Está en la página 1de 20

Pendahuluan

Operational Amplifiers (op-amp) merupakan sejenis IC (Integrated Circuit). Di


dalamnya terdapat suatu rangkaian elektronik yang terdiri atas beberapa transistor,
resistor dan atau dioda. Jikalau kepada IC (Integrated Circuit) jenis ini
ditambahkan suatu jenis rangkaian, masukkan dan suatu jenis rangkaian umpan
balik, maka IC (Integrated Circuit) ini dapat dipakai untuk mengerjakan berbagai
operasi matematika, seperti menjumlah, mengurangi, membagi, mengali,
mengintegrasi, dsb. Oleh karena itu IC (Integrated Circuit) jenis ini dinamakan
penguat operasi atau operasional amplifier, disingkat Op-Amp (Operasional
Amplifiers). namun demikian Op-Amp dapat pula dimanfaatkan untuk berbagai
keperluan, misalnya sebagai amplifiers, penguat audio, pengatur nada, osilator atau
pembangkit gelombang, sensor circuit, dll. Op-Amp banyak disukai karena faktor
penguatannya mencapai (99.999 kali).

Dalam pembahasan ini juga akan diuraikan beberapa konsep-konsep dasar operational
amplifier yang akan membantu mahasiswa dalam memahami op-amp.
Simbol op-amp
Simbol dasar untuk sebuah op-amp diperlihatkan dalam gambar 1. Op-amp ini memiliki
dua kaki sambungan input dan satu sambungan output. Lebih jauh kita tidak harus
selalu menyertakan atau menampilkan kaki-kaki sambungan kesumber untuk
meyederhanakan rangkaian.


input output



Gambar 1. Simbol dasar dari op-amp
Sebagian besar op-amp membutuhkan sumber simetris ( biasanya 5 V hingga
15V).Hal ini memungkinkan tegangan output untuk berayun ke arah positif dan
kearah negatif.
Gambar 2 akan memeperlihatkan bagaimana sambungan sambungan sumber akan
tampak jika kita hendak menyertakannya .



Gambar 2. Op-amp dengan kaki-kaki sambungan ke sumber tegangan dc

Dari gambar diatas, salah satu input ditandai dengan - dan yang lainnya ditandai
dengan +. Penerapan polaritas ini tidak ada sangkut pautnya dengan sambungan
sumber-sumber tegangannya. Keduanya mengindikasikan pergeseran fase total
antara masing-masing input dan output. Tanda+ mengindikasikan pergeseran fase
sebesar 0 dan sebaliknya tanda - meningindikasikan pergeseran fase sebesar 180.
Karena pergeseran fase 180 derajat menghasilkan bentuk gelombang yang terbalik
maka input - seringkali disebut sebagai input pembalik (inverting input). Demikian
pula untuk input + dikenal sebagai input nonpembalik (non-inverting input)
Karakteristik Op-amp
Op-amp merupakan penguat perolehan tinggi yang sering disebut sebagai rangkaian
terpadu linier dasar(analog).
Dari penguaraian sekilas tentang simbol maupun sambungan kaki dari sebuah op-amp
maka selanjutnya kita akan membahas karakteristik dari op-amp ideal.
Karakteristik yang diinginkan sari sebuah op-amp dirangkum sbb:
Gain tegangan loop-terbuka (G) harus sangat tinggi (idealnya tidak terhingga).
Resistansi inputnya harus sangat tinggi ( Idealnya bernilai tak terhingga)
Resistansi outputnya harus sangat rendah (idealnya bernilai 0)
Rout 0
Bandwidth daya penuh harus selebar mungkin
Slew rate harus sebesar mungkin
Offset input harus sekecil mungkin
Rasio penolakan mode bersama harus sebesar mungkin
Kalau V1 = V2, maka Vo = 0










Parameter Ideal Nyata
Gain tegangan Tidak berhingga 100.000
Resistansi input Tidak berhingga 100 M
Resistansi Output Nol 20
Bandwidth Tidak berhingga 2 MHz
Tabel 1. Karakteristik op-amp ideal dan nyata
Konfigurasi op-amp
Dari penguraian karakteristik dari sebuah op-amp, berikut ini akan ditunjukkan beberapa rangkaian
penguat dasar (konfigurasi penguat dasar) dengan pemanfaatan op-amp, yakni:

Konfigurasi rangkaian pembalik (inverting configuration)
Konfigurasi rangkaian bukan pembalik (non-inverting configuration)
Konfigurasi diferensiator (differensiator configuration)
Konfigurasi integrator (integrator configuration)

Ada dua aturan penting dalam melakukan analisa rangkaian op-amp berdasarkan karakteristik op-
amp ideal. Aturan ini dalam beberapa literatur dinamakan golden rule, yaitu :

Aturan 1 : Perbedaan tegangan antara input v+ dan v- adalah nol (v+ - v- = 0 atau v+ = v- )

Aturan 2 : Arus pada input Op-amp adalah nol (i+ = i- = 0)

Inilah dua aturan penting op-amp ideal yang digunakan untuk menganalisa rangkaian op-amp.


1. Ragkaian penguat pembalik
( Inverting )
Rangkaian ini merupakan salah satu penggunaan op-amp, yakni:
Penguat yang memiliki keluaran dengan tanda tegangannya yang terbalik dibandingkan
dengan tanda tegangan masukannya
Rangkaian dasar dari sebuah penguat inverting adalah seperti yang ditunjukkan pada gambar
di bawah, dimana sinyal masukannya masuk melalui input inverting.













Gambar 3. Rangkaian penguat pembalik (inverting)










Dalam rangkaian ini umpan balik negatif dibangun dari resistor 2 (R
2
). Input non-inverting pada
rangkaian ini dihubungkan ke ground, atau v+ = 0. Dengan mengingat dan menimbang aturan 1
(lihat aturan 1), maka akan dipenuhi v- = v+ = 0. Karena nilainya = 0 namun tidak terhubung
langsung ke ground, input op-amp v- pada rangkaian ini dinamakan virtual ground. Dengan fakta
ini, dapat dihitung tegangan jepit pada R1 adalah vin v- = vin dan tegangan jepit pada reisitor
R2 adalah vout v- = vout. Kemudian dengan menggunakan aturan 2, di ketahui bahwa :

iin + iout = i- = 0, .. (1-1)

karena menurut aturan 2, arus masukan op-amp adalah 0.

iin + iout = vin/R1 + vout/R2 = 0

vout/R2 = - vin/R1 vout/vin = - R2/R1 (1-2)

Impedansi rangkaian inverting didefenisikan sebagai impedansi input dari sinyal masukan
terhadap ground. Karena input inverting (-) pada rangkaian ini diketahui adalah 0 (virtual
ground) maka impendasi rangkaian ini tentu saja adalah Zin = R1.
Persamaan diatas menunjukkan bahwa perolehan tergantung pada perbandingan tahanan pararel
(R
2
) dan tahanan seri (R
1
) dari penguat tersebut. Dari persamaan terebut juga terlihat bahwa
tanda tegangan keluaran Vo terbalik dengan tanda pada tegangan masukan Vt .
2. Rangkaian penguat bukan pembalik
(Non-inverting)
Kalau tegangan masukantidak dimasukkan lewat terminal pertama tetapi langsung
menuju keterminal kedua yaitu sebesar V
2
maka tegangan hasil peguatan Vo-nya
akan berbeda atau tandanya tidaka terbalik lagi . Karena virtual groundnya bernilai
samadengan nol maka tegangan didalam rangkaian dianggap samadengan V
2
, yakni
Vin=V
2
.







Gambar 4. Rangkaian Penguat non-pembalik (non-inverting)
Dengan menggunakan aturan 1 dan aturan 2, kita uraikan dulu beberapa fakta
yang ada, antara lain :
vin = v+
v+ = v- = vin (lihat aturan 1) (1-3)


Dari sini diketahui tegangan jepit pada hambatan/resistor R2 adalah vout v- = vout
vin, atau iout = (vout-vin)/R2. Lalu tegangan jepit pada R1 adalah v- = vin, yang
berarti arus iR1 = vin/R1.
Hukum kirchkof pada titik input inverting merupakan fakta yang mengatakan bahwa :

iout + i(-) = iR1 . (1-4)
Aturan 2 mengatakan bahwa i(-) = 0 dan jika disubsitusi ke rumus yang sebelumnya,
maka diperoleh

iout = iR1
dan Jika ditulis dengan tegangan jepit masing-masing maka diperoleh

(vout vin)/R2 = vin/R1

yang kemudian dapat disederhanakan menjadi :

vout = vin (1 + R2/R1) .. (1-5)

Impendasi untuk rangkaian Op-amp non inverting adalah impedansi dari input non-
inverting op-amp tersebut. Dari datasheet, LM741 diketahui memiliki
impedansi input Zin = 108 to 1012 Ohm.

3. Rangkaian Integrator
Op-amp bisa juga digunakan untuk membuat rangkaian-rangkaian dengan respons
frekuensi, misalnya rangkaian penapis (filter). Salah satu contohnya adalah
rangkaian integrator seperti yang ditunjukkan pada gambar 5 dibawah. Rangkaian
dasar sebuah integrator adalah rangkaian op-amp inverting, hanya saja rangkaian
umpan baliknya (feedback) bukan resistor melainkan menggunakan capasitor C.











Gambar 5. Rangkaian analog integrator











Dengan menggunakan 2 aturan op-amp (golden rule) maka pada titik inverting akan
didapat hubungan matematis :

iin = (vin v-)/R = vin/R , dimana: v- = 0 (aturan1) . (1-6)

iout = -C d(vout v-)/dt = -C dvout/dt; v- = 0

iin = iout ; (aturan 2)

Maka jika disubtisusi, akan diperoleh persamaan :
iin = iout = vin/R = -C dvout/dt (1-7)

Dari sinilah nama rangkaian ini diambil, karena secara matematis tegangan output
rangkaian ini merupakan fungsi integral dari tegangan input. Sesuai dengan nama
penemunya, rangkaian yang demikian dinamakan juga rangkaian Miller Integral.
Aplikasi yang paling populer menggunakan rangkaian integrator adalah rangkaian
pembangkit sinyal segitiga dari inputnya yang berupa sinyal kotak.
Sebenarnya rumus ini dapat diperoleh dengan cara lain, yaitu dengan mengingat rumus
dasar penguatan op-amp inverting :
G = - R2/R1

Karena respons frekuensinya yang demikian, rangkain integrator ini merupakan dasar
dari low pass filter. Terlihat dari rumus tersebut secara matematis, penguatan akan
semakin kecil (meredam) jika frekuensi sinyal input semakin besar.
Pada prakteknya, rangkaian feedback integrator mesti diparalel dengan sebuah resistor
dengan nilai misalnya 10 kali nilai R atau satu besaran tertentu yang diinginkan.
Ketika inputnya berupa sinyal dc (frekuensi = 0), kapasitor akan berupa saklar
terbuka. Jika tanpa resistor feedback seketika itu juga outputnya akan saturasi sebab
rangkaian umpanbalik op-amp menjadi open loop (penguatan open loop op-amp
ideal tidak berhingga atau sangat besar). Nilai resistor feedback sebesar 10R akan
selalu menjamin output offset voltage (offset tegangan keluaran) sebesar 10x sampai
pada suatu frekuensi cutoff tertentu.

4. Rangkaian Diferensiator
Kalau komponen Capasitor C pada rangkaian penguat inverting di tempatkan di depan,
maka akan diperoleh rangkaian differensiator seperti pada gambar dibawah. Dengan
analisa yang sama seperti rangkaian integrator, akan diperoleh persamaan
penguatannya.
Rumus ini secara matematis menunjukkan bahwa tegangan keluaran vout pada
rangkaian ini adalah differensiasi dari tegangan input vin.









Gambar 5. Rangkaian Diferensiator
Dari gambar rangakaian diatas maka muatan kapasitor tersebut diberikan sebagai
berikut:
q
c =
C. Vin (1-8)

Dan jika persamaan diatas didiferensial kan terhadap waktu t, persaman diatas menjadi:




I
c = C
.



Karena umpan balik Ir = - Ic, dan karena tegangan antara resistor dengan kapasitor
bernilai 0 volt maka tegangan yang melewati kapasitor memiliki nilai Vin
sedangkan tegangan yang melewati resistor adalah Vout.
Lebih lanjut,
It = Vout / R .. (1-9)





. (1-10)


Dari persamaan tersebut kita peroleh RC = 1 dengan Vout = - dVin / dt.
5. Rangkaian Penjumlah
(variasi dari Rangkaian Inverting)







Gambar 6. Rangkaian penguat penjumlah inverting

Sekarang, karena (I1+I2) = It
-(V1/R1 + V2/R2) = Vout/Rf
Vout = - Rf(V1/R1 + V2/R2) (1-11)

Jika semua resistor memiliki nilai yang sama maka
Vout = - (V1 + V2) (1-12)
Selanjutnya, untuk beberapa input resistor rangkaian :



Persamaan diatas menunjukkan bahwa tegangan keluaran samadengan jumlah tegangan
masukan dengan tanda yang berlawanan.


###### selesai ######