Está en la página 1de 4

Yuk!

Ajak Anak Kita Menyerap Langsung Energi Ramadhan Rabu, 17 Juli 2013 - 08:24 WIB null NPR Ajak mereka langsung menyerap energi langit BULAN Suci Ramadhan adalah bulan kebahagiaan, tidak terkecuali bagi mereka yang masih berstatus sebagai anak-anak. Sayangnya, sebagian besar anak-anak belum men dapat pemahaman yang benar tentang bagaimana semestinya mengisi waktu selama Bul an suci Ramadhan. Kebanyakan anak-anak hari ini bangun di waktu sahur sekedar untuk berkumpul bers ama dengan teman sebayanya, membakar kembang api atau sekedar jalan kesana-kemar i menanti Shubuh tiba. Sebagian yang lain, malah ada yang menghabiskan waktu sek edar hanya untuk bermain. Pagi harinya, rata-rata mengisi puasanya dengan tidur pulas sampai terang mentari terasa menyengat. Bahkan, sebagian lagi, khususnya yang sudah remaja, menjelang buka puasa, tepatn ya usai sholat Ashar, kebanyakan menghabiskan waktunya untuk nongkrong di pinggi r jalan, mutar-mutar kompleks, atau sekedar ngabuburit. Bahkan yang lebih parah, sebagian remaja kita memanfaatkan hal yang justru bersama jauh dari alaman Rama dhan, nongkrong bersama lawan jenis atau balap motor. Semua aktivitas anak-anak tersebut mungkin dianggap wajar, toh masih anak-anak. Y ang penting sudah mau puasa, ya Alhamdulillah, mungkin begitu argumen sebagian or angtua melihat fenomena tersebut. Tetapi, kalau kita perhatikan secara seksama, sebenarnya di Bulan suci Ramadhan inilah kesempatan besar terbentang luas dalam kehidupan keluarga kita untuk mena namkan kebiasaan positif pada mereka. Bagaimana tidak, anak-anak bisa bangun malam untuk sahur, kemudian mau ikut shol at Shubuh dan tentunya ikut tarawih juga di masjid. Semestinya, orangtua tidak membiarkan momentum Ramadhan ini berlalu begitu saja, khususnya dalam kontek pendidikan anak. Ajak mereka untuk memahami apa hakikat puasa ini, sehingga mereka bisa berpikir bahwa di bulan ini mereka mesti bersema ngat menempa diri menjadi insan takwa. Jadikan Ramadhan ini justru sebagai madra sah bagi mereka dengan cara langsung menyerap energi langit untuk menempa banyak p elajaran langsung dari Allah Subhanahu Wata ala Inti puasa, seperti ditegaskan di dalam al-Qur an adalah menjadi pribadi muttaqin (QS. 2: 183). Dengan demikian sudah kewajiban para orangtua untuk mengajak anakanaknya memahami hakikat puasa itu sendiri. Ketakwaan itu sendiri hanya bisa diraih dengan cara menahan hawa nafsu. Hawa naf su bagi anak-anak adalah keinginan menghabiskan waktu dengan banyak bermain, ber santai ria dan bersenang-senang. Di sini orangtua perlu mengajak anak-anak untuk dialog tentang apa sebenarnya yang mereka pahami tentang puasa ini. Metodenya? Ada banyak metode untuk mengajak anak-anak memahami hakikat puasa. Pertama, bisa melalui dialog. Seperti Nabi Ibrahim berdialog dengan Nabi Ismail untuk mengeta hui pendapat Ismail terhadap suatu perintah sekaligus mengetahui kematangan berp ikir dan kualitas keimanannya, kepatuhannya dan ketaatannya kepada orangtua. Dialog ini perlu sering dilakukan, utamanya di Bulan Ramadhan untuk memastikan a pakah anak-anak kita sudah mengerti, atau belum mengerti tentang hakikat puasa.

Sebab, tujuan puasa agar setiap Muslim menjadi pribadi takwa juga perlu dicapai oleh anak-anak kita semua. Tanpa dialog, maka puasa mungkin hanya akan memberikan kesan mendalam kepada ora ngtua tetapi tidak pada anak-anak. Sebab, anak-anak dibiarkan dengan dunianya ya ng kita anggap sebagai wajar. Wajar tidak wajarnya perilaku anak bukan terletak pada apa yang umum terjadi pad a masa anak-anak saat ini. Tetapi apa yang terjadi pada masa anak-anak di zaman Rasulullah, sahabat, dan tabi in. Mungkin berat, tetapi masak iya, kita tidak mau sama sekali berupaya. Siapa tahu Allah berikan kemudahan di bulan penuh berkah i ni untuk membantu anak-anak kita mengerti hakikat puasa. Dengan dialog yang intens, seputar puasa, maka insya Allah, anak akan merasa dih argai dan karena itu mereka akan berpikir. Iya, ya, puasa itu kan menahan hawa na fsu untuk jadi orang bertakwa. Tapi saya kok banyakan mainnya daripada ngajinya. Jika itu terjadi, maka orangtua tidak perlu menghabiskan tenaga dan waktu untuk melarang anak melakukan ini dan itu selama Ramadhan. Kedua, bisa dengan memberikan anak-anak bahan bacaan (buku, majalah, atau pun si tus di internet) yang menjelaskan tentang keutamaan Ramadhan di zaman Nabi. Tent u tidak cukup hanya memberikan, temani mereka dalam membaca atau bila perlu diba ca bersama-sama. Setelah itu, minta anak-anak berpendapat dan bagaimana rencana mereka setelah membaca informasi penting tersebut. Ketiga, ajak anak untuk mengikuti aktivitas ibadah yang kita lakukan. Misalnya, orangtua sudah memiliki kebiasaan qiyamul lail, maka mengajak anak-anak, meski b aru usia SD tidak mengapa. Hal itu hanya untuk melatih saja, sekaligus memberi p emahaman kepada anak bahwa ada yang namanya sholat tahajjud. Demikian juga dengan aktivitas ibadah lainnya, seperti sholat tarawih, mendengar kan taushiyah Shubuh di masjid, termasuk membaca al-Qur an di rumah. Keempat, beri anak-anak target yang sama dengan orangtua khusus selama Ramadhan. Misalnya, hatam al-Qur an bersama terjemahannya.. Yang dalam pencapaian target it u, orangtua dan anak melakukannya secara bersamaan. Dengan demikian, maka anak-a nak tidak akan merasa diperintah, tetapi merasa dihargai dan diajak, Insya Allah dengan pertolongan Allah, upaya ini akan diberikan kemudahan. Ketekunan dan Keteladanan Nasib Islam ini sungguh tidak dapat dipungkiri lagi ada di pundak anak-anak kita sekarang. Jika mereka sejak dini telah memahami hakikat puasa, insya Allah puas a yang akan datang mereka akan menata diri dengan lebih baik. Dan, itu sungguh a kan sangat menentramkan hati kita sebagai orangtua. Mengapa, anak-anak di zaman Nabi, sahabat dan tabi in begitu bersemangat dalam ilm u dan ibadah? Jawaban yang paling tepat adalah karena para orangtua kala itu mem iliki ketekunan dan keteladanan dalam amal ibadah dan tidak pernah jemu mengajak anak-anaknya untuk memahami apa hakikat dari segala sesuatu yang mereka amalkan . Alkisah satu siang, hari Asyura, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyampa ikan pengumuman kepada penduduk Anshar. Barangsiapa yang hari ini berpuasa, hend aknya lanjutkan (sempurnakan) puasanya. Barangsiapa yang tidak berpuasa, hendakn ya berpuasa (dengan) sisa hari yang ada. Setelah (mendengar itu) kami berpuasa d an menyuruh anak-anak kecil kami berpuasa pula. Kami pergi ke masjid. Di sana ka mi membuat mainan dari kain wol bagi mereka (anak-anak). Apabila ada di antara m ereka menangis lantaran merasa lapar, kami berikan mainan itu padanya. Ini berla

ngsung hingga berbuka puasa tiba. (Hadits Al-Bukhari dan Muslim). Begitulah para orangtua zaman Nabi memperkenalkan anak-anak mereka menyambut Ram adhan. Oleh karena itu, sungguh langkah bijak dan tepat jika kita sebagai orangt ua, sejak dini berusaha mengajak anak-anaknya untuk memahami hakikat puasa denga n berbagai amalan sholeh yang sudah semestinya dilakukan selama Ramadhan dan dip ertahankan selama sebelas bulan berikutnya.*/Imam Nawawi MENDIDIK ANAK MENDIDIK ANAK "Ya Tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah ) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanla h hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari bu ah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur" (Q.S. Ibrahim : 37). Pendidikan terhadap generasi penerus (anak) merupakan suatu keharusan bagi para orang tua. Orangtualah yang mengambil peran sangat dominan dalam pembentukan sik ap dan kepribadian generasi penerus itu. Pendidikan yang diberikan kedua orang t ua di awal pertumbuhan sang anak merupakan titik permulaan yang sangat menentuka n kesuksesan dan keberhasilannya dalam mengemban amanah sebagai khalifah Allah d i bumi. Kelemahan di dalam hal ini akan menyebabkan hancurnya tatanan kehidupan, yang tidak hanya menimpa keluarga, tapi juga seluruh umat. Sebuah generasi yang sangat didambakan untuk melanjutkan estafet perjalanan amanah sebagai khalifah Allah, menjadi hancur. Kita akhirnya harus mempersiapkan lagi satu generasi peng ganti, disamping harus membina kembali generasi yang terlanjur rusak. Sungguh, s uatu pekerjaan yang melelahkan. Dalam mendidik anak, ada banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari sejarah. Ki sah Nabi-Nabi dalam Al-Qur'an, kisah kelembutan Nabi Muhammad terhadap anak-anak kecil, kisah para shalafush-shalih, dan banyak lainnya. Satu diantara kisah-kis ah itu adalah kisah Nabi Ibrahim dalam mendidik anak-anaknya, sehingga di kemudi an hari banyak diantara keturunannya itu menjadi orang-orang pilihan Allah untuk mengemban risalah-Nya. Tak pelak bila beliau digelari sebagai abu-l-anbiya (Bap ak para Nabi), selain gelar Khalilullah (kekasih Allah) yang sudah disandangnya. Dalam ayat diatas, Allah SWT memberikan pelajaran penting dalam pembinaan anak m elalui nabi-Nya Ibrahim as. Setidaknya ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dalam ayat yang mulia ini : 1. Didiklah anak dengan do'a. Ayat diatas merupakan sebuah do'a yang dipanjatkan Nabi Ibrahim as. agar anak-an aknya kelak menjadi orang-orang yang selalu mendirikan shalat, dicintai oleh ses amanya dan diberi rizki yang melimpah. Untaian doa yang dipanjatkan hendaklah selalu teriringkan dalam mendidik anak. M emohon kepada Dzat yang Menciptakan segala sesuatu untuk menjadikan baginya anak yang sholeh dan diberi kemampuan serta kesabaran untuk menemukan cara terbaik d alam mendidik anak-anaknya. Karena do'a, bagaimanapun, adalah sarana komunikasi ruhiyah seorang hamba dengan Tuhannya. Doa pula yang merupakan pembatas yang men unjukan kelemahan manusia dan kemahaagungan Allah swt. Dalam mendidik anak, manusia tidak cukup dengan hanya mengandalkan kekuatan akal dan jasmaninya. Bimbingan ilahiyah sangatlah diperlukan. Kelemahan manusia dala m memandang sesuatu yang baik buat si anak begitu relatif. Terkadang ia berpikir bahwa suatu perbuatan yang menurutnya sudah baik untuk pendidikan si anak, piha k lain memandangnya sebagai suatu yang tidak tepat Maka sehebat apapun manusia b erteori, tidak akan terlepas dari kemampuan akalnya yang terbatas. Selain ayat di atas ada banyak ayat yang menunjukkan peran doa yang begitu vital dalam pendidikan anak (3:36-38, 19:3-6, 25:74). Setidaknya dengan doa segala us aha telah diserahkan hasilnya kepada Allah, Dialah yang mengetahui apa-apa yang hambanya tidak ketahui, sehingga apapun yang kemudian terjadi pada sang anak mer upakan hal yang terbaik yang dikehendaki Rabbnya. 2.Menempatkan anak pada lingkungan yang baik.

Setelah untain doa telah terpanjatkan pada sang maha pencipta, langkah selanjutn ya adalah usaha dari kedua orang tua untuk menempatkan sang anak pada lingkungan yang baik. Dalam hal ini bimbingan ilahiyah yang tepancar lewat doa-doa yang di panjatkan akan mengiring para orang tua untuk mendapatkan lingkungan yang terbai k bagi anak-anaknya. Sebab lingkungan yang baik menurut pandangan orang tua belu mlah mesti baik bagi perkembangan anak-anak, namun setidaknya ayat diatas member ikan kreteria terpenting untuk memilih lingkungan yang baik itu, yaitu lingkunga n yang mendekatkan dan mengingatkan sang anak pada Penciptaannya, sehingga ia se lalu bisa berintraksi dengan ibadah yang selanjutnya akan menumbuhkan akhlaq yan g mulia. Pada tahap selanjutnya sang anak akan menjadi mudah bergaul dalam lingk ungannya dan cintai masyarakat sekitar. 3. Pendidikan yang baik buat sang anak. Apa subtansi pendidikan anak yang terbaik itu..? Pertanyaan itu selalu membangun kan para orangtua untuk mengalokasikan dana yang tidak sedikit demi mencapai pen didikan yang terbaik bagi anak-anak mereka, walaupun orientasi-orientasi pendidi kan itu ternyata masih belum jelas. Sebagian orang tua lebih memfokuskan pendidi kan anaknya pada kemudahan mendapatkan peluang kerja yang menjanjikan walaupun i tu harus mengorbankan aqidah sang anak. Sementara yang lain lebih menekankan uns ur keshalehan tanpa peduli dengan peluang mereka bersaing mendapatkan porsi dala m kehidupan dunia sementara hal itu juga merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh orang-orang Islam. Fenomena-fenomena ini berlanjut kerena pemahaman agama sebagian masyarakat masih terkotak-kotak oleh keyakinan parsial. Islam sebagai agama yang mempunyai pemahaman yang integral sangatlah menolak pem ahaman-pemahaman parsial yang menempatkan Islam pada bingkai yang sempit.Padahal dalam ayat di atas subtansi pendidikan sudah diletakan secara proporsional. Ket ika Ibrahim memanjatkan doa yang memohonkan keturunannya mendidirikan shalat, ad a satu isyarat yang menuntut para orang tua untuk memberikan penanaman aqidah ya ng shahih, mengenalkan Islam dan kewajiban-kewajiban yang mesti dilakukan pada a wal-awal pendidikan anak-anaknya, sehingga ia mampu mengenal Islam dan melaksana kan ajaran-ajarannya. Secara kesimpulan pelajaran agamalah yang menempati urutan pertama dalam pendidikan. Pada bagian kedua Ibrahim memanjatkan doa supaya hati sebagian manusia cenderung kepada mereka. Hal ini memberikan isyarat kepada para orang tua setelah memberi kan pendididkan agama yang baik, untuk kembali melanjutkan pendidikan mereka den gan memperhatikan akhlaq tingkah laku anak menjadi baik dan luhur sehingga dalam pergaulan sehari-hari ia tidak menjadi masalah bagi lingkungannya namun justru hati manusia menjadi suka dan cenderung kepadanya.Maka akhlaq menjadi subtansi y ang paling penting bagi pendidikannya selanjutnya dan tentunya akhlaq Islam lah yang menjadi rujukan. Selanjutnya pada bagian akhir Ibrahim melanjutkan doanya supaya Allah memberikan rizqi bagi keturunannya.Setelah pemahaman yang baik terhadap Islam dan pendidik an akhlaq yang luhur barulah para orang tua dihadapkan pada subtansi pendidikan selanjutnya yang diajarkan Ibrahim yaitu penekanan pada masalah skill dan keilmu an umum yang akan membantu dia mendapatkan porsi yang layak dalam kehidupan ini, sehingga diharapkan setelah pengenalan terhadap agama yang baik dan ditopang de ngan keluhuran budi pekerti menjadikan sang anak bersyukur terhadap apa yang ia dapatkan dari rizqi yang Allah berikan melalui usaha-usaha yang dia lakukan sesu i dengan ilmu yang ia kuasai dibidangnya.