Está en la página 1de 17

ARTRITIS REUMATOID

Pendahuluan Artritis reumatoid (AR) adalah sebuah penyakit kronik, yang ditandai dengan inflamasi dari tepi atau sinovial persendian. Dia dapat menjadi kerusakan sendi jangka panjang sehingga menimbulkan nyeri kronik, kehilangan fungsi dan disabilitas.1 Artritis reumatoid adalah gangguan kronik yang menyerang berbagai sistem organ. Penyakit ini adalah salah satu dari sekelompok penyakit jaringan ikat difus yang diperantarai oleh imunitas dan tidak diketahui penyebabnya . Artritis reumatoid merupakan suatu penyakit yang tersebar luas serta melibatkan semua kelompok ras dan etnik didunia. Penyakit ini merupakan suatu penyakit autoimun yang ditandai dengan terdapatnya sinovitis erosif simetrik yang walaupun terutama mengenai jaringan persendian, seringkali juga melibatkan organ tubuh lainnya. Sebagian besar pasien menunjukkan gejala penyakit kronik yang hilang timbul yang jika tidak diobati akanmenyebabkan terjadinya kerusakan persendian dan deformitas sendi yang progresif yang menyebabkan disabilitas bahkan kematian dini. AR juga merupakan penyakit sistemik yang berarti dapat mempengaruhi organ lain dalam tubuh. Sehingga diagnosis dini dari penyakit ini sangat penting untuk dapat membuat hidup tetap produktif dan pengobatan AR yang agresif dapat membatasi kerusakan sendi, sehingga mengurangi keterbatasan gerak, penurunan kemampuan dalam bekerja, biaya pengobatan yang tinggi dan operasi. Destruksi jaringan sendi terjadi melalui 2 cara: Pertama adalah destruksi pencernaan oleh produksi protease, kolagenase dan enzim2 hidrolitik lainnya. Enzim ini memecah kartilago, ligamen, tendon dan tulang pada sendi, serta dilepaskan bersama sama dengan radikal oksigen, metabolit asam arakidonat untuk leukosit polimorfonuklear dalam cairan sinovial. Proses ini diduga merupakan bagian dari respon autoimun terhadap antigen yang diproduksi secara lokal.

Manifestasi

yang

timbul

dapat

terbagi

artikular,

ekstraartikular

dan

konstitusinal yaitu berupa kelemahan umum, cepat lelah. Perkembangan AR terjadi dalam 3 tahap. Yang pertama adalah pembengakan dari sinovial yang menyebabkan nyeri, perasaan hangat, kaku, kemerahan dan pembengkakan disekitar sendi. Kedua adalah perkembangan dan pertumbuhan sel yang cepat, atau pannus, yang menyebabkan sinovial menebal. Pada tahap ketiga, sel radang akan mengeluarkan enzim yang memecahkan tulang dan tulang rawan, yang sering mengakibatkan sendi kehilangan bentuk dan postur (alignment), nyeri yang bertambah, dan kesukaran bergerak.1 Epidemiologi
1,2

AR lebih sering menyerang wanita dengan perbandingan antara wanita dan pria sebesar 3 : 1 atau sekitar 70% nya adalah wanita. AR juga dapat menyerang anak-anak, yaitu artritis reumatoid juvenil. Insidennya meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Insiden puncaknya pada usia 40-60 tahun. Penyakit ini menyerang orang-orang di seluruh dunia dari berbagai suku bangsa. AR sering mengalami remisi pada wanita hamil, walaupun gejala akan lebih nyata dan lebih intens setelah bayi lahir. Etiologi2 Penyebab utamanya masih belum diketahui secara pasti. Tetapi ada beberapa faktor yang menentukan morbiditas penyakit ini, yaitu : Faktor genetik Telah lama diketahui bahwa artritis reumatuid lebih sering dijumpai pada kembar monozigot dibandingkan kembar dizygot. Hal ini terbukti dari terdapatnya hubungan antara produk kompleks histokompatibilitas utama kelas II (MHC klas II), khususnya HLA-DR4 dengan AR seropositif. Pengemban HLA-DR4 memiliki resiko 4 : 1 untuk menderita penyakit ini. Petanda ini diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Molekul antigen MHC II dapat dideteksi secara serologis baik dengan cara mencampurkan limfosit pasien dengan antibody humoral terhadap HLA tertentu atau dengan dengan melakukan mix lympocyte culture (MLC).

Faktor imun Faktor reumatoid adalah suatu antibodi terhadap epitop fraksi Fc lgG yang dijumpai pada 70-90% pasien AR.

Faktor hormonal/ hormon sex Adanya kecenderungan wanita untuk menderita AR dan sering dijumpainya remisi pada wanita yang sedang hamil menimbulkan dugaan adanya faktor keseimbangan hormonal sebagai salah satu faktor yang berpengaruh pada penyakit ini. Prevalensi artritis reumatoid diketahui 3x lebih banyak diderita kaum wanita dari kaum pria. Rasio ini dapat mencapai 5:1 pada wanita dalam usia subur. Akan tetapi, walaupun masih banyak kontroversi dalam hal ini, beberapa observasi estrogen menunjukkan eksternal bahwa penggunaan wanita yang kontrasepsi oral/ preparat bagi telah mengalami menopouse

menimbulkan kesan terjadinya penurunan insiden penyakit ini. Faktor infeksi Akhir akhir ini virus Epstein Barr (EBV) telah banyak menarik perhatian para ahli. Pada pasien yang mengalami infeksi virus ini, sering kali dijumpai gejala artralgia, walaupun jarang dijumpai gejala artritis yang jelas. Beberapa klinisi dan peneliti percaya bahwa AR dipicu oleh infeksi. Dugaan ini muncul karena umumnya onset penyakit ini terjadi secara mendadak dan timbul dengan disertai gambaran inflamasi yang mencolok. Agen infeksius yang diduga sebagai penyebab AR antara lain bakteri, mikoplasma atau virus. Meskipun begitu, penyakit ini tidak menular. Faktor HSP (Heat Shock Protein) Heat shock protein adalah sekelompok protein berukuran sedang (60-90 kDa) yang dibentuk oleh seluruh spesies sebagai respon terhadap stress. Mekanismenya belum diketahui dengan jelas.

Klasifikasi dan Kriteria Diagnosa AR2,3 Kriteria American Rheumatism Association untuk Artritis Reumatoid, Revisi tahun 1987. 1. Kriteria Kaku di pagi hari Definisi Kekakuan pada pagi hari pada persendian dan sekitarnya, 2. Artritis pada 3 daerah persendian/lebih Pembengkakan jaringan lunak atau persendian atau lebih efusi (bukan pertumbuhan 3 sendi tulang) pada sekurang-kurangnya secara bersamaan sekurang-kurangnya selama 1 jam sebelum perbaikan maksimal.

yang diobservasi oleh seorang dokter. Ke-14 sendi yang memenuhi kriteria adalah PIP, MCP, pergelangan tangan, siku, pergelangan sendi, dan MTP kiri dan kanan.* 3. 4. Artritis pada persendian tangan Artritis simetris Sekurang-kurangnya terjadi pembengkakan 1 persendian tangan seperti tertera diatas. Keterlibatan sendi yang sama (seperti yang tertera pada kriteria 2) pada kedua belah sisi (keterlibatan PIP, 5. Nodul reumatoid MCP atau MTP bilateral dapat diterima atau walaupun tidak mutlak bersifat simetris). Nodul subkutan pada penonjolan tulang yang diobservasi oleh seorang dokter. 6. Faktor reumatoid serum Terdapatnya titer abnormal faktor reumatoid serum yang diperiksa dengan cara memberikan hasil positif kurang dari 5% kelompok kontrol yang diperiksa. 7. Perubahan gambaran radiologis Perubahan gambaran radiologis yang khas bagi AR pada pemeriksaan sinar X tangan posteroantrior atau pergelangan tangan yang harus menunjukkan adanya erosi atau pada dengan dekalsifikasi sendi sendi atau tulang daerah yang yang akibat berlokalisasi berdekatan

permukaan ekstensor atau daerah juxta artrikular

(perubahan

osteoartritis saja tidak memenuhi persayaratan).

Untuk

keperluan

klasifikasi,

seseorang

dikatakan

menderita

artritis

reumatoid jika ia sekurang-kurangnya memenuhi 1 sampai 4 dari 7 kriteria diatas. Kriteria 1 sampai 4 harus terdapat minimal selama 6 minggu. Pasien dengan dua diagnosis tidak dieksklusikan. Pembagian diagnosis sebagai artritis reumatoid klasik, definit, probable atau possible tidak perlu dibuat. PIP : Proximal interphalangeal, MCP : Metacarpophalangeal, MTP :

Metatarsophalangeal. Manifestasi AR Manifestasi Artrikular


2,4

Manifestasi artikular AR dapat dibagi menjadi 2 kategori : 1. Gejala inflamasi akibat aktivitas sinovitis yang bersifat reversibel 2. Gejala akibat kerusakan struktur persendian yang bersifat ireversibel Manifestasi yang pertama dapat diatasi dengan pengobatan medikamentosa atau pengobatan non surgikal. Sedangkan manifestasi kedua merupakan proses yang tidak dapat diperbaiki lagi dan memerlukan modifikasi mekanik atau pembedahan rekonstruktif. Gejala klinis yang berhubungan dengan aktivitas sinovitis adalah kaku pagi hari yang pada umumnya berlangsung lebih lama daripada yang dialami pasien osteoartritis yaitu lebih dari 1 jam. Lamanya kaku pagi hari pada AR ini agaknya berhubungan dengan lamanya imobilisasi (saat pasien tidur) serta beratnya inflamasi. Inflamasi akan menyebabkan terjadinya imobilisasi persendian yang jika berlangsung lama akan mengurangi pergerakan sendi baik secara aktif maupun secara pasif. Otot dan tendon yang berdekatan dengan persendian yang mengalami peradangan cenderung untuk mengalami spasme dan pemendekan. Deformitas persendian pada AR dapat juga terjadi akibat beberapa mekanisme yang berhubungan dengan terjadinya sinovitis pada pembentukan pannus. Sinovitis akan menyebabkan kerusakan rawan sendi dan erosi tulang periartrikular sehingga menyebabkan terbentuknya permukaan sendi yang tidak rata. Persendian yang dipengaruhi oleh AR
1,2

Vertebra servikalis Walaupun AR jarang melibatkan segmen vertebre lainnya, vertebre servicalis merupakan segmen yang sering terlibat pada AR Peradangan pada gelang bahu akan mengurangi lingkup gerak sendi gelang bahu, karena dalam aktivitas Gelang bahu pada sehari-hari lingkup ini gerakan gerak pasien bahu tidak fisik. tidak merasa Hanya memerlukan luas. Umumnya Gejala dini AR pada vertebrae servikalis

umumnya bermanifestasi sebagai: Kekakuan pada seluruh segmen leher dan umumnya keterbatasan gerak.

keadaan dengan

terganggu dengan keterbatasan tersebut. Sukar diketahui pemeriksaan penemuan objektif yaitu gerakan yang terbatas Siku (frozen shoulder syndrome) Sinovitis artikulasio kubiti dapat dengan mudah diketahui dengan palpasi. Dapat menimbulkan Tangan dan pergelangan tangan gejala neuropai tekan. Keterlibatan persendian pergelangan tangan, MCP dan PIP hampir selalu dijumpai pada AR. Gambaran swan neck deformities , boutonniere, pergesaran ulnar atau deviasi jari dan subluksasi sendi MCP sering dijumpai pada AR Keterlibatan panggul sering pada AR tetapi manifestasi dini tidak terlihat. Pada keadaan dini keterlibatan sendi panggul mungkin hanya dapat terlihat sebagai Panggul keterbatasan gerak yang tidak jelas/ gangguan ringan pada kegiatan tertentu seperti saat mengenakan sepatu. Walaupun demikian jika obstruksi rawan sendi telah terjadi, gejala gangguan sendi panggul akan berkembang lebih cepat dibandingkan gangguan pada persendian lainnya.

Lutut Kaki dan pergelangan kaki

Penebalan efusi dan sinovial lutut umumnya mudah dideteksi pada pemeriksaan. Keterlibatan persendian MTP, talonavikularis dan pergelangan kaki merupakan gambaran khas AR.

Manifestasi ekstraartikular Kulit

1,2

Nodul reumatoid sering muncul pada 50% penderita AR. Vaskulitis yang bermanifestasi sebagai lesi purpura atau ekimosis pada kulit dan nekrosis kuku.

Mata Sistem respiratorik

Keratoconjunctivitis sicca, episkleritis, skleritis Keterlibatan paru adalah umum walaupun

asimtomatik. Gejala yang timbul dapat berupa nyeri tenggorokan, nyeri menelan atau disfonia. Lesi inflamatif yang menyerupai nodul rematoid Sistem kardiovaskular dapat dijumpai pada miokardium dan katup jantung. Lesi ini dapat menyebabkan disfungsi katup, Sistem saraf fenomena embolisasi, gangguan konduksi, aortitis dan kardiomiopati. Umumnya tidak memberikan gambaran yang jelas. Biasanya berhubungan dengan mielopati akiba instabilitas vertebra srvikalis, neuropati jepitan atau neuropati iskemik akibat vaskulitis. Anemia mikrositik hipokrom dengan kadar besi Sistem hematologis serum rendah dan kapasitas iron-binding yang normal atau rendah biasanya muncul pada AR aktif. Umumnya tidak ada yang spesifik kecuali xerostomia yang berhubungan dengan sindrom Sjogren atau komplikasi gastrointestinal akibat vaskulitis Ginjal Manifestasi konstitusional
2

Sistem gastrointestinal

Proteinuria yang timbul akibat OAINS.

Lelah, anoreksia, berat badan menurun, demam, nyeri otot, depresi, tangan dan kaki dingin serta berkeringat dan keterlibatan kelenjar sekitar mata dan mulut menyebabkan penurunan produksi airmata dan saliva (sindrom Sjogren) Pemeriksaan Laboratorium AR. Hitung jenis darah Penderita AR umumnya jumlah sel darah merah rendah (anemia), sel darah putih dapat meninggi yang menandakan infeksi. Jika sel darah putihnya rendah kemungkinan sindrom Felty yang merupakan komplikasi AR karena obat-obatan. LED Pada AR nilainya dapat tinggi (100 mm/jam atau lebih tinggi lagi) yang mengindikasikan adanya inflamasi. C-Reactive Protein Protein ini ditemukan di dalam tubuh dan meningkat jika terdapat inflamasi
1,2

Beberapa hasil uji laboratorium dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis

Rheumatoid Factor (RF) Hampir 70-80% orang dengan RF menderita AR, semakin tinggi jumlahnya, semakin aktif dan berat penyakitnya. Penderita AR digolongkan seronegatif dan seropositif Antinuclear Antibodies (ANA) Terdapat pada 30-40% penderita AR.

Pemeriksaan Radiologis Dari Classification of Joint Disease From Radiologic Standpoint 6, AR termasuk : Penyakit yang ditandai oleh osteoporosis dari tulang sekitar sendi dan penyempitan ruang sendi dengan resorpsi tulang subkondral. 8

Penyakit yang ditandai oleh ankylosis. Hal ini adalah perubahan lanjut nonspesifik pada semua penyakit sendi yang destruktif.

AR juga dapat diperiksa dengan Magnetic Resonace Imaging (MRI), ultrasound sendi, dan Bone Densitrometry (DEXA).1 Konsep pengobatan AR: Tujuan utama dari program pengobatan adalah sebagai berikut : 1. Menghilangkan gejala inflamasi aktif baik lokal maupun sistemik. 2. Mencegah terjadinya destruksi jaringan. 3. Mencegah terjadinya deformitas dan memelihara fungsi persendian agar tetap dalam kedaan baik. 4. Mengembalikan kelainan fungsi organ dan persendian yang terlibat agar selaput mungkin menjadi normal kembali. Karena itu ada sejumlah cara penatalaksanaan untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu :
1,2

Edukasi Penerangan tentang kemungkinan faktor etiologi, riwayat alamiah penyakit dan penatalaksanaan AR kepada pasien merupakan amat penting untuk dilakukan. Sehingga dapat dikontrol perubahan emosional, motivasi dan kognitif yang terganggu akibat penyakit ini.

Medikamentosa - Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) Diberikan pada pasien AR sejak masa dini Digunakan untuk mengurangi inflamasi dan meredakan nyeri, juga memberikan efek analgesik yang sangat baik. Contohnya : aspirin, ibuprofen, indometasin, valdecoxib dan celecoxib. Hati-hati terhadap efek toksisitasnya pada sistem gastrointestinal. OAINS bekerja dengan cara: 1. Memungkinkan stabilisasi membran lisosomal 2. menghambat pembebesan dan aktivitas mediator inflamasi (histamin, serotonon, enzim lisosomal) 3. menghambat migrasi sel ke tempat peradangan 4. menghambat proliferasi seluler

5. menetralisasi... seluler 6. menekan rasa nyeri

- Obat Analgetik Digunakan untuk meredakan nyeri tapi tidak berpengaruh pada inflamasi contohnya : asetaminofen, propoksifen, mepeidin dan morfin. - Kortikosteroid Hanya diresepkan pada dosis pemeliharaan yang rendah untuk mencegah kerusakan sendi contohnya : glukokortiroid, prednison. - Disease Modifying Antirheumatic Drugs (DMARD) Digunakan bersama dengan OAINS dan atau prednison untuk memperlambat kerusakan sendi. Contohnya : metotreksat, senyawa emas, penisilamin, azatioprin, klorokuin, hidroksiklorokuin, sulfasalazin. Terdapat 2 cara pendekatan: 1. pemberian DMARD tunggal yang dimulai dari saat yang sangat dini 2. menggunakan 2 atau lebih DMARD secara simultan/ secara siklik seperti penggunaan obat-obatan imunosupresif pada pengobatan penyakit keganasan. Beberapa jenis DMARD yang lazim digunakan: klorokuin banyak ditemukan di Indonesia dan murah efek sampingnya kecil sulfazalazine D-penicillamine Garam emas (auro sodium thiomalatel (AST) intramuskular - Biologic Response Modifiers - Terapi Imunoadsorpsi Protein-A Operasi 10

Sinovektomi

: memotong / memindahkan sinovium yang sakit atau tepi dari persendian. Hasilnya adalah pengurangan pembengkakan dan nyeri.

Operasi Artroskopi Osteotomi

: dilakukan pada lutut dan bahu. : memotong sendi. tulang untuk meningkatkan stabilitas dengan mendistribusi ulang beban pada

Joint Replacement Surgery atau Artroplasti Artrodesis atau penggabungan (fusion)

Rehabilitasi - Olah raga Jenis oleh raga yang dapat dilakukan ada 3 yaitu fleksibilitas (peregangan), beban (tahanan), dan aerobik. - Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. - Mengatasi depresi Dilakukan dengan : Relaksasi dan tidur Terapi lainnya : o o o o Pijatan Akupuntur Diet Suplemen

11

OSTEOARTRITIS

Pendahuluan Osteoartritis adalah penyakit degeneratif dari sendi, yang merupakan tipe paling sering muncul dari artritis. Ditandai dengan kerusakan kartilago sendi. Sehingga terjadi gesekan antar tulang yang menimbulkan nyeri dan keterbatasan gerak.1 Penyakit ini bersifat kronik, progresif lambat, tidak meradang dan ditandai oleh adanya deteriorasi dan abarasi dari rawan sendi dan adanya pembentukan tulang baru pada persendian. Epidemiologi
7

Sering dijumpai pada wanita dan ditemukan pada orang-orang yang lebih dari 45 tahun. Insiden bertambah dengan meningkatnya usia. Sendi-sendi yang paling sering diserang adalah sendi-sendi yang harus memikul beban tubuh, antara lain lutut, panggul, vertebra lumbal dan servikal, dan sendi-sendi pada jari. Gambaran khas dari osteoartritis adalah keterlibatan sendi palang-palang distal dan proksimal, sementara sendi metakarpofalangeal biasanya tidak diserang. Etiologi Sama seperti AR,
7,8,9

osteoartritis

juga

tidak

diketahui

dengan

pasti

penyebabnya. Tetapi ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya osteoartritis, yaitu : Faktor usia Peningkatan usia sepertinya ada hubungannya dengan perubahan-perubahan dalam fungsi kondrosit, menimbulkan perubahan komposisi rawan sendi yang mengarah pada pekembangan osteoartritis. Faktor genetik Genetik memiliki peran dalam perkembangan osteoartritis terutama di tangan. Mungkin sebagian orang dilahirkan dengan adanya defek kartilago atau kartilago yang tipis yang memungkinkan sendi bergabung.

12

Faktor hormonal dan jenis kelamin Terlihat dengan banyaknya penderita osteoartritis adalah wanita serta hubungan antara estrogen dan pembentukan tulang. Perkembangan osteoartritis sendi-sendi interfalangs distal tangan (Nodus Heberden) dipengaruhi oleh jenis kelamin dan lebih dominan pada wanita, 10 kali lebih sering. Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan banyak sendi, sedangkan pria lebih sering terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Faktor kegemukan dan penyakit metabolik Obesitas akan membani lutut sehingga cenderung timbul oasteoartritis lutut. Meskipun sendi-sendi yang lain juga ikut terkena. Hubungan dengan penyakit metabolik adalah kemungkinan penderita osteoartritis memiliki resiko tinggi penyakit jantung koroner, hipertensi dan diabetes mellitus. Faktor cedera sendi, pekerjaan atau olah raga Adanya cedera sendi, pekerjaan memakai satu sendi yang terus menerus dan olah raga dapat meningkatkan resiko terjadinya osteoartritis. Faktor pertumbuhan Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha (misalnya perthes dan dislokasi kongenital paha) dikaitkan dengan osteoartritis paha pada usia muda. Faktor-faktor lain Tingginya kepadatan tulang meningkatkan resiko timbulnya osteoartritis. Suku bangsa juga mempengaruhi prevalensi dan pola sendi yang terkena.

Manifestasi Klinis Nyeri sendi

7,8

Biasanya timbul sebagai keluhan utama. Nyeri dirasakan bertambah saat bergerak dan sedikit berkurang saat istirahat. Hambatan gerak sendi Gangguan ini bertambah sejalan dengan bertambahnya rasa nyeri. Kaku pagi Dapat timbul setelah imobilitas, seperti duduk di kursi / mobil dalam waktu lama, atau setelah bangun tidur. Krepitasi Adalah rasa gemeretak pada sendi yang sakit. 13

Pembesaran sendi (deformitas) Pembesaran sendi ini terjadi perlahan-lahan, sering terlihat di lutut atau tangan. Perubahan gaya berjalan Merupakan gejala yang paling menyusahkan karena dapat mengganggu kemandirian pada penderita yang tua.

Pemeriksaan Fisik7 Terlihat dari : 1. Hambatan gerak Perubahan ini seringkali ada meskipun pada osteoartritis yang masih dini. Bertambah berat dengan keparahan penyakit. Hambatan dapat berupa konsentris (seluruh arah gerak) ataupun eksentris (1 arah gerak). 2. Krepitasi Gejala ini sangat berarti pada osteoartritis lutut. 3. Pembengkakan sendi yang asimetris Terjadi karena efusi pada sendi atau dapat karena osteofit yang mengubah permukan sendi. 4. Tanda-tanda peradangan Tanda-tanda berupa nyeri tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan, mungkin dijumpai karena adanya sinovitis. 5. Perubahan bentuk (deformitas) sendi yang permanen. Dapat timbul karena kontraktur sendi yang lama, perubahan permukaan sendi, kecacatan dan gaya berdiri dan perubahan pada tulang dan permukaan sendi. 6. Perubahan gaya berjalan. Hampir selalu berhubungan dengan nyeri karena menjadi tumpuan berat badan. Pemeriksaan Laboratorium Hasil pemeriksaan laboratorium tidak banyak berguna. Petanda (marker) masih diteliti kegunaannya.

14

Pemeriksaan Radiologis Dari Classification of Joint Disease From Radiographic Standpoint , oateoartritis termasuk dalam penyakit yang ditandai oleh respon proliferasi kapsular dan subkondral. Adanya capsular lipping, spurring, kalsifikasi dan ossifikasi yang terlihat dalam berbagai tingkat.6 Dan gambaran radiologisnya ialah : a. Penyempitan ruang sendi yang seringkali asimetris (lebih berat pada bagian yang menanggung beban) b. Peningkatan densitas (sklerosis) tulang subkondral c. Kista tulang d. Osteofit pada pinggir sendi e. Perubahan struktur anatomi sendi Pemeriksaan radiologis lain (MRI, artroskopi, artrografi) diperlukan bila pasienpasien dicurigai mempunyai penyakit-penyakit yang berat meskipun jarang (osteonekrosis, neuropati charcot, pimented sinovitis).7 Diagnosis Pada dasarnya merupakan gabungan dari gejala klinis dan perubahan radiografi. Diagnosis Banding 1. 2. 3. 4.
7

Penyakit-penyakit metabolik dan herediter yang menimbulkan gambaran radiologis oateoartritis (hiperparatiroidisme, oochronosis dan alkaptonuria) Penyakit sendi lain yang cukup berat (osteonekrosis, neuropati charcot, sinovitis vilonodular dan kondromatosis sinovial) Penyakit sendi peradangan atau kristal (gout, pseudogout, artritis bakterial dan AR). Penyakit reumatik jaringan ikat (bursitis anserin, periartritis bahu, sindrom carpal tunnel dan tenosinovitis)

Penatalaksanaan Osteoartritis Medikamentosa Yang bertujuan mengurangi

rasa

sakit,

meningkatkan

mobilitas

dan

mengurangi ketidakmampuan. Contohnya : OAINS , analgetik, kortikosteroid. Pelindung sendi

15

Sebagai koreksi terhadap postur yang buruk dan penyangga lordosis lumbal yang berlebihan. Contohnya : tongkat, alat-alat listrik yang membantu meringankan kerja sendi. Diet Diet untuk pasien osteoartritis yang gemuk harus diutamakan, karena dapat mengurangi keluhan dan peradangan. Dukungan psiko-sosial Fisioterapi Meliputi pemakaian panas dan dingin program latihan yang tepat. Latihan isometrik lebih baik daripada isotonik karena mengurangi tegangan sendi. Operasi Osteotomi Debridemen sendi Pembersihan osteofit Artroplasti total / parsial Artrodesis Kondroplasti (artroplasti abrasi)

16

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.arthritis.org 2. Adnan HM, Daud ARR, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Artritis Reumatoid , Jilid I Edisi Ketiga. Jakarta : 62-70,1996. 3. http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/rheumatoidarthritis.htm 4. Carter MA, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Artritis Reumatoid, Buku 2 Edisi keempat. Jakarta : 1223-9,1995. 5. Vaughan DR, Asbury T, Riordan-Eva P, Oftalmologi Umum, Edisi 14. Jakarta : 340, 1995. 6. Meschan I, Synopsis of Analysis of Roentgen Signs in General Radiologi, Radiology of Joint, Asian Edition. Tokyo : 154-63, 1978. 7. Kalim H, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Penyakit Sendi Degeneratif (Osteoartritis), Jilid I Edisi Ketiga. Jakarta : 76-84, 1996. 8. Carter MA, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit, Osteoartritis , Buku 2 Edisi keempat. Jakarta : 1218-22,1996. 9. Lumenta NA, Nefro K, dkk, Kenali Jenis Penyakit dan Cara Penyembuhannya, Penyakit Sendi dan Cara Mengatasinya. Jakarta : 229-35, 2004.

17