearson Education Company. Lilley. NY: Springer Publishing Company. D. Analgesic effect of oral glucose in neonates.. Olsson. Sorenson. (2008).97 Jatana. J. 59(2). 61(7). 232-242. H.pdf Kelly. D.nic.org/content/101/5/882. D. Latief. Laxmikant.C. Loeser. Pain .. P. & Rose. MJAFI.. randomized. 16(5). (2008). Pain . Kenneth. 185-187. Larsson. Whiteside. B. (2005).L.aappublications. http://www. Diunduh 20 Juni 2012. Barriers to optimal pain management in infants. 109 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. (2002) Topikal anasthetics for intravenous insertion in children: A randomized equivalency study.. controlled trial.. Gronstal.. Analgesic effect of oral glucose in preterm infants during venipuncture: A double-blind. (7). D. & Tannous. Comfort theory and practice: A vision for holistic health care and research. Clinical Journal of Pain. 101-882. Pediatrics. http://www... A process approach to improving pain management in the emergency department development and evaluation.com/comfort theory. R. Kolcaba & Di Marco. R.. Tannfeldt. A.. Logan. Gender differences in postoperative pain and patient controlled analgesia use among adolescent surgical patients. G. 12(3). 138-141. (2003)..nlm. Jurnal of Tropical Pediatric. & Treede. & Burke. K... C. A. Diunduh tanggal 24 September 2012. Jakarta.. Dalal. L. (2004). Petunjuk praktis anatesiologi.H. Pediatrics.A. (2006). 137(3).. B. (2002).M. http://pediatrics. B.L. medind. 473–477. (2003). S. Venipuncture is more affective and less painfull than heel lancinf for blood tests in neonates.

ncbi..aappublications. H. Ayu Yuliani Sekriptini. Manchikanti.... (2010)... A. Nyeri neuropatik. (2003). Lessard.. Kelompok Studi Nyeri. The convergent validity of the Manchester pain scale..N.. 13(3).G. Purna. Pain Physician. Mathew. (2010).sciencedirect. H.org/content/108/3/793. D. Ward. Respon nyeri infant dan anak yang mengalami hospitalisasi saat pemasangan infuse di RSUD Sumedang. (Ed). Dolin.A. Patfield.. Boyd. 430-438. J. Diunduh tanggal 7 Agustus 2012. Pediatrics. & Mackway-Jones. 108(3). A. (2003). & Young. E.J.D. 45(5). 13(1). P.com Mathew. Obispo.. Pain patohysiology. Edisi ke-2.A.L.L. 2(48). 257–265 Lyon.full Mediani. 87-93. 11-19. Diunduh tanggal 9 July 2012. (2003). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. P. Pain medicine manual. Dalam: S. Barr. Patofisiologi nyeri.. (2001). 2013 .D. PostgradMed. Randomized clinical trial of local anesthetic versus a combination of local anesthetic with self-hypnosis in the management of pediatric procedure-related pain.com/content/79/934/438 Matthews.. London: Butterworth Heineman. C. P.L.. L. (2003)... (2005). S. & Dickenson. h 1-2.J. A. Pediatric Emergency Care.H.. K. http://pmj. et al. & Pasero. MacLean. A... Sherrard.S.. Assessment and management of pain in children review. September 2012. 481–487. J. Diunduh tanggal 13 Agustus 2012. 256-260. P. R.nlm.. K. 79(2). W. 25(3). 23(2). h.P. Munqlani.. Diunduh tanggal 12 http://www. Assessment and management of pain in infant. 307-312.. & Young S. Sadeli. Effects of chewing gum on responses to routine painful procedures in children.F. & Mathew. Critical review of the American Pain Society Clinical Practice Guidelines for interventional techniques: Part 1. S.bmj. Meliala. 3-38. & Hatira. Loissi. Lewkowski. Emergency Nurse. BJM. Suryamiharja. (2007). Mardhiyah. White. Diunduh tanggal 25 Juli 2012.. patofisiologi dan penatalaksanaan. Bryce. R. (2004). R. J. PERDOSSI. Pain assessment and management in children and adolescent.. (2006).gov/pubmed/15861613. N. D. NCBI.com/science/ article/pii. dan Rakhmawati. Diagnostic interventions. M. http://www.98 (3). Gupta. R. McCaffrey. J.. S. Harris.R.bmj. A... FIK UI. S.. The gap between pediatric emergency department procedural pain management treatment available and actual practice.A.S.. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Padjadjaran Meliala. Physiology & Behavior. Datta. L. Dalam: K. http://pmj.. (Eds).J. 793-797.nih. http://pediatrics. 141-174.

(2010). 29. M.. 990(70) 269-275. R. The measurement of pain in infants. Colak. C. 112(19). Polit.org/content/ 83/1/118. 9th ed.S. Ayu Yuliani Sekriptini. 6th ed. B. (2009) Impaired health related quality of life in children with recurrent pain. 115(16).99 Morton. Klein. Chopitayasunondh. P..F. A Refernce Guide from National Board. C. Polit. O'Malley.. & Stewart.. Effect of local refrigeration prior to venipuncture on pain related responses in school age children. D. A Comparasion of pain scales in Thai children. E. Diunduh tanggal 5 Januari 2013.F. Diunduh tanggal 20 Juni 2012. E. Chanthavanich. P. HK J Paediatr... Pengaruh pemberian madu dalam tindakan keperawatan oral care terhadap mukositis akibat kemoterapi pada anak di RSUPN Dr. Limtifikul.. (2012).. Nursing research: Principles and methods. Diunduh tanggal 20 Juli 2012. T. Arch Dis Child. M... The influence of children’s pain memories on subsequent pain experience. and adolescents: From policy to practice. A.com. Karaaslan. S.org Ozcetin.apta. e511-e521.. M. (1999). (2005). Diunduh tanggal 20 September 2012.L. http://www. Suren. Kaya. Pediatrics.H.T. children.. (2006). 247-252. E. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Z.l. http://www. 124(4). D. Lolekha. 118-.M. Hagglof.. Prevention and control of pain in children. B.I. Noel.T.pdf Movahaedi. Chambers.. (2008). S. O'Rourke.. Philadelpia: Lippincott Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pediatrics.E. & Bergstrom. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.oxfordjournals. Petersen.. & Krug.. 1563–1572. (2004). R. & Hungler. P. FIK UI..au/Vol24/Vol24. K. http://bja. & Guner. http://ptjournal. Patient and Family-Centered care of children in the emergency department. (2011). (8124). 759-767. Philadelpia: Lippincott. Br J Anaesth. effects of parent's presence on pain tolerance in children during venipuncture: A randomised controlled trial. I.pdf National Honey Board. PAIN.pds. McGrath..8.2. Pediatrics.P. Brown. 67(16).. K. K. (2012). Luangxay. Nursing research: generating and assessing evidence for nursing practice. D. S. O. F..J.J.full.. & Beck. (2011). (2008).ajan.pdf Newman.hu/honey/techbroch.. N. Nurhidayah.pointernet. I’am to tell you the facts about honey. 2013 . C.

Dasar-dasar metodelogi penelitian klinis.. PT. Ratnapalan. Srouji. International Journal of Pediatrics. The effect of psyhchological intervention on perceived pain in children undergoing venipuncture. McGrath. & Schneeweiss. Schmitz. 155(20). Schechter. & Mace. I. McMurtry. Mengenal dan memanfaatkan khasiat madu alami. & Hrazdilova. European Journal of Pain. J. N. N. Parental holding and positioning to decrease IV stress in young children: A randomized controlled trial. S. Scheiner.T.. 367-370. J. & Luhman. S. Brunner & Suddarth. 156-159. Pain reduction during pediatric immunizations: evidencebased review and recommendations. L. 838-842. A. O’ney.C.. Blenau . hal 182..L. S.P. S. Sastroasmoro. (2011). T. edisi 4. Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep.. Edisi 4. A. International Journal of Pediatrics. S. Puspitasari.. (2007). H. Deniz. J.. J. L. Cohen. 218-203. S. Behavioural pharmacology of octopamine. S..100 Potter.E.K. M. 257-263.Bentang Pustaka.. Smeltzer. Bandung...G.. & Perry. Jakarta: Sagung Seto. B.Pionir Jaya.. (2002). FIK UI. CV. (2011).M. 28(9).. dan praktik. (2010). Pain tolerance in children and adolescents: Sex differences and psychosocial influences on pain threshold and endurance. (2012). R. Soyer. Behavioral Brain Resesrch.. Jakarta: EGC. 22(6). Mason. Pain in children: assessment and nonpharmacological management. & Bare. & Ismael.. O. proses.. hal 57. tyramine and dopamine in honey bees.L.R. K.... & Bright. The Turkish Journal of Pediatric. Ayu Yuliani Sekriptini. (2002).. 474(11). (2007).S. Journal of Pediatric Nursing. (2009). T. (2010). Setlik. 136(12). Sikorova. C. O. 545-553.. The impact of pediatric trauma score on burden of trauma in emergency room care. Sparks. Edisi 8. Jakarta: EGC. 2013 . 512-515. L. 51(7). Purabaya. Buku ajar keperawatan medikal bedah. Pediatric pain management and sedation. & Lohaus.. A.A. 2(5). Turkmen. R. F..J. Akman. B. P. Hancerliogullari. 153-157. Biomed Pap Med. S. & Cesur. (2007). Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Pediatrics. Ratnapalan. Rahasia sehat mmadu.G. Vierhaus. (2001). B. Zempsky. & Erber. W. Pluckhahn. Yogyakarta. P. (2005).. P.A..... 10(2).

R.K. (2010).... Contribution of honey in nutrition and human health: a review. Inhibition by chesnut honey of N-Acyl-L homoserine lactones and biofilm formation in erwinia carotovora.. S. (2001). & Ohlsson.gov/pubmed/19950997 Twycross. Mosby Elsevier. P.R.ncbi. Agricultural and Food Chemistry.pdf. Philadelphia: Nazareth Hospital. LeMone. G. Supartini.. & Kisely. & Battino. Cross-validation of composite pain scale for preschool children within 24 houe of surgery.cmaj. Pectharatana. Fundamental of nursing : The art and science of nursing care.. V.M. B.. J.nlm.full. S. Kraiprasit.com/content/g1771u466wvr2h26/fulltext.J. J. U. C. M.A.springerlink. L.nlm. 244–253. Mediterr Nutr Me-tab.gov /cochraneneonatal/stevens/ stevens. P. P. 15-23.101 Steven. Taylor.. S.).gov/ pubmed/10820579. & Lynn. 843-855. et al. http://udini. http://www. http://www. & Allende.ca/content/182/18/1989. (2010). E. and aeromonas hydrophila.A. 4. Diunduh tanggal 12 Agustus 2012.nichd.. (6th ed. Truchado. A..T. Tomey. Yamada. Bortolussi. Chambers. 11186-11193. Education about pain: A neglected area?.. 2.). S. A. Psychological interventions for needle-related procedural pain and distress in children and adolescents.S. British Journal. (2007). Diunduh tanggal 28 Juni 2012. Agustus 20. Taddio. Nurse Educ Today..com/view/psychological-interventions-for-pqid: 1968185 001/ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 105-112. Diunduh tanggal 23 September 2012. (2008).nih.. & Alligood. C. 2013 . Uman. Louis.S. S. Prakkammodom. Tulipani..M. Santawat.. M. http://www. T.. S.. A. http://www.. Reducing the pain of childhood vaccination: an evidence-based clinical practice guideline. Barberan. http://www. S.. (2005). Ayu Yuliani Sekriptini.html. Diunduh tanggal 12 September 2012. St. 400-408. Jakarta: EGC Suraseranivonges. Izquierdo. A Sucrose for analgesia in newborn infant undergoing painful procedures. K. NICHD. A.. Romandini. 5(2). Bertoli.nih. (2004) Konsep dasar keperawatan anak. G. proquest.. McGrath. FIK UI. N. Halperin. (2006).20(5). (2009). Cochrane Database of Systematic Reviews. A.. Dubey. 87(3). Diunduh tanggal 20 September 2012. Suarez..F.ncbi. Chambers.... Y. 57(23). yersinia enterocolitica. J. R.S. C. Lillis. Appleton. 56(2). (2000).. P... CMAJ. 2012. 182(8).nih. & Muntraporn. (6th ed. Nursing science and their works.

377-348.. M.D. Optimizing the management of peripheral venous access Pain in children: Evidence. Arch Pediatr Adolesc Med. 1301-1307. 56(1). M. & Schechter.D.. (7th ed. L. Swiss Med Wkly..A. 78-80. & Schechter.L. Effect of programmed information on coping behavior and emotions of mother of young children undergoing IV procedures. Young. The efficacy of non-pharmacological methods of pain management in school age children receiving venepuncture in a paediatric department: a randomized controlled trial of audiovisual distraction and routine psychological intervention.Pediatric%20procedural%20pain. Yolanda. Xu. 5.. 22(12). Jurnal of Korean Academy of Nursing. Kilbourn. Weisman.. B.P. W. Neil..Bueller. & Brown. Zempsky. (2005) Pediatric procedural pain. L. D. 79-584.T.. What’s new in the management of pain in children.garani/SedazioneFarmaci/AnnEmergMed2005. 122. (2008). Won. K.aappublications. 114-117. (2004). 2012. Journal of Pediatric. Developing the painless emergency department: A systematic approach to change. L. 24. & Hockenberry. & Schecter. FIK UI. et al. T.L. http://archpedi. 337-340. A. Ayu Yuliani Sekriptini.. (3). M.A. Agustus 28. Ann Emerg Med. Zeltzer. & Zempsky. (2008). J.. 57.R. 9. Louis: Mosby. Sunb. Relief of pain and anxiety in pediatric patients in emergency medical systems. N. The Journal of Neuroscience. (5). 1071.. J.it/utenti/giampaolo..138 (39). and implementation. Pediatric in Review..com /article..102 Wanga. Y. M. (2008). 253–259. Zubieta. 24(8).jamanetwork. St.D. (2006). September 25(5). (2003). (2005). (2000). Zempsky. Nursing care of infants and children. 2012. N. 1(2). W. 36(8). T.J. (2007). M. Smith.K. & Cravero. Januari 1. & Chena. Zempsky.org/content /24/10/337.unife. 74. (2002) Opioid receptor-mediated antinociceptive responses differ in men and women. Bernstein. J. Z. J.). What’s new in the management of pain in children. 121-124. impact. Pediatrics. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Consequences of inadequate analgesia during painful procedures in children. Clin Pediatr Emerg Med.. William..D. Pediatrics in Review... 2012. M. 2013 .T.L. Zempsky. Wong. http://web. D. http://pedsinreview.pdf. (2003).T.. W.aspx?articleid=189261.. S. 147-152. Pre treating pain associated with venous access procedures. 5100–5107.extract William. R.. US Paediatrics.. 10.

SKp. jenis kelamin. orang tua/wali bebas untuk mengundurkan diri dari penelitian kapanpun. 16424. yang masuk ke ruang unit gawat darurat dan akan dilakukan tindakan invasif pengambilan darah.App. dari Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia.. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari PUSDIKNAKES. Pembimbing saya adalah Yeni Rustina. FIK UI. Saya pengajar di POLTEKKES Tasikmalaya. tidak ada satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. Saya dapat dihubungi di nomor telepon 0816646216. Nama saya/peneliti adalah Ayu Yuliani Sekriptini. Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Peneliti (Saya) akan memberikan lembar persetujuan ini. PhD. Indonesia. Ayu Yuliani Sekriptini. Semua kuesioner yang telah terisi hanya diberi nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas anak anda. Dan apabila orang tua/wali memutuskan berpartisipasi. Saya akan menjaga kerahasiaan anak anda dan keterlibatan anak anda dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. 2013 . Bagian kedua berisi penilaian skor nyeri dengan menggunakan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). Kota Cirebon Anda sebagai orang tua/wali diminta untuk berpartisiasi dalam penelitian. pengalaman nyeri sebeumnya. Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari dua bagian.. yang beralamat di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia kampus Depok. Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan Magister saya di Universitas Indonesia. dan menjelaskan bahwa keterlibatan anada di dalam penelitian ini atas dasar sukarela. Bagian pertama berisi tentang demografi seperti usia.. Penelitian ini melibatkan anak yang berusia 1sampai 6 tahun. Sekitar 68 anak akan terlibat dalam penelitian ini dari satu rumah sakit yang berada di Cirebon. Nama anak anda tidak akan dicatat dimanapun. dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia.. Pengisian kuesioner data demografi dan penilaian skor nyeri dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti. Progam Studi Keperawatan Cirebon.. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Gunung Jati RSUD. M. Arjawinangun Cirebon. pengalaman diambil darah sebelumnya. Keputusan diwakilkan kepada orang tua/wali anak untuk ikut ataupun tidak dalam penelitian ini. tanda vital.Sc. dan saat penambilan darah pasien didampingi atau tidak.Lampiran 1 PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di UGD RSUD. Apabila hasil penelitian ini diplubikasikan.

FIK UI. manun hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak dengan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat. anda dapat menghubuni saya di nomer telepon 0816646216. Keterlibatan anda dalam penelitian ini.Lampiran 2 yang anda jawab dalam penelitian ini. tidak menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa anda hadapi sehari-hari. sejauh saya ketahui. Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peranyang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini. Apabila setelah terlibat penelitian ini anda masih memiliki petanyaan. Namun. saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan keuntungan langsung pada anda. jika diperlukan catatan penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya.. ……………………2012 _________________ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian... anda berhak untuk tidak menjawabnya.

Cirebon. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 .…………………2012 Yang Membuat Pernyataan. Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya.. 2. (___________________) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. dengan ini saya sebagai Bapak/Ibu/Wali dari anak saya mengijinkan/tidak mengijinkan anak saya berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini. Telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian “Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon”. FIK UI. manfaat. 3.. Telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat dan sesuai dari peneliti. Memahami prosedur penelitian yang akan dilakukan. dan kemungkinan efek samping yang terjadi dari penelitian yang dilakukan. yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ___________________________________________ Umur : ___________________________________________ Bapak/Ibu/Wali Anak : ___________________________________________ Menyatakan bahwa : 1.Lampiran 3 LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Saya. tujuan.. Dengan pertimbangan di atas.

Lampiran 4

KUESIONER DATA DEMOGRAFI
Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri
Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada
Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon
Kelompok

:

0

Inisial

: _______________________

No. kuesioner

: _______________________

Hari/tanggal

: _______________________

Jenis Kelamin

: Laki-laki / Perempuan

Tanggal lahir

: _____/_______/______

Umur

: _____________Bulan

1

Tanda-tanda vital : Nadi = _____________x/menit

Petujuk : Berilah tanda cek list (√) sesuai jawaban yang diberikan.
1. Apakah pasien pernah mengalami pengambilan darah sebelumnya ?
Pernah
Tidak Pernah
2. Saat pengambilan darah pasien di damping oleh keluarga ?
Ya
Tidak

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Lampiran 5

INSTRUMEN SKALA NYERI
Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS)
Kelompok

: Treatment

Inisial : ________

Kontrol
No. kuesioner : ___

Item
Tangisan

Perilaku
Tidak menangis
Merintih
Menangis
Menjerit/teriak

Ekspresi
wajah

Biasa
Merengut

1
2

Tersenyum

0

Tidak ada
Anak mengeluh

1
1

Keluhan nyeri
Kedua keluhan

2
2

Ungkapan positif

0

Netral
Gelisah
Tegang
Gemetar

1
2
2
2

Tegak lurus
Menahan
Tidak menyentuh
Berusaha menggapai

2
2
1
2

Menyentuh
Merebut
Direstrain
Netral
Menendang2
Ditarik

2
2
2
1
2
2

Berdiri
Direstrain

2
2

Ekspresi
verbal

Posisi
badan

Sentuhan

Posisi
kaki

Point
1
2
2
3

Hari/tanggal : ___________

Definisi/pengertian/interpretasi
Anak tidak menangis
Anak merintih/menangis lirih
Anak menangis tapi tidak keras
Anak menangis dengan kuat, dapat disertai
keluhan/tidak
Ekpresi wajah netral
Terdapat ekspresi wajah menunjukkan
negatif/tidak nyaman
Terdapat ekspresi wajah menunjukkan positif/
nyaman
Anak tidak berbicara
Anak mengeluh tapi tidak berkaitan dengan
nyeri, contoh “mana ibu saya” atau “saya
haus”
Anak mengeluhkan nyeri
Anak mengeuh nyeri yang lain, contoh “saya
sakit saya ingin melihat ibu saya”
Anak memberikan statment positif atau
membicarakan hal2 lain yang bukan berupa
keluhan
Badan dalam posisi rileks/isitrahat
Posis tubuh bergerakgerak (gelisah)
Badan tertekuk/melingkar atau kaku
Badan tampak tidak nyaman atau
memberontak
Badan dalam posisi tegak
Badan direstrain
Anak tidak menyentuh/memegang luka
Anak memberi reaksi tetapi tidak menyentuh
luka
Anak mencoba memegangi luka
Anak menyentuh area yang nyeri
Tangan anak direstrain
Kaki dalam posisi rileks, atau bergerak Gerak
tapi masih rileks
Gerakan2 yang menunjukkan kegelisahan,
menendang
Berdiri, kaki tertekuk dan tegang
Kaki anak direstrain
JUMLAH SKOR

Sumber : McGrath, P.J., Jhonson, G., Goodman, J.T., et al. CHEOPS: A behavioral scale for rating
postoperative pain in children. In Fields, H.L., et al. (editor) Advances in Pain Research and
Therapy, (vol 9). New York, Reven Press.
Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

Skor

Lampiran 6

PROTOKOL PEMBERIAN MADU BAGI PERAWAT
1. Persiapan Alat
a. Sendok makan
b. Spuit 5 ml
c. Cairan madu
d. Alas perlak atau handuk pengalas
e. Kertas tissue
f. Air minum (jika tersedia)
2. Prosedur Pelaksanaan
a. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan pada tempat yang telah ditentukan.
b. Lakukan mengukuran tanda vital pada anak.
c. Jelaskan pada anak, orang tua/wali akan di beri madu sebelum
pengambilan darah.
d. Letakkan alas di dada atau dipangkuan anak.
e. Berikan madu per-oral pada anak dengan menggunakan sendok atau spuit
(usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml)
f. Anjurkan anak untuk menghabiskan madu yang diberikan.
g. Beri minum jika anak menginginkan.
h. Lap bersih mulut anak
i. Rapikan peralatan
j. Dokumentasikan tindakan (waktu pelaksanaan, paraf perawat, respon
pasien).

Universitas Indonesia

Pengaruh pemberian..., Ayu Yuliani Sekriptini, FIK UI, 2013

. 2013 3 4 . Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI.Lampiran 7 JADUAL PELAKSANAAN PENELITIAN No Kegiatan 1 Penyusunan proposal Ujian proposal Pengumpulan data Analisis dan penafsiran data Ujian hasil penelitian Penulisan dan draf publikasi Siding tesis Penulisan tesis Perbaikan tesis Jilid hard cover Pengumpulan tesis 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 September 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4 Bulan November Minggu 1 2 3 4 Desember 1 2 3 Januari 4 1 2 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian...

. Program Studi Keperawatan Cirebon Alamat Instansi : Jalan Pemuda no 32 Kota Cirebon 1.. 25 Juli 1971 Agama : Islam Almat Rumah : Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Perumahan Kedung Jaya Indah Blok C No. 6 Kabupaten Cirebon Institusi : Poltekkes Tasikmalaya. FIK UI.. Ayu Yuliani Sekriptini. Riwayat Pekerjaan No Tempat Kerja 1 Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2 SPK Depkes Cirebon 3 Politehnik Kesehatan Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Pendidikan SD Negri Banjar I Kota Banjar SMP Negri I Kota Banjar SMA PGRI Kota Banjar Akademi Keperawatan Depkes Bandung S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jurusan Keperawatan Tahun Lulus 1983 1986 1989 1992 Keperawatan 2003 Jabatan Perawat Pelaksana Tahun 1992-1998 Guru Dosen 1998-2001 2001-Sekarang 2. 2013 .Lampiran 8 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Ayu Yuliani Sekriptini Tempat Tanggal Lahir : Ciamis.

Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI..Pengaruh pemberian. 2013 ...

. FIK UI. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini..Pengaruh pemberian..

. Ayu Yuliani Sekriptini.. 2013 . FIK UI.Pengaruh pemberian..

Ayu Yuliani Sekriptini.Pengaruh pemberian.... 2013 . FIK UI.

Pengaruh pemberian. 2013 . Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI....

. FIK UI.. 2013 .Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini..

. 2013 .. Ayu Yuliani Sekriptini. FIK UI..Pengaruh pemberian.

Semua kuesioner yang telah terisi hanya diberi nomor kode yang tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi identitas anak anda. Penelitian ini merupakan bagian dari persyaratan untuk Program Pendidikan Magister saya di Universitas Indonesia. Penelitian ini akan dilakukan di RSUD Gunung Jati RSUD. tanda vital. Kuesioner yang akan saya berikan terdiri dari dua bagian. Progam Studi Keperawatan Cirebon. Sekitar 68 anak akan terlibat dalam penelitian ini dari satu rumah sakit yang berada di Cirebon. Bagian pertama berisi tentang demografi seperti usia.Sc. Dan apabila orang tua/wali memutuskan berpartisipasi. Saya akan menjaga kerahasiaan anak anda dan keterlibatan anak anda dalam penelitian ini.App. FIK UI. SKp. dan saat penambilan darah pasien didampingi atau tidak.. Keputusan diwakilkan kepada orang tua/wali anak untuk ikut ataupun tidak dalam penelitian ini. Peneliti (Saya) akan memberikan lembar persetujuan ini. Indonesia.. Nama saya/peneliti adalah Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 . Kota Cirebon Anda sebagai orang tua/wali diminta untuk berpartisiasi dalam penelitian. Siapa pun yang bertanya tentang keterlibatan anda dan apa Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Nama anak anda tidak akan dicatat dimanapun. Penelitian ini mendapat dukungan dana dari PUSDIKNAKES. PhD. tidak ada satu identifikasi yang berkaitan dengan anda akan di tampilkan dalam publikasi tersebut. Arjawinangun Cirebon. Ayu Yuliani Sekriptini. yang masuk ke ruang unit gawat darurat dan akan dilakukan tindakan invasif pengambilan darah. Pengisian kuesioner data demografi dan penilaian skor nyeri dilakukan oleh peneliti dan asisten peneliti. dan menjelaskan bahwa keterlibatan anada di dalam penelitian ini atas dasar sukarela.. dan sekarang sedang melanjutkan studi S2 di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. Apabila hasil penelitian ini diplubikasikan. Penelitian ini melibatkan anak yang berusia 1sampai 6 tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri akibat tindakan invasif pengambilan darah intra vena pada anak di ruang UGD RSUD Gunung Jati dan RSUD Arjawinangun Cirebon. Pembimbing saya adalah Yeni Rustina. jenis kelamin. Saya pengajar di POLTEKKES Tasikmalaya. 16424. pengalaman diambil darah sebelumnya. Bagian kedua berisi penilaian skor nyeri dengan menggunakan skala nyeri Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS). dari Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia. yang beralamat di Faklutas Keperawatan Universitas Indonesia kampus Depok. pengalaman nyeri sebeumnya. orang tua/wali bebas untuk mengundurkan diri dari penelitian kapanpun.Lampiran 1 PENJELASAN TENTANG PENELITIAN Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di UGD RSUD. Saya dapat dihubungi di nomor telepon 0816646216... M.

manun hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat untuk mengetahui lebih jauh tentang pengaruh pemberian madu terhadap penurunan skor nyeri pada anak dengan tindakan invasif pengambilan darah intra vena di ruang unit gawat darurat. tidak menyebabkan risiko yang lebih besar dari pada risiko yang biasa anda hadapi sehari-hari.. saya setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. FIK UI. Apabila setelah terlibat penelitian ini anda masih memiliki petanyaan. Namun. jika diperlukan catatan penelitian ini dapat dijadikan barang bukti apabila pengadilan memintanya. Walaupun keterlibatan dalam penelitian ini tidak memberikan keuntungan langsung pada anda. ……………………2012 _________________ Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. anda dapat menghubuni saya di nomer telepon 0816646216. Setelah membaca informasi di atas dan memahami tentang tujuan penelitian dan peranyang diharapkan dari saya di dalam penelitian ini.. Ayu Yuliani Sekriptini. 2013 .Lampiran 2 yang anda jawab dalam penelitian ini.. sejauh saya ketahui. anda berhak untuk tidak menjawabnya. Keterlibatan anda dalam penelitian ini.

manfaat. 3. yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : ___________________________________________ Umur : ___________________________________________ Bapak/Ibu/Wali Anak : ___________________________________________ Menyatakan bahwa : 1.…………………2012 Yang Membuat Pernyataan.. 2. dan kemungkinan efek samping yang terjadi dari penelitian yang dilakukan.. tujuan. 2013 . Telah diberikan kesempatan untuk bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat dan sesuai dari peneliti. Dengan pertimbangan di atas. Cirebon.Lampiran 3 LEMBAR PERSETUJUAN BERSEDIA MENJADI RESPONDEN PENELITIAN Saya. FIK UI. (___________________) Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Demikian surat pernyataan ini saya buat agar dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Ayu Yuliani Sekriptini.. Telah mendapatkan penjelasan tentang penelitian “Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Skor Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon”. Memahami prosedur penelitian yang akan dilakukan. dengan ini saya sebagai Bapak/Ibu/Wali dari anak saya mengijinkan/tidak mengijinkan anak saya berpartisipasi menjadi responden dalam penelitian ini.

. FIK UI. kuesioner : _______________________ Hari/tanggal : _______________________ Jenis Kelamin : Laki-laki / Perempuan Tanggal lahir : _____/_______/______ Umur : _____________Bulan 1 Tanda-tanda vital : Nadi = _____________x/menit Petujuk : Berilah tanda cek list (√) sesuai jawaban yang diberikan. Saat pengambilan darah pasien di damping oleh keluarga ? Ya Tidak Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Apakah pasien pernah mengalami pengambilan darah sebelumnya ? Pernah Tidak Pernah 2. 1.Lampiran 4 KUESIONER DATA DEMOGRAFI Judul penelitian : Pengaruh Pemberian Madu Terhadap Penurunan Tingkat Nyeri Akibat Tindakan Invasif Pengambilan Darah Intra Vena Pada Anak di Ruang UGD RSUD Kota Cirebon Kelompok : 0 Inisial : _______________________ No. 2013 ... Ayu Yuliani Sekriptini.

Reven Press. 2013 Skor .Lampiran 5 INSTRUMEN SKALA NYERI Children’s Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS) Kelompok : Treatment Inisial : ________ Kontrol No. kuesioner : ___ Item Tangisan Perilaku Tidak menangis Merintih Menangis Menjerit/teriak Ekspresi wajah Biasa Merengut 1 2 Tersenyum 0 Tidak ada Anak mengeluh 1 1 Keluhan nyeri Kedua keluhan 2 2 Ungkapan positif 0 Netral Gelisah Tegang Gemetar 1 2 2 2 Tegak lurus Menahan Tidak menyentuh Berusaha menggapai 2 2 1 2 Menyentuh Merebut Direstrain Netral Menendang2 Ditarik 2 2 2 1 2 2 Berdiri Direstrain 2 2 Ekspresi verbal Posisi badan Sentuhan Posisi kaki Point 1 2 2 3 Hari/tanggal : ___________ Definisi/pengertian/interpretasi Anak tidak menangis Anak merintih/menangis lirih Anak menangis tapi tidak keras Anak menangis dengan kuat.. et al. Jhonson. In Fields. (vol 9).. CHEOPS: A behavioral scale for rating postoperative pain in children.T. menendang Berdiri. J... Universitas Indonesia Pengaruh pemberian.L. dapat disertai keluhan/tidak Ekpresi wajah netral Terdapat ekspresi wajah menunjukkan negatif/tidak nyaman Terdapat ekspresi wajah menunjukkan positif/ nyaman Anak tidak berbicara Anak mengeluh tapi tidak berkaitan dengan nyeri. Goodman.. contoh “saya sakit saya ingin melihat ibu saya” Anak memberikan statment positif atau membicarakan hal2 lain yang bukan berupa keluhan Badan dalam posisi rileks/isitrahat Posis tubuh bergerakgerak (gelisah) Badan tertekuk/melingkar atau kaku Badan tampak tidak nyaman atau memberontak Badan dalam posisi tegak Badan direstrain Anak tidak menyentuh/memegang luka Anak memberi reaksi tetapi tidak menyentuh luka Anak mencoba memegangi luka Anak menyentuh area yang nyeri Tangan anak direstrain Kaki dalam posisi rileks. H. contoh “mana ibu saya” atau “saya haus” Anak mengeluhkan nyeri Anak mengeuh nyeri yang lain. (editor) Advances in Pain Research and Therapy. G. P..J. atau bergerak Gerak tapi masih rileks Gerakan2 yang menunjukkan kegelisahan. New York. FIK UI. kaki tertekuk dan tegang Kaki anak direstrain JUMLAH SKOR Sumber : McGrath. et al. Ayu Yuliani Sekriptini..

h. Sendok makan b. g.. Anjurkan anak untuk menghabiskan madu yang diberikan. Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Ayu Yuliani Sekriptini. Berikan madu per-oral pada anak dengan menggunakan sendok atau spuit (usia anak 1-3 tahun sebanyak 3 ml dan usia >3-6 tahun sebanyak 5 ml) f. Dokumentasikan tindakan (waktu pelaksanaan. e. Lakukan mengukuran tanda vital pada anak. FIK UI. Alas perlak atau handuk pengalas e. 2013 . Rapikan peralatan j. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan pada tempat yang telah ditentukan.. Prosedur Pelaksanaan a.. respon pasien).Lampiran 6 PROTOKOL PEMBERIAN MADU BAGI PERAWAT 1. c. Beri minum jika anak menginginkan. b. Lap bersih mulut anak i. Jelaskan pada anak. Persiapan Alat a. Cairan madu d. orang tua/wali akan di beri madu sebelum pengambilan darah. paraf perawat. Air minum (jika tersedia) 2. Spuit 5 ml c. Kertas tissue f. d. Letakkan alas di dada atau dipangkuan anak.

.Lampiran 7 JADUAL PELAKSANAAN PENELITIAN No Kegiatan 1 Penyusunan proposal Ujian proposal Pengumpulan data Analisis dan penafsiran data Ujian hasil penelitian Penulisan dan draf publikasi Siding tesis Penulisan tesis Perbaikan tesis Jilid hard cover Pengumpulan tesis 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 September 1 2 3 4 Oktober 1 2 3 4 Bulan November Minggu 1 2 3 4 Desember 1 2 3 Januari 4 1 2 Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. 2013 3 4 . Ayu Yuliani Sekriptini... FIK UI.

25 Juli 1971 Agama : Islam Almat Rumah : Jalan Sultan Ageng Tirtayasa. 6 Kabupaten Cirebon Institusi : Poltekkes Tasikmalaya. Riwayat Pekerjaan No Tempat Kerja 1 Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 2 SPK Depkes Cirebon 3 Politehnik Kesehatan Tasikmalaya Program Studi Keperawatan Cirebon Universitas Indonesia Pengaruh pemberian. Program Studi Keperawatan Cirebon Alamat Instansi : Jalan Pemuda no 32 Kota Cirebon 1. Perumahan Kedung Jaya Indah Blok C No.. FIK UI.Lampiran 8 DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Ayu Yuliani Sekriptini Tempat Tanggal Lahir : Ciamis. Ayu Yuliani Sekriptini.. Riwayat Pendidikan No 1 2 3 4 5 Pendidikan SD Negri Banjar I Kota Banjar SMP Negri I Kota Banjar SMA PGRI Kota Banjar Akademi Keperawatan Depkes Bandung S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Jurusan Keperawatan Tahun Lulus 1983 1986 1989 1992 Keperawatan 2003 Jabatan Perawat Pelaksana Tahun 1992-1998 Guru Dosen 1998-2001 2001-Sekarang 2.. 2013 .