PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN INTERAKTIF PADA KONSEP SISTEM PERNAPASAN PADA MANUSIA

(Penelitian Tindakan Kelas Pada MTsN 6 Jakarta)

Disusun Oleh: DWI APRIYANI 103016127079

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1429 H/2008 M

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam

menentukan bagi perkembangan dan pembangunan bangsa dan negara. kemajuan suatu bangsa bergantung pada bagaimana bangsa tersebut mengenali, menghargai dan memanfaatkan sumber daya manusia dalam hal ini berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anggota masyarakat terutama kepada pesrta didik. Pendidikan merupakan salah satu sektor penting penentu keberhasilan pembangunan nasional, baik dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan dalam mewujudkan cita-cita pembangunan nasional sebagaimana yang tercantum dalam UU Sisdiknas Bab II pasal 3 yang berbunyi:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi pesrerta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negar yang demokratis serta bertanggung jawab.1

Tujuan sistem pendidikan nasional juga berfungsi memberikan arah pada semua kegiatan pendidikan dalam satu-satuan pendidikan yang ada. Tujuan pendidikan nasional tersebut, merupakan tujuan umum yang hendak dicapai oleh semua satuan pendidikan nasional tersebut, merupakan tujuan umum yang hendak dicapai oleh semua satuan pendidikannya, meskipun setiap satuan pendidikan tersebut mempunyai tujuan sendiri-sendiri, namun semua itu tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional yang ada.

Diknas, Undang-undang Tentang Sisdiknas dan Peraturan Pelaksanannya 2000-2004, (Jakarta: Tamita Utama, 2004), h. 7

1

1

2

Pendidikan biologi merupakan bagian dari pendidikan sains dan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah yang diharapkan dapat mencapai tujuan pendidikan nasional yang ada. Biologi merupakan wahana untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, keterampilan sikap serta bertanggung jawab kepada lingkungan. Biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami alam dan makhluk hidup secara sistematis sehingga pembelajaran biologi bukan hanya penguasaan kumpulan-kumpulan fakta tetapi juga proses penemuan. Selain itu Biologi merupakan salah satu pendidikan dan langkah awal bagi seorang anak mengenal dan memahami konsep-konsep tentang alam untuk membangun keahlian dan kemampuan berpikirnya agar dapat berperan aktif menerapkan ilmunya dalam dunia teknologi. Untuk merealisasikan hal tersebut maka harus terjadi peningkatan mutu pendidikan dalam pembelajaran biologi dan sains. Namun pada kenyataan yang ada dalam pendidikan sains atau biologi belum adanya peningkatan mutu pendidikan. Masalah-masalah pembelajaran sains atau biologi diantaranya adalah: pengajaran sains hanya mencurahkan pengetahuan (tidak berdasarkan praktek). Dalam hal ini, fakta, konsep dan prinsip sains lebih banyak dicurahkan melalui ceramah, tanya jawab, atau diskusi tanpa didasarkan pada hasil kerja praktek.Variasi kegiatan belajar mengajar (KBM) sangat sedikit. Pada saat ini, guru hanya mengajar dengan ceramah dikombinasi dengan media dan siswa tidak terlibat aktif dalam pembelajaran. Menurut Paolo dan Martin sebagaimana yang dikutip oleh Iskandar dalam Sofyan, mendefinisikan IPA atau sains untuk anak-anak terdiri dari kegiatan mengamati apa yang terjadi, mencoba memahami apa yang diamati, mempergunakan pengatahuan baru untuk meramalkan apa yang terjadi, dan menguji ramalan-ramalan di bawah kondisi-kondisi apakah ramalan itu benar.2

Ahmad Sofyan, Konstruktivisme Dalam Pembelajaran IPA/Sains, Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 31 Mei 2007 , h. 3

2

4 Salah satu pendekatan pembelajaran yang menitik beratkan kepada siswa dan siswa aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar adalah pendekatan interaktif. h. keterampilan dalam mengambil keputusan. yang menekankan pembelajaran yang memberikan pengalaman secara langsung. 65 5 Sri Handayani. Menurut pandangan konstruktivisme belajar berarti membentuk makna. Pengembangan Model Pembelajaran Interaktif Makhluk Hidup dan Tumbuhan Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Rasional Siswa SD Kelas III. Sehingga pembelajaran akan lebih menitik beratkan kepada siswa dan siswa aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. ketrampilan dalam mengamati obyek. 61 4 Ibid. September 2005. sistematis serta keterampilan dalam mengajukan pertanyaan.3 Dari penjelasan diatas bahwa biologi merupakan bagian dari sains. melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya.5 Paul Suparno. Atas dasar pemikiran tersebut maka pendekatan pembelajaran yang perlu dikembangkan perlu penekanan pada kegiatan belajar siswa aktif. berfikir secara logis. atau siswa ditekankan untuk aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar. keterampilan dalam menganalisis data. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah peningkatan mutu dalam pendidikan sains atau biologi tersebut adalah dengan menerapkan pembelajaran yang menitikberatkan pada keterampilan-keterampilan tertentu seperti keterampilan dalam menyelesaikan masalah. (Yogyakarta:Kanisius. 13 3 . rasakan dan alami. Makna diciptakan oleh siswa dari apa yang mereka lihat. Pendekatan interaktif dikenal sebagai pertanyaan anak. h. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. dengar.3 Bagi kaum konstruktivisme mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke murid. memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan kemudian dilanjutkan dengan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan. Pada dasarnya pelajaran sains berupaya membekali siswa dengan berbagai kemampuan tentang cara mengetahui dan cara mengerjakan yang dapat membantu siswa untuk memahami alam sekitar. 1997). 07 Tahun IV. h. Jurnal Pendidikan dan Humaniora No.

h. September 2005.6 Dengan demikian diharapkan penggunaan pendekatan interaktif dalam pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Pengembangan Model Pembelajaran Interaktif Makhluk Hidup dan Tumbuhan Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Rasional Siswa SD Kelas III. maka penulis membatasi masalah sebagai berikut: 1. 07 Tahun IV. Hasil belajar yang diukur adalah aspek kognitif dan aspek psikomotorik. Jurnal Pendidikan dan Humaniora No. Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsep sistem pernapasan. Sri Handayani. Identifikasi Area dan Fokus Penelitian Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas. mencoba merumuskan pertanyaan. dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan observasi atau pengamatan. Pendekatan pembelajaran yang dikembangkan adalah pendekatan interaktif. Apakah penggunaan pendekatan interaktif dalam pembelajaran memberikan pemahaman kepada siswa? b. Dengan cara seperti itu peserta didik menjadi kritis dan aktif belajar.4 Salah satu kebaikan dari pendekatan interaktif adalah bahwa peserta didik belajar mengajukan pertanyaan. Pembatasan Fokus Penelitian Untuk menghindari agar masalah tidak terlalu meluas dan menyimpang. 3. Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk melakukan pengkajian secara teoretis maupun praktis permasalahan ini dengan judul: “Peningkatan Hasil Belajar Biologi Siswa dengan Pendekatan Interaktif ”. B. maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut: a. 20 6 . Apakah pendekatan interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa? dapat C.

karena dalam pembelajaran ini siswa belajar secara aktif dengan mengkonstruk pengetahuannya sendiri. . 2. maka rumusan masalah dalam ini penelitian ini adalah: “Apakah pendekatan interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa?” E. Kegunaan Hasil Penelitian Adapun kegunaan hasil penelitian ini adalah: 1. Memotivasi siswa dalam belajar. Agar dapat menambah wawasan pengetahuan dan kemampuan guru SMP/MTs khususnya yang berkaitan dengan penyusunan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran biologi dan dapat menjadikannya sebagai alternatif pembelajaran. Perumusan Masalah Penelitian Berdasarkan identifikasi masalah di atas.5 D.

BAB II KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN KONSEPTUAL INTERVENSI TINDAKAN

A. Acuan Teori dan Fokus yang Diteliti 1. Hakikat Belajar Belajar adalah suatu usaha. Perbuatan yang dilakukan secara sungguh-sungguh, dengan sistematis, mendayagunakan semua potensi

yang dimiliki, baik fisik, mental serta dana, panca indra, otak dan anggota tubuh lainnya, demikian pula aspek kejiwaan seperti intelejensi, bakat, motivasi, minat dan sebagainya.1 Sedangkan menurut pengertian secara psikologis, belajar

merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya laku.2 Dari beberapa definisi di atas belajar ialah suatu proses usaha dan perbuatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku. Seseorang yang melakukan aktivitas belajar akan memperoleh perubahan dalam dirinya dan akan memperoleh pengalaman baru dalam hidupnya. Perubahan yang terjadi dalam proses belajar ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan tingkah laku, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, dan daya pikirnya. Selain itu seseorang yang melakukan aktivitas belajar akan terjadi perubahan yang bersentuhan dengan aspek yang mempengaruhi tingkah laku. dalam memenuhi kebutuhannya hidupnya.

Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah

M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, (Jakarta: RIneka Cipta, 2005), h. 49 Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta:Rineka Cipta), 2003, h., 2
2

1

6

7

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is devined as the modification or strengthening of behavior through experiencing). Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan.3 Menurut Skinner yang dikutip Barlow dalam Muhibbin belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif. Berdasarkan eksperimennya, B.F. Skinner percaya bahwa proses adaptasi tersebut akan mendatangkan hasil yang optimal apabila ia diberi penguatan (reinforcer).4 Perubahan dan hasil belajar terjadi manakala penguatan terus menerus diberikan. Dalam penguatan ini hubungan stimulus dan respon sebagai bagian dari proses belajar mengalami proses intersifikasi. Perubahan perilaku siswa terwujud dalam hasil belajar sebagai bentuk respon siswa t terhadap stimulus yang diberikan guru. Sedangkan menurut Hitzman dalam Muhibbin berpendapat bahwa “Learning is a change in organism due to experience which can effect the organism behavior”. Belajar adalah suatu suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, manusia dan hewan disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.5 Dari devinisi di atas bahwa belajar adalah aktivitas pengembangan diri melalui serangkaian proses kegiatan atau pengalaman dalam menuju perubahan dalam diri sesorang. Pengalaman dapat diartikan segala bentuk pengalaman atau hal-hal yang pernah dialami seperti pengalaman karena membaca, mendengarkan, merasakan, melakukan, menghayati,

merencanakan dan melaksanakan. Proses kegiatan yang dimaksud adalah suatu proses yang aktif dan proses yang aktif ini bukan hanya aktivitas yang nampak seperti seperti gerakan badan, akan tetapi juga aktivitas-aktivitas mental, seperti proses berpikir, mengingat, dan sebagainya. Sehingga belajar dapat diartikan
3 4

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2001), h. 27 Muhibbin Syah, Psikologi Belajar,( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), h. 64 5 Ibid. h. 65

8

sebagai suatu proses kegiatan gabungan antara gerakan-gerakan badan dan berpikir untuk memperoleh suatu pengetahuan. Bigg dalam Muhibbin mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan yaitu rumusan kuantitatif, rumusan institusional, dan rumusan kualitatif. Secara kuantutatif belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya.6 Secara intitusional (tinjauan kelembagaan) belajar dipandang sebagai proses validasi atau pengabsahan tehadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa telah belajar dapat diketahui sesuai dengan proses mengajar.7 Sedangkan belajar secara kualitatif (tinjauan mutu) ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara

menafsirkan dunia disekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa.8 Berhasil atau tidaknya proses belajar mengajar tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam belajar. Faktor-faktor tersebut dapat bersumber pada dirinya atau di luar dirinya atau lingkungannya.9 Faktor-faktor yang menyangkut yang ada dalam individu diantaranya menyangkut aspek jasmaniah maupun rohaniah dari individu.10

Keberhasilan belajar juga sangat dipengaruhi oleh di luar diri siswa, baik faktor fisik maupun sosial maupun sosial-psikologis yang berada pada lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.11 Aspek jasmaniah mencakup kondisi kesehatan jasmani dari individu. Seseorang yang mempunyai kondisi kesehatan dan jasmani yang baik maka ia akan baik pula dalam mengikuti proses belajar.
6

Selain itu

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendedekatan Baru, (Bandung: Rosda, 1997), h. 91 7 Ibid., h. 92 8 Ibid. 9 Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 162 10 Ibid. 11 Ibid., h. 163

keadaan rumah. 2. Keluarga merupakan lingkungan pertama dalam pendidikan dalam memberikan memberikan pengaruh. Selain itu minat dan motivasi juga mempengaruhi dalam belajar. Yang termasuk dalam dalam lingkungan keluarga adalah keadaan lingkungan dan anggota keluarga. Sedangkan faktor masyarakat adalah suasana masyarakat yang ada di lingkungan rumah.9 kelengkapan indra dan kesehatan indra juga mempengaruhi dalam belajar. Kondisi intelektual ini mencakup tingkat kecerdasan dan bakat. Dalam faktor eksternal (faktor di luar diri siswa) meliputi lingkungan keluarga. dan suasana keadaan tenag dalam keluarga. Sedangkan motivasi merupakan dorongan yang mendasari dan mempengaruhi setiap usaha serta kegiatan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Aspek psikis atau rohaniah menyangkut kondisi kesehatan psikis. Seseorang yang panca inderanya kurang baik maka akan berpengaruh pula terhadap usaha dan hasil tujuan belajarnya. kemampuan intelektual. Seseorang yang menaruh minat dalam pelajaran tertentu biasanya cenderung untuk selalu memperhatikan mata pelajaran yang diminatinya. sarana dan prasarana belajar. terjadi penyusunan hubungan informasi-informasi yang diterima sehingga timbul suatu pemahaman dan penguasaan terhadap materi yang diberikan. Keluarga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. sekolah dan masyarakat. Dengan adnya pemahaman dan penguasaan yang didapat setelah melalui proses belajar mengajar maka siswa telah memahami . misalnya dukungan dari orang tua dalam memotivasi kegiatan belajar. Suasana lingkungan yang ramai seperti di sekitar pasar atau tempat hiburan sangat mengganggu dalam kegiatan proses belajar. Hakikat Hasil Belajar Dalam melakukan kegiatan belajar terjadi proses berpikir yang melibatkan kegiatan mental.

Edisi 084. No. dan Kebudayaan. Prilaku Belajar Siswa MAN. keterampilan) yang baru. Perubahan inilah yang disebut dengan hasil belajar.14 Pengetahua Belajar Perilaku Nilai Bagan 2. IV No.13 Dari beberapa devinisi di atas bahwa hasil belajar merupakan suatu perubahan yang berupa perubahan tingkah laku. Pemerolehan ini termasuk suatu cara baru melakukan sesuatu dan cara mengatasi masalah pada situasi baru. pengetahuan dan sikap yang diperoleh seseorang setelah melakukan proses kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan peristiwa yang bersifat internal dalam arti sesuatu yang terjadi di diri seseorang. 65 13 Nurdin Ibrahim. Menurut Crow and Crow dalam Sofyan mengemukakan bahwa hasil belajar merupakan perolehan kebiasaan-kebiasaan. h. September 2003.1 Proses Hasil Belajar Tes Hasil belajar Ahmad Sofyan. dan pada akhirnya muncul hasil belajar dalam bentuk nilai riel atau non riel. 1. h.12 Sedangkan menurut Skiner dalam teori Kondisioning yang dikutip Gladler dalam Ibrahim mengatakan bahwa hasil belajar merupakan respon (tingkah laku) yang baru. Januari 1999. Pemanfaatan Tutorial Audio Interaktif Untuk Perataan Kualitas Hasil Belajar. Didaktika Islamika Jurnal Kependidikan. Pada dasarnya respon yang baru itu sama pengertiannya dengan tingkah laku (pengetahuan. 55 12 . pengetahuan dan sikap. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan . Juni 2003. 735 14 Usman Melayu. h. sikap. 044 Tahun Ke-9.10 suatu perubahan dari yang tidak diketahui menjadi diketahui. Keislaman. Peristiwa tersebut dimulai dari adanya perubahan kognitif yang kemudian berpengaruh pada perilaku. Vol. Hakikat Minat dan Hasil Belajar.Dengan demikian perilaku seseorang didasarkan pada tingkat pengetahuan terhadap sesuatu yang dipelajari yang kemudian dapat diketahui melalui tes. Berita STMT Trisakti.

h 57.11 Dari bagan di atas mencerminkan hasil belajar diakibatkan oleh adanya kegiatan evaluasi belajar atau tes dan evaluasi belajar dilakukan karena adanya kegiatan belajar. h. bidang afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) serta bidang psikomotorik (kemampuan/keterampilan untuk bertindak/prilaku). Optimalisasi Media Pembelajaran. baik perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan. 3 16 15 . Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Biologi. Penilaian atau evaluasi pencapaian hasil belajar merupakan langkah untuk mengetahui seberapa jauh tujuan kegiatan belajar mengajar (KBM) suatu bidang studi atau mata pelajaran telah dapat dicapai.18 Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang. Penguasaan hasil belajar oleh sesorang dilihat dari perilakunya. yang dapat dikategorikan menjadi tiga bidang. tipe hasil belajar pemahaman (comprehention). 2007). Robertus Angkowo dan A. 5 20 Bambang Subali dan Paidi. tipe belajar hasil analisis. Baik buruknya hasil belajar sangat bergantung dari pengetahuan dan perubahan perilaku individu yang besangkutan terhadap yang dipelajari. tipe hasil belajar penerapan (aplicationi).17 Sedangkan tipe hasil belajar bidang psikomotorik tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu (perseorangan). keterampilan berpikir maupun keterampilan motorik. dan tipe belajar evaluasi.19 Pencapaian belajar atau hasil belajar diperoleh setelah dilaksanakannya suuatu program pengajaran. 18 Ibid. yakni bidang kognitif (penguasaan intelektual). 19 Nana Syaodih Sukmadinata. Op.16 Tipe belajar hasil kognitif meliputi tipe belajar hasil pengetahuan hafalan (knowledge). (Universitas Negeri Yogyakarta. 2002).20 Jadi hasil belajar yang dilihat dari tes hasil belajar berupa keterampilan pengetahuan integensi. (Jakarta: Grasindo. Cit. Tipe hasil belajar afektif berkenaan dengan sikap dan nilai.15 Proses pendidikan mempunyai tujuan yang ingin dicapai.. Kosasih. h.. kemampuan dan bakat individu yang diperoleh di Ibid. 56 17 Ibid. h.

h. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka. 3.12 sekolah biasanya dicerminkan dalam bentuk nilai-nilai tertentu. Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. 29 23 Paulina Panem. 31 Mei 2007 . Konstruktivisme Konstruktivisme merupakan teori belajar yang berhubungan dengan cara seseorang memperoleh pengetahuan. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu dikembangkan.23 Dari beberapa penjelasan di atas dapat dijelaskan bahwa siswa belajar dengan cara mengkonstruksi pemahaman baru tentang fenomena dari pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dan yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses pembelajaran siswalah yang mendapatkan penekanan. Konstruktivisme Dalam Pembelajaran IPA/Sains. Persepsi baru. 31 Mei 2007.22 Sedangkan menurut Battencourt dalam Pannem konstruktivisme tidak bertujuan untuk mengerti kenyataan tetapi lebih menggambarkan proses kita menjadi tahu akan sesuatu. yang menekankan pada penemuan makna (meaningfulness). yang Siswa dimilki siswa mempengaruhi pembentukan persepsi menginterpretasi pengalaman baru dan memperoleh pengetahuan baru berdasarkan realitas yang telah terbentuk di dalam pikiran siswa. dkk. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. (Jakarta: Universitas Terbuka PAU-PPAI-UT. Perolehan pengetahuan tersebut melalui informasi dalam struktur kognitif yang telah ada hasil sebelumya dan siap dikonstruk untuk mendapatkan pengetahuan baru. Penerapan Pembelajaran Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Dasar Fisika Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tes bertujuan untuk membangkitkan motivasi siswa agar dapat mengorganisasikan pelajaran dengan baik. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Dengan kata lain konstruktivisme merupakan proses pembelajaran yang menjelaskan 21 Ahmad Sofyan. h. 2001). Mereka harus bertanggung jawab atas hasil belajarnya.21 Para ahli konstruktivis menyatakan bahwa belajar melibatkan konstruksi pengetahuan terdahulu. 8 . 8 22 Johar Makmur. h..

31 Mei 2007. 1997). h. (Yogyakarta: Kanisius. Dari sentuhan inderawi itu sesorang menbangun gambaran dunianya. Unsur-unsur konstruktivime telah lama dipraktikkan dalam pembelajaran ditiap tingkatan sekolah atau pendidikan. Layton dalam Suratno menyatakan bahwa proses membangun pengetahuan ilmiah harus bersifat useful (bermanfaat) dan mengarah pada hal-hal yang praktis. Cetakan ke-5.86 25 Ibid. proses pembelajaran merupakan proses membangun ulang/rekonstruksi pengetahuan. menjamah.24 Proses pembelajaran konstruktivisme yang dikemukakan oleh Layton dalam Suratno adalah sebagai berikut:25 Bagan 2. Peranan Konstruktivisme Dalam Pembelajaran dan Pengajaran Sains. mendengar. h. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan.13 bagaimana pengetahuan disusun dalam pikiran sesorang. Sesorang berinteraksi dengan obyek dan lingkungan dengan melihat. Dalam perspektif konstruktivisme. 18 24 . 26 Paul Suparno. dan merasakannya. mencium.2 Proses Membangun Pengetahuan Ilmiah Para konstruktivis menjelaskan bahwa satu-satunya alat/sarana yang tersedia bagi seseorang untuk mengetahui sesuatu adalah inderanya.26 Tatang Suratno.

Pembelajaran Sains Menyenangkan Dengan Metode Konstruktivisme. Suatu Model Konstruktivisme Mengajar Sain: Pembelajaran Berbasis Komputer. tidak hanya mengimitasi dan membentuk bayangan dari sesuatu tang diamati atau diajarkan oleh guru melainkan individu tersebut menyeleksi. diskusi dengan teman yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui pengalaman seseorang b) dalam proses pembentukan pengetahuan kebermaknaan dalam pengalaman merupakan interpretasi atau penafsiran seseorang terhadap pengalaman yang dialaminya. h. Belajar lebih diarahkan pada pengalaman konkrit di laboratorium.14 Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa. Menurut pandangan konstruktivisme setiap individu mengkonstruksi pengetahuan secara aktif. Volume 1 No. 2. mengumpulkan data dengan percoban atau observasi.25 28 Munasprianto Ramli. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.. Dalam proses belajar mengajar Kartimi. Metamorfosa Jurnal Pendidikan IPA. Karenanya dalam kegiatan belajar mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada si pembelajar. Oktober 2006. Keterampilan Proses Sains Pembelajaran sains yang sekarang dikehendaki dalam kurikulum KTSP sekarang ini adalah pembelajaran yang disarkan pada prinsip-prinsip ilmiah. h. 4. 31 Mei 2007. 27 Menurut Shapiro dalam Munas menyatakan bahwa dalam mengaplikasikan konstruktivisme siswa mempunyai sifat dan prilaku yang sama dengan saintis yaitu dengan membangun hipotesa.28 Jadi secara ringkas. memberi arah dan menguji atas informasi yang diterimanya. gagasan konstruktivisme mengenai pengetahuan yaitu: a) pengetahuan bukan merupakan gambaran dunia belaka. menyaring. proses ilmiah maupun produk ilmiah. dan membangun konsep berdasarkan hipotesis dan fakta yang mereka peroleh.51 27 .

Dalam kehidupan sehari-hari kita perlu mengenal perbedaan dan persamaan antar benda-benda agar kita mudah dalam mempelajarinya. menerapkan konsep dan berkomunikasi.15 menghendaki berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dalam kegiatan belajar mengajar. 2005). 86 29 . kemudian menghubungkan hasil-hasil pengamatan itu. b) Mengelompokan Keterampilan mengelompokan adalah salah satu kemampuan penting dalam kerja ilmiah. Aspek-aspek kemampuan yang dikembangkan dalam keterampilan proses sains dalam Rustaman adalah: mengamati. mengelompokan. merencanakan percobaan. Rustaman. menggunakan alat atau bahan. mengajukan pertanyaan. atau memilih fakta-fakta untuk menafsirkan. meramalkan. mungkin ditemukan Nuryani Y. dkk. Salah satu tujuan pembelajaran sains adalah untuk memberikan pengalaman kepada peserta didik dalam merencanakan dan melakukan kerja ilmiah untuk membentuk sikap ilmiah. h. c) Menafsirkan Hasil pengamatan tidak akan berguna.. menafsirkan/interpretasi. berhipotesis. Karena itu dari mengamati langsung. Dengan hal-hal yang diamati maka akan berkembang kemampuan untuk mencari persamaan dan perbedaan. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Dalam kegiatan ilmiah mengamati berati memilih fakta-fakta yang relevan dengan tugas tertentu dari hal-hal yang yang diamati. bila tidak ditafsirkan.29 Adapun penjelasan dari masing-masing aspek adalah sebagai berikut: a) Mengamati Mengamati merupakan suatu kemampuan menggunakan indera yang harus dimiliki oleh setiap orang. dan mencatat setiap pengamatan secara terpisah. (Universitas Negeri Malang. Jadi dalam kegiatan pembelajaran sains maka guru memberikan memberikan sejumlah kegiatan yang memberikan peluang kepada pesrta didik untuk mengarah pada kegiatan pembelajaran sains.

h) Menggunakan alat dan bahan Melakukan percobaan dalam sains membutuhkan alat dan bahan. Berhasil atau tidaknya suatu percobaan tergantung pada kemampuan memilih dan menggunakan alat secara tepat dan efektif. anak diberi kesepatan untuk menggunakan pikirannya.16 pola-pola tertentu dalam hasil pengamatan. mungkin ditemukan pola-pola tertentu dalam seri pengamatan. Karena itu dari mengamati langsung. e) Mengajukan pertanyaan Dengan mengembangkan keterampilan-keterampilan berpikir diatas. kemudian menghubungkan hasil-hasil pengamatan itu. . bila tidak ditafsirkan. dan mencatat setiap pengamatan secara terpisah. Untuk itu diperlukan kemampuan untuk merencanakan suatu percobaan yang meliputi alat-alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan percobaan. Penemuan pola ini merupakan dasar untuk menyatakan kesimpulan. f) Berhipotesis Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu. Dalam kerja ilmiah. seorang ilmuan biasanya membuat hipotesis yang kemudian diuji melalui eksperimen g) Merencanakan percobaan setelah melihat suatu hubungan dari pengamatan-pengamatan yang dilakukan. Sejauh mana anak menggunakan pikirannya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Maka dihadapkan pada masalah-masalah yang ada di sekitar. Pengalaman menggunakan alat dan bahan merupakan pengalaman konkret yang dibutuhkan siswa untuk menerima gagasan-gagasan baru. d) Meramalkan hasil-hasil pengamatan tidak berguna. Kualitas pertanyaan yang diajukan anak menunjukan rendah tingginya berpikir anak itu. perlu kesimpulan sementara atau hipotesis yang dirumuskan itu diuji.

30 Model pembelajaran interaktif adalah suatu pendekatan yang merujuk pada pandangan konstruktivis yang menitikberatkan pada pertanyaan siswa sebagai ciri sentralnya dengan cara mengali pertanyn-pertanyaan siswa. h. Seminar Nasional Pendidikan Matematika dan IPA.4 32 Ibid.. Acuan Teori Rancangan-rancangan Alternatif atau Desain-Desain Alternatif Interfensi Tindakan yang Dipilih 1. B... h.31 Menurut faire dan Cosgrove dalam Margareth pembelajaran interaktif digambarkan sebagai berikut:32 Ibid. Dalam hal ini siswa juga belajar menyampaikan hasil penemuannya dari apa yang ditemukan setelah melakukan eksperimen atau praktikum. 5 31 30 . h. Di dalam model pembelajaran ini siswa diberi kesempatan untuk melibatkan keingintahuannya terhadap obyek yang akan dipelajari. merupakan tujuan pelajaran sains yang penting. memberi kesempatan pada siswa untuk kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan. The Development of Interactive Teaching Model To Enhance The Grade 3 Students Rational Thinking Skliis. kemudian melakukan penyelidikan tentang pertanyaan mereka sendiri. 97 Margaret. Pendekatan Interaktif Menurut Faire dan Cosgrove dalam Rustaman pendekatan interaktif dikenal sebagai pendekatan pertanyaan anak. j) Berkomunikasi Setiap ahli dituntut agar mampu menyampaikan hasil penemuannya kepada orang lain. 2004.17 i)Menerapkan konsep Kemapuan untuk menerapkan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru atau menerapkan konsep itu pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.

. Kegiatan Eksplorasi Pada tahapan ini dimaksudkan untuk merangsang berpikir dan merangsang siswa mengajukan pertanyaan. 2. pengetahuan akhir dan refleksi. kegiatan eksplorasi. pertanyaan siswa.18 Persiapan Pengetahuan awal Kegiatan eksplorasi Pertanyaan siswa perbandingan Penyelidikan Pertanyaan Susulan Pengetahuan akhir Refleksi Bagan 2. Persiapan Pada tahapan ini guru memilih topik yang akan dibahas dalam pembelajaran. penyelidikan atau investigasi. Langkah-langkah Pendekatan Interaktif Berdasarkan gambar di atas pendekatan pembelajaran interaktif memiliki langkah-langkah persiapan. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: 1. pengetahuan awal. Pengetahuan awal Pada tahapan ini guru bertanya mengenai hal-hal yang sudah diketahui siswa mengenai topik.3. 3.

21 33 . 059. Pengetahuan akhir Setelah melaksanakan penyelidikan siswa membacakan hasil penyelidikann mereka untuk mengatahui penngetahuan akhir siswa setelah melakukan penyelidikan/investigasi. didasarkan pada kemungkinan untuk diselidiki. Tahun ke-12. Penyelidikan/Investigasi Pada tahapan ini semua pertanyaan yang terkumpul diseleksi. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.34 Prayekti. Penerapan Model Pembelajaran Interaktif dalam Mata Pelajaran IPA SD Dengan Kerja Kelompok. h. Setelah itu siswa melakukan penyelidikan atas pertanyaan yang telah diseleksi dengan cara observasi atau pengamatan. 288 34 Sri Handayani. Jurnal Pendidikan dan Humaniora No. Salah satu kebaikan dari model pembelajaran interaktif adalah bahwa peserta didik belajar mengajukan pertanyaan. September 2005. 07 Tahun IV. memberi sarana bermain bagi siswa melalui aktivitas eksplorasi dan penyidikan. melatih siswa untuk mengungkapkan rasa ingin tahuannya pada tahap pertanyaan siswa. Refleksi Langkah ini penting karena siswa dirangsang untuk urun pendapat mempertimbangkan secara kritis apa yang telah dilakukan dan mengetahui apa yang sudah diketahui. 7. No. Pengembangan Model Pembelajaran Interaktif Makhluk Hidup dan Tumbuhan Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Rasional Siswa SD Kelas III. dan mencoba menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri dengan melakukan observasi atau pengamatan. Maret 2006. mencoba merumuskan pertanyaan. 6.19 4. h. 5. Pertanyaan siswa Pada tahapan ini masing-masing kelompok mengajukan prtanyaan.33 Selain itu keunggulan pendekatan interaktif adalah melatih keterampilan berpikir rasional dan keterampilan proses dalam memecahkan suatu persoalan melalui aktivitas hands-on dan minds-on. Semua pertanyaan yang diajukan oleh semua kelompok di tulis di papan tulis. Dengan cara seperti itu peserta didik menjadi kritis dan aktif belajar. Pendapat siswa dikumpulkan dan dibandingkan dengan pengetahuan awal.

Menurut Car dalam Yuhasriati untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal dapat dilakukan dengan cara membiasakan siswa untuk mengajukan soal.35 Sedangkan menurut Bell. Analisis Problem Posing Mahasiswa Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. h. Demikian juga menurut Suranto atau menggunakan polapikir matematis. h.. Yeti Semiati dan Cucu Setiawati.20 Pembelajaran interaktif merinci langkah-langkah dan menampilkan suatu struktur pembelajaran IPA melibatkan pengumpulan dan pertimbangan terhadap pertanyaan-pertanyaan peserta didik sebagai pusatnya. 36 Pentingnya peranan pertanyaan dalam proses pembelajaran sains salah satunya diungkapkan oleh Costa dalam Suartini menyatakan bahwa. menurut Costa pertanyaan merupakan alat intelektual yang sering digunakan oleh guru untuk Yuhasriati dan Anwar. Peningkatan Kemampuan Siswa SD Untuk Mengajukan Pertanyaan Produktif. Jurnal Pendidikan dan Pembudayaan. Bagi guru. pertanyaan yang diajukan siswa merupakan kunci untuk mengetahui tentang diri siswa sebab pertanyaan merupakan indicator tentang pengetahuan awal mereka. Volume 4 nomor 1. Jurnal Ilmu Pendidikan Volume 5 Nomor 3. Keberanian siswa untuk mengajukan pertanyaan yang diajukan terhadap obyek yang diamati merupakan langkah awal untuk belajar terampil dalam berpikir. they can use questions to elicit certain cognitive objectives of thinking skill”.” Questions are the intellectual tools by which teachers most often elicit the desired behavior of their students. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul mencerminkan rasa ingin tahu siswa setelah melakukan kegiatan eksplorasi. 162 36 Ari Widodo. Thus. Dengan siswa mengajukan pertanyaan guru dapat mengetahui pengetahuan awal siswa dengan pertanyaan yang diajukannya. White dan Gustone dalam Widodo salah satu bentuk rasa ingin tahu anak adalah mengajukan pertanyaan. Pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengundang rasa ingin tahu siswa agar mereka termotivasi atau muncul minatnya untuk meneliti atau berinvestigasi. Sesuai dengan karakteristik pendekatan interaktif. September 2004. Kegiatan bertanya dapat membantu siswa untuk memperoleh umpan balik. maka pertanyaanpertanyaan siswa perlu digali. Jadi. Maret 2006. 1 35 menyatakan bahwa mengajukan soal dapat melatih siswa untuk terbiasa berpikir secara matematis .

31 Mei 2007. merupakan stimulus efektif yang mendorong kemampuan berpikir. mengarahkan siswa pada tingkat interaksi belajar yang mandiri. kegiatan bertanya berguna untuk: 1) menggali informasi.38 Menurut Saidiman dalam Hamzah bertanya merupakan ucapan verbal yang meminta respon dari seseorang yang dikenali. 170 40 Ibid.41 Setelah mengajukan pertanyaan siswa melakukan investigasi untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan. Bentuk-bentuk Pertanyaan Sains Dalam Pembelajaran Model Konstruktivisme. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran (Jakarta: Bumi Aksara. Uno. Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. mengecek pemahan siswa.40 Dalam sebuah pembelajaran yang produktif. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. meningkatkan kemampuan berpikir tingkat rendah ketingkat tinggi. 2005). Dengan adanya Kinkin Suartini. meningkatkan parsipasi belajar siswa. sehingga dapat digunakan untuk memperoleh tujuan kognitif atau memperoleh keterampilanketerampilan berpikir tertentu. (Bandung: Alfabeta. Sagala. membantu siswa dalam belajar. h. 88 37 . baik administrasi maupun akademis 2) mengecek pemahan 3) membangkitkan respon pada siswa 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa 6) memfokuskan perhatian siswa 7) untuk membangkitkan lagi pertanyaan dari siswa 8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa. h. Jadi betanya. dan membantu siswa dalam mencapai tujuan pelajaran yang dirumuskan. 41 Syaiful. h. Respon yang diberikan dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. 4 38 Ibid.21 menimbulkan perilaku keingintahuan siswanya. 39 Hamzah B. 2006).39 Keterampilan bertanya bertujuan untuk merangasang beripkir siswa. yaitu: meningkatkam tingkat berpikir siswa.37 Louisel dan Descamps dalam Suartini mengemukakan bahwa pertanyaan dalam proses pembelajaran memiliki tiga tujuan pokok.

31 Mei 2007 . secara Misrinawatie A. Peningkatan Pemahaman Konsep Pengukuran Luas Dengan Investigasi Matematika di Kelas V Sekolah Dasar. S. pengetahuan itu bertahan lama diingat. Selain itu pada tahap investigasi siswa diberi kesempatan untuk menyelidiki dan menemukan konsep melalui pengumpulan. Ketiga.42 Menurut Handselsman dalam Angraeni mengajak siswa dalam investigasi ilmiah dan berdebat secara intelektual akan membuat mereka menjadi termotivasi dalam belajar. meningkatkan semangat ingin tahu. hasil belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik.22 pertanyaan-pertanyaan dari siswa maka akan timbul masalah yang harus dipecahkan oleh siswa dengan cara investigasi atau penyelidikan. h.43 Dalam tahap investigasi ini digunakan cara observasi atau pengamatan. Menurut Orton dalam Misrinawatie dengan investigasi siswa akan belajar aktif dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir sendiri. Pertama. kemampuan menemukan informasi. Mei 2000. Jurnal Ilmu Pendidikan. 116 43 Sri Angraeni. dan penginterpretasikan data dalam suatu kegiatan yang telah dirancang oleh guru. 103 42 . Pada tahap ini akan memenuhi rasa keingintahuan siswa tentang fenomena alam sekelilingnya. menurunkan beberapa keterampilan analisis. Menurut Bruner dalam Dahar belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara secara aktif oleh manusia dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Pembelajaran Biologi Berbasis Inkuiri. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 1996). h. Teori-teori Belajar. Dalam investigasi/penyelidikan dengan cara observasi atau pengamatan pengetahuan yang diperoleh sebagian besar didasarkan pada hasil usaha sendiri atas keterampilan yang dimikinya sehingga pesrta didik mempunyai kesempatan yang luas untuk mencari dan menemukan sendiri apa yang dibutuhkannya. pengorganisasian. 118 44 Ratna Wilis Dahar.44 Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan. (Jakarta: Erlangga. dan kemampuan bertanya. h.. Kedua.

Dengan cara menutup pada waktu menelan. Faring merupakan suatu saluran sebagai persimpangan tempat makanan dan udara lewat. Oksigen diserap untuk menghasilkan energi. Sistem Pernapasan Pada Manusia a. Dari rongga hidung. Faring terletak diantara rongga hidungdan kerongkongan. masuk ke dalam paru-paru melalui hidung. trakea. Pengertian pernapasan Bernapas adalah proses mengisap udara yang mengandung oksigen dan mengembuskan udara pernapasan yang mengandung karbon dioksida serta uap air. Trakea dan bronkus dilapisi oleh selaput lendir dan selnya mempunyai rambut getar yang selalu bergetar ke rah laring. Alat pernapasan manusia Sistem pernapasan pada manusia terdiri dari organ-organ pernapasan. laring. Energi yang dihasilkan digunakan untuk kegiatan tubuh. Bagian bawah batang tenggorokan (trakea) bercabang menjadi bronkus kanan dan bronkus kiri cabang kiri menuju paru-paru bagian sebelah kiri. yaitu hidung. udara akan mengalami penyesuaian suhu di dalam rongga hidung. bronkus. Uadar dari luar. Laring merupakan tempat melekatnya pita suara. Bronkus merupakan saluran penghubung antara tenggorokan dan paru-paru.45 2. alveolus. b. Di dalam rongga hidung terdapat rambut-rambut hidung yang berfungsi menyaring debu yang masuk bersama udara.23 menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir secara bebas. . Di samping faring terdapat katup yang disebut epiglotis yang berfungsi mencegah makanan masuk ke dalam tenggorokan. sedangkan cabang kanan menuju paru-paru kanan. faring. Trakea merupakan pipa saluran udara yang tersusun dari tulang rawan berbentuk cincin elastis. udara masuk ke faring. Dari faring udara masuk ke trakea melalui laring. Bronkus bercabang tiga menuju 45 Ibid.

tulang rusuk terangkat dan rongga dada membesar. Pada saat ekspirasi otot antartulang rusuk mengendur (relaksasi). diafragma akan melengkung kea rah . Akibatnya. apabila otot antar tulang rusuk berkontraksi. Alveolus merupakan saluran akhir dari alat pernapasan yang berup gelembung-gelembung yang mengandung kapiler-kapiler darah. Keadaan demikian akan menekan paru-paru sehingga paru-paru mengempis selanjutnya. Inilah yang disebut inspirasi. Di dalam alveolus terjadi pengeluaran karbon dioksida dan penyerapan oksigen oleh sel darah merah. Mekanisme Pernapasan Pada pernapasan dada terjadi akibat kontraksi otot-otot antar tulang rusuk. Apabila diafragma mengendur. udara luar masuk ke paru-paru. Hal itu menyebabkan volume rongga dada mengecil sehingga tekanan dalam rongga dada membesar. Adanya gelembung-gelembung alveolus memungkinkan terjadinya perluasan daerah permukaaan yang berperan untuk pertukaran gas. Perubahan diafragma dari cembung ke datar atau sebaliknya menyebabkan perubahan volume dan tekanan pada rongga dada. tekanan dalam rongga mengecil. tulang rusuk turun ke posisi semula.24 paru-paru kanan dan bercabang dua menuju paru-paru kiri. Akibatnya. c. Sebaliknya apabila otot berkontraksi. Hal itulah yang menyebabkan paru-paru mengembang dan tekanan udara di dalam menjadi lebih kecil daripada tekanan udara luar. Pada saat tekanan rongga dad mengecil. Setiap cabang akan bercabang lagi membentuk saluran-saluran kecil di sebut bronkiolus. Pada pernapasan perut adalah pernapasan sebagai akibat dari aktivitas otot diafragma. diafragma akan datar. Apabila otot diafragma berelaksasi. tekanan udara di dalam paru-paru bertambah besar sehingga udara dalam paru-paru diembuskan ke luar. paruparu mengembang sehingga udara luar masuk inilah yang disebut nspirasi. bentuk diafragma melengkung atau cembung kea rah rongga dada. Dinding alveolus tipis dan lembab serta berlekatan dengan dengan pembuluh darah kapiler.

Karena rongga dada dan paru-paru mengecil. Volume udara cadangan inspirasi (udara komplementer) merupakan volume udara yang masih dapat dimasukkan secara maksimal bernapas. Pada pernapasan perut otot yang berperan adalah otot diafragma. maka udara masuk. HbO2 beredar menuju sel-sel jaringan di seluruh tubuh. Kapasitas vital paru-paru  Jumlah udara maksimal yang dapat diembuskan setelah usaha menarik napas maksimal disebut kapasitas vital paru-paru. tekanan udara naik. Selanjutnya. Dinding alveolus terdiri atas selaput sel tipis sehingga oksigen maupun karbondioksida mudah menembusnya.25 rongga dada dan mendesak paru-paru. d. Udara masuk alveolus dengan cara divusi menembus dinding alveolus dan masuk ke dalam pembuluh darah kapiler. yang semula cekung menjadi datar. udar diembuskan ke luar inilah yang disebut dengan ekspirasi.  Volume udara inspirasi dan ekspiarasi dalam keadaan normal 500 cc. Pada saat inspirasi otot diafragma berkontraksi. volume cadangan inspirasi dan volume cadangan ekspirasi. e. disebut udara pernapasan atau udara tidal. Pada saat ekspirasi otot diafragma relaksasi. Mekanisme pertukaran udara Pertukaran gas pernapasan terjadi pada permukaan alveolus dan dinding kapiler. Udara di dalam paru-paru tidak keluar semuanya. Kapasitas vital paru-paru merupakan jumlah dari volume tidal. Di sel-sel tubuh HbO2 terurai lagi menjadi Hb dan O2. Selanjutnya . rongga dada kembali kecil. volume rongga paru-paru membesar. Volume udara yang masih dapat dikeluarkan setelah bernapas dinamakan volume cadangan ekspirasi (udara suplementer). Selanjutnya. maka udra dari paru-paru keluar. ternyata masih ada yang tersisa setelah mengembuskan napas maksimal disebut udara residu. oksigen berikatan dengan hemoglobin sel darah merah membentuk oksihemoglobin dan diedarkan ke seluruh tubuh.

Senyawa-senyawa dalam rokok dapat merusak paru-paru karena dalam rokok mengandung karbon monoksida. Sebagian besar karbondioksida diangkut sebagai ion bikarbonat. Merokok terbukti dapat menggangu kesehatan. Ion bikarbonat berdifusi keluar dari sel darah merah diangkut ke plasma darah. kanker hati dan kanker darah. berbicara. Beberapa kelainan dan penyakit pada system pernapasan antara lain: merokok. misalnya bernapas. oksidasi zat makanan dihasilakn karbondioksida yang diangkut oleh darah menuju paru-paru melewati jantung terlebih dahulu. nikotin dan tar. bisa terdapat kelainan ataupun penyakit. dan bekerja. keguguran. Kelainan ini ada yang disebabkan oleh infeksi dan ada pula yang disebabkan oleh non-infeksi. Ranitis dan sinusitis merupakan radang yang tejadi pada rongga hidung hingga menyebabkan bengkak dan mengeluarkan banyak lendir.26 O2 berdifusi ke dalam sel untuk di gunakan dalam mengoksidasi zat makanan. karbondioksida masuk menembus dinding alveolus dengan cara divusi dan akan diembuskan ketika bernapas. Energi hasil oksidasi ini digunakan untuk melakukan berbagai aktifitas tubuh. tetapi juga ada gas lain. Hanyasebagian kecil karbondioksida yang dikeluarkan melalui pernapasan. sedangkan gas-gas lainnya dikeluarkan kembali lewat saluran pernapasan. TBC dan lain-lain. Gangguan pada sistem pernapasan Pada sistem respirasi atau organ respirasi khususnya. Tar dalam bersifat karsinogenik yang dapat tertimbun dalam paru-paru yang dapat menyebabkan penyakit kanker. Pleuritis yakni pembengkakan yang terjadi pada selaput pembungkus paru- . Sebenarnya tidak hanya oksigen yang masuk ke dalam paru-paru. bergerak. terutama kesehatan organ pernapasan. Namun. Selain energi. ranitis. Di paruparu. jantung koroner. f. yang mampu berikatan dengan hemoglobin darah hanyalah aoksigen. Berbagai penelitian merokok dapat menyebabkan impotensi. kanker mulut.

Hal tersebut dapat terjadi karena hemoglobin mempunyai daya ikat yang lebih besar terhadap karbon monoksida daripada oksigen. TBC merupakan penyakit akibat infeksi oleh bakteri oleh bakteri Myocobacterium tuberculosis pada bronkiolus. alveolus terisi oleh air sehingga pemasukkan oksigen berkurang. Pada peristiwa tenggelam. C. Peradangan ini dapat menyebabkan batuk dan dan demam. TBC adalah tumbuhnya bintil-bintil kecil pada dinding alveolus.27 paru. alveolus. Gangguan ini disebabkan oleh infeksi bacterium tuberculose yang akan mempersempit rongga alveolus dan menghambat proses divusi oksigen. ataau dalam jaringan tubuh. . hemoglobin mengikat karbon monoksida sehingga darah kurang dapat mengikat oksigen. Pada saat keracunan karbon monoksida. Emfisema merupakan penurunan fungsi bronkiolus dan alveolus akibat adanya radang pada permukaan dalam alveolus sehingga menghalangi pertukaran gas. Asma adalah penyakit yang menyerang cabang-cabang halus bronkus yang sudah tidak memiliki kerangka cincin tulang rawan akibatnya terjadi penyempitan yang mendadak . pembuluh darah. Asfiksi dapat terjadi dalam paru-paru. ASFIKSI adalah gangguan sistem pernapasan yang lain berupa gangguan pengangkutan oksigen oleh jaringan. Bahasan Hasil-hasil Penelitian Yang Relevan Hasil penelitian yang dilakuka oleh Margareth dalam penilitiannya berjudul The Development Of Interactive Teaching Model To Enhance The Grade 3 Students Rational Thinking Skliis menyatakan bahwa pembelajaran dengan model pembelajara interaktif mendapat tanggapan positif dari siswa karena kegiatan ini menyenangkan dengan melakukan kegiatan di laboratorium.Bronkitis merupakan peradangan pada trakea dan bronkus. dan konsep-konsep yang diperoleh dalam pembelajaran ini akan lebih teringat dalam pikiran siswa karena siswa melakukan sendiri dan mengamati kegiatan-kegiatan di laboratorium dan dapat meningkatkan penguasaan konsep pada siswa.

Faktor internal dan eksternal juga merupakan faktor yang berpengaruh dalam keberhasilan belajar seorang siswa. model dan pendekatan dalam pembelajaran merupakan hal yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan siswa secara konstruktif dan mengarah kepada hasil belajar. perhatiansiswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. konsep. D. efisien dan mengenai pada tujuan yang diharapkan. menarik minat. atau prinsip saja tetapi suatu proses penemuan.28 Selain itu hasil penelitian yang dilakukan oleh Prayekti dalam judul Penerapan Model Pembelajaran Interaktif dalam Mata Pelajaran IPA di SD Dengan Kerja Kelompok menyimpulkan bahwa siswa terlihat aktif dalam mengikuti pembelajaran dengan melakukan diskusi dan kerja kelompok. efektif . sehingga sains bukan sekedar pengumpulan penguasaan pengetahuan yang berupa fakta. Sehingga dalam pembelajaran dituntut adanya situasi belajar yang kondusif dan efisien dengan penggunaan pendekatan . Pengajuan Konseptual Perencanaan Tindakan Belajar merupakan perubahan yang relatif permanen dalam perilaku manusia sebagai hasil dari latihan dan penguatan. Penerapan suatu strategi. Dengan model pembelajaran ini kinerja siswa meningkat selain itu kreatifitas pesrta didik meningkat dan mendukung peningkatan prestasi belajar. oleh karena itu proses dalam belajar mengajar guru harus memiliki strategi dan pendekatan pembelajaran yang tepat. Perubahan perilaku siswa terwujud dalam hasil belajar sebagai bentuk respon siswa terhadap siswa terhadap stimulus yang diberikan guru. Salah satunya dapat melibatkan siswa secara aktif. Perubahan terjadi manakala penguatan terus menerus diberikan. Sains (Biologi) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis. Dalam penguatan ini hubungan stimulus dan respon sebagai bagian dari proses belajar mengalami proses intersifikasi.

Dalam pelajaran sains pengalaman melakukan sendiri merupakan suatu cara belajar yang baik. Dalam pembelajaran yang melibatkan siswa aktif secara mental menemukan pengetahuan yang berupa konsep. Dalam pendekatan interaktif memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan. Pengalaman atau mengalami mempunyai nilai yang tinggi dalam proses belajar. Kita tidak cukup hanya memberikan atau penjelasan fakta-fakta tanpa adanya suatu saat anak-anak mengalami sendiri maslah yang sdang dipelajarinya. . prinsip maupun keterampilan pengetahuan yang dapat bertahan lama.29 pembelajaran yang menjadikan siswa menjadi aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Salah satu pendekatan pembelajaran yang memusatkan pembelajaran pada siswa yaitu dengan penggunaan pendekatan interaktif. Setelah mengajukan pertanyaan siswa melakukan investigasi atau penyelidikan menjadikan siswa aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. mempunyai efek transfer yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan hasil belajar mereka. karena mereka menemukan secara langsung pengetahuan dengan melakukan eksperimen atau praktikum. Observasi atau pengamatan adalah salah satu keterampilan ilmiah yang mendasar. Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan dapat merangasang siswa untuk memperoleh umapan balik dan mengundang rasa ingin tahu siswa agar mereka termotivasi untuk menyelidiki jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Partisipasi siswa dalam pembelajaran 4. Jenis data yang dikumpulkan berupa data yang bersifat dokumenter. yang terdiri dari data primer dan data sekunder. 3. Data primer yang akan dihimpun dalam penelitian ini adalah penerapan pembelajaran di SMP Internat Al-Kausar yang meliputi: 1. Desain dan Jenis Penelitian Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan yang sebenarnya dari fenomena objek yang diteliti. data tersebut mencakup gambaran umum SMP Internat AlKausar yang meliputi: 56 . Penerapan strategi pembelajaran PAI di SMP Internat Al-Kausar 2. Penguasaan guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yang lebih variatif 5. Bentuk penilaian/evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran di SMP Internat Al-Kausar. Dukungan kepala sekolah Data sekunder merupakan data yang telah didokumentasikan dari SMP Internat Al-Kausar.

Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Dalam upaya memperoleh data lapangan dalam menyusun skripsi ini. penulis menggunakan metode penelitian Kualitatif.guru bidang studi agama dan siswa di SMP Internat Al- . Kegiatan belajar mengajar di SMP Internat Al-Kausar. B. Metode Penelitian Dalam penulisan skripsi ini. dilakukan selama kurang lebih satu bulan atau sampai batas waktu yang telah ditentukan. dengan mendeskripsikan fenomena yang menjadi sasaran penelitian. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian yang bertempat di SMP Internat Al-Kautsar Parungkuda– Sukabumi. Penulis melakukan wawancara kepada kepala sekolah. guru bagian kurikulum. C. Ketenagaan d. Sejarah berdirinya SMP Internat Al-Kausar b. Visi dan misi SMP Internat Al-kausar c. D. penulis menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu: a) Teknik wawancara sering juga disebut dengan interview yaitu sebuah dialog yang dilakukan pewawancara untuk memperoleh informasi atau data dari terwawancara. Sarana dan prasarana e.57 a.

Peneliti tidak menentukan urutan pernyataan secara ketat. E. Dengan pedoman wawancara yang bersifat umum. Teknik Analisis Data Yang dimaksud dengan teknik analisis data dalam pembahasan ini adalah langkah-langkah yang ditempuh penulis untuk memperoleh hasil akhir dalam penelitian. diolah dan dianalisis secara deskriptif kualitatif yang kemudian diambil atau dijadikan sebuah kesimpulan. yaitu SMP Internat Al-kausar. Hal yang akan diteliti adalah mengenai penerapan KBK dalam pembelajaran PAI di SMP Internat Al-Kausar. yaitu dengan mengumpulkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan judul skripsi ini dari lokasi yang diteliti. Data yang diperoleh kemudian diklasifikasikan. . Pedoman tersebut berisi tentang aspek atau dimensi-dimensi yang berkaitan dengan pengelolaan sistem pendidikan.58 Kausar. ysaitu mengadakan pengamatan secara langsung ketempat-tempat atau instansi terkait. c) Studi dokumen. yaitu SMP Internat Al-Kausar. pernyataan akan dikembangkan sesuai dengan jawaban yang diberikan subjek penelitian. Dengan Pedoman observasi yang berisi mengenai gambaran nyata yang akan dijadikan objek penelitian diantaranya adalah bagaiman kondisi dari SMP Internat Al-Kausar serta proses pembelajaran yang dilaksanakan di SMP Internat Al-Kausar. b) Observasi. tidak terlalu terinci.

2. 2) Visi dan misi SMP Al-Kautsar. Wakil kepala Sekolah Bidang Kurikulum b. Untuk Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum 1) Pandangan tentang KBK khususnya dalam pembelajaran PAI. 2) Pemahaman guru khususnya guru Agama terhadap KBK. 4) Pelaksanaan pengembangan kurikulum di SMP Al-Kautsar. 3) Tujuan didirikan SMP Al-Kautsar. .59 TABEL 1 Pedoman Wawancara No 1. 5) Kendala yang dihadapi dalam penerapan KBK. 4) Program Pendidikan. 3) Kurikulum yang diterapkan di SMP AlKautsar. Sasaran Kepala Sekolah Pokok-pokok masalah yang diwawancarakan a. Untuk Kepala Sekolah 1) Sejarah berdirinya SMP Al-Kautsar.

3) Cara Pemilihan strategi dalam pembelajaran PAI yang sesuai dengan KBK. 2) Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran PAI. 5) Pembuatan program tahunan dan semester. 8) Kendala yang dihadapi dalam pembelajaran PAI. 6) Penggunaan metode yang bervariasi. 4) Efektivitas strategi yang digunakan dalam pembelajaran PAI. Siswa d. 7) Penggunaan penilaian untuk mengukur pencapaian kompetensi. 4. Untuk Guru Bidang Studi PAI 1) Pandangan guru Agama terhadap KBK dalam pembelajaran PAI.60 3. Guru Bidang Studi c. Untuk Siswa 1) Perasaan (kesan emosional) pada waktu belajar mata pelajaran PAI 2) Keteladanan guru 3) Pandangan siswa terhadap pentingnya .

TABEL 2 Pedoman Observasi No 1. Pendekatan dan metode yang dikembangkan oleh guru dalam proses pembelajaran b. Sekolah Guru Bidang Studi PAI Siswa Sasaran 1. Kegiatan belajar mengajar 2. Pokok-pokok yang diamati Kondisi lokasi/fisik sekolah a. Cara pemilihan strategi pembelajaran. 3.61 pembelajaran PAI 4) Peran serta siswa dalam belajar. c. 2. Partisipasi siswa dalam proses pembelajaran . Sarana dan prasarana yang menunjang aktivitas belajar b. Proses pembelajaran a.

Deskripsi Data Hasil Pengamatan Efek/Hasil Intervensi Tindakan 1.40 BAB IV DESKRIPSI. Deskripsi Data Hasil Belajar Aspek kognitif atau Penguasaan Konsep Pada Siklus Pertama Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Mts N 6 Jakarta dilakukan 2 siklus atau 4 kali pertemuan. 1 Data Nilai Pretes dan Postes Siklus Pertama NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 PRETES POSTES 30 20 35 20 35 35 30 25 40 35 20 25 30 15 70 70 75 50 85 70 85 50 75 80 65 75 65 55 . DAN PEMBAHASAN A.1. Untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengalami pembelajaran dengan pendekatan interaktif pada aspek kognitif adalah berupa tes obyektif multiple choice (pilihan ganda). Tabel 4. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIII satu yang berjumlah 34 orang. Sebelumnya siswa diberi tes awal (pretes) untuk mengetahui pengetahuan awal siswa. INTERPRETASI HASIL ANALISIS. Untuk mengetahui nilai yang diperoleh siswa dapat dilihat pada tabel 4. ANALISIS DATA. Instrumen tes yang digunakan sebelumnya telah diuji validitas dan reabilitasnya sehingga instrumen ini telah layak pakai.

Deskripsi data hasil belajar Aspek Kognitif atau Penguasaan Konsep pengamatan pada siklus kedua Untuk mengetahui nilai yang diperoleh siswa setelah mengalami pembelajaran dengan pendekatan interaktif dapat dilihat pada tabel 4.2.38 75 60 75 80 60 55 75 65 55 65 55 80 50 75 50 65 70 50 80 75 67.20 Mean Berdasarkan data dari tabel di atas pada nilai pretes belajar siswa nilai tertinggi 40 dan nilai terendah 15. . Nilai rata-rata pada pretes 28.20 2.41 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 25 30 30 20 30 35 25 20 25 25 35 20 35 25 30 30 20 40 35 28. 38 sedangkan pada postes 67. Sedangkan pada nilai postes nilai tertinggi 85 dan nilai terendah 50.

2 Data Nilai Pretes dan Postes Pada Siklus kedua No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 Mean PRETES POSTES 30 25 40 20 40 25 35 25 30 25 30 50 30 25 40 20 40 30 40 20 25 33 20 20 30 40 35 20 30 20 25 25 30 40 29.79 85 75 90 65 90 80 85 65 80 80 75 80 65 65 80 70 80 80 75 70 75 73 60 65 75 85 75 75 85 75 70 75 80 85 76.11 .42 Tabel 4.

Untuk mengetahui nilai yang diperoleh siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Mengajukan pertanyaan sesuai materi yang dipelajari b.79 sedangkan pada postes 76. Sedangkan pada nilai postes nilai tertinggi 90 dan nilai terendah 60. Keterampilan Proses Sains Mengajukan pertanyaan a. Ketepatan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan c.11. Tabel 4. Menggunakan alat dan bahan 3. Ketepatan membuat model alat peraga b. lengkap. Menginterpretasi data 3 32 3 25 3 26 3 25 3 26 3 31 Keterangan Skor Penilaian: 5 = Sangat Tepat 4 = Tepat 3 = Cukup 2 = Kurang Tepat 1 = Sangat kurang Tepat . Deskripsi Data Nilai Kemampuan Keterampilan Proses Sains (Psikomotor) Pada Siklus Pertama Hasil belajar siswa pada aspek psikomotor (kemampuan keterampilan proses sains) penilaian dilakukan dengan menggunakan lembar observasi keterampilalan proses sains dengan skala penilaian. sistematis Skor Total 4 3 3 3 4 4 Indikator 1 5 2 5 Kelompok 3 5 4 5 5 5 6 5 5 1 4 5 5 2 1 3 3 5 2 1 3 4 5 2 1 3 3 5 2 1 3 3 5 5 1 4 4 5 2. 3. Mengajukan pertanyaan produktif c. Nilai rata-rata pada pretes 29. 3 Data Nilai Kemampuan Keterampilan Proses Sains Siklus Pertama Pada Pertemuan Pertama No 1.43 Berdasarkan data pada tabel di atas pada nilai pretes belajar siswa nilai tertinggi 40 dan nilai terendah 20. Mencatat hasil pengamatan b. Kelengkapan membawa alat dan bahan a. Membuat laporan secara rapi. Mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis a.

Hal ini terjadi dikarenakan pada pembelajaran yang sebelumya siswa jarang melakukan praktikum dalam pembelajaran sehingga kurang terampil dan kreatifnya siswa dalam menggunakan alat dan bahan. Sedangkan untuk melihat nilai keterampilan proses sains pada pertemuan kedua pada siklus pertama dapat dilihat pada tabel 4. Pada keterampilan proses sains menggunakan alat dan bahan pada indikator ketepatan menggunakan alat dan bahan terdapat hanya terdapat dua kelompok yang menggunakan alat dan bahan dengan tepat.44 Berdasarkan data pada tabel di atas pada keterampilan proses sains mengajukan pertanyaan pada indikator mengajukan pertanyaan produktif hanya terdapat dua kelompok yang membuat pertanyaan dengan sangat tepat. Dalam membuat kesimpulan siswa hanya mencantumkan kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan dan tidak menghubungkan dengan teori yang ada pada materi pelajaran. Pada indikator membuat pertanyaan berlatar belakang hipotesis tidak terdapat kelompok yang dapat membuat pertanyaan berlatar belakang hipotesis. Sedangkan pada keterampilan proses sains menginterpretasi data pada indikator ketepatan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terdapat tiga kelompok yang membuat kesimpulan hasil pengamatan dengan tepat dan tiga kelompok yang membuat kesimpulan hasil pengamatan dengan kategori cukup. .4. Hal ini disebabkan karena belum mengertinya siswa dengan pertanyaan produktif sehingga pertanyaan yang mereka ajukan bersifat pertanyaan non produktif. hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan siswa untuk berhipotesis.

Ketepatan membuat model alat peraga b. Mengajukan pertanyaan sesuai materi yang dipelajari b. Hal ini terjadi karena siswa telah mengerti tentang pertanyaan produktif. Mengajukan pertanyaan produktif c.45 Tabel 4. Keterampilan Proses Sains Mengajukan pertanyaan a.4 Data Nilai Kemampuan Keterampilan Proses Sains Siklus Pertama Pada Pertemuan Kedua No 1. lengkap. Mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis a. Menggunakan alat dan bahan 3. Pertanyaan produktif adalah suatu pertanyaan yang jawabannya bisa ditemukan melalui pengamatan. Ketepatan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan c. Sedangkan pada keterampilan proses sains menginterpretasi data pada indikator ketepatan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terdapat empat kelompok yang membuat kesimpulan hasil pengamatan dengan tepat dan dua kelompok yang membuat kesimpulan hasil pengamatan dengan kategori cukup. sistematis Skor Total 4 4 3 3 4 4 Indikator 1 5 2 5 Kelompok 3 5 4 5 5 5 6 5 5 1 4 4 5 5 1 3 4 5 5 1 3 3 5 5 1 4 3 5 5 1 3 3 5 5 1 4 3 5 2. Mencatat hasil pengamatan b. terdapat tiga kelompok yang menggunakan alat dan bahan dengan tepat. Membuat laporan secara rapi. Seluruh kelompok telah dapat membuat pertanyaan dengan sangat tepat. Pada indikator mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis belum terdapat peningkatan. . Pertanyaan produktif adalah pertanyaan yang dapat merangsang kegiatan ilmiah. Kelengkapan membawa alat dan bahan a. Menginterpretasi data 3 31 3 30 3 28 3 29 3 29 3 30 Berdasarkan data pada tabel di atas pada keterampilan proses sains mengajukan pertanyaan pada indikator mengajukan pertanyaan produktif mengalami peningkatan. Pada keterampilan proses sains menggunakan alat dan bahan pada indikator ketepatan menggunakan alat dan bahan terdapat peningkatan.

pada keterampilan proses sains mengajukan pertanyaan pada indikator mengajukan pertanyaan produktif seluruh kelompok membuat pertanyaan dengan kategori sangat tepat namun pada indikator mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis belum terdapat peningkatan. Pada keterampilan proses sains menggunakan alat dan bahan pada indikator ketepatan menggunakan alat dan bahan mengalami peningkatan. lengkap sistematis Skor Total 5 4 5 4 4 4 Indikator 1 5 2 5 Kelompok 3 5 4 5 5 5 6 5 5 1 5 1 5 1 5 1 1 5 5 1 2. Mengajukan pertanyaan produktif c. Mengajukan pertanyaan sesuai materi yang dipelajari b. Ketepatan membuat model alat peraga b. Ketepatan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan c. Hal ini terjadi karena siswa sudah mulai terampil dan kreatif dalam praktikum atau . Membuat laporan secara rapi. Mengajukan pertanyaan a. Berdasarkan data yang diperoleh. Menggunakan alat dan bahan 5 5 5 4 4 5 5 3 5 5 3 5 4 3 5 4 4 5 3. Mencatat hasil pengamatan b.46 4. Kelengkapan membawa alat dan bahan a. Deskripsi Data Nilai Kemampuan Keterampilan Proses Sains (Psikomotor) Pada Siklus kedua Tabel 4. Menginterpretasi data 5 36 3 31 5 34 3 31 3 30 3 31 Keterampilan proses sains siswa pada siklus kedua mengalami peningkatan. 5 Data Nilai Kemampuan Keterampilan Proses Sains Siklus Kedua Pada Pertemuan Pertama No Keterampilan Proses Siains 1. terdapat tiga kelompok yang dapat menggunakan alat dan bahan dengan sangat tepat dan tiga kelompok menggunakan alat dan bahan dengan kategori tepat. Mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis a.

Mengajukan pertanyaan sesuai materi yang dipelajari b.Mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis a. Menggunakan alat dan bahan 5 4 4 4 5 4 5 5 5 5 4 3 3. Sedangkan untuk mengetahui nilai keterampilan proses sains siswa pada siklus kedua pertemuan kedua dapat dilihat pada tabel 4.Mencatat hasil pengamatan b.Berdasarkan data yang diperoleh pada keterampilan proses sains mengajukan pertanyaan pada indikator mengajukan pertanyaan produktif dan mengajukan pertanyaan berlatar .Mengajukan pertanyaan produktif c. Hal ini terjadi disebabkan karena mereka sudah bisa menghubungkan antara hasil pengamatan dengan teori atau materi pelajaran. lengkap.47 menggunakan alat dan bahan. Menginterpretasi data 5 5 5 5 5 5 5 4 3 5 4 3 39 37 36 39 39 34 Pada pertemuan kedua siklus kedua seluruh keterampilan proses sains siswa mengalami peningkatan. Membuat laporan secara rapi.Ketepatan membuat model alat peraga b. Mengajukan pertanyaan a. Sedangkan pada keterampilan proses sains menginterpretasi data pada indikator ketepatan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan mengalami peningkatan.6 Tabel 4.Ketepatan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan c. sistematis Skor Total 5 5 4 4 5 4 Indikator 1 5 2 5 Kelompok 3 5 4 5 5 5 6 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 2. terdapat empat kelompok yang membuat kesimpulan hasil pengamatan dengan tepat dan dua kelompok yang membuat kesimpulan hasil pengamatan dengan kategori tepat. 6 Data Nilai Kemampuan Keterampilan Proses Sains Siklus Kedua Pada Pertemuan Kedua No Keterampilan Proses Siains 1.Kelengkapan membawa alat dan bahan a.

14. B.48 belakang hipotesis seluruh kelompok membuat pertanyaan dengan kategori sangat tepat. 15. dapat diartikan sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya dan konsisten. atau konsisten. 29. yakni sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. 26. Secara umum. 20. 21. keajegan. Pada siklus pertama berdasarkan hasil perhitungan uji validitas terdapat 18 butir soal yang valid. Dalam membuat kesimpulan siswa telah dapat menghubungkan kesimpulan hasil pengamatan dengan teori atau materi pelajaran. 11. keterandalan. 24. 25. 18. 21. 10. yaitu nomor: 1. Pada keterampilan proses sains menggunakan alat dan bahan pada indikator ketepatan menggunakan alat dan bahan terdapat empat kelompok menggunakan alat dan bahan dengan kategori sangat tepat dan dua kelompok menggunakan alat dan bahan dengan kategori tepat. 29. 18. Hal ini terjadi karena siswa telah mengerti tentang pertanyaan produktif dan pertanyaan berlatar belakang hipotesis. sebanyak 30 butir soal dengan menguji validitas dan reabilitas soal. 13. 16. keterpercayaan. 17. 24. Reliabilitas berarti bermakna. Sedangkan pada keterampilan proses sains menginterpretasi data pada indikator ketepatan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan terdapat tiga kelompok yang membuat kesimpulan hasil pengamatan dengan kategori sangat tepat dan tiga kelompok yang membuat kesimpulan hasil pengamatan dengan kategori tepat. 3. 13. yaitu nomor 1. Pemeriksaan Keabsahan Data Analisis soal uji coba dengan bentuk pilihan ganda. 20. 22. Validitas dapat diartikan tepat atau sahih. 9. 19. bahwa valid tidaknya suatu alat ukur tergantung pada mampu tidaknya alat tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengan tepat. sekalipun . kestabilan. 27. Artinya. 17. Sedangkan pada siklus pada siklus kedua terdapat 17 butir soal yang vali. 2. 3. pengertian reliabilitas alat ukur dan reliabilitas hasil ukur dianggap sama. 16. 6. 2. 8. 5.

70 g sedang: 0. “The Relationship Between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Gains in Physics: A Possible hidden variable in Diagnostic Pretest Scores”. C. Analisis Data Berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan.3 g rendah: nilai (g) < 0. Hake. Measurement And Research Methodology. http://Lists. 1. 1260. . 1999. December 2002. American Educational Research Association’s Division. Berdasarkan hasil perhitungan reliabilitas pada siklus pertama yaitu 0.3 Tabel 4. Jakarta: Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah . Phys. Gain adalah selisih antara nilai postes dan pretes. h. J. p. 70 (12). Tanya Jawab Seputar Penelitian Pendidikan Sains.819.70 2 David E.1 Peningkatan pemahaman konsep diperoleh dari N-gain. “Analyzing Change/Gain Scores”. Sedangkan pada siklus kedua 0. 7 Data Skor N Gain Pada Siklus Pertama NO 1 2 3 1 PRETES POSTES NGAIN 0. data yang terkumpul dianalisis dan dibahas sebagai upaya untuk mengetahui peningkatan hasil belajar baik hasil belajar pada aspek kognitif (penguasaan konsep) dan psikomotorik (keterampilan proses sains).57143 0.49 penggunaanya sedikit berbeda.Edu/EgiBin/Wa?A2=Ind9903&L =Aera_D&P=R6855. p. Am.70 > (g) > 0.625 0.66667 KATEGORI Sedang Sedang Sedang 30 20 25 70 70 75 Yanti Herlanti. Analisis data hasil belajar aspek kognitif atau penguasaan konsep Dalam menganalisis data pada aspek kognitif atau penguasaan konsep dengan menggunakan Gain Skor. Department of Physics and Astronomy State University Ames. Meltzer.Asu. 3 Richard R. 1. gain menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan guru.2 g = Skor postes – Skor pretes Skor ideal – Skor pretes Dengan kategori :3 g tinggi: nilai (g) > 0.83.

61538 0.61538 0.6875 0.57143 0.69231 0.375 0.33333 0.4 0.375 0.5875 0.50 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 20 35 35 30 25 40 35 20 25 30 15 20 30 30 30 20 30 35 20 20 25 25 35 20 35 25 30 30 20 40 35 Mean 50 85 70 85 50 75 80 65 75 65 55 75 75 85 80 70 55 75 67 55 65 55 80 50 75 50 65 70 50 80 75 0.66667 0.76923 0.4375 0.71429 0.5625 0.64286 0.47059 0.5 0.33333 0.5 0. .66667 0.78571 0.53333 0.35714 0.53846 0.61538 0.54 Sedang Tinggi Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Berdasarkan data pada tabel di atas setelah mengalami pembelajaran dengan menggunakan pendekatan interaktif pada siklus pertama diperoleh kategori N-gain atau peningkatan pemahaman dengan kategori sedang sebanyak 91% dan kategori tinggi sebesar 9%.78571 0.625 0.69231 0.375 0.58333 0.

5625 0.5625 0.625 0.625 0.5 0.833333 0.733333 0.75 0.6 0.583333 0.666667 0.769231 0.642857 0.714286 0.615385 0.8.51 Sedangkan untuk mengetahui skor gain yang diperoleh siswa pada siklus kedua dapat dilihat pada tabel 4.833333 0.714286 0.666667 0.583333 0.5 0.666667 KATEGORI Tinggi Sedang Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Tinggi Sedang Tinggi Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Sedang Tinggi Sedang Sedang Tinggi Sedang Sedang Sedang .8 Data Skor N Gain Pada Siklus Kedua No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 PRETES POSTES 30 25 40 20 40 25 35 25 30 25 30 50 30 25 40 20 40 30 40 20 25 33 20 20 30 40 35 40 30 20 20 25 85 75 90 65 90 80 85 65 80 80 75 80 65 65 80 70 80 80 75 70 75 73 60 65 75 85 75 75 85 75 65 75 NGAIN 0.5625 0.666667 0. Tabel 4.533333 0.785714 0.666667 0.6875 0.733333 0.597015 0.785714 0.642857 0.533333 0.

52 33 34 30 40 Mean 80 85 0. seperti uji normalitas. Persyaratan analisis data yang perlu dipenuhi dapat dijelaskan sebagai berikut: 1) Uji Normalitas Uji normalitas ini dilakukan dengan program SPSS untuk menguji signifikansi normalitas distribusi. Hasil perhitungan uji normalitas dari program SPSS dapat dilihat pada tabel di bawah ini: .714286 0. Berdasarkan data di atas bahwa terdapat peningkatan hasil belajar dari siklus satu ke siklus dua. Adapun ketentuan hipotesisnya sebagai berikut: Ho :Rata-rata nilai skor n gain siklus satu dan dua tidak mengalami peningkatan HI :Rata-rata nilai skor n gain siklus satu ke siklus dua mengalami peningkatan a) Uji persyaratan analisis Sebelum melakukan uji T. Selain data dianalisis dengan skor gain data dianalisis dengan menggunakan uji-T (Paired sample T-Test). Uji ini dimaksudkan untuk membuktikan kebenaran apakah terjadi peningkatan hasil belajar atau tidak dari siklus satu ke siklus kedua. diperlukan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap data penelitian.66 Tinggi Tinggi Pada siklus kedua setelah mengalami pembelajaran dengan menggunakan pendekatan interaktif diperoleh kategori N-gain atau peningkatan pemahaman dengan kategori sedang sebesar 65% dan kategori tinggi sebesar 35%. jadi sample penelitian ini dianggap homogen. Dalam penelitian ini tidak menggunakan uji homogenitas dikarenakan sampel dalam penelitian ini tidak diambil secara acak.75 0. Pada penghitungan ini penulis menggunakan program SPSS.

Test (Paired Sample T-Test) Setelah uji prasyarat di atas diperoleh bahwa kedua siklus berdistribusi normal.05.05. Sig (2-tailed) .115 . jadi 0.Smirnof Tes di atas. tampak bahwa nilai probabilitas n gain siklus I adalah 0.b Mean 34 . Pengujian selanjutnya dilakukan uji T-Test.755 Ketentuan pengujian one sample Kolmograf-Smirnov Tes adalah: a.094 -.12500 Most Extreme Difference Absolute Positive Negative Kolmogorof-Smirnov Z Asymp.115 . Jika probalitas > 0. Dalam rumus statistik pendidikan untuk uji t apabila datanya normal adalah sebagai berikut: Sedangkan pada penelitian ini menggunakan program SPSS. jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa distribusi normal gain siklus I dan II adalah normal. Adapun hasil perhitungan data tertera di bawah ini: . maka data normal b.08964 .673 . 2) Uji T. Jika probabilitas < 0.755 > 0. Deviation .9 One Sample Kolmograf-Smirnov Tes Ngain1 N Normal Parameters a.074 .433 . maka data tidak normal Dari hasil uji one Sample Kolmograf.05.05 sedangkan nilai probabilitas n gain siklus II 0.073 -.992 Std.6632 .992 > 0.074 .53 Tabel 4. 5485 Ngain2 34 .755.

2. 11468 -6. 07679 . (2taile) Pair N gain1-N Gain 2 -. 10 Paired Samples Test Mean Paired Differences 95% Confidence Std. Interval of the Error Dev. dengan demikian. Diference Mean Lowe Upper r . maka Ho : diterima b. Jika probabilitas ( signifikans) < 0. 159 33 .66. Dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikans antara rata-rata nilai N gain siklus satu dan siklus dua dan terdapat peningkatan dari siklus satu ke siklus kedua.000 < 0. Ho : ditolak.54 Tabel 4. Adapun penentuan kesimpulan berdasarkan tabel jika: a.01862 -.05.05.1525 10857 6 Std.000 Dari hasil perhitungan di atas dapat dilihat bahwa nilai probabilitas (tingkat signifikans) = 0.Perbedaan itu dapat terlihat dimana nilai rata-rata N gain siklus pertama adalah 0. data dianalisis dengan menggunakan rumus: Skor = skor yang diperoleh siswa x100% skor total . Analisis Data Nilai Kemampuan Keterampilan Proses Sains (Psikomotor) Untuk melihat prosentase peningkatan skor total keterampilan proses sains.05. 54 dan rata-rata N gain siklus kedua adalah 0. . maka Ho : ditolak Probobilitas ( tingkat signifikans) pada tabel di atas 0. t Df Sig. Jika probabilitas ( signifikans) > 0. 000.

Pada indikator mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis meningkat pada siklus kedua.55 Adapun perolehan rentang penilaian dengan ketentuan sebagai berikut: Rentang penilaian (%) 85 – 100 80 – 84 70 – 79 65 – 69 60 .64 < 60 Arti Nilai baik sekali lebih dari baik baik lebih dari cukup cukup kurang dari cukup Tabel 4. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan keterampilan proses pada setiap indikatornya. Pada keterampilan proses sains mengajukan pertanyaan pada indikator mengajukan pertanyaan produktif mengalami peningkatan dari siklus satu ke siklus kedua karena pada siklus pertama siswa belum mengerti tentang pertanyaan produktif namun pada siklus kedua siswa telah mengerti tentang pertanyaan produktif. 11 Prosentase skor total penilaian Keterampilan Proses Sains Siswa No Kelompok Skor total nilai KPS siklus 1 1 2 3 4 5 6 Satu Dua Tiga Empat Lima Enam 79% 69% 67% 67% 69% 76% Skor total nilai KPS siklus 2 93% 85% 87% 87% 86% 81% Berdasarkan data pada tabel di atas skor total penilaian keterampilan proses sains siswa pada masing-masing kelompok terdapat peningkatan dari siklus satu ke siklus kedua. Pada .

Tangapan Siswa Tentang Pembelajaran dengan Pendekatan Interaktif Untuk mengetahui tanggapan siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan pendekatan interaktif dengan menggunakan angket. Apakah kamu lebih mudah memahami materi 97% yang disampaikan guru dengan pendekatan interaktif ini? 2. Apakah dengan pendekatan pembelajaran ini 88% lebih memudahkan kamu dalam memahami konsep sistem pernapasan? 12% . Pada keterampilan proses sains menginterpretasi data pada indikator ketepatan menggunakan alat dan bahan juga mengalami peningkatan dari siklus satu ke siklus kedua karena pada siklus kedua. 3. Apakah kamu menjadi lebih senang dan 94% 6% termotivasi dalam mempelajari Sains dengan pendekatan pembelajaran interaktif ini? 3. 12 Hasil kuisioner tanggapan siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan interaktif No.di bawah ini: Tabel 4. Sikap Siswa Pilihan Jawaban Ya Tidak 3% 1. Adapun hasil dari tanggapan siswa tertera pada tabel.56 keterampilan proses sains menggunakan alat dan bahan pada indikator ketepatan menggunakan alat dan bahan mengalami peningkatan dari siklus satu ke siklus kedua karena siswa mulai terbiasa dan terlatih dalam melaksanakan praktikum sehingga siswa lebih terampil dan kreatif dalam melaksanakan praktikum. dalam pembuatan kesimpulan siswa telah dapat menghubungkan antara hasil pengamatan dengan teori atau materi pelajaran.

Apakah kamu merasa bosan dalam mengikuti 9% pelajaran dengan pendekatan interaktif ini? 91% Berdasarkan data tabel di atas bahwa pembelajaran dengan pendekatan interaktif 94% siswa merasa senang dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran sains. Pembelajaran yang melibatkan siswa aktif dalam pembelajaran pengetahuan yang mereka dapat bertahan lama dala ingatan mereka. Interpretasi Hasil Analisis Siklus 1 1. Dengan melibatkan keaktifan siswa berarti memberi kesempatan siswa untuk berpikir sendiri. Perencanaan Pada tahap perencanaan pada siklus pertama meliputi: 1) Merencanakan pembelajaran pembelajaran yang akan diterapkan dengan pendekatan interaktif 2) Menentukan pokok bahasan . Apakah dengan kegiatan investigasi (praktikum) 91% membuat kamu lebih jelas dalam memahami konsep pernapasan? 9% 6. mempunyai efek transfer yang lebih baik dalam menerima pelajaran.57 4. Apakah dengan mengajukan pertanyaan dalam 79% kegiatan pembelajaran ini membuat kamu lebih termotivasi dalam mengikuti pelajaran? 21% 5. sehingga mereka lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. sehingga dapat mengembangkan ide-ide yang mereka miliki. Hal ini ditunjukkan bahwa 97% siswa merasa lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Sedangkan dengan mengajukan pertanyaan pada awal pembelajaran 79% siswa lebih termotivasi dalam mengikuti pelajaran dan dengan adanya investigasi atau pengamatan 91% siswa menjadi lebih mudah dalam memahami materi. D.

karena mereka belum terbiasa dalam mempresentasikan hasil diskusi dan pengamatan mereka. dan kuisioner) 5) Pembentukan kelompok belajar siswa 6) Menyiapkan sumber belajar 2.58 3) Mengembangkan skenario pembelajaran 4) Menyiapkan instrumen (tes penguasaan konsep. 3) Pada saat tahap melaksanakan investigasi atau pengamatan kerjasama kelompok belum terjalin dengan baik. suasana kelas masih terlihat belum tertib dikarenakan mereka belum terbiasa dalam mengikuti pembelajaran dengan pendekatan interaktif sehingga ketika pembelajaran dimulai masih ada siswa yang bergurau saat mengikuti pelajaran. 3. Tahap Observasi (pengamatan) Hasil observasi (pengamatan) pada siklus pertama pertemuan pertama yaitu: 1) Pada awal pembelajaran suasana kelas belum kondusif. sebagian siswa masih ada yang bergurau dengan temannya dan siswa masih belum terbiasa dalam mengajukan soal dalam pembelajaran sehingga pertanyaan yang mereka ajukan masih bersifat pertanyaan non produktif. 2) Pada tahap diskusi untuk mengajukan pertanyaan (tahap pertanyaan siswa) diskusi belum berjalan dengan baik. pedoman observasi. sebagian dari mereka masih mengandalkan teman yang pintar. 4) Pada saat mempresentasikan hasil pengamatan siswa belum terlihat berani dalam mempresentasikan hasil diskusi dan pengamatan mereka. . Tindakan Pada tahap tindakan yaitu dengan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan interaktif yang tertera pada skenario pembelajaran/ Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Refleksi Refleksi pada siklus satu yaitu: 1) Pada tahap mengajukan pertanyaan pada pertemuan pertama hanya terdapat dua kelompok yang mengajukan pertanyaan produktif dengan kategori sangat tepat. Hal ini dikarenakan siswa belum mengerti tentang pertanyaan produktif sehingga pertanyaan yang .38 dan nilai ratarata postes siswa sebesar 67.59 Sedangkan hasil observasi (pengamatan) pada pertemuan kedua yaitu sebagai berikut: 1) Pada pertemuan kedua siswa sudah mulai tertib dalam mengikuti pembelajaran. 5) Pada akhir pertemuan dilakukan postes untuk melihat hasil belajar mereka. 3) Pada tahap investigasi (penyelidikan) terlihat siswa mulai antusias dalam melakukan pengamatan atau investigasi. 2) Pada tahap mengajukan pertanyaan (tahap pertanyaan siswa). mereka mulai menyukai dalam kegiatan investigasi (pengamatan) dan guru memberikan penjelasan kepada siswa dalam kerja kelompok agar bekerjasama dengan baik. 4. siswa terlihat antusias. Nilai rata-rata pretes sebesar 28. Berdasarkan data yang diproleh terjadi peningkatan nilai rata-rata postes. 4) Pada saat mempresentasikan hasil pengamatan siswa mulai berani dalam mempresentasikan hasil diskusi dan pengamatan mereka. Berdasarkan kategori N-gain yang diperoleh kategori sedang sebanyak 91% siswa. dan pertanyaanpertanyaan yang mereka ajukan telah mengarah pada pertanyaan produktif namun pada indikator pertanyaan berlatar belakang hipotesis belum adanya siswa yang mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis. diskusi berjalan dengan baik. dan kategori tinggi sebanyak 9% siswa.20. sehingga seluruh siswa terlihat aktif dalam tahapan ini. karena dengan terjalinnya kerjasama yang baik akan menghasilkan hasil pekerjaan yang baik pula.

Hal ini terjadi disebabkan karena mereka jarang melakukan praktikum dalam pembelajaran sehingga mereka kurang terampil dan kurang teliti dalam menggunakan alat dan bahan. sehingga penelitian dilanjutkan pada siklus kedua 5. empat kelompok dengan cukup. 2) Pada saat investigasi atau penyelidikan pada siklus pertama pada keterampilan proses sains menggunakan alat dan bahan pada indikator ketepatan menggunakan alat dan bahan terdapat dua kelompok yang menggunakan alat dan bahan dengan tepat. 3) Pada hasil nilai postes terdapat 26% siswa yang mendapat nilai < 60. Pada indikator pertanyaan berlatar belakang hipotesis belum terdapat kelompok yang mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis dengan tepat.60 mereka ajukan bersifat pertanyaan non produktif. hal ini terjadi karena mereka belum mengerti tentang pertanyaan berlatar belakang hipotesis dan kurangnya pengetahuan siswa untuk berhipotesis. Sedangkan pada pertemuan kedua siswa telah mengerti tentang pertanyaan produktif sehingga pertanyaan yang mereka ajukan bersifat pertanyaan produktif dan pada indikator mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis belum mengalami peningkatan. Sedangkan pada pertemuan kedua kerjasama kelompok telah terjalin dengan bagus namun siswa masih belum terampil dalam menggunakan alat dan bahan (praktikum) sehingga hasil yang diperoleh hanya terdapat tiga kelompok yang dapat menggunakan alat dan bahan dengan tepat. hal ini terjadi karena pada pertemuan pertama siswa kurang memperhatikan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Keputusan Dari hasil refleksi pada siklus satu ini maka diambil keputusan: 1) Guru harus lebih menjelaskan kembali tentang pertanyaan berlatar belakang hipotesis. .

.61 2) Karena masih terdapat 26% siswa yang mendapat nilai < 60 maka penelitian dilanjutkan ke siklus dua. 3) Pada saat melaksanakan investigasi seluruh siswa siswa berpartisipasi aktif dalam melakukan investigasi (penyelidikan). observasi. Tindakan Pada tahap tindakan yaitu dengan menerapkan pembelajaran dengan pendekatan interaktif yang tertera pada skenario pembelajaran/ Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). dan lembar kuisioner) 5) Menyiapkan sumber belajar 2. Perencanaan Pada tahap perencanaan pada siklus pertama meliputi: 1) Merencanakan pembelajaran pembelajaran yang akan diterapkan dengan pendekatan interaktif 2) Menentukan pokok bahasan 3) Mengembangkan skenario pembelajaran 4) Menyiapkan instrument (tes penguasaan konsep. Siklus Dua 1. Tahap Observasi (pengamatan) Hasil observasi (pengamatan) pada siklus kedua pertemuan pertama yaitu: 1) Pada siklus kedua pertemuan pertama suasana pembelajaran sudah mulai tertib. berlatar namun pada indikator belum pedoman belakang hipotesis mengalami peningkatan. 2) Pada tahap diskusi mengajukan pertanyaaan (tahap pertanyaan siswa) diskusi berjalan dengan baik dan seluruh siswa telah dapat mengajukan mengajukan pertanyaan pertanyaan produktif. 3. siswa mengikuti pembelajaran dengan baik.

Nilai rata-rata pretes sebesar 29. 4) Pada saat mempresentasikan hasil diskusi dan pengamatan siswa sudah terbiasa dalam mempresentasikan hasil diskusi sehingga mereka berani dalam mempresentasikan hasil dari diskusi dan pengamatan mereka. 11. Sedangkan hasil observasi (pengamatan) pada pertemuan kedua yaitu sebagai berikut: 1) Pada siklus kedua pertemuan pertama suasana pembelajaran tertib. Berdasarkan data yang diproleh terjadi peningkatan nilai rata-rata postes. 5) Pada akhir pertemuan dilakukan postes untuk melihat hasil belajar mereka. 79 dan nilai ratarata postes siswa sebesar 76. siswa mengikuti pembelajaran dengan baik. Hal ini dikarenakan siswa telah .62 4) Pada saat mempresentasikan hasil diskusi dan pengamatan siswa terlihat lebih berani dalam mempresentasikan hasil diskusi dan pengamatan mereka. 4. namun pada indikator mengajukan pertanyaan berlatar belakang hipotesis meningkat pada pertemuan kedua. 2) Pada saat mengajukan pertanyaan seluruh siswa telah dapat mengajukan pertanyaan produktif dan pertanyaan berlatar belakang hipotesis dengan sangat tepat. Refleksi Refleksi pada siklus dua yaitu: 1) Pada siklus kedua ini pada tahap mengajukan pertanyaan meningkat pada indikator mengajukan pertanyaan produktif pada pertemuan pertama maupun pertemuan kedua. Berdasarkan kategori N-gain diperoleh kategori sedang sebanyak 65% siswa dan kategori tinggi sebanyak 35% siswa. 3) Pada saat melaksanakan investigasi seluruh siswa berpartisipasi aktif dalam melakukan investigasi dan siswa terlihat sudah terampil dan teliti dalam menggunakan alat dan bahan.

Hal ini . 5. Pada aspek psikomotor (keterampilan proses sains) juga mengalami peningkatan pada seluruh indikator pada setiap keterampilan proses sains. Berdasarkan kategori N-gain yang diperoleh kategori sedang sebanyak 65% siswa. Keputusan Pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran interaktif dapat meningkatkan hasil belajar. kreatif dan teliti dalam melaksanakan penyelidikan atau praktikum. Nilai rata-rata pretes sebesar 29. E. Pada pertemuan pertama terdapat tiga kelompok yang dapat menggunakan alat dan bahan dengan sangat tepat dan tiga kelompok menggunakan alat dan bahan dengan kategori tepat. Pembahasan Temuan Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa pembelajaran dengan pendekatan interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif atau penguasaan konsep. baik pada aspek kognitif atau penguasaan konsep maupun aspek psikomotor (keterampilan proses sains). Berdasarkan data yang diproleh terjadi peningkatan nilai rata-rata postes. Sedangkan pada pertemuan kedua pada indikator ketepatan menggunakan alat dan bahan empat kelompok menggunakan alat dan bahan dengan kategori sangat tepat. dan dua kelompok menggunakan alat dan bahan dengan kategori tepat. kerjasama kelompok telah terjalin dengan baik dan siswa terlihat lebih terampil.63 mengerti tentang pertanyaan produktif dan pertanyaan berlatar belakang hipotesis. Pada aspek kognitif atau penguasaan konsep terlihat pada peningkatan hasil belajar siswa pada nilai rata-rata postes. 79 dan nilai rata-rata postes siswa sebesar 76. 11. Hal ini terlihat pada hasil kinerja siswa dalam kegiatan penyelidikan atau praktikum. dan kategori tinggi sebanyak 35% siswa. 2) Pada saat melakukan investigasi atau pengamatan seluruh siswa terlihat lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran.

Bentuk-bentuk Pertanyaan Sains Dalam Pembelajaran Model Konstruktivisme. 20. Selain meningkatkan hasil belajar pada penguasaan konsep. memberi kesempatan pada siswa untuk kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan. Thus. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal ini dikarenakan pada pendekatan interaktif banyak terjaring keterampilan proses sains dalam kegiatan belajar mengajar. Jadi. Pentingnya peranan pertanyaan dalam proses pembelajaran sains salah satunya diungkapkan oleh Costa dalam Suartini yang menyatakan bahwa. Nilai rata-rata pretes pada siklus pertama sebesar 28. Sedangkan pada siklus kedua kategori sedang sebanyak 65% siswa. Sedangkan pada siklus kedua nilai rata-rata pretes sebesar 29. 31 Mei 2007. dan siswa yang mengalami peningkatan pemahaman dengan kategori tinggi sebanyak 35% siswa. menggunakan alat dan bahan dan menginterpretasi data. Dengan mengajukan pertanyaan akan mengundang rasa ingin tahu terhadap materi yang akan dipelajari. Sesuai dengan karakteristik pendekatan pembelajaran interaktif dikenal sebagai pendekatan pertanyaan anak. 38 dan nilai rata-rata postes siswa meningkat sebesar 67. diantaranya pada aspek mengajukan pertanyaan.11. Berdasarkan kategori N-gain yang diperoleh kategori sedang sebanyak 91% siswa.64 ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata postes hasil belajar siswa. pendekatan interaktif juga meningkatkan hasil belajar pada aspek psikomotoris atau keterampilan proses sains. 79 dan nilai rata-rata postes siswa meningkat sebesar 76. menurut Costa pertanyaan merupakan alat intelektual yang sering digunakan oleh guru untuk menimbulkan perilaku keingintahuan siswa. they can use questions to elicit certain cognitive objectives of thinking skill”. Mengajukan petanyaan dapat mengarahkan siswa untuk mendalami masalah atau tahap pemahaman yang dimilik oleh siswa. kategori tinggi sebanyak 9% siswa. h.” Questions are the intellectual tools by which teachers most often elicit the desired behavior of their students. 4 4 .4 Kinkin Suartini.

Pembelajaran Biologi Berbasis Inkuiri.. al. 116 7 Sri Angraeni. dan kemampuan bertanya.7 Dengan melibatkan keaktifan siswa berarti memberi kesempatan siswa untuk berpikir sendiri. The Development Of Interactive Teaching Model To Enhance The Grade 3 Students Rational Thinking Skliis. kemampuan menemukan informasi. sehingga dapat mengembangkan ide-ide yang mereka miliki. Mei 2000.6 Menurut Handselsman et. Pembelajaran yang melibatkan siswa aktif dalam pembelajaran pengetahuan yang mereka dapat bertahan lama dalam ingatan mereka. menurunkan beberapa keterampilan analisis. Pengalaman akan meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Seminar Nasional Pendidikan Matematika dan IPA. 2004. h. mempunyai efek transfer yang lebih baik dan dapat meningkatkan daya nalar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.5 Menurut Orton dalam Misrinawatie dengan investigasi siswa akan belajar aktif dan memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir sendiri. dalam Anggraeni mengajak siswa dalam investigasi ilmiah akan membuat mereka menjadi termotivasi dalam belajar.10 6 Misrinawatie A.. Carin dan Sund dalam Margaret mengatakan memperkaya pengalaman yang bermakna menimbulkan kaya akan berpikir. 31 Mei 2007 . Jurnal Ilmu Pendidikan. h. S. Margaret. meningkatkan semangat ingin tahu.65 Setelah mengajukan pertanyaan siswa melakukan investigasi atau pengamatan untuk menemukan jawaban yang mereka ajukan. h. Peningkatan Pemahaman Konsep Pengukuran Luas Dengan Investigasi Matematika di Kelas V Sekolah Dasar. 118 5 .. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

20. maka penulis mengajukan beberapa saran agar menjadi masukan yang berguna.79 dan nilai rata-rata postes siswa meningkat sebesar 76. hal ini dibuktikan dengan uji T. Pendekatan interaktif dapat meningkatkan hasil belajar yang ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata N gain siklus satu ke siklus kedua.Test. B. Nilai rata-rata pretes pada siklus pertama sebesar 28. Dari hasil perhitungan bahwa probobilitas (tingkat signifikan) < 0.BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis data pada bab sebelumnya.11. Pendekatan pembelajaran interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek psikomotor atau kemampuan keterampilan proses sains aspek mengajukan pertanyaan. 38 dan nilai rata-rata postes siswa meningkat sebesar 67. dengan demikian Ho ditolak dan dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan yang sangat signifikans antara rata-rata nilai N gain siklus satu ke siklus kedua. seperti pendekatan interaktif yang dapat menciptakan suasana belajar yang aktif. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas. Sedangkan pada siklus kedua nilai rata-rata pretes sebesar 29. terkait dengan pengaruh pendekatan pembelajaran interaktif terhadap hasil belajar siswa. menggunakan alat bahan dan menginterpretasi data. 3. Diharapkan para pendidik dalam kegiatan belajar mengajar dapat memilih pendekatan pembelajaran yang tepat agar memicu semangat dan aktifitas belajar siswa. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata postes hasil belajar siswa. diantaranya: 1. 66 .05. 2. maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Pendekatan pembelajaran interaktif dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek kognitif atau penguasaan konsep.

2. Diharapkan guru bidang studi biologi untuk dapat menerapkan pendekatan pembelajaran interaktif pada materi-materi yang dianggap sesuai untuk menggunakan pendekatan pembelajaran tersebut karena dapat meningkatkan hasil belajar dalam penguasaan konsep dan keterampilan proses sains siswa. 67 . 3. Perlu adanya validasi konstruk pada instrumen untuk menguatkan temuan hasil penelitian.

Aini. Rubertus dan A. September 2005. Penerapan Metode Penemuan Terbimbing Dengan Menggunakan Alat Peraga Untuk Meningkatkan Minat Dan Hasil Belajar Biologi Di SMUN 1 Binjai. Jurnal Pendidikan dan Pembudayaan. Psikologi Pendidikan. Arikunto.. Volume 4 nomor 1. Pemanfaatan Tutorial Audio Interaktif Untuk Perataan Kualitas Hasil Belajar. Pembelajaran Biologi Berbasis Inkuiri. Jakarta: Grasindo. Science Education Research Tanya Jawab Seputar Penelitian Pendidikan Sains. Jakarta: Erlangga. Angraeni. Jakarta: Bumi Aksara. Jurnal Pendidikan dan Humaniora No. Arikunto. Herlanti. Penelitian Tindakan Kelas. 044 Tahun Ke9. Nurdin. Jakarta: Bumi Aksara. . Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Suharsimi. Endah. 2005. 2007. Pengembangan Keterampilan Proses SAINS Bagi Mahasiswa Calon Guru Melalui Praktikum Fisika Dasar Pada Pokok Bahasan Fluida. Project Based Learning Suatu Pendekatan Inovatif Pembelajaran Dalam Melaksanakan Kurikulum Berbasis Kompetensi. dkk.DAFTAR PUSTAKA Angkowo. Diana. Maret 2006. Proses Belajar Mengajar. September 2000. 7 (1). Rineka Cipta. Teori-teori Belajar. 07 Tahun IV.. Jurnal Penelitian Vol. Optimalisasi Media Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol. 2003 Dahar. Indriasih. 1989. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. dkk. M. 2. Sri. 2001. Juli 2005 Hamalik. Kosasih. Yanti. Ibrahim. Jakarta: Bumi Aksara. No.. Suharsimi. 2006. Pengembangan Model Pembelajaran Interaktif Makhluk Hidup dan Tumbuhan Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Rasional Siswa SD Kelas III. Ratna Wilis. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 31 Mei 2007. Handayani. Jakarta: Rineka Cipta. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Oemar. Sri. 2. Hasruddin. September 2003. 2006. Dalyonono.

Johar. 2005. Kartimi. Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. 31 Mei 2007. Jakarta: Universitas terbuka PAU-PPAI-UT. 31 Mei 2007 Makmur. Ramli. Syaiful. Seminar Nasional Pendidikan Matematika dan IPA. Metamorfosa Jurnal Pendidikan IPA. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.. Jurnal Ilmu Pendidikan. Suatu Model Konstruktivisme Mengajar Sains Pembelajaran Berbasis Komputer. Tahun ke-12. 2004. Januari 1999 Misrinawatie. Hakikat Minat dan Hasil Belajar. Penerapan model Pembelajaran Konstruktivisme Melalui Pendekatan Induktif Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Biologi Siswa. 2001. 059. Paulina. Penerapan Pembelajaran Konstruktivisme Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Dasar Fisika Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Strategi Belajar Mengajar Biologi. Bandung: Alfabeta. No. 2003 Berbasis . Melayu. Pembelajaran Sains Menyenangkan Dengan Metode Konstruktivisme. Usman. Rustaman. Prayekti. Malang: Universitas Negeri Malang. Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Berita STMT Trisakti. 2. . Peningkatan Pemahaman Konsep Pengukuran Luas Dengan Investigasi Matematika di Kelas V Sekolah Dasar. The Development Of Interactive Teaching Model To Enhance The Grade 3 Students Rational Thinking Skliis. Edisi 084. dkk.Juanengsih. 2003. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Universitas Trisakti. Maret 2006. Nengsih. 31 Mei 2007 Margaret. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Panem. Mei 2000. Keterampilan Dasar Mengajar IPA Konstruktivisme. Nuryani. Sagala. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah. Munasprianto. Malang: Universitas Negeri Malang. Volume 1 No. Penerapan Model Pembelajaran Interaktif Dalam Mata Pelajaran IPA SD Dengan Kerja Kelompok. Oktober 2006.

Bentuk-bentuk Pertanyaan Sains Dalam Pembelajaran Model Konstruktivisme. Bandung: Remaja Rosdakarya. 31 Mei 2007. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Kinkin. Suratno. 2006. Peranan Konstruktivisme Dalam Pembelajaran dan Pengajaran Sains. 2003 Suartini. dkk. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Didaktika Islamika Jurnal Kependidikan. Jakarta:Rineka Cipta. Bandung: Rosda. Peningkatan Kemampuan Siswa SD Untuk Mengajukan Pertanyaan Produktif. dan Kebudayaan. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. B. Syah. Widodo. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2005. Analisis Problem Posing Mahasiswa Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala. Yuhasriati dan Anwar. Maret 2006. Keislaman. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Ahmad. Nana Sukmadinata. dan Paidi. 31 Mei 2007. Psikologi Belajar. Jurnal Ilmu Pendidikan Volume 5 Nomor 3. Seminar Internasional Pendidikan IPA Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jurnal Pendidikan dan Pembudayaan. Muhibbin. Konstruktivisme Dalam Pembelajaran IPA/Sains. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Biologi. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Volume 4 nomor 1. Sofyan. 2003. 2002.. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. September 2004 . Prilaku Belajar Siswa MAN. Ari. Psikologi Pendidikan Dengan Pendedekatan Baru. 2003. Tatang. Bambang. 31 Mei 2007. Syah. Uno. . Syaodih. 2003. Hamzah. Subali. Muhibbin. Jakarta: Bumi Aksara.Slameto.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful