Está en la página 1de 5

Magister Akuntansi dan PPAk

Universitas Indonesia
Etika Bisnis
Tugas Akhir untuk Ujian Tengah Semester


Kasus Pelanggaran Etika oleh Scott London (Partner
KPMG US)























Oleh:
Amalia Ikhsana
1306502081
Statement of Authorship

Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa tugas terlampir adalah murni hasil
pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan tanpa menyebutkan
sumbernya. Materi ini belum pernah digunakan sebagai bahan untuk tugas pada mata ajar lain
kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menggunakannya. Kami memahami bahwa
tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan
mendekati adanya plagiarisme.

Nama : Amalia Ikhsana
NPM : 1306502081
Tanda tangan :












Mata ajar : Etika Bisnis
Laporan : Kasus Pelanggaran Etika oleh Scott London (Partner KPMG US)
Tanggal : 5 April 2014
Dosen : Dr. Soemarso Slamet R.

I. Latar Belakang Masalah

Sekitar bulan Juni dan Juli tahun 2013 di Amerika, seorang Partner bernama Scott
London yang berasal dari Kantor Akuntan Publik KPMG Amerika yang merupakan salah
satu anggotaBig Four, tertangkap oleh FBI membocorkan informasi rahasia mengenai
kliennya, Skechers dan Herbalife, kepada seorang teman terdekatnya Bryan Shaw dimana
informasi rahasia tersebut berguna untuk melakukan trading atas saham. Menurut berita
tersebut, motif dari hal ini adalah rasa kasihan kepada seorang teman yang usaha
perhiasannya sedang dalam keadaan buruk.

Awalnya informasi tersebut diperoleh Bryan Shaw melalui makan malam dan perjamuan
tidak formal dimana Scott London secara tidak sengaja membicarakan mengenai
pekerjaannya dan secara tidak sengaja memberikan informasi penting kepada Bryan
Shaw. Kemudian Scott menyadari secara perlahan bahwa Bryan menggunakan informasi
tersebut sebagai tips untuk melakukan trading saham khususnya untuk Skechers dan
Herbalife. Atas kesadaran ini Scott justru melanjutkan pertukaran informasi atas kedua
klien tersebut kepada temannya Bryan dengan imbalan uang sebesar $50,000, perhiasan
dan jam Rolex, secara total bernilai $70,000. Menurut Scott, ia berpikir bahwa jumlah
tersebut tidak signifikan karena Bryan menjanjikan akan memberika satu per tiga dari
total penghasilan yang ia peroleh, yaitu dengan asumsi Scott tidak lebih dari $200,000.
Namun tidak ia sangka, ternyata Bryan memperoleh keuntungan sebesar $1,300,000,000
dari trading saham Skechers dan Herbalife.

Kasus ini mulai dicurigai ketika Fidelity Investment menemukan transaksi trading yang
mencurigakan pada akun Bryan dan memutuskan untuk menghentikan sementara (freeze)
akun tersebut. Bryan kemudian dipanggil oleh SEC atas kejadian tersebut dan diminta
untuk memberikan informasi mengenai rekan kerjanya Scott London, dimana ia
menyetujuinya.

Atas kasus tersebut, Scott dikenakan hukuman penjara selama 3 tahun dengan denda
sebesar $100,000. Bryan Shaw kemungkinan kan dikenakan hukuman penjara maksimal
5 tahun dengan denda yang tidak disebutkan. Keduanya dikenakan hukuman atas
konspirasi atas insider trading, dimana keduanya saling mengakui telah melakukan
kesalahan tersebut.

Sebelumnya Scott London memilik reputasi yang bersih secara hukum dan sebagai
auditor. Atas kasus ini, ia telah kehilangan pekerjaan senilai $900,000 setahun, reputasi,
rekan kerja, dan koneksi. Scott juga melepaskan gelar Certified Public Accountant atas
kesalahannya melakukan insider trading. KPMG Amerika pun melepaskan Skechers dan
Herbalife sebagai kliennya dan mengembalikan audit fee yang telah dibayarkan
sebelumnya.
II. Landasan Teori dan Pembahasan

a. Fraud dan Fraud triangle
Insider trading adalah perdangangan saham dan sekuritas perusahaan public oleh
orang-orang yang memiliki akses terhadap informasi non public perusahaan. Insider
trading dianggap fraud karena telah melanggar kewajiban kepada pemegang saham
dan public.

b. Standar etika untuk Akuntan menurut IFAC dan IAI
Berdasarkan prinsip etika menurut IAI dan IFAC (2013), Scott London yang
merupakan seorang akuntan teregistrasi dan tentunya memiliki tanggung jawab
kepada profesi dan public melalui Certified Public Accountant dan profesi yang
dipegangnya. Prinsip yang telah ia langgar adalah:
1. Tanggung Jawab Profesi
Tanggung jawab profesi adalah setiap anggota harus senantiasa menggunakan
pertimbangan moral yang baik dan profesionalisme dalam semua kegiatan yang
dilakukannya.
2. Kepentingan Publik
Kepetintingan public merupakan setiap anggota berkewajiban untuk senantiasa
bertindak dalam kerangka pelayanan kepada publik, menghormati kepercayaan
publik, dan menunjukan komitmen atas profesionalisme. Untuk memelihara dan
meningkatkan kepercayaan publik, setiap anggota harus memenuhi tanggung
jawab profesionalnya dengan integritas setinggi mungkin.
3. Integritas
Integritas merupakan kualitas yang melandasi kepercayaan publik dan merupakan
patokan (benchmark) bagi anggota dalam menguji keputusan yang diambilnya.
Integritas adalah sebuah sikap dimana seseorang harus bersikap jujur dan
menjunjung nilai-nilai moral yang baik dalam mengambil keputusan, walaupun
keputusan tersebut dapat mengorbankan hubungan baik.
4. Objektivitas
Prinsip obyektivitas mengharuskan anggota bersikap adil, tidak memihak, jujur
secara intelektual, tidak berprasangka atau bias, serta bebas dari benturan
kepentingan atau dibawah pengaruh pihak lain.
5. Kerahasiaan
Setiap anggota harus menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh selama
melakukan jasa profesional dan tidak boleh memakai atau mengungkapkan
informasi tersebut tanpa persetujuan, kecuali bila ada hak atau kewajiban
profesional atau hukum untuk mengungkapkannya.
6. Perilaku Profesional
Anggota diwajibkan untuk menjauhi tingkah laku yang dapat mendiskreditkan
profesi harus dipenuhi oleh anggota sebagai perwujudan tanggung jawabnya
kepada penerima jasa, pihak ketiga, anggota yang lain, staf, pemberi kerja dan
masyarakat umum.

Scott London sebagai seorang Team Leader untuk audit KPMG dan Skechers
telah melakukan insider trading dengan seorang teman yang dianggap merupakan
pelanggaran hukum dan etika yang merugikan public. Tindakan tersebut
melanggar tanggung jawabnya kepada profesi dimana ia dituntut untuk
mengambil keputusan sesuai dengan moral yang baik dan profesionalisme.
Tindakannya juga mendiskreditkan profesi akuntan dimana kepercayaan public
terhadap profesi dapat berkurang. Tindakan yang ia ambil mengabaikan
kepentingan public, dimana ia mendahulukan kepentingan pribadinya yaitu
membantu seorang teman dibandingkan tanggung jawab profesi yang seharusnya
ia pegang. Akibatnya public, Skechers dan Herbalife, dan bahkan KPMG Amerika
telah mengalami kerugian jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang ia
peroleh. Sebagai seorang akuntan, ia juga terbukti tidak memiliki integritas dalam
mengambil keputusan pada kasus ini, dimana ketika ia mengetahui bahwa Bryan
Shaw telah menggunakan informasi yang secara tidak sengaja dikatakan ketika
makan malam, ia tidak mengambil tindakan untuk melaporkan hal tersebut
kepada pihak yang berwenang atau menghentikan pemberian informasi tersebut
agar tidak terjadi kerugian yang jauh lebih besar, namun tindakan yang ia ambil
adalah justru dengan sengaja memberikan informasi secara berlanjut dengan
imbalan materi atas informasi tersebut. Ketika ia tidak sengaja memberikan
informasi terkait dengan kedua kliennya tersebut, Scott juga telah melanggar
prinsip kerahasiaan, dimana ia seharusnya berhati-hati dalam membicarakan
informasi mengenai kliennya karena dianggap informasi tersebut dapat digunakan
untuk kepentingan yang tidak baik. Tindakannya yang lebih lanjut ketika ia
dengan sengaja membocorkan informasi tersebut kepada Bryan Shaw, merupakan
pelanggaran prinsip kerahasiaan yang jauh lebih berat dibandingkan dengan
pelanggaran pertama, karena ia telah melanggar prinsip-prinsip lain pada proses
tersebut. Scott London juga tidak objektif dalam menjalankan perannya, dimana
ia berpihak dan mendahulukan hubungan pertemanan sehingga terjadi benturan
kepentingan dalam pengambilan keputusan. Keputusannya yang tidak objektif
disebabkan oleh keadaan ekonomi Bryan Shaw yang sedang tidak baik, sehingga
rasa empati tersebut menyebabkan Scott London menjadi bias dalam melakukan
pengambilan keputusan, dan pada akhirnya melanggar etika.

c. Pengambilan keputusan yang etis
d. Bias
III. Kesimpulan