Está en la página 1de 7

PENGARUH SENAM AEROBIK TERHADAP DERAJAT NYERI DISMENOREA PADA WANITA USIA 20-25 TAHUN

Nurviana F1, Munawar2, Nurjannah3, Imran4 Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, 2)Bagian Ilmu Kandungan Fakultas Kedokteran Unsyiah, 3)Bagian Ilmu Family Medicine Fakultas Kedokteran Unsyiah, 4) Tim Pengelola Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala
1)

ABSTRAK Dismenorea dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan senam aerobik merupakan salah satu intervensi alternatif untuk mengurangi nyeri dismenorea. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senam aerobik dalam menurunkan derajat nyeri dismenorea pada wanita usia 20-25 tahun. Penelitian ini menggunakan teknik quasi eksperimen dengan desain one group pretest-posttest dengan jumlah sampel 15 orang mahasiswi Kedokteran Unsyiah. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret 2011 sampai April 2012. Hasil rata-rata skor nyeri dismenorea menggunakan Numerical Rating Scale (NRS); pretest (6,26) dan posttest (3,26). Hasil uji t-test berpasangan menunjukkan nilai p=0,00. Dapat disimpulkan bahwa senam aerobik dapat menurunkan derajat nyeri dismenorea pada wanita usia 20-25 tahun. Kata Kunci: Dismenorea, wanita usia 20-25 tahun, senam aerobik
ABSTRACT

Dysmenorrhea can interfere daily activities and aerobics is one of the alternative intervention to decrease dysmenorrhea. The aim of the research was to investigate the influence of aerobics to decrease dysmenorrhea of women 20-25 years old. The research used quasi experiment with one group pretest-posttest Design using 15 samples who are medical student of Syiah Kuala University. The research was conducted between March 2011 until April 2012. The Average result dysmenorrhoea pain scores using the Numerical Rating Scale (NRS); pretest (6.26) and posttest (3.26). The result a paired t-test showed p=0,00. It can be concluded that aerobics may reduce dysmenorrhea pain in women 20-25 years old. Keywords: Dysmenorrhea, women 20-25 years old, aerobics PENDAHULUAN Dismenorea adalah nyeri abdomen bawah seperti kram dan nyeri pelvik yang menjalar sampai ke paha dan punggung tanpa adanya gambaran patologik pelvik (Chandran, 2008). Dismenorea bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala yang timbul akibat pelepasan prostaglandin F2 alfa (PGF2) yang berlebihan meningkatkan amplitude dan frekuensi uterus dan menyebabkan vasospasme arteriol uterus sehingga mengakibatkan iskemia dan kram abdomen bawah (Bobak, 2004).

2 Dismenorea yang paling sering terjadi adalah dismenorea primer lebih dari 50% wanita mengalami dismenorea primer dan 10-15% diantaranya mengalami nyeri yang hebat sampai mengganggu aktivitas dan kegiatan sehari-hari wanita. Biasanya dismenorea primer timbul pada masa remaja, yaitu sekitar 2-3 tahun haid pertama dan terjadi pada umur kurang dari 25 tahun (Baradero, 2006). Angka kejadian dismenorea di dunia cukup tinggi, diperkirakan sekitar 50% dari seluruh wanita di dunia menderita dismenorea dalam setiap siklus menstruasi (Liewellyn, 2005). Studi epidemiologi yang dilakukan di Amerika Serikat melaporkan prevalensi dismenorea 59%, yang dapat dikategorikan dismenorea berat sebanyak 12%, dismenorea sedang sebanyak 37% dan dismenorea ringan 10% (French, 2005). Sebuah studi longitudinal secara kohort pada wanita Swedia ditemukan prevalensi dismenore pada wanita usia 19 tahun adalah 90% dan 67% pada wanita usia 24 tahun (French, 2005). Sepuluh persen dari wanita usia 24 tahun tersebut melaporkan adanya nyeri yang mengganggu kegiatan sehari-hari (French, 2005). Menurut survei yang dilakukan Ayura (2006) di SMA Negeri 3 Sidoarjo, didapatkan bahwa sebesar 90% siswi mengalami dismenorea dan sebanyak 70% siswi mengalami kecemasan. Hal ini disebabkan oleh salah satu faktornya yaitu kurangnya pengetahuan remaja tersebut tentang dismenorea. Kebanyakan remaja mengobati dismenorea dengan obat yang dijual bebas dan hanya beberapa yang berkonsultasi dengan dokter mengenai dismenorea yang dialami. Dismenorea merupakan masalah fisik bukan masalah psikis namun dismenorea dengan tingkatan nyerinya sering dapat menimbulkan bahaya. Kondisi seperti ini membawa wanita pada situasi yang tidak menyenangkan dan dapat mengakibatkan terganggunya aktifitas sehari-hari dan kualitas hidup sehingga menyebabkan absensi sekolah maupun kantor (Ramaiah, 2006). Melihat dampak dari dismenorea tersebut dapat dikatakan bahwa dismenorea merupakan salah satu masalah dalam kehidupan wanita, yang memaksa mereka untuk menggunakan berbagai cara untuk mencegah terjadinya dismenorea. Ramaiah (2006) menyebutkan bahwa salah satu cara yang sangat efektif untuk mencegah nyeri dismenorea adalah melakukan latihan olahraga. Menurut Harry (2007) latihanlatihan olahraga yang ringan sangat dianjurkan untuk mengurangi dismenorea. Menurut Abbaspour (2005) wanita yang teratur olahraga didapatkan penurunan insidensi dismenorea. Hal ini mungkin disebabkan efek hormonal yang berhubungan dengan olahraga pada permukaan uterus, atau peningkatan kadar endorphin yang bersirkulasi. Banyak olahraga yang menjadi alternatif untuk mengurangi dismenorea, salah satunya adalah senam aerobik. Menurut Sulastri (2006) senam aerobik adalah suatu latihan untuk memperoleh oksigen sebanyak-banyaknya dan juga olahraga untuk peningkatan kesegaran jasmani bukan olahraga prestasi, akan tetapi olahraga preventif yang dapat dilakukan secara massal. Berdasarkan uraian diatas dan mengingat sering timbulnya masalah dismenorea pada wanita yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari maka perlu adanya penelitian untuk mencari alternatif terapi untuk mencegah dan mengatasi masalah dismenorea tersebut dengan senam aerobik dapat mengurangi maupun mengatasi masalah dismenorea.

3 METODE PENELITIAN Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian Quasi Eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 sampai April 2012. Pemeriksaan Ultrasonography (USG) dilakukan pada tanggal 22 Februari 2012 dan 28 Februari 2012 sedangkan intervensi senam aerobik dilakukan di Sport Centre pada tanggal 28 Februasi 2012 sampai 3 April 2012. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran Unsyiah usia 20-25 tahun yang mengalami dismenorea. Alat dan Bahan Pengumpulan penelitian dengan Numerical Rating Scale nyeri sebagai alat ukur yang akan diteliti. data dalam menggunakan (NRS) derajat pada variabel sehingga dilakukan Uji T-test Berpasangan (p<0,05). Perhitungan pengujian hipotesis di atas dilakukan dengan menggunakan SPSS 15 (Statistical Product and Service Solution) (Dahlan, 2009).

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan pada 16 sampel dari jumlah sampel keseluruhan 19 orang yaitu mahasiswi Fakultas Kedokteran Unsyiah. Sebelum melakukan senam aerobik, seluruh sampel dilakukan pemeriksaan Ultrasonography (USG) untuk melihat apakah terdapat riwayat penyakit ginekologi. Pada pemeriksaan USG didapatkan 16 orang di nyatakan normal dan 3 orang di nyatakan memiliki kelainan ginekologi (kista rahim) akan tetapi 1 orang tidak dapat dilakukan analisis data karena tidak mengikuti intervensi sesuai prosedur penelitian sehingga jumlah sampel menjadi 15 orang. 1. Karakteristik Subjek Penelitian Karakteristik subjek penelitian ini berdasarkan umur (tahun), berat badan (kg), tinggi badan (cm), IMT (Indeks Massa Tubuh) (IMT=BB(kg)/TB(m2)), Underweight (<18,5), Normal Range (18,5-22,9), Overweight (>23,0), Obesitas I (2529,9), Obesitas II (>30,0) (WHO, 2000)). Karakteristik subjek penelitian dapat dilihat pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Data Karakteristik Subjek Penelitian
Data Umur (tahun) Berat Badan (Kg) Tinggi Badan (cm) IMT (Kg/m2) n 15 15 15 15 Ratarata 20,46 54,26 155,0 6 22,55 SD 0,51 10,6 8 6,20 4,23 pvalue 0,05 0,49 0,81 0,83

Cara Pengukuran Variabel Pengukuran dilakukan dengan cara anamnesis dan pengamatan menggunakan NRS derajat nyeri. Hasil pengukuran dikelompokkan dalam 4 kelompok sebagai berikut: a) Tidak nyeri (0) b) Nyeri ringan (1-3) c) Nyeri sedang (4-6) d) Nyeri berat terkontrol (7-9) e) Nyeri berat tidak terkontrol (10) (Smeltzer, 2002) Analisis Data Hasil penelitian di analisis menggunakan uji normalitas Kolmogorov-smirnov untuk mengetahui apakah distribusinya normal atau tidak dan dilakukan homogenitas. Hasil uji diperoleh data berdistribusi normal dan homogen

Keterangan: p>0,05 berbeda nyata

menunjukkan

tidak

4 Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa hasil uji karakteristik subjek penelitian menunjukkan nilai signifikansi umur (p=0,05) tidak berbeda nyata (p>0,05), berat badan (p=0,49), tinggi badan (p=0,81), dan IMT (p=0,83) di dapatkan hasil berbeda nyata (p>0,05). 2. Hasil Uji Homogenitas Dismenorea Sebelum Sesudah Senam Aerobik Nyeri dan Tabel 4.3 Hasil Uji Normalitas Nyeri Dismeorea
Variabel Pretest Nyeri Posttest 15 1,11 0,16 n Kolmogorovsmirnov 0,70 p-value 0,69

Keterangan: Uji normalitas p>0,05 menunjukkan data berdistribusi normal

Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat hasil uji homogenitas varians uji Levene (p>0,05) dari data nyeri dismenorea didapatkan hasil p=0,76 yang menunjukkan varian data homogen, seperti pada tabel 4.2. Tabel 4.2 Hasil Uji Homogenitas Varian Nyeri Dismenorea
Variabel Pretest Nyeri Posttest 15 0,08 0,76 n Levene Statistic F p-value

4. Hasil persentase tingkatan derajat nyeri dismenorea sebelum dan sesudah melakukan senam aerobik Berdasarkan gambar 4.1 dapat dilihat bahwa hasil persentase tingkatan derajat nyeri dismenorea menunjukkan perubahan tingkatan derajat nyeri sebelum dan sesudah melakukan senam aerobik. Perbedaan persentase tingkatan derajat nyeri yaitu nyeri ringan meningkat (60%) dan penurunan persentase nyeri sedang (20%) dan nyeri berat terkontrol (40%).
80 73.3 70 60 Persentase 53.3

Keterangan: Uji homogenitas menunjukkan varians data homogen

p>0,05

3. Hasil Uji Normalitas Dismenorea Sebelum Sesudah Senam Aerobik

Nyeri dan

50 40 30 20 13.3 13.3 13.3 33.3

Berdasarkan tabel 4.3 dapat dilihat bahwa uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-smirnov (p>0,05) dari data nyeri dismenorea sebelum dan sesudah senam aerobik menunjukkan bahwa nyeri dismenorea sebelum berdistribusi normal (p=0,69) dan sesudah senam aerobik berdistribusi normal (p=0,16), seperti yang tercantum pada tabel 4.3.

10 0 nyeri ringan pretest posttest nyeri sedang nyeri berat terkontrol

Gambar 4.1Grafik persentase penderita nyeri dismenorea berdasarkan tingkatan derajat nyeri dismenorea

5 5. Hasil Uji t-test Berpasangan Pengaruh Senam Aerobik pada Wanita Usia 20-25 Tahun Berdasarkan hasil uji T-test berpasangan didapatkan hasil rata-rata skala nyeri dismenorea dapat di lihat pada tabel 4.4 yang menunjukkan perubahan rata-rata derajat nyeri sebelum (6.26) dan nyeri sesudah (3.26) melakukan senam aerobik dan hasil penelitian menunjukkan nilai signifikasi 0,000 (p<0,05). Sehingga diputuskan bahwa senam aerobik memberikan pengaruh yang signifikan dalam menurunkan derajat nyeri dismenorea pada wanita usia 20-25 tahun karena terdapat perbedaan ratarata antara sebelum dan sesudah senam aerobik. Tabel 4.4 Hasil rata-rata skor nyeri dismenorea menggunakan NRS
Variabel n Rata rata 6,26 3,26 SD t pvalu e

Pretest Nyeri Postest

1 5

1,90 1,98 6,27 0,00

Keterangan:

p<0,05 menunjukkan berbeda nyata

hasil

Pembahasan Dismenorea atau nyeri haid adalah normal, namun dapat berlebihan apabila dipengaruhi oleh faktor fisik dan psikis seperti stress serta pengaruh dari hormon prostaglandin dan progesteron. Selama dismenorea, terjadi kontraksi otot rahim akibat peningkatan prostaglandin yang berlebihan sehingga menyebabkan vasospasme dari arteriol uterin yang menyebabkan terjadinya iskemia dan kram pada abdomen bagian bawah yang akan merangsang rasa nyeri disaat haid (Robert dan David, 2004). Wanita yang mengalami dismenorea menyatakan mereka

minum obat atau jamu untuk mengurangi nyeri saat haid/dismenorea. Untuk itu perlu adanya alternatif lain yang bersifat preventif untuk mengatasi dismenorea. Setelah melakukan senam, sebagian besar wanita melaporkan adanya perubahan dalam rasa nyeri yang mereka rasakan (Widjanarko, 2006). Banyak olahraga yang menjadi alternatif untuk mengurangi dismenorea salah satunya dengan senam aerobik. Banyak manfaat yang diperoleh dari senam aerobik selama dismenorea yaitu peningkatan efisiensi kerja paru sehingga bila seseorang rutin melakukan senam aerobik maka di dapat menyimpan oksigen dua kali lipat permenit sehingga oksigen tersmpaikan pada pembuluh darah yang mengalami vasokonstriksi dan akan menyebabkan penurunan nyeri haid. Latihan fisik (senam aerobik) juga dapat menghasilkan hormon endorphin. Endorphin dihasilkan di otak dan susunan saraf tulang belakang. Hormon ini dapat menimbulkan rasa nyaman dan meningkatan kadar endorphin dalam tubuh untuk mengurangi rasa nyeri pada saat kontraksi. Senam aerobik terbukti dapat meningkatkan kadar bendorphin empat sampai lima kali lipat di dalam darah. Sehingga semakin banyak melakukan senam/olahraga maka akan semakin tinggi pula kadar b-endorphin. Ketika seseorang melakukan senam/olahraga, maka bendorphin akan keluar dan ditangkap oleh reseptor di dalam hipothalamus dan sistem limbik yang berfungsi untuk mengatur emosi. Peningkatan bendorphin terbukti berhubungan erat dengan penurunan rasa nyeri, peningkatan daya ingat, memperbaiki nafsu makan, kemampuan seksual, tekanan darah dan pernafasan. Sehingga senam aerobik akan efektif dalam mengurangi masalah nyeri

6 terutama nyeri dismenorea (Harry, 2007). Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh (Tabel 4.1, Tabel 4.2, Tabel 4.3, grafik 4.1, Tabel 4.4) senam aerobik memiliki pengaruh yang signifikan dalam mengurangi dismenorea pada wanita usia 20-25 tahun. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Abbaspour (2006) dimana keparahan dan durasi dismenorea juga berkurang dengan adanya olahraga (p<0,01). Hal ini didukung oleh penelitian Puji (2009) yang menyebutkan bahwa senam dismenorea efektif dalam mengurangi dismenorea pada remaja putri di SMU N 5 Semarang dengan tingkatan nyeri sebelum melakukan senam aerobik adalah siswi dengan skala ringan sebanyak 1 siswi (7%), skala sedang sebanyak 8 siswi (53%) dan skala berat sebanyak 6 siswi (40%) menunjukkan perubahan skala nyeri setelah melakukan senam dismenorea dengan skala ringan sebanyak 11 siswi (73,33%), skala sedang sebanyak 4 siswi (26,67). Dan penelitian yang dilakukan oleh Novia (2009) mengenai hubungan olahraga dengan dismenorea didapatkan bahwa olahraga secara signifikan menurunkan insidensi dismenorea (p<0,05). Serta penelitian Martchelina (2011) yang menyebutkan bahwa terdapat pengaruh antara senam dismenorea terhadap penurunan tingkat nyeri saat menstruasi pada remaja putri usia 12-17 tahun SMP 131 di Cipedak Kecamatan Jagakarsa dengan hasil rata-rata penurunan skala nyeri dismenorea pada pengukuran pertama adalah 5,6% dan rata-rata pada pengukuran kedua adalah 3,2% dengan nilai p-value=0,000 (p<0,05). 4.1 Keterbatasan Penelitian Dalam melakukan penelitian ini penulis menemukan adanya beberapa hambatan dan keterbatasan sehingga penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah: 1. Tidak ada sampel dengan kontrol positif dan negatif. 2. Hasil karakteristik usia responden tidak berdistribusi normal karena peneliti sulit mencari responden dengan rentan usia bervariasi dari 20-25 tahun dan bisa berkomitmen dengan kriteria penelitian. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa senam aerobik dapat menurunkan derajat nyeri dismenorea pada wanita usia 20-25 tahun. Saran Berdasarkan hasil penelitian, senam aerobik dapat menurunkan derajat nyeri dismenorea pada wanita usia 20-25 tahun. Oleh karena itu disarankan bagi wanita yang mengalami nyeri dismenorea untuk melakukan senam aerobik yang teratur dalam upaya menurunkan derajat nyeri dismenorea, dan untuk penelitian selanjutnya disarankan menggunakan sampel dengan kontrol positif dan negatif untuk melihat perbandingan dan memasukkan variabel lain seperti stress, pola makan, dll. DAFTAR PUSTAKA Abbaspour, Z; Rostami, M dan Hajjar, S.H. 2006. The Effect of Exercise on Primary Dysmenorrhea. J Res Health Scin.

7 Baradero. 2006. Gangguan Sistem Reproduksi dan Seksualitas. EGC. Jakarta. Bobak, L.J. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Penerjemah: Komalasari R. Edisi ke-4. EGC. Jakarta. Chandran, L. 2008. Menstruation Disorders: overview. E-medicine Obstetrics and Gynecology. Available From: http://emedicine.medscape.Com/ article /953945-overview/ [diakses pada 11 maret 2011]. Dahlan, M.S. 2009. Statistik Untuk Kedokteran Dan Kesehatan. Salemba Medika. Jakarta. French, L. 2005. Dysmenorrhea. American Family Physic Liewellyn dan Jones. 2001. DasarDasar Obstetri dan Ginekologi. Edisi VI. Hipokrates. Jakarta. Smeltzer, S. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta. Sulastri. 2006. Perilaku Pencarian Pengobatan Keluhan Dysmenorrhea pada Remaja Di Kabupaten Purworejo Propinsi Jawa Tengah. Tesis. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.