Está en la página 1de 6

M.8.

KAYFA YATAKAYYAFU BIL ISLAM

Sasaran :
Memahami bahwa berharakah Islamiyah hanya dapat dicapai dengan
terwujudnya kondisi yang Islami.
Memahami barometer yang digunakan untuk mengukur kesiapan
pribadi dan jamaah untuk berdakwah.
Memahami bahwa melaksanakan minhaj taqyim dapat
mengantarkan pribadi dan jamaah meraih posisi dari Allah.

Ringkasan
Bagaimana untuk menyesuaikan diri dengan Islam (Kayfa
watakayyafu bil Islam) dilakukan dengan mempertimbangkan aqidah,
ukhuwah, dan uddah (persiapan). Untuk memunculkan potensi dan
kekuatan pribadi maka diperlukan komponen aqidah dan diikat dengan
ukhuwah. Pribadi yang beraqidah dengan ittikad, perasaan, fikiran, dan
tingkah laku akan membentuk kepribadian Islam yang akhirnya
menghasilkan kekuatan pribadi. Kekuatan-kekuatan pribadi ini tidak
akan berhasil atau tidak akan bermanfaat bila tidak diikat dengan
ikatan dan persatuan diantara mereka yang beraqidah. Ukhuwah yang
dimulai dengan ta’aruf dan diteruskan dengan tafahum yang akhirnya
menghasilkan takaful akan mewujudkan amal jama’i sehingga muncul
kekuatan jamaah. Kekuatan pribadi yang diikat dengan kekuatan
jamaah akan menghasilkan kekuatan jiwa.
Kekuatan jiwa saja tidaklah lengkap untuk individu yang ingin
membiasakan dirinya dengan Islam apabila tidak diiringi dengan
kekuatan harta (amwal). Persiapan dilakukan diantaranya adalah
dengan mengeluarkan zakat, infaq, sadaqoh, dan sunduq. Harta yang
diperoleh melalui saluran ini akan menghasilkan kekuatan persiapan
yaitu kekuatan harta.
Secara kuantitas diperoleh banyak pribadi dan didukung dengan
berbagai persiapan (al udadu) seperti maal maka individu tersebut
dapat digerakkan kepada bagaimana bergerak bersama Islam. Amalan
dan ibadah kepada Allah saja merupakan usaha kita di dalam bergerak
bersama Islam. Ibadah adalah bentuk realisasi iman kepada Allah
sehingga muncul pribadi-pribadi yang sidiq.
Sidiq akan muncul di dalam hati, lisan, dan amal. Dengan sidiq
hati maka akan muncul kekuatan indifak, sidik lisan akan
menghasilkan kekuatan kesan, sidik amal akan mewujudkan kekuatan
hasil. Akhirnya Allah SWT memberikan kepercayaan dengan
memberikan kedudukan (makanah) atau pengikhtirafan.

Hasiyah
1.Kayfa yatakayyafu bil Islam
Syarah
Materi bagaimana menyesuaikan diri dengan Islam (Kayfa
watakayyafu bil Islam) ini diilhami dari kisah pemuda Kahfi yang
dituliskan di dalam surat Al Kahfi : 9-26. Ulama menafsirkan bahwa
pemuda Kahfi ini adalah pemuda-pemuda yang beriman dan
sesama mereka melakukan ukhuwah Islamiyah sehingga mereka
bersama senasib dan sepenanggungan memperjuangkan keimanan
dari tantangan raja dzalim pada masa itu. Syakhshiyah
Islamiyahdan amal jama’i akanmenghasilkan kekuatan jiwa. Di
dalam kisah disebutkan juga persediaan uang perak yang ada pada
mereka walaupun uang perak tersebut tidak lagi diterima.
Persiapan keuangan dan persiapan jiwa akan mewujudkan
bagaimana mereka bergerak. Di dalam ayat 18, juga diceritakan
bagaimana mereka digerakkan ke sebelah kanan dan ke sebelah
kiri, mereka beribadah kepada Allah. Kemudian mereka ditangkap
oleh raja setelah terbangun yang akhirnya raja meyakini apa yang
dicakapkan atau diceritakan oleh pemuda Kahfi tersebut berkaitan
dengan dirinya. Terakhir sekali, pemuda Kahfi mendapatkan
penghormatan atau makanah dari raja.

1.Al Aqidah
Syarah
Aqidah yang benar harus mencakup itikad yang baik, syu’ur yang
Islam, fikrah yang bersih, dan suluk yang agung. Aqidah dengan
wujud iman kepada Allah dan Rasul di dalam pernyataannya kepada
syahadatain juga diiringi dengan keimanannya kepada malaikat,
kitab, hari kiamat, dan taqdir. Aqidah yang mantap akan mewarnai
bagaimana kepribadiannya. Kepribadian seorang individu terdiri
dari ittikad, syu’ur, fikrah, dan suluk. Pribadi yang muslim memiliki
ciri-ciri Islam di dalam setiap komponen dirinya.
Syakhshiyatul Islamiyah akan terwujud dengan aqidah yang benar
dan bersih. Bersih dari kemusyrikan dan benar mengikuti Islam.
Pribadi Islam mewarnai kehidupan diri seorang muslim apakah di
rumah ataupun di luar rumah. Keadaan demikian merupakan suatu
tuntunan aqidah yang dimiliki seseorang.
Aqidah yang tertanam di dalam hati dan dada muslim akan
menghasilkan kekuatan pribadi (quwwatul fard). Pribadi tanpa
aqidah akan lemah dan tidak mempunyai potensi, ia akan merusak
dan menghancurkan dirinya sendiri. Aqidah akan menjadikan
pribadi kuat karena landasan yang kuat dan tempat bergantung
yang kuat yaitu hanya kepada Allah saja. Dengan demikian suatu
kekuatan akan terwujud dengan pemahaman dan keyakinan yang
bersih.

Dalil
9:40 ;
26:61-62 ;
6:161-162 ;
8:60 ;

1.Al Ukhuwah
Syarah
Aqidah yang bersih dan menghasilkan kekuatan pribadi tidak akan
berhasil atau berkesan apabila tidak diikat dengan persaudaraan
Islam. Persaudaraan Islam adalah suatu nikmat dan hidayah yang
Allah berikan kepada manusia. Dengan persaudaraan ini menambah
nikmatnya iman dan Islam yang ada pada diri kita. Dengan
ukhuwah maka hidup menjadi tenang dan bahagia. Segala
permasalahan dan keadaan yang menyusahkan akan diatasi
dengan suasana ukhuwah Islamiyah ini. Kepentingan ukhuwah
Islamiyah di atas segala urusan telah dibuktikan oleh para sahabat
Nabi SAW.
Hubungan Islam dengan persaudaraan Islam dengan saling
berkenalan (ta’aruf), setelah itu akan menghasilkan saling
memahami (tafahum). Mengenal jasad, pemikiran, dan kepribadian
saudara kita yang meningkatkan pemahaman kita kepadanya
sehingga pemahaman yang terbentuk dari ta’aruf ini akan
menghasilkan suatu hubungan saling tolong menolong (ta’awun).
Keadaan ini yang kemudian yang memudahkan proses amal jama’i
dan proses dakwah Islamiyah. Ta’awun dalam bentuk saling
mendoakan dan saling membantu akan menghasilkan merasa
senasib dan sepenanggungan (takaful).
Amal Jama’i terwujud setelah terbentuknya ukhuwah Islamiyah. Kerja
sama dan sama-sama kerja merupakan suasana yang terwujud
diantara pribadi yang mengamalkan ukhuwah Islamiyah di dalam
arena dakwah.
Quwwatul jama’ah (kekuatan jamaah) sebagai hasil dari terjadinya
amal jama’i di kalangan pribadi da’i akan membentuk jamaah yang
handal, diperhitungkan dan tahan dari segala fitnah dan cobaan.

Dalil
49:10 ;
9:1 ;
49:13 ;
5:2 ;
90:17 ;
103:3 ;
37:99-100 ;
11:80 ;
11:91 ;

1.Quwwatul anfus
Syarah
Pribadi yang tertanam aqidah di dalam dadanya kemudian
berkumpul bersama-sama diikat dengan tali persaudaraan Islam
sehingga akan mengembangkan potensi diri dan kepribadian.
Kekuatan jiwa dan potensi bagi individu terwujud setelah mereka
bersama-sama melakukan ta’awun dan amal jama’i. Pribadi yang
kuat sekalipun apabila tidak bersama-sama maka ia akan lemah
dan tidak berpotensi. Keadaan pribadi demikian juga berlaku
apabila pribadi yang kurang beriman diikat dengan tali ukhuwah
Islamiyah maka tidak akan muncul kekuatan pribadi. Bagaikan sapu
lidi yang tidak banyak manfaat apabila tidak diikat dengan tali yang
kuat dan kokoh.
Keadaan kekuatan jiwa akan menjadikan kekuatan secara al a’dad
(jumlah). Jumlah pribadi yang banyak dan mereka kuat akan
menghasilkan kekuatan jiwa.

Dalil
49:15 ;
9:111 ;
8:60 ;

1.Al ‘Uddah
Syarah
Bagaimana kita dapat berinteraksi dengan Islam tidaklah cukup
hanya dengan aqidah dan ukhuwah. Banyak aktivis Islam dan
keperluan untuk berinteraksinya memerlukan uang dan fasilitas.
Uang fasilitas, kendaraan, dan materiil lainnya mempunyai peranan
yang penting di dalam menyokong kelancaaran dakwah. Tanpa
peranan maal ini maka tidak akan lancar perjalanan dakwah dan
jamaah. Allah SWT menyebutkan di dalam banyak ayat berkaitan
dengan perlunya berjihad dan berdakwah dengan mengorbankan
harta dan jiwa. Kekuatan maal merupakan tuntutan dakwah dan
gerakan. Bagaimana kita akan berislam apabila kita mempunyai
uang dan fasilitas. Oleh karena itu persiapan keuangan sangatlah
dipentingkan didalam amal dakwah.
Beberapa usaha menyediakan maal ini didalam Islam melalui zakat,
infak, shodaqoh, sunduq, dan maal.Zakat merupakan kewajiban
seorang muslim yang telah mampu, sedangkan infak juga
kewajiban seorang muslim tetapi tidak ditentukan berapa
jumlahnya, sedangkan shodaqoh terserah kepada kita, manakala
maal diperoleh secara usaha atau bisnis individu-individu yang
bergerak di dalam perserikatan Islam. Apabila dikumpulkan semua
kewajiban dan usaha pengumpulan uang ini maka tidak akan
kekurangan dana sokongan bagi kepentingan dakwah Islam.
Quwwatul ‘iddah (kekuatan persiapan) merupakan akibat dari
tersedianya harta dan materiil yang diperlukan olehdakwah melalui
penyaluran uang berdasarkan kewajiban atau kerelaan.
Akhirnya kekuatan keuangan (quwwatul amwal) sebagai penyokong
dakwah dapat memberikan sokongan yang kuat kepada dakwah.

Dalil
9:46 ;
8:3 ;
61:11 ;
9:111 ;

1.Kaifa yataharraku ma’al Islam


Syarah
Bagaimana pula kita akan bergerak bersama Islam. Keperluan dan
persyaratan seperti aqidah, ukhuwah, dan persiapan telah
terpenuhi maka diperlukan usaha untuk menggerakkan yang ada
ini ke dalam bentuk amal dan ibadah Islam.
Al Ibadatullah wahdah (ibadah kepada Allah saja) adalah suatu
tuntunan Islam dan Allah kepada kita yang meyakini dan
mengimani Allah dan RosulNya. Iman perlu dibuktikan dengan
ibadah. Segala potensi manusia baru bernilai apabila mereka
beribadah kepada Allah. Tanpa ibadah maka potensi yang
dimilikinya akan menghilang dan hancur. Kekuatan pun akan luntur
sehingga mudah diinjak oleh musuh Islam sebagai akibat dari
hilangnya ibadah karena memperturutkan hawa nafsu.
Ibadah itu sendiri sebagai wujud dan bukti realisasi iman (tahqiyqul
iman). Iman perlu dibuktikan di dalam perbuatan, perbuatan itu
sendiri adalah ibadah.

Dalil
9:119 ;
9:120 ;

1.As Sidiq
Syarah
Iman yang terwujud di dalam ibadah akan menghasilkan sifat sidik
bagi pemegang dan penganutnya. Pemegang iman akan bersifat
sidik dari segi al qolb sehingga menghasilkan kekuatan pendobrak
(quwwatul indifa’), kemudian sidik di dalam lisan akan
menghasilkan kekuatan kesan/pengaruh (taktsir) dan juga sidik di
dalam amal akan menghasilkan kekuatan hasil (quwwatul intaj).

Dalil
Lihat bahan sidik fi dakwah
49:15 ;

1.Tasdiq (membenarkan)
Syarah
Apabila kita mempunyai sifat sidik maka Allah SWT pun akan
membenarkan dan memberikan kepercayaan kepada kita. Bentuk
kepercayaan yang Allah berikan adalah diangkatnya kita menjadi
orang yang bertakwa, dibantunya dari kesusahan, diberi rizqi,
hidayah, berkah, dan rahmat. Selain itu bentuk kepercayaan yang
Allah berikan adalah kita mendapatkan kepercayaan sebagai
khalifah dan mendapatkan kedudukan yang mulia disisiNya.

Dalil
33:23 ;
22:39 ;

1.Al Makanah
Syarah
Kepercayaan dan kedudukan yang Allah berikan sebagai khalifah
adalah wujud Allah SWT memberikan makanah (kedudukan) yang
mulia. Diantara kedudukan ini adalah diberinya kekuasaan untuk
memerintah di bumi dan kemudian peranan khalifah berjalan.

Dalil
22:41 ;