Está en la página 1de 30

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada laporan tutorial kali ini, laporan membahas blok mengenai sistem cardio cerebro vaskular
yang berada dalam blok 15 pada semester 4 dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Pendidikan
Dokter Umum Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang.
Pada kesempatan ini, dilakukan tutorial studi kasus sebagai bahan pembelajaran untuk
menghadapi tutorial yang sebenarnya pada waktu yang akan datang.
Adapun maksud dan tujuan dari materi praktikum tutorial ini, yaitu:
1. Sebagai laporan tugas kelompok tutorial yang merupakan bagian dari sistem KBK di Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang.
2. Dapat menyelesaikan kasus yang diberikan pada skenario dengan metode analisis dan
pembelajaran diskusi kelompok.
3. Tercapainya tujuan dari metode pembelajaran tutorial dan memahami konsep dari skenario ini.
















2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Data Tutorial
Tutor : dr. Swanny
Moderator : Frandi Wirajaya
Sekretaris Papan : Fredy Tandri
Sekretaris Meja : Pierre Ramandha K
Hari, Tanggal : Senin, 25 Februari 2013
Peraturan : 1. Alat komunikasi di nonaktifkan
2. Semua anggota tutorial harus mengeluarkan pendapat (aktif)
3. Dilarang makan dan minum

2.2 Skenario kasus
Skenario B Blok 15
Seorang laki-laki, 62 tahun, dirawat di bagian saraf RSMH karena tidak bisa berjalan
disebabkan kelemahan separuh tubuh sebelah kanan yang terjadi secara tiba-tiba saat
penderita sedang beristirahat. Saat serangan penderita mengalami sesak napas dan jantung
berdebar. Pasien tidak dapat mengungkapkan isi pikirannya secara lisan, tulisan maupun
isyarat, tetapi masih dapat memahami isi pikiran orang lain yang diungkapkan secara lisan,
tulisan, dan isyarat. Pasien menderita darah tinggi dan kencing manis selama 5 tahun tapi
kontrol tidak teratur. Penyakit ini diderita untuk pertama kalinya
Pemeriksaan Fisik
a. Status Generalikus :
3

Vital Sign : TD : 170/100 mmHg, N: 100x/menit irregular, BMI : Overweight, Plica
Nasolabialis kanan datar, sudut mulut kanan kanan tertinggal, lidah deviasi ke kanan.
Iktus Kordis 2 jari lateral LMC sinistra ICS V, HR: 115 bpm iregular, murmur sistolik grade
II di areal katup mitral
b. Status Neurologikus :
Fungsi Motorik :
Ekstermitas superior et inferior dextra et sinistra, kurang/cukup, kekuatan 2/5, tonus
meningkat/ normal, clonus -/-, refleks fisiologis meningkat/normal, refleks patologis
(Babinsky, Chaddock) +/-
Fungsi Luhur : afasia motorik

Laboratorium :
Darah rutin :
Hb: 12,3 g/dl, LED: 30 mm/jam
Kimia Klinik:
Kolesterol Total : 300 mg/dl, LDL : 190 mg/dl, HDL :35 mg/dl, Trigliserida : 400 mg/dl
BSN: 160 mg/dl, BSPP: 250 mg/dl
Ureum : 40 mg/dl, Creatinin : 1,1 mg/dl

EKG: HR: 100-115 bpm irregular, left axis deviation, LV strain


2.3 Paparan
I. Klarifikasi Istilah
1. Saraf : Serat serat yang menghubungkan organ-organ tubuh dengan sistem saraf pusat
dan antar bagian sistem saraf dengan lainya.
2. Sesak Nafas : Pernafasan yang sukar atau berat
4

3. Jantung Berdebar (Palpitasi) : Perasaan berdebar debar atau denyut jantung tidak teratur
yang sifatnya subjektif.
4. Kelemahan separuh tubuh sebelah kanan : Hemiplegia, Kelemahan atau kelumpuhan pada
separuh tubuh baik kiri maupun kanan karena adanya masalah pada sel sel otak atau saraf
yang keluar dari otak menuju ke ruas kelima leher atau servikal 5.
5. Kencing Manis (Diabetes Mellitus): Penyakit yang ditandai dengan naiknya gula darah di
atas normal yaitu gula darah sewaktu di atas 200 mg% dan gula darah puasa diatas 126
mg%
6. Darah Tinggi (Hipertensi): Tekanan darah di atas normal.
7. Status Generalikus : Keadaan umum
8. Compos Mentis : Sadar Sepenuhnya
9. GCS : Glasgow Coma Scale, Skala yang dipakai untuk menilai 3 fungsi, yaitu mata,
verbal, dan gerak motorik.
10. Lagoftalmus : Ketidakmampuan untuk menutup mata dengan sempurna
11. Plica Nasolabialis : Lipatan yang terdapat di antara hidung dan sudut bibir.
12. Lidah Deviasi ke kanan: Posisi lidah patologis yang tertarik ke sebelah kanan
13. Fasikulasi : Kontraksi yang lemah, setempat, dan involunter pada otot dan tampak pada
kulit melambangkan suatu lecutan spontan sejumlah serabut yang dipersarafi filamen
saraf motorik tunggal.
14. Atrofi papil : Degenerasi saraf optik, yang tampak sebagai papil berwarna pucat akibat
kehilangan serabut saraf dan kapiler
15. Iktus Kordis : Apeks jantung
16. LMC sinistra : Line Mid Clavicularis Sinistra
17. Murmur Sistolik Grade II : Bising jantung yang terdengar selama sistol biasanya
disebabkan oleh regurgitasi katup mitral atau trikuspid atau karena obstruksi
katup aorta atau pulmonal
18. Tonus : Kontraksi otot yang ringan dan terus menerus yang pada otot rangka untuk
mempertahankan postur dan pengembalian darah ke jantung.
19. Clonus : Serangkaian kontraksi dan relaksasi otot involunter yang bergantian secara
cepat.
5

20. Babinsky : Tes Refleks dengan stimulus gesekan pada telapak kaki yang menghasilkan
dorsofleksi jari besar dan pengembangan jari jari yang lebih kecil.
21. Chaddock : Penggoresan terhadap kulit dorsum pedis pada bagian lateralnya atau
penggoresan terhadap kulit di sekitar Maleolus Externa
22. Afasia motorik : Kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan diri sendiri dan bahasa.
23. BSN : Blood Sugar Nuchter, Kadar gula darah puasa.
24. BSPP : Kadar gula darah yang dihitung 2 jam setelah makan
25. Left Axis Deviation : Aksis jantung yang melebihi 30 derajat
26. LV Strain : Kerja berlebihan dari ventrikel kiri

II. Identifikasi Masalah

1. Seorang laki-laki, 62 tahun, dirawat di bagian saraf RSMH karena tidak bisa berjalan
disebabkan kelemahan separuh tubuh sebelah kanan yang terjadi secara tiba-tiba saat
penderita sedang beristirahat.
2. Saat serangan penderita mengalami sesak napas dan jantung berdebar
3. Pasien tidak dapat mengungkapkan isi pikirannya secara lisan, tulisan maupun isyarat, tetapi
masih dapat memahami isi pikiran orang lain yang diungkapkan secara lisan, tulisan, dan
isyarat.
4. Pasien menderita darah tinggi dan kencing manis selama 5 tahun tapi kontrol tidak teratur.
5. Penyakit ini diderita untuk pertama kalinya
6. Pemeriksaan Fisik
Status Generalikus :
Vital Sign : TD : 170/100 mmHg, N: 100x/menit irregular, BMI : Overweight, Plica
Nasolabialis kanan datar, sudut mulut kanan kanan tertinggal, lidah deviasi ke kanan.
Iktus Kordis 2 jari lateral LMC sinistra ICS V, HR: 115 bpm iregular, murmur sistolik grade
II di areal katup mitral
6

Status Neurologikus :
Fungsi Motorik :
Ekstermitas superior et inferior dextra et sinistra, kurang/cukup, kekuatan 2/5, tonus
meningkat/ normal, clonus -/-, refleks fisiologis meningkat/normal, refleks patologis
(Babinsky, Chaddock) +/-
Fungsi Luhur : afasia motorik

7. Laboratorium :
Darah rutin :
Hb: 12,3 g/dl, LED: 30 mm/jam
Kimia Klinik:
Kolesterol Total : 300 mg/dl, LDL : 190 mg/dl, HDL :35 mg/dl, Trigliserida : 400 mg/dl
BSN: 160 mg/dl, BSPP: 250 mg/dl
Ureum : 40 mg/dl, Creatinin : 1,1 mg/dl
8. EKG: HR: 100-115 bpm irregular, left axis deviation, LV strain

III. Analisis Masalah
1. Seorang laki-laki, 62 tahun, dirawat di bagian saraf RSMH karena tidak bisa berjalan
disebabkan kelemahan separuh tubuh sebelah kanan yang terjadi secara tiba-tiba saat
penderita sedang beristirahat.
a. Apa etiologi dari kelemahan separuh tubuh sebelah kanan?
b. Bagaimana mekanisme kelemahan separuh tubuh sebelah kanan?
Rasa baal dapat diartikan sebagai hipestesi dimana terjadi keilangan sensasi pada
salah satu bagian tubuh. Hal ini mencerminkan kejadi kerusakan pada otak yang
7

menyebabkan terputusnya jaras sensorik ke tubuh. Pada jaras saraf sensoris, dari
girus pre centralis akan turun dan menyilang di medulla oblongata atau langsung di
medulla spinalis ke sisi yang kontralateral. Seperti kita ketahui, bila terjadi kerusakan
otak sebelah kiri akibat stroke yang memutus aliran darah ke otak, maka akan terjadi
hilangsnya fungsi sensorik bagian tersebut. Bila kita bersi rangsangan pada tubuh
sebelah kanan, maka stimulus tersebut akan masuk ke segmen posterior medulla
spinalis, lalu menyilang kontralateral dan naik ke otak melalui sisi yang berlawanan.
Bila terjadi kerusakan, maka stimulus tidak akan atau gagal disampaikan, maka akan
terjadi kehilanan sensasi pada tubuh.
c. Apa hubungan usia, jenis kelamin dengan keluhan pada kasus?
Usia lanjut merupakan faktor risiko terserang penyakit ini. Setiap pertambahan dekade
risiko untuk terserang penyakit ini juga meningkat. Namun umumnya, insidens pada usia 75-84
tahun sekitar 10 kali dari populasi berusia 55-64 tahun.
Jenis kelamin : umumnya kaum pria lebih berisiko untuk terserang penyakit ini. Namun
pada wanita pasca menopause risiko untuk terkena penyakit ini menjadi setara dengan kaum pria.
Adapun faktor risiko penyakit ini adalah :
Tak dapat diubah
- Usia
- Jenis kelamin
- Ras
- Keturunan
Dapat diubah
- Hipertensi
- Penyakit jantung
- DM
- Hypercholesterolemia
- Merokok
- TIA / pernah stroke
Penyakit A.Carotis
d. Mengapa kelemahan separuh tubuh sebelah kanan terjadi secara tiba-tiba saat
penderita sedang istirahat?
8

Emboli bisa timbul kapan saja Istirahat parasimpatis lebih
dominan vasodilatasi pembuluh darah emboli dapat bergerak kemana-
mana salah satunya obstruksi ke arteri yang menyuplai darah ke otak yang
menyebabkan iskemia jaringan syaraf dan pembuluh darah tempat terjadinya
iskemia.
e. Bagaimana inervasi motorik bagian tubuh sebelah kanan?
2. Saat serangan, penderita mengalami sesak napas dan jantung berdebar.
a. Apa etiologi sesak nafas dan jantung berdebar pada kasus ini?
b. Bagaimana mekanisme sesak nafas dan jantung berdebar pada kasus ini?
c. Apa hubungan kelemahan separuh tubuh sebelah kanan dengan sesak nafas dan
jantung berdebar?

3. Pasien tidak dapat mengungkapkan isi pikirannya secara lisan, tulisan maupun
isyarat, tetapi masih dapat memahami isi pikiran orang lain yang diungkapkan
secara lisan, tulisan, dan isyarat.
a. Apa fungsi otak yang terganggu yang menyebabkan pasien tidak dapat
mengungkapkan isi pikirannya secara lisan, tulisan maupun isyarat ?
Emboli obstruksi di pembuluh darah otak di a. Retikulostriata (a.cerebri
media) gangguan di kapsula interna kerusakan pada nervus 7 dan 12
kehilangan kemampuan berbicara
Brocha area Kesusahan berbicara dan terkadang
kesusahan menulis
Lobus kiri otak Kehilangan koordinasi bagian lengan
kanan dan kaki
Area limbik cortex motorik di otak kiri Kelumpuhan wajah sebelah kanan
9

Pasien menderita kelumpuhan anggota gerak sebelah kanan, berarti
otak yang terkena adalah lobus frontalis sinister, khususnya pada area
motorik (area 4 dan 6 Brodmann) pada girus precentralis. Bicara tidak
lancar disebabkan oleh lumpuhnya lidah bagian kanan, sehingga ketika
mengucapkan kata-kata, artikulasi kata menjadi tidak jelas
menimbulkan bicara pelo.
Jika yang terkena adalah area broca maka akan terjadi afasia motorik,
dimana pasien tidak mampu mengungkapkan kata atau bahasa.
Sedangkan bicara pelo atau sering disebut disartria pasien mampu
mengungkapkan bahasa, tetapi pengucapan di mulut terganggu
artikulasinya.

b. Apa penyebab pasien tidak dapat mengungkapkan isi pikirannya secara lisan,
tulisan maupun isyarat ?
c. Dimana letak gangguan yang menyebabkan pasien tidak dapat mengungkapkan
isi pikirannya secara lisan, tulisan maupun isyarat ?
d. Bagaimana fisiologis dari mengungkapkan isi pikirannya secara lisan, tulisan
maupun isyarat, dan memahami isi pikirannya secara lisan, tulisan, dan isyarat?
e. Bagaimana patofisiologis dari gangguan pasien tidak dapat mengungkapkan isi
pikirannya secara lisan, tulisan maupun isyarat?
4. Pasien menderita darah tinggi dan kencing manis selama 5 tahun tapi kontrol tidak
teratur.
a. Apa hubungan riwayat hipertensi dan diabetes mellitus dengan keluhan pada
kasus ini?
b. Apa patofisiologis dari hipertensi dan DM?
10

c. Apa dampak dari hipertensi dan DM yang tidak terkontrol selama 5 tahun?
5. Penyakit ini diderita untuk pertama kalinya
a. Apa interpretasi dari penyakit yang diderita untuk pertama kali ?
6. Pemeriksaan Fisik
a. Apa I nterpretasi dari pemeriksaan fisik?
Pemeriksaan Hasil
pemeriksaan fisik
Normal Interpretasi
Sensorium Compos mentis Compos mentis Normal
GCS 15 15 Normal
Tekanan darah 170/100 mmHg 120/80 mmHg Hipertensi
tingkat 2
Denyut nadi 100 kali/ menit,
irregular
60-100
kali/menit,
regular
Jumlah denyut
normal, tapi
irregular (irama
tidak normal)
Frekuen bernafas 20 kali/ menit 16-24
kali/menit
Normal
Temperature 36,7 C 36,5-37,2 C Normal
BMI 31,1 kg/m 18-24,9 kg/m Obesitas tingkat
2
Kerutan dahi Simetris Simetris nornal
Lagoftalmus Negative Negative Normal
Plica nasolabialis Yang kanan datar Tidak datar Tidak normal.
11

Ada gangguan n.
VII,
kemungkinan
terdapat lesi
pada hemisper
kiri

Sudut mulut Yang kanan
terlinggal
Tidak tertinggal Tidak normal.
ada gangguan n.
VII.
Kemungkinan
terdapat lesi
pada hemisper
kiri

Lidah Deviasi kekanan Ditengah-
tengah
Tidak normal.
ada gangguan n.
XII.
Kemungkinan
terdapat lesi
pada hemisper
kiri

Fasikulasi Negative Negative normal
Artikulasi Disatria Jelas Tidak normal.
ada gangguan
bicara.
Kemungkinan
12

terdapat lesi
pada area bahasa
Papil lidah Tidak atrofi Tidak atrofi Normal
Ictus cordis 2 jari lateral
LMC sinistra ICS
V
pembesaran
jantung di kiri
Denyut jantung 115 kali/menit 60-100 kali/
menit
Takikardi
Pulmo Dalam batas
normal
Normal
Gerakan Kanan kurang
Kiri cukup
Cukup Terjadi
keterbatasan
gerak bagian
tubuh sebelah
kanan
Kekuatan Kanan 2
Kiri 5
5 Kekuatan tubuh
sebelah kanan
menurun
Tonus Kanan meningkat
Kiri normal
Normal Spasme otot
bagian kanan
tubuh
Clonus Kanan negative
Kiri negatif
Negative Normal
13

Reflex fisiologis Kanan meningkat
Kiri normal
Normal Peningkatan
reflex fisiologi
pada bagian
kanan tubih
Reflex patologis
(babinski,cadoks)
Kanan positif
Kiri negatif
Negative Terdapat reflex
patologis pada
sisi tubuh bagian
kanan
Fungsi sensoris Hemihipestesi
dexta
Kelumpuhan
tubuh bagian
kanan

b. Bagaimana Mekanisme pemeriksaan fisik abnormal?
7. Laboratorium
a. Apa interpretasi dari pemeriksaan laboratorium?
b. Bagaimana mekanisme pemeriksaan laboratorium yang abnormal?
8. EKG
a. Apa interpretasi dari hasil EKG?
HR:
- Hasil : 100-115 bpm ireguler
- Normal : 60-100 bpm regular
- Interpretasi : takikardi
kecepatan jarak antarkontraksi ventrikel tidak beraturan
14


- Left axis deviation
Interpretasi : pembesaran jantung kiri
Gelombang QRS pada lead yang mengarah ke arah kiri (lead I, AVL, II) positif, dan
gelombang QRS pada lead yang mengarah ke arah yang berlawanan (Lead III, AVF) negatif
- LV Strain
Interpretasi : hipertropi ventrikel kiri



9. Apa diagnosis banding pada kasus ini?
10. Bagaimanan cara menegakkan diagnosis (How to Diagnose)?
11. Apa diagnosis kerja pada kasus ini? What is working diagnosis?
15

12. Bagaimana penatalaksanaan pada kasus ini?
13. Apa pemeriksaan tambahan yang diperlukan pada kasus ini?
CT scan dan MRI
- Pemeriksaan Neuro-Radiologik
- Computerized Tomography Scanning (CT-Scan), sangat membantu diagnosis dan
membedakannya dengan perdarahan terutama pada fase akut.
- Angiografi serebral (karotis atau vertebral) untuk mendapatkan gambaran yang jelas
tentang pembuluh darah yang terganggu, atau bila scan tak jelas. Pemeriksaan
- likuor serebrospinalis, seringkali dapat membantu membedakan infark, perdarahan otak,
baik perdarahan intraserebral (PIS) maupun perdarahan subarakhnoid (PSA).

14. Apa komplikasi pada kasus ini?
15. Bagaimana tindakan pencegahan pada kasus ini?
16. Bagaimana prognosis pada kasus ini?
17. Apa KDU pada kasus ini?
3B mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-
ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan, merujuk ke rumah sakit
yang relevan (kasus gawat darurat).



IV. Hipotesis
Seorang laki-laki 62 tahun dirawat di bagian saraf RSMH dengan keluhan tidak bisa
berjalan disebabkan kelemahan separuh tubuh sebelah kanan , dengan riwayat hipertensi
dan DM tidak terkontrol selama 5 tahun diduga akibat stroke kardioemboli.
16




V. Sintesis


VI. Learning Issue
1. Stroke Kardioemboli (CVD non hemoragik)
2. Anatomi dan Fisiologi Jantung dan Cerebral
A. Anatomi dan Fisiologi Sistem Cerebrovaskuler
Perdarahan Otak :
1. Arteri Otak
Otak dipasok oleh dua a. carotis interna dan dua a. vertebralis. Keempat arteri ini
beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk circulus willisi.
- A. Carotis Interna
A. Carotis interna keluar dari sinus cavernosus pada sisi medial processus clinoideus
anterior dengan menembus dura mater. Kemudian masuk ke cavum arachnoidea
setelah menembus arachnoidea mater dan membalik ke daerah substansi perforata
anterior otal. Pada ujung medial sulcus lateralis. Di sini arteri tersebut bercabang
menjadi a. cerebri anterior dan media.
Cabang-cabang Serebral a. carotis interna :
A. ophthalmica dicabangkan sewaktu a. carotis interna keluar dari sinus
cavernosus. Masuk ke orbita lewat canalis opticus, di bawah dan lateral terhadap
n. opticus.
A. communicans posterior berjalan ke belakang dan bergabung dengan a. cerebri
posterior.
A. choroidea, sebuah cabang kecil, yang berjalan ke belakang, memasuki cornu
inferior ventriculus lateralis dan berakhir dalam plexus choroideus.
A. cerebri anterior berjalan ke depan dan medal dan masuk ke fissura
longitudinalis cerebri. Arteri tersebut bergabung dengan pembuluh sejenis dari sisi
17

sebelah melalui a. communicans anterior. Kemudian melengkung balik di atas
corpus callosum dan cabang-cabang kortikal mendarahi seluruh permukaan
medial cortex cerebri sampai ke sulcus parietooccipitalis. Arteri-arteri tersebut
juga mendarahi sebagian korteks selebar 2,5 cm, pada permukaan lateral yang
berdekatan. Jadi a. cerebri anterior mendarahi daerah tungkai dari gyrus
precentralis. Sejumlah cabang sentral menembus substansi otak dan mendarahi
massa substansia grisea bagian dalam hemispherium cerebri.
A. cerebri media, cabang terbesar dari a. carotis interna, berjalan ke lateral dalam
sulcus lateralis. Cabang-cabang kortikal memasok seluruh permukaan lateral
hemisfer, kecuali daerah sempit yang dipasok a. cerbri anterior, polus occipitalis
dan permukaan inferolateral hemisfer (dipasok a. cerebri posterior). Jadi arteri ini
memasok seluruh korteks motorik kecuali daerah tungkai. Cabang-cabang
sentral masuk ke substantia grisea di dalam hemispherium cerebri.

- A. Vertebralis
A.vertebralis, cabang dari bagian pertama a.subclavia, berjalan naik melalui foramen
processus transversi C1-6. Masuk ke cranium melalui foramen magnum dan berjalan
ke atas, ke depan dan ke medial pada medulla oblongata. Sampai di tepi bawah pons
arteri ini bergabung dnegan pembuluh pasangannya, membentuk a. basilaris.
Cabang-cabang kranial a. vertebralis :
Rami meningei
A.spinalis anterior dan posterior
A.inferior posterior cerebelli
Rami medullares

- Arteri Basilaris
A.basilaris, dibentuk oleh penggabungan dua a. vertebralis, berjalan naik dalam alur
pada permukaan anterior pons. Pada tepi atas pons, bercabang menjadi dua a.cerebri
posterior.
18

Cabang-cabang :
Cabang-cabang untuk pons, cerebellum dan telinga dalam
A.cerebri posterior
A.cerebri posterior pada tiap sisi melengkung ke lateral dan belakang sekeliling otak
tengah. Cabang kortikal mendarahi permukaan inferolateral lobus temporalis dan
permukaan lateral dan medial lobus occipitalis. Jadi, mendarahi korteks visual.
Cabang-cabang sentral menembus substansi otak dan mendarahi (1) massa substantia
grisea bagian dalam hemispherium cerebri dan (2) otak tengah.
Circulus willisi terletak dalam fossa interpenducularis pada facies inferior cerebri. Ia
dibentuk oleh anastomosis antara kedua a.carotis interna dan kedua a.vertebralis.
A.communicans anterior, cerebri anterior, carotis interna, communicans posterior,
cerebri posterior dan a.basilaris ikut membentuk circulus ini. Circulus willisi
memungkinkan darah yang masuk melalui a. carotis interna atau a.vertebralis untuk
disebarkan ke setiap bagian hemispherium cerebri. Cabang-cabang kortikal dan setral
timbul dari circulus dan mendarahi substansia otak.
Sirkulus willisi merupakan sirkulasi kolateral yang menjadi suatu jalan untuk
menjamin ketersediaan kebutuhan otak akan vaskularisasi terutama saat terjadinya
iskemik cerebri atau pada gangguan-gangguan lain. Hal ini penting karena otak
menerima 1/6 Cardiac Output dan 20% O
2
dari seluruh tubuh.










19



















Sirkulus willisi

2. Vena Otak
Vena otak tidak memilik jaringan otot dalam dindingnya yang sangat tipis dan tidak
memiliki katup. Vena-vena ini keluar dari otak dna terletak dalam cavum arachnoidea.
Kemudian menembus arachnoid mater dan lapis meningeal dura mater, mengalir ke dalam
sinus venosus cranialis. Terdiri dari vena cerebri, cerebelli dan vena batang otak. V.magna
cerebri dibentuk oleh bergabungnya kedua v.interna cerebri dan bermuara ke sinus rectus.

Anatomi :
Otak adalah bagian susunan saraf pusat yang terletak di dalam cavum cranii, dilanjutkan
sebagai medulla spinalis setelah melalui foramen magnum.
20

Cerebrum adalah bagian terbesar dari otak dan terdiri dari dua hemisperium cerebri yang
dihubungkan oleh massa substantia alba yang disebut corpus callosum. Setiap hemisphere
terbentang dari os frontale sampai os occipitale, di atas fossa cranii anterior, media, dan
posterior, di atas tentorium cerebelli.
Lapisan permukaan hemispherium cerebri disebut cortex dan disusun oleh substantia grisea.
Cortex cerebri berlipat-lipat, disebut gyri, yang dipisahkan oleh fissura atau sulci. Sejumlah
sulci yang besar membagi permukaan setiap hemisphere dengan lobus-lobus. Lobus-lobus
diberi nama sesuai dengan tulang tengkorak yang ada diatasnya :
- Lobus frontalis, terletak di depan sulcus centralis dan di atas sulcus lateralis
- Lobus parietalis, terletak di belakang sulcus centralis dan di atas sulcus lateralis
- Lobus occipitalis, terletak di bawah sulcus parieto-occipitalis
- Lobus temporalis, terletak di bawah sulcus lateralis.

Lobus Parietalis
Terdiri dari beberapa area :
- Area somatosensorik primer (Korteks sensorik somatik primer S1) menempati gyrus
postcentralis (terletak tepat posterior terhadap sulcus centralis) di permukaan lateral
hemispherium dan permukaan medial bagian posterior lobulus paracentralis (area
Brodmann 3,1, dan 2).
Area somatosensorik primer cortex cerebri menerima serabut-serabut proyeksi dari nucleus
ventralis posterolateral thalami dan nucleus ventralis posteromedial thalami. Setengah
bagian tubuh kontralateral dipresentasikan terbalik. Daerah faring, lidah, dan rahang
dipresentasikan di bagian paling inferior gyrus postcentralis; daerah ini diikuti oleh wajah,
jari-jari tangan, tangan, lengan, badan, dan paha. Area tungkai dan kaki terdapat pada
permukaan medial hemisphere di bagian posterior lobulus paracentralis, begitu juga dengan
daerah anal dan genital.
21

Walaupun sebagian besar sensasi mencapai korteks dari sisi tubuh yang berlawanan,
beberapa sensasi dari daerah mulut berjalan ke sisi ipsilateral, dan sensasi yang berasal dari
faring, laring, dan perineum berjalan ke kedua sisi.
- Area somatosensorik sekunder (korteks sensorik somatik sekunder, S2) terletak di bibir
atas crus posterius fissura lateralis. Area somatosensorik sekunder jauh lebih kecil dan
kurang penting daripada area sensorik primer.
Daerah wajah terletak paling anterior, sedangkan daerah tungkai paling posterior. Tubuh
dipresentasikan secara bilateral pada sisi kontralateral yang dominan.
Diketahui bahwa neuron-neuron terutama bereaksi terhadap stimulus kulit sementara,
seperti gosokan sikat atau ketukan pada kulit.
Area somatosensorik asosiasi menempati lobulus parietalis superior yang membentang
hingga permukaan medial hemispherium cerebri (area Brodmann 5 dan 7). Fungsi
utamanya diduga adalah menerima dan mengintegrasikan berbagai modalitas sensorik.
Misalnya, seseorang mampu mengenali sebuah objek yang diletakkan ditangannya tanpa
melihat. Dengan kata lain, area ini tidak hanya menerima informasi mengenai ukuran dan
bentuk objek, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman sensorik sebelumnya
sehingga informasi dapat diinterpretasikan dan dikenali.

Fisiologi :
1. Kolumna Dorsalis
Lemniskus Medialis
(Jaras Sensorik)






22







2. Traktus Kortikospinal (Jaras Motorik)


Walaupun setiap jaras berakhir pada nukleus-nukleus yang berbeda, namun rangsangan dari
nukleus-nukleus tersebut seluruhnya disampaikan ke gyrus postcentralis (jaras sensori) dan
gyrus precentral (jaras motorik), kerusakan pada gyrus-gyrus ini dapat menyebabkan
kelumpuhan total fungsi sensorik dan motorik seseorang.
23










Gambar homunculus diatas (pada precentral dan postcentral gyrus) menunjukan fungsi tiap-tiap
area yang berbada, hal ini dapat dijadikan petunjuk seberapa besar nekrosis yang terjadi pada
lobus-lobus ini.
Pengaliran darah ke-otak dilakukan oleh 2 pembuluh arteri utama yaitu sepasang arteri carotis
interna yang mengalir sekitar 70% dari keseluruhan jumlah darah otak dan sepasang arteri
vertebralis yang memberikan 30% sisanya. Arterio karotis bercabang menjadi arteri cerebri
anterior dan arteri cerebri media yang memperdarahi daerah depan hemisfer cerebri, pada
bagian belakang otak dan dibagian otak dibalik lobus temporalis. Kedua bagian otak terakhir ini
memperoleh darah dari arteri cerebri posterior yang berasal dari arteri vertebralis (chusid, 1993)
Peredaran darah otak dipengaruhi oleh beberapa faktor :
- Tekanan darah dikepala (perebedaan antara tekanan arteriol dan venosa pada daerah
setinggi otak), tekanan darah arteri yang penting dan menentukan rata-rata 70 mmHg, dan
dibawah tekanan ini terjadi pengurangan sirkulasi darah yang serius.
- Resistensi cerebrovaskuler : Resistensi aliran darah arteri melewati otak dipengaruhi oleh :
24

Tekanan liquor cerebrospinalis intracranial, peningkatan resistensi terhadap aliran darah
terjadi sejajar dengan meningginya tekanan liquor cerebrospinalis, pada tekanan diatas
500 mm air, terjadi suatu restriksi sirkulasi yang ringan sampai berat.
Viskositas darah : sirkulasi dapat menurun lebih dari 50% pada policythemia, suatu
peningkatan yang nyata didalam sirkulasi darah otak dapat terjadi pada anemia berat.
Keadaan pembuluh darah cerebral, terutama arteriole : pada keadaan patologis, blok
ganglion stelata dapat mengalami kegagalan untuk mempengaruhi aliran darah ke otak.


B. Anatomi dan Fisiolofi Sistem Kardiovaskuler
Anatomi Jantung

Selaput yang membungkus jantung disebut pericardium dimana teridiri antara lapisan fibrosa
dan serosa, dalam cavum pericardii berisi 50 cc yang berfungsi sebagai pelumas agar tidak ada
gesekan antara pericardium dan epicardium. Epicardium adalah lapisan paling luar dari jantung,
lapisan berikutnya adalah lapisan miokardium dimana lapisan ini adalah lapisan yang paling
tebal. Lapisan terakhir adalah lapisan endocardium.
25

Jantung terletak di dalam pericardium di mediastinum. Pericardium terbagi atas dua macam
yaitu pericardium fibrosum dan pericardium serrosum.
Pericardium serrosum terdiri dari lamina-lamina yaitu :
- Lamina parietalis : membatasi pericardium fibrosum.
- Lamina visceralis : berhubungan erat dengan jantung, dan sering dinamakan
epicardium.

Jantung mempunyai tiga permukaan, yaitu :
- Facies sternocostalis (anterior) : dibentuk oleh atrium dextrum dan
ventriculus dexter yang dipisahkan satu sama lain oleh sulcus atrioventrikularis.
- Facies diaphragmatica : dibentuk oleh ventriculus dexter dan sinister yang
dipisahkan oleh sulcus interventricularis posterior.
- Basis cordis ( facies posterior ) : dibentuk oleh atrium sinistrum, tempat
bermuara empat vena pulmonales.

Jantung tidak terletak pada basisnya, tetapi terletak pada facies diaphragmatica (inferior).
1. Batas Jantung
a. Batas kanan dibentuk oleh atrium dextrum.
b. Batas kiri dibentuk oleh auricula sinistra
c. Batas bawah dibentuk oleh ventriculus dexter dan atrium dextum serta apex oleh
ventriculus sinister.
Dinding jantung tersusun atas otot jantung (myocardium), di luar terbungkus oleh
pericardium serosum (epicardium) dan di bagian dalam diliputi oleh sleapis endothel
(endocardium).
2. Ruang Jantung
Jantung dibagi oleh septa vertical menjadi empat ruang :
a. Atrium Dextrum (terletak anterior terhadap atrium sinistrum)
Terdiri atas rongga utama dan sebuah kantong kecil, auricular. Bagian anterior secara
embriologis berasal dari atrium primitive.
26

Muara pada atrium dextrum:
- Vena cava superior bermuara ke dalam bagian atas atrium dextrum, dan tidak
punya katup. Vena cava superior ini mengembalikan darah ke jantung dari
setengah bagian atas tubuh.
- Vena cava inferior ( lebih besar dari vena cava superior) bermuara ke bagian
bawah atrium dextrum. Vena cava inferior mengembalikan darah ke jantung dari
setengah bagian bawah tubuh.
- Sinus coronalius yang mengalirkan sebagian besar darah dari dinding jantung.
Bermuara ke dalam atrium dextrum, diantara vena cava inferior dan ostium
atrioventriculare dextrum dan dilindungi oleh katup rudimenter yang tidak
berfungsi.
b. Ventriculus dexter (terletak anterior terhadap ventrikulus sinister)
Ventriculus dexter berhubungan dengan atrium dextrum melalui ostium atrioventriculare
dextrum dan dengan trunchus pulmonalis melalui ostium trunchi pulmonalis. Dinding
ventriculus dexter jauh l;ebih tebal daripada atrium dexter dan menunjukkan beberapa rigi yang
menonjol ke dalam yang dibentuk oleh berkas berkas otot.
o Di dalam ventriculus dexter, ada 2 macam valva (katup), yaitu :
- Valva tricuspidalis : melindungi ostium atrioventriculare yang terdiri atas tiga
cuspis (cuspis anterior, cuspis septalis , cuspis interior {posterior}).Basis cuspis
melekat pada cincin fibrosa rangka jantung. Sedangkan ujung bebas dan
permukaan ventricular nya dilekatkan pada chordae tendineae. Chordae tendineae
menghubungkan cuspis dengan musculi papillares. Bila ventrikel berkontraksi,
musculi papillares ikut berkontraksi dan mencegah agar cuspis tidak terdorong
masuk ke dalam atrium dan terbalik waktu tekanan intraventricular meningkat.
- Valva trunchi pulmonalis : melindungi ostium trunchi pulmonalis. Terdiri atas
tiga valvula semilunaris yang dibentuk oleh lipatan endocardium disertai sedikit
jaringan fibrosa. Disini tidak ada corda tendineae atau musculi papillares yang
berhubungan dengan cuspis valva ini. Pada pangkal trunchus pulmonalis, terdapat
tiga pelebaran , yang dinamakan sinus.
c. Atrium sinitrum
27

Terletak di belakang atrium dextrum, membentuk sebagian besar basis jantung,
dibelakangnya, terdapat sinus obliquus pericardi serosum dan pericardium firbrosum
memisahkannya dari ooesophagus.
Muara pada atrium sinistrum:
- Empat venae pulmonales, dua dari masing masing paru paru bermuara pada
dinding posterior, dan tidak punya katup. Ostium atrioventriculare sinistrum
dilindungi oleh valva nitralis.


d. Ventriculus sinister
Berhubungan dengan atrium sinisterum melalui ostium atrioventriculare sinistrum dan
dengan aorta melalui ostium aortae. Dinding ventriculus sinister tiga kali lebih tebal dari dinding
ventriculus dexter (karena tekanan darah dalam ventrikulus sinister enam kali lebih tinggi dari
tekanan darah dalam ventriculus dexter ).
Pada penampang melintang, ventriculus sinister berbentuk sirkular. Bagian ventrikel di
bawah ostium aortae disebut festibulum aortae .
Ada dua macam valva di ventrikulus sinister yaitu :
- Valva mitralis : melindungi ostium atrioventriculare dan terdiri dari dua cuspis (
cuspis anterior dan cuspis posterior). Yang memiliki struktur sama dengan cuspis
valva tricuspidalis.
- Valva aortae : melindungi ostium aortae dan mempunyai struktur yang sama
dengan struktur valva trunchi pulmonalis.

3. Jaras motorik



VII. Kerangka Konsep

28

















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan









DAFTAR PUSTAKA

29









PEMBAGIAN TUGAS
1. Frandi Wirajaya : 1a, 3b, 6b, 14, 2a, 4b, 10, LI2
2. Pierre Ramadha K : 1b, 3c, 7a, 15, 2b, 4c, 11, LI3
3. Fredy Tandri : 1c, 3d, 7b, 16, 2c, 5a, 12, LI1
4. Charisma Tiara Ramadhani : 1d, 3e, 8a, 17, 3a, 6a, 13, LI2
5. Yusti Desita Indri Ani : 1e, 4a, 9, 1a, 3b, 6b, 14, LI3
6. Beby Yohaningsih Hasanah : 2a, 4b, 10, 1b, 3c, 7a, 15, LI1
7. Ni Made Restianing Rimadhanti : 2b, 4c, 11, 1c, 3d, 7b, 16, LI2
8. Gina Sonia Fensilia Yolanda : 2c, 5a, 12, 1d, 3e, 8a, 17, LI3
9. M Syahrin Faris Bin Haji Adnan : 3a, 6a, 13, 1e, 4a, 9, 7b, LI1


WAJIB
DENGAN FORMAT
TIMES NEW ROMAN, FONT 12, JUSTIFY (RATA KANAN KIRI), RAPI
JAWABAN HARUS SINGKAT PADAT DAN JELAS. Serta sumber.

JAWABAN ANALISIS MASALAH TERAKHIR DIKUMPUL KE EMAIL
pierre.ramandha@yahoo.com JAM 19.00 WIB, TANGGAL 27 FEBRUARI 2013
HARI RABU. MOHON KERJA SAMANYA TEMAN-TEMAN. APABILA
30

SUDAH DIKIRIM HARAP KONFIRMASI JAWABAN DENGAN KIRIM SMS
KE NO. 081958817551 atau BBM ke PIN. 22FA1685.

SELAIN KIRIM KE EMAIL, JAWABAN BISA DIKASIH MELALUI
FLASHDISK SETELAH TUTORIAL KE 2 SELESAI.